Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Aplikasi Smart Patrol : Teknologi Pendukung Upaya Konservasi Sumber Daya Alam

Luwu Utara, 5 Juli 2024 – Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) menyelenggarakan Workshop Smart Patrol dari tanggal 3 - 5 Juli 2024 di Hotel Elegant Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Selain untuk meningkatkan kemampuan petugas lapangan dalam penggunaan aplikasi SMART Patrol, kegiatan juga untuk mendukung implementasi RBM (Resort Base Management). Seperti kita ketahui bahwa wilayah kerja resort merupakan garda terdepan dalam pengelolaan kawasan konservasi, berhadapan dan bersentuhan langsung dengan masyarakat dan ekosistem sekitarnya. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi langkah maju dalam upaya konservasi sumber daya alam di Sulawesi Selatan, dengan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi patroli lapangan. Workshop ini diikuti oleh perwakilan dari berbagai organisasi, termasuk satuan kerja Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, Fakultas Kehutanan Universitas Andi Djemma, Perkumpulan Wallacea, dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sulawesi Selatan. Pembekalan disampaikan oleh Narasumber Iskandar, S.Hut., M.I.L., Kepala Bidang Wilayah I Palopo BBKSDA Sulsel dengan materi pemantauan penegakan hukum; Yogi Satriyo Wibowo dari Fauna & Flora Internasional Indonesia yang membawakan materi tentang pengenalan aplikasi SMART; dan Dwiyanto dari Fauna & Flora Internasional Indonesia yang menyampaikan materi penggunaan aplikasi SMART Desktop. Materi dilanjutkan dengan simulasi dan presentasi desain patroli menggunakan SMART Patrol yang dilakukan oleh peserta. Dalam keterangannya, Kepala Bidang Wilayah I Palopo, menyatakan, “Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi pencatatan temuan lapangan oleh petugas melalui penggunaan aplikasi SMART Patrol.” Smart Patrol sendiri merupakan aplikasi yang dipergunakan untuk mengelola database yang terintegrasi untuk mendukung kegiatan petugas di lapangan, dan sistem ini terhubung dengan smartphone (SMART Mobile) yang memungkinkan efektifitas pengolahan data hasil kegiatan. Penerapan aplikasi SMART Patrol dalam pelaksanaaan kegiatan di lapangan, selain untuk mempermudah pemetaan potensi sumber daya alam, juga dapat mempercepat aliran data perlindungan dan pengamanan hutan, khususnya di area-area yang rentan terhadap aktivitas ilegal seperti pembalakan liar, perburuan liar, dan perambahan hutan. Selain itu, data yang terkumpul melalui aplikasi SMART Patrol dimungkinkan dilanjutkan dengan analisis mendalam untuk mengidentifikasi pola-pola pelanggaran dan area-area yang rentan. Dengan bantuan alat pemantauan berbasis digital ini, diharapkan pengelolaan data dan informasi kawasan dapat menjadi lebih efektif dan efisien sehingga kawasan konservasi dapat terkelola dengan baik. Hal ini sangat penting dalam strategi konservasi sumber daya alam di Sulawesi Selatan, khususnya di Kabupaten Luwu Utara. Sumber: Balai Besar BKSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP. 20/K.8/TU/Humas/07/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Temu Rimbawan : Direktur Jenderal KSDAE dengan Civitas Akademika Fahutan UNHAS

Makassar, 8 Juli 2024 - Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Agr.Sc. hadir memberikan kuliah umum bertajuk "Tantangan dan Peluang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem di Indonesia" di Ruang Senat Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin (UNHAS). Kuliah umum ini dihadiri oleh Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sulawesi Selatan, Kepala Balai Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung, Dekan Fakultas Kehutanan, Guru Besar dan Dosen Fakultas Kehutanan UNHAS, Pejabat Struktural dan mahasiswa/i Fakultas Kehutanan UNHAS. Di awal sambutan, Prof. Satyawan Pudyatmoko menyampaikan apresiasi kepada UNHAS atas dedikasinya dalam bidang konservasi. Beliau juga mengungkapkan rasa terima kasih atas dukungan UNHAS terhadap UPT KSDAE di Provinsi Sulawesi Selatan. Selanjutnya Prof. Satyawan memaparkan tentang sejarah panjang konservasi di Indonesia, mulai dari masa penjajahan Belanda hingga saat ini. Beliau juga menjelaskan tentang berbagai tantangan yang dihadapi dalam upaya konservasi, seperti perambahan hutan, perburuan liar, dan perdagangan ilegal satwa liar. Salah satu poin yang penting adalah perlunya penguatan payung hukum untuk mendukung upaya konservasi. Beliau juga menekankan pentingnya kerjasama dengan berbagai pihak, termasuk akademisi, masyarakat lokal, dan dunia usaha, untuk mencapai tujuan konservasi yang berkelanjutan. Guru Besar Fakultas Kehutanan UNHAS yang hadir, seperti Prof. Oka dan Prof Amran juga menyampaikan rasa terima kasih atas kerjasama yang terjalin antara UNHAS dan KSDAE. Prof Oka mengungkapkan harapannya agar kerjasama ini dapat terus ditingkatkan di masa depan. Sedangkan Prof. Amranmenambahkan menambahkan bahwa perlu perhatian khusus terhadap kawasan Pegunungan Bawakaraeng. Beliau mengatakan bahwa kawasan tersebut perlu dilindungi dari perambahan hutan dan eksploitasi berlebihan. Kuliah umum diakhiri dengan sesi tanya jawab yang antusias dari para peserta. Para peserta antusias untuk mendapatkan informasi aktual tentang berbagai isu terkait konservasi. Kuliah umum ini selain menjadi forum ilmiah sekaligus menjadi ajang silaturahmi Direktur Jenderal KSDAE dengan rimbawan Fakultas Kehutanan UNHAS dan secara tidak langsung dapat meningkatkan kesadaran public tentang pentingnya konservasi sumber daya alam dan ekosistem serta mendorong kerja sama yang lebih erat antara UNHAS dan KSDAE dalam upaya pelestarian alam Indonesia. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.22/K.8/TU/Humas/07/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Pengabdian Lingkungan GENETIKA Fakultas Pertanian UISU Dengan Alumni GLI Sumatera Utara

Pantai Cermin, 5 Juli 2024. Sekelompok anak muda yang tergabung dalam komunitas mahasiswa pencinta alam GENETIKA Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) menyelenggarakan kegiatan mulia pengabdian masyarakat peduli lingkungan melalui gerakan “Penanaman Mangrove” yang dilaksanakan pada Senin – Selasa, 1-2 Juli 2024, di pantai 88 Dusun III, Desa Kota Pari, Kecamatan Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai. Kegiatan ini didahului dengan aksi bersih sampah di areal yang akan ditanami pada Senin (1/7). Beragam jenis sampah, baik sampah organik maupun non organik (seperti sampah plastik) berhasil dikumpulkan. Melalui gerakan aksi bersih ini, mahasiswa/mahasiwi ini juga memberi edukasi kepada masyarakat sekitar untuk peduli menjaga lingkungannya. Aksi bersih pungut sampah Usai aksi bersih, keesokan harinya, Selasa (2/7) dilanjutkan dengan kegiatan sosialisasi dan penyuluhan yang dihadiri : unsur pimpinan perguruan tinggi yang diwakili Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan Fakultas Pertanian UISU bapak Wan Bahroni Jiwar Barus, SP., M.Si, Wakil Dekan 2 Bidang Sumber Daya dan Tata Kelola bapak Surya Dharma, SP., MP., Camat, Kepala Desa, Kapolsek, Danramil, Kelompok Nelayan, siswa pencinta alam PALH SMA Negeri 2 Medan, masyarakat lokal/sekitar, Himpunan Mahasiswa Jurusan Fakultas Pertanian UISU Medan dan senioran GENETIKA Fakultas Pertanian UISU Medan. Dalam kegiatan sosialisasi dan penyuluhan hadir sebagai pemateri/narasumber dari WALHI Sumatera Utara membawakan materi “Manfaat Pohon Mangrove dan Perlindungan”, serta Nurhabli Ridwan alumni pendidikan Green Leadership Indonesia (GLI) Bacth 1 sekaligus Anggota Kehormatan GENETIKA FP UISU Medan yang membawakan materi “Zero Waste For The Beach” sekaligus mempraktekkan pembuatan ecobrick. Nurhabli Ridwan, yang telah mendapatkan pendidikan GLI dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dalam paparannya menekankan bahwa peran serta masyarakat sangat diharapkan dalam menjaga lingkungan pantai. Nurhabli juga mengajak masyarakat untuk mewujudkan pantai yang bersih dan teduh. Dalam upaya menjaga lingkungan dikenalkan pula konsep Bank Sampah sebagai turunan dari konsep 3R (Reduce,Reuse dan Recycle). Sehingga diharapkan dapat mendukung penerapan system dan tehnologi pengolahan sampah secara terpadu yang meninggalkan volume sampah sesedikit mungkin (zero waste). Zero Waste adalah gaya hidup dimana kita dituntut untuk melakukan perubahan besar dalam hidup. singkatnya, Zero waste adalah program mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya Nurhabli menghimbau untuk mengurangi penggunaan plastik sebagai bentuk kecintaan terhadap lingkungan. Mengingat sampah plastik merupakan jenis limbah yang membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat terurai. Sampah botol plastik misalnya, butuh 450 tahun untuk bisa terurai; limbah kaleng 200 tahun; bungkus mie instan perlu waktu 100 tahun; dan kantong plastik 20 tahun. “Apalagi styrofoam, itu sampah abadi yang tidak bisa terurai sama sekali,“ ujar Nurhabli. Nurhabli Ridwan juga menjelaskan tentang ecobrick. Ecobrick merupakan sebuah terobosan baru yang dapat mengurangi berbagai macam sampah anorganik dan pencemaran tanah. Ecobrick adalah teknik pengelolaan sampah plastik yang terbuat dari botol-botol plastik bekas yang di dalamnya telah diisi berbagai sampah plastik hingga penuh kemudian dipadatkan sampai menjadi keras. Setelah botol penuh dan keras, botol-botol tersebut bisa dirangkai dengan lem dan dirangkai menjadi meja, kursi sederhana, bahan bangunan dinding, menara, panggung kecil, bahkan berpotensi untuk dirangkai menjadi pagar dan fondasi taman bermain sederhana bahkan rumah. Manfaat dari Ecobrick adalah ketika plastik dibuang, dibakar atau ditimbun, akan meracuni bumi, udara dan air. Ketika kita menyimpan, memilah, dan membungkus dalam botol, kita bisa membuat bata ecobrick yang bisa digunakan kembali. Bersama kita bisa membangun kawasan hijau yang akan menyuburkan lingkungan dan masyarakat. Nurhabli Ridwan, alumni GLI Bacth 1 mempraktekkan ecobrick Disesi akhir pembuatan ecobrick Nurhabli Ridwan memberikan suvenir tempat makan, sebagai hadiah untuk audiens atau peserta yang berhasil membuat ecobrick. Kegiatan ini sekaligus sebagai bentuk pengabdian alumni GLI bagi upaya pelestarian alam dan lingkungan hidup, khususnya di Sumatera Utara melalui kegiatan edukasi dan awareness. Sumber : Nurhabli Ridwan (Alumni GLI Batch 1) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pengurus Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru Daerah Sumut Dilantik

Medan, 5 Juli 2024. Setelah lama mengalami penundaan, akhirnya Majelis Pembimbing dan Pengurus Satuan Karya Pramuka Wanabakti dan Satuan Karya Pramuka Kalpataru Tingkat Daerah Sumatera Utara Masa Bakti 2019-2014 dilantik oleh Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara, H. Nurdin Lubis, SH., MH., pada Kamis 4 Juli 2024, bertempat di aula Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Pelantikan dihadiri para Kepala UPT lingkup Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara dan Kepala UPTD lingkup Dinas LHK Provinsi Sumatera Utara. Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara, dalam sambutan dan arahannya menyampaikan bahwa Satuan Karya Pramuka (Saka) merupakan wadah pendidikan dan pembinaan yang bertujuan menyalurkan minat dan bakat serta meningkatkan kecakapan dan kompetensi peserta didik dalam bidang penguasaan ilmu pengetahuan, etika dan sikap kerja. Selain itu Saka juga bertujuan menjaga jiwa kerelawanan, kewirausahaan dan profesionalisme anggota saka pramuka agar dapat berperan menjadi warga negara yang aktif melakukan pengabdian pada masyarakat serta mampu menciptakan lapangan kerja dan melaksanakan kerja professional berdasarkan keahlian yang dimiliki. Lebih lanjut Nurdin Lubis menyampaikan, bahwa Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara selaku pengelola organisasi di tingkat Provinsi menyambut baik dan apresiasi yang setinggi-tingginya atas pelantikan Majelis Pembimbing dan Pengurus Pimpinan Satuan Karya Pramuka Wanabakti dan Satuan Karya Pramuka Kalpataru Tingkat Daerah Sumatera Utara masa bakti 2019-2024. “Kami berharap setelah pelantikan ini Saka Wanabakti dan Saka Kalpataru Tingkat Daerah Sumatera Utara dapat menghasilkan program kerja yang edukatif, inovatif dan kreatif dalam rangka mencapai tujuan dari gerakan pramuka”, ujar Nurdin Lubis mengakhiri sambutannya. Sambutan dan arahan Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sumatera Utara Selamat bertugas kepada seluruh Majelis Pembimbing dan seluruh Pengurus Pimpinan Satuan Karya Pramuka Wanabakti dan Satuan Karya Pramuka Kalpataru Tingkat Daerah Sumatera Utara masa bakti 2019-2024. Satyaku ku darmakan. Darmaku ku baktikan. Satu Pramuka untuk satu Indonesia. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Transformasi Digital: SiMata Taka Siap Tambah Fitur E-Cuti untuk Pegawai

Benteng - Kepulauan Selayar, 5 Juni 2024. Balai Taman Nasional Taka Bonerate menggelar rapat pembahasan pembangunan salah satu fitur baru di SiMata Taka (Sistem Manajemen Data Taman Nasional Taka Bonerate) yaitu e-Cuti, Kamis (4/6). Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Usman memimpin rapat dan dihadiri oleh Pokja Kepegawain, Pokja Teknis, Pokja Keuangan dan Perencanaan, Pokja Perlengkapan, Pokja Humas dan IT. Fitur e-cuti ini sendiri untuk mempermudah dan mengotomatisasi proses pengajuan, pengelolaan, dan persetujuan cuti pegawai secara elektronik. Berikut beberapa manfaat utamanya termasuk: Pada rapat pembangunan fitur sistem e-cuti ini, juga membahas beberapa hal mulai dari Kebutuhan dan Spesifikasi Fitur, Desain dan Arsitektur Sistem, Integrasi dengan Sistem Lain, Pengujian dan Kualitas, Peran dan Tanggung Jawab, hingga Feedback dan Revisi. Diharapkan dengan adanya rapat ini semua pihak yang terlibat memiliki pemahaman yang sama tentang pembangunan fitur dan dapat bekerja secara efisien menuju tujuan yang sama. "Dengan implementasi e-cuti, Balai TN Taka Bonerate dapat meningkatkan efisiensi operasional dan kepuasan pegawai," kunci Ka Subag Tata Usaha, Usman Sumber: Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Jamur Macrolepiota Procera di Kawasan TWA Sicike-cike

TWA Sicike-cike, 1 Juli 2024. Banyak yang indah dan unik di dalam kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike, yaitu berupa jenis – jenis anggrek yang banyak dan beragam tumbuh subur di dalam kawasan. Hal ini mendorong para peneliti untuk melakukan penelitian tentang sebaran dan keragaman jenis anggrek yang ada di dalam kawasan tersebut. Ternyata tidak hanya anggrek yang mengisi kawasan TWA Sicike-cike, tetapi juga Jamur unik jenis Macrolepiota procera yang tumbuh menjamur, ikut meramaikan keindahan kawasan. Jamur ini memiliki topi besar dengan diameter hingga 25 inci. Ketika specimen masih muda, ia memiliki penampilan bulat, tetapi kemudian seiring perkembangannya, ia menjadi cembung. Jamur ini memiliki warna putih saat muda dan krem saat menua. Adapun kaki itu tinggi, silindris dan lebih lebar di pangkalan. Jamur ini dapat ditemukan selama musim gugur dan musim semi di berbagai habitat (Macrolepiota, https://www.jardineriaon.com) Keanekaragaman hayati di kawasan konservasi TWA Sicike-cike sangat beragam bila dibandingkan dengan tempat lainnya, hal ini dikarenakan faktor iklim di kawasan tersebut yang beriklim tropis sehingga sangat cocok sebagai tempat tinggal dan tempat hidup dari berbagai makhluk hidup baik flora maupun fauna. Kawasan hutan konservasi TWA Sicike-cike yang masih terjaga kealamiannya memiliki komponen - komponen ekosistem yang beranekaragam serta sangat kaya dan bervariasi. Seperti kita ketahui bahwa komponen dari sebuah ekosistem terbagi menjadi 2 bagian, yaitu komponen abiotik yaitu tanah, cahaya, suhu, air, dan komponen biotik yaitu produsen, konsumen, dan dekomposer di dalam sebuah ekosistem. Salah satu dari komponen yang mempunyai peranan sangat penting di hutan yang belum sepenuhnya dimanfaatkan dengan baik ialah komponen dekomposer. Adapun komponen dekomposer tersebut yaitu fungi (Jamur) bernama Macrolepiota procera, dari divisi Basidiomycota, family Agaricaceae, dan genus Macrolepiota. Substrat dari jamur Macrolepiota procera ini adalah komponen tanah sebagai tempat tumbuh dan berkembang bagi jamur ini. Selain itu masih banyak sekali komponen – komponen dari ekosistem yang ada di dalam kawasan konservasi TWA Sicike-cike dan belum dieksplor. Untuk itu kita mendorong peneliti untuk giat melakukan riset membedah isi kawasan konservasi tersebut. Disamping itu, kita mengajak seluruh masyarakat untuk ikut merawat kawasan dengan menjaga serta melindungi keberlangsungan ekosistem beserta komponen di dalamnya agar tetap lestari untuk masa depan yang berkesinambungan sebagai pewaris demi kehidupan anak dan cucu kita kelak. Sumber : Alamuddin Sahputra, S.Hut. (Ahli Pertama, Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kesepakatan Konservasi di 3 Desa Ditandatangani

Sidikalang, 2 Juli 2024. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe pada Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, telah melaksanakan kegiatan penandatangan kesepakatan konservasi pada 3 desa yang merupakan desa penyangga kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Danau Sicike-cike, Suaka Margasatwa (SM) Siranggas dan Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk, pada tanggal 25 s.d. 27 Juni 2024 yang lalu. Tiga desa tersebut antara lain Desa Prongil, Kecamatan Tinada, Kabupaten Pakpak Bharat yang merupakan desa penyanggan kawasan TWA. Danau Sicike-cike, Desa Majangggut II, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat yang merupakan desa penyangga kawasan SM. Siranggas dan Desa Kuta Gugung, Kecamatan Naman Teran Kabupaten Karo yang merupakan desa penyangga kawasan TWA. Deleng Lancuk. Kesepakatan Konservasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam menjaga kawasan konservasi dengan melibatkan stakeholder terutama yang bersinggungan langsung dengan kawasan konservasi yaitu masyarakat desa. Adanya kesepakatan konservasi ini juga sebagai bentuk dukungan dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam membantu meningkatkan perekonomian masyarakat melalui bantuan usaha ekonomi produktif yang diberikan pada kelompok masyarakat desa tersebut. Pada Desa Prongil, kelompok tani yang terpilih untuk mendapatkan bantuan adalah Kelompok Tani Lomba Maju. Kelompok ini meminta bantuan berupa alat handtracktor dan mesin babat karena mayoritas masyarakat bertanam padi dan juga hortikultura. Pada Desa Majanggut II, kelompok yang terpilih adalah Kelompok Tani Rebbak Nduma. Kelompok tani ini menginginkan bantuan berupa alat handtracktor dan mesin semprot portable karena mayoritas masyarakat merupakan petani padi dan juga pekebun. Sedangkan pada Desa Kuta Gugung, kelompok yang terpilih untuk mendapatkan bantuan adalah Kelompok Tani Hutan Lestari. Kelompok tani ini menginginkan bantuan berupa alat handtracktor tanah kering dan mesin babat karena mayoritas masyarakatnya bertanam sayur-sayuran dan hortukultura. Kita berharap desa maupun kelompok tani yang menerima bantuan ini dapat menjadi perpanjangan tangan BBKSDA Sumatera Utara dalam menjaga kawasan konservasi sehingga kelestarian kawasan hutan TWA. Danau Sicike-cike, SM. Siranggas dan TWA. Deleng Lancuk dapat terjaga dan masyarakat sekitar kawasan juga dapat meningkat kesejahteraannya. Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kelola Sampah Plastik Dengan Asik

Lombok Utara, 28 Juni 2024. Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilyah I, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), melaksanakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Teknik Kelompok Masyarakat, Rabu (26/6), di Villa Bambu Resto Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Narasumber pada kegiatan ini yaitu Hj. Ida Tirtasari sebagai penggiat dan pengrajin sampah, Indriyatno, S.Hut., M.P. yang merupakan Dosen Kehutanan Unram, serta Bank Sampah Edelweis Senaru yang merupakan kelompok pemerhati sampah plastik (ibu Resi Budiana dan team). Kegiatan ini juga diikuti oleh 3 kelompok Pengelola Sampah Jalur Pendakian Resort Senaru, Resort Torean dan Resort Aikberik serta Kepala Desa Senaru, kepala Desa Aik Berik dan Kepala Desa Loloan. Peningkatan kapasitas kelompok ini merupakan upaya yang akan tetap dilakukan untuk menghadapi semakin meningkatnya penggunaan sampah plastik dalam beberapa tahun ini. Selain mengurangi penggunaan plastik, daur ulang juga menjadi komponen penting dalam pembinaan sampah plastik. Daur ulang membantu mengurangi volume sampah plastik yang berakhir di tempat pembuangan akhir atau di lautan. Dengan dilakukannya peningkatan kapasitas kelompok ini diharapkan untuk mampu menumbuhkan kesadaran dan kreatifitas, karena penggunaan kembali sampah plastik tidak hanya membawa manfaat lingkungan secara signifikan, tetapi juga menciptakan potensi untuk inovasi, kreatifitas, dan nilai ekonomi tambahan. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Evaluasi Capaian Kinerja Untuk Meningkatkan Performa Kinerja

Benteng - Kepulauan Selayar, 26 Juni 2024. Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate menggelar Rapat Capaian Kinerja Triwulan ke-2 di ruang rapat kantor Balai, Rabu (26/6). Giat ini dipimpin langsung oleh Kepala Balai yang baru, Bapak Ali Bahri dan dihadiri oleh seluruh staf Balai TN Taka Bonerate. Selain untuk mengevaluasi kemajuan dan hasil kerja yang telah dicapai dalam suatu periode tertentu, rapat ini membahas beberapa poin mulai dari menilai kinerja, identifikasi masalah, perbaikan strategi, feedback hingga perencanaan ke depan. Tak hanya itu, rapat juga dapat memastikan bahwa organisasi atau tim tetap berada di jalur yang benar untuk mencapai tujuan strategis mereka. Giat ini memaparkan dua agenda yaitu Capaian Kinerja Triwulan Ke-2 dibawakan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Usman, Presentasi RPJP Baru dan Kegiatan Teknis 2024 dan 2025 dibawakan koordinator pokja teknis, Saleh Rahman. "Alhamdulillah, hingga triwulan ke-2 capaian serapan anggaran kita sudah mencapai 53,62%, termasuk tinggi di tingkat nasional," ungkap Usman. Setelah penyampaian materi dari Kepala Sub Bagian Tata Usaha, dilanjutkan dengan arahan dari Kepala Balai dan masukan-masukan dari peserta rapat. "Anggaran/Dipa ibaratnya adalah sebuah suplemen, karena sejatinya negera sudah memberikan setiap ASN gaji plus tukin untuk melaksanakan tupoksi masing-masing, anggaran diberikan untuk memaksimalkan tupoksi kita masing-masing sebagai ASN, dengan mengelolah dipa maka target atau tupoksi kita bisa maksimal dan cepat," jelas Kepala Balai, Ali Bahri. Lebih lanjut Kepala Balai menjelaskan bahwa penyerapan anggaran ini jangan hanya selesai sampai di laporan kegiatan saja namun kualitas, out put dan out come indikator kinerjanya harus konsisten dan efektif. Diharapkan ke depan evaluasi perencanaan dibuat dengan matang serta diperhitungkan baik secara bersama karena inti dari pelaksanaan adalah diperencanaan yang matang dengan melihat target yang akan dicapai. Sumber : AsriTo' - Humas Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Mencari Jalan Keluar Road Map Kakatua Jambul Kuning Pulau Moyo

Mataram, 25 Juni 2024 - Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Spesies dan Genetik (KKHSG-KLHK) bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) melalui Proyek CONSERVE melaksanakan Konsultasi Publik Dokumen Peta Jalan (Road Map) Kakatua Kecil Jambul Kuning Pulau Moyo di Mataram. Secara garis besar, kegiatan mendiskusikan tentang keterancaman kakatua kecil jambul kuning yang semakin tinggi dan nyata terhadap risiko kepunahan di Nusa Tenggara Barat. Diperlukan rencana taktis tingkat tapak sebagai upaya penyelamatan dan perlindungan. Alternatif rencana berproses simultan melalui peta jalan konservasi yang nantinya akan menjadi blueprint dan bersifat teknis. Ownership dalam merawat bersama upaya ini adalah dengan menjadikan peta jalan sebagai acuan bersama dalam mencapai target, sasaran secara tepat dan terukur. Tentu saja semangat yang diusung adalah kemitraan, membangun sinergitas secara partisipatif serta mengintegrasikan kesepakatan pelestarian spesies ini beserta habitatnya dalam kepentingan pengembangan wilayah Nusa Tenggara Barat. Masyarakat yang tinggal di sekitar habitat kakatua harus mendapatkan manfaat lingkungan yang baik, serta peluang keuntungan ekonomi sebagai insentif dalam mendukung upaya konservasi tersebut. Konsultasi publik ini dilaksanakan secara hybrid (online dan offline) melalui Zoom yang dihadiri seluruh UPT KLHK lingkup Prov. NTB, GAKKUM Jabal Nusra, Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata, Kepala Balai BKSDA Maluku, Kepala Balai Taman Nasional Matalawa dan Kepala Balai Taman Nasional Komodo. Kegiatan juga mengundang lingkup Pemerintah Daerah dari Kab. Sumbawa dan Prov. NTB, POLAIRUD dan RESKRIMSUS POLDA NTB, KAPOLSEK KP3 Pelabuhan Lembar, KOREM 162/Wira Bhakti serta perwakilan lembaga penelitian, para mitra dan perwakilan Awak Media. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

Menyelaraskan Rencana Pembangunan Dengan Perencanaan Pengelolaan TN Moyo Satonda

Mataram, 24 Juni 2024 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) sukses menggelar Workshop Sinergitas Perencanaan Pembangunan Pusat dan Daerah dengan Perencanaan Pengelolaan Taman Nasional Moyo Satonda 2024-2033, Senin (24/6). Workshop dimulai dengan sesi pembukaan yang dihadiri oleh Direktur Lingkungan Hidup BAPPENAS Priyanto Rohmatullah, Kepala Bidang Ekonomi BAPPEDA Iskandar Zulkarnaen, Kepala Bidang Penataan BAPPEDA H. Didik, Kepala BKSDA NTB Budhy Kurniawan dan dibuka oleh Direktur Perencanaan Kawasan Konservasi KSDAE-KLHK, diwakili Kasubdit IPKK Rudijanta Tjahja Nugraha. Workshop ini terselenggara, juga didukung dari mitra melalui proyek CONSERVE. Pada sesi panel, disampaikan paparan sinergi perencanaan pusat dan daerah dalam mengarusutamakan keanekaragaman hayati. Martha Siregar, perencana Direktorat Lingkungan Hidup BAPPENAS menyampaikan rancangan teknokratik RPJMN. H. Didik, Kepala Bidang Penataan memaparkan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) RPJMD yang saat ini dalam proses tahap penyusunan. Selanjutnya di tingkat tapak Budhy Kurniawan menyampaikan dokumen RPJP Taman Nasional Moyo Satonda. Dalam pertemuan ini harapannya bisa membangun sinergi pengelolaan dikaitkan dengan output proyek 1.2 yaitu kebijakan, peraturan, pedoman, dan kerangka perencanaan yang lebih baik untuk pengelolaan terpadu lanskap biologis dan pengintegrasian keanekaragaman hayati dikembangkan dan diadopsi dalam strategi pembangunan utam sektor publik dan swasta. Acara dipungkasi dengan penandatanganan berita acara kesepahaman para pihak dalam penguatan perencanaan pembangunan daerah dengan perencanaan pengelolaan Taman Nasional Moyo Satonda oleh perwakilan peserta yang hadir. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

Balai TN Gunung Merapi Pamerkan Produk Kelompok Binaan

Yogyakarta, 27 Juni 2024. Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) berpartisipasi dalam Pameran Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang diselenggarakan pada Rapat Kerja Pengendalian Pembangunan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ekoregion Jawa Tahun 2024, Rabu (26/6), di Royal Ambarukmo Yogyakarta Hotel. Balai TNGM menampilkan produk kelompok binaan diantaranya ecoprint (kain, pashmina, kerudung, scrunchie, buku, tas, topi, kemeja, dan tote bag), kopi Merapi Sapuangin, dodol salak, geplak salak, kaos, cangkir enamel, mug, dan pupuk organik cair. Pembinaan dan pendampingan Balai TNGM kepada masyarakat di sekitar hutan hingga menghasilkan produk di atas selaras dengan tema Akselerasi Kebijakan Pemulihan Lingkungan Berbasis Kelestarian Hutan di Ekoregion Jawa. Masyarakat sekitar hutan diberdayakan dengan tujuan utamanya adalah turut serta menjaga kelestarian alam dari kawasan TNGM. Partisipasi dalam pameran ini merupakan upaya promosi agar produk-produk kelompok tani hutan semakin dikenal oleh masyarakat luas dan bermanfaat bagi seluruh pihak terkait. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi
Baca Artikel

Selamatkan Rangkong, Lindungi Habitatnya

(Foto by : Samuel Siahaan) Medan, 26 Juni 2024. Burung adalah perwakilan bumi sebelum kedatangan manusia. Burung memiliki silsilah yang sama dengan binatang terbesar yang pernah hidup di darat. Melupakan burung sama dengan melupakan asal usul kita (Jonathan Franzen, National Geographic Indonesia, edisi Januari 2018). Ketika kita menganalisis/mengkaji seberapa jauh kemampuan otak burung, ternyata burung jauh lebih cerdas dari yang dikira. Burung beo, sebagaimana burung dalam family corvidae, seperti ekek, gagak, tangkar dan tiongbatu termasuk spesies tercerdas, dengan otak relatif besar berneuron padat. Burung paruh bengkok bahkan bisa secerdas anak usia tiga tahun, bisa menyanyi, menari, meniru ucapan dan mencuri perhatian manusia (National Geographic Indonesia, edisi Juni 2018). Banyak kemampuan yang dimiliki burung bersifat naluriah, tetapi burung mampu belajar dan beradaptasi dengan lingkungannya. Beberapa spesies mempelajari vokalisasi yang kemudian digunakan dalam interaksi sosial. Burung termasuk makhluk yang paling gemar bergaul, memperlihatkan perilaku yang interaktif seperti di primata. Beberapa spesies lainnya juga terlibat hubungan sosial yang kompleks dalam kelompok. Keunikan ini menarik perhatian penulis untuk mengangkatnya dalam tulisan. Salah satu dari sekian banyak jenis burung yang menarik perhatian tersebut adalah Burung Rangkong. Tulisan ini (yang akan dimuat dalam 2 artikel) sejatinya dimaksudkan bukan hanya sekedar untuk mengenalnya melainkan juga mengingatkan kembali kepada isu penyelamatan Burung Rangkong. Burung Rangkong memiliki beberapa nama atau sebutan, seperti : Enggang, Julang, dan Kangkareng. Dalam bahasa Inggris disebut juga Hornbill. Burung ini mempunyai ciri khas yang dapat dilihat dari paruh yang besar dan berbentuk seperti tanduk atau cula. Paruh ini memiliki fungsi yang beragam, termasuk membantu dalam mencari makanan dan membersihkan bulu. Beberapa jenis burung rangkong memiliki ukuran tubuh yang cukup besar dan dapat menjadi salah satu jenis burung terbesar di daerah mereka (Peran Burung Rangkong Dalam Ekosistem, https://www.royalsafarigardes.com). Rangkong memiliki berbagai perilaku dan kebiasaan makan yang unik yang menjadi peranan penting dalam ekosistem, diantaranya adalah : penyerbukan, dimana burung ini dapat berperan sebagai agen penyerbuk. Saat mencari makan, mereka sering mengunjungi bunga-bunga untuk mencari nectar. Dalam proses ini, serbuk sari menempel pada bulu burung dan kemudian ditransfer ke bunga lain, sehingga membantu dalam proses penyerbukan dan reproduksi tanaman. Kemudian burung ini berperan dalam penyebaran bijian tanaman. Mereka sering memakan buah-buahan, dan biji yang tidak dicerna kemudian tersebar di berbagai lokasi melalui fesesnya. Hal ini membantu dalam regenerasi tanaman dan memperluas distribusi tanaman di ekosistem. Rangkong juga melakukan peran kontrol terhadap hama, dimana satwa ini termasuk pemangsa yang efektif terhadap serangga dan invertebrate kecil. Dengan memakan hama, mereka membantu dalam mengontrol populasi serangga yang dapat merugikan tanaman dan ekosistem secara keseluruhan. Menariknya, burung Rangkong diidentikkan dengan simbol perdamaian dan persatuan. Sayapnya yang tebal melambangkan pemimpin yang selalu melindungi rakyatnya. Sedangkan ekor panjangnya dianggap sebagai tanda kemakmuran rakyat suku Dayak. Suaranya yang keras melengking, menjadi lambang ketegasan, keberanian dan budi luhur. Enggang Gading merupakan satu dari 57 spesies rangkong di Afrika dan Asia, hanya ditemukan di dataran rendah hutan Brunei, Indonesia, Malaysia, Myanmar dan Thailand bagian Selatan. Khusus di Sumatera Utara, beberapa kawasan konservasi juga menjadi habitat dari satwa ini, seperti : Suaka Margasatwa (SM) Barumun, SM. Siranggas, Cagar Alam (CA) Dolok Sipirok, Cagar Alam (CA) dan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, TWA. Deleng Lancuk, dan Suaka Alam (SA) Lubuk Raya. Berbeda dengan rangkong lain Enggang Gading mempunyai balungnya yang solid dengan lapisan tebal keratin, bahan yang sama dengan kuku jari, rambut, dan cula badak. Tidak banyak hal yang dipahami terkait perilaku Enggang Gading, tetapi mereka dikenal menggunakan balung untuk saling beradu saat terbang, mungkin dalam persaingan untuk mendapatkan sarang atau pohon buah. Burung ini adalah omnivora, tetapi lebih menyukai buah dari pohon ara pencekik, yang saat berbuah berfungsi sebagai toko kelontong hutan hujan untuk satwa pemakan buahnya yang matang—mulai dari tupai, owa, orangutan hingga hampir seribu spesies burung. Enggang Gading amatlah pemilih, dan membutuhkan pohon besar dengan rongga berlubang untuk bersarang. Sarang ini akan dibuat di pohon tertua dan terbesar di hutan—yang sangat diincar oleh penebang. Salah satu ciri khas dari Rangkong Gading yang tidak dimiliki oleh jenis lainnya adalah suaranya yang keras menyerupai suara tertawa gila (maniacal laugh). Suara yang dihasilkan merupakan deretan nada/kata “HOOP” yang lambat dan semakin cepat ke “KE-HOOP” selama 1-5 menit dan diakhiri dengan suara tertawa “KA-KA-KA-KA...” dengan nada meninggi selama beberapa detik sebelum akhirnya berhenti (Eaton et al., 2016). Suara tersebut diperkirakan dapat dikategorikan menjadi dua jenis, bagian pertama ditujukan untuk menarik perhatian individu lain, sedangkan bagian kedua untuk menunjukkan kemampuan fisiknya (Haimoff, 1987). Permasalahan utama yang mengancam kelestarian Rangkong Gading disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya kerusakan habitat. Pembukaan kawasan hutan merupakan ancaman terbesar terhadap lingkungan yang dapat mempengaruhi fungsi ekosistem yang mendukung kehidupan di dalamnya. Selain itu ketimpangan perencanaan tata guna lahan melalui perencanaan tata ruang diberbagai tingkatan seringkali tidak mempertimbangkan prinsip-prinsip ekologi dan konservasi. Disamping dampak langsung terhadap kondisi hutan, proses deforestasi juga berdampak terhadap meningkatnya perburuan satwa liar seiring dengan meningkatnya akses masuk ke dalam hutan (Robinson & Bennet, 2000). Pemerintah kemudian bersama-sama dengan para pemangku kepentingan Rangkong Gading di Indonesia mengganggap perlunya upaya konservasi Rangkong Gading. Salah satu fokus dalam upaya ini yaitu melakukan pengelolaan habitat dengan melanjutkan pengelolaan kawasan konservasi yang sudah ada dan melakukan pengelolaan terhadap populasi-populasi Rangkong Gading yang berada di luar kawasan konservasi dengan mengikutsertakan semua pemangku kepentingan yang terkait. Pengelolaan populasi dan habitat Rangkong Gading dapat dimodifikasi dengan kegiatan peningkatkan penelitian dan monitoring yang mendukung konservasi Rangkong Gading, meningkatkan konservasi Rangkong Gading di habitat aslinya sebagai kegiatan utama penyelamatan, serta mengembangkan konservasi eksitu sebagai bagian dari dukungan untuk konservasi insitu Rangkong Gading. Dan yang juga tak kalah pentingnya adalah mendorong partisipasi peran publik untuk terlibat langsung mendukung dan berperan aktif dalam mewujudkan program yang mulia tersebut. Keterlibatan banyak pihak menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan karena dengan kolaborasi dan sinergitas maka gerakan penyelamatan Rangkong Gading dan perlindungan habitatnya akan semakin mudah untuk diwujudkan. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Selamatkan Daun Sang Yang Unik dan Langka

Sumber foto : Alamendah.org, Good News from Indonesia Medan, 24 Juni 2024. Daun Sang merupakan jenis flora dengan daun raksasa yang lebarnya bisa mencapai 6 meter. Tanaman endemik ini hanya dapat ditemukan di kawasan Aras Napal 242, Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, dan juga di areal kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Selain di Sumatera Utara, Daun Sang yang unik ini juga ditemukan di Thailand, Malaysia, Serawak, Kalimantan bagian Barat dan Sumatera. Daun Sang memiliki banyak nama, seperti di Indonesia disebut juga dengan Daun Payung, Sang Gajah, Sang Minyak (Sumatera Utara), Daun Solo (Riau), di Malaysia dikenal dengan nama Sal, di Thailand dinamai Bang Soon dan di Inggris disebut Joy Palm, Diamond Joey atau Umbrella Leaf Palm (Daun Sang, Tanaman Unik Ini Ditemukan di Sumatera Utara, https://indonesia.go.id). Daunnya unik memiliki sisi yang berduri, bentuknya pun melebar di tengah serta meruncing di bagian pangkal dan ujung. Akibat ukuran daunnya yang diatas normal itu, masyarakat dahulu kerap memanfaatkan Daun Sang sebagai atap rumah ataupun atap gubuk di ladang. Daun Sang, sebagaimana dikutip dari Indonesia.go.id, pertama kali ditemukan di pedalaman Sumatra pada awal abad ke 19 oleh seorang profesor botani asal Belanda bernama Teijsman alias Elias Teymana Johannes. Sesuai nama penemunya, Daun Sang kemudian diberi nama latin/ilmiah Johannesteijsmania altifrons. Tanaman ini merupakan salah satu dari empat spesies anggota genus Johannesteijsmania, sejenis pinang-pinangan atau palem (Aracaceae) yang tumbuh hanya di kawasan hutan Asia Tenggara. Mengingat tempat penyebarannya yang terbatas dan populasinya dalam jumlah relatif kecil, menyebabkan tumbuhan ini langka sehingga menurut Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa termasuk dalam jenis yang dilindungi. Selain itu konflik kepentingan juga menjadi faktor penyebab terancamnya tumbuhan ini, terutama yang tumbuh di lahan masyarakat. Masyarakat lebih cenderung memanfaatkan/menggunakan lahannya untuk kepentingan lain daripada menyelamatkan Daun Sang. Dengan alasan guna memenuhi kebutuhan hidup, maka lahan tempat tumbuh Daun Sang menjadi korban pengalihan fungsi. Untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya, diperlukan upaya komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak (komponen). Langkah pertama adalah dengan melakukan inventarisasi dan identifikasi keberadaannya terkini. Pendataan ini penting artinya untuk mengetahui sejauhmana populasinya serta penyebarannya. Setelah itu barulah direncanakan solusi penyelesaian tentunya dengan melibatkan masyarakat terutama yang di lahannya terdapat tumbuhan Daun Sang. Perlu ditempuh upaya win-win solution, salah satunya dengan cara/pola orangtua asuh. Pola orangtua asuh menjadi salah satu tawaran solusi bagi penyelamatan Daun Sang. Warga yang kebanyakan kurang paham dan peduli, sebaiknya dirangkul, diberikan edukasi dan motivasi untuk ikut serta menjadi bagian yang menyelamatkan tumbuhan unik dan langka ini dengan ikut menjaga dan melestarikannya. Penganugerahan penghargaan dan berbagai bentuk apresiasi lainnya patut diberikan kepada warga yang telah menunjukkan kepeduliannya. Upaya lainnya adalah dengan memberi peluang dan mendorong para peneliti melakukan riset (penelitian) terhadap kemungkingan budidaya tumbuhan ini untuk menjaga dan mengembangkan populasinya dengan berbagai metode. Selain itu, yang juga tidak kalah penting adalah memberikan edukasi kepada generasi muda melalui pendidikan agar menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian tumbuhan ini sedini mungkin. Berbagai upaya tentunya penting dan menjadi penentu akan keberlangsungan serta kelestarian Daun Sang dari ancaman kepunahan. Jadi tunggu apalagi… Ayo selamatkan Daun Sang sebelum nantinya hanya tinggal cerita dongeng saja……. Sumber foto : Alamendah.org, Good News from Indonesia Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Bekal ASN BBKSDA Sumut Menuju Masa Purnabakti

Narasumber Suranto Sapto Guritno, S.Pd. dari BKN RI, Ir. Tata Jatirasa Gandaresmara dari Biro Kepegawaian dan Organisasi Setjend KLHK dan Hermanto Siallagan, S.H., MH. Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 20 Juni 2024. Setiap Aparatur Sipil Negara (ASN) akan menjalani masa purnabakti/purnatugas atau dikenal juga dengan sebutan pensiun. Untuk membekali pengetahuan dan informasi ASN tentang pensiun, Tim gabungan dari Biro Kepegawaian dan Organisasi Sekretariat Jenderal Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan Sekretariat Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) melaksanakan kegiatan Sosialisasi Pemensiunan dan Pemberhentian ASN pada Jumat, 14 Juni 2024, di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sosialisasi ini diikuti oleh pegawai lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara baik secara off-line maupun on-line, dan juga beberapa pegawai UPT lingkup Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara, dengan narasumber masing-masing : Ir. Tata Jatirasa Gandaresmara Analis SDM Aparatur Ahli Madya Biro Kepegawaian dan Organisasi Setjen KLHK dan Suranto Sapto Guritno, S.Pd. Analis SDM Aparatur Ahli Madya Badan Kepegawaian Negara. Dalam paparannya Suranto Sapto Guritno menjelaskan ada beberapa alasan pemberhentian ASN menurut PP No. 11 Tahun 2017 Jo PP Nomor 17 Tahun 2020 tentang Manajemen PNS, diantaranya : atas permintaan sendiri, mencapai Batas Usia Pensiun (BUP), perampingan organisasi/kebijakan pemerintah, tidak cakap jasmani/rohani, meninggal dunia, melakukan tindak pidana, pelanggaran disiplin dan menjadi anggota/pengurus partai politik. Selanjutnya, ASN diberhentikan dengan hormat, menurut Pasal 87 ayat 1 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, disebabkan karena : meninggal dunia, atas permintaan sendiri, mencapai batas usia pensiun (BUP), perampingan organisasi atau kebijakan pemerintah dan tidak cakap jasmani dan rohani sehingga tidak dapat menjalankan tugas dan kewajiban. Peserta tekun mengikuti Sosialisasi Pensiun menurut Suranto, merupakan jaminan hari tua dan sebagai penghargaan atas jasa-jasa ASN selama bertahun-tahun bekerja (mengabdi) dalam dinas pemerintah. Sebagai jaminan hari tua dimaksudkan untuk menjamin kehidupan masa purnabakti. Dan ASN yang berhak mendapatkan pensiun apabila telah memenuhi syarat, diantaranya : diberhentikan dengan hormat, bagi ASN yang minta pensiun (atas permintaan sendiri) usianya minimal 50 tahun dan masa kerja minimal 20 tahun, bagi yang telah mencapai batas usia pensiun masa kerjanya minimal 10 tahun. Kemudian bagi ASN yang oleh tim penguji kesehatan dinyatakan tidak dapat bekerja lagi karena sakit yang disebabkan dinas berhak pensiun tanpa terikat pada usia dan masa kerja, sebaliknya bagi ASN yang sakit bukan disebabkan karena dinas berhak mendapat pensiun apabila minimal memiliki masa kerja 4 tahun. Dalam hal terjadi penyederhanaan organisasi, ASN berhak pensiun apabila telah bekerja minimal 50 tahun dan masa kerja minimal 10 tahun. Terhadap ASN yang meninggal dunia maka kepada janda/dudanya berhak mendapat pensiun tanpa terikat kepada usia dan masa kerja. Narasumber Tata Jatirasa Gandaresmara, mengingatkan seluruh pegawai yang mengikuti sosialisasi agar menjaga dan menyimpan dengan baik dokumen-dokumen kepegawaian pribadi yang nantinya akan digunakan dalam pengurusan berkas pensiun, sehingga pada saat pengurusan tidak mengalami kendala atau kesulitan. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Evaluasi Kemitraan Konservasi Desa Lubuk Kembang Bunga dan Bagan Limau Menunjukkan Dinamika Intens

Lubuk Kembang Bunga, 20 Juni 2024 – Tim Kemitraan Konservasi Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) telah menyelesaikan monitoring intensif di Desa Lubuk Kembang Bunga dan Bagan Limau. Tim berhasil mengevaluasi kegiatan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) di zona tradisional Desa Lubuk Kembang Bunga, Kamis (13/6). Dari hasil monitoring, terungkap bahwa dua dari tiga kelompok yang ditinjau, dinilai tidak aktif dan tidak akan melanjutkan kerjasama. Sementara itu, satu kelompok lainnya yakni Kelompok Perempuan Batang Nilo (Perbani) tercatat masih aktif dan berkeinginan untuk memperpanjang Perjanjian Kerjasama (PKS) dengan Balai TN Tesso Nilo. Kelompok Perbani sendiri telah melakukan berbagai kegiatan progresif seperti pembibitan, budidaya maggot, pembuatan pupuk organik, dan inisiatif Sekolah Bijak Puan serta pelatihan publik speaking. Mereka juga telah membentuk Usaha Simpan Pinjam (USP) dengan dana mencapai 70 juta rupiah, serta memiliki rencana untuk mendirikan bank sampah dan mengemangkan budidaya ikan lele dan patin. Tim juga berhasil mengadakan koordinasi dengan kepala desa dan Kadus Toro Palembang terkait penyelesaian areal terbangun di tiga dusun. Jika permohonan kemitraan konservasi tidak diserahkan hingga akhir Juni 2024, proses selanjutnya akan dilakukan melalui mekanisme paksaan pemerintah. Di Bagan Limau, evaluasi terhadap sembilan Kelompok Tani Hutan Konservasi (KTHK) Kemitraan Konservasi Pemulihan Ekosiste (PE) di Resort Air Hitam menunjukkan bahwa tujuh di antaranya masih eksis dan dua telah diberhentikan. Proses restrukturisasi kelompok sedang berlangsung, dengan empat kelompok menunggu penyelesaian administratif dari pihak desa. Dengan demikian, disampaikan oleh tim evaluasi ini menunjukkan dinamika yang intens dalam upaya konservasi dan pemberdayaan masyarakat melalui program Kemitraan Konservasi. Tim Kemitraan Konservasi berkomitmen untuk terus mendukung dan memastikan berbagai inisiatif ini berjalan dengan baik. Sumber: Balai Taman Nasional Tesso Nilo

Menampilkan 753–768 dari 2.298 publikasi