Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Peluncuran Program Konservasi Gajah Sumatera dan Wisata Edukatif

Simalungun, 16 September 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar secara resmi meluncurkan Program Konservasi Keanekaragaman Hayati Gajah Sumatera dan Pengembangan Wisata pada Jumat, 12 September 2025, bertempat di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC). Acara peluncuran berlangsung dalam suasana penuh semangat di tengah kawasan Aek Nauli yang asri. Program ini merupakan kolaborasi antara Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar dengan PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar. Tujuannya adalah memperkuat upaya pelestarian satwa dan tumbuhan khas Sumatera serta membuka peluang pengembangan wisata berbasis konservasi di kawasan Resor ANECC dan Cagar Alam Batu Gajah. Adapun ruang lingkup program meliputi: pengembangan wisata edukatif berbasis Gajah Sumatera, pemeliharaan koleksi anggrek dan kantong semar serta peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan sampah. Peluncuran program ini ditandai dengan penandatanganan dokumen program bersama oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar (Elvina Rosinta Dewi, S. Hut., M.I.L), Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran (Suyono, S.H) dan Manager CSR PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar (Teguh Trihartono). Langkah ini sekaligus menegaskan peran ANECC sebagai benteng konservasi, pusat edukasi dan destinasi wisata yang lestari di Sumatera Utara. Dalam sambutannya, Manager CSR PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar, Teguh Trihartono, menyampaikan bahwa program ini diharapkan dapat memberikan manfaat luas. “Dari aspek keanekaragaman hayati, program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan citra perusahaan. Harapan kami dapat bekerjasama seterusnya, bukan hanya tahun ini melainkan tahun-tahun ke depan. Program ini bukan hanya berdampak bagi lingkungan bahkan tidak menutup kemungkinan membuka lapangan pekerjaan bagi masyrakat” ujarnya. Sementara itu Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Elvina Rosinta Dewi, S. Hut., M.I.L menekankan pentingnya pengelolaan yang optimal dan transparan. ”Pemanfaatan anggaran harus dilakukan secara optimal dan diarahkan pada perbaikan berkelanjutan. Kami juga berharap adanya data base kegiatan yang dapat ditampilkan sebagai bahan evaluasi. Selanjutnya, kami mendoakan agar program-program PT. Pertamina dapat terus sukses di seluruh Indonesia, serta memberikan manfaat nyata bagi ANECC dan masyarakat sekitarnya,” ungkapnya. Dengan adanya program ini, ANECC semakin menegaskan perannya sebagai benteng konservasi, pusat edukasi serta destinasi wisata berkelanjutan di Sumatera Utara. Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama peduli terhadap kelestarian hutan dan satwa liar. Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar & Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan)-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Leading Community Empowerment: Ranger Goes To School 2025

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 14 Juni 2025. Balai Taman Nasional Komodo konsisten menyelenggarakan program pendidikan konservasi unggulannya, Ranger Goes to School (RGTS) untuk keempat kalinya sejak pertama diluncurkan tahun 2022. Pada tahun 2025, program RGTS dipastikan keberlangsungannya oleh Koordinator Program baru, Rawuh Pradana (Polisi Kehutanan Ahli Pertama), yang menggantikan peran Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) yang saat ini sedang melaksanakan tugas belajar doktor di luar negeri. Program RGTS dilaksanakan sesuai dengan linimasanya yaitu mulai Bulan Januari – Juni 2025 dengan dua target sekolah: SMK Negeri 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo. Setidaknya 246 peserta didik dari dua sekolah target telah mendapatkan pembelajaran pada program RGTS selama enam bulan atau 14 minggu pertemuan setiap tahunnya. Peserta didik merupakan siswa kelas 10 (SMK Stella Maris Labuan Bajo) dan 11 (SMKN 1 Labuan Bajo) Prodi Usaha Layanan Pariwisata, salah satu prodi kejuruan paling umum di Kabupaten Manggarai Barat. Program RGTS masih memegang teguh kurikulum ajarnya dengan mengajarkan materi terkait Pengelolaan Taman Nasional Komodo (6 Pertemuan) dan Pariwisata Berkelanjutan (6 Pertemuan), serta melaksanakan dua kali ujian pada periode tengah dan akhir semester pembelajaran. Program ini menarik perhatian publik secara positif menunjukkan dedikasi dan kepedulian para jagawana untuk terjun langsung mendukung peningkatan mutu pendidikan konservasi dan lingkungan generasi muda Indonesia di Nusa Tenggara Timur. Rawuh Pradana bersama tim RGTS lainnya juga menyelenggarakan Wisuda Penutupan Program RGTS Tahun 2025 pada tanggal 13 Juni 2025 yang bertempat di SMK Negeri 1 Labuan Bajo. Perayaan ini merupakan salah satu aspek tradisi penting dalam rangkaian penyelenggaraan program RGTS yang seluruh pembiayaannya dibebankan kepada tim pengajar dan sekolah tanpa mengenakan biaya tertentu kepada para peserta didik di masing-masing sekolah ajar. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo, jajaran guru dari SMK Negeri 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo, serta tim pengajar RGTS. Peserta didik yang memperoleh juara kelas (peringkat 1 s.d. 3) mendapatkan sertifikasi penghargaan dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo, sementara seluruh peserta didik lainnya mendapatkan sertifikasi partisipasi karena telah mengikuti dan mampu menyelesaikan program RGTS sampai dengan tuntas. Salah satu contohnya adalah pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi, Noventus B.A. S. Ndua dari SMK Negeri 1 Labuan Bajo yang berhasil meraih nilai akhir tertinggi sebesar 9,33 dari 10. Hal ini menunjukkan bahwa materi ajar RGTS yang sangat kontekstual dan mengakar dapat diikuti dengan sangat baik oleh peserta didik dengan teknik pengajaran yang tepat. Pada akhir kegiatan, Kepala SPTN Wilayah III, Judy Aries Mulik, mewakili Kepala Balai Taman Nasional Komodo, menutup secara resmi rangkaian kegiatan RGTS Tahun 2025 dan berharap agar seluruh peserta didik dapat menjadi agen perubahan pelestarian sumber daya dalam dan terus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya Taman Nasional Komodo. Tim RGTS juga berharap program pendidikan konservasi ini terus dapat diselenggarakan setiap tahunnya dengan merekrut tim pengajar baru baik dari Balai Taman Nasional Komodo maupun praktisi lainnya yang berdomisili di Labuan Bajo. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Ahli Pertama - Rawuh Pradana, S.H. (0813-8702-8089) Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Kiprah Jagawana Komodo di Luar Negeri: Dari Kadal Terbesar Dunia Ke Gunung Berapi Paling Aktif Dunia

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 29 Juli 2025. Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Komodo yang sedang menempuh pendidikan doktor di Amerika Serikat, Muhammad Ikbal Putera, berhasil diterima pada program magang International Volunteers-in-Parks (IVIP) yang diselenggarakan oleh, sebuah badan pemerintah federal dibawah Departemen Interior Amerika Serikat yag bertugas mengelola lebih dari 400 taman nasional alam, taman nasional budaya, monumen nasional, situs bersejarah, dan properti National Park Service pemerintah federal lainnya di Amerika Serikat. Ikbal berhasil melewati serangkaian tahapan administrasi dan mendapatkan penempatan di salah satu Situs Warisan Dunia dan Cagar Biosfer Internasional Amerika Serikat, Hawai’i Volcanoes National Park, yang berada di Hilo, Big Island – Negara Bagian Hawai’i. Ikbal yang menempuh pendidikan doktor pada bidang keilmuan Parks, Recreation, and Tourism Management, College of Natural Resources di North Carolina State University memulai program magangnya pada tanggal 03 Mei – 29 Juni 2025. Ikbal ditempatkan belajar dan bekerja pada Divisi Interpretasi dan Edukasi yang memiliki tugas utama sebagai frontliner dalam urusan pengelolaan dan pelayanan pengunjung setiap harinya selama 40 jam dalam 1 minggu. Selama pelaksanaan program, Ikbal mendapatkan seragam khusus dan pelatihan intensif selama satu minggu dari para jagawana sesuai dengan bidang keahlian masing-masing sebelum ditugaskan berinteraksi langsung dengan wisatawan. Adapun materi yang dipelajari, antara lain: Kebudayaan, Adat, dan Legenda Suku Hawai’i (Keturunan Suku Polinesia), Keanekaragaman Hayati di Big Island (khususnya di Gunung Api Kīlauea dan Maona Loa), Geologi dan Gunung Api Kīlauea, dan Kilo (mindfulness). Para petugas juga mengajak Ikbal mengunjungi sebagian besar destinasi wisata alam di Hawai’i Volcanoes National Park, meliputi: Halemaumau Crater, Maona Loa Scenic Drive, Chain of Craters Road, Nāhuku Lava Tube, Kīlauea Iki Trail, Pu‘uloa Petroglyphs, dan Volcano House. Usai pelatihan intensif, Ikbal bertugas memberikan pelayanan publik di front desk kepada wisatawan yang datang dari seluruh dunia dalam Bahasa Inggris secara fasih. Selain itu, Ikbal juga diminta untuk membuat materi interpretasi sesuai minat materi untuk selanjutnya dibawakan dalam tur khusus bagi wisatawan. Ikbal mampu membuat sebuah tur interpretasi 60 menit dengan memuat informasi mengenai pengenalan dasar Hawai’i Volcanoes National Park beserta keanekaragaman hayatinya, sejarah letusan gunung api di Kīlauea, dan sejarah migrasi Suku Polinesia ke wilayah kepulauan Hawai’i. Sebagian besar wisatawan merasa puas dan senang dengan informasi yang diberikan. Salah satu wisatawan dari Amerika Serikat melontarkan komentar sponstan, “Saya pikir kamu orang asli setempat karena sangat menguasai materi dan fasih dalam berbahasa”. Ikbal juga berkesempatan berdialog dengan Kepala Balai Hawai’i Volcanoes National Park, Rhonda Loh, mengenai tantangan dan dinamika pengelolaan taman nasional yang dikelolanya. Ikbal juga berkesempatan berdialog dan belajar bersama divisi lainnya, diantaranya: Divisi Pengelolaan Satwa Liar dan Sumber Daya Alam Alam, Divisi Pengelolaan Sumber Daya Budaya, Divisi Penegakan Hukum dan Penyelamatan, Divisi Kehumasan, dan Divisi Perizinan. Sama halnya dengan Balai Taman Nasional Komodo, Hawai’i Volcanoes National Park juga memiliki program pendidikan konservasi yang disebut dengan Youth Ranger Internship Program yang digagas oleh Kupono McDaniel, seorang jagawana yang bertugas di Divisi Interpretasi dan Pendidikan. Program ini memberikan kesempatan bagi siswa menengah atas dari wilayah setempat untuk mendapatkan pelatihan mengenai taman nasional dan memberikan kesempatan magang berbayar selama minimal dua bulan kerja. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2014 yang dikelola bersama sebuah perusahaan mitra taman nasional, Friends of Hawai’i Volcanoes National Park, yang telah bermitra sejak lama dan membantu taman nasional dalam mengelola toko cinderamata resmi taman nasional dan berbagai kegiatan pendukung lainnya sepanjang tahun. Taman nasional merupakan destinasi wisata yang sangat penting bagi masyarakat di Amerika Serikat. Jumlah total wisatawan yang mengunjungi seluruh taman nasional di Amerika Serikat mencapai 331.9 juta pada tahun 2024 (National Park Service, 2025), sementara jumlah kunjungan wisatawan ke Hawai’i Volcanoes National Park sebanyak 1.620.294 (2023) dan 1.433.593 (2024) dengan kemungkinan peningkatan pada tahun 2025. Jika dibandingkan dengan Taman Nasional Komodo, angka ini sangat tinggi dibandingkan dengan jumlah kunjungan Taman Nasional Komodo pada tahun 2024 yaitu 334.206 dengan proporsi wisatawan domestik (32%) dan wisatawan mancanegara (68%). Kedua taman nasional ini memiliki kondisi geografis (kepulauan vulkanik) dan lansekap yang serupa, namun infrastruktur dasar di Hawai’i Volcanoes National Park lebih modern dan jalan utama terhubung langsung dengan kota besar terdekatnya di Hilo, berbeda dengan Taman Nasional Komodo dimana Kabupaten Manggarai Barat – Nusa Tenggara Timur sebagai pintu masuk terdekat terpisah oleh lautan dan berada di pulau berbeda. Perbedaan pengelolaan kedua taman nasional menjadi pelajaran penting bagi Ikbal untuk selanjutnya didiseminiasikan kepada rekan-rekannya di Balai Taman Nasional Komodo sepulang studinya nanti. Ikbal merasa program pertukaran personil berupa magang intensif sangat baik untuk peningkatan kapasitas petugas taman nasional di Indonesia. Selain dapat mengatasi permasalahan kejenuhan bekerja, pengalaman belajar di tempat yang baru yang terstruktur dan terarah memberikan banyak kesempatan belajar dan inovasi sehingga membentuk sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan berdaya saing tinggi. Sebagai reward dan bentuk ucapan terima kasih, Hawai’i Volcanoes National Park mengajak Ikbal dan peserta magang lainnya berwisata mengunjungi Puʻuhonua o Hōnaunau National Historical Park yang berada 3 jam dari lokasinya bekerja. Kunjungan ini membuat Ikbal tersadar bahwa banyak kemiripan unsur budaya Hawaii dengan Indonesia seperti pembuatan tikar anyaman pandan, permainan tarik tambang, permainan congklak, dan pembuatan kapal kayu. Hal ini mendukung teori migrasi Suku Polinesia yang berasal dari Taiwan lalu bergerak dan bermukim di Indonesia dan Filipina, lalu setelahnya berpisah ke Hawaii dan Madagaskar. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita dan Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Launching Aplikasi Siora Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 7 Juli 2025. Tingginya kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo dalam 10 tahun terakhir membuat kawasan konservasi ini menjadi salah satu destinasi wisata alam paling dikunjungi di Indonesia. Pada tahun 2024, Taman Nasional Komodo menerima jumlah kunjungan mencapai lebih dari 300.000 wisatawan yang sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara. Tingginya kunjungan wisatawan membuat instansi pemerintah harus melakukan transformasi pelayanan publik dengan menggunakan teknologi terbarukan agar pelayanan publik dapat berjalan optimal, mudah, efisien, dan real- time. Kementerian Kehutanan melalui Memorandum Dirjen KSDAE Nomor: M.2/KSA.3/1/2025 menekankan kewajiban seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen KSDAE untuk menerapkan sistem cashless payment dengan batas waktu paling lambat 31 Januari 2025. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu langkah untuk mendukung reformasi pemerintah dalam mengelola Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dengan lebih akuntabel, efisien, dan minim risiko. Menindaklanjuti hal tersebut, Balai Taman Nasional Komodo menciptakan aplikasi berbasis gawai bernama SiOra atau Sistem Informasi Ora (Komodo dalam Bahasa Manggarai dan Bahasa Komodo). SiOra merupakan sebuah aplikasi pada platform digital yang secara terintegrasi dalam melayani proses reservasi tiket (e- ticketing) dan digital self-interpretation yang dapat diunduh pada App Store maupun Google Play Store (siora.id). Inovasi digital ini dirancang guna menjawab tantangan manajemen pengunjung dan mekanisme perizinan yang mengedepankan kemudahan proses, waktu yang efisien, singkat, dan bisa dilakukan secara real-time, sesuai dengan kebutuhan pelayanan publik masa kini. Utamanya, SiOra memberikan kemudahan reservasi kunjungan dan pembayaran non-tunai yang dapat dilakukan melalui virtual account BRIVA (BRI), transfer bank, dan dompet digital (dana, flip, dan shopee pay). Namun selain fitur tersebut, SiOra juga juga memiliki fitur-fitur lainnya seperti navigasi zonasi, interpretasi obyek daya tarik wisata alam dalam 40+ bahasa, hingga memfasilitasi pemrosesan perizinan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) untuk kepentingan permohonan izin penelitian, fotografi dan videografi komersial, penerbangan drone, ekspedisi, maupun kepentingan lainnya yang diatur dalam peraturan di Kementerian Kehutanan. SiOra juga memberikan kemudahan bagi Urusan Keuangan Balai Taman Nasional Komodo menyediakan fitur back-office yang memudahkan petugas dalam menyediakan dan melaporkan data PNBP secara real-time dan memverifikasi jumlah kunjungan berdasarkan reservasi tiket terjual. Sementara bagi Urusan Kerja Sama, Kehumasan, dan Pelayanan, SiOra membantu mempercepat persetujuan izin SIMAKSI dan mendistribusikan informasi aturan melalui aplikasi secara real-time. Tentunya inovasi digital ini memiliki kendala tertentu yang perlu dimitigasi seiring diujicobakannya sistem. Salah satu tantangan dalam implementasi ini adalah berupa belum diketahuinya kewajiban penggunaan SiOra oleh sebagian pelaku wisata dan keterbatasan metode pembayaran melalui virtual account bagi wisatawan mancanegara yang tidak memiliki rekening bank dalam negeri. Saat ini, SiOra belum dapat menyediakan pembayaran menggunakan kartu debit atau kartu kredit karena terdapat biaya merchant discount rate (MDR) yang dibebankan kepada pengguna kartu, sementara biaya PNBP tidak boleh dikenakan biaya tambahan selain dengan yang telah diatur dalam peraturan pemerintah terkait PNBP. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Balai Taman Nasional Komodo meningkatkan distribusi informasi melalui media sosial Instagram dan melalui himbauan resmi kepada agen perjalanan wisata di Labuan Bajo. Selain itu, Balai Taman Nasional Komodo juga menyediakan fasilitas self-service reservation yang dapat dilakukan di Kantor Balai Taman Nasional Komodo, Komodo Visitor Center, dan Pelabuhan KP3 Labuan Bajo. Balai Taman Nasional Komodo juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membahas variasi mekanisme pembayaran yang lebih aplikatif bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Balai Taman Nasional Komodo melakukan peluncuran aplikasi SiOra pada tanggal 7 Juli 2025 di Puncak Waringin, Labuan Bajo. Peluncuran aplikasi ini secara resmi dilakukan oleh Dirjen KSDAE Kehutanan, Prof. Satyawan Pudyatmoko mewakili Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Peluncuran ini dihadiri lebih dari 70 undangan yang melibatkan instansi vertikal di Labuan Bajo, OPD Manggarai Barat, pelaku usaha wisata, tokoh masyarakat, dan mitra pengelolaan Balai Taman Nasional Komodo. Dalam peluncuran ini pun turut hadir Dirjen PDASRH, Dyah Murtiningsih, dan Inspektur Jenderal Kementerian Kehutanan, Komjen Pol. Djoko Poerwanto. Dalam sambutannya Dirjen KSDAE, berharap upaya integrasi teknologi dan digitalisasi pelayanan publik melalui kehadiran aplikasi SiOra dapat meningkatkan kualitas pengelolaan ekowisata Taman Nasional Komodo berkelas dunia yang juga turut mendukung fungsi perlindungan kawasan dan peningkatan nilai manfaat bagi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan dengan lebih baik di masa depan. Salam Siora! Aman, mudah, menyenangkan. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Clarita Wilhemina Sulastri, S.Hut. (085237187531) Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

SiOra: Inovasi Digital Layanan Publik Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 7 Februari 2025. Upaya meningkatkan kualitas pelayanan bagi pengunjung sekaligus mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efisien, Balai Taman Nasional Komodo resmi menerapkan SiOra, aplikasi layanan reservasi tiket dan interpretasi mandiri. Peluncuran SiOra sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengedepankan pariwisata berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi digital. SiOra dihadirkan sebagai inovasi digital yang memungkinkan wisatawan melakukan reservasi tiket secara daring, meminimalkan antrean fisik, serta memperkaya pengalaman interpretasi mandiri di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Melalui fitur e-ticketing, pengunjung dapat membeli tiket masuk langsung melalui aplikasi tanpa perlu datang ke loket. Selain itu, fitur self-interpretation memberi akses informasi edukatif tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem yang ada di kawasan taman nasional. Sebagai langkah strategis dalam meningkatkan pengelolaan pariwisata berbasis teknologi, penerapan SiOra memberikan manfaat signifikan, baik bagi wisatawan maupun pengelola kawasan. Aplikasi ini dilengkapi dengan beragam fitur yang mendukung pengelolaan destinasi secara lebih efektif sekaligus meningkatkan kenyamanan dan kemudahan akses layanan wisata. Meski demikian, di balik keberhasilan perencanaan dan implementasi SiOra, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, khususnya di Resort Loh Buaya. Beberapa kendala yang ditemukan antara lain: kompatibilitas aplikasi dengan tipe ponsel tertentu, kesulitan adaptasi dari sebagian agen perjalanan dalam mengoperasikan aplikasi, serta keterbatasan wisatawan yang tidak memiliki mobile banking atau hanya menggunakan kartu kredit. Selain itu, masalah teknis seperti notifikasi “full booked” meskipun slot reservasi masih tersedia juga sempat muncul. Pengelola Taman Nasional Komodo bersama pengembang aplikasi, PT. Nuansa Cerah Informasi, telah bergerak cepat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut agar penerapan SiOra semakin optimal dan mampu mendukung pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan. Sejak diluncurkan pada 1 s.d. 5 Februari 2025, SiOra telah memperoleh beragam respons, baik positif maupun masukan konstruktif dari wisatawan. Khusus di Resort Loh Buaya, tercatat 1.301 wisatawan melakukan pembelian tiket secara daring melalui fitur e-ticketing SiOra. Angka ini menunjukkan antusiasme tinggi wisatawan dalam memanfaatkan digitalisasi untuk menciptakan pengalaman berwisata yang lebih nyaman, efisien, sekaligus ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan tiket fisik. Dalam mendukung implementasi SiOra, mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada turut berperan aktif, khususnya di Resort Loh Buaya. Mereka membantu proses pelayanan tiket serta memberikan edukasi kepada wisatawan mengenai penggunaan aplikasi. Peran mahasiswa meliputi pendampingan wisatawan saat melakukan pemesanan tiket, memastikan kelancaran transaksi, sekaligus menyampaikan manfaat digitalisasi dalam pengelolaan ekowisata berbasis konservasi berkelanjutan. Mahasiswa juga terlibat dalam pencatatan dan analisis data jumlah wisatawan pengguna SiOra, yang menjadi bahan evaluasi efektivitas sistem e-ticketing, serta memberikan informasi tentang konservasi dan upaya perlindungan ekosistem Taman Nasional Komodo. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Ahli Pertama - Ikhwan Syahri, S.Hut. (081236004009) Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Mahasiswa Poltekpar NHI Bandung Terlibat Ranger Goes To School

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 8 Mei 2025. Sejumlah mahasiswa Program Studi Destinasi Pariwisata (DEP) dan Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Politeknik Pariwisata NHI Bandung turut dilibatkan dalam kegiatan pendidikan konservasi Taman Nasional Komodo, Ranger Goes to School (RGTS), yang dilaksanakan pada 8 Mei 2025 di SMK Negeri 1 Labuan Bajo. Pelibatan mahasiswa Politeknik Pariwisata NHI Bandung ini berlangsung bersamaan dengan agenda Kelas Inspirasi, salah satu bagian penting dari Program RGTS. Kelas Inspirasi bertujuan menghadirkan individu teladan yang mampu memberikan motivasi kepada peserta didik RGTS untuk meraih beasiswa serta melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam kegiatan ini, para mahasiswa menyampaikan informasi mengenai profil kampus, jalur penerimaan, serta peluang beasiswa yang tersedia di Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Mereka juga memperkenalkan Program Studi Destinasi Pariwisata (DEP) dan Usaha Perjalanan Wisata (UPW) kepada peserta didik jurusan Usaha Layanan Pariwisata (ULP) di SMK Negeri 1 Labuan Bajo, sekaligus berbagi pengalaman mengenai praktik lapangan dan prospek karier di bidang pariwisata. Keterlibatan ini memperkuat hubungan antarinstansi, khususnya antara Balai Taman Nasional Komodo dengan Politeknik Pariwisata NHI Bandung, yang telah memberikan ruang pengabdian masyarakat bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan generasi muda di Labuan Bajo serta mendukung peningkatan kesadaran konservasi sejak dini. Sebagai penutup, mahasiswa NHI Bandung mengapresiasi Program Ranger Goes to School yang tidak hanya memberikan wawasan tentang konservasi alam dan budaya lokal, tetapi juga membuka kesempatan bagi mereka untuk berbagi inspirasi dengan siswa-siswi setempat. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan, sehingga semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk menjaga kelestarian Taman Nasional Komodo sekaligus mengembangkan potensi pariwisata berkelanjutan di daerahnya. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: 1. Mahasiswa Prodi Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung Rizaki Mahira (+628122021021) 2. Mahasiswa Prodi Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung Erick Pahotan Malau (+6281395225090) Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Tepekong rangkang Penghuni Taman Nasional Batang Gadis

Panyabungan, 12 September 2025. Tepekong rangkang (Hemiprocne comata) adalah spesies burung dalam Family Hemiprocnidae dan merupakan yang terkecil dari empat spesies dalam Genus Hemiprocne. Burung ini dapat ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan, salah satunya di Taman Nasional Batang Gadis. Ciri khasnya unik, memiliki pola seperti kumis dan alis putih memanjang sehingga tampak seperti orang tua bijak. Jantan punya corak coklat kemerahan di area telinga, sedangkan betina bercorak kebiruan. Bagian atas tubuhnya cokelat, perut putih, dengan sayap dan kepala hitam-biru mengkilap. Ekornya bercabang seperti garpu, paruhnya pendek dan runcing untuk berburu di udara. Ukurannya mungil, hanya 14–16 cm dengan bentang sayap sekitar 13 cm. Suara khasnya berupa decitan bersemangat dan ocehan bernada tinggi. Habitatnya ada di hutan dataran rendah, hutan bakau, hingga hutan pegunungan lembap. Biasanya hinggap di tenggeran terbuka di kanopi atau tepi bukaan hutan, dan beristirahat berkelompok di malam hari untuk menjaga keamanan. Status konservasi: Least Concern (LC) menurut IUCN Red list. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai KSDA Kalsel Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Kelompok “Bunga Tanjung” di Desa Tanjung Seloka Utara

Tanjung Seloka Utara, 29 Agustus 2025 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Kelompok Pemberdayaan Masyarakat bagi Kelompok “Bunga Tanjung” di Desa Tanjung Seloka Utara. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan dan kapasitas kelompok dalam mengembangkan usaha yang berkelanjutan, meningkatkan perekonomian masyarakat, sekaligus mendukung upaya konservasi sumber daya alam di sekitar desa. Acara diawali dengan sambutan dari Penyuluh Kehutanan, Bapak Eddy Kurniawan Astanto, A.Md, yang menyampaikan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi. Dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi acara oleh Kepala Desa Tanjung Seloka Utara, Bapak Syarifuddin, yang memberikan apresiasi kepada Balai KSDA Kalsel atas pendampingan yang terus dilakukan di desanya. Dalam sesi materi, Penyuluh Kehutanan Mega Aulia Rahmayanti, S.Hut dari KPH Pulau Laut Sebuku menyampaikan tentang Penguatan Kelembagaan, menekankan pentingnya struktur organisasi yang solid agar kelompok mampu berkembang dan mandiri dalam jangka panjang. Selanjutnya, materi keterampilan praktis disampaikan oleh Penyuluh Pertanian Dirham, S.ST. dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kotabaru. Beliau memberikan pelatihan tentang cara membuat gula semut serta permen gula aren dengan kacang. Materi ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif usaha produktif yang memiliki nilai tambah, sekaligus memanfaatkan potensi lokal yang ada di desa. Melalui kegiatan ini, diharapkan Kelompok “Bunga Tanjung” semakin mampu mengembangkan ide-ide usaha berbasis hasil hutan bukan kayu (HHBK), memperkuat kelembagaan kelompok, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan aspek kelestarian lingkungan. (Ryn) Sumber: Sarah Damayanti N., S.Hut. - Penyuluh SKW III Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Derap Gajah Sumatera Menggema di Aek Nauli: Seruan Konservasi untuk Masa Depan

Simalungun, 2 September 2025 – Derap langkah Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) menggema di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Sabtu (30/8/2025). Momen itu terekam dalam liputan Tim TVRI Sumatera Utara bertema “Energi Konservasi Aek Nauli”, yang didampingi Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara pada Bidang Wilayah II Pematangsiantar. Liputan tidak hanya menyoroti upaya penyelamatan gajah, salah satu satwa dilindungi yang kian terancam, tetapi juga konservasi flora. Di antaranya anggrek hutan dari famili Orchidaceae serta kantung semar dari famili Nepenthaceae, dua kelompok tanaman yang menjadi ikon kawasan Aek Nauli. Program konservasi ini turut didukung PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar lewat program CSR. Dukungan ini diharapkan memperkuat perlindungan flora dan fauna, sekaligus menjadikan Aek Nauli sebagai pusat edukasi dan wisata konservasi di Sumatera Utara. Dalam kegiatan ini, narasumber utama, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Elvina Rosinta Dewi, S. Hut, M.I.L, memberikan penjelasan mendalam tentang pentingnya konservasi satwa dan tumbuhan hutan. Narasumber pendamping juga turut hadir, yaitu salah satu Mahout (Pelatih Gajah), Yopi Widianto, yang sehari-hari mendampingi gajah, serta Manager PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar, Zakharia Habibuw, yang menegaskan dukungan BUMN dalam pelestarian ini. Melalui tayangan program ini, diharapkan pesan konservasi dapat mengetuk hati masyarakat luas dan menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tugas bersama demi keberlangsungan hidup Gajah Sumatera dan kekayaan hayati Nusantara. ANECC sendiri menjadi saksi sekaligus benteng konservasi, tempat gajah-gajah Sumatera dirawat dan dilindungi. Bersama anggrek hutan yang memesona dan kantung semar yang unik, kawasan ini menjadi simbol nyata bahwa alam akan tetap lestari bila dijaga dengan kesungguhan. Mari bersama menjaga ANECC, melindungi Gajah Sumatera dan merawat hutan kita demi masa depan generasi yang akan datang. Sumber: Resor ANECC dan CA Batu Gajah-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kolaborasi Mitigasi Kemunculan Harimau di Desa Rih Tengah, Kecamatan Kuta Buluh, Kabupaten Karo

Upaya penghalauan harimau dengan petasan Desa Rih Tengah, 2 September 2025. Berita Kemunculan 1 (satu) ekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di perladangan masyarakat pada Rabu (27/8) sekitar pukul 17.53 Wib, bermula dari rekaman video handphone oleh salah seorang warga masyarakat Desa Rih Tengah, yang sedang mengolah tanah dari atas traktor bersama dengan operator traktor. Hasil rekaman video tersebut kemudian diinformasikan kepada Kepala Desa Rih Tengah, Sarianna Br Karo dan diteruskan ke Camat Kuta Buluh, Budi Mulia Tarigan, SE, MM. Selanjutnya berbekal pengetahuan bahwa bahwa instansi yang berwenang menangani permasalahan satwa liar adalah Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Camat Kuta Buluh menghubungi petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resor TWA Deleng lancuk, Bergiat Sembiring, guna melaporkan informasi kemunculan harimau tersebut. Rekaman video kemunculan Harimau Sumatera ini kemudian beredar luas di media sosial yang membuat keresahan masyarakat terkait keamanan dalam melakukan aktvitas ke ladang. Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara dari Resor TWA Deleng Lancuk, dikoordinir Kepala Resort, Samuel Siahaan, S.P., beserta stafnya Bergiat Sembiring dan Febernando Surbakti, bergerak cepat merespon laporan serta keresahan warga dengan menyambangi lokasi, pada Kamis (28/8) sekitar pukul 12.30 Wib. Di lokasi Tim berkoordinasi dengan Kepala Desa Rih Tengah, Sekretaris Desa, Sariono Sembiring, dan salah satu warga, Serasi Sembiring. Tim melakukan penyisiran lokasi dan menemukan 1 jejak tapak Harimau Sumatera berukuran lebar 10 cm, yang masih tampak terlihat bekas jejaknya. Kemudian petugas Resor menyalakan petasan sebanyak 2 buah, dengan tiap dentuman sebanyak 14 kali. Tujuannya untuk menghalau/mengusir harimau agar masuk kembali ke hutan. Disamping itu, untuk memberikan rasa aman dan tenang bagi warga masyarakat Desa Rih Tengah. Sekitar pukul 14.30 Wib, Tim kembali ke kantor Desa Rih Tengah guna mengkoordinasikan upaya bersama dalam penanganan atas kemunculan Harimau Sumatera sambil terus memantau perkembangan. Di kantor desa, Tim berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, seperti Ketua BPD Rih Tengah, Toto Pranata Sembiring, Personil Polsek Kuta Buluh, Aipda Topan Bangun dan Aipda Delta Tarigan, Sersan Satu Usman dari Koramil 05 /Payung, serta Camat Kuta Buluh, Amir Sembiring. Hasil pertemuan disepakati akan kembali ke lokasi munculnya Harimau untuk memantau dan menyalakan petasan, dengan harapan agar satwa liar tersebut kembali ke hutan dan semakin menjauh dari aktivitas dan permukiman masyarakat. Penyerahan bantuan petasan kepada 3 kepala desa dan warga Selain itu, Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga memberikan sosialisasi serta himbauan kepada pemerintahan desa untuk disampaikan kepada warga agar tidak melakukan aktivitas di sore hari dan pulang ke rumah sebaiknya lebih cepat, ke ladang tidak sendiri sendiri namun bersama-sama, kemudian warga tidak melakukan perbuatan memasang jerat dekat hutan, memburu, melukai ataupun meracuni satwa khususnya yang dilindungi undang-undang sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Usai berkoordinasi di kantor Desa Rih Tengah, sekitar pukul 16.00 Wib, Tim kembali ke lokasi kemunculan harimau untuk mengecek dan memonitoring. Sebelum tiba di lokasi Tim bersama KPH XV Kabanjahe, Kepala Desa Rih Tengah, Ketua BPD Rih Tengah, personil Polsek Kuta Buluh, personil Koramil 05 /Payung, serta staf Camat Kuta Buluh, meluangkan waktu mengadakan pertemuan dengan PT Wampu Electric Power (WEP) di kantor PT WEP yang diterima Habibullah Hasibuan (Staf Bagian HSE PT WEP) didampingi Hastulo Zebua (Humas PT WEP), Taufik Wahid Nasution (Pengamanan Polda Sumut). Dalam pertemuan singkat tersebut Tim menyampaikan himbauan dan ajakan untuk bersama sama berperan serta dalam penanganan permasalahan munculnya Harimau Sumatera yang lokasinya berada berdekatan dengan kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PT WEP. Sehingga kepada pihak manajemen disampaikan pesan untuk menghimbau dan mengingatkan agar seluruh karyawan lebih waspada dan berhati-hati. Usai pertemuan dilanjutkan dengan kembali menyalakan petasan di lokasi munculnya Harimau Sumatera. Pada hari kedua, Jumat (29/8) sekitar pukul 10.00 Wib Tim gabungan Balai besar KSDA Sumatera Utara bersama sama Forkopincam terdiri Camat Kuta Buluh, Kapolsek Kuta Buluh AKP Poltak Hamonangan Hutahaean, SH, Kepala Desa Rih Tengah, Kepala Desa Ujung Deleng, Kepala Desa Tanjung Merahe, Tim UPT KPH XV Dinas LHK Provinsi Sumut, serta staf HSE PT Wampu Electric Power (WEP) untuk ketiga kalinya menyalakan petasan sebanyak 2 buah, masing-masing oleh Camat dan Kapolsek Kuta Buluh. Disamping itu, dilakukan juga penyerahan petasan secara simbolis kepada 3 Kepala Desa yaitu Kepala Desa Rih Tengah, Kepala Desa Ujung Deleng dan Kepala Desa Tanjung Merabe serta 1 warga masyarakat pemilik lahan tempat lokasi munculnya Harimau Sumatera, yang diserahkan oleh Camat Kota Buluh, Kapolsek Kuta Buluh dan Staf Resor TWA Deleng Lancuk, Bergiat Sembiring. Setelah selama 2 hari memantau lokasi dan kondisi di lapangan sudah berangsur kondusif aman dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kemunculan si raja hutan, ditambah lagi kegiatan aktivitas pengolahan tanah menggunakan traktor sudah bekerja sebagaimana biasanya, akhirnya Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyelesaikan tugas dan misinya, namun tetap melakukan pemantauan dengan membangun komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Apresiasi dan terima kasih tentunya disampaikan kepada berbagai pihak yang sudah ikut dalam kegiatan mitigasi tersebut, semoga kolaborasi yang sudah terjalin dengan baik tetap terus terjaga dan terawat untuk menyelamatkan satwa liar dilindungi serta memberi rasa aman bagi warga dalam beraktivitas. Kolaborasi dan sinergitas menjadi kunci dalam mitigasi kemunculan harimau Sumber : Tim Resort TWA Deleng Lancuk – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai KSDA Jambi Tingkatkan Kapasitas Penyuluh Untuk Mitigasi Interaksi Negatif Manusia dan Satwa Liar

Jambi, 26 Agustus 2025 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jambi menyelenggarakan Peningkatan Kapasitas Penyuluhan Kehutanan dalam rangka Mitigasi Interaksi Negatif Manusia dan Satwa Liar. Acara yang berlangsung selama dua hari, dari tanggal 26 hingga 27 Agustus 2025, bertempat di Hotel Aston Jambi. Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Kepala Balai KSDA Jambi, Bapak Agung Nugroho, S.Si., M.A. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadiri oleh 40 peserta dari 24 instansi/lembaga di Provinsi Jambi. Para peserta terdiri dari unsur fungsional penyuluh kehutanan, PEH, Polhut, personel BPPH, mitra LSM, dan jurnalis. Kepala BKSDA Jambi mengatakan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan dan menyegarkan kemampuan sumber daya manusia penyuluh dan petugas terkait dalam menjalankan tugas outreach kepada masyarakat di sekitar hutan. Beliau juga menekankan pentingnya pengelolaan interaksi negatif, mengingat status populasi satwa kharismatik seperti Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera yang terancam punah. Kegiatan penyuluhan diharapkan berperan signifikan dalam mengubah persepsi masyarakat terhadap satwa liar, dari yang awalnya dianggap sebagai ‘hama’ menjadi bagian dari ekosistem yang harus dijaga. Selain itu, masyarakat juga perlu didampingi melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi agar kesejahteraan tetap terjaga. Kepala Balai juga menambahkan, secara kultural, satwa-satwa ini memiliki status sosial yang tinggi dan dihormati dengan sebutan ‘Datuk’, yang dapat menjadi modalitas penting dalam upaya mitigasi. Setelah sambutan Kepala Balai, acara dilanjutkan dengan sambutan pembuka dari Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, drh. Indra Exploitasia Semiawan, M.Si. Beliau menekankan pentingnya peran penyuluh kehutanan sebagai ujung tombak dalam mengurangi interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. Melalui Kegiatan Peningkatan Kapasitas Penyuluhan Kehutanan dalam Mitigasi Interaksi Negatif Manusia dan Satwa Liar ini, para penyuluh semakin cakap dalam menyampaikan informasi terkait interaksi egative manusia dan satwa liar. Adapun peserta yang diundang berasal dari berbagai instansi, antara lain: Balai KSDA Jambi, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Balai Besar TNKS, Balai TN Berbak Sembilang, Balai TN Bukit Tiga Puluh, KPHP, Platform Kolaborasi Bukit Tiga Puluh (PKMH), perusahaan swasta seperti PT. Alam Bukit Tiga Puluh, PT. WKS, PT. Lestari Asri Jaya, PT. Agronusa Alam Sejahtera, serta organisasi nirlaba seperti WWF-Indonesia, FZS, dan PT. REKI. Pada tanggal 27 Agustus, materi yang disampaikan dalam kegiatan ini berasal dari empat narasumber kompeten, berasal dari : Selain itu, diadakan pula sesi berbagi pengalaman dari lapangan yang disampaikan oleh drh. Zulmanudin dari tim medis, Bapak Ikawa dari Seksi KSDA Wilayah I yang telah mengabdi selama 28 tahun, serta Hilal dari Frankfurt Zoological Society (FZS) yang menjelaskan teknik perilaku satwa. Di sesi akhir acara, narasumber dari BP2SDM yang didampingi oleh Kepala Balai KSDA Jambi, Bapak Agung Nugroho, memimpin Coaching Clinic. Peserta diajak berdiskusi interaktif untuk memperdalam pemahaman mereka tentang tantangan dan solusi di lapangan. Diharapkan, setelah mengikuti kegiatan ini, para penyuluh dapat memiliki wawasan dan kemampuan yang lebih baik untuk menjadi agen perubahan di masyarakat, serta mampu menyampaikan informasi yang relevan guna mengurangi interaksi negatif antara satwa liar dan manusia. Sumber: Balai KSDA Jambi
Baca Artikel

Hidup Berdamai dengan Monyet, Jalan Panjang Mengurai Interaksi Negatif Manusia Satwa di Yogyakarta

Yogyakarta, 25 Agustus 2025. Interaksi negatif antara manusia dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kembali menjadi sorotan. Forum Group Discussion (FGD) Penanganan Monyet Ekor Panjang di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dan lembaga peduli konservasi. Pertemuan yang diinisiasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) ini menghasilkan kesepakatan awal, perlu dibentuk Tim Terpadu dan peta jalan penanganan konflik yang nantinya akan ditetapkan melalui Keputusan Gubernur. “Keutuhan habitat menjadi kunci. Saat hutan rusak atau ditanami monokultur yang tidak disukai monyet, mereka keluar mencari makan. Dan seringkali, manusia yang mereka temui,” tegas Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut, M.Sc. - Dirjen KSDAE dalam pembukaan. Potret Konflik yang Mengemuka Data hasil kajian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY menunjukkan bahwa sedikitnya 1.980 individu monyet ekor panjang tersebar di tiga kabupaten: Bantul (471 ekor), Kulon Progo (557 ekor), dan Gunungkidul (792–952 ekor tergantung musim). Gunungkidul menjadi episentrum konflik dengan luasan habitat potensial lebih dari 21.600 Ha, diikuti Bantul sekitar 5.500 Ha dan Kulon Progo 2.599 Ha. Pemetaan kantong konflik memperlihatkan intensitas yang tinggi di desa-desa seperti Song Banyu, Tepus, Kemadang, Nglanggeran, hingga Wukirsari dan Mangunan. Serangan monyet tidak hanya merusak ladang jagung, pisang, dan ketela, tetapi juga menyusup hingga pekarangan rumah warga. Waktu-waktu rawan serangan pun terpetakan: pagi hari (04.30–06.00), siang (10.30–14.00), dan sore menjelang malam (17.00–18.30), terutama di musim tanam dan panen. Jawa Timur Turut Berbagi Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) turut hadir untuk berbagi pengalaman. Dalam kurun 2018–2025, BBKSDA Jatim telah melepasliarkan 480 ekor monyet ekor panjang hasil sitaan dan serahan ke Suaka Margasatwa Nusa Barung. Namun, pengalaman lapangan di Mojokerto menunjukkan betapa peliknya persoalan ini. Di Desa Cembor, Kecamatan Pacet, panen jagung warga merosot drastis dari rata-rata satu ton menjadi hanya 400 kilogram. Upaya mitigasi lokal seperti pagar kawat, orang-orangan sawah, hingga penggunaan petasan terbukti tidak efektif. Solusi hanya mungkin dicapai dengan pendekatan komprehensif, rehabilitasi habitat, patroli bersama, penyusunan Perdes mitigasi satwa liar, dan pemberdayaan masyarakat. Tekanan Pembangunan dan Perubahan Habitat Kasus DIY memiliki kompleksitas tersendiri. Analisis Balai KSDA Yogyakarta menunjukkan bahwa pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) telah membelah habitat alami di kawasan karst. Vegetasi terpotong, konektivitas ekologis menurun, dan fragmentasi habitat kian nyata. Akibatnya, monyet memperluas jelajahnya hingga ke lahan pertanian dan pemukiman. Data perjumpaan dari 2012 hingga 2024 menunjukkan lonjakan signifikan, dari sebaran terbatas di Purwosari dan Girisubo, kini meluas hingga Paliyan, Ponjong, Semin, dan Ngawen dengan total lebih dari 1.372 individu. Status Konservasi, Antara Ancaman dan Adaptasi Secara global, monyet ekor panjang kini berstatus Endangered dalam Daftar Merah IUCN sejak 2022. Prof. Amir Hamidy menekankan bahwa perubahan status ini harus jadi alarm serius: “Dulu dianggap Least Concern, lalu naik ke Vulnerable, dan kini Endangered. Ancaman utama bukan hanya deforestasi, tetapi juga konflik dengan manusia, perdagangan ilegal, dan risiko zoonosis.” Ironisnya, populasi di wilayah urban justru meningkat. Kemampuan adaptasi ekstrem membuat monyet bertahan hidup di pasar, obyek wisata, bahkan kampus. Mereka menjadi satwa di ambang kepunahan global, tetapi sering dianggap hama di level lokal. Menyusun Jalan Tengah Pertemuan di Yogyakarta merumuskan sejumlah strategi. Perbaikan habitat melalui penanaman pohon pakan alami seperti kersen, duwet, belimbing wuluh, hingga beringin. Manajemen populasi berbasis sains, sterilisasi terkendali, relokasi, dan monitoring dengan teknologi. Penguatan kelembagaan, pembentukan Satgas Penanganan MEP di tingkat desa dan koordinasi lintas sektor serta Koeksistensi manusia–satwa dalam bentuk sosialisasi hukum, pendidikan konservasi, dan pengembangan ekowisata berbasis interaksi aman. Prinsip Mamayu Hayuning Bawono yang secara lebih luas mengajak setiap individu untuk hidup harmonis dengan alam dan sesama manusia, serta menjaga keseimbangan ekosistem demi mencapai keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup, dijadikan landasan filosofis. Hidup berdampingan dengan monyet bukan sekadar kompromi, melainkan kebutuhan demi menjaga kelestarian ekosistem sekaligus keberlanjutan hidup manusia. Jalan Panjang yang Baru Dimulai FGD di Yogyakarta menandai babak baru dalam penanganan konflik monyet ekor panjang di Tanah Jawa. Dari data lapangan, kajian ilmiah, hingga pengalaman nyata di Jawa Timur, semuanya menunjukkan satu kebenaran, tidak ada solusi tunggal. Hidup berdamai dengan monyet adalah perjalanan panjang. Sebuah jalan yang memerlukan keberanian untuk menata ulang pembangunan, kebijaksanaan dalam menjaga hutan, dan kesabaran dalam membangun harmoni antara manusia dan satwa liar dan di Yogyakarta, langkah pertama baru saja diambil. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kolaborasi BBKSDA Jatim dan PLN Menghadapi Ancaman Monyet Ekor Panjang

Pandaan, 25 Agustus 2025. Di tengah deru mesin dan tegangan tinggi jaringan transmisi listrik, ancaman tak terduga datang bukan dari kerusakan teknis, melainkan dari penghuni hutan, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Primata yang lincah dan cerdas ini sering menjelajah Gardu Induk (GI), GITET, hingga tower SUTT/SUTET, memicu risiko korsleting, pemadaman regional, bahkan korban jiwa satwa liar. Menyadari urgensi itu, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Bedah Teknik Pemeliharaan PLN UIT JBM Tahun 2025 di Pandaan, Senin (25/8). Hadir memberikan materi adalah Hari Purnomo, Polhut Madya BBKSDA Jatim, bersama drh. Zakia Sheila Faradilla, S.KH, dokter hewan Wildlife Rescue Unit BBKSDA Jatim. Para peserta yang merupakan semua management PLN UIT JBM. (General Manager, Para Senior Manager, Para Manager Subbidang, Para Asisten Manager, Para Manager ULTG, Para Team Leader, Para Perwakilan Staf Pemeliharaan Gardu Induk se Jatim dan Bali.tampak antusias menyimak pemaparan. Bukan hanya sekadar mendengar, mereka bahkan menyatakan komitmen untuk mengimplementasikan rekomendasi konservasi yang disampaikan narasumber, mulai dari pengelolaan sampah di sekitar GI, pemasangan pagar anti-primata, hingga pentingnya buffer zone vegetasi yang tidak menarik monyet. Gangguan monyet ekor panjang tidak bisa dipandang sebelah mata. Primata yang adaptif ini sering melompat antar kabel, menggigit panel, hingga masuk ke gardu karena tertarik oleh sisa makanan. Aktivitas berkelompok mereka berpotensi menyebabkan korsleting, kerusakan peralatan, dan pemadaman listrik berskala besar. Lebih jauh, satwa yang tersengat listrik bukan hanya kehilangan nyawa, tetapi juga menimbulkan konflik baru dengan masyarakat yang menganggapnya “hama”. BBKSDA Jatim menekankan bahwa tidak ada solusi tunggal dalam mitigasi. Pendekatan harus terintegrasi: teknis, non-teknis, ekologis, dengan indikator efektivitas, efisiensi, dan keterukuran. Kegiatan ini menjadi contoh nyata sinergi antara konservasi satwa liar dan ketahanan energi nasional. PLN sebagai penyedia listrik berkomitmen menjaga andal distribusi, sementara BBKSDA Jatim memastikan setiap upaya pemeliharaan tetap selaras dengan prinsip konservasi. Apa yang terjadi di Pandaan menjadi pengingat bahwa coexistence hidup berdampingan adalah kunci. Menjaga listrik tetap menyala bukan berarti harus memadamkan kehidupan satwa liar. Justru dengan merawat keduanya, manusia sedang memastikan masa depan yang lebih terang, bagi alam maupun peradaban. “Energi adalah nadi kehidupan manusia, satwa liar adalah nadi ekosistem. Mitigasi gangguan primata di instalasi kelistrikan bukan hanya menjaga cahaya tetap menyala, tetapi juga memastikan alam tetap lestari”. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pemberian Cahaya Baru Bagi di Dusun Bandealit TN Meru Betiri

Jember, 16 Agustus 2025. Pemerintah Kabupaten Jember, dan PT PLN Persero serta pihak terkait melaksanakan Penyalaan Listrik secara simbolis guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di Dusun Bandealit, Taman Nasional Meru Betiri. Secercah cahaya ini bukan hanya menyinari Dusun Bandealit yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri, tetapi juga menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat yang telah lama menantikan hadirnya akses listrik. Kerja sama ini mencerminkan semangat gotong royong dalam mewujudkan pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah konservasi yang memiliki tantangan tersendiri. Dusun Bandealit, yang selama ini berada dalam keterbatasan akses energi listrik karena lokasinya yang terpencil dan berada dalam kawasan konservasi, kini mulai merasakan manfaat dari infrastruktur dasar yang selama ini dinanti. Proyek ini tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi kemajuan ekonomi lokal, pendidikan, layanan kesehatan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, langkah ini menjadi suatu motivasi untuk bersama menjaga kawasan Taman Nasional Meru Betiri sebagai salah satu Desa Penyangga Kawasan. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa dengan visi bersama dan koordinasi lintas sektor, pembangunan berkelanjutan di kawasan konservasi bisa berjalan selaras antara pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terangnya Dusun Bandealit adalah simbol komitmen semua pihak untuk terus menjalin sinergi demi masa depan yang lebih baik dan merata. Melalui momentum ini, kita diingatkan kembali bahwa kemajuan bangsa bukan hanya soal kota besar yang makin modern, tetapi juga tentang menyinari dusun-dusun terpencil dengan harapan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Artikel

Pawai Konservasi, Semarak Semarak HUT ke-80 RI di Kecamatan Naman Teran

Kuta Gugung, 25 Agustus 2025. Menyambut detik-detik peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025, Pemerintah Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, menggelar barisan pawai kebangsaan yang diikuti berbagai unsur masyarakat yang ada di Kecamatan Naman Teran. Rangkaian pawai ini diikuti oleh siswa-siswi SD dan SMP beserta para guru, perangkat desa, pegawai pemerintah kecamatan, mahasiswa KKN, Paskibraka, marching band, barisan veteran, hingga masyarakat umum. Suasana penuh semangat kebersamaan dan cinta tanah air mewarnai jalannya pawai yang menjadi bagian dari semarak perayaan HUT ke-80 RI. Yang menarik perhatian, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara melalui Resor TWA Deleng Lancuk bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) turut ambil bagian dalam kegiatan pawai. Mereka memamerkan kekayaan flora, fauna dan potensi Taman Wisata Alam Deleng Lancuk yang secara administratif berada di Kecamatan Naman Teran. Melalui partisipasi ini, tim Resor TWA Deleng Lancuk mengajak masyarakat untuk semakin mengenal, mencintai dan menjaga kekayaan alam sekitar. Pesan konservasi yang dibawa tidak hanya ditujukan kepada generasi muda, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua agar bersama-sama menjaga kelestarian alam demi generasi mendatang. Kegiatan ini menjadi momen penting dalam penyebarluasan pengetahuan mengenai TWA Deleng Lancuk yang mungkin sebelumnya belum banyak dikenal masyarakat. Dengan hadirnya Tim Resor TWA Deleng Lancuk di tengah semarak perayaan kemerdekaan di Kecamatan Naman Teran, masyarakat memperoleh wawasan baru sekaligus semangat kebangsaan yang berpadu dengan semangat pelestarian lingkungan. “Semangat kemerdekaan bukan hanya merdeka dari penjajahan, tetapi juga merdeka untuk menjaga, melestarikan, dan mewariskan alam yang lestari kepada anak cucu kita.” Merdeka. Salam Konservasi. Mejuah-juah! Sumber: Samuel Siahaan, SP PEH Pertama/Kepala Resor dan Staf Resor TWA Deleng Lancuk-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Save Orangutan,Ojo Kendor

Medan, 25 Agustus 2025. Menarik membaca penggalan tulisan dari Riezcy Cecilia Dewi, Juru Kampanye Satya Bumi (Opini : Orangutan Tapanuli di Ambang Kepunahan, Mongabay.co.id, 19 Agustus 2025) “Kita hidup di zaman ketika punahnya satu spesies bukan lagi karena bencana alam, tetapi oleh ambisi dan kelalaian manusia. Orangutan Tapanuli, kera besar yang hanya hidup di satu titik kecil di dunia, di Sumatera Utara, Indonesia, kini berdiri di tepi jurang kepunahan. Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang harus diselamatkan ?” tetapi “mengapa kita terus menciptakan kehilangan?”. Pesan ini, tentunya menjadi bahan refleksi dalam menyikapi perkembangan penyelamatan dan pelestarian satwa liar dilindungi, khususnya orangutan yang merupakan salah satu spesies kunci, yang memainkan peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Hilangnya satu spesies kunci dapat memicu efek berantai berupa terganggunya struktur komunitas, menurunkan keanekaragaman hayati, bahkan memicu keruntuhan ekosistem secara keseluruhan. Fenomena ini dikenal juga sebagai trophic cascade. Pesan ini pun menjadi krusial ketika seluruh dunia sedang merayakan Hari Orangutan Sedunia (World Orangutan Day) yang diperingati setiap tanggal 19 Agustus. World Orangutan Day (WOD) atau disebut pula International Orangutan Day (IOD), diperingati untuk mendorong masyarakat melestarikan salah satu spesies luar biasa yaitu orangutan. Orangutan adalah salah satu primata atau satwa yang terancam punah keberadaannya. Tahun ini, tema Hari Orangutan Sedunia adalah “Love for Orangutan, Kawal Jangan Dijual” (Mengapa Kita Penting Merayakan Hari Orangutan Sedunia ? www.kompasiana.com, 15 Agustus 2025). Lazimnya, di setiap tahun manakala masyarakat internasional memperingati dan merayakan WOD, selalu disosialisasikan tentang kehidupan, karakteristik dan perilaku Orangutan. Menjadi hal yang sering didengar bahwa Orangutan merupakan hewan soliter, yang tidak mempunyai banyak teman sejenis untuk mencari makanan, membuat rumah, dan kelangsungan hidup yang lain. Di alam liar, orangutan bisa hidup dengan ibunya kurang lebih 8 tahun, bahkan lebih. Induk orangutan mengajarkan anaknya hidup di hutan sebelum dapat hidup sendiri. Induk orangutan umumnya akan melahirkan setiap 8 tahun sekali, sehingga sepanjang hidupnya seekor induk Orangutan biasanya hanya melahirkan 4 hingga 5 bayi. Alasan inilah kenapa populasi orangutan berkembang sangat lambat (Sejarah Hari Orangutan Sedunia dan Fakta Menariknya, m.kumparan.com, 19 Agustus 2023) Kemudian, acap kali juga didengar retorika bahwa ancaman terbesar kehidupan orangutan adalah kehilangan habitat akibat deforestasi massif. Pembukaan hutan untuk perkebunan sawit, pertambangan, dan kegiatan illegal lainnya telah menyusutkan rumah mereka. Konflik antara manusia dan orangutan, hingga perdagangan satwa liar ilegal, yaitu anak orangutan diambil dari induknya yang dibunuh, masih terjadi (Melindungi Sang “Arsitek Hutan” di Hari Orangutan Sedunia, Christopel Paino, Mongabay.co.id, 19 Agustus 2025) Memang, kondisi pelestarian orangutan saat ini belum se-ideal yang diekspektasikan oleh banyak pihak. Namun bukan berarti tidak ada upaya-upaya yang dilakukan. Menyelesaikan permasalahan yang kompleks tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak tantangan yang harus dihadapi, sehingga butuh waktu, pengorbanan dan perjuangan yang gigih. Meskipun silent (senyap) dan jauh dari publikasi, gerakan konservasi orangutan sejatinya tetap terus bergerak. Kolaborasi beberapa pihak untuk memantau dan menyelamatkan orangutan baik melalui perdagangan maupun pemilikan/pemeliharaan secara illegal sampai saat ini masih terus bekerja. Belum lagi berbagai upaya penyelamatan melalui pusat karantina, yang ditujukan untuk merawat dan merehabilitasi orangutan korban perdagangan maupun interaksi negatif dengan warga, sampai kepada melepasliarkannya kembali ke habitat alami, ini tetap menjadi fokus perhatian pemerintah melalui Kementerian Kehutanan bersama dengan lembaga-lembaga mitra yang konsern untuk merealisasikannya. Giat ini dilakukan guna memastikan bahwa satwa spesies payung (umbrella spesies) ini dapat hidup dan berkembangbiak secara alami di “rumahnya”. Kampanye yang tiada henti untuk mengedukasi masyarakat lintas generasi dan profesi, menjadi rutinitas. Berbagai cara, media dan model pun dikemas agar pesan-pesan penyelamatan semenarik mungkin dan mudah dipahami. Harapannya tentu bukan hanya masyarakat teredukasi, lebih lagi tumbuh kesadaran (awareness) yang massif untuk peduli dan ikut mengambil bagian dalam upaya pelestarian Harus diakui bahwa tiga spesies orangutan ; Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Borneo, Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) di Sumatera Utara, menjadi fokus perhatian masyarakat dunia. Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) pun menempatkan ketiganya pada status kritis (Critically Endangered). Semua ini tentunya menjadi tantangan sekaligus “vitamin” yang memberi energi positif untuk terus bergerak melakukan yang terbaik bagi upaya penyelamatan orangutan. Peringatan WOD bukan sekedar perayaan yang tidak bermakna, sebaliknya menjadi momentum pengingat dan penggalangan partisipasi untuk bergerak dinamis dan berjuang bersama secara massal dan konsisten. Bila semua sudah terbangun kesadarannya, bukan mustahil Orangutan akan lestari dan sejahtera, hidup berdamai dengan manusia. Ini bukan ilusi, tapi ambisi yang harus diwujudkan. Ayo, Selamatkan Orangutan, Ojo kendor …. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 81–96 dari 1.989 publikasi