Jumat, 29 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Identifikasi Jenis Vegetasi Sekitar Sarang Biawak Komodo di Resort Loh Baru Pulau Rinca

Labuan Bajo, 18 Agustus 2023. Mahasiswa Program Studi (Prodi) Kehutanan Universitas Mataram, Cintana Cahya Ramadhella, melaksanakan kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo mulai tanggal 21 Juni – 20 Agustus 2023. Cintana berhasil melalui tahap seleksi administrasi program magang Junior Park Ranger (JPR) yang dikenal sangat ketat. Balai Taman Nasional Komodo mewajibkan mahasiswa magang memiliki sebuah Small Scale Research (SSR) berkaitan dengan pengelolaan Taman Nasional Komodo sesuai dengan topik peminatannya masing-masing. Cintana mengusung topik “Identifikasi Jenis Vegetasi Sekitar Sarang Biawak Komodo di Resort Loh Baru Pulau Rinca” dibawah supervisi Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) dan Maiser Syaputra (Dosen Prodi Kehutanan Universitas Mataram). Cintana tertarik mendalami topik vegetasi di sekitar sarang biawak komodo karena ingin mengetahui pengaruh vegetasi tertentu terhadap preferensi biawak komodo dalam membuat sarang atau memilih sarang eksisting di alam. Lokus pengamatan yang dipilih adalah beberapa jalur jelajah patroli pada Resort Loh Baru, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Cintana berkesempatan mengumpulkan data di Resort Loh Baru pada tanggal 11 – 20 Juli 2023 dengan didampingi oleh petugas Resort Loh Baru dan salah satu rekan mahasiswa magang Prodi Kehutanan Universitas Mataram, Syaiful Imam. Cintana memulai tahap pengumpulan data dengan melakukan studi literatur untuk memperdalam wawasan mengenai siklus reproduksi biawak dan mewawancarai petugas mengetahui titik sarang biawak komodo yang berada pada jalur jelajah patroli Resort Loh Baru di Pulau Rinca. Cintana selanjutnya melakukan peninjauan lapangan ke jalur jelajah dan patroli Resort Loh Baru untuk mengonfirmasi data yang disampaikan petugas saat wawancara. Berdasarkan hasil observasi, Cintana menemukan tujuh sarang biawak komodo, dimana enam diantaranya merupakan sarang aktif dan satu sarang diduga tidak aktif. Menariknya, sarang biawak komodo yang ditemukan beragam, diantaranya: sarang gundukan yang merupakan bekas sarang burung gosong (4 sarang), sarang tanah (1 sarang), dan sarang tebing (2 sarang). Selanjutnya, Cintana membuat peta percontohan berukuran 20 x 20 m guna menginventarisasi vegetasi, utamanya kelas pohon. Cintana menemukan 14 individu pohon dalam plot percontohan dengan dua jenis spesies dominan, meliputi: asam jawa (Tamarindus indica) dan kesambi (Scheleichera oleosa). Hasil identifikasi jenis pohon ini beresonansi dengan studi literatur yang Cintana pelajari bahwa biawak komodo secara alamiah meletakan telur dalam sarang dengan suhu rata-rata berkisar 29oC – 30oC. Suhu tanah menjadi penentu peluang pengembangan jenis kelamin jantan dan betina bagi biawak komodo, sehingga teduhan yang diberikan oleh vegetasi sangat berpengaruh terhadap preferensi suhu yang diperlukan untuk penetasan. Keberadaan vegetasi pohon turut memberikan manfaat bagi tetasan (hatchling) biawak komodo di alam. Tetasan biawak komodo yang baru lahir akan secara alamiah mencari dan naik ke atas pohon untuk hidup secara arboreal (diatas permukaan tanah) selama 5 tahun pertama dalam siklus hidupnya untuk menghindari predasi, utamanya biawak komodo dewasa lain selain induknya. Pepohonan memberikan habitat dan sumber pakan yang sesuai bagi tetasan biawak komodo, meliputi: serangga, burung/telur burung, cicak, tokek. Cintana berpendapat bahwa keberadaan vegetasi di sekitar sarang biawak komodo perlu mendapatkan perhatian petugas Balai Taman Nasional Komodo. Cinta merekomendasikan agar pepohonan yang berada di sekitar sarang biawak komodo dalam petak plot berukuran 20 x 20 m diberikan papan nama untuk memudahkan proses identifikasi jenis tumbuhan baik oleh petugas maupun mahasiswa magang/penelitian. Penamaan jenis pohon akan memudahkan petugas dan mahasiswa untuk melakukan inventarisasi jenis dan jumlah dengan lebih cepat. Observasi rutin status sarang biawak komodo pun perlu dilakukan secara berkala oleh petugas Resort Loh Baru untuk memastikan agar tidak adanya vegetasi pohon yang tumbang/mengganggu lubang sarang biawak komodo. Cintana merasa sangat senang melaksanakan magang di Balai Taman Nasional Komodo. Pengalaman belajar langsung di kawasan Taman Nasional Komodo merupakan pengalaman yang sangat berharga karena mahasiswa dapat mengamati berbagai satwa liar dan tumbuhan di alam. Pengalaman ini tentu akan berdampak positif bagi Cintana dan memberikan gambaran utuh mengenai dinamika pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. Cintana berharap agar mahasiswa Prodi Kehutanan Universitas Mataram dapat melaksanakan magang di Balai Taman Nasional Komodo pada kesempatan yang akan datang. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (SIARAN PERS No: PG.29/T.17/TU/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Kehutanan Universitas Mataram - Cintana Cahya Ramadhella (+6281216013535) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Kunjungi Cagar Alam Terbakar, Ini Kata Kepala BBKSDA Jatim

Pasuruan, 21 Oktober 2023. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Nur Patria Kurniawan, beserta Kepala Bidang Teknis dan Kepala Seksi KSDA Wilayah VI melakukan tinjauan lapangan ke Cagar Alam (CA) Gunung Abang yang terletak di Desa Kedungpengaron – Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Sabtu (21/10). Pada kesempatan tersebut, rombongan melihat areal bekas kebakaran yang terjadi beberapa hari yang lalu dan progres pemulihan ekosistem di Gunung Abang. “Kedepannya, pemulihan ekosistem (PE) di Gunung Abang perlu diperbanyak tumbuhan jenis ficus, agar tutupan vegetasinya dapat meningkat,” tambah Nur Patria di sela-sela diskusi bersama rekan-rekan Resort Konservasi Wilayah (RKW) 20 Pasuruan. Selanjutnya, rombongan meninjau progres bantuan ekonomi produktif pada kelompok konservasi Sejahtera di Desa Kedungpengaron. Kelompok ini dibentuk beberapa waktu yang lalu untuk menerima bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan, agar dapat melakukan usaha ekonomi. Dan kegiatan yang dipilih adalah ternak ayam petelur. BBKSDA Jawa Timur telah melakukan Pelatihan Peningkatan Usaha Ekonomi Produktif Kelompok Konservasi Sejahtera dengan mendatangkan narasumber yang kompeten dalam bidang budidaya ayam petelur ini. Semoga usaha produktif masyarakat dalam meningkatkan ekonomi dapat berjalan dan menguntungkan. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mengukur Tingkat Kepuasan Pengunjung di Resort Gililawa

Labuan Bajo, 10 September 2023. Mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Mataram, Ayu Nazira, dinyatakan lulus seleksi magang dan berkesempatan melaksanakan pembelajaran secara langsung di Balai Taman Nasional Komodo selama lebih dari 40 hari kerja. Ayu bersama dengan 5 anggota kelompok magangnya melaksanakan magang mulai tanggal 22 Juni – 20 Agustus 2023. Sebagai salah satu persyarat wajib yang harus dipenuhi oleh setiap mahasiswa magang, Ayu Nazira perlu menentukan satu judul Small Scale Research (SSR) mengenai topik tertentu yang berkaitan dengan pengelolaan Taman Nasional Komodo. Adapun judul SSR tersebut terkait kepuasan pengunjung yang berkunjung ke Resort Gililawa. Resort Gililawa merupakan resort jaga yang berada di Pulau Gililawa Darat yang memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi kegiatan pariwisata alam bagi pengunjung yang datang ke Taman Nasional Komodo. Resort ini berada dalam lingkup wilayah pengelolaan Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II,Balai Taman Nasional Komodo dibawah pengawasan Luqman Hidayat (Kepala SPTN Wilayah II) dan Banu Widyanarko (Kepala Resort Gililawa). Keindahan bentang alam di Pulau Gililawa Darat sangat cantik dengan warna kuning kehijauan, rumputnya bergoyang diterpa angin yang kering melintasi area lembah dan perbukitan. Menariknya, Pulau Gililawa Darat tidak dihuni oleh biawak komodo dan tidak memiliki sumber mata air. Satu-satunya satwa yang hidup di Pulau Gililawa Darat adalah rusa timor (Rusa timorensis) dan elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster) yang mampu bertahan pada ekosistem padang sabana yang tidak memiliki sumber mata air. Wisatawan dapat melakukan kegiatan trekking (penelusuran hutan) ke arah Puncak Gililawa dan melakukan snorkeling ataupun diving pada perairan di sekitarnya. Selain keindahan bentang alamnya, Pulau Gililawa Darat juga tampak sangat menawan dari udara oleh karena warna biru laut yang sangat kontras dengan warna kuning padang sabananya. Sebanyak 2687 kunjungan wisatawan tercatat beraktivitas di Resort Gililawa (Januari - Juni 2023). Wisatawan banyak berasal dari mancanegara maupun nusantara. Namun, belum banyak diketahui apakah kunjungan kelompok wisatawan ini mencapai kepuasan yang diharapkan oleh masing-masing pengunjung. Untuk mengetahui fenomena sosial tersebut, Ayu berusaha untuk mengukur tingkat kepuasan wisatawan yang berkunjung ke Resort Gililawa dengan menggunakan kuisioner sebagai instrumen yang tepat saat melakukan intercept setiap respondennya. Kegiatan pengumpulan data SSR ini dilakukan mulai tanggal 11 – 21 Juli 2023 di Resort Gililawa. Jumlah sample sebanyak 40 responden wisatawan. Wisatawan tersebut diminta kesediaannya mengisi kuisioner secara sukarela dan acak. Responden diminta mengisikan item dengan skala Likert (Skor 1 – 5) untuk melihat preferensi persepsi kepuasannya masing-masing selama berada di Taman Nasional Komodo. Adapun hasil perhitungan penilaian skoring nilai tingkat kepuasan wisatawan yang diperoleh adalah 64,92 dengan kategori “Sangat Puas”. Wisatawan menunjukan tingkat loyalitas dengan rata-rata nilai mencapai 13,97 dengan kategori “Sangat Puas”. Berdasarkan pengamatan umum, diduga bahwa tingkat loyalitas pengunjung sangat bergantung dengan tingkat kepuasaan yang dirasakan selama berkunjung. Salah satu indikator bahwa seorang wisatawan memiliki tingkat kepuasan dan loyalitas yang tinggi adalah terjadinya word of mouth, dimana wisatawan akan menceritakan pengalaman perjalanan dan keunikan dari destinasi wisata tersebut kepada orang terdekat atau koleganya. Selain melaksanakan kegiatan SSR, Ayu Nazira juga terlibat berbagai kegiatan resort-based management (RBM) bersama petugas Resort Gililawa. Salah satu kegiatan yang diikuti adalah patrol daratan maupun perairan di wilayah pengelolaan Resort Gililawa. Ayu diajarkan mengambil data menggunakan aplikasi Cyber Track untuk menginput titik perjumpaan satwa liar dan tumbuhan yang ditemui pada jalur trekking atau jalur jelajah Resort Gililawa. Ayu merasa pengalaman magangnya di Balai Taman Nasional Komodo sangat berkesan dan sangat bermanfaat untuk pengembangan diri serta karirnya di masa depan. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (SIARAN PERS No: PG.25/T.17/SET.2/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Kehutanan Universitas Mataram - Ayu Nazira (+6287864311802) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Identifikasi Jenis Sampah di Pesisir Kampung Rinca

Labuan Bajo, 19 Agustus 2023. Balai Taman Nasional Komodo menerima mahasiswa magang dari berbagai latar belakang pada perguruan tinggi dan luar negeri pada tahun 2023. Kali ini, mahasiswa Kehutanan Universitas Mataram, Abdul Hamid, berhasil lulus seleksi program magang (JPR) Balai Taman Nasional Komodo mulai tanggal 22 Juni – 18 Agustus 2023 dengan mengusung Small Scale Research (SSR) berjudul “Identifikasi Jenis dan Titik Timbunan Sampah di Pesisir Kampung Rinca”. Abdul Hamid tertarik untuk melakukan pendalaman isu sosial terkait dengan permasalahan sampah di dalam Zona Khusus Taman Nasional Komodo, utamanya di Resort Kampung Rinca – Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Komodo. Supervisor magang Balai Taman Nasional Komodo, Muhammad Ikbal Putera (PEH Ahli Muda), menempatkan Hamid di Resort Kampung Rinca untuk melakukan pengumpulan data SSR dengan didampingi oleh Fahri Ikhlas (Kepala Resort Kampung Rinca). Dalam prosesnya, Hamid berupaya untuk mengidentifikasi jenis sampah dan titik lokasi timbulan sampah di wilayah pesisir pantai Kampung Rinca antara tanggal 01 – 10 Juli 2023 dengan membuat jalur transek sepanjang 100 m dan plot sampling seluas 20 x 20 m. Data pendukung juga diperoleh melalui wawancara responden kunci dan studi literatur mengenai pengelolaan sampah di dalam kawasan konservasi. Abdul Hamid berhasil mengidentifikasi 8 jenis sampah dengan klasifikasi jenis, antara lain: organik, kain/tekstil, karet, plastik, logam, gelas/kaca, kertas, sterofoam, dan jaring bekas nelayan. Terdapat setidaknya 318.8 Kg sampah yang berhasil ditimbang dengan dominasi sampah berbahan dasar plastik (27.6%) dengan kepadatan 0.004 item/m2. Selain plastik, komposisi dominan lainnya adalah sampah organik (26.9%; kepadatan 0.043 item/m2), sterofoam dan jaring bekas nelayan (2.8%; kepadatan 0.0045 item/m2). Berdasarkan pengamatan langsung, sumber sampah yang ditemukan sebagian besar berasal dari aktivitas masyarakat, pariwisata alam, dan sampah kiriman (floatsam). Meskipun penanganan sampah sulit untuk dilakukan secara menyeluruh tanpa adanya aksi kolektif dari seluruh lapisan masyarakat, Abdul Hamid merekomendasikan agar kegiatan penyadartahuan secara rutin dilakukan oleh berbagai pihak, utamanya Balai Taman Nasional Komodo dan Pemerintah Desa Pasir Panjang, untuk dapat menyadartahukan pentingnya kelestarian lingkungan bagi masyarakat Desa Pasir Panjang di Pulau Rinca. Lebih lanjut, Hamid juga menyarankan agar dikembangkan sistem penanganan dan pengurangan sampah dengan metode yang lebih efektif dengan menggunakan teknologi terbarukan. Balai Taman Nasional Komodo juga dapat melibatkan POKDARWIS Native Rinca untuk membantu sosialisasi reduce plastic policy bagi masyarakat Pasir Panjang dan wisatawan dengan menekankan pentingnya penggunaan tumbler saat berkunjung ke Taman Nasional Komodo. Abdul Hamid merasa kegiatan belajar dan bekerja di Balai Taman Nasional Komodo merupakan pengalaman yang luar biasa dan tidak terlupakan. Penekanan pembinaan pada pengembangan kapasitas diri menjadi nilai plus yang dimiliki oleh program magang JPR Balai Taman Nasional Komodo yang mungkin tidak ditemukan di lokasi pembelajaran yang lain. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (SIARAN PERS No: PG.24/T.17/TU/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Prodi Kehutanan Universitas Mataram - Abdul Hamid (+6282340244650) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Identifikasi Jenis Reptil Famili Scincidaedi Resort Loh Buaya – Pulau Rinca

Labuan Bajo, 18 Agustus 2023. Small Scale Research merupakan prasyarat utama yang wajib dipenuhi oleh mahasiswa (D3/S1/S2/S3) yang melaksanakan kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa perlu mempelajari pengelolaan Taman Nasional Komodo secara mandiri dan mengusulkan judul miniriset yang sesuai dengan minat pendalamannya masing-masing. Mahasiswa yang topik SSR sudah disetujui maka dapat melaksanakan magang dalam program Junior Park Ranger (JPR) Balai Taman Nasional Komodo. Mahasiswa Kehutanan dari Universitas Mataram, Ahmad Luqman Sani, melaksanakan kegiatan magang di Balai Taman Nasional Komodo mulai tanggal 22 Juni – 20 Agustus 2023. Luqman diterima dalam program magang JPR Balai Taman Nasional Komodo setelah judul SSR yang diajukan telah disetujui. Adapun judul SSR yang diajukan adalah Identifikasi Jenis Reptil Famili Scincidaedi Resort Loh Buaya – Pulau Rinca. Selain pemenuhan kewajiban SSR, Universitas Mataram memberikan beberapa butir capaian pembelajaran yang mahasiswa perlu penuhi saat melaksanakan praktek kerja lapangan (PKL) di industri secara langsung. Capaian pembelajaran tersebut meliputi topik, diantaranya: Administrasi Kehutanan, Pengelolaan Keselamatan Kerja, Perencanaan Hutan, Perlindungan Hutan, Pengawetan Hutan, Pemanfaatan Hutan, dan Pemberdayaan Masyarakat. Luqman memilih topik SSR dengan judul identifikasi reptil Scincidae karena tertarik untuk mengetahui dan menambah informasi keanekaragaman jenis reptil di Lembah Loh Buaya. Reptil Scincidae dipilih karena memiliki peran penting dalam ekosistem yaitu sebagai salah satu sumber pakan biawak komodo tetasan (hatchling) dan remaja (juvenile) yang perlu diketahui jenis dan persebarannya di Lembah Loh Buaya. Luqman menggunakan metode Visual Encounter Survey (VES) dengan kombinasi Time Search pada lokasi penelitian yang telah ditentukan meliputi jalur trekking wisata Hidden Nirvana, jalur jelajah Wae Waso, dan jalur jelajah Loh Kima. Lokasi ini dipilih berdasarkan informasi anecdotal evidence petugas Resort Loh Buaya yang menyampaikan bahwa pada jalur-jalur tersebut seringkali terlihat reptil famili Scincidae saat berkegiatan. Selanjutnya, Luqman akan menggunakan aplikasi iNaturalist untuk membantu proses identifikasi jenis melalui kesesuaian data gambar primer dengan gambar sekunder yang sudah terverifikasi dan tervalidasi. Luqman menemukan 27 individu dari 3 spesies famili Scincidae yang ditemukan, diantaranya: kadal sunda leher hitam (Sphenomorphus melanopogon), kadal belang flores (Sphenomorphus striolatus), dan kadal berekor biru (Cryptoblepharus renschi). Temuan spesies ini memiliki kesesuaian temuan dengan penelitian yang dilakukan oleh Kennedi, et al. (2022) yang menemukan 4 spesies dari famili Scincidae di Loh Buaya – Pulau Rinca. Adapun satu dari empat jenis kadal yang tidak dijumpai oleh Luqman adalah kadal pantai dun (Emoia similis). Spesies kadal sunda leher hitam (Sphenomorphus melanopogon) yang ditemukan adalah sebanyak 4 individu pada pagi hari sekitar pukul 07:00 – 08:00 WITA, sedangkan untuk spesies kadal belang flores (Sphenomorphus striolatus) ditemukan sebanyak 22 individu pada pagi dan malam hari sekitar pukul 07;00 – 08:00 WITA dan 19:00 – 20:00 WITA dengan lokasi perjumpaan bervariasi meliputi diatas tanah, tumpukan serasah, cabang pohon, lubang pohon, dan beberapa kali kesempatan pada dinding bangunan pos jaga. Adapun spesies kadal berekor biru (Cryptoblepharus renschi) ditemukan sebanyak satu individu pada pagi hari sekitar pukul 08:00 – 09:00 WITA dengan lokasi perjumpaan pada dinding pagar belakang bangunan Pusat Informasi yang merupakan awal dari jalur kunjungan wisatawan Hidden Nirvana di Loh Buaya. Berdasarkan studi literatur diperoleh informasi bahwa jenis pakan kadal Sphenomorphus sp. adalah serangga, jentik nyamuk, nyamuk dan mikroorganisme berukurannya kecil lainnya (Sukardi & Sinery, 2018). Spesies famili Scincidae berperan sebagai satwa kontrol yang mengendalikan populasi serangga di alam. Luqman berharap agar kajian terhadap satwa pakan biawak komodo (selain mamalia) dapat dilakukan oleh Balai Taman Nasional Komodo secara berkala untuk memastikan keseimbangan ekosistem di Taman Nasional Komodo. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo (Siaran Pers No: PG.26/T.17/TU/HMS.3/8/2023) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Kehutanan Universitas Mataram - Ahmad Luqman Sani (+6285238996955) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Konflik Satwa Liar di Jawa Tengah Menjadi Perhatian Bersama

Semarang,18 Oktober 2023 - Sedulur Merapi tentu tak asing Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Jenis ini merupakan salah satu satwa liar penyusun komponen biotik ekosistem. Dalam kestabilan ekossitem, interaksi antara satwa liar dengan lingkungannya menciptakan keseimbangan ekosistem. Namun saat ekosistem terganggu, interaksi antara satwa liar dan manusia mengakibatkan efek negatif kepada kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya manusia, serta pada konservasi satwa liar. Letusan terakhir Gunung Merapi pada tahun 2010 memberikan perubahan signifikan bagi penyebaran dan perilaku satwa liar, tidak terkecuali monyet ekor panjang. Letusan Merapi yang menyebabkan rusaknya sebagian habitat akibat awan panas memaksa monyet ekor panjang turun gunung sampai ke lahan pertanian dan permukiman masyarakat sekitar lereng Merapi. Kemudahan memperoleh pakan di areal pertanian, lambat laun mengubah perilaku monyet ekor panjang. Mereka menjadi lebih sering beraktivitas di sekitar permukiman penduduk. Hal inilah yang memicu terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar. Konflik manusia dan satwa liar harus diselesaikan sebelum menimbulkan dampak signifikan dan dianggap meresahkan. Untuk wilayah Jawa Tengah, konflik satwa liar terutama monyet ekor panjang dengan manusia mendapat perhatian serius, karena sudah banyak keluhan masuk dari masyarakat bahkan di beberapa kasus merusak fasilitas negara. Untuk itulah Balai Taman Nasional Gunung Merapi pada Rabu, 18 Oktober 2023 mengikuti kegiatan Koordinasi Penanganan Konflik Satwa liar bersama para stakeholders, yang dilaksanakan di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Jawa Tengah di Semarang. Tujuan kegiatan ini untuk menguatkan barisan dalam penanganan konflik satwa liar - manusia di wilayah Jawa Tengah. Jenis satwa liar yang mengalami konflik dengan manusia di Jawa Tengah antara lain Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), Buaya muara (Crocodilus porosus), Macan tutul (Panthera pardus), dan Babi hutan (Sus scrofa). Dari keempat jenis satwa liar tersebut, Monyet ekor panjang paling sering berkonflik dengan manusia sampai pada level menyerang manusia terutama manula dan anak-anak. Melalui kegiatan koordinasi ini diharapkan mampu mempercepat proses perencanaan dan penanganan konflik manusia dan satwa liar di wilayah Jawa Tengah melalui penyusunan draft Tim Koordinasi Penanggulangan Konflik Manusia - Satwa liar, dan Satgas Penanggulangan Konflik Manusia - Satwa liar. Tim Koordinasi dan Satgas ini akan disahkan dalam bentuk Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Tengah. Tim Humas TN Merapi
Baca Artikel

BKSDA Sumsel Lakukan Evaluasi Pengelolaan Lima Kawasan Konservasi Bersama Para Pihak Melalui Perangkat METT

Palembang, 18 Oktober 2023 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) melaksanakan penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi di lima kawasan, meliputi Suaka Margasatwa (SM) Dangku, SM Gunung Raya, SM Isau-Isau, Taman Wisata Alam (TWA) Punti Kayu, dan TWA Isau-Isau dengan menggunakan perangkat Manajemen Effectiveness Tracking Tool atau yang biasa disingkat METT. Kegiatan ini mengevaluasi sejauh mana upaya pengelolaan suatu kawasan konservasi dilakukan telah dilaksanakan, apakah sudah efektif atau masih harus ditingkatkan. Aspek-aspek penilaian dikelompokkan dalam enam aspek utama, yaitu pemahaman akan konteks dari kawasan konservasi, perencanaan terhadap pengelolaan kawaswean, alokasi sumber daya (input), kegiatan-kegiatan pengelolaan yang dilakukan sesuai dengan standar yang bisa diterima (proses), produk dan jasa (output), serta dampak atau outcome yang dicapai. Penilaian efektivitas kawasan konservasi melibatkan para pihak terkait, mulai dari BKSDA Sumsel selaku pengelola kawasan konservasi serta keterlibatan dan dukungan para pihak meliputi unsur pemerintah daerah setempat, akademisi, LSM, perusahaan/swasta, dan masyarakat sekitar kawasan konservasi lingkup wilayah Kabupaten Musi Banyuasin, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Kabupaten Lahat, Kabupaten Muara Enim, dan Kota Palembang. Penilaian dilaksanakan di tiga lokasi dengan keikutsertaan para pihak berdasarkan lingkup wilayah pengelolaan kawasan konservasi, yaitu di Kota Palembang, Kota Baturaja, dan Kabupaten Lahat. Berdasarkan hasil penilaian, kelima kawasan mengalami peningkatan persentase nilai dari penilaian dua tahun sebelumnya yaitu SM Dangku (80%), SM Gunung Raya (68%), SM Isau-Isau (80%), TWA Punti Kayu (76%), dan TWA Isau-Isau (70%). Setelah dilakukan penilaian dan pemberian rekomendasi pengelolaan kawasan konservasi oleh para pihak, BKSDA Sumsel akan menyampaikan laporan hasil tersebut ke Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi untuk lebih lanjut dilakukan verifikasi sebagai dasar penetapan nilai pengelolaan kawasan konservasi pada kelima kawasan tersebut. Sumber: Balai KSDA Sumatera Selatan
Baca Artikel

Peliputan Workshop Inventarisasi dan Verifikasi Kawasan dengan Nilai Keanekaragaman Hayati Tinggi

Malang, 20 Oktober 2023 - Pembukaan dilaksanakan pada hari Selasa, 17 Oktober 2023 di Ballroom, Hotel Atria Malang, kegiatan ini dibuka oleh Kepala Balai Besar Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BTS) dan dihadiri oleh masing-masing perwakilan Unit Pelaksana Teknis yang membidangi / walidata spasial. Workshop kegiatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa data yang ada dapat dimanfaatkan dengan optimal. Masih banyaknya keragaman jenis yang dimiliki oleh masing-masing Satker UPT, sehingga diperlukan adanya panduan pelaksanaan kegiatan inver tahun 2020-2024 yang disusun oleh Direktorat Perencanaan KK. Panduan ini menjadi dasar agar untuk memverifikasi sehingga data dapat terstruktur dan terintegrasi dalam Sistem informasi, ganti dengan sambutan Kepala Balai Besar TN BTS Kegiatan ini menjadi langkah Ditjen KSDAE dalam mengoptimalkan pengelolaan kawasan konservasi. Pada kesempatan tersebut hadir pula Kepala Sub Direktorat Inventarisasi dan Pemolaan Kawasan Konservasi yang menyampaikan bahwa hasil dari inventarisasi akan dituangkan dalam bentuk laporan dan hasill inventarisasi ini akan berupa data spasial dan selanjutnya akan dibuat dalam sistem digital yang disebut e-reporting. Dalam kegiatan workshop ini diharapkan dari kegiatan inventarisasi dan verifikasi kawasan yang telah sesuai dengan Panduan Pelaksanaan Kegiatan Inventarisasi dan Verifikasi Kawasan dengan Nilai Keanekaragaman Hayati Tinggi Secara Partisipatif di Kawasan Konservasi tahun 2020-2024 sebagai bahan penyusunan laporan Hasil Inventarisasi dan Verifikasi Kawasan hingga tahun 2023. Sumber: Setditjen KSDAE
Baca Artikel

Penyerahan Bantuan Terhadap Tiga Kelompok Binaan TN Gunung Merapi

Magelang, 17 Oktober 2023 - Bertempat di Kantor Balai Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Srumbung, dilaksanakan Bimbingan Teknis (Bimtek) atau Sosialisasi Bantuan Usaha Ekonomi Produktif Bagi Masyarakat Sekitar Kawasan TN Gunung Merapi. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM). Juga hadir pada kesempatan ini anggota Komisi IV DPR RI Vita Ervina, S.E., M.B.A., Plt. Kepala Balai TN Gunung Merbabu, Forkompinca Dukun, Kepala Desa Ngargomulyo, Kepala Desa Keningar, Kepala Desa Paten, Kepala Desa Ketunggeng, Mitra BTNGM, dan awak media. Pada kesempatan ini, Kepala BTNGM bersama Vita Ervina, selaku anggota komisi IV DPR RI menyerahkan secara simbolis kepada 3 (tiga) mitra/kelompok binaan BTNGM yaitu Kelompok Tani Hutan (KTH) Babadan Asri Desa Paten sebesar Rp 35.000.000, KTH Hutan Lestari Desa Keningar sebesar Rp 25.000.000, dan KTH SPKP Merapi Asri Desa Ngargomulyo sebesar Rp 30.0000.000. Bantuan tersebut berasal dari dana DIPA BTNGM tahun anggaran 2023. Dapat diinformasikan, terdapat 30 (tiga puluh) desa penyangga kawasan konservasi BTNGM. Di Kabupaten Magelang terdapat Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Dukun dan RPTN Srumbung dengan total 10 (sepuluh) desa penyangga. Kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilaksanakan oleh BTNGM telah memberikan dampak ekonomi. Salah satunya melalui pemberian bantuan usaha ekonomi produktif kepada kelompok binaan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat sekitar kawasan. Kemudian dalam sambutannya, Widodo, selaku Kepala Desa Ngargomulyo, menyampaikan selamat datang kepada tamu undangan dan narasumber yang hadir serta terima kasih atas penyelenggaraan kegiatan di desanya. Bimtek kali ini cukup istimewa, karena menghadirkan empat narasumber, yaitu Muhammad Wahyudi, S.P., M.Sc. selaku Kepala Balai TNGM memaparkan nilai penting keberadaan kawasan dan upaya Pemberdayaan Masyarakat di TNGM. Kedua, Gunawan Yudi Nugroho, S.STP., M.M. selaku Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Magelang menyampaikan Kebijakan Pemberdayaan Masyarakat di Kabupaten Magelang. Ketiga, Ir. Slamet Rohadi, M.P. selaku Kepala Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IX menyampaikan Program Pemberdayaan Masyarakat di CDK Wilayah IX. Selanjutnya, Vita Ervina, selaku anggota Komisi IV DPR RI, yang dalam kesempatan ini menyampaikan sambutan dan arahannya terkait program pemberdayaan masyarakat. Disampaikannya bahwa komitmen pemerintah untuk hadir di tengah-tengah masyarakat diwujudkan dalam bentuk pemberdayaan masyarakat. Harapannya, bantuan yang diberikan menjadi stimulus masyarakat. Vita memberikan arahan agar dibangun sekolah alam sehingga anak-anak sejak dini mengetahui potensi alam dan tumbuh kesadaran untuk melestarikannya. Di akhir acara, Muhammad Wahyudi, berharap agar masyarakat di sekitar kawasan TNGM dapat ikut menjaga kawasan dikarenakan TNGM memiliki nilai penting yang harus dijaga kelestariannya. Sumber: Balai TN Gunung Merapi
Baca Artikel

Harmonisasi Adat dan Agama Lestarikan Hutan Konservasi

Stabat, 18 Oktober 2023. Kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut seluas 14.827 Ha. merupakan satu-satunya hutan konservasi dengan ekosistem mangrove di Provinsi Sumatera Utara. Terdapat 14 desa sekitar kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut yang kehidupannya sangat tergantung kepada keberadaan kawasan. Budaya Melayu pesisir sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat di sekitar kawasan ini. Karena itu, beberapa nilai-nilai dari budaya Melayu menjadi cara pandang, kebiasaaan, maupun kearifan lokal terhadap keberadaan hutan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Disamping itu, hampir 90% masyarakat di 14 desa di sekitar kawasan menganut agama Islam dan nilai-nilai Islami juga sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarakat termasuk cara pandang terhadap pengelolaan dan pemanfaatan kawasan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Oleh karena itu, Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan KFW dan Pemerintah Kabupaten Langkat memandang bahwa penyadartahuan dan perubahan sikap masyarakat terhadap keberadaan SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut dapat terbentuk melalui adat dan agama. Pemikiran inilah kemudian menggagas lahirnya Kegiatan Festival Masyarakat Adat dan Agama Desa Sekitar kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut Tahun 2023. Sebelum puncak acara Festival yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 21 Oktober 2023, terlebih dahulu telah dilakukan rangkaian kegiatan Road To Festival di dua desa sekitar kawasan yaitu Desa Suka Maju, Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, pada Kamis 12 Oktober 2023 dan Desa Tanjung Ibus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, pada Senin 16 Oktober 2023, dengan berbagai perlombaan yang bertema keagamaan dan kearifan masyarakat lokal yang berisi pesan moral perlindungan kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, seperti : lomba takhtim ibu, lomba mewarnai tingkat TK-SD kelas I, lomba Da’i cilik, lomba mengikat kepiting dan pameran produk lokal. Perlombaan diikuti oleh warga desa di sekitar lokasi kegiatan dan mendapat antusias yang luar biasa mengingat kegiatan-kegiatan seperti ini belum pernah ada sebelumnya. Berbagai kalangan, baik yang masih muda belia sampai orangtua larut dalam kegembiraan mengikuti perlombaan. Bahkan di Desa Tanjung Ibus, anak disabilitas (tuna rungu) pun tidak mau ketinggalan ikut serta dalam perlombaan mewarnai. Melihat antusiasnya warga yang ikut dalam perlombaan di dua desa ini tentunya menjadi media edukasi dan awaraness (penyadaran) dalam membangun kepedulian akan arti penting keberadaan kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut, sehingga kelestariannya tetap harus dijaga untuk kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Summer Camp 2023 Ungkap Pala Hutan Ada di Gunung Picis, Jawa Timur

Ponorogo, 15 Oktober 2023. Kegiatan Summer Camp 2023 yang bertajuk Eksplorasi Keanekaragaman Hayati di Cagar Alam Gunung Picis dan Gunung Sigogor, menghadirkan kejutan besar. Dibantu oleh Heri Santoso dari Yayasan Generasi Biologi Indonesia, para peserta berhasil menemukan Pala Hutan (Myristica teysmannii) pada 15 Oktober 2023. Spesies ini merupakan flora endemik yang terbilang langka saat ini. Myristica teysmannii Miq. atau dikenal dengan nama Durenan, Palan, Kosar atau Kayu Resep adalah salah satu spesies yang masuk dalam kategori endangered atau genting menurut IUCN dengan kriteria EN B1+2C. Artinya tumbuhan ini memiliki risiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dalam waktu dekat dan berisiko menjadi kritis. Pala Hutan memiliki penyebaran yang jarang dan di Jawa Timur hanya dapat dijumpai pada kawasan Pacitan, Gunung Kawi, Gunung Wilis, Gunung Anjasmoro, dan Pulau Sempu. Tim Monitoring Kehati Malang Selatan juga melaporkan dijumpainya tumbuhan ini di wilayah Malang Selatan mulai sisi Barat hingga wilayah Lebakharjo di sisi Timur. Penemuan ini menjadi kolaborasi hebat antara Petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur, peserta Summer Camp, dan masyarakat lokal yang berani menjelajahi lokasi sulit di kawasan cagar alam. "Pala Hutan adalah temuan luar biasa, memberikan kontribusi besar pada pemahaman kita tentang keanekaragaman hayati di Gunung Picis," ujar Heri Santoso. Dengan temuan ini, Summer Camp 2023 menjadi momen bersejarah yang membangkitkan kesadaran akan kekayaan alam Indonesia. Penemuan Pala Hutan tidak hanya memperkaya ilmu pengetahuan tetapi juga menjadi dorongan kuat bagi pelestarian alam. Yayasan Konservasi Elang Indonesia dan Pertamina Integrated Terminal Surabaya turut mendukung kegiatan eksplorasi bertajuk Summer Camp ini. Penemuan Pala Hutan, yang hanya ada di beberapa tempat di Jawa Timur, mengukuhkan pentingnya upaya pelestarian. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Balai Besar KSDA Jawa Timur Foto : Agus Irwanto, Ardiyanto
Baca Artikel

Membangun Kesepakatan Konservasi di 7 Desa Penyangga Kawasan

Sidikalang, 18 Oktober 2023. Pada Rabu, 11 Oktober 2023, telah dilaksanakan penandatanganan Kesepakatan Konservasi pada 7 desa dalam menjaga kawasan hutan SM. Siranggas dan TWA. Sicike-cike, yaitu Desa Simerpara Kecamatan Pergetteng Getteng Sengkut, Desa Mahala Kecamatan Tinada, Desa Perolihen, Desa Tanjung Mulia, Kecamatan Sitellu Tali Urang (STTU) Jehe, Desa Majanggut I, Desa Perpulungen Kecamatan Kerajaan dan Desa Salak I, Kecamatan Salak.. Penandatanganan dilaksanakan oleh Kepala Bidang Konservasi Wilayah I Kabanjahe Amenson Girsang, S.P., M.H. dengan 7 Kepala Desa, disaksikan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang Tuahman Raya, S.Sos. bersama kepala resort dan staf serta ketua dan pengurus Kelompok Tani penerima bantuan peningkatan usaha ekonomi masyarakat. Program pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pemberian bantuan ekonomi produktif sesuai dengan permohonan masing-masing kelompok tani, yaitu Desa Perolihen dan Desa Tanjung, Kecamatan STTU Jehe, bantuan berupa usaha ternak lembu. Kemudian Desa Majanggut I Kecamatan Kerajaan dan Desa Simerpara Kecamatan Pergetteng Getteng Sengkut, bantuan berupa alat pemipil jagung. Sedangkan Desa Salak I Kecamatan Salak, Desa Mahala Kecamatan Tinada dan Desa Perpulungen Kecamatan Kerajaan bantuan berupa alat handtracktor. Dengan adanya kegiatan pemberdayaan masyarakat desa yang berada di sekitar kawasan SM. Siranggas yang memiliki luas wilayah 5.657 Ha. dan TWA. Sicike-cike yang memiliki luas wilayah 531,02 Ha. maka diharapkan adanya perpanjangan tangan bagi Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam menjaga kawasan serta memberikan informasi terkait perlindungan dan pengamanan kawasan dari tindakan luar yang berusaha untuk merusak. Selain itu diharapkan pula dengan adanya bantuan ini, secara nyata manfaatnya dapat dirasakan dalam meningkatkan penghasilan masyarakat desa umumnya dan anggota kelompok tani khususnya. Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai TN Kepulauan Togean Bersama Stakeholder Berikan Himbauan

Ampana, 16 Oktober 2023. Tim Gabungan Operasi Penyelamatan Sumber Daya Alam dan Satwa Liar pada Kawasan Konservasi yang terdiri dari unsur Balai GAKKUM Wilayah Sulawesi, Pemerintah Kabupaten Touna, Kejari Touna, Polres Touna, Polair Polda Sulawesi Tengah, Pabung Kodim 13/07 Poso, TNI-AL, DKP Provinsi Sulteng, dan Balai Taman Nasional (TN) Kepulauan Togean, menghimbau masyarakat untuk menjaga hutan serta tidak menggunakan bahan peledak (HANDAK) atau bom dan bahan kimia (bius) dalam penangkapan ikan. Kepala Balai TN Kepulauan Togean, Dodi Kurniawan mengatakan bahwa, “Himbauan ini dilakukan melalui pertemuan dengan masyarakat serta pemasangan papan himbauan di beberapa desa di Kepulauan Togean pada tanggal 11-12 Oktober 2023 dalam rangka sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan Operasi Penyelamatan Sumber Daya Alam dan Satwa Liar pada Kawasan Konservasi yang sebelumnya telah mengamankan barang bukti yang diduga HANDAK atau bom rakitan, dari dua orang terduga yaitu “S alias OK” pada tanggal 6 September 2023 disekitar perairan Talatako, serta “TDP” pada tanggal 26 September 2023 di sekitar perairan Biga, dimana kedua terduga dan barang bukti saat ini berada di Polres Touna untuk proses lebih lanjut”. “Kawasan TN Kepulauan Togean yang terdiri dari wilayah daratan berupa hutan dan wilayah perairan/laut sangat penting untuk dilindungi dan dilestarikan. Hutan di wilayah daratan kepulauan merupakan daerah tangkapan air yang memiliki peran penting sebagai sumber air tawar bagi masyarakat, sementara wilayah perairan/laut memiliki keindahan terumbu karang yang menjadi obyek wisata dan merupakan habitat berbagai jenis ikan. Kerusakan kawasan ini tentu akan sangat merugikan, dan akan berdampak pada masyarakat yang tinggal dan memiliki mata pencaharian sebagai nelayan, serta menurunnya daya tarik wisata terumbu karang yang dikhawatirkan mempengaruhi pendapatan masyarakat maupun swasta sebagai pengelola wisata”, lanjut Dodi Kurniawan. “Kami menghimbau semua pihak, untuk turut serta menjaga hutan serta tidak menggunakan HANDAK atau bom dan bahan kimia dalam penangkapan ikan di perairan/laut, dan semoga ikhtiar ini dapat kita pertanggungjawabkan kelak kepada anak cucu kita dan kepada Tuhan Yang Maha Esa”, pungkas Dodi Kurniawan menambahkan. Sumber : Amalia Diaztari, S.Hut dan Wita Nofrinar, S.Si - Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Artikel

Pemulangan 5 Orangutan Sumatera Ke Habitatnya di Jantho, Aceh

Jantho, 17 Oktober 2023. Untuk kesekian kalinya Balai Besar KSDA Sumatera Utara melepasliarkan satwa liar dilindungi undang-undang kembali ke habitatnya. Kali ini BBKSDA Sumatera Utara memindahkan 5 (lima) individu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yaitu Undi, Simona, Bintang Pepe, Bakong dan Baung ke Pusat Rentroduksi di Jantho, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, pada Selasa 3 Oktober 2023, untuk dilepasliar di kawasan Taman Wisata Alam Jantho. Pelepasliaran ini merupakan rangkaian kegiatan memperbaiki populasi di alam satwa liar dan menguatkan pengelolaan kawasan konservasi di tingkat tapak. Sebelum dilepasliarkan kelima Orangutan ini mengikuti Program “Forest School” selama 2 pekan di Pusat Reintroduksi. Kelima Orangutan merupakan korban interaksi negatif manusia dan satwa liar di beberapa daerah di Aceh. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Rudianto Saragih Napitu S.Si., M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan pelepasliaran satwa merupakan salah satu upaya dalam melestarikan satwa dilindungi. Selain itu upaya ini juga dapat menjaga keutuhan ekosistem hutan, khususnya kawasan konservasi. Namun demikian, upaya pengelolaan kawasan konservasi melalui patroli pengamanan, pembinaan populasi dan habitat harus menjadi agenda rutin guna memastikan kawasan konservasi beserta keanekaragaman hayati di dalamnya dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan mandat pengelolaannya. Sumber : Dede Syahputra Tanjung, SP. (PEH) – Balai Besar KSDA Sumut
Baca Artikel

Lepasliar Satwa Penyerahan Warga di TWA Sijaba Hutaginjang

Sijaba Hutaginjang,17 Oktober 2023. Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, melakukan giat pelepasliaran 1 (satu) ekor satwa liar dilindungi jenis Burung Cica Daun Sayap Biru (Chloropsis cochinchinensis), di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sijaba Hutaginjang (fragmen Sijaba) tepatnya di Desa Sihonongan, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan. Burung Cica Daun Sayap Biru yang dilindungi sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi, merupakan penyerahan warga kepada petugas. Pelepasliaran dihadiri Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung Manigor Lumbantoruan, SP. Kepala Resort TWA Sijaba Hutaginjang Budi Satria Sihite, S.Hut., aparat Kecamatan Paranginan Nurlela Siburian, S.E dan perangkat Desa Sihonongan Tumpal Siburian dan Butti Tua Siburian. Giat pelepasliaran ini menjadi momentum penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan keanekaragaman hayati serta memperkaya keragaman potensi fauna/satwa yang dilindungi di kawasan TWA Sijaba Hutaginjang, khususnya jenis burung. Dengan keragaman ini tentunya diharapkan kawasan akan menjadi habitat penting bagi satwa liar sehingga perlu terus dijaga kelestariannya. Disamping itu, pelepasliaran menjadi edukasi dan penyadaran bagi warga bahwa satwa liar sejatinya hidup dan berkembangbiak di habitatnya bukan dipelihara dalam kandang atau sangkar. Mari sejahterakan hidup satwa liar dengan mengembalikannya ke alam. Sumber : Budi Satria Sihite, S.Hut. (Polhut Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Memahami Etika Moral Pengelolaan LHK

Ampana, 17 Oktober 2023 – Upaya meningkatkan wawasan generasi muda dalam pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Kepala Balai Taman Nasional (TN) Kepulauan Togean menjadi narasumber kegiatan kuliah tamu Fakultas Sains dan Teknologi, UIN Alauddin Makasar pada tanggal 16 Oktober 2023. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Lecture Theatre Lantai 1 Fakultas Sains dan Teknologi UIN Alauddin Makasar di Makasar, dengan tema “Etika Moral dalam Pengelolaan LHK” yang diikuti oleh kurang lebih 60 Orang mahasiswa/mahasiswi semester V Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, dan beberapa dosen. Kepala Balai TN Kepulauan Togean, Dodi Kurniawan menyatakan bahwa “Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan bagi mahasiswa/mahasiswi sebagai generasi muda terhadap pentingnya etika moral dalam pengelolaan LHK, serta mengajak mereka untuk mengetahui dan menjaga serta melestarikan lingkungan hidup termasuk kawasan konservasi”. “Setelah mendapatkan pengetahuan, diharapkan etika moral dalam pengelolaan LHK dapat memperkaya dan menjadi pertimbangan dalam perkuliahan teknis perencanaan wilayah dan kota dimasa yang akan datang”, demikian Dodi menambahkan. Sumber: Amelia Diaztari S.Hut dan Wita Nofrinar, S.Si (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean

Menampilkan 961–976 dari 2.305 publikasi