Jumat, 29 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Jaga Kebersamaan, SPTN Wilayah I TN Gunung Merapi Jalin Silaturahmi

Bantul, 23 April 2024. Keluarga besar Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menggelar rapat koordinasi dan konsolidasi serta serah terima koordinator resort dan koordinator kegiatan lingkup SPTN Wilayah I di Pantai Baru, kabupaten Bantul, Selasa (23/4). Kegiatan ini juga untuk menindaklanjuti penataan Sumber Daya Manusia lingkup BTNGM pada tanggal 16 April 2024. Pertemuan ini selain untuk menjalin silaturahmi juga untuk meneruskan tongkat estafet dari koordinator Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) lama beralih tugas sebagai koordinator RPTN baru. Terdapat beberapa pegawai yang mutasi ke SPTN Wilayah II dan sebaliknya. Koordinator RPTN Pakem Turi, sebelumnya Purnama dilanjutkan oleh Rr. Widya Kridaningsih, S.P.. Sedangkan RPTN Srumbung, sebelumnya Ali Machfudi, S.Pi., M.Sc dilanjutkan oleh Nurhandoyo, dan RPTN Cangkringan, sebelumnya Suwiknya, dilanjutkan oleh Prakasita Nastiti, S.Hut, M.Sc. Koordinator sebelumnya tersebut beralih tugas sebagai Koordinator RPTN Musuk Cepogo, Koordinator RPTN Kemalang, dan Kantor SPTN Wilayah I. Kepala SPTN Wilayah I, Sutris Haryanta, S.H, menyampaikan agar jalinan silaturahmi dan komunikasi antar koordinator resort lama dan seluruh pegawai tetap terjaga dengan baik. Terima kasih disampaikan kepada koordinator lama dan selamat bergabung serta selamat bertugas kepada koordinator yang baru. Harapannya melalui pertemuan ini memberikan penyegaran dan semangat baru kepada seluruh pegawai dalam menunaikan tugas-tugas selanjutnya. Selingan permainan dan hiburan ringan memeriahkan suasana pertemuan. Acara ditutup foto bersama dan ramah tamah. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Kartini Yang Mensejahterakan Masyarakat

Menikmati panen hasil usaha/kegiatan dari kelompok tani binaan Medan, 23 April 2024. Masih tentang kiprah Kartini Balai Besar KSDA Sumatera Utara, kali ini sosok inspiratif itu adalah Lisbeth Yuni Santi Manurung, S.Hut. Perempuan yang lahir di BP. Mandoge pada tanggal 27 Juni 1984, bertugas sebagai Penyuluh Kehutanan Muda di Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar. Lulusan S1 Kehutanan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) ini memilih berkarya di Kementerian Lingkungan Hidup Kehutanan, karena merasa terpanggil untuk mengabdikan ilmu yang diperolehnya selama dibangku perkuliahan, tepatnya di Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan dan Ekowisata. Lisbeth akrab dipanggil, diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) terhitung mulai tanggal (TMT) 1 Desember 2009, dengan penempatan pertama di kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sebagai penyuluh kehutanan, dari tahun 2016 sampai dengan sekarang kesehariannya diberi tanggung jawab untuk menangani kegiatan pemberdayaan masyarakat, yaitu mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan monitoring kegiatan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi yang ada di wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar. Ada banyak kelompok tani yang digarap dan dibinanya tersebar di beberapa kawasan konservasi tentunya dengan beragam kegiatan. Untuk bisa memuluskan program pendampingannya, Lisbeth selalu melibatkan dan berbagi peran dengan petugas-petugas yang ada di Resort Konservasi Wilayah. Dia selalu memastikan bahwa kegiatan pemberdayaan harus berjalan dengan baik sesuai dengan yang diprogramkan. Berbagai tehnik dan metode dimodifikasinya untuk menyukseskan kegiatan tersebut, mulai dari anjangsana (kunjungan ke rumah dan tempat usaha), pertemuan diskusi sampai demonstrasi (kegiatan pelatihan). Bila ada kendala, maka iapun segera turun tangan dan langsung mencari solusi penyelesaiannya. Lisbeth YS. Manurung mendampingi salah satu kelompok tani binaannya Selain kegiatan pemberdayaan masyarakat, Lisbeth juga mengembangkan kegiatan Pendidikan Konservasi, khususnya bagi sekolah-sekolah yang ada di sekitar kawasan konservasi dengan melakukan kegiatan visit to school. Progam ini dipandangnya sangat urgen, karena generasi muda lah yang nantinya akan meneruskan/melanjutkan upaya-upaya konservasi alam, sehingga sedini mungkin mereka harus dibekali dan diedukasi agar terbangun kesadarannya akan perlunya menjaga/melindungi dan melestarikan kawasan konservasi. Lisbeth pun mendesain dan mengembangkan metode pembelajaran yang menarik dan menyenangkan melalui kegiatan diskusi, pemutaran film konservasi, games/ permainan dan sesekali mengadakan perlombaan/unjuk ketangkasan. Mempersiapkan generasi muda peduli alam dan lingkungan Apa yang dilakukannya bukan semata hanya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas tugas pokok dan fungsinya sebagai penyuluh kehutanan, tetapi lebih dari itu sebagai perwujudan panggilan hati untuk berbuat sesuatu yang terbaik dan memberi dampak/manfaat bagi kawasan konservasi dan bagi peningkatan taraf hidup/kesejahteraan masyarakat. Kebahagiaan baginya sederhana saja, ketika kelompok-kelompok masyarakat yang dibina ataupun diberdayakannya merasakan manfaat dan hasil dari pendampingannya. Menjadi kata kunci baginya “hidup ini akan terasa sempurna dan berarti, ketika kita bisa memberi dan mendatangkan manfaat dan kebahagiaan bagi orang lain”. Saat ditanya, apa pendapatnya tentang emansipasi wanita/perempuan bila dikaitkan dengan profesi dan pekerjaan yang sedang ditekuninya saat ini, Lisbeth penerima Satyalancana Karya Satya X Tahun ini pun menjawabnya, “Emansipasi wanita yang telah diperjuangkan RA. Kartini telah memposisikan wanita sebagai pengerak untuk membawa perubahan kearah yang lebih baik. Menjadi kuat dan berdiri tegak menghadapi tantangan dalam kehidupan pekerjaan dan keluarga”. Semoga kisah-kisah inspiratif dari sosok Kartini pejuang konservasi alam ini memberi inspirasi bagi kita. Selamat Hari Kartini 2024… Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pj. Walikota Palopo: Ayo Gali Potensi Wisata Alam di TWA Nanggala III

Makassar, 24 April 2024. Pejabat (Pj) Walikota Palopo, Asrul Sani, S.H., M.Si bersama sejumlah pejabat dan tokoh masyarakat, melakukan kunjungan ke Taman Wisata Alam (TWA) Nanggala III, salah satu kawasan konservasi yang berada di Kota Palopo di bawah pengelolaan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, pada tanggal 19 April 2024. (Pj) Walikota Palopo dan rombongan diterima oleh Kepala Resor dan staf di Kantor Resor TWA Nanggala III. Rombongan Pj. Walikota Palopo terdiri dari Kadis Pariwisata & Ekonomi Kreatif Kota Palopo, Kadis Kominfo Kota Palopo, Kadis Penanaman Modal & Perizinan Satu Pintu Kota Palopo, Kadis Pertanian, Perkebunan & Peternakan Kota Palopo, Sekretaris Kesbangpol, Camat Wara Barat, Lurah Battang Barat, Babinsa Battang Barat, KKPH Lamasi, Ketua RT/RW, serta tokoh masyarakat se-Kelurahan Battang Barat. Kunjungan ke TWA Nanggala III dalam rangka menggali potensi wisata alam yang ada di Kota Palopo. Sebelumnya Pj. Walikota Palopo telah mengunjungi Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Republik Indonesia (Kemenko Marves) di Jakarta, dan mendapatkan penjelasan tentang keberadaan TWA Nanggala III. Hal tersebut mendorong Pj. Walikota Palopo untuk melihat secara langsung spot-spot obyek wisata yang memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai tujuan wisata alam. “Harapan kami agar pihak pemangku kawasan, dalam hal ini Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, dapat berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Palopo untuk membuka akses yang seluas-luasnya bagi pengembangan wisata alam di TWA Nanggala III melalui kerjasama yang konkret”, ujar Bapak Asrul Sani, S.H., M.Si saat berkunjung. Pj. Walikota Palopo terpukau oleh keindahan pesona alam TWA Nanggala III dan optimis bahwa melalui kolaborasi yang solid akan membuka pintu keberhasilan bagi potensi wisata alam, memberikan manfaat besar bagi masyarakat Palopo, dan mengangkat derajat pariwisata secara menyeluruh. Kunjungan ini menjadi langkah awal dalam upaya untuk menggali potensi kawasan konservasi TWA Nanggala III sebagai destinasi pariwisata yang menjanjikan di Kota Palopo, dan diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi pembangunan daerah dan kesejahteraan masyarakat. TWA Nanggala III adalah Taman Wisata Alam dibawah pengelolaan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan seluas ±500 Ha yang berada di antara jalur utama Kota Palopo dan Kabupaten Toraja Utara. Tegakan Pinus dari zaman Kolonial yang terdapat di kawasan ini memberikan pemandangan yang menyegarkan sepanjang perjalanan dari dan atau menuju Kabupaten Toraja Utara. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.10/K.8/TU/Humas/04/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Penampakan Buaya, Petugas Ingatkan Warga Untuk Waspada

Petugas melakukan pengecekan lokasi Medan, 22 April 2024. Bermula dari adanya informasi tentang penampakan satwa liar dilindungi yang diduga jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus) di Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, Kota Medan, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan pengecekan lokasi serta mengumpulkan bahan data dan keterangan. Informasi yang diperoleh, adalah Pak Senja, warga lingkungan 1 Kelurahan Sei Mati, Kecamatan Medan Labuhan, yang pertama kali melihat penampakan satwa buaya di sungai Pekatal, pada Kamis 11 April 2024 sekitar pukul 17.00 wib. Satwa buaya jenis muara, dengan ukuran sekitar 3 meter, berada di sungai Pekatal yang berdampingan dengan kolam ikan (tambak ikan). Saat Pak Senja mengamati debit air sungai yang lagi pasang, terlihat buaya sedang berenang menuju tepian daratan yang berada di seberang kolam ikan milik Pak senja. Kemudian buaya langsung menyelam dan menghilang di lokasi temuan pertama. Sebelum penampakan buaya tanggal 11 April 2024, Pak Senja juga pernah melihat langsung buaya berada di dekat kolam/tambak ikan miliknya pada tanggal 24 Januari 2024, sekitar pukul 14.00 wib. Jarak lokasi penampakan sekitar 100 m dari perjumpaan tanggal 11 April 2024. Berdasarka data yang ada, penampakan buaya sebelumnya juga sudah pernah di laporkan masyarakat dan sudah ditindaklanjuti dengan melakukan pengecekan lokasi sebanyak 3 (tiga) kali. Pada pengecekan ketiga, sekitar bulan April 2023 yang lalu, petugas juga sudah memasang jerat namun belum berhasil menjerat buaya yang meresahkan warga tersebut. Koordinasi dengan Kepala Seksi Pemerintahan Kelurahan Sei Mati Petugas masih mendalami lagi berbagai informasi yang dikumpulkan dari warga, serta mempersiapkan upaya mitigasi. Untuk itu dihimbau kepada warga agar berhati-hati, tidak melakukan aktivitas secara sendiri-sendiri tetapi harus berkelompok, dan menghindari perbuatan yang dapat mengancam keselamatan satwa buaya mengingat satwa tersebut termasuk jenis yang dilindungi undang-undang, sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/ 12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Rawat Bumi, Kecil Menanam Dewasa Memanen

Gerakan menanam sedini mungkin Medan, 22 April 2024. Hari Bumi atau Earth Day yang setiap tahunnya diperingati pada tanggal 22 April, kembali dirayakan tahun ini. Peringatan Hari Bumi menjadi momen untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan hidup, dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat dunia terhadap bumi sebagai tempat tinggal. Hingga kini Hari Bumi telah menjadi sebuah gerakan global yang dirayakan warga dari berbagai negara. Pertanyaannya, apakah yang dapat diperbuat dan digaungkan pada momentum Hari Bumi tahun 2024 ini agar tidak terlewati begitu saja ? Salah satu yang krusial dan urgen dilakukan saat ini adalah mengedukasi dan mengakrabkan/melibatkan generasi muda sedini mungkin, kepada aksi nyata menanam pohon yang memberi manfaat ganda bukan hanya sekedar untuk pelestarian alam dan lingkungan, tetapi juga yang dapat dipanen dan memberi manfaat untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari ataupun peningkatan ekonomi. Sejatinya konsep pemikiran ini bukanlah hal yang baru, karena sebelumnya sudah ada program yang dicanangkan oleh Menteri Kehutanan Republik Indonesia melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.41/Menhut-II/2005 tanggal 19 Desember 2005 tentang Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM). Dalam peraturan tersebut dirumuskan bahwa KMDM merupakan program penyuluhan kehutanan berupa gerakan moral bagi murid-murid sekolah dalam rangka menumbuhkembangkan minat dan rasa cinta terhadap pohon dan lingkungan sekitarnya, melalui kegiatan pembelajaran penyemaian, penanaman, pemeliharaan sampai dengan pemanenan. Sasaran dari program ini ditujukan kepada siswa/murid Sekolah Dasar (SD) dengan pertimbangan, masa belajar 6 (enam) tahun menjadi indikator untuk menilai/mengukur tingkat keberhasilan dan manfaat dari tanaman yang ditanam. Bila setiap siswa menanam pada waktu mereka mulai bersekolah, maka diharapkan pohon yang ditanam sudah dirasakan manfaatnya pada saat menyelesaikan pendidikannya. Namun sayangnya program yang pertama kali dicanangkan oleh Menteri Kehutanan kala itu, M.S. Kaban, SE, M.Si., pada tanggal 24 September 2005 di Sekolah Dasar (SD) Karang Pakuan, Desa Cikanyere, Kecamatan Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, setelah 18 tahun berselang sampai saat ini nyaris tidak kedengaran kelanjutannya dan bahkan redup (kalau tidak ingin disebut padam). Ibarat tumbuhan, layu sebelum berkembang. Padahal bila program ini dijalankan/dilaksanakan dengan benar dan sungguh-sungguh tentunya akan memberi dampak dan kontribusi yang luar biasa bukan hanya bagi siswa/pelajar tetapi juga masyarakat dan lingkungan alam sekitarnya. Setidaknya menurut hemat penulis, ada 3 manfaat yang bisa dirasakan : pertama, melalui program KMDM akan tumbuh rasa kecintaan siswa/pelajar sebagai generasi penerus bangsa terhadap keanekaragaman hayati yang ada. Kemudian siswa tersebut dimotivasi dan atau termotivasi untuk menyelamatkan serta melestarikan tanaman termasuk tanaman-tanaman yang terkategori langka melalui kegiatan budidaya. Bukan hanya sekedar menanam, tapi juga merawatnya Kedua, program KMDM nantinya dengan sendirinya ikut berperan merubah perilaku (karakter) masyarakat dari yang tidak peduli (bahkan ikut merusak tanaman) menjadi pelaku-pelaku pelestari tanaman, dan ketiga, bibit tanaman saat ini bukan hanya mengandung nilai konservasi semata tapi juga berkembang menjadi nilai estetika dan ekonomis. Hal ini tentunya membuka peluang pengembangan jiwa kewirausahaan dikalangan generasi muda melalui kegiatan budidaya/pembibitan tanaman/tumbuhan khususnya yang mempunyai nilai jual. Melihat beragamnya manfaat yang bisa didapat dari program KMDM ini, dan berkaitan dengan momentum peringatan Hari Bumi tahun 2024, ada beberapa langkah yang menurut hemat penulis sangat urgen untuk segera ditindaklanjuti, yaitu menghidupkan dan menggiatkan kembali program ini dengan mendorong keterlibatan petugas-petugas di lapangan khususnya pejabat fungsional Penyuluh Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Polisi Kehutanan (Polhut) dan Penggerak Swadaya Masyarakat, mengembangkannya di lingkungan kerja masing-masing terutama di sekitar kawasan konservasi. Selain mendorong terbitnya regulasi dengan memodifikasi program, yang nantinya digunakan menjadi payung hukum program, layak juga dipersiapkan pemberian reward atau apresiasi baik kepada siswa ataupun sekolah yang merealisasikan program maupun kepada petugas yang secara sungguh-sungguh mewujudkan dan memastikan program berjalan dengan baik. Bila program ini dimulai, tentu hasilnya bukan instan terlihat dan dirasakan manfaatnya saat ini juga, butuh waktu dan kesabaran. Tapi yakinlah, dampak jangka panjang program ini bisa memberi kontribusi penting dalam membumikan konservasi alam. Mari rawat bumi di Hari Bumi (Earth Day) 2024. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara)
Baca Artikel

Patroli Cagar Alam Manggis Gadungan, Berjumpa Pala Jawa

Kediri, 17 April 2024. Beberapa personil Seksi Konservasi Wilayah I, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melakukan patroli kawasan konservasi pada Cagar Alam Manggis Gadungan, Rabu (17/4). Kawasan ini terletak di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Dahulunya, pada cagar alam ini terdapat sebuah jalan aspal yang membelah kawasan dari timur hingga barat sejauh 720 meter. Dan, BBKSDA Jatim bersama stakeholder terkait berhasil menutup jalan ini pada September 2014. Pemulihan ekosistem segera dilakukan pada bekas jalan tersebut. Awalnya, hanya tumbuhan bawah dan liana yang memenuhi bekas jalan. Tumbuhan bawah masih terdiri dari rumput, herba, dan semak belukar atau perdu. Baru pada musim hujan akhir tahun 2015, mulai dijumpai permudaan pohon jenis Lengki, Tutup (Macaranga tanarius), Wadang, Berasan, Jingkat, dan Awar Awar (Ficus septica). Tim melakukan perawatan tanaman hasil kegiatan pemulihan ekosistem (PE). Tanaman jenis ficus yang telah ditanam dapat tumbuh dengan baik, beberapa diantaranya tertutup oleh semak dan perdu. Tim membersihkan tanaman PE dari semak dan perdu lainnya agar dapat tumbuh dengan baik. Selain itu, tim juga memonitor Pala Jawa (Myristica teysmannii), tumbuhan endemik Pulau Jawa yang bergetah merah. Tumbuhan ini memiliki nama lokal Durenan, Kayu Palan, Kosar, atau Kayu Resep. Spesies ini dikategorikan sebagai spesies endangered berdasarkan kategori IUCN dan kriteria Herbarium. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Bogoriense dan National Herbarium Belanda, spesies ini hanya ditemukan di pulau jawa bagian timur. Pada Cagar Alam Manggis Gadungan, tim mencatat terdapat 4 pohon Pala Jawa selama kegiatan berlangsung. Namun, tumbuhan ikonis sebenarnya pada kawasan ini adalah Leses atau Ficus albipila. Tanaman ini juga dikenal dengan nama bilaas, lelas (Kalimantan), dan ada yang menyebut sebagai Ratu para ficus. Tak lupa tim juga mendokemntasikan tumbuhan-tumbuhan penghuni cagar alam, utamanya para ficus, tak terkecuali Leses. Sumber : Agus Irwanto -Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kelompok Pengelola Ekowisata Binaan Balai TN Bantimurung Bulusaraung Tingkatkan Kapasitas

Bantimurung – 5 April 2024. Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) pada Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Camba, Selasa (2/4), menggelar peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dalam rangka ekowisata di Ruang Rapat Kantor JICS Bantimurung. Sebanyak 30 peserta hadir yang terdiri dari Kepala Balai TN Babul Bapak T. Heri Wibowo, S.Hut., M.Eng dan Kepala SPTN Wilayah II Camba Ibu Nur Aisyah Amnur, SP., MP., Kepala Resort, Pendamping Kelompok, Kelompok Pengelola Ekowisata (KPE) Bantimurung, KPE Bislab, KPE Karst Leang Pute dan KPE Padang Loang. Kepala Balai TN Babul yang membuka kegiatan sekaligus memberikan paparan singkat terkait tata kelola ekowisata yang ada di TN Babul, serta hasil survey kepuasan masyarakat. Peningkatan kapasitas ekowisata ini tak hanya untuk mengembangkan pengetahuan dan wawasan serta meningkatkan kemandirian kelompok masyarakat sekitar kawasan TN Babul khususnya Kelompok Pengelola Ekowisata (KPE), juga dapat mengembangkan keterampilan interpretasi, manajemen peralatan, pengelolaan konflik, dan koordinasi pemandu di destinasi ekowisata, serta membangun sikap adaptasi terhadap lingkungan sosial yang beragam, tanggap terhadap perubahan zaman, dan berkomitmen pada prinsip-prinsip keberlanjutan ekowisata. Selain itu, diharapkan peserta juga dapat memahami konsep ekowisata, kebijakan konservasi, serta peraturan keselamatan dan kesehatan kerja dalam konteks penyelenggaran wisata alam. Peserta berpartisipasi aktif dan berinteraksi dengan metode tatap muka dan ceramah dalam ruangan. Sharing pengalaman dipandu oleh moderator dan narasumber dengan mekanisme diskusi. Materi yang disampaikan dalam kegiatan peningkatan kapasitas kelompok masyarakat dalam rangka ekowisata, meliputi : a. Peran Pemuda dan Lembaga Kepariwisataan dalam Membangun Desa Wisata oleh Bapak M. Ferdiansyah (Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga); b. Peran Forum Jasa Wisata Alam Androcles oleh Bapak Andi Mulatauwe (Ketua Forum Jasa Wisata Alam Androcles); c. Prosedur Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam Pemanduan Ekowisata oleh Bapak Arman Amiruddin, SE (Basarnas); d. Teknik Promosi Produk Wisata UMKM Melalui Media Sosial oleh Bapak Mudrikang Hidayat .N, S.Sos, M.LAP. Sumber: Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung
Baca Artikel

BBKSDA Sulsel dan FFI Berkolaborasi untuk Pelestarian Laut Spermonde

Makassar, 27 Maret 2024 – Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Jusman membuka lokakarya “Kolaborasi Multipihak dalam Pengelolaan Kawasan Spermonde “, yang diselenggarakan oleh Fauna & Flora Indonesia (FFI) di Hotel Harper, Makassar, Sulawesi Selatan. Kegiatan lokakarya berlangsung selama dua hari, tanggal 27 - 28 Maret 2024. “Kegiatan ini merupakan salah satu langkah nyata komitmen Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) bekerjasama dengan Fauna & Flora Indonesia (FFI) dalam pengelolaan kawasan konservasi, melalui program "Securing Spermonde’s Seascape through Community-Based Coral Reef Fisheries Management". Dan merupakan sebuah komitmen panjang untuk menjaga kelestarian kawasan laut”, ujar Ir. Jusman dalam sambutannya. Sejak tahun 2023, Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dan Fauna & Flora Indonesia sudah memulai aksi, dan program ini akan berlanjut hingga tahun 2026, dengan melibatkan multi pihak terkait seperti Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang , Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan, dan otoritas Geopark Maros-Pangkep. Lokakarya yang dinisiasi oleh FFI ini dimaksudkan untuk mengetahui peran stakeholder secara aktif dalam pengelolaan bersama sumber daya alam berbasis masyarakat. Lokakarya dihadiri Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, BP-Geopark Maros Pangkep, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kupang, Cabang Dinas Kelautan DKP Pangkep, Fauna & Flora Indonesia Program, Desa Mattirodolangeng dan Desa Mattiro Ujung. Kegiatan ini bertujuan untuk menghasilkan rumusan gagasan yang memberi kontribusi terhadap upaya pelestarian lingkungan pesisir dan laut di Kepulauan Spermonde melalui berbagai perbaikan pada aktifitas pemanfaatan sumber daya alam laut oleh masyarakat. “Sinergitas dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi Berbasis Kemitraan” menjadi materi yang disampaikan oleh Kepala Bidang Wilayah II Parepare, Abdul Rajab, S.T.P., M.P. Pada tema ini, disampaikan peran para pihak dalam menjaga kelestarian fungsi kawasan konservasi yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Diharapkan para pihak memahami peran aktif pemangku kepentingan dalam pengelolaan kawasan konservasi, mengetahui tantangan yang dihadapi, dan merumuskan rencana tindaklanjut untuk pelestarian lingkungan laut yang lebih baik. Selain itu, lokakarya ini diharapkan juga dapat menjadi titik awal bagi kolaborasi lintas sektor dalam mengembangkan model dampak berbasis pengelolaan kawasan yang lebih baik. Seperti kita ketahui, laut Spermonde merupakan sebutan untuk kawasan laut yang terletak di sebelah barat daya Pulau Sulawesi, tepatnya di sekitar Kepulauan Spermonde. Kawasan ini memiliki keindahan alam bawah laut yang kaya akan terumbu karang dan keanekaragaman hayati laut. Spermonde terdiri dari berbagai pulau kecil yang tersebar di sepanjang pesisir Sulawesi Selatan, membentang dari sekitar Kota Makassar hingga sekitar Pulau Selayar. Kawasan ini memiliki peran penting dalam ekosistem laut di sekitar Sulawesi Selatan dan menjadi tujuan wisata bahari yang populer di daerah tersebut. Mengingat potensi laut Spermonde yang memiliki keindahan alam bawah laut, kaya akan terumbu karang dan keanekaragaman hayati laut, maka kawasan ini memiliki peran penting dalam ekosistem laut di Sulawesi Selatan dan menjadi destinasi wisata bahari yang populer. Dengan kerja keras dan kolaborasi seperti ini, semoga keindahan Laut Spermonde tetap terjaga untuk generasi mendatang. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.07/K.8/TU/Humas/03/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

BBKSDA Jatim Kunjungi Pondok Ramadhan SDIT Nuurul Fikri

Trenggalek, 1 April 2024. Pendidikan lingkungan, terutama mengenalkan keanekaragaman hayati (kehati) pada anak usia dini sangat diperlukan, tujuannya agar mereka dapat memahami peran kehati bagi keseimbangan kehidupan. Nah, Visit to school atau mengunjungi sekolah menjadi salah satu cara untuk melaksanakan program pembelajaran ini. Kali ini Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengunjungi SDIT Nuurul Fikri Sukorejo, Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Rabu silam (27/3). Kepala sekolahnya menginginkan adanya materi terkait lingkungan dan kehati dalam kegiatan Pondok Ramadhan yang mereka adakan. Siswa yang mengikuti kegiatan sebanyak 90 siswa dari kelas 4, 5, dan 6. Dan materi yang disampaikan berupa pengenalan tentang hutan dan keanekaragaman hayati beserta manfaatnya. Siswa diberikan simulasi sederhana tentang proses terjadinya banjir. Dua siswa yang ditunjuk maju ke depan berperan sebagai air hujan dan sebagai kawasan berhutan di pegunungan. Siswa pertama diberikan air dan plastik untuk disemprotkan ke kepala siswa lainnya. Siswa kedua dipilih karena memiliki rambut yang lebat sebagai perumpamaan kawasan tersebut hutannya masih bagus. Mulut, hidung, alis, mata, dan pipi dianggap sebagai desa-desa yang berada di bawah bukit berhutan. Lalu air disemprotkan ke rambut siswa kedua, namun airnya tertahan oleh rambut dan tidak mengalir ke hidung dan alis. Hal ini dapat diartikan bahwa hutan berperan dalam menahan air hujan agar tidak mengalir secara langsung ke desa-desa sekitar. Tahapan kedua, rambut siswa kedua dibungkus dengan plastik sebagai contoh jika hutan tersebut hilang karena ditebang. Air yang disemprotkan ke plastik tersebut perlahan mengalir ke alis, hidung, mata, dan pipi yang menandakan bahwa desa-desa tersebut terkena dampak banjir dari air hujan. Selanjutnya pemateri mengenalkan mengenai keragaman satwa liar berdasarkan kelas, diantaranya kelas aves, amfibi, reptil, dan mamalia beserta ciri-cirinya. Untuk memperdalam peran dari satwa-satwa tersebut, khususnya burung, para siswa diajak menonton film animasi yang berjudul “Sabda Alam”. Setelah menonoton, para siswa diberikan waktu untuk mencatat dan memikirkan tentang isi dari film tersebut. Siswa yang terpilih berhasil menceritakan dengan baik maksud dari film, pemateri memberikan hadiah kepadanya. Siswa-siswi lain yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan juga mendapatkan hadiah. Di akhir kunjungan, pemateri memperkenalkan kepada para siswa tentang profesi Polisi Kehutanan dan profil Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (BBKSDA) Jawa Timur. Tujuannya tak lain untuk menambah hasanah pilihan profesi untuk cita-cita mereka nantinya. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra - Polisi Kehutanan Ahli Pertama Balai Besar KSDA Jatim
Baca Artikel

Role Model Penelitian Kajian Genetik Badak Jawa di TNUK

Labuan, 1 April 2024. Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) mengadakan Webinar dengan tema “Kajian Genetik Badak Jawa di Taman Nasional Ujung Kulon”, Rabu silam (27/3). Kajian ini merupakan kerja sama Balai TNUK bersama Pusat Biotek Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) dengan dihadiri 98 peserta online. Host acara tersebut adalah drh. Kurnia Oktavia K dan di moderatori oleh Rois Mahmud SThI, MSi Kepala Balai TNUK, Ardi Andono, S.TP., M.Sc, dalam pengantarnya mengatakan bahwa hasil kajian genetik badak jawa merupakan suatu hal yang membanggakan bagi TNUK, karena penelitian tentang DNA Badak Jawa merupakan yang pertama di Indonesia. Beliau menambahkan hal ini sekaligus menjadi dasar untuk melangkah lebih jauh ke arah Breeding Control pada Badak Jawa. Acara webinar dibuka oleh Direktur Jenderal KSDAE, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut, M.Agr.Sc. beliau menyampaikan bahwa memahami kondisi genetik populasi Badak Jawa menjadi sangat penting untuk dasar penyusunan rencana yang tepat. Beliau berharap agar pemaparan hasil sementara analisis genetik populasi Badak Jawa dapat menjadi pembelajaran bagi UPT lain yang juga memiliki badak di wilayah kerjanya, dalam rangka pengembangan konservasi Badak pada masa yang akan datang. Webinar menampilkan 2 (dua) narasumber yaitu Asep Yayus Firdaus ; Koordinator Urusan Populasi di TNUK dan narasumber utama yaitu Dr. Dedy Duryadi Solihin, DEA: ketua tim peneliti DNA Badak Jawa di TNUK. Beliau menyampaikan bahwa hasil kajian telah mengidentifikasi Badak Jawa di TNUK terdiri atas 2 haplotype, yaitu Haplotype 1 dan Haplotype 2. Ditambahkan bahwa manajemen populasi tidak dapat lagi diserahkan ke alam namun harus ada campur tangan pengelola dengan melakukan langkah breeding terstruktur berdasarkan karakter genetik yaitu kelompok haplotype dan genotype, agar populasi bertahan lestari dan mencegah kepunahan. Semoga hasil kajian tersebut dapat dimanfaatkan untuk konservasi Badak Jawa dan strategi pengelolaan ke depan dengan harapan pelestarian Badak Jawa. Sumber: Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Baca Artikel

Kelompok Tani Merasakan Manfaat Bantuan Usaha Ekonomi Produktif

Pakpak Bharat, 1 April 2024. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe dan Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, melaksanakan kegiatan monitoring terhadap bantuan usaha ekonomi produktif yang telah diberikan kepada beberapa kelompok tani yang di desa sekitar kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike dan Suaka Margasatwa (SM) Siranggas Tahun 2023 lalu, pada tanggal 25 s.d 28 Maret 2024. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai salah satu upaya untuk melihat perkembangan dan kemanfaatan dari bantuan yang diberikan sekaligus mendapatkan informasi kendala yang mungkin dihadapi oleh kelompok. Monitoring terhadap bantuan usaha ekonomi produktif ini dilakukan pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Bersama Desa Majanggut I, Kelompok Tani (KT) Sepakat Maju Desa Salak I, Kelompok Tani (KT) Gabe Tani Desa Kuta Dame dan Kelompok Tani (KT) Dalan Maju Desa Simerpara. Masing-masing kelompok tani tersebut mendapat bantuan berupa alat pertanian, yaitu alat pemipil jagung pada KWT Bersama dan KT Dalan Maju serta Cultivator dan mesin babat pada KT Sepakat Maju dan KT Gabe Tani. Pada KWT Bersama misalnya, alat pemipil jagung yang merupakan bantuan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara sudah berfungsi bahkan disewakan oleh masyarakat Desa Majanggut I diluar dari anggota kelompok dengan upah sewa Rp 200,- per kg jagung pipil dengan persentase pembagian 1/3 untuk kas kelompok dan 2/3 untuk operator mesin, sehingga saat ini sudah mendapatkan kas kelompok sekitar Rp 700.000,- namun dikurangi dengan biaya perawatan. Begiu juga dengan KT Dalan Maju, dengan upah sewa alat pemipil jagung yaitu Rp 200,-per kg dan sudah digunakan oleh masyarakat Desa Simerpara diluar anggota kelompok, samapai saat ini sudah mengantongi uang kas kelompok lebih kurang Rp 500.000,-. Bahkan pengakuan pengurus kelompok adanya alat pemipil jagung kelompok memotivasi masyarakat sekitar untuk menanam tanaman jagung. Hal ini sangat membantu dan menguntungkan kelompok serta masyarakat desa dimana biasanya untuk memipilkan hasil tani jagung harus pergi ke desa sebelah. Untuk KT Sepakat Maju yang mendapat bantuan berupa alat cultivator dan mesin babat, juga sudah berfungsi dengan baik dan disewakan kepada anggota kelompok. Uang sewa alat tersebut menjadi kas kelompok yang digunakan untuk perawatan alat tersebut. Cultivator disewakan sebesar Rp 50.000,-per hari, sedangkan mesin babat Rp 30.000,-per hari, dan saat ini sudah terkumpul uang kas kelompok sebanyak lebih kurang Rp 300.000,-. Sama halnya dengan KT Gabe Tani yang mendapatkan bantuan berupa alat cultivator dan mesin babat, juga sudah dimanfaatkan oleh anggota kelompok dengan sistem sewa. Uang sewa menjadi kas kelompok guna perawatan alat demi kesinambungan pemanfaatan alat tersebut. pada KT Gabe Tani, sewa alat cultivator dikenakan sebesar Rp 20.000,-/hari dan mesin babat Rp 5.000,-/hari. Saat ini kas KT Gabe Tani terkumpul dana lebih kurang Rp 600.000,-. Melihat hasil yang positif ini Tim monitoring mengapresiasi kelompok tani karena bantuan yang diberikan digunakan dengan sebaik-baiknya dan sudah merasakan langsung manfaatnya dengan memberikan nilai tambah ekonomi baik bagi kelompok tani khususnya dan masyarakat desa pada umumnya. Hingga saat ini belum ada kendala yang dihadapi dalam pemanfaatan bantuan tersebut. Tim juga menyampaikan, dengan adanya bantuan ini diharapkan dapat menjadi pengingat bagi kelompok khususnya untuk menjaga kawasan konservasi yang ada di sekitar desanya, yaitu kawasan SM Siranggas pada Desa Majanggut I, Salak I dan Simerpara serta Kawasan TWA Sicike-cike pada Desa Kuta Dame. Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Sosialisasi Pengelolaan TN Ujung Kulon Melalui Tarawih Keliling (TARLING)

Labuan, 1 April 2024. Bulan Ramadhan penuh berkah menjadi momentum yang baik untuk mempererat tali silaturahmi, pada tanggal 21 - 23 Maret 2024, Balai Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) bekerjasama dengan Aliansi Lestari Rimba Terpadu (ALeRT) mengadakan Tarawih Keliling (Tarling) di wilayah Kecamatan Ciamanggu. Dalam agenda tersebut, Balai TNUK berkesempatan melakukan sosialiasi untuk meningkatkan pemahaman dan pengetahuan masyarakat Daerah Penyangga terhadap peraturan dan kebijakan pengelolaan yang berlaku, serta menggalang dukungan masyarakat dalam upaya konservasi di TN Ujung Kulon. Masjid Jami Al Muttaqin, Kp. Cisantri, Desa Padasuka, Masjid Kp. Ciakar, Desa Rancapinang dan Masjid Al Ikhlas, Kp. Pasir Angin, Desa Kramatjaya adalah Masjid-masjid yang dikunjungi dalam kegiatan Tarling kali ini. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wil.III Sumur, I Made Artawan,S.Hut,M.Si menyampaikan materi tentang Organisasi, Dasar Hukum, Tujuan dan Arah Pengelolaan dan Pelestarian Badak Jawa, yaitu sebagai identitas / aset bangsa yang menjadi perhatian internasional dan upaya mewujudkan JRSCA. Selain itu, juga disampaikan himbauan tentang tindak pidana kehutanan terutama larangan perburuan yang berlandaskan pada Fatwa MUI No 4 tahun 2014 tentang Pelestarian Satwa Langka untuk menjaga ekosistem serta pengamanan Pal Batas kawasan TNUK. Masyarakat memberikan respon positif dan terlibat aktif didalam sesi diskusi. Diakhir kegiatan, Balai TN Ujung Kulon menyampaikan infaq berupa uang sebesar Rp. 750.000,- untuk menunjang pengelolaan pada masing-masing Masjid yang di kunjungi. Sosialisasi terhadap masyarakat sekitar kawasan merupakan bagian penting dalam pengelolaan TNUK, sehingga akan terus dilaksanakan secara berkesinambungan guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian Badak Jawa di dalam kawasan TN Ujung Kulon. Mari Kita Jaga Bersama Kawasan Konservasi TNUK Sumber: Balai Taman Nasional Ujung Kulon
Baca Artikel

Pembentukan Kelembagaan Masyarakat Purba Dolok

Bimbingan dan arahan dari Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran Purba Dolok, 26 Maret 2024. Masih dalam rangkaian Kegiatan Fasilitasi Usaha Ekonomi Produktif di Sekitar Kawasan Konservasi Tahun 2024, bertempat di aula kantor Pangulu Nagori Purba Dolok, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun diadakan kegiatan Pembentukan/Penguatan Kelembagaan Masyarakat oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar pada Jumat (8/3). Seperti diketahui bahwa Nagori Purba Dolok salah satu nagori yang berada di sekitar Kawasan Konservasi Cagar Alam (CA.) Martelu Purba. Kegiatan diawali dengan sambutan dari Pangulu Nagori Purba Dolok, Bapak Rebin Perdiaman Saragih. Dilanjutkan dengan sambutan dan arahan dari Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran Bapak Alfianto L. Siregar, S.Hut, MT, M.PP. Dalam sambutannya, Bapak Rebin Perdiaman Saragih menyampaikan terima kasih kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara atas perhatiannya kepada Nagori Purba Dolok dengan memberikan bantuan Ekonomi Produktif kepada masyarakat. Beliau juga menghimbau masyarakatnya untuk merawat bantuan yang diterima. Pembentukan Kelembagaan Masyarakat ini sudah dilakukan beberapa waktu yang lalu atas prakarsa pemerintah nagori dan masyarakat yang difasilitasi oleh Resor CA. Martelu Purba sehingga resmilah terbentuk Kelompok Tani Hutan “Bolon Ma” melalui Keputusan Pangulu Nagori Purba Dolok Nomor : 01/Kelompok Tani Hutan BOLONMA/2/2024 tanggal 21 Februari 2024, beranggotakan 23 orang yang merupakan penduduk asli Nagori Purba Dolok. Kelompok Tani Hutan “Bolon Ma” inilah yang nantinya akan menerima bantuan Usaha Ekonomi Produktif dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tahun 2024. Pada kesempatan ini Tim Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar juga melakukan verifikasi adminitrasi dan teknis terhadap proposal Kelompok Tani Hutan “Bolon Ma” sesuai Keputusan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Nomor: SK.231/K.3/KSA/BIDTEK/07/2023 tanggal 20 Juli 2023 tentang Standar Operasional Prosedur Kegiatan Kesepakatan Konservasi Lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Hasil dari verifikasi ini dituangkan dalam Berita Acara, dan nantinya secara berjenjang akan diverifikasi lagi oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Di akhir kegiatan sebelum menutup acara, Kepala Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran Bapak Alfianto L. Siregar, S.Hut, MT, M.PP menyampaikan harapanya semoga bantuan yang diberikan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara bermanfaat bagi Kelompok Tani Hutan “Bolon Ma” dan masyarakat sekitarnya. Kelompok Tani Hutan “Bolon Ma” secara kelembagaan tetap solid dan semakin berkembang. Pengurus dan anggota Kelompok Tani Hutan “Bolon Ma” Sumber : Lisbeth Yuni S. Manurung, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Sulsel Gandeng Taman Safari dan Aviary Park Indonesia untuk Penyelamatan Satwa Liar di Gowa Discovery Park

Makassar, 26 Maret 2024 – Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel), melakukan pertemuan dengan Taman Safari Indonesia (TSI) dan Aviary Park Indonesia (API) untuk mencari solusi atas pengelolaan satwa oleh Lembaga Konservasi Gowa Discovery Park (GDP) di Kabupaten Gowa. Pertemuan dilakukan di Ruang Rapat Kantor BBKSDA Sulawesi Selatan (25/03/2024). Pada kesempatan tersebut Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Jusman didampingi oleh Kepala Bidang Wilayah II Parepare, Abdul Rajab, S.T.P., M.P dan Fungsional Polhut Madya Muhammad Rasul, SH, MH melakukan diskusi dengan pihak TSI/API dalam upaya mencari cara terbaik upaya penyelamatan satwa yang berada dalam pengelolaan Gowa Discovery Park (GDP). Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan telah melakukan monitoring pada 19 Maret 2024, diketahui bahwa jumlah satwa koleksi Lembaga Konservasi Gowa Discovery Park (GDP) sebanyak 214 ekor yang terdiri atas 159 ekor Aves dilindungi, 23 ekor Mamalia dilindungi, 6 ekor Reptil dilindungi, dan 26 ekor Aves tidak dilindungi. Akibat pandemi Covid-19, GDP berhenti beroperasi untuk kunjungan pengunjung sejak 15 Maret 2020 hingga saat ini. Selain penghentian operasional kunjungan muncul permasalahan lain terkait izin lokasi, sehingga kemungkinan akan ditutup permanen. “Menyikapi situasi tersebut maka perlu dilakukan segera penyelamatan satwa secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek kondisi kesehatan dan kesejahteraan satwa”, demikian disampaikan Kepala BBKSDA Sulawesi Selatan, Ir. Jusman di Makassar (25/03/24). Lebih lanjut Ir. Jusman menambahkan, bahwa upaya-upaya tersebut harus tetap memperhatikan mekanisme dan prosedur yang berlaku ke lokasi baru yang lebih baik. Sebagai tindaklanjut pertemuan, Tim Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan pimpinan Kepala Bidang Wilayah II Parepare hari ini Selasa, 26 Maret 2024, melakukan kunjungan ke Gowa Discovery Park (GDP) bersama Koordinator Polisi Kehutanan dan tim teknis. Dalam kesempatan tersebut pihak TSI diwakili oleh Bapak Tony Sumanpau menawarkan dukungan penyelenggaraan peningkatan kemampuan staf lingkup Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan dalam penanganan konflik satwa. Diharapkan, melalui kerja sama yang erat ini, kemampuan petugas dalam menangani konflik satwa akan ditingkatkan secara signifikan. Tidak hanya itu, tingkat keberhasilan operasi penyelamatan (rescue) yang dilakukan oleh staf juga diharapkan akan meningkat secara nyata. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.06/K.8/TU/Humas/02/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Peningkatan Kapasitas Ranger Woman Taman Nasional Moyo Satonda

Sumbawa, 25 Maret 2024. Beberapa bulan terakhir, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) telah bekerja dengan kelompok perempuan untuk membantu mendukung perlindungan spesies kunci Taman Nasional Moyo Satonda. Salah satu kelompok perempuan binaan BKSDA NTB adalah Rangers Woman, mereka adalah tim ranger wanita pertama yang pernah dibentuk. Untuk meningkatkan peran besar mereka dalam melestarikan lingkungan alam dan warisan budaya tempatan, melalui proyek CONSERVE, telah dilaksanakan pelembagaan dan pelatihan peningkatan kapasitas Rangers Woman yang berlangsung dari 23 s/d 24 Maret 2024 bertempat di Kantor Desa Labuhan Aji, Pulau Moyo Kab. Sumbawa. Sebanyak 20 (dua puluh) ranger wanita yang berasal dari desa-desa penyangga Taman Nasional Moyo Satonda ini dilatih mengenai teknik birding dan wildlife watching, patroli pengamanan hutan dan pengembangan wisata alam berbasis potensi lokal dengan narasumber/pemateri dari BKSDA NTB, POLRES Sumbawa, BKPH Batulanteh dan WCS-IP. Tak heran jika perempuan penjaga hutan ini merasakan rasa bangga yang begitu kuat dalam meneruskan pekerjaan mereka. Ini juga berarti bahwa pelestarian keanekaragaman hayati bukan hanya tugas laki-laki semata. Kaum perempuan juga bisa turut berpartisipasi. Harapan besar diakhir adalah keberlangsungan ekologis dan ekonomi berkelanjutan yang memberikan dampak langsung dan positif kepada para masyarakat desa penyangga. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

Merawat Air, Memaknai Kehidupan

Air terjun Singgabit (dok. Alamuddin Sahputra) Medan, 25 Maret 2024. Alamuddin Sahputra, S.Hut., salah satu rimbawan kreatif Balai Besar KSDA Sumatera Utara, mengambil foto air terjun Lae Singgabit, yang terdapat di kawasan Suaka Margasatwa (SM.) Siranggas, tepatnya di Desa Mahala, Kecamatan Tinada, Kabupaten Pakpak Barat. Sekilas air terjun itu terlihat biasa saja, tidak jauh beda dan nyaris sama dengan air terjun yang ada di tempat-tempat lainnya. Dicoba ditatap dan dipandang, seakan ada sesuatu pesan yang ingin disampaikan dibalik aliran air terjun tersebut. Dipandang lebih lama lagi, foto air terjun menyentuh relung-relung hati dan pikiran, sampai akhirnya membangun kesadaran imajinasi, ada aliran-aliran inspirasi kehidupan yang ingin disampaikannya. Air itu mengalir tiada hentinya dari atas ke bawah melintasi tebing-tebing curam dan selanjutnya mengalir menuju sungai, menyadarkan saya bahwa kehidupan ini juga mengalir melewati berbagai rintangan dan tantangan yang pada akhirnya bermuara kepada ketentraman dan kebahagiaan, saat kita menjalaninya dengan ikhlas dan tulus. Aliran air terjun Lae Singgabit yang menuju sungai, kemudian sampai ke Desa Mahala dan oleh masyarakat sekitar desa dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maupun untuk kegiatan pengairan/irigasi di sawah. Bahwa kehidupan yang kita lakoni sehari-hari hendaknya juga mengalirkan benih-benih kebaikan dan memberi energi positif serta manfaat bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, lingkungan maupun masyarakat. Air terjun yang terlihat jernih dan bening. Sejatinya ingin menyampaikan pesan moral bahwa kehidupan ini juga harus jernih, tenang dan damai. Disaat jernih pemikiran, maka segala permasalahan yang ada dapat teratasi. Disaat ada ketenangan dan kedamaian, maka kebahagiaan hidup pun akan terasa menjadi sempurna. Inspirasi kehidupan dari aliran air terjun Lae Singgabit membawa saya kepada mimpi yang penuh dengan angan-angan. Namun sayangnya mimpi itu tidak berlangsung lama, sesaat kemudian keresahan dan kekhawatiran menghinggapi benak pikiran saya. Andaikan suatu hari nanti hutan SM. Siranggas mengalami deforestasi dan beralih fungsi dengan berbagai dalih untuk kebutuhan pembangunan dan peningkatan perekonomian, akankah aliran inspirasi kehidupan ini ikut tergerus dan bahkan mungkin hilang dari pandangan mata ? Sudah pasti kerusakan di sana sini tidak dapat dihindari, masyarakat tidak lagi menikmati air yang dialirkannya, lingkungan menjadi kering dan gersang, pemanasan global dan perubahan iklim menghantui, sampai akhirnya petaka pun datang, yang tersisa tinggal jeritan tangis dan derita. Gundah gulana meracuni dan merusak pikiran saya membayangkan jika semua itu terjadi…….. Kegalauan ini kemudian membangunkan kesadaran saya. Suara hati berteriak meronta menuntut tindakan nyata. Tidak hanya sekedar menikmati dan berkata-kata tentang keindahan air terjun Lae Singgabit, tetapi juga harus berbuat/bertindak. Ya..., saya harus berbuat, mungkinkah ….. ? Lalu bagaimana caranya ? Bukankah mengamankan, melindungi dan melestarikan kawasan SM. Siranggas tidak semudah membalikkan telapak tangan ? Butuh kekuatan energi dan modal… Ditengah pergumulan batin, kata hati menyangkalnya, tidak harus menjadi superman untuk dapat berbuat. Dengan cara-cara sederhana pun sesungguhnya bisa memberi dampak yang tidak kalah bermanfaatnya. Ya…, dengan menulis sejatinya mampu memberi energi yang luar biasa, merubah perilaku dan keinginan dari merusak menjadi merawat, menyadarkan akan arti pentingnya menjaga kelestarian kawasan untuk menyelamatkan air sebagai sumber kehidupan, menegur dan menegakkan aturan terhadap perbuatan-perbuatan illegal dan membangun optimisme merajut harapan. Lamunan pun terus menerawang, sampai pada kesimpulan saatnya untuk giat menorehkan pesan-pesan konservasi selagi masih diberi waktu dan kesempatan. Kehidupan memang tidak abadi, tetapi rajutan kata dan kalimat membawa pesan-pesan keabadian serta merajut inspirasi memaknai hidup. Selamat Hari Air Sedunia Tahun 2024. Selamatkan kawasan hutan demi keberlanjutan dan ketersediaan air bagi kehidupan dan perdamaian (Water for Peace). Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 849–864 dari 2.305 publikasi