Minggu, 31 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Optimalkan Pengendalian Peredaran TSL, BBKSDA Papua Perkuat Kerja Sama dengan Para Pihak

Jayapura, 25 Oktober 2023 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua terus berupaya mengoptimalkan pengendalian peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Papua, terutama yang dilindungi undang-undang. Mengingat, karakteristik TSL Papua yang eksotis dan memikat masih rentan terhadap tindak ilegal. Menurut Kepala BBKSDA Papua, A.G. Martana, TSL Papua yang elok memerlukan upaya tingkat tinggi dalam menjaganya. “Sampai saat ini TSL Papua tetap perlu perhatian khusus, karena banyak peminatnya di luar Papua. Banyak juga pintu masuk dan keluar Papua, baik itu bandara maupun pelabuhan. Ini memerlukan koordinasi dan kerja sama semua pihak dalam pengawasan dan pengendalian TSL Papua, agar tetap aman dan lestari di habitat alaminya,” ungkap Martana. Sebagai langkah untuk mengoptimalkan pengawasan dan pengendalian peredaran TSL Papua dilindungi, BBKSDA Papua menyelenggarakan kegiatan Focus Group Discussion (FGD). Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa, (24/10/2023) di Hotel Mercure Jayapura. Martana menyampaikan, FGD tersebut setidaknya memiliki tiga tujuan. Pertama, meningkatkan koordinasi bersama para pihak dalam upaya efektivitas pengawasan dan pengendalian peredaran TSL Papua. Kedua, mencapai kesepahaman bersama terkait penanganan dan pencegahan peredaran TSL Papua secara ilegal. Katiga, mewujudkan Deklarasi Papua dalam bentuk pernyataan komitmen lintas stakeholder terkait penanganan jaringan peredaran TSL ilegal di Provinsi Papua. Adapun hasil FGD tercantum dalam beberapa poin penting, antara lain, mengoptimalkan pengawasan dan pengendalian peredaran TSL dilindungi di lokasi-lokasi rawan, yaitu pintu masuk dan keluar Papua, khususnya pelabuhan dan bandara. Selain itu, para pihak juga akan melaksanakan operasi gabungan pada daerah-daerah rawan penangkapan atau jual beli TSL Papua dilindungi. Kegiatan FGD ini melibatkan berbagai pihak terkait, yaitu, Kepolisian Daerah Papua, Kodam XVII Cenderawasih, Lantamal X Jayapura, Lanud Silas Papare, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Kejaksaan Tinggi Papua, Pengadilan Tinggi Jayapura, Balai Karantina Pertanian Kelas I Jayapura, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Biak, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Timika, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Sorong, Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Merauke, Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Manokwari, PT Angkasa Pura I Bandar Udara Sentani, PT Pelindo (Persero) Regional 4 Jayapura, PT Pelni (Persero) Jayapura, BPDAS Memberamo, BPHL Wilayah XV Jayapura, Seksi Wilayah III BPPHLHK Jayapura, Seksi Wilayah BPSKL Maluku-Papua II Jayapura, Seksi Wilayah II BPPI Maluku-Papua, WALHI Papua, dan GIZ Forclime. (dd) Sumber: Balai Besar KSDA Papua Call Center BBKSDA Papua : 0823 9770 9728
Baca Artikel

Restocking Koral, Lestarikan Karang Sekitar Cagar Alam Pulau Sempu

Malang, 24 Oktober 2023. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Kelompok Pembudidaya Karang Hias Nusantara (KPKHN) Banyuwangi melakukan pelepasliaran koral hasil transplantasi dalam keadaan hidup di Tekuk Air Tawar – Cagar Alam Pulau Sempu, 24 Oktober 2023. Kegiatan yang dimulai pagi hari tersebut menanam jenis yang tidak dilindungi dan atau Appendiks II yang berasal dari hasil transplantasi PT. Srikandi Banyuwangi. Sebanyak 50 potong koral hidup yang ditanam di sekitar perairan cagar alam tersebut, antara lain koral Jahe (Acrophora spp) sebanyak 10 potong, koral Stylo (Stylophora spp)10 potong, koral Tangan/Anemon (Euphyllia glabrescens) 10 potong, koral Kuku Cabang (Euphyllia paraancora) 10 potong, dan koral Kodok (Euphyllia yaeyamaensis) 10 potong. Kelima jenis koral tersebut ditanam dalam formasi 2 meja dengan kedalaman masing-masing 2-5 meter dan 5-7 meter. Turut serta berpartisipasi dalam giat pelepasliaran/restocking dari perusahaan budidaya karang PT. Dewa Ruci, PT. Aristo, dan PT. BDC. Kegiatan restocking tahap I ini merupakan uji coba dan akan dilakukan monitoring sekitar 1 bulan kedepan. Sumber : Purwanto - Kepala RKW 21 Pulau Sempu BBKSDA Jatim
Baca Artikel

Summer Camp 2023 : Katak Pohon Mutiara Kembali Dijumpai

Ponorogo, 24 Oktober 2023. Selama lebih dari satu abad, Katak Pohon Mutiara (Nyctixalus margaritifer) dari Gunung Wilis, Hindia (Jawa), tak terlihat. Informasi sebaran sebelumnya hanya mencakup Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun, pada Summer Camp 2018 yang lalu, satu katak pohon mutiara ditemukan di Gunung Wilis bagian barat, tepatnya pada Cagar Alam Gunung Sigogor, Ponorogo, Jawa Timur. Spesimen tersebut merupakan spesimen ketiga yang ditemukan dari Gunung Wilis setelah hilangnya holotipe pada 1882 dan neotipe pada 1885. Konfirmasi tersebut telah terpublikasi pada Turkish Journal of Zoology yang berjudul Rediscovery of pearly tree frog, Nyctixalus margaritifer Boulenger, 1882 (Amphibia: Rhacophoridae) from Mt. Wilis afer 135 years. Diketahui, bahwa ekologi dan preferensi habitatnya masih minim pemahaman, membuatnya sulit ditemukan. Dan, pada Summer Camp 2023 yang bertajuk “Eksplorasi Keanekaragaman Hayati Cagar Alam Gunung Picis dan Cagar Alam Gunung Sigogor” keberadaan katak pohon mutiara tetap menjadi sorotan. Keberadaan spesies ini kembali terkonfirmasi di lokasi yang sama dengan jumlah yang berbeda. Summer Camp sendiri kembali diselenggarakan pada tanggal 13 hingga 19 Oktober 2023 oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur atas dukungan Yayasan Konservasi Elang Indonesia dan PT. Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Surabaya, setelah sempat vakum karena adanya pandemi. Kedepan, penelitian mencakup deskripsi spesimen dengan pendekatan holistik, mencakup karakter morfologi, ekologi, dan preferensi habitatnya perlu dilaksanakan karena Informasi ini krusial untuk upaya konservasi dan perlindungan spesies tersebut. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur Foto : AM. Kadafi
Baca Artikel

Identifikasi Sarang Burung Gosong di Resort Loh Baru

Labuan Bajo, 18 Agustus 2023. Enam mahasiswa prodi Ilmu Kehutanan Universitas Mataram diberikan kesempatan oleh Balai Taman Nasional Komodo untuk magang di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Keenam mahasiwa prodi Ilmu Kehutanan Universitas Mataram ini dinyatakan lolos seleksi program magang Junior Park Ranger Balai Taman Nasional Komodo yang dilaksanakan mulai tanggal 21 Juni – 18 Agustus 2023. Setiap mahasiswa magang diwajibkan untuk memiliki satu judul miniriset dengan konsep Small Scale Reseach (SSR) yang dilaksanakan selama durasi pembelajaran mahasiswa di kawasan Taman Nasional Komodo. Data dan informasi yang diperoleh selama kegiatan SSR ini diharapkan dapat digunakan oleh mahasiswa sebagai data akhir skripsi/tugas akhir di universitas sehingga memberikan kemudahan dan efisiensi waktu bagi penyelesaian kewajiban tersebut. Rencana dan hasil pelaksanaan SSR ini harus dipresentasikan dihadapan pimpinan dan seluruh staf Balai Taman Nasional Komodo sebagai salah satu pemenuhan kewajiban dalam program magang. Seluruh pelaksanaan penelitian dan magang di Balai Taman Nasional Komodo disupervisi oleh Muhammad Ikbal Putera, PEH Ahli Muda. Syaiful Imam, salah satu dari enam mahasiswa Ilmu Kehutanan Universitas Mataram memilih topik SSR mengenai identifikasi karakterisitik sarang burung gosong kaki merah (Megapodius reinwardt) di Resort Loh Baru, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Syaiful tertarik mempelajari burung gosong karena merupakan satwa penting dalam siklus hidup biawak komodo (Varanus komodoensis) di Taman Nasional Komodo. Berdasarkan penelusuran studi literatur, didapatkan informasi bahwa setidaknya terdapat tiga tipe sarang biawak komodo dimana salah satunya yaitu sarang gundukan, dibuat oleh burung gosong secara alami. Dinamika pembuatan dan penggunaan sarang gundukan oleh biawak komodo dan burung gosong menjadi sesuatu yang menarik untuk dikaji lebih lanjut oleh Syaiful sebagai mahasiswa kehutanan. Syaiful memilih Resort Loh Baru di Pulau Rinca sebagai lokus SSR karena lembah Loh Baru memiliki karakteristik ekosistem yang unik berupa hutan gugur terbuka dan hutan daratan rendah yang lebih rimbun dan hijau, dibandingkan dengan beberapa lembah lain di Pulau Rinca yang didominasi oleh ekosistem padang sabana. Syaiful berusaha mengkaji dan memetakan jumlah sarang dan status aktif/tidak aktif sarang burung gosong yang terdapat di lembah Loh Baru, Resort Loh Baru SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Dalam proses pengumpulan datanya, Syaiful dibantu oleh Petugas Resort Loh Baru, Muhammad Ikbal dan Faustino Abi Septano Parera, serta rekan mahasiswa Ilmu Kehutanan Universitas Mataram, Cintana Cahya Ramadhella. Syaiful menemukan 6 sarang gundukan yang diduga dimanfaatkan oleh biawak komodo dan sebagian digunakan oleh burung gosong. Berdasarkan hasil observasi bersama petugas, Syaiful menduga terdapat 1 sarang aktif, 4 sarang yang digunakan oleh biawak komodo, dan 1 sarang tidak aktif yang tidak lagi digunakan oleh biawak komodo ataupun burung gosong. Syaiful melihat bahwa sarang burung gosong aktif memiliki banyak sersah daun daun kering dan lubang masuk sarang, yang biasanya berjumlah 5-6 lubang yang berada di atas permukaan sarang dengan ukuran lubang yang kecil, serta tekstur tanah yang tidak keras. Berbeda halnya dengan sarang gundukan yang dimanfaatkan oleh biawak komodo dimana pada permukaan atas sarang bersih dari serasah dan terdapat dipenuhi jejak komodo serta ditemukan lubang sarang dengan ukuran yang cukup besar, serta memiliki tekstur tanah yang keras. Berdasarkan hasil identifikasinya, Syaiful berhasil membuat peta sebaran sarang burung gosong di Resort Loh Baru, SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Supervisor program magang Junior Park Ranger Balai Taman Nasional Komodo, Muhammad Ikbal Putera, berharap agar mahasiswa prodi Ilmu Kehutanan dari Universitas Mataram selanjutnya yang tertarik melakukan magang di Balai Taman Nasional Komodo menjadi lebih siap dan matang karena telah memiliki senior/mahasiswa pendahulu yang telah berhasil melaksanakan rangkaian program magang sampai dengan selesai. Kesempatan magang ini terbuka sepanjang tahun bagi mahasiswa yang tertarik belajar langsung pada kawasan konservasi di Indonesia. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (SIARAN PERS No: PG.27/T.17/TU/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Prodi Kehutanan Universitas Mataram - Syaiful Imam (+6281237383520) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Ini Peran POKDARWIS Native Rinca Untuk Pengembangan Desa Wisata

Labuan Bajo, 18 Agustus 2023. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Kehutanan Universitas Mataram, Irkawati, melaksanakan kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo mulai tanggal 21 Juni – 20 Agustus 2023. Irkawati merupakan mahasiswi asal Desa Pasir Panjang yang berada dalam wilayah pengelolaan Resort Kampung Rinca, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Irkawati membuktikan bahwa putri daerah setempat pun perlu mengikuti seleksi administrasi program magang Junior Park Ranger (JPR) Balai Taman Nasional Komodo dan mampu melalui proses penyeleksiannya yang ketat, karena Balai Taman Nasional Komodo mewajibkan mahasiswa magang untuk memiliki satu topik SSR sebagai prasyarat utama program Junior Park Ranger. Irkawati mengusulkan topik Small Scale Research (SSR) berjudul “Peran Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) Dalam Pengembangan Desa Wisata Sebagai Upaya Peningkatan Perekonomian Masyarakat” dibawah supervisi Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) dan Maiser Syaputra (Dosen Prodi Kehutanan Universitas Mataram). Irkawati bermaksud menginvestigasi peran POKDARWIS Native Rinca di Desa Pasir Panjang pada lingkup wilayah pengelolaan Resort Kampung Rinca, SPTN Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Keterlibatan POKDARWIS Native Rinca dalam mendukung pengelolaan wisata desa di Desa Pasir Panjang mendorong Irkawati untuk mengobservasi sejauh mana peran kelompok dalam mendukung pembangunan dan pengembangan industri pariwisata di tempat tinggalnya. Kajian ini harapannya dapat digunakan sebagai data dan informasi untuk penyusunan skripsi akhir bagi Irkawati selaku mahasiswa Prodi Kehutanan Universitas Mataram. Irkawati memulai tahap pengumpulan data dengan melakukan studi literatur mengenai pelibatan kelompok masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi. Irkawati merasa bahwa sebuah kawasan konservasi idealnya turut menerapkan co-management dengan melibatkan partisipasi masyarakat pada sebagian kegiatan yang dapat dikolaborasikan. Selanjutnya, Irkawati berkonsultasi dengan supervisor magang untuk bersiap terjun ke lapang guna mengambil data primer dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan adalah daftar pertanyaan wawancara yang akan diajukan kepada aktor kunci dalam POKDARWIS Native Rinca. Responden ditentukan secara purposive berdasarkan kriteria tertentu untuk membatasi ruang lingkup kajian yang dilakukan. Adapun kriteria responden, antara lain: (a) responden merupakan pengurus inti POKDARWIS Native Rinca, (b) responden merupakan perangkat Desa Pasir Panjang, dan (c) responden merupakan anggota POKDARWIS Native Rinca. Irkawati mengumpulkan data mulai tanggal 11 – 20 Juli 2023 di Desa Pasir Panjang – Resort Kampung Rinca. Irkawati memperoleh jumlah responden dengan rincian sebagai berikut: pengurus inti POKDARWIS Native Rinca (3 orang), perangkat Desa Pasir Panjang (2 orang), anggota POKDARWIS Native Rinca (12 orang dengan mempertimbangkan keterwakilan kampung meliputi Kampung Bajo, Kampung Komodo, Kampung Beringin Baru, dan Kampung Beringin Jaya). Sebagai tambahan pengayaan informasi kepuasan dan persepsi pengunjung, Irkawati bermaksud mewawancarai setidaknya 5 orang wisatawan yang berkunjung ke Desa Pasir Panjang selama periode pengumpulan data. Irkawati mengetahui bahwa anggota POKDARWIS Native Rinca beranggotakan sebanyak 20 orang dan telah memperoleh Izin Usaha Pengusahaan Jasa Wisata Alam (IUPJWA) Perseorangan an. Eddi Sudrajat selaku Koordinator Pokdarwis Native Rinca. Kelompok ini pun telah mampu menghubungkan obyek daya tarik wisata alam yang ada di sekitar desa dan mengembangkannya menjadi sebuah paket perjalanan wisata desa (cultural tourism itinerary) yang ditawarkan kepada wisatawan. Kelompok yang mayoritas beranggotakan pemuda pemudi Desa Pasir Panjang ini telah berhasil memberikan pelayanan kepada hampir 2000 orang wisatawan dalam dua tahun terakhir (2021 – 2022). Lebih lanjut, Irkawati menggali informasi lebih dalam mengenai strategi pengembangan atraksi yang kelola oleh POKDARWIS Native Rinca. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, Irkawati memperoleh informasi bahwa kelompok ini tidak hanya mendapatkan asistensi dari Balai Taman Nasional Komodo, namun juga KEMENPAREKRAF/BAPAREKRAF pada tahun 2021 berupa pelibatan kelompok masyarakat dalam program AKSILARASI yaitu sebuah lokakarya berseri yang bertujuan untuk menciptakan dan mengembangkan potensi atraksi wisata alam dan buatan yang bisa dikelola dalam lingkup Desa Pasir Panjang. Salah satu produk program AKSILARASI adalah kelompok tari modern Animal Pop yang beranggotakan pemuda dan pemudi Desa Pasir Panjang. Grup tari modern ini menyuguhkan pertunjukan tari yang menggambarkan anatomi tubuh biawak komodo, pola perilaku biawak komodo, serta menghubungkannya dengan pengembangan legenda rakyat yang ada di Desa Pasir Panjang. Pada awal tahun 2022, kelompok tari Animal Pop ini pun berkesempatan untuk tampil dihadapan Menteri PAREKRAF dan berkesempatan untuk berkunjung ke Jakarta mengunjungi KEMENPAREKRAF/BAPAREKRAF dan mengikuti program City Tour DKI Jakarta. Selain Animal Pop, obyek daya tarik wisata alam (ODTWA) di Desa Pasir Panjang – Pulau Rinca pun sangat beragam yang berkaitan erat dengan jenis atraksi yang disuguhkan. Bagi wisatawan yang tertarik melakukan trekking dan wildlife watching dapat mengunjungi ODTWA Batu Balok, Gua Kalong, dan Wisata Alun-Alun Desa, sementara bagi wisatawan yang ingin melakukan snorkeling dapat mengunjungi Pulau Kambing dan Pulau Strawberry. Tidak hanya itu, wisatawan pun dapat menikmati wildlife watching di kala senja dengan mengamati kalong besar (Pteropus vampyrus) yang bangun dari pohon tidurnya untuk bersiap terbang keluar mencari makan. Wisatawan dapat menikmati momen ini dari atas kapal phinisinya masing-masing tanpa mengganggu mamalia terbang tersebut beraktivitas. Seluruh atraksi tersebut diramu menjadi sebuah itinerary khusus yang telah dipasarkan kepada beberapa agen perjalanan wisata di Labuan Bajo. Masyarakat Desa Pasir Panjang juga memiliki kebudayaan lokal yang masih dipraktikan hingga saat ini, salah satunya adalah seni tari tradisional “Manca Bajo”. Tari Manca Bajo sendiri merupakan pertunjukan pencak silat yang biasanya diperankan oleh laki-laki paruh baya yang secara berpasangan saling ‘berkelahi’ dan ditampilkan pada saat perayaan pernikahan atau acara khusus tertentu. Tarian ini besar pengaruhnya dari Suku Bima karena Pulau Rinca merupakan tempat singgah para nelayan Suku Bima yang beraktivitas pada perairan Pulau Rinca yang termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Bima pada tahun 1900an. Tari Manca Bajo turut diiringi alunan musik tradisional yang terdiri dari gong dan kangkong. Seiiring berkembangnya wisata desa, tarian ini pun dapat diperankan oleh laki-laki muda sebagai salah satu upaya pelestarian kebudayaan lokal Desa Pasir Panjang. Desa Pasir Panjang memiliki setidaknya 3 homestay bagi wisatawan yang ingin bermalam di Desa Pasir Panjang. Wisatawan dapat membayar biaya akomodasi (termasuk makan malam dan sarapan) sebesar Rp300.000,-/malam/orang. Pengalaman tinggal langsung pada rumah panggung penduduk setempat merupakan pengalaman bermalam yang juga cukup berkesan bagi sebagian penikmat wisata budaya. Namun demikian, jumlahnya masih sangat terbatas sehingga belum dapat mengakomodir wisatawan dalam jumlah yang banyak saat ini. Banyak faktor yang perlu menjadi perhatian pengelola homestay mulai dari kenyamanan kamar, kebersihan lingkungan, ketersediaan air dan makanan, ketersediaan listrik dan jaringan komunikasi, serta keamanan wisatawan saat menginap. Dengan berbagai macam aktivitas wisata desa yang berkembang, tentu peran POKDARWIS Native Rinca sangat besar dalam pengembangan pariwisata desa di Desa Pasir Panjang. Tidak hanya menyediakan lapangan pekerjaan sebagai pemandu, wargapun berkesempatan membuka peluang homestay atau penyewaan kapal dan peralatan snorkeling, hingga berkesempatan menyediakan peluang wisata kuliner tradisional. Meskipun kajian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengukur sejauh mana dampak ekonomi yang dibentuk oleh POKDARWIS Native Rinca di Desa Panjang, namun berdasarkan hasil pengamatan Irkawati, peluang-peluang usaha yang sudah berkembang saat ini tentu mendukung peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Desa Pasir Panjang. Irkawati merekomendasikan agar Pemerintah Desa Pasir Panjang dapat membuat program peningkatan kapasitas SDM bagi aktor- aktor kunci yang terlibat dalam lingkup pengelolaan wisata desa terkait pengelolaan wisata desa terbarukan sehingga dapat memahami tata kelola wisata desa dengan cermat dan seksama karena Desa Pasir Panjang berada dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Dukungan infrastruktur untuk Tourist Information Center serta penyusunan Standard Operational Procedure (SOP) pemanduan perlu dibantu oleh Pemerintah Desa menggunakan anggaran dana desa agar kualitas wisata dapat ditingkatkan. Selain itu, pengembangan wisata desa di Desa Pasir Panjang pun memerlukan bantuan dari Balai Taman Nasional Komodo berupa perlengkapan kepemanduan yang lengkap untuk meningkatkan jaminan keamanan dan keselamatan wisatawan saat melakukan trekking dan wildlife watching di hutan. Irkawati berharap Balai Taman Nasional Komodo dapat memberikan asistensi berkala kepada seluruh anggota POKDARWIS Native Rinca dan perangkat Desa Pasir Panjang untuk dapat saling berkolaborasi memajukan Desa Pasir Panjang lebih baik lagi kedepannya. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (SIARAN PERS No: PG.28/T.17/TU/HMS.3/10/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000
Baca Artikel

"Simpul Belajar" Balai TN Komodo di Green Youth Movement 2023

Labuan Bajo, 27 Agustus 2023. Balai Taman Nasional Komodo berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan konservasi dan lingkungan Green Youth Movement (GYM) yang diselenggarakan oleh KLHK secara serentak bersama dengan seluruh Balai Taman Nasional dan Balai KSDA se-Indonesia mulai tanggal 20 – 26 Agustus 2023. Kegiatan ini menitikberatkan pola keikutsertaan bagi para pelajar SMA/SMK yang berada pada lingkup wilayah Unit Pelaksana Teknis (UPT) taman nasional dan KSDA yang selanjutnya disebut dengan “Simpul Belajar”. Balai Taman Nasional Komodo berhasil mengirimkan peserta sebanyak 16 orang pelajar SMA/SMK. Adapun sekolah yang mengirimkan perwakilan siswanya dalam Simpul Belajar Taman Nasional Komodo, antara lain: SMKN 1 Labuan Bajo (4 orang), SMKN 3 Komodo (2 orang), SMK Stella Maris Labuan Bajo (2 orang), SMAN 1 Komodo (2 orang), SMAN 2 Komodo (2 orang), SMA Lentera Harapan (2 orang), dan SMAK St. IgnatiusLoyola Labuan Bajo (2 orang). Siswa-siswi yang diutus merupakan para pelajar unggulan di masing-masing sekolah yang memiliki kecakapan, keterampilan, dan wawasan konservasi yang mumpuni. Balai Taman Nasional Komodo menunjuk Muhammad Ikbal Putera (PEH Ahli Muda) dan Arif Ardianto Sofian (Polhut Ahli Pertama) sebagai pendamping program. Kegiatan pendampingan peserta GYM ini juga melibatkan mahasiswa magang Balai Taman Nasional Komodo dari Prodi Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung dan Prodi Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya. Selama in-class training, para peserta diajarkan materi-materi penting oleh para narasumber ahli dalam bidang teknisnya masing-masing. Materi yang diajarkan kepada peserta meliputi: peran pemuda dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup, menjadi konten kreator muda yang keren, memahami konsep dan gerakan green lifestyle bagi anak muda, memahami isu perubahan iklim, memahami konsep rehabilitasi hutan dan perlindungan keanekaragaman hayati, serta membuat inovasi hijau. Pada setiap proses pembelajarannya, para peserta mendapatkan serangkaian pertanyaan untuk menjadi bahan diskusi dalam simpul belajarnya masing-masing guna mengasah kreativitas, kerja kelompok, dan kemampuan berpikir kritis. Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, menyampaikan bahwa kegiatan GYM ini sangat positif bagi kemajuan pendidikan konservasi dan lingkungan para pelajar di Kabupaten Manggarai Barat. “Penyelenggaraan Green Youth Movement oleh KLHK sangat bagus. Saya rasa kegiatan yang melibatkan banyak kaum muda ini dapat meningkatkan rasa kecintaan mereka terhadap Taman Nasional Komodo dan alam lingkungannya. Kami akan berusaha memastikan kolaborasi kegiatan dengan sekolah tidak berhenti sampai disini dan akan berupaya menyelenggarakan kegiatan kolaboratif selanjutnya bersama siswa-siswi di Labuan Bajo”, tutur Hendrikus. Sebagai penutup rangkaian in-class training, Balai Taman Nasional Komodo membuat video GYM Simpul Belajar Taman Nasional Komodo yang dapat dilihat melalui tautan berikut: https://www.instagram.com/reel/CwcBnVHMpXE/?igshid=MzRlODBiNWFlZA== Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (SIARAN PERS No: PG.28/T.17/TU/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Identifikasi Jenis Vegetasi Sekitar Sarang Biawak Komodo di Resort Loh Baru Pulau Rinca

Labuan Bajo, 18 Agustus 2023. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Kehutanan Universitas Mataram, Cintana Cahya Ramadhella, melaksanakan kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo mulai tanggal 21 Juni – 20 Agustus 2023. Cintana berhasil melalui tahap seleksi administrasi program magang Junior Park Ranger (JPR) yang dikenal sangat ketat. Balai Taman Nasional Komodo mewajibkan mahasiswa magang memiliki sebuah Small Scale Research (SSR) berkaitan dengan pengelolaan Taman Nasional Komodo sesuai dengan topik peminatannya masing-masing. Cintana mengusung topik “Identifikasi Jenis Vegetasi Sekitar Sarang Biawak Komodo di Resort Loh Baru Pulau Rinca” dibawah supervisi Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) dan Maiser Syaputra (Dosen Prodi Kehutanan Universitas Mataram). Cintana tertarik mendalami topik vegetasi di sekitar sarang biawak komodo karena ingin mengetahui pengaruh vegetasi tertentu terhadap preferensi biawak komodo dalam membuat sarang atau memilih sarang eksisting di alam. Lokus pengamatan yang dipilih adalah beberapa jalur jelajah patroli pada Resort Loh Baru, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Cintana berkesempatan mengumpulkan data di Resort Loh Baru pada tanggal 11 – 20 Juli 2023 dengan didampingi oleh petugas Resort Loh Baru dan salah satu rekan mahasiswa magang Prodi Kehutanan Universitas Mataram, Syaiful Imam. Cintana memulai tahap pengumpulan data dengan melakukan studi literatur untuk memperdalam wawasan mengenai siklus reproduksi biawak dan mewawancarai petugas mengetahui titik sarang biawak komodo yang berada pada jalur jelajah patroli Resort Loh Baru di Pulau Rinca. Cintana selanjutnya melakukan peninjauan lapangan ke jalur jelajah dan patroli Resort Loh Baru untuk mengonfirmasi data yang disampaikan petugas saat wawancara. Berdasarkan hasil observasi, Cintana menemukan tujuh sarang biawak komodo, dimana enam diantaranya merupakan sarang aktif dan satu sarang diduga tidak aktif. Menariknya, sarang biawak komodo yang ditemukan beragam, diantaranya: sarang gundukan yang merupakan bekas sarang burung gosong (4 sarang), sarang tanah (1 sarang), dan sarang tebing (2 sarang). Selanjutnya, Cintana membuat peta percontohan berukuran 20 x 20 m guna menginventarisasi vegetasi, utamanya kelas pohon. Cintana menemukan 14 individu pohon dalam plot percontohan dengan dua jenis spesies dominan, meliputi: asam jawa (Tamarindus indica) dan kesambi (Scheleichera oleosa). Hasil identifikasi jenis pohon ini beresonansi dengan studi literatur yang Cintana pelajari bahwa biawak komodo secara alamiah meletakan telur dalam sarang dengan suhu rata-rata berkisar 29oC – 30oC. Suhu tanah menjadi penentu peluang pengembangan jenis kelamin jantan dan betina bagi biawak komodo, sehingga teduhan yang diberikan oleh vegetasi sangat berpengaruh terhadap preferensi suhu yang diperlukan untuk penetasan. Keberadaan vegetasi pohon turut memberikan manfaat bagi tetasan (hatchling) biawak komodo di alam. Tetasan biawak komodo yang baru lahir akan secara alamiah mencari dan naik ke atas pohon untuk hidup secara arboreal (diatas permukaan tanah) selama 5 tahun pertama dalam siklus hidupnya untuk menghindari predasi, utamanya biawak komodo dewasa lain selain induknya. Pepohonan memberikan habitat dan sumber pakan yang sesuai bagi tetasan biawak komodo, meliputi: serangga, burung/telur burung, cicak, tokek. Cintana berpendapat bahwa keberadaan vegetasi di sekitar sarang biawak komodo perlu mendapatkan perhatian petugas Balai Taman Nasional Komodo. Cinta merekomendasikan agar pepohonan yang berada di sekitar sarang biawak komodo dalam petak plot berukuran 20 x 20 m diberikan papan nama untuk memudahkan proses identifikasi jenis tumbuhan baik oleh petugas maupun mahasiswa magang/penelitian. Penamaan jenis pohon akan memudahkan petugas dan mahasiswa untuk melakukan inventarisasi jenis dan jumlah dengan lebih cepat. Observasi rutin status sarang biawak komodo pun perlu dilakukan secara berkala oleh petugas Resort Loh Baru untuk memastikan agar tidak adanya vegetasi pohon yang tumbang/mengganggu lubang sarang biawak komodo. Cintana merasa sangat senang melaksanakan magang di Balai Taman Nasional Komodo. Pengalaman belajar langsung di kawasan Taman Nasional Komodo merupakan pengalaman yang sangat berharga karena mahasiswa dapat mengamati berbagai satwa liar dan tumbuhan di alam. Pengalaman ini tentu akan berdampak positif bagi Cintana dan memberikan gambaran utuh mengenai dinamika pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. Cintana berharap agar mahasiswa Prodi Kehutanan Universitas Mataram dapat melaksanakan magang di Balai Taman Nasional Komodo pada kesempatan yang akan datang. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (SIARAN PERS No: PG.29/T.17/TU/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Kehutanan Universitas Mataram - Cintana Cahya Ramadhella (+6281216013535) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Kunjungi Cagar Alam Terbakar, Ini Kata Kepala BBKSDA Jatim

Pasuruan, 21 Oktober 2023. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Nur Patria Kurniawan, beserta Kepala Bidang Teknis dan Kepala Seksi KSDA Wilayah VI melakukan tinjauan lapangan ke Cagar Alam (CA) Gunung Abang yang terletak di Desa Kedungpengaron – Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (21/10). Pada kesempatan tersebut, rombongan melihat areal bekas kebakaran yang terjadi beberapa hari yang lalu dan progres pemulihan ekosistem di Gunung Abang. “Kedepannya, pemulihan ekosistem (PE) di Gunung Abang perlu diperbanyak tumbuhan jenis ficus, agar tutupan vegetasinya dapat meningkat,” tambah Nur Patria di sela-sela diskusi bersama rekan-rekan Resort Konservasi Wilayah (RKW) 20 Pasuruan. Selanjutnya, rombongan meninjau progres bantuan ekonomi produktif pada kelompok konservasi Sejahtera di Desa Kedungpengaron. Kelompok ini dibentuk beberapa waktu yang lalu untuk menerima bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan, agar dapat melakukan usaha ekonomi. Dan kegiatan yang dipilih adalah ternak ayam petelur. BBKSDA Jawa Timur telah melakukan Pelatihan Peningkatan Usaha Ekonomi Produktif Kelompok Konservasi Sejahtera dengan mendatangkan narasumber yang kompeten dalam bidang budidaya ayam petelur ini. Semoga usaha produktif masyarakat dalam meningkatkan ekonomi dapat berjalan dan menguntungkan. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mengukur Tingkat Kepuasan Pengunjung di Resort Gililawa

Labuan Bajo, 10 September 2023. Mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Mataram, Ayu Nazira, dinyatakan lulus seleksi magang dan berkesempatan melaksanakan pembelajaran secara langsung di Balai Taman Nasional Komodo selama lebih dari 40 hari kerja. Ayu bersama dengan 5 anggota kelompok magangnya melaksanakan magang mulai tanggal 22 Juni – 20 Agustus 2023. Sebagai salah satu persyarat wajib yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa magang, Ayu Nazira perlu menentukan satu judul Small Scale Research (SSR) mengenai topik tertentu yang berkaitan dengan pengelolaan Taman Nasional Komodo. Adapun judul SSR tersebut terkait kepuasan pengunjung yang berkunjung ke Resort Gililawa. Resort Gililawa merupakan resort jaga yang berada di Pulau Gililawa Darat yang memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi kegiatan pariwisata alam bagi pengunjung yang datang ke Taman Nasional Komodo. Resort ini berada dalam lingkup wilayah pengelolaan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II,Balai Taman Nasional Komodo dibawah pengawasan Luqman Hidayat (Kepala SPTN Wilayah II) dan Banu Widyanarko (Kepala Resort Gililawa). Keindahan bentang alam di Pulau Gililawa Darat sangat cantik dengan warna kuning kehijauan, rumputnya bergoyang diterpa angin yang kering melintasi area lembah dan perbukitan. Menariknya, Pulau Gililawa Darat tidak dihuni oleh biawak komodo dan tidak memiliki sumber mata air. Satu-satunya satwa yang hidup di Pulau Gililawa Darat adalah rusa timor (Rusa timorensis) dan elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster) yang mampu bertahan pada ekosistem padang sabana yang tidak memiliki sumber mata air. Wisatawan dapat melakukan kegiatan trekking (penelusuran hutan) ke arah Puncak Gililawa dan melakukan snorkeling ataupun diving pada perairan di sekitarnya. Selain keindahan bentang alamnya, Pulau Gililawa Darat juga tampak sangat menawan dari udara oleh karena warna biru laut yang sangat kontras dengan warna kuning padang sabananya. Sebanyak 2687 kunjungan wisatawan tercatat beraktivitas di Resort Gililawa (Januari - Juni 2023). Wisatawan banyak berasal dari mancanegara maupun nusantara. Namun, belum banyak diketahui apakah kunjungan kelompok wisatawan ini mencapai kepuasan yang diharapkan oleh masing-masing pengunjung. Untuk mengetahui fenomena sosial tersebut, Ayu berusaha untuk mengukur tingkat kepuasan wisatawan yang berkunjung ke Resort Gililawa dengan menggunakan kuisioner sebagai instrumen yang tepat saat melakukan intercept setiap respondennya. Kegiatan pengumpulan data SSR ini dilakukan mulai tanggal 11 – 21 Juli 2023 di Resort Gililawa. Jumlah sample sebanyak 40 responden wisatawan. Wisatawan tersebut diminta kesediaannya mengisi kuisioner secara sukarela dan acak. Responden diminta mengisikan item dengan skala Likert (Skor 1 – 5) untuk melihat preferensi persepsi kepuasannya masing-masing selama berada di Taman Nasional Komodo. Adapun hasil perhitungan penilaian skoring nilai tingkat kepuasan wisatawan yang diperoleh adalah 64,92 dengan kategori “Sangat Puas”. Wisatawan menunjukan tingkat loyalitas dengan rata-rata nilai mencapai 13,97 dengan kategori “Sangat Puas”. Berdasarkan pengamatan umum, diduga bahwa tingkat loyalitas pengunjung sangat bergantung dengan tingkat kepuasaan yang dirasakan selama berkunjung. Salah satu indikator bahwa seorang wisatawan memiliki tingkat kepuasan dan loyalitas yang tinggi adalah terjadinya word of mouth, dimana wisatawan akan menceritakan pengalaman perjalanan dan keunikan dari destinasi wisata tersebut kepada orang terdekat atau koleganya. Selain melaksanakan kegiatan SSR, Ayu Nazira juga terlibat berbagai kegiatan resort-based management (RBM) bersama petugas Resort Gililawa. Salah satu kegiatan yang diikuti adalah patrol daratan maupun perairan di wilayah pengelolaan Resort Gililawa. Ayu diajarkan mengambil data menggunakan aplikasi Cyber Track untuk menginput titik perjumpaan satwa liar dan tumbuhan yang ditemui pada jalur trekking atau jalur jelajah Resort Gililawa. Ayu merasa pengalaman magangnya di Balai Taman Nasional Komodo sangat berkesan dan sangat bermanfaat untuk pengembangan diri serta karirnya di masa depan. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (SIARAN PERS No: PG.25/T.17/SET.2/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Kehutanan Universitas Mataram - Ayu Nazira (+6287864311802) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Identifikasi Jenis Sampah di Pesisir Kampung Rinca

Labuan Bajo, 19 Agustus 2023. Balai Taman Nasional Komodo menerima mahasiswa magang dari berbagai latar belakang pada perguruan tinggi dan luar negeri pada tahun 2023. Kali ini, mahasiswa Kehutanan Universitas Mataram, Abdul Hamid, berhasil lulus seleksi program magang (JPR) Balai Taman Nasional Komodo mulai tanggal 22 Juni – 18 Agustus 2023 dengan mengusung Small Scale Research (SSR) berjudul “Identifikasi Jenis dan Titik Timbunan Sampah di Pesisir Kampung Rinca”. Abdul Hamid tertarik untuk melakukan pendalaman isu sosial terkait dengan permasalahan sampah di dalam Zona Khusus Taman Nasional Komodo, utamanya di Resort Kampung Rinca – Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Supervisor magang Balai Taman Nasional Komodo, Muhammad Ikbal Putera (PEH Ahli Muda), menempatkan Hamid di Resort Kampung Rinca untuk melakukan pengumpulan data SSR dengan didampingi oleh Fahri Ikhlas (Kepala Resort Kampung Rinca). Dalam prosesnya, Hamid berupaya untuk mengidentifikasi jenis sampah dan titik lokasi timbulan sampah di wilayah pesisir pantai Kampung Rinca antara tanggal 01 – 10 Juli 2023 dengan membuat jalur transek sepanjang 100 m dan plot sampling seluas 20 x 20 m. Data pendukung juga diperoleh melalui wawancara responden kunci dan studi literatur mengenai pengelolaan sampah di dalam kawasan konservasi. Abdul Hamid berhasil mengidentifikasi 8 jenis sampah dengan klasifikasi jenis, antara lain: organik, kain/tekstil, karet, plastik, logam, gelas/kaca, kertas, sterofoam, dan jaring bekas nelayan. Terdapat setidaknya 318.8 Kg sampah yang berhasil ditimbang dengan dominasi sampah berbahan dasar plastik (27.6%) dengan kepadatan 0.004 item/m2. Selain plastik, komposisi dominan lainnya adalah sampah organik (26.9%; kepadatan 0.043 item/m2), sterofoam dan jaring bekas nelayan (2.8%; kepadatan 0.0045 item/m2). Berdasarkan pengamatan langsung, sumber sampah yang ditemukan sebagian besar berasal dari aktivitas masyarakat, pariwisata alam, dan sampah kiriman (floatsam). Meskipun penanganan sampah sulit untuk dilakukan secara menyeluruh tanpa adanya aksi kolektif dari seluruh lapisan masyarakat, Abdul Hamid merekomendasikan agar kegiatan penyadartahuan secara rutin dilakukan oleh berbagai pihak, utamanya Balai Taman Nasional Komodo dan Pemerintah Desa Pasir Panjang, untuk dapat menyadartahukan pentingnya kelestarian lingkungan bagi masyarakat Desa Pasir Panjang di Pulau Rinca. Lebih lanjut, Hamid juga menyarankan agar dikembangkan sistem penanganan dan pengurangan sampah dengan metode yang lebih efektif dengan menggunakan teknologi terbarukan. Balai Taman Nasional Komodo juga dapat melibatkan POKDARWIS Native Rinca untuk membantu sosialisasi reduce plastic policy bagi masyarakat Pasir Panjang dan wisatawan dengan menekankan pentingnya penggunaan tumbler saat berkunjung ke Taman Nasional Komodo. Abdul Hamid merasa kegiatan belajar dan bekerja di Balai Taman Nasional Komodo merupakan pengalaman yang luar biasa dan tidak terlupakan. Penekanan pembinaan pada pengembangan kapasitas diri menjadi nilai plus yang dimiliki oleh program magang JPR Balai Taman Nasional Komodo yang mungkin tidak ditemukan di lokasi pembelajaran yang lain. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (SIARAN PERS No: PG.24/T.17/TU/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Prodi Kehutanan Universitas Mataram - Abdul Hamid (+6282340244650) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Identifikasi Jenis Reptil Famili Scincidaedi Resort Loh Buaya – Pulau Rinca

Labuan Bajo, 18 Agustus 2023. Small Scale Research merupakan prasyarat utama yang wajib dipenuhi oleh mahasiswa (D3/S1/S2/S3) yang melaksanakan kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa perlu mempelajari pengelolaan Taman Nasional Komodo secara mandiri dan mengusulkan judul miniriset yang sesuai dengan minat pendalamannya masing-masing. Mahasiswa yang topik SSR sudah disetujui maka dapat melaksanakan magang dalam program Junior Park Ranger (JPR) Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa Kehutanan dari Universitas Mataram, Ahmad Luqman Sani, melaksanakan kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo mulai tanggal 22 Juni – 20 Agustus 2023. Luqman diterima dalam program magang JPR Balai Taman Nasional Komodo setelah judul SSR yang diajukan telah disetujui. Adapun judul SSR yang diajukan adalah Identifikasi Jenis Reptil Famili Scincidaedi Resort Loh Buaya – Pulau Rinca. Selain pemenuhan kewajiban SSR, Universitas Mataram memberikan beberapa butir capaian pembelajaran yang mahasiswa perlu penuhi saat melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di industri secara langsung. Capaian pembelajaran tersebut meliputi topik, diantaranya: Administrasi Kehutanan, Pengelolaan Keselamatan Kerja, Perencanaan Hutan, Perlindungan Hutan, Pengawetan Hutan, Pemanfaatan Hutan, dan Pemberdayaan Masyarakat. Luqman memilih topik SSR dengan judul identifikasi reptil Scincidae karena tertarik untuk mengetahui dan menambah informasi keanekaragaman jenis reptil di Lembah Loh Buaya. Reptil Scincidae dipilih karena memiliki peran penting dalam ekosistem yaitu sebagai salah satu sumber pakan biawak komodo tetasan (hatchling) dan remaja (juvenile) yang perlu diketahui jenis dan persebarannya di Lembah Loh Buaya. Luqman menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES) dengan kombinasi Time Search pada lokasi penelitian yang telah ditentukan meliputi jalur trekking wisata Hidden Nirvana, jalur jelajah Wae Waso, dan jalur jelajah Loh Kima. Lokasi ini dipilih berdasarkan informasi anecdotal evidence petugas Resort Loh Buaya yang menyampaikan bahwa pada jalur-jalur tersebut seringkali terlihat reptil famili Scincidae saat berkegiatan. Selanjutnya, Luqman akan menggunakan aplikasi iNaturalist untuk membantu proses identifikasi jenis melalui kesesuaian data gambar primer dengan gambar sekunder yang sudah terverifikasi dan tervalidasi. Luqman menemukan 27 individu dari 3 spesies famili Scincidae yang ditemukan, diantaranya: kadal sunda leher hitam (Sphenomorphus melanopogon), kadal belang flores (Sphenomorphus striolatus), dan kadal berekor biru (Cryptoblepharus renschi). Temuan spesies ini memiliki kesesuaian temuan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kennedi, et al. (2022) yang menemukan 4 spesies dari famili Scincidae di Loh Buaya – Pulau Rinca. Adapun satu dari empat jenis kadal yang tidak dijumpai oleh Luqman adalah kadal pantai dun (Emoia similis). Spesies kadal sunda leher hitam (Sphenomorphus melanopogon) yang ditemukan adalah sebanyak 4 individu pada pagi hari sekitar pukul 07:00 – 08:00 WITA, sedangkan untuk spesies kadal belang flores (Sphenomorphus striolatus) ditemukan sebanyak 22 individu pada pagi dan malam hari sekitar pukul 07;00 – 08:00 WITA dan 19:00 – 20:00 WITA dengan lokasi perjumpaan bervariasi meliputi diatas tanah, tumpukan serasah, cabang pohon, lubang pohon, dan beberapa kali kesempatan pada dinding bangunan pos jaga. Adapun spesies kadal berekor biru (Cryptoblepharus renschi) ditemukan sebanyak satu individu pada pagi hari sekitar pukul 08:00 – 09:00 WITA dengan lokasi perjumpaan pada dinding pagar belakang bangunan Pusat Informasi yang merupakan awal dari jalur kunjungan wisatawan Hidden Nirvana di Loh Buaya. Berdasarkan studi literatur diperoleh informasi bahwa jenis pakan kadal Sphenomorphus sp. adalah serangga, jentik nyamuk, nyamuk dan mikroorganisme berukurannya kecil lainnya (Sukardi & Sinery, 2018). Spesies famili Scincidae berperan sebagai satwa kontrol yang mengendalikan populasi serangga di alam. Luqman berharap agar kajian terhadap satwa pakan biawak komodo (selain mamalia) dapat dilakukan oleh Balai Taman Nasional Komodo secara berkala untuk memastikan keseimbangan ekosistem di Taman Nasional Komodo. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (Siaran Pers No: PG.26/T.17/TU/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Kehutanan Universitas Mataram - Ahmad Luqman Sani (+6285238996955) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Konflik Satwa Liar di Jawa Tengah Menjadi Perhatian Bersama

Semarang,18 Oktober 2023 - Sedulur Merapi tentu tak asing Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Jenis ini merupakan salah satu satwa liar penyusun komponen biotik ekosistem. Dalam kestabilan ekossitem, interaksi antara satwa liar dengan lingkungannya menciptakan keseimbangan ekosistem. Namun saat ekosistem terganggu, interaksi antara satwa liar dan manusia mengakibatkan efek negatif kepada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya manusia, serta pada konservasi satwa liar. Letusan terakhir Gunung Merapi pada tahun 2010 memberikan perubahan signifikan bagi penyebaran dan perilaku satwa liar, tidak terkecuali monyet ekor panjang. Letusan Merapi yang menyebabkan rusaknya sebagian habitat akibat awan panas memaksa monyet ekor panjang turun gunung sampai ke lahan pertanian dan permukiman masyarakat sekitar lereng Merapi. Kemudahan memperoleh pakan di areal pertanian, lambat laun mengubah perilaku monyet ekor panjang. Mereka menjadi lebih sering beraktivitas di sekitar permukiman penduduk. Hal inilah yang memicu terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar. Konflik manusia dan satwa liar harus diselesaikan sebelum menimbulkan dampak signifikan dan dianggap meresahkan. Untuk wilayah Jawa Tengah, konflik satwa liar terutama monyet ekor panjang dengan manusia mendapat perhatian serius, karena sudah banyak keluhan masuk dari masyarakat bahkan di beberapa kasus merusak fasilitas negara. Untuk itulah Balai Taman Nasional Gunung Merapi pada Rabu, 18 Oktober 2023 mengikuti kegiatan Koordinasi Penanganan Konflik Satwa liar bersama para stakeholders, yang dilaksanakan di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah di Semarang. Tujuan kegiatan ini untuk menguatkan barisan dalam penanganan konflik satwa liar - manusia di wilayah Jawa Tengah. Jenis satwa liar yang mengalami konflik dengan manusia di Jawa Tengah antara lain Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Buaya muara (Crocodilus porosus), Macan tutul (Panthera pardus), dan Babi hutan (Sus scrofa). Dari keempat jenis satwa liar tersebut, Monyet ekor panjang paling sering berkonflik dengan manusia sampai pada level menyerang manusia terutama manula dan anak-anak. Melalui kegiatan koordinasi ini diharapkan mampu mempercepat proses perencanaan dan penanganan konflik manusia dan satwa liar di wilayah Jawa Tengah melalui penyusunan draft Tim Koordinasi Penanggulangan Konflik Manusia - Satwa liar, dan Satgas Penanggulangan Konflik Manusia - Satwa liar. Tim Koordinasi dan Satgas ini akan disahkan dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Tengah. Tim Humas TN Merapi
Baca Artikel

BKSDA Sumsel Lakukan Evaluasi Pengelolaan Lima Kawasan Konservasi Bersama Para Pihak Melalui Perangkat METT

Palembang, 18 Oktober 2023 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) melaksanakan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di lima kawasan, meliputi Suaka Margasatwa (SM) Dangku, SM Gunung Raya, SM Isau-Isau, Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu, dan TWA Isau-Isau dengan menggunakan perangkat Manajemen Effectiveness Tracking Tool atau yang biasa disingkat METT. Kegiatan ini mengevaluasi sejauh mana upaya pengelolaan suatu kawasan konservasi dilakukan telah dilaksanakan, apakah sudah efektif atau masih harus ditingkatkan. Aspek-aspek penilaian dikelompokkan dalam enam aspek utama, yaitu pemahaman akan konteks dari kawasan konservasi, perencanaan terhadap pengelolaan kawaswean, alokasi sumber daya (input), kegiatan-kegiatan pengelolaan yang dilakukan sesuai dengan standar yang bisa diterima (proses), produk dan jasa (output), serta dampak atau outcome yang dicapai. Penilaian efektivitas kawasan konservasi melibatkan para pihak terkait, mulai dari BKSDA Sumsel selaku pengelola kawasan konservasi serta keterlibatan dan dukungan para pihak meliputi unsur pemerintah daerah setempat, akademisi, LSM, perusahaan/swasta, dan masyarakat sekitar kawasan konservasi lingkup wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim, dan Kota Palembang. Penilaian dilaksanakan di tiga lokasi dengan keikutsertaan para pihak berdasarkan lingkup wilayah pengelolaan kawasan konservasi, yaitu di Kota Palembang, Kota Baturaja, dan Kabupaten Lahat. Berdasarkan hasil penilaian, kelima kawasan mengalami peningkatan persentase nilai dari penilaian dua tahun sebelumnya yaitu SM Dangku (80%), SM Gunung Raya (68%), SM Isau-Isau (80%), TWA Punti Kayu (76%), dan TWA Isau-Isau (70%). Setelah dilakukan penilaian dan pemberian rekomendasi pengelolaan kawasan konservasi oleh para pihak, BKSDA Sumsel akan menyampaikan laporan hasil tersebut ke Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi untuk lebih lanjut dilakukan verifikasi sebagai dasar penetapan nilai pengelolaan kawasan konservasi pada kelima kawasan tersebut. Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Artikel

Peliputan Workshop Inventarisasi dan Verifikasi Kawasan dengan Nilai Keanekaragaman Hayati Tinggi

Malang, 20 Oktober 2023 - Pembukaan dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Oktober 2023 di Ballroom, Hotel Atria Malang, kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balai Besar Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTS) dan dihadiri oleh masing-masing perwakilan Unit Pelaksana Teknis yang membidangi / walidata spasial. Workshop kegiatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa data yang ada dapat dimanfaatkan dengan optimal. Masih banyaknya keragaman jenis yang dimiliki oleh masing-masing Satker UPT, sehingga diperlukan adanya panduan pelaksanaan kegiatan inver tahun 2020-2024 yang disusun oleh Direktorat Perencanaan KK. Panduan ini menjadi dasar agar untuk memverifikasi sehingga data dapat terstruktur dan terintegrasi dalam Sistem informasi, ganti dengan sambutan Kepala Balai Besar TN BTS Kegiatan ini menjadi langkah Ditjen KSDAE dalam mengoptimalkan pengelolaan kawasan konservasi. Pada kesempatan tersebut hadir pula Kepala Sub Direktorat Inventarisasi dan Pemolaan Kawasan Konservasi yang menyampaikan bahwa hasil dari inventarisasi akan dituangkan dalam bentuk laporan dan hasill inventarisasi ini akan berupa data spasial dan selanjutnya akan dibuat dalam sistem digital yang disebut e-reporting. Dalam kegiatan workshop ini diharapkan dari kegiatan inventarisasi dan verifikasi kawasan yang telah sesuai dengan Panduan Pelaksanaan Kegiatan Inventarisasi dan Verifikasi Kawasan dengan Nilai Keanekaragaman Hayati Tinggi Secara Partisipatif di Kawasan Konservasi tahun 2020-2024 sebagai bahan penyusunan laporan Hasil Inventarisasi dan Verifikasi Kawasan hingga tahun 2023. Sumber: Setditjen KSDAE
Baca Artikel

Penyerahan Bantuan Terhadap Tiga Kelompok Binaan TN Gunung Merapi

Magelang, 17 Oktober 2023 - Bertempat di Kantor Balai Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Srumbung, dilaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) atau Sosialisasi Bantuan Usaha Ekonomi Produktif Bagi Masyarakat Sekitar Kawasan TN Gunung Merapi. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Juga hadir pada kesempatan ini anggota Komisi IV DPR RI Vita Ervina, S.E., M.B.A., Plt. Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Forkompinca Dukun, Kepala Desa Ngargomulyo, Kepala Desa Keningar, Kepala Desa Paten, Kepala Desa Ketunggeng, Mitra BTNGM, dan awak media. Pada kesempatan ini, Kepala BTNGM bersama Vita Ervina, selaku anggota komisi IV DPR RI menyerahkan secara simbolis kepada 3 (tiga) mitra/kelompok binaan BTNGM yaitu Kelompok Tani Hutan (KTH) Babadan Asri Desa Paten sebesar Rp 35.000.000, KTH Hutan Lestari Desa Keningar sebesar Rp 25.000.000, dan KTH SPKP Merapi Asri Desa Ngargomulyo sebesar Rp 30.0000.000. Bantuan tersebut berasal dari dana DIPA BTNGM tahun anggaran 2023. Dapat diinformasikan, terdapat 30 (tiga puluh) desa penyangga kawasan konservasi BTNGM. Di Kabupaten Magelang terdapat Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Dukun dan RPTN Srumbung dengan total 10 (sepuluh) desa penyangga. Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh BTNGM telah memberikan dampak ekonomi. Salah satunya melalui pemberian bantuan usaha ekonomi produktif kepada kelompok binaan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat sekitar kawasan. Kemudian dalam sambutannya, Widodo, selaku Kepala Desa Ngargomulyo, menyampaikan selamat datang kepada tamu undangan dan narasumber yang hadir serta terima kasih atas penyelenggaraan kegiatan di desanya. Bimtek kali ini cukup istimewa, karena menghadirkan empat narasumber, yaitu Muhammad Wahyudi, S.P., M.Sc. selaku Kepala Balai TNGM memaparkan nilai penting keberadaan kawasan dan upaya Pemberdayaan Masyarakat di TNGM. Kedua, Gunawan Yudi Nugroho, S.STP., M.M. selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Magelang menyampaikan Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Magelang. Ketiga, Ir. Slamet Rohadi, M.P. selaku Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IX menyampaikan Program Pemberdayaan Masyarakat di CDK Wilayah IX. Selanjutnya, Vita Ervina, selaku anggota Komisi IV DPR RI, yang dalam kesempatan ini menyampaikan sambutan dan arahannya terkait program pemberdayaan masyarakat. Disampaikannya bahwa komitmen pemerintah untuk hadir di tengah-tengah masyarakat diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Harapannya, bantuan yang diberikan menjadi stimulus masyarakat. Vita memberikan arahan agar dibangun sekolah alam sehingga anak-anak sejak dini mengetahui potensi alam dan tumbuh kesadaran untuk melestarikannya. Di akhir acara, Muhammad Wahyudi, berharap agar masyarakat di sekitar kawasan TNGM dapat ikut menjaga kawasan dikarenakan TNGM memiliki nilai penting yang harus dijaga kelestariannya. Sumber: Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

Harmonisasi Adat dan Agama Lestarikan Hutan Konservasi

Stabat, 18 Oktober 2023. Kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut seluas 14.827 Ha. merupakan satu-satunya hutan konservasi dengan ekosistem mangrove di Provinsi Sumatera Utara. Terdapat 14 desa sekitar kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut yang kehidupannya sangat tergantung kepada keberadaan kawasan. Budaya Melayu pesisir sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitar kawasan ini. Karena itu, beberapa nilai-nilai dari budaya Melayu menjadi cara pandang, kebiasaaan, maupun kearifan lokal terhadap keberadaan hutan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Disamping itu, hampir 90% masyarakat di 14 desa di sekitar kawasan menganut agama Islam dan nilai-nilai Islami juga sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat termasuk cara pandang terhadap pengelolaan dan pemanfaatan kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan KFW dan Pemerintah Kabupaten Langkat memandang bahwa penyadartahuan dan perubahan sikap masyarakat terhadap keberadaan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut dapat terbentuk melalui adat dan agama. Pemikiran inilah kemudian menggagas lahirnya Kegiatan Festival Masyarakat Adat dan Agama Desa Sekitar kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut Tahun 2023. Sebelum puncak acara Festival yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 21 Oktober 2023, terlebih dahulu telah dilakukan rangkaian kegiatan Road To Festival di dua desa sekitar kawasan yaitu Desa Suka Maju, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, pada Kamis 12 Oktober 2023 dan Desa Tanjung Ibus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, pada Senin 16 Oktober 2023, dengan berbagai perlombaan yang bertema keagamaan dan kearifan masyarakat lokal yang berisi pesan moral perlindungan kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, seperti : lomba takhtim ibu, lomba mewarnai tingkat TK-SD kelas I, lomba Da’i cilik, lomba mengikat kepiting dan pameran produk lokal. Perlombaan diikuti oleh warga desa di sekitar lokasi kegiatan dan mendapat antusias yang luar biasa mengingat kegiatan-kegiatan seperti ini belum pernah ada sebelumnya. Berbagai kalangan, baik yang masih muda belia sampai orangtua larut dalam kegembiraan mengikuti perlombaan. Bahkan di Desa Tanjung Ibus, anak disabilitas (tuna rungu) pun tidak mau ketinggalan ikut serta dalam perlombaan mewarnai. Melihat antusiasnya warga yang ikut dalam perlombaan di dua desa ini tentunya menjadi media edukasi dan awaraness (penyadaran) dalam membangun kepedulian akan arti penting keberadaan kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut, sehingga kelestariannya tetap harus dijaga untuk kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 961–976 dari 2.311 publikasi