Minggu, 27 Sep 2026

Beranda Publikasi Pengumuman

Pengumuman

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Pengumuman

Belajar dari Usaha Madu Hutan di TN Danau Sentarum

Kini, petani madu tradisional di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum, bisa bernafas lega. Pasalnya, sekarang mereka bisa mendapatkan harga madu yang lebih tinggi, Rp. 150.000/ kg. Sebelumnya, madu petani hanya dihargai sebesar Rp. 20.000/kg. Keberhasilan itu bermula terbentuknya Asosiasi Periau Danau Sentarum atau lebih dikenal APDS. APDS adalah kelompok petani madu hutan di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum khusunya di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Labian – Leboyan, Desa Leboyan, Kecamatan Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat. “Pembentukan APDS didasari rasa keprihatinan para petani madu hutan tradisional yang dalam bahasa lokalnya disebut “Periau” terhadap ketidak stabilan jumlah produksi dan harga madu yang sangat murah,” ujar Pak Uge, nama panggilan dari Basriwaldi. Pak Uge adalah Presiden Asosiasi Periau Danau Sentarum. Sebelumnya, madu APDS dihargai rendah kerena kualitasnya kurang baik. Misalnya, kadar airnya terlalu tinggi dan rasanya asam. Kualitas yang kurang baik itu disebabkan karena para periau memanen madu dengan cara diasap dan dilakukan pada malam hari. Seluruh sarang lebah pun diambil dari dahan dan alat-alat yang digunakan tidak mempertimbangkan kebersiahan atau hieginitas. Selain itu, cara panen dengan pengasapan di malam hari menyebabkan banyak lebah yang mati. Bukan hanya itu, pengambilan keseluruhan sarang dari dahan tempat bersarang juga menyebabkan berkurangnya koloni lebah. Sedangkan penggunaan alat-alat panen yang tidak higienis menyebabkan kualitas madu sangat rendah. Hingga pada tahun 2006 para periau membentuk APDS. Di asosiasi itulah para petani menyadari bahwa cara-cara panen tersebut menyebabkan ketidakstabilan jumlah produksi sehingga menyebabkan harga madu sangat murah. Sejak tahun itulah harga madu Periau mulai merangkak naik. Pada tahun 2006 sebanyak 89 orang dari 5 kelompok periau bersepakat membentuk perkumpulan yang dinamai Asosiasi Periau Danau Sentarum atau lebih dikenal sebagai APDS, kata pak Uge. Saat ini anggota APDS sebanyak 305 orang terdiri dari 15 Periau yang berasal dari Desa Leboyan, Desa Tempurau, Desa Semalah, Desa Melemba, Desa Sekulat, Desa Lubuk Pengail, Desa Dalam dan Desa Pulau Majang. Terbentuknya APDS memudahkan para pihak untuk melakukan pembinaan. Para pihak yang telah banyak melakukan pembinaan adalah Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (BB TN Bentarum), Dinas Kehutanan Kabupaten Kapuas Hulu, Yayasan Riak Bumi, Aliansi Organik Indonesia dan Jaringan Madu Hutan Indonesia. Pemanenan hasil hutan bukan kayu berupa madu di kawasan konservasi dibenarkan secara hukum, karena itu BBTN Bengkarum telah memberikan persetujuan melalui skema perjanjian kerjasama kepada APDS untuk memungut madu hutan pada zona tradisional seluas kurang lebih 36.579 Ha. Salah satu bentuk pembinaan yang telah diberikan oleh BBTN Bengkarum adalah pembangunan rumah workshop madu untuk APDS. Pembinaan dan pendampingan APDS secara terus menerus dalam hal pemanenan dan pengelolaan madu hutan oleh para pihak telah memberikan hasil yang sangat menggembirakan. Melalui metode panen lestari, dan penerapan mekanisme pengawasan mutu kelompok (Internal Control System=ICS), madu yang dihasilkan APDS saat ini sangat berkualitas tinggi dan sangat diminati oleh pasar. Tahun 2007, madu hasil produksi APDS telah mendapatkan sertifikasi BIOCert, SNI 01-6729-2002 dan mutu produk madu. Pemberian sertifikat organik bagi produk madu hutan APDS merupakan yang pertama di Indonesia. Keberhasilan mendapatkan sertifikat madu organik, menjadikan madu APDS cukup laris di tingkat pasar baik lokal, regional maupun nasional. Minat dan penerimaan pasar yang cukup tinggi telah mendorong perbaikan harga madu hutan organik APDS, Walaupun harganya terbilzzwzww`ang cukup tinggi bila dibandingkan dengan harga madu pada umumnya di Indonesia, namun minat pasar tetap tinggi terhadap madu hutan organik APDS. Oriflame Indonesia, salah satu perusahaan terbesar di Indonesia dibidang kosmetik/kecantikan, berminat membeli produk madu APDS. Pada Februari tahun 2016 Oriflame Indonesia telah menawarkan surat ketertarikan (Letter of Intent = LoI) membeli madu hutan organik kepada Koperasi Madu Hutan Kapuas Hulu, salah satu anggotanya adalah APDS sebagai penyumbang madu terbanyak ke koperasi Kapuas Hulu. Bukan hanya Oriflame, beberapa perusahaan dan lembaga telah menawarkan pembelian (purchase order) madu ke pada APDS. Salah satunya adalah Dian Tama. Perusahaan itu akan membeli sebanyak 5000 Kg pada tahun 2017. WWF Indonesia, Program Kalimantan Barat juga ingin membeli sebanyak 276 botol kemasan 250 ml setiap bulan selama 2 tahun, dari tahun 2017 s.d. 2018. Terhadap banyaknya permintaan tersebut APDS mengalami kesulitan di dalam menyediakan madu dikarenakan ketiadaan modal dalam bentuk uang tunai. APDS sangat membutuhkan uang tunai untuk membeli madu dari anggotanya. Pihak APDS telah berusaha meminta pinjaman ke lembaga-lembaga pengelola keuangan (Bank) di Kabupaten Kapuas Hulu baik milik BUMN maupun BUMD, namun tidak membuahkan hasil dikarenakan persyaratan-persyaratan baku oleh pihak perbankan tidak dapat dipenuhi oleh APDS. Tahun 2016, Pak Uge bersama beberapa rekannya bertemu dengan pihak BBTN Bentarum untuk menyampaikan permohonan agar dapat dibantu mencarikan solusi terkait modal usaha tersebut. Salah satu mandat BBTN Bentarum adalah melakukan pemberdayaan masyarakat yang tinggal disekitar kawasan konservasi. Terhadap mandat inilah BBTN Bentarum berupaya semaksimal mungkin mendorong pihak-pihak lain untuk membantu modal usaha kepada kelompok pengelola madu hutan di Kapuas Hulu khususnya APDS. Menjawab permohonan APDS, BBTN Bentarum atas dukungan Bupati dan Sekda Kabupaten Kapuas Hulu mencoba mengusulkan bantuan permodalan kepada APDS melalui Badan Layanan Umum (BLU), Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan, Kementeian Lingkungan Hidup (KLHK). Langkah pertama yang ditempuh pihak BBTN Bentarum adalah mengundang pihak BLU KLHK dalam acara peresmian “Rumah Workshop Madu” pada tanggal 14 Mei 2016. Rumah workshop ini dibangun di Kampung Semangit, Dusun Batu Rawan, Desa Leboyan, Kecamatan Selimbau oleh BBTN Bentarum untuk diserahkan pengelolaannya kepada APDS. AM Nasir, SH, Bupati Kapuas Hulu dalam pidatonya mengharapkan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk terus membangun dan memberdayakan masyarakat khususnya yang tinggal di dalam kawasan TN Danau Sentarum. “BLU diharapkan mendukung usaha madu hutan organik Kapuas Hulu dengan memberikan bantuan modal usaha kepada APDS,” ujar AM Nasir, SH, Bupati Kapuas Hulu, dalam pidatonya saat peresmian rumah workshop. Malam harinya, bertempat di kantor resort Semangit, dengan difasilitasi BBTN Bentarum kemudian dipertemukan antara pihak BLU dengan APDS. Dalam pertemuan itu pihak APDS menyampaikan bahwa kendala utama mereka dalam mengembangkan usaha madu hutan organik adalah tidak adanya modal usaha. Bahwa musim madu di Danau Sentarum hanya berjalan 3-4 bulan dalam setahun yaitu antara bulan Desember – Maret. Pada masa tersebut APDS harus mengumpulkan madu dari para anggotanya. Kendalanya adalah APDS harus membayar tunai madu yang dibeli dari anggotanya. Dapat dipahami bahwa para anggota APDS adalah masyarakat yang sangat membutuhkan dana tunai untuk keperluan sehari-hari mereka. Pada saat koperasi APDS tidak dapat menyediakan dana tunai maka anggotanya akan menjual madu mereka kepada pembeli lain yang memang cukup ramai yang datang apabila musim madu di Danau Sentarum. Setelah mendengar dan berdikusi panjang lebar, pihak BLU menilai bahwa usaha madu hutan organik koperasi APDS sangat potensial untuk dikembangkan dan hasilnya akan berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat serta kelestarian kawasan TNDS. Visi Kementerian LHK yaitu “Masyarakat Sejahtera Hutan Lestari” dapat terwujud melalui usaha koperasi APDS. Anggota koperasi APDS akan mendapatkan nilai ekonomi dari menjual madu hutan, yang berdasarkan data, dalam satu tahun terdapat satu kali masa panen madu hutan di kawasan TNDS dapat dikumpulkan sebanyak 12 – 25 ton. Apabila jumlah produksi tersebut dikalikan dengan harga Rp. 150.000,-/liter maka aka ada peredaran uang sekitar 3,7 milyar/tahun di sekitar Danau Sentarum. Nilai positif lainnya adalah anggota APDS secara mandiri akan menjaga hutan sangat ketat dari aktifitas penebangan liar dan kebakaran hutan, karena apabila hutan rusak lebah tidak akan datang lagi untuk membangun sarang. Kesimpulan pertemuan malam itu adalah, pihak BLU sangat mendukung usaha pengelolaan madu hutan organik APDS dan akan mengupayakan adanya terobosan skema bantuan pendanaan untuk usaha-usaha hasil hutan bukan kayu. Karena selama ini BLU hanya memberikan bantuan usaha untuk usaha dibidang penanaman dan pemanenan pohon. Hasil kongkrit pertemuan adalah koperasi APDS diminta untuk mencoba mengajukan proposal kepada BLU perihal pinjaman modal usaha pengembangan usaha madu hutan. Kurung waktu sepuluh bulan lamanya antara bulan Mei 2016 sampai bulan Maret 2017, BBTN Bentarum, APDS dan BLU membangun komunikasi, mempersiapkan persyaratan adminitrasi, penataan lembaga, penyusunan dan pengajuan proposal. Pada tanggal 7 s.d. 8 Maret 2017 muncul harapan menggembirakan dengan datangnya 4 orang perwakilan BLU untuk melakukan penilaian dan verifikasi lapangan terkait kelembagaan APDS, adminitrasi keuangan, kesiapan anggota, proses dan jaminan keberlanjutan produksi, dll. Hasil verifikasi ini menunjukkan bahwa masih banyak hal yang perlu dibenahi oleh APDS untuk memenuhi syarat mendapatkan bantuan modal usaha dari BLU. Kelembagaan adalah salah satu aspek yang cukup mendapat perhatian pihak BLU untuk segera dibenahi oleh pengurus APDS. Keseriusan APDS untuk mendapatkan bantuan usaha ditambah bimbingan yang terus menerus oleh BBTN Bentarum, akhirnya segala rekomendasi BLU terkait perbaikan kelembagaan dan beberapa dokumen pemungkin lainnya dapat dipenuhi. Kabar yang betul betul menggembirakan adalah terbitnya surat Kepala Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan, Kementerian LHK tertanggal 3 Mei 2017 yang ditujukan kepada Ketua APDS yang menyatakan bahwa pada prinsipnya permohonan pinjaman untuk usaha pengelolaan madu hutan orgnaik APDS dapat disetujui dengan jumlah sebesar Rp. 1.440.000.000,- (satu milyar empat ratus empat puluh juta rupiah) untuk jangka waktu pengembalian 24 bulan dengan bunga pinjaman sebesar 3,25 % per tahun. Tanggal 31 Mei 2017 adalah hari bersejarah bagi Koperasi APDS dengan ditandatanganinya akad pinjaman usaha off farm pengembangan usaha madu hutan organik dihadapan notaris. Penandatanganan ini di saksikan oleh Bapak Wakil Bupati Kapuas Hulu bersama beberapa kepala SKPD Kapuas Hulu, Kepala BBTNBKDS, Kepala UPT Kementerian LHK wilayah lingkup Kalimantan Barat, Lembaga dan mitra kerjasama, dan perwakilan dari Sentra dan Sub sentra Koperasi Madu di Kabupaten Kapuas Hulu. Ir. Arief Mahmud, M.Si, Kepala BBTN Bentarum dalam sambutannya menyatakan bahwa kerjasama pemanfaatan zona tradisional di TNDS oleh APDS agar masyarakat mendapat kesempatan untuk meningkatkan pendapatan melalui pemungutan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) berupa madu hutan. Madu hutan dari TNDS memiliki nilai ekonomi tinggi dan telah dimanfaatkan secara turun temurun oleh masyarakat sekitar TNDS. Pemberian pinjaman usaha Off Farm madu hutan kepada Koperasi APDS adalah yang pertama di Indonesia, karena itu contoh ini patut ditiru oleh kelompok-kelompok lain yang ada di Kapuas Hulu guna meningkatkan usahanya,” ujar Arief Mahmud dalam pidato sambutannya. Antonius L. Ain Pamero, SH, Wakil Bupati Kapuas Hulu dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya kepada BLU Kementerian LHK dan Kepala BBTN Bentarum yang telah berupaya semaksimal mungkin membantu masyarakat Kapuas Hulu khususnya APDS. Beliau menitip pesan kepada APDS bahwa dana tersebut bukanlah hibah akan tetapi pinjaman yang harus dipertanggung jawabkan, karena itu agar dana tersebut dikelola sebaik mungkin sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Pemanfaatan zona tradisional ini merupakan bentuk kepedulian pemerintah dan keberpihakan serta pengakuan kepada masyarakat yang telah tinggal dan hidup di dalam dan sekitar kawasan hutan konservasi. Sehingga hal ini menepis anggapan yang sering disampaikan oleh beberapa pihak bahwa taman nasional tidak peduli kepada masyarakat atau bahkan mengambil dan merampas hak masyarakat, ucapnya. Keberhasilan memfasilitasi koperasi APDS untuk mendapatkan pinjaman usaha off farm bukanlah akhir dari upaya pembinaan masyarakat, akan tetapi merupakan langkah awal yang lebih serius dalam mendampingi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya. Penggunaan dana harus dikontrol dan diawasi, karena itu BBTN Bentarum telah menugaskan satu orang tenaga penyuluh lapangan untuk mendampingi APDS dalam pengelolaan keuangannya dan tentunya tetap memantau proses pemanenan dan pengelolaan madu sehingga mutu tetap dapat dipertahankan. Pengelolaan madu hutan dengan menerapkan Internal Control System (ICS), menerapkan proses panen lestari, mendapatkan sertifikat Organik dari BIOCert, SNI 01-6729-2002 (pertama di Indonesia), melakukan pengelolaan madu untuk mendapatkan nilai tambah, membangun Perjajian Kerjasama dengan pihak pengelolaan kawasan konservasi, ikut menjaga kelestarian kawasan konservasi dan mendapatkan pinjaman usaha off farm senilai Rp. 1,4 milyar untuk pengembangan madu dari BLU KLHK (pertama di Indonesia), maka layaklah kiranya Asosiasi Periau Danau Sentarum (APDS) menjadi model di Indonesia untuk pengelolaan hasil hutan bukan kayu berupa madu hutan di kawasan konservasi dan melalui APDS, Kementerian LHK dapat membuktikan bahwa kawasan hutan konservasi dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat di sekitar hutan. Sumber : Ahmad Munawir - Kepala Bidang Teknis Konservasi Balai Besar TN Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Pengumuman

BERITA PALSU

Demikian kami sampaikan untuk menjadi perhatian.
Baca Pengumuman

Uzbekistan Siap Dukung Kerjasama IPTEK Lingkungan Hidup dan Kehutanan

SIARAN PERS Nomor: SP. 219 /HUMAS/PP/HMS.3/08/2017 Uzbekistan Siap Dukung Kerjasama IPTEK Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kamis, 24 Agustus 2017. Memenuhi undangan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, dalam pertemuan sebelumnya (21/08/2017), Deputi PM/Menteri Pertanian dan Sumber Daya Air Uzbekistan, Y.M. Mr. Zoyir Mirzaev, berkunjung ke kantor Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian LHK, di Bogor (24/08/2017) untuk berdialog tentang inisiasi kerjasama penelitian, peningkatan kapasitas, dan berbagi informasi hasil-hasil IPTEK dengan sejumlah peneliti LHK. Kepala BLI Kementerian LHK , Dr. Henry Bastaman, sebagai focal point yang ditunjuk oleh Menteri LHK, sangat mengapresiasi kunjungan Delegasi Uzbekistan, dan berharap kunjungan ini merupakan awal dari perwujudan kerjasama kedua pihak dalam waktu dekat. Selain menjelaskan fasilitas dan tenaga SDM yang dimiliki BLI, Henry juga menjelaskan bahwa banyak inovasi yang telahdihasilkan oleh BLI, dan bermanfaat bagi masyarakat. “Berbagai inovasi tersebut antara lain, benih unggul tanaman hutan, sengon toleran karat puru, bioinduksi Gaharu, bioethanol dari Aren, biodiesel dari tanaman Nyamplung, teknologi pengolahan Bambu, dan arang terpadu”, jelas Henry kepada Delegasi Uzbekistan. Sementara itu, Mr. Zoyir Mirzaev menyampaikan ketertarikannya untuk belajar dari Kementerian LHK, tentang penelitian dan pengembangan hutan tanaman, serta teknologi produksi hasil hutan. “Kami sangat menantikan kerjasama bidang LHK dengan Indonesia, dan kami siap mendukung sepenuhnya peningkatan kapasitas untuk para peneliti Indonesia, baik secara finansial, maupun kesempatan belajar di Uzbekistan. Kami harap kerjasama ini bukan sekedar formalitas, melainkan ada transfer IPTEK yang berlangsung secara kontinu antar kedua negara”, tutur Mr. Zoyir Mirzaev penuh semangat. Dialog ini juga dihadiri Direktur Asia Selatan dan Tengah Kementerian Luar Negeri, Ferdy Piay, para Kepala Pusat Litbang, serta para peneliti BLI. Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat langkah BLI untuk memperluas jaringan publikasi hasil-hasil IPTEK di tingkat internasional, sebagaimana visi BLI Kementerian LHK, yaitu untuk menjadi institusi terdepan dalam pengembangan teknologi LHK, mendukung pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di tahun 2020.(*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Pengumuman

Morel, Jamur Termahal di Dunia Ini ada di Rinjani

Morel (Morchella spp, Pezizales, Ascomycota) merupakan spesies jamur edible sebagai komoditas bernilai tinggi di pasaran internasional. Morel merupakan hasil hutan bukan kayu yang telah mendatangkan devisa cukup tinggi di China, Amerika Utara, India, Turki dan Pakistan. Nilai komersial tahunan di Amerika Utara morel sekitar 5 juta -10 juta USD, di China 5 tahun terakhir ekspor morel sekitar 181-900 ton dengan harga Ekspor morel sekitar 160 USD/KG. India dan Pakistan ekspor morel liar dari Himalaya dengan 50 ton/ per tahun Harga : Rs. 14,000-15,000 per kg. Hasil penelitian yang dilakukan Tim TNGR bekerjasama dengan Tim Peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Bogor bahwa berdasarkan uji DNA morel yang ada di Rinjani merupakan spesies Morchella crassipes, satu-satunya morel yang ditemukan pertama di hutan tropis Indonesia. Secara sebaran alamnya, morel hanya tumbuh di daerah beriklim temperate. Selain harganya yang tinggi mencapai 6 juta rupiah per kg, morel mempunyai cita rasa yang enak dan berdasarkan hasil uji fitokimia mengandung antioksidan yang cukup tinggi sebagai anti kanker. Tindak lanjut dari penelitian tersebut, saat ini spora jamur morel sudah bisa tumbuh di media petri di laboratorium. Selanjutnya akan dilakukan analisis media tumbuh agar dapat dibudidayakan di lapangan. Apabila pengembangan tersebut berhasil dilakukan, maka akan dibudidayakan oleh masyarakat di lingkar TNGR. Perlindungan sumberdaya genetik jamur Morel dalam bentuk Hak Paten Jamur Morel kawasan TNGR juga akan dikerjakan. Sumber Info : Balai TN Gunung Rinjani
Baca Pengumuman

Serah Terima Jabatan Koordinator Unit Pelaksana Teknis di Provinsi

Berikut kami sampaikan Surat Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor S.778/SETJEN/ROKEU/OTL.0/7/2017 Tanggal 10 Juli 2017 Tentang Serah Terima Jabatan Koordinator Unit Pelaksana Teknis di Provinsi.
Baca Pengumuman

Penemuan Rafflesia rochussenii Hasil Terobosan BBTN Gn. Gede Pangrango dengan Integrated Patrol Program (IPP)

Bogor, 21 Agustus 2017. Integrated Patrol Pogram (IPP) adalah program patroli yang terintegrasi antar fungsional tertentu baik Polisi Kehutanan (Polhut), Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), dan Penyuluh Kehutanan di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Pada prinsipnya IPP ini merupakan suatu bentuk kerja bersama dan saling mengisi antar fungsional tertentu di TNGGP selanjutnya menjadi bahan masukan terhadap manajemen pengelolaan TNGGP. Sabtu, 19 Agustus 2017. Polisi Kehutanan Bidang PTN Wilayah III Bogor, di bawah komando Kepala Unit (Kanit) Bidang PTN Wilayah III Bogor, Ida Rohaida bersama tim yang terdiri dari Tugiman, Komar, Nidya Opinta, Eric, dan Mukti melaksanakan patroli tindak lanjut adanya potensi flora Rafflesia rochussenii di Resort Tapos yang harus dijaga jangan sampai adanya aktivitas illegal seperti perburuan, penebangan maupun pendakian yang dapat mengganggu keberlangsungan habitat flora tersebut. Kegiatan patroli ini Pak Komar sebagai Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya (TPHL) menemukan individu Rafflesia rochussenii yang sedang mekar pada ketinggian 1.196 mdpl di Blok Pasir Banteng. Kegiatan seperti ini yang diharapkan Balai Besar TNGGP adanya Integrated Patrol Program (IPP) dari hasil patroli mendapatkan informasi keberadaan potensi sumber daya alam yang selanjutnya dilakukan penelitian dan analisis lebih lanjut oleh fungsional PEH dan hasil olahan data yang didapat dikemas menjadi sebuah informasi yang dapat disampaikan oleh fungsional Penyuluh Kehutanan dan bagian humas. Jenis Rafflesia rochussenii ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta mengajak masyarakat dalam melestarikan jenis Rafflesia rochussenii di TNGGP. Marga atau genus Rafflesia di dunia berjumlah 25 jenis, 12 jenis diantaranya dijumpai di Indonesia (Susatya, 2011). Menurut Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, semua jenis dari genus Rafflesia adalah dilindungi. Satu dari 12 jenis Raflesia ditemukan hidup di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) sampai sekarang, yaitu jenis Rafflesia rochussenii. Rafflesia rochussenii memiliki sejarah panjang, namun hanya mempunyai sedikit informasi struktur morfologi dan populasinya. Spesimennya pertama kali dikumpulkan dari kawasan Cibodas, Gunung Gede Pangrango yang sekarang adalah TNGGP dan dideskripsikan oleh Teijsmann dan Binnendijk tahun 1850 (Meijer, 1997). Jenis ini paling dikhawatirkan sedang menuju kepunahan. Bahkan pada tahun 1941 Rafflesia rochussenii dinyatakan punah, namun pada tahun 1990 jenis ini ditemukan kembali oleh sekelompok mahasiswa pencinta alam dari IPB (Lawalata IPB) di Gunung Gede. Pernah juga ditemukan di Gunung Salak dan Gunung Leuser (Zuhud dkk, 1998). Sampai Bulan September tahun 2016, Rafflesia rochussenii yang termonitoring oleh Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di TNGGP khususnya hanya di Bidang PTN Wilayah III Bogor tersebar di 2 Resort yaitu Resort Cimande dan Resort Tapos. Rafflesia rochussenii tumbuh pada ketinggan sekitar 1.000 - 1.200 m dpl. Masa hidupnya diperkirakan membutuhkan waktu selama 27,3 bulan untuk sebuah kuncup sampai mekar. Waktu mekarnya selama 7 hari (Zuhud dkk, 1994). Tumbuhan inangnya adalah liana dari genus Tetrastigma. Pada Bulan Oktober tahun 2016, pernah ditemukan di Resort Bodogol pada ketinggian 1.350 m dpl. Titik inilah yang merupakan lokasi tertinggi perjumpaan sampai saat ini (http://ksdae.menlhk.go.id/berita/556/lokasi-baru-rafflesia-rochussenii--di-taman-nasional-gunung-gede-pangrango.html). Hasil monitoring tahun 2017 pada Bulan Mei di Resort Cimande dan Resort Tapos yang tersebar pada 5 titik ditemukan sebanyak 2 mekar sehat, 26 mekar busuk, 35 knop sehat, dan 9 knop busuk. Pada Bulan Juli 2017 ditemukan titik lokasi baru (masih di Resort Tapos) Rafflesia rochussenii di ketinggian 1.180 mdpl dengan jumlah 17 knop sehat, 5 knop busuk, dan 9 knop mekar. Melihat sebarannya yang terbatas, langka dan menuju kepunahan, serta statusnya dilindungi undang-undang, maka sudah selayaknya kita meningkatkan penjagaan dan melestarikannya dari kepunahan. Untuk efektifitas dan efisiensi pengelolaannya, jika ada temuan terbaru jenis ini di luar TNGGP, harapannya bisa saling berbagi informasi. Integrated Patrol Program (IPP) merupakan salah satu terobosan pengelolaan kawasan konservasi yang efektif dan efisien dalam pelestarian sumber daya alam. Rafflesia rochussenii di Blok Pasir Banteng, Resort Tapos yang ditemukan saat patroli Sumber Info : Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango
Baca Pengumuman

Kacamata Makassar Endemik Sulawesi Selatan

Burung Kacamata Makassar adalah salah satu burung endemik yang hanya bisa dijumpai di Sulawesi Selatan. Foto: Kamajaya Shagir Kawasan Sulawesi diyakini memiliki setidaknya 9–10 jenis burung kacamata (Zosterops spp.) termasuk yang ada di pulau-pulau yang terisolir. Isolasi ini telah mengakibatkan terbentuknya variasi baik dalam morfologi maupun dalam perbedaan suara dan nyanyian. Tak banyak yang mengenal burung kacamata atau yang lebih familiar disebut dengan burung pleci. Hanya pengamat burung (birder) dan penggemar burung kicau yang sedikit paham dirinya. Kicaunnya yang merdu telah menjadi incaran para pedagang dan pemelihara burung kicauan. Mari kita bahas salah satu jenis burung kacamata, yakni burung kacamata Makassar. Burung endemik atau hanya diketahui hidup di Sulawesi Selatan, ditemukan hidup berkelompok di semak-semak daerah perbukitan, hutan sekunder, dan tepi hutan sampai ketinggian 1.370 m dpl. Di Kawasan Taman Nasional (TN) Bantimrung Bulusaraung. “Burung Kacamata Makassar ini sering saya jumpai di hutan Karaenta” tutur Hendra, pemandu lokal yang sering mendampingi tamu birder dari travel perjalanan. “Biasanya pagi-pagi burung cui-cui ini keluar dari sarangnya untuk mencari makan” lanjutnya. Waktu terbaik mengamati burung secara umum adalah antara pukul 06.00 s.d 10.00 Wita. Cui-cui adalah nama lokal burung ini di Makassar dan sekitarnya. Nama latinnya adalah Zosterops anomalus. Dalam bahasa inggris sering disebut Black-ringed White-eye, ini dikarenakan umumnya burung jenis ini memiliki ciri dengan lingkaran di sekitar mata berwarna putih. Tapi tidak dengan burung Kacamata Makassar ini lingkaran di sekitar matanya justru berwarna hitam. Burung pemangsa serangga ini memiliki ciri-ciri tenggorokan kuning, perut putih, dan penutup ekor bagian bawah putih. Zosterops sendiri berasal dari bahasa yunani yang berarti “sabuk mata”. Namun tak semua burung kacamata memiliki ciri khas ini berupa cincin lingkaran pada mata. Ukuran burung kacamata ini berkisar antara 8–15 cm. Pertengahan Juni 2017 lalu seorang author buku panduan lapangan “A Guide to the Birds of Wallacea”, K. David Bishop bertandang ke Makassar. Menyempatkan diri mengunjungi TN Bantimurung Bulusaraung untuk mengamati burung endemik Sulawesi Selatan ini. Ya…Burung Kacamata Makassar adalah target utamanya. Pagi itu awan mendung menyelimuti Karaenta, sesekali gerimis menyapu hutan karst yang dibelah jalan poros menuju Bone ini. Tak langsung mengamati burung, beliau mengitari hutan ini terlebih dahulu. Scanning bersama guide lokal menuju spot pengamatan yang berada di hutan Karaenta. Mengetahui kedatangan pengarang guide book burung ini Kamajaya Shagir, PEH TN Bantimurung Bulusaraung menyusul beliau ke Karaenta Tak menunggu begitu lama, burung Kacamata Makassar menampakkan diri. Sesekali burung endemik ini mengeluarkan kicauan khasnya. Mengira sang maestro telah mengetahui kehadirannya, namun sepertinya beliau sudah sedikit lupa suara khas itu. Maklum sudah 36 tahun lalu terakhir kali mengamati burung ini. Sang local guide pun berinisiatif menunjukkan kehadirannya. Betapa girangnya sang maestro. Raut wajahnya sumringah. Beliau pun mengarahkan binokuler miliknya. Mengamati seksama dan selanjutnya mengambil tape recorder untuk merekam suara burung Kacamata Makassar ini. Foto bersama K. David Bishop, Kamajaya Shagir, teman Bishop dan pemandu travel perjalanan yang membawanya ke Hutan Karaenta. Foto: Hendra Pada akun facebook milik Kamajaya Shagir yang bersamanya selama birding di Karenta, K. David Bishop mengungkapkan kekaguman akan burung ini. “A great morning despite the rain in some lovely forest and superb views of the endemic Black-ringed White-eye. A Suprisingly neat bird” ujarnya. Kawasan TN Bantimurung memiliki beragam jenis burung, tak kurang dari 154 jenis burung di kawasan yang didominasi bukit karst ini. Hampir setengah dari jumlah tersebut adalah jenis burung endemik. “Ke depan burung-burung endemik ini akan kami kumpulkan dalam bentuk buku” kata Kepala Balai TN Bantimurung Bulusaraung, Sahdin Zunaidi. Kenali dan cinta Negerimu dengan baik dan benar. Ayo ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Sumber : Taufiq Ismail – PEH TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Pengumuman

Merdeka Indonesiaku, Merdeka Orangutanku

SIARAN PERS Nomor : SP. 211/HUMAS/PP/HMS.3/08/2017 Merdeka Indonesiaku, Merdeka Orangutanku Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Minggu, 20 Agustus 2017. Seiring dengan peringatan 72 tahun Indonesia merdeka, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama-sama dengan Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS), juga merayakan Hari Kemerdekaan bagi Orangutan (Orangutan Day of Freedom) di Jakarta (19/08/2017). Dengan didukung PT. Bank Central Asia Tbk, dan bertema “Orangutan Freedom”, acara ini bertujuan untuk penyadartahuan dan penggalangan dana bagi upaya konservasi orangutan dan habitatnya di Kalimantan. Menteri LHK Siti Nurbaya, dalam sambutannya yang dibacakan oleh Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK, Djati Witjaksono Hadi, menyatakan bahwa KLHK berkomitmen penuh dalam menjaga hutan dan seisinya, termasuk habitat satwa orangutan. Siti Nurbaya juga menyambut baik upaya-upaya konservasi yang dilakukan berbagai organisasi, kelompok, maupun individu, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yayasan BOS. Siti Nurbaya menegaskan bahwa, upaya pelestarian hutan tidak dapat dilaksanakan secara parsial dan sendiri-sendiri, dan perlu didukung oleh semua pihak termasuk pemerintah pusat dan daerah, masyarakat, serta pelaku bisnis. Berdasarkan hasil inventarisasi KLHK bersama Forum Orangutan Indonesia (FORINA) tahun 2016, populasi orangutan di Indonesia saat ini diperkirakan sebanyak 71. 800 individu, meliputi orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Berbagai upaya konservasi satwa ini terus dilakukan KLHK secara kontinu dan progresif, seperti evakuasi, translokasi, rehabilitasi, sosialisasi kepada publik, pembinaan habitat, hingga kegiatan pemadaman kebakaran pada provinsi-provinsi yang merupakan habitat orangutan. Sebelumnya di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (18/08/2017), Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno, telah meresmikan baby house baru di Pusat Rehabilitasi Orangutan (BOS) Nyaru Menteng, yang menampung 16 bayi orangutan. Tempat ini merupakan rumah bagi orangutan usia 4 tahun ke bawah, setelah menghabiskan waktunya di Sekolah Hutan. Dukungan publik terhadap upaya konservasi orangutan ini semakin meningkat, sebagaimana disampaikan CEO Yayasan BOS, Jamartin Sihite,“Setiap hari kami menerima pertanyaan tentang orangutan, baik dari orang asing, maupun dari teman-teman di dalam negeri. Kami melihat bahwa telah muncul minat yang cukup besar dari masyarakat awam mengenai upaya pelestarian orangutan dan habitatnya”. Jamartin juga berharap agar keberadaan dan kualitas hutan dapat terus terjaga, dan keselamatan orangutan merupakan kunci utama dalam mendukung hal ini. Didirikan di tahun 1991, Yayasan BOS telah menjadi mitra KLHK (Ditjen KSDAE) sejak tahun 1999 dalam kegiatan konservasi orangutan. Perpanjangan kerjasama terbaru dilakukan pada tanggal 30 Mei 2017, antara Plt. Dirjen KSDAE, Bambang Hendroyono, dan Jamartin Shite, yang berlaku selama lima tahun kedepan. Di tingkat tapak, Yayasan BOS bekerja sama dengan Unit Pelaksana Teknis Ditjen KSDAE, yaitu Balai KSDA Kalimantan Timur, Balai KSDA Kalimantan Tengah, dan Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Sekitar 650 orangutan telah dirawat yayasan ini, dan sebanyak 301 orangutan telah dilepasliarkan ke hutan-hutan Kalimantan. Sejumlah tokoh seni hadir dalam acara ini, seperti Nugie, Melanie Subono, Oppie Andaresta, Slank, Davina Veronica, dan Riyanni Djangkaru. Tidak lupa, mereka juga berpesan kepada masyarakat agat dapat terus mendukung upaya pelestarian hutan dan satwa orangutan. Sementara itu, perwakilan dari PT. BCA, Inge Setiawati, menyampaikan bahwa PT. Bank Central Asia Tbk., telah mendukung upaya konservasi orangutan yang dilakukan Yayasan BOS sejak tahun 2013, dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR) dan pendanaan (*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Pengumuman

Intensifkan Pemadaman, Status Udara 17 Kabupaten/Kota Terpantau Baik

SIARAN PERS Nomor : SP. 212/HUMAS/PP/HMS.3/08/2017 Intensifkan Pemadaman, Status Udara 17 Kabupaten/Kota Terpantau Baik Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Minggu, 20 Agustus 2017. Munculnya cuaca panas beberapa hari ini mendukung peningkatan jumlah hotspot tadi malam (19/08/2017). Pada pukul 20.00 WIB, 12 hotspot terpantau oleh Satelit NOAA19, yaitu 6 titik di Kalimantan Barat (Kabupaten Ketapang, Sekadau), 1 titik di Kalimantan Timur (Kabupaten Kutai Kertanegara), 3 titik di Bangka Belitung (Kabupaten Belitung, Belitung Timur, dan Belitung Barat), 1 titik di Lampung (Kabupaten Waykanan), dan 1 titik di Jawa Tengah (Kota Semarang). Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan satelit TERRA/AQUA (NASA) (confidence level ≥80%), yang memantau 9 hotspot, dan satelit TERRA/AQUA (LAPAN) (confidence level ≥80%) yang menunjukkan 10 hotspot. “Tim Manggala Agni KLHK segera melakukan groundcheck intensif ke titik-titik hotspot tersebut”, ujar Djati Wijaksono Hadi, Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK. Upaya pemadaman melalui hujan buatan juga masih berlangsung di Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Sampai hari ini (20/08/2017), sudah dilakukan 67 kali terbang dengan seeding garam 66,6 ton, sedangkan di Ogan Komering Ilir, tercatat total telah dilakukan water bombing sebanyak 884 kali yang menghabiskan jumlah 3.536.000 liter air. Sementara itu di Kalimantan Tengah, terjadi kebakaran lahan masyarakat yang berdekatan dengan areal perkebunan swasta di Kecamatan Bulik, Kabupaten Lamandau (19/08/2017). Kebakaran sekitar 5 Ha yang bermula pada pukul 13.45 WIB ini, telah berhasil dipadamkan pada jam 16.30 WIB, oleh Tim gabungan Manggala Agni, Polres Bulik, dan karyawan perkebunan. Sekitar 0,5 Ha lahan masyarakat juga diketahui terbakar di Desa Bentok, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan (19/08/2017). Selama kurang lebih 45 menit, akhirnya api berhasil dipadamkan oleh tim terpadu sejak pukul 14.15 WITA. Berbagai upaya pemadaman ini menurut Djati, juga merupakan bentuk pencegahan terjadinya kualitas udara yang memburuk. “Berdasarkan hasil pemantauan Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL), Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada bahwa 17 Kabupaten/Kota di provinsi rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) umumnya masih baik, kecuali ada 4 daerah dalam status sedang, yaitu Kota Pekanbaru, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hilir, dan Kota Jambi”, Djati menjelaskan. Ketigabelas lokasi lainnya, yaitu Kabupaten Kampar, Kabupaten Siak, Kota Dumai, Kota Pontianak, Kabupaten Barito Utara, Kota Palangkaraya, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kota Palembang, Kabupaten Bulungan, Kota Banjarmasin, Kota Padang, dan Kota Banda Aceh. Disampaikan Djati, monitoring hotspot melalui udara juga terus dilakukan di Provinsi Sumatera Utara dan Kalimantan Barat, sedangkan di Riau dan Jambi, patroli terpadu dan sosialisasi juga tidak henti-hentinya dilaksanakan oleh Satuan Daops masing-masing wilayah. Sebagaimana diketahui sebelumnya, 9 hotspot yang terpantau satelit TERRA/AQUA (NASA) (confidence level ≥80%), terdiri dari 1 titik di Kalimantan Barat (Kabupaten Ketapang), 1 titik di Kalimantan Timur (Kabupaten Kutai Kertanegara), 2 titik di Papua (Kabupaten Merauke), 4 titik di Bangka Belitung, dan 1 titik di Nusa Tenggara Timur (Kabupaten Sumba Timur). Sedangkan, 10 hotspot berdasarkan satelit TERRA/AQUA (LAPAN) (confidence level ≥80%), terdiri dari 2 titik di Kabupaten Ketapang, Sanggau, 1 titik di Kabupaten Kutai Kertanegara (Provinsi Kalimantan Timur), 2 titik di Kabupaten Merauke (Provinsi Papua), 4 titik di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dan 1 titik di Kabupaten Sumba Timur (Provinsi Nusa Tenggara Timur). Dengan demikian, total hotspot berdasarkan satelit NOAA19 per 1 Januari s/d 19 Agustus 2017 dilaporkan sebanyak 1.486 titik. Hal ini menurun sebanyak 690 titik (31,70%), jika dibandingkan tahun 2016 periode yang sama, yaitu semula 2.176 hotspot. Data TERRA/AQUA (NASA) (confidence level ≥80%), juga menunjukkan penurunan sebanyak 2.174 hotspot (80,22%), yaitu semula 2.710 hotspot menjadi 536 hotspot. (*) Penanggung jawab berita: Kepala Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Djati Witjaksono Hadi – 081375633330
Baca Pengumuman

“Ekspedisi Tapak Merah Putih Tambora” Peringati HKAN 2017 Dan Hut RI Ke-72

Selasa 15 Agustus 2017 Beberapa anggota dari Taman Nasional Tambora , mulai beraktivitas di lapangan Dusun Pancasila Desa Tambora untuk mempersiapkan semua untuk kegiatan yang akan dilaksanakan pada tanggal 15 s/d 18 Agustus 2017. Tenda, Umbul-umbul dan bendera sudah mulai berdiri kokoh menghiasi sisi Timur Lapangan Pancasila yang dijadikan basecamp. Dalam kesempatan kegiatan ini Taman Nasional Tambora mengundang instansi terkait, antara lain : BPDASHL Prov NTB, BKSDA NTB, KPH P Tambora, RRI, TNI, POLRI, PT. Sanggar Agro, PT. SMS, PT AWB, Kelompok Pecinta Alam Lingkar Tambora, Masyarakat Umum, Mahasiswa Progdi Kehutanan UNRAM, Mahasiswa INSTIPER Yogyakarta dan lain-lain. Dari semua peserta ada yang menarik perhatian ialah pendaki termuda yang masih berusia 11 tahun. Ghiefary, ialah pendaki cilik yang berasal dari Kabupaten Dompu, dia ikut serta dalam kegiatan yang diadakan Taman Nasional Tambora ini. Selain itu, dalam ekspedisi tersebut rekor pendaki tertua dipegang Pak Joko yang saat mendaki berusia 55 tahun. Rabu 16/08/2017 Seluruh peserta sudah siap dan berkumpul untuk memulai pendakian Gunung Tambora. Sebelum berangkat panitia kegiatan mengecek semua kebutuhan dan peralatan yang akan digunakan saat pendakian serta membekali peserta dengan bibit pohon endemik di Taman Nasional Tambora. Pohon Kelanggo (Duabanga Mollucana) memang menjadi pohon endemik Taman Nasional Tambora. Kegiatan penanaman pohon endemik ini dilakukan di sepanjang Jalur Pandakian. Tak kurang dari 1000 peserta semua dibekali dengan bibit pohon, itu pula berarti sekitar 1000 bibit pohon juga yang ditanam di sepanjang Jalur Pendakian Pancasila ini. Tepat jam 01.00 dini hari 17 Agustus 2017 semua peserta sudah berkumpul dan bersiap untuk mendaki puncak tertinggi Gunung Tambora dan mengibarkan bendara Merah Putih. Sinar matahari 17 Agustus 2017 menyambut para peserta di puncak tertinggi Gunung Tambora. Pengibaran bendera yang berukuran tak kurang dari 7,2 Meter tersebut dilakukan oleh beberapa orang. Sebagian besar dari seluruh peserta pandakian ini berhasil menapaki Puncak tertinggi Gunung Tambora. Beberapa saat para peserta menikmati keindahan kaldera Tambora yang berdiameter kurang lebih 7 Km tersebut sebelum mereka kembali harus turun menuju basecamp awal di Pancasila. Saat perjalanan turun tak lupa masih ada satu kegiatan yang harus dilakukan, yaitu Sapu Gunung, semua perserta dibekali 1 buah trashbag untuk menampung sampah. Semua peserta berhasil sampai basecamp Pancasila dengan selamat dan pertanda bahwa kegiatan “Ekspedisi Tapak Merah Putih” ini berjalan dengan lancar.
Baca Pengumuman

Deklarasi Penguatan DAS Hulu – Hilir Citanduy Dan Sinergitas Dengan Pengelolaan SM Gunung Sawal Dan CA Nusa Gede Panjalu

Keberadaan hutan sebagai tempat penyimpan cadangan air sudah tidak dapat dinafikan lagi. Hutan yang berisikan berbagai jenis pepohonan, menjalankan fungsinya seperti “spons raksasa” yang akan menyerap air hujan selama musim penghujan dan secara perlahan-lahan akan melepaskannya selama musim kemarau. Namun, kekhawatiran muncul ketika luas hutan semakin lama semakin berkurang, tergerus oleh semakin meningkatnya ruang yang dibutuhkan untuk berbagai aktivitas manusia. Ketika hutan berangsur-angsur semakin terdegradasi, lantas bagaimana dengan keberadaan air sebagai sumber kehidupan? Tentunya, air juga akan menjadi barang langka, utamanya pada saat musim kemarau. Kekhawatiran itulah yang mendorong Forum Pelatihan Pangan (Peduli Lahan Kritis dan Ketahanan Pangan) bersama Balai Pengelolaan DAS-HL Cimanuk Citanduy beserta Paguyuban Warga Hujungtiwu menyelenggarakan kegiatan Deklarasi Penyelamatan Sumber Daya Air berlokasi di Desa Hujungtiwu, Kec. Panjalu, Kec. Ciamis pada tanggal 15 Agustus 2017. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Konservasi Nasional dan juga menyambut Hari Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke-72. Acara yang turut dihadiri oleh perwakilan BBKSDA Jawa Barat beserta perwakilan dari instansi lain seperti Direktorat Jenderal PPI, Direktorat Jenderal PSKL, BP DAS-HL Cimanuk Citanduy, Perhutani, Dinas Pekerjaan Umum Ciamis, Dinas Pertanian Ciamis, Camat Panjalu, Kepala Desa Hujungtiwu, Forum Pelatihan Pangan, dan masyarakat Desa Hujungtiwu, diawali dengan kegiatan penanaman di sekitar lokasi embung Hunjungtiwu. Adapun jenis tanaman yg ditanam antara lain jenis mahoni, manglid, dan jenis buah buahan. Puncak acara pada kegiatan tersebut diisi dengan pembacaan Deklarasi Penyelamatan Sumber Daya Air sekaligus penandatanganan pada prasasti yang menyatakan bahwa peserta yang hadir sepakat untuk mendukung penyelamatan sumber daya air di Desa Hujungtiwu yang merupakan binaan BP DAS Cimanuk Citanduy. Secara khusus, Suaka Margasatwa (SM) Gunung Sawal dan Cagar Alam (CA) Nusa Gede Panjalu, dua kawasan konservasi di bawah pengelolaan BBKSDA Jawa Barat, merupakan bagian dari DAS Citanduy. Dengan demikian, pengelolaan SM Gunung Sawal dan CA Nusa Gede Panjalu dapat menjadi bagian yang memperkuat fungsi DAS Citanduy. Sebagai contoh, dalam konteks penguatan DAS Citanduy/penyelamatan sumber daya air, BBKSDA Jawa Barat pada tahun 2017 ini telah melaksanakan kegiatan pemulihan ekosistem di SM Gunung Sawal dan akan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya. Lebih lanjut, pada tahun 2018 BBKSDA Jawa Barat akan melaksanakan inventarisasi mata air yang terdapat di SM Gunung Sawal. Terakhir, masih di SM Gunung Sawal pada tahun 2017 ini kegiatan pemanfaatan sumber daya air untuk masyarakat di daerah penyangga kawasan konservasi melalui sebuah skema teknologi tepat guna (mini hydro power plant) akan dilaksanakan oleh BBKSDA Jawa Barat. Deklarasi penyelamatan sumber daya air ini merupakan sebuah bentuk kepedulian seluruh elemen masyarakat untuk mempertahankan keberadaan hutan sebagai penghasil sumber daya air. Diharapkan, deklarasi ini tidak hanya menjadi aksi seremonial belaka, melainkan menjadi langkah awal dari sebuah komitmen untuk bersama-sama menjaga kelestarian hutan sehingga air sebagai sumber kehidupan masih dapat dinikmati oleh masyarakat. Sumber: BBKSDA Jawa Barat
Baca Pengumuman

Management Effectiveness Tracking Tool (METT) di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

Cibodas, 10 Agustus 2017. Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) pada tanggal 4 Agustus 2017 telah melaksanakan kegiatan penilaian (assessment) dalam rangka menilai sejauh mana pengelola kawasan telah secara efektif dikelola sejalan dengan visi, misi, dan tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan pada saat kawasan ini ditunjuk. Melaksanakan penilaian (assessment) terhadap efektivitas pengelolaan, merupakan amanah yang tercantum dalam Convention of Biological Diversity (CBD) on Protected Areas, 188 negara sepakat membangun sistem penilaian dan pelaporan efektivitas pengelolaan kawasan lindung. Selain itu untuk mendukung pencapaian Indikator Kinerja Program (IKP) Direktorat Jenderal KSDAE minimal 70 % nilai indeks efektivitas pengelolaan kawasan konservasi tahun 2019 pada 260 unit dari 551 unit kawasan konservasi di seluruh Indonesia. Penilaian ini dihadiri oleh kurang lebih 40 peserta yang terdiri dari para Pejabatan Eselon III dan IV lingkup Balai Besar TNGGP, Kepala Resort, Kepala Satuan Tugas Polisi Kehutanan, Kepala Unit Polisi Kehutanan, Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan, Koordinator Penyuluh Kehutanan, dan peneliti yang sedang melakukan penelitian di TNGGP. Kegiatan ini dipandu oleh 2 (dua) orang) fasilitator dari Direktorat Kawasan Konservasi. Seluruh peserta bersama-sama menjawab pertanyaan untuk menentukan tingkat efektivitas pengelolaan TNGGP. Instrumen/ alat penilaian yang digunakan adalah METT (Management Effectiveness Tracking Tool) merupakan perangkat yang digunakan untuk mengevaluasi secara mandiri (self assessment). METT telah diimplementasikan di lebih dari 900 (sembilan ratus) site kawasan konservasi di luar negeri. Metode yang dipilih pemerintah Indonesia dalam melakukan evaluasi pengelolaan kawasan konservasi (diadopsi sesuai dengan pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia). METT dipilih karena metoda ini dibuat untuk menilai kawasan konservasi pada level site/ lokal/ lapangan, sehingga memungkinkan staf/ petugas dari suatu kawasan konservasi menjawab pertanyaan-pertanyaan pada METT. Hal ini disebabkan METT dibuat sedemikian rupa sehingga mudah untuk diaplikasikan dan dijawab oleh para pengelola kawasan, tanpa perlu melakukan tambahan penelitian khusus. Format pertanyaan pada METT terdiri dari 2 bagian. Bagian 1 terdiri dari 2 data yaitu Lembar Data 1 berisi detil penilaian dan informasi dasar tentang kawasan seperti nama, luas, dan lokasi kawasan, dan pertanyaan melihat tingkat ancaman terhadap kawasan. Lembar data 2 merupakan daftar generik jenis-jenis ancaman yang dihadapi oleh kawasan. Pada lembar ini, penilai diminta untuk mengidentifikasi ancaman dan tingkat dampaknya terhadap kawasan konservasi. Sedangkan bagian 2 terdiri dari 30 pertanyaan yang menggambarkan 6 elemen pengelolaan (konteks, perencanaan dan desain kawasan, input, process, output, dan outcome). Pertanyaan pada bagian 2 ini kemudian diintegrasikan dengan tujuan pengelolaan, untuk melihat sejauh mana pengelolaan kawasan konservasi. Elemen Penilaian METT Elemen Evaluasi Context Sampai dimana kita? Planning Dimana kita ingin berada? Input Apa yang kita butuhkan? Process Bagaimana kita menjalani? Output Apa hasilnya? Outcome Apa yang telah kita capai? Kriteria · Ancaman · Kerentanan · Kebijakan Nasional · Kemitraan · Peraturan & Kebijakan KK · Design sistem KK · Rencana Pengelolaan · Sumberdaya yang tersedia di pengelola · Sumberdaya yang tersedia di lapangan Kesesuaian proses pengelolaan Hasil pengelolaan Produk & Jasa Dampak pengelolaan terhadap tujuan pengelolaan Hasil penilaian adalah sebagai berikut: Dari 12 pertanyaan tentang ancaman terjadap kawasan konservasi, diperoleh hasil sebagai berikut: B. Indikator Pengelolaan Efektif Dari 30 pertanyaan untuk indikator pengelolaan efektif pada bagian 2, ada 1 pertanyaan yang dianggap tidak relevan, yaitu pertanyaan yang berkaitan dengan masyarakat asli/ adat (indigenous people), sehingga pertanyaan ini diabaikan. Dari hasil penilaian, diperoleh bahwa total skor penilaian efektifitas pengelolaan kawasan TNGGP adalah 80 dari maksimum skor 99 atau 80,81 %. Nilai ini menunjukkan bahwa TNGGP relatif dikelola dengan efektif (relative well-managed). Diperoleh bahwa pengelolaan di TNGGP telah efektif dengan rincian perolehan nilai per kriteria: context 100 %; planning 90 %; input 72 %; process 76 %; output 67 %; dan outcome 100 %. Gambar berikut menunjukkan hasil/ grafik efektivitas pengelolaan. Berdasarkan SK Dirjen KSDAE Nomor: SK. 357/KSDAE-SET/2015 tanggal 31 Desember 2015 tentang Penetapan Nilai Awal Efektivitas Pengelolaan Kawasan Suaka Alam, Kawasan Pelestarian Alam, dan Taman Buru, Balai Besar TNGGP merupakan kawasan konservasi dengan nilai METT tertinggi kategori taman nasional. Hasil penilaian tahun 2017 dibandingkan dengan tahun 2015 ada peningkatan dari 80 % menjadi 80,81 %. Fasilitator dari Direktorat KK mengatakan, “nilai naik menandakan adanya peningkatan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dari tahun sebelumnya”. Hasil penilaian mencapai 80,81 % karena didukung untuk setiap elemen: Tindak lanjut dari hasil penilaian ini akan disusun rencana aksi pengelolaan kawasan TNGGP dengan melihat faktor visi, misi, tujuan pengelolaan, potensi, kelemahan, peluang, dan ancaman. Rencana aksi pengelolaan yang akan disusun diharapkan dapat dilaksanakan untuk mempertahankan bahkan dapat meningkatkan nilai METT yang sudah dicapai. Sumber: Tim METT Balai Besar TNGGP
Baca Pengumuman

Langkah Kecil Upaya Konservasi Di Resort Konservasi Wilayah II TWA. Pulau Sangiang Dan CA. Pulau Dua, Serang-Banten

Balai Besar KSDA Jawa Barat mengelola 50 unit Kawasan Konservasi dengan total luas 83.507,19 hektar yang tersebar di Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Banten. Dalam rangka optimalisasi pengelolaan Kawasan Konservasi tersebut, maka Balai Besar KSDA Jawa Barat telah membagi pengelolaan Kawasan Konservasi ke dalam unit pengelolaan sampai tingkat tapak yaitu Resort Konservasi Wilayah (RKW). Salah satu pertimbangan pembagian RKW ini adalah wilayah administrasi, luasan Kawasan Konservasi dan landskap Kawasan Konservasi. Balai Besar KSDA Jawa Barat telah membagi pengelolaan Kawasan Konservasi ke dalam 22 (duapuluh dua) unit RKW. Penamaan RKW ditulis berdasarkan nomor urut RKW yang dimulai dari bagian barat Provinsi Banten sampai dengan bagian timur Provinsi Jawa Barat ditambah dengan nama Kawasan Konservasi yang dikelola oleh RKW tersebut. Salah satu RKW tersebut adalah Resort Konservasi Wilayah II TWA. Pulau Sangiang dan CA. Pulau Dua, Seksi Konservasi Wilayah I Serang, Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Bogor. RKW II ini diberikan mandat untuk mengelola Kawasan Konservasi TWA. Pulau Sangiang dan CA. Pulau Dua. RKW II ini telah banyak berkontribusi terhadap upaya-upaya konservasi, antara lain dalam pelestarian Penyu dan perlindungan hutan mangrove. Upaya-upaya tersebut tidajk dilakukan sendiri akan tetapi menggandeng pihak lain terutama generasi muda, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan jiwa-jiwa konservasionis baru. Untuk penanaman mangrove, telah dilakukan pada hari Sabtu tanggal 12 Agustus 2017, yaitu bersama dengan mahasiswa sebanyak 80 orang yang tergabung dalam komunitas GenBi (Generasi Baru Indonesia) yang melakukan kegiatan penanaman Mangrove di pantai kawasan Cagar Alam Pulau Dua sebanyak 200 batang. Sedangkan pelepasliaran tukik, dilaksanakan pada hari minggu tanggal 13 Agustus 2017 yang dilakukan bersama-sama dengan wisatawan yang berkunjung ke TWA Pulau Sangiang, dimana sebelumnya diperkenalkan terlebih dahulu kegiatan penangkaran Penyu di TWA. Pulau Sangiang, dilanjutkan dengan pelepasan tukik yang berumur 2 bulan sebanyak 15 ekor yang terdiri dari 2 ekor Penyu hijau dan 13 ekor Penyu sisik. Walaupun, upaya konservasi ini terlihat kecil, namun dengan dukungan dari berbagai pihak dan dilakukan secara berkesinambungan, maka justru dari hal kecil inilah muncul harapan besar konservasi kawasan dan keanekaragaman hayati ini akan terus terjaga. Sumber: BBKSDA Jawa Barat
Baca Pengumuman

Rumah Pohon Bukit Peapata

Satu hal lagi yang baru tentang Bukit Peapata adalah pesona rumah pohon. Pada awalnya Bukit Peapata baru di eksplorasi dua terakhir yang menunjukan progres yang signifikan dengan di tandai dari mulai di kenal masyarakat sekitar sebagai alternatif pilihan wisata dan kunjungan wisatawan yang meningkat di SPTN I Limboto Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo. Perjalanan ke lokasi bisa di jangkau dengan naik motor atau tracking berjalan kaki. Di atas Bukit Peapata di suguhkan pemandangan yang sungguh luar biasa melihat keindahan kota Gorontalo dan sekitarnya. Selain itu masyarakat bisa menikmati keindahan kota dan menikmati udara segar yang beda sekali dengan hingar bingar kebisingan kota. Rumah pohon merupakan salah satu obyek wisata yang di tawarkan selain tracking dan camping. Disana para pengunjung bisa menikmati pemandangan dari atas pohon yang luar biasa selain juga bisa berfoto selfie. Sumber Info : Balai TN Bogani Nani Wartabone
Baca Pengumuman

Menyibak Tabir SM Isau-Isau

Kawasan SuakaMargasatwa (SM) Isau-Isau yang membentang seluas 16.742,92 ha di wilayah Kabupaten Lahat dan Muara Enim ini memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sebagian besar masih berupa misteri yang belum terungkap. Seksi Konservasi Wilayah II Lahat sebagai pemangku kawasan terus berupaya untuk meningkatkan efektivitas kegiatan patroli pengamanan hutan yang selain upaya pengamanan kawasan juga merupakan aktivitas untuk mendata potensi keanekaragaman hayati. Pada kegiatan patroli yang dilakukan diwilayah administrasi Kecamatan Merapi Selatan pada minggu pertama bulan agustus dengan pelaksana kegiatan adalah personil RKW V Isau-Isau dan TPHL ini memasuki kawasan melalui 3 pintu masuk yaitu Desa Segedor, Desa Perangai, dan Desa Sukamerindu. Kondisi tersebut berbeda dengan patroli sebelumnya yang memasuki kawasan melalui 1 pintu masuk dan hasilnya tim berhasil menjangkau area patroli seluas 170,42 ha (radius jangkauan pengamatan 100m per titik dengan titik pengamatan sebayak 140 tiitik).Perubahan strategi dengan memasuki kawasan melalui 3 titik masuk selain memperluas jangkauan pengawasan kawasan dan pendataan gangguan kawasan juga memperkaya data keanekaragaman hayati yang teramati. Hasilnya tim berhasil mendata penggunaan kawasan secara non prosedural sebanyak 33 pondok dan kebun dengan estimasi luasan 66 ha serta kebun tanpa pondok seluas 40 ha. Tindakan yang dilakukan adalah memberikan surat pernyataan kepada pengguna kawasan non prosedural yang ditemui pada saat patroli, selain itu dalam kegiatan tersebut tim berhasil mendata perjumpaan Elang (6 perjumpaan), Siamang (20 perjumpaan), Rangkong (10 perjumpaan), dan Kijang (1 perjumpaan). Upaya tersebut menunjukkan bahwa meningkatkan efektivitas kegiatan patroli insitu berpotensi selain untuk meningkatkan luasan jangkauan patroli pengamanan dan pendataan gangguan kawasan juga meningkatkan perolehan data dan informasi potensi kawasan sehingga secara perlahan tabir misteri kawasan SM Isau-Isau dapat terungkap. Sumber Info : Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Pengumuman

Peran BKSDA Kalbar di Pos Lintas Batas Negara Terpadu Aruk Sambas

Sejak diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Ir. H. JOKO WIDODO, pada tanggal 17 maret 2017, PLBN terpadu Aruk tampak begitu Bagus dan indah serta menandai dimulainya era baru dalam pengelolaan lintas batas Negara terpadu, tertib, aman dan nyaman serta ramah lingkungan. Balai KSDA Kalimantan Barat di beri amanah berupa 2 (unit) loket jaga di PLBN terpadu Aruk untuk menyelenggarakan tupoksi yaitu perlindungan dan pengamanan Tumbuhan dan Satwa Liar didalam dan diluar kawasan konservasi, maka dari itu sesuai PP nomor 7 tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan satwa, di Indonesia terdapat 236 jenis/genus satwa dan 58 jenis / genus tumbuhan yang dilindungi undang-undang. Terhadap seluruh jenis satwa dan tumbuhan tersebut tidak diperkenankan / dilarang disimpan, dimiliki, baik dalam keadaan hidup maupun mati atau bagian- bagian tubuh lainnya dan atau diperniagakan dari satu tempat di Indonesia ketempat lain didalam atau diluar Indonesia. Sumber : BKSDA Kalmantan Barat

Menampilkan 145–160 dari 259 publikasi