Sabtu, 3 Jan 2026

Beranda Publikasi Pengumuman

Pengumuman

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Pengumuman

Translokasi Harimau Sumatera Dan Lahirnya “Sang Garuda”: Bukti Keberhasilan Program Pengawetan Di Lembaga Konservasi Binaan Balai Besar KSDA Jawa Barat

Balai Besar KSDA Jawa Barat sukses melakukan translokasi seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) ke Balai KSDA Sumatera Barat. Satwa liar dilindungi dan populasinya terancam punah di alam ini merupakan hasil sitaan dari kepemilikan illegal, yang sejak Februari tahun 2010 dititiprawatkan di lembaga konservasi binaan Balai Besar KSDA Jawa Barat, yaitu Yayasan Alam Satwa Tatar Indonesia (ASTI). Saat ini, harimau sumatera berjenis kelamin betina dengan nama Leony ini berada di Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera di Dharmasraya (PRHSD) yang berlokasi di PT. Tidar Kerinci Agung di Dharmasraya. PRHSD ini sendiri telah diresmikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc., pada tanggal 29 Juli 2017 lalu ditandai dengan pelepasan Leony dari kandang perawatan berukuran 54 m2 ke dalam kandang rehabilitasi berukuran 2.500 m2. Melalui program rehabilitasi di PRHSD ini, Leony memiliki kesempatan untuk kembali ke alam liar dan menjalankan perannya sebagai top predator di dalam ekosistem hutan. Di tempat lain, tepatnya di lembaga konservasi binaan Balai Besar KSDA Jawa Barat lainnya, yaitu Taman Safari Indonesia (TSI) Cisarua Bogor, pada tanggal 19 Juli 2017 telah menetas seekor elang jawa (Nisaetus bartelsi). Anakan elang jawa tersebut berasal dari indukan elang jawa yang dititiprawatkan oleh Bidang KSDA Wil. I Bogor, Balai Besar KSDA Jawa Barat ke TSI Cisarua Bogor pada tahun 2010. Indukan tersebut merupakan hasil penyerahan secara sukarela dari masyarakat. Berdasarkan hasil pemeriksaan oleh Tim Gugus Tugas Evakuasi dan Penyelamatan TSL yang dilakukan pada tanggal 31 Juli 2017, indukan dan anakan elang jawa tersebut saat ini dalam kondisi sehat. Saat ini, keduanya masih dalam pengawasan tim dari TSI Cisarua Bogor. Di alam populasi elang jawa menurut rilis The IUCN Red List of Threatened Species Tahun 2016 cenderung menurun sehingga dikategorikan sebagai satwa langka. Faktor utama dari penurunan populasi jenis satwa ini di alam adalah rendahnya tingkat perkembangbiakan serta tingginya tingkat perburuan jenis satwa ini. Namun demikian, kelahiran elang jawa di lembaga konservasi binaan Balai Besar KSDA Jawa Barat tersebut memberikan sebuah angin segar bahwa program peningkatan populasi satwa liar dilindungi, khususnya elang jawa di luar habitat aslinya merupakan sebuah keniscayaan. Dua peristiwa yang terjadi, yaitu translokasi harimau sumatera setelah 7 (tujuh) tahun lebih dititiprawatkan di lembaga konservasi serta kelahiran seekor anak elang jawa juga di lembaga konservasi, menunjukkan bahwa program pengawetan pada lembaga konservasi binaan Balai Besar KSDA Jawa Barat telah terbukti berhasil sampai sejauh ini. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Pengumuman

Belajar Tentang Elang di Pusat Konservasi Elang Kamojang

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa kebanyakan elang bersifat monogami sehingga jenis burung pemangsa ini termasuk salah satu jenis satwa yang setia pada pasangannya. Tidak hanya itu, elang juga merupakan satwa yang memiliki indera penglihatan sangat tajam, di samping juga memiliki kecepatan luar biasa yang bisa mencapai 300 km/jam. Nah, fakta-fakta seputar elang lainnya dapat ditemukan secara langsung pada saat kita berkunjung ke Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) di Garut. Ya, PKEK selain menjalankan fungsi utamanya sebagai sebuah lembaga penyelamatan dan rehabilitas elang, kini juga mengambil peran dalam mengedukasi masyarakat khususnya tentang upaya-upaya pelestarian satwa liar berjenis elang. Hampir pada setiap hari libur, lokasi ini dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai kalangan, utamanya para pelajar yang memiliki keingintahuan yang tinggi tentang kehidupan elang. Pengunjung yang datang akan mendapatkan informasi cukup lengkap seputar elang langsung dari pengelola PKEK yang memang sudah pakar dalam bidang per-elang-an. Selain itu, informasi berkaitan dengan elang juga bisa didapatkan dari berbagai poster ataupun foto yang sengaja dipampang pada dinding di dalam Pusat Informasi PKEK. Tidak hanya elang dalam bentuk foto atau gambar saja yang dapat dilihat, pengunjung juga dapat melihat wujud elang secara lengkap di kandang display, sebuah kandang yang memang disediakan khusus untuk menampilkan elang hidup kepada para pengunjung yang datang. Sebagai informasi, PKEK yang terletak di Blok Citepus Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Kamojang dengan luas lokasi sekitar 11,4 ha telah dilengkapi dengan fasilitas kandang memadai (kandang display, kandang observasi, kandang karantina, kandang rehabilitasi, dan lain-lain) dengan merujuk di antaranya pada Minimum Standard for Wildlife Rehabilitation dan Standard for Bird of Prey Sanctuary. Pada tanggal 26 Juli 2017, Direktur Jenderal KSDAE, Ir. Wiratno, M.Sc., beserta para Kepala UPT lingkup Ditjen KSDAE se-Indonesia juga menyempatkan diri berkunjung ke PKEK. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Workshop Data dan Informasi Ditjen KSDAE Tahun 2017. Pada kesempatan tersebut Dirjen KSDAE menyempatkan diri berdialog dengan pengelola PKEK seputar kegiatan rehabilitasi elang yang dilakukan oleh PKEK. Dirjen KSDAE juga berkenan meninjau fasilitas yang ada di PKEK dan memberikan apresiasi terhadap upaya yang telah dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jawa Barat beserta PT Pertamina Geothermal Energy dalam membidani lahirnya PKEK. Beliau berharap agar PKEK dapat dijadikan benchmark bagi upaya pelestarian dan rehabilitasi elang di lokasi lain. Selain berdialog dan meninjau fasilitas yang terdapat di PKEK, Dirjen KSDAE pada kunjungannya kali ini juga berkesempatan untuk melepasliarkan seekor elang jawa hasil rehabilitasi yang telah dianggap siap untuk kembali hidup di alam bebas. Tidak hanya itu, Dirjen KSDAE beserta para pejabat eselon II lingkup Ditjen KSDAE juga melakukan penanaman di sekitar area PKEK. Hal paling menarik yang terungkap pada kunjungan hari itu adalah bahwa Dirjen KSDAE memiliki bakat dalam menggambar. Terbukti, ketika diminta untuk menggambar seekor elang di atas kanvas, beliau dengan piawai menggerakan tangannya dan jadilah gambar elang tersebut lengkap dengan tanda tangannya. Sementara rombongan lainnya berkesempatan untuk menuliskan pesan dan kesan mereka selama berada di PKEK pada selembar kain putih sebagai bentuk dukungan terhadap upaya pelestarian dan penyelamatan elang di PKEK. Semoga dukungan yang diberikan oleh Dirjen KSDAE beserta jajarannya semakin mengokohkan PKEK bukan hanya sebagai tempat penyelamatan dan rehabilitasi elang, melainkan juga menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk belajar banyak tentang elang. Mari belajar tentang elang di PKEK...!!! (RK/Humas BBKSDA Jabar) Sumber: BBKSDA Jawa Barat berita terkait: http://detik.id/6TScmI
Baca Pengumuman

Jejak Langkah Kembalinya Harimau Sumatera

Harimau adalah simbol kelestarian ekosistem. Keberadaan Harimau hanya dimungkinkan jika hutan dan lingkungan sebagai habitat Harimau terjaga. Harimau memiliki daya jelajah yang luas hingga 300 km2. Keadaan Harimau dapat menyeimbangkan populasi herbivora dan omnivora yang menjadi mangsanya sehingga keseimbangan ekosistem bisa terjaga. Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa dilindungi yang populasinya di alam terancam punah, pemerintah telah menetapkan kebijakan dalam RPJM tahun 2015- 2019 termasuk jenis yang perlu ditingkatkan populasinya, hal ini sejalan dengan komitmen global melalui 13 negara yang memiliki Harimau yang pada tahun 2010 di St. Pietersburg Rusia telah sepakat untuk bersama-sama melakukan upaya meningkatkan populasi satwa Harimau di alam. Indonesia pada awalnya memiliki 3 spesies Harimau, namun saat ini dua spesies Harimau telah dinyatakan punah yaitu Harimau Bali (tahun 1940 an) dan Harimau Jawa (tahun 1980an) dan saat ini hanya tinggal Harimau Sumatera yang populasinya di alam sesuai kajian terbaru diperkirakan tinggal sekitar 600 ekor. Berdasarkan UU no 5 tahun 1990, konservasi sumber daya Hayati merupakan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat. PT Tidar Kerinci Agung (PT.TKA) sebagai unsur dari masyarakat turut serta melakukan upaya konservasi dengan membangun Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera di Dharmasraya (PRHSD) sebagai upaya untuk merehabilitasi kembali Harimau Sumatera. Harimau Sumatera “Leony” merupakan satwa sitaan dari masyarakat yang dititipkan kepada Pusat Penyelamatan Satwa ASTI di Bogor sejak Februari 2010 dan telah mempunya kekuatan hukum yang tetap. “Leony” harimau Sumatera betina saat ini berumur sekitar 8 tahun dengan berat sekitar 70 kg baru-baru ini telah dipindahkan dari ASTI ke PRHSD untuk direhabilitasi sebelum dilepasliarkan ke habitat alaminya. Peresmian PRHSD PT. TKA menjadi bagian dari rangkaian kegiatan dalam peringatan Global TIGER DAY yang diperingati setiap tanggal 29 Juli, yang pada tahun ini diperingati di 8 (delapan) kota di Pulau Sumatera dan 2 (dua) kota di Pulau Jawa. Perayaan ini untuk mengingatkan kita semua bahwa populasi Harimau saat ini di alam sudah menurun dan terus mendapatkan tekanan sehingga perlu upaya dan dukungan masyarakat agar tidak punah. Acara peresmian PRHSD ini juga bertepatan dengan rangkaian peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang ditetapkan oleh UNEP dengan tema “Connecting People with Nature, Menyatu dengan Alam ”, dengan tujuan untuk membangkitkan masyarakat dalam meningkatkan global dalam menyelamatkan Harimau. Sumber: Direktorat KKH
Baca Pengumuman

Membangunkan Konservasi Nusa Tenggara Timur

Membangunkan Konservasi Nusa Tenggara Timur Pembelajaran Resort Based Management 2012 - 2013 Penulis : Ir. Wiratno, M.Sc. Buku ini adalah salah satu bentuk dokumentasi dari proses memulai apa yang disebut sebagai pengelolaan berbasis resort atau dikenal dengan istilah resort based management (RBM). Kewajiban melaksanakan RBM ini sebenarnya tercantum dalam Renstra Direktorat Jenderal PHKA tahun 2010-2014. Disana dijelaskan bahwa 50 taman nasional harus mengelola kawasannya dengan berbasis resort, dan akan dicapai pada tahun 2014. Balai (Besar) KSDA belum wajib melaksanakan RBM kalau mengacu pada Renstra tersebut. Kultur birokrasi menunjukkan bahwa UPT taman nasional enggan melaksanakan suatu kegiatan yang tidak jelas dasar aturannya. Bagaimana nanti kalau diperiksa Itjen? Semua tindakan birokrasi konservasi (baca: Balai (Besar) TN dan KSDA) harus berdasarkan pada aturan. Apabila pedoman atau pentunjuk teknis atau petunjuk pelaksanaannya belum ada, maka akan sangat sulit melaksanakannya walaupun itu sudah tercantum dalam Renstra. (Ir. Wiratno, M.Sc.) Untuk download Buku dapat klik link sebagai berikut : Membangunkan Konservasi Nusa Tenggara Timur
Baca Pengumuman

Pohon Tampui (Baccaurea Macrocarpa), Sulit Dicari Jarang Ditemukan

Pohon Tampui merupakan endemik hutan tropis seperti hutan hujan tropis di Sumatera dan Kalimantan. Di Taman Nasional Tesso Nilo pohon Tampui dapat dikatakan jenis pohon kebanggan masyarakat asli melayu seperti masyarakat Desa Lubuk Kembang Bunga. Buahnya enak untuk dimakan rasanya mirip-mirip buah Rambutan namun daging lebih tebal dari Rambutan. Kata Sutan (masyarakat asli) menjelaskan. Sekitar sepuluh tahun yang lalu pohon Tampui masih mudah untuk ditemukan di dalam kawasan TNTN. Bahkan ketika berbuah masyarakat berebut mencari kehutan, ada yang dijual maupun hanya untuk sekedar dimakan bersama keluarga. Kini, Pohon Tampui sudah sulit dicari, jarang ditemukan. Saat berpatroli pada Kamis tanggal 27 Juli 2017, saya bersama kawan-kawan beruntung. Tanpa disengaja Sutan yang juga tenaga honor SPW I LKB melihat pohon Tampui, dengan cepat Sutan memanggil saya untuk mendekat dan mengatakan "Ko nan namonyo Tampui tu". Karena memang pernah saya pesan pada Sutan kalau melihat pohon Tampui tolong dikasih tahu. Langkanya pohon Tampui ditemukan saat ini disebabkan perambahan. Okuvasi lahan menjadi kebun sawit menghilangkan tanaman eksotis ini. Apalagi sejak dulu sampai sekarang memang belum ada masyarakat lokal yang tertarik untuk membudidayakan pohon Tampui. Akibatnya pohon Tampui terancam punah dan terlupakan. Meskipun pohon Tampui yang kami temukan ini sedang tidak berbuah namun saya cukup puas dan bersyukur. Setidaknya saya bisa mengenal langsung bentuk sesungguhnya dari pohon Tampui ini. Tidak lama memang saya berkesempatan menikmati dan mendalami keunikan dari pohon Tampui saat itu karena perjalanan patroli kami yang masih panjang pada hari itu. Sambil berdo'a dalam hati saya berucap mudah-mudahan dilain waktu menemukan pohon Tampui disaat sedang berbuah. Aamiin Ya Mujibassailiin. Oleh: Ahmad Gunawan (BTN. Tesso Nilo)
Baca Pengumuman

Jabon Merah ‘Menyangga’ Suaka Margasatwa Ko’mara dan Taman Buru Ko’mara.

Daerah penyangga memiliki peran penting bagi kelestarian suaka alam dan kawasan pelestarian alam. Buffer dalam mengurangi tekanan penduduk terhadap bagi beragam kepentingan terhadap keberadaan kawasan konservasi. Faktor yang menjadi aktor utama tentu adalah persoalan ekonomi, masalah isi piring, problem pengisi perut. Seperti kawasan konservasi lainnya yang juga menghadapi tekanan yang senada, Suaka Margasatwa Ko’mara dan Taman Buru Ko’mara yang merupakan kawasan konservasi dalam pemangkuan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan juga mengalami hal yang sama. Kondisi alam yang langsung berbatasan dengan pemukiman, memberi tekanan bagi kelangsungan proses ekologis didalamnya. Melihat kondisi ini, petugas resor Ko’mara memiliki trik sendiri dalam hal pemberdayaan masyarakat yang berada di sekitar kawasan konservasi. Penanaman jabon merah yang pernah booming di tahun 2012an menjadi pilihan media pemberdayaan. Melihat begitu banyaknya areal pinggiran kawasan yang ‘tidur’, petugas resor ko’mara mengajak masyarakat untuk menanami area dimaksud dengan tanaman jabon. Berbekal bibit dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan setempat, pola kerjasama dilakukan. Masyarakat menyiapkan lahan dan melakukan pemeliharaan, petugas resor memfasilitasi bibit dan biaya pemeliharaan. Hasil panen nantinya dibagi secara proporsional. Awalnya, luas area yang ditanami mencapai ± 20 Ha di tahun 2012. Namun, percobaan pertama ini tidak membuahkan hasil. Sebagian besar tanaman tidak tumbuh dan terbakar. Memasuki tahun 2013, penanaman dilakukan lagi dengan luasan area hingga saat ini mencapai ± 7 Ha. Setelah hampir 5 tahun lebih, fasilitasi petugas resor komara bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi yang berada pada 3 kabupaten di Sulawesi Selatan ini (Kabupaten Gowa, Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Takalar) sudah mulai menunjukkan hasil. Tanaman jabon merah tumbuh dengan subur. Rata rata tinggi pohon saat ini adalah ± 4 – 6 meter dengan diameter ± 20 cm. Jika tak ada aral melintang, diperkirakan 3 tahun kedepan, jenis kayu ini sudah bisa dipanen. Hasil panen kayu jabon merah tentu menjadi bayangan yang paling menggembirakan. Namun, bagi petugas resor ko’mara, hal yang terindah adalah menyaksikan kelompok kelompok masyarakat lainnya berbondong mengadopsi program tanam jabon di sekitar kawasan konservasi. Di depan mata, sudah hampir nyata, ketergantungan masyarakat akan keberadaan kawasan TB Komara dan SM Komara dapat diminimalisir dengan jaminan kesejahteraan dari jabon merah, hasil fasilitasi petugas resor komara pada Seksi Konservasi Wilayah IV Gowa, Bidang KSDA Wilayah II Pare pare. Semoga resor lain, segera menemukan metode menjaga kelestarian kawasannya, metode mensejahterakan masyarakatnya. Sumber Info : Humas Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Pengumuman

Groundchek Keberhasilan Pemulihan Ekosistem Di TN Gunung Palung

Permasalahan kerusakan kawasan konservasi di Indonesia saat ini mendapat prioritas penanganan. Seiring dengan agenda nasional dalam Rencana Strategis tahun 2015 – 2019, Kementerian LHK menetapkan target pemulihan ekosistem seluas 100.000 ha pada kawasan konservasi yang terdegradasi. Langkah-langkah strategis telah diupayakan oleh Direktorat Kawasan Konservasi, Ditjen KSDAE dalam meng-goal-kan tujuan nasional tersebut berupa kegiatan penyusunan NSPK, SKB, pemantapan dan Bimtek pemulihan ekosistem dan sebagainya. Kendala utama realisasi pemulihan ekosistem adalah anggaran, mengingat bahwa kegiatan pemulihan ekosistem merupakan kegiatan teknik lapangan dengan belanja modal yang besar. Kendala anggaran disebabkan pada tahap awal pelaksanaan RPJM 2015 – 2019 tidak mendapat dukungan anggaran yang mencukupi. Satuan kerja (satker)/UPT mensikapi kondisi tersebut dengan pengupayaan pendanaan mandiri maupun kolaborasi dengan mitra, baik LSM, Badan Usaha, dan masyarakat. Dengan demikian, program-program pemulihan ekosistem pada beberapa satker tetap berjalan dan telah berhasil diimplementasikan. Keberhasilan tersebut tentu perlu didokumentasikan secara komphrehensif sehingga mampu menjadi referensi/percontohan pelaksanaan pemulihan ekosistem pada UPT-UPT lainnya. Subdit Pemulihan Ekosistem, Direktorat Kawasan Konservasi, Ditjen KSDAE dalam hal ini berupaya merangkum keberhasilan-keberhasilan pemulihan ekosistem tersebut pada tingkat tapak secara detail. Adapun tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan adalah identifikasi capaian-capaian pemulihan ekosistem yang telah berhasil dilakukan meliputi pengumpulan bahan, data dan informasi keberhasilan pada tingkat UPT. Data-data tersebut kemudian dirajut secara ilmiah populer sehingga menarik untuk dijadikan bahan percontohan pemulihan ekosistem. Identifikasi telah dilakukan dan ditetapkan pada lokasi-lokasi pemulihan ekosistem yang dinilai cukup berhasil sehingga perlu dilakukan groundcheck lapangan. Salah satu target lokasi adalah kegiatan pemulihan ekosistem yang telah dilakukan di Taman Nasional Gunung Palung (TNGP) pada tahun 2010 – 2017 saat ini. Sub Direktorat Pemulihan Ekosistem dalam hal ini melakukan peninjauan lapangan (groundcheck) untuk melihat, mendokumentasi dan memprensentasikan keberhasilannya. Groundcheck dilakukan oleh Gunawan, S.Hut., M.Sc (Subdirektorat PEKK, Dit. KK), Bambang Hari Trimarsito, S.Si., M.P. (TNGP), Rusnadi S.PKP (TNGP), dan Nurul Ihsan F (Yayasan Asri). Hasil groundcek menunjukkan bahwa keberhasilan pemulihan ekosistem sangat signifikan. Kronologis kerusakan kawasan disebabkan oleh faktor kebakaran hutan akut tahun 2009-2010. Kondisi awal sebelum dilakukan pemulihan ekosistem berupa hamparan lahan kosong dan semak belukar dengan tonggak-tongak kayu bekas-bekas kebakaran. Kerusakan tersebut dikategorikan kerusakan skala besar sehingga diperlukan intervensi pengelolaan secara konsisten. Taman Nasional Gunung Palung dan Yayasan Asri mensikapi kondisi tersebut dengan mendesign metode pemulihan ekosistem secara spesifik dengan perlakuan pengkayaan secara kontinyu dan bertahap yang dimulai sejak tahun 2010. Dalam kurun waktu 6 (enam) tahun, pelaksanaan pemulihan ekosistem berjalan efektif dan berhasil mengembalikan kondisi tegakan yang ditunjukkan dengan berjalannya proses suksesi progresif aktif. Keberhasilan pemulihan ekosistem ini secara detail akan dirangkum dalam buku succes story: pemulihan ekosistem kawasan konservasi secara partisipatif yang akan segera diterbitkan oleh Direktorat Kawasan Konservasi. harapannya buku dimaksud menjadi alternatif pemicu semangan dan inspirasi pelaksanaan pemulihan ekosistem di Indonesia. Sumber Info : Direktorat KK
Baca Pengumuman

113 Sekolah di Seluruh Indonesia Terima Penghargaan Adiwiyata

SIARAN PERS Nomor : SP. 154/HUMAS/PP/HMS.3/07/2017 Jakarta, Biro Humas Kementerian LHK, Jumát, 28 Juli 2017. Pada tahun 2017 ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan menyerahkan penghargaan Adiwiyata Mandiri kepada 113 sekolah di Indonesia, setelah tahun sebelumnya telah diberikan kepada 140 sekolah. Penghargaan ini akan diserahkan pada puncak acara peringatan Hari Lingkungan Hidup tanggal 2 Agustus 2017 di Jakarta, sebagaimana disampaikan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) KLHK, Helmi Basalamah (28/07/2017). “Program Adiwiyata ini bertujuan untuk mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Dengan program Adiwiyata, akan tercipta warga sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan”, tutur Helmi. Adapun 113 sekolah Adiwiyata Mandiri yang akan diberi penghargaan terdiri dari 53 Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), 29 Sekolah Menengah Pertama (SMP), dua Madrasah Tsanawiyah (MTs), 19 Sekolah Menengah Atas (SMA), tiga Madrasah Aliyah (MA) dan tujuh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), yang berasal dari 24 provinsi dan 75 kabupaten/kota. Program yang telah berlangsung sejak tahun 2006 ini, telah diujicobakan pada 10 model sekolah adiwiyata khusus di pulau Jawa, kemudian tahun berikutnya mulai diberlakukan secara nasional di seluruh Indonesia. Seleksi Adiwiyata dilakukan berjenjang dan meliputi empat komponen penilaian, yaitu kebijakan sekolah/madrasah, kurikulum, kegiatan berbasis partisipatif dan pengelolaan sarana dan prasarana. Helmi menjelaskan, revitalisasi program adiwiyata terus dilakukan dengan merevisi Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor. 5 Tahun 2013 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Adiwiyata. Konsep revisi peraturan tersebut saat ini menunggu pengesahan Menteri LHK. Helmi juga berharap, revitalisasi tersebut dapat meningkatkan kualitas dan kontribusi sekolah adiwiyata, terhadap peningkatan kualitas lingkungan, serta mendukung pembangunan nasional secara berkelanjutan. “Dalam revisi tersebut, terdapat beberapa pembaharuan, khususnya dalam proses penilaian. Mulai tahun 2018, penilaian adiwiyata akan menggunakan sistem daring. Hal tersebut untuk mendukung kebijakan pelaksanaan sistem pemerintahan melalui e-government”, jelas Helmi. Selain penyerahan penghargaan Adiwiyata, puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup juga akan diperkaya dengan Kemah Generasi Lingkungan untuk konservasi yang diikuti 250 orang siswa SMA serta 250 orang siswa SD dan SMP. (*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330 Informasi lebih lanjut: Kepala Pusat Pelatihan Masyarakat dan Pengembangan Generasi Lingkungan, BP2SDM Cicilia Sulastri – 0815 1100 0555
Baca Pengumuman

Langkah Aman Membeli Satwa Dilindungi Hasil Penangkaran Di Jawa Tengah

Semarang - Perijinan dalam penangkapan satwa liar diterbitkan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Tengah berdasarkan kuota wilayah yang ada. Perijinan badan usaha atau perorangan yang akan melakukan peredaran satwa liar di dalam negeri diterbitkan oleh kepala Balai KSDA Jawa Tengah dimana badan usaha atau perorangan yang memegang izin sebagai pengedar satwa liar di dalam negeri yang akan mengambil atau menangkap satwa berkewajiban untuk mempunyai tempat dan fasilitas penampungan satwa liar yang memenuhi syarat yang telah ditetapkan dan berdomisili di Jawa Tengah. Sedangkan peredaran satwa liar ke luar negeri harus sesuai izin Balai KSDA dan sesuai dengan syarat-syarat yang ditetapkan CITES. Faktanya satwa liar memang selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk dipelihara, sehingga seringkali para peminat kurang memperhatikan aspek legalitas dalam memelihara satwa liar. Salah satu syarat hewan dilindungi yang bisa dimanfaatkan untuk dijual atau dipelihara adalah yang didapat dari penangkaran bukan dari alam. Syarat lainnya, hewan langka yang boleh dimanfaatkan dari penangkaran hanya yang sudah masuk kategori F2 dan seterusnya atau hewan yang sudah generasi ketiga dan seterusnya saat berada di penangkaran. Singkatnya, hanya cucu dari generasi pertama (F0) di tempat penangkaran yang bisa dipelihara maupun diperjualbelikan. Hal yang perlu menjadi perhatian utama oleh masyarakat umum yaitu pada saat membeli satwa hasil penangkaran salah satunya adalah memastikan keaslian sertifikat. Khusus di wilayah Provinsi Jawa Tengah ada beberapa cara mudah untuk mengetahui keaslian sertifikat satwa. Yang pertama terdapat hologram pada sisi bagian kiri sertifikat. Selain itu di bagian tengah sertifikat terdapat gambar lingkaran yang akan memantul apabila terkena sinar ultraviolet. Pada halaman belakang sertifikat terdapat gambar timbul Garuda Pancasila. Sebagai catatan taging/tanda yang berbentuk cincin (ring) tidak dapat dilepaskan dari kaki satwa dan nomor pada cincin harus sama dengan yang tercantum pada sertifikat yang ada. Jadi pastikan keaslian sertifikat satwa liar dilindungi yang Anda miliki. Untuk memastikannya para pembeli dapat melakukan pengecekan secara langsung ke Kantor Balai KSDA Jawa Tengah, Jl. Dr. Suratmo No. 171, Semarang setiap hari pada jam kerja. Kontributor : T. Suharyono (Polhut pada Balai KSDA Jawa Tengah)
Baca Pengumuman

Peraturan Terbaru Peredaran Kayu Sonokeling (Dalbergia Latifolia) Dalam Negeri Dan Luar Negeri

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Ditjen KSDAE Kementerian LHK, melalui surat Nomor : S.1216/KKH/MJ/KSA.2/12/2016 tanggal 28 Desember 2016 perihal Pemanfaatan Peredaran Jenis Sonokeling (Dalbergia latifolia) ke Luar Negeri menyampaikan bahwa mulai tanggal 2 Januari 2017 seluruh kegiatan pemanfaatan khususnya perdagangan ke luar negeri (ekspor) kayu Sonokeling harus mengikuti mekanisme perdagangan luar negeri CITES, yaitu wajib diliput dengan dokumen Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Ke Luar Negeri (SATSLN CITES) yang pelaksanaanya mengacu pada Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar. Sedangkan untuk dalam negeri, penerapanya masih menunggu hasil pembahasan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan stake holder terkait. Pemberlakuan peraturan ini ditanggapi positif oleh para pelaku usaha kayu Sonokeling, mereka yang merupakan eksportir dan pedagang dalam negeri berbondong-bondong mendatangi Balai KSDA Jawa Tengah untuk mencari informasi dan penjelasan tentang tata usaha peredaran kayu Sonokeling terbaru. Setelah mengetahui informasi tersebut para pelaku usaha segera melengkapi dan mengurus perizinan peredaran kayu Sonokeling luar negeri maupun dalam negeri, meskipun dalam negeri belum diwajibkan namun kedepan peraturan ini akan diberlakukan juga untuk izin edar dalam negeri. Sampai saat ini tercatat di Balai KSDA Jateng telah terbit izin peredaran Luar Negeri sebanyak 24 perusahaan dan izin peredaran Dalam Negeri sebanyak 24 perusahaan . Para pelaku usaha ini berasal dari Jawa tengah meliputi Kabupaten/Kota Semarang, Jepara, Rembang, Boyolali, Klaten, Sragen, Kebumen, Purworejo, Wonogiri, Banyumas dan Purwokerto. Dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku, Balai KSDA Jateng melakukan Sosialisasi kepada para stake holder terkait dengan masuknya Sonokeling dalam appendix II CITES. CITES (Convention on International Trade in Endagered Species of Wild Fauna and Flora) adalah perjanjian internasional antar negara yang mengkombinasikan antara tema hidupan liar dengan instrumen hukum yang mengikat untuk mencapai tujuan perdagangan internasional yang berkelanjutan. Apendix II merupakan TSL yang termasuk jenis-jenis yang saat ini belum terancam punah namun perdaganganya harus dikontrol agar tidak menjadi terancam punah dan perdagangan internasional diperbolehkan dengan kuota. Peraturan ini berlaku berdasarkan notifikasi CITES tanggal 7 November 2016 dan 14 November 2016 perihal Amandment to Appendices I and II Convention yang diadopsi pada COP 17 CITES tanggal 24 September s/d 4 Oktober 2016 di Johanessburg Afrika Selatan yang disebutkan bahwa tanaman jenis Sonokeling (Dalbergia latifolia) telah masuk dalam daftar Appendix II CITES. Sumber Info : Nur Hanifah - PEH Balai KSDA Jawa Tengah
Baca Pengumuman

Satgas Karhutla Kerja Keras, Titik Api Turun

SIARAN PERS Nomor : SP. 142/HUMAS/PP/HMS.3/07/2017 Satgas Karhutla Kerja Keras, Titik Api Turun Jakarta, Biro Humas Kementerian LHK, Minggu, 23 Juli 2017. Satuan Tugas Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), berhasil melakukan operasi terpadu pemadaman kebakaran lahan di kawasan rawan Karhutla. Satgas Karhutla yang terdiri dari Manggala Agni (KLHK) bersama TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan tim terpadu lainnya berjibaku mengantisipasi meluasnya areal karhutla. Selain pemadaman, Satgas Karhutla juga terus melakukan pemantauan terhadap munculnya titik api (groundcheck hotspot) yang dapat berpotensi menimbulkan kebakaran hutan dan lahan. Dari laporan titik api berdasarkan satelit NOAA dan TERRA AQUA (NASA), berbagai upaya pemadaman baik di darat dan udara, Satgas Karhutla berhasil menurunkan jumlah titik api secara signifikan. Bahkan pada beberapa Provinsi dilaporkan pemadaman berhasil dilakukan dan tidak ada titik api. Berdasarkan laporan per tanggal 22 Juli 2017 pukul 20.00 WIB, satelit NOAA memantau terdapat 24 titik api di seluruh Indonesia. Seluruh titik api langsung dilakukan groundcheck hotspot ke lapangan oleh tim Manggala Agni dan Masyarakat Peduli Api. Adapun total titik api berdasarkan satelit NOAA per 1 Januari - 21 Juli 2017 dilaporkan sebanyak 783 titik. Jumlah ini mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya, dimana terpantau jumlah titik api sebanyak 1.086 titik di tahun 2016. Berarti terdapat penurunan jumlah titik api sebanyak 303 titik atau 27,90 persen. Sementara informasi titik api dari satelit TERRA AQUA (NASA), per jam 20.00 WIB, dilaporkan seluruh kawasan di Indonesia bebas titik api. Dengan total titik api per 1 Januari - 22 Juli 2017 sebanyak 157 titik. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, jumlah titik api terpantau sebanyak 2.078 titik di tahun 2016. "Artinya terdapat penurunan jumlah titik api sebanyak 1.921 titik atau 92,44 persen," ungkap Kepala Biro Humas KLHK, Djati Witjaksono Hadi, Sabtu (22/7/2017). Berdasarkan laporan Kepala Daerah Operasional (Daops) Karhutla KLHK di lapangan, luas areal kebakaran hutan dan lahan yang ditangani oleh tim Manggala Agni sampai dengan tanggal 22 Juli 2017, adalah seluas 2.062,02 hektar. Untuk pemadaman Karhutla tidak hanya dilakukan di darat dengan melibatkan tim terpadu, namun juga dengan dukungan helikopter milik KLHK dan Satgas Provinsi untuk melakukan water bombing dan hujan buatan. Dengan menggunakan helikopter milik KLHK, water bombing dilaksanakan di Provinsi Riau pada tanggal 14 - 24 Februari 2017 dengan rincian 5 sorti dan 48.000 liter air yang dijatuhkan di Kabupaten Rohil dan Pelalawan. Sementara dengan menggunakan helikopter BPBD, kegiatan water bombing dilaksanakan sejak tanggal 4 Juni - 16 Juli 2017. Sebanyak 2.596 sorti dan 10.232.200 liter air di Kabupaten Rokan Hilir, Rokan Hulu, Indragiri Hilir, Bengkalis, Kuansing, Meranti, Pelalawan dan Kampar.Sedangkan di Provinsi Kalimantan Barat, dengan menggunakan helikopter KLHK telah dilakukan kegiatan water bombing pada tanggal 2 - 24 Juni 2017, berupa 35 sorti serta 42.000 liter air di Kabupaten Kubu Raya. Sementara di Kabupaten Sumatera Selatan menggunakan helikopter BPBD, telah dilakukan kegiatan water bombing pada tanggal 8 Juni - 22 Juli 2017. Rincian 157 sorti dengan total air yang dijatuhkan sebayak 792.300 liter di Kabupaten OKI, Ogan Ilir, Banyuasin, Pali, Muara Enim dan OKU. Untuk kegiatan hujan buatan atau TMC, telah dilakukan di Provinsi Riau, dari tanggal 5 - 12 Juli 2017 sebanyak 10 penerbangan dan telah disemai garam sebanyak 15,2 ton di wilayah Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, Pelalawan, Inhul dan Rohil. Sedangkan di Provinsi Sumatera Selatan, dari tanggal 8 Juni - 22 Juli 2017 telah dilakukan 36 penerbangan dan telah disemai garam sebanyak 36,6 ton di wilayah Kabupaten Banyuasin, OKI, Ogan Ilir, PALI, Muara Enim, OKU Timur dan Kota Palembang. "Satgas Karhutla juga terus melakukan patroli terpadu dan sosialisasi kepada masyarakat di lokasi rawan Karhutla," kata Djati. Adapun jumlah desa sasaran patroli terpadu meliputi Provinsi Sumatera Utara 15 desa, Riau 65 desa, Jambi 20 desa, Sumatera Selatan 50 desa, Kalimantan Barat 60 desa, Kalimantan Tengah 55 desa, Kalimantan Selatan 20 desa dan Kalimantan Timur 15 desa. Hingga saat ini tambah Djati, berkat penanganan intensif seluruh Tim Terpadu baik darat dan udara, dilaporkan tidak ada indikasi asap lintas batas. Data asap lintas negara dan informasi partikulat (PM10) untuk beberapa provinsi rawan karhutla tergolong normal, yang ditunjukkan dengan tidak adanya indikasi asap dan nilai PM10 sama dengan 0 (baik). Kualitas udara di berbagai daerah rawan Karhutla, terutama di pulau Sumatera dan Kalimantan, juga dilaporkan dalam kondisi baik. Beberapa Provinsi rawan Karhutla juga sudah menetapkan status siaga darurat hingga akhir tahun 2017, seiring dengan mulai masuknya musim kering. (*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi - 081375633330
Baca Pengumuman

Sayur Khas Desa Samaenre Dari Pucuk Daun Pohon Beringin

Hari ini, Rabu, 19 Juli 2017 kami mengunjungi Mallawa. Sebuah kecamatan, sekaligus resor taman nasional, bagian dari Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. Setelah menempuh perjalanan dari kantor Balai TN Bantimurung Bulusaraung tak kurang dari 90 menit akhirnya kami tiba di Desa Samaenre. Hamparan sawah membentang luas sepanjang mata memandang. Gunung-gunung berbaris mengelilingi tiga desa di kecamatan ini. Barisan gunung di bagian kanan saat saya masuk desa, berjejer tiga air terjun dari kejauhan. Tunggak-tunggak padi menguning, sisa-sisa panen beberapa minggu lalu. Beberapa pak tani mulai menggarap lagi sawahnya untuk ditanami kembali. Tak jauh dari jalan beton yang kami lalui seorang pemuda dengan tongkat kayu di tangan mengembalakan belasan sapi miliknya. Hawa dingin mulai menusuk. Akhirnya dengan motor trail yang saya pacu tibalah kami tepat di depan pondok kerja resor Mallawa. Suguhan pemandangan khas desa ini membuat saya selalu takjub saat bertandang. Sambutan dari petugas resor tak kalah hangatnya. Sepertinya mereka sudah menunggu kedatangan kami. Tak lama kemudian kopi panas telah tersaji di atas meja. Kami pun bercengkrama, bercanda khas petugas lapangan. Kunjungan saya kali ini dalam rangka menggali potensi desa untuk memperbaharui data buku profil daerah penyangga TN Bantimurung Bulusaraung yang telah disusun beberapa tahun silam. Sore itu mereka baru kembali dari hutan. Melakukan patroli rutin di kawasan taman nasional. Kepala resornya memamerkan hasil temuan mereka. Bukan barang bukti temuan penebangan kayu ilegal atau perburuan satwa liar, melainkan pucuk daun dari pohon berkayu. Dengan semangat beliau menceritakan pucuk daun yang di dapatnya. Adalah Mustamin, Kepala Resor Mallawa. “Pucuk daun ini untuk dibuat sayur. Sayur ini sangat langka” kilahnya. “Uruceng” adalah nama lokal pohon ini. begitu warga di Desa Samaenre menyebutnya. Pucuk daun pohon uruceng ini hanya bisa diperoleh sekali setahun. “Uruceng di desa ini banyak, cuman pucuknya tidak bersamaan keluar. Itupun satu pohon hanya setahun sekali saya perhatikan pucuknya keluar”. Ismail menambahkan, warga desa Samaenre yang saya temui. Setelah diamati secara seksama oleh personil Pengendali Ekosistem Hutan resor ini, Andi Subhan. Beliau yakin bahwa pohon yang dimanfaatkan masyarakat di desa ini sebagai sayur termasuk dalam genus Ficus atau beringin. Hanya saja beliau belum bisa memastikan nama species atau jenisnya. “Batangnya besar dengan akar gantung yang kekar. Dengan ciri khusus ini menunjukkan bahwa pohon ini termasuk bangsa beringin”. Akar gantung yang dimiliki beringin berfungsi untuk menyerap atau menghirup uap air dan udara. Tak heran akar ini juga sering disebut akar nafas. Akar pohon ini juga kuat yang berfungsi menopang tubuhnya. Beringin adalah tumbuhan kunci di TN Bantimurung Bulusaraung. Tak kurang dari 43 jenis beringin teridentifikasi di kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Maros dan Pangkep ini. beringin adalah pakan beberapa jenis burung termasuk rangkong (Rhyticeros cassidix), Kankareng Sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus) dan juga temasuk salah satu makanan monyet hitam Sulawesi (Macaca maura). Tak terasa malam pun tiba. Saat makan malam sayur warisan turun temurun desa ini kami nikmati. “Wah enak ya. Gurih. Seperti daun melinjo. Hanya lebih lembut lagi” sahut Amir, Polisi Kehutanan resor Mallawa, seolah tak percaya kalau pucuk beringin ini bisa dimakan. Satu lagi menu baru yang kami dapati di salah satu desa penyangga taman nasional ini. menjadikannya khas. Kearifan lokal yang patut dipertahankan. Kenali, cintai, dan eksplor potensi hutan kita. Sumber : Taufiq Ismail – PEH Taman Nasioanal Bantimurung Bulusaraung
Baca Pengumuman

Melacak Robot Dan Rawing Di Ujung Kulon

Berbicara tentang Banten tentu tak lepas dari ikon provinsi tersebut, yaitu badak Jawa bercula satu, yang hidup di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang. Tidak lengkap rasanya bertualang ataupun sekadar berwisata ke Banten apabila tak menyempatkan diri mengunjungi Ujung Kulon untuk mengenal hewan langka tersebut. Maka tim detikXpedition pun menjelajahi hutan TNUK selama empat hari pada 30 Mei hingga 2 Juni 2017. Perjalanan ke TUNK merupakan rangkaian dari ekspedisi Banten wilayah selatan yang sempat tertunda. Pada bagian sebelumnya, kami singgah ke beberapa daerah terpencil di Lebak dan Pandeglang untuk memotret kondisi terakhir infrastruktur Banten selatan serta kehidupan masyarakatnya. Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) adalah satu dari lima jenis badak. Di Indonesia, badak masih banyak dijumpai di hutan-hutan Aceh, Lampung, Bukit Barisan, dan Pulau Kalimantan. Namun badak Jawa di Ujung Kulon memiliki keunikan tersendiri karena merupakan satu-satunya yang bercula satu di dunia. Sejak 1992, kawasan Ujung Kulon ditetapkan sebagai taman nasional untuk melindungi habitat badak Jawa. Pada tahun itu juga, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Sains, dan Budaya (United Nation Educational, Scientific, and Cultural Organization/UNESCO) menetapkan Ujung Kulon sebagai warisan dunia. Hal itu karena badak sungguh langka dan masuk kategori sangat terancam (critically endangered) dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN). Agar badak lebih terlindungi, Balai TNUK bekerja sama dengan Yayasan Badak Indonesia membangun pagar Java Rhino Study and Conservation Area (JRSCA). Pagar ini terbentang dari Kampung Cilintang Cimahi, Desa Ujung Jaya, Kecamatan Sumur, hingga Blok Bangkonol, Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Kecamatan Cimanggu, sepanjang 8,130 kilometer. Belum lama ini muncul informasi dari warga bahwa ada dua badak dewasa yang melintas keluar dari pagar JRSCA di kawasan selatan Ujung Kulon. Badak itu diidentifikasi bernama si Robot dan si Rawing. Keduanya terlihat 'berjalan-jalan' di Kampung Cegog, yang langsung berbatasan dengan lahan hutan lindung TNUK. Dulu di kawasan selatan banyak perambah hutan. Sejak ada pagar JRSCA, ada kemungkinan badak merasa aman dan kembali ke kawasan hutan di Cegog. “Itu hebatnya badak, nyoba-nyoba pagar disentuh. Masuk kepalanya, diangkat itu beton pagar, dia masuk. Lalu satu lagi dia masukkan kakinya ke sling, sampai putus itu sling. Dia keluar pagar, tapi selalu balik lagi,” imbuh Mamat. Informasi mengenai pergerakan badak di Cegog juga didapat World Wildlife Found (WWF) Ujung Kulon. WWF sudah lama memulai program konservasi badak Jawa untuk membantu TNUK dalam menjaga kelangsungan hidup hewan tersebut. Selain menjaga populasi badak, WWF Ujung Kulon juga membuat program pemberdayaan masyarakat dan melakukan konservasi terumbu karang untuk menjaga kelestarian taman nasional. Social and Economy Coordinator WWF Indonesia Dwi Munthaha melontarkan ide kepada kami untuk melakukan pelacakan terhadap dua individu badak yang bergerak ke Cegog itu. Kebetulan, daerah Cegog kurang 'terurus' dibanding, misalnya, daerah Semenanjung Ujung Kulon. Semenanjung Ujung Kulon juga sudah dikenal para wisawatan. “Jadi sekalian melihat kondisi masyarakat di sana (Cegog). Juga pengawasan terhadap lahan konservasi TNUK,” tuturnya. Mamat juga mengakui kawasan selatan Ujung Kulon kurang terpantau. Sementara di belahan barat TNUK sudah terpasang ratusan camera/video trap, tidak demikian halnya di Cegog. “Silakan teman-teman kalau mau ke sana. Di sana rencananya akan dibuat wisata juga. Mudah-mudahan bisa ketemu, karena dua badak itu cenderung jinak dan nggak nyerang,” Mamat menambahkan. Saat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Selasa, 30 Mei 2017, itu, cuaca di Pandeglang sangat cerah. Setelah berbincang-bincang dengan Kepala Balai TNUK, kami bersiap-siap menuju Cegog, kampung di pesisir selatan Banten yang berjarak sekitar 88 kilometer ke arah tenggara Labuan. Sudah pasti kami tidak akan bisa masuk ke hutan dan melacak keberadaan badak itu sendirian. Kami ditemani Koordinator Rhino Monitoring Unit/Rhino Health Unit (RMU/RHU) Balai TNUK Mochamad Syamsuddin. Tim WWF juga turun dengan kekuatan penuh. Mereka antara lain Species Coordinator WWF Ujung Kulon Project Ridwan Setiawan, yang lebih dikenal dengan panggilan Iwan Podol, Community Organizer WWF Ujung Kulon Project Oji Paoji, serta Dwi Munthaha atau Imung. Berdasarkan informasi dari Kepala Balai TNUK Mamat Rahmat, jumlah badak Jawa di Ujung Kulon pada 2015 tinggal 63 ekor. Kabar menggembirakan datang pada 2016. Tahun lalu itu termonitor ada empat kelahiran baru badak. “Ditambah yang baru lahir tahun 2016 ini, maka menjadi 67 ekor,” kata Mamat ketika kami temui di kantor Balai TNUK, Jl Perintis Kemerdekaan No 51, Labuan, Banten, 30 Mei lalu. Habitat badak Jawa menempati lahan seluas 40.000 hektare dari total 122.956 hektare kawasan TNUK. Badak lebih banyak hidup di area hutan lindung di Semenanjung Ujung Kulon. Sedangkan di bagian selatan dan timur lebih sedikit. Guna memantau badak, Balai TNUK memasang sekitar seratus camera/video trap di sejumlah titik di Semenanjung Ujung Kulon. Hal itu untuk mengetahui populasi, karakteristik, serta penyebaran badak. Setelah melakukan rapat koordinasi di Balai TNUK, menggunakan tiga mobil, pada pukul 14.00 WIB rombongan berangkat menuju Kampung Cegog. Rombongan menempuh perjalanan kurang-lebih lima jam dan tiba pada pukul 19.30 WIB. Memang perjalanan lama karena, begitu kami masuk Kecamatan Cimanggu, infrastruktur jalan mulai rusak. Lebih-lebih ketika memasuki Desa Tugu dan Desa Rancapinang, aspal jalan banyak yang terkelupas. Begitu masuk Rancapinang menuju Kampung Aerjeruk dan Cegog, kondisi jalan lebih parah lagi, nyaris tak beraspal alias hanya tanah dan bebatuan. Tak aneh bila wilayah selatan Ujung Kulon ini kurang terurus dan jarang dikunjungi pelancong, peneliti atau terekspos oleh media. Setelah berjibaku dengan kondisi jalan yang berat itu, akhirnya rombongan sampai juga di Kampung Cegog. Kami singgah dan menginap di rumah salah satu warga yang menjadi binaan Balai TNUK dan WWF, yaitu Suharya (60). Rumahnya sering dijadikan posko kegiatan. Bersama masyarakat sekitar, kami membahas rencana perjalanan melacak badak esok hari. Menurut seorang warga Cegog yang disapa Pak Kato dalam pertemuan malam itu, sejak 2015 badak terpantau melintasi pagar JRSCA karena pagar itu belum dialiri listrik. Badak itu sering terlihat di Blok Cisereh. Bahkan, pada April 2017, warga melihat badak di dekat pos pemantauan TNUK. Wah, makin tak sabar rasanya untuk segera menerobos hutan TNUK, melacak jejak-jejak si Robot dan Rawing. Pertemuan malam itu berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang berat dari Labuan membuat mata kami tak lagi kuasa menahan kantuk. Terlebih, kami harus menyiapkan tenaga untuk kegiatan esok hari. Karena itu, kami pun terlelap di rumah Pak Suhaya, yang masih berbentuk panggung itu. Selepas salat subuh Rabu, 31 Mei 2017, Tim Spesies dan Habitat dari Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), World Wildlife Found (WWF) Ujung Kulon Project, Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), plus lima warga Kampung Cegog, Desa Rancapinang, Kabupaten Pandeglang, sudah sibuk. Mereka mengemasi sejumlah perlengkapan ke dalam tas ransel berkapasitas 50 liter. Rain coat, senter, logistik, termasuk peralatan camera/video trap, tak lupa dibawa. Selain mencari jejak Robot dan Rawing, dua badak Jawa yang dikabarkan keluar dari batas pagar JRSCA di Cegog, tim akan melakukan pemetaan bakal lokasi pemasangan camera/video trap. Juga akan dilakukan penanaman sejumlah bibit pohon pakan badak di lahan eks Kampung Aermokla, yang kini masuk kawasan Taman Nasional. Saat jarum jam menunjukkan pukul 07.30 WIB, setelah Species Coordinator WWF Ujung Kulon Project Ridwan Setiawan, yang disapa Iwan Podol, memberikan pengarahan, tim pun meninggalkan Kampung Cegog. Tim yang beranggotakan 10 orang, termasuk anggota tim detikXpedition M. Rizal dan kamerawan Tri Aljumanto, ini berangkat menuju hutan lindung Ujung Kulon bagian selatan dengan berjalan kaki. Kami melewati perumahan penduduk yang berbentuk rumah panggung dan jalan berbatu menuju luar kampung. Sungai dan pantai kami lewati hampir 800 meter menuju Pos Resor TNUK Cegog. Di sini kami mampir untuk berkoordinasi dengan petugas pos TNUK sejenak sebelum menuju pos JRSCA dan TNUK di eks Kampung Aermokla, yang berjarak sekitar 8 kilometer melewati hutan lindung. Di Pos Resor TNUK Cegog pada April 2017, petugas yang berjaga melihat penampakan badak Jawa dari jarak 30 meter. “Dia makan rumput dua bulan lalu pas di situ. Jaraknya 30 meter dari sini. Kalau nggak salah badak itu yang namanya si Robot,” terang Kato, salah seorang petugas JRSCA, kepada rombongan. Bahkan, menurut Kato, pada tahun 2000 ada seekor badak Jawa jauh melintas hingga ke Kampung Aerjeruk. Untungnya, badak itu tak merusak tanaman kebun atau merusak sawah milik warga. “Badak tahu makanannya sendiri. Nggak semua jenis pohon dimakan. Ke sawah juga nggak nginjak. Badak mungkin tahu itu sawah,” ujar Kato sambil terbahak. Bagi kami, tim detikXpedition, tentu menjadi harapan bisa melihat secara langsung sosok hewan langka yang bernama latin Rhinoceros sondaicus itu. Tapi kami juga cukup waswas bagaimana bila berhadapan langsung dengan makhluk semipurba tersebut. Setelah pamit kepada petugas pos jaga, kami melanjutkan perjalanan menuju hutan. Kami melewati area padang rumput yang luas sepanjang sekitar 300 meter sebelum menyusuri pantai Cegog. Setelah 1 kilometer menyusuri pantai yang dipenuhi bebatuan itu, khususnya sebelum Tanjung Sodong, kami kembali mengambil arah memasuki kawasan hutan. Ini merupakan titik awal kami akan menyusuri jejak badak hingga ke dalam hutan yang ditumbuhi pepohonan sekunder. Kondisi jalan memang tak seekstrem kalau kita mendaki gunung. Namun beberapa kali kami harus melewati medan menanjak atau menurun, dengan tanah yang lembek. Belum lagi akar-akaran pepohonan yang merambat, yang membuat kami harus hati-hati melangkah. Bila salah langkah, bisa saja kami terjerembap karena kaki tersangkut akar di tanah itu. Tak terasa lebih dari 1 kilometer berjalan kaki, tiba-tiba Iwan Podol, yang berjalan di depan, berhenti sejenak. Ia membungkuk, lalu berjongkok, mencukil sesuatu dari tanah menggunakan ranting pohon. “Nah, ini kotoran badak! Ini kayaknya sudah lama, sudah menyatu dengan tanah. Ini juga ada tapak badaknya. Ini yang dulu diperkirakan muncul di sini tanggal 18 Mei lalu,” ujarnya. Bukan hanya itu. Sekitar 100 meter kemudian, ditemukan juga pohon-berukuran-sedang tumbang. Setelah diselidiki, ternyata itu jenis pohon bisoro, yang memang menjadi makanan favorit badak Jawa. Di area itu memang banyak ditumbuhi pohon bisoro, jahe-jahean, dan citepus, yang juga menjadi makanan badak. Sejumlah tapak kaki badak, berupa tiga cabang jari, dengan ukuran besar masih terlihat jelas di sekitar area itu. Lalu Iwan Podol meminta Oji Paoji (Community Organizer WWF Ujung Kulon Project), Mochamad Syamsuddin (Koordinator Rhino Monitoring Unit/Rhino Health Unit Balai TNUK), serta dua petugas JRSCA, Kato dan Madsupi, mencatat dan mendokumentasikan temuan itu. Jumlah daun dan ranting yang dimakan badak, jenis pohon, ukuran pohon, serta titik koordinatnya pun dicatat. Penelusuran jejak badak terus dilanjutkan menuju Blok Cisereh. Wilayah ini memang dikenal oleh para penjaga hutan sebagai habitat badak Jawa di bagian selatan Ujung Kulon. Memang jumlah badak di sini bisa dihitung dengan jari. Berbeda dengan habitat badak Jawa yang berada di Semenanjung Ujung Kulon (bagian utara atau barat). Di kawasan ini suasana memang sedikit lebih gelap. Maklum, sinar matahari terhalang pepohonan besar yang menjulang tinggi. Sekitar pukul 13.00 WIB, kami tiba di Blok Cisereh. Saat itu langkah tim terhenti lagi karena menemukan sebuah kubangan berisi lumpur dan air berwarna cokelat susu berdiameter sekitar 2 meter. Madsupi dan Koto, petugas Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), pun mengambil sebatang kayu dan memasukkannya ke kubangan. Setelah diukur, ternyata kedalaman kubangan sekitar 60 sentimeter. “Kayaknya ini sering dipakai badak untuk berendam dan mendinginkan suhu badannya. Tapi kelihatannya yang suka main di sini juga babi hutan,” tutur Iwan Podol, yang diamini Masdupi dan Koto. Tim diminta tak sembarangan membuang sisa makanan, puntung rokok, atau sekadar buang air kecil di lokasi itu. “Ya, memang badak rada sensitif. Kalau lingkungan sudah tercemar oleh kita, badak nggak bakal ke sini lagi untuk berkubang. Dia akan mencari lokasi baru,” Iwan menambahkan. Sudah seperti jadi standard operating procedure (SOP), terhadap setiap temuan dilakukan pencatatan, diambil foto, serta dicatat titik koordinat lokasinya. Semua data langsung diunggah ke telepon seluler berbasis Andoid atau GPS Garmin Monterra 650. Setelah itu, kami meninggalkan lokasi tersebut. Sekitar 200 meter, tim menemukan pohon bisoro ukuran kecil yang tumbang. “Ini baru banget, nih. Kayaknya belum sehari atau subuh tadi dia di sini, robohkan pohon buat makan. Kayaknya badaknya lagi lapar bener. Nah, lihat juga jejaknya, ini khas si Robot,” kata Iwan setelah memperhatikan kotoran dan jejak badak itu. Tim tampaknya semakin senang dan bersemangat untuk menemukan sosok badak, entah itu si Robot entah si Rawing. Posisi kami bertaut sekitar sembilan jam dengan keberadaan badak yang diperkirakan berumur 30-40 tahun itu. Dari jejak tapak kaki badak yang berukuran 26-27 sentimeter, berat badan mamalia raksasa ini diperkirakan 2 ton. Iwan pun meminta semua anggota tim lebih waspada dan berhati-hati. Maklum, bisa saja badak itu kembali lagi dari rerimbunan pepohonan yang memang tak terlihat. “Mudah-mudahan belum jauh si Robot. Dia pasti masih berada di sekitar sini. Mudah-mudahan sih sudah ke dalam pagar JRSCA,” kata Iwan sambil mengajak tim melanjutkan perjalanan. Ketika menyusuri jalan setapak yang ditumbuhi pepohonan besar dan ilalang, tiba-tiba kami dikejutkan oleh teriakan Madsupi, yang menemukan jejak kaki badak lagi. Ketika dihampiri, jejak itu memang tampak masih anyar. Bahkan hampir semua anggota tim mencium bau yang, menurut Iwan Podol, merupakan bau khas tubuh badak. Ia kembali mengingatkan tim untuk berhati-hati. Tim detikXpedition pun diminta mendekati pohon besar. Ia meminta, kalau memang menemukan badak, tim sebaiknya memanjat pohon. “Ini dekat bener, nggak jauh. Hati-hati dan waspada semuanya,” ujar Iwan. Namun Kato menimpali bahwa jejak badak itu sepertinya mengarah ke pagar JRSCA. “Mudah-mudahan dia sudah kembali ke dalam pagar konservasi,” Iwan menambahkan seraya meminta tim langsung menuju pagar JRSCA, yang jaraknya kurang-lebih 1 kilometer. Hampir satu jam berjalan, kami baru menemukan pagar JRSCA setinggi 1,5 meter yang terbentang dari daerah Aermokla sampai Bangkonol, Cegog. Pagar terbuat dari tiang beton yang dilengkapi dua sling baja. “Nah, si Robot melewati pagar ini. Diangkat betonnya, sling diinjek sampai ambruk. Tapi sudah diperbaiki dua bulan lalu,” ujar Kato. Karena hujan mulai turun, kami mempercepat langkah menuju posko JRSCA, yang masih berjarak 2 kilometer lagi. Tapi kami harus memutar karena, bila mengikuti pagar, kondisi jalan setapak berupa turunan dan tanjakan yang curam. Tak jauh kami menemukan menara pantau yang baru dibangun Balai TNUK. Menara ini berfungsi sebagai tempat pantau petugas hutan. Baru sekitar 500 meter dari kejauhan kami melihat area lahan luas eks persawahan Kampung Aermokla. Persis di akhir ujung pagar itu, terlihat dua bangunan posko TNUK dan JRSCA. Jangan dibayangkan itu bangunan permanen dari material batu bata dan semen. Dua gubuk panggung itu terbuat dari bambu, sementara atapnya dari terpal plastik berwarna biru. Di depannya persis mengalir Sungai Aermokla yang berair sangat jernih. “Nah, kita istirahat dulu di sini. Mungkin kita malam ini menginap di ‘Hotel Aermokla’ ha-ha-ha…,” canda Iwan. Tak menyia-nyiakan waktu, tim detikXpedition langsung merebahkan diri melepas rasa letih dan pegal kaki. Lima warga Kampung Cegog tiba lebih dulu, yakni Suharja (67), Herman, Ajat, Fandi, dan Udin. Sebagian sibuk memasak air dan makanan. Sebagian membenahi posko. Jam sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB, tinggal satu jam lagi kami berbuka puasa Ramadan. Karena hujan semakin deras dan suasana semakin gelap, tim pun memutuskan mengecek keesokan harinya. Akhirnya tim memastikan, hari itu badak yang entah itu si Robot entah si Rawing, sudah kembali ke dalam pagar JRSCA. Tak lama, suara azan dari radio transistor berkumandang. Semua tenggelam dalam nikmatnya minuman hangat teh dan kopi. “Walau nggak lihat badak secara langsung, minimal lihat jejaknya yang terbaru,” ucap Aljumanto, salah satu anggota tim detikXpedition. Sumber Info : Balai TN Ujung Kulon
Baca Pengumuman

Hutan dan Lautan adalah Harta Berharga Indonesia

Sejak dulu manusia telah memanfaatkan hutan baik jasa ekosistemnya seperti perlindungan tanah, penyimpanan air, dan sebagai pabrik oksigen yang diperlukan untuk bernafas serta masih banyak manfaat lainnya. Selain bermanfaat untuk manusia, hutan pun menjadi rumah bagi berbagai macam species tumbuhan dan satwa liar. Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kawasan hutan terluas di dunia dan memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Namun saat ini, kawasan hutan Indonesia semakin menurun akibat ulah manusia yang tidak bertanggungjawab. Faktanya : kerusakan hutan dimana-mana, konflik ruang antar satwa, kebakaran hutan, kepunahan ragam tumbuhan asli Indonesia, terjadi bencana banjir akibat kurangnya daerah resapan air dan krisis air bersih akibat pengurangan luas kawasan hutan. Tingginya kerusakan hutan yang setiap tahunnya bertambah, memicu perhatian Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Pararawen (KPHK Pararawen) Provinsi Kalimantan Tengah untuk melaksankan penyuluhan dan penyampaian materi tentang peranan penting hutan untuk keberlangsungan hutan Indonesia. Penyuluhan ini dilaksanakan mulai dari tingkat sekolah dasar hingga masyarakat umum yang berada dekat dengan kawasan KPHK Pararawen. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap bulan sebagai salah satu program pemberdayaan oleh KPHK Pararawen untuk mengubah pola pikir masyarakat agar lebih peduli terhadap hutan. Adapun beberapa sekolah yang sudah dikunjungi yaitu SDN 3 Lemo II Muara Teweh yang dilaksanakan pada 6-7 Mei 2017 bertempat di kawasan Hutan KPHK Pararawen sekaligus pengenalan ekosistem hutan KPHK Pararawen dengan metode Belajar Sambil Bermain agar anak-anak lebih mudah memahami tentang hutan dan menjaganya agar tetep lestari. Selanjutnya yaitu SMAN 5 Muara Teweh pada 12 Juni 2017 dalam rangka Orientasi Pengenalan Lingkungan Sekolah untuk Melahirkan Generasi Emas yang Berkarakter. Selain dari pengenalan ekosistem hutan pada Siswa/i SMAN 5 Muara Teweh, KPHK Pararawen juga menyumbang bibit pohon hutan hasil pesemaian sekitar 120 bibit untuk ditanam pada area lingkungan sekolah. Selain penyuluhan tentang hutan, KPHK Pararawen juga bekerjasama dengan Yayasan Putera-Puteri Maritim Indonesia dalam penyuluhan tentang Kemaritiman. Sesuai dengan yang dicanangkan oleh Bapak Presiden Ir. H. Joko Widodo untuk menjadikan Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia. Indonesia memiliki potensi sumberdaya alam laut yang sangat tinggi dimana 2/3 Indonesia merupakan lautan dan 1/3-nya merupakan daratan. Namun, potensi sumber daya alam laut tersebut belum dimanfaatkan secara optimal dan lestari karena keterbatasan teknologi dan tenaga ahli. Adapun potensi kemaritiman Indonesia meliputi potensi perikanan, Terumbu Karang, kekayaan pesisir alami, kekayaan bioteknologi, wisata bahari, pengembangan transfortasi laut dan tambang (minyak yang baru 10 % pemanfaatkan cekungan minyak dari 40 cekungan yang ada di laut). Adanya kegiatan penyuluhan berkala yang dilaksanakan oleh KPHK Pararawen diharapkan dapat merubah pola pikir masyarakat untuk menjaga dan melestarikan hutan serta lautan untuk keberlangsungan Indonesia kedepannya. (Efan Fatra Jaya. S.Hut & Andi S)

Menampilkan 177–192 dari 257 publikasi