Sabtu, 3 Jan 2026

Beranda Publikasi Pengumuman

Pengumuman

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Pengumuman

Lomba Film Pendek "Kepedulian Terhadap Konservasi"

Dalam Rangka memeriahkan Hari Konservasi Alam Nasional, BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Planet Indonesia, menyelenggarakan Lomba Film Pendek dengan tema Kepedulian terhadap Konservasi, Ayo yang memiliki bakat, dukung dan ikuti untuk masa depan konservasi Indonesia !!! Syarat dan Ketentuan Klik https://goo.gl/zdEpQb dan yang berminat dapat mengirimkan melalui Link https://goo.gl/KcPdmK Atau Scan QR CODE di bawah Ini?
Baca Pengumuman

Potensi Danau Burung di SM Lamandau

SM Lamandau adalah salah satu kawasan konservasi yang dikelola oleh BKSDA Kalimantan Tengah. Kawasan ini merupakan satu-satunya suaka margasatwa yang terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah. SM Lamandau terletak di dua kabupaten yakni Kabupaten Kotawaringin Barat dan Sukamara. Salah satu potensi dari SM Lamandau adalah Danau Burung. Danau Burung terletak di Kabupaten Sukamara, Provinsi Kalimantan Tengah. Keberadaan burung migran umumnya dapat ditemukan pada pertengahan tahun yakni bulan Juli – September. Berbagai macam burung migran singgah di Danau Burung untuk mencari makan dan berkembang biak. Jenis yang paling banyak ditemui adalah jenis kuntul besar (Egretta alba) dan kuntul kecil (Egretta garzetta). Adanya danau memudahkan burung-burung migran untuk mencari ikan untuk pakan. Jika masuk ke dalam musim singgah burung migran, kita dapat dengan mudah menemukan beberapa sarang dan telur di dalam satu pohon Untuk mencapai lokasi Danau Burung bukanlah hal yang mudah, aksesibilitas yang sulit dijangkau mengakibatkan kondisi danau burung masih alami. Untuk menjangkau lokasi danau burung harus melalui rawa yang tergenang dan jika sedang musim hujan akses yang dilalui tergenang air mencapai dada orang dewasa. Sumber : Lisna Yulianti BSKDA Kalimantan Tengah
Baca Pengumuman

Menara Pantau Api di SM Lamandau

SM Lamandau adalah salah satu kawasan konservasi yang dikelola oleh BKSDA Kalimantan Tengah. Kawasan ini merupakan satu-satunya suaka margasatwa yang terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah. SM Lamandau terletak di dua kabupaten yakni Kabupaten Kotawaringin Barat dan Sukamara. Di kawasan konservasi ini kita dapat menemukan berbagai macam jenis tumbuhan dan satwa dilindungi. Selain merupakan habitat berbagai macam jenis tumbuhan dan satwa liar, SM Lamandau merupakan lokasi pelepasliaran orangutan hasil reintroduksi maupun hasil translokasi. Dalam pengelolaannya SM Lamandau menghadapi berbagai macam tantangan salah satunya adalah kebakaran hutan. Area yang paling rawan terjadi kebakaran di SM Lamandau adalah yang berada di wilayah Kabupaten Sukamara. Terdapat 3 (tiga) pos jaga untuk meningkatkan keamanan yakni pos danau burung, pos sei pasir, dan pos vigilant howe. Selain pos jaga, juga terdapat menara pantau api di lokasi sekitar danau burung. Menara pantau ini dibangun pada tahun 2015. Fungsi dari menara pantau api ini adalah untuk memantau titik kebakaran yang nantinya bisa terjadi sekitar lokasi. Menara pantau ini memiliki ketinggian 15 m dan dibangun dengan menggunakan kayu ulin yang mana kayu ulin memiliki kualitas nomer satu dalam hal kekuatan kayu. Dikarenakan sudah memasuki musim kemarau, BKSDA Kalteng bekerjasama dengan mitra meningkatkan pengamanan di lokasi-lokasi yang rawan terjadi kebakaran, kegiatan yang telah dilakukan adalah patroli dan pemantauan melalui menara pantau untuk mengetahui bahaya kebakaran yang terjadi di dalam kawasan ataupun kebakaran yang telah terjadi di area yang berbatasan dengan SM Lamandau. Sumber : Lisna Yulianti BSKDA Kalimantan Tengah
Baca Pengumuman

Menyusuri persembunyian Putri Dayang Rindu dalam Rimbunnya Belantara Suaka Margasatwa Isau-Isau

Napal Carik merupakan sebuah tempat yang tidak hanya menyuguhkan keindahan alam saja tetapi terbalut juga oleh budaya masyarakat yang cukup lekat melekat menjadi cerita rakyat yang semakin menambah daya tarik tersendiri. Suara air yang bergemericik (becarik) dengan terjangan air yang menerpa tanah yang keras seperti batu (napal) menjadikan Napal Carik sebagai salah satu air terjun yang wajib untuk dikunjungi. Terletak dalam rimbunnya belantara Suaka Margasatwa (SM) Isau-Isau menjadikan air terjun ini bukan sekedar menawarkan keelokan pesona air terjun dan cerita rakyat yang membalutnya tetapi juga tantangan selama perjalanan menuju air terjun tersebut merupakan sebuah petualangan yang patut untuk dicoba dan pastinya tidak akan terlupakan. Aksesibilitas menuju Napal Carik bisa melalui Desa Muara Emil maupun Desa Pagar Dewa, Kecamatan Tanjung Agung, Kabupaten Muara Enim. Namun untuk menuju ke lokasi air terjun dari desa terdekat dengan kawasan SM Isau-Isau menuju batas kawasan harus menempuh medan yang sulit terutama pada saat musim penghujan dikarenakan jalan setapak untuk melewatinya berupa tanah liat dengan perkerasan batu dibeberapa titik sehingga hanya kendaraan roda dua yang dapat melewati dan itupun terkadang disertai dengan jalan kaki karena lepas rantai, gerigi rantai putus, jalan licin dan kendala lain. Selama perjalanan tersebut tersaji keindahan pemandangan alam dan juga melewati komplek pemakaman Puyang Matauh yang merupakan salah satu puyang (pendahulu) dari tiga puyang pendiri Desa Muara Emil. Setelah itu perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki sampai ke Sungai Emil dimana rasa lelah sedikit terobati oleh keindahan sungai dengan gemericik air mengalir, beriak-riak dan dengan kejernihannya menapaki bebatuan yang tersusun secara bertingkat. Untuk menuju ke air terjun maka perjalanan dilanjutkan menuju ke hulu sejauh 50 meter dengan menuruni tebing yang cukup terjal menapaki sekitar 100 anak tangga alami. Selama menapaki anak tangga tersebut perjalanan akan ditemani dengan lantunan suara alam yang lirih terdengar diantara tegakan-tegakan hutan yang masih rimbun disertai sura gemericik air terjun yang mulai menyapa seakan menyambut kedatangan pengunjung yang ingin menikmati keindahan Napal Carik. Akhirnya keindahan air terjun yang terjun bebas dari ketinggian 50 meter yang bergemericik (becarik) dengan terjangan air yang menerpa tanah yang keras seperti batu (napal) itupun akan menghapus segala kelelahan selama perjalanan. Menurut penuturan beberapa masyarakat di Desa Muara Emil berdasarkan cerita para puyang (pendahulu) salah seorang Sultan Palembang meminta kepada seluruh masyarakat desa terutama yang berada di sepanjang aliran Sungai Batanghari Sembilan untuk mengumpulkan telur yang akan digunakan sebagai perekat pembangunan benteng pertahanan. Dalam perjalanan pengumpulan telur, sultan melihat banyak gadis-gadis desa yang cantik dan berniat mempersunting salah satunya sebagai istri. Setelah para prajurit dan hulubalang mengumpulkan para gadis tidak satupun yang cocok sampai akhirnya sultan menemukan sebuah bangki emas yang hanyut ke sungai dan memrintahkan prajuritnya untuk mencari pemilik bangki emas tersebut. Setelah ditelusuri ternyata pemilik bangki emas tersebut adalah anak gadis Kerio Carang. Sultan pun menyampaikan keinginannya untuk meminang tetapi ditolak oleh Kerio Carang dan putrinya. Merasa ditolak sultan pun marah dan sempat terjadi perkelahian tetapi ternyata Kerio Carang dan putrinya memiliki kesaktian dan lolos dari tangkapan sultan. Dalam pelariannya putri Kerio Carang bersembunyi di dalam hutan di Desa Muara Emil tepatnya di lokasi air terjun Napal Carik. Karena merasa kesepian di dalam hutan maka sesekali ia keluar ke desa sehingga kecantikannya dikenal luas oleh masyarakat. Dalam kesepiannya di tempat persembunyian, putri Kerio Carang tersebut sering menangis dan pulang menemui orang tuanya. Akhirnya Kerio Carang menemui tiga puyang di Muara Emil yaitu puyang Tanjung, Matauh, dan Dusun Ilir untuk memberikan nama kepada putrinya supaya tidak menangis lagi. Dari ketiga puyang tersebut hanya puyang Dusun Ilir yang mampu memberikan nama yang dapat menghentikan tangisan puti Kerio Carang yaitu diberi nama Putri Dayang Rindu. Konon apabila pengunjung mengunjungi air terjun Napal Carik maka jangan berkomunikasi dengan bahasa palembang karena apabila dilanggar hujan akan turun. Hal tersebut dikarenakan Putri Dayang Rindu yang bersembunyi di air terjun Napal Carik sangat benci dengan Sultan Palembang. Untuk membuktikan kebenaran mitos tersebut maka silahkan berkunjung ke air terjun Napal Carik.
Baca Pengumuman

Si Cantik Dari Kawasan Hutan Suaka Alam Kelompok Hutan Gumai Tebing Tinggi Sumatera Selatan.

Indonesia merupakan gudang kantung semar dunia. Dari sekitar 150 spesies Nepenthes di dunia sekitar 110 spesies hidup di Indonesia dimana Sumatera dan Kalimantan merupakan dua pulau yang memiliki keanekaragaman kantung semar tertinggi di dunia. Nepenthes merupakan tanaman unik yang pada umumnya hidup dilahan miskin unsur hara yang menjadikan tanaman ini berkembang menjadi tanaman karnivora dengan memproduksi kantung yang berisi cairan asam yang berfungsi untuk mencerna serangga ataupun hewan lain yang terjebak didalam kantung sebagai sumber kehidupan tanaman ini. Salah satu jenis kantung semar endemik Sumatera dan Jawa adalah Nepenthes spathulata. Kantung semar spesies ini merupakan jenis kantung semar dataran tinggi yang membutuhkan udara dingin dengan suhu udara lembab dalam pertumbuhannya. Jenis ini umunya ditemukan pada ketinggian diatas 1000 hingga 2000 mdpl pada hutan-hutan perbukitan. Pada umumnya Nepenthes spathulata tumbuh ditanah (terestrial) namun tidak jarang juga kantung semar ini ditemukan tumbuh menempel pada batang pohon yang tertutup oleh lumut basah di dataran tinggi. Nepenthes spathulata merupakan tanaman pemanjat dan bisa merambat mencapai ketinggian 5 meter. Batang maupun daun tanaman ini tidak terlalu besar namun ukuran kantung tanaman ini cukup besar dengan ukuran panjang 30 cm dengan diameter kantung 10 cm yang disertai dengan sayap pada kedua sisi kantung. Kantung semar ini memiliki warna hijau cerah pada kantung bagian bawah dengan bibir kantung berwarna ungu gelap, merah ataupun kuning metalik, hal ini yang menjadikan Nepethes spathulata merupakan jenis kantung semar terindah dari tanah Sumatera. Hutan Suaka Alam Kelompok Hutan (HSA KH) Gumai Tebing Tinggi yang masuk dalam wilayah kelola Seksi Konservasi Wilayah 2 Lahat, BKSDA Sumatera Selatan merupakan salah satu habitat Nepenthes spathulata. Jenis kantung semar endemik Sumatera ini hanya akan dapat dijumpai apabila habitatnya tetap terjaga kelestariannya. Karenanya marilah kita bersama-sama menjaga HSA KH Gumai Tebing Tinggi Sumatera Selatan agar kelak anak cucu kita masih bisa berjumpa dengan Nepenthes spathulata di habitatnya. Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Pengumuman

Monitoring Populasi & Habitat Buaya (Crocodylus SP.) Di Sungai Otakwa, Kampung Ohotya, Distrik Mimika Timur Jauh

Wilayah dataran rendah bagian Selatan Taman Nasional Lorentz telah lama menjadi habitat bagi dua jenis buaya yang dilindungi yaitu Buaya Muara (Crocodylus porosus) dan Buaya Air Tawar Irian (C. novaeguineae). Pemanfaatan kedua jenis buaya tersebut oleh masyarakat lokal telah dilakukan secara turun temurun dengan motivasi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani hingga terkadang sebagai sumber pendapatan alternatif dengan pemanfaatan kulitnya. Mengingat semakin berkembangnya ancaman dan tekanan terhadap populasi dan habitat buaya, maka Balai Taman Nasional Lorentz secara rutin melaksanakan kegiatan monitoring habitat dan populasi buaya. Seluruh kegiatan tersebut dilaksanakan di wilayah dataran rendah bagian Selatan yang merupakan wilayah kerja dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Timika. Pada tahun 2017 ini, kegiatan dilaksanakan selama 10 (sepuluh) hari pada pertengahan bulan juli oleh tim yang beranggoatakan 7 orang dengan menggunakan perahu motor pada trayek pengamatan sebelumnya, yaitu Sungai Otakwa Distrik Mimika Timur Jauh Kabupaten Mimika Provinsi Papua. Kegiatan ini dilaksanakan menggunakan metode penentuan populasi buaya dengan cara hitung malam (night count) berdasarkan Messel et al. (1981) yang dilakukan secara berulang. Dalam pelaksanaanya, tim yang terdiri dari pengemudi, pencatat, navigator dan pengamat menggunakan perahu motor dan spotlight untuk mendapatkan sorotan/pantulan mata buaya disepanjang trayek pengamatan. Sedangkan untuk siang hari, survey diawali dengan orientasi lapangan untuk membuat transek dengan panjang tergantung pada panjang sungai dan kondisi habitat. Untuk menentukan jalur transek dilakukan dengan menginput titik koordinat awal dan akhir pada GPS. Data yang diperoleh kemudian diolah secara tabulasi. Karena buaya merupakan satwa yang cenderung menyukai area-area ditepi perairan, maka karakteristik habitat bersifat garis lurus, dan bukan habitat yang bersifat luasan sehingga dalam nilai kerapatan/densitas akan diberikan satuan panjang km, bukan luasan km2. Berdasarkan hasil kegiatan tersebut diatas Rata-rata jumlah buaya yang ditemukan di jalur pengamatan dengan panjang 43,52 km secara visual adalah 38 ekor/pengamatan, dengan kerapatan/densitas populasi sebanyak 0,87 ekor/km. Terjadi penurunan jumlah populasi sebesar 19,15 % selama kurun waktu 2 (dua) tahun. Kegiatan serupa yang dilaksanakan pada tahun 2015 pada lokasi dan panjang jalur pengamatan yang sama memperoleh hasil 47 ekor, atau dengan dengan kerapatan/densitas populasi sebanyak 1,08 ekor/km. Penurunan jumlah rata-rata populasi buaya lebih didasarkan pada cuaca di Laut Arafura yang cenderung hujan hingga badai selama pengamatan dilaksanakan. Hal tersebut kemudian berkorelasi dengan waktu pasang surut air laut yang menjadi sulit diprediksi. Penurunan jumlah rata-rata populasi buaya juga didasarkan pada kecenderungan aktifitas masyarakat yang tinggi di sungai Otakwa selama dilaksanakannya kegiatan, terutama pada siang hari hingga menjelang tengah malam. Kondisi lingkungan terbaik dengan jumlah buaya yang ditemukan paling banyak adalah pada malam hari dengan cuaca cerah dan dalam konsisi air surut terendah (01.00 - 02.30 WIT) di beberapa habitat dengan kompleksitas vegetasi yang didominasi semak belukar, Pandanus sp., Nypah sp., Rhizopora sp., dan Sonneratia sp. Ketersediaan pakan buaya yang cukup melimpah seperti ikan Sembilang, Bolanak, Pari, Mata bulan dan udang serta kondisi vegetasi yang rapat dan akses yang sulit/jarang dijangkau oleh masyarkat di beberapa tempat menjadi habitat yang relatif baik dan representatif. Spot-spot tersebut tersebar dibeberapa lokasi di sepanjang Sungai Otakwa bagian Utara. Sumber Info : Hasil Survey Lapangan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Lorentz Wilayah I Timika Taman Nasional Lorentz
Baca Pengumuman
Baca Pengumuman

Kepsek SDN Tayawi “Dewan Guru Ikut Upacara HUT RI di TN. Aketajawe Lolobata”

Setiap tanggal 17 Agustus segenap anak bangsa memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan sebagai wujud penghargaan kepada para Pahlawan yang telah berjuang baik merebut maupun mempertahankan Kemerdekaan Negara ini. Setiap kegiatan peringatan yang dimaksud baik yang dilakukan oleh Instansi pemerintah maupun lainnya merupakan cerminan Cinta Tanah air. Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (BTNAL) dalam menyambut Hari Ulang Tahun ke 72 RI tahun ini akan melaksanakan upacara di alam bebas, tepatnya di Resort Tayawi Blok Aketajawe Desa koli kecamatan oba kota Tidore kepulauan Maluku utara. Oleh panitia pelaksana, kegiatan upacara nanti di paketkan dengan rangkaian kegyatan berwisata alam dimana setelah upacara semua peserta akan mengunjungi dan mengamati burung bidadari, bersuka ria di air terjun, acara api unggun bahkan peserta diajak untuk mengenal lebih dekat dengan Masyarakat Tobelo Dalam. Lebih dari itu pada upacara tersebut juga akan dilanjutkan dengan acara pengukuhan sanggar wisata alam atau kelompok sadar wisata Desa Koli. Dimana kelompok masyarakat ini nanti secara swadaya membantu BTNAL menjaga dan mengelola Destinasi wisata alam Tayawi yang berdasarkan prinsip perlindungan, pemanfatan dan pengawetan sesuai dengan peraturan yang berlaku. "Kami senang jika masyarakat secara swadaya mau terlibat aktif dalam pengelolaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata”, kata kepala Balai Taman Nasional Aketajawe-lolobata Bapak Sadtata noor Adirahmanta S,Hut.MT. Selanjutnya Kata Beliau "Pengelolaan kawasan Konservasi harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar kawasan. Karena, pada dasarnya pemilik Hutan yang sesungguhnya adalah Rakyat/Masyarakat sekitar. Adapun keberadaan pemerintah dalam hal ini diwakili oleh instansi pengelola kawasan (BTNAL) adalah untuk membantu masyarakat menjaga dan mengelola kawasan tersebut. Kegiatan upacara nantinya juga akan di hadiri tokoh masyarakat sekitar kawasan termasuk pula guru guru yang mengajar di sekolah sekolah yang desanya berbatas langsung dengn kawasan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh kepala sekolah SDN Tayawi, "Saya instruksikan kepada Dewan guru untuk ikut upacara tersebut termasuk saya. Sebab menurut saya, persoalan hutan dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab kita bersama dan sebagai guru tentunya kami bertanggung jawab menciptakan karakter anak bangsa yang harus mencintai lingkungan demi kelangsungan hidup bersama”, papar Mukaddi A.Rahman. Dari berbagai tanggapan itu maka upacara dialam bebas bisa bermakna menengajak kita semua untuk mencintai Alam. Sumber Info : Jamal Adam - Anggota FK3I (Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia) Maluku Utara
Baca Pengumuman

Media Sosial (WhatsApp) untuk Manajemen Organisasi, Mengapa Tidak?

Meningkatnya kualitas berpikir manusia telah menstimulus terjadinya perkembangan teknologi komunikasi yang begitu pesat. Saat ini teknologi handphone telah bermetamorfosa, tidak hanya sebagai alat untuk menelepon maupun berkirim pesan, tetapi telah berkembang menjadi alat yang lebih canggih dengan adanya fitur-fitur maupun aplikasi-aplikasi terbaru yang diciptakan untuk lebih memudahkan komunikasi antar manusia. Tidak mengherankan, jika saat ini muncul istilah smartphone. Dalam penggunaan mobile internet, Indonesia termasuk salah satu negara paling besar yang menggunakan teknologi tersebut. Bahkan untuk pengguna usia di bawah 18 tahun yang dikategorikan sebagai usia rentan, Indonesia menduduki peringkat pertama se-Asia Tenggara dengan presentase 21%. Sebanyak 32% merupakan pengguna dengan rentang usia 18-25 tahun, sedangkan pengguna dengan rentang usia 25-35 tahun sebesar 33%. Sisanya sebanyak 14% merupakan pengguna internet dengan usia di atas 35 tahun. Dengan mobile internet yang terdapat pada setiap smartphone, aplikasi WhatsApp merupakan aplikasi pesan paling populer. Sedikitnya, WhatsApps mengirimkan 19 miliar pesan perhari. Melalui aplikasi yang dapat mengirimkan foto, pesan, audio, dan video, saat ini WhatsApp dapat mendukung upaya percepatan alur komunikasi suatu kelompok atau organisasi melalui grup WhatsApp. Pada kenyataanya aplikasi WhatsApps mampu mengambil peran dalam sebuah organisasi. Fungsinya sebagai wadah berdiskusi ataupun bertukar informasi menjadikan perkembangan informasi dalam sebuah organisasi dapat berjalan lebih efektif. Hal ini tentunya berpengaruh pada percepatan kebijakan yang diambil. Balai Besar KSDA Jawa Barat, sebagai salah satu unit pelaksana teknis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki amanah untuk mengelola sebanyak 50 unit kawasan konservasi. Dengan jumlah petugas yang terbatas, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Barat berinisiatif untuk memanfaatkan teknologi komunikasi yang sangat populer di semua kalangan tersebut. Penggunaan aplikasi WhatsApp untuk menunjang kinerja dilakukan dengan membuat grup – grup WhatsApp (grup WA) yang terkait dengan tugas dan fungsi yang membutuhkan tindak lanjut sesegera mungkin. Beberapa grup WA yang telah dibentuk untuk mendukung kinerja Balai Besar KSDA Jawa Barat di antaranya grup WA terbatas yang beranggotakan seluruh pejabat struktural di lingkup Balai Besar KSDA Jawa Barat. Grup ini membahas hal-hal yang berkaitan dengan progres kinerja yang telah dilakukan ataupun yang akan dilakukan. Selanjutnya, grup WA yang beranggotakan orang-orang yang ditunjuk khusus untuk menangani penertiban peredaran tumbuhan dan satwa. Pembentukan grup yang dinamakan Gugus Tugas TSL ini, beranggotakan berbagai unsur di Balai Besar KSDA Jawa Barat seperti Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Polisi Kehutanan (Polhut), Penyuluh Kehutanan yang bertugas di Kantor Balai Besar KSDA, Bidang Wilayah, Seksi Wilayah dan Resort. Melalui grup WA ini, alur informasi dirasakan sangat efektif sehingga mampu melakukan tindakan penertiban peredaran TSL illegal secara cepat dan tepat. Dengan tujuan untuk memaksimalkan kinerja pada tingkat tapak (resor), maka satu grup WA lagi dibentuk dan menamakan grup tersebut dengan sebutan grup kepala resor. Beranggotakan pejabat struktural dan seluruh kepala resort, grup ini diharapkan mampu menangani seluruh pelaksanaan tugas dan fungsi BBKSDA di tingkat tapak dan mengendalikan seluruh permasalahan yang terjadi. Demikian juga dengan grup yang dinamakan dengan grup Kebakara yang beranggotakan kepala resort yang wilayah kerjanya sering terjadi kebakaran serta perwakilan dari Masyarakat Peduli Api (MPA). Masuknya anggota MPA dalam grup dikarenakan MPA banyak membantu Balai Besar KSDA Jawa Barat dalam menanggulangi kebakaran yang terjadi selama ini. Selain grup WA dengan urgensi mendukung penuh tugas dan fungsi tertentu, ada satu grup WA yang dibuat beranggotakan seluruh pejabat strukural dan staf. Grup WA ini dibentuk bukan untuk kepentingan pekerjaan, namun dibentuk untuk menjaga silahturahim dan kekompakan, baik antara sesama staf maupun staf dengan pejabat struktural. Siapapun dari anggota grup bebas membagi informasi apapun dari hal yang lucu sampai hal yang serius. Walaupun tidak tersurat, namun di dalam grup ini sangat tersirat larangan penyampaian informasi yang mengandung SARA dan politik, sehingga keakraban tetap terjaga. Sumber Info : Humas Balai Besar KSDA Jawa Barat
Baca Pengumuman

Pesona Karimata bersama Nudibranchia

Kata nudibranchia berasal dari gabungan kata bahasa Latin nudus yang berarti telanjang, dan kata bahasa Yunani brankhia yang berarti insang. Kelompok ini memang memiliki insang yang dapat dilihat dengan mata karena tidak tersembunyi di dalam tubuh. Dalam bahasa Indonesia, hewan ini dikenal dengan nama kelinci laut atau "sea rabbit". Nudibranchia memiliki kepala bertentakel, yang sangat sensitif terhadap sentuhan, rasa, dan bau. Seperti siput darat, ia memiliki rhinophora berbentuk seperti pentungan dan berperan untuk mendeteksi bau. Bentuk tubuh bervariasi. Ukuran berkisar antara 40 hingga 600 mm. Mereka terdapat di seluruh dunia pada semua kedalaman, tetapi mereka mencapai ukuran terbesar dan bervariasi pada perairan hangat dan dangkal. Di antara mereka, dapat ditemukan makhluk paling berwarna-warni di bumi. Karena siput air, mereka berevolusi lalu kehilangan cangkang mereka, mereka perlu mencari cara melindungi diri dengan kamuflase, melalui warna yang membuat mereka tidak kelihatan atau menakuti predator karena rasanya tidak enak atau beracun. Nudibranchia merupakan salah satu hewan favorit bagi underwater macro photografi. Sumber Info : Balai KSDA Kalimantan Barat
Baca Pengumuman

Indahnya Pengamatan Burung Di Atas Rakit

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone menyimpan segudang cerita dan pesona alam yang sungguh indah dan luar biasa. Tak terkecuali seperti yang di rasakan oleh turis asal amerika ini yang sedang melakukan pengamatan burung di sekitar Wisma BCA Toraut Resort Dumoga Barat Seksi Wilayah II Doloduo yang terletak di Desa Toraut kec. Dumoga barat kab. Bolaang mongondow dengan di dampingi oleh petugas dari taman nasional idjong datunsolang. Mereka melakukan pengamatan di sekitar Wisma BCA Toraut karena di sekitar ini memang surga penikmat pecinta burung, berbagi jenis burung dapat di jumpai disini akan lebih bagus ketika pagi atau sore hari. Turis asal amerika ini sangat menikmati sekali selain menjumpai burung dan binatang lainnya mereka di suguhkan dengan indahnya pemandangan yang masih alami terlebih lagi bisa menikmati rakit di atas sungai yang memang di buat dengan masih tradisional dan jarang di temukan di negara mereka berasal. Hal inilah yang menjadikan salah satu daya tarik sehingga banyak turis maupun wisatawan lokal merasa betah dan puas apabila datang di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone khusunya daerah Toraut. Sumber Info : Balai TN Bogani Nani Wartabone
Baca Pengumuman

Potensi Danau Burung Di SM Lamandau

SM Lamandau adalah salah satu kawasan konservasi yang dikelola oleh BKSDA Kalimantan Tengah. Kawasan ini merupakan satu-satunya suaka margasatwa yang terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah. SM Lamandau terletak di dua kabupaten yakni Kabupaten Kotawaringin Barat dan Sukamara. Salah satu potensi dari SM Lamandau adalah Danau Burung. Danau Burung terletak di Kabupaten Sukamara, Provinsi Kalimantan Tengah. Keberadaan burung migran umumnya dapat ditemukan pada pertengahan tahun yakni bulan Juli – September. Berbagai macam burung migran singgah di Danau Burung untuk mencari makan dan berkembang biak. Jenis yang paling banyak ditemui adalah jenis kuntul besar dan kuntul kecil. Adanya danau memudahkan burung-burung migran untuk mencari ikan untuk pakan. Jika masuk ke dalam musim singgah burung migran, kita dapat dengan mudah menemukan beberapa sarang dan telur di dalam satu pohon Untuk mencapai lokasi Danau Burung bukanlah hal yang mudah, aksesibilitas yang sulit dijangkau mengakibatkan kondisi danau burung masih alami. Untuk menjangkau lokasi danau burung harus melalui rawa yang tergenang dan jika sedang musim hujan akses yang dilalui tergenang air mencapai dada orang dewasa. Sumber Info : Lisna Yulianti - Balai KSDA Kalimantan Tengah
Baca Pengumuman

The Spectacular Tower Karst

Keberadaan kawasan karst di Indonesia memiliki nilai yang sangat strategis. Selain luas potensi bentang alam karst Indonesia 154.000 km2 setara dengan 0.08% dari luas daratan Indonesia, karst memiliki potensi yang bukan saja unik dan khas tetapi juga sangat kaya dengan sumberdaya alam baik itu hayati maupun non hayati. Karst adalah daerah yang terdiri atas batuan kapur yang berpori sehingga air dipermukaan tanah selalu merembes dan mengalir ke dalam tanah. Karst juga dapat diartikan sebagai sebuah bentuk permukaan bumi yang pada umumnya dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase permukaan, dan gua. Daerah ini dibentuk terutama oleh pelarutan batuan, kebanyakan batu gamping. Salah satu kawasan karst di Indonesia yang dikenal sebagai Kawasan Karst Maros Pangkep (KKMP) memiliki tipe menara karst (tower karst) yang terbesar dan terindah kedua di dunia setelah kawasan karst di Cina Selatan seluas ±46.200 ha, dimana ±22.800 ha KKMP termasuk dalam kawasan Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. “Ngarai, jurang, dan tebing di sini berlimpah, aku tidak melihatnya di tempat lain di Nusantara. Permukaan miring hampir tidak dapat ditemukan di mana saja, dinding besar dan massa kasar batu mengakhiri semua gunung dan melingkungi lembah. Di banyak bagian ada tebing vertikal atau bahkan menjorok lima atau enam ratus meter tingginya, namun dibungkus rapat-rapat dengan permadani vegetasi”. Demikian ungkapan Alfred Russel Wallace atas kekaguman bentang karst Maros di tahun 1857dalam bukunya “The Malay Archipelago” tahun 1869. Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim Asosiasi Speleologi Pyrénéene (APS),Prancis tahun 1985, KKMP memiliki bentang alam yang unik dan khas dengan tower karst, koridor karst yang panjang, gua-gua dengan ukuran besar dan terpanjang di Asia tenggara dengan dekorasi terbagus. Dari laporan akhir tahun 2016 Balai TN Bantimurung Bulurauang mencatat tidak kurang 257 gua sudah ditemukan di kawasan karst yang ada di TN Bantimurung Bulusaraung yang terdiri dari 216 gua alam dan 41 gua prasejarah. Bahkan gua terdalam dan terpanjang di Indonesia ada di kawasan karst ini yang tercatat dalam Museum RekorDunia-Indonesia (MURI) pada tahun 2015. Diketahui dalam luasan 50 km2 terdapat 14 gua yang memiliki kedalaman lebih dari 100 meter. Di antaranya terdapat gua terdalam di Indonesia dengan pitch tunggal (single pitch) yaitu Leang Pute sedalam 263 meter di bawah permukaan tanah. Masyarakat di sekitar kawasan taman nasional ini menyebut gua dengan nama leang (bahasa Makassar). Selain itu, terdapat gua Salukang Kallang dengan panjang 12.263 meter yang merupakan gua terpanjang di Indonesia dengan tingkat keanekaragaman hayati yang terbanyak di kawasan tropis di dunia (Bedos & Deharveng, 1992). Sistem Gua Salukang Kallang bersama Gua Tannete mempunyai 28 spesies yang telah teradaptasi di dalam gua meliputi 21 troglobion berupa biota darat khas gua dan tujuh stigobion berupa biota akuatik khas gua. Data gua tersebut telah bertambah di awal tahun 2017 ini, seiring telah dilakukannya pemutakhiran data sebaran gua di kawasan Resort Minasatene oleh Tim Balai TN Bantimurung Bulusaraung. “Kami memperoleh sebanyak 193 gua yang teridentifikasi yang terdiri dari gua horizontal sebanyak 160 gua dan 17 gua vertikal, serta terdapat potensi gua horizontal yang juga memiliki gua vertical dalam satu sistem yakni sebanyak 15 gua”, ujar Chaeril, PEH TN Bantimurung Bulusaraung saat kami temui beberapa waktu lalu. Tidak hanya menyajikan pemandangan dan fenomena bentang alam yang menakjubkan dengan gua-guanya yang spektakuler. KKMP juga memiliki peran penting yang tak tergantikan bagi kehidupan, dimana di dalamnya mengalir sungai-sungai bawah tanah, sedangkan di tebing-tebingnya banyak muncul mata air yang dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Air tersebut yang tidak pernah kering meskipun musim kemarau datang. “Sistem hidrologi karst atau perguaan menjadi begitu penting dalam menjaga persediaan air bagi lingkungan dan masyarakat sekitar, sehingga penting untuk dilakukan pemetaannya. Telah banyak dilakukan eksplorasi dan pemetaan sistem hidrologi KKMP, kami akan melakukan eksplorasi dan pemetaan di beberapa lokasi lainnya. Saat ini sistem hidrologi karst yang telah dipetakan di antaranya Sistem Hidrologi Gua Salukang Kallang, Pattunuang Asue, Pangiadan Samangki”, tambah Muhammad Yunus, PEH TN BantimurungBulusaraung. Selain itu, KKMP juga merupakan tempat hidup berbagai jenis fauna, khususnya fauna-fauna gua yang belum banyak dikenal manusia. Tercatat tidak kurang 732 fauna dan 710 flora yang telah teridentifikasi di KKMP. Bahkan, kawasan karst ini juga bernilai tinggi di bidang arkeologi, dimana terdapat gua-gua prasejarah dan bukti-bukti otentik yang merupakan jejak peradaban manusia ribuan tahun silam. Kategori gua prasejarah dengan lukisan stensil tangan tertua di dunia yang diperkirakan berusia ±40.000 tahun juga ada di kawasan ini. Oleh karenanya, sangatlah beralasan apabila TN Bantimurung Bulusaraung diberi juga julukan “The Spectacular Tower Karst” sebagai representasi keunikan dan kekhasan karst yang memiliki beragam fungsi. SAVE KARST!!! Sumber Info : Kamajaya Shagir dan Taufiq Ismail - PEH Balai TN Bantimurung Bulusaraung Daftar Pustaka Bedos, A. and Deharveng, L. 1992. 4-Catalogue Sulawesi. In: Expedition Indonesie 90, rapport speleologique et scientifique. A.P.S. Toulouse (eds). 33-36.Wallace, A.R. 1869. The Malay Archipelago. Macmillan. London.
Baca Pengumuman

“Pendaki Ndeso” Stres Lihat “Wisatawan Kekinian” Tanam Edelweis

Akhir-akhir ini, kita dihebohkan dengan istilah “Pendaki Ndeso”, sebutan bagi sepasang pendaki Taman Nasional Gunung Rinjani yang berfoto mesra menggunakan bunga edelweiss yang dipetik sebagai properti foto berlatarbelakang Taman Nasional Gunung Rinjani di atas Puncak Gunung Rinjani. Pendaki Ndeso tersebut mengunggah foto-foto tersebut pada akun media sosial mereka. Bukannya mendapat pujian, foto-foto tersebut justru banyak mendapat cemoohan tidak hanya pemerhati Gunung Rinjani, tetapi masyarakat pada umumnya menyayangkan perilaku “Pendaki Ndeso” tersebut. Bunga Edelweis memiliki mitos yang cukup tinggi khususnya bagi kalangan pemuda pemudi karena dianggap melambangkan cinta abadi. Mitos tersebut muncul karena Bunga Edelweis dikenal bunga abadi yang tidak pernah layu. Bunga Edelweis sebagai bunga abadi juga diakui oleh Masyarakat Tengger yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan hutan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Merujuk wawancara dengan Bapak Sutomo selaku Ketua Dukun Tengger, Masyarakat Tengger menyebut Bunga Edelweis dalam Bahasa Tengger yang merujuk Bahasa Sansekerta/ Jawa Kuno sebagai Kembang Tana Layu atau Bunga Abadi. Tana berasal dari kata “Tan” yang artinya “Tidak”, sedangkan Layu menjadi kata serapan dalam Bahasa Indonesia yang bermakna “Layu”. Bunga Abadi tersebut menjadi salah satu rangkaian Tamping/ sesaji Tengger pada setiap upacara Adat Tengger yang bermakna pengharapan agar leluhur mereka tetap abadi. Dahulu, Tumbuhan Edelweis cukup banyak dijumpai di ladang-ladang Masyarakat Tengger yang berada pada ketinggian lebih dari 1500 mdpl. Seiring pertumbuhan jumlah penduduk yang berkorelasi terhadap pemakaian bunga edelweiss untuk sesaji, Tumbuhan Edelweis semakin sedikit di ladang-ladang milik penduduk. Pola pertanian intensif Masyarakat Tengger juga turut berperan terhadap kelangkaan Tumbuhan Edelweis di ladang-ladang penduduk. Penelitian oleh Amanu Budi Setiyo, Mahasiswa Pertanian, Universitas Brawijaya pada rentang tahun 2015-2016 yang berjudul “Etno Botani Edelweis di Desa Ngadas, Kabupaten Malang” menunjukkan Masyarakat Tengger di Desa Ngadas mengambil Bunga Edelweis semakin masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kekhawatiran tentang kepunahan “Sang Bunga Abadi” Edelweis karena pemakaian untuk Upacara Adat Tengger, penjual bunga illegal, maupun ulah “Pendaki Ndeso” di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru telah diantisipasi Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sejak tahun 2006, BBTNBTS telah berhasil mengidentifikasi 3 jenis edelweis, yaitu Anaphalis javanica, Anapahalis viscida, dan Anaphalis longifolia. Sejak tahun 2007, ujicoba penanaman edelweiss di luar maupun di dalam kawasan TNBTS telah dilakukan meskipun belum berhasil. Tahun 2014, BBTNBTS berhasil membudidayakan edelweiss dari yang awalnya mengumpulkan semai edelweiss alam sebanyak kurang lebih 1.700 bibit di persemaian Resort PTN Tengger Laut Pasir. Tahun 2015 BBTNBTS sukses membudidayakan edelweiss dari biji yang diperoleh dari Kebun Benih Edelweis yang tersebar di Resort PTN Tengger Laut Pasir dan Resort PTN Gunung Penanjakan. Bibit edelweiss kemudian diujicoba ditanam dalam bentuk Taman Edukasi Edelweis di sekolah-sekolah (7 SD, 1 SMP, dan 1 SMK) pada kawasan penyangga Resort PTN Tengger Laut Pasir di lingkup Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. 28 Maret 2016, Siti Nurbaya -Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan- meresmikan Taman Edukasi Edelweis di Penanjakan dan SD Negeri Ngadisari I sebagai apresiasi keberhasilan budidaya edelweiss di luar kawasan TNBTS. Awal tahun 2017, BBTNBTS telah mencanangkan konsep desa edelweiss-desa edelweiss TNBTS yang melingkupi Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Lumajang. Konsep Desa Edelweis TNBTS diharapkan bisa menjembatani konservasi keanekaragaman hayati edelweiss, melestarikan Budaya Tengger, dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa penyangga TNBTS. Penelitian tahun 2015-2016 oleh Azhuardi Rheza Fauzi, Mahasiswa Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada tentang “Willingnes To Pay Edelweis Hasil Budidaya Edelweis di TNBTS” menunjukkan wisatawan mau membeli dengan harga lebih tinggi 160-600 % untuk bunga edelweiss yang memiliki legalitas hasil budidaya. Prioritas pembentukan desa edelweiss TNBTS saat ini dilakukan bagi desa-desa Tengger seperti Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan dan Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Pemuda-pemuda desa dari dua desa tersebut sudah dilatih budidaya edelweiss dari biji. Pemuda-pemuda tersebut diharapkan menjadi pionir bagi desanya masing-masing maupun desa-desa Tengger lainnya. Saat ini, semakin banyak masyarakat Tengger yang mulai menanam edelweiss di pekarangan rumah maupun ladang. Meskipun masih terbatas, wisatawan yang berkunjung ke TNBTS mulai melirik keberhasilan budidaya edelweiss di TNBTS. Wisatawan yang beruntung kini bisa berpartisipasi menanam edelweiss di TNBTS. Saat musim berbunga antara Bulan Mei-September, wisatawan bisa berfoto selfie di Taman Edukasi Edelweis TNBTS di Resort PTN Tengger Laut Pasir dan Resort PTN Gunung Penanjakan. Buat heboh teman-temanmu dengan kesempatan langka menanam edelweiss di TNBTS dan jadilah “Wisatawan Kekinian”. Cinta Kalian akan abadi sekaligus Kamu bisa menyelamatkan tumbuhan edelweiss dari ancaman kepunahan karena tangan-tangan jahil “Pendaki Ndeso”. Kamu pun lebih Pancasila karena turut melestarikan Budaya Tengger, salahsatu kekayaan Budaya Bangsa Indonesia. #SaveEdelweisTNBTS Sumber Info : Birama Terang Radityo, S.Hut. - Penyuluh Kehutanan Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Baca Pengumuman

Inventarisasi Populasi dan Identifikasi Habitat Burung Cendrawasih

Dalam rangka mengetahui kondisi populasi dan habitat spesies burung cendrawasih yang berada dalam kawasan Taman Nasional Lorentz. Balai Taman Nasional Lorentz (BTN Lorentz) melaksanakan kegiatan inventarisasi populasi dan identifikasi habitat Burung Cendrawasih (paradisaea sp.) di SPTN Wilayah I Timika dengan lokasi di Distrik Mimika Timur Jauh Kabupaten Mimika. Kegiatan tersebut dilakukan pada akhir juni selama 10 hari dengan menggunakan metode “Variable circular plot” (VCP) untuk mengetahui kepadatan, kelimpahan relatif, dan distribusi cenderawasih. Penentuan metode tersebut sesuai dengan arahan Direktorat KKH bahwa metode survey yang efektif digunakan terhadap burung cenderawasih saat musim tidak berbiak adalah dengan metode VCP, lain halnya jika musim berbiak sebaiknya menggunakan metode "lek count". Berdasarkan hasil pelaksanaan selama beberapa hari, tim hanya menjumpai satu jenis cenderawasih yaitu spesies Cenderawasih minor dengan populasi sebanyak 8 ekor/individu yg tersebar di wilayah Omawita dan Fanamo Distrik Mimika Timur Jauh. Cenderawasih Minor atau Cenderawasih Kuning-Kecil dengan nama ilmiah: Paradisaea minor adalah burung Cenderawasih berukuran sedang dengan panjang sekitar 32 cm, dari genus Paradisaea. Burung ini mempunyai ciri-ciri berwarna kuning dan coklat, berparuh abu-abu kebiruan dan mempunyai iris mata berwarna kuning. Burung jantan dewasa memiliki bulu di sekitar leher berwarna hijau zamrud mengkilap, pada bagian sisi perut terdapat bulu-bulu hiasan yang panjang berwarna dasar kuning dan putih pada bagian luarnya. Di ekornya terdapat dua buah tali ekor berwarna hitam. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan, memiliki kepala berwarna coklat tua, dada berwarna putih dan tanpa dihiasi bulu-bulu hiasan. Kurangnya perjumpaan langsung salah satunya disebabkan oleh karakter burung yang hanya hinggap di tajuk-tajuk pohon yang tinggi dan sangat rapat sehingga seringkali hanya mendengar suaranya tanpa melihatnya secara langsung. Habitat asli burung cenderawasih diwilayah pengamatan masih terjaga kelestariannya secara alami berkat meningkatnya pengetahuan lingkungan dan kesadaran masyarakat disekitar wilayah akan kekhawatiran ancaman kepunahan burung khas Papua tersebut. Sumber : 1. Hasil Survey Balai Taman Nasional Lorentz dan SPTN Wilayah I Timika 2. Wikipedia Indonesia
Baca Pengumuman

Menjaga Simpenan

Cerita Sukses Penutupan Jalan di Tengah CA Manggisan Cagar Alam Manggis Gadungan berada Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri Provinsi Jawa Timur. Warga sekitar kawasan CA Manggis Gadungan mengenal kawasan ini sebagai “simpenan” atau “alas simpenan”. Seiring perkembangan waktu terbentuk jalan makadam melintasi kawasan hingga pengaspalan tahun 1980-an. Dari tahun ke tahun, kendaraan yang melintasi jalan aspal tersebut semakin meningkat, mulai dari awalnya kereta/cikar, sepeda angin, meningkat menjadi sepeda motor, mobil bus, truk, hingga kereta kelinci. Selain sebagai jalur transportasi, jalan aspal di CA Manggis Gadungan menjadi lokasi wisata bagi masyarakat yang ingin memberi makan Monyet Ekor Panjang. Jalan aspal yang membelah kawasan CA Manggis Gadungan telah menimbulkan fragmentasi habitat, munculnya rintisan jalan baru dan introduksi spesies asing seperti Paitan (Tithonia diversifolia) dan Kajar (Alocasia sp.). Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UGM pada tahun 2007, mendapatkan banyaknya kematian ular dari dampat keberadaan jalan. Upaya penyelesaian permasalahan jalan dilaksanakan mulai tahun 2010 dengan menjalin komunikasi dan koordinasi dengan pihak terkait. Pada tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Kediri bahkan telah menganggarkan pembangunan jalan pengganti di alur hutan produksi Perum Perhutani, namun hingga awal tahun 2014, pengerasan alur sebagai jalan pengganti belum terlaksana. Koordinasi dengan Kepala Disbudpar Kabupaten Kediri, Kepala Bidang KSDA Dishutbun Kabupaten Kediri, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Bappeda sampai Muspika Puncu berkesimpulan bahwa para pihak tersebut mendukung kelestarian CA Manggis Gadungan, menyetujui penutupan jalan dengan syarat ada solusi bagi masyarakat, yaitu dibuatkan jalan pengganti. Setelah berkoordinasi dengan pihak terkait, SKW I pun meminta pendapat masyarakat melalui jajak pendapat pengguna jalan dan masyarakat 3 desa penyangga, yaitu Satak, Manggis dan Wonorejo. Masyarakat ternyata tidak keberatan jika jalan ditutup dengan syarat ada jalan pengganti. Selain itu, sebagai upaya sosialisasi penutupan jalan, SKW I bekerjasama dengan radio Bonansa dan RWS menyiarkan mengenai nilai penting kawasan CA Manggis Gadungan. Di tengah berbagai upaya yang sedang ditempuh, di CA Manggis Gadungan terjadi fenomena alam robohnya beberapa pohon yang menutup akses jalan. Petugas SKW I membiarkan kayu tersebut. Keadaan tersebut ternyata memunculkan protes dari beberapa anggota masyarakat ke Polsek Puncu, bahkan ada ancaman kaleng di kawasan berupa tulisan di kayu yang pada intinya ingin membakar kawasan jika jalan ditutup. SKW I segera mengadakan koordinasi dengan Muspika Puncu, Camat dan Kapolsek menyatakan keinginan warga untuk mendapatkan jalan pengganti dan akan meminta kesediaan warga melaksanakan swadaya membersihkan jalan pengganti. Pekerjaan pembersihan jalan terlaksana dengan baik, namun alur tersebut belum dapat dilalui dengan baik, karena adanya lapisan pasir erupsi Gunung Kelud dan adanya kurang lebih 100 pohon Sengon. Masyarakat melalui 3 pemerintah desa penyangga menyampaikan permohonan penebangan pohon Sengon yang ada di alur jalan pengganti. SKW I menindaklanjuti penutupan jalan dengan pemasangan portal dikedua pintu masuk CA Manggis Gadungan dan membongkar aspal jalan yang membelah kawasan Sampai proses tersebut, semua masih berjalan dengan baik, hingga pada bulan Mei 2015 saat Camat Puncu mengirimkan pemberitahuan pengerjaan pengerasan alur kepada Perum Perhutani KPH Kediri. Tanggal 1 Juni 2015, Administratur Perum Perhutani KPH Kediri mengirimkan balasan yang ditembuskan kepada SKW I Kediri bahwa lahan yang akan digunakan adalah alur hutan produksi, sedangkan jalan pengganti merupakan penggunaan kawasan hutan untuk kepentingan pembangunan di luar kehutanan. Sehingga pihak Perum Perhutani menginginkan pembangunan jalan tersebut mengikuti prosedur seperti yang tercantum dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor.P.16/Menhut-II/2014 tentang Pedoman Pinjam Pakai Kawasan Hutan. Komunikasi dengan Perum Perhutani kembali dilaksanakan untuk menjelaskan sejarah persetujuan yang telah diberikan oleh Administratur Perum Perhutani sebelumnya. Pada tahun 2011, KPH Kediri menyetujui pengerasan alur dikarenakan alur memang sudah berfungsi sebagai jalan bagi Perum Perhutani, sehingga pengerasan alur merupakan upaya peningkatan kualitas alur dan tidak merubah fungsi alur tersebut. Dengan fasilitasi Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kediri, para pihak bersepakat untuk mengambil win win solution. Para pihak telah sepaham bahwa kelestarian CA Manggis Gadungan adalah harga mati, Pemerintah Kabupaten Kediri telah bersiap merealisasikan pengerasan jalan, dan yang paling penting, masyarakat sangat membutuhkan jalan pengganti. Dengan beberapa pertimbangan tersebut, pihak Perum Perhutani bersedia memberikan persetujuan dengan catatan prosedur untuk mendapatkan persetujuan Menteri tetap ditempuh. Kesepakatan tersebut ditindaklanjuti pada tanggal 27 Oktober 2015, para pihak dari Perum Perhutani, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Kediri, Dinas Pekerjaan Umum, Kecamatan Puncu dan Seksi Konservasi Wilayah I melaksanakan pengukuran ulang jalan pengganti. Empat hari setelah pengukuran ulang, tepatnya tanggal 31 Oktober 2015, material pasir dan batu serta alat berat tiba di lokasi jalan pengganti dan pada pertengahan November 2015, jalan pengganti sepanjang 2.250m telah siap digunakan oleh masyarakat. Kamis pagi 28 Januari 2016 menjadi hari bersejarah bagi CA Manggis Gadungan setelah penutupan jalan aspal pada tahun 2014. Pos Jaga CA Manggis Gadungan nampak ramai, kursi kursi ditata di ruangan LMDH yang berada disebelah Pos Jaga Manggis Gadungan. Hal ini karena beberapa pihak yaitu Perum Perhutani KPH Kediri, BBKSDA Jawa Timur, LMDH Adil Sejahtera, Muspika Puncu, KAPAL, LSM Peduli Flora Fauna dan Lingkungan Hidup, paguyuban pedagang serta mahasiswa UNAIR yang sedang praktek lapang di Desa Manggis berkumpul untuk melaksanakan penanaman di Bufferzone CA Manggisan. Paska penutupan jalan dan pembongkaran aspal tanggal 12 September 2015, secara umum kondisi Cagar Alam Manggis Gadungan mengalami perbaikan, diantaranya suara-suara satwa liar mengalami peningkatan baik dari segi jumlah maupun jenis. Area bekas jalan aspal saat ini telah mulai tertutup vegetasi, beberapa semai tumbuhan diketahui tumbuh lebih dominan seperti Tutup Merah, Tutup Putih, Lengki, Wadang, Basah, Jingkat, Awar awar, Nongko nongkoan, Luwingan dan beberapa jenis lainnya diperkirakan tumbuh mengingat beberapa jenis pohon ada di kanan kiri bekas jalan, selain itu, aktifitas Monyet Ekor Panjang yang membuang biji makanannya di bekas jalan aspal. Diharapkan dengan musim penghujan yang lebih lama dari biasanya, area bekas jalan aspal akan segera tertutup vegetasi. Penutupan jalan ternyata tidak menyurutkan minat warga masyarakat untuk datang sekedar memberi makan Monyet Ekor Panjang, bahkan animo masyarakat semakin tinggi. Perilaku Monyet Ekor Panjang pun sudah menampakkan ketergantungan kepada makanan pemberian manusia. KPH Kediri sebagai pengelola kawasan bufferzone saat ini berusaha mengelola dengan mengakomodir antusiasme warga masyarakat untuk berwisata ke CA Manggis Gadungan. Pengelola mengizinkan warga untuk berwisata, namun hanya di sekitar bufferzone dan tidak boleh mendekat apalagi masuk kedalam kawasan. Selain petugas, paguyuban pedagang disekitar bufferzone juga turut menjaga dan mengingatkan pengunjung untuk tidak terlalu mendekat CA Manggis Gadungan, mereka berinisiatif membuat pagar bambu, 3 meter dari gapura kawasan. Saat ini pagar bambu telah rusak dan diganti dengan pasak kayu yang dihubungkan satu sama lain dengan tambang. Kesadaran masyarakat telah berkembang lebih baik semenjak sosialisasi yang dilakukan saat pengelola akan melaksanakan penutupan jalan. Dalam sosialisasi tersebut disampaikan pula pesan bahwa CA Manggis merupakan warisan yang sangat berharga yang keberadaannya harus dilestarikan dan dijaga keutuhannya. Sehingga saat ini, warga sekitar CA Manggis Gadungan turut berpartisipasi aktif menjaga “simpenan” yang tak ternilai harganya tersebut (SN). Sumber: Siti Nurlaili (PEH BBKSDA Jawa Timur)& Direktorat PIKA

Menampilkan 161–176 dari 257 publikasi