Kamis, 9 Jul 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Hari-Hari Menegangkan di Bawean, Di Balik Penanganan Babi Kutil Hasil Penyelamatan

Bawean, 12 Juni 2026. Di tepian ladang Desa Kumalasa, pagi tidak selalu dimulai dengan tenang. Ada jejak-jejak yang tak kasat mata bagi sebagian orang, bekas pijakan kaki, tanah yang tergali, dan tanaman yang rusak. Jejak itu adalah penanda bahwa ruang hidup manusia dan satwa liar semakin bertumpuk dalam satu lanskap yang sama. Di Pulau Bawean, konflik antara manusia dan Babi Kutil bukan lagi sekadar cerita pinggiran. Ia telah menjadi realitas harian yang memaksa respons cepat, terukur, dan penuh kehati-hatian. Memasuki hari kelima hingga ketujuh penanganan darurat, tim Balai Besar KSDA Jawa Timur bekerja dalam senyap yang disiplin. Beberapa individu Babi Kutil hasil penyelamatan kini berada dalam kandang transit di Desa Kumalasa, sebuah ruang sementara yang menjadi batas tipis antara stres dan keselamatan. Namun keberhasilan penanganan ini tidak lahir dari metode biasa. Di lapangan, sebuah inovasi diuji dan terbukti efektif, kandang jebak berbentuk oktagonal. Didukung oleh Jawa Timur Park Group dan diimplementasikan oleh tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), desain ini mengubah pendekatan penangkapan secara fundamental. Jika metode konvensional cenderung memisahkan individu, kandang oktagonal justru bekerja mengikuti perilaku alami Babi Kutil Bawean yang hidup berkoloni. Dengan ruang yang lebih adaptif dan pola masuk yang tidak memecah kelompok, satu koloni utuh dapat masuk ke dalam kandang secara bersamaan. Pendekatan ini bukan hanya meningkatkan efektivitas penangkapan, tetapi juga menekan tingkat stres akibat pemisahan sosial antar individu. Setiap hari, tim membagi diri dalam dua ritme kerja, pagi hingga siang, dan siang hingga menjelang malam. Pakan diberikan secara teratur, air minum dijaga, dan lingkungan kandang disesuaikan agar menyerupai habitat alami, dengan kubangan buatan, sarang dari ranting dan dedaunan, serta kelembapan yang dipertahankan melalui penyemprotan air. Bagi satwa liar, stres adalah ancaman diam-diam yang bisa berakibat fatal. Karena itu, interaksi manusia dibatasi secara ketat. Warga yang datang diarahkan, diedukasi, dan diminta menjaga jarak. Di titik ini, konservasi tidak hanya soal satwa, tetapi juga tentang membangun pemahaman manusia. Data lapangan mengungkap lapisan persoalan yang lebih dalam. Babi Kutil tetap memasuki lahan pertanian bahkan saat tidak ada tanaman pangan. Empat titik konflik utama teridentifikasi yang menunjukkan bahwa konflik bukan sekadar peristiwa, melainkan gejala dari tekanan ekologis yang lebih luas. Penanganan pun berkembang menjadi upaya kolaboratif. Pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat dilibatkan dalam mitigasi. Bantuan sarana disalurkan, sosialisasi dilakukan, dan komitmen bersama mulai dibangun untuk mengurangi risiko konflik di masa depan. Seluruh upaya ini tidak berdiri sendiri. Di baliknya, terdapat dukungan dari skema pendanaan darurat cepat melalui mekanisme IBioFund yang difasilitasi oleh Direktorat Jenderal KSDAE Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Konservasi Speies dan Genetik. Skema ini dirancang sebagai instrumen pembiayaan yang fleksibel dan responsif untuk mendukung penanganan kondisi darurat konservasi di lapangan, memungkinkan tim bergerak cepat saat situasi mendesak terjadi. Dengan dukungan tersebut, kebutuhan mendesak seperti operasional lapangan, penyediaan pakan, hingga persiapan translokasi dapat dipenuhi secara tepat waktu dan akuntabel. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa penanganan konflik ini tidak hanya berorientasi pada penyelamatan satwa, tetapi juga pada keberlanjutan ekosistem dan perlindungan masyarakat. “Pendekatan yang kami lakukan adalah memastikan keselamatan satwa sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat. Inovasi kandang jebak koloni ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan efektivitas penanganan, tanpa mengabaikan prinsip kesejahteraan satwa. Ke depan, kolaborasi dan mitigasi berbasis data akan terus kami perkuat agar konflik serupa dapat diminimalkan,” ujarnya. Kini, fokus beralih ke tahap berikutnya, translokasi. Koordinasi lintas pihak terus dilakukan, mulai dari kesiapan kandang angkut, pemeriksaan kesehatan satwa, hingga penyesuaian jadwal transportasi laut dari Bawean menuju daratan Jawa. Setiap keputusan harus presisi, karena satu kesalahan dapat mengubah arah keseluruhan upaya. Apa yang berlangsung di Bawean hari ini adalah potret nyata dari masa depan konservasi: ketika konflik tidak bisa dihindari, inovasi, kolaborasi, dan ketenangan menjadi kunci menjaga keseimbangan antara manusia dan satwa liar. Dan di tengah hari-hari yang menegangkan itu, satu hal menjadi terang, bahwa menjaga satwa liar bukan hanya tentang menyelamatkan mereka dari manusia, tetapi juga menyelamatkan ruang hidup bersama yang semakin sempit. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Strategi Kolaboratif Mengelola Risiko Satwa Liar Di Bandara Internasional Juanda

Sidoarjo, 12 Juni 2026. Di balik deru mesin pesawat yang membelah langit timur jawa, terdapat dinamika lain yang tak kalah penting namun sering luput dari perhatian yaitu pergerakan satwa liar. Dalam ruang udara yang sama, burung-burung melintas mengikuti naluri ekologisnya, sementara manusia mengandalkan presisi teknologi. ketika dua dunia ini bersinggungan, risiko pun tak terelakkan. Menjawab tantangan tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Otoritas Bandar Udara Wilayah III secara resmi mendeklarasikan dukungan kolaboratif dalam penanganan gangguan satwa liar (wildlife hazard) terhadap operasional penerbangan di sekitar Bandar Udara Internasional Juanda, 12 Juni 2026. Deklarasi ini bukan sekadar simbolik. ia menjadi fondasi sinergi lintas sektor selama tiga tahun ke depan, mencakup evaluasi berkala dokumen Wildlife Hazard Management Plan (WHMP), penguatan data ilmiah melalui Wildlife Hazard Assessment (WHA), hingga pengendalian faktor-faktor ekologis yang memicu kehadiran satwa di sekitar bandara. Salah satu pendekatan yang diusung adalah pembangunan artificial wetland, sebuah habitat buatan yang dirancang untuk mengalihkan konsentrasi burung dari area berisiko tinggi di sisi udara bandara. Upaya ini mencerminkan perubahan paradigma, dari sekadar mengusir satwa, menjadi mengelola ruang hidupnya secara lebih adaptif dan berkelanjutan. Selain itu, kegiatan monitoring populasi satwa liar akan dilakukan secara intensif dalam radius hingga lima kilometer dari kawasan bandara. Tidak hanya burung, tetapi juga mamalia dan reptil yang berpotensi mengganggu operasional penerbangan. Pendekatan ini diperkuat dengan koordinasi bersama pemerintah daerah untuk mengendalikan aktivitas manusia yang secara tidak langsung mengundang kehadiran satwa, seperti pembuangan sampah ilegal hingga aktivitas pertanian tertentu. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa pendekatan ini bukan tentang menghilangkan satwa dari lanskap, melainkan mengelola interaksi agar tetap aman bagi semua pihak. “Keselamatan penerbangan adalah prioritas, namun keberadaan satwa liar juga bagian penting dari keseimbangan ekosistem. Melalui kolaborasi ini, kita tidak hanya mengurangi risiko, tetapi juga memastikan bahwa pengelolaan satwa dilakukan secara ilmiah, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya. Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada keterlibatan multipihak, termasuk masyarakat di sekitar bandara. “Kesadaran publik menjadi kunci. aktivitas sederhana seperti pengelolaan sampah atau praktik budidaya yang tidak tepat dapat memicu kehadiran satwa dalam jumlah besar. karena itu, edukasi dan sosialisasi menjadi bagian penting dari strategi ini,” tambahnya. Dalam praktiknya, kolaborasi ini juga membuka ruang bagi pendekatan teknis yang lebih adaptif, termasuk identifikasi spesies pasca insiden, penggunaan predator alami secara terkontrol, hingga penguatan basis data sebagai landasan pengambilan keputusan. Di tengah laju pembangunan dan mobilitas manusia yang semakin tinggi, ruang hidup satwa liar kian terdesak dan terfragmentasi. Bandara, sebagai simpul transportasi modern, menjadi salah satu titik temu yang kompleks antara kepentingan manusia dan dinamika alam. Deklarasi ini menjadi pengingat bahwa solusi tidak selalu berarti menghilangkan salah satu pihak. Justru, masa depan terletak pada kemampuan manusia untuk membaca tanda-tanda alam dan meresponsnya dengan kebijakan yang bijak. Di langit Juanda, upaya menjaga keselamatan kini berjalan beriringan dengan ikhtiar merawat kehidupan. Sebab pada akhirnya, langit yang aman tak bisa dipisahkan dari alam yang tetap terjaga. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dihantam Kemudi Patah, Tim Menemukan Surga Tersembunyi Satwa Liar di Selatan Pulau Nusa Barung

Jember, 11 Juni 2026. Ekspedisi ilmiah di Pulau Nusa Barung pada 2–15 Juni 2026 tak hanya mengungkap padang penggembalaan alami Rusa Timor di sisi selatan pulau, tetapi juga menyisakan sebuah ironi. Hilangnya perangkat kamera riset yang sebelumnya dipasang, menandakan adanya aktivitas manusia yang luput dari pengawasan di kawasan suaka margasatwa tersebut. Pagi 8 Juni 2026, laut selatan Jawa membuka perjalanan sebagian tim riset menuju salah satu lanskap paling liar di Pulau Nusa Barung. Lima anggota tim bersama dua nelayan lokal bergerak dari Teluk Cambah menuju Teluk Kandangan, sebuah kawasan terpencil yang menjadi fokus eksplorasi lanjutan dalam riset lintas lembaga. Kegiatan ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk “Pengembangan Teknik Identifikasi Jenis dan Kualitas Habitat Satwa Liar di Pulau Nusa Barung melalui Integrasi Metode Konvensional dengan e-DNA, Soundscape, dan Citra Satelit.” Sebanyak 15 personel terlibat, berasal dari BRIN, Balai Besar KSDA Jawa Timur, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Yayasan Generasi Biologi Indonesia, Birdpacker, serta relawan konservasi. Perjalanan laut berlangsung relatif lancar. Namun sesaat setelah tim tiba dan merapat di Teluk Kandangan, kemudi perahu yang digunakan mendadak patah. Insiden ini memaksa tim menghentikan mobilisasi laut dan menunggu bantuan dari daratan untuk penggantian kemudi. Di titik inilah, ekspedisi bergeser menjadi eksplorasi darat yang lebih intens. Selama dua malam, tim menyisir kawasan sekitar, memeriksa titik-titik lama sekaligus membuka jalur baru ke area yang belum tersentuh pada ekspedisi sebelumnya. Salah satu agenda penting adalah pengecekan kamera pemantau (camera trap) yang dipasang pada ekspedisi pertama lalu sebagai bagian dari upaya dokumentasi satwa liar. Namun hasilnya di luar dugaan. Perangkat tersebut tidak ditemukan. Hilang tanpa jejak. Ketiadaan kamera ini menjadi ironi di tengah semangat penelitian. Ia bukan sekadar kehilangan alat, tetapi juga sinyal bahwa kawasan yang selama ini dianggap sunyi ternyata tidak sepenuhnya kosong. Ada aktivitas manusia yang tidak terpantau, baik disengaja maupun tidak, yang berpotensi mengganggu proses ilmiah sekaligus keseimbangan ekosistem Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung. Di tengah situasi tersebut, alam tetap menghadirkan jawabannya. Di kawasan Watu Anjir Gebang, tepat di bibir tebing karang yang menghadap Samudera Indonesia, tim menemukan hamparan padang rumput seluas kurang lebih 0,6 hektare. Lanskap ini tampak sederhana, hanya ditumbuhi dua jenis rumput, namun menyimpan makna ekologis yang signifikan. Jejak gigitan, kubangan, jalur lintasan, dan struktur vegetasi menunjukkan adanya tekanan herbivori yang konsisten. Kawasan ini teridentifikasi sebagai padang penggembalaan alami, ruang makan penting bagi Rusa Timor (Rusa timorensis) yang mendiami pulau tersebut. Pengamatan lapangan semakin menguatkan temuan ini. Di sekitar Teluk Kandangan, pada kawasan mangrove, tim menyaksikan langsung pergerakan rusa yang menyeberangi perairan dangkal. Perilaku ini memperlihatkan adanya konektivitas habitat, dari kawasan hutan lebat menuju padang penggembalaan di Suketan Anjir Gebang. Tony Artaka, anggota periset sekaligus Pengendali Ekosistem Hutan dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, menegaskan arti penting kawasan tersebut. “Blok Suketan Anjir Gebang yang ditumbuhi rumput di bibir karang Pulau Nusa Barung sisi selatan merupakan lokasi yang sangat potensial sebagai sumber pakan alami rusa timor di pulau ini. Karakter vegetasinya menunjukkan adanya interaksi yang intens antara satwa dan habitatnya,” ujarnya. Pernyataan ini memperjelas bahwa bentang alam yang tampak sederhana justru menjadi simpul penting dalam rantai kehidupan satwa liar di Nusa Barung. Ekspedisi ini menghadirkan dua wajah Nusa Barung, keindahan ekologis yang masih terjaga, sekaligus kerentanan yang mengintai dari aktivitas manusia yang tak terpantau. Hilangnya perangkat riset menjadi pengingat bahwa kawasan konservasi tidak selalu steril dari gangguan. Di sisi lain, insiden patahnya kemudi perahu, yang terjadi tepat setelah tim merapat di Teluk Kandangan, menegaskan satu hal mendasar dalam setiap kegiatan alam bebas dan penelitian lapangan, bahwa persiapan bukan sekadar prosedur, melainkan kebutuhan mutlak. Alam tidak pernah bisa diprediksi sepenuhnya. Ia tidak tunduk pada rencana manusia. Karena itu, setiap ekspedisi, terlebih di kawasan terpencil seperti Nusa Barung, menuntut kesiapan teknis, logistik, dan mitigasi risiko yang matang. Bukan hanya untuk menjamin keselamatan tim, tetapi juga untuk memastikan bahwa tujuan ilmiah dapat tercapai tanpa mengorbankan integritas ekosistem yang diteliti. Di balik kerasnya tebing karang Anjir Gebang dan jejak rusa yang melintas di mangrove, Nusa Barung seakan menyampaikan pesan yang sederhana namun tegas, bahwa menjaga alam berarti juga memahami batas-batas kita di dalamnya. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kawasan Hutan Lindung Pulau Jampea Diusulkan Jadi Areal Preservasi

SELAYAR – Balai Taman Nasional Taka Bonerate tengah menggodok usulan menjadikan hutan lindung Pulau Jampea sebagai areal preservasi. Langkah ini dilakukan melalui serangkaian koordinasi dan kunjungan lapangan. Kegiatan berlangsung selama sepekan, tepatnya 8 hingga 14 Juni 2026. Tim bergerak bersama Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) serta UPT KPH Selayar. Mereka menyambangi empat desa di Kecamatan Pasimasunggu, Kabupaten Kepulauan Selayar. Desa-desa itu adalah Masungke, Kembang Ragi, Labuang Pamajang, dan Teluk Kampe. Antusiasme terlihat dari pemerintah kecamatan dan desa. Mereka menyambut baik dan mendukung penuh usulan ini. Di lapangan, tim mendapati kekayaan hayati yang mencolok. Beberapa jenis burung endemik terlihat langsung, seperti kakak tua kecil jambul kuning dan kehicap tanah jampea. Keduanya merupakan spesies dilindungi. Tak hanya itu, pohon merbau juga ditemukan tumbuh subur di kawasan tersebut. Namun, hutan lindung Jampea bukan sekadar rumah bagi satwa dan tanaman langka. Kawasan ini terbukti vital bagi kehidupan warga. Dari hasil verifikasi, hutan berperan penting dalam mengatur siklus air. Ia juga menjadi penjaga utama sumber-sumber air di Pulau Jampea. Dengan segala potensi itu, pengusulan areal preservasi diharapkan segera terealisasi demi menjaga kelestarian alam dan keberlangsungan masyarakat setempat. Sumber: Tim Preservasi (Foto/Teks) dan Asri (Editor/Humas/ PEH) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Gagal Tembus Sendang Putri, Tim Temukan Surga Anggrek Hantu di Jantung Nusa Barung

Jember, 11 Juni 2026. Upaya tim kedua ekspedisi Pulau Nusa Barung untuk membuka jalur menuju Sendang Putri pada tanggal 8–9 Juni 2026, berakhir pada kebuntuan medan. Namun di balik kegagalan tersebut, tim justru menemukan titik habitat anggrek hantu, spesies epifit langka yang mempertegas kekayaan tersembunyi ekosistem pulau ini. Pada hari yang sama ketika tim pertama menyusuri pesisir selatan, tujuh anggota tim lainnya memulai perjalanan berbeda, menembus daratan liar dari kawasan Sumbergempol. Misi mereka jelas, membuka jalur menuju Sendang Putri, sebuah titik yang selama ini nyaris tak tersentuh dan berpotensi menjadi akses strategis untuk patroli konservasi di Pulau Nusa Barung. Malam pertama, 8 Juni 2026, mereka bermalam di Sumbergempol, sebuah lanskap yang tak hanya menyediakan air, namun juga kehidupan. Di bawah kanopi hutan yang rapat, eksplorasi flora dilakukan hingga menjelang malam. Di sekitar kubangan air Sumbergempol, tim menemukan fenomena yang tak biasa. Sejumlah pohon gempol menunjukkan luka-luka pada batangnya. Kulit kayu terkoyak, meninggalkan bekas gigitan dan cakaran yang kasar. Jejak itu seperti pesan yang belum sepenuhnya terbaca. Setelah pengamatan lebih lanjut, tim mengindikasikan bahwa kematian beberapa pohon gempol di kawasan tersebut disebabkan oleh aktivitas satwa liar yang menggerus kulit batang hingga ke lapisan kambium. Sebagian bekas luka terkonfirmasi berasal dari aktivitas biawak yang bahkan sempat terdokumentasi memanjat batang pohon. Namun, untuk kerusakan yang lebih dalam hingga mengelupasnya jaringan kambium, tim masih menyisakan ruang analisis, kemungkinan melibatkan spesies lain yang belum teridentifikasi. Sumbergempol, pada titik itu, menampakkan dirinya bukan sekadar sumber air, melainkan simpul interaksi ekologis. Menjelang senja, Rusa Timor (Rusa timorensis) terlihat muncul di tepian, seolah menyapa kehadiran manusia yang hanya singgah sesaat. Tak lama berselang, satu koloni Babi Hutan (Sus scrofa) turun dan meminum air di kubangan yang sama. Siang dan malam, herbivora dan omnivora, semua bertemu di satu titik, air. Dalam keterbatasan logistik dan minimnya sumber air di pulau, tim pun bergantung pada Sumbergempol, menggunakannya untuk memasak dan mengolah bahan pangan yang mereka bawa. Sebuah ironi kecil, bahwa manusia dan satwa liar berbagi sumber kehidupan yang sama, dalam diam dan tanpa batas. Keesokan harinya, Selasa (9/6), perjalanan dilanjutkan. Targetnya tinggal satu: Sendang Putri. Tim mulai membuka jalur, menempuh sekitar 2,5 kilometer medan darat yang tidak ramah. Kontur terjal, vegetasi rapat, semak berduri, dan lilitan rotan menjadi penghalang nyata. Setiap langkah bukan sekadar maju, tetapi negosiasi dengan alam. Harapan sempat tumbuh, bahwa jalur ini kelak dapat menjadi akses patroli bagi petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur. Namun menjelang sore, realitas berbicara lain. Jarak menuju Sendang Putri memang tinggal sekitar 800 meter. Tetapi jarak di peta tidak selalu berarti jarak di lapangan. Vegetasi yang terlalu rapat, medan yang ekstrem, serta keterbatasan waktu dan tenaga membuat jalur tersebut benar-benar tak tertembus. Keputusan pun diambil, kembali. Sebuah kegagalan yang harus diterima. Namun, seperti halnya alam selalu menyisakan kejutan, perjalanan pulang justru menghadirkan temuan yang tak terduga. Di beberapa titik vegetasi, pada ketinggian antara 0,6 hingga 4 meter dari permukaan tanah, tim menemukan anggrek epifit yang jarang terlihat, dikenal sebagai anggrek hantu. Tumbuh menempel pada batang-batang pohon di tengah kelembapan hutan, spesies ini menunjukkan karakter unik, nyaris tak berdaun, menyatu dengan lingkungan, dan hanya menampakkan dirinya pada kondisi tertentu. Bukan satu atau dua, tetapi tersebar dalam satu kawasan yang relatif terkonsentrasi. Sebuah “surga tersembunyi” bagi anggrek hantu di Pulau Nusa Barung. Ekspedisi ini mungkin tidak berhasil menembus Sendang Putri. Namun kegagalan tersebut justru membuka pemahaman baru, bahwa tidak semua ruang harus ditaklukkan untuk bisa dipahami. Sumbergempol telah menunjukkan dirinya sebagai pusat kehidupan, tempat bertemunya rusa, babi, reptil, hingga mikroorganisme yang tak kasatmata. Sementara hutan di sekitarnya menyimpan keindahan lain dalam wujud anggrek hantu yang hidup dalam senyap. Di Nusa Barung, keberhasilan tidak selalu diukur dari jarak yang ditempuh. Kadang, ia hadir dari keberanian untuk berhenti dan kemampuan untuk melihat apa yang selama ini tersembunyi. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bupati Selayar dan Dirjen KSDAE Teken Kerja Sama Kelola Taka Bonerate

Jakarta, 17 Juni 2026 – Sebuah langkah strategis untuk pengelolaan kawasan konservasi resmi terjalin hari ini. Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar menandatangani Kesepakatan Bersama. Acara berlangsung di ruang rapat kantor Ditjen KSDAE, Rabu sore. Bupati Kepulauan Selayar, H. Muh. Natsir Ali, mengawali sambutan dengan penuh optimisme. Menurutnya, daerahnya dianugerahi kekayaan laut dan perikanan yang luar biasa. Taman Nasional Taka Bonerate menjadi inti dari anugerah itu. "Kawasan ini bukan hanya aset ekologis, tapi juga motor ekonomi," tegas Bupati. Ia menyebut sektor perikanan dan ekowisata punya potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah daerah menyambut hangat sinergi yang terjalin. Sesi dilanjutkan dengan arahan dari Dirjen KSDAE, Prof. Satyawan Pudyatmoko. Ia menegaskan bahwa pengelolaan konservasi tak bisa berjalan sendiri. "Sinergitas dengan pemerintah daerah adalah kunci," ujarnya. Kesepakatan ini diharapkan mampu mendongkrak fungsi pengelolaan Taka Bonerate. Dirjen memberi target ambisius. Kawasan ini harus unggul, baik dalam pengelolaan wisata maupun sumber daya perikanan di zona tradisional. Untuk urusan promosi, ia meminta jangkauan lebih luas hingga mancanegara. Caranya, dengan memperbarui website dan media sosial dalam versi bahasa Inggris. Langkah ini juga untuk memecah konsentrasi pengunjung yang selama ini terpusat di taman nasional lain. Taka Bonerate disiapkan sebagai destinasi alternatif kelas dunia. Di sisi lain, Prof. Satyawan mengingatkan soal ancaman kawasan. Gangguan di TN Taka Bonerate harus terus ditekan. Tujuannya jelas, menjaga ekosistem terumbu karang tetap lestari. Dengan begitu, sumber daya perikanan di dalamnya pun berkelanjutan untuk masa depan. Sumber: Anam (Teks/ Foto/PEH), Taufik (Teks/ Foto/Humas) dan Asri (PEH/ Humas) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

TN Batang Gadis Serap 13 Juta Ton Emisi Karbon per Tahun

Mandailing Natal – Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) tidak hanya menjadi rumah bagi berbagai flora dan fauna khas Sumatera, tetapi juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mengurangi dampak perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap emisi karbon dari atmosfer. Berdasarkan hasil analisis data penutupan lahan kawasan TNBG, kawasan konservasi seluas 72.803,75 hektare ini mampu menyerap karbon sebesar 13.039.975,79 ton CO₂ per tahun. Besarnya kemampuan serapan karbon tersebut menunjukkan bahwa hutan TNBG berfungsi sebagai penyerap karbon alami (carbon sink) yang sangat penting dalam mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Jika dikonversikan, jumlah karbon yang diserap oleh kawasan TNBG setiap tahunnya setara dengan emisi yang dihasilkan oleh sekitar 2,8 juta mobil penumpang dalam satu tahun. Peningkatan emisi karbon merupakan salah satu penyebab utama terjadinya pemanasan global dan perubahan iklim. Dampaknya dapat dirasakan dalam berbagai bentuk, mulai dari meningkatnya suhu bumi, perubahan pola cuaca, berkurangnya keanekaragaman hayati, hingga meningkatnya risiko terjadinya bencana hidrometeorologi. Dalam kondisi tersebut, keberadaan kawasan hutan yang tetap terjaga menjadi salah satu solusi alami yang efektif untuk membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Selain berfungsi sebagai habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna, hutan TNBG juga memiliki peran strategis sebagai penyimpan dan penyerap karbon, pengatur tata air, serta penyangga kehidupan bagi masyarakat di sekitar kawasan. Oleh karena itu, upaya perlindungan dan pengelolaan kawasan menjadi sangat penting untuk memastikan fungsi ekologis tersebut tetap terjaga. Kepala Balai Taman Nasional Batang Gadis, Ir. Agusman, S.P., M.Sc., menyampaikan bahwa kemampuan serapan karbon yang dimiliki TNBG merupakan bukti nyata pentingnya menjaga kelestarian kawasan hutan. Menurutnya, hutan yang tetap terjaga tidak hanya memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga berkontribusi langsung dalam mengurangi dampak perubahan iklim yang saat ini menjadi tantangan global. "Taman Nasional Batang Gadis memiliki peran yang sangat penting sebagai penyerap karbon alami. Oleh karena itu, menjaga kelestarian kawasan ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan dukungan dan partisipasi seluruh masyarakat. Hutan yang lestari akan terus memberikan manfaat bagi lingkungan, masyarakat, dan generasi mendatang," ujar Agusman. Untuk menjaga fungsi serapan karbon tersebut, Balai Taman Nasional Batang Gadis secara konsisten melaksanakan patroli pengamanan dan penjagaan hutan guna mencegah berbagai gangguan seperti perambahan, pembalakan liar, dan aktivitas lain yang berpotensi merusak kawasan. Selain itu, Balai TNBG juga terus melakukan penyuluhan dan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan serta peran hutan dalam menyerap karbon dan mengurangi dampak perubahan iklim. ----------------------- Sumber: Humas Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Konflik Babi Kutil Bawean, BBKSDA Jatim Jaga Areal Kandang Jebak Tetap Kondusif

Bawean, 10 Juni 2026. Setelah tim penanganan konflik Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) berhasil menjebak satu koloni yang sering turun ke ladang, tim segera membentuk 2 tim untuk pelaksanaan lanjutan, Senin (8/6) dini hari. Satu Tim dengan personel 3 orang melakukan penjagaan ketat di sekitar lokasi kandang jebak guna mencegah warga yang bertangan untuk melihat hasil tangkapan. Menurut Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan, hal tersebut dilakukan agar keberadaan babi tidak terganggu dan terhindar dari stres akibat kehadiran penduduk yang ingin melihat. “Tim 1 ini juga memberikan sosialisasi dan pengarahan kepada masyarakat yang menghampiri kandang transit, mengenai kondisi satwa hingga menghimbau agar tidak melakukan hal-hal yang dapat menarik babi untuk keluar kawasan kembali,” ujarnya. Sedangkan, tim 2 bertugas memberi pakan/ minum kepada satwa tangkapan yang berada di dalam kandang. Tim ini juga bertanggung jawab untuk membuat sarang buatan yang sesuai dengan kondisi alami sebagai tempat berlindung satwa. “Tim ini juga bertugas melakukan penyemprotan air ke dalam dan sekitar kandang, hal ini dilakukan agar suhu dan kelembapan di dalam areal kandang tetap terjaga,” jelas pria berkacamata ini. Di Balai Desa Kumalasa, Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) juga menyerahkan bantuan kepada pengurus GAPOKTAN Desa Kumalasa berupa bahan baku jaring, Senin (8/6). Pada kesempatan tersebut Kepala Desa Kumalasa, Idham Cholik, mengucapkan banyak terimakasih atas perhatian BBKSDA Jatim terhadap masyarakat petani Desa Kumalasa. “Kami tetap ber komitmen untuk tetap dapat berkolaborasi dengan BBKSDA Jawa Timur, dan akan selalu mengingatkan kepada warga kami untuk tidak melakukan aktifitas bakar-bakar sampah sembarangan, utamanya yang berdekatan dengan kawasan suaka margasatwa,” pungkas Cholik. Selanjutnya tim penanganan konflik segera menyelesaikan pembuatan kandang angkut satwa, dengan tetap berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk jalannya pemindahan satwa konflik. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ladang Minyak ExxonMobil Mencekam, 7 Ular Berhasil Dievakuasi

Bojonegoro, 8 Juni 2026. Seksi KSDA Wilayah ll Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menerima penyerahan satwa liar dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL), 4 Juni 2026. Satwa-satwa tersebut berupa seekor Sanca Bodo dan enam ekor Kobra Jawa, semua satwa dievakuasi dari ladang minyak milik EMCL di Gayam, Kabupaten Bojonegoro. Ular-ular tersebut dijumpai oleh petugas di sekitar lokasi ladang minyak milik ExxonMobil Cepu Limited beberapa hari sebelumnya. Dalam situasi seperti ini, respons cepat sangat dibutuhkan untuk menjaga keselamatan pekerja, serta untuk memastikan satwa tidak menjadi korban dari ketakutan yang sering kali berujung pada tindakan fatal. Kemunculan ular di ruang-ruang publik sejatinya bukan tanpa sebab. Perubahan tutupan lahan, berkurangnya habitat alami, serta meningkatnya ketersediaan mangsa yang cukup di sekitar lokasi bisa menjadi faktor pendorong utama. Dan keberadaan mereka di lokasi tersebut, sejatinya bagian dari upaya mereka dalam bertahan hidup. Kegiatan evakuasi yang dilakukan oleh ExxonMobil Cepu Limited dan penanganan yang dilakukan BBKSDA Jawa Timur secara tidak langsung menunjukkan upaya perlindungan terhadap manusia tanpa mengorbankan keberlangsungan hidup satwa. Hal tersebut memperlihatkan bahwa mitigasi konflik menjadi salah satu kunci dalam menjaga keanekaragaman hayati di tengah deru pembangunan. Saat ini, keseluruhan satwa berada dalam perawatan sementara di kandang transit milik Kantor Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Untuk dilakukan observasi terhadap kondisi fisik dan perilaku satwa guna menentukan langkah penanganan selanjutnya, termasuk kemungkinan pelepasliaran ke habitat alaminya. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tanpa Alfa, 7 Ekor Babi Kutil Masuk Kandang Jebak

Bawean, 8 Juni 2026. Dalam beberapa waktu belakangan, intensitas perjumpaan dengan Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) meningkat, memicu keresahan warga di sekitar Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Perubahan lanskap di Kumalasa telah menciptakan ruang interaksi baru. Area penampungan sampah dan lahan terbuka menjadi titik yang secara konsisten dikunjungi Babi Kutil Bawean. Fenomena tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika ekosistem yang sedang berubah. Melalui analisis jejak dan pola aktivitas, kandang jebak ditempatkan di lokasi strategis pada tanggal 11 Mei 2026 yang lalu. Pertemuan dan diskusi secara maraton telah dilakukan Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dengan stakeholder terkait, sambil terus memantau perkembangan pergerakan satwa target disekitar kandang jebak melalui kamera jebak. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini juga melibatkan GAPOKTAN Desa Kumalasa beserta para petani sekitar kawasan. Pihak Desa Kumalasa sangat menyambut baik kegiatan kolaboratif ini dengan menawarkan bantuan, sebagai bentuk kontribusi dukungannya. Seperti penggunaan Balai Desa sebagai pos selama kegiatan berlangsung. Tim juga melakukan penyesuaian kondisi kandang jebak dengan menutup atau menambahkan ranting dan dedaunan di sekeliling pagar kandang. Tindakan ini diharapkan dapat menyamarkan bentuk kandang agar terlihat alami dan mengecoh satwa target untuk masuk ke dalamnya. Pada Senin (8/6) dini hari, sebanyak 7 ekor Babi Kutil berhasil dijebak dalam kandang jebak. Ketujuh ekor babi tersebut merupakan koloni selama ini sering terpantau turun ke lokasi kandang jebak. Dengan tertangkapnya koloni Babi Kutil ini, tim langsung melakukan penutupan pada sekeliling sisi kandang menggunakan terpal, yang ditujukan untuk mengurangi stress pada satwa. Tim segera membuat jadwal untuk pemberian pakan/minum dan penjagaan di areal transit satwa hasil penangkapan. Hal ini dimaksudkan untuk mitigasi potensi keramaian dari warga yang ingin satwa hasil tangkapan, sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan stress pada satwa. Sumber: Agus Irwanto - Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Nadi Satwa Liar Yang Akhirnya Terungkap Di Nusa Barung

Jember, 8 Juni 2026. Di sebuah pulau yang lama berdiri dalam sunyi, terpisah dari hiruk pikuk daratan Jawa, sebuah temuan kecil mengubah cara manusia memahami kehidupan liar. Di tengah rimbunnya hutan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, dua titik air tawar yang selama ini hanya beredar dalam cerita lisan akhirnya terkonfirmasi, Sumber Tangis dan Sendang Putri. Temuan ini bukan sekadar catatan geografis. Ia adalah jawaban atas pertanyaan mendasar dalam ekologi pulau: dari mana kehidupan bertahan ketika air menjadi sumber yang langka? Kegiatan ini merupakan bagian dari riset bertajuk “Pengembangan Teknik Identifikasi Jenis dan Kualitas Habitat Satwa Liar di Pulau Nusa Barung melalui Integrasi Metode Konvensional dengan e-DNA, Soundscape, dan Citra Satelit”. Pelaksanaannya pada 2 hingga 15 Juni 2026 dengan sumber pendanaan dari LPDP-BRIN melalui skema Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM). Kegiatan ini melibatkan sedikitnya 15 orang. Tim ekspedisi lintas lembaga ini terdiri dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Yayasan Generasi Biologi Indonesia, Yayasan Pakarti, Yayasan BBC dan Birdpacker, serta relawan konservasi. Menariknya, informasi awal mengenai keberadaan dua sumber air tersebut tidak berasal dari data ilmiah formal, melainkan dari pengetahuan lokal. Warga yang beraktivitas mencari ikan di perairan selatan Pulau Nusa Barung menyebutkan adanya sumber air di tengah pulau. Namun, berbeda dari asumsi umum yang mengandalkan jalur laut, mereka tidak menggunakan perahu untuk mengakses lokasi tersebut. Mereka melintasi pulau dari satu sisi ke sisi lain, tanpa peta, menembus hutan, mengikuti jalur alami yang hanya mereka pahami, sehingga cerita tentang sumber air itu lama berada di antara keyakinan dan keraguan ilmiah. Ekspedisi dimulai dari Teluk Cambah. Perahu yang membawa tim perlahan menepi di pantai berbatu, diiringi debur ombak Samudra Hindia yang tak pernah benar-benar tenang. Di titik ini, interaksi manusia dengan lanskap liar dimulai. Tenda didirikan, logistik disusun, dan menjelang senja, tim mulai membaca tanda-tanda kehidupan. Hari pertama menghadirkan gambaran awal ekosistem yang masih utuh. Aktivitas herpetofauna mulai teridentifikasi, sementara di atas kanopi, enam individu Elang Ular Bido terlihat melintas, indikasi kuat bahwa rantai makanan di kawasan ini masih berjalan secara alami. Namun tujuan utama ekspedisi berada jauh dari pesisir. Hari kedua menjadi awal perjalanan yang sesungguhnya. Tiga belas anggota tim bergerak masuk ke jantung pulau, meninggalkan garis pantai dan memasuki hutan tropis yang semakin rapat. Jalur yang dilalui bukan jalur manusia, melainkan jejak satwa yang samar. Dengan skema flying camp, tim membawa logistik terbatas untuk bertahan di tengah hutan. Targetnya jelas, membuktikan keberadaan Sumber Tangis dan Sendang Putri. Namun alam tidak memberikan jawaban dengan mudah. Hingga sore hari, tanda-tanda keberadaan air belum juga ditemukan. Medan yang berat, vegetasi yang rapat, serta keterbatasan logistik mulai menguji ketahanan tim. Malam itu, mereka beristirahat dalam ketidakpastian, di antara keyakinan ilmiah dan kemungkinan bahwa informasi yang mereka kejar hanyalah cerita tanpa bukti. Pagi hari ketiga mengubah segalanya. Di sekitar lokasi camp, tim menemukan indikasi keberadaan air. Setelah dilakukan verifikasi, titik tersebut dipastikan sebagai Sendang Putri. Sebuah kepastian yang selama ini hanya hidup dalam cerita warga. Eksplorasi lanjutan dilakukan sambil turun kembali ke Teluk Jeruk. Sumber Tangis, menjadi titik analisis. Di sinilah gambaran ekologis yang lebih besar mulai terlihat. Tanah di sekitar kedua sumber air tersebut dipenuhi jejak satwa. Tapak rusa dan babi hutan terlihat jelas, membentuk jalur-jalur yang mengarah ke sumber air. Bekas aktivitas menunjukkan bahwa satwa datang secara rutin, tidak hanya untuk minum, tetapi juga untuk memperoleh mineral alami. Fenomena ini menegaskan bahwa kedua titik tersebut merupakan pusat kehidupan bagi satwa liar di tengah pulau. Berbeda dengan satwa di wilayah pesisir yang masih memiliki alternatif sumber air, satwa di bagian interior sepenuhnya bergantung pada dua titik ini. Tanpa Sumber Tangis dan Sendang Putri, keseimbangan ekologis di tengah Pulau Nusa Barung berpotensi terganggu. Ketua Tim Peneliti, Dr. Tri Atmoko, Peneliti Ahli Utama dari Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan BRIN, menegaskan pentingnya temuan ini. “Dalam sistem ekologi pulau, sumber air tawar adalah faktor pembatas yang menentukan pola kehidupan. Apa yang kami temukan di Nusa Barung menunjukkan bahwa dua titik ini adalah pusat aktivitas satwa. Ini bukan hanya sumber air, tetapi juga sumber mineral dan ruang interaksi ekologis. Ini adalah simpul penting yang harus dijaga dalam pengelolaan kawasan konservasi,” ujarnya. Selain mamalia besar, tim juga mencatat keberagaman herpetofauna, termasuk indikasi jenis gecko yang belum pernah terdokumentasi sebelumnya. Temuan ini memperkuat bahwa Nusa Barung masih menyimpan potensi biodiversitas yang belum sepenuhnya terungkap. Namun ekspedisi ini tidak lepas dari tantangan. Pada hari ketiga, gelombang tinggi menghambat pergerakan tim kembali ke Teluk Cambah. Ketiga belas anggota tim terpaksa bertahan di Teluk Jeruk dengan perbekalan terbatas. Situasi ini menegaskan bahwa eksplorasi di kawasan terpencil menuntut bukan hanya kemampuan ilmiah, tetapi juga ketahanan fisik dan mental. Baru pada pagi hari keempat, ketika kondisi laut membaik, tim dapat melanjutkan perjalanan. Dari keseluruhan ekspedisi, satu pemahaman menjadi semakin jelas: di tengah kerasnya lanskap Pulau Nusa Barung, kehidupan bertumpu pada sesuatu yang sederhana, air. Dan ketika air hanya tersedia di titik-titik tertentu, maka seluruh sistem kehidupan akan berputar di sekitarnya. Sumber Tangis dan Sendang Putri kini bukan lagi sekadar cerita. Mereka adalah bukti bahwa pengetahuan lokal dan pendekatan ilmiah dapat saling melengkapi, mengungkap realitas yang selama ini tersembunyi. Di tengah hutan yang sunyi, dua titik kecil itu terus mengalir. Menjadi nadi yang menjaga kehidupan tetap berlangsung, diam, tersembunyi, namun menentukan segalanya. Di tempat yang nyaris tak tersentuh, kehidupan tidak bergantung pada banyak hal, cukup satu: air. Dan dari sanalah, seluruh kehidupan menemukan jalannya. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Cekibar Jawa Meluncur Tanpa Suara, Isyarat Alam di Awal Ekspedisi Nusa Barung

Jember, 4 Juni 2026. Pagi itu berjalan seperti biasa. Udara masih menyimpan sisa embun, dan cahaya matahari baru saja menembus sela dedaunan di halaman depan Pondok Kerja Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Jember di Puger, 3 Juni 2026. Di bawah rindangnya pohon mangga, diskusi kecil tengah berlangsung di antara tim herpetofauna, membahas pendekatan teknis, menyamakan persepsi identifikasi, dan menautkan pengalaman lapangan dengan metode ilmiah yang akan diterapkan di Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung. Percakapan mengalir tenang, dipenuhi istilah ilmiah dan rencana kerja. Hingga pada satu momen, tanpa banyak kata, salah satu personel perlahan meninggalkan lingkar diskusi. Langkahnya pelan, nyaris tak menarik perhatian. Ia berhenti di dekat pohon mangga, menatap ke arah batang, lalu diam. Kamera di tangannya terangkat, fokus diarahkan, dan dalam satu gerakan cepat, sebuah jepretan diambil. Tanpa penjelasan, ia kembali ke lingkar diskusi. Beberapa detik berlalu, sebelum akhirnya ia membuka hasil tangkapan gambarnya dan menunjukkan kepada rekan-rekannya. “Ini… Cekibar Jawa.” Keraguan sempat muncul. Beberapa anggota tim belum sepenuhnya yakin. Dalam diskusi ilmiah, identifikasi tidak pernah berdiri di atas asumsi. Mereka mendekat, memperhatikan lebih seksama, menganalisis bentuk tubuh, pola, hingga struktur membran yang tampak pada foto. Dan di situlah keyakinan mulai terbentuk. Seekor cekibar jawa, Draco volans, reptil arboreal yang dikenal dengan kemampuan meluncurnya, baru saja hinggap di batang pohon mangga, hanya beberapa meter dari tempat mereka berdiskusi. Diskusi terhenti, bukan karena gangguan, tetapi karena realitas lapangan yang tiba-tiba hadir di depan mata. Di Antara Metode dan Realitas Lapangan Kehadiran Cekibar Jawa pagi itu menjadi pembuka tak terencana bagi kegiatan yang justru dirancang untuk memahami kehidupan seperti dirinya. Tim ekspedisi yang terdiri dari unsur Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Besar KSDA Jawa Timur, Yayasan Generasi Biologi Indonesia, Yayasan Pakarti, dan Birdpacker tengah bersiap melaksanakan pengembangan teknik identifikasi jenis dan kualitas habitat satwa liar. Pendekatan yang dibangun bersifat integratif, menggabungkan pengamatan konvensional dengan teknologi mutakhir seperti analisis DNA lingkungan (environmental DNA/e-DNA), perekaman lanskap suara (soundscape), serta pemanfaatan citra satelit. Tujuannya bukan sekadar mencatat keberadaan satwa, tetapi memahami keterkaitannya dengan kualitas habitat secara menyeluruh. Namun pagi itu menghadirkan ironi kecil yang bermakna, di tengah upaya mendeteksi yang tak terlihat, satu individu justru hadir secara nyata, tanpa sensor, tanpa algoritma, tanpa perantara. Cekibar Jawa dan Lanskap yang Masih Bernapas Sebagai satwa arboreal, Cekibar Jawa sangat bergantung pada konektivitas vegetasi. Ia membutuhkan struktur tajuk pohon yang memungkinkan pergerakan antar batang tanpa harus turun ke tanah. Kemampuan meluncurnya bukan sekadar adaptasi unik, tetapi strategi bertahan hidup di lingkungan yang kompleks. Kemunculannya di pohon mangga, di ruang yang tidak sepenuhnya liar, menggambarkan bahwa lanskap tersebut masih menyimpan elemen ekologis yang mendukung kehidupan satwa. Fragmen habitat seperti ini seringkali luput dari perhatian. Ia bukan kawasan inti, bukan pula wilayah yang sepenuhnya alami. Namun dalam banyak kasus, justru menjadi penghubung penting dalam mosaik ekosistem. Dan dari satu individu kecil itulah, gambaran yang lebih besar mulai terbaca. Isyarat yang Tak Selalu Tertangkap Data Teknologi memberikan kemampuan baru dalam membaca alam. e-DNA memungkinkan deteksi spesies tanpa harus melihatnya secara langsung. Soundscape merekam kehadiran melalui suara. Citra satelit memetakan perubahan lanskap dalam skala luas. Namun semua itu bekerja dalam kerangka interpretasi. Apa yang terjadi pagi itu berbeda. Alam memperlihatkan dirinya secara langsung, tanpa perlu diterjemahkan. Momen sederhana itu menjadi pengingat bahwa di balik setiap data yang dikumpulkan, terdapat kehidupan yang nyata, bergerak, dan kadang hadir tanpa pola yang bisa diprediksi. Awal dari Perjalanan yang Lebih Panjang Diskusi kembali berlanjut setelah momen itu. Rencana tetap disusun, strategi tetap dimatangkan, dan ekspedisi ke Pulau Nusa Barung tetap menjadi tujuan utama. Namun ada pemahaman baru yang menyertai langkah mereka. Bahwa sebelum memasuki kawasan konservasi, mereka telah lebih dulu menemukan representasi kecil dari apa yang akan mereka pelajari. Seekor Cekibar Jawa, yang meluncur tanpa suara, hadir sejenak, cukup untuk meninggalkan kesan yang lebih dalam dari sekadar pengamatan biasa. Dalam konservasi, data adalah fondasi. Namun pengalaman lapangan adalah dimensi yang memberi makna. Dan terkadang, di sela diskusi kecil di bawah pohon yang tampak biasa, alam memilih cara paling sederhana untuk menyampaikan pesannya. Pagi itu, cekibar jawa tidak hanya meluncur. Ia memberi isyarat. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kenapa Anggrek di Hutan Jarang Terlihat? Ini Penjelasan Sederhananya!

Sidoarjo, 3 Juni 2026. Kalau Anda pernah masuk hutan, mungkin pernah bertanya: “Katanya anggrek banyak di hutan, tapi kok jarang kelihatan?” Pertanyaan itu wajar. Bahkan banyak orang mengira anggrek hutan itu langka. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu. Anggrek sebenarnya bisa saja ada di sekitar kita, hanya saja tidak selalu mudah terlihat. Ada beberapa alasan sederhana yang bisa menjelaskan hal ini. Pertama, anggrek tidak selalu berbunga. Bunga adalah bagian paling mencolok dari anggrek, yang membuat kita langsung mengenalinya. Tapi bunga itu hanya muncul pada waktu tertentu, dan biasanya tidak lama. Di luar masa berbunga, anggrek hanya berupa daun kecil atau bagian tumbuhan yang bentuknya mirip tanaman lain di lantai hutan. Jadi meskipun kita melewatinya, kita bisa saja tidak sadar. Kedua, anggrek punya “waktu tampil” sendiri. Seperti halnya buah musiman, anggrek juga mengikuti kondisi alam. Mereka biasanya berbunga saat kondisi lingkungan cocok, misalnya saat tanah cukup lembap, udara tidak terlalu panas, dan cahaya matahari pas. Jika kita datang di waktu yang berbeda, anggrek itu mungkin tetap ada, tapi belum atau sudah tidak berbunga. Ketiga, anggrek sangat pilih-pilih tempat hidup. Tidak semua bagian hutan cocok untuk anggrek. Mereka butuh kondisi tertentu, tanah yang lembap, naungan dari pohon, dan lingkungan yang tidak banyak terganggu. Bahkan beberapa anggrek juga bergantung pada jamur di dalam tanah untuk bisa tumbuh. Jadi kalau kondisi tempat berubah sedikit saja, anggrek bisa berhenti tumbuh atau tidak muncul ke permukaan. Karena itu, menemukan anggrek di hutan sebenarnya bukan hanya soal keberuntungan, tapi juga soal waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Hal penting yang perlu dipahami adalah tidak melihat anggrek bukan berarti anggrek itu tidak ada. Bisa jadi ia sedang “bersembunyi” dalam bentuk yang tidak mencolok, atau sedang menunggu kondisi yang tepat untuk berbunga. Bagi dunia konservasi, hal ini menjadi pelajaran penting. Untuk mengetahui kekayaan jenis tumbuhan di suatu kawasan, pengamatan tidak bisa dilakukan hanya sekali. Harus berulang, di waktu yang berbeda, bahkan di musim yang berbeda. Bagi masyarakat umum, ini juga mengajarkan cara baru melihat alam. Bahwa hutan tidak selalu menampilkan semua isinya sekaligus. Ada bagian-bagian yang hanya bisa dilihat jika kita sabar, teliti, dan datang di waktu yang tepat. Jadi, lain kali saat Anda berjalan di hutan dan tidak melihat anggrek, bukan berarti hutan itu kosong. Bisa jadi, anggrek-anggrek itu ada di sekitar Anda, diam, tersembunyi, dan menunggu saatnya untuk terlihat. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Hutan Menjadi Guru, Kisah 9 Siswa Menyapa Alam di Jantung Bawean

Gresik, 3 Juni 2026. Bersama petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik Bawean, sembilan siswa sekolah dasar melangkah perlahan menyusuri jalur setapak yang membelah hutan di Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, Selasa, 2 Juni 2026. Di hari yang biasanya dipenuhi riuh perayaan kelulusan, mereka justru memilih jalan yang berbeda, masuk ke dalam hutan, mendekat pada sesuatu yang selama ini hanya mereka kenal dari buku pelajaran: alam itu sendiri. Perjalanan ini bukan sekadar kegiatan luar ruang biasa. Bertajuk Forest Learning Journey: Road to HKAN 2026 – Menyapa Alam, Menjaga Masa Depan. Kegiatan ini difasilitasi oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui tim RKW 09 Gresik–Bawean, sebagai bentuk bina cinta alam di UPT SD Negeri 342 Gresik. Sembilan siswa kelas VI, didampingi sembilan guru, diajak memasuki kawasan konservasi bukan sebagai wisatawan, tetapi sebagai pembelajar, dan lebih jauh lagi, sebagai calon penjaga masa depan lingkungan. Sejak langkah pertama, pendekatan yang digunakan terasa berbeda. Tidak ada ruang kelas, tidak ada papan tulis. Hutan menjadi medium belajar, dan setiap elemen di dalamnya menghadirkan pelajaran yang hidup. Di titik awal perjalanan, peserta dibekali pemahaman tentang status kawasan konservasi, tentang aturan yang mengikatnya, fungsi ekologis yang dijaganya, serta batas-batas yang tidak boleh dilanggar. Pengetahuan ini bukan sekadar teori, ia menjadi kerangka berpikir untuk memahami lanskap yang mereka masuki. Semakin jauh mereka berjalan, hutan perlahan membuka dirinya. Pepohonan tinggi membentuk kanopi yang meredam cahaya, menciptakan suasana teduh dan lembap, mikroklimat yang menjadi rumah bagi berbagai bentuk kehidupan. Di tengah perjalanan, sebuah tanda sederhana berdiri tegak, pal batas kawasan. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya patok biasa. Namun bagi para siswa, itulah pelajaran pertama tentang ruang, tentang bagaimana manusia dan alam berbagi batas, dan bagaimana batas itu harus dihormati. Tim pendamping kemudian memperkenalkan lanskap konservasi Pulau Bawean secara lebih utuh. Mereka menjelaskan perbedaan antara Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, dua konsep yang selama ini terdengar abstrak bagi anak-anak. Di sinilah, konsep itu menemukan bentuk nyatanya. Kawasan ini bukan sekadar hutan, tetapi ruang hidup bagi satwa liar, termasuk salah satu spesies endemik yang menjadi kebanggaan Bawean, Rusa Bawean (Axis kuhlii), yang keberadaannya kian langka dan bergantung pada kelestarian habitatnya. Namun pelajaran paling berkesan justru datang dari sesuatu yang nyaris terlewatkan. Di lantai hutan yang lembap, di antara serasah daun dan bayang-bayang vegetasi bawah, tim menemukan anggrek tanah yang tengah berbunga. Ukurannya kecil, warnanya tidak mencolok, tetapi kehadirannya membawa makna besar. Berdasarkan identifikasi lapangan, spesies tersebut adalah Disperis neilgherrensis Wight, anggota Orchidaceae yang dikenal tumbuh pada kondisi mikrohabitat yang sangat spesifik dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Bagi para siswa, bunga itu mungkin sekadar bagian dari keindahan hutan. Namun bagi para petugas lapangan, ia adalah indikator, penanda bahwa hutan ini masih memiliki kualitas ekologis yang baik. Keberadaan anggrek tersebut menunjukkan bahwa kondisi lantai hutan, kelembapan, dan tutupan kanopi masih terjaga, memungkinkan spesies-spesies sensitif untuk tetap bertahan. Dalam konteks konservasi, temuan seperti ini menjadi bukti diam bahwa ekosistem masih bekerja sebagaimana mestinya. Perjalanan yang awalnya terasa sebagai petualangan perlahan berubah menjadi proses pemahaman. Setiap langkah menghadirkan pertanyaan, dan setiap penjelasan membuka perspektif baru. Hutan tidak lagi dilihat sebagai tempat yang jauh dan asing, melainkan sebagai sistem kehidupan yang kompleks, tempat di mana setiap elemen saling terhubung dan saling bergantung. Di titik akhir perjalanan, suasana menjadi lebih hening. Dalam sesi refleksi sederhana, para siswa mulai merangkai pengalaman mereka menjadi pemahaman yang utuh. Mereka berbicara tentang apa yang mereka lihat, tentang apa yang mereka rasakan, dan tentang apa yang kini mereka pahami. Tidak ada jawaban yang benar atau salah, yang ada hanyalah kesadaran yang mulai tumbuh. Momentum ini menjadi semakin bermakna karena bertepatan dengan hari pengumuman kelulusan mereka. Di saat banyak anak merayakannya dengan euforia, sembilan siswa ini justru mendapatkan sesuatu yang berbeda: pengalaman yang membekas, yang tidak hanya menandai akhir dari sebuah fase pendidikan, tetapi juga awal dari cara pandang baru terhadap dunia. Bagi BBKSDA Jatim, kegiatan ini bukan sekadar agenda edukatif. Ia merupakan bagian dari strategi yang lebih besar, membangun kesadaran konservasi melalui pendekatan langsung kepada generasi muda, khususnya di wilayah penyangga kawasan. Pendekatan berbasis pengalaman seperti ini terbukti mampu menjembatani kesenjangan antara pengetahuan dan kepedulian, antara teori dan realitas. Langkah yang ditempuh para siswa hari itu memang tidak jauh, hanya sejauh jalur setapak di Gunung Besar. Namun makna dari perjalanan itu melampaui jarak yang mereka tempuh. Di tengah hutan yang sunyi, mereka belajar tentang batas, tentang keseimbangan, dan tentang tanggung jawab yang tidak tertulis. Dan mungkin, tanpa mereka sadari sepenuhnya, pada hari itu sebuah benih telah ditanam, benih kesadaran yang kelak akan tumbuh, membentuk cara mereka memandang alam, dan menentukan bagaimana mereka memperlakukannya di masa depan. Di jantung Bawean, hutan tidak hanya berdiri sebagai bentang alam. Ia hadir sebagai guru, diam, namun mengajarkan segalanya. Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Benteng Sunyi Penopang Kehidupan. Bagaimana Keanekaragaman Hayati Menjaga Jawa Timur dari Krisis Ekologi yang Tak Terlihat ?

Surabaya, 3 Juni 2026. Pagi belum sepenuhnya terang ketika embun masih bertahan di pucuk daun, dan hutan bekerja dalam diam. Tidak ada suara mesin, tidak ada tanda peringatan. Namun di balik kesunyian itu, sebuah sistem raksasa sedang berjalan, menyaring air, mengikat karbon, menjaga tanah tetap hidup. Di sanalah keanekaragaman hayati bekerja. Bukan sebagai lanskap yang indah semata. Namun, sebagai sistem penopang kehidupan yang menentukan apakah manusia dapat terus bertahan di tengah krisis lingkungan yang kian nyata. Keanekaragaman hayati mencakup tiga tingkat utama, variasi genetik, spesies, dan ekosistem. Ketiganya membentuk jaringan kompleks yang menopang apa yang dikenal sebagai jasa ekosistem, mulai dari penyediaan air bersih, penyerbukan tanaman, hingga pengendalian iklim. Di dalam tanah hutan Jawa Timur, mikroorganisme mengurai bahan organik menjadi unsur hara. Proses ini menjaga kesuburan tanah dan memastikan regenerasi vegetasi tetap berlangsung. Di atasnya, tutupan hutan berfungsi sebagai penyerap karbon alami, mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Sementara itu, serangga penyerbuk dan burung memainkan peran vital dalam menjaga produktivitas tanaman, termasuk tanaman pangan yang dikonsumsi manusia. Sistem ini tidak pernah berhenti. Ia bekerja tanpa menunggu manusia untuk menyadarinya. Ketika Satu Hilang, Semua Terguncang Ekosistem tidak dibangun dari komponen yang berdiri sendiri. Ia adalah jaringan hubungan yang saling bergantung. Dalam ilmu ekologi, fenomena trophic cascade menunjukkan bagaimana hilangnya satu spesies, terutama predator puncak, dapat memicu perubahan berantai dalam seluruh sistem. Ketika predator berkurang, populasi herbivora meningkat. Vegetasi tertekan. Tanah kehilangan daya ikat. Air tidak lagi terserap dengan baik. Dampaknya meluas dari degradasi hutan hingga meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi. Dengan kata lain, hilangnya satu spesies bukan sekadar kehilangan biologis, tetapi kehilangan fungsi ekologis. Jawa Timur Dan Benteng Yang Masih Bertahan Di tengah tekanan pembangunan dan pertumbuhan populasi, Jawa Timur masih menyimpan kantong-kantong keanekaragaman hayati yang menjadi benteng ekologis. Di Pulau Bawean, rusa endemik bertahan dalam ruang hidup yang terbatas, menjadi indikator sensitif perubahan lingkungan. Di kawasan hutan konservasi daratan, burung pemangsa menjaga keseimbangan rantai makanan. Sementara itu, di wilayah pesisir, terumbu karang tidak hanya menjadi pusat biodiversitas laut, tetapi juga pelindung alami dari abrasi dan gelombang ekstrem. Ekosistem-ekosistem ini membentuk satu sistem besar yang saling terhubung, menjaga stabilitas lingkungan dari hulu hingga hilir. Namun, benteng ini tidak tanpa ancaman. Perubahan tata guna lahan, fragmentasi habitat, serta aktivitas manusia yang tidak terkendali telah mengurangi daya dukung ekosistem secara perlahan. Di banyak wilayah, tanda-tandanya mulai muncul, salah satunya melalui meningkatnya konflik antara manusia dan satwa liar. Ketika ruang hidup satwa menyempit, mereka terdorong keluar dari habitatnya. Fenomena ini bukan sekadar konflik, melainkan indikator ekologis bahwa keseimbangan sistem mulai terganggu. Ditambah dengan tekanan perubahan iklim global, sistem yang selama ini stabil kini berada dalam kondisi yang semakin rentan. Konservasi: Menjaga Sistem, Bukan Sekadar Spesies Menjawab tantangan tersebut, konservasi tidak lagi dapat dipahami sebagai upaya perlindungan spesies semata. Ia adalah upaya menjaga fungsi ekosistem secara utuh. Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan seperti pemantauan berbasis SMART, pengelolaan adaptif, serta inovasi mitigasi konflik menjadi bagian dari strategi konservasi modern. Namun, keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kebijakan. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor kunci. Di berbagai wilayah, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab institusi, tetapi gerakan bersama untuk menjaga kehidupan. Ketahanan Ekologi dan Masa Depan Manusia Ekosistem yang memiliki keanekaragaman tinggi cenderung lebih stabil dan mampu beradaptasi terhadap gangguan. Konsep ini dikenal sebagai resiliensi ekologi. Dalam konteks ini, keanekaragaman hayati bukan hanya aset lingkungan, tetapi juga sistem pertahanan alami manusia terhadap krisis, baik krisis iklim, pangan, maupun air. Tanpa keanekaragaman hayati, manusia kehilangan kemampuan untuk bertahan dalam jangka panjang. Menjaga Yang Tak Terlihat Tantangan terbesar dalam perlindungan keanekaragaman hayati adalah sifatnya yang tidak kasat mata. Tidak ada tanda peringatan ketika fungsi ekosistem mulai menurun. Tidak ada alarm ketika satu spesies menghilang. Namun dampaknya nyata, perlahan, sistemik, dan sering kali baru disadari ketika sudah mencapai titik kritis. Hari ini, manusia berada di persimpangan, menjadi bagian dari solusi atau justru mempercepat keruntuhan sistem yang menopang kehidupannya sendiri. Keanekaragaman hayati adalah benteng yang bekerja dalam diam. Ia tidak meminta perhatian, tetapi menentukan masa depan. Keanekaragaman hayati telah menjaga keseimbangan bumi selama jutaan tahun. Kini, dalam waktu yang jauh lebih singkat, manusia menjadi faktor penentu apakah sistem itu akan tetap bertahan atau perlahan runtuh. Tidak ada teknologi yang mampu sepenuhnya menggantikan kompleksitas kerja alam. Tidak ada rekayasa buatan yang mampu meniru keseimbangan yang telah terbentuk melalui proses evolusi yang panjang. Karena itu, menjaga keanekaragaman hayati bukan lagi sekadar pilihan kebijakan, tetapi keputusan peradaban. “Kita tidak sedang menyelamatkan alam. Kita sedang memastikan bahwa manusia masih memiliki tempat untuk hidup di dalamnya.” Dan mungkin, pertanyaan paling jujur yang harus dijawab hari ini bukanlah apa yang akan terjadi pada alam jika manusia terus merusaknya, melainkan: “Apa yang akan terjadi pada manusia, ketika alam berhenti menopangnya?” Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda dan Agus Irwanto (Foto) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Gandeng Swasta Hingga Luncurkan Aplikasi, Menhut Transformasikan Pengelolaan Taman Nasional di Indofest 2026

Jakarta, 4 Juni 2026 – Merayakan satu dekade event outdoor terbesar di Indonesia, Indonesia Outdoor Festival (Indofest) 2026 tahun ini hadir dengan tema besar "United by Nature, Strengthened by Adventure". Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, membuka Indofest 2026 sekaligus meresmikan aplikasi Ayo ke Taman Nasional (TN) di main stage, Hall B, Jakarta Convention Center. Edukasi, kolaborasi, dan eksplorasi adalah semangat yang dibawa Indofest. Hal ini selaras dengan program Kementerian Kehutanan (Kemenhut) melalui Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) mengingat sekitar 80% aktivitas outdoor berada di kawasan Kemenhut. Aplikasi Ayo ke Taman Nasional merupakan sebuah platform terintegrasi untuk pembelian tiket dan pencarian informasi secara cepat dan sederhana. Aplikasi ini sudah dapat diunduh melalui Google Playstore dan situs web resmi ayoketamannasional.kehutanan.go.id. "Saya memiliki tanggung jawab moral untuk melindungi TN dan TWA. Salah satu tantangannya adalah proses digitalisasi. Sistem bonggol yang tidak efektif, tidak transparan, dan tidak akuntabel harus kita ubah," tegas Raja Juli. Beliau menambahkan bahwa lewat transformasi digital, saat ini sekitar 93% layanan di Taman Nasional telah menerapkan sistem e-ticketing. Kunci dari transformasi digital ini adalah keberanian mengubah paradigma dan fokus pada wilayah yang masih mengalami kendala listrik serta internet. Solusi yang disiapkan meliputi penyediaan panel surya (solar panel) dan pemanfaatan teknologi yang efisien hingga ke wilayah pelosok. Tidak hanya transformasi digital, Raja Juli juga mendorong inovasi pembiayaan untuk pengelolaan Taman Nasional tanpa membebani APBN. Langkah ini menjadi strategi baru dalam mengatasi keterbatasan dana pengelolaan kawasan konservasi yang penuh tantangan. "Telah terbit Keppres Nomor 8/2026 tentang Inovasi Pembiayaan Taman Nasional. Kita tidak hanya bergantung pada APBN, tetapi juga mengajak pihak swasta untuk bersama-sama membiayai Taman Nasional. Swasta mendapatkan keuntungan dari pengelolaan, dan keuntungan tersebut tentunya akan kembali ke alam," jelas Menhut. Raja Juli juga menyampaikan bahwa implementasi Keppres tersebut akan menyasar tiga Taman Nasional favorit, yaitu TN Komodo, TN Gunung Rinjani, dan TN Bromo Tengger Semeru. Ketiganya akan dibentuk sebagai unit bisnis Badan Layanan Umum (BLU). Dengan demikian, pendapatan yang diperoleh dari Taman Nasional tersebut dapat diputar kembali (reinvest) untuk memperbaiki sarana prasarana serta mendukung upaya konservasi lainnya. (y) Sumber: Setditjen KSDAE

Menampilkan 49–64 dari 2.378 publikasi