Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Mitigasi Konflik Gajah Liar Sumatera di Dusun Sungai Pagar

Pekanbaru, 2 Agustus 2022 - Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I melakukan kegiatan mitigasi konflik satwa liar gajah sumatera di Dusun Sungai Pagar, Kelurahan Kampar, Kabupaten Kampar (26-28 Juli 2022). Tim menuju ke dusun Sungai Pagar, Kelurahan Kampar untuk berkoordinasi dengan warga. Bersama warga Tim menuju lokasi konflik menggunakan mobil dan dilanjutkan menyusuri sungai menggunakan pompong. Tim memastikan jejak terakhir gajah sudah menyebrang sungai ke arah Desa Rantau Kasih. Selanjutnya, Tim dan warga memutuskan melakukan blokade di pinggiran sungai Kampar kiri agar gajah tidak masuk kebun warga hingga pagi hari. Untuk memastikan keberadaan gajah, tim SKW I menuju Desa Rantau Kasih. Menurut kesaksian seorang warga, saat itu ia sedang menjaga ladang yang lokasinya berdekatan dengan hutan. Sekitar subuh pukul 05.00 WIB , rombongan gajah tampak terlihat yang berjumlah sekitar 20 sampai 25 ekor. Penjaga menghubungi warga Desa Rantau Kasih lainnya untuk bersama menggiring gajah liar, namun hingga malam hari tidak ada warga Rantau Kasih yang datang. Tim akhirnya kembali ke Desa Sungai Pagar dan kembali melakukan blokade di pinggiran sungai Kampar hingga dini hari. Keesokan harinya, Tim memberikan edukasi kepada warga tentang cara menghalau kawanan gajah liar dan meminta warga tidak anarkis terhadap satwa yang dilindungi tersebut. Tim berpesan apabila ada gangguan gajah kembali, agar segera berkoordinasi dengan Balai Besar KSDA Riau. Setelah memastikan gajah tidak kembali dan kondisi dirasa cukup aman, Tim meninggalkan Dusun Sungai Pagar dan kembali ke Pekanbaru. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Aksi Patroli Pengamanan dan Pembersihan Areal Camping Ground Kawasan TWA Buluh Cina

Pekanbaru, 1 Agustus 2022 - Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I bersama masyarakat melakukan kegiatan patroli pengamanan kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Buluh Cina. Kegiatan patroli ini dilaksanakan selama 2 hari sejak tanggal 26-27 Juli 2022. Kegiatan dipimpin langsung Kepala SKW I, Bapak Sugito yang turun menggunakan perahu mesin menyusuri hilir sungai Kampar menuju Danau Pinang Luar dan Danau Pinang Dalam. Setelah itu Tim melanjutkan patroli dengan berjalan kaki menuju lahan bekas bukaan yg diklaim milik H. Agus (Taratak Buluh). Di lokasi tersebut Tim menemukan adanya akses jalan yang dibuat menggunakan alat berat dan aktivitas penanaman bibit sawit serta sebuah pondok kerja. Tim memberikan peringatan kepada masyarakat yang melakukan aktivitas perkebunan agar tidak melanjutkan pekerjaannya dan melakukan pemusnahan pondok yang berada di dalam kawasan TWA Buluh Cina dengan dibakar secara aman dan terukur (lokasi basah dan tidak ada tanaman kering). Tim juga melakukan pemusnahan bibit sawit dengan cara dicincang. Tim melanjutkan patroli menggunakan perahu mesin menyusuri hulu sungai Kampar, dari pinggir sungai Tim melihat adanya bukaan baru serta 2 orang masyarakat Buluh Cina yang mengaku melakukan pembukaan lahan dan penanaman bibit sawit. Keterangan pelaku, lahan tersebut sudah dikerjakan selama seminggu secara manual dan rencana akan ditanami bibit sawit yang berjumlah ± 50 bibit. Tim melakukan penyitaan bibit sawit dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat yang ditemui di dalam kawasan agar tidak melakukan penanaman dan beraktifitas di kawasan tersebut. Tim meminta pelaku menandatangani surat pernyataan dan apabila melanggar akan dikenai sanksi sesuai peraturan perundang undangan. Di sela kegiatan patroli, tim bersama masyarakat juga menyempatkan melakukan kegiatan pembersihan areal Camping Ground TWA Buluh Cina. Kegiatan gotong royong ini difokuskan untuk menjaga kebersihan dan kerapian areal Camping Ground. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan pengunjung di TWA Buluh Cina serta perencanaan pengembangan wisata alam di kawasan konservasi tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Mitigasi Konflik Beruang Madu di Desa Segati, SKW I BBKSDA Riau Pasang Box Trap

Pekanbaru, 02 Agustus 2022 - Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I melakukan mitigasi konflik satwa liar dan manusia (28/7). Konflik terjadi di Dusun Tasik Indah, Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan. Sebelumnya telah dilakukan penanganan konflik Beruang Madu (Helarctos malayanus) di sekitar lokasi ini. Tim berkoordinasi dengan Kepala Desa Segati dan Kepala Dusun Tasik Indah, kemudian melakukan survey lokasi untuk pemasangan perangkap (box trap). Didampingi warga dan Kadus Tasik Indah, dilakukan pemasangan box trap di lokasi beruang biasa melintas yang berada di kebun sawit salah seorang warga dekat rawa-rawa. Tim menghimbau warga agar mengurangi aktivitas di sekitar lokasi pemasangan box trap, menjaga anak-anak untuk tidak main ke lokasi tersebut, dan meminta agar warga tidak anarkis terhadap satwa dilindungi. Tak lupa tim juga berpesan agar warga segera menghubungi petugas Balai Besar KSDA Riau apabila beruang masuk dalam perangkap. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Sosialisasi Tertib Aturan Legalitas dan Pemanfaatan Terumbu Karang & Ikan Hias

Pekanbaru, 2 Agustus 2022 - Petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Batam mengikuti kegiatan Sosialisasi Tertib Aturan Legalitas dan Pemanfaatan Terumbu Karang Serta Ikan Hias di Gedung Nasional Belakang Padang, Kec. Belakang Padang (26/7). Kegiatan dirancang oleh Direktorat Intelijen Keamanan Kepolisian Daerah Provinsi Kepulauan Riau yang Salah satu narasumbernya adalah bang Ariyanto, SIP., Polisi Kehutanan SKW II Batam. Turut hadir pula dalam kegiatan tersebut Polda Kepulauan Riau, Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang, Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan(PSDKP), Pemerintah setempat, warga Pulau Kasu dan sekitarnya. Kegiatan ini merupakan tindaklanjut dari kegiatan sosialisasi yang sudah pernah dilaksanakan pada bulan Oktober tahun 2021 lalu. Kegiatan ini bertujuan untuk sosialisasi mengenai peraturan tentang Tumbuhan Satwa Liar (TSL) yang dilindungi serta jenis-jenisnya yang sering ditemukan di wilayah Provinsi Kepulauan Riau. Balai Besar KSDA Riau menghimbau seluruh pihak terkait, baik itu pemerintah, tokoh agama, tokoh adat serta masyarakat untuk berkomitmen dalam upaya perlindungan dan pemberantasan kejahatan TSL di wilayah tersebut. Selain pemaparan materi dari narasumber dan diskusi peserta sosialisasi, kegiatan ini juga diisi dengan pembagian paket sembako kepada peserta yang hadir. Yuk sama sama kita lindungi flora fauna yang ada di sekitar kita. Karena bumi adalah tempat tinggal kita bersama. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Penanganan Konflik Gajah Sumatera di Desa Kemang Bersama Mitra dan Masyarakat

Pekanbaru, 2 Agustus 2022 - Tim Balai Besar KSDA Riau bersama Yayasan Taman Tesso Nilo (YTNTN), BPBD Pelalawan, Babinsa, Bhabinkamtibmas dan masyarakat melakukan mitigasi konflik gajah liar di Desa Kemang, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan. Kegiatan ini dilakukan selama dua hari yakni pada tanggal 27-28 juli 2022. Tim melakukan koordinasi dengan pihak Desa Kemang dan pihak terkait untuk selanjutnya bersama melakukan pengecekan tempat posisi gajah terakhir terlihat. Gajah ditemukan sedang beristirahat di bawah tower sutet dan terlihat berjumlah 3 ekor. Tim bersama warga melakukan briefing untuk strategi penggiringan gajah agar mengarah ke jalur awal datangnya gajah tersebut. Namun, pada pukul 22:30 WIB, tim kehilangan jejak di sebuah kebun dan hingga pukul 24.00 WIB tetap belum menemukan gajah dimaksud. Akhirnya tim memutuskan untuk beristirahat dan akan melanjutkan keesokan harinya. Keesokan paginya, Tim melanjutkan pencarian dan berhasil menemukan gajah di belakang Pabrik PT. Langgam Inti Hibrindo (LIH). Tim kembali melakukan penggiringan sampai pukul 22:30 WIB malam namun gajah tersebut tetap kembali dan berputar-putar di sekitar area semak belukar di belakang pabrik PT. LIH. Posisi terakhir gajah masih di belakang PT. LIH yang merupakan jalur awal masuknya gajah ke desa Kemang. Tim gabungan bersama-sama melakukan penggiringan tanpa putus asa. Semoga konflik antara manusia dan satwa liar terutama Gajah Sumatera segera menemukan solusinya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Pembahasan Usulan Perubahan Tata Cara Kerja Sama Penyelenggaraan KSA dan KPA

Jakarta, 1 Agustus 2022. Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.85 Tahun 2014 tanggal 29 September 2014 tentang Tata Cara Kerjasama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam (KSA) Dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) menyatakan bahwa Kerjasama penyelenggaraan KSA dan KPA adalah kegiatan bersama para pihak yang dibangun atas kepentingan bersama untuk optimalisasi dan efektifitas pengelolaan kawasan atau karena adanya pertimbangan khusus bagi penguatan ketahanan nasional. Direktorat Perencanan Kawasan Konservasi pada tanggal 25 Juli 2022 menghadiri pembahasan usulan perubahan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.85/Menhut-II/2014 tentang Tata Cara Kerja Sama Penyelenggaraan KSA dan KPA, dalam mendukung peningkatan produktifitas dan kemandirian di sektor energi yang bertujuan untuk mendapatkan masukan terkait usulan Perubahan Permenhut Nomor P.85 Tahun 2014 jo Permen LHK Nomor P. 44 Tahun 2017 tentang Tata Cara Kerjasama Penyelenggaraan KSA dan KPA. Rapat yang dipimpin langsung oleh Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi, Ir. Jefry Susyafrianto, M.M. dihadiri peserta dari beberapa eselon terkait lingkup Kementerian LHK dan diharapkan pembahasan ini, akan menghasilkan rumusan dan kesimpulan terkait Kerjasama Penyelenggaraan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam. Sumber : Mugiharto Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

BBKSDA Riau Dampingi Kegiatan KTH dan Pokdarwis Bentukan Tahun 2021

Pekanbaru, 1 Agustus 2022 - Pendampingan Kelompok Tani Hutan (KTH) Melati Indah dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Negeri Enam Tanjung di Desa Buluh Cina, Kecamtan Siak Hulu, Kabupaten Kampar dilakukan petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I pada Selasa dan Rabu, 26-27 Juli 2022. KTH dan Pokdarwis dibentuk pada tahun 2021 dan pendampingan ini dilakukan untuk mengetahui progres unit usaha yang dikembangkan masing-masing kelompok. Untuk KTH Melati Indah, unit usaha yang telah berjalan yaitu usaha kuliner, sedangkan unit usaha ikan salai dan cinderamata masih menemui kendala. Namun telah dicapai kesepakatan kelompok untuk menyelesaikan kendala tersebut. Unit usaha ikan salai dan cinderamata berkomitmen untuk menjalankan usahanya pada bulan Agustus 2022. Untuk Pokdarwis Negeri Enam Tanjung, unit usaha yang telah berjalan dengan baik yaitu penyewaan tenda perkemahan, sedangkan dua unit usaha lainnya yaitu penyewaan sepeda dan perahu baling-baling masih menemui kendala. Fasilitator meminta kepada pengurus untuk segera menyusun teknis penyewaan kedua unit usaha yang belum berjalan. Fasilitator meminta kepada kedua kelompok untuk meningkatkan komunikasi via group WhatsApp apabila komunikasi tatap muka mengalami kendala. Fasilitator juga memberi motivasi kepada kedua kelompok untuk meningkatkan kerja sama dan kekompakan. Selain itu, diberikan juga arahan dalam pengembangan kelompok diantaranya pentingnya kesolidan dan saling percaya antar anggota kelompok serta pertemuan kelompok yang rutin. Pertemuan rutin kelompok disepakati untuk dilakukan satu kali dalam sebulan. Semoga dipermudah untuk segera mencapai apa yang menjadi tujuan. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Kunjungan Kerja Direktur KKHSG Ditjen KSDAE ke Provinsi Riau

Pekanbaru, 1 Agustus 2022 - Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Sumber Daya Genetik (KKHSDG) Direktorat Jenderal KSDAE, ibu Indra Exploitasia melakukan kunjungan kerja di Provinsi Riau pada Sabtu, 23 Juli 2022. Ibu Direktur turun langsung menuju Desa Koto Pait Beringin, Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis untuk melihat areal yang sering terjadi konflik antara manusia dan gajah liar. Turut hadir mendampingi beliau, Plt. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Kepala Balai Pengelolaan Hutan Produksi Wilayah III Pekanbaru, Polsek Pinggir serta jajaran pengurus PT Arara Abadi. Tim kemudian melakukan diskusi di distrik Duri II PT Arara Abadi dimana disepakati bahwa satwa gajah merupakan aset negara yang menjadi kewajiban semua warga negara dan semua pihak untuk bersama melindunginya. Disamping itu, perlunya membangun pola komunikasi yang terintegrasi antara stakeholder serta pendataan kondisi pada areal ruang gerak gajah atau kantong sehingga bisa dipetakan semua permasalahan yang ada di dalamnya. Tak kalah penting adalah internalisasi terhadap langkah-langkah yang akan dilakukan terutama dalam hal mitigasi konflik. Semoga dengan kepedulian bersama konflik yang terjadi antara manusia dan satwa dapat diminimalisir ya sob. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Road To HKAN 2022, BBKSDA Sumut Edukasi Pelajar Tentang Satwa Liar

Lae Hole, 29 Juli 2022. Rangkaian Road To HKAN 2022, Balai Besar KSDA Sumatera Utara gencar melakukan berbagai kegiatan konservasi alam. Salah satunya dengan melaksanakan edukasi (pendidikan) konservasi alam kepada generasi muda khususnya pelajar SD Negeri 030293 Lae Hole, pada 25-26 Juli 2022. Kegiatan yang dilakukan oleh Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang bersama dengan mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), diikuti oleh 80 orang siswa/siswi gabungan dari kelas V dan Kelas VI. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi peserta tentang beberapa satwa liar yang dilindungi undang-undang sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MenLHK/Setjen/Kum.1/12/2018, kemudian mengapa satwa liar itu dilindungi, arti pentingnya keberadaan satwa liar bagi ekosistem alam dan kehidupan manusia serta membangun kesadaran akan perlunya upaya-upaya kecil dan sederhana dalam menjaga serta melindungi satwa liar. Penyampaian materi dilakukan semenarik mungkin dengan menggunakan model-model pembelajaran yang interaktif, melalui berbagai metode seperti : pemutaran film, diskusi, dan beberapa permainan (games) tebak gerakan, eja kata satwa dan memasangkan/mencocokkan gambar satwa dengan namanya. Juga diberikan quiz berhadiah perlengkapan sekolah, sehingga memberi semangat peserta. Diakhir pembelajaran dilakukan post test (tes singkat) yaitu sejauhmana pemahaman peserta terhadap materi yang telah disampaikan. Kegiatan edukasi konservasi alam mendapat apresiasi dari pihak sekolah. Kepala Sekolah SD Negeri 030293 Rindu Waty Purba yang ikut memantau pelaksanaan kegiatan ini, menyampaikan terimakasih kepada Tim dan berharap kegiatan ini dapat menambah pengetahuan serta rasa cinta siswa/siswinya terhadap lingkungan dan satwa liar. Dengan terlaksananya kegiatan Pendidikan Konservasi Alam tentunya dapat menjadi salah satu cara dalam mengenalkan Konservasi Alam kepada generasi muda agar kualitas hidup generasi mendatang tetap terjaga dan lestari. Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Panen Asam Jawa di Resort Loh Sebita TN Komodo

Labuan Bajo, 27 Juli 2022. Taman Nasional Komodo memiliki ekosistem hutan yang beragam dan memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan yang tinggi, salah satunya memiliki populasi pohon asam jawa (Tamarindus Indica) yang melimpah. Masyarakat Kampung Komodo yang tergabung dalam kelompok masyarakat pengumpul buah asam jawa (Tamarindus indica) melakukan pemanenan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) di wilayah Resort Loh Sebita Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Balai Taman Nasional Komodo. Terdapat empat kelompok dengan jumlah total 14 orang masyarakat yang beramai-ramai mulai mengumpulkan HHBK asam jawa selama enam hari mulai tanggal 14 – 19 Juli 2022. Rias (Pengendali Ekosistem Hutan Pemula) yang ditugaskan di Resort Loh Sebita berupaya mengobservasi aktivitas pemanenan HHBK didampingi oleh Ardianto dan Falentinus I. Djoda (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Sebita). Rias dan tim mencatat setidaknya terdapat 65 karung asam jawa yang berhasil dikumpulkan oleh keempat kelompok pengumpul HHBK di Loh Sebita dalam beberapa hari terakhir. Kelompok pertama yang diketuai oleh Bapak Muhammad berhasil memperoleh 25 karung, kelompok kedua yang diketuai oleh Bapak Hasan mendapatkan 8 karung, sedangkan kelompok ketiga dan keempat yang diketuai oleh Bapak Mana dan Milla masing-masing memperoleh 19 dan 12 karung asam jawa. Karung yang digunakan berukuran 50 x 90 Cm, dengan berat kotor (kulit buah belum dikupas) rata-rata per karung berkisar antara 25 – 30 Kg. Rias, Ardianto, dan Djoda berinisiatif mewawancarai kelompok masyarakat pengumpul HHBK di Loh Sebita guna memahami alur dagang mulai dari pengumpulan hingga penjualan ke pengepul asam jawa pertama. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa taksiran harga yang dibayarkan para pengepul kepada masyarakat adalah sebesar Rp100.000 – Rp130.000 setiap karungnya. Lebih lanjut, para pengepul akan membayarkan harga lebih tinggi untuk setiap karung berisikan buah asam jawa yang sudah dibersihkan kulutnya, sehingga masyarakat tidak hanya berlomba mengumpulkan buah, namun juga berkompetisi membersihkan buah asam jawa pada setiap karung hasil petikannya. Musim pemanenan buah asam jawa hanya dilakukan satu kali yaitu pada bulan Juli – Agustus setiap tahunnya. Masyarakat Kampung Komodo biasa mengumpulkan buah asam dari wilayah Resort Loh Wau dan Resort Loh Sebita karena Pulau Komodo memiliki hamparan ekosistem hutan hujan tropis yang berbeda dengan ekosistem sabana di Pulau Rinca. Dalam proses pengumpulannya, kelompok masyarakat mengalami kendala dimana terdapat buah asam jawa yang belum matang dalam satu pohon. Hal ini membuat hasil petikan berkurang, yang awalnya bisa memperoleh dua karung menjadi hanya satu karung saja. Rias dan tim memanfaatkan momentum pengumpulan HHBK di Loh Sebita untuk mengedukasi masyarakat terkait dengan pengelolaan Taman Nasional Komodo, utamanya kehati-hatian dalam memanen HHBK langsung dari alam. Rias dan tim juga menyampaikan agar masyarakat tidak menggunakan api dan meninggalkan sampah di dalam hutan sehingga alam tetap terjaga lestari. Asam jawa memiliki ciri-ciri daun dengan panjang sekitar 5 – 13 cm, bentuk daun menyerupai pita yang meruncing, dan buahnya berbentuk memanjang dengan daging buah berwarna kuning kecoklatan yang menyelimuti biji warna kehitaman berjumlah 8 – 10 buah dalam setiap buahnya. Asam jawab tidak hanya memiliki manfaat gastronomi, namun juga bermanfaat sebagai pakan satwa liar, utamanya bagi kakatua kecil jambul kuning, rusa timor, dan monyet ekor panjang. Pohon asam juga seringkali digunakan oleh anakan komodo untuk berlindung dari predator sehingga kelimpahan populasinya sangat esensial bagi keberlangsungan ekosistem dan kelestarian populasi biawak komodo di Taman Nasional Komodo. Terjaganya ekosistem hutan di Taman Nasional Komodo tentu memberikan banyak manfaat tidak hanya bagi satwa liar namun juga bagi masyarakat lokal yang tinggal di dalam kawasan. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar aktivitas pemanenan HHBK asam jawa ini dapat dipraktikan secara lestari secara berkelanjutan oleh masyarakat Kampung Komodo. Selain asam jawa, beberapa potensi HHBK (Hasil Hutan Bukan Kayu) yang ada di Taman Nasional Komodo diantaranya: Madu Hutan dan Srikaya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Pemula - Rias (+6287810341748) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Dua Kelompok Tani Sekitar CA Dolok Saut Terima Bantuan BBKSDA Sumut

Tapanuli Utara, 29 Juli 2022. Kembali Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar menyerahkan bantuan usaha ekonomi produktif. Kali ini kepada 2 kelompok tani yang ada di sekitar kawasan Cagar Alam (CA). Dolok Saut. Kelompok Tani (KT) yang pertama, KT. Toga Simamora Jaya yang berada di Desa Parlombuan, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, menerima bantuan usaha ekonomi produktif berupa peralatan pertanian yang mendukung kepada pengembangan usaha pertanian di kelompok tani tersebut. Penyerahan ini dilakukan langsung oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudito, S.Hut., ME. didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, Manigor Lumbantoruan, SP. beserta staf pada Selasa 26 Juli 2022. Masih pada hari dan tanggal yang sama, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar bersama Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung beserta staf juga menyerahkan bantuan usaha ekonomi produktif kepada KT. Rahutbosi di Desa Rahutbosi, Kecamatan Pangaribuan, Kabupaten Tapanuli Utara, berupa peralatan budidaya lebah madu. Budidaya lebah madu menjadi salah satu usaha utama masyarakat yang bergabung dalam KT. Rahutbosi. Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Seno Pramudito, S.Hut., ME., menyatakan rasa kegembiraannya dan menyampaikan harapan kepada masing-masing kelompok tani agar memanfaatkan dan menggunakan bantuan yang diberikan dengan sebaik-baiknya, sehingga nantinya memberi manfaat dalam meningkatkan perekonomian warga. Tak lupa juga Seno menyampaikan pesan agar masyarakat peduli dan ikut menjaga kelestarian kawasan konservasi CA. Dolok Saut. Sebaliknya, pengurus dan anggota KT. Toga Simamora Jaya dan KT. Rahutbosi menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar yang telah memfasilitasi dengan pemberian bantuan bagi pengembangan usaha ekonomi produktif masyarakat, dan berjanji akan menggunakan bantuan tersebut dengan sebaik-baiknya, termasuk juga akan ikut membantu petugas dalam menjaga kelestarian kawasan CA. Dolok Saut. Sumber : Yustiil Fazri – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pesona Orchidaceae di Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 11 Juli 2022. Mahasiswa dari Institut Teknologi Bandung, Dinda Fahita Gultom menjalani kegiatan penelitian magang pada tanggal 20 - 30 Juni 2022 di Loh Buaya dan juga pada tanggal 1 - 8 Juni 2022 di Loh Liang. Dinda mengambil topik Analisis Kelimpahan, Persebaran, dan Pemanfaatan Jenis-Jenis Anggrek (Orchidaceae) di kawasan Taman Nasional Komodo. Pengamatan dan juga data yang diambil meliputi jenis dan jumlah anggrek, jenis pohon inang, serta zonasi tempat tumbuh anggrek. Penelitian magang menggunakan metode jelajah, yaitu dengan penelusuran jalur-jalur yang telah ditentukan. Loh Buaya menggunakan jalur Wae Waso dan jalur wisata, sedangkan di Loh Liang melewati jalur patroli darat dan Banunggulung 3. Penentuan jalur ini berdasarkan pada kemudahan akses dan juga merupakan jalur yang sering dilalui wisatawan, ranger serta naturalist guide. Setiap anggrek di sepanjang jalur dicatat menggunakan bantuan aplikasi SW MAPS serta dokumentasi berupa gambar anggrek beserta pohon inangnya. Penelitian ini akan menambah data inventarisasi bagi Balai Taman Nasional Komodo dan juga sebagai bahan acuan tindakan pelestarian dan perlindungan terhadap tanaman anggrek. Penelitian ini menggunakan dua lokasi yang berbeda dengan tujuan untuk perbandingan dan juga memperkaya data mengenai anggrek agar dapat memudahkan untuk penentuan bentuk pemanfaatan yang tepat. Loh Buaya memiliki ekosistem yang bervariasi seperti mangrove, sawah garam, hutan, dan savana. Sedangkan anggrek yang ditemukan sebagian besar terdapat pada ekosistem hutan dan juga beberapa pada ekosistem savana. Dinda menjumpai anggrek dengan jenis Vanda limbata dan dalam keadaan tidak berbunga tetapi memiliki dominansi yang besar pada pohon-pohon yang ditumpanginya. Hal ini menunjukkan bahwa ditemukan lebih dari sepuluh anggrek yang tumbuh dalam satu individu pohon. Anggrek ini menempel pada retakan- retakan batang atau bekas dahan yang patah yang dipenuhi dengan humus atau serasah lapuk. Tekstur batang nya tidak rata, dan kasar ini cukup beralasan karena memudahkan kotoran-kotoran untuk menempel pada batang pohon tersebut, dan dalam kurun waktu yang lama akan menumpuk sehingga menyebabkan batang pohon itu menjadi lembab dan memudahkan pertumbuhan anggrek. Pohon inang yang sebagai tempat hidup oleh anggrek Vanda limbata adalah pohon spesies Tamarindus indica, Ziziphus jujuba, Schleichera oleosa, dan Schoutenia ovata. Berdasarkan zona pertumbuhan anggrek yang ditemukan pada lokasi penelitian, Vanda limbata termasuk tumbuhan epifit yang hidupnya menumpang pada tanaman lain tetapi tidak dirugikan tanaman yang dijumpainya berdasarkan klasifikasi Johansson tahun, 1974 karena tumbuh di bagian batang atau cabang dari pohon inangnya. Habitat yang sesuai sangat mendukung pertumbuhan anggrek di daerah ini yaitu beriklim kering dan merupakan dataran rendah. Salah satu faktor yang menyebabkan Vanda limbata di daerah ini tidak berbunga adalah karena hutan yang cukup rapat dan pohon inang yang memiliki tutupan yang lebat sehingga membuat anggrek tidak mendapat suplai sinar matahari yang cukup untuk melakukan perbungaan. Berbeda dengan lokasi penelitian di Loh Liang, ditemukan dua spesies anggrek berbeda yaitu Vanda limbata dan Dendrobium crumenantum. Dengan iklim dan ketinggian yang tidak jauh berbeda dengan Loh Buaya, anggrek tumbuh dengan sangat baik dengan indikator banyaknya individu yang ditemukan sepanjang penelusuran jalur jelajah. Kondisi hutan yang mendukung dengan tidak terlalu rapat, Dinda menemukan Vanda limbata dalam keadaan berbunga, bercirikan dengan dominansi warna merah serta bercak kuning dan kepalanya berwarna merah bata dibalut aroma kayu manisnya yang khas. Saat ini, jenis-jenis tanaman hias khususnya anggrek, mempunyai prioritas untuk pengembangan karena mempunyai keunikan dan daya tarik tersendiri. Bentuk bunga, warna bunga, dan sifat bunga seperti besar, tebal, jumlah kuntum, ketahanan mekar, dan keharuman merupakan sifat dan karakteristik dari jenis-jenis anggrek sebagai acuan untuk memenuhi selera konsumen. Pembudidayaan anggrek dengan tujuan bisnis maupun sekedar hobi tentu akan mempengaruhi kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan bertanam anggrek memberikan prospek yang baik bagi masa depan, terutama jenis anggrek hasil-hasil silangan. Sehingga dapat dimanfaatkan sebagai komoditi ekonomi bagi masyarakat lokal dan juga obat-obatan tetapi perlu dilakukan pelestarian agar keberadaan tanaman anggrek ini tetap terjaga. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Rekayasa Kehutanan – Institut Teknologi Bandung - Dinda Fahita Gultom Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut:Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Tim SKW I Telusuri Jejak Beruang Madu Liar yang Masuk ke Dusun Warga

Pekanbaru, 29 Juli 2022 - Tim Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I melakukan mitigasi konflik satwa liar beruang madu di Dusun Tasik Indah, Desa Segati, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan (20/07). Tim berkoordinasi dengan Kades Segati terkait gangguan satwa liar jenis beruang madu yang meresahkan warga Dusun Tasik Indah. Selanjutnya Tim melakukan pengecekan dan pemeriksaan lokasi tempat kejadian bersama kades dan beberapa warga. Dari hasil penelusuran, ditemukan jejak bekas cakaran pada pohon matoa, gaharu dan batang kelapa, Tim menganalisa dan menduga kuat bahwa hal itu memang akibat adanya aktivitas beruang madu di sekitar lokasi tersebut. Seorang warga bernama Yanto menyampaikan bahwa beruang berjumlah 2 ekor (induk dan anak). Setiap menjelang maghrib beruang tersebut datang dan sudah satu minggu terakhir juga mencoba memasuki rumah warga lewat atap yang terbuat dari asbes. Kerusakan serta kehilangan yang diakibatkan beruang tersebut diantaranya kandang ayam, 3 batang kelapa, tanaman gaharu, ayam dengan jumlah sekitar 20 ekor, angsa 5 ekor, dan kambing 1 ekor. Lokasi berada disekitar lahan sawit dan semak-semak dekat rawa. Masyarakat berharap beruang segera ditangkap untuk dipindahkan ke habitat yang jauh dari pemukiman penduduk karena takut akan adanya korban dari masyarakat dusun Tasik Indah. Apalagi satwa sudah berani masuk rumah warga dan lokasi terakhir beruang tersebut terlihat, sangat dekat dengan mushola tempat anak-anak mengaji yang berjarak sekitar 20 meter. Tim melakukan sosialisasi tentang penanganan beruang madu dan menghimbau agar warga lebih hati-hati beraktivitas pada malam dan pagi hari. Tim juga meminta warga tidak anarkis terhadap satwa yang dilindungi dan meminta agar warga selalu berkoordinasi dengan Balai Besar KSDA Riau dalam penanganan konflik satwa. Saat ini Tim sedang melakukan persiapan pemasangan kandang jebak untuk kedua beruang tersebut. Semoga dapat meminimalisir konflik yang terjadi antara manusia dan satwa liar. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Keanekaragaman Jenis Burung Endemik Wallacea Di Loh Buaya Dan Loh Liang

Labuan Bajo, 11 Juli 2022. Mahasiswi Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung, Fina Lutfia Arouffy telah melakukan penelitian magang terkait keanekaragaman jenis burung dan persebarannya pada tanggal 22 Juni 2022. Burung merupakan salah satu indikator yang sangat baik untuk mengetahui kesehatan lingkungan dan nilai keanekaragaman hayati secara keseluruhan untuk ketercapaian alam yang lestari. Burung juga memiliki peran penting bagi ekosistem, contohnya seperti jenis-jenis burung yang berperan serta sebagai penyebar biji tumbuhan untuk regenerasi tumbuhan di hutan. Cakupan kajian keanekaragaman jenis burung ini berada pada kawasan Taman Nasional Komodo, tepatnya di Loh Buaya dan Loh Liang. Fina mendatangi Loh Buaya yang berlokasi di pulau Rinca dan Loh Liang yang berlokasi di pulau Komodo, terletak di wilayah Nusa Tenggara yang didominasi oleh jenis-jenis burung Wallacea. Fina mengharapkan data analisis mengenai burung tersebut nantinya dapat bermanfaat bagi Taman Nasional Komodo dalam pengelolaan di masa yang akan datang. Dalam menganalisis keanekaragaman jenis burung, Fina menggunakan tiga metode yaitu metode point count, jelajah, dan data sekunder. Point count merupakan metode dengan cara pengamatan terpusat di bukit tertinggi dengan area pengamatan dalam radius 50 meter yang dilakukan pada pukul 06.00 hingga pukul 08.00 WITA dan pukul 16.00 hingga 18.00 WITA dengan 3 kali pengulangan pengamatan. Sedangkan, metode jelajah merupakan metode pengamatan dan pengambilan data dengan menelusuri jalur trekking pada wilayah terkait. Untuk kelengkapan analisis data, Fina memerlukan data tambahan yaitu dengan data sekunder. Beberapa data yang Fina ambil di lapang yaitu data nama spesies burung berdasarkan dari hasil identifikasi pengamatan, waktu perjumpaan burung, dan jumlah burung yang teramati. Dari hasil analisis yang dilakukan, Fina mendapatkan hasil bahwa dari setiap wilayah kajian, baik Loh Buaya dan Loh Liang memiliki tingkat keanekaragaman dan persebaran yang berbeda, namun setiap wilayah tetap memiliki keunikannya tersendiri. Di Loh Buaya, Fina mengamati bahwa spesies burung kuntul karang (Egretta eulophotes) cenderung mendominasi sedang mencari makan di area mangrove. Sedangkan berdasarkan pengamatan di Loh Liang, Fina mengamati bahwa terdapat 37 spesies yang didominasi oleh spesies Cacatua sulphurea atau kakatua-kecil jambul kuning. Wilayah Loh Liang kaya akan tanaman pakan bagi spesies kakatua- kecil jambul kuning seperti banyaknya hutan asam dan pohon nitak. Kakatua-kecil jambul kuning juga merupakan satwa kunci Taman Nasional Komodo. Salah satu faktor penyebab jumlah keanekaragaman spesies burung di Loh Liang lebih banyak dibandingkan di Loh Buaya, yaitu dikarenakan tidak adanya persaingan sumber pakan. Berbeda dengan Loh Buaya, yang sumber pakannya dikuasai oleh banyak koloni monyet ekor panjang yang sama-sama memakan buah, biji-bijian, dan daun muda. Berdasarkan keunikan beberapa spesies, Fina menemukan bahwa spesies yang berada di wilayah Loh Buaya belum tentu akan ditemukan di wilayah Loh Liang, begitu pula sebaliknya. Contohnya seperti spesies decu belang (Saxicola caprata) yang banyak ditemukan di Loh Buaya, tetapi sulit ditemukan di Loh Liang. Fina menyimpulkan bahwa hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh habitatnya yang cenderung berada di area bukit dan lembah sabana. Untuk spesies burung di Loh Liang yang tidak ada di Loh Buaya yaitu Kakatua-kecil jambul kuning, yang dikarenakan persaingan pakan yang telah disebutkan sebelumnya. Tentunya, pada beberapa wilayah kajian masih memiliki lebih banyak jenis burung. Namun beberapa peneliti, termasuk Fina belum bisa mengamati secara lanjut dikarenakan keterbatasan tenaga kerja, alat, dan waktu. Setelah menjalankan penelitian ini, Fina berharap akan ada penelitian lebih lanjut mengenai inventarisasi keanekaragaman jenis burung, sehingga dapat menjadi prospek yang bagus bagi Taman Nasional Komodo dalam pemberdayaan fauna serta menambah daya tarik wisatawan dalam mengenal burung-burung endemik Wallacea yang berada di kawasan Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Rekayasa Kehutanan Institut Teknologi Bandung - Fina Lutfia Arouffy (+6281382043549) Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Melihat Peran Penting Dokter Hewan Dalam Manajemen Konservasi Satwa Mangsa Komodo

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Salah satu peran dokter hewan dalam manajemen konservasi adalah upaya pelestarian, jenis, populasi dan habitat satwa liar dengan memetakan status medis konservasi pada satwa mangsa. Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana berkomitmen untuk mempelajari manajemen konservasi medis pada komodo dilihat dari aspek satwa mangsa yaitu Rusa Timor (Rusa timorensis) yang ada di Taman Nasional Komodo. Kegiatan tersebut dilaksanakan saat magang pada kawasan konservasi in-situ tanggal 11-30 Juni 2022 di Resort Loh Buaya Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 1 Balai Taman Nasional Komodo. Salah satu bentuk aktivitas yang dilaksanakan adalah melakukan pengamatan dan wawancara terkait manajemen konservasi medis komodo ditinjau dari satwa mangsa yaitu Rusa Timor (Rusa timorensis). Komodo merupakan satwa endemik Indonesia dan hanya dapat ditemukan di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Gili Motang, dan Flores. Secara ekologis, komodo merupakan top predator sehingga gangguan dapat terjadi akibat putusnya rantai makanan yaitu hilangnya vegetasi baik sebagai penutup permukaan tanah maupun sebagai sumber pakan bagi kelompok satwa herbivora, khususnya satwa ungulata yang merupakan mangsa bagi komodo. Banyaknya rusa yang menjadi target perburuan liar mengakibatkan ancaman terhadap menurunnya populasi komodo. Rusa timor (Rusa timorensis) merupakan makanan utama bagi komodo. Adanya perburuan liar mengakibatkan penurunan populasi rusa yang dapat mengancam kelangsungan hidup komodo. Ekosistem habitat Rusa timor adalah ekosistem hutan savana yang memiliki ciri terdapatnya rerumputan dan beberapa pohon. Rusa timor merupakan hewan herbivora dan spesifikasi makannya yaitu memakan rerumputan (graminoids). Rusa merupakan salah satu hewan ruminansia. Secara umum hewan ruminansia lebih rentan terjangkit penyakit cacingan. Saluran pencernaan merupakan salah satu organ yang rentan terserang penyakit cacingan (helminthiasis). Cacing dalam saluran pencernaan dapat menyebabkan kerusakan mukosa usus yang berakibat pada penurunan efisiensi penyerapan makanan. Kondisi ini mengakibatkan penurunan pertumbuhan rusa dan rentan terhadap penyakit lainnya yang dapat membahayakan kesehatan rusa itu sendiri. Berdasarkan data sekunder yang didapat dari jurnal dengan judul “Tingkat Infestasi Cacing Saluran Pencernaan Pada Rusa Timor (Rusa timorensis)”, diketahui bahwa penularan cacing dapat terjadi melalui pakan dan minum yang tercemar oleh feses. Terjadinya penularan penyakit disebabkan adanya feses yang terinfeksi cacing. Selain cacing, ada pula telur cacing yang berada dalam feses. Feses yang mengandung telur cacing akan berkembang menjadi larva di tanah kemudian masuk ke dalam tubuh rusa melalui proses ingestion bersama pakan yang dimakan. Haemonchus sp. merupakan salah satu cacing yang umum dijumpai pada ruminansia di tempat beriklim tropis dan kondisi lingkungan yang lembab. Hal ini sesuai dengan kondisi di lapangan ±10 hari terjadi hujan di wilayah Loh Buaya yang mempengaruhi kondisi lingkungan menjadi lembab. Kondisi yang lembab sangat mendukung pertumbuhan cacing Haemonchus sp. karena siklus hidup cacing ini secara langsung dan tanpa inang sehingga cacing dapat dengan mudah menyebar. Kondisi iklim berkaitan dengan tingkat kejadian cacing yang ditemukan pada feses. Namun, tingkat prevalensi cacing pada rusa timor berbeda di setiap wilayah. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan geografis dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi keberadaan siput sebagai perantara larva cacing. Siput yang membawa larva cacing memungkinkan mencemari pakan rusa. Peran dokter hewan sangatlah penting dalam pengelolaan kawasan konservasi terutama satwa mangsa yang mendukung keberlangsungan hidup komodo sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut terkait dengan keberadaan cacing Haemonchus sp. Semoga kedepannya akan ada lulusan Sarjana Kedokteran Hewan yang mendaftarkan diri sebagai Pengendali Ekosistem Hutan di Balai Taman Nasional Komodo dan menjadi memiliki tenaga ahli bidang veteriner yang berperan dalam menjaga kesehatan hewan di kawasan Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana - Maria Magdalena Juliana Floreda Dai Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612
Baca Artikel

Melihat Perilaku Istirahat Rusa Timor Di Lembah Loh Buaya Pulau Rinca

Labuan Bajo, 21 Juni 2022. Agneta Rince, Mahasiswa Program Sarjana Kedokteran Hewan, Fakultas Kedokteran dan Kedokteran Hewan, Universitas Nusa Cendana Kupang melakukan kegiatan magang wajib di Resort Loh Buaya, Pulau Rinca, terkait observasi perilaku istirahat pada rusa timor (Rusa timorensis). Tingkah laku istirahat merupakan salah satu aktivitas harian dari rusa timor dan melakukannya secara berkelompok setelah melakukan aktivitas makan di pagi, siang, dan sore hari. Jenis pakan yang biasanya di makan oleh rusa timor yang ada di loh buaya sendiri adalah jenis rerumputan. Agneta melakukan wawancara dan menyimpulkan bahwa rusa memakan buah buah asam serta buah bidara. Rusa timor banyak menghabiskan waktunya di rerumputan teki yang merupakan pakan dari rusa timor itu sendiri. Rusa timor sendiri memiliki kemampuan beradaptasi yang cukup baik. Dari hasil pengamatan, Agneta mengamati jumlah rusa timor yang ada di sekitar resort loh buaya berkisar sekitar 6 ekor yang biasanya beristirahat di depan pusat informasi dekat pohon asam dengan cara berbaring di bawah teduhnya pohon asam dan semak sambil melakukan kegiatan memamah biak. Rusa timor melakukan aktivitas istirahat untuk berteduh dan berlindung dari teriknya sinar matahari langsung serta untuk menjaga kestabilan suhu tubuhnya. Pada saat istirahat dalam kelompok besar maupun kelompok kecil dengan jarak antar individu yang tidak berjauhan, biasanya rusa timor juga sesekali diselingi dengan merawat diri. Agnes berhasil mengamati aktivitas lain dari rusa timor yaitu membersihkan diri, meregangkan otot-otot tubuh, mengibaskan ekor, menggerakkan telinga, vokalisasi, serta mengasah tanduk. Rusa timor membersihkan diri dengan menjilat rambut yang berada di bagian-bagian tubuh seperti punggung, perut dan muka. Rusa dapat melakukan aktivitas menjilat secara pribadi ataupun menjilat individu lain. Rusa timor melakukan aktivitas meregangkan otot-otot tubuh sesudah istirahat selesai dalam jangka waktu yang lama dengan posisi duduk atau tidur merebahkan diri. Terkadang, rusa yang biasanya duduk, kemudian meregangkan kaki dan leher. Rusa timor biasa mengibaskan ekor dan menggerakkan telinga baik pada saat mereka sedang duduk, berdiri, maupun berjalan untuk mengusir serangga dan sebagai sikap untuk berjaga-jaga. Rusa timor merupakan jenis rusa tropis yang dapat dijumpai di berbagai pulau di Indonesia. Bagi wisatawan yang berkunjung ke Taman Nasional Komodo, mereka akan menjumpai rusa timor di Loh Buaya, Pulau Rinca. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Nusa Cendana - Agneta Rince Penyunting Berita: Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6282145675612

Menampilkan 1.521–1.536 dari 2.311 publikasi