Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Pengumuman

Pengumuman

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Pengumuman

LOWONGAN FINANCE AND ADMINISTRATIVE ASSISTANT (FAA) DAN ADMIN ASSITANT (AA) PADA PROYEK TRANSFORMING EFFECTIVENESS OF BIODIVERSITY CONSERVATION IN PRIORITY SUMATRAN LANDSCAPES

Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscapes (Sumatran Tiger Project) Project bertujuan untuk meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati di lanskap prioritas Sumatera melalui penerapan praktek pengelolaan terbaik bagi kawasan konservasi dan kawasan budidaya yang ada di sekitarnya. Dimana pemulihan populasi harimau sumatera dijadikan indikator keberhasilan proyek yang didanai hibah dari GEF, dan dikelola oleh Kementerian Lingungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan UNDP. Untuk mencapai sasaran project, kami mencari kandidat terbaik untuk mengisi posisi Finance and Administrative Assistant (FAA) untuk penempatan di Taman Nasional Kerinci Seblat, Sungai Penuh Jambi dan Admin Assistant (AA) untuk penempatan di Jakarta. Lamaran, CV dan berkas pendukung lain dapat dikirimkan paling lambat tanggal 6 Februari 2019. Hanya kandidat yang masuk shortlisted yang akan dipanggil untuk interview (lokasi ditentukan kemudian). Informasi lebih lanjut dapat mendownload file berikut LOWONGAN FINANCE AND ADMINISTRATIVE ASSISTANT_2019
Baca Pengumuman

Applications To The ASEAN Youth Biodiversity Programme (AYBP) 2019 Youth Biodiversity Leaders (YBL) Fellowship Released

ASEAN Centre for Biodiversity (ACB) bekerjasama dengan EU Project “Biodiversity Conservation and Management of Protected Areas in ASEAN” (BCAMP) mengadakan program ASEAN Youth Biodiversity Programme (AYBP). AYBP memiliki dua kegiatan utama, salah satunya adalah program fellowship Youth Biodiversity Leaders (YBL). Program ini adalah fellowship satu tahun yang meliputi pengembangan kapasitas dan bimbingan bagi para pemimpinan muda terkait keanekaragaman hayati di wilayah ASEAN untuk memperkuat implementasi Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Nasional (NBSAPs) dan pengarusutamakan generasi muda terhadap agenda keanekaragaman hayati nasional. Setiap tahun, dua (2) Pemimpin Keanekaragaman Hayati Pemuda (YBL) berusia 18 – 35 akan dipilih dari masing-masing Negara Anggota ASEAN (AMS) untuk membentuk Kelompok YBL. Kegiatan-kegiatan untuk YBL akan dilakukan sebagian besar secara online seperti melalui webinar, serta lokakarya kick-off YBL regional. Lokakarya YBL 2019 perdana akan diadakan pada 18-23 Maret 2019 di Thailand. Untuk info lebih lanjut bisa buka : Facebook : https://www.facebook.com/ASEANBiodiversity/posts/10156888343223582 Website: www.aseanbiodiversity.org/aybp/ybl Atau menghubungi : AHP/BCAMP Coordinator E-mail: nadsarne@aseanbiodiversity.org AYBP Coordinator, ACB E-mail: mmjtan@aseanbiodiversity.org
Baca Pengumuman

Peresmian Pusat Seni, Karya & Budaya Pasar Melayu Ternate

Mari Semarakan dan Sukseskan "Peresmian Pusat Seni, Karya & Budaya" Pasar Melayu Ternate Hari : Minggu, 28 Oktober 2018 Jam : Mulai pkl. 07:00 - selesai Lokasi : Benteng Oranje Ternate Acara : Falinggir Festival (Lomba Layangan Adu & Hias dgn Hadiah Jutaan Rupiah) Jang Foloi Carnaval - Lomba Kostum Hias & Carnaval Hias dgn Hadiah Jutaan Rupiah Ternate Instagram Contest (Lomba Foto dan Video IG dgn Hadiah Wisata + Akomodasi) Menampilkan : - Pagelaran Seni & Budaya Ternate - Bazzar Jajanan & kuliner Khas Maluku Utara - Pameran Kerajinan Khas Maluku Utara. - Live Musik. - Nobar Film Karya Putra Ternate. - Stand Up Comedy. - Aneka Taman Selfi. "Mari menjadi bagian dan saksi lahirnya Destinasi Digital baru di kota Ternate Tercinta" Info Pendaftaran Lomba dan Partisipasi, Hub : Seketariat "Pasar Melayu" Taman Belakang Benteng Oranje Telp/SMS/WhatsApp : 085242412131 (Nyong) Sumber : Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Pengumuman

Kontes Foto, Video pendek, dan Logo Berhadiah Puluhan Juta Rupiah

Balai Taman Nasional Gunung Merbabu memiliki fungsi konservatif demi menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Gunung Merbabu. Dalam menjalankan fungsinya, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu didukung oleh berbagai lapisan masyarakat, baik secara langsung di lapangan, maupun dukungan tidak langsung melalui berbagai publikasi dan promosi kegiatan positif melalui jaringan internet atau umum disebut dunia maya. Aktivitas publikasi dan promosi di dunia maya sudah bukan hal asing lagi. Menurut survei Asosiasi Jasa Penyelenggara Internet Indonesia (APJII) tahun 2017, total ada 143 juta pengguna internet di Indonesia atau 54,68% dari total penduduk Indonesia. Dari 143 juta pengguna, 87% pengguna menggunakannya untuk bermain sosial media. Mereka tertarik menggunakan sosial media untuk melihat berbagai konten kreatif seperti foto dan video, yang diunggah pengguna lain. Melihat hal tersebut, Balai Taman Nasional Gunung Merbabu berkolaborasi dengan Phinemo, mengadakan kontes kreatif bertajuk ‘Imagine Merbabu’. Imagine Merbabu merupakan kontes karya kreatif fotografi, videografi, dan kreasi logo Balai Taman Nasional Gunung Merbabu. Kontes ini berlangsung pada 20 Agustus – 10 September 2018. Kami mengundang semua kreator konten dari semua usia untuk berpartisipasi. Unggah karya kalian di Phinemo.com sesuai ketentuan secara gratis. Para profesional yang telah berpengalaman di bidangnya akan memilih 1 karya terbaik di tiap lomba. Pemilik karya tersebut berhak mendapatkan paket liburan ke Tanjung Puting, sebuah kawasan alam yang dijuluki ‘surga dari borneo’. Adapun ketentuan masing-masing lomba adalah sebagai berikut: Karya peserta kontes ‘Imagine Merbabu’ akan diseleksi oleh para juri yang berpengalaman di bidangnya. Untuk lomba foto, karya peserta akan diseleksi oleh Maulana Muhammad Fahmi, pewarta foto di Harian Suara Merdeka. Dia merupakan pemegang piagam rekor Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (Leprid) sebagai pemecah rekor prestasi lomba foto terbanyak jurnalis media cetak. Saat ini dia juga aktif sebagai dosen praktisi MK Fotografi di Universitas Dian Nuswantoro Semarang. Dirinya merupakan Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Semarang (2014-sekarang). Untuk lomba video pendek, karya peserta akan diseleksi oleh Argo Mukiono, asesor videografer profesional. Dia adalah pendiri Summer Creative Media yang bergerak pada bidang konten kreatif audio visual. Beberapa kali menjadi pemateri dalam pelatihan-pelatihan videografi. Belakangan sering terlibat dalam produksi film pendek dan aktif dalam mengembangkan industri perfilman di kalangan milenial. Sementara untuk lomba kreasi logo, karya peserta diseleksi langsung oleh Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merbabu, Ir. Edy Sutiyarto. Satu pemenang utama untuk masing-masing lomba akan mendapatkan hadiah paket liburan ke Tanjung Puting di Kalimantan dan plakat. Sementara pemenang favorit di masing-masing lomba akan mendapatkan hadiah daypack dari Cozmeed dan Consina. Anda bisa mendaftar dan mengunggah karya Anda dengan klik tautan berikut: bit.ly/imaginemerbabu.
Baca Pengumuman

Lowongan BCAMP National Project Manager-Indonesia

ACB bekerjasama dengan European Union (EU) sedang melaksanakan Proyek ASEAN-EU Biodiversity Conservation and Management of Protected Areas in ASEAN (BCAMP). BCAMP adalah program selama 5 (lima) tahun (2017-2022) yang bertujuan untuk berkontribusi terhadap keberlanjutan global untuk memastikan keanekaragaman hayati ASEAN yang kaya dapat dilestarikan dan dikelola secara berkelanjutan untuk meningkatkan sosial, ekonomi, dan kesejahteraan lingkungan. Tujuan spesifik proyek ini adalah untuk lebih meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati dan pengelolaan kawasan lindung secara efektif di Asia Tenggara yang secara signifikan dapat mengurangi hilangnya keanekaragaman hayati di wilayah ASEAN. National Project Managers (NPMs) akan berfungsi sebagai koordinator negara ASEAN Member State (AMS) untuk mengelola operasi sehari-hari proyek BCAMP di tingkat Nasional. NPM juga akan memperkuat kehadiran ACB di AMS dengan berhubungan dengan focal point AWGNCB dan instansi pemerintah nasional dan daerah lainnya, serta organisasi mitra di masing-masing negara. Informasi lebih lanjut mengenai Scope Duties, Qualifications, Competency Requirements dan lainnya dapat dibuka pada Term of Reference terlampir atau pada website : https://aseanbiodiversity.org/2018/07/19/apply-bcamp-national-project-manager-indonesia/ Batas waktu untuk pengajuan paling lambat tanggal 19 Agustus 2018. Hanya aplikasi dengan persyaratan dokumenter lengkap (Letter of Intent, Curriculum Vitae komprehensif, portofolio dan Formulir Riwayat Pribadi yang lengkap) yang akan diproses.
Baca Pengumuman

Mereguk Suaka Tropis Nan Agung di Taman Nasional Gunung Leuser

Ingin bertualang sembari menunggang Gajah Sumatera? Sambangilah Kawasan ekowisata Tangkahan, Batang Serangan, Langkat, Sumatera Utara. Dikenal sebagai surga terpendam di Sumatera Utara, Tangkahan berada di dalam Taman Nasional Gunung Leuser. Selain jelajah hutan, Gajah jinak bersama mahout (pelatih Gajah) secara teratur berpatroli di dalam kawasan taman nasional. Para pengunjung dapat berpatroli Bersama Gajah itu, sembari menyusuri Tangkahan sampai ke Bukit Lawang. Keintiman juga terjalin dengan memandikan binatang berbelalai itu. Pengalaman itu baru sebagian kecil dari petualangan di Leuser. Jangan terlewatkan pula bunga Raflesia atjehensis bila sedang mekar di Tangkahan. Orangutan Sumatera (Pongo abelii) telah memikat wisatawan dari belahan dunia. Pusat pengamatan Orangutan Sumatera ini berada di Desa Perkebunan Bukit Lawang, Bahorok, Langkat. Mengamati Orangutan Sumatera merupakan suguhan di sela jelajah rimba raya di Bukit Lawang. Di Bukit Lawang, pengunjung dapat melihat dari dekat tingkah Orangutan semiliar hasil rehabilitasi. Perjalanan menuju pusat pengamatan Orangutan akan menyusuri Sungai Bahorok dan rimba raya Leuser. Keindahan panorama alam, hutan, sungai, dan satwa liar, itu memang teramat sayang dilewatkan. Hal unik lain adalah spesies baru bunga Rafflesia lawangensis. Tangkahan dan Bukit Lawang baru dua kawasan wisata di Taman Nasional Gunung Leuser dengan pamor wisata kelas dunia. Ekosistem Leuser yang bergelimang kekayaan hayati membuat kawasan konservasi ini dijuluki Suaka tropis terbesar dan terkaya di muka bumi. Taman nasional ini menjadi rumah bagi Harimau Sumatera dan Badak Sumatera. Jejak keberadaan satwa tersebut dapat dijumpai di jalur pendakian menuju puncak Leuser yang berada di ketinggian 3.119 meter dpl. Di antara kelebatan hutan Leuser, hidup flora khas yaitu daun paying raksasa (Johannesteijsmannia altifrons). Sumber: Buku Pariwisata Alam 54 Taman Nasional Indonesia
Baca Pengumuman

Dimanakah Lokasi Pondok Wallace di Maros?

Alfred Russel Wallace seorang naturalis berkebangsaan Inggris menjelajah di Kepulauan Melayu, saat ini Singapura, Malaysia, dan Indonesia selama delapan tahun. Dua kali ia mendatangi Makassar. Kedatangan perdananya mengekplorasi Makassar bagian selatan hingga ke Samata (Gowa) sekitar 2 September – 13 Desember 1856. Setelah berayar ke Kepulauan Aru, ia kembali lagi ke Makassar pada 11 Juli 1857. Kali ini ia memilih Maros sebagai lokasi ekpedisi berikutnya. Mengapa Maros? Catatan Ida Pfeiffer dan Willem Leendert Mesman menuntunnya menjelajahi Maros. Letaknya sekitar tiga puluh mil ke utara dari Makassar. Saya jadi tertarik menguak kisahnya selama menjelajah di Maros. Ke manakah ia selama di Maros? Saya pun bertemu dan berdiskusi dengan Kamajaya Shagir yang pernah menelusuri jejak Wallace di Maros. Dan suatu hari, saya pun kembali ditemani untuk menelusuri jejaknya. Begitu asyik berdiskusi dengannya. “Saya sudah banyak membaca dokumen Wallace di Maros. Buku, cacatat butut, surat-bersurat, hingga tulisan penggemar Wallace di belahan dunia lain,” tutur Kamajaya. Saya kemudian menarik kesimpulan bahwa Kamajaya sangat mengidolakan sosok Wallace. Begitu bersemangatnya ia menceritakan kisah sang pengembara. “Wallace beserta dua pembantunya berangkat dari Makassar melintasi pesisir dengan perahu pada malam hari. Saat fajar memasuki sungai Maros. Tiba di Solojirang (saat ini sekitar Polres Maros) pada pukul tiga sore. Ia kemudian melapor ke Asisten Residen, memperlihatkan surat pengantarnya dari Gubernur Makassar. Setelah itu ia kembali ke Kapal dan tidur,” tuturnya. “Keesokan harinya Wallace mendapat bantuan dari Jacob David Manthjis Mesman, saudara temannya di Makassar. Sepuluh orang pribumi membantunya mengangkut barang bawaannya,” tambahnya. Jacob dikisahkan Wallace sebagai seorang petualang. Menikmati kehidupannya bersama alam, bergantung pada senapan dan anjing pemburu untuk memenuhi sumber pangan. Berburu babi hutan dan sesekali waktu menembak rusa, ayam hutan, julang hingga merpati hutan. Menanam padi dan kopinya sendiri, serta memelihara banyak bebek dan unggas serta kerbau yang menghasilkan persediaan susu dan mentega. Sayur dan buah-buah sangat melimpah saat tiba musimnya. Cerutunya terbuat dari tembakau yang dilintingnya sendiri. Teman baiknya itu yang juga dikenal dengan sapaan Tuan Solo selalu mengirimkannya daging, telur, susu, dan “Saguer” manis. Mereka berjalan menuju peternakan Jacob. Melewati jalan desa dengan suguhan hamparan sawah yang mengering, tersisa tunggak padi telah dipanen. Bukit kapur menghampar dengan latar belakang Gunung Bulusaraung. Akhirnya setelah berjalan sekitar enam sampai delapan mil, ia sampai pada sebuah lembah yang hampir dikelilingi bukit kapur. Jacob kemudian menjamu Wallace pada sebuah warung bambu yang beratapkan jerami. Tak jauh dari sana Jacob menawarkan sebagian rumah mandornya sebagai tempat tinggal sementara Wallace. Dengan senang hati sang pengembara menerima tawaran Jacob. Hanya saja Wallace merasa tidak cocok dengan kondisi rumah. “Rumah ini terlalu terbuka, menyulitkan saya bekerja dengan serangga dan kertas,” tutur Wallace dalam bukunya. Setelah beberapa hari Wallace terserang demam. Karenanya ia kemudian memutuskan pindah, jaraknya sekitar satu mil dari rumah sang mandor. Tinggal di pondok kecil sekitar kaki bukit yang berhutan. Sebuah pondok kecil, yang terdiri dari beranda tertutup atau ruang terbuka, sebuah kamar tidur kecil di dalam, dengan sebuah dapur kecil di luar yang dibangun Jacob dalam beberapa hari. “Saya memiliki pondok sederhana dari bambu. Ketika saya tiba Agustus, udara sangat panas dan kering, tak ada hujan selama dua bulan. Dedaunan mengering, begitu sulit menemukan serangga termasuk kumbang,” isi surat Wallace ke Samuel Stevens, Amboyna, 20 Desember 1857. Namun di manakah letak pondok sederhana ini berada? Dalam buku The Malay Archipelago tak digambarkan secara detail. Bermodal peta-peta Belanda tahun 1915–1926, Kamajaya mempelajari rute Wallace selama di Maros. Selanjutnya ia bersama dengan tiga orang rekannya mendatangi sejumlah tempat. Kemudian memastikan bahwa lokasi tersebut sesuai dengan deskripsi Wallace. “Melewati sebuah dataran tinggi yang membentuk bahu salah satu bukit, pemandangan indah terbentang di depan kami. Kami melihat ke dalam sebuah lembah kecil yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh bukit, yang tiba-tiba menjulang di tebing besar dan membentuk rangkaian bukit kecil. Puncak bukit dan kubah dengan bentuk yang sangat bervariasi dan fantastis. Di tengah-tengah lembah terdapat sebuah rumah bambu besar, sementara selusin pondok dari bahan yang sama tersebar di sekitarnya.” Begitulah deskripsi Wallace ketika pertama kali memasuki suatu perkampungan yang akan menjadi tempat tinggal selama di Maros. Pencarian akhirnya mengantarkannya ke Amasanga yang ditulis Wallace dalam Alfred Russel Wallace’s Species Notebook of 1855–1859. “Apakah daerah sini terdapat kampung yang dahulu dihuni Belanda,” tanya Farid pada tokoh masyarakat yang ditemuinya. “Di sana, dahulu memang ada kampung Belanda menurut cerita orang-orang tua dahulu,’ Jawab La Saing (60 tahun) dengan dialeg khas Bugisnya. “Amma’suara sering menceritakan bahwa di kampung ini ada perkampung Belanda. Amma’suara adalah Kakek saya,” tutur La Saing mulai bercerita saat kami temui di rumahnya. Ciri-ciri yang dideskripsikan Wallace memang begitu mirip. Terdapat lembah yang luas membentang. Lembah ini hampir dikelilingi karst yang berbentuk menara. Di beberapa tempat terdapat genangan air lengkap dengan beberapa kuda sedang merumput di sekitarnya. Membayangkan Jacob melepasliarkan kerbau dan kuda di sekitar kediamannya. Saat menyambangi lokasi yang diduga kuat adalah Amasanga hanya tersisa pekuburan tua. “Kuburan ini bisa jadi bukti bahwa dahulu di sini ada perkampungan,” pungkas kamajaya dengan yakin. “Apakah bisa dipastikan ini adalah lokasi Amasanga seperti yang disebutkan Wallace?” tanya saya sekenanya. “Tidak dapat dipastikan” tutur Kamajaya sedikit ragu. Namun hal ini memungkinkan dari Amasanga menjadi Amassangeng, dalam dialeg bahasa Bugis. Pondok Wallace “Lalu ke arah manakah Wallace mendirikan pondok sejauh satu mil?” tanya saya ketika kamajaya membuka lagi peta lawasnya. Dengan memperhitungkan skala peta Kamajaya menunjuk satu tempat bernama”Tompokbalang” di peta. “Sekitar sini,” tegasnya. La Saing yang mendengarkan percakapan kami, angkat bicara. “Di bukit sana, dahulu orang-orang Tompokbalang mendirikan rumahnya sebelum kemudian berpindah. ” “Kakek saya juga sering bercerita kalau ada rumah Belanda di sana,” tambahnya. Kami kemudian menyambangi kaki bukit batu kapur. Menelusuri pematang sawah yang hijau menghampar. “Pohon asam itu patokannya,” ujar La saing menunjukkan arah. Tak lama kemudian kami menyeberangi sungai kecil, kemudian sedikit menanjak menuju arah pohon asam. Kami kemudian sampai pada lokasi diduga lokasi pondok Wallace. Sebidang tanah datar dengan luas sekitar 8x20 meter. “Bulu kuduk saya berdiri saat pertama kali menyambangi lokasi ini. Bisa jadi karena saya begitu menghayati perjalanan Wallace,” tutur Kamajaya. Di sekitar lokasi diduga lokasi beridirnya pondok, terdapat beberapa pohon nangka (Arthocarpus sp), sejumlah pohon asam (Tamarindus indica), dan puluhan pohon aren (Arenga pinnata) di kaki bukit berhutan. Tak jauh dari lokasi pondok terdapat mata air yang diduga Wallace gunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya. Saat itu musim kemarau, sungai–sungai kecil mengering. Hanya terdapat satu-satunya sumber mata air yang dapat digunakan. Hanya sekitar lima puluh meter dari pondoknya berdiri, berada tepat di kaki bukit. Terdapat mata air pada lubang yang dalam. Wallace kemudian memanfaatkannya untuk keperluan air bersih sehari-hari, termasuk mandi. Saat kami bertandang, sungai kecil sebelum pondok masih mengalirkan air, meskipun alirannya kecil. Ini masih awal musim kemarau. Mata air dari lubang yang dalam berasal dari bukit kapur di atasnya. Air yang keluar dari bongkahan batu benyerupai lubang itu tampak bening nan jernih. “Air ini tak pernah kering,” tutur La Saing. Saat ini masyarakat Tompokbalang memanfaatkan air ini dengan memasang water intake tepat di mulut lubang. Menampung kemudian mengalirkan ke rumah-rumah warga. Wallace senang saat menjelajahi sungai kering, banyak lubang tergenang air, batu-batu, dan pohon tumbang, dan dibayangi tajuk hutan yang megah. Selama di Amasanga atau Tompokbalang, Wallace banyak mengoleksi kupu-kupu dan kumbang. “Di hutan bukit batu kapur ini hidup berbagai jenis kupu-kupu terbaik di dunia,” pungkasnya. Kupu-kupu Sulawesi yang langka dan indah adalah objek utama pencarian Wallace di Maros. Perjalanan ke Bantimurung "Kira-kira pada bagian akhir September hujan turun dengan deras," prediksi Wallace. Wallace pun memutuskan untuk mengunjungi air terjun Sungai Maros (Bantimurung). Airnya mengalir dari pegunungan. Di mana saat itu telah menjadi tempat wisata yang indah. Wallace berangkat bersama dua orang lainnya, seorang pemandu dan pembantunya. Menempuh perjalanan selama tiga jam ke Bantimurung. Melewati persawahan dengan jejeran bukit kapur berada di sisi kiri. Setelah dua jam perjalanan mereka tiba di jalan utama yang bersisian dengan sungai. Wallace memperkirakan bahwa ia sudah separuh perjalanan antara Maros dan air terjun. Dari situ berjalan melewati jalan bagus, mereka tiba di air terjun satu jam kemudian. Kami coba menulusuri kemungkinan jalan yang digunakan Wallace menuju air terjun Bantimurung. Perkiraan pertama bahwa rombongan Wallace melewati perkampungan Leang-leang. Namun saat kami menjejalnya pemandangan jejeran karstnya berada di dua sisi. Letaknya juga terlalu dekat dengan Bantimurung. Jalan yang paling memungkinkan melewati perkampungan Tompokbalang – Bentenge – Manarang – Bontosunggu berakhir di jalan poros Maros–Bone. Lebih mewakili pertengahan antara Maros dan Bantimurung. Saat tiba di Bantimurung, ia sangat takjub dengan suguhan air terjun. “Lebar sungai sekitar dua puluh meter. Airnya mengalir di antara dua dinding vertikal batu kapur. Di atas batu kapur membulat dengan dua kurva yang dipisahkan dua birai kecil setinggi empat puluh kaki. Air mengalir tipis laksana lembaran-lembaran busa, bergelombang mengikuti lekukan batu hingga jatuh dan berkumpul pada kolam yang dalam di bawah.” Selama di Bantimurung ia menjelajah hingga ke Telaga Kassi Kebo, sebuah danau dengan air terjun kecil. Di sisi telaga ini berpasir, tempat kupu-kupu hingga mengisap mineral. “Saat siang, matahari bersinar dengan terik. Pada tepian kolam air terjun atas menyajikan pemandangan yang indah. Gerombolan kupu-kupu hinggap di gundukan pasir yang lembab, warnanya beragam, oranye, kuning, putih, biru, dan hijau menghias. Ketika mendekatinya dan merasa terganggu mereka terbang ke udara dalam jumlah besar membentuk awan berwarna-warni,” kagum Wallace. Selama empat hari:19-22 September 1857, Wallace mengeksplorasi Bantimurung. Ia penasaran menjejal koridor-koridor karst, namun ia memiliki beberapa alasan yang membatasi. Salah satunya: ia tak memiliki izin lebih jauh di wilayah Bugis. Selama di Bantimurung, Wallace hanya mengoleksi kupu-kupu (Lepidoptera) sebanyak 25 jenis. Sisanya 207 jenis kupu-kupu dikoleksi di sekitaran Amansanga atau Tompokbalang, dimana lokasi pondok Wallace berdiri. The Kingdom of Butterfly demikian julukan bagi kawasan wisata Bantimurung. “Namun, Wallace tidak pernah menuliskan kawasan wisata Bantimurung dengan julukan demikian baik dalam catatan atau bukunya sekalipun,” Kamajaya menegaskan. Ia pun pernah mengkonfirmasi hal tersebut dengan Dr. Tony Whitten, selaku pengantar buku Kepulauan Nusantara: Sebuah Kisah Perjalanan, Kajian Manusia dan Alam, karya Wallace dalam versi bahasaIndonesia. “Wallace tidak pernah menuliskan kawasan Bantimurung dengan julukan The Kingdom of Butterfly,” tegas Tony. Selama kurun waktu lebih kurang tiga bulan mengeksplorasi wilayah Maros, Wallace berhasil mengumpulkan 232 jenis kupu-kupu (Lepidoptera), yang terdiri dari 139 jenis Papilionoidea, 70 jenis kupu-kupu malam (moths) dan 23 jenis Hesperidae (skippers). Data hasil eksplorasinya tersebut tercatat dalam Alfred Russel Wallace’s Spesies Notebook 1855 – 1859. Sumber : Taufiq Ismail – Staf Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Pengumuman

Pelaksanaan Reformasi Birokrasi melalui Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK / WBBM Lingkup Ditjen KSDAE Tahap I

Batam, 14 Mei 2018. Acara ini dilaksanakan di Allium Hotel dibuka oleh Sekretaris Ditjen KSDAE, serta dihadiri Kepala Balai Besar KSDA Riau, Kepala Balai TN Batang Gadis, Kabag Kepegawaian, Organisasi dan Tatalaksana, Kepala Bagian Tata Usaha dan Kepala Sub Bagian Tata Usaha serta staf yang menangani evaluasi sejumlah 25 UPT dari Pulau Sumatera, sebagian Pulau Jawa dan Kalimantan. Kegiatan ini bertujuan untuk mensosialisasikan dan menginternalisasikan Peraturan Dirjen KSDAE No. P.6 Tahun 2017 tentang Pedoman Evaluasi Kinerja Organisasi Satuan kerja Lingkup Ditjen KSDAE dan melaksanakan pengambilan data awal penilaian capaian reformasi birokrasi pada UPT Tahap I. Reformasi Birokrasi (RB) merupakan agenda nasional yang harus dilaksanakan di Seluruh Kementerian/Lembaga. Reformasi birokrasi merupakan salah satu langkah awal untuk melakukan penataan terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif dan efisien, sehingga dapat melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional. Dalam perjalanannya, banyak kendala yang dihadapi, diantaranya adalah penyalahgunaan wewenang, praktek KKN, dan lemahnya pengawasan. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 Tentang Grand Design Reformasi Birokrasi (RB) yang mengatur tentang pelaksanaan program reformasi birokrasi, untuk mencapai 3 (tiga) sasaran hasil utama : Setiap kementerian/lembaga harus melaksanakan PMPRB/Penilaian Mandiri Reformasi Birokrasi dengan mempedomani PermenPANRB No.14 Tahun 2014 tentang Pedoman Evaluasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi. Berdasarkan hasil PMPRB KLHK tahun 2018, diperoleh nilai akhir 81,45 (Kategori A/Memuaskan). Namun demikian nilai ini masih indeks RB unevaluated, yang akan dievaluasi oleh KemenPANRB. Indeks RB ini digunakan sebagai dasar penetapan besaran TUNJANGAN KINERJA setiap Kementerian/Lembaga. Berdasarkan PermenPANRB No. 52 Tahun 2014, dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil RB, instansi pemerintah perlu membangun pilot project pelaksanaan RB, sehingga secara konkret perlu dilaksanakan program RB pada unit kerja melalui upaya pembangunan Zona Integritas. Zona Integritas pada KLHK Zona integritas adalah predikat bagi instansi pemerintah yang pimpinan dan jajarannya berkomitmen untuk mewujudkan WBK/WBBM melalui reformasi birokrasi, khususnya dalam pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Pada level KLHK, telah diterbitkan Instruksi Menteri LHK Nomor Ins.1/Menlhk-Setjen/2015 tentang tentang Pembangunan Zona Integritas (ZI) Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) Lingkup Kementerian LHK dan PermenLHK No. P .40 Tahun 2016 tentang RoadMap RB KLHK Tahun 2015-2019, sehingga Internalisasi Reformasi Birokrasi menjadi sangat penting dilakukan secara menyeluruh dipimpin oleh kepala satuan kerja di seluruh tingkatan. Zona Integritas merupakan pilot project Reformasi Birokrasi dan merupakan alat ukur Evaluasi Kinerja Organisasi dalam rangka pelaksanaan RB pada level satuan kerja, dalam wujud setiap unit kerja pada Eselon I KLHK diperintahkan untuk melaksanakan pembangunan zona integritas. Inspektur Jenderal KLHK telah menerbitkan Peraturan Inspektur Jenderal KLHK Nomor P.04 Tahun 2015 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Unit Kerja Berpredikat Menuju Wilayah Bebas Dari Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBK/WBBM). Lingkup Ditjen KSDAE telah diterbitkan Perdirjen No. P.6 Tahun 2017 tentang Pedoman Evaluasi Kinerja Organisasi Satuan kerja Lingkup Ditjen KSDAE yang ditandatangani pada tanggal 25 September 2017. Tujuan Evaluasi kinerja organisasi: Reformasi Birokrasi di Satker Lingkup Ditjen KSDAE harus dilakukan secara komprehensif, berjenjang dan berkelanjutan. Untuk itu, Perdirjen No. P.6 Tahun 2017 sebagai alat ukur evaluasi kinerja organisasi perlu dipedomani dan dilaksanakan, sehingga dapat digunakan sebagai parameter pelaksanaan RB pada level satuan kerja yang akan mempengaruhi besaran Tunjangan Kinerja yang akan diterima. Demikian beberapa hal sebagai bekal dalam meningkatkan kinerja di lapangan sehingga performance satker Lingkup Ditjen KSDAE menjadi terus lebih baik, khususnya dibidang reformasi birokrasi.
Baca Pengumuman

Mengenalkan Konservasi Melalui Batik

Namanya Dini Suryandari, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di Seksi Konservasi Wilayah IV Pamekasan. Ia-lah yang memulai mengenalkan batik dengan motif Kakatua Kecil Jambul Kuning ke masyarakat. Semua ini berawal dari seringnya Dini bertugas ke Pulau Masakambing. Pulau yang menjadi habitat asli Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abbotti) yang populasinya diperkirakan tinggal 24 ekor saja. Namun, tak semua orang tahu akan kondisi tersebut. Sehingga perlu ada upaya penyadartahuan serta edukasi yang lebih untuk mengenalkan kondisi si paruh bengkok saat ini. Bagi wanita yang memiliki hobi melukis ini, masakambing menjadi sumber inspirasinya untuk membuat desain batik dengan motif Kakatua. Ia mulai menuangkan ide-ide di atas kertas, yang sebenarnya hanya sebuah keisengan belaka. Ibaratnya, iseng-iseng berhadiah. Dini mulai bekerjasama dengan salah seorang pembatik tulis untuk menggambar desain yang ia buat. Setelah jadi, ia perkenalkan batik tersebut melalui sosial media. Dan ternyata tanggapan warganet cukup antusias, banyak yang tertarik untuk membeli kain batik bermotif Kakatua tersebut. Permintaan batik semakin banyak, yang awalnya hanya di kolom komentar mulai berlanjut ke pesan pribadi. Agar pemesan tidak kecewa, kain batik inipun mulai diproduksi masal dengan bekerjasama dengan pembatik di kabupaten Pamekasan dan Sumenep. Motifnya-pun tidak hanya Kakatua, ada yang mulai memesan motif satwa Merak, Elang, Macan dan lainnya. Bahkan, Balai Taman Nasional Bali Barat juga ikut memborong batik dengan motif Jalak Bali. Dengan batik, Dini mencoba mengenalkan Konservasi. Dengan batik, masyarakat menjadi lebih mengenal Kakatua Kecil Jambul kuning. Ketika menggunakan batik satwa ke sebuah acara pernikahan secara tidak sadar kita telah mengedukasi masyarakat untuk mengenal satwa dilindungi. Dan dengan batik, Dini ingin memperkenalkan Konservasi kepada masyarakat. “Harapan saya dan teman-teman ingin mengajarkan membatik kepada masyarakat di Pulau Masakambing sehingga mereka juga merasakan buah manis dari Kakatua yang selama ini mereka jaga” ujar wanita asli Tegal itu. (Didik Sutrisno, Penyuluh Kehutanan di Seksi Konservasi Wilayah IV di Pamekasan)
Baca Pengumuman

Cenderawasih Di Site Monitoring Baraway

April 2018. Cenderawasih, makhluk cantik bergelar si Burung Surga, dalam beberapa waktu ini menjadi pusat perhatian, baik di Papua maupun Nusantara. Jumlah populasinya yang sangat sedikit di alam, perburuan terus-menerus, juga lunturnya sakralitas cenderawasih di kalangan masyarakat adat Papua menjadi bagian dari faktor utama keprihatinan banyak pihak terhadap cenderawasih. Si burung surga itu ditetapkan sebagai spesies prioritas untuk ditingkatkan populasinya oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) yang sekarang disebut sebagai Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE). Selama rentang waktu empat tahun, 2015-2019, cenderawasih diupayakan meningkat populasinya sebanyak 10%. Banyak pihak, termasuk lembaga dan komunitas lingkungan di Papua telah melakukan kampanye, seminar, hingga pagelaran seni tari dan teater, yang ditujukan untuk menjaga cenderawasih dari kepunahan. Banyak suara diteriakkan, gugatan diajukan, dan kecaman dilontarkan. Pemerintah yang dinilai paling bertanggung jawab terhadap kelestarian populasi cenderawasih, para pemburu, juga para pemakai mahkota bangkai cenderawasih yang sebenarnya tidak berhak, semuanya pernah mendapatkan suara-suara keras itu. Sebagai catatan, mahkota cenderawasih bersifat sakral bagi masyarakat Papua, khususnya Sentani dan Jayapura. Hanya kepala suku dan ondoafi yang berhak mengenakannya dan hanya pada saat-saat tertentu pada upacara-upacara adat. Cenderawasih adalah makhluk cantik dengan proses perkembangbiakan yang relatif lambat. Betina hanya bertelur dua atau tiga butir dalam satu masa kawin, yang kemungkinan hanya sekali dalam satu tahun. Bila perburuan terus dilakukan, cenderawasih dapat dipastikan punah suatu hari nanti, karena ketidakseimbangan antara jumlah bayi cenderawasih yang ditetaskan dan pengambilan secara liar di alam. Dalam konteks ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua telah melakukan upaya-upaya pengelolaan pada beberapa site monitoring. Kampung Baraway di Kabupaten Kepulauan Yapen adalah salah satunya. Sementara jenis cenderawasih yang menjadi fokus tetaplah cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor). Meskipun terdapat 43 spesies cenderawasih dengan berbagai kekhususannya, namun yang paling akrab di tengah masyarakat Papua adalah si burung kuning kecil. Sebagian masyarakat Papua menggunakan bangkai cenderawasih kuning kecil sebagai mahkota kehormatan dan kewibawaan para pimpinan adat, misalnya suku Sentani. Sebagian lagi menggunakannya untuk maskawin, seperti pada suku Muyu. Kharisma cenderawasih kuning kecil diperoleh dari warna dan bentuk bulunya, tariannya, juga kicauannya yang nyaring berirama. Begitulah popularitas cenderawasih kuning kecil, yang membuat keberadaannya terancam punah saat ini. Pengamatan di site monitoring Baraway, yang berlangsung pada 23 Maret hingga 5 April 2017, meliputi kondisi habitat dan perkembangan populasi cenderawasih kuning kecil. Secara fisik, cenderawasih kuning kecil (Paradisaea minor) sangat mirip dengan cenderawasih kuning besar (Paradisaea apoda). Hanya saja Paradisaea minor berukuran lebih kecil. Warnanya kuning dan cokelat, dengan paruh abu-abu kebiruan. Pada sekitar leher terdapat bulu-bulu mengkilap berwarna hijau zamrud. Iris matanya kuning. Paradisaea minor adalah jenis burung yang berbeda bentuk antara jantan dan betina. Bulu betina lebih simpel dan sederhana. Hanya cokelat di bagian punggung dan sayap, dengan dada putih bersih tanpa bulu-bulu hiasan. Sementara si jantan dapat kita katakan sebagai pesolek, karena bulu-bulu hiasannya sangat menawan. Warnanya putih dan kuning, menjurai panjang dari bagian sisi perut. Itu pun masih dilengkapi dua tali hitam di bagian ekor. Bulu-bulu hiasan ini menjadi daya tarik jantan saat musim kawin, dipertontonkan kepada betina dalam tarian. Berdasarkan hasil penelitian Rand dan Gilliard pada tahun 1967, Paradisaea minor menyebar pada ketinggian 10 hingga 1500 meter di atas permukaan laut. Lebih ke atas, aktifitas cenderawasih semakin berkurang. Daerah jelajah atau home range cenderawasih umumnya pada radius 2 km, sesuai keadaan topografi di sekitar habitat. Tim BBKSDA Papua melakukan pengamatan pada petak seluas 1x1 kilometer, dengan dua titik yang telah diketahui sebagai tempat cenderawasih beraktifitas. Jarak kedua titik tersebut 190 meter berdasarkan pengukuran dengan Aplikasi Google Earth. Dipastikan bahwa kawanan Paradisaea minor di titik A bukanlah kawanan burung yang berada di titik B. Karena pengamatan dilakukan dalam waktu bersamaan oleh dua tim kecil, yang melibatkan Kelompok Pencinta Alam Dorey Jaya dari Kampung Baraway. Secara umum, kondisi habitat pada kedua titik pengamatan tidak jauh berbeda. Hanya saja, pada titik pertama terdapat air permukaan pada kubangan tanah bekas pohon tumbang. Sedangkan pada titik pengamatan kedua tidak terdapat air permukaan. Analisa vegetasi pada kedua titik menunjukkan, masih terdapat banyak pohon yang buahnya merupakan pakan cenderawasih, antara lain buah beringin, gnemo, pala hutan, kapiroki, dan semang. Pohon-pohon tinggi yang menjadi tempat bermain cenderawasih pun masih banyak dijumpai. Antara lain, pohon pala hutan, jambu hutan, nibung, merbau, dan ariyai. Pepohonan itu merimbun di hutan Baraway, sebagai habitat kawanan cenderawasih kuning kecil. Pengamatan di titik pertama, kawanan cenderawasih memiliki tenggeran di dahan pohon beringin (Ficus sp). Sedangkan di titik kedua, tenggeran berada di dahan pohon terentang atau ketapang hutan (Chamnosperma sp). Saat musim kawin, cenderawasih tampak sebagai burung komunal, hidup berkelompok dan melangsungkan perkawinan bersama-sama. Mereka memiliki satu dahan, yang dapat kita ibaratkan seperti kamar khusus. Hanya di dahan itu saja mereka melakukan percumbuan dan kawin mawin. Selanjutnya kita sebut tenggeran, tempat kawanan cenderawasih itu bertengger saat bercumbu. Mengenai kondisi populasi, tulisan ringkas ini mengacu kepada hasil monitoring pada tahun 2017 di Site Monitoring Baraway. Di titik A, populasi cenderawasih kuning kecil diduga mengalami penurunan. Kemungkinan kawanan cenderawasih di sana merasa terganggu, karena terdapat jalan setapak yang menjadi jalur aktifitas masyarakat pergi ke kebun, atau berburu. Sedangkan titik B, justru mengalami peningkatan berdasarkan hasil perhitungan pendugaan populasi. Tampaknya kawanan cenderawasih kuning kecil menyukai pohon terentang di sana, karena mempunyai tajuk yang jarang, dengan banyak cabang dan ranting yang terbuka. Secara umum, jumlah populasi cenderawasih kuning kecil di Site Monitoring Baraway mengalami peningkatan di tahun 2017. Sebelumnya, pada pengamatan bulan April 2016 berjumlah 20 ekor jantan dan betina per site monitoring. Sementara pada Maret 2017 menjadi 22 ekor jantan dan betina per site monitoring. Peningkatan populasi ini terkait erat dengan kondisi habitat yang terjaga, dan tak kalah penting adalah kesadaran masyarakat yang semakin baik mengenai konservasi. Namun, ada hal lain yang cukup mengancam keberadaan cenderawasih kuning kecil di alam liar. Pertama adalah pemangsa alami, biawak dan ular. Dua jenis hewan itu memangsa telur dan bayi cenderawasih. Kedua adalah para pemburu, yang mengambil keuntungan ekonomi. Dari dua jenis ancaman ini, tampaknya perburuan menjadi persoalan yang paling krusial. Sekilas melihat sejarah, sekitar tahun 1900-1930 terjadi perburuan besar-besaran cenderawasih kuning kecil dan apoda untuk diekspor ke Eropa. Tampaknya sejak masa inilah cenderawasih di Papua mengalami penurunan populasi yang sangat drastis. Dalam konteks ini, penyadaran kepada masyarakat mengenai konservasi, terutama cenderawasih, menjadi persoalan mendesak yang harus menjadi perhatian semua pihak. [] Sumber : Dzikry el Han & Johan Gustiar - Balai Besar KSDA Papua
Baca Pengumuman

Semangat Pengembangan Wisata Alam

Cibodas, 10 April 2018. Ruang rapat Suryakancana Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) telah berlangsung Pembinaan Forum Jasa Wisata, yang dihadiri para pihak yang bergerak dalam usaha jasa wisata alam lingkup Bidang PTN Wilayah I Cianjur, terdiri atas enam Event Organizer (EO), dua Kelompok Tani Hutan (yang mengembangkan agro wisata), tiga CV yang bergerak di bidang usaha jasa wisata, lima kepala desa (para kepala desa penyangga), forum wisata alam Ekowisata Gunung Putri, Koperasi Edelweis, Koperasi Sugih Makmur, dan pegawai BBTNGGP. Panitia penyelenggara, mengemas acara dengan susunan, pembukaan sekaligus sambutan Kepala BBTNGGP, penyegaran info tentang potensi dan prospek pariwisata alam di Bidang PTN Wilayah I Cianjur, sharing tentang kebijakan terkait usaha jasa pariwisata alam di kawasan konservasi, dilanjutkan dengan diskusi. Potensi yang Bisa Dikembangkan Pada acara pembukaan sekaligus sambutan, Kepala BBTNGGP yang diwakili oleh Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur, antara lain menyatakan bahwa potensikeanekaragaman hayati dan ekosistem Taman Nasional yang kaya perlu dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, perlu dijaga kelestariannya, dan dikelola dengan prinsip “3P” (Perlindungan sistem penyangga kehidupan, Pengawetan sumber plasma nutfah, serta Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya). V. Diah Qurani Kristina, Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur, pada acara sharing potensi Taman Nasional, antara lain mengatakan bahwa letak Taman Nasional ini cukup strategis (dekat dengan pasar wisata) dengan aksesibilitas yang cukup baik. Potensi yang sangat tinggi, baik flora, fauna, dan objek wisata lainnya, seperti air terjun, bumi perkemahan, canopytrail, galeri Korea, puncak gunung Gede dan Pangrango, air panas, padang rumput pegunungan di Alun-alun Suryakancana, dan lain-lain. Pada kesempatan ini Diah juga mengutarakan kendala-kendaladalam pengelolaan wisata alam di wilayah kerja, yaitu belum terbentuknya forum sebagai sarana komunikasi dan konsultasi terkait wisata alam TNGGP, kurangnya promosi, kurangnya fasilitas pendukung, kurangnya pemahaman peraturan perundang-undangan tentang usaha wisata alam. Lebih lanjut Diah mengemukakan bahwa disamping objek wisata dalam kawasan Taman Nasional, perlu juga didorong pengembangan daya tarik wisata lainnya yaitu diantaranya seni budaya Sunda, kuliner, souvenir, outbound, wisata sejarah, wisata agro, penanaman pohon dan sebagainya. Adanya desa wisata juga bisa menjadi suatu atraksi unik tersendiri bagi wisatawan. Dengan berkembangnya wisata alam TNGGP, akan muncul peluang bagi masyarakat untuk melakukan usaha jasa, yaitu jasa penyedia makanan, minuman, souvenir, jasa guide, porter, penyewaan outdoor equipment, transportasi, dan jasa penginapan. Agar Bermanfaat Secara Lestari Dalam rangka mendorong peran serta masyarakat dalam pengembangan wisata alam di kawasan konservasi terdapat kebijakan/ regulasi yang mengatur peluang usaha wisata alam bagi masyarakat, demikian pencerahan oleh S.Y. Chrystanto (Kepala Sub Direktorat Pemanfaaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam, Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian LHK), pada sesi “sharing tentang kebijakan terkait usaha jasa pariwisata alam di kawasan konservasi”. Pada kesempatan ini Chrystanto antara lain mengutarakan dasar pengelolaan kawasan konservasi, strategi pengembangan pariwisata alam, jenis usaha yang bisa dilakukan dalam kawasan konservasi, lokasi yang bisa dimanfaatan untuk wisata alam, pelaku usaha, jangka waktu, prosedur, dan kewajiban pihak pengusaha. Menurut Chrystanto, dasar pengelolaan konservasi adalah “3P” (seperti disebutkan pada sambutan Kepala Bidang PTN Wilayah I Cianjur), sedangkan dasar hukum pengusahaanwisata alam di kawasan konservasi antara lain PP No. 36 tahun 2010, PP No. 28 tahun 2011, Permenhut No. P.48/Menhut-II/2010, serta PP No. 12 tahun 2014. Bagi yang berminat bisa mempelajarinya lebih mendalam. Strategi pengembangan pariwisata alam terdiri dari “4A” (Akses, Atraksi, Amenitas, Acceptabel) dan “6C” (Confident, Credible, Comparable, Consistent, Commitment, Creativity). Pada kesempatan yang sama Kasubdit PJLWA menjelaskan bahwa terdapat dua jenis izin pengusahaan pariwisata alam yang bisa diberikan di dalam Taman Nasional, yaitu Izin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) dan Izin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam (IUPSWA). Untuk IUPJWA dapat berupa izin usaha jasa informasi pariwisata, pramuwisata, transportasi, perjalanan wisata, cinderamata, makanan, dan minuman. Pelaku usaha bisa perorangan, badan usaha dan koperasi. Jangka waktu IUPJWA perorangan adalah selama dua tahun dan bisa diperpanjang selama dua tahun berikutnya. Jangka waktu IUPJWA badan usaha dan koperasi selama lima tahun bisa diperpanjang selama tiga tahun. Dalam melaksanakan usahanya, pemegang izin diwajibkan untuk, membayar iuran izin usaha (satu perioda izin) dan pungutan (tiap bulan) yang tarifnya diatur sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2014, ikut serta menjaga kelestarian alam, melaksanakan pengamanan terhadap kawasan beserta potensinya dan pengunjung, merehabilitasi kerusakan yang ditimbulkan, menyampaikan laporan kegiatan usahanya (untuk badan usaha/ koperasi), serta menjaga kebersihan lingkungan. PSetelah panjang lebar diskusi tentang pihak yang bisa melakukan usaha pariwisata alam perorangan di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, disimpulkan dan disepakati bahwa peluang usaha jasa wisata alam di TNGGP diprioritaskan diberikan kepada masyarakat setempat (lokal). Sebagaimana dipersyaratkan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.48/Menhut-II/2010 sebagaimana diubah dengan P.4/Menhut-II/2012, diantaranya adalah adanya rekomendasi dari forum yang diakui oleh UPT sesuai bidang yang dimohonnya. Hal ini sejalan dengan semangat untuk memprioritaskan peluang masyarakat setempat dalam melakukan usaha jasa wisata alam di TNGGP. Balai Besar TNGGP menunjuk forum yang diakui sebagai forum yang mempunyai kapasitas untuk memberikan rekomendasi permohonan IUPJWA. Sebenarnya fungsi forum dimaksud bukan hanya sebatas memberikan rekomendasi izin, tapi lebih luas sebagai sarana komunikasi, konsultasi, dan informasi antara pelaku usaha wisata itu sendiri dan juga dengan pemerintah; untuk menampung aspirasi masyarakat terkait pengembangan pariwisata alam; juga sebagai ajang untuk membahas isu yang berkembang dalam rangka meningkatkan usaha wisata. Ada satu hal yang harus ditekankan bahwa forum hanya punya kewenangan untuk memberikan rekomendasi atas permohonan IUPJWA, adapun izin tetap dikeluarkan oleh Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. “Forum Jasa Wisata” dimaksud bisa organisasi yang sudah ada atau bentukan baru, anggota forum bisa orang yang akan melakukan usaha wisata di kawasan ini atau orang yang berminat dalam bidang wisata alam di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Menyinggung masalah usaha jasa wisata pendakian, terdapat usulan agar tidak terkesan liar para pemandu dan porter di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango perlu diberi kartu pengenal (ID Card). Adapun terkait pendakian, ditegaskan agar para pelaku usaha jasa wisata mematuhi kebijakan yang sudah ditentukan, yaitu diantaranya peraturan tentang pengambilan SIMAKSI pendakian dan surat keterangan sehat. Dalam hal pemeriksaan kesehatan calon pendaki, bisa dilakukan di klinik atau unit layanan kesehatan manapun asal dilakukan pada hari H dan materi yang diperiksa sesuai dengan SOP pendakian yang telah ditentukan. Dalam rangka meningkatkan layanan kepada para pendaki, Balai Besar TNGGP menyediakan Unit Layanan Kesehatan (ULK) di setiap pintu masuk pendakian. Sumber: Andie Martien Kurnia dan Agus Mulyana - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Pengumuman

Penggalangan Dana Membantu Meringankan Biaya Operasi Korban Serangan Gajah Liar

Penggalangan Dana Membantu Meringankan Biaya Operasi Korban Serangan Gajah Liar; operasi patah tulang rusuk dan pengangkatan gumpalan darah di leher. #KLHK Siti Nurbaya Ditjen KSDAE Bksda Jambi Polres Tebo (Official Humas Polres Tebo) Yth. Bapak/Ibu/Rekan yang berhati mulia Pada Rabu, 04 April 2018, Siang, sekitar pukul 11.00 Wib, Sdr. Nasrun, Sdr. Alexander, dan Sdr. Damanhuri bersama -sama Warga lainya melakukan penggirangan Sekelompok Gajah di ladang kebun sawit para petani, Seorang petani sawit DAMANHURI (47 Tahun) terkapar diseruduk kawanan gajah saat bersama warga melakukan penggiringan gajah keluar dari lahan perkebunan sawit masyarakat di Sungai Suren, Dusun. Tanjung Dani Desa Dusun Tuo Kec. Sumay, Kabupaten Tebo, Jambi. Korban mengalami luka dibagian dada pangkal leher dan dibagian belakang perut sebelah kanan mengalami luka robek selebar 5 cm. Oleh warga setempat korban lansung dilarikan ke Puskesmas Serai Serumpun dan di rujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah Kab. Muara Bungo. Saat ini korban dalam penanganan oleh Dr. AMIN SUSILO. dari keterangan Dokter, korban harus dioperasi untuk mempercepat proses penyembuhannya. Merespon derita pak Tani Damanhuri dan pelestarian gajah sumatera, kami dari perwakilan Forum Konservasi Gajah Indonesia/FKGI mengadakan penggalangan dana untuk pak Tani Damanhuri yang terkena musibah dengan pertimbangan karena masih banyak bantuan yang dibutuhkan untuk operasi dan proses penyembuhannya sekaligus sedekah alam untuk pelestarian gajah di kantung gajah Bukit Tigapuluh. Maka dari itu sedikit uluran dari kita sangat membantu pak Tani Damanhuri dan Gajah Sumatera sebagai sesama makhluk Tuhan seru sekalian alam. Bantuan dana Operasi korban dan pelestarian gajah bisa di transfer ke rekening: Bank MANDIRI a.n. Alber Tetanus No.Rek.9000012168408 Konfirmasi pentransferan: 0823-7197-8490 (Albert) Atau datang langsung ke ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Hanafie Bungo, Jambi. Penggalangan dana sampai akhir bulan April ini. Hasil penggalangan dana ditampung terlebih dahulu oleh FKGI lewat rekening Sdr. Alber Tetanus untuk selanjutnya kami satukan dan salurkan. Terima kasih.
Baca Pengumuman

Akankah Penyu Belimbing Punah di Pulau Buru?

Ambon, 6 Maret 2018. BKSDA Maluku bekerjasama dengan WWF-Indonesia, Loka Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (LPSPL) Sorong, dan Dinas Perikanan Kabupaten Buru mengadakan sosialisasi perlindungan Penyu yang bertempat di Waspait Buru Resort, Kecamatan Fena Leisela pada tanggal 6 Maret 2018. Kegiatan yang digagas oleh WWF-Indonesia (Inner Banda Arc Subseascape) berawal dari kegiatan kajian tempat pendaratan dan peneluran penyu Belimbing yang memiliki nama ilmiah Dermochelys coriacea ini, yang mulai dilakukan pada awal tahun 2017. Sepanjang tahun 2017 sampai dengan awal tahun 2018 telah berhasil dicatat kehadiran penyu di tempat ini yang didominasi oleh penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) dan Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea), setidaknya tercatat lebih dari 400 lokasi sarang penyu Belimbing selama kurun waktu setahun. Kegiatan sosialisasi dihadiri oleh berbagai instansi/stakeholders yang memiliki kewenangan dan kepentingan dengan lokasi peneluran penyu di pesisir Utara pulau Buru ini. Antusiasme kegiatan sosialisasi ini ditandai dengan jumlah peserta yang hadir sebanyak 79 orang, yang terdiri dari aparat desa dan perangkat adat beserta perwakilan masyarakat dari Desa Waenibe, desa Wamlana, desa Waekose, dan desa Waspait. Turut hadir juga dalam acara ini Wakil Raja Negeri Fena Leisela, Camat Fena Leisela, Babinsa dari Koramil Air Buaya, dan Babinsa dari Polsek Air Buaya Kabupaten Buru. Tiga desa yang dianggap penting sebagai tempat pendaratan penyu Belimbing yang ada di pesisir Utara pulau Buru ini adalah : desa Wainibe, desa Waspait, dan desa Wamlana. Ketiga desa ini dianggap penting karena lokasi pantai peneluran penyu Belimbing untuk wilayah Republik Indonesia tidaklah banyak, bahkan dapat dihitung dengan jari, dan pesisir Utara Pulau Buru merupakan salah satu daerah yang terdapat lokasi peneluran penyu jenis ini. Dalam paparannya, kepala BKSDA Maluku, Mukhtar Amin Ahmadi menyampaikan bahwa peran serta aktif masyarakat sangat dibutuhkan untuk bisa ikut serta dalam program perlindungan penyu yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990, “ keterlibatan dan peran serta aktif dari masyarakat ketiga desa ini sangat dibutuhkan ditengah keterbatasan jumlah personil yang ada di BKSDA Maluku” imbuhnya. Penyadartahuan masyarakat terkait status perlindungan dan keterancaman penyu Belimbing merupakan aspek yang sangat ditekankan di sini. Beliau menambahkan pendekatan persuasif lebih diutamakan dalam perlindungan penyu meskipun membutuhkan waktu yang panjang dan dialog yang berkesinambungan antara aparat pemerintah yang berwenang dengan masyarakat. Selain paparan dari kepala BKSDA Maluku, kegiatan sosialisasi ini juga menghadirkan narasumber dari LPSPL Sorong : Wiwit Handayani, S.Pi, dan Drh. Dwi Suprapti (Marine Spesices Conservation Coordinator, WWF-Indonesia) yang membahas penyu khususnya untuk jenis penyu belimbing dari aspek ekologi dan fisiologi, juga terkait kondisi terkini penyu Belimbing. Berdasarkan paparan materi yang disampaikan oleh Drh. Dwi Suprapti, WWF-Indonesia bekerjasama dengan NOAA (Lembaga Penelitian Pemerintah Amerika Serikat) rencananya akan memasang sebanyak 7 unit Satelit Telemetri terhadap penyu Belimbing yang mendarat di pantai peneluran di Utara pulau Buru untuk bisa mempelajari perilaku penyu jenis ini lebih mendalam demi kepentingan pelestariannya. “Selain itu, pihak WWF-Indonesia bekerjasama dengan NOAA dan BKSDA Maluku juga akan melakukan pengambilan sampel DNA penyu belimbing dengan target sebanyak 100 individu yang akan dilakukan secara marathon sampai dengan awal tahun 2019”, tambah wanita yang berasal dari Kalimantan Barat ini. Kajian yang dilakukan oleh WWF-Indonesia sepanjang tahun 2017 ini mengungkapkan bahwa Penyu Belimbing menyukai pesisir Utara pulau Buru ini (yang mencakup 3 desa : Wamlana, Waspait, dan Waenibe) sebagai tempat bertelur. Hanya saja tingkat keberhasilan sarang penyu sampai dengan menetas hanya sebesar 20%. Beberapa hal yang menjadi faktor utama penyebab kecilnya tingkat keberhasilan sarang sampai dengan telur penyu menetas adalah : kegiatan pengambilan telur oleh masyarakat, serta adanya predator alami seperti buaya muara, babi hutan, dan anjing. Oleh karenanya, Sosialisasi perlindungan penyu yang dilakukan oleh BKSDA Maluku bekerjasama dengan WWF-Indonesia dan LPSPL Sorong, Kementerian Kelautan dan Perikanan dianggap sangat perlu untuk dilakukan agar dapat mensukseskan keberhasilan program perlindungan penyu yang melibatkan partisipasi aktif oleh masyarakat di sekitar pantai peneluran. Berdasarkan hasil focus group discussion (FGD) yang dilakukan pada bagian akhir sosialisasi, dirumuskan sebanyak 10 rencana aksi yang jika dirangkum merupakan rencana aksi yang harus dilakukan untuk perlindungan penyu secara umum, mulai dari mendorong penerbitan peraturan desa dan peraturan daerah (Perda), pembentukan kelompok masyarakat pengawas penyu, relokasi sarang penyu agar tidak dirusak oleh predator, sampai dengan penegakan hukum oleh instansi berwenang agar muncul kesadaran masyarakat sadar akan pentingnya keberadaan penyu. Penyu merupakan salah satu satwa dari beberapa jenis satwa zaman purba yang masih tersisa saat ini di muka bumi. Penyu Belimbing adalah salah satu dari 6 jenis penyu yang tercatat dapat ditemukan di Indonesia dan dilindungi oleh Undang-undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (terdapat hanya 7 jenis penyu yang ada di dunia). Penyu jenis ini merupakan penyu dengan ukuran terbesar dibandingkan dengan kerabatnya dari jenis yang lain. Berdasarkan data yang dihimpun oleh pihak WWF-Indonesia, pesisir Utara pulau Buru merupakan salah satu pantai favorit di provinsi Maluku yang banyak disinggahi oleh jenis Penyu Belimbing untuk bertelur, dan menariknya penyu yang bertelur disini mencari makan sampai ke daerah kepala burung Papua. Bahkan berdasarkan data satelit telemetri yang bersumber dari pihak WWF-Indonesia, penyu yang mendarat untuk bertelur di pulau Buru ini tercatat memiliki feeding ground (tempat mencari makan) sampai ke wilayah kepulauan Hawaii, salah satu negara bagian Amerika Serikat. Mengacu pada peraturan pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa yang merupakan turunan dari undang-undang No. 5 tahun 1990, 6 jenis penyu yang ada di Indonesia termasuk dalam status dilindungi undang-undang. Sedangkan berdasarkan perjanjian internasional tentang perdagangan tumbuhan dan satwa yang terancam punah atau yang lebih dikenal dengan CITES , semua jenis penyu yang ada di Indonesia termasuk dalam appendix 1 CITES, yang bermakna bahwa segala bentuk perdagangan di dunia internasional untuk jenis penyu dan bagian tubuhnya atau produk turunannya seperti telur penyu secara tegas dilarang. Sebagai tambahan, penyu Belimbing juga termasuk dalam daftar merah/Red List lembaga konservasi internasional (IUCN) dengan status Vulnerable (Rawan untuk terancam punah) setelah sebelumnya pernah mengalami penurunan populasi yang cukup drastis. Sumber : Zulham - Balai KSDA Maluku julay068@gmail.com

Menampilkan 49–64 dari 257 publikasi