Sabtu, 3 Jan 2026

Beranda Publikasi Pengumuman

Pengumuman

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Pengumuman

Lowongan Service Provider dan Collaborative Management Planning

Berkenaan dengan pelaksanaan Small Grant Programme in Indonesia kerjasama ASEAN Centre for Biodiversity (ACB) dan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati, terbuka lowongan sebagai Service Provider pelaksana SGP dan dan konsultan penyusun Collaborative Management Planning. Untuk info lebih lanjut silahkan klik link http://aseanbiodiversity.org/key_programme/small-grants-programme/ Persyaratan:
Baca Pengumuman

Cerita Terumbu Karang Kemujan, Not Yet Ending? Bagian 2 : Klaim Ganti Rugi

Pelaksanaan klaim ganti rugi kerusakan terumbu karang mengacu kepada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 7 Tahun 2014 yang di dalamnya terdapat komponen restorasi, verifikasi, kerugian masyarakat dan jasa ekosistem. Pada ulasan kali ini belum membahas bagaimana terbentuknya nilai besaran klaim ganti rugi, tetapi bagaimana cepatnya proses klaim berakhir untuk kerusakan terumbu karang seluas 24,09 m2 di perairan Kemujan, Taman Nasional Karimunjawa )TNKj). Terbentuknya nilai besaran klaim ganti rugi akan kita ulas pada bagian tersendiri. Berdasarkan perhitungan terhadap komponen klaim ganti rugi kerusakan terumbu karang oleh kapal TB SP 1 – SPA27007 dapat diperbandingkan besaran nilai yang dirumuskan oleh Surveyor Negara dan Surveyor PT. Samudara Pratama Abadi (PT. SPA) sesuai dengan Tabel 1 pada klarifikasi 1 (pertama) tanggal 9 Oktober 2017. Tabel 1. Perbandingan Nilai Klaim Ganti Rugi Kerusakan Terumbu Karang Oleh Kapal TB SP 1 – SPA27007 No. Komponen Klaim Nilai (Surveyor Negara) Nilai (PT. SPA) 1. Rehabilitation Rp 625.198.750,00 Rp 625.198.750,00 2. Verification Rp 250.000.000,00 Rp 250.000.000,00 3. Community Fisheries Rp 35.804.358,75 Rp 23.320.150,79 4. Tourism Rp 18.000.000,00 Rp - 5. Ecosystem Rp 137.069.449,36 Rp 2.064,11 Total Klaim Rp 1.066.072.558,11 Rp 898.520.964,91 Berdasarkan hasil negosiasi pada tanggal 9 Oktober 2017, maka pada tanggal 19 Oktober 2017 beetempat di ruang rapat Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan – Jakarta telah terjadi kesepakatan klaim ganti rugi kerusakan ekosistem terumbu karang seperti terpapar pada Tabel 2. Tabel 2. Klaim Ganti Rugi Kerusakan Ekosistem Terumbu Karang Akibat Ditabrak Kapal SP 1 – SPA 27007 No. Komponen Klaim Nilai Klaim Ganti Rugi Yang Disepakati 1. Rehabilitation Rp 625.198.750,00 2. Verification Rp 250.000.000,00 3. Community Fisheries Rp 23.320.150,79 4. Tourism Rp - 5. Ecosystem Rp 89.276.287,57 Total Klaim Rp 978.795.188,36 Proses Yang Menghasilkan Kesepakatan Selama proses join survey, mediasi sampai pada terjadinya kesepakatan penyelesaian sengketa lingkungan hidup di Luar Pengadilan, dapat dijadikan pembelajaran dan catatan yang sangat penting untuk menghadapi permasalahan yang sama dikemudian hari yaitu : Poin a dan b di atas akan mengurangi volume perdebatan pada saat proses mediasi lanjutan yang akan dilakukan. Pelaksanaan join survey bukan berarti telah terjadi kesepakatan sebelum proses mediasi sengketa, tetapi merupakan penyamaan persepsi awal bahwa telah terjadi kerusakan terumbu karang pada lokasi terjadinya kasus tersebut (in-situ). Pengacara dari PT. SPA pun melaksanakan pengamatan secara langsung, bahkan dengan menggunakan life-jacket melakukan snorkeling ke titik lokasi sesuai dengan koordinat yang disepakati dan melihat kerusakan terumbu karang secara langsung. Hal ini mengurangi debat tidak berguna yang mungkin terjadi tentang lokasi kerusakan terumbu karang. Berdasarkan poin 3 menunjukkan bahwa pihak surveyor PT. SPA, sangat teliti dalam memahami peraturan terkait dengan dengan pengelolaan TNKj dan dimanfaatkan sebagai celah untuk mengurangi besaran nilai ganti rugi. Sebaliknya surveyor negara bukannya tidak tahu akan hal itu, tetapi Tourism tetap dimasukkan dengan dalil sebagai salah satu lokasi penyedia ikan karang sebagai untuk bahan baku wisata kuliner. Mencermati nilai yang paling kecil diantara komponen klain ganti rugi, dapat diduga sebagai salah satu strategi mediasi yang biasanya berprinsip take and give. Tabel 3. Ilustrasi Antara Jasa Ekosistem dan Community fisheries Pasca Restorasi Tahun ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Peningkatan Jasa Ekosistem (%) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Kerugian Community fisheries (%) 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 Artinya hasil restorasi akan kembali ke rona awal ekosistem terumbu karang sebelum ditabrak kapal TB SP 1 – SPA27007 dalam waktu 10 tahun. Asumsi yang didalilkan adalah prosentse kemajuan pemulihan jasa ekosistem yang dihasilkan oleh terumbu karang hasil restorasi nantinya adalah 10% per tahun. Mulai dari pemeriksaan kapal secara in-situ di lokasi kejadian oleh petugas Balai TNKj, nahkoda dan ABK secara aktif berkoordinasi dalam pembuatan berita acara pemeriksaan, pihak owner secara aktif berkoordinasi di tingkat Balai TNKj dengan di damping pengacara yang ditunjuk, ikut serta dalam join survey secara in-situ dengan didampingi para ahli bahkan pengacara terjun kedalam perairan untuk melihat langsung kondisi kerusakan terumbu karang. Diskusi baik formal maupun informal dilaksanakan antara surveyor PT. SPA dan Surveyor negara untuk membangun pemahaman pengetahuan umu dan in-situ di lokasi kejadian dan bukan kesepakatan yang melanggar hukum. Pembelajaran Penting Rekomendasi Catatan : Sepengetahuan penulis belum pernah ada dan terjadi pembayaran klaim ganti rugi akibat vessel grounding di ekosistem terumbu karang melalui jalur mediasi sengketa lingkungan hidup sesuai dengan undang – undang yang berlaku di suatu negara. Rasio nilai ganti rugi per luasan kerusakan terumbu karang paling tinggi. Biasanya melalui proses peradilan suatu negara yang memakan waktu lebih kurang 5 tahun dan tuntutan ganti rugi dikabulkan lebih kurang 10% dari nilai tuntutan, dan rasio ganti rugi per luasan kerusakan terumbu karang jauh dibawah kasus TB SP1 – SPA27007 di TNKj. Sumber : Isai Yusidarta, ST., M.Sc. - PEH Balai TN Karimun Jawa
Baca Pengumuman

Lebih Dari Selusin Kupu Kupu Ekor Sriti Ditemukan

Selain karst, kupu-kupu G. androcles juga menjadi lambang Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. Kupu-kupu ini sangat termasyhur karena deskripsi yang menggambarkan kecantikannya yang ditulis oleh Alfred Russel Wallace, Naturalis Inggris dalam bukunya “The Malay Archipelago” tahun 1869. Saat itu mengunjungi air terjun sungai Maros (sekarang dinamakan kawasan wisata Bantimurung) selama empat hari. Tepatnya mulai tanggal 19 sampai dengan 22 September 1857: “Bila makhluk yang indah ini terbang, ekornya yang panjang berwarna putih berkilat-kilat seperti umbai-umbai, dan bila hinggap di tepi sungai, umbai-umbai ekor itu diangkat ke atas, seperti untuk mencegahnya dari kemungkinan kerusakan. Hewan itu langka, bahkan di sini, karena seluruhnya saya tidak melihatnya lebih dari selusin spesimen dan harus mengikuti banyak di antara kupu-kupu itu naik turun tebing sungai berulang kali sebelum saya berhasil menangkapnya”. Naturalis-Naturalis lain pun mengikuti Wallace. Sekitar Agustus 1883, atau 26 tahun kemudian, F. H. H. Guillemard, Naturalis Inggris, tidak menjumpai G. androcles di antara ribuan kupu-kupu di sekitar Danau Kassi Kebo kala itu. Demikian juga yang dialami oleh S. Leefmans. Naturalis Belanda tersebut tidak menjumpai G. androcles dalam kunjungan pertamanya pada April 1925. Dalam kunjungan keduanya pada April 1926, barulah dia menemukan jenis kupu-kupu tersebut. Menurut Whitten dkk. 1987, mungkin kehadiran kupu-kupu yang juga dikenal dengan nama the giant swordtail ini dipengaruhi musim. Hasil monitoring kupu-kupu di kawasan wisata Bantimurung oleh Pengendali Ekosistem Hutan TN Bantimurung Bulusaraung pada tahun 2010, dan 2014-2017, G. androcles selalu hadir setiap tahunnya. Pada bulan Maret rata-rata ditemukan 3 individu, Agustus rata-rata 16 individu, September rata-rata 3 individu, dan Oktober rata-rata 21 individu. Di bulan-bulan lainnya juga terkadang hadir, tapi tidak setiap tahun, namun ditemukan dalam jumlah yang besar, misalnya November 2014 sebanyak 30 individu dan Juli 2016 sebanyak 22 individu. Jumlah tersebut melampui temuan Wallace yang hanya menemukan tidak lebih dari selusin. Hasil monitoring kupu-kupu terakhir di bulan Oktober 2017, dalam waktu 2 hari pengamatan saja, G. androcles dapat dijumpai sekurang-kurangnya 34 individu. Ini merupakan jumlah perjumpaan terbesar dibandingan hasil pengamatan-pengamatan sebelumnya. Hal tersebut menguatkan dugaan bahwa kehadiran kupu-kupu endemik Sulawesi di kawasan wisata Bantimurung tersebut dipengaruhi oleh musim. Mengingat bulan Oktober sampai dengan November adalah masa peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan. Begitu pula bulan Juli yang merupakan peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau. Populasi kupu-kupu yang memiliki ekor sayap terpanjang dalam keluarga Papilionidae ini pun sangat dipengaruhi oleh adanya aktivitas penangkapannya di alam. Penampilannya yang menarik menjadikannya bernilai ekonomi tinggi. Seperti halnya jenis kupu-kupu lainnya, G. androcles banyak diburu oleh para penangkap. Upaya pelestarian kupu-kupu ini pun terus dilakukan. Pengamatan siklus G. androcles di laboratorium Suaka Satwa (Sanctuary) Kupu-kupu TN Bantimurung Bulusaraung oleh Harlina pada tahun 2014 menyebutkan bahwa waktu yang dibutuhkan G. androcles dari telur hingga menjadi kupu-kupu dewasa bervariasi, mulai dari 46-65 hari. Persentase tingkat kelangsungan hidup telur, larva, prapupa, dan pupa ke tahap imago masing-masing adalah 42%, 90%, 100%, dan 70%. Nilai yang relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan tingkat keberhasilan siklus jenis kupu-kupu Papilionidae lainnya. Tak hanya upaya pengembangbiakannya saja, perlindungan jenis ini di habitat aslinya harus terus dilakukan. Kondisi habitatnya pun perlu terus dijaga agar mampu menopang kehidupannya. Ingatlah, keindahan kepakan sayap kupu-kupu dengan ekor yang meliuk-liuk putih mengkilat ini menyuguhkan pemandangan elok yang jauh lebih memukau dibandingkan hanya melihatnya dalam pajangan bingkai. Sumber: Kamajaya Shagir dan Suci Achmad Handayani - PEH Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Pengumuman

Percepatan Penataan Kawasan Konservasi

Kegiatan mempercepat penyusunan, penilaian dan pengesahan dokumen penataan zona/blok pengelolaan melalui identifikasi penyebab perlambatan menurut bisnis proses. Percepatan penyelesaian penataan zona/blok pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan TB serta Kawasan Pelestarian Alam yang diprioritaskan menjadi target Direktorat Jenderal KSDAE sebagai langkah percepatan target nasional penyelesaian Kebijakan Satu Peta yang harus selesai pada Tahun 2018, Sub Direktorat Penataan Kawasan Konservasi, Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam menyusun strategi percepatan. Sesuai dengan Rencana Strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Periode 2015-2019 telah ditetapkan salah satu satu Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) dari Program Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistem yaitu tersusunnya 150 dokumen perencanaan berupa Dokumen Penataan Zonasi Taman Nasional dan Penataan Blok Non Taman Nasional. Sampai dengan tahun 2017 terdapat 177 dokumen yang sudah disyahkan Direktur Jenderal KSDAE Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Percepatan Pelaksanaan Kebijakan Satu Peta (KSP) pada Tingkat Ketelitian Peta Skala 1:50.000, Direktorat Jenderal KSDAE mendapat tugas untuk membuat Peta Zonasi/Blok Kawasan Konservasi skala 1:50.000. Tugas tersebut harus diselesaikan dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun (2016-2018). Rekapitulasi data Zona/Blok Pengelolaan sampai dengan Bulan September 2017. Beberapa cara dalam penyelesaian hambatan di dalam penyusunan dokumen penataan zona/blok pengelolaan hasil telaahan diantaranya : Beberapa prioritas dalam melakukan inventarisasi potensi kawasan diantaranya; distribusi/sebaran satwa penting/prioritas di dalam kawasan, inventarisasi tempat-tempat religi/budaya, inventarisasi kawasan-kawasan strategis. Sehubungan dengan hal tersebut, Sub Direktorat Penataan Kawasan Konservasi, Direktorat Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam menyusun langkah-langkah percepatan penyelesaian penataan zonasi/blok pengelolaan melalui strategi SUN-LAI-SAH sebagai berikut : Dokumen hasil penilaian dan perbaikan akan diteruskan ke Direktur Jenderal KSDAE melalui Nota Dinas Direktur Pemolaan dan Informasi Konservasi Alam untuk pengesahan sebagai Zona Pengelolaan atau Blok Pengelolaan. Sumber : Direktorat PIKA
Baca Pengumuman

The Adventurer Paradise

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dikenal dengan 3 julukan utama The Kingdom of Butterfly, The Spectacular Tower Karst danThe Adventurer Paradise. Julukan ini adalah gambaran umum potensi yamg dimiliki kawasan konservasi yang terletak di 2 kabupaten ini, Maros dan Pangkep. Anda suka tantangan? jika ya! datanglah di kawasan yang di dominasi bukit-bukit karst ini. pertanyaan selanjutnya, petualangan apa yang bisa dilakukan di sini?. Beberapa aktivitas menantang yang bisa dilakukan di kawasan Bantimurung Bulusaraung diantaranya panjat tebing, selusur gua horizontal dan gua vertikal. Tak kalah menantangnya mendaki gunung hingga menjelajahi hutan (tracking) karst sembari mengamati beragam satwa liar. Bantimurung Bulusaraung memiliki beberapa spot untuk memanjat tebing batu karst yang menjulang ratusan meter. Spot panjat tebing karst yang cukup terkenal diantaranya: Tebing Bulu Sakapao (Bellae), spot ini terletak di Kelurahan Bellae, Minasatene, Pangkep. Ketinggian dari permukaan tanah sekitar 45 meter dengan lebar spot panjat sekitar 10 meter. Selusur gua tak kalah menariknya. Salah satu ciri ekosistem karst adalah banyaknya gua yang dapat ditemui. Di kawasan Bantimurung Bulusaraung data awalnya sebanyak 257 gua pada tahun 2012, saat ini mengalami peningkatan. Pemutakhiran gua difokuskan pada Resor Minasatene awal tahun 2017 yang lalu menemukan sejumlah gua baru. Jumlah gua terupdate setelah dikompilasi berjumlah 440 gua yang terdiri dari 399 gua alam dan 41 gua prasejarah. Aktivitas menantang ini memiliki banyak penggemar. Di balik gelapnya gua tersimpan permadani yang memiliki bentuk ornamen yang mengesankan. Ornamen gua berkembang dengan baik di kawasan ini menciptakan beragam bentuk. Stalaktit, stalakmit, pilar, canopy, drapery, gourdam hingga pantulan kilap kristal kalsit yang mengkilap bak permata alam tersaji sepanjang menyelusuri gua. Setiap gua memiliki karasteristik tersendiri. Puluhan gua di kawasan batuan karst ini dijumpai aliran sungai bawah tanah dengan kedalam bervariasi dari setengah meter hingga lebih dari 3 meter pada musim kemarau. Menuruni gua vertikal juga adalah salah satu aktivitas yang tak kalah menantangnya. Selain nyali, penguasaan alat panjat juga harus mumpuni. Betapa tidak menuruni mulut gua vertikal layaknya sumur raksasa yang dalam memberi sensasi tersendiri. Umumnya aktivitas ini menggunakan teknik single rope technique. Apalagi jika ingin menaklukan gua vertikal dengan single pitch terdalam di Indonesia Leang Pute dengan kedalaman -260 meter. Memacu adrenalin saat menggantung pada seutas tali dan turun ratusan meter ke dasar bumi. Resiko kecelakaan sangat tinggi. Olehnya penting memahami teknik penelusuran gua vertikal, namun belum cukup. Butuh pemahaman terhadap alat, gua, serta cuaca. Jika pun belum siap menuruni seutalas dengan dua sambungan ini, para petualang bisa menjajal gua vertical lainnya seperti Gua VCM -220 meter, Lubang Kapa-Kapasa -210 meter, Lubang Beru -207 meter, Lubang Tomanangnga -190 meter dan gua lainnya. Mendaki gunung bisa menjadi alternatif bagi para petualang jika bertandang ke kawasan taman nasional ini. Jalur pendakian Gunung Bulusaraung cukup menantang sangat cocok untuk bagi pendaki pemula. Hanya diperlukan waktu dua sampai dengan tiga jam hingga sampai di puncak gunung yang memiliki tinggi 1.350 meter di atas permukaan laut ini. Jalur pendakian yang terjal hanya pada pos 1 sampai dengan pos 3, jalur selanjutnya hingga pos 9 relatif lebih enteng. Pos 9 adalah lokasi berkemah. Keletihan menanjaki gunung akan terbayar dengan suguhan indahnya panorama alam dengan pandangan terbuka 360 derajat ketika sampai di puncak. Gugusan puncak-puncak bukit karst tersaji bak ujung paku yang runcing-runcing berderet. Semburat jingga saat sunset tiba adalah puncak keindahan yang memukau. Bagi petualang yang menyukai tracking dapat melakukan penelusuran hutan batu kapur yang terhampar luas di kawasan Bantimurung Bulusaraung. hamparan batu kapur ini hanya dapat diakses bebas melalui celah antar dua bukit karst. Celah ini sering disebut sebagi koridor. Menyusuri koridor karst ini juga tak selamanya mudah, para petualang sesekali akan disuguhi jalur menanjak, berbatu, dan kemudian menuruni batu gamping yang terjal. Tak jarang harus menggunakan tali sebagai pegangan saat menyusuri koridor karst ini. Selama menyusuri hutan belantara yang suguhan kerasnya batu gamping ini para petualang akan berjumpa dengan penghuni hutan. Penghuni hutan itu diantaranya Monyet Sulawesi (Macaca maura), beragam kupu-kupu, capung, burung, hingga kus-kus beruang (Ailurops ursinus) dengan gerakan lambatnya. Jika ingin menjumpai Tarsius fuscus ada baiknya membuat janji dengan petugas taman nasional untuk mengamatinya di malam hari. Habitatnya berada di tengah hutan karst Resor Pattunuang. Kawasan konservasi ini memiliki visi “Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi Destinasi Ekowisata Karst Dunia”. Untuk mewujudkan visi tersebut maka Bantimurung Bulusaraung melalui salah satu misinya pengembangan ekowisata berbasis kekhasan dan keunikan ekosistem yakni ekowisata karst. Bantimurung Bulusaraung memprioritaskan tata kelola wisata pada tujuh destinasi wisata yang dikenal dengan sebutan “The Seven Wonders”. Sumber: Taufiq Ismail dan Usman – Pengendali Ekosistem Hutan Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Pengumuman

Tinggalkan Hutan Demi Lestari Sumber Kehidupan

Bisa dibayangkan betapa besar rasa memiliki para penggarap pada lahan garapan yang sudah diusahakannya secara turun-temurun selama lebih kurang 47 tahun. Sejak kecil, Madjid dan Iyan Mulyana serta warga Desa Cileungsi lainnya sudah diperkenalkan dengan Blok Lebak Ciherang (LBC) sebagai tempat usaha tani yang menjadi tumpuan untuk menutupi keperluan hidupnya. Namun karena kegigihan dan keuletan personil Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), khususnya mereka yang bertugas di Bidang Pengelolaan Taman Nasional Wilayah III Bogor, maka pada tahun 2016 semua penggarap lahan di Blok LBC, dengan kesadaran yang tinggi, meninggalkan lahan garapannya secara sukarela. Namun demikian, pihak Balai Besar TNGGP tetap berupaya membantu mantan para penggarap agar bisa hidup layak sehingga tidak kembali menggarap lahan hutan. Mulai Warisan Sampai Over Garapan Menurut pengakuan Iyan Mulyana, penggarapan lahan di Blok LBC, sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Pria muda kelahiran tahun 1979 ini, merupakan generasi ketiga, sejak kakeknya mulai menggarap lahan di Blok LBC. Keberlanjutan garapan oleh bapak beranak dua ini dilakukan secara temurun atau sistem waris. Keterangan Iyan Mulyana, dibenarkan oleh Madjid, bahwa pada saat penanaman tegakan pinus di Blok LBC, sekitar tahun 1970-an masyarakat mulai ikut bercocok tanam. Bapak paruh baya ini mendapat lahan garapannya melalui jalur waris garapan dari bapaknya, jadi pria kelahiran tahun 1967 ini merupakan generasi kedua. Namun “regenerasi” penggarapan lahan di daerah ini, tidak semuanya terjadi melalui sistem waris, ada juga diantaranya melalui alih garapan. Atep, bapak muda kelahiran Ciamis tahun 1976, mendapatkan lahan usaha tani di Blok LBC lewat alih garapan. Setelah empat tahun menikah dan dikarunia satu orang anak, pada tahun 1999 Atep sekeluarga pindah ke Kampung Loji, Desa Cileungsi, Kecamatan Ciawi dan bertetangga dengan sahabatnya, Iyan. Dari sini, mulailah dia berkiprah di Blok LBC, sehingga dia bisa menambah keturunan menjadi tiga orang. Dua petani yang mengusahakan komoditas kopi, alpuket, dan nangka ini, masing-masing berusaha di lahan seluas ± 3 hektare (Iyan Mulyana) dan ± 1 hektare (Atep), dengan hasil antara 5 sampai 10 juta per tahunnya. Keduanya juga mengaku, penghasilan setelah keluar dari lahan garapan sedikit bertambah, karena disamping masih bisa memanen buah-buahan di lahan bekas garapannya, mereka juga bisa mencari usaha lain. Saat ini Atep membuka warung di kampungnya, sementara Iyan sedang aktif mengembangkan usahan wisata. Lain halnya dengan dua petani di atas, Madjid mengaku pendapatannya saat ini jauh lebih kecil dibanding saat masih menggarap lahan hutan di blok LBC. Pria yang lebih dikenal dengan sebutan “Kajew” ini, menggarap lahan dalam bentuk sawah yang cukup luas. Saat ini Kajew masih tetap memanfaatkan keberadaan hutan Blok LBC sebagai tempat mencari nafkah, melalui penjualan makanan dan minuman kepada para pengunjung LBC. Mantan para penggarap, yang saat ini tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) LBC Lestari Jaya, diwakili oleh Ketuanya Madjid “Kajew”, “Abdi mah sangat satuju lamun di LBC ieu mau dikembangkan menjadi tempat wisata tapi jangan lupa melibatkan para mantan penggarap. Kami siap untuk dilibatkan dalam pengelolaan wisata LBC. Kalau kami dilibatkan dalam kegiatan lain seperti wisata alam, maka penghidupan kami akan sangat terbantu”. Wakil ketua (Iyan) dan sekretaris (Atep) juga menyampaikan terimakasih kepada Balai Besar TNGGP yang telah memberikan penyuluhan dan pembinaan dengan sabar, ulet, dan penuh kesungguhan. Penyuluhan yang sudah dilakukan sejak tahun 2011, dan diintensifkan mulai tahun 2015, membuat mereka sadar bahwa fungsi dan manfaat hutan konservasi jauh lebih besar dari pada sekedar dipakai usaha tani. Bentuk kepedulian lainnya pihak TNGGP, antara lain berupa pemberian bantuan 20 ekor domba. Meskipun baru satu ekor per Kepala Keluarga (KK), namun mereka bertekad akan menggulirkan anak domba pada 15 KK lainnya yang tergabung pada KTH LBC Lestari Jaya yang merupakan kelompok mantan penggarap di Blok Pasir Pogor. Sehubungan telah ada rencana pengembangan wisata di sekitar LBC, mereka juga berharap agar kawasan LBC juga dikembangkan sebagai tempat wisata, dan KTH LBC Lestari Jaya bisa ikut berkiprah di dalamnya. Saat ini sekitar LBC telah dikembangkan Situs Leuweung Larangan, tempat out bound Santa Monika, villa hotel, dan lain-lain. Tanpa Unsur Paksaan Menurut Kepala Resort PTN Tapos, Edi Subandi, sampai saat ini, upaya pengeluaran perambah hutan yang dilakukan masih bersifat pesuasif, tanpa upaya paksa. Balai Besar TNGGP didukung mitra kerjanya, terus berupaya menurunkan para perambah hutan melalui pendekatan sosial, ekonomi, dan pendekatan ekosistem. Selama ini, Balai Besar TNGGP mengupayakan pengeluaran para penggarap hutan melalui penyuluhan, pendidikan lingkungan, dan kegiatan bina cinta alam lainnya. Pendekatan ekonomi dilakukan melalui pemberian bibit ternak, ikan, lebah madu, bibit tumbuhan, peralatan camping, pemberian Ijin Usaha Pemanfaatan Jasa Wisata Alam (IUPJWA), dan lain-lain. Pendekatan ekosistem ditempuh melalui penanaman lahan terdegradasi dengan jenis-jenis lokal yang cepat tumbuh, sehingga hutan cepat rimbun. Lebih lanjut Edi Sobandi mengatakan, “Lebih sulit lagi bagi kami selaku pengelola lapangan tingkat resort untuk dapat mempertahankan keberhasilan ini. Bagaimana agar mantan penggarap tidak lagi kembali ke dalam kawasan sedangkan kondisi matapencaharian mereka jauh lebih sedikit dibandingkan saat masih menggarap di dalam kawasan bahkan ada yang belum mendapatkan pekerjaan tetap”. Oleh karena itu, menurut Edi Subandi untuk kasus Blok LBC, akan terus dilakukan penyuluhan dan pembinaan, serta akan diupayakan keterlibatan masyarakat dalam pemanfaatan jasa wisata. Blok LBC akan dikembangkan menjadi destinasi wisata, sehingga masyarakat lokal akan mendapat kesempatan untuk berkiprah melayani wisatawan. Pada saat ini sudah mulai ada warung yang menjual makan dan minuman. Ke depan, masyarakat diharapkan akan lebih terlibat lagi, misalnya dengan pemberian IUPJWA kepada masyarakat yang tergabung dalam KTH LBC Lestari Jaya. Potensi wisata yang menarik untuk dikembangkan antara lain pemandangan alam (view) yang indah di hutan pinus, udara yang segar, sungai yang jernih, air terjun, telaga, dan lokasi untuk berkemah. Berbagai jenis burung dan primata senantiasa menemani para pelancong. Dengan demikian kegaiatan wisata yang bisa dinikmati di destinasi wisata ini adalah piknik, jalan santai (hiking), berkemah, out bound, dan foto hunting. Dengan beralihnya pemanfaaatan hutan dari usaha tani (penggarapan lahan hutan) ke pemanfaatan jasa lingkungan (ekowisata), diharapkan “era tinggal landas” bisa segera tercapai sehingga slogan “leuweung hejo masyarakat ngejo” bisa terwujud. Semoga ! Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Pengumuman

Cerita Terumbu Karang Kemujan, Not Yet Ending? Bagian 1

Pada kesempatan ini, saya ingin sharing salah satu perhitungan kerusakan ekologis ekosistem terumbu karang (belum valuasi ekonominya) akibat vessel grounding di perairan Taman Nasional Karimunjawa. Saya berani menampilkan ini setelah adanya hasil akhir proses mediasi penyelesaian sengketa lingkungan hidup antara pemerintah yang diwakili Direktorat Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup, Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan pihak Pemilik Kapal, Asuransi yang menaungi Kapal serta Kuasa Hukumnya pada tanggal 19 Oktober 2017 sebesar Rp 987.795.188,36 (Sembilan ratus delapan puluh tujuh juta tujuh ratus sembilan puluh lima ribu seratus delapan puluh delapan koma tiga puluh enam rupiah). Kandasnya TB SP1 – SPA 27007 merupakan cerita kandasnya kapal sejenis yang kedelapan dan kapal bermesin umuMnya yang kesembilan selama tahun 2017. Catatan dalam dokumen Balai Taman Nasional Karimunjawa (Balai TNKj) pernah terjadi kesepakatan pembayaran ganti rugi sebesar Rp 63.000.000,00 (enam puluh tiga juta rupiah) atas kerusakan terumbu karang di perairan TNKj oleh kapal tug boat – tongkang tanpa skema penyelesaian sengketa lingkungan hidup diluar pengadilan sesuai Undang – Undang No. 32 tahun 2009 . Apa artinya? Mungkin bisa kita bahas di lain waktu. Pada tanggal 25 Agustus 2017 pukul 17.15 telah dilaporkan bahwa kapal Tug Boat Samudra Pratama 1 – Tongkang SPA 27007 (TB SP1 – SPA 27007) telah kandas di perairan zona perikanan tradisional Taman Nasional Karimunjawa sebelah barat Pulau Kemujan. SPA 27007 berbendera Indonesia merupakan jenis kapal tongkang (barge) pengangkut barang/log kayu/ material tambang, panjang 82,35 meter dan lebar 24,39 meter, bobot mencapai 2.500 grosstonage dan mempunyai draft (lunas) dari permukaan air ke dasar badan kapal ± 4 meter. Lokasi kandas TB SP1 – SPA 27007 pada koordinat S 5047’12,38” dan E 110027’29,40”. Lokasi tersebut merupakan daerah terumbu karang, dalam catatan mempunyai kedalaman 1 meter pada saat perairan surut terendah. Tipe terumbu karang adalah karang tepi yang menyatu dengan pulau utama yaitu Pulau Kemujan. Tipe terumbu karang tepi ini mampu melindungi pulau utama dari abrasi air laut. Tipe terumbu karang tepi mempunyai kemampuan memecah energy air laut sebelum mencapai daerah pesisir pantai. Pelaksanaan Pengukuran Pada tanggal 11 – 15 September 2017 tim gabungan dari Direktorat Jenderal Penegakkan Hukum Pusat – Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup (Gakkum – PSLH) yang dipimpin oleh Osten Sianipar SH., M.Si terdiri dari Isai Yusidarta, ST., M.Sc. (Balai TNKj), Dr. Pahlano Daud (Politeknik Negeri Manado), Idris, S.Pi. (Yayasan Terangi), Endang A. Rohman (Balai TNKj), Dr. Yudi Wahyudin (IPB) telah melaksanakan pengukuran dampak ekologis dan perhitungan kerugian atas terjadinya peristiwa di atas. Tahapan pelaksanaan terdiri dari : Hasil Pengukuran Patch reef Karakteristik kerusakan Jumlah kuadran Luas kerusakan (m2) Mortalitas (%) 1 Terlindas hancur terpotong (fragmentasi, rubbel) 1 0,68 100 2 Terlindas hancur terpotong (fragmentasi, rubbel) 5 3,90 100 3 Terlindas hancur terpotong (fragmentasi, rubbel) 4 2,02 100 4 Terlindas hancur terpotong (fragmentasi, rubbel) 4 2,91 100 5 Terlindas hancur terpotong (fragmentasi, rubbel) 7 5,56 100 6 Terlindas hancur terpotong (fragmentasi, rubbel) 4 2,48 100 Total 25 17,91 100 Patch Dispersal Karakteristik kerusakan Keliling (m) Luas kerusakan (m2) Mortalitas (%) 1 Rubbel, sedimen 6,6 2,79 50 2 Rubbel, sedimen 11,4 6,45 50 3 Rubbel, sedimen 6,9 6,90 50 4 Rubbel, sedimen 10,4 10,40 50 5 Rubbel, sedimen 12,25 12,25 50 6 Rubbel, sedimen 13,4 13,40 50 Total 60,95 34,55 100 Prosentase tutupan karang hidup pada tranjectory zone sebesar 100% (absolute). Hasil ini dengan membandingkan patch reef yang tidak terdampak kandasnya TB SP1 – SPA 27007 di sekitar titik kerusakan; Prosentase tutupan karang hidup pada dispersal zone sebesar 37,75%. Hasil ini merupakan perhitungan dari software CPCe setelah memasukkan data yang di dapat dati metoda Underwater Photo Transect (UPT). Titik Kerusakan Luas (m2) Tutupan (%) Mortalitas (%) Total Kerusakan (m2) Tranjectory zone 17,91 absolut 100 17,91 Dispersal Zone 34,55 35,75 50 6,18 Total (m2) 52,46 24,09 Jadi luasan terumbu karang yang rusak diakibatkan kandasnya TB SP1 – SPA27007 sebesar 24,09 m2. Sumber : Isai Yusidarta, ST., M.Sc. - PEH Balai TN Karimun Jawa
Baca Pengumuman

Lowongan Finance And Administrative Assistant (FAA) Dan Admin Assitant (AA) Pada Proyek Transforming Effectiveness Of Biodiversity Conservation In Priority Sumatran Landscapes

Jakarta, 23 Oktober 2017. Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscapes (Sumatran Tiger Project) Project bertujuan untuk meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati di lanskap prioritas Sumatera melalui penerapan praktek pengelolaan terbaik bagi kawasan konservasi dan kawasan budidaya yang ada di sekitarnya. Dimana pemulihan populasi harimau sumatera dijadikan indikator keberhasilan proyek yang didanai hibah dari GEF, dan dikelola oleh Kementerian Lingungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan UNDP. Untuk mencapai sasaran project, kami mencari kandidat terbaik untuk mengisi posisi Finance and Administrative Assistant (FAA) untuk penempatan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (KOTA AGUNG-LAMPUNG) dan Admin Assistant (AA) untuk penempatan di Jakarta. Untuk info selanjutnya silahkan klik link sebagai berikut : Narasi FAA_AA_Tiger Project Sumber : Direktorat KKH
Baca Pengumuman

Ini 3 Finalis Lomba Karya Tulis Konservasi TN Takabonerate

Kepulauan Selayar, 21 Oktober 2017. Dalam kegiatan Kemah Konservasi tahun ini. Salah satu kegiatan yang dilombakan adalah Lomba Karya Tulis tingkat SLTA/sederajat se-Kabupaten Kepulauan Selayar. Kegiatan ini dilaksanakan beberapa tahap mulai pendaftaran sampe pengiriman berkas. Sampe hari penutupan untuk batas pengiriman berkas sebanyak 17 pelajar yang menyetorkan karya ilmiahnya dari 32 pelajar yang mendaftar. Setelah diseleksi dengan ketat oleh tiga juri maka hasilnya ada tiga orang pelajar yang berhak ikut serta dalam kegiatan Kemah Konservasi yang dipusatkan di Desa Khusus Pasitallu. Tiga pelajar ini akan diseleksi dan mempresentasikan didepan para juri yang nantinya akan muncul juara 1,2 dan 3. Lomba karya tulis ini jurinya adalah Bayu Dwi Maradana Kusuma (NET Geo Indonesia), Rakhmat Zaenal (Pemerhati Budaya dan Lingkungan Kep. Selayar) dan Sanovra JR (Tribun Timur Makassar). Dan inilah tiga orang pelajar finalis yang berhak ikut dalam kegiatan Kemah Konservasi TN. Taka Bonerate : pengumumanLKT2017 (1) Selamat!!! Sumber : Asri - PEH Balai TN Takabonerate
Baca Pengumuman

Balai TN Bunaken Ajak Kelompok Masyarakat Cahaya Trans Pantau Pemijahan Ikan Karang

Bunaken, 17 Oktober 2017. Spawning Agregation Site (Spags) merupakan pemantauan pemijahan pada ikan-ikan karang yang memiliki nilai ekonomis penting yakni jika dijual ikan tersebut berharga mahal dan laku dipasar serta menjadi sasaran utama tangkapan nelayan. Dalam hal pengelolaan kawasan Taman Nasional Bunaken, nelayan merupakan representatif masyarakat yang selaku pemanfaat langsung pengguna sumber daya perairan yaitu ikan. Ikan-ikan karang umumnya berkelompok dalam jumlah besar pada waktu dan tempat tertentu untuk bereproduksi, spawning adalah perkawinan atau disebut juga pemijahan ikan. Ikan karang melakukan perkawinan / pemijahan pada suatu lokasi yang diyakini akan menjadi sasaran tangkapan utama bagi nelayan. Pemijahan ikan pada suatu wilayah dimana ikan-ikan betina mengeluarkan telurnya dan dibuahi oleh ikan jantan. Umumnya sifat ikan tersebut bergerombol dan menjadikan lokasi tersebut banyak ikan. Ketika nelayan menemukan lokasi pemijahan ikan karang ini, maka akan memasang alat tangkap sehingga dapat mengancam keberadaaan keberadaan ikan tersebut apabila tidak dilakukan pemantauan. Pengamatan dengan pengukuran panjang dan berat ikan oleh nelayan Ikan karang dan biota pengisinya merupakan jantung dan hatinya terumbu karang. Dimana kehidupan di laut tidak akan berwarna-warni tanpa kehadiran biota-biota pengisinya yang beranekaragam serta umumnya memiliki warna-warna yang cerah. Sehingga menjaga jantungnya terumbu karang sudah sewajarnya kita sebagai manusia untuk melakukannya. Ikan karang merupakan salah satu komoditi unggulan perikanan sehingga perlu dilakukan pemantauan agar stok di alam masih dapat terjaga dengan lestari. Dalam pemantauan ikan karang Balai Taman Nasional Bunaken mengajak kelompok nelayan Cahaya Trans yang merupakan kelompok binaan agar bersama dalam pemantauan dan monitoring pemijahan ikan karang tersebut. Kelompok nelayan sebagai subjek pembangunan akan merasakan manfaat langsung dari pengelolaan Taman Nasional Bunaken sebagai sistem penyangga kehidupan. Manfaat yang diterima oleh nelayan tersebut secara langsung adalah sebagai sumber matapencaharian (nafkah dan pendapatan) dan sumber gizi. Adapun manfaat secara tidak langsung merupakan komponen ekosistem lingkungan hidup yang menjadi bagian integral manusia. Ikan karang menempati ekosistem penyusun perairan dangkal yaitu terumbu karang. Jika terumbu karang dalam kondisi baik maka akan terdapat keseimbangan ekosistem tersebut baik sebagai penyedia sumber makanan dan sumber jasa. Untuk itu dengan begitu pentingnya fungsi terumbu karang dalam kehidupan manusia, maka ketergantungan pada sumber daya perikanan sebagai bahan makananan dan sumber nafkah juga sangat tinggi. Tujuan kegiatan Monitoring Spags adalah mengetahui dan mempelajari ikan target tangkapan yang layak tangkap serta ikan target yang bernilai ekonomis penting. Ruang lingkup kegiatan Monitoring Spags di bagian selatan Taman Nasional Bunaken Poopoh antara lain pengamatan ikan karang yang menjadi target tangkapan pada nilai ekonomis tinggi dengan melakukan pengamatan lapangan (underwater) dari kelimpahan ikan pada kategori merupakan ikan famili Siganidae, Labridae, Seranidae dan ikan karang lainnya serta Pengukuran Panjang dan Berat Ikan tangkapan nelayan pada suatu periode tertentu. Pengamatan kelimpahan, perilaku, dan pengukuran panjang dan berat ikan didasarkan atas data tangkapan nelayan yang dikumpulkan pada tahun 2015 dan 2016. Proses pengukuran panjang dan berat ikan bersama anggota kelompok nelayan Cahaya Trans Menurut Berce Toli mewakili kelompok nelayan sangat bersyukur dapat terlibat dalam monitoring pemijahan ikan. Ini merupakan langkah nyata dan sebagai masukan kepada Balai Taman Nasional Bunaken dalam pengambilan kebijakan dalam kaitannya pengelolaan kawasan konservasi. Terdapat pengaruh bulan dan pengaruh penangkapan pada nelayan, jika dalam saat pemijahan dimana ikan berkumpul kemudian ditangkap maka akan terjadi pengurasan sumber daya, selanjutkan dapat disampaikan sebagai bahan masukan dan sosialisasi pada bulan-bulan tertentu ikan-ikan dapat ditangkap dalam kondisi layak dan peringatan apabila untuk tidak ditangkap. Taman Nasional Bunaken juga merupakan bagian dari sumber nafkah. Sumber : Eko Wahyu Handoyo, S.Hut - PEH Balai TN Bunaken
Baca Pengumuman

Peran Naturalis Guide untuk Wisata dan Konservasi di TN Komodo

Labuan Bajo - Alam kawasan TN komodo menyajikan obyek dan daya tarik wisata yang memikat setiap pengunjung. Daya tarik utama kawasan ini adalah satwa komodo, berbagai jenis burung, mamalia dan reptil, keanekaragaman hayati laut dan panorama alam Nusa Tenggara yang kering. Pada lokasi tujuan wisata daratan Loh Liang (Pulau Komodo) dan Loh Buaya (Pulau Rinca), pengunjung wajib ditemani oleh naturalis guide yang akan mendampingi dan menginterpretasikan obyek dan daya tarik wisata di kawasan TN komodo. Kemampuan dan cara interpretasi alam yang baik dan profesional merupakan bagian dari pelayanan pengunjung di kawasan TN komodo. Untuk meningkatkan kapasitas para interpreter ini maka Balai TN Komodo melakukan pelatihan peningkatan kapasitas kelompok binaan naturalist guide yang dilaksanakan melalui dua periode pelatihan yaitu tanggal 19-21 September 2017 dan 2 – 4 Oktober 2017. Kegiatan ini diikuti oleh 61 peserta yang bekerja di dua lokasi wisata, Loh Liang dan Loh Buaya. Materi pelatihan yang diberikan yaitu informasi flora dan fauna kawasan TN Komodo dan interaksi manusia dan satwa liar yang disampaikan oleh staf PEH Balai TN Komodo. Sebagai interpreter, naturalist guide diharapkan memiliki kemampuan dan kapasitas mengenal potensi sumberdaya alam hayati di lokasi wisata. Dalam berinteraksi dengan satwa liar, para wisatawan dan guide menerapkan prinsip menghargai satwa liar (respect wildlife). “Demi kepuasan pengunjung, tidak diperbolehkan mengganggu kenyamanan satwa seperti memaksa mereka bergerak atau memindahkan satwa dari habitatnya ke tempat yang akan terlihat oleh pengunjung” demikian penjelasan Maria Panggur, Staf PEH TN Komodo. Para naturalist guide juga memiliki kewajiban menegur pengunjung atau pelaku usaha agar tidak memberi makan kepada satwa liar di dalam kawasan terutama monyet di site Loh Buaya. Penelitian tentang Bioekologi Komodo tergolong terlambat dimulai jika dibandingkan dengan penelitian satwa liar populer lainnya di Indonesia. Sehingga beberapa informasi mengenai satwa komodo masih sangat terbatas. Hal ini disadari oleh peneliti dari Yayasan Komodo Survival Program (KSP) yang telah mendedikasikan waktu selama lebih dari 10 tahun meneliti satwa komodo di alam. “Jika pertanyaan pengunjung tentang komodo tidak diketahui atau sulit terjawab bukan berarti anda adalah naturalist guide yang buruk karena pada kenyataannya penelitian kita masih sangat terbatas tentang satwa ini” demikian disampaikan oleh Achmad Ariefandy dari KSP. Menurutnya semakin banyak pertanyaan, semakin terbuka peluang penelitian tentang komodo. Pada kesempatan ini, tim KSP membagikan booklet Panduan Lapangan Biawak Komodo/ Komodo Dragon Field Guide, yang berisi informasi tentang taksonomi dan status konservasi komodo, morfologi komodo, wilayah sebaran komodo, siklus hidup serta fakta-fakta menarik lainnya tentang satwa ikonik TN Komodo tersebut. Buku panduan ini merupakan kompilasi penelitian-penelitian tentang komodo yang pernah dilakukan baik di Taman Nasional Komodo maupun di wilayah sebaran komodo lainnya yaitu Flores Barat dan Utara. Selain obyek dan daya tarik wisata di daratan, TN Komodo menyimpan potensi keanekaragaman hayati laut yang sangat tinggi. Wisata bahari di TNK dinobatkan sebagai World’s Best Snorkling Destination oleh Survei CNN, 2015. Daya tarik utama perarian TN Komodo adalah pari manta dan hiu. Sedangkan daya tarik dugong dan paus belum terlalu tergali. Seperti halnya di daratan, para naturalis guide di TN Komodo wajib memiliki pengetahuan tentang alam bawah laut, potensi serta etika berwisata di bawah air. Dengan potensi wisata yang tinggi tersebut, maka naturalis guide juga memiliki peluang besar untuk menjadi pemandu wisata bahari. Materi tersebut disampaikan oleh WWF Indonesia-Program Komodo. Adanya target wisatawan yang sangat tinggi, 500.000 kunjungan per tahun, kemungkinan membawa dampak negatif bagi lingkungan laut. Dampak-dampak buruk bila aktivitas wisata tidak dikelola dengan baik yaitu kecelakaan/ cedera langsung, perubahan sebaran satwa, perubahan perilaku satwa, penurunan kualitas habitat satwa dan stress pada satwa. “Naturalist Guide adalah ujung tombak pengontrol perilaku wisata yang tidak bertanggungjawab. Dan hal tersebut penting mengingat alam yang terjaga adalah modal dalam kegiatan wisata di TN Komodo” ungkap Jensy Sartin, staf WWF. Etika saat pengamatan satwa laut yaitu menjaga jarak pengamatan maksimal (3 m untuk hiu dan pari manta, 40 – 100 m untuk dugong, 100 m untuk lumba-lumba dan paus), selalu awas dengan keadaan sekitar, hindari gerakan mendadak, berhati-hati saat turun ke air, tidak menyentuh satwa, tidak mengejar satwa, tidak menggunakan cahaya kamera berlebihan dan menjaga posisi dan daya apung berada di dasar perairan sehingga memberi ruang bagi satwa untuk bergerak. Khusus untuk satwa dugong, pengamatan sebaiknya dilakukan dari atas kapal, tidak membuat suara bising mengingat satwa ini sangat sensitif dengan gangguan. Selain materi, WWF juga membagikan booklet panduan interaksi dengan satwa laut yang dapat dipelajari oleh peserta. Materi terakhir dalam kegian ini adalah tatacara dan etika guiding oleh pemateri dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI Cabang Labuan Bajo). Upaya perbaikan pelayanan naturalis guide kepada pengunjung TN tidak terlepas dari pemahaman mendasar tentang prinsip pemanduan / Guiding. Seorang pemandu memiliki tugas utama sebagai penghubung wisatawan dengan pusat-pusat ikon destinasi dan khazanah budaya lokal. “Selain memandu wisatawan, profesi guide berperan strategis bagi kemajuan industri pariwisata lokal dan nasional” demikian disampaikan oleh Sebastian, pemateri dari HPI. Selain etika, seorang guide harus memahami informasi yang diberikan dimana informasi tersebut harus menarik (interesting), berkelanjutan (continuity) dan terbaru (updated). Di akhir pelatihan, peserta melakukan simulasi atas materi yang telah diberikan. Penilaian terhadap hasil simulasi dilakukan oleh semua pemberi materi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta serta meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengunjung TN Komodo. Sumber: Balai TN Komodo
Baca Pengumuman

Empat Tahun Membangun TN. Aketajawe Lolobata, Beginilah Profil “Sang Juara”

Hobinya adalah olahraga. Badminton, tenis meja dan masuk ruang fitnes adalah kegiatan rutin diluar kantor. Beladiri atau pencak silat merupakan kegemaran utama Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) ke-3 ini. Beragam teknik diajarkan, diturunkan kepada anak buahnya, pegawai TNAL, terutama anggota Polisi Kehutanan. Tak perduli dimana tempat latihannya, mau dihutan ataupun di halaman kantor. Kepala Balai yang memiliki nama lengkap Sadtata Noor Adirahmanta ini, mengawali karier promosi pertama tahun 2013 sebagai Kepala Balai di Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Pertama kali Beliau menginjakkan kaki di kantor TNAL di Sofifi beliau merasa bersyukur dan optimis akan membawa TNAL ke jalur yang lebih besar. Berbekal impian yang besar, keinginan yang gigih dan melihat potensi pegawai TNAL yang masih muda, Pak Tata (panggilan akrab Kepala Balai) makin yakin dengan program-progam yang akan dijalankannya kelak. “Kalian jangan takut dalam bermimpi, pertama kali pesawat diciptakan juga berawal dari mimpi tentang manusia ingin terbang” motivasi awal dari Pak Tata kepada pegawainya di TNAL. Banyak kegiatan yang merupakan bukti konkrit dari program beliau. Mulai dari kelengkapan suatu dokumen perencanaan suatu taman nasional. Dokumen Desain Tapak, dokumen Master Plan Wisata Alam sampai dokumen Site Plan Wisata Alam telah dibuat bahkan yang pertama presentasi ditingkat Pusat. Mempromosikan keberadaan taman nasional yang dulu banyak orang mengeja saja kesulitan hingga banyak tawaran kerjasama bahkan meningkatnya kunjunjungan wisatawan melalui pameran dan media sosial sesuai instruksi beliau. Untuk internal kantor sendiri, Pak Tata yang melihat banyak potensi para pegawainya tidak segan-segan mengangkat, membimbing dan mengajak pegawainya bersaing dalam segala bidang. Terbukti, berbagai penghargaan tingkat instansi maupun prestasi individu pegawai sudah diraih oleh keluarga besar TNAL. Sebut saja penghargaan TNAL sebagai salah satu perencana terbaik, pengelola BMN terbaik, juara lomba video drone terbaik, juara booth pameran terbaik dan lain sebagainya. Menyikapi hal tersebut, Pak Tata kembali memberikan motivasi bahwa “Pemimpin yang juara pasti melahirkan para juara”. “Kalian adalah sebuah ferrari yang memiliki kecepatan 200 km/jam dan bukan mobil lain yang kecepatannya lebih lambat, jadi tunjukan bahwa kalian itu ferrari”, kata-kata Pak Tata yang tidak mungkin terlupakan dalam ingatan anak buahnya. Disisi lainnya, program unggulan yang didedikasikan untuk Maluku Utara, untuk melindungi salah satu keanekaragaman hayatinya dibuatlah bangunan yang akan menjadi tujuan orang mengunjungi Maluku Utara. Bangunan itu adalah Suaka Burung Paruh Bengkok (SBP). Program yang juga berawal dari mimpi besar, keprihatinan dan rasa cinta tanah air yang besar dimana banyak data yang menunjukkan bahwa burung paruh bengkok di Maluku Utara diperjual belikan bebas didalam negeri maupun diluar negeri. Bahkan ada yang berusaha mendapatkan sertifikat internasional terkait status asal burung tersebut. Dengan bangunan SBP yang akhirnya diakui oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sebagai salah satu role model dan dukungan dari pemerintah daerah setempat, maka keberadaan burung paruh bengkok bisa tetap terjaga di Maluku Utara. “Karena akhir dari pengelolaan kawasan konservasi adalah pengelolaan yang paripurna, yang berbasis masyarakat, yang sudah dikelola sendiri oleh masyarakat dengan lestari”, kata Pak Tata. Tidak sedikit tantangan dan ide-ide besar di Taman Nasional Aketajawe Lolobata dipecahkan dan dicetuskan dalam acara “ngopi bareng” di kafe ataupun di gedung olah raga. Setiap kali menemukan hambatan ataupun tantangan baru, beliau selalu berimprovisasi dan memiliki keputusan yang sama sekali tidak terpikirkan oleh anggota “Ngopi” lainnya. Itulah salah satu keakraban yang ditunjukkan Kepala Balai kepada para pegawainya. Selain membicarakan pekerjaan juga membicarakan tentang hal-hal yang ringan, contohnya batu bacan. Karena Pak Tata juga hobi mengoleksi cincin dari berbagai daerah. “Saya tahu kondisinya, sekali lagi Apa Boleh Buat, Hajar Bleh”, satu lagi prinsip, moto, motivasi dari Pak Tata yang tidak akan pernah terlupakan dari kenangan para pegawainya. Kedekatan dan keakraban antara seorang pimpinan dengan anak buahnya terlihat bagaikan tidak ada jarak. Karena siapapun yang mengenal Pak Tata akan langsung akrab dan segan. Bapak yang sederhana ini telah berhasil menaikkan pamor dan level instansi serta para pegawainya. Beberapa kali Beliau mengajak keluarga tercintanya berlibur mengunjungi TNAL. Disini semua anggota keluarga disambut dengan baik dan menjadi keluarga besar TNAL. Sekarang, Pak Tata telah mendapatkan amanah baru dalam kariernya. Saatnya pula Pak Tata membangun impian baru ditempat yang baru. Taman Nasional Aketajawe Lolobata sudah berada dipuncak dalam level pengenalan, karena pesan Pak Tata kepada pegawainya bahwa “Level ini sudah kalian lalui, saatnya kalian ke level selanjutnya, pengelolaan taman nasional yang siap bekerja sama, melibatkan mitra-mitra ataupun masyarakat”. Oleh : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Pengumuman

Serangga Purba Penghuni Dasar Hutan Sumatera

Sebagian besar masyarakat mungkin belum pernah melihat maupun mengetahui keberadaan makhluk ini. Serangga yang dalam bahasa Inggris biasa disebut sebagai Trilobite beetle merupakan serangga yang memiliki bentuk tubuh yang menyerupai binatang purba yang dikenal sebagai Trilobite sebangsa krustacea yang hidup di dalam lautan jutaan tahun lalu. Berbeda dengan makhluk purba tersebut serangga yang termasuk dalam genus Duliticola dengan famili Lycidae ini menghuni dasar hutan hujan tropis di wilayah India dan Asia Tenggara. Di Indonesia genus Duliticola dapat dijumpai hidup dibawah tumpukan kayu yang lapuk maupun dibawah seresah daun mati di lantai hutan yang lembab di Pulau Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Sebagian besar bagi para ilmuan menganggap bahwa penelitian mengenai kehidupan Trilobite beetle memiliki tantangan tersendiri karena serangga ini masih sangat sulit untuk dijumpai di habitatnya. Masih sedikit informasi mengenai daur hidup serangga. Genus Duliticola memiliki Dimorfisme bentuk tubuh, yaitu bentuk tubuh jantan dan bentina sangatlah jauh berbeda. Foto diatas merupakan serangga berjenis kelamin bentina, sedangkan serangga jantan memiliki bentuk seperti kumbang pada umumnya dengan antena tebal dan panjang dengan ukuran kurang lebih 5 - 10 mm sedangkan untuk ukuran betina bisa mencapai ukuran 10 kali lebih besar yaitu sekitar 60 mm. Masih sangat jarang informasi mengenai daur hidup serangga ini di alam, namun terdapat penelitian yang komprehensif dari salah satu ilmuan berkewarganegaraan Singapura pada tahun 1996 oleh Alvin T.C. Wong dari Department of Zoology dari universitas National University of Singapura menunjukan bahwa daur hidup species Duliticola hoiseni yang berasal dari Peninsula Malaysia dan Singapura dimulai dari telur, kemudian serangga kecil akan merangkak mencari tempat yang mereka butuhkan seperti pada kayu-kayu lapuk maupun sersah dedaunan yang telah membusuk dilantai hutan yang basah dan lembab. Mengacu pada penetian sebelumnya, jenis makan yang serangga ini masih menuai perdebatan diantara beberapa ilmuan. Sebagian besar mengatakan bahwa Trilobite beetle merupakan serangga predator yang dapat memakan siput atau serangga lainya, namun ilmuan yang lainnya membantah bahwa serangga ini lebih pasif dalam mencari makan dan mereka lebih menyukai untuk memakan jamur, getah tanaman maupun, maupun cairan yang keluar dari kayu lapuk. Terlepas dari perdebatan tersebut, penelitian mengenai serangga ini di Indonesia bisa dikatakan masih sangat sedikit bahkan tidak ada, sudah selayaknya kita menaruh perhatian besar terhadap keanekaragaman hayati yang kita miliki, karena keanekaragaman flora dan fauna yang kita miliki merupakan aset berharga bangsa yang dapat bermanfaat besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan juga untuk kesejahteraan masyarakat. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Pengumuman

Menguak Populasi Sang Garuda

Menguak Populasi “Sang Burung Garuda” Di Kawasan Hutan Geger Bentang Resort PTN Cibodas, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Elang Jawa (Nisaetus bartelsi Stresemann, 1924) adalah spesies burung endemik di Pulau Jawa (Birdlife International 2012) dengan status dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Berdasarkan Buku Data Merah (IUCN Redlist), elang Jawa dikategorikan ke dalam satwa “terancam punah/ genting” (Endangered Species), dengan tren populasi menurun (decreasing) serta termasuk dalam daftar Appendik II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), yang mengatur larangan seluruh perdagangan internasional tanpa adanya ijin khusus (Permenhut No. 58 Tahun 2013). Sebagai pemangsa, status ekologi elang Jawa berada di puncak rantai makanan (top predator) sehingga keberadaannya dapat menjadi indikator kualitas lingkungan yang baik. Spesies ini juga masuk dalam prioritas konservasi yang tercantum dalam Permenhut No. 57 Tahun 2008 dan termasuk dalam 14 spesies prioritas utama yang tercantum dalam Keputusan Dirjen PHKA No. 132 Tahun 2011 dan No. 109 Tahun 2012. Selain itu, elang Jawa dianggap identik dengan “Burung Garuda” yang menjadi lambang negara Republik Indonesia sehingga pemerintah menetapkannya sebagai satwa nasional dengan sebutan Satwa Langka (Kepres No. 4/1993 dalam Setio 2013). Sedangkan SK yang ditetapkan terakhir melalui SK Direktorat Jenderal KSDAE No. 180/IV-KKH/2015 tentang Penetapan 25 Satwa Terancam Punah Prioritas. Saat ini kondisi elang Jawa berisiko mengalami kepunahan karena berkurangnya habitat akibat berubah peruntukan lahan dan masih maraknya perburuan untuk perdagangan satwa. Jenis ini banyak diminati dan ditangkap dari alam untuk dipelihara karena keunikan dan kelangkaannya (Sozer et al., 1999). Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) dengan kondisi hutannya yang relatif masih baik merupakan salah satu habitat alami bagi elang Jawa. Namun demikian, informasi mengenai spesies yang ada, struktur umur, ukuran populasi, penyebaran, kondisi habitat serta data lainnya masih belum memadai. Padahal informasi ini sangat diperlukan khususnya dalam pengambilan kebijakan pengelolaan kawasan dan perlindungan jenis. Banyak kegiatan yang telah dilakukan untuk melestarikan elang Jawa di TNGGP, antara lain upaya pengamanan, perbaikan habita.t, penyuluhan, monitoring populasi dan distribusi, monitoring kondisi dan ketersedian habitat, ancaman/ gangguan dan beberapa informasi lainnya yang bisa menunjang kelestarian elang Jawa di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Rabu, 13 September 2017 Tim Monitoring yang terdiri dari Fungsional PEH Bidang I Cianjur, Tenaga Ahli Raptor Conservation Society (RCS), dan Volunteer Montana melaksanakan kegiatan monitoring elang Jawa di kawasan hutan Blok Geger Bentang yang termasuk ke dalam wilayah kerja Resort PTN Cibodas. Monitoring dilaksanakan dengan metode pengamatan langsung berupa penghitungan pada titik perjumpaan (Point Count Method). Metoda ini dilakukan dengan mengambil data lapangan berdasarkan pada titik/ point pengamatan dengan memperhatikan perkiraan jarak atau sudut pandang (distance estimate). Dengan hasil sebagai berikut: 1. Kegiatan Monitoring Populasi Elang Jawa dilaksanakan Blok Geger Bentang Resort PTN Cibodas pada ketinggian 1.285 mdpl. 2. Pada lokasi pengamatan, ditemukan perjumpaan dengan Elang Jawa baik sarang maupun saat beraktivitas (soaring, gliding, perching, dan diving), sehingga habitat Elang Jawa di Bidang PTN Wilayah I Cianjur khususnya Blok Geger bentang masih dianggap memadai/ baik. 3. Sarang Elang Jawa yang ditemukan terdapat pada pohon pasang (Lithocarpus pallidus (BI) Rehd) di Blok Geger Bentang Resort PTN Cibodas pada ketinggian 1.285 mdpl. 4. Persentase perjumpaan elang Jawa berdasarkan pengelompokan waktu aktivitasnya pada rentang waktu antara pukul 06.00 s.d 12.00 WIB terjadi sebanyak 8 kali perjumpaan (80%) dan antara pukul 12.00 s.d 17.00 sebanyak 2 kali perjumpaan (20%). 5. Kategori kelimpahan yang dihasilkan sebesar 0,138 berada pada rentang kategori kedua yaitu antara 0,1 – 2,0 dengan nilai kelimpahan 2 dan skala urutan “Tidak Umum”, artinya jenis Elang Jawa merupakan spesies yang jarang dijumpai tapi masih dalam kisaran “bisa/ memungkinkan” ditemukan di dalam kawasan TNGGP 6. Kepadatan satwa elang Jawa yang terdapat di RPTN Cibodas 0,286 ekor/ Km. 7. Berdasarkan hasil monitoring dan analisa data bahwa pendugaan/ estimasi populasi elang Jawa Resort PTN Cibodas di Bidang PTN Wilayah I Cianjur adalah sebanyak 5 ekor. 8. Berdasarkan hasil analisa terhadap pola persebaran elang Jawa di atas didapatkan hasil indeks morisita di Blok Geger Bentang RPTN Cibodas (4,22). Dari keseluruhan pengamatan, id yang dihasilkan bernilai >1 sehingga dapat disimpulkan bahwa pola sebaran elang Jawa di lokasi pengamatan adalah acak (random). Pada umumnya, lokasi ditemukannya elang Jawa memiliki ciri khas bentang alam yang relatif hampir sama, yaitu diantara lembah yang curam, kemiringan ≥ 45°,Y terdapat sumber air dan kondisi vegetasi rapat didominasi oleh pohon endemik seperti Puspa (Schima wallichii), Pasang (Quercus sp.), Saninten (Castanopsis argentea), Huru (Litsea sp.), Rasamala (Altingia excelsa), Beunying (Ficus fistulosa), Kondang (Ficus variegata), Walen (Ficus ribes), Kuray (Trema orientalis), Manglid (Mangnolia blumei), Ganitri (Elaeocarpus ganitrus), Suren (Toona sp.), Kareumbi (Omalanthus populneus), Manggong (Macaranga Rhizinoides), dll. Selain jenis pohon endemik, juga terdapat hamparan vegetasi bambu dan jenis tumbuhan bawah/perdu yang dominan adalah rotan (Calamus sp.), suangkung, paku tiang, congkok, hariang/ begonia, kirinyuh, kaliandra, dan lain-lain. Sumber: Agus Deni – PEH Balai Besar TN Gunung Gede Pengarango
Baca Pengumuman

Ternyata “Hama” Bagi Petani Madu Adalah Jenis Fauna Yang Dilindungi

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus pygmaeus) dan Beruang Madu (Helarctos malayanus) adalah dua spesies yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Akan tetapi kedua jenis ini merupakan “hama” bagi masyarakat Desa Nanga Lauk yang mata pencaharian utamanya adalah petani madu hutan. Mereka menceritakan bahwa tikung (kayu yang sengaja dipasang di pohon sebagai tempat lebah bersarang) yang sudah hinggapi lebah dan berisi madu sering dirusak Orangutan dan Beruang Madu. Orangutan dan Beruang Madu ini menyenangi madu alam sebagai alternatif pengganti pakan lainnya. Pada musim lebah bersarang tidak jarang masyarakat yang akan memanen madu harus mengalah karena didahului oleh Orangutan ataupun Beruang Madu. Kondisi ini sudah berlangsung lama, namun mereka hanya bisa pasrah dan tidak pernah membunuh satwa tersebut. Fakta ini terungkap saat Kegiatan Pelatihan Perlindungan dan Pengamanan di Hutan Desa Nanga Lauk pada tanggal 12 - 15 September 2017 bertempat di Desa Nanga Lauk, Kecamatan Embaloh Hilir Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. Pelatihan ini sebagai bagian dukungan perhatian dan komitmen bagi desa Nanga Lauk dalam mengelola hutan secara lestari, sehingga melalui hibah poyek ADB TA 8331-INO berupaya mengembangkan kapasitas dan peningkatan kualitas pengelolaan hutan desa serta masyarakat desa. Pelaksana kegiatan Pelatihan Perlindungan dan Pengamanan Hutan Desa ini adalah dari People Resources and Censervation Foundation (PRCF) Indonesia bekerjasama dengan Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BBTNBKDS). Sebelumnya Pengelolaan Hutan Desa Nanga Lauk seluas 1.544 ha yang merupakan kawasan Hutan Lindung mendapat perhatian Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan menetapkan Hak Pengelolaan Hutan Desa Nanga Lauk Nomor SL. 685/MNLHK-PPSKL/PKPS/PSL.0/2/2017 tanggal 28 Februari 2017. Informasi mengenai jenis satwa yang dilindungi bagi masyarakat Desa Nanga Lauk baru diketahui dan tentunya sangat mengejutkan mereka. Jika satwa tersebut dilindungi, bagaimana dengan nasib masyarakat yang mata pencahariannya bergantung kepada madu hutan, apakah tidak dilindungi oleh Pemerintah juga? Apakah melindungi satwa tersebut lebih penting daripada membangun masyarakat ? Demikian beberapa pertanyaan dari Pak Adi, salah satu peserta pelatihan dan juga merupakan mantan kepala Desa Nanga Lauk. Syarif M. Ridwan, PEH BBTNBKDS selaku pemateri menanggapi bahwa kebijakan terhadap perlindungan satwa yang dilindungi undang-undang adalah bersifat umum, artinya berlaku di seluruh Indonesia. Kriteria fauna dilindungi adalah (1) mempunyai populasi yang kecil, (2) adanya penurunan yang tajam pada jumlah Individu di alam, (3) daerah penyebarannya yang terbatas (endemik). Dengan pertimbangan tersebut maka perlu diatur perlindungan terhadap beberapa jenis tumbuhan dan satwa dan ditetapkan dalam peraturan pemerintah. Sementara untuk kasus konflik antara manusia dan satwa dapat terjadi apabila habitat satwa tersebut terganggu, kurangnya sumber pakan, terjadinya kompetisi alam, gangguan manusia (perburuan liar) dan lain sebagainya. Untuk kasus di Desa Nanga Lauk perlu dilakukan kajian terkait dengan faktor penyebab Orangutan dan Beruang senang memakan madu hasil budidaya masyarakat petani madu hutan. Selanjutnya perlu segera dicarikan solusi yang mampu menjadi menjembatani antara konflik yang terjadi di Hutan Desa Nanga Lauk. Membangun masyarakat adalah merupakan kewajiban sebuah negara. Selama ini pembangunan yang hanya mengeksploitasi alam kurang memperhatian asas kelestarian sehingga dampak yang ditimbulkan adalah kerusakan alam dan efeknya juga dirasakan oleh manusia. Pengelolaan tumbuhan dan satwa adalah merupakan bagian dari daya dukung untuk melaksanakan pembangunan berkelanjutan. Disamping terlaksananya kelestarian alam, pembangunan juga dapat berjalan sebagaimana mestinya. Artinya tidak ada kesan bahwa melindungi tumbuhan dan fauna lebih penting dari manusia, karena pengelolaan tumbuhan dan fauna yang baik tujuannya adalah untuk membangun manusia. Menurut Diretur PRCF Indonesia, Imanul Huda, S. Hut, M. Hut, persoalan konflik antara masyarakat Desa Nanga Lauk dengan Orangutan dan Beruang Madu ini harus segera mendapat perhatian yang lebih serius. Keberadaan kedua jenis yang juga merupakan amanat pengelolaan Taman Nasional Betung Kerihun dan Taman Nasional Danau Sentarum ini sebenarnya adalah potensi daya tarik unggulan bagi Pengembangan Ekowisata karena mendapat perhatian dari dunia internasional. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana menjadikan “Hama” bagi masyarakat petani madu hutan Desa Nanga Lauk ini menjadi potensi daya tarik ekowisata unggulan di Hutan Desa Nanga Lauk. Dengan berkembangnya ekowisata, kepentingan masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya akan terjaga, serta pelestarian terhadap terhadap jenis yang dilindungi dapat dilakukan. Penyampaian materi Kebijakan Perlindungan dan Pelestarian Fauna Yang Dilindungi Sumber : Syarif M. Ridwan - PEH Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Pengumuman

Cerita Hari ke-7 Ekspedisi Lolobata 2017

Sofifi, 18 September 2017. Sore hari, tepat tanggal 15 September salah satu anggota tim Ekspedisi Lolobata yang tergabung dalam tim dokumentasi keluar kawasan taman nasional dan akan kembali ke Jakarta. Rencana ijin tersebut memang sudah tercantum dijadwal ekspedisi karena alasan pekerjaan. Anggota tim tersebut adalah Bapak Dany Prabowo. Setelah sampai di Sofifi (16/09), Pak Dany menyatakan bahwa kondisi tim sangat baik dan antusias serta kondisi kawasan taman nasional masih rimba alam. Tak lupa Pak Dany juga membawa titipan dari Pak Harley B. Sastha yang merupakan seorang travel writer berupa tulisan perjalanan sampai hari ke-4 di Ekspedisi Lolobata Tahun 2017. Berikut tulisan perjalanan dari Pak Harley : Gerimis menyambut awal perjalanan tim ekspedisi lolobata 2017. Sepuluh menit meninggalkan entri poin, lintasan penjelajahan sudah memasuki memasuki jalur sungai Dodaga dengan total lebar sekitar 10-15 meter. Kami terus berjalan melintasi dan menyeberangi sungai. Sepanjang aliran sungai setiap anggota tim mengumpulkan dan mengidentifikasi berbagai temuan. Fenomena dan atraksi alam serta satwa dan tumbuhannya. Sekitar tiga jam perjalanan, kami melihat atraksi alam berupa air terjun kembar yang tersembunyi di balik kerimbunan pohon. Kedua air terjun ini lokasinya bersebelahan dengan air terjun yang terlihat dari luar. Mempunyai tinggi sekitar 5 meter, air yang mengalir pada air terjun kembar tersebut melintasi batuan karst muda. Memperlihatkan atraksi alam yang menarik. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 17:00 WIT. Kami memutuskan untuk mendirikan camp. Selain evaluasi perjalanan pada hari pertama, tidak banyak yang kami lakukan saat itu. Hari berikutnya, 12 September 2017, karena hujan turun sejak pagi, jadwal perjalanan kami kembali mundur beberapa jam. Namun, anggota tim, tetap berusaha mengumpulkan dan mengindentifikasi flora dan fauna disekitar areal camp. Perjalanan menuju camp kedua dari camp sebelumnya, kami tempuh dalam waktu sekitar 3 jam. Seperti sehari sebelumnya, jalur yang kami lalui masih menyusuri Sungai Dodaga. Dalam perjalanan kami menemukan satu rumah suku Tobelo Dalam. Tetapi, penghuninya sedang tidak ditempat. Menurut salah satu porter kami yang juga berasal dari suku Tobelo Dalam, mereaka kemungkinan sedang berburu atau sudah berpindah tempat. Karena pada hingga saat ini sebagian dari mereka hidupnya masih nomaden. Camp kedua berada disekitar percabangan sungai. Landskap disekitarnya sangat menarik. Setiap sisi menyajikan panorama yang berbeda. Di camp ini kami menginap dua malam untuk melakukan kegiatan eksplorasi. Cuaca pada hari ketiga kembali hujan. Lagi-lagi kegiatan eksplorasi menjadi kurang maksimal. Namun, walaupun dalam kondisi gerimis, kami berhasil memetakan air terjun yang lokasinya sekitar 4 kilometer atau 3 jam perjalanan dari camp kedua. Untuk menuju air terjun tersebut, kami berjalan menyusuri anak sungai Dodaga menuju ke hulu. Air terjun yang oleh masyarakat Tobelo Dalam disebut Sigare-gare Hie ini lokasinya memang tersembunyi. Berada di bawah bukit dan jika di lihat dari atas terhalang oleh tajjuk-tajuk pohon. Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 15 meter ini limpsdsnnys airnya cukup kencang. Namun, terlihat bagus dan menarik. Bukan hanya air terjun, walaupun tidak banyak, anggota tim lainnya juga berhasil mengumpulkan dan mengidentifikasi beberapa temuan disekitar areal camp. Masih disekitar camp, kami juga memetakan makam salah kakek buyut dari masyarakat Tobelo Dalam yang juga menjadi porter kami saat ekspedisi. Menurut pengakuannya, kakek buyutnya dimakamkan sekitar tahun 1971 yang meninggal saat usia sekitar 80 tahun. Setidaknya informasi ini menunjukkan bahwasannya di dalam belantara Halmahera telah ada kehidupan sejak lama. Memasuki hari keempat, 14 September 2017, menuju camp selanjutnya, kami menyusuri sungai homo-homo yang juga merupakan anak sungai Dodaga. Makin masuk ke dalam hutan terlihat lebih rimbun. Diawal-awal perjalanan cuaca cukup baik. Matahari bersinar cukup terik. Namun, selepas jam 12 siang waktu setempat, hujan kembali turun. Sebelum tiba di camp ketiga, selepas sungai kami mendaki menuju puncak bukit kemudian turun kembali menuuju sungai homo-homo hingga tiba di camp dengan total waktu perjalanan dari camp kedua sekitar hampir 5 jam. Walaupun kondisi cuaca kurang bagus, ssetidaknya hingga hari keempat, sepanjang perjalanan tim ekspedisi berhasil melihat beberapa jenis burung yang terbang melintas maupun yang bertengger di atas pohon. Diantaranya, Rangkong, Nuri Ternate, Nuri Bayan, Kakatua putih, Elang Bondol, Julang Papua dan sebagainya. Untuk kupu-kupu menurut Yunus dari TN Bantimurung Bulusaruang yang juga ikut serta dalam ekspedisi , hingga hari keempat telah ditemukan 53 jenis kupu-kupu. Dari jumlah tersebut 41 telah menjadi spesimen (salah satunya seekor kupu-kupu endemik kawasan Wallace dimana Maluku Utara masuk di dalamnya). Sisanya 12 ekor tidak tertangkap – termasuk 3 jenis yang dilindungi. Untuk potensi goa, menurut Feny dari Mapala Silvagama, sayangnya belum terlihat. Batuan karst juga masih sedikit yang terlihat. Kalaupun ada itu juga masih muda. Salah satunya pada dinding air terjun kembar.Batuan jenis andesit lebih banyak terlihat. Salah satu kesulitannya menurut Feny, karena tim memang lebih banyak menyusuri sekitar sungai saja. Harusnya harus lebih banyak memutari kawasan jika ingin mencari goa. Menurut Feny lagi, kalau dilihat dari temuan vegetasi landskap alamnya, kawasan ini sangat kaya. Namun, sayang belum banyak dieksplore lebih dalam. Dalam ekspedisi ini, jenis capung juga mendapat perhatian penting. Agal dari Indonesia Dragon Fly mengatakan hingga hari keempat, berhasil mendata 20 jenis capung. Namun, yang sudah dalam bentuk spesimen 15 ekor. Dari jumlah tersebut 5 ekor jenis capung jarum yang merupakan endemik Halmahera. Dalam kondisi cuaca yang kurang begitu bagus, jumlah tersebut cukup banyak. Sekitar 500 meter sebelum tiba di camp tiga, Tyo berhasil meangkap salah satu jenis reptil: Candoya Poulsoni Tasmae dengan panjang 98 cm – lebih panjang sekitar 34 cm dari data terakhir yang telah tercatat dan dibukukan sebelumnya. Menurut Mahrozi untuk Jenis tumbuhan sendiri yang sudah tercatat sekitar 36 jenis. Baik jenis pohon hingga palm. Sepanjang perjalanan kalau dilihat secara umum kawasan ini sangat kaya. Ada lebih dari 100 spesies jenis flora. Sama seperti anggota tim lainnya, hujan menjadi salah satu kesulitan dalam pengumpulan spesimen untuk tumbuhan. Melihat hasil yang diperoleh hingga hari keempat, Aep – pimpinan perjalanan tim ekspedisi lolobata 2017, mengatakan cukup baik. Terlebih dengan kondisi cuaca yang kurang bagus. Dimana hujan kadang hampir sepanjang hari turun. “Alhamdulillah hingga hari keempat ekspedisi, apa yang kita harapkan dan inginkan tepenuhi. Tinggal untuk kedepannya pada beberapa hari terakhir, beberapa informasi lain yang TN Aketajawe Lolobata sampaikan sebelum perjalanan ekspedisi dimulai bisa kita temui”, ujar Aep saat istirahat malam hari di camp tiga. Tim ekspedisi Lolobata berharap pada hari-hari berikutnya cuaca lebih baik dan berhasil mendata dan mengkoleksi dari temuan-temuan yang sudah ditemukan hingga hari keempat. Ekspedisi Lolobata 2017 – Tagi Togumua (No Limit Exploring atau Berjalan Tanpa Henti)”. (Harley B. Sastha – Anggota Tim Ekspedisi Lolobata 2017) Sumber : Akhmad David Kurnia Putra Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Menampilkan 97–112 dari 257 publikasi