Selasa, 25 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Mahasiswa ITSBM Selayar Edukasi Ibu-ibu Desa Jinato Olah Limbah Ikan Jadi Somai

Jinato, Taka Bonerate — Suasana berbeda tampak di Desa Jinato, Taman Nasional Taka Bonerate, pada hari ini. Para ibu berkumpul dengan penuh semangat. Mereka tak hanya mendengar, tetapi juga langsung mempraktikkan. Mahasiswa ITSBM Selayar dari Program Studi Teknologi Hasil Perikanan menjadi penggerak utama. Mereka membawa satu program kerja spesifik: edukasi pengolahan limbah ikan. Hasilnya? Somai ikan. Bukan sekadar camilan. Olahan ini lahir dari kepedulian terhadap limbah yang masih layak manfaat. Tujuannya jelas: memberikan pemahaman baru. Bahwa limbah, jika dikelola tepat, bisa jadi produk pangan bergizi. Kegiatan berlangsung interaktif. Setelah pemaparan materi, para ibu diajak turun ke dapur praktik. Mereka mengikuti setiap tahapan. Mulai dari persiapan bahan, hingga proses akhir pembuatan somai. Dengan begitu, ilmu yang diberikan tidak menguap begitu saja. Harapan besar pun disematkan. Mahasiswa berharap, kegiatan ini mampu membuka mata masyarakat. Bahwa potensi perikanan bisa dioptimalkan. Limbah berkurang, ekonomi pun bergerak. Bahkan, bukan tidak mungkin, ini menjadi cikal bakal usaha baru berbasis hasil laut. Apresiasi tulus disampaikan kepada Pemerintah Desa Jinato, Kelompok MDK Jinato Marennu, dan seluruh ibu-ibu. Sambutan mereka sangat antusias. "Semoga ilmu ini bermanfaat," ujar perwakilan mahasiswa. "Dan terus berkembang di kemudian hari." Sumber: Asri (Humas/ PEH Ahli Muda) - Balai TN Taka Bonerate dan Mahasiswa ITSBM Selayar (Foto)
Baca Artikel

Perkuat Perlindungan Badak Pari Mahulu, BKSDA Kaltim Susun SOP Komunikasi dan Dokumentasi Penyelamatan

SAMARINDA, Juli – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur mengambil langkah strategis dalam upaya pelestarian satwa langka dengan menyelenggarakan Lokakarya Pembahasan Standar Operasional Prosedur (SOP) Komunikasi dan Dokumentasi Penyelamatan Badak Pari Mahulu. Kegiatan ini dilaksanakan secara faktual pada Jumat, 17 Juli 2026, bertempat di Hotel Harris, Samarinda. Badak Kalimantan (Dicerorhinus sumatrensis harrissoni) saat ini berstatus Kritis (Critically Endangered) dengan jumlah individu yang sangat terbatas dan habitat yang terfragmentasi. Sebagai salah satu spesies prioritas, penyelamatan melalui proses translokasi menjadi strategi konservasi yang dipertimbangkan secara serius untuk mengelola populasi dan menyelamatkan genetik spesies tersebut. Kepala BKSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, dalam sambutannya menekankan bahwa operasi penyelamatan satwa langka seperti Badak Pari Mahulu tidak hanya rumit dari sisi teknis medis, tetapi juga sangat sensitif dari sisi informasi. "Penyebaran informasi yang tidak terkendali mengenai lokasi, waktu pergerakan, hingga kondisi badak berpotensi mengancam keselamatan satwa dan mengganggu kelancaran tim di lapangan. Melalui SOP ini, kita ingin memastikan seluruh informasi terkelola secara terpusat dan mengedepankan prinsip kehati-hatian," ujar M. Ari Wibawanto Pelaksanaan penyelamatan dan translokasi badak memiliki kompleksitas tinggi, baik dari aspek teknis medis maupun pengelolaan komunikasi. Mengingat sifat kegiatan yang sangat sensitif, informasi mengenai lokasi keberadaan satwa, waktu pelaksanaan, jalur mobilisasi, hingga kondisi individu Badak Pari Mahulu rentan disalahgunakan dan dapat mengancam keselamatan satwa jika tersebar secara tidak terkendali. Di sisi lain, tingginya perhatian publik dan media memerlukan mekanisme penyampaian informasi yang akurat dan terkoordinasi guna menghindari simpang siur informasi atau perbedaan interpretasi yang dapat berdampak pada reputasi program konservasi. Oleh karena itu, penyusunan SOP Komunikasi dan Dokumentasi ini dipandang sebagai langkah mendesak demi memastikan seluruh informasi dikelola secara terpusat dan berprinsip kehati-hatian. Melalui lokakarya ini, forum koordinasi menyepakati sejumlah poin penting, termasuk penyusunan alur komunikasi internal dan eksternal, mekanisme penunjukan juru bicara resmi, klasifikasi tingkat kerahasiaan informasi, serta protokol manajemen krisis komunikasi. Melalui lokakarya ini, BKSDA Kalimantan Timur bersama para pihak terkait berhasil merumuskan beberapa dokumen keluaran utama, di antaranya dokumen final SOP Komunikasi dan Dokumentasi Penyelamatan, bagan alur komunikasi, protokol penanganan krisis, serta Berita Acara kesepakatan hasil lokakarya sebagai dasar implementasi di lapangan. Dengan adanya standarisasi komunikasi ini, proses translokasi dan penyelamatan Badak Pari Mahulu diharapkan dapat berjalan secara aman, efektif, dan terkoordinasi dengan optimal demi kelangsungan hidup subspesies benteng terakhir Kalimantan ini. Acara ditutup dengan pembagian cenderamata oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha BKSDA Kaltim, Dhenny Mardiono kepada beberapa perwakilan peserta dan fasilitator. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Visit School di Sekolah Sekitar Sm Siranggas Berjalan Interaktif Dan Responsif

Kecupak II, 29 Juli 2026 – Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, bekerja sama dengan mitra Centre for Orangutan Protection (COP), menggelar kegiatan pendidikan konservasi melalui program Visit to School pada Senin (27/7). Kegiatan ini menyasar dua sekolah yang berada di sekitar kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Siranggas. Kedua sekolah tersebut adalah SD N 030414 Kecupak dan SMP N 1 Pergetteng-Getteng Sengkut, yang berlokasi di Desa Kecupak II, Kecamatan Pergetteng-Getteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat. Kegiatan ini diikuti oleh 36 siswa kelas 5 dan 6 dari SD N 030414 Kecupak, serta 50 siswa kelas 7, 8, dan 9 dari SMP N 1 Pergetteng-Getteng Sengkut. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi undang-undang sesuai dengan PerMenLHK Nomor: P.106 Tahun 2018. Selain itu, para siswa juga diberikan edukasi khusus mengenai konservasi Orangutan Sumatera. Agar suasana belajar lebih cair dan tidak tegang, pemberian materi diselingi dengan sesi kuis dan ice breaking. Pada akhir kegiatan, panitia juga menggelar post-test untuk mengukur sejauh mana tingkat pemahaman para siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Acara kemudian ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan cinderamata berupa poster satwa dilindungi kepada pihak sekolah. Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan dapat mengenali keanekaragaman hayati sejak dini, terutama Orangutan Sumatera yang menjadi salah satu satwa kunci di SM Siranggas. Lebih dari itu, program ini diharapkan mampu menumbuhkan jiwa konservasi dalam menjaga hutan serta isinya demi masa depan yang lebih baik. Salam Lestari ! Sumber: Hafsah Purwasih (Penyuluh Kehutanan SKW I Sidikalang) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pemulihan Ekosistem di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut Tumbuhkan Kolaborasi dan Harapan Baru

Paluh Kurau, 28 Juli 2026 – Kegiatan pembibitan mangrove yang dilaksanakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara di Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut, tepatnya di Dusun IX, Desa Paluh Kurau, menunjukkan bahwa keberhasilan pemulihan ekosistem tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang diproduksi atau luas kawasan yang dipulihkan. Lebih dari itu, program tersebut telah mendorong perubahan pola pikir, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta membangun kolaborasi antar pendamping desa, Kelompok Tani Hutan (KTH), dan kawasan konservasi. Perubahan tersebut terlihat dari semakin kuatnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pemulihan ekosistem. Sejumlah anggota KTH yang sebelumnya sempat menolak program kini justru menjadi bagian penting dalam pelaksanaannya. Mereka terlibat aktif dalam pembersihan lahan pembibitan dan bekerja secara bergotong royong termasuk mengangkat hand traktor untuk menyeberangi kanal agar alat tersebut dapat digunakan menggemburkan tanah di lokasi pembibitan. Kondisi medan yang sulit tidak menyurutkan semangat mereka. Tumbuhnya rasa memiliki terhadap program pemulihan ekosistem juga terlihat dari perubahan fungsi sebuah lokasi yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penampungan buah kelapa sawit hasil aktivitas di dalam kawasan. Kini, lokasi tersebut telah berubah menjadi pondok sederhana yang dimanfaatkan anggota KTH sebagai tempat untuk beristirahat, berdiskusi, serta menjadi lokasi pengumpulan dan jual-beli hasil kepiting dan udang dari tambak silvofishery. Perubahan ini mencerminkan pergeseran aktivitas masyarakat dari kegiatan yang berpotensi merusak kawasan menuju kegiatan ekonomi yang mendukung konservasi. Melalui penerapan silvofishery di areal pemulihan ekosistem, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi sekaligus turut menjaga keberadaan ekosistem mangrove yang ada di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Masyarakat bergotong royong untuk persiapan lokasi pembibitan Kebersamaan antara masyarakat dan pendamping juga tergambar dalam momen sederhana saat fasilitator desa bersama anggota KTH membakar ikan dan udang untuk kemudian dinikmati bersama di lokasi kegiatan. Hasil panen tersebut berasal dari tambak yang dikelola oleh KTH dengan menerapkan metode silvofishery. Momen tersebut menjadi simbol bahwa pemulihan ekosistem dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya secara lestari. Berbagai kisah di Dusun IX, Desa Paluh Kurau menunjukkan bahwa pendekatan yang baik, pendampingan berkelanjutan, dan manfaat nyata bagi masyarakat dapat menumbuhkan rasa memiliki serta komitmen bersama untuk menjaga dan memulihkan kawasan konservasi. Ketika konservasi berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, upaya menjaga kelestarian alam akan menjadi lebih kuat dan berkelanjutan. Sumber: Aguslia Zebua, SP/Fasdes Paluh Kurau & Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I, Seksi Konservasi Wilayah II, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Perkuat Fungsi Cagar Alam Teluk Adang, Balai KSDA Kalimantan Timur Jalin Kerja Sama dengan Yayasan Planet Urgensi Indonesia

JAKARTA, Juli – Guna mengoptimalkan upaya pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati di Provinsi Kalimantan Timur, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur secara resmi menjalin sinergi dengan Yayasan Planet Urgensi Indonesia (YPUI). Langkah strategis ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) yang berlangsung di Gedung Manggala Wanabakti pada Senin, 6 Juli 2026. Penandatanganan dokumen PKS bernomor PKS.45/K.18/TU/KSA.01.06/07/2026 dan 02/YPUI/PKS/VII/2026 ini dilakukan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Timur, M. Ari Wibawanto, S.Hut., M.Sc., bersama Ketua Pengurus Yayasan Planet Urgensi Indonesia, Reonaldus, S.Hut., M.Sc. di saksikan langsung oleh Direktur Perencanaan Konservasi, Ammy Nurwati. Kemitraan ini fokus pada penguatan fungsi dalam rangka Perlindungan Kawasan, Pengawetan Flora Fauna, dan Pemulihan Ekosistem di Cagar Alam (CA) Teluk Adang yang terletak di Kabupaten Paser. Kemitraan yang diproyeksikan berjalan hingga 31 Desember 2030 ini berlandaskan pada komitmen bersama untuk menjaga kelestarian ekosistem mangrove serta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Melalui PKS ini, kedua belah pihak sepakat untuk menyusun Rencana Pelaksanaan Program (RPP) lima tahunan serta Rencana Kerja Tahunan (RKT) sebagai panduan operasional di lapangan. Program kerja sama ini mencakup lima ruang lingkup utama kegiatan, antara lain pembentukan dan pelatihan tim Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Peduli Mangrove, peningkatan kapasitas petambak terkait metode silvofishery, memfasilitasi pembahasan revisi dokumen blok pengelolaan CA Teluk Adang, penyediaan sarana dan prasarana penunjang SMART Patrol serta patroli perlindungan hutan kolaboratif antara petugas dan masyarakat, pelaksanaan sosialisasi tumbuhan dan satwa liar (TSL) dilindungi serta survei keanekaragaman hayati untuk spesies endemik yang terancam punah, pemulihan ekosistem mangrove di dalam kawasan CA Teluk Adang pada areal kerja sama seluas 50 hektare, meliputi tahapan pembibitan, penanaman, pemeliharaan, hingga penilaian keberhasilan dan mefasilitasi pembentukan kelompok kemitraan konservasi, pendampingan ekonomi, serta pemberian bantuan sarana prasarana untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan. Kepala Balai KSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bagian dari mewujudkan target indikator kinerja kegiatan (IKK) Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Kementerian Kehutanan. Utamanya dalam meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi, memperluas pemulihan ekosistem, serta mendorong nilai transaksi ekonomi bagi kelompok masyarakat sekitar kawasan. Sumber pembiayaan pelaksanaan program ini didukung penuh secara swadaya oleh Yayasan Planet Urgensi Indonesia. Komitmen ini dijalankan dengan mengedepankan asas saling menghormati, transparansi, serta pematuhan penuh terhadap tata kelola peraturan perundangan-undangan di bidang kehutanan yang berlaku di Indonesia. Melalui kerja sama intensif ini, diharapkan CA Teluk Adang yang memiliki kekayaan ekosistem pesisir bernilai tinggi dapat terjaga kelestariannya secara berkelanjutan, sekaligus memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal yang bertindak sebagai benteng terdepan pelindung hutan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Personel Taman Nasional Taka Bonerate Gelar Kelas Konservasi di Pulau Latondu

LATONDU, Juli – Personel Resort Latondu Balai Taman Nasional Taka Bonerate menggelar Kelas Konservasi di Pulau Latondu, Senin (27/7/2026). Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30 anak-anak setempat. Bulan Agustus menjadi momen istimewa. Selain sebagai bulan Kemerdekaan RI, Agustus juga diperingati sebagai Bulan Konservasi Alam Nasional. Semangat itu pun diusung dalam kelas kali ini. Materi pertama yang diberikan adalah pengenalan dasar konservasi. Anak-anak diajak memahami pentingnya menjaga sumber daya alam. Mereka juga belajar tentang peran kecil yang bisa dilakukan untuk mendukung upaya pelestarian. Selanjutnya, pemateri menyampaikan tentang ekosistem terumbu karang. Penjelasan meliputi pengertian, fungsi, hingga manfaatnya bagi kehidupan. Yang tak kalah ditekankan adalah peran terumbu karang sebagai rumah bagi berbagai biota laut. Untuk menguatkan pemahaman, peserta diajak menggambar biota laut khas sekitar terumbu karang. Mereka tampak sangat antusias. Suasana belajar pun berlangsung aktif dan penuh warna. Harapan besar menyertai kegiatan ini. Pengetahuan anak-anak tentang konservasi diharapkan terus bertambah. Begitu pula kepedulian mereka terhadap kelestarian laut, agar tumbuh kuat sejak dini. Sumber : Handayani (Penyuluh Kehutanan), Bustam (Polhut) dan Asri (PEH/ Humas) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Saat Senja Bawean Menjadi Milik Kelelawar

Senja selalu menghadirkan wajah yang berbeda bagi hutan Bawean, 22 Juli 2026. Ketika cahaya matahari perlahan menghilang di balik perbukitan Pulau Bawean, burung-burung mulai kembali ke tajuk pohon. Suara serangga malam menggantikan riuh siang, sementara dari celah pepohonan, rongga batang tua, dan lorong-lorong gua, siluet-siluet kecil mulai memenuhi langit. Hampir tak bersuara, tetapi sesungguhnya sedang menjalankan salah satu peran ekologis terpenting di hutan tropis. Mereka adalah kelelawar. Selama sepekan terakhir, Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama KPH Bawean Lestari mendampingi Lita Febri Riyani mahasiswa Fakultas Bioindustri, Universitas Brawijaya Malang dalam melaksanakan penelitian bertajuk "Keanekaragaman Spesies Kelelawar (Chiroptera) dan Karakteristik Habitat di Kawasan Suaka Alam Pulau Bawean." Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean sebagai bagian dari upaya memperkaya data ilmiah mengenai keanekaragaman hayati di salah satu kawasan konservasi terpenting di Jawa Timur. Sekilas, kegiatan tersebut tampak sederhana. Memasang jaring kabut (mist net) menjelang malam, mengidentifikasi spesies, mengukur morfometri tubuh, mencatat vegetasi penyusun habitat, suhu, kelembapan udara, hingga karakteristik lokasi ditemukannya setiap individu. Namun sesungguhnya, setiap data yang dikumpulkan merupakan potongan informasi yang akan membantu menjelaskan bagaimana sebuah ekosistem bekerja dan mempertahankan keseimbangannya. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, penelitian seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar kegiatan akademik. Kawasan konservasi bukan hanya ruang perlindungan bagi tumbuhan dan satwa liar, melainkan laboratorium alam yang menyediakan kesempatan bagi ilmu pengetahuan untuk terus berkembang. Semakin banyak kawasan dipelajari, semakin baik pula dasar ilmiah yang dimiliki dalam menentukan arah pengelolaannya. Pulau Bawean menjadi salah satu bentang alam yang menyimpan kekayaan hayati unik. Letaknya yang terpisah dari Pulau Jawa menjadikan pulau ini berkembang dengan karakter ekologinya sendiri. Tak mengherankan apabila berbagai penelitian yang dilakukan di kawasan suaka alam Pulau Bawean kerap menghadirkan informasi baru mengenai keanekaragaman flora dan fauna. Kelelawar menjadi salah satu kelompok satwa yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, meskipun keberadaannya sering luput dari perhatian. Selama ini, satwa nokturnal tersebut kerap dipersepsikan secara keliru, bahkan tidak jarang dikaitkan dengan berbagai stigma negatif. Padahal, semakin banyak penelitian dilakukan, semakin jelas terlihat bahwa keberlangsungan hutan tropis sangat bergantung pada jasa ekologis yang mereka berikan. Kelelawar pemakan buah berperan sebagai penyebar biji alami. Biji-biji yang terbawa saat mencari makan kemudian tersebar ke berbagai lokasi dan tumbuh menjadi pohon-pohon baru yang kelak menyediakan pakan dan tempat hidup bagi beragam satwa liar lainnya. Sementara itu, kelelawar pemakan nektar membantu proses penyerbukan berbagai jenis tumbuhan. Sedangkan kelompok pemakan serangga mampu memangsa ribuan serangga setiap malam sehingga berkontribusi menjaga keseimbangan populasi hama secara alami. Semakin kita mengenal kelelawar, semakin kita memahami bahwa satwa ini bukan sekadar penghuni malam. Mereka merupakan bagian penting dari proses-proses ekologis yang menjaga hutan tetap hidup. Oleh karenanya, penelitian mengenai keanekaragaman spesies, karakteristik habitat, serta pola penyebaran kelelawar menjadi fondasi penting dalam pengelolaan kawasan konservasi. Informasi tersebut dapat digunakan untuk memantau kesehatan ekosistem, memahami perubahan habitat dari waktu ke waktu, sekaligus menjadi dasar dalam penyusunan strategi konservasi yang lebih adaptif terhadap tantangan perubahan iklim maupun tekanan aktivitas manusia. Lebih jauh lagi, penelitian kelelawar juga memiliki nilai strategis dalam mendukung pendekatan One Health, yakni konsep yang menempatkan kesehatan manusia, satwa, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berkaitan. Pemahaman mengenai ekologi kelelawar bukan bertujuan memberikan stigma terhadap satwa tersebut sebagai sumber penyakit, melainkan memperkuat pemahaman bahwa ekosistem yang sehat merupakan benteng alami dalam mengurangi risiko munculnya penyakit zoonotik akibat terganggunya keseimbangan alam. Konservasi hari ini tidak lagi cukup dimaknai sebagai menjaga kawasan agar tetap utuh. Konservasi membutuhkan ilmu pengetahuan, data yang terus diperbarui, penelitian yang berkelanjutan, serta kolaborasi antara pengelola kawasan, perguruan tinggi, peneliti, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Setiap penelitian yang dilakukan di Pulau Bawean sesungguhnya adalah investasi pengetahuan. Hasilnya mungkin belum terasa hari ini, tetapi beberapa tahun bahkan puluhan tahun mendatang, data-data tersebut akan menjadi pijakan penting dalam menyusun kebijakan pengelolaan kawasan konservasi, memahami dinamika perubahan ekosistem, sekaligus memastikan bahwa kekayaan hayati Pulau Bawean tetap lestari bagi generasi mendatang. Malam akhirnya benar-benar turun. Di atas tajuk-tajuk hutan Pulau Bawean, kelelawar terus terbang menembus gelap. Tanpa disadari, mereka sedang menanam hutan, menyerbukkan bunga, mengendalikan populasi serangga, dan menjaga keseimbangan kehidupan. Mereka tidak pernah meminta untuk diperhatikan, tetapi alam telah lama bergantung pada keberadaan mereka. Barangkali, menjaga kelelawar pada akhirnya bukan sekadar menyelamatkan satu kelompok mamalia terbang. Lebih dari itu, kita sedang menjaga proses-proses ekologis yang menopang kehidupan, merawat masa depan hutan, dan pada saat yang sama menjaga keberlangsungan hidup manusia. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Karsa Lestari Bawean Menyusuri Jejak Satwa, Menjaga Warisan Nusantara

Pendidikan lapangan yang memadukan riset keanekaragaman hayati, penelitian sosial, kajian sumber air, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi ruang belajar bagi generasi muda untuk memahami bahwa konservasi tidak hanya tentang satwa liar, tetapi juga tentang manusia dan masa depan ekosistem Gresik, 23 Juli 2026. Jejak-jejak itu nyaris tak terlihat. Di sela daun-daun yang gugur, pada tanah lembap ditepian sumber air, atau di antara semak yang rapat, tersimpan cerita tentang kehidupan yang selama ini berlangsung tanpa banyak diketahui manusia. Bekas pijakan rusa, kubangan babi kutil, suara burung yang bersahutan dari tajuk hutan, hingga aliran mata air yang terus menghidupi pulau kecil di utara Jawa, menjadi potongan-potongan informasi yang hanya dapat dipahami melalui kesabaran, ketelitian, dan rasa ingin tahu. Bagi sebagian orang, memasuki Suaka Margasatwa Pulau Bawean mungkin dipandang sebagai sebuah ekspedisi. Namun bagi enam belas mahasiswa Mahasiswa Pecinta Alam (Wanala) Universitas Airlangga, yang dimulai dari tanggal 18 dan direncanakan selesai pada 23 Juli 2026 itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Mereka datang bukan untuk menaklukkan alam, melainkan untuk belajar darinya melalui program Karsa Lestari Bawean (Kolaborasi Aksi Riset dan Edukasi Satwa Lestari Bawean). Kegiatan ini tentunya dilaksanakan setelah memperoleh Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi) dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Program tersebut merupakan pendidikan lapangan yang mengintegrasikan penelitian, pendidikan konservasi, dan pengabdian kepada masyarakat. Fokus kegiatannya meliputi penelitian keanekaragaman hayati, pengamatan kondisi sumber daya air, serta kajian sosial masyarakat sebagai bagian dari upaya memahami hubungan antara manusia dan ekosistem. Hutan sebagai Ruang Belajar Pulau Bawean merupakan rumah terakhir bagi sejumlah satwa endemik Indonesia. Di pulau seluas sekitar 196 kilometer persegi ini hidup Rusa Bawean (Axis kuhlii) yang berstatus Terancam Punah (Endangered) menurut IUCN, serta Babi Kutil Bawean yang menjadi bagian penting dari kekayaan hayati Indonesia. Kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean bukan sekadar bentang hutan tropis. Ia merupakan laboratorium alam yang menyimpan proses-proses ekologis yang terus berlangsung, mulai dari regenerasi vegetasi, dinamika satwa liar, hingga keberlangsungan sumber-sumber air yang menopang kehidupan masyarakat. Di kawasan inilah para peserta menjalani pembelajaran lanjutan Divisi Penelitian Lingkungan Hidup dan Alam Bebas (PLHAB). Mereka mempraktikkan berbagai metode penelitian lapangan seperti line transect, identifikasi tanda keberadaan satwa (sign count), pengamatan burung, analisis kualitas air, inventarisasi vegetasi, hingga pembuatan plaster cast jejak satwa liar. Lebih dari Sekadar Ekspedisi Di sela kegiatan, saat diskusi bersama petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Muhammad Nur Fikri Maulana H. menjelaskan bahwa istilah "ekspedisi" sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan tujuan kegiatan tersebut. "Pada dasarnya kegiatan ini bukan kami maknai sebagai ekspedisi. Ini adalah pendidikan intermediate atau pembelajaran lanjutan Divisi Penelitian Lingkungan Hidup dan Alam Bebas. Kami menggabungkan penelitian dengan pengabdian kepada masyarakat. Penelitiannya tidak hanya mengenai keanekaragaman hayati, tetapi juga menyentuh aspek sosial masyarakat serta kondisi sumber daya air. Harapannya, peserta tidak hanya belajar mengumpulkan data, tetapi juga memahami hubungan antara manusia, ekosistem, dan satwa liar," ujarnya Pernyataan tersebut menggambarkan filosofi Karsa Lestari Bawean. Alam tidak dipandang hanya sebagai objek penelitian, tetapi sebagai ruang belajar yang mengajarkan bahwa konservasi hanya akan berhasil apabila ilmu pengetahuan, masyarakat, dan pengelolaan kawasan berjalan beriringan. Meneliti Alam, Menguatkan Kepedulian Selama berada di Pulau Bawean, peserta tidak hanya melakukan pengamatan di dalam kawasan konservasi. Mereka juga melaksanakan kegiatan edukasi di SDIT AL HUDA BAWEAN tentang bahaya mikroplastik serta praktek cara melihat mikroplastik dengan alat bantu di akhir acara. Berbagai materi disampaikan secara komunikatif dengan memanfaatkan media audiovisual, permainan edukatif, dan diskusi interaktif agar nilai-nilai konservasi lebih mudah dipahami oleh generasi muda. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya data ilmiah yang berhasil dikumpulkan, tetapi juga oleh tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk ikut menjaga habitat satwa liar. Yang membedakan Karsa Lestari Bawean dengan banyak kegiatan lapangan lainnya justru terjadi setelah seluruh aktivitas selesai. Setiap hari peserta berkumpul untuk melakukan evaluasi terbuka. Tidak ada keberhasilan yang terlalu dibanggakan, dan tidak ada kekurangan yang ditutupi. Semua pengalaman menjadi bahan pembelajaran bersama. Dari forum evaluasi tersebut muncul berbagai catatan yang sangat jujur. Sebagian peserta mengakui masih kesulitan menggunakan binokular ketika objek bergerak cepat di tajuk pohon. Ada yang belum maksimal mengatur kamera dan binokular, sehingga menyadari pentingnya penggunaan tripod dan adaptor binokular ke telepon genggam untuk meningkatkan kualitas dokumentasi ilmiah. Sebagian lainnya mengaku masih mudah kehilangan fokus akibat kelelahan fisik. Ketika perjumpaan satwa menurun, semangat pengamatan ikut menurun. Ada pula yang terlalu sibuk mengoperasikan GPS sehingga kesempatan melakukan pengamatan langsung menjadi berkurang. Kemampuan membaca tanda-tanda keberadaan satwa juga menjadi perhatian penting. Beberapa peserta menyadari masih kurang peka mengenali jejak satwa, bahkan terdapat kekeliruan dalam mengidentifikasi feses satwa yang semula dikira berasal dari rusa, namun ternyata berasal dari primata. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa ketelitian merupakan kompetensi yang harus terus diasah dalam penelitian ekologi. Evaluasi juga menyentuh aspek etika dan manajemen lapangan, mulai dari komunikasi antaranggota tim, kesiapan perlengkapan, penggunaan logistik secara bijaksana, hingga pembagian peran saat kegiatan seperti pembuatan plaster cast maupun pengamatan burung. Tidak sedikit pula peserta mengakui bahwa rasa lelah membuat mereka kehilangan konsentrasi, bahkan sesekali tertidur ketika waktu istirahat terbatas. Namun seluruh catatan tersebut tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter seorang pegiat konservasi. Budaya evaluasi seperti inilah yang menjadi kekuatan pendidikan lapangan. Setiap kekurangan diterima sebagai peluang untuk memperbaiki diri pada kegiatan berikutnya. Mempersiapkan Generasi Konservasi Dalam dunia konservasi, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang berhasil dijumpai atau banyaknya data yang berhasil dikumpulkan. Keberhasilan juga diukur dari lahirnya manusia-manusia yang mampu bekerja secara ilmiah, menjunjung etika penelitian, menghormati kawasan konservasi, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam. Melalui Karsa Lestari Bawean, peserta belajar bahwa konservasi adalah perpaduan antara ilmu pengetahuan, disiplin, kerja sama, dan kerendahan hati untuk terus belajar. Pengalaman berada di hutan mengajarkan bahwa setiap suara burung memiliki makna, setiap jejak satwa menyimpan informasi, setiap mata air memiliki peran ekologis, dan setiap masyarakat lokal menyimpan pengetahuan yang tidak selalu tertulis dalam buku. Di saat yang sama, evaluasi yang dilakukan setiap hari membentuk budaya belajar yang menjadi bekal penting bagi para mahasiswa untuk merancang kegiatan yang lebih baik, lebih ilmiah, dan lebih berdampak pada masa mendatang. Menjaga Warisan Nusantara Suaka Margasatwa Pulau Bawean akan terus menjadi rumah bagi satwa-satwa endemik yang bergantung pada kelestarian hutan. Namun masa depan kawasan ini juga bergantung pada hadirnya generasi yang memahami bahwa konservasi bukan sekadar pekerjaan, melainkan tanggung jawab bersama. Karsa Lestari Bawean menunjukkan bahwa pendidikan lapangan mampu menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan aksi nyata. Ketika penelitian dipadukan dengan pengabdian kepada masyarakat, konservasi tidak lagi berhenti sebagai kegiatan akademik, tetapi tumbuh menjadi gerakan yang melibatkan manusia, alam, dan masa depan dalam satu ikatan yang utuh. Pada akhirnya, jejak yang paling berharga bukanlah jejak rusa di lantai hutan atau jejak babi kutil di tanah yang lembap. Jejak yang sesungguhnya adalah tumbuhnya kesadaran bahwa menjaga keanekaragaman hayati membutuhkan lebih dari sekadar keberanian menjelajah. Ia membutuhkan kerendahan hati untuk terus belajar, keberanian mengakui kekurangan, serta komitmen untuk memperbaiki diri setiap kali kembali dari hutan. Karena bagi konservasi, setiap langkah di alam adalah pelajaran, dan setiap evaluasi adalah awal dari ikhtiar menjaga warisan Nusantara. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pelajaran Bagi Wanala UNAIR Dalam Mengenal Dunia Nokturnal Pulau Bawean

Di tengah heningnya Blok Teneden Suaka Margasatwa Pulau Bawean, sembilan mahasiswa WANALA Universitas Airlangga tidak hanya belajar mengenali herpetofauna, tetapi juga memahami etika, keselamatan, dan filosofi penelitian di kawasan konservasi Bawean, 23 Juli 2026. Hutan memiliki dua wajah. Pada siang hari, cahaya matahari menembus tajuk pepohonan, memperlihatkan aktivitas burung, kupu-kupu, dan berbagai satwa diurnal yang mencari makan. Namun ketika senja perlahan menghilang, lanskap yang sama berubah menjadi panggung kehidupan bagi satwa-satwa nokturnal. Suara jangkrik dan katak menggantikan nyanyian burung. Sementara reptil, amfibi, hingga mamalia malam mulai keluar dari persembunyiannya. Perubahan ritme alam inilah yang menjadi pengalaman baru bagi sembilan mahasiswa yang tergabung dalam Mahasiswa Pecinta Alam (Wanala) Universitas Airlangga pada 22 Juli 2026 malam. Bersama petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, mereka menyusuri Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, untuk mengikuti pengamatan satwa malam sebagai bagian dari rangkaian pendidikan lapangan Karsa Lestari Bawean. Bagi sebagian besar peserta, malam itu merupakan pengalaman pertama melakukan survei satwa nokturnal di habitat alaminya. Berbekal lampu kepala dan peralatan pengamatan, mereka berjalan perlahan mengikuti arahan petugas kawasan. Setiap langkah dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Cahaya lampu diarahkan secukupnya ke jalur setapak, serasah daun, batang pohon, hingga tepian aliran air yang menjadi habitat berbagai jenis reptil dan amfibi. Di kawasan konservasi, malam bukanlah waktu yang sunyi. Justru pada saat itulah ada kehidupan lain yang mulai bergerak. Belum lama perjalanan dimulai, sebuah peristiwa tak terduga menghentikan langkah rombongan. Di tengah pencahayaan yang terbatas, salah seorang petugas BBKSDA Jawa Timur nyaris menginjak seekor Ular Weling (Bungarus candidus) yang sedang melintas tenang di atas serasah daun dan bebatuan. Kejelian petugas membaca kondisi jalur membuat langkah itu spontan terhenti hanya beberapa saat sebelum kaki menyentuh tubuh ular. Suasana seketika berubah hening. Bagi sembilan mahasiswa, momen tersebut menjadi pengalaman yang mencengangkan. Sebagian besar baru pertama kali melihat ular weling secara langsung di habitat alaminya, terlebih dalam situasi yang begitu dekat. Rasa terkejut bercampur kagum memenuhi raut wajah mereka. Namun kepanikan tidak pernah terjadi. Dengan tenang, petugas segera meminta seluruh peserta menghentikan langkah, menjaga jarak aman, dan tetap diam agar satwa tersebut dapat melanjutkan pergerakannya secara alami tanpa merasa terganggu. Peristiwa yang berlangsung hanya beberapa detik itu kemudian berubah menjadi pelajaran yang tidak akan pernah terlupakan. Petugas menjelaskan bahwa pengamatan herpetofauna di malam hari tidak hanya membutuhkan kemampuan mengenali jenis satwa, tetapi juga kewaspadaan penuh terhadap setiap pijakan. Di habitat alami, manusia bukanlah pusat kehidupan. Justru manusialah yang sedang memasuki ruang hidup satwa liar sehingga setiap langkah harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan rasa hormat terhadap seluruh makhluk yang ada di dalamnya. Ular Weling kemudian dijelaskan sebagai salah satu reptil nokturnal yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem melalui fungsinya sebagai predator alami. Karena itu, setiap perjumpaan dengan satwa liar harus disikapi dengan tenang, tanpa upaya menangkap, mengusir, ataupun mengganggu perilaku alaminya. Bagi para mahasiswa, inilah pelajaran yang sesungguhnya. Mereka menyadari bahwa penelitian di kawasan konservasi tidak dimulai ketika berhasil menemukan satwa, melainkan ketika mampu menjaga keselamatan diri, menghormati habitat, dan memahami bahwa setiap makhluk hidup memiliki ruang yang sama untuk menjalankan perannya di alam. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tak Sekadar Pindah Kandang

Pemindahan belasan Rusa Bawean menjadi bagian dari ikhtiar merawat populasi satwa endemik Indonesia di lembaga konservasi Surabaya, 22 Juli 2026. Satu per satu rusa melangkah memasuki kandang angkut. Gerakannya tenang, sesekali berhenti sejenak sebelum kembali mengikuti arahan petugas. Tidak ada hiruk-pikuk, hanya koordinasi yang berlangsung cermat. Bagi orang awam, pemandangan itu mungkin tampak seperti pemindahan satwa biasa. Namun dalam perspektif konservasi, setiap perpindahan individu satwa liar dilindungi merupakan bagian dari strategi panjang untuk menjaga keberlangsungan sebuah spesies. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Selasa (21/7), melalui Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III bersama Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya dan Kebun Binatang Surabaya melaksanakan pemindahan 13 individu Rusa Bawean (Axis kuhlii) menuju Kebun Binatang Surabaya. Sebanyak 13 individu, terdiri atas enam jantan dan tujuh betina, dipindahkan melalui prosedur pengelolaan satwa liar yang mengedepankan aspek kesejahteraan satwa (animal welfare). Sebelum proses pengangkutan dilakukan, seluruh individu menjalani identifikasi dan penandaan, serta pemenuhan dokumen administrasi lainnya sesuai ketentuan yang berlaku. Proses evakuasi berlangsung lancar. Seluruh individu berada dalam kondisi sehat sehingga pemindahan dapat dilakukan tanpa hambatan. Di balik proses yang berlangsung hanya beberapa jam itu, tersimpan pekerjaan konservasi yang jauh lebih panjang. Pengelolaan satwa liar di lembaga konservasi bukan sekadar menyediakan ruang pemeliharaan. Juga memastikan setiap individu memperoleh standar kesejahteraan yang baik melalui pengelolaan pakan, kesehatan, reproduksi, pencatatan silsilah (studbook), hingga pengawasan populasi secara berkelanjutan. Bagi Rusa Bawean, pendekatan tersebut memiliki arti yang sangat penting. Satwa ini merupakan mamalia endemik Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, yang tidak ditemukan secara alami di wilayah lain di dunia. Sebaran habitat yang terbatas menyebabkan spesies ini memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap perubahan lingkungan, gangguan habitat, maupun dinamika populasi. Karena itu, konservasi Rusa Bawean tidak hanya dilakukan melalui perlindungan habitat alaminya (in situ), tetapi juga diperkuat melalui pengelolaan populasi di lembaga konservasi (ex situ). Kedua pendekatan tersebut saling melengkapi. Perlindungan habitat memastikan spesies tetap bertahan di alam, sedangkan pengelolaan ex situ berfungsi menjaga cadangan populasi, mendukung penelitian, pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, serta menjadi bagian dari strategi konservasi jangka panjang. Dalam pengelolaan ex situ, setiap individu memiliki nilai yang sama pentingnya. Data identitas, kondisi kesehatan, komposisi populasi, hingga potensi reproduksi menjadi dasar dalam menentukan arah pengelolaan. Dengan demikian, lembaga konservasi tidak hanya berperan sebagai tempat memelihara satwa, tetapi juga sebagai pusat konservasi yang mendukung kelestarian spesies melalui pendekatan ilmiah. Bagi masyarakat, keberadaan Rusa Bawean di lembaga konservasi juga membuka ruang pembelajaran mengenai kekayaan hayati Indonesia. Satwa yang hanya dimiliki Pulau Bawean ini menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki spesies-spesies unik yang tidak dapat digantikan apabila populasinya hilang dari alam. Konservasi pada akhirnya bukan hanya tentang melindungi satwa di habitat alaminya. Ia juga tentang memastikan setiap individu yang berada dalam pengelolaan manusia tetap memiliki arti bagi masa depan spesiesnya. Sebab, yang sedang dijaga bukan sekadar tiga belas ekor rusa, melainkan keberlanjutan Rusa Bawean sebagai bagian dari warisan keanekaragaman hayati Indonesia. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai KSDA Kaltim Gelar Monev Pemberdayaan Masyarakat di Maratua

Berau, Juni 2026 – Dalam upaya menjaga kelestarian kawasan konservasi sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekitar, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur melalui Seksi KSDA Wilayah I Berau menggelar kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga. Kegiatan ini menyasar dua kawasan penting, yaitu Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Sangalaki dan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Semama yang berada di Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau. Program pemberdayaan yang telah berjalan secara bertahap sejak tahun 2021 hingga tahun 2026 ini sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia melalui Dukungan Sumber Dana Kerjasama Indonesia-Norwegia Tahap Kedua dan Ketiga (FOLU-NC2&3). Komitmen tersebut fokus pada pencapaian target penyerapan emisi gas rumah kaca dari sektor kehutanan yang lebih besar daripada emisi yang dihasilkan (Net Sink), di mana peran serta masyarakat sekitar kawasan konservasi menjadi kunci utamanya. Monev ini bertujuan untuk memantau perkembangan serta menilai tingkat keberhasilan program pemberdayaan masyarakat yang telah berjalan kurang lebih 3 tahun. Hasil evaluasi ini nantinya akan menjadi bahan pengambilan kebijakan dan penyusunan langkah tindak lanjut guna mengoptimalkan kualitas program ke depan. Pendekatan pengelolaan kawasan konservasi saat ini menerapkan Integrated Prevention Model (IPM). Model ini mengintegrasikan perlindungan kawasan dengan penguatan kapasitas ekonomi masyarakat agar ketergantungan warga terhadap pemanfaatan langsung sumber daya di dalam kawasan konservasi dapat berkurang. Ruang lingkup Monev kali ini berfokus pada dua kelompok binaan di Kecamatan Maratua yang memiliki unit usaha produktif berbasis potensi lokal, yaitu Kelompok Masyarakat Lebbangan Pamullaan di Kampung Payung-Payung, dengan fokus usaha produksi es batu untuk pengawetan hasil tangkapan nelayan.dan Kelompok Masyarakat Teluk Pegtimukan di Kampung Teluk Alulu, dengan fokus pengembangan lini ekowisata berupa jasa sewa perahu kano. Pelaksanaan Monev ini mengacu pada Petunjuk Teknis Monev Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga (PMDP) Kawasan Konservasi tahun 2012 dari Ditjen PHKA Kementerian Kehutanan. Tim di lapangan melakukan pengumpulan data melalui wawancara, diskusi terarah (FGD), serta observasi langsung dengan mencakup empat unsur manajemen, yaitu Planning, Organizing, Actuating, dan Controlling. Tingkat keberhasilan program diukur berdasarkan indikator makro dan mikro, antara lain meningkatnya kapasitas, keterampilan, dan kemandirian SDM masyarakat, perkembangan unit usaha ekonomi dan terbukanya peluang pasar baru, terbangunnya jejaring kemitraan yang kuat antara pengelola kawasan, pemerintah kampung/kecamatan, LSM, dan dinas terkait dan tetap terpeliharanya fungsi utama kawasan hutan konservasi TWA Pulau Sangalaki dan SM Pulau Semama. Melalui monitoring berkala ini, BKSDA Kaltim menekankan pentingnya pendampingan intensif di lapangan. Hubungan yang harmonis dan terbuka antara petugas pengelola dan warga diharapkan mampu melahirkan solusi bersama atas setiap kendala yang muncul. Dengan demikian, masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi yang sah dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, sementara kelestarian flora, fauna, dan keunikan ekosistem di TWA Pulau Sangalaki serta SM Pulau Semama tetap terjaga utuh untuk masa depan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Di Batas Senja, Setetes Nira Dan Harapan Yang Tumbuh Di Suaka Margasatwa Pulau Bawean

Gresik, 22 Juli 2026. Langit perlahan berubah jingga ketika Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menapaki jalan pulang dari Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, Selasa (21/07/2026). Seharian mereka menyusuri kawasan untuk melakukan kegiatan evaluasi hasil pemulihan ekosistem, memastikan setiap bibit yang ditanam mampu bertahan dan tumbuh di habitat alaminya. Hasil evaluasi membawa kabar yang menggembirakan. Sekitar 70–80 persen tanaman hasil pemulihan ekosistem menunjukkan tingkat keberhasilan tumbuh yang baik. Capaian tersebut menjadi indikator awal bahwa upaya mengembalikan tutupan vegetasi mulai menunjukkan hasil positif. Pohon-pohon muda yang perlahan membentuk kanopi baru kelak akan menjadi penyedia pakan, tempat berlindung, sekaligus ruang berkembang biak bagi beragam satwa liar yang menjadi penghuni Pulau Bawean. Namun, sore itu perjalanan pulang menghadirkan pelajaran yang tidak pernah tercatat dalam lembar monitoring vegetasi. Di tepian kawasan, tim berpapasan dengan para penyadap nira aren yang berjalan pulang dari kawasan penyangga. Potongan bambu berisi nira segar dipikul di bahu, sementara langkah mereka perlahan menuruni lereng mengikuti cahaya matahari yang mulai tenggelam. Pemandangan sederhana tersebut menghadirkan sebuah pesan bahwa kawasan konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Di sekelilingnya hidup masyarakat yang telah lama menggantungkan sebagian penghidupannya pada hasil hutan bukan kayu yang dipanen secara arif dan lestari. Momentum itu dimanfaatkan Ferdinan Sebastian, Penyuluh Kehutanan RKW 09 Gresik–Bawean, untuk berdialog dengan para penyadap. Percakapan berlangsung hangat, membahas pentingnya menjaga kelestarian pohon aren, fungsi kawasan konservasi sebagai penyangga kehidupan, serta hubungan yang tidak terpisahkan antara keberlanjutan hutan dengan keberlanjutan sumber penghidupan masyarakat. Dialog seperti ini sering kali memiliki nilai yang sama pentingnya dengan kegiatan penanaman. Keberhasilan menjaga kawasan bukan hanya ditentukan oleh tumbuhnya pohon-pohon baru, tetapi juga oleh tumbuhnya kesadaran bersama bahwa hutan yang lestari akan terus menghadirkan manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi bagi generasi sekarang maupun yang akan datang. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang belajar lapangan bagi mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya yang sedang melaksanakan kerja praktik. Bersama tim yang terdiri atas Pengendali Ekosistem Hutan, Penyuluh Kehutanan, anggota KPH Bawean Lestari, serta bersama mahasiswa, perjalanan lapangan tidak hanya difokuskan pada evaluasi keberhasilan pemulihan ekosistem, tetapi juga menjadi media pembelajaran mengenai hubungan erat antara kawasan konservasi dengan masyarakat penyangga. Di sepanjang jalur pengamatan, mahasiswa dikenalkan pada berbagai jenis tumbuhan asli yang digunakan dalam kegiatan pemulihan ekosistem beserta fungsi ekologisnya. Mereka mempelajari bagaimana setiap spesies tumbuhan berkontribusi membentuk struktur hutan, menyediakan sumber pakan, tempat berlindung, lokasi bersarang, hingga menciptakan habitat yang mendukung kembalinya berbagai jenis mamalia, burung, reptil, serangga penyerbuk, dan satwa liar lainnya. Dari pembelajaran lapangan tersebut, mahasiswa memahami bahwa keberhasilan restorasi ekosistem tidak semata-mata diukur dari tingginya persentase tanaman yang hidup, tetapi juga dari pulihnya jejaring kehidupan yang bergantung pada vegetasi tersebut. Lebih dari itu, mereka diajak memahami bahwa konservasi sesungguhnya adalah upaya menjaga keterhubungan. Hubungan antara pohon dengan satwa liar, antara hutan dengan sumber air, antara kawasan konservasi dengan masyarakat penyangga, hingga antara ilmu pengetahuan dengan pengalaman lapangan. Keseluruhan hubungan tersebut membentuk satu ekosistem yang utuh, yang hanya dapat bertahan apabila seluruh komponennya tetap terjaga. Senja akhirnya menutup hari. Cahaya matahari perlahan menghilang di balik perbukitan Pulau Bawean, sementara para penyadap nira melanjutkan perjalanan pulang dengan hasil sadapan di pundaknya. Di saat yang sama, tim membawa pulang sesuatu yang tak kalah berharga, sebuah keyakinan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya lahir dari ribuan bibit yang ditanam, tetapi juga dari setiap ruang dialog yang dibangun, setiap pengetahuan yang diwariskan, dan setiap kesadaran yang tumbuh di tengah masyarakat. Di batas senja, setetes nira menjadi lebih dari sekadar hasil hutan bukan kayu. Ia menjelma menjadi simbol harmoni antara manusia dan alam, sebuah pengingat bahwa ketika hutan tetap lestari, kehidupan akan terus mengalir, sebagaimana nira yang menetes perlahan dari batang aren, membawa harapan bagi alam dan bagi manusia yang hidup bersamanya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menanam Benih Konservasi di SMK N 5 Kota Malang

Melalui program Visit to School, BBKSDA Jawa Timur mengajak pelajar SMK Negeri 5 Kota Malang mengenal kawasan konservasi, satwa liar, dan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga keanekaragaman hayati Malang, 21 Juli 2026. Suasana Auditorium SMK Negeri 5 Kota Malang tampak berbeda pada Jumat (17/7/2026). Bukan hanya karena hadirnya para petugas konservasi, tetapi juga karena siswa berkesempatan belajar langsung tentang kawasan konservasi dan berinteraksi dengan satwa liar dalam suasana edukatif. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 17 Malang dan Pulau Sempu melaksanakan kegiatan Visit to School sebagai bagian dari upaya menanamkan kesadaran konservasi kepada generasi muda. Sebanyak 36 siswa kelas XI bersama tiga guru pendamping mengikuti kegiatan yang menghadirkan tim edukasi dari BBKSDA Jawa Timur serta mitra dari Jawa Timur Park 2 (JTP2) Eco Active Park. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan kawasan konservasi yang dikelola BBKSDA Jawa Timur, pemanfaatan media sosial sebagai sarana edukasi konservasi, serta upaya pelestarian satwa endemik dan non-endemik melalui pendekatan ex-situ. Kegiatan semakin menarik ketika tim JTP2 memperkenalkan beberapa satwa koleksinya secara interaktif sehingga peserta dapat mengenal lebih dekat karakter dan peran satwa dalam ekosistem. Suasana diskusi berlangsung aktif. Para siswa antusias mengajukan pertanyaan seputar satwa liar, pengelolaan kawasan konservasi, hingga peluang berkontribusi dalam pelestarian lingkungan. Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan cendera mata kepada peserta yang aktif berdiskusi. Di akhir kegiatan, para siswa juga memperoleh kesempatan berfoto bersama satwa edukasi yang dibawa tim JTP2. Momen tersebut menjadi pengalaman yang melengkapi materi yang telah disampaikan di dalam kelas. Guru pendamping menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan Visit to School karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda sekaligus memperluas wawasan peserta didik mengenai pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem. Program Visit to School menjadi salah satu bentuk komitmen BBKSDA Jawa Timur dalam memperluas edukasi konservasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui kolaborasi dengan dunia pendidikan dan mitra konservasi, diharapkan semakin banyak pelajar yang memahami bahwa menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Sebab, membangun kepedulian terhadap alam tidak selalu harus dimulai dari dalam hutan. Kadang, langkah pertama justru lahir dari sebuah ruang kelas yang membuka cara pandang baru terhadap pentingnya menjaga warisan hayati Indonesia. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Temuan Katak Pohon Bergaris di Sumur Tua Pantura Kendal

Kendal, Juli 2026. Seorang warga Kendal, Dani Satria (34) menemukan seekor katak yang tidak biasa di sebuah sumur tua di tengah kebun warga di Desa Tanjungmojo, Kecamatan Kangkung, kawasan Pantai Utara (Pantura) Kendal, sekitar lima kilometer dari garis pantai. Katak tersebut memiliki tubuh ramping, kulit halus berwarna coklat, kaki belakang yang panjang, serta garis memanjang di bagian punggung. Penampilannya sangat berbeda dengan kodok buduk (Duttaphrynus melanostictus) yang umum dijumpai di pekarangan rumah. Beberapa orang warga sekitar lainnya menyebutnya sebagai "katak terbang". Menurut ingatannya, ketika masih kecil ia sering melihat katak tersebut berkembang biak di pepohonan. Cerita itu memunculkan rasa penasaran. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa katak temuan tersebut sangat mungkin merupakan Katak Pohon Bergaris (Polypedates leucomystax), anggota famili Rhacophoridae. Dugaan ini didasarkan pada beberapa karakter yang tampak pada foto, yaitu tubuh yang ramping, kulit yang relatif halus, kepala yang agak meruncing, serta adanya garis terang di bagian punggung. Spesies ini dikenal memiliki variasi warna yang cukup luas, mulai dari krem hingga cokelat tua, sehingga identifikasi berdasarkan warna saja tidak cukup. Polypedates leucomystax juga merupakan spesies yang tersebar luas di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dan mampu beradaptasi pada berbagai habitat, mulai dari hutan, semak, lahan pertanian, hingga lingkungan permukiman manusia. Status konservasinya menurut IUCN adalah Least Concern, yang berarti belum termasuk spesies yang terancam punah. “Hal yang menarik adalah lokasi penemuannya. Beberapa artikel populer di internet menyebut bahwa katak ini hidup pada ketinggian sekitar 750–1.500 meter di atas permukaan laut. Namun, informasi tersebut tampaknya tidak dapat digeneralisasi. Berbagai referensi ilmiah justru menunjukkan bahwa Polypedates leucomystax memiliki sebaran habitat yang sangat luas dan sering ditemukan di dataran rendah, kawasan perkebunan, bahkan dekat pemukiman manusia. Spesies ini aktif pada malam hari, memanfaatkan pohon, semak dan vegetasi sebagai tempat bertengger, kemudian turun untuk mencari makan atau berkembang biak di sekitar sumber air. Dengan demikian, keberadaan seekor katak pohon di sebuah kebun Pantura Kendal yang hanya beberapa meter di atas permukaan laut bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuan ilmiah, melainkan menunjukkan kemampuan adaptasi spesies ini terhadap berbagai kondisi lingkungan,” kata Seorang warga Kendal, Dani Satria (34), di Kendal, Jawa Tengah, Sabtu (18/07/2026). Cerita warga sekitar yang menyebut katak tersebut sebagai "katak terbang" juga menarik untuk dicermati. Dalam ilmu herpetologi, istilah "katak terbang" umumnya digunakan untuk beberapa spesies dalam genus Rhacophorus yang memiliki selaput kaki sangat lebar sehingga mampu meluncur dari pohon ke pohon. Sementara itu, Polypedates leucomystax tidak benar-benar dapat meluncur, tetapi tetap merupakan katak arboreal yang piawai memanjat pohon menggunakan bantalan perekat pada ujung jarinya. Pengetahuan lokal kemungkinan menggabungkan kedua kelompok katak tersebut ke dalam satu sebutan karena sama-sama hidup di pepohonan dan berkembang biak dengan membuat sarang busa pada vegetasi di atas air. Ketika telur menetas, berudu akan jatuh ke dalam genangan atau kolam di bawahnya. Fenomena reproduksi inilah yang mungkin melatarbelakangi cerita turun-temurun bahwa katak tersebut "bertelur di pohon". Dani menambahkan, temuan sederhana ini menjadi pengingat bahwa keanekaragaman hayati masih dapat dijumpai di sekitar lingkungan tempat tinggal, bahkan di sebuah sumur tua di tengah kebun. Observasi lapangan seperti ini juga menunjukkan pentingnya menggabungkan dokumentasi, pengetahuan lokal dan literatur ilmiah sebelum menarik suatu kesimpulan. “Identifikasi yang saya lakukan masih bersifat dugaan berdasarkan dokumentasi foto, sehingga konfirmasi lebih lanjut oleh herpetolog atau melalui pengamatan ciri morfologi yang lebih lengkap tetap diperlukan. Namun demikian, catatan kecil ini diharapkan dapat menjadi dokumentasi awal mengenai keberadaan katak pohon di kawasan Pantura Kendal sekaligus mengajak masyarakat untuk lebih mengenal dan menghargai kekayaan biodiversitas yang masih hidup di sekitar kita,” pungkas Dani.
Baca Artikel

Delapan Boks, 200 Burung, Dan Sebuah Perjalanan Yang Berakhir Di Ketapang

Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur mengidentifikasi ratusan burung yang diamankan Balai Karantina di Pelabuhan Ketapang, 192 ekor diantaranya masih bertahan Banyuwangi, 21 Juli 2026. Sebuah bus antarkota yang melayani rute Denpasar–Wonogiri terhenti perjalanannya di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang, Banyuwangi. Bukan karena gangguan mesin ataupun kemacetan, melainkan karena petugas menemukan delapan boks berisi ratusan burung yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur, Satuan Pelayanan Penyeberangan Ketapang kemudian meminta bantuan Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipiha (Matawali) Resort KSDA Wilayah 12 - Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) untuk melakukan identifikasi dan penghitungan satwa liar tersebut pada Jumat (17/7/2026). Hasil identifikasi menunjukkan seluruh satwa merupakan burung Merbah Cerukcuk (Pycnonotus goiavier), salah satu jenis burung liar yang umum dijumpai di berbagai kawasan berhutan, semak, maupun lahan pertanian di Indonesia. Dari total 200 ekor yang ditemukan, sebanyak 192 ekor berada dalam kondisi hidup, sedangkan 8 ekor ditemukan mati. Setelah proses identifikasi selesai, burung-burung yang masih hidup diserahkan kepada Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi untuk ditindaklanjuti melalui pelepasliaran. Sebelum menentukan lokasi pelepasliaran, petugas terlebih dahulu mempertimbangkan kesesuaian habitat. Berdasarkan hasil kajian lapangan, kawasan Hutan Lindung Perhutani KRPH Licin, KPH Banyuwangi Barat dipilih karena masih menjadi habitat alami burung Merbah Cerukcuk sehingga memiliki peluang adaptasi yang baik bagi satwa yang dilepasliarkan. Pelepasliaran tersebut dilakukan sebagai upaya mengembalikan satwa liar ke alam agar tetap menjalankan fungsi ekologisnya. Burung ini diketahui berperan sebagai penyebar biji berbagai jenis tumbuhan, sehingga keberadaannya turut mendukung proses regenerasi vegetasi dan menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Kegiatan ini juga mencerminkan sinergi antarlembaga dalam penanganan satwa liar. Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan berperan melakukan pengamanan awal, sementara BBKSDA Jawa Timur melaksanakan identifikasi jenis satwa, menentukan langkah penanganan, hingga mengembalikannya ke habitat yang sesuai. Setiap satwa liar yang berhasil dikembalikan ke habitat alaminya merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem. Penanganan satwa tidak berhenti pada proses identifikasi, tetapi juga memastikan satwa memperoleh kesempatan untuk kembali hidup di lingkungan yang sesuai dengan karakter alaminya. Perjalanan ratusan burung itu memang berakhir di Ketapang. Namun bagi 192 ekor yang berhasil diselamatkan, tempat itu bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk kembali terbang bebas di habitat alaminya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mengantarkan Pulang Mamalia Bersisik Ke Rumahnya

Pacitan, 20 Juli 2026. Seekor Trenggiling (Manis javanica), salah satu mamalia paling terancam di dunia sekaligus satwa yang dilindungi di Indonesia, kembali menghirup udara bebas. Setelah ia diselamatkan melalui kolaborasi antara Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Pacitan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, dan Perum Perhutani. Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 5 – BBKSDA Jatim menerima penyerahan seekor Trenggiling dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Pacitan pada Kamis (16/7/2026). Penyerahan tersebut merupakan tindak lanjut penyelamatan satwa liar yang ditemukan di luar habitat alaminya. Setelah diterima, petugas segera melakukan pemeriksaan kondisi fisik dan perilaku satwa. Hasil pemeriksaan menunjukkan Trenggiling berada dalam kondisi sehat, tidak ditemukan luka maupun indikasi cedera, serta masih memperlihatkan sifat liar dan agresif sebagai perilaku alaminya. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, tim memutuskan satwa layak untuk segera dilepasliarkan sehingga tidak perlu menjalani rehabilitasi. Untuk memastikan pelepasliaran dilakukan pada habitat yang sesuai, Tim Matawali berkoordinasi dengan Perum Perhutani RPH Pacitan. Berdasarkan hasil kajian lapangan, lokasi pelepasliaran ditetapkan di kawasan hutan lindung Perhutani RPH Pacitan, BKPH Pacitan, KPH Lawu. Kawasan tersebut dinilai memiliki kondisi habitat yang mendukung bagi kehidupan Trenggiling. Pelepasliaran dilakukan sebagai bagian dari upaya mengembalikan satwa liar ke habitat alaminya sehingga tetap dapat menjalankan peran ekologisnya di alam. Trenggiling merupakan satwa pemakan semut dan rayap yang berperan membantu menjaga keseimbangan ekosistem hutan dengan mengendalikan populasi serangga. Keberhasilan penyelamatan ini menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam konservasi satwa liar. Respons cepat Dinas Pemadam Kebakaran, tindak lanjut BBKSDA Jawa Timur, serta dukungan Perum Perhutani menjadi rangkaian yang memastikan satwa dilindungi tersebut dapat kembali ke habitatnya dengan aman. BBKSDA Jawa Timur mengimbau masyarakat agar tidak memelihara maupun memperjualbelikan satwa liar yang dilindungi. Apabila menemukan satwa liar di luar habitatnya atau dalam kondisi yang memerlukan penanganan, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada BBKSDA Jawa Timur atau instansi terkait agar dapat ditangani sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan penanganan yang cepat dan kolaboratif, seekor Trenggiling tidak hanya berhasil diselamatkan, tetapi juga memperoleh kesempatan untuk kembali menjalankan perannya sebagai bagian dari ekosistem hutan yang lestari. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 81–96 dari 2.501 publikasi