Senin, 24 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur dan Institut Pertanian Malang Deklarasikan Kolaborasi Konservasi TWA Gunung Baung

Pasuruan, 4 Agustus 2026. Upaya menjaga kawasan konservasi tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, peneliti, dan masyarakat agar pengelolaan kawasan mampu menjawab tantangan ekologis yang terus berkembang. Atas dasar itulah pada 3 Agustus 2026 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama Institut Pertanian Malang (IPM) mendeklarasikan kolaborasi konservasi di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung. Sebagai langkah bersama membangun kawasan konservasi yang adaptif, berbasis ilmu pengetahuan, sekaligus menjadi laboratorium alam bagi pendidikan tinggi. Deklarasi tersebut menjadi tonggak dimulainya kerja sama selama tiga tahun yang berfokus pada penguatan pengelolaan kawasan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Tahap awal kolaborasi diarahkan pada inventarisasi tumbuhan asing invasif (Invasive Alien Species/IAS), salah satu isu penting yang berpotensi memengaruhi keseimbangan ekosistem apabila tidak dikenali dan dikelola sejak dini. Rektor Institut Pertanian Malang, Dr. Ir. Farida, M.P., menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk nyata implementasi program Kampus Berdampak, yaitu menghadirkan perguruan tinggi sebagai bagian dari solusi terhadap berbagai persoalan lingkungan. "Deklarasi ini telah kami persiapkan sejak tahun lalu. Kami mengucapkan terima kasih kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur yang telah membuka ruang bagi sivitas akademika untuk berkontribusi langsung dalam pengelolaan kawasan konservasi. Sebelumnya kami pernah melakukan penelitian tentang kajian tumbuhan obat di TWA ini, dan kini kami memulai inventarisasi tumbuhan asing invasif. Kami berharap kerja sama ini menjadi wadah yang berkelanjutan bagi penelitian, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh kawasan konservasi maupun dunia akademik," ujarnya. Beliau menambahkan bahwa sebagai salah satu institusi pendidikan kehutanan tertua di Jawa Timur, Institut Pertanian Malang memiliki tanggung jawab moral untuk menghasilkan ilmu pengetahuan yang memberikan manfaat nyata bagi pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan bahwa kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan bagian penting dari strategi pengelolaan kawasan konservasi yang berbasis ilmu pengetahuan. Menurutnya, kawasan konservasi tidak hanya berfungsi sebagai ruang perlindungan keanekaragaman hayati, tetapi juga sebagai laboratorium alami untuk melahirkan inovasi dalam pengelolaan ekosistem. "Kami berharap deklarasi ini menjadi contoh baik bagi mahasiswa sekaligus memperkuat sinergi antara pengelola kawasan konservasi dengan dunia akademik. Salah satu tugas Balai Besar KSDA Jawa Timur adalah membangun ruang edukasi dan kolaborasi bersama perguruan tinggi maupun lembaga penelitian. Kawasan konservasi harus menjadi laboratorium alami yang mampu menghasilkan pengetahuan baru untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan," ujar Nur Patria. Beliau menjelaskan bahwa inventarisasi tumbuhan asing invasif menjadi langkah strategis untuk mendeteksi perubahan komposisi vegetasi yang berpotensi mengancam ekosistem kawasan. "Pengalaman menunjukkan bahwa spesies yang awalnya dianggap bermanfaat dapat berkembang menjadi ancaman apabila tidak dikelola secara tepat," tambahnya. Menurutnya, keberadaan TWA Gunung Baung yang berinteraksi dengan masyarakat dan wisatawan juga membuka peluang masuknya spesies asing melalui berbagai media, termasuk biji tumbuhan yang terbawa tanpa disadari oleh aktivitas manusia. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa introduksi organisme asing dapat membawa konsekuensi ekologis yang perlu dipahami melalui penelitian yang komprehensif. Karena itu, BBKSDA Jawa Timur mendorong agar hasil inventarisasi tidak berhenti pada pengumpulan data, tetapi berkembang menjadi kajian mengenai pola penyebaran, karakteristik habitat, tingkat risiko, hingga strategi pengelolaan tumbuhan asing invasif yang dapat menjadi dasar penyusunan kebijakan konservasi berbasis bukti ilmiah. Lebih jauh, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap berbagai bentuk kolaborasi penelitian dan siap mendukung pengembangan jejaring akademik, termasuk apabila diperlukan fasilitasi untuk memperoleh dukungan pendanaan yang sejalan dengan tujuan konservasi. Melalui deklarasi ini, BBKSDA Jawa Timur dan Institut Pertanian Malang menegaskan bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang menjaga kawasan. Namun juga membangun ekosistem kolaborasi yang mempertemukan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan praktik pengelolaan lapangan. Diharapkan Taman Wisata Alam Gunung Baung menjadi model kemitraan antara pengelola kawasan konservasi dan perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia secara berkelanjutan. Sumber: Norlaili Isnaini & Fajar Dwi Nur Aji – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pulihkan Ekosistem, Perkuat Ekowisata Berkelanjutan BBKSDA Sulsel Peringati HKAN 2026 dengan Gerakan Pemulihan Ekosistem di Sejumlah Wilayah Konservasi

Makassar, 10 Agustus 2026 – Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2026 yang jatuh pada 10 Agustus, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) melaksanakan Gerakan Pemulihan Ekosistem secara serentak di sejumlah wilayah kerja. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan nasional yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pemulihan ekosistem, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pengembangan ekowisata yang berkelanjutan. Pelaksanaan kegiatan dipusatkan di Taman Wisata Alam (TWA) Lejja, Desa Bulue, Kecamatan Marioriwawo, Kabupaten Soppeng, yang menjadi salah satu kawasan konservasi unggulan sekaligus objek wisata alam ikonik di Sulawesi Selatan. TWA Lejja dikenal dengan potensi sumber air panas alami yang menjadi daya tarik utama. Keberadaan sumber air panas, bentang alam yang masih memiliki tutupan vegetasi, serta keanekaragaman hayati di sekitarnya menjadikan TWA Lejja memiliki nilai penting, tidak hanya dari sisi wisata, tetapi juga dari aspek ekologis sebagai kawasan konservasi. Gerakan pemulihan ekosistem di TWA Lejja dilaksanakan oleh BBKSDA Sulsel secara kolaboratif bersama PT Lamataesso Mattappa Perseroda Kabupaten Soppeng sebagai wujud sinergi nyata dalam pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan konservasi. Peringatan HKAN 2026 lingkup BBKSDA Sulsel di TWA Lejja dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dan elemen masyarakat Kabupaten Soppeng. Hadir antara lain Wakil Bupati Soppeng, Anggota DPRD Kabupaten Soppeng, perwakilan Polres Soppeng, Kejaksaan Negeri Soppeng, Kodim 1423, Camat Marioriwawo, Kepala Desa Bulue, unsur Forkopimda lainnya, para pimpinan perbankan se-Kabupaten Soppeng, Pengurus Dharma Wanita Persatuan BBKSDA Sulsel, Komunitas Pecinta Alam (KPA) Soppeng, serta Duta Budaya, Duta Pariwisata, dan Duta Lingkungan Kabupaten Soppeng. Kehadiran lintas sektor dan generasi muda ini mencerminkan kuatnya dukungan serta kesadaran kolektif terhadap pelestarian lingkungan. Rangkaian kegiatan diawali dengan Video Conference Gerakan Pemulihan Ekosistem secara serentak yang dipusatkan di TWA Angke Kapuk dan dipimpin oleh Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sambutan Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, Ir. Hasnawir, S.Hut., M.Sc., Ph.D., dan Wakil Bupati Soppeng, Ir. K.S. Dalle. Dalam sambutannya, Kepala Balai Besar KSDA Sulsel menyampaikan upaya Pemulihan Ekosistem (PE) seluas 27 hektar di Datae sebagai langkah konkret pemulihan kawasan. Sementara itu, Wakil Bupati Soppeng mengapresiasi sinergi seluruh pihak, sembari menegaskan pentingnya pengembangan ekowisata yang konsisten dalam menjaga habitat satwa dan melestarikan ekosistem untuk keberlangsungan sumber air panas TWA Lejja bagi generasi mendatang. Sebagai bagian dari Gerakan Pemulihan Ekosistem, di TWA Lejja dilaksanakan aksi penanaman pohon bersama yang melibatkan unsur Forkopimda, perwakilan instansi, Dharma Wanita, komunitas pecinta alam, para duta daerah, serta berbagai unsur masyarakat. Jenis tanaman yang ditanam meliputi eboni (Diospyros celebica), matoa (Pometia pinnata), salamSyzygium polyanthum, Pucuk merah: Syzygium myrtifolium (Syzygium spp.), Durian (Durio zibethinus) dan Mangga (Mangifera indica). Sebagai wujud pengembangan ekowisata berkelanjutan, pada kesempatan tersebut PT Lamataesso Mattappa selaku pemegang izin pengelolaan sarana wisata alam meresmikan fasilitas baru berupa Camping Ground di kawasan TWA Lejja. Fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan daya tarik wisata alam Lejja tanpa mengabaikan prinsip-prinsip perlindungan lingkungan dan keberlanjutan ekosistem. Gerakan Pemulihan Ekosistem dalam rangka HKAN 2026 tidak hanya dilaksanakan di TWA Lejja, tetapi juga berlangsung di sejumlah kawasan konservasi dan wilayah kerja BBKSDA Sulsel. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari gerakan serentak untuk memperkuat pemulihan ekosistem melalui penanaman pohon dan kegiatan konservasi yang melibatkan berbagai pihak. Di lingkup Bidang KSDA Wilayah I Palopo, kegiatan penanaman dilaksanakan di sejumlah lokasi, antara lain TWA Danau Towuti, TWA Nanggala III, Cagar Alam Faruhumpenai, Taman Nasional Gandang Dewata, kawasan Hutan Lindung Kelurahan Rangas, Kecamatan Simboro Kepulauan, Kabupaten Mamuju, serta Kawasan Wisata Desa Duampanua, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai mitra dan kelompok masyarakat, di antaranya KPA Pangngu'pu Padang, MTs DDI Basseang, MTs An-Nadir Beluak, Communitas Mannakarra Pets, Pemerhati Burung Maleo, dan KPA Kapak. Beragam jenis tanaman yang ditanam dalam kegiatan pemulihan ekosistem di wilayah tersebut antara lain kayu hitam atau eboni (Diospyros celebica), jambu-jambu (Eugenia spp.), betao (Calophyllum soulattri), gmelina (Gmelina arborea), durian (Durio zibethinus), alpukat (Persea americana), dan mahoni (Swietenia sp.). Kegiatan penanaman juga dilaksanakan di TWA Sidrap. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemulihan vegetasi di kawasan konservasi melalui penanaman jenis pohon yang sesuai dengan karakter kawasan. Selain itu, kegiatan penanaman dilaksanakan di kawasan TB Komara, Desa Cakura, Kabupaten Takalar, dengan melibatkan mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Jenis bibit yang ditanam dalam kegiatan tersebut meliputi jati dan mahoni. Pelaksanaan kegiatan di berbagai lokasi tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan ekosistem merupakan kerja bersama yang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Kolaborasi tersebut sekaligus menjadi sarana membangun kesadaran bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya ditentukan oleh keberadaan kawasan, tetapi juga oleh kepedulian dan partisipasi seluruh pihak. Melalui Gerakan Pemulihan Ekosistem HKAN 2026, BBKSDA Sulsel menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kawasan konservasi sekaligus membuka ruang kolaborasi dalam mengembangkan ekowisata yang berkelanjutan. Momentum HKAN 2026 menjadi pengingat bahwa menjaga alam bukan sekadar menanam pohon, tetapi memastikan ekosistem tetap berfungsi, keanekaragaman hayati tetap lestari, dan manfaat kawasan konservasi dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan
Baca Artikel

Tarsius Makassar: Pengendali Serangga, Teman Petani dan Penjaga Keseimbangan Ekosistem

Tarsius Makassar, Pengendali Serangga, Penjaga Keseimbangan Ekosistem – Foto: Taufiq Ismail Maros, Agustus - "Di hutan tropis, tidak semua pahlawan berukuran besar. Sebagian bekerja dalam diam, di bawah naungan malam, menjaga keseimbangan kehidupan melalui peran yang nyaris tak pernah disadari manusia." Ketika matahari tenggelam di balik bentang karst Maros–Pangkep, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, suasana hutan perlahan berubah. Burung-burung yang sejak pagi memenuhi tajuk pepohonan kembali ke sarang tidurnya. Cahaya jingga memudar, digantikan oleh kabut tipis yang menggantung di antara dinding-dinding batu kapur berusia jutaan tahun. Suara tonggeret, jangkrik, dan katak mulai mendominasi malam. Pada saat sebagian besar makhluk beristirahat, kehidupan lain justru dimulai. Dari balik rumpun bambu, sepasang mata besar memantulkan cahaya redup. Tubuh kecil itu nyaris tidak bergerak. Ia mengamati setiap daun yang bergoyang, setiap serangga yang melintas di udara. Dalam sekejap, kedua kaki belakangnya yang panjang mendorong tubuh mungilnya melesat beberapa meter ke ranting lain. Seekor belalang yang lengah menjadi santapan malamnya. Dialah tarsius makassar (Tarsius fuscus),primata nokturnal endemik Sulawesi Selatan yang telah menghuni kawasan Wallacea selama jutaan tahun. Meski hanya memiliki berat tubuh sekitar 113–133 gram (Supriatna, 2019), perannya dalam ekosistem jauh melampaui ukuran tubuhnya. Ia adalah predator malam, pengendali populasi serangga, sahabat alami bagi pertanian, sekaligus penanda kesehatan hutan tropis. Keberadaan tarsius makassar menjadi bukti bahwa keseimbangan alam sering kali dijaga oleh makhluk-makhluk kecil yang bekerja tanpa terlihat. Di balik wajahnya yang menggemaskan dan matanya yang besar, tersimpan kisah evolusi yang panjang, hubungan ekologis yang rumit, dan kontribusi penting bagi kehidupan manusia. Keajaiban Evolusi dari Wallacea Kawasan Wallacea dikenal sebagai salah satu laboratorium evolusi terbesar di dunia. Terletak di antara Paparan Sunda dan Paparan Sahul, wilayah ini menjadi rumah bagi ratusan spesies endemik yang berkembang secara terpisah selama jutaan tahun. Salah satunya adalah tarsius makassar. Menurut Groves dan Shekelle (2010), tarsius merupakan satu-satunya kelompok primata yang bersifat faunivora obligat, yaitu memperoleh hampir seluruh kebutuhan energinya dari hewan hidup. Karakteristik ini membedakannya dari sebagian besar primata lain yang mengonsumsi buah, daun, atau biji-bijian. Tubuh tarsius makassar merupakan hasil adaptasi evolusi yang luar biasa. Bola matanya begitu besar sehingga masing-masing memiliki ukuran yang hampir setara dengan volume otaknya. Adaptasi ini memungkinkannya menangkap cahaya secara maksimal pada malam hari. Tidak seperti kucing atau burung hantu yang memiliki lapisan pemantul cahaya di retina, tarsius mengandalkan ukuran mata untuk meningkatkan kemampuan penglihatannya. Kaki belakang yang memanjang berfungsi sebagai pegas biologis. Dalam sekali lompatan, ia mampu berpindah beberapa meter di antara ranting-ranting pohon. Leher begitu fleksibel, memungkinkan kepalanya berputar hingga 180 derajat ke kiri maupun ke kanan sehingga ia dapat mengamati lingkungan tanpa mengubah posisi tubuh. Kombinasi adaptasi tersebut menjadikan tarsius makassar sebagai salah satu pemburu malam paling efektif di hutan tropis. Pemburu yang Menjaga Keseimbangan Saat malam semakin pekat, aktivitas berburu dimulai. Belalang, jangkrik, ngengat, kumbang, rayap, laba-laba, capung, hingga burung dan kadal kecil menjadi sasaran utama. Mangsa yang bagi manusia mungkin tampak tidak berarti justru memiliki peran penting dalam kehidupan tarsius. Seekor tarsius makassar menghabiskan sebagian besar malam untuk berburu. Ia berpindah dari satu cabang ke cabang lain, berhenti beberapa saat untuk mengamati gerakan mangsa, lalu melompat dengan kecepatan yang mengagumkan. Hampir seluruh aktivitas hidupnya bergantung pada keberadaan serangga. Hubungan sederhana antara predator dan mangsa tersebut sesungguhnya merupakan salah satu mekanisme paling penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Predator mencegah populasi mangsa meningkat secara berlebihan. Tanpa predator, beberapa jenis serangga dapat berkembang menjadi hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengubah struktur komunitas tumbuhan. Di sinilah tarsius makassar memainkan peran yang sering tidak disadari. Pengendali Serangga Alami Dalam ilmu ekologi, keberadaan predator seperti tarsius merupakan bagian dari mekanisme pengendalian hayati (biological control). Predator membantu menekan populasi organisme lain sehingga tetap berada pada tingkat yang seimbang. Setiap malam, seekor tarsius memangsa sejumlah serangga yang berpotensi menjadi hama tanaman. Jika perilaku tersebut dilakukan oleh banyak individu dalam satu kawasan hutan, dampaknya terhadap dinamika populasi serangga menjadi sangat besar. Belalang yang dimangsa tidak lagi berkembang biak dengan cepat. Jangkrik yang tertangkap tidak sempat merusak tanaman muda. Kumbang pemakan daun kehilangan kesempatan untuk memperluas populasinya. Proses ini berlangsung secara alami tanpa bahan kimia, tanpa limbah, dan tanpa mengganggu organisme lain. Alam telah menciptakan sistem pengendalian yang bekerja jauh sebelum manusia mengenal pestisida. Cara tarsius memangsa serangga pun menunjukkan perilaku yang sangat khas. Penelitian Qiptiyah dkk. (2012) mengungkapkan bahwa tarsius memegang belalang menggunakan kaki depan secara bergantian dan bagian pertama yang dimakan adalah kepala, sedangkan sayapnya dibuang. Perilaku ini mencerminkan strategi berburu yang efisien dan selektif—kepala mengandung nutrisi penting, sementara sayap yang keras dan sulit dicerna tidak serta-merta dikonsumsi. Hasil pemantauan di kandang habituasi Suaka Tarsius Makassar (Sanctuary Tarsius fuscus) di kawasan wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, mengungkapkan bahwa seekor tarsius makassar mampu mengonsumsi 25 hingga 50 ekor serangga dalam satu malam. Angka ini menunjukkan kapasitas predasi yang sangat signifikan, terutama jika dikalikan dengan jumlah individu dalam satu kelompok dan populasi di suatu kawasan hutan. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan pemanfaatan musuh alami sebagai salah satu prinsip utama dalam Pengendalian Hama Terpadu (Integrated Pest Management). Pendekatan ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem agar pengendalian hama tidak hanya bergantung pada pestisida sintetis. Dalam konteks tersebut, tarsius makassar merupakan salah satu predator alami yang memiliki nilai ekologis tinggi. Teman Petani yang Bekerja Saat Manusia Tidur Habitat satwa liar di hutan sering kali berbatasan dengan lahan pertanian seperti kebun, ladang, dan sawah. Lanskap seperti ini menciptakan ruang bagi interaksi antara manusia dan satwa liar. Ketika para petani beristirahat setelah seharian bekerja, tarsius makassar mulai menjalankan aktivitasnya. Ia berburu di sekitar pepohonan, semak, dan vegetasi yang mengelilingi lahan pertanian. Tanpa disadari, satwa kecil tersebut membantu mengurangi populasi berbagai serangga yang dapat merusak tanaman. Koneri (2013) menunjukkan bahwa tarsius masih dapat ditemukan di bentang pertanian yang memiliki vegetasi alami sebagai habitat penyangga. Temuan ini mengindikasikan bahwa lanskap pertanian yang tetap mempertahankan tutupan pohon dan koridor hutan memungkinkan predator alami terus menjalankan fungsi ekologisnya. Bagi petani, keberadaan tarsius makassar dapat dipandang sebagai investasi ekologis. Semakin baik kualitas habitat di sekitar lahan pertanian, semakin besar peluang hadirnya musuh alami yang membantu mengendalikan populasi hama. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pestisida, tetapi juga menjaga kesehatan tanah, air, serangga penyerbuk, dan organisme lain yang mendukung produktivitas pertanian. Penjaga Keseimbangan Ekosistem Ekosistem hutan tropis merupakan jaringan kehidupan yang sangat kompleks. Tumbuhan menghasilkan energi melalui fotosintesis. Serangga memanfaatkan tumbuhan sebagai sumber makanan. Predator seperti tarsius mengendalikan populasi serangga. Predator yang lebih besar kemudian memangsa hewan-hewan kecil tersebut. Seluruh proses itu membentuk jaring-jaring makanan yang saling bergantung. Apabila satu komponen hilang, dampaknya dapat merambat ke seluruh sistem. Karena itulah para ahli sering menggunakan tarsius sebagai indikator kesehatan habitat. Populasi yang stabil menunjukkan bahwa hutan masih memiliki struktur vegetasi yang baik, ketersediaan serangga yang cukup, serta tingkat gangguan manusia yang relatif rendah. Sebaliknya, penurunan populasi tarsius sering menjadi tanda awal bahwa ekosistem sedang mengalami tekanan. Ancaman yang Terus Mengintai Perubahan bentang alam menjadi ancaman terbesar bagi tarsius makassar. Alih fungsi hutan menjadi permukiman, perkebunan, kawasan industri, maupun infrastruktur menyebabkan habitatnya terfragmentasi. Fragmentasi membuat kelompok-kelompok tarsius terisolasi sehingga sulit mencari pasangan dan mempertahankan keragaman genetik. Selain itu, penggunaan pestisida secara berlebihan juga dapat mengurangi populasi serangga yang menjadi sumber makanan utamanya. Shekelle dan Leksono (2004) menekankan bahwa konservasi tarsius tidak cukup hanya melindungi individunya, tetapi juga menjaga habitat beserta konektivitas antar kawasan hutan. Tanpa hutan yang utuh, kemampuan tarsius makassar menjalankan fungsi ekologisnya akan ikut hilang. Menjaga Sang Penjaga Malam Konservasi tarsius makassar sesungguhnya bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies endemik Sulawesi Selatan. Lebih dari itu, konservasi berarti menjaga proses ekologis yang menopang kehidupan. Setiap malam, ketika manusia terlelap, seekor tarsius terus berburu di antara pepohonan. Ia memangsa serangga, menjaga keseimbangan populasi, mendukung kesehatan hutan, dan secara tidak langsung membantu sistem pertanian di sekitarnya. Ia tidak pernah meminta penghargaan. Ia tidak pernah terlihat oleh sebagian besar manusia. Namun, keberadaannya menjadi bukti bahwa alam bekerja melalui hubungan-hubungan yang halus dan saling bergantung. Melindungi tarsius makassar berarti menjaga hutan yang menjadi rumahnya, dan mempertahankan predator alami yang mengendalikan hama. Tak hanya itu, juga memastikan bahwa bentang Wallacea tetap menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di dunia. Ketika malam kembali turun di Sulawesi Selatan dan suara duet tarsius menggema di antara tebing-tebing karst. Sesungguhnya alam sedang mengingatkan kita akan satu hal sederhana: keseimbangan kehidupan sering kali dipertahankan oleh makhluk-makhluk yang nyaris tak pernah kita lihat. Menjaga mereka bukan sekadar tindakan konservasi, melainkan investasi bagi keberlanjutan ekosistem dan masa depan manusia. Sumber: Kama Jaya Shagir, Supardi, Aswadi Hamid, & Syamsuddin – Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Daftar Pustaka Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. (2025a). Kelahiran Tarsius Makassar di Kandang Suaka Tarsius Makassar (Siaran Pers). Kementerian Kehutanan. https://ksdae.kehutanan.go.id/publikasi/berita/kelahiran-tarsius-makassar-di-kandang-suaka-tarsius-makassar-qYJ5BZhD/ Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. (2025b). Tarsius Makassar: Dinamika Populasi Spesies Kunci Wallacea. https://bantimurungbulusaraung.ksdae.kehutanan.go.id/tarsius-makassar-dinamika-populasi-spesies-kunci-wallacea/ FAO. (2018). Integrated Pest Management. Food and Agriculture Organization of the United Nations. Groves, C. P., & Shekelle, M. (2010). The genera and species of Tarsiidae. International Journal of Primatology, 31(6), 1071–1082. https://doi.org/10.1007/s10764-010-9443-1 Koneri, R. (2013). Duet call based sampling to estimate density of spectral tarsier in farming area. Prosiding Seminar Nasional Biodiversitas, Universitas Sam Ratulangi, Manado. Mustari, A. H. (2020). Ekologi, Perilaku, dan Konservasi Tarsius (Tarsius spp.). IPB Press. Qiptiyah, M., Broto, B. W., & Setyawati, T. (2012). Perilaku Harian Tarsius Dalam Kandang di Patunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 1(2), 74–86. https://doi.org/10.18330/jwallacea.2012.vol1iss2pp74-86 Santoso, R. S. (2010). Studi populasi dan perilaku Tarsius serta pengembangannya sebagai objek atraksi safari malam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Media Konservasi, 15(2), 87–93. Shekelle, M., & Leksono, S. M. (2004). Rencana konservasi di Pulau Sulawesi dengan menggunakan Tarsius sebagai flagship species. Biota, 9(1), 1–10. Sinaga, W., Wirdateti, Iskandar, E., & Pamungkas, J. (2010). Observation of habitat, feed and Tarsius nest distribution area in Central Sulawesi and Gorontalo. Laporan Penelitian. Pusat Penelitian Biologi LIPI, Bogor. Supriatna, J. (2019). Field Guide to the Primates of Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
Baca Artikel

Terjatuh Dari Tebing, Diselamatkan Oleh Kepedulian

Malang, 3 Agustus 2026. Seekor Kijang, Muntiacus muntjak, tergeletak di tepi jalan yang menghubungkan Pujon dan Kota Batu, Jumat, 31 Juli 2026. Satwa itu mengalami luka pada bagian kepala dan kaki. Warga yang menemukannya tidak membiarkan Kijang tersebut menghadapi nasibnya sendiri. Mereka mengamankan satwa itu, lalu melaporkannya kepada Polsek Pujon. Laporan tersebut segera diteruskan kepada Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Resort KSDA Wilayah 17 Malang, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Tidak lama kemudian, tim berkoordinasi dengan Seksi KSDA Wilayah VI, Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar KSDA Jawa Timur, serta Jatim Park Group untuk melakukan evakuasi. Hasil wawancara dengan Kapolsek Pujon mengindikasikan bahwa Kijang diduga terjatuh dari tebing di sekitar lokasi penemuan. Dugaan itu didasarkan pada kondisi luka yang dialami satwa. Meski demikian, penyebab pasti kejadian tersebut masih memerlukan pengamatan lebih lanjut. Sebelum dipindahkan, dokter hewan dari Jatim Park Group melakukan pemeriksaan dan memberikan penanganan medis awal. Langkah ini dilakukan untuk menstabilkan kondisi satwa sekaligus memastikan proses evakuasi berlangsung sesuai dengan prinsip kesejahteraan satwa liar. Setelah seluruh prosedur administrasi dipenuhi, satwa diserahkan secara sukarela kepada negara melalui penandatanganan Berita Acara Penyerahan tertanggal 31 Juli 2026. Penyerahan tersebut menjadi dasar bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk melanjutkan penanganan satwa sesuai ketentuan. Tim Matawali kemudian membawa Kijang menuju kandang karantina milik Lembaga Konservasi PT. Bunga Wangsa Sedjati. Di lokasi itu satwa akan menjalani observasi, perawatan medis, dan pemulihan. Kondisi kesehatannya akan terus dipantau sebelum ditentukan penanganan lanjutan berdasarkan hasil evaluasi tim. Peristiwa di Pujon memperlihatkan bahwa penyelamatan satwa liar tidak selalu berawal dari operasi di dalam kawasan hutan. Dalam banyak kasus, keberhasilan justru ditentukan oleh respons cepat masyarakat yang memilih melapor, aparat yang segera menindaklanjuti, serta sinergi antarlembaga yang memastikan satwa memperoleh penanganan sesuai prosedur. Bagi konservasi, setiap individu satwa memiliki arti. Seekor kijang yang terselamatkan memang tidak serta-merta mengubah kondisi populasi di alam. Namun, setiap tindakan penyelamatan menjaga peluang keberlangsungan kehidupan satwa liar sekaligus memperkuat pesan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab bersama. Di balik seekor Kijang yang ditemukan terluka, tersimpan pelajaran sederhana bahwa kepedulian adalah langkah pertama dalam konservasi. Ketika masyarakat memilih melindungi dan melapor, negara dapat menjalankan perannya. Dari kolaborasi seperti itulah harapan bagi satwa liar tetap terjaga. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Belajar dari Tamu Tak Diundang di SDN 1 Kabat

Banyuwangi, 3 Agustus 2026. Aktivitas belajar di SDN 1 Kabat, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, sempat diwarnai kehadiran seekor anakan Monyet Ekor Panjang, Macaca fascicularis, Sabtu, 1 Agustus 2026. Kemunculan satwa liar di lingkungan sekolah segera dilaporkan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) sebagai langkah antisipasi agar tidak terjadi interaksi yang berpotensi membahayakan satwa maupun warga sekolah. Informasi pertama diterima Tim Resort KSDA Wilayah (RKW) 12 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso dari seorang guru SDN 1 Kabat, Yuli Mega Wati. Laporan tersebut menyebutkan adanya seekor monyet yang berada di area sekolah. Merespons laporan itu, Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) RKW 12 segera berkoordinasi dengan personel Polsek Kabat untuk melakukan penanganan di lokasi. Mengingat kejadian berlangsung di lingkungan pendidikan yang menjadi pusat aktivitas siswa dan tenaga pendidik, langkah cepat diperlukan agar situasi tetap aman sekaligus menghindari konflik antara manusia dan satwa liar. Setibanya di lokasi, tim gabungan melakukan penyisiran di sekitar area sekolah. Anakan monyet ekor panjang berhasil diamankan tanpa perlawanan berarti. Seluruh proses evakuasi berlangsung aman, tertib, dan tidak menimbulkan korban maupun kerugian bagi pihak sekolah. Selanjutnya, satwa dibawa ke kandang transit sementara Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi untuk menjalani observasi dan pemantauan kondisi. Penanganan lanjutan akan dilakukan sesuai hasil pemeriksaan terhadap kesehatan dan perilaku satwa sebagai dasar penentuan tindakan konservasi berikutnya. Kemunculan satwa liar di ruang-ruang aktivitas manusia merupakan situasi yang memerlukan penanganan secara cepat, tepat, dan terukur. Prioritas utama bukan hanya mengamankan masyarakat, tetapi juga memastikan satwa memperoleh perlindungan sesuai prinsip kesejahteraan satwa dan ketentuan konservasi. Peristiwa di SDN 1 Kabat menjadi pengingat bahwa batas antara ruang hidup manusia dan satwa liar kerap beririsan. Dalam situasi seperti ini, pelaporan kepada petugas yang berwenang menjadi langkah paling tepat dibandingkan melakukan penanganan secara mandiri yang berisiko bagi kedua belah pihak. Setiap evakuasi satwa liar merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam. Kolaborasi masyarakat, kepolisian, dan petugas konservasi menjadi fondasi penting agar potensi konflik dapat diselesaikan secara aman, sekaligus memastikan satwa liar tetap memperoleh kesempatan untuk hidup sesuai fungsi ekologisnya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bukan Sekadar Kenangan, Mereka Menanam Harapan Untuk Bawean

Bawean, 31 Juli 2026. Ada banyak cara mengakhiri sebuah perjalanan. Sebagian orang memilih membawa pulang oleh-oleh, sebagian lainnya mengabadikan momen melalui foto. Namun bagi sekelompok mahasiswa yang baru menyelesaikan ekspedisi ilmiah di Pulau Bawean, akhir perjalanan justru ditandai dengan meninggalkan kehidupan baru yang kelak akan tumbuh bersama waktu. Menjelang kepulangan usai mengikuti Ekspedisi Karsa Lestari Bawean Pendidikan Intermediate Divisi Penelitian Lingkungan Hidup dan Alam Bebas Tahun 2026 yang berlangsung pada 18–25 Juli 2026, mahasiswa pecinta alam WANALA Universitas Airlangga (UNAIR) memanfaatkan waktu menunggu jadwal keberangkatan kapal dengan melakukan aksi penanaman berbagai jenis tumbuhan di halaman Pos Riset Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Kamis (30/7). Kegiatan tersebut kemudian diikuti oleh empat mahasiswa Kerja Praktik Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang selama beberapa pekan melaksanakan kegiatan akademik dan penelitian di Pulau Bawean. Bersama-sama mereka menunjukkan bahwa kontribusi terhadap konservasi tidak selalu diwujudkan dalam kegiatan berskala besar, tetapi dapat dimulai dari tindakan sederhana yang memberi manfaat jangka panjang. Bibit yang ditanam merupakan jenis-jenis tumbuhan yang memiliki nilai ekologis dan ilmiah, yakni Wijaya Kusuma Kraton (Pisonia grandis), Kayu Manis, Kayu Paek (Prunus javanica), serta serta Prunus arborea. Khusus dua spesies Prunus tersebut, keberadaannya menjadi bagian dari kekayaan flora hutan Indonesia yang memiliki potensi penting bagi penelitian biodiversitas sekaligus mendukung upaya pelestarian plasma nutfah tumbuhan yang saat ini dilakukan oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur. Penanaman dilakukan di lingkungan Pos Riset RKW 09 Gresik–Bawean yang terus dikembangkan sebagai ruang kolaborasi antara pengelola kawasan konservasi, akademisi, mahasiswa, dan para peneliti. Kehadiran berbagai jenis tumbuhan lokal di halaman tersebut diharapkan menjadi koleksi hidup yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran, pengamatan ilmiah, sekaligus memperkuat fungsi pos riset sebagai simpul pengembangan ilmu pengetahuan konservasi di Pulau Bawean. Tidak ada kegiatan seremonial. Aksi ini mencerminkan semangat bahwa konservasi merupakan tanggung jawab bersama. Pengelolaan kawasan konservasi tidak hanya membutuhkan perlindungan terhadap satwa liar dan habitatnya, tetapi juga dukungan generasi muda yang mampu menghadirkan gagasan, penelitian, dan aksi nyata di lapangan. Bagi para mahasiswa, bibit-bibit yang ditanam mungkin hanyalah bagian kecil dari rangkaian ekspedisi yang mereka jalani. Namun bagi Pulau Bawean, pohon-pohon tersebut dapat menjadi awal dari kisah yang lebih panjang. Kelak, ketika tajuknya mulai menaungi halaman Pos Riset, ia akan menjadi pengingat bahwa pernah ada sekelompok anak muda yang memilih meninggalkan harapan daripada sekadar kenangan. Di tengah berbagai tantangan pelestarian keanekaragaman hayati, kolaborasi seperti inilah yang sesungguhnya menjadi fondasi konservasi masa depan. Ilmu pengetahuan, kepedulian, dan aksi nyata bertemu dalam satu ruang yang sama, membuktikan bahwa setiap langkah kecil dapat memberi arti besar bagi keberlanjutan alam. Karena pada akhirnya, keberhasilan sebuah ekspedisi tidak hanya diukur dari data yang berhasil dikumpulkan atau laporan yang selesai ditulis. Ia juga diukur dari jejak positif yang ditinggalkan bagi tempat yang telah memberikan begitu banyak pelajaran. Pulau Bawean telah memberi mereka pengalaman. Sebagai balasannya, mereka memilih meninggalkan harapan yang akan terus bertumbuh. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ditemukan Di Bawah Pagar, Elang Itu Akhirnya Diserahkan Kepada Tim Matawali

Tuban, 3 Agustus 2026. Seekor Elang Alap Jambul, Lophospiza trivirgata, ditemukan terdiam di bawah pagar sebuah rumah di Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Temuan yang semula tampak sebagai peristiwa biasa itu justru menjadi awal dari penyelamatan salah satu satwa liar yang dilindungi negara. Laporan pertama diterima Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Rabu (29/7). Pelapor, Yongky Sona Mahendra, menyampaikan bahwa ia menemukan seekor burung pemangsa di depan rumahnya dalam kondisi berada di permukaan tanah. Khawatir satwa mengalami gangguan atau menjadi sasaran manusia maupun hewan lain, ia segera mengamankannya ke dalam kandang sementara dan menghubungi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Sehari berselang, Kamis, 30 Juli 2026, Tim Matawali mendatangi lokasi untuk melakukan identifikasi, pemeriksaan awal, serta proses evakuasi. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa satwa tersebut merupakan Elang Alap Jambul berumur dewasa, salah satu burung pemangsa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Dalam proses tersebut, Yongky Sona Mahendra menyatakan kesediaannya menyerahkan satwa kepada negara. Penyerahan dilakukan secara sukarela melalui penandatanganan Berita Acara Penyerahan. Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan satwa memperoleh penanganan sesuai prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa. Selanjutnya, Tim Matawali mengevakuasi elang menuju kandang transit Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Di lokasi tersebut, satwa akan menjalani observasi, pemeriksaan kesehatan, serta pemeliharaan sementara. Hasil evaluasi medis dan perilaku nantinya akan menjadi dasar penentuan tindak lanjut, termasuk kemungkinan pelepasliaran apabila kondisi satwa dinyatakan layak kembali ke habitat alaminya. Peristiwa di Tuban ini memperlihatkan bahwa penyelamatan satwa liar tidak selalu diawali dari operasi penindakan. Dalam banyak kesempatan, keberhasilan konservasi justru lahir dari kesadaran masyarakat yang memilih melapor dan menyerahkan satwa kepada otoritas yang berwenang. Keputusan sederhana tersebut menjadi mata rantai penting dalam menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati. Elang Alap Jambul merupakan predator alami yang menempati posisi penting dalam rantai makanan. Keberadaannya membantu menjaga keseimbangan populasi berbagai satwa mangsa sehingga fungsi ekosistem tetap berjalan secara alami. Karena itu, setiap individu yang berhasil diselamatkan memiliki nilai ekologis yang jauh melampaui keberadaan seekor burung semata. Penyerahan sukarela ini menjadi gambaran bahwa pendekatan edukasi dan komunikasi konservasi mulai membangun kepercayaan masyarakat. Perlindungan satwa liar tidak hanya bertumpu pada aparat di lapangan, tetapi juga pada warga yang memahami bahwa satwa liar adalah bagian dari warisan alam yang harus tetap berada di habitatnya. Kisah penyelamatan di Tuban mengingatkan bahwa konservasi sering kali dimulai dari tindakan yang paling sederhana. Di bawah sebuah pagar rumah, bukan hanya seekor elang yang ditemukan, tetapi juga tumbuh sebuah kesadaran bahwa menjaga satwa liar berarti menjaga keseimbangan alam bagi generasi yang akan datang. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

48 Jam Yang Menentukan Nasib Seekor Elang Ular Bido

Kediri, 30 Juli 2026. Seekor Elang Ular Bido (Spilornis cheela) nyaris kehilangan kesempatan hidupnya. Selama dua hari burung pemangsa itu dilaporkan tidak mau makan, tubuhnya melemah, bahkan tidak lagi mampu berdiri tegak. Namun rangkaian kepedulian masyarakat, respons cepat pemerintah daerah, dan tindakan penyelamatan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menjadi titik balik yang memberi satwa dilindungi tersebut kesempatan untuk pulih. Perjalanan penyelamatan bermula pada Jumat, 24 Juli 2026, ketika masyarakat di Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang, menemukan seekor Elang Ular Bido. Satwa tersebut kemudian diserahkan ke Pos Pemadam Kebakaran Ngoro sebelum diteruskan ke BPBD Kabupaten Jombang untuk mendapatkan penanganan awal sesuai prosedur, sambil menunggu koordinasi dengan Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur. Setelah menerima informasi keberadaan satwa tersebut, pada Senin, 27 Juli 2026, Tim Matawali segera menuju Kantor BPBD Kabupaten Jombang. Tim melakukan koordinasi lintas instansi, identifikasi spesies, pemeriksaan kondisi fisik, serta melengkapi administrasi penyerahan sebelum mengevakuasi satwa ke kandang transit Seksi KSDA Wilayah I Kediri. Harapan ternyata belum sepenuhnya berpihak. Sesampainya di kandang transit, kondisi Elang Ular Bido justru semakin mengkhawatirkan. Burung pemangsa itu tampak sangat lemah, tidak mampu berdiri, dan berdasarkan informasi awal telah berhenti makan selama sekitar dua hari sehingga diduga mengalami dehidrasi. Melihat kondisi tersebut, Tim Matawali segera membawa satwa ke klinik hewan untuk mendapatkan penanganan medis secara intensif. Hasil pemeriksaan dokter hewan menunjukkan bahwa satwa masih memiliki peluang untuk diselamatkan apabila memperoleh perawatan yang tepat. Selama dua hari menjalani terapi dan observasi, perkembangan positif mulai terlihat. Respons terhadap pakan meningkat, proses pencernaan kembali normal, dan kemampuan bergerak menunjukkan perbaikan yang signifikan. Dengan mempertimbangkan hasil evaluasi medis, Elang Ular Bido kemudian dikembalikan ke kandang transit Seksi KSDA Wilayah I Kediri untuk melanjutkan masa pemulihan. Selanjutnya satwa akan terus dipantau hingga memenuhi kondisi kesehatan dan perilaku yang mendukung untuk menjalani tahapan konservasi berikutnya sesuai hasil evaluasi teknis. Di alam, Elang Ular Bido memiliki peran penting sebagai predator yang membantu menjaga keseimbangan populasi berbagai jenis satwa, terutama reptil dan vertebrata kecil. Kehadirannya menjadi salah satu indikator bahwa rantai makanan di alam masih berjalan secara alami. Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa konservasi tidak hanya berlangsung di dalam kawasan hutan. Kepedulian masyarakat yang memilih menyerahkan satwa kepada pihak berwenang, dukungan BPBD Kabupaten Jombang dalam penanganan awal, serta respons cepat Tim Matawali Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi rangkaian kolaborasi yang memungkinkan seekor satwa liar memperoleh kesempatan hidup kembali. Di balik kisah seekor Elang Ular Bido, tersimpan pesan yang lebih besar, bahwa setiap penyelamatan satwa liar bukan semata menyelamatkan satu individu, melainkan menjaga mata rantai kehidupan yang menopang keseimbangan ekosistem. Ketika masyarakat dan pemerintah bergerak bersama, harapan bagi kelestarian keanekaragaman hayati selalu memiliki ruang untuk tumbuh. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

53 Grid, 40 Hektar, dan Sebuah Pertaruhan Menjaga Cagar Alam Pulau Saobi

Di kawasan konservasi, setiap langkah patroli bukan semata mencari pelanggaran, melainkan memastikan bahwa alam dan manusia tetap dapat berjalan berdampingan dalam harmoni Sumenep, 30 Juli 2026. Pulau-pulau kecil sering kali menjadi benteng terakhir bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Di balik ukurannya yang terbatas, tersimpan fungsi ekologis yang besar sebagai habitat berbagai jenis satwa liar, penyangga ekosistem pesisir, sekaligus ruang hidup yang menopang keseimbangan alam. Menjaga kawasan seperti ini bukan sekadar menjaga hamparan hutan, melainkan menjaga proses kehidupan yang telah berlangsung jauh sebelum manusia hadir. Komitmen tersebut kembali diwujudkan melalui kegiatan Smart Patrol yang dilaksanakan Tim Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), pada 20–28 Juli 2026. Selama sembilan hari, petugas menyusuri 53 grid patroli dengan cakupan pengamanan mencapai 40,506 hektar di Cagar Alam Pulau Saobi. Smart Patrol merupakan pendekatan pengelolaan kawasan berbasis data yang tidak hanya berorientasi pada pengamanan, namun juga mendokumentasikan kondisi habitat, keberadaan satwa liar, potensi ancaman, serta membangun komunikasi dengan masyarakat sebagai bagian penting dari pengelolaan kawasan konservasi. Salah satu temuan yang menjadi perhatian serius adalah keberadaan 10 jerat pada Grid 104. Jerat-jerat tersebut berpotensi mengancam satwa liar yang melintas, karena bekerja tanpa mengenali jenis satwa yang menjadi korbannya. Untuk menghilangkan potensi ancaman tersebut, petugas mengamankan seluruh jerat sebagai barang bukti, mendokumentasikannya dalam Laporan Kejadian, kemudian memusnahkannya agar tidak dapat digunakan kembali. Di lokasi lain, petugas juga menjumpai aktivitas yang berpotensi memengaruhi fungsi kawasan konservasi. Pada lokasi tersebut ditemukan 54 karung pasir kosong yang diduga akan digunakan untuk mengangkut material. Momentum ini dimanfaatkan sebagai ruang dialog antara petugas dan masyarakat yang berada di sekitar kawasan. Melalui pendekatan persuasif, petugas menjelaskan fungsi ekologis Cagar Alam Pulau Saobi, pentingnya menjaga bentang alam pesisir, serta ketentuan mengenai pemanfaatan kawasan konservasi. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun pemahaman bersama sehingga setiap aktivitas masyarakat dapat berjalan selaras dengan upaya pelestarian kawasan. Barang-barang yang berpotensi digunakan dalam aktivitas tersebut kemudian diamankan dan dimusnahkan sesuai prosedur sebagai bentuk pencegahan agar tidak dimanfaatkan kembali. Di lapangan, setiap interaksi di petugas dengan masyarakat bukan semata persoalan penegakan aturan, tetapi juga kesempatan membangun kesadaran. Sebab keberhasilan konservasi pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya patroli yang dilakukan, melainkan oleh tumbuhnya pemahaman masyarakat bahwa kawasan konservasi merupakan warisan bersama yang harus dijaga. Di tengah berbagai dinamika tersebut, alam Pulau Saobi masih memperlihatkan harapan. Petugas menemukan seekor Penyu Sisik yang terdampar di kawasan pesisir. Setelah dilakukan pemeriksaan kondisi satwa dan dipastikan masih memiliki peluang hidup yang baik, penyu tersebut segera dilepaskan kembali ke habitat alaminya. Pelepasliaran ini menjadi pengingat bahwa setiap individu satwa liar memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Patroli juga mencatat keberadaan delapan sarang burung Gosong Kaki Merah yang masih aktif. Burung unik ini memanfaatkan panas alami dari timbunan pasir sebagai inkubator telur, sehingga keberadaannya menjadi indikator bahwa proses ekologis di kawasan pesisir masih berlangsung secara alami. Selain itu, tim menemukan tiga jejak rusa Timor yang menunjukkan bahwa kawasan ini masih menjadi habitat penting bagi satwa liar untuk mencari makan dan berkembang biak. Selain mendokumentasikan satwa liar, petugas juga mengevaluasi kondisi kawasan. Sebanyak 12 pal batas ditemukan mengalami kerusakan sehingga memerlukan perbaikan agar batas kawasan tetap jelas. Tim juga mencatat enam saluran air alami yang telah mengering sebagai bagian dari informasi ekologis yang akan menjadi bahan evaluasi pengelolaan habitat, terutama dalam menghadapi dinamika musim dan perubahan kondisi lingkungan. Konservasi juga dibangun melalui kolaborasi. Selama kegiatan berlangsung, petugas melaksanakan pendampingan kepada Kelompok Tani Hutan Manjhengan Putih untuk mengevaluasi pemanfaatan bantuan yang telah diberikan sekaligus menjalin komunikasi awal mengenai rencana penguatan program pemberdayaan masyarakat pada tahun 2027. Pendekatan ini menegaskan bahwa masyarakat bukan hanya berada di sekitar kawasan konservasi, tetapi merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan kawasan. Kehadiran petugas di tengah masyarakat juga diwujudkan melalui partisipasi dalam kegiatan gotong royong pengecoran jalan di Dusun Lao'anna. Aktivitas sederhana tersebut menjadi ruang mempererat hubungan antara pengelola kawasan dan masyarakat, karena konservasi pada hakikatnya tumbuh dari rasa saling percaya, saling memahami, dan saling menjaga. Smart Patrol di Cagar Alam Pulau Saobi memperlihatkan bahwa menjaga kawasan konservasi bukan hanya tentang menemukan pelanggaran. Lebih dari itu, ia adalah proses merawat hubungan antara manusia dan alam. Ada ancaman yang perlu dicegah, habitat yang perlu dipulihkan, satwa liar yang harus diselamatkan, serta masyarakat yang perlu terus diajak menjadi bagian dari solusi. Pada akhirnya, 53 grid dan 40,506 hektar bukan sekadar angka dalam sebuah laporan. Angka-angka itu merepresentasikan ikhtiar untuk memastikan bahwa Cagar Alam Pulau Saobi tetap menjadi rumah yang aman bagi keanekaragaman hayati, sekaligus menjadi ruang belajar bahwa konservasi yang paling kuat adalah konservasi yang dibangun bersama masyarakat. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pelajaran Penting Tentang Hidup Berdampingan Dengan Satwa Liar Di Gresik

Gresik, 30 Juli 2026. Seekor Sanca Kembang (Malayopython reticulatus) yang ditemukan di kawasan operasional PT. PLN Nusantara Power UP Gresik menjadi pengingat bahwa ruang hidup manusia dan satwa liar kian sering bersinggungan. Di balik kemunculan reptil tersebut, tersimpan sebuah pelajaran penting bahwa konflik bukanlah satu-satunya pilihan ketika manusia bertemu satwa liar. Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Rabu (29/7), menerima penyerahan sukarela seekor Sanca Kembang dari Agus Wibowo, karyawan PT PLN Nusantara Power UP Gresik. Satwa tersebut sebelumnya ditemukan di sekitar lingkungan kantor perusahaan yang berlokasi di Jalan Harun Thohir, Kelurahan Sidorukun, Kabupaten Gresik. Alih-alih membunuh, mengusir secara membabi buta, atau bahkan memperjualbelikannya, penemu memilih menyerahkan satwa tersebut kepada Tim Matawali agar memperoleh penanganan yang tepat. Keputusan sederhana ini menjadi contoh nyata meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian satwa liar. Setelah diterima petugas, dilakukan pemeriksaan kesehatan dan perilaku sebagai langkah awal penanganan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Sanca Kembang berada dalam kondisi sehat, tidak mengalami luka, serta masih mempertahankan sifat liarnya. Kondisi tersebut menjadi modal penting dalam proses penanganan berikutnya. Saat ini, satwa ditempatkan sementara di kandang transit Bidang KSDA Wilayah II Gresik sebelum dievakuasi menuju Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk menjalani observasi lanjutan serta menentukan langkah pengelolaan yang paling sesuai dengan prinsip kesejahteraan satwa dan konservasi. Bagi sebagian masyarakat, ular masih identik dengan ancaman yang harus segera dimusnahkan. Padahal, tidak semua jenis ular membahayakan manusia, dan hampir seluruhnya memiliki fungsi ekologis yang sangat penting. Sanca Kembang merupakan salah satu predator alami yang berperan mengendalikan populasi tikus serta berbagai satwa kecil lainnya. Kehadirannya membantu menjaga keseimbangan rantai makanan sehingga ekosistem tetap berfungsi secara alami. Walaupun tidak termasuk jenis satwa yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan nasional, Sanca Kembang merupakan spesies yang tercantum dalam Appendiks II, Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Status tersebut menunjukkan bahwa perdagangan internasasionalnya diawasi secara ketat agar pemanfaatannya tidak mengancam kelestarian populasi di habitat alami. Kemunculan satwa liar di kawasan industri maupun permukiman merupakan fenomena yang semakin sering dijumpai di berbagai wilayah. Perubahan bentang alam, perkembangan kawasan terbangun, serta masih tersedianya sumber pakan menyebabkan batas antara habitat satwa dan aktivitas manusia menjadi semakin tipis. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan masyarakat untuk merespons keberadaan satwa secara bijaksana menjadi bagian penting dari upaya konservasi. Konservasi pada hakikatnya bukan hanya berbicara tentang kawasan hutan atau satwa yang hidup jauh dari manusia. Konservasi juga dimulai dari keputusan-keputusan kecil ketika masyarakat berhadapan langsung dengan satwa liar. Memilih untuk tidak melukai, tidak memelihara secara ilegal, serta segera melaporkan kepada petugas merupakan bentuk kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati. Peristiwa di Gresik ini menunjukkan bahwa keberhasilan konservasi tidak selalu diawali oleh operasi penyelamatan berskala besar. Terkadang, langkah paling penting justru lahir dari kesadaran seorang warga yang memilih bertindak benar. Di tengah meningkatnya interaksi antara manusia dan satwa liar, kisah penyerahan sukarela seekor Sanca Kembang ini menjadi pengingat bahwa hidup berdampingan bukan sekadar slogan. Ia adalah sikap yang perlu terus dibangun melalui pengetahuan, kepedulian, dan kesediaan untuk memberi ruang bagi satwa liar tetap menjalankan perannya di alam. Karena pada akhirnya, menjaga kehidupan satwa liar berarti menjaga keseimbangan ekosistem yang menopang kehidupan manusia itu sendiri. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Apresiasi Bukan Akhir Sebuah Dedikasi

Penghargaan Gubernur Jawa Timur Menjadi Penanda Ikhtiar BBKSDA Jawa Timur Menjaga Keanekaragaman Hayati Mangrove Tuban, 30 Juli 2026. Di balik rimbunnya tegakan mangrove yang membentang di pesisir Jawa Timur, tersimpan kisah panjang tentang kerja-kerja konservasi yang kerap berlangsung jauh dari sorotan publik. Tidak ada panggung megah di tengah hutan mangrove, tidak pula gemerlap yang mengiringi setiap kegiatan perlindungan satwa dan habitatnya. Yang ada adalah dedikasi yang terus dirawat, hari demi hari, demi memastikan bahwa kehidupan di kawasan pesisir tetap lestari. Dedikasi itulah yang mendapat apresiasi pada Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 Tahun 2026 yang diselenggarakan di Pantai Panduri, Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Rabu (29/7/2026). Festival Mangrove Jawa Timur ke-10 menjadi ruang yang mempertemukan semangat tersebut. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk mendekatkan masyarakat dengan pentingnya ekosistem mangrove. Diantaranya pameran perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove, penampilan seni dan budaya, fashion show batik organik dengan pewarna alami mangrove, pelayanan kesehatan bagi masyarakat, pelepasliaran Burung Perkutut Jawa, serta penanaman pandan laut sebagai bagian dari penguatan vegetasi pesisir. Mangrove bukan hanya benteng alami yang melindungi garis pantai dari abrasi dan intrusi air laut, tetapi juga menjadi habitat bagi berbagai jenis burung, reptil, mamalia kecil, ikan, krustasea, hingga beragam organisme lain yang membentuk jalinan kehidupan pesisir. Selama bertahun-tahun, berbagai upaya terus dilakukan untuk memperkuat perlindungan ekosistem mangrove. Mulai dari penguatan kawasan konservasi, pemulihan habitat, penyelamatan satwa liar, pendampingan masyarakat, edukasi lingkungan, hingga membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, pelaku usaha, dan organisasi masyarakat. Seluruh ikhtiar tersebut berpijak pada satu keyakinan bahwa konservasi tidak dapat dikerjakan sendiri, melainkan harus menjadi gerakan bersama. Di tengah rangkaian kegiatan tersebut, penghargaan yang diterima Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menjadi simbol bahwa kerja konservasi memiliki arti yang lebih besar daripada sekadar pencapaian institusional. Penghargaan tersebut merupakan representasi dari dedikasi seluruh insan konservasi, mitra kerja, relawan, peneliti, masyarakat pesisir, dan berbagai pihak yang selama ini berjalan bersama menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove di Jawa Timur. Namun demikian, apresiasi bukanlah garis akhir. Justru sebaliknya, penghargaan menjadi pengingat bahwa tantangan konservasi akan terus berkembang. Perubahan iklim, tekanan terhadap kawasan pesisir, alih fungsi lahan, pencemaran, hingga menurunnya kualitas habitat merupakan tantangan yang memerlukan komitmen jangka panjang, inovasi, dan kolaborasi yang semakin kuat. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, menjaga mangrove berarti menjaga kehidupan. Di balik setiap akar yang mencengkeram lumpur pesisir, tersimpan perlindungan bagi garis pantai. Di balik setiap tajuk yang menaungi perairan dangkal, tumbuh ruang hidup bagi ribuan organisme yang menopang keseimbangan ekosistem. Dan di balik setiap langkah konservasi, tersimpan harapan agar kekayaan hayati Jawa Timur tetap menjadi warisan bagi generasi mendatang. Karena pada akhirnya, penghargaan hanyalah sebuah penanda perjalanan. Sementara dedikasi untuk menjaga alam akan selalu berlanjut, selama masih ada hutan mangrove yang harus dirawat, satwa liar yang harus dilindungi, dan masyarakat yang tumbuh berdampingan dengan alam. Apresiasi boleh menjadi sebuah pencapaian. Namun bagi insan konservasi, dedikasi untuk menjaga kehidupan tidak pernah mengenal garis akhir. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Konservasi Tak Berhenti Pada Pal Batas

Menjaga kawasan konservasi bukan hanya soal batas wilayah, tetapi juga membangun kolaborasi, mencegah ancaman, dan memperkuat kesepahaman di tingkat tapak Bawean, 29 Juli 2026. Konservasi tidak berhenti ketika pal batas yang berdiri di lapangan. Justru dari titik itulah pengelolaan kawasan dimulai. Memperkuat perlindungan, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta memastikan setiap langkah pengelolaan berjalan berdasarkan data dan ketentuan yang berlaku. Komitmen tersebut menjadi fokus koordinasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean bersama Pemerintah Desa Kumalasa pada Senin (27/7). Pertemuan membahas penguatan mitigasi kebakaran hutan dan lahan menghadapi musim kemarau, inventarisasi informasi hasil rekonstruksi pal batas kawasan, serta penyelesaian administrasi barang bukti temuan pengamanan kawasan. Menghadapi potensi meningkatnya risiko kebakaran, Pemerintah Desa Kumalasa menyatakan dukungan terhadap upaya pencegahan yang dilakukan Balai Besar KSDA Jawa Timur. Pemerintah desa juga mengusulkan penyampaian surat resmi kepada desa-desa penyangga kawasan konservasi di Pulau Bawean sebagai penguatan komunikasi agar pesan pencegahan dapat diteruskan secara lebih luas melalui perangkat desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Koordinasi juga dimanfaatkan untuk menghimpun berbagai informasi lapangan terkait hasil rekonstruksi pal batas kawasan. Informasi tersebut akan menjadi bagian dari proses inventarisasi dan verifikasi sesuai mekanisme yang berlaku, sehingga setiap tindak lanjut tetap mengacu pada data teknis, dokumen penataan batas, dan hasil pemeriksaan lapangan. Pendekatan ini merupakan bagian dari upaya membangun kepastian pengelolaan kawasan sekaligus memperkuat kesamaan pemahaman antara pengelola kawasan dan masyarakat. Sebagai bagian dari tertib administrasi pengamanan kawasan, Tim RKW 09 bersama Pemerintah Desa Kumalasa juga melaksanakan pemusnahan barang bukti hasil temuan kegiatan pengamanan kawasan. Kegiatan tersebut dilakukan secara terbuka dan terdokumentasi sebagai wujud transparansi serta akuntabilitas dalam pengelolaan kawasan konservasi. Kegiatan perlindungan kawasan merupakan perpaduan antara pengamanan di lapangan, kepastian administrasi, dan kemitraan dengan masyarakat. Melalui komunikasi yang baik, pencegahan dini, dan koordinasi lintas pihak, pengelolaan Suaka Margasatwa Pulau Bawean diharapkan semakin adaptif dalam menjawab berbagai tantangan konservasi. Sebab pada akhirnya, menjaga kawasan konservasi tidak hanya tentang mempertahankan batas, tetapi juga membangun kesadaran bersama bahwa kelestarian hutan adalah tanggung jawab yang harus dirawat secara kolaboratif dan berkelanjutan. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ramai Di Media Sosial, BBKSDA Jatim Luruskan Polemik Pendakian Argopuro Via Bondowoso

Bondowoso, 3 Agustus 2026. Sebuah unggahan di media sosial mampu mengundang ribuan pasang mata menuju Gunung Argopuro. Di balik antusiasme itu, muncul pertanyaan yang tak kalah penting: benarkah telah dibuka jalur pendakian baru menuju kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang? Menjawab pertanyaan tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama aparat kepolisian dan Pemerintah Desa Suco Lor memilih turun langsung ke lapangan. Hasilnya bukan sekadar klarifikasi, melainkan sebuah kesepahaman bahwa semangat mengembangkan wisata alam harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab menjaga kawasan konservasi. Pada Kamis, 30 Juli 2026, petugas BBKSDA Jawa Timur dari Bidang KSDA Wilayah III Jember melaksanakan koordinasi bersama Polsek Maesan, Pemerintah Desa Suco Lor, serta Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) "Pemoeda Pribumi" sebagai pengelola Pos Pendakian Dawuhan. Hal ini sebagai tindaklanjut atas laporan masyarakat dan informasi yang beredar di media sosial mengenai dugaan pembukaan jalur baru pendakian Gunung Argopuro melalui Dusun Dawuhan, Desa Suco Lor, Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Koordinasi tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi secara utuh sekaligus memastikan bahwa setiap aktivitas yang berkaitan dengan kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang tetap berjalan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Dari hasil pertemuan diketahui bahwa Pos Pendakian Dawuhan merupakan fasilitas wisata yang dikelola Pokdarwis "Pemoeda Pribumi", sebuah kelompok binaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur sejak tahun 2025. Pos tersebut saat ini melayani kegiatan wisata menuju Air Terjun Tancak yang berjarak sekitar 2,6 kilometer dari pos serta jasa pemanduan menuju Puncak Alang-Alang yang masih berada di kawasan hutan Perum Perhutani KPH Bondowoso. Adapun informasi yang beredar mengenai "jalur baru" menuju Gunung Argopuro dijelaskan oleh pengelola sebagai bagian dari upaya memperkenalkan keberadaan Pos Pendakian Dawuhan kepada komunitas pecinta alam. Hingga saat ini, tidak terdapat kegiatan open trip maupun pembukaan jalur pendakian baru menuju kawasan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang melalui pos tersebut. Pengelola juga menyampaikan bahwa apabila di masa mendatang terdapat peluang pengembangan jalur alternatif pendakian menuju Gunung Argopuro, seluruh proses harus melalui mekanisme perencanaan, kajian, serta perizinan sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk saat ini, fokus utama mereka adalah mengembangkan destinasi wisata yang telah berjalan dan meningkatkan kapasitas sarana pendukung secara bertahap. Dalam kesempatan yang sama, seluruh pihak menyepakati bahwa setiap rencana yang berkaitan dengan akses menuju kawasan konservasi harus mengedepankan prinsip kehati-hatian. Segala bentuk pembukaan jalur, pengembangan pos pendakian, maupun aktivitas wisata yang memasuki kawasan Suaka Margasatwa hanya dapat dilakukan setelah memenuhi seluruh persyaratan administrasi, teknis, dan regulasi yang berlaku, termasuk perizinan masuk kawasan konservasi (SIMAKSI) pada setiap kegiatan. Selain itu, BBKSDA Jawa Timur juga mengajak Pokdarwis untuk turut berperan aktif memberikan edukasi kepada masyarakat dan pengguna media sosial agar memperoleh informasi yang benar mengenai mekanisme pendakian di Gunung Argopuro. Di era digital, sebuah unggahan dapat menyebar dengan cepat, sehingga penyampaian informasi yang akurat menjadi bagian penting dari upaya menjaga kawasan konservasi. Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember BBKSDA Jawa Timur, Purwantono, S.Hut., M.P., menegaskan bahwa konservasi tidak bertujuan membatasi ruang masyarakat untuk berkembang, melainkan memastikan setiap bentuk pemanfaatan alam berlangsung secara bertanggung jawab. "Kawasan konservasi merupakan benteng terakhir bagi keberlangsungan keanekaragaman hayati. Karena itu, setiap rencana pemanfaatan akses menuju kawasan harus dilaksanakan sesuai regulasi yang berlaku. Kami mendukung tumbuhnya inisiatif masyarakat dalam mengembangkan potensi wisata alam, namun pengembangannya harus dilakukan secara terencana, kolaboratif, dan tidak mengabaikan fungsi perlindungan kawasan. Konservasi dan pembangunan dapat berjalan berdampingan apabila seluruh pihak memegang komitmen yang sama terhadap kelestarian alam," ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa pendakian menuju kawasan Gunung Argopuro bukanlah aktivitas wisata yang dapat dipandang ringan. Karakter bentang alam yang panjang, kondisi cuaca yang cepat berubah, serta keterbatasan akses menjadikan aspek keselamatan sebagai prioritas utama. "Pendakian di kawasan sekitar Argopuro bukan kategori pendakian untuk pemula. Prinsip yang harus selalu kita pegang adalah aman bagi kawasan dan selamat bagi para pendaki. Kelestarian alam dan keselamatan manusia tidak boleh dipertentangkan, justru keduanya harus berjalan beriringan," tambahnya. Koordinasi yang dilakukan BBKSDA Jawa Timur bersama seluruh pemangku kepentingan menjadi bukti bahwa komunikasi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan kawasan konservasi. Melalui dialog, klarifikasi, dan saling memahami peran masing-masing, berbagai potensi kesalahpahaman dapat diselesaikan tanpa menghilangkan semangat masyarakat untuk berkontribusi dalam pembangunan daerah. Pada akhirnya, menjaga Gunung Argopuro di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang bukan hanya tentang mempertahankan tutupan hutannya atau melindungi satwa liar yang hidup di dalamnya. Menjaga Argopuro juga berarti menjaga kepercayaan publik bahwa setiap langkah menuju kawasan konservasi harus dilandasi pengetahuan, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap aturan. Sebab, di alam yang tetap lestari, selalu tersedia ruang bagi manusia untuk belajar, bertualang, dan mewariskan keindahannya kepada generasi yang akan datang. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Anakan Serak Jawa Singgah di Rumah Warga Kendal, Pengingat Pentingnya Predator Alami Pengendali Tikus

KENDAL – Seekor anakan Serak Jawa (Tyto javanica) tak sengaja memasuki sebuah rumah warga di Kabupaten Kendal pada Kamis (30/07/2026) pagi hari. Burung hantu tersebut sempat terbang mengelilingi bagian dalam rumah sebelum akhirnya masuk ke area gudang. Karena terlihat masih belajar terbang serta terlihat ketakutan dan tidak menunjukkan perilaku agresif, pemilik rumah Dani Satria (35) memilih membiarkannya beristirahat tanpa menangkap ataupun mengusirnya. Beberapa jam kemudian, burung itu berhasil keluar sendiri dan kembali ke alam. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kemunculan satwa liar di pemukiman tidak selalu menandakan adanya ancaman. Anakan Serak Jawa yang baru meninggalkan sarang memang masih berada dalam tahap belajar terbang dan berburu. Pada fase ini, mereka terkadang salah arah atau hinggap di bangunan, gudang, maupun halaman rumah sebelum akhirnya menemukan jalan kembali. Selama tidak mengalami cedera dan tidak terancam oleh hewan peliharaan seperti kucing atau anjing, tindakan terbaik adalah memberi ruang agar burung dapat kembali terbang dengan sendirinya. “Serak Jawa merupakan salah satu predator alami yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Makanan utamanya adalah tikus, terutama tikus sawah yang selama ini menjadi hama utama tanaman padi. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa seekor Serak Jawa dewasa mampu memangsa beberapa ekor tikus setiap malam, sehingga dalam satu tahun jumlah mangsa yang dikendalikan dapat mencapai ratusan bahkan lebih dari seribu ekor. Kemampuan tersebut menjadikan burung ini sebagai salah satu pengendali hama hayati paling efektif sekaligus ramah lingkungan dibandingkan penggunaan rodentisida atau racun tikus,” kata warga Kendal, Dani Satria (35), di Kendal, Jawa Tengah, Kamis (30/07/2026). Sayangnya, masih ada sebagian masyarakat yang mengaitkan burung hantu dengan berbagai mitos atau pertanda buruk. Padahal, dari sudut pandang ilmu ekologi, Serak Jawa justru merupakan indikator lingkungan yang masih mampu mendukung keberadaan satwa liar dan memiliki manfaat nyata bagi sektor pertanian. Kehadirannya membantu menjaga keseimbangan populasi tikus, mengurangi potensi gagal panen, sekaligus menekan penggunaan bahan kimia yang dapat mencemari lingkungan. “Peristiwa sederhana di sebuah rumah di Kendal ini menjadi pelajaran bahwa hidup berdampingan dengan satwa liar dapat dimulai dari tindakan sederhana, yaitu tidak panik dan tidak menyakiti hewan yang tersesat. Jika menemukan Serak Jawa atau burung liar lain yang tampak sehat namun kebingungan, masyarakat sebaiknya memberikan ruang agar satwa tersebut dapat kembali ke habitatnya secara alami. Dengan meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai manfaat Serak Jawa, diharapkan keberadaan predator alami ini semakin dihargai sebagai sahabat petani sekaligus penjaga keseimbangan ekosistem, bukan sebagai satwa yang harus ditakuti,” pungkas Dani. Sumber: Dani Satria
Baca Artikel

Disangka Musang, Mamalia Bersisik Kejutkan Warga Jember

Jember, 3 Agustus 2026. Warga Perumahan Mandiri Land, Kabupaten Jember, dikejutkan oleh kemunculan seekor satwa liar pada Kamis malam, 30 Juli 2026. Dalam cahaya lampu jalan, satwa itu tampak melintas perlahan di badan jalan. Bentuk tubuhnya membuat sebagian warga mengiranya musang. Namun, setelah diamankan petugas, identitas satwa itu justru mengungkap kisah yang berbeda. Laporan bermula sekitar pukul 20.00 WIB ketika seorang warga menghubungi call center Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Jember. Lokasi penemuan berada di kawasan Perumahan Mandiri Land yang berbatasan dengan Roxy Mall, salah satu pusat aktivitas masyarakat di Kota Jember. Menurut pelapor, satwa tersebut hampir tertabrak sepeda motor saat melintasi jalan kompleks perumahan. Merespons laporan itu, petugas Dinas Pemadam Kebakaran segera menuju lokasi dan mengamankan satwa. Pada malam yang sama, petugas berkoordinasi dengan Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), kemudian membawa satwa tersebut ke kantor Bidang KSDA Wilayah III Jember untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Karena penyerahan dilakukan pada malam hari, proses administrasi dan identifikasi dilanjutkan keesokan harinya. Hasil identifikasi memastikan bahwa satwa yang semula disangka musang tersebut adalah seekor Trenggiling Jawa, Manis javanica, mamalia bersisik yang dilindungi undang-undang. Satwa ini memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui pengendalian populasi semut dan rayap. Saat ini, satwa ditempatkan sementara di kandang transit Bidang KSDA Wilayah III Jember. Tim MATAWALI akan melakukan observasi terhadap kondisi fisik, kesehatan, dan perilaku satwa sebagai dasar penentuan langkah penanganan berikutnya. Apabila dinyatakan memenuhi persyaratan, satwa akan dipersiapkan untuk kembali ke habitat alaminya. Kemunculan Trenggiling di kawasan permukiman menjadi pengingat bahwa satwa liar sesekali dapat memasuki ruang aktivitas manusia. Dalam situasi seperti itu, tindakan paling tepat bukanlah menangkap, memelihara, ataupun memperjualbelikan satwa, melainkan segera melaporkannya kepada petugas agar memperoleh penanganan yang sesuai dengan prinsip konservasi dan kesejahteraan satwa. Peristiwa di Jember menunjukkan bahwa penyelamatan satwa liar sering kali bermula dari kepedulian masyarakat. Satu panggilan kepada petugas telah mencegah kemungkinan yang lebih buruk bagi satwa yang nyaris menjadi korban di jalan raya. Kolaborasi antara warga, Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Jember, dan Tim Matawali Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi mata rantai penting dalam memastikan satwa liar yang dilindungi tetap memperoleh kesempatan untuk hidup dan kembali menjalankan perannya di alam. Di tengah pesatnya perkembangan kawasan perkotaan, kehadiran seekor trenggiling di jalan perumahan bukan sekadar peristiwa yang mengundang perhatian. Ia menjadi pengingat bahwa manusia dan satwa liar masih berbagi bentang alam yang sama. Cara kita merespons setiap perjumpaan itulah yang pada akhirnya akan menentukan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Konservasi Dimulai Dari Kolaborasi Bersama Masyarakat

Samarinda – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur secara proaktif terus menggalang kolaborasi dengan masyarakat dalam upaya pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam. Inisiatif terbaru difokuskan pada penyusunan dokumen rencana pemberdayaan masyarakat yang diharapkan dapat menjadi landasan kuat bagi sinergi antara BKSDA Kaltim dan komunitas lokal yang diadakan tanggal 7-8 Juli 2026 di Hotel Verona, Samarinda. Kegiatan ini merupakan wujud komitmen BKSDA Kaltim dalam mewujudkan prinsip konservasi yang berlandaskan partisipasi dan keberlanjutan. Dengan melibatkan masyarakat secara langsung dalam proses perencanaan, diharapkan setiap program pemberdayaan yang dirancang akan lebih sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal, serta memiliki daya dukung yang kuat dari masyarakat. Konservasi sumber daya alam tidak dapat berjalan optimal tanpa adanya dukungan dan keterlibatan aktif dari masyarakat. Masyarakat yang berinteraksi langsung dengan kawasan konservasi memiliki pengetahuan lokal yang berharga dan kepentingan langsung terhadap keberlanjutan ekosistem. Oleh karena itu, pendekatan kolaboratif menjadi kunci utama keberhasilan program konservasi. BKSDA Kaltim meyakini bahwa dengan membangun hubungan yang erat dan saling percaya dengan masyarakat, upaya pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Dokumen rencana pemberdayaan masyarakat ini nantinya akan memuat berbagai strategi dan program yang dirancang bersama, mencakup aspek perlindungan kawasan, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu secara lestari, pengembangan ekowisata berbasis masyarakat, serta peningkatan kesadaran dan pendidikan lingkungan. Penyusunan dokumen ini melalui serangkaian kegiatan konsultasi publik yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, perwakilan kelompok tani, pemerhati lingkungan, hingga masyarakat umum yang berada di sekitar kawasan konservasi. Diskusi interaktif, sesi tanya jawab, dan penampungan aspirasi menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap pertemuan. Tim BKSDA Kaltim hadir untuk memfasilitasi dialog, memberikan informasi teknis, dan menyerap masukan yang konstruktif dari masyarakat. Diharapkan, dokumen yang dihasilkan nantinya benar-benar mencerminkan aspirasi dan kebutuhan masyarakat, serta dapat diimplementasikan secara berkelanjutan. Ini adalah langkah penting dalam memastikan bahwa konservasi tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen bangsa. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur

Menampilkan 49–64 dari 2.501 publikasi