Kamis, 9 Jul 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Taman Nasional Batang Gadis: Sudah Sejauh Mana Potensinya Teridentifikasi?

Mandailing Natal – Kawasan Taman Nasional (TN) Batang Gadis merupakan salah satu benteng penting pelestarian keanekaragaman hayati di Pulau Sumatera. Dengan luas mencapai 72.803,75 hektare, kawasan konservasi ini menyimpan kekayaan flora dan fauna yang luar biasa, sekaligus menjadi habitat bagi berbagai spesies langka, dilindungi, dan endemik Indonesia. Melalui kegiatan inventarisasi dan monitoring sumber daya alam hayati yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Balai Taman Nasional Batang Gadis terus mengungkap potensi biodiversitas yang tersimpan di dalam kawasan. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa TN Batang Gadis memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, baik untuk kelompok satwa maupun tumbuhan. Dari kelompok fauna, hingga saat ini telah teridentifikasi 53 jenis mamalia, dengan 24 jenis berstatus dilindungi dan 7 jenis endemik Indonesia. Selain itu, tercatat 288 jenis burung (aves), yang terdiri atas 58 jenis dilindungi dan 17 jenis endemik Indonesia. Kekayaan herpetofauna juga cukup menonjol dengan ditemukannya 48 jenis amfibi, termasuk 17 jenis endemik Indonesia, serta 20 jenis reptil, dengan 1 jenis dilindungi dan 3 jenis endemik Indonesia. Tidak kalah menarik, kawasan ini juga menjadi habitat bagi sedikitnya 119 jenis serangga yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sementara itu, dari kelompok flora, TN Batang Gadis telah mengidentifikasi 241 jenis pohon, termasuk 1 jenis yang dilindungi. Kekayaan tumbuhan lainnya meliputi 92 jenis anggrek, 10 jenis kantung semar (Nepenthes) dengan 6 jenis dilindungi dan 4 jenis endemik Indonesia, serta 3 jenis rafflesia yang seluruhnya berstatus dilindungi dan endemik Indonesia. Selain itu, terdapat pula 149 jenis jamur makroskopis yang berhasil didokumentasikan sebagai bagian dari kekayaan hayati kawasan. Tidak hanya kaya akan spesies, Taman Nasional Batang Gadis juga menjadi rumah bagi flora dan fauna yang hanya ditemukan di wilayah ini. Salah satunya adalah Pacar Air Batang Gadis (Impatiens batanggadisensis N. Utami), tumbuhan endemik yang menjadi identitas unik kawasan. Dari kelompok fauna, terdapat Kodok Wayang Mandailing (Sigalegalephrynus mandailinguensis), spesies amfibi endemik yang semakin memperkuat nilai penting TN Batang Gadis sebagai pusat keanekaragaman hayati Sumatera. Berbagai hasil identifikasi tersebut menunjukkan bahwa Taman Nasional Batang Gadis memiliki peran strategis dalam menjaga kelestarian ekosistem dan keberlangsungan berbagai spesies penting Indonesia. Upaya inventarisasi yang terus dilakukan tidak hanya menjadi dasar pengelolaan kawasan yang lebih baik, tetapi juga memperkaya data ilmiah guna mendukung konservasi keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang. Dengan potensi yang terus terungkap, Taman Nasional Batang Gadis menjadi bukti bahwa hutan tropis Indonesia masih menyimpan kekayaan alam yang luar biasa dan perlu dijaga bersama demi keberlanjutan kehidupan di masa depan. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

School Visit SKW V Sipirok Bersama COP Tingkatkan Kesadaran Para Pelajar

Foto Simbolis Penyerahan Poster Informasi Satwa Dilindungi oleh BBKSDA Sumatera Utara dan COP ke Kepala Sekolah Sipirok, Mei 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V Sipirok bersama Centre for Orangutan Protection (COP) melaksanakan kegiatan School Visit di tingkat SD, SMP, dan SMA sebagai upaya meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap konservasi satwa liar dan kawasan konservasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 19, 21, dan 25 Mei 2026 dengan melibatkan petugas Efrina Rizkiyah Pohan, S.P. (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), Gerin Christian Sukartoyo, A.Md. (Penyuluh Kehutanan Terampil), Pebry Editiani, A.Md. (PEH Terampil), dan Erwin Pardomuan (Manggala Agni Pemula). Kegiatan dilaksanakan di dua sekolah dasar, yakni SD Sampean dengan jumlah peserta 62 siswa/siswi dan SD Silangge sebanyak 84 siswa/siswi, Selasa (19/5). Materi yang disampaikan meliputi pengenalan satwa orangutan oleh tim COP serta pengenalan kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali oleh tim SKW V Sipirok. Antusiasme peserta terlihat tinggi melalui partisipasi aktif siswa dalam sesi tanya jawab dan diskusi bersama pemateri. Selanjutnya pada Kamis (21/5), kegiatan dilaksanakan di SMK Negeri 1 dengan jumlah peserta sebanyak 53 siswa/siswi. Materi yang disampaikan berfokus pada pengenalan satwa liar dilindungi, khususnya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), pengenalan kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali, serta ancaman terhadap populasi orangutan dan habitatnya. Selain penyampaian materi, tim SKW V Sipirok juga mengajak para siswa untuk mengenal konservasi lebih dekat melalui konten edukasi digital dan media sosial Balai. Antusiasme siswa terlihat dari aktifnya diskusi serta berbagi pengalaman sebagai bagian dari komunitas pecinta alam. Kegiatan School Visit yang dilaksanakan di SMP Negeri 4 Sipirok, Senin (25/5), dengan jumlah peserta sebanyak 58 siswa/siswi. Tim penyuluh kehutanan SKW V Sipirok bersama tim COP memberikan edukasi mengenai konservasi orangutan, satwa liar, fungsi ekologis hutan, serta pentingnya menjaga kawasan Cagar Alam Sibual-buali. Materi disampaikan secara partisipatif melalui diskusi, tanya jawab, dan studi kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari pelajar sehingga mendorong keterlibatan aktif peserta. Selain itu, para siswa juga diperkenalkan pada bentuk aksi digital konservasi melalui pembuatan dan penyebaran konten positif sebagai salah satu bentuk kontribusi generasi muda dalam mendukung upaya pelestarian lingkungan sejak dini. Kegiatan School Visit ini menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun kesadaran konservasi di kalangan pelajar sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan dalam menjaga kelestarian satwa liar dan habitatnya. Kegiatan School Visit ini menjadi salah satu langkah strategis dalam membangun kesadaran konservasi di kalangan pelajar sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan dalam menjaga kelestarian satwa liar dan habitatnya. Sumber: Gerin Christian Sukartoyo, A.Md. - Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok, Bidang KSDA Wilayah III Padagsidimpuan – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Hari Lahir Pancasila, Rimbawan Jawa Timur Menyatukan Alam, Bangsa, dan Masa Depan

Surabaya, 1 Juni 2026. Rimbawan Jawa Timur berkumpul di Plaza Dinas Kehutanan Jawa Timur dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026. Di tengah dinamika sektor kehutanan yang semakin kompleks, momentum ini menjadi ruang refleksi bersama untuk meneguhkan kembali nilai-nilai dasar bangsa sebagai pijakan dalam menjaga keberlanjutan alam dan kehidupan. Upacara berlangsung khidmat sejak pagi. Langit tampak cerah, sementara Sang Merah Putih perlahan berkibar, melambai diterpa angin semilir. Dalam suasana yang hening dan penuh penghormatan, naskah amanat Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia dibacakan oleh Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut.,M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur dengan suara lantang dan penuh penegasan. Setiap kalimat yang disampaikan menggema di antara barisan peserta upacara, menegaskan bahwa Pancasila harus menjadi bintang penuntun dalam menghadapi berbagai tantangan global, termasuk krisis lingkungan, perubahan iklim, dan tekanan terhadap sumber daya hutan. “Pancasila adalah jangkar moral dalam menghadapi turbulensi global. Nilai kemanusiaan, persatuan, dan keadilan harus menjadi dasar dalam setiap langkah pembangunan,” ujarnya. Pesan tersebut terasa semakin relevan bagi sektor kehutanan di Jawa Timur, yang saat ini menghadapi beragam tantangan strategis. Pengelolaan hutan tidak lagi hanya berbicara tentang perlindungan kawasan, tetapi juga menyangkut penyelesaian konflik tenurial, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar, hingga penguatan peran masyarakat dalam skema perhutanan sosial. Di satu sisi, tekanan terhadap kawasan hutan masih terus terjadi. Namun di sisi lain, tuntutan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat menuntut hadirnya tata kelola hutan yang adaptif, berkeadilan, dan berkelanjutan. Dalam konteks inilah nilai-nilai Pancasila menjadi titik temu, menghubungkan kepentingan ekologis, sosial, dan ekonomi dalam satu kerangka kebangsaan. Semangat gotong royong tercermin dalam kolaborasi lintas sektor, sementara prinsip keadilan sosial menjadi dasar dalam memastikan bahwa masyarakat sekitar hutan menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar objek kebijakan. Usai pelaksanaan upacara, Nur Patria Kurniawan menyampaikan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila harus dimaknai sebagai penguatan arah dalam seluruh lini kerja kehutanan. “Hari ini kita berkumpul bukan hanya untuk memperingati, tetapi untuk meneguhkan kembali komitmen. Kehutanan tidak bisa berjalan parsial. Kita harus memastikan bahwa nilai-nilai Pancasila hadir dalam setiap kebijakan dan tindakan, baik dalam perlindungan kawasan, pemberdayaan masyarakat, maupun dalam menjawab tantangan perubahan lingkungan yang semakin nyata,” pungkasnya. Beliau menambahkan bahwa rimbawan memiliki peran strategis sebagai penjaga keseimbangan, tidak hanya antara manusia dan alam, tetapi juga antara kepentingan pembangunan dan keberlanjutan jangka panjang. Di tengah barisan yang perlahan membubar dan langkah-langkah yang kembali menuju medan tugas, Pancasila tidak berhenti sebagai teks yang dibacakan. Ia hidup dalam kerja-kerja nyata di lapangan, dalam patroli hutan, dalam penyelamatan satwa liar, dalam upaya merawat bentang alam yang menjadi penopang kehidupan. Pada akhirnya, peringatan ini bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi tentang meneguhkan masa depan. Karena di tangan para rimbawan, hutan bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup bangsa yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ketapang Kembali Ungkap Luka Lama: Ratusan Burung Disita, Sebagian Tak Pernah Pulang

Banyuwangi, 29 Mei 2026. Peti-peti itu nyaris tak bersuara. Namun ketika dibuka di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, isinya mengungkap kenyataan yang tak bisa lagi disembunyikan, ratusan burung liar terkurung dalam perjalanan panjang yang tak pernah mereka pilih. Sebagian masih hidup, gelisah, lemah. Sebagian lainnya tak pernah sempat kembali. Sebanyak 493 individu burung dari 11 jenis diamankan oleh Karantina BKHIT Satpel, Minggu (24/5), Ketapang dari pengiriman Denpasar menuju Banyuwangi. Temuan ini segera ditindaklanjuti oleh tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 12 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui proses identifikasi menyeluruh terhadap satwa sitaan tersebut. Hasilnya mengungkap komposisi jenis yang lazim ditemukan dalam rantai perdagangan burung liar. Merbah Cerukcuk mendominasi dengan 269 individu, disusul Kacamata Biasa sebanyak 77 ekor, Cinenen Jawa 39 ekor, Madu Sriganti 37 ekor, serta berbagai jenis lain seperti Anis Merah, Cendet, hingga Sikatan Rimba Dada Coklat. Secara keseluruhan, jenis-jenis ini tergolong tidak dilindungi, namun jumlahnya yang besar mencerminkan tekanan nyata terhadap populasi di alam. Di balik angka-angka tersebut, terdapat fakta yang tak bisa diabaikan. Tujuh individu burung ditemukan mati dalam proses pengangkutan. Sebuah kehilangan yang sering kali luput dari perhatian, tetapi menjadi bagian tak terpisahkan dari praktik perdagangan satwa liar, di mana tidak semua yang diambil dari alam memiliki kesempatan untuk kembali. Pada 25 Mei 2026, upaya pemulihan dilakukan. Sebanyak 486 burung yang masih hidup dilepasliarkan ke kawasan hutan lindung Perum Perhutani - KPH Banyuwangi Barat. Di bawah kanopi hutan yang rapat dan lembap, burung-burung itu kembali menemukan ruangnya, menguji sayap yang sempat terlipat, mengisi kembali lanskap suara yang nyaris hilang. Pelepasliaran ini bukan sekadar tindakan administratif, melainkan bagian dari upaya menjaga fungsi ekologis. Burung berperan sebagai penyebar biji, pengendali serangga, serta indikator kesehatan lingkungan. Kehadiran mereka menentukan ritme kehidupan hutan dan kehilangannya, sekecil apa pun, akan meninggalkan celah dalam keseimbangan ekosistem. Peristiwa di Ketapang kembali menegaskan bahwa perdagangan satwa liar bukan hanya persoalan jenis dilindungi atau tidak. Ketika dilakukan dalam skala besar dan tanpa kendali, praktik ini tetap berpotensi menggerus populasi alami dan mengganggu stabilitas ekosistem. “Luka lama” itu terus berulang, muncul dalam bentuk yang serupa, di tempat yang berbeda. Kini, sebagian burung telah kembali ke alamnya. Mereka terbang menjauh, menyatu kembali dengan hutan. Namun sebagian lainnya tidak pernah sampai. Dan dari sanalah, pesan itu seharusnya menjadi jelas: bahwa setiap individu yang hilang adalah bagian dari sistem yang turut melemah dan setiap upaya penyelamatan adalah langkah kecil untuk menjaga agar keseimbangan itu tidak sepenuhnya runtuh. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto Bidang KSDA Wilayah III Jember
Baca Artikel

Menguak Peredaran Anggrek Tanpa Izin di Jawa Timur

Surabaya, 29 Mei 2026. Mereka tampak indah, rapuh, dan bernilai tinggi di mata pasar. Namun di balik kelopak anggrek yang menawan, tersimpan jejak panjang eksploitasi yang kerap luput dari perhatian. Di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, kisah itu kembali terungkap, bukan sebagai cerita keindahan, melainkan potret sunyi peredaran flora tanpa izin yang mengancam keseimbangan alam. Sebanyak 69 rumpun anggrek diamankan dalam operasi gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Ditpolairud Polda Jawa Timur di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Rabu malam (27/5). Pengamanan ini merupakan tindak lanjut atas informasi adanya dugaan pengangkutan tumbuhan tanpa dokumen sah dari Kupang menuju Surabaya melalui jalur laut. Temuan tersebut menegaskan bahwa praktik peredaran tumbuhan liar tanpa izin masih terjadi, bahkan melalui jalur distribusi resmi seperti ekspedisi logistik. Dari hasil identifikasi awal, tim menemukan beberapa jenis anggrek, di antaranya Vanda insignis dan Dendrobium affine, serta sejumlah spesimen lain yang masih dalam proses identifikasi lebih lanjut. Bagi sebagian orang, anggrek mungkin hanya dipandang sebagai tanaman hias bernilai ekonomi tinggi. Namun dalam perspektif ekologi, tumbuhan ini memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis, menjadi bagian dari jaringan kehidupan yang kompleks, dari mikroorganisme hingga serangga penyerbuk. Rakhmat Hidayat, S.P., Polisi Kehutanan Ahli Madya Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, menegaskan bahwa setiap peredaran tumbuhan tanpa dokumen resmi merupakan pelanggaran serius terhadap tata kelola konservasi. “Peredaran tumbuhan tanpa dokumen resmi, baik dilindungi maupun tidak, tetap merupakan pelanggaran. Ini bukan hanya soal administrasi, tetapi menyangkut keberlanjutan populasi di alam dan keseimbangan ekosistemnya,” ujarnya. Operasi yang berlangsung hingga dini hari tersebut diawali dengan koordinasi lintas instansi, dilanjutkan dengan penelusuran kendaraan ekspedisi, serta pengamanan barang bukti dan pihak terkait. Seluruh anggrek kini diamankan di Mako Ditpolairud Polda Jawa Timur untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut. Pihak ekspedisi yang terlibat mengaku tidak mengetahui status perlindungan tumbuhan yang diangkut. Pernyataan ini sekaligus membuka fakta bahwa masih terdapat celah dalam pemahaman dan kepatuhan terhadap regulasi di sektor distribusi logistik. Lebih jauh, kasus ini mencerminkan tantangan besar dalam pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar di Indonesia. Jalur laut, yang menjadi tulang punggung konektivitas antarwilayah, sekaligus menjadi titik rawan bagi distribusi ilegal sumber daya hayati. “Kasus ini menunjukkan bahwa pengawasan di jalur distribusi, khususnya pelabuhan, masih perlu diperkuat. Sinergi antarinstansi dan peningkatan kesadaran pelaku usaha menjadi kunci untuk mencegah kejadian serupa,” tambah Rakhmat. Dari perspektif konservasi, jenis seperti Vanda insignis memiliki nilai ekologis tinggi dan rentan terhadap tekanan eksploitasi dari habitat alaminya. Pengambilan yang tidak terkendali dapat menyebabkan penurunan populasi di alam, bahkan berujung pada ancaman kepunahan lokal. Di habitat aslinya, anggrek tumbuh perlahan, menyatu dengan kabut hutan, menempel pada batang pohon tua, dan bergantung pada keseimbangan alam yang rapuh. Namun ketika dipisahkan dari ekosistemnya tanpa kendali, keindahan itu berubah menjadi simbol kehilangan. Kasus di Tanjung Perak menjadi pengingat, bahwa tidak semua yang indah layak diperdagangkan dan tidak semua yang tampak kecil, memiliki dampak yang kecil pula. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto - Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mengapa Pengelolaan Janggangan Rogojampi II Belum Efektif?

Banyuwangi, 29 Mei 2026. Di tengah lanskap hijau yang menyelimuti Kecamatan Licin, Cagar Alam Janggangan Rogojampi II berdiri sebagai benteng bagi keanekaragaman hayati. Namun di balik keteduhan kanopinya, tersimpan sebuah pertanyaan mendasar tentang seberapa efektif kawasan ini benar-benar dikelola? Jawaban atas pertanyaan itu mulai terungkap pada Selasa (26/5). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah V melaksanakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan menggunakan metode Management Effectiveness Tracking Tool (METT) versi 4.4, bertempat di Balai Desa Pakel, Banyuwangi. Kegiatan ini melibatkan spektrum pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, pengelola kehutanan, hingga masyarakat lokal, yang bersama-sama membedah kondisi riil kawasan. Hasilnya menghadirkan refleksi yang tak bisa diabaikan. Dengan skor 66 dari total 108, atau 61,11 %, pengelolaan Cagar Alam Janggangan Rogojampi II dikategorikan kurang efektif. Angka ini bukan sekadar evaluasi administratif, melainkan cerminan dari dinamika kompleks yang terjadi di lapangan. Pada level paling mendasar, tantangan muncul dari aspek input. Ketersediaan sumber daya manusia yang terbatas, dukungan anggaran yang belum memadai, serta minimnya data sumber daya menjadi fondasi yang rapuh bagi pengelolaan kawasan. Dalam konteks konservasi modern, kekurangan pada aspek ini ibarat membangun sistem tanpa fondasi yang kokoh. Namun persoalan tidak berhenti di sana. Pada aspek proses, sejumlah celah krusial teridentifikasi. Intensitas penelitian di kawasan masih rendah, sehingga pengambilan kebijakan belum sepenuhnya berbasis data ilmiah yang kuat. Pengelolaan potensi baru seperti tangkapan karbon dan jasa ekosistem belum dikembangkan, padahal keduanya menjadi kunci dalam skema konservasi masa depan, termasuk dalam konteks perubahan iklim global. Selain itu, belum adanya program edukasi penyadartahuan serta minimnya kolaborasi lintas pihak menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan masih berjalan secara parsial, belum terintegrasi dalam pendekatan sosial-ekologis yang utuh. Menariknya, METT versi 4.4 yang digunakan dalam penilaian ini membawa perspektif baru. Delapan indikator tambahan, mulai dari keselamatan kerja, perubahan iklim, hingga kondisi nilai budaya dan konektivitas habitat, memperluas cara pandang terhadap pengelolaan kawasan konservasi. Artinya, tantangan yang dihadapi Janggangan Rogojampi II bukan hanya soal menjaga hutan tetap berdiri, tetapi juga bagaimana kawasan ini berfungsi dalam jaringan ekologis yang lebih luas, sekaligus tetap relevan secara sosial dan budaya. Meski hasilnya belum ideal, penilaian ini bukanlah akhir, melainkan titik awal. Hasil METT yang telah disepakati bersama dan dituangkan dalam berita acara resmi menjadi baseline (T0), pijakan penting untuk merancang strategi pengelolaan yang lebih adaptif ke depan. Diskusi yang berlangsung selama penilaian menjadi ruang belajar kolektif. Para peserta tidak hanya menilai, tetapi juga memahami bahwa efektivitas pengelolaan kawasan konservasi tidak bisa berdiri sendiri, ia membutuhkan sinergi antara data, sumber daya, kebijakan, dan keterlibatan masyarakat. Cagar Alam Janggangan Rogojampi II mungkin saat ini belum dikelola secara optimal. Namun justru dari keterbukaan terhadap evaluasi inilah peluang perbaikan terbuka lebar. Dalam dunia konservasi, kejujuran terhadap kondisi adalah langkah pertama menuju perubahan. Dan di Janggangan Rogojampi II, langkah itu telah dimulai. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto - Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dari 8 Desa, dan Satu Tradisi: Menikmati Libur Idul Adha di Pulau Tinabo

Tinabo, 27 Mei 2026. Hari raya Idul Adha 1447H di Resor Tinabo, Balai Taman Nasional Taka Bonerate berlangsung meriah. Pulau ini mendadak ramai. Masyarakat lokal dari delapan desa berbondong-bondong datang. Mereka berasal dari Tarupa, Kayu Adi, Rajuni Kecil, Rajuni Besar, Latondu, Pasitallu, hingga Jinato. Berkunjung di hari raya sudah menjadi tradisi. Suasana riuh, namun tetap terkendali. Di sela-sela aktivitas, petugas penjagaan Resor Tinabo berkeliling. Sambil memantau keadaan, mereka menyampaikan imbauan. "Jaga kebersihan. Jangan berburu atau menangkap satwa liar," begitu pesan Johan salah satu petugas. Termasuk burung, ayam hutan, dan ikan dilarang untuk diganggu. Di tengah keramaian itu, ada kesibukan lain. KPPL (Kelompok Komunitas Pemuda Peduli Lingkungan) Tarupa membuka kedai di Pulau Tinabo Besar, mereka adalah kelompok binaan sekaligus mitra Balai TN Taka Bonerate. Mereka menjual aneka makanan ringan. Juga minuman dingin dan panas. Momen Idul Adha dimanfaatkan untuk berbagi dan berjualan sekaligus. Sumber: Asri (PEH Ahli Muda) - Tim Resor Tinabo, Balai TN Taka Bonerato
Baca Artikel

Antara Angka, Alam, dan Harapan, Mengungkap Realitas Pengelolaan Cagar Alam Janggangan Rogojampi I

Banyuwangi, 29 Mei 2026. Di tengah lanskap hijau Songgon - Banyuwangi, berdiri salah satu benteng terakhir perlindungan keanekaragaman hayati, Cagar Alam (CA) Janggangan Rogojampi I. Namun, seperti banyak kawasan konservasi lainnya, menjaga ekosistem bukan sekadar soal menjaga batas wilayah, melainkan tentang memastikan sistem pengelolaan berjalan efektif di tengah berbagai keterbatasan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah V, Senin (25/5), melaksanakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (Management Effectiveness Tracking Tool / METT) di kawasan tersebut. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Songgon dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, pengelola kehutanan, hingga kelompok masyarakat setempat. Forum ini bukan sekadar pertemuan formal, melainkan ruang refleksi bersama, tempat di mana kondisi riil pengelolaan kawasan diuji secara terbuka, berbasis data, dan melalui diskusi kolektif. Penilaian dilakukan menggunakan METT versi 4.4, sebuah instrumen yang diakui secara internasional untuk mengukur efektivitas pengelolaan kawasan konservasi. Versi terbaru ini memperluas cakupan evaluasi dengan memasukkan delapan indikator penting, termasuk aspek keselamatan petugas, perubahan iklim, potensi tangkapan karbon, jasa ekosistem, hingga kondisi habitat dan spesies kunci. Melalui 62 butir penilaian ancaman dan 38 pertanyaan evaluatif, seluruh peserta diajak untuk menilai secara objektif berbagai aspek pengelolaan, mulai dari perencanaan, sumber daya, proses implementasi, hingga capaian hasil di lapangan. Hasilnya kemudian ditetapkan sebagai baseline (T0), yang akan menjadi titik awal untuk mengukur perkembangan pengelolaan di masa mendatang. Angka Yang Bicara Dari total skor maksimum 108, CA. Janggangan Rogojampi I memperoleh nilai 55, atau setara dengan 50,93 persen. Angka ini menempatkan pengelolaan kawasan dalam kategori kurang efektif. Namun di balik angka tersebut, tersimpan cerita yang lebih kompleks. Evaluasi menunjukkan bahwa tantangan utama terletak pada aspek sumber daya (inputs), terutama keterbatasan jumlah personel, dukungan anggaran, serta ketersediaan data dasar yang memadai. Di sisi lain, pada aspek proses (processes), masih terdapat hambatan dalam penegakan hukum, minimnya kegiatan riset, serta belum optimalnya pengelolaan potensi karbon dan jasa lingkungan. Lebih jauh, belum tersusunnya program edukasi penyadartahuan dan terbatasnya kolaborasi dengan para pihak turut memengaruhi capaian output dan outcome pengelolaan kawasan. Konservasi Dalam Realitas Lapangan Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan kawasan konservasi bukanlah pekerjaan yang sederhana. Ia berada di persimpangan antara kebutuhan ekologis, keterbatasan sumber daya, dan dinamika sosial di sekitarnya. Cagar Alam Janggangan Rogojampi I, dengan luas sekitar 5,002 Ha, bukan hanya ruang bagi flora dan fauna untuk bertahan hidup, tetapi juga ruang interaksi antara manusia dan alam yang membutuhkan pendekatan pengelolaan yang adaptif dan kolaboratif. Kegiatan penilaian METT ini menjadi cermin, bukan untuk menunjukkan kelemahan, tetapi untuk mengidentifikasi ruang perbaikan secara jujur dan terukur. Dari Evaluasi Menuju Perbaikan Penandatanganan Berita Acara Penilaian METT menandai berakhirnya kegiatan, namun sekaligus menjadi awal dari langkah yang lebih besar. Data yang dihasilkan bukan sekadar arsip, melainkan fondasi bagi perencanaan strategis ke depan. Dengan baseline yang telah ditetapkan, upaya penguatan pengelolaan dapat diarahkan secara lebih fokus, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kolaborasi lintas sektor, hingga pengembangan program berbasis riset dan jasa lingkungan. Di balik segala keterbatasan, harapan tetap tumbuh. Sebab konservasi pada dasarnya adalah tentang komitmen jangka panjang, tentang menjaga yang tersisa, memulihkan yang terdegradasi, dan memastikan bahwa generasi mendatang masih dapat mewarisi kekayaan hayati yang sama. Cagar Alam Janggangan Rogojampi I mungkin baru berada di “setengah jalan” menuju pengelolaan yang efektif. Namun justru dari titik inilah, arah perubahan dapat mulai ditentukan. Dan di tengah senyap hutan, kerja-kerja kecil yang dilakukan hari ini akan menjadi penentu keberlanjutan esok hari. Di Banyuwangi, sebuah evaluasi membuka potret nyata pengelolaan kawasan konservasi yang masih berjuang menemukan titik keseimbangannya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sukses Jelajahi 6 Pilar Triangulasi di Karo dan Deli Serdang, MAPALA ITSI Medan Siap Berperan aktif Untuk Konservasi Alam

Kutagugung, 29 Mei 2026 — Mahasiswa Pecinta Alam Institut Teknologi Sawit Indonesia (MAPALA ITSI) Medan, sukses melaksanakan misi “Jelajah 6 Pilar Triangulasi (TT)” di kawasan hutan Kabupaten Karo dan Deli Serdang. Puncak dari misi ini ditandai dengan keberhasilan tiga anggota MAPALA ITSI mencapai Pilar ke-6, yaitu yaitu Pilar TT 2615 di Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk pada Senin, 25 Mei 2026. Penjelajahan ini merupakan bagian dari kewajiban dan syarat capaian bagi calon Anggota Terlatih di lingkungan MAPALA ITSI Medan. Tiga anggota yang berhasil menyelesaikan misi terakhir ini adalah Bagas H. Simanjuntak, Surya A. Nadapdap, dan Dimas Abang Priatama. Menembus Puncak Tertinggi TWA Deleng Lancuk Sebelum mendaki Pilar Triangulasi TT 2615 yang berada di puncak tertinggi TWA Deleng Lancuk dengan ketinggian 1.611 mdpl, tim MAPALA ITSI terlebih dahulu melakukan koordinasi resmi, melapor ke Kantor TWA Deleng Lancuk guna mendapatkan arahan, bimbingan, sekaligus memenuhi kewajiban membayar Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Demi menjaga keselamatan selama estimasi perjalanan 2 jam pulang-pergi (PP), tim dibekali alat komunikasi berupa Handytalky (HT) untuk memantau pergerakan mereka di lapangan. Setelah sukses mencapai pilar ke-6, perjalanan ketiga anggota tersebut ditutup dengan pembekalan singkat oleh petugas Resor TWA Deleng Lancuk, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara yaitu Samuel Siahaan dan Febernando Surbakti. Pembekalan ini berfokus pada pengenalan potensi kawasan serta program Bina Cinta Alam. Misi panjang penjelajahan yang dilakukan oleh MAPALA ITSI mencakup enam titik pilar penting yang tersebar di wilayah Kabupaten Karo dan Kabupaten Deli Serdang, yaitu: Melalui penjelajahan ini, MAPALA ITSI memasuki era baru yang berfokus pada pembekalan pengetahuan konservasi bagi anggotanya. Sebagai mitra strategis Balai Besar KSDA Sumatera Utara, MAPALA ITSI ke depan diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam: Salam Lestari. Sumber: Samuel Siahaan & Febernando Surbakti (Resor TWA Deleng Lancuk), Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe — Balai Besar KSDA Sumatera Utara Era Baru MAPALA ITSI dan Sinergi bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara Sebagai informasi, MAPALA ITSI memiliki sejarah panjang bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Organisasi ini dulunya merupakan binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara saat kampus masih bernama Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian Agrobisnis Perkebunan (STIPAP), sebelum akhirnya bertransformasi menjadi ITSI pada tahun 2021. Melalui penjelajahan ini, MAPALA ITSI memasuki era baru yang berfokus pada pembekalan pengetahuan konservasi bagi anggotanya. Sebagai mitra strategis Balai Besar KSDA Sumatera Utara, MAPALA ITSI ke depan diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam: 1. Kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya 2. Mempromosikan TWA Deleng Lancuk sebagai destinasi wisata alam, pusat pendidikan, dan lokasi penelitian 3. Membantu pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan melalui berbagai aksi nyata organisasi di lapangan Sumber: Samuel Siahaan & Febernando Surbakti (Resor TWA Deleng Lancuk), Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe — Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Potret Pengelolaan CA. Watangan Puger dalam Penilaian METT 2026

Jember, 25 Mei 2026. Lanskap pesisir selatan Jawa Timur menyimpan fragmen penting keanekaragaman hayati yang tak selalu tampak di permukaan. Di antara vegetasi pantai, semak belukar, dan dinamika ekosistem yang terus bergerak, Cagar Alam (CA) Watangan Puger berdiri sebagai ruang perlindungan yang sunyi, namun sarat makna bagi upaya konservasi. Pada Kamis (21/5), upaya membaca kondisi pengelolaan kawasan ini dilakukan melalui Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (Management Effectiveness Tracking Tool/METT). Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor. Forum tersebut menghadirkan unsur Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Cabang Dinas Kehutanan wilayah Jember, aparat kecamatan, TNI-Polri, pemerintah desa, hingga pengelola lapangan dari Resor KSDA. Pertemuan ini bukan sekadar agenda administratif, melainkan ruang kolaboratif untuk menyamakan persepsi dan menguji realitas pengelolaan kawasan konservasi secara terbuka. Menggunakan METT versi 4.4, penilaian tahun ini menandai pendekatan yang lebih komprehensif dalam menilai efektivitas pengelolaan. Delapan indikator baru turut dimasukkan, mencerminkan perkembangan paradigma konservasi global, mulai dari aspek keselamatan kerja petugas, perubahan iklim, hingga penilaian mendalam terhadap kondisi habitat dan spesies indikator kunci. Pendekatan ini menegaskan bahwa kawasan konservasi tidak hanya dinilai dari keberadaannya, tetapi juga dari kualitas pengelolaannya dalam menjawab tantangan zaman. Proses penilaian berlangsung secara partisipatif. Fasilitator memandu diskusi terhadap 62 butir penilaian ancaman dan 38 pertanyaan utama yang mencakup aspek perencanaan, input sumber daya, proses pengelolaan, hingga capaian output dan outcome. Setiap poin dibahas secara kolektif, menggabungkan data, pengalaman lapangan, dan dinamika sosial yang terjadi di sekitar kawasan. Dari keseluruhan proses tersebut, diperoleh hasil bahwa CA Watangan Puger mencatat skor 55 dari total 114, atau setara 48,25 persen, yang masuk dalam kategori pengelolaan kurang efektif. Hasil ini sekaligus menjadi baseline (T0) untuk evaluasi pengelolaan di tahun-tahun mendatang. Sejumlah faktor kunci teridentifikasi memengaruhi capaian tersebut. Pada aspek input, keterbatasan jumlah personel, dukungan anggaran, serta ketersediaan data sumber daya menjadi tantangan utama. Kondisi ini berimplikasi langsung pada kemampuan pengelolaan di lapangan. Sementara pada aspek proses, masih terbatasnya kegiatan penelitian dan belum optimalnya pengawasan terhadap pemanfaatan akses sumber daya menunjukkan adanya ruang perbaikan dalam tata kelola kawasan. Namun, angka-angka tersebut tidak berdiri sendiri. Ia adalah refleksi dari kompleksitas pengelolaan kawasan konservasi di tengah tekanan ekologis dan sosial yang terus berkembang. Dalam konteks ini, METT tidak semata menjadi alat ukur, tetapi juga instrumen pembelajaran kolektif, mendorong pengelola untuk melihat kekuatan, kelemahan, serta peluang yang dapat dioptimalkan. Diskusi yang berlangsung selama kegiatan juga memperlihatkan adanya komitmen bersama dari para pihak untuk memperkuat pengelolaan CA Watangan Puger ke depan. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci, terutama dalam menjawab keterbatasan sumber daya serta meningkatkan efektivitas pengawasan dan perlindungan kawasan. Penandatanganan Berita Acara menjadi agenda penutup yang yang menjadi dokumen resmi sekaligus pijakan awal untuk langkah-langkah perbaikan strategis. Di balik angka 48,25 persen, tersimpan cerita tentang tantangan, keterbatasan, dan harapan. CA Watangan Puger mungkin belum mencapai tingkat pengelolaan ideal, namun melalui evaluasi yang jujur dan kolaboratif, jalan menuju pengelolaan yang lebih efektif tetap terbuka. Sebab dalam setiap kawasan konservasi, yang dijaga bukan hanya bentang alam dan keanekaragaman hayati di dalamnya, tetapi juga masa depan keseimbangan ekosistem, yang pada akhirnya akan kembali kepada manusia itu sendiri. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jatim
Baca Artikel

Liana Invasif Menguasai Kanopi, Mencekik Kehidupan di Hutan Manggis Gadungan

Kediri, 25 Mei 2026. Dari kejauhan, kanopi Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan tampak hijau dan utuh. Seolah tak ada yang berubah dari wajah hutan tropis yang selama puluhan tahun berdiri sebagai benteng keanekaragaman hayati. Namun, di balik rimbunnya dedaunan dan rapatnya tajuk pohon, sebuah proses perlahan tengah berlangsung, sunyi, tak kasat mata bagi sebagian orang, tetapi membawa dampak yang dalam. Liana-liana merambat, menjalar dari batang ke batang, naik menuju kanopi, membelit tanpa ampun. Mereka tidak merobohkan pohon dalam sekejap. Tidak pula meninggalkan jejak kehancuran yang mudah dikenali. Namun dalam waktu yang cukup, mereka menutup cahaya, menekan ruang hidup, dan perlahan mencekik kehidupan pohon-pohon asli. Inilah invasi yang tidak bersuara. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), pada tanggal 20 – 21 Mei 2026 melaksanakan supervisi kegiatan inventarisasi dan analisis risiko spesies asing invasif (Invasive Alien Species/IAS) di kawasan Cagar Alam Manggis Gadungan. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Bidang Teknis bersama tim, sebagai bagian dari upaya memahami dinamika ekosistem yang terus berubah, dan meresponsnya sebelum terlambat. Hari pertama berlangsung di Kantor Seksi KSDA Wilayah I Kediri. Di ruangan yang dipenuhi peta kawasan dan dokumen teknis, diskusi mengalir dari definisi hingga strategi. Spesies invasif, sebagaimana dirumuskan dalam regulasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bukan sekadar jenis asing yang masuk ke suatu wilayah. Ia bisa berasal dari mana saja, bahkan dari dalam negeri, selama memiliki kemampuan untuk berkembang secara masif dan menimbulkan dampak negatif terhadap ekologi, ekonomi, dan sosial. Namun definisi itu hanyalah pintu masuk. Di balik istilah tersebut, tersimpan dinamika biologis yang kompleks. Spesies invasif adalah mereka yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi, strategi reproduksi cepat, dan efisiensi dalam memanfaatkan sumber daya. Mereka bergerak melalui tahapan yang nyaris tak terdeteksi, transportasi, introduksi, kolonisasi, naturalisasi, hingga akhirnya mencapai fase dominasi. Ketika fase itu tercapai, ekosistem tidak lagi berjalan seperti semula. Keesokan harinya, tim bergerak memasuki kawasan hutan. Jalur-jalur setapak yang lembap membawa mereka ke petak-petak pengamatan. Satu per satu area disusuri, dicatat, dan dianalisis. Hingga saat ini, sekitar 225 dari total 264 petak, atau sekitar 85 persen kawasan, telah dijelajahi melalui metode sensus spesies dan populasi. Di lapangan, data berubah menjadi realitas yang tak terbantahkan. Di antara batang-batang pohon yang menjulang, liana tampak mendominasi. Mereka melilit, menjalar, dan menutup tajuk, menciptakan lapisan baru di dalam struktur hutan. Bukan sebagai bagian dari keseimbangan alami, tetapi sebagai tanda perubahan yang perlu diwaspadai. Ribandil (Mimosa sp.) menjadi salah satu yang paling mencolok. Batangnya yang berkayu melilit erat pohon inang, naik hingga ke puncak kanopi, dan membentuk anyaman rapat yang menghalangi cahaya matahari. Dalam kondisi seperti ini, pohon kehilangan akses energi utama untuk fotosintesis. Dahan mulai melemah. Cabang patah. Dalam jangka panjang, pohon bisa mati. Di titik lain, Akar Kuning (Arcangelisia flava) menunjukkan strategi yang berbeda. Ia tidak hanya membelit, tetapi juga memperbanyak diri dengan intensitas tinggi. Dalam satu batang, ratusan buah menggantung, masing-masing membawa potensi penyebaran baru. Setiap buah adalah peluang bagi invasi berikutnya. Sementara itu, Marsdenia sp. memperlihatkan efisiensi yang hampir tak terbendung. Buahnya pecah saat kering, melepaskan ratusan biji ringan yang terbawa angin. Mereka melayang, jatuh, dan tumbuh, bahkan di bawah naungan rapat, di mana banyak spesies lain kesulitan bertahan. Di lantai hutan, semai-semai Marsdenia muncul hampir di setiap petak. Seolah memberi sinyal bahwa invasi tidak hanya terjadi di atas, tetapi juga telah menembus ke lapisan regenerasi. Jenis lain, Poikilospermum suaveolans, menghadirkan tantangan yang lebih rumit. Ia tidak hanya berkembang biak melalui biji, tetapi juga mampu tumbuh kembali dari bagian batang yang tersisa. Pemotongan tidak selalu efektif. Dalam banyak kasus, bagian yang tertinggal justru menjadi titik awal pertumbuhan baru. Seperti memutus satu cabang, hanya untuk melihatnya tumbuh kembali di tempat lain. Di sisi lain, Momordica charantia yang telah masuk dalam daftar spesies invasif nasional, memberi dampak berbeda namun tak kalah serius. Ia mengganggu pertumbuhan semai tanaman asli, termasuk tanaman hasil kegiatan pemulihan ekosistem yang ditanam beberapa tahun sebelumnya. Upaya rehabilitasi yang telah dilakukan dengan harapan memulihkan fungsi ekosistem, kini berhadapan dengan kompetitor yang agresif. Apa yang terjadi di Manggis Gadungan bukanlah peristiwa tunggal. Ia adalah bagian dari fenomena global, di mana spesies invasif menjadi salah satu ancaman utama terhadap keanekaragaman hayati. Namun di sini, di tengah hutan Jawa Timur, fenomena itu memiliki wajah yang nyata. Ia terlihat pada pohon yang tajuknya tertutup rapat. Pada cabang yang patah tanpa sebab yang jelas. Pada lantai hutan yang dipenuhi semai dari jenis yang sama. Dan pada ruang-ruang kosong yang perlahan kehilangan keberagaman. Diskusi di lapangan mengarah pada satu kesimpulan penting: pengendalian spesies invasif bukan pekerjaan instan. Ia tidak bisa diselesaikan dalam satu kegiatan, satu musim, atau bahkan satu tahun. Selama ini, upaya pengendalian telah dilakukan melalui kegiatan SMART Patrol oleh tim lapangan. Dalam setiap patroli, petugas tidak hanya memantau ancaman perburuan atau perambahan, tetapi juga melakukan tindakan terbatas terhadap spesies invasif. Namun efektivitas metode masih terus dievaluasi. Tidak semua jenis dapat dikendalikan dengan cara yang sama. Tidak semua kondisi lapangan memungkinkan intervensi langsung. Dan tidak semua upaya memberikan hasil yang bertahan lama. Oleh karena itu, langkah prioritas yang disepakati dalam supervisi ini menjadi sangat penting. Fokus utama adalah menyelamatkan tegakan pohon yang telah terbelit, serta melindungi tanaman hasil pemulihan ekosistem. Ini adalah upaya untuk menjaga yang masih bisa diselamatkan. Tahap berikutnya adalah menyusun analisis risiko yang komprehensif. Dokumen ini akan menjadi dasar dalam menentukan strategi pengelolaan, jenis mana yang harus dikendalikan terlebih dahulu, metode apa yang paling efektif, serta bagaimana mengalokasikan sumber daya secara tepat. Namun dokumen, sebaik apa pun ia disusun, tidak akan berarti tanpa implementasi. Di sinilah tantangan sesungguhnya dimulai. Pengendalian spesies invasif membutuhkan konsistensi, kolaborasi, dan ketekunan. Ia membutuhkan pemantauan berkelanjutan, adaptasi metode, dan kesiapan untuk menghadapi hasil yang tidak selalu sesuai harapan. Dan di atas semua itu, ia membutuhkan kesadaran bahwa ancaman ini nyata, meski sering kali tak terlihat. Di dalam hutan Manggis Gadungan, waktu berjalan dengan caranya sendiri. Liana terus merambat. Pohon-pohon terus berjuang. Dan manusia, melalui ilmu pengetahuan dan upaya konservasi, berusaha menjaga keseimbangan yang kian rapuh. Pertarungan ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat. Namun setiap data yang dicatat, setiap pohon yang diselamatkan, dan setiap strategi yang diterapkan adalah bagian dari upaya yang lebih besar, untuk memastikan bahwa hutan tetap menjadi rumah bagi keberagaman, bukan sekadar ruang yang dikuasai oleh yang paling kuat. Karena di alam, seperti dalam banyak hal, yang paling bertahan bukanlah yang paling besar atau paling cepat, tetapi yang paling mampu menjaga keseimbangan. Dan di Manggis Gadungan, keseimbangan itu kini sedang diuji. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kader Muda Tulungagung Menyusun Ulang Masa Depan Burung Urban

Tulungagung, 25 Mei 2026. Di bawah naungan pohon-pohon tua Alun-Alun Tulungagung, kicau burung bersahut-sahutan, nyaris tenggelam oleh deru kendaraan dan percakapan manusia. Namun bagi sekelompok anak muda, suara itu bukan sekadar latar, ia adalah penanda kehidupan yang sedang mereka pelajari, pahami, dan upayakan untuk tetap bertahan. Upaya konservasi keanekaragaman hayati kembali menemukan napasnya di tengah ruang-ruang urban. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah I, Rabu (20/5) melaksanakan kegiatan anjangsana ke Mapala Himalaya - UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UINSATU) Tulungagung, sebagai bagian dari pendampingan berkelanjutan bagi kader konservasi. Kegiatan ini bertujuan menjaga eksistensi kader konservasi agar tetap aktif dan produktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan. Dalam dinamika konservasi yang terus berkembang, keberadaan kader muda menjadi salah satu pilar penting dalam menjembatani pengetahuan, aksi, dan keberlanjutan. Diskusi berlangsung di sekretariat Mapala Himalaya, ruang sederhana yang menjadi saksi tumbuhnya gagasan-gagasan besar. Dalam suasana hangat dan terbuka, para peserta membahas rencana keberlanjutan Tulungagung Bird Walk (TBW), sebuah kegiatan pengamatan burung yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan dan mendapat dukungan dari pihak kampus. Keinginan untuk melanjutkan TBW ke-3 menjadi salah satu fokus utama. Dukungan institusi pendidikan terhadap kegiatan ini menunjukkan bahwa konservasi mulai menemukan tempatnya dalam ekosistem akademik, tidak hanya sebagai wacana, tetapi juga sebagai praktik nyata. Namun, arah kegiatan kali ini disusun lebih strategis. Petugas dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar memberikan pendekatan bertahap, sebelum menjelajah kawasan hutan, para kader perlu terlebih dahulu menguasai kemampuan identifikasi burung-burung urban. Sebuah fondasi penting yang seringkali terlewatkan, padahal justru menjadi kunci dalam memahami dinamika keanekaragaman hayati di lanskap yang telah berubah. Sebagai implementasi, Alun-Alun Kabupaten Tulungagung dipilih sebagai lokasi kegiatan TBW yang dilaksanakan pada Minggu, 24 Mei 2026. Di ruang publik ini, para peserta akan belajar mengenali spesies burung yang mampu beradaptasi di tengah tekanan urbanisasi, mulai dari jenis-jenis umum hingga yang keberadaannya mulai jarang teramati. Langkah ini bukan sekadar teknis, tetapi juga filosofis. Konservasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas eksklusif di kawasan hutan, melainkan sebagai kesadaran yang harus tumbuh di ruang hidup manusia sehari-hari. Burung-burung urban menjadi indikator penting, penanda kesehatan lingkungan sekaligus cerminan bagaimana manusia memperlakukan ruang hidupnya. Selain pembahasan teknis kegiatan, diskusi juga mengarah pada penguatan kapasitas kader konservasi. Mapala Himalaya menyampaikan aspirasi agar anggota mereka, baik yang baru maupun yang belum, dapat memperoleh Kartu Kader Konservasi. Kartu ini tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga sebagai simbol komitmen dalam gerakan pelestarian alam. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, hal ini menjadi bagian dari strategi pembinaan jangka panjang, menciptakan kader konservasi yang tidak hanya terlibat secara kegiatan, tetapi juga terikat secara nilai dan tanggung jawab. Di tengah tekanan terhadap habitat alami dan meningkatnya fragmentasi lanskap, pendekatan berbasis komunitas seperti ini menjadi semakin relevan. Generasi muda tidak lagi ditempatkan sebagai objek sosialisasi, melainkan sebagai subjek utama dalam gerakan konservasi. Mereka adalah pengamat, pencatat, sekaligus penjaga. Di langit Tulungagung, burung-burung itu terus beradaptasi, menemukan cara untuk hidup di antara gedung, kabel listrik, dan manusia. Sementara di bawahnya, para kader muda mulai menyusun ulang masa depan: bukan hanya untuk burung-burung itu, tetapi juga untuk keseimbangan yang lebih besar antara manusia dan alam. Sebuah langkah kecil, dari sebuah alun-alun kota, yang bisa jadi akan menentukan arah konservasi di masa depan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pertemuan Kembali dengan Sulawesi Bloodsuckers

Sulawesi Bloodsuckers (Bronchocela celebensis) menunjukkan perubahan warna menjadi cokelat sebagai bentuk kamuflase (Foto: Rendi Ansyah Nurdin) Maros, 26 Mei 2026 – Bagi Kamaruddin, pagi Senin (25/5/2026) di Pusat Informasi, Kawasan Wisata Alam Bantimurung, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung itu seperti pagi biasanya, menyapu bersih dedaunan kering yang berguguran dari rimbunnya pepohonan karst di sekitarnya. Namun, seekor “tamu tak terduga” yang ikut tersapu bersama sampah dedaunan itu sontak membuatnya terkejut. Di sela-sela daun kering, meringkuk seekor reptil kecil. “Awalnya saya kira itu anak soa-soa (Hydrosaurus microlophus). Tapi dia sedikit berbeda,” kenangnya. Kamaruddin sebagai Manggala Agni, yang akrab disapa Delon, bersama anggota Resor Bantimurung lainnya, memutuskan untuk memotret dan memeriksa temuan itu. Reptil kecil, berwarna cokelat yang membantunya berkamuflase sempurna di lantai balkon yang dipenuhi serasah. Bukan Anak Soa-soa, Melainkan “Sulawesi Bloodsuckers” yang Langka Saat foto-foto itu sampai ke tangan Kamajaya Shagir dan Nur Rahmah, dua orang Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) yang bertugas di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, memori lama pun muncul. Hal yang sama persis terjadi sembilan tahun lalu. “Sembilan tahun yang lalu jenis ini yang pertama kali kami jumpai di kawasan Karaenta,” kenang Kamajaya Shagir. “Dulu kami juga sempat bingung dan kemudian mengidentifikasinya sebagai Bronchocela celebensis.” Baca juga: Temuan Sulawesi Bloodsuckers di TN Bantimurung Bulusaraung Sembilan tahun kemudian, di titik berbeda namun masih dalam satu bentang alam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, kami kembali bertemu dengan reptil yang sama. Ahli Herpetologi dari BRIN, Awal Riyanto, yang kami hubungi untuk memastikannya, juga mengidentifikasi temuan ini sebagai Bronchocela celebensis, atau yang akrab disebut Sulawesi Bloodsuckers, yang juga dikenal dengan nama Bunglon Surai Sulawesi. Status Konservasi Mengkhawatirkan Kadal yang tergolong dalam suku Agamidae ini adalah pemakan serangga sejati. "Di alam liar, ia membantu mengendalikan populasi serangga kecil," ujar Nur Rahmah. Namun, di sisi lain, kadal inilah yang menjadi salah satu menu makanan monyet dare (Macaca maura), primata endemik Sulawesi Selatan yang salah satu habitatnya berada di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Selain mudah dikenali dari bentuk fisiknya, badan ramping, warna hijau atau cokelat dengan ekor sangat panjang menjuntai, serta jambul kecil di kepalanya, kadal ini ternyata sangat langka dan endemik di Sulawesi. Dalam sebuah studi taksonomi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Zootaxa (Maret 2024), para ilmuwan, termasuk Awal Riyanto dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), mengungkapkan bahwa Bronchocela celebensis adalah salah satu spesies paling langka dalam genusnya. Selama ini, spesies ini hanya diketahui dari kurang dari 20 spesimen museum yang dikoleksi dari Sulawesi Utara. Penelitian yang melibatkan 46 spesimen itu mengusulkan perubahan status konservasi B. celebensis menjadi Rentan (Vulnerable/VU) berdasarkan kriteria Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature). Artinya, spesies ini menghadapi risiko kepunahan yang cukup tinggi di alam liar jika tidak ada upaya pelestarian yang serius. Penanda Populasi yang Sehat dan Harapan di Balik Daun Kering Penemuan kembali di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, yang lokasinya jauh dari catatan sejarah koleksi museum di Sulawesi Utara, menjadi kabar baik. Ini memperluas peta persebaran spesies tersebut dan menjadi indikator bahwa ekosistem karst dan hutan di kawasan tersebut, yang terkenal dengan air terjun dan kupu-kupunya, masih cukup sehat untuk mendukung populasi satwa liar yang sangat spesifik. Setelah hampir sepuluh tahun, Sulawesi Bloodsuckers kembali tercatat oleh petugas konservasi. Bagi Kamaruddin dan anggota Resor Bantimurung yang tidak sengaja menemukannya, kejadian ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih menyediakan ruang aman bagi satwa liar untuk bertahan. “Harapannya, dengan keberadaan spesies ini, pengunjung yang datang ke Kawasan Wisata Alam Bantimurung bisa lebih peduli terhadap flora dan fauna serta lingkungan di sekitarnya,” pesan Junaedi Sam, Kepala Resor Bantimurung, SPTN Wilayah II Cenrana. Di sela-sela daun kering dan kesibukan mengelola wisata, alam masih menyisakan kejutan. Kejutan itu mengingatkan siapa sebenarnya penghuni utama hutan karst tersebut. Sumber: Kamajaya Shagir dan Nur Rahmah (PEH ) Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Artikel

Di Ruas Jalan Ki Ageng Selo, Trenggiling Itu Diselamatkan

Madiun, 26 Mei 2026. Siang menjelang puncaknya di Kota Madiun, ketika panas memantul dari permukaan aspal di ruas Jalan Ki Ageng Selo, Kartoharjo. Lalu lintas mengalir seperti biasa, cepat, acuh, dan nyaris tak memberi ruang bagi kehidupan lain yang mencoba melintas. Di antara ritme kota itu, seekor Trenggiling Jawa terbaring lemah. Tubuhnya tergulung setengah, sisiknya yang keras tak sepenuhnya mampu melindungi dari benturan kendaraan yang melaju tanpa henti. Ia bukan bagian dari lanskap kota, namun siang itu, jalan raya menjadi batas tipis antara hidup dan mati. Pada Minggu, 24 Mei 2026 sekitar pukul 11.30 WIB, laporan masyarakat diterima oleh Tim Jaringan Satwa Indonesia (JSI). Informasi singkat namun genting, tentang seekor Trenggiling diduga tertabrak sepeda motor. Tanpa menunda waktu, tim segera bergerak menuju lokasi. Evakuasi dilakukan dengan kehati-hatian. Satwa tersebut masih hidup, meski dalam kondisi lemah akibat trauma benturan. Dengan prosedur penanganan satwa liar yang terstandar, tim membawa trenggiling ke basecamp JSI di kawasan Patihan, Kota Madiun. Di tempat sederhana itu, upaya penyelamatan dimulai, luka dibersihkan, kondisi tubuh dipantau, dan satwa diupayakan tetap dalam kondisi stabil. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa individu tersebut berjenis kelamin jantan. Namun, lebih dari itu, ia adalah representasi dari spesies yang kini berada dalam tekanan besar di alam liar, akibat perburuan, perdagangan ilegal, dan fragmentasi habitat. Keesokan harinya, Senin, 25 Mei 2026 pukul 12.30 WIB, Trenggiling tersebut diserahkan kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun. Saat ini, satwa ditempatkan di kandang transit untuk penanganan lanjutan, termasuk observasi medis dan pemulihan sebelum dipertimbangkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya. Di balik respons cepat itu, ada peran penting yang kerap luput dari sorotan tentang adanya Tim Jaringan Satwa Indonesia (JSI). Mereka adalah kader konservasi binaan BBKSDA Jawa Timur, kelompok masyarakat yang tidak hanya bergerak saat terjadi penyelamatan satwa, tetapi juga aktif dalam kegiatan sosialisasi dan edukasi konservasi di berbagai wilayah di Jawa Timur. Selama ini, JSI menjadi jembatan antara otoritas konservasi dan masyarakat. Mereka hadir di ruang-ruang yang tak selalu terjangkau oleh negara, memberikan pemahaman tentang pentingnya menjaga satwa liar, mengurangi konflik manusia dan satwa, serta mendorong partisipasi publik dalam upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Peristiwa di Jalan Ki Ageng Selo menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap satwa liar tidak selalu datang dari perburuan. Jalan raya, ekspansi wilayah urban, dan perubahan lanskap telah menciptakan risiko baru yang kian nyata. Satwa seperti trenggiling, yang hidupnya tersembunyi dan bergantung pada ekosistem yang utuh, kini harus berhadapan dengan dunia yang terus bergerak cepat. Namun di tengah risiko itu, masih ada harapan. Harapan yang hadir dari laporan warga, dari respons cepat tim lapangan, dan dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Di atas aspal yang panas itu, satu nyawa berhasil diselamatkan. Dan dari satu penyelamatan, kita diingatkan kembali bahwa konservasi bukan hanya tentang hutan yang jauh di sana, tetapi juga tentang pilihan-pilihan kecil di ruang hidup kita sehari-hari. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

“Menjaga Anoa di Tengah Tradisi: Harmoni Alam dan Rambu Solo’ di Toraja”

“Menjaga Anoa di Tengah Tradisi: Harmoni Alam dan Rambu Solo’ di Toraja” Anoa merupakan salah satu satwa endemik paling berharga di Sulawesi. Hewan yang kerap dijuluki sebagai "kerbau kerdil" ini hanya dapat ditemukan di pulau ini dan tidak hidup secara alami di tempat lain di dunia. Terdapat dua jenis Anoa, yaitu anoa dataran rendah (Bubalus depressicornis) dan anoa pegunungan (Bubalus quarlesi). Kedua jenis Anoa ini memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan tropis Sulawesi. Dalam kawasan hutan Anoa berfungsi sebagai "insinyur ekosistem" alami. Mereka membantu proses penyebaran biji dari berbagai jenis tumbuhan melalui kotorannya, sehingga mendukung regenerasi hutan secara alami. Selain itu, aktivitas jelajah Anoa membuka jalur-jalur kecil di lantai hutan yang memungkinkan pertumbuhan vegetasi baru serta mempermudah pergerakan satwa lain. Anoa juga berperan dalam menjaga keseimbangan rantai makanan, karena keberadaannya memengaruhi distribusi tumbuhan dan hewan lain dalam ekosistem. Lebih jauh lagi, keberadaan Anoa berkontribusi pada stabilitas tanah dan siklus nutrisi. Dengan mengonsumsi berbagai jenis tanaman Anoa membantu mengontrol pertumbuhan vegetasi tertentu agar tidak mendominasi sehingga keanekaragaman hayati tetap terjaga. Kotoran Anoa yang terurai juga memperkaya unsur hara tanah, mendukung kesuburan hutan dan memperkuat daya tahan ekosistem terhadap perubahan lingkungan. Bahkan keberadaan mereka dapat menjadi indikator alami kesehatan hutan, jika populasi Anoa stabil maka ekosistem cenderung berada dalam kondisi baik. Namun, keberadaan Anoa kini semakin terancam akibat perburuan liar, fragmentasi habitat, serta ekspansi lahan yang mengurangi wilayah hutan alami mereka. Statusnya sebagai satwa dilindungi dan terancam punah menjadi pengingat bahwa upaya konservasi harus dilakukan secara serius dan berkelanjutan. Anoa bukan hanya sekadar satwa liar, tetapi juga bagian dari identitas ekologis Sulawesi. Kehadirannya mencerminkan kesehatan hutan. Jika populasi Anoa menurun itu menjadi tanda bahwa ekosistem sedang tidak baik-baik saja. Oleh karena itu, menjaga kelestarian Anoa sama artinya dengan menjaga keseimbangan alam yang lebih luas, termasuk keberlangsungan sumber air, iklim mikro, serta kehidupan masyarakat sekitar hutan. Di sisi lain, masyarakat Toraja memiliki warisan budaya yang sangat kaya dan mendunia, salah satunya adalah Rambu Solo'. Upacara adat ini merupakan bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal sekaligus simbol status sosial dan penghargaan keluarga kepada leluhur. Dalam pelaksanaannya, kerbau menjadi elemen penting karena dipercaya sebagai kendaraan arwah menuju alam baka. Semakin tinggi status sosial seseorang, semakin banyak kerbau yang dikorbankan dalam upacara tersebut. Namun, di tengah kuatnya tradisi ini muncul tantangan tersendiri dalam konteks konservasi satwa liar. Dalam beberapa kasus, masih terdapat kesalahpahaman atau praktik yang berpotensi melibatkan satwa liar termasuk Anoa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Padahal secara hukum dan etika konservasi, Anoa adalah satwa yang tidak boleh diburu, diperdagangkan, apalagi digunakan dalam kegiatan adat apa pun. Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya pelestarian Anoa berbagai upaya konservasi telah dan terus dilakukan oleh berbagai pihak. Pemerintah Indonesia melalui Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan sebagai garda terdepan perlindungan satwa liar di wilayah Sulawesi Selatan terus melakukan upaya-upaya konservasi demi kelestarian Anoa. Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan telah melakukan berbagai langkah nyata dalam menjaga kelestarian Anoa dan satwa liar lainnya. Salah satu upaya penting adalah penyelamatan dan evakuasi satwa liar melalui tim khusus seperti Wildlife Rescue Unit (WRU). Misalnya, penyerahan Anoa oleh masyarakat di Toraja Utara yang kemudian dievakuasi, dirawat dan diamankan di kandang transit sebelum penanganan lebih lanjut. Langkah ini menunjukkan adanya kolaborasi positif antara masyarakat dan petugas konservasi. Selain itu, BBKSDA Sulsel juga aktif melakukan pengelolaan kawasan konservasi yang menjadi habitat alami Anoa. Mereka mengelola berbagai kawasan seperti cagar alam, suaka margasatwa, hingga taman wisata alam dengan pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan. Kawasan-kawasan ini menjadi benteng utama bagi kelangsungan hidup Anoa di alam liar. Dalam aspek perlindungan, BBKSDA Sulsel rutin melaksanakan patroli hutan dan pengamanan kawasan untuk mencegah perburuan liar serta aktivitas ilegal lainnya. Penggunaan metode seperti SMART Patrol juga membantu pemantauan satwa dan kondisi habitat secara lebih sistematis dan berbasis data. Penegakan hukum juga diperkuat melalui kerja sama dengan aparat lain untuk menggagalkan perdagangan satwa liar ilegal. Upaya lain yang tidak kalah penting adalah translokasi dan pelepasliaran satwa liar, yaitu mengembalikan satwa ke habitat alaminya setelah melalui proses penyelamatan atau rehabilitasi. Dalam bidang edukasi, BBKSDA Sulsel mengembangkan program peningkatan kapasitas masyarakat dan generasi muda seperti pembentukan kader konservasi. Program ini bertujuan menumbuhkan kesadaran dan keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Edukasi ini menjadi kunci penting agar konservasi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga menjadi gerakan bersama. BBKSDA Sulsel juga berperan dalam mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar serta membangun kesadaran publik melalui kampanye, media edukatif dan penyuluhan serta media sosial menjadi sarana efektif dalam menyebarkan pesan konservasi. Di sisi lain, masyarakat Toraja memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang sebenarnya sangat mendukung konservasi. Filosofi hidup yang menekankan harmoni antara manusia, alam dan leluhur menjadi landasan kuat untuk menjaga keseimbangan lingkungan. Penggunaan kerbau domestik dalam Rambu Solo' adalah bentuk praktik budaya yang sudah selaras dengan prinsip konservasi selama tidak melibatkan satwa liar dilindungi. Edukasi kepada generasi muda menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan ini. Anak-anak muda Toraja dan Sulawesi secara umum perlu memahami bahwa Anoa adalah warisan alam yang tak ternilai. Dengan mengenal perannya dalam ekosistem sebagai penyebar biji, penjaga keanekaragaman hayati, hingga indikator kesehatan hutan diharapkan tumbuh rasa bangga sekaligus tanggung jawab untuk melindunginya. Upaya konservasi Anoa tidak bisa berdiri sendiri. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat lokal, tokoh adat, akademisi dan wisatawan sangat diperlukan. Masyarakat dapat berperan dengan tidak berburu dan melaporkan aktivitas ilegal. Pemerintah dapat memperkuat kebijakan dan perlindungan kawasan hutan. Tokoh adat dapat memastikan tradisi tetap berjalan tanpa merusak alam. Sementara itu, wisatawan perlu bersikap bijak dan tidak mendukung praktik yang merugikan satwa liar. Menjaga Anoa tetap lestari di tengah aktivitas budaya seperti Rambu Solo' bukanlah hal yang mustahil. Justru ini menjadi peluang untuk menunjukkan bahwa budaya dan konservasi dapat berjalan beriringan. Dengan mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal dan kesadaran ekologis, masyarakat Toraja dapat menjadi contoh bagaimana tradisi tetap hidup tanpa merusak alam. Pada akhirnya Anoa bukan hanya milik hutan, tetapi juga bagian dari masa depan Sulawesi. Ia menjaga hutan dan hutan menjaga kehidupan manusia. Jika kita gagal menjaganya hari ini maka generasi mendatang hanya akan mengenalnya dari cerita dan gambar. Namun, jika kita mampu melindunginya dengan baik, maka Anoa akan terus hidup dan menjadi simbol harmoni antara manusia, budaya dan alam. Mari kita jaga Anoa, lestarikan hutan dan hormati budaya dengan bijak agar semuanya tetap hidup berdampingan hingga masa depan. Oleh : Hasan, Polhut Ahli Muda BBKSDA Sulawesi Selatan
Baca Artikel

Evakuasi Monyet Ekor Panjang Pada Sebuah TK di Jiwan

Madiun, 25 Mei 2026. Suara riang anak-anak memenuhi halaman sebuah taman kanak-kanak di Desa Grobogan, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun. Di tengah aktivitas belajar yang berlangsung seperti biasa, keberadaan seekor Monyet Ekor Panjang menjadi perhatian tersendiri, bukan sebagai bagian dari proses edukasi, melainkan potensi risiko yang tersembunyi di lingkungan yang seharusnya aman bagi anak-anak. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 04 Madiun bersama Seksi KSDA Wilayah II, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Kamis (21/6), melaksanakan kegiatan lanjutan atas hasil penelusuran sebelumnya pada Rabu (6/5). Kegiatan ini difokuskan pada konfirmasi lapangan terkait keberadaan satwa liar tersebut sekaligus langkah penanganan yang tepat dan terukur. Dari hasil pemantauan, diketahui bahwa monyet ekor panjang tersebut dipelihara di lingkungan sekitar sekolah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Sebagai satwa liar dengan perilaku sosial yang kompleks dan adaptif, Macaca fascicularis memiliki potensi interaksi negatif apabila berada di luar habitat alaminya, terutama dalam ruang dengan intensitas aktivitas manusia yang tinggi, seperti lingkungan pendidikan anak usia dini. Pendekatan yang dilakukan tim tidak semata berorientasi pada tindakan evakuasi. Edukasi menjadi bagian penting dari proses tersebut. Pemilik satwa diberikan pemahaman mengenai risiko memelihara satwa liar, baik dari aspek keselamatan manusia maupun kesejahteraan satwa itu sendiri. Dalam kondisi tertekan atau tidak sesuai habitat, monyet dapat menunjukkan perilaku defensif yang berpotensi membahayakan, terlebih jika berinteraksi dengan anak-anak. Setelah proses komunikasi berlangsung dengan baik, tim kemudian melakukan evakuasi terhadap satwa tersebut. Proses berlangsung secara hati-hati dengan mempertimbangkan kondisi satwa agar tidak mengalami stres berlebih. Langkah ini menjadi bagian dari upaya perlindungan, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga bagi satwa liar yang harus dikembalikan pada fungsi ekologisnya. Selanjutnya, monyet ekor panjang tersebut ditempatkan sementara di kandang transit Kantor Bidang KSDA Wilayah I Madiun. Di lokasi ini, satwa akan menjalani serangkaian penanganan lanjutan, termasuk observasi kesehatan dan perilaku sebagai dasar penentuan tindak lanjut konservasi. Peristiwa ini menjadi refleksi bahwa interaksi antara manusia dan satwa liar masih sering terjadi di ruang-ruang yang tidak semestinya. Niat memelihara atau kedekatan emosional kerap mengaburkan batas antara satwa liar dan satwa peliharaan, padahal keduanya memiliki kebutuhan ekologis yang sangat berbeda. Melalui kegiatan ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur kembali menegaskan pentingnya peran bersama dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Bahwa konservasi tidak hanya berlangsung di dalam kawasan hutan, tetapi juga di tengah kehidupan sehari-hari, di halaman rumah, di lingkungan masyarakat, bahkan di sebuah taman kanak-kanak. Di Jiwan, langkah kecil itu telah diambil. Sebuah evakuasi yang bukan sekadar pemindahan, melainkan bagian dari upaya menjaga harmoni antara manusia dan satwa liar. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 65–80 dari 2.378 publikasi