Sulawesi Bloodsuckers (Bronchocela celebensis) menunjukkan perubahan warna menjadi cokelat sebagai bentuk kamuflase (Foto: Rendi Ansyah Nurdin)
Maros, 26 Mei 2026 – Bagi Kamaruddin, pagi Senin (25/5/2026) di Pusat Informasi, Kawasan Wisata Alam Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung itu seperti pagi biasanya, menyapu bersih dedaunan kering yang berguguran dari rimbunnya pepohonan karst di sekitarnya. Namun, seekor “tamu tak terduga” yang ikut tersapu bersama sampah dedaunan itu sontak membuatnya terkejut. Di sela-sela daun kering, meringkuk seekor reptil kecil.
“Awalnya saya kira itu anak soa-soa (
Hydrosaurus microlophus). Tapi dia sedikit berbeda,” kenangnya. Kamaruddin sebagai Manggala Agni, yang akrab disapa Delon, bersama anggota Resor Bantimurung lainnya, memutuskan untuk memotret dan memeriksa temuan itu. Reptil kecil, berwarna cokelat yang membantunya berkamuflase sempurna di lantai balkon yang dipenuhi serasah.
Bukan Anak Soa-soa, Melainkan “Sulawesi Bloodsuckers” yang Langka
Saat foto-foto itu sampai ke tangan Kamajaya Shagir dan Nur Rahmah, dua orang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) yang bertugas di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, memori lama pun muncul. Hal yang sama persis terjadi sembilan tahun lalu.
“Sembilan tahun yang lalu jenis ini yang pertama kali kami jumpai di kawasan Karaenta,” kenang Kamajaya Shagir. “Dulu kami juga sempat bingung dan kemudian mengidentifikasinya sebagai
Bronchocela celebensis.”
Baca juga:
Temuan Sulawesi Bloodsuckers di TN Bantimurung Bulusaraung
Sembilan tahun kemudian, di titik berbeda namun masih dalam satu bentang alam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kami kembali bertemu dengan reptil yang sama. Ahli Herpetologi dari BRIN, Awal Riyanto, yang kami hubungi untuk memastikannya, juga mengidentifikasi temuan ini sebagai
Bronchocela celebensis, atau yang akrab disebut
Sulawesi Bloodsuckers, yang juga dikenal dengan nama Bunglon Surai Sulawesi.
Status Konservasi Mengkhawatirkan
Kadal yang tergolong dalam suku Agamidae ini adalah pemakan serangga sejati. "Di alam liar, ia membantu mengendalikan populasi serangga kecil," ujar Nur Rahmah. Namun, di sisi lain, kadal inilah yang menjadi salah satu menu makanan monyet dare (
Macaca maura), primata endemik Sulawesi Selatan yang salah satu habitatnya berada di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Selain mudah dikenali dari bentuk fisiknya, badan ramping, warna hijau atau cokelat dengan ekor sangat panjang menjuntai, serta jambul kecil di kepalanya, kadal ini ternyata sangat langka dan endemik di Sulawesi. Dalam sebuah studi taksonomi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Zootaxa (Maret 2024), para ilmuwan, termasuk Awal Riyanto dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan bahwa
Bronchocela celebensis adalah salah satu spesies paling langka dalam genusnya. Selama ini, spesies ini hanya diketahui dari kurang dari 20 spesimen museum yang dikoleksi dari Sulawesi Utara.
Penelitian yang melibatkan 46 spesimen itu mengusulkan perubahan status konservasi
B. celebensis menjadi Rentan (Vulnerable/VU) berdasarkan kriteria Daftar Merah IUCN (
International Union for Conservation of Nature). Artinya, spesies ini menghadapi risiko kepunahan yang cukup tinggi di alam liar jika tidak ada upaya pelestarian yang serius.
Penanda Populasi yang Sehat dan Harapan di Balik Daun Kering
Penemuan kembali di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yang lokasinya jauh dari catatan sejarah koleksi museum di Sulawesi Utara, menjadi kabar baik. Ini memperluas peta persebaran spesies tersebut dan menjadi indikator bahwa ekosistem karst dan hutan di kawasan tersebut, yang terkenal dengan air terjun dan kupu-kupunya, masih cukup sehat untuk mendukung populasi satwa liar yang sangat spesifik.
Setelah hampir sepuluh tahun,
Sulawesi Bloodsuckers kembali tercatat oleh petugas konservasi. Bagi Kamaruddin dan anggota Resor Bantimurung yang tidak sengaja menemukannya, kejadian ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih menyediakan ruang aman bagi satwa liar untuk bertahan.
“Harapannya, dengan keberadaan spesies ini, pengunjung yang datang ke Kawasan Wisata Alam Bantimurung bisa lebih peduli terhadap flora dan fauna serta lingkungan di sekitarnya,” pesan Junaedi Sam, Kepala Resor Bantimurung, SPTN Wilayah II Cenrana.
Di sela-sela daun kering dan kesibukan mengelola wisata, alam masih menyisakan kejutan. Kejutan itu mengingatkan siapa sebenarnya penghuni utama hutan karst tersebut.
Sumber: Kamajaya Shagir dan Nur Rahmah (PEH ) Balai TN Bantimurung Bulusaraung