Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Balai TN Kayan Mentarang Merajut Kolaborasi di Perbatasan Krayan - Nunukan

Malinau, 10 November 2025. Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memiliki luas Kawasan sebesar 1.272.094,62 Ha membentang di 2 Kabupaten yaitu Malinau dan Nunukan yang berada di Provinsi Kalimantan Utara. Di Kabupaten Nunukan sendiri Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki luas sebesar 272.930,16 Ha yang berada di Kecamatan Krayan, Krayan Barat, Krayan Timur, Krayan Tengah, Krayan Selatan dan Lumbis Hulu sepanjang perbatasan Indonesia - Malaysia. Dalam mengelola dan menjaga kelestarian kawasan TNKM di Kabupaten Nunukan terdapat unit pengelola yang bekerja di bawah Balai TNKM yaitu Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan yang saat ini berkedudukan di Kabupaten Nunukan. Sementara itu wilayah kerja di SPTN Wil. I Long Bawan dibagi menjadi 2 (dua) resort pengelolaan yaitu resort Krayan dan Resort Lumbis Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., didampingi Kepala SPTN Wil. I Long Bawan Hery Gunawan, S.Hut. melakukan kunjungan ke wilayah kerja Resort Krayan yang merupakan bagian dari wilayah administrasi kecamatan krayan, pada kunjungan kali ini rombongan melakukan koordinasi ke kantor kecamatan Krayan dan bertemu langsung dengan Camat Krayan yaitu bapak Ronny Firdaus, S.E., M.Si. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan kolaborasi antara Balai TN Kayan Mentarang dengan Pemerintah Daerah kabupaten Nunukan melalui Camat Krayan yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan konservasi. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, Kepala Balai berdialog dengan Ronny Firdaus, S.E., M.Si. mengenai peran masing masing pihak dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi serta upaya dalam penyejahteraan masyarakat adat sekitar kawasan konservasi dalam hal ini Kawasan TNKM di wilayah perbatasan. Ronny Firdaus, S.E., M.Si. menyampaikan “Saya selaku Camat Krayan mengucapkan Selamat Datang buat Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang di Krayan, harapan kami kedepannya agar kedua belah pihak dapat menjaga komunikasi yang baik serta Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dapat memberikan Program Program yang bermanfaat dan lebih intens kepada masyarakat yang bermukim disekitar kawasan TNKM serta dalam pelaksanaan program program tersebut berbasis terhadap pemberdayaan masyarakat adat yang ada di krayan”. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

Wujud Kolaborasi Konservasi dan Keamanan Perbatasan Negara

Malinau, 9 November 2025. Untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antarinstansi dalam upaya perlindungan kawasan konservasi sekaligus pengamanan wilayah perbatasan negara, Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Krayan dan Pos TNI Pengamanan Perbatasan Long Midang, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kunjungan ini bertujuan untuk menjalin komunikasi dan kerja sama antara Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dengan pemerintah daerah serta unsur TNI dalam menjaga kelestarian kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai bersama jajaran melakukan pertemuan dengan pemerintah daerah yaitu Camat Krayan dan unsur TNI yang bertugas di Pos Pengamanan Perbatasan Long Midang. Pertemuan membahas pentingnya sinergi dalam pelaksanaan patroli bersama, pengawasan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan hutan, serta langkah-langkah antisipasi terhadap potensi pelanggaran batas wilayah dan aktivitas ilegal lintas negara. Selain itu, Kepala Balai juga meninjau kondisi lapangan di sekitar kawasan konservasi dan wilayah perbatasan untuk memastikan upaya perlindungan berjalan sesuai dengan prinsip konservasi dan keamanan wilayah negara. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun komitmen bersama antara Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dan TNI untuk memperkuat perlindungan kawasan sekaligus menjaga kedaulatan negara di wilayah perbatasan. Sinergi ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang aman, lestari, dan berkelanjutan di wilayah perbatasan Indonesia. Kepala Balai TNKM, Bapak Seno Pramudito, S.Hut., M.E, menjelaskan “Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan salah satu kawasan konservasi terluas di Indonesia, dengan luas mencapai 1,27 juta hektare, yang terletak di Provinsi Kalimantan Utara dan mencakup dua kabupaten, termasuk Kabupaten Nunukan dan Malinau. Kawasan ini memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya sebagai habitat beragam flora dan fauna khas hutan hujan tropis Kalimantan, tetapi juga karena sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Hal ini menjadikan Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki fungsi strategis, baik dari sisi ekologis maupun keamanan negara. Kunjungan kami ke wilayah Kecamatan Krayan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antara Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, pemerintah daerah, serta TNI yang bertugas di wilayah perbatasan. Dalam pertemuan ini, kami membahas berbagai langkah kolaboratif dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan taman nasional, termasuk pelaksanaan patroli bersama, pencegahan aktivitas ilegal lintas batas, serta peningkatan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan ekosistem di wilayah perbatasan. Melalui sinergi ini, kami berharap upaya perlindungan kawasan konservasi dapat berjalan sejalan dengan upaya menjaga keamanan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian hutan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan memastikan bahwa kawasan konservasi di wilayah perbatasan tetap lestari, aman, dan berkelanjutan — demi alam dan kedaulatan bangsa.” Wadanpos Satgas Pamtas Armedyon IV Pahrrayangan, Bapak Mayor Ahmad Hufaizam, menjelaskan ”Saya Wadanpos Satgas Pamtas Armedyon IV Pahrayangan, hari ini mendapat kunjungan dari pihak Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dalam rangka koordinasi dan sinergisitas dalam upaya Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Taman Nasioal Kayan Mentarang yang sekaligus merupakan Batas Negara antara Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Negara tetangga Malaysia, dalam pertemuan ini, kami membahas berbagai langkah kolaboratif dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan taman nasional kayan mentarang, termasuk pelaksanaan patroli bersama, pencegahan aktivitas ilegal lintas batas, serta peningkatan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan ekosistem di wilayah perbatasan. Melalui sinergi ini, kami berharap menjadi langkah positif dalam menjalankan fungsi masing masing organisasi sehingga tugas dan tanggung jawab dapat berjalan dengan baik dan lebih efektif, dan pada akhirnya dapat menciptakan keamanan dan kedaulatan bagi Kawasan Konservasi sekaligus Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentara Nasional Indonesia Melalui Bataliyon Armedyon IV Pahrayangan berkomitmen untuk terus menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta turut menjaga kelestarian hutan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan memastikan bahwa kawasan konservasi di wilayah perbatasan tetap lestari, aman, dan berkelanjutan”. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

BBKSDA Jatim perkuat Kemitraan Jelang Revalidasi Unesco Global Geopark 2026

Jember, 6 November 2025. Di ruang pertemuan LP2M Universitas Jember terasa seperti perhentian penting dalam perjalanan panjang menjaga wajah bumi yang rapuh. Di dalam ruang tersebut para pemangku kepentingan duduk melingkar, menyimak satu isu yang mengikat kepentingan banyak pihak, masa depan Geopark Ijen menjelang revalidasi Unesco Global Geopark tahun 2026. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), di wakili oleh Wiwin Sepiastini, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya, turut hadir memenuhi undangan Kepala Bakorwil V Jember. Pertemuan yang digelar secara hybrid ini mempertemukan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Bappeda Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, pengelola Ijen Geopark dari dua kabupaten, LP2M Universitas Jember, serta lembaga-lembaga yang memiliki peran strategis dalam konservasi dan pendidikan. Di tengah beragam perspektif itu, semua sepakat bahwa Ijen bukan sekadar lanskap vulkanik, melainkan ruang hidup yang memuat jutaan tahun cerita bumi, rumah bagi spesies endemik, serta laboratorium alam yang harus dijaga agar tetap otentik. Dalam diskusi yang berjalan hampir tanpa jeda, disepakati bahwa penyusunan roadmap menjadi langkah mendasar. Peta jalan ini akan dirumuskan oleh tim kecil yang dipimpin para peneliti Universitas Jember di bawah koordinasi Prof. Hari. Mereka akan menata ulang arah pengembangan geopark, menyelaraskan penelitian, edukasi, tata kelola kawasan, dan pemberdayaan masyarakat. Semua untuk memastikan bahwa Ijen dapat mempertahankan statusnya di hadapan lembaga global yang ketat dalam menilai integritas sebuah geopark. Pembahasan bergerak, menuju identitas publik Ijen. Maskot Si Geo, burung endemik yang lahir dari karakter lanskap dan sejarah geologi kawasan, dipandang sebagai pintu yang dapat membuka kesadaran lebih luas tentang nilai pendidikan geopark. Namun para peserta menyadari bahwa maskot saja tidak cukup, ia memerlukan ruang tampil, kampanye kreatif, dan program literasi yang menjangkau masyarakat luas. Di tengah dinamika itu, muncul dorongan agar edukasi geopark tidak berhenti pada sekolah-sekolah di sekitar kawasan. Ijen harus menjadi ruang belajar yang inklusif, membuka kesempatan bagi generasi muda dari berbagai daerah melalui kegiatan seperti summer camp, eksplorasi ilmiah, dan program literasi lingkungan yang berkelanjutan. Kesadaran publik dipandang sebagai fondasi yang sama pentingnya dengan konservasi fisik kawasan. Bakorwil V Jember kemudian mengajak para peserta membahas rencana kegiatan sarasehan bagi pelajar SMA di Banyuwangi dan Bondowoso. Acara yang akan digelar pertengahan November 2025 di TWA Kawah Ijen ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya penulis-penulis muda yang mampu mengartikulasikan nilai geopark melalui artikel ilmiah populer. BBKSDA Jawa Timur dan Universitas Jember diminta menjadi narasumber, menjembatani ilmu konservasi dengan pengalaman lapangan. Karya terbaik para pelajar nantinya akan dimuat dalam ensiklopedia, menjadikan suara generasi muda sebagai Pertemuan di LP2M UNEJ itu pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar rapat koordinasi. Ia menyerupai ruang perenungan bersama tentang betapa berharganya lanskap vulkanik Ijen, tentang bagaimana edukasi, konservasi, dan kemitraan dapat saling menguatkan. Bagi BBKSDA Jawa Timur, komitmen tetap sama, yaitu memastikan bahwa seluruh proses pengembangan geopark berjalan dalam koridor perlindungan kawasan, keselamatan pengunjung, etika penelitian, dan penghormatan pada kearifan lokal. Ijen akan kembali dinilai dunia. Namun sebelum itu, kita menilai diri sendiri: apakah telah cukup merawat, memahami, dan menyampaikan nilai-nilainya kepada generasi masa depan. Dalam sunyi selepas pertemuan, terasa seperti ada bisikan dari dinding kawah yang jauh di sana, seakan mengingatkan bahwa tugas menjaga bumi bukan hanya urusan lembaga, melainkan kewajiban bersama. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Konservasi Jawa Timur, Jejak Kepahlawanan yang Tak Pernah Padam

Sidoarjo, 10 November 2025. Di Jawa Timur, di mana gugusan pegunungan menorehkan garis biru di cakrawala dan pulau-pulau kecil di utara memanggil angin yang membawa kisah lama. Ada perjuangan yang nyaris tidak pernah tercatat. Perjuangan itu tidak hadir dalam parade besar atau suara trompet. Tetapi dalam langkah para penjaga alam yang menyelusup ke hutan sebelum fajar, yang menyusuri pantai ketika gelombang sedang pasang, dan yang mengetuk pintu rumah warga demi menyampaikan pesan sederhana. Bahwa kehidupan di bumi ini hanya bisa berlanjut jika kita menjaganya bersama. Hari Pahlawan 10 November 2025 memberi jeda yang tepat untuk menengok kembali perjalanan itu. Dengan tema “Pahlawanku Teladanku: Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan,” Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir bukan sekedar sebagai institusi pemerintah, tetapi sebagai wakil dari ratusan jiwa yang mempraktikkan kepahlawanan sunyi setiap hari. Pada jantung tugas pokok dan fungsi konservasi, tim perlindungan kawasan berdiri sebagai garis depan. Polisi Kehutanan menelusuri jalur-jalur yang tak lagi dilalui manusia, membaca perubahan lanskap seperti membaca kalimat yang terhapus angin. Mereka mengenali tanda bahaya dalam lengkung ranting patah, dalam aroma tanah yang berubah, atau dalam diam yang terlalu panjang di hutan musim. Di beberapa patroli, mereka menemukan jejak jerat yang ditinggalkan pemburu malam. Di hari lainnya, mereka memulangkan para burung pemangsa yang terperangkap dalam jerat keserakahan. Di belakang mereka, para Pengendali Ekosistem Hutan bekerja seperti para penjaga ingatan. Mereka mengukur kesehatan ekosistem, mencatat pergerakan satwa dari Bawean hingga Nusa Barung, memantau migrasi burung air di Ujung Pangkah, hingga menilai kembali struktur kanopi hutan yang dipengaruhi perubahan iklim. Catatan-catatan mereka membentuk dasar sains yang menjadi tulang punggung konservasi jangka panjang. Sementara itu, para Penyuluh Kehutanan menapaki ruang sosial dengan cara yang berbeda. Mereka masuk ke rumah-rumah warga penyangga kawasan, berbincang sambil duduk di bale-bale bambu, menjelaskan bahwa menjaga hutan bukan sekadar menjaga pohon, tetapi menjaga musim tanam, menjaga air, menjaga ruang hidup anak cucu. Banyak dari percakapan itu membuahkan gerakan kolektif lingkup desa, yang kemudian bertumbuh menjadi jejaring Masyarakat Mitra Polhut, warga yang memilih ikut menjaga alam bukan karena diwajibkan, tetapi karena merasa bagian darinya. Dari lingkar luar, kader konservasi dan generasi muda datang membawa semangat baru. Mereka memotret burung dengan kamera ponsel, menulis ulang cerita alam di media sosial, mengorganisir aksi bersih pantai, hingga membuat peta kecil rumah-rumah satwa di kampung mereka. Suara mereka, yang dulu sering dianggap kecil, kini menjadi salah satu seruan paling keras dalam gerakan konservasi modern. Seluruh energi ini, yang kadang saling berjauhan tetapi selalu saling menguatkan, berpusat pada arah kerja Balai Besar KSDA Jawa Timur. Alam telah menjadi arena pengabdian kolektif. Dari penyelamatan satwa korban interaksi negatif manusia dan satwa, rehabilitasi elang yang dilepasliarkan kembali ke langit, pemulihan mangrove yang merawat garis pantai, hingga pengelolaan pulau-pulau kecil dengan sains sebagai kompasnya. Pada setiap proses, ada tekad yang sama, yaitu memastikan keanekaragaman hayati tetap hidup. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan refleksi yang merangkum esensi perjuangan itu. “Para pahlawan negeri ini mengajarkan kita untuk menjaga sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Konservasi adalah wujud nyata pelajaran itu. Yang kami lakukan bukan sekadar tugas instansi, tetapi panggilan untuk memastikan bumi tetap memberikan kehidupan bagi generasi mendatang. Semangat itu yang terus kami hidupkan dalam setiap patroli, setiap penelitian, setiap dialog dengan masyarakat, dan setiap satwa yang berhasil kembali ke alam.” Pernyataannya menggambarkan bahwa konservasi di Jawa Timur berdiri pada perjumpaan antara sains, keberanian, dan empati, perpaduan yang membentuk fondasi perlindungan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Di akhir setiap hari, ketika cahaya terakhir merayap di celah kanopi, hutan menyimpan kisah-kisah kecil tentang para penjaganya. Kisah tentang penyu yang berhasil menetas karena pantai diamankan, tentang rusa yang kembali terbaca jejaknya di kamera trap, tentang pohon-pohon muda yang ditegakkan kembali setelah badai, dan tentang satwa-satwa yang pulih setelah lama sakit. Kepahlawanan dalam dunia konservasi tidak memiliki panggung megah, tetapi ia memiliki dampak yang tak terukur. Dan selama para penjaga alam Jawa Timur terus bergerak, teladan itu akan selalu hidup, untuk menghubungkan masa lalu yang berani, masa kini yang bekerja, dan masa depan yang ingin tetap hijau. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sinergi Konservasi dan Budaya: Kepala Balai TN Kayan Mentarang Kunjungi Tokoh Adat Lundayeh di Krayan

Malinau, 9 November 2025.Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) melakukan kunjungan ke rumah adat Dayak Lundayeh yang dikelola oleh Elyas Yesaya, seorang budayawan Suku Adat Dayak Lundayeh di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan kolaborasi antara Balai TN Kayan Mentarang dengan masyarakat adat yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan konservasi. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, Kepala Balai berdialog dengan Elyas Yesaya mengenai pelestarian budaya, kearifan lokal, dan upaya perlindungan hutan di wilayah perbatasan. Elyas Yesaya menyampaikan pentingnya menjaga nilai-nilai adat dan budaya Lundayeh, yang sejak lama mengajarkan masyarakat untuk hidup selaras dengan alam. Melalui kunjungan ini, Balai TN Kayan Mentarang menegaskan komitmennya untuk terus membangun sinergi konservasi berbasis budaya lokal, menjaga hutan sekaligus melestarikan warisan budaya masyarakat adat di kawasan perbatasan. Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., menjelaskan “Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang bukan hanya memiliki kekayaan alam yang luar biasa, tetapi juga menyimpan warisan budaya masyarakat adat yang telah hidup dan menjaga alam ini selama berabad-abad”. Kunjungan kami ke rumah adat Bapak Elyas Yesaya, tokoh dan budayawan Suku Dayak Lundayeh, merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan antara pengelolaan taman nasional dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Kami percaya, upaya konservasi tidak dapat berjalan sendiri, melainkan harus tumbuh bersama dengan kearifan masyarakat adat yang memahami alam sebagai bagian dari kehidupan mereka. Melalui sinergi ini, kami berharap Taman Nasional Kayan Mentarang dapat terus menjadi ruang hidup yang lestari — tempat di mana alam, budaya, dan masyarakat tumbuh harmonis di wilayah perbatasan negeri.” Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

BBKSDA Jatim Hadir di Kampus UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Ponorogo, 4 November 2025. Di sebuah ruang kuliah yang dipenuhi wajah-wajah muda penuh harapan, kisah tentang hutan, satwa, dan masa depan konservasi di tanah air kembali hidup. Pada Selasa, 4 November 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun hadir memberikan Kuliah Praktisi bertema “Biodiversitas dan Konservasi Sumber Daya Alam di Ponorogo” kepada mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Kegiatan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, kegiatan tersebut adalah percikan inspirasi, undangan terbuka bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam menjaga bumi. Para mahasiswa Jurusan Tadris IPA, ditemani para dosen serta jajaran pimpinan fakultas, menyimak langsung dinamika pengelolaan keanekaragaman hayati dan tantangan konservasi di wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Dalam sesi pemaparan, materi disampaikan secara komprehensif mulai dari konsep dasar biodiversitas, fungsi ekologis flora-fauna lokal, hingga pendekatan strategis pelestarian. Diskusi kemudian mengalir menyentuh isu-isu hangat, pembangunan dan alih fungsi lahan, peran lembaga konservasi, penangkaran satwa, serta pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar yang berkelanjutan sesuai peraturan perundangan. Suasana dialog berlangsung antusias. Mahasiswa, sebagian besar calon pendidik sains, tak hanya bertanya, mereka menawarkan gagasan. Di tengah diskusi, muncul semangat baru, tentang keinginan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo untuk memperkuat kolaborasi konservasi bersama BBKSDA Jawa Timur ke depan, dalam bentuk deklarasi komitmen bersama. Upaya ini bukan hanya membangun jembatan antara kampus dan konservasi, namun juga fondasi bagi masa depan. Di tangan generasi muda seperti mereka, benih kepedulian terhadap alam dapat tumbuh menjadi gerakan besar, gerakan yang mencintai bumi, memelihara ekosistemnya, dan memahami bahwa keberlanjutan bukan pilihan, melainkan kewajiban. Dengan langkah kecil di ruang kuliah, sebuah harapan besar tercatat, bahwa hari esok alam Jawa Timur akan dijaga oleh mereka yang hari ini belajar, bertanya, dan mulai peduli. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bersama Hujan, Para Penjaga Alam Menyusuri Rimba Lereng Wilis

Ponorogo, 4 November 2025. Hujan turun perlahan di lereng Gunung Wilis. Tetes-tetes air menimpa daun pasang yang lebar, jatuh berderai di tanah basah, menimbulkan aroma khas humus hutan yang begitu kuat. Kabut pekat menari di antara batang pohon, menutup pandangan, namun tidak menyurutkan langkah para penjaga alam. Di tengah senyap yang hanya dipecah oleh bunyi hujan dan desir angin, mereka melangkah pelan tapi pasti, menyusuri jalur curam dan licin di jantung Cagar Alam Gunung Sigogor. Selama empat hari, dari 28 hingga 31 Oktober 2025, tim dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06, di bawah Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA Jatim) melaksanakan SMART Patrol di Blok Patak Banteng. Kegiatan ini bukan sekadar patroli biasa. Ia adalah bagian dari kerja ilmiah yang mendalam, mencatat, memetakan, dan memahami denyut kehidupan liar di kawasan konservasi yang menjadi benteng ekosistem Pegunungan Wilis. Dengan peralatan sederhana, jas hujan, GPS, dan aplikasi Avenza Maps serta SMART Mobile, dua tim bergerak ke arah berbeda. Tim A menelusuri grid 201 hingga 245, meliputi area sekitar 7,25 Ha, sedangkan Tim B menyusuri grid 205 hingga 247 seluas 6,22 Ha. Hujan yang tak kunjung reda membuat tanah becek dan jalur semakin berat dilalui, namun langkah mereka tak surut. Setiap titik koordinat direkam, setiap perjumpaan dengan flora dan fauna dicatat dengan teliti, karena setiap temuan berarti data, dan setiap data adalah bukti kehidupan. Dari balik tetesan hujan, hutan Sigogor berbicara dalam bahasa alamnya sendiri. Tim A menemukan berbagai jenis tumbuhan khas hutan pegunungan seperti Pasang (Lithocarpus sp.), Nyampuh (Pygeum parviflorum), Rotan (Calamus sp.), Wesen (Dodonea viscosa), dan Suren (Toona surenii). Sementara Tim B mencatat keragaman vegetasi lain: Kayu Jurang, Apak (Ficus sp.), Morosowo (Engelhardtia spicata), Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana), serta dua spesies anggrek liar yang mencuri perhatian Calanthe triplicata di tanah lembap dan Dendrobium sp. yang menempel di batang pohon tua. Di antara gemericik air, beberapa satwa pun muncul sekilas. Seekor Kijang (Muntiacus muntjak) berlari cepat melintasi jalur sempit, sementara dari atas kanopi terdengar kicauan Burung Kapas Gunung (Fulvetta cinereiceps) dan warna mencolok Paok Pancawarna (Hydrornis guajana) yang menembus gelapnya rimba primer. Hutan yang basah oleh hujan seolah hidup, menampilkan denyut kehidupannya di tengah kesunyian. Meski cuaca kurang bersahabat, seluruh kegiatan berlangsung aman dan lancar. Tidak ditemukan adanya gangguan atau ancaman terhadap kawasan konservasi. Namun, sebagaimana semangat para penjaga alam, ketenangan bukan alasan untuk berhenti. Di sela waktu istirahat, tim juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan, menanamkan pesan penting bahwa menjaga hutan berarti menjaga sumber kehidupan. Cagar Alam Gunung Sigogor adalah rumah bagi ribuan spesies, penyangga keseimbangan ekologis lereng Wilis. Melalui kegiatan SMART Patrol, Balai Besar KSDA Jawa Timur terus memastikan kawasan ini tetap lestari dengan pendekatan berbasis sains, menggabungkan teknologi, observasi lapangan, dan semangat konservasi. Hujan yang mengguyur, kabut yang menutupi pandangan, dan medan yang menantang tak pernah menjadi penghalang. Di tengah sunyi rimba dan derasnya hujan, para petugas itu tetap berjalan, karena bagi mereka, setiap langkah di tanah basah Sigogor adalah wujud pengabdian. Di balik kabut, mereka menulis kisah tanpa suara, kisah tentang keteguhan, kesetiaan, dan cinta yang tulus pada alam. Dan di sanalah, di antara rintik hujan yang abadi, jejak para penjaga hutan itu tetap tertinggal, sebagai tanda kehidupan yang terus dijaga. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan Hadir di Seminar Lingkungan Milad MANPALA NAVIRI 2025

Pamekasan, 31 Oktober 2025.Gema semangat konservasi mengalun di aula utama MAN 2 Pamekasan. Dalam rangka memperingati Milad MANPALA NAVIRI (MAN Pecinta Alam), puluhan generasi muda dari berbagai organisasi pecinta alam se-Madura berkumpul untuk satu tujuan, belajar mengenal dan mencintai alam dengan cara yang benar. Kegiatan Seminar Lingkungan ini menghadirkan jajaran Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah (Seksi KSDA Wilayah) IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) turut ambil bagian sebagai pemateri utama. Mereka membawa pesan penting, bahwa mencintai alam bukan sekadar mendaki gunung atau menjelajah hutan, tetapi juga memahami nilai ekologis dan tanggung jawab moral terhadap bumi yang kita pijak. Kepala Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Asep Hawim Sudrajat, membuka sesi dengan paparan tentang profil dan peran strategis BBKSDA Jawa Timur, khususnya di wilayah kerja di Pulau Madura. Melalui materinya, peserta diajak memahami bagaimana institusi konservasi negara bekerja melindungi kekayaan hayati, dari kawasan hutan lindung hingga pantai dan pulau-pulau kecil. Paparan kemudian dilanjutkan oleh Andi Desta, Calon Polisi Kehutanan Ahli Pertama, yang menjelaskan tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAE), dasar hukum, peran, dan upaya pelestarian yang dijalankan negara. Sesi berikutnya diisi oleh Fadli, Calon Polisi Kehutanan Pemula, yang membahas tentang kawasan konservasi, ruang hidup bagi berbagai spesies tumbuhan dan satwa liar yang menjadi warisan alam Nusantara. Menutup sesi diskusi, Didik Sutrisno, Penyuluh Kehutanan, menyampaikan materi berjudul “Menjadi Pecinta Alam yang Baik dan Benar”, sebuah refleksi bagi komunitas muda pecinta alam agar kegiatan eksplorasi tak hanya berorientasi pada petualangan, tetapi juga pada edukasi, etika, dan konservasi. Sebanyak 50 peserta dari kalangan Siswa Pecinta Alam (Sispala), Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), serta Organisasi Pecinta Alam (Opala) dari Kabupaten Pamekasan dan Sampang hadir mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Diskusi berlangsung hangat, diselingi tanya jawab yang menggugah kesadaran ekologis di kalangan generasi muda Madura. Melalui kegiatan ini, BBKSDA Jawa Timur berharap nilai-nilai konservasi dapat tumbuh di hati para pelajar dan pecinta alam sebagai langkah awal menjaga keberlanjutan ekosistem. Sebab, di pundak generasi muda inilah masa depan hutan, laut, dan satwa liar Indonesia dititipkan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sambut Usia Baru, Balai TN Aketajawe Lolobata Lakukan Aksi Hijau

Sofifi, 2 November 2025— Semangat hijau kembali berdenyut di jantung kota Sofifi, Maluku Utara. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-21 Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), para pegawai Balai TNAL melaksanakan aksi pembagian bibit MPTS (Multi Purpose Tree Species) sebagai wujud nyata cinta lingkungan. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 2 November 2025 itu dilakukan secara langsung di tengah masyarakat. Tim Balai TNAL turun ke area bundaran Sofifi menyapa warga dan membagikan bibit tanaman MPTS seperti bibit pohon durian, rambutan, tabebuya, dan ketapang kencana. Meski sederhana, aksi ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap alam yang dimulai dari langkah kecil. Miftakhul Huda, salah satu pegawai Balai TN Aketajawe Lolobata, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk kepedulian dan pendekatan sosial kepada masyarakat Kota Sofifi dalam menjaga alam di Maluku Utara, khususnya di Pulau Halmahera. Bersama momentum ini, Huda juga mengungkapkan harapannya untuk TNAL dalam menjaga kelestarian alam. "Selamat ulang tahun ke-21 Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Semoga TNAL terus jaya dan tetap semangat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan Halmahera, Maluku Utara ", lanjut Huda penuh semangat. Melalui aksi pembagian bibit tanaman, BTNAL mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menanam pohon, merawat bumi, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan. Bibit-bibit yang ditanam diharapkan dapat tumbuh dengan baik dan menjadi bagian dari upaya bersama untuk melindungi alam serta mendukung keberlanjutan kehidupan di Maluku Utara. Sumber: Tim Humas & Medsos Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

Menanam Kesadaran, Menjaga Kelestarian di Madiun

Madiun, 27 Oktober 2025. Upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya konservasi sumber daya alam hayati kembali digelorakan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama mitra Jaga Satwa Indonesia (JSI) menggelar kegiatan Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya di The Sun Hotel, Madiun, pada Minggu siang yang hangat dan penuh semangat (26/10/2025). Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB ini difasilitasi oleh Drs. Pudji Wahju Widodo, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Daerah Pemilihan XI (Kabupaten/Kota Madiun dan Kabupaten Nganjuk). Kehadirannya mencerminkan sinergi nyata antara lembaga legislatif dan instansi konservasi dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap regulasi dan praktik pelestarian alam. Dalam kegiatan ini, tim dari Bidang KSDA Wilayah Madiun menyampaikan berbagai materi kunci, meliputi, Tugas dan fungsi BBKSDA Jawa Timur dalam melindungi dan mengelola kekayaan hayati di seluruh wilayah provinsi Jawa Timur, Peraturan perundangan bidang KSDAE, yang menjadi payung hukum bagi setiap upaya konservasi. Selain itu juga ada program unggulan “Membudayakan Konservasi, Mengkonservasi Budaya”, yang mengajak masyarakat menjaga alam sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya, serta penanganan konflik dan evakuasi satwa liar, sebagai langkah mitigasi untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam. Para peserta yang hadir berasal dari tujuh desa di Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun. Mereka mengikuti dengan antusias, menyimak penjelasan tentang bagaimana peraturan dapat diterapkan secara nyata di lapangan, terutama dalam menghadapi dinamika interaksi manusia dengan satwa liar yang semakin sering terjadi di wilayah pedesaan. Konservasi tak hanya berbicara tentang menjaga satwa dan hutan, melainkan tentang mewariskan kehidupan. Melalui kegiatan ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur berharap masyarakat tidak sekadar mengenal aturan, tetapi memahami nilai moral dan ekologis di baliknya. Bahwa setiap upaya pelestarian adalah bentuk rasa syukur atas anugerah alam, dan setiap tindakan sadar konservasi adalah langkah kecil menuju keberlanjutan bumi yang lebih besar. Dalam sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra konservasi seperti Jaga Satwa Indonesia, tumbuh harapan bahwa Jawa Timur akan menjadi rumah yang lestari bagi manusia dan semua makhluk yang berbagi kehidupan di dalamnya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tingkatkan Pengamanan Kawasan Konservasi, BalaiTN Aketajawe Lolobata Audiensi dengan Kapolda Maluku Utara

Sofifi, 20 Oktober 2025 - Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata melaksanakan audiensi dengan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Provinsi Maluku Utara di kantor Polda Maluku Utara. Audiensi ini merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman antara Kementerian Kehutanan dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia tentang kerja sama dalam penegakan hukum di bidang kehutanan. Audiensi tersebut bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan sinergi Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dengan Polda Maluku Utara dalam bidang perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi. Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata,, Irwan Efendy, S.Pi., M.Sc., menyampaikan bahawa kolaborasi dengan aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, merupakan langkah strategis guna memperkuat perlindungan kawasan taman nasional dari berbagai bentuk ancaman, termasuk perambahan, perburuan satwa liar, dan aktivitas ilegal lainnya. Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Drs. Waris Agono, M.Si. juga menyambut baik inisiatif tersebut dan menegaskan komitmen Polda Maluku Utara untuk terus mendukung upaya pelestarian sumber saya alam dan keanekaragaman hayati di wilayah Maluku Utara. Audiensi ini diharapkan dapat meningkatkan kerja sama dan sinergisitas antara Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan Polda Maluku Utara di bidang perlindungan dan pengamanan kawasan dalam rangka menjaga keberlanjutan fungsi eksosistem, serta mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan dan berkeadilan di wilayah Maluku Utara. Sumber: Tim Medsos Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

13 Jejak Keindahan di Gunung Besar Pulau Bawean

Bawean, 16 Oktober 2025. Di tengah kesunyian hutan lembab Pulau Bawean, langkah kaki Tim Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), bersama mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM), terhenti sejenak oleh sesuatu yang tak biasa. Di antara seresah daun yang basah dan bayang pohon besar di Cagar Alam Blok Gunung Besar, pada ketinggian 275 mdpl, mereka menemukan tumbuhan setinggi hampir satu meter dengan daun hijau tua, lebih mirip daun pandan yang tegak dan rapat di sepanjang batang. Di ujungnya, tersisa tangkai perbungaan dengan buah yang telah pecah, sangat khas buah anggrek seperti belimbing. Jejak keindahan yang terlewat. Hari itu, Kamis, 16 Oktober 2025, menjadi catatan penting. Tim mencatat 13 individu Neuwiedia veratrifolia Bl. dalam dua grid pengamatan (480 dan 481). Sebuah temuan yang menegaskan bahwa hutan Bawean masih menyimpan kisah lama yang hidup, menjadi rumah yang ideal bagi mereka dan teman-temannya yang lain. "Bunganya sudah menjadi buah dan sekarang mengering, sepertinya sudah lama selesai mekar,” cerita Nur Hayyan Jaharayah, S.Kom., Petugas RKW 10 Bawean yang pertama kali menemukan tumbuhan tersebut di antara lantai hutan lembab. Jejak dari Zaman Purba Tumbuhan yang mereka temukan ternyata bukan sembarang anggrek. Neuwiedia veratrifolia Bl. adalah anggrek terestrial primitif, salah satu yang paling tua dalam keluarga Orchidaceae. Berbeda dari anggrek modern yang hidup menempel pada batang pohon, Neuwiedia tumbuh langsung di tanah, menyerap nutrisi dari lapisan humus dan seresah hutan yang membusuk. Untuk memastikan identitas jenis, temuan tersebut dikonfirmasi oleh Toni Artaka, Pengendali Ekosistem Hutan pada Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS), sekaligus pemerhati anggrek hutan. Dari morfologi batang, daun, dan perbungaannya, Toni memastikan bahwa spesies ini adalah Neuwiedia veratrifolia Bl “Anggrek cantik ini cukup jarang dijumpai. Sayang, fase bunga mekar sempurnanya sudah terlewat. Salah satu anggrek penghias lantai hutan dengan warna kuning yang atraktif,” ujar Toni Artaka. Berdasarkan referensi (Orchids of Java; Comber, 1990), Neuwiedia veratrifolia memiliki kemampuan tumbuh di rentang elevasi yang lebar, antara 250 hingga 1.200 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini dikenal memiliki sebaran geografis yang cukup luas, mulai dari Asia Tenggara: Malaysia, Borneo, Jawa, Sumatra, Maluku, dan Filipina. Pulau-pulau di Pasifik: Kepulauan Solomon dan Vanuatu hingga di bagian utara benua Australia. Keberadaan spesies ini di berbagai pulau dan wilayah tropis menjadi bukti ketahanan evolusioner yang luar biasa, ia telah bertahan melewati perubahan iklim dan kondisi lingkungan selama ribuan tahun. Kolaborasi Lintas UPT dan Akademisi Penemuan ini tidak hanya menambah daftar flora langka Pulau Bawean, tetapi juga menjadi contoh nyata kolaborasi konservasi lintas lembaga dan akademisi. Meski tidak turun langsung ke lapangan, para Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) dari BB TNBTS dan BBKSDA Jawa Timur terus berkoordinasi dalam proses identifikasi, verifikasi, serta optimalisasi data keanekaragaman hayati. Kolaborasi ini memperkuat jejaring kerja konservasi di Jawa Timur, memastikan setiap temuan di lapangan dapat segera dikonfirmasi secara ilmiah. Menurut Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, bahwa kolaborasi antar-UPT dan dunia akademik menjadi kunci dalam pengelolaan konservasi modern. “Kami terus mendorong komunikasi aktif antar-PEH di berbagai UPT, termasuk dengan BB TNBTS dan perguruan tinggi. Sinergi ini memastikan setiap temuan biodiversitas, baik flora maupun fauna, dapat segera divalidasi dan menjadi bagian dari basis data keanekaragaman hayati Jawa Timur,” tambahnya. Lebih jauh, Nur Patria menilai temuan anggrek purba ini memiliki nilai penting bukan hanya dari sisi ilmiah, tetapi juga filosofis. “Hutan Bawean kembali mengingatkan kita bahwa alam masih menyimpan rahasia kehidupan yang luar biasa. Neuwiedia veratrifolia bukan hanya tumbuhan, tapi simbol keteguhan hidup, keindahan yang tidak mencari perhatian, namun tetap bertahan melintasi waktu,” ujarnya. Pesan dari Hutan Bawean Sebagai bagian dari ekosistem dataran rendah, Cagar Alam Pulau Bawean memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekologis kawasan. Penemuan Neuwiedia veratrifolia menjadi indikator positif bahwa fungsi ekosistem di kawasan ini masih bekerja dengan baik. Keberadaan 13 individu di dua lokasi pengamatan menandakan populasi kecil namun stabil, yang perlu terus dimonitor dan dilindungi. Di bawah naungan pepohonan tua dan cahaya yang mengintip dibalik dedaunan, jejak keindahan ini tetap hidup, meski bunganya telah gugur namun bijinya telah sukses terbang dan menyebar di sekitarnya. Ia berdiri sebagai pengingat, bahwa keindahan sejati tidak selalu hadir dalam kemekaran, tetapi dalam keteguhan untuk terus bertahan di tengah perubahan. Dan di antara kolaborasi para penjaga hutan, peneliti, dan mahasiswa muda, keheningan hutan Bawean kembali berbicara tentang keabadian kehidupan alam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menanam Harapan Dari Pantai Cacalan, Melepas Kehidupan Kembali ke Laut

Banyuwangi, 17 Oktober 2025. Hari itu, Jumat (17/10/2025), menjadi hari yang istimewa di pesisir Kalipuro. Di tepian pantai yang tenang itu, manusia dan alam kembali bersua dalam satu niat, mengembalikan kehidupan yang dulu hilang, dan menanam harapan baru di antara akar-akar mangrove. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi Konservasi Wilayah V Banyuwangi dan Resort Konservasi Wilayah 13 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso turut hadir dalam kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Suri Tani Pemuka, bertajuk “Konservasi Penanaman Mangrove dan Pelepasan Tukik”. Kegiatan ini tidak sekadar seremoni, melainkan sebuah wujud nyata dari kemitraan lintas sektor untuk menjaga keseimbangan ekosistem pesisir. Turut hadir dalam acara ini perwakilan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, Dinas Lingkungan Hidup Banyuwangi, Muspika Kecamatan Kalipuro, serta berbagai kelompok masyarakat pesisir seperti Pokdarwis Pantai Cacalan, Pokdarwis Pantai Cemara, dan Pokdarwis Muncar. Kehadiran mereka mencerminkan satu kesadaran bersama bahwa laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga rumah bagi banyak kehidupan yang patut dijaga. Acara dibuka oleh pimpinan PT. Suri Tani Pemuka bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Banyuwangi, disertai dengan penyerahan bantuan bagi kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Bantuan ini menjadi dorongan moral sekaligus material agar kelompok masyarakat terus berperan aktif dalam menjaga kawasan pesisir dari ancaman abrasi dan pencemaran. Usai seremoni pembukaan, para peserta bersama-sama menanam bibit mangrove di sepanjang garis pantai. Di antara lumpur yang basah, tangan-tangan yang bekerja bukan sekadar menanam pohon, mereka menanam masa depan. Setiap bibit mangrove adalah janji: janji untuk menahan gelombang, menyaring air, dan menjadi tempat berlindung bagi ribuan biota kecil yang hidup di antara akar-akar bakau. Tak berhenti di situ, kegiatan dilanjutkan dengan pelepasan tukik ke laut lepas. Ratusan tukik mungil berlarian menuju ombak pertama mereka, sebuah simbol kehidupan baru yang dilepaskan untuk meniti takdir di samudra luas. Setiap langkah kecil tukik menuju air adalah cermin dari semangat konservasi, bahwa setiap upaya, sekecil apa pun, berarti besar bagi keberlanjutan kehidupan. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, kegiatan seperti ini adalah bentuk kolaborasi konservasi: menghubungkan pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam satu jejaring kepedulian terhadap alam. Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi ekosistem, sinergi ini menjadi kunci menjaga harmoni antara manusia dan lingkungan. Dari Pantai Cacalan, sebuah pesan sederhana namun kuat kembali bergema “Ketika kita menanam satu pohon mangrove, kita sedang menanam masa depan bumi. Dan ketika kita melepas satu tukik ke laut, kita sedang melepas harapan bagi generasi yang akan datang.” (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Satu Bumi, Satu Tindakan: Saat Iman, Ilmu, dan Alam Menyatu di Kampus UIN Sunan Ampel Surabaya

Surabaya, 16 Oktober 2025. Lebih dari dua ratus mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya diajak menyelami makna terdalam konservasi melalui falsafah “TEH MANIS”, Teologi, Ekologi, dan Humanis. Sebuah pendekatan spiritual yang mengajak manusia menjadi khalifah sejati bagi bumi. Di tengah teriknya Kampus Gunung Anyar, Surabaya, Kamis (16/10/2025), terasa lebih segar dari biasanya. Langit membiru, burung-burung melintas di atas menara masjid UIN Sunan Ampel, seolah ikut menyambut gerakan kecil namun berarti: “Satu Bumi, Satu Tindakan.” Di lantai sembilan gedung Fakultas Sains dan Teknologi, ratusan mahasiswa berkumpul, bukan sekadar untuk mendengar ceramah ilmiah, tetapi untuk belajar menjadi manusia konservasionis sejati. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyampaikan sesuatu yang tak hanya menyejukkan akal, tapi juga menyentuh jiwa. Nur Patria memperkenalkan sebuah filosofi yang lahir dari refleksi panjang antara iman dan ilmu, “TEH MANIS”, akronim dari Teologi, Ekologi, dan Humanis untuk menjadi manusia konservasionis._ “Konservasi bukan hanya tugas ilmuwan atau pemerintah. Ia adalah ibadah ekologis. Wujud syukur kita atas bumi yang dititipkan oleh Tuhan,” ujarnya dalam nada yang tenang namun penuh daya gugah. Filosofi “TEH MANIS” menuntun manusia untuk kembali melihat alam sebagai amanah, bukan sekadar sumber daya. Sebuah pandangan yang mengaitkan ketaatan spiritual dengan tanggung jawab ekologis dan kepedulian kemanusiaan. Paparan ini bukan sekadar teori, namun sebuah semangat gerakan, mengajak setiap pendengar untuk mengambil satu langkah kecil demi bumi. Dari menjaga air, menanam pohon, hingga mengubah cara pandang terhadap satwa dan habitatnya, semua menjadi bagian dari gerakan moral #SatuBumiSatuTindakan. Konsep yang dikembangkan BBKSDA Jawa Timur ini berakar pada pandangan bahwa iman tanpa aksi hanyalah wacana, dan ilmu tanpa nilai hanyalah data. Melalui pendekatan Theologi-Ekologi-Humanis, konservasi dipahami sebagai bentuk amal saleh yang berdampak bagi kehidupan lintas generasi. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Ampel Surabaya ini menjadi jembatan penting antara dunia akademik dan lapangan konservasi. Dalam kesempatan tersebut, hadir pula jajaran BBKSDA Jawa Timur yang mendukung penuh sinergi edukasi dan penyadartahuan masyarakat. Kehadiran para pengendali ekosistem hutan dan pejabat teknis BBKSDA Jatim menegaskan komitmen bahwa konservasi bukan hanya urusan kawasan, tetapi juga kesadaran. Dari kampus hingga hutan, dari ruang kuliah hingga habitat satwa liar. Lebih dari dua jam berlangsung, suasana ruang amphitheater berubah menjadi ruang refleksi ekologis. Ayat-ayat suci bergema berdampingan dengan data keanekaragaman hayati, menciptakan harmoni antara iman dan sains. Mahasiswa diajak menyadari bahwa menjaga alam bukan sekadar isu lingkungan, melainkan perintah moral dan spiritual. Seminar ini bukan sekadar agenda akademik, tetapi momentum lahirnya gerakan moral di kalangan generasi muda. Mahasiswa UINSA didorong menjadi duta konservasi kampus, menanam, menjaga, meneliti, dan menginspirasi. BBKSDA Jawa Timur berharap, kegiatan seperti ini dapat menjadi benih kolaborasi berkelanjutan antara lembaga konservasi dan perguruan tinggi, untuk melahirkan generasi beriman yang mencintai bumi. Dari kampus yang berdiri di jantung kota, semangat itu menyala, kecil tapi pasti. Gerakan “Satu Bumi, Satu Tindakan” mengingatkan kita bahwa menjaga bumi bukan tugas satu lembaga, melainkan kewajiban setiap manusia. Dan ketika iman, ilmu, dan alam berpadu, di sanalah lahir manusia konservasionis sejati: mereka yang menjaga bumi bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sekolah Alam Semangat Bangsa Medan Nikmati Outing Class di TWA Sibolangit

Para siswa Sekolah Alam Semangat Bangsa Medan bersama guru pendamping dan orangtua berfoto bersama di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Senin (13/10/2025) Sibolangit, 14 Oktober 2025— Sebanyak 100 siswa Sekolah Alam Semangat Bangsa Medan bersama 21 orang pendamping dan orantua murid mengikuti kegiatan outing class (pembelajaran di luar kelas) di Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Senin (13/10/2025). Outing class ini bertujuan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap alam sekaligus memperkenalkan keanekaragaman hayati secara langsung kepada siswa. Di bawah cuaca yang cerah dan udara yang sejuk, para siswa tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Outing class diikuti oleh murid kelas 1 hingga kelas 6 sekolah dasar dengan konsep belajar sambil berpetualang di alam terbuka. Sejak pagi, seluruh peserta mengikuti pengenalan kawasan TWA Sibolangit oleh petugas lapangan dan guru pendamping. Petugas juga memberikan arahan keselamatan dan etika berkunjung di kawasan konservasi agar seluruh kegiatan berjalan aman dan tertib. Setelah pengarahan, rombongan memulai perjalanan melalui jalur tracking A menuju jalur tracking B yang berujung di panorama TWA Sibolangit. Di sepanjang jalur, murid dikenalkan pada berbagai jenis tumbuhan hutan, serangga, dan suara burung liar yang menjadi bagian dari ekosistem hutan tropis. Selain memberikan materi, petugas Resor CA/TWA Sibolangit, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) juga menyampaikan apresiasi atas kunjungan sekolah serta pesan penting tentang pelestarian alam. “Kami sangat mengapresiasi sekolah yang menjadikan TWA Sibolangit sebagai sarana belajar. Semakin dini anak-anak mengenal alam, maka akan semakin besar rasa tanggung jawab mereka untuk menjaga kelestariannya, tutur Suparman, Kepala Resort CA/TWA Sibolangit. Setelah sesi pembelajaran dan pengamatan alam. Kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama di halaman utama TWA Sibolangit. Momen ini menjadi ajang kebersamaan dan refleksi atas pengalaman belajar yang baru saja dijalani. Sambil bergandengan tangan, siswa/siswi menyusuri kawasan TWA Sibolangit Seluruh kegiatan berlangsung aman, tertib, dan penuh semangat. Melalui outing class ini, Sekolah Alam Semangat Bangsa Medan berharap para murid dapat tumbuh menjadi generasi muda yang peduli terhadap lingkungan dan mencintai alam sejak dini. Sumber: Resor CA/TWA Sibolangit - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menanam Benih Konservasi di Sekolah Pinggir Hutan Cagar Alam Gua Nglirip

Tuban, 10 Oktober 2025. Di tengah terik pedesaan Montong, suara anak-anak SDN Guwoterus 2 bergema riang menyambut kedatangan tim edukasi konservasi dari Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Hari itu (10/10/2025), halaman sekolah yang biasanya hanya diwarnai permainan dan tawa, berubah menjadi ruang belajar terbuka tentang pentingnya menjaga alam dan kehidupan liar yang menjadi bagian dari keseimbangan bumi. Kegiatan bertajuk “Visit to School: Edukasi Konservasi Sejak Dini” ini diinisiasi oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui jajaran pejabat fungsional Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, terdiri dari Polisi Kehutanan (Polhut), Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), dan Penyuluh Kehutanan. Mereka hadir bukan sekadar memberikan penyuluhan, tetapi menyalakan api kepedulian di dada anak-anak terhadap kelestarian alam sekitar Cagar Alam Gua Nglirip, kawasan yang menjadi rumah bagi beragam spesies tumbuhan dan satwa liar. Dalam sesi interaktif yang berlangsung hangat, para siswa diajak memahami pentingnya menjaga lingkungan, melestarikan kawasan konservasi, serta mengenal satwa liar, baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi undang-undang, sebagai bagian dari satu rantai kehidupan. Dengan gaya bercerita yang sederhana namun sarat makna, para petugas menjelaskan bahwa setiap pohon yang ditebang sembarangan dan setiap hewan yang diambil dari alam tanpa kendali akan mengganggu keseimbangan yang telah terbentuk selama ribuan tahun. Namun, momentum paling menggugah hari itu adalah ketika tim menyampaikan kabar rencana pelepasliaran seekor Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus) di kawasan Cagar Alam Gua Nglirip. Sorak kecil terdengar dari barisan siswa, bagi mereka, elang bukan sekadar burung gagah di langit, tetapi simbol kebebasan dan penjaga hutan yang sesungguhnya. Dalam benak mereka mungkin tumbuh tanya, bagaimana jika suatu hari mereka bisa menyaksikan elang itu terbang bebas di atas lembah dan pepohonan tempat mereka tumbuh? “Anak-anak adalah kunci masa depan konservasi,” ujar Tri Wahyu Widodo salah satu Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) yang menjadi narasumber dalam kegiatan tersebut. “Mereka harus tahu sejak dini bahwa menjaga hutan dan satwa berarti menjaga kehidupan kita sendiri,” tambahnya. Cagar Alam Gua Nglirip sendiri merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Kabupaten Tuban, yang menyimpan potensi keanekaragaman hayati tinggi sekaligus menjadi benteng ekologis bagi daerah sekitar. Dengan keindahan gua kapur, kawasan ini bukan destinasi wisata, namun sebagai salah satu benteng terakhir dan ruang belajar alam yang nyata bagi generasi muda. Melalui kegiatan edukasi seperti ini, BBKSDA Jawa Timur berkomitmen menjadikan sekolah-sekolah sekitar kawasan konservasi sebagai mitra strategis dalam membangun budaya cinta lingkungan. Karena konservasi sejati bukan hanya menjaga alam dari kerusakan, melainkan menumbuhkan kesadaran, bahwa bumi, hutan, dan semua makhluk di dalamnya adalah bagian dari satu rumah yang sama. Dari sekolah di pinggir hutan, kita menanam harapan, agar lengkingan elang di langit Gua Nglirip tetap menjadi nyanyian kebebasan untuk generasi mendatang. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 49–64 dari 1.989 publikasi