Selasa, 25 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Road to HKAN 2026: BKSDA Kalimantan Timur Lepasliarkan 1.000 Tukik di TWA Pulau Sangalaki

Berau, 28 Juli 2026—Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur melaksanakan pelepasliaran 1.000 tukik di Taman Wisata Alam (TWA) Pulau Sangalaki, Kabupaten Berau, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk komitmen BKSDA Kalimantan Timur dalam mendukung pelestarian penyu dan ekosistem pesisir, khususnya di kawasan konservasi yang memiliki peran penting sebagai habitat peneluran penyu. TWA Pulau Sangalaki dikenal sebagai salah satu lokasi strategis bagi upaya perlindungan penyu di Kalimantan Timur. Pelepasliaran tukik dilakukan dengan memperhatikan kondisi alam, keselamatan satwa, serta prinsip konservasi. Tukik yang dilepas merupakan hasil dari upaya perlindungan sarang dan penetasan yang dilakukan melalui pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. Setelah dilepas, tukik akan memulai perjalanan alaminya menuju laut lepas sebagai bagian dari siklus hidup penyu. Melalui kegiatan ini, BKSDA Kalimantan Timur menegaskan pentingnya kolaborasi dalam menjaga kelestarian satwa liar dilindungi dan habitatnya. Konservasi penyu tidak hanya fokus pada pelepasliaran, tetapi juga mencakup perlindungan habitat peneluran, pengawasan kawasan, edukasi masyarakat, serta penguatan kepedulian terhadap ekosistem laut. Rangkaian Road to HKAN 2026 menjadi momentum untuk memperluas gerakan konservasi alam melalui aksi nyata di lapangan. Pelepasliaran 1.000 tukik di TWA Pulau Sangalaki diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati serta mendukung keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut. BKSDA Kalimantan Timur terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi yang adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan. Upaya perlindungan penyu di TWA Pulau Sangalaki menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam memastikan keberadaan satwa dilindungi tetap lestari bagi generasi mendatang Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

BKSDA Kaltim Siaga Karhutla

Samarinda - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur secara aktif melaksanakan program "Siaga Karhutla" bersama Balai Dalkarhut Kalimantan Seksi Wilayah 3 dan BPBD Kab Kutai Kartanegara di sekitar kawasan Cagar Alam Muara Kaman Sedulang. Program yang diadakan pada 15-19 Juli 2026 di SMA Negeri 1 Muara Kaman merupakan inisiatif penting yang bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang kerap mengancam kelestarian ekosistem di musim kemarau. Fokus utama dari program "Siaga Karhutla" meliputi tiga pilar utama: Edukasi, Patroli, dan Kesiapsiagaan. Melalui pendekatan yang komprehensif, BKSDA Kaltim berupaya membangun kesadaran masyarakat, memperkuat pengawasan lapangan, serta memastikan kesiapan sumber daya untuk merespons jika terjadi insiden Karhutla. Edukasi memegang peranan krusial dalam pencegahan Karhutla. BKSDA Kaltim gencar melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang berada di sekitar Cagar Alam Muara Kaman Sedulang. Kegiatan edukasi ini mencakup penyampaian informasi mengenai dampak buruk Karhutla, pentingnya menjaga kelestarian hutan, serta praktik-praktik yang aman untuk menghindari terjadinya kebakaran. Penyuluhan dilakukan melalui pertemuan tatap muka, pemasangan spanduk imbauan, dan pemanfaatan media informasi lainnya. Tujuannya adalah agar masyarakat memahami peran mereka dalam menjaga kawasan konservasi dan ikut berkontribusi dalam pencegahan Karhutlape. Untuk mendeteksi dini potensi titik api dan aktivitas yang mencurigakan, tim gabungan BKSDA Kaltim bersama dengan mitra terkait melaksanakan patroli rutin di seluruh area Cagar Alam Muara Kaman Sedulang. Patroli ini dilakukan secara intensif, baik melalui jalur darat maupun udara menggunakan drone. Petugas dilengkapi dengan peralatan navigasi dan komunikasi untuk memastikan efektivitas pengawasan. Keberadaan petugas di lapangan juga berfungsi sebagai elemen pencegahan, mengingat kehadiran petugas dapat mencegah niat individu atau kelompok yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pembakaran lahan. Selain upaya pencegahan, BKSDA Kaltim juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya Karhutla. Hal ini meliputi penyiapan sumber daya manusia yang terlatih dalam penanggulangan kebakaran, penyediaan peralatan pemadam kebakaran yang memadai, serta koordinasi yang erat dengan instansi terkait seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan masyarakat peduli api. Latihan simulasi penanggulangan Karhutla juga secara berkala diadakan untuk memastikan seluruh elemen siap bertindak cepat dan efektif ketika situasi darurat terjadi. Kesiapan ini menjadi kunci untuk meminimalkan kerugian dan mempercepat pemulihan pasca kebakaran. Cagar Alam Muara Kaman Sedulang merupakan salah satu kawasan penting yang menyimpan kekayaan biodiversitas dan fungsi ekologis yang vital bagi Kalimantan Timur. Program "Siaga Karhutla" ini merupakan wujud komitmen BKSDA Kaltim dalam menjaga kelestarian alam demi generasi mendatang. Dengan sinergi antara edukasi, patroli, dan kesiapsiagaan, diharapkan ancaman Karhutla di wilayah ini dapat diminimalisir secara signifikan. Cagar Alam Muara Kaman Sedulang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Kawasan ini memiliki luas tertentu dan merupakan habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna endemik. Keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem lokal dan regional, serta memberikan manfaat ekologis yang luas seperti pengaturan tata air dan pencegahan banjir. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

BKSDA Kalimantan Timur Gelar Visit to School Road to HKAN 2026 di Balikpapan Selatan

Balikpapan, 24 Juli 2026—Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur melalui Seksi Konservasi Wilayah III Balikpapan melaksanakan kegiatan Visit to School dalam rangka Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Kegiatan ini dilaksanakan pada 22–24 Juli 2026 di SMP Negeri 5 Balikpapan Selatan dan SD Negeri 004 Balikpapan Selatan. Kegiatan Visit to School menjadi salah satu upaya BKSDA Kalimantan Timur dalam menanamkan nilai-nilai konservasi kepada generasi muda sejak usia sekolah. Melalui kegiatan ini, para siswa diajak untuk mengenal lebih dekat pentingnya konservasi sumber daya alam, memahami peran kawasan konservasi, serta meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan tumbuhan dan satwa liar, khususnya yang dilindungi di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, kegiatan diisi dengan penyampaian materi edukasi konservasi, pengenalan jenis-jenis tumbuhan dan satwa liar dilindungi, serta diskusi interaktif bersama para siswa. Melalui pendekatan yang komunikatif dan menyenangkan, siswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem dan tidak memelihara, memperjualbelikan, maupun mengganggu satwa liar dilindungi. Selain memperkenalkan keanekaragaman hayati, BKSDA Kalimantan Timur juga menyampaikan peran penting masyarakat dalam mendukung upaya konservasi. Kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga kebersihan lingkungan sekolah, tidak merusak habitat satwa, mengurangi sampah, serta menyebarkan pesan positif tentang pelestarian alam kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Visit to School ini juga merupakan bagian dari rangkaian Road to HKAN 2026 yang bertujuan memperluas edukasi konservasi kepada masyarakat, khususnya kalangan pelajar. Hari Konservasi Alam Nasional menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa kelestarian sumber daya alam merupakan tanggung jawab seluruh pihak. Melalui kegiatan ini, BKSDA Kalimantan Timur berharap para siswa dapat menjadi agen perubahan yang turut berperan dalam menjaga kelestarian alam. Edukasi konservasi sejak dini menjadi langkah penting dalam membangun generasi yang peduli, bertanggung jawab, dan memiliki kepedulian terhadap masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. BKSDA Kalimantan Timur berkomitmen untuk terus mendorong kegiatan edukasi, sosialisasi, dan kampanye konservasi secara berkelanjutan. Kolaborasi dengan sekolah menjadi salah satu strategi penting dalam memperkuat pemahaman dan partisipasi generasi muda dalam menjaga kekayaan alam Kalimantan Timur. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Dari Kebun di Pesisir ke Cangkir: Kopi Tuk Jaong Cama Menguatkan Ekonomi Desa Penyangga Taman Nasional Komodo, Desa Golomori

Labuan Bajo, 31 Juli 2026 – Bagi masyarakat Desa Golo Mori, kopi bukan sekadar hasil kebun. Di balik setiap biji kopi terdapat kerja keras, semangat kebersamaan, dan harapan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dengan tetap menjaga kelestarian alam di sekitar Taman Nasional Komodo. Semangat tersebut tumbuh dalam Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama, kelompok masyarakat yang berdiri sejak tahun 2021 dan mengembangkan kopi robusta serta arabika dari kebun-kebun milik masyarakat Desa Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat. Kelompok ini menjadi salah satu kelompok masyarakat yang memperoleh pendampingan melalui Program Pendampingan dan Pengembangan Masyarakat Desa Penyangga Balai Taman Nasional Komodo. Program tersebut bertujuan mendorong pengembangan usaha ekonomi produktif berbasis potensi lokal. Melalui program ini, masyarakat diharapkan memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan sekaligus memperkuat perannya sebagai mitra dalam menjaga kawasan konservasi. Kopi Tuk Jaong Cama memiliki potensi untuk berkembang menjadi salah satu produk unggulan Desa Golo Mori. Kopi lokal yang dihasilkan didukung oleh semangat anggota kelompok serta peluang pasar yang terus terbuka, khususnya melalui perkembangan sektor pariwisata di Labuan Bajo dan Kabupaten Manggarai Barat. Namun, proses budi daya, pengolahan, hingga pemasaran masih dilakukan secara sederhana. Produk kopi saat ini sebagian besar dipasarkan di lingkungan desa dan wilayah sekitarnya. Kelompok juga masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan kapasitas produksi, permodalan, pencatatan administrasi dan keuangan, legalitas usaha, peningkatan mutu produk, serta akses terhadap pasar yang lebih luas. Untuk memahami kondisi kelompok secara lebih menyeluruh, Balai Taman Nasional Komodo melakukan kajian kondisi awal atau baseline study. Kajian tersebut mencakup kondisi sosial ekonomi anggota, kapasitas produksi, rantai pasok, tata kelola kelembagaan, serta peluang pengembangan pasar. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama memiliki modal sosial dan potensi produk yang kuat. Meski demikian, penguatan kelembagaan dan kapasitas usaha masih diperlukan agar kelompok dapat berkembang secara lebih mandiri dan berkelanjutan. Pada Juli 2026, tim Balai Taman Nasional Komodo kembali mengunjungi kelompok dan berdiskusi bersama Ketua Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama, Haris, serta para anggota. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat perkembangan usaha secara langsung sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat mengenai kebutuhan kelompok. Diskusi berlangsung hangat dan penuh semangat. Para anggota menyampaikan harapan agar Kopi Tuk Jaong Cama dapat terus berkembang, memiliki kualitas produk yang lebih baik, dikelola secara profesional, dan menjangkau konsumen yang lebih luas. Optimisme para anggota menunjukkan bahwa kopi lokal tidak hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi juga sebagai peluang untuk membangun usaha bersama dan memperkuat ekonomi keluarga. Melalui pendampingan yang dilakukan secara berkelanjutan, Balai Taman Nasional Komodo mendorong peningkatan kapasitas kelompok dalam berbagai aspek. Pendampingan diarahkan pada penguatan manajemen usaha, administrasi kelembagaan, pencatatan keuangan, pengurusan legalitas, peningkatan kualitas produk, serta pengembangan jaringan pemasaran. Pemanfaatan media digital juga menjadi salah satu strategi yang terus didorong. Media digital dapat membantu kelompok memperkenalkan produk, membangun identitas merek, dan menjangkau konsumen di luar Desa Golo Mori. Selain itu, kemitraan dengan pelaku usaha pariwisata di Labuan Bajo diharapkan dapat membuka peluang pemasaran baru. Kopi Tuk Jaong Cama berpotensi hadir di hotel, restoran, kedai kopi, pusat oleh-oleh, maupun berbagai kegiatan pariwisata di Kabupaten Manggarai Barat. Melalui peluang tersebut, kopi lokal Desa Golo Mori dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat desa penyangga. Pengembangan Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama mencerminkan pendekatan konservasi berbasis pemberdayaan masyarakat yang terus diperkuat Balai Taman Nasional Komodo. Konservasi tidak hanya berbicara tentang perlindungan kawasan, tetapi juga tentang membangun hubungan yang kuat dengan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Ketika masyarakat memperoleh manfaat dari pengelolaan potensi lokal yang bertanggung jawab, mereka juga memiliki alasan yang semakin kuat untuk menjaga tanah, air, hutan, dan sumber daya alam yang menopang kehidupan mereka. Balai Taman Nasional Komodo berharap Kopi Tuk Jaong Cama dapat berkembang menjadi produk unggulan Desa Golo Mori yang berkualitas, berdaya saing, dan dikenal lebih luas. Lebih dari itu, kelompok ini diharapkan menjadi contoh bahwa penguatan ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, dan konservasi alam dapat tumbuh dalam satu langkah yang sama. Setiap cangkir Kopi Tuk Jaong Cama membawa lebih dari sekadar cita rasa. Di dalamnya terdapat cerita tentang masyarakat Desa Golo Mori, kerja bersama, harapan baru, dan komitmen untuk tumbuh bersama alam. Sumber: Naufal Tapawihardja - Mahasiswa Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung (+62895 3056 8398) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penyunting Berita: Karyasiswa Doktor Balai Taman Nasional Komodo Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813-10300-678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Balai Taman Nasional Komodo Ditetapkan sebagai Satker PPK-BLU: Langkah Baru Memperkuat Layanan dan Konservasi

Labuan Bajo, 31 Juli 2026 – Balai Taman Nasional Komodo resmi ditetapkan sebagai Satuan Kerja yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum atau Satker (PPK-BLU) berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 186 Tahun 2026 tanggal 22 Juli 2026. Penetapan tersebut juga diberikan kepada Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Ketiga unit pelaksana teknis Kementerian Kehutanan tersebut menjadi bagian dari transformasi pengelolaan taman nasional menuju tata kelola yang semakin profesional, responsif, dan berorientasi pada peningkatan pelayanan publik. Penerapan PPK-BLU tidak mengubah mandat utama Balai Taman Nasional Komodo dalam melindungi kawasan, keanekaragaman hayati, dan ekosistemnya. Sebaliknya, pola pengelolaan ini menjadi instrumen untuk memperkuat pelaksanaan mandat konservasi melalui pengelolaan keuangan yang lebih fleksibel, transparan, dan akuntabel. Fleksibilitas tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas layanan publik, penyediaan dan pemeliharaan sarana prasarana, penguatan kegiatan perlindungan kawasan, serta pengembangan layanan ekowisata yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung Taman Nasional Komodo. Seluruh pelaksanaannya tetap mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan, prinsip tata kelola pemerintahan yang baik, serta perencanaan dan pengawasan kinerja yang terukur. Proses penyiapan dokumen pendukung penerapan PPK-BLU Balai Taman Nasional Komodo dilaksanakan melalui kolaborasi antara praktisi pengelolaan kawasan dan akademisi. Dokumen tersebut disusun oleh tim dosen dari Sekolah Bisnis IPB University dengan dukungan pendanaan dari Proyek INFLORES. Para ranger Balai Taman Nasional Komodo turut berkontribusi dalam penyusunan substansi melalui data lapangan, pengalaman pengelolaan kawasan, identifikasi kebutuhan operasional, serta gagasan pengembangan layanan berbasis konservasi. Kolaborasi tersebut memastikan dokumen yang disusun tidak hanya memiliki landasan akademik dan bisnis yang kuat, tetapi juga mencerminkan kondisi, tantangan, dan kebutuhan nyata pengelolaan Taman Nasional Komodo. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa fleksibilitas BLU bukan ditujukan untuk mencari keuntungan. Fleksibilitas tersebut diarahkan agar penerimaan dari layanan dapat mendukung kebutuhan operasional, perlindungan kawasan, pengembangan fasilitas, serta peningkatan manfaat bagi masyarakat dan wisatawan. Penerapan PPK-BLU juga selaras dengan penguatan pembiayaan inovatif bagi taman nasional. Melalui kemitraan strategis, skema pembiayaan yang berkelanjutan, dan pemanfaatan jasa lingkungan secara bertanggung jawab, pembiayaan konservasi diharapkan semakin beragam tanpa mengurangi peran negara maupun mengorbankan kelestarian ekosistem. Bagi Balai Taman Nasional Komodo, penetapan ini membuka peluang untuk memperkuat pengelolaan kunjungan berdasarkan daya dukung dan daya tampung kawasan, meningkatkan kualitas layanan pengunjung, mempercepat respons terhadap kebutuhan perlindungan kawasan, serta mengembangkan layanan yang memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat sekitar. Penerapan PPK-BLU akan dilaksanakan secara bertahap. Dalam masa transisi, Balai Taman Nasional Komodo bersama kementerian dan lembaga terkait akan menyiapkan perangkat kelembagaan, perencanaan bisnis dan anggaran, sistem pengukuran kinerja, standar pelayanan, serta tata kelola lain yang diperlukan sesuai ketentuan. Tahapan tersebut penting untuk memastikan bahwa setiap layanan yang dikembangkan memiliki dasar hukum, perencanaan, standar pelayanan, dan mekanisme pengawasan yang jelas. Dengan demikian, fleksibilitas pengelolaan keuangan tetap berjalan seiring dengan akuntabilitas dan pencapaian tujuan konservasi. Penetapan sebagai Satker PPK-BLU bukanlah tujuan akhir, melainkan langkah awal untuk membangun pengelolaan Taman Nasional Komodo yang semakin adaptif, profesional, dan berkelanjutan. Balai Taman Nasional Komodo berkomitmen memastikan bahwa setiap pengembangan layanan tetap berpijak pada perlindungan kawasan, peningkatan kualitas pelayanan publik, dan penguatan peran masyarakat. Melalui transformasi ini, Taman Nasional Komodo diharapkan dapat menjadi salah satu contoh pengelolaan kawasan konservasi yang mampu menyelaraskan kelestarian ekologi, pelayanan publik berkualitas, dan pembiayaan konservasi yang berkelanjutan bagi generasi kini dan mendatang. Sumber: Naufal Tapawihardja - Mahasiswa Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung (+62895 3056 8398) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penyunting Berita: Karyasiswa Doktor Balai Taman Nasional Komodo Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813-10300-678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Bagaimana Ekowisata Resort Kerora di Pulau Rinca Mendukung Konservasi, Ekonomi Masyarakat, dan Pengembangan Layanan BLU Taman Nasional Komodo?

Labuan Bajo, 31 Juli 2026 – Balai Taman Nasional Komodo mengembangkan Kampung Kerora di Pulau Rinca sebagai layanan ekowisata berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini berada di wilayah kerja Resor Kerora, Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Pulau Rinca. Resor Kerora bukan wilayah yang sejak awal diperuntukkan sebagai pusat kunjungan wisata. Namun, di dalam wilayah tersebut terdapat Kampung Kerora yang menjadi ruang hidup masyarakat. Kawasan sekitarnya juga memiliki nilai konservasi penting sebagai habitat komodo dan kakatua kecil jambul kuning, serta lokasi peneluran penyu sisik dan penyu hijau di Taman Nasional Komodo. Kondisi tersebut menjadi dasar pengembangan kegiatan wisata secara terbatas, terukur, dan tetap mengutamakan perlindungan kawasan. Wisatawan diajak memahami keterkaitan antara kehidupan masyarakat, perlindungan satwa liar, dan pengelolaan kawasan konservasi. Pengembangan Kampung Kerora juga menjadi bagian dari strategi penyebaran kunjungan agar aktivitas wisata tidak hanya terpusat di Loh Buaya dan Loh Liang. Strategi ini mendukung penerapan kuota kunjungan berdasarkan daya dukung dan daya tampung kawasan Taman Nasional Komodo. Kampung Kerora diharapkan menjadi destinasi wisata alternatif yang menghubungkan pergerakan wisatawan dari Desa Golo Mori dan kawasan InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) Golo Mori menuju Pulau Rinca. Akses ini dapat membuka pola perjalanan baru sekaligus memperluas manfaat pariwisata bagi masyarakat yang belum banyak terhubung dengan kegiatan wisata di destinasi utama. Melalui kegiatan trekking bersama pemandu lokal, wisatawan dapat mengenal kehidupan masyarakat, lanskap sabana, serta satwa liar di sekitar Kampung Kerora. Kegiatan tersebut dipadukan dengan edukasi konservasi penyu dan pelepasliaran tukik dengan tetap memperhatikan siklus alami serta prinsip perlindungan satwa. Ekowisata Kampung Kerora diresmikan pada 6 Maret 2025. Pengembangannya diarahkan untuk membuka peluang ekonomi melalui jasa pemanduan, transportasi, pengelolaan kegiatan, serta pengembangan produk lokal tanpa mengubah fungsi utama kawasan sebagai wilayah konservasi. Penetapan Balai Taman Nasional Komodo sebagai Badan Layanan Umum memberikan peluang untuk mengembangkan layanan konservasi dan wisata yang lebih adaptif, profesional, dan berkelanjutan. Dalam kerangka BLU, Kampung Kerora berpotensi menjadi salah satu unit layanan yang mendukung pengelolaan kunjungan, perlindungan habitat, peningkatan kualitas pengalaman wisatawan, dan penguatan ekonomi masyarakat. Reservasi dilakukan secara daring melalui Sistem Informasi Biawak Komodo atau SiOra. Paket trekking ditawarkan sebesar Rp200.000 untuk kelompok maksimal lima orang, sedangkan kegiatan pelepasliaran tukik sebesar Rp400.000 per kelompok. Pengembangan Kampung Kerora tidak semata-mata bertujuan menambah destinasi wisata. Program ini menjadi bagian dari upaya mengelola distribusi pengunjung, memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat, dan memperkuat perlindungan komodo, kakatua kecil jambul kuning, penyu, serta habitat alaminya. Balai Taman Nasional Komodo berharap Kampung Kerora dapat berkembang sebagai model layanan BLU yang mempertemukan kepentingan konservasi, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan wisata yang sesuai dengan daya dukung kawasan. Sumber: Naufal Tapawihardja - Mahasiswa Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung (+62895 3056 8398) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penyunting Berita: Karyasiswa Doktor Balai Taman Nasional Komodo Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813-10300-678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Belajar dari Jejaring Pemangku Kepentingan Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 31 Juli 2026 – Taman Nasional Komodo tidak dapat dikelola oleh satu institusi saja. Perlindungan keanekaragaman hayati, pengembangan pariwisata berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, pendidikan konservasi, dan penguatan ekonomi lokal membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan yang bekerja dalam peran masing-masing. Pesan tersebut menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa magang Balai Taman Nasional Komodo. Melalui jejaring profesional yang dibangun oleh Muhammad Ikbal Putera selama bekerja dalam pengelolaan Taman Nasional Komodo, para mahasiswa memperoleh kesempatan bertemu, berdiskusi, serta belajar langsung dari sejumlah pemangku kepentingan utama di Kabupaten Manggarai Barat. Para mahasiswa berdialog dengan perwakilan pengelola kawasan konservasi, pemerintah desa, lembaga pendidikan, lembaga pengelola destinasi, organisasi konservasi dan lingkungan, pelaku usaha pariwisata, serta kelompok masyarakat. Pertemuan tersebut memperkenalkan mereka pada beragam perspektif mengenai konservasi satwa liar, pengelolaan sampah, pendidikan lingkungan, pelestarian budaya, pemberdayaan masyarakat, pengembangan usaha lokal, dan tata kelola destinasi. Pemangku kepentingan yang ditemui antara lain Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Kepala Desa Golo Mori, Kepala SMK Negeri 1 Labuan Bajo, Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Komodo Survival Program, Indonesia Waste Platform, aktivis lingkungan Stevanus Rafael atau Plastic Man, pelaku usaha hotel dan restoran, Kelompok Tenun Ca Na’i, Kelompok Kopi Tuk Jaong Cama, serta penggagas Program Ranger Goes to School. Setiap pihak memiliki mandat, pengetahuan, pengalaman, dan pendekatan yang berbeda. Namun, seluruhnya memiliki keterhubungan dengan keberlanjutan Taman Nasional Komodo dan kehidupan masyarakat di sekitarnya. Melalui pertemuan tersebut, mahasiswa belajar bahwa pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan kesadaran kolektif, komunikasi yang terbuka, dan kolaborasi yang terus dipelihara. Proses ini juga menunjukkan bahwa pembelajaran generasi muda tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pengetahuan dapat tumbuh melalui percakapan, pengalaman lapangan, keteladanan, serta kesediaan para praktisi untuk membagikan pengalaman dan membuka ruang belajar. Bagi mahasiswa, para pemangku kepentingan bukan hanya menjadi narasumber, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran. Mereka membantu mahasiswa memahami kompleksitas pengelolaan Taman Nasional Komodo, mengenali berbagai kepentingan yang perlu diseimbangkan, serta melihat bahwa setiap pihak dapat memberikan kontribusi sesuai kapasitasnya. Kesediaan para pemangku kepentingan untuk menerima, membimbing, dan berbagi pengalaman juga mencerminkan pentingnya motivasi untuk merawat perkembangan generasi muda. Kolaborasi tidak hanya dibutuhkan untuk menyelesaikan persoalan konservasi saat ini, tetapi juga untuk menyiapkan generasi yang akan melanjutkan pengelolaan kawasan pada masa mendatang. Mahasiswa dan generasi muda perlu dipandang bukan hanya sebagai penerima pengetahuan, tetapi sebagai calon pemimpin, praktisi, peneliti, pengusaha, dan penggerak masyarakat yang kelak akan menjadi bagian dari masa depan Taman Nasional Komodo. Balai Taman Nasional Komodo berharap pembelajaran melalui jejaring pemangku kepentingan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian, dan tanggung jawab mahasiswa terhadap konservasi. Melalui semangat belajar bersama dan saling menguatkan, generasi muda diharapkan mampu tumbuh menjadi bagian aktif dari ekosistem pengelolaan Taman Nasional Komodo. Sumber: Zalfa Adinda Matania - Mahasiswa Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung (+62896 3258 8189) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penyunting Berita: Karyasiswa Doktor Balai Taman Nasional Komodo Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813-10300-678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Kelompok Tenun Ca Na’i: Merawat Budaya, Menguatkan Ekonomi, dan Menyuarakan Konservasi Pada Zona Penyangga Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, 31 Juli 2026 – Kelompok Tenun Ca Na’i di Desa Golomori, Kabupaten Manggarai Barat, berawal dari inisiatif pemberdayaan masyarakat yang digagas pada tahun 2022 oleh Fahri Ikhlas, Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama, dan Muhammad Ikbal Putera, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Taman Nasional Komodo. Inisiatif tersebut bertujuan membentuk kelompok tenun sebagai wadah pengembangan kapasitas dan usaha produktif bagi perempuan di salah satu desa penyangga kawasan konservasi Taman Nasional Komodo. Pembentukan Kelompok Tenun Ca Na’i merupakan bagian dari Program Pendampingan dan Pengembangan Masyarakat Balai Taman Nasional Komodo. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi lokal yang berjalan selaras dengan pelestarian budaya dan konservasi alam. Kegiatan pendampingan saat ini dilanjutkan oleh Yovi Septia, Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama, dengan dukungan pendanaan dari Balai Taman Nasional Komodo serta Proyek Penguatan Kelembagaan INFLORES. Keberlanjutan pendampingan menjadi bagian penting dalam memastikan kelompok tidak hanya terbentuk, tetapi juga mampu berkembang secara kelembagaan, meningkatkan kualitas produk, dan memperluas peluang usahanya. Sejak dibentuk, Kelompok Tenun Ca Na’i memperoleh pendampingan secara bertahap, mulai dari penguatan kelembagaan kelompok, pelatihan teknik menenun, pengembangan motif khas Golomori, peningkatan kualitas produk, hingga penguatan strategi pemasaran. Rangkaian pendampingan tersebut menjadi fondasi bagi kelompok untuk membangun usaha yang lebih terarah, mandiri, dan berkelanjutan. Saat ini, Kelompok Tenun Ca Na’i diketuai oleh Siti Nurmi dan beranggotakan 12 orang penenun. Keanggotaan kelompok merepresentasikan perempuan dari berbagai dusun di Desa Golomori, termasuk Kampung Raong yang diwakili oleh salah seorang anggota aktif, Hasna. Keterwakilan tersebut memperkuat posisi kelompok sebagai ruang bersama bagi perempuan Desa Golomori untuk berkarya, berbagi pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan mengembangkan produk tenun yang mencerminkan identitas masyarakat setempat. Perjalanan kelompok tersebut tidak terlepas dari ketekunan para anggotanya. Hasna menuturkan bahwa menjadi seorang penenun merupakan proses yang penuh tantangan. Para anggota harus membangun kembali semangat menenun, mempelajari teknik-teknik baru, meningkatkan mutu produk, serta memperkenalkan hasil karya mereka kepada pasar yang lebih luas. Pendampingan yang diberikan mendorong Hasna dan anggota kelompok lainnya untuk terus berkarya serta semakin percaya diri dalam mengembangkan tenun khas Golomori. Proses tersebut tidak hanya memperkuat keterampilan para anggota, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa warisan budaya lokal dapat dikembangkan menjadi sumber penghidupan yang bernilai dan berkelanjutan. Salah satu kekuatan Kelompok Tenun Ca Na’i terletak pada kemampuannya menerjemahkan kekayaan alam dan budaya lokal ke dalam motif-motif tenun. Flora, fauna, bentang alam, serta kehidupan masyarakat di sekitar Taman Nasional Komodo menjadi sumber inspirasi dalam proses penciptaan motif. Melalui pendekatan tersebut, setiap kain tenun tidak hanya memiliki nilai estetika dan ekonomi, tetapi juga membawa cerita mengenai hubungan masyarakat dengan alam dan budayanya. Tenun Ca Na’i menjadi media untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan, merawat identitas lokal, dan melestarikan kekayaan alam Taman Nasional Komodo. Perkembangan Kelompok Tenun Ca Na’i menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Ketika masyarakat memperoleh ruang untuk meningkatkan kapasitas, memperkuat kelembagaan, dan mengembangkan usaha berbasis potensi lokal, mereka juga dapat mengambil peran yang semakin penting dalam mendukung keberlanjutan kawasan konservasi. Balai Taman Nasional Komodo akan terus mendorong Kelompok Tenun Ca Na’i agar berkembang menjadi kelompok usaha masyarakat yang mandiri, mampu meningkatkan kualitas dan daya saing produk, serta memperluas akses pemasaran. Melalui setiap karya yang dihasilkan, kelompok ini diharapkan dapat menjadi duta pelestarian budaya lokal sekaligus menyuarakan nilai-nilai konservasi Taman Nasional Komodo kepada masyarakat yang lebih luas Sumber: Naufal Tapawihardja - Mahasiswa Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung (+62895 3056 8398) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penyunting Berita: Karyasiswa Doktor Balai Taman Nasional Komodo Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813-10300-678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

RGTS 2026 Hadir dengan Tiga Inovasi Pembelajaran di SMK Negeri 1 Labuan Bajo

Labuan Bajo, 31 Juli 2026 – Balai Taman Nasional Komodo kembali melaksanakan Program Ranger Goes to School (RGTS) pada tahun ajaran 2026/2027 dengan menghadirkan tiga inovasi pembelajaran untuk memperkuat pendidikan konservasi bagi generasi muda di Kabupaten Manggarai Barat. Ketiga inovasi tersebut meliputi perluasan pembelajaran kepada peserta didik Program Keahlian Perhotelan, pelibatan mahasiswa dalam tim pengajar, serta penggunaan modul ajar RGTS sebagai acuan pembelajaran di kelas. Kegiatan ini menjadi pelaksanaan RGTS yang keenam sejak program tersebut pertama kali diselenggarakan pada tahun 2022. Pada pelaksanaan tahun ajaran 2026/2027, pembelajaran diberikan kepada 216 peserta didik kelas X dari Program Keahlian Perhotelan dan Usaha Layanan Pariwisata di SMK Negeri 1 Labuan Bajo. Sebelumnya, RGTS lebih banyak melibatkan peserta didik Program Keahlian Usaha Layanan Pariwisata. Perluasan kepada Program Keahlian Perhotelan diharapkan dapat menjangkau lebih banyak calon sumber daya manusia pariwisata agar memahami nilai penting kawasan konservasi, pengelolaan destinasi, dan prinsip pariwisata berkelanjutan sejak di bangku sekolah. Inovasi berikutnya dilakukan dengan melibatkan mahasiswa Politeknik Pariwisata NHI Bandung dan Politeknik Elbajo Commodus sebagai bagian dari tim pengajar bersama para ranger Balai Taman Nasional Komodo. Sebelum mengajar, para mahasiswa mengikuti pembekalan intensif mengenai materi Taman Nasional Komodo, teknik mengajar, pengelolaan kelas, serta penciptaan ruang belajar yang interaktif dan kondusif. Keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat membangun kedekatan dengan peserta didik, memperkaya proses pembelajaran, serta memberikan inspirasi mengenai pendidikan tinggi dan peluang berkontribusi dalam pengelolaan konservasi dan pariwisata berkelanjutan. Tahun ini, tim RGTS juga mulai mengujicobakan modul ajar “Pengenalan Taman Nasional Komodo dan Pariwisata Berkelanjutan” yang telah disempurnakan dengan dukungan UNESCO pada tahun 2025. Modul tersebut disusun dalam tiga jilid yang memuat 12 topik berdasarkan rumpun keilmuan. Jilid pertama terdiri atas lima topik dasar untuk membantu peserta didik memahami Taman Nasional Komodo secara bertahap dan sistematis. Penggunaan modul ajar diharapkan dapat menjaga konsistensi materi, memudahkan pengajar dalam mengelola pembelajaran, serta mendukung pengembangan RGTS sebagai muatan lokal di sekolah. Melalui berbagai inovasi tersebut, Balai Taman Nasional Komodo berharap RGTS tidak hanya menjadi media penyampaian informasi, tetapi juga menumbuhkan rasa memiliki, kepedulian, dan tanggung jawab generasi muda terhadap kelestarian Taman Nasional Komodo. Kolaborasi antara pengelola kawasan konservasi, sekolah, dan perguruan tinggi diharapkan terus berkembang untuk membentuk sumber daya manusia pariwisata yang profesional, berkarakter, dan memiliki komitmen terhadap konservasi serta pariwisata berkelanjutan. Sumber: Mahasiswa Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung Zalfa Adinda Matania (+62896 3258 8189) Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penyunting Berita: Karyasiswa Doktor Balai Taman Nasional Komodo Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813-10300-678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Perdagangan Satwa Liar Kembali Terbongkar, Burung-Burung Dilindungi Diselamatkan di Tanjung Perak

Surabaya, 29 Juli 2026. Jalur transportasi laut kembali menjadi pintu yang dimanfaatkan dalam upaya peredaran satwa liar. Kali ini, puluhan burung, termasuk spesies yang dilindungi negara, berhasil diselamatkan setelah ditemukan tanpa dokumen resmi di atas KM. DLN Nusantara yang melayani rute Balikpapan–Surabaya. Pengungkapan tersebut mengingatkan bahwa perdagangan satwa liar masih menjadi ancaman nyata bagi kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia. Semua bermula pada Senin malam, 27 Juli 2026, sekitar pukul 23.50 WIB. petugas Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur Satuan Pelayanan Tanjung Perak melakukan pemeriksaan terhadap kapal yang baru bersandar di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dari hasil pemeriksaan ditemukan seorang kurir yang membawa sejumlah burung dalam empat boks plastik dan satu kardus tanpa dilengkapi dokumen yang dipersyaratkan. Kurir beserta barang bukti kemudian diamankan ke Kantor BKHIT untuk menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut sesuai kewenangan yang berlaku. Menindaklanjuti informasi tersebut, pada Selasa, 28 Juli 2026, Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), yang terdiri atas Hartono dan Deswara Hergo Prasetyo, melaksanakan identifikasi jenis sekaligus penyelamatan terhadap seluruh satwa yang diamankan. Hasil identifikasi menunjukkan sedikitnya terdapat 71 individu burung yang terdapat dalam kelima kotak, diantaranya 37 ekor Cica-daun Besar (Chloropsis sonnerati), dengan kondisi 36 individu hidup dan satu individu mati. Serta, 5 ekor Tiong Mas (Gracula religiosa), yang hanya menyisakan satu individu hidup, sementara empat lainnya ditemukan mati. Kedua jenis tersebut merupakan satwa liar yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan. Selain itu, petugas juga mengidentifikasi 27 ekor Kucica Kampung (Copsychus saularis), terdiri atas 24 individu hidup dan tiga individu mati, serta 2 ekor Jinjing Petulak (Tephrodornis gularis) yang seluruhnya masih hidup. Temuan ini memperlihatkan bahwa perdagangan satwa liar tidak hanya mengancam keberlangsungan populasi di habitat alaminya, tetapi juga menimbulkan risiko kematian yang tinggi selama proses pengangkutan. Satwa yang diperdagangkan kerap ditempatkan dalam ruang sempit dengan sirkulasi udara terbatas, mengalami stres berkepanjangan, dehidrasi, hingga luka fisik yang berujung pada kematian bahkan sebelum mencapai tujuan. Padahal, setiap individu burung memiliki fungsi ekologis yang penting bagi keseimbangan ekosistem. Burung-burung pemakan buah berperan sebagai penyebar biji berbagai jenis tumbuhan hutan, sedangkan burung pemakan serangga membantu menjaga keseimbangan populasi serangga secara alami. Hilangnya individu-individu tersebut dari alam, meskipun tampak dalam jumlah kecil, dapat memberikan dampak berantai terhadap dinamika ekosistem apabila terjadi secara terus-menerus. Sebagai bagian dari upaya penyelamatan, seluruh burung yang masih hidup segera dievakuasi menuju kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar KSDA Jawa Timur setelah melalui tindakan karantina oleh BKHIT Jawa Timur. Di fasilitas tersebut, satwa akan menjalani pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, pemulihan kondisi fisik, serta rehabilitasi sebelum dilakukan penilaian lebih lanjut mengenai kelayakan untuk dikembalikan ke habitat alaminya. Sementara itu, proses penanganan terhadap pihak yang membawa satwa masih dilakukan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BKHIT Jawa Timur sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengungkapan kasus ini kembali menegaskan pentingnya sinergi antar instansi dalam menjaga jalur-jalur distribusi yang berpotensi dimanfaatkan untuk peredaran satwa liar. Kolaborasi antara petugas karantina, aparat penegak hukum, dan Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi bagian penting dari upaya perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia agar satwa liar tetap berada di habitat alaminya, tempat mereka menjalankan peran ekologis yang tidak tergantikan. Setiap individu satwa yang berhasil diselamatkan bukan sekadar angka dalam laporan. Mereka adalah bagian dari mata rantai kehidupan yang menopang keseimbangan ekosistem. Ketika satu individu berhasil diselamatkan dan memiliki kesempatan kembali ke alam, sesungguhnya yang sedang dijaga bukan hanya kelangsungan hidup satu spesies, melainkan keberlanjutan fungsi alam yang menjadi penyangga kehidupan manusia. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Saat Asap Muncul di Tengah Patroli, Tim Berpacu Selamatkan Suaka Margasatwa Pulau Bawean

Gresik, 26 Juli 2026. Langkah Tim Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) sejatinya telah mengarah pulang. Setelah menuntaskan patroli rutin di Suaka Margasatwa Pulau Bawean, mereka meninggalkan jalur hutan dengan membawa data hasil pengamatan lapangan. Namun, sekitar pukul 14.00 WIB, Kamis (23/7), kepulan asap yang membumbung dari Blok Teneden mengubah arah perjalanan itu menjadi sebuah operasi tanggap darurat. Tanpa menunggu lama, tim segera bergerak menuju sumber asap. Setibanya di lokasi, mereka mendapati kebakaran hutan dan lahan tengah menjalar pada vegetasi bawah di kawasan konservasi. Waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Jika terlambat ditangani, api berpotensi meluas, apalagi di tengah musim kemarau ketika serasah, semak, dan rerumputan berada dalam kondisi kering serta mudah terbakar. Sebagai langkah awal, personel melakukan pemadaman secara manual menggunakan ranting dan batang pohon untuk memukul kobaran api agar tidak terus merambat. Di saat yang sama, koordinasi dilakukan dengan personel lain di Kantor RKW 09 Gresik–Bawean agar segera membawa peralatan pemadaman berupa jet shooter ke lokasi kejadian. Upaya tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari personel Balai Besar KSDA Jawa Timur, Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari, KPH Bawean Lestari, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember, hingga anggota Wanala Universitas Airlangga. Kolaborasi lintas unsur itu mempercepat proses pengendalian api sehingga sekitar pukul 15.00 WIB kobaran berhasil dipadamkan sebelum menjalar lebih luas. Setelah api padam, pekerjaan belum selesai Tim segera melaksanakan proses mop up atau pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa. Perhatian khusus diberikan pada dua rumpun bambu yang berada di dalam area terbakar. Berbeda dengan vegetasi lain, rumpun bambu memiliki lapisan serasah tebal dan rongga di bagian pangkal yang mampu menyimpan panas lebih lama. Bara api yang tampak padam di permukaan masih berpotensi memicu kebakaran ulang apabila tidak benar-benar dipastikan padam. Berdasarkan hasil pengukuran lapangan, luas areal terdampak diperkirakan sekitar ±0,3 Ha. Vegetasi yang terbakar didominasi oleh tegakan Jati (Tectona grandis) dengan lapisan bawah berupa semak dan rerumputan kering. Meskipun luasan kebakaran relatif terbatas, dampak ekologisnya tetap tidak dapat diabaikan. Api tidak hanya menghanguskan vegetasi bawah, tetapi juga menghilangkan ruang berlindung, tempat mencari makan, dan habitat sementara bagi berbagai satwa kecil seperti reptil, amfibi, serangga, mamalia kecil, hingga burung-burung yang bergantung pada lapisan serasah hutan. Dalam proses penelusuran lokasi, tim juga menemukan bekas pembakaran timbunan dedaunan kering yang terdiri atas daun kelapa, nipah, semak, dan rerumputan di sekitar titik awal kebakaran. Temuan tersebut menjadi indikasi awal yang memerlukan pendalaman lebih lanjut. Hingga laporan ini disusun, penyebab pasti kebakaran maupun pihak yang bertanggung jawab belum dapat dipastikan sehingga diperlukan pengumpulan informasi tambahan serta koordinasi dengan masyarakat dan pihak terkait. Lokasi kejadian diketahui berada di kawasan yang berbatasan dengan aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut menjadikan Blok Teneden memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi terhadap kebakaran yang dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pada musim kemarau ketika bahan bakar permukaan terakumulasi dalam jumlah besar. Karena itu, penanganan kebakaran tidak berhenti pada pemadaman api. Tim juga memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar mengenai bahaya pembakaran sisa vegetasi, pentingnya kewaspadaan selama musim kemarau, serta perlunya segera melaporkan apabila ditemukan kepulan asap di sekitar kawasan konservasi. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan perlindungan kawasan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api, tetapi juga oleh kecepatan mendeteksi ancaman sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih besar. Respon cepat yang ditunjukkan Tim RKW 09 Gresik–Bawean bersama para mitra di lapangan berhasil mencegah api meluas ke bagian lain Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Namun, di balik keberhasilan tersebut tersimpan pesan yang lebih penting: konservasi membutuhkan kewaspadaan yang tidak pernah berhenti. Di musim kemarau, satu kepulan asap dapat menjadi awal dari hilangnya habitat, terganggunya kehidupan satwa liar, dan rusaknya fungsi ekologis kawasan. Karena itu, perlindungan hutan tidak hanya menjadi tugas petugas konservasi, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. Sebab menjaga kawasan konservasi bukan sekadar memadamkan api yang telah menyala, melainkan memastikan api itu tidak pernah memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi ancaman bagi rumah terakhir keanekaragaman hayati Pulau Bawean. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Babak Baru Elang Ular Bawean

Gresik, 29 Juli 2026. Ketika kesadaran masyarakat menjadi harapan baru bagi sang penjaga langit pulau Bawean. Di bawah rindangnya pohon mangga di sebuah pekarangan rumah di Dusun Teluk Jati, Pulau Bawean, seekor burung pemangsa tergeletak dalam kondisi lemah. Sayapnya masih mampu mengepak, namun luka yang dialaminya membuat ia tak lagi sanggup menguasai langit yang selama ini menjadi wilayah jelajahnya. Burung itu adalah Elang Ular Bido Bawean (Spilornis cheela baweanus), subspesies endemik Pulau Bawean yang hanya dapat dijumpai di pulau kecil di utara Jawa tersebut. Sebagai predator puncak, keberadaannya menjadi penanda sehat atau tidaknya ekosistem hutan. Ketika seekor elang jatuh, sesungguhnya alam sedang menyampaikan sebuah pesan yang patut didengar. Empat hari sebelumnya, tepatnya pada 24 Juli 2026, Basri, warga Dusun Teluk Jati, menemukan satwa tersebut di bawah pohon mangga di belakang rumahnya. Tidak memahami bahwa burung yang ditemukannya merupakan satwa liar dilindungi, ia memilih memotret dan mengunggahnya ke media sosial untuk meminta bantuan mengenali identitasnya. Unggahan sederhana itu kemudian menjadi awal dari sebuah kisah yang berbeda. Informasi tersebut sampai kepada Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), yang segera mendatangi lokasi. Alih-alih memulai dengan pendekatan hukum, petugas memilih membuka ruang dialog. Mereka menjelaskan status perlindungan Elang Ular Bido Bawean, perannya dalam menjaga keseimbangan ekosistem, serta pentingnya mengembalikan satwa liar ke habitat alaminya. Pendekatan yang mengedepankan edukasi dan komunikasi itu disambut dengan sikap terbuka. Setelah memahami nilai ekologis satwa yang ditemukannya, Basri tanpa ragu menyerahkan Elang Ular Bido Bawean tersebut secara sukarela kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur agar memperoleh penanganan yang sesuai. Bagi dunia konservasi, penyerahan sukarela semacam ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perpindahan satwa dari tangan masyarakat ke lembaga konservasi. Peristiwa ini mencerminkan tumbuhnya kepercayaan publik bahwa penyelamatan satwa liar merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata-mata tugas pemerintah. Selanjutnya, Tim Matawali mengevakuasi satwa menuju kandang transit Pos Riset RKW 09 Gresik–Bawean. Di lokasi tersebut, Elang Ular Bido Bawean menjalani observasi, pemeriksaan kesehatan, dan perawatan awal untuk memastikan kondisi fisiknya sebelum dirujuk ke Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar KSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Serangkaian tindakan medis dan rehabilitasi akan menentukan apakah burung pemangsa itu mampu kembali menguasai langit Bawean. Sebagai subspesies endemik, Elang Ular Bido Bawean memiliki nilai konservasi yang sangat penting. Populasinya yang terbatas menjadikan setiap individu memiliki kontribusi besar terhadap keberlangsungan spesies di alam. Kehilangan satu individu bukan hanya mengurangi jumlah populasi, tetapi juga dapat memengaruhi keseimbangan rantai makanan pada ekosistem pulau yang memiliki karakteristik terisolasi. Di sisi lain, kisah ini memperlihatkan bahwa keberhasilan konservasi tidak selalu diawali oleh operasi penegakan hukum. Dalam banyak keadaan, perubahan justru lahir melalui komunikasi yang menghargai masyarakat sebagai mitra konservasi. Ketika informasi yang benar bertemu dengan kesadaran, masyarakat mampu mengambil keputusan yang berpihak kepada kelestarian alam. Peristiwa di Teluk Jati menjadi bukti bahwa pendekatan Communication as Conservation Solution bukan sekadar slogan, melainkan strategi nyata yang mampu membangun jembatan kepercayaan antara manusia dan alam. Seekor elang memperoleh kesempatan untuk hidup, sementara masyarakat memperoleh pemahaman baru mengenai pentingnya menjaga satwa liar tetap berada di habitatnya. Inilah babak baru bagi Elang Ular Bido Bawean. Namun lebih dari itu, ini juga merupakan babak baru bagi konservasi di Pulau Bawean, ketika masyarakat dapat berfungsi sebagai mitra yang tumbuh bersama dalam menjaga warisan hayati yang hanya dimiliki oleh pulau ini. Karena pada akhirnya, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari berapa banyak satwa yang berhasil diselamatkan, tetapi juga dari berapa banyak hati yang berhasil diyakinkan bahwa tempat terbaik bagi satwa liar bukanlah di tangan manusia, melainkan tetap di alam bebas, tempat mereka menjalankan perannya menjaga keseimbangan kehidupan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tembus Kabut Dataran Tinggi Yang, Tim Smart Patrol Temukan Jejak Luka di Suaka Margasatwa

Probolinggo, 24 Juli 2026. Kabut turun perlahan menutupi hamparan sabana dan hutan pegunungan di Dataran Tinggi Yang. Di bentang alam yang menjadi salah satu kantong penting keanekaragaman hayati Jawa Timur itu, langkah para petugas konservasi nyaris tenggelam dalam keheningan. Namun, di balik kesejukan pegunungan, mereka menemukan cerita lain. Jejak-jejak yang mengisyaratkan bahwa ancaman terhadap satwa liar masih membayangi kawasan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi kehidupan. Selama enam hari, mulai 13 hingga 18 Juli 2026, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Rengganis melaksanakan Smart Patrol di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Mengombinasikan patroli darat dan pemantauan udara menggunakan pesawat nirawak (drone), tim menyisir 18 grid pengawasan dengan cakupan area mencapai 1.232,02 Ha. Patroli ini bukan sekadar memastikan batas kawasan tetap aman. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi upaya membaca denyut kehidupan hutan sekaligus mendeteksi sedini mungkin berbagai bentuk gangguan terhadap ekosistem. Perjalanan dimulai dari Pos Baderan, tempat personel mempersiapkan logistik dan peralatan lapangan. Keesokan harinya, tim bergerak menuju batas kawasan menggunakan kendaraan roda dua sebelum melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Sabana Kecil. Dari lokasi inilah drone pertama diterbangkan, menjangkau Grid 37 yang berjarak sekitar 1,7 kilometer dari titik lepas landas. Pada hari-hari berikutnya, patroli berlangsung melintasi Sabana Cikasur, Cisentor hingga Danau Taman Hidup. Teknologi drone dimanfaatkan untuk memantau area-area yang sulit dijangkau akibat medan terjal, vegetasi rapat, maupun keterbatasan akses darat. Di salah satu titik pengamatan, tim bahkan harus mengubah target penerbangan. Rencana pemantauan menuju Grid 119 dibatalkan setelah pilot mempertimbangkan keberadaan tebing yang berpotensi mengganggu kualitas sinyal antara drone dan pengendali. Sebagai langkah mitigasi risiko, pemantauan dialihkan ke Grid 135 agar operasi tetap berlangsung aman dan efektif. Namun, tantangan terbesar justru datang dari alam. Menjelang akhir patroli, kabut tebal dan awan rendah menyelimuti kawasan pegunungan sehingga pemantauan udara pada Grid 56, 124, 125, 126, dan 127 tidak dapat dilaksanakan. Dalam pengelolaan kawasan konservasi, keselamatan personel dan keamanan operasi tetap menjadi prioritas utama. Di tengah keterbatasan itu, hutan masih memperlihatkan denyut kehidupannya. Tim mencatat sedikitnya delapan tanda keberadaan satwa liar. Antara lain, Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Babi Hutan (Sus scrofa), Kucing Tandang (Prionailurus planiceps), Ayam Hutan (Gallus spp.), Sikatan-rimba Gunung (Rhinomyias gularis), Cekakak Sungai (Todiramphus chloris), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), serta seekor elang yang belum teridentifikasi jenisnya karena jarak pengamatan yang cukup jauh. Keberadaan satwa-satwa tersebut menunjukkan bahwa Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang masih menyimpan kekayaan biodiversitas yang menjadi penyangga penting ekosistem pegunungan di Jawa Timur. Vegetasi kawasan pun masih didominasi oleh Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana), spesies khas pegunungan yang berperan menjaga kestabilan tanah, tata air, dan karakter lanskap dataran tinggi. Namun, di sela-sela jejak kehidupan itu, tim juga menemukan sesuatu yang berbeda. Bekas jebakan satwa. Sisa camp pemburu. Dan, jejak aktivitas pengolahan Ayam Hutan. Tidak ada pelaku yang dijumpai saat patroli berlangsung. Namun, temuan-temuan tersebut menjadi penanda bahwa tekanan terhadap kawasan konservasi masih nyata. Bagi petugas lapangan, benda-benda yang tertinggal itu bukan sekadar sisa aktivitas manusia. Ia adalah jejak luka yang ditinggalkan pada ruang hidup satwa liar. Setiap jebakan yang dipasang berpotensi mencederai satwa yang bukan menjadi target. Setiap aktivitas perburuan dapat mengganggu keseimbangan rantai makanan, mengurangi populasi satwa, bahkan mengancam keberlangsungan spesies yang menjadi bagian penting dari ekosistem hutan pegunungan. Karena itu, Smart Patrol tidak hanya berfungsi sebagai kegiatan pengamanan kawasan. Patroli menjadi instrumen penting dalam mendeteksi ancaman, mengumpulkan informasi lapangan, serta memastikan setiap perubahan kondisi kawasan dapat segera ditindaklanjuti melalui pengelolaan yang adaptif. Pelaksanaan patroli ini juga memperlihatkan bagaimana kolaborasi menjadi kunci keberhasilan konservasi. Kehadiran Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Rengganis bersama personel Balai Besar KSDA Jawa Timur memperkuat pengawasan di tingkat tapak sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap kawasan konservasi sebagai warisan bersama. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi drone menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi terus berkembang mengikuti kemajuan zaman. Citra udara membantu memperluas jangkauan pengawasan, mempercepat identifikasi potensi gangguan, serta meningkatkan efektivitas patroli pada kawasan dengan medan yang sulit dijangkau. Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, konservasi pada akhirnya tetap bertumpu pada langkah-langkah manusia yang rela menembus kabut, menyusuri lereng, dan membaca setiap jejak yang tertinggal di lantai hutan. Sebab di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, kabut mungkin akan selalu datang dan pergi. Tetapi selama masih ada para penjaga hutan yang setia mengawasi, setiap jejak luka yang ditemukan akan menjadi pengingat bahwa alam tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – BBKSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Musim Migrasi Belum Tiba, BBKSDA Jawa Timur Lepasliarkan Sikep Madu Asia

Bawean, 28 Juli 2026. Seekor Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) kembali mengudara di langit Pulau Bawean, Sabtu, 25 Juli 2026. Burung pemangsa yang sebelumnya diselamatkan dari pemeliharaan masyarakat itu dilepasliarkan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) setelah menyelesaikan seluruh tahapan rehabilitasi dan dinyatakan layak kembali ke habitat alaminya. Pelepasliaran dilaksanakan di kawasan Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Lokasi tersebut dipilih karena memiliki tutupan hutan yang masih baik serta ketersediaan sumber pakan alami berupa koloni lebah hutan dan sarang tawon, yang menjadi makanan utama Sikep Madu Asia. Kegiatan tersebut merupakan implementasi pendekatan konservasi rescue–rehabilitation–release yang diterapkan Balai Besar KSDA Jawa Timur sekaligus menjadi bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Satwa itu diterima BBKSDA Jawa Timur melalui Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean pada 9 Maret 2026 dari penyerahan sukarela masyarakat. Selama kurang lebih empat bulan, burung tersebut menjalani rehabilitasi di Pos Riset RKW 09 Gresik–Bawean. Proses rehabilitasi meliputi pemulihan kondisi fisik, pemeriksaan kesehatan, latihan terbang, hingga pembentukan kembali respons alaminya terhadap lingkungan. Karena proses penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran berlangsung pada bentang alam yang sama, tim menggunakan metode hard release, yaitu pelepasan langsung ke habitat tanpa melalui kandang habituasi. Pendekatan ini dinilai tepat karena individu tersebut telah mengenali karakteristik habitat Pulau Bawean sehingga risiko disorientasi relatif rendah. Sebelum dilepasliarkan, petugas memasang tanda sebagai identitas individu. Penandaan ini menjadi bagian dari sistem monitoring pascalepasliaran untuk mendukung pengumpulan data apabila satwa kembali teramati pada musim migrasi berikutnya. Setelah pintu kandang dibuka, Sikep Madu Asia segera terbang menuju tajuk pohon di sekitar lokasi. Burung tersebut tampak berpindah pada beberapa pohon sambil melakukan orientasi lingkungan sebelum akhirnya menghilang ke dalam tutupan hutan. Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur tetap melakukan pengamatan hingga satwa tidak lagi terlihat dan dipastikan tidak menunjukkan gangguan perilaku maupun kemampuan terbang. Pulau Bawean memiliki posisi ekologis yang penting dalam jalur migrasi burung pemangsa Asia Timur–Australasia ini. Setiap tahun berbagai jenis raptor migran memanfaatkan pulau ini sebagai lokasi persinggahan sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah musim dingin di Asia Tenggara maupun kembali ke daerah berbiaknya di Asia Timur. Pertimbangan pelepasliaran pada akhir Juli dipilih berdasarkan pertimbangan ekologis. Waktu tersebut berada di luar periode migrasi aktif sehingga individu hasil rehabilitasi memiliki kesempatan untuk membangun kembali kondisi fisik, mengenali habitat, dan beradaptasi dengan sumber pakan sebelum populasi burung migran mulai berdatangan pada September hingga Oktober. Selain itu, karakter habitat Suaka Margasatwa Pulau Bawean yang masih menyediakan koloni lebah dan tawon menjadi faktor penting. Sikep Madu Asia merupakan burung pemangsa yang memiliki adaptasi morfologi khusus berupa sisik kecil pada wajah dan bulu yang rapat sehingga mampu memangsa larva lebah maupun sarang tawon tanpa mudah mengalami sengatan. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan menyampaikan bahwa setiap pelepasliaran satwa liar bukan sekadar mengembalikan satu individu ke alam, melainkan memastikan fungsi ekologisnya kembali berjalan di habitat asli. "Konservasi tidak berhenti pada proses penyelamatan. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika satwa mampu kembali menjalankan peran ekologisnya di alam,” ujarnya. “Karena itu, rehabilitasi, pemilihan waktu pelepasliaran, kesesuaian habitat, hingga pemantauan pascalepasliaran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pulau Bawean memiliki arti penting sebagai habitat satwa liar sekaligus lokasi persinggahan burung migran dunia yang harus terus dijaga bersama," tandasnya. Melalui pemasangan tanda, BBKSDA Jawa Timur juga akan melaksanakan pemantauan berkala terhadap individu tersebut apabila kembali teramati di Pulau Bawean. Data hasil monitoring diharapkan dapat memperkaya basis data ilmiah mengenai pola migrasi raptor sekaligus mendukung penyusunan strategi pengelolaan habitat yang lebih adaptif. Pelepasliaran ini sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan konservasi merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) BBKSDA Jawa Timur, mahasiswa Departemen Biologi Fakultas Sains dan Analitika Data - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta Wanala Universitas Airlangga terlibat bersama dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari rehabilitasi hingga pengamatan pascalepasliaran. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap habitat dan populasi satwa liar, satu individu yang kembali terbang mungkin tampak sederhana. Namun, bagi konservasi, setiap individu yang berhasil kembali ke alam berarti satu mata rantai ekosistem tetap terjaga dan satu bagian penting dari jalur migrasi burung dunia tetap memiliki tempat untuk pulang. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Road to HKAN 2026, KPA GRAS Kunjungi Pusat Edukasi Madu Gold Nectar dan Laksanakan Donor Darah di PMI Kota Medan

Medan, 29 Juli 2026 – Menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Founder sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Nurhabli Ridwan, yang merupakan Kader Konservasi Alam (KKA) binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan rangkaian kegiatan bertajuk Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2026 dengan mengunjungi pusat edukasi dan panen madu murni Gold Nectar di Sukses Serasi Nusantara (SSNGlobal) yang berlokasi di Jalan Pembangunan No. 12 C, Namorambe, Kabupaten Deli Serdang. Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan aksi donor darah di Kantor Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (UDD PMI) Kota Medan pada Minggu (26/7/2026). Kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen GRAS dalam mengampanyekan konservasi alam melalui pendekatan yang lebih luas. Konservasi tidak hanya dimaknai sebagai upaya melindungi hutan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai gerakan membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan ekosistem, meningkatkan kualitas kesehatan, serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan. Dalam kunjungannya ke SSNGlobal, Nurhabli Ridwan mempelajari secara langsung proses budidaya lebah trigona tanpa sengat (Stingless Bee), mulai dari teknik pemeliharaan koloni, proses panen nektar, hingga pengolahan dan pengemasan produk secara higienis. Edukasi tersebut memberikan pemahaman mengenai peran penting lebah sebagai penyerbuk alami yang berkontribusi terhadap keberlangsungan ekosistem, produktivitas pertanian, dan pelestarian keanekaragaman hayati. Selain mengenal proses budidayanya, Nurhabli Ridwan juga memperoleh penjelasan mengenai berbagai keunggulan Gold Nectar yang dihasilkan dari varian Stingless Bee pilihan. Menurut pihak SSNGlobal, produk tersebut diproses secara alami dan higienis mulai dari tahap produksi hingga pengemasan untuk menjaga kualitas dan kemurniannya. Gold Nectar memiliki cita rasa khas berupa perpaduan rasa asam dan manis dengan tekstur yang lebih encer dibandingkan madu pada umumnya. Pihak SSNGlobal menjelaskan bahwa karakteristik tersebut membuat produk ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan. Gold Nectar juga mengusung konsep 3 in 1, yaitu memadukan nektar, propolis, dan bee pollen dalam satu botol. Untuk menjaga kualitas, proses panen dilakukan minimal setiap 45 hari sehingga menghasilkan nektar yang lebih matang. Produk ini diproses tanpa pemanasan, tanpa penambahan air gula, tanpa campuran bahan kimia, maupun bahan tambahan lainnya sehingga kemurniannya tetap terjaga. SSNGlobal juga menjelaskan bahwa nektar yang dihasilkan mengandung propolis dengan kandungan antioksidan yang diklaim lebih tinggi dibandingkan madu dari lebah bersengat. Selain itu, kualitas produk dijaga melalui pengendalian suhu ruangan secara konsisten sejak proses panen, penyimpanan, hingga pengemasan agar mutu Gold Nectar tetap terpelihara sampai diterima oleh konsumen. Founder GRAS, Nurhabli Ridwan, menyampaikan bahwa edukasi mengenai lebah trigona tanpa sengat merupakan bagian penting dalam membangun kesadaran masyarakat tentang hubungan erat antara konservasi alam dan keberlanjutan kehidupan. "Konservasi bukan hanya tentang menjaga kawasan hutan, tetapi juga menjaga seluruh rantai kehidupan yang ada di dalamnya. Lebah memiliki peran yang sangat besar sebagai penyerbuk alami yang membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Ketika habitatnya terlindungi, produktivitas pertanian, keanekaragaman hayati, dan ketahanan pangan juga akan tetap terjaga. Edukasi seperti ini penting agar semakin banyak masyarakat memahami bahwa menjaga alam berarti menjaga masa depan," ujar Nurhabli Ridwan. Usai mengikuti kegiatan edukasi dan panen madu, rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2026 dilanjutkan dengan aksi donor darah di Kantor UDD PMI Kota Medan. Aksi tersebut menjadi simbol bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap sesama. Menurut Nurhabli Ridwan, donor darah merupakan bentuk aksi kemanusiaan yang sederhana, tetapi memiliki manfaat besar karena dapat membantu memenuhi kebutuhan darah bagi pasien yang membutuhkan. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam kegiatan sosial sekaligus aktif mengambil peran dalam menjaga kelestarian lingkungan. "Semangat konservasi harus melahirkan kepedulian yang utuh. Kita menjaga alam agar kehidupan tetap berlangsung, dan kita mendonorkan darah untuk membantu menyelamatkan kehidupan manusia. Keduanya merupakan bentuk pengabdian yang sama-sama bernilai bagi masa depan. Saya berharap momentum Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2026 dapat menginspirasi lebih banyak anak muda untuk peduli terhadap lingkungan sekaligus aktif dalam aksi-aksi kemanusiaan," tambahnya. Melalui rangkaian kegiatan Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2026, GRAS berharap dapat mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memaknai konservasi sebagai gerakan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan. Pelestarian keanekaragaman hayati, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu secara berkelanjutan, gaya hidup sehat, serta aksi kemanusiaan merupakan bagian yang saling melengkapi dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Ke depan, GRAS akan terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk komunitas, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan organisasi kemanusiaan, dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan edukasi, konservasi, serta pengabdian kepada masyarakat. Momentum Hari Konservasi Alam Nasional 2026 diharapkan menjadi pengingat bahwa setiap individu memiliki tanggung jawab untuk menjaga bumi melalui aksi nyata demi mewujudkan Indonesia yang hijau, sehat, tangguh, dan berkelanjutan. Sumber: Nurhabli Ridwan ( Kader Konservasi Alam / KPA GRAS ) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Email: nurhabliridwan.gras@gmail.com
Baca Artikel

Mengenal Elang Jawa, Predator Puncak yang Butuh Aksi Nyata Kita

Bandung, 31 Juli 2026. Elang Jawa merupakan salah satu satwa liar dilindungi endemik Pulau Jawa. Pemilik nama latin Nisaetus bartelsi ini adalah burung pemangsa atau raptor yang diidentikan dengan lambang negara Republik Indonesia, Burung Garuda. Secara fisik, Elang Jawa memiliki jambul menonjol berwarna hitam di kepala yang jadi ciri khasnya. Warna bulunya coklat gelap di bagian punggung dan sayap, sementara bulu di bagian dada dan perut berwarna coklat terang dengan corak garis tebal kecoklatan. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, menyebutkan bahwa Elang Jawa termasuk dalam daftar satwa yang mutlak dilindungi oleh negara. Berdasarkan IUCN Red List, Elang Jawa (Javan Hawk-Eagle) berstatus Terancam Punah (Endangered). Berdasarkan pemaparan hasil monitoring Elang Jawa pada kegiatan Konsultasi Publik terkait Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa, yang dilaksanakan pada Jumat (31/07/2026) di Hotel Padma Bandung, diperkirakan populasi Elang Jawa ada 511 pasang atau sekitar 1.000 individu di alam liar. Populasi ini tersebar di 74 kantong habitat utama di Pulau Jawa dan Bali. Elang Jawa memiliki daya adaptasi di berbagai ketinggian, mulai dari dataran rendah hingga kawasan pegunungan pada ketinggian 3.000 mdpl. Mereka sangat bergantung pada hutan alam yang memiliki pohon-pohon tinggi (seperti Ficus dan Altingia) di lereng-lereng curam untuk bertengger, berburu, dan bersarang. Mereka juga berperan sebagai predator puncak dalam rantai makanan. Itulah mengapa kondisi hutan yang lestari dan ekosistem yang sehat menjadi indikator penting dalam menjaga kehidupan Elang Jawa di alam. Pemerintah terus berupaya dalam pelestarian Elang Jawa dengan berkolaborasi dengan berbagai mitra, di antaranya membangun Pusat Konservasi Elang Jawa Kamojang (PKEK), di Kamojang dan Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) di Sukabumi. Selain itu, Direktorat Jenderal KSDAE melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) dan Balai Taman Nasional di kawasan Jawa Barat, rutin melakukan patroli dan pemantauan sarang. Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik (KSG) yang memangku kepentingan teknis dalam upaya konservasi satwa liar, bersama mitra, akademisi, peneliti, komunitas dan masyarakat luas untuk menyusun Strategi Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Elang Jawa Periode Tahun 2026-2036. Saat ini, prosesnya sudah masuk dalam tahap konsultasi publik. SRAK diharapkan dapat menjadi panduan dalam upaya melestarikan Elang Jawa. Dan, melalui konsultasi publik yang direncanakan menjadi 3 sesi ini, dapat menjadikan SRAK lebih komprehensif, implementatif, dan selaras dengan kebutuhan konservasi di tingkat nasional maupun daerah. “Karena upaya pelestarian Elang Jawa tidak dapat dilakukan sendiri. Kami berterima kasih kepada berbagai pihak, dari mitra, PT. Djarum dan mitra-mitra lain, para akademisi dari berbagai universitas di Indonesia, teman-teman dari Raptor Indonesia (RAIN) dan pegiat konservasi, serta dari instansi/pemerintah daerah, juga masyarakat. Kerja konservasi adalah kerja bersama dan berkolaborasi,” ujar Direktur KSG, Ahmad Munawir, dalam pembukaan Konsultasi Publik SRAK Elang Jawa, Jumat (31/07/2026) melalui daring. Sumber: Sekretariat Direktorat Jenderal KSDAE

Menampilkan 65–80 dari 2.501 publikasi