Sabtu, 3 Jan 2026

Beranda Publikasi Pengumuman

Pengumuman

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Pengumuman

Burung-burung di Taman Nasional Matalawa (Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti)

Dua dasawarsa yang lalu, Manupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti (Matalawa) merupakan dua kawasan konservasi yang ditunjuk untuk melindungi burung-burung endemik. Kini menjelma menjadi Matalawa yang terus berinovasi dan mempromosikan potensi kawasannya, sehingga tidak hanya dinikmati oleh masyarakat setempat tetapi juga bisa dikunjungi oleh wisatawan dari pulau lain dan bahkan dari negara lain. Buku ini menjadi energi positif bagi kebangkitan pengelola kawasan konservasi yang tidak hanya di Matalawa tetapi juga kesatuan kawasan-kawasan konservasi lain di negara tercinta ini. Kami mengapresiasi sekali atas lahirnya karya-karya semacam ini, dan terus mendorong untuk munculnya ide-ide dan pemikiran baru yang fresh dari anak-anak bangsa. -Wiratno- Direktur Jenderal KSDAE Untuk lebih lanjutnya, silahkan klik link di bawah ini : Burung-Burung di Taman Nasional Matalawa
Baca Pengumuman

Lipstik Merah Bunga Aeschynanthus

Aeschynanthus merupakan tanaman yang memiliki penampilan yang menarik. Pada dasarnya tanaman ini merupakan tanaman liar dan saat ini Aeschynanthus telah tersebar luas ke berbagai penjuru dunia sebagai tanaman hias dan sudah dibudidayakan sejak lama sebagai tanaman indoor yang lebih popular disebut sebagai bunga lipstik. Terdapat sekitar 180 spesies bunga lipstik tersebar di Asia dan tentunya Indonesia. Indonesia merupakan gudang berbagai spesies bunga lipstik dunia, mereka menghuni hutan hujan lembab Pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan beberapa pulau lainya. Aeschynanthus merupakan tanaman epifit yang pada umumnya tumbuh menempel dan merambat pada batang pohon pohon besar. Bunga lipstik pada umumnya menyukai kondisi lingkungan dengan kelembapan yang tinggi dengan sedikit cahaya matahari namun beberapa spesies tumbuh dilokasi yang penuh dengan cahaya matahari. Akar tanaman akan menjalar dan menempel dengan kuat pada bagian batang tanaman sedangkan sulur batang akan menjuntai hingga dapat mencapai panjang tiga meter. Daun tanaman Aeschynanthus relatif kecil tergantung pada spesiesnya. Pada umunya bunga lipstik memiliki daun yang oval, bulat maupun sedikit meruncing dengan warna hijau mengkilat karena permukaan daun dilapisi oleh lilin. Bunga tanaman ini memiliki warna yang sangat beragam, mulai dari kuning, jingga, merah, bahkanmerah pekat kehitaman. Aeschynanthus memiliki bunga seperti terompet yang muncul pada ujung sulur batang tanaman. Tanaman ini merupakan tanaman evergreen yang selalu hijau sepanjang tahun dan berbunga sepanjang tahun. Apabila musim bunga telah tiba bunga akan muncul serempak dan semarak dengan warna yang mencolok tergantung disetiap ujung sulur tanaman. Sumber : Pungky Nanda Pratama - Kader Konservasi Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Pengumuman

Aonyx cinereus si Berang – Berang Cakar Kecil Penghuni Sungai Sumatera

Berang-berang cakar kecil (Aonyx cinereus) merupakan spesies berang-berang asli Sumatera yang dapat dijumpai di danau, sungai, lahan basah maupun hutan mangrove. Dilaporkan bahwa berang berang jenis ini juga hidup di pulau Jawa, Kalimantan, Filipina, Malaysia, Cina hingga India. Aonyx cinereus memiliki warna bulu coklat dengan warna abu-abu pada bagian leher . Seperti pada jenis berang berang yang ada didunia. Berang- Berang Kecil Sumatera juga memiliki kepala yang kecil, kaki yang pendek dengan kuku yang pendek serta ekor yang pipih. Keluarga berang-berang ini menyukai aliran sungai yang memiliki banyak vegetasi seperti rumput serta berpasir. Mereka akan membuat sarang didalam lubang lubang yang mereka buat ditepian sungai. Pada umumnya mereka hidup secara berkelompok dengan anggota 5 – 12 individu. Dalam satu kelompok merupakan satu keluarga diantaranya kedua induk beserta anak anaknya yang selalu bersama. Dalam mencari makan mereka akan saling bekerjasama untuk menangkap buruannya. Jenis makanan yang disukai oleh berang berang ini adalah katak, ular, crustacea termasuk kepiting, udang,ikan bahkan mamalia kecil lainnya. Dengan menggunakan cakarnya berang-berang ini bisa dengan mudah membuka cangkang kepiting yang keras dan mengambil bagian dalamnya. Aonyx cinireus merupakan jenis berang-berang yang sangat suka bermain apabila mereka tidak melakukan perburuan namun mereka sangat sensitif untuk didekati oleh manusia yang menjadi alasan berang-berang ini sangat jarang dijumpai. Saat ini jumlah populasi berang berang ini belum diketahui pasti (Vulnerable) karena belum banyak peniliti maupun bidang keilmuan yang menelaah lebih jauh mengenai spesies berang-berang ini. Berbagai masalah mengancam populasi berang berang ini diantaranya adalah rusaknya habitat akibat alih fungsi sungai dan lahan yang menyebabkan habitat berang berang ini dengan cepat menghilang. Tingginya penebangan liar menyebabkan sumber air menghilang dan sungai sungai kecil sebagai habitatnya turut mengering. Rusaknya kualitas air akibat limbah pencemaran juga turut serta membuat sumber pakan kian langka. Alih fungsi sungai dan danau menyebabkan terjadinya konflik antara berang-berang dan manusia yang menganggapnya sebagai hama dan musuh yang menyebabkan populasi terus merosot tajam. Masalah yang tahun tahun ini dihadapi oleh berang berang ini adalah perdagangan satwa ilegal hasil dari tangkapan alam. Anak berang berang akan diambil paksa atau induk berang berang akan dibunuh demi untuk mengambil anak anaknya. Terbatasnya penelitian maupun fokus pemerintah untuk melindungi spesies berang-berang ini merupakan salah satu tantangan dalam upaya konservasi spesies mamalia karismatik ini. Semoga pada tahun tahun mendatang akan ada regulasi perdagangan satwa yang akan melindungi binatang seutuhnya khususnya satwa yang ditangkap dari alam liar. Sumber : Pungky Nanda Pratama - Kader Konservasi Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Pengumuman

“Katinting Karnaval” Ajang Nelayan Tradisional Untuk Lingkungan Hidup

Perahu Katinting adalah perahu kecil yang dapat mengangkut 3-4 orang. Perahu katinting bisa dikategorikan sebagai perahu trasidional karena perahu ini dibuat dan digunakan secara tradisional oleh masyarakat, istilah tradisional lebih mengarah kepada cara yang digunakan oleh para pengrajin kapal perikanan dalam mengkonstruksi kapal buatannya, dimana cara-cara atau metode yang diterapkan merupakan warisan para pendahulunya. Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Taman Nasional Bunaken menggunakan katinting sebagai alat bantu dalam transportasi pemanfaatan sumber daya perikanan dan penangkapan, sekaligus sebagai alterngatif dalam transportasi antar desa dan antar pulau di Taman Nasional Bunaken. Umunya katinting merupakan perahu kayu kecil dengan panjang 5-6 meter, tinggi 80-100 cm dan lebar 80-120 cm, berpenggerak poros panjang, pada setiap perahu dapat ditempati 1 atau 2 motor tempel tergantung situasi dan penggunaan, adapun merek untuk mesin penggerak secara umum dapat ditemui yaitu Yamaha, Honda dan sebagainya. Masyarakat pengguna katinting di Taman Nasional Bunaken merupakan nelayan kecil dan tradisional. Fungsi perahu katinting pada akhir-akhir ini telah bergeser mulai dari alat transportasi dan alat bantu tangkap perikanan ke penggunaan pariwisata. Beberapa fungsi perahu katinting di Taman Nasional Bunaken antara lain sebagai berikut : a. Fungsi perahu katinting sebagai penangkap ikan Sebagai alat penangkap ikan yang relatif harga terjangkau oleh masyarakat nelayan kecil dan tradisional menjadikan perahu katinting pilihan utama, selain itu dengan katinting dapat menuju suatu lokasi yang mudah dicapai, demikian pula dalam pengoperasian peralatan tangkap lainnya yang tergabung dalam perahu katinting menjadi mudah, apalagi ikan-ikan tersebut merupakan ikan karang. b. Perahu katinting untuk sarana wisata Kapal wisata adalah merupakan kapal yang dipergunakan untuk mendukung kegiatan pariwisata para wisatawan. Berarti kapal ini didesain sebagus mungkin dan menarik, sehingga penumpang wisata merasakan kenikmatan dalam wisatanya. Paradigma perahu katinting untuk berwisata tidak berlaku di Taman Nasional Bunaken, disebabkan umumnya wisatawan yang memanfaatkan jasa katinting adalah wisatawan pemancing ikan. c. Sarana transportasi Dalam banyak kasus, pengoperasian perahu katinting mudah dan bahan bakar yang digunakan relatif irit dibandingkan dengan mesin perahu yang lebih besar. Perahu katinting digunakan sebagai sarana transportasi oleh masyarakat dan nelayan baik antar desa di wilayah penyangga maupun antar pulau untuk mengunjungi kerabat. Karnaval katinting merupakan even komunitas yang menyasar kepada masyarakat selaku pemanfaat langsung sumber daya alam di Taman Nasional Bunaken. Even karnaval katinting merupakan apresiasi kepada para nelayan kecil dan tradisional yang telah mengabdikan diri dalam matapencaharian dan sumber nafkah keluarga. Para pemilik katinting selama bertahun-tahun merupakan pemanfaat langsung sumber daya perikanan di Taman Nasional Bunaken, dengan karnafal katinting pula nelayan kecil dan tradisional merasa bangga dengan matapencahariannya dan mendukung kegiatan konservasi di Taman Nasional Bunaken. Dalam kegiatan Karnaval Katinting dipusatkan di Desa Arakan sebagai penyangga Taman Nasional Bunaken, dengan mengandeng Lantamal VIII sekaligus bentuk Cinta Bahari menjadikan Pos TNI AL untuk lokasi pendaftaran peserta lomba karnaval katinting dan perahu katinting hias, adapun untuk syaratnya sebagaimana terdaftar dalam foto selebaran flyer. Sampai sekarang sudah terdapat 100 pendaftar yang akan mengikuti lomba. Pelaksanaan dimulai dari tanggal 15 Desember dan puncaknya tanggal 16 Desember 2017 untuk memperebutkan berbagai hadiah menarik antara lain mesin katinting, lemari es, televisi LED, speaker active serta berbagai doorprize. Sumber : Balai TN Bunaken
Baca Pengumuman

Memadukan Religi, Budaya dan Konservasi : Belajar Konservasi dari Desa Penyangga TN Bromo Tengger Semeru

Konservasi seringkali dianggap sebagai upaya ‘eksclusive’ sekelompok orang untuk melestarikan sumber daya alam hayati dan ekosistem (SDAHE) sesuai dengan kaidah ilmu pengetahuan yang baku. Berbagai teori dan aturan tentang konservasi dibuat dan diimplementasikan dengan ‘kaku’ sehingga seringkali menimbulkan benturan antara kepentingan pembangunan dengan konservasi SDAHE maupun antara konservasi dengan budaya/ adat istiadat yang berkembang di masyarakat. Jika saja kita mau sejenak blusukan ke berbagai pelosok negeri ini, sebenarnya praktek-praktek upaya pelestarian alam telah ada dan berkembangan di masyarakat baik itu dalam bentuk kearifan lokal adat dan budaya setempat maupun dalam bentuk inisiasi dan inovasi para pahlawan-pahlawan konservasi di daerah. Salah satu contoh yang inisiasi dan inovasi upaya konservasi SDAH yang digagas konservasionis lokal adalah kegiatan yang dinamai Lembar Dakwah Konservasi. Nun jauh di pelosok Malang, tepatnya di Dusun Bendrong, Desa Argosari, Kecamatan Jabung Kabupaten Malang (Desa Penyangga Resort PTN Jabung TNBTS) terdapat sekelompok masyarakat yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian kawasan hutan yang ada di sekitarnya, mereka tergabung dalam kelompok tani Usaha Maju II. Kelompok yang diketuasi oleh seorang ustadz yang bersahaja bernama M. Slamet ini telah mengukir sederet prestasi di tingkat nasional atas usahanya menyelamatlkan hutan melalui program-program penyediaan energi alternatif berupa biogas bagi masyarakat di desanya sehingga ketergantungan masyarakat terhadap kayu bakar dari dalam kawasan hutann menurun. Tidak kurang penghargaan nasional sekelas Kalpataru, Proklim serta prakarsa energi berhasil disabet, belum lagi penghargaan-penghargaan di tingkat kabupaten Malang dan Provinsi Jawa Timur. Tidak hanya menjadi jujugan studi banding bagi para pihak yang ingin belajar tentang pemanfaatan limbah ternak sebagai biogas, kelompok ini bahkan mendapat kunjungan dari delegasi Iran yang tertarik dengen keberhasilan kelompok dalam pengembangan energi alternatif. Selain memprakarsai penggunaan energi alternatif berupa biogas, inisasi dan inovasi upaya konservasi dilakukan kelompok Tani Usaha Maju II bekerjasama dengan himpunan masyarakat pemanfaat air (HIPPAM) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhatul Tholibin dengan menggelar acara Lembar Dakwah Konservasi (LDK). Perpaduan religi, budaya dan konservasi kental mewarnai acara yang sudah beberapa kali digelar di Dusun Bendrong ini. Dalam acara LDK pada tanggal 9 Desember 2017 misalnya, kelompok musik hadrah “MURAH BANYU” dari Desa Poncokusumo tampil mengiringi jalannya acara dengan iringan musik gamelan modern dengan lagu-lagu religi yang mengajak masyarakat untuk beribadah sekaligus menjaga kelestarian alam. Acara yang digelar dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus merayakan kelulusan para santri MI Raudhatul Tholibin ini terbilang cukup unik karena mengusung konsep dakwah konservasi. Dengan tagline “Hutan Terjaga, Air Selalu Ada” para tokoh masyarakat lokal menyampaikan pesan-pesan pelestarian hutan dengan bahasa sederhana dirangkai dengan dakwah yang mengajak masyarakat sebagai khalifatullah untuk menjalankan perintah Allah. Tak ketinggalan operet dan tembang-tembang puji-pujian terhadap Allah SWT dan Rasulullah SAW dilantunkan para santri cilik dengan diiringi grup musik MURAH BANYU yang ternyata anggotanya adalah para pengurus HIPPAN Desa Poncokusumo. Suatu “kebetulan” yang menunjukkan Kekuasaan Allah SWT. Rangkaian acara semakin berkesan ketika panitia membagikan puluhan hadiah yang diundi bagi para pengguna air yang telah berpartisipasi dalam konservasi air dengan rutin dan rajin membayar iuran. Menariknya semua hadiah disediakan secara mandiri oleh HIPPAM dengan menyisihkan iuran pembayaran air yang disetor para pelanggan, tanpa uluran bantuan pemerintah maupun sponsorship. Pemanfaatan air oleh masyarakat Dusun kecil di tepi hutan ini terbukti telah dilakukan dengan pengelolaan yang baik oleh HIPPAM dengan adanya pipanisasi dan penggunaan meteran sehingga masyarakat lebih terukur dan hemat dalam memanfaatkan air. Pembayaran yang dilakukan oleh pemanfaat air pun tidak hanya digunakan untuk operasional pemeliharaan jaringan pipa dan sarpras lainya namun juga dikembalikan ke alam untuk penanaman di daerah hulu serta dikembalikan ke para pengguna dalam bentuk hadiah yang dibagikan setiap tahun. Proses menuju kemandirian dan kepedulian ini memang bukan sebuah proses instant, butuh perjalanan waktu yang cukup panjang. Berawal dari terpilihnya 5 Desa di Kabupaten Malang sebagai lokasi Sekolah Lapangan Konservasi yang diselenggarakan oleh program jasa lingkungan, Environment Service Program (ESP) USAID pada tahun 2008 - 2010 yang didalamnya termasuk Desa Argosari, Kecamatan Jabung. Dilanjutkan dengan Program kampanye Bangga Melestarikan Alam oleh RARE dan Lembaga Paramitra Jawa Timur pada tahun 2008. Para relawan dari Desa Argosari ini belajar bagaimana mengenali permasalahan lingkungan yang ada di sekitarnya kemudian mencoba merumuskan apa solusinya dan ditindaklanjuti dengan melaksanakan rencana aksi yang telah mereka susun bersama melalui berbagai forum diskusi kelompok terfokus, musyawarah dan pendampingan dari para fasilitator baik dari petugas kehutanan (PERHUTANI dan TNBTS) maupun LSM. Jargon –jargon konservasi sederhana pun dirumuskan melalui diskusi panjang yang melibatkan semua pihak sehingga lahirlah apa yang disebut “ Hutan Terjaga, Air Selalu Ada” dan “lek alase kethel, petanine gelek nethel” ( Jika hutan lebat, petani pun akan sering membuat tetel, sejenis makanan yang melambangkan kesejahteraan). Sungguh sebuah pelajaran penting tentang kemandirian dan kepedulian yang menginspirasi ... ... Kepedulian adalah esensi konservasi alam semesta.. Dr. George B. Rabb Sumber : Novita Kusuma Wardani - Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Pengumuman

KLHK Dorong Generasi Milenial Peduli Konservasi

SIARAN PERS Nomor : SP. 400/HUMAS/PP/HMS.3/12/2017 KLHK Dorong Generasi Milenial Peduli Konservasi Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Minggu, 10 Desember 2017.KLHK turut berpartisipasi dalam gelaran Jogja Outdoor Show (JOS) 2017 di GOR Universitas Negeri Yogyakarta dari tanggal 7-10 Desember 2017. Kegiatan tersebut dibuka oleh Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Wilayah Jawa, Sugeng Priyatno. Keikutsertaan KLHK pada JOS 2017 dimaksudkan untuk untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat terutama generasi muda tentang kawasan konservasi di Indonesia, potensi wisatanya, dan kegiatan-kegiatan apa saja yang dapat dilakukan di kawasan konservasi, dan tujuannya agar generasi muda dapat berperanserta dalam melestarikan lingkungan dan menjaga hutan. Kegiatan JOS 2017 memiliki misi untuk menjadikan para pegiat alam lebih bertanggungjawab, dan agar para pegiat alam yang sebagian besar berasal dari kalangan anak muda mempunyai kepedulian dalam menjaga lingkungan dan melestarikan kawasan konservasi. JOS 2017 diikuti oleh peserta dari pegiat usaha dibidang outdoor activities, komunitas pecinta alam, Dinas Kabupaten/Kota, Desa Wisata, UPT Balai Taman Nasional, UPT Balai KSDA, dan lain-lain. Berbagai rangkaian kegiatan memeriahkan gelaran JOS 2017, diantaranya pameran, talkshow, kuis, archery games, panjat dinding, dan sebagainya. Pada acara talkshow tanggal 8 Desember 2017, turut hadir Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratno, Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK Djati Witjaksono Hadi, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, dan Kepala Balai Taman Nasional Tambora. Pada talkshow tersebut Wiratno mengajak untuk menanam dan memelihara pohon. "Menanam pohon merupakan kewajiban setiap orang dalam menyelamatkan hutan, oleh karena itu kampanye menanam dan memelihara 25 pohon seumur hidup harus didukung oleh kita semua terutama generasi muda", pesan Wiratno. Wiratno juga mengajak para generasi muda memanfaatkan waktu liburnya menjadi relawan konservasi alam. "Untuk meningkatkan partisipasi generasi muda, pada tahun 2018 kita akan memberikan akses untuk menjadi young volunteer KSDAE, menjadi volunteerakan memberikan pengalaman baru beraktifitas di alam seperti mengurus satwa liar, ikut serta menjaga hutan, dan lain-lain", imbuh Wiratno. Pada tanggal yang sama, bertepatan dengan kunjungan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ke areal penanaman dalam rangka Hari Menanam Pohon Indonesia 2017 di Desa Karangasem, Gunung Kidul. Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Pengumuman

Presiden Jokowi Pimpin Penanaman Ribuan Pohon di Gunung Kidul, Yogyakarta

SIARAN PERS Nomor : SP. 398 /HUMAS/PP/HMS.3/12/2017 Presiden Jokowi Pimpin Penanaman Ribuan Pohon di Gunung Kidul, Yogyakarta Gunung Kidul, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sabtu, 9 Desember 2017. Memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) dan Bulan Menanam Nasional (BMN) Tahun 2017, Presiden Joko Widodo hadiri penanaman yang diselenggarakan oleh KLHK, di Gunung Kidul, Provinsi D.I. Yogyakarta (09/12/2017). Dalam kegiatan yang bertema "Kerja Bersama: Makmurkan Rakyat, Lestarikan Alam" ini, Presiden berpesan agar pelaksanaan penanaman mulai dari pemilihan jenis, penentuan lokasi, hingga pemeliharaan, harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek keilmuan. Presiden juga menyerukan kepada seluruh masyarakat agar melakukan penanaman pohon sebanyak 25 batang setiap orang selama hidup. Selain untuk penyedia udara bersih, penanaman pohon juga merupakan salah satu upaya rehabilitasi hutan dan pemulihan lahan kritis, yang saat ini masih cukup luas. “Rehabilitasi dan pemulihan lahan kritis, harus dilakukan dengan menggunakan bibit-bibit tanaman yang bernilai ekonomi tinggi, bagi peningkatan pendapatan masyarakat, dan berfungsi baik untuk menjaga ketersediaan air sepanjang tahun”, pesan Presiden. Presiden menambahkan penanaman pohon ini memang kegiatan yang berdampak pada kelestarian lingkungan apabila diikuti dengan pemeliharaannya. “Saya berharap jangan hanya menanam pohonnya saja yang semangat, tetapi juga pemeliharaannya”, tukas Presiden. Adapun tema penanaman yang diangkat KLHK kali ini mengandung arti bahwa pengelolaan hutan dan lahan tidak lepas dari keterlibatan seluruh pihak, baik instansi pemerintah, pelaku usaha, organisasi massa, dan masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan hutan dan lahan. Sebagaimana arahan Presiden, bahwa pengelolaan hutan dan lahan harus memberikan manfaat nyata bagi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, seiring dengan peningkatan produktivitas hutan dan lahan serta terpeliharanya kelestarian alam. “Paradigma pengelolaan hutan diubah dengan pemberian akses legal kepada masyarakat, dan aset legal melalui Tanah Obyek Reforma Agraria (TORA). Target TORA seluas 4,1 juta hektar dan akses seluas 12,7 juta hektar ini, agar dapat direalisasikan tepat waktu”, Presiden kembali mengingatkan. Mendukung pernyataan Presiden, Menteri LHK Siti Nurbaya juga menyampaikan bahwa saat ini, KLHK sedang menggalakan pembangunan hutan serba guna, yaitu hutan dengan menggabungkan fungsi lindung dan produksi berupa hutan tanaman, yang tidak hanya menghasilkan kayu, namun juga hasil hutan bukan kayu berupa buah-buahan dan hasil ikutan lainnya, serta jasa lingkungan seperti pariwisata, air, dan karbon, baik di kawasan hutan maupun di areal penggunaan lain. “Program pembangunan hutan serba guna juga dapat menjadi model pembangunan hutan di areal kegiatan perhutanan sosial, sehingga terbangun hutan yang lestari sekaligus meningkatkan pendapatan bagi masyarakat”, tutur Menetri LHK Siti Nurbaya. Selain itu, Menteri LHK Siti Nurbaya juga mengungkapkan, dukungan dari Pemerintah daerah dan masyarakat dalam penyediaan lahan pembangunan hutan serba guna ini, serta program perhutanan sosial, akan sangat berarti bagi percepatan perluasan penutupan lahan secara ideal, untuk terciptanya lingkungan yang baik, sejuk, bersih dan sehat. Menteri LHK juga berharap agar para Kepala Daerah mengajak masyarakat untuk mendukung program penanaman ini, dan KLHK siap untuk mendukung kebutuhan bibit yang dapat diperoleh secara gratis. Selain itu, Menteri LHK Siti Nurbaya juga meminta BUMN, BUMD, dan BUMS agar dapat ikut terlibat secara nyata dan mandiri dalam mendukung program penanaman ini. Seperti yang sudah dilakukan pada tahun 2016 lalu yaitu lomba “Penanaman dan Pemeliharaan Pohon Tingkat Nasional 2016” yang akhirnya mencetuskan banyak pemenang dari kalangan pejabat publik yang berdampak pada lingkungan daerah yang dipimpinnya. Demikian juga keputusan Menteri LHK Siti Nurbaya tentang “Penerimaan Penghargaan Penanaman dan Pemeliharaan Pohon Tahun 2017” dari kalangan tokoh masyarakat, kelompok tani, maupun para pelaku usaha yang dinilai berperan penting dalam menyukseskan gerakan penanaman dan pemeliharaan pohon. Penetepan pemenang dan keputusan penerimaan penghargaan langsung berdasarkan ketentuan Menteri LHK Siti Nurbaya, dan berikut adalah nama dari para pemenang Penanaman dan Pemeliharaan Pohon Tingkat Nasional 2016, dari kalangan kepada daerah; 1. Longki Djanggola - Gubernur Sulawesi Tengah 2. Sahbirin Noor - Gubernur Kalimantan Selatan 3. Tengku Erry Nuradi - Gubernur Sumatera Utara 4. Samsul Hadi - Bupati Tanggamus, Lampung 5. Hj. Badingah - Bupati Gunungkidul, DIY 6. Putu Agus Suradnyana - Bupati Buleleng, Bali 7. Usman Abdullah - Walikota Langsa, Aceh 8. Nazmi Adhani - Walikota Banjarbaru, Kalsel 9. Ec Lamberthus Jitmau - Walikota Sorong, Papua Barat Sementara nama penerima Penghargaan Penanaman dan Pemeliharaan Pohon Tahun 2017, dari kalangan tokoh masyarakat, kelompok tani, dan pelaku usaha adalah sebagai berikut; 1. Kelompok Tani Insan Jaya Abadi, Desa Talang Bulawan, Kecamatan Bajo, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan 2. Kelompok Tani Hijau Lestari, Desa Paluh Manan, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara 3. Kelompok Tani Sekarwangi, Desa Ringin Pitu, Kecamatan Tanggungharjo, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah 4. Kelompok Masyarakat Koperasi Notowono, Kabupaten Bantul, DIY 5. Akhmad Tamarudin (Tokoh Masyarakat), Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah 6. Ni Luh Kartini, Universitas Udayana, Bali 7. Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung, Batutegi Lampung 8. PT. Mahakam Sumber Jaya, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur 9. PT. Tunas Inti Abadi, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan 10. PT. Tirta Investama, Jakarta Dengan adanya lomba penanaman pohon dalam kaitan untuk melestarikan lingkungan, diharapkan mampu memotivasi dan memberikan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya penanaman pohon demi kelestarian lingkungan di masa depan. Upaya tersebut berkenan dengan prediksi deficit air di Pulau Jawa dan Bali pada tahun 2020 nanti, Menteri LHK Siti Nurbaya menekankan pentingnya penanaman pohon, dalam rangka membangun dan memelihara hutan, sehingga terbangun banyak hutan yang berfungsi sebagai green dam serta memberi manfaat perlindungan keanekaragaman hayati, peningkatan kesejahteraan masyarakat, dan penyerapan karbon. “Kami meminta kepada para pihak untuk menjaga lahan-lahan yang berfungsi lindung, seperti hutan lindung, sempadan sungai, sempadan danau, daerah sekitar mata air, daerah resapan air, daerah rawan bencana, lahan yang mempunyai kelerengan di atas 40%, dan kawasan pantai berhutan bakau”, ujar Menteri LHK Siti Nurbaya, menyikapi bencana longsor dan banjir yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia. Upaya tersebut, menurut Menteri LHK Siti Nurbaya, dapat diatasi dengan melakukan penanaman pohon yang mempunyai kemampuan menyimpan air seperti beringin, aren, randu, bambu, trembesi, gayam, kluwak, dan lain-lain. Penanaman di Gunung Kidul melibatkan sebanya 3000 orang peserta, dengan 45.000 pohon yang ditanam pada lahan seluas 15 hektar. Sejumlah Pejabat Kementerian/Lembaga juga turut hadir dalam acara ini, antara lain jajaran Pemerintahan Provinsi dan Kabupaten/ Kota DIY Yogyakarta. Sementara itu, bertepatan dengan Hari Antikorupsi Internasional, Presiden Joko Widodo mengingatkan bahwa, sektor hutan dan kehutanan menjadi salah satu sasaran tindak pidana korupsi, sehingga Presiden meminta agar dapat seluruh stakeholder dapat mempertegas komitmen, memperbaiki good forest governance, dan mewujudkan tindakan nyata pengawasan, pencegahan, penindakan terhadap praktik-praktik korupsi. (*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Pengumuman

KLHK Umumkan Hasil Akhir Penerimaan CPNS 2017

SIARAN PERS Nomor : SP. 379/HUMAS/PP/HMS.3/11/2017 KLHK Umumkan Hasil Akhir Penerimaan CPNS 2017 Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Rabu, 29 November 2017. KLHK telah resmi mengumumkan hasil akhir penerimaan seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil tahun 2017 (CPNS 2017) pada 28 November 2017. Jumlah peserta yang dinyatakan lulus Seleksi CPNS Kementerian LHK Formasi Tahun 2017 sebanyak 347 orang. Mereka akan ditempatkan sesuai dengan pilihan jabatan dan penempatan dari masing-masing peserta pada saat pendaftaran. Peserta yang telah dinyatakan lulus, wajib mengikuti pemberkasan dengan melengkapi dokumen yang sudah disyaratkan sebagai dasar pengusulan penetapan Nomor Induk Pegawai (NIP) ke Badan Kepegawaian Negara (BKN). Pemberkasan dilaksanakan mulai tanggal 5 – 8 Desember 2017 di 6 lokasi, yaitu Jakarta, Medan, Surabaya, Banjarbaru, Makassar dan Jayapura. Sebagaimana disampaikan Kepala Biro Kepegawaian dan Organisasi KLHK, Erni Mayana, pada tahun 2017, KLHK mendapatkan alokasi CPNS sebanyak 700 formasi. Terdiri dari 70 formasi untuk pelamar lulusan terbaik (Cum laude), 10 formasi untuk pelamar Putra/Putri Papua dan Papua Barat serta 620 formasi untuk pelamar umum. “Rincian formasi CPNS tahun ini yaitu Pengawas Lingkungan Hidup Pertama 72 orang, Pengendali Ekosistem Hutan Pertama 140 orang, Pengendali Ekosistem Hutan Terampil 45 orang, Polisi Kehutanan Pertama 177 orang, dan Polisi Kehutanan Terampil 266 orang,” tambahnya. Pendaftaran Seleksi CPNS Kementerian LHK Formasi Tahun 2017 dilaksanakan pada tanggal 11 – 25 September 2017 dengan jumlah pelamar sebanyak 16.904 orang. Tahapan seleksinya yaitu Seleksi Administrasi, Seleksi Kompetensi Dasar, dan Seleksi Kompetensi Bidang. Jumlah peserta yang lulus Seleksi Administrasi dan berhak mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar sebanyak 13.302 orang. Seleksi Kompetensi Dasar dan Seleksi Kompetensi Bidang dilaksanakan di 6 lokasi, yaitu Jakarta, Medan, Surabaya, Banjarbaru, Makassar dan Jayapura. Seleksi Kompetensi Bidang meliputi pengetahuan teknis LHK dengan menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT), psikotes dan kesamaptaan. Informasi lebih lanjut terkait nama-nama peserta yang dinyatakan lulus CPNS 2017 KLHK, dapat dilihat melalui website http://cpnsonline.menlhk.go.id. Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Pengumuman

Sosialisasi Pedoman Evaluasi Kinerja Organisasi Satker Lingkup Ditjen KSDAE dan Review Bisnis Proses KSDAE

Bogor, 10 November 2017. Kegiatan sosialisasi Pedoman Evaluasi Kinerja Organisasi Satker Lingkup Ditjen KSDAE dan Review Bisnis Proses KSDAE dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 10 November 2017, pukul 09.00-Selesai, bertempat di Ruang Rapat Pajajaran 2, Lantai 4, Hotel Salak The Heritage Bogor sebagai tindaklanjut dari surat Surat Undangan Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE Nomor : Un.428/SET/KOTL/OTL.0/11/2017 tanggal 07 November 2017. Kegiatan sosialisasi ini melibatkan seluruh Direktorat lingkup Ditjen KSDAE yang difasilitasi oleh Bagian Kepegawaian, Organisasi dan Tata Laksana Sekretariat Ditjen KSDAE. Adapun peserta yang hadir dalam kegiatan terdiri dari Kasubdit Pemolaan dan Pemetaan Kawasan Ekosistem Esensial Dit. BPEE dan perwakilan dari Bagian Lingkup Setditjen KSDAE, Subdit Inventarisasi dan Informasi Konservasi Alam Dit. PIKA, Subdit Pengendalian Pengelolaan Kawasan Konservasi Dit. KK, Subdit Penerapan Konvensi Internasional Dit KKH, Subdit Promosi dan Pemasaran Dit. PJLHK, Subbag Evaluasi dan Pelaporan Setditjen KSDAE, Subbag Pertimbangan dan Advokasi Hukum Setditjen KSDAE; Kasubbag TU lingkup Ditjen KSDAE, Kasubbag lingkup Bagian Kepegawaian dan Ortala, serta Staf lingkup Sub Bagian Ortala Setditjen KSDAE. Dalam kegiatan tersebut, disampaikan sosialisasi Pedoman Evaluasi Kinerja Organisasi dan Review terhadap Draf Bisnis Proses KSDAE. Kegiatan ini dilaksanakan sehubungan dengan telah terbitnya Perdirjen KSDAE No. P6/KSDAE/SET/KUM.1/9/2017 tentang Pedoman Evaluasi Kinerja Organisasi Satker Lingkup Ditjen KSDAE serta sedang dilaksanakannya penyusunan bisnis proses KLHK yang difasilitasi oleh Biro Kepegawaian dan Organisasi. Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian diantaranya sebagai berikut: Terkait Draf Bisnis Proses KSDAE (Level 1/L1), terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut: Sumber : Sub Bagian Ortala, Setditjen KSDAE
Baca Pengumuman

Pengalaman Magang di Taman Nasional Sebangau

Brefing tim di sela-sela kegiatan monitoring orangutan Palangkaraya (14/11/17). Baru beberapa hari ini kami meninggalkan Kota Cantik Palangka Raya, setelah 3 bulan (Agustus sd November) menjadi homebase untuk menjalani magang di Taman Nasional Sebangau Kalimantan Tengah. Selama tiga bulan kami yang tergabung dalam kelompok 7 yaitu Iin Indawati, Ericho Mautin, Yulia Oisina Rita L, dan Haryanto K. Irwan Bani menyelesaiakan salah satu tugas akhir pada Fakultas Kehutanan Instiper Yogykarta yaitu melaksanakan magang. Hari pertama magang, waktu itu 28 Agustus 2017, kami melapor kepada Bapak Kepala TN Sebangau (Ir. Anggodo,MM) dan Kasubbag Tu Bapak Doni Maja, serta berkenalan dengan para pegawai yang berada di kantor balai, dan mulai hari itu Kantor Balai Taman Nasional Sebangau menjadi rumah kami. Ternyata, selain kami ada mahasiswa lain yang sedang PKL di Taman Nasional Sebangau, mereka adalah kawan-kawan dari ITB (Rekayasa Kehutanan) yaitu Teh Diani dan Kang Oriz. Setelah berkenalan, kami saling berbagi cerita mengenai kegiatan yang telah mereka laksanakan selama 1 bulan. Hanya butuh waktu sebentar untuk kami saling mengakrabkan diri, sayangnya hanya ± 1 minggu kami bertemu sebelum mereka kembali ke Bandung karena kegiatan PKL telah usai. Mereka membantu kita dalam bedah dokumen serta belajar tentang pengelolaan Taman Nasional Sebangau. Di minggu kedua, kami mengikuti kegiatan Montoring Plot Permanen dan Monitoring Anggrek di SPTN Wilayah I tepatnya dan Habaring Hurung. Untuk pertama kalinya kami naik perahu kecil (klotok) mengarungi Sungai Sebangau menuju ke daerah hulu atau biasa para pegawai menyebutnya Sungai Koran. Kami bersama pegawai TN Sebangau dan masyarakat menginap di pos yang berada ditengah hutan persis di samping Sungai Koran. Di hari pertama kami masuk kawasan, tidak disangka kami bertemu dengan orangutan jantan dewasa. Setelah kembali dari lapangan, sekitar dua minggu sedang rehat kegiatan dan kami mengikuti kegiatan penyusunan dokumen perencanaan seperti Konsultasi Publik RPJP, Lokakarya MEET, penyusunan RPE serta Review Desain Tapak. Terus terang, kami banyak belajar tentang pengelolaan kawasan taman nasional khususnya TN Sebangau yang memiliki kareakteristik unik karena ekosistem gambut trpoikanya. Pada rapat itu kami menjadi notulen untuk pertama kalinya. Tidak lupa kami juga diikut sertakan untuk mengikuti Inhouse Training Pembuatan Sumur bor dari teori sampai dengan praktek lapangan. Setelah cukup pemanasan, kata Pak Dedi (KSPTN Wilayah II) kami diikutsertakan melakukan Monitoring DAM di SPTN Wilayah II yaitu Resort Mangkok (SSI) bersama WWF dan TN Sebangau. Kegiatan berlangsung selama 1 Minggu, dihari kedua yaitu 17 Agustus yang merupakan hari kemerdekaan RI kami melakukan upacara kecil untuk memperingatinya sebagai simbol nasionalime kita. Monitoring DAM dilakukan dengan aplikasi MDC (Mobile Data Collection) untuk menginput data yang diperlukan seperti tipe DAM, beda tinggi air, sampai rekomendasi untuk dilakukan perbaikan. Setelah sepulang dari lapangan beberapa hari kemudian kami disambut dengan idul adha. Sungguh, momen pemotongan daging kurban di kantor balai kemudian dilanjutkan makan bersama menambah akrab suasana di kantor ini. Kegiatan menarik lainnya adalah ketika kami ditawarin oleh Mas Yoko (begitu kami memanggilnya) untuk mencari pengalaman mengikuti perilaku orangutan bersama Masyarakat Desa Karuing dan WWF Kalteng serta teman-teman dari Universitas Palangka Raya (UPR) yang sedang penelitian tentang Nepenthes. Monitoring Perilaku Orangutan di SPTN Wilayah III tepatnya di Punggualas dilaksanakan selama 6 hari. Ada kekecewaan karena pada hari pertama dan kedua kami karena tidak bertemu dangan orangutan. Namun pada hari ketiga dan selanjutnya kami mengikuti orangutan jantan, dan betina bersama anaknya. Tiga minggu sebelum kepulangan kami, dua dosen kami visitasi ke TN Sebangau, kami berbincang dan mengajak mereka untuk melihat anggrek, DAM, GWL (Ground Water Level) serta menara di Resort Mangkok, SPTN Wilayah II. Namun kegiatan tersebut belum berakhir setelah kami mengetahui bahwa akan dilakukan kegiatan monitoring orangutan. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan paling menantang di Sebangau (kata salah satu staf yang tidak mau disebutkan namanya). Monitoring Orangutan di Resort Mangkok (SSI) dilakukan selama 6 hari, kami membuat camp di tengah hutan. Dan inilah kegiatan yang paling seru selama magang menurut saya, karena membutuhkan mental dan fisik yang tangguh untuk menjelajah hutan rimba di Borneo. Didalam hutan kita dilatih kerjasama tim, dan sangat menghargai air karena sulitnya akses air bersih di dalam hutan bahkan harus berbagi air dengan satwa di kubangan yang cukup asik. Setelah monitoring orangutan tiba saatnya kami mempresentasikan hasil magang di depan Bapak Kepala Balai dan para pegawai. Pengalaman dan ilmu yang kami dapat di TN Sebangau yang tidak kami dapat di perkuliahan sangat memotivasi kami untuk terus mengaja dan melestarikan hutan di Indonesia, dan menumbuhkan jiwa Rimbawan dalam diri kami. Sungguh ini pengalaman yang tak terlupakan. Terimakasih kami ucapkan kepada Bapak Kepala Balai Taman Nasional Sebangau dan jajarannya (Pejabat struktural, PEH, POLHUT, dan semua staf) atas semua fasilitasi, bimbingan, motivasi, pengalaman dan bantuan yang telah diberikan kepada kami selama pelaksanaan magang serta WWF Indonesia Kalimantan Tengah atas fasilitasi kegiatan monitoring perilaku orangutan dan monitoring dam. Sumber berita : Iin Indawati, dkk Mahasiswa Fakultas Kehutanan Instiper Yogyakarta.
Baca Pengumuman

Mengenal Lebih Dekat Biawak Tak Bertelinga (Lanthanotus Borneensis)

Biawak tak bertelinga adalah salah satu hewan endemik Kalimantan, termasuk dalam ordo ''Squamata'' dan termasuk suku Varanoidea. Hewan ini memiliki nama ilmiah Lanthanotus borneensis atau dalam Bahasa Inggris dinamakan earless monitor lizard. Hewan ini pertama kali di temukan di bawah sampah daun dekat dengan sungai berbatu di daerah Landak, Kalimantan pada tanggal 30 Mei 2008. Biawak tak bertelinga juga disebut dengan biawak Borneo. Habitat, persebaran dan perilaku Biawak tak bertelinga dapat ditemukan di daerah dekat dengan sungai, Biawak tak bertelinga adalah hewan yang aktif pada malam hari atau disebut dengan nocturnal. Hewan ini termasuk dalam hewan semi-akuatik atau kadang-kadang hidup di air dan kadang-kadang juga di darat. Hewan reptil ini sangat jarang muncul sehingga perilaku atau kebiasannya kurang bisa diamati. Satwa ini juga tidak (belum) masuk dalam daftar IUCN Redlist pada 2012, alih fungsi hutan yang menjadi habitatnya yang terus berlangsung hingga kini, mengancam populasinya. Ciri umum biawak tak bertelinga adalah tidak ada lipatan gular, hidung tumpul dan telinga eksternal. Selain ciri tersebut, biawak tak bertelinga juga memiliki kelopak mata transparan yang lebih rendah daripada hewan lain yang masih sebangsa dengannya. Kulit pada seluruh tubuh biawak tak bertelinga dipenuhi dengan gerigi-gerigi seperti pada buaya. Gerigi ini tersusun secara teratur berbentuk garis mulai dari bagian kepala sampai pada ekor. Warna kulit hewan ini adalah coklat tua pada bagian atas dan berwarna coklat agak muda pada bagian perutnya. Biawak tak bertelinga memiliki ekor yang cukup panjang. Ekor hewan ini juga terdapat gerigi seperti buaya. Hewan yang mirip biawak ini memiliki empat kaki yang terletak di depan dan belakang. Setiap kaki hewan ini terdapat lima jari kaki. Biawak tak bertelinga juga disebut dengan fosil hidup karena hewan ini ada sejak hewan lain yang sudah punah ada. Biawak tak bertelinga memiliki ukuran panjang antara 42 hingga 55 cm. Badan dan ekor biawak tanpa telinga berbentuk silinder. kaki hewan tersebut termasuk memiliki ukuran yang pendek dilengkapi dengan kuku yang tajam. Berdasarkan ukuran tersebut, biawak tanpa telinga ini termasuk hewan berukuran sedang di kelasnya. Biawak tak bertelinga yang sudah dewasa, panjang 420 hingga 550 mm. Para peneliti tidak jarang menjulukinya living fossil lantaran hewan ini tetap ada diwaktu hewan-hewan lain telah punah. Berbagai info yg dipublikasikan mengenai Lanthanotus borneensis cuma berdasarkan laporan observasi spesimen tunggal yg disimpan di penangkaran & sedikit saja yg didapat berkaitan perilakunya di habitat aslinya. Para ahli memperkirakan bahwa rentang komune biawak tanpa telinga ini bisa jadi cuma ada di Serawak (Malaysia) & Kalimantan Barat. Walau demikian, kurangnya penelitian & wawasan berkaitan satwa misterius ini, termasuk juga pola penyebaran, & jumlah populasinya, menyebabkannnya sulitnya menentukan penyebarannya. Penemuan-penemuan satwa ini di masa datang mungkin saja tdk terdokumentasikan. Status satwa jenis reptil tersebut, berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar, termasuk dalam daftar satwa liar yang dilindungi dengan nama Lanthanotus borneensis. Dengan mulai maraknya peredaran satwa tersebut, upaya-upaya penyadartahuan sangat diperlukan melalui sosialisasi/penyuluhan. Harapannya, jika memang bisa dikembangbiakkan seperti satwa liar yang dilindungi lainnya, tidak akan terjadi lagi kondisi penyelundupan illegal. Sumber: BKSDA Kalimantan Barat
Baca Pengumuman

Cage Offshore Dan Taman Nasional Karimunjawa

Luas laut Indonesia adalah 3.257.357 km2, potensi untuk marikultur (budidaya laut) seluas 120.000 km2 (4%). Pemanfaatan produksi rumput laut saat ini mencapai 480.00 ha (4%) dan lahan marikultur offshore (budidaya lepas pantai) seluas 11.520.000 ha (96 %) masih lowong pemakainya. Mengapa? Karena memerlukan teknologi dan kesiapan sumberdaya manusia yang mempunyai kompetensi pengetahuan dan disiplin tinggi. Vietnam bahkan sudah familiar dengan hal ini dan memproduksi beberapa bagian dari KJA offshore dengan lisensi Norwegia seperti net fish farming (jarring budidaya) dan feed barge (kapal kendali pakan) yang juga menjadi komponen yang akan diterapkan di Indonesia oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Tiga lokasi di Indonesia telah disiapkan oleh yaitu perairan lepas pantai di Sabang, Pantai Selatan dan Jepara untuk pertama kali. Lokasi di Jepara mengambil titik koordinat 05o59.405 S, 110o23.622 E atau sekitar 7 mil batas Taman Nasional Karimunjawa sebelah selatan. Lokasi di perairan laut lepas Karimunjawa tersebut memenuhi syarat ekologi pemasangan KJA offshore karena memiliki Kecepatan arus : 94 cm/detik, Tinggi Gelombang : 1,8 meter, kedalaman 35 meter, dan terletak lebih 3 km dari pesisir pantai. Gambar di atas adalah konstruksi KJA offshore di perairan Karimunjawa. Pelaksana pengadaan KJA offshore ini adalah PT. Perikanan Indonesia (BUMN) dan posisi sebagian komponennya dari Norwegia sudah diangkut menggunakan kapal laut, posisi per 2 November 2017 sudah berada di Teluk Arab. Pekerjaan Rumah Balai TNKj Berdasarkan analisa penulis yang kebetulan mengikuti pemaparan Pembangunan Instalasi Budidaya Ikan Lepas Pantai (Karamba Jaring Apung Offshore) di Balai Besar Air Payau (BBAP) Jepara pada tanggal 2 Nopember 2017 dan penulis lontarkan ke pemateri yaitu Bapak Rokmad M. Rofiq, ST., M.App.Sc. (Kasubdit Perbenihan Ikan Laut), terdapat beberapa pekerjaan rumah yang harus dicermati Balai TNKj berkaitan erat dengan keberadaan KJA offshore yang berjarak 7 mil dari kawasan TNKj. Pertama, berkaitan dengan feeding (pemberian pakan). Ingat kasus karamba di danau – danau di Indonesia yang menggunakan pakan buatan, ternyata menurunkan kualitas kolom perairan danau. Pelajaran lain, karamba di pesisir perairan Taman nasional Kepulauan Seribu yang berpengaruh pada kolom perairan dan ekosistem terumbu karang. Pakan merupakan hal essensi mendasar bagi keberlangsungan biota budidaya, dalam hal ini kakap putih. Kelebihan pakan buatan dapat merubah komposisi DOM (dissolved organic matter) yang terlarut di kolom perairan. Tentunya KJA offshore merupakan salah satu bentuk budidaya intensif dengan dicirikan pakan buatan yang terkontrol bukan dari alam. Tanggapan pemateri : pakan akan dikontrol menggunakan sistem komputerisasi terkontrol pada feed barge (tiga gambar samping dan bawah) yang dilengkapi dengan CCTV pada permukaan dan kolom perairan oleh tenaga ahli. Melalui sistem CCTV akan dapat dilihat pemberian pakan apakah sudah cukup. Kalo sudah cukup akan dihentikan secara otomatis. Harapannya pakan akan efisien dengan kata lain tidak akan ada pakan berlebih yang dapat mencemari perairan. Kapal untuk feed barge. Semua aktivitas cage termasuk feeding ikan kakap putih, gudang pakan bahkan pengamatan sistem jangkar (mooring system) pada substrat sistem pembagian pakan. Sistem pemantauan CCTV melalui layar monitor Kedua, berkaitan dengan pengaman posisi KJA dan sistem jangkar (Mooring System). Terlepas/ terputusnya sistem jangkar pada KJA dapat mengancam keberadaan ekosistem terumbu karang di TNKj. Lay out untuk konstruksi KJA offshore sendiri dalam dua dimensi seluas 21.112 m2 dengan sistem cage sebanyak 8 lubang berukuran 232 meter x 91 meter. Bayangkan jika sistem jangkar KJA offshore terputus, berapa luas kerusakan ekosistem terumbu karang di TNKj? Tanggapan pemateri : Semua konstruksi telah dihitung dengan matang dari ahlinya di Norwegia. Konstruksi KJA offshore untuk pembesaran ikan kakap putih ini menggunakan konstruksi yang sama untuk Cage offshore untuk pembesaran ikan Salmon di perairan lepas pantai Norwegia. Ikan Salmon mempunyai kebiasaan dan energy untuk bergerak yang lebih ekstrim dari ikan kakap putih. Jika ikan Salmon mampu dibudidayakan pada sistem konstruksi KJA offshore ini, tentunya jaminan mutu untuk digunakan pada pembesaran ikan kakap putih. Branding untuk Cage adalah AQUALINE, Feed Barge adalah STEINSVIK dan working boat adalah FOLLA MARITIME. Ketiga, berkaitan dengan adanya pendederan ikan kakap putih yang ternyata memanfaatkan nelayan lokal yaitu sebagian menggunakan jasa nelayan di Kepulauan Karimunjawa dan pembudidaya di pesisir pantai Jepara. Ingat, perairan TNKj yang dikelola dengan sistem zonasi hanya tersedia zona budidaya tradisional seluas 1.370, 729 ha (1,228% luas TNKj), dan sebagian besar telah digunakan sebagai budidaya rumput laut, keramba jaring apung, budidaya kerapu bibit alami. Menjadi pertanyaan : Tanggapan pemateri : Pendederan benih ikan kakap putih di Karimunjawa yang akan bermitra dengan nelayan Karimunjawa menggunakan KJA onshore milik masyarakat, lokasinya akan menyesuaikan dengan zona budidaya yang telah ditetapkan dalam sistem zonasi TNKj. Juga akan mempertimbangkan kondisi daya dukung ekologis ekosistem perairan di sekitarnya seperti terumbu karang dan padang lamun. Untuk ini, akan selalu berkoordinasi dengan Balai TNKj. Telah dilaksanakan sosialisasi ke masyarakat oleh tim KKP dan disimpulkan bahwa nelayan di Karimunjawa merupakan nelayan wisata dengan berkembangnya TNKj sebagai satu destinasi wisata di Jawa Tengah. Sehingga yang menjadi tujuan adalah memanfaatkan KJA onshore milik masyarakat pembudidaya lokal untuk beralih dari kerapu ke kakap putih. Kerapu sudah dibatasi dengan adanya kuaota ekspor karena stok berlebih dan marketnya hanya Tiongkok dan negara-negara Indocina, tentunya nelayan menurunkan daya tawar nelayan. Sedangkan ikan kakap putih marketnya seluruh negara di dunia. Kami meminta maaf bahwa dalam kegiatan sosialisasi ini tidak berkoordinasi dengan Balai TNKj dan sesuai permintaan Bpk Isai Yusidarta tadi, saya akan mengirimkan laporan hasil sosialisasi. Keempat, hampir sama dengan poin pertama bahwa pendederan ikan kakap putih hingga ukuran 100 gram sebelum masuk ke KJA offshore dilaksanakan oleh masyarakat melalui pembinaan dan pendampingan merupakan salah satu usaha pemberdayaan masyarakat. Juga merupakan multiplayer effect yang diharapkan adanya KJA offshore. Masa juvenile – ukuran 100 gram adalah sisi adaptasi ikan kakap putih terhadap pakan buatan yang juga menjadi makanan sehari – hari setelah dipindahkan ke KJA offshore untuk pembesaran hingga ukuran 0,8 gr/ekor selama 8 bulan. Pada masa adaptasi ini sangat rentan pakan terbuang. Lokasi pendederan tentunya di perairan pesisir yang posisinya sangat dekat dengan ekosistem terumbu karang Karimunjawa. Kembali lagi berhubungan kelestarian ekosistem terumbu karang di daerah on shore (pesisir perairan dangkal) tempat habitat terumbu karang. Tanggapan pemateri :Berkaitan dengan feeding pada lokasi pendederan ikan kakap putih menggunakan KJA onshore milik masyarakat karimunjawa, semua kegiatan termasuk feeding akan didampingi oleh tenaga pendamping ahli dari KKP. Hal ini untuk mengantisipasi pemberian pakan yang berlebih dan terjadinya penyakit pada ikan. Untuk antisipasi perubahan ekosistem di sekitar KJA onshore akan berkoordinasi dengan Balai TNKj Solusi Yang Harus Dilaksanakan BTNKj Pertama, mendapatkan draft dan atau dokumen UPL/UKL yang dibahas dan diterbitkan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Propinsi Jawa Tengah. Pemrakarsa dalam hal ini KKP telah mengajukan UPL/UKL dan menurut pemateri tidak lama lagi UPL/UKL akan disahkan. Padahal selama ini setahu penulis Balai TNKj belum pernah diajak untuk membahas UPL/UKL yang dimaksud. Hal sensitif dalam UPL/UKL yang berhubungan langsung dengan TNKj adalah : Kedua, Balai TNKj memulai merancang pencatatan dan mendokumentasikan kondisi perairan dan ekosistemnya di sekitar koordinat lokasi KJA onshore milik masyarakat yang akan dijadikan lokasi pendederan ikan kakap putih. Pencatatan dan mendokumentasikan kondisi perairan dan ekosistemnya dilaksanakan sebelum pendederan, massa pendederan dan pasca pemindahan bibit ikan kakap putih ke KJA offshore. Ketiga, Balai TNKj memulai merancang pencatatan dan mendokumetasikan kondisi perairan di TNKj terutama yang berdekatan koordinat lokasi paten KJA offshore baik sebelum konstruksi, masa konstruksi, masa pemasukkan dari pemindahan tempat pendederan, masa pembesaran, dan pasca panen. Keempat, berkaitan poin kedua dan ketiga, Balai TNKj memerlukan : Efek positif yang diharapkan Pertama, produksi ikan kakap putih mampu membantu kebutuhan akan stok ikan segar di TNKj terutama pada kondisi puncak kunjungan wisatawan. Pada puncak kunjungan wisatawan, di alun – alun Karimunjawa yang merupakan pusat bakar – bakar ikan sering terjadi kehabisan stok ikan. Kondisi perikanan tangkap di Karimunjawa menyatakan bahwa nilai CPUE penangkapan ikan semakin kecil. Kondisi ini merupakan satu indikasi telah terjadi ekploitasi tinggi perikanan tangkap, yang menyebabkan jumlah tangkapan yang semakin sedikit dibandingkan usaha untuk menangkap ikan. KJA offshore di Karimunjawa diprediksi menghsilkan 568 ton kakap putih ukuran konsumsi. Kedua, pemberdayaan masyarakat melalui program pendederan bibit ikan putih pada KJA onshore milik masyarakat di zona budidaya TNKj, memberikan pilihan mata pencaharian alternatif dan peningkatan pendapatan yang berkesinambungan. KJA offshore dengan 8 lubang dirancang untuk untuk panen tiap bulan. Misalkan lubang 1 diisi Januari 2018 diharapkan panen September 2018, lubang 2 didisi Februari 2018 diharapkan panen Oktober 2018 begitu seterusnya. Ketika lubang sudah panen kemudian diisi lagi dengan bibit kerapu putih. Sehingga pendederan bibit kerapu putih pada KJA onshore milik masyarakat mitra terus berlanjut. Ketiga, Kegiatan di KJA onshore dan KJA offshore diharapakan mampu menjadi ODTWA alternatif, yang sekaligus mampu memberikan penanaman falsafah ekowisata kepada wisatawan. Dengan catatan ekosistem perairan seperti terumbu karang dan lamun yang mendukung kegiatan wisata di TNKj tidak terdaampak oleh adanya kegiatan KJA onshore dan KJA offshore. Lingkaran Merah adalah Lokasi KJA Offshore di Sebelah Selatan Taman Nasional Karimunjawa. Oleh: Isai Yusidarta, ST., M.Sc (PEH Balai TNKj)
Baca Pengumuman

Rafflesia kemumu (Rafflesiaceae), e new species from Northern Bengkulu, Sumatra, Indonesia

Rafflesia kemumu adalah jenis baru dari Bengkulu Utara di Sumatra, Indonesia. Spesies ini mirip dengan R. gadutensis dalam ukuran bunga saat mekar, tetapi berbeda warna dan tidak ada bintik di diaphragma bagian atas, susunan bintik pada dua lingkaran di windows dekat bukaan diaphragma, tipe dan penyebaran ramentanya, dan jumlah anther. Jenis ini mempunyai lobus perigon berwarna oranye sampai oranye gelap, bintil kecil mengelilingi bintil besar, dan 23 prosesi yang berbentuk kerucut dengan ujung yang membulat, tersusun dalam dua lingkaran masing-masing 15 dan 7, serta satu prosesi di tengah cakram. Rafflesia kemumu mempunyai dua tipe ramenta toadstool sederhana dan majemuk di bagian atas tabung perigone, dan ramenta seperti brokoli yang tersebar dari bagian bawah dinding perigon sampai hampir ke bagian ujung atasnya. (foto: jurnalmediaIndonesia.com) Rafflesia kemumu (Rafflesiaceae), e new species from Northern Bengkulu, Sumatra, Indonesia
Baca Pengumuman

Jala Misterius Jamur Phallus indusiatus

5 November 2017. Jamur merupakan organisme yang hidup diberbagai belahan dunia. Organisme sangat membutuhkan kelembapan dan sedikit cahaya dalam pertumbuhanya. Awal musim hujan adalah waktu yang tepat untuk melihat berbagai jenis jamur unik di hutan – hutan tropis Sumatera. Salah satu jenis jamur unik penghuni dasar hutan Sumatera Selatan adalah jenis jamur Phallus indusiatus. Jamur ini bisa di temukan mulai dari Asia, Afrika, Australia hingga Amerika. Keunikan jamur ini adalah terdapat struktur menyerupai jala yang menutupi batang tubuhnya. Jala misterius yang muncul menyelimuti batang utama pada bagian bawah tudung jamur, sebenarnya merupakan struktur yang berfungsi untuk menarik perhatian mahluk penyerbuk. Bentuk jala yang menyerupai rumah lebah ini memiliki warna yang beragam, mulai dari warna putih, merah muda bahkan orange terang. Spora tudung jamur juga dilengkapi cairan lengket yang berguna untuk menarik perhatian lalat maupun serangga lainya untuk hinggap dan memakan spora dan secara tidak sadar mereka turut serta menyebarkan spora tersebut. Jamur ini dapat tumbuh dimana saja khususnya pada tanah yang kaya akan unsur hara maupun dibawah batang kayu yang membusuk. Diperkirakan terdapat empat spesies yang tumbuh di Indonesia antara lain, Phallus indusiatus, jamur jenis ini memiliki jala yang pada umumnya berwarna putih namun terkadang ditemukan berwarna kuning. Yang hampir serupa dengan P. Indusiatus adalah spesies jamur Phallus duplicatus yang memiliki ukuran jala yang lebih pendek dan juga berwarna putih. Berbeda dengan dua spesies jamur sebelumnya jenis jamur Phallus multicolor ini memiliki jala yang yang berwarna merah muda terang namun ukuran batang tubuh lebih kecil dan pendek sedangkan spesies yang terakhir adalah Phallus luteus yang memiliki warna jala kuning terang. Masih sangat sedikit penelitian mengenai jenis dan manfaat dari berbagai jenis jamur yang tumbuh di Nusantara. Semoga dengan adanya berbagai penelitian yang dilakukan dapat menemukan hal yang bermanfaat dari organisme yang kita sebut sebagai jamur ini bagi kemaslahatan manusia. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Pengumuman

Gonochepalus chamaeleontinus Sang Reptile Arboreal yang Jarang Dijumpai

5 November 2017. Kadal yang dalam bahasa inggris disebut Angle-head Lizard ini memiliki struktur tengkorak pada bagian mata seperti bangun segitiga yang membuat penampilan kadal ini seperti mahluk yang hidup pada jaman prasejarah. Gonocephalus camaeleontinus merupakan kadal dari golongan Agamid ini memiliki warna dasar tubuh hijau muda dengan bintik-bintik orange yang tersebar di sekuruh tubuhnya, sedangkan terdapat warna merah pekat atau coklat pada area mata dengan kelopak mata yang dapat digerakan. Pada spesies kadal ini memiliki sex dimorphysm atau memiliki perbedaan bentuk tubuh maupun warna yang berbeda pada individu jantan ataupun betina yang dapat dilihat dengan mudah. Biasanya Kadal jantan akan memunculkan warna warna cerah pada saat musim kawin telah tiba untuk menarik lawan jenisnya. Kadal yang hanya dapat di jumpai di hutan-hutan tropis terbuka di Pulau Sumatera dan Jawa ini merupakan hewan diurnal yang biasa beraktivitas pada siang hari. Kadal yang suka berdiam diri diatas pepohonan (arboreal) ini suka memangsa serangga dan hewan invertebrata lainya yang ada disekitarnya. Seperti halnya dengan jenis kadal bunglon yang lainya, kadal ini memiliki sistem pertahanan diri yang cukup unik yaitu dengan cara merubah warna tubuhnya menyerupai lingkunganya atau camuflase serta mereka dapat memutuskan ekornya apabila mereka dalam posisi sangat terancam. Berdasarkan dari keterangan dari CITES lembaga yang mengurusi perdagangan satwa, Gonocephalus chamaeleontinus merupakan satwa dalam kategori satwa Appendx II dengan status Endanger Species atau satwa terancam punah dihabitat aslinya. Namun perdagangan kadal ini baik lokal maupun internasional masih banyak dijumpai dan hal ini dapat menyebabkan kepunahan apabila tidak dilakukan upaya konservasi spesies kadal ini. Sumber : Balai KSDA Sumatera Selatan

Menampilkan 81–96 dari 257 publikasi