Tarsius Makassar, Pengendali Serangga, Penjaga Keseimbangan Ekosistem – Foto: Taufiq Ismail
Maros, Agustus - "Di hutan tropis, tidak semua pahlawan berukuran besar. Sebagian bekerja dalam diam, di bawah naungan malam, menjaga keseimbangan kehidupan melalui peran yang nyaris tak pernah disadari manusia."
Ketika matahari tenggelam di balik bentang karst Maros–Pangkep, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Sulawesi Selatan, suasana hutan perlahan berubah. Burung-burung yang sejak pagi memenuhi tajuk pepohonan kembali ke sarang tidurnya. Cahaya jingga memudar, digantikan oleh kabut tipis yang menggantung di antara dinding-dinding batu kapur berusia jutaan tahun. Suara tonggeret, jangkrik, dan katak mulai mendominasi malam. Pada saat sebagian besar makhluk beristirahat, kehidupan lain justru dimulai.
Dari balik rumpun bambu, sepasang mata besar memantulkan cahaya redup. Tubuh kecil itu nyaris tidak bergerak. Ia mengamati setiap daun yang bergoyang, setiap serangga yang melintas di udara. Dalam sekejap, kedua kaki belakangnya yang panjang mendorong tubuh mungilnya melesat beberapa meter ke ranting lain. Seekor belalang yang lengah menjadi santapan malamnya.
Dialah tarsius makassar (Tarsius fuscus),primata nokturnal endemik Sulawesi Selatan yang telah menghuni kawasan Wallacea selama jutaan tahun. Meski hanya memiliki berat tubuh sekitar 113–133 gram (Supriatna, 2019), perannya dalam ekosistem jauh melampaui ukuran tubuhnya. Ia adalah predator malam, pengendali populasi serangga, sahabat alami bagi pertanian, sekaligus penanda kesehatan hutan tropis.
Keberadaan tarsius makassar menjadi bukti bahwa keseimbangan alam sering kali dijaga oleh makhluk-makhluk kecil yang bekerja tanpa terlihat. Di balik wajahnya yang menggemaskan dan matanya yang besar, tersimpan kisah evolusi yang panjang, hubungan ekologis yang rumit, dan kontribusi penting bagi kehidupan manusia.
Keajaiban Evolusi dari Wallacea
Kawasan Wallacea dikenal sebagai salah satu laboratorium evolusi terbesar di dunia. Terletak di antara Paparan Sunda dan Paparan Sahul, wilayah ini menjadi rumah bagi ratusan spesies endemik yang berkembang secara terpisah selama jutaan tahun. Salah satunya adalah tarsius makassar.
Menurut Groves dan Shekelle (2010), tarsius merupakan satu-satunya kelompok primata yang bersifat
faunivora obligat, yaitu memperoleh hampir seluruh kebutuhan energinya dari hewan hidup. Karakteristik ini membedakannya dari sebagian besar primata lain yang mengonsumsi buah, daun, atau biji-bijian.
Tubuh tarsius makassar merupakan hasil adaptasi evolusi yang luar biasa. Bola matanya begitu besar sehingga masing-masing memiliki ukuran yang hampir setara dengan volume otaknya. Adaptasi ini memungkinkannya menangkap cahaya secara maksimal pada malam hari. Tidak seperti kucing atau burung hantu yang memiliki lapisan pemantul cahaya di retina, tarsius mengandalkan ukuran mata untuk meningkatkan kemampuan penglihatannya.
Kaki belakang yang memanjang berfungsi sebagai pegas biologis. Dalam sekali lompatan, ia mampu berpindah beberapa meter di antara ranting-ranting pohon. Leher begitu fleksibel, memungkinkan kepalanya berputar hingga 180 derajat ke kiri maupun ke kanan sehingga ia dapat mengamati lingkungan tanpa mengubah posisi tubuh. Kombinasi adaptasi tersebut menjadikan tarsius makassar sebagai salah satu pemburu malam paling efektif di hutan tropis.
Pemburu yang Menjaga Keseimbangan
Saat malam semakin pekat, aktivitas berburu dimulai. Belalang, jangkrik, ngengat, kumbang, rayap, laba-laba, capung, hingga burung dan kadal kecil menjadi sasaran utama. Mangsa yang bagi manusia mungkin tampak tidak berarti justru memiliki peran penting dalam kehidupan tarsius.
Seekor tarsius makassar menghabiskan sebagian besar malam untuk berburu. Ia berpindah dari satu cabang ke cabang lain, berhenti beberapa saat untuk mengamati gerakan mangsa, lalu melompat dengan kecepatan yang mengagumkan. Hampir seluruh aktivitas hidupnya bergantung pada keberadaan serangga.
Hubungan sederhana antara predator dan mangsa tersebut sesungguhnya merupakan salah satu mekanisme paling penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Predator mencegah populasi mangsa meningkat secara berlebihan. Tanpa predator, beberapa jenis serangga dapat berkembang menjadi hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman dan mengubah struktur komunitas tumbuhan.
Di sinilah tarsius makassar memainkan peran yang sering tidak disadari.
Pengendali Serangga Alami
Dalam ilmu ekologi, keberadaan predator seperti tarsius merupakan bagian dari mekanisme pengendalian hayati (
biological control)
. Predator membantu menekan populasi organisme lain sehingga tetap berada pada tingkat yang seimbang.
Setiap malam, seekor tarsius memangsa sejumlah serangga yang berpotensi menjadi hama tanaman. Jika perilaku tersebut dilakukan oleh banyak individu dalam satu kawasan hutan, dampaknya terhadap dinamika populasi serangga menjadi sangat besar.
Belalang yang dimangsa tidak lagi berkembang biak dengan cepat. Jangkrik yang tertangkap tidak sempat merusak tanaman muda. Kumbang pemakan daun kehilangan kesempatan untuk memperluas populasinya.
Proses ini berlangsung secara alami tanpa bahan kimia, tanpa limbah, dan tanpa mengganggu organisme lain. Alam telah menciptakan sistem pengendalian yang bekerja jauh sebelum manusia mengenal pestisida.
Cara tarsius memangsa serangga pun menunjukkan perilaku yang sangat khas. Penelitian Qiptiyah dkk. (2012) mengungkapkan bahwa tarsius memegang belalang menggunakan kaki depan secara bergantian dan bagian pertama yang dimakan adalah kepala, sedangkan sayapnya dibuang. Perilaku ini mencerminkan strategi berburu yang efisien dan selektif—kepala mengandung nutrisi penting, sementara sayap yang keras dan sulit dicerna tidak serta-merta dikonsumsi.
Hasil pemantauan di kandang habituasi Suaka Tarsius Makassar (
Sanctuary Tarsius fuscus) di kawasan wisata Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, mengungkapkan bahwa seekor tarsius makassar mampu mengonsumsi 25 hingga 50 ekor serangga dalam satu malam. Angka ini menunjukkan kapasitas predasi yang sangat signifikan, terutama jika dikalikan dengan jumlah individu dalam satu kelompok dan populasi di suatu kawasan hutan.
Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan pemanfaatan musuh alami sebagai salah satu prinsip utama dalam Pengendalian Hama Terpadu (
Integrated Pest Management)
. Pendekatan ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem agar pengendalian hama tidak hanya bergantung pada pestisida sintetis.
Dalam konteks tersebut, tarsius makassar merupakan salah satu predator alami yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Teman Petani yang Bekerja Saat Manusia Tidur
Habitat satwa liar di hutan sering kali berbatasan dengan lahan pertanian seperti kebun, ladang, dan sawah. Lanskap seperti ini menciptakan ruang bagi interaksi antara manusia dan satwa liar.
Ketika para petani beristirahat setelah seharian bekerja, tarsius makassar mulai menjalankan aktivitasnya. Ia berburu di sekitar pepohonan, semak, dan vegetasi yang mengelilingi lahan pertanian.
Tanpa disadari, satwa kecil tersebut membantu mengurangi populasi berbagai serangga yang dapat merusak tanaman.
Koneri (2013) menunjukkan bahwa tarsius masih dapat ditemukan di bentang pertanian yang memiliki vegetasi alami sebagai habitat penyangga. Temuan ini mengindikasikan bahwa lanskap pertanian yang tetap mempertahankan tutupan pohon dan koridor hutan memungkinkan predator alami terus menjalankan fungsi ekologisnya.
Bagi petani, keberadaan tarsius makassar dapat dipandang sebagai investasi ekologis. Semakin baik kualitas habitat di sekitar lahan pertanian, semakin besar peluang hadirnya musuh alami yang membantu mengendalikan populasi hama.
Pendekatan ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada pestisida, tetapi juga menjaga kesehatan tanah, air, serangga penyerbuk, dan organisme lain yang mendukung produktivitas pertanian.
Penjaga Keseimbangan Ekosistem
Ekosistem hutan tropis merupakan jaringan kehidupan yang sangat kompleks. Tumbuhan menghasilkan energi melalui fotosintesis. Serangga memanfaatkan tumbuhan sebagai sumber makanan. Predator seperti tarsius mengendalikan populasi serangga. Predator yang lebih besar kemudian memangsa hewan-hewan kecil tersebut. Seluruh proses itu membentuk jaring-jaring makanan yang saling bergantung.
Apabila satu komponen hilang, dampaknya dapat merambat ke seluruh sistem.
Karena itulah para ahli sering menggunakan tarsius sebagai indikator kesehatan habitat. Populasi yang stabil menunjukkan bahwa hutan masih memiliki struktur vegetasi yang baik, ketersediaan serangga yang cukup, serta tingkat gangguan manusia yang relatif rendah.
Sebaliknya, penurunan populasi tarsius sering menjadi tanda awal bahwa ekosistem sedang mengalami tekanan.
Ancaman yang Terus Mengintai
Perubahan bentang alam menjadi ancaman terbesar bagi tarsius makassar. Alih fungsi hutan menjadi permukiman, perkebunan, kawasan industri, maupun infrastruktur menyebabkan habitatnya terfragmentasi.
Fragmentasi membuat kelompok-kelompok tarsius terisolasi sehingga sulit mencari pasangan dan mempertahankan keragaman genetik. Selain itu, penggunaan pestisida secara berlebihan juga dapat mengurangi populasi serangga yang menjadi sumber makanan utamanya.
Shekelle dan Leksono (2004) menekankan bahwa konservasi tarsius tidak cukup hanya melindungi individunya, tetapi juga menjaga habitat beserta konektivitas antar kawasan hutan.
Tanpa hutan yang utuh, kemampuan tarsius makassar menjalankan fungsi ekologisnya akan ikut hilang.
Menjaga Sang Penjaga Malam
Konservasi tarsius makassar sesungguhnya bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies endemik Sulawesi Selatan. Lebih dari itu, konservasi berarti menjaga proses ekologis yang menopang kehidupan.
Setiap malam, ketika manusia terlelap, seekor tarsius terus berburu di antara pepohonan. Ia memangsa serangga, menjaga keseimbangan populasi, mendukung kesehatan hutan, dan secara tidak langsung membantu sistem pertanian di sekitarnya.
Ia tidak pernah meminta penghargaan. Ia tidak pernah terlihat oleh sebagian besar manusia.
Namun, keberadaannya menjadi bukti bahwa alam bekerja melalui hubungan-hubungan yang halus dan saling bergantung.
Melindungi tarsius makassar berarti menjaga hutan yang menjadi rumahnya, dan mempertahankan predator alami yang mengendalikan hama. Tak hanya itu, juga memastikan bahwa bentang Wallacea tetap menjadi salah satu pusat keanekaragaman hayati terpenting di dunia.
Ketika malam kembali turun di Sulawesi Selatan dan suara duet tarsius menggema di antara tebing-tebing karst. Sesungguhnya alam sedang mengingatkan kita akan satu hal sederhana: keseimbangan kehidupan sering kali dipertahankan oleh makhluk-makhluk yang nyaris tak pernah kita lihat. Menjaga mereka bukan sekadar tindakan konservasi, melainkan investasi bagi keberlanjutan ekosistem dan masa depan manusia.
Sumber: Kama Jaya Shagir, Supardi, Aswadi Hamid, & Syamsuddin – Tim Kerja Suaka Tarsius Makassar, Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Daftar Pustaka
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. (2025a). Kelahiran Tarsius Makassar di Kandang Suaka Tarsius Makassar (Siaran Pers). Kementerian Kehutanan.
https://ksdae.kehutanan.go.id/publikasi/berita/kelahiran-tarsius-makassar-di-kandang-suaka-tarsius-makassar-qYJ5BZhD/
Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. (2025b). Tarsius Makassar: Dinamika Populasi Spesies Kunci Wallacea.
https://bantimurungbulusaraung.ksdae.kehutanan.go.id/tarsius-makassar-dinamika-populasi-spesies-kunci-wallacea/
FAO. (2018). Integrated Pest Management. Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Groves, C. P., & Shekelle, M. (2010). The genera and species of Tarsiidae. International Journal of Primatology, 31(6), 1071–1082.
https://doi.org/10.1007/s10764-010-9443-1
Koneri, R. (2013). Duet call based sampling to estimate density of spectral tarsier in farming area. Prosiding Seminar Nasional Biodiversitas, Universitas Sam Ratulangi, Manado.
Mustari, A. H. (2020). Ekologi, Perilaku, dan Konservasi Tarsius (Tarsius spp.). IPB Press.
Qiptiyah, M., Broto, B. W., & Setyawati, T. (2012). Perilaku Harian Tarsius Dalam Kandang di Patunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 1(2), 74–86.
https://doi.org/10.18330/jwallacea.2012.vol1iss2pp74-86
Santoso, R. S. (2010). Studi populasi dan perilaku Tarsius serta pengembangannya sebagai objek atraksi safari malam di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Media Konservasi, 15(2), 87–93.
Shekelle, M., & Leksono, S. M. (2004). Rencana konservasi di Pulau Sulawesi dengan menggunakan Tarsius sebagai flagship species. Biota, 9(1), 1–10.
Sinaga, W., Wirdateti, Iskandar, E., & Pamungkas, J. (2010). Observation of habitat, feed and Tarsius nest distribution area in Central Sulawesi and Gorontalo. Laporan Penelitian. Pusat Penelitian Biologi LIPI, Bogor.
Supriatna, J. (2019). Field Guide to the Primates of Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.