Selasa, 25 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Menjemput Asa Tesso Nilo: Deru Ekskavator dan Peluh Petugas di Jantung Hutan yang Terluka

Pelalawan, Juli 2026 — Jarum jam baru saja melewati angka 23.00 WIB. Di tengah kegelapan pekat kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), raungan mesin alat berat Sany baru saja mereda. Di bawah temaram lampu kerja, sang operator, menyeka keringat yang bercampur debu gambut di dahinya. Hari itu, Senin (6/7/2026), ia dan tim gabungan baru saja menuntaskan pemusnahan hektaran kelapa sawit ilegal yang telanjur merangsek masuk ke dalam jantung kawasan konservasi. Ini bukan sekadar operasi penertiban biasa. Ini adalah perang senyap mengembalikan hak alam. Berdasarkan surat perintah resmi dari Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Kehutanan Wilayah Sumatera dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo yang dirilis awal Juli, sebuah misi besar dimulai sejak Senin (5/7/2026). Misinya satu: memulihkan ekosistem Tesso Nilo yang kian terhimpit oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit tak berizin. Perjuangan di lapangan jauh dari kata mudah. Berbekal 5 unit sepeda motor, 2 mobil operasional, dan kawalan ketat petugas bersenjata api untuk mengantisipasi potensi konflik kemanan, tim bergerak membelah hutan. Musuh mereka bukan hanya penolakan, melainkan medan yang ekstrem dan kendala teknis yang menguras emosi. Tengok saja apa yang terjadi pada Rabu (8/7/2026). Di bawah terik matahari, alat berat Hitachi Zaxis yang dioperasikan mendadak bungkam akibat kerusakan mesin di petak 3, setelah merobohkan 1,5 hektar sawit milik seorang warga berinisial AT. Di sudut lain, tepatnya di petak 10, operator mengendalikan ekskavator Sany harus memutar otak. Hamparan kelapa sawit ilegal milik warga berinisial J justru terkunci di tengah kepungan hutan lebat. Alat berat tak punya celah untuk merangsek masuk. "Kalau alat tidak bisa masuk, bukan berarti sawit ilegal ini dibiarkan. Solusinya, petugas harus berjalan kaki masuk ke dalam dan menyuntikkan racun secara manual ke batang-batang sawit itu," bisik salah satu petugas di lapangan. Langkah ini melelahkan, namun harus diambil demi memastikan restorasi tetap berjalan. Hingga Selasa (7/7/2026), operasi bertahap ini terus merayap pasti. Hektar demi hektar lahan yang dikuasai secara ilegal oleh belasan warga, seperti lahan milik S, M, P, L, hingga Y satu per satu dikembalikan fungsinya. Menggunakan teknologi modern, tim juga menerbangkan drone untuk memetakan dan memastikan areal yang telah ditumbangkan benar-benar bersih agar alam bisa bernapas kembali. Operasi ini belum usai. Ini adalah kerja maraton yang dilakukan secara bertahap. Di balik angka-angka koordinat GPS yang rumit dan target luasan hektar yang kaku, ada peluh para petugas Gakkum dan Balai TNTN yang bertaruh lelah hingga larut malam. Mereka bertahan di kesunyian hutan, merobohkan tanaman monokultur, demi menjemput kembali masa depan Tesso Nilo yang hijau dan lestari. Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Artikel

Mengembalikan Senyum Tesso Nilo, Satu Demi Satu Langkah

Pelalawan Juli 2026 – Terik matahari Senin (13/10) itu terasa membakar kulit, namun tak menyurutkan langkah 34 petugas gabungan dari Balai Gakkum LHK Wilayah Sumatera dan Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Hari itu, mereka kembali masuk ke kawasan Resor Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) II Air Hitam. Misinya satu: memulihkan napas hutan yang kian sesak oleh kepungan sawit ilegal. Operasi pemulihan ekosistem ini bukanlah perkara mudah. Di lapangan, para petugas harus berhadapan dengan medan yang berat dan kendala teknis yang menguji kesabaran. Hari itu, dua alat berat yang diandalkan tak bisa berbuat banyak, ekskavator Hitachi Zaxis mengalami kerusakan mesin. Namun, menyerah bukan pilihan bagi para penjaga hutan ini. Mengandalkan 9 unit sepeda motor dan satu unit mobil operasional, mereka tetap bergerak menyisir petak demi petak lahan. Ketegasan yang dibalut pendekatan persuasif akhirnya membuahkan hasil. Bersama Tim Operasi, dua pemilik lahan, Supardi dan Jatmiko, akhirnya luluh dan sepakat untuk memusnahkan sendiri tanaman sawit mereka yang telanjur ditanam di dalam kawasan konservasi. Dengan menyemprotkan cairan Garlon, sebanyak 4 hektare sawit ilegal di Petak 10 dan Petak 23 berhasil dimusnahkan hari itu. Angka 4 hektare mungkin terasa kecil dibanding luasnya kerusakan hutan yang ada, namun bagi para petugas, setiap jengkal sawit yang roboh adalah kemenangan kecil untuk masa depan keanekaragaman hayati Tesso Nilo. Bagi ke-34 personel di lapangan, peluh yang bercucuran hari itu adalah bukti otentik dari sebuah perjuangan panjang: merebut kembali hak alam dari keserakahan, demi pulihnya paru-paru Sumatra. Sumber: Balai TN Tesso Nilo
Baca Artikel

Tiga Hari Membuat Resah, Seekor Monyet Liar Justru Menghilang Saat Tim BBKSDA Jawa Timur Tiba

Sidoarjo, 20 Juli 2026. Laporan warga yang diteruskan Radio Suara Surabaya mendorong respon cepat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Saat tim tiba dan melakukan penyisiran, satwa yang dilaporkan berkeliaran itu tak lagi nampak. Selama tiga hari terakhir, warga Perumahan Griya Permata Gedangan Tahap II, Desa Keboansikep, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, dibuat waspada oleh kemunculan seekor monyet yang berkeliaran di lingkungan permukiman. Laporan tersebut kemudian diteruskan Radio Suara Surabaya (SS) kepada Call Center Balai Besar KSDA Jawa Timur, sehingga segera ditindaklanjuti oleh Tim Matawali Seksi Konservasi Wilayah III bersama Unit Penyelamatan Satwa (UPS) pada Jumat (17/7/2026). Setibanya di lokasi, tim berkoordinasi dengan Ketua RW setempat sebagai pelapor, kemudian melakukan pemeriksaan dan pemantauan di sekitar kawasan perumahan. Pengawasan dilakukan secara langsung maupun menggunakan drone untuk memperluas jangkauan pencarian. Namun hingga kegiatan selesai, monyet yang dilaporkan warga tidak lagi ditemukan. Satwa diduga telah berpindah ke lokasi lain atau bersembunyi sehingga tidak terpantau selama proses pengawasan berlangsung. Selain melakukan pemantauan, petugas juga memberikan edukasi kepada warga mengenai langkah yang tepat apabila kembali menjumpai satwa liar. Masyarakat diimbau untuk tidak mengejar atau menangkap satwa secara mandiri, melainkan menjaga jarak aman dan segera melaporkannya kepada BBKSDA Jawa Timur agar dapat ditangani sesuai prosedur. Di sisi lain, Radio Suara Surabaya turut berperan memastikan informasi yang diterima masyarakat tetap akurat dengan melakukan konfirmasi kepada BBKSDA Jawa Timur melalui sambungan telepon maupun siaran langsung. Kolaborasi antara masyarakat, media, dan pemerintah menjadi bagian penting dalam membangun respon yang cepat sekaligus mencegah berkembangnya informasi yang tidak terverifikasi. Kemunculan satwa liar di kawasan permukiman tidak selalu menunjukkan adanya ancaman maupun gangguan tertentu. Satwa dapat berpindah karena berbagai faktor, sehingga setiap laporan perlu diverifikasi melalui pengamatan lapangan sebelum dilakukan tindakan lebih lanjut. Peristiwa di Gedangan menjadi pengingat bahwa penanganan interaksi manusia dan satwa liar membutuhkan peran semua pihak. Laporan masyarakat yang cepat, dukungan media yang bertanggung jawab, serta respon petugas konservasi yang profesional merupakan kunci untuk menjaga keselamatan manusia sekaligus kelestarian satwa liar. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Serah Terima Jabatan Pejabat Administrator dan Pengawas Lingkup Balai Besar KSDA Jawa Timur

Sidoarjo, 20 Juli 2026. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur kembali menyelenggarakan acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) dan Pisah Sambut Pejabat Administrator dan Pengawas pada Jumat (17/7/2026) di Lobi Kantor BBKSDA Jatim. Kegiatan dihadiri langsung oleh Kepala BBKSDA Jatim, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., beserta para Pejabat Administrator dan Pejabat Pengawas yang akan melakukan serah terima jabatan. Dalam sambutannya, Kepala Balai menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan pengabdian para pejabat yang telah mengemban amanah selama bertugas di Balai Besar KSDA Jawa Timur. “Selamat kepada pejabat yang memperoleh amanah baru, semoga semangat pengabdian, profesionalisme, serta sinergi antar satuan kerja terus dapat ditingkatkan dalam mendukung pelaksanaan tugas konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya,” tambahnya. Prosesi serah terima jabatan dilaksanakan dengan penandatanganan berita acara dan penyerahan memori jabatan sebagai simbol estafet kepemimpinan serta keberlanjutan pelaksanaan tugas. Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Agustinus Krisdijantoro, S.Si., M.P. akan menempati tugas baru sebagai Kepala Bidang KSDA Wilayah II pada Balai Besar KSDA Jawa Timur. Sedangkan Dr. Ichwan Muslih, S.Si., M.Si. yang sebelumnya sebagai Kepala Bidang KSDA Wilayah II akan menjabat sebagai Kepala Bidang Teknis KSDA pada Balai Besar KSDA Sumatera Utara Sementara itu Kepala Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi, Dwi Putro Sugiarto, S.Hut., M.Si. akan menempati jabatan barunya sebagai Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I pada Balai Taman Nasional Alas Purwo. Sebagai pengganti posisinya akan digantikan Noviyani Utami, S.Hut., M.Sc. yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I pada Balai Taman Nasional Alas Purwo. Perubahan jabatan tersebut merupakan bagian dari penyegaran organisasi dan penguatan tata kelola kelembagaan di lingkungan Kementerian Kehutanan. Melalui momentum serah terima jabatan ini, diharapkan seluruh pejabat yang mendapat amanah baru dapat menjalankan tugas dan tanggung jawab dengan penuh integritas, profesionalisme, serta dedikasi tinggi. Balai Besar KSDA Jawa Timur juga berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi dan meningkatkan kinerja organisasi dalam mewujudkan pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang berkelanjutan demi mendukung pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia. Sumber: Indah Permatasari (Pranata Sumber Daya Manusia Aparatur Terampil) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kantong Semar: Pesona Tanaman Karnivora di Taman Nasional Tesso Nilo

Pelalawan, Juli 2026. Taman Nasional Tesso Nilo merupakan salah satu kawasan hutan hujan tropis dataran rendah terpenting di Sumatera yang menyimpan keanekaragaman hayati tinggi. Dari hasil penelitian Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) tahun 2003 ditemukan pohon 215 jenis dari 48 famili dan anak pohon 305 jenis dari 56 famili. Juga ditemukan 82 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat sebagai bahan obat dan 4 jenis tumbuhan untuk racun ikan. Jenis tumbuhan dan racun tersebut terdiri dari 86 jenis dan 78 marga yang termasuk 46 suku/famili untuk mengobati sekitar 38 macam penyakit. Termasuk tanaman unik kantong semar (Nepenthes spp.) merupakan salah satu marga yang termasuk ke dalam Suku Nepenthaceae. Hampir semua jenis kantong semar tumbuh di tempat yang terbuka, lembab, miskin hara (Clarke, 2001). Kebiasaan hidup di tempat yang miskin hara menjadikan Nepenthes digunakan sebagai indikator lahan yang rusak atau terdegradasi. Di Taman Nasional Tesso Nilo, kantong semar umumnya dijumpai tumbuh di area hutan sekunder, tepian jalur patroli, kawasan rawa, serta lahan dengan intensitas cahaya yang cukup. Tanaman ini tumbuh merambat atau menjalar di antara vegetasi lain, memanfaatkan lingkungan lembap khas hutan tropis. Keberadaannya sering menjadi daya tarik tersendiri bagi petugas lapangan, peneliti, maupun pengunjung yang melakukan kegiatan patroli, monitoring, dan wisata edukasi. Ciri khas kantong semar di Tesso Nilo terlihat dari bentuk kantongnya yang beragam, dengan warna hijau hingga kemerahan, terkadang dihiasi corak alami yang mencolok. Kantong tersebut merupakan modifikasi daun yang berfungsi sebagai perangkap serangga. Cairan di dalam kantong mengandung enzim pencerna yang membantu tanaman memperoleh nutrisi tambahan, sehingga mampu bertahan hidup di lingkungan dengan keterbatasan unsur hara. Selain keunikannya, kantong semar memiliki peran penting dalam ekosistem Taman Nasional Tesso Nilo. Tanaman ini membantu mengendalikan populasi serangga dan menyediakan mikrohabitat bagi berbagai organisme kecil. Kehadirannya mencerminkan keseimbangan ekosistem hutan dan menjadi bagian dari jejaring kehidupan yang saling terkait di kawasan konservasi ini. Namun demikian, keberadaan kantong semar di Tesso Nilo menghadapi berbagai ancaman, seperti kebakaran hutan dan lahan, pembukaan kawasan secara ilegal, serta pengambilan tanaman secara tidak bertanggung jawab. Padahal, kantong semar termasuk tumbuhan yang dilindungi dan memiliki nilai konservasi tinggi. Oleh karena itu, perlindungan habitat dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting dalam menjaga kelestariannya. Kantong semar bukan hanya tanaman unik, tetapi juga sarana edukasi konservasi yang efektif. Melalui pengenalan langsung di lapangan, tanaman ini dapat menjadi media pembelajaran tentang adaptasi tumbuhan, keseimbangan ekosistem, dan pentingnya menjaga hutan. Pelestarian kantong semar di Taman Nasional Tesso Nilo merupakan bagian dari upaya menjaga kekayaan hayati dan keberlanjutan fungsi hutan bagi generasi masa depan. Secara filosofis, kantong semar juga memberikan pelajaran berharga bagi kehidupan manusia. Tanaman ini mampu bertahan di lingkungan yang miskin hara dengan cara beradaptasi secara unik, mengajarkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang. Bentuk kantongnya yang terbuka melambangkan kesiapan menerima peluang, namun juga mengingatkan agar manusia tetap bijak dan selektif dalam mengambil keputusan. Selain itu, kemampuan kantong semar memanfaatkan sumber daya yang terbatas menggambarkan pentingnya kreativitas, ketekunan, dan kecerdasan dalam menghadapi tantangan hidup. Dari kantong semar, manusia dapat belajar untuk tetap kuat, adaptif, dan seimbang dengan lingkungan, serta tidak menyerah dalam kondisi sulit. Tesso Nilo Lestari. Sumber: Wuddan Misbahuddin, Tomy Adi Wibowo, Syarifudin, Muhammad Abdi, Muhammad Misran, Mokhamad Saiful Anwar - Balai TN Tesso Nilo
Baca Artikel

Sebelum Asap Membumbung, BBKSDA Jawa Timur Perkuat Benteng Pencegahan Kebakaran Hutan di Bawean

Balai Besar KSDA Jawa Timur memilih memperkuat upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui edukasi, pemasangan media peringatan, serta kolaborasi dengan masyarakat dan pemerintah desa di Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Bawean, 20 Juli 2026. Memasuki musim kemarau, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean memperkuat langkah antisipatif untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Selama empat hari, mulai 14 hingga 17 Juli 2026, berbagai upaya preventif dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat. Mulai pemasangan media peringatan, pemantauan lapangan, serta penguatan koordinasi dengan pemerintah desa penyangga kawasan konservasi. Kegiatan diawali dengan sosialisasi pencegahan karhutla kepada peserta didik MTs NU Menara di Desa Gunungteguh. Melalui kegiatan Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA), para siswa diajak memahami pentingnya menjaga kawasan konservasi dari ancaman kebakaran sekaligus didorong menjadi agen penyebar informasi di lingkungan keluarga dan masyarakat. Upaya pencegahan kemudian dilanjutkan dengan pemasangan spanduk kewaspadaan dini di sejumlah lokasi yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran, yakni Blok Kumalasa, Blok Payung-payung, dan Blok Alas Timur. Ketiga lokasi tersebut dipilih karena berada pada jalur yang memiliki intensitas aktivitas masyarakat cukup tinggi dan berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Saat melakukan pemasangan media edukasi di Blok Alas Timur, tim menemukan bekas kebakaran pada tepi jalan dengan luas sekitar 10 meter persegi. Temuan ini menjadi indikasi bahwa potensi kebakaran di sekitar kawasan konservasi masih perlu diantisipasi secara serius, terutama selama musim kemarau. Menindaklanjuti temuan tersebut, tim segera berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Daun untuk memperkuat penyampaian imbauan kepada masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan maupun sampah di sekitar kawasan konservasi. Pemerintah Desa Daun menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya pencegahan melalui penyebarluasan informasi kepada masyarakat. Pencegahan merupakan langkah paling efektif dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kawasan konservasi tetap aman dari ancaman kebakaran. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa pendekatan kolaboratif melalui edukasi, pemasangan media informasi, serta sinergi dengan pemerintah desa dan Masyarakat Mitra Polhut menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Selain itu, pemantauan lapangan juga memberikan informasi awal mengenai titik-titik yang memerlukan perhatian lebih selama musim kemarau. Ke depan, BBKSDA Jawa Timur akan terus memperkuat patroli pencegahan karhutla, memperluas pemasangan media edukasi di lokasi rawan, serta meningkatkan koordinasi dengan pemerintah desa, Masyarakat Mitra Polhut, Manggala Agni, dan para pemangku kepentingan lainnya sebagai bagian dari sistem deteksi dini kebakaran. Menjaga kawasan konservasi tidak dimulai ketika api muncul, tetapi jauh sebelumnya. Melalui edukasi, kolaborasi, dan kesiapsiagaan, upaya pencegahan menjadi langkah utama untuk memastikan Suaka Margasatwa Pulau Bawean tetap lestari sebagai habitat berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sinau Ornitologi Bareng Pelita-Hijau Daun

Kediri, 17 Juli 2026. Pagi yang rimbun di pelataran Yayasan Hijau Daun menjadi saksi kolaborasi hangat antara Seksi KSDA Wilayah (SKW) 1 Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dengan pegiat alam generasi muda dan senior yang melebur dalam tajuk "Belajar Ornitologi Bersama". Di bawah kanopi pepohonan yang rindang, para anggota Mapala Pelita berkumpul bersama pendiri Yayasan Hijau Daun pada Rabu (16/7/2026) untuk membedah sains populer yang kerap terlupakan, dunia kepakan sayap atau ornitologi. Acara ini bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, melainkan sebuah transfer keilmuan berbasis ekologi yang dikemas secara santai namun sarat akan data ilmiah. Indonesia, dengan statusnya sebagai salah satu negara megabiodiversity, memiliki kekayaan avifauna yang luar biasa. Urgensi inilah yang membuka sesi pertama kegiatan. Menyelami Kekayaan Avifauna Nusantara Akhmad David Kurnia Putra, Polhut Muda SKW 1 Kediri, membuka diskusi interaktif dengan pemaparan data mutakhir tentang keanekaragaman burung di Indonesia. Secara geografis, Indonesia terletak di antara Paparan Sunda dan Sahul menciptakan keunikan garis zonasi fauna. Hal ini memicu tingginya angka endemisitas burung di tanah air. David menekankan bahwa memahami keanekaragaman burung bukan sekadar menghafal nama, melainkan membaca indikator kesehatan dari sebuah ekosistem. “Jadi burung bertindak sebagai bioindikatornya, jika populasi burung di suatu wilayah terganggu, maka ada alarm ekologis yang sedang berbunyi di lingkungan tersebut,” ujarnya. Suasana belajar semakin seru saat peserta mulai diperkenalkan pada metodologi sains warga atau citizen science. Para peserta diajarkan mengenai teknik dasar inventarisasi avifauna. Pada sesi ini, David membedah tentang fungsi krusial binokular dan monokular sebagai "perpanjangan mata". Hal itu untuk meminimalkan jarak bias tanpa mendisturbansi perilaku alami burung yang sedang diamati. Selanjutnya, peserta diperkenalkan dengan Seni Sketsa Lapangan. Kali ini mereka dilatih menangkap anatomi burung secara cepat lewat sketsa. Dalam dunia ornitologi, sketsa lapangan sangat vital untuk mencatat field marks (ciri diagnosis fisik) burung, seperti bentuk paruh, warna bulu dada, atau pola ekor sebelum burung terbang menjauh. Tak lupa Om Dev (panggilan akrab David) menjelaskan tentang Identifikasi Buku Panduan. Yakni, mengasah akurasi klasifikasi taksonomi menggunakan buku panduan lapangan (field guide) sebagai acuan validasi ilmiah spesies di lapangan. Bersiap Menuju Praktik Lapangan Pertemuan perdana ini setidaknya berhasil meletakkan fondasi teoritis yang kuat bagi para anggota Mapala Pelita. Namun, petualangan ilmiah ini baru saja dimulai. Pada pertemuan kedua mendatang, seluruh peserta dijadwalkan akan langsung diajak terjun ke lapangan. Mereka akan menguji ketajaman mata dan akurasi identifikasi dalam praktik pengamatan burung (birdwatching) secara langsung untuk mendata keanekaragaman lokal secara nyata. Sumber: Siti Nurlaili (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menyemai Ficus, Upaya Konservasi Sang Raksasa Hijau

Kediri, 17 Juli 2026. Halaman belakang kantor Seksi KSDA Wilayah (SKW) I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mendadak berubah menjadi laboratorium alam yang hidup pada Rabu (15/7). Bukan riset kaku dengan jas laboratorium, melainkan sebuah sesi berbagi ilmu yang santai namun sarat ilmu botani. Tim SKW I Kediri menggelar kegiatan belajar persemaian interaktif bersama sang maestro lokal, Rudiyanto, yang akrab disapa "Mbah Leses". Julukan unik ini bukan tanpa alasan. Rudiyanto merupakan seorang kader konservasi yang memiliki reputasi praktis luar biasa dalam menjinakkan benih pohon Leses (Ficus albipila). Spesies raksasa yang menjadi simbol kebanggaan Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan. Tumbuhan ini dikenal memiliki tingkat kesulitan persemaian yang tinggi di dalam kawasan. Teori Dulu, Praktis Kemudian Kegiatan di pagi hari bukan lagi sekedar obrolan basa basi, namun berisi mengupas tuntas rahasia di balik dinding sel dan hormon pertumbuhan tanaman. Mbah Leses membuka sesi dengan pemaparan sederhana viabilitas benih dan kondisi mikro ideal untuk genus Ficus. Setelah teori dikupas habis, suasana semakin seru saat tim masuk ke sesi hands-on eksternal atau praktik langsung. Fokusnya ada pada tiga primadona hijau dari CA. Manggis Gadungan, Ficus albipila (Leses), Ficus nervosa, dan Ficus magnoliifolia. Langkah perdana dimulai dengan ilmu media tanam yang sering disebut growing medium. Struktur tanahnya tidak boleh sembarangan, karena Ficus membutuhkan porositas tinggi agar akar muda tidak membusuk. Tim bersama Mbah Leses mempraktikkan pencampuran formula pasir, tanah, dan sekam lapuk dengan rasio yang presisi, hal ini demi mendapatkan drainase maksimal. Seni Mengekstrak Buah Basah vs Biji Kering Tantangan sesungguhnya ada pada teknik penanganan benih yang terbagi menjadi dua metode kekinian. Yang pertama, Metode Ekstraksi Buah Basah. Pada metode ini tim memisahkan biji mikro dari daging buah segar Ficus albipila dan Ficus nervosa. Proses ini cukup krusial, karena harus menghilangkan zat inhibitor atau penghambat tumbuh yang ada pada daging buah. Sedangkan yang kedua, Metode Semai Biji Kering. Berbeda dengan metode pertama, penyemaian biji kering Ficus albipila dan Ficus magnoliifolia menuntut kelembapan yang konsisten. Tim belajar teknik tabur halus di atas media tanpa perlu menimbunnya, mengingat karakter biji Ficus yang bersifat fotoblastik positif atau membutuhkan cahaya untuk berkecambah. Melalui kolaborasi sains modern dan kearifan lokal dari Mbah Leses, SKW I Kediri optimistis kegiatan ini menjadi langkah taktis dalam menjaga biodiversitas vegetasi asli CA. Manggis Gadungan dari kepunahan. Bagaimana menurutmu? Sumber: Siti Nurlaili (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Demi Mengajarkan Cinta Yang Benar, Seorang Ibu Serahkan Elang Tikus Kepada Negara

"Mendidik anak bukan hanya mengajarkan cara mencintai satwa, tetapi juga memahami bahwa satwa liar memiliki rumah yang tak tergantikan yaitu alam" Kota Batu, 17 Juli 2026. Menjelang peringatan Hari Anak Nasional 2026, sebuah kisah sederhana dari Kelurahan Sisir, Kota Batu, menghadirkan makna baru tentang kasih sayang orang tua. Bukan dengan memberikan apa yang diinginkan anaknya, melainkan dengan mengajarkan keberanian melakukan hal yang benar. Pada 16 Juli 2026, Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipiha (Matawali) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 17 Malang mengevakuasi seekor Elang Tikus (Elanus caeruleus) yang diserahkan secara sukarela oleh seorang warga, Ibu Nunik. Penyerahan itu merupakan tindak lanjut atas laporan yang disampaikan sehari sebelumnya kepada petugas BBKSDA Jawa Timur. Elang tersebut diketahui telah dipelihara selama kurang lebih dua tahun. Menurut penuturan Ibu Nunik, burung pemangsa itu dibeli oleh anaknya melalui media sosial Facebook. Namun seiring waktu, muncul pertanyaan dalam benaknya mengenai status satwa tersebut dan apakah sudah tepat memeliharanya. Rasa ingin tahu itulah yang akhirnya mengantarkannya menghubungi BBKSDA Jawa Timur. Alih-alih mempertahankan satwa yang telah lama dipelihara keluarganya, Ibu Nunik justru memilih menyerahkannya kepada negara agar dapat memperoleh kesempatan kembali hidup di habitat alaminya. Bagi konservasi, keputusan itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar proses evakuasi seekor burung pemangsa. Di baliknya tersimpan pelajaran bahwa kasih sayang kepada anak tidak selalu diwujudkan dengan memenuhi setiap keinginannya. Terkadang, kasih sayang justru hadir melalui teladan untuk menghormati kehidupan makhluk lain. Momentum ini sejalan dengan semangat Hari Anak Nasional 2026, yang mengingatkan bahwa pendidikan karakter dimulai dari lingkungan keluarga. Mengenalkan anak pada nilai-nilai konservasi berarti menanamkan empati, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap kehidupan sejak usia dini. Anak-anak perlu memahami bahwa satwa liar bukanlah hewan peliharaan, melainkan bagian penting dari ekosistem yang harus tetap hidup bebas di alam. Selama proses evakuasi, petugas juga memberikan edukasi kepada keluarga mengenai peran ekologis Elang Tikus sebagai predator alami pengendali populasi tikus di lahan pertanian, sekaligus menjelaskan aspek hukum terkait perlindungan dan pemanfaatan satwa liar. Menurut Agus Irwanto, Tim Matawali RKW 17 Malang, bahwa penyerahan satwa secara sukarela merupakan bentuk keberhasilan pendekatan konservasi yang mengedepankan edukasi. "Kami sangat mengapresiasi keputusan Ibu Nunik dan keluarga. Di momentum Hari Anak Nasional, tindakan ini menjadi teladan bahwa mencintai anak juga berarti mengajarkan mereka mencintai alam dengan cara yang benar. Satwa liar bukan untuk dipelihara, melainkan untuk tetap hidup bebas menjalankan perannya di alam. Kesadaran seperti inilah yang menjadi fondasi keberhasilan konservasi di masa depan," ujarnya. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Elang Tikus berada dalam kondisi sehat tanpa luka maupun cacat fisik. Selanjutnya, satwa dibawa ke kandang transit RKW 17 Malang sebelum diteruskan ke Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani observasi, pemeriksaan kesehatan, dan penilaian kelayakan sebelum dilepasliarkan. Kisah dari Kota Batu ini menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari hutan atau kawasan lindung. Terkadang, ia lahir dari ruang keluarga, ketika seorang ibu memilih memberikan pelajaran hidup yang paling berharga kepada anaknya: bahwa mencintai satwa liar berarti membiarkannya tetap menjadi bagian dari alam. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Setetes Kehidupan Bagi Rusa Bawean

Pemeriksaan embung air di Suaka Margasatwa Pulau Bawean menjadi langkah penting memastikan sumber kehidupan tetap mengalir bagi satwa endemik yang hanya hidup di pulau kecil di utara Jawa. Bawean, 16 Juli 2026. Di tengah rimbunnya hutan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, air tidak sekadar mengalir. Ia menjadi penentu kehidupan. Ketika musim kemarau perlahan mengurangi debit mata air alami, setiap tetes yang berhasil ditampung dalam embung memiliki arti penting bagi satwa liar. Utamanya Rusa Bawean (Axis kuhlii), mamalia endemik yang hanya ditemukan di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Berangkat dari kesadaran tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melaksanakan pembinaan habitat berupa pengecekan infrastruktur embung air pada Senin (13/7). Kegiatan yang berlangsung di Blok Gunung Besar, Desa Suwari, Kecamatan Tambak, ini bertujuan memastikan seluruh sarana penyedia air tetap berfungsi optimal sebagai bagian dari strategi pembinaan habitat satwa liar. Tim melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap tiga embung air beserta jaringan perpipaan, sumber mata air, bak penampungan, hingga papan informasi kawasan. Setiap temuan didokumentasikan, titik koordinat dicatat, dan kondisi lapangan dianalisis sebagai dasar penyusunan rekomendasi teknis pengelolaan habitat yang adaptif. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Embung Gunung Batu Suwari masih membutuhkan pemasangan jaringan pipa sepanjang sekitar 80 meter dari sumber mata air menuju bak penampungan. Selain itu, ditemukan retakan ringan pada dinding bak yang memerlukan perbaikan agar tidak mengurangi kapasitas penampungan air. Kondisi serupa dijumpai di Embung Kaloceng. Embung ini memerlukan pemasangan jaringan pipa sepanjang kurang lebih 120 meter serta rehabilitasi ringan pada bak penampungan akibat retakan yang mulai terbentuk. Tanpa suplai air yang memadai, fungsi embung sebagai penyedia air alternatif bagi satwa liar belum dapat berjalan secara optimal. Berbeda dengan kedua lokasi tersebut, Embung Gunung Bengko berada dalam kondisi yang baik. Struktur bak penampungan masih kokoh, jaringan perpipaan tetap berfungsi, dan embung dapat segera dimanfaatkan kembali cukup dengan mengaktifkan aliran air dari sumber mata air yang tersedia. Sementara itu, papan informasi kawasan yang berada di sekitar lokasi masih layak digunakan sebagai media edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya kawasan konservasi. Pemeriksaan infrastruktur juga memberikan gambaran mengenai kondisi ekologis kawasan. Di sekitar embung, tim menemukan berbagai tanda aktivitas Rusa Bawean berupa bekas gesekan tanduk pada vegetasi dan bekas pakan. Temuan ini mengindikasikan bahwa lokasi tersebut masih menjadi bagian dari habitat yang aktif dimanfaatkan satwa. Tidak hanya Rusa Bawean, kawasan ini juga menjadi ruang hidup bagi berbagai jenis satwa liar lainnya. Tim mencatat keberadaan kotoran Babi Kutil Bawean, Monyet Ekor Panjang, Elang Ular Bawean, Raja Udang Punggung Merah, Cinenen Kelabu, serta Merbah Belukar. Keanekaragaman tersebut menunjukkan bahwa embung memiliki fungsi ekologis yang melampaui tujuan awal pembangunannya, yakni menjadi sumber air yang dimanfaatkan oleh berbagai komponen ekosistem. Bagi satwa di Pulau Bawean, air merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas habitat. Pada musim kemarau, ketika beberapa sumber air alami mengalami penurunan debit, embung menjadi penyangga ekologis yang membantu mempertahankan ketersediaan air di dalam kawasan. Kondisi tersebut turut memengaruhi pola jelajah, aktivitas harian, hingga peluang satwa memperoleh sumber daya yang dibutuhkan untuk bertahan hidup. Karena itu, menjaga embung sesungguhnya bukan sekadar memelihara sebuah bangunan. Upaya tersebut merupakan bagian dari menjaga keseimbangan ekosistem agar proses-proses alami di dalam hutan tetap berlangsung. Infrastruktur konservasi menjadi bernilai ketika mampu mendukung fungsi ekologis yang menjadi fondasi keberlangsungan kehidupan satwa liar. Konservasi sering kali dipahami sebagai upaya menyelamatkan satwa ketika menghadapi ancaman. Namun di Pulau Bawean, konservasi dimulai jauh sebelum ancaman itu datang. Ia hadir melalui langkah-langkah sederhana namun mendasar yaitu memastikan mata air tetap mengalir, embung tetap berfungsi, dan habitat tetap mampu menyediakan kebutuhan dasar bagi penghuninya. Di sebuah pulau kecil yang menjadi satu-satunya rumah bagi Rusa Bawean, setiap tetes air adalah investasi bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. Menjaganya berarti menjaga kesinambungan kehidupan yang telah berlangsung selama ribuan tahun, sekaligus mewariskan hutan yang tetap hidup bagi generasi yang akan datang. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ekoteologi Hadir di MTs. NU Menara Pulau Bawean, Menumbuhkan Generasi Penjaga Keanekaragaman Hayati

Gresik, 16 Juli 2026. Di tengah berbagai tantangan lingkungan yang dihadapi dunia, sebuah ikhtiar sederhana tumbuh dari ruang kelas MTs. NU Menara, Desa Gunungteguh, Pulau Bawean. Pada Selasa, 14 Juli 2026, madrasah tersebut mengawali perjalanan peserta didik baru melalui Masa Ta'aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) dengan mengusung tema "Madrasah Sehat, Nyaman, dan Program Asri Berbasis Ekoteologi." Sebuah tema yang menegaskan bahwa merawat bumi bukan hanya persoalan ilmu pengetahuan, tetapi juga bagian dari pengamalan nilai-nilai keagamaan. Semangat tersebut diperkuat melalui kolaborasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur. Melalui Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, BBKSDA Jawa Timur hadir sebagai narasumber Program Bina Cinta Alam untuk memperkenalkan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem kepada para peserta didik. Kolaborasi ini menjadi langkah nyata mempertemukan nilai spiritual dengan ilmu konservasi dalam satu ruang pembelajaran. Materi yang disampaikan mencakup pengenalan kawasan konservasi, pentingnya menjaga keanekaragaman hayati, perlindungan tumbuhan dan satwa liar, serta upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penyampaian dilakukan dalam dua sesi terpisah bagi peserta didik putra dan putri dengan substansi yang sama sehingga seluruh peserta memperoleh kesempatan belajar yang setara. Bagi Pulau Bawean, pendidikan konservasi memiliki arti yang jauh melampaui kegiatan sosialisasi semata. Pulau yang dikenal sebagai salah satu benteng keanekaragaman hayati Jawa Timur ini menyimpan berbagai kekayaan flora dan fauna yang memerlukan perlindungan berkelanjutan. Keberhasilan menjaga kawasan konservasi tidak hanya ditentukan oleh pengelolaan kawasan dan penegakan hukum, tetapi juga oleh tumbuhnya kesadaran masyarakat yang dimulai sejak usia sekolah. Di sinilah konsep ekoteologi menemukan relevansinya. Alam dipandang bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan, melainkan amanah yang harus dipelihara. Menjaga hutan, melindungi satwa liar, serta memelihara keseimbangan ekosistem merupakan bagian dari tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di bumi. Nilai-nilai tersebut selaras dengan prinsip konservasi yang mengedepankan keberlanjutan, keseimbangan, dan penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup. Sepanjang kegiatan, antusiasme peserta didik terlihat dari berbagai pertanyaan dan diskusi yang berkembang. Mereka tidak hanya ingin mengenal kawasan konservasi di Pulau Bawean, tetapi juga memahami mengapa satwa liar harus dilindungi, bagaimana kebakaran hutan dapat dicegah, serta apa yang dapat dilakukan oleh seorang pelajar untuk menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggalnya. Interaksi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan konservasi yang dikaitkan dengan nilai-nilai kehidupan sehari-hari mampu membangun ketertarikan sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap alam. Pendidikan konservasi bagi generasi muda merupakan investasi jangka panjang yang tidak kalah penting dibandingkan pengelolaan kawasan konservasi. Perlindungan keanekaragaman hayati akan lebih kokoh apabila masyarakat memahami alasan di balik setiap upaya konservasi. Karena itu, Program Bina Cinta Alam terus dikembangkan sebagai media membangun budaya konservasi melalui jalur pendidikan, sehingga lahir generasi yang tidak hanya mengenal kekayaan alam Indonesia, tetapi juga memiliki kepedulian untuk menjaganya. Kesamaan visi tersebut mendapat sambutan positif dari Yayasan MTs. NU Menara. Pihak yayasan menyampaikan harapan agar sinergi dengan BBKSDA Jawa Timur dapat terus dikembangkan melalui berbagai program pendidikan konservasi, pembinaan sekolah, serta kegiatan kolaboratif lainnya. Kolaborasi antara lembaga pendidikan dan institusi konservasi memperlihatkan bahwa menjaga alam tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk dunia pendidikan, untuk membangun kesadaran ekologis yang berakar kuat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika sekolah menjadi ruang tumbuhnya nilai-nilai konservasi, pelestarian alam tidak lagi dipahami sebagai kewajiban institusi tertentu, melainkan menjadi budaya yang hidup di tengah masyarakat. Di MTs. NU Menara, langkah itu telah dimulai. Melalui pendekatan ekoteologi, para peserta didik diajak memahami bahwa mencintai ciptaan merupakan bagian dari wujud syukur kepada Sang Pencipta. Dari ruang kelas sederhana di Pulau Bawean, tumbuh sebuah harapan besar: lahirnya generasi yang menjadikan iman sebagai landasan moral, ilmu sebagai bekal berpikir, dan konservasi sebagai laku kehidupan. Sebab masa depan hutan, satwa liar, dan keanekaragaman hayati Indonesia pada akhirnya akan ditentukan oleh manusia-manusia yang hari ini sedang belajar memahami arti menjaga bumi. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pemeliharaan Tahun I Rampung, 22 Ribu Bibit Mangrove Disulam di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut

LANGKAT, 15 Juli 2026 – Kegiatan pemeliharaan Tahun I Kegiatan Rehabilitasi Mangrove pada blok 3 di Kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut telah rampung dilaksanakan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara pada akhir Juni 2026. Kegiatan rehabilitasi ini merupakan bagian dari upaya pemulihan ekosistem kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut yang didukung oleh KfW melalui Forest Programme (FP) VI. Program ini bertujuan untuk memulihkan ekosistem mangrove sekaligus memperkuat fungsi kawasan sebagai habitat satwa liar, pelindung pesisir, serta penopang penghidupan masyarakat sekitar. Sebanyak 22.000 (dua puluh dua ribu) bibit mangrove digunakan dalam kegiatan penyulaman untuk meningkatkan persentase keberhasilan tumbuh tanaman pada areal rehabilitasi. Pemeliharaan dilakukan sebagai tindak lanjut hasil monitoring pada April 2026 yang menunjukkan masih terdapat beberapa petak penanaman dengan tingkat pertumbuhan rendah akibat genangan air yang terlalu tinggi dan pertumbuhan lumut yang menutupi bibit. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian bibit mengalami gangguan dalam proses fotosintesis sehingga mengakibatkan tanaman mati. Oleh karena itu diperlukan tindakan penyulaman dan perbaikan kondisi tapak. Selain penyulaman, kegiatan pemeliharaan juga meliputi pembersihan lumut, pengaturan kondisi areal tanam, serta pembangunan 100 guludan mini sebagai media tanam pada lokasi yang memiliki genangan air dalam. Metode ini diterapkan untuk meningkatkan peluang hidup bibit pada petak-petak yang sebelumnya memiliki tingkat keberhasilan tumbuh rendah. Bibit penyulaman berasal dari 2 persemaian yang dikelola Kelompok Tani Hutan (KTH) Mutiara Mangrove dan KTH Lestari Mangrove. Kedua KTH ini merupakan kelompok binaan BBKSDA Sumatera Utara. Kedua kelompok tersebut membangun persemaian pada Januari 2026 dan menyiapkan bibit mangrove sebagai cadangan untuk mendukung kegiatan pemeliharaan. Distribusi bibit dilaksanakan secara bertahap mulai 22 Juni 2026, disertai penyaluran bahan pendukung seperti goni, wadah jaring, tali plastik, tali lanjaran, dan perlengkapan lapangan lainnya. Selanjutnya dilakukan pembersihan lumut, pembangunan guludan mini, hingga penyulaman bibit pada petak-petak yang membutuhkan. Pada tanggal 27 Juni 2026 seluruh bibit penyulaman telah didistribusikan ke lokasi pemeliharaan, sedangkan proses penyulaman diselesaikan pada 28 Juni 2026. Kegiatan tersebut melibatkan KTH bersama masyarakat setempat yang selama ini berperan aktif dalam pengelolaan kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut melalui pendekatan silvofishery. Jenis mangrove yang digunakan dalam penyulaman merupakan jenis bakau merah (Rhizopora apiculata), api-api (Avicennia sp), mata buaya (Bruguiera hainesii), dan lenggadai (Bruguiera parviflora). Dengan selesainya kegiatan Pemeliharaan Tahun I, diharapkan tingkat keberhasilan tumbuh tanaman meningkat sehingga kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut dapat memberikan manfaat ekologis maupun sosial-ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sumber: Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I, Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Ketika Elang Tak Lagi Menguasai Langit

Bondowoso, 17 Juli 2026. Elang itu masih menatap langit. Kedua sayapnya utuh, bulu-bulunya nyaris tak rusak. Namun ia hanya mampu rebah di pematang sawah, tanpa sanggup berdiri, apalagi terbang. Begitulah kondisi seekor Elang Tikus (Elanus caeruleus) ketika ditemukan di Dusun Taalbuk, Desa Taal, Kecamatan Tapen, Kabupaten Bondowoso, Selasa (14/7). Burung pemangsa yang selama ini dikenal sebagai pengendali alami populasi tikus sawah itu ditemukan oleh seorang petani yang tengah mengambil jerami untuk pakan ternaknya. Satwa kemudian diserahkan kepada anaknya, Fendy, yang memilih melaporkan temuan tersebut kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Keesokan harinya, Rabu (15/7), Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Bidang KSDA Wilayah III Jember bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi. Elang itu segera dibawa ke Jember Mini Zoo agar mendapatkan penanganan medis. Pemeriksaan dokter hewan menunjukkan kondisi yang jauh lebih serius daripada yang tampak dari luar. Tulang paha kaki kanannya mengalami patah remuk. Cedera itu membuat seluruh kemampuan alaminya seolah terputus. Seekor elang memang terbang dengan sayap, tetapi ia bertumpu pada kedua kaki saat lepas landas, mendarat, dan mencengkeram mangsa. Ketika kaki kehilangan fungsinya, langit pun menjadi tempat yang tak lagi dapat ia raih. Temuan medis juga mengubah dugaan awal. Luka pada bagian sayap sempat memunculkan kekhawatiran adanya tembakan. Namun setelah diperiksa lebih mendalam, dokter hewan memastikan tidak ditemukan tanda-tanda yang mengarah pada luka akibat proyektil. Sayap berada dalam kondisi baik, sedangkan penyebab luka maupun patah tulang pada kaki masih belum dapat dipastikan. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., meminta semua pihak tidak tergesa-gesa menarik kesimpulan. "Kami mengapresiasi kepedulian masyarakat yang telah menyerahkan satwa ini kepada petugas. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter hewan, tidak ditemukan indikasi luka akibat tembakan pada sayap. Cedera utama berada pada tulang paha kaki kanan yang mengalami patah remuk. Hingga saat ini penyebabnya masih belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pendalaman lebih lanjut," ujarnya. Menurut Nur Patria, konservasi harus dibangun di atas fakta, bukan asumsi. Karena itu, setiap dugaan mengenai penyebab cedera harus menunggu hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan. "Apabila di kemudian hari ditemukan adanya indikasi tindak pidana terhadap satwa liar dilindungi, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai ketentuan yang berlaku. Namun saat ini prioritas kami adalah memastikan satwa memperoleh perawatan terbaik sehingga peluang pemulihannya tetap terbuka," tegasnya. Elang Tikus bukan satwa yang asing bagi bentang persawahan. Burung pemangsa ini merupakan predator alami tikus, salah satu hama utama pertanian. Keberadaannya membantu petani menjaga keseimbangan ekosistem tanpa bergantung sepenuhnya pada pestisida. Pesan itulah yang turut disampaikan petugas kepada warga saat proses evakuasi berlangsung. Menyelamatkan Elang Tikus berarti menjaga salah satu mata rantai penting dalam ekosistem pertanian. Kini Elang Tikus tersebut masih menjalani perawatan intensif di Jember Mini Zoo. Jalan menuju kebebasannya masih panjang. Tim medis akan terus memantau perkembangan kondisi satwa sebelum menentukan apakah ia memiliki peluang kembali ke habitat alaminya. Boleh jadi kisah ini hanya tentang seekor elang yang jatuh di tengah sawah. Namun sesungguhnya ia juga berkisah tentang pilihan manusia. Di satu sisi, masih ada ancaman yang membuat satwa liar terluka. Di sisi lain, masih ada tangan-tangan yang memilih menolong daripada membiarkan. Dari pilihan-pilihan kecil itulah, masa depan konservasi sering kali ditentukan. Bukan ketika seekor elang terbang tinggi di langit, melainkan ketika ada manusia yang memutuskan bahwa langit itu masih layak menjadi rumahnya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sanca, Hutan, dan Sebuah Pilihan

Pacitan, 15 Juli 2026. Seekor sanca kembang (Malayopython reticulatus) melata perlahan meninggalkan sarana angkutnya. Beberapa saat berhenti seolah membaca arah, reptil itu kemudian menghilang di balik rimbunnya vegetasi hutan lindung Perhutani, Pacitan. Perjalanan pulangnya berlangsung singkat. Namun, jalan menuju momen itu berawal dari sebuah pilihan. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipiha (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Senin (13/7), menerima penyerahan seekor sanca kembang dari relawan Animal Rescue Pacitan. Satwa tersebut sebelumnya dievakuasi dari Desa Candi, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan setelah keberadaannya dilaporkan warga. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan awal untuk memastikan kondisi satwa. Hasilnya menunjukkan sanca masih sehat, memiliki respons alami yang baik, dan tetap menunjukkan perilaku liar. Kondisi tersebut menjadi dasar bahwa satwa masih layak dikembalikan ke habitat alaminya. Selanjutnya Tim Matawali berkoordinasi dengan Perum Perhutani RPH Pacitan–BKPH Pacitan untuk menentukan lokasi pelepasliaran yang aman, jauh dari aktivitas masyarakat, serta memiliki karakter habitat yang sesuai bagi spesies tersebut. Setelah lokasi dipastikan memenuhi aspek ekologis, pelepasliaran dilaksanakan pada hari yang sama. Peristiwa itu tampak sederhana. Namun, dibaliknya tersimpan makna yang lebih besar. Ketika satwa liar muncul di sekitar permukiman, selalu ada dua pilihan yang dihadapi manusia. Pilihan pertama adalah membiarkan rasa takut mengambil keputusan. Pilihan kedua adalah memberi kesempatan satwa kembali menjalankan perannya di alam. Sanca kembang merupakan predator alami yang membantu mengendalikan populasi mamalia kecil, termasuk tikus yang dapat menjadi hama pertanian. Keberadaannya menjaga keseimbangan rantai makanan dan menjadi bagian penting dari kesehatan ekosistem hutan. Karena itu, mengembalikan satwa ke habitatnya bukan sekadar menyelamatkan satu individu, melainkan mengembalikan fungsi ekologis yang dimilikinya. Pelepasliaran di Pacitan juga memperlihatkan bahwa konservasi tidak dapat berjalan sendiri. Kepedulian masyarakat yang melaporkan keberadaan satwa, respons cepat relawan Animal Rescue Pacitan, koordinasi Perhutani, serta tindak lanjut Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi rangkaian kolaborasi yang memungkinkan konflik antara manusia dan satwa liar diselesaikan tanpa merugikan salah satu pihak. Di tengah semakin seringnya perjumpaan manusia dengan satwa liar akibat perubahan bentang alam, konservasi sesungguhnya selalu bermula dari pilihan-pilihan kecil yang diambil setiap hari. Pilihan untuk tidak melukai, tidak memelihara, dan tidak memperdagangkan satwa liar yang dilindungi, melainkan memberi ruang bagi mereka untuk tetap hidup di habitatnya. Di Pacitan, pilihan itu telah diambil. Seekor sanca kembali ke hutan. Dan bersama langkah sunyinya di antara pepohonan, tersimpan harapan bahwa manusia masih memilih berdamai dengan alam. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jalan Tengah di Puger

Jember, 15 Juli 2026. Ketika Landak dan Monyet memasuki ladang jagung, penyelesaiannya bukan memburu satwa, melainkan merancang solusi yang melindungi petani sekaligus menjaga kelestarian alam. Di Puger, Kabupaten Jember, persoalannya tampak sederhana. Tanaman jagung rusak. Petani merugi. Tetapi, setelah jejak-jejak di tanah dibaca dan bekas gigitan pada batang tanaman diperiksa, persoalan itu berubah menjadi cerita tentang ruang hidup yang semakin berhimpitan. Bukan manusia yang memasuki hutan. Kali ini satwa liar yang datang ke ladang. Laporan pertama datang dari Ketua Kelompok Tani Desa Puger Timur. Jagung di lahannya rusak. Keluhan serupa muncul dari Desa Puger Barat. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Bidang KSDA Wilayah III Jember, Selasa (14/7), segera menurunkan tim untuk memastikan penyebabnya. Seperti lazimnya penanganan konflik satwa liar, langkah pertama bukan memasang perangkap ataupun mengusir satwa. Tim lebih dahulu mengumpulkan para pihak. Pemerintah desa, Dinas Pertanian Kabupaten Jember, Babinsa, Bhabinkamtibmas, penyuluh pertanian, hingga kelompok tani duduk dalam satu lingkaran. Konflik semacam ini tak pernah selesai bila hanya diserahkan kepada satu instansi. Hasil pemeriksaan lapangan memperlihatkan dua cerita yang berbeda. Di Desa Puger Timur, sekitar dua pertiga hektar tanaman jagung mengalami kerusakan. Jejak kaki, bekas gigitan, dan pola kerusakan mengarah pada Landak Jawa (Hystrix javanica), satwa nokturnal yang dikenal gemar memanfaatkan tanaman budidaya sebagai sumber pakan ketika tersedia di sekitar habitatnya. Dari intensitas kerusakan, tim memperkirakan pelakunya hanya dua hingga tiga individu. Beberapa kilometer dari lokasi pertama, cerita lain ditemukan di Desa Puger Barat. Luas lahan yang terdampak hanya sekitar 0,1 Ha, tetapi pola kerusakannya berbeda. Pelakunya diduga Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), dengan jumlah kurang dari lima ekor. Perbedaan pelaku berarti perbedaan cara menyelesaikan masalah. Untuk Landak Jawa, solusi yang dipilih bukan membasmi, melainkan membatasi ruang geraknya. Lahan akan dipagari jaring, sementara kandang jebak dipasang pada jalur lintasan dan mulut liang yang telah diidentifikasi. Jika ada landak yang tertangkap, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas BBKSDA Jawa Timur. Landak Jawa merupakan satwa yang dilindungi sehingga setiap tindakan penanganannya harus mengikuti ketentuan yang berlaku. Sementara itu, terhadap Monyet Ekor Panjang, pendekatan yang dipilih lebih sederhana. Tim merekomendasikan pemasangan penghalau berbasis aroma, memanfaatkan campuran terasi dan kamper. Bau menyengat itu diharapkan mengurangi keberanian monyet memasuki lahan pertanian tanpa harus melukai ataupun menangkap satwa. Pilihan-pilihan tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, justru di situlah letak perubahan cara pandang konservasi. Konflik satwa liar tidak selalu harus berakhir dengan pemindahan satwa ataupun tindakan represif. Banyak persoalan dapat diselesaikan melalui mitigasi yang menyesuaikan perilaku satwa, memperkuat perlindungan lahan, dan melibatkan masyarakat sebagai bagian dari solusi. Di berbagai wilayah, perjumpaan manusia dengan satwa liar diperkirakan akan semakin sering terjadi. Perubahan bentang alam, perluasan kawasan budidaya, serta dinamika ekosistem membuat batas antara habitat alami dan lahan pertanian semakin tipis. Kondisi ini menuntut pendekatan yang lebih adaptif dibanding sekadar merespons setiap kejadian secara insidental. Apa yang dilakukan di Puger memperlihatkan bahwa konservasi bekerja bukan hanya di dalam kawasan hutan. Ia juga hadir di ladang jagung, di ruang musyawarah desa, dan di tengah masyarakat yang berharap tanamannya tetap tumbuh tanpa harus kehilangan satwa liar yang menjadi bagian dari kekayaan hayati Indonesia. Di situlah jalan tengah itu menemukan maknanya, menjaga hasil panen tanpa mengorbankan kehidupan liar, serta memastikan manusia dan satwa tetap berbagi lanskap yang sama dengan cara yang lebih bijaksana. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Elang Jawa Tersesat di Surabaya, Kepedulian Warga Menjadi Sayap Pertama Penyelamatannya

Surabaya, 10 Juli 2026. Seekor burung pemangsa bertengger diam di atas sebuah pohon di kawasan proyek pembangunan rumah di Perumahan Bukit Golf, Surabaya, Rabu (8/7). Di tengah suara mesin dan aktivitas para pekerja bangunan, kehadirannya semula tak menimbulkan kecurigaan. Burung itu tampak hanya sedang beristirahat. Namun waktu terus berjalan. Burung tersebut tidak juga terbang. Reza Putra Setiawan, salah seorang pekerja proyek, kemudian mendekat. Semakin dekat jaraknya, semakin jelas bahwa satwa itu bukan burung biasa. Burung pemangsa tersebut adalah Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), satwa endemik Pulau Jawa yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Yang membuat Reza semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres, Elang Jawa itu tetap diam ketika manusia mendekat. Tidak ada respons agresif sebagaimana lazimnya burung pemangsa liar. Dengan penuh kehati-hatian, Reza kemudian mengamankan satwa tersebut. Keputusan itu bukan untuk memeliharanya, melainkan agar Elang Jawa terhindar dari risiko yang lebih besar sebelum diserahkan kepada petugas konservasi. Saat itulah ia menemukan sesuatu yang mengundang perhatian. Pada salah satu kaki Elang Jawa masih terlilit seutas tali. Tubuh satwa juga tampak kurus dan diduga mengalami kelaparan. Temuan itu mengubah cara pandang terhadap peristiwa ini. Yang ditemukan masyarakat bukan sekadar seekor Elang Jawa yang kelelahan di tengah kota. Seutas tali yang masih melekat pada kakinya memunculkan pertanyaan yang jauh lebih besar. Bagaimana satwa yang seharusnya menguasai kanopi hutan pegunungan Pulau Jawa itu dapat berada di kawasan permukiman dengan tali masih terikat pada tubuhnya? Dalam perspektif konservasi, keberadaan tali tersebut tidak dapat diabaikan. Meski belum dapat disimpulkan sebagai bukti bahwa satwa tersebut pernah dipelihara ataupun menjadi bagian dari perdagangan ilegal, kondisi tersebut merupakan indikasi yang harus didalami. Seluruh temuan lapangan menjadi bagian penting dalam proses identifikasi riwayat satwa, mulai dari pemeriksaan fisik, kondisi kesehatan, hingga evaluasi perilaku selama menjalani rehabilitasi. Pendalaman itu penting karena ancaman terhadap Elang Jawa tidak hanya berasal dari menyusutnya habitat. Perburuan, penguasaan tanpa izin, dan perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar masih menjadi tekanan yang mengancam keberlangsungan spesies ini di alam. Praktik pemeliharaan satwa liar yang dilindungi, meskipun dilakukan oleh individu, pada akhirnya dapat menciptakan mata rantai permintaan yang mendorong pengambilan satwa dari habitat alaminya. Informasi mengenai temuan tersebut segera diteruskan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Pada hari yang sama, Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya yang terdiri atas Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, serta tenaga teknis konservasi bergerak menuju lokasi untuk melakukan penyelamatan. Setibanya di lokasi, petugas melakukan pemeriksaan awal sebelum mengevakuasi Elang Jawa ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur. Di fasilitas tersebut, satwa akan menjalani observasi perilaku, pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, pemulihan kondisi fisik, hingga penilaian kemampuan alaminya sebagai dasar dalam menentukan langkah konservasi berikutnya. Namun, kisah penyelamatan ini menyimpan sebuah ironi. Sehari setelah Elang Jawa itu ditemukan di Surabaya, para peneliti, akademisi, pemerintah, organisasi konservasi, dan para pemerhati burung pemangsa dari berbagai daerah berkumpul dalam Focus Group Discussion Penyusunan Laporan Nasional Status Elang Jawa dan Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa 2026–2036. Forum tersebut diselenggarakan untuk mengevaluasi kondisi terkini Elang Jawa, mengidentifikasi ancaman yang dihadapi, sekaligus menyusun arah konservasi spesies ini untuk satu dekade mendatang. BBKSDA Jawa Timur juga turut ambil bagian dalam forum tersebut melalui perwakilan yang mengikuti pembahasan secara daring bersama para pemangku kepentingan lainnya. Ironinya, ketika ruang-ruang diskusi sedang membahas strategi penyelamatan Elang Jawa di tingkat nasional, kenyataan di lapangan justru menghadirkan seekor individu yang ditemukan dalam kondisi lemah dengan seutas tali masih melilit kakinya. Ironi itu bukan sekadar kebetulan. Latar belakang penyusunan Laporan Nasional Status Elang Jawa sendiri menyebutkan bahwa spesies yang ditetapkan sebagai Satwa Nasional Indonesia ini masih berstatus Genting (Endangered) berdasarkan Daftar Merah IUCN. Ancaman yang dihadapi pun belum berubah secara signifikan, mulai dari tekanan terhadap habitat hingga ancaman langsung berupa perburuan dan perdagangan ilegal. Karena itulah laporan nasional dan penyusunan SRAK dipandang penting sebagai dasar ilmiah dalam memperkuat kebijakan konservasi Elang Jawa di Indonesia. Peristiwa di Surabaya seolah menjadi cerminan nyata dari apa yang sedang dibahas di forum tersebut. Strategi konservasi ternyata tidak hanya lahir dari ruang rapat, tetapi juga dari berbagai peristiwa yang terjadi di lapangan. Setiap laporan masyarakat, setiap penyelamatan satwa, bahkan setiap temuan sekecil seutas tali yang melekat pada kaki seekor Elang Jawa, dapat menjadi bagian penting dalam memahami ancaman yang sesungguhnya dihadapi spesies ini. BBKSDA Jawa Timur melalui Tim Matawali memberikan apresiasi kepada Reza Putra Setiawan atas kepeduliannya yang memilih melaporkan temuan tersebut kepada BBKSDA Jawa Timur. Tim sekaligus memberikan edukasi mengenai status perlindungan Elang Jawa, pentingnya menjaga tumbuhan dan satwa liar di habitat alaminya, serta langkah yang harus dilakukan apabila masyarakat menemukan satwa liar yang terluka atau berada di luar habitatnya. Tindakan Reza mungkin tampak sederhana. Namun keputusan untuk tidak memelihara, tidak memperjualbelikan, dan segera melaporkan satwa liar kepada otoritas konservasi merupakan mata rantai pertama yang memutus potensi ancaman terhadap satwa dilindungi. Seekor Elang Jawa yang ditemukan di sudut Kota Surabaya pada akhirnya bukan hanya menghadirkan kisah tentang penyelamatan satu individu satwa. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, penelitian, ataupun strategi nasional. Konservasi juga bergantung pada pilihan-pilihan kecil yang diambil masyarakat ketika berhadapan dengan satwa liar. Sebab, setiap Elang Jawa yang tetap terbang bebas di langit Pulau Jawa bukan hanya keberhasilan petugas konservasi. Ia adalah hasil dari kolaborasi antara ilmu pengetahuan, penegakan hukum, dan kepedulian masyarakat yang memilih menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari ancaman. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 97–112 dari 2.501 publikasi