Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Pekan Ilmiah di Balai Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 13 Desember 2022. Balai Taman Nasional Komodo membuka kesempatan magang dan penelitian bagi siswa dan mahasiswa yang ingin melaksanakan kegiatan pendidikan di Taman Nasional Komodo. Sebagai bentuk perwujudan keseriusan UPT dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan para peserta didiknya, Urusan Program Anggaran Kerja Sama dan Pelayanan, Balai Taman Nasional Komodo menyeleksi ketat permohonan yang masuk dan mewajibkan mahasiswa untuk dapat mempresentasikan sebelum dan sesudah kegiatan pendidikan tersebut dilakukan baik secara daring maupun luring dihadapan seluruh jajaran pimpinan dan staf Balai Taman Nasional Komodo. Setidaknya tiga mahasiswa dari perguruan tinggi yang berbeda telah diterima dan menyelesaikan rangkaian kegiatan pengumpulan data di kawasan Taman Nasional Komodo. Ketiga mahasiswa tersebut adalah Mukti Aryo Wicaksono (S1 Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata, IPB University), Ni Kadek Sri Ayu Wijayani (S1 Pendidikan Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta), dan Malkrina Ule Penga (DIV Kehutanan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang). Judul penelitian Mukti adalah Kekayaan Jenis dan Aktivitas Satwa Liar di Jalur Wisata di Loh Liang, Taman Nasional Komodo Menggunakan Camera Trap, Ayu berjudul Pengembangan Video Pembelajaran Keanekaragamana Hewan Berbasis Potensi Lokal Labuan Bajo Untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Konservasi Peserta Didik SMA Kelas X, sementara Irna berjudul Valuasi Ekonomi Kunjungan Wisata Sebelum dan Selama Pandemi Covid – 19 di Loh Liang Taman Nasional Komodo. Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama, Muhammad Ikbal Putera, memandu jalannya sesi presentasi secara daring melalui aplikasi Zoom hingga kegiatan selesai. Penelitian yang dilakukan oleh Mukti menunjukan bahwa jenis satwa liar yang ditemukan di sepanjang jalur trekking wisata Resort Loh Liang sebanyak 1 jenis reptil, 3 jenis mamalia, dan 7 jenis aves. Varanus komodoensis menggunakan jalan setapak untuk berjalan sedangkan babi hutan (Sus scrofa) dan rusa timor (Rusa timorensis) lebih banyak berada di pinggir/sekitaran jalan setapak untuk berjalan. Keberadaan komodo di siang hari pada jalur trekking diduga berpengaruh terhadap fluktuasi kehadiran rusa pada sekitar jalur trekking, namun tidak berpengaruh terhadap babi hutan. Mempertimbangkan temuan ilmiahnya secara menyeluruh, Mukti merekomendasikan beberapa hal, diantaranya: perlu dilakukan penelitian lanjutan pada saat jumlah kunjungan mulai meningkat sebagai data pembanding dan perlu dilakukannya pemantauan di lokasi jalur wisata dan non jalur wisata untuk melihat perbedaan gangguan manusia terhadap pola penggunaan ruang dan waktu oleh satwa liar. Menurutnya, metode pengamatan dengan menggunakan camera trap sesuai untuk mengamati frekuensi kehadiran, perilaku, serta pola penggunaan ruang dan waktu, namun kurang unggul untuk melihat kekayaan jenis satwa harian. Sesi pemaparan kedua dilakukan oleh Irna. Hasil penelitian Irna menyimpulkan bahwa karakteristik pengunjung di Loh Liang pada waktu pengumpulan data didominasi wisatawan berjenis kelamin laki-laki (63%), asal Indonesia (84%), berprofesi sebagai wiraswasta (43%), dan berpenghasilan tinggi (87%). Irna menunjukan adanya penurunan jumlah pengunjung baik Nusantara maupun Mancanegara berdampak pada penurunan nilai ekonomi Resort Loh Liang. Biaya perjalanan pun meningkat sebesar 1% dengan berkurangnya frekuensi kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo. Adapun tren penurunan nilai ekonomi Taman Nasional Komodo mencapai Rp591.724.235.245,29 (2018), Rp380.949.421.454 (2019), Rp50.005.957.160 (2020), dan Rp45.271.475.642 (2021). Penelitian Irna juga menunjukan tingkat peran dan keberadaan Taman Nasional Komodo sangat berpengaruh bagi stabilitas ekonomi masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat. Sesi pemaparan yang ketiga dibawahkan oleh Ayu. Ayu memaparkan hasil perkembangan penyusunan video pembelajaran sebagai bentuk produk penelitian tingkat Sarjana yang sedang digarapnya. Ayu menargetkan beberapa konsep yang harus disajikan dalam video pembelajaran agar para pelajar dapat dengan mudah memahami pesan yang ingin disampaikan. Adapun konsep yang disajikan antara lain: konsep keanekaragaman genetik, spesies, ekosistem, potensi ancaman dan ragam upaya pelestarian/konservasi yang dibutuhkan dalam kompetensi dasar pembelajaran untuk siswa SMA kelas X. Ayu menekankan bahwa pembuatan video pembelajaran ini belum rampung dan memerlukan waktu tambahan untuk menyelesaikannya karena perlu melewati beberapa tahapan proses dan penyempurnaan substansi dari dosen pembimbing dan jagawana Balai Taman Nasional Komodo. Seluruh staf Balai Taman Nasional Komodo mengapresiasi penuh hasil kerja keras mahasiswa dan memberikan banyak saran penyempurnaan. Ikbal berharap dengan ilmu dan pengalaman yang diperoleh mahasiswa, ketiga pelajar tersebut dapat terus mengasah kemampuan dirinya dan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Ikbal juga berharap agar hasil penelitian ketiga mahasiswa dapat memberikan rekomendasi praktis bagi penguatan pengelolaan kawasan Taman Nasional Komodo kedepannya. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Yudha Pamungkas (+6282210465828) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Observasi Potensi Daya Tarik Wisata Alam di Resort Kampung Rinca

Labuan Bajo, 12 Desember 2022. Empat mahasiswa Politeknik Pariwisata NHI Bandung bercerita mengenai pengalaman magangnya pada rangkaian program Junior Park Ranger (JPR) Balai Taman Nasional (BTN) Komodo selama enam bulan mulai dari bulan Agustus – Desember 2022. Keempat mahasiswa pertama kali ditempatkan bertugas di Resort Kampung Rinca pada tanggal 21 – 31 Agustus 2022 dibawah pengawasan Fahri Ikhlas (Kepala Resort Kampung Rinca)nuntuk mengobservasi potensi daya tarik wisata alam di sekitar wilayah Kampung Rinca, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Keempat mahasiswa yang berasal dari prodi Manajemen Destinasi Pariwisata dan Manajemen Pengaturan Perjalanan ini mengikuti seluruh rangkaian tugas jagawana (ranger) Resort Kampung Rinca dengan pendampingan dari petugas, menjelajahi jalur patroli di hutan dan lautan, berinteraksi dengan kelompok dan komunitas masyarakat, serta melakukan pengamatan hidupan liar di alam. Mahasiswa mendapatkan kesempatan mengunjungi Batu Balok dan Gua Kalong di pedalaman hutan. Batu Balok sendiri merupakan bongkahan batu volkanik yang diduga terbentuk akibat erupsi gunung api pada waktu silam yang kemudian membentuk pilar-pilar panjang di tengah hutan. Masyarakat Kampung Rinca percaya bahwa batu ini sudah terbentuk raturan tahun silam dan beberapa menganggapnya sebagai sebuah obyeknya yang disakralkan oleh karena cerita legendanya. Menariknya, pada ujung pilar batu tersebut tampak terlihat presisi segi enam yang membuat imajinasi manusia berpikir keras membayangkan proses pembentukan batu tersebut yang sebenarnya. Jarak antara Batu Balok dengan Dermaga Kampung Rinca mencapai 3.7 Km. Selain Batu Balok, mahasiswa turut mengunjungi Gua Kalong yang berjarak + 1.4 Km dari dermaga Kampung Rinca. Gua Kalong ini merupakan habitat bagi Kelelawar Kubu Nusa Tenggara (Dobsonia peronii). Gua ini cukup sempit untuk dimasuki oleh beberapa orang dewasa sehingga perlu kehati-hatian dan keterampilan saat beraktivitas di dalamnya. Selain potensi daya tarik wisata alam di daratan, Resort Kampung Rinca juga memiliki beberapa obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) perairan yang tidak kalah cantik parasnya. Resort Kampung Rinca memiliki Pulau Kalong dan Batu Strawberry yang kerap dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai belahan dunia. Sebagai contoh, Batu Strawberry atau lebih dikenal dengan sebutan strawberry stone seringkali menjadi lokasi foto favorit wisatawan karena keunikan warna batunya yang berwarna merah muda. Batu Strawberry berjarak + 15 menit dengan perahu dari Dermaga Kampung Rinca. Meski memiliki bentang alam yang indah, batu ini cukup terjal dan aksi berfoto pada batu cukup berbahaya sehingga wisatawan harus selalu didampingi oleh pemandu selama beraktivitas pada ODTWA tersebut. Mahasiswa turut melakukan monitoring kelelawar yang terbang keluar dari Pulau Kalong menuju daratan Flores bersama petugas Resort Kampung Rinca. Petugas menghitung menggunakan teknik bat emergence counting dan menjumpai setidaknya 10.000 kalong besar (Pteropus vampyrus) terbang ke dua arah yang berbeda. Koloni kalong besar ini hidup bertengger pada pepohonan mangrove yang sangat tebal hingga membuat sebuah pulau yang berjarak cukup dekat (+ 10 menit dengan perahu) dari Dermaga Kampung Rinca. Keempat mahasiswa Poltekpar NHI Bandung berhasil melakukan observasi setidaknya pada empat potensi daya tarik wisata alam yang ada di wilayah kerja Resort Kampung Rinca. Mahasiswa menyimpulkan bahwa Desa Pasir Panjang dinilai cukup layak untuk dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai destinasi wisata desa pesisir yang keberadaannya sangat penting dan dapat menjadi salah satu alternatif destinasi wisata di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Lebih lanjut, mahasiswa berharap agar berkembangnya wisata desa di Kampung Rinca turut dapat membantu peningkatan perekonomian masyarakat Rinca pada tahun yang akan datang. Resort Kampung Rinca merupakan salah satu resort jaga Balai Taman Nasional Komodo yang berada dalam wilayah tata ruang Zona Khusus Pemukiman. Resort ini memiliki mandat untuk menjaga kelestarian ekosistem, utamanya yang hidup di sekitar wilayah Desa Pasir Panjang. Desa Pasir Panjang memiliki tiga dusun atau masyarakat lokal menyebutnya dengan istilah kampung, yaitu: Dusun Rinca, Dusun Kerora, dan Dusun Kukusan. Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor: 106/KEP/HK/2021 Tanggal 30 April 2021 Tentang Perubahan Atas Lampiran Keputusan Bupati Manggarai Barat Nomor: 237/KEP/HK/2020 Tentang Penetapan Desa/Kelurahan Wisata di Kabupaten Manggarai Barat, Desa Pasir Panjang termasuk ke dalam 94 desa di Kabupaten Manggarai Barat yang ditunjuk menjadi Desa Wisata. Hal ini mendorong Balai Taman Nasional Komodo untuk turut mendukung perencanaan dan pelaksanaan aktivitas ekowisata di wilayah desa untuk dilakukan secara berkelanjutan dan tetap pada koridor peraturan yang berlaku. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Andreas Yudha Pratama Pah (+628122144066) dan Mahasiswa Manajemen Pengaturan Perjalanan Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Dewi Meisya Maulidda (+6289524383268) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Menelisik Potensi Daya Tarik Wisata Alam Resort Kampung Rinca

Labuan Bajo, 12 Desember 2022. Mahasiswa Magang dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Yudha Pamungkas, Andreas Yudha Pratama Pah, Joy Filip Oktavianus, dan Dewi Meisya Maulidda mengikuti kegiatan penjagaan pada tanggal 21 - 31 Agustus 2022 di Resort Kampung Rinca, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa yang lolos seleksi program magang Junior Park Ranger tersebut mendapatkan tugas untuk mengikuti seluruh aktivitas resort-based management (RBM) Resort Kampung Rinca dan menyelisik potensi wisata desa yang ada di Desa Pasir Panjang - Pulau Rinca. Berdasarkan SK Bupati Manggarai Barat No: 106/KEP/HK/2021 Tentang Perubahan Atas Lampiran Keputusan Bupati Manggarai Barat No: 237/KEP/HK/2020 Tentang Penetapan Desa/Kelurahan Wisata di Kabupaten Manggarai Barat, Desa Pasir Panjang ditetapkan sebagai salah satu dari 94 desa wisata di Kabupaten Manggarai Barat. Hal ini tentunya mendorong pemerintah Desa Pasir Panjang dan Balai Taman Nasional Komodo untuk menelisik lebih lanjut potensi daya tarik wisata alam di sekitar wilayah administrasi Desa Pasir Panjang – Pulau Rinca guna menentukan model pengembangan wisata desa pesisir di dalam kawasan konservasi yang paling sesuai. Mahasiswa magang Politeknik Pariwisata NHI Bandung memiliki inisiatif untuk melakukan pemetaan jalur trekking wisata Desa Pasir Panjang dan menghitung daya tampung wisata dalam setiap jalur trekking tersebut. Mahasiswa berupaya memetakan dua jalur trekking yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan wisata yaitu jalur trekking ke Batu Balok dan jalur trekking ke Gua Kalong. Pada kedua jalur trekking tersebut, wisatawan juga dapat mengamati sarang biawak komodo dari dekat dan berkesempatan untuk menjumpai biawak komodo yang melintas di sepanjang jalur trekking tersebut. Selain menyelisik potensi obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) di sekitar wilayah desa, mahasiswa juga melakukan mini assessment untuk mengetahui kualitas pemanduan naturalist guide yang mendampingi wisatawan berwisata di Desa Pasir Panjang serta membuat analisa SWOT terhadap rencana pengembangan Desa Wisata Kampung Rinca di Desa Pasir Panjang. Mahasiswa juga menyampaikan bahwa pengelolaan desa wisata bukan hanya menitikberatkan pada keindahan alam, namun juga menekankan pentingnya diversifikasi atraksi sosial budaya yang dapat dinikmati oleh wisatawan saat berkunjung ke wilayah desa. Pariwisata harus bisa menjadi instrumen penguat nilai budaya masyarakat, sehingga nilai kearifan lokal tetap lestari dan dapat dihargai oleh wisatawan yang berkunjung. Desa Pasir Panjang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi. Wisatawan yang berkunjung ke Desa Pasir Panjang dapat menjumpai biawak komodo (Varanus komodoensis), kakatua kecil jambul kuning (Cacatua sulphurea), rusa timor (Rusa timorensis), kerbau air (Bubalus arnee), kalong besar (Pteropus vampyrus), kelelawar kubu nusa tenggara (Dobsonia peronii), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), dan berbagai jenis ular berbisa yang kerap mendiami serasah daun di pedalaman hutan. Selain kekayaan biodiversitas, Desa Pasir Panjang juga memiliki beberapa ODTWA yang unik, diantaranya: Batu Balok, Gua Kalong, Strawberry Stone, dan Pulau Kalong. Lebih lanjut, masyarakat Desa Pasir Panjang dengan pendampingan dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berhasil membentuk sebuah komunitas seni bernama Animal Pop Komodo yang menampilkan berbagai tarian modern (modern dance) bagi wisatawan. Menurut jadesta.kemenparekraf.go.id status Desa Pasir Panjang merupakan Desa Wisata Rintisan. Menariknya, meskipun merupakan Desa Wisata Rintisan, desa ini sudah memiliki Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) bernama Native Rinca yang kerap menerima kunjungan wisatawan mancanegara secara rutin yang berpotensi mengubah status desa menjadi Desa Wisata Mandiri secara bertahap. Dalam rangka mendukung perubahan status tersebut, mahasiswa juga turut berkontribusi dengan menyusun bentuk model pengembangan desa wisata mandiri yang dapat diterapkan di Desa Pasir Panjang. Lebih lanjut, mahasiswa juga telah membantu menghubungkan ragam ODTWA yang ada di sekitar desa dalam bentuk itinerary atau rencana perjalanan yang terpetakan untuk ditawarkan sebagai salah satu bentuk paket perjalanan wisata potensial. Sumber : Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Lukita Awang Nistyantara, S.Hut., M.Si. (+6285215959862) Penulis Berita: Mahasiswa Manajemen Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Yudha Pamungkas (+6282210465828) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.Sc. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Menilai METT TN Tesso Nilo

Pangkalan Kerinci, 9 Desember 2022. Penilaian efektifitas pengelolaan kawasan konservasi Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) tahun 2022 dengan metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT), Balai TN Tesso Nilo melaksanakan rapat penilaian bersama di kantor Balai, Senin (28/11). METT merupakan salah satu metode penilaian untuk kawasan konservasi, yang berguna untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang dimiliki oleh suatu kawasan tersebut. Penilaian dilakukan secara internal atau self assesment oleh Balai TN Tesso Nilo. Dalam Penilaian ini, Balai TN Tesso Nilo secara bersama mengumpulkan dan merumuskan masukan/rekomendasi dari seluruh pegawai dalam mengambil kebijakan untuk menyusun dan merencakan kegiatan yang dapat meningkatkan nilai METT di kawasan TN Tesso Nilo. Rapat penilaian dipimpin oleh Kepala Balai dan dihadiri oleh Kepala SPTN, Kepala Resort, dan Kepala Urusan, dan staf TN Tesso Nilo. Sumber : Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Pembinaan Masyarakat Peduli Api Rengganis Timur

Baderan, 9 Desember 2022. Balai Besar KSDA Jawa Timur menggandeng Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan – Ditjen Pengendalian Perubahan Iklim melaksanakan pembinaan masyarakat peduli api (MPA) di Desa Baderan - Situbondo pada 8 -9 Desember 2022. Kegiatan ini diikuti sekitar 30 anggota MPA Rengganis Timur yang telah dibentuk pada 2018 yang lalu. Pembinaan yang dilaksanakan di Balai Desa Baderan ini juga dihadiri oleh Tenaga Ahli Menteri KLHK, Ir. Taruna Jaya, M.Si dan Ariyanto, S.Ag. S.S. M.Hum, Kasubdit. Pencegahan Karhutla Anis Susanti Ariyati, S.Hut. M.Si., serta Kepala Bidang KSDAE Dinas Kehutanan Prov. Jawa Timur Ir. Basunando, MM. Selama dua hari, para peserta menerima materi-materi berupa teori dan praktek mengenai Kebijakan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Jawa Timur, Teknik Pengendalian Karhutla, dan Kelembagaan MPA. Menariknya pada pembinaan kali ini juga diberikan materi Pengembangan Site Ekowisata Avifauna oleh Birdpacker Indonesia. Hal ini diberikan mengingat sebagian besar anggota MPA juga berprofesi sebagai porter dan guide bagi para pendaki yang berkunjung ke Argopuro. Pada hari kedua, peserta melaksanakan praktek berupa simulasi pemadaman kebakaran hutan serta pembentukan kelembagaan MPA Rengganis Timur. Tampak wajah-wajah penuh semangat pada diri anggota MPA saat mempraktekkan pemadaman dengan berbagai peralatan yang telah disediakan. Pendakian Tenaga Ahli Menteri Ada cerita menarik dibalik dicetuskannya kegiatan pembinaan terhadap MPA Rengganis Timur ini. Semua berawal dari pendakian 2 tenaga ahli menteri KLHK, Taruna Jaya dan Ariyanto pada bulan Agustus yang lalu. Keduanya mendaki dari Baderan di Situbondo dan turun di Bermi, Probolinggo. Baderan dan Bermi merupakan desa penyangga dari Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang atau Gunung Argopuro yang dikelola oleh BBKSDA Jawa Timur. Gunung Argopura menjadi salah satu gunung favorit bagi para pendaki di Indonesia karena memiliki trek terpanjang di Pulau Jawa. Saat pendakian mereka didampingi oleh beberapa petugas Resort Konservasi Wilayah 23 Argopuro bersama beberapa porter yang juga anggota MPA. Selama perjalanan pendakian inilah keduanya banyak melakukan dialog dengan petugas, porter, maupun pendaki lain. Melihat kawasan suaka margasatwa yang memiliki beberapa padang savana yang menawan, namun juga menjadi potensi terhadap terjadinya kebakaran hutan. Akhirnya diputuskan untuk membina kembali MPA dengan pengetahuan pengendalian kebakaran hutan lahan. Dan melengkapinya dengan seragam serta peralatan pemadaman kebakaran hutan. Sebelum mengakhiri kegiatan Pembinaan MPA di Baderan, kedua Tenaga Ahli Menteri bersama Muspika Kecamatan Sumbermalang, tim dari BBKSDA Jatim serta Dit. PKHL melaksanakan penanaman bibit pohon di sekitar Desa Baderan. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jatim
Baca Artikel

Kelompok Tani Hutan Wanita Melati Indah Belajar Kerajinan Tangan

Pekanbaru, 8 Desember 2022 - Petugas Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I, Balai Besar KSDA Riau, yang diwakili Penyuluh Kehutanan (Fahrul Rozi Sembiring) dan TPHL anggota resort Buluh Cina (Gusmardianto) melakukan pendampingan Kelompok Tani Hutan (KTH) Wanita Melati Indah di Desa Buluh Cina, Kamis (1/12). Pendampingan dilakukan terhadap Kelompok Tani Hutan Wanita (KTHW) Melati Indah dengan melakukan pembuatan kerajinan tangan berupa piring berbahan lidi. Ketua Unit usaha Souvenir memimpin pembuatan produk tersebut dan saling berbagi ilmu serta pengalaman kepada anggota kelompok. Anggota kelompok terlihat antusias belajar membuat piring berbahan lidi tersebut. Di pertemuan selanjutnya, anggota kelompok menyepakati belajar membuat barang yang sama agar mereka semakin mahir. Karena sebagian anggota kelompok masih kesulitan dalam membuat dasar piring berbahan lidi tersebut. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Bersama Menyusun Rencana Pemberdayaan Masyarakat

Pekanbaru, 8 Desember 2022 - Konsultasi publik penyusunan dokumen Rencana Pemberdayaan Masyarakat (RPM) di sekitar kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Kerumutan, SM Tasik Serkap dan SM Tasik Besar Serkap Tahun 2022 sd 2026 digelar Balai Besar KSDA Riau, Selasa (29/11), di Aula Kantor Kecamatan Rengat Kab.Indragiri Hulu. Materi disampaikan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kab. Inhu sebagai narasumber dan pemaparan draft dokumen RPM yang disampaikan oleh Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Riau, Tommy S.P Sinambela. Setelah diskusi acara ditutup dengan foto bersama dan penanda tanganan Berita Acara Hasil Konsultasi Publik dengan beberapa poin meliputi : Acara yang dibuka oleh Kepala Seksi Pemanfaatan dan Pelayanan, Arry Purnama yang mewakili Kepala Balai Besar KSDA Riau turut dihadiri peserta dari Sekretaris Kec. Rengat, Kasi Pemerintahan Kec. Rengat Barat, Kasi Trantip Kec. Kuala Cenaku, Lurah Kerumutan, Kepala Desa Redang, Kepala Desa Danau Baru, Kepala Desa Rantau Bakung, Kepala Desa Sungai Guntung Tengah, Kepala Desa Kampung Pulau, Sekretaris Desa Pulau Gelang, Kasi Pelayanan Desa Pekan Heran, Tokoh masyarakat, Kepala Resort Kerumutan Utara, Kepala Resort Kerumutan Selatan dan Tim Bidang KSDA Wilayah I Rengat. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Keseruan Putri Konservasi di SM Bukit Rimbang Bukit Baling

Pekanbaru, 8 Desember 2022 – Serunya kunjungan dari para finaslis Putri Konservasi Riau 2022, Sukma Aulia Putri dan Jihan Saskia yang melakukan edukasi konservasi, sosialisasi dan pengambilan gambar di salah satu kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Bukit Rimbang Bukit Baling pada Selasa dan Rabu, 29 s.d. 30 November 2022. Para finalis Putri Konservasi Riau 2022 tersebut menuju sebuah desa yang sudah ada sebelum kawasan ditetapkan, yaitu Desa Aur Kuning, Kec. Kampar Kiri Hulu, Kab. Kampar melalui sungai Subayang dengan menggunakan piau (perahu bermesin). Butuh waktu sekitar 2 jam dari Desa Tanjung Belit untuk sampai lokasi. Di lokasi, para finalis langsung disambut adik - adik kecil yang sedang bermain dan mandi di sungai Subayang. Para finalis pun berkesempatan untuk menginap di lokasi dan dapat melihat aktivitas para nelayan mulai hilir mudik naik piau maupun para ibu berangkat mengambil buah buahan di hutan dan saat menyadap karet di kebu. Para finalis yang juga merupakan Duta Konservasi melakukan edukasi dan sosialisasi di sekolah dan melihat keanekaragaman aktifitas warga dan berwisata di air terjun batu dinding. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Menuju Masyarakat Sejahtera Dengan Bantuan Ekonomi Produktif

Pekanbaru, 7 Desember 2022 - Berlokasi di kantor Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV Dumai, Balai Besar KSDA Riau, melakukan penyerahan bantuan ekonomi produktif di sekitar kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Sungai Dumai, Kota Dumai dan di Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil, Kab. Siak, Kamis (30/11). Kegiatan ini merupakan bentuk pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi agar lebih mandiri dan mampu mengembangkan usaha sesuai dengan potensi masing-masing kelompok. Penyerahan bantuan ini diberikan langsung oleh Plt. Kepala Bidang KSDA Wilayah II, bapak Hartono kepada kelompok masyarakat yang berada di Kel. Bukit Timah dan Kel. Tanjung Palas, Kec. Dumai Timur, Kota Dumai. Masyarakat menyambut baik program dari Balai Besar KSDA Riau tersebut, yang sebelumnya pada 22 November 2022 juga telah diberikan bantuan kepada kelompok masyarakat yang berada di Desa Langkai, Kabupaten Siak. Kelompok masyarakat di sekitar TWA Sungai Dumai yang mendapat bantuan ekonomi produktif dari Balai Besar KSDA Riau berjumlah 3 (tiga) kelompok dan di sekitar SM Giam Siak Kecil hanya 1 (satu) kelompok yaitu kelompok tani hutan (KTH) Pandan Wangi, Kel. Tanjung Palas, Kota Dumai, dengan jenis usaha olahan makanan dan pertanian tebu, KT Gambut Berkah, Kel. Bukit Batrem, Kota Dumai dengan jenis usaha budidaya lele dan Pertanian Cabe, Kelompok Giat Rukun, Kel. Bukit Batrem, Kota Dumai dengan jenis usaha budidaya lele, Kelompok Maju Usaha, Desa Langkai, Kab. Siak dengan jenis usaha budidaya madu lebah Melifera. Masing-masing Kelurahan mendapatkan bantuan senilai Rp. 50.000.000 (lima puluh juta rupiah). Balai Besar KSDA Riau berharap kegiatan ini bisa berhasil, dikelola dan dimanajemen dengan baik serta kelompok masyarakat ikut menjaga kawasan serta menyampaikan ke masyarakat yang lain terkait kelestarian TWA Sungai dan SM Giam Siak Kecil. Kegiatan dihadiri Plt. Kepala Bidang KSDA Wil. II, Plt. Kepala SKW IV, Kepala Resort Dumai, Staf seksi dan Resort, Lurah Bukit Batrem, Kepala Desa Langkai dan Kelompok Masyarakat. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Konsinyering Identifikasi Batas Tanah Pulau Nusakambangan

Jakarta, 7 Desember 2022. Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi hadir sebagai narasumber dan peserta pada kegiatan konsinyering identifikasi batas tanah pulau Nusakambangan di Cilacap yang dibahas secara daring dan luring disertai kunjungan lapangan dari tanggal 30 November s.d 1 Desember 2022. Diharapkan hasil konsinyering ini diperoleh data dan informasi batas tanah pulau Nusakambangan sehingga dapat mendukung upaya pelestarian dan perlindungan kehati di kawasan konservasi yang berada di Pulau Nusakambangan. Konsinyering identifikasi batas tanah pulau Nusakambangan di Cilacap diawali dengan pembukaan dari Kepala Biro Pengelolaan BMN Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia yang dilanjutkan dengan diskusi pengumpulan data informasi terkait identifikasi batas tanah Pulau Nusakambangan di Cilacap. Kemudian dilanjutkan dengan menyeberang ke lokasi Pulau Nusakambangan untuk melihat kondisi pulau Nusakambangan yang saat ini sebagai areal lokasi pemasyarakatan bagi tahanan. Partisipasi ini atas undangan Kepala Biro Pengelolaan BMN Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan peserta dari berbagai instansi/lembaga meliputi Badan Geospatial, Kementerian Keuangan , Kantor Wilayah DJKN Jawa Tengah, Kementerian LHK, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian ATR/BPN/Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Wilayah ATR/BPN Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kabupaten Cilacap. Sumber : Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Menuju Efektivitas Kerja Sama Internasional

Jakarta, 7 Desember 2022. Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi berpartisipasi pada Rapat Kerja Monitoring dan Internasional Kerja Sama Bersifat Internasional Lingkup Ditjen KSDAE pada tanggal 24 s/ 25 November 2022 di Hotel Royal Pajajaran Bogor secara daring dan luring. Rapat ini dilaksanakan guna meningkatkan efektivitas penyelenggaraan Kerja Sama yang bersifat Internasional lingkup Ditjen KSDAE. Diharapkan dengan rapat ini , penyelenggaraan Kerja Sama yang bersifat Internasional lingkup Ditjen KSDAE dapat berjalan lebih efektif dan mendukung kegiatan konservasi sumber daya alam di Indonesia. Peserta yang menghadiri berasal dari Kementerian Luar Negeri , Kementerian Sekretariat Negara, Badan Intelejen Negara, Eselon 2 Lingkup KLHK terkait dan beberapa UPT TN/KSDAE KSDAE terkait serta Mitra Kementerian LHK terkait. Sumber : Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi
Baca Artikel

Sinergi Atasi Konflik Manusia dan Gajah

Pekanbaru,7 Desember 2022 – Balai Besar KSDA Riau melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I yang diwakili Kepala Seksi, bapak Sugito menghadiri rapat koordinasi penanganan konflik manusia dan satwa liar gajah sumatera di Kec. Gunung Sahilan, Kab. Kampar, Rabu (30/11). Koordinasi ini dilakukan karena beberapa kali terjadi interaksi negatif satwa gajah di beberapa desa lingkup Kec. Gunung Sahilan dan mengakibatkan kerusakan kebun sawit warga juga mencari alternatif solusi bersama dalam melakukan penanggulangan konflik manusia dan gajah. Sesi paparan, Balai Besar KSDA Riau menjelaskan prinsip2 penanganan konflik manusia dan satwa liar yang berpedoman pada Permenhut No 48 Tahun 2008, dimana perlu dukungan para pihak dalam penanganan konflik satwa dan dibentuk tim penanganan konflik yang melibatkan para pihak terkait. Rapat ini menghasilkan beberapa kesepakatan yakni akan dibentuknya tim penanganan konflik dengan melibatkan para pihak terkait yang dikoordinir oleh Camat dan Balai Besar KSDA Riau, strategi penanganan konflik dengan cara penggiringan gajah liar ke areal konservasi/greenbelt perusahaan HTI/HGU yang berada pada jalur lintasan gajah, dan sebagai alternatif solusi jangka panjang, pihak pemegang konsesi/HGU perlu melakukan pengkayaan/pembinaan habitat gajah dengan cara menanam tanaman pakan gajah pada jalur2 (koridor) perlintasan gajah. Rapat yang dipimpin oleh Camat Gunung Sahilan turut mengundang Balai Besar KSDA Riau, Balai TN Tesso Nilo, KPH Sorek, Kades lingkup Gunung Sahilan, Badan Kerjasama Antar Desa Gunung Sahilan, Tokoh masyarakat, Yayasan TNTN, pihak perusahaan (RAPP, WBL, Adi Mulia Agrolestari, Inti Indosawit Subur, Ganda Bumindo, dan Karya Industri Persada) Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

BBKSDA Riau Beberkan Hasil Verifikasi Data Keanekaragaman Hayati di Luar Kawasan Konservasi

Pekanbaru, 6 Desember 2022 - Balai Besar KSDA Riau menggelar rapat verifikasi terhadap hasil Kegiatan Inventarisasi Kawasan dengan Nilai Keanekaragaman Hayati Tinggi di luar KSA, KPA dan Taman Buru, di Ayola Hotel Pekanbaru, Selasa (29/11). Kegiatan inver kehati ini murni dilakukan di luar kawasan konservasi dengan tujuan untuk memperoleh data dan sekaligus menunjukan area-area di luar kawasan konservasi yang terindikasi memiliki keanekaragaman hayati tinggi, dan selanjutnya dapat memberikan arahan pengelolaan kepada para pengelola di tingkat tapak berdasarkan data dan informasi yang diperoleh tersebut. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Bapak Genman S Hasibuan, sangat mengharapkan peran aktif dari para pihak dalam memberikan informasi keberadaan tumbuhan dan satwa liar terutama yang dilindungi pada masing masing lokasinya dengan berbasis koordinat lokasi temuannya. Beliau juga menyampaikan agar keberadaan satwa liar dilindungi tersebut dapat disikapinya dengan bijaksana yang diikuti dengan upaya mitigasi dan konservasinya. Beliau juga menyampaikan tidak bisa dipungkiri bahwa interaksi negatif satwa liar yang selama ini terjadi hampir sebagian besar di luar kawasan Konservasi. Dinas LHK Provinsi Riau, Dinas Perkebunan dan BPHPL yang ikut memberikan paparan juga mendorong dan menguatkan pentingnya pendataan keanekaragaman hayati di luar kawasan Konservasi. Penyampaian hasil inventarisasi nilai kehati yang dilakukan Balai Besar KSDA Riau selama tahun 2022 seluas 711.502 Ha disampaikan oleh Kepala Seksi Perencanaan Perlindungan dan Pengawetan, Bapak Ujang Holisudin bahwa dari kegiatan inver kehati ini dapat memotret lokasi yang menjadi target survey apakah memiliki nilai kehati tinggi, sedang atau rendah karena sudah tergambar dalam peta hasil inver kehati tinggi di luar kawasan Konservasi. Diskusi dan tanya jawab menjadi penutup kegiatan sekaligus membangun kesepakatan dalam menyampaikan pelaporan kehati dan pemantauannya dengan para pemangku izin HGU dan izin HPHTI serta membangun sistem mitigasi interaksi negatif satwa luar pada masing masing lokasi di tingkat tapak. Hadir dalam acara ini perwakilan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Riau, Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Balai Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Hutan Lindung (BPHPL) , Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kampar, Kabupaten Pelelawan, Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Beberapa pemegang izin HPHTI dan HGU Sawit. Sumber : Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Jejak Komitmen Relawan Jaga Simpenan

Sidoarjo, 5 Desember 2022. Tahun ini adalah tahun ketiga kegiatan revitalisasi bufferzone Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan yang digagas dan dilaksanakan oleh ARPLH (Aliansi Relawan Peduli Lingkungan Hidup) Kediri beserta pihak terkait. Sejak dicanangkan pada tahun 2020, revitalisasi bufferzone telah berhasil menghijaukan sisi barat, utara dan selatan CA Manggis Gadungan. Berawal dari penanaman saat musim penghujan di akhir tahun 2020, dilanjutkan pemeliharaan saat musim kemarau begitu seterusnya hingga memasuki tahun ketiga. Membuka musim tanam tahun ini, Minggu, 4 Desember 2022, ARPLH bersama dengan CDK Trenggalek, DWP CDK Trenggalek, BKPH Pare, RKW 03 CA Manggis Besowo Gadungan, Pramuka Saka Wanabakti Kediri, Sispala SMAN 2 Pare, dan SMA Canda Birawa menanam sekaligus melakukan penyulaman terhadap tanaman tahun sebelumnya. Penanaman difokuskan di timur kawasan mengingat banyaknya tanaman yang mati di sisi timur diduga akibat serangan Ulat Tanah (Embug). 200 bibit tanaman yang terdiri dari Ficus benjamina, Ficus curzii, Ficus drupacea, Ficus elastica, Ficus religiosa, Ficus rumphii, Ficus albiphila, Ficus microcarpa dan Ficus glauca habis tertanam dalam sekejap. Hal ini tidak lepas dari turut sertanya Kelompok Masyarakat desa penyangga CA Manggis Gadungan binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Kelompok Masyarakat tersebut adalah Wana Lestari Desa Wonorejo, Alas Simpenan Sejahtera Desa Manggis, Wana Asri Desa Satak dan Joyo Sedulur Desa Asmorobangun. Dengan kegiatan lanjutan ditahun ketiga ini, semakin membuktikan komitmen dan konsistensi ARPLH dan pihak terkait dalam mewujudkan bufferzone menjadi hutan alam sekunder sebagai penyangga CA Manggis Gadungan. “Lima sampai sepuluh tahun lagi, kita akan melihat bufferzone ijo royo royo, menjadi penyokong alas simpenan Manggis sebagai habitat dan sumber pakan bagi satwa penghuninya” tandas Ari Purnomo Adi, ketua ARPLH mengungkapkan mimpi dan harapannya untuk bufferzone. Sumber : Siti Nurlaili – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Efektivitas Pengelolaan TN Gunung Rinjani Dinilai

Mataram, 1 Desember 2022. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menggelar penilaian (assessment) sejauh mana pengelola kawasan telah secara efektif dikelola sejalan dengan nilai-nilai penting kawasan dan tujuan pengelolaan yang telah ditetapkan pada saat kawasan ditunjuk, Selasa (29/11). Instrumen/alat penilaian yang digunakan berupa METT (Management Effectiveness Tracking Tool) untuk mengevaluasi secara mandiri (self assessment). METT dipilih karena metoda ini dibuat untuk menilai kawasan konservasi pada level site/ lokal/ lapangan, sehingga memungkinkan staf/ petugas dari suatu kawasan konservasi menjawab pertanyaan-pertanyaan pada METT. Hal ini disebabkan METT dibuat sedemikian rupa sehingga mudah untuk diaplikasikan dan dijawab oleh para pengelola kawasan, tanpa perlu melakukan tambahan penelitian khusus. Adapun hasil dari penilaian efektivitas pengelolaan TNGR di tahun 2022 adalah 79% atau meningkat 8% dibandingkan tahun 2021 dengan nilai 71%. Dalam sambutannya kepala Balai TNGR menyampaikan "Sangat penting melakukan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan, untuk mengetahui sejauh mana pencapaian atas kerja-kerja selama ini. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana melaksanakan hasil rekomendasi yang disusun secara bersama-sama demi meningkatkan efektivitas pengelolaan TNGR kedepannya. Efektivitas pengelolaan di lapangan merupakan elemen kunci dari suksesnya pencapaian agenda pembangunan konservasi sumber daya alam dan ekosistem di Indonesia". Penilaian ini dihadiri sekitar 33 peserta secara luring dan 15 orang secara daring yang terdiri dari Pejabatan Eselon III dan IV lingkup Balai TNGR, Kepala Resort, Pokja Pengamanan dan perlindungan, Pokja Kehati, Pokja Perlengkapan dan Rumah Tangga, Pokja Perencanaan dan Kerjasama, Pokja Evaluasi dan Kehumasan, Pokja Keuangan dan Pokja Kepegawaian dan Umum lingkup Balai TNGR. Kegiatan yang dipandu oleh fasilitator dari Balai TNGR memiliki beberapa kategori yang dinilai antara lain, profil kawasan, input, planning, proses, output dan outcome yang masing-masing di dalamnya terdapat score yang harus dipilih berdasarkan kondisi kawasan. Sumber : Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Kembalinya Katak Pelangi Yang Hilang Lebih Dari 100 Tahun

Pontianak, 28 November 2022. Dari kegiatan Scientific Exploration and Expedition Cagar Alam (CA) Gunung Nyiut 2022, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Kalbar) bersama peneliti muda – botanist menemukan kembali Sambas stream Toad yang hilang di habitat aslinya di Indonesia, dengan waktu penjelajahan yang relatif singkat – kurang dari 10 hari – dan hujan yang turun setiap hari. Katak Pelangi (Ansonia latidisca) atau Sambas stream Toad, pertama kali ditemukan pada tahun 1893 oleh seorang ahli botani asal Jerman, Johann Gottfried Hallier, di bagian hulu Sungai Sambas, di puncak Gunung Damus – berada di sekitar Gunung Nyiut – yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat. Nah, semenjak itulah, katak kharismatik yang cantik dan berukuran mini ini tidak pernah ditemukan kembali di bagian wilayah Indonesia. Walaupun, beberapa temuan terjadi di wilayah pegunungan Penrissen, Sarawak Malaysia, yang terakhir adalah tahun 2011 oleh sekelompok peneliti herpetologi. Akhirnya, 129 tahun berselang sejak pertama kali, Katak Pelangi itu teramati di wilayah Indonesia, seolah sejarah terulang, kembali seorang ahli botani berhasil menemukan Katak Pelangi. Tepat pada peringatann Hari Kemerdekaan RI ke-77 pada 17 Agustus 2022 yang lalu. Sang Botanist Indonesia tersebut adalah Randi Agusti, yang juga tergabung dalam kegiatan Ekspedisi dan Explorasi Gunung Nyiut 2022, yang digagas oleh BKSDA Kalbar. Pertemuan yang Tidak Terduga Dengan Katak Pelangi “Sambas stream Toad lebih dari 100 tahun telah dinyatakan hilang. Bayangkan, dari 1893 pertama kali ditemukan di bagian hulu Sungai Sambas, di Gunung Damus, Bengkayang. Kemudian terakhir diinformasikan 1920 an. Setelahnya, sampai sekarang belum pernah ada laporan atau temuan lagi, di tempat aslinya katak pertama ditemukan, kawasan hutan hujan Indonesia, di Kalimantan Barat,“ kata Randi. Beberapa sumber menyebutkan, sejak pertama ditemukan dan kemudian terakhir kali dilihat dan dinyatakan hilang, Sambas stream Toad, ciri-ciri fisiknya hanya diketahui dari satu gambar ilustrasi atau sketsa berwarna hitam putih berdasarkan informasi dari penjelajah. Sambas stream Toad juga mempunyai ciri fisik: berkaki kurus dan panjang dengan tubuh bertotol-totol. Tubuhnya berukuran kecil. Panjangnya antara 30 – 50 mm. Kulit belakang berwarna hijau terang, ungu dan merah. Bintik-bintik berwarna pada kulit belakang tidak rata tetapi seperti batu kerikil atau mirip kutil. Dikutip dari National Geographic, seorang ahli Amfibi dari Conservation International, Robin Moore, mengatakan, kulit seperti itu biasanya menunjukkan tanda-tanda adanya kelenjar racun. Nama pelangi yang kemudian disematkan pada Sambas stream Toad, karena, pada kulitnya mempunyai pola warna hijau terang, ungu dan merah. Dari ciri tersebutlah, kalau katak yang ditemukan dan lihat di Gunung Nyiut, Kabupaten Landak, adalah Sambas stream Toad atau Katak Pelangi. Saat ditemukan, sepertinya ia sedang berkamuflase mengikuti warna helai daun tempatnya bertengger. Kamuflase sendiri merupakan cara satwa untuk mengelabui musuhnya. Berdasarkan informasi, Sambas stream Toad atau Katak Pelangi ini memang aktif di malam hari di sekitar sungai yang berbatu-batu atau stream. Setelah penemuan, Tim ekspedisi botanist masih belum menyadari, kalau katak tersebut merupakan Sambas stream Toad. Bahkan, hingga tiba kembali di Kantor BKSDA Kalbar di Kota Pontianak, usai ekspedisi dan eksplorasi. Sampai akhirnya, baru tersadarkan tiga hari kemudian, setelah tim kembali di Kota Bogor, Jawa Barat. Dengan penemuan kembali Sambas stream Toad, Kepala Balai KSDA Kalbar yang menjabat saat itu, Sadtata Noor Adirahmanta, yang juga terjun langsung dalam penjelajahan, mengatakan, kegiatan Jelajah CA Gunung Nyiut oleh BKSDA Kalbar dan para pihak terkait, telah mendapatkan capaian yang luar biasa. “Beberapa spesies tumbuhan baru sudah ditemukan dan dikonfirmasi memang merupakan spesies baru. Bahkan ada beberapa di antaranya merupakan New Record atau belum pernah ditemukan di Indonesia. Dan, tentunya salah satu yang paling spektakuler adalah adanya temuan salah satu jenis satwa Amfibi, dimana catatan informasi gambaran spesimen diketahui dikumpulkan penejalah pada 1920 an, setelah lebih 100 tahun ditemukan kembali oleh tim ekspedisi kita,” kata pria yang akrab dipanggil Sadtata, bersemangat. Di samping hal ini merupakan sebuah capaian luar biasa, ada pesan penting yang perlu disadari, yaitu bahwa sebagai pemangku kawasan atau pengelola kawasan, ternyata masih banyak ruang yang harus disentuh dalam melaksanakan amanah pengelolaan kawasan. “Masih banyak ruang pengelolaan yang belum kita garap. Ini sangat menantang. Adanya satu temuan artinya menunjukkan ada banyak hal lainnya yang belum kita temukan. Ini seharusnya menjadi titik tolak kita untuk melakukan penjelajahan lebih luas lagi. Dan saya yakin akan temuan-temuan baru berikutnya yang akan segera menyusul,” ujar Sadtata. Pada kesempatan berbeda, RM Wiwied Widodo menegaskan kembali komitmen dan dukungannya terhadap keberlanjutan ekspedisi dan eksplorasi kehati di CA Gunung Nyiut maupun kawasan hutan konservasi lainnya di Kalimantan Barat. Langkah-langkah strategis konservasi keanekaragaman jenis endemik CA Gunung Nyiut akan disiapkan agar penemuan kelimpahan jenis-jenis baru dapat diungkap. Terkait dengan penemuan Sambas stream toad, RM Wiwied Widodo akan merancang survey habitat dan pendugaan populasi agar dapat memberikan deskripsi sebaran jenis ini di CA Gunung Nyiut. Namun beliau juga mengingatkan bahwa informasi terkait koordinat distribusi Sambas stream toad perlu dirahasiakan, mengingat spesies ini merupakan incaran kolektor fauna bernilai tinggi. “ Paling utama adalah hasil temuan yang diperoleh segera dilakukan kajian dan dipublikasi pada jurnal ilmiah, agar upaya patenisasi dalam rangka pengamanan bioprospecting dapat dilakukan sejak dini ”. Jadi, dengan adanya sebuah temuan yang luar biasa ini, setelah 129 tahun tidak terlihat lagi di wilayah Indonesia, yang merupakan tempat pertama kali Katak Pelangi ini ditemukan, pada 1893, selanjutnya, diperlukan studi-studi lanjutan. Seperti memantau dan mencatat populasinya. Melakukan observasi yang lebih luas untuk mengetahui distribusinya. Dan, yang paling penting adalah tetap menjaga kelestarian habitatnya dan meningkatkan upaya perlindungan kawasan dari ancaman-ancaman. Dengan kembalinya Sambas stream Toad, sekali lagi mari kita ucapkan: ‘Welcome Home Sambas Stream Toad’ atau ‘Selamat datang kembali hai! Katak Pelangi di rumahmu, sejak pertama kali dirimu ditemukan dalam rimba belantara hutan hujan Kalimantan, Indonesia.’ Sumber: Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Barat Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai KSDA Kalbar - RM Wiwied Widodo, S.Hut, M.Sc (081249317617) BKSDA KALIMANTAN BARAT: Jl. A Yani 121 Pontianak Kalimantan Barat 78124, TElp (0561) 735635; 760949 / Fax. (0561) 747004 Call Center: 08115776767

Menampilkan 1.297–1.312 dari 2.311 publikasi