Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Membangun Kesepakatan Konservasi di HKAN 2023

Toba, 14 Agustus 2023. Road to HKAN Tahun 2023, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) IV tarutung pada Bidang KSDA Wilayah II Pematang Siantar melakukan Penandatanganan Kesepakatan Konservasi (Keskon) di Resor Suaka Margasatwa (SM) Dolok Surungan II dan III dalam rangka Fasilitasi Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Kawasan Konservasi yang dilaksanakan pada tanggal 9 – 10 Agustus 2023 di 2 (dua) lokasi yang berbeda. Di hari pertama, penandatanganan Keskon dilaksanakan di Kelurahan Parsoburan Tengah, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba (SM. Dolok Surungan II) yang dilakukan oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematang Siantar, Buana Darmansyah, S.Hut.T dan Lurah Parsoburan Tengah, Jenton Pardosi yang disaksikan Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, petugas Resort SM. Dolok Surungan II dan III, staf Bidang KSDA Wilayah II Pematang Siantar dan Kelompok Tani Martuasi. Sedangkan pada hari kedua, penandatanganan Keskon dilaksanakan di Desa Lumban Gaol, Kecamatan Habinsaran, Kabupaten Toba (SM. Dolok Surungan III) yang dilakukan oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematang Siantar, Buana Darmansyah, S.Hut.T dan Kepala Desa Lumban Gaol, Liston Nadeak yang disaksikan Kepala SKW IV Tarutung, Petugas Resor SM. Dolok Surungan II dan III, Staf Bidang KSDA Wilayah II Pematang Siantar dan Kelompok Tani Uli Basa. Pada momen yang sama Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, Manigor Lumban Toruan, SP., berkesempatan berbagai ilmu kepada Kelompok Tani Uli Basa yaitu dengan melakukan demonstrasi pembuatan pupuk dan pestisida organik. Menariknya pupuk tersebut merupakan hasil karya dari Manigor Lumban Toruan, SP., dan sudah diujicoba di lahan pertaniannya. “Harapan saya, Kelompok Tani Uli Basa bisa beralih ke pertanian organik yang sudah pasti ramah lingkungan dan lebih menguntungkan,” ujar Manigor. Kelompok Tani Uli Basa sangat antusias dan serius mengamati setiap langkah pembuatan pupuk dan pestisida organik tersebut. Kepala Desa Lumban Gaol dan Kelompok Tani Uli Basa sangat terharu dan berterima kasih dengan apa yang telah dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengingat selama ini mereka tidak pernah didatangi oleh Penyuluh Pertanian sehingga kendala-kendala yang mereka hadapi dalam pengelolaan lahan pertanian mereka tidak pernah terselesaikan. Kepala SKW IV Tarutung juga berjanji akan membagikan pengalaman lainnya dan mendampingi Kelompok Tani Uli Basa dan Masyarakat Lumban Gaol dalam pengelolaan pertanian mereka. Penandatanganan Keskon ini merupakan komitmen antara Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan Kelurahan Parsoburan Tengah dan Desa Lumban Gaol untuk menjaga dan melestarikan Kawasan Konservasi SM. Dolok Surungan. Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga berperan dalam mendukung peningkatan ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi yaitu melalui kegiatan pemberdayaan melalui pemberian bantuan ekonomi produktif sesuai dengan harapan masyarakat sekitar kawasan. Setelah Penandatanganan Keskon dilanjutkan dengan pemberian dana Bantuan Ekonomi Produktif kepada Kelompok Tani Martuasi dan Kelompok Tani Uli Basa. Kedua Kelompok ini nantinya akan mempergunakan dana bantuan tersebut untuk pembelian peralatan pertanian. Seperti diketahui bahwa anggota Kelompok Tani Martuasi dan Kelompok Tani Uli Basa bermata pencaharian utama adalah bertani dengan komoditi padi, jagung, kopi, dan palawija. Dengan adanya bantuan peralatan pertanian ini diharapkan dapat meningkatkan hasil pertanian Kelompok Tani Martuasi dan Kelompok Tani Uli Basa. Sumber : Lisbeth Manurung, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Mencari Solusi Bersama Pengelolaan TN Kepulauan Togean

Ampana, 10 Agustus 2023 – Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN), Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) menyelenggarakan “Rapat Koordinasi Pengelolaan Kawasan TN Kepulauan Togean Tahun 2023” pada tanggal 10 Agustus 2023. Rapat Koordinasi ini juga berhasil merumuskan beberapa rekomendasi, salah satunya adalah untuk melakukan pertemuan lanjutan merancang aksi teknis operasional penanganan isu strategis/ permasalahan melalui Forum Koordinasi dan Komunikasi Pengelolaan Cagar Biosfer Togean Tojo Una-Una. Kepala Balai TN Kepulauan Togean, Dodi Kurniawanmenyatakan bahwa “Rapat Koordinasi ini dimaksudkan untuk membangun komunikasi dan penyamaan persepsi para pihak (pemangku kepentingan dan pemangku wilayah) terhadap isu strategis/permasalahan pengelolaan kawasan TN Kepulauan Togean untuk pembangunan berkelanjutan”. “Terdapat 5 (lima) kelompok isu strategis/permasalahan pengelolaan yang saat ini teridentifikasi yaitu: 1) pemanfaatan ruang “zonasi pengelolaan” serta akomodasi kepentingan strategis yang tidak dapat dielakkan; 2) perlindungan dan pengamanan (penanganan terpadu illegal fishing berupa bom ikan, penggunaan kimia, serta konflik tenurial/terbangun); 3) konflik satwa liar dan pemanfataan perikanan secara berkelanjutan; 4) pemanfaatan jasa lingkungan wisata alam; serta 5) kerusakan dan upaya pemulihan ekosistem terumbu karang. Isu strategis/permasalahan ini kedepan perlu ditangani secara terkoordinasi melalui sinergitas, kerja sama dan kolaborasi antar pemangku kepentingan dan pemangku wilayah, dengan tujuan utama pelestarian kawasan TN Kepulauan Togean agar dapat terus memberikan kontribusi manfaat bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan”, ungkapnya menambahkan. Peserta yang hadir berasal dari perwakilan unsur Muspida, DPRD, Pemerintah Daerah (Sekretariat Daerah, SKPD terkait, Camat di Kepulauan Togean), instansi vertikal dan LSM yang ada Kabupaten Tojo Una-Una secara offline. Sementara secara online, acara ini juga dihadiri oleh Staf Ahli Menteri (SAM) Bidang Pangan, Direktur teknis lingkup Ditjen KSDAE, Direktur PPH Ditjen GAKKUM, perwakilan SKPD terkait pada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, perwakilan UPT KLHK dengan wilayah kerja regional Sulawesi dan Provinsi Sulawesi Tengah, serta perwakilan dari instansi pengamanan laut (KAMLA Zona Maritim Tengah, Pangkalan TNI AL Palu, Dit. Polairud, BASARNAS Palu). Sumber : Amelia Diaztari S.Hut dan Wita Nofrinar, S.Si (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Artikel

Road to HKAN, BBKSDA Jatim Jagongan Bahas Konservasi di Baung

Akhir pekan kemarin BBKSDA Jatim seru-seruan bersama stakeholder dalam sebuah acara yang bertajuk “Road to HKAN : Jagong Bakar Keju”, jagongan membahas konservasi untuk kesejateraan yang berkelanjutan. Kegiatan yang diikuti 57 peserta tersebut digelar di camping ground milik Baung Canyon di Taman Wisata Alam Gunung Baung, 12 - 13 Agustus 2023. Acara ini juga bagian dari peresmian Camping Ground milik Baung Canyon selaku pemegang IUPSWA di TWA Gunung Baung. IUPSWA sendiri merupakan kepanjangan dari Ijin Usaha Penyediaan Sarana Wisata Alam. Turut hadir dalam Jagongan tersebut Kepala BBKSDA Jatim berserta beberapa pejabat eselon III dan IV, Kepala TN Alas Purwo, perwakilan dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur dan Tahura R. Soerjo. Juga beberapa stakeholder lainnya seperti mahasiswa Kehutanan -Institut Pertanian Malang, Gimbal Alas, beberapa kelompok Sakawana Bakti dari Surabaya, SMK Wali Songo Mojokerto, TN Alas Purwo, serta kader konservasi, dan Pelajar Kehutanan - SMK Negeri Garut. Andi Iskandar, Site Manager Baung Canyon, mengatakan bahwa acara jagongan ini selain untuk berdiskusi mengenai konservasi dengan melibatkan semua stakeholder yang ada, juga untuk soft opening dari Baung Canyon Camping Ground. “Camping ground ini didirikan tanpa merubah apapun yang ada, kami hanya memfaatkan sedikit dari sumber daya yang ada, dan kedepan lokasi ini akan dijadikan pusat pendidikan konservasi alam. Harapan kami setiap 2 bulan akan diadakan diskusi semacam ini yang membahas barbagai hal dalam konservasi”, tukas pria yang lebih akrab dipanggil Andi Gondrong ini. Kepala BBKSDA Jatim, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan bahwa taman wisata alam memiliki regulasi tentang pembagian ruang dalam kawasan, salah satunya adalah blok pemanfaatan. Dalam blok pemanfaatan ada blok pemanfaatan private dan publik. “Lokasi Baung Canyon ini dalam blok private, dan selama aturan mainnya masih dalam lingkup konservasi, pemegang izin yang bertanggung jawab pengelolaannya selama 55 tahun”, ujarnya. Bambu Dalam jagongan yang dihelat malam hari, diskusi yang diangkat salah satunya adalah mengenai peran bambu, mengingat bambu sangat banyak dijumpai di Gunung Baung. Sahlan Junaedi dari Yayasan Bambu Lestari menjelaskan bahwa bambu di Indonesia ada 159 jenis, 53 jenis diantaranya berada di Pulau Jawa. Di Jawa, Bambu memiliki keselarasan dalam hidup. Di desa-desa, bambu ditanam di pinggir-pinggir desa, karena peran utama bambu sabagai peredam angin, mempertahankan air tanah, virus / bakteri akan tersaring sebelum masuk ke rumah. Di sekitar Camping Ground Baung Canyon saja ada sekitar 6 jenis bambu yang dijumpai. “Bambu itu keren, dapat digunakan sebagai bahan laminasi, untuk furniture furniture, rebungnya dapat dimakan, dan daunnya untuk teh. Di awal penghujan saat rebung tumbuh, ia diberi makan oleh induk bambunya. Maka jika bambu ditebang saat itu, menyebabkan rebung akan mati”, ujar pria berambut panjang ini. Dalam 1 rumpun, bambu dapat menyimpan air sebanyak 3000 - 5000 liter selama musim hujan serta dapat menyimpan karbon hingga 50 ribu ton dalam setiap hektarnya. Ekosistem bambu dapat dijumpai mulai hutan pantai hingga dataran tinggi dan menjadi rumah bagi berbagai satwa seperti ular, Macan Rembah, hingga berbagai jenis burung. (ak) *Jagongan = duduk-duduk sambil mengobrol Agus Irwanto (Analis Konservasi) - BBKSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Road To HKAN 2023, Pelajar SMA AN Nizam Belajar Konservasi

Medan, 10 Agustus 2023. Road To HKAN 2023 Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan kunjungan ke SMA AN Nizam di Medan, pada Sabtu 5 Agustus 2023. Kunjungan kali ini bagian dari rangkaian kegiatan menuju Hari Konservasi Alam Nasional 2023 guna mengedukasi dan menyebarluaskan informasi tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya kepada 79 generasi muda yang mengikuti kegiatan edukasi ini. Sebagaimana diketahui, bahwa Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) diperingati setiap tahun pada tanggal 10 Agustus, hal ini sesuai Keputusan Presiden RI No. 22 Tahun 2009. Tujuannya untuk mengkampanyekan pentingnya konservasi alam bagi kesejahteraan masyarakat, mengedukasi masyarakat dalam upaya menyelamatkan ekosistem alam, serta menjadikan cinta alam dan lingkungan sebagai gaya hidup. Untuk tahun 2023, peringatan HKAN mengusung tema “ Jiwa yang Damai Dalam Harmoni Rimba Belantara”. Berbagai kegiatan edukasi pun digelar, seperti : pemaparan materi, diskusi, pemutaran video dokumenter, dan kuis konservasi. Hadir dan sekaligus membuka kegiatan ini Kepala Sekolah SMA AN Nizam Medan, Yudistira Avandi, S.Pd, M.Si., didampingi guru yang juga Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Muhammad Umar Muchtar. Dalam sambutannya Yudistira Avandi mengajak anak didiknya sebagai generasi muda untuk peduli dengan alam dan lingkungan serta menerapkan gaya/pola hidup go green, ramah lingkungan, mengurangi penggunaan sampah plastik, dan hemat energi. Tim dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang mengikuti kegiatan ini dikoordinir oleh Kelompok Kerja (Pokja) Bina Cinta Alam, yaitu Samuel Siahaan, SP. bersama Sri Rohana KE. Siahaan, SP., Irma Yanti Napolina Sigiro, S.Kom. dan Nurul. Selain itu turut hadir juga Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit Four Ledys Tio Iriani Aritonang, ST. yang mempromosikan keberadaan kawasan TWA Sibolangit sebagai Pusat Edukasi Konservasi dan Lingkungan (Ekoling) di Sumatera Utara dengan luas 24, 85 Ha. Diakhir promosinya Four Ledys Tio Iriani Aritonang, kembali mengajak pihak sekolah beserta siswanya untuk berkunjung dan memanfaatkan kawasan TWA Sibolangit sebagai pusat edukasi konservasi alam yang mendukung kegiatan proses pembelajaran. Disela-sela kegiatan, dilakukan juga penyampaian link google form Kuesioner Kepuasan Pengunjung Terhadap Sarana Dan Prasarana TWA Sibolangit yang diperuntukkan bagi siswa/i yang pernah berkunjung ke TWA Sibolangit beberapa waktu lalu. Kegiatan edukasi menjadi meriah dan semarak tatkala memasuki sesi kuis konservasi untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta tentang konservasi alam. Kuis ini menawarkan berbagai hadiah menarik. Dengan kegiatan edukasi singkat yang dilakukan oleh Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara, diharapkan menjadi titik awal dalam menumbuhkan kepedulian generasi muda akan konservasi alam dan lingkungan hidup. Sumber : Samuel Siahaan, SP. (PEH Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Road to HKAN : Rembug Bareng Area Diksar Di kawasan TNGM

Klaten (09/08/2023) - Selama ini banyak organisasi pecinta alam melakukan kegiatan Pendidikan dan Latihan Lapangan khususnya bidang Gunung Hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Namun dengan status Gunung Merapi level 3 (siaga), maka perlu penelaahan lebih lanjut dimana lokasi terbatas yang aman. Sehingga pada hari Rabu, 9 Juli 2023, dilaksanakan diskusi dengan berbagai pihak, yaitu Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), SAR D.I.Yogyakarta, SAR Klaten, SAR Linmas Kaliurang, dan Kelompok Wisata (Pokwis) Sapuangin berkoordinasi menentukan rekomendasi lokasi yang dibutuhkan. Kegiatan ini dilakukan di Sapuangin Coffee and Farm, Dusun Pajegan, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Dalam diskusi, banyak masukan serta rekomendasi dari para pihak yang hadir. Diantaranya masukan dari BPPTKG yaitu lokasi atau area tersebut berada di luar rekomendasi bahaya Gunung Merapi dan hal tersebut bersifat dinamis. Selain itu, perlu adanya sosialisasi terkait keamanan alat-alat BPPTKG yang berad di dalam kawasan. Kemudian SAR Klaten memberikan masukan untuk lokasi Diksar diupayakan lokasi yang mudah dijangkau sehingga tidak mempersulit ketika ada proses rescue. Selain itu, SAR Klaten mengingatkan untuk lokasi-lokasi Diksar juga jauh dari dampak kerusakan Kehati. Ditambahkan oleh SAR DIY memberikan masukan agar regulasi dari TNGM terkait kegiatan Diksar juga harus diperketat. Adanya upaya pengecekan pra kegiatan dalam rangka memastikan keamanan kegiatan. Selain itu, masukan terkait mempertimbangkan area dengan aktivitas tradisional dan budaya juga tidak kalah penting. Hal senada juga kurang lebih sama disampaikan oleh SAR Linmas Kaliurang dan Pokwis Sapuangin (SAR Sapuangin) bahwa regulasi harus diketatkan dan lokasi medannya mudah dijangkau. Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, yang hadir langsung dalam kegiatan ini menyampaikan terimakasih dan berharap pertemuan seperti ini dapat dilakukan secara rutin. Selain itu perlu adanya pelatihan SAR untuk petugas TNGM dan masyarakat mitra, sehingga skill dan pengetahuan SAR dimiliki. Hal ini juga dalam rangka menyiapkan keterlibatan TNGM dalam pendampingan kegiatan - kegiatan alam bebas yang tentunya tetap berkoordinasi dengan SAR DIY, SAR Klaten, dll. Jika memungkinkan dapat membantu tim gabungan. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2023. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023 dengan tema Hapungkal Himba Karingu atau Jiwa Yang Damai Dalam Harmoni Hutan Belantara. Puncak HKAN akan dilaksanakan di TWA Bukit Tangkiling Provinsi Kalimantan Tengah. *** Pembuat Berita : Khamdan Primandaru (Penyuluh Kehutanan Pertama) Penyunting : Titin Septiana (PEH Muda) Penanggung jawab: Muhammad Wahyudi, S.P, M.Sc. (Kepala Balai) - 085244012365 FB: Taman Nasional Merapi Twiter: @btngunungmerapi IG: @btn_gn_merapi Website : tngmerapi.id
Baca Artikel

Pelestarian Lutung Putih Bersama Para Pihak

Banjarbaru, 2 Agustus 2023 – Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023, BKSDA Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Universitas Lambung Mangkurat dan PT Arutmin Indonesia menyelenggarakan Seminar Nasional Konservasi Primata Endemik Borneo dengan Tema “Pelestarian Lutung Dahi Putih (Presbytis frontata) Melalui Peran Para Pihak” di Q Dafam Hotel Banjarbaru dan juga live streaming melalui kanal youtube Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel). Dalam sambutannya Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. menyatakan bahwa dalam seminar nasional kali ini menghadirkan tiga pembicara utama, yaitu: Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut, M.Agr.Sc. (Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK); Prof.Dr.Ir. Hadi Alikodra, M.S (Guru Besar Institut Pertanian Bogor) dan Dr. Kissinger, S.Hut, M.Si (Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat). Sebaran peserta dan pemakalah berasal dari beberapa UPT KSDAE, perguruan tinggi, perusahaan swasta, LSM, Lembaga Konservasi, dan masyarakat umum. Sub tema dalam seminar kali ini dibagi menjadi dua sub tema : Pelestarian Lutung Dahi Putih/ Konservasi Primata dan Peran Para Pihak Dalam Konservasi Flora Fauna. Kami selaku panitia sangat gembira atas antusiasme para peserta, dimana total peserta terdiri dari pemakalah oral (18 pemakalah) dan peserta non pemakalah (75 offline) dan sisanya mengikuti secara online melalui saluran live streaming kanal youtube BKSDA Kalsel yang mencapai 530 viewer. Lutung Dahi Putih (Presbytis frontata) atau yang biasa masyarakat lokal menyebut cukakah merupakan salah satu primata dilindungi yang persebarannya terbatas di hanya di Pulau Borneo, yaitu Wilayah Indonesia dan Malaysia. Sebaran lutung dahi putih di Kalimantan Selatan berada di Kabupaten Kotabaru, Tapin, Tanah Bumbu, dan Balangan. Ciri khas yang dimiliki satwa ini adalah warna putih pada dahi yang tidak berbulu, dan jambul yang berbentuk kerucut di kepala, serta bulu coklat keabu-abuan yang tumbuh di bagian belakang dan coklat kekuningan di bagian depan. Monyet langka endemik Borneo ini memiliki status dilindungi berdasarkan PP No.7 Tahun 1999 jo Pemen LHK No.106 Tahun 2018 tentang perubahan kedua atas Permen LHK No.P.20 Tahun 2018 tentang Daftar Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi Undang-undang. Secara global, satwa ini masuk dalam kategori vulnerable (terancam) menurut IUCN (Badan Konservasi Dunia). Sementara Konvensi Perdagangan Tumbuhan dan Satwa Liar (CITES) mengelompokkan lutung dahi putih dalam Appendiks II CITES. Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M.Sc. berharap bahwa dengan diselenggarakan perhelatan ilmiah ini diharapkan dapat turut menggelorakan kembali semangat para pakar, akademisi, swasta, LSM, maupun masyarakat luas untuk berpartisipasi dan kontribusi aktif dalam menyebarkan ilmu pengetahuan dan pesan konservasi yang telah didapatkan. (Ryn) Sumber: Titik Sundari, S.Hut - PEH BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Yuhuuu … Kawah Ijen Dibuka Lebih Malam

Sidoarjo, 9 Agustus 2023 - Ini bisa menjadi kabar gembira bagi para wisatawan yang hendak melakukan pendakian ke Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Melalui Surat Edaran Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Nomor: SE.247/K.2/BIDTEK.1/KSA/8/2023 tanggal 9 Agustus 2023, Pendakian ke Kawah Ijen dibuka pukul 02.00 WIB hingga 12.00 WIB mulai 12 Agustus 2023. Dalam surat edaran tersebut para pengunjung tetap dilarang menuju ke lokasi dasar kawah/ pengendalian sulfatara. Dan tetap mengikuti petunjuk-petunjuk, himbauan, serta larangan yang telah dipasang di kawasan. Tentu saja keputusan ini dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti status aktifitas Gunung Ijen sesuai rekomendasi Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Seperti diketahui daya tarik terbesar dari Kawah Ijen adalah fenomena blue fire, yang hanya bisa disaksikan saat kondisi langit masih gelap. Dengan jam buka pukul 02.00, diharapkan pengunjung dapat kembali melihat blue fire. Seperti harapan seorang wisatawan asal eropa yang menghubungi facebook milik BBKSDA Jatim beberapa waktu yang lalu. Dalam chatnya Carys Milica Rowles mempertanyakan kapan Kawah Ijen dapat dibuka kembali normal. “I came from Europe to see the blue flames and I am very hopeful it will open soon”, tulis Carys. Seperti biasa, tiket bisa mulai dipesan di kanal pembelian tiket secara online. Mulai rencanakan perjalanan ke Kawah Ijen sejak dini, tetap jaga kesehatan dan keselamatan bersama. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pembentukan Kader Konservasi Tingkat Pemula Di TN Rawa Aopa Watumohai

Tatangge, 8 Agustus 2023 - Balai TN Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) menyelenggarakan kegiatan pembentukan kader konservasi tingkat pemula di Gedung Wisma Cinta Alam, Desa Tatangge, Kabupaten Konawe Selatan pada tanggal 8 Agustus 2023. Kegiatan ini dimaksudkan untuk merekrut kader konservasi khususnya di tingkat pemula. Kegiatan ini diikuti oleh peserta sebanyak 30 orang, yang berasal dari pemuda-pemudi disekitar Kawasan desa penyangga TNRAW. Materi yang disampaikan meliputi materi yang berkaitan dengan Dasar-dasar konservasi, Dasar-dasar Pemadaman Karhutla, serta materi yang berkaitan dengan ekologi dan flora fauna di TNRAW. Kader konservasi TNRAW merupakan sekelompok masyarakat yang diharapkan dapat membantu menyebarluaskan informasi, tetapi yang terpenting dapat menjadi panutan dalam hal pengelolaan/pelestarian lingkungan hidup, yang dilakukan secara aktif dan mandiri (volunteer), khususnya di sekitar kawasan TNRAW. Para kader ini dipilih orang-orang yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat positif, kreatif dan inovatif terkait lingkungan hidup. Sehingga kedepannya, kader ini dapat menjadi contoh, menginsipirasi, dan memberi teladan dalam aktivitas positif terhadap lingkungan hidup. Kegiatan ini merupakan salah satu cara/proses untuk merekrut kader konservasi, khususnya untuk tingkat pemula, yaitu melalui proses pembentukan/pelatihan seperti ini, dengan maksud agar para kader memiliki pemahaman yang sama dalam pengelolaan lingkungan hidup yang baik. Dalam kader konservasi terdapat 3 jenjang, yaitu pemula, madya dan utama. Masing-masing jenjang harus melalui pendidikan/pelatihan. Setiap kader yang telah melalui pelatihan/penjenjangan akan mendapatkan kartu anggota, Setiap anggota kader dapat dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan UPT dan juga berhak untuk diajukan sebagai peserta lomba kader konservasi tingkat nasional atau event-event lainnya yang bersifat nasional. Semoga melalui kegiatan pembentukan kader konservasi tingkat Pemula lingkup Balai TNRAW, dapat memunculkan generasi muda yang secara aktif dan mandiri melakukan aktivitas peduli lingkungan dan dapat menjadi mitra Balai TNRAW dalam melestarikan kawasan TN Rawa Aopa Watumohai. Sumber Info : Balai TN Rawa Aopa Watumohai
Baca Artikel

Kapolda Sumut Dukung Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Medan, 8 Agustus 2023 - Dalam rangka membangun silaturahmi dengan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatera Utara yang baru, Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi, SH., SIK., M.Si., Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Rudianto Saragih Napitu, S.Si., M.Si., Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Yuliani Siregar, M.AP., Kepala Balai Taman Nasional Batang Gadis, Teguh Setyawan, S.Hut., MM., dan mewakili Kepala Balai Pengelolaan DAS HL Wampu Sei Ular, melakukan audiensi di Mapolda Sumatera Utara, Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, pada Jumat 4 Agustus 2023. Sebagaimana diketahui bahwa Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi dilantik oleh Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo menjadi Kapolda Sumatera Utara pada Jumat, 14 Juli 2023 yang lalu. Sebelumnya pernah menjabat sebagai Kapolda Riau (2019) dan terakhir sebagai Asisten Operasi (Asops) Kapolri dari tahun 2021 sampai saat pelantikan sebagai Kapolda Sumatera Utara. Kehadiran Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara beserta rombongan disambut baik oleh Kapolda yang didampingi Direktur Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Polda Sumatera Utara, Kombes Pol. Dr. Teddy Jhon S. Marbun, SH., M.Hum., serta pejabat teras lainnya. Dalam pertemuan yang penuh keakraban dan kekeluargaan ini, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyampaikan gambaran singkat tentang tugas pokok dan fungsi dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, kondisi umum kawasan konservasi di Provinsi Sumatera Utara, dan pengelolaan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) beserta dengan penanganan permasalahan yang dihadapi, baik itu berkaitan interaksi negatif warga dengan satwa liar maupun dalam penegakan hukum terhadap pelaku-pelaku tindak pidana pemilikan, perburuan dan perdagangan TSL. Selain itu, dipaparkannya juga kesiapsiagaan petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara di daerah yang berkolaborasi dengan aparat kepolisian maupun TNI dalam mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera Utara. “Secara khusus, kami mengundang Jenderal untuk berkenaan menghadiri kegiatan pemusnahan barang bukti hasil dari penegakan hukum dibidang KSDA Hayati dan Ekosistemnya yang telah berkekuatan hukum tetap, baik yang ditangani oleh Balai Penegakkan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sumatera maupun yang juga ditangani oleh teman-teman dari jajaran Polda Sumatera Utara, direncanakan pada tanggal 10 Agustus 2023. Menjadi kehormatan bagi kami bila Pak Kapolda ikut menghadiri acara dimaksud,” ujar Rudianto Saragih Napitu mengakhiri paparannya. Usai mendengarkan paparan, Kapolda mengapresiasi kinerja Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan menyatakan siap mendukung serta berkolaborasi dalam menangani berbagai permasalahan dibidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di wilayah Sumatera Utara, sembari juga memohon dukungan dalam pelaksanaan tugas dan pengabdiannya. Berbagai pengalaman dibagi selama menjabat Kapolda Riau, khususnya dalam penanganan permasalahan kebakaran hutan dan lahan. Dan sebagai bukti komitmen kepeduliannya terhadap permasalahan lingkungan hidup dan kehutanan, Irjen Pol. Agung Setya Imam Effendi, langsung melakukan gebrakan dengan melaksanakan operasi penertiban dapur arang kayu mangrove illegal di Desa Lingkungan Tangkahan Serai, Kelurahan Pangkalan Batu, Kecamatan Brandan Barat, Kabupaten Langkat, pada Senin 31 Juli yang lalu. Berkaitan dengan rencana Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk melakukan pemusnahan barang bukti tindak pidana, Kapolda menyatakan dukungan dan menugaskan Dirreskrimsus untuk membentuk Tim serta berkolaborasi dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara guna menginventarisasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi serta mengambil langkah-langkah penindakan hukum yang terukur di lapangan. Diakhir silaturahmi, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara didampingi Kepala Bidang Teknis Dr. Fifin Nopiansyah, S.Hut., M.P., Kepala Bidang KSDA Wilayah I Amenson Girsang, S.P., M.H., Kepala Bidang KSDA Wilayah II Buana Darmansyah, S.Hut.T, dan Kepala Bidang KSDA Wilayah III Hermanto M. Parlinggoman Sialagan, S.H., M.H. menyerahkan cenderamata kepada Kapolda Sumatera Utara Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai KSDA Bengkulu Tingkatkan Kualitas Data Patroli Melalui Bimtek Penggunaan SMART

Jumat, 4 Agustus 2023 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu melalui dukungan pendaan Global Environment Facility (GEF) dalam proyek Catalyzing Optinum Management of Natural Heritage for Sustainability of Ecosystem, Resources and Viability of Endangered wildlife Species (CONSERVE), bekerjasama dengan Wildlife Conservation Society-Indonesia Program (WCS-IP) melaksanakan bimbingan teknis (Bimtek) penggunaan Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART). Kegiatan bimtek dilaksanakan selama empat hari di hotel Cordela Inn Kota Bengkulu tersebut diikuti 38 peserta. Bimtek yang dilakukan dari tanggal 1 Agustus sampai 4 Agustus 2023 tidak hanya diikuti oleh pegawai BKSDA Bengkulu, namun diikuti juga dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Bengkulu Utara, KPHP Mukomuko, PT. Sipef Biodiversity Indonesia, Yayasan Genesis Bengkulu, dan Lingkar Insiatif Indonesia. Pada acara pembukaan hadir secara online Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi (PKK) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE), Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Sumber Daya Genetik (KKHSG) Ditjen KSDAE merangkap National Project Director (NPD) Conserve, National Project Manager Conserve Wahdi Azmi, dan Kepala BKSDA Bengkulu yang juga merangkap Regional Project Director (RPD) Lanskap Seblat Hifzon Zawahiri yang di dampingi jajaran serta personil Project Implementation Unit Conserve. Kepala BKSDA Bengkulu-RPD Lanskap Seblat, Hifzon Zawahiri menyampaikan, SMART Patrol merupakan salah satu kebutuhan dalam upaya memperkuat Resort Base Management (RBM) untuk mengelola Kawasan konservasi. Ia juga mengharapkan agar hasil bimtek SMART Patrol ini dapat diimplementasikan di setiap resort dan hasilnya dapat dilaporkan secara berkala sebagai pertimbangan dalam pengambilan kebijakan. Dalam acara pembukaan bimtek, Direktur KKHSG-NPD Conserve Indra Exploitasia mengucapkan terimakasih atas sistem perekaman data lapangan melalui SMART yang telah berlangsung lama dan sangat berguna bagi pengelolaan kawasan konservasi yang dikela Direktorat PKK Ditjen KSDAE. “Saya mengusulkan adanya pengembangan tambahan menu terkait inventarisasi keanekaragaman hayati tinggi serta menu interaksi negative antara satwa dan manusia untuk mempermudah penanganan. Selain itu harapan saya di SMART dapat juga ditambahkan menu Sistem SehatSatli (sistem informasi kesehatan satwa liar di Indonesia) yang dikelola oleh KLHK agar lebih banyak informasi yang dibutuhkan dalam pengambilan kebijakan” imbuhnya. Sebagai pengampu program penggunaan aplikasi SMART KLHK, Direktur PKK Jefry Susyafrianto memberikan arahan khusus dalam bimtek yang dilaksanakan oleh BKSDA Bengkulu. Ia mengucapkan apresiasi kepada BKSDA Bengkulu yang pada akhirnya akan mengaplikasikan SMART dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi di wilayah kerjanya dengan dukungan dari Conserve dan juga WCS yang terus mengawal praktik-praktik penggunaan SMART. “Saat ini kita sangat memerlukan data dan informasi yang akurat serta cepat dalam mengambil keputusan. KSDAE memiliki willayah konservasi yang banyak dan terpisah-pisah. Tentunya perlu kecepatan dalam menangani permasalahan di lapangan terutama dalam mengawasi peredaran berbagai satwa. Maka perlu melibatkan lintas instansi seperti KPH yang juga bersinggungan dengan wilayah konservasi bahkan private sector” ujarnya dalam pembukaan bimtek. Saat ini kita juga sedang mendukung program FOLU Net Sink melalui tranformasi tata kelola kawasan konservasi dengan penerapan teknologi secara digital, kolaboratif, adaptif, dan inklusif. Maka SMART menjadi penting dalam pengelolaan ditingkat tapak. Imbuhnya diakhir sesi dalam memberikan arahan dan membuka acara secara resmi. Mencermati tugas dan fungsi BKSDA Bengkulu yang semakin berat, terutama dalam pelestarian sumber daya alam hayati di wilayah provinsi Bengkulu dan provinsi Lampung maka diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Sumber daya manusia yang dilatih dalam bimtek SMART diharapkan menjadi campion di masing-masing resort untuk mendukung serangkaian proses dalam sistem SMART. SMART merupakan alat untuk mencatat dan melaporkan kegiatan patroli secara spasial sehingga memberikan data yang akurat dan bisa dipertanggung jawabkan. Aplikasi SMART dapat dipergunakan untuk membuat rencana pengelolaan yang lebih baik, mengevaluasi dan mengimplementasikan aksi konservasi serta meningkatkan akuntabilitas. Aplikasi yang dikembangkan oleh KLHK bersama WCS tersebut terus mengalami penambahan-penambahan menu karena adanya kebutuhan-kebutuhan informasi yang harus dilaporkan ditingkat tapak. Mengingat keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia sangat tinggi, kebijakan pemerintah seperti dalam Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 terdapat 904 jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi terus dikakukan elaborasi dari berbagai data yang diperoleh dari lapangan maupun dari lembaga resmi seperti The International Union for Conservation of Nature (IUCN). Mengutip dari laman https://nationalgeographic.grid.id, IUCN pada tahun 2021 melaporkan adanya beberapa satwa di Indonesia masuk dalam status “terancam punah” setelah sebelumnya berstatus “rentan”. Beberapa satwa dimaksud di antaranya adalah komodo, badak sumatra, orangutan tapanuli, orangutan sumatra, badak jawa, dan rusa bawean. Perlunya pemantauan, pelaporan, dan perlindungan secara terintegrasi melalui penggunaan SMART menjadi suatu kebutuhan agar hutan Indonesia dapat terjaga kelestariannya.(*) Sumber : Balai KSDA Bengkulu Penulis: Faridh Almuhayat-RTO Conserve Lanskap Seblat
Baca Artikel

Gigi Kukang

Tahun 2023, BBKSDA Jatim menerima penyerahan satwa liar jenis Kukang sebanyak 3 ekor. Seekor dari penyerahan masyarakat, sedangkan 2 ekor lainnya merupakan hasil penertiban penjualan satwa liar oleh POLDA Jatim. Primata yang memiliki gerakan lambat ini, kadang disebut pula malu-malu. Penampilannya yang lucu dan menggemaskan membuat masyarakat menjadikan primata ini sebagai satwa peliharaan. Tak heran, semua jenis kukang saat ini terancam punah. Kukang telah dilindungi oleh hukum Indonesia, sehingga memperdagangkannya tergolong melanggar hukum dan kriminal. Enam dari delapan spesies kukang yang masih ada, dapat dijumpai di Indonesia, seperti di pulau-pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan. Bagi Kukang, gigi bukan sekedar organ pencernaan. Gigi juga berfungsi juga sebagai alat pertahanan diri dari berbagai ancaman dan grooming karena bentuknya yang mirip sisir. Tanpa keberadaan gigi, kukang nyaris tidak dapat bertahan hidup di alam. Bayangnya, para pemburu dan penjual seringkali mencabuti atau memotong gigi mereka. Hal ini biasanya dilakukan agar kukang tidak bisa mengigit manusia. Itulah sebabnya kukang-kukang yang sudah dijual secara ilegal kemungkinan besar tidak dapat dikembalikan lagi ke alam, dan bisa tinggal selamanya di pusat rehabilitasi. Mungkin ada yang belum tahu, kalau Kukang adalah satu-satunya primata yang berbisa. Menurut Purbo dalam akun twitter @piyopikavet, saat Kukang merasa terancam, mereka akan menjilat minyak di kelenjar pada sikunya. Bercampur dengan air liur gigitan Kukang ke sasaran bisa membuat jera pemangsanya. Giginya terkenal tajam serta kuat, serupa dengan gunting kuku. Onky, seorang ASN-PPPK Balai Besar KSDA Jawa Timur membagikan ceritanya saat terkena gigitan Kukang beberapa tahun yang lalu. Saat itu ia masih bergabung dengan Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa di Coban Talun, Batu. “Sekitar tahun 2020, saat itu sedang memindahkan kukang ke kandang lain, dan tangan kanan yang terkena gigitan di bagian jari tengah beberapakali di tempat yang sama sehingga lukanya melebar,” ujar Onky via whatsapp. Selang beberapa menit saja, efek dari jari yang terkena gigitan mulai terasa. Jari membengkak, terasa nyut-nyutan, dan perih. Lalu kepala terasa pusing, demam, mual, serta muntah-muntah. “Penanganan pertamanya saya tekan secara berulang-ulang pada bagian luka agar mengeluarkan darah sebanyak mungkin untuk mengurangi racunnya, kemudian saya minum air kelapa muda”, tambah pria berkacamata ini. Alhamdulillah beberapa jam kemudian efek sakit kepala, demam, dan mualnya mulai reda. Namun tidak untuk jari bengkak dan nyut-nyutan. Sepekan kemudian efeknya baru mereda dan hilang. Masih menurut Purbo, @piyopikavet dalam twitnya, akibat gigitan Kukang terhadap manusia bisa berakibat lebih fatal karena ada yang bereaksi dari gigitan menjadi pingsan bahkan mati, karena bikin syok anafilaktik. Wow, jadi meski satwa ini terlihat lambat namun ternyata memiliki senjata pertahanan diri yang cukup mengerikan. Sumber : Agus Irwanto, BBKSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kerja Bareng BPPTKG – TNGM Mengukur Pengembangan Gunung Merapi dan Pergerakan Magmanya

Boyolali, 3 Agustus 2023 - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) tugasnya yaitu melaksanakan mitigasi bencana Gunung Merapi, pengembangan metode, teknologi dan instrumentasi, dan pengelolaan laboratorium kebencanaan geologi. Dan dikarenakan tugasnya tersebut, maka BPPTKG memasang berbagai alat di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dan sekitarnya. Sebagai pemangku kawasan konservasi, TNGM beberapa kali mendampingi BPPTKG memasang peralatan maupun pengukuran. Seperti yang dilaksanakan pada hari Kamis, 3 Agustus 2023, dilaksanakan pengukuran titik koordinat GPS dan dan gravitasi Gunung Merapi di 4 (empat) titik pengamatan. Titik pengamatan tersebut yaitu 2 (dua) titik di dalam kawasan TNGM Wilayah Kerja Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Musuk-Cepogo di Ngaliyan, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dan 2 (dua) titik lainnya di luar kawasan. Pengukuran titik koordinat GPS menggunakan alat ukur Geodetik bertujuan untuk mengetahui laju pengembangan (inflasi) atau pengempisan (deflasi) tubuh Gunung Merapi. Jika terjadi pengembangan atau pengempisan maka pasti terjadi pergeseran titik koordinatnya. Sedangkan pengukuran gravitasi Merapi menggunakan alat Gravitimeter yang bertujuan untuk mengukur perubahan massa di dalam Gunung Merapi dalam rangka mendeteksi pergerakan magma Merapi. Jadi, semakin banyak magma yg mengisi saluran magma maka massa Merapi meningkat, dan sebaliknya jika volume magma dlm saluran magma berkurang maka massa Merapi menurun. Pengukuran di dalam kawasan dilakukan pada ketinggian 1.408 m dpl dan 1.619 m dpl sedangkan di luar kawasan dilakukan pada ketinggian 1.160 m dpl dan 995 m dpl. Data yg diperoleh masih data mentah, kemudian diolah dan dianalisis di kantor BPPTKG Yogyakarta. Menurut rencana, pekan depan dilakukan pengukuran lagi di Selo sebanyak 7 titik pengukura dg rincian 4 titik di luar kawasan konservasi dan 3 titik di dalam kawasan konservasi. Dalam kesempatan terpisah, Muhammad Wahyudi, Kepala Balai TNGM, mengemukakan bahwa selama ini ini, BPPTKG berkoordinasi baik dengan Balai TNGM selaku pengelola kawasan konservasi, baik tentang pemasangan alat, juga kondisi terkini Gunung Merapi. Juga segala informasi dari BPPTKG menjadi acuan utama dalam bekerja dan beraktivitas di lereng Gunung Merapi, pungkasnya. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

Kehormatan, ANECC Dikunjungi Tim Asesor UNESCO

ANECC, 4 Agustus 2023 - Kamis, 3 Agustus 2023, Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) kedatangan tamu istimewa dari Tim Asesor UNESCO (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization), Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), yaitu Prof. DR. Xiaochi JIN (Senior Evaluator UGGp) dan Soojae LEE, Ph.D (Junior Evaluator UGGp) yang didampingi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Simalungun. Kedatangan Tim Asesor UNESCO ini untuk Revalidasi Toba Caldera Tahun 2023 dalam rangka mempertahankan status Geosite Caldera Toba sebagai anggota UNESCO Global Geopark (UGGp). Kegiatan Revalidasi sudah dilakukan dari tanggal 31 Juli s.d 4 Agustus 2023 di titik lokasi geosite yang sudah dipilih dan disetujui yaitu Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Samosir, Kabupaten Toba dan Kabupaten Simalungun. Tim Asesor UNESCO melakukan penilaian terkait 6 (enam) rekomendasi UNESCO yang harus dilakukan Indonesia sebagai Anggota UGGp. Adapun keenam rekomendasi yang dimaksud yaitu: pertama, mengembangkan hubungan antara warisan geologis dan warisan teritorial lainnya seperti biotik alami, budaya tidak berwujud melalui interpretasi, pendidikan dan wisata. Termasuk melatih pemandu lokal, operator dan masyarakat setempat dan lainnya. Kemudian tentang tautan antara geologi dan ekologi, untuk diaktifkan berbagi pengetahuan dengan pengunjung. Kedua, mengembangkan strategi kemitraan yang mencakup metodologi dan kriteria yang jelas untuk menjadi mitra. Hal itu berlaku untuk akomodasi, katering, penyedia transportasi, penyedia aktivitas dan produsen produk lokal. Ketiga, memperkuat keterlibatan dalam aktivitas Global Geoparks Network dan Asia Pasifik Jaringan Geoparks untuk mempromosikan nilai internasional wilayah melalui kemitraan dengan Global Geoparks di bawah payung UGGp. Keempat, mengembangkan strategi pendidikan dengan bekerja dalam kemitraan dengan UGGp lainnya. Kelima, meningkatkan strategi dan kegiatan pendidikan untuk memfasilitasi mitigasi bahaya alam dan perubahan iklim di sekolah-sekolah untuk populasi lokal, dan keenam, memperkuat keterlibatan UGGp dalam studi penelitian, konservasi dan promosi penduduk asli setempat dan budaya serta bahasa mereka. Kunjungan Tim Asesor UNESCO ke ANECC tentunya menjadi kehormatan dan kebanggaan bagi ANECC karena Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berkontribusi dalam mendukung penilaian Caldera Toba guna mempertahankan status Geosite Caldera Toba sebagai Anggota UGGp. Tim Asesor UNESCO juga menyatakan kekagumannya dengan adanya konservasi gajah di geosite kaldera Toba yang memberi warna tersendiri bagi Danau Toba, serta menyampaikan saran agar kedepan lebih dioptimalkan dan dimaksimalkan lagi pengelolaannya. Sumber : Lisbeth Manurung, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Papua Canangkan Dua Desa Binaan sebagai Destinasi Unggulan Wisata Minat Khusus di Jayapura

Jayapura, 4 Agustus 2023 – Pada beberapa waktu terakhir, perkembangan wisata di Kota dan Kabupaten Jayapura berlangsung cukup pesat. Banyak jenis wisata dapat menjadi pilihan destinasi bagi para pengunjung, mulai dari wisata alam, budaya, kuliner, sejarah, sampai wisata minat khusus. Jayapura dengan segala kekayaannya memang sanggup dan layak menjadi destinasi wisata, baik bagi turis domestik maupun manca negara. Di tengah pertumbuhan wisata Jayapura itu, Desa Binaan Maribu Kwantemey Bonya dan Desa Binaan Dambu Kahbrai mencoba hadir dengan sajian wisata minat khusus anggrek Papua. Kedua desa binaan tersebut dibentuk oleh Balai Besar KSDA Papua pada tahun 2017 dan 2021. Keduanya berfokus pada kegiatan budidaya anggrek, terutama spesies di sekitar kawasan Cagar Alam Pegunungan Cyloop. Sampai tahun 2023, anggota dua desa binaan tersebut telah berhasil membudidayakan lebih dari 30 jenis anggrek di pekarangan rumah masing-masing. Anggrek merupakan tanaman hias yang memiliki keunikan tersendiri, terutama anggrek khas Papua yang hanya dapat ditemukan di wilayah Papua. Semua jenisnya memiliki tempat khusus di hati para pencinta anggrek. Pada Senin (31/7) Pemerintah Kabupaten Jayapura mengunjungi galeri anggrek milik Desa Binaan Maribu Kwantemey Bonya di Kampung Maribu dan Desa Binaan Dambu Kahbrai di Kampung Dosay. Kunjungan tersebut bertema ‘Wisata Pulang Kampung’ yang dihadiri oleh PJ Bupati Kabupaten Jayapura, Ketua DPRD Kabupaten Jayapura, Sekretaris Daerah Kabupaten Jayapura, serta seluruh Organisasi Perangkat Daerah Kabupaten Jayapura. Triwarno Purnomo selaku PJ Bupati Jayapura menyampaikan bahwa kunjungan tersebut bertujuan untuk mendukung Kampung Maribu dan Kampung Dosay sebagai destinasi unggulan wisata Kabupaten Jayapura. Dengan demikian, kekayaan potensi anggrek di wilayah Lembah Moy, Kabupaten Jayapura, dapat dikenal secara lebih luas lagi. Pada kesempatan tersebut, Triwarno juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat dan daerah, serta para pihak terkait lainnya yang telah mendukung upaya pemberdayaan masyarakat di Kampung Maribu dan Dosay. Sementara itu, pendamping Desa Binaan Dambu Kahbrai, Zsa Zsa Fairuztania, menyampaikan bahwa salah satu bentuk upaya pengelolaan kawasan konservasi adalah dengan memberikan perhatian kepada masyarakat di sekitar kawasan penyangga. Melalui program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi, Balai Besar KSDA Papua telah membentuk desa binaan berjumlah 40 kelompok. Berbagai upaya pemberdayaan masyarakat telah dilakukan oleh para pendamping kelompok untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, kelembagaan, juga kepedulian mereka terhadap kawasan konservasi. “Kami mengharapkan pemerintah daerah dapat memberikan perhatian khusus kepada kelompok desa binaan yang telah kami bentuk, agar dapat berkembang dan lebih maju di masa mendatang. Lebih dari itu, kami juga mengupayakan secara maksimal agar Desa Binaan Maribu Kwantemey Bonya dan Dambu Kahbrai benar-benar menjadi destinasi unggulan wisata di Kabupaten Jayapura,” ujar Zsa Zsa. Penyuluh Kehutanan pada BBKSDA Papua itu mengungkapkan, upaya-upaya tersebut telah dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan, seperti pelatihan kultur jaringan, praktik aklimatisasi anggrek, terlibat dalam berbagai pameran anggrek, juga promosi anggrek melalui berbagai media. Di sisi lain, Kepala BBKSDA Papua, A.G. Martana, terus memberikan dukungan terhadap berbagai program di desa binaan. “Kami bangga terhadap kinerja para generasi muda dalam berbagai upaya konservasi alam, termasuk peningkatan kapasitas pada kelompok-kelompok desa binaan. Kami memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para pendamping kelompok desa binaan, juga terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan,” ungkap Martana. Menurut Martana, apabila Desa Binaan Maribu Kwantemey Bonya dan Dambu Kahbrai terwujud menjadi destinasi unggulan wisata di Jayapura, tentu kesejahteraan masyarakatnya akan semakin meningkat. Dengan demikian, tekanan atau ketergantungan mereka terhadap kawasan cagar alam akan semakin berkurang, atau bahkan tidak ada sama sekali. Inilah bagian dari keberhasilan pengelelolaan kawasan konservasi melalui pemberdayaan masyarakat.(dd) Sumber: BBKSDA Papua Call Center BBKSDA Papua: 0823 9770 9728
Baca Artikel

Road to HKAN : TNGM Bersinergi Bersama FPL PALEM

Sleman, 1 Agustus 2023 - Pengelolaan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) dapat dilakukan secara sinergi antara Balai TNGM juga masyarakat sekitar kawasan konservasi. Salah satu, mitra Balai TNGM dalam penguatan fungsi TNGM yaitu Forum Peduli Lingkungan Pecinta Alam Merapi (FPL PALEM). Kelompok masyarakat ini berlokasi di Padukuhan Batur, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman. Secara periodik, dilaksanakan pendampingan oleh Balai TNGM. Pendampingan tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan kapasitas FPL PALEM serta Padukuhan Batur dalam mengembangkan Desa Wisata Batur Berdikari atau yang disingkat menjadi Dewi Batari. Untuk tahun 2023 ini, dilaksanakan pendampingan yang dihadiri oleh Kepala Balai TNGM, Kepala SPTN Wilayah I Sleman-Magelang, Koordinator RPTN Cangkringan, Lurah Kepuharjo yang diwakili oleh Kepala Urusan Pemerintahan Kalurahan Kepuharjo, Babinsa, Babinkamtibnas, dan FPL PALEM. Dalam kesempatan ini, kelompok masyarakat mendapatkan informasi terkait Manajemen Pengelolaan Kunjungan Wisata yang disampaikan oleh Merapi Jogja Tour (agen perjalanan di Yogyakarta) dan juga Potensi Bioprospeksi di TNGM yang disampaikan oleh Dr. Ari Nurwijayanto,S.Hut., M.Sc. selaku Pengendali Ekosistem Hutan pada Balai TNGM. Pendampingan ini juga merupakan bentuk dukungan Balai TNGM terhadap upaya ekonomi kreatif dilakukan oleh FPL PALEM serta Padukuhan Batur untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Dalam sambutannya, Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, S.P., M. Sc., menyampaikan bahwa inovasi masyarakat sekitar kawasan TNGM perlu mendapatkan apresiasi berupa dukungan untuk terus berkembang sehingga masyarakat sejahtera, kawasan TNGM pun terjaga. Kegiatan pendampingan FPL PALEM dan Padukuhan Batur ini merupakan rangkaian kegiatan Road to HKAN 2023. Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2023 dengan tema Hapungkal Himba Karingu atau Jiwa Yang Damai Dalam Harmoni Hutan Belantara. Puncak HKAN akan dilaksanakan di TWA Bukit Tangkiling Provinsi Kalimantan Tengah. Sumber : Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

El Nino Ancam Kawasan Konservasi, Waspadalah !

Medan, 1 Agustus 2023. Cuaca panas tahun ini menyengat betul. Terik gerah mewarnai siang dan malam di awal tahun hingga kini. Hal itu seperti menggenapi prediksi, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, bahwa kekeringan tahun ini akan lebih panjang daripada tahun-tahun sebelumnya. Sejumlah pihak meminta dampak kekeringan tahun ini menjadi perhatian khusus – terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla) -- yang tahun ini jatuh pada siklus empat tahunan (“Tajuk Rencana” Harian Kompas, Sabtu 15 Juli 2023). Keadaan ini tidak terlepas dari fenomena El Nino yang diprakirakan berlangsung mulai semester kedua tahun ini. El Nino menurut Murni (“ST.2023 Sikapi El Nino”, Harian Waspada, Rabu 26 Juli 2023) adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normalnya yang terjadi di Samudera Pasifik bagian tengah. Pemanasan SML ini meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik bagian tengah dan mengurangi cuaca hujan di wilayah Indonesia. Singkatnya, El Nino memicu terjadinya kondisi kekeringan untuk wilayah Indonesia secara umum. Dampak dari El Nino ini selain menyebabkan kekeringan yang berkepanjangan, dapat mengurangi ketersediaan air, mempengaruhi persebaran penyakit dan hama baik buat tanaman/tumbuhan maupun hewan/binatang serta menyebabkan penurunan kualitas tanaman. Dampak El Nino di sejumlah daerah yang sudah mulai dirasakan adalah kekeringan (puncaknya diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus hingga September 2023) berpotensi mengakibatkan terjadinya gagal panen. Fenomena El Nino memicu resiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Berdasarkan data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total kejadian Karhutla di Indonesia mencapai 206 kejadian dan didominasi oleh Provinsi Aceh, yaitu sebanyak 53 kali hingga Juni 2023. Kemudian disusul Kalimantan Tengah 35 kali kejadian (Harian Analisa, Jumat 28 Juli 2023). Oleh karena itu, sangat urgen untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan mencegah kasus karhutla, termasuk di kawasan konservasi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Antisipasi sedini mungkin tentunya dapat meminimalisir dampak yang akan timbul. Perlu dicatat bahwa kekeringan yang terjadi di kawasan konservasi sejatinya bukan hanya mengancam terjadinya karhutla, tetapi efek domino lainnya akan timbul pula dan resikonya juga cukup tinggi/berbahaya. Seperti berkurangnya ketersediaan air serta menurunnya kualitas tanaman/tumbuhan yang ada di dalam kawasan konservasi, hal ini akan mempengaruhi kehidupan satwa-satwa liar, sehingga untuk mencari pemenuhan kebutuhan akan air dan pakan, memicunya keluar dari habitat memasuki permukiman penduduk. Kondisi ini akan menimbulkan terjadinya interaksi negatif dengan warga. Oleh karena itu, perlu ditempuh langkah-langkah strategis, seperti : mengaktifkan sistem deteksi dini pencegahan kebakaran, menyiapkan embung serta melakukan penataan kelola air yang berada di dalam kawasan konservasi, penyediaan peralatan pencegahan dan penanganan kebakaran serta distribusi pengetahuan dan kesiapsiagaan masyarakat. Seturut dengan itu pula, salah satu kearifan publik yang bisa kita lakukan adalah sadar alam dan lingkungan. Kita bisa menginisiasi berbagai tindakan dan perilaku ramah lingkungan yang visioner, antisipatif dan berjangka panjang. Misalnya gerakan menanam pohon disekitar lingkungan tempat tinggal (khususnya masyarakat sekitar kawasan konservasi) yang berdampak positif bagi ketersediaan air pada saat kemarau dan bisa menjaga serta mengendalikan suhu bumi (“Tajuk Rencana” Harian Analisa, Sabtu 8 Juli 2023). Semua upaya dan langkah-langkah preventif maupun represif tidak dapat hanya dilakukan oleh instansi di jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saja, tetapi memerlukan gerakan massif yang melibatkan banyak pihak, seperti : instansi pemerintah terkait, TNI/Polri, lembaga swadaya masyarakat dan media massa. Dengan kolaborasi, bukan hanya dimaksudkan untuk mengatasi karhutla saat terjadi, tetapi juga mencegah sedini mungkin sehingga kebakaran dapat dihindari. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 1.041–1.056 dari 2.311 publikasi