Sabtu, 10 Okt 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Respon Cepat Laporan Warga, BKSDA Kaltim Evakuasi Kukang Kalimantan di Kampung Tanjung Batu

Berau, September 2026 — Tim Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I Berau, Balai KSDA Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim), menindaklanjuti laporan masyarakat dan mengevakuasi seekor satwa dilindungi Kukang Kalimantan (Nycticebus menagensis) di Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, Kabupaten Berau, pada Senin (07/09/2026). Kegiatan evakuasi ini berawal dari laporan warga bernama Bayu yang melaporkan penemuan seekor kukang oleh ayahnya pada Sabtu 05/09/2026 saat melintas di pinggir jalan dekat lokasi kebakaran lahan di kawasan Tanjung Batu. Khawatir akan keselamatan satwa tersebut pascakebakaran, warga kemudian mengamankannya ke rumah dan segera menghubungi petugas Seksi KSDA Wilayah I Berau untuk proses serah terima. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim medis dan personil BKSDA Kaltim langsung menuju lokasi koordinat pelapor di Kampung Tanjung Batu untuk melakukan verifikasi, pemeriksaan kesehatan awal, serta prosedur penyerahan satwa. Dari hasil pemeriksaan sementara di lapangan, Kukang Kalimantan tersebut berada dalam kondisi sehat, aktif, dan tidak ditemukan luka fisik yang serius. Usai proses serah terima dari Sdr. Bayu, satwa dibawa dan diamankan sementara di kandang transit Seksi KSDA Wilayah I Berau. Selanjutnya, kukang tersebut dititip rawat di Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam untuk menjalani penanganan medis komprehensif serta tahapan habituasi sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya yang aman. BKSDA Kalimantan Timur menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada masyarakat Kampung Tanjung Batu atas kepedulian dan kesadaran tinggi dalam mendukung upaya penyelamatan serta perlindungan satwa liar yang dilindungi undang-undang. Imbauan Resmi Pelaporan Satwa Liar Dilindungi BKSDA Kalimantan Timur mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tidak menangkap, memelihara, memperjualbelikan, atau melukai satwa liar yang dilindungi. Apabila masyarakat menemukan keberadaan satwa liar dilindungi, mengalami konflik dengan satwa, atau ingin menyerahkan satwa secara sukarela, dapat segera menghubungi unit layanan terdekat atau layanan pengaduan resmi (Call Center) Balai KSDA Kalimantan Timur di 082113338181 Mari bersama-sama menjaga keanekaragaman hayati dan kelestarian satwa liar demi keberlangsungan ekosistem di Kalimantan Timur. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Sebelum Kembali Mendaki, Dengarkan Dulu Cerita Mereka yang Melawan Api

Situbondo, 18 September 2026. Tak ada matras. Tak ada tenda yang nyaman. Ketika tubuh akhirnya menyerah, rerumputan kering, semak, dan debu sudah cukup menjadi tempat merebahkan badan. Beberapa orang tidur masih dengan sepatu lapangan. Tas dijadikan bantal. Ada yang hanya memejamkan mata beberapa menit sebelum kembali berdiri. Beberapa jam sebelumnya, tempat itu bukan tempat beristirahat. Mereka masih berhadapan dengan api. Di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, kebakaran membuat siang hari dan malam terasa lebih panjang. Petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Manggala Agni, Masyarakat Mitra Polhut, relawan, porter, ojek, dan pelaku wisata bergerak dari satu titik ke titik lain. Ada yang membawa jet shooter, ada yang membuka jalur, ada yang mengangkut logistik, ada pula yang menyisir tunggak dan batang yang masih menyimpan bara. Mereka bukan hanya bertarung dengan api. Ada dingin pegunungan yang datang setelah matahari tenggelam. Ada mata yang dipaksa tetap terbuka ketika tubuh sudah meminta tidur. Ada kaki yang terus dibawa berjalan di jalur panjang dan menanjak. Ada debu, asap, ranting, batu, dan medan yang tak selalu memberi ruang untuk bergerak cepat. Di beberapa tempat, api bisa didekati. Di tempat lain, medan terlalu curam sehingga tim hanya bisa membaca arah angin, menunggu, lalu mencari jalur yang paling mungkin ditembus. Ketika nyala mengecil, pekerjaan belum selesai. Bara bisa tinggal di bawah batang, tunggak, atau serasah. Karena itu, tim kembali menyisir lokasi yang sudah dilewati api. Mop-up atau pendinginan dilakukan secara berulang, memastikan tidak ada titik kecil yang kembali hidup ketika angin datang. Lalu ada saat ketika tubuh benar-benar tidak bisa diajak berunding. Mereka berhenti. Bukan di penginapan. Bukan pula di tempat yang layak disebut tempat tidur. Rerumputan kering, semak, dan debu menjadi tempat mereka mencuri waktu. Beberapa menit saja. Cukup untuk mengembalikan tenaga sebelum kembali masuk ke medan perang. Dokumentasi itu barangkali tidak memperlihatkan besarnya api. Tetapi justru di sanalah cerita lain kebakaran terlihat paling jelas, tentang adanya orang-orang yang kelelahan setelah berhari-hari berusaha agar api tidak mengambil lebih banyak dari Bentang alam Argopuro. Ketika Api Tak Lagi Terlihat Kini beberapa titik api telah padam. Asap mulai menghilang. Jalur perlahan diperiksa kembali. Dari luar, keadaan mungkin terlihat selesai. Namun, di lapangan, ceritanya belum sesederhana itu. Ada batang yang terbakar, jalur yang harus dibersihkan, lereng yang perlu diperiksa, dan bahan bakar kering yang masih tersisa. Bahkan, bekas kebakaran juga perlu dibaca kembali, diidentifikasi mana yang masih menyimpan risiko, mana yang aman dilalui, dan bagian mana yang membutuhkan waktu lebih panjang untuk pulih. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., melihat fase setelah api padam sebagai bagian yang sama pentingnya dengan pemadaman itu sendiri. Menurutnya, kerja petugas, Manggala Agni, relawan, masyarakat, dan pelaku wisata di lapangan menjadi alasan mengapa setiap keputusan berikutnya perlu dibuat dengan hati-hati. Bukan hanya soal apakah api masih ada. Tetapi juga apakah jalur sudah aman, apakah masih ada potensi pohon tumbang, apakah bahan bakar kering masih menyimpan risiko, bagaimana komunikasi di lapangan, dan apakah kawasan benar-benar siap menerima kembali banyak orang. Sebab mereka yang berada di lapangan sudah melihat sendiri betapa cepat keadaan dapat berubah. Hari ini sebuah lereng tenang. Besok angin datang, bara menemukan bahan bakar, dan semuanya bisa dimulai lagi. Sebelum Kembali Mendaki Argopuro tentu akan tetap dirindukan. Savana, mata air, punggungan panjang, dan perjalanan menuju Cikasur tidak kehilangan pesonanya hanya karena api pernah lewat. Namun untuk beberapa waktu, ada cerita lain yang tinggal di sana. Cerita tentang orang-orang yang berjalan ketika yang lain sudah tidur. Tentang mata yang merah karena kurang istirahat. Tentang kaki yang tetap dipaksa melangkah meski lelah telah mengakar. Mereka tidak sedang meminta dikasihani. Mereka hanya sedang lelah. Dan mungkin, sebelum kembali mendaki, kita cukup mengingat satu hal, bahwa pernah ada orang-orang yang berhari-hari berdiri di antara api dan hutan, agar suatu hari kita masih punya Argopuro untuk didatangi kembali. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Evaluasi RKT 2026 Balai TN Taka Bonerate: Capaian, Kendala dan Rencana Tindak Lanjut

Benteng - 18 September 2026. Kepulauan Selayar — Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate menggelar rapat monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan sampai Triwulan III Rencana Kegiatan Tahunan (RKT) Tahun 2026. Rapat berlangsung di Ruang Rapat Kantor Balai TN Taka Bonerate, Jalan S. Parman No. 40, Benteng Selatan, Kepulauan Selayar, Kamis (17/9), pukul 09.00 WITA. Rapat kerja sama dengan Wildlife Conservation Society – Indonesia Program (WCS-IP) itu dibuka oleh Kepala Balai TN Taka Bonerate, William D.T. Tengker, S.H., M.Hum. Hadir perwakilan WCS-IP Site TN Taka Bonerate. Dalam arahannya, Kepala Balai menekankan pentingnya evaluasi yang terbuka dan terukur. Ia meminta capaian, kendala, serta rencana tindak lanjut dibahas bersama. Evaluasi, katanya, harus menjadi dasar perbaikan. Bukan sekadar laporan administratif. Ia juga mengingatkan agar komunikasi dan pelaporan antara Balai dan mitra tetap rapi. Dengan begitu, program konservasi di kawasan Taka Bonerate dapat berjalan lebih efektif. Hasil rapat diharapkan menjadi pijakan pelaksanaan RKT pada triwulan berikutnya. Setelah arahan, dilanjutkan dengan paparan capaian dan diskusi yang disampaikan oleh Tezar Rafandi, Marine National Park Senior Coordinator WCS-IP. Sumber: Asri- Humas (PEH Ahli Muda) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Titik Api Terpantau, Watangan Puger Tetap Aman

Jember, 18 September 2026. Sebuah titik panas (hotspot) sempat terpantau di sekitar Cagar Alam Watangan Puger melalui aplikasi Sipongi, Sistem Pemantauan Karhutla milik Kementerian Kehutanan, Kamis (17/9). Jelas saja, petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) segera melakukan groundcheck untuk memastikan lokasi titik panas tersebut. Titik panas berada di areal hutan jati milik Perum Perhutani/KHDPK Lojejer yang dikelola Gapoktanhut Jaga Dhita. Hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan bahwa sumber panas berasal dari bekas pembuatan arang, namun telah dipastikan kondisi api telah padam. Lokasinya masih cukup jauh dari Cagar Alam Watangan Puger, sekitar 4 kilometer. Dan petugas tidak menjumpai perambatan api menuju kawasan cagar alam. Temuan ini kembali menegaskan pentingnya verifikasi lapangan. Satu titik panas di peta belum tentu berarti kawasan konservasi terbakar, tetapi setiap titik tetap harus diperiksa sebelum menjadi ancaman yang nyata. Watangan Puger aman. Namun kewaspadaan tetap dijaga. (dna) Sumber : Posko Dalkarhut – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Api Padam, Gunung Abang Belum Tenang

Pasuruan, 18 September 2026. Api yang sempat berkobar di Cagar Alam Gunung Abang, Pasuruan, dapat dipadamkan pada Sabtu sore, 13 September 2026. Namun, keesokan harinya, ancaman kembali datang dari luar kawasan. Kebakaran pertama diketahui sekitar pukul 11.00 WIB setelah anggota Masyarakat Peduli Api mendengar rumpun bambu terbakar dan asap terlihat dari arah cagar alam. Bersama warga sekitar, mereka bergerak membawa jet shooter. Informasi baru diterima petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 16 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa timur (BBKSDA Jatim) beberapa jam kemudian karena keterbatasan sinyal. Api akhirnya berhasil dipadamkan pukul 17.56 WIB. Luas terdampak tercatat sekitar 1,0146 ha. Esok harinya, mop-up menemukan bara masih bertahan di akar rumpun bambu. Belum selesai penyisiran, asap kembali terlihat dari lahan Perhutani, sekitar 40 meter dari batas cagar alam. Petugas kemudian memantau arah angin dan membersihkan bahan bakar di tepi kawasan untuk mencegah api melompat masuk. Gunung Abang memberi satu pelajaran sederhana, bahwa padam bukan berarti selesai. Di musim kering, bara bisa bersembunyi di akar, dan api dari seberang batas dapat datang kapan saja. Karena itu, yang dijaga bukan hanya nyala api, tetapi juga jarak tipis antara hutan yang selamat dan hutan yang kembali terbakar. (dna) Sumber : Posko Dalkarhu - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Koordinasi Lintas Instansi Perkuat Kesiapsiagaan Menghadapi Karhutla di Wilayah TN Kayan Mentarang

Nunukan, 18 September 2026 – Kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah perbatasan terus diperkuat melalui koordinasi lintas instansi. Langkah tersebut dilakukan Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Seno Pramudito, S.Hut., M.E., melalui kunjungan dan koordinasi bersama sejumlah stakeholder di Kabupaten Nunukan, khususnya yang memiliki keterkaitan dengan wilayah Krayan, pada Kamis (17/09/2026) dan Jumat (18/09/2026). Koordinasi melibatkan Pemerintah Kabupaten Nunukan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Nunukan, serta jajaran pengelola TNKM. Pertemuan ini menjadi ruang untuk menyamakan informasi mengenai kondisi lapangan sekaligus memperkuat komunikasi apabila sewaktu-waktu ditemukan potensi kebakaran. Kepala Balai TNKM Seno Pramudito mengatakan, koordinasi tersebut penting karena penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Meski kondisi di wilayah Krayan selama ini relatif terkendali, kewaspadaan tetap diperlukan, terutama pada kawasan yang berdekatan dengan Taman Nasional Kayan Mentarang. “Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya kita untuk memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan stakeholder di Kabupaten Nunukan. Karhutla merupakan persoalan yang perlu diantisipasi bersama,” ujar Seno, Jumat (18/09/2026). Menurutnya, kejadian kebakaran yang ditemukan di wilayah Krayan selama ini umumnya masih berskala terbatas dan berada di luar kawasan TNKM, antara lain berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan. Kondisi tersebut tetap perlu menjadi perhatian bersama agar kejadian di luar kawasan tidak berkembang dan berpotensi merambah kawasan konservasi. “Meskipun kondisi di wilayah Krayan selama ini relatif terkendali dan kejadian yang ditemukan umumnya masih berskala terbatas, kita tetap harus meningkatkan kewaspadaan. Yang paling penting adalah bagaimana informasi dari lapangan dapat segera disampaikan dan dikoordinasikan, sehingga apabila terjadi kebakaran dapat ditangani sejak dini dan tidak berkembang lebih luas,” lanjutnya. Dari sisi pemerintah daerah, koordinasi tersebut juga mendapat sambutan positif. Pj Sekretaris Daerah Kabupaten Nunukan Drs. Raden Iwan Kurniawan, M.AP., mengatakan sinergi lintas instansi diperlukan untuk menyatukan langkah dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus memastikan keberadaan kawasan konservasi dapat memberikan manfaat bagi masyarakat. “Kami mewakili Bapak Bupati dan Wakil Bupati menyambut baik silaturahmi ini. Harapan kami, sinergitas lintas instansi ini dapat menyatukan berbagai perbedaan untuk satu kepentingan yang sama,” ungkapnya, Jumat (18/09/2026). Selain membahas kesiapsiagaan karhutla, pemerintah daerah melihat koordinasi tersebut sebagai bagian dari upaya membangun kolaborasi yang lebih luas dalam pengelolaan potensi kawasan Krayan. “Pemerintah daerah sangat berharap kelestarian alam ini berdampak nyata pada pemberdayaan masyarakat. Kami sangat mengapresiasi program-program Balai TNKM yang mengedepankan masyarakat, dan ke depannya kami harap pertemuan ini menjadi embrio untuk pengkajian lebih lanjut terkait potensi ekowisata, khususnya di wilayah Krayan yang memiliki kekhususan tersendiri,” tambah Raden Iwan. Sementara itu, mewakili Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Nunukan H. Asmar, Kepala Bidang Informasi dan Sistem Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nunukan, Daniel Kodi, menilai pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk menyamakan informasi dan memperjelas langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi kebakaran di lapangan. “Kami dari BPBD Kabupaten Nunukan mengucapkan terima kasih dan menyambut baik kunjungan silaturahmi sekaligus koordinasi dari jajaran Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Pertemuan ini sangat penting sebagai wadah diskusi kita bersama untuk menyamakan informasi dan memperkuat komunikasi antarpihak mengenai upaya-upaya strategis dalam pencegahan serta p pencegahan serta penanggulangan kebakaranhutan dan lahan (karhutla) diwilayah kita," kata Daniel, Kamis (17/09/2026). Ia menegaskan BPBD siap mendukung koordinasi sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing, sehingga informasi mengenai kejadian di lapangan dapat segera ditindaklanjuti. “Dengan adanya koordinasi yang baik, masing-masing pihak dapat memahami peran dan langkah yang perlu dilakukan apabila terjadi kebakaran di lapangan. Kami siap mendukung dan terus berkoordinasi sesuai dengan tugas dan kewenangan masing-masing dalam upaya pencegahan serta penanganan karhutla di wilayah Nunukan,” ujarnya. Penguatan koordinasi juga menjadi perhatian KPH Nunukan, Kepala UPTD KPH Nunukan Roy Leonard Agus, S.Hut., mengatakan sinergi antara pengelola taman nasional, KPH dan pemerintah daerah penting dilakukan mengingat kawasan hutan yang menjadi tanggung jawab masing-masing pihak memiliki keterkaitan di lapangan. “Kami dari Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Nunukan menyambut baik inisiatif koordinasi dari jajaran Balai Taman Nasional Kayan Mentarang. Sinergi antara pengelola taman nasional, KPH, dan pemerintah daerah sangat penting, mengingat kawasan hutan yang kita jaga saling berbatasan langsung,” jelas Roy, Kamis (17/09/2026). Menurutnya, pertukaran informasi dan pemantauan kondisi kawasan menjadi bagian penting dalam mencegah kebakaran berkembang lebih luas. KPH juga mendorong kolaborasi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengelolaan lahan yang aman. “Terkait pencegahan karhutla, khususnya di wilayah Krayan dan sekitarnya, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan pertukaran informasi kondisi lapangan, pemantauan area rawan, serta berkolaborasi dalam mengedukasi masyarakat terkait pengelolaan lahan yang aman,” katanya. Karakteristik geografis wilayah Krayan dengan aksesibilitas yang tidak selalu mudah juga menjadi alasan pentingnya membangun sistem komunikasi yang efektif. Kecepatan informasi dari lapangan menjadi salah satu faktor yang dibutuhkan agar potensi kebakaran dapat segera diketahui dan dikoordinasikan. Kepala SPTN Wilayah I Long Bawan Hery Gunawan, S.Hut., juga menyampaikan bahwa jajaran di tingkat tapak akan terus meningkatkan pemantauan dan koordinasi bersama resort serta pihak terkait di wilayah kerja. “Pemantauan dan koordinasi akan terus kami tingkatkan, khususnya bersama jajaran resort dan pihak terkait di lapangan. Setiap informasi yang kami peroleh akan menjadi dasar untuk menentukan langkah tindak lanjut apabila ditemukan indikasi kebakaran di sekitar kawasan,” ujar Hery, Jumat (18/09/2026). Menurutnya, kesiapsiagaan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran terjadi, tetapi juga harus diperkuat melalui upaya pencegahan sejak dini, termasuk memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan api dalam aktivitas pembukaan dan pengelolaan lahan. “Pencegahan menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan. Karena itu, edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan api dalam aktivitas pembukaan dan pengelolaan lahan juga terus kami dorong untuk menekan risiko terjadinya kebakaran,” katanya. Hery menambahkan, koordinasi lintas instansi menjadi bagian penting dalam menjaga kesiapsiagaan di wilayah Krayan, terutama karena upaya perlindungan kawasan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. “Melalui koordinasi lintas instansi ini, kami berharap komunikasi dan kesiapsiagaan bersama dapat terus terjaga, dengan kolaborasi yang baik, setiap potensi karhutla dapat diantisipasi sejak dini sehingga kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang tetap aman dari ancaman kebakaran,” tutupnya. (*) Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Artikel

Tinjau Karhutla di IKN dan Penguatan Sinergi Mitra, Menhut Tegaskan Komitmen Konservasi Berkelanjutan di Kaltim

Penajam Paser Utara, September 2026 — Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto melakukan kunjungan kerja di Provinsi Kalimantan Timur pada 14–15 September 2026. Kunjungan ini fokus pada penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) serta penguatan kolaborasi dengan mitra konservasi. Peninjauan Langsung Penanganan Karhutla di Bukit Tengkorak Dalam rangkaian kunjungan kerja tersebut, Menteri Kehutanan dan Kepala BNPB meninjau langsung penanganan karhutla di kawasan Bukit Tengkorak, Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Lokasi tersebut berada di dekat wilayah kawasan IKN. Peninjauan ini dilakukan untuk memastikan operasi pemadaman, baik melalui jalur darat maupun udara, berjalan secara maksimal. Menteri Kehutanan memberikan instruksi untuk melakukan percepatan pengerahan armada water bombing (bom air) serta pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna menekan penyebaran titik api. Selain penanganan di kawasan IKN, Menteri Kehutanan mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan pemantauan intensif di tiga kabupaten di Kalimantan Timur yang tercatat memiliki titik panas (hotspot) cukup tinggi, yaitu Kabupaten Berau, Paser, dan Kutai Kartanegara. Langkah ini juga diperkuat melalui koordinasi intensif bersama pihak Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN). Penguatan Kolaborasi Bersama Mitra Konservasi Di sela-sela agenda penanganan karhutla, Menteri Kehutanan menggelar diskusi dan tatap muka bersama para mitra konservasi Kalimantan Timur. Diskusi ini menjadi ruang strategis untuk bertukar informasi, menyampaikan perkembangan kegiatan penanganan di lapangan, serta memperkuat sinergi menjaga hutan, satwa liar, dan keanekaragaman hayati. Menteri Kehutanan menegaskan bahwa mendengar langsung tantangan dari para pegiat di lapangan adalah langkah krusial dalam merumuskan penanganan konservasi yang efektif. "Mendengar langsung pengalaman dan tantangan dari lapangan adalah salah satu cara terbaik untuk memahami persoalan yang sesungguhnya. Banyak hal kami bahas, mulai dari penanganan kebakaran hutan, perlindungan kawasan konservasi dan habitat satwa, hingga bagaimana mempercepat koordinasi ketika ada persoalan mendesak yang membutuhkan respons cepat di lapangan," ujar Raja Juli Antoni. "Kerja-kerja konservasi membutuhkan banyak tangan. Pemerintah, pegiat konservasi, masyarakat, dan seluruh pihak harus terus bergotong royong agar hutan dan seluruh kehidupan di dalamnya tetap terjaga," tambahnya. Kegiatan diskusi ini dihadiri oleh jajaran perwakilan lembaga dan yayasan mitra konservasi, antara lain Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Centre for Orangutan Protection (COP), Conservation Action Network (CAN) Borneo, Yayasan Jejak Pulang (YJP), Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD), Yayasan Pro Natura, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Forum Orangutan (FORINA) Kaltim dan Mangrove Center Balikpapan Melalui ruang dialog yang konstruktif ini, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama seluruh mitra berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi. Konservasi keanekaragaman hayati tidak dapat berdiri sendiri; kolaborasi yang padu adalah kunci utama dalam menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati Kalimantan secara berkelanjutan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

BKSDA Kaltim Dan Yayasan Jejak Pulang Evakuasi 11 Orangutan Dari Sekolah Hutan

Kutai Kartanegara, September 2026 — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin mendekati kawasan Sekolah Hutan Jejak Pulang di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, memicu tindakan penyelamatan darurat. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) bersama Yayasan Jejak Pulang bergerak cepat mengevakuasi 11 individu orangutan yang sedang menjalani proses rehabilitasi demi memastikan keselamatan satwa prioritas tersebut. Pada 1 September 2026, tim gabungan memindahkan ke-11 orangutan secara bertahap menuju lokasi yang lebih aman di kandang rawat Kilometer 38, Samboja. Berkat koordinasi yang sigap di lapangan, seluruh proses evakuasi berhasil diselesaikan dalam waktu relatif singkat, yaitu sekitar dua jam. Meski berada di lokasi penampungan sementara, proses rehabilitasi tetap berlanjut tanpa terputus. Tim medis dan keeper terus memberikan pakan bernutrisi, memfasilitasi aktivitas harian, serta menyediakan enrichment untuk menjaga kondisi fisik dan perilaku alami orangutan. Hasil pemeriksaan medis menunjukkan seluruh satwa berada dalam kondisi sehat dan aman. Pemantauan intensif juga terus dilakukan untuk menjamin kesejahteraan mereka selama masa pengungsian. Beberapa hari setelah evakuasi, para orangutan perlahan mulai beradaptasi dengan lingkungan kandang. Fase awal kepindahan sempat diwarnai rasa bingung, sesak, dan kecemasan pada satwa. Tim mengamati bahwa individu yang biasanya dapat hidup berdampingan dengan damai di hutan ternyata membutuhkan ruang pribadi yang lebih besar saat berada di dalam kandang, sehingga beberapa di antaranya menunjukkan rasa takut hingga sikap agresif. Ketersediaan sarana yang terbatas, yakni enam kandang besar untuk 11 individu orangutan, menjadi tantangan harian bagi tim dalam menentukan penataan ruang yang tepat. Munculnya kebosanan dan frustrasi pada satwa menjadi perhatian utama pengelola di lokasi evakuasi. Menghadapi situasi tersebut, tim BKSDA Kaltim dan Yayasan Jejak Pulang terus berupaya membenahi fasilitas kandang serta rutin memberikan enrichment bervariasi. Langkah ini perlahan membantu orangutan menemukan kembali kenyamanan dan ketenangan di tengah kondisi darurat. Seluruh pihak berharap penanganan karhutla dapat segera tuntas sehingga hutan tempat tinggal mereka kembali aman dan bebas dari ancaman asap maupun api. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Api Sudah Pergi, Jejaknya Tertinggal di Alas Timur

Bawean, 18 September 2026. Api tidak lagi menyala ketika petugas tiba. Tidak ada asap. Tidak ada bara. Yang tersisa hanyalah tanah menghitam dan vegetasi jati yang meninggalkan tanda bahwa api pernah lewat di salah satu batas Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Jejak kebakaran itu ditemukan di Blok Alas Timur, Grid 941 Smart Patrol, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, pada Kamis (17/9). Luas areal terdampak sementara sekitar 0,25 Ha. Menariknya, informasi pertama mengenai kejadian tersebut bukan datang dari laporan lapangan, melainkan dari media sosial. Sehari sebelumnya, 16 September 2026, sebuah video yang diunggah melalui akun TikTok @riyonboyan memperlihatkan indikasi adanya kebakaran di kawasan Pulau Bawean. Pada saat informasi tersebut diketahui, Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) masih berada di lokasi lain. Mereka tengah menyelesaikan penanganan kebakaran di Blok Teneden, Desa Sokaoneng, Kecamatan Tambak. Karena itu, penelusuran baru dapat dilakukan keesokan harinya. Mencari Api yang Sudah Tidak Ada Pagi 17 September 2026, petugas terlebih dahulu menggali informasi dari masyarakat di sekitar lokasi. Namun warga yang ditemui mengaku tidak mengetahui adanya kejadian kebakaran. Satu-satunya petunjuk yang dimiliki tim adalah rekaman video dan gambaran lokasi. Personel kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Satu tim bergerak menyisir bagian barat Pulau Bawean, sementara tim lain menelusuri sisi timurnya. Pencarian akhirnya menemukan jawabannya. Di Blok Alas Timur, tepat di sekitar batas kawasan dan tidak jauh dari jalan setapak yang kerap menjadi akses masyarakat, ditemukan hamparan vegetasi yang telah menghitam terbakar. Vegetasi yang terdampak didominasi jati. Berdasarkan pengukuran sementara, luasan bekas kebakaran mencapai sekitar seperempat hektar. Namun saat diperiksa, lokasi sudah dalam kondisi padam. Tidak ditemukan nyala api maupun bara aktif. Siapa Membawa Api ke Batas Kawasan? Pertanyaan berikutnya jauh lebih sulit dijawab. Dari mana api berasal? Lokasi kebakaran yang berdekatan dengan jalur setapak masyarakat memang membuka berbagai kemungkinan. Namun hingga pemeriksaan lapangan selesai, tidak ditemukan bukti yang cukup untuk menyimpulkan penyebabnya. Karena itu, dugaan mengenai pembakaran maupun puntung rokok tidak dapat serta-merta dijadikan kesimpulan. Tim RKW 09 Gresik Bawean, BBKSDA Jawa Timur masih melakukan pengumpulan informasi. Dalam penanganan kebakaran hutan, menemukan bekas api terkadang lebih mudah daripada menemukan awal mula api itu sendiri. Satu percikan dapat berlangsung hanya beberapa detik. Tetapi bekas yang ditinggalkannya dapat bertahan jauh lebih lama. Ketika Media Sosial Menjadi Mata Pertama Kasus Alas Timur juga menghadirkan pelajaran lain. Di era ketika hampir setiap orang membawa kamera di tangannya, sebuah unggahan media sosial dapat menjadi informasi awal bagi pengelola kawasan. Video singkat yang beredar di ruang digital akhirnya membawa petugas masuk ke lapangan, menelusuri batas kawasan, dan menemukan lokasi yang sebelumnya belum dilaporkan masyarakat. Namun informasi digital tetap harus berhenti menjadi sekadar kabar dan berubah menjadi fakta lapangan. Itulah sebabnya petugas tetap melakukan pengecekan langsung, mengambil koordinat, mengukur luasan terdampak, mendokumentasikan kondisi, serta menggali keterangan masyarakat sebelum membuat kesimpulan. Padam Bukan Berarti Selesai Meskipun kondisi Alas Timur telah kondusif, kewaspadaan tidak dihentikan. Patroli pada jalur batas kawasan akan ditingkatkan. Areal bekas kebakaran tetap dipantau untuk memastikan tidak terjadi penyalaan kembali. Koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat juga diperkuat agar setiap tanda awal kebakaran dapat segera dilaporkan. Masyarakat di sekitar kawasan kembali diingatkan untuk menghindari aktivitas yang dapat memicu api, terutama pada kondisi vegetasi yang mengering. Bagi kawasan konservasi, seperempat hektar mungkin terlihat kecil jika hanya dibaca sebagai angka. Namun api tidak pernah memahami batas administrasi, garis grid, ataupun pal kawasan. Sekali mendapat bahan bakar dan angin yang cukup, seperempat hektare dapat menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dua Individu Kukang Kembali Ke Hutan, Jadi Puncak Peringatan Hari Kukang Internasional Tahun 2026 di TWA Sibolangit

Kegiatan Pelepasliaran Kukang di CA Sibolangit (Sumber: Resor CA/TWA Sibolangit Sibolangit, 16 September 2026 — Dua individu kukangkembalike habitat alaminya di Cagar Alam (CA) Sibolangit, Senin (14/9/2026). Pelepasliaran yang dilakukan Petugas Resor CA/TWA Sibolangit tersebut menjadi puncak rangkaian peringatan Hari Kukang Internasional Tahun 2026 yang digelar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Hari Kukang Internasional diperingati setiap tanggal 13 September sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap pelestarian dan perlindungan kukang (Nycticebus sp.). Peringatan tersebut berkaitan dengan peningkatan status perlindungan kukang dalam CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna dan Flora) dari Appendix II menjadi Appendix I pada 13 September 2007. Di Sumatera Utara, peringatan tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan edukatif dan aksi lingkungan yang melibatkan pelajar serta masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan melalui Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah I tersebut berkolaborasi dengan The Kukang Program Yayasan Patron Satwa Indonesia (YPSI) dan Center for Orangutan Protection (COP). Sebanyak 80 peserta dari SMP Negeri 2 Sibolangit, SD Negeri 101833, MTs YPI Al-Hilal Bandar Baru, serta perangkat Desa Sibolangit turut ambil bagian dalam rangkaian kegiatan tersebut. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bobby Nopandry, S.Hut., M.A. Dalam sambutannya, Bobby mengajak generasi muda untuk menjadi generasi yang mencintai alam dan lingkungan. “Menciptakan generasi muda yang cinta lingkungan adalah tugas kami selaku pemerintah. Perilaku cinta alam dan lingkungan harus menjadi cara hidup masyarakat luas sampai kapan pun. Mudah-mudahan adik-adik dari MTs Bandar Baru dan SMP Negeri 2 Sibolangit yang hadir dapat menjadi generasi penerus cinta alam dan lingkungan,” ujar Bobby Pesan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rangkaian kegiatan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga melibatkan peserta secara langsung dalam menjaga lingkungan dan habitat satwa. Suasana kegiatan semakin semarak dengan penampilan Tarian Adat Karo yang dibawakan oleh siswi SMP Negeri 2 Sibolangit dan SD Negeri 101833. Setelah itu para peserta diajak berkontribusi secara langsung menjaga habitat satwa melalui aksi bersih-bersih di kawasan TWA Sibolangit. Kegiatan Aksi Mengumpulkan Sampah di Kawasan TWA Sibolangit (Sumber: Resor CA/TWA Sibolangit) Dalam aksi tersebut, peserta berhasil mengumpulkan sekitar 240 kilogram sampah. Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya konservasi satwa tidak hanya berbicara mengenai perlindungan individu satwa, tetapi juga menjaga ekosistem dan habitat tempat satwa itu hidup. Setelah aksi bersih-bersih, kegiatan dilanjutkan dengan sesi edukasi konservasi. YPSI memberikan materi mengenai pengenalan kukang, sementara COP menyampaikan materi mengenai konservasi orangutan. Materi dikemas secara interaktif dan dilengkapi dengan permainan edukatif. Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai satwa liar, tetapi juga diajak memahami peran mereka dalam menjaga kelestarian satwa dan lingkungan. Rangkaian kegiatan edukasi dan aksi lingkungan kemudian ditutup dengan foto bersama. Namun, peringatan Hari Kukang Internasional belum berakhir. Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan pelepasliaran dua individu kukang di kawasan CA Sibolangit. Pelepasliaran dilakukan oleh petugas Resor CA/TWA Sibolangit sebagai bagian dari upaya konservasi dan pengembalian satwa liar ke habitat alaminya. Sebelum dilepasliarkan, Kedua kukang tersebut telah melalui proses rehabilitasi hingga dinyatakan siap dikembalikan ke habitat alaminya. Pelepasliaran ini sekaligus menjadi penegasan bahwa edukasi konservasi perlu berjalan dengan aksi nyata. Pengenalan satwa kepada generasi muda diharapkan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berkembang menjadi kepedulian dan perilaku nyata menjaga lingkungan serta habitat satwa liar. Melalui rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan Hari Kukang Internasional Tahun 2026 tersebut, BBKSDA Sumatera Utara bersama para mitra tidak hanya memperkenalkan kukang kepada generasi muda, tetapi juga mengajak masyarakat untuk mengambil bagian dalam menjaga lingkungan dan kelestarian satwa liar. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S.Hut (Penyuluh Kehutanan) dan Jazmi Anditya Wicaksono (Kepala Resor CA/TWA Sibolangit) — Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BTN Kayan Mentarang Perkuat Konservasi Melalui Sinergi Dengan Pemkab Nunukan

Nunukan, September 2026 – Upaya menjaga kelestarian kawasan menjadi fokus utama Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKМ) dalam memperkuat sinergi dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan. Kolaborasi dinilai penting untuk memastikan kawasan Taman Nasional tetap terjaga, sekaligus membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar kawasan. Hal tersebut mengemuka dalam kunjungan dan silaturahmi jajaran BTNKМ dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan, diruang kerja Sekretaris Daerah Nunukan, Jumat (18/09/2026). Pertemuan menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi sekaligus membahas berbagai hal yang dapat dikolaborasikan dalam mendukung upaya konservasi. Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. “Kami dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang mengucapkan terima kasih sudah diterima di Kabupaten Nunukan. dalam rangka silaturahmi dan koordinasi,” ujar Seno, Jumat (18/09/2026). keberadaan dan kelestarian kawasan TNKM juga harus dapat berjalan selaras dengan kehidupan masyarakat yang berada di sekitarnya. “Ada hal-hal yang perlu kita kolaborasikan, kita sinergikan, kita kerjasamakan dalam rangka tujuan yang sama, terutama terkait dengan kelestarian kawasan Taman Nasional dan juga terkait dengan kesejahteraan masyarakat yang ada di sekitar,” katanya. Seno menegaskan, komunikasi menjadi bagian penting dalam memastikan berbagai kepentingan yang berkaitan dengan kawasan dapat dikelola secara bersama. Program pemerintah daerah yang berkaitan dengan masyarakat juga dapat menjadi ruang untuk membangun sinergi dengan kegiatan konservasi. “Kami juga sangat mendukung program-program yang dilakukan oleh Pemda Kabupaten Nunukan terkait dengan masyarakat, yang bisa kita sinergikan dan komunikasikan,” ujarnya. Dukungan terhadap upaya konservasi tersebut juga mendapat respons positif dari Pemkab Nunukan. Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Nunukan Drs. Raden Iwan Kurniawan, M.A.P., mengatakan kelestarian alam memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat. Ia menilai, penguatan hubungan antara pemerintah daerah dan BTNKМ diperlukan agar upaya menjaga kawasan konservasi dapat dilakukan secara bersama dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. “Silaturahmi ini bisa meningkatkan sinergitas. Yang penting adalah pemerintah daerah dan Balai bersama-sama menjaga kelestarian alam, karena dampaknya juga kepada masyarakat,” kata Iwan. Iwan juga mengapresiasi berbagai kegiatan BTNKМ yang melibatkan masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut penting untuk membangun kesadaran bersama bahwa masyarakat merupakan bagian penting dalam upaya menjaga kelestarian kawasan. “Banyak aktivitas kegiatan dari Balai yang memang mengedepankan masyarakat. Kami berterima kasih dan mudah-mudahan ke depan sinergi kita semakin baik,” tuturnya. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya BTNKМ memperkuat jejaring konservasi di tingkat daerah. Dengan komunikasi dan kolaborasi yang terus dibangun, pengelolaan kawasan diharapkan semakin efektif dalam menjaga kelestarian alam Kayan Mentarang. Bagi BTNKМ, konservasi bukan hanya tentang menjaga kawasan, tetapi juga memastikan keberadaan masyarakat di sekitar kawasan tetap menjadi bagian dari proses pengelolaan secara berkelanjutan. Karena itu, sinergi dengan pemerintah daerah menjadi salah satu elemen penting dalam menjaga kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang untuk jangka panjang. (*) Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Artikel

Empat Jalak Tak Datang, Nama BKSDA Malah Dicatut

Surabaya, 18 September 2026. Empat ekor Jalak Kebo (Acridotheres javanicus) yang dibeli seorang warga (sebut saja Albert, bukan nama sebenarnya) tak kunjung sampai ke Banjarnegara, Jawa Tengah. Yang datang justru pesan WhatsApp dari seseorang yang mengaku sebagai petugas “BKSDA Probolinggo”. Isinya membuat waswas. Burung disebut telah ditahan. Albert diminta menyiapkan dana sekitar 2,5 juta rupiah untuk pengurusan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN). Pesan itu dilengkapi foto penanganan satwa, dokumen yang disebut sebagai bukti penahanan, hingga ancaman denda dan pidana apabila pembayaran tidak dilakukan dalam waktu 24 jam. Uang yang ditransfer dijanjikan akan dikembalikan setelah dokumen selesai. Albert memilih tidak tergesa-gesa. Ia mencari kontak resmi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan menghubungi Call Center pada Sabtu (12/9). Disinilah ceritanya berubah. BBKSDA Jawa Timur memastikan pesan tersebut bukan berasal dari petugas. Penelusuran kemudian dilakukan dengan menghubungi Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur. Hasil konfirmasi sementara juga tidak ditemukan laporan penahanan satwa sebagaimana waktu dan lokasi yang disebutkan dalam pesan tersebut. Dengan demikian, informasi yang diterima Albert patut diduga sebagai modus penipuan dengan mencatut nama instansi pemerintah. Modusnya sederhana, membuat calon korban panik, memberi tenggat pendek, menggunakan istilah resmi, lalu meminta transfer uang. Albert nyaris menjadi korban berikutnya. Transaksi pembelian burung telah dibayar, sementara keberadaan empat Jalak Kebo tersebut hingga laporan diterima masih belum jelas. Jangan Panik, Jangan Langsung Transfer! BBKSDA Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati apabila menerima telepon atau pesan dari pihak yang mengatasnamakan BKSDA, terlebih jika disertai permintaan transfer uang, penggunaan rekening pribadi, ancaman hukum, atau tekanan agar pembayaran segera dilakukan. Masyarakat sebaiknya menghentikan transaksi sementara, menyimpan bukti percakapan dan nomor pengirim, serta melakukan konfirmasi melalui kanal resmi BBKSDA Jawa Timur atau instansi terkait. Nama institusi, foto petugas, seragam, stempel, ataupun dokumen yang dikirim melalui WhatsApp bukan jaminan bahwa pengirimnya benar-benar petugas. Kalau ragu, jangan bayar. Konfirmasi lebih dulu. Sebab dalam penipuan semacam ini, kepanikan sering menjadi pintu masuk dan satu kali transfer bisa menjadi pintu yang sulit ditutup kembali. Sumber: Faiza Nur Ainiyah, Fajar Dwi Nur Aji dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Sumatera Utara Dorong Pemanfaatan Buah Berembang Menjadi Sirup dan Selai

Jaring Halus, 18 September 2026 — Buah berembang (Sonneratia caseolaris) yang melimpah di kawasan mangrove Desa Jaring Halus, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, mulai dikembangkan menjadi produk olahan bernilai ekonomi oleh Kelompok Ikatan Pemuda Jaring Halus (IPANJAR). Upaya tersebut dilakukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui kegiatan Sekolah Lapang Diversifikasi Produk Olahan Berbasis Mangrove yang dilaksanakan pada Rabu (16/9/2026) di Posko Produksi IPANJAR, Desa Jaring Halus. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan potensi buah berembang sebagai salah satu sumber daya mangrove yang dapat dikembangkan menjadi produk pangan, sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengolahnya. Peseta tidak hanya mendapatkan materi, tetapi juga mengikuti praktik secara langsung dengan mengolah buah berembang menjadi sirup dan selai. Kegiatan dipandu oleh Wicky Winansih Purba dan Kartika Hanum dari Bidang Pengabdian Masyarakat (Community Development) Yayasan Gajah Sumatra (Yagasu). Wicky Winansih Purba merupakan Community Development (Condev) Staff Yagasu yang sejak tahun 2024 aktif mendampingi masyarakat pesisir melalui pemberdayaan, pelatihan, pengembangan produk berbasis mangrove dan perikanan, serta edukasi lingkungan. Sementara itu, Kartika Hanum telah bergabung dengan Yagasu sejak tahun 2012 dan berpengalaman dalam pengembangan batik serta pengolahan makanan berbahan mangrove. Materi sekolah lapang diawali dengan pengenalan potensi buah berembang, termasuk peluang pemanfaatannya sebagai bahan pangan yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah. Setelah mendapatkan penjelasan, peserta kemudian diajak mempraktikkan secara langsung proses pembuatan sirup dan selai. Dengan didampingi para pemateri, anggota IPANJAR terlibat dalam setiap tahapan pengolahan, mulai dari mencuci dan merebus buah, menyaring sari buah, menakar gula hingga mengemas produk. Peserta tidak sekedar menyaksikan proses, tetapi turut mencoba setiap tahapan sehingga keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara mandiri setelah kegiatan berakhir. Suasana praktik berlangsung dengan aktif dan penuh antusiasme. Dari proses tersebut, peserta menghasilkan produk sirup dan selai buah berembang dengan cita rasa yang segar dan tekstur yang baik. Hasil praktik ini sekaligus memberikan gambaran awal mengenai potensi buah berembang untuk dikembangkan menjadi produk olahan yang memiliki nilai jual. Pengembangan produk tersebut menjadi bagian dari rangkaian penguatan kapasitas Kelompok IPANJAR. Ke depan, pendampingan akan diarahkan pada aspek pengemasan, branding, dan strategi pemasaran, sehingga produk olahan berbasis mangrove tidak hanya sebatas untuk konsumsi semata, tetapi juga memiliki nilai jual dan peluang untuk dikembangkan sebagai produk unggulan dari Desa Jaring Halus. Diversifikasi produk berbahan buah berembang juga diharapkan dapat melengkapi usaha yang selama ini telah dijalankan Kelompok IPANJAR melalui berbagai produk olahan seperti keripik jeruju, belacan dan ikan asin cerbung. Dengan bertambahnya jenis produk, kelompok masyarakat ini diharapkan memiliki lebih banyak pilihan usaha yang dapat dikembangkan sesuai dengan potensi sumber daya lokal yang ada di desanya. Secara keseluruhan, kegiatan Sekolah Lapang Diversifikasi Produk Olahan Berbasis Mangrove berjalan lancar dan sesuai dengan rencana. Melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, BBKSDA Sumatera Utara berharap Kelompok IPANJAR dapat melanjutkan produksi secara mandiri serta mengembangkan sirup dan selai buah berembang sebagai salah satu produk unggulan dari Desa jaring Halus. Sumber: Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan) dan Nurul Awaliah-Fasilitator Desa di Desa Jaring Halus (Foto dan bahan tulisan) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Asap Kembali Terlihat di Sisi Utara, Kawah Ijen Kembali Siaga

Banyuwangi, 17 September 2026. Asap kembali muncul dari sisi utara Kawah Ijen. Sejumlah titik api terpantau di lereng, cukup dekat untuk membuat petugas kembali berjaga. Tim Seksi KSDA Wilayah V, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama petugas Resort Konservasi Wilayah 14 Kawah Ijen memantau pergerakan api dari darat dan melalui drone, 16 September 2026. Pantauan sementara menunjukkan api lebih dominan bergerak turun. Sebabnya sederhana, bahan bakar vegetasi di bagian bawah masih tersedia, sedangkan bagian atas telah lebih dulu terbakar. Sejauh ini, belum ada kepastian api telah masuk ke Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup. Jika dilihat dari peta titik panas Sipongi, lokasi titik panas memang masih berada diluar cagar alam. Namun, jarak dan arah rambatan api membuat situasi tak bisa dianggap ringan. Di medan seperti Kawah Ijen, api tak selalu mengikuti dugaan. Angin sewaktu-waktu dapat berubah arah. Lereng yang cukup curam dapat mempercepat rambatan api. Vegetasi yang sangat kering menyediakan jalan bagi api. Karena itu, drone terus diterbangkan, bukan sekadar mencari sumber asap, melainkan untuk membaca kemana arah api akan pergi berikutnya. Untuk sementara, satu hal menjadi perhatian utama, jangan sampai garis api kembali menyeberangi batas kawasan konservasi. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut BBKSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dari Bojonegoro dan Tuban, Dua Satwa Menempuh Jalan Menuju Pemulihan

Sidoarjo, 17 September 2026. Mereka datang dari dua kabupaten dengan cerita yang berbeda. Seekor monyet ekor panjang jantan dewasa dari Bojonegoro dan seekor perkici pelangi dari Tuban. Keduanya kemudian menempuh perjalanan menuju kandang Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) di Sidoarjo. Selasa, 15 September 2026, Tim Matawali - Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro membawa kedua satwa tersebut untuk menjalani perawatan dan penanganan lebih lanjut. Bukan sekadar perjalanan antarkota. Bagi kedua satwa itu, perpindahan tersebut menjadi awal dari proses berikutnya setelah sebelumnya diserahkan masyarakat dan dievakuasi petugas. Seekor Monyet-ekor panjang (Macaca fascicularis) jantan dewasa berasal dari penyerahan masyarakat di Kabupaten Bojonegoro. Sementara seekor Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus) berasal dari Kabupaten Tuban. Keduanya mempunyai status perlindungan yang berbeda, tetapi ketika berada dalam kondisi yang memerlukan penanganan, prinsipnya tetap sama: keselamatan dan kesejahteraan satwa menjadi perhatian pertama. Dari Kepedulian Warga, Petugas Bergerak Proses penyelamatan keduanya bermula dari informasi masyarakat. Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro kemudian melakukan evakuasi bersama Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bojonegoro dan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban. Kolaborasi ini memperlihatkan satu bagian penting dalam penyelamatan satwa liar: petugas konservasi tidak selalu menjadi orang pertama yang melihat satwa dalam kesulitan. Sering kali informasi justru datang dari masyarakat, lalu diteruskan kepada instansi yang berada paling dekat dengan lokasi. Dari sanalah mata rantai penyelamatan mulai bergerak. Perjalanan Belum Selesai Setibanya di UPS BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo, kedua satwa ditempatkan di kandang penanganan untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Di titik ini, pekerjaan belum selesai. Evakuasi hanya memindahkan satwa dari situasi awalnya. Setelah itu masih ada tahapan penting untuk melihat kondisi fisik, kesehatan, perilaku, serta menentukan penanganan yang paling sesuai bagi masing-masing individu. Setiap satwa membawa riwayat yang berbeda. Seekor burung yang pernah berada dalam penguasaan manusia tentu dapat membutuhkan pendekatan berbeda dengan primata dewasa. Karena itu, keputusan selanjutnya tidak semata-mata ditentukan oleh keinginan untuk segera melepasliarkan satwa, tetapi oleh kesiapan satwa dan pertimbangan teknis yang menyertainya. Dua satwa dari dua kabupaten tersebut kembali mengingatkan bahwa penyelamatan satwa liar kerap dimulai dari tindakan yang sangat sederhana, melapor. Masyarakat tidak harus menjadi dokter hewan, polisi hutan, ataupun petugas konservasi untuk mengambil bagian. Cukup tidak menangkap untuk dipelihara. Tidak memperjualbelikan. Tidak mengambil keuntungan dari keberadaannya. Dan ketika menemukan satwa liar dalam kondisi membutuhkan pertolongan, memilih menghubungi pihak yang berwenang. Karena bagi seekor satwa, satu panggilan telepon dari seseorang yang peduli terkadang dapat mengubah seluruh perjalanan hidupnya. Kini, monyet ekor panjang dan perkici pelangi itu berada dalam penanganan UPS BBKSDA Jawa Timur. Mereka memang belum sampai pada akhir perjalanan. Namun setidaknya, hari itu dua satwa telah bergerak satu langkah lebih dekat menuju kehidupan yang semestinya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai TNKM Kunjungi SEA Lanuka, Lahan Lapas yang Tumbuh Jadi Ruang Edukasi dan Rekreasi

Nunukan, September 2026 — Pemanfaatan lahan tidak selalu berhenti pada fungsi awalnya, dengan pengelolaan yang tepat, lahan yang sebelumnya dipandang biasa dapat berkembang menjadi ruang produktif sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat. Hal tersebut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Seno Pramudito, S.Hut., M.E., saat mengunjungi Sarana Edukasi Asimilasi Lapas Nunukan (SEA Lanuka), Rabu, (16/09/2026). Kunjungan tersebut dilakukan Seno di sela tugasnya di Kabupaten Nunukan, ia didampingi Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Gusta Fitriadi Adi dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I- Balai TNKM, Hery Gunawan, serta sejumlah personel TNKM. Dalam kunjungan itu, Seno melihat langsung pemanfaatan kawasan Lapas Nunukan yang dikembangkan tidak hanya untuk mendukung kegiatan pembinaan warga binaan, tetapi juga diarahkan menjadi ruang edukasi, rekreasi dan wisata yang dapat dinikmati masyarakat. Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIB Nunukan Donny Setiawan, A.Md.IP., S.H., M.M., menjelaskan bahwa kawasan yang dimanfaatkan untuk kegiatan tersebut memiliki luasan sekitar 10 hektare. Lahan itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan sarana pembinaan sekaligus ruang yang memiliki nilai manfaat bagi masyarakat. “Lahan ini digunakan untuk kegiatan sosialisasi dan edukasi, baik untuk kegiatan pembinaan warga binaan maupun kegiatan wisata masyarakat,” ujarnya, Rabu (16/09/2026). Menurutnya, keberadaan SEA Lanuka diharapkan dapat menjadi ruang yang mempertemukan aspek pembinaan, edukasi dan pemanfaatan lingkungan secara produktif. Kondisi tersebut turut menarik perhatian Seno, ia menilai apa yang dilakukan Lapas Nunukan menunjukkan bahwa lahan yang sebelumnya mungkin belum terlihat memiliki nilai wisata dapat dikembangkan menjadi kawasan yang memberikan manfaat lebih luas. “Di sini kita bisa belajar banyak, lahan yang sebelumnya mungkin tidak terlalu produktif, sekarang bisa menjadi produktif dan bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar,” kata Seno. Selain aktivitas yang berkaitan dengan pembinaan, kawasan tersebut juga memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari perikanan, akuakultur hingga peternakan, pengelolaan berbagai sektor tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana lahan dapat dimanfaatkan secara terpadu. Dari sisi lingkungan, kawasan SEA Lanuka juga menawarkan pemandangan yang menjadi nilai tambah, dari lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati panorama laut serta melihat sejumlah wilayah kepulauan di sekitar Nunukan dan Sebatik. Bagi Seno, pengalaman Lapas Nunukan dalam mengembangkan kawasan tersebut dapat menjadi pembelajaran dalam melihat potensi sebuah lahan dari perspektif yang lebih luas. “Ini juga menjadi panduan bagi kami dalam mengimplementasikan pemanfaatan lahan untuk kegiatan-kegiatan yang memiliki nilai wisata dan edukasi, kadang kita melihat suatu kawasan tidak berpotensi, tetapi ternyata masih bisa berkembang menjadi potensi,” tuturnya. Kunjungan tersebut sekaligus membuka ruang berbagi pengalaman mengenai bagaimana sebuah kawasan dapat dikembangkan secara bertahap dengan mengoptimalkan potensi yang tersedia. Bagi TNKM, pembelajaran seperti ini menjadi bagian penting dalam melihat pengelolaan kawasan tidak hanya dari sisi konservasi, tetapi juga dari sisi edukasi dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Sementara bagi Lapas Nunukan, kehadiran berbagai pihak untuk melihat dan memberikan masukan terhadap pengembangan SEA Lanuka menjadi dorongan untuk terus mengembangkan kawasan tersebut agar semakin produktif dan memberikan manfaat bagi masyarakat. (*) Sumber: Balai TN Kayan Mentarang

Menampilkan 65–80 dari 2.667 publikasi