Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Balai TN Tesso Nilo Dampingi Polres Pelalawan Olah TKP Kasus Jual Beli Lahan

Pelalawan, 31 Januari 2023. Petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Lubuk Kembang Bunga (LKB), Balai Taman Nasional Tesso Nilo, melakukan pendampingan kepada personel Penyidik Unit II Polres Pelalawan untuk melakukan olah TKP atas kasus penipuan jual beli lahan yang berada di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Polres Pelalawan dan petugas SPTN Wilayah I Lubuk Kembang Bunga telah mencari, mengumpulkan, menganalisa, mengevaluasi petunjuk-petunjuk, keterangan dan bukti yang ditemukan di TKP yang berguna untuk memberi arah terhadap penyidikan dan mengidentifikasi kasus. Sementara itu, tim SPTN II baserah juga melaksanakan patroli kawasan untuk mencegah aktifitas illegal di dalam kawasan dan kegiatan gotong royong membersihkan Kantor SPTN Wilayah II baserah. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Terus Berikan Himbauan, Untuk Stop Illegal Logging

Lubuk Kembang Bunga, 31 Januari 2023. Petugas Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) melakukan pertemuan bersama masyarakat mitra Polhut (MMP), PT. Sarbi, dan PT. Sonokeling di Desa Bagan Limau, patroli dan sosialisasi pada tanggal 18-23 Januari 2023. Pertemuan tersebut digelar untuk berdiskusi tentang progres kegiatan Rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) di TN Tesso Nilo hingga solusi yang akan dilakukan. Di lokasi lain, tim patroli Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Baserah melakukan kegiatan patroli ke arah perbatasan dengan kawasan buffer zone konsesi PT. RLZ, dan ditemukan bekas stekingan menggunakan alat berat yang hanya berjarak 50 meter dari batas kawasan TN Tesso Nilo. Dari hasil temuan tersebut, petugas berkoordinasi dengan PT. RLZ dan ternyata pihak PT. RLZ telah melakukan penangkapan 1 unit alat berat pada tanggal 15 Januari 2023 dan saat ini telah diproses hukum oleh Reskrim Polres Pelalawan. Petugas kemudian memasang plang peringatan di sekitar areal stekingan karena sangat dekat berbatasan langsung dengan kawasan TN Tesso Nilo serta melakukan sosialisasi ke masyarakat Kuala Renangan untuk menjaga keutuhan hutan TN Tesso Nilo. Patroli di wilayah AM/Sungai Tapa, sosialisasi juga diberikan untuk tidak melakukan tindak pidana hutan seperti, perambahan, illegal logging, pembakaran hutan, dan lainnya. Tak jauh dari lokasi sosialisasi ditemukan tumpukan kayu olahan campuran berupa papan dan broti dari jenis meranti, kelat, dan pisang – pisang. Petugas lalu menghitung jumlah, mengambil dokumentasi, merusak beberapa bagian dan melaporkan ke RT setempat sekaligus mengingatkan agar RT ikut menghimbau warganya untuk tidak lagi melakukan illegal logging. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Silaturahmi Dharma Wanita UPT KLHK Provinsi Riau

Pangkalan Kerinci, 31 Januari 2023. Dharma Wanita Persatuan UPT KLHK di Provinsi Riau menghelat pertemuan akbar untuk melaksanakan program kerja dan meningkatkan silaturahmi antar anggota di Kantor Balai TN Tesso Nilo, Senin (27/1). Pertemuan ini digelar oleh Dharma Wanita Balai TN Tesso Nilo dan dihadiri oleh perwakilan dari masing-masing Dharma Wanita seluruh UPT KLHK di Provinsi Riau. Pertemuan juga dihadiri oleh Ketua DWP UPT KLHK Provinsi Riau Ibu Daryati Genman Hasibuan. Pertemuan diisi dengan pemberian penyuluhan kesehatan kepada seluruh peserta dengan tema “Peranan KB dalam meningkatkan kualitas hidup wanita, bukan sekedar berkontrasepsi”. Selain itu peserta pertemuan juga melakukan pemanenan ekoenzim yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya. Peserta antusias mengikuti setiap rangkaian acara dan pertemuan diakhiri dengan foto bersama. Dharma Wanita TN Tesso Nilo menyampaikan harapan dengan pertemuan yang telah dilaksanakan dapat menyambung silaturahmi antar anggota dan meningkatkan kualitas hidup para anggota Dharma Wanita. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Upaya Pemberdayaan Masyarakat di Desa Sikijang

Baserah, 31 Januari 2023. Penyuluh dan Kepala Resort Nilo, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) melakukan koordinasi dan konsultasi ke Pemerintah Desa Sikijang, Kecamatan Logas Tanah Darat, Kecamatan Kuantan Singingi, Rabu (25/1). Koordinasi dilakukan untuk meningkatkan komunikasi dan sosialisasi program pemberdayaan masyarakat yang diinisiasi oleh Balai TN Tesso Nilo Tahun 2023. PJ Kepala Desa Sikijang menyambut baik dan bersedia menerima bantuan fasilitasi usaha ekonomi produktif dari Balai TN Tesso Nilo dengan menandatangani surat pernyataan kesediaan menerima bantuan ekonomi bagi masyarakat, khususnya pada KTH Desa Sikijang. Pemerintah dan BPD Desa Sikijang menyampaikan akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat Desa Sikijang yang akan menjadi calon anggota kelompok KTH penerima bantuan ekonomi. Pertemuan berikutnya akan dilakukan rapat/musyawarah bersama dengan calon kelompok untuk membahas terkait kelembagaan dan rencana usaha kegiatan kelompok. PJ Kepala Desa Sikijang Abu Nawas menyampaikan harapan dengan adanya program pemberdayaan masyarakat dari BTN Tesso Nilo ini dapat membantu menambah pendapatan dan mensejahteraan masyarakat Desa Sikijang. Pada kesempatan ini tim juga menyampaikan draft kesepakatan konservasi antara Kepala Balai TN Tesso Nilo dan PJ Kepada Desa Sekijang terkait komitmen dalam mendukung pengelolaan TN Tesso Nilo secara lestari dan pembinaan/pendampingan kegiatan usaha produktif kelompok masyarakat Desa Sikijang. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo
Baca Artikel

Implementasi Konsep One Health, BKSDA Sumsel Gelar Seminar dan Pelatihan Penanganan Primata Hasil Sitaan

Palembang, 31 Januari 2023 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) bersama The Aspinall Foundation Indonesian Program (TAF-IP) menyelenggarakan seminar sehari dan pelatihan penanganan primata hasil sitaan atau serahan pada Senin (30/01), di kantor Resort Konservasi Wilayah IV Kota Palembang. Kegiatan ini guna penyelamatan dan penanganan primata hasil sitaaan atau serahan sukarela untuk melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan protokol dan prosedur yang ada serta mengantisipasi potensi terjadinya zoonosis. Salah satu konsep yang tumbuh mengenai hubungan manusia, satwa liar, dan lingkungan adalah One Health. Konsep ini lebih menekankan kemanunggalan kesehatan manusia, kesehatan satwa, kesehatan tumbuh-tumbuhan, kesehatan lingkungan, dengan kesehatan planet bumi sebagai sebuah kesatuan. Pendekatan One Health dilaksanakan dengan tiga prinsip, yaitu komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi. Hadir sebagai narasumber dalam seminar ini, Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, drh. Ida Mansur dari TAF-IP, dan drh. Wendi Prameswari dari YIARI, yang dilanjutkan dengan pelatihan melalui fasilitasi dari TAF-IP dan YIARI. Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata mengatakan bahwa 80% satwa liar bernilai penting dan terancam punah berada di luar kawasan konservasi, sehingga menyebabkan potensi interaksi negatif satwa dan manusia. Oleh karena itu, pengelolaan kawasan konservasi perlu didukung dengan upaya konservasi pada kawasan di sekitarnya. “Telah banyak regulasi terkini yang menjadi jalan tengah, misal koridor, bagaimana kawasan bernilai konservasi tinggi dikelola bersama oleh para pihak. Selain itu, juga terdapat pedoman bagaimana memperkuat dan mempertahankan kawasan konservasi tanpa membuka konflik baru, seperti kemitraan konservasi di dalam kawasan konservasi dan perhutanan sosial di luar kawasan konservasi”, kata Kepala Balai Ujang saat menyampaikan paparannya dengan tema perlindungan satwa liar di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera Selatan. Narasumber lainnya, drh. Ida Masnur dari TAF-IP menyampaikan materi tentang pengelolaan primata di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS)-Primata Jawa di Jawa Barat dan PRS-Lutung Jawa di Jawa Timur. Saat ini terdapat tiga jenis primata yang dikelola, yaitu lutung jawa (Trachypithecus auratus), surili jawa (Presbytis comata), dan owa jawa (Hylobates moloch). Dalam panduan rehabilitasi satwa yang dipedomani, Best Practise Guidelines for the Rehabilitation and Translocation of Gibbons, drh. Ida menjelaskan skema rehabilitasi satwa meliputi kedatangan satwa-karantina, fasilitas sarana dan prasarana yang dibutuhkan, pemeriksaan kesehatan, pengayaan perilaku, kajian lokasi pelepasliaran, dan animal welfare. Panduan rehabilitasi satwa tersebut juga dipedomani oleh YIARI dalam penanganan satwa. Dalam pemaparannya, drh. Wendi Prameswari dari YIARI menerangkan bahwa saat ini terdapat dua lokasi PRS Primata yang dikelola YIARI yaitu di Bogor (rehabilitasi kukang) dan Ketapang (rehabilitasi orangutan). “Penanganan atau proses evakuasi yang dilakukan YIARI terbagi menjadi dua upaya, yaitu rilis atau rehabilitasi. Proses rilis dapat dilakukan dengan kriteria kondisi kesehatan bagus, misalnya pada kukang dengan kondisi gigi bagus dan lengkap, tidak ada luka, serta mata normal. Sebaliknya, dilakukan rehabilitasi jika kondisi kesehatannya tidak baik”, ungkapnya. Dalam pelatihan penanganan primata hasil sitaan atau serahan, peserta diedukasi penerapan praktik handling satwa dan penanaman microchip pada satwa kukang sebagai obyek pembelajaran. Tujuan pemasangan microchip pada satwa adalah untuk identifikasi dan memudahkan penelusuran keberadaan satwa tersebut. Selain diikuti jajaran pegawai Balai KSDA Sumatera Selatan dan petugas PRS-RKW IV Kota Palembang, pada seminar dan pelatihan ini turut hadir dari unsur Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Palembang, Dinas Pemadaman Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Palembang, dan Yayasan ALOBI. Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Artikel

Angin Segar Upaya Penyelamatan Anoa Gunung Di Sulawesi Selatan

Makassar, 1 Februari 2023. Anoa gunung (Bubalus quarlesi) merupakan satwa endemik yang hanya ditemukan di Sulawesi sehingga dijadikan maskot salah satu provinsi di Sulawesi. Namun keberadaan anoa sebagai spesies kunci, spesies payung dan Flagship species semakin mengkhawatirkan. Terdesak oleh deforestari hutan, perburuan dan pertanian membuat populasi Anoa di alam semakin berkurang. Status konservasi Anoa gunung Endangered berdasarkan daftar IUCN dan satwa ini dilarang dalam segala bentuk perdagangan internasional (Appendices I CITES). Di Indonesia, satwa Anoa gunung dilindungi berdasarkan peraturan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Angin segar terkait pelestarian anoa gunung terdengar diawal tahun 2023, dalam Ekspose dan Seminar Hasil Survei Kamera Jebak Satwa Anoa pada Selasa, 17 Januari 2023 di Ruang Pola Kantor Bupati Kabupaten Sinjai. Dimana berdasarkan hasil review dari tangkapan 12 kamera jebak yang terpasang selama 1 bulan di Taman Hutan Raya (Tahura) Abdul Latief Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan diketahui terdapat 2 jenis aves dan 7 jenis mamalia yang berhasil terekam, dan 8 diantaranya telah teridentifikasi pada tingkat spesies dan 1 jenis teridentifikasi pada tingkat famili. Anoa gunung adalah salah satu jenis mamalia yang berhasil terekam dalam kamera jebak. Kamera jebak tersebut dipasang dalam kegiatan Inventarisasi dan Verifikasi (INVER) keanekaragaman hayati dan ekosistem di luar KPA, KSA dan TB yang dilakukan oleh tim gabungan dari Fauna dan Flora International (FFI) dan PEMDA Sinjai dalam hal ini pengelola Tahura Abdul Latief Kabupaten Sinjai dibawah naungan perjanjian kerjasama Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dengan FFI. Keberadaan Anoa di Tahura Abdul Latif dapat merubah peta sebaran Anoa dan Musang yang dibuat oleh IUCN. Hal ini merupakan sebuah kemajuan dalam upaya penyelamatan Anoa gunung. Selain itu, temuan Anoa gunung di Tahura Abdul Latief yang merupakan bagian dari bentang alam pegunungan Lompobattang Bawakaraeng diharapkan menjadi pemicu keseriusan Pemerintah Daerah Sinjai untuk mengambil peran dalam upaya penyelamatan anoa di Sulawesi Selatan. Supporting pelingkupan data dan informasi melalui inventarisasi dan verifikasi (INVER) keanekaragaman hayati dan ekosistem di luar KPA, KSA dan TB tertuang dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) Perjanjian Kerjasama antara Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dengan Fauna & Flora International’s Indonesia Programme Wilayah Sulawesi yang merupakan penjabaran dari Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan FFI. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: BBKSDA Sulawesi Selatan Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Ekspose dan Seminar Hasil Survei Kamera Jebak Satwa Anoa

Sinjai, 1 Februari 2023 – Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan memberi apresiasi pada Ekspose dan Seminar Survei Kamera Jebak (Camera Trap) Satwa Anoa, Jumat (17/1). Kegiatan Ekspose dan Seminar ini dilaksanakan berdasarkan hasil kegiatan identifikasi satwa bernilai penting jenis satwa anoa di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Abdul Latief, Kabupaten Sinjai, Provinsi Sulawesi Selatan. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir Jusman membuka acara didampingi Pejabat Sekretaris Daerah Sinjai, Andi Jefrianto Asapa (ASA), yang dilanjutkan dengan pemaparan hasil survei camera trap oleh Fauna dan Flora International (FFI). Dalam paparan yang disampaikan, berdasarkan hasil review terekam 9 jenis satwa diantaranya adalah anoa gunung (Bubalus quarlesi), musang sulawesi (Macrogalidia musschenbroekii), kera hitam sulawesi (Macaca maura), sus selebesis/ babi kutil dll yang terekam pada 6 camera trap. Selain itu, hasil survei juga menapilkan data terkait jejak kotoran, kaki dan pakan satwa. PEH Muda Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Muhammad Idham Aliem turut menyampaikan materi terkait Nilai Penting Spesies Anoa dan Ancamannya yang dimoderatori oleh Bapak Nasrul dari Dinas Lingkungan Hidup Sinjai. Dr. Ir. Abdul Haris Mustari (Akademisi IPB) sebagai penanggap menyampaikan bahwa “Keunggulan komparatif dan fungsi utama Tahura Abdul Latief adalah konservasi in-situ (konservasi di habitat aslinya) dan dapat dikembangkan menjadi biodiversity-ecotourism, mengenalkan kepada masyarakat luas akan peran penting biodiversitas flora dan fauna sulawesi. Karena itu dibutuhkan peran aktif para pihak (pemerintah, masyarakat, LSM, journalist, dll) untuk melestarikan anoa dan seluruh biodiversitas serta ekosistem Pegunungan Lompobattang-Bawakaraeng”. “Apresiasi kepada Bupati Kab. Sinjai dan jajaran serta Kerjasama Balai Besar KSDA Sulsel dan FFI yang telah melaksanakan survei kamera jebak pada landscape Bawakaraeng-Lompobattang. Dan Kedepannya perlu dipastikan keberlanjutan kegiatan Inver anoa ini baik dari sisi pelaksanaan maupun pendanaan”, ujar Ir. Badiah dalam tanggapan Kepala Sub Direktorat Pengawetan Spesies dan Genetik Direktorat KKHSG. Diakhir kegiatan Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, Ir. Jusman dalam interaksi melalui video conference dengan Kasubdit Pengawetan Spesies dan Genetik Ir. Badiah menyampaikan “Semoga program kerjasama antara Balai Besar KSDA Sulsel dengan FFI bisa didukung oleh Direktorat KKHSG”. Kesimpulkan giat ini bahwa Anoa terbukti ada di Tahura Abdul Latief, dan akan dibentuk kelompok perlindungan TSL serta pendanaan berkelanjutan untuk pelestarian TSL. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring dan luring ini, turut dihadiri oleh Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik (KKHSG), Balai Besar KSDA Sulsel, Unsur Pemerintah Provinsi, Unsur Forkopimda Kab. Sinjai, Unsur Pemerintah Kabupaten, Akademisi, Media dan Pemerhati Lingkungan. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: BBKSDA Sulawesi Selatan Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Edukasi Primata Melalui Kampanye Hari Primata Indonesia

Makassar, 30 Januari 2023 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) berpartisipasi pada kampanye Hari Primata di area Car Free Day Kota Makassar, Minggu (29/1). Kampanye ini untuk memperingati Hari Primata Indonesia yang diinisiasi oleh Balla Konservasi Wallace dan diikuti juga oleh Sikola Ale, Fauna & Flora International, BBKSDA Sulsel dan Balai Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung. Kampanye dilakukan dengan membentangkan spanduk dan poster Hari Primata Indonesia yang bertema “Hidup Berdampingan Bersama Primata”. Selebaran, stiker dan souvenir Hari Primata juga dibagikan kepada para pengunjung. Hal ini sejalan dengan tujuan pelaksanaan kampanye yakni mengenalkan primata kepada masyarakat melalui edukasi tentang pentingnya primata dalam kehidupan. Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan juga berpartisipasi melalui mini exhibition yang menampilkan poster, banner dan leaflet tentang jenis-jenis satwa dilindungi. Kegiatan kampanye berjalan menarik dan interaktif dimana pengunjung antusias mengikuti kuis berhadiah souvenir menarik (tumbler, goodie bag, tas kain blacu dan peralatan makan). “Pengunjung stand Balai Besar KSDA Sulsel didominasi oleh anak muda dan keluarga dan mereka bertanya banyak hal. Salah satu pengunjung bertanya terkait bagaimana sebuah kawasan ditunjuk sebagai kawasan konservasi”, ujar Murniaty, Penyuluh Kehutanan Madya yang berpartisipasi dalam kampanye. Selain membagikan poster jenis-jenis satwa dilindungi tim kampanye Balai Besar KSDA Sulsel juga menampilkan hasil kerajinan dari kemitraan konservasi dimana kerajinan ini menarik perhatian beberapa pengunjung. Hujan deras sedari pagi tidak menyurutkan semangat masyarakat yang berkunjung ke area car free day untuk ikut berpartisipasi dalam kampanye. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya pengunjung yang bersua foto didepan spanduk dan poster Hari Primata Indonesia bahkan ada beberapa orangtua yang membawa anak-anak meraka untuk ikut berfoto. Ini merupakan hal baik agar anak-anak dapat mengetahui jenis-jenis satwa dilindungi sedari dini. Hari Primata Indonesia yang ditetapkan pada 30 Januari melalui inisiasi dari PROFAUNA sebagai bentuk keprihatinan terhadapat aktivitas perdagangan dan perburuan primata yang semakin tinggi. Peringatan Hari Primata dilakukan setiap tahun oleh berbagai Lembaga dan Komunitas pemerhati satwa yang bertujuan untuk memberikan penyadartahuan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga primata Indonesia. Hal ini juga menjadi upaya dalam menekan laju kepunahan terhadap primata Indonesia terhadap aktitas perusakan habitat dan perburuan. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Penanggung Jawab Berita: BBKSDA Sulawesi Selatan Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Inilah Sosok Nasir Siregar, Pejuang Orangutan dan Harimau

Medan, 30 Januari 2023. Nama lengkapnya Muhammad Nasir Siregar, tapi dia lebih dikenal dengan panggilan Regar Parmawas, artinya Siregar yang dekat dengan mawas (nama lain dari orangutan). Predikat ini bukan tanpa alasan. Nasir yang merupakan petani biasa, menjadi tidak biasa karena di luar aktivitas kesehariannya sebagai petani, Nasir juga memiliki kebiasaan masuk keluar hutan untuk mengamati dan mempelajari kehidupan satwa-satwa liar, terutama harimau dan orangutan (Regar Parmawas, OCSP, 2010). Nasir, anak keempat dari tujuh bersaudara, terlahir di Simaninggir, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, 48 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 Januari 1975, dari pasangan orangtua Abdul Rohim Siregar (ayah) dan Rosmina Ritonga (ibu), memiliki pekerjaan iseng masuk keluar hutan sejak usia remaja. Bedanya, kalau dulu ia masuk hutan untuk tujuan berburu, sekarang sebaliknya ia menjelajah rimba belantara hutan Batang Toru yang menjadi habitat dari satwa liar Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) untuk mengawasi kalau-kalau ada tangan jahil yang mencoba merambahnya atau mengusik satwa-satwa liar di dalamnya. Perubahan perilaku dan sejarah hidupnya dimulai ketika aparat Kehutanan yang mengetahui Nasir memiliki pengalaman memasuki kawasan Hutan Batang Toru, mempertemukannya dengan dua orang periset dari Orangutan Foundation International (OFI), Reny Joyo Astuti dan Christianahot Simanjuntak, yang kebetulan sedang membutuhkan tenaga asisten untuk melakukan riset orangutan di Batang Toru. Nasir diminta untuk membantu melakukan pengamatan perilaku orangutan selama Sembilan bulan di dalam hutan. Bermodal pendidikan seadanya, ia yang tamat pendidikan SD tahun 1987, SMP tahun 1989 dan SMA tahun 1992, memulai misi tugas pendampingan para peneliti. Pendidikan tidak menjadi halangan, kemauan belajar menjadi modal utama, itu motivasi diri yang ditanamkannya. Sampai pada akhirnya, dengan semangat yang meluap-luap untuk belajar serta menimba ilmu dari berbagai peneliti yang didampinginya, akhirnya menempatkan posisinya setara dengan para peneliti. Perlahan namun pasti, dalam proses belajar tiada henti, Nasir dapat memahami dengan baik perilaku Orangutan Tapanuli dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), mampu memonitor populasi dan daerah jelajah Orangutan Tapanuli, memiliki kemampuan meramu obat dari tanaman/herbal untuk alternative pengobatan bagi masyarakat, itupun setelah belajar dan mengamati Orangutan Tapanuli, menguasai landscape Batang Toru terutama di sekitar Cagar Alam (CA) Dolok Sibual-buali, Cagar Alam (CA) Dolok Sipirok dan sekitarnya, serta mampu mendeteksi dan mengenali tanda-tanda keberadaan satwa liar (kaisan, jejak, kotoran, sarang, dan lain-lain). Atas dedikasinya melakukan monitoring Orangutan di landscape Batang Toru dan membantu resolusi konflik satwa, Nasir diapresiasi oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Ir. Wiratno, M.Sc., saat itu, dengan Piagam Penghargaan Nomor : PI.134/KSDAE/SET/REN.2/10/2019 tanggal 22 Oktober 2019. Sepak terjangnya di konservasi alam tidak terhenti setelah menerima penghargaan, tetapi terus berkobar. Nasir semakin giat menyuarakan pentingnya melakukan upaya pelestarian alam dan lingkungan hidup melalui kegiatan edukasi bagi generasi muda dari kalangan pelajar serta pendampingan mahasiswa untuk penelitian. Potensi yang dimilikinya kemudian menjadi modal untuk bergabung sebagai pegawai honor di Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Bermula pada tahun 2002, Nasir diangkat sebagai anggota Manggala Agni pada Seksi Konservasi Wilayah IV Sipirok pada Balai KSDA Wilayah II, kemudian berlanjut pada tahun 2007 menjadi anggota Pengamanan Hutan (Pamhut) pada Seksi Konservasi Wilayah IV Sipirok, pada tahun 2010 menjadi anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) masih pada Seksi Konservasi Wilayah IV Sipirok, selanjutnya pada tahun 2014 sebagai petugas kebersihan di Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok dan pada tahun 2017 sampai dengan sekarang ini menjadi Tenaga Pengamanan Hutan Lainnya (TPHL) pada Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok. Sebagai TPHL, Nasir bersama rekan-rekan kerjanya di Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok terkadang harus melakukan tindakan-tindakan ekstrim, seperti penanganan kegiatan illegal loging, evakuasi harimau yang masuk dalam perangkap dan evakuasi satwa liar dilindungi yang dipelihara warga. Sadar bahwa kegiatan-kegiatan ekstrim ini mengandung resiko yang tidak kecil baik dari satwa liar, pelaku perambah maupun dari warga, bahkan menyabung nyawa, namun dengan keyakinan bahwa apa yang dilakukannya murni untuk menjaga dan melindungi satwa liar maupun habitatnya, Nasir terus melangkah menunaikan tugasnya, sembari berpasrah kepada Yang Maha Kuasa memohon perlindunganNya. Nasir sudah dan akan terus berbuat bagi konservasi alam. Semangat dan dedikasinya tentunya menjadi teladan dan inspirasi tidak hanya bagi rimbawan, tetapi juga bagi masyarakat yang sadar akan arti penting menjaga kelestarian alam. Semoga kedepan akan lahir Nasir Nasir lainnya yang membawa harapan baru kepada membuminya konservasi alam di Sumatera Utara khususnya, dan Indonesia umumnya. Sumber : Evansus Renandi Manalu, Analis Data – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Semangat Baru "Penguasa" Langit Biru

Cisarua, 31 Januari 2023. Cuaca sejuk berselimutkan kabut dan angin yang berhembus tipis-tipis mengiringi kepak sayap sang "garuda" terbang tinggi di langit hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Pada Senin 30 Januari 2023 digelar acara pelepasliaran Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) pada perbatasan Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor dengan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango wilayah Cisarua, yang juga merupakan kolaborasi antara Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (BTNGHS) dengan TSI. Diawali sepatah kata dari Plt Bupati Bogor H. Iwan Setiawan, S.E., beliau sangat mengapresiasi atas terlaksananya event pelepasliaran ini. Tak ketinggalan, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Wasja, menuturkan "Elang jawa yang direlease ini merupakan hasil breeding Parama (jantan) dan Jelita (betina)". Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Sapto Aji Prabowo, yang turut hadir pada sambutannya juga menyatakan "Momentum langka yang sangat baik ini untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam liar". Puncak acara, Direktur Konsevasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik, Ibu drh. Indra Exploitasia, M.Si. yang mewakili Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan secara langsung menyaksikan proses pelepasliaran satwa dilindungi tersebut sekaligus menerima buku elang jawa dari pihak TSI. Buku Burung TNGGP pun juga tersampaikan ke Bapak Bupati Bogor, Direktur KKHSG dan TSI yang diserahkan langsung oleh Sapto Aji Prabowo. Langkah nyata seperti ini semoga terus berlanjut sebagai upaya konservasi satwa dilindungi. Sebagai informasi, tamu undangan yang hadir sebanyak 40 orang termasuk Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) dan Pejabat Eselon III lingkup BBTNGGP. Sumber: Agus Deni @agustdenie - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Foto : Tim Publikasi BBTNGGP
Baca Artikel

Terlihat Jejak Si Belang, BBKSDA Riau MItigasi Interaksi Negatif

Pekanbaru, 28 Januari 2023. Balai Besar KSDA Riau bersama tim gabungan masih melakukan mitigasi interaksi negatif Harimau Sumatera (HS) di Kab. Siak tepatnya di Kel. Sungai Mempura, Kampung Merempan Hilir, Kab. Siak, Kamis (26/1). Setelah berkoordinasi dengan aparat di Kelurahan Sungai Mempura, diketahui informasi peegerakan harimau sumatera dan akan dilakukan pemantauan dari udara menggunakan drone. Dari hasil drone, Informasi didapatkan bahwa di wilayah tersebut belum ada tanda-tanda keberadaan harimau sumatera, akan tetapi pihak Kelurahan Sungai Mempura mengatakan bahwa di Kampung Merempan Hilir, Kerani kampung melaporkan bahwa warganya ada yang melihat jejak di perkebunan masyarakat. Setelah bergerak ke Kampung Merempan Hilir, didapatkan informasi bahwa jejak yang ditemukan warga terdapat di kebun sawit milik warga setempat. Tim gabungan kemudian melakukan crosscheck via telpon dan dibenarkan Bhabinkamtibmas Kampung Merempan Hulu bahwa memang ada warga yang melapor melihat jejak harimau sumatera di Kampung Merempan Hulu akan tetapi warga yang memberikan informasi tidak berhasil dihubungi karena masih bekerja di kebun yang jauh dari sinyal. Hingga saat ini, Tim gabungan masih menunggu kejelasannya untuk segera melakukan observasi di Kampung Merempan Hulu. Dan diperkirakan harimau sumatera tersebut sudah mengarah ke wilayah hutan Suaka Margasatwa (SM) Giam Siak Kecil dimana habitatnya berada. Namun Tim gabungan tetap memantau dan apabila ada warga yang mengetahui atau membutuhkan informasi keberadaan satwa dilindungi tersebut dapat menghubungi aparat terdekat atau ke call centre Balai Besar KSDA Riau di nomor 081374742981. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Mulai Masuk Pemukiman Warga, Kawanan Gajah Liar Digiring Keluar

Pekanbaru, 28 Januari 2023. Petugas Balai Besar KSDA Riau dari Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Holilludin, Misno dan Jakapas melakukan kegiatan mitigasi interaksi negatif satwa liar gajah sumatera dan manusia di Kel. Maharani, Kec. Rumbai Barat, Kota Pekanbaru, Rabu(25/1). Mitigasi ini menindaklanjuti laporan warga tentang adanya kawanan gajah liar yang berada di sekitar pemukiman mereka. Dari hasil koordinasi dengan warga pelapor terkait adanya gajah liar yang dilanjutkan dengan pengecekan, akhirnya dijumpai gajah liar sedang berada di sekitar kebun warga yang berdekatan dengan pemukiman. Dan ditemukan 1 (satu) unit pondok yang dirusak gajah liar, kemudian dilakukan pengusiran dengan menggunakan bunyi bunyian dan api unggun. Dalam pengusiran ini, kawanan gajah liar berhasil digiring menjauh dari pemukiman warga. Sampai dengan saat ini, Tim masih di lokasi mendampingi warga untuk mengantisipasi gajah kembali ke lokasi tersebut. Sumber: Balai Besar KSDA Riau https://youtube.com/shorts/SvE0NITgLes?feature=share
Baca Artikel

Mengenal 3 Jenis Ikan Endemik Rawa Gambut TN Sebangau

Palangka Raya, 30 Januari 2023 – Taman Nasional (TN) Sebangau kembali merilis potensi keanekaragaman air tawar jenis baru kali ini merupakan penghuni perairan gambut, jenis ikan air tawar yang bagi sebagian kita tidak terlalu penting namun sangat berarti bagi pengetahuan keanekaragaman hayati Kalimantan Tengah dan Indonesia. Yang pertama adalah jenis ikan Brevibora exilis sebagaimana tayangan instagram Balai TN Sebangau dengan akun @btn_sebangau tanggal 17 Januari 2023 termasuk ke dalam family Danionidae yang dahulu dikelompokan dalam family Cyprinidae. Mengulik hasil penelitian jenis ikan di Taman Nasional Sebangau dalam jurnal Peatland fish of Sabangau, Borneo oleh Thornton S.A, et al. 2017, jenis rasbora oleh masyarakat setempat disebut ikan seluang, terkelompok dalam satu family yakni Cyprinidae termasuk genus rasbora dengan 4 spesies yaitu Rasbora kalochroma, Rasbora cephalotaenia, Rasbora dorciocellata dan Rasbora kalbarensis. Dalam jurnal tersebut belum dijumpai jenis Brevibora exilis. Oleh Liao, T.-Y. & Tan, H.H. 2014 dalam jurnal berjudul Brevibora exilis, A new rasborin fish from Borneo, jenis ini ditemukan di cekungan sungai Kahayan dan sungai Sebangau Kalimantan Tengah. Ukuran tubuh relatif panjang dan ramping sekitar 25 mm yang sangat menonjol dari ikan ini mempunyai bercak hitam pada sirip atas (punggung). Jenis kedua adalah Betta hendra termasuk jenis ikan cupang atau dalam family Osphronemidae, jenis ini merupakan salah satu dari delapan jenis ikan cupang di TN Sebangau yang pernah dirilis oleh Dr. Sara A. Thornton dalam Mires and Peat, 2017: Peatland fish of Sabangau, Borneo yaitu : Betta anabatoides, Betta foerschi, Luciocephalus pulcher, Luciocephalus aura, Belontia hasselti, Sphaerichtys osphromenoides, Sphaerichtys acrostoma dan Trichopodus pectoralis. Betta hendra, dijelaskan oleh Schindler & Linke dalam jurnalnya yang berjudul Betta hendra – a new species of fighting fish (Teleostei: Osphronemidae) from Kalimantan Tengah (Borneo, Indonesia), 2013 merupakan anak varian dari spesies Betta cocchina. Betta hendra termasuk jenis ikan petarung berukuran antara 30-45 mm dengan warna-warni kehijauan cerah dibagian sisi tubuh, sirip tidak berpasangan dijumpai di rawa-rawa gambut dan saluran sungai Sebangau sebelah Selatan dan Barat Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Jenis ketiga adalah “cupang sebangau” Betta foerschi, sebagaimana jurnal Peatland fish of Sabangau, Borneo oleh Thornton S.A, et al. 2017, ikan ini pernah terdata di TN Sebangau, setelah dilakukan identifikasi lanjutan besaran dan warna ikan berbeda dengan yang pernah ditemukan. Secara umum Betta foerschi yang ditemukan sebelumnya berwarna biru polos tanpa motif sedangkan “cupang Sebangau” yang ditemukan berukuran 35-40 mm, berwarna emas kebiruan dengan garis motif hitam melintang tubuh. Berdasarkan hasil identifikasi sample hidup dan foto yang dilakukan oleh Teguh Willy Nugroho bersama Muhammad Iqbal Ridhany dibantu oleh komunitas pecinta ikan hias disimpulkan sebagai anak varian jenis baru dari Betta foerschi. Ikan Cupang Sebangau ini dijumpai pada anak sungai yang tenang dan rawa-rawa dangkal sedikit arus air. Menelisik status konservasi terhadap 3 (tiga) jenis ikan endemik ini melalui situs IUCN untuk jenis ikan seluang Kalimantan (Brevibora exilis) dalam status Near Threatened (NT) atau hampir terancam atau dalam kondisi mengalami penurunan spesies di alam, Cupang hendra (Betta hendra) dalam status Critically-Endangered (CR-EN) merupakan status kritis bagi spesies yang semakin mendekati kepunahan di alam, sedangkan “cupang sebangau” Betta foerschi berstatus endangered (EN) genting/ terancam atau dapat disebutkan bahwa kondisi spesies di alam sudah sangat sedikit menuju kritis. Ketiga jenis ikan ini kita syukuri sebagai pengetahuan dan penambah khazanah keanakeragaman yang kita miliki namun kita juga tidak boleh berhenti untuk terus melakukan eksplorasi potensi keragaman-keragaman hayati bangsa sebagai aset dan kekayaan berharga. Status konservasi ketiga jenis ini berada dalam kondisi yang tidak aman, hal ini terkait dengan aksi perburuannya dialam dan aktivitas menangkap ikan yang tidak arif misalnya dengan "menyetrum" dan atau meracun yang dampaknya dapat membunuh seluruh jenis biota air. Ketiga jenis ikan kecil ini bagi sebagian kita mungkin bertanya untuk apa ditangkap?, bukan menjadi kebutuhan? dan pertanyaan kekurang mengertian kita lainnya, namun sesungguhnya yang terjadi adalah jenis ikan kecil, unik seperti jenis seluang (rasbora, sp) dan cupang (betta, sp) telah menjadi komoditas dalam pasar ikan hias baik dalam maupun luar negeri dan harganya pun lumayan tinggi. Pembatasan atau regulasi terhadap ikan-ikan ini juga masih belum banyak kita jumpai, postingan Balai TN Sebangau mungkin hanya sample betapa negeri kita kaya raya, dan penelitian-penelitian yang dilakukan hanya sebatas pada tatanan akademis tidak kita lanjutkan menjadi informasi yang lebih sederhana sebagai pengetahuan publik. Merujuk Peraturan Menteri LHK Nomor P.106/ MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/ 2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi baru terdapat 20 jenis dari 7 family Ikan yang berstatus dilindungi untuk jenis ikan hias dan masih terbatas pada jenis siluk atau arwana. Sumber: Hidayat Turrahman, S.Hut – PEH Muda Balai Taman Nasional Sebangau
Baca Artikel

Berbagai Peningkatan Agility Balai TN Karimunjawa

Salatiga, 25 Januari 2023. Di sela-sela rapat kerja Balai Taman Nasional Karimunjawa, segenap peserta raker mendapat kesempatan menerima pembinaan pegawai dan motivasi dari Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE Bapak Suharyono, S.H.,M.Si. M.Hum, Rabu (25/1). Dalam arahannya beliau menyampaikan bahwa kita semua harus menjadi ASN yang handal ditengah berbagai faktor kondisi/permasalahan yang dihadapi yaitu faktor 'perubahan' (sangat cepat), 'tekanan', 'kepentingan (berbagai stakeholder), dan kondisi geopolitik. Untuk menjadi ASN Handal setidaknya harus memiliki berbagai kemampuan/agility diantaranya adalah super agility (kemampuan kita dalam menghadapi berbagai masalah), mental agility; people agility (kemampuan untuk bicara, bergaul, interaksi dan komunikasi dengan semua orang); learning agility (jangan malu belajar, belajar tidak hanya secara akademik); result agility (Dalam keadaan/kondisi apapun harus mampu menghasilkan kinerja sebaik-baiknya). Satu hal yang paling penting sebagai ASN adalah memiliki nilai-nilai yang positif sebagai ASN. Core value ASN adalah BerAKHLAK, yaitu Berorientasi pada pelayanan, Akuntabel (bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan), Kompeten (terus belajar dan mengembangkan kapabilitas); Harmonis (saling peduli dan menghormati perpedaan); Loyal (berdedikasi dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara); Adaptif (terus berinovasi dan antusias dalam menggunakan serta menghadapi perubahan) ; Kolaboratif (kerjasama dan bermitra dengan siapa saja; Beliau mengharapkan dengan ASN yang handal dapat menjadikan Balai Taman Nasional Karimunjawa sebagai organisasi pembelajar, organisasi yang dinamis, yang terus bergerak dan berkembang menjadi lebih baik. Sumber: Humas Balai Taman Nasional Karimunjawa
Baca Artikel

Perhatian Pemda Untuk Mitigasi Konflik Satwa Harimau Sumatera

Siak, 27 Januari 2023. Upaya penanganan interaksi negatif Harimau Sumatera (HS) yang terjadi di Kabupaten Siak sejak 18 Januari 2023 menjadi topik hangat pembahasan Rapat Korpinda Kabupaten Siak yang dipimpin Bupati Siak di Ruang Rapat Raja Indra Pahlawan, Kantor Bupati Siak, Kamis (25/1). Selain kejadian interaksi negatif harimau sumatera segera dapat diatasi, permasalahan banjir juga diharapkan dapat diatasi. Kepala Balai Besar KSDA Riau, Genman S. Hasibuan yan turut hadir menyampaikan bahwa upaya sedang dan akan dilakukan Tim gabungan di lapangan serta adanya dasar peraturan yang akan menjadi landasan dalam pelaksanaan penanganan interaksi negatif tersebut. Ucapan terimakasih kepada semua pihak baik pemerintahan daerah, TNI, Kepolisian, BPBD, Satpol PP, Camat, dan masyarakat yang secara bersama sama telah berupaya melakukan mitigasi di lapangan. Upaya yang akan dilakukan adalah melakukan monitoring dengan penambahan camera trap dalam rangka memastikan pola pergerakan dan kepastian individu harimau sumatera, patroli bersama dan pengecekan boxtrap serta melakukan himbauan, sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Rapat ini turut dihadiri Wakil Bupati Siak, Kepala Kejaksaan Negeri Siak, Kepala Pengadilan Negeri Siak, Kapolres Siak, Dandim Siak, Asisten Bupati, Para Kepala Dinas, seluruh Camat se Kabupaten Siak, Pimpinan Perusahaan serta tokoh masyarakat. Sumber: Balai Besar KSDA Riau
Baca Artikel

Upaya Konservasi Keluarkan TRHS dari Daftar Warisan Dunia Dalam Bahaya, Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO Kunjungi TNGL

Medan, 27 Januari 2023. Pada tahun 2004, UNESCO menetapkan 3 (tiga) Taman Nasional (TN) di Pulau Sumatra, TN Gunung Leuser, TN Kerinci Seblat dan TN Bukit Barisan Selatan sebagai Situs Warisan Alam Dunia Tropical Rainforest Heritage of Sumatra (TRHS). Tahun 2011, UNESCO memasukan TRHS ke dalam List of World Heritage in Danger (Situs Warisan Dunia Dalam Bahaya), akibat adanya kegiatan-kegiatan yg berpotensi menggangu nilai penting TRHS. Sejak saat itu, Pemerintah Indonesia dibantu oleh Komite Warisan Dunia menyusun dan melaksanakan rencana aksi dalam rangka upaya mengeluarkan TRHS dari List of World Heritage in Danger yang dituangkan dalam Dokumen Desired State of Conservation for Removal atau disebut DSOCR. Dalam rangka menghimpun gagasan dan informasi mengenai upaya sistematis melestarikan warisan alam dunia Indonesia, serta strategi mempercepat keluarnya TRHS dari List of World Heritage in Danger, telah dilaksanakan Kunjungan Kerja Duta Besar/Wakil Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Prof. Ismunandar ke TN Gunung Leuser pada Jumat (27/1). Kunjungan Duta Besar Ismunandar didampingi oleh Bapak Sekjen KLHK, Dr.Ir.Bambang Hendroyono, MM, Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi, Ir. Jefry Susyafrianto,MM. Pada kunjungan ini, Prof. Ismunandar melihat langsung upaya-upaya konservasi yang sudah dilakukan Balai Besar TNGL dalam rangka melindungi nilai penting TNGL sebagai TRHS, seperti Pusat Latihan Gajah di Tangkahan, Resort Cinta Raja dan berdiskusi dengan para pihak di Bukit Lawang. Kepala Balai Besar TNGL U. Mamat Rahmat menyampaikan telah melakukan banyak upaya untuk mengeluarkan TNGL dari List of WH in danger, diantaranya melakukan monitoring rutin, indentifikasi individu, serta kerjasama dengan multipihak. Keberhasilan upaya-upaya tersebut terlihat dari peningkatan tutupan lahan, banyaknya tanda-tanda satwa baru, tidak ada pembangunan jalan baru serta tidak ada pertambangan dalam kawasan. Mamat juga menyampaikan apresiasinya kepada tim patroli serta masyarakat yang pantang menyerah melakukan tugasnya di lapangan Prof Ismunandar berterima kasih atas undangan Ibu Menteri LHK untuk berkunjung ke TRHS dan mengapresiasi upaya-upaya yang telah dilakukan oleh TNGL, TNBBS dan TNKS sebagai satu cluster situs warisan alam dunia TRHS. "Upaya-upaya tersebut dapat disusun dalam sebuah laporan terpadu untuk 3 taman nasional sebagai satu kesatuan TRHS, yang dilengkapi dengan data time series", kata Prof. Ismunandar. Laporan ini yang akan digunakan sebagai bagian dari dokumen yang akan ditelaah oleh komite warisan dunia dalam rangka penilaian berkala TRHS. Prof Ismunandar juga menyampaikan proses boundary modification TRHS yang selalu disarankan UNESCO pada beberapa keputusan sidang komite. Sekjen KLHK, Bambang Hendroyono menyampaikan bahwa proses boundary modification sedang dilakukan. "Penting untuk menggunakan pendekatan scientific based, practical dan evidence based dalam pengelolaan TRHS" Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser Informasi lebih lanjut: Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser - U. Mamat Rahmat Penanggung jawab berita: Kepala Urusan Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan - Ahtu Trihangga Website: www.tngunungleuser.menlhk.go.id dan www.gunungleuser.or.id Youtube: Taman Nasional Gunung Leuser Facebook| Twitter: @tnleuser Instagram: bbtn_gunungleuser

Menampilkan 1.233–1.248 dari 2.311 publikasi