Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Pemerintah Sulteng Dukung Program ASEAN ENMAPS: Komitmen Dalam Menjaga Konservasi Laut di TN Kepulauan Togean

Palu, 1 Mei 2025. Untuk mendorong konservasi Kawasan Taman Nasional Togean dan perikanan berkelanjutan yang mendukung kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan serta iklim di Sulawesi Tengah; Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Provinsi Sulawesi Tengah periode 2025-2030, Anwar Hafid dan dr. Reny Arniwaty Lamadjido dalam pertemuan di Palu, tanggal 1 Mei 2025, menyatakan dukungan terhadap program Pengelolaan Secara efektif Jaringan Kawasan Laut yang dilindungi di ekosistem laut besar di ASEAN atau Effectively Managing Networks of Marine Protected Areas in Large Marine Ecosytem in the ASEAN Region (ASEAN ENMAPS) di Sulawesi Tengah. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulteng, H. Moh. Arif Latjuba, SE, M.Si menyatakan, bahwa program ASEAN ENMAPS akan menjadi suatu kolaborasi yang baik antara Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, Balai Taman Nasional Kepulauan Togean serta Asean Centre for Biodiversity yang berkantor Pusat di Los Banos dalam membangun jejaring pengelolaan laut yang mendukung perikanan dan manffatnya secara kesinambungan. Nining Ngudi Purnamaningtyas, dari Kementerian Kehutanan yang juga merupakan National Project Manager ASEAN ENMAPS, menyampaikan bahwa Program ini mendorong penguatan pengelolaan perikanan berkelanjutan berbasis keilmuan, antara lain pengunaan teknologi untuk pemantauan kondisi laut di berbagai musim, dan mengaitkan pentingnya pemahaman konektivitas laut dalam menjamin siklus hidup ikan. Pemantauan terhadap pergerakan larva ikan menunjukan keterhubungan berbagai ekosistem, ekonomi serta lingkungan hidup di berbagai musim, baik musim basah dan musim kering di kawasan laut di Sulawesi Tengah, termasuk Kepulauan Togean. Untuk itu, konsultasi dan koordinasi dengan berbagai pihak telah dilakukan dengan Pemerintah Pusat, Provinsi, Pemerintah Kabupaten, kelompok masyarakat, Universitas dan Lembaga swadaya masyarakat. Abdul Rajab, Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Togean merencanakan untuk menyusun program kolaborasi dengan berbagai pihak, untuk penyadartahuan melalui “Togean education Cruise” baik terkait dengan konservasi, perikanan berkelanjutan, termasuk pemahaman atas keselamatan dan kesehatan yang terkait dengan perlindungan kawasan laut dan penggunaan alat tangkap ikan yang aman bagai nelayan. Sumber: Direktorat Konservasi Kawasan
Baca Artikel

Kenali dan Peduli Satwa Liar Sedini Mungkin

Kota Pinang, 2 Mei 2025. Upaya mengenalkan satwa liar kepada generasi muda sedini mungkin, khususnya kalangan pelajar, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) VI pada Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan bersama dengan lembaga mitra kerjasama Centre for Orangutan Protection (COP) melaksanakan kegiatan edukasi konservasi di beberapa sekolah di Kota Pinang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, pada Kamis, 17 April 2025. Kegiatan ini dilaksanakan di tiga sekolah, yakni SD Negeri 10, SD Negeri 07, dan SMP Negeri 1 Kota Pinang, dengan tujuan untuk memperkenalkan kepada siswa tentang beragam satwa liar yang dilindungi serta peran Balai Besar KSDA Sumatera Utara maupun COP dalam upaya konservasi, khususnya terhadap satwa liar Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis), yang merupakan satwa endemik (hanya ada di) Sumatera Utara, tepatnya di kawasan Ekosistem Batang Toru di 3 kabupaten, Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah. Satwa liar ini juga masuk dalam satwa kunci yang berperan penting dalam ekosistem hutan tropis yang menjadi habitatnya. Disamping satwa Orangutan Tapanuli, petugas Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang, Khairil, juga memperkenalkan kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Holiday Resort sebagai salah satu habitat konservasi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrae). Layaknya Orangutan Tapanuli, Gajah Sumatera juga merupakan satwa kunci, spesies yang memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Jika satwa kunci ini punah, dapat berdampak signifikan pada ekosistem, seperti perubahan populasi spesies lain, perubahan struktur ekosistem, dan bahkan kepunahan spesies. Khairil, Polhut Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang memperkenalkan kawasan TWA Holiday Resort Kedua satwa kunci ini, kondisinya terancam oleh berbagai faktor, seperti : kerusakan habitat, perburuan liar dan perdagangan illegal. Oleh karena itu perlu adanya penyebarluasan informasi, salah satunya melalui pendidikan, agar generasi muda tumbuh kepeduliannya dan kelak setelah beranjak dewasa mau ikut menjaga dan melindungi satwa liar guna terhindar dari kepunahan. Siswa dari ketiga sekolah tampak antusias dan sangat menikmati kegiatan ini yang dikemas secara menarik dengan model pembelajaran ice breaking, pemaparan materi, diskusi, serta ditutup dengan permainan (games) yang interaktif. Peserta mengungkapkan rasa senang dapat mengikutinya, karena mendapatkan pengetahuan baru mengenai satwa yang dilindungi. Sumber : Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang – Balai besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Gelar Sertijab Pejabat Administrator dan Pengawas

Para pejabat yang melakukan sertijab bersama dengan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 30 April 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggelar acara Serah Terima Jabatan Pejabat Administrator dan Pengawas lingkup Balai Besar KSDA Sumut, Senin (28/4), yang dilaksanakan secara hybrid di Ruang Rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Serah Terima Jabatan ini dihadiri oleh seluruh ASN Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan turut disaksikan Kepala Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Wampu Sei Ular Sigit Budi Nugroho, S.Si., M.Si., Kepala Balai Pengelolaan DAS dan Hutan Lindung Asahan Barumun Ahmad Taufik Siregar, S.Hut.T., M.Si., perwakilan dari Balai PPI Wilayah Sumatera dan perwakilan dari Balai Taman Nasional Batang Gadis. Dasar dari pelaksanaan Serah Terima Jabatan ini sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 158 Tahun 2025 tentang Pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama lingkup Kementerian Kehutanan tertanggal 17 April 2025, Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 159 Tahun 2025 tentang Pengisian Jabatan Administrator lingkup Kementerian Kehutanan tertanggal 17 April 2025 serta Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 160 Tahun 2025 tentang Pengisian Jabatan Pengawas lingkup Kementerian Kehutanan tertanggal 17 April 2025. Pejabat lama dilepas dengan diulosi sebagai bentuk tanda kasih persaudaraan Adapun pejabat yang melakukan Serah Terima Jabatan adalah : Kepala Bagian Tata Usaha: dari pejabat sebelumnya Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L kepada pejabat baru Andar Abdi Saragih, S.Pd., M.Si., Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar dari Buana Darmansyah, S.Hut.T kepada Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L., Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan dari Hermanto M.P Siallagan, S.H., M.H kepada Susilo Ari Wibowo, S.Hut., M.Sc., Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran dari Alfianto Luat Siregar, S.Hut., M.T., M.PP. kepada Suyono, S.H., M.Si. Kepala Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung dari Manigor Lumbantoruan, S.P. kepada Alex Dedy Chandra Rumahorbo, S.E., dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok dari Bapak Refdi Azmi, S.H kepada Bapak Manigor Lumbantoruan, S.P. Serah Terima Jabatan ini merupakan bagian dari tour of duty, disamping promosi dan rotasi, juga sebagai wahana memelihara dinamika dan gerak maju serta peningkatan kinerja organisasi, khususnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Tentunya disampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para pejabat lama yang telah berkontribusi dalam meningkatkan kinerja dan kualitas Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Semoga dengan pengalaman yang diperoleh di Sumatera Utara bisa menjadi bekal untuk menjalankan tugas di tempat baru. Demikian juga kepada pejabat baru, selamat bergabung dan bertugas. Jadilah energi baru yang memberi harapan akan kebaikan pada peningkatan kinerja dan membangun Balai Besar KSDA Sumatera Utara kedepannya lebih baik lagi. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kolaborasi Pencegahan Pencemaran Sungai di TWA Gunung Baung

Pasuruan, 29 April 2025. Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama - sama pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Energi Air PT. Kanz Capital dan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasuruan, bahu membahu berkolaborasi mensosialisasikan pencegahan pencemaran Sungai Welang yang melintasi kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung. Kawasan konservasi ini terletak di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan. Sosialisasi dihadiri oleh perwakilan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan, DLH Kabupaten Malang, UPT. Pengelola SDA Wilayah Sungai Welang, KUD. Dadi Jaya Purwodadi, UPPD. Pasar Lawang, Kades dan masyarakat Desa Dawuhan Sengon, Gerbo, serta Lebakrejo. Aliran anak sungai Welang sebelum memasuki TWA Gunung Baung melintasi daerah Gerbo, Dawuhan Sengon, Lebakrejo dan Lawang terlebih dahulu. Sungai Welang yang membelah TWA Gunung Baung seringkali pada musim penghujan memiliki kondisi air yang penuh sampah, lengket, berlendir, dan berbau. Hal ini yang ditengarai berasal dari limbah pertanian, peternakan, pasar, industri dan rumah tangga. Kondisi ini tentunya mempengaruhi kondisi aktivitas kehidupan di tepi sungai. Satwa liar yang biasanya mencari pakan dan minum di tepi sungai menjadi enggan singgah dan berpindah ke lokasi lain yang merupakan kawasan pemukiman, dan seringkali memicu konflik dengan masyarakat di daerah penyangga TWA. Selain berpengaruh pada satwa liar, kondisi air Sungai Welang juga berpengaruh terhadap produksi listrik yang dihasilkan oleh minihidro PT. Kanz Capital yang memanfaatkan aliran Sungai Welang dalam TWA. Gunung Baung. Listrik yang dihasilkan minihidro ini menyuplai kebutuhan sekitar 2.300 rumah tangga. Air sungai yang penuh sampah dan berlendir memerlukan penanganan khusus sebelum masuk pada pipa penstock minihidro. Air berlendir seringkali memaksa pengelola minihidro menghentikan proses produksi listrik karena jika tidak dihentikan maka dapat menyebabkan kerusakan berat pada peralatan minihidro. Melalui sosialisasi ini diharapkan para pemangku kepentingan dan perwakilan masyarakat dapat membantu menyebarluaskan pada masyarakat di desa asalnya bahwa membuang sampah ke aliran anak Sungai Welang berakibat nyata terhadap kehidupan satwa liar dan pemanfaatan energi air di dalam kawasan konservasi. Desa juga dihimbau mampu membuat Perdes tentang penanggulangan sampah dan melakukan aksi nyata yang akan di damping oleh DLH. Kabupaten Pasuruan, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pasuruan dan didukung oleh PT. Kanz Capital. Sumber: Veve Ivana Pramesti - Penyuluh Kehutanan Ahli Muda pada Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Garangan, Pemangsa Imut Penyeimbang Ekosistem

Kediri, 29 April 2025. Siapa yang tidak mengenal garangan, mamalia berbulu cokelat dan berjalan di tanah dengan empat kaki. Sebagian orang pasti mengenalnya, namun belum tentu pernah menjumpai di habitatnya. Namanya garangan jawa atau Herpestes javanicus, satwa liar ini bisa hidup di kawasan hutan, perkebunan, sampai pemukiman. Kemungkinan habitatnya semakin menyempit dengan banyakknya peralihan fungsi lahan, seperti pembangunan area pemukiman. Kondisi habitat yang beragam tersebut juga dipengaruhi oleh ketersediaan makanan. Garangan merupakan mesopredator, karena makanannya yang sangat beragam. Mangsa garangan jawa mulai dari moluska seperti siput, hewan melata seperti kadal dan ular, ikan, burung, sampai hewan pengerat seperti tikus. Mesopredator memiliki peranyang sangat penting bagi keseimbangan ekosistem. Sebagai contoh, garangan jawa dapat digunakan sebagai agen pengendali biologi seperti burung hantu, yaitu pengendali hama tikus. Di beberapa daerah, garangan sengaja diintroduksi untuk mengendalikan tikus, seperti di pulau Fijian, pulau Amami-Oshima, dan Puerto Rico. Berdasarkan daftar merah dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), mamalia kecil ini memiliki status konservasi Last Concern (LC) atau berstatus Risiko Rendah. Garangan jawa juga bukan satwa liar yang dilindungi oleh pemerintah. Meskipun demikian, kita juga harus turut menjaga keberadaannya di alam agar ekosistem tetap seimbang. Jadi, apakah kalian sudah pernah melihat garangan jawa di sekitar rumah atau kebun kalian? Seperti foto garangan jawa ini yang diabadikan di lahan persawahan Mojokerto, wilayah Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Mojokerto, Balai Besar KSDA Jawa Timur.. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra – Polhut Ahli Pertama Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Hari Kesiapsiagaan Bencana Ditandai Dengan Penyerahan 4.000 Bibit Aren

Nurhabli Ridwan berada diantara 4.000 bibit aren Sei Rampah - 29 April 2025. Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) diperingati setiap tahun pada tanggal 26 April. Peringatan ini diinisiasi oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terkait bencana di daerah rawan bencana di Indonesia. Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan ditetapkannya Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Sejarah peringatan HKB dimulai sejak tahun 2017 dan menjadi momentum membangun budaya sadar bencana di mana masyarakat melakukan evakuasi secara mandiri secara rutin. Dalam rangka memperingati Hari Bumi Sedunia dan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) Tahun 2025, Kader Konservasi Alam Sumatera Utara Nurhabli Ridwan, yang juga Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) mengikuti kegiatan penyerahan bantuan 4000 bibit aren dirangkai dengan pelepasan bibit ikan serta penuangan eco enzyme di bantaran Sungai Belutu yang merupakan bagian dari alur Sungai Belutu, tepatnya di Desa Sei Rampah, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdang Bedagai, pada Minggu (27/4). Kegiatan memperingati hari bumi ini diprakarsai oleh Yayasan Budaya Hijau Indonesia (YBHI) Sumut bekerja sama dengan Forum Daerah Aliran Sungai (FORDAS) Bedagai, serta didukung oleh Pemkab Serdang Bedagai dan Bank Sumut. Diikuti lebih kurang 450 orang peserta dari beberapa komunitas penggiat lingkungan hidup. Hadir Bupati Serdang Bedagai diwakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sergai, perwakilan Pimpinan DPRD Sergai, Pimpinan BPBD Kabupaten Sergai, Konsul Kehormatan Thailand untuk Provinsi Sumatera Utara, Direktur Bisnis dan Syariah PT Bank Sumut, civitas akademisi berbagai kampus dan tokoh masyarakat serta para undangan lainnya. Sebagai kader konservasi alam tentunya sangat mengapresiasi kegiatan yang positif ini. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 2025, intensitas hujan sering terjadi di Sumatera Utara, membuat seluruh pihak harus siaga dalam menghadapi bencana. Penyerahan bibit aren untuk masyarakat sekitar sungai bisa menjadi salah satu upaya meminimalisir bencana. Pohon aren dapat menyerap air melalui akar serabutnya yang kuat dan dapat mengikat air tanah, sehingga membantu menjaga suplai dan intensitas air tanah, terutama saat musim kemarau. Selain itu, akar pohon aren juga dapat menahan erosi tanah dan mencegah banjir. Pohon aren bernilai ekonomi kalau masyarakat benar-benar menanam dan merawatnya. Ketua Yayasan Budaya Hijau Indonesia, Bathara Surya Yusuf, mengatakan rangkaian kegiatan meliputi penyerahan bantuan 4000 bibit aren kepada masyarakat sekitar sungai belutu. Setiap penerima bibit nantinya akan menanam di area yang telah ditentukan. Juga dilakukan penuangan 500 liter eco enzyme ke sungai sebagai upaya meningkatkan kualitas air dan pelepasan 4.000 ekor bibit ikan nila dan gurami untuk mendukung kelestarian ekosistem perairan. Bathara juga berpesan kepada ketua FORDAS Bedagai untuk dapat mendistribusikan bibit aren dengan sebaik-baiknya, diawasi penanamannya, nantinya dari Yayasan Budaya Hijau Indonesia (YBHI) Sumut akan memonitoring bersama bank sumut. Perwakilan Bank Sumut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, Yayasan Budaya Hijau Indonesia dan kepada seluruh pendukung kegiatan ini dalam rangka menyalurkan bantuan yang merupakan kewajiban Bank Sumut dalam menjalankan fungsinya dibidang sosial. Dan berharap kegiatan ini memberikan manfaat daya guna bukan hanya untuk Kabupaten Serdang Bedagai, tetapi juga menjadi penyanggah pembangunan kabupaten lain, terkait dengan musibah bencana yang sering terjadi di Indonesia khususnya Sumatera Utara. Bupati Serdang Bedagai yang diwakili oleh Kadis Lingkungan Hidup Sergai Heidi Novria, SH dalam sambutannya mengatakan momen hari bumi menjadi sangat penting untuk direnungkan dan menghargai lingkungan yang kita huni ini. Kegiatan ini sejalan dengan visi Bupati dan Wakil Bupati Sergai yaitu penguatan pondasi transportasi pembangunan untuk Serdang Bedagai maju, tanggung dan berkelanjutan, dengan jargon “Dambaan Mantab”. Melalui visi ini kami berkomitmen untuk menciptakan Kabupaten Sergai yang bukan hanya maju dari segi ekonomi tetapi berkelanjutan dan ramah lingkungan. Melalui peringatan Hari Bumi ini, juga ingin mengajak seluruh masyarakat berperan aktif menjaga dan merawat lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang. Mari bersama-sama kita wujudkan Serdang Bedagai yang lebih hijau, bersih dan berkelanjutan Sumber : Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam/KPA GRAS) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menganyam Masa Depan Herpetofauna Jawa Timur dari Yogyakarta

Yogyakarta, 27 April 2025. Di sebuah auditorium yang dipenuhi deret bangku dan papan poster berisi hasil penelitian dan temuan lapangan. Hampir seratus akademisi, peneliti muda, hingga praktisi konservasi berkumpul dalam Seminar Nasional Penggalang Herpetologi Indonesia 2025. Kegiatan bertema “Past, Present, and Future: 17 Tahun Penggalang Herpetologi Indonesia” itu bukan sekadar ajang rutin. Di balik setiap diskusi, ada kegelisahan tentang masa depan amfibi dan reptil Nusantara. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengirim dua perwakilan, Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda, dan Ferdinan Sebastian, Penyuluh Kehutanan Pemula. Keduanya, bersama peserta lain dari berbagai institusi, larut dalam dua hari diskusi yang padat di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Sejak pagi hari pertama, suasana sudah terasa serius. Setelah pembukaan oleh Dekan Fakultas Biologi UGM, satu per satu pemateri utama mengisi podium. Dr. Irvan Sidik, Dr. A.A. Thasun Amarasinghe, dan Dr. Luthfi Nurhidayat memaparkan persoalan klasik konservasi herpetofauna. Seperti tekanan perubahan habitat, fragmentasi populasi, hingga kebutuhan mendesak riset berbasis molekuler untuk memahami dinamika genetika spesies. Lalu, sesi-sesi paralel mulai bergulir. Presentasi dari mahasiswa, dosen, hingga praktisi lapangan menampilkan potret-potret kecil yang berjejal. Habitat berudu Polypedates leucomystax yang kian menyempit di Sleman, upaya memodelkan kesesuaian habitat kura-kura moncong babi di Papua Selatan, hingga inovasi alat pelacak berbiaya rendah untuk konservasi kura-kura liar. Fajar Dwi Nur Aji dan Ferdinan Sebastian mencatat ketertarikan mereka pada sesi-sesi tentang metodologi konservasi habitat dan ekologi lapangan. "Konservasi herpetofauna tidak bisa berdiri sendiri. Harus berbasis sains, terhubung dengan sosial, dan adaptif terhadap perubahan," kata Fajar saat berbincang singkat usai sesi. Seminar ini juga memberi ruang bagi para peserta untuk membangun jejaring baru. Di sela-sela poster session dan coffee break, diskusi informal tentang kolaborasi lapangan, pertukaran data, hingga peluang riset bersama mengalir begitu saja. Suasana terasa lebih cair, menjembatani batasan antar generasi konservasionis. Tidak hanya soal berbagi temuan baru, seminar ini juga menjadi ajang refleksi. Sejumlah peserta senior mengingatkan bahwa setelah 17 tahun berdiri, Penggalang Herpetologi Indonesia harus lebih berani mengambil peran dalam advokasi konservasi. Bukan sekadar mengisi jurnal, tetapi hadir nyata dalam kebijakan dan aksi lapangan. Dalam momentum ini, partisipasi BBKSDA Jatim menjadi strategis. Selain memperbarui ilmu, keikutsertaan ini juga memperkuat komitmen lembaga untuk menerjemahkan hasil-hasil riset menjadi aksi konservasi konkret di wilayah kerja. "Yang kita bicarakan di sini harus sampai ke tapak. Bukan berhenti di ruang seminar," tambah Fajar. Ketika seminar ditutup dengan sesi ramah tamah dan pembahasan keanggotaan, satu kesimpulan tak terucap namun terasa, konservasi herpetofauna Indonesia memerlukan lebih banyak tangan, lebih banyak akal, lebih banyak hati. Dan tugas itu, kini bertambah berat di punggung mereka yang hadir di ruangan itu. (ak) Sumber: Agus Irwanto - Analis Konservasi Kawasan Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Baca Artikel

Kolaborasi Kelola Ekosistem Batang Toru Menjadi Role Model

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara bertindak sebagai narasumber Medan, 28 April 2025. Upaya mendorong Konservasi Spesies dan Penguatan Potensi Penelitian di Kawasan Ekosistem Batang Toru, Yayasan Ekosistem Lestari dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara bekerjasama dengan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, menyelenggarakan Konservasi Spesies dan Potensi Pengembangan Penelitian di Kawasan Ekosistem Batang Toru, serta Bedah Buku "100+ Flora Karismatik Kawasan Ekosistem Batang Toru" dan “Panduan Identifikasi Anggrek Kawasan Ekosistem Batang Toru”, pada Jumat (25/4) bertempat di Aula Prof. Dr. Soehadji Hadibroto Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara, Kampus USU, Jln. Dr. Mansyur No.9 Padang Bulan Medan. Kegiatan dihadiri ratusan orang baik secara luring maupun daring, berasal dari berbagai kalangan, seperti: Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, KPH Wilayah X Padangsidimpuan, KPH Wilayah XI Pandan, KPH Wilayah XII Tarutung, kalangan akademisi. Ketua Yayasan Ekosistem Lestari Kusnadi, S.ST., M.M., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Batang Toru bukan sekedar lanskap tapi cermin tanggungjawab kolektif sebagai bangsa untuk menjaga warisan alam yang tak tergantikan. Dalam workshop Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env. sebagai narasumber membawakan materi “Potensi dan Perlindungan Ekosistem Batang Toru”, memaparkan bahwa Balai Besar KSDA Sumatera Utara memiliki kepentingan terhadap Ekosistem Batang Toru mengingat 3 kawasan konservasi, yaitu Cagar Alam Dolok Sibual-buali, Cagar Alam Dolok Sipirok dan Suaka Alam Lubuk Raya berada di ekosistem Batang Toru tersebut. Ketiga kawasan konservasi sangat kaya akan keanekaragaman hayati dan menjadi rumah bagi beberapa satwa endemik, seperti : Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) dan Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Keduanya juga termasuk dalam satwa kunci. Khusus Orangutan Tapanuli, keberadaannya sampai saat ini bisa berkembang dengan baik di ekosistem Batang Toru dan perlu terus dijaga serta dipertahankan baik populasi maupun habitatnya. Balai Besar KSDA Sumatera Utara sangat serius dalam perlindungan dan pengawetan spesies kunci Orangutan Tapanuli melalui berbagai strategi dan langkah-langkah nyata, seperti : patroli pengamanan kawasan yang dilakukan secara bersama dengan masyarakat dan lembaga mitra kerjasama, kegiatan edukasi kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan dari tingkat SD sampai SMA, serta sosialisasi melalui media sosial Balai Besar KSDA Sumatera Utara, sesuai dengan era digital saat ini, untuk mencapai audiens yang lebih luas dan lebih banyak lagi. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara foto bersam dengan 2 penulis utama Dewi Kurnia Arianda dan Nursaniah Nasution Novita Kusuma Wardani menyampaikan apresiasi kepada lembaga-lembaga mitra kerjasama yang telah menginisiasi dan mendukung kegiatan-kegiatan konservasi khususnya di kawasan Ekosistem Batang Toru, seperti yang dilakukan oleh Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), memfasilitasi kegiatan-kegiatan riset (penelitian) sampai terbitnya hasil penelitian dalam bentuk karya tulis, yang hari itu juga dilakukan bedah buku. “Kami berharap adanya sinergitas dan kolaborasi dari berbagai pihak untuk mengawal Ekosistem Batang Toru agar benar-benar terjaga dan memberi manfaat baik bagi kelestarian ekosistem kawasan maupun bagi masyarakat, sehingga dikemudian hari pengelolaan Ekosistem Batang Toru ini bisa menjadi role model,” ujar Novita Kusuma Wardani mengakhiri paparannya. Semoga dengan terbitnya buku "100+ Flora Karismatik Kawasan Ekosistem Batang Toru" dan “Panduan Identifikasi Anggrek Kawasan Ekosistem Batang Toru”, buah karya dari penulis utama Dewi Kurnia Arianda dan Nursaniah Nasution, memberi manfaat dalam upaya konservasi spesies dan penguatan potensi penelitian di Kawasan Ekosistem Batang Toru. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Di Balik Kesunyian Bawean, Penjaga Rimba Temui Jejak Satwa yang Menepi

Bawean, 24 April 2025. Di Pulau Bawean, hening adalah bahasa yang paling nyaring. Hutan tropis yang memeluk kawasan Suwari hingga Kumalasa menyimpan lebih dari sekadar pepohonan dan tanah lembab, ia menyimpan denyut kehidupan yang nyaris tak terdengar. Pada tanggal 22 dan 23 April 2025 yang lalu, tim dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, Balai Besar KSDA Jawa Timur, kembali menyusuri kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Dua hari yang tampak biasa di kalender, namun menyimpan momen penting dalam upaya panjang menjaga warisan hayati yang kian terpinggirkan. Mereka tidak hanya berjaga, mereka mendengar, mencium, dan membaca jejak-jejak yang ditinggalkan penghuni asli hutan. Di kawasan Kumalasa, Desa Lebak, langkah mereka disambut oleh Elang Ular Bawean (Spilornis cheela baweanus). Spesies endemik yang hanya bisa ditemukan di pulau ini, terbang tinggi, seolah mengawasi wilayah kekuasaannya. Di antara riak dedaunan, suara Raja Udang Punggung Merah (Ceyx rufidorsa) memecah kesunyian, dan monyet ekor panjang Macaca fascicularis terdengar berteriak dari kejauhan. Tidak ada pelanggaran hukum ditemukan. Tapi bekas sarang babi hutan dan sisa pakan rusa bawean memberi isyarat, malam tadi hutan ini tetap hidup. Esoknya, patroli berlanjut ke kawasan Gunung Besar, Desa Suwari. Langit yang bersih menjadi panggung bagi Elang Ular Bawean yang kembali menampakkan diri. Di semak-semak, Burung Madu Sriganti (Cinnyris jugularis), burung Cabai Jawa (Dicaeum trochileum), dan Merbah Belukar (Pycnonotus plumosus) hadir sebagai simfoni pagi hutan tropis. Jejak rusa bawean, satwa langka yang menjadi ikon pulau ini, nampak pada batang pohon, bekas tanduknya bergesekan pada kulit kayu. Patroli ini tak hanya mendata flora dan fauna. Ia adalah bentuk dialog diam-diam antara manusia dan alam. Pohon Jati (Tectona grandis), Gondang (Ficus variegata), Bungur (Lagerstroemia speciosa), hingga Pangopa (Eugenia lepidocarpa) dan Badung (Garcinia dulcis), berdiri sebagai saksi diam dari perlintasan waktu dan perubahan. Di tengah tantangan menjaga ekosistem pulau kecil yang terus mendapat tekanan dari luar, para petugas ini adalah garda terdepan. Mereka menyatu dengan alam, memaknai tiap jejak, tiap suara, dan tiap keteduhan rimba Bawean, dalam misi panjang melindungi yang tak bersuara. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik
Baca Artikel

Burung-Burung dalam Titik Balik, Narasi dari Langit Jawa Timur

Jawa Timur, 24 April 2025. Dalam pembaruan Daftar Merah IUCN 2025, sejumlah spesies burung di wilayah kerja BBKSDA Jatim mengalami perubahan status keterancaman. Beberapa menunjukkan sinyal positif, namun tak sedikit yang justru menyuarakan peringatan keras tentang krisis habitat dan perubahan iklim. Di tengah upaya kolektif konservasi, dua kabar baik tiba dari lahan basah, Ibis Cucuk-Besi (Threskiornis melanocephalus) dan Pecuk-Ular Asia (Anhinga melanogaster) kini menyandang status Least Concern (LC) atau Risiko Rendah setelah hampir dua dekade berada di ambang keterancaman. Penurunan status ini bukan sekadar revisi administratif. Ini adalah hasil nyata dari perbaikan ekosistem lahan basah, regulasi perburuan, serta meningkatnya literasi ekologis masyarakat pesisir dan pedalaman. Namun, keberhasilan ini hanya secercah cahaya dalam lanskap yang makin gelap. Pelatuk Jawa (Chrysocolaptes strictus) sang pengetuk sunyi hutan tropis, kini tidak lagi masuk kategori Rentan, tapi Hampir Terancam. Artinya, meski belum memasuki krisis, habitatnya hutan primer Jawa yang kian langka membuatnya dalam status berjaga. Ia kini menjadi simbol dari bentang alam yang menyusut, digerogoti oleh deforestasi. Berbeda degan Sempur-Hujan Jawa (Eurylaimus javanicus) yang sebelumnya berstatus hampir Near Threatened (NT) atau Terancam menjadi Risiko Rendah. Lebih dramatis lagi adalah perubahan yang menyelimuti burung-burung migran yang mampir hanya sekejap di tanah Jawa Timur. Cerek besar (Pluvialis squatarola), Trinil Pembalik-Batu (Arenaria interpres), Kedidi Paruh-Lebar (Calidris falcinellus), Kedidi Golgol (Calidris ferruginea), dan Kedidi Belang atau Dunlin Calidris alpina. Semuanya mengalami kenaikan status keterancaman. Dari Risiko Rendah menjadi Rentan atau Hampir Terancam. Kecuali Trinil Ekor-Kelabu (Tringa brevipes) yang statusnya turun, dari Hampir Terancam menjadi Risiko Rendah. Mereka adalah tamu tahunan yang datang dari kutub utara, menepi di muara, tambak, sawah, dan dataran lumpur kita untuk mengisi tenaga. Namun kini, tak sedikit tempat singgah mereka berubah fungsi, menjadi perumahan, Kawasan industri, reklamasi, ataupun perubahan lainnya. Di sisi lain, kabar mengejutkan datang dari Pulau Kangean, wilayah ujung timur laut Jawa Timur. Ciung-Air Kangean (Mixornis prillwitzi), satu-satunya spesies endemic pulau ini, justru mengalami penurunan status keterancaman dari Rentan menjadi Risiko Rendah. Walau terlihat menggembirakan, para ahli memperingatkan bahwa perubahan ini lebih didorong oleh penilaian data baru, bukan karena kondisi habitatnya benar-benar aman. Dengan kata lain, kita mungkin belum tahu ancaman sebenarnya. “Status burung bukan hanya soal jumlah spesies yang terbang. Ia adalah indicator dari bumi yang sehat atau sakit. Ketika mereka menghilang, kita kehilangan lebih dari sekadar suara di hutan, kita kehilangan alarm terakhir,” ujar Ahmad David Kurnia Putra, Polhut Ahli Pertama Balai Besar KSDA Jawa Timur yang kesehariannya menekuni "perburungan” di wilayah kerjanya. Perubahan status keterancaman pada 2025 ini menjadi bagian dari evaluasi global oleh IUCN dan BirdLife International. Seluruh penilaian didasarkan pada data pemantauan jangka panjang, kajian lapangan, dan konfirmasi habitat. Fakta bahwa burung-burung migran mendominasi daftar peningkatan keterancaman memperkuat satu hal. Perubahan iklim dan kerusakan lahan basah kini menjadi ancaman paling nyata dan mendesak bagi keanekaragaman hayati Wilayah kerja BBKSDA Jatim memiliki posisi strategis di jalur migrasi East Asian–Australasian Flyway, dan statusnya sebagai bentang penting bagi burung pantai menempatkan tanggung jawab besar di pundak kita. Bukan hanya bagi konservasi lokal, tapi juga kelestarian global. Kini, bola salju sudah menggelinding. Apakah kita akan membiarkannya menabrak dan menghancurkan semua yang tersisa, atau memilih untuk bertindak? Perlindungan habitat alami, edukasi publik, penguatan regulasi perdagangan satwa liar, hingga konservasi lahan basah perlu digerakkan bersama. Karena ketika seekor burung kembali terbang bebas ke langit Timur Jawa, kita sedang menyelamatkan lebih dari sekadar spesies, kita menyelamatkan ekosistem. Kita menyelamatkan diri sendiri. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji dan Akhmad David Kurnia Putra, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kader Konservasi Alam Sumut Ikuti Gerakan Nasional Penanaman Sejuta Pohon Matoa

Tanjung Morawa, 24 April 2025. Hari Bumi atau yang dikenal juga dengan Earth Day diperingati setiap 22 April. Tepat pada 22 April 1970 Hari Bumi pertama kali diperingati di Amerika Serikat. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan kesadaran dan apresiasi masyarakat dunia terhadap bumi sebagai tempat tinggal bagi semua makhluk hidup. Berangkat dari isu lingkungan kala itu, membawa terciptanya sejarah Hari Bumi dan Hari Bumi Sedunia yang terus diperingati sampai hari ini sebagai pendorong kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya menjaga bumi. Memperingati Hari Bumi Sedunia Tahun 2025, Kader Konservasi Alam Sumatera Utara yang juga Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) mengikuti kegiatan Gerakan Nasional Penanaman Sejuta Pohon Matoa yang diadakan oleh Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang di Pondok Pesantren Hidayatullah Desa Bandar Labuhan, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, pada Selasa (22/4). Kegiatan ini dihadiri seluruh jajaran pimpinan Kementerian Agama Deli Serdang, Pimpinan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Tanjung Morawa, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Deli Serdang, organisasi masyarakat, pengawas sekolah, dan juga seluruh penyuluh lintas agama di Kabupaten Deli Serdang, serta para santri pondok pesantren. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang, Dr. H. Saripuddin Daulay, S.Ag, M.Pd. dalam sambutannya mengatakan, gerakan penanaman satu juta pohon Matoa dilaunching pada tanggal 22 April 2025 secara serentak diseluruh wilayah Indonesia. Program ini merupakan bagian dari upaya mendukung Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden dalam pelestarian lingkungan hidup melalui program prioritas yang diinisiasi oleh Menteri Agama RI, yakni Ekoteologi, dengan melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Kehutanan, kementerian lainnya, pemerintah daerah, lembaga keagamaan, perguruan tinggi keagamaan, madrasah, pondok pesantren, organisasi masyarakat dan masyarakat umum. “Kementerian Agama Kabupaten Deli Serdang melaksanakan penanaman 9 ribu bibit pohon Matoa serentak di seluruh pondok pesantren, madrasah, KUA Kecamatan dan juga terbagi ke seluruh rumah ibadah yang bersinergi bersama penyuluh agama. Buah matoa dipilih karena memiliki banyak manfaat kesehatan karena kandungan gizinya yang kaya, seperti vitamin C dan E, serat, serta antioksidan. Manfaat utamanya meliputi meningkatkan imunitas tubuh, melawan radikal bebas, menjaga kesehatan jantung, mengontrol gula darah, serta membantu menjaga kesehatan kulit,” ujar Saripuddin Daulay. Founder Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) Nurhabli Ridwan sekaligus Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang ikut dalam kegiatan ini menyampaikan bahwa bumi merupakan anugerah Allah yang tak ternilai. Ia bukan sekadar tempat tinggal, melainkan “laboratorium kehidupan” yang penuh dengan hikmah. Al-Qur’an menyebut bumi sebagai tempat kembali, tempat berpijak dan sumber kehidupan. “Allah menciptakan bumi dengan sifat-sifat khusus agar layak untuk kehidupan dan ketenangan manusia.” Ini adalah bukti kasih sayang Allah. Setiap elemen bumi seperti tanah subur, lautan luas, gunung menjulang, adalah bagian dari sistem yang saling terhubung. Tugas kita adalah merenungi keajaiban ini, lalu bersyukur dengan menjaganya, bukan merusaknya. "Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau, dan Allah menjadikan kalian sebagai khalifah (pengelola) di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana kalian berbuat." (H.R. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa Allah Swt telah memberikan amanah kepada manusia untuk mengelola bumi. Kita tidak boleh semena-mena terhadap alam. Jika kita merusaknya seperti dengan menebang hutan sembarangan atau membuang limbah sembarangan, maka itu berarti kita tidak menjalankan tanggung jawab kita sebagai khalifah di bumi. Islam mengajarkan agar kita menjaga keseimbangan alam, karena semua yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban kelak. Kegiatan ini berjalan dengan lancar, dan harapannya ke depan semoga kegiatan ini membawa manfaat dan keberkahan serta bisa menjadi motivasi serta inspirasi bagi gerakan penanaman pohon lainnya. Sumber : Nurhabli Ridwan ( Kader Konservasi Alam / KPA GRAS ) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Dorong Konservasi Inklusif Lewat Pelatihan Urban Farming di Perguruan Tinggi

Surabaya, 23 April 2025. Sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi konservasi yang inklusif dan adaptif, Balai Besar KSDA Jawa Timur kembali hadir menjangkau generasi muda melalui kegiatan Pendampingan Pelatihan Urban Farming di lingkungan akademik. Kegiatan ini dilaksanakan pada Rabu, 23 April 2025, di FISIP Universitas Bhayangkara (UBHARA) Surabaya, dalam rangka memperingati Hari Bumi 2025. Bekerja sama dengan Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Korda Jawa Timur dan FISIP UBHARA, BBKSDA Jatim memberikan penguatan materi tentang konservasi keanekaragaman hayati berbasis masyarakat sebagai bagian dari pendekatan pelestarian yang bersifat kolaboratif dan aplikatif. “Pendekatan konservasi tidak bisa lagi eksklusif. Kita harus hadir di ruang-ruang sosial, termasuk kampus, dengan bahasa yang membumi dan cara yang relevan bagi generasi muda,” ungkap Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda BBKSDA Jatim yang bertindak sebagai narasumber sekaligus pendamping dalam pelatihan tersebut. Pelatihan yang diikuti oleh 15 mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi ini mengangkat tema pertanian kota (urban farming) sebagai bentuk kemandirian pangan sekaligus aksi konkret konservasi ekosistem mikro di wilayah perkotaan. Materi yang disampaikan meliputi pengenalan konsep urban farming, strategi kewirausahaan hijau, serta pemanfaatan ruang pekarangan untuk produksi pangan lokal. Sebagai simbol gerakan pelestarian, dilakukan pula penyerahan bibit tanaman markisa dari BBKSDA Jatim dan FK3I kepada mahasiswa. Bibit ini akan ditanam di kebun percobaan UBHARA dan dijadikan sarana pembelajaran berkelanjutan dalam program kewirausahaan berbasis lingkungan. Kepala BBKSDA Jawa Timur, melalui kegiatan ini, menegaskan pentingnya pendekatan edukatif dan lintas sektor dalam upaya konservasi. “Kami percaya bahwa generasi muda adalah mitra strategis. Dengan memahami pentingnya keberlanjutan, mereka dapat menjadi penggerak perubahan yang menjaga harmoni antara manusia dan alam,” ujarnya dalam pernyataan resminya. Pelatihan ini menandai komitmen BBKSDA Jatim untuk terus membuka ruang partisipasi publik, terutama di kalangan akademisi, dalam pelestarian keanekaragaman hayati dan penguatan ketahanan ekosistem melalui praktik ramah lingkungan. Sumber: Aminudin Cimin - Humas FK3I Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Satwa dari Balerejo

Madiun, 21 April 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), bersama mitra Jaga Satwa Indonesia (JSI), menggelar sosialisasi peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sekitar pukul tujuh malam, peserta dari 15 desa di Kecamatan Balerejo – Kabupaten Madiun mulai memenuhi kursi. Agenda utama malam itu membedah peran masyarakat dalam perlindungan satwa, serta bagaimana menghadapi konflik yang kian sering terjadi antara manusia dan satwa liar. Drs. Pudji Wahju Widodo, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Dapil XI, hadir sebagai fasilitator. Ia menyebut kegiatan semacam ini penting untuk membangun kesadaran warga akan pentingnya konservasi berbasis aturan. Pemateri dari Bidang KSDA Wilayah Madiun menyampaikan tiga pokok bahasan. Tugas dan fungsi BBKSDA Jatim, dasar hukum konservasi, serta penanganan konflik dan evakuasi satwa. Diskusi berjalan hangat. Sejumlah warga bertanya soal prosedur penanganan satwa yang masuk ke permukiman dan peran mereka sebagai pelapor awal kejadian. Di akhir sesi, para peserta tak sekedar pulang membawa pengetahuan hukum, tapi juga kesadaran bahwa menjaga satwa bukan hanya tugas petugas, melainkan juga kewajiban bersama. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun
Baca Artikel

Kisah Daeng Usman dan Beka, Penjaga Langit Masakambing

Masakambing, 24 April 2025. Di sebuah rumah sederhana yang menghadap rimbun pohon pidada dan debur ombak kecil di kejauhan, seorang lelaki paruh baya menyipitkan mata menatap langit. Di atasnya, terbang bebas dua ekor Beka atau Kakatua Kecil Jambul Kuning yang dulu ia rawat dengan tangan sendiri. Hari itu, 8 April 2025, adalah hari yang tak akan pernah ia lupakan. Namanya Usman Daeng Mangung, tapi di kalangan pegiat konservasi ia dikenal sebagai “Daeng Usman”, penjaga alam dari Pulau Masakambing, Sumenep. Sejak tahun 2012, ia menjadi mitra setia Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dalam upaya melestarikan burung ikonik ini, salah satu spesies terancam punah yang hanya tersisa di beberapa titik kecil Indonesia, salah satunya di pulau kecil ini. “Burung itu bukan milik saya. Tapi mereka bagian dari hidup saya,” ucap Daeng Usman lirih namun mantap. Dua burung yang kini telah lepas liar itu, seekor betina yang diselamatkan pada Oktober 2024, dan jantan pada November 2024. Mereka menjalani hari-hari krusial di halaman rumah Daeng Usman, yang sejak lama dijadikan lokasi kandang rehabilitasi. Di tangan dan hatinya, mereka belajar kembali mengenali alam, angin laut, suara hutan, dan keberanian untuk terbang tinggi. Setiap hari, Daeng Usman membuka kandang perlahan, membiarkan mereka menjelajah, kembali, dan pergi lagi. Ia mengenali kebiasaan mereka tidur di pohon jambu, lalu perlahan beralih ke jati, kelapa, hingga akhirnya bergabung dengan kawanan liar di mangrove seberang kandang. Semua terekam jelas di benaknya, tanpa perlu catatan. “Yang penting mereka bahagia di sana,” katanya, menunjuk rimbun hijau yang jadi rumah baru dua sahabat kecilnya. Lebih dari satu dekade, Daeng Usman tak hanya jadi penjaga kandang. Ia adalah penghubung antara manusia dan alam, antara kebijakan konservasi dan kearifan lokal. Ia mengajar anak-anak di kampungnya untuk mengenal dan mencintai burung, memperingatkan warga agar tak mengganggu pohon-pohon sarang, serta menjadi mata dan telinga bagi petugas BBKSDA Jatim yang datang dari jauh. Konservasi sejati, ternyata lahir bukan hanya dari teknologi atau ilmu pengetahuan, namun juga dari hati yang setia menjaga. Dari rumah-rumah kecil di pulau terpencil, dari manusia-manusia seperti Daeng Usman yang tak pernah lelah mencintai. Kini, langit Masakambing kembali berwarna. Tidak hanya oleh jambul kuning yang menari di angin, tetapi oleh harapan yang tumbuh dari dedikasi satu orang, satu rumah, dan satu pulau yang menolak melupakan satwa-satwa yang hampir sirna. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sosialisasi Satwa Liar Orangutan Sumatera, Upaya Mitigasi Konflik

Kuta Gugung, 24 April 2025. Pada bulan Januari 2025 hingga pertengahan April 2025 terdapat beberapa kali perjumpaan satwa Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dengan masyarakat Desa Kuta Gugung. Satwa Orangutan Sumatera tersebut dijumpai oleh masyarakat desa yang berkebun di sekitar Hutan Desa milik Desa Kuta Gugung. Kabar baiknya, selama perjumpaan hingga saat ini belum ada interaksi negatif (konflik) yang terjadi antara masyarakat dengan satwa Orangutan tersebut. Orangutan yang mucul hanya sekedar berayun di pohon dan tidak mengganggu kegiatan perkebunan masyarakat, dan masyarakat juga tidak melakukan tindakan yang mengusik satwa liar tersebut. Namun untuk memberi edukasi kepada masyarakat serta mencegah terjadinya interaksi negatif, pada Kamis (17/4) Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang bersama dengan lembaga mitra Tim HOCRU OIC, menggelar kegiatan sosialisasi terkait pengenalan jenis satwa liar dilindungi terutama jenis satwa Orangutan Sumatera di Desa Kuta Gugung, Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, yang dihadiri Kepala Desa dan masyarakat Desa Kuta Gugung Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang, Tuahman Raya, S.Sos. memaparkan tentang pengenalan jenis satwa liar dilindungi dan pengelolaannya, sedangkan dari Tim HOCRU OIC menyampaikan pengenalan Orangutan Sumatera dan penanganan konflik manusia dan satwa Orangutan. Sebanyak 20 orang masyarakat desa terutama yang berkebun di sekitar hutan desa diundang untuk mendiskusikan terkait satwa Orangutan Sumatera yang belakangan ini terlihat muncul beberapa kali. Beberapa hal penting yang disampaikan kepada masyarakat Desa Kuta Gugung terkait keberadaan satwa Orangutan Sumatera, agar masyarakat tidak menganggu satwa tersebut seperti melempar satwa dengan benda-benda, karena pada dasarnya orangutan tidak agresif namun apabila merasa terancam maka dapat melakukan tindakan seperti mematahkan ranting dan melemparkan ke arah masyarakat. Selain itu, tidak memberi makan orangutan karena akan menimbulkan perubahan perilaku nantinya, serta segera melaporkan ke petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara apabila terjadi interaksi negatif dengan satwa tersebut. Hasil diskusi dari kegiatan sosialisasi ini adalah, bahwa Orangutan Sumatera yang cenderung muncul di Desa Kuta Gugung, keberadaannya dipertahankan serta tidak perlu di evakuasi/relokasi. Namun bila satwa ini melakukan pergerakan hingga ke kebun dan pemukiman sampai mengganggu, maka akan segera ditindaklanjuti dengan relokasi. Kepala Desa Kuta Gugung berharap dilakukan observasi lebih lanjut terhadap satwa Orangutan tersebut apakah hanya satu ekor saja atau lebih dan apa penyebab satwa ini bisa keluar hingga ke hutan desa. Pihak desa menyatakan siap membantu bila diperlukan. Selanjutnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara akan melakukan kegiatan patroli di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk dan tetap siaga menerima laporan bila terjadi penampakan satwa Orangutan Sumatera tersebut. Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menjaga Asa, 4 Green Ambassador Sumatera Utara Merawat Bumi

Medan, 22 April 2025. Green Ambassador merupakan sebutan bagi para alumni pendidikan Green Youth Movement (GYM) yang diinisiasi oleh Institut Hijau Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui simpul belajar di UPT lingkup KLHK dan Dinas Lingkungan Hidup kabupaten/kota di 36 Provinsi. Pada GYM angkatan 2, sebanyak 4.461 siswa/siswi terpilih di 36 provinsi telah menyelesaikan program pendidikan dasar gerakan lingkungan hidup bagi remaja yang duduk di bangku kelas 2 SMA sederajat. Mereka belajar selama 3 bulan (Juli s/d September 2024), dan dilantik sebagai Green Ambassador pada 3 Oktober 2024 oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. Selanjutnya, Green Ambassador ini didorong untuk menjadi duta lingkungan hidup dan kehutanan serta duta keadilan iklim. Meskipun belum menjadi satu gerakan signifikan yang dapat menumbuhkan budaya ramah lingkungan dalam komunitas atau masyarakat, terutama untuk generasi muda, namun dalam kurun waktu 5 bulan, keinginan dan usaha untuk berbuat konkret dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup mulai tumbuh sehingga perlu disediakan wadah bagi generasi muda ini guna mewujudkannya. Dalam pengamatan Koordinator Daerah Green Youth Movement Angkatan 2 Sumatera Utara, sedikitnya ada 4 sosok Green Ambassador GYM Angkatan 2 Sumatera Utara yang berkreasi dan menginspirasi generasi muda, khususnya kalangan pelajar SMA, melalui berbagai kegiatan konservasi alam dan lingkungan hidup secara mandiri. Dody Christian Saragih Merupakan siswa SMAN 6 Pematang Siantar, tercatat berprestasi sebagai Juara 4 Duta Kreatif Pelajar Sumatera Utara Tahun 2024. Dody yang lahir di Jakarta pada 9 Juni 2008, mengenal kegiatan konservasi alam pertama kali dari media sosial, berupa konten-konten yang memberikan informasi dan edukasi tentang kesadaran akan lingkungan dan permasalahan sampah. Pada tahun 2024, ia aktif mengikuti organisasi OSIS di sekolahnya menangani bidang kebersihan. Giatnya di OSIS menjadi jalan baginya terpilih sebagai utusan/wakil sekolah mengikuti program pendidikan Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 di tahun yang sama. Melalui GYM Angkatan 2 ini, wawasan pemikirannya pun tentang konservasi alam dan ingkungan hidup menjadi lebih luas dan berkembang. Berbagai ragam ilmu dan pengetahuan diperolehnya. Dody akhirnya menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh generasi muda untuk alam dan lingkungan hidup. Berbekal pengetahuan yang diperolehnya tersebut, Dody percaya diri membawakan pidato tentang Penekanan Lingkungan di Era Arus Globalisasi dan Kemajuan Teknologi 2024, pada Grand Final Duta Kreatif Pelajar Suatera Utarat di Medan. Di tahun 2025, ia menjadi mentor di komunitas Grow Bareng yang menyebarkan informasi dan pengetahuan mengenai lingkungan hidup kepada pelajar se-Indonesia. Lalu dipercaya menjadi koordinator kebersihan SMAN 6 Pematang Siantar. Dan sampai saat ini, ia terus aktif di media sosial untuk memberikan edukasi, motivasi dan penyadaran kepada masyarakat luas akan kondisi lingkungan yang kritis serta mengajak untuk ikut berperan aktif menyelamatkan bumi dan lingkungan. Meilani Aldira Cen Meilani merupakan siswi SMA Dharma Bakti Lubuk Pakam Kabupaten Deli Serdang, terpilih menjadi The Best Favorite Media Sosial pada event Medan Model Hunt 2024. Ia seorang model muda berprestasi yang lahir di Lubuk Pakam, pada 16 Mei 2008. Awal mengenal konservasi alam dan lingkungan hidup saat duduk di bangku sekolah dasar. Ia mendengarkan gurunya menjelaskan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan melestarikan sumber daya alam. Sejak itu, ia menjadi lebih peduli dengan lingkungan hidup dan berusaha untuk melakukan hal-hal yang dapat membantu melestarikannya. Pada tahun 2024, Meilani menjadi ketua pelaksana volunteer SFH ke SLB-C Santa Lucia dalam komunitas ruang mengabdi, dan di tahun yang sama ia mengikuti program pendidikan Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 di Simpul Belajar Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Deli Serdang. Saat mengikuti pendidikan GYM ia melakukan sosialisasi dan edukasi tentang sampah kepada siswa SMPN 1 Lubuk Pakam. Di tahun 2025 Meilani melakukan aksi bersih-bersih di bank sampah Lubuk Pakam dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional se-Kabupaten Deli Serdang. Sampai saat ini masih banyak lagi kegiatan-kegiatan yang ia ikuti yang memberi dampak bagi lingkungan hidup. Noorhaslinda Linda, demikian panggilan akrabnya, merupakan siswi SMA Swasta YAPIM BIRU- BIRU Kabupaten Deli Serdang, menjadi pembina organisasi GEDS (Green Environment Driving School) di lingkungan sekolahnya. Linda lahir di Kerinci pada 24 Juni 2008. Ia mengenal konservasi lingkungan hidup bermula dari keaktifannya sebagai anggota pramuka di SMPN 6 Kerinci. Selanjutnya ia mengikuti program pendidikan Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 pada tahun 2024. Saat mengikuti pendidikan GYM tersebut, Linda membuat program patroli kebersihan lingkungan sekolah dan ia terpilih menjadi ketua panitia acara Pekan Generasi Hijau GYM Sumatera Utara yang bertajuk “Get That Green Glow”. Dalam berbagai kesempatan, Linda selalu menekankan kepada teman-temannya, bahwa sebagai generasi muda sangat diperlukan peransertanya meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, terutama mereka yang tinggal dekat dengan aliran sungai yang sering membuang sampah sembarangan. Melalui sosialisasi dan edukasi itu tentunya diharapkan dapat membangun kesadaran serta kepedulian warga guna mengurangi permasalahan sampah di aliran sungai. Markus Moreno Malau Markus merupakan siswa SMA Swasta Primbana Medan dan alumni Pendidikan Pelajar Penggerak Angkatan ke 2 Tahun 2025. Ia lahir di Kabanjahe pada 26 Februari 2008. Awal mengenal konservasi dimulai dari mengikuti program pendidikan Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 tahun 2024. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan, diantaranya memberikan edukasi kepada siswa sekolah dalam upaya mengurangi limbah berbahaya bagi lingkungan serta melakukan praktek memanfaatkan sampah sebagai kerajinan dan melakukan penanaman pohon. Markus juga pernah ikut dalam kegiatan Kaum Muda Menanam 2 di Pantai Mangrove Nipah, Kabupaten Serdang Bedagai, mengikuti penanaman pohon di daerah aliran sungai Deli Kecamatan Medan Marelan dan mengikuti kegiatan aksi bersih dalam rangka memperingati Hari Sampah Nasional tahun 2025 di sungai Kanal Kecamatan Medan Marendal. Selain itu, ia juga merupakan semi finalis Duta Pelajar Sumatera Utara pada tahun 2024, Semi finalis Duta Anti Narkoba pada tahun 2024 dan masih banyak lagi kegiatan yang ia ikuti. Demikianlah sosok 4 anak muda kreatif Green Ambasador jebolan GYM Angkatan 2 Sumatera Utara yang sudah berbuat dan menginspirasi bagi generasi muda. Ada pesan moral penting yang disampaikan mereka, yaitu : Mari mulai perubahan dari diri sendiri melalui hal-hal sederhana, kemudian lakukan dan sebarkan benih-benih kebaikan kepada lingkungan sekitar, maka percayalah akan tercipta dan tumbuh kesadaran kolektif atas lingkungan dan bumi kita. Selamat Hari Bumi 2025. Sumber : Nurhabli Ridwan ( Kader Konservasi Alam / KPA GRAS ) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 561–576 dari 2.305 publikasi