Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Mengkaji Keanekaragaman Vegetasi Di Resort Loh Buaya

Labuan Bajo, 11 Juli 2022. Mahasiswa Sarjana Ilmu Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan kegiatan kerja praktek di Taman Nasional Komodo, tepatnya di Loh Buaya dan Loh Liang yang telah dimulai sejak tanggal 20 Juni 2022. Terdapat tiga mahasiswa yang melakukan kerja praktek ini, yakni Adi Yudhatama, Fina Lutfia Arouffy, dan Dinda Fahita Gultom. Kegiatan kerja praktek ini dibina oleh Ikhwan Syahri (Kepala Resort Loh Buaya) selama di Loh Buaya dan Rawuh Pradana (Kepala Resort Loh Liang) di Loh Liang (Pengendali Ekosistem Hutan Pertama), ada pula beberapa ranger yang ikut mendampingi ketiga mahasiswa tersebut saat berkegiatan di lapangan. Mereka melakukan kerja praktek untuk mengaplikasikan hal-hal yang telah mereka pelajari selama kegiatan perkuliahan serta mendapatkan pengalaman langsung mengenai pengelolaan kawasan konservasi di Taman Nasional Komodo. Dalam keseharian nya mahasiswa mengikuti jadwal para ranger untuk turun ke lapangan dan melakukan kegiatan seperti patroli wilayah perairan dan daratan untuk mengamankan kawasan konservasi, penyuluhan kepada para nelayan mengenai batasan-batasan dalam kegiatan pemancingan satwa laut, dan juga kegiatan jelajah dimana dilakukan pengamatan terhadap flora dan fauna yang ada dalam kawasan konservasi. Lokasi kerja praktek terletak dalam habitat komodo, maka mahasiswa wajib mengikuti aturan untuk tidak bepergian keluar pondok penginapan tanpa sepengetahuan atau pendampingan para ranger untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Agar mahasiswa mendapatkan pengalaman lebih selama berkegiatan di Taman Nasional Komodo, maka mahasiswa wajib untuk mengkaji topik khusus terkait bidang kehutanan selain mengikuti kegiatan ranger. Salah satu mahasiswa, yaitu Adi Yudhatama (Ketua Kelompok Kerja Praktik) mengkaji mengenai vegetasi yang ada di Loh Buaya. Kajian yang Adi lakukan adalah analisis vegetasi yang merupakan suatu cara untuk mempelajari komposisi dan atau susunan vegetasi secara bentuk atau struktur dari tumbuh-tumbuhan. Analisis vegetasi tersebut dilakukan dengan membuat plot sampel dengan ukuran 2x2 m2 untuk mengamati vegetasi herba dan semai, 5x5 m2 untuk vegetasi perdu dan pancang, 10x10 m2 untuk pohon dalam fase tiang, dan 20x20 m2 untuk pohon dewasa. Semai adalah anakan pohon yang dimulai dari kecambah hingga setinggi kurang dari 150 cm, pancang adalah anakan pohon dengan tinggi lebih dari sama dengan 150 cm namun memiliki diameter batang kurang dari 10cm, tiang adalah anakan pohon dengan diameter batang antara 10 cm dan 20 cm, dan pohon dewasa berdiameter lebih dari 20 cm. Teman-teman dari Universitas Cendana turut membantu Kegiatan pembuatan plot ini yang juga sedang magang di Resort Loh Buaya. Adi membuat plot dengan minimal sebanyak tiga kali pada tiga jenis ekosistem yang ada dalam kawasan Loh Buaya, yaitu hutan gugur terbuka, rawa asin, dan savanna. Berdasarkan hasil pengamatan Adi, terdapat delapan jenis pohon yang diidentifikasi pada ekosistem hutan gugur terbuka yakni Tamarindus indica (asam), Schleichera oleosa (kesambi), Schoutenia ovate (walikukun), Thespesia populnea (waru laut), Strychnos lucida (bidara laut), Ziziphus mauritiana (bidara), Capparis lucida, dan Mimosa pudica. Sedangkan untuk ekosistem savana terdapat lima jenis pohon yang diidentifikasi yaitu, Borassus flabellifer (lontar), luwi, bidara, kesambi, dan Capparis lucida. Dan pada rawa asin Adi menemukan jenis pohon bidara dan asam. Jenis perdu hanya teridentifikasi dalam ekosistem hutan gugur terbuka dengan 2 jenis spesies dapat diidentifikasi, yakni Ricinus communis (jarak) dan Murraya paniculata (kemuning). Hasil identifikasi herba pada ketiga ekosistem adalah Murraya paniculata (balakacida atau sensus), rerumputan, dan teki-tekian. Menurut Adi, banyak hal yang telah ia terima selama kegiatan kerja praktek ini. Selain pengalaman patroli dan menjelajahi rimba, mereka juga diajarkan tentang kedisiplinan selama di lapangan yang kurang mereka dapat karena kegiatan lapang yang minim dilakukan di masa kuliah akibat adanya pandemi Covid-19. Akan tetapi, hal terpenting yang ia dapat adalah kesempatan menghabiskan waktu bersama orang-orang yang peduli dan selalu memberikan kritikan yang membangun. Rekan-rekan mahasiswa berharap agar Balai Taman Nasional Komodo dapat tetap melibatkan pelajar dalam rangkaian pengelolaan kawasan konservasi karena merupakan salah satu Taman Nasional terbesar di Indonesia yang cocok untuk lokasi belajar. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung - Adi Yudhatama Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Rencana Pemulihan Ekosistem Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengutamakan pentingnya keberadaan dan kelestarian ekosistem daratan maupun perairan yang membentang dari Sabang sampai Merauke dengan menerbitkan berbagai peraturan perundang-undangan terkait Konservasi Sumber Daya Alam Hayati (KSDAH) dan Ekosistemnya. Sebagai contoh, NKRI menerbitkan UU No. 5 tahun 1990 tentang KSDAH dan ekosistemnya, UU No. 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, dan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tentang pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. Peraturan perundang-undangan tersebut, diimplementasikan penuh pada sistem pengelolaan taman nasional di seluruh wilayah Indonesia. Taman Nasional Komodo merupakan kawasan konservasi yang pengelolaannya mengutamakan tiga pilar konservasi yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari. Salah satu upaya pengawetan yang konsisten dilakukan oleh Balai Taman Nasional Komodo adalah transplantasi karang. Namun, upaya pengawetan ini perlu dirancang dengan baik agar luarannya dapat terukur dalam beberapa waktu kedepan. Terkait dengan hal tersebut, Balai Taman Nasional Komodo melakukan penyusunan dokumen Rencana Pemulihan Ekosistem (RPE) bersama tim tenaga ahli dari Yayasan Terumbu Karang Indonesia (TERANGI) sebagai dasar pelaksanaan kegiatan pemulihan ekosistem di Taman Nasional Komodo lima sampai sepuluh tahun kedepan. Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan kegiatan penyusunan dokumen RPE yang terdiri dari peninjauan lapangan di kawasan Taman Nasional Komodo dan pembahasan hasil temuan lapangan di Kantor Balai Taman Nasional Komodo selama lima hari kerja mulai tanggal 13 – 17 Juni 2022. Setidaknya sebanyak 19 orang tim terlibat dalam kegiatan penyusunan RPE pada tahun 2022. Setiap anggota dibagi ke dalam beberapa tim kecil untuk mengobservasi tiga ekosistem perairan yaitu ekosistem mangrove, ekosistem padang lamun, dan ekosistem terumbu karang. Empat orang tim Balai Taman Nasional Komodo dan satu orang tenaga ahli mengambil data ekosistem mangrove dengan persentase tutupan kanopi mencapai 75-88% dan berhasil mengidentifikasi populasi mangrove Rhizopora apiculata dan Rhizopora mucronata. Sementara tim kedua berupaya mengambil data pada ekosistem padang lamun di kawasan Taman Nasional Komodo. Setidaknya sebanyak tiga orang tim Balai Taman Nasional Komodo mengamati delapan lokasi pengamatan di kawasan Taman Nasional Komodo. Tim berhasil mengidentifikasi lamun jenis Halodule uninerfis, Thalasia hemprichii, dan Enhalus acoroides. Tim ketiga bekerjasama mengambil data pada ekosistem terumbu karang untuk mengamati tingkat kesehatan karang, kelimpahan ikan serta megabentos di wilayah pesisir dan perairan Taman Nasional Komodo. Tim ketiga terdiri dari enam anggota Balai Taman Nasional Komodo dan satu orang tim tenaga ahli. Tim karang berhasil memperoleh data dari 15 lokasi pengamatan dan menemukan bahwa jenis karang dengan kelimpahan koloni tertinggi adalah genus Acropora sp., Pocillopora sp., Lobophyllia sp., Montipora sp., dan Euphyllia sp. Tim karang juga berhasil melakukan pendataan jenis ikan dengan memperoleh data 20 genus ikan dan berhasil mengidentifikasi 16 jenis ikan indikator dari total 87 jenis ikan yang dijumpai di lokasi pengamatan. Selanjutnya, tim berhasil mengidentifikasi tujuh jenis megabentos dimana empat jenis yang ditemukan memiliki nilai ekonomi, sedangkan tiga jenis lainnya merupakan jenis indikator. Tim pengamat ketiga melakukan pengambilan data karang dengan menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan berupaya mengolah data yang didapatkan dengan menggunakan metode Coral Point Count with Excel Extensions (CPCe) bersama tim tenaga ahli yang terlibat. Setidaknya terdapat lima cluster yang menjadi lokasi pengambilan data menggunakan metode UPT. Cluster tersebut ditentukan secara acak, menyebar merata, dan diharapkan mewakili beberapa daerah/zona dalam kawasan Taman Nasional Komodo berdasarkan fungsi penggunaan ruang. Balai Taman Nasional Komodo berharap tersusunnya dokumen induk RPE yang dilakukan pada tahun 2022 dapat menjadi acuan/pedoman pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo ketika hendak melakukan kegiatan pemulihan ekosistem pada beberapa tahun kedepan. Dokumen induk RPE juga diharapkan dapat merangkum seluruh rancangan upaya pemulihan, memetakan lokasi kegiatan, dan mampu mengidentifikasi kendala serta solusi atas permasalahan yang dihadapi petugas saat akan melaksanakan kegiatan tersebut. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Mahir - Ande Kefi, S.ST. (+6282242707977) Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Pengamatan Body Condition Score Satwa Mangsa Komodo di Lembah Loh Buaya Pulau Rinca

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Mahasiswa Sarjana Program Studi (Prodi) Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana Kupang melaksanakan kegiatan magang mulai tanggal 29 Mei 2022 sampai dengan 6 Juli 2022 di Resort Loh Buaya Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa semester 6 an. Elis Albertine Rahmita Deran Ola memutuskan untuk mempelajari tingkah laku komodo, nutrisi satwa mangsa yaitu monyet ekor panjang dan rusa timor, serta mempelajari manajemen konservasi medis terkait kesehatan satwa dan upaya pelestarian serta peningkatan kesejahteraan satwa mangsa di kawasan Taman Nasional Komodo. Elisa berpendapat bahwa beberapa indikator seperti kelayakan kondisi ekologis dan habitat, minimnya intervensi manusia dalam kehidupan mangsa, dan ketersediaan pakan sebagai sumber makanan merupakan indikator yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari para ranger di Balai Taman Nasional Komodo. Penilaian terhadap ketersediaan pakan satwa erat kaitannya dengan penampilan dari fisik tubuh serta aktivitas harian satwa di dalam kawasan. Pakan akan mempengaruhi kelancaran proses metabolisme tubuh satwa pemangsa sehinggga observasi body condition score (BCS) yang meliputi penampakan visual (postur dan penonjolan tulang), ukuran tubuh (panjang dan berat badan), aktivitas harian, dan kondisi kesehatan dapat digunakan untuk menilai kondisi prima kelompok satwa pemangsa. Saat ini, belum ada Sarjana Kedokteran Hewan atau Dokter Hewan Profesi yang mengabdikan dirinya bekerja di Balai Taman Nasional Komodo, padahal kesempatan tersebut ada. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membuka peluang karir bagi Sarjana Kedokteran Hewan dan Dokter Hewan menjadi Pengendali Ekosistem Hutan di berbagai kawasan konservasi Indonesia. Kehadiran tenaga khusus di bidang kedokteran hewan tentu dapat menyempurnakan rekam medis mengenai kondisi kesehatan satwa yang hanya dapat dilakukan dengan keahlian profesi tersebut dalam hal memprediksi usia, potensi kanibalisme komodo, hingga terkait asupan nutrisi individu satwa. Biawak komodo (Varanus komodoensis) merupakan Apex Predator di lembah Loh Buaya. Elis mempelajari bahwa kadal karnivora raksasa ini memiliki peran penting sebagai pengendali rantai makanan ekosistem di Taman Nasional Komodo. Elisa mempelajari bahwa setidaknya terdapat dua kategori satwa mangsa, satwa mangsa primer dan sekunder. Satwa mangsa primer adalah rusa timor (Rusa timorensis), sedangkan satwa mangsa sekunder antara lain kerbau air liar (Bubalus arnee), babi hutan (Sus scrofa), dan monyet ekor panjang (Macaca fascularis). Elisa juga berkesempatan mewawancarai salah satu ranger di Balai Taman Nasional Komodo dan menanyakan hal terkait dengan data populasi satwa mangsa di lembah Loh Buaya. Diketahui dari hasil wawancara dengan Ikhwan Syahri (Kepala Resort Loh Buaya) bahwa populasi satwa mangsa di lembah Loh Buaya setidaknya rusa timor mencapai 66 ekor, kerbau air kurang lebih 101 ekor, babi hutan 18 ekor, dan monyet ekor panjang terbagi dalam empat koloni yang belum diketahui secara pasti jumlah masing-masing koloni yang mendiami lokasi pengamatan. Elisa menyadari bahwa jumlah dugaan populasi satwa mangsa yang diperoleh tidak dikatakan akurat sepenuhnya karena belum menggunakan teknik dan sampling yang representatif untuk masing-masing jenis yang ditemukan. Elisa menggunakan metode Faecal Pellet Count (FPC) dalam beberapa sampling plot pada jalur patroli daratan Resort Loh Buaya. Elisa melakukan pengamatan selama 20 hari guna menilai BCS satwa mangsa primer dan sekunder di lembah Loh Buaya. Berdasarkan hasil pengamatan sementara diketahui bahwa frekuensi perjumpaan satwa di jalur-jalur patroli sangat minim. Setidaknya Elisa hanya menjumpai enam ekor rusa timor, 20 ekor kerbau air liar, dan < 50 ekor monyet ekor panjang. Elisa juga mengamati populasi kerbau air liar yang beraktivitas pada jalur patroli dan area sekitarnya untuk mendapatkan nilai BCS kerbau. Diperoleh kesimpulan bahwa BCS kerbau masih dalam rentang persentase yang sangat baik. Elisa mendapatkan nilai BCS tersebut dengan mempertimbangkan faktor ketersediaan pakan kerbau yang mencukupi seluruh individu dalam koloni kerbau. Sama halnya dengan kerbau, babi hutan memiliki ketersediaan pakan yang terjamin di habitatnya. Selama melaksanakan patroli bersama petugas, Elisa menemukan buah-buah lontar serta umbi- umbian bekas gigitan babi. Dalam pengamatan tersebut, Elisa menyimpulkan bahwa ketersediaan jumlah pakan babi hutan lebih besar dibandingkan dengan populasinya. Selanjutnya, Elisa mengamati keanekaragaman hayati dari sumber pakan monyet ekor panjang yang sangat mencukupi dan melimpah, sehingga hal tersebut dapat menjadi dasar bahwa dugaan populasi monyet ekor panjang di Loh Buaya cukup melimpah. Berdasarkan hasil pengamatan jumlah dugaan populasi satwa mangsa di Loh Buaya, Elisa menyimpulkan bahwa ketersediaan pakan komodo akan terpenuhi untuk beberapa tahun kedepan oleh karena melimpahnya populasi satwa mangsa sekunder di lembah Loh Buaya. Elisa berharap, Balai Taman Nasional Komodo dapat memberikan perhatian khusus untuk meningkatkan upaya pengawetan populasi satwa mangsa primer dan sekunder di lembah Loh Buaya dengan lebih terukur di masa yang akan datang. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana - Elisa Albertine Rahmita Deran Ola Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Perilaku Dominansi Monyet Ekor Panjang Di Loh Buaya Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana Kupang melaksanakan kegiatan magang di Loh Buaya Pulau Rinca dengan tujuan untuk nutrisi satwa mangsa bagi komodo yaitu monyet ekor panjang guna pelestarian dan kesejahteraan satwa pemangsa dan satwa mangsa. Selain melaksanakan tujuan utama tersebut, mahasiswa juga mengkaji dan menulis informasi tambahan terkait satwa yang diteliti. Loh Buaya, Pulau Rinca merupakan kawasan yang menjadi lokasi persebaran monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Taman Nasional Komodo. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang secara umum dikenal dengan nama monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah spesies yang tersebar luas di wilayah tropis Asia Tenggara. Pada umumnya monyet ekor panjang hidup secara berkoloni. Dalam satu koloni monyet ekor panjang terdiri atas 20-50 individu. Di Loh Buaya, Pulau Rinca, diperkirakan terdapat empat koloni monyet ekor panjang yang persebaran masing-masing koloni terdapat di beberapa lokasi berbeda di kawasan tersebut. Hasil wawancara mahasiswa bersama petugas, setiap koloni monyet ekor panjang memiliki satu individu monyet yang menjadi pemimpin atau dominan dalam anggota kelompoknya atau biasa disebut individu alfa. Monyet ekor panjang ini dikenal sebagai spesies yang menganut sistem hierarki kuat. Dalam buku Entang Iskandar dan Randall C Kyes yang berjudul “Hewan Model Satwa Primata”, satu individu bisa dikategorikan dominan jika individu tersebut bisa secara konsisten menunjukan sikap agresif kepada individu lain tanpa adanya perlawanan dari individu yang diserangnya. Faktor yang mempengaruhi status dominan satu individu di dalam kelompok, ditentukan antara lain: jenis kelamin, umur, interaksi di dalam kelompok, lama di dalam kelompok serta posisi sosial induk. Hierarki dalam kelompok menentukan kemudahan yang akan diperoleh suatu individu. Salah satu cara mengidentifikasi satu individu lebih dominan dari individu lain, dapat dilakukan dengan cara mengamati satwa target pada saat melakukan interaksi berikut: satwa dominan adalah individu yang menang dalam interaksi agonistik, atau pada kondisi lain, satu individu menghindari individu lain, serta satwa yang memiliki prioritas pertama dalam memperoleh sumber pakan atau pasangan. Selama pengamatan monyet ekor panjang di Loh Buaya Pulau Rinca, jantan dominan cenderung individualis serta selalu terlihat individual dalam menyantap dan mencari makanan. Posisi jantan dominan dalam suatu kelompok bisa diidentifikasi melalui interaksi agonistik dengan jantan dewasa lainnya. Adapun tingkah laku agonistik merupakan tingkah laku yang berhubungan dengan berkelahi/pertentangan dan upaya-upaya untuk mengatasi perkelahian yang terjadi. Dalam interaksi ini, dapat ditentukan mana pemenang dan mana yang kalah. Jantan dominan memiliki prioritas dalam mendapatkan sumber daya, sedangkan jantan dewasa dengan hirarki terendah hanya memiliki akses sangat terbatas pada sumber daya tersebut. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana - Koleta Tresi Rosari Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

SKW I BBKSDA Riau Pantau Pembangunan Peron Sawit di Pinggir Sungai Kerumutan

Pekanbaru, 29 Juli 2022 - Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I melakukan pantauan terkait pembangunan peron (tempat pemuatan) sawit di pinggir sungai Kerumutan, Kelurahan Teluk Meranti, KecamatanTeluk Meranti, Kabupaten Pelalawan (20/07). Tim Resort melakukan pertemuan dengan pemilik peron sawit beserta pengawas peron sawit yang berlokasi di tanah masyarakat pinggir sungai Kerumutan. Berdasarkan keterangan pemilik peron, pembangunan peron sawit tidak ada dorongan atau paksaan dari pihak manapun. Rencana dibukanya aktivitas peron sawit di pinggir sungai Kerumutan bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar Teluk Meranti. Buah-buah sawit masyarakat di sekitar Teluk Meranti akan ditampung dan selanjutnya dibawa ataupun dijual kepada perusahaan sawit yang ada di sekitar Kecamatan Kerumutan dengan transportasi melewati sungai Kerumutan yang berada di dalam kawasan Suaka Margasatwa Kerumutan. Berdasarkan informasi yang didapat, pembersihan sungai SM Kerumutan diawali oleh permintaan masyarakat kepada Bupati Pelalawan pada tahun 2020 untuk dibersihkan dari tanaman air. Selanjutnya pemilik peron akan mengurus ijin melintas di sungai SM Kerumutan. Petugas akan terus memantau aktifitas tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Observasi Tingkah Laku Monyet Ekor Panjang Di Lembah Loh Buaya

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Mahasiswa Program Studi Sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana Kupang, telah selesai melakukan magang di Loh Buaya selama 20 Hari. Adapun kegiatan yang dilakukan yaitu mengamati terkait tingkah laku serta morfologi komodo (Varanus komodoensis), nutrisi dari satwa mangsa yaitu rusa (Rusa timorensis), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), serta manajemen konservasi medis. Selama kegiatan magang berlangsung, mahasiswa atas nama Skolastika D. Yosenda, tertarik melakukan pengamatan mengenai tingkah laku monyet ekor panjang di lembah Loh Buaya. Loh Buaya merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Terdapat beberapa fauna yang ada di Loh Buaya dan menjadi fokus mahasiswa untuk memahami lebih dalam mengenai monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang merupakan salah satu fauna yang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Loh Buaya. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara bersama jagawana (ranger) di Resort Loh Buaya, diketahui setidaknya terdapat empat koloni monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang merupakan salah satu hewan primata non-human yang memiliki tingkat keberhasilan adaptasi yang tinggi, sehingga tersebar di berbagai tipe habitat. Monyet ekor panjang juga merupakan primata yang hidup secara berkelompok sehingga tidak terlepas dari interaksi sosial antar sesamanya. Interaksi sosial yang dilakukan monyet ekor panjang menimbulkan munculnya aktivitas yang berbeda antar individu dengan individu lainnya dalam satu populasi. Interaksi sosial tersebut diantaranya yaitu social affiliation, agonism, non-social activities. Monyet ekor panjang memiliki aktivitas rutin harian seperti mengambil makanan, memasukan makanan ke dalam mulut, menyimpan makanan ke dalam kantung pipi, serta mengunyah dan menelan makanan. Perilaku makan pada monyet ekor panjang memiliki kebiasaan yang unik, dimana dalam memilih makanan, monyet ekor panjang memiliki kriteria tersendiri. Awalnya, monyet ekor panjang akan melakukan penciuman sebagai deteksi untuk memilih bahan pakan dengan kandungan nilai gizi tinggi, tidak membahayakan kesehatan, dan beraroma. Monyet ekor panjang akan memakan buah yang warnanya tidak terlalu mencolok dan memiliki rasa yang manis. Beberapa jenis buah tersebut rata rata adalah buah dengan warna kulit mencolok seperti merah, hijau, jingga, dan hijau kekuningan. Loh Buaya merupakan habitat dimana monyet ekor panjang menemukan berbagai jenis makanan seperti buah asam (Tamarindus indica) dan buah bidara (Ziziphus mauritiana) yang menjadi buah paling sering dikonsumsi monyet ekor panjang. Monyet ekor panjang yang berada di labuan bajo memakan daun muda dengan melakukan pemilihan daun seperti daun asam, daun kesambi, daun mangrove (Sonneratia alba dan Lumnitzera racemosa) sebagai pakan yang dilihat dari kandungan nutrisinya. Biasanya, monyet akan memilih daun muda yang masih segar dan memiliki kadar toksin yang lebih sedikit dibandingkan dengan daun tua. Selain itu, daun muda mengandung protein yang lebih tinggi dan sedikit serat. Karakteristik daun yang dipilih merupakan daun muda yang berwarna hijau tanpa bulu halus, tidak memiliki getah, dan tidak berbau. Hal tersebut menyebabkan monyet ekor panjang lebih menyukai daun muda dibandingkan dengan daun tua. Pemilihan daun muda juga memiliki hubungan dengan kondisi lambung dari monyet ekor panjang yang dapat mencerna serat daun muda dengan baik. Hal unik lainnya, mahasiswa juga menemukan monyet ekor panjang yang memakan kepiting bakau. Kepiting bukan merupakan makanan utama monyet ekor panjang, namun termasuk pakan penting bagi koloni primate tersebut. Menurut pandangan pribadi mahasiswa selama pengamatan di tingkat tapak, ketersediaan pakan bagi koloni monyet ekor panjang di Loh Buaya cukup melimpah. Pasalnya, koloni monyet memiliki rerata postur tubuh bagus dan sehat. Kedepannya, mahasiswa berharap agar kegiatan pendidikan dan penelitian tentang monyet ekor panjang dapat lebih mendapat perhatian para ranger Balai Taman Nasional Komodo dan akademi perguruan tinggi dalam negeri di Indonesia. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana Skolastika D. Yosenda Penyunting Berita: Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Salma Noer Aulia (+6285155456100) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Peduli Kelompok Masyarakat daerah Penyangga, TN Manusela Serahkan Bantuan Peningkatan Ekonomi Produktif

Pasahari, 28 Juli 2022 - Disaksikan oleh Anggota Komisi IV DPR RI, Ibu Sa'adiah Uluputty, Kepala Balai Taman Nasional Manusela, MHD. Zaidi menyerahkan bantuan peningkatan ekonomi produktif kepada kelompok masyarakat nelayan Asiahari, Negeri Pasahari, Seram Utara. MHD. Zaidi, dalam amanatnya mengharapkan bantuan yang diberikan memberikan dampak ekonomi kepada kelompok sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memberikan efek positif bagi Taman Nasional. Bantuan berupa longboat dan mesin tempel 15 PK ini merupakan wujud pengelolaan Taman Nasional yang bukan hanya fauna dan flora namun juga pemberdayaan masyarakat daerah penyangga. Pada kesempatan tersebut, Anggota Komisi IV DPR RI, Ibu Sa'adiah Uluputty dalam sambutannya juga menyampaikan bantuan yang diberikan merupakan bentuk kepedulian Taman Nasional kepada masyarakat pada daerah penyangga. "Masyarakat dan hutan tidak dapat dipisahkan, masyarakat sekitar hutan memiliki ketergantungan terhadap hutan. Maka dari itu masyarakat harus turut serta menjaga dan melestarikan hutan untuk anak cucu kelak", kata Sa'adiah. Selepas memberikan bantuan, Ibu Sa'adiah melanjutkan dengan memberikan arahan teknik-teknik pemasaran dan motivasi pengembangan produk olahan Kenari bagi kelompok Tani Mualey Negeri Siatele. "Pemasaran sekarang bisa dilakukan dengan mudah, cukup modal HP. Foto produk kemudian jual melalui sosial media atau toko online bisa dilakukan dimana saja" kata beliau. Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas SDM ini sebagai lanjutan dari pemberian bantuan yang telah dilaksanakan pada tahun 2021. "Mungkin bisa juga meminta pejabat atau tamu-tamu yang datang di negeri ini untuk membantu mempromosikan produk olahan kenari dari Negeri siatele" tutur Ibu Sa'adiah. Sumber : Balai TN Manusela
Baca Artikel

Monitoring Sarang Penyu di Pulau Padar TN Komodo Bersama Masyarakat Lokal

Labuan Bajo, 17 Juni 2022. Giat monitoring sarang bertelur penyu di Pulau Padar Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo dengan melibatkan masyarakat merupakan salah satu bentuk penekanan pentingnya pelibatan masyarakat lokal dalam mendukung kegiatan pengelolaan di kawasan Taman Nasional Komodo. Pelibatan peran masyarakat setempat ini diharapkan dapat menumbuhkan nilai-nilai konservasi mendalam, khususnya terkait upaya konservasi/pelestarian penyu di kawasan Taman Nasional Komodo. Koordinator kegiatan monitoring sarang bertelur penyu di Pulau Padar, Arif Ardianto Sofian (Polisi Kehutanan Ahli Pertama) menyelenggarakan kegiatan monitoring mulai tanggal 11 – 17 Juni 2022. Monitoring ini juga melibatkan Taufik (anggota Masyarakat Mitra Polhut Pulau Komodo) dan beberapa anggota lainnya, diantaranya Laurentius Nay (Polisi Kehutanan Penyelia), Firman Nuralam Suryadi (Polisi Kehutanan Pemula), Valerianus Rahmat (Pengendali Ekosistem Hutan Pemula), Indra Cahyadi Purnama Alam (Pengolah Data/Tenaga GIS), Adi Darlan Al-Farizy (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Padar Selatan), Suwendi Iskandar Bubang (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Wau), Kaleb Bura (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Padar Utara), Jimianus Zakarias Nguru (Kapten Kapal Napoleon), serta Natalia J.D. Pratiwi (Siswa Magang SMK Stella Maris Labuan Bajo). Taman Nasional Komodo merupakan habitat esensial bagi setidaknya dua jenis penyu di Indonesia yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Taman Nasional Komodo sebagai taman nasional kepulauan yang memiliki wilayah pesisir pantai cukup luas, memiliki kesesuaian ruang bagi penyu untuk berkembang biak. Berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi mengatur tentang perlindungan satwa, penyu merupakan satwa yang terancam punah dan dilindungi oleh negara maupun konvensi internasional. Peranan satwa penyu sangat penting bagi lingkungan khususnya terhadap kelestarian biota laut pada wilayah perairan Taman Nasional Komodo. Adapun monitoring dilakukan dengan menganalisa lokasi sarang bertelur penyu potensial menggunakan aplikasi SMART untuk memperkaya informasi database Resort-Based Management (RBM). Berdasarkan analisa tersebut, pesisir pantai potensial adalah bagian selatan Pulau Padar (Pantai Penyu dan Pantai Loh Tongkang), bagian utara Pulau Padar (Tanjung Cangtigi), bagian timur Pulau Padar (Pantai Batu Cincin dan Pantai Bukit Piramid). Setiap pesisir pantai tersebut memiliki karakter dan keunikannya masing-masing. Tim monitoring menyimpulkan bahwa jenis penyu yang bersarang di pantai Pulau Padar merupakan penyu hijau (Chelonia mydas). Hal ini diketahui berdasarkan data pengamatan yang diperoleh tim Firman saat monitoring seperti data jumlah telur, bobot telur, diameter, tipe sarang, karakteristik sarang, dan lebar jejak penyu di pantai. Selain itu, tim juga berhasil menjumpai penyu secara langsung di lokasi pengamatan dan memperkuat temuan data-data yang sudah diperoleh. Tim monitoring juga mendata potensi keragaman hayati vegetasi di sekitar pantai. Tim berhasil mengidentifikasi 12 jenis tumbuhan yaitu Baringtonia asiatica, Carissa spinarum, Lumnitzera lacemosa, Crotalaria retusa, Ipomea pes-caprae, pemphis acidula, Guettarda speciosa, Spinifex littoreus, Sphaeranthus indicus, Casuarina speciosa, Pandanus tectorius, Caesalpinia bonduc. Dari semua tumbuhan yang berhasil diidentifikasi, jenis Spinifex littoreus dan Carissa spinarum merupakan tumbuhan yang mendominasi area sekitar sarang bertelur penyu. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Pemula - Firman Nuralam Suryadi (+6285710857746) Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

BKSDA Sumbar Gandeng Berbagai Mitra Sambut Global Tiger Day 2022

Padang, 29 Juli 2022 - Global Tiger Day (GTD) diperingati setiap tanggal 29 Juli setiap tahunnya. Tema yang diusung tahun ini yaitu “Keep Wildlife in the Wild”. Tema ini memberi makna agar kita bergandengan tangan untuk menjaga kelestarian harimau agar selalu berada di habitat aslinya. Dalam rangka menyambut peringatan Global Tiger Day 2022, Balai KSDA Sumatera Barat menggandeng berbagai mitra untuk melaksanakan beberapa rangkaian acara, diantaranya yakni "Visit to school" yang telah dilaksanakan bersama Yayasan Sintas Indonesia. Kegiatan ini dilaksanakan di Kabupaten Agam pada 19 - 21 Juli 2022 di enam sekolah dasar (SD) dengan tujuan mengenalkan harimau sumatera kepada siswa/i SD agar dapat menumbuhkan kepedulian dan pengetahuan terkait harimau sumatera serta peranannya bagi lingkungan sekitar. Masih dalam rangkaian peringatan GTD 2022, BKSDA Sumbar bersama Yayasan Arsari Djoyohadikusumo mengadakan talkshow dengan menghadirkan narasumber yang berkompetan dibidangnya. Acara talkshow bertajuk “Konservasi Harimau Sumatera dan Keanekaragaman Hayati” ini dibuka oleh Wakil Menteri LHK, Dr. Alue dohong, serta turut di hadiri oleh Dr. Ir. Wiratno sebagai pemantik diskusi yang dilaksanakan pada tanggal 29 Juli 2022. Selanjutnya juga dilaksanakan acara di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan Bukittinggi (TMSBK) dengan mengundang Bapak Walikota Bukitinggi, H. Erman Safar, SH., ke Kebun binatang. Disana beliau menyampaikan sambutan dan ucapan selamat memperingati Hari Harimau Sedunia dan mengajak untuk bersama-sama menyelamatkan harimau sumatera. Selain itu, di kabupaten Agam juga dilaksanakan kegiatan peringatan Global Tiger Day 2022 berupa pengecatan tiga patung Harimau Sumatera yang berada tepat dipusat ibukota kabupaten serta penyebaran flyer tentang Harimau Sumatera dan Satwa Dilindungi yang dilaksanakan oleh BKSDA bersama Pemkab dan Polres Agam. Rangkaian acara GTD ini juga diisi kegiatan talkhsow "Konservasi Harimau di Mata Jurnalis" dan Pameran Foto yang dipelopori oleh aktivis lingkungan Jejak Harimau (@Jejak_harimau). Talkshow ini dilaksanakan tanggal 26 - 29 Juli 2022 dengan pembicara utama Founder Jejak Harimau Andri Mardiansyah. Melengkapi peringatan acara GTD 2022, BKSDA Sumbar bersama Yayasan Sintas Indonesia juga memeriahkannya dengan mengadakan Giveaway. Acara ini dilakukan melalui akun medsos @bksda_sumbar dengan memberikan kuis selama 3 hari (tanggal 28 - 30 Juli 2022) dimana pemenangnya akan diumumkan pada tanggal 1 Agustus 2022 dan akan diberikan hadiah yang menarik. Diharapkan dari kuis ini, kita bisa melihat sampai dimana pengetahuan masyarakat tentang pelestarian harimau. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Riau Awasi Kegiatan Pembersihan Sungai

Pekanbaru, 29 Juli 2022 - Tim Resort Kerumutan Utara (Kapou), Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I melakukan pengawasan kegiatan pembersihan sungai di Sekitar Suaka Margasatwa Kerumutan (20/07). Tim melakukan koordinasi dengan Camat Kerumutan mengenai kegiatan tersebut. Camat Kerumutan berharap masalah perizinan dapat segera dikeluarkan karena setelah sungai bersih, wisata akan segera dibuka hingga ke Bono, Teluk Meranti melalui pelabuhan Kapou. Pihak Kecamatan Kerumutan siap bekerjasama dengan Balai Besar KSDA Riau melakukan penjagaan SM Kerumutan bersama pihak-pihak terkait seperti Polsek dan Dandramil Kerumutan agar SM Kerumutan tetap lestari. Tim melakukan pengecekan alat berat untuk pembersihan sungai yang saat ini berada di luar SM Kerumutan mengarah ke Pelabuhan Kapou. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Kunjungan Anggota Komisi IV DPR RI dalam mendukung Revitalisasi TWA Danau Rawa Taliwang

Mataram, 28 Juli 2022 - Di bawah pohon biduri di tepian Lebo' Taliwang diskusi bermakna berlangsung antara Anggota DPR RI H. Johan Rosihan, S.T., dengan pemerintah daerah Kabupaten Sumbawa Barat, serta Kepala Balai KSDA Nusa Tenggara Barat Joko Iswanto, S.P., M.H., membahas percepatan pemulihan ekosistem TWA Danau Rawa Taliwang Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat. Sekretaris Daerah KSB, Amar Hermansyah membuka diskusi dengan menyampaikan salah satu kendala pelaksanaan kerja sama pemulihan ekosistem Lebo' Taliwang karena terdapat 3 titik lokasi yang belum clean and clear, disambung solusi konkrit kendala tersebut dari kepala balai KSDA NTB. Masih dalam diskusi, Kepala balai KSDA NTB menyampaikan bahwa terdapat 3 hal penting yang perlu didorong sebagai upaya percepatan pemulihan ekosistem diantaranya : Hadir mengamini penyataan tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Barat, Slamet dan menambahkan bahwa isu permasalahan lingkungan akibat penambangan ilegal perlu menjadi perhatian. Syahrir, Kepala Dinas PUPR KSB menyampaikan memastikan suplai air harus terjaga, akan ada mekanisme teknis di dalam Lebo' yang akan diterapkan sesuai blok pengelolaan yang sudah disahkan. Johan Rosihan anggota DPR RI Komisi IV hadir mengunjungi Taman Wisata Alam (TWA) Danau Rawa Taliwang pada masa reses untuk mengunjungi konstituen daerah pemilihannya untuk menjaring aspirasi dan juga fungsi pengawasan. Beliau menyatakan siap hadir dan mendukung proses percepatan dan menghubungkan silaturahim antara pemerintah daerah dengan pusat dalam penanganan pemulihan ekosistem di TWA Danau Rawa Taliwang untuk kesejahteraan masyarakat dan kelestarian ekosistem kawasan konservasi. Setelah diskusi, acara dilanjutkan makan siang di rumah salah seorang warga, dengan menu khas singang dan belut. Setelah santap siang dilanjutkan diskusi dengan kelompok masyarakat Pakirum Mandiri, salah satu Kelompok Pemberdayaan Masyarakat Binaan BKSDA NTB yang Responsif Gender. "Kami merasa terhormat bisa bertemu dengan Bapak", kata Weni sekretaris Kelompok Pakirum Mandiri membuka curhatan kelompok di depan Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan. Siti Hawa, ketua kelompok yang berdiri di tahun 2020 ini menyampaikan bahwa kelompok ini bergerak di bidang jasa kuliner. Kelompok beranggotakan sekitar 20 an ibu-ibu ini produktif menghasilkan karya, diantaranya aneka olahan biji teratai, akar teratai/ lomar, bakso ikan gabus, yang dipasarkan secara langsung dan dititipkan di KSB Mall. Joko Iswanto, menjelaskan BKSDA NTB mengelola 18 (Delapan Belas) Kawasan Konservasi dengan 127 (Seratus Dua Puluh Tujuh) Desa sekitar kawasan dan 43 (Empat Puluh Tiga) Desa berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Pakirum Mandiri merupakan salah satu kelompok binaan yang aktif dan melejit sejak berdiri. Sejak tahun 2021, kelompok ini secara berturut-turut mendapatkan bantuan usaha ekonomi produktif dari BKSDA NTB. Namun demikian, Weni menyampaikan masih perlu bantuan peralatan pengolahan produk. Johan Rosihan menyampaikan apresiasi kepada kelompok dan menangkap aspirasi kebutuhan tersebut melalui kegiatan dan program selanjutnya serta berjanji akan kembali lagi dan silaturahim di lain kesempatan. Sumber : Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

Pesona “Sang Garuda” Terbang Bebas di Langit Situgunung

Situgunung, 27 Juli 2022 - Telah dilakukan pelepasliaran satwa jenis Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) berjenis kelamin jantan dengan nama “Pesona”, pada hari Rabu, 27 Juli 2022, di Resort PTN Situgunung, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Pesona merupakan satwa yang diserahkan oleh Balai Besar KSDA Jakarta kepada Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) melalui Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) pada tanggal 11 Februari 2021. Pesona telah melalui masa rehabilitasi di PSSEJ selama kurang lebih 17 bulan, dan berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan dan pemantauan dinyatakan telah siap untuk dilepasliarkan. Senin malam (25/07/2022), Pesona tiba di Resort PTN SItugunung untuk dilakukan habituasi di lokasi pelepasliaran. Pemilihan Resort PTN SItugunung sebagai lokasi pelepasliaran telah melalui kajian oleh Tim Pelepasliaran, dimana karakteristik lokasi pelepasliaran sesuai dengan habitat Elang Jawa yaitu berada di lembah dan terdapat sungai. Di lokasi tersebut juga tidak terdapat sarang eksis Elang Jawa lain, sehingga tidak ada kompetitor bagi satwa yang akan dilepasliarkan. Pesona ditempatkan di kandang habituasi yang dibangun di lembah sekitar Resto Valley milik PT. Fontis Aquam Vivam. Setelah melalui proses habituasi, Pesona terpantau masih liar dan sehat. Sehingga diputuskan untuk segera dilakukan proses hard release pada tanggal 27 Juli 2022 dan proses pelepasliaran Pesona dilakukan langsung oleh Direktur PT. Fontis Aqua Vivam disertai oleh Plt. Kepala Balai Besar TNGGP dan Plt. Kepala Balai TNGHS. Elang Jawa merupakan spesies endemik di Pulau Jawa yang status konservasinya saat ini adalah terancam punah (endangered) menurut IUCN Red List. Di Indonesia, satwa ini identik dengan lambing Negara Indonesia, yaitu Burung Garuda. Harapannya dengan dilepasliarkan kembali Pesona ke habitat alaminya, jumlah Elang Jawa di habitat aslinya khususnya di kawasan TNGGP juga dapat bertambah. Pelepasliaran Pesona di kawasan Resort PTN Situgunung yang merupakan resort pengelolaan wisata juga dapat dijadikan sebagai sarana edukasi kepada pengunjung agar lebih peduli lagi terhadap kelestarian satwa liar. Sumber : Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango Teks : Enike Ratna Sari, S.Hut dan Asep Suganda
Baca Artikel

Apresiasi Untuk Para Pihak, Selamat Jalan Abah Ukar

Sukabumi, 28 Juli 2022 - Ucapan terimakasih dan apresiasi setinggi-tingginya dengan komitmen dan dedikasi para pihak dibawah kordinasi Pos BASARNAS Sukabumi atas keberhasilan pencarian Sdr. Sukarma (Abah Ukar) warga Kampung Benda RT 02/ RW 08 Desa Benda, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi pada tanggal 22 s/d 25 Juli 2022. Survivor ditemukan dalam keadaan meninggal di aliran Sungai Cisuren di Wilayah Resort PTN Bodogol, Bidang PTN Wilayah III Bogor (instagram : @bidang_bogor_tnggp) Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Proses identifikasi oleh dokter Puskesmas Cicurug beserta pihak keluarga korban disaksikan oleh Pemerintah Kecamatan Cicurug, Kepolisian Sektor Cicurug, Koramil Cicurug. Pihak keluarga menyatakan bahwa korban yang ditemukan adalah benar survivor yang dicari atas nama Sukarma/Ukar. Pihak keluarga menyepakati untuk tidak dilakukan otopsi dan langsung dibawa ke rumah duka menggunakan ambulance untuk dikebumikan. Selamat Jalan Abah Ukar do'a terbaik untuk Almarhum. Sumber : Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Artikel

Workshop SMART Patrol Balai TN Batang Gadis

Mandailing Natal, 27 Juli 2022 - Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melaksanakan kegiatan Workshop SMART Patrol di aula kantor Balai TN Batang Gadis. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Plt. Kepala Balai TNBG Gunawan Alza, S.Hut dan dihadiri oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala SPTN Wilayah I s.d III, Koordinator Lingkup Balai TNBG, dan operator SMART Patrol Balai dan Seksi (26/07/2022). Narasumber kegiatan Workshop ini dari team SMART Patrol Direktorat Kawasan Konservasi, Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Kegiatan ini juga sebagai bentuk evaluasi dari penggunaan Aplikasi SMART Patrol yang telah digunakan oleh Balai TN Batang Gadis sejak tahun 2015. Aplikasi SMART Patrol sendiri digunakan oleh petugas Balai TNBG sebagai alat untuk mengumpulkan data dari pelaksanaan kegiatan dilapangan, Aplikasi ini juga membantu manager kawasan konservasi untuk membuat rencana pengelolaan yang lebih baik, mengevaluasi, dan mengimplementasikan aksi konservasi serta acuan untuk pengambilan keputusan. Sumber : Balai TN Batang Gadis
Baca Artikel

Kawasan Hutan Sopotinjak TN Batang Gadis

Sopotinjak, 25 Juli 2022. Kawasan hutan Sopotinjak masuk ke dalam kategori hutan hujan tropis yang berada di wilayah Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) berada di ketinggian antara 1300-1500 mdpl, wilayah hutan ini juga merupakan jalur lalu lintas menuju beberapa kecamatan di Kabupaten Mandailing Natal dan pesisir Pantai Barat, pembangunan jalan sudah dilakukan jauh sebelum Taman Nasional Batang Gadis dibentuk. Kawasan hutan Sopotinjak ini memiliki potensi keanekaragaman hayati yang tinggi dan beberapa jenis satwa mendiami kawasan ini. Pemasangan rambu-rambu lintasan satwa pun dilakukan oleh Balai TN Batang Gadis di sepanjang jalur lintasan untuk memberitahu kendaraan yang lewat agar berhati-hati jika melewati jalur ini. Tidak hanya itu, Balai Taman Nasional Batang Gadis juga melakukan sosialisasi tentang perlindungan satwa di desa Sopotinjak, memberitahu nomor call center sebagai tindakan respon cepat jika terjadi konflik satwa dan manusia serta melibatkan masyarakat sekitar berperan aktif melindungi satwa dan habitatnya. Sumber : Suwardi - Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Tujuh Ohoi Terima Bantuan Pengembangan Usaha

Ambon, 25 Juli 2022. Kepala Balai KSDA Maluku- Bapak Danny H. Pattipeilohy, S.Pi., M.Si bersama staff memberikan bantuan pengembangan usaha ekonomi produktif kepada 7 kelompok yang berasal dari 7 (Tujuh) Ohoi/Desa di Kec. Kei Kecil Barat, Kab. Maluku Tenggara, Jumat (15/07/2022). Ohoi yang menerima bantuan dalam program ini diantaranya adalah Ohoiren, Ohoidertom, Ohoisomlain, Ohoi Madwaer, Ohoidertutu, Ohoi Warbal, dan Ohoi Ur Pulau. Ohoi ini dipilih karena lokasinya berada di sekitar kawasan yang memiliki nilai konservasi tinggi karna merupakan habitat dari satwa liar dilindungi, salah satunya adalah Penyu Belimbing/tabob (Dermochelys coriacea). Kawasan ini termasuk pada Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Pulau Kei Kecil, Pulau-Pulau, dan Perairan Sekitarnya. Bantuan yang diberikan berupa alat-alat pendukung perairan tangkap dan budidaya rumput laut serta alat perkebunan dengan nilai Rp. 40 juta rupiah untuk setiap kelompok. Harapannya melalui bantuan ini, kemandirian masyarakat meningkat melalui peningkatan ekonomi kerakyatan sehingga dapat mendukung dan berkontribusi dalam upaya pelestarian tumbuhan dan satwa liar dilindungi. Dalam sambutannya, Bapak Danny menyampaikan bahwa kegiatan pengembangan kelembagaan malalui pemberian bantuan usaha ekonomi produktif ini adalah sebuah stimulan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya dan di sisi lain dapat turut serta mendukung dan melaksanakan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pada kesempatan yang sama, Bapak Bupati Maluku Tenggara - Bapak Drs.H. Muhamad Thaher Hanubun juga menyampaikan, bahwa di Pulau Kei terdapat adat dimana dalam pelaksanannya memanfaatkan satwa dilindungi. Sebagai dukungan upaya pelestarian, pemanfaatan satwa tersebut perlu diminimalisir, salah satunya melalui program pengembangan usaha ekonomi produktif ini. Kegiatan yang diselenggarakan di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara ini ditutup dengan penyerahan secara simbolis kepada 7 kelompok masyarakat dari 7 Ohoi di Kec. Kei Kecil Barat oleh Bupati Maluku Tenggara dan Kepala Balai KSDA Maluku. Sumber : Tim Media Balai KSDA Maluku

Menampilkan 1.537–1.552 dari 2.311 publikasi