Jumat, 29 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Menteri LHK Tekankan Penyuluhan yang Efektif dan Berkelanjutan

Surabaya, 20 Januari 2024. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia, Siti Nurbaya Bakar, memberikan arahan kepada pejabat fungsional pada acara Audiensi Menteri LHK dengan penyuluh kehutanan dan pejabat fungsional lingkup Unit Pelaksana Teknis - KLHK se-Jawa Timur, Sabtu (20/1). Acara yang digagas Penyelenggara Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPPSDM) ini digelar di Vasa Hotel, Surabaya. Dalam arahannya, Menteri LHK menyampaikan bahwa penyuluhan kehutanan merupakan salah satu pilar penting dalam pembangunan kehutanan. Penyuluhan kehutanan berperan dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kehutanan, serta mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan hutan. “Penyuluhan kehutanan dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk rimbawan, penyuluh kehutanan, penyuluh lingkungan hidup, pengawas lingkungan hidup dan kehutanan, serta masyarakat umum,” ujar Menteri Siti. Audensi yang mengambil tema “Penyuluhan Menurut Dimensi Dimensi Kerja Teknis KLHK” ini dihadiri oleh Pejabat eselon II dan III serta Pengendali Ekosistem Hutan dan Penyuluh Kehutanan UPT-KLHK se-Jawa Timur. Dalam acara tersebut dilakukan pemaparan presentasi mengenai dimensi penyuluhan dan realitanya oleh Kepala BPPSDM, Ade Palguna. Selain itu, juga mengenai penyuluhan menurut dimensi kerja teknis KLHK yang masing-masing disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan DAS dan RH, Dirjen KSDAE, Dirjen PSKL, Dirjen PHL, Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya dan Beracun, Kepala Badan Standardisasi Instrumen LHK, serta Sestama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. Peningkatan kapasitas SDM penyuluh kehutanan menjadi perhatian tersendiri bagi Siti Nurbaya. Ia juga meminta agar sebaran penyuluh dipertimbangkan secara tepat, serta dilakukan gradasi penyuluh kehutanan berdasarkan tingkatan kompetensi. “Di masa depan, pendampingan kelompok masyarakat akan menjadi sangat penting, selain digitalisasi kegiatan layanan,” tambahnya. Dalam arahan penutup, ia menekankan bahwa penyuluhan kehutanan yang dilakukan secara efektif dan berkelanjutan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian hutan dan lingkungan hidup. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Perjalanan Panjang di Balik Ekspedisi dan Penemuan TSL Baru

Jakarta, 22 Januari 2024. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Conservation International menyebut Indonesia sebagai salah satu dari 17 negara “Mega Biodiverse” dengan 2 dari 25 “Hotspot” dunia. Kondisi ini menjadi sebuah anugerah dan tantangan, terutama bagi pegiat konservasi di Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Direktorat Jenderal KSDAE beserta UPT-nya di daerah, mendukung kegiatan eksplorasi untuk menguak potensi keanekaragaman hayati di Indonesia yang belum teridentifikasi. Direktorat Jenderal KSDAE sendiri melalui UPT-nya terus mengupayakan kegiatan identifikasi dan inventarisasi keanekaragaman hayati secara konsisten dari waktu-ke waktu. Eksplorasi terus dilakukan untuk meminimalkan kesenjangan pengetahuan terhadap kawasan alami. Untuk wilayah-wilayah tertentu yang sangat remote dan sulit dijangkau dengan alasan keselamatan dan ketersediaan logistik, juga dilakukan kegiatan-kegiatan spesifik sejenis ekspedisi dengan pola kolaboratif. Pada September 2023 lalu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah melakukan eksplorasi keanekaragaman hayati di kawasan Cagar Alam Sapat Hawung. Kawasan ini merupakan sebagian kecil dari rangkaian Pegunungan Muller yang termasuk dalam wilayah pemerintahan Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Kawasan Sapat Hawung berbatasan langsung dengan Provinsi Kalimantan Timur dan merupakan salah satu blank spot informasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Ekspedisi ini dimulai dari tanggal 9 September dan berlangsung lebih dari dua pekan. Tim ekspedisi yang diketuai oleh Kepala Balai BKSDA Kalimantan Tengah, Sadtata Noor Adirahmanta ini kembali ke Palangka Raya pada tanggal 24 September 2024 tengah malam. Perjalanan panjang penuh tantangan itu membuahkan hasil manis. Tim yang terdiri dari staf BKSDA Kalteng, staf BTN Sebangau, tim ahli biologi sistematika (botani, herpetofauna, avifauna, mamalia), dan Tim Dokumentasi ini berhasil mengoleksi 95 spesimen tumbuhan dari 14 famili, 97 dokumentasi spesies avifauna yang terdiri dari 37 famili, 40 sampel spesies herpetofauna, serta informasi indikasi keberadaan Badak Sumatera di Sapat Hawung. Hasil pengumpulan data ini masih harus melewati proses pengujian, identifikasi dan analisa, untuk mengetahui apakah spesies tersebut adalah tumbuhan dan satwa liar (TSL) yang berpotensi spesies baru atau bukan. Ketua Tim Ekspedisi Sapat Hawung mengatakan jika eksplorasi ini menjadi penting dalam dunia konservasi, terlebih bagi pemangku kepentingan di dunia konservasi. Ditambah lagi, masih banyak wilayah di Indonesia yang belum terjamah dan belum terinventarisasi, seperti di Sapat Hawung. “Kementerian LHK khususnya Ditjen KSDAE, dan di wilayah ada UPT BKSDA, itu mengemban amanah untuk menyelenggarakan konservasi kehati (keanekaragaman hayati), untuk bisa menyelenggarakan konservasi kehati dengan benar, kita harus paham apa yang harus kita kelola dan jaga, itulah pentingnya eksplorasi, dan masih banyak wilayah yang belum tereksplorasi,” jelas Sadtata saat diwawancarai di acara Rakornis Ditjen KSDAE Tahun 2024, Selasa (16/01/2024). Manajemen Ekspedisi Menyiapkan eksplorasi atau sebuah ekspedisi tentu tidak mudah. Pernyataan ini diakui oleh Iwan Sujatmiko, analis monitoring, evaluasi dan pelaporan di BKSDA Kalteng, saat ditemui di Rakornis Ditjen KSDAE Tahun 2024 di Auditorium Ir. Soedjarwo, Jakarta, Selasa (16/01/2023) lalu. Iwan menjelaskan, banyak hal yang harus disiapkan, di antaranya fisik anggota tim, perencanaan rute yang akan ditempuh, perencanaan kebutuhan logistik, dan perencanaan pendanaan. “Perencanaan dan pendanaan itu penting. Penganggaran paling besar dalam Ekspedisi Sapat Hawung ini adalah biaya untuk transportasi, logistik dan upah masyarakat yang terlibat dalam ekspedisi,” jelas Iwan Sujatmiko. Iwan juga menjelaskan jika lokasi penjelajahan di Sapat Hawung cukup sulit dan remote, sehingga membutuhkan waktu dan biaya yang tak sedikit. Terlebih, jalur yang akan ditempuh tim ekspedisi tidak hanya darat, tapi juga air. Iwan menyebutkan tim harus menyewa perahu kecil untuk membawa tim dari kampung terakhir yang ditemui, menuju kawasan Cagar Alam Sapat Hawung yang lebih dalam. Akan tetapi, perencanaan yang sudah dibuat, terkadang harus dihadapkan dengan kondisi alam yang tidak menentu. Sehingga, tim harus sudah siap dengan rencana tambahan dengan memperhitungkan kondisi alam di sepanjang rute, dan menyesuaikan dengan anggaran yang sudah direncanakan. Menurut Iwan, perencanaan Ekspedisi Sapat Hawung kali ini lebih matang dibanding ekspedisi yang pernah dilakukan BKSDA Kalimantan Tengah sebelumnya. BKSDA Kalteng pernah melakukan ekspedisi serupa di tahun 2009 dan 2011, namun Iwan menyebut jika perencanaan dua ekspedisi sebelumnya, tidak cukup matang sehingga hasil yang diperoleh belum cukup memuaskan. “Belajar dari pengalaman yang ada, (di ekspedisi kali ini) kami membuat semua kegiatan benar-benar terencana, terutama dari segi pendanaan. Kami bersyukur banyak mitra yang men-support,” jelas Iwan. Perencanaan tidak hanya soal penganggaran tapi juga dokumentasi. Dokumentasi dalam sebuah ekspedisi sangat penting, karena dapat membantu peneliti untuk merekam apa yang ditemukan. Harley Bayu Sastha, travel writer yang ikut bergabung dengan Tim Ekspedisi Sapat Hawung sebagai tim dokumentasi mengatakan bahwa dokumentasi bisa menjadi ‘mata kedua’ bagi penjelajah dan peneliti saat eksplorasi. “Saat ekspedisi, ada kemungkinan sesuatu terlewat dari pandangan, dan itu bisa terekam dalam dokumentasi. Selain itu, tanpa dokumentasi dari naturalis masa lalu, mungkin kita tidak akan tahu tentang kawasan-kawasan yang hendak kita jelajahi lagi. Itu mengapa penting sekali untuk mendokumentasikan kondisi kawasan saat ini, agar bisa memberi gambaran untuk masa depan,” jelas Harley saat ditemui usai sesi Sharing Session Sapat Hawung di Rakornis Ditjen KSDAE Tahun 2024, Selasa (16/01/2024). Persiapan untuk dokumentasi sendiri juga tidak mudah. Harley menyebut, timnya harus melakukan riset terlebih dahulu. Tidak hanya riset kawasan dan rute, tapi juga komunikasi dengan para peneliti, sehingga pendokumentasian apa yang ditemukan bisa terekam dengan baik. Sinergi dan komunikasi dengan tim, mulai dari persiapan dan selama ekspedisi berperan penting dalam keberhasilan sebuah ekspedisi. Tapi apakah ekspedisi cukup berhenti di situ saja begitu tim keluar dari kawasan dengan membawa temuan spesies baru? Jalan Panjang untuk Memperoleh Pengakuan Temuan Baru Direktur Jenderal KSDAE, Prof. Satyawan Pudyatmoko menyampaikan jika eksplorasi seperti yang dilakukan di Sapat Hawung menjadi penting di dunia konservasi, tidak hanya soal penemuan potensi tumbuhan dan satwa liar (TSL) saja tapi juga diharapkan juga bisa membantu di bidang keilmuan lain. “Eksplorasi ini sangat bermanfaat untuk identifikasi spesies baru, atau yang telah lama hilang dan muncul kembali. Selain itu, pentingnya ekspedisi ini adalah untuk inventarisasi potensi. Pentingnya penggalian potensi kekayaan kehati Indonesia melalui ekspedisi dan eksplorasi yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, khususnya yang dalam merekam kondisi alam, ekologi, keanekaragaman hayati dan potensinya untuk masyarakat dan keilmuan,” jelas Prof. Satyawan Pudyatmoko dalam sesi Sharing Session Sapat Hawung di Rakornis Ditjen KSDAE Tahun 2024, Selasa (16/01/2024). Kegiatan eksplorasi memang bertujuan untuk menemukan potensi yang masih tersembunyi. Tapi perjalanan penemuan spesies baru tidak berhenti begitu sudah ditemukan saat eksplorasi maupun ekspedisi. Untuk mendapat pengakuan secara resmi dan diakui, spesies baru yang ditemukan dalam sebuah ekspedisi harus melewati berbagai tahapan dari pengoleksian spesimen hingga pengkajian. “Tahap yang paling dasar adalah bagaimana kita mengoleksi spesimen. Di dalam pengoleksian spesimen itu, kita ada pengkajian-pengkajian populasi. Setelah pengkajian populasi, lalu mengoleksi spesimen, ada juga pengkajian literasi atau pengkajian literatur. Dan tahap selanjutnya akan dilakukan eksaminasi, pengkajian lebih dalam terkait morfologi dan pendekatan fisiologi, dan didiskusikan bersama expert di bidang spesifik tersebut,” jelas peneliti botani, Yuda Rehata, yang mengikuti ekspedisi di Sapat Hawung. Yuda menjelaskan, tahapan untuk mendapat ‘pengakuan’ atas temuan spesies baru memang tidak mudah dan membutuhkan waktu cukup lama. Setelah berdiskusi dengan expert di bidang yang spesifik, tahapan selanjutnya adalah taksonomi treatment atau penulisan publikasi ilmiah. Setelah menulis deskripsi spesies yang ditemukan itu dalam manuskrip, dan mendaftarkan manuskrip tersebut ke international journal. Di tahap ini, waktu yang dibutuhkan cukup lama, Yuda menyebut waktu tercepat untuk lolos review international journal adalah tiga bulan. Tapi, review bisa berlangsung sangat lama hingga bertahun-tahun, tergantung pada ‘bobot’ dari spesies yang diajukan tersebut dan juga kebijakan dari masing-masing publisher. Setelah melewati tahap itu, manuskrip yang lolos akan dirilis dan spesies yang ditemukan diakui secara resmi dan global. Menemukan spesies baru hingga membuatnya diakui secara global itu tidak mudah, tidak murah dan tidak bisa cepat. Proses ‘pengukuhan’ temuan baru harus melewati jalan panjang, sehingga tidak semua orang mau dan mampu untuk melewati segala proses ini. Tapi tidak bagi Sadtata dan tim. Dalam pembukaan di video dokumentasi ekspedisi, Sadtata mengaku tertantang saat tahu medan yang akan dihadapi. Kepala BKSDA Kalteng ini juga mengajak kepada para peneliti muda dan para pegiat konservasi untuk lebih giat dan bersemangat melakukan eksplorasi lewat ekspedisi. “Saya ingin kita lebih aware, jangan hanya berbangga dan ikut bertepuk tangan ketika peneliti asing menemukan kehati baru di Indonesia. Ayo, para peneliti dan para penjelajah kita (Indonesia), masih banyak yang bisa kita lakukan, masih banyak yang harus kita selesaikan. Ayo jelajahi kawasan-kawasan kita, temukan keanekaragaman hayati kita,” ajak Sadtata Noor menutup wawancaranya usai Sharing Session Sapat Hawung. Sumber: Setditjen KSDAE
Baca Artikel

Hasil Pemulihan Ekosistem di Suaka Alam Pulau Bawean Nyaris 100%

Bawean, 18 Januari 2024. Resort Konservasi Wilayah (RKW) 11 Pulau Bawean, Balai Besar KSDA Jawa Timur, melaksanakan pemeliharaan tanaman hasil pemulihan ekosistem tahun 2023 di kawasan Cagar Alam Pulau Bawean dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Kegiatan yang dilakukan pada beberapa titik lokasi tersebut, dilaksanakan pada 16 hingga 18 Januari 2024. Pada kawasan Batu Lintang Blok Gunung Besar, lokasi pemulihan ekosistem dilaksanakan pada lajan seluas 1,7 Ha yang masuk wilayah Desa Teluk Jatidawang. Pemeliharaan tanaman juga dilakukan pada Blok Payung-payung seluas 1,3 Ha yang masuk Desa Paromaan. Kedua desa tersebut masuk dalam Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Sedangkan lokasi ketiga kegiatan pemeliharaan tanaman hasil pemulihan ekosistem dilakukan pada kawasan Kastoba Blok Gunung Besar seluas 1 Ha, dan masuk wilayah Desa Balikterus, Kecamatan Sangkapura, Kab. Gresik. Menurut Nursyamsi, Kepala RKW 11 Pulau Bawean, Rata-rata bibit yang tetap hidup antara 85% hingga 100%. “Adapun jenis bibit yang ditanam di lokasi pemulihan adalah Gondang (Ficus variegata), Nyamplung (Calophyllum inophyllum), Binong (Tetrameles nudiflora), Sentul (Sandoricum koetjape), dan Pangopa (Eugenia lepidocarpa),” ungkap Nursyamsi. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Telur Ayam dari Tepi Cagar Alam Gunung Abang

Pasuruan, 16 Januari 2024. Kedungpengaron, sebuah desa penyangga kawasan Cagar Alam Gunung Abang, Pasuruan. Tak banyak orang mengetahui mengenai desa ini. Desa yang berada di tepi hutan, miskin, dan sebagian besar penduduknya hanya tamatan SD. Maret 2023 yang lalu, Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Pemerintah Desa Kedungaron bersepakat untuk membuat terobosan usaha ekonomi agar warga Desa Kedungpengaron yang semula merambah cagar alam, sedikit demi sedikit bergeser menjadi ikut menjaga kawasan hutan konservasi ini. Akhirnya, dibentuklah Kelompok Konservasi Sejahtera sebagai wadah bersama untuk memulai usaha. Usaha yang dipilih saat itu adalah budidaya ayam petelur, dengan pertimbangan dominan warganya sudah familiar dengan ternak ayam, serta ada desa di sekitar Kedungpengaron yang telah berhasil dalam budidaya ayam. Sehingga lebih mudah mendapatkan akses informasi produksi dan pasarnya. Terhitung sejak Oktober 2023, Kelompok Konservasi Sejahtera telah memulai usaha budidaya ayam petelur. Modal usaha kelompok berasal dari dana bantuan usaha ekonomi produktif dari Balai Besar KSDA Jawa Timur sebesar 30 juta rupiah dan dana ketahan pangan Desa Kedungperon tahun 2023 sebesar 30 juta rupiah juga. Budidaya ayam petelur yang dikembangan berkapasitas 250 ayam dengan produksi telur per hari sebanyak 11,5 kg dengan harga jual dikisaran 23.000 - 24.000/kg. Telur ayam yang dihasilkan dijual untuk konsumsi lokal Desa Kedungpengaron dan sekitarnya. Permintaan pasar telur ayam hasil ternak Kelompok Konservasi Sejahtera saat ini masih tinggi dengan pasokan produksi yang masih rendah. Walaupun usaha ini terbilang kecil dan terdapat kendala pada harga pakan ayam yang cukup tinggi, namun tidak mematahkan semangat kelompok untuk mempertahankan usaha dan mencari modal tambahan dalam mengembangkan usaha menjadi lebih besar. Sumber : Veve Ivana Pramesti - Penyuluh Kehutanan pada BBKSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Selama Tiga Tahun, Ada 19 Produk Bioprospeksi Telah Dikembangkan BTN Gunung Merapi

Jakarta, 16 Januari 2024. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) mendapatkan kesempatan memaparkan tentang pengembangan bioprospeksi di BTNGM pada Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Ditjen KSDAE hari kedua, Selasa (16/1). Dalam kesempatan ini, Muhammad Wahyudi, selaku Kepala BTNGM, menyampaikan paparan awal, dilanjutkan oleh Dr Ari Nurwijayanto, Pengendali Ekosistem di BTNGM, selaku penggagas dan ketua tim bioprospeksi. Wahyudi menyampaikan, Gunung Merapi sebagai gunung aktif selalu mengeluarkan abu vulkanik, dan ini terkait dengan bioprospeksi yang dikembangkan oleh BTNGM, karena salah satu bahan aktifnya adalah abu vulkanik Gunung Merapi. Eksplorasi bioprospeksi di kawasan hutan TNGM diawali tahun 2018, yang semula merupakan pengambilan data untuk disertasi Dr. Ari Nurwijayanto, ungkap Wahyudi. Pengambilan data tersebut mengkoleksi 160 jenis tumbuhan bawah, dari 47 familia, yang mana 132 jenis dapat teridentifikasi, sedangkan 28 jenis belum dapat teridenfikasi. Disampaikan oleh Ari, bahwa bioprospeksi adalah kegiatan eksplorasi, ekstraksi dan penapisan sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan secara komersial baik dari sumber daya genetic, spesies dan atau biokimia beserta turunannya. Dalam kurun waktu tiga tahun (2020-2023) telah dikembangkan 8 bahan baku yang menghasilkan 19 produk bioprospeksi. Bahan baku yang digunakan yaitu Clidemia hirta, Acacia decurrens, Laccifer lacca, Scutellaria discolor, Colocasia gigantean, Debregeasia longifolia, Euchresta horsfieldii, dan Blumea balsamifera. Ke depannya, masih ada beberapa yang akan dikembangkan, termasuk untuk pengurusan dokumen legalitasnya, dan hal ini memerlukan dukungan berbagai pihak, pungkas Ari. Selanjutnya Wahyudi menyampaikan ucapan terima kasih atas perhatian Menteri Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) pengembangan bioprospeksi di BTNGM ini. Juga ucapan terima kasih dihaturkan kepada Dirjen KSDAE beserta jajarannya, atas dukungannya mendorong pengembangan bioprospeksi di TNGM. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Komisi B DPRD Sumut Melihat Pesona Aek Nauli Elephant Conservation Camp

Simalungun, 8 Januari 2024. Mengawali tahun 2024, Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) kedatangan tamu dari Komisi B DPRD Sumatera Utara pada Kamis, 4 Januari 2024. Kegiatan ini dalam rangka Kunjungan Kerja Ke Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup Dan Kehutanan (BPSILHK) Aek Nauli dan Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Kabupaten Simalungun bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, UPTD KPH Wilayah II Pematang Siantar, PT. PLN Persero, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Asahan Barumun, dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sebelum ke ANECC, Ketua Komisi B DPRD Sumut, Ahmad Fauzan Daulay, SE, MM.,diberikan sosialisasi untuk mengetahui pengelolaan dan pengembangan hutan dari BPSILHK Aek Nauli dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara sebagai perwakilan Kehutanan di Provinsi Sumatera Utara. BPSILHK Aek Nauli memaparkan tentang “Peranan dan Fungsi BPSILHK terkait Standar Kualitas LHK”. Sedangkan Balai Besar KSDA Sumatera Utara memaparkan tentang “ANNEC & DTA Danau Toba”. Komisi B DPRD banyak menyoroti kondisi DAS yang sudah rusak namun tidak dilakukan rehabilitasi, contoh kasus di Barumun. Juga menyoroti tentang tiang-tiang listrik PLN yang melintasi kawasan hutan. PT. PLN harus memiliki izin dan bertanggung jawab atas pemeliharaan hutan dan DAS. Prinsipnya kita kelola hutan dan tetap menjaga hutan sesuai aturan. Sementara untuk ANECC, Komisi B DPRD Sumut merasa bahwa ANECC kurang dikenal dan kurang berkembang karena kurang dipromosikan. Pansus Pariwisata DPRD Provinsi Sumatera Utara diminta untuk membantu mempromosikan ANECC. Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar saat penyampaian paparan Peninjauan ke ANECC oleh Komisi B DPRD Sumut didampingi oleh Kepala Dinas LHK Provinsi Sumatera Utara, Kepala Balai Pengelolaan DAS Asahan Barumun, Kepala UPTD KPH Wilayah II Pematang Siantar, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematang Siantar, PT. PLN Persero, dan BPSILHK Aek Nauli untuk melihat kondisi ANECC dan berdiskusi dengan pengelola. Tindak lanjut dari kunjungan kerja Komis B DPRD Sumut Ke BPSILHK Aek Nauli dan ANECC, direncanakan akan diadakan Rapat Dengar Pendapat (RPD) Komisi B DPRD Sumatera Utara dengan Kementerian LHK dan Dinas LHK Provinsi Sumatera Utara Utara dengan mengikutsertakan Balai Gakkum Sumatera serta Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera Utara. Sumber : Lisbeth Y. S. Manurung, S.Hut (Penyuluh Kehutanan Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kabar Gembira Ditengah Ancaman Kepunahan

Medan, 14 Desember 2023. Harian Kompas, edisi Kamis 7 Desember 2023, mewartakan tentang peneliti yang menemukan kembali Ikan Belida Chitala lopis di Jawa yang dinyatakan punah tahun 2020. Spesies Belida ini terakhir kali ditemukan di Pulau Jawa 172 tahun yang lalu, tepatnya pada 1851. Temuan spesies Ikan Belida Chitala lopis (C. lopis) ini merupakan hasil kolaborasi riset para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Yayasan Selaras Hijau Indonesia, Universitas Jambi, Charles Sturt University Australia, Museum Vienna Austria dan Universite Montpellier Perancis. Tim peneliti meyakini spesies tersebut adalah C. lopis setelah menganalisis data analisis meliputi hasil pengurutan asam deoksiribonukleat (DNA) barcording dengan data genetik global Barcode of Life Data (BOLD) dan karakterisasi morfologi yang dibandingkan dengan koleksi spesies Chitala lopis yang tersimpan di Natural History Museum, London. Indonesia tercatat memiliki 4 spesies Ikan Belida, yakni Belida Borneo (Chitala borneensis), Belida Sumatera (Chitala hypselonotus), Belida Lopis (Chitala lopis) dan Belida Jawa (Notopterus notopterus). Dari 4 spesies tersebut, Belida Lopis telah dinyatakan punah oleh IUCN berdasarkan laporan dan penelitian ahli ikan air tawar dari National University of Singapore, Heok Hee Ng, yang dalam laporannya menyatakan Belida Lopis tidak pernah terlihat lagi di perairan air tawar Pulau Jawa sejak spesimennya dikoleksi Pieter Bleeker tahun 1851. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan populasi Ikan Belida yang termasuk dalam family Notopteridae dan ordo Osteoglossiformes ini, semakin menipis karena penangkapan yang berlebihan dan penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Penagkapan masih terus terjadi mengingat ikan ini memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi bahan baku sejumlah makanan, seperti : pempek dan kerupuk. Oleh karena itu, penetapan Ikan Belida oleh IUCN dalam kategori Least Concern yang mengindikasikan tingkat resiko kepunahan masih rendah di Indonesia, sudah selayaknya untuk ditinjau ulang dan direvisi, terutama status konservasi C. hypselonotus dan C. borneensis menjadi termasuk dalam kategori Critically Endangered (kritis) disebabkan keterbatasan stok dan sebaran. Di Indonesia, sejumlah peraturan perundang-undangan juga mengatur perlindungan terhadap Ikan Belida, seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang KSDA Hayati dan Ekosistemnya jo. Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, serta peraturan terbaru tertuang dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2021 tentang Jenis Ikan Yang Dilindungi. Adanya penemuan kembali Ikan Belida Chitala lopis di Jawa oleh para peneliti, sebagaimana diwartakan oleh Harian Kompas tersebut, tentunya menjadi kabar baik, meskipun masih ada keragu-raguan akan keberlangsungan kelestariannya, ditengah tingginya giat penangkapan dan pemanfaatan Ikan Belida ini untuk memenuhi konsumsi masyarakat dalam berbagai olahan. Penemuan ini sejatinya harus segera ditindaklanjuti dengan langkah-langkah (upaya) menjaga dan menjamin pelestariannya, sehingga kedepan tidak ada lagi kabar buruk Ikan Belida yang baru ditemukan kembali dinyatakan punah. Penyelamatan dan pelestarian ikan dilindungi ini tentunya menjadi tanggung jawab bersama baik lintas kementerian (Kementerian Perikanan dan Kelautan serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) maupun juga pihak-pihak lainnya termasuk nelayan dan pelaku bisnis Ikan Belida. Penerapan sanksi hukum sebagaiman diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2021 tentang Jenis Ikan Yang Dilindungi, yaitu sanksi pidana dan sanksi denda mulai dari Rp. 250 juta hingga Rp. 1,5 Miliar terhadap pelanggar yang terbukti melakukan usaha tanpa izin atau menyelundupkan ikan, urgen untuk ditegakkan dan diterapkan, agar menimbulkan efek jera bagi pelaku. Sinergitas dan kolaborasi dalam menyelamatkan Ikan Belida menjadi kata kunci, kalau kita tidak ingin suatu saat Ikan Belida ini punah selama-lamanya. Ayo.. Selamatkan Ikan Belida…! Sumber : Evansus Renandi Manalu - Analis Tata Usaha Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Komitmen Komisi IV DPR RI Untuk Penegakan Hukum Perdagangan TSL di Provinsi Sulsel

Makassar, 13 Desember 2023. Reses Persidangan II Tahun Sidang 2023-2024, Komisi IV DPR RI (Bidang Pertanian dan Pangan, Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bidang Kelautan dan Perikanan) melakukan kunjungan kerja ke Provinsi Sulawesi Selatan dengan salah satu agenda “Penanganan dan Penegakan Hukum Perdagangan Satwa Liar Dilindungi Antar Pulau”, bertempat di Kantor Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan pada Rabu, 13 Desember 2023. Sebanyak 27 orang Tim Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI yang diketuai oleh Dr. Anggia Erma Rini, MKM melakukan kunjungan kerja ke UPT KLHK Sulsel. Hadir dalam diskusi: Direktur Jenderal KSDAE Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, M.Sc., Plt. Direktur Pencegahan dan Pengamanan LHK Dr. Ir. Sustyo Iriyono, M.Si, Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Ir. Jusman, Plt. Kepala Pusat Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregion Sulawesi Maluku, para Kepala UPT KLHK se Provinsi Sulawesi Selatan, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kota Makassar. Kegiatan kunjungan kerja komisi IV DPR RI diawali dengan Penanaman pohon di lingkungan kantor Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan. Kegiatan penanaman pohon melibatkan anggota pramuka dari SMA Negeri 23 Kota Makassar. Direktur Jenderal KSDAE, dalam sambutannya menyampaikan “Kegiatan pencegahan dimulai dari hulu sampai dengan hilir. Dan yang menjadi hambatan saat ini adalah ketidakseimbangan jumlah personal pengamanan hutan (polisi hutan) dengan luasan kawasan konservasi. Hal ini harus menjadi perhatian dan fokus kita bersama” tegas Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Agr.Sc. Kegiatan diskusi diawali dengan penyampaian pengantar diskusi terkait Penanganan dan Penegakan Hukum Peredaran Ilegal Tumbuhan & Satwa Liar di Provinsi Sulawesi Selatan oleh Kepala Balai Besar KSDA Sulsel. Dalam paparannya Beliau menyampaikan bahwa Balai Besar KSDA Sulsel memiliki Satuan Tugas Wildlife Rescue Unit (WRU) yang dibentuk untuk penanganan satwa yang berasal dari serahan/sitaan serta penanganan konflik satwa dengan manusia. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir Jusman menegaskan bahwa upaya penanganan dan penegakan hukum perdagangan satwa liar illegal di wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dilakukan sesuai ketentuan dan berkolaborasi dengan para pihak terkait. “Pengendalian peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) menurut saya perlu mendapatkan perhatian ekstra. Karena Tuhan memberikan banyak TSL unik dan hanya ada di Indonesia contohnya badak bercula satu. Dimana saat ini, populasinya semakin menurun. Sebagai tanda syukur kepada Tuhan, kita harus menjaga dengan sebaik-baiknya. Dan bagaimana upaya kita menjaga itu, menjadi hal yang sangat penting”, ujar Dr. Anggia Erma Rini MKM dalam diskusi. Plt. Direktur Pencegahan dan Pengamanan LHK Dr. Ir. Sustyo Iriyono, M.Si, mengajak kita semua untuk mengeksplore manfaat TSL. Dimana hal ini dapat menjadi salah satu Solusi alternatif dalam upaya pengendalian peredaran TSL. Berdasarkan letak geografis, Sulawesi terkhusus Makassar menjadi kota penghubung (transit) untuk jalur transportasi laut dan udara di wilayah Indonesia Timur serta posisinya yang strategis pada jalur transportasi ke luar negeri, seperti Malaysia, Filipina, China dll. Kondisi ini memberikan tantangan besar dalam upaya pencegahan dan penanganan perdagangan satwa liar secara illegal oleh Kementarian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Unit Pelaksana Teknis Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan dan Balai Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wilayah Sulawesi. Penjagaan dan pengawasan di pintu masuk dan keluar pulau, yakni Pelabuhan dan Bandara merupakan salah satu upaya pengendalian peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) secara illegal. Kegiatan ini dilakukan dengan menjalin kerjasama para pihak: Badan Karantina, Angkasa Pura, Otorita Pelabuhan, dan PT. Pelni. Sosialisasi dan patroli pencegahan peredaran TSL illegal juga dilakukan dengan target sasaran para pedagang satwa di pasar-pasar hobi, pelaku jual beli satwa di media sosial dan masyarakat umum. Menggandeng pihak penyedia jasa ekspedisi seperti JNE, TIKI, dan Pos Indonesia merupakan tindakan preventif/pencegahan peredaran TSL secara illegal yang dilakukan melalui jasa pengiriman barang. Menutup rangkaian kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke KLHK Sulawesi Selatan, Kepala Balai Bantimurung Bulusaraung Tutut Hei Wibowo, S.Hut., M.Eng menyerahkan cenderamata foto kupu-kupu dari TN Bantimurung Bulusaraung kepada Ketua Tim Kunjungan Kerja. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.21/K.8/TU/Humas/12/2023) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Mengajak Generasi Muda Peduli Lanskap Seblat

Rejang Lebong, 1 Desember 2023. BKSDA Bengkulu melalui proyek Catalyzing Optinum Management of Natural Heritage for Sustainability of Ecosystem, Resources and Viability of Endangered Wildlife Species - CONSERVE Lanskap Seblat terus menggenjot target penyelamatan lanskap Seblat yang berada di dua kabupaten di Provinsi Bengkulu yaitu Mukomuko dan Bengkulu Utara. Sasaran bagi generasi muda terutama siswa sekolah menengah atas (SMA) merupakan sasaran yang berpotensi untuk diharapkan menjadi garda terdepan bagi pelestarian keanekaragaman hayati di lanskap Seblat. Oleh sebab itu, BKSDA Bengkulu menyelenggarakan visits to school ke dua SMA Negeri di Provinsi Bengkulu yaitu SMA N 3 Seluma pada hari Jumat tanggal 24 November 2023 dan SMA N 8 Rejang Lebong pada hari Kamis 23 November 2023. Kegiatan diselenggarakan BKSDA Bengkulu melalui para penyuluh kehutanan dan pengendali ekosistem hutan (PEH) di Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Curup seperti Nurdin, Hayu Pratidina, M. Pipit Febrianto, dan Meti Herawati. Sedangkan dari SKW II Seluma yang diberikan tugas yaitu Zainal Asikin, Zaitul Arzi Z., Iksan Heriyana, dan Triyatmono. Visits to school mengangkat tema “Peran Generasi Muda dalam Menjaga dan Melestarikan Keanekaragaman Hayati di Lanskap Seblat”. Menjawab tantangan dari tujuan Visits To School bahwa BKSDA Bengkulu ingin menumbuhkan kecintaan masyarakat khususnya generasi muda terhadap kelestarian sumber daya alam, meningkatkan pengetahuan tentang fungsi hutan dan ekosistem di Lanskap Seblat yang merupakan habitat satwa kunci hutan sumatera, serta ingin meningkatkan keterampilan dan kecakapan dalam mendukung konservasi sumberda daya hutan dan ekosistemnya di Lanskap Seblat. Untuk mencapai tujuan tersebut, BKSDA Bengkulu menggunakan metode ceramah secara tatap muka yang diselingi dengan yel-yel dari para siswa serta pemberian doorprize menarik oleh para penyuluh. Dalam pelaksanaannya, terdapat lima tahap yang dilakukan untuk memastikan tujuan tercapai, yaitu: Pertama, Tahap persiapan, yang dilakukan dengan mempersiapkan kebutuhan yang mendukung seperti: a) Pemilihan SMA, b) Pemilihan 30 orang peserta baik laki-laki (L) dan Perempuan (P), c) Pembuatan dan pengiriman undangan pelaksanaan untuk SMA terpilih, d) Pembuatan absensi, d) Penyiapan kuisioner atau kartu skor untuk pre-test dan post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa, e) Penyiapan bahan presentasi, ice breaking dan alat pendukung kampanye. Kedua, Tahap pelaksanaan, dilakukan di dalam atau di luar ruangan sekolah dimulai dengan ice breaking dan pretest dilanjutkan dengan penyampaian materi dan diskusi interaktif antara siswa dan pemateri dari BKSDA Bengkulu. Ketiga, Tahap evaluasi dan tindak lanjut, pada tahap ini kegiatan akan dilakukan evaluasi dengan metode post-test untuk mengetahui tingkat keberhasilan dari kegiatan. Hasil tes yang telah dilakukan diumumkan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa selama mengikuti kegiatan. Selanjutnya dilakukan rencana tindak lanjut yang merupakan bagian dari rencana yang bersumber dari siswa untuk kegiatan atau aksi-aksi yang mendukung konservasi sumber daya hutan di lanskap Seblat. Keempat, Tim melakukan pemilihan siswa yang memiliki nilai/skor tertinggi untuk dapat diberikan penghargaan, sekaligus pemberian sertifikat pelaksanaan kegiatan kepada sekolah sebagai ucapan terimakasih dalam pelaksanaan kegiatan visits to school oleh BKSDA Bengkulu yang didukung oleh proyek Conserve Kelima, Tim mendokumentasikan seluruh aktivitas kegiatan visit/kampanye/sosialisasi penyadartuhuan untuk diberikan kepada tim data dan informasi yang kemudian akan dilakukan penyebaran informasi oleh BKSDA Bengkulu sebagai bagian dari manajemen informasi/penyebarluasan aksi Conserve. Koordinator kegiatan di SKW I, M Pipit Febrianto mengatakan, bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan yang harus dilaksanakan secara berkelanjutan. Sebab generasi muda terutama SMA merupakan aset berharga sehingga upaya menumbuhkan kedewasaan berpikir untuk menyelamatkan ekosistem di Lanskap Seblat harus terus ditanamkan. Lain hal dengan Koordinator visits dari SKW II, Triyatmono. Ia berharap pelibatan secara beragam dari berbagai latar belakang sekolah menengah kedepannya dapat dilakukan oleh Conserve. Hal tersebut lebih memudahkan dalam penjangkauan sumber daya manusia dengan latar belakang sekolah yang berbeda, sehingga investasi untuk penyelamatan Lanskap Seblat bagi generasi muda lebih luas dan memiliki tantangan. Diharapkan generasi muda khususnya para pelajar dapat lebih mencintai alam dan lingkungannya sedini mungkin. Kegiatan ini juga merupakan upaya untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan tentang konservasi sumber daya alam hayati dan lingkungan hidup di lanskap Seblat. Hasil dari dua visits yang dilakukan yaitu adanya adanya kemajuan bagi para pelajar ini yaitu adanya perubahan sikap dan perilaku yang ditunjukkan dari hasil pretest dan post-test yang diberikan. Antusiasme siswa untuk ikut dalam mempromosikan upaya pelestarian lanskap Seblat Provinsi Bengkulu sangat tinggi. Sumber: Balai KSDA Bengkulu & Faridh Almuhayat - RTO Conserve Lanskap Seblat
Baca Artikel

Bimtek Pengelolaan Gajah di PLG Seblat Sukses Diselenggarakan

Bengkulu Utara, 18 November 2023. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu sukses selenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) pengelolaan gajah jinak bagi mahout atau pawang gajah di Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat Desa Suka Baru, Kecamatan Marga Sakti Seblat, Kabupaten Bengkulu Utara. Kegiatan Bimtek merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus menyegarkan kembali pengetahuan tentang pengelolaan gajah yang setiap harinya para mahout berinteraksi dengan gajah-gajah jinak yang dibina. Kegiatan yang diselenggarakan selama tiga hari pada tanggal 17 s.d 19 November 2023, dibuka oleh Kepala Balai BKSDA Bengkulu, Hifzon Zawahiri. Dalam sambutannya ia memberikan ucapan terimakasih dan juga penghargaan yang tinggi kepada para mahout yang selama ini telah berpuluh-puluh tahun merawat gajah di PLG Seblat. Ia berharap para mahout tidak bosan-bosan merawat gajah dengan penuh kasih sayang dan ilmu dan pengalamannya dapat dibagikan kepada para asisten mahout. “Saya ingin kedepan gajah yang di PLG ini dapat beranak pinak, jadi saya ingin para mahout intens dan memanajemen gajah agar dapat sering dipertemukan dan melakukan aktivitas sehari-hari secara berkelompok. Hal ini membutuhkan keterbukaan, keinginan dari hati masing-masing mahout. Jadi jaga kekompakan, jaga komunikasi yang harmonis antar mahout di PLG Seblat” ucapnya dalam sambutan pembukaan. Kedepan akan dilakukan program breeding, kesehatan gajah jinak terpantau dengan baik dari sistem yang sudah kita susun di tahun ini. Saya akan lihat data series dari kesehatan gajah untuk dapat dilaporkan secara tertib dan berkelanjutan, imbuhnya sekaligus membuka kegiatan bimtek secara resmi. Kegiatan bimtek menjadi spesial karena dihadiri pelaku sejarah berdirinya PLG Seblat. Hadir sebagai narasumber utama yaitu Nazarudin. Seorang mahout yang memiliki pengalaman lebih dari 40 tahun dalam melatih dan membina gajah-gajah di berbagai wilayah di Indonesia termasuk PLG Seblat. Ia juga masih aktif sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di di Balai Taman Nasional Way Kambas (BTNWK) Provinsi Lampung. Di dalam paparan materi hari pertama, ia mengatakan: “Saya sangat senang memenuhi undangan BKSDA Bengkulu untuk memberikan materi. Tidak bermaksud menggurui teman-teman mahout, namun kehadiran saya disini untuk berbagi pengalaman dalam mengelola gajah. Kita sama-sama belajar, dari teman-teman mahout jika ada masalah kendala silahkan dibicarakan dengan saya, semoga ada solusi. Begitu juga saya ketika ada pengalaman saya berbagi, atau ada masukan untuk saya akan saya terima dengan baik”. Mahout merupakan tugas mulia, yang tidak dapat diintervensi oleh siapapun. Sebab mahout harus merdeka, sebab mahout bekerja harus memiliki hubungan batin dengan gajah. Hubungan itu tejalin saat kita merawat, menyayangi seperti anak kita sendiri, memberikan hak-haknnya dengan baik. Maka kita akan memberikan perintah dengan mudah akan diikuti oleh gajah, ujarnya dalam penyampaian materi awal tentang tugas mulia mahout. Ia juga menegaskan bahwa dalam satu hari gajah harus kita latih aktivitas yang rutin dengan tertib. Mulai dari pagi hingga siang hari dilakukan aktivitas memberi makan, angon, melatih memori gajah. Pada sore hari gajah dimandikan, dikumpulkan dalam satu kelompok, kaki dipasang rantai agar aman, diberikan tambahan makan dan minum untuk malam hari. Saat ini secara teori, terdapat 32 pelatihan yang harus diberikan kepada gajah. Jika ada yang lupa harus segera diluruskan agar tidak terjadi masalah dikemudian hari, imbuhnya. Selain Nazarudin, hadir juga selaku narasumber dari Lembaga Konservasi (LK) Lembah Hijau Provinsi Lampung yaitu Suparman. Ia bekerja sehari-hari sebagai mahout dan telah berengalaman sebagai mahout di salah satu lembaga konservasi di Bali. Ia membantu Nazarudin dalam praktik pengelolaan gajah sehari-hari yang bersumber dari pengalamannya. Para mahout di PLG Seblat diharapkan dapat merefresh kembali ingatan tentang pelatihan gajah dan pemberian hak-hak gajah agar dapat berkembang biak dikemudian hari. Kegiatan bimtek yang dilaksanakan merupakan dukungan dari proyek Catalyzing Optinum Management of Natural Heritage for Sustainability of Ecosystem, Resources and Viability of Endangered Wildlife Species (CONSERVE) Tahun 2023. Dimana BKSDA Bengkulu sebagai Project Impementation Unit (PIU) di Provinsi Bengkulu. Sumber: Balai KSDA Bengkulu & Faridh Almuhayat - RTO Conserve Lanskap Seblat
Baca Artikel

Bersama Pemkab Tojo Una-Una, Balai TN Kepulauan Togean Beri Bantuan

Ampana, 28 November 2023. Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una bersama Balai Taman Nasional Kepulauan Togean menyerahkan bantuan pengembangan usaha ekonomi dalam rangka pemberdayaan masyarakat desa di sekitar kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean secara simbolis pada hari Selasa tanggal 28 November 2023 di Ampana. Penyerahan bantuan usaha ekonomi ini dihadiri oleh Bupati Tojo Una-Una yang diwakili oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Polres Tojo Una-Una, Kejari Tojo Una-Una, OPD / Dinas lingkup Kabupaten Tojo Una-Una, Camat dan Kepala Desa di wilayah Kepulauan Togean, serta kelompok masyarakat penerima bantuan, disamping itu hadir pula secara online perwakilan dari Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi – Direktorat Jenderal KSDAE, BPDASHL Palu-Poso, Balai GAKKUM LHK Wilayah Sulawesi, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, serta Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Tengah, dengan jumlah peserta sekitar 63 Orang. Bantuan secara simbolis diserahkan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra (Alfian Matajeng, S.Pd., M.A.P) yang mewakili Bupati Tojo Una-Una, didampingi Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, kepada 17 Kelompok Masyarakat dengan jumlah anggota kelompok sebanyak 178 KK yang berasal dari 15 Desa. Bantuan diberikan dalam bentuk uang secara langsung melalui rekening kelompok dengan jumlah total bantuan sebesar Rp. 480.000.000,-. Bupati Tojo Una-Una dalam sambutan dan arahannya yang dibacakan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra menyampaikan harapan, agar bantuan yang diserahkan dapat menjadi modal bagi kelompok masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal, memperkuat ekonomi, dan melestarikan alam, sehingga kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean dapat diwujudkan melalui komitmen dan kolaborasi bersama antara Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una dan Balai Taman Nasional Kepulauan Togean. Disamping itu, Bupati Tojo Una-Una juga mengajak semua pihak turut serta melestarikan kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean agar manfaat ekonomi khususnya disektor perikanan dan sektor pariwisata termasuk penerimaan negara dan masyarakat dapat terus terjaga, demi masa depan. Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean, Dodi Kurniawan, S.Pt., S.H., M.H., pada kesempatan ini menyatakan bahwa “pengelolaan kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean dilakukan dengan mengedepankan upaya pencegahan dan pendekatan kepada masyarakat, upaya penegakkan hukum merupakan langkah terakhir untuk memberikan efek jera. Salah satu upaya pencegahan dan pendekatan ini antara lain dilakukan dalam bentuk pendampingan pemberdayaan masyarakat melalui pemberian akses pemanfaatan sumber daya perikanan pada zona tradisional kepada masyarakat sekitar, serta pemberian bantuan usaha ekonomi produktif”. “Masih banyak kendala dan hambatan, maupun kelemahan yang perlu jadi perhatian untuk perbaikan kedepannya dalam pendampingan pemberdayaan masyarakat, terutama dalam hal keterpaduan pembinaan secara kontinyu bersama pihak terkait. Dibutuhkan komitmen, sinergitas dan kerjasama kolaboratif semua pihak, termasuk masyarakat. Apresiasi dan ucapan terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak khususnya kepada Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una, atas dukungannya dalam pelestarian kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean”. “Mari kita bersama-sama menjaga dan melestarikan kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean. Hutan dan perairan laut yang kita miliki bukan hanya sebagai sumber kehidupan hari ini, namun juga sebagai warisan yang harus kita jaga agar dapat dinikmati oleh generasi-generasi mendatang. Keterlibatan aktif masyarakat dalam pelestarian lingkungan adalah kunci keberhasilan dalam mempertahankan keindahan alam dan keanekaragaman hayati,” pungkas Dodi menambahkan. Disamping penyerahan bantuan secara simbolis, pada kesempatan ini juga dilakukan finalisasi naskah perjanjian kerja sama kemitraan konservasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat melalui pemberian akses pemanfaatan tradisional sumber daya perairan terbatas untuk jenis yang tidak dilindungi pada zona tradisional perairan/laut kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean dengan tiga Kelompok Nelayan, yaitu Kelompok Nelayan Tongkol Desa Tanjung Pude Kecamatan Una-Una, Kelompok Nelayan Impo Jaya Desa Bungayo Kecamatan Togean, serta Kelompok Nelayan Sunu Mandiri Desa Tongidon Kecamatan Wabes. Sumber: Balai Taman Nasional Kepulauan Togean
Baca Artikel

Pemkab Soppeng: Dukungan Berkelanjutan untuk Pelestarian Alam TWA Lejja

Makassar, 30 November 2023 – Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Jusman dan Bupati Soppeng H. A. Kaswadi Razak, SE., menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS) tentang “Penguatan Fungsi Kawasan Pelestarian Alam melalui Dukungan Peningkatan Sarana Perlindungan dan Pengembangan Wisata Alam di Taman Wisata Alam (TWA) Lejja Kabupaten Soppeng Provinsi Sulawesi Selatan”. Perjanjian Kerja Sama ini dilandasi oleh komitmen bersama antara Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Soppeng untuk menjaga kawasan dan keanekaragaman hayati di TWA Lejja. Untuk memperkuat fungsi konservasi Kawasan TWA Lejja dan mendukung pembangunan daerah Kabupaten Soppeng, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dan Pemerintah Kabupaten Soppeng sepakat untuk menjalin kerja sama. Kerja sama ini diwujudkan melalui penandatanganan Perjanjian Kerja Sama pada tanggal 25 Agustus 2017. Selama lima tahun berjalan, kerja sama tersebut fokus pada penguatan fungsi pada Blok Pemanfaatan TWA Lejja dan resmi berakhir pada tanggal 25 Agustus Untuk keberlanjutan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dengan Pemerintah Kabupaten Soppeng bersepakat memperpanjang kerja sama berdasarkan hasil evaluasi dan mekanisme perpanjangan kerja sama hingga akhirnya mendapat persetujuan perpanjangan kerja sama dari Direktur Jenderal KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sambutan Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, mengawali rangkaian acara. “Pada hari ini kita akan melakukan penandatanganan dokumen PKS, yang merupakan komitmen bersama para pihak dalam menjaga Kawasan dan keanekaragaman hayati di TWA Lejja. Dokumen PKS ini telah memiliki kekuatan hukum dan mengikat para pihak untuk melaksanakan kerja sama sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku. Komunikasi yang intensif dan baik wajib dibangun oleh para pihak, agar hambatan dan kendala yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan kerja sama dapat terselesaikan dengan baik”, Ujar Ir. Jusman. Dalam sambutannya Bupati Kabupaten Soppeng menyampaikan, “Kami sangat bisa memahami bahwa saat ini kondisi lapangan sangat dinamis. Harapan kami terjalin kerjasama yang baik antara Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Perseroda dan Pemerintah Daerah. Dan untuk mewujudkan itu kita harus memiliki pemahaman yang sama. Kegiatan penandatangan yang berlangsung di Ruang Pimpinan Kantor Bupati Soppeng ini diikuti oleh para pihak terkait yakni Staf Ahli Bupati Soppeng, Asisten Bidang Pembangunan, Asisten Bidang Perekonomian, Asisten Bidang Umum, Asisten Administrasi Pemerintah dan Kesra, Kepala Bapelitbangda Kabupaten Soppeng, Kesbangpol Kab. Soppeng, Badan Pengelolaan Keuangan dan Pendapatan Daerah Kab. Soppeng, Dinas PUPR Kab. Soppeng, Dinas Lingkungan Hidup Kab. Soppeng, Dinas Perhubungan Kab. Soppeng, Bagian Pemerintahan Sekretariat Daerah Kab. Soppeng, Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kab. Soppeng, Bidang Bina Marga dan Bidang Cipta Karya Dinas PUPR Kab. Soppeng, Perseroda serta struktural dan staf Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan. Tujuan kerjasama ini selain memperkuat fungsi kawasan pelestarian alam TWA Lejja melalui dukungan peningkatan sarana perlindungan dan pengembangan wisata alam menjadi tujuan ditandatanganinya perjanjian kerja sama yang berjangka waktu 5 (lima) tahun ini. Dengan ruang lingkup meliputi: (1). Dukungan kerja sama penguatan kelembagaan; (2). Dukungan kerja sama perlindungan dan pengamanan kawasan; (3). Dukungan kerja sama pengembangan wisata alam; dan (4). Dukungan kerja sama pemberdayaan masyarakat. Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama melibatkan beberapa dokumen tambahan yang merupakan bagian dari kelengkapan administrasi kerja sama, seperti dokumen Kesepakatan Bersama, RPP, dan RKT. Sebagai informasi, TWA Lejja merupakan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) yang dimanfaatkan terutama untuk kepentingan pariwisata alam dan rekreasi, yang berada di Desa Bulue Kecamatan Marioriawa Kabupaten Soppeng, Provinsi Sulawesi Selatan, dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor : 169/Kpts-II/2000 tanggal 29 Juni 2000 seluas 1.318 Hektar. Berdasarkan legalitas kawasan tersebut, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem mendapat mandat atau kewenangan untuk menyelenggarakan pengelolaan TWA Lejja. Di dalam Kawasan TWA Lejja menyimpan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, baik flora maupun fauna. Di sekitar lokasi pemandian air panas terdapat habitat kera hitam (Macaca maura). Keberadaan beberapa potensi alam yang menarik tersebut, menjadikan TWA Lejja sebagai obyek wisata andalan Kabupaten Soppeng yang banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Hal ini secara langsung berkaitan dengan kepentingan pembangunan daerah yang dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Soppeng. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.20/K.8/TU/Humas/11/2023) Penanggung Jawab Berita: BBKSDA Sulawesi Selatan Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Dukung Ekonomi Produktif, BKSDA Kalsel Beri Bantuan di Desa Penyangga CA Gunung Kentawan

Kandangan, 22 November 2023 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) memberikan Bantuan Ekonomi Produktif Kelompok Pemberdayaan Masyarakat di Desa Hulu Banyu dan Desa Lumpangi Tahun 2023, Rabu (22/11). Penyerahan Bantuan tersebut dimaksudkan untuk mendukung Usaha Kelompok Pemberdayaan Masyarakat di daerah penyangga Kawasan Cagar Alam (CA) Gunung Kentawan. Acara penyerahan ini diserahkan langsung oleh Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan, Dr. Ir. H. Mahrus Aryadi, M.Sc dan dihadiri Kapolsek Loksado, Danramil Padang Batung, Kepala Desa Hulu Banyu, Kepala Desa Lumpangi, Ketua Kelompok Tani Hutan Datar Belimbing Desa Hulu Banyu, Ketua Kelompok Tani Hutan Kentawan Jaya Desa Lumpangi serta Kepala Resort CA Gunung Kentawan Suhindra, S.H beserta tim. Masing-masing kelompok pemberdayaan masyarakat mendapatkan dana sebesar Rp 20.000.000 yang penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan dan rencana kerja tahunan. Pada tahun 2023 ini Kelompok Tani Hutan Datar Belimbing Desa Hulu Banyu menggunakan dana tersebut untuk pembelian bibit kayu manis, kelapa, pampakin, pupuk, herbisida dan fungisida. Sedangkan KTH Kentawan Jaya Desa Lumpangi menggunakan dana bantuan berupa bibit cabai, benih kacang buncis, pupuk, herbisida dan fungisida. Pada kesempatan ini, Kepala Balai KSDA Kalsel Dr. Ir. H. Mahrus Aryadi, M.Sc menyampaikan kepada anggota kelompok untuk menguasai terlebih dahulu tata cara bertani yang baik sebelum menerima bantuan bibit pertanian. Kemudian beliau juga mengingatkan pentingnya mengelola dana hasil budidaya pertanian tersebut, sehingga kelompok pemberdayaan bisa terus berkembang dan berkesinambungan. Tak lupa pula, kelompok masyarakat untuk terlibat aktif dalam menjaga keamanan kawasan dari gangguan yang tidak diharapkan seperti perburuan liar dan penebangan tanpa izin. (Ryn) Sumber: Zida Rahman, S.Hut. - Penyuluh SKW I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Bina Kelompok Kemitraan Konservasi

Pelaihari, 22 November 2023 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) gelar peningkatan kapasitas bagi kelompok kemitraan konservasi (kemkon) dan kelompok pemberdayaan masyarakat lingkup Seksi Konservasi Wilayah l Pelaihari di aula Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT). Kegiatan ini adalah hasil kerjasama antara Balai KSDA Kalimantan Selatan dengan BPTU-HPT Pelaihari. Sebanyak 45 peserta mengikuti, yang berasal dari kelompok kemitraan konservasi dan kelompok pemberdayaan masyarakat lingkup Seksi Konservasi Wilayah l Pelaihari dan pendamping kelompok. Kepala BPTU-HPT Bapak Ir. Jack Pujianto membuka acara sekaligus memberikan sambutan dan pemaparan singkat terkait organisasi BPTU-HPT dan jenis-jenis pelayanannya. “Kami ucapkan selamat datang untuk Bapak dan Ibu kelompok binaan BKSDA Kalimantan selatan. Kami sangat bersyukur Bapak dan Ibu bisa hadir disini” ucap Beliau. “Harapannya dengan hadirnya Bapak dan Ibu dapat meningkatkan pengetahuan Bapak dan Ibu sekalian dan meningkatkan motivasi Bapak Ibu untuk menjadi pengusaha dibidang peternakan karena memang pasarnya sangat terbuka dan hasilnya yang menjanjikan dengan catatan harus telaten dan disiplin. Saya lihat disini juga hadir yang muda-muda. Ayo jangan malu jadi pengusaha ternak. Intinya dimulai dulu dan konsisten” tutup Beliau. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari staff BPTU-HPT. Adapun materi yang disampaikan adalah : BPTU-HPT Pelaihari merupakan unit pelaksana teknis Kementerian Pertanian yang berada dibawah naungan dan bertanggungjawab pada Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang bergerak dibidang peternakan dan sebagai penghasil bibit ternak dan hijauan pakan ternak dengan kualitas unggul. BPTUHPT Pelaihari menghasilkan dan menjual bibit ternak itik alabio, itik mojosari, itik PMP, Kambing PE, Sapi Madura dan bibit hijauan pakan ternak kepada seluruh lapisan masyarakat. Setelah pemaparan materi dan tanya jawab, acara dilanjutkan dengan praktik dan kunjungan ke area kandang milik BPTU-HPT Pelaihari. Secara terpisah, Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Bapak Dr.Ir.H. Mahrus Aryadi, M.Sc sangat mengapresiasi terselenggaranya kegiatan peningkatan kapasitas bagi kelompok kemitraan konservasi dan kelompok pemberdayaan masyarakat lingkup Seksi Konservasi Wilayah l Pelaihari ini. Dengan adanya peningkatan kapasitas ini, harapannya adalah meningkatnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat terkait bidang peternakan, sehingga mampu meningkatkan ekonomi dan pendapatan bagi masyarakat binaan BKSDA Kalimantan Selatan. Sekaligus pula meningkatkan komunikasi dengan masyarakat setempat agar dapat terlibat dalam menjaga keamanan kawasan konservasi. (Ryn) Sumber: Badrul Arifin, S.Hut - PEH Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan Doc. by : M. Arifin. S.Pd; Zida Rahman S.Hut & Vid. Mariana
Baca Artikel

Sah !! Menteri LHK Datang, Diklat POLHUT Ditutup

Situgunung, 24 November 2023. Rangkaian acara Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Reguler Polisi Kehutanan (POLHUT) pada tahun ini ditutup oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ibu Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. di Situgunung, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Kegiatan yang sebelumnya dilaksanakan di Setukpa Lemdiklat POLRI ini diikuti oleh 487 orang yang terdiri dari 441 pria dan 46 wanita. Seluruh peserta merupakan Polhut KLHK yang berasal dari Ditjen KSDAE 316 orang, Ditjen Penegakan Hukum LHK 56 orang, Ditjen PPI 16 orang serta Instansi Pemda 99 orang. Turut hadir dan menyambut Kepala Balai Besar beserta unsur Pejabat Struktural lingkup Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Menteri LHK dalam sambutannya berpesan agar seluruh insan Polhut senantiasa tetap semangat menjadi garda terdepan di lapangan, "Jangan pernah lelah untuk Indonesia dan jangan pernah letih untuk ibu pertiwi" ucapnya. Eksistensi peran Polhut itu sendiri secara historistis telah dirasakan sumbangsih kerjanya secara nyata di setiap derap langkah perjalanan bangsa dalam mewujudkan cita-cita nasional melalui berbagai aktivitas pengelolaan sumberdaya alam hutan dan keanekaragaman hayatinya. Jaya selalu "Ksatria rimba yang berdedikasi tinggi dan berakhlak mulia". Sumber: Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Teks : Agus Deni @agustdenie Foto : Purnama Pani Sandria
Baca Artikel

Tanam Pohon Untuk Bumi Tapanuli Selatan Lestari

Padangsidimpuan, 24 November 2023. Memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Tapanuli Selatan Ke 73 dan dirangkai dengan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2023, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tapanuli Selatan melaksanakan kegiatan Sosialisasi Penghijauan dan Penanaman Pohon yang mengusung tema “Mari Kita Hijaukan dan Lestarikan Bumi Tapanuli Selatan Dengan Menanam Pohon di Lingkungan Kita”, pada Senin 14 November 2023, di Desa Sipange Siunjam, Kecamatan Sayur Matinggi, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kegiatan yang dihadiri Asisten I Bidang Pemerintahan mewakili Bupati, Balai Besar KSDA Sumatera Utara diwakili Staf Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Kepala UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan Wilayah X Padangsidimpuan, Camat Kecamatan Sayur Matinggi dan tamu serta undangan lainnya. Irwan Hanafi, S.Hut., MM., Pejabat Fungsional PEH Madya Balai Besar KSDA Sumatera Utara pada Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, sebagai narasumber dalam sosialisasi mengajak masyarakat Kabupaten Tapanuli Selatan untuk gemar menanam pohon sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan dan kelestarian alam melalui aksi penanaman pada areal fasilitas sosial atau umum, permukiman, kebun dan pekarangan rumah maupun di lokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain itu juga mengajak masyarakat untuk hidup rukun berdampingan bersama hutan dengan tidak menebang serta merusak hutan, agar hutan tetap dapat memberikan manfaat baik hidrologis, orologis, ekologis, klimatologis, estetika dan strategis kepada masyarakat. Disela-sela acara sosialisasi yang melibatkan tokoh adat, pemuka agama serta masyarakat sekitar Desa Sipange Siunjam, dilakukan juga penyerahan bibit buah-buahan kepada masyarakat dan penanaman di lapangan bola pertapakan sekolah SMK Sipange Siunjam, dengan harapan agar nantinya lingkungan di sekitar desa semakin hijau dan masyarakat mendapat manfaat ekonomis peningkatan kesejahteraan dari hasil pohon buah-buahan yang ditanam. Gerakan menanam pohon serta peduli lingkungan tidak terlepas pula dari keberhasilan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan yang meraih juara satu Finalis Integrated Sustainability Indonesia Movement (ISIM) SDG’s (Sustainable Development Goal’s) For Regencies 2023 pada gelaran SDGs Annual Conference 2023 di Yogyakarta belum lama ini. Giat ini sebuah ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas bekerjasama dengan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) dan PT. Surveyor Indonesia serta KKPOD untuk menggerakkan pembangunan berkelanjutan setiap kabupaten di seluruh Indonesia. Keberhasilan Pemkab Tapanuli Selatan meraih peringkat I terbaik Nasional setelah menyisihkan 103 kabupaten yang ada di seluruh Indonesia dalam rangka Indonesia’s SDGs Action Award 2023. Kegiatan menanam pohon ini tentunya tidak terlepas juga dari moment road to Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) yang berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 24 tahun 2008, ditetapkan diperingati setiap tanggal 28 November. Hari Menanam Pohon Indonesia ini dimaksudkan untuk memberikan kesadaran dan kepedulian kepada masyarakat tentang pentingnya pemulihan kerusakan sumber daya hutan dan lahan melalui penanaman pohon. Selain itu juga sebagai momentum untuk mengajak masyarakat agar semakin mencintai lingkungan. Sumber : Irwan Hanafi, S.Hut., MM. - PEH Madya Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 913–928 dari 2.305 publikasi