Sabtu, 3 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Pembentukan Forum Orangutan di Kabupaten Tabalong

Tanjung, 24 Juli 2025 – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, Bapak drh. Agus Ngurah Khrisna Kepakisan, M.Si., menghadiri undangan kegiatan pembentukan Forum Orangutan Kabupaten Tabalong yang diselenggarakan di Aula Tanjung Puri, Sekretariat Daerah Kabupaten Tabalong, Kamis (24/7). Dalam sambutan Bupati Tabalong yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, disampaikan harapan agar forum ini menjadi wadah kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM (NGO), masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Forum ini diharapkan dapat menjadi gerakan bersama dalam mendukung upaya konservasi orangutan, khususnya yang berada di luar kawasan konservasi di wilayah Kabupaten Tabalong. Kepala BKSDA Kalimantan Selatan memberikan apresiasi tinggi atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Tabalong dalam pembentukan forum ini. Disampaikan bahwa sebagian besar populasi orangutan saat ini hidup di luar kawasan konservasi, sehingga diperlukan pendekatan kolaboratif lintas sektor untuk menjamin kelestarian habitat dan kelangsungan hidup satwa dilindungi tersebut. Sebagai tindak lanjut dari rapat ini, akan diterbitkan Surat Keputusan Bupati Tabalong tentang Pembentukan Forum Orangutan Kabupaten Tabalong. Forum ini akan beranggotakan perwakilan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Pemerintah Kabupaten Tabalong, BKSDA Kalsel, akademisi, korporasi, serta perwakilan dari desa-desa yang menjadi habitat orangutan di wilayah tersebut. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tabalong akan bertindak sebagai Ketua Forum. Selanjutnya, forum akan menyusun Rencana Aksi Konservasi Orangutan Kabupaten Tabalong, termasuk penentuan pembagian peran masing-masing pihak sesuai prinsip “siapa berbuat apa”. (Ryn) Sumber: Agus Erwan, S.Hut., M.Sc. - Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Mencari Auman yang Tak Muncul, Misteri Hutan Dataran Tinggi Yang

Probolinggo, 25 April 2025. Sebanyak 160 kamera dipasang, 30 ribu hari rekam dikumpulkan, lebih dari 20 spesies satwa terpantau. Tapi sang predator puncak tak kunjung muncul. Macan tutul itu tak terlihat di kamera trap. Padahal, 160 kamera trap telah tersebar di 80 petak survei kawasan hutan Dataran Tinggi Yang, kawasan yang membentang di ketinggian sekitar lereng Argopuro, wilayah timur Jawa. Sejak Desember 2024, tim Java-Wide Leopard Survey (JWLS) bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) - Kementerian Kehutanan bekerja dalam senyap. Hutan ditelusuri, suara burung, tapak satwa, dan rimbun kabut pagi menjadi saksi kerja konservasi selama lebih dari enam bulan. Namun hingga Juli 2025, tak satu pun dari 158 kamera yang berhasil diambil kembali berhasil menangkap citra sang Panthera. Justru yang muncul adalah wajah-wajah lain seperti Trenggiling, Kucing Hutan, Lutung Emas, Rusa Timor, bahkan Linsang, si predator kecil nan langka. Satwa-satwa ini mungkin menjadi pertanda bahwa hutan masih hidup, namun predator teratasnya tak menampakan dirinya. Di sebuah sesi evaluasi pada awal Juli lalu, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Yayasan SINTAS Indonesia menyampaikan hasil sementara survei. Data lapangan cukup rinci, dimana dua kamera kembali hilang di Grid M12, Desa Kalianan, Probolinggo. Saat dicek, hanya kawat sling dan webbing yang tersisa. Apakah dirusak manusia? Atau binatang besar? Tak ada saksi. Tak ada suara. Kegiatan survei ini merupakan bagian dari program besar, untuk pembaruan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Macan Tutul Jawa. Dataran Tinggi Yang menjadi satu dari sekian banyak bentang alam di Jawa yang masuk skema JWLS. Dari data satelit, hutan ini masih terkoneksi. Tapi dari lapangan, ceritanya berbeda. Gangguan ditemukan di banyak titik, pemburu burung bersenapan angin, aktivitas logging kecil-kecilan, dan kendaraan bermotor yang menembus jantung kawasan. Tim juga mencatat tanda-tanda pemasangan jerat dan jejak manusia dalam frekuensi yang tak biasa. Secara terpisah, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan apresiasi pada seluruh tim. “JWLS di Dataran Tinggi Yang menunjukkan kolaborasi efektif lintas sektor. Tapi hasil ini juga alarm bagi kita. Jika predator puncak tidak terlihat, kita harus bertanya, apa yang salah dengan habitatnya?” ungkapnya. JWLS di kawasan ini memang belum selesai, masih ada proses analisis data lebih lanjut. Tapi absennya sang predator, dengan teknologi sebanyak itu, mengundang tanya besar. Apakah populasinya telah menurun? Ataukah mereka enggan menampakkan dirinya di depan kamera? Sementara itu, ancaman di hutan terus berjalan. Suara ranting patah dan deru knalpot bisa jadi lebih sering terdengar ketimbang auman. Jika kondisi ini tak segera ditangani, bukan mustahil, macan tutul di Dataran Tinggi Yang akan benar-benar hanya tinggal nama. Mari kita jaga dan lestarikan bersama habitat macan tutul jawa. Salam lestari. Terima kasih tak terhingga kepada deretan kolaborator: BBKSDA Jatim, SINTAS Indonesia, Pengko Jatim, FK3I Jatim, Yayasan Koorders, Yayasan Kanopi Indonesia, Peka Muria, MPALH-UNP, Mapala Balwana, dan Mahasmapala. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kebaya, Warisan Budaya Sarat Makna, Pembakar

Sidoarjo, 24 Juli 2025. Dari benang-benang leluhur hingga hutan-hutan yang dijaga dengan sepenuh jiwa, kebaya bukan sekadar kain. Ia adalah jati diri, semangat, dan simbol kehormatan perempuan penjaga alam. Di antara desir angin rimba dan senyapnya pepohonan yang menjulang, berdiri para perempuan penjaga hutan. Mereka bukan hanya mengenakan seragam, tetapi juga mewarisi semangat leluhur yang terpatri dalam sehelai kebaya. Pada 4 Desember 2024, kebaya resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak benda oleh UNESCO, melalui pengajuan bersama lima negara lainnya, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Penetapan ini diumumkan dalam sesi ke-19 Komite Antar Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak benda (WBTb) di Asunción, Paraguay. Ini menjadi tonggak sejarah, mengukuhkan kebaya sebagai simbol persatuan, keanggunan, dan kekuatan perempuan Asia Tenggara. Di Indonesia, pengakuan ini tak hanya bermakna budaya, tetapi juga menjadi dorongan moral bagi mereka yang mengabdi pada bumi, terutama para perempuan di garda depan konservasi. Di jajaran Balai Besar KSDA Jawa Timur, kebaya bukan sekadar pakaian seremonial. Ia telah menjadi simbol identitas rimbawan perempuan, penanda bahwa nilai-nilai luhur tradisi dapat berjalan berdampingan dengan misi pelestarian alam. “Kami ingin tunjukkan bahwa perempuan bisa hadir elegan dalam balutan budaya, sambil tetap tegas menjaga rimba. Kebaya adalah kekuatan lembut, seperti alam yang kita rawat,” ungkap Luvi Andari, Pengendali Ekosistem Hutan sekaligus Ketua Dharma Wanita Persatuan BBKSDA Jatim. Lebih dari itu, batik dan kebaya juga menghidupkan kembali keterhubungan antara budaya dan keanekaragaman hayati. Banyak motif batik tradisional yang menghiasi kebaya terinspirasi dari satwa dan tumbuhan endemik Nusantara, seperti motif merak hijau, kupu-kupu, daun aren, dan bambu menjadi simbol alam yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Pengakuan UNESCO atas kebaya bukan hanya kemenangan budaya, tetapi juga inspirasi bagi dunia konservasi. Di Balai Besar KSDA Jawa Timur, kami meyakini bahwa menjaga hutan dan merawat warisan budaya adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kebaya menjadi pengingat bahwa kelembutan dan keteguhan dapat bersatu untuk melindungi kehidupan.” terang Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur. Dalam setiap langkah yang diayun di tengah belantara, kebaya mengiringi dengan diam. Bukan untuk pamer gaya, tetapi sebagai lambang penghormatan pada leluhur dan bumi tempat kita berpijak. Di pundak perempuan rimbawan yang mengenakan kebaya, tersimpan kekuatan sunyi yang menjaga jejak-jejak kehidupan dari padang mangrove hingga puncak Argopuro. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tak Hanya dari Balik Meja, Ini Aksi Nyata Polisi Kehutanan Menembus Kabut Gunung Picis

Ponorogo, 19 Juli 2025. Kabut basah masih menempel di pucuk-pucuk daun saat langkah-langkah tegas para penjaga hutan membelah semak dan lereng terjal. Kali ini, bukan hanya tim dari Seksi dan Bidang wilayah terdekat. Namun juga Polisi Kehutanan dari Kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur di Sidoarjo, yang biasanya bertugas di balik meja dan dokumen administrasi, turut memilih memanggil nurani dan menyatu dengan rimba. Empat hari penuh, 15 hingga 18 Juli 2025, dua tim Smart Patrol gabungan menyusuri Cagar Alam Gunung Picis. Mereka menelusuri jalur-jalur sunyi yang tertutup lumut, menjelajahi 13 petak grid pengelolaan yang tersebar di titik-titik curam, pada rentang koordinat yang hanya bisa dicapai dengan tekad dan keyakinan. Mereka tak hanya mencatat, namun mereka menyatu dengan denyut alam. Hutan menyambut dengan bisu, tapi tidak kosong. Dari balik pepohonan besar seperti Pasang (Lithocarpus elegans) dan Nyampuh (Pygeum parviflorum), mereka menemukan jejak kehidupan berupa jejak Landak Jawa (Hystrix javanica) di batang-batang pohon tua. Juga tanda kaki Kijang (Muntiacus muntjak) di tanah yang masih basah, dan di langit, Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) melayang bagai penjaga wilayah. Dan di antara langkah-langkah itu, ada sepatu seorang Polhut dari kantor balai, yang biasanya berjibaku dengan laporan, kini berkeringat di terjalnya medan Picis. Ia tidak datang untuk berfoto atau simbolik. Ia datang karena panggilan, panggilan dari rimba yang kian bisu, dari satwa yang kian sedikit bersuara. Patroli ini tidak hanya mendata keanekaragaman hayati luar biasa, dari Anggrek Tanah (Spathoglottis plicata) dan Jamur Ganoderma, hingga Cakar Ayam (Selaginella) dan Kemadih (Piper aduncum). Tetapi juga memeriksa pal batas kawasan dan menyampaikan edukasi singkat kepada warga di tepian hutan. Tidak ada gangguan yang ditemukan. Tapi bukan berarti aman selamanya. Gunung Picis menyimpan keindahan yang rapuh. Dan selama masih ada yang bersedia menapaki jejak sunyinya, harapan belum padam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kisah Giyanto, Elang Jawa, Dan Siulan Keramat dari Gunung Picis

Ponorogo, 24 Juli 2025. Tak banyak orang bisa menirukan suara Elang Jawa dan mendapat balasan langsung dari penjaga langit tersebut. Tapi Giyanto atau akrab disapa Gik dapat melakukannya. Dan bukan hanya sekali. Siulan khasnya yang disebut-sebut keramat oleh rekan-rekan petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Dan telah berkali-kali menjadi jembatan komunikasi antara manusia dengan penjaga langit Gunung Picis - Gunung Sigogor tersebut. Saat usianya menginjak 33 tahun, Giyanto adalah anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Resort 06 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, yang telah mengabdi sejak 2016. Sehari-hari ia mendampingi Polisi Kehutanan dan Pengendali Ekosistem Hutan dalam patroli kawasan dan pengamatan flora-fauna di Cagar Alam Gunung Picis dan Sigogor. Namun, perjalanannya sebagai penjaga rimba tak pernah disangka akan berubah hanya karena sebuah rasa penasaran di tahun 2016. Kala itu, ia hanya berdiri sebagai penonton dalam sebuah kegiatan pelepasliaran Elang Jawa (Nisaetus bartelsi). Saat Sang Garuda dilepaskan oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur dan Yayasan Konservasi Elang Indonesia, disaksikan langsung oleh Bupati Ponorogo. Momen itu menyulut rasa ingin tahu yang membara dalam dirinya. Setahun berselang, Giyanto mulai mengikuti kegiatan monitoring elang. Ia menyaksikan kembali pelepasliaran elang kedua di tahun 2017. Lalu tergabung dalam kegiatan Summer Camp 2018, sebuah kegiatan eksplorasi keanekaragaman hayati yang melibatkan partisipasi masyarakat, di mana peserta secara langsung berjumpa anakan elang di habitat alaminya. Tanpa disangka, Giyanto mulai bersiul, bukan dengan maksud apa-apa, hanya iseng dan spontan. Namun siulan itu dibalas. Dari kejauhan, suara khas Elang Jawa menjawab. Sejak saat itu, tiap kegiatan monitoring, ia selalu mencoba. Dan hampir selalu, siulan itu disambut sang penjaga langit. Bagi tim KSDA, siulan Giyanto bukan sekadar suara. Itu adalah ritual panggilan yang membuka komunikasi liar, menyambungkan batin antara penjaga hutan dan penjaga langit. Tak heran, Giyanto kemudian selalu diajak dalam kegiatan monitoring populasi Elang Jawa oleh BBKSDA Jatim. Sebuah “ritual” siulan menjadi alat bantu alami dalam mendeteksi keberadaan satwa langka tersebut, suatu keahlian yang tak dapat ditiru oleh siapapun, bahkan oleh sesama petugas sekalipun. Di tahun 2024, takdir Giyanto berubah. 2025 ini Ia resmi akan diangkat sebagai PPPK di Resort Konservasi Wilayah 06 Ponorogo. Dari relawan MMP, kini menjadi bagian resmi dari barisan rimbawan negara. Semua berawal dari rasa ingin tahu. Semua berkat satu burung, satu siulan, dan satu tekad, menjaga sang penjaga di langit Ponorogo agar tetap bebas. “Elang itu mengajari saya bukan hanya tentang langit, tapi juga tentang harapan,” ujar Giyanto lirih. “Bukan karena suara saya merdu, mungkin karena hati saya tulus. Maka Elang pun menjawabnya,” imbuhnya. Kisah Giyanto adalah pengingat bahwa konservasi tidak selalu lahir dari gelar atau pelatihan formal, melainkan dari rasa cinta, rasa penasaran, dan hubungan yang tak terlihat oleh kasat mata. Dan mungkin, suara siulan itu akan terus menjawab, dari lereng-lereng Pegunungan Jawa lainnya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjembatani Interaksi Negatif antara Manusia dengan Satwa Liar: Upaya Bersama Mewujudkan Koeksistensi yang Harmonis

Mamuju, 24 Juli 2025 — Interaksi negatif antara manusia dengan satwa liar (Human-Wildlife Conflict/HWC) menjadi persoalan yang semakin kompleks di wilayah Sulawesi Barat, terutama di sekitar kawasan konservasi seperti Taman Nasional Gandang Dewata (TNGD). Menyikapi hal tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan bersama Forest Programme IV (FP IV) menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Human-Wildlife Conflict Resolution selama dua hari di Grand Maleo Hotel & Convention, Mamuju, tanggal 15–16 Juli 2025 Kegiatan ini, menjadi momentum strategis yang mempertemukan perwakilan pemerintah, akademisi, LSM, sektor swasta, hingga komunitas dalam menyusun langkah-langkah konkret penanganan HWC, dengan pendekatan partisipatif dan kolaboratif. Forum Group Discussion ini merupakan bagian dari implementasi program kerjasama Pemerintah Republik Indonesia dan Republik Federal Jerman dalam Forest Programme IV, yang fokus pada pemanfaatan hutan berkelanjutan dan pelestarian keanekaragaman hayati di Sulawesi Barat, khususnya TNGD. Interaksi negatif antara manusia dan satwa liar seperti buaya muara yang muncul di area permukiman, kera jambul (Macaca tonkeana) yang merusak tanaman, serta dugaan penurunan populasi burung maleo yang menjadi ikon fauna Sulawesi Barat menjadi perhatian bersama yang harus direspon secara sistematis. Diskusi yang berlangsung selama dua hari ini, menyoroti beberapa isu kunci yang menjadi penyebab dan tantangan dalam HWC di Sulawesi Barat, antara lain: - Alih fungsi lahan yang menyebabkan menyempitnya habitat satwa liar, terutama akibat ekspansi perkebunan sawit. - Kurangnya pemahaman SOP mitigasi dan adaptasi HWC di area perkebunan dan sektor swasta. - Kendala dukungan teknis dan proses perizinan atas lokasi penampungan buaya yang dikelola oleh masyarakat di Mamuju Tengah. - Kurangnya dukungan pelestarian spesies endemik burung maleo yang ditandai dengan populasi yang mulai jarang ditemui serta belum tersedua peta sebaran habitat. - Kurangnya koordinasi para pemangku kepentingan dalam penanganan kasus-kasus HWC dilapangan. - Kurangnya pemahaman masyarakat tentang satwa yang dilindungi Dari seluruh sesi diskusi, ditegaskan bahwa penyelesaian HWC membutuhkan pendekatan multipihak dan aksi nyata yang terstruktur. Beberapa rumusan FGD antara lain: - Penyusunan dan Sosialisasi SOP Penanganan HWC Diperlukan adanya pedoman teknis bagi masyarakat, aparat lapangan, dan perusahaan dalam menangani HWC secara aman dan sesuai hukum. - Pemetaan dan Penetapan Koridor Satwa Identifikasi areal bernilai konservasi tinggi (NKT) dan kantong habitat satwa, seperti burung maleo dan buaya, untuk dijadikan bagian dari daerah perlindungan satwa. - Pelatihan dan Bimbingan Teknis Penguatan kapasitas masyarakat, aparat, dan pelaku usaha melalui Bimtek penanganan HWC, termasuk edukasi hukum dan konservasi. - Kolaborasi Edukasi dan Data Kehati Pemerintah daerah didorong untuk bersinergi dengan BBKSDA dalam menyebarkan informasi mengenai jenis satwa dan tumbuhan dilindungi serta mendukung riset akademik. - Penguatan Legalitas Penampungan Satwa Penampungan yang dilakukan oleh masyarakat perlu dibantu dalam aspek perizinan, pelaporan, dan keberlanjutan agar sesuai dengan peraturan yang berlaku. - Integrasi Aspek Konservasi dalam Pengelolaan Areal Perkebunan Swasta Perusahaan perkebunan swasta diharapkan aktif dalam mitigasi HWC (membangun pagar pengaman, sign board, dll) serta melaporkan temuan satwa kepada pihak BBKSDA. Kegiatan FGD ini menjadi bukti bahwa penyelesaian HWC tidak bisa dilakukan secara parsial. Semua pihak baik pemerintah, swasta, akademisi, maupun masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan harmoni antara manusia dan alam. “Inti dari hidup damai adalah hidup berdampingan antara manusia dan satwa. Edukasi, perencanaan wilayah, dan kolaborasi menjadi kunci untuk mewujudkannya,” tegas Imanuel Jaya Lihu dalam penutupan FGD. Semoga hasil diskusi ini dapat menjadi dasar kebijakan dan aksi nyata yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, menjaga keselamatan masyarakat, serta memastikan keberlanjutan pembangunan di Sulawesi Barat. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP. 20 /K.8/TU/Humas/7/2025) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Hari Anak Nasional 2025, Menanam Akar Konservasi di Penyangga Rimba

Sidoarjo, 23 Juli 2025. Di ketenangan lereng Pegunungan Welirang, suara lantang bergema dari ruang perpustakaan sebuah sekolah kejuruan berbasis pondok pesantren di Pacet, Mojokerto. Bukan suara pelajaran biasa, melainkan gema komitmen dua institusi yang berbeda dunia, tapi satu visi, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan SMK Walisongo Pacet. Pada 21 Juli 2025, 138 siswa menyaksikan langsung penandatanganan sebuah Deklarasi Konservasi, bukan sekadar dokumen seremonial, tapi lembaran sejarah baru tentang kolaborasi pendidikan kehutanan dan konservasi alam yang konkret, sistematis, dan menyala hingga tahun 2028. Sebuah warisan panjang untuk generasi yang akan datang. “Kami ingin menghadirkan pendidikan yang hidup dan menghidupkan.” ujar Erni Dwi Astutik, M.E., Kepala SMK Walisongo Pacet Dari Sekolah ke Kawasan Konservasi Deklarasi ini bukan janji kosong. Ia tersurat dalam 8 program nyata, mulai dari pembaruan kurikulum kehutanan adaptif, kehadiran guru tamu dari praktisi konservasi, praktikum langsung di cagar alam dan suaka margasatwa. Hingga keterlibatan siswa dalam peringatan Hari Bumi, Hari Keanekaragaman Hayati, dan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). “Konservasi bukan teori, ia adalah panggilan hidup yang harus dijalani dengan keberanian dan cinta. Anak-anak kita harus belajar dari alam, bukan hanya tentang alam,” jelas Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur. Di hari yang sama, jauh dari hiruk-pikuk kota, di sebuah pulau di tengah Laut Jawa, semangat yang sama menyala di Pulau Bawean. Bisa dikatakan sebagai rangkaian peringatan Hari Anak Nasional ke-41 dan Road to HKAN 2025. Berkat dukungan Sumber Dana Kerja Sama Indonesia–Norwegia Tahap 2. Kelompok Pelestari Hutan (KPH) Bawean Lestari menggelar kegiatan bertajuk “FOLU Goes To School: Edukasi Konservasi Lingkungan dan Pencegahan Kebakaran Hutan untuk Generasi Muda di Pulau Bawean” Chapter 1. Dalam kegiatan ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir sebagai narasumber utama, menyampaikan materi tentang kawasan konservasi, pentingnya menjaga ekosistem Bawean, dan bahaya laten kebakaran hutan dan lahan. Bertempat di MA Al-Manar Menara, 50 siswa mengikuti pembelajaran konservasi yang disampaikan langsung oleh tim BBKSDA Jatim. Materi tentang fungsi kawasan konservasi dan ancaman kebakaran hutan disampaikan dengan interaktif dan membumi. Kuis-kuis sederhana dan pertanyaan kritis dari siswa menjadi bukti bahwa di Bawean, benih konservasi tengah tumbuh dalam diam. “Menjaga hutan bukan hanya pekerjaan orang dewasa. Itu tugas kita semua, termasuk kalian, para penjaga bumi masa depan,” ujar Ahmad Firdansyah Utomo, Calon Polisi Kehutanan BBKSDA Jatim, mengawali sesi diskusi yang penuh antusiasme. Tak ada proyektor megah atau auditorium mewah. Hanya ruang kelas sederhana, papan tulis, dan mata-mata muda yang penuh harapan. Tapi dari sinilah, generasi penjaga hutan lahir. Dari Rimba ke Ruang Kelas, Menyatukan Manusia dan Alam Kolaborasi antara BBKSDA Jatim, lembaga pendidikan, dan masyarakat lokal ini membuktikan bahwa konservasi bisa dimulai di mana saja. Di Pacet, siswa-siswa SMK akan belajar menemukenali kegiatan konservasi sehari-hari. Sementara di Bawean, anak-anak belajar bahwa satu batang korek bisa menghanguskan rumah semua makhluk di hutan. Peringatan Hari Anak Nasional ke-41, yang tahun ini mengusung tema besar “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Sebuah pesan besar sedang dibangun, bahwa jalan menuju Indonesia Emas bukan hanya ditopang oleh teknologi, infrastruktur, atau ekonomi, tetapi juga oleh ekologi yang terjaga dan generasi muda yang sadar akan harmoni antara manusia dan alam. Dalam suasana haru, KH. Muslich Abbas, S.H. Pengasuh Pondok Pesantren Fatchul Ulum sekaligus Pembina Yayasan Saraswati Mojokerto, berpesan bahwa bukan finansial yang kita harapkan, tapi nilai ilmu. “Ilmu yang tertanam di dada anak-anak inilah yang akan tumbuh menjadi penggerak masa depan, memberi manfaat finansial dan spiritual, bagi dirinya, masyarakat, dan bumi tempat mereka berpijak", ujar Muslich. Program Hijau, Menuju Perubahan Kegiatan ini bukan akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang. Karena Indonesia Emas 2045 tidak akan dicapai hanya dengan beton dan baja. Tetapi dengan hutan yang lestari, air yang mengalir jernih, udara yang bisa dihirup bebas, dan manusia-manusia yang ingat darimana mereka berasal. Dalam semangat ini, kawasan konservasi tidak hanya dijaga oleh pal pal batas atau patroli rutin. Ia dijaga oleh cinta yang tumbuh dalam hati anak-anak yang pernah bermain di tepinya, menanam bibit di lerengnya, atau sekadar menyimpan foto trenggiling di dalam buku tulis mereka. BBKSDA Jatim tidak sedang membangun menara gading konservasi, BBKSDA Jatim menanam akar di tanah yang sesungguhnya. Di akar itulah, tumbuh tunas-tunas kecil bernama Harapan. Tunas yang suatu hari akan menjadi hutan baru, hutan anak-anak Indonesia yang mencintai negeri ini secara utuh, manusia dan alamnya. BBKSDA Jatim memandang bahwa anak-anak hari ini adalah penjaga bumi esok. Tugas kita adalah memastikan bahwa mereka tidak tumbuh dalam kebisingan kota saja, tetapi juga dalam bisikan hutan, desir angin pegunungan, dan keheningan rimba yang dalam. Dari Sudut Rimba Pacet dan Pulau Bawean, Menyalakan Asa, Menjaga Semesta. Karena konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satwa atau pohon. Ini tentang menyelamatkan kita manusia. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda – BBKSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Alam: Patroli Bersama Masyarakat Mitra Polhut Di Resort ANECC dan CA Batu Gajah

Simalungun, 23 Juli 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Resor Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) dan Cagar Alam (CA) Batu Gajah kembali melaksanakan patroli pengamanan kawasan bersama Masyarakat Mitra Polhut. Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mencegah kerusakan lingkungan serta memetakan potensi keanekaragaman hayati yang ada di kawasan ANECC selama tiga hari, tepatnya pada 10–12 Juli 2025. Tim melakukan patroli pengamanan kawasan dengan semangat dan dedikasi tinggi, menembus medan berbukit, terjal dan penuh tantangan. Namun tidak ada yang menyurutkan semangat Tim, termasuk sosok paling senior, Sabirin Pardosi (akrab disapa ‘Bapak Pardosi’). Meski usia tak lagi muda, semangat Pak Pardosi justru menjadi inspirasi bagi seluruh Tim untuk menuntaskan tugas mulia ini. Dari patroli ini, tidak ditemukan aktivitas tanpa izin di dalam kawasan. Sebaliknya, Tim menemukan berbagai flora dan fauna serta kekayaan alam yang masih terjaga. Beberapa di antaranya adalah: · Dan yang tak kalah menakjubkan dari kawasan ANECC, Tim dapat menikmati pemandangan Danau Toba yang membentang indah di kejauhan Setiap temuan yang diperoleh dalam kegiatan ini menjadi data penting dalam mendukung pengambilan kebijakan strategis untuk perlindungan kawasan. Kegiatan patroli ini bukan sekadar rutinitas, tetapi sebuah bentuk nyata dari komitmen menjaga alam yang tak ternilai. Semangat, kerja sama, dan kegigihan Tim di lapangan membuktikan bahwa pelestarian bukan hanya tugas, tapi pengabdian. Ular yang ditemukan Tim pada Kegiatan Patroli Kerjasama Tim Sumber: Resort ANECC dan CA Batu Gajah - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara
Baca Artikel

Anak Hebat, Peduli Konservasi Alam

Medan, 23 Juli 2025. Hari Anak Nasional (HAN) kembali diperingati tahun ini, dengan mengusung tema “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”. Peringatan ini pertama kali dicanangkan oleh Presiden RI Soeharto pada tahun 1984 melalui Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1984. Tanggal 23 Juli dipilih sebagai HAN karena bertepatan dengan tanggal disahkannya Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak. Tujuan diperingatinya Hari Anak Nasional ini adalah untuk meningkatkan kesadaran seluruh lapisan masyarakat akan pentingnya pemenuhan hak dan perlindungan anak sebagai bagian dari upaya pembangunan manusia Indonesia seutuhnya menuju Indonesia Emas tahun 2045. Dari sudut pandang konservasi alam, peran anak juga tidak kalah pentingnya, karena sebagai generasi penerus menjadi unsur penentu dalam melanjutkan serta mewujudkan pelestarian alam dan lingkungan. Oleh karena itu pendidikan konservasi alam sejak dini menjadi salah satu solusi yang akan membentuk kesadaran dan karakter anak sehingga menjadi agen perubahan positif dalam menjaga dan melestarikan alam. Lebih luas lagi, peran anak dalam konservasi alam, selain sebagai promotor agen perubahan yang efektif dalam mengajak keluarga, teman dan komunitas mereka untuk peduli terhadap lingkungan, juga sebagai komunikator dalam penyebaran informasi tentang pentingnya konservasi dan cara menjaga lingkungan melalui berbagai media sosial, cerita atau presentasi. Peran lainnya yang juga penting adalah sebagai eksekutor, pelaku aksi nyata dengan terlibat langsung dalam kegiatan konservasi, seperti menanam pohon, membersihkan sampah atau mengikuti kegiatan pelestarian lingkungan baik sekolah maupun komunitas dan terakhir, sebagai mediator penyambung lidah alam di mana anak menjadi suara bagi lingkungan yang sering kali terabaikan, menyuarakan kepedulian mereka terhadap kerusakan alam dan pentingnya menjaga keberlanjutannya. Untuk bisa mewujudkan peran tersebut, sekali lagi pendidikan menjadi kata kunci karena dengan pendidikan yang tepat diharapkan anak-anak tidak hanya menimba ilmu dan pengetahuan yang mumpuni, melainkan juga menumbuhkan sense of crisis yaitu kemampuannya untuk mengenali atau mendeteksi potensi masalah, memahami dengan menganalisis akar penyebab masalah dan dampaknya, serta merespon situasi yang berpotensi/berpeluang menjadi krisis dengan cepat dan tepat. Selama ini pemenuhan kebutuhan akan pendidikan konservasi alam dan lingkungan masih berharap dari pendidikan formal, hanya melalui pembelajaran di sekolah. Padahal dengan padatnya kurikulum yang memuat beragam materi pembelajaran dan cenderung tidak terkoneksi/terintegrasi dengan pembalajaran konservasi alam, maka capaiannya kurang efektif. Berharap hanya dari pendidikan formal semata, tentu tidak maksimal dan optimal. Oleh karena itu tidak ada jalan lain, semua potensi harus digerakkan dan diberdayakan. Pendidikan informal yang diperoleh di lingkungan keluarga dan masyarakat mulai dari sejak lahir hingga akhir hayat juga penting karena memberikan pengaruh/dampak pada perkembangan individu serta memberikan kontribusi signifikan terhadap perkembangan pengetahuan dan keterampilan. Demikian juga dengan pendidikan non formal yang diselenggarakan di luar sekolah formal dengan tujuan untuk menambah keterampilan dan pengetahuan baik yang sudah diajarkan di sekolah maupun yang belum menjadi pelengkap dan penyempurna dari giat pendidikan. Pendidikan non formal tentang konservasi alam inilah yang kerap dimodifikasi, dikemas dan diterapkan oleh lembaga-lembaga swadaya masyarakat (NGO) kepada siswa pencinta alam maupun mahasiswa pencinta alam. Lembaga atau institusi pemerintah sesungguhnya dapat juga mengembangkan pendidikan non formal, terkhusus Kementerian Kehutanan yang memiliki sumber daya manusia (SDM) tenaga fungsional tertentu. Penyuluh Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dan Polisi Kehutanan (Polhut) sejatinya punya andil juga untuk mengembangkan program Pendidikan Konservasi Alam secara permanen yang diterapkan di seluruh Satker lingkup Kementerian Kehutanan di Indonesia dengan mengangkat potensi konservasi alam di lingkungannya masing-masing. Di beberapa Satker memang sudah mengaplikasikannya dan bahkan sudah memiliki kurikulum khusus serta jadwal pembelajaran sedangkan di satker lainnya masih perlu suntikan semangat untuk menerapkan hal yang sama. Sebagai penutup dari tulisan ini, menarik untuk menyimak kutipan sambutan Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Agr.Sc., dalam acara launching HKAN 2024 di Gedung Manggala Wanabakti, Selasa (16/7/2024) “Generasi muda adalah kunci dalam menjaga kelestarian alam. Mereka memiliki karakter kreatif, mudah beradaptasi dengan teknologi dan lebih terbuka terhadap perubahan,”. Pesan ini tentunya menjadi sinyal untuk memberdayakan anak-anak Indonesia guna mewujudkan “Anak Hebat, Peduli Konservasi Alam”. Selamat Hari Anak Nasional 2025… Sumber: Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tingkatkan Kapasitas, Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan Gelar Pembinaan Bagi KOMPEL UMTS

Padangsidimpuan, 23 Juli 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan baru-baru ini melaksanakan Pembinaan Kelompok Pecinta Alam kepada Komunitas Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (Kompel UMTS) di Padangsidimpuan, pada Rabu (16/07). Acara yang dilaksanakan di Kampus Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan diikuti oleh pengurus Kompel UMTS bertujuan untuk mendorong pengembangan aktivitas serta wawasan dan pengetahuan seluruh individu yang bernaung di dalam Kelompok Pecinta Alam Kompel UMTS, bertukar informasi serta berbagi pengalaman dalam upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pada kesempatan tersebut, dilakukan pemaparan materi yang disampaikan oleh Tim Penyuluh Kehutanan Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Efrina Rizkiyah Pohan, SP. dan Gerin Cristian Sukartoyo, A.Md. Mereka memberi pesan kepada Kompel UMTS tentang peningkatan kesadaran lingkungan dan partisipasi konservasi dengan tidak memasuki kawasan konservasi untuk tujuan apapun, kecuali sudah memiliki Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi (SIMAKSI). Pesan-pesan konservasi alam yang disampaikan juga bertujuan untuk mengembangkan kreativitas Kompel UMTS untuk aktif dan produktif dalam menjalankan misi pelestarian lingkungan serta konservasi sumber daya alam secara sadar dan ikhlas, namun tetap mematuhi kaidah serta aturan hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 15 Tahun 2024 tentang penghargaan Wana Lestari, disebutkan bahwa Kelompok Pecinta Alam (KPA) adalah sekelompok orang atau anggota masyarakat yang mempunyai minat, hobi atau prestasi di bidang perlindungan terhadap proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman sumber daya alam dan pelestarian pemanfaatan bagi terjaminnya jenis sumber daya alam dan ekosistem. Dari pengertian tersebut, terlihat bahwa KPA merupakan kelompok generasi muda yang terlahir menjadi agen perubahan yang dengan kelebihannya mampu mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendaur ulang barang bekas dan menggunakan transportasi ramah lingkungan. Selain itu juga kemampuannya dalam memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk menyebarkan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan agar tersebar lebih cepat dan luas ke seluruh lapisan masyarakat. Melalui kegiatan pembinaan ini, diharapkan generasi muda khususnya Kelompok Pecinta Alam Kompel UMTS dapat terinspirasi dan termotivasi untuk mengembangkan diri sebagai agen perubahan yang berkontribusi nyata dalam upaya konservasi alam dan lingkungan hidup. Sumber: Irwan Hanafi, S.Hut,.MM. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Deklarasi Konservasi SMK Walisongo Pacet dan BBKSDA Jatim, Road to HKAN 2025

Mojokerto, 21 Juli 2025. Kabut tipis masih menyelimuti kaki Pegunungan Welirang ketika suara lantang menggema dari ruang perpustakaan SMK Walisongo Pacet pagi itu, Senin, 21 Juli 2025. Bukan doa rutin atau pelajaran biasa, tetapi sebuah komitmen tak berbatas, yang menggetarkan, janji kolaborasi antara dunia pendidikan berbasis pondok pesantren dan penjaga hutan, antara bangku sekolah dan hutan-hutan Jawa yang masih tersisa. Di hadapan 138 siswa dan petugas BBKSDA Jatim, dua institusi berbeda dunia tapi satu visi menandatangani sejarah baru, sebuah deklarasi peningkatan kapasitas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Hari itu, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., dan Kepala SMK Walisongo Pacet, Erni Dwi Astutik, M.E., meresmikan deklarasi strategis selama tiga tahun ke depan. Deklarasi ini bukan sekadar simbol, melainkan program konkret, mulai dari pembaruan kurikulum kehutanan adaptif, pengiriman guru tamu dan narasumber dari praktisi konservasi hingga praktikum langsung di kawasan hutan konservasi. Serta uji kompetensi keahlian lapangan dan pelibatan siswa dalam momen-momen besar lingkungan seperti Hari Bumi, HKAN, dan Hari Keanekaragaman Hayati. Deklarasi ini menjadi bagian dari rangkaian besar Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, yang mengusung semangat “Membangun Sinergi Antar Generasi, Menjaga Alam Sepenuh Hati”. Sebuah ajakan menyentuh dari pemerintah untuk menjadikan konservasi bukan hanya jargon, melainkan gaya hidup dan arah kebijakan pendidikan. BBKSDA Jawa Timur menjawab tantangan ini dengan nyata, melibatkan sekolah kejuruan untuk berperan aktif, bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku konservasi. Delapan program inti, lengkap dengan indikator waktu pelaksanaan hingga tahun ajaran 2027/2028, disepakati dan ditandatangani sebagai komitmen lintas sektor. Setiap kegiatan dirancang untuk membentuk kompetensi, mengasah kepedulian, dan menumbuhkan karakter pelindung alam dalam jiwa para siswa. Kepala SMK Walisongo Pacet, Erni Dwi Astutik, M.E., menyampaikan bahwa deklarasi ini bukan hanya sekadar program kerja, tetapi mimpi bersama. “Kami ingin menghadirkan pendidikan yang hidup dan menghidupkan. Kolaborasi dengan BBKSDA Jatim akan membuka jendela yang lebih luas bagi siswa kami untuk melihat realita, memahami keterhubungan antara alam dan manusia, serta mengasah kemampuan mereka menjadi pelindung ekosistem, bukan perusaknya”, ujarnya. Erni meyakini bahwa dengan pendekatan nyata dan inspiratif dari praktisi konservasi, siswa dapat belajar lebih dari sekadar teori, mereka akan menyentuh bumi, mendengar suara satwa, dan merasakan denyut hutan. Dalam suasana yang penuh haru, KH. Muslich Abbas, S.H., Pengasuh sekaligus Pembina Yayasan Saraswati Mojokerto, menegaskan filosofi pendidikan yang melampaui angka dan nilai. "Bukan finansial yang kita harapkan, tapi nilai ilmu. Ilmu yang tertanam di dada anak-anak inilah yang akan tumbuh menjadi penggerak masa depan, memberi manfaat finansial dan spiritual, bagi dirinya, masyarakat, dan bumi tempat mereka berpijak", harapnya. Sementara itu, Nur Patria Kurniawan mengajak para siswa untuk tidak hanya cerdas dalam teori, tapi juga peka terhadap proses-proses alami. “Konservasi adalah tingkatan tertinggi dalam pengelolaan kawasan hutan. Ia menuntut ketelatenan, keberanian, dan rasa cinta yang tidak sebentar. Anak-anak kita harus belajar dari cara alam menyelesaikan masalahnya sendiri—penuh sabar dan bersinergi”, tegas Nur. Bayangkan, siswa-siswa ini kelak tidak hanya belajar tentang hutan dari buku, tapi menginjakkan kaki mereka di kawasan konservasi seperti Suaka Margasatwa, Cagar Alam, dan Taman Wisata Alam. Mereka akan belajar mengenali jejak satwa, mengidentifikasi suara burung, mengukur kerapatan pohon, bahkan turut menyusun laporan konservasi berdasarkan pengalaman nyata di lapangan. Melalui pendekatan ini, generasi muda tidak hanya menjadi penerus ilmu kehutanan, tetapi agen konservasi yang mampu menjawab tantangan masa depan, dari perubahan iklim, eksploitasi alam, hingga krisis satwa liar. Di tengah arus modernitas yang sering menjauhkan manusia dari alam, kemitraan antara BBKSDA Jawa Timur dan SMK Walisongo Pacet adalah upaya untuk menyatukan kembali keduanya. Dari ruang kelas sederhana ini, akan lahir penjaga hutan masa depan, mereka yang tak hanya mencintai alam dari kejauhan, tapi siap turun ke hutan, ke rawa, ke bukit, membawa satu pesan, bahwa alam harus dijaga, bukan hanya untuk kita, tapi untuk semua makhluk yang berbagi rumah ini. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mengetuk Pintu Desa, Diplomasi Madu Hutan Di Penyangga Manggis Gadungan

Kediri, 22 Juli 2025. Di antara rimbun hutan hujan tropis dataran rendah yang menyelimuti Cagar Alam Manggis Gadungan, langkah kaki para penjaga ekosistem mengarah bukan hanya ke pohon-pohon leses yang sarat koloni lebah madu, melainkan menuju hati masyarakat. Dalam misi konservasi yang lebih luas dari sekadar patroli, tim SMART Patrol dari Balai Besar KSDA Jawa Timur menyambangi Kantor Desa Wonorejo, sebuah momen yang mengikat dialog antara alam dan manusia, antara penjaga kawasan dan pemilik tradisi. Dalam pertemuan hangat yang berlangsung sederhana namun bermakna, petugas menyampaikan pesan penting, bahwa Cagar Alam Manggis Gadungan bukan sekadar kawasan hijau di peta, melainkan satu-satunya kawasan konservasi formal yang tersisa di wilayah eks-Karesidenan Kediri (meliputi Kediri, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, dan Nganjuk). Hutan Manggis adalah warisan ekologi yang tak tergantikan. Menjaganya adalah bagian dari menjaga kehidupan. Kepala Desa Wonorejo, dalam tanggapannya, memberikan apresiasi terhadap proaktivitas tim BBKSDA Jatim yang telah membuka ruang koordinasi, komunikasi, serta menyampaikan komitmen untuk hadir rutin dalam kegiatan pemantauan kawasan. Ia menekankan bahwa keberadaan petugas bukan sekadar pengawas, melainkan mitra strategis bagi desa dalam mengelola tantangan ekologi, termasuk isu krusial penanganan sampah dan pencegahan kebakaran hutan. SMART Patrol kali ini berlangsung pada tanggal 14–17 Juli 2025, meliputi area seluas 2,9032 Ha di grid 29–42 kawasan Cagar Alam. Dalam patroli tersebut, ditemukan indikasi pengambilan madu hutan secara ilegal, yang diduga terjadi pada malam hari tanggal 14 Juli. Hasil survei potensi mengungkap keberadaan enam koloni madu hutan, empat di antaranya bersarang pada pohon leses (Ficus albipila), pohon khas yang kini menjadi simbol ketegangan antara alam liar dan kebutuhan manusia. Selain itu, petugas mencatat keberadaan 110 individu flora dari 34 jenis, dan 59 individu fauna dari 31 jenis, termasuk 20 jenis burung, 10 jenis serangga, dan 1 jenis mamalia. Tidak ditemukan fitur alami maupun buatan lainnya selama patroli. Dengan raut bersahabat dan semangat konservasi, para petugas menegaskan bahwa SMART Patrol bukan hanya tentang pengawasan, tetapi tentang membangun relasi harmonis antara kawasan lindung dan kehidupan sosial di sekitarnya. Anjangsana ini, meski singkat, mengirimkan pesan kuat: bahwa penjagaan hutan adalah tugas bersama dan dimulai dari menyapa, mendengar, dan bekerja berdampingan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Cerita KTH Mustika Aren, Mimpi yang Tak Pernah Karam

Gresik, 21 Juli 2025. Di sebuah pagi yang teduh di Kantor Bidang KSDA Wilayah II Gresik, dua pria dari Pulau Bawean datang membawa semangat dan secuil harapan dari ladang nira, 21 Juli 2025. Ansharrudin, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Mustika Aren, bersama rekannya Dayat, disambut hangat oleh Eka Heriyadi, S.Hut. Penyuluh Kehutanan Ahli Muda. Bukan sekadar kunjungan biasa. Obrolan hangat mereka menyulam harapan masa depan untuk memperkuat eksistensi kelompok tani yang lahir dari rahim hutan tropis Bawean. Keduanya baru saja mengikuti Pameran UMKM di Mall Sunrise Mojokerto, 18–20 Juli 2025. Pameran itu menjadi panggung kecil untuk memperkenalkan produk-produk olahan gula aren khas Bawean, gula cair, gula cube, hingga varian baru gula bubuk rasa jahe. Meskipun pengunjung tak seramai pameran sebelumnya di Surabaya, semangat mereka tak luntur. Dengan dukungan penuh dari Bank Jatim, mereka membuktikan bahwa hasil hutan non-kayu bisa berbicara di ruang urban. Tak kalah penting, kemasan produk mereka telah menyematkan logo Kementerian Kehutanan serta BBKSDA Jatim sebagai bentuk legalitas dan identitas yang kuat. Dimana mereka berproduksi di penyangga kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean yang dibawah pengelolaan BBKSDA Jatim. Namun di balik manisnya gula aren, tersimpan pekerjaan rumah besar. Rantai distribusi hasil panen masih belum adil. Para petani nira kerap lebih memilih menjual langsung ke tengkulak karena prosesnya lebih cepat, meski harga jauh lebih murah. KTH Mustika Aren menyadari ini sebagai ancaman nyata terhadap keberlanjutan kelompok. Ironisnya, bantuan mesin pengolahan nira dari Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada tahun 2022 dinilai kurang efektif. Teknologi yang dibawa, meskipun niatnya baik, belum sesuai dengan ritme tradisional masyarakat. Secara mengejutkan, cara manual malah lebih efisien dan alami. Dalam menanggapi hal tersebut, petugas menyampaikan beberapa rencana tindak lanjut strategis. DIantaranya Penguatan kelembagaan oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II dijadwalkan pada bulan September mendatang, yang melibatkan 3 KTH di Pulau Bawean. Pengusulan Penilaian Kelas KTH, bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Provinsi, untuk mengakui secara resmi kapasitas kelembagaan KTH. Serta, Pendataan dan input NTE (Nilai Tambah Ekonomi) periode 2025 akan dimulai, menandai langkah nyata untuk memotret kinerja ekonomi ketiga KTH secara lebih terukur dan sistematis. Balai Besar KSDA Jawa Timur terus mendorong sinergi antara masyarakat dan hutan dalam satu visi, konservasi yang menyejahterakan. KTH Mustika Aren menjadi satu dari sekian banyak contoh di mana konservasi dan ekonomi bisa berjalan seiring, dengan modal utama, komitmen, keberanian, dan cinta pada tanah kelahiran. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai TN Batang Gadis Patroli Pengamanan Kawasan Hutan dan Pemantauan Fenologi

Panyabungan, 21 Juli 2025.Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melaksanakan kegiatan patroli pengamanan kawasan hutan dan pemantauan fenologi pada tanggal 7 hingga 13 Juli 2025. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan metode SMART RBM (Spatial Monitoring and Reporting Tool Resort Based Management) sebagai petunjuk teknis dan rencana kerja patroli. Patroli dilakukan dengan metode jelajah menyusuri jalur patrol yang telah ada, serta membuka jalur baru untuk menjangkau lokasi-lokasi strategis di dalam kawasan TNBG, seperti stasiun riset, menara pandang, lokasi demplot fenologi dan lokasi keberadaan rafflesia. Jalur patroli yang ditempuh sepanjang 9,48 km, menyusuri kawasan sesuai grid yang telah ditentukan dan mencatat titik-titik koordinat strategis. Selama patroli, tim melakukan pendataan flora dan fauna yang dijumpai, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa satwa liar yang berhasil terdokumentasi meliputi mamalia seperti tapir, kijang, simpai, dan siamang, serta jenis burung atau aves seperti tangkaruli Sumatra, srigunting Sumatra, takur api, dan pelatuk. Temuan langsung di antaranya adalah simpai dan beberapa jenis aves, sedangkan tapir, kijang, dan siamang dikenali melalui tanda-tanda keberadaan seperti tapak, kotoran, dan suara. Selain pengamanan kawasan, tim juga melakukan pemantauan dan penandaan demplot rafflesia dan plot fenologi. Tercatat ada 4 titik demplot rafflesia, di mana kondisi bunga yang ditemukan telah membusuk atau melewati masa mekar. Untuk pemantauan fenologi, ditemukan 10 titik plot fenologi dengan total 164 individu pohon yang diamati. Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian kawasan hutan dan pengawasan keanekaragaman hayati di TNBG. Data yang diperoleh selama patroli akan digunakan sebagai dasar evaluasi serta penyusunan strategi konservasi ke depan. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Perlindungan Kawasan dan TSL, BBKSDA Sumut Perkuat Sinergi dengan Pemkab dan Polres Karo

Kabanjahe, 21 Juli 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, mengintensifkan koordinasi dengan sejumlah instansi strategis di Kabupaten Karo. Giat ini berlangsung pada 16–17 Juli 2025 sebagai langkah konkret memperkuat perlindungan kawasan dan pengamanan tumbuhan serta satwa liar (TSL), khususnya di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk. Koordinasi hari pertama dipimpin oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Tuahman Raya, S.Sos, bersama tim, dengan menyambangi Asisten II Pemkab Karo Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Drs. Dapatkita Sinulingga. Dalam pertemuan tersebut dibahas rencana penataan area camping ground seluas 3 hektar di sekitar Danau Lau Kawar yang merupakan bagian dari TWA Deleng Lancuk. “Penataan ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas pariwisata. Kunjungan wisata ke Danau Lau Kawar meningkat, sehingga perlu adanya sinkronisasi dalam pengelolaan antara Pemkab Karo dan BBKSDA Sumatera Utara, terutama terkait pungutan masuk kawasan,” ujar Tuahman Raya. Diketahui bahwa Danau Lau Kawar merupakan destinasi unggulan dengan panorama alam yang memukau serta berbagai aktivitas wisata alam seperti jungle trekking. Pungutan masuk kawasan TWA Deleng Lancuk mengacu pada PP 36 Tahun 2024 terkait Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), yakni Rp10.000/hari pada hari biasa dan Rp15.000/hari pada hari libur. Sinkronisasi sistem tiket masuk antara BBKSDA Sumatera Utara dan Pemkab Karo menjadi penting agar tercipta skema kolaboratif antara kas daerah dan negara. Asisten II juga menyarankan agar BBKSDA Sumatera Utara menyampaikan surat resmi kepada Bupati Karo guna memperkuat sinergi kelembagaan dalam pengelolaan pungutan dan pemanfaatan potensi wisata Lau Kawar. Hari yang sama, Tim BBKSDA Sumatera Utara juga berkoordinasi dengan Asisten I Pemkab Karo, Caprilus Barus, S.Sos, mengenai rencana pemasangan spanduk imbauan penanganan konflik TSL. Pencantuman logo Pemkab Karo pada spanduk tersebut diajukan sebagai bentuk dukungan dan kolaborasi dalam penanganan satwa liar yang sering berkonflik dengan masyarakat. Koordinasi berlanjut pada 17 Juli 2025 dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Karo. Kepala Dinas, Sarjana Purba, STP, menerima surat balasan dari BBKSDA Sumatera Utara terkait permohonan penaburan benih Ikan Nila di Danau Lau Kawar. Penaburan belum dapat dilakukan mengingat pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dengan mempertimbangkan keberadaan ikan asli setempat. Untuk memperkuat pengendalian perdagangan ilegal TSL dan perlindungan satwa dilindungi seperti Harimau dan Orangutan Sumatera, Tim BBKSDA Sumatera Utara juga berkoordinasi dengan Kanit Tipidter Polres Karo, Iptu Regen Manik, S.H., M.H. Pembahasan meliputi rencana pemasangan spanduk edukatif serta perlunya dukungan aparat dalam menjaga keamanan pengunjung dan pelaku usaha resmi di kawasan konservasi. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Tuahman Raya menyampaikan harapannya agar koordinasi ini tidak hanya menjadi rutinitas administratif, melainkan menjadi dasar sinergi berkelanjutan antara upaya konservasi dan pembangunan daerah. "Kami ingin kolaborasi ini berkelanjutan. Dengan peran aktif Pemkab dan Polres Karo, kami optimistis pengelolaan kawasan dan perlindungan satwa akan lebih efektif dan memberikan manfaat jangka panjang," pungkas Tuahman. Dengan koordinasi ini, BBKSDA Sumatera Utara dengan Pemkab Karo dan Polres Karo diharapkan terjalin sinergitas pembangunan daerah dan konservasi secara berkesinambungan. Sumber: Tuahman Raya S. Sos, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang dan Tim - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara
Baca Artikel

Temuan Jerat dan Tanda Kehadiran Satwa Liar, Tegaskan Pentingnya Pengawasan di SM Barumun

Sipirok, 21 Juli 2025 – Kegiatan patroli perlindungan kawasan yang dilaksanakan oleh Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Resort Suaka Margasatwa (SM) Barumun II bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) pada 9–13 Juli 2025 di kawasan SM Barumun kembali mengungkap potensi ancaman terhadap kelestarian satwa liar. Patroli yang dilakukan di wilayah administratif Kabupaten Padang Lawas dan Kabupaten Tapanuli Selatan ini bertujuan untuk memantau kondisi kawasan dan mendeteksi gangguan seperti perburuan liar, perambahan, serta kerusakan habitat. Salah satu temuan paling mencolok dalam kegiatan ini adalah jerat jenis pilubang yang disertai jaring sepanjang ±1000 meter. Jerat tersebut dipasang rapi di jalur satwa, diperkuat dengan bentangan jala dan deretan kayu kecil sebagai penghalau yang mengarahkan satwa ke dalam perangkap. Jaring tersebut berhasil dibuka dan diamankan ke kantor Resort SM Barumun II. Temuan ini bukan hanya sekadar pengungkapan aktivitas ilegal, melainkan menjadi bukti nyata bahwa kawasan konservasi ini masih menjadi target perburuan liar. Penggunaan jerat seperti ini sangat berbahaya karena bersifat non-selektif dan bisa menjerat berbagai jenis satwa, termasuk yang dilindungi seperti Harimau Sumatera atau Kuau Raja. Selain jerat, tim juga mendokumentasikan sejumlah tanda keberadaan satwa liar, antara lain: · Jejak kaki babi hutan · Cakaran beruang · Bulu Unggas Kuau Raja · Perjumpaan langsung dengan ular jenis Kobra Temuan ini memperkuat fakta bahwa kawasan SM Barumun masih menjadi habitat penting bagi berbagai jenis satwa liar, termasuk spesies endemik dan terancam punah. Vegetasi kawasan juga didominasi oleh pohon-pohon dari famili Dipterocarpaceae yang dikenal sebagai indikator hutan hujan tropis yang sehat. Dengan ditemukannya jerat dalam jumlah besar dan tanda-tanda kehadiran satwa liar, perlu ada langkah lanjutan yang sistematis dan berkelanjutan untuk menjaga kawasan SM Barumun tetap aman bagi flora dan fauna. Tim merekomendasikan untuk pemasangan plang peringatan dan edukatif di titik-titik rawan perburuan, kegiatan sapu jerat secara rutin untuk mengurangi ancaman langsung terhadap satwa dan peningkatan peran masyarakat sekitar kawasan dalam pengawasan dan pelaporan aktivitas ilegal. Kegiatan patroli seperti ini bukan hanya rutinitas, tapi bentuk komitmen dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah kepunahan satwa. Dengan dukungan semua pihak, termasuk masyarakat lokal, pengawasan yang konsisten dapat menjadi garda terdepan dalam mempertahankan fungsi ekologis kawasan. Sumber: Resort SM Dolok Surungan II - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara

Menampilkan 129–144 dari 1.989 publikasi