Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

FPL PALEM : Bukti Jejak Langkah Konservasi Inisiasi Masyarakat

https://tngmerapi.id/fpl-palem-bukti-jejak-langkah-konservasi-inisiasi-masyarakat/ Sleman, 2 Agustus 2023 - Pengelolaan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) merupakan tugas Balai TNGM, akan tetapi tidak dipungkiri bahwa masyarakat memiliki andil dalam kerja-kerja konservasi di TNGM. Salah satu, mitra Balai TNGM dalam penguatan fungsi TNGM yaitu Forum Peduli Lingkungan Pecinta Alam Merapi (FPL PALEM). Sejak awal mula terbentuk pada 2004, FPL PALEM memiliki perhatian terhadap tumbuhan lokal di lereng Gunung Merapi, khususnya jenis-jenis anggrek. Tak hanya anggrek, kelompok masyarakat yang beralamat di Padukuhan Batur, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman ini pun menaruh perhatian pada jenis pohon lokal yang juga host tree bagi anggrek, seperti Saninten/Sarangan (Castanopsis argentea). FPL PALEM sendiri telah bekerjasama dengan Balai TNGM sejak Tahun 2018 melalui perjanjian kerja sama (PKS) antara Balai TNGM dan FPL PALEM. PKS tersebut telah diperpanjang pada tahun 2021 melalui PKS Nomor PKS.05/BTNGM/TU/Ren/05/2021 dan 204-05/2021/FPL PALEM. Hingga saat ini, FPL PALEM telah berhasil melakukan perbanyakan generatif maupun vegetatif beberapa jenis anggrek, salah satunya yaitu Vanda tricolor yang ikonik. Selama 2 tahun belakangan, FPL PALEM telah melakukan kultur in vitro anggrek Vanda tricolor. Perbanyakan melalui kultur in vitro ini dilakukan dengan mengisolasi bagian-bagian tumbuhan termasuk biji dalam lingkungan terkontrol (laboratorium). FPL PALEM tengah melakukan proses aklimatisasi (pengenalan dan pembiasaan pada lingkungan media tanam) anggrek hasil kultur tersebut. Tak hanya, secara generatif melalui biji, perbanyakan anggrek juga dilakukan secara vegetatif dengan metode split atau memisahkan tunas baru. Selain dilakukan perbanyakan pada jenis Vanda tricolor yang merupakan primadona TNGM, FPL PALEM juga melakukan perbanyakan pada jenis Paphiopedilum javanicum dan Dendrobium heterocarpum. Secara legalitas, FPL PALEM telah mengantongi izin penangkaran jenis-jenis anggrek tersebut dari Balai KSDA D.I. Yogyakarta. Tak hanya perizinan, FPL PALEM juga mendokumentasikan seluruh perkembangan penangkaran anggrek tersebut dalam log book. Bersama Balai TNGM, FPL PALEM juga telah melakukan relokasi anggrek di kawasan TNGM dan sekitarnya. Tercatat, sejumlah 30 anggrek telah direlokasi sejak 2021 hingga 2022. Atas kinerjanya tersebut, FPL PALEM mendapatkan penghargaan dari Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) pada Tahun 2021. Sedangkan pada tahun 2015, Warjono, selaku koordinator FPL PALEM, mendapatkan Penghargaan Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Tak berhenti pada pengembangan anggrek saja, kini, FPL PALEM bersama Padukuhan Batur mengembangkan Desa Wisata Batur Berdikari atau yang disingkat menjadi Dewi Batari. Salah satu wisata yang ditawarkan yaitu wisata konservasi anggrek. Wisata konservasi tersebut mengajak pengunjung untuk belajar jenis-jenis anggrek yang ada di TNGM serta upaya konservasi yang telah dilakukan. Tak hanya itu, Dewi Batari juga mengkombinasikan wisata konservasi dengan wisata budaya seperti mocopat, karawitan, tari tradisional, jathilan, serta jemparingan/panahan tradisional. Melihat antusias dan inovasi dari masyarakat Dewi Batari, Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, S.P., M. Sc., menyampaikan apresiasinya dan perlu terus untuk terus berkembang sehingga masyarakat sejahtera, kawasan TNGM pun terjaga. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

Selamatkan Tuntong Laut Dari Kepunahan

Stabat, 1 Agustus 2023 - Tuntong Laut (Batagur bornoensis) salah satu satwa liar yang habitatnya berada di kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut. Kondisi terkini dari satwa liar yang dilindungi undang-undang ini sedang dalam keadaan terancam punah. Oleh karena itu untuk menyelamatkan satwa ini dari kepunahan berbagai upaya pun dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Salah satunya dengan melaksanakan giat Focus Grup Discusion (FGD) atau Diskusi Grup Terfokus “Sosialisasi Penyelamatan Tuntong Laut di Kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut”, pada Senin, 31 Juli 2023, bertempat di Stabat Seafood, Langkat. FGD yang dihadiri Camat Secanggang beserta staf, Wakil Kepala Kepolisian Sektor (Wakapolsek) Tanjung Pura, Kanit Intel Polsek Secanggang, perwakilan Koramil Tanjung Pura dan Koramil Secanggang, Kepala Desa Tapak Kuda, Kepala Desa Jaring Halus, Kepala Desa Kuala Besar, Kepala Desa Tanjung Ibus, Kepala Desa Selotong, staf Seksi Konservasi Wilayah II Stabat dan lembaga mitra dari Yayasan Satu Cita Lestari Indonesia (YSLI), bertujuan mensosialisasikan sekaligus menampung masukan untuk upaya pelestarian Tuntong Laut. Acara FGD yang secara resmi dibuka oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan lembaga mitra Ketua Yayasan satu Cita Lestari Indonesia, menghadirkan 2 orang narasumber, masing-masing dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara (Markus MP Sianturi, S.Si., M.Si) dan dari Yayasan Satucita Lestari Indonesia (Joko Guntoro/Pengarah Program YSLI). Terdapat 5 desa yang berbatasan langsung dengan habitat Tuntong Laut di Kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, yaitu Desa Kwala Besar, Desa Jaring Halus, Desa Tanjung Ibus, Desa Selotong dan Desa Tapak Kuda yang berdasarkan historisnya mempunyai potensi populasi Tuntong Laut. Hasil dari penelitian, ancaman utama yang dihadapi Tuntong Laut adalah pengambilan telur serta perburuan individu untuk vet. Untuk itu kedepannya akan aktif dilakukan sosialisasi di kelima desa sasaran dengan melibatkan berbagai pihak terkait. YSLI menyatakan kesediannya untuk memberikan dukungan bahan sosialisasi kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara berupa plang, banner, sticker, leaflet yang akan didistribusikan pada saat sosialisasi bersama-sama dengan YSLI, yang direncanakan akan dimulai pada bulan Agustus 2023. Selain itu, masyarakat juga memohon agar dibuatkan katalog berisikan nama-nama warga yang peduli dan pernah menyerahkan satwa Tuntong Laut kepada pemerintah untuk direhabilitasi dan dilepasliarkan, sebagai bentuk penghargaan (apresiasi) serta kebanggaan bagi masyarakat. FGD menghasilkan kesepakatan bersama untuk menyelamatkan Tuntong Laut dari ancaman kepunahan. Kesepakatan ini tentunya tidak hanya berakhir di ruangan saja, tetapi akan ditindaklanjuti dengan aksi nyata di lapangan. Sumber : Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH. (Kepala SKW II Stabat) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Bentuk Kader Konservasi Madya

Mojokerto, 29 Juli 2023 - Bertempat di Claket Adventure Park, Desa Claket, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Balai Besar KSDA Jawa Timur melaksanakan Pembentukan Kader Konservasi Madya, 29 – 30 Juli 2023. Sebanyak 35 Kader Konservasi Pemula dari berbagai kelompok pecinta alam dan perorangan se-Jawa Timur mengikuti acara tersebut. Peserta mendapatkan beberapa materi seperti Kebijaksanaan di Bidang KSDAE, Peran Kader Konservasi dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi, serta Dukungan Program Peningkatan Spesies Prioritas Terancam Punah Jenis Elang Jawa (Nizaetus bartelsi) di Jawa Timur dan Tumbuhan Liar. Selain itu mereka juga menerima materi Perlindungan, Pengawetan dan Pemanfaatan Secara Lestari, serta praktek pengenalan jenis tumbuhan di sekitar lokasi dalam rangka biodiversity prospecting. Pembentukan kader konservasi madya terakhir kali dilaksanakan tahun 2015, dan pelaksanaan selanjutnya terkedala dengan adanya pandemi. Hal ini mengakibatkan kurang maksimalnya komunikasi antar kader konservasi. Untuk memfasilitasi komunikasi antar kader konservasi, terdapat sebuah forum bernama Forum Kader Konservasi Indonesia (FK3I). Dengan terbentuknya Kader Konservasi Madya ini, diharapkan menjadi batu pijakan untuk memperbaiki dan meningkatkan komunikasi antar kader konservasi, serta jembatani dengan instansi terkait khususnya Balai Besar KSDA Jawa Timur. Sumber : Wiwin Sepiastini, S.Hut., Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pembentukan POKJA Pengusulan Areal Bernilai Konservasi Tinggi di Kawasan Hutan Pegunungan Quarles, Luwu Utara

Luwu Utara, 26 Juli 2023 - Menurut data Bappenas tahun 2018 bahwa sekitar 43 juta ha kekayaan keanekaragaman hayati yang berada di luar kawasan konservasi memiliki keanekaragaman hayati tinggi baik di wilayah perairan hingga ekosistem pegunungan. Kawasan hutan pegunungan Quarles khususnya pada wilayah administrasi Kabupaten Luwu Utara, menjadi salah satu lokasi tersebut yang akan diusulkan menjadi Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT) dan saat ini melalui pertemuan para pihak, telah dilakukan Rapat Pembentukan POKJA Pengusulan ABKT Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, Rabu, 26 Juli 2023. Menurut Kepala BBKSDA Sulsel, Ir. Jusman, selain keanekaragaman hayati, juga ada aspek lain yakni pentingnya mitigasi bencana di area pengusulan ini. Melalui POKJA yang akan dibentuk, diharapkan bisa mempercepat proses penetapan area usulan sehingga pengelolaan multi pihak yang senantiasa bersinergi untuk pelestarian kawasan dapat dicapai. “Kegiatan ini sebenarnya merupakan tindak lanjut dari rangkaian kegiatan yang telah dimulai sejak awal tahun 2022 kemarin, dan terakhir dilakukan agenda Tudang Sipulung yang dilakukan pada november 2022 lalu. Diharapkan tentunya melalui rapat ini, selanjutnya akan ada SK POKJA yang diharapkan dapat segera difasilitasi Kadis LHK Sulsel untuk penerbitan SK Gubernur, dasar untuk kolaborasi multi pihak dapat segera diimplementasikan,” kata Jusman dalam sambutannya Gubernur Sulawesi Selatan diwakili oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulsel Andi Hasbi dalam sambutannya menyatakan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk semua pihak yang telah terlibat dalam Upaya pelestarian lingkungan alam khususnya di wilayah kawasan hutan Kabupaten Luwu Utara yang rencananya akan diusulkan menjadi calon Areal Bernilai Konservasi Tinggi. “Pembentukan POKJA ini diharapkan bisa menjadi wadah para pihak untuk bersama-sama mewujudkan pelestarian kawasan hutan yang menjadi area usulan ini. Secara kewenangan memang ada di Provinsi, tapi peran semua pihak mulai dari unsur pemerintah Kabupaten (jarang-jarang ada Bupati yang benar-benar concern untuk menjaga lingkungan daerahnya terutama terkait kehat)i. Selain itu juga peran akademisi, NGO, media serta pihak terkait lainnya. Jadi melalui POKJA, kita semua bisa segera menyiapkan apa-apa yang harus dipenuhi untuk penetapannya,” kata Andi Hasbi sebelum membuka kegiatan secara resmi. Pada sesi materi, Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani mengatakan wilayah hutan di Kabupaten Luwu Utara mendekati angka 70%, sehingga tidak berlebihan kalau Luwu Utara dikatakan sebagai paru-paru Sulawesi Selatan. Menurutnya, hal tersebut menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya. Oleh karenanya didalam salah satu misi Pemerintah Kabupaten Luwu Utara menyebutkan mengenai meningkatkan pengelolaan lingkungan hidup dan ketahanan bencana. “Kalau kita melihat Indeks kualitas lingkungan hidup (IKLH) di luwu utara sebenarnya saat ini kriterianya baik, sehingga mari kita pertahankan dan kita jaga bersama. Dari segi keanekaragaman hayati juga sangat beragam, dan dari segi potensi bencana, area pengusulan ini bagian dari sesar palukoro, dan menjadi zona merah untuk resiko bencana, sehingga upaya mitigasi bencana menjadi hal yang tidak dapat dipisahkan dari upaya pelestarian melalui kolaborasi semua pihak terkait,” ucap Indah. Indah menambahkan bahwa pengusulan ABKT ini dilatarbelakangi dengan keberadaan nilai penting yang berada di area pengusulan ini yang patut dijaga bersama, serta telah ditindaklanjuti melalui sejumlah proses penilaian awal, meliputi ABKT 1 hingga ABKT 4. “Sudah ada rangkaian studi penilaian yang telah dilakukan, mulai dari studi keanekaragaman hayati dan habitatnya, ekosistem lanskap dan jasa lingkungan yang dilakukan secara kolaboratif. Oleh karenanya, kegiatan ini harus disupport, karena apa yang kita kerjakan hari ini tidak hanya untuk kita tapi untuk anak cucu kita. Untuk itu butuh dukungan dari para mitra pembangunan, karena hal ini merupakan kerja-kerja kolaborasi yang membutuhkan peran multi pihak,” sambung Indah. Sementara itu, Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Konservasi DLHK Sulsel, Hidayat menambahkan bahwa sudah terdapat draft desain POKJA, sehingga untuk finalisasi draft SK POKJA ini tidak akan membutuhkan waktu lama sebelum penerbitan SK Gubernur tentang POKJA pengusulan ABKT ini. “Selain pembina yang akan diisi oleh Gubernur Sulsel dan Bupati Luwu Utara, juga ada tim pengarah yang akan diisi oleh Direktur BPPE dan unsur akademisi. Sementara itu untuk posisi Ketua POKJA akan diisi oleh Kepala Dinas LHK Sulsel, kemudian wakil ketua I adalah Kepala BBKSDA Sulsel, wakil ketua II Kepala Bappelitbangda Luwu Utara, Sekretaris Kepala Dinas LH Luwu Utara, Wakil Sekretaris Kepala Bidang Pengelolaan DAS dan Konservasi, dan anggota adalah para pihak sebagaimana yang tertuang di dalam draft desain POKJA,” kata Hidayat. Ditambahkan oleh Hidayat bahwa masukan, saran maupun koreksi dari para pihak dalam kegiatan ini akan menjadi bahan tindak lanjut untuk selanjutnya dilakukan drafting final SK POKJA untuk kemudian menyelesaikan tahapan administrasi dalam proses penerbitan SK Gubernur tentang pembentukan POKJA ini. “Saran dan masukan termasuk koreksi dari semua pihak pada hari ini akan menjadi bahan tindak lanjut dan akan segera dirampungkan secepat-cepatnya untuk percepatan penerbitan SK Gubernur tentang POKJA ini. Terimakasih atas masukan dan saran semua pihak,” tutup Hidayat. Sebelumnya, kegiatan ini diselenggarakan oleh Fauna & Flora yang difasilitasi oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulawesi Selatan. Selain dihadiri unsur pemerintah Provinsi melalui DLHK Sulsel dan UPT KPH yang berada di area pengusulan, juga dihadiri oleh Bupati Luwu Utara serta OPD Luwu Utara terkait. Selain itu, kegiatan ini juga dihadiri oleh Ketua Pusat Studi Kebencanaan LPPM UNHAS dan Dekanat Fakultas Kehutanan Universitas Andi Djemma Palopo sebagai pembahas, serta dihadiri pula PW AMAN Tana Luwu, Perkumpulan Wallacea, dan Disaster Management Centre UNHAS. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Artikel

Konsultasi Para Pihak TN Pegunungan Latimojong: Perlindungan Ekosistem Kawasan dan Keanekaragaman Hayati

Makassar, 27 Juli 2023 - Keanekaragaman hayati di pulau Sulawesi, selain beragam, juga memiliki tingkat endemisitas yang tinggi. Kekayaan hayati tersebut hidup berdampingan bersama komunitas alam lainnya, meliputi beragam jasa ekosistem dan juga keberadaan manusia yang bermukim di sekitarnya, yang tidak dapat dipisahkan dengan kebudayaan yang melekat sejak dahulu. Kompleks hutan pegunungan Latimojong menjadi salah satu area penting yang memiliki kekayaan multi perspektif tersebut, meliputi kekayaan hayati, sosial dan budaya serta keberadaan jasa ekosistemnya. Gubernur Sulawesi Selatan diwakili oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan Andi Hasbi dalam sambutannya menyampaikan permohonan maaf Gubernur Sulawesi Selatan karena beliau berhalangan hadir, dan kami sampaikan pula apresiasi yang setinggi-tingginya atas kepedulian semua pihak terhadap pelestarian sumber daya alam kita. Khususnya terkait dengan rencana pengusulan Taman Nasional Pegunungan Latimojong, Sebagaimana hasil audiensi sebelumnya, pada dasarnya kami mendukung inisiatif tersebut. Namun demikian, proses pengusulan ini tentunya bukanlah perkara yang mudah. Terdapat sejumlah prosedur dan mekanisme yang harus dipenuhi dalam pengusulan dan penetapannya yang mungkin membutuhkan waktu dan energi yang besar,” tutupnya Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku, Darhamsyah menambahkan, “Sebagai puncak gunung tertinggi di pulau Sulawesi yang kaya akan keanekaragaman hayati dan jasa ekosistemnya, hanya Gunung Latimojong yang belum berstatus Taman Nasional. Melalui rapat ini setidaknya kita memiliki kesepahaman bersama terhadap pentingnya perlindungan ekosistem hutan pegunungan Latimojong yang mungkin bisa kita dorong menjadi Taman Nasional. Secara umum, kami tentu sangat mendukungnya,” kata Darhamsyah. Pada sesi materi, Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi Ditjen KSDAE – KLHK, Ahmad Munawir memaparkan bahwa konsep Taman Nasional akan membuka keran pendapatan yang cukup besar bagi pemerintah daerah yang berada di sekitar kawasan konservasi, sehingga pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat “Sebagai contoh terdekat di Kabupaten Maros, Pemkab Maros mendapatkan keuntungan bisa mencapai miliaran rupiah per tahun dari hasil kolaborasi pengelolaan Taman Nasional bersama Balai TN Bantimurung Bulusaraung, jadi selain memastikan perlindungan kawasan konservasi, masyarakat melalui Pemda, juga akan mendapatkan pendapatan yang sangat besar dari hasil pengelolaannya,” kata Munawir Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, Ir. Jusman dalam paparannya menyampaikan, bahwa rencana pengusulan Taman Nasional Pegunungan Latimojong ini sudah bergulir sejak tahun 2022 melalui inisiatif dari Pemerintah Kabupaten Enrekang yang difasilitasi oleh BBKSDA Sulsel dan telah dilakukan kajian teknis oleh u Perencanaan Kawasan Konservasi kemudian dilanjutkan dengan studi pelingkupan keanekaragaman hayati yang dibantu oleh tim Fauna & Flora Indonesia Programme. Pada sesi diskusi dan tanggapan dari para pihak Kabupaten usulan yang dihadiri masing-masing pimpinan Pemerintah Kabupaten yakni Bupati Tana Toraja, Wakil Bupati Enrekang, Sekda Luwu, dan Sekda Sidenreng Rappang serta dihadiri pula Kepala UPT-KPH yang wilayah kelolanya masuk dalam indikatif area pengusulan antara lain Kepala UPT KPH Mata Allo, Kepala UPT KPH Bila, Kepala UPTD KPH Saddang I, dan Kepala UPT KPH Latimojong. Secara umum, para pihak memberikan respon yang positif dan pada dasarnya mendukung rencana pengusulan Taman Nasional Pegunungan Latimojong yang tertuang di dalam berita acara hasil rapat konsultasi para pihak dan akan ditindaklanjuti dengan melakukan survei lanjutan dan sosialisasi di tingkat tapak. Selain unsur Kementerian LHK, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulsel, Pimpinan Pemerintah Kabupaten usulan, kegiatan dihadiri pula oleh Pemerintah Kabupaten Maros diwakili oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Maros dalam sharing session kolaborasi pengelolaan kawasan konservasi. Selain itu, dari unsur akademisi Universitas Hasanuddindi Prof. Ngakan Putu Oka turut serta hadir bersama dengan perwakilan NGO/CSO yakni Sulawesi Community Foundation (SCF), Balla Konservasi Wallacea, LSM Celebica. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Dalton Makassar pada tanggal 27 Juli 2023, yang diselenggarakan bersama oleh Fauna dan Flora Indonesia, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, serta Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan. Sumber : Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Artikel

Calon P3K Tandatangani Perjanjian Kerja

Medan, 31 Juli 2023 - Menindaklanjuti Pengumuman Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : PG.4/MENLHK-SETJEN/ROPEG/PEG.0/7/2023 tanggal 21 Juli 2023 tentang Penandatanganan Perjanjian Kerja dan Pemanggilan Melaksanakan Tugas Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Formasi Tahun 2022, pada Kamis 27 Juli 2023, telah dilakukan penandatanganan perjanjian kerja oleh Calon Pegawai Pemerintah Dengan Perjanjian Kerja (P3K) di lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta bersamaan dengan serah terima kepada masing-masing unit penempatan Eselon I, yang dilaksanakan secara hybrid (luring dan daring) di Ruang Rimbawan I Gedung Manggala Wanabakti dan di masing-masing UPT. Khusus di Balai Besar KSDA Sumatera Utara, penandatanganan dilakukan oleh 13 orang Calon P3K serta 1 orang yang ikut menumpang dari UPT lain. Dalam arahannya, Sekretaris Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Bambang Hendroyono, MM. menyampaikan pesan bahwa para Calon P3K wajib melapor dan melaksanakan tugas pada unit kerja penempatannya masing-masing paling lambat tanggal 1 Agustus 2023. Saat melaksanakan tugas di tempatnya masing-masing, diingatkan bahwa pelayanan publik tidak boleh dilakukan secara diskriminatif. Pelayanan harus berorientasi kepada profesionalitas, birokrasi berbasis target, berorientasi kepada prinsip efektif dan ekonomis, serta manajemen kerja berbasis elektronik yang diharapkan nantinya dapat memudahkan pekerjaan. Bambang Hendroyono juga mengingatkan kepada kode etik revolusi mental ASN, yaitu : Integritas Moral (ikhlas dan disiplin), Etos Kerja (profesional dan tanggung jawab), Gotong Royong (Kerjasama) serta melihat, mendengar, merasakan, memikirkan, mengucapkan dan melaksanakan. “P3K wajib menjadi teladan di lingkungan kerjanya masing-masing. Persiapkan diri menjadi ASN kearah birokrasi yang dinamis, inovatif dan responsif terhadap perkembangan zaman,” ujar Bambang Hendroyono mengakhiri sambutannya. Penandatangan Perjanjian Kerja Calon P3K lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara disaksikan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Elfina Rosinta Dewa, S.Hut., M.IL. Sumber : Hendro – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Perayaan Global Tiger Day 2023 Dilaksanakan Balai KSDA Sumbar Bersama Mitra

Padang, 31 Juli 2023 - Global Tiger Day 2023 dilaksanakan Balai KSDA Sumbar bersama mitra dengan meriah. Dan mitra yang mengikuti rangkaian acara adalah Center Of Orangutan Protection, Yayasan Sintas, PRHSD (Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera Dhamasraya) ARSARI, Nagari Ramah Harimau, Nagari Batang Barus, LK umum TMSBK (Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan) Bukittinggi dan Yayasan Jejak Harimau. Adapun perayaan Global Tiger Day bertujuan untuk penyadaran kepada masyarakat luas tentang penyelamatan Harimau Sumatera baik dari sisi habitat, prey, hingga peningkatan kesadaran generasi muda. Rangkaian acara tersebut dilaksanakan bersama PRHSD dengan mengadakan Kompetisi Esai dan kompetisi short video tentang harimau sumatera pada 17 hingga 25 Juli 2023. Sedangkan bersama COP pada 20 Juni sampai 20 Juli 2023 Balai KSDA Sumbar mengadakan Lomba puisi dengan tema "Menjaga Harimau Terakhir Indonesia" Dan Lomba desain sticker bentor tema "Hari Harimau sedunia." Pada 28 Juli 2023, Gelar Wicara bersama PRHSD mengambil tema "Berbakti Untuk Pelestarian Harimau Sumatera." Pembicara untuk Gelar Wicara disampaikan oleh Balai KSDA Sumbar, Wali Nagari Lubuk Gadang Utara, dan Perawat Satwa PRHSD. Disamping itu pemasangan baliho kampanye penyelamatan harimau sumatera di Halaman Kantor Balai KSDA Sumbar bekerjasama dengan PRHSD dilakukan pada 28 Juli 2023. Untuk tanggal 29 Juli 2023 beberapa kegiatanpun dilaksanakan yaitu Lomba mewarnai dan menggambar untuk anak Usia dini di TWA Rimbo Panti bersama COP, Ceremonial Perayaan Global Tiger Day di TWA Rimbo Panti dan peresmian Ruang Informasi Harimau Sumatera dan Ruang Belajar Harimau Sumatera bersama COP dan Global Youth Biodiversity Network Chapter Indonesia ID Bersama Nagari Ramah Harimau binaan Balai KSDA Sumbar, Nagari Baringin Live IG dengan judul kenali Harimau serta bersama TMSBK dan Yayasan Jejak Harimau mengadakan kampanye penyadaran terhadap masyarakat yang berkunjung ke LK Umum TMBSK. Pada 31 Juli sampai 4 Agustus 2023 dilakukan visit school pendidikan konservasi harimau di Nagari Batang Barus Kab. Solok bersama Yayasan Sintas Indonesia. Sumber : Balai KSDA Sumatera Barat
Baca Artikel

Ranger Goes To School 2023: Pelaksanaan Ujian Akhir Semester di SMK Stella Maris Labuan Bajo Rampung Dilaksanakan

Labuan Bajo, 13 Juni 2023 - Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan ujian akhir semester (UAS) untuk mengevaluasi performa belajar siswa-siswi kelas XI prodi Usaha Layanan Pariwisata (ULP) di SMK Stella Maris Labuan Bajo. Pelaksanaan UAS ini menutup rangkaian program Ranger Goes to School (RGTS) Tahun 2023 yang dilaksanakan di tiga sekolah, termasuk SMK Stella Maris Labuan Bajo. Naoma Yunita Banamtuan (Polisi Kehutanan Mahir) dan Ande Kefi (Pengendali Ekosistem Hutan Mahir) dipercayakan mengawasi keseluruhan proses UAS di SMK Stella Maris Labuan Bajo sampai dengan tuntas. Jumlah peserta UAS di SMK Stella Maris Labuan Bajo jauh lebih banyak mencapai 175 pelajar, dibandingkan dengan SMKN 1 Labuan Bajo yang berjumlah 102 pelajar. Hal ini karena jumlah ruang kelas di SMK Stella Maris Labuan Bajo untuk prodi ULP mencapai 5 ruang kelas, sementara SMKN 1 Labuan Bajo hanya berjumlah 3 ruang kelas. Seusai melaksanakan UAS, Naoma Yunita Banamtuan dan Ande Kefi menyampaikan bahwa siswa-siswi yang memperoleh peringkat 1-3 di setiap kelasnya akan mendapatkan kesempatan mengikuti program magang Junior Park Ranger (JPR) di Balai Taman Nasional Komodo pada Bulan Januari s.d. Juni 2024 setiap tahunnya. Rm. Kornelis Hardin, Kepala SMK Stella Maris Labuan Bajo, turut menyambut baik hal tersebut karena pada prinsipnya SMK memerlukan mitra industri yang dapat menerima kegiatan magang secara berkelanjutan setiap tahunnya. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar program RGTS dapat terus diselenggarakan setiap tahunnya. Lebih lanjut, Balai Taman Nasional Komodo berkeinginan agar Taman Nasional Komodo tidak hanya dipandang sebagai sebuah destinasi wisata oleh para pelajar di Kabupaten Manggarai Barat, melainkan sebagai identitas sosial diri para generasi mudanya, bahwa dimanapun kelak mereka berada, maka yang paling mengetahui informasi tentang Taman Nasional Komodo adalah generasi muda Manggarai Barat. Sumber : Balai TN Komodo Penulis Berita : Naoma Yunita Banamtuan, A.Md. (Polhut Mahir) & Ande Kefi, S.ST. (Pengendali Ekosistem Hutan Mahir) Penyunting Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda)
Baca Artikel

Ranger Goes To School 2023: Pelaksanaan Ujian Akhir Semester di SMKN 1 Labuan Bajo Rampung Dilaksanakan

Labuan Bajo, 13 Juni 2023 - Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan ujian akhir semester (UAS) untuk mengevaluasi performa belajar siswa-siswi kelas XI prodi Usaha Layanan Pariwisata (ULP) di SMKN 1 Labuan Bajo. Pelaksanaan UAS ini menutup rangkaian program Ranger Goes to School (RGTS) Tahun 2023 yang dilaksanakan di tiga sekolah, termasuk SMKN 1 Labuan Bajo. Koordinator Program RGTS, Muhammad Ikbal Putera, memimpin langsung jalannya UAS di SMKN 1 Labuan Bajo dengan didampingi oleh siswa magang dari SMK Stella Maris Labuan Bajo. Sebanyak 102 siswa-siswi Prodi ULP SMKN 1 Labuan Bajo mengikuti UAS RGTS Tahun 2023. Menariknya, para siswa tampak serius mengikuti UAS Pendidikan Konservasi Taman Nasional Komodo ini. “Nilai dari mata pelajaran RGTS ini akan dimasukan ke dalam rapor murid sebagai materi muatan lokal wajib yang harus mereka ikuti, sehingga mereka harus bersungguh-sungguh untuk mendapatkan nilai yang baik”, tutur Vincencia Natalia Dian Purnama, guru produktif ULP SMKN 1 Labuan Bajo. Mendengar hal itu, Muhammad Ikbal Putera juga menambahkan, “Siswa-siswi yang memperoleh nilai terbaik kesatu hingga ketiga di setiap kelasnya akan mendapatkan kesempatan mengikuti program magang Junior Park Ranger (JPR) di Balai Taman Nasional Komodo mulai Bulan Juli s.d Desember setiap tahunnya. Pendampingan untuk para pelajar ini tidak akan berhenti di program RGTS, melainkan akan dilanjutkan pada program magang JPR selama enam bulan lamanya”. Viktoria Timung Wulang, Kepala SMKN 1 Labuan Bajo, menyambut baik hal tersebut karena sekolah kejuruan pada prinsipnya memerlukan mitra industri yang dapat menerima program magang SMK secara berkelanjutan setiap tahunnya. Balai Taman Nasional Komodo berharap agar program RGTS dapat terus diselenggarakan setiap tahunnya. Lebih lanjut, Balai Taman Nasional Komodo berkeinginan agar Taman Nasional Komodo tidak hanya dipandang sebagai sebuah destinasi wisata oleh para pelajar di Kabupaten Manggarai Barat, melainkan sebagai identitas sosial diri para generasi mudanya, bahwa dimanapun kelak mereka berada, maka yang paling mengetahui informasi tentang Taman Nasional Komodo adalah generasi muda Manggarai Barat. Sumber : Balai TN Komodo Penulis dan Penyunting Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda)
Baca Artikel

Ketekunan Petugas Resort Kampung Rinca Dalam Melaksanakan Monitoring Kalong di Pulau Kalong Rinca

Labuan Bajo, 20 Juni 2023 - Resort Kampung Rinca SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo konsisten menyelenggarakan kegiatan monitoring dugaan populasi kalong besar (Pteropus vampyrus) di Pulau Kalong Rinca sejak tahun 2021. Kegiatan Resort-Based Management (RBM) unggulan Kampung Rinca ini dipelajari dari seorang ahli kelelawar bernama Sheherazade. Kala itu, Fahri Ikhlas (Kepala Resort Kampung Rinca) melakukan observasi di Pulau Kalong Rinca bersama dengan Sheherazade untuk mengidentifikasi ragam jenis kelelawar dan mempelajari bentang ekosistem yang menjadi tempat koloni kelelawar beristirahat, bereproduksi, dan makan. Fahri dan Sheherazade menemukan satu jenis kelelawar yang mendominasi sebagian besar ekosistem mangrove di Pulau Kalong Rinca. Jenis kelelawar yang ditemukan adalah kalong besar. Penemuan ini tentu merupakan batu loncatan pengelolaan yang luar biasa dan menekankan bahwa Resort yang berada di dalam Zona Permukiman Taman Nasional Komodo tidak hanya mampu mengumpulkan data sosial ekonomi, namun juga mampu mengumpulkan data perjumpaan satwa liar di alam. Sheherazade menduga bahwa di Pulau Kalong Rinca kemungkinan besar tidak hanya dihuni oleh satu jenis koloni kelelawar saja, melainkan terdiri dari beberapa jenis dan koloni yang hidup berdampingan berbagai area istirahat, reproduksi, dan makannya. Sejak itu, data dugaan populasi kelelawar mulai terdata dengan baik oleh petugas Resort Kampung Rinca dan Balai Taman Nasional Komodo dapat turut mengedukasi publik melalui media sosial mengenai pentingnya peranan kelelawar bagi ekosistem dan manusia, utamanya mempengaruhi stabilitas produksi buah durian di Kabupaten Manggarai Barat dan wilayah sekitarnya. Fahri Ikhlas bersama dengan anggotanya tekun melakukan pendataan dugaan populasi kalong besar di Pulau Kalong Rinca pada tahun 2023. Fahri dan tim menggunakan metode emergence count untuk menghitung jumlah kalong pada saat sedang terbang keluar dari gugusan Pulau Kalong Rinca. Berdasarkan pengamatan, koloni kalong besar akan mulai terbang keluar pada pukul 18:00 WITA dimana pola pergerakan ini sangat dipengaruhi oleh dinamika cuaca. Ketika memasuki musim hujan, kalong besar dapat terbang keluar lebih cepat, sementara pada musum kemarau, kecenderungan kalong besar terbang akan lebih lama dari waktu biasanya. Pada saat terbang keluar, kalong besar di Pulau Kalong Rinca akan membentuk barisan hitam dan bergerak menuju ke Pulau Flores dan Pulau Komodo. Dugaan populasi kalong besar di Pulau Kalong Rinca pada tahun 2023 masih memiliki kecenderungan populasi stabil jika dibandingkan dengan data tahun 2022 dan 2021. Adapun data dugaan populasi kalong besar pada tahun 2023 adalah sebagai berikut: 9.300 ekor (Januari), 8.500 (Februari), 8.750 (Maret), 7.800 (April), 8.300 (Mei), dan 10.700 (Juni). Musim hujan dan angin yang biasanya berlangsung pada Bulan Desember – Bulan April setiap tahunnya seringkali membuat dugaan populasi kalong tampak menurun dibandingkan dengan data musim kemarau. Petugas menduga hal ini disebabkan karena adanya koloni kalong besar yang berpindah tempat mencari lokasi yang lebih aman pada musim tersebut. Faktor lainnya yang turut mempengaruhi dinamika populasi kalong besar pun adalah keterbatasan waktu dan peralatan pengamatan petugas Resort Kampung Rinca. Pada beberapa kali kesempatan, petugas menemukan kalong besar di Pulau Kalong Rinca tampak seperti enggan keluar karena adanya tiupan angin yang cukup kuat di jam terbangnya. Hal ini membuat jumlah dugaan populasi tampak menurun dibandingkan dengan data pada bulan lainnya. Balai Taman Nasional Komodo selalu berupaya untuk memastikan keberadaan kalong besar di Pulau Kalong Rinca tetap terjaga lestari dan tidak berpindah tempat ke lokasi yang mungkin sulit untuk dijangkau oleh petugas. Untuk itu, Balai Taman Nasional Komodo telah membuat protokol kunjungan wisata alam dengan melarang penggunaan drone di sekitar Pulau Kalong Rinca. Meskipun kalong besar bukan merupakan satwa kunci Taman Nasional Komodo, keberadaan mamalia terbang ini tetap menjadi salah satu satwa yang dijaga ketat kelestarian populasinya oleh petugas Balai Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai TN Komodo Penulis Berita : Fahri Ikhlas, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) & Mahfud (Tenaga Pengamanan Hutan Resort Kampung Rinca) Penyunting Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda)
Baca Artikel

Ranger Goes To School 2023: Pentingnya Memahami Konsep Mindfulness Bagi Pelajar di Labuan Bajo

Labuan Bajo, 19 Juni 2023 - Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan dua kelas terakhir dari rangkaian program Ranger Goes to School (RGTS) 2023 bagi siswa Prodi Usaha Layanan Pariwisata (ULP) SMKN 1 Labuan Bajo pada Hari Senin (12/03/2023) bertempatkan di Gedung Komodo Visitor Center di Labuan Bajo. Kelas ke-12 dan ke-13 ini dipimpin langsung oleh Koordinator Program RGTS 2023, Muhammad Ikbal Putera (PEH Ahli Muda), untuk sesi kurang lebih 4 jam pelajaran yang mencakup dua materi ajar yaitu Psikologi Lingkungan dan Kepercayaan Lokal, serta Peran Stakeholder Dalam Pengelolaan Taman Nasional Komodo. Sebanyak 85 siswa ULP dari tiga kelas ULP di SMKN 1 Labuan Bajo hadir dan mengikuti kelas tersebut sampai dengan selesai. Kedua materi ini dibawakan dengan sangat interaktif dan informatif serta dipraktikan baik di dalam maupun luar ruangan. Materi Psikologi Lingkungan dan Percayaan Lokal menekankan pentingnya bagi siswa untuk mengetahui adanya hubungan antara manusia dengan satwa liar dimana interaksi tersebut dengan membentuk sebuah keterikatan emosional (batin) secara positif diantara keduanya. Sebagai contoh, masyarakat Desa Komodo di Pulau Komodo menganggap bahwa biawak komodo (Varanus komodoensis) merupakan saudara kembarnya sehingga masyarakat Desa Komodo berkenan untuk hidup berdampingan dengan biawak komodo sejak 100 tahun lalu, jauh sebelum penetapan Suaka Margasatwa Pulau Komodo pada masa lampau. Keterikatan ini membuat masyarakat Desa Komodo menghargai keberadaan biawak komodo di alam hidupnya sampai dengan saat ini dan menjaganya, sehingga secara tidak langsung, stabilitas populasi biawak komodo di Pulau Komodo terjaga. Siswa diajak untuk mempelajari hubungan antara manusia dengan satwa liar di lokasi lain dan diminta untuk mengidentifikasi praktik konservasi yang terbentuk karenanya. Materi lainnya yang diajarkan adalah Peran Stakeholder Dalam Pengelolaan Taman Nasional Komodo. Materi ini dikembangkan oleh Muhammad Ikbal Putera dan baru diajarkan tahun ini kepada seluruh siswa RGTS 2023. Materi ini menekankan pentingnya peran pelajar sebagai salah satu aktor kunci dalam pengelolaan Taman Nasional Komodo. Para pelajar harus memahami perannya dengan sangat baik dan mampu berpartisipasi dalam dinamika sosialnya sesuai dengan kapasitasnya sebagai pelajar di Labuan Bajo. Para pelajar diharapkan dapat menumbuhkembangkan sikap pelajar baik, diantaranya: menjunjung tinggi persatuan dan perbedaan; berpikiran terbuka dan berwawasan luhur; berakhlak mulia dan saling menghormati; berpikiran kritis dan konstruktif; kreatif; mampu mendengar aktif; dan mampu berempati dan bersimpati. Salah satu pendekatan yang dilakukan untuk membantu menumbuhkan sikap tersebut adalah mindfulness (kebersadaran) atau secara konsep berarti kapasitas menghadirikan diri secara penuh dan otentik (Be Present) dan kapasitas diri untuk mengobservasi pikiran, emosi, dan pengalaman tanpa penghakiman atau memberikan reaksi/menunda reaksi (State of Awareness). Konsep mindfulness yang dipelajari menggunakan praktik 5 sensory exercises dan mindful eating. Siswa diminta untuk mencicipi roti yang diberikan di dalam kelas dan diminta untuk merasakan tidak hanya rasa roti tersebut, namun juga diajak merasakan tekstur roti, memikirkan proses pembuatannya, dan siapa yang membuatnya, hingga roti ini bisa disajikan di toko dan tiba ditangan para penikmatnya. Dalam satu kali percobaan, siswa mampu menggambarkan berbagai rasa yang dirasakan ketika memegang dan mengunyah roti tersebut dan mampu berempati memikirkan jerih payah para petani gandum, pabrik roti, penjaga warung, dan bahkan distributor roti yang mereka konsumsi. Para siswa merasa bersyukur dapat mengonsumsi roti tersebut dan berupaya menghabiskannya sebagai bentuk apresiasi bagi para pelaku usaha yang membantu proses pembuatan roti tersebut dibelakangnya yang seringkali terlupakan. Praktik lainnya adalah 5 sensory exercises yang dilakukan secara outdoor. Masing-masing siswa diajak untuk beraktivitas di luar ruangan untuk mempertajam 5 indera manusia. Para siswa diminta untuk melihat 5 benda di sekitarnya, menyentuh 4 benda, mendengar 3 benda, mencium 2 benda, dan merasakan 1 benda secara fokus tanpa berbincang dengan kawannya dan dalam keheningan. Setelah dilakukan dengan waktu yang cukup, para siswa diminta untuk kembali masuk ke dalam ruangan untuk merefleksikan hasil praktik 5 sensory exercises dihadapan rekan-rekan yang lain. Ikbal meminta 3 orang siswa secara sukarela untuk berani mengutarakan hasil refleksinya, sementara siswa yang lain diminta untuk mengontrol emosinya untuk tidak mengomentari (menertawakan/mempertanyakan) saat rekannya bercerita di depan kelas. Praktik ini berhasil dilakukan, namun memerlukan pengulangan karena sebagiansiswa laki-laki masih berusaha memahami konsep dan praktik ini dengan pengkhayatan. Sementara sebagian besar siswa perempuan, mampu memusatkan dan menghadirkan diri secara utuh dan berhasil mengikuti seluruh arahan yang diberikan dan mempelajari pesan yang disampaikan di kelas. Melalui konsep mindfulness dalam rangka mempelajari peran stakeholder dalam pengelolaan Taman Nasional Komodo, para siswa diharapkan saat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau saat terlibat aktif dalam dunia kerja, harus mampu memahami berbagai perspektif dan peranan masingmasing para pemangku kepentingan, utamanya dalam lingkup pengelolaan Taman Nasional Komodo. Setiap stakeholder memiliki perannya masing-masing, mempunyai suaranya masing-masing, dan sebijaknya seluruh para pemangku kepentingan agar bekerjasama satu dengan yang lain untuk mencapai satu tujuan yang sama, lestarinya alam Taman Nasional Komodo. Sumber : Balai TN Komodo Penulis dan penyunting Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda)
Baca Artikel

PEH Berkarya: Komitmen Meningkatkan Kapasitas Diri Melalui Program Kepimpinan Bekal Pemimpin 3.0

Labuan Bajo, 07 Juli 2023 - Muhammad Ikbal Putera, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda Balai Taman Nasional Komodo kembali mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas pegawai melalui program kepemimpinan “BEKAL Pemimpin 3.0” yang diselenggarakan dan dibiayai penuh oleh Yayasan Upaya Indonesia Damai (UID) pada tahun 2023. Sebanyak 62 pemimpin muda Indonesia kembali dikumpulkan oleh Yayasan UID untuk meneruskan rangkaian pembelajaran dan implementasi Teori-U pada sesi Deep Dive Workshop bertempatkan di UID Campus Bali, Kura-Kura Bali, Provinsi Bali, mulai tanggal 02 – 07 Juli 2023. BEKAL Pemimpin berupaya melahirkan para pemimpin muda yang mencita-citakan masa depan pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang berkeadilan, berkelanjutan, dan berkearifan lokal. Untuk mewujudkan visi tersebut, para peserta didorong untuk dapat mengayomi pengelola sumber daya alam yang berkesadaran sistem dan mendukung inovasi untuk transformasi pengelolaan sumber daya alam. Perjalanan pembelajaran yang para peserta BEKAL Pemimpin 3.0 perlu ikuti adalah Foundation Workshop (Makassar), Sensing Workshop (Daring), Deep Dive Workshop (Bali), Prototype Workshop (Daring dan Lokasi Pilihan), Final and Graduation (Jakarta). Sebelumnya, para peserta BEKAL Pemimpin 3.0 telah mengikuti Foundation Workshop yang diselenggarakan di Makassar pada tanggal 10 – 13 Mei 2023. Seusai Foundation Workshop, para peserta mengikuti Sensing Workshop yang diselenggarakan secara daring pada tanggal 6 – 10 Juni 2023. Perjalanan pembelajaran Bekal Pemimpin saat ini adalah Deep Dive Workshop yang memusatkan proses pembelajaran pada sebuah pertanyaan kunci, “Siapakah kamu dan apa yang sudah kamu perbuat untuk dirimu dan orang-orang disekelilingmu?” Pertanyaan klise yang ternyata tidak mudah menjawabnya. Para peserta ‘dibedah’ jati dirinya dan diminta menggali jawaban atas sebuah pertanyaan kunci tersebut yang memuncul berbagai reaksi emosi yang menyentuh ke lubuk hati terdalam masingmasing peserta. “BEKAL Pemimpin memang sangat berbeda dari program pelatihan kepemimpinan yang pernah Saya ikuti sebelumnya. Tidak ada program diklat kepemimpinan seperti ini di Indonesia”, tutur Muhammad Ikbal Putera saat mengikuti sesi Deep Dive Workshop di Bali. Pada Deep Dive Workshop, peserta BEKAL Pemimpin 3.0 diajak mengimplementasikan Teori-U dan belajar memetakan sebuah isu sosial dengan menggunakan instrumen transformasi iceberg yang mendeskripsikan isu tersebut secara kualitatif. Peserta diajarkan untuk mengidentifikasi kejadian/gejala permasalahan, pola perilaku, struktur sistem, dan model mental para elemen dalam sistem tersebut. Untuk dapat mempraktikan instrumen ini, para peserta dibagi ke dalam kelompok kecil dan diajak pergi mengunjungi beberapa destinasi yang telah ditentukan. Kali ini, Ikbal diajak mengunjungi Desa Serangan dan berkunjung ke beberapa destinasi di dalamnya, meliputi: Pura Sakenan, Masjid As-Syuhada yang dipercaya merupakan masjid tertua di Bali, Turtle Conservation and Education Center, dan Kura-Kura Bali Community Partnership Workshop. Usai melakukan kunjungan lapang, Ikbal dan anggota kelompoknya diminta untuk menggunakan instrumen transformasi iceberg berdasarkan isu sosial yang telah diamati pada setiap destinasi yang telah dikunjungi. “Instrumen ini luar biasa. Saya tidak boleh judgmental terhadap suatu hal. Kita harus bisa melihat isu tersebut dari berbagai sudut pandang dengan konstruktif dan objektif. Belajar lebih banyak untuk aktif mendengar daripada aktif berbicara”, ujar Ikbal usai melaksanakan pengisian transformasi iceberg. Momen lain saat Deep Dive Workshop yang Ikbal rasakan adalah banyaknya kepahitan yang dirasakan oleh para pemimpin muda Indonesia ini. “Saya merasa se-frekuensi dengan teman-teman disini. Saya berpikir kepahitan ini hanya Saya yang merasakan, tapi ternyata semua orang punya rasa pahitnya masing-masing, dan kita semua mampu melewatinya, bahkan tidak sedikit yang justru memberikan cahaya bagi orang lain untuk maju atas pengalaman pahit yang telah dilalui. Saya bangga bisa menjadi bagian dari BEKAL Pemimpin 3.0”, tambah Muhammad Ikbal Putera refleksi dan perasaan yang Saya rasakan usai melakukan sesi journaling dan mindfulness seorang diri. Para peserta diminta untuk mencintai dan menyayangi dirinya sendiri, sebelum lebih memperhatikan orang lain. Para peserta diminta menuliskan surat cinta (love letter) untuk diri sendiri pada buku yang telah disediakan dan memperoleh waktu 120 menit untuk merenung dan mendalami jati diri. Pada hari terakhir Deep Dive Workshop, Ikbal merasa energized dan penuh harapan. “Perjalanan pembelajaran Deep Dive Workshop ini seperti naik roller coaster. Saya jatuh sampai hancur berkeping-keping dibuatnya pada hari pertama dan kedua. Namun, perlahan dibentuk dan dirangkai ulang hingga menjadi pribadi yang lebih berkesadaran, lapang dada, damai, dan penuh harapan. Baru kembali dari Jeju, langsung dibina di Bekal Pemimpin, capeknya bukan main, tapi bahagianya tidak hilang-hilang”, tutur Muhammad Ikbal Putera kepada salah satu panitia ketika ditanya situasi perasaannya. Selain Muhammad Ikbal Putera, dua pemimpin muda lainnya pada BEKAL Pemimpin 3.0 yang merupakan pegawai Direktorat Jenderal KSDAE adalah Eka Susanti (Direktorat PJKKK) dan Donatus Awujani (Balai Besar Taman Nasional Teluk Cendrawasih). Kami berharap saat BEKAL Pemimpin 4.0 dibuka nanti pada tahun 2025, tetap ada peserta dari Direktorat Jenderal KSDAE. “Program BEKAL Pemimpin, bukan pelatihan kepemimpinan sembarangan. Banyak harapan dan mimpi bersama di dalamnya”, tutup Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Taman Nasional Komodo, Muhammad Ikbal Putera. Sumber : Balai TN Komodo Penulis dan Penyunting Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda)
Baca Artikel

PEH Berkarya: Menjadi Narasumber Internasional Conference On Veterinary and Animal Science Unversitas Nusa Cendana

Labuan Bajo, 24 Juni 2023 - Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, mempercayakan Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda) menjadi narasumber pada konferensi internasional terkait bidang kedokteran hewan yang diselenggarakan oleh Universitas Nusa Cendana bekerjasama dengan Indonesia Veterinary Microbiology Association (AMVI) di Hotel Laprima Labuan Bajo pada tanggal 23 Juni 2023. Kegiatan yang dihadiri oleh Rektor Universitas Nusa Cendana ini dilaksanakan secara hybrid dimana peserta dari beberapa negara dapat berpartisipasi secara daring dan luring selama kegiatan ini berlangsung. Narasumber pada konferensi internasional bidang kedokteran hewan ini merupakan akademisi dan praktisi yang ahli di bidangnya, diantaranya akademisi dari University of Minnesota (Amerika Serikat), University of Miyazaki (Jepang), Griffith University (Australia), AMVI (Indonesia), dan Balai Taman Nasional Komodo (Indonesia). Para akademisi membawakan presentasi dalam Bahasa Inggris dengan judul sebagai berikut (a) “Emerging viral zoonotic diseases from wildlife”, (b) “One health approach to tackle zoonotic threats in wildlife setting”, (c) “pathogen transmission in humans, animals, and the environment: not just a matter of location change”, (d) “important wildlife zoonotic diseases in Indonesia”. Sementara perwakilan Balai Taman Nasional Komodo membawakan presentasi dengan judul “Komodo National Park Management” dengan menekankan sistem pengelolaan Taman Nasional Komodo dan dinamikanya, utamanya yang berkaitan dengan pencegahan penyebaran penyakit zoonosis hewan ternak yang berpotensi masuk ke dalam kawasan konservasi. Para peserta yang mayoritas merupakan akademisi dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia dan luar negeri tampak antusias mendengarkan presentasi yang dibawakan oleh perwakilan Balai Taman Nasional Komodo. Pasalnya, Ikbal menyampaikan bahwa untuk mewujudkan pengelolaan Taman Nasional Komodo yang efektif di waktu yang datang dan untuk merespon berbagai tantangan serta dinamika pengelolaan kawasan konservasi masa depan, maka tentunya Balai Taman Nasional Komodo memerlukan kolaborasi pendidikan dan penelitian dengan perguruan tinggi dari latar belakang keilmuan lainnya, selain bidang kehutanan dan biologi, termasuk kedokteran hewan. Pada saat sesi diskusi, setidaknya empat pertanyaan peserta dilayangkan kepada Ikbal. Pertanyaan yang diajukan beragam meliputi dinamika populasi biawak komodo, informasi terkait kemungkinan adanya penyakit zoonosis di sekitar kawasan Taman Nasional Komodo, peluang riset dan magang di Taman Nasional Komodo, dan terkait perizinan pengambilan sampel yang berlaku di Indonesia. Seluruh pertanyaan ditanggapi satu per satu dengan cukup memuaskan dan penuh informasi. “Saya yakin dan bangga, Ikbal, PEH Muda kita bisa menjadi reprentatif Balai Taman Nasional Komodo yang baik pada konferensi internasional tersebut. Kepercayaan ini Saya berikan sebagai kesempatan untuk tampil bagi para pejabat fungsional yang memiliki kecakapan dan keahlian tertentu yang bisa mengharumkan nama institusi, utamanya Balai Taman Nasional Komodo dan Direktorat Jenderal KSDAE”, tutur Kepala Balai Taman Nasional Komodo saat menerima laporan bahwa penyampaian paparan pada kegiatan konferensi internasional tersebut telah selesai dilaksanakan. Kepala Balai Taman Nasional Komodo berharap agar pejabat fungsional lainnya dapat termotivasi oleh keaktifan fungsional PEH Balai Taman Nasional Komodo untuk bersungguh-sungguh belajar agar bisa menyampaikan data dan informasi secara menarik dan informatif kepada publik mengenai pengelolaan kawasan konservasinya masing-masing. Sumber : Balai TN Komodo Penulis dan Penyunting Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda)
Baca Artikel

Perayaan Wisuda Program Ranger Goes To School 2023 di SMKN 1 Labuan Bajo Berjalan Lancar

Labuan Bajo, 15 Juni 2023 - Balai Taman Nasional Komodo kembali menyelenggarakan kegiatan wisuda program Ranger Goes to School (RGTS) Tahun 2023 di SMKN 1 Labuan Bajo. Kali ini, pelaksanaan wisuda dipersiapkan dengan lebih matang bekerjasama dengan para guru di SMKN 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo. Sebanyak 102 siswa Prodi Usaha Layanan Pariwisata (ULP) SMKN 1 Labuan Bajo dan 15 siswa Prodi ULP SMK Stella Maris Labuan Bajo yang berprestasi di masing-masing kelasnya mengikuti prosesi wisuda RGTS bertempatkan di Aula SMKN 1 Labuan Bajo. Perayaan wisuda RGTS ini dimaksudkan sebagai bentuk apresiasi Balai Taman Nasional Komodo bagi siswa-siswi SMKN 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo yang telah mengikuti rangkaian program RGTS sampai dengan tuntas mulai dari Bulan Januari – Juni 2023 selama enam bulan lamanya. Kegiatan ini murni dilaksanakan atas kesepakatan bersama dan tanpa membebani para siswa dengan biaya/pengeluaran tertentu. Kegiatan wisuda ini dikemas dengan sangat menarik dimana Kepala Balai Taman Nasional Komodo hadir didampingi oleh Kepala SPTN Wilayah I bersama dengan Wakil Kepala SMKN 1 Labuan Bajo dan Wakil Kepala SMK Stella Maris Labuan Bajo hadir sebagai pemberi penghargaan bagi seluruh wisudawan program RGTS Tahun 2023. Para siswa yang telah mengikuti program RGTS memperoleh sertifikat penghargaan dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo, sementara para guru yang terlibat aktif serta siswa-siswi berprestasi dari masingmasing kelas di SMKN 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo memperoleh tambahan penghargaan berupa piagam yang ditandatangani oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo yang sekiranya berguna untuk keperluan pendidikan/pekerjaan di masa yang akan datang. Salah satu bentuk pencapaian RGTS 2023 adalah perolehan nilai akhir siswi SMKN 1 Labuan Bajo, Maria Noyatriani Yensa yang memperoleh nilai 99 dari 100. Prosesi wisuda RGTS dibuka dengan laporan dari Koordinator Program RGTS, Muhammad Ikbal Putera, dihadapan seluruh jajaran guru dan wisudawan. “Program RGTS yang diinisiasi pertama kali pada tahun 2022 telah menyelesaikan periode ajar keduanya. Lebih dari 1000 pelajar SMK dari Prodi ULP telah mendapatkan pengajaran terkait Pendidikan Konservasi Taman Nasional Komodo. Program RGTS diharapkan tidak hanya menambah wawasan para siswa mengenai Taman Nasional Komodo, namun juga membentuk perubahan diri menjadi pribadi lebih disiplin, berwawasan terbuka, dan berkesadaran. Lebih lanjut, dengan diselenggarakannya RGTS, kami berharap agar pelajar Manggarai Barat semakin besar rasa kepedulian dan cintanya terhadap Taman Nasional Komodo, karena dikemudian hari, yang akan menjaga kelestarian alam Taman Nasional Komodo adalah adik-adik semua”, tutur Muhammad Ikbal Putera pada penutup laporannya. Mendengar hal itu, Hendrikus Rani Siga, Kepala Balai Taman Nasional Komodo, memperkuat pesan yang disampaikan dalam pidatonya, “Kegiatan RGTS ini diselenggarakan untuk mendukung dan memperkuat upaya penyadartahuan konservasi bagi para pelajar SMA/SMK di Labuan Bajo. Tentu program RGTS tidak akan berhenti disini. Kami akan menguatkan barisan agar program ini dapat diselenggarakan kembali di sekolah Bapak dan Ibu agar semakin banyak generasi muda Manggarai Barat yang paham tentang pengelolaan Taman Nasional Komodo beserta dinamikanya”. Wakil Kepala SMKN 1 Labuan Bajo dan Wakil Kepala SMK Stella Maris Labuan Bajo turut mendapatkan kesempatan menyampaikan testimoni atas pelaksanaan RGTS di masing-masing sekolahnya. Keduanya bernada dan berirama sama bahwa menyambut dan menunggu kelanjutan program RGTS Tahun 2024 dan sangat berharap agar kegiatan sukarela yang mulia ini tidak berhenti sampai kapanpun demi kemajuan pendidikan anak-anak Manggarai Barat yang berkesadaran lingkungan. Program RGTS patutnya menjadi program percontohan Pendidikan muatan lokal nasional yang komprehensif dan sangat positif bagi pengembangan keterampilan siswa SMK, utamanya di Kabupaten Manggarai Barat. Sumber : Balai TN Komodo Penulis dan Penyunting Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda)
Baca Artikel

PEH Berkarya: Mengisi Kuliah Umum Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman

Labuan Bajo, 11 Juli 2023 - Muhammad Ikbal Putera selaku Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda Balai Taman Nasional Komodo mendapatkan kesempatan menjadi narasumber untuk kuliah umum mahasiswa program studi Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) secara daring. Pelaksanaan kuliah umum tersebut diselenggarakan berdasarkan permohonan Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSOED yang ingin mempelajari lebih dalam informasi terkait pengelolaan Taman Nasional Komodo, utamanya pengelolaan kawasan pesisir yang mahasiswanya dapat pelajari secara langsung melalui kegiatan magang ataupun penelitian akhir. Pada kesempatan sebelumnya, satu mahasiswi Ilmu Kelautan UNSOED, Zahra Tufaila Pambudi, mendapatkan kesempatan magang di Balai Taman Nasional Komodo mulai dari tanggal 23 Januari – 13 Maret 2023. Keikutsertaan Zahra dalam program magang Junior Park Ranger (JPR) Balai Taman Nasional Komodo menjadi gerbang awal bagi mahasiswa kelautan UNSOED berikutnya melaksanakan kegiatan pendidikan dan penelitian di Taman Nasional Komodo. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan UNSOED mengapresiasi sistem magang yang diterapkan oleh Balai Taman Nasional Komodo dimana mahasiswa tidak hanya mengikuti rutinitas pegawai di kantor maupun lapangan, namun juga dituntut untuk memiliki Small-Scale Research (SSR) yang relevan dengan bidang keilmuannya. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat menggunakan data yang diperolehnya saat magang untuk keperluan penelitian/tugas akhirnya nanti, sehingga waktu yang digunakan lebih efektif dan efisien. Tentu skema magang SSR ini tidak mudah dan memerlukan kesiapan yang matang dari para calon peserta magang dan dosen pembimbing universitas terkait. Jika dinyatakan lolos seleksi magang, maka para peserta magang akan dibimbing langsung perjalanan pembelajarannya oleh Muhammad Ikbal Putera selaku supervisor magang selama maksimal enam bulan durasi magang. Para peserta harus mempresentasikan rencana magang, menuliskan laporan mingguan/berkala capaian pembelajaran tertentu, mengikuti ujian magang, dan mempresentasikan hasil kegiatan magang sebelum dikeluarkan Surat Keterangan Selesai Magang dan Sertifikat Magang di akhir periode magangnya. Balai Taman Nasional Komodo dengan diselenggarakanya kuliah umum ini, kontinuitas peserta magang dari program studi Ilmu Kelautan UNSOED untuk belajar mengenai pengelolaan Taman Nasional Komodo berlanjut. Balai Taman Nasional Komodo menekankan pentingnya kolaborasi dan heterogenitas latar belakang pendidikan dalam mewujudkan pengelolaan Taman Nasional Komodo yang kolaboratif dan integratif di masa yang datang Sumber : Balai TN Komodo Penulis Berita : Vincentsius Thomas Riestyan (Mahasiswa Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung) Penyunting Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (PEH Ahli Muda)
Baca Artikel

Dukungan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Dari East Ventures Bagi Pengelolaan Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 28 Juli 2023 - Balai Taman Nasional Komodo memperoleh dukungan pengelolaan kawasan dari East Ventures yang merupakan perusahaan venture capital terkemuka dan pionir investasi start-up teknologi di seluruh sektor (sektor agnostik) di Indonesia. Kolaborasi ini merupakan buah kunjungan East Ventures ke kawasan Taman Nasional Komodo pada awal tahun 2023, dimana East Ventures tergerak hati dan merasa perlu memberi balik kepada alam dengan mendukung upaya pelestarian hutan dan perairan di kawasan Taman Nasional Komodo. Adapun bentuk dukungan yang diberikan oleh East Ventures untuk pengelolaan Taman Nasional Komodo antara lain: peningkatan sarana prasarana wisata alam, penanaman 5000 bibit mangrove, giat bersih pantai bersama pemerintah dan masyarakat setempat. Ceremonial aksi penanaman 5000 bibit mangrove diselenggarakan pada tanggal 24 Juli 2023 bertempatkan di Resort Papagarang SPTN Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini dihadiri oleh Lukman Hidayat (Kepala SPTN Wilayah II), Judy Aries Mulik (Kepala SPTN Wilayah III), H. Abdullah (Kepala Desa Papagarang), mahasiswa Universitas Gadjah Mada, Universitas Brawijaya, Politeknik Pariwisata NHI Bandung, siswa-siswi SD Negeri 1 Papagarang, dan masyarakat Desa Papagarang. Aksi penanaman mangrove juga akan dilakukan di Resort Loh Sebita dan Kerontong (SPTN Wilayah II Balai Taman Nasional Komodo). Meskipun kondisi hutan mangrove di kawasan Taman Nasional Komodo masih alami dan sehat, aksi penanaman mangrove ini tetap penting untuk dilakukan sebagai dukungan bagi upaya pengelolaan hutan dan karbon biru di kawasan pesisir dan perairan. Aksi sosial-lingkungan ini diselenggarakan sejalan dengan peringatan Hari Mangrove Sedunia yang jatuh pada tanggal 26 Juli setiap tahunnya. “Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen East Ventures untuk mendorong konservasi hutan dan wisata alam yang berkelanjutan di Taman Nasional Komodo, salah satu ikon pariwisata Indonesia. Kami senang bisa berkolaborasi dengan Balai Taman Nasional Komodo dan masyarakat setempat dalam melakukan kegiatan ini. Kami berharap agar East Ventures bisa membuka tradisi baru wisata korporasi di mana setiap kunjungan wisata dari perusahaan, para pengunjung tidak meninggalkan jejak wisata yang bisa merusak alam dan juga setiap kunjungan memberikan dampak langsung pada masyarakat lokal”, tutur Willson Cuaca, Co-Founder dan Managing Partner East Ventures. Sementara giat bersih pantai dikemas dengan tema “Bersih Bersih Bajo” yang turut dilaksanakan di Long Beach Padar, SPTN Wilayah III Balai Taman Nasional Komodo. Dalam pengumpulan dan pengolahannya, East Ventures bekerjasama dengan Rekosistem selaku climate tech start-up pengelolaan sampah di Indonesia. Para peserta giat bersih pantai berhasil mengumpulkan 899.9 Kg sampah yang selanjutnya akan dipilah dan didaur ulang di Labuan Bajo, NTT. Sebelumnya, East Ventures telah lebih dulu memberikan dukungan revitalisasi sarana prasarana wisata alam di kawasan Taman Nasional Komodo, khususnya di Pulau Padar, Pulau Rinca, Pulau Komodo, dan Pulau Gili Lawa. Total dukungan senilai Dukungan senilai IDR 333.168.883,- diberikan dalam bentukpemasangan dua panel surya dan satu charging station oleh Xurya, salah satu perusahaan portfolio East Ventures yang bergerak di bidang energi terbarukan, untuk memenuhi kebutuhan listrik di pos pemungutan PNBP Resort Padar Selatan. Selain itu, dukungan lainnya mencakup bantuan revitalisasi fasilitas toilet, papan informasi, tali, pengadaan seragam dan topi untuk para rangers dan naturalist guide, alat pengeras suara, dan protofon (HT). Semua dukungan yang diberikan diharapkan dapat meningkatkan pengelolaan pariwisata alam berkelanjutan di kawasan Taman Nasional Komodo kedepannya. Terkait dengan kolaborasi nyata ini, Hendrikus Rani Siga, Kepala Balai Taman Nasional Komodo mengapresiasi East Ventures sebagai salah satu perusahaan yang memiliki kesadaran tinggi terhadap upaya pelestarian hutan dan lingkungan di kawasan Taman Nasional Komodo. “Banyak perusahaan yang memperoleh keuntungan dari aktivitas ekowisata di Taman Nasional Komodo, namun belum banyak yang tergerak hatinya untuk berkontribusi balik secara nyata bagi pelestarian alam maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. East Ventures merupakan salah satu contoh perusahaan yang baik dan bisa menjadi teladan bagi perusahaan lainnya kedepannya. Kegiatan di Resort Papagarang kemarin pun melibatkan banyak pemangku kepentingan di Labuan Bajo, membentuk sebuah kolaborasi nyata untuk melindungi keindahan alam Taman Nasional Komodo. Kami percaya bahwa dukungan ini dapat memberikan dampak positif bagi pengelolaan pariwisata alam berkelanjutan di Taman Nasional Komodo”. Sumber : Balai TN Komodo Penulis Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (PEH Ahli Muda) & Pheseline Felim (Head of Media and Marketing East Ventures) Penyunting Berita : Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (PEH Ahli Muda)

Menampilkan 1.057–1.072 dari 2.311 publikasi