Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Memperkuat Pelibatan Masyarakat Lokal Sekitar TN Moyo Satonda

Sumbawa, 14 September 2023. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) sebagai pengelola Taman Nasional Moyo Satonda dan melalui Proyek CONSERVE membentuk Cacatua Ranger Community dan pelatihan pemantauan partisipatif kakatua dalam upaya peningkatan kapasitas, membangun perencanaan partisipatif dan kesadaran kolektif sebagai langkah strategis untuk konservasi Kakatua Kecil Jambul Kuning di lanskap Moyo Satonda, pada tanggal 29-30 Agustus 2023. Upaya ini dilakukan untuk melestarikan dan memperkuat pelibatan masyarakat lokal serta eksistensi kawasan konservasi (taman nasional) yang berhubungan erat dengan partisipasi masyarakat sekitar kawasan. Sebagai penyangga, peran masyarakat sekitar sedikit banyak akan sangat berdampak dalam membantu petugas melindungi, menjaga dan mengamankan kawasan dari segala pelanggaran kehutanan, termasuk terhadap keanekaragaman hayati Cacatua sulphurea. Kepala dusun, kepala desa dan kelompok masyarkat dari 2 (dua) desa penyangga Taman Nasional Moyo Satonda turut hadir, yakni Desa Labuan Aji (Barat dan Timur) dan Desa Sebotok dengan total 73 peserta. Pelatihan dan Pembentukan Cacatua Ranger Community ini bertujuan untuk membangun dan meningkatkan kapasitas masyarakat tentang peta dan navigasi (avenza maps), teknik pemantauan kakatua pastisipatif, pemantauan dan peran masyarakat dalam tindak kejahatan kehutanan, penanganan konflik manusia dan satwa liar (paruh bengkok), penggunaan tools SMART patrol system, teknik pelaporan kasus pelanggaran kehutanan serta persatuan dan wawasan kebangsaan. Seluruh peserta juga diminta untuk menyusun rencana aksi partisipatif seperti patroli reguler, kampaye penjangkauan masyarakat sekitar, penanaman kesadaran mengenai isu lingkungan hidup serta sosialisasi Taman Nasional Moyo Satonda. Selain masyarkat, kegiatan juga mengundang para stakeholder yang juga bertindak sebagai pemateri/narasumber yakni PEH dan Polhut BKSDA NTBSeksi Konservasi Wilayah (SKW) II Sumbawa, Wildlife Conservation Society Indonesia Program (WCS-IP), Yayasan Paruh Bengkok Indonesia (PBI), POLRES Sumbawa, PEMDA Kabupaten Sumbawa, KODIM 1607 Sumbawa dan perangkat desa. Sebagai informasi, Catalyzing Optimum Management of Natural Heritage for Sustainability of Ecosystem, Resources and Viability of Endangered Wildlife Species (CONSERVE) adalah sebuah proyek kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Global Environment Facility (GEF) dan United Nations Development Programme (UNDP) yang memiliki tujuan untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan lanskap multiguna untuk meningkatkan konservasi keanekaragaman hayati, mewujudkan praktek-praktek baik dalam penggunaan lahan dan penghidupan berkelanjutan serta mengatasi perdagangan ilegal satwa liar. Proyek ini berlokasi di tiga habitat penting satwa terancam punah yaitu Gajah (Ulu Masen, BKSDA Aceh), Harimau (Seblat, BKSDA Bengkulu) dan Kakatua Kecil Jambul Kuning (Pulau Moyo, BKSDA NTB). Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

Pegunungan Bintang Menuju Kabupaten Konservasi

Jayapura, 11 September 2023 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua menyambut hangat komitmen Bupati Spei Yan Bidana untuk wujudkan Pegunungan Bintang sebagai Kabupaten Konservasi. Spei menyampaikan komitmen tersebut dalam kunjungannya ke kantor BBKSDA Papua pada Senin, 11 September 2023. Spei mencanangkan pembangunan Kabupaten Pegunungan Bintang di masa mendatang tetap memperhatikan keseimbangan ekosistem agar kekayaan alam Papua dapat lestari dan terjaga. Menjadi Kabupaten Konservasi berarti gerak langkah pembangunan harus memperhatikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Spei memahami benar bahwa di wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang terdapat kawasan konservasi Cagar Alam Jayawijaya dan Suaka Margasatwa Mamberamo Foja. Maka, ia berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan dengan memperhatikan keseimbangan lingkungan. Spei menegaskan, bahwa semua pihak perlu menumbuhkan kesadaran terkait konservasi alam sejak sekarang. “Pegunungan Bintang ini termasuk pusat hidrologi Papua, sekaligus menjadi salah satu kawasan penyangga. Karena itulah saya ingin menjadikan Pegunungan Bintang sebagai Kabupaten Konservasi,” tegas Spei. Kepala BBKSDA Papua, A.G. Martana, menyambut baik komitmen tersebut, dan menyarankan agar Kabupaten Pegunungan Bintang segera memulai langkah dengan penyusunan dokumen Tata Ruang yang dituangkan dalam produk hukum Peraturan Daerah (Perda). “Kami siap memberikan dukungan terhadap komitmen dari Bapak Bupati Pegunungan Bintang. Ini merupakan langkah yang sangat baik. Untuk itu, kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya, dan semoga komitmen tersebut segera terwujud,” ungkap Martana. Pada saat yang sama, Martana menyampaikan harapannya agar kabupaten-kabupaten yang lain segera napak tilas Pegunungan Bintang. Dengan demikian, alam Papua yang maha indah dan kaya akan terjamin kelestariannya.(dd) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua : 0823 9770 9728
Baca Artikel

Menjelajah Keberadaan Si Kerbau Kerdil Sulawesi di Taman Nasional Gandang Dewata

Makassar, 12 September 2023. Kegiatan Ekspedisi Gunung yang dilaksanakan oleh komunitas Wanagaul Indonesia bersama dengan KPA Genitri pada tanggal 5 September 2023 berhasil mendokumentasikan dalam bentuk video perjumpaan langsung dengan Anoa Gunung (Bubalus quarlesi) yang terlihat di jalur pos 6 dan pos 7 Taman Nasional (TN) Gandang Dewata pada ketinggian ±2500 mdpl. Perjumpaan Anoa secara langsung tersebut makin memperkuat bukti keberadaan Anoa di TN Gandang Dewata. Selama ini bukti keberadaan Anoa di TN Gandang Dewata sebatas perjumpaan tidak langsung, lewat perjumpaan feses (kotoran) dan jejak satwa. Perjumpaan secara tidak langsung lewat penemuan feses dan jejak satwa yang terbaru didapat melalui kegiatan Patroli SMART yang rutin dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan setiap bulan di TN Gandang Dewata. Dari hasil Patroli SMART ditemukan feses dan jejak Anoa pada jalur pendakian di pos 2, 3, 4 dan 7 pada ketinggian 1800 mdpl – 2800 mdpl. Selain hasil temuan Patroli SMART, hasil ekspedisi flora fauna TN Gandang Dewata yang telah dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan juga menemukan bukti keberadaan Anoa melalui perjumpaan tidak langsung. Keberadaan Anoa diidentifikasi dari kotorannya yang banyak ditemukan di sepanjang jalur pendakian mulai dari pos 2 sampai pos 10 puncak (trek Rante Pongko) pada ketinggian 2200-3000 m dpl. Pada jalur pos 8 sampai pos 9 (Trek Rante Pongko) di ketinggian 2334 m dpl, ditemukan sarang di bawah perakaran sebuah pohon yang diduga merupakan tempat bersarang Anoa. Hal tersebut diperkuat dengan penemuan jejak kaki Anoa. Dari hasil-hasil temuan-temuan tersebut di atas maka semakin menegaskan keberadaan Anoa, Si Kerbau Kerdil Sulawesi, di kawasan TN Gandang Dewata. Anoa termasuk jenis satwa endemik yang hanya dapat dijumpai di Sulawesi yang masuk daftar satwa terancam punah International Union for Conservation of Nature [IUCN] dan Appendix 1 berdasarkan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora [CITES]. Oleh karena itu, selain dilindungi Anoa juga dilarang untuk diperdagangkan. Di Indonesia, Anoa termasuk daftar satwa liar prioritas konservasi nasional. Anoa merupakan spesies payung karena dengan melindungi Anoa berarti menjaga semua spesies satwa dan tumbuhan yang ada di habitatnya. Anoa juga termasuk spesies kunci karena makanannya terdiri dari berbagai jenis tumbuhan, baik daun maupun buah. Buah bersama biji yang dimakan tersebar ke seluruh kawasan hutan, tumbuh subur dan terpencar di tempat baru bersama feses Anoa. Menurut Mustari (2020), feses Anoa mampu meningkatkan viabilitas biji tumbuhan hutan bila terbuang bersama kotoran Anoa. Selanjutnya disebutkan bahwa Anoa mengkonsumsi lebih dari 146 spesies tumbuhan, termasuk puluhan jenis buah sehingga banyak jenis tumbuhan yang regenerasi dan pemencaran bijinya tergantung anoa. Selain spesies payung dan spesies kunci, Anoa juga merupakan spesies bendera ikon konservasi Sulawesi. Menurut Priyono (2020), anoa mengalami insular dwarfisme yang berarti terjadi proses evolusi dan kondisi pada hewan yang mereduksi ukuran tubuhnya. Pengurangan bentuk tubuh itu kebanyakan terjadi pada spesies yang ada di kepulauan. Akibatnya secara morfologi, Anoa sepintas tampak seperti Kerbau kerdil atau Sapi kecil. Proses evolusi tersebut bukti bahwa Anoa mampu bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan, baik perubahan iklim, geologi, bentang alam, habitat, hutan, serta pegunungan. Bisa jadi Anoa merupakan representasi dari hewan purba Sulawesi yang mampu bertahan dan beradaptasi dengan perubahan lingkungan sebagai penghuni Hutan Sulawesi Sejati. Pada akhirnya pelestarian Anoa tidak hanya penting bagi keberlanjutan ekosistem hutan tetapi juga tentang sejarah model evolusi satwa liar kepulauan. Dan sejarah tersebut ada di Taman Nasional Gandang Dewata. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.17/K.8/TU/Humas/09/2023) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Demi "Leuweung Hejo, Masyarakat Ngejo" DPR RI & KLHK Kompak

Sukabumi, 8 September 2023. Kelompok Tani Hutan (KTH) binaan Bidang Pengelolaan Taman Nasional (PTN) Wilayah II Sukabumi, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) diberikan peningkatan kapasistas dengan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat Sekitar Kawasan TNGGP di Hotel Selabintana Sukabumi, Jumat (8/9). Peserta yang diundang berjumlah 45 orang terdiri dari Anggota Komisi IV DPR RI drh. H. Slamet, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Agr.Sc. selaku Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tenaga Ahli Anggota A-431 Komisi IV DPR RI, Pejabat Eselon II lingkup KSDAE, Eselon II, III dan IV lingkup BBTNGGP beserta beberapa perwakilan KTH. Perwakilan 9 KTH yakni KTH Karya Tani, Harapan Maju, Tunas Harapan, Mandiri Cikawung, Kuta Lestari, Tunas Bangsa, Nikreuh Mandiri, Pangkalan Barokah dan KTH Jaga Raksa Goalpara, diberi bantuan secara simbolis oleh Anggota Komisi IV DPR RI yang didampingi Dirjen KSDAE Kementerian LHK. Keberhasilan KTH dalam mengelola bantuan usaha ekonomi yang telah diterima mewujudkan "Leuweung Hejo Masyarakat Ngejo" (Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera) Hal yang sama juga ditekankan Kepala Balai Besar TNGGP Sapto Aji Prabowo dalam sambutannya, yaitu terkait efektivitas manfaat bantuan yang akan diterima nantinya, sehingga upaya peningkatan ekonomi masyarakat lebih mudah tercapai. “Diharapkan kedepannya ada sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah dalam pelaksanaan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan TNGGP” Ucapnya. Sepatah dua patah juga diungkapkan Dirjen KSDAE, bahwa agar masyarakat yang tergabung dalam KTH terus bisa berinovasi untuk pengembangan usaha ekonomi yang telah berjalan, sedangkan arahan dari drh. H. Slamet menitikberatkan keberlanjutan dan kesinambungan bantuan usaha ekonomi yang telah diterima para KTH ini terus bisa dikembangkan. Dalam sesi diskusi pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh peserta langsung ditanggapi oleh para narasumber. Rangkaian acara disempurnakan dengan pemaparan materi mengenai Teknik Budidaya Peternakan dan Wisata Alam oleh Praktisi dari Tenaga Ahli Komisi IV DPR RI. Pemahaman dan penguasaan materi oleh peserta tentunya sangat penting dan bisa menjadi modal dasar dalam optimalisasi pengelolaan bantuan usaha tersebut. Sumber: Agus Deni - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango
Baca Artikel

Hulun Hyang Menabur Benih Edelweiss, Menuai Cinta yang Abadi

Agustus 2023. Saya dan kawan-kawan menyewa Jeep Hartop menuju Taman Edelweiss di Desa Wonokitri, Pasuruan selama ±1,5 jam dari Tumpang Malang. Wonokitri merupakan desa penyangga kawasan di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dimana ada Kelompok Tani Hutan (KTH) yang Bernama Hulun Hyang. Hulun artinya saya dan Hyang yang berarti Sang Pencipta. Hulun Hyang diartikan abdi Sang Pencipta. “Hong ulun basuki langgeng”, sapa Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Didid Sulastiyo. Dia menjelaskan kalimat itu adalah sapaan khas suku Tengger dan jawaban untuk sapaan tersebut langgeng Basuki. “Langgeng Basuki”, tiru kami sekaligus membalas sapaannya. Edelweiss adalah bunga yang dianggap sakral oleh masyarakat suku Tengger khususnya di desa Wonokitri. Hampir 80% upacara adat suku desa yang notabene suku Tengger menggunakan bunga edelweiss. Sebelum ada taman edelweiss untuk kegiatan ritual masyarakat mengambil bunga edelweiss di sekitar. Bahkan, tak jarang mereka memetik bunga-bunga itu hingga masuk di kawasan konservasi, meskipun mereka sudah berkali kali mendapat teguran dari TNBTS. Akibatnya, rusaklah Kawasan konservasi TNBTS. Keberadaan bunga edelweiss terutama jenis yang dilindungi Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990, yakni Anaphalis javanicaa mulai terancam. Kebutuhan akan edelweiss terus bertambah sementara habitat tanaman edelweiss tidak bertambah. Tentunya hal ini menimbulkan keprihatinan dan potensi masalah di kemudian hari. Keprihatinan ini disikapi oleh TNBTS dengan menginisiasi pembentukan kelompok tani hutan sejak tahun 2016 di Desa Wonokitri. Gayung bersambut KTH Edelweis Hulun Hyang tahun 2018 resmi terbentuk. Mereka menggunakan lahan adat untuk membudidayakan edeilweiss baik jenis yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi. Pembentukan KTH ini bertujuan untuk menjadikan bunga edelweiss sebagai komoditi utama di desa Wonokitri sehingga masyarakat yang membutuhkan untuk upacara adat tidak lagi melakukan pengambilan di kawasan konservasi. Bagi masyarakat yang membutuhkan bunga maupun bibit edelweiss untuk upacara adat dapat mengambil secara cuma-cuma di Taman Edelweiss. Menurut Teguh, ketua KTH awalnya kelompok ini beranggotakan 8 orang yang berasal dari Desa Wonokitri dan saat ini sudah memiliki 32 anggota dengan misi bermanfaat untuk masyarakat umum. Konsep awal Taman Edelweiss adalah eco wisata. Pengunjung yang datang bukan sekadar menikmati keindahan alam namun juga memiliki pengetahuan tentang edelweiss sehingga wisatawan yang datang bisa lebih menghargai keberadaan edelweiss. Para pengunjung akan mendapatkan penjelasan tentang budidaya edelweiss dari nol sampai masa panen. Jenis yang dikembangkan adalah replika dari yang ada di Kawasan konservasi TNBTS yaitu, Anaphalis javanica atau Edelweiss Jawa, Anaphalis longifolia dan Anaphalis viscida. TNBTS memberikan bantuan 200 bibit bunga edelweiss untuk dibudidayakan pada awal terbentuknya KTH. KTH telah berhasil mengembalikan hampir 3000 tanaman edelweiss ke kawasan TNBTS. Kegiatan konservasi ex-situ yang dilakukan mendapat izin tangkar resmi dari KLHK terkait wanawiyata widyakarya. KTH juga mendapat CSR pengembangan wisata berupa kelengkapan sarana dan prasarana untuk wisata di Taman Edelweiss. Jumlah kunjungan wisatawan pada tahun 2022 mencapai 38.856 pengunjung. Sedangkan pengunjung sampai dengan akhir Juli 2023 sekitar 19.200. Keberadaan Taman Edelweiss Desa Wonokitri mampu memberikan manfaat ekonomi ke masyarakat sekitar bahkan bekontribusi terhadap PAD Kabupaten Pasuruan. Taman Edelweiss di desa Wonokitri menyuguhkan pemandangan alam yang indah, udara yang sejuk, hamparan kebun edelweiss. Produk souvenir berupa kerajinan tangan dari edelweiss dapat dibeli sebagai cinderamata. Anda merasa lapar? Mudah, cukup memesan makanan dan minuman di lokasi yang instagrammable. Penginapan di sekitar lokasi juga tersedia. KTH bekerja sama dengan Universitas Brawijaya melakukan penelitian terkait produk sampingan yang dapat dihasilkan dari edelweiss. Produk teh dari bunga edelweiss masih dalam taraf pengujian laboratorium saat ini. Semangat yang dimiliki oleh masyarakat Desa Wonokitri dalam melakukan pelestarian alam dan budaya lokal tercipta pada Taman Edelweiss. Desa Wisata Taman Edelweiss menjadi satu-satunya desa wisata yang menyajikan bunga edelweiss sebagai daya tarik utama. Tak heran Desa Wonokitri menjadi salah satu kontestan dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023 yang diselenggarakan oleh Kemenparekraf. Bagi penduduk Desa Wonokitri menabur benih Edelweiss, menuai cinta yang abadi. Sumber: Ninik Kartika – Balai KSDA Jawa Tengah
Baca Artikel

Tim Terpadu Karhutla KLHK Sambangi Resort Sembalun

Mataram, 31 Agustus 2023. Tim Terpadu Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI melakukan kunjungan ke Resort Sembalun Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada tanggal 28 – 29 Agustus 2023. Kunjungan ini sebagai upaya antisipasi memasuki musim kemarau panjang tahun ini yang berpotensi terjadinya Kebakaran Hutan & Lahan (Karhutla). Tim Terpadu juga merencanakan akan membentuk sub posko SiPongi dan melakukan sosialisasi penanganan api bagi Masyarakat Peduli Api (MPA) di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB). Hasil dari pemantauan aplikasi siPongi menjadi informasi rujukan penemuan titik api di wilayah Karhutla Provinsi NTB, dimana pada Balai TNGR juga mengkombinasikan dengan penggunaan Remote Monitoring System (CCTV) yang dimiliki Balai Taman Nasional Gunung Rinjani dalam mendeteksi titik api, sehingga kejadian kebakaran yang terjangkau kamera pengawas (CCTV) menjadi lebih mudah untuk ditanggulangi. SiPongi adalah sistem informasi monitoring deteksi dini pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang berbasis mobile dan web yang berkedudukan di Bali. Aplikasi SiPongi berbasis data dari satelit NOAA dan Tera yang dibantu cahaya matahari dalam mendeteksi titik api (hotspot). Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Komitmen Jaga Kelestarian Hiu Paus di TN Teluk Cenderawasih

Jakarta, 30 Agustus 2023The International Union for Conservation of Nature (IUCN) mengkategorikan hiu paus (Rhincodon typus) sebagai ikan yang rentan dan termasuk dalam daftar merah yang tergolong terancam punah (endangered) sejak tahun 2016. Dalam rangka mewujudkan kelestarian hiu paus, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) bersama dengan CSR PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Foundation (PF) bersepakat untuk melakukan kerja sama pengelolaan Whale Shark Center (WSC) dalam upaya penyelamatan hiu paus. Bertepatan dengan International Whale Shark Day atau Hari Hiu Paus Internasional, telah ditandatangani Perjanjian Kerja Sama antara Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih dan Pertamina Foundation (PF), di Gedung Manggala Wanabakti. Kerja sama tersebut memuat tentang Penguatan Fungsi Kawasan dan Konservasi Keanekaragaman Hayati melalui Dukungan Pengelolaan Whale Shark Center (WSC), antara lain pengembangan Whale Shark Center (WSC), pemberdayaan dan peningkatan kesadaran masyarakat akan perlindungan hiu paus, penelitian ilmiah dan pemantauan populasi hiu paus di Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Penandatanganan ini disaksikan oleh Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc. selaku Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan Yoki Firnandi selaku Direktur Utama PT Pertamina International Shipping. Kepala Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih, Supartono, S.Hut.,M.P, menyatakan kerja sama ini menjadi cerminan nyata menjaga keberlanjutan alam. “Kerja sama ini adalah cerminan nyata dari kolaborasi yang kuat dalam menjaga keberlanjutan alam kita. Sebab, TNTC juga merupakan salah satu lokasi agregasi hiu paus di Indonesia sehingga kondisi sumberdaya alam dan ekosistemnya perlu terus dijaga untuk keberlangsungan hidup flora, fauna dan masyarakat yang bergantung pada TNTC. TNTC secara konsisten telah memantau populasi hiu paus sejak tahun 2011 hingga 2023. Tujuannya untuk mengidentifikasi setiap individu dalam populasi hiu paus, termasuk menentukan identitas, ukuran, jenis kelamin, struktur tubuh, dan distribusi populasi. Sampai dengan bulan Agustus 2023 telah teridentifikasi 188 individu hiu paus dengan rincian 165 ekor Jantan, 6 ekor betina dan 17 ekor belum teridentifikasi jenis kelaminnya,” ujar Supartono, Kamis (30/8). “Namun, seperti halnya dalam banyak kegiatan ilmiah, terdapat beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilan dan tantangan dalam penandaan hiu paus. Salah satu kendala yang dihadapi adalah biaya yang tinggi untuk penandaan hiu paus, termasuk biaya pengembangan, pembelian, pemasangan perangkat penanda, dan pemantauan jarak jauh. Keterbatasan sumber daya dapat menghambat kelancaran pemantauan. Hingga bulan Agustus 2023, dari 42 penanda yang dipasang bersama mitra pada hiu paus, hanya satu penanda satelit yang masih dapat dipantau. Oleh karena itu, kerjasama dengan Pertamina Foundation menjadi penting untuk melanjutkan kegiatan pemantauan hiu paus,” tambahnya Direktur Utama PT Pertamina International Shipping Yoki Firnandi, menyampaikan kolaborasi energizing the ocean menjadi komitmen PIS untuk turut menjaga keberlanjutan lautan Indonesia. "PIS memiliki visi untuk menjadi perusahaan logistik maritim terkemuka di Asia, maka dari itu, ekosistem laut dekat dengan keseharian aktivitas bisnis PIS. Untuk itu, bentuk kepedulian perusahaan untuk turut menjaga keberlanjutan lautan Indonesia, kami mendorong green shipping, green cargo, termasuk menjaga kelestarian hiu paus,” ujar Yoki Firnandi. Presiden Direktur Pertamina Foundation Agus Mashud S. Asngari mengatakan kerja sama ini menjadi bentuk kontribusi terhadap keberlanjutan alam Indonesia. “Penandatanganan PKS ini menjadi kelanjutan dari program lingkungan ikonik kami, harapannya usaha bersama ini akan menjadi model kerja sama yang berhasil dalam pelestarian lingkungan dan konservasi hayati, serta memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberlanjutan alam Indonesia dan dunia,” ungkap Agus. Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc mengatakan bahwa Kerjasama antara BBTNTC dan Pertamina Foundation menjadi penting dalam upaya pelestarian species kunci dalam hal ini hiu paus, di samping itu juga diharapkan dengan Kerjasama ini dapat meningkatkan ekonomi masyarakat di dalam maupun di sekitar kawasan TNTC dan perlu upaya-upaya dalam rangka penyelamatan ekosistem. Adanya kerja sama ini diharapkan menjadi pemicu bagi para peneliti dalam dan luar negeri untuk datang dan bersama-sama melakukan penelitian hiu paus. Taman Nasional Teluk Cenderawasih ditetapkan Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 8009/Kpts-II/2002 Tanggal 29 Agustus 2002 Tentang Penetapan Taman Nasional Teluk Cenderawasih seluas 1.453.500 Ha sebagai Kawasan Pelestarian Alam Perairan/Kawasan Konservasi Perairan. Salah satu mandat penunjukanan TNTC adalah untuk penyelamatan 7 Spesies Kunci dan Prioritas, yaitu Junai Mas, Tiram Kuda, Hiu Paus, Dugong, Lumba-Lumba, Kima dan Penyu. Sumber: Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Kontak Media BBTNTC: Supartono (08117679628) [Informasi Kontak Media Yayasan Pertamina] - G. Giovani Yudha B. Jr. Media Communication Officer +62821 3353 3568
Baca Artikel

Memahami Kondisi Badak Jawa Terkini

Banten, 25 Agustus 2023. Badak Jawa atau dalam dunia biologi diberi nama Rhinoceros sondaicus merupakan salah satu jenis satwa liar yang menjadi prioritas konservasi spesies. Badak Jawa merupakan satu dari dua jenis badak yang habitatnya hanya di Indonesia, dengan sebaran populasi saat ini hanya terbatas di semenanjung barat daya Pulau Jawa, di kawasan TNUK. Badak bercula satu ini juga merupakan satu dari hanya lima spesies Badak yang tersisa di seluruh dunia saat ini, dan merupakan salah satu jenis mamalia besar paling jarang populasinya di dunia. Berdasarkan Red List Data Book IUCN, Badak Jawa berstatus Critically Endangered dan hal tersebut dikarenakan oleh sebaran populasi yang sempit, jumlah populasi yang kecil, serta tingkat risiko terhadap habitat dan populasinya. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, dalam hal ini, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian LHK, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), para mitra, dan para ahli. Tetapi, ada banyak kendala yang dihadapi Balai TNUK dalam mengelola konservasi Badak Jawa karena masih minimnya penelitian ilmiah yang mempelajari seluruh aspek dari perilaku Badak Jawa. Perilaku Badak Jawa yang belum teridentifikasi detail, membuat habituasi dan pengelolaan konservasinya cukup sulit. Satwa ini memiliki sifat pemalu dan sensitif, sehingga sedikit gangguan saja bisa membuat badak ini terganggu. Bahkan, menurut Rois Mahmud, perwakilan dari Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT), ada indikasi kecenderungan melukai dirinya sendiri jika mengalami stress. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi para pelaku konservasi dalam menjaga habitat dan populasi Badak Jawa. “Analisis genetik yang dilakukan bekerjasama dengan IPB menghasilkan kesimpulan jika kepunahan populasi bisa terancam oleh faktor depression in-breeding,” jelas Rois. Dua haplotype yang berbeda terpisah secara geografis di dalam habitat. Dengan demikian, perkawinan sedarah sangat mungkin terjadi dan menjadi kendala yang cukup rumit. Perkawinan sedarah pada populasi berpotensi menurunkan kualitas keturunan makhluk hidup. oleh karenanya perlu intervensi manusia dalam upaya meminimalkan dampak dari risiko tersebut. Selain persoalan dari individu badak itu sendiri, kendala soal tumbuhan pakan Badak Jawa juga dihadapi TN Ujung Kulon. Keberadaan tumbuhan Langkap mengganggu pertumbuhan tumbuhan pakan badak. Berbagai upaya telah dilakukan TN Ujung Kulon untuk membasmi tumbuhan Langkap ini, tetapi masih belum menemukan solusi yang tepat karena pertumbuhan Langkap sangat cepat. Diskusi Direktur Jenderal KSDAE dengan Balai TNUK, Yayasan Badak Indonesia (YABI), ALeRT, dan IRF, membahas penyediaan habitat yang layak bagi Badak Jawa menjadi fokus penting. Langkah ini perlu dilakukan untuk membuat badak nyaman untuk hidup, tumbuh, dan berkembang biak. Menurut Dirjen KSDAE, Prof. Satyawan Pudyatmoko, habitat yang layak akan menjadi faktor penentu utama peningkatan populasi. Indikasi perburuan Badak Jawa dan gangguan manusia juga menjadi sorotan dalam diskusi. Kini Polda Banten tengah memburu terduga pelaku perburuan, Balai TN Ujung Kulon juga sudah membentuk tim gabungan untuk melakukan patroli dan penjagaan dibantu beberapa pihak, seperti Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango, Balai TN Gunung Halimun Salak, Brimob Polda Banten, MMP, dan Tim RPU. Tidak hanya untuk mencegah perburuan, tim gabungan ini juga bertugas untuk mencegah aktivitas manusia di wilayah konservasi yang berpotensi mengganggu habitat Badak Jawa. Menanggapi persoalan keamanan kawasan konservasi ini, Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Suharyono yang turut serta dalam diskusi dan survei lapangan ini, menyatakan jika menjalin hubungan baik dengan masyarakat bisa menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah ini. Suharyono memberi arahan kepada seluruh elemen yang terkait dalam konservasi Badak Jawa di TNUK untuk berbaur dengan masyarakat, memberi pemahaman kepada masyarakat tentang arti penting keberadaan Badak Jawa dan mengapa diperlukan upaya konservasi. “Pendekatan kesejahteraan ke masyarakat sekitar perlu dilakukan. Inilah hakikat pengamanan,” jelas Suharyono di hadapan para pegawai TN Ujung Kulon dan tim gabungan. Selain itu, keberhasilan SRS dalam konservasi Badak Sumatera juga disoroti dalam diskusi. Dirjen KSDAE menyatakan jika keberhasilan SRS ini bisa menjadi contoh bagi konservasi Badak Jawa dan diharapkan bisa mencapai keberhasilan yang sama, bahkan lebih. “Artificial breeding yang berhasil dilakukan pada Badak Sumatera, perlu diaplikasikan untuk Badak Jawa, dibandingkan dengan strategi secondary habitat. Populasi dan habitat harus sama-sama diperhatikan intervensinya, namun manakah yang lebih penting porsinya?” jelas Dirjen KSDAE saat berdiskusi di kawasan JRSCA. Photo: Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon (oleh: Toby Nowlan) Di sisi lain, TN Ujung Kulon sudah memiliki JRSCA yang kini sudah siap untuk digunakan. Walau begitu, masih ada beberapa bagian JRSCA yang harus disesuaikan dengan perilaku Badak Jawa yang sangat sensitif ini. Seperti paddock yang harus jauh dari lingkungan masyarakat dan akses menuju paddock yang perlu diperbaiki lagi. Para mitra yang hadir dalam diskusi tersebut menyatakan siap untuk sepenuhnya membantu Balai TNUK dalam upaya konservasi Badak Jawa. Tidak hanya dukungan pengetahuan, tapi juga dukungan teknis dan sumber daya. Dalam diskusi, Direktur Jenderal KSDAE memberikan arahan terkait beberapa hal. Pertama dan terutama adalah arahan terkait intervensi pada variabel-variabel Population Viability Assessment (PVA) yang dapat meningkatkan populasi Badak Jawa. Lebih lanjut, Prof. Satyawan menjelaskan beberapa hal yang juga perlu terus dilakukan, antara lain strategi dan upaya penanganan indikasi perburuan yang sudah dilakukan saat ini perlu ditingkatkan lagi. Kekurangan personel, minimnya fasilitas kerja serta pembiayaan harus segera tertangani. Balai TNUK harus segera mengajukan kebutuhan tersebut, agar upaya patroli dan penjagaan dapat lebih efektif hingga menekan perburuan ke nilai nol. Eradikasi Invasive Alien Species (IAS) juga harus terus dilakukan agar dapat menjamin ketersediaan kebutuhan pakan badak di dalam habitat alaminya secara memadai. JRSCA juga perlu dimaksimalkan fungsinya. Kekurangan fasilitas dan metode kerja yang belum sempurna perlu segera disempurnakan agar segera berfungsi optimal. Hal-hal teknis dan metode kerja di JRSCA perlu segera didiskusikan kembali dan ditindaklanjuti secara serius. JRSCA diharapkan dapat segera berfungsi pada tahun 2024. Menindaklanjuti diskusi yang berlangsung dari Kamis hingga Jumat (24-25 Agustus 2023) ini, Dirjen KSDAE juga memberi arahan untuk segera mengadakan Focus Group Discussion (FGD) bersama mitra dan ahli, serta sesegera mungkin untuk menerapkan hasil diskusi agar persoalan habitat dan populasi Badak Jawa bisa teratasi karena situasi yang genting. “Walaupun terlihat sederhana, tapi pekerjaan ini tidak sederhana ketika berhadapan dengan masalah di lapangan. Agar berhasil, memang harus satu visi, kompak dan saling mendukung. Jadi saya harapkan, mari kita hadirkan semangat baru dan energi baru agar Badak Jawa ini tidak punah,” tutup Dirjen KSDAE dalam diskusi bersama tim gabungan di Aula JRSCA, Jumat (25/08/2023). Sumber : Sekretariat Ditjen KSDAE
Baca Artikel

Wadah Pendidikan Lingkungan Hidup se-Indonesia Simpul BKSDA Kalsel

Banjarbaru, 21 Agustus 2023 – Sebagai salah satu simpul belajar berdasarkan SK Sekjen KLHK Nomor : SK. 78/SEKJEN/DATIN/DTN.0/6/2023 tentang Penetapan Tim Sekretariat dan Pendamping Peserta Green Youth Movement (GYM) Tahun 2023, Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan Green Youth Movement (GYM) Tahun 2023 yang diikuti oleh 20 peserta (10 siswa dan 10 siswi) dari SMA/SMK di wilayah regional Kalimantan Selatan. Kegiatan GYM merupakan program pendidikan dasar gerakan lingkungan hidup yang menyediakan wadah bagi para generasi muda untuk bertukar pengetahuan dalam melindungi dan mengelola lingkungan hidup se Indonesia. Adanya kegiatan GYM diharapkan mampu meningkatkan pengetahuan generasi muda mengenai isu-isu lingkungan hidup secara aktual serta pemahaman tentang penyelesaiannya. Tidak hanya itu kegiatan GYM juga menargetkan peserta yang mengikuti kegiatan akan dijadikan sebagai Green Hero / Green Youth Ambassador (Duta Hijau) bagi sekolah masing-masing. Kegiatan GYM dibuka langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc. melalui zoom meeting. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa peran generasi muda menjadi kunci pemulihan lingkungan hidup. Dengan gaya hidup hijau yang mulai menjadi trend baru kaum muda saat ini melalui berbagai macam gerakan membangun lingkungan seperti gerakan pelestarian alam, pengelolaan sampah hingga pendidikan ramah lingkungan. Diharapkan dengan hadirnya Duta Hijau dari generasi muda, gerakan pemulihan lingkungan akan berlangsung secara lebih massif, inklusif dan inovatif. Kegiatan GYM dilaksanakan secara hybrid pada masing-masing simpul belajar selama 6 hari pada tanggal 21-26 Agustus 2023. Selanjutnya kegiatan GYM akan diikuti oleh peserta secara online hingga dilaksanakannya Pelantikan Duta Hijau dan Aksi Penanaman Serempak yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober 2023 mendatang. Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. Mahrus Aryadi, M. Sc., selaku penanggung jawab simpul meminta semua peserta untuk dapat memanfaatkan kesempatan khusus ini untuk menambah ilmu pengetahuan dan jejaring dengan pelajar dari seluruh Indonesia. (Ryn) Sumber: Endah Wahyuni Kuswidyosusanti, S.Si. - Koordinator PJLKK Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Balai TN Kepulauan Togean Pupuk Generasi Muda Kota Ampana

Ampana, 23 Agustus 2023 – Memupuk kesadaran generasi muda terhadap lingkungan hidup, Balai Taman Nasional Kepulauan Togean (TNKT) menjadi simpul belajar program “Green Youth Movement” Kementerian LHK Tahun 2023 yang dilakukan secara daring (online) mulai tanggal 21 s/d 26 Agustus 2023. Program ini diikuti oleh 20 (dua puluh) siswa-siswi dari enam SMA dan SMK yang ada di Kota Ampana – Sulawesi Tengah, yaitu SMAN 1 Ampana, SMAN 2 Ampana, SMKN 1 Ampana, SMKN 3 Ampana, SMKN 4 Ampana, dan SMK Komputer Ampana. Kepala Balai TN Kepulauan Togean, Dodi Kurniawan menyatakan bahwa “Green Youth Movement merupakan program pendidikan dasar gerakan lingkungan hidup yang menyediakan wadah bagi para generasi muda untuk bertukar pikiran dan pengetahuan dalam rangka melindungi dan mengelola lingkungan hidup. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Menteri LHK, Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M,Sc. pada tanggal 21 Agustus 2023, dan yang membanggakan adalah salah satu peserta dari simpul belajar Balai TN Kepulauan Togean yaitu ananda Abyzar Givari dari SMAN 1 Ampana Kota diberi kesempatan secara langsung untuk berdiskusi dengan Menteri LHK”. “Melalui program Green Youth Movement ini, para siswa-siswi dapat belajar secara langsung dari para narasumber yang berasal dari Kementerian LHK dan para expert lainnya. Materi pendidikan dasar yang disampaikan meliputi peran kaum muda dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup; revitalisasi kearifan lokal dalam mengelola lingkungan hidup; berkenalan dengan lingkungan hidup; menjadi konten kreator muda yang keren; memahami dan membangun gerakan Green Lifestyle bagi kaum muda; memahami isu perubahan iklim dan cara mencegah terjadinya perubahan iklim; pentingnya menjaga, melindungi, dan merehabilitasi kawasan hutan termasuk wilayah konservasi dan keanekaragaman hayati; serta cara membuat inovasi hijau keren”, ungkapnya menambahkan. Setelah mengikuti materi dasar selama enam hari, kegiatan akan dilanjutkan dengan mentoring untuk pendalaman materi dengan penunjang skill dan isu aktual sesuai minat peserta. Peserta yang telah mengikuti pendidikan selanjutnya akan dinobatkan sebagai Duta Hijau/Green Youth Ambassador/Green Hero. Dengan adanya program ini diharapkan para peserta selaku generasi muda mampu mengenal, menumbuhkan kesadaran, dan keterikatan mereka terhadap isu-isu terkait lingkungan hidup. Sumber: Amelia Diaztari S.Hut dan Wita Nofrinar, S.Si (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Artikel

Jajaran Polresta Magelang Menanam Bersama Para Pihak di Jurang Jero

Magelang, 23 Agustus 2023. Kepolisian Resor Kota (Polresta) Magelang melakukan penanaman pohon di kawasan Jurang Jero, Resort Pengelolaan Taman Nasional Gunung Merapi, Srumbung, Magelang, Rabu pagi (23/8) Menanam lebih kurang 1000 pohon keras seperti Berasan, Puspa, Cepogo, dan beberapa tanaman buah, kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata aksi Polri Lestarikan Negeri, Penghijauan Sejak Dini. Penanaman ini sebagai rangkaian kegiatan Asosiasi Kepala Kepolisian ASEAN dalam ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime (AMMTC) ke-17 dari tanggal 20 hingga 24 Agustus di Labuan Bajo. Sebelum penanaman, Kombes Pol Ruruh Wicaksono, S.I.K., S.H., M.H, selaku Kapolresta Magelang Polda Jawa Tengah beserta jajarannya mengikuti zoom meeting dengan Kapolri yang berada di Pulau Rinca, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Aksi ini sebagai rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-78 dan upaya memperbaiki lingkungan dari dampak perubahan iklim. Camat Srumbung, Danramil Srumbung, mahasiswa, masyarakat setempat dan petugas Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) turut serta menanam di kawasan. Kepala Balai melalui Kepala Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Magelang menyampaikan apresiasi kepada Kapolresta Magelang dan mengharapkan upaya serupa bisa dilanjutkan masyarakat luas, menghijaukan lingkungan sekitar masing-masing. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi **** Pembuat berita : Putu Dhian Budhami Penyunting berita : Titin Septiana Rahmawati Penanggung jawab: Muhammad Wahyudi, S.P, M.Sc. (Kepala Balai) - 085244012365 FB: Taman Nasional Merapi Twiter: @btngunungmerapi IG: @btn_gn_merapi Website : tngmerapi.id
Baca Artikel

Simpul Belajar Balai TN Gunung Rinjani Ikut GYM

Mataram, 24 Agustus 2023. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) mengikuti pembukaan Green Youth Movement (GYM) yang di buka langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Senin (23/8). Green Youth Movement merupakan program pendidikan dasar gerakan lingkungan hidup yang menyediakan wadah bagi para generasi muda untuk bertukar pengetahuan dalam melindungi dan mengelola lingkungan hidup. Siswa siswi dikenalkan, ditumbuhkan kesadaran, dan keterikatan terhadap isu perubahan iklim, agar memperoleh gambaran terkait konsep utama gerakan yang akan dilaksanakan. GYM dilakukan secara daring dan luring (hybrid) mulai tanggal 21 - 26 Agustus 2023 pada masing-masing Simpul Belajar. Simpul belajar merupakan bentuk pendidikan yang mengadaptasi sistem berjejaring, yaitu bentuk yang memusatkan pendidikan pada satu lokasi terpilih yang kemudian diakses oleh beberapa lokasi daerah berbeda di 34 Provinsi di Indonesia. Simpul Belajar berfungsi sebagai ‘ruang kelas’ untuk para peserta Green Youth Movement selama fase in-class berlangsung. Dengan menggunakan jejaring daring (online), setiap Simpul Belajar akan mendapatkan praktik belajar-mengajar yang sama dengan lebih efektif dan merata pada satu waktu yang sama sekaligus bisa saling berkenalan antar siswa lain dalam satu lokasi simpul belajar maupun berkenalan secara langsung dengan peserta dari provinsi lainnya. Simpul belajar Balai Taman Nasional Gunung Rinjani diikuti oleh 20 siswa dan siswi dari 10 SMA/SMK, yakni SMK ASSIMA' DARUL FALAH, SMKN 3 Mataram, SMA Negeri 4 Mataram, SMKN 1 LABUAPI, SMA NEGERI 1 LABUAPI, SMA Kertya Wisata Mataram, SMK KARYA ADI HUSADA MATARAM, SMAN Negeri 8 Mataram, SMK NURUL ISLAM SEKARBELA, dan SMA Nasional 3 Bahasa Budi Luhur Mataram. Siswa siswi pada hari pertama ini dengan perkenalan para peserta, games dan pemberian materi tentang Pemuda, Gerakan Lingkungan Hidup, dan Kearifan Lokal oleh Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristekdikti. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

POLRI Menanam di Kawasan TN Gunung Rinjani

Mataram, 24 Agustus 2023. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, Seksi Konservasi Wilayah II, Resort Joben dan Resort Timbanuh mengikuti penanaman dengan tema POLRI Lestarikan Negeri, Penghijauan Sejak Dini yang dilaksanakan di wilayah Desa Timbanuh Kec. Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur, Rabu (23/8). Penanaman ini sebagai bentuk edukasi menjaga kelestarian tumbuhan dan hewan dimasa depan, mencegah terjadinya bencana alam, dan mengurangi pemanasan global. Penanaman ini diinisiasi oleh Kapolri dengan prosesi penanaman yang dipusatkan di Pulau Rinca Komodo, NTT dan secara daring di 34 provinsi yang diikuti 34 Polda dan 500 an Polres dan 5000 an polsek seluruh Indonesia. Giat ini dihadiri oleh Polres Lombok Timur, Brimob Kompi Selong, Dandim Lombok Timur, Pemda, Bpbd, Dinas LH, Kph, Kejaksaan, Personil Balai TNGR , Toga/Toma Timbanuh dan para pelajar. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Bersama Untuk Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh

Sleman, 23 Agustus 2023. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) bersama-sama dengan para pihak membahas draft Surat Keputusan Forum Koordinasi dan Komunikasi Pengelolaan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh Wilayah daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Aula Balai TNGM pada Hari Rabu, 23 Agustus 2023. Penyusunan forum tersebut merupakan tindak lanjut penetapan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh oleh UNESCO pada 28 Oktober 2020. Cagar Biosfer ini melingkupi TN Gunung Merapi, TN Gunung Merbabu, dan Suaka Margasatwa (SM) Sermo sebagai zona inti. Dalam sambutannya, Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), Muhammad Wahyudi, S.P., M. Sc., menyampaikan bahwa TNGM memiliki posisi strategis dalam perspektif pengelolaan lingkungan di Daerah Istimewa Yogyakarta. “TNGM masuk ke dalam Kawasan Strategis Nasional serta merupakan bagian dari Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh dan Taman Bumi (Geopark) Yogyakarta.” Pihak-pihak yang terlibat di antaranya yaitu Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Daerah Istimewa Yogyakarta dan beberapa UPT KLHK lainnya seperti Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion (P3E) Jawa, Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Kehutanan (BPSIK), Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) D.I Yogyakarta, dan Balai Pengelolaan Daerah Aliran (BPDAS) Serayu Opak Progo. Forum Koordinasi dan Komunikasi Pengelolaan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh Wilayah DIY ini akan ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur DIY. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi ***** Pembuat berita : Ayu Diyah Setiyani Penyunting berita : Titin Septiana Rahmawati Penanggung jawab: Muhammad Wahyudi, S.P, M.Sc. (Kepala Balai) - 085244012365 FB: Taman Nasional Merapi Twiter: @btngunungmerapi IG: @btn_gn_merapi Website : tngmerapi.id
Baca Artikel

Orangutan Tapanuli “Sambangi” SD Aek Nabara di Orangutan Day 2023

Aek Nabara, 22 Agustus 2023. Peringatan Hari Orangutan Sedunia (Orangutan Day) seyogianya tidak hanya dijadikan seremonial semata, momen ini sudah sepatutnya dijadikan sebagai edukasi bagi semua orang agar berpartisipasi dalam perlindungan, penyelamatan dan pelestarian orangutan mengingat makhluk ciptaan Tuhan yang satu ini jasa-jasanya sering terlupakan. Orangutan merupakan salah satu aktor dalam regenarasi hutan, mengutip pernyataan M Arif Rifqi, seorang praktisi Konservasi Habitat Satwa Terancam Punah Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Rabu 19 Agustus 2020, dia menyebut orangutan adalah spesies payung, dengan melindungi orangutan spesies-spesies lain yang hidup pada habitat yang sama diharapkan juga ikut terlindungi, mengapa demikian ? alasannya karena orangutan adalah spesies pemakan buah dengan daerah jelajah yang luas, dimana orangutan jantan daerah jelajahnya bisa mencapai 46 hektar, sementara yang betina 12 hektar sehingga biji dari buah-buah hutan yang dimakan dan keluar dari kotoran orangutan bisa tumbuh lebih baik dan subur dibanding yang bersumber dari persemaian atau penanaman konvensional yang dilakukan manusia. Hal ini yang mendasari munculnya inisiatif dilaksanakannya peringatan Hari Orangutan (Orangutan Day) di Desa Aek Nabara, Kecamatan Marancar, Kabupaten Tapanuli Selatan, atas kolaborasi Yayasan Scorpion Indonesia bersama dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, tepat dihari peringatan Orangutan Day 2023 yang jatuh pada tanggal 19 Agustus 2023. Oleh karena itu, peringatan Hari Orangutan yang diikuti oleh murid-murid dan guru SD Negeri 100808 Desa Aek Nabara, diharapkan bukanlah sebatas seremonial semata, mengingat Desa Aek Nabara yang berada di Ekosistem Batangtoru ini merupakan bagian dari kawasan habitat Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang sudah dinobatkan menjadi jenis orangutan ketiga tahun 2017 silam, setelah sebelumnya hanya dikenal Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Mengangkat tema Lestari Alamku Lestari Desaku, Tim kolaborasi Yayasan Scorpion Indonesia dan Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan mengajak murid-murid SD Negeri 100808 Aek Nabara mengenal Orangutan Tapanuli lebih dekat melalui permainan (game) dan kuis tebak suara satwa, lomba mewarnai orangutan serta pemaparan materi perlindungan dan penyelamatan orangutan yang disampaikan Efryna Rizkiyah Pohan, SP. (Penyuluh Kehutanan) serta Irwan Hanafi, S. Hut. MM. (PEH) Pepatah mengatakan "Tak kenal maka tak sayang" ini lah salah satu yang mendasari perlunya memberikan informasi dan edukasi kepada murid-murid SD yang merupakan generasi penerus bangsa agar mengenal dan mengetahui orangutan khususnya Orangutan Tapanuli lebih dekat dengan harapan kelak setelah mengikuti kegiatan edukasi ini dapat menumbuhkan kecintaanya kepada satwa langka endemik Tapanuli yang menurut International Union for Conservation of Nature And Natural Resources (IUCN) sudah diambang kepunahan (Critically Endangered). Sumber : Irwan Hanafi, S.Hut., M.M. (PEH Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Saatnya Generasi Muda Ikut GYM, Green Youth Movement

Sidoarjo, 22 Agustus 2023. Senin pagi, ruang pertemuan kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur di Juanda - Sidoarjo tiba-tiba dipenuhi siswa-siswa berseragam abu-abu putih. Ternyata mereka adalah para peserta Green Youth Movement yang sedang digelar dari 21 hingga 26 Agustus 2023 mendatang. Green Youth Movement sendiri adalah program pendidikan dasar gerakan lingkungan hidup yang disediakan sebagai wadah bagi para generasi muda untuk bertukar pengetahuan dalam melindungi dan mengelola lingkungan hidup. Kegiatannya mengusung konsep simpul belajar dengan mengadaptasi sistem berjejaring, yakni bentuk yang memusatkan pendidikan pada satu lokasi terpilih yang kemudian diakses oleh beberapa lokasi daerah berbeda di 34 Provinsi. Wow, berarti kegiatan ini akan dibuka pada 130 lokasi simpul belajar dari 34 Provinsi di Indonesia, dan dapat menjaring peserta hingga 2.600 orang dalam satu angkatan. Dalam sambutan pembukaan, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya mengatakan bahwa perkembangan trend green lifestyle mulai tumbuh di banyak kalangan muda, namun belum menjadi satu gerakan kesatuan yang berdampak signifikan sehingga dapat menumbuhkan budaya ramah lingkungan dalam komunitas ataupun masyarakat. “Green Youth Movement diharapkan dapat menjadi wadah dalam memfasilitasi tumbuhnya generasi muda sebagai pelopor dan duta penyelamat lingkungan hidup dan kehutanan”, imbuh Siti. BBKSDA Jatim sebagai salah satu simpul, membawahi 8 sekolah yaitu SMA Wahid Al Hasyim 4 Waru, SMA Al Muslim, SMA Negeri 1 Waru, SMA Plus Darma Siswa, SMA Muhammadiyah - Taman, SMK Penerbangan Dharma Wirawan, SMA Senopati Sedati, dan SMK Taman Sidoarjo. Total ada 18 siswa yang ikut dalam kegiatan ini. Selain menerima berbagai materi mengenai gerakan lingkungan hidup, kearifan lokal, isu green lifestyle, perubahan iklim, rehabilitasi kawasan hutan, dan inovasi hijau, peserta juga diajak nonton bareng film dokumenter serta berbagai ecological games. Harapannya, kegiatan ini dapat mengenalkan, menumbuhkan kesadaran, dan keterikatan para siswa terhadap isu perubahan iklim. Sehingga gerakan pemulihan lingkungan akan berlangsung lebih lebih masif, inklusif, dan inovatif. (ak) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 1.009–1.024 dari 2.311 publikasi