Selasa, 29 Sep 2026

Beranda Publikasi Pengumuman

Pengumuman

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Pengumuman

Melacak Robot Dan Rawing Di Ujung Kulon

Berbicara tentang Banten tentu tak lepas dari ikon provinsi tersebut, yaitu badak Jawa bercula satu, yang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang. Tidak lengkap rasanya bertualang ataupun sekadar berwisata ke Banten apabila tak menyempatkan diri mengunjungi Ujung Kulon untuk mengenal hewan langka tersebut. Maka tim detikXpedition pun menjelajahi hutan TNUK selama empat hari pada 30 Mei hingga 2 Juni 2017. Perjalanan ke TUNK merupakan rangkaian dari ekspedisi Banten wilayah selatan yang sempat tertunda. Pada bagian sebelumnya, kami singgah ke beberapa daerah terpencil di Lebak dan Pandeglang untuk memotret kondisi terakhir infrastruktur Banten selatan serta kehidupan masyarakatnya. Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) adalah satu dari lima jenis badak. Di Indonesia, badak masih banyak dijumpai di hutan-hutan Aceh, Lampung, Bukit Barisan, dan Pulau Kalimantan. Namun badak Jawa di Ujung Kulon memiliki keunikan tersendiri karena merupakan satu-satunya yang bercula satu di dunia. Sejak 1992, kawasan Ujung Kulon ditetapkan sebagai taman nasional untuk melindungi habitat badak Jawa. Pada tahun itu juga, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Sains, dan Budaya (United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO) menetapkan Ujung Kulon sebagai warisan dunia. Hal itu karena badak sungguh langka dan masuk kategori sangat terancam (critically endangered) dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Agar badak lebih terlindungi, Balai TNUK bekerja sama dengan Yayasan Badak Indonesia membangun pagar Java Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Pagar ini terbentang dari Kampung Cilintang Cimahi, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, hingga Blok Bangkonol, Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, sepanjang 8,130 kilometer. Belum lama ini muncul informasi dari warga bahwa ada dua badak dewasa yang melintas keluar dari pagar JRSCA di kawasan selatan Ujung Kulon. Badak itu diidentifikasi bernama si Robot dan si Rawing. Keduanya terlihat 'berjalan-jalan' di Kampung Cegog, yang langsung berbatasan dengan lahan hutan lindung TNUK. Dulu di kawasan selatan banyak perambah hutan. Sejak ada pagar JRSCA, ada kemungkinan badak merasa aman dan kembali ke kawasan hutan di Cegog. “Itu hebatnya badak, nyoba-nyoba pagar disentuh. Masuk kepalanya, diangkat itu beton pagar, dia masuk. Lalu satu lagi dia masukkan kakinya ke sling, sampai putus itu sling. Dia keluar pagar, tapi selalu balik lagi,” imbuh Mamat. Informasi mengenai pergerakan badak di Cegog juga didapat World Wildlife Found (WWF) Ujung Kulon. WWF sudah lama memulai program konservasi badak Jawa untuk membantu TNUK dalam menjaga kelangsungan hidup hewan tersebut. Selain menjaga populasi badak, WWF Ujung Kulon juga membuat program pemberdayaan masyarakat dan melakukan konservasi terumbu karang untuk menjaga kelestarian taman nasional. Social and Economy Coordinator WWF Indonesia Dwi Munthaha melontarkan ide kepada kami untuk melakukan pelacakan terhadap dua individu badak yang bergerak ke Cegog itu. Kebetulan, daerah Cegog kurang 'terurus' dibanding, misalnya, daerah Semenanjung Ujung Kulon. Semenanjung Ujung Kulon juga sudah dikenal para wisawatan. “Jadi sekalian melihat kondisi masyarakat di sana (Cegog). Juga pengawasan terhadap lahan konservasi TNUK,” tuturnya. Mamat juga mengakui kawasan selatan Ujung Kulon kurang terpantau. Sementara di belahan barat TNUK sudah terpasang ratusan camera/video trap, tidak demikian halnya di Cegog. “Silakan teman-teman kalau mau ke sana. Di sana rencananya akan dibuat wisata juga. Mudah-mudahan bisa ketemu, karena dua badak itu cenderung jinak dan nggak nyerang,” Mamat menambahkan. Saat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Selasa, 30 Mei 2017, itu, cuaca di Pandeglang sangat cerah. Setelah berbincang-bincang dengan Kepala Balai TNUK, kami bersiap-siap menuju Cegog, kampung di pesisir selatan Banten yang berjarak sekitar 88 kilometer ke arah tenggara Labuan. Sudah pasti kami tidak akan bisa masuk ke hutan dan melacak keberadaan badak itu sendirian. Kami ditemani Koordinator Rhino Monitoring Unit/Rhino Health Unit (RMU/RHU) Balai TNUK Mochamad Syamsuddin. Tim WWF juga turun dengan kekuatan penuh. Mereka antara lain Species Coordinator WWF Ujung Kulon Project Ridwan Setiawan, yang lebih dikenal dengan panggilan Iwan Podol, Community Organizer WWF Ujung Kulon Project Oji Paoji, serta Dwi Munthaha atau Imung. Berdasarkan informasi dari Kepala Balai TNUK Mamat Rahmat, jumlah badak Jawa di Ujung Kulon pada 2015 tinggal 63 ekor. Kabar menggembirakan datang pada 2016. Tahun lalu itu termonitor ada empat kelahiran baru badak. “Ditambah yang baru lahir tahun 2016 ini, maka menjadi 67 ekor,” kata Mamat ketika kami temui di kantor Balai TNUK, Jl Perintis Kemerdekaan No 51, Labuan, Banten, 30 Mei lalu. Habitat badak Jawa menempati lahan seluas 40.000 hektare dari total 122.956 hektare kawasan TNUK. Badak lebih banyak hidup di area hutan lindung di Semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di bagian selatan dan timur lebih sedikit. Guna memantau badak, Balai TNUK memasang sekitar seratus camera/video trap di sejumlah titik di Semenanjung Ujung Kulon. Hal itu untuk mengetahui populasi, karakteristik, serta penyebaran badak. Setelah melakukan rapat koordinasi di Balai TNUK, menggunakan tiga mobil, pada pukul 14.00 WIB rombongan berangkat menuju Kampung Cegog. Rombongan menempuh perjalanan kurang-lebih lima jam dan tiba pada pukul 19.30 WIB. Memang perjalanan lama karena, begitu kami masuk Kecamatan Cimanggu, infrastruktur jalan mulai rusak. Lebih-lebih ketika memasuki Desa Tugu dan Desa Rancapinang, aspal jalan banyak yang terkelupas. Begitu masuk Rancapinang menuju Kampung Aerjeruk dan Cegog, kondisi jalan lebih parah lagi, nyaris tak beraspal alias hanya tanah dan bebatuan. Tak aneh bila wilayah selatan Ujung Kulon ini kurang terurus dan jarang dikunjungi pelancong, peneliti atau terekspos oleh media. Setelah berjibaku dengan kondisi jalan yang berat itu, akhirnya rombongan sampai juga di Kampung Cegog. Kami singgah dan menginap di rumah salah satu warga yang menjadi binaan Balai TNUK dan WWF, yaitu Suharya (60). Rumahnya sering dijadikan posko kegiatan. Bersama masyarakat sekitar, kami membahas rencana perjalanan melacak badak esok hari. Menurut seorang warga Cegog yang disapa Pak Kato dalam pertemuan malam itu, sejak 2015 badak terpantau melintasi pagar JRSCA karena pagar itu belum dialiri listrik. Badak itu sering terlihat di Blok Cisereh. Bahkan, pada April 2017, warga melihat badak di dekat pos pemantauan TNUK. Wah, makin tak sabar rasanya untuk segera menerobos hutan TNUK, melacak jejak-jejak si Robot dan Rawing. Pertemuan malam itu berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang berat dari Labuan membuat mata kami tak lagi kuasa menahan kantuk. Terlebih, kami harus menyiapkan tenaga untuk kegiatan esok hari. Karena itu, kami pun terlelap di rumah Pak Suhaya, yang masih berbentuk panggung itu. Selepas salat subuh Rabu, 31 Mei 2017, Tim Spesies dan Habitat dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), World Wildlife Found (WWF) Ujung Kulon Project, Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), plus lima warga Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, sudah sibuk. Mereka mengemasi sejumlah perlengkapan ke dalam tas ransel berkapasitas 50 liter. Rain coat, senter, logistik, termasuk peralatan camera/video trap, tak lupa dibawa. Selain mencari jejak Robot dan Rawing, dua badak Jawa yang dikabarkan keluar dari batas pagar JRSCA di Cegog, tim akan melakukan pemetaan bakal lokasi pemasangan camera/video trap. Juga akan dilakukan penanaman sejumlah bibit pohon pakan badak di lahan eks Kampung Aermokla, yang kini masuk kawasan Taman Nasional. Saat jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB, setelah Species Coordinator WWF Ujung Kulon Project Ridwan Setiawan, yang disapa Iwan Podol, memberikan pengarahan, tim pun meninggalkan Kampung Cegog. Tim yang beranggotakan 10 orang, termasuk anggota tim detikXpedition M. Rizal dan kamerawan Tri Aljumanto, ini berangkat menuju hutan lindung Ujung Kulon bagian selatan dengan berjalan kaki. Kami melewati perumahan penduduk yang berbentuk rumah panggung dan jalan berbatu menuju luar kampung. Sungai dan pantai kami lewati hampir 800 meter menuju Pos Resor TNUK Cegog. Di sini kami mampir untuk berkoordinasi dengan petugas pos TNUK sejenak sebelum menuju pos JRSCA dan TNUK di eks Kampung Aermokla, yang berjarak sekitar 8 kilometer melewati hutan lindung. Di Pos Resor TNUK Cegog pada April 2017, petugas yang berjaga melihat penampakan badak Jawa dari jarak 30 meter. “Dia makan rumput dua bulan lalu pas di situ. Jaraknya 30 meter dari sini. Kalau nggak salah badak itu yang namanya si Robot,” terang Kato, salah seorang petugas JRSCA, kepada rombongan. Bahkan, menurut Kato, pada tahun 2000 ada seekor badak Jawa jauh melintas hingga ke Kampung Aerjeruk. Untungnya, badak itu tak merusak tanaman kebun atau merusak sawah milik warga. “Badak tahu makanannya sendiri. Nggak semua jenis pohon dimakan. Ke sawah juga nggak nginjak. Badak mungkin tahu itu sawah,” ujar Kato sambil terbahak. Bagi kami, tim detikXpedition, tentu menjadi harapan bisa melihat secara langsung sosok hewan langka yang bernama latin Rhinoceros sondaicus itu. Tapi kami juga cukup waswas bagaimana bila berhadapan langsung dengan makhluk semipurba tersebut. Setelah pamit kepada petugas pos jaga, kami melanjutkan perjalanan menuju hutan. Kami melewati area padang rumput yang luas sepanjang sekitar 300 meter sebelum menyusuri pantai Cegog. Setelah 1 kilometer menyusuri pantai yang dipenuhi bebatuan itu, khususnya sebelum Tanjung Sodong, kami kembali mengambil arah memasuki kawasan hutan. Ini merupakan titik awal kami akan menyusuri jejak badak hingga ke dalam hutan yang ditumbuhi pepohonan sekunder. Kondisi jalan memang tak seekstrem kalau kita mendaki gunung. Namun beberapa kali kami harus melewati medan menanjak atau menurun, dengan tanah yang lembek. Belum lagi akar-akaran pepohonan yang merambat, yang membuat kami harus hati-hati melangkah. Bila salah langkah, bisa saja kami terjerembap karena kaki tersangkut akar di tanah itu. Tak terasa lebih dari 1 kilometer berjalan kaki, tiba-tiba Iwan Podol, yang berjalan di depan, berhenti sejenak. Ia membungkuk, lalu berjongkok, mencukil sesuatu dari tanah menggunakan ranting pohon. “Nah, ini kotoran badak! Ini kayaknya sudah lama, sudah menyatu dengan tanah. Ini juga ada tapak badaknya. Ini yang dulu diperkirakan muncul di sini tanggal 18 Mei lalu,” ujarnya. Bukan hanya itu. Sekitar 100 meter kemudian, ditemukan juga pohon-berukuran-sedang tumbang. Setelah diselidiki, ternyata itu jenis pohon bisoro, yang memang menjadi makanan favorit badak Jawa. Di area itu memang banyak ditumbuhi pohon bisoro, jahe-jahean, dan citepus, yang juga menjadi makanan badak. Sejumlah tapak kaki badak, berupa tiga cabang jari, dengan ukuran besar masih terlihat jelas di sekitar area itu. Lalu Iwan Podol meminta Oji Paoji (Community Organizer WWF Ujung Kulon Project), Mochamad Syamsuddin (Koordinator Rhino Monitoring Unit/Rhino Health Unit Balai TNUK), serta dua petugas JRSCA, Kato dan Madsupi, mencatat dan mendokumentasikan temuan itu. Jumlah daun dan ranting yang dimakan badak, jenis pohon, ukuran pohon, serta titik koordinatnya pun dicatat. Penelusuran jejak badak terus dilanjutkan menuju Blok Cisereh. Wilayah ini memang dikenal oleh para penjaga hutan sebagai habitat badak Jawa di bagian selatan Ujung Kulon. Memang jumlah badak di sini bisa dihitung dengan jari. Berbeda dengan habitat badak Jawa yang berada di Semenanjung Ujung Kulon (bagian utara atau barat). Di kawasan ini suasana memang sedikit lebih gelap. Maklum, sinar matahari terhalang pepohonan besar yang menjulang tinggi. Sekitar pukul 13.00 WIB, kami tiba di Blok Cisereh. Saat itu langkah tim terhenti lagi karena menemukan sebuah kubangan berisi lumpur dan air berwarna cokelat susu berdiameter sekitar 2 meter. Madsupi dan Koto, petugas Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), pun mengambil sebatang kayu dan memasukkannya ke kubangan. Setelah diukur, ternyata kedalaman kubangan sekitar 60 sentimeter. “Kayaknya ini sering dipakai badak untuk berendam dan mendinginkan suhu badannya. Tapi kelihatannya yang suka main di sini juga babi hutan,” tutur Iwan Podol, yang diamini Masdupi dan Koto. Tim diminta tak sembarangan membuang sisa makanan, puntung rokok, atau sekadar buang air kecil di lokasi itu. “Ya, memang badak rada sensitif. Kalau lingkungan sudah tercemar oleh kita, badak nggak bakal ke sini lagi untuk berkubang. Dia akan mencari lokasi baru,” Iwan menambahkan. Sudah seperti jadi standard operating procedure (SOP), terhadap setiap temuan dilakukan pencatatan, diambil foto, serta dicatat titik koordinat lokasinya. Semua data langsung diunggah ke telepon seluler berbasis Andoid atau GPS Garmin Monterra 650. Setelah itu, kami meninggalkan lokasi tersebut. Sekitar 200 meter, tim menemukan pohon bisoro ukuran kecil yang tumbang. “Ini baru banget, nih. Kayaknya belum sehari atau subuh tadi dia di sini, robohkan pohon buat makan. Kayaknya badaknya lagi lapar bener. Nah, lihat juga jejaknya, ini khas si Robot,” kata Iwan setelah memperhatikan kotoran dan jejak badak itu. Tim tampaknya semakin senang dan bersemangat untuk menemukan sosok badak, entah itu si Robot entah si Rawing. Posisi kami bertaut sekitar sembilan jam dengan keberadaan badak yang diperkirakan berumur 30-40 tahun itu. Dari jejak tapak kaki badak yang berukuran 26-27 sentimeter, berat badan mamalia raksasa ini diperkirakan 2 ton. Iwan pun meminta semua anggota tim lebih waspada dan berhati-hati. Maklum, bisa saja badak itu kembali lagi dari rerimbunan pepohonan yang memang tak terlihat. “Mudah-mudahan belum jauh si Robot. Dia pasti masih berada di sekitar sini. Mudah-mudahan sih sudah ke dalam pagar JRSCA,” kata Iwan sambil mengajak tim melanjutkan perjalanan. Ketika menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan besar dan ilalang, tiba-tiba kami dikejutkan oleh teriakan Madsupi, yang menemukan jejak kaki badak lagi. Ketika dihampiri, jejak itu memang tampak masih anyar. Bahkan hampir semua anggota tim mencium bau yang, menurut Iwan Podol, merupakan bau khas tubuh badak. Ia kembali mengingatkan tim untuk berhati-hati. Tim detikXpedition pun diminta mendekati pohon besar. Ia meminta, kalau memang menemukan badak, tim sebaiknya memanjat pohon. “Ini dekat bener, nggak jauh. Hati-hati dan waspada semuanya,” ujar Iwan. Namun Kato menimpali bahwa jejak badak itu sepertinya mengarah ke pagar JRSCA. “Mudah-mudahan dia sudah kembali ke dalam pagar konservasi,” Iwan menambahkan seraya meminta tim langsung menuju pagar JRSCA, yang jaraknya kurang-lebih 1 kilometer. Hampir satu jam berjalan, kami baru menemukan pagar JRSCA setinggi 1,5 meter yang terbentang dari daerah Aermokla sampai Bangkonol, Cegog. Pagar terbuat dari tiang beton yang dilengkapi dua sling baja. “Nah, si Robot melewati pagar ini. Diangkat betonnya, sling diinjek sampai ambruk. Tapi sudah diperbaiki dua bulan lalu,” ujar Kato. Karena hujan mulai turun, kami mempercepat langkah menuju posko JRSCA, yang masih berjarak 2 kilometer lagi. Tapi kami harus memutar karena, bila mengikuti pagar, kondisi jalan setapak berupa turunan dan tanjakan yang curam. Tak jauh kami menemukan menara pantau yang baru dibangun Balai TNUK. Menara ini berfungsi sebagai tempat pantau petugas hutan. Baru sekitar 500 meter dari kejauhan kami melihat area lahan luas eks persawahan Kampung Aermokla. Persis di akhir ujung pagar itu, terlihat dua bangunan posko TNUK dan JRSCA. Jangan dibayangkan itu bangunan permanen dari material batu bata dan semen. Dua gubuk panggung itu terbuat dari bambu, sementara atapnya dari terpal plastik berwarna biru. Di depannya persis mengalir Sungai Aermokla yang berair sangat jernih. “Nah, kita istirahat dulu di sini. Mungkin kita malam ini menginap di ‘Hotel Aermokla’ ha-ha-ha…,” canda Iwan. Tak menyia-nyiakan waktu, tim detikXpedition langsung merebahkan diri melepas rasa letih dan pegal kaki. Lima warga Kampung Cegog tiba lebih dulu, yakni Suharja (67), Herman, Ajat, Fandi, dan Udin. Sebagian sibuk memasak air dan makanan. Sebagian membenahi posko. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, tinggal satu jam lagi kami berbuka puasa Ramadan. Karena hujan semakin deras dan suasana semakin gelap, tim pun memutuskan mengecek keesokan harinya. Akhirnya tim memastikan, hari itu badak yang entah itu si Robot entah si Rawing, sudah kembali ke dalam pagar JRSCA. Tak lama, suara azan dari radio transistor berkumandang. Semua tenggelam dalam nikmatnya minuman hangat teh dan kopi. “Walau nggak lihat badak secara langsung, minimal lihat jejaknya yang terbaru,” ucap Aljumanto, salah satu anggota tim detikXpedition. Sumber Info : Balai TN Ujung Kulon
Baca Pengumuman

Hutan dan Lautan adalah Harta Berharga Indonesia

Sejak dulu manusia telah memanfaatkan hutan baik jasa ekosistemnya seperti perlindungan tanah, penyimpanan air, dan sebagai pabrik oksigen yang diperlukan untuk bernafas serta masih banyak manfaat lainnya. Selain bermanfaat untuk manusia, hutan pun menjadi rumah bagi berbagai macam species tumbuhan dan satwa liar. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan hutan terluas di dunia dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun saat ini, kawasan hutan Indonesia semakin menurun akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab. Faktanya : kerusakan hutan dimana-mana, konflik ruang antar satwa, kebakaran hutan, kepunahan ragam tumbuhan asli Indonesia, terjadi bencana banjir akibat kurangnya daerah resapan air dan krisis air bersih akibat pengurangan luas kawasan hutan. Tingginya kerusakan hutan yang setiap tahunnya bertambah, memicu perhatian Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Pararawen (KPHK Pararawen) Provinsi Kalimantan Tengah untuk melaksankan penyuluhan dan penyampaian materi tentang peranan penting hutan untuk keberlangsungan hutan Indonesia. Penyuluhan ini dilaksanakan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga masyarakat umum yang berada dekat dengan kawasan KPHK Pararawen. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap bulan sebagai salah satu program pemberdayaan oleh KPHK Pararawen untuk mengubah pola pikir masyarakat agar lebih peduli terhadap hutan. Adapun beberapa sekolah yang sudah dikunjungi yaitu SDN 3 Lemo II Muara Teweh yang dilaksanakan pada 6-7 Mei 2017 bertempat di kawasan Hutan KPHK Pararawen sekaligus pengenalan ekosistem hutan KPHK Pararawen dengan metode Belajar Sambil Bermain agar anak-anak lebih mudah memahami tentang hutan dan menjaganya agar tetep lestari. Selanjutnya yaitu SMAN 5 Muara Teweh pada 12 Juni 2017 dalam rangka Orientasi Pengenalan Lingkungan Sekolah untuk Melahirkan Generasi Emas yang Berkarakter. Selain dari pengenalan ekosistem hutan pada Siswa/i SMAN 5 Muara Teweh, KPHK Pararawen juga menyumbang bibit pohon hutan hasil pesemaian sekitar 120 bibit untuk ditanam pada area lingkungan sekolah. Selain penyuluhan tentang hutan, KPHK Pararawen juga bekerjasama dengan Yayasan Putera-Puteri Maritim Indonesia dalam penyuluhan tentang Kemaritiman. Sesuai dengan yang dicanangkan oleh Bapak Presiden Ir. H. Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia. Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam laut yang sangat tinggi dimana 2/3 Indonesia merupakan lautan dan 1/3-nya merupakan daratan. Namun, potensi sumber daya alam laut tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan lestari karena keterbatasan teknologi dan tenaga ahli. Adapun potensi kemaritiman Indonesia meliputi potensi perikanan, Terumbu Karang, kekayaan pesisir alami, kekayaan bioteknologi, wisata bahari, pengembangan transfortasi laut dan tambang (minyak yang baru 10 % pemanfaatkan cekungan minyak dari 40 cekungan yang ada di laut). Adanya kegiatan penyuluhan berkala yang dilaksanakan oleh KPHK Pararawen diharapkan dapat merubah pola pikir masyarakat untuk menjaga dan melestarikan hutan serta lautan untuk keberlangsungan Indonesia kedepannya. (Efan Fatra Jaya. S.Hut & Andi S)
Baca Pengumuman

The Kingdom Of Butterfly

“Ketika matahari bersinar terik, sekitar siang hari, bantaran sungai yang lembab di atas air terjun menghadirkan pemandangan indah, kilauan sekumpulan kupu-kupu oranye, kuning, putih, biru, dan hijau yang ketika diganggu beterbangan ratusan kupu-kupu di udara membentuk awan yang berwarna-warni”. Itulah penggalan ungkapan kekaguman Alfred Russel Wallace, seorang naturalis berkebangsaan Inggris saat menikmati indahnya suasana Danau Kassi Kebo di kawasan wisata Bantimurung yang bertabur beranekaragam jenis kupu-kupu. Kekagumannya kemudian beliau tuangkan dalam buku “The Malay Archipelago” tahun 1869. Wallace mengunjungi kawasan wisata Bantimurung selama empat hari, tepatnya 19-22 September 1857. Kawasan wisata ini dalam buku The Malay Archipelago beliau sebut air terjun sungai Maros yang telah menjadi tempat wisata kala itu. Beliau mengkoleksi kupu-kupu (Lepidoptera) sebanyak 25 jenis, hanya 6 jenis Papilionoidea. Sisanya 207 jenis kupu-kupu dikoleksi di sekitaran Amansanga, Kabupaten Maros atau Tompokbalang, dimana lokasi pondok Wallace berdiri. Total koleksi kupu-kupu Wallace selama Agustus-November 1857 di lokasi tersebut sebanyak 232 jenis kupu-kupu. Jumlah tersebut terdiri dari 139 jenis Papilionoidea, 70 jenis Hedyloidea atau ngengat (moths) dan 23 jenis Hesperioidae (skippers). Informasi ini diperoleh dari penelusuran jejak Wallace di Maros oleh Kamajaya Shagir, PEH TN Bantimurung Bulusaraung dan kawan-kawan. “The Kingdom of Butterfly” demikian julukan bagi kawasan wisata Bantimurung. Namun, Wallace tidak pernah menuliskan kawasan wisata Bantimurung dengan julukan tersebut dalam catatan atau bukunya sekalipun. “Saya tidak tahu dan tak pernah menemukan referensi itu. Wallace sendiri tak menuliskan” Kamajaya Shagir menegaskan. Keanekaragaman jenis kupu-kupu di kawasan wisata Bantimurung memang tinggi. Sejumlah peneliti telah melakukan identifikasi kupu-kupu di kawasan ini. Pada tahun 1977, Mattimu melaporkan telah menemukan 103 jenis Papilionoidea di hutan wisata Bantimurung. Kemudian tahun 2008, Balai Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung hanya berhasil mengidentifikasi 82 jenis saja di lokasi yang sama. Jumlah itu diyakini masih terlalu sedikit karena pelaksanaannya hanya satu kali saja. Untuk itu pada tahun 2010, kegiatan yang sama dilakukan sepanjang tahun agar dapat mengidentifikasi jenis Papilionoidea yang mungkin hanya muncul di musim-musim tertentu saja. Dan hasilnya cukup mencengangkan, ada 133 jenis yang hidup di kawasan wisata Bantimurung. “Kita tidak bisa menemukan kupu-kupu melimpah di kawasan wisata Bantimurung setiap hari. Jika ingin menyaksikan kupu-kupu melimpah dan beranekaragam jenisnya datanglah saat musim pancaroba. Baik pancaroba beralih dari musim penghujan ke musim kemarau maupun sebaliknya” ujar Kadriansyah, PEH TN Bantimurung Bulusaraung. Balai TN Bantimurung Bulusaraung melihat bahwa potensi kupu-kupu tersebut tak hanya ada di kawasan wisata Bantimurung, namun juga banyak dijumpai di lokasi lainnya. Karenanya, sejak tahun 2011 kegiatan identifikasi juga dilaksanakan di beberapa lokasi di TN Bantimurung Bulusaraung. Dari rangkaian kegiatan tersebut, hingga akhir tahun 2016 telah teridentifikasi 240 jenis Papilionoidea berada di kawasan TN Bantimurung Bulusaraung. Jenis-jenis Papilionoidea ini terklasifikasi dalam 5 famili yaitu 111 jenis Nymphalidae, 25 jenis Papilionidae, 28 jenis Pieridae, 74 jenis Lycanidae dan 2 jenis Riodinidae. Jumlah tersebut telah melampaui temuan Wallace saat menjelajahi kawasan karst Maros yang meliputi wilayah Amasanga dan Bantimurung. Jika Balai TN Bantimurung Bulusaraung juga berkonsentrasi mengidentifikasi moths dan skippers, yakinlah bahwa jumlah temuan Wallace akan jauh terlampaui. Hal ini menguatkan fakta bahwa TN Bantimurung Bulusaraung memang merupakan rumah bagi ratusan jenis kupu-kupu. Karenanya juga, adalah pantas jika kawasan TN Bantimurung Bulusaraung menyandang julukan sebagai “The Kingdom of Butterfly”. Kekayaan keragaman jenis kupu-kupu ini pula lah yang menjadi salah satu alasan penunjukkannya sebagai taman nasional. Sebuah amanah besar dalam upaya konservasi species yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Semoga keragaman kupu-kupu ini terus terjaga, agar “The Kingdom of Butterfly” tak hanya menjadi sekedar jargon semata. Sumber : Suci Ahmad Handayani dan Taufiq Ismail - PEH Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Pengumuman

Wisata Alam Tayawi yang Memikat Wisatawan Domestik dan Wisatawan Mancanegara.

Sebagaimana diketahui,bahwa Wisata Alam Tayawi yang berlokasi di Desa Koli Kecamatan Oba Kota Tidore Kepulauan ini semakin diminati oleh para wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri karena Wisata Alam Tayawi memiliki destinasi yang sangat sensasional dari burung bidadari yang unik, air terjun yang tak pernah surut walau musim kemarau, bendungan irigasi maupun suku Tagutil atau suku Tobelo dalam dan lainnya. Bagi yang berkunjung tidak semata berlibur dan untuk hiburan saja melainkan banyak yang memanfaatkan keindahan dan potensi sumberdaya alam yang ada sebagai wisata pendidikan dan penelitian. Bahkan pada tanggal 15 juli 2017 nanti Wisata Alam Tayawi akan dikunjungi oleh Presiden Direktur Daihatsu dari Jepang beserta rombongan berserta Direktur Daihatsu indonesia dan akan diliput oleh delapan media elektronik dan media cetak nasional pada kegiatan Tour Series Seven Wonder 2017. Dalam kegiatan itu juga Presiden Direktur Daihatsu bersama Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata akan menyerahkan bantuan peralatan sekolah untuk anak - anak masyarakat suku Tagutil dan anak sekolah di desa yang berbatasan dengan hutan penyangga kawasan Taman Nasional. "Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata fokus menyediakan sarana dan prasarana untuk mendukung percepatan kemajuan Wisata Alam Tayawi selain bermanfaat untuk masyarakat suku Tagutil/Tobelo Dalam serta akan memberi kemudahan dan kenyamanan bagi pengunjung" ungkap Raduan, SH selaku Kepala Seksi Blok Aketajawe SPTN I Weda pada saat mengajari Melianus (warga suku Tagutil yang berkemampuan penguasaan kamera dan GPS serta sebagai pemandu Wisata Alam Tayawi) saat memasang panel surya yang di dampingi tenaga teknis listrik tenaga surya dari Desa Durian, Sofifi. "Alhamdullillah, beberapa bulan kemarin kita buat bendungan irigasi embung dan air yang tersalur ke pemukiman masyarakat suku Tagutil yang sudah dirasakan manfaatnya begitu juga dengan pengunjung, saat ini kita upayakan penerangan walaupun masih disekitar resort. Bahkan kita percepat fasilitas lainnya untuk kenyamanan pengunjung dan warga disini, lebih - lebih untuk kegiatan perkemahan konservasi sebagai media pendidikan. Di tahun ini juga kalau tak ada halangan kita akan bangun jembatan penyeberangan menuju spot burung bidadari, agar pengunjung mendapat kemudahan saat sungai Tayawi lagi banjir" ungkap Raduan, SH disela - sela kesibukan kerja memasang instalasi tenaga surya. Sumber Info : M. Sofyan Ansyar - Balai TN Aketajawe Lolobata, Jamal Adam - Ketua MMP Tayawi
Baca Pengumuman

Antisipasi serangan virus Ransomware Petya

Jakarta (29/06/2017). Saat ini dalam skala global sedang terjadi serangan virus Ransomware Petya. Virus ini merupakan versi baru dari WannaCry karena mengambil beberapa kode sebelumnya dari Petya, sehingga ransomware baru ini disebut juga NotPetya, Petna atau SortaPetya. Untuk mencegah Ransomware Petya agar tidak menginfeksi komputer Anda ataupun komputer lain, pastikan Anda untuk melakukan backup data sebelum mengaktifkan komputer serta menggunakan update security patch terbaru sebagai langkah antisipasi. Berikut kami informasikan juga cara pencegahan Ransomware Petya agar tidak menginfeksi komputer lainnya: Ransomware Petya akan mencari file perfc di direktori C:\Windows dan tidak akan melanjutkan proses enkripsi jika file tersebut sudah ada, untuk itu buatlah file tersebut dan set permission menjadi read-only. Beberapa versi Windows 7, 8 atau 10 mungkin memerlukan level Admin untuk membuat file di dalam direktori C:\Windows. Bagi Admin yang harus melakukan vaksinasi banyak komputer/server sekaligus sebaiknya menggunakan script atau menggunakan Desktop Central untuk men-deploy-nya. Berikut langkah membuat file perfc tersebut secara manual: Sebagai informasi, langkah pencegahan ini hanya untuk memvaksinasi komputer Anda agar tidak mudah ter-enkripsi, jadi Anda tetap disarankan untuk melakukan patch dan update Windows Anda, serta memperbaharui database antivirus Anda. Bagi yang sudah pernah menangani WannaCry dengan melakukan blok pada NetBios seharusnya juga sudah ama
Baca Pengumuman

PESAN KHUSUS MENTERI LHK PADA HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H

SIARAN PERS Nomor : SP. 130 /HUMAS/PP/HMS.3/06/2017 PESAN KHUSUS MENTERI LHK PADA HARI RAYA IDUL FITRI 1438 H Jakarta, Biro Humas Kementerian LHK, Sabtu, 24 Juni 2017. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar, menyampaikan pesan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1438 H. Ia mengajak pemudik yang merayakan lebaran di kampung halaman, untuk ikut menyampaikan pesan kepedulian menjaga hutan dan lingkungan. "Hari kemenangan bagi umat Islam yang melaksanakan ibadah puasa, telah tiba. Mari lengkapi nilai ibadah dengan menyampaikan pesan peduli hutan dan lingkungan, pada siapa saja untuk masa depan kita," kata Menteri Siti, Sabtu (24/6/2017). Menanam dan menjaga pohon adalah upaya nyata yang bisa dilakukan siapa saja, sebagai bentuk kepedulian pada bumi, terutama dalam mengatasi dampak perubahan iklim yang kian nyata. "Minimal tanamlah dan jaga 25 pohon sepanjang hidup, untuk kelestarian alam. Insya Allah akan menjadi penambah nilai ibadah dan bermanfaat bagi anak cucu kita nanti," pesannya. Ia juga menghimbau agar masyarakat saat berangkat dan pulang mudik, tetap menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya. Jikapun tidak menemukan tempat sampah di area yang dilewati, pemudik dihimbau untuk menyimpan dulu sampah mereka sebelum membuang pada tempat sampah terdekat. "Kebersihan sebagian dari iman. Sempurnakan kebahagiaan berhari raya dengan menjaga kebersihan di sepanjang perjalanan,'' imbaunya. Sampah-sampah yang sering dibuang di sepanjang jalur mudik, tidak hanya mengganggu pemandangan, namun juga berdampak buruk bagi lingkungan. Karena sebagian besar terdiri dari sampah plastik yang sulit terurai. "Lakukan tindakan sekecil apapun untuk menyelamatkan lingkungan kita. Mulailah dari diri sendiri, keluarga dan orang-orang terdekat," katanya. Disampaikannya juga bahwa jajaran Kementerian LHK tetap diinstruksikan waspada, dalam mengatasi dampak musim kemarau yang bisa memicu kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Tim di lapangan kata Menteri Siti, tidak mengenal hari libur untuk menjaga langit Indonesia tetap biru tanpa kabut asap. Sebagai penutup, Menteri Siti pun menyampaikan pesan khusus untuk semua masyarakat Indonesia yang sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri. "Titip salam saya untuk seluruh keluarga. Taqobbalallahu minna wa minkum. Minal aidin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin 1438 H," ujarnya.(*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Pengumuman

PESONA NAPAL CARIK

Napal Carik merupakan nama yang mungkin terdengar asing dikenal di Propinsi Sumatera Selatan bahkan di Kabupaten Muara Enim yang merupakan tempat keberadaanya. Sebuah tempat yang tidak hanya menyuguhkan keindahan alamnya saja tetapi terbalut juga oleh budaya masyarakat yang cukup lekat melekat dalam cerita rakyat yang semakin menambah daya tarik Napal Carik itu sendiri. Suara air yang bergemericik (becarik) dengan terjangan air yang menerpa tanah yang keras seperti batu (napal) menjadikan Napal Carik sebagai salah satu air terjun yang wajib untuk dikunjungi. Terletak dalam rimbunnya belantara Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau menjadikan air terjun ini bukan sekedar menawarkan keelokan pesona air terjun dan cerita rakyat yang membalutnya tetapi juga tantangan selama perjalanan menuju air terjun tersebut merupakan sebuah petualangan yang patut untuk dicoba dan pastinya tidak akan terlupakan. Selain Napal Carik, kawasan SM Isau-Isau yang memiliki luasan 16.742,92 hektar ini memiliki potensi keragaman flora dan fauna. Flora didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, Fagaceae, dan Lauraceae. Jenis flora yang paling dominan yaitu Meranti (Shorea sp.), Pulai (Alstonia sp.), Durian (Durio sp.), Jelutung (Dyera sp.), Cempedak (Artocarpus teymanii), Kedondong hutan (Santini ablongifolia), Laban (Vitex pubescens), cemara gunung (Casuarina sumatrensis), Sedangkan fauna antara lain Siamang (Hylobates sp), Rusa (Cervus unicolor), Trenggiling (Manis javanica), Landak (Hystrix brachyuran), Babi Hutan (Sus sp.), Kijang (Muntiacus muncak), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Beruk (Macaca nemestrina), Simpai (Presbytis melalophos), Burung Rangkong (Boceros spp.), Burung Enggang (Bucerotidae), Burung Kutilang (Phynonotus goivavier), Burung Murai (Dendrocitta formosae), Burung Punai (Treton bicinctas), Ungko (Hylobates agilis), kucing hutan (Felis bengalensis), kucing besar, elang, macan tutul (Panthera pardus), ayam hutan (Gallus sp). Aksesibilitas menuju Napal Carik bisa melalui Desa Muara Emil maupun Desa Pagar Dewa, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim. Namun untuk menuju ke lokasi air terjun dari desa terdekat dengan kawasan SM Isau-Isau menuju batas kawasan harus menempuh medan yang sulit terutama pada saat musim penghujan dikarenakan jalan setapak untuk melewatinya berupa tanah liat dengan perkerasan batu dibeberapa titik sehingga hanya kendaraan roda dua yang dapat melewati dan itupun terkadang disertai dengan jalan kaki karena lepas rantai, gerigi rantai putus, jalan licin dan kendala lain. Selama perjalanan tersebut tersaji keindahan pemandangan alam dan juga melewati komplek pemakaman Puyang Matauh yang merupakan salah satu puyang (pendahulu) dari tiga puyang pendiri Desa Muara Emil. Setelah itu perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki sampai ke Sungai Emil dimana rasa lelah sedikit terobati oleh keindahan sungai dengan gemericik air mengalir, beriak-riak dan dengan kejernihannya menapaki bebatuan yang tersusun secara bertingkat. Untuk menuju ke air terjun maka perjalanan dilanjutkan menuju ke hulu sejauh 50 meter dengan menuruni tebing yang cukup terjal menapaki sekitar 100 anak tangga alami. Selama menapaki anak tangga tersebut perjalanan akan ditemani dengan lantunan suara alam yang lirih terdengar diantara tegakan-tegakan hutan yang masih rimbun disertai sura gemericik air terjun yang mulai menyapa seakan menyambut kedatangan pengunjung yang ingin menikmati keindahan Napal Carik. Akhirnya keindahan air terjun yang terjun bebas dari ketinggian 50 meter yang bergemericik (becarik) dengan terjangan air yang menerpa tanah yang keras seperti batu (napal) itupun akan menghapus segala kelelahan selama perjalanan. Menurut penuturan beberapa masyarakat di Desa Muara Emil berdasarkan cerita para puyang (pendahulu) salah seorang Sultan Palembang meminta kepada seluruh masyarakat desa terutama yang berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari Sembilan untuk mengumpulkan telur yang akan digunakan sebagai perekat pembangunan benteng pertahanan. Dalam perjalanan pengumpulan telur, sultan melihat banyak gadis-gadis desa yang cantik dan berniat mempersunting salah satunya sebagai istri. Setelah para prajurit dan hulubalang mengumpulkan para gadis tidak satupun yang cocok sampai akhirnya sultan menemukan sebuah bangki emas yang hanyut ke sungai dan memrintahkan prajuritnya untuk mencari pemilik bangki emas tersebut. Setelah ditelusuri ternyata pemilik bangki emas tersebut adalah anak gadis Kerio Carang. Sultan pun menyampaikan keinginannya untuk meminang tetapi ditolak oleh Kerio Carang dan putrinya. Merasa ditolak sultan pun marah dan sempat terjadi perkelahian tetapi ternyata Kerio Carang dan putrinya memiliki kesaktian dan lolos dari tangkapan sultan. Dalam pelariannya putri Kerio Carang bersembunyi di dalam hutan di Desa Muara Emil tepatnya di lokasi air terjun Napal Carik. Karena merasa kesepian di dalam hutan maka sesekali ia keluar ke desa sehingga kecantikannya dikenal luas oleh masyarakat. Dalam kesepiannya di tempat persembunyian, putri Kerio Carang tersebut sering menangis dan pulang menemui orang tuanya. Akhirnya Kerio Carang menemui tiga puyang di Muara Emil yaitu puyang Tanjung, Matauh, dan Dusun Ilir untuk memberikan nama kepada putrinya supaya tidak menangis lagi. Dari ketiga puyang tersebut hanya puyang Dusun Ilir yang mampu memberikan nama yang dapat menghentikan tangisan puti Kerio Carang yaitu diberi nama Putri Dayang Rindu. Konon apabila pengunjung mengunjungi air terjun Napal Carik maka jangan berkomunikasi dengan bahasa palembang karena apabila dilanggar hujan akan turun. Hal tersebut dikarenakan Putri Dayang Rindu yang bersembunyi di air terjun Napal Carik sangat benci dengan Sultan Palembang. Untuk membuktikan kebenaran mitos tersebut maka silahkan berkunjung ke air terjun Napal Carik.
Baca Pengumuman

PMK 76/PMK.05/2017 tentang THR PNS

Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2017 tentang Pemberian Tunjangan Hari Raya Dalam Tahun Anggaran 2017 Kepada Pegawai Negeri Sipil, Prajurit Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, Dan Pejabat Negara, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Hari Raya Dalam Tahun Anggaran 2017 Kepada Pegawai Negeri Sipil, Prajurit Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, Dan Pejabat Negara; PMK No 76/PMK.05/2017
Baca Pengumuman

PMK No 74/PMK.05/2017 Tentang Gaji ke 13 PNS

Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pemberian Gaji, Pensiun, Atau Tunjangan Ketiga Belas Kepada Pegawai Negeri Sipil, Prajurit Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pejabat Negara, Dan Penerima Pensiun Atau Tunjangan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2016 tentang Pemberian Gaji, Pensiun, Atau Tunjangan Ketiga Belas Kepada Pegawai Negeri Sipil, Prajurit Tentara Nasional Indoi:iesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pejabat Negara, Dan Penerima Pensiun Atau Tunjangan, telah ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.05/2016 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pemberian Gaji, Pensiun, Atau Tunjangan Ketiga Belas Kepada Pegawai Negeri Sipil, Prajurit Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pejabat Negara, Dan Penerima Pensiun Atau Tunjangan; maka ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 96/PMK.05/2016 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pemberian Gaji, Pensiun, Atau Tunjangan Ketiga Belas Kepada Pegawai Negeri Sipil, Prajurit Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, Pejabat Negara, Dan Penerima Pensiun Atau Tunjangan; Untuk itu perlu dilakukan perubahan peraturan tersebut menjadi: PMK No 74/PMK.05/2017
Baca Pengumuman

PELAKU PERDAGANGAN ILLEGAL TRENGGILING DITANGKAP DI MEDAN

SIARAN PERS Nomor : SP. 123 /HUMAS/PP/HMS.3/06/2017 Jakarta, Biro Humas Kementerian LHK, Rabu, 14 Juni 2017. Penyidik dan Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Balai Penegakan Hukum Wilayah Sumatera, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), berhasil menggagalkan kegiatan perdagangan illegal satwa liar dilindungi di Medan, Provinsi Sumatera Utara. Sebanyak 225 ekor trenggiling, 5 (lima) karung kulit /sisik trenggiling kering, dan 4 (empat) kulit/sisik trenggiling basah, yang diperkirakan bernilai lebih dari Rp. 2,5 Milyar, telah disita dari pelaku yang ditangkap hari Selasa (13/06/2017). Dua pelaku yang diduga sebagai pemilik Trenggiling tersebut, berinisial H (34 thn) dan S (42 thn ). Peristiwa penangkapan pelaku dan barang bukti bertempat di Jl. Yos Sudarso Kompleks Pergudangan, Kota Medan. Operasi penangkapan ini dilakukan berdasarkan hasil operasi Lantamal 1 Belawan bersama SPORC KLHK Brigade Macan Tutul pada malam hari sebelumnya. Kepala Balai Penegakan Hukum KLHK Wilayah Sumatera, Halasan Tulus, menyampaikan bahwa saat ini kedua pelaku masih dalam pemeriksaan Penyidik KLHK Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera, di Seksi 1 Mako SPORC Brigade Macan Tutul. Adapun satwa-satwaTrenggiling yang masih hidup saat ini masih dalam pemeriksaan dokter hewan. “Disamping operasi ini, untuk beberapa kasus kejahatan TSL lainnya, Penyidik KLHK juga telah melakukan penangkapan di Palembang, di Jambi dan di Padang yaitu jenis kulit harimau berikut tulang belulangnya, serta di Pekanbaru jenis gading gajah”, Halasan menambahkan. Menanggapi peristiwa penangkapan ini, Direktur Jenderal Penegakan Hukum KLHK, Rasio Ridho Sani menyampaikan bahwa persoalan perdagangan illegal satwa trenggiling merupakan kejahatan transnational yang menjadi perhatian dunia, dengan pasar beberapa negara asia, seperti Vietnam dan China. “Tindakan tegas pelaku kejahatan satwa dilindungi menjadi prioritas KLHK. Sepanjang tahun 2015-2017 operasi peredaran TSL telah menyelamatkan 6.343 TSL hidup dan telah mengamankan 4.580 lembar kulit TSL dan 713 bagian tubuh lainnya. Total kejahatan terkait TSL yang ditangani oleh KLHK selama 2015-2017 mencapai 119 kasus”, jelas Rasio Ridho Sani.(***) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Pengumuman

Tarsius Dari Pulau Sumatera

Musi Rawas (14/6/2017). Sumatra termasuk pulau yang memiliki jumlah spesies primata tertinggi berdampingan dengan pulau Kalimantan. Banyak jenis primata yang hidup di Sumatra merupakan spesies endemik yang tidak bisa kita jumpai di pulau maupun negara manapun didunia. Salah satu spesies primata yang sangat langka dan jarang dijumpai adalah Tarsius. Tarsius hidup tersebar tidak hanya di sulawesi namun dapat di jumpai di Kalimantan, Sumatra dan kemungkinan hidup juga di Pulau Jawa karena merunut pada jaman Es Akhir Ketiga Pulau adalah satu dataran luas yang disebut Paparan Sunda atau “Greater Sunda Land” Tarsius merupakan salah satu dari 25 spesies primata yang paling terancam punah di dunia. Hutan hujan tropis Sumatra adalah habitat asli dari salah satu jenis Tarsius di indonesia karena Sumatra termasuk dalam home range area persebaran Western Tarsius ( Tarsius bancanus ). Perlu diketahui bahwa Tarsius merupakan binatang nocturnal ( aktif pada malam hari) dan Indonesia menduduki peringkat pertama dengan jumlah spesies Tarsius terbanyak di dunia. Pulau Sumatra sendiri memiliki dua subspesies yang berbeda yaitu Tarsius bancanus bancanus yang hidup di pulau utama dan Tarsius bancanus saltator subspesies endemik yang hidup terpisah di Pulau Bangka. Tarsius bancanus merupakan spesies primata yang hidup di hutan primer maupun hutan sekunder dataran rendah. Tarsius menyukai habitat rumpun bambu, akar pohon beringin maupun lubang lubang kayu yang digunakan untuk bersembunyi dan beristirahat. Tarsius memiliki gigi gigi tajam dan merupakan primata karnivor seutuhnya. Makanan utama primata ini adalah serangga namun dia juga bisa memangsa kalelawar, ular maupun burung kecil di habitatnya. Penampakan Tarsius seperti perpaduan antara monyet dan burung hantu karena sturktur tengkorak kepala dan wajah yang hampir serupa dengan burung hantu namun dengan tubuh seperti monyet. Tarsius memilki kemampuan penglihatan yang sangat baik walaupun dengan konsentrasi cahaya yang sangat rendan serta leher tarsius dapat diputar 180, hal ini menjadikan tarsius sebagai hewan nocturnal yang sangat evolusioner. Saat ini jumlah populasi Tarsius bancanus belum diketahui pasti (vurnerable) dan masuk didalam daftar merah spesies terancam punah yang diumumkan oleh IUCN. Kerusahakan habitat maupun perdagangan satwa illegal yang terjadi di dalam akhir dekade ini mengakibatkan turunya populasi tarsius secara masal di Sumatra dan pulau lainya. Dengan alasan tersebut sangat perlu dilakukan survey lapangan mengenai mengenai populasi, taxonimic, keragaman genetik maupun pemetaan masalah. Perlindungan Tarsius harus segera dilakukan hal ini merupakan hal sangat mendesak sebelum spesies ini hilang dari bumi Sumatra. Penulis: Pungky Nanda Pratama Sumber: BKSDA Sumatera Selatan
Baca Pengumuman

Tacca chantrieri Si Hitam Yang Terlupakan

Musi Rawas (14/6/2017). Indonesia adalah Salah satu jantung keanekaragaman flora dan fauna dunia (world biodiversity hot-spot) yang menduduki peringkat teratas dengan jumlah kekayaan species tertinggi dunia. Sumatra adalah salah satu pulau di Indonesia yang memeliki keanekaragaman hayati yang sangat beragam baik flora dan Fauna. Membahas tentang keanekaragaman flora Sumatra, banyak dari kita sudah sangat mengenal Rafflesia arnoldii ataupun Bunga Bangkai Raksasa Amorphophallu titanum namun pada kesempatan ini saya akan membahas mengenai salah satu bunga Langka yaitu Bunga Kalelawar Hitam (Bat Flower) dengan nama latin Tacca chantrieri. Hanya ada dua species dari genus Tacca ini yang ada di dunia salah satunya Tacca chantrieri dan Tacca Integrifolia yang memiliki ukuran jauh lebih besar dibandingkan T.chantrieri yang memiliki bunga berwarna putih. Tacca chantrieri atau Bunga Kalelawar hitam ini merupakan tanaman dari keluarga Dioscoreaceae yang merupakan tanaman asli Asia Tenggara mulai Thailand, Semenanjung Malaysia hingga Sumatra Indonesia. Tanaman ini memiliki dua brachtea yang menyerupai bunga dengan bentuk seperti sayap kalelawar dengan warna hitam disertai rambut rambut yang menjuntai pada pangkal bunganya. Sebenarnya tanaman ini memilki bungan yang memiliki ukuran kecil terdiri dari 8 – 10 kuntum bungan yang menggantung dibawah bractea. Taman ini akan mulai memproduksi bunga setelah minimal telah memiliki minimal dua lembar daun dan akan berbunga sebanyak delapan kali pada satu kali musim berbunga. merupakan tanaman yang menyukai tumbuh di habitat dengan jenis tanah subur, kelembapan tinggi dengan sedikit intensitas matahari. Bunga kalelawar ini dapat berkembangbiak dengan melalui biji tanaman maupun umbi rhizhoma. Di Sumatra selatan masih sering ditemukan tanaman ini tumbuh didalam maupun diluar kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. Foto diatas merupakan tanaman Tacca yang tumbuh diarea perkebunan tua masyarakat diwilayah Desa Karang Panggung Kecamatan Musi Rawas Sumatra Selatan dan saat ini tanaman tersebut sudah musnah karena habitatnya telah dibersihkan sebagai area baru perkebunan kopi. Hal ini merupakan kejadian yang tragis ketika keanekaragam hayati harus musnah sebelum mendapat perhatian dari kita sendiri. Sebagian besar orang indonesia tidak pernah tahu, mendengar maupun menyadari bahwa bunga kalelawar tersebut tumbuh di Indonesia khususnya di Sumatra, keberadaanya sudah semakin langka akibat kerusakan habitat yang masive pada akhir dekade ini namun berbanding terbalik dengan yang dialami tanam ini di tempat aslinya, Tacca telah lama dibudidayakan diluar negeri sebagai tanaman hias koleksi kolektor tanaman tropis dunia dan ini merupakan aset berharga bagi Indonesia yang berpotensi mendatangkan devisa dan bisa menjadi komoditi unggulan tanaman hias tropis. Namun di negaranya sendiri tidak pernah ada perhatian dan sampai kapan kita akan acuh dengan harta yang berharga ini. Jangan sampai dari kelalaian kita, tanaman ini musnah dialamnya dan kita wajib melindungi serta menjaga keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna yang kita miliki sebagai aset berharga Negara. Penulis: Pungky Nanda Pratama Sumber: BKSDA Sumatera Selatan
Baca Pengumuman

Perdirjen KSDAE No. P.3/KSDAE/SET/KUM.1/5/2017 Tentang Juknis Penyaluran Bantuan Lainnya yang Memiliki Karakteristik Bantuan Pemerintah dalam Rangka Fasilitasi Pemberdayaan Masyarakat Ditjen KSDAE

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No P.12/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 telah menetapkan tentang Pedoman Umum penyaluran bantuan lainya dilingkungan Kementerian LHK berdasarkan hal tersebut maka Ditjen KSDAE perlu mengeluarkan Peraturan Ditjen KSDAE tentan petunjutk teknis penyaluran bantuan lainnya yang memiliki karakteristik bantuan Pemerintah dalam rangka fasilitasi pemberdayaan masyarakat lingkup Ditjen KSDAE. Perdirjen tersebut dapat dilihat pada link berikut
Baca Pengumuman

ATASI PENCEMARAN UDARA DENGAN TEKNIK MENGEMUDI RAMAH LINGKUNGAN (ECO-DRIVING)

SIARAN PERS Nomor : SP. 118/HUMAS/PP/HMS.3/06/2017 Jakarta, Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Minggu, 4 Juni 2017. Mendukung upaya mengatasi pencemaran udara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengadakan kampanye publik terkait teknik mengemudi yang aman, nyaman, efisien dan ramah lingkungan (eco-driving), dalam bentuk Eco- driving Fun Rally di Jakarta (04/06/2017). Kegiatan ini merupakan bagian dari Pekan LHK yang dilaksanakan sejak 1 Juni lalu. Berdasarkan hasil studi, 70% pencemaran udara di perkotaan dan 23 % emisi GRK dari fossil fuel bersumber dari sektor transportasi (KLH, 2012), dan 90 % dari emisi transportasi, berasal dari transportasi darat. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat pertumbuhan kendaraan bermotor per tahun sebanyak 9 juta unit/tahun, termasuk sepeda motor 7,8 juta unit/tahun (Gaikindo dan AISI, 2014). Dampak pencemaran udara tersebut sangat mempengaruhi kesehatan manusia, antara lain fungsi organ otak, perut, mata, tenggorokan, paru-paru, jantung, bahkan sistem reproduksi. Eco-driving merupakan implementasi Program Langit Biru yang terlaksana sejak tahun 1996 oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebelum bergabung dengan Kementerian Kehutanan. Dalam pembukaan Eco-driving Fun Rally, Direktur Jenderal Pengendalian dan Pencemaran Kerusakan Lingkungan, M.R. Karliansyah menyampaikan bahwa teknik eco- driving dapat menghemat bahan bakar dan mengurangi emisi. “Selama delapan tahun percobaan eco-driving, diketahui rata-rata dapat menghemat 10- 25% bahan bakar. Dan program eco-driving ini, mendukung upaya pencapaian kualitas udara bersih menyambut Asian Games 2018”, ujar Karliansyah. Selain itu, terbitnya peraturan penggunaan bahan bakar standar Euro 4, dan kesiapan PT. Pertamina Cilacap dalam menyediakan 60-70% kebutuhan BBM standar Euro 4 di Pulau Jawa, membuat Karliansyah optimis akan implementasi program eco-driving. Karliansyah juga menambahkan, “Sebagai bentuk sosialisasi eco-driving, materi ini perlu dikembangkan dalam kurikulum sekolah mengemudi, dan mendukung kebijakan penggunaan bahan bakar Euro 4, KLHK terus berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan, POLRI, Kementerian ESDM dan PT. Pertamina, serta pihak-pihak terkait lainnya.” Menyampaikan kemajuan program ini, Karliansyah menjelaskan bahwa, “Saat ini program eco-driving baru menjangkau beberapa perusahaan, dan ke depan kami harap masyarakat luas dapat ikut berpartisipasi. Adapun wacana sertifikat eco-driving sedang dipersiapkan sebagai salah satu pelengkap ijin mengemudi”. Sebanyak 185 peserta yang berasal dari klub otomotif mengikuti kegiatan Eco-driving Fun Rally, terdiri dari 65 peserta rally dan 120 peserta workshop. Kegiatan ini terbagi menjadi empat kelompok yaitu, kendaraan bensin >1.250 cc, 1.250-1.500 cc, > 1.500 cc, dan kendaraan solar. Eco-driving membuat masyarakat berpartisipasi langsung dalam pengendalian pencemaran udara dan sekaligus memberikan manfaat ekonomi, sosial, keamanan (safety) dan lingkungan. Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 0813756 33330
Baca Pengumuman

Lowongan Communication And Reporting Officer dan Admin Assistant

LOWONGAN COMMUNICATION AND REPORTING OFFICER dan ADMIN ASSISTANT PADA PROYEK TRANSFORMING EFFECTIVENESS OF BIODIVERSITY CONSERVATION IN PRIORITY SUMATRAN LANDSCAPES Transforming Effectiveness of Biodiversity Conservation in Priority Sumatran Landscapes (Sumatran Tiger Project) Project bertujuan untuk meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati di lanskap prioritas Sumatera melalui penerapan praktek pengelolaan terbaik bagi kawasan konservasi dan kawasan budidaya yang ada di sekitarnya. Dimana pemulihan populasi harimau sumatera dijadikan indikator keberhasilan proyek yang didanai hibah dari GEF, dan dikelola oleh Kementerian Lingungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama dengan UNDP. Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan baik dalam hal teknis, reporting dan administrasi pada proyek diperlukan Communication and Reporting Officer dan Admin Assistant, untuk ditempatkan di Project Management Unit (PMU), Jakarta Untuk info lebih lanjut, silahkan klik link dibawah ini : LOWONGAN COMMUNICATION AND REPORTING OFFICER dan ADMIN ASSISTANT PADA PROYEK Sumber Info: Direktorat KKH

Menampilkan 193–208 dari 259 publikasi