Jumat, 29 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Melindungi Produk Masyarakat Melalui Pencatatan Indikasi Geografis

Putussibau, 21 Maret 2024. Audiensi Pencatatan Indikasi Geografis oleh Expert Sub Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkumham Kalimantan Barat dilaksanakan Balai Besar Taman Nasionall Betung Kerihun dan Danau Sentarum (TaNa Bentarum) di Aula Kantor, Kamis (21/8). Kegiatan ini guna menginisiasi pencatatan Indikasi Geografis di Wilayah Kabupaten Kapuas Hulu. Hal ini penting guna melindungi kekayaan potensi dan karakteristik produk yang khas dari Kabupaten Kapuas Hulu, khususnya di sekitar kawasan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) dan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS). Hadir pada kesempatan tersebut jajaran Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum (Tana Bentarum) bersama dengan Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, yang diwakili oleh Kepala Sub Bidang Pengembangan Wilayah Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Kapuas Hulu, Iin Nisah, S.T., M.T. Beliau menyampaikan bahwa pemerintah daerah menyambut baik kegiatan ini sebagai pemandu ke depannya dalam pendaftaran indikasi geografis berbagai produk yang berasal dari Kabupaten Kapuas Hulu, guna melindungi kekayaan intelektual produk-produk masyarakat, di antaranya madu dan kerajinan tangan berupa tenun pewarna alam. Kepala Sub Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual Kanwil Kemenkumham Kalimantan Barat, Bapak Andy Hermawan Prasetyo, menyampaikan bahwa “Indikasi geografis adalah suatu tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang dan/atau produk yang karena faktor lingkungan geografis termasuk faktor alam, faktor manusia atau kombinasi dari kedua faktor tersebut memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada barang dan/atau produk yang dihasilkan. Tanda yang digunakan sebagai indikasi geografis dapat berupa etiket atau label yang dilekatkan pada barang yang dihasilkan”. Audiensi ini dilakukan untuk meningkatkan pendaftaran kekayaan intelektual pada indikasi geografis terdaftar, contoh nama produk Madu Kelulut Mendalam. Kata “Mendalam” dalam produk madu kelulut mendalam menandakan indikasi geografis produk tersebut. Pada kesempatan ini, turut hadir Bapak Kepala Balai Besar Tana Bentarum yang mengikuti proses audiensi hingga akhir. “Indikasi geografis ini selaras dengan program pengembangan bioprospeksi oleh Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum. Seringkali kita kecolongan, produk kita diklaim dan dikembangkan oleh negara lain, untuk itu indikasi geografis ini sangat penting untuk perlindungan produk masyarakat” ujar Kepala Balai besar, Bapak Sadtata Noor Adirahmanta, S.T.,MT. “Potensi produk masyarakat dan pemanfaatan tradisional yang ada di Tana Bentarum dan sekitarnya cukup beragam dan unik. Di antaranya seperti daun sengkubak, yang dimanfaatkan sebagai penyedap rasa alami, ada juga daun aras, yang dimanfaatkan sebagai sabun mandi alami dan potensi lainnya”, pungkas beliau. Indikasi geografis bermanfaat untuk memperjelas identifikasi produk dan menetapkan standar produksi serta proses di antara para pemangku kepentingan. Selain itu, reputasi suatu kawasan akan ikut terangkat dan mendukung kelestarian alam, pengetahuan tradisional serta sumberdaya hayati, yang tentunya akan berdampak pada berbagai aspek, utamanya lingkungan dan masyarakat. Terdaftarnya indikasi geografis juga akan memberikan banyak manfaat secara nasional terutama sebagai strategi pemasaran produk pada perdagangan dalam dan luar negeri dan perlindungan dalam menghindari persaingan curang. Ayuk jaga kekayaan alam kita untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia!!! Sumber: Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun dan Danau Sentarum
Baca Artikel

Hari Hutan Internasional, Aksi Kecil Namun Nyata

Medan, 22 Maret 2024. Hutan memiliki manfaat yang nyata bagi kehidupan dan penghidupan, baik manfaat ekologi, sosial budaya maupun ekonomi secara seimbang dan dinamis. Dalam kedudukannya sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan, hutan telah memberi manfaat bagi umat manusia. Hutan juga mempunyai peranan sebagai penyerasi dan penyeimbang lingkungan global, sehingga keterkaitannya dengan dunia internasional menjadi sangat penting. Sejalan dengan itu, Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dalam resolusinya 67/200 pada tanggal 21 Desember 2012 telah menetapkan Hari Hutan Internasional (International Day of Forests), dimana tujuannya adalah untuk mengingatkan kepada masyarakat tentang pentingnya hutan bagi kelangsungan hidup manusia sehingga harus dijaga kelestariannya. Karena pentingnya hutan bagi kehidupan itulah, maka Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 21 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Hutan Internasional, sebagai bentuk rasa cinta dan peduli serta perlunya upaya nyata melestarikan hutan. Tahun ini tema yang diusung adalah “Hutan dan Inovasi : Solusi Baru Untuk Dunia Yang Lebih Baik”. Peringatan Hari Hutan Internasional ini menjadi penting artinya mengingat hutan memberi kontribusi sumber daya yang tak terhitung jumlahnya, mulai dari oksigen hingga makanan, penyimpan karbon yang besar dan juga merupakan rumah bagi beragam tumbuhan dan hewan. Selain itu hutan juga mempunyai peran penting dalam mitigasi perubahan iklim dan sangat mempengaruhi terhadap pola cuaca. Di beberapa belahan dunia pun masih ada masyarakat adat yang hidupnya bergantung pada hutan. Sayangnya hutan mengalami berbagai perlakuan yang kurang bijaksana. Maraknya kegiatan pemanfaatan kawasan hutan untuk berbagai tujuan kepentingan baik atas nama pembangunan maupun atas nama kepentingan masyarakat, menyebabkan hilangnya sebagian fungsi kawasan, seperti : fungsi perlindungan, dalam menjaga kestabilan lingkungan alam ; fungsi produktif, dimana hutan menghasilkan banyak produk baik buah-buahan, jamur dan berbagai jenis tanaman lainnya termasuk tanaman obat-obatan, serta fungsi sosial, dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan rekreasi/wisata. Momen peringatan Hari Hutan Internasional ini kemudian menjadi pengingat dan penyadaran bagi semua pihak guna melakukan refleksi, sekaligus membangun resolusi untuk mengambil langkah-langkah konkrit. Banyak hal yang sebenarnya dapat dilakukan untuk merayakan Hari Hutan Internasional, sebut saja : giat penanaman pohon, rehabilitasi dan restorasi kawasan hutan, menjadi sukarelawan ataupun mendukung organisasi/lembaga yang melindungi hutan, dan memberi edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda tentang arti penting hutan dan perlunya upaya pelestarian. Edukasi pengenalan hutan bagi generasi muda Semua langkah dan upaya sekecil apapun itu, bila dilakukan secara massal tentunya akan memberi dampak yang luar biasa. Oleh karena itu, sekali lagi, momen peringatan Hari Hutan Internasional tahun ini menjadi penggalang semua kekuatan dan potensi untuk berpartisipasi dan berkontribusi secara kolaborasi melakukan aksi nyata menyelamatkan, melindungi dan melestarikan hutan demi kehidupan dan masa depan bumi yang lebih baik. Selamat Hari Hutan Internasional… Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Bakti Sosial Rimbawan Sumatera Utara, Berbagi Berkat

Pembagian takzil oleh rimbawan Sumatera Utara Medan, 20 Maret 2024. Kemeriahan Hari Bakti Rimbawan Ke 41 Tahun 2024 masih berlanjut, setelah pada Senin (18/3) dirayakan dengan upacara di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, pada Selasa (19/3), rimbawan Sumatera Utara (gabungan rimbawan dari UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara) melakukan kegiatan bakti sosial, sesuai dengan tema “Bakti Rimbawan, untuk Tanah Air, untuk Bangsa” Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan tahun 1445 Hijriyah, kegiatan bakti sosial berupa pembagian takjil berbuka puasa, yang dibagikan kepada para tukang becak, gojek, tukang parkir, pemulung, pejalan kaki dan lain-lain, di sekitar jalan Sisingamangaraja, Medan. Sebanyak 550 bungkus nasi dan 550 bungkus takjil dibagikan pada warga. Ada senyum bahagia dan ucapan terima kasih kepada petugas yang membagikan takjil. Setelah pembagian takjil, dilanjutkan tali asih dengan pemberian bantuan kepada 30 orang anak yatim piatu, yang diserahkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Yuliani Siregar, M,AP. didampingi Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Rudianto Saragih Napitu, S.Si., M.Si. Pembagian tali asih Diakhir kegiatan bakti sosial dilakukan tausiah Ramadhan dan dilanjutkan buka puasa serta makan bersama seluruh rimbawan Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera selaku Ketua Panitia peringatan Hari Bakti Rimbawan Ke 41 di lingkungan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta UPT. Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara tahun 2024, menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung terlaksananya seluruh rangkaian kegiatan peringatan Hari Bakti Rimbawan Ke 41, dan berharap jiwa korsa rimbawan Sumatera Utara akan terus terjaga di hari-hari yang akan datang. Sumber : HM. Parlindungan Sinaga, S.Kom. (Pranata Komputer Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Apel Peringatan HBR Ke-41 Lingkup Balai TN Taka Bonerate

Benteng - Kepulauan Selayar, 18 Maret 2024. Bulan Maret ini banyak momen penting, salah satu momen penting yang diperingati adalah Peringatan Hari Bakti Rimbawan, momen spesial buat para Rimbawan seluruh Indonesia. Sejarahnya adalah bahwa pada tanggal 16 Maret 41 tahun yang lalu hari dibentuknya Kementerian Kehutanan (sekarang Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) tepat pada 16 Maret 1983. Maka dari itu hampir seluruh UPT KLHK baik di pusat maupun di daerah melakukan Upacara ataupun Apel Peringatan Hari Bakti Rimbawan seperti giat yang dilakukan oleh Balai TN Taka Bonerate pada hari ini, Senin 18 Maret 2024. Berlangsung secara sederhana namun khidmat yang bertempat di Depan Halaman Kantor Balai TN Taka Bonerate. Apel Peringatan ini dipimpin oleh Plt. Kepala Balai TN Taka Bonerate dan diikuti oleh Kasubag Tata Usaha, Ka. SPTN Wilayah 1 Tarupa, Ka. SPTN Wilayah 2 Jinato, Para Koordinator Fungsional dan seluruh Staf Balai TN Taka Bonerate. Pada kesempatan yang sama, Plt. Kepala Balai Bapak Raduan menyampaikan Pidato Sambutan Menteri LHK dalam rangka Hari Bakti Rimbawan ke 41 tahun 2024 dihadapan para peserta apel. Setelah rangakaian kegiatan diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta apel. Sumber: AsriTo' - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Bakti Rimbawan, Untuk Tanah Air, Untuk Bangsa

Medan, 18 Maret 2024. Peringatan Hari Bakti Rimbawan kembali digelar, tahun ini peringatan ke 41. Momentum ini sebagai sejarah memperingati pertama kali berdiri/terbentuknya Departemen Kehutanan pada tanggal 16 Maret 1983 silam. Bagi rimbawan hari bakti ini dijadikan sebagai tonggak konsolidasi para rimbawan di seluruh Indonesia untuk kembali menguatkan komitmen dan kesadaran dalam berkarya dan membangun hutan dan kehutanan Indonesia. Peringatan Hari Bakti Rimbawan serentak dilakukan di jajaran UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di seluruh Indonesia bersama-sama dengan jajaran pemerintahan daerah. Khusus untuk Provinsi Sumatera Utara dilaksanakan di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di jalan Sisingamangaraja Km. 5,5 No. 14 Medan, pada Senin 18 Maret 2024 dengan menggelar upacara yang diikuti seluruh pegawai UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara serta jajaran lingkup Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Peringatan Hari Bakti Rimbawan tahun ini menjadi spesial karena dirayakan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan tahun 1445 Hijriyah. Bertindak sebagai pembina upacara Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Yuliani Siregar, M.AP. yang membacakan sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya, M.Sc. Dalam arahannya Siti Nurbaya menyampaikan bahwa tahun ini peringatan Hari Bakti Rimbawan mengusung tema “Bakti Rimbawan, Untuk Tanah Air, Untuk Bangsa”, yang mengandung makna reflektif dan evaluatif atas apa yang telah dilakukan bersama sebagai rimbawan. Tema ini juga meneguhkan arah dan cara pandang seluruh rimbawan, dan menggali atau recall memori yang senantiasa ada dalam benak tentang peranan rimbawan dalam menjaga hutan sebagai elemen dan struktur pembentuk bentang alam dan lingkungan serta semua faktor yang saling mempengaruhi di alam. Sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dibacakan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Ir. Yuliani Siregar, M.AP. “Pada kesempatan Hari Bakti Rimbawan ini, saya mengajak seluruh rimbawan jajaran kementerian, jajaran pemerintah daerah, dunia usaha dan aktivis sosial kemasyarakatan, para pemangku kepentingan dan seluruh masyarakat, untuk dapat bersama bahu membahu memberikan kontribusi pemikiran ataupun kegiatan nyata di lapangan, serta terus konsisten membangun bagi kemajuan pembangunan bidang lingkungan hidup dan kehutanan,’ ujar Siti Nurbaya. Upacara berjalan dengan lancar. Meskipun dalam suasana bulan suci Ramadhan, namun dilakukan secara khidmat dan penuh semangat. Rangkaian peringatan Hari Bakti Rimbawan belum berakhir dan masih akan dilanjutkan besok Selasa, 19 Maret 2024, dengan agenda bakti sosial (berbagi makanan berbuka), pembagian tali asih dan tausiah Ramadhan, berbuka puasa serta makan malam bersama. Selamat Hari Bakti Rimbawan, jayalah Rimbawan … tingkatkan terus dedikasi dan energi positif untuk menghasilkan karya-karya inovatif demi kelestarian alam dan lingkungan hidup. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analisa Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Agar Pemberdayaan Masyarakat Efektif, Lakukan Prakondisi

Kegiatan Prakondisi di Desa Sipagabu Pematangsiantar, 19 Maret 2023. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar melakukan Prakondisi Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat di Sekitar Kawasan Konservasi Tahun 2024, dari tanggal 22 sd. 29 Februari 2024, dengan berkoordinasi langsung bersama pemerintah desa dan kelompok masyarakat. Prakondisi ini merupakan tahapan/proses awal yang dilakukan oleh Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar sebelum dimulainya kegiatan pemberdayaan masyarakat, dengan tujuan agar nantinya kegiatan tersebut dapat berjalan efektif sesuai dengan yang diharapkan. Ada sebanyak 9 (sembilan) desa target kegiatan pemberdayaan melalui Fasilitasi Usaha Ekonomi Produktif Masyarakat di Sekitar Kawasan Konservasi Tahun 2024 di Wilayah Kerja Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, yang menjadi sasaran dari kegiatan Prakondisi, yaitu : Nagori Purba Dolok (CA. Martelu Purba), Desa Kuala Beringin (SM. Dolok Surungan I), Desa Sipagabu, Desa Liattondung, Desa Lumban Pinasa, Desa Lumban Pinasa Saroha (SM. Dolok Surungan II), Desa Pararungan, Desa Sibuntuon, dan Desa Pagarbatu (SM. Dolok Surungan III). Kesembilan desa ini bersedia menerima Bantuan Ekonomi Produktif dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tahun 2024 yang dinyatakan dalam Surat Pernyataan pada bulan Oktober 2023. Kegiatan Prakondisi di Desa Pinasa Saroha Prakondisi dilakukan oleh petugas Seksi Konservasi Wilayah dan Resort Konservasi Wilayah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kelompok masyarakat untuk membahas dan mendiskusikan draft kesepakatan konservasi, tahapan kegiatan pemberdayaan, serta adminitrasi kelompok yang harus dilengkapi sebagai kelompok penerima bantuan. Terkait Kesepakatan Konservasi, Pemerintah Desa dan masyarakat menyatakan sepakat akan butir-butir yang ada di dalam kesepakatan konservasi. Pemerintah Desa sangat mendukung kegiatan pemberdayaan ini dan siap untuk mendampingi kelompok masyarakat dalam melengkapi administrasi yang diperlukan. Setelah kegiatan prakondisi, akan dilanjutkan dengan kegiatan pembentukan/penguatan kelembagaan. Dalam tahapan ini nantinya akan dilakukan verifikasi administrasi dan teknis terhadap Proposal Kelompok. Oleh karena itu, pada prakondisi ini Tim sudah mengarahkan kelompok dalam penyusunan proposal agar di dalam proposal tersebut kelompok sudah membuat rencana penggunaan dana bantuan dengan sebaik mungkin berdasarkan kesepakatan kelompok, sehingga dana bantuan dapat dipergunakan dengan optimal. Kegiatan Prakondisi di Desa Sibuntuon Harapannya kegiatan pemberdayaan ini dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat di sekitar kawasan konservasi dan bagi kelestarian kawasan konservasi. Hutan dan masyarakat di sekitar kawasan hutan merupakan satu kesatuan yang terintegrasi yang tidak dapat dipisahkan. Pada akhirnya kegiatan pemberdayaan masyarakat dapat meningkatkan kemandirian masyarakat serta mendukung pelestarian kawasan hutan. Sumber : Lisbeth Yuni S. Manurung, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tingginya Interaksi Negatif, Balai Besar KSDA Sumatera Utara Lakukan Sosialisasi

Sambutan Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran Labuhanbatu Utara, 13 Maret 2023. Kabupaten Labuhanbatu Utara termasuk salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang rawan dengan interaksi negatif (konflik) antara satwa liar dengan manusia. Tercatat sedikitnya 2 - 3 peristiwa interaksi negatif terjadi setiap tahunnya dan yang paling sering terjadi adalah interaksi negatif manusia dengan satwa buaya. Sepanjang tahun 2023 saja, Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar melalui Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran menangani 4 peristiwa interaksi negatif yaitu 3 konflik dengan Buaya Muara (Crocodylus porosus) dan 1 konflik Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Kabupaten Labuhanbatu Utara. Salah satu peristiwa konflik yang cukup mengharukan terjadi pada tanggal 7 Juni 2023, dimana seekor Buaya Muara menerkam seorang ibu rumah tangga yang bernama Susi Susana Sinambela, umur 35 tahun, di Sungai Peranginan aliran Sungai Aek Kanopan, Dusun Peranginan, Desa Teluk Binjai, Kecamatan Kualuh Hilir hingga menyebabkan korban meninggal. Susi Susana yang diketahui dalam keadaan hamil sedang mencuci pakaian di pinggir sungai saat buaya tersebut menerkamnya. Warga marah kemudian membunuh buaya tersebut dan menguburkannya di halaman Kantor BPBD Kabupaten Labuhanbatu Utara. Melihat tingginya kasus interaksi negatif anatara satwa liar dengan manusia, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran pada Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar berinisiatif melakukan kegiatan Sosialisasi Penanganan Interaksi Negatif Satwa Liar pada tanggal 29 Februari 2024, bertempat di aula Kantor Kelurahan Aek Kota Batu, Kecamatan NA IX-X, Kabupaten Labuhanbatu Utara, yang dihadiri oleh 20 peserta yang mewakili 3 Desa di Kecamatan NA IX-X, yaitu Desa Silumajang, Desa Pematang dan Desa Batu Tunggal. Ketiga desa ini rawan terjadinya interaksi negatif dengan satwa liar. Sosialisasi ini dimulai dengan sambutan dari Kepala SKW III Kisaran Alfianto L. Siregar, S.Hut, MT, M.PP serta dari Camat NA IX-X Sukur Pasaribu, SH., MH., yang sekaligus membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, Sukur Pasaribu, SH, MH menyampaikan harapannya agar kegiatan sosialisasi dapat memberikan pengetahuan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keberlanjutan satwa liar serta menghindari konflik yang mungkin timbul. Semoga dengan pengetahuan yang diperoleh dari acara ini, dapat mewujudkan harmonisasi, hidup berdampingan bersama antara masyarakat dengan satwa liar. Materi yang disampaikan dalam sosialisasi ini terkait Penanganan Interaksi Negatif Satwa Liar dan Mitigasi Konflik Harimau Sumatera dengan Manusia, yang disampaikan oleh Harai S. Munthe dari Yayasan Alam Liar Lestari selaku narasumber. Peserta diberikan pemahaman tentang cara mengatasi interaksi negatif yang mungkin terjadi antara manusia dan satwa liar, serta pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem alam. Masyarakat harus menjadi garda terdepan dan mandiri dalam penanganan interaksi negatif. Peserta yang hadir juga diharapkan dapat dan mampu mensosialisasikan/menyebarluaskan informasi maupun pengetahuan yang diperoleh ke masyarakat lainnya. Harai S. Munthe saat berbagi pengetahuan dan pengalaman Kegiatan Sosialisasi Penanganan Interaksi Negatif Satwa Liar ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dalam menjaga keberlanjutan satwa liar dan meminimalisir terjadinya interaksi negatif dengan satwa liar di Kabupaten Labuhanbatu Utara. Dengan pengetahuan yang diperoleh, masyarakat diharapkan mampu mengambil langkah-langkah preventif untuk menjaga keberadaan satwa liar, sambil tetap menjaga keamanan dan keselamatan mereka sendiri. Berperan aktif menyampaikan informasi kepada petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui call center 085376699066 berkaitan dengan konflik satwa maupun terkait dengan perbuatan tindak pidana terhadap tumbuhan dan satwa liar. Sumber : Lisbeth Yuni S. Manurung, S.Hut (Penyuluh Kehutanan Muda)-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Dirjen KSDAE Ikuti Penanaman Pohon Serentak Keempat Sebagai Rangkaian Hari Bakti Rimbawan Ke - 41

Dirjen KSDAE menanam pohon Pulai didampingi Pj. Gubernur Sumatera Utara, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan kehutanan Provinsi Sumatera Utara Kuala Namo, 8 Maret 2024. Kegiatan Penanaman Pohon Serentak Seluruh Indonesia kembali digelar pada Kamis, 7 Maret 2024, dan ini adalah yang keempat kalinya. Khusus di Provinsi Sumatera Utara kegiatan penanaman dilaksanakan di areal Sumut Sport Center di jalan Bandara Kuala Namo, Desa Sena, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan ini sekaligus sebagai rangkaian dari Peringatan Hari Bakti Rimbawan Ke-41 Tahun 2024. Kegiatan penanaman dihadiri Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc., Pj. Gubernur Sumatera Utara, Hassanudin, Bupati Deli Serdang, HM. Ali Yusuf Siregar, unsur Forkopimda Provinsi Sumatera Utara, OPD Provinsi Sumatera Utara, Pimpinan UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan baik Pusat maupun Provinsi Sumatera Utara, UPTD Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara, serta tamu undangan lainnya. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. dalam sambutannya yang dibacakan Dirjen KSDAE, menyampaikan bahwa penanaman serentak ini sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim, pemulihan kualitas lingkungan hidup dan percepatan rehabilitasi hutan dan lahan, serta upaya untuk memperbaiki kualitas lingkungan dengan memperbanyak tegakan pohon/tanaman, juga meningkatkan wawasan dan pemahaman masyarakat umum atas pelaksanaan program pembangunan lingkungan hidup dan Kehutanan khususnya kegiatan penanaman pohon. Untuk mengurangi dampak perubahan iklim yang telah nyata kita rasakan, keberadaan pohon dan tutupan lahan yang baik akan meningkatkan daya dukung alam dalam mitigasi perubahan iklim, ketahanan pangan, energi dan kesejahteraan seluruh makhluk hidup, ujar Menteri diakhir sambutannya. Sedangkan Pj. Gubernur Sumatera Utara, Hassanudin, menyampaikan bahwa pemilihan Sumut Sport Center sebagai lokasi kegiatan penanaman serentak, tujuannya agar keindahan dan kesejukan di areal tersebut terjaga. Hassanudin juga mengingatkan kegiatan penanaman pohon tidak hanya sebatas seremoni. Pohon yang ditanam harus tetap dijaga hingga tumbuh besar, sehingga tujuan untuk menjaga lingkungan hidup dan ekosistem bisa tercapai. Sekedar mengingatkan kembali bahwa kegiatan Penanaman Pohon Serentak Seluruh Indonesia di Provinsi Sumatera Utara, sebelumnya telah 3 (tiga) kali dilaksanakan, masing-masing tanggal 30 Desember 2023 giat penanaman pertama di Retreat Center Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) di Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang dan di lokasi KTH Lestari, kemudian pada tanggal 13 Januari 2024 kegiatan penanaman kedua di lokasi UPSA KTH Sipolha Horison di Kelurahan Sipolha Horison, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun, dan kegiatan penanaman ketiga pada tanggal 7 Februari 2024 di Desa Silo Baru, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan. Adapun bibit yang ditanam di lokasi penanaman serentak seluas 0,5 hektar adalah jenis Pulai (Alstonia scholaris) sebanyak 8 batang dan Ketapang Kencana (Terminalia mantaly) sebanyak 52 batang. Semoga dengan kegiatan penanaman serentak ini menjadi edukasi dan penyadaran kepada masyarakat untuk terus giat melakukan penanaman pohon agar kualiatas lingkungan hidup semakin baik. Sumber : HM. Parlindungan Sinaga, S.Kom. (Pranata Komputer Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Membangun dan Meningkatkan Disiplin dan Etos Kerja SDM di Tingkat Tapak

Malino, 8 Maret 2024. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) melaksanakan kegiatan pembinaan pegawai pada tanggal 8 - 9 Maret 2024 bertempat di Hotel Celebes Malino, Kabupaten Gowa, Prov. Sulawesi Selatan. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Balai TN Babul, Bapak T. Heri Wibowo, S.Hut., M.Eng dan dihadiri oleh Sekditjen KSDAE, Bapak Suharyono, S.H., M.Si., M.Hum., Kabag K2OTL, Bapak Karyadi, S.Hut. M.IL., Kabag PEHKT, Bapak Ratna Hendratmoko, S.H., M.Hum., dan Kasubag TU Bapak Nofi Sugiyanto dan diikuti oleh seluruh pegawai/staf Balai TN Babul. Dalam kegiatan tersebut peserta diberikan pemahaman tentang sikap profesional dan kode etik ASN yang disampaikan oleh Sekditjen KSDAE. Ia menekankan pada "Intra Independent" dalam hal ini fokus pada prinsip dan nilai-nilai yang diyakini pada nilai-nilai dasar ASN BerAKHLAK. Disamping itu juga diberikan siraman rohani yang juga mengarah pada pentingnya Membangun dan Meningkatkan Disiplin dan Etos Kerja SDM di Tingkat Tapak. Pembinaan pegawai diharapkan dapat menjadi media atau cara untuk tetap menjaga hubungan dan menumbuhkan iklim kerja yang produktif di lingkungan kerja. Pembinaan ASN melibatkan tiga unsur yaitu disiplin kerja, pengembangan karir, dan kode etik. Melakukan pekerjaan dengan semangat dan inovasi serta kepedulian terhadap pencapaian tujuan visi dan misi merupakan salah satu bentuk disiplin kerja. Sumber: Dewi Fortuna Wahab - PEH Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Artikel

Tamu Jauh Sambangi TWA Sibolangit

Siswi belajar potensi kawasan TWA Sibolangit Sibolangit, 5 Maret 2024. Senin, 4 Maret 2024, hari yang spesial karena kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit dikunjungi tamu jauh, yaitu rombongan 75 orang pelajar dari SMA Negeri 1 Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh. Maksud dari kunjungan ini adalah dalam rangka pembelajaran Kurikulum Merdeka Tahun 2023/2024, dimana melalui kegiatan ini sisiwa diharapkan berperan aktif dalam proses belajar berdiferensiasi. Kesempatan baik ini digunakan Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit, Suparman, SP. untuk membekali informasi dan pengetahuan generasi muda tentang sejarah kawasan, potensi kawasan serta arti penting kawasan bagi masyarakat sekitar maupun juga masyarakat di kota Medan, karena kawasan ini merupakan catchment area atau daerah cakupan/tangkapan air yang menyimpan dan mendistribusikan air bersih termasuk bagi kebutuhan masyarakat yang ada di Kota Medan. Selesai pemaparan, seluruh peserta diajak berkeliling menelusuri/menapaki kawasan TWA Sibolangit. Peserta selain menikmati keindahan dan udara segar, juga diperkenalkan berbagai potensi yang tumbuh dan hidup di kawasan. Peserta kagum, karena kawasan TWA Sibolangit juga menyimpan tanaman-tanaman obat, yang oleh masyarakat sekitar diolah dan dimanfaatakan menjadi ramuan obat-obat tradisional. Diskusi interaktif juga terjadi ketika peserta ingin mengetahui lebih dalam tentang potensi-potensi yang ada, dan oleh petugas Resort CA./TWA. Sibolangit diberikan penjelasan. Dari kunjungan ini diharapakan siswa-i lebih dekat dan lebih jauh mengenal (menyatu) alam. Ada banyak hal yang bisa dipelajari di alam, dengan kata lain alam ini menyimpan segudang informasi dan pengetahuan yang perlu dipelajari dan dikembangkan. Kehadiran pelajar SMA Negeri 1 Peureulak, Kabupaten Aceh Timur akan membuka wawasan dan kesadaran akan pentingnya menjaga dan melestarikan kawasan konservasi agar terus memberi manfaat bagi kehidupan. Sumber : Suparman, SP. (Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pengelola Cagar Biosfer Taka Bonerate Kepulauan Selayar, Inisiasi Seminar Cagar Biosfer Indonesia di Makassar

Makassar, 1 Maret 2024 – Balai Taman Nasional Taka Bonerate sebagai sekretaris Cagar Biosfer Takabonerate – Kepulauan Selayar (CBTBKS) memfasilitasi kegiatan Seminar Nasional Cagar Biosfer Indonesia, pada tanggal 28 Februari 2024 di Hotel Harper Makassar. Berbagai pemangku kepentingan hadir diantaranya para pengelola Cagar Biosfer termasuk perwakilan pemerintah daerah, akademisi, LSM, komunitas masyarakat, dan perwakilan UNESCO. Seminar ini untuk mengeksplorasi potensi, tantangan, dan strategi dalam pengelolaan Cagar Biosfer dengan total 14 Pengelola Cagar Biosfer dari 20 Cagar Biosfer yang ada di Indonesia yang berkesempatan hadir secara langsung. Sementara, yang tidak berkesempatan hadir secara langsung dapat mengikuti secara daring melalui platform digital yang telah disediakan dengan total jumlah peserta yang hadir adalah 877 orang peserta dari berbagai tempat di Indonesia (52 orang peserta dan secara daring oleh 824 orang peserta). Mengawali seminar, Wakil Bupati Kepulauan Selayar, H.Saiful Arif, SH memberikan kata sambutan bahwa tantangan pengelolaan cagar biosfer semakin besar, oleh karena itu koordinasi dan sinergitas semua pihak dalam pengelolaan menjadi suatu keharusan. Semoga seminar ini bisa menjadi pemicu semangat, mempererat hubungan dan menguatkan jaringan cagar biosfer Indonesia. Melalui seminar ini, diharapkan muncul solusi-solusi terbaik dalam pengelolaan cagar biosfer dalam sklala nasional yang dapat menjadi rujukan untuk berbuat lebih baik lagi kedepannya. Muaranya adalah semata-mata untuk kesejahteraan masyarakat serta keseimbangan alam dan manusia. Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Dr. Itje Chodidjah, M.A juga turut memberikan sambutan secara daring dan menyampaikan hal-hal sebagai berikut: kontribusi dan prestasi Indonesia di kancah dunia, khususnya terkait Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya. Selain itu dengan terpilihnya Indonesia sebagai salah satu anggota Dewan Eksekutif UNESCO 2023-2027 yang juga menjadi salah satu perwakilan dari regional Asia-Pasifik, Indonesia dapat membawa suara dari nasional dan regional Asia-Pasifik ke UNESCO. KNIU menyadari tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan Cagar Biosfer di Indonesia. Salah satu yang tengah diupayakan oleh KNIU untuk mengatasi hal ini adalah mengajukan rancangan peraturan presiden mengenai KNIU agar menjadi landasan dalam mengatasi tantangan-tantangan, tidak hanya pada pengelolaan cagar biosfer, tapi juga program-program UNESCO lainnya. KNIU berpesan kepada seluruh pengelola Cagar Biosfer di Indonesia bahwa Cagar Biosfer di Indonesia dapat menjadi wadah untuk melaksanakan komitmen Bangsa Indonesia terhadap berbagai konvensi terkait lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim. Lebih dari itu KNIU sangat berharap Cagar Biosfer akan menjadi salah satu pendorong keselarasan antara manusia dan alam, pengentasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan manusia serta penghormatan terhadap nilai-nilai budaya dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi perubahan. Pada kesempatan yang sama, Direktur Pengelolaan Kawasan Konservasi, Ir. Jefry Susyafrianto, M.M., menyampaikan sambutan mewakili Direktur Jenderal KSDAE selaku Keynote Speaker seminar bahwa, konsep pengelolaan kawasan konservasi sejatinya sejalan dengan konsep pengelolaan cagar biosfer dimana berusaha menyeimbangkan pembangunan berkelanjutan, kelestarian alam dan upaya penelitian, ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk itu, kawasan konservasi yang menjadi bagian dari cagar biosfer dapat berperan memberikan manfaat dengan: Menjadi acuan dalam pembangunan berkelanjutan, memadukan konservasi dan pengembangan ekonomi yang berkelanjutan dan pendekatan bioekoregional/ ekosistem melalui sistem zonasi yang saling mendukung.; Menciptakan peluang melalui pengembangan nilai penting kawasan dan dukungan teknis maupun pendanaan dari berbagai pihak; Memberikan nilai tambah melalui branding dan promosi; Memberikan keuntungan melalui pemanfaatan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat; Menguatkan positioning baik di tingkat nasional maupun internasional yang sangat strategis untuk membangun citra negara dalam pergaulan dunia dan Penguatan pola kerja eksisting berupa dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi atau logistic support, pengelolaan kolaboratif, kooperatif dan komunikatif melibatkan multistakeholder partnership tanpa merubah status dan fungsi guna penanggulangan konflik kepentingan. Jeffry menambahkan bahwa pengelolaan cagar biosfer pada dasarnya merupakan pembagian peran antar pihak-pihatk terkait, untuk itu agar pengelolaan cagar biosfer dapat berjalan dengan baik, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: Penetapan desain, one design multiple management; Penetapan peran setiap stakeholder berbasis kekuatan, referensi, bidang kerja dan mandat; Leadership tentunya pada pemerintah; Keterbukaan dan transparansi; Proses partisipasi yang didukung oleh peran fasilitator dan katalisator. Pengelolaan cagar biosfer dianggap berhasil jika mampu membuktikan adanya keseimbangan antara konservasi dengan pembangunan ekonomi yang didukung ilmu pengetahuan dan teknologi. Dapat menunjukkan cagar biosfer sebagai wahana penerapan dan solusi pembangunan berkelanjutan serta inovasi pengelolaan kawasan. Dapat mewadahi berbagai kepentingan para pihak dan dapat menghilangkan sekat-sekat egoisme kelembagaan serta pandangan egosentris ekologi dan ekonomi. "Kami mengapresisasi Balai TN Taka Bonerate yang telah menyiapkan secara baik pelaksanaan kegiatan ini. Besar harapan kami agar pertemuan ini dapat merumuskan paket rekomendasi sebagai hasil yang dapat memperkuat pengelolan cagar biosfer", tutup Jeffry. Seminar secara resmi dibuka oleh Pj Gubernur Sulawesi Selatan yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan, Ir. Andi Hasbi, M.T. dan erharap seminar ini dapat menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai pihak dan merumuskan strategi untuk pengelolaan cagar biosfer secara berkelanjutan. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan antara lain: Penguatan kerjasama antara berbagai pihak dalam pengelolaan cagar biosfer harus menghasilkan sebuah rumusan yang disepakati oleh para pihak; Pengembangan model pengelolaan cagar biosfer yang berkelanjutan dan sesuai dengan kondisi setempat; Peningkatan kesadaran masyarkaat tentang pentingnya cagar biosfer; Pengembangan ekowisata dan kegiatan ekonomi lainnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar cagar biosfer. Inilah semua yang menjadi pekerjaan rumah kita. Terakhir, Andi berharap seminar ini dapat memberikan buah pikiran untuk kemajuan Provinsi Sulawesi Selatan. Seminar Nasional Cagar Biosfer ini mengusung tema “Harmonisasi Pengelolaan Cagar Biosfer Secara Berkelanjutan, untuk Kesejahteraan Rakyat”. Tema tersebut di breakdown menjadi 5 sub-tema, yakni: 1. Mewujudkan Good Governance dalam pengelolaan Cagar Biosfer di Indonesia, 2. Best practice pengelolaan Cagar Biosfer, 3. Role Model Pengelolaan Cagar Biosfer Cibodas, 4. Pengelolaan Cagar Biosfer Taka Bonerate – Kepulauan Selayar dan 5. Pengelolaan Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate sebagai Core Zone Cagar Biosfer Taka Bonerate - Kepulauan Selayar. Dengan narasumber 1. Koordinator Nasional Education for Sustainable Development and Associated School Project Network – KNIU, Ir. Ananto Kusuma Seta, M.Sc., Ph.D. dengan materi yang berjudul “Mewujudkan Good Governance Dalam Pengelolaan Cagar Biosfer di Indonesia: Peran KNIU”; 2. Ketua Komite Pelaksana Program MAB-UNESCO, Prof.Dr. Maman Turjaman, D.E.A. yang menyampaikan paparan berjudul “Best Practice Pengelolaan Cagar Biosfer”. 3. Kepala Balai TN Gunung Gede Pangrango (Wakil Ketua Forum Pengelola Cagar Biosfer Cibodas), Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. yang menyampaikan paparan berjudul “Pengelolaan dan Branding Cagar Biosfer Cibodas (CBC); 4. Wakil Bupati Kepulauan Selayar, H. Saiful Arif, SH. Beliau menyampaikan paparan yang berjudul “Pengelolaan Cagar Biosfer Taka Bonerate – Kepulauan Selayar”, dan 5. Kepala Balai TN Taka Bonerate (Sekretaris Forum Pengelola Cagar Biosfer Taka Bonerate-Kepulauan Selayar), Ir. Ahmad Yani yang menyampaikan paparan berjudul “Pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate Sebagai Core Zone Cagar Biosfer Taka Bonerate – Kepulauan Selayar (CBTBKS). Adapun yang bertindak sebagai moderator dalam kegiatan seminar ini adalah Amalla Rainita Indra dan Dr. Asrianny, S. Hut., M. Si. Sebagai negara yang kaya akan keanekaragaman hayati dan budaya, Indonesia memiliki peran penting dalam jaringan cagar biosfer global yang diakui UNESCO. Pertemuan para pihak dalam seminar ini menekankan pentingnya sinergi dan koordinasi antar berbagai sektor untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, tekanan penduduk, dan kebutuhan akan pembangunan berkelanjutan. Melalui diskusi yang konstruktif, seminar ini menghasilkan pemahaman mendalam tentang nilai tambah yang diberikan oleh status Cagar Biosfer terhadap konservasi sumber daya alam, pengembangan ekonomi lokal melalui ekowisata, dan sumber daya alam berkelanjutan. Dengan memperhatikan pentingnya pengakuan internasional, seminar juga menyoroti peran strategis Indonesia dalam memperkuat jaringan cagar biosfer global melalui partisipasi aktif di UNESCO. Ini menandai langkah penting bagi Indonesia dalam meningkatkan kontribusi dan pengaruhnya di panggung internasional dalam hal konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Hasil diskusi dalam seminar ini dituangkan dalam sebuah rumusan yang diberi judul “Piagam Makassar” dan ditandatangani oleh para pihak yang hadir. Sumber : Khoirul Anam - PEH Ahli Pertama Sumber Foto : AsriTo' - Humas Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto : AsriTo' - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Pengembangan Bioprospeksi, BTN Gunung Ciremai Diskusi ke Balai TN Gunung Merapi

Kaliurang, 1 Maret 2024. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menerima kunjungan dari Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), pada 1 Maret 2024. Kunjungan ini terkait dengan kegiatan penguatan kapasitas pegawai, terkait dengan pengembangan bioprospeksi. Dalam kunjungan ini, BTNGC dipimpin oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Didi Sujiyanto. Didi menyampaikan bahwa kunjungan ke BTNGM ini dalam rangka belajar dan diskusi tentang pengembangan bioprospeksi yang dikembangkan di BTNGC juga. Kepala Sub Bagian Tata Usaha BTNGM, Pairah, serta Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Magelang Sleman, Sutris Haryanta menyambut rombongan. Pairah menyampaikan selamat datang pada rombongan BTNGC. Semoga diskusi hari ini tentang bioprospeksi, bisa mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak, pungkasnya. Selanjutnya Ketua tim bioprospeksi BTNGM, Ari Nurwijayanto, menyampaikan bahwa bioprospeksi adalah kegiatan eksplorasi, ekstraksi dan penapisan sumber daya alam hayati untuk pemanfaatan secara komersial baik dari sumber daya genetic, spesies dan atau biokimia beserta turunannya. Dalam kurun waktu tiga tahun (2020-2023) telah dikembangkan 8 bahan baku yang menghasilkan 19 produk bioprospeksi. Bahan baku yang digunakan yaitu Clidemia hirta, Acacia decurrens, Laccifer lacca, Scutellaria discolor, Colocasia gigantean, Debregeasia longifolia, Euchresta horsfieldii, dan Blumea balsamifera. Ke depannya, masih ada beberapa yang akan dikembangkan, termasuk untuk pengurusan dokumen legalitasnya, dan hal ini memerlukan dukungan berbagai pihak, pungkas Ari. Kemudian paparan kedua disampaikan oleh Dekan Fakultas Teknobiologi Universitas Atmajaya Yogyakarta, Ines Septi Arsiningtyas. Ines memaparkan tentang perjalanan kerja sama antara FTB UAJY dengan BTNGM, yang tertuang dalam perjanjian kerja sama (PKS). Juga disampaikan tentang proses penelitian bioprospeksi yang dilaksanakan FTB UAJY dan BTNGM selama ini. Pasca kedua paparan tersebut, dilanjutkan diskusi yang menarik, terkait dengan pengalaman pengembangan bioprospeksi di BTNGM maupun BTNGC. *** Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Tingkatkan Kapasitas Pegawai Dengan Lokalatih Jurnalistik Fotografi

Pancur Gading, 1 Maret 2024. Isu-isu tentang konservasi alam dan lingkungan hidup setiap tahunnya terus meningkat. Berbagai media memberitakan tentang hal itu, namun sayangnya berita-berita yang disajikan cenderung tidak berimbang baik dari segi materi (kualitas) berita maupun kuantitas (banyaknya) berita. Hal ini disebabkan sumber informasi yang disajikan media cenderung sepihak hanya dari satu sumber berita, tanpa ada counter sebagai pembanding/penyeimbang berita. Dibagian lain beragam keunikan potensi yang ada di kawasan konservasi serta keanekaragaman hayati yang begitu beragamnya di bumi Provinsi Sumatera Utara, belum dieksplorasi dan belum juga terpublikasikan/ tersosialisasikan dengan baik sebagai media promosi maupun edukasi dan awarness (penyadaran) kepada masyarakat luas. Menyadari hal itu, Balai Besar KSDA Sumatera Utara berinisiasi menyelenggarakan kegiatan Lokalatih Jurnalistik Fotografi dalam rangka peningkatan kapasitas dan kemampuan petugas-petugas yang memiliki keinginan dan minat yang tinggi dalam mendokumentasikan segala informasi serta data yang didapatkan di lapangan, dan mengolah maupun meramunya dengan narasi yang menarik sehingga bukan hanya sekedar memenuhi target kewajiban pembuatan laporan kegiatan rutinitas, tetapi juga menjadi sumber berita dan informasi yang penting serta berharga untuk pengambilan kebijakan bagi pengembangan organisasi Balai Besar KSDA Sumatera Utara, ataupun juga bermanfaat dan memberi dampak positif dalam mengedukasi dan memberi pencerahan bagi berbagai pihak yang membutuhkan informasi tersebut. Lokalatih yang berlangsung selama 2 (dua) hari, dari tanggal 28 s.d 29 Februari 2024 di Pancur Gading Hotel & Resort, Jl. Kuala Simeme, Pamah Kecamatan Deli Tua, Kabupaten Deli Serdang, diikuti 25 orang peserta dengan rincian, 23 orang merupakan pegawai lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, 2 orang dari mitra binaan Green Leadership Indonesia (GLI) dan 1 orang dari Kader Konservasi Alam. Selain off line, ada juga peserta lain yang mengikuti secara on line. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Rudianto Saragih Napitu, S.Si., M.Si., dalam sambutannya pada pembukaan acara lokalatih, menyampaikan bahwa peningkatan kapasitas SDM lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, khususnya dalam pembuatan karya tulis, menjadi urgen untuk diprioritaskan. Hanya dengan pembekalan ilmu serta keterampilan akan bisa menjawab tantangan yang ada, disamping juga adanya tekat dan kemauan yang kuat dari dalam diri sendiri untuk belajar dan berkembang menyempurnakan kemampuannya. “Target yang diharapkan dari peserta Lokalatih Jurnalistik Fotografi usai kegiatan ini, peserta mulai berkarya menghasilkan karya-karya tulis dan fotografi yang nantinya akan didistribusikan untuk menghidupkan/ menggiatkan media publikasi yang dimiliki Balai Besar KSDA Sumatera Utara, baik instagram, facebook, tiktok maupun website. Menjadi target berikutnya pula, karya-karya tulis tersebut dapat dipublikasikan ke media cetak, koran, majalah ataupun jurnal, sehingga jangkauannya menjadi lebih luas dan segmen pembacanya juga semakin banyak,” ujar Rudianto. Praktek hunting foto dilakoni peserta Lebih lanjut Rudianto menekankan, untuk bisa mencapai target tersebut tentunya diperlukan kemauan, ketekunan dan semangat yang tinggi serta latihan/belajar yang terus menerus dan tidak pernah berhenti. Saya optimis melihat peserta yang berasal dari pegawai-pegawai generasi muda yang energik yang memberi harapan akan masa depan Balai Besar KSDA Sumatera Utara lebih baik lagi. Pesan saya mari gunakan kesempatan yang baik ini untuk mengembangakan wawasan, kemampuan dan ketrampilan guna meningkatkan kapasitas, kinerja dan prestasi. Sedangkan kepada peserta yang berasal dari mitra binaan, yaitu Green Leadership Indonesia (GLI) dan Kader Konservasi Alam, Rudianto menyampaikan pesan agar menjadikan kegiatan ini sebagai momentum untuk belajar dan berlatih, sehingga setelah lokalatih dapat menerapkan ilmunya menghasilkan karya-karya yang bermanfaat dan membanggakan. Lokalatih menampilkan narasumber-narasumber yang profesional dari berbagai media, seperti : War Djamil, SH. Pemimpin Redaksi Harian Analisa, dengan topik bahasan “Rambu-rambu Dalam Penulisan dan Fotografi Sesuai Kode Etik Jurnalistik (KEJ)”, H. Sofyan Harahap, Wakil Pemimpin Redaksi Harian Waspada, dengan topik bahasan “Meramu Artikel Opini Menjadi Layak Dipublikasikan”, Bersihar Lubis, Kepala Litbang dan Diklat Harian Analisa, dengan topik bahasan “Meracik Feature Enak Dibaca”, Qodrat Alqadri, Fotografer Harian Analisa dengan topik bahasan “Tehnik Fotografi”, Frengki Gultom, SH., MH. Kontributor TVRI Medan, dengan topik bahasan “Membangun Energi Positif Menghasilkan Karya Tulis” dan Nuke Mutikania, ST., M.Si. Kepala Bagian Penyajian dan Pelayanan Informasi Publik Biro Humas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dengan topik bahasan “Kebijakan Kehumasan KLHK Tahun 2024”. Lokalatih menjadi modal untuk terus belajar dan berani mencoba berkreasi menghasilkan karya-karya jurnalistik dan fortografi yang kreatif dan bermanfaat. Selamat mengaplikasikan ilmu bagi seluruh peserta dan ditunggu karya-karyanya. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Belajar Budidaya Lebah Madu di Rumah Madu Kang Aam

Pematangsiantar, 1 Maret 2024. Bertempat di Rumah Madu Kang Aam Pematangsiantar, pada Selasa 27 Februari 2024, Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar mengadakan kegiatan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat melalui pelatihan budidaya lebah madu. Peningkatan kapasitas kelompok masyarakat ini merupakan bagian dari kegiatan Fasilitasi Usaha Ekonomi Produktif Kelompok Masyarakat di Sekitar Kawasan Konservasi lingkup Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Tahun 2024. Kegiatan ini diikuti oleh 5 (lima) orang perwakilan anggota Kelompok Tani Marsiurupan Nagori Pematang Purba, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun (CA. Martelu Purba). Kelompok tani ini merupakan salah satu kelompok masyarakat yang telah mendapatkan Dana Bantuan Ekonomi Produktif Tahun Anggaran 2023 dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk Usaha Budidaya Lebah Madu. Hanya saja Kelompok Tani Marsiurupan belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam budidaya lebah madu, sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas. Kegiatan dibuka Kepala Resort CA. Martelu Purba, Alharis Ruhidi, SP., M.Si. Dilanjutkan dengan penyampaian materi serta praktek budidaya lebah madu oleh narasumber Aam Hasanudin pemilik Rumah Madu Kang Aam (Flora Nauli Group). Kang Aam telah menggeluti budidaya lebah madu sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) di Bantarujeg, Majalengka, hingga kini setelah hijrah ke tanah Sumatera dan menetap di Pematangsiantar. Disela-sela kesibukan menjalankan pekerjaan sebagai staf Teknisi Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan Aek Nauli, waktu luangnya pun digunakan juga untuk menjalankan hobinya, bahkan dengan semangat mengajak siapa saja untuk mencoba membudidayakan lebah madu. Seiring berjalannya waktu, peternakan lebah madu Kang Aam berkembang pesat, begitupun edukasi yang diberikan berjalan sukses. Setiap bulannya, peternakan lebah madunya mampu menghasilkan 100 sampai 200 kilogram madu. Ilmu dan pengalamannya inilah yang kemudian dibagi kepada Kelompok Tani Marsiurupan dan menyemangati kelompok tersebut untuk serius menjalankan usaha budidaya lebah madu yang prospeknya memang sangat bagus. Pemberdayaan masyarakat sebagai kunci perlindungan kawasan adalah dengan mengurangi atau mengatur pola aktivitas masyarakat di dalam hutan. Dengan berkurangnya frekuensi aktivitas masyarakat di hutan maka akan mengurangi bahaya kerusakan hutan. Jika pemberdayaan tersebut berjalan lancar dan sesuai target maka tidak mustahil lambat laun masyarakat akan merubah pola hidup mereka menjadi lebih baik dan tidak lagi menggantungkan hidup kepada hutan. Keberhasilan pemberdayaan masyarakat dapat diukur dengan adanya peningkatan kesejahteraan mayarakat dan perubahan pola pikir masyarakat tersebut. Jika tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan menurun dampak dari adanya pemberdayaan masyarakat, maka niscaya tingkat ancaman terhadap hutan konservasi pun akan berkurang. Dengan adanya pelatihan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, diharapkan kedepan masyarakat akan semakin mampu mengenali potensi diri dan mampu mengenali serta memanfaatkan potensi sumber daya alam di sekitarnya untuk meningkatkan kesejahteraan dengan tetap meningkatkan kualitas sumber daya alam tersebut. Sumber : Lisbeth Manurung, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

TN Gunung Merapi Menjadi Salah Satu Tempat Merdeka Belajar

Sleman, 26 Februari 2024. Pendidikan harus memerdekakan peserta didik, maka perlu diberikan kemerdekaan kepada mahasiswa dalam menempuh studi di Perguruan Tinggi. Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) diharapkan dapat menjadi jawaban atas tuntutan kemerdekaan tersebut. Oleh karena itu, Program Studi Biologi Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FTB UAJY) memberikan peluang kepada mahasiswanya untuk merdeka dalam belajar. Pelbagai bentuk kegiatan MBKM di luar Perguruan Tinggi dilakukan, antara lain melakukan magang di instansi/industri. Sehingga kegiatan inilah yang dilaksanakan oleh FTB UAJY, dengan melaksanakan magang di Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), pada semester genap 2023 – 2024, yang dilaksanakan selama 6 (enam) bulan. Peserta magang MBKM FTB UAJY sebanyak 5 orang, yang akan ditempatkan di semua RPTN di wilayah TNGM, dengan menitikberatkan pada kegiatan 3 P, pemanfaatan, pengawetan dan perlindungan. Pada hari Senin, 26 Februari 2024, dilaksanakan serah terima mahasiswa magang MBKM FTB UAJY di kantor BTNGM di Yogyakarta. Dalam kesempatan ini hadir Kepala Program Studi Biologi, FTB UAJY, Indah M. Yulianti, sekaligus menyerahkan 5 orang mahasiswa tersebut. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapannya agar mahasiswa dapat belajar secara optimal di BTNGM. Jangan sungkan untuk tegur mahasiswa jika menyalahi aturan yang berlaku, pungkasnya. Juga hadir dalam kesempatan ini, Kepala Sub Bagian Tata Usaha, kedua Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I dan II, Koordinator dari 7 Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN), serta perwakilan fungsional PEH, Polhut, dan Penyuluh Kehutanan. Juga dipaparkan beberapa materi, diantaranya Regulasi, Organisasi dan Tata Laksana, Zonasi, serta Profil 7 Resort PTN. Dalam kesempatan terpisah, Muhammad Wahyudi, Kepala BTNGM, menyampaikan selamat datang kepada para mahasiswa magang MBKM dari FTB UAJY, selamat belajar, semoga betah dan berkah untuk semua pihak. Banyak hal yang dapat dipelajari di TNGM, karena inilah laboratorium alam yang kita miliki., pungkasnya. *** Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Bersama Kalfor Project-UNDP Adakan Bimtek Pencegahan Peredaran Ilegal TSL

Surabaya, 23 Februari 2024. Dalam upaya perlindungan tumbuhan dan satwa liar dari ancaman peredaran ilegal, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersinergi dengan KalFor Project-UNDP, menyelenggarakan Bimbingan Teknis Perlindungan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) serta Penegakan Hukum Berbasis Masyarakat, di Hotel Ciputra – Surabaya, 19-23 Februari 2024. Kegiatan praktek lapangan dilaksanakan di Kandang Transit - Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jatim. Badan Karantina Hewan Ikan dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur, Taman Wisata Alam Gunung Baung, Tahura R. Soerjo, dan Taman Safari Indonesia II Prigen Pasuruan. Kegiatan bimtek ini diikuti 36 peserta dari Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur, yang terdiri dari pejabat struktural kepala KPH, Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Desa, masyarakat, dan Polisi Kehutanan. Serta perwakilan dari BBKSDA Jawa Timur dan Tahura R. Soerjo. Selain untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dan para pemangku kepentingan di ketiga provinsi diatas, bimtek ini juga bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam mencegah dan mengurangi peredaran ilegal TSL melalui kolaborasi multi pihak. Dalam sambutannya, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan menyampaikan bahwa perdagangan ilegal satwa liar diketahui sebagai salah satu dari bentuk kejahatan transaksional terbesar di dunia setelah perdagangan narkotika dan senjata, serta melibatkan jaringan kriminal yang terorganisir. “Jawa Timur adalah hilir sekaligus pusat dan tujuan peredaran ilegal TSL dari Indonesia timur. Sehingga tidak salah jika Kalimantan Forest (Kalfor) - UNDP memilih Surabaya sebagai lokasi kegiatan bimtek ini,” ungkapnya. Bmtek perlindungan tumbuhan dan satwa liar dan penegakan hukum berbasis masyarakat ini sejalan dengan program BBKSDA Jatim, yakni MATAWALI atau penyelamatan satwa liar ilegal melalui kolaborasi multipihak. Harapannya, bimtek ini menjadi salah satu upaya untuk menyiapkan keterlibatan masyarakat dalam berperan aktif sehingga mampu mencegah, mengurangi, dan menangani peredaran ilegal satwa liar di hulu atau habitat asalnya. Beberapa pemateri tampak hadir pada bimtek kali ini seperti Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. (Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur), Agus Mardyanto, SH., M.Sc. (Balai Gakum LHK Wilayah Jabalnusra), dan drh. Muslim Natsir, M.Kes. (Kepala Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jawa Timur). Serta AKP. Edy Suseno, S.H. (Ditpolairud Polda Jatim), Dr. Ir. Novianto Bambang W, M.Si (Widyaswara Utama – Pusdiklat LHK), Rustam, S.Hut., M.P. (Universitas Mulawarman), dan Hari Purnomo, SP., M.Si (Polhut Madya - Balai Besar KSDA Jawa Timur). Sumber: Hari Purnomo - Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 865–880 dari 2.305 publikasi