Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Membangun Asa Benteng Konservasi di Pulau Bawean

Surabaya, 20 Agustus 2025. Di balik hamparan hutan tropis Pulau Bawean yang dikelilingi samudra biru, dua satwa endemik sedang berpacu dengan waktu, Rusa Bawean (Axis kuhlii) dan Babi Kutil Bawean (Sus blouchi). Keduanya bukan sekadar penghuni pulau kecil di Laut Jawa, melainkan simbol rapuhnya keseimbangan alam Nusantara. Rusa bawean telah lama menyandang status Critically Endangered (Kritis) menurut IUCN. Begitu pula dengan babi kutil bawean, spesies unik yang hanya ditemukan di pulau kecil ini, kini juga berada dalam kategori Critically Endangered. Populasinya yang amat terbatas tertekan oleh fragmentasi habitat, perburuan, konflik dengan anjing peliharaan, hingga aktivitas pertanian. Pertemuan Penentu Arah Konservasi Pada Rabu, 20 Agustus 2025, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menggelar rapat penting dengan Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen Pasuruan. Agenda utamanya, membahas rancangan Kerja Sama pendirian Pusat Konservasi Satwa Endemik Bawean. Kepastian arah konservasi menjadi bara dalam hangatnya diskusi yang berlangsung. Pembangunan fasilitas baru ini tidak dimaksudkan sebagai penangkaran komersial, melainkan pusat penyelamatan, rehabilitasi, dan pendidikan. Dukungan lahan seluas 2 hektar di Desa Mombhul, Kecamatan Sangkapura, sudah diamankan melalui MoU dengan pemilik lahan, dengan sponsor utama Yayasan KASI. Nur Patria Kurniawan, Kepala BBKSDA Jawa Timur, menegaskan arah kerja sama ini harus berpijak pada mandat konservasi negara. “Rencana ini bukan sekadar membangun fasilitas fisik, melainkan membangun kepercayaan publik bahwa satwa endemik Bawean benar-benar kita jaga untuk masa depan. Dalam hal ini, konservasi tidak boleh menyisakan ruang bagi komersialisasi. Semua proses, mulai dari proposal hingga teknis lapangan, harus akuntabel, transparan, dan berpihak pada kelestarian satwa kunci,” ujarnya. Dalam pertemuan tersebut diuraikan rencana komprehensif, berupa rencana pembangunan fasilitas rehabilitasi mamalia, hingga fasilitas untuk menampung sekitar 30 ekor rusa bawean dan sekelompok babi kutil bawean (Sus blouchi). Fasilitas ini akan dilengkapi laboratorium kecil, klinik satwa, serta dapur pakan. Konservasi yang Hidup dari Masyarakat Keberadaan Pusat Konservasi Satwa Bawean, juga diarahkan sebagai pusat edukasi konservasi bagi masyarakat lokal dan siswa sekolah. Melalui program penyelamatan dan pelepasliaran satwa, masyarakat Bawean diharapkan bukan sekadar penonton, melainkan penjaga garis depan konservasi. Seluruh hasil reproduksi satwa dari pusat konservasi tersebut hanya boleh digunakan untuk restocking habitat alami di Pulau Bawean, bukan untuk kepentingan lembaga konservasi lain atau komersialisasi. Pusat Konservasi Satwa Bawean bukan hanya sebuah proyek fisik. Ia adalah benteng terakhir bagi rusa bawean dan babi kutil bawean, sekaligus wadah lahirnya pengetahuan baru tentang ekologi satwa endemik pulau kecil., Pusat Konservasi Satwa Bawean diharapkan menjadi tonggak penting dalam upaya mencegah kepunahan satwa unik Bawean. Komitmen bersama bahwa, “Wildlife belongs to state”, satwa liar adalah milik negara, dan kelestariannya adalah tanggung jawab bersama. “Dari Pulau Bawean, kita ingin menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya menjaga satwa, tetapi menjaga harga diri bangsa. Jika rusa bawean dan babi kutil bisa kita selamatkan, maka kita telah memenangkan satu pertempuran penting melawan kepunahan,” tegas Nur Patria Kurniawan menutup rapat pertemuan siang itu. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

SMA/SMK Plus Kesehatan Saribudolok Edukasi Konservasi Gajah Sumatera di Aek Nauli Elephant Conservation Camp

Sibaganding, 21 Agustus 2025. Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) kembali menerima kunjungan edukasi, Senin (18/8). Kali ini, rombongan berasal dari Keluarga Besar SMA/SMK Plus Kesehatan Saribudolok. Rombongan yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Harmedin Saragih, S.Pd., M.Pd., hadir bersama para guru, pendamping dari TNI AD, serta 300 peserta yang terdiri atas siswa-siswi dan tenaga pendidik. Mereka disambut hangat oleh Kepala Resor ANECC dan CA Batu Gajah, Boby Natalius Purba, S. Hut., beserta jajaran staf. Dalam kunjungan ini, peserta mendapat pengalaman berharga berinteraksi langsung dengan empat ekor Gajah Sumatera yang ada di ANECC, yaitu Luis Vigo (jantan), Ester Juwita (betina), Siti (betina) dan Vini (betina). Dengan pendampingan para mahout (pawang gajah) serta Penyuluh Kehutanan Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Lisbeth Y. S. Manurung, S. Hut., para siswa memperoleh penjelasan tentang morfologi gajah (gigi, lidah, belalai, kuku, dan telinga), perilaku gajah dalam keseharian, serta pentingnya konservasi Gajah Sumatera. Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat. Siswa-siswi tampak antusias mendengarkan penjelasan sekaligus menyaksikan interaksi gajah bersama mahout. Pada kesempatan ini, Resor ANECC dan CA Batu Gajah juga menyampaikan pesan konservasi kepada generasi muda. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa endemik yang kini berstatus terancam punah. Upaya pelestarian sangat bergantung pada kesadaran masyarakat, khususnya kalangan pelajar, untuk menjaga habitat alami gajah, mencegah konflik manusia-gajah, serta mendukung program konservasi berkelanjutan. Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan siswa-siswi semakin memahami bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan tugas bersama. Generasi muda memiliki peran penting dalam memastikan kelestarian Gajah Sumatera untuk masa depan. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SMA/SMK Plus Kesehatan Saribudolok, Harmedin Saragih, S.Pd., M.Pd., menyampaikan: “Meskipun tidak semua siswa mengungkapkan pendapat secara langsung, saya yakin dari respon mereka tadi, terlihat dukungan yang sangat besar terhadap program pelestarian, khususnya untuk gajah di Aek Nauli. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak ANECC atas penerimaan yang hangat serta edukasi yang sangat bermanfaat. Apabila ada kekurangan dari kami, terutama dari anak-anak kami, saya sebagai pimpinan sekolah menyampaikan permohonan maaf. Semoga pembelajaran hari ini benar-benar mendukung program Kementerian Kehutanan dalam pelestarian alam, tidak hanya satwa, tetapi juga hutan dan lingkungan sekitarnya.” Sumber: Resor ANECC dan CA Batu Gajah-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai TN Batang Gadis Gelar Upacara HUT RI ke-80 di Puncak Gunung Sorik Marapi

Mandailing Natal, 17 Agustus 2025 Balai Taman Nasional Batang Gadis (BTNBG) melaksanakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 di Puncak Gunung Sorik Marapi, Minggu (17/8). Upacara berlangsung khidmat dan penuh makna dengan latar keindahan alam Gunung Sorik Marapi Kepala Balai TN Batang Gadis, Bapak Agusman, S.P., M.Sc., bertindak sebagai pembina upacara. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran BTNBG, di antaranya Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi SPTN Wilayah II Kotanopan, personil Polisi Kehutanan, serta berbagai mitra dan instansi terkait seperti Polres Mandailing Natal, Kodim 0212/TS, Pos SAR Mandailing Natal, Ranger Sorik Marapi, Tim NASOUT Camp, hingga para peserta pendakian Sorik Marapi tahun 2025. Pelaksanaan pendakian menuju puncak Sorik Marapi dilakukan berdasarkan dan sesuai dengan SOP Pendakian Gunung Sorik Marapi yang berlaku di kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Hal ini menjadi komitmen bersama untuk menjaga keamanan, kenyamanan, serta kelestarian lingkungan sepanjang jalur pendakian. Sebagai puncak rangkaian kegiatan, para peserta juga membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 100 meter di puncak Sorik Marapi. Momentum ini menjadi simbol persatuan, semangat kebangsaan, serta tekad untuk menjaga keutuhan bangsa sekaligus kelestarian alam. Melalui pelaksanaan upacara di ketinggian, BTNBG ingin menegaskan bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya hidup dalam jiwa bangsa, tetapi juga berpadu erat dengan semangat konservasi dan kecintaan terhadap alam. Puncak Sorik Marapi menjadi saksi persatuan lintas elemen masyarakat yang bersama-sama menjaga alam sekaligus mengenang jasa para pahlawan bangsa. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Anggi Wahyuda, Merajut Spirit Menembus Keterbatasan

Anggi Wahyuda didampingi Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara di stan pameran Balai Besar KSDA Sumatera mengajak generasi muda untuk peduli kepada pelestarian alam Medan, 19 Agustus 2025. Dulu aku hanya bermimpi dengan satu kaki dan seribu keraguan orang. Tapi ibu tak pernah ragu. Ia tidak banyak bicara, hanya menunduk dan berdoa dalam sunyi. Hari ini, aku berdiri di atas 4 dari 7 puncak tertinggi di Indonesia. Bukan karena aku sempurna, tapi karena cinta ibu tak pernah patah, dan doanya tak pernah berhenti. Setiap kali pundakku lelah dan kakiku nyaris menyerah, aku dengar suara ibu dalam ingatan “Nak, kamu tidak kekurangan apa-apa. Tuhan menciptakanmu cukup untuk menang.” Dan aku percaya itu. Ini bukan kisah tentang kekurangan, ini tentang keberanian. Tentang satu kaki yang tetap melangkah, dan satu doa yang tak pernah Lelah. “Disabilitas bukan ketidakmampuan. Ia hanya cara berbeda untuk menaklukkan dunia”.-Nelpon Mandala. Untuk ibu, dan untuk semua yang masih ragu pada dirinya sendiri-kita mampu, dengan cara kita. Ini adalah curahan isi hati Anggi yang dituangkannya dalam postingan Instagram miliknya. Anggi Wahyuda menjadi sosok anak muda yang saat ini menarik perhatian bukan hanya masyarakat Indonesia saja, tetapi juga masyarakat dunia internasional. Anggi Wahyuda, seorang pendaki disabilitas asal Indonesia berhasil mencapai Everest Base Camp di Nepal pada tanggal 26 Mei 2025 yang lalu. Ia mencapai ketinggian 5.364 meter dengan menggunakan satu kaki dan bantuan tongkat, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Anggi, 24 tahun, asal Binjai, Sumatera Utara kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan pada tahun 2015. Meski kakinya diamputasi, semangat Anggi tidak lantas padam. Ia justru bangkit dan mengisi hari-harinya dengan kegiatan bermanfaat, salah satunya adalah mendaki gunung. Keinginannya untuk memecahkan rekor sebagai penyandang disabilitas pertama yang mendaki gunung, sejatinya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Penyandang disabilitas pun juga bisa mendaki hingga ke puncak gunung layaknya manusia normal. Ia menekankan bahwa pencapaiannya itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menginspirasi orang lain agar tidak menyerah pada keterbatasannya. Sambil mendaki gunung, Anggi juga membuat konten di media sosial. Semua itu dilakukannya agar penyandang disabilitas lain merasa termotivasi dan tidak menjadikan kekurangan mereka sebagai halangan. Ia mengaku senang karena nilai-nilai yang dia sebarkan melalui dokumentasi perjalanan pendakian di media sosial telah memberikan inspirasi positif bagi banyak orang, dimana semakin banyak masyarakat terinspirasi untuk berjuang menaklukkan keterbatasan dalam hidup. Dalam puncak perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2025, yang dilaksanakan pada Senin (11/8) di Auditorium Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, dengan mengusung tema “Membangun Sinergi Antar Generasi Untuk Masa Depan Konservasi dengan tagline “Youth for Conservation Beyond Expectation”, yang dihadiri Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, Anggi Wahyuda menjadi bintang tamu kehormatan sebagai sosok generasi muda inspiratif. Di panggung, Anggi bersama beberapa anak muda menyatakan kebulatan tekad dan komitmen untuk berbuat serta melakukan yang terbaik bagi konservasi alam dan lingkungan, melalui karya-karya nyata yang berdampak dan bermanfaat. Anggi juga berkenan menyambangi stan Pameran Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan berbincang-bincang dengan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP.,M.Env. Dalam kunjungannya tersebut Anggi menyampaikan pesan-pesan konservasi “Ayo teman-teman semua kita harus lebih sadar lagi dengan konservasi alam, lebih mencintai alam, dan ya… dari hal yang paling simple jangan buang sampah sembarangan, karena alam gak butuh kita tapi kita yang butuh alam". Sumatera Utara boleh berbangga memiliki anak muda yang inspiratif, yang tidak menyerah dengan kekurangan dan keterbatasannya, sebaliknya mampu bangkit menjadi sosok yang kuat dan tangguh serta berprestasi. Anggi Wahyuda mampu merajut spirit menembus keterbatasan. Terima kasih Anggi buat inspirasinya, salam lestari….. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Partisipasi di "Semangat Kolaborasi Lintas Generasi" HKAN 2025

Jakarta, 11 Agustus 2025 – Puncak Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025 diselenggarakan di Auditorium Dr.Ir. Soedjarwo, Manggala Wanabakti. Peringatan HKAN tahun ini digelar dengan tema “Bergerak bersama membangun sinergi antar generasi demi masa depan konservasi yang lebih baik melalui peningkatan manfaat sosial hutan dan mewujudkan hidup harmonis bersama alam” dengan tagline “Youth for Conservation, Beyond Expectations”. Dalam sambutannya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa hutan bukan warisan namun titipan yang harus dijaga dengan baik dan lebih produktif sehingga kedepannya saat handover /penyerahan kepada pemilik selanjutnya yakni generasi muda maka hutan yang saat ini kita miliki tidak hanya terjaga tapi jauh lebih baik daripada hari ini. Generasi muda merupakan subjek dalam perubahan, Kementerian Kehutanan membuka pintu selebar-lebarnya kampanye cinta alam dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan digital native. Puncak HKAN 2025 diselenggarakan dengan berbagai rangkaian acara diantaranya Pameran Konservasi Alam, Talkshow, Launching Jenis Flora Fauna Terbaru dan Buku Keragaman Ekosistem Alami Kawasan Konservasi, Monolog and Youth Declaration for Conservation dan penampilan spesial dari guest star Mr. Jono & Joni, Kotak Band dan Manshur Angklung serta Tarian Nusantara Medley yang membuat suasana menjadi semakin meriah. Puncak Peringatan HKAN menjadi momentum launching 19 jenis flora dan fauna terbaru yang ditemukan pada tahun 2025, temuan tersebut merupakan kolaborasi dari berbagai pihak yakni Kemenhut, Peneliti, Perguruan Tinggi, BRIN dan lainnya. Penemuan tersebut mengisyaratkan betapa kayanya keanekaragaman hayati di Indonesia. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penemuan tersebut memperkuat status Indonesia sebagai negara Mega Biodiversity, pusat keanekaragaman hayati dunia. Pameran Konservasi Alam diikuti oleh 22 UPT KSDAE dan Mitra salah satunya yakni BKSDA Kalimantan Selatan yang turut serta berpartisipasi mendirikan booth pameran dengan ciri khas satwa bekantan yang merupakan satwa dilindungi serta maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Pameran yang digelar di Selasar Auditorium Dr.Ir. Soejarwo menarik perhatian pengunjung dengan berbagai suguhan produk UKM masyarakat binaan, informasi ekowisata dari berbagai penjuru Indonesia, serta informasi keanekaragaman hayati dari wilayah masing-masing UPT. Selain itu games dan quiz dengan berbagai macam hadiah menarik juga disediakan bagi pengunjung pameran. Harapannya HKAN 2025 mampu membangun sinergi antar generasi demi masa depan konservasi yang lebih baik. Youth for Conservation, Beyond Expectations. (Ryn) Sumber: Siti Sofiatun Nafiah, S.Hut. - Penyuluh Seksi Konservasi Wilayah II dan Riyan Susilo Adji, S.Kom Prakom - Balai KSDA Kalimantan Selatan FacebookTwitterShare
Baca Artikel

Hari Konservasi Alam Nasional 2025, BBKSDA Jatim Ajak Ratusan Pelajar SMPN 14 Surabaya Merawat Bumi

Surabaya, 14 Agustus 2025. Suara riuh 320 pelajar SMP Negeri 14 Surabaya memenuhi Aula Joglo di siang yang teduh, Selasa (12/8/2025). Di balik raut wajah penuh rasa ingin tahu, tersimpan benih kepedulian yang hendak ditanam, benih untuk mencintai bumi, melindungi satwa, dan menjaga hutan agar tetap lestari. Pada momen peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir bukan sekadar memberi ceramah, tetapi membangkitkan kesadaran generasi muda untuk menjadi garda depan penyelamat keanekaragaman hayati. Tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, yang terdiri dari Rakhmat Hidayat (Polisi Kehutanan Ahli Madya), Ach. Onky Pryono (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), dan Ego Lion Sakty (Pengendali Ekosistem Hutan Pemula), menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya di SMP Negeri 14 Surabaya. Mengusung tema “Menjaga Keanekaragaman Hayati untuk Generasi Mendatang”, kegiatan ini diikuti oleh guru, staf sekolah, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan 320 siswa kelas VII. Para narasumber tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga membangun keterhubungan emosional antara peserta dan alam di sekitar mereka. Materi yang dibawakan meliputi Kebijakan Pengelolaan KSDAE, termasuk tugas pokok BBKSDA Jatim dan strategi konservasi yang mencakup perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati serta Kesadaran Lingkungan, menanamkan kepedulian sejak dini agar pelajar mampu menjadi agen perubahan di tengah tantangan degradasi alam. Setelah penyampaian materi, suasana aula berubah menjadi lebih hidup. Sesi tanya jawab berlangsung hangat, diwarnai rasa penasaran para pelajar tentang satwa liar, habitatnya, dan upaya pelestariannya. Puncak acara menjadi momen tak terlupakan, mural Bunga Rafflesia setinggi dinding sekolah dibuat dari tutup botol bekas menjadi sebuah simbol bahwa kreativitas bisa berjalan seiring dengan pesan konservasi. Warna merah marun bunga raksasa itu seakan mengingatkan semua orang akan keunikan flora Indonesia yang harus dijaga. Tidak berhenti di situ, tim BBKSDA Jatim juga memutar video perbandingan satwa yang hidup bebas di alam dan yang berada dalam sangkar. Visual itu menjadi pukulan emosional bagi peserta, menyadarkan bahwa kebebasan adalah hak setiap makhluk hidup. Dalam diskusi penutup, pihak SMPN 14 Surabaya mengungkapkan keinginan untuk terlibat langsung dalam kegiatan konservasi BBKSDA Jatim, termasuk pelepasliaran satwa dan kampanye pelestarian lingkungan. Dukungan semacam ini menjadi sinyal positif bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan instansi konservasi dapat menjadi kekuatan besar dalam merawat warisan alam. Dari ruang aula di pinggiran Surabaya, pesan itu disampaikan dengan lantang bahwa masa depan bumi ada di tangan generasi muda. Melalui edukasi yang menyentuh hati dan menggerakkan aksi, Balai Besar KSDA Jawa Timur berharap semangat menjaga alam tak berhenti di dinding sekolah, tetapi tumbuh subur di setiap langkah anak bangsa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menyiapkan Dokter Hewan Masa Depan Penjaga Satwa Indonesia

Banyuwangi, 14 Agustus 2025. Di sebuah ruang kuliah di Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam Banyuwangi, sebelas mahasiswa Program Profesi Kedokteran Hewan duduk terpaku. Di hadapan mereka, bukan sekadar teori tentang anatomi atau penyakit hewan. Kali ini, yang mereka pelajari adalah denyut nadi kehidupan liar, kisah penyelamatan, perawatan, dan pelepasliaran satwa dilindungi yang berjuang bertahan di alam. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir bukan hanya untuk memberi kuliah, tetapi untuk membuka jendela realitas tentang pekerjaan berat di garis depan konservasi., 11 Agustus 2025. Materi disampaikan oleh Mohamad Sukron Makmun, Pengendali Ekosistem Hutan; drh. Indy yang bergabung melalui Zoom; serta Penyuluh Kehutanan, Ainy Amelya Utami. Tiga topik utama dibedah secara mendalam, legislasi dan mekanisme penyitaan satwa dilindungi, proses penangkaran hingga pelepasliaran, serta ancaman zoonosis yang mengintai di batas perjumpaan manusia dan satwa liar. Para mahasiswa tak hanya mendengar, tetapi juga terlibat aktif bertanya dan mendiskusikan kasus-kasus nyata di lapangan, mulai dari operasi penyelamatan burung kakatua di pasar gelap hingga prosedur karantina sebelum satwa dilepas kembali ke habitatnya. Di balik setiap satwa yang diselamatkan, terdapat cerita panjang tentang hutan yang hilang, perburuan, dan manusia yang peduli. BBKSDA Jatim berharap, pembekalan ini menjadi fondasi moral dan keahlian bagi calon dokter hewan agar kelak mereka tak hanya menjadi penyembuh, tetapi juga penjaga kehidupan liar yang rapuh. Di luar gedung kuliah, hutan dan satwa menanti dan di tangan generasi ini, masa depan mereka akan ditentukan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mahasiswa Universitas Brawijaya Menyelami Dunia Konservasi Bersama BBKSDA Jatim

Surabaya, 14 Agustus 2025. Di sebuah ruang rapat sederhana di Kantor Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berdiri di hadapan jajaran Balai Besar KSDA Jawa Timur, 7 Agustus 2025. Bukan sekadar menyampaikan laporan akhir magang, mereka bercerita tentang kisah lima minggu penuh peluh, lumpur, ombak, dan suara hutan, perjalanan yang menguji ketangguhan, kecerdasan, dan kepedulian terhadap alam. Mereka adalah Brilliant Akbar Bima Nusantara, Ishthifa Sriwardhani Adipuspitaningrum, dan Muhammad Shultoni Cahya Ramadhan. Tiga nama yang kini terikat pada kisah konservasi di dua dunia berbeda, konflik satwa. Menapaki Pulau Bawean, Laboratorium Alam yang Hidup Pada Resort Konservasi Wilayah 10 Pulau Bawean, langkah pertama mereka dimulai dengan SMART Patrol, menelusuri kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, mencatat potensi kawasan, dan menginisiasi mini riset herpetofauna, burung, serta anggrek liar. Namun, tidak semua cerita berakhir indah. Di Pantai Selayar, mereka menemukan bangkai penyu, di Pantai Tugu 0, seekor lumba-lumba mati terdampar. Bersama masyarakat dan Dinas Kelautan & Perikanan setempat, mereka mengubah tragedi itu menjadi pelajaran ekologi bagi warga. Di sela patroli, mereka menjadi duta edukasi dalam program FOLU Goes To School di MA Al-Manar, membicarakan satwa endemik Bawean dan bahaya kebakaran hutan. Mereka juga terlibat dalam S.I.D.I (Small Island Development Initiative), kolaborasi BBKSDA Jatim, UINSA Surabaya, dan PT. Pertamina, yang mencakup monitoring burung air, pemasangan camera trap, dan analisis vegetasi pakan Rusa Bawean. Dari KTH Mustika Aren, mereka mempelajari cara gula aren menjadi lebih dari sekadar produk, melainkan sumber penghidupan yang menjaga hutan tetap berdiri. Dari Hutan ke Kota, Interasikasi Negatif Satwa dan Manusia Pindah ke Surabaya, tantangan berubah wujud. Mereka membantu evakuasi dua ekor monyet ekor panjang dari Plaza Lamongan, serta menangani konflik satwa di Desa Cembor, Pacet, Mojokerto, wilayah di mana monyet liar merangsek ke lahan pertanian warga. Investigasi lapangan, koordinasi dengan Polsek Pacet, perangkat desa, dan UPT Tahura Raden Soerjo menjadi bagian dari keseharian. Setiap langkah mereka ditutup dengan refleksi mendalam, menautkan setiap kejadian pada dasar hukum, kebijakan konservasi, dan etika lapangan. Merajut Generasi Konservasi Muda Hasil magang ini menegaskan pentingnya program magang kolaboratif yang terstruktur, dengan SOP terpadu, penugasan strategis seperti SMART Patrol, konservasi TSL, FOLU Netsink, dan edukasi masyarakat, serta pendamping lapang yang mumpuni. BBKSDA Jatim menilai, kegiatan ini bukan hanya memberi pengalaman kerja lapangan bagi mahasiswa, tetapi juga membangun potensi kader konservasi masa depan. Data lapangan, publikasi edukatif, dan jejaring kemitraan yang mereka hasilkan menjadi nilai tambah yang tak ternilai. Dari deru ombak Pulau Bawean hingga udara sejuk Pacet, perjalanan ini membuktikan bahwa konservasi bukan sekadar pekerjaan, ia adalah panggilan jiwa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pengendali Ekosistem Hutan, Garda Terdepan Konservasi yang Menyatukan Ilmu, Alam, dan Bangsa

Jakarta, 12 Agustus 2025. Di sebuah ruang pertemuan di jantung Ibu Kota, 150 insan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) hadir secara langsung, disaksikan 695 pasang mata lainnya dari berbagai penjuru Indonesia melalui layar daring. Bukan sekadar pertemuan tahunan, Sarasehan PEH 2025 menjadi panggung tempat para penjaga garda terdepan konservasi menyatukan visi, menautkan pengalaman, dan merumuskan masa depan profesi yang kini diakui sebagai salah satu tiang penyangga kelestarian ekosistem negeri. Mereka datang membawa cerita, tentang jejak kaki Komodo di tanah Flores, tentang penyu yang kembali ke pantai Sangalaki untuk bertelur di bawah ancaman pencurian, tentang jalur peredaran satwa liar yang terus berevolusi. Hingga tentang pohon Taksus di kaki Gunung Kerinci yang menyimpan senyawa antikanker dan anti-aging. Inilah Sarasehan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Indonesia yang digelah di Jakarta, 12 Agustus 2025. Sebuah pertemuan yang mengusung “Sinergi PEH Lintas Generasi, Aksi Bersama Lestarikan Alam”. Namun, pertemuan ini juga mengangkat cermin, tantangan terbesar PEH justru sering datang dari dalam diri sendiri, rasa jenuh, lelah, dan keraguan yang dapat meruntuhkan semangat. Mengurai Peta Tantangan, Dari Jabatan hingga Jejak di Lapangan Data resmi memotret skala peran PEH: 4.000 personel, menjadikannya jabatan fungsional terbesar di Kementerian Kehutanan. Namun, jenjang karier mereka masih terkunci di tingkat Madya, sementara saudara terdekat Polisi Kehutanan dan Penyuluh Kehutanan telah menembus Jenjang Utama. Penyelarasan struktur jabatan menjadi fokus. Regulasi baru menuntut PEH tak hanya ahli di bidang teknis ekologi, tetapi juga mumpuni dalam manajemen, komunikasi, dan inovasi. Kenaikan jabatan tak lagi sekadar soal angka kredit, tapi komitmen untuk siap ditempatkan di manapun demi konservasi. “PEH dulu disebut semi-scientist, tapi kini mereka harus menjadi scientist, manajer, sekaligus diplomat konservasi.” tegas Amy Nurwanty, Sekretaris Ditjen KSDAE dalam sambutannya mewakili Direktur Jenderal KSDAE. Konservasi yang Menembus Batas Flores dan Komodo, di luar kawasan konservasi, kamera jebak mengungkap individu Komodo yang bertahan di habitat terpisah. PEH tak hanya memantau, tetapi juga mengedukasi warga, memetakan jalur mangsa, dan meredam konflik satwa–manusia. Indonesia Timur dan Perdagangan Satwa Liar, Jalur laut yang dulu ramai kini mulai surut peredarannya, berkat kolaborasi multipihak dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan pola peredaran TSL. Pulau Sangalaki, Penyu, dan Pasir yang Menyimpan Kehidupan. Patroli malam, relokasi telur ke hatchery, dan pemberdayaan pemuda kampung menjadi benteng terakhir dari laju penurunan populasi. Taksus Sumatera dan Harapan dari Kulit Pohon, dari hutan TN Kerinci Seblat, penelitian bersama BRIN mengungkap potensi obat kanker dan kosmetik berbasis anti-aging. Inovasi ini menanti tahap komersialisasi. IPEHINDO, Rumah Besar Profesi Sarasehan juga mengukuhkan pentingnya Ikatan Profesi PEH Indonesia (IPEHINDO) sebagai wadah kolaborasi dan transfer pengetahuan. Dengan delapan DPW provinsi yang sudah terbentuk, targetnya adalah seluruh provinsi memiliki kepengurusan aktif. Bahkan, lahir kesepakatan baru, 2 Juli akan menjadi Hari PEH Nasional, memperingati diresmikannya jabatan ini pada 2003. Menatap Masa Depan, Lokal Menggema Global Kiprah PEH kini menembus batas negara, dari pengelolaan cagar biosfer UNESCO hingga partisipasi dalam forum global Ramsar Site dan World Heritage Site. Filosofinya jelas, PEH lokal, dampak global. Sarasehan PEH 2025 ditutup dengan pesan yang menggetarkan ruang “Konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satwa atau hutan. Ini tentang menyelamatkan masa depan kita semua. Tantangan terberat bukan di luar sana, tapi di dalam diri kita masing-masing.” Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Peringati Hari Gajah Sedunia & HKAN 2025, BBKSDA Sumut Ajak Masyarakat Jaga Alam Bersama

Simalungun, 13 Agustus 2025. Dengan semangat melestarikan dan menjaga satwa liar, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Pematangsiantar menggelar perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan Hari Gajah Sedunia di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Selasa 12 Agustus 2025. Kegiatan ini menjadi ajang edukasi, kolaborasi dan aksi nyata dalam upaya pelestarian alam dan satwa liar. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk mengingatkan bahwa gajah, adalah satwa karismatik sekaligus spesies kunci yang memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Peringatan Hari Gajah Sedunia yang jatuh setiap 12 Agustus dipadukan dengan semangat HKAN untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat ikut melindungi kekayaan hayati Indonesia. Acara dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumut, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L, hadir pula Kepala Seksi KSDA Wilayah III Kisaran, staf Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, serta staf Resor ANECC dan Cagar Alam Batu Gajah. Dukungan dari berbagai pihak membuat peringatan ini semakin bermakna. Hadir perwakilan dari Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah I Pematangsiantar, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Asahan Barumun, DAOPS Manggala Agni Wilayah Sumatera II Pematangsiantar, UPT KPH Wilayah II Pematangsiantar, Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Simalungun, Kepala Desa Sibaganding, serta lembaga mitra seperti Yayasan Persamuhan Bodhicitta Mandala Medan (YPBMM), PT. TPL Sektor Aek Nauli, PT. Pertamina Niaga Fuel Terminal Pematangsiantar dan dua sekolah dasar: SD Negeri 095186 tanjung Dolok dan SD Negeri 091456 Pondok Bulu. Serangkaian kegiatan edukatif dan interaktif menjadi daya tarik utama acara ini, yaitu: edukasi gajah jinak untuk mengenal lebih dekat perilaku dan peran gajah di alam liar, penanaman bibit pohon Macadamia sebagai simbol komitmen terhadap penghijauan dan perbaikan habitat, lomba mewarnai tingkat sekolah dasar guna menanamkan kecintaan pada alam sejak dini, serta kuis konservasi untuk mengasah pengetahuan seputar satwa liar dan lingkungan. Perwakilan dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Simalungun menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini. “ANECC adalah destinasi wisata favorit di kawasan sekitar Danau Toba dan kebanggaan Kabupaten Simalungun. Kami siap mendukung pengembangan wisata di ANECC.” Sementara itu, perwakilan BPDAS Asahan Barumun menegaskan komitmennya dalam mendukung penghijauan. “Kami siap mendukung kebutuhan bibit pohon untuk ANECC maupun kawasan konservasi lainnya apabila diperlukan.” Melalui perayaan ini, Balai Besar KSDA Sumatera utara mendorong agar semangat konservasi dapat semakin tertanam di hati masyarakat, khususnya generasi muda, sehingga kelestarian alam dan satwa liar tetap terjaga untuk masa depan. Lomba mewarnai tingkat Sekolah Dasar Edukasi gajah jinak untuk mengenal lebih dekat perilaku dan peran gajah di alam liar Penanaman bibit pohon Macadamia Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

HKAN 2025, Resor Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut III Gelar Aksi Bersih Sekolah

Selotong, 12 Agustus 2025. Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus, Resor Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (SM KGLTL) III Selotong menggelar kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah bersama siswa kelas V dan VI SD Negeri (SDN) 050705 Selotong, Jumat (8/8/2025). Kegiatan ini mengusung tema HKAN 2025, “Membangun Sinergi antar Generasi untuk Masa Depan Konservasi”, yang menekankan pentingnya peran lintas generasi dalam menjaga kelestarian alam. Aksi bersih-bersih dilaksanakan di pekarangan sekolah, melibatkan 40 siswa, guru, petugas resor serta fasilitator desa. Para peserta bergotong royong memungut sampah, menyampu halaman, merapikan taman dan menata area hijau agar lebih indah dan nyaman. Kepala Resor SM KGLTL III Selotong, Salmudin, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya semata-mata bertujuan untuk menciptakan lingkungan bersih dan asri, tetapi juga menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya melestarikan alam dan keanekaragaman hayati. “Melalui aksi sederhana seperti ini, kami ingin agar anak-anak memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian penting dari upaya konservasi. Mereka adalah generasi penerus yang kelak akan menghadapi tantangan lingkungan yang lebih besar oleh karena itu anak-anak perlu ditingkatkan kesadarannya sejak dini,” ungkap Salmudin. Sepanjang kegiatan, suasana penuh semangat dan keceriaan terlihat jelas. Anak-anak bekerja sambil bercanda, saling membantu dan menunjukkan antusiasme tinggi. Guru-guru menyambut baik inisiatif ini, melihatnya sebagai kesempatan emas untuk menanamkan nilai konservasi di hati para siswa. Sebagai bentuk apresiasi, di akhir kegiatan Kepala Resor menyerahkan sertifikat dan cinderamata kepada SDN 050705 Selotong. Harapannya, aksi ini akan menjadi awal tumbuhnya rasa cinta lingkungan di kalangan pelajar, sehingga semangat menjaga kelestarian alam dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi. Keceriaan murid SD Negeri 050705 Selotong Sumber: Resor SM KGLTL III-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

TWA Deleng Lancuk Ajak SMP Negeri 1 Naman Teran Wujudkan Generasi Cinta Alam

Naman Teran, 12 Agustus 2025. Tim Resor Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggelar sosialisasi dan aksi bersih sampah di Danau Lau Kawar bersama siswa SMP Negeri 1 Naman Teran selama 2 hari pada tanggal 6-7 Agustus 2025. Kegiatan ini menjadi bagian Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2025, menanamkan semangat peduli lingkungan sejak dini. Hari pertama, 6 Agustus 2025, Tim Resor TWA Deleng Lancuk yang terdiri dari Samuel Siahaan, SP bersama staf Bergiat Sembiring dan Febernando Surbakti, disambut hangat oleh Kepala SMP Negeri 1 Nama Teran, Jendakita Br Sinulingga, S.Pd., M.Pd. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan berbagai peluang kegiatan konservasi yang bisa dilalukan sekolah untuk menumbuhkan karakter cinta alam dan peduli lingkungan di kalangan siswa. Perlu diketahui bahwa awalnya SMP Negeri 1 Naman Teran berlokasi di Desa Sigarang-garang tetapi kemudian karena erupsi Gunung Sinabung, sekolah ini dipindahkan ke Desa Kuta Rakyat yang dekat dengan kawasan TWA Deleng Lancuk yang terkenal dengan keindahan Danau Lau Kawar serta kekayaan flora dan fauna. Kedekatan ini menjadi peluang besar untuk pembelajaran langsung mengenai keanekaragaman hayati. Sebagai bentuk dukungan, Petugas Resor menyerahkan Buku Liputan Konservasi, Buletin Beo Nias dan leaflet satwa dan burung dilindungi di Sumatera Utara. Kepala Sekolah menyatakan kesiapan sekolah untuk mewujudkan program ini, mengingat prestasi siswa yang terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Hari kedua, 7 Agustus 2025, 5 siswa SMP Negeri 1 Naman Teran didampingi salah seorang guru, Dian Setiawan, S.Pd ikut dalam Aksi Bersih Sampah Plastik di Danau Lau Kawar. Kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan singkat kawasan TWA Deleng Lancuk, dipandu langsung oleh Bergiat Sembiring dan Samuel Siahaan. Momen ini direkam dalam bentuk video untuk diikutsertakan dalam lomba video reels yang diadakan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025. Kepala Sekolah berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga siswa tidak hanya mengenal alam dari buku, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya pelestariannya. Sumber: Samuel Siahaan, SP/PEH Pertama, Bergiat Sembiring dan Febernando Surbakti/ Staf Resor TWA Deleng Lancuk-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Jangan Lepasliarkan Satwa Sembarangan, Kalau Tidak mau seperti ini!

Lamongan, 11 Agustus 2025. Seekor Monyet-ekor panjang (Macaca fascicularis) jantan berusia sekitar lima tahun kembali menembus batas antara hutan dan perkampungan. Awalnya, satwa ini dilepaskan oleh pemiliknya dengan harapan bergabung bersama koloni liar di hutan lindung milik Perum Perhutani. Namun, seperti pulang ke rumah lama, ia keluar dari rimbun pepohonan dan kembali ke desa, memicu kegelisahan warga. Langkah kakinya di atap rumah, gerak gesitnya di jalanan, hingga insiden menggigit seorang penduduk, semua menjadi catatan nyata bahwa melepasliarkan satwa tidak bisa dilakukan sembarangan. Beruntung, pemeriksaan medis memastikan korban bebas dari rabies. Penyerahan satwa ini dilakukan secara sukarela oleh pemilik, Sdr. Adi, seorang petani Desa Garung, Kecamatan Sambeng, Kab. Lamongan, 11 Agustus 2025. Tim Penyelamatn Satwa Liar (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan segera merespons. Evakuasi dilakukan hati-hati, memastikan keselamatan satwa dan warga. Satwa kemudian dibawa ke Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo, untuk penanganan sesuai standar keselamatan serta etika dan kaidah kesejahteraan satwa. Di balik kisah ini, ada pelajaran penting. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa melepasliarkan satwa bukan sekadar membuka kandang dan membiarkannya pergi. “Tanpa prosedur yang tepat, satwa berisiko kembali ke pemukiman, berkonflik dengan manusia, bahkan mengancam keselamatan kedua pihak. Kami menghimbau agar proses pelepasliaran dapat dilakukan di habitat yang benar-benar sesuai dan aman dengan melibatkan pihak berwenang", tambahnya. Monyet-ekor panjang, meski belum dilindungi secara hukum, namun tercatat dalam Appendiks II CITES, yang berarti perdagangannya diatur ketat demi mencegah eksploitasi berlebihan. Spesies ini dikenal cerdas, lincah, dan adaptif, sifat yang membuatnya mampu bertahan hidup di alam maupun dekat manusia. Namun, adaptasi ini seringkali menjadi sumber masalah ketika habitat alaminya terganggu atau ketika satwa dibiasakan hidup bersama manusia. BBKSDA Jawa Timur bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan berkomitmen memperluas sosialisasi kepada masyarakat. Fokusnya adalah mengurangi praktik penangkapan, pemeliharaan, dan pelepasliaran satwa liar tanpa prosedur, sekaligus mengedukasi tentang risiko zoonosis dan pentingnya menjaga satwa di habitat aslinya. Di hutan, monyet ini seharusnya menjadi bagian dari simfoni kehidupan liar, membantu menyebarkan biji, menjaga keseimbangan ekosistem, dan hidup bebas bersama kelompoknya. Di luar hutan, ia hanya menjadi tamu tak diundang yang sering disalahpahami. Biarkan satwa liar tetap liar. Mereka bukan milik kita untuk dipelihara, tetapi warisan alam yang harus dijaga untuk generasi mendatang. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Semarak Juanda 15 Cup III: Sportivitas dan Kebersamaan Warnai HUT RI ke-80 dan Road to HKAN

Bogor, 11 Agustus 2025. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) menggelar Juanda 15 Cup untuk yang ke-3 kalinya. Event ini dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 80 dan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025. Kegiatan berlangsung di Aula Komodo, Gedung KSDAE di Juanda Bogor selama 4 hari, pada 31 Juli – 1 Agustus 2025, dan dilanjutkan babak semifinal dan final pada 7 – 8 Agustus 2025. Dengan mengusung tema “Menjalin silaturahmi dan kebersamaan serta jiwa korsa dengan semangat nasionalisme dengan mengedepankan kreativitas dan sportivitas,” kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, sportivitas, prestasi, dan kreativitas pegawai. Juga, menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan dan hubungan antar pegawai di lingkungan Ditjen KSDAE. Sebanyak 13 satuan kerja berpartisipasi, yaitu Setditjen KSDAE, Dit. Perencanaan Konservasi, Dit. Konservasi Spesies dan Daya Genetk, Dit. Konservasi Kawasan, Dit. PemulihanEkosistem dan Bina Areal Preservasi, Dit. Pemanfaatan Jasa Lingkungan, BKSDA Jakarta, BTN Halimun Salak, BBTN Gunung Gede Pangrango, BTN Kepulauan Seribu, BTN Ujung Kulon, Dit. Pengukuhan, dan BBKSDA Jawa Barat. Cabang lomba yang dipertandingkan meliputi bulutangkis, tenis meja, mini futsal, gaple, serta karaoke dalam dua genre pop dan dangdut. Sepanjang kegiatan, antusiasme peserta sangat tinggi dan mendapat dukungan meriah para penonton. Pertandingan berlangsung dengan semangat kompetitif yang kuat dalam suasana kebersamaan. Para pegawai terlihat menikmati setiap pertandingan dan menampilkan potensi terbaik mereka dalam bidang olahraga maupun seni. Momen pembagian doorprize turut menambah semarak suasana di sela-sela pertandingan. Acara ditutup dengan pengumuman para pemenang dari setiap cabang lomba. Setiap peserta menunjukkan semangat kompetitif yang tinggi dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan kebersamaan. Secara keseluruhan, Juanda 15 Cup yang ketiga ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga merupakan sarana yang efektif dalam membangun semangat kerja sama, mempererat hubungan antar pegawai, serta mendorong gaya hidup sehat, aktif dan kreatif di lingkungan Direktorat Jenderal KSDAE. Sumber: Direktorat Perencanaan Konservasi
Baca Artikel

Balai TN Batang Gadis Gelar Lomba Mewarnai untuk Rayakan HKAN 2025

Panyabungan, 11 Agustus 2025 – Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) menggelar Lomba Mewarnai yang diikuti oleh anak-anak Sekolah Dasar di wilayah Panyabungan, khususnya di sekitar Kantor Balai TNBG. Dengan mengangkat tema “Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Batang Gadis”, kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi konservasi sejak dini kepada generasi muda. Melalui kegiatan mewarnai, anak-anak diajak untuk mengenal lebih dekat flora dan fauna khas TNBG, menumbuhkan rasa cinta terhadap alam, serta membentuk kesadaran akan pentingnya menjaga kelestariannya. Berbagai karya penuh warna yang dihasilkan para peserta mencerminkan imajinasi, kepedulian, dan harapan akan alam yang tetap asri dan lestari di masa depan. Balai TNBG berharap kegiatan ini menjadi langkah awal yang menginspirasi anak-anak untuk menjadi generasi penjaga alam. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Balai TN Batang Gadis Gelar Goes to School di Pondok Pesantren Al Musthafawiyah Purba Baru

Mandailing Natal , 7 Agustus 2025 — Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melaksanakan kegiatan "TNBG Goes to School" di Pondok Pesantren Al Musthafawiyah, Kabupaten Mandailing Natal, Kamis (7/8). Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan wawasan konservasi kepada para santri sekaligus menyosialisasikan Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian Gunung Sorik Marapi. Langkah ini diambil sebagai upaya menekan jumlah pendaki ilegal yang tidak terdata, yang berisiko terhadap keselamatan jiwa, pelanggaran hukum, serta kerusakan lingkungan. Pendaki ilegal berpotensi menghadapi berbagai bahaya, seperti tersesat di jalur yang tidak resmi dan kesulitan mendapatkan pertolongan saat terjadi keadaan darurat. Selain itu, pendakian tanpa izin dapat dikenai sanksi pidana maupun administratif. Tanpa pengawasan petugas, aktivitas ini juga rawan merusak ekosistem Gunung Sorik Marapi yang menjadi habitat penting bagi berbagai jenis flora dan fauna endemik. Kepala Balai TNBG dalam sambutannya mengajak para santri untuk menjadi agen penyebar pesan konservasi di tengah masyarakat. “Kami berharap para santri dapat menggabungkan nilai-nilai agama dengan kecintaan terhadap alam, sehingga mampu mengajak masyarakat mematuhi prosedur pendakian resmi dan menjaga kelestarian alam,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, Balai TNBG berharap tercipta generasi muda yang tidak hanya taat hukum, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap keberlanjutan ekosistem di Taman Nasional Batang Gadis, khususnya di kawasan Gunung Sorik Marapi. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis

Menampilkan 97–112 dari 1.989 publikasi