Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Penguatan Kelompok Mitra Pariwisata TWA Pulau Kembang yang Tangguh

Barito Kuala, 12 Juli 2023 – Sebagai bentuk komitmen dalam meningkatkan kapasitas kelembagaan Kelompok Mitra Pariwisata Konservasi TWA Pulau Kembang, Balai KSDA Kalimantan Selatan kembali melaksanakan kegiatan pendampingan kepada Kelompok Mitra Pariwisata TWA Pulau Kembang. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 11 Juli 2023 bertempat di TWA Pulau Kembang. Kelompok Mitra Pariwisata TWA Pulau Kembang dalam menjalankan kegiatan pariwisata di TWA Pulau Kembang tentunya mengalami berbagai dinamika, baik di sektor kelembagaan maupun sektor pengelolaan pariwisata. Atas dinamika tersebut maka Balai KSDA Kalimantan Selatan selaku pengelola Kawasan TWA Pulau Kembang dan Pembina dari kelompok tersebut berkewajiban melaksanakan pembinaan dan penguatan terhadap kelompok tersebut. Hadir pada kesempatan ini Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc., didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah II, Mokh. Ridwan Effendi, S.Hut., M.Si. dan Kepala Resort TWA Pulau Kembang, Rian Prakosa Wijaya, S.Hut. Ada 21 anggota kelompok yang hadir pada kegiatan dimaksud. Kepala Balai menyampaikan bahwa kegiatan kerjasama dalam pengelolaan pariwisata di TWA Pulau Kembang hendaknya memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, dimana kelompok mitra memberikan manfaat bagi pengunjung dalam memandu perjalanan wisata di TWA Pulau Kembang, dan pengunjung juga memberikan manfaat bagi pemandu dan satwa di TWA Pulau Kembang melalui pemberian pakan kepada satwa di TWA Pulau Kembang. Sebagai salah satu upaya pelestarian TWA Pulau Kembang, Balai KSDA Kalimantan Selatan menerapkan kebijakan untuk mengurangi sampah plastik di TWA Pulau Kembang. Hal ini diupayakan dengan mengubah kemasan makanan (kacang) yang semula menggunakan bungkus plastik menjadi menggunakan bungkus kertas. Upaya ini tentunya menimbulkan sedikit riak-riak kecil baik dari pihak pengunjung maupun pihak kelompok. Mengatasi hal tersebut, Balai KSDA Kalimantan Selatan akan menerapkan penyortiran barang bawaan pengunjung dan menyediakan tempat non plastik seperti “bakul” (terbuat dari tanaman purun) untuk membawa barang bawaan pengunjung. Kelompok juga diharapkan peran sertanya berupa mengingatkan pengunjung untuk mengurangi penggunaan kantong plastik. Selain itu pemasangan papan himbauan pengurangan sampah plastik di pasang di seputar TWA Pulau Kembang. Kelompok sebagai mitra pariwisata menyambut baik upaya Balai KSDA Kalimantan Selatan dalam mengurangi sampah plastik di TWA Pulau Kembang dan bersedia mendukung kebijakan tersebut. Sejumlah pertanyaan muncul dari kelompok dimana mereka meminta kejelasan dalam pelaksanaan upaya pengurangan sampah plastik ini. Mereka berharap dengan penerapan kebijakan pengurangan sampah plastik ini menjadikan TWA Pulau Kembang menjadi lebih bersih dan asri. Pelarangan bahan plastik masuk dalam kawasan TWA Pulau Kembang merupakan komitmen bersama yang harus dimulai dari sekarang. Sumber : Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Desa Binaan Dambu Kahbrai Praktik Aklimatisasi Anggrek

Jayapura, 13 Juli 2023 – Desa Binaan Dambu Kahbrai praktik aklimatisasi anggrek pada Rabu (12/7/2023). Kegiatan berlangsung di Kampung Dosay, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura. Sejak dibentuk pada tahun 2021 silam, desa binaan dari Balai Besar KSDA Papua tersebut berfokus pada budidaya anggrek. Mengingat, semua anggota kelompok tersebut telah akrab dengan anggrek, khususnya yang tumbuh di sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, tempat mereka berdomisili. Antusiasme terlihat jelas pada senyuman dan binar mata seluruh anggota Desa Binaan Dambu Kahbrai, termasuk Mama Agustina Kwano, yang pada saat kegiatan mengenakan batik Papua kuning cerah. Mama Agustina menceritakan, praktik aklimatisasi anggrek ini dilakukan dengan memindahkan bibit anggrek dari dalam botol ke media pakis dan cocopeat. “Medianya sudah kami rendam dengan fungisida dan vitamin B1. Ya, semoga bibit-bibit ini bisa tumbuh dengan baik, sampai nanti bisa berbunga,” kata Mama Agustina. Perempuan Tanah Papua itu menyatakan, aklimatisasi anggrek merupakan hal baru baginya, juga bagi kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai. Ia kini telah memiliki pengalaman langsung dalam hal tahapan-tahapan aklimatisasi anggrek, mulai dari menyiapkan media tanam, mengeluarkan bibit anggrek dari dalam botol, sampai menanamnya pada media. Pada kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai, Albertus Waicang, menyatakan rasa takjubnya melihat bibit-bibit anggrek di dalam botol yang dapat tumbuh dengan subur. “Praktik aklimatisasi anggrek sangat bermanfaat bagi kami, para pelaku budidaya anggrek. Jadi, kami bisa tahu tentang perbanyakan anggrek dengan metode ini.” Di sisi lain, Pendamping Desa Binaan Dambu Kahbrai, Zsa Zsa Fairuztania, menyampaikan bahwa praktik aklimatisasi anggrek ini merupakan tindak lanjut dan transfer knowledge dari pelatihan kultur jaringan yang diikuti pada bulan April 2023 di Bogor. Menurut Penyuluh Kehutanan pada BBKSDA Papua tersebut, ada banyak tahapan atau proses kultur jaringan, tetapi yang paling mungkin dilaksanakan saat ini di kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai adalah aklimatisasi. Sedangkan bibit anggrek dalam botol mereka pesan dari petani anggrek di Malang, Jawa Timur, yang telah berhasil mengkulturkan berbagai jenis anggrek. “Meskipun bibit ini dari Jawa, tapi kami memesan jenis-jenis anggrek endemik Papua, khususnya endemik di Kabupaten Jayapura sekitar Cagar Alam Pegunungan Cycloop, seperti anggrek besi,” ujar Zsa Zsa. Lebih lanjut Zsa Zsa merinci jenis bibit yang digunakan dalam praktik aklimatisasi terdisi atas anggrek besi (Dendrobium violaceoflavens), anggrek nindi (Dendrobium nindii), anggrek stuberi (Dendrobium lasianthera), dan anggrek bulan (Phalaenopsis Sp). Sementara itu, Kepala BBKSDA Papua, A.G. Martana, memberikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan aklimatisasi anggrek untuk kelompok Desa Binaan Dambu Kahbrai. Menurutnya, kegiatan ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sebagai upaya perlindungan anggrek di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop dan sekitarnya. “Pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung upaya-upaya konservasi, khususnya kepada GIZ FORCLIME. Mudah-mudahan sinergi ini dapat terus terjalin untuk penyelenggaraan berbagai kegiatan berikutnya di masa mendatang,” ujar Martana. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Artikel

Road to HKAN : Belajar di Alam, Siswa SD Kaliurang Mengunjungi Tlogo Muncar

Sleman, 12 Juli 2023 - "Apa kabar?" tanya guru pendamping. "Luar biasa, aku bahagia, engkau bahagia, semua bahagia, cup cup ah!" jawab puluhan siswa SD antusias. Gema semangat anak-anak SDN Kaliurang 2 membahana di Obyek Wisata Alam (OWA) Tlogo Muncar Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), pada Rabu pagi yang cerah. Sekolah ini merupakan salah satu dari sekian sekolah yang dekat dengan kawasan konservasi TNGM. Sekitar 70 siswa kelas 1 s.d. 6 serta 14 guru mempelajari salah satu lingkungan sekitar sekolah mereka, yaitu kawasan hutan. Tumbuh dan besar di Kaliurang, ternyata belum semua siswa pernah berkunjung ke OWA Tlogo Muncar yang hanya berjarak 1,6 km dari sekolah. Pada masa pengenalan lingkungan sekolah tahun ini, selain melakukan outbound bersama guru dan menikmati kesejukan air terjun Muncar, siswa juga memperoleh wawasan mengenai fungsi hutan yang disampaikan oleh para petugas TNGM. Siswa dikenalkan fungsi hutan sebagai kawasan resapan air, penyedia udara segar, kawasan pelestarian tumbuhan dan satwa liar serta menjadi tempat untuk belajar dan berwisata. Petugas mengenalkan burung Elang yang biasanya yang biasanya terbang ketika cuaca hangat. Elang termasuk burung pemangsa (Raptor) yang dilindungi. Ternyata siswa mengenal raptor ini yang sering terbang di atas sekolah maupun rumah mereka. Siswa juga mengenal dengan baik satwa Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). Dalam kesempatan ini, para siswa juga belajar menggunakan binokuler, kemudian berkeliling OWA Tlogo Muncar, serta mengenal TNGM melalui gambar di dinding Pusat Informasi dan melihat maket Plawangan Turgo. Belajar langsung di laboratorium alam yang besar ini, diharapkan kelak para siswa dapat turut menjaga kelestariannya. Terlebih mereka memahami, bahwa hutan lereng selatan Gunung Merapi adalah wilayah hutan terdekat dengan tempat tinggal mereka. Hal ini disampaikan Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, dalam kesempatan terpisah. Kegiatan belajar di alam ini merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2023. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023 dengan tema Hapungkal Himba Karingu atau Jiwa Yang Damai Dalam Harmoni Hutan Belantara. Puncak HKAN akan dilaksanakan di TWA Bukit Tangkiling Provinsi Kalimantan Tengah. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

Menggandeng Forum Wisata Lingkar Rinjani dalam Kegiatan Clean Up

Mataram, 10 Juli 2023 - Pada tanggal 8 hingga 10 Juli 2023 telah dilaksanakan kegiatan Clean up oleh Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menggandeng Forum Wisata Lingkar Rinjani sebagai mitra. Giat ini dilakukan di sepanjang jalur pendakian Sembalun hingga menuju areal camping Danau Segara Anak. Dari kegiatan tersebut jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan sebanyak 74 kg yang terdiri dari sampah botol plastik, plastik, kaleng, botol kaca, dan sampah campuran. Sumber : Balai TN Gunung Rinjani
Baca Artikel

Road to HKAN : SMART Patrol SPTN I Sebagai Implementasi RBM

Sleman, 13 Juli 2023 - Perlindungan dan pengamanan kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), harus dilaksanakan secara kontinyu. Dan untuk peningkatan perlindungan dan pengamanan tersebut, khususnya untuk wilayah Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Pakem Turi dan Cangkringan, perlu dilaksanakan SMART Patrol tingkat Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN). SMART Patrol ini dilaksanakan berdasarkan masukan, kondisi kawasan mana yang memerlukannya. SMART Patrol ini dilaksanakan pada tanggal 11 – 13 Juli 2023. Lokasi SMART Patrol dilaksanakan di 3 (tiga) lokasi, yaitu Turgo, Tritis dan Klangon. Di ketiga lokasi tersebut dilakukan pengecekan pal batas, sosialisasi terhadap masyarakat yang dijumpai untuk tidak memasuki kawasan TNGM, serta pengecekan lokasi yang rawan pencurian burung. “SMART Patroli dilaksanakan sebagai implementasi dari Resort Based Management, sebagai upaya pengumpulan data informasi yang akurat dan kehadiran pengelola kawasan di tingkat tapak,” hal ini disampaikan Muhammad Wahyudi, Kepala Balai TNGM, dalam kesempatan terpisah. Dari sisi perlindungan dan pengamanan, SMART Patrol merupakan upaya pre emtif (mencegah niat) dan preventif (mencegah pelaksanaan niat) terjadinya pelanggaran/kejahatan di dalam kawasan, pungkas Wahyudi. Kegiatan belajar di alam ini merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2023. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023 dengan tema Hapungkal Himba Karingu atau Jiwa Yang Damai Dalam Harmoni Hutan Belantara. Puncak HKAN akan dilaksanakan di TWA Bukit Tangkiling Provinsi Kalimantan Tengah. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

Berharap Keadilan Bagi Belangkas

Medan, 11 Juli 2023 - Belangkas (Tachypleus gigas) tidak seperti satwa liar dilindungi lainnya, terutama satwa kunci, seperti : Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Orangutan Sumatera (Pongo abelii), Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), Gajah Sumatera (Elephant maximus sumatrae), dan beberapa satwa lain. Banyak orang maupun lembaga serta media massa yang memandang sebelah mata keberadaan satwa ini. Bicara belangkas dianggap tidak seseksi bicara satwa kunci, seperti yang diuraikan di atas. Akibatnya belangkas bagaikan “satwa tiri” yang diabaikan, sehingga diskriminasi perlakuan menyebabkan satwa ini tidak tersentuh dari upaya-upaya penyelamatan dan pelestarian yang serius. Setidaknya itu jugalah yang tergambar dari putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan, yang mengadili kasus perdagangan Belangkas. Dalam amar putusannya pada persidangan Senin (29/5) yang lalu, Majelis Hakim menjatuhkan vonis pidana penjara 8 bulan dan denda sebesar Rp. 10 juta, subsider 1 bulan kurungan, terhadap terdakwa Suhar, warga Desa Hamparan Perak Dusun III, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang. Terdakwa sebelumnya pada tanggal 25 Agustus 2022, diamankan oleh personil Ditpolairud Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara saat memperdagangkan 180 ekor Belangkas. Meskipun dalam amar putusannya, Majelis Hakim menyebutkan hal yang memberatkan terdakwa adalah menjual tanpa hak satwa dilindungi, namun vonis yang dijatuhkan justru lebih ringan dari tuntutan jaksa penuntut umum yang menuntut terdakwa 1 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 20 juta subsider 6 bulan kurungan. Belangkas yang kerap juga disebut Ketam Tapal Kuda merupakan hewan yang memiliki beragam keunikan. Memiliki leluhur yang hidup sejak ratusan juta tahun yang lalu sehingga sering juga disebut sebagai fosil hidup. Pada masa reproduksi, induk Belangkas akan mengeluarkan ratusan ribu butir telur. Ekstrak plasma darah Belangkas sering digunakan untuk mendiagnosa penyakit meningitis dan gonore yang banyak digunakan di negara-negara eropa, Amerika Serikat dan Jepang. Saat ini terdapat 4 (empat) spesies Belangkas yang hidup di dunia. Tiga diantaranya hidup dan terdapat di perairan Indonesia, yaitu : Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus dan Carcinoscorpius rotundicauda (Sekiguchi dan Nakamura, 1979). Ketiganya merupakan hewan yang dilindungi. Ketidakberdayaan hukum dalam menjamin terlindunginya satwa yang kerap juga disebut dengan Ketam Tapal Kuda ini, akan mendorong upaya eksploitasi secara besar-besaran sehingga cepat atau lambat satwa ini akan menuju kepunahan. Karena itu, menurut hemat penulis, perlu langkah-langkah progresif untuk melindungi dan mempertahankan populasinya. Sosialisasi dan kampanye, dengan menghapus diskriminasi dan menempatkannya sebagai satwa yang sama dan setara peran pentingnya dengan satwa-satwa kunci lainnya, menjadi krusial dan urgen dilakukan secara kontinyu yang melibatkan berbagai pihak/elemen termasuk di dalamnya media massa, sehingga masyarakat mendapatkan pencerahan dan mengetahui informasi yang benar tentang Belangkas serta statusnya, dan pada akhirnya terpanggil untuk ikut menjaga kelestariannya. Dibagian lain upaya penegakan hukum (law enforcement) juga menjadi hal yang tidak kalah penting dalam rangka menimbulkan efek jera bagi para pelaku dan calon pelaku produktif lainnya yang ingin mengeksplorasi dan mengeksploitasi satwa ini. Selanjutnya, mengingat Belangkas merupakan salah satu biota laut yang prospek pemanfaatannya dapat diolah sebagai bahan baku industry farmasi, maka kedepannya patut juga dipertimbangkan upaya-upaya penangkaran (budidaya) satwa ini, sehingga pelestariannya bisa sejalan dengan pemanfaatannya. Untuk merealisasikan semua langkah-langkah progresif tersebut, diperlukan keterpaduan berbagai pihak. Keterpaduan (kolaborasi) ini harus dimulai sedini mungkin, tanpa menunggu sampai populasinya kritis. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analisa Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kebangkitan Madu Asmoro

Minggu 9 Juli 2023 - menjadi hari bersejarah bagi kelompok masyarakat (Pokmas) Joyo Sedulur, kelompok masyarakat binaan Balai Besar KSDA Jawa Timur di salah satu desa penyangga Cagar Alam Manggis Gadungan, Desa Asmorobangun namanya. Pokmas Joyo Sedulur mendapat bantuan usaha ekonomi produktif pada minggu keempat bulan Juli tahun 2022. Bantuan tersebut dibelikan 30 stup lebah madu. Dengan semangat, ketekunan dan kekompakan, pada pertengahan bulan Agustus tahun 2022, Joyo Sedulur merasakan manisnya panen madu pertama mereka. Tak kurang 40 liter madu bunga Sengon mereka dapatkan. Sayangnya setelah panen pertama, musim bunga Sengon terputus karena masifnya perambanan terhadap pucuk pohon Sengon. Ketika itu, Joyo Sedulur berusaha memindahkan koloni lebah madu ke beberapa tempat, namun hasilnya nihil. Sembari menunggu musim bunga beberapa tanaman, mereka berinisiatif fokus mengembangkan koloni dan menambah stup. Dengan keahlian dari anggota Joyo Sedulur, stup bertambah menjadi 55 buah. Sementara itu, bunga sebagai sumber nektar maupun polen semakin sulit didapatkan. Untuk mempertahankan koloni, Joyo Sedulur memutar otak dengan mengusahakan sirup gula sebagai pakan koloni lebah. Usaha yang tidak mudah, karena jumlah stup yang cukup banyak sedangkan dana operasional iuran dari pengurus semakin menipis. Pada saat itu Joyo Sedulur sampai mengusahakan KUR agar dapat mempertahankan koloni. Selain tantangan pakan koloni lebah, Joyo Sedulur juga harus menghadapi berbagai permasalahan. Hama semut salah satunya, selain itu ada penyemprotan insektisida oleh petani di tempat angon lebah madu yang akhirnya membuat banyak lebah madu mati. Pertengahan tahun 2023 hanya memiliki 23 stup tersisa, namun mekarnya bunga Randu menimbulkan secercah harapan. Harapan yang berbuah manis, akhirnya Joyo Sedulur dapat kembali merasakan manisnya madu. Bunga Randu mengobati rindu Joyo Sedulur akan sebuah asa, bangkitnya Madu Asmoro dari Asmorobangun. Tentu perjuangan Joyo Sedulur masih panjang dan berliku untuk menapaki jejak sukses peternak lebah madu. Untuk itu diperlukan dukungan dari pihak terkait, agar semangat Joyo Sedulur tidak luntur. Sumber : Siti Nurlaili (PEH) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Road to HKAN : Kelompok Binaan TNGM Belajar Pengemasan dan Pemotretan Produk

Sleman, 7 Juli 2023 - Pada hari Jum’at di Gallery Acacia Ecoprint, Dusun Turgo, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) melakukan pendampingan kepada kelompok masyarakat desa penyangga. Kelompok tersebut adalah kelompok kreatif Acacia, Kelompok Turgo Merapi dan Pemudi Turgo. Pendampingan ini dimaksudkan sebagai upaya peningkatan kapasitas kelompok, berupa pelatihan pengemasan produk ecoprint dan teknik pengambilan foto produk. Dalam kesempatan ini, dihadirkan UMKM Coconutree Souvenir Yogyakarta sebagai narasumber. Peserta yang berjumlah 13 (tiga belas) orang tersebut mendapatkan penjelasan secara rinci terkait cara mengemas produk ecoprint. Beberapa cara yang mudah dilakukan oleh masyarakat tanpa membutuhkan modal yang banyak dan peralatan yang sederhana yaitu dengan menyulap kain hasil ecoprint menjadi sampul buku ataupun scrunchie. Tidak hanya mendapatkan penjelasan secara lengkap, peserta kegiatan pun langsung mempraktikan teknik pembuatan sampul buku dan scrunchie tersebut. Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diajak untuk belajar mengambil foto produk ecoprint yang telah dibuat. Foto produk tersebut nantinya dapat digunakan sebagai media marketing baik secara daring maupun secara langsung. Pengambilan foto produk pun dilakukan tanpa mengunakan kamera yang canggih, akan tetapi cukup dengan menggunakan ponsel pintar yang umum dimiliki masyarakat. Teknik pengambilan foto tersebut tidak hanya meliputi teknik fotografi tetapi juga teknik tata letak sesuai dengan kaidah estetika. Selain untuk meningkatkan kapasitas anggota kelompok, pendampingan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah serta untuk meningkatkan penjualan produk ecoprint yang dibuat oleh masyarakat. Produk ecoprint dapat menjadi salah satu sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat. Dalam kesempatan terpisah, Muhammad Wahyudi, Kepala Balai TNGM, menyampaikan, semoga dengan adanya pelatihan ini, kelompok masyarakat binaan kami dapat mengembangkan usaha ekonomi produktif yang berkontribusi pada peningkatan pendapatan keluarga, dan mengurangi ketergantungan terhadap kawasan konservasi. Kegiatan relokasi pelatihan kelompok masyarakat ini merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2023. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023 dengan tema "Hapungkal Himba Karingu atau Jiwa Yang Damai Dalam Harmoni Hutan Belantara". Puncak HKAN akan dilaksanakan di TWA Bukit Tangkiling Provinsi Kalimantan Tengah. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

Road to HKAN : Memperkenalkan Lutung Jawa ke Masyarakat Lereng Timur Merapi

Klaten, 7 Juli 2023 - Keberadaan Lutung Jawa (Trachypitecus auratus) di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Merapi menjadi sebuah perhatian tersendiri, karena jenis ini merupakan jenis yang dilindungi, berdasarkan Undang-undang. Lutung Jawa ini lebih mudah ditemui di lereng timur Gunung Merapi. Mengingat pentingnya jenis satwa liar ini, maka perlu dilaksanakan sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan. Sehingga pada hari Jumat, 7 Juli 2023, di Posko Pendakian Sapuangin, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, dilaksanakan sosialisasi satwa dilindungi Merapi. Dalam kesempatan ini, disampaikan tentang metode pengamatan, perilaku dan home range Lutung Jawa, serta potensi pengamatan Lutung Jawa. Dalam kesempatan ini, hadir perwakilan masyarakat sekitar kawasan konservasi, yaitu Dusun Gumuk, Dusun Gobumi serta Dusun Sapuangin. Selama sehari, masyarakat menyimak dengan seksama semua pengetahuan yang disampaikan oleh narasumber. Selain itu, hadir juga para anggota Kelompok Pengamat, Peneliti dan Pemerhati (KP3) Primata Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Pengetahuan yang disampaikan sangat menarik, diantaranya tentang metode pengamatan, perilaku dan home range Lutung Jawa, yang disampaikan oleh Dr.rer.silv. Sandy Nurvianto, S.Hut., M.Sc. dan Ida Purnama Fitriyanti, S.Hut, dari Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta. Juga disampaikan oleh Sidiq Harjanto, tentang pengamatan Lutung Jawa dapat menjadi atraksi wisata khusus berbasis masyarakat, dengan pengalaman kongkret di Petungkriyono, Pekalongan. Dalam kesempatan terpisah, Muhammad Wahyudi, Kepala Balai TNGM, menyampaikan, ilmu yang kita peroleh hari ini, menjadi bekal pelaksanaan monitoring yang akan dilaksanakan dalam bulan Juli 2023 ini. Selain itu, dengan semakin sering diinformasikan tentang potensi keanekaragaman hayati, maka diharapkan menimbulkan minat melaksanakan penelitian di Kemalang tersebut, pungkas Wahyudi. Kegiatan sosialisasi ini merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2023. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023 dengan tema "Hapungkal Himba Karingu atau Jiwa Yang Damai Dalam Harmoni Hutan Belantara". uncak HKAN akan dilaksanakan di TWA Bukit Tangkiling Provinsi Kalimantan Tengah. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

Inventarisasi Keanekaragaman Hayati di Luar Kawasan Konservasi, Tim Jumpai Kakatua Raja di Alam Liar

Jayapura, 10 Juli 2023 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua mengidentifikasi dan menginventarisasi keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi. Kegiatan berlangsung selama tujuh hari, (21-27/6/2023) di tiga distrik di Kabupaten Jayapura, yaitu Sentani Barat, Demta, dan Waibu. Ketua tim inventarisasi keanekaragaman hayati, Desy Mulyawati, menyampaikan bahwa dalam pengumpulan data, tim menggunakan dua metode, yaitu pengamatan langsung atau survei ke lapangan dan wawancara dengan masyarakat yang bermukim di sekitar titik pengamatan. “Survei lapangan kami lakukan di Hutan Produksi Konversi dan Areal Penggunaan Lain. Sedangkan untuk wawancara kami lakukan di sepuluh kampung yang berbatasan dengan kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloop, yaitu Kampung Maribu, Amay, Yewena, Yepase, Wambena, Doromena, Sosiri, Muris Kecil, Muris Besar, dan Demta,” ungkap Desy. Pengendali Ekosistem Hutan pada BBKSDA Papua tersebut menyatakan, dari hasil survei lapangan dan wawancara dengan masyarakat, tim memperoleh data 47 jenis tumbuhan dan satwa liar di area pengamatan. Dari keseluruhan data tersebut, terdapat 26 jenis yang dilindungi, yaitu 18 burung, 4 mamalia, 3 herpetofauna, dan 1 jenis tumbuhan kantong semar (Nephenthes sp). Lebih lanjut Desy menyampaikan, perjumpaan dengan satwa liar lebih banyak melalui suara. Meski demikian, tim juga berjumpa secara langsung dengan beberapa jenis burung dilindungi, yaitu mambruk victoria (Goura vinctoria), nuri bayan (Eclectus roratus), kakatua koki (Cacatua galerita), elang alap kelabu (Accipiter hiogaster), julang irian (Rhyticeros plicatus), perkici pelangi (Trichoglossus haematodus), elang bondol (Haliastur indus), dan kakatua raja (Probosciger aterrimus). “Kakatua raja termasuk Appendix I dalam daftar CITES. Jadi, dilarang dalam segala bentuk pergadangan internasional,” kata Desy. Menanggapi hasil kerja tim ini, Kepala BBKSDA Papua, A.G. Martana, menyampaikan apresiasi yang tinggi. “Ini merupakan langkah penting dalam upaya menjaga keberlanjutan ekosistem dan melindungi keanekaragaman hayati di Papua. Tim telah bekerja dengan baik. Harapan kita semua, mudah-mudahan kekayaan keanekaragaman hayati Papua terus terjaga,” ungkap Martana. Sumber : Balai Besar KSDA Papua
Baca Artikel

Sosialisasi Penyelenggaraan SPIP dan Manajemen Risiko Tahun 2024 Lingkup Balai TN Kepulauan Togean

Ampana, 5 Juli 2023 – Balai Taman Nasional Kepulauan Togean melaksanakan kegiatan Sosialisasi Penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) dan Mitigasi Risiko Tahun 2024, dalam rangka peningkatan pemahaman terhadap perubahan penyelenggaraan SPIP di tahun 2024. Sosialisasi ini dilaksanakan pada tanggal 5 Juli 2023, dan diikuti oleh pegawai lingkup Balai Taman Nasional Kepulauan Togean secara offline dan online, dengan pemateri Budi Prasetyo selaku Kepala Sub Bagian Tata Usaha dan Rahmanita Ibrahim yang sebelumnya telah mengikuti kegiatan Bimbingan Teknis Implementasi Peraturan Menteri LHK Nomor 1 Tahun 2023 dan Nomor 5 Tahun 2023 yang diselenggarakan oleh Inspektorat Jenderal Kementerian LHK selama dua hari pada tanggal 26-27 Juni 2023 di Makasar. Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, Dodi Kurniawan dalam sambutan dan arahannya menyatakan bahwa “untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam rencana strategis serta mewujudkan pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan dan akuntabel perlu dilakukan pengendalian internal dan penerapan manajemen risiko, dengan demikian budaya sadar risiko dilingkungan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean menjadi sangat penting”. “Dengan terbitnya Peraturan Menteri LHK tersebut diatas, Penyelenggaraan SPIP Tahun 2024 dimulai sejak bulan Juli 2023 saat penyusunan RKAKL dalam bentuk penyusunan Rencana Pengendalian Intern (RPI). Untuk itu perlu dilakukan langkah persiapan melalui pembentukan satuan tugas (satgas) SPIP, dan tim pelaksana SPIP di bulan Juli 2023 ini”, ungkap Budi Prasetyo menambahkan. Sumber : Amelia Diaztari S.Hut dan Wita Nofrinar, S.Si (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) - Balai TN Kepulauan Togean
Baca Artikel

Balai TN Kepulauan Togean Menyelenggarakan FGD dalam Upaya Melestarikan Kawasan Taman Nasional Laut

Ampana, 6 Juli 2023 – Balai Taman Nasional Kepulauan Togean menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Tantangan Pengelolaan dalam Upaya Melestarikan Kawasan Taman Nasional Laut” secara online dan offline pada tanggal 6 Juni 2023, diikuti oleh 261 peserta yang umumnya merupakan staf yang berasal dari UPT Taman Nasional Laut. FGD ini menghadirkan pemateri yang berasal dari tujuh pengelola kawasan Taman Nasional Laut, yaitu Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih, Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu, Balai Taman Nasional Karimun Jawa, Balai Taman Nasional Wakatobi, Balai Taman Nasional Bunaken, Balai Taman Nasional Taka Bone Rate, dan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, serta pemateri dari Bagian PEHKT Sekretariat Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian LHK. Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, Dodi Kurniawan menyatakan bahwa “FGD ini dimaksudkan sebagai wahana untuk saling berbagi informasi dan pengalaman dalam pengelolaan kawasan TN Laut, dengan tujuan sebagai bahan masukan dalam rangka perbaikan/penyempurnaan pengelolaan kawasan TN Laut, khususnya bagi pengelolaan kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean”. “Banyak succes story pengelolaan Taman Nasional Laut ditempat lain yang dapat ditiru dan diterapkan dalam pengelolaan Taman Nasional Kepulauan Togean, dan dengan mengkuti FGD ini juga diharapkan dapat membuka wawasan staf di lingkungan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean” ungkapnya menambahkan. Dalam FGD ini juga berhasil merumuskan beberapa rekomendasi, salah satunya adalah untuk melakukan pertemuan lanjutan yang akan difasilitasi oleh Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih dengan tema/topik, waktu dan tempat yang akan ditentukan lebih lanjut. Sumber : Amelia Diaztari S.Hut dan Wita Nofrinar, S.Si (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) - Balai TN Kepulauan Togean
Baca Artikel

Road to HKAN : Relokasi Anggrek Merapi di Plunyon

Sleman, 6 Juli 2023 - Biro Kerja Sama Luar Negeri bersama-sama dengan Biro Keuangan dan Biro Hukum, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Sekretariat Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan B3, Balai Penerapan Standard Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPSILHK) Bogor, serta Kementerian Sekretariat Negara, melakukan kunjungan kerja ke Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Kunjungan ini dilaksanakan pada tanggal 6 Juli 2023. Tim kunjungan kerja ini mengunjungi Objek Wisata Alam (OWA) Plunyon yang secara pengelolaan berada dalam wilayah Resort Cangkringan, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) I. Kunjungan kerja tersebut diawali dengan pemaparan singkat terkait potensi keanekaragaman hayati di TNGM termasuk di antaranya spesies prioritas pengelolaan Balai TNGM. Beberapa spesies prioritas tersebut yaitu Sarangan (Castanopsis argentea), Anggrek (Vanda tricolor), Elang Jawa (Nisaetus bartelsii), dan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Tak hanya potensi keanekaragaman hayati saja, dalam kunjungan kerja tersebut juga dijelaskan potensi bioprospeksi yang telah dikembangkan Balai TNGM. Selain pemaparan singkat tersebut, tim kunjungan kerja Biro Kerja Sama Luar Negeri yang berjumlah dua puluh dua orang tersebut bersama-sama dengan Balai TNGM melakukan relokasi Anggrek Vanda tricolor sebanyak 5 rumpun dan Cymbidium bicolour sebanyak 2 rumpun di pohon induk yang terletak OWA Plunyon. Kedua jenis anggrek tersebut merupakan hasil budidaya kelompok masyarakat Forum Peduli Lingkungan Pecinta Alam Lereng Merapi (FPL PALEM) Kepuharjo. FPL PALEM sendiri telah memiliki kerja sama dengan Balai TNGM. Seluruh jenis anggrek hasil budidaya tersebut memiliki dokumentasi asal usul budidaya yang jelas. Sebagai contoh, Vanda tricolor yang ditanam tersebut memiliki label AP.3/W66 yang artinya hasil perbanyakan generasi ke-3 dari indukan nomor 66. Sedangkan Cymbidium bicolour memiliki label AP.3/ W37 yang merupakan perbanyakan generasi ke-3 dari indukan nomor 37. Dalam kunjungan kerja tersebut, Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, menuturkan bahwa pengelolaan TNGM ke depan membutuhkan dukungan berbagai pihak, tidak hanya lintas eselon internal KLHK saja akan tetapi juga lintas kementerian, serta masyarakat luas. Kami harap, kunjungan kerja ini dapat memberikan gambaran pengelolaan TNGM sehingga ada dukungan lebih dalam pengelolaan TNGM ke depan, pungkas Wahyudi. Kegiatan relokasi Anggrek Merapi ini merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2023. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023 dengan tema "Hapungkal Himba Karingu atau Jiwa Yang Damai Dalam Harmoni Hutan Belantara". Puncak HKAN akan dilaksanakan di TWA Bukit Tangkiling Provinsi Kalimantan Tengah. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

Cerita Dibalik Kesakralan Danau Lamparan Dolok Tinggi Raja

Dolok Tinggi Raja, 4 Juli 2023 - Danau Lamparan yang berada di dalam kawasan Cagar Alam (CA) Dolok Tinggi Raja di Desa Dolok Merawa, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, menyimpan cerita mistis yang belum banyak diketahui orang. Di luar kelaziman, danau yang airnya panas ternyata menjadi pusat kehidupan beberapa jenis ikan yang kerap juga disantap menjadi menu makanan lezat sehari-hari, seperti : ikan nila, gabus, lele dan kapras. Meskipun dapat disantap dan dinikmati, tetapi jangan coba-coba untuk memakannya. Pernah satu ketika, masyarakat dari luar desa menangguk ikan di danau tersebut. Melihat ikan segar, menimbulkan selera untuk memakannya. Usai dimasak, ikan pun kemudian disantap dengan lahapnya. Tak lama orang-orang yang memakan ikan mulai merasakan sakit pada tubuhnya. Ironisnya beberapa diantaranya tak tertolong dan akhirnya meregang nyawa. Sejak peristiwa itu, masyarakat lokal pun mengeluarkan larangan untuk mengambil/memancing serta mengkonsumsi ikan-ikan yang ada di dalam Danau Lamparan. Masih cerita tentang Danau Lamparan, dulu pernah juga masyarakat sekitar membuat tempat pemandian yang tidak jauh dari lokasi danau. Setiap tapian (tempat mandi) dibuat, air yang bersumber dari mata air tiba-tiba hilang. Masyarakat mencobanya kembali sebanyak 3 kali dan hasilnya tetap sama, air untuk mandi selalu menghilang. Konon cerita orang-orang tua, Danau Lamparan tidak boleh di kotori termasuk menjadikannya tempat pemandian, karena danau ini merupakan kediaman makhluk gaib penunggu danau. Setiap orang yang melewati/melintasi lokasi tersebut pun diingatkan untuk selalu menjaga tindak tanduk serta tutur kata. Keunikan lainnya, saat mengambil dokumentasi (foto) keberadaan ikan di Danau Lamparan, hasilnya selalu tidak memuaskan. Demikian juga bila mendokumentasikan Danau Lamparan ketika dikunjungi secara berkelompok/rombongan, hasilnya selalu buram dan kabur, seperti ada kabut yang menutupinya. Berbeda halnya bila dilakukan tanpa rombongan, danau yang luasnya diperkirakan 2 hektar dan dikelilingi semak serta lumpur yang dalam, hasil dokumentasinya terlihat bagus dan bersih, sebagaimana foto di atas. Segala cerita dan keunikan, menjadikan Danau Lamparan sebagai tempat yang disakralkan di kawasan CA. Dolok Tinggi Raja. Kawasan konservasi ini awalnya berstatus sebagai bagian dari kawasan Hutan Lindung Sianak-anak I dan II. Karena keunikan yang dimiliki seperti : geologistik, estetika dan botanis, kemudian berdasarkan Zelfbestuur Besluit (ZB) Nomor 24 tanggal 18 April 1924 beralih menjadi cagar alam, dan selanjutnya ditetapkan sebagai CA. Dolok Tinggi Raja, seluas 167 hektar berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 93/Menhut-II/2014 tanggal 24 Januari 2014. Dalam perkembangannya melalui SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : 379/Menlhk/Setjen/Pla-2/9/2018, tanggal 18 September 2018, sebagian dari kawasan CA. Dolok Tinggi Raja (60,94 hektar) dialih fungsikan menjadi kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Dolok Tinggi Raja. Dengan demikian kawasan CA. Dolok Tinggi Raja yang tersisa seluas 141, 46 hektar. Di kawasan konservasi CA dan TWA Dolok Tinggi Raja terdapat 7 sumber air panas, yaitu : kawah putih, kawah biru, sungai Bahbalabak (tempat pemandian putri raja), pemandian sungai, goa kelalawar, Sungai Partula tula, dan Danau Lamparan. Disamping itu terdapat 2 sungai besar, Sungai Bahbalabak, yang berada dalam kawasan dan Sungai Aras, berada disepanjang pinggiran batas kawasan. Dengan adanya lokasi-lokasi yang dianggap sakral di kawasan CA/TWA. Dolok Tinggi Raja, menempatkan kawasan konservasi ini perlu mendapat perhatian khusus untuk dilindungi dan dijaga kelestariannya. Kedepan harus terus digali dan dibumikan kearifan-kearifan lokal yang ada, agar terbangun harmonisasi antara budaya dengan upaya konservasi alam. Sumber : Suparman, SP. (Polhut Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kader Konservasi Untuk Konservasi Lebih Membumi

Rabu, 28 Juni 2023 - Ada kegiatan yang keren dilakukan oleh Balai KSDA Sumatera Barat. Dari tanggal 20 hingga 22 Juni 2023 mengadakan kegiatan pembentukan kader konservasi. kegiatan dilakukan untuk meningkatkan kesadaran konservasi masyarakat. Kegiatannya meliputi pemberian dasar-dasar kepemimpinan, P3K dan SAR , pendidikan kehutanan secara umum, pengenalan Flora dan Fauna Sumatera, dasar-dasar ekologi, penyusunan laporan dan diskusi, pembinaan cinta alam dan tentu saja pengetahuan dasar-dasar konservasi. Kegiatan dilakukan di Imelda Hotel dan dibuka langsung oleh Kepala Balai KSDA Sumatera Barat, Ardi Andono. Dalam arahannya beliau sampaikan bahwa pembentukan kader konservasi ini bertujuan untuk menyebarluaskan informasi konservasi sumber daya alam bagi para calon kader, sehingga terbentuk jiwa generasi yang peduli terhadap keanekaragaman hayati. Dalam kegiatan ini Balai KSDA Sumbar menghadirkan para narasumber yang berasal dari Balai KSDA Sumatera Barat, Dishut Prov. Sumbar dan Kantor Pencarian dan Pertolongan Padang, dan para Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) dan Universitas Andalas (UNAND). Nantinya para peserta yang sudah dilatih akan tetapkan menjadi kader konservasi tahap pemula binaan Balai KSDA Sumatera Barat. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Artikel

Balai KSDA Sumbar Melakukan Kegiatan Sosialisasi Penanganan Konflik Satwa Liar di Nagari Batang Barus

Selasa, 27 Juni 2023 - Nagari Batang Barus yang terletak di Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, menjadi tuan rumah kegiatan sosialisasi penanganan konflik satwa liar. Acara ini dihadiri oleh 30 peserta, yang terdiri dari Bhabinkhatibmas nagari tetangga, Wakapolsek Gunung Talang, Koramil Gunung Talang, anggota pagari Batang Barus, tokoh-tokoh masyarakat Nagari Batang Barus, dan perangkat Nagari Batang Barus. Acara sosialisasi ini dimulai dengan sambutan dari Bapak Syamsul Azwar, selaku Walinagari Batang Barus, yang secara resmi membuka kegiatan tersebut. Selain itu, juga terdapat kata sambutan dari Wakapolsek Gunung Talang dan Koramil Gunung Talang, yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya penanganan konflik satwa liar. Materi yang disampaikan dalam sosialisasi ini terkait dengan penanganan konflik satwa liar dan pola perilaku satwa Harimau Sumatera. Peserta diberikan pemahaman tentang cara mengatasi konflik yang mungkin terjadi antara manusia dan satwa liar, serta pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem alam. Selain peserta internal, kegiatan sosialisasi juga dihadiri oleh mitra Balai KSDA Sumatera Barat, yaitu teman-teman dari Yayasan Sintas. Kehadiran mereka bertujuan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan ini dan memberikan informasi tambahan kepada peserta. Kegiatan ini merupakan hasil dari Kerjasama antara BKSDA Sumbar dengan PT. Semen Padang Dalam sambutannya, Bapak Syamsul Azwar menyampaikan, "Kami berharap sosialisasi ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keberlanjutan satwa liar dan menghindari konflik yang mungkin timbul. Semoga dengan pengetahuan yang diperoleh dari acara ini, kita dapat hidup berdampingan dengan harmonis bersama satwa liar di lingkungan kita." Kegiatan sosialisasi penanganan konflik satwa liar ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam menjaga keberlanjutan satwa liar dan meminimalisir terjadinya konflik di Nagari Batang Barus. Dengan pengetahuan yang diperoleh, masyarakat diharapkan mampu mengambil langkah-langkah preventif untuk menjaga keberadaan satwa liar, sambil tetap menjaga keamanan dan keselamatan mereka sendiri. Untuk informasi lebih lanjut mengenai penanganan konflik satwa liar dan upaya pelestarian satwa liar di Nagari Batang Barus, masyarakat dapat menghubungi pihak BKSDA Sumbar. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat

Menampilkan 1.089–1.104 dari 2.311 publikasi