Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

BBKSDA Sumatera Utara Lepasliarkan Lima Ekor Landak Sumatera ke Habitat Asli

Langkat, 27 April 2026 — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melaksanakan kegiatan pelepasliaran 5 (lima) ekor Landak Sumatera (Hystrix sumatrae) ke habitat alaminya di areal Aras Napal 242, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, pada 24–25 April 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya restocking satwa liar untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan kelestarian keanekaragaman hayati. Pelepasliaran ini dilakukan oleh BBKSDA Sumatera Utara dari Seksi Konservasi Wilayah II Stabat dan Resor Aras Napal, bersama tiga perwakilan dari PT. Galatta Lestarindo. Lokasi pelepasliaran di Resor Aras Napal telah melalui proses survei dan kajian kelayakan habitat, sehingga dinilai layak untuk mendukung keberlangsungan hidup satwa sekaligus meminimalkan potensi gangguan terhadap lingkungan sekitar. Kelima ekor landak Sumatera yang dilepasliarkan berasal dari Central Park and Zoo milik PT. Galatta Lestarindo. Sebelum dilepasliarkan, seluruh satwa telah melalui tahapan pemeriksaan dan dipastikan berada dalam kondisi sangat sehat, aktif, serta layak untuk dikembalikan ke habitat alaminya. Kegiatan pelepasliaran ini tidak hanya memperhatikan aspek teknis kesiapan satwa, tetapi juga dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan ini mengacu pada Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.22/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2019 tentang Lembaga Konservasi, yang menegaskan peran lembaga konservasi dalam pelestarian satwa liar melalui pengembangbiakan, pemeliharaan, serta pengembalian dan/atau pelepasliaran satwa ke habitat alaminya. Sebagai lembaga konservasi, PT. Galatta Lestarindo berperan aktif mendukung upaya tersebut sesuai ketentuan yang berlaku. Pelaksanaan kegiatan di lapangan kemudian dibagi ke dalam dua tahapan, yaitu pelepasliaran dan monitoring pasca pelepasliaran. Melalui kegiatan ini, BBKSDA Sumatera Utara berharap populasi landak Sumatera di alam tetap terjaga dan terus berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan para pihak terkait diharapkan terus terjalin dalam mendukung pelestarian satwa liar di Indonesia. Sumber: Aurelia Karolina Min, A.Md.Par (Calon Penyuluh Kehutanan pada Seksi Konservasi Wilayah II Stabat) — Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

TGX Bird Walk, Dari Sketsa hingga Identifikasi, Jejak Burung Dicatat di Trenggalek

Trenggalek, 28 April 2026. Di tengah riuh aktivitas manusia, ada kehidupan lain yang bergerak dalam diam, mengisi kanopi, melintas cepat di antara ranting, dan meninggalkan jejak yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang mau berhenti sejenak. Hutan Kota Trenggalek menjadi ruang belajar terbuka bagi 13 peserta TGX Bird Walk, sebuah kegiatan pengamatan burung yang mengajak manusia kembali membaca alam dengan cara yang lebih teliti, Sabtu silam (25/4). Kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), berkolaborasi dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek. TGX Bird Walk menjadi bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, sekaligus momentum peringatan Hari Bumi, serta tindak lanjut arahan Bupati Trenggalek dan Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur pasca bedah buku Biodiversitas Trenggalek 2025. Belajar Melihat, Bukan Sekadar Mengamati Kegiatan dibagi dalam tiga sesi utama, pemaparan materi, praktik lapangan, dan sesi berbagi pengalaman. Pada sesi awal, peserta diperkenalkan pada kode etik pengamatan burung, penggunaan peralatan, serta teknik identifikasi jenis, fondasi penting dalam kegiatan birdwatching yang bertanggung jawab. Namun esensi kegiatan justru terletak pada praktik lapangan. Di bawah tajuk pepohonan hutan kota, peserta diajak mencatat setiap temuan secara manual, melalui sketsa dan tally sheet. Metode ini mungkin tampak sederhana, tetapi di sanalah ketelitian dilatih. Setiap garis sketsa, setiap catatan kecil, menjadi jembatan antara pengamatan kasat mata dan pemahaman ilmiah. Jejak Kecil, Data Besar Yang menarik, kegiatan ini tidak berhenti sebagai pengalaman satu hari. Para peserta akan melanjutkan pengamatan selama dua bulan ke depan. Mereka akan diperingkat berdasarkan jumlah jenis burung yang berhasil diidentifikasi di kawasan Hutan Kota Trenggalek. Pendekatan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan strategi membangun keterikatan jangka panjang. Dari pengamatan yang berulang, akan terbentuk basis data sederhana, yang jika dikembangkan, berpotensi menjadi pijakan awal pemantauan keanekaragaman hayati di ruang perkotaan. Di sinilah makna konservasi menjadi lebih nyata, dimulai dari aktivitas kecil, dilakukan secara konsisten, dan berdampak pada pemahaman yang lebih besar. Dari Ruang Belajar ke Gerakan Kolektif Kegiatan ditutup dengan sesi berbagi bersama Kakang Mbakyu Trenggalek, memperluas perspektif bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang satwa, tetapi juga tentang manusia, tentang bagaimana nilai-nilai alam ditanamkan dan disebarluaskan. Ke depan, TGX Bird Walk akan menggandeng influencer untuk memperkuat pesan konservasi, termasuk melalui sesi berbagi tentang public speaking. Ini menjadi langkah strategis, karena menjaga alam hari ini tidak cukup hanya dengan bekerja di lapangan, tetapi juga bagaimana menyuarakannya ke publik. Hutan kota sering dianggap sebagai ruang hijau biasa. Namun di dalamnya, tersimpan fragmen kehidupan yang rapuh sekaligus penting. Burung-burung yang teridentifikasi hari itu bukan sekadar daftar spesies, mereka adalah indikator kesehatan lingkungan, penanda bahwa ekosistem masih berfungsi. TGX Bird Walk mengingatkan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari kawasan yang jauh dan liar. Ia bisa dimulai dari ruang terdekat, dari langkah kaki yang pelan, dari mata yang mau memperhatikan. Dan mungkin, dari sebuah sketsa sederhana, kita mulai benar-benar melihat. Sumber: Ahmad David Kurnia Putra & Fajar Dwi Nur Aji – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dipungut dari Lereng Kelud, Jejak Sanca Dilindungi Berakhir di Besowo

Kediri, 28 April 2026. Seekor Ular Sanca Bodo (Python bivittatus), satwa liar dilindungi, diserahkan secara sukarela oleh warga Desa Trate, Kecamatan Sugihwaras, Kabupaten Bojonegoro, kepada petugas Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Kamis (23/4). Sehari kemudian, satwa tersebut dilepasliarkan ke kawasan Cagar Alam Besowo Gadungan. Penyerahan dilakukan oleh Fiki Obrian Atma Safi’i. Kepada petugas, ia menjelaskan bahwa ular itu ditemukan di kawasan Gunung Kelud. Satwa tersebut kemudian dipelihara karena kekhawatiran akan terinjak pendaki. Belakangan, setelah mengetahui status perlindungannya, ia memilih menyerahkan kepada BBKSDA Jawa Timur. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah I Kediri yang menerima laporan segera melakukan pemeriksaan. Hasil identifikasi menunjukkan satwa dalam kondisi sehat. Berdasarkan pertimbangan teknis, diputuskan bahwa pelepasliaran sebagai opsi penanganan paling sesuai. Pelepasliaran dilakukan pada Jumat, 24 April 2026, pukul 10.30 WIB di kawasan Cagar Alam Besowo Gadungan. Lokasi tersebut dipilih setelah melalui penilaian, dengan mempertimbangkan kesesuaian habitat dan keamanan satwa. Selain penanganan, petugas juga memberikan edukasi kepada penyerah terkait risiko memelihara satwa liar. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Matawali, yang difokuskan pada respons cepat penanganan satwa liar hasil interaksi dengan manusia. Program ini juga menekankan prinsip kesejahteraan satwa serta kepatuhan terhadap ketentuan konservasi. Penyerahan sukarela menjadi indikator meningkatnya kesadaran masyarakat. Namun demikian, upaya sosialisasi dinilai masih perlu diperluas, baik melalui pendekatan langsung maupun media digital, untuk mencegah praktik pemeliharaan satwa liar yang tidak sesuai ketentuan. Tim pelaksana kegiatan terdiri dari lima personel, yakni Sudarmaji, Febrian Wahyu P., Ardiansyah, Suprihadi, dan Supardi (MMP). Mereka terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari penerimaan laporan, pemeriksaan, hingga pelepasliaran satwa. Peristiwa ini menegaskan satu hal, bahwa interaksi manusia dan satwa liar masih kerap terjadi. Di sisi lain, mekanisme penanganan dan respons cepat menjadi kunci untuk memastikan satwa kembali ke habitatnya tanpa menimbulkan risiko baru, baik bagi manusia maupun ekosistem. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Temuan Trenggiling di Sekolah, SDN 3 Cempaka Tunjukkan Kepedulian Lingkungan

Banjarbaru, 27 April 2026 — Kepedulian terhadap kelestarian lingkungan kembali ditunjukkan oleh SDN 3 Cempaka Banjarbaru. Berawal dari ditemukannya seekor trenggiling (Manis javanica) di area lingkungan sekolah, pihak guru segera mengambil langkah cepat untuk memastikan keselamatan satwa tersebut. Penemuan ini menjadi perhatian serius, mengingat trenggiling merupakan salah satu satwa yang dilindungi dan berstatus sangat terancam punah. Satwa ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem, khususnya sebagai pengendali alami populasi semut dan rayap di alam. Tanpa menunda waktu, para guru di SDN 3 Cempaka langsung berkoordinasi dan mengamankan lokasi temuan guna mencegah potensi gangguan terhadap satwa tersebut. Langkah sigap ini kemudian dilanjutkan dengan pelaporan kepada pihak berwenang agar trenggiling dapat segera ditangani secara profesional dan dikembalikan ke habitat alaminya. Tindakan cepat dan penuh kepedulian ini menjadi contoh nyata peran masyarakat, khususnya lingkungan pendidikan, dalam mendukung upaya konservasi satwa liar. Edukasi dan kesadaran sejak dini seperti yang ditunjukkan oleh SDN 3 Cempaka menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati Indonesia. Melalui kejadian ini, masyarakat juga diimbau untuk tidak menangani sendiri satwa liar yang ditemukan, melainkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang. Untuk wilayah Kalimantan Selatan, laporan dapat disampaikan melalui Call Center BKSDA Kalimantan Selatan di nomor 0812-4849-4950. Dengan kolaborasi dan kepedulian bersama, upaya pelestarian satwa liar dapat terus ditingkatkan demi menjaga keseimbangan alam bagi generasi mendatang.(Ind) Sumber: Hamsan, S.E. (Pranata Hubungan Masyarakat) - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

64 Monyet Ekor Panjang Kembali ke Alam Liar, Harapan Baru dari Nusa Barong

Jember, 27 April 2026. Ombak Samudera Hindia memecah sunyi pagi di pesisir selatan Jawa, saat satu per satu kandang terbuka dan 64 individu Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) menatap kembali dunia yang pernah mereka kenal, hutan liar. Pada Selasa silam (21/4), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Jaringan Satwa Indonesia (JSI) dan berbagai unsur lintas sektor melepasliarkan satwa hasil rehabilitasi ke kawasan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barong. Pelepasliaran ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari proses panjang pemulihan satwa liar, dari kondisi tertekan akibat interaksi manusia menuju kembali menjalankan perannya sebagai bagian penting dalam ekosistem hutan tropis. Berdasarkan dokumen resmi serah terima, sebanyak 64 ekor Monyet Ekor Panjang (43 jantan dan 21 betina) dalam kondisi sehat telah melalui tahapan rehabilitasi sebelum dilepasliarkan. Satwa-satwa ini kemudian didistribusikan ke beberapa blok habitat di Nusa Barong dengan pendekatan berbeda. Sebagian melalui metode soft release di kandang habituasi Blok Jeruk, dan sebagian lainnya melalui hard release di Blok Cedingan, Talok, dan Penjalinan. Di Pantai Nyamplong Kobong, Kecamatan Gumukmas, kegiatan diawali dengan serah terima resmi antara BBKSDA Jawa Barat dan BBKSDA Jawa Timur. Dari titik ini, kelompok-kelompok monyet yang telah diklasifikasikan berdasarkan tanda kandang diberangkatkan menggunakan perahu menuju habitat barunya, menyusuri laut menuju pulau yang masih menyimpan keaslian ekosistem alaminya. Kegiatan ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari unsur Muspika Puger, aparat TNI-Polri, Satgas Pamputer Nusa Barong, POSAL Puger, hingga kelompok masyarakat dan relawan konservasi. Dalam sambutannya, para pemangku kepentingan menegaskan bahwa keberhasilan pelepasliaran tidak hanya bergantung pada kesiapan satwa, tetapi juga pada dukungan ekosistem sosial di sekitarnya. Pendekatan ilmiah dalam pelepasliaran ini menjadi kunci. Metode habituasi memungkinkan satwa beradaptasi secara bertahap terhadap lingkungan baru, sementara pelepasliaran langsung mendorong individu yang lebih siap untuk segera berintegrasi dengan populasi liar. Lebih dari sekadar angka, 64 individu ini adalah simbol harapan. Di dalam hutan Nusa Barong, mereka akan kembali menjalankan fungsi ekologisnya, menyebarkan biji, menjaga keseimbangan rantai makanan, dan menjadi bagian dari dinamika hutan yang hidup. Namun, kisah ini juga menyimpan pesan yang lebih dalam: banyak dari satwa liar yang direhabilitasi berawal dari interaksi manusia, dipelihara, diperdagangkan, atau dipisahkan dari habitatnya. Pelepasliaran menjadi langkah akhir dari sebuah proses panjang yang seharusnya tidak perlu terjadi jika manusia mampu hidup berdampingan tanpa mengambil yang bukan miliknya. Di bawah kanopi hutan Nusa Barong, langkah-langkah kecil itu kini menjauh—kembali ke tempat yang seharusnya mereka huni sejak awal. Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember -Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Yang Tak Hilang, Patroli KSDA Temukan Luka Lama Di Hutan Bawean

Bawean, 24 April 2026. Pada pagi yang basah oleh embun di lereng Gunung Besar, Pulau Bawean, langkah-langkah kecil tim patroli menyusuri jalur sunyi yang nyaris tak tersentuh. Di balik rimbun vegetasi yang tampak utuh, hutan ini menyimpan sesuatu yang tak kasatmata, jejak lama yang belum benar-benar hilang. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Rabu (22/4), melaksanakan patroli mandiri di kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, tepatnya di Blok Gunung Besar, kawasan Suwari. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya rutin pengamanan kawasan sekaligus pemantauan potensi gangguan terhadap keanekaragaman hayati. Patroli dimulai pukul 09.30 WIB di grid 236. Di titik ini, Pal Batas Nomor 1657 berdiri dalam kondisi baik, sebuah penanda fisik yang menegaskan batas kawasan konservasi yang telah dipelihara sejak tahun 2015. Namun, sebagaimana sering terjadi di lapangan, batas administratif tidak selalu menjadi batas bagi ancaman. Memasuki grid 227 dan 226, suasana hutan masih terasa hidup. Suara Burung Cinenen Kelabu (Orthotomus ruficeps) bersahut dengan Merbah Belukar (Pycnonotus plumosus) dan Cabai Jawa (Dicaeum trochileum), menciptakan lanskap akustik yang menjadi indikator alami kesehatan ekosistem. Di antara celah kanopi, seekor Raja Udang Punggung Merah (Halcyon coromanda) melintas cepat, sebuah kilasan warna yang menegaskan bahwa rantai kehidupan masih terjaga. Namun, ketenangan itu mulai berubah ketika tim mencapai grid 225, 233, dan 245. Di lokasi tersebut, tim menemukan 13 tunggak pohon dari berbagai jenis, di antaranya Jati (Tectona grandis), Laban (Vitex pinnata), Gondang (Ficus variegata), Tanjang Gunung (Garcinia celebica), Ngos-Ngos (Antidesma montanum), dan Bubusan (Memecylon edule). Tidak ada suara gergaji, tidak ada pelaku di tempat kejadian, hanya sisa-sisa yang ditinggalkan. Dari kondisi tunggak yang telah menumbuhkan trubusan, aktivitas penebangan ini diperkirakan terjadi sekitar satu tahun lalu. Temuan ini menguatkan indikasi kejadian serupa yang sebelumnya tercatat pada 3 Februari 2026. Dengan kata lain, hutan ini pernah terluka, dan bekasnya masih ada hingga hari ini. Jika praktik serupa terus terjadi, meskipun dalam skala kecil dan tersebar, dampaknya tidak sederhana. Hilangnya pohon-pohon penyusun hutan akan mengganggu struktur kanopi yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan mikroklimat. Tanpa perlindungan tajuk yang memadai, tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi, kemampuan menyimpan air menurun, dan pada akhirnya dapat memengaruhi ketersediaan air bersih di Pulau Bawean, sebuah pulau kecil yang sangat bergantung pada daya dukung ekologisnya sendiri. Lebih jauh, fragmentasi habitat berpotensi mengganggu ruang jelajah satwa, termasuk spesies endemik seperti Rusa Bawean (Axis kuhlii). Ketika ruang hidup terpecah, satwa dipaksa beradaptasi dengan tekanan yang lebih besar, meningkatkan risiko konflik, penurunan populasi, hingga hilangnya keanekaragaman genetik dalam jangka panjang. Meski demikian, kehidupan tidak sepenuhnya surut. Pada grid 246 dan 235, tim menjumpai berbagai jenis anggrek epifit, termasuk Anggrek Ekor Tupai (Rhynchostylis retusa), Vanda sp., Pholidota imbricata, dan Bulbophyllum sp. Kehadiran flora ini menunjukkan bahwa sebagian habitat mikro masih mampu bertahan dan menyediakan ruang bagi spesies sensitif. Di sela vegetasi, seekor Biawak Air (Varanus salvator) teramati bergerak perlahan. Sebagai predator oportunistik, keberadaan satwa ini menjadi indikator bahwa struktur ekosistem masih berjalan, meski berada dalam tekanan. Temuan paling mengesankan justru terjadi di luar kawasan, pada grid 238. Dalam perjalanan kembali, tim menjumpai dua ekor Rusa Bawean (Axis kuhlii) betina. Satwa endemik yang berstatus rentan ini hanya muncul sejenak sebelum menghilang ke dalam rimbun vegetasi, tanpa sempat terdokumentasikan. Namun kehadirannya cukup menjadi pengingat bahwa Pulau Bawean masih menyimpan kekayaan hayati yang sangat bernilai. Secara keseluruhan, hasil patroli ini menggambarkan dua realitas yang berjalan berdampingan: ekosistem yang masih hidup dan tekanan yang pernah, dan mungkin masih terjadi. Temuan pembalakan lama menjadi catatan penting bagi pengelola kawasan, tidak hanya dalam konteks penegakan hukum, tetapi juga sebagai dasar evaluasi strategi pengamanan ke depan. Di sisi lain, kawasan hutan Bawean tidak berdiri sendiri. Ia adalah jantung ekologis pulau, penyangga air, penjaga iklim lokal, sekaligus rumah bagi keanekaragaman hayati yang tidak ditemukan di tempat lain. Keberlanjutannya sangat bergantung pada keterlibatan semua pihak, termasuk masyarakat Bawean yang selama ini hidup berdampingan dengan alam. Harapannya, upaya perlindungan kawasan ini dapat terus diperkuat melalui kolaborasi, antara pengelola kawasan, pemerintah daerah, dan masyarakat, dengan semangat menjaga warisan alam bersama. Kesadaran kolektif bahwa hutan bukan hanya sumber daya, tetapi juga penopang kehidupan, menjadi kunci agar Bawean tetap lestari untuk generasi mendatang. Di Bawean, hutan tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan ingatan, memulihkan diri, dan pada saat yang sama, menunggu untuk dijaga. Dan bagi mereka yang berjalan di dalamnya, setiap langkah bukan hanya perjalanan, melainkan bagian dari upaya menjaga kehidupan yang tersisa. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kelompok Tani Bargot Belajar Membuat Demplot Tanaman Aren di Desa Bulumario

Penyuluh Kehutanan BBKSDA Sumatera Utara berdiskusi dengan pengurus Kelompok Tani Bargot Bulumario, 24 April 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Penyuluh Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V yaitu Efrina Rizkiyah Pohan, S.P. melakukan pendampingan ke Kelompok Tani Bargot di Desa Bulumario, kawasan CA Sibual-buali. Pendampingan ini dihadiri oleh beberapa pengurus serta perwakilan anggota kelompok tani. Tujuan pendampingan ini dalam rangka mendukung pembuatan demplot tanaman aren sebagai upaya pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Dalam kesempatan tersebut, penyuluh kehutanan memberikan informasi tentang rencana pembuatan demplot tanaman aren yang akan dibuat dan dikelola oleh kelompok tani. Partisipasi aktif kelompok tani terlihat dari keterlibatan mereka dalam menyampaikan antusiasnya, kesiapan, serta ikut memberikan masukan dan saran dalam pelaksanaan kegiatan. Dalam pertemuan tersebut, diskusi bersama kelompok tani menjadi bagian penting dalam menentukan jenis bibit aren yang akan digunakan pada demplot tersebut. Penyuluh kehutanan memfasilitasi pertukaran informasi terkait keunggulan beberapa jenis bibit, baik dari segi produktivitas maupun ketahanan terhadap kondisi lingkungan. Kelompok tani juga turut menyampaikan pengalaman dan preferensi mereka dalam budidaya tanaman aren. Hasil diskusi ini diharapkan menghasilkan kesepakatan bersama mengenai jenis bibit yang paling sesuai untuk dikembangkan di Desa Bulumario nantinya. Selanjutnya, dilakukan penyusunan program kerja dalam implementasi demplot aren secara partisipatif antara penyuluh kehutanan dan pengurus/anggota kelompok tani. Penyusunan ini mencakup berbagai kebutuhan, mulai dari pengadaan bibit, persiapan lahan, hingga kegiatan pemeliharaan tanaman. Proses ini dilakukan secara terbuka untuk memastikan transparansi dan kesesuaian dengan kondisi sesungguhnya di lapangan. Dengan adanya program kerja yang tersusun dengan baik, diharapkan pelaksanaan demplot aren dapat berjalan efektif dan berkelanjutan. Kegiatan pembuatan demplot aren ini memberikan manfaat dalam mendukung pemberdayaan masyarakat sekaligus memperkuat upaya konservasi di kawasan CA Sibual-buali. Pengembangan aren diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan tanpa merusak hutan. Keterlibatan aktif kelompok tani juga mendorong kemandirian dan peningkatan kapasitas dalam pengelolaan sumber daya alam. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi contoh praktik baik yang terus dikembangkan serta memperkuat sinergi antara masyarakat dan upaya pelestarian kawasan konservasi. Sumber: Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok, Bidang KSDA Wilayah III Padagsidimpuan – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Ketika Satwa Liar Dipelihara, Siapa yang Sebenarnya Terluka?

Gresik, 27 April 2026. suasana di Palemdodol, Menganti, Gresik, mendadak ramai. Sejumlah warga berkerumun di satu titik. Di sana, seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) jantan dewasa terjebak dalam kandang sederhana. Tubuhnya tegang. Matanya waspada. Pada 24 April 2026, tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) tiba pukul 14.31 WIB. Mereka tidak hanya menghadapi seekor satwa liar, tetapi juga situasi sosial yang tak kalah kompleks, rasa ingin tahu warga, kekhawatiran, dan tanpa disadari, tekanan terhadap satwa yang semakin stres. Evakuasi berlangsung cepat. Dengan metode pembiusan, monyet jantan itu akhirnya dapat dikendalikan. Tidak ada insiden. Dalam waktu kurang dari satu jam, satwa dipindahkan ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Juanda, Sidoarjo. Namun, cerita di lokasi itu tidak sesederhana satu evakuasi. Di titik yang sama, tim menemukan satu individu lain, monyet betina yang telah dipelihara warga selama kurang lebih dua tahun. Berbeda dengan jantan yang liar dan defensif, betina ini tampak lebih tenang, hasil dari interaksi panjang dengan manusia. Di sinilah garis batas antara konservasi dan kebiasaan masyarakat menjadi kabur. Petugas memberikan edukasi. Risiko zoonosis, potensi agresivitas, hingga ancaman keselamatan bagi lingkungan sekitar, terutama anak-anak, disampaikan secara persuasif. Tapi keputusan akhir tetap di tangan pemilik. Hasilnya, satwa tidak diserahkan. Pemilik menyatakan siap bertanggung jawab penuh jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Sebuah pernyataan yang terdengar tegas, namun menyisakan pertanyaan mendasar, apakah risiko dari memelihara satwa liar benar-benar dapat dikendalikan? Data lapangan sebelumnya menunjukkan bahwa kemunculan monyet di permukiman ini bukan peristiwa tunggal. Sejak awal April, dua individu telah teridentifikasi berpindah antara area pemakaman dan permukiman Palem Pertiwi, memanfaatkan pohon kepuh (Sterculia foetida) sebagai jalur dan sumber pakan. Adaptasi ini menandakan satu hal, satwa liar mulai menganggap ruang manusia sebagai bagian dari habitatnya. Di titik ini, konflik tidak lagi sekadar kemungkinan. Ia sudah berlangsung. Yang sering luput disadari, interaksi manusia dan satwa liar kerap berawal dari niat baik. Rasa kasihan, keinginan merawat, atau sekadar kedekatan emosional. Namun, tanpa pengetahuan yang memadai, niat itu bisa berubah menjadi beban, bagi manusia, bagi satwa, dan bagi lingkungan. Satwa kehilangan sifat alaminya. Manusia menghadapi risiko yang tidak sepenuhnya dipahami. Lingkungan sekitar menjadi ruang yang rentan. Kasus di Gresik ini menegaskan pola yang berulang, ketika satwa liar dipelihara, persoalannya tidak berhenti pada satu individu. Ia berpotensi memicu konflik lanjutan, memperbesar interaksi negatif, dan pada akhirnya menuntut intervensi yang lebih kompleks. Pendekatan persuasif harus terus dilakukan. Edukasi, pemantauan, dan mitigasi berbasis masyarakat menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Penegakan hukum tetap menjadi opsi terakhir, bukan tujuan utama. Karena pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar tentang satwa liar yang masuk permukiman. Ini tentang bagaimana manusia memaknai batas. Batas antara kasih sayang dan kontrol. Batas antara alam dan ruang hidup manusia. Batas yang, ketika dilanggar, sering kali meninggalkan satu pertanyaan yang sama. Siapa yang sebenarnya terluka? (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menyemai Kesadaran Konservasi Sejak Dini di Banyuwangi

Banyuwangi, 27 April 2026. Ruang kelas sederhana di MIS Nahdlatul Wathan Licin, Kabupaten Banyuwangi, berubah menjadi ruang dialog tentang masa depan bumi. Sebanyak 43 siswa duduk dengan penuh rasa ingin tahu, menyambut kedatangan para rimbawan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dalam kegiatan Visit to School atau Rimbawan Mengajar (23/04/2026). Kegiatan ini dilaksanakan atas permintaan dari pihak madrasah. Tim pelaksana terdiri dari penyuluh kehutanan dan polisi kehutanan yang sehari-hari bergelut langsung dengan perlindungan kawasan dan satwa liar. Namun hari itu, mereka hadir bukan sebagai penegak hukum, melainkan sebagai jembatan pengetahuan. Materi yang disampaikan mengangkat tema “Peran Generasi Muda sebagai Khalifah di Bumi untuk Masa Depan”, dikemas dengan pendekatan yang sederhana dan kontekstual sesuai tingkat pendidikan sekolah dasar. Anak-anak diajak memahami bahwa hutan bukan sekadar kumpulan pohon, melainkan rumah bagi kehidupan, termasuk manusia. Di sela pemaparan, tawa dan semangat mengisi ruangan saat kuis interaktif digelar. Antusiasme siswa menjadi indikator bahwa pesan konservasi tidak hanya diterima, tetapi juga mulai dipahami. Pendampingan dari guru dan kepala sekolah turut memperkuat suasana belajar yang partisipatif. Lebih dari sekadar kegiatan edukasi, inisiatif ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran ekologis sejak dini, sebuah fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kepala madrasah bahkan menyampaikan harapan agar kolaborasi serupa dapat terus berlanjut, menjangkau jenjang pendidikan yang lebih luas di lingkungan yayasan. Di tengah tantangan degradasi lingkungan yang semakin kompleks, langkah kecil seperti ini menyimpan arti besar. Karena pada akhirnya, masa depan konservasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan atau patroli di lapangan, tetapi juga oleh cara kita menanamkan nilai kepada generasi yang akan mewarisi bumi ini. Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Di Antara Lumpur dan Cahaya Pagi: Catatan Seorang Pengendali Ekosistem Hutan di Sudut Stadion Gelora Bung Tomo

Surabaya, 25 April 2026. Pagi baru saja membuka dirinya ketika lanskap tambak di kawasan barat Surabaya perlahan tersingkap dari sisa gelap malam. Udara masih lembap sisa hujan semalam, dengan aroma khas perairan payau yang tipis namun tegas. Di kejauhan, siluet Stadion Gelora Bung Tomo, yang secara administratif berada di Kelurahan Benowo, Kecamatan Pakal—berdiri seperti penanda zaman: modern, kokoh, dan kontras dengan hening hamparan tambak di sekitarnya, Sabtu (25/04/2026). Perjalanan pagi itu sejatinya bukan untuk melakukan pengamatan. Perjalanan ini hanya bagian dari rutinitas, melintasi jalur Surabaya menuju Gresik, menyusuri batas-batas lanskap yang perlahan berubah dari kota menuju kawasan pesisir. Namun dalam pekerjaan sebagai Pengendali Ekosistem Hutan, rutinitas sering kali menjadi ruang perjumpaan yang tak terduga. Dan pagi itu, sesuatu terjadi. Bukan suara keras. Tidak pula gerakan yang mencolok. Hanya perubahan halus dalam pola visual lanskap, titik-titik putih yang bergerak perlahan di atas permukaan tambak yang tenang. Sekilas tampak seperti bias cahaya. Namun semakin diamati, pola itu menjadi jelas, kawanan burung air sedang beraktivitas. Langkah terhenti. Insting bekerja. Ada sesuatu yang perlu dibaca. Di hamparan air dangkal, puluhan burung tampak berjalan dan berhenti dalam ritme yang tidak seragam, namun saling terhubung. Beberapa individu terbang rendah, berpindah dari satu petak tambak ke petak lain. Yang lain tetap diam, seolah menyatu dengan lingkungan. Pengamatan lebih dekat mengungkap satu hal penting: mereka bukan satu jenis. Yang paling mudah dikenali adalah individu berukuran besar dengan leher panjang yang melengkung elegan. Gerakannya lambat, hampir seperti tidak tergesa. Ia berdiri diam cukup lama sebelum tiba-tiba menusukkan paruhnya ke air. Ini adalah Kuntul besar, spesies yang dikenal mengandalkan strategi berburu sit-and-wait, meminimalkan energi sambil menunggu mangsa mendekat. Di sekelilingnya, dinamika yang berbeda berlangsung. Individu yang lebih kecil, lebih aktif, dan jauh lebih responsif terhadap perubahan di permukaan air bergerak cepat. Mereka melangkah ringan, sesekali berlari pendek, lalu berhenti secara tiba-tiba. Kaki hitam dengan jari kuning menjadi ciri khas yang kontras dengan lumpur tambak. Mereka adalah Kuntul kecil, pemburu aktif yang memanfaatkan gangguan kecil untuk memancing pergerakan mangsa. Sedikit menjauh dari genangan utama, di bagian tambak yang relatif lebih kering, tampak kelompok lain dengan postur lebih kompak. Mereka tidak terlalu bergantung pada air dangkal. Pergerakannya lebih fleksibel, bahkan cenderung mendekati batas daratan. Spesies ini adalah Kuntul kerbau, burung yang secara ekologis dikenal memiliki rentang adaptasi luas, sering ditemukan di area persawahan hingga lingkungan yang berdekatan dengan aktivitas manusia. Namun yang paling menarik justru hadir dalam keheningan. Di antara tepian tambak, berdiri satu sosok yang nyaris luput dari perhatian. Warna tubuhnya coklat kusam, menyatu dengan lumpur dan vegetasi rendah di sekitarnya. Ia tidak bergerak. Tidak memberi tanda keberadaan. Hingga sesaat kemudian, ketika ia terbang, tubuhnya berubah menjadi putih kontras yang mencolok. Ia adalah Blekok sawah, spesies dengan kemampuan kamuflase tinggi, mengandalkan strategi diam untuk mendekati mangsa. Empat spesies. Satu ruang ekologis. Empat pendekatan berbeda untuk bertahan hidup. Dalam kajian ekologi, fenomena ini dikenal sebagai pembagian relung (niche partitioning) sebuah mekanisme alami yang memungkinkan beberapa spesies dengan kebutuhan serupa untuk hidup berdampingan tanpa kompetisi langsung yang berlebihan. Setiap spesies memanfaatkan sumber daya dengan cara yang berbeda: dari posisi berburu, teknik menangkap mangsa, hingga mikrohabitat yang digunakan. Dan pagi itu, konsep tersebut tidak lagi sekadar teori. Ia hadir nyata, tepat di depan mata. Kawanan burung itu tidak saling berebut. Tidak ada konflik yang terlihat. Sebaliknya, ada harmoni yang terbentuk dari perbedaan. Yang satu diam dan menunggu, yang lain bergerak aktif. Yang satu memilih air terbuka, yang lain bertahan di tepian. Yang satu mengandalkan visibilitas, yang lain mengandalkan penyamaran. Semua bergerak menuju satu tujuan yang sama, makan. Tambak-tambak ini, yang bagi manusia adalah ruang produksi ekonomi, bagi burung-burung tersebut adalah lanskap kehidupan. Ikan kecil, udang, dan organisme akuatik lainnya menjadi sumber energi yang menopang keberlangsungan mereka. Di sinilah narasi menjadi lebih dalam. Karena apa yang terlihat sebagai aktivitas biasa, sesungguhnya adalah indikator ekologis. Kehadiran beberapa spesies burung air dalam jumlah signifikan mengindikasikan bahwa kawasan ini masih memiliki produktivitas biologis yang cukup tinggi. Ketersediaan pakan masih terjaga. Struktur habitat masih mampu mendukung kehidupan. Namun, dalam perspektif yang lebih luas, ada lapisan lain yang tidak bisa diabaikan. Tambak adalah habitat buatan. Ia bukan ekosistem alami yang terbentuk tanpa intervensi manusia. Ia adalah hasil modifikasi lanskap, ruang produksi yang secara tidak langsung menggantikan sebagian fungsi lahan basah alami yang semakin terfragmentasi di wilayah pesisir utara Jawa. Dengan kata lain, kawasan ini berperan sebagai habitat substitusi. Dan di sinilah ambiguitas ekologis itu muncul. Apakah keberadaan burung-burung ini menunjukkan bahwa mereka berhasil beradaptasi terhadap perubahan lanskap? Ataukah ini justru sinyal bahwa habitat asli mereka tidak lagi mampu menyediakan kebutuhan dasar kehidupan? Tidak ada jawaban tunggal. Namun dalam praktik pengelolaan ekosistem, pertanyaan seperti ini menjadi sangat penting. Karena konservasi tidak hanya berbicara tentang melindungi apa yang tersisa, tetapi juga memahami bagaimana spesies merespons perubahan. Pengamatan pagi itu, meskipun singkat, menjadi potongan data yang berharga. Bukan hanya tentang jenis burung yang ditemukan, tetapi juga tentang perilaku, distribusi mikrohabitat, dan interaksi antarspesies. Semua itu adalah informasi yang, jika dikumpulkan secara sistematis, dapat memberikan gambaran lebih utuh tentang kondisi ekosistem. Langit mulai terang sepenuhnya. Aktivitas manusia perlahan meningkat. Suara kendaraan mulai terdengar lebih jelas. Kawanan burung itu pun mulai berkurang, sebagian terbang menjauh, sebagian berpindah ke petak tambak yang lebih tenang. Momen itu berakhir. Namun maknanya tertinggal. Perjalanan kembali dilanjutkan, tetapi dengan perspektif yang berbeda. Apa yang semula hanya lintasan biasa, berubah menjadi ruang pembacaan lanskap, tempat di mana setiap detail memiliki arti. Sebagai Pengendali Ekosistem Hutan, peran tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar. Kadang ia hadir dalam bentuk sederhana: berhenti, mengamati, dan memahami. Karena perubahan ekologis jarang datang secara tiba-tiba. Ia bergerak perlahan. Hampir tak terlihat. Namun pasti. Dan pagi itu, di tambak di sudut Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, perubahan itu sedang berlangsung, tenang, teratur, dan penuh makna, bagi siapa pun yang bersedia memperhatikannya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Upaya Jember Menjawab Lonjakan Konflik Manusia dan Satwa Liar

Jember, 27 April 2026. Di sebuah aula sederhana di Kabupaten Jember, percakapan tentang luka, bukan sekadar luka fisik, tetapi juga luka ekologis, mengemuka dengan serius. Senin silam (20/4), puluhan tenaga kesehatan, aparat, relawan, dan pengelola satwa berkumpul dalam satu ruang, menyatukan kegelisahan yang sama: meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar yang tak lagi bisa dianggap peristiwa sporadis. Kegiatan sosialisasi penanganan luka akibat gigitan satwa liar dan pelatihan handling satwa ini menjadi respons nyata atas tren yang terus meningkat. Data menunjukkan, kasus gigitan satwa liar di Kabupaten Jember melonjak signifikan dalam tiga tahun terakhir, dari 34 kasus pada 2023 menjadi 89 kasus pada 2025, dan hingga April 2026 telah tercatat 23 kasus. Sebagian besar melibatkan gigitan kucing dan monyet, terutama monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), spesies yang kian sering beririsan dengan ruang hidup manusia. Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Ben Sromben Indonesia bersama Relawan Ben Sromben Indonesia, dengan dukungan penuh dari Bidang KSDA Wilayah III Jember Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Bakorwil V Jember, serta Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Jember. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci dalam merespons persoalan yang kompleks, karena konflik satwa liar bukan hanya isu konservasi, tetapi juga kesehatan masyarakat, sosial, dan tata kelola ruang. Sebanyak 91 peserta hadir, terdiri dari tenaga kesehatan, petugas pemadam kebakaran, BPBD, relawan, hingga aparat pengamanan wilayah. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga berdiskusi aktif, berbagi pengalaman lapangan yang sering kali berada di antara batas tipis antara keselamatan manusia dan keberlangsungan satwa. Materi yang disampaikan mencerminkan pendekatan komprehensif. Dari penanganan medis luka gigitan satwa liar oleh dr. Dandy Candra Satyawan, hingga pemahaman konflik manusia dengan satwa liar oleh Femke Den Haas, serta teknik handling satwa oleh drh. Deny Ramadani, semuanya mengarah pada satu tujuan, meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas bersama dalam menghadapi konflik yang semakin kompleks. Namun, di balik diskusi teknis dan angka-angka statistik, tersimpan realitas yang lebih dalam. Konflik ini sering kali berakar dari perubahan lanskap, perilaku manusia, dan praktik pemeliharaan satwa liar yang tidak sesuai. Apa yang berawal dari rasa iba atau keinginan memiliki, kerap berujung pada ketidaksanggupan merawat, dan pada akhirnya, risiko bagi manusia, satwa, dan lingkungan. Sejumlah rekomendasi strategis pun mengemuka. Mulai dari usulan penerbitan surat edaran larangan praktik tertentu seperti eksploitasi primata, penguatan edukasi kepada masyarakat dan pedagang, pemasangan papan larangan penjualan satwa liar, hingga pendataan pemelihara satwa dengan sistem identifikasi seperti microchip. Langkah-langkah ini bukan sekadar administratif, tetapi bagian dari upaya membangun sistem pencegahan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Pada akhirnya, kegiatan ini bukan hanya tentang bagaimana menangani luka akibat gigitan satwa liar. Ia adalah cerminan dari upaya manusia memahami kembali batas-batas interaksi dengan alam. Sebab ketika satwa liar mulai menggigit, bisa jadi itu bukan sekadar serangan, melainkan sinyal bahwa keseimbangan sedang terganggu. Dan dari Jember, sebuah pesan penting mengalir: menjaga jarak yang sehat dengan alam bukan berarti menjauh, melainkan memahami, agar manusia dan satwa tetap dapat hidup berdampingan tanpa saling melukai. Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Cyrtodactylus Petani Dari Sebuah Malam Yang Tak Direncanakan Di Pamekasan

Pamekasan, 25 April 2026. Tak semua temuan lahir dari rencana besar. Sebagian justru muncul dari jeda, dari ruang-ruang kosong yang sering kita anggap tak berarti. Pada Selasa, 21 April 2026, setelah seharian penuh mengikuti pembahasan kajian Resort Konservasi Wilayah (RKW), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) untuk lingkup kerja Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, suasana mulai mereda. Diskusi teknis yang padat, data yang berlapis, serta dinamika perencanaan konservasi yang kompleks perlahan ditinggalkan seiring senja yang turun. Namun malam itu belum benar-benar selesai. Di antara kelelahan yang tersisa, insting sebagai Pengendali Ekosistem Hutan memilih untuk tidak langsung beristirahat. Tidak ada agenda resmi. Tidak ada target spesifik. Hanya dorongan sederhana, keluar sejenak, berjalan di sekitar halaman kantor, dan melihat apa yang selama ini mungkin terlewat. Berbekal kamera seadanya dan sebuah head lamp yang hampir selalu menyertai setiap aktivitas lapangan, langkah kecil itu dimulai. Sebuah eksplorasi sederhana, yang dalam bahasa sehari-hari mungkin hanya disebut: mengisi waktu daripada menganggur. Namun, seperti sering terjadi dalam dunia lapangan, alam punya cara sendiri untuk menjawab rasa ingin tahu, bahkan yang paling sederhana sekalipun. Malam di sekitar halaman kantor Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan tidak sepenuhnya gelap. Ada bias cahaya dari bangunan, ada bayangan pepohonan, ada kelembapan yang perlahan naik dari tanah yang menyimpan panas siang hari. Di sela bebatuan yang tampak biasa, sorotan head lamp tiba-tiba menangkap sesuatu, sebuah bentuk yang nyaris tak bergerak, di dalam sebuah saluran paralon. Sekilas, ia tampak seperti bagian dari bongkahan tanah dalam paralon tersebut. Namun ketika diamati lebih saksama, garis tubuhnya mulai terbaca. Kepala yang pipih, ekor panjang yang menyatu dengan kontur permukaan, serta pola tubuh yang menyerupai marmer alam. Itu bukan tanah. Itu adalah kehidupan. Seekor Cecak Batu Jari-Lengkung, Cyrtodactylus petani. Spesies Kecil, Cerita Besar. Bagi sebagian orang, mungkin ia hanyalah cicak, satwa kecil yang sering dianggap biasa. Namun dalam perspektif ilmiah dan konservasi, Cyrtodactylus petani adalah bagian dari cerita yang jauh lebih besar. Spesies ini termasuk dalam famili Gekkonidae, dan berada dalam genus Cyrtodactylus kelompok gecko dengan tingkat keanekaragaman tinggi di kawasan Asia Tenggara. Yang menarik, C. petani tergolong spesies yang relatif baru dideskripsikan. Artinya, di tengah lanskap Jawa yang telah lama dihuni manusia, masih ada bagian dari biodiversitas yang baru mulai kita kenali. Secara morfologi, tubuhnya adalah hasil dari proses evolusi yang presisi. Warna cokelat keabu-abuan dengan bercak gelap membuatnya nyaris tak terlihat di atas batu berlumut. Kulitnya bertekstur granular, membantu menyatu dengan permukaan kasar. Ciri paling khas terletak pada jari-jarinya yang melengkung, adaptasi yang memungkinkan cengkeraman kuat pada permukaan batu dan substrat alami lainnya. Berbeda dengan cicak rumah yang memiliki bantalan perekat lebar, Cyrtodactylus lebih mengandalkan struktur jari dan kekuatan mekanis untuk bergerak. Matanya besar, dengan pupil vertikal, indikasi kuat bahwa ia adalah satwa nokturnal, aktif berburu ketika malam tiba. Dunia Mikro yang Sering Terabaikan Keberadaan Cyrtodactylus petani di sekitar halaman kantor bukanlah kebetulan semata. Ia adalah penghuni mikrohabitat, ruang kecil yang memiliki kondisi lingkungan spesifik, lembap, teduh, dan relatif minim gangguan. Celah saluran, permukaan tanah berpori, hingga area transisi antara bangunan dan vegetasi adalah tempat ideal bagi spesies ini. Di sanalah ia berburu. Serangga kecil, arthropoda, dan organisme mikro lainnya menjadi sumber makanannya. Dalam rantai ekologi, perannya mungkin terlihat sederhana, namun sangat penting, menjaga keseimbangan populasi organisme kecil yang jika tidak terkendali dapat memengaruhi struktur ekosistem. Lebih dari itu, kehadirannya menjadi indikator bahwa lingkungan tersebut masih memiliki kualitas mikrohabitat yang baik, kelembapan terjaga, struktur substrat alami masih ada, dan gangguan belum sepenuhnya menghilangkan fungsi ekologisnya. Dari “Iseng” Menjadi Refleksi Konservasi Apa yang dimulai sebagai aktivitas sederhana, sekadar berjalan dan mengamati karena tidak ingin menganggur, justru menghadirkan refleksi yang lebih dalam. Sering kali, konservasi dipahami sebagai sesuatu yang besar, kawasan luas, spesies langka, program skala nasional. Padahal, konservasi juga hidup dalam detail kecil, dalam ruang sempit yang jarang dilihat. Halaman kantor. Batu berlumut. Celah yang tampak tak berarti. Di tempat-tempat seperti itulah kehidupan tetap berlangsung, tanpa sorotan, tanpa perhatian. Dan di sanalah, konservasi sebenarnya dimulai. Ancaman Yang Tidak Terlihat Namun keberadaan mikrohabitat seperti ini sangat rapuh. Perubahan kecil dalam tata kelola lingkungan dapat berdampak besar seperti pembersihan area yang terlalu intens, pengerasan tanah dengan semen atau paving, hilangnya vegetasi peneduh serta penurunan kelembapan akibat perubahan drainase. Semua itu dapat menghilangkan ruang hidup bagi spesies seperti Cyrtodactylus petani. Yang hilang bukan hanya satu individu. Yang hilang adalah fungsi ekologis. Dan sering kali, kehilangan itu terjadi tanpa kita sadari. Masih Banyak yang Belum Kita Ketahui Sebagai spesies yang relatif baru dikenali, C. petani masih menyimpan banyak misteri ilmiah. Distribusinya, preferensi habitat detail, hingga dinamika populasinya masih terus dipelajari. Dalam banyak kasus pada genus Cyrtodactylus, para peneliti bahkan menemukan adanya spesies kriptik, spesies yang secara visual tampak serupa, namun secara genetik berbeda. Artinya, satu retakan batu bisa saja menyimpan lebih dari satu cerita kehidupan yang belum sepenuhnya kita pahami. Malam itu berakhir tanpa euforia. Tidak ada perayaan. Tidak ada sorotan. Hanya satu dokumentasi sederhana, seekor gecko kecil di dalam paralon. Namun justru di situlah letak maknanya. Bahwa alam tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar dan dramatis. Ia sering kali hadir dalam diam, menunggu untuk diperhatikan oleh mereka yang mau meluangkan waktu. Bahwa rasa ingin tahu, bahkan yang lahir dari “iseng”, bisa membuka jendela pemahaman yang lebih luas. Dan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, ia dimulai dari satu langkah kecil di halaman kantor dengan cahaya headlamp, kamera sederhana, dan keinginan untuk melihat lebih dekat. Di balik paralon, Cyrtodactylus petani tetap ada. Diam. Tersembunyi. Namun menjalankan perannya dengan sempurna. Ia tidak meminta untuk ditemukan. Tidak pula menuntut untuk diperhatikan. Namun kehadirannya mengingatkan kita pada satu hal penting, bahwa kehidupan liar selalu ada di sekitar kita, dan tugas kitalah untuk cukup peka, agar tidak melewatkannya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kehidupan Baru Seekor Primata Liar Yang Lama Terasing

Surabaya, 27 April 2026. Seekor primata jantan diserahkan secara sukarela oleh warga di kawasan Kedung Baruk, Rungkut, Surabaya, kepada Tim Matawali pada Jumat, 24 April 2026. Satwa tersebut sebelumnya dipelihara selama kurang lebih dua tahun sejak ditemukan dalam kondisi anakan di wilayah Jember. Penyerahan dilakukan oleh pemiliknya, Ibu Markati, setelah merasa tidak lagi mampu merawat satwa tersebut. Informasi awal disampaikan melalui pengurus lingkungan setempat dan diteruskan melalui layanan darurat 112, yang kemudian mengoordinasikan tindak lanjut dengan Balai Besar Konsrvasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) dari Seksi KSDA Wilayah III Surabaya bergerak ke lokasi dengan membawa peralatan evakuasi standar. Petugas melakukan koordinasi dengan pelapor serta pemilik sebelum melaksanakan pemeriksaan awal terhadap kondisi satwa. Hasil identifikasi menunjukkan satwa berjenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), berjenis kelamin jantan, dalam kondisi sehat. Spesies ini tidak termasuk satwa dilindungi secara nasional, tercantum dalam Appendix II CITES, dan berdasarkan data IUCN berstatus Least Concern. Proses evakuasi dilakukan menggunakan kandang angkut untuk meminimalkan stres dan risiko cedera. Selanjutnya, satwa ditranslokasikan ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa di Sidoarjo guna menjalani pemeriksaan lanjutan, perawatan, dan tahapan rehabilitasi sesuai prosedur. Di balik peristiwa ini, tersimpan pola yang kerap berulang. Pemeliharaan satwa liar tidak jarang berangkat dari niat baik, rasa iba melihat satwa yang dianggap membutuhkan pertolongan. Namun, seiring waktu, kebutuhan biologis dan perilaku alaminya yang kompleks sering kali melampaui kemampuan pemeliharaan di lingkungan rumah tangga. Pada titik itulah, niat awal yang sederhana berhadapan dengan kenyataan yang tidak selalu mudah dijalani. Balai Besar KSDA Jawa Timur memandang penyerahan sukarela sebagai langkah positif. Ke depan, masyarakat diharapkan dapat mempertimbangkan kembali keputusan untuk memelihara satwa liar. Selain berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem, praktik tersebut juga dapat menimbulkan risiko bagi lingkungan sekitar serta membutuhkan penanganan lanjutan oleh petugas. Upaya konservasi, pada akhirnya, tidak hanya bertumpu pada tindakan penyelamatan, tetapi juga pada kesadaran bersama untuk menjaga jarak yang bijak antara manusia dan satwa liar. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Hari Bumi, Ficus Ditanam, Harapan Ditumbuhkan

Tuban, 27 April 2026. Di tengah sunyi yang menyelimuti kawasan sumber mata air Lanjar, Desa Maibit, langkah-langkah kecil menanam harapan dimulai. SPeringatan Hari Bumi tidak hanya menjadi seremoni, tetapi menjelma aksi nyata: mennam kehidupan, satu pohon ficus pada satu waktu, Sabtu (25/4). Kegiatan ini diinisiasi oleh komunitas lokal, Masyarakat Ficus Tuban, yang menggandeng berbagai pihak lintas sektor. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), bersama Cabang Dinas Kehutanan Bojonegoro, BPBD Kabupaten Tuban, PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI), unsur TNI dari Koramil, Polsek Rengel, Pemerintah Desa Maibit, dan Bumdes setempat, hingga generasi muda dari Pramuka Saka Wanabakti. Namun lebih dari sekadar kolaborasi kelembagaan, kegiatan ini menyentuh inti persoalan yang sering luput dari perhatian: keberlanjutan sumber air. Pohon ficus, yang dikenal memiliki sistem perakaran kuat dan kemampuan menyimpan air, dipilih bukan tanpa alasan. Ia adalah penjaga alami mata air, penopang ekosistem yang diam-diam bekerja menjaga keseimbangan. Di lokasi yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat sekitar, setiap bibit ficus yang ditanam adalah bentuk investasi ekologis jangka panjang. Akar-akarnya kelak akan mengikat tanah, menjaga debit air, dan memastikan bahwa mata air tidak sekadar menjadi kenangan di masa depan. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan keterlibatan semua pihak—dari pemerintah, dunia usaha, hingga masyarakat akar rumput. Kolaborasi ini mencerminkan satu kesadaran bersama: bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab kolektif. Hari Bumi di Desa Maibit akhirnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Ia hidup dalam tanah yang ditanami, dalam akar yang tumbuh perlahan, dan dalam harapan bahwa generasi mendatang masih dapat merasakan sejuknya air dari sumber yang tetap lestari. Karena pada akhirnya, menjaga bumi tidak selalu tentang langkah besar, tetapi tentang keberanian untuk memulai, bahkan dari satu pohon. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Karst Tergerus, Air Terancam: Lima Alarm Lingkungan Tuban 2026

Tuban, 24 April 2026. Pemerintah Kabupaten Tuban menetapkan lima isu prioritas lingkungan hidup untuk tahun 2026 dalam Forum Group Discussion (FGD) penyusunan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD), Rabu (22/4). Salah satu sorotan utama adalah degradasi ekosistem karst akibat aktivitas penambangan batu kapur yang kian masif. FGD yang digelar di ruang rapat Pemkab Tuban itu dihadiri oleh sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD), instansi vertikal, serta mitra yang bergerak di bidang lingkungan hidup. Forum ini menjadi bagian dari proses penyusunan dokumen SLHD, yang berfungsi sebagai potret kondisi dan tren perubahan kualitas lingkungan hidup di daerah. Dokumen SLHD tidak hanya memuat data, tetapi juga menjadi instrumen evaluasi kebijakan pemerintah daerah. Selain itu, dokumen ini digunakan untuk memperkuat pengambilan keputusan berbasis data lingkungan hidup, memperkuat sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, serta menyediakan informasi bagi publik. Dalam forum tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah II menyampaikan sejumlah catatan kritis. Di antaranya adalah kerusakan bentang alam karst akibat aktivitas pertambangan batu kapur. Aktivitas ini dinilai telah mengganggu fungsi ekologis kawasan, termasuk peran karst sebagai sistem penyimpan air alami. Selain itu, perhatian juga diarahkan pada kondisi Cagar Alam Goa Nglirip. Kawasan ini disebut mengalami tekanan akibat perubahan tutupan lahan di sekitarnya. Area yang sebelumnya berupa hutan jati kini sebagian telah berubah menjadi lahan garapan masyarakat. Perubahan ini berpotensi memicu degradasi ekosistem dan mengganggu keseimbangan lingkungan di kawasan konservasi tersebut. Dalam diskusi, disepakati lima isu prioritas lingkungan hidup Kabupaten Tuban tahun 2026. Pertama, degradasi ekosistem karst akibat aktivitas penambangan. Kedua, alih fungsi lahan pertanian dan hutan untuk sektor non-pertanian. Ketiga, penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya air akibat kerusakan wilayah hulu. Keempat, pencemaran badan air oleh limbah industri dan aktivitas ekstraktif. Kelima, tata kelola sampah yang dinilai belum optimal. Kelima isu tersebut saling berkaitan dan memerlukan penanganan lintas sektor. Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan diharapkan dapat merumuskan langkah strategis berbasis data untuk mengendalikan laju degradasi lingkungan. FGD ini menjadi tahap awal dalam penyusunan SLHD Kabupaten Tuban 2026. Hasilnya diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan lingkungan yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Nyaris Dibunuh Karena Mitos: Detik-Detik Penyelamatan Trenggiling Jawa dari Amukan Ketakutan Warga Kediri

Kediri, 24 April 2026. Di balik kepercayaan lama yang masih hidup di tengah masyarakat, seekor satwa langka nyaris menjadi korban. Tim konservasi bergerak cepat, menyelamatkan, memulihkan, dan mengembalikannya ke habitat alaminya. Di sebuah sudut desa yang tenang di Kecamatan Ngancar, ketegangan sempat memuncak ketika seekor Trenggiling Jawa ditemukan merayap di sekitar permukiman warga. Bukan rasa kagum yang muncul pertama kali, melainkan ketakutan, dibumbui bisikan kepercayaan lama yang menyebut satwa bersisik itu sebagai pertanda mistis. Pada Selasa, 21 April 2026, laporan masyarakat yang masuk melalui call center Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menjadi titik awal penyelamatan. Informasi tersebut segera ditindaklanjuti oleh Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 01 Kediri, sebuah unit respons cepat yang bergerak di garis depan perlindungan satwa liar. Warga setempat, yang pertama kali menemukan satwa tersebut, sempat menghadapi tekanan dari pihak-pihak tertentu untuk segera membunuhnya. Alasan yang mengemuka bukanlah ancaman nyata dari satwa itu sendiri, melainkan ketakutan akan mitos, bahwa kemunculan Trenggiling berkaitan dengan praktik pesugihan atau hal-hal gaib lain yang tak berdasar secara ilmiah. Namun waktu tidak berpihak pada keraguan. Sehari berselang, Rabu (22/4), tim Matawali tiba di lokasi. Mereka mendapati satwa dalam kondisi fisik yang baik, aktif, responsif, dan menunjukkan perilaku alami yang kuat. Hasil asesmen awal memperlihatkan bahwa individu tersebut masih memiliki insting liar yang utuh, sebuah indikator penting bahwa ia layak untuk segera dikembalikan ke habitat alaminya. Koordinasi cepat dilakukan dengan petugas di kawasan Cagar Alam Manggis Gadungan—sebuah bentang alam yang masih menyediakan ruang aman bagi spesies ini untuk bertahan hidup. Tanpa menunda waktu, proses translokasi dan pelepasliaran dilakukan pada hari yang sama. Di bawah naungan vegetasi hutan yang rapat, Trenggiling Jawa itu akhirnya kembali ke alam, tempat di mana ia seharusnya berada, jauh dari bayang-bayang ketakutan manusia. Peristiwa ini kembali menegaskan satu hal penting: ancaman terbesar bagi satwa liar bukan hanya perburuan atau hilangnya habitat, tetapi juga persepsi keliru yang mengakar di masyarakat. Sebagai salah satu mamalia paling terancam di dunia, trenggiling menghadapi tekanan berat akibat perdagangan ilegal dan minimnya pemahaman publik. Di Indonesia, spesies ini telah dilindungi secara hukum, namun perlindungan tersebut belum sepenuhnya sejalan dengan kesadaran di tingkat akar rumput. Upaya penyelamatan di Kediri menjadi cerminan bahwa konservasi tidak hanya tentang menjaga hutan dan satwa, tetapi juga tentang membangun pemahaman, mengikis mitos, dan menggantinya dengan pengetahuan. Balai Besar KSDA Jawa Timur menilai bahwa kejadian ini menjadi momentum penting untuk memperkuat edukasi konservasi, baik melalui pendekatan langsung ke masyarakat maupun melalui media digital yang lebih luas jangkauannya. Karena pada akhirnya, masa depan satwa liar seperti Trenggiling Jawa tidak hanya ditentukan oleh keberadaan hutan, tetapi juga oleh cara manusia memandang dan memperlakukan mereka. Dan di Kediri, setidaknya untuk satu individu, harapan itu masih ada. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 65–80 dari 2.298 publikasi