Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Estafet Pengabdian Konservasi: Momentum Serah Terima Jabatan di Balai Besar KSDA Jawa Timur

Sidoarjo, 9 Oktober 2025. Dalam suasana penuh kehangatan dan rasa syukur, keluarga besar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menggelar acara Serah Terima Jabatan (Sertijab) pejabat struktural lingkup BBKSDA Jawa Timur, 9 Oktober 2025. Kegiatan ini bertempat di Kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur, Perum Permata Juanda, Sidoarjo. Dalam acara yang berlangsung khidmat ini, Krismanko Padang, S.H., M.H. resmi menerima tongkat estafet kepemimpinan sebagai Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA Jawa Timur, menggantikan I Ketut Catur Marbawa, S.Hut., M.Si., yang kini menempati jabatan baru sebagai Kepala Balai Taman Nasional Bunaken. Selain itu, Sumpena, S.P., yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, kini memimpin Seksi KSDA Wilayah III Surabaya. Sedangkan Asep Hawim Sudrajat, S.Hut., M.Ling. mendapat amanah baru sebagai Kepala Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan di bawah Bidang KSDA Wilayah II Gresik BBKSDA Jawa Timur. Momentum Sertijab dihadiri oleh seluruh pejabat struktural, pegawai BBKSDA Jawa Timur, serta tamu undangan dari instansi kehutanan di wilayah Jawa Timur. Suasana haru dan kebanggaan mewarnai setiap rangkaian acara, mulai dari penandatanganan berita acara serah terima jabatan, penyerahan memori jabatan, hingga sambutan perpisahan dan perkenalan pejabat baru. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., dalam sambutannya menegaskan bahwa serah terima jabatan bukan sekadar pergantian posisi, melainkan momentum regenerasi semangat pengabdian. “Konservasi memerlukan kesinambungan, dari yang senior ke yang muda, dari yang berpengalaman ke yang penuh energi baru. Semua untuk satu tujuan yaitu menjaga warisan alam Jawa Timur agar tetap lestari,” tambahnya. Dalam acara tersebut, I Ketut Catur Marbawa menyampaikan kesan mendalam atas kebersamaan dan kerja keras seluruh jajaran selama masa tugasnya di BBKSDA Jatim. Ia berpesan agar semangat kolaborasi dan profesionalisme tetap menjadi fondasi kuat dalam menjalankan misi konservasi. Sementara itu, pejabat baru, Krismanko Padang, dalam perkenalannya menegaskan komitmennya untuk melanjutkan kerja baik yang telah dibangun, serta memperkuat tata kelola organisasi menuju lembaga konservasi yang adaptif dan berdampak nyata bagi masyarakat serta lingkungan. Acara dilanjutkan dengan pemutaran video kenangan, penyampaian cinderamata, dan ucapan selamat dari seluruh pegawai BBKSDA Jawa Timur. Di akhir kegiatan, nuansa kekeluargaan terasa kental, menyatukan semangat semua insan konservasi di bawah satu misi besar, untuk menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem Jawa Timur agar tetap menjadi penyangga kehidupan. Konservasi adalah perjalanan panjang yang tak mengenal akhir. Hari ini, tongkat estafet berpindah tangan, namun api pengabdian akan terus menyala. Acara Serah Terima Jabatan dan Pisah Sambut ini merupakan tindak lanjut dari pelantikan pejabat manajerial lingkup Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan yang melibatkan 22 pejabat di seluruh Indonesia, termasuk di BBKSDA Jawa Timur. Hal ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kinerja kelembagaan konservasi di tingkat tapak. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Tanamkan Spirit Cinta Alam pada Generasi Muda di Meru Betiri

Banyuwangi, 9 Oktober 2025. Di bawah kanopi hutan di kawasan Taman Nasional Meru Betiri, suara debur ombak bertemu dengan nyanyian serangga hutan. Di tempat inilah, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur turut menyalakan semangat baru dalam kegiatan Meru Betiri Service Camp (MBSC) XVII, Selasa (30/9/2025). Sekitar 55 mahasiswa dari berbagai universitas di Eks Karesidenan Besuki berkumpul, menanggalkan sejenak kenyamanan kota, menelusuri makna konservasi dari sumbernya: hutan, laut, dan tanah yang memberi kehidupan. Dalam balutan program Pendidikan Konservasi, mereka belajar langsung dari para penjaga alam sejati, para pengendali ekosistem dan penyuluh kehutanan yang tiap hari bersentuhan dengan realitas lapangan. Hadir sebagai narasumber dari BBKSDA Jawa Timur, Ainy Amelya Utami - Penyuluh Kehutanan, bersama Mohamad Sukron Makmun - Pengendali Ekosistem Hutan, membawakan materi bertajuk Upaya Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Materi ini menyoroti kerja nyata BBKSDA dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, dari perlindungan satwa liar hingga pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa langka, tapi tentang membangun hubungan harmonis antara manusia dan alam. Sesi ini menjadi wadah refleksi sekaligus ruang dialog terbuka antara praktisi konservasi dan mahasiswa lintas disiplin ilmu. Diskusi berkembang hidup, mulai dari isu penyelundupan satwa, ancaman deforestasi, hingga strategi pelibatan masyarakat dalam konservasi. Kegiatan MBSC XVII bukanlah pertemuan pertama antara BBKSDA Jawa Timur dan Wadah Informasi Pecinta Alam Se-Eks Besuki (WIPAB). Dalam beberapa tahun terakhir, kolaborasi semacam ini menjadi jembatan penting dalam melahirkan kader-kader muda konservasi yang tidak hanya paham teori, tetapi juga berjiwa lapangan. Suasana penuh keakraban, ditingkahi percakapan serius di bawah teduhnya pohon-pohon tinggi, menjadikan MBSC bukan sekadar perkemahan pendidikan. Ia menjadi ritual penyadaran, tentang rapuhnya ekosistem dan tanggung jawab moral generasi muda untuk menjaganya. Melalui kegiatan seperti MBSC XVII ini, BBKSDA Jawa Timur terus memperkuat kolaborasi lintas generasi dan lembaga, memastikan bahwa api konservasi tidak padam. Di tangan para mahasiswa, semangat menjaga bumi kini bertransformasi menjadi gerakan sadar, terukur, dan penuh harapan. Kegiatan ini merupakan bagian dari sinergi antara BBKSDA Jawa Timur, WIPAB, dan Taman Nasional Meru Betiri dalam mendukung pendidikan konservasi dan penguatan kapasitas generasi muda pecinta alam di kawasan eks Besuki. "Kita tidak bisa mencintai apa yang tidak kita kenal. Maka, mengenal alam adalah langkah pertama untuk menjaganya." (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Jatim Tanamkan Jiwa Konservasi pada Calon Dokter Hewan di Banyuwangi

Banyuwangi, 6 Oktober 2025. Di sebuah ruang kuliah, aroma semangat dan rasa ingin tahu seolah memenuhi udara. Dua sosok dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Mohamad Sukron Makmun, seorang Pengendali Ekosistem Hutan, dan Ainy Amelya Utami, Penyuluh Kehutanan, berdiri di hadapan dua belas mahasiswa Program Profesi Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam - UNAIR Banyuwangi (6/10/2025). Namun hari itu, bukan sekadar kuliah biasa. Yang mereka bawa bukan teori kosong, melainkan cerita nyata dari lapangan, tentang bagaimana hukum, etika, dan empati bekerja dalam upaya penyelamatan satwa liar. Setiap tindakan penyitaan bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga langkah penyelamatan untuk memulihkan keseimbangan alam yang terganggu. Para mahasiswa tampak menyimak dengan seksama, mencatat setiap istilah, dan sesekali mengajukan pertanyaan yang menggambarkan kegelisahan dan rasa ingin tahu mereka. Bagaimana rasanya menangani satwa yang stres karena penyelundupan? Bagaimana menentukan apakah seekor burung hasil tangkapan layak dilepasliarkan? Materi tentang legislasi dan mekanisme penyitaan satwa dilindungi, disusul dengan topik penangkaran dan pelepasliaran satwa liar, membuka wawasan baru bagi para calon dokter hewan itu. Mereka diajak memahami bahwa di balik setiap tindakan medis terhadap satwa, ada aspek konservasi yang tak terpisahkan. Dalam sesi diskusi, suasana menjadi hidup. Mahasiswa menatap dengan mata berbinar, bukan hanya karena ilmu baru yang mereka dapat, tetapi karena kesadaran yang mulai tumbuh, bahwa profesi dokter hewan tak berhenti di ruang praktik, tapi juga berakar di hutan, di tempat di mana kehidupan liar dimulai. Kegiatan kuliah tamu ini menjadi bagian dari sinergi antara BBKSDA Jatim dan dunia pendidikan dalam memperkuat pemahaman lintas disiplin tentang zoonosis, kesehatan satwa, serta konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Adapun materi lanjutan tentang zoonosis telah disampaikan secara daring oleh drh. Indy pada 8 Oktober 2025. Dengan pendekatan edukatif yang hangat, BBKSDA Jatim menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan alam bukan hanya tanggung jawab satu profesi, tetapi tugas bersama. Lebih dari sekadar berbagi ilmu, kuliah tamu BBKSDA Jawa Timur menjadi jembatan antara dunia konservasi dan dunia medis. Mengingatkan bahwa setiap kehidupan satwa adalah bagian dari ekosistem yang saling bergantung. Karena di setiap napas kehidupan satwa liar, sesungguhnya berdenyut juga kehidupan manusia. Ketika manusia belajar memahami satwa, sejatinya ia sedang belajar memahami dirinya sendiri, tentang keseimbangan, empati, dan harmoni dengan alam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai Besar KSDA Sumatera Utara Dorong Kolaborasi Pengelolaan Areal Preservasi di Lanskap Batang Toru

Sipirok, 6 Oktober 2025. Untuk memperkuat upaya pelestarian ekosistem, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan bersama Direktorat Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi (PEBAP) Kementerian Kehutanan menyelenggarakan Wokshop identifikasi potensi areal preservasi secara partisipatif pada lanskap Batang Toru, bertempat di Hotel Tor Sibohi Nauli, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kamis (2/10/2025). Kegiatan ini menjadi langkah strategis Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk memperkuat sinergi lintas sektoral dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian ekosistem, keberlanjutan usaha dan kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitar lanskap Batang Toru. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S. Hut., M.AP., M. Env., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan atas terbitnya Peraturan Bupati Nomor 28 Tahun 2024 tentang Penataan Lintasan Satwa Liar sebagai tindak lanjut dari Amanat Undang-undang Nomor 32 Tahun 2024. Menurut Novita, kebijakan tersebut mencerminkan komitmen daerah dalam pelestarian keanekaragaman hayati dan dapat menjadi role model pengelolaan areal preservasi di tingkat nasional. Sejalan dengan hal tersebut, Bupati Tapanuli Selatan, H. Gus Irawan Pasaribu, S.E., Ak., M.M., CA., juga menyampaikan dukungan agar Kabupaten Tapanuli Selatan dapat menjadi percontohan nasional dalam pengelolaan areal preservasi yang berkelanjutan. Dalam pandangannya, pengelolaan areal preservasi seperti Batang Toru harus mampu menghadirkan keseimbangan antara pelestarian lingkungan, peluang usaha, kesejahteraan masyarakat dan konservasi keanekaragaman hayati (KEHATI). Penyelenggaraan worskhop ini memiliki makna penting mengingat lanskap Batang Toru merupakan salah satu kawasan dengan nilai ekologis yang sangat tinggi. Kawasan ini menjadi habitat bagi berbagai satwa, termasuk Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yaitu kera besar yang dilindungi, serta berbagai flora dan fauna endemik lainnya. Melalui workshop ini, Balai Besar KSDA Sumatera Utara berupaya memperkuat kolaborasi lintas sektor agar pengelolaan areal preservasi tidak hanya berorientasi kepada lingkungan, tetapi juga memperhatikan dimensi sosial dan ekonomi masyarakat lokal. Melalui pendekatan partisipatif yang diterapkan, menjadi sarana guna memastikan bahwa pelestarian alam dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan ini juga sebagai penegasan bahwa pelestarian areal preservasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan hasil dari sinergi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, lembaga swadaya masyarakat hingga komunitas adat yang selama ini menjaga hutan dengan kearifan lokal. Sehingga workshop ini bukan hanya menjadi forum diskusi teknis tetapi juga menjadi momentum strategis untuk mewujudkan tata kelola konservasi berbasis partisipasi dan berkelanjutan di lanskap Batang Toru. Workshop tersebut turut dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk unsur Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, pemegang izin usaha, lembaga swadaya masyarakat, serta kelompok masyarakat Hatabosi yang aktif dalam konservasi berbasis kearifan lokal. Berbagai narasumber turut berbagi pengalaman dan pandangan mengenai pengelolaan areal preservasi. Di antaranya, Dewi Sulastriningsih, Kasubdit Bina Areal Preservasi Kementerian kehutanan, yang menekankan pentingnya penguatan konservasi keanekaragaman hayati di tengah tiga krisis planet yaitu perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Sementara itu, Patar D.R. Manalu, S.E., QIA dari PTPN IV Kebun Batang Toru menjelaskan komitmen perusahaan untuk menjaga area Nilai Konservasi Tinggi (NKT) seluas 337 Ha, dan Julius Paulus Siregar dari Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) menyoroti urgensi pembangunan koridor ekologis satwa khususnya orangutan dengan jembatan arboreal dan sinkronisasi program kabupaten. Dari unsur masyarakat, Erwin Pasaribu, Ketua Kelompok Masyarakat Hatabosi, membagikan praktik kearifan lokal dalam menjaga hutan dan sumber air, dengan filosofi “Sian harangan do mual di aekta, sian aek i do mual ni ngolutta” (dari hutan sumber air kita, dari air sumber kehidupan kita). Dalam diskusi kelompok yang dipandu oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III, Susilo Ari Wibowo, S. Hut., M. Sc, dihasilkan sejumlah kesepakatan dan identifikasi potensi areal preservasi yang akan menjadi dasar penyusunan mekanisme kolaboratif pengelolaan di Kabupaten Tapanuli Selatan. Melalui workshop ini, Balai Besar KSDA Sumatera Utara berharap akan terwujud sinergi keberlanjutan antar pemangku kepentingan untuk melindungi kawasan Batang Toru sebagai lanskap penting untuk konservasi keanekaragaman hayati di Sumatera Utara. Sumber: Bidang KSDA Wilayah III-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Surga Percil Berselaput di Sudut Pulau Sempu, Menyimpan Masa Depan Hutan Jawa

Malang, 3 Oktober 2025. Di balik rawa-rawa yang tenang dan jernih airnya tertahan hujan, tim survei lima taksa jenis Lutung Jawa dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menemukan kejutan, lompatan-lompatan kecil dari makhluk yang sekilas tampak seperti belalang mungil. Namun setelah diamati lebih dekat, jelaslah bahwa yang mereka temukan bukanlah serangga, melainkan seekor amfibi unik, Percil Kaki Berselaput (Microhyla palmipes), percil berselaput yang jarang terlihat. Percil berselaput adalah sejenis kodok mini dari suku Microhylidae. Dalam bahasa Inggris ia disebut Palmated Chorus Frog atau Palmated Narrow-mouthed Frog. Satwa mungil ini memiliki penyebaran di Malaysia dan Indonesia bagian barat, termasuk Pulau Jawa dan Sumatra. Ukuran tubuhnya sangat kecil, kurang dari 20 mm pada jantan dewasa, menjadikannya salah satu amfibi terkecil di hutan Jawa. Ciri khasnya adalah mulut sempit, kaki ramping dengan selaput di jari, serta warna coklat-kehitaman yang menyamarkan mereka di balik serasah lembab hutan hujan. Kehadiran percil berselaput ini menjadi indikator kesehatan ekosistem rawa dan hutan tropis. Temuan ini menguatkan fakta bahwa Cagar Alam Pulau Sempu bukan hanya rumah bagi primata endemik Lutung Jawa, tetapi juga surga tersembunyi bagi herpetofauna. Meski tercatat dalam daftar IUCN Red List dengan status Least Concern (LC), spesies ini rentan terhadap degradasi habitat akibat pengeringan rawa, alih fungsi lahan, dan pencemaran lingkungan. Suasana pagi itu mempertegas makna temuan ini. Suara katak mungil bersahutan dari balik genangan, seakan menjadi orkestra hutan tropis yang menyambut setiap langkah tim. “Seolah-olah kita sedang berjalan di dunia lain,” ujar Tri Wahyu Widodo, anggota tim, menggambarkan bagaimana setiap pijakan kaki di serasah hutan Sempu memunculkan lompatan masa depan keanekaragaman hayati. Pantai Baru-baru sebagai titik temu kehidupan mikro yang rapuh namun vital. Penemuan kecil ini bukan sekadar catatan ilmiah, melainkan pesan ekologi bahwa menjaga rawa, hutan, dan cagar alam berarti menjaga orkestrasi kehidupan yang tak terlihat, sekecil apapun bentuknya. Penemuan percil berselaput di Blok Baru-baru mengingatkan kita bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga primata karismatik atau naga hutan, tetapi juga tentang merawat suara mungil yang kerap tak terdengar. Di setiap lompatan kecil percil berselaput, kita melihat cermin masa depan keanekaragaman hayati Pulau Sempu. Dan di setiap suara mungilnya, kita mendengar pesan alam, jangan abaikan yang kecil, sebab dari situlah ekosistem hutan tropis menemukan keseimbangannya. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Anggrek Hantu dari Cagar Alam Pulau Sempu

Malang, 4 Oktober 2025. Pulau Sempu kembali menyingkap misteri alamnya. Di hutan lembap Pantai Tanjung, Cagar Alam Pulau Sempu, sebuah sosok mungil yang nyaris tak terlihat manusia akhirnya terungkap. Adalah Taeniophyllum sp., anggrek epifit langka yang dikenal sebagai “anggrek hantu” tumbuhan miniatur yang hidup menggantung di batang pohon, hampir tanpa daun, seakan menjadi roh yang menyatu dengan inangnya. Temuan penting ini dilakukan oleh Dian Ayu Wahyundari, Polisi Kehutanan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur, yang juga cukup tertarik dengan dunia anggrek. Bersama tim survei Lima Taksa Jenis Lutung Jawa, langkah kakinya menelusuri jejak sunyi hutan tropis Sempu akhirnya menghadirkan penemuan yang menggetarkan hati para pemerhati konservasi. “Keberadaan Taeniophyllum sp. ini menegaskan betapa masih banyak kekayaan biodiversitas Sempu yang belum sepenuhnya kita pahami. Anggrek ini sangat rapuh, hanya tumbuh pada kondisi hutan yang benar-benar sehat,” ungkap Dian Ayu, sembari menatap batang pohon tua tempat anggrek mungil itu melekat. Kisah Penemuan di Hutan Pantai Siang itu, semilir angin laut bercampur dengan aroma tanah basah menyeruak saat tim survei menembus rimba Pantai Tanjung. Setiap langkah adalah pengamatan, setiap pandangan adalah pencarian. Hingga akhirnya, pada sebatang pohon tua yang berlumut, Dian Ayu mendapati seberkas hijau halus yang tak biasa. Hanya sebesar ruas jari, Taeniophyllum sp. melekat rapat di kulit pohon. Tanpa bunga mencolok, tanpa daun lebar yang menggoda pandangan, ia justru menampilkan kesederhanaan yang menakjubkan, akar-akar kecil yang melilit, menyerap kelembapan, dan bertahan dalam senyap. Anggrek epifit ini bukan sekadar catatan botani. Kehadirannya menandakan bahwa ekosistem hutan Pantai Tanjung masih menjaga kualitas hidup yang tinggi. Spesies seperti Taeniophyllum hanya bisa bertahan di habitat alami dengan kelembapan stabil, hutan teduh, dan simbiosis jamur mikoriza yang masih terjaga. Bila hutan terganggu, spesies rapuh ini akan menjadi yang pertama menghilang. Dengan demikian, penemuan Dian Ayu tidak hanya menambah daftar flora Pulau Sempu, tetapi juga memperkuat alasan mengapa kawasan ini harus tetap terlindungi dari ancaman degradasi. Bagi Dian Ayu, anggrek bukan sekadar tumbuhan hias. Ia adalah simbol ketahanan dan kerentanan alam sekaligus. “Setiap anggrek punya cerita. Taeniophyllum sp. mengajarkan kita untuk lebih peka pada detail kecil yang sering terlewat. Tugas kita adalah memastikan mereka tetap hidup, agar anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikan keajaiban ini,” ujarnya. Temuan ini menjadi bukti nyata bahwa Pulau Sempu masih menyimpan rahasia besar dalam skala kecil. Di balik megahnya lutung jawa, elang laut, dan hutan pantai tropis, ada kehidupan mungil yang berharga, anggrek hantu dari Pantai Tanjung. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Penetapan Logo Baru Balai Taman Nasional Gunung Merapi

Sleman, 2 Oktober 2025. Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menetapkan logo baru melalui Surat Keputusan Nomor 62 tahun 2025 tanggal 26 September 2025 tentang Penetapan Logo Balai Taman Nasional Gunung Merapi. Penetapan logo resmi ini dilakukan dalam rangka memperkuat identitas kelembagaan dan memudahkan pengenalan publik terhadap kawasan konservasi TNGM. Logo resmi tersebut merupakan representasi visual dari nilai-nilai konservasi, keanekaragaman hayati, dan karakteristik spesifik pada tapak TNGM. Adapun makna keseluruhan logo BTNGM adalah perwujudan tekad, harapan, dan komitmen untuk menciptakan kondisi ideal dan lestari bagi ekosistem kawasan konservasi TNGM. Pelestarian ini berlandaskan pada asas-asas negara, nilai-nilai daerah, prinsip konservasi alam, dan kearifan lokal yang bertujuan untuk kemaslahatan, kemajuan, dan kemanfaatan bagi manusia dan seluruh makhluk hidup di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dengan keluarnya SK ini, maka segala ketentuan yang mengatur dan/atau menggunakan logo lama BTNGM dinyatakan dicabut dan tidak berlaku. ** Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Benang Pengancam Alas Ireng

Ponorogo, 29 September 2025. Di tengah rimbunnya Cagar Alam Gunung Sigogor, sebuah temuan kecil mengungkap ancaman besar, beberapa helai benang tipis terbentang diam-diam di antara batang pohon, nyaris tak terlihat mata manusia. Bagi burung-burung hutan, jerat itu ibarat perangkap maut yang merenggut kebebasan dari langit. Temuan ini terjadi saat SMART Patrol yang dilaksanakan tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06 Seksi KSDA Wilayah II, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), pada 22–25 September 2025. Patroli difokuskan di Blok Secentong, kawasan inti Cagar Alam Gunung Sigogor, Kabupaten Ponorogo, mencakup grid 227 hingga 249 dengan luasan sekitar 4,44 hektare. Dengan kondisi cuaca cerah hingga mendung, tim menelusuri jalur setapak, mencatat flora-fauna, sekaligus mengawasi jejak ancaman terhadap kelestarian kawasan. Di sela keheningan hutan yang dipenuhi pohon gondang, pasang, hingga anggrek permata yang langka, tim mendapati bukti nyata praktik perburuan, sisa benang jerat yang terikat dari batang ke batang. Benang tipis itu mungkin terlihat sepele, namun menjadi bukti aktivitas manusia yang mengintai satwa liar, terutama burung. Selain jerat, tim juga mencatat kehadiran satwa penting seperti elang hitam (Ictinaetus malayensis), kijang (Muntiacus muntjak), takur (Psilopogon pyrolophus), musang (Paradoxurus hermaphroditus), hingga jejak yang diduga milik macan kumbang (Panthera pardus). Semua temuan ini menegaskan betapa Gunung Sigogor masih menjadi rumah bagi keragaman hayati Jawa Timur. Namun, bayangan ancaman selalu ada. Jerat burung dan jaring ilegal bukan sekadar tindak pelanggaran hukum, melainkan juga ancaman nyata bagi kelestarian satwa terbang yang berperan penting menjaga keseimbangan ekosistem. Sebagai langkah awal solusi, tim BBKSDA Jatim tidak hanya mencatat dan mengamankan bukti, tetapi juga melakukan sosialisasi singkat dengan masyarakat sekitar kawasan. Dialog sederhana ini menjadi jembatan kesadaran, bahwa hutan bukan sekadar ruang hidup bagi satwa, melainkan juga penopang kehidupan manusia. Patroli rutin berbasis SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) akan terus digiatkan untuk mendeteksi potensi ancaman sejak dini. BBKSDA Jatim juga mengajak masyarakat menjadi garda depan konservasi dengan melaporkan setiap indikasi jerat atau perburuan liar. Benang itu hanyalah sisa kecil, tapi bisa menjadi awal bencana ekologi jika dibiarkan. Kita harus memutus jerat, bukan hanya dari pohon ke pohon, tetapi juga dari pola pikir lama menuju kesadaran baru yaitu bagaimana manusia dapat hidup berdampingan dengan alam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Singkat, Makna Mendalam, Sepekan Bersama Konservasi di Pulau Bawean

Bawean, 29 September 2025. Hanya butuh satu minggu bagi Arlina Widhiastuti untuk merasakan bagaimana konservasi bukan sekadar wacana di ruang kelas, melainkan denyut kehidupan nyata di tengah masyarakat dan hutan Pulau Bawean. Mahasiswa yang sedang menjalani magang di Balai Besar KSDA Jawa Timur, Resort Konservasi Wilayah 10 Bawean mulai 21 hingga 27 September 2025 itu menuturkan, betapa singkatnya waktu yang ia habiskan, namun betapa mendalam kesan yang ia peroleh. Menggali Kearifan Lokal: Traditional Ecological Knowledge Hari-hari pertamanya dimulai dengan sebuah pengalaman yang jarang dimiliki mahasiswa sebayanya, menggali Traditional Ecological Knowledge (TEK) atau pengetahuan ekologi tradisional masyarakat Bawean. Bersama tim, Arlina turun langsung ke Kecamatan Tambak dan Sangkapura. Ia duduk berhadapan dengan warga setempat, menyimak kisah yang dituturkan. Dari mereka, ia mendengar bagaimana dedaunan, akar, dan batang tanaman dijadikan obat turun-temurun. Kuesioner menjadi panduan, sementara percakapan dari hati ke hati membuka pintu kearifan yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Wawancara ini memberi saya kesempatan berinteraksi langsung dengan masyarakat asli Bawean, dan saya menyadari bahwa pengetahuan lokal mereka adalah warisan berharga yang harus dijaga,” ungkapnya. Tak berhenti di sana, ia juga melakukan wawancara dengan metode snowball, berpindah dari satu narasumber ke narasumber lain, untuk menelusuri apakah tradisi penggunaan tanaman obat masih dipertahankan, atau mulai digeser oleh pengobatan medis modern. Pengalaman semakin berwarna ketika Arlina turut serta dalam pengambilan sampel tumbuhan di lapangan. Dari berbagai temuan, satu di antaranya mencatat sejarah sebagai kanditat jenis baru. “Dapat tergabung dalam tim Bioprospeksi dan menemukan kandidat spesies baru merupakan kebanggaan tersendiri bagi saya. Rasanya seperti ikut menuliskan satu huruf kecil dalam buku besar biodiversitas Indonesia,” ujarnya. Selain itu, matanya juga terbuka pada keragaman flora lain, anggrek lilin yang halus, pasak bumi yang kokoh, pohon pao yang berwibawa, hingga Prunus javanica yang tumbuh gagah di lereng hutan. Semua itu bukan hanya menambah pengetahuannya, melainkan juga menumbuhkan rasa kagum akan betapa kaya dan uniknya flora Nusantara. Hening Kastoba dan Elang: Simfoni Alam Bawean Tak hanya flora, Bawean juga memberi hadiah pengalaman yang membekas di sanubari. Dari ketinggian, Arlina memandang Danau Kastoba, permukaan airnya berkilau, tenang, seakan menjadi cermin langit. Pemandangan itu menenangkan, menghadirkan rasa syukur yang sulit dilukiskan kata. Saat tengah larut dalam kekaguman, seekor elang melintas di atas kepalanya, mengepakkan sayap lebar dengan anggun. Dalam sekejap, ia merasakan betapa agungnya satwa liar yang hidup di habitat aslinya, bebas dan merdeka. “Rasa lelah saya selama minggu pertama magang seakan terbayar lunas dengan momen-momen itu. Sungguh luar biasa,” tuturnya. Konservasi yang Menyentuh Kehidupan Sepekan terasa singkat, namun bagi Arlina, ia telah mendapatkan ilmu, keterampilan, dan kesadaran baru. Bahwa konservasi bukan hanya melindungi satwa dan tumbuhan, tetapi juga menjaga kearifan lokal masyarakat, memastikan keberlanjutan pengetahuan, dan merawat harmoni antara manusia dan alam. “Saya semakin menyadari bahwa kekayaan hayati dan kearifan lokal adalah dua hal yang saling menopang. Keduanya tak boleh dipisahkan, karena di sanalah letak kekuatan konservasi yang sebenarnya,” pungkasnya. Sepekan di Bawean mengajarkan Arlina bahwa konservasi adalah pertemuan antara ilmu dan tradisi, antara langkah di hutan dan suara masyarakat, antara pengetahuan baru dan kearifan lama. Dalam singkatnya waktu, ia menemukan bahwa menjaga hutan berarti juga menjaga kehidupan, bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk masa depan. Fajar Dwi Nur Aji – Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Lebih dari Magang, Tiara Nathania Belajar Makna Konservasi Sejati di Jantung Pulau Bawean

Bawean, 29 September 2025. Dalam waktu singkat, hanya satu minggu, Tiara Nathania bersama kedua rekannya menemukan dirinya berada di tengah perjumpaan yang jarang terjadi, menyatu dengan hutan, mendengar suara satwa liar, sekaligus duduk berdiskusi dengan masyarakat yang masih memegang erat kearifan lokal. Semua itu ia alami saat menjalani magang bersama tim Balai Besar KSDA Jawa Timur, Resort Konservasi Wilayah 10 Pulau Bawean, 23 -27 September 2025. Hari pertamanya dimulai dengan sebuah misi yang sederhana namun sarat makna: menggali pengetahuan tradisional (Traditional Ecological Knowledge/TEK) tentang tanaman obat. Bersama tim, Tiara mendatangi masyarakat di berbagai sudut Pulau Bawean, mewawancarai mereka mengenai tanaman-tanaman yang sering dipakai sebagai ramuan tradisional. “Meski ada keterbatasan bahasa, saya belajar bahwa banyak tanaman yang sering kita jumpai ternyata menyimpan khasiat luar biasa. Kegiatan ini bukan hanya menambah wawasan saya, tapi juga mengingatkan pentingnya menjaga kelestarian tanaman obat agar tidak hilang ditelan zaman,” ungkapnya. Pengalaman berikutnya membawa Tiara ke forum yang lebih luas: sosialisasi dan monitoring-evaluasi pemanfaatan air. Kegiatan ini mempertemukan BBKSDA Jatim dengan kelompok-kelompok pemanfaat air yang ada di Bawean. Bagi Tiara, forum itu bukan sekadar pertemuan formal. Ia melihat langsung bagaimana komunikasi dua arah terbangun, masyarakat menyampaikan aspirasi, sementara pihak konservasi hadir untuk mendengar dan mendukung. “Bagi saya, kegiatan ini seperti jembatan yang menghubungkan BBKSDA dengan masyarakat. Lewat diskusi ini, tercipta rasa saling menghargai dan percaya,” tuturnya. Puncak pengalaman Tiara adalah saat ia ikut serta dalam Smart Patrol di kawasan Suaka Margasatwa Bawean. Jalur yang dilalui tidak mudah, berbukit, panjang, dan melelahkan. Namun setiap langkahnya menghadirkan kejutan baru. Ia mendengar suara khas Cekakak Jawa, menemukan tumbuhan seperti Tanjang gunung, Kendung, Gondang, Badung, dan Duwet, hingga melihat tanda-tanda keberadaan satwa liar, bekas gesekan tanduk Rusa Bawean pada batang pohon, serta jejak kaisan Babi Kutil. “Semua temuan itu membuat saya merasa seperti sedang membaca buku besar tentang kehidupan liar, hanya saja halamannya adalah tanah, pohon, dan suara hutan,” kata Tiara penuh kagum. Refleksi Sepekan: Belajar dari Alam dan Tim Meski baru sepekan, pengalaman itu bagi Tiara adalah momen langka, sulit ditukar dengan apa pun. Ia bukan hanya belajar tentang tumbuhan, satwa, atau kearifan lokal, tetapi juga tentang kerja sama tim dan arti kebersamaan. “Suatu keberuntungan bagi saya bisa bekerja bersama orang-orang hebat dari BBKSDA Jatim. Pengalaman ini memberi saya banyak ilmu, keterampilan, dan rasa kagum yang akan saya kenang lama,” pungkasnya. Bagi Tiara Nathania, minggu awal di Bawean bukan sekadar magang. Itu adalah perjalanan batin, perjumpaan dengan pengetahuan lama dan temuan baru, sebuah pengingat bahwa konservasi hidup dalam langkah kecil, dari wawancara sederhana dengan masyarakat, hingga menyusuri jejak rusa di hutan. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sisi Lain Bioprospeksi di Pulau Bawean: Ungkap Potensi Prunus arborea, Kayu Paek, dan Kandidat Spesies Baru

Gresik, 29 September 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan kegiatan bioprospeksi di Suaka Margasatwa Pulau Bawean menjelang akhir September 2025. Kegiatan ini bertujuan mengidentifikasi potensi tumbuhan bernilai ekologis dan medis, serta memperkuat upaya konservasi di kawasan pulau. Tim lapangan diperkuat mitra dari Yayasan Generasi Biologi Indonesia, Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari, serta mahasiswa magang dari Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Dalam pelaksanaan kegiatan, tim berhasil mendokumentasikan dan mengambil sampel dari Prunus arborea yang ditemukan di kawasan Danau Kastoba, serta Prunus javanica atau kayu paek yang tumbuh alami di Blok Panggambean dan Gigir Gunung. Jenis-jenis ini memiliki potensi besar, baik dalam bidang penelitian medis maupun fungsi ekologis, karena mampu menyimpan dan menjaga keseimbangan air di habitatnya. Selain itu, hasil eksplorasi lapangan juga mengindikasikan adanya sekitar enam kandidat spesies baru tumbuhan yang belum pernah tercatat sebelumnya. Temuan ini semakin memperkuat peran Pulau Bawean sebagai salah satu kawasan dengan kekayaan biodiversitas tinggi di Jawa Timur. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyampaikan bahwa hasil ekspedisi ini menjadi pijakan penting bagi arah konservasi ke depan. “Prunus arborea dan kayu paek bukan sekadar pohon hutan. Mereka adalah penyangga ekosistem, penyimpan air, dan penopang kehidupan masyarakat Bawean. Temuan kandidat spesies baru juga menegaskan pentingnya bioprospeksi sebagai dasar perencanaan konservasi yang berpihak pada masyarakat, tanpa mengorbankan kelestarian alam,” tegasnya. Lebih lanjut, Nur Patria menambahkan bahwa kegiatan bioprospeksi ini juga selaras dengan upaya ketahanan pangan sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia. “Konservasi tidak boleh dipandang semata sebagai upaya menjaga satwa dan tumbuhan, tetapi juga sebagai fondasi ketahanan pangan bangsa. Hutan yang sehat menjamin ketersediaan air, menjaga kesuburan tanah, dan menyediakan sumber pangan alami yang berkelanjutan. Dengan riset bioprospeksi, kita bisa menemukan potensi tumbuhan obat, buah hutan, hingga sumber protein alternatif yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional tanpa merusak ekosistem,” jelasnya. Perwakilan Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari, Bustanul Muhaddisin, menuturkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini menjadi kebanggaan tersendiri. “Kami sebagai warga Bawean merasa memiliki hutan dan alam pulau ini. Dengan ikut serta dalam bioprospeksi, kami belajar langsung bahwa menjaga pohon berarti menjaga sumber air, menjaga pangan, bahkan menjaga masa depan anak cucu kami. Kami siap mendukung langkah konservasi ini karena manfaatnya nyata untuk kehidupan masyarakat,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, BBKSDA Jatim meneguhkan komitmen bahwa konservasi tidak hanya menjaga pohon dan satwa, tetapi juga menjaga air, pangan, budaya, dan masa depan generasi mendatang. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji – Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Di Balik Lelah Menyusuri Hutan Bawean, Shalmiah Aegesti Justru Menemukan ‘Bonus Manis’ Konservasi

Bawean, 29 September 2025. Matahari baru saja menembus tipis kabut pagi, menyalakan kilau zamrud di permukaan Danau Kastoba. Suara burung bersahutan, diselingi desir angin yang menggerakkan pucuk-pucuk pohon. Di jalur setapak yang menanjak, langkah-langkah berat terdengar. Sepasang sepatu lapangan yang kotor oleh lumpur tetap melangkah, meski napas pemiliknya mulai memburu. Ia adalah Shalmiah Aegesti, mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Bersama tim Balai Besar KSDA Jawa Timur, Shalmiah ikut serta dalam kegiatan bioprospeksi di Suaka Margasatwa Pulau Bawean, 23 hingga 27 September 2025. Bagi banyak orang, bioprospeksi mungkin terdengar seperti istilah teknis yang jauh dari keseharian. Namun bagi Shalmiah, pengalaman itu adalah perjumpaan langsung dengan denyut nadi kehidupan hutan. “Saya merasa setiap langkah membawa ilmu baru. Lelah itu ada, tapi justru terasa seperti bonus manis dari belajar langsung di alam,” katanya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan, meski keringat masih menetes di pelipisnya. Di tengah perjalanan, tim berhenti di tepian Danau Kastoba. Di sanalah mereka menemukan Prunus arborea, tegak kokoh di tepi air yang jernih. Jenis ini dikenal sebagai penyimpan air alami, sekaligus penopang ekosistem di sekitarnya. Perjalanan berlanjut ke Blok Panggambean dan Gigir Gunung di hari berikutnya. Jalur menanjak membuat kaki terasa semakin berat, tetapi temuan berikutnya menghapus lelah, Prunus javanica, atau kayu paek. Pohon ini, yang tumbuh alami di lereng-lereng curam, menyimpan potensi besar dalam penelitian medis, sekaligus menjaga ketersediaan air di habitatnya. Bagi masyarakat Bawean, pohon-pohon ini lebih dari sekadar hutan. Mereka adalah penyangga kehidupan, air yang mengalir lirih dari akar-akar mereka memberi kehidupan bagi sawah, ladang, dan rumah tangga di pulau kecil ini. Menjadi Bagian Jejak Baru dalam Sejarah Tumbuhan Namun ekspedisi ini tak berhenti di sana. Dari catatan lapangan, tim menemukan indikasi adanya temuan luar biasa yang belum pernah tercatat sebelumnya. Seolah Pulau Bawean berbisik, bahwa ia masih menyimpan misteri, menunggu untuk ditulis dalam lembaran ilmu pengetahuan. Bagi Shalmiah, momen ini lebih dari sekadar catatan akademik. “Saya belajar bahwa konservasi bukan hanya menjaga hutan tetap hijau. Ini tentang menjaga ilmu, menjaga air, menjaga pangan, menjaga budaya, dan menjaga masa depan generasi,” tuturnya. Belajar dengan Seluruh Indra Setiap hari, Shalmiah dan tim berjalan kaki menyusuri jalur hutan yang menantang. Bau tanah basah, aroma getah pohon, kicau burung endemik, hingga suara serangga malam, menjadi bagian dari buku pelajaran yang tak tertulis. Rasa lelah memang selalu ada. Lutut terkadang bergetar saat menuruni lereng licin, dan pundak terasa berat menanggung peralatan penelitian. Namun justru di titik-titik itulah Shalmiah menemukan esensi konservasi, bahwa menjaga alam bukanlah pekerjaan mudah, melainkan pengorbanan yang memberi kepuasan batin. “Kadang capek terasa seperti ‘bonus manis’ dari belajar langsung di lapangan. Setiap langkah terasa berarti, seolah saya ikut menjaga warisan alam ini,” ucapnya. Konservasi: Menjaga Hidup, Bukan Sekadar Hutan Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, kegiatan ini menegaskan bahwa konservasi tak berhenti pada menjaga pohon dan satwa. Lebih jauh, konservasi berarti menjaga keseimbangan air, menjaga pangan masyarakat, merawat budaya lokal, dan memastikan keberlanjutan hidup generasi mendatang. Bagi Shalmiah, pengalaman magang ini akan menjadi penanda perjalanan hidupnya. Ia tak hanya pulang dengan catatan lapangan dan sampel tanaman, melainkan juga dengan pandangan baru, bahwa hutan bukan sekadar ruang hijau, tetapi ruang hidup yang menghidupi. Harapan dari Jejak Kaki di Bawean Saat senja jatuh di Pulau Bawean, Shalmiah duduk di tepi hutan, menatap matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan. Lelahnya belum hilang, tapi wajahnya dipenuhi rasa syukur. Ia tahu, pengalaman ini akan terus terpatri dalam ingatannya. Kegiatan bioprospeksi ini bukan hanya mencatat nama-nama latin tumbuhan, melainkan juga mencatat harapan. Harapan bahwa di tengah tantangan zaman, masih ada generasi muda yang mau menapaki jalur konservasi dengan sepenuh hati. Pulau Bawean mengajarkan, setiap langkah kecil yang diambil di hutan, bisa jadi langkah besar bagi masa depan bumi. Di balik lelah seorang mahasiswa magang, tersimpan cerita besar tentang manusia dan alam yang saling menopang. Shalmiah Aegesti bukan hanya belajar dari hutan Bawean, ia juga meninggalkan jejak, bahwa konservasi adalah jalan hidup, bukan sekadar pekerjaan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Bersama UMPO Deklarasikan Pelestarian dan Edukasi Konservasi

Ponorogo, 26 Agustus 2025. Pagi itu, ribuan pasang mata memenuhi Expotorium Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO). Lebih dari 600 mahasiswa duduk, menyimak dengan khidmat tatkala Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Agr.Sc., Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), membawakan kuliah umum bertajuk “Forest Resources Conservation”. Dalam bahasa yang lugas, beliau mengingatkan bahwa hutan bukan sekadar bentangan hijau, melainkan sumber kehidupan, penyangga ekosistem, sekaligus warisan tak ternilai untuk generasi mendatang. “Konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa dan pepohonan, melainkan menjaga keberlanjutan hidup kita sendiri. Generasi mudalah yang akan menentukan masa depan bumi,” tegasnya di hadapan mahasiswa yang menjadi saksi sejarah hari itu. Momentum kuliah umum ini menjadi pintu pembuka bagi sebuah langkah besar, penandatanganan Deklarasi Dukungan Pelestarian Lingkungan dan Penguatan Edukasi Konservasi antara Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Deklarasi tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala BBKSDA Jatim, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., dan Rektor UMPO, Dr. Rido Kurnianto, M.Ag., dengan disaksikan jajaran rektorat, dosen, mahasiswa, penangkar Merak Hijau, serta pimpinan Muhammadiyah Ponorogo. Deklarasi ini memuat lima butir komitmen, mulai dari sinergi pendidikan dan penelitian, dukungan pendirian Edupark UMPO sebagai taman konservasi pendidikan, hingga menjadikan penangkaran Merak Hijau (Pavo muticus) sebagai program unggulan. Merak Hijau bukan sekadar satwa endemik dilindungi, tetapi juga ikon budaya Reyog Ponorogo, simbol kebanggaan sekaligus pengingat bahwa pelestarian alam dan tradisi lokal berjalan seiring. “Dengan dukungan perguruan tinggi, konservasi tidak boleh berhenti pada perlindungan hutan dan satwa. Ia harus menjadi gerakan edukatif yang mengakar, melibatkan generasi muda, dan menguatkan budaya lokal,” ungkap Nur Patria Kurniawan, menegaskan visi besar yang ingin dicapai. Sebagai bentuk penghargaan, Dirjen KSDA memberikan apresiasi kepada mitra yang berkontribusi nyata dalam kegiatan konservasi di Jawa Timur, Jaga Satwa Indonesia (JSI) Madiun, komunitas relawan penyelamat satwa liar, KTH Gentan Hijau Berseri, pengembang penangkaran Merak Hijau sekaligus pelestari budaya Reyog; serta Surat Wiyoto (Mbah Surat), tokoh pelopor penangkaran Merak Hijau di Madiun. Kerja sama ini akan berlangsung selama tiga tahun, dengan program nyata meliputi kuliah umum, magang mahasiswa di kawasan konservasi, KKN tematik konservasi, hingga Festival Konservasi dan Lingkungan tingkat regional. Edupark UMPO akan dikembangkan menjadi ruang edukasi konservasi yang bukan hanya menanamkan pengetahuan, melainkan juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga alam. Deklarasi ini bukan sekadar hitam di atas putih, tetapi sebuah ikrar moral. Dari jantung Kota Reyog, suara konservasi bergema bahwa pelestarian hutan, satwa, dan budaya lokal adalah warisan berharga yang harus dirawat bersama. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi fondasi kuat agar generasi mendatang tetap dapat melihat Merak Hijau menari di alam liar, sebagaimana megahnya “Dadak Merak” di panggung Reyog Ponorogo. Sumber: Arief Adhi Pratama & Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada BBKSDA Jatim
Baca Artikel

Mengenal Surili Sumatera

Ada yang tau nama satwa ini? Yuk kenalan lebih dekat dengan primata satu ini. Simpai: mahkota hutan yang terancam punah, suaranya nyaring tapi nasibnya sunyi. Simpai, atau Surili Sumatera (Presbytis melalophos), adalah primata endemik Pulau Sumatera yang hidup di kawasan hutan Nasional, termasuk Taman Nasional Batang Gadis. Primata ini dikenal dengan suara melengking bernada tinggi yang digunakan untuk berkomunikasi dalam kelompok dan merespons ancaman. Mereka aktif di tajuk pohon tinggi dan jarang turun ke tanah, menjadikan hutan sebagai rumah sekaligus tempat perlindungan. Ciri fisik Simpai sangat khas: jambul hitam menyerupai mahkota di kepala, tubuh ramping sepanjang 45–49 cm, berat sekitar 5–6 kg, dan ekor panjang mencapai 71 cm. Warna bulunya bervariasi dari jingga terang hingga kelabu gelap, tergantung subspesiesnya. Mereka hidup berkelompok dan mencari makan berupa pucuk daun, buah-buahan, bunga, dan biji di pepohonan tinggi. Sayangnya, Simpai kini berada dalam status “Endangered” menurut IUCN Red List. Populasinya terus menurun akibat fragmentasi habitat dan gangguan manusia. Oleh karena itu, mereka telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi melalui Peraturan Menteri LHK No. 18 Tahun 2024. Melindungi Simpai berarti menjaga keseimbangan ekosistem hutan Sumatera. Suara Simpai, Nafas Hutan Sumatera. Jangan biarkan suara alam ini padam. Saatnya kita peduli. Sumber: BTN Batang Gadis
Baca Artikel

Sosialisasi Pencegahan Perusakan Hutan Terkait Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi

Kandangan, 19 September 2025 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan bersama Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Wilayah Kalimantan melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan perusakan hutan dan perlindungan tumbuhan serta satwa liar dilindungi, bertempat di Kantor Camat Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan masyarakat sekitar hutan Desa Lumpangi dan Hulu Banyu, Masyarakat Peduli Api Wilayah Kandangan, Pelajar SMA 1 dan 3 Kandangan, Damkar Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah serta LSM Yayasan Meratus Hijau. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman serta kesadaran masyarakat terhadap bahaya perusakan hutan, perambahan, penebangan liar, perburuan, hingga perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi undang-undang. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini diisi oleh narasumber dari BKSDA Kalimantan Selatan, Bp.Jarot Jaka Mulyono, S.Hut.M.Sc, yang memaparkan tentang Jenis-jenis TSL yang dilindungi di Provinsi Kalsel. Narasumber ke-2 adalah Balai Gakkum Wilayah Kalimantan Bp.Selamet, yang menyampaikan materi tentang peran Gakkum dalam penegakan hukum TSL di Kalimantan. Dan narasumber ke-3 berasal dari Satreskrim Polres Hulu Sungai Selatan, Iptu May Pelly,SH MH, yang menyampaikan materi tentang penegakan hukum TSL di Kab Hulu Sungai Selatan. Acara Sosialisasi secara resmi dibuka Kepala KPH Hulu Sungai, yang diwakili oleh Kepala Tata Usaha, Dwi Raharjo, S.Hut. Dalam sambutannya, ditekankan tentang pentingnya menjaga dan melestarikan TSL yang saat ini menghadapi berbagai tantangan. Peran masyarakat sangat diharapkan dalam melaporkan kegiatan pemanfaatan secara ilegal terutama perdagangan berbasis media sosial. Melalui sosialisasi ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif masyarakat Kandangan dan sekitarnya untuk menolak segala bentuk aktivitas ilegal yang merusak hutan maupun memperdagangkan TSL dilindungi, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang. Dan yang paling penting peserta dapat menjadi agen pemerintah untuk turut menggaungkan pesan konservasi kepada publik. (Ryn) Sumber : Jarot Jaka Mulyono, S.Hut, M.Sc (Call Center BKSDA Kalimantan Selatan) & Doc. by : Riyan Susilo Adji, S.Kom (Prakom BKSDA Kalimantan Selatan)
Baca Artikel

Ficus, Kunci Meredam Konflik Monyet dan Manusia

Kediri, 11 September 2025. Sore itu, Kamis (11/9/2025), langit Cagar Alam Manggis Gadungan diselimuti warna keemasan ketika rombongan dari Balai Taman Nasional Kutai, BKSDA Kalimantan Timur, dan PT Pupuk Kaltim tiba di pos jaga kawasan. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi. Mereka datang untuk belajar, menanam, sekaligus menggali hikmah dari pohon yang sering dianggap sederhana, namun menyimpan kekuatan besar bagi hutan tropis: ficus. Setiba di lokasi, para tamu langsung diarahkan menuju Pusat Ficus Nasional (PFN), zona penyangga yang kini menjadi pusat pembelajaran dan konservasi. Dengan dipandu para relawan dari Yayasan Masyarakat Ficus Indonesia dan Wild Water Indonesia, mereka menanam 12 bibit ficus. Setiap bibit yang ditanam seakan menjadi simbol harapan bahwa pohon-pohon ini kelak akan menyediakan pakan alami bagi satwa, menjadi tempat berlindung bagi burung, dan meredam potensi konflik antara manusia dengan monyet ekor Panjang yang sering terjadi di sekitar kawasan. Pohon Ficus adalah penyedia makanan yang setia. Saat pohon lain berhenti berbuah, ficus tetap menghasilkan. Itulah mengapa ia disebut pohon penjaga ekosistem. Bagi satwa seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), ketersediaan buah ficus menjadi penyelamat. Tanpa pohon ini, mereka terpaksa keluar hutan, mencari makan di kebun warga, dan akhirnya memicu konflik. Dengan menanam ficus, manusia memberi jalan agar satwa bisa tetap tinggal di rumah alaminya. Acara kunjungan juga diisi dengan sambutan dari Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, yang menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus memperkenalkan berbagai inisiatif komunitas lokal. Salah satunya adalah program penanganan konflik satwa berbasis habitat dan edukasi masyarakat. “Kami percaya, menjaga harmoni bukan dengan mengusir satwa, tetapi dengan mengembalikan mereka ke rumah sejatinya yaitu hutan,” ujarnya. Sambutan juga datang dari Kepala Balai TN Kutai dan Vice President PT Pupuk Kaltim. Keduanya menegaskan tujuan studi tiru ini yaitu untuk menggali inspirasi dari Jawa Timur, untuk diterapkan di Kalimantan, wilayah dengan tantangan konflik satwa yang serupa. Suasana semakin hidup saat sesi diskusi. Perwakilan PT Pupuk Kaltim bertanya: bagaimana mencegah konflik satwa dengan masyarakat? Jenis ficus apa yang tumbuh cepat dan bisa segera diaplikasikan di Kalimantan? Relawan menjawab tegas, Ficus variegata atau pohon gondang adalah solusi yang tepat. Pertumbuhannya relatif cepat, buahnya berlimpah, dan menjadi favorit satwa pemakan buah. “Kuncinya adalah habitat. Jika satwa punya cukup makanan, mereka tak perlu mencari ke kebun manusia,” jelasnya. Kegiatan diakhiri dengan penyerahan cinderamata berupa buku Ficus CA Manggis Gadungan dan CA Besowo Gadungan dari BBKSDA Jatim kepada masing-masing tamu. Buku itu bukan sekadar dokumentasi, melainkan warisan pengetahuan untuk menyebarkan semangat konservasi ke daerah lain. Rombongan meninggalkan kawasan dengan senyum puas, membawa pulang inspirasi tentang bagaimana satu pohon sederhana mampu mengubah hubungan antara manusia dan satwa. Kunjungan ini menjadi pengingat, bahwa solusi konflik satwa tidak selalu rumit. Kadang, jawabannya ada pada akar yang merambat, daun yang rindang, dan buah yang setia hadir sepanjang musim. Ficus adalah jembatan yang menghubungkan manusia, satwa, dan hutan dalam satu lingkaran kehidupan yang utuh. Di tanah Gadungan, 12 bibit itu bukan sekadar pohon. Mereka adalah janji, bahwa harmoni bisa tumbuh kembali, seteguh akar ficus yang menancap di bumi. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 65–80 dari 1.989 publikasi