Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Summer Camp 2023 Ungkap Pala Hutan Ada di Gunung Picis, Jawa Timur

Ponorogo, 15 Oktober 2023. Kegiatan Summer Camp 2023 yang bertajuk Eksplorasi Keanekaragaman Hayati di Cagar Alam Gunung Picis dan Gunung Sigogor, menghadirkan kejutan besar. Dibantu oleh Heri Santoso dari Yayasan Generasi Biologi Indonesia, para peserta berhasil menemukan Pala Hutan (Myristica teysmannii) pada 15 Oktober 2023. Spesies ini merupakan flora endemik yang terbilang langka saat ini. Myristica teysmannii Miq. atau dikenal dengan nama Durenan, Palan, Kosar atau Kayu Resep adalah salah satu spesies yang masuk dalam kategori endangered atau genting menurut IUCN dengan kriteria EN B1+2C. Artinya tumbuhan ini memiliki risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dalam waktu dekat dan berisiko menjadi kritis. Pala Hutan memiliki penyebaran yang jarang dan di Jawa Timur hanya dapat dijumpai pada kawasan Pacitan, Gunung Kawi, Gunung Wilis, Gunung Anjasmoro, dan Pulau Sempu. Tim Monitoring Kehati Malang Selatan juga melaporkan dijumpainya tumbuhan ini di wilayah Malang Selatan mulai sisi Barat hingga wilayah Lebakharjo di sisi Timur. Penemuan ini menjadi kolaborasi hebat antara Petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur, peserta Summer Camp, dan masyarakat lokal yang berani menjelajahi lokasi sulit di kawasan cagar alam. "Pala Hutan adalah temuan luar biasa, memberikan kontribusi besar pada pemahaman kita tentang keanekaragaman hayati di Gunung Picis," ujar Heri Santoso. Dengan temuan ini, Summer Camp 2023 menjadi momen bersejarah yang membangkitkan kesadaran akan kekayaan alam Indonesia. Penemuan Pala Hutan tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan tetapi juga menjadi dorongan kuat bagi pelestarian alam. Yayasan Konservasi Elang Indonesia dan Pertamina Integrated Terminal Surabaya turut mendukung kegiatan eksplorasi bertajuk Summer Camp ini. Penemuan Pala Hutan, yang hanya ada di beberapa tempat di Jawa Timur, mengukuhkan pentingnya upaya pelestarian. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Balai Besar KSDA Jawa Timur Foto : Agus Irwanto, Ardiyanto
Baca Artikel

Membangun Kesepakatan Konservasi di 7 Desa Penyangga Kawasan

Sidikalang, 18 Oktober 2023. Pada Rabu, 11 Oktober 2023, telah dilaksanakan penandatanganan Kesepakatan Konservasi pada 7 desa dalam menjaga kawasan hutan SM. Siranggas dan TWA. Sicike-cike, yaitu Desa Simerpara Kecamatan Pergetteng Getteng Sengkut, Desa Mahala Kecamatan Tinada, Desa Perolihen, Desa Tanjung Mulia, Kecamatan Sitellu Tali Urang (STTU) Jehe, Desa Majanggut I, Desa Perpulungen Kecamatan Kerajaan dan Desa Salak I, Kecamatan Salak.. Penandatanganan dilaksanakan oleh Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe Amenson Girsang, S.P., M.H. dengan 7 Kepala Desa, disaksikan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang Tuahman Raya, S.Sos. bersama kepala resort dan staf serta ketua dan pengurus Kelompok Tani penerima bantuan peningkatan usaha ekonomi masyarakat. Program pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pemberian bantuan ekonomi produktif sesuai dengan permohonan masing-masing kelompok tani, yaitu Desa Perolihen dan Desa Tanjung, Kecamatan STTU Jehe, bantuan berupa usaha ternak lembu. Kemudian Desa Majanggut I Kecamatan Kerajaan dan Desa Simerpara Kecamatan Pergetteng Getteng Sengkut, bantuan berupa alat pemipil jagung. Sedangkan Desa Salak I Kecamatan Salak, Desa Mahala Kecamatan Tinada dan Desa Perpulungen Kecamatan Kerajaan bantuan berupa alat handtracktor. Dengan adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat desa yang berada di sekitar kawasan SM. Siranggas yang memiliki luas wilayah 5.657 Ha. dan TWA. Sicike-cike yang memiliki luas wilayah 531,02 Ha. maka diharapkan adanya perpanjangan tangan bagi Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam menjaga kawasan serta memberikan informasi terkait perlindungan dan pengamanan kawasan dari tindakan luar yang berusaha untuk merusak. Selain itu diharapkan pula dengan adanya bantuan ini, secara nyata manfaatnya dapat dirasakan dalam meningkatkan penghasilan masyarakat desa umumnya dan anggota kelompok tani khususnya. Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai TN Kepulauan Togean Bersama Stakeholder Berikan Himbauan

Ampana, 16 Oktober 2023. Tim Gabungan Operasi Penyelamatan Sumber Daya Alam dan Satwa Liar pada Kawasan Konservasi yang terdiri dari unsur Balai GAKKUM Wilayah Sulawesi, Pemerintah Kabupaten Touna, Kejari Touna, Polres Touna, Polair Polda Sulawesi Tengah, Pabung Kodim 13/07 Poso, TNI-AL, DKP Provinsi Sulteng, dan Balai Taman Nasional (TN) Kepulauan Togean, menghimbau masyarakat untuk menjaga hutan serta tidak menggunakan bahan peledak (HANDAK) atau bom dan bahan kimia (bius) dalam penangkapan ikan. Kepala Balai TN Kepulauan Togean, Dodi Kurniawan mengatakan bahwa, “Himbauan ini dilakukan melalui pertemuan dengan masyarakat serta pemasangan papan himbauan di beberapa desa di Kepulauan Togean pada tanggal 11-12 Oktober 2023 dalam rangka sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Operasi Penyelamatan Sumber Daya Alam dan Satwa Liar pada Kawasan Konservasi yang sebelumnya telah mengamankan barang bukti yang diduga HANDAK atau bom rakitan, dari dua orang terduga yaitu “S alias OK” pada tanggal 6 September 2023 disekitar perairan Talatako, serta “TDP” pada tanggal 26 September 2023 di sekitar perairan Biga, dimana kedua terduga dan barang bukti saat ini berada di Polres Touna untuk proses lebih lanjut”. “Kawasan TN Kepulauan Togean yang terdiri dari wilayah daratan berupa hutan dan wilayah perairan/laut sangat penting untuk dilindungi dan dilestarikan. Hutan di wilayah daratan kepulauan merupakan daerah tangkapan air yang memiliki peran penting sebagai sumber air tawar bagi masyarakat, sementara wilayah perairan/laut memiliki keindahan terumbu karang yang menjadi obyek wisata dan merupakan habitat berbagai jenis ikan. Kerusakan kawasan ini tentu akan sangat merugikan, dan akan berdampak pada masyarakat yang tinggal dan memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, serta menurunnya daya tarik wisata terumbu karang yang dikhawatirkan mempengaruhi pendapatan masyarakat maupun swasta sebagai pengelola wisata”, lanjut Dodi Kurniawan. “Kami menghimbau semua pihak, untuk turut serta menjaga hutan serta tidak menggunakan HANDAK atau bom dan bahan kimia dalam penangkapan ikan di perairan/laut, dan semoga ikhtiar ini dapat kita pertanggungjawabkan kelak kepada anak cucu kita dan kepada Tuhan Yang Maha Esa”, pungkas Dodi Kurniawan menambahkan. Sumber : Amalia Diaztari, S.Hut dan Wita Nofrinar, S.Si - Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Artikel

Pemulangan 5 Orangutan Sumatera Ke Habitatnya di Jantho, Aceh

Jantho, 17 Oktober 2023. Untuk kesekian kalinya Balai Besar KSDA Sumatera Utara melepasliarkan satwa liar dilindungi undang-undang kembali ke habitatnya. Kali ini BBKSDA Sumatera Utara memindahkan 5 (lima) individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yaitu Undi, Simona, Bintang Pepe, Bakong dan Baung ke Pusat Rentroduksi di Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, pada Selasa 3 Oktober 2023, untuk dilepasliar di kawasan Taman Wisata Alam Jantho. Pelepasliaran ini merupakan rangkaian kegiatan memperbaiki populasi di alam satwa liar dan menguatkan pengelolaan kawasan konservasi di tingkat tapak. Sebelum dilepasliarkan kelima Orangutan ini mengikuti Program “Forest School” selama 2 pekan di Pusat Reintroduksi. Kelima Orangutan merupakan korban interaksi negatif manusia dan satwa liar di beberapa daerah di Aceh. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Rudianto Saragih Napitu S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan pelepasliaran satwa merupakan salah satu upaya dalam melestarikan satwa dilindungi. Selain itu upaya ini juga dapat menjaga keutuhan ekosistem hutan, khususnya kawasan konservasi. Namun demikian, upaya pengelolaan kawasan konservasi melalui patroli pengamanan, pembinaan populasi dan habitat harus menjadi agenda rutin guna memastikan kawasan konservasi beserta keanekaragaman hayati di dalamnya dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan mandat pengelolaannya. Sumber : Dede Syahputra Tanjung, SP. (PEH) – Balai Besar KSDA Sumut
Baca Artikel

Lepasliar Satwa Penyerahan Warga di TWA Sijaba Hutaginjang

Sijaba Hutaginjang,17 Oktober 2023. Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, melakukan giat pelepasliaran 1 (satu) ekor satwa liar dilindungi jenis Burung Cica Daun Sayap Biru (Chloropsis cochinchinensis), di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sijaba Hutaginjang (fragmen Sijaba) tepatnya di Desa Sihonongan, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan. Burung Cica Daun Sayap Biru yang dilindungi sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi, merupakan penyerahan warga kepada petugas. Pelepasliaran dihadiri Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung Manigor Lumbantoruan, SP. Kepala Resort TWA Sijaba Hutaginjang Budi Satria Sihite, S.Hut., aparat Kecamatan Paranginan Nurlela Siburian, S.E dan perangkat Desa Sihonongan Tumpal Siburian dan Butti Tua Siburian. Giat pelepasliaran ini menjadi momentum penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati serta memperkaya keragaman potensi fauna/satwa yang dilindungi di kawasan TWA Sijaba Hutaginjang, khususnya jenis burung. Dengan keragaman ini tentunya diharapkan kawasan akan menjadi habitat penting bagi satwa liar sehingga perlu terus dijaga kelestariannya. Disamping itu, pelepasliaran menjadi edukasi dan penyadaran bagi warga bahwa satwa liar sejatinya hidup dan berkembangbiak di habitatnya bukan dipelihara dalam kandang atau sangkar. Mari sejahterakan hidup satwa liar dengan mengembalikannya ke alam. Sumber : Budi Satria Sihite, S.Hut. (Polhut Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Memahami Etika Moral Pengelolaan LHK

Ampana, 17 Oktober 2023 – Upaya meningkatkan wawasan generasi muda dalam pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Kepala Balai Taman Nasional (TN) Kepulauan Togean menjadi narasumber kegiatan kuliah tamu Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Alauddin Makasar pada tanggal 16 Oktober 2023. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Lecture Theatre Lantai 1 Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makasar di Makasar, dengan tema “Etika Moral dalam Pengelolaan LHK” yang diikuti oleh kurang lebih 60 Orang mahasiswa/mahasiswi semester V Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, dan beberapa dosen. Kepala Balai TN Kepulauan Togean, Dodi Kurniawan menyatakan bahwa “Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan bagi mahasiswa/mahasiswi sebagai generasi muda terhadap pentingnya etika moral dalam pengelolaan LHK, serta mengajak mereka untuk mengetahui dan menjaga serta melestarikan lingkungan hidup termasuk kawasan konservasi”. “Setelah mendapatkan pengetahuan, diharapkan etika moral dalam pengelolaan LHK dapat memperkaya dan menjadi pertimbangan dalam perkuliahan teknis perencanaan wilayah dan kota dimasa yang akan datang”, demikian Dodi menambahkan. Sumber: Amelia Diaztari S.Hut dan Wita Nofrinar, S.Si (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Sumatera Utara Lepasliar Satwa Dilindungi di SM. Siranggas

Siranggas, 16 Oktober 2023. Kamis, 12 Oktober 2023, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara melakukan kegiatan pelepasliaran beberapa satwa dilindungi untuk kembali ke habitatnya. Adapun satwa yang dilepasliarkan antara lain Orangutan Sumatera (Pongo abelii) sebanyak 1 (satu) individu, Kukang (Nycticebus coucang) sebanyak 1 (satu) individu, Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis) sebanyak 1 (satu) ekor dan Ular Sanca Batik (Python reticulatus) sebanyak 1 (satu) ekor. Giat lepasliar dilakukan di Dusun Pegah, Desa Tanjung Mulia, di kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Siranggas yang dilaksanakan oleh Kepala Bidang Teknis Dr. Fifin Nopiansyah, S.Hut, MP, perwakilan Direktorat KKHSG KLHK Ibu Niken, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe Amenson Girsang, S.P., M.H. didampingi Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang Tuahman Raya, S.Sos, Kepala UPTD KPH Wilayah XIV Sidikalang Ir. Zulkifli Annoor Hasibuan, M.Agr, serta lembaga mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera Utara COP, YOSL-OIC, YEL dan Tahukah. Orangutan Sumatera yang dilepasliarkan merupakan satwa yang direhabilitasi sebelumnya di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan (PKRO) Batu Mbelin. Orangutan bernama Kriwil ini diperkirakan umurnya 30 tahun dengan jenis kelamin jantan, dilepasliarkan dalam keadaan sehat. Sedangkan satwa Kukang dan Kucing Kuwuk merupakan hasil penyerahan masyarakat yang telah menjalani rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit serta Ular Sanca Batik adalah satwa yang ada di sekitar PPS Sibolangit yang masuk ke kandang satwa. Baik Kukang maupun Kucing Kuwuk serta Orangutan Sumatera merupakan satwa yang dilindungi undang-undang, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MenLHK.Setjen/Kum.1/12/2018. Khusus Orangutan Sumatera, merupakan salah satu satwa kunci yang keberadaannya teramat penting, namun sayangnya keadaannya saat ini terancam punah sehingga perlu adanya upaya penyelamatan dan pelestarian. Kegiatan pelepasliaran menjadi salah satu langkah nyata dalam meningkatkan keanekaragaman hayati di dalam kawasan hutan SM. Siranggas. Diharapkan kekayaan genetik tetap terjaga. Mari jaga kelestarian satwa agar keseimbangan alam dapat terjaga. Sumber : Rezki Indah Siregar, SP. (PEH Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Aksi Street Campaign KEHATI di Maluku Utara

Ternate, 16 Oktober 2023. Street Campaign yang dipusatkan di Taman Nukila, Ternate, Minggu (15/10), diawali dengan senam pagi bersama Senam Zumba, yang dilanjutkan dengan berbagai macam kegiatan menarik lainnya, yaitu carnaval dan marching band, game, doorprize, dan pembagian bibit gratis. Acara ini turut dihadiri oleh Bapak Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Maluku Utara yang sekaligus membuka secara resmi Street Campaign, didampingi Kepala Balai TN Aketajawe Lolobata, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara dan Kepala Stasiun RRI Ternate. Kegiatan yang banyak menarik perhatian peserta maupun warga yaitu Game KEHATI, yang dipandu langsung oleh Kadis Kehutanan Provinsi Maluku Utara, Kepala Stasiun RRI, dan Kepala Balai TN Aketajawe Lolobata. Permainan ini menarik karena permainan berupa ular tangga raksasa yang terdapat tantangan dan fakta-fakta menarik tentang KEHATI yang ada di Maluku Utara. Aksi ini terselenggara berkat kerja sama dan kolaborasi dengan berbagai pihak, yaitu Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata (Tana Ajalo), Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara, BPDASHL Akemalamo, SKW I Ternate BKSDA Maluku, POS Gakkum LHK Maluku Utara, PSKL Seksi Wilayah I Ternate, RRI Ternate, Universitas Khairun, MTs Negeri I Ternate, Pegiat Lingkungan dan mitra lainnya. Sumber: Ahmad Yudha Wirajaya - PEH Balai TN Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

Kunjungi Situgunung, Ibu Wapres RI Merasa Bangga

Sukabumi, 15 Oktober 2023 Kawasan wisata Situgunung Sukabumi terbukti masih menjadi magnet dan daya tarik wisata andalan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Tak berlebihan jika dapat disebut membanggakan, nyatanya pada hari Sabtu tanggal 14 Oktober 2023 Isteri Wakil Presiden Republik Indonesia Ibu Hj. Wury Estu Handayani Ma'ruf Amin berkenan berkunjung ke tempat yang terkenal dengan "Lembah Purba Suspension Bridge". Rombongan yang berjumlah 30 orang ini setiba dilokasi langsung menikmati sajian kudapan tradisional dan keindahan hutan hujan tropis yang terlihat jelas di pelataran Pangrango Resto. Hadir ikut mendampingi Kepala Bidang PTN Wilayah II Sukabumi Susanti, S.Hut., M.Sc. beserta jajaran petugas Resort PTN Situgunung. Awal perjalanan dimulai dengan melintasi jembatan terpanjang di Asia dengan bentangan 530 meter dan ketinggian 161 meter diatas permukaan tanah, disini tentunya setiap yang melewati akan diuji adrenalinnya. Diawal pasti jantung akan berdetak kencang namun lambat laun akan biasa malah memicu rasa takjub ketika melihat deretan tajuk/canopy vegetasi pepohonan yang berderet rapi diatas ketinggian. Destinasi lain seperti Resto Tarsan Camp dan Glamping pun tak luput dikunjungi. Sebelum mengakhiri lawatan, Ibu Wapres berpesan bahwa tempat seperti ini harus terus dijaga dan dilestarikan karena cocok untuk kegiatan olahraga jantung sehat, yang paling penting tentunya tidak perlu jauh-jauh ke luar negeri karena di Indonesia banyak tempat wisata yang tidak kalah indah seperti contohnya disini. " Saya merasa bangga ada tempat sebagus ini, apalagi kekayaan keanekaragaman flora dan faunanya yang masih terjaga " Ucap beliau. Terima kasih Ibu Wakil Presiden RI dan rombongan atas kunjungannya, semoga pengelolaan wisata di TNGGP semakin optimal dan memberikan pelayanan prima di masa yang akan datang. Teks : Agus Deni @agustdenie Foto : Tim Publikasi BBTNGGP
Baca Artikel

Ini 3M Dasar Penyelenggaraan Kerjasama

Bandar Lampung 10 Oktober 2023. Inspektur Wilayah I Inspektorat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sri Sultrarini Rahayu, S. Hut., MP., CfrA., QGIA, memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Kerjasama lingkup Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) yang diselenggarakan pada tanggal 10 – 11 Oktober 2023 di Hotel Emersia Bandar Lampung. ”Kerjasama yang dilakukan harus berdasarkan atas 3 M, yaitu: mutual trust; mutual respect; dan mutual benefit. Saling percaya, saling menghormati dan tentunya saling mendapatkan manfaat/keuntungan yang berimbang. Kegiatan ini sangat baik diselenggarakan dalam rangka pembenahan dan penataan kerjasama bersama Mitra”, ujar Rahayu, saat menjadi narasumber dalam kegiatan ini. Selain dihadiri oleh Inspektur Wilayah I, Rakor ini juga dihadiri dan menjadi narasumber, yaitu Sekretaris Ditjen KSDAE yang diwakili oleh Sdr. Ivan Andita Frediantoro (online) dan Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi yang diwakili oleh Sdr. Indra Dirhamsyah, SP., M. Si. Selain itu, Rakor juga dihadiri oleh mitra kerjasama Balai Besar TNBBS dalam mendukung kegiatan Pengelolaan Taman Nasional, dimana terdapat 5 Mitra Kerja dalam rangka penguatan fungsi KSA/KPA yaitu: Pemerintah Kabupaten Lampung Barat; PT.Adhiniaga Kreasi Nusa; YABI; WCS – IP; Kelompok Tani Hutan. Balai Besar TNBBS juga memiliki Mitra Kerjasama Pembangunan Strategis yang tidak dapat dielakkan berjumlah 6 Mitra yang terdiri dari: Pemerintah Kabupaten Lampung Barat; BPJN Bandar Lampung; BPJN Bengkulu, PT. PLN UID Lampung; PT. Telekomunikasi Indonesia; PT. Indosat Tbk; PT. XL Axiata. Pelaksana Tugas Kepala Balai Besar TNBBS Ismanto, S.Hut.,M.P. mengharapkan melalui kegiatan Rakor Kerjasama ini, Mitra Kerja dapat lebih sinergis dengan akselerasi yang baik sesuai dengan regulasi yang ada sehingga tidak ada kendala yang berarti dalam implementasi program dan kegiatan yang tertuang dalam RPP, RKL dan RKT. “Balai Besar TNBBS sebagai management authority Kawasan Konservasi TNBBS memerlukan dukungan dari para pihak (penta helix), termasuk mitra yang hadir pada rakor kali ini sehingga program dan kegiatan yang telah menjadi komitmen bersama dapat menjawab filling the gap pengelolaan kawasan konservasi yang ada sehingga TNBBS beserta TN Gunung Leuser dan TN Kerinci Seblat yang merupakan situs warisan dunia cluster Tropical Rainforest Heritage of Sumatra ini dapat keluar dari status indanger list”, ungkap Ismanto. Sinergitas program Balai Besar TNBBS dengan mitra kerjasama dibagi dalam 2 jenis kemitraan yaitu mitra strategis dan mitra penguatan fungsi. Mitra strategis akan mendukung tujuan pengelolaan TNBBS dalam optimalisasi potensi sumber daya alam dan ekosistemnya dan peningkatan kemampuan dalam pengelolaan kawasan. Sedangkan mitra penguatan fungsi akan mendukung tujuan pengelolaan yaitu terselamatkannya tiga spesies kunci yaitu Harimau Sumatera, Badak Sumatera dan Gajah Sumatera beserta ekosistemnya; terwujudnya keutuhan kawasan dalam rangka pengelolaan kawasan yang mantap; potensi sumber daya alam dan ekosistemnya serta peningkatan kemampuan dalam pengelolaan kawasan. Harapan serupa juga disampaikan oleh Kepala Bagain Tata Usaha Pupung Purnawan, S.Hut.,M.Sc. “Pertemuan ini adalah salah satu forum yang baik bagi kita semua untuk bersama-sama mendiskusikan tentang kemajuan, hambatan dan perbaikan yang harus dilakukan kedepan untuk mencapai tujuan pengelolaan kawasan TNBBS yang lebih baik. Kami ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan rapat koordinasi kerjasama ini”, kata Pupung. Rapat Koordinasi Kerjasama lingkup Balai Besar TNBBS tahun 2023 menghasilkan rumusan yang ditandatangani oleh Para Pihak, menggambarkan komitmen Para Pihak untuk penyelenggaraan Kerjasama yang lebih optimal di periode mendatang. Sumber: Humas Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Baca Artikel

Tingkatkan Kewaspadaan, Cegah Karhutla

Medan, 11 Oktober 2023. Peristiwa kebakaran hutan dan lahan di beberapa provinsi di Indonesia belakangan ini dirasakan sangat tinggi sehingga menimbulkan kekhawatiran terhadap dampak yang ditimbulkannya. Guna mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, khususnya di kawasan konservasi di Sumatera Utara, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan Rapat Koordinasi Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan, pada tanggal 6-7 Oktober 2023, bertempat di The Hill Hotel dan Resort Sibolangit. Acara dihadiri 84 orang peserta terdiri dari Pejabat Eselon III, IV, Kepala Resort, Ketua Pokja dan Staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Anggota DAOPS Manggala Agni Seksi Wilayah I Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan & Lahan Wilayah Sumatera. Rapat Koordinasi yang dipimpin langsung Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Rudianto Saragih Napitu, S.Si, M.Si., menghadirkan narasumber Kepala Seksi Wilayah I, Balai PPI Wilayah Sumatera Syamsuddin,S.P . Dalam paparannya, Syamsuddin, menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan merupakan suatu peristiwa terbakarnya hutan dan/atau lahan, baik secara alami maupun oleh perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang menimbulkan kerugian ekologi, ekonomi, sosial budaya dan politik. Hampir 99 % kebakaran hutan dan lahan di Indonesia disebabkan oleh faktor manusia (kelalaian dan kesengajaan). Khusus di Provinsi Sumatera Utara, catatan Balai PPI Wilayah Sumatera giat pemadaman karhutla didominasi kebakaran yang terjadi di sekitar wilayah Danau Toba, Kabupaten Karo dan Kabupaten Labuhan Batu. Menurut Syamsuddin, meskipun di beberapa provinsi di Indonesia saat ini sedang mengalami kemarau sehingga berpotensi menyebabkan terjadinya karhutla, sebaliknya Provinsi Sumatera Utara justru diuntungkan dengan tingginya curah hujan sehingga tren hotspot bulanan pada tahun 2023, sampai dengan bulan September 2023, cenderung melandai yang menandakan angka karhutla kecil/rendah. Namun, walaupun angka karhutla kecil, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengingatkan petugas khususnya di tingkat tapak untuk tidak lengah dan tetap waspada. Aksi nyata ditingkat tapak mutlak harus terus dilakukan, seperti : monitoring hotspot yang ditindaklanjuti dengan groundchek untuk memastikan titik panas / titik api, pemadaman dini melalui pemadaman darat yang dilakukan oleh Satgas Karhutla baik di tingkat provinsi maupun di tingkat kabupaten, patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pendekatan kepada masyarakat melalui sosialisasi, penyuluhan, dan kampanye pencegahan kebakaran hutan dan lahan, dan berbagai upaya lainnya. Rudianto Saragih Napitu juga mengingatkan para Kepala Resort, Kepala Seksi dan Kepala Bidang KSDA Wilayah untuk tetap membangun koordinasi dan kolaborasi dengan multi pihak, karena persoalan karhutla bukan hanya tanggung jawab Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan semata, melainkan tanggung jawab bersama. Dengan bersama tentunya kita bisa memadamkan dan bisa mencegahnya, ujar Rudianto di kesimpulan akhir dari Rapat Koordinasi. Sumber : Samuel Siahaan, SP. - Pengendali Ekosistem Hutan Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

FGD Kakatua Abotti : Urgen Lakukan Penyelamatan

Batu, 9 Oktober 2023. Tak kurang dari 100 peserta mengikuti Rapat Focus Group Discussion (FGD) Mata Wali - Penyelamatan Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abotti) di Hotel Pohon Inn - Jatim Park, Kota Batu, 9 Oktober 2023. Kegiatan yang dilaksanakan secara hybrid (daring dan luring) dibuka oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut, M.Agr.Sc. Dalam sambutannya, Satyawan Pudyatmoko mengatakan bahwa perlunya tindakan konkrit sangat urgen dan mendesak dilakukan untuk penyelamatan Kakatua Kecil Jambul Kuning. Seperti, perlunya melakukan konservasi eksitu untuk mendukung insitu, roadmap pengelolaan Kakatua Kecil Jambul Kuning (KKJK) ras abbotti, dan pemberdayaan masyarakat dengan cara menghubungkan dengan atraksi lain yang ada di Pulau Masakambing. “Juga, segera dibuat kesepahaman antara pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan masyarakat dan pemerintah daerah” tambah Satyawan. Sementara itu, Hj. Dewi Khalifah, SH., MH., M.Pd., Wakil Bupati Sumenep, mengharapkan kegiatan FGD ini dapat memperoleh hasil yang luar biasa dalam pengelolaan jenis satwa di Kabupaten Sumenep. Karena menurutnya, Kabupaten Sumenep memiliki berbagai potensi keanekaragaman satwa, seperti Kucing Raas, Rusa Timor, Kuda Laut, Teripang Laut, dimana tekanan terhadap populasinya cukup tinggi. “Upaya budidaya dapat dilakukan sebagai salah satu alternatif penyelamatan keanekaragaman jenis satwa”, ujarnya. Dalam sambutan selamat datangnya, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., mengatakan bahwa FGD Mata Wali ini merupakan inisiasi dan arahan dari Dirjen KSDAE dengan memperhatikan permasalahan populasi abbotti yang sedikit dan terisolasi. “Untuk itu diperlukan intervensi manajemen dengan adanya aksi bersama, yang diawali dengan FGD ini”, ujar Nur Patria. Dalam kegiatan FGD ini dilakukan paparan materi dari beberapa narasumber yang terbagi dalam 2 sesi. Pada sesi pertama ada Tri Haryoko, M.Si dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dwi Agustina, S.Si., M.Sc. - Konservasi Kakatua Indonesia, drh. Andreas Bandang Hardian, M.VSc. - FKH Universitas Brawijaya. Serta drh. Indra Exploitasia, M.Si. - Plt. Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik yang memberikan paparannya secara daring. Pada sesi 2 dilakukan tanya jawab dan membuat rekomendasi hasil rapat FGD yang dituangkan dalam lembar rekomendasi serta ditandatangani oleh perwakilan dari peserta rapat. Para peserta FGD Mata Wali Kakatua Kecil Jambul Kuning Ras Abotti juga melakukan penandatanganan komitmen bersama dalam menyelamatkan dan melestarikan satwa liar jenis Kakatua Kecil Jambul Kuning Masakambing (Cacatua sulphurea abotti). Penandatangan dilakukan oleh pihak-pihak terkait dari Dirjen KSDAE, Dir. KKHSG, Dir. BPPE, BBKSDA Jatim, BRIN, Pemprov. Jatim, Pemkab Sumenep, Univ. Brawijaya, KKI, Jawa Timur Park, YKEI, dan TSI II Prigen. Peserta rapat yang hadir luring (offline) antara lain dari pihak KLHK yakni pihak BBKSDA Jatim sebagai tuan rumah, Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik, Direktorat Bina Pengelolaan dan Pemulihan Ekosistem, dan Kepala Balai Taman Nasional Baluran. Sedangkan dari pihak pemerintah provinsi dan kabupaten terdiri dari Wakil Bupati Sumenep, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Bakorwil Madura, CDK Sumenep, Setda Sumenep, Bappeda Sumenep, dan DLH Sumenep. FGD ini juga dihadiri dari berbagai civitas akademika dari IPM, UB, UMM, UNAIR, UWKS, dan ITS. Dan perwakilan dari lembaga konservasi seperti Jawa Timur Park, Taman Safari II, PDTS KBS, Maharani Zoo dan Goa, serta beberapa lembaga swadaya masyarakat seperti YKEI, Burungnesia, dan Yayasan Genbinesia. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mengasah Kaum Muda, Menyikapi Perubahan Iklim

Medan, 10 Oktober 2023. Dunia saat ini sedang menghadapi perubahan iklim yang signifikan. Di beberapa negara di belahan dunia, ada yang mengalami kekeringan akibat musim kemarau yang diluar dari kebiasaan. Tetapi sebaliknya di bagian negara lain justru terjadi bencana banjir dan longsor akibat curah hujan yang juga melebihi dari yang biasanya terjadi. Peristiwa anomali iklim ini menjadi menarik perhatian berbagai pihak untuk dicermati serta disikapi, termasuk di dalamnya kaum muda. Adalah Institut Hijau Indonesia yang merupakan organisasi berfokus dalam merancang program pendidikan bagi generasi muda agar memiliki keberpihakkan terhadap perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup. Institut Hijau Indonesia bersama para Green Leaders (alumni program pendidikan Green Leadership Indonesia) melahirkan inisatif Penggerak Perubahan Indonesai dan Dunia 2050, sebagai upaya merespon ancaman multi krisis sebagai dampak dari perubahan iklim di masa depan. Untuk mendengar serta menampung pandangan-pandangan dan inisatif anak muda, khususnya di Kota Medan, Institut Hijau Indonesia bersama para Green Leaders menggelar diskusi dengan tema “Diskusi Kaum Pemuda dan Perubahan Iklim untuk Indonesia dan Dunia Tahun 2050”, pada Kamis 5 Oktober 2023, di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Rudianto Saragih Napitu, S.Si., M.Si., mendapat kehormatan sebagai pemantik diskusi yang membahas terkait dampak perubahan iklim terhadap dinamika keanekaragaman hayati di Sumatera Utara menuju Indonesia 2050. Dalam paparannya dihadapan peserta yang berasal dari mahasiswa, pelajar dan akademisi, Rudianto mengingatkan seluruh peserta diskusi, yang didominasi oleh kaum muda, bahwa apa yang dilakukan hari ini menjadi tanggung jawab bagi kehidupan selanjutnya. Peran anak muda sebagai cluster influencer memiliki potensi besar dalam berbagi pemikiran dan pandangan, dapat menginspirasi, memotivasi, dan membawa perubahan positif dalam masyarakat. Sehingga dapat mengatasi masalah serta memperjuangkan isu-isu yang dianggap penting. Generasi muda sebagai influencer, juga memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain melalui konten yang dibagikan di platform media sosial, sehingga memiliki kekuatan untuk membentuk opini, perilaku, dan tren di antara pengikut mereka. Diskusi yang menarik dan atraktif ini tidak membatasi hanya wacana dan ide, namun membangun kesepakatan untuk melakukan aksi-aksi nyata, baik secara pribadi/individu maupun melalui kolaborasi dalam berbagai kelompok/organisasi/ lembaga untuk menyelamatkan lingkungan hidup. Kaum muda diajak untuk respon terhadap pembangunan yang berbasis resiko dan membawa dampak terhadap aspek perlindungan dan kelestarian satwa liar. “Masyarakat boleh memanfaatkan sumber daya alam, namun tentunya harus dilakukan secara bijaksana dan tetap memperhatikan kehidupan satwa liar agar tetap terjaga, sehingga pada akhirnya nanti akan tercipta harmoni kehidupan antara satwa liar dan manusia,” ujar Rudianto mengakhiri paparannya. Sumber : Samuel Siahaan, SP. (Pengendali Ekosistem Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Rancang Perubahan Zona, Balai TN Babul Gelar Konsultasi Publik Revisi Zonasi Pengelolaan

Maros, 5 Oktober 2023. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) laksanakan konsultasi publik revisi zonasi TN Babul di Grand Town Hotel, Maros, pada Senin (2/10/2023). Sedikitnya 60 peserta turut berpartisipasi pada konsultasi publik ini. Peserta konsultasi publik adalah pemerintah desa penyangga taman nasional, baik dari pemerintah desa, kecamatan hingga kabupaten. Termasuk Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I dan Kepala SPTN Wilayah II, serta kepala resort lingkup Balai TN Babul. Memberi masukan atas rancangan revisi zonasi taman nasional yang telah disusun oleh tim revisi. Sebagai pembuka wawasan, panitia mengundang beberapa narasumber, di antaranya Direktorat Perencanaan Kawasan Konservasi (RKK), BPKHTL Wilayah VII Makassar, Bappelitbangda Provinsi Sulsel, dan Fakultas Kehutanan, Universitas Hasanuddin. Kepala Balai TN Babul mengawali konsultasi publik ini dengan memberi sambutan sekaligus membuka secara resmi. “Revisi zonasi ini bertujuan untuk memetakan pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan taman nasional. Pengaturan berdasarkan kondisi ekologis, fungsi, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan,” terang Heri Wibowo, Kepala Balai TN Babul. Master of ceremony, Dewi Fortuna, kemudian menyerahkan ke Fardi Ali Syahdar, Moderator sesi pertama untuk memandu jalannya paparan dan diskusi. Ety Ambarwati, PEH Ahli RKK, menyampaikan materi: arah dan kebijakan penataan zonasi taman nasional. Menurutnya revisi zonasi merupakan bagian dari perencanaan kawasan. Menjadi dasar dalam pengelolaan: perlindungan, pengawetan, pemanfaatan berkelanjutan, kerja sama, dan pemberdayaan masyarakat berbasis keruangan. Narasumber dari BPKHTL Wilayah VII memaparkan perihal kronologi kawasan hutan TN Babul. Mengungkap cikal bakal taman nasional hingga proses penunjukkan. Beberapa tipe kawasan konservasi yang digabungkan untuk berdiri sendiri sebagai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. “TN Babul ini berasal dari kepingan cagar alam, taman wisata alam, hutan lindung, dan hutan produksi terbatas, dan hutan produksi tetap,” ujar Ribka Linggi, Kepala Seksi Pengukuhan dan Perencanaan Kawasan Hutan, BPKHTL Wilayah VII. Kepala Bappelitbangda Provinsi Sulsel, mengantarkan materi kebijakan tata ruang wilayah provinsi Sulawesi Selatan. Menurutnya, penataan ruang diperlukan karena ketersediaan ruang terbatas, sementara populasi dan aktivitas manusia tak terbatas. “Bukan hanya manusia butuh ruang, satwa dan tumbuhan pun memerlukan ruang. Karena itu diperlukan pengaturan agar bisa berjalan seimbang. Salah satu kebijakan provinsi adalah mengatur Rencana Tata Ruang,” tutur Andi Bayu Arif, Kepala Bidang Infrastruktur Wilayah, Bappelitbangda Provinsi Sulsel. Setelah rehat sejenak, sesi kedua pun dimulai. Kali ini, Dr. Asrianni, Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (Unhas), memandu jalannya paparan materi dan diskusi. Adalah Prof Ngakan Putu Oka, Dosen Fakultas Kehutanan Unhas, paparkan materi pembuka. Memaparkan: pentingnya taman nasional dan pentingnya zonasi. Dosen senior ini memberikan contoh-contoh betapa kehidupan alam menopang kehidupan manusia. “Jika alam ini seimbang maka tak ada hama seperti tikus, ulat, dan belalang. Mengapa? Karena alam memiliki mekanisme sendiri. Menjaganya tetap seimbang. Seperti contoh tikus, jika pengerat ini menjadi hama maka bisa dipastikan bahwa elang jarang dijumpai di sana. Elang adalah predator bagi tikus, termasuk ular. Kehadiran elang yang bertengger di sekitar persawahan saja, itu menjadi benteng. Menjadikan tikus tak berani menampakkan diri,” terang Prof Oka, sapaan akrabnya, Dosen Fakultas Kehutanan, Unhas. Terakhir, Kepala Balai TN Babul memaparkan rancangan revisi zonasi Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Menampilkan wilayah-wilayah taman nasional yang mengalami perubahan zona. “Wilayah-wilayah yang mengalami perubahan zona ini umumnya disebabkan karena adanya perubahan kondisi ekologis, seperti contoh awalanya zona rimba kemudian berubah menjadi zona inti karena hutannya sudah pulih. Termasuk juga keberadaan fasilitas umum atau sosial yang sebelumnya tidak teridentifikasi sehingga perlu disesuaikan peruntukannya,” pungkas Heri. Heri berharap melalui ajang tersebut, pemerintah setempat yang mewakili masyarakat sekitar kawasan memberi masukan atas rancangan perubahan zonasi yang telah disusun. Karenanya, saat sesi diskusi, kepala desa dan camat antusias memberi tanggapan. Mengklarifikasi wilayah kekuasaannya, termasuk rencana-rencana pembangunan fasilitas umum yang sedang mereka rancang. “Kami berterima kasih telah diundang ke acara ini. Saya merasa dihargai keberadaan kami dalam tata kelola taman nasional. Saya salut dengan kinerja teman-teman Balai TN Babul, sudah membantu warga kami melalui pemberdayaan masyarakat. Khusus di wilayah kami ada beberapa kelompok tani hutan dan satu kelompok pengelola ekowisata. Semoga program seperti ini bisa terus dilanjutkan. Warga kami merasa terbantu,” Muhammad Aris, Camat Bantimurung. Selanjutnya pada akhir sesi, moderator memandu penyempurnaan berita acara konsultasi publik revisi zonasi TN Babul dan ditandatangani peserta yang hadir. Selanjutnya kepala balai taman nasional, menutup pertemuan konsultasi publik tersebut. “Semoga pertemuan kita hari ini menjadi awal dari rencana baik kita untuk menjaga keutuhan benteng terakhir keberadaan hutan yang asri. Semoga menjadi amal jariyah di sisi-Nya,” tutup Heri penuh harap. Sumber: Taufiq Ismail – Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Artikel

Bahas Pertumbuhan Ekonomi, Ketua WEF Sempatkan Kunjungi TN Komodo

Labuan Bajo, 3 Oktober 2023. Ketua Eksekutif World Economic Forum, Profesor Klaus Schwab beserta pasangan, Hilde Schwab, diajak untuk mengunjungi kawasan Taman Nasional Komodo pada tanggal 09 September 2023. Sebelumnya mereka bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta pada tanggal 05 September 2023 guna membahas pertumbuhan ekonomi ASEAN dan pentingnya integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence) di dalam diskusi-diskusi ekonomi. Pada pertemuan tersebut, Profesor Klaus percaya bahasa Indonesia memiliki peran penting terhadap pertumbuhan ekonomi ASEAN di masa depan dan dengan bangga mengundang Presiden Joko Widodo untuk dapat berkenan hadir dalam World Economic Forum Tahun 2024. Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Urbanus Sius, bersama interpreter andalannya, Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) melakukan pendampingan prima bagi Profesor Klaus Schwab beserta rombongan saat berkunjung Resort Loh Buaya, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Di Resort Loh Buaya, Profesor Klaus Schwab diajak menyusuri elevated deck dan berkunjung ke dalam Pusat Informasi Komodo. Dari atas elevated deck, beberapa individu biawak komodo terlihat sedang beristirahat/berteduh dari teriknya panas matahari. Profesor Klaus tampak takjub melihat biawak komodo di Taman Nasional Komodo. Rasa keingintahuan Profesor Klaus dan rombongan dijawab satu per satu oleh Muhammad Ikbal Putera sebagai interpreter dan pemandu utama dalam rombongan tersebut. Rombongan selanjutnya berkunjung ke Pusat Informasi Komodo untuk melihat interactive panel dan kerangka biawak komodo, Mr. X dan Jessica. Ikbal mengajak rombongan menjelajah setiap lorong informasi di dalam museum. Seusai mendengarkan banyak informasi di dalam Pusat Informasi Komodo, rombongan diajak untuk mengamati biawak komodo yang berada di Lembah Loh Buaya dari jarak yang aman dengan pendampingan petugas Naturalist Guide. Rombongan melakukan foto dari jarak 10-meter dan menyampaikan “bahagia namun gugup” dapat berfoto bersama dengan komodo dari jauh. Setelah cukup berfoto bersama biawak komodo, Profesor Klaus dan rombongan bersiap kembali ke Labuan Bajo. Profesor Klaus Schwab dan Hilden Schwab menyampaikan apresiasi kepada Muhammad Ikbal Putera telah cakap memberikan informasi mengenai pengelolaan Taman Nasional Komodo dengan sangat kaya, namun tetap atraktif dan tidak membosankan. Profesor Klaus senang dengan kunjungannya ke Taman Nasional Komodo dan sangat menikmati indahnya bentang alam di Situs Warisan Dunia ini. Beliau menyampaikan akan kembali ke Taman Nasional Komodo bersama dengan keluarganya di waktu yang akan datang. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (Siaran Pers No: PG.23/T.17/SET.2/HMS.3/9/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Balai TN Kepulauan Togean Tingkatkan Psikologi Polhut

Ampana, 3 Oktober 2023. Sebanyak 21 orang petugas Balai Taman Nasional (TN) Kepulauan Togean yang terdiri dari Pejabat Struktural dan Polisi Kehutanan mengikuti tes psikologi pemegang senjata api di Aula Kantor Balai TN Kepulauan Togean pada hari Selasa tanggal 3 Oktober 2023. Tes psikologi ini merupakan syarat mutlak bagi semua calon pemegang senjata api khususnya untuk menilai pengendalian diri dan kestabilan emosi guna menentukan apakah layak sebagai pemegang senjata api atau tidak. Tes psikologi dilaksanakan oleh tim Bagian Psikologis Polda Sulawesi Tengah yang dipimpin oleh KOMPOL Achmad Junaidi. S.Psi., M.AP. Kepala Balai TN Kepulauan Togean, Dodi Kurniawan menyatakan “Dalam melaksanakan tugas perlindungan dan pengamanan kawasan TN Kepulauan Togean, Polisi Kehutanan dibekali dengan senjata api, dimana ketentuan penggunaannya diatur melalui peraturan perundang-undangan. Tes psikologi ini sangat penting bagi calon pemegang senjata api dari sisi kejiwaan, setelah sebelumnya mengikuti pelatihan menembak dan dinyatakan lulus. Selain itu, tes psikologi merupakan salah satu bentuk upaya antisipasi penyalahgunaan senjata api dilingkungan Balai TN Kepulauan Togean”. “Terimakasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Kapolda Sulawesi Tengah khususnya Bagian Psikologis yang berkenan melaksanakan kegiatan ini pada Kantor Balai TN Kepulauan Togean di Ampana” ungkapnya menambahkan. Sumber: Amelia Diaztari S.Hut dan Wita Nofrinar, S.Si - Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Kepulauan Togean

Menampilkan 977–992 dari 2.311 publikasi