Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

BBKSDA Sumut dan Pusat Perlindungan Orangutan Visit To Kampus UIN Sumut

Medan, 26 Februari 2025. Setelah kunjungan mahasiswa/mahasiswi serta dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Jurusan Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi ke kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, pada tanggal 14 Januari 2025, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menginisiasi melakukan kegiatan road to Kampus UIN Sumatera Utara, pada Selasa (25/2) di jln. Lapangan Golf Kampung Tengah, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, sebagai kunjungan balasan. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggandeng lembaga mitra kerjasama Pusat Perlindungan Orangutan (Center for Orangutan Protection), melakukan giat Penyuluhan dan Kampanye Penyadartahuan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) yang diikuti sekitar 45 orang mahasiswa/i didampingi Ketua Prodi Biologi Zahratul Idami, M.Sc., dan dosen Dr. Ir. M. Idris, M.P. Bertindak sebagai narasumber dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara Eva Suryani Sembiring, S.Hut., Penyuluh Kehutanan, yang memaparkan materi tentang Pengenalan Kawasan Konservasi dan Konservasi Satwa Liar. Eva Suryani membekali peserta dengan pengetahuan tentang strategi konservasi yang dikenal dengan 3P (Perlindungan, Pengawetan dan Pemanfaatan), beberapa kawasan konservasi yang ada di wilayah kerja Balai Besar KSDA Sumatera Utara beserta potensi keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya serta tentang satwa liar khususnya 4 satwa kunci di Sumatera Utara yaitu Gajah Sumatera, Harimau Sumatera, Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli. Eva Suryani juga mengajak generasi muda khususnya mahasiswa untuk peduli terhadap satwa liar dengan mempelajari dan menggali informasi tentang keberadaan satwa-satwa tersebut. Disamping itu, ikut juga menyebarluaskan informasi ke masyarakat agar melindungi dan melestarikan satwa liar setidaknya tidak memelihara dan memburu satwa-satwa tersebut. Eva Suryani Sembiring, S.Hut., Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara Narasumber lainnya, Ahmad Bukhari Saragih, M.Sc. dari Pusat Perlindungan Orangutan (Center for Orangutan Protection), memaparkan materi tentang Perlindungan Satwa Orangutan dan Satwa Liar lainnya. Ahmad Bukhari memperkenalkan lembaga Pusat Perlindungan Orangutan serta ruang lingkup kegiatan/aktifitasnya. Selain itu juga memaparkan tentang beragam jenis satwa primata sampai kepada orangutan. Ahmad Bukhari mengupas tuntas tentang orangutan baik morfologi maupun perilakunya. 97 % Gen orangutan sama dengan manusia, sehingga apabila manusia mengidap penyakit, akan dengan mudah menular ke orangutan, demikian juga sebaliknya. Permasalahan yang dihadapi orangutan adalah perusakan dan pengalihan fungsi kawasan hutan sebagai habitatnya, konflik dengan warga, kegiatan perburuan dan perdagangan, serta pemeliharaan orangutan. Satwa ini sering dianggap sebagai hama karena mengganggu aktivitas perladangan warga. Di beberapa negara lain, orangutan kerap juga dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk menampilkan atraksi sebagai hiburan yang dipertontonkan. Oleh karena itu perlu tindakan nyata untuk melindunginya agar tidak punah. Ahmad Bukhari Saragih, M.Sc. narasumber dari Pusat Perlindungan Orangutan Penyampaian materi oleh kedua narasumber menarik perhatian mahasiswa yang mengikutinya, beberapa pertanyaan pun disampaikan kepada nasumber, baik tentang pengenalan keragaman hayati maupun permasalahan teknis menyangkut orangutan yang berkonflik dengan warga. Dan semua dibahas tuntas oleh kedua narasumber. Suasana diskusi yang menarik ini, diakui juga oleh Ketua Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sumut, Zahratul Idami, M.Sc., saat menutup acara, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan berharap kedepannya dapat menjalin kerjasama untuk pengembangan pendidikan dan pengetahuan serta riset bagi mahasiswa UIN Sumut. Akhir dari rangkaian kegiatan, Pusat Perlindungan Orangutan juga melakukan giat pameran yang menampilkan bahan-bahan dokumentasi tentang orangutan, di lingkungan kampus UIN Sumut. Pameran disaksikan mahasiswa dan dosen. Dengan kegiatan ini diharapkan selain membekali pengetahuan, juga dimaksudkan untuk mendorong minta generasi muda berperan aktif menyelamatkan satwa liar dengan berbagai cara. Pameran tentang Orangutan dari Pusat Perlindungan Orangutan Sumber : Samuel Siahaan, SP. (PEH Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tersesat dalam Pelukan Kawah Ijen: Sekejap Hilang, Seumur Hidup Jadi Pelajaran

Paltuding, 25 Februari 2025. Angin pagi yang dingin menyelimuti Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen pada Minggu, 23 Februari 2025. Saat itu sekelompok pendaki berjumlah 44 orang memulai perjalanan mereka. Salah satunya Hoirud Dian, pemuda berusia 23 tahun yang menjadi pusat perhatian setelah dilaporkan hilang di jalur pendakian yang populer di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara itu. Kejadian bermula ketika Hoirud memutuskan untuk turun lebih dulu dari rombongannya. Sebuah keputusan yang kemudian membawa pada rangkaian pencarian intensif. Rekan-rekannya mengira ia telah pulang ke rumah. Namun, kecurigaan berubah menjadi kekhawatiran saat keluarga Hoirud mendatangi pos Paltuding pada dini hari berikutnya. Laporan kehilangan resmi baru diterima pada pukul 02.30 WIB, memicu aksi cepat dari petugas RKW 15 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang dibantu pelaku wisata setempat. Pencarian yang dimulai sekitar pukul 03.30 WIB berlangsung menegangkan. Kabut tebal, suhu dingin, dan medan yang menantang menjadi tantangan tersendiri. Hingga akhirnya, sekitar pukul 08.00 WIB, Hoirud ditemukan berjalan keluar dari arah hutan, sekitar satu kilometer dari Paltuding. Lega dan haru bercampur ketika ia dipertemukan kembali dengan keluarganya. Tanpa mengalami luka serius, ia kemudian diantar pulang ke kediaman saudaranya di Pujer, Bondowoso. Namun, insiden ini menyisakan pertanyaan penting: Bagaimana seseorang bisa tersesat di jalur yang ramai dan telah ditandai dengan jelas? Jawabannya seringkali sederhana namun fatal, abai dan lengah! Etika dan Keselamatan di Jalur Pendakian Kawah Ijen bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ekosistem yang hidup, dengan keindahan yang memikat sekaligus tantangan yang tak boleh diremehkan. Kasus Hoirud menjadi pengingat bahwa pendakian bukan sekadar soal fisik, tapi juga tentang kesadaran dan tanggung jawab. Berikut beberapa etika dan tips keselamatan yang harus diperhatikan setiap pengunjung: Apapun alasannya, tetaplah bersama kelompok. Jika terpaksa berpisah, pastikan semua anggota mengetahui rencana dan jalur yang akan diambil. Kenakan pakaian dan alas kaki yang sesuai, bawa air minum, makanan ringan, dan peralatan darurat seperti senter, peluit, serta peta jalur. Jangan mencoba membuat jalur sendiri atau mengambil jalan pintas. Jalur pendakian telah dirancang untuk keselamatan pengunjung dan perlindungan ekosistem. Jika ada perubahan rencana mendadak, beri tahu pemandu atau petugas setempat. Jangan pernah menganggap remeh informasi kecil seperti ini. Cuaca di kawasan pegunungan dapat berubah drastis. Jika merasa tidak fit atau cuaca memburuk, pertimbangkan untuk menunda pendakian. Pemimpin rombongan harus memastikan semua anggota terdata dengan baik sebelum, selama, dan setelah pendakian. Petualangan di alam bebas adalah pengalaman yang memperkaya jiwa, tetapi di balik keindahannya tersembunyi risiko yang tak boleh diabaikan. Kasus di Kawah Ijen ini bukan sekadar cerita tentang orang hilang yang berakhir bahagia, tetapi juga pengingat bahwa di alam kehati-hatian bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. “Jangan remehkan sunyi, jangan abaikan langkah kecil, sebab di alam, pulang adalah anugerah terbesar” Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih waspada dan bertanggung jawab dalam menjelajahi keindahan alam Indonesia. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

GYM Sumut dan GRAS Beraksi di HPSN 2025

Sampah yang berhasil dikumpulkan Medan, 25 Februari 2025. Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia (Perwaku) Sumatera Utara memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2025 dengan tema “Memulihkan Fungsi Lingkungan Hidup Aksi Bersih Aliran Kanal Marindal”, di Jembatan Kanal Bajak V, Medan Amplas, Kota Medan, pada Sabtu (22/02/2025). Dalam kegiatan ini DPW PERWAKU Sumut bekerjasama dengan Konsorsium HPSN Lingkungan Kanal 2025, Rumah Briket, Cendikia Hijau Indonesia, Pemerhati Sungai Canal (PASCAL), Klinik Reboisasi, Forum DAS, KEIND Sumatera Utara. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB ini melibatkan ratusan peserta termasuk Babinsa Kodim 0201/Medan, Koramil 15/DT Sertu Muliadi, Kepala Desa Marendal 1 Ir Ardianto, angkatan Juang 45, RDEF, World Cleanup Day (WCD) Sumatera Utara, dosen dan mahasiswa dari Fakultas/Prodi PTN & PTS Se Kota Medan. Momen penting diikuti juga Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Green Ambassador Green Youth Movement (GYM) Sumatera Utara, penggiat lingkungan serta masyarakat sekitar yang memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Kegiatan ini sekaligus menjadi Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pengabdian Masyarakat) dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2025. Berbekal topi, tumbler, sarung tangan dan kantong sampah, dengan semangat tinggi, para peserta membersihkan area sepanjang rute yang telah ditentukan, mengumpulkan sampah plastik, kertas, serta sampah lainnya. Rute kegiatan aksi bersih dimulai dari jembatan kanal Bajak V, kemudian peserta menyisir jalan pinggiran kanal menuju jembatan kanal Marindal hingga kembali ke titik awal. Kemudian dilanjutkan pencucian kanal dengan menuangkan Eco Enzym dan penebaran bibit ikan di sungai di bawah jembatan kanal Bajak V. Kegiatan diakhiri dengan parade musikalisasi ET Teatrikal dan bazar UMKM tradisional. GYM Sumut dan perwakilan GRAS foto bersama usai kegiatan aksi bersih kanal Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) Nurhabli Ridwan yang juga kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengatakan kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi sampah dan limbah lainnya, tetapi juga mengajak masyarakat berkolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ini adalah kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari. Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan untuk mewujudkan lingkungan yang sehat. Green Ambasador GYM Sumut pun memandang aksi ini positif dalam menumbuhkan kepekaan dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan hidup. Hati nurani Green Ambasador terpanggil untuk ikut berperan aktif. Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap tahunnya diperingati pada tanggal 21 Februari. Adapun HPSN 2025 bertepatan dengan 20 tahun tragedi runtuhnya TPA Leuwigajah, Cimahi yang memakan korban pada 21 Februari 2005 yang menjadi sejarah lahirnya Hari Peduli Sampah Nasional sebagai titik balik pengelolaan sampah di Indonesia, agar diingat peristiwanya dan dipetik hikmahnya. Dalam memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2025 ada delapan lokasi aksi, yaitu pantai, gunung, kawasan mangrove, desa, pesantren, pasar, sekolah dan kampus. Setiap orang juga bisa ikut berpartisipasi, bahkan dari rumah. Semoga dengan aksi nyata memberi dampak baik bagi kesadaran masyarakat untuk peduli dan mengelola sampah secara bijak menuju Indonesia bersih dan sehat. Sumber : Nurhabli Ridwan ( GRAS / Kader Konservasi Alam )- Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Seminar Nasional Bela Negara Upaya Konservasi Berbasis Teknologi

Medan, 24 Februari 2025. Bela negara adalah tanggung jawab seluruh rakyat, tanpa memandang usia, gender, atau profesi. Tidak hanya militer, seluruh warga negara memiliki peran dalam mempertahankan kedaulatan bangsa sesuai dengan kemampuan dan profesi masing-masing, termasuk dalam melindungi kekayaan alam Indonesia dengan sistem perlindungan terintegrasi sebagai upaya konservasi dari ancaman kejahatan satwa liar, kehutanan, dan kelautan. Yayasan Naluri Fauna Indonesia (Nafas) bersama Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan dan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara mengadakan Seminar Nasional Bela Negara 2025 secara luring (offline) dan daring (online) zoom meeting di Aula lantai 3 Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Jalan Sisingamangaraja Medan, Kamis (20/2/2025). Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci alquran, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan pembacaan kode etik pencinta alam. Kemudian sambutan Ketua Rayon 1 Mapala PTMSI Nasrul Maulana, Ketua Yayasan Naluri Fauna Indonesia (NAFAS) Badar Johan, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM Sumut Hamdan Sukrawi,ST., MT, dan dibuka secara resmi oleh Direktur Konservasi Kawasan, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. Ketua Yayasan Naluri Fauna Indonesia (NAFAS) Badar Johan mengatakan seminar ini mengangkat tema tentang Peran Teknologi Smart Patrol, Pemetaan, dan Sistem Perlindungan Terintegrasi, Dalam Upaya Konservasi Bagi Mahasiswa dan Komunitas Pencinta Alam di Seluruh Indonesia. Kegiatan ini disponsori TFCA Sumatera, di suport oleh Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Indonesia, Yayasan Badak Indonesia (YABI), Yayasan Pesona Tropis Alam Indonesia (PETAI), Forum Harimau Kita, Forum Orangutan Indonesia (FORINA), Recyclo, The Wildlife Whisperer Of Sumatera, Forum Konservasi Gajah Indonesia dan Sumatera Tropical Forest Journalism. Hadir dalam seminar ini Direktur Konservasi Kawasan, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. sebagai Keynote Speaker. Kemudian Ketua Bidang III Konservasi Indonesia’s FoluNetSink 2030, Dr. Ir. Wiratno, M.Sc. dan Direktur Wildlife Conservation Society Indonesia Program, Dr. Noviar Andayani, M.Sc. sebagai penanggap dalam seminar. Ada lima pemateri, antara lain Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pengelolaan Kawasan Konservasi pada Direktorat Konservasi Kawasan Ditjen KSDAE, Dian Risdianto S.P., M.Si., Wakil Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Wisnu Sukmantoro, Program Manajer Forum Orangutan Indonesia (FORINA) Fajar Saputra, Analis Konservasi Kawasan Muhammad Asad, dan Koordinator Lapangan Rhino Protection Unit (RPU) YABI Wilayah TNBBS Heri Pasiman, yang dimoderatori Okta Puspita dari Forum Harimau Kita (FHK). Seminar ini turut dihadiri lebih kurang 150 orang staf UPT Teknis KSDAE melalui luring maupun daring. Peserta lainnya berasal dari berbagai kalangan, termasuk perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Kader Konservasi Alam, Mapala UMSU, Sispala PALH SMAN 2 Medan, NGO/CSO, kader Muhammadiyah, aktivis lingkungan, mahasiswa dan kelompok pencinta alam dari Medan yang mengikuti secara luring. Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. dalam paparan materi pembuka seminar mengatakan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah serta masyarakat. Peningkatan peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan yang berdaya dan berhasil guna, serta dikembangkan melalui peningkatan sadar konservasi, pendidikan dan penyuluhan. Narasumber pertama, Wisnu Sukmantoro, dengan materi Pengantar Pencinta Alam Dalam Konservasi, mengatakan bahwa saat ini peran kegiatan konservasi oleh kaum muda cukup masif, kegiatan konservasi kebanyakan ke arah riset, penjagaan kawasan konservasi dengan target alam tetap lestari. Kemudian pemateri berikutnya Dian Risdianto, SP., M.Si yang membahas tentang Pengantar Keanekaragaman Hayati dan Konservasi, mengatakan terdapat tiga prinsip dasar konservasi, Perlindungan Sistem Penyangga Kehidupan, Pengawetan Keanekaragaman Jenis dan Ekosistemnya dan Pemanfaatan Secara Lestari. Ketiga sistem itu saling berkesinambungan, melalui perencanaan inventarisasi, penataan kawasan (zona & wilayah kerja) dan rencana pengelolaan perlindungan dengan patroli rutin, penangan konflik, pengendalian karhut, dan sebagainya yang melibatkan kerjasama kemitraan dan pemberdayaan masyarakat. Narasumber dan moderator Materi selanjutnya, Pengantar Keunggulan Pemetaan Dalam Melaksanakan Kegiatan di Lapangan oleh Fajar Saputra, menjelaskan pemetaan telah berkembang dari gambar di batu hingga sistem digital yang kompleks. Pemetaan Semakin berperan dalam berbagai bidang, termasuk konservasi, mitigasi bencana, perencanaan kota, dan eksplorasi luar angkasa. Saat ini terdapat teknologi pemetaan konservasi satwa liar melalui Global Position System (GPS), Sistem Informasi Geografis (GIS), Penginderaan Jauh (Remote Sensing), Pemodelan Spasial, SMART Patrol dan Citizen Science Mapping. Dengan teknologi ini mendapat manfaat penelitian berupa evaluasi zona taman nasional, identifikasi area prioritas untuk monitoring, identifikasi area ekowisata dan evaluasi program restorasi. Mahasiswa dan kelompok pencinta alam memiliki peran penting dalam konservasi berbasis pemetaan, mulai dari pengumpulan data di lapangan hingga analisis dan advokasi berbasis GIS. Kemudian materi Pengantar Keunggulan Tools Smart Patrol Dalam Melaksanakan Kegiatan di Lapangan, yang disajikan oleh Muhammad Asad, mengatakan Platform Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) terdiri dari serangkaian perangkat lunak dan alat analisis yang dirancang untuk membantu para konservasionis mengelola dan melindungi satwa liar dan tempat-tempat liar. SMART dapat membantu menstandarisasi dan menyederhanakan pengumpulan, analisis dan pelaporan data, sehingga memudahkan informasi penting untuk sampai dari lapangan ke pembuat keputusan. Materi terakhir tentang Pengantar Peran Program Integrited Protektion Sistem (IPS) oleh narasumber Heri Pasiman, mengatakan Integrated Protection System (IPS) merupakan sebuah sistem perlindungan dan pengamanan yang terintegrasi untuk menghasilkan respon yang efektif dan tepat sasaran. Dalam sesi penanggap Dr. Ir. Wiratno, M.Sc. mengatakan data dan informasi tidak ada gunanya jika tidak digunakan oleh kepala balai untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan potensi dan mengajak masyarakat kerjasama memahami problem sosial dalam menjaga alam. Selain smart patrol ada metode berbeda untuk mengetahui mode solusinya dimana kita bisa berhasil masyarakat juga dapat manfaat melalui program kemitraan konservasi. Dr. Noviar Andayani, M.Sc. mengatakan pengelolaan dan perlindungan kawasan konservasi yang berisi keanekaragaman hayati yang tinggi dan bermanfaat bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia terus didukung oleh semua pihak. Teknologi baik pengumpulan dan penyimpanan visualisasi data, maupun memakai smart patrol tidak akan bermanfaat jika tidak ada komponen SDM nya. Mahasiswa dan kelompok pencinta alam menjadi ujung tombak generasi muda yang akan melanjutkan upaya-upaya konservasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Nurhabli Ridwan, Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang juga hadir dalam seminar ini, mengatakan sebagai generasi muda kader konservasi alam harus dapat melakukan bela negara salah satunya dengan aktif berkegiatan dibidang lingkungan hidup dan kehutanan. Seminar ini sangat bermanfaat karena kita juga bisa ikut berkolaborasi terlibat dalam kegiatan patroli hutan bersama petugas lapangan. Nurhabli juga berterima kasih kepada narasumber, panitia dan peserta yang hadir dalam kegiatan ini, semoga dari seminar ini ada kelanjutan materi praktek lapangan patroli hutan, sehingga ilmu yang didapat bisa langsung di aplikasikan ke lapangan. Kegiatan di tutup dengan foto bersama dan pembagian soevenir tumblr unik kepada penanya terpilih melalui luring dari perwakilan Sispala PALH SMAN 2 Medan dan penanya terpilih melalui daring perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) Nurhabli Ridwan. Sumber : Nurhabli Ridwan ( GRAS / Kader Konservasi Alam )- Balai Besar KSDA Sumatera Utara Foto by : Yayasan Nafas
Baca Artikel

Kuliah Tamu Di UNAIR, BBKSDA Jatim Terangkan Legislasi Satwa dan Zoonosis

Banyuwangi, 19 Februari 2025. Balai Besar KSDA Jawa Timur, Seksi KSDA Wilayah (SKW) V Banyuwangi, kembali memberikan program kuliah tamu kepada mahasiswa Program Profesi Kedokteran Hewan, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam – Universitas Airlangga Banyuwangi, 19 Februari 2025. Kegiatan diikuti oleh 15 mahasiswa pada Program Profesi Kedokteran Hewan Terdapat 3 materi yang disampaikan oleh Mohamad Sukron Makmun (Pengendali Ekosistem Hutan), drh. Zakia Sheila Faradila, dan Ainy Amelya Utami (Penyuluh Kehutanan). Diantaranya, Legislasi dan Mekanisme Penyitaan Satwa Dilindungi, Penangkaran dan Pelepasliaran Satwa Liar, serta Zoonosis. Diharapkan kedepannya, sarjana kedokteran hewan yang dihasilkan dapat lebih paham mengenai peraturan mengenai satwa liar yang dilindungi, pemanfaatannya, serta zoonosis. (ak) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur - Bidang KSDA Wilayah III Jember
Baca Artikel

Jejak Reptil dan Amfibi Pegunungan Wilis: Mengungkap Keanekaragaman Herpetofauna di Cagar Alam Gunung Picis dan Gunung Sigogor

Ponorogo, 19 Februari 2025. Di balik hamparan hijau Pegunungan Wilis, kehidupan berdenyut di setiap helaian dedaunan dan gemericik aliran sungai. Cagar Alam Gunung Picis dan Gunung Sigogor bukan sekadar hamparan hutan yang sunyi, melainkan panggung kehidupan bagi makhluk-makhluk kecil yang memainkan peran besar dalam keseimbangan ekosistem. Di balik lebatnya vegetasi dan gemericik aliran sungai, kehidupan reptil dan amfibi berkembang dalam keseimbangan yang rapuh, sebuah indikator penting bagi kesehatan ekosistem. Pagi itu, kabut tipis menyelimuti lereng Gunung Sigogor. Suara burung bersahutan, sementara dedaunan yang basah memantulkan cahaya matahari pagi. Di bawah naungan hutan, seiring bergulirnya sang fajar, tim melangkah keluar dari lebatnya Alas Ireng sebuah nama lain dari kawasan Cagar Alam Gunung Sigogor. Setiap jejak kaki yang ditinggalkan menjadi saksi pencarian tak kenal lelah mereka terhadap penghuni-penghuni tersembunyi pegunungan ini. Mereka bukan sekadar mencari, mereka mendengar, merasakan, dan membaca bahasa alam. Dalam sebuah studi yang dipublikasikan pada 2024 di Biotropika: Journal of Tropical Biology berjudul "Herpetofauna Diversity and Conservation Value in the Mountain Ecosystems of Gunung Sigogor and Gunung Picis Nature Reserve, East Java, Indonesia" karya Ahmad Muammar Kadafi, Awalul Fatiqin, Bagus Priambodo, Richo Firmansyah, Fajar Dwi Nur Aji, Tri Wahyu Widodo, Gunawan, Danafia Permana, Faisal Yanuar Adiba, dan Yuri Ristanto, tersingkap keajaiban yang kerap luput dari perhatian. Dalam penelitian tersebut, sebanyak 29 spesies herpetofauna berhasil diidentifikasi: 13 jenis amfibi dan 16 jenis reptil. Namun, di antara temuan itu, satu nama mencuat: Nyctixalus margaritifer, katak pohon yang terakhir kali tercatat keberadaannya lebih dari satu abad silam. Penemuan Nyctixalus margaritifer di Cagar Alam Gunung Sigogor ini memperkuat temuan dari penelitian terdahulu yang dipublikasikan pada 2021 dalam Turkish Journal of Zoology berjudul "Rediscovery of Pearly Tree Frog, Nyctixalus margaritifer Boulenger, 1882 (Amphibia: Rhacophoridae) from Mt. Wilis after 135 years" oleh Bagus Priambodo, Richo Firmansyah, Dicky Candra Pranata, Afina Nur Aninnas, Muhamad Azmi Dwi Susanto, Fajar Dwi Nur Aji, Tri Wahyu Widodo, Gunawan Gunawan, Danafia Permana, Faisal Yanuar Adiba, Yuri Ristanto, Muhamad Prayogi Erfanda, And Ahmad Muammar Kadafi. Penelitian tersebut mencatat spesimen betina N. margaritifer ditemukan di lereng barat Gunung Wilis pada ketinggian 1.082 mdpl, bertengger tenang di bawah daun pohon kopi yang tumbang. Suasana lembap dengan suhu 22°C dan kelembapan 92% menjadikan area itu sebagai habitat yang ideal. Temuan ini menjadi yang ketiga kalinya setelah hilangnya holotipe tahun 1882 dan penunjukan neotipe pada 1885. Menariknya, spesimen yang ditemukan berukuran 42,6 mm, lebih besar dibandingkan catatan terdahulu. Sungai, Hutan, dan Kisah Kehidupan yang Berlangsung dalam Diam Di tepian aliran sungai “Wates”, suara gemericik air berpadu dengan nyanyian serangga. Di sinilah kehidupan herpetofauna tampak paling semarak. Katak-katak pohon seperti Philautus aurifasciatus berjongkok di atas daun, sementara Rhacophorus reinwardtii melompat lincah di antara ranting. Sungai ini tak sekadar menjadi sumber air, ia adalah urat nadi kehidupan yang mengalirkan keseimbangan bagi seluruh ekosistem sekitarnya. Tak jauh dari sana, di aliran sungai “Ngesep”, keheningan hanya sesekali pecah oleh percikan air saat seekor kadal melintas cepat. Berbeda dengan Wates yang kaya spesies, Ngesep menawarkan harmoni, tempat di mana spesies hidup berdampingan dalam kesetaraan. Analisis indeks keanekaragaman dari studi ini menunjukkan bahwa di sinilah ekosistem mencapai keseimbangan optimal. Tidak semua cerita berakhir bahagia, Gonocephalus kuhlii jenis bunglon hutan yang anggun dengan warna kehijauan, kini masuk dalam kategori Vulnerable daftar merah IUCN. Ia bergantung pada kanopi hutan yang kini kian terfragmentasi oleh aktivitas manusia. Setiap pohon yang tumbang adalah hilangnya satu rumah, satu dunia, bagi spesies-spesies sepertinya. Ancaman yang Tak Terlihat, Bahaya yang Nyata Amfibi, dengan kulitnya yang permeabel, adalah penjaga ekosistem yang paling sensitif. Mereka merasakan lebih dahulu apa yang sering kali manusia abaikan. Ketika suhu meningkat atau air tercemar, populasi mereka merosot secara diam-diam. Nyctixalus margaritifer, meski ditemukan kembali, tak luput dari ancaman perburuan untuk perdagangan hewan peliharaan eksotis. Ancaman lain datang dari tempat yang mungkin tak kita duga, ladang-ladang di pinggiran cagar alam yang menggunakan pestisida, meresap ke dalam tanah, mengalir ke sungai-sungai kecil, mengancam kehidupan di dalamnya. Perubahan iklim menambah daftar panjang tantangan. Naiknya suhu dan berkurangnya curah hujan mengubah ritme alami hutan, membuat banyak spesies kehilangan musim berkembang biak yang tepat. Harapan yang Terbit di Tengah Kekhawatiran Meski ancaman kian nyata, harapan belum padam. Penelitian ini tidak hanya mengungkap data, penelitian mengetuk kesadaran bahwa konservasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Langkah-langkah perlindungan yang melibatkan semua pihak, dari patroli untuk mencegah perburuan liar, pemulihan habitat dan ekosistem, hingga pendidikan lingkungan bagi masyarakat sekitar. Di beberapa desa sekitar cagar alam, kesadaran telah tumbuh. Anak-anak belajar mengenali suara katak dan pentingnya sungai yang bersih. Warga dilibatkan dalam pemantauan satwa, merasa menjadi bagian dari ekosistem yang mereka tinggali. Kegiatan pendataan keanekaragaman hayati yang melibatkan masyarakat di kawasan konservasi bertajuk Summer camp telah dua kali dilaksanakan di Kawasan ini, sebagai bentuk kontribusi dan pelibatan masyarakat dalam menemukenali potensi dan fungsi kawasan bagi kehidupan. Pada akhirnya mereka sadar bahwa mereka bukan hanya sekadar menjaga hutan,namun mereka juga menjaga masa depan anak cucu. Jaga Alam, Jaga Diri Kita Sendiri Gunung Picis dan Gunung Sigogor lebih dari sekadar kawasan konservasi. Mereka adalah tempat yang memberikan pelajaran hidup bahwa segala sesuatu di alam saling terhubung. Hilangnya satu spesies dapat memicu keruntuhan rantai kehidupan yang tak terbayangkan dampaknya bagi manusia. Setiap langkah yang diambil untuk melindungi herpetofauna di Pegunungan Wilis bukan hanya tentang menyelamatkan katak atau kadal. Ini adalah tentang menjaga keseimbangan, tentang merawat warisan bumi agar tetap lestari. Karena pada akhirnya, menjaga alam adalah menjaga diri kita sendiri. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur * Artikel ini disusun berdasarkan pengalaman penelitian dan hasil yang telah dipublikasikan dalam Turkish Journal of Zoology (2021) Biotropika: Journal of Tropical Biology (2024) oleh Ahmad Muammar Kadafi, Bagus Priambodo dan tim penulis
Baca Artikel

Tingkatkan Kapasitas, Kader Konservasi Ikuti Diskusi Gajah

Foto bersama dengan narasumber usai diskusi Medan, 18 Agustus 2025. Centre of Orangutan Protection (COP) mengadakan giat kelas orangutanfriends Mengenal Gajah Dari Ahlinya, bertempat di 117 Cafe Jl. Perdana No.117 Kesawan Medan, pada Sabtu (15/2). Kegiatan ini bertujuan edukasi mengenalkan satwa gajah kepada perwakilan organisasi/lembaga, mahasiswa dan pemuda kota Medan. Dalam kegiatan kelas ini COP menghadirkan pemateri ahli gajah Alexander Mossbrucker dari International Elephant Project dihadiri 25 orang peserta, antara lain Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Anggota Genetika FP UISU Medan, Alumni Green Leadership Indonesia, Kader Konservasi Alam, Mahasiswa dan generasi muda Kota Medan. Materi diskusi terbagi dalam dua sesi, sesi pertama tentang biologi dasar gajah. Alexander Mossbrucker menjelaskan, bahwa gajah adalah hewan yang sangat sosial dan hewan darat terbesar yang hidup di planet kita. Mereka memiliki telinga yang lebar, belalai yang panjang, kaki berbentuk kolom, dan tubuh yang besar, sehingga sangat mudah untuk dikenali. Selain itu, gajah memiliki pendengaran yang sangat baik dan menggunakan suara untuk orientasi, mendeteksi ancaman, dan berkomunikasi melalui repertoar vokal yang kaya. Disamping “trompet gajah” yang klasik, gajah mampu menghasilkan berbagai macam suara yang berbeda dari mencicit bernada tinggi hingga jeritan yang sangat keras, gemuruh (rumble) yang dalam, dan auman yang menakutkan – semua dengan arti atau fungsi tertentu. Gajah juga memiliki otak yang sangat besar, kuat, dan memiliki struktur kompleks mencakup neokorteks yang berkembang dengan baik dan fitur lain yang biasa ditemukan pada manusia serta hewan tertentu yang sangat cerdas seperti kera besar dan Cetacea. Pada sesi kedua dibicarakan tentang konservasi gajah. Alexander Mossbrucker menjelaskan, berdasarkan data terbaru KLHK/FKGI, total populasi Gajah Sumatera berjumlah antara 924 – 1.359 individu. Angka-angka ini masih berupa estimasi karena tidak ada pembaruan data ilmiah terkini untuk populasi gajah di banyak provinsi, tetapi sangat kecil kemungkinan bahwa saat ini ada lebih dari 1.500 Gajah Sumatera di alam. Itu berarti ukuran populasi gajah telah berkurang hampir setengahnya dalam waktu sekitar satu dekade , dan ini menunjukkan kondisi serta perkembangan yang sangat mengkhawatirkan. Saat ini, semua gajah asia, termasuk subspesies sumatera, terdaftar dalam Apendiks I CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora), yang berarti bahwa gajah asia (dan bagian tubuhnya seperti gading) dilarang masuk perdagangan internasional. Meskipun Elephas maximus sumatranus memiliki status perlindungan penuh di Indonesia, namun ia belum memiliki masa depan yang pasti karena terancam oleh hilangnya habitat, perburuan, potensi perkawinan sedarah, serta konflik dengan pertanian dan industri. Ancaman populasi gajah terbesar di Sumatera terdapat di Provinsi Riau, karena disana sering terjadi konflik dengan manusia dimana gajah keluar dari kawasan hutan untuk mencari makanan. Oleh karena itu dibutuhkan upaya program konservasi terhadap gajah. Salah satu upaya konservasi yaitu edukasi kepada masyarakat, manajemen metapopulasi, recovery gajah kembalikan gajah ke habitat liarnya, patroli pemantauan gajah, mitigasi konflik gajah dengan manusia, mitigasi konflik berbasis masyarakat, sistem peringatan dini dan restorasi ekosistem. Alexander Mossbrucker berharap dengan upaya konservasi gajah, dapat menyelamatkan populasi gajah dari ancaman kepunahan sehingga keberadaannya tetap lestari. Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) Nurhabli Ridwan, yang juga kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan alumni pendidikan Green Leadership Indonesia Bacth 1, hadir dalam kegiatan ini, merasakan diskusi kali ini sangat bermanfaat, dimana sebagai penggiat lingkungan sejatinya juga dapat berpartisipasi untuk mensosialisasikan satwa gajah yang saat ini terancam punah. Banyak aktifitas yang bisa dilakukan sebagai kader konservasi, seperti : penyuluhan dan sosialisasi kepada masyarakat melalui penyuluhan langsung dengan menggunakan berbagai sarana seperti : poster, brosur, infografis, vidiografis, dan lain-lain. Bisa juga melakukan sosialisasi dengan memanfaatkan berbagai media yang ada, seperti : media cetak, elektronik dan media on-line. Aktifitas lain yang tak kalah bermanfaat dapat dilakukan melalui kegiatan edukasi kepada generasi muda, agar sedini mungkin mereka bisa mengenal dan peduli terhadap satwa liar, termasuk didalamnya Gajah Sumatera. Kegiatan diskusi yang dilakukan oleh COP, juga bentuk edukasi dan sosialisasi. Apresiasi dan terimakasih tentunya dilayangkan kepada penyelenggara, dengan harapan kegiatan yang sangat bermanfaat seperti ini kiranya dapat dilakukan secara rutin, untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Sumber : Nurhabli Ridwan ( GRAS / Kader Konservasi Alam) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Giat Perkemahan Pramuka di TWA Holiday Resort

Aek Raso, 18 Februari 2025. Kawasan Taman Wisata Alam (TWA Holiday Resort di Desa Aek Raso, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Rabu (12/2), disambangi serombongan Pramuka, berjumlah 100 orang, dari Pondok Pesantren Dar Al Ma'arif Basilam Baru Kotapinang. Kunjungan ini untuk melaksanakan kegiatan kepramukaan dan perkemahan. Giat perkemahan secara resmi dibuka oleh Kepala Resort TWA Holiday Resort, A. Rizal M. dan Direktur Pondok Pesantren Dar Al Ma'arif Basilam Baru Kotapinang, Jaf’ar Nawi, keesokan harinya Kamis (13/2). Usai acara pembukaan, dilakukan pemaparan oleh Kepala Resort TWA Holiday Resort beserta Timnya yang memperkenalkan keberadaan kawasan konservasi serta keanekaragaman hayati, khususnya satwa liar Gajah Sumatera (Elephant maximus sumatranus). Peserta perkemahan diedukasi secara singkat tentang satwa gajah dan keunikannya serta perilaku gajah. Melalui edukasi ini diharapkan peserta memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang gajah yang kondisinya saat ini terancam sehingga perlu dilestariakn agar terhindar dari kepunahan. Pada malam harinya, sekitar jam 21.30 Wib, seluruh peserta perkemahan dan kakak Pembina melakukan kegiatan pemasangan api unggun dan dirangkai dengan pelantikan Bantara Penegak. Pelantikan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan kepramukaan, membentuk watak, mental, disiplin dan kemandiarian. Selain itu, pelantikan Bantara Penegak juga bertujuan untuk membentuk kepribadian yang aktif, kreatif, kompak dan bekerjasama. Sebelum dilanti, calaon Penegak Bantara harus menyelesaikan Syarat-syarat Kecakapan Umum (SKU) dan berdasarkan penilaian layak untuk dilantik sebagai Bantara Penegak. Keesokan harinya, pada Jumat (14/2) dilakukan kegiatan penanaman pohon jenis buah-buahan mangga dan matoa, sebanyak 5 (lima) pohon/pokok di sekitar TWA Holiday Resort, oleh Direktur Pondok Pesantren Dar Al Ma'arif Basilam Baru Kotapinang, Jaf’ar Nawi. Usai penanaman seluruh peserta perkemahan menyaksikan edukasi gajah. Kegiatan edukasi gajah menjadi bagian akhir dari kunjungan Pramuka Pondok Pesantren Dar Al Ma'arif Basilam Baru Kotapinang, semoga kunjungan ke TWA. Holiday Resort ini bermanfaat dalam menumbuhkan pengetahuan dan pemahaman peserta tentang kawasan konservasi serta keanekaragaman hayati. Sumber : A. Rizal M. (Kepala Resort TWA Holiday Resort) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai TN Taka Bonerate Bersama WCS-IP Bahas Program Strategis Pelestarian Kehati

Taka Bonerate - Kepulauan Selayar, 13 Februari 2025 – Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate bersama mitra Wildlife Conservation Society (WCS), menyelenggarakan pertemuan pembahasan dan evaluasi Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2024 serta penyusunan bahan arahan program untuk Memorandum Saling Pengertian (MSP) periode 2025-2028 secara hybrid (offline dan online) di ruang pertemuan Balai TN Taka Bonerate, dihadiri oleh perwakilan dari kedua belah pihak. Pertemuan ini dihadiri oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 1 dan 2, serta anggota Kelompok Kerja (Pokja) Balai TN Taka Bonerate. Sementara itu, tim WCS-Indonesia Program (WCS-IP) turut hadir baik secara langsung maupun daring untuk membahas capaian RKT 2024 dan menyusun arahan program dalam kerangka MSP periode 2025-2028. Dalam sambutannya, Kepala Sub Bagian Tata Usaha yang mewakili Kepala Balai TN Taka Bonerate, Usman menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang telah terjalin dengan WCS-IP selama ini. "Kerja sama antara Balai TN Taka Bonerate dan WCS-IP melalui MSP telah memberikan kontribusi signifikan bagi upaya konservasi di kawasan Taka Bonerate. Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi capaian tahun 2024 dan menyusun arahan program MSP yang lebih terstruktur untuk periode 2025-2028," ujarnya. Pada sesi evaluasi RKT 2024, tim WCS-IP memaparkan berbagai program yang telah dilaksanakan, termasuk pemantauan ekosistem, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan kapasitas kelembagaan. Beberapa capaian yang menonjol antara lain peningkatan partisipasi masyarakat lokal dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan, serta peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan. Selanjutnya, pertemuan difokuskan pada penyusunan bahan arahan program MSP periode 2025-2028. Beberapa isu strategis yang dibahas meliputi penguatan tata kelola kawasan, fasilitasi dan keahlian dalam perlindungan kawasan berbasis SMART dalam kerangka Resort Based Management (RBM), data dan informasi ekologi dan sosek serta kegiatan penyadartahuan. Arahan program ini diharapkan dapat menjadi pedoman dalam merumuskan rencana kerja yang lebih terarah dan terukur untuk empat tahun ke depan. Kepala Sub Bagian Tata Usaha menekankan pentingnya sinergi antara semua pemangku kepentingan dalam mencapai tujuan konservasi. "Kolaborasi antara pemerintah, NGO, dan masyarakat lokal adalah kunci keberhasilan dalam mengelola kawasan konservasi. Arahan program yang disusun hari ini harus mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan dan melibatkan semua pihak," ucapnya. Tim WCS-IP juga menyampaikan komitmennya untuk mendukung pelaksanaan arahan program MSP 2025-2028. "Kami siap memberikan dukungan teknis dan pendanaan untuk program-program strategis yang telah disepakati. Kolaborasi ini diharapkan dapat terus memberikan dampak positif bagi pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan Taka Bonerate," kata Tezar Rafandi, salah satu perwakilan dari WCS-IP. Pertemuan ini ditutup dengan penandatanganan berita acara penyusunan matrik arahan program antara Balai TN Taka Bonerate dan Mitra WCS-IP periode 2025-2028 yang nantinya sebagai dasar untuk penyusunan Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara Kementerian Kehutanan dan WCS-IP. Sumber: Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto : WCS-IP Taka Bonerate
Baca Artikel

Dari Kolaborasi Lahir Kemandirian: Kedai KPPL Pulau Tarupa Siap Layani Wisatawan di Pulau Tinabo

Pulau Tinabo, Taka Bonerate - Kepulauan Selayar, 11 Februari 2025 – Upaya memberdayakan masyarakat dan meningkatkan pelayanan wisata, Petugas Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah 1 Tarupa, Balai Taman Nasional Taka Bonerate (TNBTR) berkolaborasi dengan kelompok usaha produktif binaan, yaitu Komunitas Pemuda Peduli Lingkungan (KPPL) Pulau Tarupa, membangun sebuah kedai di Pulau Tinabo. Kedai ini diharapkan memenuhi kebutuhan makan dan minum para pengunjung yang berwisata ke Pulau Tinabo, serta melayani kebutuhan saat ada acara-acara di pulau tersebut. Meskipun cuaca kurang bersahabat, semangat dan kerja keras para petugas SPTN serta pemuda-pemudi KPPL Pulau Tarupa membuat kegiatan ini berjalan lancar. Kedai ini tidak hanya menjadi sarana untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, tetapi juga diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan baru dan ketahanan pangan bagi masyarakat setempat. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate turut memberikan apresiasi atas keberhasilan ini. Beliau menjelaskan bahwa KPPL Pulau Tarupa telah memenuhi persyaratan Perizinan Berusaha Penyediaan Jasa Wisata Alam (PB-PJWA) untuk Jasa Makanan dan Minuman, yang saat ini masih dalam proses di pusat. "Ini adalah langkah besar bagi KPPL Pulau Tarupa untuk menjadi pelaku usaha yang mandiri dan profesional di kawasan Taka Bonerate," ujarnya. Ketua KPPL Pulau Tarupa, Tahang, mewakili seluruh anggota, menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kegiatan ini. "Kami sangat bersyukur atas bantuan dan bimbingan dari Petugas SPTN dan Kepala Balai TNTBR. Kedai ini tidak hanya untuk kami, tetapi juga untuk melayani wisatawan yang datang ke Pulau Tinabo," kata Tahang. Ia juga menambahkan bahwa kedai ini telah dilengkapi dengan sistem pembayaran cashless menggunakan QRIS, memudahkan wisatawan untuk bertransaksi. Keberadaan kedai ini diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan wisatawan sekaligus menjadi contoh pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan di kawasan Taka Bonerate. Dengan kolaborasi yang solid antara personil dilapangan dan KPPL Pulau Tarupa, kegiatan serupa diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung pembangunan ekonomi dan pelestarian alam di kawasan ini. Semoga kedai KPPL Pulau Tarupa dapat menjadi destinasi kuliner yang menarik bagi wisatawan dan membawa manfaat besar bagi masyarakat setempat. Sumber: Asri - Humas Balai Taman Nasional Taka Bonerate Dokumentasi : KPPL Tarupa
Baca Artikel

Kwarcab Kepulauan Selayar Sukses Gelar Penerimaan Anggota Tambahan Baru Saka Wana Bakti Angkatan Ke-10

Benteng - Kepulauan Selayar, 10 Februari 2025 – Kwarcab Kepulauan Selayar sukses menyelenggarakan kegiatan penerimaan anggota tambahan baru Saka Wana Bakti angkatan ke-10. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari (8-9/10) ini dilaksanakan di Kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate, dimulai dengan upacara pembukaan pada Sabtu, 7 Februari 2025. Menurut penjelasan Ketua Panitia Kegiatan, Irmi Arpiana, penerimaan anggota tambahan baru Saka Wana Bakti angkatan ke-10 ini diikuti oleh 50 pelajar dari berbagai sekolah di Kepulauan Selayar. Para peserta terlihat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara, mulai dari sesi materi hingga kegiatan bakti lingkungan. “Kami sangat senang melihat antusiasme para peserta. Mereka tidak hanya aktif dalam sesi materi, tetapi juga bersemangat saat terjun langsung dalam kegiatan bakti lingkungan. Ini menunjukkan komitmen mereka untuk berkontribusi dalam pelestarian alam,” ujar Ilmi Arpiana. Kegiatan diawali dengan upacara pembukaan yang dipimpin oleh Kakak Asri, selaku Pamong Saka Kwarcab Kepulauan Selayar. Dalam amanat, Kakak Asri membacakan sambutan Kepala Balai yang isinya menyampaikan pentingnya peran generasi muda dalam menjaga kelestarian lingkungan, khususnya di kawasan Taman Nasional Taka Bonerate. “Kalian adalah generasi penerus yang akan menentukan masa depan lingkungan kita. Mari kita jaga dan lestarikan alam ini bersama-sama,” pesannya. Setelah upacara pembukaan, para peserta mengikuti sesi materi yang mencakup pengenalan Saka Wana Bakti, nilai-nilai kepramukaan, serta 4 Krida Saka Wanabakti. Selain itu, mereka juga mendapatkan materi teknis tentang pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate, termasuk keanekaragaman hayati dan upaya pemulihan ekosistem di TN Taka Bonerate. Hari kedua kegiatan diisi dengan senam pagi dan bakti lingkungan. Kegiatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman mereka, tetapi juga mengasah keterampilan dalam pengelolaan lingkungan. “Kami berharap, dengan bergabungnya anggota baru ini, Saka Wana Bakti Kwarcab Kepulauan Selayar dapat semakin berkontribusi dalam upaya pelestarian lingkungan dan mencetak rimbawan-rimbawan muda,” ujar Kepala Balai TN Taka Bonerate, Ali Bahri yang sekaligus Ketua Majelis Pembimbing Saka Wanabakti Kwarcab Kepulauan Selayar. Kegiatan penerimaan anggota tambahan baru Saka Wana Bakti angkatan Ke-10 ini ditutup dengan upacara penutupan dan akan direncanakan kegiatan pengukuhan anggota baru. Dengan selesainya kegiatan ini, diharapkan para anggota baru dapat menjadi agen perubahan, rimbawan muda yang aktif dalam upaya pelestarian lingkungan di Kepulauan Selayar. Sumber : Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate Foto : Seksi Dokumentasi Saka Wanabakti Kwarcab Kepulauan Selayar
Baca Artikel

Kerja Sama Yang Memberi Manfaat Bagi Masyarakat Dan Orangutan

Penandatangan RKT IV antara Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan Ketua Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) Medan, 5 Februari 2025. Sesuai dengan amanah Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, maka konservasi jenis satwa liar terutama Orangutan beserta habitatnya di wilayah kerja Balai Besar KSDA Sumatera Utara bukan hanya menjadi tanggungjawab pengelola kawasan saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab semua pihak terkait (stakeholders), mulai dari tingkat Pemerintahan (Pusat dan Daerah), sektor swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat, akademisi serta masyarakat. Upaya mendukung peningkatan upaya konservasi keanekaragaman hayati di Sumatera terutama Orangutan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah melaksanakan perjanjian kerjasama dengan Lembaga mitra Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) melalui perjanjian kerjasama Nomor: PKS.4795/K.3/TU/PK/09/2021 dan Nomor: 229/IX/2021/ YEL-MDN tentang Penguatan Fungsi Konservasi Keanekaragaman Hayati Melalui Dukungan Program Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Eksosistemnya Secara Berkelanjutan di Wilayah Kerja Balai Besar Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara. Tindak lanjut dari kerja sama tersebut, dilakukanlah penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) setiap tahunnya, dan kerja sama ini sudah memasuki tahun ke IV. Atas dasar itulah dilakukan rapat Penyusunan/Pembahasan RKT Periode Tahun 2024-2025, pada Selasa (4/2) di kantor Yayasan Ekosistem Lestari. Rapat dipimpin Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Bidang Teknis, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Ketua Yayasan Ekosistem Lestari, Kusnadi, MM, Manager In-Situ, Manager Eks-Situ serta Tim dari YEL. Rapat penyusunan dan pembahasan RKT Periode Tahun 2024-2025 Sebelum penyusunan dan pembahasan RKT IV, terlebih dahulu dilakukan evaluasi Bersama realisasi kegiatan di RKT Tahun III. Dari evaluasi ini terungkap bahwa berbagai kegiatan yang telah dilakukan memberi manfaat dan dampak langsung baik terhadap masyarakat maupun terhadap kelestarian satwa Orangutan. Beberapa diantaranya adalah kegiatan fasilitasi penelitian dan magang di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan Batu Mbelin dan Ekosistem Batangtoru yang diikuti oleh mahasiswa berbagai perguruan tinggi, seperti : Universitas Syah Kuala, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara, Universitas Sumatera Utara, Universitas Negeri Medan, Institut Pertanian Bogor, UNIBRAW dan UNIB. Selain itu, dilakukan kegiatan penyadartahuan masyarakat di desa Sibolangit serta sekitar Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan Batu Mbelin, pendidikan dan penyadartahuan masyarakat di desa-desa sekitar Hutan Ekosistem Batangtoru berupa sosialisasi dan kunjungan ke sekolah-sekolah dasar di Kabupaten Tapanuli Selatan dan desa setiap minggu, sosialisasi dan kunjungan ke Gereja dan Mesjid di 7 desa yang ada di sekitar Kawasan Ekosistem Batang Toru di tiga Kabupaten, pembelajaran non formal di Sopo Hapistaran Batangtoru di Desa Tapian Nauli (Dusun Huraba, Hutaraja dan Dusun Simamak) dan S. Kalangan II dan perayaan Hari Lingkungan Hidup Sedunia serta Hari Orangutan Sedunia di Tapanuli Utara. Sedangkan kegiatan yang berdampak langsung dengan Orangutan yang sudah direalisasikan di Tahun III, diantaranya : fasilitasi kegiatan pelepasliaran Orangutan Sumatera (Pongo abelii) di kawasan SM. Siranggas, transfer Orangutan Sumatera dari PKRO Sibolangit ke PRO Jantho, translokasi Orangutan Sumatera ke OOS Dano Alo, transfer Orangutan Sumatera dari PKRO ke Orangutan Haven, dan masih banyak lagi kegiatan-kegiatan lainnya. Para pihak sepakat bahwa pencapaian kegiatan selama Tahun III sudah maksimal dan optimal dan memberi dampak yang positif bagi masyarakat dan bagi upaya-upaya penyelamatan serta pelestarian satwa liar dilindungi orangutan. Oleh karena itu di Tahun IV seluruh kegiatan yang disusun dan direncanakan bersama diharapkan dapat juga direalisasikan lebih baik lagi. Usai pembahasan, dilanjutkan penandatangan RKT IV oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Ketua Yayasan Ekosistem Lestari disaksikan Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Bidang Teknis, Kepala Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Manager In-Situ, Manager Eks-Situ dan Tim YEL. Sumber : HM Parlindungan Sinaga, S.Kom. (Pranata Komputer Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Cerita Nurzannah, GLI Berprestasi Binaan BBKSDA Sumut

Medan, 3 Februari 2025. Pagi itu, Sabtu (1/2) cuaca Kota Medan cerah. Gedung Selecta Convention Hall, salah satu gedung tempat mengadakan kegiatan atau pertemuan yang terletak di Jalan Listrik No. 2, Kecamatan Medan Petisah, Kota Medan, terlihat ramai dengan kerumunan orang-orang yang memakai pakaian dan topi serba berwarna hitam. Usut punya usut ternyata kerumunan orang-orang yang memakai pakaian dan topi hitam itu adalah mahasiswa dari salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Medan, tepatnya Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang sedang mengikuti acara wisuda. Tercatat ada sebanyak 694 orang wisudawan pada hari itu, yang terdiri dari Sarjana (S1) 448 orang, Magister 177 orang dan Profesi Dokter 69 orang. Dari 448 orang wisudawan tersebut, ada satu sosok yang menarik perhatian, dia adalah Nurzannah Ferbina br. Sembiring. Wanita muda kelahiran 16 September 2003 ini ternyata adalah anggota Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Genetika Fakultas Pertanian UISU dan juga alumni dari Green Leadership Indonesia (GLI) Batch 2 tahun 2023. Mengapa menjadi menarik perhatian ? ternyata Nurzannah berhasil menyelesaikan perkuliahannya hanya dalam waktu 3 tahun 10 bulan dan meraih prestasi sebagai mahasiswa terbaik Fakultas Pertanian UISU Program Studi Agroteknologi dengan IPK yang nyaris sempurna 3,84. Di tengah kesibukannya menjalankan perkuliahan, Nurzannah yang pernah menjadi asisten dosen mata kuliah Pemuliaan Tanaman dan Dasar Perlindungan Tanaman di Fakultas Pertanian UISU, menyibukkan diri mengisi waktu luangnya dengan menjalankan aktifitas dibidang konservasi alam dan lingkungan hidup melalui organisasinya Genetika FP UISU. Sejumlah kegiatan pun dilakoninya, seperti: pengabdian masyarakat di Desa Panen, Kecamatan Biru-biru (2021), mengikuti Pelatihan dan Pengenalan Reptil (2022), Diskusi Telusuri Jejak Perdagangan Trenggiling (2022), pengabdian masyarakat di Desa Sumberejo, Kecamatan Pagar Merbau (2023), Fasilitator Outbond SMP/SMAT Al-Bukhari Muslim (2024), Aksi Bersih lingkungan kampus FP UISU (2024), penanaman pohon mangrove di Pantai 88 Desa Kota Pari, kecamatan Pantai Cermin (2024) dan masih banyak lagi aktivitas lainnya. Usai mengikuti Pendidikan GLI Batch 2 yang diadakan Institut Hijau Indonesia didukung Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan, dan melihat kepedulian serta sepak terjang kegiatannya dibidang konservasi alam dan lingkungan hidup, pada tahun 2023 Nurzannah mendapat apresiasi diundang menghadiri dan mengikuti wisuda GLI Batch 2 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. Berbagai apresiasi dan penghargaan yang diterimanya tidak menjadikan Nurrzanah jumawa, tetapi dengan rendah hati ia menyatakan bahwa apa yang diperoleh dan dicapainya itu semua merupakan berkat dukungan serta doa dari orangtua, keluarga maupun dari teman-temanya di Mapala Genetika FP. UISU. Usai mengikuti wisuda GLI Batch II oleh Menteri LHK di Manggala Wanabakti “Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa mencapai titik ini. Saat saya masih aktif kuliah, selain urusan kuliah, kegiatan mapala, menjadi asisten dosen, saya juga membantu orangtua saya berjualan di pasar, tentunya membutuhkan kerja keras dalam mengelola waktu agar semuanya dapat terlaksana. Sebagai anggota mapala harus pintar-pintar membagi waktu, jika tidak kemungkinan besar akan terlena dan lulus lebih lama. Saya bersyukur dan bangga menjadi bagian dari keluarga besar Genetika FP. UISU yang telah menjadi wadah bagi saya untuk berproses, berkembang dan berprestasi. Terima kasih buat kedua orangtua, keluarga, dosen mentor dan teman-teman yang selalu memberi dukungan. Alhamdulillah ala kulli hal,” ujar Nurzannah. Nurzannah telah berhasil mematahkan adagium yang selama ini menjadi tradisi dikalangan mahasiswa, bila mapala dikonotasikan dengan mahasiswa paling lama lulus. Nurzannah membuktikannya meskipun aktif di mapala, tapi mampu menyelesaikan studi hanya dalam waktu 3 tahun 10 bulan. Tentunya ini sebuah prestasi yang dapat menjadi contoh dan inspirasi bagi mahasiswa lainnya. Selamat bagi Nurzannah, semoga ilmunya bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan. Sumber : Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam/GLI) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Awareness KSDAE Menyasar PT. NSHE

Fauzi Leilan sebagai Direktur External Affair PT. NSHE memberikan buku “Merajut Masa Depan” yang berisikan dokumentasi foto upaya pengelolaan kehati di area proyek PLTA Batangtoru Medan, 4 Februari 2025. Di penghujung Januari 2025, tepatnya pada hari Jumat tanggal 31 Januari, Balai Besar KSDA Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) memenuhi undangan menghadiri Lokakarya dengan tema "Wildlife-human conflict mitigation and Wildlife-related emergency responses preparedness" yang diselenggarakan oleh PT. North Sumatera Hydro Energy (NSHE) di Auditorium PT. NSHE Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kegiatan ini untuk mempersiapkan seluruh civitas proyek PLTA Batangtoru dalam hal tanggap darurat terhadap satwa liar yang dilindungi dan meningkatkan kapasitas dalam mitigasi konflik manusia-satwa liar. Peserta lokakarya sebanyak 50 orang yang merupakan civitas proyek di PLTA Batangtoru memperoleh pemahaman terkait Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAE), meliputi Regulasi KSDAE, Pengelolaan Keanekaragamn Hayati, Identifikasi Flora dan Fauna, Penyelamatan Jenis Satwa serta Penanganan Interaksi Negatif Manusia dan Satwa Liar Orangutan yang berlangsung dalam bentuk ceramah dan diskusi. Peserta lokakarya juga mendapat materi praktek berupa simulasi penggunaan peralatan dalam rangka penyelamatan satwa (rescue). Narasumber dalam kegiatan ini berasal dari BBKSDA Sumatera Utara dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari – Orangutan Information Centre (YOSL-OIC). Kepala BBKSDA Sumatera Utara - Novita Kusuma Wardani dalam sambutannya menyampaikan bahwa “sesuai Undang-undang No. 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, bahwa area PLTA Batangtoru meskipun berada di luar KSA dan KPA ternyata memiliki keanekaragaman hayati tinggi sehingga layak masuk dalam kriteria area preservasi. Selain itu beliau juga menyampaikan kepada peserta lokakarya PT. NSHE agar dalam setiap aktivitas mengikuti Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2023 tentang Pengarusutamaan Pelestarian Keanekaragaman Hayati dalam Pembangunan Berkelanjutan. Perwakilan civitas proyek PLTA Batangtoru yang mengikuti lokakarya Iqbal Nizar Arafat selaku Environmental and Biodiveristy Manager PT. NSHE pada pembukaan lokakarya berpesan kepada peserta lokakarya untuk “mengikuti kegiatan dengan serius guna memperoleh pemahaman terkait perlindungan tumbuhan dan satwa liar dan upaya mitigasi yang harus dilakukan jika terjadi konflik satwa terutama di area proyek PLTA Batangtoru”. Iqbal Nizar Arafat selaku Environmental and Biodiveristy Manager PT. NSHE menyampaikan sambutan saat dimulainya lokakarya Pada kesempatan tersebut Kepala BBKSDA Sumatera Utara selanjutnya melakukan peninjauan lapangan lokasi pembangunan untuk mendapatkan gambaran upaya mitigasi konflik satwa di area kerja PT. NSHE dan rencana pembuatan koridor satwa, hutan pendidikan dan pemulihan lokasi pasca proyek PLTA Batangtoru. Sumber : Dede Syahputra Tanjung, S.P (PEH Ahli Muda– Balai Besar KSDA Sumatera Utara)
Baca Artikel

Penerapan Cashless Payment di 5 Kawasan TWA di BBKSDA Sumatera Utara

Sosialisasi cashless payment oleh petugas BNI Cabang Simpang Limun Medan Sibolangit, 3 Februari 2025. Perkembangan teknologi dewasa ini merambah ke semua aspek kehidupan, termasuk di dunia perbankan dimana salah satunya adalah dengan sistem pembayaran tanpa menggunakan uang tunai atau yang lebih sering disebut dengan istilah Cashless Payment. Sistem pembayaran ini dilakukan dengan menggunakan uang elektronik atau digital melalui kartu mobile banking atau e-money. Dengan pembayaran cashless payment sangat memudahkan aktivitas sehari-hari dan memberi berbagai manfaat, seperti : transaksi lebih aman daripada menggunakan uang tunai yang beresiko bisa hilang atau dicuri, transaksi juga lebih cepat dan efisien karena tidak perlu menghitung uang kembalian, transaksi lebih praktis karena dapat dilakukan kapan saja, serta ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan kertas maupun plastik untuk uang tunai. Tak terkecuali kawasan taman nasional dan taman wisata alam, juga ikut beradaptasi dalam menerapkan pembayaran non tunai yang diberlakukan kepada pengunjung. Oleh karena itu sebelum direalisasikan tentunya terlebih dahulu dilakukan sosialisasi tentang penerapan cashless payment ini. Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang mengelola beberapa kawasan taman wisata alam juga melaksanakan kegiatan sosialisasi kepada petugas pemungut serta staf lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara baik secara on-line maupun off-line, pada Jumat (31/1), bertempat di kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sosialisasi diawali sambutan dari Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.IL., yang menyampaikan bahwa penerapan pembayaran non tunai ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Nomor : M2/KSDAE/PJLKK/KSA.3/1/2025 tentang Tengat Waktu Penerapan Pembayaran Non Tunai (Cashless Payment) Untuk Kunjungan Wisata Alam di Dirjen KSDAE. Tengat waktu untuk sosialisasi serta launching ditetapkan paling lambat tanggal 31 Januari 2025. Elvina juga menyampaikan bahwa untuk tahap awal ada 5 kawasan Taman Wisata Alam (TWA) yang berada di bawah pengelolaan Balai besar KSDA Sumatera Utara akan menerapkan cashless payment ini, yaitu : TWA Sibolangit, TWA Lau Debuk-debuk, TWA Sicike-cike, TWA Dolok Tinggi Raja dan TWA Holiday Resort. Penerapannya secara efektif mulai berlaku pada tanggal 1 Februari 2025. Sedangkan petugas BNI Kantor Cabang Simpang Limun Medan menyampaikan sosialisasi tentang pembayaran non tunai melalui QRIS, mobile banking maupun dompet digital, seperti OVO, GO Pay, Shope Pay dan lainnya. Dalam era digital yang semakin berkembang, non tunai menjadi sebuah keniscayaan dan semakin penting. Selain lebih praktis dan efisien, cashless payment juga mendukung transparansi dan akuntabilitas dalam bertransaksi. Penerapan cashless payment di kawasan TWA Sibolangit Usai sosialisasi, dilanjutkan dengan launching penerapan pembayaran non tunai yang dilaksanakan di kawasan TWA Sibolangit. Hadir dalam launching tersebut Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Tuahman Raya, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat Boby Nopandri, Kepala Desa Sibolangit, petugas Daops Sibolangit, mahasiswa pencinta alam, Green Ambasador Green Youth Movement (GYM) Sumatera Utara, Green Leadership Indonesia (GLI), Kader Konservasi Alam dan guru serta siswa/i SMP Negeri 2 Sibolangit. Terlihat juga beberapa jurnalis dari media cetak maupun media on-line. Dengan di launchingnya kegiatan pembayaran non tunai di 5 kawasan TWA di wilayah kerja Balai Besar KSDA Sumatera Utara, diharapkan dapat berjalan dengan lancar tanpa ada kendala yang berarti, sebagaimana yang semula direncanakan. Kedepannya cashless payment diharapkan juga memberikan dampak dan manfaat dalam pengelolaan kawasan TWA lebih baik lagi. Kepala Bagian Tata Usaha, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.IL, diwawancarai awak media berkaitan dengan penerapan cashless payment Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pengembara Langit Paya Papua Selatan di Hari Lahan Basah Sedunia

Landscape Rawa Biru, SPTN Wilayah III Wasur, (Foto : Anugrah Dwi Widyanto) Merauke, Papua - Setiap tanggal 2 Februari, dunia memperingati Hari Lahan Basah Sedunia, sebuah momen penting untuk meningkatkan kesadaran akan peran vital lahan basah bagi kehidupan manusia dan keanekaragaman hayati. Pada tahun 2025, peringatan ini mengusung tema “Lahan Basah untuk Masa Depan Kita Bersama”, yang mengajak semua pihak untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan ekosistem lahan basah sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang. Di Taman Nasional Wasur, Merauke, Papua, peringatan ini diwarnai dengan kegiatan pemantauan burung migran dan burung air, yang dilakukan bersamaan dengan Asian Waterbird Census (AWC). Pelaksanaan Kegiatan Pemantauan Burung Air dan Migran di TN Wasur, (Foto : Musmulyadi S.P) Taman Nasional Wasur, dengan ekosistem lahan basahnya yang luas dan kaya, menjadi salah satu lokasi penting bagi burung migran dari berbagai belahan dunia. Setiap tahun, ribuan burung dari Australia, Selandia Baru, dan wilayah Palearktik (belahan bumi utara) melakukan perjalanan panjang melintasi benua. Mereka mencari tempat yang aman dan subur untuk mencari makan, beristirahat, atau bahkan berkembang biak. Kawasan ini merupakan bagian dari jalur terbang Asia Timur-Australasia (East Asia-Australasia Flyway), yang menjadikan Taman Nasional Wasur sebagai situs penting dalam East Asia-Australasia Flyway Partnership (EAAFP). Berdasarkan data pengamatan sebelumnya, tercatat 74 spesies burung air yang telah teridentifikasi di kawasan ini. Di antaranya, 2 spesies merupakan endemik Papua, 8 spesies burung migran yang sebagian populasinya menjadi penetap, dan 37 spesies merupakan burung migran atau pengunjung musiman dari Australia, Selandia Baru, dan wilayah Palearktik. Keberagaman ini menunjukkan betapa pentingnya Taman Nasional Wasur sebagai habitat bagi burung-burung migran dan burung air. Gambar 2. Sekelompok Burung Saat Mencari Makanan, SPTN II Ndalir (Foto : Anugrah Dwi Widyanto A.Md) Taman Nasional Wasur tidak hanya menjadi rumah bagi burung migran dan burung air, tetapi juga ditetapkan sebagai Situs Ramsar, sebuah pengakuan internasional atas pentingnya ekosistem lahan basah di kawasan ini. Situs Ramsar merupakan penunjukan global yang diberikan kepada lahan basah yang memiliki nilai ekologis tinggi, baik bagi keanekaragaman hayati maupun bagi keseimbangan ekosistem secara global. Lahan basah di Taman Nasional Wasur memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem, menyediakan sumber air bersih, mencegah banjir, dan menjadi habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna. Selain itu, lahan basah juga berperan dalam mitigasi perubahan iklim dengan menyerap karbon dioksida dari atmosfer. Oleh karena itu, menjaga kelestarian lahan basah tidak hanya penting bagi keanekaragaman hayati, tetapi juga bagi masa depan bui kita. Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2025 mengingatkan kita akan tanggung jawab bersama untuk menjaga dan melestarikan lahan basah. Dengan menjaga lahan basah, kita tidak hanya melindungi keanekaragaman hayati, tetapi juga turut menjaga masa depan bumi kita. Mari kita bersama-sama mengambil langkah nyata untuk melestarikan Taman Nasional Wasur dan ekosistem lahan basah lainnya, demi masa depan yang lebih baik bagi semua makhluk hidup. Lahan basah adalah warisan berharga yang harus kita jaga bersama. Dengan semangat kolaborasi dan kepedulian, kita dapat memastikan bahwa lahan basah tetap menjadi sumber kehidupan bagi generasi mendatang. Selamat Hari Lahan Basah Sedunia 2025! Sumber: Anugrah Dwi Widyanto A.Md - Balai Taman Nasional Wasur

Menampilkan 609–624 dari 2.298 publikasi