Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Tingkatkan Sinergitas Perlindungan Kawasan Konservasi, BBKSDA SumutJalin Silaturahmi Dengan KODIM 0212 TS

Padangsidimpuan, 28 Mei 2025. Kementerian Kehutanan telah menandatangani MoU bersama Tentara Nasional Indonesia pada Rabu, 12 Februari 2025. Melalui nota kesepahaman ini akan memperkuat kolaborasi dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, perlindungan hutan dan penegakan hukum kehutanan. Sebagai tindak lanjut nota kesepahaman ini, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III melaksanakan kunjungan ke Markas Kodim 0212 TS di Padangsidimpuan, Kamis 22 Mei 2025. Pada kunjungan ini, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan (Susilo Ari Wibowo, S. Hut., M.Sc) memaparkan situasi dan kondisi kawasan konservasi di wilayah kerja, keterbatasan SDM dan kendala-kendala yang dihadapi di tingkat tapak. Melalui kunjungan ini, Kepala Bidang KSDA Wilayah III mengharapkan terjalinnya sinergitas dan komunikasi dengan KODIM 212 TS sehingga upaya perlindungan, pengamanan kawasan konservasi dan ekosistemnya serta penanganan konflik satwa yang sering terjadi dapat ditanggulangi. Letkol Arm Delli Yudha Nurcahyo, SE.,MM selaku Dandim 0212 TS menyambut baik kunjungan ini dan siap mendukung serta berkolaborasi dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Dandim 0212 TS juga menyampaikan perlunya dilakukan kolaborasi dalam rangka memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat apabila terjadi interaksi negatif dengan satwa liar sehingga kerugian materil, apalagi sampai jatuh korban dapat dihindari. Menanggapi kesiapan Dandim 0212 TS tersebut, Kepala Bidang dan Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang Siti Wahyuna, SP menyampaikan apresiasi dan berkomitmen untuk terus menjalin komunikasi dengan DANDIM 0212 TS untuk membahas hal-hal teknis di lapangan kedepannya. Sumber : Irwan Hanafi, S.Hut., MM. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Rimbawan Mengajar Beraksi di Depan 600 Siswa MAN I Kediri

Kediri, 22 Mei 2025. Dengan slogan “Sehari Mengajar, Selamanya Cinta Lingkungan”, Rimbawan Mengajar memberikan pengetahuan tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati (kehati) dan habitatnya kepada 600 siswa dan siswi MAN I Kediri. Kegiatan ini sekaligus untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh pada tanggal 20 Mei dan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional atau International Day for Biodiversity, pada tanggal 22 Mei 2025. Rimbawan Mengajar dilaksanakan selama dua hari, yaitu tanggal 21-22 Mei 2025. Pada hari pertama, tim Rimbawan Mengajar SKW I Kediri memberikan pendidikan lingkungan kepada 300 siswa kelas X, sedangkan hari kedua pembelajaran dilakukan untuk 300 siswa kelas XI. Pembukaan acara dilaksanakan oleh perwaikilan Kepala Sekolah MAN I Kediri dengan didampingi oleh beberapa guru. Materi yang disampaikan dalam pendidikan lingkungan untuk siswa ini disesuaikan dengan tema dari Hari Kehati tersebut, yaitu “Harmony with nature and sustainable development” atau “Harmoni dengan alam dan pembangunan berkelanjutan”. Tema tersebut menunjukkan bahwa kedua aspek tersebut, alam dan pembangunan, harus sejalan dan saling mendukung. Pengenalan tentang profil Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur dan tupoksinya disampaikan sebelum materi utama pembelajaran. Profil tersebut disampaikan langsung oleh Kepala SKW I Kediri, Dr. Ruky Umaya, S.Hut., M.Si. Tujuan dari pengenalan tersebut adalah untuk mengenalkan kembali tentang BBKSDA Jatim yang masih dianggap satu rumpun dengan Perhutani, Dinas Kehutanan, maupun Dinas Lingkungan Hidup oleh sebagian masyarakat. Materi-materi inti yang disampaikan adalah tentang hutan, ekosistem hutan, dan keanekaragaman hayati. Setiap pemberian materi selalu diberikan tentang fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan manusia. Siswa-siswi diberikan simulasi agar lebih mendalami materi yang diberikan. Contoh simulasi yang diberikan adalah simulasi tentang manfaat yang diberikan oleh hutan jika kondisinya masih bagus dan kerugian yang didapatkan bagi pembangunan dan kehidupan sekitarnya jika hutan tersebut rusak, seperti terjadinya bencana banjir. Sebelum sesi diskusi dan tanya jawab, para siswa diajak untuk menonton film animasi tentang rusaknya hutan akibat perburuan burung yang berjudul “Sabda Alam”. Siswa diminta memberikan pendapat dan kesan dan pesan tentang film tersebut setelah selesai ditonton. Siswa kelan X dan XII dapat menjelaskan dengan baik dan memberikan pernyataan agar satwa liar tidak diburu dan ditangkap, tetapi dibiarkan dan dijaga keberadaannya di habitat alaminya. Sesi diskusi dan tanya jawab sangat menyenangkan. Para siswa memberikan tanggapan dan pertanyaan yang baik, diantaranya adalah bagaimana peran pemerintah dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan habitatnya. Para siswa yang aktif dalam memberikan tanggapan, memberikan pertanyaan, dan menjawab pertanyaan diberikan hadiah berupa souvenir menarik dari BBKSDA Jawa Timur. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra Polhut Ahli Pertama SKW I Kediri - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Alat Termanfaatkan Dengan Baik, Kawasan Konservasi Pun Terjaga

Sidikalang, 28 Mei 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe dan Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi terhadap pemberian bantuan usaha ekonomi produktif pada 3 desa yang telah diberi bantuan pada tahun 2024 lalu, pada tanggal 22 s.d. 23 Mei 2025. Kegiatan ini dilaksanakan pada kelompok tani yang berada di desa sekitar kawasan konservasi Taman Wisata Alam (TWA) Sicike-cike, TWA Deleng Lancuk dan SM. Siranggas. Kegiatan monitoring ini dilakukan guna melihat perkembangan bantuan yang diberikan kepada kelompok tani, kendala dan permasalahan yang mungkin terjadi hingga efektifitas bantuan dalam meningkatkan pendapatan anggota kelompok khususnya dan masyarakat desa pada umumnya. Kelompok Tani Lomba Maju, Desa Prongil yang berbatasan dengan TWA Danau Sicike-cike sebelumnya mendapatkan alat handtraktor dan mesin babat dan hingga saat ini masih digunakan oleh kelompok. Alat handtraktor yang digunakan untuk mengolah lahan pertanian di sawah sangat membantu kegiatan kelompok tani sampai masa tanam padi sawah pada bulan Februari yang lalu. Kemudian handtraktor darat saat ini juga sedang digunakan oleh masyarakat desa. Adanya alat handtraktor ini bermanfaat dan mengefisiensikan waktu serta biaya dalam mengolah lahan persawahan sehingga diharapkan dapat berkesinambungan dengan memelihara alat tersebut. Adapun perawatan dilakukan dengan menggunakan uang kas kelompok yang sebelumnya dikumpulkan dari hasil penggunaan alat tersebut. Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang sedang mencoba menggunakan handtraktor Kelompok Tani Rebbak Nduma, Desa Majanggut II yang berbatasan dengan SM Siranggas mendapatkan bantuan berupa 2 unit alat handtraktor dan mesin semprot portable. Hingga saat ini alat tersebut masih digunakan dan juga dalam kondisi yang baik serta terawat. Ketika dijumpai, Ketua Kelompok Tani mengatakan alat handtraktor digunakan dalam mengelola lahan yang rencananya akan ditanami cabai. Selanjutnya Kelompok Tani Hutan Lestari Desa Kuta Gugung yang berbatasan dengan TWA Deleng Lancuk mendapatkan bantuan alat handtraktor dan mesin babat. Alat tersebut telah dimanfaatkan oleh anggota kelompok dan juga diluar anggota kelompok. Saat ditemui, Ketua Kelompok Tani Hutan Lestari menyampaikan Laporan perkembangan pengelolaan kas dari hasil penggunaan alat handtraktor dan mesin babat kepada pihak BBKSDA Sumatera Utara sebagai informasi sekaligus bentuk pertanggungjawaban atas alat yang telah diberikan. Adanya bantuan yang telah diberikan Balai Besar KSDA Sumatera Utara menurut testimoni dari seluruh pengurus dan anggota kelompok tani hutan sangat dirasakan manfaatnya dan memberikan nilai ekonomi bagi kelompok tani khususnya dan masyarakat desa pada umumnya. Hingga saat ini belum ada kendala dalam pemanfaatan bantuan tersebut. Harapan bersama dengan adanya bantuan ini dapat menjadi pengingat bagi kelompok khususnya untuk menjaga kawasan konservasi yang ada di sekitar desanya yaitu kawasan SM Siranggas, TWA Danau Sicike-cike dan TWA Deleng Lancuk. Sumber : Hafsah Purwasih - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tak terbatas Dimensi Ruang, Gemakan pentingnya konservasi satwa liar

Madiun, 26 Mei 2025. Upaya pelibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian satwa liar dan habitatnya kembali digaungkan. Minggu pagi, (25/5), sebanyak 13 desa di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Madiun, berkumpul di The Sun Hotel, Madiun. Mereka hadir dalam kegiatan Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan di Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang difasilitasi oleh Anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Timur, Drs. Pudji Wahju Widodo melalui Ormas Budhi Luhur, Madiun. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dalam hal ini diwakili Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun bersama mitra konservasi Jaga Satwa Indonesia (JSI), menjadi narasumber dalam kegiatan ini. Mereka menyampaikan tiga hal penting yaitu tugas dan fungsi BBKSDA Jatim, regulasi terkait konservasi sumber daya alam, serta tata cara penanganan interaksi negatif dan evakuasi satwa liar. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam membumikan kembali semangat konservasi hingga ke akar rumput. Tokoh-tokoh masyarakat yang hadir berasal dari wilayah penyangga kawasan hutan di lereng Gunung Wilis, wilayah yang kerap menjadi medan interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. "Kita ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton dalam upaya konservasi, tetapi aktor utama yang memahami hak dan kewajiban dalam melindungi alam," ujar Agustinus Krisdijanto Kepala Bidang KSDA Wilayah I Madiun dalam paparannya. Dengan pendekatan dialogis dan partisipatif, kegiatan ini diharapkan memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra non-pemerintah dalam menjaga keanekaragaman hayati Jawa Timur yang kian terdesak oleh aktifitas manusia. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

SEMISEL, Edukasi Satwa Ala TWSL Probolinggo

Probolinggo, 26 Mei 2028. Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama lembaga konservasi Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL) melakukan edukasi pengelolaan keanekaragaman hayati kepada mitra lingkungan dan pecinta satwa di Kota Probolinggo. 26 Mei 2025. Edukasi ini dikemas dalam bentuk talkshow “kegiatan semisel” (seminggu di TWSL) 2025, agar lebih ramah, gampang dipahami, serta diterima oleh mitra lingkungan dan pecinta satwa. Pada edukasi ini mitra lingkungan dan pecinta satwa diajak untuk sama - sama berperan aktif bila mengetahui adanya perburuan dan perdagangan satwa liar illegal. Tidak jarang otak dari perburuan dan perdagangan illegal merupakan warga dari perkotaan karena mereka memiliki akses pasar dan punya sumberdaya, masyarakat sekitar hutan hanya sebagai eksekutor saja. Peserta edukasi diajak untuk bersama - sama peduli dengan melakukan pendekatan persuasif bila mengetahu ada orang terdekatnya yang menjadi pelaku utama perburuan dan perdagangan. Mitra lingkungan dan pecinta satwa yang ingin memelihara satwa diperbolehkan, tetapi harus diurus terlebih dahulu izinya. Izin tersebut bisa berupa perizinan berusaha penangkaran bila untuk tujuan komersil dan persetujuan penangkaran untuk tujuan non komersil. Dalam memelihara satwapun tidak boleh asal - asalan, wajib memperhatikan kesejahteraan satwa (animal walfare) sehingga satwa bebas dari rasa lapar, haus dan takut dan dapat mengekspresikan perilakunya seperti di alam liar. Masyarakatpun dihimbau untuk tidak memiliki satwa liar dilindungi atau bagian - bagiannya tanpa izin karena dapat dikenakan sanksi pidana minimal 3 tahun penjara sesuai Undang – Undang Nomor 32 tahun 2024. Zoonosis Satwa liar seringkali merupakan pembawa penyakit tanpa disadari oleh manusia. Satwa yang carrier penyakit biasanya tidak terlihat sakit, tetapi apabila ada kontak dengan satwa lain atau manusia bisa terjadi menyebakbkan infeksi atau bermutasi menjadi virus baru. Banyak zoonosis yang menular ke manusia berasal dari satwa seperti tubercolusis, rabies, flu burung. Oleh karenanya bila akan handling satwa maka handler wajib memimalkan resiko penularan zoonosis dengan menggunakan alat pelengkap handling, seperti sarung tangan, masker dan disarankan menggunakan pakaian tertutup bila tidak ada APD serta membersihkan diri setelah handling satwa untuk memutus rantai penularan zoonosis. Seringkali warga Kota Probolinggo mendapati satwa yang masuk ke rumah, seperti ular, musang dan monyet. Hal yang harus dilakukan oleh warga adalah melapor ke BBKSDA Jatim atau mitra BKSDA seperti damkar dan DLH Kota Probolinggo. Selanjutnya akan dibantu untuk proses evakuasi satwa tersebut. Saat ini juga telah tersedia layanan call center BBKSDA Jatim maupun layanan 112 Kota Probolinggo. Veve Ivana Pramesti, Penyuluh Kehutanan Ahli Muda pada Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo – BBKSDA Jatim
Baca Artikel

Melihat Dukungan Sistem Konservasi di Pulau Bawean

Bawean, 26 Mei 2025. Sebagai bagian dari upaya penguatan sistem pendukung konservasi di wilayah kerja, I Ketut Catur Marbawa, S.Hut., M.Si., Kepala Bagian Tata Usaha Balai Besar KSDA Jawa Timur, melakukan kunjungan kerja ke Pulau Bawean pada tanggal 22–24 Mei 2025. Kunjungan ini bertujuan untuk memantau secara langsung pelaksanaan kegiatan pengelolaan keuangan, administrasi, serta kebutuhan sarana prasarana yang mendukung operasional konservasi di Resort Konservasi Wilayah (RKW) Bawean, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya. Pulau Bawean merupakan habitat alami rusa bawean (Axis kuhlii), satwa endemik yang menjadi prioritas konservasi nasional. Oleh karena itu, keberadaan sistem tata usaha yang baik dan terintegrasi sangat penting untuk memastikan efektivitas perlindungan satwa liar dan habitatnya. “Kegiatan konservasi tidak bisa dilepaskan dari sistem administrasi dan tata kelola yang andal. Di wilayah terpencil seperti Bawean, kita harus memastikan semua lini berjalan sinkron dari penganggaran, pelaporan, hingga dukungan logistik lapangan,” ujarnya dalam pertemuan bersama petugas RKW Bawean. Selama tiga hari di Bawean, beliau meninjau kondisi fasilitas kantor resort, mendiskusikan tantangan teknis di lapangan. Evaluasi sistem kerja berbasis transparansi dan akuntabilitas menjadi fokus utama kunjungan ini. Kegiatan ini juga mencerminkan komitmen Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam membangun tata kelola organisasi yang adaptif dan responsif terhadap dinamika konservasi, termasuk di wilayah pulau kecil yang menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati Indonesia. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Sulawesi Selatan Tingkatkan Kapasitas Patroli Konservasi Lewat Pelatihan SMART Patrol

Maros, 22 Mei 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) menyelenggarakan kegiatan Pelatihan dan Penyegaran SMART Patrol pada tanggal 20 hingga 22 Mei 2025 bertempat di Hotel Grand Town, Kabupaten Maros, Provinsi Sulawesi Selatan. Pelatihan ini dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam menerapkan SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool), sebuah sistem pemantauan berbasis data yang memungkinkan pengumpulan dan analisis informasi secara sistematis guna mendukung pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efektif. Selama tiga hari, peserta dibekali materi konseptual dan teknis dari berbagai narasumber, termasuk Yogi Satriyo Wibowo dari Fauna & Flora International Indonesia Programme (FFI's IP), Muhammad Asad dan Fajar Dewangga dari Direktorat Konservasi Kawasan Kementerian Kehutanan, serta Nurhidayat Abbas dan Hamka tenaga teknis dari BBKSDA Sulsel. Hari pertama diisi dengan penguatan pemahaman konseptual tentang manajemen data keanekaragaman hayati dan peran SMART Patrol sebagai alat pemantauan dan edukasi di lapangan. Hari kedua fokus pada praktik penggunaan aplikasi SMART Mobile dan SMART Desktop, termasuk sesi sinkronisasi dan analisis data lapangan. Kegiatan hari kedua ditutup dengan penyusunan draft Standar Operasional Prosedur (SOP) SMART Patrol dan rancangan SK Tim Kerja BBKSDA Sulsel yang dipandu oleh Muhammad Rasul, S.H., M.H. Hari ketiga pelatihan diakhiri dengan post test untuk mengukur tingkat pemahaman peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Hasil dan Tindak Lanjut Melalui pelatihan ini, peserta mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya pengelolaan kawasan konservasi berbasis data yang akurat dan terkini. SMART Patrol dipahami tidak hanya sebagai alat patroli, tetapi juga sebagai perangkat multifungsi yang mendukung kegiatan inventarisasi, observasi, penyuluhan, hingga dokumentasi konservasi. Selain itu, peserta juga berhasil menguasai keterampilan teknis dalam pengoperasian perangkat lunak SMART dan menyusun rencana implementasi sistem tersebut di wilayah kerja masing-masing. Sebagai tindak lanjut, SMART Patrol akan diintegrasikan dalam seluruh kegiatan lapangan di lingkup BBKSDA Sulsel, dengan penyesuaian model data sesuai karakteristik ekologis tiap kawasan. Dukungan infrastruktur digital dan legalitas melalui SOP serta SK Tim menjadi langkah penting untuk mewujudkan sistem yang berkelanjutan dan operasional. Komitmen untuk Keanekaragaman Hayati Dalam momentum Hari Keanekaragaman Hayati Internasional, pelatihan ini menegaskan komitmen BBKSDA Sulsel untuk mengadopsi pendekatan konservasi berbasis teknologi dan data yang akurat dan terkini, sebagai upaya untuk menjaga keberlangsungan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati Sulawesi Selatan secara berkelanjutan. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP.13/K.8/TU/Humas/5/2025) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Pererat Kerjasama,YOSL-OIC Sambangi Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan

Padangsidimpuan, 27 Mei 2025. Mengawali masa kerja di Balai Besar KSDA Sumatera Utara pada Bidang KSDA Wilayah III, Kepala Bidang Susilo Ari Wibowo, S. Hut.,M.Sc menerima kunjungan lembaga mitra kerja sama Orangutan Information Center (OIC) di Kantor Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, pada Kamis 22 Mei 2025. Hadir dalam kunjungan silaturrahmi tersebut mewakili Manajemen OIC, Tim Human Orangutan Conflict Respon Unit (HOCRU), yang menyampaikan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan OIC di wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan. Dalam pertemuan tersebut Ketua Tim HOCRU memaparkan beberapa penanganan interaksi negatif dengan Orangutan terutama Orangutan Tapanuli dan konflik-konflik satwa lainnya di berbagai tempat, kegiatan patroli pengamanan hutan bersama dengan personil Bidang KSDA Wilayah III. Selain itu juga, HOCRU menjelaskan beberapa kegiatan lainnya di lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, seperti pembuatan demplot agroforestry di desa, pemulihan ekosistem serta kebun pekarangan. Dalam suasana komunikasi yang hangat dan dipenuhi canda tersebut, Kepala Bidang mengutip salah satu kegiatan yang telah dilaksanakan OIC pada Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung, tepatnya Kecamatan Simangumban, Kabupaten Tapanuli Utara terkait tertentuknya Desa Mandiri Konflik yang merupakan forum desa dalam merespon kejadian konflik Orangutan di Kabupaten Tapanuli Utara, Kepala Bidang mengapresiasi strategi yang dilakukan OIC dalam upaya perlindungan dan penyelamatan Orangutan dengan melibatkan masyarakat, hal ini akan menumbuhkan kesadaran dan kecintaan masyarakat terhadap jenis mamalia yang dilindungi ini. Kepala Bidang berpesan jika ada rencana kegiatan pembentukan desa mandiri konflik kedepannya, kiranya dapat dibentuk di wilayah kerja Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, yang juga rawan terjadinya konflik Orangutan. Menanggapi hal tersebut Tim HOCRU menjelaskan pembentukan Desa Mandiri Konflik (Kelompok Mitigasi Interaksi Negatif) di Kabupaten Tapanuli Utara tepatnya di Desa Dolok Saut, Dolok Sanggul dan Desa Lobu Sihim, ini merupakan program kerja OIC pada tahun 2023, yang bertujuan untuk memandirikan masyarakat dalam menghadapi kejadian konflik, menilai tingkat ancaman serta tindakan sementara sebelum petugas yang berwenang tiba di lokasi konflik. Kunjungan OIC ke Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan mendorong peningkatan kerjasama dan kolaborasi dalam perlindungan dan pelestarian keanekaragaman hayati serta ekosistemnya, khususnya Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) yang merupakan salah satu satwa dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1 /6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi sebagaimana diubah dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/ KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6 /2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi, yang populasinya udah sangat memperihatinkan di alam. Sumber : Irwan Hanafi, S.Hut., MM. (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pantau Hutan dengan SMART Patrol, Resor Pattunuang Jumpai Serangga Tongkat Endemik

Maros, 26 Mei 2025. Hari itu, Kamis, 22 Mei 2022, saya cukup senang. Mengapa? Karena bisa berjumpa dengan sepasang serangga penghuni asli Sulawesi. Sepasang serangga tongkat. Warnanya cukup menyilaukan dengan hampir seluruh tubuhnya berwarna hijau muda menyala. Barangkali bisa disebut hijau metalik. Hanya bagian kepala yang berwarna hijau tua serta bagian punggung terdapat warna kuning yang tidak begitu lebar. Saat terbang, nampak sayapnya pun berwarna hijau, namun lebih keabu-abuan. Namun seketika ia hinggap sayap lebar kemudian tertutup dengan rapi. Saat berjumpa, kami sedang melakukan pemantauan kondisi kawasan hutan di Karaenta, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Secara administrasi hutan ini berada di Desa Labuaja, Cenrana, Maros. Kami sedang berpatroli. Memantau kerawanan wilayah kami sembari mengeksplorasi potensinya. Tim menggunakan aplikasi SMART Patrol untuk merekam datanya. Memudahkan untuk mencatat dan merekapnya, kelak untuk bahan laporan. Ketika melintas di bawah naungan pohon yang tertutup, saya kemudian terkesima dengan serangga yang terbang. Seketika saya mengenalinya. Mengenalnya karena pernah berjumpa dengannya sebelumnya. Namun saya tidak ingat nama latinnya. Saya hanya tahu bahwa serangga tersebut adalah serangga endemik Sulawesi. Karena itu tim kemudian juga penasaran dengannya. Mengikuti arah terbangnya. Saat hinggap di lantai hutan kami kemudian menyapanya. Menelisiknya lebih dekat. Ukurannya saya kira tidak lebih dari sejengkal. Tim tak mengganggunya. Hanya mengamati dari dekat. Tak lupa secara bergantian memotretnya dengan ponsel pintar masing-masing. Tentunya dengan salah dua telepon seluler dengan aplikasi Smart yang telah terbenam di sana. Kami berjumpa pada habitat hutan karst. Batu cadas khas hutan karst di mana-mana. Tim melintas di antara menara karst yang menjulang. "Ada anaknya dia gendong," ujar Fadli, kawan sesama tim patroli. Sebagai admin aplikasi ia pun dengan cekatan memasukkan data perjumpaan. Saya kemudian memandunya dengan pengetahuan yang saya miliki perihal satwa ini. Karena belum paham namanya latin si serangga, saya memintanya menuliskan keterangan serangga tongkat, endemik Sulawesi. Pada format isian Smart Patrol kami, spesies ini belum tersedia. Karena itu admin memasukkannya sebagai perjumpaan tambahan. Pada saat di lokasi kegiatan, signal masih cukup tersedia. Karena itu, Saya juga sempat mengirimkan foto serangga tersebut kepada seorang kawan untuk membantu mengidentifikasinya. Namun sayang, ia juga tidak hapal nama latinnya. Ia hanya merekomendasikan seseorang untuk bisa membantu mengidentifikasinya. Namun karena signal kurang bersahabat, saya mengurungkan niat untuk mengidentifikasinya lebih lanjut. Ketika memiliki waktu luang, saya kemudian mengontak Davis Damaledo, peneliti muda serangga batang. Namanya melejit setelah berhasil menemukan serangga tongkat jenis baru di Kupang, NTT. Davis kemudian mengidentifikasi serangga kami. Nama latinnya: Calvisia hippolyte dan menambahkan keterangan bahwa serangga tersebut hanya hidup di Pulau Sulawesi. Untuk meyakinkan saya berselancar ria, hingga membawa saya pada website iNaturalist. Benar saja, serangga ini baru dua lokasi pernah dijumpai yakni di Sulawesi bagian selatan dan bagian tengah. Tak nampak dari peta dunia, spesies ini pernah dikabarkan dijumpai di belahan dunia lainnya. Hal ini meneguhkan bahwa sang serangga adalah satwa asli Sulawesi alias endemik. Menurut Hennemann (2021) sebaran serangga ini hanya terbatas di 3 provinsi. Ketiga provinsi tersebut adalah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah. Habitat di Sulawesi Selatan ia sebutkan di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dengan menyebutkan wilayah administratif Kabupaten Maros. Diskusi saya dengan Davis berlanjut. "Apakah dua ekor serangga ini adalah induk dan anak ataukah mereka sepasang?" Saya menuliskan tanya dengan penasaran. "Mereka sepasang, jantan yang berukuran kecil," balasnya. Padahal sebelumnya saya menduga bahwa yang berukuran setengah lebih kecil dari ukuran betina adalah sang anak. Jadinya saya awalnya hampir tak percaya. Mereka ternyata sedang memadu kasih saat kami berjumpa. Beruntung kami tak banyak mengganggunya sehingga mereka tetap berpelukan saat kami mengamatinya dari dekat. Begitu pun saat kami kembali melintasi lokasi perjumpaan awal, kami tak menemukannya lagi. Mereka telah terbang. Mereka telah kembali beraktivitas seperti sedia kala. Mudah-mudahan mereka terus beranak-pinak. Meneruskan generasinya. Ada banyak pertanyaan perihal satwa ini. Mereka memakan apa di alam. Apakah mereka hanya mengunyah dedaunan ataukah juga ia mengincar buah. Begitu pun perannya di alam, seperti apa? Yang jelas, mereka adalah bagian dari alam. Setidak-tidaknya dengan melihat ukuran dan kerapuhannya. Serangga tongkat ini adalah mangsa bagi burung dan reptil di alam liar. "Kami berharap teman-teman Polhut, Penyuluh, dan PEH lebih sering ke lapangan agar lebih memahami kondisi taman nasional kita. Mengeksplorasi, memantau, dan melindungi dari segala ancaman," pesan Heri Wibowo, Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, saat kami jumpai. Semoga suatu saat bisa kembali berjumpa dengannya. Termasuk partisipasi tim lain agar terus memantau populasinya di alam. Sumber: Taufiq Ismail Al Pharepary - PEH Balai TN Bantimurung Bulusaraung Daftar Pustaka Hennemann, F. H. (2021). Stick insects of Sulawesi, Peleng and the Sula Islands, Indonesia—a review including checklists of species and descriptions of new taxa (Insecta: Phasmatodea). Zootaxa, 5073(1), 1–189. https://doi.org/10.11646/zootaxa.5073.1.1
Baca Artikel

Semarak Hari Kehati Internasional 2025 di Rumah Pintar Meranti

Kegiatan edukasi di Rumah Pintar (Resor CA. Martelu Purba) Matelu Purba, 26 Mei 2025. Hari Keanekaragaman Hayati Internasional tahun 2025 kembali diperingati. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati. Planet Bumi adalah rumah berbagai makhluk hidup. Tahun ini tema yang diusung bertajuk “Harmony with Nature and Sustainable Development” artinya Harmoni dengan Alam dan Pembangunan Berkelanjutan. Tema tersebut menekankan hubungan manusia dengan alam. Sekaligus pentingnya pembangunan yang berkelanjutan. Tak ingin melewati momen penting ini, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Cagar Alam (CA) Martelu Purba pada Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran menggelar kegiatan edukasi kepada generasi muda kalangan pelajar dari SDN 091349 Tigarunggu, Dusun Bayu Tongah, Nagori Purba Tongah, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Kegiatan dilakukan di 2 tempat/lokasi, yaitu : di SDN 091349 Tigarunggu diikuti oleh sebanyak 225 orang pelajar, dan di Rumah Pintar Meranti (CA. Martelu Purba) sebanyak 12 orang siswa/siswi. Kegiatan di SDN 091349 Tigarunggu dikemas dalam model Bina Cinta Alam berupa edukasi tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kepala Resor CA Martelu Purba (Alharis Ruhidi, S.P.,M.Si) memberikan penyadaran tentang arti penting melindungi keanekaragaman hayati dengan terlebih dahulu menjelaskan apa itu keanekaragaman hayati, kenapa harus peduli dan menyayanginya, serta bagaimana caranya. Beberapa keanekaragaman hayati pun diperkenalkan menjadi bahan pemantik bagi siswa untuk menumbuhkan keingintahuannya. Kegiatan edukasi kepada 225 orang pelajar di SDN 091349 Tigarunggu Selesai dari SDN 091349 Tigarunggu, kegiatan edukasi berlanjut di Rumah Pintar Meranti, khusus kepada perwakilan 12 orang siswa dengan membagikan print-out 10 jenis tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi, guna mengenali nama dan jenisnya. Agar lebih mendalami pengetahuan serta pemahaman terhadap pengenalan kehati tersebut dilakukan diskusi. Melalui diskusi pembelajaran pun semakin menarik dan dinamis. Segala keingintahuan dicurahkan dan dibahas secara bersama sambil mencari bahan referensi/rujukan yang ada di koleksi perpustakaan Rumah Pintar Meranti. Rumah Pintar Meranti merupakan ruangan khusus yang disediakan di Kantor Resort CA. Martelu Purba sebagai tempat untuk membaca buku, belajar sekaligus berdiskusi. Pertama kali beroperasi di akhir tahun 2023 dengan sarana prasarana yang ada, diantaranya 15 unit meja lipat, puzzel/alas duduk (6 Kotak @ 26 unit), dan 42 judul buku (10 judul terbitan National Geographic). Pendirian rumah pintar ini dilatarbelakangi keberadaan kawasan hutan Cagar Alam Martelu Purba yang berkedudukan di ibu kota Kecamatan Purba, sehingga banyak lapisan masyarakat yang lalu lalang dan bisa berinteraksi langsung dengan kawasan. Kondisi ini menjadi peluang/kesempatan yang sangat besar guna meningkatkan literasi khususnya tentang konservasi kepada masyarakat, terutama yang berdomisili di sekitar (daerah penyangga/buffer zone) kawasan. Sasaran utama dalam upaya peningkatan literasi ini adalah generasi muda yang sedang menempuh pendidikan di sekolah-sekolah formal serta kelompok-kelompok pemuda seperti karang taruna, muda mudi gereja, dan Himpunan Mahasiswa Simalungun (SIMAPSI). Pendirian Rumah Pintar Meranti ini dimaksudkan untuk meningkatkan literasi masyarakat khususnya generasi muda. Sedangkan tujuannya adalah meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat khususnya generasi muda tentang arti penting konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan kondisi ini, keberadaan Kawasan Hutan Cagar Alam Martelu Purba diharapkan mendapat dukungan penuh dari masyarakat. Sampai saat ini agenda rutin yang dilakukan secara berkala di Rumah Pintar Meranti adalah mengundang siswa-siswi sekolah-sekolah formal seperti Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, serta kelompok-kelompok pemuda seperti karang taruna, muda mudi gereja, dan Himpunan Mahasiswa Simalungun (SIMAPSI) untuk belajar dan berdiskusi. Selain itu, sehari-harinya Rumah Pintar Meranti juga terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat yang berminat menambah literasi khususnya tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional Tahun 2025 sudah berakhir. Pihak sekolah SDN 091349 Tigarunggu mengapresiasi kegiatan yang sangat positif dan mengedukasi ini serta berharap agar kegiatan serupa menjadi program rutin guna lebih meningkatkan wawasan pengetahuan serta karakter siswa yang berwawasan konservasi alam. Masukan dan saran dari pihak sekolah ini menjadi bahan evaluasi dan pertimbangan kedepannya. Resort CA. Martelu Purba tetap berkomitmen dalam mengembangkan program edukasi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem baik kepada generasi muda maupun kepada masyarakat umum lainnya guna memupuk kepedulian wargauntuk ikut menjaga dan melestarikan kawasan konservasi beserta keanekaragaman hayatinya. Sumber : Alharis Ruhidi, S.P., M.Si. (Analis Konservasi Kawasan/Kepala Resor CA. Martelu Purba) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Momentum Perkuat Kelembagaan IPKI Untuk Perlindungan dan Pengamanan SDH

Medan, 23 Mei 2025. Ikatan Polisi Kehutanan Indonesia (IPKI) Wilayah Sumatera Utara sukses menyelenggarakan Kongres di Aula Lt. III Kantor Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara, pada Selasa 20 Mei 2025. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam upaya memperkuat kelembagaan dan peran IPKI sebagai garda terdepan dalam perlindungan dan pengamanan sumber daya hutan. Salah satu agenda utama dalam kongres ini adalah pemilihan Kepengurusan IPKI Wilayah Sumatera Utara Periode 2024–2027, menggantikan Kepengurusan sebelumnya periode 2013 s/d 2016 yang telah berakhir masa jabatannya. Konggres ini diikuti oleh 68 peserta yang hadir dari 80 peserta yang diundang, terdiri dari 6 perwakilan Sekretariat pada wilayah Sumatera Utara yaitu : Pengurus IPKI Pusat, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Balai Taman Nasional Batang Gadis, Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera Utara, Bidang Wilayah III Stabat Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser dan Seksi Wilayah I Balai Dalkarhut Sumatera Utara Kongres berlangsung secara demokratis dan penuh semangat kebersamaan. Para peserta yang merupakan anggota IPKI dari berbagai instansi kehutanan di wilayah Sumatera Utara turut memberikan aspirasi dan dukungan bagi kemajuan organisasi. Hasil dari Kongres telah terpilih Kepengurusan IPKI Wilayah Sumatera Utara Periode 2024-2027, dengan pengurus inti Ketua : Herwin Hermawan, SP. M.H., Sekretaris : Ani, SP., Bidang Keuangan : Mea Fitri Kartika Sari, S.Hut., dan Muhammad Alfin Ridho Putroaji, S.Hut. Kepengurusan dilengkapi dengan beberapa bidang, yaitu : Bidang Umum dan Advokasi, Bidang Humas dan Informasi, Bidang Organisasi dan Pengembangan Profesi, Bidang Kerjasama dan Kemitraan, Bidang Usaha dan Koperasi, serta Dewan Pertimbangan. Dengan terpilihnya kepengurusan baru ini diharapkan mampu membawa semangat baru dalam meningkatkan profesionalisme, integritas, dan soliditas Polisi Kehutanan menghadapi tantangan pengelolaan hutan ke depan. Selamat bekerja kepada Pengurus IPKI Wilayah Sumatera Utara Periode 2024-2027.. Sumber : HM. Parlindungan Sinaga, S.Kom. (Pranata Komputer Ahli Pertama)- Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Rimbawan Bangkit, Semangat Lestari untuk Ibu Pertiwi Ditegakkan

Sidoarjo, 20 Mei 2025. Pagi yang tenang penuh sarat makna di Plaza Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, genderang kebangkitan nasional bergema tak hanya dalam upacara bendera, tapi juga dalam tekad para penjaga hutan negeri ini, rimbawan Jawa Timur. Dalam balutan semangat 117 tahun Hari Kebangkitan Nasional (20/05/2025), Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, memimpin langsung upacara sebagai Inspektur, memaknai kebangkitan bukan sekadar seremoni melainkan sebuah ikrar berkelanjutan menjaga tanah, hutan, dan masa depan bangsa. Upacara yang digelar tepat pukul 08.00 WIB ini tak hanya menjadi penghormatan pada sejarah perjuangan bangsa. Namun juga sebagai pengingat bagi rimbawan, bahwa tugas mereka bukan hanya soal hutan, kehutanan dan konservasi, tapi juga tentang mempertahankan jati diri bangsa di tengah krisis iklim dan perubahan zaman. Sambutan Menteri Komunikasi dan Digital, yang dibacakan dalam upacara, juga memperkuat makna peringatan ini. Bahwa kebangkitan adalah proses terus-menerus yang menuntut keberanian menghadapi tantangan modern, termasuk krisis pangan, polarisasi global, hingga transformasi digital. Pemerintah menegaskan bahwa pembangunan harus bersandar pada kemanusiaan, keberlanjutan, dan keadilan. Seluruh barisan peserta, mulai dari personel BBKSDA Jatim, Dinas Kehutanan Provinsi Jatim, hingga Balai Pengelolaan DAS Brantas, berdiri tegak, mengumandangkan lagu perjuangan dan mengheningkan cipta bagi para pejuang bangsa. Namun di mata seorang rimbawan, upacara ini lebih dari sekadar penghormatan, ini adalah pengingat bahwa setiap batang pohon yang mereka lindungi adalah warisan, setiap langkah patroli di hutan adalah bentuk cinta tanah air yang nyata. Sebagaimana akar pohon menembus bumi dengan perlahan tapi pasti, demikian pula kebangkitan bangsa harus tumbuh dari nilai-nilai dasar keberanian, ketulusan, dan keberlanjutan. Di tengah zaman yang berubah cepat, para rimbawan tidak hanya menjaga hutan, mereka menjaga harapan. Dirgahayu Hari Kebangkitan Nasional ke-117. Dari hutan yang sunyi hingga mimbar upacara yang khidmad, Indonesia bangkit dalam diam, tumbuh dalam hijau, dan melangkah menuju masa depan yang adil dan lestari. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Apresiasi Untuk Kolaborasi PT Suparma Tbk dan Kebun Binatang Surabaya dalam Aksi Cinta Satwa dan Alam

Surabaya, 18 Mei 2025. Di tengah deru kota dan keramaian akhir pekan, secercah harapan bagi alam dan satwa liar tumbuh di jantung Surabaya. Sebuah gerakan bernama “Caring Animal & Earth” digelar oleh PT Suparma Tbk di Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya, Minggu (18/5). Ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan bisa melampaui batas-batas bisnis dan menjadi denyut nadi budaya korporasi. Dalam atmosfer hangat dan penuh semangat, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir langsung, menyatukan langkah dengan Direksi PT Suparma Tbk, manajemen PDTS KBS, serta ratusan karyawan dan keluarga besar perusahaan. Bukan sekadar seremoni, kehadiran para pemangku kepentingan ini adalah sinyal kuat bahwa konservasi adalah urusan bersama, bukan beban sekelompok kecil pemerhati alam. Sejalan dengan semangat “Communication as Conservation Solution” sebagaimana tercetus oleh Nur Patria Kurniawan, Kepala BBKSDA Jatim, kegiatan ini dirancang untuk menjembatani antara manusia, satwa, dan bumi tempat mereka berbagi ruang hidup. Aksi konkret yang dilakukan berupa penyerahan tempat sampah demi tata kelola sampah yang lebih baik di zona edukasi satwa, penanaman sekitar 700 bibit pohon sebagai perisai hijau kota, dan sesi edukasi konservasi bagi anak-anak, para pewaris masa depan bumi. Lebih dari itu, kegiatan family gathering mempererat simpul-simpul emosional antara manusia dan lingkungannya. Ada tawa, ada makna, dan ada kesadaran baru yang tumbuh, bahwa keberlangsungan hidup satwa liar dan hutan bukan hanya isu konservasi, tetapi fondasi dari keberlanjutan peradaban. Langkah-langkah kecil ini barangkali belum mengubah dunia. Namun di balik setiap bibit pohon yang ditanam dan setiap hati anak yang disentuh lewat edukasi, ada masa depan yang lebih hijau sedang disemai. Sinergi ini merupakan wujud nyata upaya membangun kolaborasi lintas sektor. Dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat bersatu dalam satu tekad, menjaga warisan hayati Nusantara agar tetap lestari. Dari Surabaya, untuk Indonesia, dan untuk bumi yang lebih layak huni. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat

Inspektur Upacara membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital di peringatan Hari Kebangkitan Nasional Ke 117 Medan, 21 Mei 2025. Hari Kebangkitan Nasional Ke 117 Tahun 2025 kembali diperingati jajaran UPT Kementerian Kehutanan lingkup Provinsi Sumatera Utara bersama dengan jajaran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara dalam sebuah upacara di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, pada Selasa (20/5). Peringatan yang mengusung tema “Bangkit Bersama Wujudkan Indonesia Kuat” diperingati secara sederhana tanpa mengurangi maknanya dan berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Bertindak sebagai Inspektur Upacara Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS HL) Wampu Sei Ular, Sigit Budi Nugroho, S.Si., M.Sc., yang membacakan sambutan Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Viada Hafid. Menteri Komunikasi dan Digital mengingatkan bahwa 117 tahun yang lalu ditengah keterbatasan dan tekanan kolonialisme, lahirlah sebuah kesadaran yang menyalakan api perubahan bahwa kemajuan hanya mungkin dicapai bila kita bangkit berdiri di atas kekuatan kita sendiri. Namun kebangkitan itu bukanlah sebuah peristiwa yang selesai dalam satu masa. Kebangkitan adalah ikhtiar yang harus hidup. Menteri yang akrab dipanggil dengan nama Meutya Hafid, lebih lanjut menyampaikan bahwa Indonesia sedang menapaki jalur pembangunan yang tidak semata berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan setiap kebijakan membuka ruang bagi kemajuan yang adil dan merata. Sebuah ikhtiar besar agar pembangunan yang megah tetap berpijak kokoh pada kepentingan rakyat. Dalam momen peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini, kita mengukuhkan kembali arah perjalanan bangsa. Dan dalam semangat itu, pemerintah telah menetapkan Asta Cita sebagai Kompas utama Kebangkitan Nasional. “Mari kita jaga kebangkitan ini dengan semangat yang sama seperti akar pohon yang menembus tanah. Perlahan tapi pasti, tak selalu terlihat namun kokoh menopang kehidupan. Karena sesungguhnya, kebangkitan yang paling kokoh adalah kebangkitan yang tumbuh perlahan, berakar dalam nilai-nilai kemanusiaan dan berbuah pada keadilan serta kesejahteraan yang dirasakan bersama,” ujar Meutya Hafid diakhir sambutannya yang dibacakan Pembina Upacara. Sumber : HM. Parlindungan Sinaga, S.Kom. (Pranata Komputer Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Merawat Kehumasan Serta Komunikasi Lebih Profesional dan Humanis

Amalia Meutia, M.Psi, Kepala Humas, Protokoler dan Promosi USU memaparkan materi tentang kehumasan Medan, 20 Mei 2025. Peran kehumasan pada satu institusi sangat penting dan krusial, karena gambaran baik buruknya institusi termasuk pemerintah, merupakan cerminan aktualisasi dari kehumasannya. Oleh karena itu Balai Besar KSDA Sumatera Utara terinspirasi untuk meningkatkan kapasitas jajarannya melalui kegiatan Rapat Koordinasi dan Penguatan Kehumasan Lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Jumat (16/5) di ruang rapat Balai besar KSDA Sumatera Utara. Kegiatan ini menampilkan narasumber praktisi kehumasan, yaitu Amalia Meutia, M.Psi. Kepala Humas, Protokoler dan Promosi Universitas Sumatera Utara (USU), dihadiri langsung Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., pejabat struktural lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara serta seluruh pegawai baik melalui off-line maupun on-line. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara berharap melalui peningkatan kapasitas ini akan memberi energi positif dalam peningkatan peran kehumasan Balai Besar KSDA Sumatera Utara agar lebih baik dan profesional lagi kedepannya. Narasumber Amalia Meutia dalam awal paparannya menerangkan peran strategis humas pemerintah tidak hanya berperan sebagai dokumenter tetapi juga penjaga narasi dan reputasi, sehingga harus berpikir strategis dan komunikatif yang mampu membaca situasi dan merancang strategi komunikasi sejak awal, memiliki kemampuan menyederhanakan pesan-pesan yang rumit dengan mengubah bahasa teknis (ilmiah) menjadi pesan yang bisa dipahami setiap orang serta menjadi perpanjangan tangan empati dimana humas tidak hanya menyampaikan data tetapi juga menyampaikan kepekaan dan kepedulian. Sederhananya menurut Amalia, kompetensi humas itu krusial karena humas adalah wajah, suara dan penjaga kepercayaan publik. Ada beberapa keterampilan teknis yang harus dimiliki oleh humas, diantaranya menulis siaran pers dan naskah narasi dengan jelas, lugas serta berdampak, kemudian berbicara dengan baik dan mengolah informasi menjadi konten visual berupa infografis, video pendek, reels atau tiktok instansi. “Humas bukan kerja individu, tapi kerja tim, untuk itu dibutuhkan kemampuan untuk menyusun rencana komunikasi tahunan dan agenda media, mengolah anggaran secara efisien dan berkoordinasi lintas bidang serta mitra ekternal (media, komunitas, stakeholder),” ujar Amalia. Humas juga harus mampu mengolah krisis komunikasi, yaitu : peristiwa rumor atau informasi berasal dari internal dan eksternal, yang membawa pengaruh buruk terhadap reputasi dan dapat mengancam kelangsungan hidup atau keberadaan institusi “Terhadap krisis perlu diingat bukan hanya benar atau salah, tapi seberapa besar dampaknya terhadap opini publik. Itu sebabnya penanganannya harus cepat, tepat dan strategis. Ketika krisis terjadi maka yang dilakukan adalah mengakui dan tidak menyangkalnya, memberi respon yang cepat dengan menggelar koferensi pers, serta jangan menutup diri ataupun bungkam sebaliknya melakukan komunikasi secara terbuka ” ujar Amalia mengakhiri paparannya. Di sesi berikutnya, disajikan materi tentang Komunikasi Pelayanan Birokrasi, yang disampaikan Juliana I. Saragih, M.Psi., psikolog dan dosen USU. Juliana memaparkan komponen komunikasi yang efektif itu adalah 58 % bahasa tubuh, 35 % intonasi suara dan 7 % kata-kata. Dalam berkomunikasi yang perlu disiapkan : mengenali topik komunikasi (pembicaraan), menjabarkan isi topik tersebut, dan mengambil kesimpulan dari topik dimaksud. Juliana I. Saragih, M.Psi. narasumber tentang Komunikasi Pelayanan Birokrasi Dibahas juga peran petugas birokrasi yang merupakan wajah birokrasi, penyalur informasi dan sebagai penghubung atau jembatan antara warga dengan pemerintah, sehingga perannya menjadi penting dalam pelayanan publik. Dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab tersebut harus memperhatikan prinsip : responsive (tanggap terhadap kebutuhan warga), transparan (prosedur dan aturan jelas), adil dan inklusif (tidak diskriminatif), professional (sopan, sabar, prosedural) dan akuntabel (bertanggung jawab penuh). Tantangan pelayanan yang akan dihadapi di lapangan adanya keterbatasan pemahaman dimana warga belum paham birokrasi, sikap penolakan berupa resistensi terhadap peraturan baru, akses yang terbatas sebagai konsekwensi dari wilayah terpencil dan budaya lokal, serta ekspektasi yang tidak sesuai karena masyarakat menginginkan di luar aturan. Simulasi komunikasi pelayanan birokrasi Untuk mendapatkan gambaran tentang komunikasi pelayanan birokrasi, dilakukan juga simulasi yang diperankan langsung oleh sesama pegawai bagaimana memberi pelayanan informasi kepada warga yang membutuhkan, dengan memperhatikan prinsip-prinsip kesopanan, etika dan humanis. Melalui simulasi tersebut diharapkan menjadi referensi dalam menerapkan pelayanan birokrasi sehari-hari. Kegiatan Rapat Koordinasi dan Penguatan Kehumasan lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara berakhir sudah, namun ada keinginan besar yang diharapkan dari pertemuan ini, yaitu tindak lanjut dan aplikasinya di lapangan dalam menata serta merawat kehumasan Balai Besar KSDA Sumatera Utara agar lebih baik serta profesional. Semoga saja ini dapat diwujudkan. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Modal Dasar Menuju Kegiatan dan Anggaran BBKSDA Sumut 2025

Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara didampingi Kepala Bagian Tata Usaha saat pembukaan Rapat Koordinasi Medan, 19 Mei 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menggelar rapat koordinasi pelaksanaan kegiatan dan anggaran tahun 2025 yang dilakukan di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada Kamis (15/5). Rapat ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., dihadiri pejabat struktural serta pegawai lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara baik secara off-line maupun on-line. Di awal rapat, disampaikan paparan tentang Evaluasi Sistem Pengelolaan Keuangan dan POK oleh Tim keuangan dan Program, yang disampaikan oleh Yasinta Pritama, S.E., M.Si., menjelaskan tentang siklus pengelolaan keuangan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dimulai dari penganggaran, kemudian berlanjut ke pelaksanaan anggaran dan diakhiri dengan pelaporan serta pertanggung jawaban anggaran. Usai pemaparan dan diskusi, dilanjutkan paparan materi dari narasumber KPPN II Medan pada Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Riswanto Sembiring, Kepala Seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal, tentang Evaluasi IKPA Satker BBKSDA Sumut. Narasumber menjelaskan bahwa Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) ditetapkan berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : PER-5/PB/2024 tentang Petunjuk Teknis Penilaian Kinerja Pelaksanaan Anggaran Tahun 2024. Riswanto Sembiring narasumber dari KPPN II Medan Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh KPPN II Medan, capaian Indikator Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKPA) Balai Besar KSDA Sumatera Utara sampai dengan bulan April 2025, nilai akhir yang diperoleh sebesar 97,26 dan ini masuk dalam kategori Sangat Baik. Riswanto Sembiring dalam paparannya juga menjelaskan tentang Indikator Revisi DIPA yang digunakan untuk mengukur kualitas perencanaan anggaran kementerian negara/lembaga/ unit eselon I/satuan kerja (satker) yang dihitung berdasarkan frekwensi revisi DIPA dalam rentang semesteran dan tidak bersifat kumulatif. Revisi yang diperhitungkan adalah 14 jenis revisi pagu tetap yang disahkan oleh Kementerian Keuangan yang tidak mengakibatkan perubahan pagu di satuan kerja. Usai penjelasan tentang Evaluasi IKPA Satker BBKSDA Sumut, dilanjutkan dengan Sosialisasi digital payment masih oleh Riswanto Sembiring didampingi stafnya Nurul Sakinah, yang membahas tentang Cashless Society. Sejatinya Cashless Society sudah dilakukan sejak tahun 2019 dengan menerapkan penggunaan virtual account, kartu kredit pemerintah (KKP) dan digipay. Nurul Sakinah, staf KPPN II Medan ikut memberi penjelasan Virtual Account mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 183/PMK.05/2019 tentang Pengelolaan Rekening Pengeluaran Milik Kementerian Negara/Lembaga. Sedangkan Kartu Kredit Pemerintah mengacu kepada Peratauran Menteri Keuangan Nomor : 196/PMK.05/2021 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor : 196/PMK.05/2018 tentang Tata cara Pembayaran dan Penggunaan Kartu Kredit Pemerintah. Dan Digipay diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor : PER-7/pb/2022 tentang Penggunaan Uang Persediaan Melalui Digipay Pada Satuan Kerja Kementerian Negara/Lembaga Selain itu diperkenalkan juga CMS (Cash Management System) yaitu sistim aplikasi dan informasi saldo, transfer antar rekening pembayaran penerimaan negara dan utilitas, maupun fasilitas-fasilitas lain dalam pelaksanaan transaksi perbankan secara realtime online. CMS merupakan fitur yang wajib disediakan oleh bank dari pembukaan VA pengeluaran (PMK 183/2019 Pasal 9 ayat (4). CMS bersama dengan kartu debit dan KKP mendoron Cashless society khususnya di lingkup pemerintahan. Manfaat yang didapatkan dari CMS ini adalah : transaksi dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja, mengurangi resiko keamanan penggunaan uang tunai, mengurangi peluang terjadinya moral hazard dan memudahkan monitor dan pelaporan transaksi keuangan. Dengan pembekalan serta pencerahan yang diberikan oleh narasumber berkompeten dari KPPN II Medan, diharapkan menjadi modal dasar dalam melaksanakan kegiatan dan anggaran 2025 di lingkup Balai besar KSDA Sumatera Utara. Seluruh peserta mendapatkan pemahaman sebagai bekal sehingga apa yang direncanakan dapat direalisasikan dengan baik dan benar. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 529–544 dari 2.305 publikasi