Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Edukasi Konservasi Orangutan Menyasar Mahasiswa

Padangsidimpuan, 19 Mei 2025. Ajang kolaborasi satu panggung Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan yang bersinergi bersama mitra NGO Center For Orangutan Protection (COP) semakin intens, seperti kegiatan kuliah umum yang baru-baru ini dilaksanakan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan (UMTS), tepatnya pada Kamis, (8/5) Hadir dalam Kuliah Umum yang pertama kali dilakukan untuk mengedukasi generasi muda, khususnya dari kalangan mahasiswa, antara lain Muhammad Darwis M.Pd selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan, Ketua Program Studi Biologi Jalilah Azizah, M.Pd, kemudian Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan Susilo Ari Wibowo, S.Hut., M.Sc serta Tim Center For Orangutan Protection (COP). Kuliah umum ini mengusung tema “Konservasi Orangutan” Dalam sambutannya Rektor UMTS menyampaikan pentingnya Mahasiswa UMTS khususnya Program Studi Biologi memahami fungsi hutan sebagai salah satu habitat satwa liar terutama Orangutan dan upaya pelestariannya mengingat kampus UMTS dan mahasiswanya banyak berasal dari daerah habitat Orangutan. Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan Susilo Ari Wibowo, S.Hut.,M.Sc., sebagai pembicara dalam kuliah Umum tersebut memperkenalkan Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan sebagai salah satu unit pelaksana teknis (UPT) Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang bertugas sebagai otoritas pengelola keanekaragaman hayati perpanjangan tangan Kementerian Kehutanan di tingkat tapak. Susilo Ari Wibowo juga menyampaikan pesan moral kepada mahasiswa sebagai generasi muda aktor perubahan, agar memiliki komitmen dan berkontribusi dalam menjaga dan melestarikan kawasan hutan, keanekaragaman hayati baik di dalam maupun di luar kawasan hutan (areal preservasi) sesuai amanat UU Nomor 32 Tahun 2024 yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi ekologisnya guna mendukung fungsi penyangga kehidupan dan kelangsungan hidup sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Juga diharapkan ikut berperanserta dalam upaya konservasi Orangutan khususnya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang merupakan satwa kunci, dengan status diambang kepunahan jika tidak segera dilestarikan. Selain itu mahasiswa Biologi diajak untuk mengimplementasikan ilmu yang ditimba selama di bangku kuliah dalam bentuk karya nyata, seperti aktif dalam upaya pelestarian sumber daya alam hayati, keragaman spesies dan genetik. Dalam kesempatan yang sama mitra NGO Center For Orangutan Protection (COP) selain menyampaikan materi kuliah “Konservasi Orangutan” juga mengajak mahasiswa terlibat aktif dalam diskusi kelompok membahas isu-isu peredaran dan penyalahgunaan satwa, hal ini bertujuan untuk membuka wawasan mahasiswa agar memiliki pengetahuan, pemahaman dan mampu membedakan perilaku yang salah dalam memperlakukan satwa. Strategi eduksi melalui kuliah umum secara kolaborasi antara Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, mitra COP, civitas akademik dan mahasiswa ini merupakan bentuk aksi perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistemnya secara simultan pada setiap komponen, baik di tingkat genetik, spesies maupun ekosistem karena sudah mencakup pihak-pihak yang berwenang dalam pengamanan terhadap tindak kejahatan sumber daya alam hayati. Selain itu juga tindakan pengelolaan keanekaragaman hayati untuk mencegah terjadinya kerusakan, kehilangan maupun kepunahan, khususnya terhadap satwa Orangutan. Sebagaimana diketahui Orangutan merupakan salah satu satwa dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/ SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Kegiatan edukasi akan terus digiatkan dengan menyasar seluruh elemen masyarakat, guna mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam upaya menyelamatkan dan melestarikan satwa endemik dan satwa kunci kebanggaan Sumatera Utara Orangutan Tapanuli. Sumber : Irwan Hanfi, S.Hut., M.M. (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

SMART PATROL Perairan TN Taka Bonerate: Pantau Illegal Fishing dan Kesehatan Terumbu Karang

Jinato, 19 Mei 2025 – Personil Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Jinato, Balai Taman Nasional Taka Bonerate kembali menunjukkan komitmen dalam menjaga kelestarian kawasan perairan Taman Nasional Taka Bonerate. Selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (17-18 Mei 2025), tim melakukan Smart Patrol menggunakan Kapal Motor (KM) Manggala Tirta II. Rute Patroli dan Hasil Pemantauan Tim menyusuri sejumlah titik strategis, mulai dari Perairan Jinato, Taka Lantigiang, Taka Rajuni, hingga Spot Dive Ibel Orange. Tak ketinggalan, wilayah seperti Bunging Tinabo, Taka Tumbor, dan Taka Sepe juga menjadi fokus patroli. Hasilnya? Kabar baik. Tidak ditemukan aktivitas destructive dan illegal fishing atau pelanggaran lain yang terdeteksi. Namun, tim mencatat sejumlah aktivitas nelayan yang berkegiatan di kawasan, seperti kapal pancing tonda, ulur, gurita, hingga bagan. Di Taka Sepe, tim melakukan pemeriksaan mendetail terhadap lima kapal. "Semua dokumen lengkap," jelas Sandi salah satu personil. Kapal-kapal tersebut berasal dari Polassi, Kayuadi, dan Galessong, dengan alat tangkap beragam, mulai dari bubu hingga jaring lanra. Kehidupan Laut yang Masih Bersahabat Selain memantau aktivitas manusia, tim juga mencatat kehadiran satwa laut. Seekor burung dara laut terlihat di Perairan Tinabo, sementara tiga ekor lainnya dijumpai di Taka Sepe. Waspada Pemutihan Karang Merespons laporan kenaikan suhu air laut, tim tak hanya berpatroli di permukaan. Mereka turun ke bawah laut di Spot Dive Ibel Orange untuk memeriksa kondisi terumbu karang. Hasilnya, suhu air masih stabil di 29°C—masih dalam batas normal. Namun, dua koloni karang terlihat mengalami pemutihan. Kabar gembiranya, ikan Napoleon, salah satu spesies dilindungi, masih bisa dijumpai di lokasi tersebut. Tindak Lanjut Tim berencana meningkatkan frekuensi patroli dengan pelibatan masyarakat, terutama di titik-titik rawan. "Kami juga akan berkoordinasi dengan nelayan setempat untuk memastikan praktik penangkapan ikan tetap ramah lingkungan," pungkas Kepala Balai, William Tengker. Ini dilakukan dengan harapan untuk menjaga keindahan dan kelestarian Taman Nasional Taka Bonerate. Sumberl: Resor Lantigiang Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilaah II Jinato - Balai Taman Nasional Taka Bonerate Editor : AsriTo' - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Adendum PKS BBKSDA Sumut dan YPBMM Disepakati

Usai penandatanganan Adendum PKS Medan, 14 Mei 2025. Setelah terbitnya Memorandum Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Nomor : M.44/KSDAE/ PK/KSA.01/4/2025 tanggal 30 April 2025 Hal Permohonan Persetujuan Adendum Perjanjian Kerja Sama antara Balai Besar KSDA Sumatera Utara dengan Yayasan Persamuhan Bodhicitta Mandala Medan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara pun kemudian menindaklanjutinya dengan menggelar rapat pembahasan Adendum PKS dimaksud, pada Jumat (9/5), bertempat di Kantor YPBMM Jl. Selam No. 23 Medan. Rapat dihadiri Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., Ketua Pembina YPBMM Kuslan Nyanaprathama, Kepala Bidang Teknis Ir. Bresman Marpaung, Kepala Bagian Tata Usaha Andar Abdi Saragih, S.Pd., M.Si., Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar Elfina Rosinta Dewi, S.Hut., M.IL., staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan melalui zoom meeting hadir dari Direktorat Perencanaan Konservasi serta Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik. Perjanjian Kerja Sama sebelumnya tertuang di surat Nomor: PKS.4469/K.3/TU/PK/9/2021 dan Nomor: 080/YPBMM/IX/2021 tanggal 14 September 2024 tentang Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Ada beberapa pasal yang di Adendum dari PKS tersebut, diantaranya perubahan judul yang sebelumnya Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara kemudian berubah menjadi : Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat di Bidang Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Pengembangan Konservasi Gajah Jinak di Aek Nauli Elephant Conservation Camp. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara memimpin rapat pembahasan Adendum PKS Selanjutnya Tujuan Kerja Sama (Pasal 1) dari yang semula adalah dalam rangka mendukung PIHAK KESATU meningkatan kapasitas dan peran serta berbagai pihak terkait Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun Dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat Di Bidang KSDA Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menjadi dalam rangka mendukung PIHAK KESATU dalam meningkatan kapasitas dan peran serta berbagai pihak terkait Penguatan Fungsi Suaka Margasatwa Barumun Dan Konservasi Harimau Sumatera Serta Pemberdayaan Masyarakat Di Bidang KSDA Wilayah III Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan Pengembangan Konservasi Gajah Jinak di Aek Nauli Elephant Conservation Camp. Bagian lain yang di Adendum yaitu pasal-pasal yang mengatur tentang Ruang Lingkup PKS, Letak Area Kerja Sama dan Ketentuan Tambahan. Dalam pembahasan Adendum tersebut turut memberikan masukan dan saran dari Direktorat Perencanaan Konservasi serta Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik. Usai pembahasan Adendum PKS dilanjutkan dengan pembahasan RPP. Ketua Pembina YPBMM memberikan tanggapan terhadap pembahasan Adendum PKS Rapat pembahasan Adendum PKS berjalan dengan baik dilandasi semangat bersama untuk melaksanakan dan merealisasikan apa yang telah disepakati dan dituangkan dalam perjanjian kerja sama. Di akhir rapat dilakukan penandatanganan Adendum Perjanjian Kerja Sama oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env. dan Ketua Pembina YPBMM Kuslan Nyanaprathama. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pohon Aren Menjadi Saksi Cinta Sejati

Pengantin yang berbahagia Nagori Purba Tongah, 14 Mei 2025. Jumat, 9 Mei 2025, menjadi hari sangat spesial bagi pasangan Eko Rahmadi dan Triani yang menjalani Akad Nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purba. Hari itu, kedua pengantin ini menerima hadiah bibit pohon Aren dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resor Cagar Alam (CA) Martelu Purba pada Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran. Bibit pohon Aren menjadi saksi dari cinta sejati dua anak manusia yang berikrar untuk membentuk mahligai rumah tangga. Senyum bahagia terpancar dari wajah Triani, warga Nagori Tongah, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun yang merupakan buffer zone kawasan CA. Martelu Purba, dan Eko Rahmadi, warga Desa Cikampak, Kecamatan Torgamba, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, tidak jauh dari kawasan TWA. Holiday Resor, saat menerima kado spesial ini yang diserahkan langsung Kepala Resor CA. Martelu Purba Alharis Ruhidi, S.P., M.Si. dan Kepala KUA Kecamatan Purba Jumono S.Ag., disaksikan Penyuluh Agama Eko Putra Sari (yang juga anggota Masyarakat Mitra Polhut Nagori Purba Tongah) serta keluarga kedua belah pihak. Pesan-pesan dan bimbingan nikah yang disampaikan Kepala Resor CA. Martelu Purba baik kepada pengantin, keluarga pengantin maupun masyarakat yang hadir, menekankan bahwa perubahan iklim yang terjadi antara lain berdampak pada terjadinya pemanasan global yang memaksa kita untuk berupaya Menghijaukan Bumi (Green Earth) dan Membirukan Langit (Blue Sky) sehingga terwujud kesejukan dan udara bersih. Ini dapat dilakukan antara lain dengan upaya penanaman pohon aren (Arenisasi). Pasangan pengantin menerima bibit pohon Aren dari Kepala Resort CA. Martelu Purba dan Kepala KUA Kecamatan Purba Aren (Arenga pinnata), yang dikenal juga dengan nama lain Enau, merupakan pohon kehidupan yang memiliki aneka ragam manfaat, seperti : air niranya, buah kolang kalingnya, serat ijuknya, dan tulang daunnya, sehingga dikenal sebagai MPTS (Multi Purpuse Tree Species). Salah satu potensi keanekaragaman hayati (biodiversity) di Cagar Alam Martelu Purba adalah tumbuhan aren, yang hampir bisa dijumpai pada seluruh bagian kawasan, dan bahkan sudah sebagai sumber bibit. Presiden RI Prabowo Subianto, dalam rangka swasembada pangan dan energi telah menargetkan 2 juta lahan hutan aren untuk bahan baku energi alternatif non fosil berupa bioethanol, dengan demikian bisa menutupi ketergantungan impor energi berbahan baku fosil. Tahun 2025, Presiden melalui Kementerian Kehutanan mencanangkan gerakan penanaman aren seluas 300.000 hektar lahan. Saat ini Resort CA. Martelu Purba menginisiasi pengembangan demplot mini budidaya pembibitan Aren endemik Cagar Alam Martelu Purba. Kedepan program pemberian bibit pohon Aren kepada pengantin akan terus digalakkan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat melalui rumah-rumah ibadah, seperti gereja, masjid, dan lain-lain. Pemberian pohon sebagai bagian dari rangkaian pernikahan memiliki makna simbolis dan bermanfaat. Pohon mencerminkan berbagai karakter diantaranya : mengakar kuat (bila cinta menjadi akarnya, maka fondasi pernikahan akan kuat dan diberkati), mandiri, tangguh dan umur panjang. Selain itu juga menjadi simbol komitmen kepada lingkungan. Ekspektasinya melalui program pemberian bibit pohon Aren oleh Resort CA. Martelu Purba dapat meningkatkan kesadaran maupun kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan alam, serta dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya bagi pengantin yang merawat pohon tersebut dengan baik. Akhirnya, Selamat buat pasangan Eko Rahmadi dan Triani, semoga menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah dan Warahmah. Salam lestari ….. Sumber : Alharis Ruhidi, S.P., M.Si. (Analis Konservasi Kawasan/Kepala Resor CA. Martelu Purba) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Ada Lebih dari 200 Jenis Burung Migran Singgah di Indonesia

Kediri, 10 Mei 2025. Saat musim dingin di belahan Bumi utara dimulai, burung-burung akan bersiap menjelajah belahan bumi lainnya yang beriklim tropis untuk mencari makan yang disebut dengan migrasi datang atau autumn. Tujuan utamanya adalah bertahan hidup. Begitu pula sebaliknya, saat musim dingin selesai, mereka akan kembali ke daerah asalnya untuk berkembang biak yang disebut migrasi balik atau spring. Mereka akan melewati Samudra dan benua. Pengembaraan ini dilakukan oleh beragam jenis burung, mulai dari burung yang hidupnya di lantai hutan seperti Paok, jenis yang hidup di pantai seperti trinil-trinilan, jenis yang hidup di laut seperti dara-laut. Hingga jenis yang menguasai angkasa seperti Sikep-madu Asia. Perjalanan dari lokasi berbiak ke lokasi tujuan atau wintering terjadi pada bulan September sampai November. Burung-burung akan tiba di belahan Bumi Selatan atau tempat mencari makan pada bulan November sampai dengan Maret, selanjutnya mereka akan kembali ke tempat asalnya untuk berbiak. Burung migran menggunakan medan magnet bumi, posisi bintang dan matahari, serta bentang alam sebagai penunjuk jalan mereka. Selama perjalanan, burung-burung pengembara tersebut harus dapat melewati beragam rintangan mulai dari cuaca sampai perburuan. Perjalanan yang sangat jauh ini juga dapat mengakibatkan kelelahan hingga kematian bagi sang burung. Indonesia menjadi salah satu negara tropis yang disinggahi oleh burung-burung migran dengan jalur terbang Asia Timur – Australasia atau EAAF (East Asian – Australasian Flyway). Jalur ini memiliki luas area sekitar 85 juta km 2 yang mencakup 22 negara. Dari 500 jenis burung yang melewati jalur terbang tersebut, lebih dari 200 jenis burung migran istirahat dan mencari makan di seluruh habitat di negeri kita tercinta ini. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan telah membuat peraturan perundangan untuk melindungi sebagian burung-burung migran dan mengajak para pihak untuk bersama-sama dalam upaya konservasinya melalui KNKBBH (Kemitraan Nasional Konservasi Burung Bermigrasi dan Habitatnya). Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur diberikan amanah sebagai koordinator pulau Jawa dalam kemitraan tersebut. Beragam kegiatan seperti monitoring burung migran dan kampanye pelestariannya telah dilakukan. Salah satu kegiatan monitoring burung migran dilindungi yang dilakukan adalah monitoring terik asia Glareola maldivarum di lahan pertanian dan perkotaan di Kabupaten Tulungagung dan Kediri. Ribuan hingga puluhan ribu individu terik asia dapat mencari makan dengan baik di lokasi tersebut. Bahkan lebih dari empat ribu individu bertahan selama dua minggu di lahan pertanian Kabupaten Tulungagung. Mereka telah bersahabat dengan para petani. Fenomena tahunan ini diperingati oleh seluruh dunia sebagai “Hari Burung Migran Sedunia” atau WMBD (World Migratori Bird Day). Hari istimewa bagi burung migran ini dilaksanakan setiap minggu kedua pada bulan Mei dan Oktober. Tema tahun ini adalah “Shared Spaces: Creating Bird-Friendly Cities and Communities” atau “Berbagi ruang dengan menciptakan kota dan komunitas yang ramah bagi burung”. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra, Polhut Ahli Pertama pada SKW I Kediri – BBKSDA Jatim
Baca Artikel

Persiapan Uji Coba Pesawat Amfibi Seaplane di Makassar: Langkah Awal Tingkatkan Konektivitas Wisata Sulsel

Makassar, 10 Mei 2025 — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) bersama instansi terkait bersinergi mempersiapkan uji coba operasional pesawat amfibi seaplane sebagai upaya meningkatkan konektivitas transportasi wisata di wilayah kepulauan. Pertemuan persiapan digelar Jumat (9/5) di Aula Mataram, Lantai 1 Kantor KSOP Utama Makassar, Jl. Satando No.55, dengan melibatkan akademisi, pejabat daerah, dan perwakilan instansi maritim serta pariwisata. Kepala Balai TN Taka Bonerate, Bapak William Tengker, S.H., M.Hum, hadir didampingi Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Koordinator Polhut, dan mitra Wildlife Conservation Society (WCS). Agenda utama membahas rencana demo pendaratan, lepas landas, manuver, dan sandar seaplane di perairan Dermaga Pelabuhan Utama Makassar. Dukungan dari Kepala Balai TN Taka Bonerate Kepala Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate, Bapak William Tengker, S.H., M.Hum, yang turut hadir dalam pertemuan, menyambut positif rencana pengoperasian seaplane. "Ini adalah momentum penting untuk mempercepat aksesibilitas ke Taka Bonerate tanpa mengabaikan prinsip konservasi. Kami berharap seaplane tidak hanya menjadi penghubung wisata, tetapi juga mendukung pemantauan ekosistem laut dan edukasi lingkungan," ujarnya. Taka Bonerate: Gerbang Wisata Internasional Dalam sambutan tertulis Gubernur Sulsel yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan, Andi Muhammad Yasir, ditekankan bahwa seaplane akan difokuskan untuk melayani kawasan Taka Bonerate di Kepulauan Selayar. “Atol terbesar ketiga di dunia ini akan menjadi gerbang internasional. Seaplane adalah solusi transportasi yang dinanti untuk mengatasi keterbatasan akses menuju destinasi wisata unggulan ini,” ujarnya. Yasir berharap persiapan ini menghasilkan rencana matang dan terkoordinasi, mengingat proyek ini vital bagi pengembangan pariwisata Sulsel. Paparan KSOP Makassar oleh Kepala Bidang Lalu Lintas Perhubungan Laut, Libertinus, menguraikan integrasi rute seaplane dengan ekosistem transportasi laut seperti Tol Laut. “Konektivitas ini akan mempercepat distribusi logistik sekaligus membuka akses wisata ke daerah terpencil,” jelasnya. Rencana rute mencakup lintasan strategis yang menghubungkan Makassar dengan kabupaten kepulauan seperti Selayar, Bulukumba, dan Sinjai. Dukungan Penuh dari Bupati dan Instansi Kepala KSOP Capt. Sahattua P Simatupang, M.M., M.H., CGCAE, menegaskan uji coba ini adalah langkah awal merealisasikan potensi wisata Sulsel. “Selama ini, kendala aksesibilitas ke Selayar dan Taka Bonerate menghambat pertumbuhan wisata. Seaplane akan menjadi terobosan untuk menjawab tantangan itu,” tegasnya. Pertemuan ini dihadiri empat bupati: Bulukumba, Selayar, Pangkep, dan Sinjai, serta perwakilan Dinas Pariwisata dan Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP). Kolaborasi multisektor ini diharapkan tak hanya memuluskan uji coba, tetapi juga membuka investasi baru di sektor transportasi dan pariwisata. Dengan dukungan akademisi dan lembaga konservasi proyek seaplane diharapkan berjalan berkelanjutan, memadukan kepentingan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Sumber: Agusriadi - Koordinator Polhut Balai TN Taka Bonerate Editor : Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Membumikan Orangutan Tapanuli Di Momen Hardiknas 2025

Sipirok, 9 Mei 2025. Setelah sukses menggelar kegiatan edukasi konservasi kepada pelajar di beberapa sekolah di Kota Pinang, Kabupaten Labuhan Batu Selatan, pada Kamis (17/4) yang lalu, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) V Sipirok pada Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan Bersama dengan lembaga mitra kerjasama Centre for Orangutan Protection (COP) kembali menggelar giat edukasi konservasi ke beberapa sekolah di Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kali ini SMK Negeri 1 Arse dan SD Negeri 100403 Arse Kecamatan Arse, Kabupaten Tapanuli Selatan yang pertama kali dikunjungi, pada Selasa (6/5). Di SMK Negeri 1 Arse kegiatan diikuti oleh 30 orang peserta dan di SDN 100403 Arse diikuti oleh 50 orang peserta dan seluruhnya didampingi oleh guru pendamping. Di kedua sekolah tersebut diberikan pengetahuan dan informasi tentang pengenalan beberapa satwa liar yang dilindungi, diantaranya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Sumatera Utara punya keunikan tersendiri, karena memiliki 2 jenis Orangutan yang hidup dan berkembang biak (endemik) Sumatera Utara, yaitu Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Tapanuli. Keduanya juga merupakan satwa kunci bersama dengan beberapa satwa liar lainnya, seperti Harimau Sumatera dan Gajah. Khusus Orangutan Tapanuli teridentifikasi sebagai spesies baru pada tahun 2017, dan penemuan ini diumumkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada bulan November 2017. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan perbedaan genetik antara Orangutan Tapanuli dengan Orangutan Sumatera dan Orangutan Kalimantan. Kepada peserta juga diuraikan tentang ciri-ciri fisik, perilaku, habitat, populasi serta arti penting keberadaan satwa ini dalam ekosistem kawasan. Saat ini satwa liar yang hidup di kawasan Ekosistem Batang Toru berada pada status sangat terancam punah (Critically Endangered) sehingga perlu upaya perlindungan agar tetap lestari. Salah satu upaya untuk menyelamatkannya adalah melalui kegiatan sosialisasi dan edukasi terutama kepada generasi muda. Kegiatan edukasi dilanjut ke Sekolah MTs Negeri 1 Tapanuli Selatan, Desa Sialagundi, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan dan SD Negeri 100410 Arse, pada Kamis (8/5), dengan materi dan pembahasan yang sama. Edukasi konservasi ini juga merupakan rangkaian dari peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2025, yang mengusung tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua”, yang menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak dalam mewujudkan pendidikan berkualitas bagi seluruh masyarakat. Tema ini mengajak seluruh elemen bangsa untuk bekerja sama dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Semua kegiatan berjalan dengan lancar, pihak sekolah yang dikunjungi menyampaikan terimakasih dan apresiasi kepada Balai Besar KSDA Sumatera Utara serta Centre for Orangutan Protection (COP) atas kegiatan yang positif ini dan berharap ada kegiatan lanjutan secara rutin. Sumber : Tim Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Peringati Hari Bumi Sedunia: Penanaman Pohon dan Rehabilitasi Kawasan SM Asam-Asam

Tanah Laut, 6 Mei 2025 – Memperingati Hari Bumi Sedunia, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan melalui Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari melaksanakan kegiatan penanaman dan rehabilitasi kawasan di Suaka Margasatwa Asam-Asam, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kegiatan ini bertujuan untuk memulihkan kawasan hutan yang mengalami kerusakan dan degradasi, serta sebagai bagian dari upaya peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati. Kurang lebih sebanyak 1.000 bibit pohon ditanam di area yang telah teridentifikasi sebagai lahan kritis. Beberapa jenis bibit pohon yang ditanam antara lain : Belangeran (Shorea balangeran), Pulai (Alstonia scholaris), Gelam (Melaleuca leucadendron), Ketapang (Terminalia catappa), Kasturi (Mangifera casturi) dan beberapa spesies lokal lainnya. Jenis-jenis ini dipilih karena memiliki nilai ekologis tinggi, mendukung restorasi ekosistem dan berpotensi sebagai pakan satwa liar. Kegiatan ini dihadiri beberapa instansi dan mitra BKSDA Kalimantan Selatan, antara lain: Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan (KPH Tanah Laut), TNI/POLRI, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kab. Tanah Laut, Daops. Manggala Agni Kalimantan VI/Tanah Laut, Politeknik Negeri Tanah Laut, Forkopimcam Jorong, Desa penyangga sekitar kawasan SM Asam-Asam dan Mitra Swasta yang ada di sekitar kawasan SM Asam-Asam. Dalam sambutannya, Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Pelaihari, Bapak Agus Erwan yang hadir mewakili kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan menyampaikan bahwa kegiatan penanaman ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan bersama dalam menjaga kawasan konservasi dan memperbaiki fungsi ekologis habitat satwa liar. “Kami ingin memastikan bahwa peringatan Hari Bumi tidak hanya bersifat seremonial, tetapi menjadi langkah nyata dalam upaya pemulihan ekosistem. Rehabilitasi kawasan konservasi seperti SM Asam-Asam merupakan bagian penting dari strategi jangka panjang pelestarian keanekaragaman hayati,” ujar Bapak Agus Erwan. “Kegiatan penanaman ini merupakan momentum penting untuk menegaskan kembali komitmen kita terhadap bumi. Untuk menjaga kelestarian kawasan SM Asam-Asam kami tidak bisa sendiri, kami juga membutuhkan dukungan dari Bapak dan Ibu sekalian. Rehabilitasi ini tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam harapan akan masa depan yang lebih hijau dan sehat,” tutupnya. Selain penanaman pohon, kegiatan juga diisi dengan penyerahan plakat penghargaan kepada Mitra BKSDA Kalimantan Selatan atas dukungannya dalam upaya rehabilitasi kawasan SM Asam-Asam. Rangkaian acara kemudian dilanjutkan dengan sarasehan yang diisi diskusi tentang pentingnya konservasi hutan dan satwa liar. Melalui kegiatan ini, BKSDA Kalimantan Selatan berharap upaya pemulihan ekosistem di Suaka Margasatwa Asam-Asam dapat berjalan optimal dan berkelanjutan, serta melibatkan lebih banyak partisipasi masyarakat di masa mendatang. (Ryn) Sumber: Badrul Arifin, S.Hut - PEH SKW I Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Tingkatkan Pengelolaan Kawasan dan Wisata di Taka Bonerate: Strategi Baru Digodok dalam Rapat Penting

Benteng - Kepulauan Selayar, 9 Mei 2025. Kawasan Taman Nasional (TN) Taka Bonerate siap menghadapi transformasi pengelolaan dan pengembangan wisata! Dalam rapat strategis yang digelar baru-baru ini, seluruh pimpinan wilayah hadir untuk membahas langkah-langkah konkret guna meningkatkan efektivitas pengelolaan kawasan serta mendongkrak kunjungan wisata, khususnya di Resor Tinabo. Rapat ini dihadiri langsung oleh Kepala Balai TN Taka Bonerate beserta jajaran pimpinan, termasuk Ka. Sub Bag TU, Ka. SPTN Wilayah 1 Tarupa, dan Ka. SPTN Wilayah 2 Jinato. Setiap perwakilan resor memaparkan kondisi terkini wilayahnya, mulai dari profil resor, jumlah anggota, potensi kawasan, hingga tantangan yang dihadapi di lapangan (06/05). Salah satu sorotan utama adalah pentingnya kelengkapan data gangguan kawasan. "Data yang akurat dan terupdate sangat krusial untuk menyusun strategi penanganan yang tepat," tegas Kepala Balai William Dodie Taulu Tengker. Selain itu, sektor wisata juga menjadi fokus utama, dengan upaya peningkatan kunjungan wisatawan, terutama di Pos Jaga Resor Tinabo yang memiliki potensi besar. Dengan langkah ini, TN Taka Bonerate berkomitmen untuk memperkuat pengawasan dan perlindungan kawasan sekaligus memaksimalkan potensi ekowisata. Masyarakat dan pelaku wisata dapat menantikan pengalaman berkunjung yang lebih baik, didukung oleh tata kelola kawasan yang lebih profesional dan berkelanjutan. Bagi Anda yang peduli terhadap kelestarian Taka Bonerate atau ingin berkontribusi dalam pengembangan wisata, saatnya terlibat! Dukung upaya pelestarian dengan mematuhi aturan kawasan dan sebarkan pesan wisata yang bertanggung jawab. Kunjungi Resor Tinabo dan nikmati keindahan alam yang memesona sambil mendukung ekonomi lokal! Segera saksikan perubahan positif di Taka Bonerate – bersama kita wujudkan pengelolaan kawasan yang lebih baik dan wisata yang berkembang!
Baca Artikel

Sinergi TN Taka Bonerate & Pemda Selayar: Kolaborasi Wujudkan Pariwisata & Perikanan Berkelanjutan

Benteng, Kepulauan Selayar, 08 Mei 2025 – Beberapa hari lalu, Rumah Jabatan Bupati Kepulauan Selayar menjadi saksinya sebuah meeting of minds yang menjanjikan masa depan lebih baik untuk Taman Nasional Taka Bonerate. Kepala Balai TN Taka Bonerate, Bapak William Dodie Taulu Tengker, S.H., M.Hum., beserta jajarannya bersilaturahim dengan Bupati Selayar, H. Muhammad Natsir Ali, didampingi mitra strategis seperti WCS-IP dan HNSI Selayar. Pertemuan ini bukan sekadar formalitas, melainkan starting point kolaborasi nyata antara konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Dari Sambutan Hangat ke Aksi Nyata Bupati Natsir Ali menyambut hangat kedatangan rombongan, menegaskan komitmennya untuk bersinergi. “Potensi perikanan dan pariwisata di Taka Bonerate adalah hidden gem yang harus dikelola secara bertanggung jawab,” ujarnya. Apalagi, beliau sangat antusias mendukung rencana pembangunan check point di kawasan TN untuk memastikan tata kelola perikanan berkelanjutan. “Ini harus segera direalisasikan,” tegasnya. William Dodie, dalam kesempatan itu, menyampaikan apresiasi atas sambutan Pemda. “Sinergi antara Balai TN dan Pemda Selayar adalah kunci. Dari sektor pariwisata hingga perikanan, kita bisa ciptakan model pengelolaan yang inclusive dan berkelanjutan,” paparnya. Kenapa Kolaborasi Ini Penting? Taka Bonerate bukan cuma tentang keindahan bawah laut atau hamparan atol terbesar ketiga di dunia. Kawasan ini adalah living lab dimana ekosistem, ekonomi, dan masyarakat harus seimbang. Dengan check point perikanan, misalnya, kita bisa: Dengan semangat gotong royong, targetnya jelas: Selayar maju, TN Taka Bonerate terjaga, masyarakat sejahtera. Sumber: Andi Firman Ali Safaat - Humas Balai TN Taka Bonerate Editor : Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Sungai Maro dan Kehidupan Yang Mengalir

Bentang Alam Sungai Maro (Foto : Anugrah Dwi Widyanto A.Md) Merauke, 8 Mei 2025. Di ujung timur Nusantara, tepatnya di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua Selatan, mengalir sebuah sungai yang memiliki peran sangat penting bagi masyarakat setempat dan ekosistem sekitarnya. Sungai Maro atau yang lebih dikenal dengan nama Kali Maro merupakan aliran air besar yang membentang dari perbatasan timur laut dengan Papua Nugini hingga bermuara langsung ke Laut Arafura. Sungai ini bukan hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga sebagai sumber kehidupan, sejarah, dan identitas budaya yang melekat kuat bagi masyarakat. Sungai Maro memiliki panjang aliran yang luas dan lingkungan yang masih relatif alami, menjadikannya salah satu ekosistem air tawar yang kaya dan vital di Papua Selatan. Selain menyediakan habitat alami bagi ribuan makhluk hidup, Sungai Maro juga berperan sebagai penyangga utama ekosistem yang mendukung kelangsungan berbagai spesies. Di antara kekayaan hayati ini, siluk irian (Scleropages jardini) ikan endemik Papua yang memiliki nilai ekologis dan menjadi salah satu spesies yang paling mencolok. Siluk Irian Teridentifikasi di Wilayah Sungai Maro (Foto : Muhammad Yunus, S.AP) Bagi masyarakat adat dan penduduk setempat, Sungai Maro lebih dari sekadar bentang alam, ia adalah sumber kehidupan yang tak terpisahkan dari keseharian. Aktivitas tradisional seperti menjala, memancing, dan menangkap ikan telah menjadi bagian dari budaya yang terus hidup. Aktifitas Masyarakat sekitar Sungai Maro (Foto : Anugrah Dwi Widyanto A.Md) Hubungan yang erat dengan Sungai Maro memperkuat identitas budaya masyarakat setempat dimana setiap generasi belajar untuk menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam yang ada dengan penuh rasa hormat, menjadikan sungai ini sebagai simbol kehidupan dan keberlanjutan budaya yang terus tumbuh dalam harmoni dengan alam. Bagi mereka, Sungai Maro adalah bagian dari kehidupan yang harus dilestarikan, bukan hanya untuk keberlanjutan ekonomi, tetapi juga untuk menjaga kelangsungan kearifan yang telah ada sejak lama. Keunikan geografis Sungai Maro juga membuatnya memiliki peran penting dalam konservasi alam. Sungai ini berfungsi sebagai batas alam antara Taman Nasional Wasur dan kawasan pemukiman penduduk. Sebagai penghubung antara habitat alami dan kawasan konservasi, Sungai Maro berperan penting dalam menjaga integritas taman nasional dari intrusi dan perambahan. Akses yang sulit menyusuri aliran Sungai Maro secara tidak langsung membantu menjaga ekosistem tetap lestari dan mengurangi aktivitas yang berlebihan. Landscape Sungai Maro dari Foto Udara (Foto : Anugrah Dwi Widyanto A.Md) Meski terlihat utuh, Sungai Maro kini menghadapi beragam ancaman yang dapat merusak keseimbangan ekosistemnya, mulai dari pencemaran air yang berasal dari limbah rumah tangga, dan perubahan tata guna lahan, serta potensi pembangunan infrastruktur yang tidak berwawasan lingkungan dimana menjadi tantangan bagi kelestarian sungai dan kehidupan masyarakat disekitarnya. Melihat betapa pentingnya peran Sungai Maro bagi kehidupan, budaya, dan kelestarian alam di wilayah Merauke, sudah sepatutnya kita semua bersama-sama menjaga dan merawatnya. Ekosistem Sungai Maro bukan hanya warisan alam yang tak ternilai, tetapi juga fondasi kehidupan bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Mari kita tingkatkan kepedulian, mulai dari hal kecil seperti tidak membuang sampah ke sungai, mendukung kebijakan pelestarian, hingga menghormati kearifan lokal yang telah menjaga keseimbangan alam sejak lama. Bersama, kita bisa menjadi penjaga alam yang bertanggung jawab demi masa depan yang berkelanjutan dan harmonis. Sungai Maro bukan ko punya, melainkan titipan bersama yang wajib kitong jaga. Sumber : Anugrah Dwi Widyanto A.Md. - Balai Taman Nasional Wasur
Baca Artikel

Kampung Merak, Titik Temu Konservasi dan Budaya

Ponorogo, 7 Mei 2025. Di pagi hari yang berkabut tipis, bayang-bayang pegunungan tampak seperti lukisan kabur di cakrawala. Di sebuah sudut lereng yang sepi, seekor Merak Hijau (Pavo muticus) perlahan mengembangkan sayapnya, simbol kehidupan yang masih bertahan, sekaligus gambaran keanggunan yang sejak ratusan tahun lalu telah menjadi denyut nadi Reog Ponorogo. Hari itu Rabu (7/5), bukan hanya soal kunjungan, tetapi sebuah gerak awal yang menyatukan kembali dua pusaka warisan, alam dan budaya. Di Kampung Merak, Desa Gentan - Ponorogo, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun dan Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, bersama PT. Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Madiun, melanjutkan program yang telah lama digaungkan, “Membudayakan Konservasi dan Mengkonservasi Budaya”. Sebuah program yang lahir dari keprihatinan atas satu fakta menyedihkan, populasi Merak Hijau kian menipis, sementara kebutuhan akan bulu ekornya untuk pembuatan Dadak Merak, ikon utama Reog Ponorogo, tetap tinggi. Sebuah penelitian tahun 2018 mengungkapkan bahwa untuk membuat satu barongan, dibutuhkan 900–1.200 helai bulu Merak Hijau, ini berarti setara dengan 6–10 ekor merak jantan dewasa. Sementara itu, satu kelompok pembuat barongan bisa menghasilkan hingga 20 unit per tahun. Maka, jika budaya Reog ingin terus hidup tanpa mengorbankan satwa, dibutuhkan minimal 20 penangkaran aktif yang memiliki setidaknya 10 ekor Merak Hijau jantan. Kampung Merak hadir menjawab tantangan Bersama Kelompok Tani Hutan (KTH) Gentan Hijau Berseri, masyarakat tak lagi sekedar menjadi penonton perubahan, melainkan aktor utama dalam konservasi yang berakar dari budaya mereka sendiri. Tahun lalu, mereka menerima dukungan berupa kandang breeding, inkubator, kandang anakan, serta sistem pemantauan CCTV. Kini, Pertamina Patra Niaga menyatakan komitmen lanjutan untuk memperkuat sistem penangkaran dengan pendampingan selama 3 hingga 5 tahun ke depan. Bukan sekedar angka dan struktur fisik, yang dibangun di Kampung Merak adalah kesadaran kolektif. Bahwa budaya bukan alasan untuk mengeksploitasi alam, tetapi jembatan untuk merawatnya. Bahwa Reog tak perlu menggugurkan bulu kehidupan demi pertunjukan, karena pelestarian dapat berjalan seiring pelestarian. Program ini juga membawa semangat baru sejak UNESCO mengakui Reog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Sebuah pengakuan internasional yang memantik kembali nyala tanggung jawab bersama, antara pemerintah, masyarakat, akademisi, sektor swasta, dan media. Mereka semua kini memikul satu visi, menjaga bumi tempat Merak Hijau menari, menjaga warisan di mana budaya tumbuh dari tanah, suara, dan kearifan lokal. “Reog tidak akan hidup tanpa merak, dan merak tidak akan lestari tanpa kita peduli,” ungkap Nur Patria Kurniawan Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur secara terpisah. Kalimat sederhana itu mencerminkan puncak filosofi konservasi modern, yang tidak hanya bersandar pada ilmu, tetapi juga pada nurani (open heart). Ketika Merak Hijau menari di atas tanah yang sama dengan tempat Reog lahir, kita tak sedang menyaksikan dua dunia yang bertemu. Kita sedang menghidupkan kembali satu dunia yang utuh, tempat keseimbangan hubungan manusia, alam, dan budaya, menyatu dalam harmoni yang tak boleh retak. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Lahirnya Penjaga Kecil untuk Pengembara Angkasa

Surabaya, 7 Mei 2025. Di sebuah gang sempit yang padat di Rungkut, Surabaya, kejadian tak biasa menarik perhatian anak-anak setempat. Seekor Elang Alap Jambul (Lophospiza trivirgata) tergeletak lemas setelah menabrak dinding rumah warga. Burung pemangsa itu, yang seharusnya terbang bebas di atas kanopi hutan, namun justru jatuh di jantung kota. Yang terjadi selanjutnya bukanlah adegan kepanikan, melainkan aksi kepedulian. Sekelompok anak-anak kecil, dengan rasa ingin tahu bercampur empati, mengangkat burung tersebut dan meletakkannya dengan hati-hati ke dalam kandang seadanya. Mereka tak mengambilnya untuk dipelihara, melainkan melaporkan kepada orang tua mereka. Dari sanalah informasi mengalir ke BPBD Kota Surabaya, dan diteruskan ke Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Tim Penyelamatan Satwa Liar (Matawali) Resort Konservasi Wilayah 07, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya. Langkah kecil dari anak-anak itu menjadi titik awal penyelamatan satu individu satwa liar yang masuk daftar perlindungan. Tim Matawali BBKSDA Jatim datang dengan kandang besi, mengevakuasi sang elang, dan membawanya ke kandang transit Wildlife Rescue Unit (WRU) untuk observasi dan pemulihan. Namun di balik evakuasi itu, ada cerita yang lebih besar, sebuah kesadaran konservasi yang tumbuh dari kalangan termuda. “Mereka tidak hanya penasaran, tapi juga peduli. Itu bukan hal yang bisa dianggap remeh. Ini benih konservasi yang tumbuh dari lapisan masyarakat paling dasar,” ujar Hartono, Polhut Terampil selaku anggota Tim Matawali, haru menyaksikan bagaimana anak-anak mengantar kepergian elang yang mereka selamatkan. Elang alap jambul, raptor anggun yang biasanya bersemayam di puncak tajuk pohon, kini menjalani proses pemulihan untuk bisa kembali ke habitat alaminya. Tapi momen di gang kecil itu menunjukkan bahwa masa depan konservasi tidak hanya terletak pada kebijakan atau regulasi, melainkan di tangan kecil yang berani bertindak benar. BBKSDA Jatim mengapresiasi tindakan cepat dan penuh empati dari warga, terutama anak-anak yang menjadi contoh nyata bahwa cinta alam dapat tumbuh dari mana saja, bahkan dari lorong sempit di tengah kota.(dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Semangat Hari Pendidikan Nasional Dari Tepi Hutan

Sidoarjo, 2 Mei 2025. Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai momen refleksi untuk memajukan pendidikan yang inklusif dan bermutu. Tahun 2025, dengan tema nasional “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” menjadi panggilan yang kuat, tidak hanya bagi lembaga pendidikan formal. Namu juga bagi institusi yang mengemban amanah pelestarian alam, seperti Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Di tengah tekanan terhadap ekosistem dan keanekaragaman hayati, pendidikan menjadi instrumen strategis dalam menyelamatkan masa depan alam. Di sinilah BBKSDA Jatim mengambil peran, menjadikan konservasi sebagai wahana pendidikan yang hidup dan menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Konservasi sebagai Wahana Belajar Konservasi bukan sekadar menjaga hutan dari kerusakan, tetapi juga menghidupkan pengetahuan lokal, membangun kesadaran ekologis, dan menanamkan nilai tanggung jawab lintas generasi. Melalui berbagai program penyadartahuan, BBKSDA Jatim membuka jendela pembelajaran bagi masyarakat sekitar kawasan konservasi, siswa sekolah, mahasiswa, hingga wisatawan. Di Taman Wisata Alam (TWA) seperti Kawah Ijen, Tretes, dan Gunung Baung, edukasi konservasi dilakukan melalui kegiatan interpretasi lingkungan. Di kawasan Suaka Margasatwa dan Cagar Alam, pelajar kerap diajak mengenal keanekaragaman hayati, mamalia besar hingga flora tersembunyi, yang menjadi kekayaan tak ternilai. Edukasi yang Merangkul Semua Secara tidak langsung, program Penyelamatan Satwa Liar Illegal Melalui Kolaborasi Multi Pihak (MATAWALI) ini menjadi sarana pendidikan konservasi bagi sebagian besar institusi atau lembaga pemerintahan ataupun swasta. Benar saja, sejak dimulai pada bulan Oktober 2023 sampai dengan Desember 2024, MATAWALI telah berhasil mengajak 20 instansi untuk bersama-sama melindungi satwa liar. Jumlah instansi yang terlibat tersebut lebih banyak dari tahun 2023 (15 instansi). Dalam kurun waktu satu tahun tersebut, BBKSDA Jatim telah menerima penyerahan satwa liar sebanyak 176 penyerahan dengan total satwa liar sebanyak 5.256 individu. Ini artinya bahwa pendidikan konservasi untuk merangkul semua telah berjalan dengan baik. Pendidikan konservasi sejak dini. Melalui sinergi dengan dunia pendidikan, BBKSDA Jatim menghadirkan program “Rimbawan Mengajar”. Petugas, turun langsung ke sekolah-sekolah di sekitar kawasan, membawakan materi tentang pentingnya hutan, satwa liar, dan keterhubungan ekosistem. Di sisi lain, para pelajar juga diajak berkunjung langsung ke lapangan, menyusuri hutan, mengenal jejak satwa, atau mengamati burung endemik. Kegiatan yang dibungkus dengan permainan dan materi yang interaktif menjadikan pendidikan konservasi sejak dini ini sebagai salah satu program yang terus dilaksanakan. Pendidikan seperti ini melampaui ruang kelas, ia menyentuh hati dan membentuk pola pikir. Melalui pendidikan, BBKSDA Jatim tidak hanya menanamkan ilmu, tetapi juga membangun generasi penjaga alam. Generasi muda dikenalkan pada peran penting pengendali ekosistem hutan, polisi hutan, penyuluh kehutanan hingga sains warga. Dukungan terhadap kegiatan Pramuka Saka Wanabakti, magang mahasiswa kehutanan, hingga pelatihan masyarakat konservasi menjadi bagian dari semangat “Partisipasi Semesta”. Semua unsur, pemerintah, masyarakat, pendidik, dan generasi muda, disatukan dalam gerakan menjaga semesta. Pendidikan Konservasi Berbasis Lokal dan Inklusif Hari Pendidikan Nasional bukan hanya perayaan seremonial, tetapi momentum untuk memastikan bahwa setiap individu, di desa hutan, di sekolah kota, hingga di batas kawasan, memiliki akses pada ilmu yang menyelamatkan kehidupan. Kepala BBKSDA Jatim, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa pendidikan konservasi adalah investasi jangka panjang. “Kami percaya, konservasi hanya akan berhasil bila pengetahuannya mengakar di masyarakat. Karenanya, kami terus membuka ruang belajar bersama, dari tapak hingga kampus,” ujar Beliau. Di Indonesia pada umumnya dan di Jawa Timur pada khususnya, hutan adalah guru. Satwa liar adalah pengajar diam yang menanti untuk dikenali. Dan BBKSDA Jatim adalah jembatan yang menghubungkan keduanya dengan manusia. Di sinilah pendidikan menemukan maknanya yang paling dalam, mencerdaskan kehidupan, dan melestarikan semesta. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji dan Akhmad David Kurniawan Putra – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Misteri Jejak Macan Tutul Jawa Di Jantung Hutan Dataran Tinggi Yang

Situbondo, 2 Mei 2025. Jejak samar di tanah lembab itu membawa harapan. Di balik dedaunan yang rimbun, kamera pengintai terus merekam, mencari sosok bayangan terakhir Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas). Namun, lebih dari sekedar pencarian predator puncak Pulau Jawa, ekspedisi ini justru mengungkap kisah lain. Sebuah kisah tentang perburuan liar, perambahan hutan, dan perjuangan mempertahankan ekosistem yang kian terdesak. Tim dari Yayasan Sintas Indonesia bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur memasang 164 kamera pengintai di 80 titik strategis di Blok Dataran Tinggi Yang dalam wadah kolaboratif Javan-Wide Leopard Survey (JWLS). Dengan dukungan PT. Djarum selaku donor dan organisasi dan masyarakat lokal selaku pelaku utama tingkat tapak kegiatan tersebut dilaksanakan pada Desember 2024 hingga Februari 2025. Misi ini bertujuan mengumpulkan data populasi macan tutul dan preferensi mangsanya. Namun, saat menyusuri jalur-jalur satwa yang nyaris tak terlihat, mereka menemukan sesuatu yang lebih mencengangkan: jerat pemburu bertebaran di titik-titik rawan, tanda-tanda pembalakan liar makin marak, dan ekosistem hutan berada di ambang krisis. Menyusuri Jejak Sang Hantu Rimba, Menaklukkan Medan Macan Tutul Jawa adalah satu-satunya kucing besar yang tersisa di Pulau Jawa setelah Harimau Jawa dinyatakan punah beberapa dekade lalu. Sebagai predator puncak, perannya sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Namun, data perjalanan, menunjukkan betapa sulitnya menemukan mereka. Beberapa tanda kehadiran ditemukan, jejak kaki samar di tanah basah, cakaran di batang pohon, dan feses yang tertinggal di jalur jelajahnya. “Tanda-tanda ini mengindikasikan bahwa macan tutul masih ada di hutan ini, tetapi populasinya mungkin jauh lebih kecil dari yang kita harapkan,” ujar Ummi Farikhah, Koordinator Java-Wide Leopard Survey (JWLS) Region Timur. Bagi para peneliti dan ranger yang terlibat, setiap langkah adalah tantangan. Hujan deras yang hampir tak henti mengguyur, menghambat setiap jejak-jejak langkah. Sungai yang meluap mempersulit akses, dan medan berbukit terjal menguji daya tahan fisik mereka. “Kami harus membawa peralatan berat, memasang kamera di titik-titik strategis, sambil tetap waspada terhadap ancaman di sekitar,” tambah Ummi Farikhah. Bagi ranger seperti Gilang Refo Gumelar dan Alfikri Farhan Novanto dari BBKSDA Jatim, ancaman nyata bukan hanya cuaca ekstrem, tapi juga aktivitas ilegal manusia. “Kami menemukan jerat di beberapa lokasi strategis. Ini mengkhawatirkan karena bukan hanya Macan Tutul yang terancam, tetapi juga Rusa, Lutung, bahkan Merak Hijau,” kata Samhaji, salah satu ranger dalam ekspedisi ini. Salah satu tantangan terbesar dalam pelacakan ini adalah luasnya bentang alam yang masih liar dan medan yang sulit. Hujan deras memperburuk situasi, membuat akses ke titik-titik kamera menjadi lebih sulit. Selain itu, aktivitas manusia semakin mendesak batas wilayah Macan Tutul, membuatnya semakin sulit untuk bertahan. Meski dihadapkan pada kondisi berat, tim tetap berkomitmen. Kamera yang telah dipasang merekam selama 90 hari sebelum dievaluasi pada Akhir Mei 2025. Mengintip Kehidupan Liar Di luar ancaman yang membayangi, tim survey juga menemukan kehidupan liar yang masih bertahan di dalam hutan. Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) beberapa kali teramati sedang bergelantungan di dahan, sementara Merak Hijau (Pavo muticus) terlihat sesekali melintas dengan gema suaranya di antara pepohonan. Di lantai hutan, tanda keberadaan Trenggiling Jawa (Manis javanica) terungkap melalui bekas galian pakan. Kucing Kuwuk (Prionailurus bengalensis), salah satu kerabat kecil Macan Tutul, juga teridentifikasi melalui feses yang ditemukan tim. “Ini membuktikan bahwa meski perambahan meningkat, predator kecil masih bertahan di sini,” ujar Ummi Farikhah. Dari atas kanopi, Elang Ular Bido (Spilornis cheela) kerap mengawasi pergerakan di bawahnya, sementara suara khas Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) menjadi pertanda bahwa hutan ini masih menyimpan ekosistem yang kaya. Namun, tak semua temuan membawa kabar baik. Bangkai burung dan mamalia kecil yang ditemukan di beberapa titik mengindikasikan masih adanya perburuan liar. Berpacu dengan Waktu Dengan ancaman yang semakin nyata, tim survey berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan ekosistem Dataran Tinggi Yang. Data yang terkumpul nantinya bukan hanya untuk memperkirakan populasi macan tutul dan memahami bagaimana perubahan lanskap mempengaruhi keberlangsungan hidupnya, tetapi juga menjadi dasar kebijakan konservasi yang lebih efektif. Kepala BBKSDA Jatim, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa survei ini merupakan langkah penting dalam upaya konservasi Macan Tutul Jawa yang populasinya kian terdesak. “Upaya perlindungan macan tutul jawa tidak hanya sekedar memantau populasinya, tetapi juga memastikan habitatnya tetap terjaga dan bebas dari ancaman. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem ini,” ujarnya. Namun, apakah itu cukup? Tekanan terhadap habitat Macan Tutul terus meningkat. Jika langkah konservasi yang lebih tegas tidak segera diambil, hutan di Dataran Tinggi Yang mungkin hanya akan menyimpan cerita tentang predator megah yang pernah menguasai puncak rantai makanan, tetapi akhirnya menghilang. Ketika malam kembali turun dan hutan kembali sunyi, harapan masih menyala bahwa macan tutul jawa akan terus bertahan, jika manusia memberinya kesempatan. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kolaborasi Untuk Alam : Upaya Menjaga Laut Togean Bersama ASEAN ENMAPS dan TN Kepulauan Togean

Ampana, 30 April 2025. Balai Taman Nasional Kepulauan Togean bersama ASEAN ENMAPS melaksanakan kunjungan ke 3 (tiga) Desa di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean pada tanggal 27 April s/d 29 April 2025 yaitu Desa Tiga Pulau (Milok) Kecamatan Walea Kepulauan, Desa Kabalutan Kecamatan Togean dan Desa Pulau Enam Kecamatan Talatako. Pertemuan tersebut dilaksanakan bersama perwakilan Direktur Konservasi Kawasan, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Tojo Una-Una dan Dinas Pariwisata Kabupaten Tojo Una-Una. ASEAN ENMAPS merupakan proyek pengelolaan jaringan kawasan konservasi laut yang efektif dalam ekosistem laut besar di kawasan ASEAN. Proyek ini melibatkan 3 (tiga) negara yaitu Thailand, Filipina, dan Indonesia, dengan 10 taman nasional. Di Indonesia proyek ini dilakukan di 2 (dua) taman nasional, yaitu Taman Nasional Kepulauan Togean di Provinsi Sulawesi Tengah dan Taman Nasional Wakatobi di Provinsi Sulawesi Tenggara. Tujuan proyek ini yaitu membangun kapasitas lokal untuk mempromosikan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, konservasi keanekaragaman hayati laut dan pembangunan yang inklusif serta bertanggung jawab. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu melakukan pemetaan tentang keberadaan ikan dengan invertebrata (non ikan), ancaman yang dirasakan, potensi ikan dan jenis-jenis komuditas lainnya, mata pencaharian masyarakat, keterlibatan para pihak dalam pencarian solusi serta masalah , keterlibatan perempuan dalam mata pencaharian dan pertemuan, peningkatan pengetahuan dan keterampilan, prioritas kegiatan serta mekanisme komunikasi, pertanyaan dan keluhan. Hasil diskusi pemetaan dengan masyarakat yaitu masyarakat pernah menjumpai ikan dengan invertebrata (non ikan) seperti jenis penyu, kima, dugong serta kerang merah (triton) di wilayah sekitar Desa Tiga Pulau (Milok), Desa Kabalutan dan Desa Pulau Enam. Ancaman yang dirasakan oleh masyarakat yaitu banyaknya lokasi pengeboman dan memancing ikan dengan menggunakan bius ikan (sianida) yang mengakibatkan terumbu karang hancur yang berdampak pada jumlah populasi ikan. Jika populasi ikan menurun maka pendapatan para nelayan juga akan turun dan akan berdampak terhadap ekonomi masyarakat sekitar Desa Tiga Pulau. Mata pencaharian mayoritas masyarakat kepulauan yang ada di kawasan Taman Nasional Kepulauan Togean adalah nelayan. Sumber daya laut yang menjadi fokus masyarakat yaitu ikan lolosi, ikan sunu (ikan batu merah) dan suntung (cumi-cumi). Keterlibatan perempuan dalam mencari mata pencaharian sebagian besar yaitu pada pengelolaan ikan seperti pengelolaan ikan menjadi abon atau pengelolaan ikan untuk menjadi nasi kuning. Dari permasalahan masyarakat Desa Tiga Pulau (Milok) mengusulkan agar pemerintah dan Taman Nasional Kepulauan Togean untuk melaksanakan patroli untuk memberhentikan penggunaan bius ikan (sianida). Selain itu mereka juga berharap adanya penyadartahuan masyarakat tentang perlindungan laut, keterkaitan antara laut-iklim-keanekaragaman hayati-mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, serta pelatihan pengelolaan sampah serta kesetaraan atau keadilan gender, disabilitas, keberagaman yang ada. Kemudian pada 30 April 2025, dilaksanakan Workshop ENMAPS di Hotel Lawaka, Ampana yg dihadiri oleh perwakilan PEMDA dan instansi terkait. Materi workshop meliputi pengenalan proyek, konservasi keanekaragaman hayati, serta strategi pengelolaan berbasis ekosistem laut, untuk selanjutnya menjadi bahan dalam audiensi ke Gubernur Provinsi Sulawesi Tengah di Palu pada tanggal 1 Mei 2025. Sumber: Amalia Diaztari, S.Hut (Penyuluh Kehutanan) dan Vandra Melvi (PEH) - Balai Taman Nasional Kepulauan Togean

Menampilkan 545–560 dari 2.305 publikasi