Sabtu, 10 Okt 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Madu yang Dicari, Pohon yang Ditebang

Empat pohon ditemukan ditebang di Cagar Alam Pulau Bawean. Di tengah upaya masyarakat bersama petugas menjaga hutan dari kebakaran dan konflik satwa, temuan ini kembali mengingatkan pentingnya menjaga rumah bersama Bawean. Gresik, 23 September 2026. Empat pohon ditemukan ditebang di Blok Gunung Besar, Cagar Alam Pulau Bawean, Desa Telukjatidawang, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Temuan itu diketahui petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada Sabtu (19/9), sekitar pukul 09.00 WIB di sela pengamatan raptor Bawean. Hasil pemeriksaan terhadap tunggak, batang dan bekas tebangan mengarah pada dugaan bahwa pohon-pohon tersebut sengaja ditebang untuk mengambil madu klanceng. Jejak di lapangan juga mengindikasikan waktu penebangan tidak bersamaan, sebagian diperkirakan terjadi sekitar satu minggu sebelum ditemukan, sementara sebagian lainnya diduga telah berlangsung lebih lama. Pihak yang bertanggung jawab masih dalam penyelidikan. Petugas telah mendokumentasikan lokasi, mencatat koordinat, melakukan pengukuran serta membuat laporan kejadian untuk tindak lanjut. Pemeriksaan lapangan memperlihatkan sejumlah batang rebah dan tunggak dengan bekas pemotongan. Temuan tersebut menghadirkan ironi di tengah kerja perlindungan kawasan konservasi Pulau Bawean. Pada bagian lain pulau ini, masyarakat bersama petugas justru bergotong royong menghadapi kebakaran hutan, membantu memadamkan api dan menyisir bara agar tidak meluas ke kawasan. Di satu sisi Bawean, masyarakat membantu mempertahankan pohon dari api. Di sisi lain, petugas menemukan pohon yang sengaja ditebang oleh oknum tidak bertanggung jawab. Kondisi itu sekaligus menunjukkan bahwa persoalan ini tidak dapat dilekatkan kepada masyarakat Bawean secara keseluruhan. Masyarakat justru menjadi salah satu mitra penting dalam perlindungan kawasan. Temuan penebangan menjadi pengingat bahwa tindakan segelintir oknum dapat merugikan kepentingan yang jauh lebih besar. Bagi Pulau Bawean, mempertahankan hutan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan pohon dan satwa liar. Bentang hutan berperan dalam menjaga daerah tangkapan air, tanah, serta sistem hidrologi yang menopang kehidupan masyarakat. Dalam bahasa yang sederhana, hutan Bawean adalah tandon air Bawean. Karena itu, kerusakan kawasan pada akhirnya bukan hanya persoalan konservasi. Ia bersinggungan dengan mata air, pertanian, kebun, dan kebutuhan air masyarakat yang hidup di pulau tersebut. Persoalan habitat juga relevan dengan konflik satwa liar yang belakangan terjadi di Bawean, termasuk masuknya Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) ke lahan pertanian masyarakat. Kerugian petani akibat gangguan satwa merupakan persoalan nyata yang harus ditangani. Namun konflik manusia dan satwa juga perlu dilihat sebagai persoalan bentang alam. Kondisi habitat, ketersediaan pakan dan air, perubahan penggunaan ruang serta berbagai bentuk gangguan manusia dapat saling beririsan dalam memengaruhi pergerakan satwa. Karena itu, temuan pohon yang ditebang di dalam kawasan memunculkan pertanyaan yang penting untuk direnungkan bersama. Ketika satwa masuk ke lahan pertanian, kita bertanya mengapa mereka keluar dari hutan ? Pada saat yang sama, sudahkah kita memastikan rumah mereka tetap terjaga? Pertanyaan tersebut bukan berarti empat pohon yang ditemukan ditebang menjadi penyebab langsung konflik babi kutil. Hubungan ekologis tidak sesederhana itu. Namun perlindungan habitat merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari upaya membangun koeksistensi antara manusia dan satwa liar. Pada kesempatan terpisah, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., dalam evaluasi penanganan konflik babi kutil Bawean sebelumnya menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak dapat dilihat hanya dari keberadaan satwanya. "Konflik Babi Kutil Bawean bukan persoalan satwa semata. Ada habitat, ruang hidup manusia, pertanian, sampah, hingga perilaku yang saling beririsan.” Pernyataan itu menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan, kepentingan dan keselamatan masyarakat harus diperhatikan, pertanian perlu dilindungi, sementara habitat satwa juga harus tetap dipertahankan. Temuan di Gunung Besar karena itu tidak berhenti pada empat tunggak. Ia menjadi bahan refleksi sekaligus ajakan kepada seluruh pihak untuk menjaga kawasan konservasi Pulau Bawean dan tidak melakukan penebangan maupun pengambilan hasil hutan secara ilegal. Pemanfaatan sumber daya alam tidak semestinya dilakukan dengan cara yang justru merusak penyangga kehidupan pulau. Madu mungkin memberikan manfaat sesaat. Sebaliknya, pohon memerlukan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh dan menjalankan fungsi ekologisnya. Di tengah kebakaran hutan, konflik satwa, dan tekanan terhadap kawasan, Bawean telah memperlihatkan modal sosial yang penting, tentang masyarakat yang mau bergerak bersama ketika hutan membutuhkan pertolongan. Semangat itulah yang perlu diperbesar. Sebab menjaga Cagar Alam Pulau Bawean bukan hanya menjaga tempat hidup babi kutil, rusa Bawean, burung, lebah, dan berbagai kehidupan liar lainnya. Menjaga hutan berarti pula menjaga tanah dan air yang menopang kehidupan manusia. Yang dicari mungkin madu. Tetapi jangan sampai yang hilang justru pohon, habitat, dan sumber kehidupan Bawean. Hutan Bawean adalah rumah satwa, tandon air, sekaligus bagian dari jantung kehidupan masyarakat pulau ini. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Empat Jam, Sembilan Cemara Tumbang

Api bekerja dalam hitungan jam. Hutan menjawabnya dalam hitungan tahun. Situbondo, 23 September 2026. Suara pohon tumbang terdengar dari lereng seberang. Satu cemara gunung (Casuarina junghuhniana) roboh diterjang api. Tak lama kemudian menyusul pohon berikutnya. Selama kurang lebih empat jam, kami menghitung delapan hingga sembilan cemara tumbang di tengah kebakaran Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Kami hanya bisa mengamati dari jarak aman. Api masih aktif dan pohon yang terbakar sewaktu-waktu dapat roboh. Yang menarik, tempat kami berdiri juga menyimpan jejak api. Vegetasi di sekitar kami merupakan bagian dari suksesi alami kawasan yang terbakar lebih dari lima tahun lalu. Di satu sisi, hutan sedang tumbuh kembali. Di sisi lain, hutan sedang terbakar. Kami seperti berdiri di antara dua waktu. Cemara dan api Cemara gunung adalah bagian alami pegunungan Jawa (C. Junghuhniana) tercatat sebagai spesies asli Jawa hingga Kepulauan Sunda Kecil, yang tumbuh alami pada ketinggian sekitar 1.200–3.100 meter dan berasosiasi dengan hutan pegunungan yang memiliki sejarah kebakaran. Hubungan itu kerap membuat cemara gunung dianggap tangguh menghadapi api. Namun, toleran terhadap gangguan bukan berarti setiap pohon akan selamat dari kebakaran. Sore itu kami melihat batasnya. Pohon-pohon yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh kehilangan kemampuan berdiri dalam beberapa jam. Keesokan hari kami kembali. Beberapa batang yang sehari sebelumnya masih terlihat utuh telah menghitam. Sebagian yang tumbang terus terbakar hingga menyisakan arang dan abu. Kebakaran mendadak terasa lebih dari sekadar angka hektar. Ketika pohon tumbang, habitat ikut berubah Cemara bukan sekadar batang dan tajuk. Pohon dewasa membentuk struktur habitat, mengatur cahaya yang mencapai lantai hutan, memengaruhi kondisi mikro, menghasilkan serasah, serta menyediakan ruang bagi kehidupan lain. Ketika pohon-pohon itu hilang, ruang ikut berubah. Bagi Dataran Tinggi Yang, perubahan tersebut penting karena kehidupan tidak berhenti pada cemara. Di bawah dan di antara tegakan hidup tumbuhan bawah, fungi, serangga, burung, mamalia dan berbagai organisme lain yang terhubung dalam satu ekosistem pegunungan. Karena itu, luas areal terbakar hanya menjelaskan berapa besar ruang yang terdampak. Ia belum menjelaskan seberapa jauh habitat berubah. Belajar dari kebakaran beberapa tahun lalu Kami sebenarnya mempunyai petunjuk tentang apa yang mungkin terjadi kemudian. Petunjuk itu berada tepat di bawah kaki kami. Lebih dari lima tahun setelah kebakaran terdahulu, vegetasi telah kembali menutup sebagian bentang tempat kami berdiri. Suksesi alami sedang berlangsung. Namun hijau yang kembali tidak otomatis berarti ekosistem telah kembali seperti sebelumnya. Suksesi membutuhkan waktu. Komposisi tumbuhan dapat berubah. Struktur tegakan harus dibangun kembali. Satwa pun harus menyesuaikan diri dengan habitat yang berubah. Itulah pekerjaan berikutnya setelah api padam, untuk segera kembali dan membaca perubahan. Apakah cemara muda muncul? Jenis apa yang pertama mengisi ruang terbuka? Bagaimana vegetasi bawah berkembang? Apakah tumbuhan asing ikut memperoleh ruang? Dan bagaimana satwa menggunakan kembali habitat tersebut? Jawabannya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian. Sore itu, dari kawasan yang pernah terbakar dan kini sedang tumbuh kembali, kami menyaksikan kebakaran baru di lereng seberang. Delapan hingga sembilan cemara tumbang dalam sekitar empat jam. Di belakang kami, bekas kebakaran lebih dari lima tahun lalu telah kembali hijau. Di depan kami, perjalanan ekologis yang baru saja dimulai. Api bekerja dalam hitungan jam. Hutan menjawabnya dalam hitungan tahun. Dan di Dataran Tinggi Yang, kami perlu kembali untuk mendengar jawabannya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Hutan dari Secangkir Harapan

Di Kepel, Madiun, konservasi Cagar Alam Gunung Sigogor mulai dibicarakan dari kebun, kelompok, dan nilai tambah kopi Madiun, 23 September 2026. Menjaga hutan tidak selalu dimulai dengan patroli. Di Desa Kepel, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, Selasa (22/9/2026), percakapan tentang kelestarian Cagar Alam Gunung Sigogor justru dimulai dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat, kopi. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro, dan Resort Konservasi Wilayah 03 Madiun menggelar Pelatihan Usaha Ekonomi Produktif bagi anggota Kelompok Tani Hutan (KTH) Tani Subur. Kegiatan berlangsung di Pendopo Taman Wisata Gligi, Desa Kepel. Pelatihan tersebut bukan semata mengajarkan bagaimana kopi ditanam atau diolah. Anggota kelompok diajak melihat lebih jauh, bagaimana naik kelas dari petani kopi menjadi pelaku bisnis kopi. Kepala Desa Kepel mengapresiasi pendampingan dan pemberdayaan yang dilakukan BBKSDA Jawa Timur. Kepercayaan yang telah diberikan, menurutnya, perlu dimanfaatkan kelompok untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki. Pesan konservasi kemudian mengemuka dalam arahan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro. Masyarakat sekitar kawasan memiliki posisi penting dalam menjaga hutan. Karena itu, peningkatan kesejahteraan melalui pengembangan usaha seperti kopi diharapkan berjalan beriringan dengan meningkatnya kepedulian terhadap Cagar Alam Gunung Sigogor. Hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera tidak seharusnya berjalan berlawanan arah. Berangkat dari tema “Solid Team: Melangkah Bersama Menggapai Tujuan”, pelatihan menghadirkan Bernadi S. Dangin, aktivis dan praktisi pariwisata berbasis masyarakat sekaligus penggerak kelompok sadar wisata di Desa Gunung Sari, Kabupaten Madiun. Tidak banyak waktu dihabiskan untuk sekadar mendengarkan. Anggota KTH Tani Subur diajak membedah kelompok mereka sendiri, apa yang sudah dimiliki, apa yang masih menjadi kendala, di mana kekuatannya, dan peluang apa yang dapat dikembangkan. Melalui praktik langsung, persoalan usaha kopi dipetakan bersama, berikut kemungkinan solusi dan harapan kelompok ke depan. Di sinilah kopi tidak lagi hanya dilihat sebagai komoditas yang selesai ketika dipanen. Ada pengolahan. Ada kualitas. Ada pemasaran. Ada kerja kelompok. Ada nilai tambah yang masih dapat dibangun.= Dan ada satu lompatan cara berpikir yang ingin ditumbuhkan, dari menjual hasil sebagai petani menuju mengelolanya sebagai sebuah usaha. Pendampingan tersebut akan berlanjut. Sesuai rencana kegiatan tahun 2026, KTH Tani Subur direncanakan menerima bantuan usaha ekonomi produktif untuk mendukung pengembangan usaha pengolahan kopi. Bagi BBKSDA Jawa Timur, pendekatan seperti ini memiliki tujuan yang lebih panjang daripada menghasilkan produk. Masyarakat yang hidup di sekitar kawasan adalah tetangga terdekat hutan. Ketika kelompok semakin kuat, usaha berkembang dan hasil pertanian memperoleh nilai tambah, tumbuh pula peluang untuk membangun hubungan yang semakin baik antara penghidupan masyarakat dan perlindungan kawasan. Karena menjaga Cagar Alam Gunung Sigogor tidak mungkin hanya mengandalkan petugas. Ia membutuhkan masyarakat yang merasa mempunyai kepentingan untuk ikut menjaganya. Hari itu tidak ada patroli panjang memasuki hutan. Tidak ada operasi penindakan. Yang terlihat hanyalah sekelompok petani berbicara tentang kopi dan masa depan kelompoknya. Namun konservasi memang tidak selalu berbunyi derap sepatu di dalam hutan. Kadang ia beraroma kopi, tumbuh dari usaha masyarakat, menguat dalam kebersamaan, lalu kembali menjadi kepedulian kepada hutan yang hidup di sebelahnya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Merona di Tengah Savana yang Mengering

Misteri Lathyrus di Cikasur dan pertanyaan tentang tumbuhan pendatang di jantung Dataran Tinggi Yang Probolinggo, 22 September 2026. September membuat Savana Cikasur seperti sedang kehilangan warna. Rumput-rumput menguning, bahkan sebagian mengering kecokelatan. Angin menggerakkan batang-batang kering yang beberapa hari sebelumnya membuat kami terus waspada terhadap satu hal, api. Tetapi pada pagi itu, di tengah hamparan yang didominasi warna pucat, ada sebidang warna yang justru terlihat terlalu hidup untuk diabaikan. Hijau dan merah merona. Dan di atas hijau itu bermunculan ratusan bunga merah muda hingga ungu. Saya mendekat. Semakin dekat, pemandangannya semakin menarik. Tumbuhan tersebut tidak muncul sebagai satu-dua individu. Batang-batangnya saling bertaut membentuk rumpun. Bunga khas keluarga kacang-kacangan muncul dalam kelompok, sebagian merah muda terang, sebagian mulai memucat. Di belakangnya, savana mengering. Di depannya, tumbuhan ini tetap hijau. Kontras, itulah yang membuat saya berhenti. Saya mengambil foto. Kali ini cukup banyak. Siapa dia? Bentuk bunganya segera memberi petunjuk. Mahkota dengan susunan khas bunga kupu-kupu membawa identifikasi awal menuju Fabaceae, keluarga besar kacang-kacangan. Karakter vegetatif dan bunganya kemudian mengarah lebih jauh kepada genus Lathyrus. Tetapi saya memilih berhenti sampai di sana. Foto memang dapat membawa kita cukup dekat kepada sebuah nama. Namun identifikasi spesies membutuhkan karakter yang lebih lengkap. Maka tumbuhan dalam catatan ini sementara lebih aman saya sebut Lathyrus sp. Satu hal justru lebih menarik daripada namanya, apa yang dilakukan Lathyrus di Cikasur? Pertanyaan itu membawa saya jauh meninggalkan sabana, menuju sejarah perjalanan tumbuhan melintasi benua. Ia bukan cerita yang sepenuhnya berasal dari Jawa Lathyrus merupakan genus besar dalam Fabaceae. Kew Science mencatat kelompok ini secara alami tersebar luas dari kawasan beriklim sedang dan subtropis hingga pegunungan tropis. Namun, catatan flora Jawa memberikan petunjuk lebih spesifik. Digital Flora of Indonesia, yang antara lain merujuk Flora of Java Backer dan Bakhuizen van den Brink, mencatat tiga spesies Lathyrus dari Jawa diantarnya Lathyrus odoratus, Lathyrus oleraceus dan Lathyrus sativus. Ketiganya diperlakukan sebagai introduksi di Indonesia/Jawa, bukan flora asli Jawa. Salah satunya sangat terkenal dalam dunia hortikultura Lathyrus odoratus, sweet pea. Menurut Plants of the World Online, Kew Science, spesies tersebut berasal secara alami dari Italia bagian selatan dan Sisilia. Jawa justru tercatat sebagai salah satu wilayah tempat spesies tersebut diperkenalkan. Artinya, apabila tumbuhan Cikasur kelak terkonfirmasi sebagai salah satu Lathyrus introduksi tersebut, maka bunga merah muda di depan saya menyimpan perjalanan yang jauh lebih panjang daripada jarak Baderan–Cikasur. Pertanyaannya kemudian berubah. Siapa yang membawanya ke pegunungan ini? Tidak ada jawaban yang boleh dikarang. Sangat menggoda untuk membuat cerita bahwa tumbuhan tersebut dahulu dibawa orang Eropa ke pegunungan Jawa sebagai tanaman hias, kemudian lolos dan bertahan di Cikasur. Cerita itu terdengar masuk akal. Tetapi saya belum menemukan bukti yang cukup untuk mengatakan bahwa itulah yang terjadi di Dataran Tinggi Yang. Mungkin pernah dibudidayakan. Mungkin terbawa bersama aktivitas manusia. Mungkin benihnya berpindah melalui jalur lain. Dan mungkin sejarahnya jauh lebih tua daripada yang kita bayangkan. Tanpa spesimen herbarium lama, catatan botani, arsip pengelolaan atau rekaman koleksi yang dapat menghubungkan Lathyrus secara langsung dengan Cikasur, semua itu masih hipotesis. Ilmu pengetahuan tidak seharusnya mengisi ruang kosong dengan cerita yang terdengar indah. Ruang kosong justru harus dibiarkan menjadi pertanyaan penelitian. Namun Cikasur tampaknya memberinya tempat Ada alasan ekologis mengapa keberadaan Lathyrus di sini menarik. Banyak anggota genus ini berasosiasi dengan lingkungan temperate, subtropis atau pegunungan. L. odoratus, misalnya, oleh Kew digambarkan sebagai tumbuhan annual merambat yang terutama tumbuh pada bioma temperate. Sementara L. latifolius, spesies lain yang secara visual juga patut dibandingkan, tetapi belum tercatat oleh sumber yang saya temukan sebagai introduksi di Jawa, merupakan herba pemanjat perennial dari Eropa bagian tengah-timur dan selatan hingga Afrika barat laut. Cikasur menyediakan kombinasi yang menarik bagi tumbuhan berkarakter demikian, dataran tinggi, suhu relatif rendah, ruang terbuka dan paparan matahari yang kuat. Tetapi yang paling mengusik perhatian saya justru apa yang terlihat pada September itu. Savana mengering. Ia masih hijau. Bahkan berbunga. Apakah itu berarti tumbuhan tersebut mempunyai keunggulan kompetitif terhadap vegetasi lokal pada musim kering? Belum tentu. Satu kali pengamatan tidak cukup untuk menjawabnya. Namun, sebagai orang yang bekerja dengan ekosistem, pemandangan itu membuat saya merasa ada sesuatu yang pantas diperhatikan. Pendatang belum tentu penjajah Dalam ekologi ada perbedaan penting antara introduksi dan invasif. Spesies introduksi adalah organisme yang keberadaannya di suatu wilayah berada di luar sebaran alaminya akibat perpindahan yang berkaitan dengan aktivitas manusia, sengaja maupun tidak. Tetapi tidak semua spesies introduksi menjadi invasif. Untuk sampai pada persoalan invasivitas, kita perlu melihat apakah ia mampu berkembang dan menyebar, serta menimbulkan dampak terhadap biodiversitas, fungsi ekosistem atau kepentingan lainnya. Karena itu saya belum ingin memberi cap “Lathyrus Cikasur adalah spesies invasif.” Data yang kami miliki belum cukup. Yang dapat dikatakan adalah bahwa keberadaan tegakan Lathyrus yang cukup rapat di habitat sabana kawasan konservasi layak menjadi sinyal untuk melakukan kajian lebih lanjut. Terlebih apabila identifikasinya kelak membuktikan bahwa ia merupakan spesies non-asli Jawa. Ada alasan untuk waspada tanpa harus panik. Hijau ternyata tidak selalu berarti baik Inilah paradoks yang menarik dari foto-foto tersebut. Mata manusia menyukai hijau. Ketika sabana menguning, rumpun hijau dengan bunga merah muda terlihat menyegarkan. Sangat fotogenik. Bahkan mungkin membuat seseorang berpikir bahwa tempat tersebut sedang sehat. Namun ekologi tidak selalu bekerja menurut selera estetika manusia. Jika suatu tumbuhan asing mampu membentuk tutupan rapat, pertanyaan konservasinya justru dimulai dari sana. Apakah tutupannya bertambah dari tahun ke tahun? Apakah ia menggantikan herba asli? Apakah regenerasinya melalui biji berlangsung masif? Apakah setelah kebakaran ia pulih lebih cepat daripada vegetasi asli? Apakah api justru membuka ruang baginya untuk berekspansi? Atau apakah ia mengubah komposisi vegetasi Sabana Cikasur? Tidak satu pun pertanyaan itu dapat dijawab hanya dengan foto. Tetapi foto dapat memberitahu kita di mana harus mulai mencari jawabannya. Api mungkin menambah satu pertanyaan baru Pengalaman enam hari lima malam menangani kebakaran membuat persoalan tersebut terasa semakin relevan. Kebakaran adalah gangguan ekologis. Ia menghilangkan biomassa, membuka ruang, mengubah kompetisi, memengaruhi ketersediaan nutrien dan menciptakan kesempatan baru bagi regenerasi tumbuhan. Setelah gangguan besar, pertanyaan pentingnya bukan hanya “Apa yang kembali tumbuh?” Tetapi juga “Siapa yang kembali lebih dahulu?” Jika Lathyrus ternyata merupakan tumbuhan introduksi dan mampu beregenerasi atau memperluas tutupan lebih cepat setelah kebakaran, dinamika itu perlu diketahui sejak awal. Sebaliknya, jika setelah pemantauan ternyata populasinya stabil, terbatas dan tidak menekan flora asli, kita juga harus jujur terhadap data tersebut. Konservasi bukan mencari alasan untuk memusnahkan setiap tumbuhan asing. Konservasi adalah mengambil keputusan berdasarkan bukti. Maka bunga merah muda itu jangan dicabut dahulu Respon pertama terhadap tumbuhan yang dicurigai asing sering sederhana cabut. Menurut saya, untuk Cikasur justru jangan tergesa-gesa. Pertama, identitas spesies harus dikonfirmasi. Lalu petakan luas dan distribusinya. Membuat plot permanen. Catat kepadatan, tutupan, fase berbunga dan berbuah. Dokumentasikan flora asli yang tumbuh bersamanya. Dan, pantau batas terluar rumpun dengan titik koordinat tetap. Baru dibandingkan dari tahun ke tahun. Dan setelah kebakaran ini, ada kesempatan ilmiah yang sangat berharga, pantau bagaimana Lathyrus dan vegetasi asli merespons gangguan yang sama. Dari situlah kita dapat mengetahui apakah warna hijau yang saya lihat hanyalah salah satu bagian biasa dari dinamika vegetasi Cikasur atau tanda awal sebuah perubahan yang perlu dikelola. Satu foto, satu pertanyaan besar Saya kembali memandangi foto yang diambil pada 15 September 2026. Bunga merah muda memenuhi layar. Di belakangnya savana berwarna cokelat kekuningan. Secara fotografis, pemandangan itu indah. Tetapi sekarang saya tidak lagi melihatnya hanya sebagai bunga. Saya melihat sebuah pertanyaan. Dari mana ia datang? Sejak kapan ia berada di Cikasur? Siapa yang membawanya? Mengapa ia mampu membentuk rumpun serapat itu? Serta, apakah keberadaannya sudah dicatat puluhan tahun lalu? Dan yang paling penting bagi pengelolaan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, apakah ia sekadar pendatang yang hidup berdampingan atau perlahan sedang mengambil ruang? Kita belum tahu. Dan justru karena belum tahu, ia pantas diperhatikan. Sebab dalam konservasi, ancaman tidak selalu datang dengan suara chainsaw, kobaran api atau kepulan asap. Kadang ia hadir dengan cara yang jauh lebih indah. Berwarna merah muda. Berbunga lebat. Dan tetap hijau ketika savana di sekelilingnya mengering. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto(Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Api Tak Terlihat, Bara Argopuro Belum Benar-Benar Mati

Probolinggo, 21 September 2026. Api terbuka tak lagi terlihat, tetapi pekerjaan belum selesai. Senin (21/9), Tim Patroli Kebakaran Pos Bermi kembali bergerak menuju kawasan terdampak kebakaran di sekitar Aing Kenik, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Enam personel, Misto, Aan, Edi, Sholihin, Halim, dan Misyadi, diturunkan dengan membawa cangkul, arit, jet shooter, serta logistik. Fokus mereka bukan sekadar mencari nyala api, melainkan memburu bara yang masih bersembunyi. Hasil pemantauan dari Cemoro Limo tidak menunjukkan api terbuka. Namun kepulan asap masih keluar dari tunggak-tunggak kayu. Informasi pemantauan titik panas juga menjadi dasar tim untuk melanjutkan pengecekan dan pemadaman di lapangan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kayu dan tunggak yang masih menyimpan bara dapat menjadi sumber penyalaan kembali, terlebih ketika berada di tengah bahan bakar kering. Tim melakukan pendinginan tunggak, pemadaman titik yang masih menyimpan panas, serta pembuatan sekat bakar. Kebutuhan tambahan personel, logistik, maupun peralatan akan dilaporkan dari lapangan sesuai perkembangan kondisi. Pada saat yang sama, koordinasi pemetaan dilakukan menggunakan citra satelit terbaru untuk memperbarui estimasi luasan kawasan terdampak kebakaran. Sementara itu, pemantauan dari Pos Baderan tidak menemukan titik api. Pelaku wisata tetap siaga di Baderan setelah sekitar dua pekan ikut mendukung pengendalian kebakaran hutan. Di Argopuro, hilangnya lidah api belum menjadi tanda pekerjaan berakhir. Sebab ancaman terakhir kadang bukan api yang terlihat, melainkan bara yang diam-diam bertahan di dalam kayu. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Lima Kepulan Asap di Argopuro, Bara Masih Bertahan di Tunggak

Probolinggo, 22 September 2026. Api terbuka tak lagi ditemukan. Namun di lereng Argopuro, pekerjaan belum selesai. Tim Patroli Kebakaran Pos Bermi menemukan lima titik kepulan asap yang masih keluar dari tunggak-tunggak pohon di areal bekas kebakaran (21/09/2026). Enam personel, Misto, Aan, Edi, Sholihin, Halim, dan Misyadi, bergerak dengan membawa cangkul, arit, jet shooter, dan logistik. Mereka kembali menyisir sekitar Cemoro Limo untuk memastikan tidak ada bara yang berkembang menjadi api baru. Hasil pengecekan lapangan tidak menemukan titik api yang menyala. Kepulan asap berasal dari tunggak pohon, sebagian telah roboh dan sebagian masih berdiri. Angin kencang menjadi tantangan. Sisa bara pada tunggak diduga kembali membesar ketika mendapat suplai angin. Tim melakukan pendinginan serta membersihkan bahan bakar di sekeliling tunggak untuk mencegah bara melompat. Tidak semua bara mudah dijangkau. Medan curam membuat personel beberapa kali terperosok. Sumber air berada cukup jauh, sementara beberapa tunggak berada di lereng dan jurang sehingga menyulitkan pemadaman langsung. Tim kemudian menyisir tepian areal bekas kebakaran untuk memastikan tidak terdapat penjalaran bara. Setelah kondisi dinilai aman dan terkendali, personel turun dan tiba kembali di basecamp sekitar pukul 20.00 WIB. Pemantauan belum dihentikan. Tim dijadwalkan kembali naik untuk memastikan lima titik kepulan asap tersebut tidak berkembang menjadi penyalaan kembali. Karhutla mengajarkan bahwa padamnya api bukan selalu akhir pekerjaan. Di Argopuro, yang kini diburu bukan lagi lidah api, melainkan bara yang bersembunyi di dalam tunggak. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) dan Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Api Kembali Muncul di Teneden, Bara Padam Tengah Malam

Bawean, 22 September 2026. Belum sepekan sejak kebakaran 16 September, api kembali muncul di sekitar Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama masyarakat berjibaku hingga tengah malam. Tepat pukul 00.00 WIB, bara api berhasil dipadamkan. Kebakaran terpantau Minggu malam (20/9) pada punggungan bukit sebelah barat lokasi kebakaran sebelumnya, di Dusun Paseran, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Lokasi berada di sekitar Grid 199 Smart Patrol dan berbatasan langsung dengan lahan masyarakat. Penanganan dimulai sekitar pukul 19.40 WIB. Abdul Rahim bersama empat warga lebih dahulu bergerak menuju punggungan bukit. Dengan peralatan yang tersedia, mereka berupaya memadamkan api sekaligus mencegah penjalarannya di medan yang curam dan terjal. Pukul 20.35 WIB, Hayyan, Tifan Nurrizal, dan Uswandi Putra menyusul dari Kantor RKW 09 Gresik–Bawean. Tim kemudian berkonsentrasi pada titik tengah dan batas kawasan, melakukan pemadaman, mop-up, serta mengantisipasi loncatan api. Kerja malam itu tidak mudah. Selain medan curam dan licin, jet shooter yang digunakan mengalami kerusakan. Sebagian personel juga baru menyelesaikan kegiatan pencarian warga negara asing pada siang harinya. Namun penanganan terus dilakukan hingga bara berhasil dipadamkan. Abdul Rahim, Manggala Agni BBKSDA Jawa Timur, menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Bawean yang bergerak bersama petugas sejak awal penanganan. “Terima kasih kepada masyarakat Bawean yang tanpa ragu ikut bergerak bersama kami. Di medan seperti ini, bantuan masyarakat sangat berarti. Menjaga hutan Bawean tidak mungkin dilakukan petugas sendiri. Hutan ini kita jaga bersama,” ujar Abdul Rahim. 1,90 Hektar Kawasan Terdampak Penghitungan sementara menunjukkan areal terdampak mencapai ±4,72 hektar. Sekitar ±1,90 hektar berada di dalam SM Pulau Bawean, sedangkan ±2,82 hektar lainnya berada di luar kawasan konservasi. Vegetasi terdampak berupa Jati, ngos-ngos, tanjeng gunung, kenari, sempel geddeng, pangopa, kayu bulu, delima-deliman, serta semak belukar. Meski api telah padam, pekerjaan belum selesai. Tunggak dan serasah yang menyimpan panas tetap menjadi perhatian karena berpotensi memicu penyalaan kembali. Tim melanjutkan pemantauan dan mopping up, terutama pada batas kawasan dan titik-titik yang masih berpotensi menyimpan bara. Penyebab kebakaran hingga saat ini belum dapat disimpulkan. Penelusuran dan pengumpulan informasi di lapangan masih dilakukan. Kebakaran yang kembali terjadi hanya beberapa hari dari kejadian sebelumnya menjadi pengingat bahwa padamnya api bukan akhir dari pengendalian. Malam itu, petugas dan masyarakat Bawean membuktikan satu hal, bahwa ketika api tak mengenal batas, menjaga hutan pun tak bisa berjalan sendiri. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Saat Bunga Itu Tidak Ada, Hanya Dua Foto yang Tertinggal

Dua foto, enam hari bersama api, dan sebuah nama yang belum selesai dari Dataran Tinggi Yang Situbondo, 21 September 2026. Masih teringat dalam benak saya tentang sekuntum bunga kecil. Bukan karena warnanya paling mencolok. Bukan pula karena tumbuh mendominasi lereng. Namun, diantara luasnya bentang Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, ia sangat mudah dilewatkan. Batangnya ramping dan dipenuhi rambut-rambut halus. Daunnya berhadapan. Pada ujung batang berdiri bulir-bulir kecil, tempat bunga putih dengan semburat ungu pucat menyembul di antaranya. Saya berhenti. Mengeluarkan telepon genggam. Lalu mengambil dua foto. Hanya dua. Ya Hanya Dua. Saat itu saya berpikir sederhana, nanti saya akan kembali. Saya belum tahu bahwa dua foto itulah satu-satunya yang akan saya bawa pulang. Hari itu ada yang lebih mendesak daripada bunga Kami berada di Dataran Tinggi Yang bukan untuk melakukan eksplorasi botani. Kami datang bersama Tim Bantuan Kendali Operasi (BKO) untuk menghadapi kebakaran hutan yang telah mengubah sebagian bentang Argopuro menjadi medan penuh asap dan bara. Gunung Gilap masih menyimpan api. Pagi hari dimulai dengan membaca asap. Siang dihabiskan mengejar bara dan membuat sekat bakar. Sore digunakan untuk memastikan api tidak mendapatkan jalan baru. Malam membawa persoalannya sendiri, udara Cikasur yang dingin, pakaian yang terus menyimpan bau asap, tubuh yang kelelahan, dan pikiran yang masih bertanya apakah bara yang kami tinggalkan sore tadi benar-benar telah mati. Dalam keadaan seperti itu, sebuah bunga kecil harus menunggu. Saya menyimpan telepon genggam dan kembali berjalan. Tidak ada pengukuran. Tidak ada catatan koordinat. Tidak ada foto bagian bawah daun, detail bunga ataupun keseluruhan habitus. Apalagi spesimen. Saat itu saya tidak merasa kehilangan apa pun. Saya masih berpikir bahwa besok, atau lusa, saya dapat menemukannya kembali. Ternyata alam tidak pernah menjanjikan kesempatan kedua. Enam hari lima malam kemudian Enam hari lima malam kami berada bersama api. Hari-hari itu mengubah cara kami membaca gunung. Asap tipis yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa, bagi kami bisa menjadi tanda bahwa bara masih bekerja. Batang menghitam harus diperiksa. Tunggak harus dipastikan. Arah angin harus terus dibaca. Ketika kondisi akhirnya memberi sedikit ruang, ingatan saya kembali kepada bunga itu. Saya ingin mencarinya. Bukan lagi sekadar karena bunganya menarik. Ada rasa penasaran yang belum selesai. Saya mencoba mengingat tempat saya berdiri ketika mengambil foto. Kembali menyusuri vegetasi. Memperlambat langkah. Mata mencari bentuk daun dan bulir bunga yang sama. Beberapa kali saya berhenti ketika melihat tumbuhan yang sekilas menyerupainya. Bukan. Saya berjalan lagi. Tetap tidak ada. Saya kembali. Bunga itu tidak ada lagi di tempat saya mencarinya. Entah karena saya keliru mengingat titiknya, tumbuhan itu telah melewati fase berbunga, tersembunyi di antara vegetasi lain, atau memang berada beberapa meter dari jalur pencarian saya. Saya tidak tahu. Tetapi saat itulah muncul perasaan yang tidak saya rasakan ketika pertama kali meninggalkannya. Sebuah penyesalan. Bukan karena saya tidak memetiknya. Saya menyesal karena tidak mengenalnya sedikit lebih lama. Dua foto menjadi satu-satunya petunjuk Sepulang dari lapangan, dua foto itu saya buka kembali. Saya memperbesarnya. Bunga. Daun. Batang. Rambut-rambut halus. Susunan perbungaan. Dari karakter yang terekam, penelusuran awal membawa saya kepada famili Acanthaceae. Acanthaceae merupakan kelompok tumbuhan berbunga yang cukup beragam. Kajian terhadap Acanthaceae Jawa mencatat sekitar 164 jenis pernah dikoleksi di Pulau Jawa berdasarkan koleksi Herbarium Bogoriense, dengan puluhan di antaranya diperkirakan merupakan flora asli Jawa. Anggotanya umumnya memiliki daun sederhana yang berhadapan dan bunga yang dapat tersusun dalam bulir atau tandan. Penelusuran berikutnya membawa saya kepada satu nama Rostellularia backeri Bremek. Saya berhenti cukup lama pada nama itu. World Flora Online menerima Rostellularia backeri sebagai spesies dalam famili Acanthaceae dan mencatat distribusi alaminya di Jawa. Nama tersebut dipublikasikan Bremekamp pada 1948. Digital Flora of Indonesia bahkan mencatat spesies ini sebagai endemik Jawa. Plants of the World Online, Kew Science, juga memasukkan R. backeri sebagai salah satu spesies yang diterima dalam genus Rostellularia. Tiba-tiba dua foto dari telepon genggam terasa jauh lebih menarik. Tetapi sekaligus jauh lebih berbahaya jika saya terlalu cepat mengambil kesimpulan. Satu nama, tetapi belum boleh diberi tanda titikAda godaan ketika menemukan kemiripan. Kita ingin segera mengatakan Ini adalah Rostellularia backeri. Namun ilmu pengetahuan meminta sesuatu yang berbeda. Ia meminta bukti. Dan saya tidak mempunyai cukup bukti. Saya hanya memiliki dua foto. Dalam identifikasi tumbuhan, karakter yang tampak sederhana dapat menentukan, bentuk dan ukuran bagian bunga, susunan braktea, tipe rambut, kelopak, buah hingga biji. Tidak semuanya dapat diperiksa dari dokumentasi saya. Maka nama itu belum pantas mendapat tanda titik. Untuk sementara, tumbuhan dalam foto tersebut diduga atau mengarah pada Rostellularia backeri. Bukan: “Rostellularia backeri ditemukan di Dataran Tinggi Yang.” Perbedaannya mungkin hanya beberapa kata. Tetapi beberapa kata itulah yang membedakan rasa penasaran dengan kesimpulan ilmiah. Saya semakin memahami bahwa dalam ilmu keanekaragaman hayati, mengatakan “saya belum tahu” bukan sebuah kelemahan. Kadang justru itulah bentuk kejujuran yang paling penting. Kemudian saya menemukannya kembali tetapi bukan di gunung Penelusuran berikutnya membawa saya kepada sebuah gambar spesimen herbarium. Di sana tidak ada warna ungu pucat seperti yang saya lihat di lapangan. Tumbuhannya telah mengering. Batangnya menjadi kecokelatan. Daunnya pipih. Bunga yang dahulu hidup tinggal menyisakan struktur yang dipertahankan di atas lembar koleksi. Nama di sana tertulis Rostellularia backeri Bremek. Saya membandingkannya dengan dua foto dari Dataran Tinggi Yang. Ada karakter yang membuat rasa penasaran semakin besar. Namun sekali lagi saya harus berhenti sebelum melangkah terlalu jauh. Herbarium bukan sekadar album foto tumbuhan kering. Spesimen ilmiah memungkinkan peneliti memeriksa karakter morfologi, meninjau kembali identifikasi dan menyimpan bukti keberadaan tumbuhan melintasi waktu. Dan justru di situlah saya menyadari kelemahan dokumentasi saya. Saya mempunyai gambar, namun tidak mempunyai tumbuhan yang dapat diperiksa kembali. Nama Rostellularia backeri akhirnya menjadi sebuah hipotesis kecil dalam catatan lapangan saya. Menarik. Menjanjikan. Tetapi belum selesai. Namun saya tidak menyesal tidak memetiknya Ada satu hal yang perlu saya luruskan. Penyesalan ini bukan karena saya tidak mengambil tumbuhan tersebut dari alam. Kami berada di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, sebuah kawasan konservasi. Pengambilan spesimen ilmiah bukan perkara sekadar menemukan tumbuhan menarik lalu memasukkannya ke dalam kantong. Ada tujuan penelitian, metode, pertimbangan populasi, kewenangan dan ketentuan yang harus dipenuhi. Justru saya bersyukur tidak tergesa-gesa mengambil tumbuhan yang bahkan belum saya kenal. Tetapi seandainya waktu dapat dikembalikan beberapa menit, saya tahu apa yang akan saya lakukan. Saya akan memotret keseluruhan habitusnya. Bunga dari depan dan samping. Permukaan atas dan bawah daun. Batang. Pangkal tumbuhan. Lingkungan tempat ia tumbuh. Saya akan meletakkan skala di sampingnya. Dan yang paling sederhana tetapi mungkin paling berharga bahwa saya akan mencatat koordinatnya. Karena satu koordinat dapat membedakan antara “saya pernah melihatnya” dan “kita dapat menemukannya kembali.” Kebakaran membuat dua foto itu terasa berbeda Awalnya saya menganggapnya hanya sebagai kesempatan dokumentasi yang terlewat. Tetapi setelah enam hari lima malam berada bersama api, saya mulai memandang dua foto itu dengan cara berbeda. Ketika terjadi kebakaran hutan, kita membutuhkan angka. Berapa hektar terdampak? Berapa personel dikerahkan? Berapa titik api? Berapa meter sekat bakar dibuat? Berapa hari operasi berlangsung? Semua itu diperlukan. Tetapi ekosistem tidak hidup sebagai angka. Cobalah mengecilkan skala dari ratusan hektar menjadi satu meter persegi. Apa yang hidup di sana? Rumput. Herba. Semak kecil. Biji yang menunggu berkecambah. Serangga yang mengunjungi bunga. Fungi. Mikroorganisme tanah. Dan mungkin tumbuhan kecil yang bahkan belum pernah dicatat oleh petugas yang berjalan melewatinya. Api tidak membaca buku flora. Ia tidak membedakan tumbuhan yang umum dengan yang distribusinya sempit. Ia tidak mengetahui mana yang sudah diteliti dan mana yang bahkan belum pernah kita dokumentasikan dengan baik. Api hanya menemukan bahan bakar. Maka ketika suatu kawasan terbakar, yang terancam bukan sekadar hamparan vegetasi. Ada perjumpaan-perjumpaan biologis yang mungkin hilang sebelum sempat menjadi pengetahuan. Apakah bunga itu ikut terbakar? Saya tidak tahu. Tidak ditemukannya kembali satu individu tidak membuktikan bahwa spesies tersebut hilang dari lokasi, apalagi dari Dataran Tinggi Yang. Bisa jadi saya tidak tepat kembali ke titik semula. Bisa jadi tumbuhan tersebut masih tumbuh beberapa meter dari tempat saya mencari. Bisa jadi fase bunganya telah berubah sehingga mata saya tidak lagi mengenalinya. Bisa pula ada banyak individu lain di tempat yang belum kami jelajahi. Semua kemungkinan itu terbuka. Justru karena itulah dua foto tadi meninggalkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Di mana tumbuhan tersebut sebenarnya tersebar? Pada elevasi berapa ia tumbuh? Bagaimana habitat mikronya? Berapa banyak individunya? Bagaimana fenologinya? Bagaimana responsnya terhadap kebakaran? Dan tentu saja pertanyaan pertama yang belum selesai benarkah tumbuhan itu Rostellularia backeri? Saya belum mempunyai jawabannya. Mungkin jawaban itu masih tumbuh di suatu sudut Dataran Tinggi Yang. Suatu hari saya ingin kembali Bukan untuk mencari api. Bukan membawa jet shooter. Bukan pula untuk mengejar asap di Gunung Gilap. Saya ingin kembali ketika Dataran Tinggi Yang sedang tenang. Kali ini saya ingin berjalan lebih lambat. Memandangi vegetasi bawah. Dan, berhenti ketika menemukan bunga kecil. Mencatat koordinat. Mengukur. Memotret. Mengamati tumbuhan di sekelilingnya. Jika kemudian diperlukan koleksi ilmiah untuk memastikan identitasnya, tentu harus dilakukan melalui metode dan ketentuan yang semestinya. Sampai hari itu tiba, saya akan membiarkan satu nama dalam catatan saya tetap ditemani tanda tanya, Rostellularia backeri? Bukan karena tumbuhan tersebut tidak penting. Justru karena ia terlalu penting untuk diberi nama secara gegabah. Enam hari lima malam bersama api di Dataran Tinggi Yang meninggalkan banyak cerita. Tentang dinginnya Cikasur. Tentang asap yang datang dan pergi. Tentang bara yang tampak mati tetapi masih menyimpan panas. Tentang petugas dan masyarakat yang bekerja bersama menjaga agar api tidak memperoleh jalan lebih jauh. Namun dari semua itu, salah satu pelajaran yang paling lama tinggal dalam pikiran saya justru datang dari sesuatu yang sangat kecil. Sebuah bunga. Saya pernah berdiri di depannya. Saya sempat mengaguminya. Saya mengambil dua foto. Kemudian saya berkata dalam hati nanti saya kembali. Saya memang kembali. Bunga itu tidak ada lagi di tempat saya mencarinya. Saya tidak menyesal tidak memetiknya. Saya hanya menyesal tidak mengenalnya sedikit lebih lama. Barangkali itulah salah satu pelajaran paling sederhana dari konservasi, bahwa kita tidak hanya bertugas menjaga kehidupan yang telah kita kenal namanya. Kita juga menjaga ribuan kehidupan yang belum sempat kita kenali. Sebab di alam, kita tidak selalu memperoleh kesempatan kedua. Dan jangan menunggu sesuatu tak lagi kita temukan, untuk mulai merasa perlu mengenalnya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Titik Panas Kembali Terpantau di Lereng Argopuro, Kewaspadaan Belum Berakhir

Probolinggo, 21 September 2026. Argopuro belum benar-benar bisa lengah. Titik panas (hotspot) kembali terpantau di sekitar Aing Kenik, lereng Gunung Argopuro, wilayah Desa Kalianan, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo. Pemantauan pada Sabtu (19/9) menunjukkan sejumlah titik panas di sekitar lokasi. Data NASA-MODIS pada pukul 15.09 WIB. Informasi tersebut menjadi perhatian petugas karena lokasi berada pada lereng dengan medan terjal dan menanjak. Ketersediaan sumber air di sekitar titik juga terbatas, sehingga akses dan keselamatan personel menjadi pertimbangan utama dalam penanganan. Pemantauan lapangan juga mengindikasikan adanya titik api di sekitar Aing Kenik. Tim direncanakan bergerak menuju lokasi sejauh kondisi medan memungkinkan untuk melakukan pengecekan dan menentukan langkah penanganan selanjutnya. Ada sedikit harapan dari langit. Berdasarkan pemantauan prakiraan cuaca saat itu, kawasan sekitar titik memiliki potensi hujan ringan. Namun hujan bukan alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Hotspot adalah peringatan, bukan kesimpulan. Kepastian kondisi dan luas areal terdampak tetap membutuhkan verifikasi lapangan. Setelah rangkaian panjang pengendalian karhutla di bentang alam Argopuro, munculnya kembali indikasi api membawa satu pesan bahwa pekerjaan belum selesai. Di Argopuro, api boleh mereda, kewaspadaan jangan. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Secangkir Teh dari Lereng yang Terbakar di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang

Catatan tentang Elsholtzia pubescens, enam hari di Cikasur, dan kehati-hatian mengenal apa yang disediakan alam Situbondo, 21 September 2026. Asap belum sepenuhnya hilang dari Gunung Gilap ketika kami duduk beristirahat di Sabana Cikasur. Enam hari lima malam berada di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang membuat tubuh mulai mengenal ritmenya sendiri. Pagi membaca asap. Siang mengejar bara. Sore memastikan api tidak memperoleh jalan baru. Malam berhadapan dengan dingin yang kadang turun di bawah 10 derajat Celsius. Pakaian berbau asap. Sepatu berselimut debu. Wajah dan tangan menghitam oleh arang. Di antara pekerjaan itu, perhatian saya justru tertuju pada tumbuhan yang tidak terlalu mencolok. Tingginya kira-kira sepinggang orang dewasa. Daunnya berbulu. Bunganya kecil-kecil berwarna putih dan berkumpul membentuk bulir. Ketika tersibak oleh langkah dan daunnya diremas, keluar aroma yang kuat. Kami kemudian mengenalnya sebagai Elsholtzia pubescens Benth. Identifikasi berdasarkan karakter lapangan dan foto tentu belum menggantikan determinasi botani berbasis spesimen. Tetapi ciri yang kami jumpai sesuai dengan deskripsi Flora Malesiana, tumbuhan tegak setinggi sekitar 1–2 meter, berdaun berhadapan, perbungaan menyerupai bulir, bunga putih, dan hidup pada tempat terbuka, padang rumput serta hutan Casuarina pada ketinggian 1.000–2.950 m. Tercatat persebarannya di Jawa, Bali, Lombok, Sumba, Flores, Timor, hingga Sulawesi bagian barat daya. Jadi tumbuhan yang kami temui di pegunungan ini bukan pendatang yang kebetulan lewat. Ia adalah bagian dari flora pegunungan Jawa. Dan ternyata ceritanya jauh lebih panjang daripada secangkir minuman yang kemudian kami buat. Di balik 488 hektar Ketika kebakaran melanda Dataran Tinggi Yang, perhatian kami tentu tertuju pada api. Sekitar 488 hektar kawasan terdampak berdasarkan penghitungan yang melalui kombinasi pemetaan drone, hotspot, dan tutupan lahan. Angka itu diperlukan untuk laporan. Tetapi setelah berhari-hari berjalan di dalam bentang yang terbakar, saya merasa angka tidak pernah benar-benar mampu menceritakan kehilangan. Sebab 488 hektar bukan hanya 4,88 kilometer persegi di atas peta. Di dalamnya ada rumput, perdu, semak, pohon, lumut, fungi, mikroorganisme tanah, serangga dan satwa yang saling terhubung. Ada tumbuhan yang terbakar habis. Ada yang hanya hangus di bagian atas. Ada pula yang berdiri beberapa meter dari lidah api dan selamat. Elsholtzia pubescens termasuk yang kami temukan di antara cerita itu. Sebagian tegakannya di Gunung Gilap telah dilewati api. Ini menarik karena literatur klasik flora pegunungan Jawa memang mengenal E. pubescens sebagai salah satu tumbuhan yang kerap dijumpai pada vegetasi pegunungan, termasuk pada hutan cemara gunung. The Mountain Flora of Java bahkan mencatatnya sebagai salah satu tumbuhan yang dapat membentuk tegakan pada lingkungan pegunungan Jawa. Lebih dekat lagi dengan Argopuro, basis data Key Biodiversity Areas secara eksplisit memasukkan Elsholtzia pubescens dalam daftar flora Dataran Tinggi Yang/pegunungan Hyang. Dokumen tersebut juga mencatat kebakaran hutan dan padang rumput sebagai salah satu ancaman terhadap biodiversitas kawasan. Tiba-tiba tumbuhan kecil yang kami temui itu tidak lagi terasa biasa. Ia punya alamat ekologis. Dan kami sedang berdiri di rumahnya. Lalu daun itu masuk ke dalam cangkir Pada suatu waktu istirahat, beberapa helai daunnya kami seduh dengan air panas. Sedikit madu ditambahkan. Aroma segeranya keluar. Kuat, hangat, agak menusuk dan menyegarkan di tengah udara Cikasur yang dingin, minuman sederhana itu terasa berbeda. Kami menyebutnya teh. Secara botani tentu bukan teh seperti Camellia sinensis. Istilah yang lebih tepat adalah seduhan herbal atau tisane. Saya meminumnya. Sebagai orang yang bekerja dengan keanekaragaman hayati, belakangan justru muncul pertanyaan yang lebih serius dalam pikiran saya, Apa dasar saya mengatakan tumbuhan ini dapat dikonsumsi? Pertanyaan itu penting. Alam menyediakan begitu banyak tumbuhan, tetapi “alami” tidak pernah otomatis berarti “aman”. Saya kemudian menelusuri literaturnya. Ternyata Flora Malesian, salah satu rujukan penting flora kawasan Malesia, mencatat secara eksplisit bahwa daun E. pubescens kadang digunakan sebagai sayuran. Literatur yang sama menyebut tumbuhan ini sebagai penghasil madu yang baik bagi lebah liar. Useful Tropical Plants, yang merujuk Flora Malesiana, juga mencatat daun spesies ini dimasak dan dimakan sebagai sayuran. Catatan tersebut penting karena menunjukkan bahwa pemanfaatan daun E. pubescens sebagai bahan pangan bukan sesuatu yang hanya muncul dari pengalaman kami di Cikasur. Ada riwayat penggunaan pangan yang tercatat dalam literatur botani. Namun di sinilah kehati-hatian harus dimulai, bukan dihentikan. Catatan “dimakan sebagai sayuran” tidak sama dengan bukti bahwa seduhan dengan konsentrasi berapa pun aman diminum setiap hari. Dalam penelusuran yang saya lakukan, belum ditemukan uji klinis pada manusia yang secara khusus menetapkan dosis aman, frekuensi konsumsi, keamanan jangka panjang ataupun batas konsumsi E. pubescens sebagai tisane. Karena itu saya tidak ingin menyebutnya sebagai “teh herbal yang terbukti aman”. Lebih tepat mengatakan bahwa pengalaman kami menyeduh sedikit daun dan mengonsumsinya sesekali mempunyai pijakan etnobotani dari catatan pemanfaatannya sebagai pangan. Namun, belum tersedia dasar yang cukup untuk menggeneralisasi keamanan konsumsi rutin atau dosis tertentu. Perbedaannya hanya beberapa kata. Dalam ilmu pengetahuan, beberapa kata itu sangat penting. Aroma itu ternyata juga mempunyai cerita kimia Aroma kuat yang kami rasakan pun bukan sekadar kesan. Hasyim, Muryati, Mizu Istianto dan W.J. de Kogel pernah meneliti distilat daun E. pubescens. Hasil analisis mereka menemukan camphor, camphene dan α-pinene, dengan camphor sebagai komponen utama dalam ekstrak yang dianalisis. Penelitian tersebut diterbitkan dalam Asian Journal of Plant Sciences dan tujuan sebenarnya adalah menguji daya tarik senyawa tersebut terhadap lalat buah jantan Bactrocera tau. Temuan itu membantu menjelaskan mengapa ketika daun diremas atau terkena air panas, aromanya terasa kuat. Tetapi sekali lagi, jangan melompat terlalu jauh. Adanya senyawa aromatik atau bioaktif bukan bukti bahwa seduhannya menyembuhkan penyakit. Penelitian Hasyim, dkk adalah penelitian kimia dan entomologi, bukan uji keamanan pangan atau uji klinis minuman herbal pada manusia. Saya justru merasa bagian inilah yang penting diceritakan kepada masyarakat. Kita boleh penasaran terhadap tumbuhan. Kita boleh mempelajarinya. Tetapi rasa ingin tahu harus berjalan bersama kehati-hatian. Jangan meniru kami hanya karena membaca cerita ini Pengalaman lapangan sering mempunyai godaan tersendiri. Seseorang membaca bahwa petugas pernah menyeduh tumbuhan di Cikasur, lalu ketika mendaki menemukan tanaman yang dianggap serupa dan melakukan hal yang sama. Di sinilah masalah dapat bermula. Famili Lamiaceae sangat besar. Banyak spesies mempunyai morfologi yang bagi orang awam terlihat mirip. Bahkan foto yang bagus belum selalu cukup untuk memastikan identitas suatu tumbuhan. Kesalahan identifikasi dapat membuat tumbuhan berbeda dianggap sebagai spesies yang sama. Belum lagi persoalan bagian tumbuhan, jumlah yang dikonsumsi, kondisi individu, interaksi dengan obat, kehamilan, alergi, atau kontaminasi lingkungan. Karena itu cerita kami bukan panduan membuat teh liar di gunung. Apalagi Cikasur berada di dalam kawasan konservasi. Catatan bahwa sebuah tumbuhan dapat dimanfaatkan manusia tidak otomatis memberi legitimasi untuk memetiknya dari alam. Sebaliknya, informasi tersebut seharusnya menambah alasan mengapa biodiversitas perlu dipelajari dan dijaga. Bagi saya ada prinsip sederhana, kita harus kenali dahulu, pastikan identitasnya, pahami literaturnya, baru bicara pemanfaatan. Jika masih ragu, jangan dikonsumsi. Api membuat saya melihat tumbuhan itu dengan cara berbeda Ada ironi yang baru saya rasakan setelah beberapa hari. Kami datang ke Cikasur untuk melindungi sebuah ekosistem dari api. Tetapi ketika tubuh kelelahan dan udara pegunungan menusuk, beberapa helai daun dari salah satu tumbuhan penyusun ekosistem itu justru memberi kami secangkir kehangatan. Tidak perlu dilebih-lebihkan menjadi obat. Tidak perlu pula dibuat mitos. Air panas memberi kehangatan. Madu memberi rasa manis sekaligus karbohidrat. Elsholtzia memberi aroma yang khas. Itu sudah cukup. Beberapa puluh menit kemudian kami kembali bekerja. Dan ketika kemudian menemukan sebagian tumbuhan yang sama hangus di Gunung Gilap, saya memandang kebakaran dengan cara sedikit berbeda. Yang terbakar bukan hanya “vegetasi”. Ada nama di sana. Ada Elsholtzia pubescens. Ada organisme yang berinteraksi dengannya. Flora Malesiana menyebutnya sebagai penghasil madu yang baik bagi lebah liar. Artinya, paling tidak ada hubungan tumbuhan-penyerbuk yang patut diperhatikan. Kebakaran membuat pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih menarik, bagaimana tumbuhan ini merespons api? Apakah ia akan tumbuh kembali dari bagian yang selamat? Apakah regenerasi lebih banyak berasal dari biji? Berapa lama sampai berbunga kembali? Bagaimana kelimpahannya dibandingkan sebelum kebakaran? Kapan lebah dan serangga pengunjung bunga kembali? Saya belum mempunyai jawabannya. Dan saya tidak ingin mengarang jawabannya. Justru itulah pekerjaan berikutnya. Setelah asap hilang Suatu hari saya ingin kembali ke Gunung Gilap. Bukan membawa jet shooter. Bukan untuk mencari bara. Bukan pula untuk membuat sekat bakar. Saya ingin kembali, membawa kamera, GPS dan lembar pengamatan. Saya ingin berdiri di titik yang pernah kami lihat menghitam dan mencari sesuatu yang sangat sederhana tunas. Kalau Elsholtzia pubescens kembali muncul, kami dapat mulai mencatat. Jika berbunga, kami mencatat lagi. Jika serangga datang, kami amati. Dari sana cerita tentang kebakaran berubah menjadi cerita tentang pemulihan. Sebab tugas pengendalian kebakaran sebenarnya tidak selesai ketika asap terakhir menghilang dari lereng. Api dapat dipadamkan dalam hitungan hari. Ekosistem membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk menjawab apa yang telah hilang dan apa yang mampu kembali. Enam hari lima malam di Cikasur akhirnya meninggalkan banyak cerita bagi saya. Tentang sebuah cangkir. Cangkir berisi air panas, madu, dan beberapa helai daun tumbuhan yang sebelumnya mungkin akan saya lewati begitu saja. Dari cangkir itu saya belajar kembali bahwa mengenal keanekaragaman hayati tidak cukup dengan mengetahui namanya. Kita perlu memahami ekologinya, manfaatnya, batas pengetahuan kita dan risiko ketika manusia terlalu cepat merasa telah mengenalnya. Alam memang menyimpan banyak manfaat. Tetapi tidak semua yang tumbuh harus dipetik. Tidak semua yang beraroma harus diminum. Dan, tidak semua yang pernah dimanfaatkan berarti aman digunakan tanpa batas. Kadang bentuk penghormatan terbaik terhadap tumbuhan yang baru kita kenal justru sederhana, mempelajarinya lebih dahulu, dan membiarkannya tetap tumbuh. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Warga Swiss Ditemukan Selamat, Cagar Alam Tetap Punya Batas

Bawean, 21 September 2026. Pencarian seorang warga negara Swiss yang dilaporkan tidak kembali selama dua hari berakhir lega. Tim gabungan menemukan Messmer Philip dalam kondisi selamat, Minggu (20/9) pukul 13.30 WIB, saat berjalan kaki keluar dari Blok Gunung Besar Cagar Alam Pulau Bawean. Pencarian bermula dari laporan seorang perempuan kepada Polsek Tambak. Philip diketahui meninggalkan homestay sejak Jumat (18/9) dan menuju sekitar Danau Kastoba untuk melakukan aktivitas spiritual. Sepeda motor yang digunakannya kemudian ditinggalkan di Desa Paromaan, sementara keberadaannya tidak diketahui. Informasi tersebut ditindaklanjuti Polsek Tambak bersama Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Koramil Tambak, KPH Bawean Lestari, perangkat desa, dan masyarakat sekitar. Keterangan warga yang sempat melihat Philip berjalan kaki di sekitar permukiman dan persawahan menjadi petunjuk dalam penelusuran. Dua jam setelah tim bergerak, Philip ditemukan selamat. Pemeriksaan awal tidak menemukan spesimen tumbuhan, satwa liar, maupun bagian-bagiannya dalam barang bawaan. Kepada petugas, warga Swiss tersebut mengaku melakukan perjalanan secara mandiri untuk kepentingan spiritual. Setelah ditemukan, Philip dibawa ke Polsek Tambak untuk dimintai keterangan. Petugas juga memberikan penjelasan mengenai ketentuan memasuki kawasan konservasi. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. menegaskan bahwa keselamatan manusia tetap menjadi prioritas, tetapi perlindungan kawasan tidak boleh diabaikan. "Kami bersyukur yang bersangkutan ditemukan selamat. Namun perlu dipahami bahwa cagar alam memiliki fungsi perlindungan dan ketentuan yang harus dihormati. Apa pun tujuan kegiatannya, termasuk spiritual, aktivitas di dalam kawasan konservasi harus mengikuti ketentuan yang berlaku,” tegas Nur Patria. RKW 09 Gresik–Bawean selanjutnya berkoordinasi dengan Polsek Tambak dan instansi terkait untuk pendalaman serta memastikan yang bersangkutan tidak kembali memasuki kawasan konservasi tanpa memenuhi ketentuan. Peristiwa ini meninggalkan pesan, bahwa keselamatan manusia harus dijaga, tetapi cagar alam juga harus dilindungi. Sebab Bawean boleh dijelajahi, tetapi cagar alam tetap punya batas. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai TN Kayan Mentarang Perkuat Komunikasi Lintas Instansi di Nunukan

Nunukan, September 2026 – Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai kunjungan kerja Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) Seno Pramudito di Kabupaten Nunukan. Pertemuan bersama unsur pimpinan instansi vertikal dan Pemerintah Kabupaten Nunukan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan diri sekaligus memperkuat komunikasi dan kolaborasi dalam mendukung apembangunan di wilayah perbatasan. Pertemuan dikemas secara santai melalui makan malam bersama di Kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Balai TNKM, Kamis (17/9/2026). Dalam kesempatan itu, Seno memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan tugas dan fungsi Balai TNKM, termasuk pentingnya membangun komunikasi dengan pemerintah daerah, instansi vertikal, pemangku kepentingan, serta masyarakat. Seno mengatakan, pengelolaan kawasan TNKM tidak dapat dilakukan oleh satu pihak. Keberadaan kawasan konservasi yang berada di wilayah perbatasan membutuhkan komunikasi dan dukungan berbagai pihak agar upaya perlindungan kawasan sekaligus program yang berkaitan dengan masyarakat dapat berjalan secara berkelanjutan. “Kami membutuhkan komunikasi, kolaborasi dan dukungan dari pemerintah daerah, instansi vertikal, stakeholder, maupun masyarakat. Karena apa yang kita lakukan di kawasan ini pada akhirnya juga berkaitan dengan kepentingan masyarakat,” ujar Seno, Kamis (17/9/2026). Menurutnya, komunikasi lintas instansi menjadi hal penting, terlebih Kabupaten Nunukan memiliki karakteristik wilayah perbatasan dengan kondisi geografis yang luas dan beragam. Karena itu, Seno menilai sinergi antarlembaga perlu terus dibangun, tidak hanya ketika terdapat persoalan yang harus ditangani, tetapi juga dalam melihat berbagai potensi yang dapat dikembangkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah. “Kita ingin komunikasi ini tidak hanya sebatas silaturahmi, tetapi bagaimana ke depan bisa menjadi kolaborasi dalam melihat potensi dan persoalan yang ada. Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri, sehingga perlu ada kebersamaan untuk mencari solusi dan mendorong hal-hal yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya. Pembahasan dalam pertemuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan aspek konservasi, tetapi juga menyentuh potensi daerah dan aktivitas ekonomi masyarakat. Perdagangan, kuliner, serta berbagai potensi lokal dinilai memiliki peluang untuk terus dikembangkan dan dipromosikan. Pengembangan potensi tersebut juga tidak terlepas dari kebutuhan terhadap aksesibilitas dan transportasi, kondisi geografis Nunukan sebagai wilayah perbatasan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mendukung mobilitas masyarakat maupun pengembangan potensi daerah. Kepala Seksi Wilayah I Long Bawan BTNKM Hery Gunawan mengatakan, kunjungan tersebut merupakan bagian dari agenda kerja Kepala Balai TNKM selama berada di Kabupaten Nunukan. Menurutnya, selain memperkenalkan pimpinan, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi secara langsung dengan para pemangku kepentingan di daerah. “Pertemuan ini menjadi bagian dari agenda kerja Kepala Balai sekaligus untuk membangun komunikasi dengan berbagai pihak. Harapannya, sinergitas yang sudah ada bisa semakin kuat dan ke depan kita dapat bersama-sama mendukung program yang berkaitan dengan kawasan dan masyarakat,” ujar Hery, membuka pertemuan tersebut, Kamis (17/9/2026).. Sementara itu, Kepala Bandara Nunukan Faisal yang mewakili unsur yang dituakan dalam perkumpulan instansi vertikal di Nunukan, mengapresiasi kebersamaan yang telah terbangun antarlembaga selama ini. “Di Nunukan ini kita ada perkumpulan dari masing-masing instansi vertical. kebersamaan ini mungkin hanya ini yang saya dengar di Indonesia, sangat akrab dan terjalin komunikasi serta kolaborasi,” ujarnya, yang disambut tepuk tangan dari unsur pimpinan yang hadir. Menurut Faisal, kedekatan komunikasi tersebut tidak hanya terlihat dalam agenda resmi, tetapi juga melalui berbagai kegiatan informal yang menjadi ruang untuk saling mengenal, bertukar informasi, dan membangun kepercayaan antarlembaga. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal penting bagi daerah yang memiliki wilayah luas dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, berbagai persoalan maupun tantangan di lapangan membutuhkan koordinasi lintas sektor agar dapat ditangani secara bersama-sama. Suasana pertemuan pun berlangsung semakin cair dengan obrolan ringan dan canda antarpimpinan di sela makan malam, kehangatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa komunikasi informal dapat menjadi ruang penting untuk memperkuat hubungan kerja antarlembaga. Melalui pertemuan tersebut, sinergi antara BTNKM, pemerintah daerah, instansi vertikal, dan pemangku kepentingan diharapkan tidak berhenti pada komunikasi, tetapi berkembang menjadi kolaborasi nyata dalam mendukung konservasi, pengembangan potensi daerah, serta kepentingan masyarakat di wilayah perbatasan Nunukan. (*) Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Artikel

Wildlife Tourism di SM Karang Gading Langkat Timur Laut Mulai Dikenal Dunia

Rombongan Wisatawan asal Spayol yang dibawa oleh Rocio melakukan Tracking di Hutan Mangrove SM Karang Gading Langkat Timur Laut. Foto: M. Aliandi Saputra Pematang Buluh, Langkat - September 2026. Menjelang maghrib, sampan kayu itu masuk ke dalam Kawasan Hutan Konservasi Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut, mesin dimatikan. Tidak ada suara. Hanya air sungai yang mengalir, angin di antara akar-akar berembang (Sonneratia casiolaris), dan bunyi hutan yang mulai hidup di kegelapan malam. Tak lama, dari rimbun pohon berembang tua di tepi sungai, cahaya-cahaya kecil mulai muncul. Dialah Kunang-kunang, ratusan jumlahnya, berkelip bersamaan. Rocio, wisatawan dari Spanyol, terpukau di ujung sampan. "Di kampung saya tidak ada ini. Ini seperti pohon Natal yang menyala," katanya pelan. Pemandangan yang bagi warga Pematang Buluh sudah biasa dilihat tiap malam, ternyata jadi sesuatu yang mahal bagi orang yang datang dari jauh. Cerita ekowisata khususnya wisata hidupan liar (Wildlife Tourism) di SM Karang Gading Langkat Timur Laut ini baru dimulai. Kelompok Tani Hutan (KTH) Mangrove Sejahtera yang dinahkodai bang M. Aliandi Saputra mulai mengelolanya dengan serius di akhir tahun 2024. Tidak ada cerita modal besar, hanya sampan, senter, dan keberanian serta tekad warga masyarakat setempat untuk menjaga hutannya sendiri. Tamu mancanegara pertama datang 12 Desember 2024. Rombongan dari Amerika Serikat, tujuan utamanya herping. Hari pertama mereka menginap, kejadian tak terduga terjadi. Pimpinan rombongan, Mike, menemukan ular saat berenang di kolam pemancingan KTH. Aliandi datang melihat. Itu ular selimpat, ular berbisa. Wisatawan diminta untuk tidak panik, ular itu kemudian diamankan dan dilepas kembali ke dalam kawasan. Kejadian itu justru jadi awal. Setelah itu, satu per satu wisatawan asing mulai berdatangan. Hingga Agustus 2026, KTH mencatat sudah ada 76 wisatawan mancanegara yang masuk. Mereka berasal dari Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Prancis, Inggris, Spanyol, Swiss, Jerman, Belanda, dan Kroasia. Ada yang datang untuk herping, bird watching, susur sungai, melihat sunrise, camping, sampai belajar pembibitan dan ikut menanam mangrove. Kedatangan wisatawan mancanegara ini sangat berdampak signifikan terhadap penerimaan PNBP negara kita. Masing-masing wisatawan mancanegara ini punya cerita. Sepasang suami istri dari Belanda dengan menggunakan sampan milik warga setempat sangat senang karena berhasil memfoto buaya muara dari jarak sekitar 20 sampai 25 meter. Ada juga wisatawan yang memilih tidak banyak jalan kaki karena medan lumpur dan panas, mereka lebih senang menikmati hutan dari atas sampan tradisional saja. Dari situ KTH banyak belajar. Tidak semua tamu bisa diperlakukan dengan pola yang sama. Dampaknya pelan-pelan dirasakan warga setempat. Sampan nelayan kini ada yang disewa untuk mengantar tamu wisatawan. Beberapa warga menjadi pemandu lokal, ibu-ibu juga kebagian rezeki menyiapkan makanan. Bahkan anak-anak ikut terlibat. Mereka menemukan 7 ekor kura-kura Ambon (Cuora amboinensis). Tidak dijual, kura-kura itu dilepasliarkan kembali ke habitatnya di dalam kawasan bersama para wisatawan. Jalan ekowisata ini bisa terbuka karena adanya pertemuan yang difasilitasi oleh Bobi Nopandry, Kepala Seksi KSDA Wilayah 2 Stabat dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang mempertemukan KTH Mangrove Sejahtera dengan Bobi Handoko dari SUMECO Bukit Lawang yang memiliki jaringan wisata konservasi internasional. Bagi Aliandi, ekowisata bukan sekadar membawa orang masuk ke hutan. Dari pertanyaan-pertanyaan wisatawan, justru warga jadi terus belajar tentang satwa, tentang mangrove, dan tentang bagaimana semua saling terhubung. SM Karang Gading Langkat Timur Laut akhirnya dikenal bukan karena ada bangunan atau wahana yang dibuat-buat. Ia dikenal salah satunya karena kehidupan alam liar yang memang masih ada di dalamnya. Dan ketika mesin sampan dimatikan lagi di malam berikutnya, yang terdengar tetap sama. Suara air, angin, hutan, dan kunang-kunang yang berkelip di antara pohon berembang. Sumber: M. Aliandi Saputra, Nurul Awaliah dan Alharis Ruhidi – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Langkah Bersama di Tengah Ancaman Karhutla: Tim Gabungan Amankan Kawasan Berau

Samarinda, September 2026 — Tim Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Berau, Balai KSDA Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim), yang tergabung dalam Tim Bantuan Kendali Operasi (BKO), bergerak cepat melakukan pemantauan dan pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau. Berdasarkan pemantauan lapangan pada 7–8 September 2026, kawasan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) yang dikelola oleh BP2SDM serta pusat rehabilitasi orangutan Centre for Orangutan Protection (COP) di Km 35 terpantau kondusif. Tidak ditemukan adanya titik panas (hotspot) maupun titik api (fire spot) di area vital tersebut. Meski demikian, ancaman karhutla sempat muncul di luar area konservasi. Penanganan intensif dilakukan pada dua lokasi berbeda yaitu pemadaman karhutla di luar kawasan KHDTK Km 22 Labanan. Penanganan lanjutan karhutla di luar kawasan KHDTK Km 23 Labanan dilakukan pada Senin (7/9) dan Selasa (8/9). Aksi cepat pemadaman ini berjalan sukses berkat sinergi ketat tim gabungan lintas instansi yang terdiri dari Polsek Teluk Bayur, Damkarmat Berau, Manggala Agni Kemenhut, KPH Berau Barat, BKSDA Kaltim, BP2SDM, dan pihak COP. Berkat kolaborasi yang padu serta dedikasi seluruh personil di lapangan, kobaran api di kedua lokasi tersebut berhasil dipadamkan sepenuhnya. Hingga saat ini, BKSDA Kaltim bersama unsur terkait terus memperketat patroli pemantauan guna memastikan kondisi kawasan tetap terkendali dan mencegah munculnya kembali titik api susulan. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Ditemukan Warga, Trenggiling Blitar Kembali ke Hutan

Blitar, 18 September 2026. Seekor trenggiling (Manis javanica) yang ditemukan warga di Kota Blitar akhirnya dilepasliarkan kembali ke alam setelah ditangani Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) – Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Awalnya, laporan diterima dari Dinas Pemadam Kebakaran Kota Blitar pada 14 September 2026. Sehari kemudian, tim BBKSDA Jawa Timur berkoordinasi dengan Damkar Kota Blitar untuk menangani satwa tersebut sekaligus memberikan sosialisasi mengenai perlindungan satwa liar. Setelah dinyatakan siap, tim berkoordinasi dengan Perum Perhutani KPH Blitar untuk pelepasliaran di Hutan Maliran, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Penyelamatan ini menunjukkan bahwa perlindungan satwa liar kerap dimulai dari hal sederhana, bahwa masyarakat memilih melapor, bukan menangkap atau memelihara. Kolaborasi masyarakat, Damkar, BBKSDA Jawa Timur, dan Perhutani menjadi kunci agar satwa dapat kembali ke habitatnya. Trenggiling itu pulang ke hutan. Bukan karena kebetulan, tetapi karena ada yang memilih peduli. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kasur Ijo di Tengah Bara

Gresik, 18 September 2026. Malam itu mereka tidak sedang berkemah. Api yang menyala di Blok Teneden, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, semak kering terbakar, tunggak masih merah, dan cahaya senter bergerak ke sana kemari di antara pepohonan. Petugas RKW 09 Gresik–Bawean Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Masyarakat Mitra Polhut (MMP), KPH Bawean Lestari, dan mahasiswa UINSA sedang berpacu dengan waktu. Ada yang memegang jet shooter, ada yang menjaga sekat, ada yang mencari bara di kayu lapuk, dan ada pula yang sesekali saling teriak memastikan temannya masih terlihat di tengah gelap. Tegang, tentu saja. Tapi manusia punya cara sendiri untuk bertahan dari tegang terlalu lama bercandanya. Saat api mulai terkendali dan tubuh sudah benar-benar habis, seseorang membentangkan daun pisang di tanah. Lalu satu per satu rebah. Tak ada matras, tak ada tenda, dan tak ada yang protes soal fasilitas. Dokumentasi mereka malah mendapat komentar: “pose kedinginan”, “cosplay pepes”, sampai “kasur ijo”. Terbahak sebentar. Lalu tidur lagi. Mungkin itu bagian yang tak pernah masuk ke laporan resmi: setelah berjam-jam berhadapan dengan api, manusia masih sempat menertawakan dirinya sendiri. Sepatu tetap menempel, tas menjadi bantal, dan daun pisang jadi alas. Ada yang meringkuk, ada yang telentang, serta ada yang seolah roboh di tempat. Saat pagi mulai menyingsing, dan “hotel daun pisang” itupun bubar sendiri. Bangun kembali untuk menyisir tunggak yang ada. Memastikan bara benar-benar mati. Begitulah suka-duka pemadaman di Bawean. Ada malam yang tegang ketika api masih mengejar semak. Ada dini hari ketika bara tetap menyala. Dan ada tubuh yang lelah, mata yang berat, serta kaki yang rasanya enggan diajak berjalan lagi. Tapi ada juga gurauan kecil yang membuat semua itu terasa lebih ringan. Di Bawean, kadang yang membuat orang bertahan bukan cuma alat pemadam. Bisa juga selembar daun pisang, sedikit tidur, dan teman yang masih sempat bilang: “geser dikit, kasur ijonya sempit.” Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 49–64 dari 2.667 publikasi