Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Tak Kenal Maka Tak Peduli

Bunga Bangkai yang sering disamakan dengan Rafflesia arnoldi Medan, 22 Mei 2024. Dalam beberapa giat diskusi dengan berbagai pihak, seperti : siswa/pelajar, mahasiswa, tenaga pendidik/pengajar dan akademisi, saya selalu memulai dengan ice breaking dengan menunjukkan gambar/foto Bunga Bangkai Suweg Raksasa (Amorphophalluas titanum) sembari bertanya kepada audiens, bunga apakah ini ? Sebagian besar, bahkan mayoritas peserta menjawabnya dengan menyebutkan Rafflesia arnoldi. Usai menjawab, kemudian saya menampilkan/menunjukkan foto/gambar bunga Padma Raksasa (Rafflesia arnoldi) sembari juga bertanya, bunga apakah ini ? Suasana pun kemudian menjadi riuh. Sebagian menyebut gambar/foto yang terakhirlah yang sebenarnya bunga Rafflesia arnoldi, tetapi tidak sedikit pula yang berpendapat bahwa keduanya (baik Suweg maupun Padma) adalah bunga bangkai jenis Rafflesia arnoldi. Menariknya lagi, di salah satu forum diskusi dengan tenaga pendidik/pengajar (guru-guru), masih dengan ice breaking yang sama, jawabannya juga sama persis, bahwa bunga Suweg disebutkan sebagai bunga Rafflesia arnoldi. Bahkan saat saya mencoba meluruskan dengan memberi penjelasan, tiba-tiba seorang peserta yang memperkenalkan diri sebagai salah satu Kepala Sekolah SMP Negeri yang ada di Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, menginterupsi dan memberi tanggapan. Si ibu Hajjah Siregar, demikian kepala sekolah ini dipanggil, ternyata juga mengajar sebagai guru bidang studi Bahasa Inggris. Dengan suara keras dan lantam serta sedikit emosi, ia menggugat kebenaran bahwa bunga Suweg bukanlah bunga Rafflesia arnoldi. Beliau merujuk pada buku pelajaran bahasa Inggris yang diterbitkan oleh salah satu penerbit buku-buku sekolah terkenal dan ini menjadi acuan/panduan bagi pelajar setingkat SMP, jelas-jelas menyebutkan bahwa bunga Suweg adalah jenis Rafflesia arnoldi. Celakanya lagi, pertanyaan tentang bunga Suweg ini pun pernah pula muncul di ujian nasional bidang studi bahasa Inggris. Lalu ibu Hajjah Siregar meminta masukan dan pendapat saya tentang polemik ini. Dengan sabar saya memberi penjelasan dan kemudian menyarankan untuk mencari referensi sebagai pendukung informasi tersebut. Apabila masih menemukan di dalam buku ajar bahasa Inggris yang menyebutkan bahwa bunga Suweg diberi nama ilmiah Rafflesia arnoldi, saya sarankan kepada beliau agar mengirim surat ke pihak penerbit untuk meralat/merevisinya sebagai bentuk masukan koreksi/ perbaikan. Tidak sampai disitu saja, sebuah media cetak nasional Sumatera Utara pernah juga memberitakan mekarnya bunga Bangkai di salah satu tempat. Bunga Bangkai yang mekar sebenarnya adalah jenis Amorphophallus titanum, tapi lagi-lagi diberitakan sebagai jenis Rafflesia arnoldi. Saya mencoba mengkoreksinya dengan mengirimkan surat ke media tersebut. Oleh pihak media kemudian memuatnya dalam rubrik Surat Pembaca, dan kelanjutannya di pemberitaan-pemberitaan berikutnya, pihak redaksi sudah tidak lagi menyebutkan bunga Rafflesia arnoldi melainkan bunga Amorphophallus titanum. Anggrek Hartinah (sumber foto : alatpertanian.asia) Di moment lain, saat saya bincang-bincang mencoba menggali pengetahuan masyarakat tentang salah satu jenis anggrek yang dilindungi, yaitu Anggrek Hartinah atau akrab juga disebut dengan Anggrek Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum). Tidak seorangpun yang mengetahui maupun mengenalnya, padahal anggrek ini endemik Sumatera Utara, termasuk jenis yang dilindungi. Dan ketika iseng-iseng saya mencoba bertanya, siapa penemu anggrek ini, semua sepakat bahwa penemunya adalah almarhumah Hj. Siti Hartinah (Tien) Soeharto, mantan ibu negara, karena biasanya nama penemu melekat pada temuannya. Padahal penemunya adalah Rusdi E. Nasution, seorang peneliti dari Herbarium LBN/LIPI Bogor yang menemukan jenis anggrek ini di Desa Baniara Tele, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir pada tahun 1976, saat melakukan penelitian di daerah tersebut. Adapun pemberian nama Hartinah (Tien) Soeharto pada hasil temuannya, adalah bentuk apresiasi (penghargaan) kepada mantan ibu negara atas jasa-jasanya dalam pengembangan dunia peranggrekkan di Indonesia. Dua contoh kisah di atas hanya sekelumit gambaran betapa rendah dan kurangnya wawasan pengetahuan masyarakat tentang pengenalan keanekaragaman hayati yang ada di Indonesia. Masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Keterbatasan ini dipengaruhi berbagai faktor, seperti kurangnya referensi yang dimiliki karena terbatasnya bahan-bahan informasi serta minimnya kegiatan sosialisasi dan penyuluhan. Selain itu, sikap tidak pedulinya masyarakat terhadap keanekaragaman hayati, ditandai dengan maraknya perambahan dan pengalihan fungsi lahan untuk berbagai kepentingan, yang mengakibatkan terfragmentasinya habitat sehingga menyebabkan ancaman terhadap keberlangsungan keberadaan keanekaragaman hayati tersebut. Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia atau International Day for Biological Diversity tahun 2024 kembali diperingati dengan mengusung tema “Jadilah Bagian Dari Rencana”. Ini tentunya menjadi pengingat sekaligus refleksi bagi kita untuk mengevaluasi dan mengambil tindakan guna membangun kembali komitmen serta kepedulian dan langkah-langkah konkrit (nyata) dalam mengenal dan menjaga/ mempertahankan kelestarian keanekaragaman hayati yang masih tersisa. Butuh keseriusan/kesungguhan serta kolaborasi dari berbagai pihak. Untuk itu mari mulai dengan rencana aksi yang meskipun kecil, tapi memberi dampak yang berarti bagi eksistensi keanekaragaman hayati. Selamat Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia 2024… Salam lestari…… Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Data) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Peduli Penyu dan Kura-kura di World Turtle Day 2024

Medan, 22 Mei 2024. Hari Kura-kura dan Penyu Sedunia diperingati setiap tanggal 23 Mei. Pertama kali diperingati pada tahun 2002 oleh American Tortoise Rescue (ATR). Peringatan ini dimaksudkan untuk menarik perhatian warga dunia terhadap keberadaan kura-kura dan penyu serta mendorong umat manusia untuk menyelamatkan spesies yang terancam, karena kura-kura dan penyu sebagai salah satu spesies tertua yang masih hidup di bumi, memainkan peranan penting dalam menjaga kesehatan laut dan habitatnya. Mereka membantu menjaga keseimbangan alam dengan mengendalikan hama, menyediakan nutrisi bagi tanah dan menjadi makanan bagi banyak hewan lainnya. ATR pun rutin mengadakan acara donasi dan menyebarkan kesadaran terhadap kura-kura dan penyu. Berkurangnya jumlah populasi kura-kura dan penyu dikarenakan adanya faktor perubahan lingkungan tempat hidupnya, perburuan pemanfaatan daging, tempurung dan kulitnya dengan tujuan diperdagangkan di pasar gelap, serta kegiatan eksploitasi berlebihan yang berdampak terhadap menyusutnya populasi secara masif. Selain itu kedua hewan ini juga memiliki kemampuan berkembang biak yang lamban sehingga untuk mengembalikan jumlah populasi menjadi sebuah tantangan yang besar. Oleh karena itu, CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna) menetapkan bahwa semua penyu laut dimasukkan dalam Appendix I, yang artinya perdagangan internasional penyu untuk tujuan komersil dilarang. Di Indonesia Penyu Belimbing dan Penyu Lekang dimasukkan dalam daftar satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa serta Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Kemudian Badan Konservasi Dunia (IUCN) memasukkan Penyu Belimbing, Penyu Hijau, Penyu Lekang dan Penyu Tempayan sebagai golongan satwa yang terancam punah (Hari Kura-kura dan Penyu Sedunia : Sejarah dan Fakta Uniknya, Shafa Aulia Nursani, https://www.detik.com) Giat pelepasliaran tukik bagian dari penyelamatan Melalui momentum peringatan World Turtle Day 2024, umat manusia diingatkan kembali untuk peduli dengan nasib kura-kura dan penyu. Apa yang bisa dilakukan ? Dilansir dari laman worldturtleday.org, beberapa hal sederhana dapat kita lakukan, seperti : jangan pernah membeli kura-kura atau penyu laut dari toko penjual hewan, jika menemukan penyu atau kura-kura yang terdampar dan terluka jangan dilepas ke laut begitu saja tetapi sebaiknya segera menghubungi Tim konservasi terdekat, laporkan penjualan/perdagangan liar yang ada di internet maupun di pasar gelap, laporkan juga bila menemukan perbuatan/tindakan kekerasan yang dilakukan terhadap kura-kura dan penyu seperti penjualan organ tubuhnya di pasar gelap, mengikuti kegiatan volunteer konservasi kura-kura dan penyu, serta ikut menjaga kebersihan lingkungan dengan berusaha tidak mencemarinya dengan sampah. Selain itu melalui World Turtle Day 2024 menjadi media kampanye membantu kelestarian penyu dan kura-kura agar hidup lebih lama, serta meningkatkan kesadaran tentang pelestarian hidup penyu dan kura-kura. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Puluhan Siswa SDIT Belajar Mengenal Keanekaragaman Hayati di Jurang Jero TN Gunung Merapi

Magelang, 21 Mei 2024. Belajar dapat dilakukan di mana saja, juga tentang apa saja. Seperti yang dilaksanakan oleh SDIT Zaid bin Tsabit @sdit.zabitsa Magelang di Obyek Wisata Alam (OWA) Jurang Jero, Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Srumbung, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Magelang, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Pada tanggal 21 Mei 2024, sejumlah 140 siswa-siswi kelas 3, 4, dan 5 SDIT Zaid bin Tsabit beserta para guru pendamping melaksanakan Kegiatan Puncak Ekstrakurikuler Tahun 2023/ 2024. Dalam kesempatan ini, mendapatkan pemaparan terkait Taman Nasional beserta Keanekaragaman Hayati yang ada di dalamnya. Termasuk juga penyampaian beberapa aksi nyata yang bisa dilakukan oleh para siswa dalam rangka merawat bumi dan selamatkan generasi. Pada acara pendampingan ini petugas TNGM dibantu oleh Masyarakat Mitra Polhut (MMP) RPTN Srumbung dalam melakukan simulasi pemadaman kebakaran hutan di kawasan TNGM. Acara kemudian dilanjutkan dengan penanaman sejumlah 25 (dua puluh lima) bibit pohon jenis Berasan dan Cepogo di sekitar areal OWA Jurang Jero, sebagai aksi nyata siswa-siswi SDIT Zaid bin Tsabit dalam Merawat Bumi dan Selamatkan Generasi. Pada kesempatan terpisah, Kepala Balai TNGM, Muhammad Wahyudi, menyampaikan betapa pentingnya pendidikan konservasi dimulai sejak dini untuk membentuk karakter kader konservasi bagi kelestarian alam di masa yang akan datang. Antusiasme dan keceriaan terlihat jelas di wajah siswa-siswi SDIT Zaid bin Tsabit dalam mengikuti rangkaian ini. Di akhir acara, siswa-siswi diajak bermain di alam sembari menikmati suasana keasrian di OWA Jurang Jero. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi ****
Baca Artikel

FPL PALEM Belajar Penyelamatan dan Pengembangan Saninten

Sleman, 21 Mei 2024. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menyelenggarakan pendampingan Kelompok Tani Hutan (KTH) sekitar kawasan konservasi di Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, Selasa (21/5). Acara ini diikuti oleh Kelompok Forum Peduli Lingkungan Pecinta Alam Merapi (FPL PALEM) dan perangkat Kalurahan Kepuharjo, dengan narasumber yaitu Dosen dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (Dr. Ir. Sapto Indrioko, S.Hut, M.P, IPU). Acara dibuka dengan sambutan oleh Lurah Kepuharjo yang menyampaikan ucapan terima kasih serta apresiasi terhadap Balai TNGM yang telah mendampingi kelompok FPL PALEM. Dalam sambutannya, beliau juga menyatakan kedepannya akan mendukung kegiatan untuk pengelolaan TNGM. Dalam pendampingan ini peserta kegiatan menerima materi Penyelamatan dan Pengembangan Saninten (Castanopsis argentea). Kita ketahui bersama, jenis saninten atau sarangan ini termasuk flora dilindungi dan menjadi prioritas yang perlu untuk dilestarikan. FPL PALEM sebagai mitra Balai TN Gunung Merapi memiliki perhatian khusus terhadap konservasi jenis. Melalui pendampingan ini diharapkan upaya FPL PALEM memperoleh peningkatan pengetahuan/pemahaman tentang konservasi sarangan yang dilakukan, serta menunjukkan hasil yang optimal. Pada kesempatan terpisah, Kepala Balai TNGM menyampaikan bahwa pendampingan adalah hal tidak terpisahkan dari pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Semoga pertemuan ini membawa manfaat maksimal untuk kemajuan aktivitas kelompok dalam upaya penyelamatan dan pengembangan tanaman saninten/sarangan. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi ****
Baca Artikel

Jadilah Bagian Dari Rencana

Rafflesia meijerii keragaman hayati endemik Sumatera Utara Sidikalang, 22 Mei 2024. Keanekaragaman hayati pada dasarnya sangat bervariasi, baik satwa maupun tumbuhan yang hidup di suatu kawasan hutan, terutama di kawasan konservasi yang bila terjaga keberadaannya tentunya akan menghuni dan memenuhi kawasan konservasi. Oleh itu menjadi penting menyadari bahwa kita harus menjadi bagian dari rencana untuk menjamin keberlangsungan keanekaragaman hayati di seluruh dunia, khususnya di bumi Indonesia. Semangat ibu memasak nasi…… Nasinya di makan bersama terasi… Selamat memperingati hari keanekaragaman hayati…… Mari kita lestarikan secara kolaborasi…. Demikian sebuah pantun sebagai pembuka untuk memperingati International Day for Biological Diversity atau Hari Keanekaragaman Hayati Sedunia Tahun 2024. Disebut sebagai keanekaragaman karena sangat banyak komponen-komponen flora dan fauna yang hidup, tumbuh dan berkembang di bumi Nusantara. Keanekaragaman hayati ini memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, sehingga sebagai masyarakat sejatinya kita harus peduli dengan menjaga dan melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat memberikan dampak positif bagi keanekaragaman hayati tersebut. Tentunya menjadi urgen jika seluruh komponen ikutserta menjadi bagian dari rencana dalam mengembangkan serta membangun kepedulian guna menjaga keanekaragaman hayati, yang dimulai dari diri sendiri dengan hal terkecil dalam berbagai aktivitas kehidupan. Sebagai umat ciptaan Tuhan yang mulia di dunia, maka kita diharapkan sebagai garda terdepan dalam mempertahankan keberlangsungan keanekaragaman hayati, dan menularkan energi serta dampak positif ke lingkungan sekitar, sehingga mampu mendorong gerakan bersama menjaga kelestarian keragaman hayati yang ada di sekitar lingkungan kita. Kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Siranggas, menjadi habitat beberapa satwa kunci, diantaranya Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) dan Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Sebagai seorang penyuluh kehutanan dituntut harus mampu berkreasi memberikan pandangan dan pemikiran tentang menjaga keseimbangan ekosistem di dalam kawasan konservasi terutama di SM Siranggas. Banyak keanekaragaman hayati yang menarik di kawasan SM Siranggas selain dari satwa kunci tersebut, yang tentunya mempunyai kedudukan yang sama juga untuk mendapat perhatian dan perlindungan, seperti keanekaragaman jamur dan tumbuhan kayu keras diantaranya pohon meranti yang umurnya diperkirakan sekitar 100 tahunan di wilayah Desa Majanggut II. Tidak hanya itu, koleksi lainnya anggrek Tainia wrayana yang unik dan mempesona juga merupakan endemik kawasan SM Siranggas. Anggrek Tainia wrayana Menjadi catatan penting pula, bahwa kawasan SM. Siranggas merupakan salah satu opsi untuk lokasi kegiatan lepasliar satwa dilindungi jenis Orangutan Sumatera, mengingat kawasan ini memenuhi kriteria dalam ketersediaan sumber pakan serta kerapatan pepohonan yang masih terjaga dengan baik sehingga direkomendasikan layak menjadi tempat pelepasliaran. Bukan hanya kawasan SM Siranggas saja yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, ada juga kawasan konservasi lainnya di Sumatera Utara, yaitu TWA Sicike-cike yang disebut surganya tanaman anggrek hutan. Ada ratusan koleksi tumbuhan yang memenuhi dan menghiasi kawasan ini, salah satu nya adalah jenis Nepenthes atau yang kita kenal sebagai kantung semar. Tidak hanya itu, kawasan TWA Sicike-cike juga memiliki 3 danau, dan danau-danau tersebut merupakan salah satu potensi besar dalam mendukung keberlangsungan keanekaragaman hayati yang ada di dalam dan lingkungan sekitarnya . Salah satu bunga yang sangat langka juga ada di kawasan TWA Sicike-cike yaitu Rafflesia meijerii yang tumbuh di dalam kawasan tersebut, tentunya ini menjadi potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi sehingga perlu upaya-upaya atau langah-langkah maksimal dan optimal untuk melindungi dan mempertahankan kelestariannya di habitatnya. Terakhir, ada juga kawasan konservasi yang memiliki keanekaragaman hayati yang unik, yaitu kawasan TWA Deleng Lancuk, yang kaya dengan keragaman potensi tanaman obat, sehingga mendorong peneliti dan akademisi untuk melakukan riset (penelitian) serta pengembangan menjadikannya obat-obat tradisional yang bisa dimanfaatkan untuk pengobatan. Sekali lagi, tanaman obat merupakan salah satu potensi besar yang dimiliki oleh TWA Deleng Lancuk selain keindahan Danau Lau Kawarnya, yang harus dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Tanaman obat di TWA. Deleng Lancuk Melihat besarnya potensi keanekaragaman hayati yang tumbuh dan berkembang di beberapa kawasan konservasi, dan secara nyata memberi manfaat serta dampak positif langsung baik bagi pengembangan kawasan wisata edukasi konservasi alam maupun bagi budidaya tanaman obat-obatan yang dapat digunakan untuk pengobatan tradisional, maka menjadi kebutuhan krusial menjaga dan melindungi keberadaan kawasan agar terus mendatangkan manfaat. Oleh karena itu, setiap orang sesuai dengan profesi dan keahliannya masing-masing, penting perannya menjadi bagian dari rencana mempertahankan keberlangsungan keanekaragaman hayati sebagai komponen terbesar yang ada di dalam ekosistem. Sebagai penyuluh kehutanan misalnya, dapat memainkan peran dalam mensosialisasikan baik kepada masyarakat sekitar maupun kepada masyarakat umum lainnya melalui berbagai metode dan media yang ada. Sehingga dengan gerak bersama, melalui kegiatan-kegiatan sederhana yang dimulai dari diri sendiri dan memanfaatkan segala potensi yang ada, diharapkan dapat memberi efek atau dampak positif bagi keanekaragaman hayati. Ingat bahwa keragaman hayati bukanlah warisan, melainkan titipan anak cucu kita yang perlu terus dilestarikan keberadaannya….. Sumber : Alamuddin Sahputra, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Jaga Kelestarian Hutan, BBKSDA Jatim Gelontor Bantuan di Bawean

Pulau Bawean, 21 Mei 2022. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melakukan penyerahan bantuan pengembangan usaha kelompok dan bantuan modal kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Putra Daun, 21 Mei 2024. Kegiatan yang sekaligus pembinaan KTH dilaksankan di pendopo wisata mangrove, Desa Daun – Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. Tahun-tahun sebelumnya BBKSDA Jatim juga telah menggelontorkan bantuan kepada KTH. Mustika Aren (2022) dan KTH. Mutiara Madu (2023), masing-masing telah mendapatkan bantuan pengembangan usaha sebesar 28 juta rupiah. Saat ini KTH. Mutiara Madu telah sekali memetik hasil panen madu senilai 9 juta rupiah, digunakan untuk pengembangan usaha dengan menambah stup lebah madu dan trigona. Sedangkan KTH. Mustika Aren yang berusaha di produk Aren, selama kurun waktu Juni – Desember 2023 telah memiliki omset tak kurang dari 134 juta rupiah. Dalam kesempatan tersebut Kepala Seksi KSDA Wilayah III, Gatut Panggah Prasetyo, menyampaikan bahwa kekuatan ekonomi yang sebenarnya adalah di tingkat desa, oleh sebab itu penguatan ekonomi di tingkat hilir harus dibangun. “Salah satunya melalui kementerian LHK, dalam hal ini BBKSDA Jatim, dengan program pengembangan usaha ekonomi produktif sekitar kawasan konservasi. Dengan kuatnya ekonomi masyarakat dan meningkatnya kesadaran masyarakat, maka kelestarian kawasan konservasi akan dapat lebih terjaga,” ujar pria asli Kediri ini. KTH. Putra Daun sendiri mendapatkan bantuan usaha awal senilai 40 juta rupiah, yang rencananya akan digunakan untuk kegiatan usaha kepiting. Penggunaan anggaran akan disesuaikan dengan proposal dan atau Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang telah disampaikan masing-masing kelompok. Husni, Sekretaris Kecamatan Sangkapura, selaku wakil dari pemerintah daerah Bawean, berterima kasih kepada Kementerian LHK yang telah memberi perhatian untuk masyarakat Bawean. “Semoga bantuan ini bermanfaat serta menambah ilmu dan kondisi perekonomian sehingga mampu meningkatkan taraf hidup mereka,” imbuh Husni. Di akhir kegiatan, tim juga mengingatkan agar KTH yang sudah mendapatkan bantuan terus melaporkan progres usaha yang dijalankannya kepada kepala desa dan camat setempat. Agar perhatian dari pemerintah daerah lebih intensif dan mengetahui bahwa kelompok di Pulau Bawean telah mampu dan berdaya untuk membangun perekonomian lokal. Sumber : Agus Irwanto, Gatut Panggah Prasetyo, S.P., M.Sc. (Kepala Seksi KSDA Wilayah III Surabaya) dan Eka Heryadi, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Ahli Muda Seksi KSDA Wilayah III Surabaya) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai TNGM Hadir dalam Sosialisasi Indonesia’s FOLU Net Sink 2030

Yogyakarta, 21 Mei 2024. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) turut hadir dalam Agenda Sosialisasi “Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang merupakan komitmen dari Indonesia untuk menghadapi perubahan iklim, pemanasan global atau juga emisi gas rumah kaca. Kegiatan ini dilaksanakan di hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta, 20 – 21 Mei 2024. Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berkomitmen untuk mengurangi dampak perubahan iklim dengan target capaian tingkat emisi gas rumah kaca 140 Juta Ton CO2 pada tahun 2030, atau dengan kata lain serapan karbon lebih besar dari emisi gas rumah kaca (GRK). Komitmen ini salah satunya dilakukannya kegiatan Sosialisasi Indonesia’s Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 region Jawa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Komitmen Indonesia dalam menyikapi isu perubahan iklim ini telah disampaikan kepada dunia internasional sejak Paris Agreement yang diratifikasi melalui Undang-Undang no.16 Tahun 2016 tentang Pengesahan Paris Agreement To The United Nations Framework Convention On Climate Change (Persetujuan Paris Atas Konvensi Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai Perubahan Iklim). Dalam komitmen ini dituangkan juga startegi jangka panjang untuk membatasi kenaikan rata-rata suhu global dibawah 2° Celsius dari tingkat pre industrialisasi dan terus berupaya untuk membatasi kenaikan suhu hingga 1,5° Celsius. Selain terkait rata-rata suhu global, juga pada aspek emisi GRK, dimana target penurunan emisi GRK ini pada angka 31,89% (CM1) dengan upaya sendiri dan sampai 43,20% (CM2) dibandingkan business as usual dengan dukungan Internasional pada tahun 2030. Strategi dalam mewujudkan capaian Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, yaitu dengan mencegah terjadinya kerusakan hutan atau deforestrasi, mencegah terjadinya kebakaran hutan. Hal ini diimplementasikan dalam tim Kerja FOLU Net Sink 2030. Tim kerja ini terbagi dalam Bidang Pengelolaan Hutan Lestari, Bidang Peningkatan Cadangan Karbon, Bidang Konservasi serta didukung Bidang Instrumen dan Informasi. Dalam kesempatan ini tim kerja memaparkan materi Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 yang sesuai dengan kewilayahan Sub Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk kewilayahan DIY yang mempunyai luasan tutupan hutan ± 6,92% dari luas total daratan tentu masih kurang dari kecukupan tutupan hutan. Disisi lain DIY mempunyai area lahan kritis dan sangat kritis mencapai ± 72,294 Ha adalah potensi untuk menjadi aksi mitigasi pengurangan emisi GRK di wilayah DIY. Peluang pengelolaan lahan kritis ini dengan melibatkan masyarakat dalam bentuk Hutan Kemasyarakatan atau lebih dikenal Hutan Rakyat di DIY akan lebih mudah, mengingat sejarah Hutan Wanagama yang menunjukan keberhasilan menghutankan kembali lahan kritis menjadi hijau dengan keterlibatan masyarakat. Sosialisasi pada Sub Nasional DIY melibatkan para pihak baik instansi terkait, akademisi, pemerintah daerah, kelompok masyarakat dan para praktisi dan para pakar lingkungan dan kehutanan. Turut serta dalam pembukaan sosialisasi dengan ditandai pemukulan gong oleh Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bidang Industri dan Perdagangan Internasional didampingi oleh Ketua Harian I Tim Kerja Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY dilanjutkan penyerahan simbolis Buku Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 dan bibit tanaman pohon lokal Sawo Kecik kepada Gubernur DIY yang diwakili oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY, Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang dan Kepala Dinas Tata Pemerintahan DIY. Sosialisasi Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 khususnya Sub Nasional DIY bisa menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Kerja secara kolaborasi dari seluruh instansi pemerintah dan non pemerintah dapat mengawal sehingga target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 dapat tercapai. Pada kesempatan terpisah, Kepala BTNGM, Muhammad Wahyudi, menyampaikan pengelolaan kawasan konservasi TNGM mempunyai peran penting dalam pencapaian target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Diantaranya melalui pemantapan kawasan tetap terjaga, kelestarian kawasan yang dikolaborasikan bersama masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat seperti akses Hasil Hutan Non Kayu (HHBK), percepatan pemulihan ekosistem bersama masyarakat, pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan serta yang tak kalah penting adalah adaptasi mitigasi pengelolaan atas dinamika vulkanik Gunung Merapi. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Workshop Pendampingan Kelompok Pengelola Destinasi Wisata Alam Non Pendakian

Lombok Timur, 21 Mei 2024. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) menyelenggarakan Workshop Pendampingan Kelompok Pengelola Destinasi Wisata Alam Non Pendakian Tahun 2024, Selasa (14/5/2024). Workshop ini dilaksanakan di ruang pertemuan PT JOBEN Evergreen Otak Kokok Joben, Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan Workshop ini diselenggarakan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas kelompok pengelola destinasi sekaligus menjadi wadah pembinaan dan sosialisasi aturan oleh petugas Balai TNGR. Workshop dibuka oleh Kepala SPTN Wilayah II dan dihadiri 25 orang peserta yang berasal dari 14 kelompok pengelola destinasi wisata alam non pendakian di TNGR. Materi workshop berkaitan dengan aktivitas pelayanan wisata yang dilakukan kelompok pengelola destinasi diantaranya materi terkait kebijakan pengelolaan wisata alam di TNGR dan Mekanisme PBPJWA di TNGR yang disampaikan oleh Pokja WCM Balai TNGR, Kebijakan Pengelolaan Wisata Alam di Kabupaten Lombok Timur oleh Kepala Dinas Pariwisata Kab. Lombok Timur, Penerapan Aplikasi eRinjani pada Destinasi Wisata Alam Non Pendakian oleh Direktur CV Sasambo Solusi Digital dan Pembuatan Bahan Promosi (Fotografi dan Videografi) oleh Geopark Rinjani Lombok. Setelah penyampaian materi workshop dilanjutkan dengan diskusi, berbagi pengalaman dan kendala yang dihadapi oleh kelompok pengelola destinasi. Kegiatan workshop ini diharapkan dapat berkontribusi untuk menambah informasi, keterampilan serta kemampuan kelompok pengelola destinasi guna mewujudkan pengelolaan destinasi wisata alam non pendakian yang semakin baik kedepannya. Sebagai informasi saat ini TNGR memiliki 21 destinasi wisata alam non pendakian dan 14 diantaranya telah dilakukan pemungutan PNBP oleh petugas Balai TNGR dengan dibantu oleh Pokdarwis/kelompok binaan. Selain membantu proses pemungutan PNBP, Kelompok juga membantu menjaga kebersihan Destinasi sekaligus menawarkan paket perjalanan wisata termasuk jasa pemanduan kepada wisatawan. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Workshop I Penyusunan Rencana Kerja Folunet Sink 2030 Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

Sleman, 21 Mei 2024. Setelah terlaksananya Sosialisasi Indonesia's Forestry and Land Uses Net Sink 2030 dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), maka proses kelanjutannya adalah Workshop Penyusunan Rencana Kerja FoluNet Net Sink 2030 untuk Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 21 Mei 2024. Sebagai acuan penyusunan ini adalah Rencana Operasional FOLUNet Sink 2030 tingkat Nasional, kemudian Rencana Operasional FOLUNet Sink 2030 Region Jawa. Secara nasional Rencana Operasional mencakup 15 Rencana Operasional (RO). maka untuk wilayah DIY, maka hanya ada 6 (RO) yaitu; pencegahan degradasi dan deforestasi, aksi mitigasi pembangunan hutan tanaman, aksi mitigasi peningkatan cadangan karbon dengan rotasi, aksi mitigasi peningkatan cadangan karbon non rotasi, aksi mitigasi perlindungan area konservasi tinggi, dan aksi mitigasi pengelolaan mangrove. Dengan Keistimewaan DIY, maka capaian FoluNet Sink 2030 ini sebenarnya sudah sejalan dengan program DIY seperti Program Jogja Hijau yang berbasis tingkat kelurahan, selain itu juga melekatnya filosofi “memayu hayuning bawana” adalah filosofi atau nilai luhur tentang kehidupan dari kebudayaan Jawa. Memayu hayuning bawana jika diartikan pelaksanaannya adalah "sustainable development" atau membangun secara lestari. Begitu pula kawasan Konservasi di wilayah DIY terdiri dari Taman Nasional Gunung Merapi (untuk wilayah Sleman-DIY), Cagar Alam Imogiri, Suaka Margasatwa Palian dan Suaka Margasatwa Sermo serta Taman Wisata Alam Gamping, dimana program pengelolaannya menjadi bagian dari Rencana Operasional Aksi Mitigasi Perlindungan Area Konservasi Tinggi. Tim penyusunan Dokumen Rencana Kerja ini meliputi para pihak yaitu Pemerintah Pusat (meliputi UPT lingkup KLHK DIY), Dinas LHK DIY, akademisi (tenaga ahli/tim teknis), para pakar dan kelompok masyarakat dan lembaga non pemerintahan. Tahapan penyusunan ini meliputi workshop tahap 2, tahap 3 dan furum diskusi lain jika diperlukan. Target tata waktu penyusunan Rencana Kerja FoluNet Sink 2030 DIY dapat diselesaikan pada bulan Agustus 2024 yang disahkan oleh Kepala daerah Gubernur Daerah istimewa Yogyakarta. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi ****
Baca Artikel

FGD Rencana Pemberdayaan Masyarakat

Kabanjahe, 21 Mei 2024. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Ketua Pokja Pemberdayaan Masyarakat dan Bina Cinta Alam Samuel Siahaan, SP., bersama dengan Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang Tuahman Raya, S.Sos memandu FGD (Focus Group Discussion) Penyusunan Dokumen Rencana Pemberdayaan Masyarakat, yang dilaksanakan di Kantor Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe. Kegiatan FGD ini merupakan langkah penting, karena mengundang berbagai pihak (stakeholder) untuk dapat membantu memberikan saran dan masukan sehingga nantinya dokumen rencana pemberdayaan masyarakat menjadi tepat sasaran. Pada kegiatan FGD ini, bertindak sebagai fasilitator adalah Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.P. dan dihadiri berbagai stakeholder antara lain Kepala Resort kawasan konservasi lingkup Bidang KSDA Wilayah I, masing-masing : Kepala Resort (Karest) TWA Danau Sicike-cike, Karest TWA Lau Debuk-debuk, Karest TWA Deleng Lancuk, Karest SM Siranggas, Karest SM Karang Gading Langkat Timur Laut, dan Karest TWA/CA Sibolangit. Selain itu juga dihadiri oleh beberapa Kepala Desa sekitar kawasan konservasi, seperti dari Desa Tinada, Kecamatan Tinada, Desa Doulu Kecamatan Berastagi dan Desa Kuta Gugung Kecamatan Namanteran Kabupaten Karo, dan tak lupa pula mitra Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang dapat membantu dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, yaitu Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Wisata Alam Sibolangit, Yayasan TAHUKAH dan COP. Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi merupakan salah satu tupoksi Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam upaya menjaga kawasan konservasi dengan bekerja bersama stakeholder terdekat di tingkat tapak, yaitu masyarakat desa sekitar kawasan konservasi. Dalam perencanaan kegiatan pemberdayaan masyarakat perlu disusun dokumen rencana pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi dalam satu periode yaitu 5 tahun. Dokumen rencana pemberdayaan masyarakat yang disusun saat ini adalah periode 2025-2029 dan dokumen ini yang akan menjadi acuan selama 5 tahun kedepan dalam upaya pemberdayaan masyarakat. Adanya dokumen rencana pemberdayaan masyarakat ini akan menampung berbagai saran masukan dalam hal upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan mengikutsertakan peran pemerintahan desa namun tetap berbasis menjaga dan melestarikan kawasan konservasi di sekitar desa tersebut. Harapannya dokumen rencana pemberdayaan masyarakat yang disusun sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar kawasan konservasi sehingga hutan lestari dan masyarakat sekitar kawasan yang Sejahtera dapat terwujud. Foto bersama seluruh peserta FGD Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menciptakan ASN Bertalenta Digital, Balai TN Taka Bonerate Gelar Peningkatan Kapasitas

Benteng - Kepulauan Selayar, 20 Mei 2024. Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate menggelar kegiatan Peningkatan Kapasitas Personil Resort bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dengan tema Penggunaan Aplikasi SMART PATROL & Optimalisasi Implementasi Sistem Manajemen Data Taman Nasional Taka Bonerate (SiMataTaka) untuk mendukung pengelolaan taman nasional Taka Bonerate berbasis resort (tapak), Minggu (19/5). Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 19 hingga 21 Mei 2024 di Rayhan Square Hotel, yang dibuka oleh Plt. Kepala Balai TN Taka Bonerate Raduan, SH.,M.A.P dengan dihadiri oleh 35 peserta dari tenaga fungsional Polhut, PEH dan Penyuluh Balai TN Taka Bonerate, serta 12 orang dari anggota Masyarakat Mitra Polhut. "Dengan adanya kegiatan peningkatan kapasitas dan optimalisasi sistem manajemen data ini diharapkan teman-teman di tingkat tapak semakin bersemangat mengumpulkan data spasial, apa lagi akan dibantu oleh anggota MMP," ujar plt. Kepala Balai disela-sela sambutannya. Salah satu tujuan dalam kegiatan ini adalah meningkatkan skill personil di resort dan anggota Masyarakat Mitra Polhut serta menciptakan Asn bertalenta digital. Peningkatan Kapasitas ini dilaksanakan atas kerjasama Balai TN Taka Bonerate dengan mitra WCS_IP. Adapun materi-materi yang dipaparkan pada sesi pertama adalah tentang kebijakan tata kelola data dan informasi Balai TN Taka Bonerate yang dibawakan oleh Usman, S.Hut.,MP, terus dilanjutkan materi kedua oleh Taufik Hidayat, S.Kom dengan materi Sistem Manajemen Data Taman Nasional Taka Bonerate (SiMATA TAKA), kemudian materi ketiga manajeman Data Spasial untuk Mendukung Pengelolaan Berbasis Resort yang dibawakan oleh Asri, S.Sos. Dengan moderator Saleh Rahman, SP., M.Sc dan Khoirul Anam, S.Kel. Setelah Ishoma dilanjutkan sesi kedua dengan pemaparan Implementasi Resort Base Management (RBM) dari seluruh resort. Keesokan harinya akan dilanjutkan dengan materi-materi tentang operasional aplikasi-aplikasi smart patrol dan prakteknya dilapangan dengan pemateri dari Balai TN Taka Bonerate dan WCS-IP. Sumber: Fahmi Syamsuri - Koordinator Polhut, Andi Rezki Mutmainnah - PEH Ahli Pertama Sumber Foto & Video : Arsil - WCS IP Editor : Asri - Humas Balai TN Taka Bone
Baca Artikel

UPT KLHK Lingkup Provinsi Kalsel Peringati Hari Kebagkitan Nasional 2024

Banjarbaru, 20 Mei 2024 – Upacara Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2024 kali ini bertepatan pada hari Senin yang diselenggarakan di halaman Kantor BPSILHK Banjarbaru. Upacara dipimpin oleh Plt. Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan Suwandi, S.Hut., M.A dan diikuti oleh pejabat dan pegawai di lingkup UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kalimantan Selatan. Hari-hari ini kita dihadapkan pada suatu realitas yang terpampang terang yakni, kemajuan teknologi yang melesat cepat. Kita sudah memilih bukan hanya ikut-serta, tetapi lebih daripada itu, menjadi pemain penting agar dapat menggapai dunia. Hari-hari ini hingga dua dekade ke depan merupakan momen krusial yang akan sangat menentukan langkah kita dalam mewujudkan itu semua. Kita berada pada fase kebangkitan kedua, melanjutkan semangat kebangkitan pertama yang telah dipancangkan para pendiri bangsa. Berbeda dengan perjuangan yang telah dirintis lebih dari seabad yang lalu, kini kita menghadapi beragam tantangan dan peluang baru. Kemajuan teknologi menjadi penanda zaman baru. Dalam sambutan Menteri Komunikasi dan Informatika RI yang dibacakan Plt. Kapala Balai KSDA Kalsel Suwandi, S.Hut., M.A. menyampaikan ” Kebangkitan kedua merupakan momen terpenting bagi kita hari ini. Kita harus menatap masa depan dengan penuh optimisme, kepercayaan diri, dan keyakinan. Kemajuan telah terpampang di depan mata. Momen ini mesti kita tangkap agar kita langgeng menuju mimpi sebagai bangsa. Tidak mungkin lagi bagi kita untuk berjalan lamban, karena kita berkejaran dengan waktu. Di titik inilah, seluruh potensi sumber daya alam kita, bonus demografi kita, potensi transformasi digitalkita, menjadi modal dasar menuju “Indonesia Emas 2045”. Upacara berjalan dengan khidmat meskipun diselenggarakan dengan cuaca yang cukup panas. “Ratusan lidi akan tercerai berai, tidak berguna, dan mudah patah jika tidak diikat, namun jika lidi-lidi tersebut disatukan dan diikat maka tak akan ada yang mampu mematahkannya. Demikian pula rakyat Indonesia yang harus menjaga persatuan dan kesatuannya. Apalah artinya pembangunan yang masif jika masyarakatnya terpecah belah”. (Ryn) Sumber: Hamsan, S.E. - Humas BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

SMK Penerbangan Medan “Landing” di TWA Sibolangit

Sambil belajar sambil menikmati keindahan TWA Sibolangit Sibolangit, 20 Mei 2024. Suasana berbeda pagi itu, Sabtu 18 Mei 2024, tampak terlihat di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, manakala serombongan anak muda memasuki kawasan wisata alam tersebut. Usut punya usut, ternyata rombongan ini berasal dari SMK Manajemen Penerbangan Medan yang dikelola Yayasan Citra Darma Riau, sedang “landing” di TWA Sibolangit. Lengkap dengan uniform (seragam) dan atribut, layaknya pilot dan pramugari/pramugara, 33 orang siswa/siswi bersama guru pendamping sedang melaksanakan study tour yaitu berwisata sekaligus belajar tentang konservasi alam TWA Sibolangit. Kunjungan ini menjadi langka, mengingat selama dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, mereka dijejali/dibekali dengan ilmu pengetahuan teknis dan praktis tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia penerbangan. Namun ini kemudian menjadi menarik karena belajar sesuatu yang baru, yang belum pernah didapatkan saat dibangku sekolah SMK Manajemen Penerbangan, setidaknya itulah yang terpancar dari raut wajah mereka. Selama di kawasan TWA Sibolangit, dengan didampingi Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit beserta staf, siswa/siswi mendapatkan penjelasan tentang keberadaan kawasan TWA Sibolangit beserta dengan potensi yang ada baik flora, fauna maupun potensi wisatanya. Selain itu, berkesempatan juga mengelilingi kawasan dan melihat langsung Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit sebagai tempat perawatan sekaligus tempat rehabilitasi sementara satwa-satwa hasil penyerahan masyarakat maupun dari hasil penanganan tindak pidana oleh aparat penegak hukum, sebelum nantinya dilepasliarkan ke habitat alaminya. Beberapa dari peserta mengajukan pertanyaan-pertanyaan pendalaman dan oleh petugas diberi penjelasan. Sampai akhirnya tak terasa waktu berkunjung pun berakhir, siswa/siswi bersama guru pendamping merasa puas. Sebelum melanjutkan perjalanan perwakilan dari rombongan menyampaikan terima kasih atas pelayanan yang diberikan oleh petugas dan berjanji akan mengagendakan kembali kunjungan ke TWA Sibolangit. Sumber : Suparman, SP. (Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Inventarisasi Potensi Kehati Tinggi di PT ANJ Agri

Potensi kehati di areal perkebunan PT. ANJ Agri Simangambat, 17 Mei 2024. Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, mengatur tentang Pengelolaan Kawasan Lindung dan Areal Bernilai Konservasi Tinggi pada Perkebunan Kelapa Sawit, dengan indikator diantaranya : memiliki hasil identifikasi kawasan lindung dan areal bernilai konservasi tinggi, memiliki SOP pemeliharaan kawasan lindung dan areal bernilai konservasi tinggi, melakukan kegiatan dalam rangka menjaga kawasan lindung dan nilai konservasi tinggi, serta melaporkan kepada instansi yang berwenang. Khusus terkait dengan konservasi keanekaragaman hayati, beberapa indikatornya ditetapkan : memiliki SOP pelestarian keanekaragaman hayati, memiliki daftar jenis tumbuhan dan satwa prioritas baik di kebun maupun sekitar kebun sebelum dan sesudah usaha perkebunan, memiliki laporan keberadaan tumbuhan dan satwa prioritas yang disampaikan kepada instansi yang menangani konservasi dan perlindungan tumbuhan dan satwa liar, melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat mengenai keberadaan tumbuhan dan satwa prioritas jika terdapat tumbuhan dan satwa yang dilindungi, serta penanganan apabila ditemukan insiden dengan satwa prioritas dan atau satwa liar. PT. Austindo Nusantara Jaya (ANJ) Agri, merupakan salah satu perkebunan kelapa sawit yang ada dan beroperasi di Sumatera Utara, tepatnya di Simangambat Julu, Kecamatan Simangambat, Kabupaten Padang Lawas Utara. Untuk memenuhi ketentuan seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2022 tersebut, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang, sebagai instansi yang menangani konservasi dan perlindungan tumbuhan dan satwa liar, melakukan kegiatan Inventarisasi Potensi Kawasan Dengan Keanekaragaman Hayati Tinggi di luar kawasan konservasi di PT. ANJ Agri, pada tanggal 7-8 Mei 2024. Kegiatan Inventarisasi tersebut dimaksudkan untuk memantau dan memonitor pelaksanaan serta penerapan dari Peraturan Menteri Pertanian Nomor 38 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Sertifikasi Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia, Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati Dalam Pembangunan Berkelanjutan, Instruksi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : INS.1/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2022 tanggal 17 Juni 2022 tentang Perlindungan Satwa Liar Atas Ancaman Penjeratan dan Perburuan Liar di Dalam dan di Luar Kawasan Hutan, serta Standar Operasional Prosedur (SOP) Nomor : SOP.1/KSDAE/SET.3/KSA.2/12/2022 tanggal 7 Desember 2023 tentang Perlindungan Satwa Liar di Dalam dan di Luar Kawasan Hutan. Inventarisasi dilaksanakan oleh Tim Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang didampingi personil PT. ANJ Agri, di zona NKT (Nilai Konservasi Tinggi) yang ada di PT. ANJ Agri dengan tanaman kayu keras yang cukup beragam, diantaranya Ketapang, Mahoni, Sengon, Waru hingga Bambu. Dari pengamatan Tim di lapangan, PT. ANJ Agri aktif dalam pengelolaan kawasan dengan Nilai Konservasi Tinggi yang ada di wilayah perkebunannya, yang meliputi radius penanaman atau penanaman kembali sawit yang dibatasi minimal 30 – 50 Meter dari tepi sungai / aliran sungai. PT. ANJ Agri juga sudah memulai pusat persemaian tanaman guna pengayaan kawasan NKT Di zona NKT lainnya terdapat jungle track di hutan kayu keras sekitar aliran sungai Sionggoton yang ditumbuhi beberapa jenis kayu, seperti meranti dan ansana. Selain itu terdapat juga lapangan bola yang di sekelilingnya ditanami berbagai jenis tanaman kayu keras diantaranya ketapang dan buah-buahan. Terkait satwa liar, dijumpai beberapa monyet ekor panjang, burung Rangkok, dan lain-lain. Menjadi catatan penting pula, PT ANJ Agri merupakan salah satu perkebunan yang telah memperoleh penghargaan Proper dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, masing-masing Proper Hijau tahun 2020, Proper Emas tahun 2021, Proper Emas tahun 2022 dan Proper Emas tahun 2023. Diakhir kegiatan inventarisasi, Tim mengapresiasi dan mengharapkan agar PT. ANJ Agri tetap mempertahankan dan terus meningkatkan kinerja positifnya, terutama dalam pengelolaan kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi. Sumber : Suyono, SH., M.Si. (Kepala SKW VI Kota Pinang) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

SiMataTaka, Upaya Peningkatan Pelayanan Informasi Digital

Benteng - Kepulauan Selayar, 16 Mei 2024. Balai Taman Nasional Taka Bonerate menggelar rapat pembahasan tugas dan peran tim efektif dalam rangka persiapan pelaksanaan Rencana Aksi Perubahan Kualitas Pelayanan Publik "Optimalisasi Implementasi Sistem Manajemen Data Taman Nasional Taka Bonerate SiMataTaka". Rapat ini dipimpin langsung oleh Plt. Kepala Balai Raduan, SH., M.A.P dengan pemateri Kepala Sub Bagian Tata Usaha Usman, S.Hut., MP yang dihadiri oleh Tim Efektif Optimalisasi SiMataTaka yang sudah di tunjuk oleh Plt. Kepala Balai dan Staf Balai. "Kawan-kawan yang ditunjuk dalam Surat Keputusan Kepala Balai tersebut merupakan orang-orang pilihan yang nantinya siap untuk membantu pelaksanaan Aksi Perubahan ini," ujar Plt. Kepala Balai disela-sela arahan pertemuan. Setelah arahan dari Plt. Kepala Balai dilanjutkan dengan pemaparan materi Rencana Aksi Perubahan dan Optimalisasi SiMata Taka oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha. "Sebagaimana kita ketahui, untuk peningkatan layanan publik berbasis digital, Balai Taman Nasional Taka Bonerate telah memiliki sistem informasi manajemen dengan nama SiMATA-TAKA (Sistem Manajemen Data Taman Nasional Taka Bonerate). Sistem ini dibangun dengan tujuan mengintegrasikan data tematik (data perlindungan, pengawetan, pemanfaatan dan pemberdayaan masyarakat) untuk mensupport pengambilan kebijakan dan penyebarluasan informasi," Jelas Ka Subag Tata Usaha. Dalam rapat pembahasan ini ditetapkan pula uraian tugas dan tata waktu pelaksanaan tim yang ditunjuk. "Untuk jangka panjang (2 tahun) diharapkan telah terintegrasi system informasi New SiMata Taka," tutup Ka Subag Tata Usaha Balai TN Taka Bonerate, Usman. Sumber: Asri - Humas Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Jadi Kader Konservasi Asik

Kediri, 15 Mei 2024. Sebanyak 35 aktivis dan penggiat konservasi lingkungan dari Jombang, Kediri dan Tulungagung kompak menuju Rumah Jawa, sebuah resto berkonsep rumah tradisional dengan pemandangan pedesaan di Gurah, Kediri. Mereka memenuhi undangan BBKSDA Jawa Timur untuk mengikuti kegiatan Pembentukan Kader Konservasi Tingkat Pemula pada 14 hingga 15 Mei 2024. Para aktivis disambut langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan. Dalam sambutannya beliau berpesan, Kader Konservasi harus mampu bekerja ikhlas, bekerja cerdas, bekerka keras, dan bekerja tuntas. Walaupun judulnya pembentukan, tetapi acara tersebut sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai pengukuhan saja. Karena para calon kader konservasi yang hadir tak lain para suhu dalam bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem di daerah asalnya. Mulai dari aktivis yang lihai dalam menyemai bibit tumbuhan hutan, pelaku penghijauan lahan kritis, penyelamat primata dari eksploitasi topeng monyet, penyelamat ikan lokal, hingga aktivis yang fokus dalam pembersihan dan pengelolaan sampah. Meskipun begitu, mereka tetap antusias mengikuti pemaparan dan diskusi dengan para narasumber. Adapun materi yang disajikan merupakan materi-materi wajib dalam pembentukan kader konservasi tingkat pemula. Mulai dari kehutanan umum, kepemimpinan, dasar ekologi, dasar konservasi, flora-fauna Indonesia, bina cinta alam, wisata alam hingga materi PPPK dan SAR. Tidak hanya ceramah, tanya jawab dan diskusi, peserta juga mengikuti praktek lapangan di Cagar Alam Manggis Gadungan dengan penuh semangat. Sebuah semboyan tercipta secara spontan di penghujung acara, ”Kader Konservasi, berkarya sampai mati!” Sebuah semboyan yang menggambarkan semangat untuk berkarya sepanjang hayat dikandung badan. Kami tunggu karya nyata selanjutnya, Bravo Kader Konservasi Indonesia! Sumber : Siti Nurlaili - PEH Muda Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 801–816 dari 2.298 publikasi