Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Wujud Dukungan Korporasi Untuk Konservasi TN Kutai

Malang, 13 September 2022. Balai Taman Nasional (TN) Kutai dan anggota mitra Balai TN Kutai menyelenggarakan Rapat Tahunan Mitra TN Kutai dan Penandatanganan Komitmen Kontribusi Mitra Tahun 2022/2023. Dalam kesempatan tersebut juga disusun Rencana Kerja Mitra TN Kutai Tahun 2022/2023 secara bersama-sama baik yang bersumber dari komitmen in cash maupun in kind seluruh anggota perusahaan. Mitra Balai TN Kutai yang didirikan sejak tahun 1995 merupakan model kerjasama di bidang konservasi sumber daya alam dan ekosistem (KSDAE) yang tertua dan terpanjang usianya yaitu telah berusia 28 tahun. Saat ini mitra Balai TN Kutai beranggotakan 13 perusahaan sekitar Taman Nasional yaitu PT. Pupuk Kaltim, PT. Badak NGL, PT. Indominco Mandiri, PT. Pertamina EP Sangatta, PT. Kaltim Prima Coal, PT. Kaltim Methanol Industri, PT. Kaltim Parna Industri, PT. Kaltim Nitrate Indonesia, PT. Surya Hutani Jaya, PT. Pama Persada Nusantara Site Indominco, PT. Pama Persada Nusantara Sangatta, PT. Pertamina Gas, PT. Kideco Jaya Agung. Laporan tahunan Mitra TN Kutai periode tahun 2021/2022 disampaikan dengan realisasi anggaran sebesar 72 % atau sebesar Rp 423.252.934 dan total kontribusi in kind di tahun 2021/2022 seluruh anggota mitra sebesar Rp. 2.292.490.100,- Selain penyusunan program dan penandatanganan komitmen, dalam kesempatan ini juga telah dipilih Ketua Organizing Comitte (OC) yang baru yakni PT. Kaltim Parna Industri. Kepala Balai TN Kutai, Persada Agussetia Sitepu tidak lupa mengucapkan terima kasih atas kontribusi mitra Balai TN Kutai selama ini dan kepada Ketua OC sebelumnya Hasto Pranowo dari PT. Indominco Mandiri atas tenaga, waktu, pemikiran dan kepemimpinannya. Selamat kepada Ketua OC yang baru, semoga Mitra Balai TN Kutai dapat lebih optimal memberikan manfaat bagi pengelolaan Taman Nasional Kutai untuk masyarakat dan perusahaan. Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi yang diwakili Bapak Jati juga menyampaikan bahwa Mitra Balai TN Kutai merupakan role model kerjasama di Kementerian LHK dan telah mendapatkan apresiasi tertinggi dalam hal kerjasama yakni dari Menteri LHK pada tahun 2019. Ditjen KSDAE juga terus memberikan suntikan semangat untuk terus berkontribusi dan peduli terhadap konservasi. Jati menyampaikan bahwa Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi (RenKK) selalu membuka diri bagi perusahaan anggota Mitra Balai TN Kutai untuk berkonsultasi terkait kerjasama di bidang konservasi. Proud to be a friend. Bangga menjadi teman, demikian semboyan anggota mitra Balai TN Kutai. Semoga komitmen untuk menjadi teman semakin meningkatkan dukungan untuk Balai TN Kutai dalam upaya konservasi TN Kutai, secara khusus dalam menjaga kelestarian dan mencegah terjadinya gangguan kawasan. Bukan hanya bantuan berupa dana, besarnya jumlah SDM yang bernaung di bawah bendera perusahaan anggota Mitra Balai TN Kutai merupakan komunitas yang potensial menjadi agen konservasi, khususnya dalam mengkampanyekan konservasi TN Kutai. Bersama kita dukung upaya konservasi. Sumber : Balai Taman Nasional Kutai
Baca Artikel

BBKSDA Riau Ajak Kelompok Nelayan Sungai Serkap Mengenal Larangan Perburuan Satwa Liar

Pekanbaru, 14 September 2022 - Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Balai Besar KSDA Riau melakukan pembinaan Kelompok Nelayan Sungai Serkap sekaligus sosialisasi tentang larangan perburuan satwa liar dan perdagangan satwa Illegal pada Rabu dan Kamis, 7 s.d 8 September 2022. Untuk menghentikan aktifitas illegal, Balai Besar KSDA Riau memulainya dengan melakukan sosialisasi kepada kelompok masyarakat nelayan di pinggiran sungai Serkap, tentang larangan perburuan satwa di dalam kawasan hutan, terutama di kawasan konservasi dan tentu saja larangan untuk menjual satwa liar tersebut. Kepala Bidang KSDA Wil. I, bapak Andri Hansen Siregar memimpin langsung kegiatan dengan materi struktur organisasi Balai Besar KSDA Riau, gambaran umum Suaka Margasatwa (SM) Tasik Serkap dan SM Tasik Besar Serkap, regulasi perburuan dan perdagangan satwa liar, dampak dan solusi dari perburuan dan perdagangan satwa liar baik yang dilindungi atau tidak dilindungi serta sanksi yang diberikan terhadap pelanggaran yang dilakukan. Kegiatan yang dilaksanakan di pondok Ketua Kelompok Nelayan Serkap Jaya Lestari juga melibatkan mitra yakni PT.Gemilang Cipta Nusantara (GCN) yang memiliki konsesi restorasi ekosistem gambut di sekitar kawasan SM Tasik Serkap dan SM Tasik Besar Serkap. Kelompok nelayan yang hadir sangat antusias dalam mengikuti kegiatan sosialisasi tersebut. Dan yang terpenting masyarakat bersedia menjadi bagian dalam mendukung penyelamatan dan pelestarian kawasan hutan terutama kawasan konservasi dan ekosistemnya. Sungai Serkap merupakan akses masuk ke dalam kawasan SM Tasik Serkap dan SM Tasik Besar Serkap. Selain dimanfaatkan oleh nelayan untuk mencari ikan, Sungai Serkap juga dijadikan jalur masuknya para pemburu satwa illegal. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Pengurus Baru DWP BBKSDA Riau

Pekanbaru, 14 September 2022 - Dharma Wanita Balai Besar KSDA Riau bentuk pengurus tahun 2022 di aula Gajah, Jumat (9/9). Ibu Daryati Genman selaku Ketua Darma Wanita Balai Besar KSDA Riau memimpin acara pembentukan pengurus sekaligus membicarakan rencana kerja yang harus disusun oleh masing masing bidang yang telah ditunjuk untuk kegiatan ke depannya. Acara makin meriah dengan adanya door prize dan lucky draw yang diundi dari semua peserta yang hadir. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Sinergitas Bersama Pangkalan TNI AL Banjarmasin Bahas Peredaran TSL

Banjarmasin, 8 September 2022 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) melakukan koordinasi ke Pangkalan TNI AL di Banjarmasin terkait peredaran ilegal Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) dilindungi dan tidak dilindungi melalui jalur laut. Dalam pertemuan tersebut melalui Komandan Pangkalan TNI AL Banjarmasin Kolonel Laut Herbiyantoko M. Tr. Hanla membahas terkait peredaran ilegal TSL sekaligus pemberian penghargaan atas dukungannya dalam upaya pencegahan peredaran ilegal TSL melalui jalur laut. Sebelumnya Balai KSDA Kalsel dan Pangkalan TNI AL Banjarmasin pernah bekerjasama dalam penangkapan pelaku dan penggagalan pengiriman/ penyelundupan burung berjumlah 1.324 ekor dari Kalsel menuju Jawa Timur, khususnya ke Pulau Madura. Maka dari itu menurut Dr. Ir. Mahrus Aryadi M. Sc selaku Kepala Balai, bahwa BKSDA Kalsel memerlukan sinergitas yang kuat dengan para pihak, salah satunya dengan meminta dukungan dari TNI AL dalam menghadapi permasalahan peredaran ilegal TSL dengan modus pengiriman/ penyelundupan melalui jalur laut. Hal ini disebabkan Provinsi Kalimantan Selatan memiliki jalur laut strategis dan terdapat beberapa pelabuhan kecil yang dapat terhubung langsung ke Pulau Jawa dan Sulawesi. Dengan adanya sinergitas yang kuat antara BKSDA Kalsel dan Pangkalan TNI AL Banjarmasin, upaya tersebut diharapkan dapat menekan dan mengurangi peredaran TSL ilegal di Kalsel. Penghargaan juga diberikan oleh Balai KSDA Kalsel kepada 5 orang dari Pangkalan TNI AL Banjarmasin yaitu Serka Bah Babang, Serka Ttg Didik Sudiarto, Mayor Laut (S) Jagar Verno Jhodi H., S.H., Serma Bek Mashuri, dan Peltu Sba Mulyadi. Penghargaan ini sebagai apresiasi dari KemenLHK kepada institusi ataupun perorangan yang telah mendukung upaya perlindungan dan pengawetan tumbuhan dan satwa liar. (ryn) Sumber : R. Hafizh Muhardiansyah, A.Md - Polhut BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Dukungan Dinas Lingkungan Hidup Untuk SM Kerumutan

Pekanbaru, 14 September 2022 - Kantor Balai Besar KSDA Riau kedatangan tamu dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pelelawan, Selasa (6/9). Kepala Dinas Lingkungan Hidup, bapak Eko Novitra datang bersama jajarannya diterima langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Genman S. Hasibuan dan beberapa pejabat Struktural lingkup Balai Besar KSDA Riau. Kedatangan rombongan untuk bersilaturahmi dan berkoordinasi tentang upaya bersama dalam rangka mendorong pelestarian kawasan Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan dan peningkatan ekonomi masyarakat disekitarnya. Dimana salah satu hasil pertemuan tersebut adalah Kabupaten Pelalawan akan senantiasa bersinergi bersama Balai Besar KSDA Riau untuk mewujudkan perbaikan tata kelola lingkungan di SM Kerumutan dan sekitarnya. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Diskusi Publik Untuk Mitigasi Konflik Harimau vs Manusia

Pekanbaru, 14 September 2022 - Kepala Balai Besar KSDA Riau, bapak Genman S. Hasibuan hadir pada Diskusi Publik tentang Mitigasi Konflik Harimau vs Manusia Dengan Pendekatan Folu Net Sink, Selasa (6/9) di kantor Yayasan Perkumpulan Elang, Pekanbaru. Balai Besar KSDA Riau berharap ini menjadi salah satu langkah untuk upaya meminimalisir konflik harimau sumatera dan manusia serta mendukung pelestariannya. Diskusi publik ini juga sebagai upaya mendorong solusi terbaik terhadap munculnya konflik satwa liar terutama harimau sumatera yang tentunya perlu pelibatan multi pihak serta berbasis pada upaya secara landskap dan senantiasa mengutamakan keselamatan keduanya baik manusia maupun satwa liar. Landskap Semenanjung Kampar secara khusus merupakan lokasi dengan keberadaannya cukup tinggi serta memiliki tutupan lahan yang masih relatif bagus, sehingga mendorong perbaikan manajemen pengelolaan menjadi hal yang sangat penting dalam rangka mewujudkan harmonisasi kehidupan liar dengan manusia. Adanya keterkaitan program perbaikan habitat berbasis landskap ini dengan program yang saat ini menjadi bagian dari komitmen bangsa Indonesia yaitu Folu Net Sink salah satunya dengan perbaikan habitat dan pengurangan deforestrasi. Sebagai informasi acara yang dimotori oleh Yayasan Perkumpulan Elang menghadirkan nara sumber dari Jikalahari, Walhi Riau dan Balai Besar KSDA Riau serta Perkumpulan Elang. Hadir dalam acara tersebut beberapa LSM yang tergabung dalam perkumpulan Jikalahari dan mahasiswa serta pihak swasta. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Seluk Beluk Penyu di SM Pelaihari

Tanah Laut, 12 September 2022 – Penyu merupakan salah satu binatang purba yang keberadaannya masih dapat ditemukan hingga saat ini. Di Indonesia terdapat tujuh jenis penyu, yaitu penyu bromo (Caretta caretta), penyu pasifik (Chelonia agassizii), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu pipih (Natator depressus), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Dua jenis penyu yang disebutkan terakhir yaitu penyu hijau dan penyu sisik, dapat dijumpai di Kalimantan Selatan. Untuk memonitor populasi penyu dan juga kondisi habitatnya di Kalimantan Selatan, Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) melaksanakan kegiatan identifikasi sebaran habitat Penyu dari tanggal 23 sampai dengan 28 Agustus 2022 di Kabupaten Tanah Laut, yang masuk dalam pengelolaan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Pelaihari, oleh Tim yang beranggotakan Jarot Jaka Mulyono, Akhmad Fauzan, S.Hut. - Kepala Resort Suaka Margasatwa (SM) Pelaihari, Suriansyah, S.Hut., Edi Prasetyo, Fajar Fadhli, A.Md, Hendar Wibawa, dan Suhartoyo. Untuk memudahkan pelaksanaan di lapangan, kegiatan difokuskan di beberapa lokasi yang telah teridentifikasi sebagai habitat pendaratan penyu yaitu: kawasan SM. Pelaihari (mulai dari Pesisir Muara Sabuhur, Sanipah, Sepunggur dan Swarangan), Pantai Swarangan dan Pantai Turki. Lokasi-lokasi tersebut pernah dilaporkan terdapat aktivitas pendaratan penyu. Kegiatan Identifikasi Penyu di Wilayah Tanah Laut sesuai dengan arahan Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., untuk mengetahui kondisi fisik habitat pantai yang dianggap sesuai menjadi sebagai tempat penyu bertelur. “Tim survey habitat penyu ini diharapkan mengamati dan melakukan pendataan secara optimal terkait jejak dan sarang penyu sebagai informasi dan data (Primer dan Sekunder) mengenai habitat penyu bertelur” Ujar Dr. Mahrus. Metode yang digunakan dalam kegiatan identifikasi sebaran habitat penyu adalah melalui observasi dan pengamatan secara langsung di lapangan. Selain itu juga dengan metode wawancara dengan masyarakat di sekitar lokasi pengamatan untuk menggali informasi tentang ada atau tidaknya penyu yang mendarat sebelumnya. Berdasarkan hasil yang didapat selama kegiatan dilakukan, tidak ada perjumpaan langsung penyu mendarat ke pantai. Namun informasi dari masyarakat sekitar, disebutkan bahwa 1 bulan yang lalu ada penyu yang mendarat dan bertelur di pantai Sabuhur. Dari bekas sarang penyu tersebut, masih banyak dijumpai sisa-sisa cangkang telur penyu yang berserakan. Telur penyu kemungkinan sudah dimakan hewan predator seperti biawak, babi hutan atau kepiting. Selain di Pantai Sabuhur, terdapat informasi penyu mendarat di Pantai Swarangan. Aktvitas penyu mendarat ke pantai terjadi pada bulan Juni 2022 yang lalu. Namun tidak diketahui apakan penyu hanya mendarat saja atau bertelur. Masyarakat di sekitar Pantai Swarangan juga pernah menyelamatkan penyu yang terjerat jaring pada bulan Agustus 2022 ini. Penyu yang diselamatkan warga tersebut telah dikembalikan ke laut. Berdasarkan pantauan di lapangan, terdapat beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap aktivitas penyu untuk mendarat ke pantai. Faktor-faktor tersebut antara lain sampah laut yang terbawa ke pantai dan aktivitas nelayan yang memasang jaring di laut. Di sepanjang pantai Sabuhur-Sanipah dan Sabuhur-Swarangan, ditemukan sampah berupa kayu log dengan ukuran yang panjang, helm, tali galangan kapal, sepatu, sandal, botol minum,dll. Sampah-sampah ini akan menghambat penyu saat proses mendarat. Sementara jaring nelayan yang dipasang dilaut akan berpotensi membelit penyu dan menyebabkan kematian penyu. Selain factor yang berpengaruh dalam proses pendaratan, ketika penyu sudah mendarat dan bertelur, terdapat potensi gangguan yang mengancam eksistensi penyu di masa depan. Faktor tersebut adalah gangguan oleh hewan predator pemangsa telur (Biawak, Babi Hutan, kepiting dan burung) dan aktvitas pengambilan telur oleh masyarakat sekitar. Selain faktor-faktor di atas, pantai yang sedemikan panjang dan jumlah populasi yang kemungkinan sudah jauh berkurang menjadi factor yang berpengaruh terhadap kecilnya peluang berjumpa dengan penyu di wilayah ini. Selain memantau penyu dan kondisi habitatnya, tim juga mendapatkan informasi tentang keberadaan Kura-Kura Tuntong (Batagur borneoensis) di SM. Pelaihari. Berdasarkan informasi awal dan data pengamatan maka perlu dilakukan identifikasi lanjutan terkait satwa Penyu dan Kura-kura Tuntong sehingga kedepannya dapat dilakukan upaya tindak lanjut terkait pelestarian satwa tersebut. Upaya edukasi ke masyarakat juga perlu diintensifkan untuk menumbuhkan kesadaran konservasi masyarakat sehingga keberadaan satwa langka ini tetap lestari. (ryn) Sumber : Akhmad Fauzan, S.Hut (Penyuluh Kehutanan / Kepala Resort SM Pelaihari, SKW I Pelaihari) dan Jarot Jaka Mulyono, S.Hut, M.Sc. (Call Center BKSDA Kalsel)
Baca Artikel

Magang Memuaskan, Kontribusi Mahasiwa Unbraw di TN Komodo

Labuan Bajo, 24 Agustus 2022. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Ahmad Faiq Fashihul Umam dan Salma Noer’aulia, tuntas menyelesaikan rangkaian kegiatan magang dengan memperoleh nilai ujian akhir magang sebesar 100% atau ‘Sangat Memuaskan’. Ujian akhir magang yang wajib diikuti oleh seluruh siswa dan mahasiswa magang ini diselenggarakan secara daring pada tanggal 24 Agustus 2022 dibawah pengawasan Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama) dan Novita Yanti Sidabutar (Polisi Kehutanan Ahli Pertama). Ahmad Faiq Fashihul Umam dan Salma Noer’aulia merupakan kelompok mahasiswa magang dari Prodi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya yang telah lulus seleksi substansi proposal dan mampu menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo sampai dengan selesai. Kedua mahasiswa diminta untuk memiliki topik penelitian kecil yang harus dilaksanakan selama kegiatan magang berlangsung. Faiq tertarik mengkaji perubahan garis pantai di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, sementara Salma tertarik untuk menghitung estimasi cadangan karbon pada ekosistem mangrove pada beberapa lokus pengamatan dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Kesempatan magang dan penelitian di Balai Taman Nasional Komodo merupakan peluang pembelajaran yang dapat diajukan oleh dosen, siswa, dan mahasiswa baik dari institusi pendidikan dalam negeri maupun luar negeri. Balai Taman Nasional Komodo memerlukan berbagai bentuk dukungan pengelolaan dari berbagai latar belakang bidang keilmuan, diantaranta: bidang pertanian, kedokteran hewan, ilmu kelautan dan perikanan, peternakan, kehutanan, teknologi pertanian, matematika dan ilmu pengetahuan alam, ekonomi dan manajemen, sosial dan kebudayaan, hukum, komunikasi, dan kepariwisataan. Oleh karena beragamnya spektrum keilmuan yang diperlukan bagi peningkatan efektivitas pengelolaan Taman Nasional Komodo dan diperlukannya penyesuaian substansi dengan kebutuhan pengelolaan, Balai Taman Nasional Komodo menekankan perlunya melakukan quality control terhadap setiap usulan rencana magang ataupun penelitian dari berbagai tingkatan/jenjang studi yang diajukan oleh para pelajar, khususnya mahasiswa. Adapun rangkaian kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo yang perlu dijalani antara lain: (a) presentasi rencana kegiatan penelitian/magang, (b) penyempurnaan substansi rencana penelitian/magang dan penentuan lokus kerja/pengambilan data, (c) pembuatan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI), (d) pengambilan data/observasi lapang, (e) penulisan laporan hasil sementara, (f) ujian magang, (g) presentasi hasil kegiatan magang/penelitian, dan (h) pengumpulan laporan hasil akhir. Ujian akhir magang menjadi tahapan esensial karena dengan dilakukannya pengukuran pemahaman ini, Balai Taman Nasional Komodo memperoleh keyakinan bahwa mahasiswa yang telah diberikan pemahaman mampu menyerap seluruh informasi dengan baik. Balai Taman Nasional Komodo percaya bahwa siswa dan mahasiswa yang telah melaksanakan kegiatan pendidikan ataupun penelitian di dalam kawasan merupakan perpanjangan tangan satuan kerja yang diharapkan dapat memberikan informasi terkait pengelolaan Taman Nasional Komodo maupun mampu memberikan gambaran ragam pekerjaan seorang jagawana (ranger) dalam kesehariannya secara benar. Faiq dan Salma berhasil menjawab setidaknya 70 pertanyaan pilihan ganda mengenai topik pengelolaan Taman Nasional Komodo secara akurat (100%). Siswa atau mahasiswa magang harus mencapai nilai batas minimum setidaknya 80% untuk bisa lulus ujian. Bagi siswa atau mahasiswa yang belum mencapai nilai batas minimum maka akan didorong untuk melaksanakan remedial hingga mencapai nilai yang diharapkan. Menimbang wawasan pengetahuan, etos kerja, dan keterampilan khusus kedua mahasiswa yang sangat baik, Balai Taman Nasional Komodo memberikan penghargaan berupa penambahan kuota magang bagi Prodi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya sebanyak maksimal lima orang pada tahun/kesempatan selanjutnya. Sebelumnya pada tahun 2021, Prodi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya mengirimkan tiga orang perwakilan mahasiswa yang turut menunjukan performa kerja optimal. Pencapaian ini tentu membuat Ahmad Faiq Fashihul Umam dan Salma Noer’aulia sangat bersyukur karena memperoleh nilai akhir ‘Sangat Memuaskan’. Keduanya berharap, kedepannya agar mahasiswa Prodi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya dapat mempertahankan kualitas capaian kerja dan nama baik instansi dalam koridor program magang di Balai Taman Nasional Komodo. Balai Taman Nasional Komodo berharap dengan diberikannya penambahan kuota magang bagi mahasiswa Prodi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya kian dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa untuk konsisten berinovasi menghasilkan berbagai bentuk kajian yang kontributif bagi pengelolaan Taman Nasional Komodo kedepannya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Prodi Manajemen Destinasi Pariwisata STP Bandung - Andreas Yudha Pratama Pah (+628122144066) dan Mahasiswa Prodi Manajemen Pengaturan Perjalanan STP Bandung Dewi Meisya Maulidda (+6289524383268) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+62811-382-90000)
Baca Artikel

Kajian Integrated Tourism Master Plan TN Komodo

Labuan Bajo, 23 Agustus 2022. Balai Taman Nasional Komodo berpartisipasi pada Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Jakarta pada tanggal 15 Agustus 2022 terkait memberikan update informasi kepada para pemangku kepentingan terkait mengenai hasil baseline study dokumen Integrated Tourism Master Plan (ITMP) Taman Nasional Komodo – Labuan Bajo yang telah disusun oleh tim konsultan sebelumnya. Perwakilan Balai Taman Nasional Komodo yang diwakili Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama, Muhammad Ikbal Putera menyampaikan beberapa poin masukan penyempurnaan agar dokumen kedepannya dapat diimplementasikan sebagai salah satu acuan pengembangan destinasi wisata di luar kawasan Taman Nasional Komodo. Menindaklanjuti FGD yang diselenggarakan di Jakarta, tim konsultan menyelenggarakan FGD lanjutan di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BPPPPD) Manggarai Barat pada tanggal 23 Agustus 2022. Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah Manggarai Barat dan Kepala BPPPPD Manggarai Barat, Balai Taman Nasional Komodo yang kembali diwakili Ikbal memberikan masukan penyempurnaan terkait dengan alternatif rencana pengembangan, termasuk melakukan penilaian awal kesiapan destinasi yang diusulkan oleh tim konsultan. FGD ini diikuti oleh 35 peserta yang berasal dari Organisasi Perangkat Daerah Kab. Manggarai Barat dan stakeholder lainnya yang terkait. Tim ahli penyusun dokumen ITMP Taman Nasional Komodo - Labuan bajo lebih lanjut menjelaskan catatan dalam pengembangan spasial dalam dokumen baseline dimana skenario pengembangan yang akan dilaksanakan tidak menambah Key Tourism Area (KTA), melainkan strategi yang dikembangkan berupa pembentukan klaster-klaster yang akan mendukung dan memperkuat KTA yang sudah ada. Catatan selanjutnya adalah pembentukan klaster ini difokuskan ke wilayah daratan Pulau Flores dan pulau - pulau kecil lainnya di luar kawasan Taman Nasional Komodo untuk mengurangi beban kunjungan ke Taman Nasional Komodo. Perwakilan Balai Taman Nasional Komodo berharap agar dokumen ITMP benar-benar dapat dijadikan rujukan untuk pengambilan kebijakan pengelolaan Taman Nasional Komodo yang lebih baik kedepannya. Sebagai informasi, kegiatan pembahasan baseline Integrated Tourism Master Plan (ITMP) Taman Nasional Komodo (TNK) - Labuan Bajo bersama stakeholder pusat dan daerah di Jakarta diselenggarakan oleh BPIW II Kementerian PUPR yang dihadiri oleh stakeholder baik Kementerian/Lembaga terkait, Perwakilan Pemerintah Provinsi , Perwakilan Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Balai Taman Nasional Komodo serta BPOLBF. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Politeknik Pariwisata NHI Bandung Jurusan Kepariwisataan - Yudha Pamungkas (+6282210465828) dan Mahasiswi Politeknik Pariwisata NHI Bandung Jurusan Perjalanan - Dewi Meisya Maulidda (+6289524383268) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

SM Pelaihari Semakin Lengkap

Sabuhur, 7 September 2022 – Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) melakukan peresmian Pos Jaga dan Pusat Informasi Suaka Margasatwa (SM) Pelaihari di Muara Sabuhur, Desa Sabuhur. Hadirnya pos jaga ini merupakan buah hasil dari kemitraan BKSDA Kalsel dengan perusahaan swasta yang fokus pada pemulihan ekosistem di blok rehabilitasi kawasan SM Pelaihari. Salah satu tujuan dari adanya pos jaga dan pusat informasi ini adalah untuk penguatan fungsi resort SM Pelaihari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 BKSDA Kalsel sebagai pengelola kawasan. Pada acara peresmian pos jaga dan pusat informasi SM Pelaihari dihadiri perwakilan mitra BKSDA Kalsel di Kabupaten Tanah Laut, diantaranya : PT. INHUTANI I, PT. Arutmin Indonesia, PT. Candi Artha dan PT. Anugerah Hijau Lestari. “Kami berterimakasih dan mendukung adanya pos jaga ini dan siap menjaga keamanan fasilitas bersama ini” ujar Pak Nordin selaku tokoh masyarakat sekaligus Ketua Kelompok Ekowisata Pantai Baru Desa Sabuhur. “Terimakasih Kepala Balai. Jujur, dulu petugas BKSDA Kalsel bagi kami adalah musuh, Karena hanya melarang tanpa merangkul dan memberi solusi. Dan sekarang BKSDA Kalsel ini bagi kami adalah mitra dan keluarga untuk bersama-sama menjaga kawasan ini yang juga merupakan desa kami.” imbuhnya. Kelompok Ekowisata Pantai Baru merupakan kelompok binaan BKSDA Kalsel yang dibentuk pada tahun 2018. Kelompok ini bergerak dibidang jasa wisata susur sungai Sabuhur dengan menawarkan panorama alam serta atraksi satwa dan budaya. Dalam sambutannya Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr.Ir.H.Mahrus Aryadi, M.Sc mengucapkan terimakasih dan apresiasinya atas terbangunnya pos jaga dan pusat informasi SM Pelaihari ini. “Kami mengucapkan terimakasih kepada para mitra yang telah berkontribusi dan membantu pembangunan pos jaga dan pusat informasi ini. Ini merupakan bentuk kerja bersama sebagai wujud dari kesadaran untuk bersama-sama menjaga kelestarian kawasan SM Pelaihari” ucapnya. “Kawasan SM Pelaihari ini merupakan aset negara yang memberikan dampak utama terkait harmoni rantai makanan, juga manfaat tidak langsung. Tersedianya oksigen, udara yang segar dan mengendalikan air agar tidak banjir atau kekeringan merupakan dampak tidak langsung keberadaan kawasan konservasi. Untuk itu, mari kita jaga kelestarian SM Pelaihari ini untuk bersama-sama mengurangi dampak perubahan iklim global.” Lanjutnya. Setelah acara diskusi dan ramah tamah, acara dilanjutkan dengan pemotongan pita dan penyerahan kunci pos secara simbolis. Salam Lestari. (ryn) Sumber : Badrul Arifin, S.Hut - PEH SKW I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Terbakar, Balai TN Komodo Tutup Sementara Resort Gili Lawa dari Kunjungan Wisata

Labuan Bajo, 21 Agustus 2022. Kebakaran hutan pada padang sabana di wilayah kerja Resort Gili Lawa - Pulau Gili Lawa Darat kembali terjadi pada tanggal 21 Agustus 2022 silam. Menindaklanjuti kebakaran hutan pada padang sabana di Resort Gili Lawa, Balai Taman Nasional Komodo memutuskan untuk melakukan penutupan sementara Resort Gili Lawa dari kunjungan wisatawan dalam rangka percepatan pemulihan ekosistem di dalam kawasan. Resort Gili Lawa akan ditutup sementara hingga ekosistem sabana di Pulau Gili Lawa Darat terpulihkan. Sebelumnya, kebakaran hutan di Pulau Gili Lawa Darat pertama kali terjadi pada tanggal 1 Agustus 2018 dan berujung pada penutupan sementara Resort Gili Lawa selama 3 tahun dari kunjungan wisatawan. Adapun kronologis kebakaran bermula saat petugas Resort Gili Lawa melihat adanya kepulan asap dari arah selatan jalur trekking Puncak Gili Lawa. Petugas Resort Gili Lawa (3 orang) bersama dengan petugas dari Resort Loh Wenci-Sape (3 orang) yang sedang berada di lokasi bergegas menuju lokasi titik api pertama dan melakukan upaya pemadaman kebakaran pertama dan segera meminta bantuan personil ranger tambahan dari Kantor Balai Taman Nasional Komodo di Labuan Bajo. Tim ranger dari Labuan Bajo tiba di lokasi kebakaran pada pukul 17:00 WITA dengan membawa sebanyak 15 orang tenaga tambahan untuk mematikan api di area perbukitan. Tenaga tambahan dari Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) Kampung Komodo sebanyak 20 orang personil juga dikerahkan dan turut membantu pemadaman api dengan membawa sejumlah peralatan, diantaranya: gepyok, sabit, dan perlengkapan pemadaman api lainnya. Pada saat pemadaman api dilakukan, jumlah titik api yang muncul belum dapat diperkirakan. Tim terus berupaya melakukan pemadaman api hingga pukul 19:00 WITA, namun api terpantau masih menyala pada wilayah bukit bagian utara. Kobaran api di area kebakaran mulai dapat dikendalikan oleh seluruh tim ranger dan MPA pada pukul 21:10 WITA. Tim terus melakukan upaya penyisiran perbukitan untuk memantau kemungkinan adanya titik-titik api baru atau titik api yang terlewati oleh petugas. Tim memutuskan untuk bermalam di lokasi untuk memastikan kebakaran hutan pada padang sabana terkendali dan padam sepenuhnya. Tim memperkirakan luas area yang terbakar di Pulau Gili Lawa Darat mencapai 45 Ha setelah menelusuri dan menganalisa total luasan area terbakar secara spasial. Tim masih menyelidiki penyebab terjadinya kebakaran pada wilayah perbukitan jalur trekking Gili Lawa. Namun merujuk kepada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi El Tari Kupang terkait Peringatan Dini Cuaca Wilayah Nusa Tenggara Timur Tanggal 19 – 21 Agustus 2022, disampaikan bahwa wilayah Kabupaten Manggarai Barat mengalami potensi angin kencang. Angin kencang tersebut perlu diwaspadai karena bersifat kering di musim kemarau dan dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+62811 – 382 - 90000)
Baca Artikel

Penyegaran Pengetahuan Kawasan TN Komodo

Labuan Bajo, 09 Agustus 2022. Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Komodo, Muhammad Ikbal Putera, mengadakan pembinaan bagi siswa dan mahasiswa magang di Balai Taman Nasional Komodo mengenai pengelolaan Taman Nasional Komodo. Pembinaan ini diikuti oleh 32 peserta yang terdiri dari 11 orang mahasiswa dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung, STP AMPTA Yogyakarta, STIPAR Soromandi Bima, Universitas UIN Alauddin Makassar, dan Politeknik Pertanian Negeri Kupang, serta 21 siswa SMK dari SMKN 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo. Pembinaan ini dilakukan sebagai upaya penyegaran pengetahuan bagi seluruh siswa dan mahasiswa magang Balai Taman Nasional Komodo. Informasi yang disampaikan meliputi gambaran umum mengenai Taman Nasional yang ada di Indonesia, visi dan misi pengelolaan Taman Nasional Komodo, sejarah pengelolaan Taman Nasional Komodo, sistem zonasi Taman Nasional Komodo, status populasi biawak komodo di Taman Nasional Komodo, rekapitulasi kunjungan wisatawan, rekapitulasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), motivasi wisatawan, ragam kegiatan pemberdayaan masyarakat, dan ragam kegiatan resort-based management (RBM) lainnya yang dilakukan di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Ikbal lebih lanjut menjelaskan bahwa status populasi biawak komodo berdasarkan IUCN berubah dari “Vulnerable” (1996) menjadi “Endangered” (2021). Perubahan status ini disebabkan oleh karena adanya kontinuitas data populasi yang dihimpun secara konsisten oleh Balai Taman Nasional Komodo bekerjasama dengan mitra pengelolaan, Yayasan Komodo Survival Program. Menurut penuturan Ikbal, estimasi populasi biawak komodo di Taman Nasional Komodo pada tahun 2021 adalah sebanyak 3063 ekor yang diperoleh berdasarkan hasil monitoring kegiatan komodo tahunan oleh tim Balai Taman Nasional Komodo. Selain menjelaskan ekologi biawak komodo beserta ragam pengelolaannya, Ikbal juga menekankan urgensi pentingnya pengembangan destinasi wisata alam di luar kawasan Taman Nasional Komodo dalam rangka mengurangi potensi penumpukan wisatawan ke Taman Nasional Komodo, sehingga berbagai program pemberdayaan masyarakat untuk mendukung percepatan pengembangan desa wisata giat diselenggarakan oleh tim Balai Taman Nasional Komodo. Siswa dan mahasiswa diwajibkan memberikan setidaknya tiga pertanyaan sebagai tolak ukur pemahaman atas paparan yang telah disampaikan. Dengan dilaksanakannya penyegaran pengetahuan ini, Ikbal berharap agar seluruh peserta magang dapat memahami dengan baik tujuan magang usulannya, memahami dengan baik makna Taman Nasional Komodo sebagai kawasan konservasi sekaligus destinasi ekowisata unggulan Bangsa, dan mampu berpikir kritis dan inovatif menciptakan sebuah sumbangsih ide dari sudut pandang keilmuannya masing-masing bagi peningkatan efektivitas pengelolaan Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Jurusan Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Yudha Pamungkas (+62082210465828) dan Mahasiswi Jurusan Manajemen Pengaturan Perjalanan Politeknik Pariwisata NHI Bandung Dewi Meisya Maulidda (+6289524383268) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+62811-382-90000)
Baca Artikel

Peluang Wisata Desa Warloka Pesisir

Labuan Bajo, 07 September 2022. Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama sekaligus Kepala Resort Kampung Rinca Balai Taman Nasional Komodo, Fahri Ikhlas, mengajak empat orang mahasiswa Poltekpar NHI Bandung mengunjungi Desa Warloka Pesisir untuk melakukan penilaian peluang program pemberdayaan masyarakat pada tanggal 5 – 7 September 2022. Narasumber yang dilibatkan yakni Irwanto Mahmud (SUSTOUR Swisscontact Indonesia) bersama anggota tim yang lain diantaranya Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama), Ikhwan Syahri (Polisi Kehutanan Ahli Pertama), Arfandi (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Loh Buaya), dan Irsandi (Tenaga Pengamanan Hutan Papagarang). Ini merupakan kegiatan penilaian awal untuk melihat peluang kerja sama dan penyusunan program kerja yang dapat mendukung kegiatan usaha Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Warloka Pesisir dalam mengelola kegiatan wisata di dalam kawasan Desa Warloka Pesisir. Saat ini, Desa Warloka Pesisir memiliki 1.015 jiwa atau 250 Kepala Keluarga. Berdasarkan hasil penilaian awal, terdapat beberapa aktivitas wisata yang ditawarkan oleh POKDARWIS Warloka Pesisir, diantaranya adalah trekking ke Situs Batu Meja, melakukan aktivitas pada area Puncak Camping Ground, dan menyaksikan transaksi barter pada Pasar Selasa Desa Warloka. Camping Ground dan Pasar Barter ini tentunya bisa menjadi wisata alternatif bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang tertarik menikmati sosial budaya masyarakat yang ada di luar kawasan Taman Nasional Komodo. Fahri dan tim juga memberikan kesempatan diskusi bagi POKDARWIS Warloka Pesisir dan Mahasiswa Politeknik Pariwisata Bandung untuk membantu memberikan ide pengembangan dan pengelolaan dari permasalahan yang dihadapi oleh kelompok masyarakat saat ini. Sebelumnya, Desa Warloka Pesisir merupakan desa binaan dari sebuah program Pemerintah Swiss dan Indonesia. Dari adanya kegiatan ini, Fahri dan tim mengharapkan Desa Warloka Pesisir dapat menjadi desa wisata yang dapat bersinergi dengan Desa Pasir Panjang sehingga dapat tercipta sebuah multiplier effect dari adanya kegiatan pariwisata di Taman Nasional Komodo. Keberadaan Desa Warloka Pesisir sebagai salah satu desa penyangga kawasan Taman Nasional Komodo berbatasan cukup dengan Resort Kampung Rinca yang dalam ruang kelolanya, meliputi Desa Pasir Panjang. Sebagai informasi, camping ground dapat menjadi faktor competitive advantages bagi Desa Warloka Pesisir dimana aktivitas wisata ini tidak diperbolehkan dilakukan di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Lebih lanjut, Pasar Barter juga menjadi keunikan daya tarik wisata tersendiri yang masih dijaga dan dilestarikan hingga saat ini. Pasar ini menjadi sebuah pertemuan antara masyarakat pegunungan dan masyarakat pesisir setiap hari Selasa, dimana transaksi jual beli dimulai pada pukul 05:00 pagi. Biasanya masyarakat pesisir akan menukarkan ikannya dengan sayur atau kebutuhan pokok lainnya, begitu pula dengan masyarakat pegunungan akan menukarkan sayurnya dengan ikan. Hal ini tentunya sangat menarik untuk dikemas menjadi sebuah paket wisata bagi wisatawan dengan segmentasi tertentu. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Yudha Pamungkas (+62082210465828) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Cek dan Ricek Komodo Dengan Kamera Jebak

Labuan Bajo, 29 Agustus 2022. Monitoring Komodo (Varanus komodoensis) dan satwa mangsanya di Pulau Padar dilakukan 13 personil dari Balai Taman Nasional Komodo dan masyarakat kampung Komodo pada tanggal 23 s.d 29 Agustus 2022. Selain terkenal dengan pesona alamnya yang sangat luar biasa Pulau Padar juga merupakan salah satu pulau yang menjadi habitat dari biawak komodo selain Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Gili Motang. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kesesuaian habitat pendukung dari biawak komodo terutama ketersediaan sumber pakan berupa satwa Rusa timor (Rusa timorensis) dan ketersedian air. Metode monitoring yang dilakukan adalah dengan menggunakan site occupancy menggunakan alat bantu deteksi kehadiran berupa camera trap yang dipasang pada lembah-lembah yang ada di Pulau Padar. Lembah tersebut merupakan habitat potensial dari biawak komodo yang mana didominasi oleh hutan gugur terbuka. Dari 17 titik lokasi pemantauan diketahui semua titik lokasi terdapat kehadiran individu biawak komodo yang terekam oleh camera trap selama kegiatan. Hal ini menunjukan bahwa data yang diperoleh cukup baik dan mewakili kondisi habitat sesungguhnya yang ada di pulau Padar dan terdapat tendensi satwa komodo memiliki sebaran merata hampir ada di setiap lembahnya. Data kehadiran yang diperoleh nantinya akan dianalisis lebih lanjut sehingga dapat diperoleh estimasi populasi biawak secara komprehensif disandingkan dengan pulau lainnya yang ada di Taman Nasional Komodo. Selain kegiatan di Pulau Padar, tim monitoring juga melakukan pemasangan perangkap biawak komodo di Pulau Serai. Pulau Serai merupakan Pulau kecil diantara Pulau Padar dan Pulau Rinca, Pulau Serai memiliki luas ± 68 ha. Di Pulau Serai terdapat ekosistem savana, hutan gugur terbuka, hutan galeri, ekosistem mangrove dan juga ada danau air payau (sawah garam) yang cukup luas. Selain berbagai ekosistem di dalamnya, di Pulau Serai juga terdapat satwa mangsa dari biawak komodo yaitu satwa Rusa timor dan juga dibagian selatan terdapat pantai tempat sarang bertelurnya penyu. Hal inilah yang memungkinkan untuk biawak komodo bertahan hidup di Pulau tersebut. Selain itu berdasarkan laporan dari petugas Resort Padar Utara yang melakukan patroli darat di Pulau Serai yang menemukan adanya tanda jejak dari biawak komodo. Sehingga tim melakukan pemasangan perangkap untuk menangkap komodo tersebut. Dimana satu anakan Biawak komodo berhasil masuk ke dalam perangkap dan selanjutnya tim melakukan pengukuran morfometri, bobot, dan pemasangan pittag terhadap biawak komodo tersebut karena merupakan individu baru yang belum pernah di data. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Pemula - Firman Nuralam Suryadi (+622144254901) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) dan Polisi Kehutanan Ahli Pertama - Arif Ardianto Sofian, S.Si. (+6285713254775 Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+62811-382-90000)
Baca Artikel

Wakil Rakyat Dukung Peningkatan Ekonomi Kelompok Tani

Stabat, 9 September 2022. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) untuk kelompok tani dan kelompok sadar wisata di sekitar kawasan konservasi untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, Kamis (8/9) di aula Kantor Bupati Langkat, di Stabat. Bimtek semakin berkesan karena dibuka oleh anggota Komisi IV DPR RI, bapak Drs. Djarot Saiful Hidayat, MS. Beliau juga memberikan arahan serta bimbingan kepada semua peserta. Dalam arahannya, Djarot menyampaikan semua stakeholder harus saling bahu membahu dan berkolaborasi untuk mensejahterakan masyarakat termasuk Kabupaten Langkat yang memiliki potensi yang sangat potensial dan beragam mulai dari jasa wisata di hutan hingga agroforestry dan silvofishery di pantai/mangrove. Tidak lupa Djarot juga mengapresiasi upaya peningkatan ekonomi produktif yang telah dilakukan Balai Besar KSDA Sumatera Utara selama ini. Pengembangan usaha ekonomi produktif sangat membantu untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar kawasan konservasi agar lebih berdaya dan sejahtera. Kelompok penerima dukungan sebanyak 13 kelompok, yang berasal dari Kabupaten Langkat sebanyak 4 kelompok, Kabupaten Deli Serdang 2 kelompok, Kabupaten Phakpak Barat 2 kelompok, Kabupaten Dairi 2 kelompok dan Kabupaten Simalungun 4 kelompok. Jumlah masyarakat yang menjadi sasaran sebanyak 412 orang dengan bentuk pengembangan usaha ekonomi produktif disesuaikan dengan kebutuhan kelompok mulai dari dukungan budidaya lebah madu, alat-alat/mesin pertanian, bibit ikan untuk silvofishery dan bibit tanaman. Bupati Langkat berterimakasih atas dukungan Komisi IV DPR RI, khususnya dari Bapak Djarot Saiful Hidayat serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam pengembangan pariwisata dan pembangunan lainnya di Langkat, termasuk peningkatan kesejahteraan kelompok tani. Harapannya kedepan, semoga berbagai upaya yang dilakukan berguna bagi masyarakat demi terwujudnya Hutan Lesatri Masyarakat Sejahtera. Hadir pada acara tersebut Plt. Bupati Langkat, H. Syah Afandin, S.H, Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara dr, Meriahta Sitepu, MARS, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Langkat Ralin Sinulingga, SE, Sekretaris Daerah Kabupaten Langkat Amril S.Sos, MAP, Kepala Kejaksaan Negeri Langkat M. Abeto Harahap SH MH, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Rudianto Saragih Napitu, S.Si, M.Si, dan Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Dr. U. Mamat Rahmat, S.Hut, M.P. Sumber : Ainy Amelya Utami, S.Hut. – Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kajian Ilmiah Perubahan Garis Pantai Longbeach TN Komodo

Labuan Bajo, 22 Agustus 2022. Mahasiswa magang dari Program Studi (Prodi) Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya, Ahmad Faiq Fashihul Umam melakukan kajian ilmiah mengenai perubahan garis pantai di beberapa titik wilayah pesisir pada Resort Padar Utara - Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo. Faiq berupaya untuk mengkaji dinamika perubahan garis pantai di Pantai Long Beach sebagai destinasi wisata alam yang perlu mendapatkan perhatian pengelolaan. Untuk mengetahui informasi mengenai hal tersebut, Faiq mengimplementasikan metode tracking garis pantai mulai dari pesisir Pantai Long Beach 1 hingga pesisir Pantai Long Beach 3. Hasil kajian ilmiah disimpulkan bahwa berdasarkan data tracking perubahan garis pantai di Long Beach didapatkan informasi potensi perubahan garis pantai berupa akresi maupun abrasi. Faiq perlu mengkaji kembali penyebab terjadinya abrasi maupun akresi pada Pantai Long Beach 1 hingga Pantai Long Beach 3. Namun sementara, temuan ilmiah ini dapat dimanfaatkan sebagai data awal penelitian oleh mahasiswa Ilmu Kelautan selanjutnya untuk kemudian hasilnya akan digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan terkait kebijakan pengelolaan kawasan perairan di Taman Nasional Komodo. Perubahan garis pantai yang diamati meliputi perubahan garis pantai yang disebabkan oleh abrasi atau akresi. Abrasi adalah pengikisan daratan di kawasan pantai akibat gelombang dan arus laut yang sifatnya destruktif atau merusak. Faiq berpendapat jika ancaman abrasi tidak ditangani dengan serius, maka dapat berpotensi mengikis bagian pantai dan air laut dapat membanjiri wilayah pesisir pantai tersebut. Sedangkan akresi diartikan sebagai sebuah proses sedimentasi yang terjadi di wilayah pesisir pantai menuju ke arah laut. Dampak dari akresi ini adalah terjadinya pendangkalan yang dapat mengganggu navigasi dan alur pelayaran di sekitar kawasan, utamanya Taman Nasional Komodo. Faiq melakukan penelusuran wilayah pesisir pantai dengan menggunakan alat bantu GPS Garmin 64s dan aplikasi SW Maps. Pantai Longbeach merupakan salah satu destinasi wisata alam di Taman Nasional Komodo yang seringkali dikunjungi baik oleh wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara. Keindahan pantainya terkenal karena warna pasir pantainya yang berwarna merah muda. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya - Ahmad Faiq Fashihul Umam (+6282232621554) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+62811-382-90000)

Menampilkan 1.457–1.472 dari 2.311 publikasi