Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kelompok Kemitraan Konservasi TWA Pelaihari “KTH TANI LESTARI”

Pelaihari, 27 Mei 2024 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan (BKSDA Kalsel) menyelenggarakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kelompok Kemitraan Konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Pelaihari “KTH TANI LESTARI” di Resort TWA Pelaihari, Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Pelaihari, Tanah Laut. Pelatihan Peningkatan Kapasitas Kelompok Kemitraan Konservasi merupakan Agenda Rutin Tahunan BKSDA Kalimantan Selatan yang dilakukan pada KTH Binaan Resort TWA Pelaihari yang dihadiri Debi Imam Saputra, S.Hut. selaku perwakilan Kepala Seksi Wilayah 1 Pelaihari, Seluruh Staf SKW I Pelaihari, Sulyo dan Hartono sebagai Pemateri dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), Sirajudin dan H.Darlani sebagai Perwakilan Kecamatan Pelaihari, Ketua dan Anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Tani Lestari, serta beberapa perwakilan Desa setempat. Dalam Pelatihan yang dimoderatori oleh Ahmad Fauzan, S.Hut. selaku Penyuluh Kehutanan SKW 1 Pelaihari, ada 2(dua) materi yang disampaikan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP). Sesi pertama diisi oleh Sulyo dari Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pelaihari dengan materi “Budidaya Semangka Non Biji dan pemasarannya”. Sesi Kedua diisi oleh Hartono dengan materi “Budidaya Tanaman Cabai”. Peserta KTH sangat antusias pada saat mendengarkan penyampaian materi yang sedang berlangsung, dan diakhir sesi diberikan kesempatan tanya jawab terkait materi atau permasalahan yang sedang dihadapi KTH Tani Lestari. Dalam arahannya Plt. Kapala Balai KSDA Kalsel Suwandi, S.Hut., M.A. mengatakan dengan adanya Kemitraan Konservasi, masyarakat bisa membantu upaya pelestarian hutan, karena masyarakat merupakan pihak yang menjadi ujung tombak dalam upaya pelestarian kawasan hutan. Dengan dilaksanakannya Pelatihan ini dapat meningkatkan kapasitas KTH dalam memajukan kegiatan kelompoknya serta mempererat hubungan kemitraan dengan BKSDA Kalimantan Selatan. (Ryn) Sumber: Revina Rizqidia E. S., S.Hut. - Penyuluh SKW I Pelaihari Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Biodiversity Festival 2024 Bersama GLI dan GYM

Narasumber dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Samuel Siahaan, SP. menyampaikan materi Medan, 31 Mei 2024. Green Leadership Indonesia (GLI) dan Green Youth Movement (GYM) Green Ambasaddor bersama UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara beserta lembaga mitra kerjasama memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional (International Day for Biodiversity) atau IDB Tahun 2024 dengan kegiatan Biodiversity Fest (BioFest) Goes to School, mengusung tema "Be Part of The Plan". Giat ini diselenggarakan di Sekolah SMKN 3 Medan Jl. STM Medan pada Kamis, 30 Mei 2024. Tema tersebut merupakan seruan menghentikan kepunahan dan memulihkan keanekaragaman hayati, mencari solusi, berbagi informasi tentang komitmen dan upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah, organisasi maupun individu/kelompok untuk konservasi spesies. Mengembangkan kolaborasi antara lembaga pemerintah dan organisasi yang berkomitmen untuk menyelamatkan spesies, meningkatkan komitmen dan tindakan yang spesifik dan terukur terhadap pemulihan spesies, mendiskusikan kemungkinan replikasi strategi dan upaya yang berhasil dilakukan, serta menetapkan keberhasilan pemulihan spesies sebagai target kolektif. Kegiatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2024 tersebut digagas oleh generasi muda binaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yaitu Green Leadership Indonesia (GLI) dan Green Youth Movement (GYM) Green Ambassador Sumatera Utara bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser, Balai Pengelolaan DAS Wampu Sei Ular dan lembaga mitra kerjasama. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan yaitu lomba infografis, talk show ekowisata dan satwa endemik, pameran konservasi, dan penanaman pohon secara simbolis dalam upaya pelestarian lingkungan dan mitigasi perubahan iklim yang diikuti peserta lebih 110 orang. Giat pameran bersama lembaga mitra kerjasama Pada sambutan pembukaan oleh Kepala Sekolah SMK Negeri 3 Medan, Asnah S.Pd, M.Si., menyambut baik pelaksananan kegiatan ini dan diharapkan terus berkelanjutan dan menjadikan sebagai salah satu agenda bagian rangkaian Sekolah SMKN 3 menuju sekolah Adiwiyata yaitu Sekolah yang peduli lingkungan yang sehat, bersih serta lingkungan yang indah. Pada kesempatan baik tersebut, Kepala Sekolah menyerukan kepada seluruh siswa/i anak didiknya untuk bergerak menerapkan pola hidup Go Green seperti hemat energi listrik, buang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan serta menata lingkungan yang asri dengan menanam pohon. Pada sesi Talkshow menampilkan dua tema yaitu “Pengembangan dan Promosi Ekowisata Dalam Upaya Perlindungan Kehati” oleh Tim Kerja Bina Cinta Alam Balai Besar KSDA Sumatera Utara Samuel Siahaan dan tema kedua “Jenis Fauna dan Flora Endemik dan Upaya Perlindungannya” oleh Tim Kerja Perencanaan dan Pengawetan Balai Besar TN. Gunung Leuser Iskandar. Kedua tema membahas tentang pengenalan keanekaragaman hayati di kawasan konservasi di Balai Besar KSDA Sumatera Utara TWA. Sibolangit, ANECC dan berbagai upaya penyelamatan satwa yang telah dilakukan, serta dari Balai Besar TN. Gunung Leuser mengenalkan kawasan Taman Nasional Gunung Leuser potensi flora dan fauna serta wisata alam. Disesi ini juga dibuka diskusi dan kuis konservasi berhadiah yang didukung lembaga mitra kerjasama Rahmat International Wildlife Museum & Gallery berupa tiket masuk gratis ke Gallery. 100 batang bibit pohon bantuan BPDAS Wampu Sei Ular siap ditanam dan dibagikan Pameran Konservasi menampilkan bahan-bahan publikasi buku dan produk serta kegiatan upaya konservasi satwa liar dilindungi jenis Orangutan oleh lembaga mitra kerjasama COP dan YEL SOCP. Sedangkan penanaman pohon dilakukan dilingkungan sekolah dan sekolah sekitarnya oleh siswa dan guru serta Tim pelaksana sebanyak 100 batang jenis pohon buah-buahan seperti durian, alvokat, klengkeng dan mangga yang diperoleh dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Wampu Sei Ular. Disela-sela acara diumumkan juga 3 terbaik pemenang lomba Infografis. Dengan kegiatan ini diharapkan seluruh siswa/i yang mengikuti semakin mengenal keaneragaman hayati Indonesia dan nantinya menjadi pelopor gerakan bagi generasi muda lainya menginspirasi gerakan cinta alam dan lingkungan. Sumber : Samuel Siahaan, SP. (Ketua Tim Kerja Pemberdayaan Masyarakat, Bina Cinta Alam dan Pemanfaatan Jasa Lingkungan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BTN Gunung Merapi Gandeng Wirausahawan Tingkatkan Kapasitas Kelompok Binaan

Klaten, 30 Mei 2024. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) kembali menyelenggarakan pendampingan masyarakat kelompok tani hutan di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, Kamis (30/5). Sasaran pendampingan adalah Kelompok Pengelola Wisata Kalitalang, dengan salah satu tujuan berupa peningkatan kapasitas kelompok khususnya bidang pengelolaan pariwisata alam. Narasumber yang diundang yakni Bapak Wiryawan (Pemilik Medjora Cafe, Kabupaten Karanganyar). Selain itu turut hadir pula Sekretaris Desa Balerante dan Ketua Bumdes Balerante. Narasumber menekankan bahwa dalam pengelolaan wisata alam oleh masyarakat diperlukan strategi dari perencanaan, promosi, manajemen operasional, serta pengelolaan keuangan yang akuntabel. Sekretaris Desa Balerante mengapresiasi pendampingan kelompok. Harapannya dapat memberikan kemajuan yang positif bagi kelompok dan Desa Balerante. Kepala Balai TNGM melalui Plt. Kepala SPTN Wilayah II menyampaikan bahwa pendampingan kepada Kelompok Pengelola Wisata Kalitalang adalah upaya BTNGM menyiapkan masyarakat dalam kegiatan wisata alam yang sejalan dengan kaidah konservasi, sehingga kedepannya dapat bermanfaat untuk kawasan TNGM dan masyarakat. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Menyerap Aspirasi Mayarakat, Susun Rencana Pengelolaan Kawasan Yang Khas Dan Unik

Menyerap aspirasi masyarakat tradisional pemilik hamijon dalam kawasan SM. Dolok Surungan di Lumban Pinasa Medan, 31 Mei 2024. Rencana pengelolaan merupakan dokumen utama dalam pengelolaan kawasan suaka alam, kawasan pelestarian alam dan Taman Buru. Penyusunan rencana pengelolaan adalah bagian dari kegiatan perencanan kawasan selain kegiatan inventarisasi potensi kawasan dan penataan kawasan. Tahun 2024, Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah merencanakan untuk melaksanakan penyusunan dokumen rencana pengelolaan pada 8 kawasan konservasi di lingkup pengelolaannya. Tim Kerja Perencanaan Kawasan Konservasi pada Balai Besar KSDA Sumatera Utara dibantu staf teknis lainnya melaksanakan rangkaian kegiatan diskusi bersama masyarakat yang bermukim di penyangga kawasan konservasi pada 8 Kawasan konservasi yakni Suaka Margasatwa (SM) Dolok Surungan, Cagar Alam (CA) Sibolangit, CA Batu Gajah, CA Martelu Purba, Taman Wisata Alam (TWA) Holiday Resort, CA Batu Ginurit, CA Batu Gajah dan CA Aek Liang Balik. Diskusi masalah sampah di Purba Tongah Kegiatan ini dilaksanakan mulai akhir April sampai dengan Mei 2024. Untuk itu diperlukan berbagai data dan informasi dalam kegiatan pengumpulan data yang dilakukan seefektif dan seefisien mungkin. Diskusi dalam kelompok merupakan satu diantara pilihan kegiatan pengumpulan data yang diharapkan dapat memperkaya informasi terkait potensi hayati dan non hayati kawasan. Ragam informasi penting dan berharga berhasil terekam dalam rangkaian kegiatan ini. Alkisah jenis kemenyan atau dalam bahasan lokal yang disebut dengan Haminjon, merupakan jenis vegetasi yang tumbuh secara merata di dalam kawasan, diakukan masyarakat sebagai hasil tanaman nenek moyang mereka, yang dalam beberapa waktu ditinggalkan dan kemudian diurus kembali oleh keturunannya. Kegiatan ini yang kemudian rentan menimbulkan selisih paham dengan pengelola kawasan, dimana aktivitas masyarakat di dalam kawasan dianggap ilegal. Penduduk sekitar CA Martelu Purba mempertanyakan perubahan nama kawasan yang awalnya disebut dengan Simartolu, karena daerah sekitar ini banyak ditemukan pohon Simartolu dan saat ini nama kawasan menjadi Martelu yang dalam pandangan mereka, tidak memiliki ikatan emosional dengan penduduk setempat. Selain itu tentang masalah sampah yang dibuang di sepanjang jalan tepi kawasan yang sulit untuk diatasi. Juru kunci CA. Batu gajah, marga Sinaga CA. Batu Gajah mengusung fungsi sebagai Cagar Alam dan juga dijadikan sebagai Cagar Budaya. Menurut informasi masyarakat, Batu Gajah sebenarnya adalah makam keluarga keturunan marga Sinaga yang merupakan batu berukir. Adapun makam hanya 1, namun akibat adanya kutukan, kemenangan atas kutukan, dijadikan batu, tergantung jenis dan suruhannya sesuai kutukan yang ada. Di TWA Holiday Resort, masyarakat menyadari bahwa keberadaan Gajah saja tidak cukup untuk menarik minat orang berkunjung ke TWA, masyarakat terpikir untuk melakukan kegiatan wisata alam yang berbasis massal di dalam kawasan untuk tujuan memperkenalkan sisi lain kawasan yang memiliki bentang alam indah dengan sungai membelah kawasan sebagai salah satu potensi alam yang menjadi roh awal penunjukan kawasan sebagai taman wisata alam. Aminuddin Simatupang menceritakan asal muasal Batu Tulis (Batu Ginurit) Masyarakat Kelurahan Bandar Durian yang merupakan penyangga kawasan CA Batu Ginurit, menceritakan wilayah CA Batu Ginurit dikenal sebagai Batu Tulis sebagai perkampungan marga Aritonang Ompusunggu yang merantau dari Bona Pasogit (kampung halaman) ke daerah yang dikenal sebagai Jarinjing. Untuk menandai keberadaan marga mereka disini, diberilah tanda berupa coretan pada dinding tebing kawasan. Pada gua di dekat CA Batu Ginurit masih sering dijumpai satwa landak dan kelelawar. Sejalan pula dengan cerita masyarakat di Desa Kuala Beringin, penyangga CA Aek Liang Balik, yang menyebutkan bahwa daerah Liang Balik awalnya wilayah yang didiami Marga Siahaan dan borunya dari keturunan Naipospos yang merantau juga dari Bona Pasogit. Terdapat kearifan lokal masyarakat sekitar yang dipegang sampai sekarang terkait hasil sungai Liang Balik. Sungai Liang Balik merupakan anak sungai Asahan yang terkenal berarus kuat dan deras, dimana pada bagian dan musim tertentu menghasilkan ikan melimpah yang dapat dipanen masyarakat. Masyarakat memiliki kepercayaan untuk meninggalkan ikan hasil panennya dari sungai tersebut di hutan sekitar sungai untuk makanan Harimau Sumatera, daerah ini masih merupakan lintasan Harimau Sumatera. Para tua2 daerah ini bahkan mengingatkan keturunannya bahwa penampakan Harimau Sumatera di sekitar kampung pada waktu tertentu menandakan hasil panen ikan dari sungai yang pasti akan melimpah. Jika hasil panen ikan tidak ditinggalkan untuk satwa Harimau Sumatera, biasanya satwa buas ini akan mengambil sendiri bagiannya saat ikan hasil panen dipanggang oleh masyarakat. Berbagai cerita yang datang dari masyarakat sekitar menjadi kisah menarik yang dapat memperkaya keunikan kawasan terlebih lagi untuk menambah ketertarikan masyarakat luar untuk semakin mengenali asal muasal masing – masing kawasan konservasi dan kekhasannya. Cerita – cerita masyarakat sekitar kawasan ini menjadi inspirasi tim penyusun untuk merancang kegiatan yang khas dan unik pada setiap kawasan konservasi. Sumber : Edina Ginting, S.Hut., M.Si. (PEH Madya) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BKSDA NTB Siapkan Jurus Melestarikan Kakatua di Pulau Moyo

Mataram, 31 Mei 2024. Lanskap Moyo Satonda merupakan kawasan penting konservasi keanekaragaman hayati. Menurut Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) pada tahun 2023, setidaknya 52 spesies burung (Aves) yang terdiri atas 34 famili dapat dijumpai di kawasan ini. Salah satunya adalah kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea occidentalis) yang masuk dalam daftar Appendix I CITES dan dinyatakan berisiko tinggi untuk punah di alam liar dalam daftar merah IUCN. Keberadaan kakatua di bentang alam ini memiliki peranan penting karena ketergantungannya pada keberadaan pohon yang tegap dan kuat untuk bersarang dapat menjadi indikasi tingkat kesehatan ekosistem bentang alam Moyo Satonda. Namun, populasi satwa ini setiap tahunnya terus mengalami penurunan di habitat aslinya. Pun semua jenis kakatua telah dikategorikan sebagai jenis yang dilindungi berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi SDA Hayati dan Ekosistem; PermenLHK No. 106 Tahun 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi menggantikan lampiran PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan jenis Tumbuhan dan Satwa yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. Penelitian terbaru dengan menyisir seluruh kawasan lanskap Moyo Satonda untuk memperbaiki baseline dan mengumpulkan data secara lebih lengkap mengenai pupulasi, kepadatan, habitat dan potensi ancaman telah dilakukan pada Maret 2024 dengan area sampling seluas 8.961 Ha. Hasilnya, diketahui populasi kakatua di lanskap Moyo Satonda sebanyak 51 individu dengan kepadatan 0,0057 individu/Ha atau 5,7 individu/1000 Ha (CONSERVE, 2024). Guna memastikan kelestarian kakatua di Pulau Moyo, BKSDA NTB sedang menyusun peta jalan (roadmap) konservasi kakatua lanskap Moyo Satonda pada acara inseption workshop roadmap kakatua kecil jambul kuning yang digelar di Astoria Lombok, Mataram, Rabu (29/05), dengan menghadirkan tiga orang pembicara yaitu perwakilan dari Direktorat KKHSG KSDAE-KLHK, Universitas Mataram, Universitas Teknolgi Samawa serta tim penyusun roadmap dari unsur Perhimpunan Burung Indonesia. Roadmap ini akan menjabarkan secara implementatif target peningkatan populasi, penetapan serta penyepakatan langkah sistematis, spesifik yang terukur dalam jangka waktu 10 tahun mendatang. Kepala Bappeda NTB yang diwakili oleh Sri Suparti, SH., ME (Fungsional Perencana Ahli Utama Bappeda NTB) saat memberikan sambutan dan pembukaan kegiatan mengatakan, roadmap ini merupakan bagian penting dalam mengisi substansi dokumen Perencanaan Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Provinsi NTB 2025-2045. Selain itu, menurut M. Misbah Satria Giri, S.Hut (KKHSG, KSDAE-KLHK) penyusunan roadmap ini sudah sangat tepat dan sejalan dengan rancangan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025 – 2045 Indonesia. Kegiatan ini diinisiasi oleh BKSDA NTB melalui proyek CONSERVE (Catalyzing Optimum Management of Natural Heritage for Sustainability of Ecosystem, Resources and Viability of Endangered Wildlife Species), dihadiri oleh Kementerian/Lembaga pusat, Polda NTB, Korem 162/Wira Bhakti, perangkat daerah terkait lingkup Pemerintah Provinsi NTB, BAPPEDA Sumbawa, perguruan tinggi, lembaga penelitian serta mitra Pembangunan. Semoga dengan lahirnya roadmap konservasi kakatua lanskap Moyo Satonda akan menjadi langkah signifikan untuk mengkoordinasikan dan mengintegrasikan upaya antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam rangka keberlangsungan pelestarian kakatua dalam setiap proses pengambilan kebijakan pembangunan daerah secara berkelanjutan. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

BTNGM Ikut Implementasi Aksi Mitigasi Perubahan Iklim Melalui FOLU Netsink 2030 Sub Nasional Provinsi Jawa Tengah

Kaliurang, 31 Mei 2024. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) menghadiri Sosialisasi dan Workshop I Penyusunan Rencana Kerja Sub Nasional Indoensia FOLU Net Sink 2030 Provinsi Jawa tengah di Semarang pada tanggal 29-30 Mei 2024. Keseriusan Indonesia dalam penanganan isu perubahan iklim ditunjukan dengan menginisiasi “Indonesia Forestry and Other Land Use Net Sink 2030”, yang diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon. Sebagai langkah percepatan pelaksanaan komitmen tersebut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah menyusun strategi penurunan emisi GRK melalui program Indonesia's Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 yg ditetapkan melalui Keputusan Menteri LHK Nomor SK.168/Menlhk/PKTL/PLA.1/2/2022. Sasaran yang ingin dicapai melalui implementasi Rencana Operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 tercapainya tingkat emisi gas rumah kaca sebesar -140 juta ton CO2e pada tahun 2030 dengan dasar pijakan Sustainable Forest Management, Environmental Governance, dan Carbon Governance. Inti dari NetSink ini adalah penyerapan karbon sama atau lebih besar dari emisi karbon. Dimana pencapaian target ini dilakukan melalui kegiatan aksi pengurangan emisi, aksi pertahankan serapan, aksi peningkatan serapan, dan pengembangan kelembagaan. Dalam agenda pengendalian perubahan iklim, Pulau Jawa memiliki karakteristik yang berbeda dengan pulau-pulau besar lainnya dimana lebih dari 58% penduduk Indonesia berdiam di Pulau Jawa, sehingga terdapat kekhususan dan pendekatan yang berbeda dalam menetapkan aksi-aksi dan upaya dalam percepatan pencapaian target FOLU Net Sink 2030 berdasarkan kecenderungan penurunan kualitas daya dukung dan daya tampung air, semakin meluasnya areal lahan kritis, potensi kontribusi peningkatan cadangan karbon dari areal Hutan Produksi/Konsesi, KHDPK, dan hutan mangrove, serta tingginya karbon stock pada hutan konservasi. Hal yang tidak kalah penting dalam agenda Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 adalah sosialisasi dan komunikasi publik, karena kegiatan ini memerlukan dukungan dari banyak pihak dalam mencapai target yang ditentukan. Khusus untuk Sub Nasional Jawa Tengah meliputi 7 Rencana Operasional (RO) dengan target luasan 683.020,29 hektar. Kawasan TNGM di Prov. Jawa Tengah (4.607,78 ha) termasuk dalam Rencana Operasional 11 yaitu PERLINDUNGAN AREA KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI dengan target 15.437,71 hektar bersama kawasan konservasi lainnya yaitu TN Gunung Merbabu, TN Karimun Jawa dan BKSDA Jawa Tengah. Pada prinsipnya implementasi aksi mitigasi perubahan iklim melalui FOLU Netsink 2030 Sub Nasional Provinsi Jawa Tengah adalah tanggung jawab kita semua dan merupakan bagian dari langkah strategis untuk menjawab isu-isu srategis di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Patroli Bersama MMP Kerapu Macan Jinato dan Implementasi Pengumpulan Data Berbasis Digital di Resort Lantigiang

Pulau Jinato - Kepulauan Selayar, 30 Mei 2024. Dari tanggal 23 sd. 27 Mei 2024 tim Resort Lantigiang, Balai Taman Nasional Taka Bonerate bersama dengan MMP (Masyarakat Mitra Polhut) Kerapu Macan Desa Jinato, patroli bersama menyisir wilayah kerja Resort Lantigiang, Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 2 Jinato. Patroli ini memantau aktivitas nelayan dan zonasi tempat nelayan beraktifitas sebagai bentuk pencegahan tindak ilegal dan patroli ini juga merupakan implementasi hasil kegiatan optimalisasi peningkatan kapasitas personil resort bersama MMP pengumpulan data berbasis digital. "Di perairan Taka Totoke di temukan 4 kapal nelayan diduga menggunakan kompresor untuk menyelam, pada saat hendak didekati, kapal pelaku sudah melarikan diri," Jelas Kares (Komandan Resor) Lantigiang Dadang Hermawan Tim kemudian melanjutkan patroli mencatat perjumpaan satwa berupa Penyu Hijau, Sisik, Jejak Penyu di Pulau Lantigiang. Data titik, Jenis Satwa dan track patroli dicatat secara digital pada alat spasial Smart Patrol di Handphone personil. Pelibatan masyarakat dalam patroli bersama ini untuk Peningkatan Kesadaran Lingkungan ; Mendidik masyarakat tentang pentingnya konservasi dan bagaimana mereka dapat berkontribusi dalam melestarikan lingkungan; Pemberdayaan Masyarakat Lokal : Melibatkan masyarakat lokal dalam kegiatan konservasi, sehingga mereka merasa memiliki tanggung jawab dan manfaat langsung dari upaya pelestarian; Pengumpulan Data secara Smart : Dengan giat Smart Patrol ini, masyarakat diajarkan mengumpulkan data tentang kondisi ekosistem, populasi satwa, dan ancaman yang ada secara digital melalui Smart Phone untuk pengambilan keputusan dalam konservasi; dan Penguatan Keamanan Kawasan Konservasi : Meningkatkan keamanan dan ketertiban di kawasan konservasi untuk memastikan keberlanjutan ekosistem. "Melalui patroli Smart bersama masyarakat dan petugas di tingkat tapak ini, merupakan upaya pelestarian lingkungan dapat lebih efektif karena melibatkan partisipasi aktif dan dukungan dari lapisan masyarakat desa dan dengan pencatatan secara digital," jelas Hidayat sapaan akrab Kepala SPTN Wil. 2 Jinato. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks & Foto : Dadang Hermawan - Polhut Resor Lantigiang SPTN Wil. 2 Jinato Editor : Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Wisuda Ranger Goes to School (RGTS) Tahun 2024

Labuan Bajo, 27 Mei 2024. Program Ranger Goes to School (RGTS) Tahun 2024 telah rampung dilaksanakan selama satu semester mulai tanggal 08 Januari – 26 Mei 2024. Menutup pelaksanaan program RGTS Tahun 2024, Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan kegiatan wisuda RGTS Tahun 2024 bertempat di Aula SMKN 1 Labuan Bajo sebagai bentuk apresiasi bagi para guru dan siswa yang telah menyelesaikan rangkaian program pendidikan konservasi unggul di bumi Nusa Tenggara Timur. Giat wisuda RGTS ini juga dimanfaatkan sebagai kesempatan yang langka dimana para guru, siswa, dan para pengajar RGTS dapat berinteraksi satu dengan yang lain memperat rasa kekeluargaan dan hubungan kepercayaan. Giat wisuda RGTS Tahun 2024 diikuti oleh seluruh siswa RGTS dari SMKN 1 Labuan Bajo dan perwakilan siswa berpretasi dari SMK Stella Maris Labuan Bajo dan SMA Lentera Harapan Labuan Bajo. Seluruh peserta RGTS dari SMKN 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo merupakan siswa dari program studi Usaha Layanan Pariwisata (ULP), sementara peserta RGTS dari SMA Lentera Harapan Labuan Bajo merupakan siswa dari program studi Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIA) dan Ilmu-Ilmu Sosial (IIS). Koordinator Program RGTS Tahun 2024, Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) melaporkan pencapaian kegiatan RGTS Tahun 2024 dihadapan Kepala SPTN Wilayah III, Judy Aries Mulik, yang mewakili Kepala Balai Taman Nasional Komodo. “Program RGTS telah berhasil memberikan pengajaran kepada + 1500 siswa selama tiga tahun terakhir sejak tahun 2022. RGTS juga telah dikumandangkan pada berbagai forum internasional meliputi Malaysia (2022), Jerman (2022), Korea Selatan (2023), dan Singapura (2024). Program tersebut mendapatkan respon positif dari negara-negara sahabat dan sebagian ingin mengadopsi kurikulum programnya. Saya bangga bisa menjadi inisiator dan bagian penting dalam perjalanan program RGTS”, pungkas Ikbal saat penyampaian laporannya kemarin. Menyambut laporan pencapaian program, Kepala SMKN 1 Labuan Bajo, Perwakilan Kepala SMK Stella Maris Labuan Bajo, dan Kepala SMA Lentera Harapan Labuan Bajo mengapresiasi kontribusi program RGTS bagi para siswa-siswi di sekolah dan memuji kegigihan dan kinerja para guru dalam program RGTS Tahun 2024. “Peserta didik kami sekarang lebih mengenal dekat Taman Nasional Komodo dalam kesehariannya. Saya rasa hal tersebut sangatlah baik”, ujar Viktoria Timung Wulang, Kepala SMKN 1 Labuan Bajo. Ungkapan senada juga disampaikan oleh Kwintus Dapil selaku perwakilan dari SMK Stella Maris Labuan Bajo terhadap pencapaian program RGTS di sekolahnya. Sambutan pamungkas yang disampaikan oleh Kepala SMA Lentera Harapan Labuan Bajo turut menekankan apreasiasi atas upaya para pengajar RGTS dalam mencerdaskan generasi muda di Kabupaten Manggarai Barat mengenai pendidikan konservasi, utamanya Taman Nasional Komodo. “Saya awalnya ragu apakah program RGTS ini bisa dilaksanakan di SMA karena kami sudah memiliki kurikulum pembelajaran yang baku. Namun, Saya pikir program RGTS ini sangat bagus untuk menambah peminatan dan wawasan konservasi bagi peserta didik kami yang mayoritas merupakan generasi muda asli dari Labuan Bajo” ujar Meildy Louisa Kese. Pada giat wisuda RGTS Tahun 2024 ini, siswa yang berprestasi memperoleh sertifikat penghargaan dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo. Prestasi ini ditentukan berdasarkan perolehan nilai ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester (UAS) dari masing-masing peserta didik. Selain siswa berprestasi, guru-guru yang berjasa dalam program RGTS turut mendapatkan sertifikat penghargaan dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo. Sementara untuk seluruh siswa yang mampu menyelesaikan rangkaian program RGTS Tahun 2024 mendapatkan sertifikat apreasiasi yang dapat digunakan sebagai modal sosial pendukung untuk keperluan pencarian beasiswa atau pendaftaran ke perguruan tinggi saat tamat sekolah nanti. Sertifikat kelulusan tersebut diberikan oleh Judy Aries Mulik (Kepala SPTN Wilayah III) dan Agustinus Djami Koreh (Penyuluh Kehutanan Ahli Madya) kepada seluruh guru dan peserta didik yang hadir kegiatan wisuda RGTS 2024. Selain sertifikat apresiasi, para siswa berprestasi dari SMKN 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo turut mendapatkan kesempatan diterima dalam program magang Junior Park Ranger (JPR) Balai Taman Nasional Komodo Tahun 2024/2025 selama maksimal enam bulan terhitung mulai Bulan Juli – Desember 2024. Wisuda RGTS 2024 sangat meriah karena turut dihadiri oleh Staf West LSMU IN-FLORES, Fajra Fahran Ekadj dan Yudha Pamungkas, dan Kader Konservasi Taman Nasional Komodo Tingkat Pemula yang turut memberikan pesan dan kesan saat menjadi peserta didik RGTS Tahun 2023. “Program RGTS Tahun 2023 telah memberikan dampak yang luar biasa kepada hidup Saya baik di sekolah maupun di rumah. Melalui RGTS, Saya dapat diterima magang di Balai TN Komodo, menjadi Green Youth Ambassador SB Taman Nasional Komodo, dan membuat Saya diterima bekerja sebagai naturalist guide di Koperasi Serba Usaha Taman Nasional Komodo”, ujar Nabil, alumni RGTS 2023 dan Kader Konservasi Taman Nasional Komodo. Lebih lanjut, Farhan dan Yudha dari Proyek IN-FLORES berkomitmen mendukung pelaksanaan program RGTS Tahun 2025 dengan membantu Balai Taman Nasional Komodo mewujudkan program RGTS sebagai muatan lokal wajib bagi seluruh SMA/SMK/MA di Kabupaten Manggarai Barat. Generasi muda yang berwawasan konservasi akan menjadi modal sosial dan kapital yang kuat bagi lestarinya keanekaragaman hayati dan ekosistem di Taman Nasional Komodo. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: West Flores Landscape-Seascape Coordinator (WLSC) IN-FLORES Fajra Farhan Ekadj (+6285817585762) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Balai KSDA Bengkulu Inisiasi FGD Peredaran Satwa Liar Ilegal

Bandar Lampung, 29 Mei 2024 – Seksi Konservasi Wilayah (SKW) III Lampung, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu melaksanakan kegiatan diskusi bersama parapihak dalam penanganan peredaran satwa liar ilegal di Provinsi Lampung. Acara diskusi ini dilaksanakan selama 2 hari (27-28 Mei) secara pararel dengan tema yang berbeda. Hari pertama mengundang parapihak kunci di kawasan pelabuhan penyeberangan Bakauheni antara lain Satuan Pelayanan Bakauheni Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Lampung (BKHIT), Kepolisian Sektor Kawasan Pelabuhan (KSKP) Bakauheni, PT. Angkutan Sungai Danau dan Perairan (ASDP), Pos KSDA Bakauheni SKW III Lampung, Pos Gakkum Lampung Seksi Wilayah III Palembang Balai Penegakan dan Pengamanan Hukum LHK Wilayah Sumatera, dengan tema penertiban satwa ilegal di Bakauheni. Selanjutnya dihari kedua acara FGD (Forum Group Discussion) mengundang parapihak kunci pemangku kawasan hutan tempat lokasi pelepasliaran satwa, antara lain yakni Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, Balai Taman Nasional Way Kambas, Dinas Kehutanan Provinsi Lampung beserta beberapa UPTD KPH dan KPHK lingkup Dishut Provinsi Lampung serta Kepala Resort KPHK Krakatau, yaitu Resort KSDA CAL BBS, Resort KSDA CA dan CAL Kep. Krakatau dan Resort KSDA Tulang Bawang dengan tema penanganan satwa hasil sitaan. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerjasama dalam Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2024 pada kerjasama antara Balai KSDA Bengkulu dan WCS-IP (Wildlife Conservation Society – Indonesian Program) yang pelaksanaannya dilakukan oleh Seksi Konservasi Wilayah III Lampung. Kegiatan yang dibuka oleh Bapak Hifzon Zawahiri, S.E., M.M. selaku Kepala Balai KSDA Bengkulu ini memiliki tujuan untuk memperkuat upaya pengawasan dan penanganan peredaran satwa liar ilegal di Provinsi Lampung, karena Lampung merupakan pintu gerbang Pulau Sumatera yang berpotensi sebagai gerbang keluarnya satwa liar dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa, khususnya Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni. "Selama ini kita didukung penuh oleh pihak Kepolisian dan Balai GAKKUM KLHK, begitu pun dengan kawan-kawan Karantina, terima kasih sudah bekerja sama selama ini bagaimana kita menyelamatkan satwa, mungkin kita bisa bekerja ke depannya ada trobosan trobosan baru untuk meminimalisir peredaran satwa liar. Karena selama ini memiliki kecenderungan naik karena tingginya permintaan dari Pulau Jawa.", ujar Bapak Kepala Balai dalam sambutannya dan sekaligus membuka acara secara resmi. Dihari pertama FGD dimulai dengan pemaparan garis besar permasalahan penanganan dari kejahatan TSL ilegal oleh Kepala Balai. Dalam kesempatan ini, Kepala BKSDA Bengkulu menyampaikan paparannya dengan judul 'Pengawasan dan Penanganan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar di Pelabuhan Bakauheni’, acara dilanjutkan diskusi kelompok. Kemudian dihari kedua kembali Kepala Balai menyampaikan paparan dengan tema ‘Diskusi Implementasi Pelepasliaran Hasil Pengawasan Ilegal Satwa Liar di Pelabuhan Bakauheni’. Berdasarkan data Seksi Konservasi Wilayah III Lampung BKSDA Bengkulu pada tahun 2023, angka penyelamatan satwa liar dari hasil pengawasan peredaran satwa liar di Provinsi Lampung lebih tinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Sumatera dengan satwa terbanyak adalah dari jenis Aves, Mamalia, dan Reptilia dengan total jumlah satwa yang diselamatkan sebanyak 25.220 ekor, dan yang berhasil dilepasliarkan tahun 2023 sebanyak 23.967 ekor. Salah satu upaya pengawasan peredaran satwa liar di Lampung adalah melalui peningkatan keamanan pada titik-titik rawan lalu lintas, batas wilayah antar provinsi dan kabupaten, serta pintu masuk dan keluar provinsi yaitu pelabuhan dan bandar udara. "Hal yang terpenting dalam penanganan peredaran satwa liar ilegal dalam menghadapi beberapa tantangan adalah berbagi peran", ujar Bapak Hifzon. Petugas gabungan melakukan menertiban bersama-sama dan pemangku kawasan menyiapkan lokasi pelepasliaran yang cocok untuk jenis satwa yang akan dilepasliarkan. Setelah pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan FGD terkait rencana aksi dalam penanganan peredaran satwa liar ilegal yang bersifat kolaboratif dalam hal pencegahan dan pengawasan satwa liar, penanganan pelaku dan penegakan hukumnya. Peserta diskusi dibagi dalam 4 (empat) kelompok yang masing kelompok tersebut terdiri dari untuk perwakilan para pihak, yaitu BKSDA Bengkulu, BKHIT, KSKP, Polres Lampung Selatan dan WCS. “Terakhir, saya mengucapkan terima kasih atas kehadirannya, semoga dengan FGD ini kita membuat suatu kesimpulan, terutama terobosan-terobosan baru tentang penanganan satwa liar, terutama di Pelabuhan Bakauheni ini. Bu Menteri KLHK sangat mengapresiasi kegiatan ini, termasuk Dirjen KSDAE.” Tutup Kepala Balai. Sumber: Balai KSDA Bengkulu Penanggung Jawab Berita: Joko Susilo, A.Md. (Kepala SKW III lampung) Penulis naskah: Irhamuddin, S.P. (PEH Mahir SKW III BKSDA Bengkulu) Kontak informasi Call center: BKSDA Bengkulu (0811-7388100) dan SKW III Lampung (0811-7997070)
Baca Artikel

Membangun Sinergitas dan Kemitraan Dalam Penanganan Karhutla

Narasumber saat pemaparan Medan, 27 Mei 2024. Perubahan iklim saat ini sedang melanda dunia, termasuk di Indonesia, yang dampaknya cukup signifikan. Perubahan iklim yang nyata dirasakan adalah suhu bumi yang semakin panas. Ini tentunya berdampak menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Untuk mengantisipasi terjadinya karhutla di Provinsi Sumatera Utara, Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) menginisiasi dilaksanakannya kegiatan Rapat Koordinasi (Rakor) Karhutla, pada Rabu (22/5), di Hotel Grand Mercure Medan Angkasa. Rakor ini diikuti para Kepala UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, pegawai lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara serta lembaga mitra kerjasama Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Rakor yang dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L. menampilkan narasumber dari Balai Pengendalian Perubahan Iklim Wilayah Sumatera, masing-masing Syamsuddin, SP. Kepala Seksi Wilayah I dan Risky Ismana Nasution, SP. Kepala Daops Manggala Agni Sumatera III/Labuhanbatu Selatan. Narasumber memberikan pemahaman kepada peserta Rakor tentang apa arti dari Kebakaran Hutan dan lahan (Karhutla), yaitu : suatu peristiwa terbakarnya hutan dan/atau lahan baik secara alami maupun oleh perbuatan manusia, sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan yang menimbulkan kerugian ekologi, ekonomi, sosial budaya dan politik (PermenLHK No. 32/2016). Dan berdasarkan data yang ada, terungkap bahwa 99 % peristiwa kebakaran hutan di Indonesia disebabkan oleh faktor manusia. Melihat krusialnya permasalahan dan dampak yang ditimbulkan dari peristiwa karhutla ini, mendorong Presiden RI mengeluarkan arahan yang intinya sebagai berikut: prioritaskan upaya pencegahan, infrastruktur monitoring dan pengawasan harus sampai ke bawah, cari solusi yang permanen, penataan ekosistem gambut, jangan biarkan api membesar, dan langkah penegakan hukum. Peserta Rakor Upaya yang saat ini dilakukan dan dibangun oleh Balai Pengendalian Perubahan Iklim Wilayah Sumatera adalah mengembanagkan manajemen pengendalian karhutla mulai dari pencegahan, pemadaman sampai kepada penanganan pasca. Selain itu dilakukan juga pencegahan berbasis desa dengan memetakan potensi desa rawan, membentuk kelompok dan melakukan fasilitasi kepada masyarakat, merencanakan kegiatan sesuai potensi desa dan menyiapkan tenaga pendampingan desa. Dibagian akhir dari Rakor Karhutla Provinsi Sumatera Utara 2024, narasumber mengajak seluruh peserta Rakor dari lingkup UPT Kementerian LHK terkait maupun dari lembaga mitra kerjasama untuk berkolaborasi dan bersinergi dalam penanganan dan penanggulangan karhutla yang ada di Provinsi Sumatera Utara. Bahwa masalah karhutla adalah masalah kita bersama dan untuk itu dengan semangat kebersamaan pula maka dapat ditekan dan diminimalisir baik persitiwa maupun dampak yang ditimbulkan dari karhutla tersebut. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pembentukan Kelompok Masyarakat Kampung Merak Ponorogo

Ponorogo, 21 Mei 2024. Meningkatkan pengembangan Destinasi Ekowisata Kampung Merak di Kabupaten Ponorogo, Balai Besar KSDA Jatim (BBKSDA Jatim) bersama beberapa stakeholder di Kecamatan Jenangan – Ponorogo membentuk Kelompok Masyarakat Kampung Merak, Senin (20/5). Kegiatan tersebut dilaksankan di Ndalem Kerto Dukuh Gentan Desa Ngrupit Kecamatan Jenangan, Kabupaten Ponorogo, dan hidiri oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Camat Jenangan, Kepala Desa Ngrupit , serta calon anggota Kelompok Kampung Merak. Dalam arahannya, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Agustinus Krisdijantoro menyampaikan bahwa salah satu tusi BBKSDA Jatim adalah konservasi eksitu. Maka kegiatan penangkaran Merak Hijau menjadi jawaban dari kurangmya suplai bulu Merak Hijau atas kebutuhan bulu untuk Dadak Merak Reyog Ponorogo. “Tanpa upaya peningkatan konservasi Merak Hijau semacam ini, dikhawatirkan ke depan Merak Hijau maupun budaya Reyog yang asli bisa punah. Untuk itu, Program Kampung Merak ini memiliki tagline mrmbudayakan konservasi dan mengkonservasikan budaya,” imbuhnya. Camat Jenangan sebagai pihak yang mewakili Pemkab Ponorogo sangat mendukung dan memberikan apresiasi terhadap BBKSDA Jatim yang melaksanakan program penangkaran merak hijau berbasis masyarakat. Hal ini akan memberkani manfaat bagi pelestarian budaya Reyog sekaligus dapat menjadi destinasi ekowisata di Ponorogo. Selanjutnya pada Selasa (21/5), dilanjutkan dengan peningkatan kapasitas kelompok Kampung Merak yang difasilitasi Penyuluh Kehutanan BBKSDA Jatim. Endry Wijayanti. Adapun beberapa materi yang diberikan antara lain, Kampung Merak sebagai Basis Pelestarian Reyog Ponorogo oleh Rido Kurnianto dari Yayasan Reyog Ponorogo. Lalu ada Teknik Penangkaran Merak Hijau oleh Heri Wijayanto dari UD. Gentan Farm dan Ekowisata Kampung Merak oleh B. Rio Wibawanto, Kepala Seksi KSDA Wilayah II. Kelompok Kampung Merak yang beranggotakan 15 orang ini akan ditetapkan dengan surat keputusan Kepala Desa Ngrupit. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kunjungan Ke Pulau Tinabo, Kapolda SulSel Irjen Andi Rian Ryacudu Djajadi Menanam Pohon

Tinabo, 28 Mei 2024. Resort Tinabo, Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Selasa (28/5), mendapat kunjungan Kapolda Sul - Sel Irjen Andi Rian Ryacudu Djajadi, S.I.K., MH bersama rombongan Dirpolair Polda SulSel Kombes Dr. Pitoyo A Y, S.I.K., M.Hum dan Dansat Brimob Polda SulSel Kombes Pol. Heru Novianto, S.I.K., M.Han. Agenda utamanya berupa pengecekan langsung di lokasi dalam rangka rencana penyambutan kunjungan KABAHARKAM Polri tanggal 2 Juni 2024 yang akan datang di Pulau Tinabo. Heli yang membawa Kapolda dan rombongan mendarat di helipad Pulau Tinabo pada pukul 09.40 Wita. Setelah helipad selesai dibuat, inilah heli pertama yang mendarat di helipad TN Taka Bonerate. Kedatangan Kapolda dan rombongan disambut langsung Kapolres Kepulauan Selayar, AKBP Ujang Darmawan Hadi Saputra, S,H., S.IK., M.M., M.IK dan jajaran, Koordinator PEH Saleh Rahman, SP., M.Sc koordinator POLHUT Fahmi Syamsuri, SH dan para personil resor Balai TBTBR. Dalam perjalanan dari helipad ke lokasi kegiatan, rombongan singgah sebentar di sekitar sumur Mata Ere Passiana, kami mendiskusikan usaha berbagai pihak dalam menghadirkan air tawar di pulau Tinabo. Salah satunya setiap tamu diharapkan menanam satu pohon. Selanjutnya, Kapolda dan rombongan melanjutkan perjalanan ke lokasi di sekitar Wisma Nudibranch dan menggelar pertemuan serta diskusi santai bersama petugas TN dan Polres Kepulauan Selayar. Setelah itu Kapolda dan rombongan berinteraksi dengan biota andalan TN Taka Bonerate, Baby Shark di pinggir pantai Pulau Tinabo. Kunjungan diakhiri dengan giat foto bersama dan penanaman pohon. Kemudian Kapolda dan rombongan meninggalkan Pulau Tinabo pada pukul 11.45 Wita kembali ke Mapolda SulSel. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks : Fahmi Syamsuri - Koordinator Polhut Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto : Balai TN Taka Bonerate Editor : AsriTo - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Anggota MPA Srumbung dan Dukun Belajar Kembali Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan

Magelang, 29 Mei 2024. Masyarakat Peduli Api (MPA) menjadi mitra kerja Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) sekaligus ujung tombak dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (dalkarhutla) di kawasan TNGM. Kesiapsiagaan MPA ini juga memerlukan penyegaran pengetahuan tentang dalkarhutla. Oleh karena itu, pada tanggal 29-30 Mei 2024 dilaksanakan pembinaan MPA di OWA Jurang Jero, Srumbung, Magelang. Kegiatan ini diinisiasi oleh Balai Pengendalian Perubahan Iklim Jawa Bali Nusa Tenggara (BPPI JBN). Inisiasi ini dikarenakan karhutla menjadi salah satu penyebab perubahan iklim. Penyegaran MPA ini diikuti oleh 15 (lima belas) anggota MPA Resort Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Srumbung dan 15 (lima belas) anggota MPA RPTN Dukun. Kegiatan ini dibuka oleh Plh Kepala BTNGM, Pairah. Pairah menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh anggota MPA yang selama ini telah membantu BTNGM dalam dalkarhutla. Diinformasikan bahwa selama tahun 2023, telah terjadi 16 (enam belas) kali karhutla dengan luasan 117.025 Ha. Dan semuanya telah terkendalikan berkat bantuan MPA juga masyarakat sekitar TNGM. Materi yang disampaikan pada hari pertama, yaitu gambaran umum perubahan iklim dan program kampung iklim, yang disampaikan oleh narasumber dari BPPI JBN. Selanjutnya disampaikan pengetahuan tentang karhutla yaitu pengenalan deteksi dini dan mekanisme pelaporan, pengenalan peralatan pemadaman serta pengenalan teknik pemadaman dan kegiatan pasca karhutla, yang disampaikan oleh narasumber dari BTNGM. Sedangkan untuk hari kedua, dilaksanakan praktek dari materi yang telah disampaikan pada hari pertama. Harapannya, pembinaan ini dapat menjadi ajang silaturahmi dan evaluasi antar anggota, juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bagi anggota MPA BTNGM, khususnya RPTN Srumbung dan Dukun. ** Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Pelatihan Pemandu Kawah Ijen

Paltuding, 22 Mei 2024. Bekerjasama dengan Himpunan Pelaku Wisata Khusus Ijen (HPWKI), Seksi KSDA Wilayah V, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim), melaksanakan kegiatan pembinaan dan pelatihan untuk pemandu yang tergabung dalam HPWKI, 20 - 22 Mei 2024. Awalnya pelatihan ini hanya menargetkan 250 pemandu yang tergabung dalam HPWKI, namun dalam pelaksanaannya juga dihadiri pemandu lokal di luar HPWKI. Pembinaan dan pelatihan yang dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember ini memberikan pemahaman mengenai tanggung jawab pemandu sebagai orang terdekat wisatawan di kawasan. Selain itu, mereka juga menjalankan peran sebagai kepanjangan tangan pengelola Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen. Selama 3 hari para pemandu mendapatkan beberapa materi kelas dan praktek yang seluruh kegiatan berlokasi di Paltuding, TWA. Kawah Ijen. Beberapa materi meliputi pengenalan tentang kawasan konservasi, peran pemandu lokal di TWA. Kawah Ijen, Search and Rescue (SAR), serta Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD). Kegiatan pembinaan dan pelatihan seperti ini rencananya akan dilaksanakan secara rutin sebagai media silaturahmi, penyegaran teknik-teknik pemanduan, sosialisasi kebijakan terbaru BBKSDA Jatim, dan membahas permasalahan yang ada. Kegiatan ini juga diadakan dalam rangka meningkatkan kapasitas para pemandu lokal dan merespon beberapa kejadian kecelakaan pengunjung Kawah Ijen. Serta mengoptimalkan para pemandu lokal sebagai kepanjangan tangan Pengelola BBKSDA Jatim di lapangan. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Giat FGD Untuk Pemberdayaan Masyarakat

FGD dipandu Fasilitator Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.P Sipirok, 27 Mei 2024. Bertempat di kantor Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok, Jumat (17/5), dilaksanakan FGD (Focus Group Discusssion) Penyusunan Dokumen Rencana Pemberdayaan Masyarakat (FGD RPPM) lingkup Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut). FGD ini berfokus untuk memperoleh bahan data dan informasi dalam rangka penyusunan dokumen rencana pemberdayaan masyarakat dari para petugas pengelola ditingkat Resort/Seksi/Bidang Wilayah, masyarakat/kelompok masyarakat, Kepala Desa yang ada di sekitar kawasan konservasi dan mitra kerja Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan. FGD juga dimaksudkan untuk menyusun kerangka perencanaan yang komprehensif terkait penyelenggaraan dan pengembangan pemberdayaan masyarakat yang terintegrasi dengan rencana pengelolaan kawasan dan rencana makro lainnya lima tahun kedepan, yang dihadiri 30 orang peserta. Giat FGD dipimpin dan dipandu oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang Suyono, SH, M.Si didampingi Tim Kerja Pemberdayaan Masyarakat Balai Besar KSDA Sumatera Utara Samuel Siahaan, SP. Sedangkan untuk memberi masukan dalam penyusunan RPM dipandu oleh fasilitator Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, M.P. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara. FGD dibagi menjadi 6 kelompok yang membahas sekaligus menyempurnakan konsep draft RPM masing-masing kawasan konservasi yang sudah disiapkan Tim Kerja Pemberdayaan Masyarakat, masing-masing : Kawasan CA. Dolok Sipirok, CA. Dolok Sibual-buali, SA. Lubuk Raya, TB. Pulau Pini, SM. Barumun dan TWA. Holiday Resort. Seluruh peserta antusias memberikan masukan dan pendapat dalam FGD tersebut guna merumuskan rencana dan bentuk pemberdayaan masyarakat yang nantinya akan digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaannya. Penyusunan draft Dokumen RPM tetap diupdate sampai dokumen tersebut disahkan sebagai Dokumen Rencana Pemberdayaan Masayarakat. Sumber : Samuel Siahaan (Ketua Tim Kerja Pemberdayaan Masyarakat) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pelatihan Wildlife Journalism Competition 2024

Narasumber dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 28 Mei 2024. Pusat Studi Komunikasi Lingkungan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (UNPAD) Bandung, Jurusan Ilmu komunikasi FISIP Universitas Sumatera Utara (USU) dan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia SUMUT melaksanakan kegiatan Pelatihan Wildlife Journalism Competition 2024 di Ruang Teater Fisip USU, Jln. Dr. A. Sofian No. 1 A, Medan, pada Senin (27/5). Talkshow yang mengusung tema/topik “Interaksi Negatif Manusia-Satwa Dari Sudut Pandang Jurnalisme Lingkungan” diadakan di beberapa kota besar di Indonesia dan salah satunya Kota Medan dengan narasumber masing-masing dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, FAO United Nation dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Center (YOSL-OIC). Talkshow merupakan rangkaian dari kegiatan kompetisi jurnalis lingkungan thn 2024. Narasumber dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Herbert BP. Aritonang. S.Sos., MH., Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat membawakan topik: Dinamika Konservasi Satwa Liar di Provinsi Sumatera Utara, dari FAO: One Health: Solusi Jitu Atasi Ancaman Penyakit, dan dari YOSL-OIC mengangkat topik: Ancaman Kejahatan Satwa Liar di Sumatera Utara dan Aceh. Adapun peserta yang mengikuti talkshow berasal dari mahasiswa USU, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), umum, LSM, pemerhati satwa liar dan wartawan. Acara talkshow berjalan dengan sukses dan ditutup oleh Ketua Umum ISKI Sumatera Utara sekaligus dosen ilmu komunikasi FISIP USU Prof. Dra. Lusiana Andriani Lubis, MS, Ph.D. Sumber : Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH (Kepala SKW II Stabat) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 785–800 dari 2.298 publikasi