Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Harapan Baru Mamalia Bersisik Di Lereng Welirang

Mojokerto, 10 Juni 2025. Di bawah langit yang mulai temaram di lereng Gunung Pundak, siluet seekor Trenggiling jantan melangkah pelan, tubuh mungilnya berlapis sisik yang memantulkan cahaya senja. Dalam hening malam yang lembap dan penuh kehidupan, satwa malam yang nyaris punah ini kembali ke pelukan hutan yang menjadi habitat aslinya, membawa harapan baru bagi konservasi satwa bersisik yang kian terdesak oleh perburuan dan hilangnya hutan. Pelepasliaran Trenggiling (Manis javanica) yang dilaksanakan pada Selasa malam, pukul 18.21 WIB, menjadi titik penting dalam upaya penyelamatan keanekaragaman hayati di Jawa Timur. Satwa tersebut dilepasliarkan oleh tim Matawali Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, UPT Taman Hutan Raya Raden Soerjo, dan Kepala Cabang Dinas Kehutanan (CDK) lingkup DInas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, dengan melibatkan Pengendali Ekosistem Hutan RKW 09 Mojokerto dan calon Polisi Kehutanan BBKSDA Jatim. Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pelepasan satwa, tetapi penanda penting atas kolaborasi lintas institusi dalam melindungi spesies yang kini tergolong Critically Endangered menurut Daftar Merah IUCN. Trenggiling, mamalia bersisik, kini nyaris tak bersuara di tengah kepungan ancaman perdagangan ilegal dan kerusakan habitat. Dari Jalan Raya Padusan ke Jantung Hutan Pundak Kisah satwa ini dimulai dua hari sebelumnya, saat seorang warga bernama Kukuh Hadi Wiyono, atau Mas Kukuh, menemukan seekor trenggiling terluka di tepi jalan raya wisata Air Panas Padusan, tepat di depan Villa Asia, Kecamatan Pacet, Mojokerto. Dengan naluri cinta alam yang tulus, Mas Kukuh sempat merawatnya. Namun, kesadarannya akan status hukum trenggiling sebagai satwa dilindungi membuatnya memutuskan untuk menyerahkan hewan tersebut secara sukarela kepada pihak Polsek Pacet. Setelah diterima oleh Babinsa Polsek Pacet, Sdr. Achmad Sodiq, satwa ini segera ditangani secara medis oleh tim Matawali BBKSDA Jatim. Sebelum kembali ke habitatnya, satwa ini menjalani pemeriksaan morfologis dan perilaku oleh tim BBKSDA Jatim, serta diberi tagging dengan kode 991003001460244. Prosedur ini dilakukan untuk memantau keberadaan dan kondisi satwa pasca pelepasliaran, guna memastikan trenggiling dapat beradaptasi dengan baik di lingkungan alaminya. Gunung Pundak, Rumah yang Masih Menjanjikan Lokasi pelepasliaran di kawasan Loka Wiyata Surya, Gunung Pundak dalam kawasan TAHURA Raden Soerjo, Desa Claket, Kecamatan Pacet dipilih secara cermat berdasarkan studi ekologi. Wilayah ini memiliki tutupan hutan yang masih lebat, ketersediaan pakan alami seperti semut dan rayap yang melimpah, serta perlindungan alami dari tekanan manusia. Dalam suasana pembinaan CPNS 2024 Dinas Kehutanan Jawa Timur yang berlangsung di kawasan tersebut, pelepasliaran dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Para petugas, termasuk Calon Polisi Kehutanan dan PEH muda dari BBKSDA Jatim, menyaksikan dengan takzim saat trenggiling itu melangkah ke rimbunnya hutan, menghilang perlahan dalam kegelapan yang mengharukan. Melindungi Satwa, Menjaga Masa Depan Trenggiling bukan sekadar satwa unik yang bersisik. Ia adalah simbol keseimbangan ekosistem. Dengan memakan ribuan semut dan rayap per malam, trenggiling membantu menjaga ekosistem hutan dari ledakan populasi serangga yang bisa merusak pepohonan dan tanah. Namun, manfaat ekologis ini tak mampu melindunginya dari jerat pasar gelap. Dagingnya diklaim sebagai makanan eksotis, dan sisiknya dipercaya memiliki khasiat medis, sebuah mitos yang telah menggerus populasi mereka di seluruh Asia. Satu Pelepasliaran, Seribu Harapan Kegiatan ini menjadi bukti bahwa konservasi bukan sekadar kerja teknis, melainkan gerakan moral yang harus dilakukan bersama. Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, masyarakat, dan generasi muda harus menjadi bagian dari solusi untuk memastikan bahwa satwa seperti trenggiling tidak hanya tersisa di buku pelajaran atau museum. Dengan setiap langkah mungil yang diambil trenggiling malam itu, terselip harapan bahwa hutan-hutan Jawa Timur masih menjadi rumah yang aman bagi mereka. Dan bahwa di tengah gempuran zaman, masih ada manusia-manusia yang memilih untuk menjaga, bukan menguasai alam. (dna) Sumber: Fadhli Dzil Fikri – Calon Polisi Kehutanan PemulaBalai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Visit To School di SMPN 1 Pulau Laut Timur

Pulau Laut Timur, 5 Juni 2025 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan Visit To School di SMPN 1 Pulau Laut Timur untuk melakukan edukasi terkait materi konservasi hutan. Kegiatan ini diawali dengan sambutan oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Bapak Suwandi, S.Hut., M.A., dilanjutkan dengan pembukaan acara oleh Kepala Sekolah SMPN 1 Pulau Laut Timur Bapak Herry Amiarso, S.Pd. Kemudian dilanjutkan presentasi materi konservasi hutan yang disampaikan oleh Penyuluh Kehutanan Sarah Damayanti Nasution, S.Hut dan Pengendali Ekosistem Hutan Maulinda, S.Hut materi yang disampaikan meliputi dasar-dasar konservasi, flora dan fauna yang dilindungi dan pentingnya menjaga hutan. Seiring pertumbuhan populasi dan aktivitas manusia yang semakin intensif, banyak sumber daya alam mengalami kerusakan dan penurunan kualitas secara drastis. Konservasi menjadi salah satu solusi penting untuk menghadapi tantangan ini. Konservasi merupakan upaya pelestarian sumber daya alam agar dapat digunakan secara berkelanjutan tanpa merusak atau menghabiskannya. Perlindungan flora dan fauna dilakukan untuk mencegah kepunahan, menjaga keseimbangan ekosistem, dan melestarikan keanekaragaman hayati. Flora dan fauna yang dilindungi adalah spesies tumbuhan dan hewan yang terancam punah karena perburuan liar, perdagangan ilegal, dan kerusakan habitat. Hukum dan aturan terdapat pada PP. No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, CITES (Convention on International Trade in Endangered Species) – Perjanjian internasional yang melarang perdagangan ilegal flora dan fauna yang terancam punah. Menjaga hutan bukan sekadar tugas pemerintah atau aktivis lingkungan, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh lapisan masyarakat. Hutan memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan iklim, melestarikan keanekaragaman hayati, dan mendukung kehidupan jutaan manusia yang bergantung padanya. Kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi generasi muda untuk meningkatkan kesadaran dan pentingnya Konservasi serta fungsi hutan, jangan biarkan kehancuran menjadi bagian dari cerita kita. (Ryn) Sumber: Sarah Damayanti N., S.Hut. - Penyuluh SKW III Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Mendengarkan Bisikan Gua Nglirip

Tuban, 7 Juni 2025. Di balik rimbun dedaunan tua dan akar yang menjerat bumi, Cagar Alam Gua Nglirip tak hanya menyimpan dongeng masa lalu. Ia menyimpan kehidupan, bernafas dalam senyap, bergerak dalam bayang, dan berbicara dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka yang bersedia berjalan pelan, mendengarkan, dan membaca jejak. Pada 3–4 Juni 2025, sebuah tim kecil berjalan menyusuri denyut jantung kawasan ini, tak hanya dengan langkah, tapi dengan ilmu, keberanian, dan hati. Di tengah mereka berdiri Tri Wahyu Widodo, Pengendali Ekosistem Hutan, sang mata rimba, sang pembaca makna alam. Dari Bojonegoro, tim berangkat dengan sepeda motor, menembus perbukitan dan jalanan tanah hingga tiba di Pos RKW 04. Dari sana, perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki. Sunyi menyambut, dan rimba membuka gerbangnya, bukan kepada sembarang orang, tapi kepada mereka yang datang dengan niat menjaga. Tri Wahyu Widodo, lebih dari sekadar petugas, ia adalah penjaga pengetahuan. Di tangannya, sehelai daun tak sekadar hijau, melainkan potongan sejarah ekosistem. Setiap kicauan burung, setiap suara ranting patah, dibacanya seperti kalimat dalam buku tua yang tak semua orang bisa pahami. Dengan mata tajam dan napas teratur, ia berjalan bersama mengamati keanekaragaman hayati di grid 03 hingga 06. Bersamanya, tim gabungan dari Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II, Resort Konservasi Wilayah (RKW) 04, Polisi Kehutanan, Penyuluh Kehutanan dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), menyatu dalam langkah yang sama, menjaga kehidupan. Jejak yang Tak Terucap, Tapi Terlihat Hutan memberi tanda-tanda ketika Seekor Cinenen pisang melompat cepat dari semak, Madu Sriganti menghisap nektar terakhir sebelum senja dan Wiwik Kelabu memecah keheningan dengan nyanyian serak yang seolah datang dari masa lalu. Kadalan birah, Cekakak jawa, Bondol jawa, Kutilang, hingga Ular tali picis dan Kongkang kolam, satu per satu menunjukkan bahwa kawasan ini masih terjaga. Tri Wahyu dan tim mencatat semuanya, tidak hanya dengan pena, tapi dengan pengalaman dan kecintaan yang sudah terpatri selama bertahun-tahun di dunia konservasi. Ia menyentuh batang pohon Jati, Sengon, Kepuh, Kedoya, dan mengukur tinggi serta kelilingnya. Ia mengenali Cincau hijau, Sambiloto, Katuk, dan Rawe hanya dari bentuk daunnya yang menari pelan ditiup angin senja. Setiap spesies yang ia temui bukan sekadar nama, tapi bagian dari lanskap yang harus tetap dijaga kelestariannya. Simfoni Sunyi Konservasi Sementara Polhut mengawal jalur, memastikan tak ada jejak pelanggaran hukum, Penyuluh Kehutanan menyampaikan makna hutan kepada mitra dari desa, menjadikan konservasi bukan hanya tugas negara, tapi bagian dari jiwa masyarakat. Tak ditemukan satu pun pelanggaran hukum. Semua pal batas masih tegak berdiri, seolah menyapa dengan diam, mengucapkan terima kasih kepada mereka yang datang bukan untuk mengambil, tapi menjaga. Dan di tengah semuanya, Tri Wahyu Widodo berdiri sebagai mata dan telinga hutan. Ia membaca, mencatat, dan menyampaikan isi hati alam liar kepada manusia modern yang kerap lupa cara mendengarkan. Mungkin tak banyak orang yang tahu nama-nama burung kecil itu. Atau peduli akan diameter batang pohon yang disusuri garis ukur. Tapi bila suatu hari nanti, anak-anak kita masih bisa mendengar cekakak sungai bersahutan di senja Gua Nglirip, itu karena ada mereka yang berjalan di hari ini, dalam diam, dalam sunyi, demi sebuah kehidupan yang terus berdenyut di dalam hutan. Gua Nglirip memang penuh misteri. Tapi tak ada misteri yang lebih dalam dari kerja sunyi para penjaga alam, yang memilih berjalan jauh agar kehidupan tetap dekat. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Perdagangan Kayu Sonokeling Dan Sarang Walet Bojonegoro Tembus Pasar Dunia, Tapi Kini Terancam Gagal Ekspor!

Bojonegoro, 6 Juni 2025. Di balik dinding pabrik dan gudang ekspor yang tampak biasa di Kabupaten Bojonegoro, tersimpan kisah perdagangan dua komoditas alam yang bernilai tinggi, kayu Sonokeling dan sarang burung walet. Komoditas ini bukan hanya sekadar barang dagangan, melainkan menjadi bagian dari jaringan global yang membawa nama Indonesia ke pasar ekspor internasional. Namun, siapa sangka, meski sudah mengantongi izin resmi, dua perusahaan besar asal Bojonegoro ini kini terancam gagal ekspor! Perdagangan Legal di Ambang Krisis Dalam kegiatan monitoring pada Rabu (5/6), tim Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro - Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menemukan fakta menarik, CV. Sono Prima dan UD. Delapan Seputnik adalah pelaku usaha yang sah dan memiliki izin lengkap. CV Sono Prima memegang izin pengedar luar negeri untuk kayu Sonokeling (Dalbergia latifolia), kayu eksotis yang masuk dalam Appendix II CITES, sementara UD. Delapan Seputnik memiliki izin ekspor sarang burung walet (Collocalia fucipaga) dari Dirjen KSDAE. Keduanya memiliki jejak ekspor yang membanggakan. CV. Sono Prima bahkan menyuplai bahan baku untuk perusahaan musik ternama Yamaha Jakarta, sementara sarang walet dari UD. Delapan Seputnik pernah terbang jauh hingga ke konsumen Asia Timur. Masalah muncul saat kebijakan kenaikan tarif impor dari Presiden Amerika Serikat mulai berlaku. Imbasnya langsung terasa, ekspor mandek, neraca perdagangan menurun, dan aktivitas produksi jadi terancam stagnan. Menanggapi hal tersebut akhirnya mereka menunda kegiatan ekspor. Pelaku Usaha Desak Percepatan Layanan Dalam pertemuan itu, para pelaku usaha menyampaikan uneg-uneg yang jarang terdengar publik, mereka butuh kecepatan pelayanan ekspor. Bukan hanya soal izin, tapi soal waktu, karena dalam bisnis ekspor, satu hari keterlambatan bisa berarti kehilangan pasar. BBKSDA Jatim Hadir untuk Menjaga Keseimbangan Melalui kegiatan monitoring ini, BBKSDA Jatim berupaya menjaga keseimbangan antara pengawasan konservasi dan dukungan terhadap ekonomi legal berbasis sumber daya alam hayati. Legal, terpantau, dan berkelanjutan, itulah yang menjadi tujuan utama. Hadirnya petugas BBKSDA Jatim tidak hanya mengawasi, tapi juga mendengar dan mendorong solusi bersama dimana perlindungan dan pemanfaatan harus berjalan seimbang. Apakah perdagangan alam Indonesia mampu bertahan di tengah guncangan kebijakan global? Satu hal pasti, tanpa kecepatan layanan dan sinergi antar pihak, kayu dan walet bukan lagi komoditas unggulan, melainkan simbol peluang yang hilang.(dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Rimbawan Mengajar di Universitas Sumatera Utara

Medan, 5 Juni 2025. Rimbawan mengajar merupakan langkah konkrit sebagai implementasi dari Perjanjian Kerjasama antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA SU) dengan Dekan Universitas Sumatera Utara. Samuel Siahaan, sebagai perwakilan dari BBKSDA SU menyampaikan 3 materi pembelajaran yaitu: Jasa Lingkungan Sebagai Penyedia Jasa Wisata Alam, Jasa Lingkungan Hutan Sebagai Perlindungan Budaya (Cultural) dan Jasa Lingkungan Hutan Sebagai Penyedia Jasa Hidrologis. Kegiatan rimbawan mengajar dilaksanakan selama 3 hari. 2 pertemuan dilaksanakan secara luring di Kampus USU Bekala, Simalingkar A, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara dan 1 Sesi daring melalui Zoom yang diikuti oleh Mahasiwa Fakultas Kehutanan USU Kelas A dan B semester 2. Pertemuan Pertama dengan Topik “Jasa Lingkungan Hutan sebagai Penyedia Jasa Wisata Alam” diikuti oleh 30 Mahasiswa, selanjutnya Pertemuan Kedua dengan Topik “Jasa Lingkungan Hutan sebagai Perlindungan Budaya (Cultural) diikuti oleh 37 Mahasiswa dan pertemuan kegiata melalui Zoom dengan Topik “Jasa Lingkungan Hutan sebagai Penyedia Jasa Hidrologis” diikuti sejumlah 77 Mahasiswa. Pada setiap pertemuan, narasumber menyampaikan materi dalam bentuk power point dan video-video Kegiatan. Pada setiap sesi mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk bertanya seputar topik yang disampaikan dengan didampingi oleh Dosen Pengampu untuk mempertajam setiap topik yang disampaikan. Semoga dengan kegiatan praktisi mengajar ini, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran strategis jasa lingkungan hutan sebagai penyedia jasa lingkungan wisata alam, perlindungan budaya (cultural) dan penyedia jasa hidrologis. Pemahaman ini tidak hanya penting secara akademis, tetapi juga menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yang berkelanjutan di bidang kehutanan dan khususnya pengelolaan konservasi sumber daya alam dan ekosistem secara lestari dan berkelanjutan. Sumber: Samuel Siahaan, S.P-PEH Pertama Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Puspa Pesona di Tengah Rimba Bawean

Bawean, 10 Juni 2025. Di pertengahan Mei 2025, saat lembab dan sunyi menyelimuti hutan Cagar Alam Pulau Bawean, langkah saya dan tim SMART Patrol Balai Besar KSDA Jawa Timur terhenti oleh sebuah penampakan yang memukau. Dari batang pohon tua yang menjulang, menggantung anggun sekumpulan bunga putih dengan mahkota bersemu kuning. Tak salah lagi, itulah Phalaenopsis amabilis, sang Anggrek Bulan, puspa pesona bangsa Indonesia. Temuan ini bukan hanya kebetulan alam. Ia adalah pengingat bahwa di tengah keterisolasian Pulau Bawean yang berada di Laut Jawa, kehidupan liar masih menari dengan keanggunannya sendiri, menolak dilupakan. Sebagai puspa pesona yang ditetapkan melalui Keputusan Presiden RI Nomor 4 Tahun 1993, Anggrek Bulan mendampingi dua puspa lainnya, Melati (puspa bangsa) dan Padma Raksasa (puspa langka). Namun di alam bebas, keberadaan Anggrek Bulan semakin jarang terlihat akibat degradasi habitat, eksploitasi ilegal, dan perubahan iklim. Cagar Alam Pulau Bawean, Rumah Sunyi Sang Puspa Cagar Alam Pulau Bawean merupakan benteng terakhir bagi banyak jenis flora dan fauna endemik, termasuk Rusa Bawean (Axis kuhlii). Namun tak banyak yang tahu bahwa hutan primer di pulau ini juga menyimpan permata epifit seperti Anggrek Bulan. Tumbuh di batang pohon besar, Phalaenopsis amabilis tidak mencederai inangnya. Ia hanya menggenggam kulit kayu, menyerap kelembaban dari udara, dan menyambut sinar pagi di sela kanopi hutan. Dalam patroli yang kami lakukan, koloni Anggrek Bulan yang mekar sempurna itu hadir seperti lukisan hidup, kelopaknya bersih seputih awan, seolah menggantung antara bumi dan langit. Ia adalah keindahan yang lahir dari kesunyian dan keseimbangan. Konservasi, Dari Dokumentasi Menuju Tindakan Nyata Penemuan ini memberi harapan sekaligus tanggung jawab. Balai Besar KSDA Jawa Timur terus mendorong penguatan konservasi berbasis data dan pengamatan lapangan. Patroli berbasis SMART (Spatial Monitoring and Reporting Tool) menjadi instrumen penting untuk tidak hanya mencatat kehadiran satwa liar, tetapi juga flora seperti Anggrek Bulan. Kami yakin bahwa konservasi bukan hanya menyelamatkan spesies, tetapi juga menjaga cerita, warisan, dan harmoni. Maka dokumentasi seperti ini menjadi langkah kecil namun bermakna dalam melindungi puspa pesona bangsa di tempat ia semestinya berada, di alam liar, bebas, dan utuh. Simfoni Hening dari Bawean Anggrek Bulan tidak tumbuh di kebisingan. Ia mekar dalam senyap, di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk manusia. Di Cagar Alam Pulau Bawean, ia menunjukkan bahwa keindahan tak selalu harus dijemput, kadang ia justru menanti, diam-diam, di pelataran hutan yang lestari. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Di Balik Kabut, Anggrek Liar dan Kijang Menjaga Kesunyian Gunung Sigogor

Ponorogo, 7 Juni 2025. Di balik lapisan kabut tipis yang menggantung di hutan pegunungan, Gunung Sigogor menyimpan sebuah dunia yang tak banyak diketahui manusia. Di sinilah, pada ketinggian lebih dari seribu empat ratus meter di atas permukaan laut, waktu berjalan lambat, dan kehidupan liar berbisik di antara batang-batang pohon tua. 2-5 Juni 2025, para penjaga rimba dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06 - Seksi Konservasi Wilayah II, Balai Besar KSDA Jawa Timur, menapaki jalan sunyi menuju jantung Cagar Alam Gunung Sigogor dalam misi SMART Patrol selama empat hari. Bukan sekadar patroli biasa, ini adalah perjalanan ke dalam nadi kehidupan liar yang terus berdetak diam-diam di Blok Cengger, pada Grid 6, 13, dan 14. Langkah-langkah kaki mereka menyibak dedaunan basah dan jalur setapak yang nyaris dilupakan. Di sepanjang perjalanan, mereka menjumpai jejak-jejak flora purba, Riwono (Smilax zeilanica) yang merambat sunyi, Rotan (Calamus sp) yang menjulur tajam namun anggun, dan Nyampuh (Pygeum parviflorum) yang tegak menjaga tebing. Daftar itu tak berhenti, pohon Pasang, Cemara Gunung, dan Kemaduh berdiri seperti penjaga tua kawasan, menyimpan suara angin dan waktu. Namun yang paling memukau adalah kehadiran anggrek liar. Mereka tak berteriak, tak menampakkan diri dengan gegap gempita. Mereka hanya tumbuh, dalam diam, di batang tua yang berlumut, menyerap kabut dan kelembaban pagi. Bulbophyllum, Vanda, Dendrobium, Pholidota, Eria, Polystachya, dan Oberonia adalah nama-nama indah yang hidup sebagai epifit, membentuk lukisan hidup yang tak mungkin dibuat ulang oleh tangan manusia. Di antara hening dan sejuknya hutan, para petugas juga menjumpai Kijang (Muntiacus muntjak) yang lari menyibak semak, Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang melompat lincah di antara tajuk pohon, dan Takur Tohtor (Psilopogon armillaris) yang melantunkan lagu pagi. Tak ketinggalan, jamur dari marga Ganoderma dan Russula mewakili dunia mikro yang juga hidup menepi namun penting. Dua pal batas kawasan (Pal 60 dan 61) ditemukan dalam kondisi utuh dan tidak ada tanda-tanda gangguan. Tak satu pun jejak perambahan atau pelanggaran hukum ditemukan. Sigogor, untuk saat ini, masih aman. Tapi hutan tidak pernah benar-benar tidur. Ia hanya menanti, siapa yang datang, penjaga atau perusak. Patroli ini bukan sekadar kewajiban. Ia adalah bentuk kesetiaan manusia kepada alam yang tak pernah meminta lebih selain dihormati. Di Gunung Sigogor, kehidupan tumbuh perlahan dan para penjaga rimba berjalan dalam hening, memastikan semuanya tetap seperti itu. Smart Patrol tidak hanya mendata spesies, ia membaca nafas hutan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pembekalan CPNS dan Pemantapan PNS Balai TN Taka Bonerate: Sosialisasi Aplikasi dan Pengisian SKP

Pulau Selayar, 5 Juni 2025. Sebanyak 26 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementerian Kehutanan yang ditempatkan pada Balai Taman Nasional Taka Bonerate mengikuti kegiatan pembekalan sekaligus pemantapan bagi seluruh PNS di lingkungan balai tersebut. Kegiatan ini difokuskan pada Sosialisasi Pengenalan Aplikasi dan Pengisian Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), dilaksanakan secara hybrid di Ruang Pertemuan Balai TN Taka Bonerate (04/06). Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Usman, bertindak sebagai pemateri utama. Dalam paparannya, ia menjelaskan tata cara pengoperasian aplikasi serta mekanisme pengisian SKP secara tepat dan akurat. Di akhir acara, Usman mengingatkan pentingnya mematuhi tenggat waktu pengisian SKP. Bagi CPNS, pengisian dimulai sejak Juni sesuai dengan Surat Perintah Melaksanakan Tugas (SPMT), dengan batas akhir 15 Juli 2025. Sementara bagi PNS, batas pengumpulan bukti laporan kegiatan Triwulan I berakhir pada 5 Juni 2025. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman peserta dalam menyusun target kinerja serta mendorong disiplin dalam pelaporan. Dengan demikian, seluruh pegawai dapat berkontribusi optimal bagi pengelolaan kawasan konservasi Taka Bonerate. Sumber: Asri PEH Ahli Muda/Humas - Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Pelatihan Pemandu Lokal TN Gandang Dewata, Tingkatkan Kompetensi dan Kesadaran Konservasi

Makassar, 03 Juni 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) menyelenggarakan Pelatihan Interpretasi Keanekaragaman Hayati (Kehati) bagi Pemandu Lokal Taman Nasional Gandang Dewata (TNGD) pada tanggal 26–28 Mei 2025 di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. Pelatihan diikuti oleh berbagai elemen pemandu wisata dan komunitas ekowisata seperti Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Sulawesi Barat, Ekowisata Batu Bulan, Ekowisata Orong Sisiku, Kelompok Pecinta Alam (KPA) Quarlez, KPA Mamasa Pelang Buana, serta Pemandu Lokal Malino Gowa. Pelatihan Interpretasi Kehati bagi pemandu lokal TNGD menghadirkan berbagai narasumber berkompeten: Maipa Dia Pati (Balai Besar KSDA Sulsel) membahas pengelolaan TNGD dan perizinan pemandu pendakian. Ibrahim Paotonan (Dinas Pariwisata Mamasa) menyampaikan strategi ekowisata daerah. Akademisi Universitas Sulawesi Barat, Muh. Syarif dan Yulsan Demma Semmu, memaparkan keanekaragaman hayati serta identifikasi flora-fauna endemik. Sementara itu, tim Klik Hijau, Dr. Anis Kurniawan dan Dr. Irfan Palippui, memberikan pelatihan teknik interpretasi wisata alam. Seluruh sesi dipandu oleh drh. Nur Fadhilah Pardan dari BBKSDA Sulsel. Peningkatan Kapasitas dan Kesadaran Konservasi Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan pemahaman para pemandu dalam menjelaskan kondisi ekosistem dan keanekaragaman hayati TNGD kepada pengunjung melalui pendekatan interpretasi yang komunikatif dan edukatif. Para peserta tidak hanya mempelajari tentang flora dan fauna endemik, tetapi juga tentang cara menyampaikan kepada wisatawan dengan menarik dan penuh makna. Mereka belajar dari para ahli, akademisi, praktisi wisata alam, hingga penggiat lingkungan, tentang pentingnya menjadi pemandu yang mampu menginspirasi dan mengedukasi. Lebih dari itu, kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kesadaran dan semangat pelestarian alam pemandu lokal, sekaligus mendorong wisata berbasis konservasi yang mampu memberikan pengalaman wisata yang bermakna bagi pengunjung. Hasilnya, lahir pemandu-pemandu yang tidak hanya mengenal jalur pendakian, tetapi juga memahami nilai konservasi alam. Karena melestarikan bukan hanya soal alam, tapi juga tentang masa depan wisata alam yang berkelanjutan. Rencana Tindak Lanjut Sebagai upaya mendukung keberlanjutan program pelatihan interpretasi keanekaragaman hayati bagi pemandu lokal, dirancang tindak lanjut strategis berupa pendampingan perizinan usaha mandiri, sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian, studi banding ke taman nasional yang telah sukses menerapkan pemanduan profesional, serta pelatihan Search and Rescue (SAR) guna meningkatkan kesiapsiagaan pemandu lokal. Tingginya partisipasi peserta dalam pelatihan ini mencerminkan semangat dan komitmen bersama untuk mengembangkan wisata alam yang bertanggung jawab di kawasan TNGD. Bersama kita melangkah menuju masa depan TNGD yang lestari dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar kawasan. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi: Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP.17/K.8/TU/Humas/6/2025) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Menata Pengelolaan Obyek Wisata di TWA Malino

Makassar, 27 Mei 2025 – Balai Besar KSDA Sulsel bersama para pihak mengadakan rapat dengan agenda Tindak Lanjut Pengelolaan Obyek Wisata di Taman Wisata Alam (TWA) Malino. Rapat dihadiri oleh Sekretaris Disparbud Kab.Gowa, Perseroda Kab. Gowa, DPRD Gowa, Kepala Desa Manimbahoi bersama Direktur Bumdes. Rapat dibuka oleh Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, dan dilanjutkan dengan pemaparan profil TWA Malino dan Tata Kelola Perizinan Pariwisata Alam di Kawasan Konservasi. TWA Malino dengan luas 6.814,58 Ha memiliki potensi wisata alam yang cukup tinggi berupa lanskap pegunungan yang indah, hutan pinus serta air terjun, menjadikan TWA Malino merupakan salah satu aset penting wisata alam Kab. Gowa. Dari hasil diskusi yang berkembang diperoleh beberapa kesimpulan antara lain, Hutan Pinus TWA Malino yang dikelola oleh Disparbud Gowa diarahkan untuk diajukan permohonan Perizinan Berusaha Pengusahaan Sarana Wisata Alam (PB-PSWA) melalui Badan Usaha (Perseroda) sambil menunggu proses pengesahan desain tapak. PB-PSWA merupakan izin usaha yang diberikan bagi penyediaan fasilitas sarana serta pelayanannya yang diperlukan dalam kegiatan pariwisata alam. Sementara itu, Bumdes Tanralili Raya diarahkan untuk diajukan Perizinan Berusaha Penyedia Jasa Wisata Alam (PBPJWA) khususnya Jasa Perjalanan Wisata. Disparbud Gowa, Bumdes Tanralili dan Perseroda merespon baik arahan tindak lanjut perizinan tersebut. “Kita akan terus melakukan sinkronisasi agar tercipta keseimbangan ekologi, legalitas, kolaborasi dan sinergitas dalam pengelolaan kawasan konservasi”, kata Sekretaris Disparbud. Pengajuan PBPSWA dan PBPJWA diharapkan dapat berkontribusi dalam peningkatan ekonomi masyarakat dengan tetap memperhatikan kelestarian sumber daya hutan yang ada. Para pihak terkait sepakat untuk terus berkolaborasi dalam meningkatkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Peningkatan nilai PNBP diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi pengembangan infrastruktur pariwisata sekaligus mendukung upaya-upaya konservasi. PNBP dapat pula digunakan untuk mendukung kegiatan masyarakat sekitar TWA Malino, seperti pelatihan dan pengembangan ekonomi lokal, sekaligus dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi lingkungan melalui pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP. 15 /K.8/TU/Humas/5/2025) Call Center BBKSDA Sulsel:08114600883
Baca Artikel

Cegah Aksi Perambahan,Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan Giatkan Sosialisasi

Padangsidimpuan, 3 Juni 2025. Kerusakan kawasan hutan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan, semakin rendah kondisi sosial ekonominya maka akan semakin tinggi ketergantungannya terhadap kawasan hutan. Fakta ini mendorong perlunya dilakukan upaya-upaya untuk mencegah semakin luasnya kerusakan hutan akibat perambahan masyarakat. Salah satu upaya untuk menekan laju kerusakan hutan akibat perambahan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Barumun, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang pada Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, baru-baru ini melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat Desa Matondang, Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Padang Lawas, yang dilaksanakan di Gedung MDA Desa Matondang (Senin, 26 Mei 2025), dihadiri oleh Kepala Desa Matondang, Sekretaris Camat Ulu Barumun, Danpos Koramil 08 Barumun Kodim 0212 TS dan jajaran Resor Barumun III. Dalam paparannya Kepala Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang, Siti Wahyuna, SP. mengingatkan masyarakat agar tidak membuka kawasan SM. Barumun untuk kegiatan pertanian perkebunan, karena hal tersebut akan mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan Kawasan Suaka Alam. Merambah hutan dan melakukan aktivitas ilegal di dalam kawasan SM. Barumun merupakan tindakan melawan hukum seperti tertuang dalam Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pasal 50 Pasal 3, ataupun Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya terutama dalam pasal 19 ayat 1 dan 2, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 11 (sebelas) tahun dan pidana denda paling sedikit kategori III dan paling banyak kategori VII. Kegiatan sosialisasi ini merupakan salah satu langkah dalam memberikan edukasi sekaligus himbauan kepada masyarakat mengingat tingginya ancaman gangguan terhadap kawasan konservasi, seperti perambahan hutan, pemungutan hasil hutan kayu maupun non kayu, pembakaran hutan dan kegiatan ilegal lainnya yang menyebabkan penurunan fungsi kawasan konservasi dan berimbas pada rusaknya habitat flora maupun fauna. Oleh karena itu sosialisasi ini penting digiatkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kawasan konservasi sekaligus menambah pengetahuan masyarakat terkait regulasi kehutanan agar keutuhan kawasan konservasi dapat dipertahankan. Sumber: Irwan Hanafi, S. Hut., MM (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Harlah Pancasila 2025: Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya

Medan, 3 Juni 2025. Jajaran Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kehutanan lingkup Provinsi Sumatera Utara bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara menggelar upacara peringatan Hari Kelahiran Pancasila di Medan, Sumatera Utara, Senin (2/6). Mengusung tema “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya”. Peringatan ini menjadi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mengaplikasikannya dalam setiap aspek kehidupan. Upacara peringatan Harlah Pancasila ini berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat kebangsaan. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env, bertindak sebagai inspektur upacara dan membacakan pidato Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Yudian Wahyudi. Kepala BPIP menegaskan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang lahirnya rumusan dasar negara, tetapi juga untuk meneguhkan kembali komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi pondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pancasila bukan sekedar dokumen historis atau teks normatif yang tertulis dalam pembukaan UUD 1945. Ia adalah jiwa bangsa, pedoman hidup bersama, serta bintang penuntun dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Pancasila menjadi rumah besar bagi keberagaman Indonesia. Pancasila menjadi alat pemersatu lebih dari 270 (dua ratus tujuh puluh) juta jiwa dengan latar belakang suku, agama, ras, budaya dan bahasa yang berbeda. Perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk bersatu. Sila pertama hingga sila kelima terkandung prinsip-prinsip yang menuntun kita untuk membangun bangsa dengan semangat gotong-royong, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Pemerintah telah menetapkan Asta Cita sebagai delapan agenda prioritas menuju Indonesia Emas 2045, dan salah satu yang paling fundamental dalam Asta Cita tersebut adalah memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi dan hak asasi manusia. Kemajuan ekonomi tanpa pondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan. Kemajuan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi. Oleh karena itu melalui Asta Cita, kita dipanggil untuk melakukan revitalisasi nilai Pancasila dalam segala dimensi kehidupan. Seluruh elemen bangsa dari pusat hingga daerah, dari pejabat hingga masyarakat, dari tokoh agama hingga pemuda, memiliki peran untuk menjadi pelaku utama pembumian pancasila. Peringatan Hari Lahir Pancasila harus menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa berada di tangan kita oleh karena itu Pancasila harus tetap menjadi jiwa dalam setiap denyut nadi pembangunan. “Marilah kita terus bergotong-royong, menjaga persatuan, menghargai perbedaan dan menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap aspek kehidupan. Jadikan Pancasila sebagai sumber inspirasi dalam berkarya, berbangsa dan bernegara”. Demikian bunyi pidato penutup Kepala BPIP yang dibacakan oleh Inspektur Upacara. Sumber : Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pembinaan dan Penyegaran Masyarakat Mitra Polhut di Sekitar Cagar Alam Sungai Lulan dan Sungai Bulan

Tanjung Seloka, 29 Mei 2025 – Sebagai bentuk komitmen dalam pelestarian kawasan konservasi, kegiatan Pembinaan dan Penyegaran Kelompok Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Cagar Alam Sungai Lulan dan Sungai Bulan telah sukses dilaksanakan. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat semangat, serta kerja sama antara MMP dan pengelolaan kawasan dalam menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati. Kegiatan pembinaan dan penyegaran kelompok Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dari Desa Labuan Mas, Desa Tanjung Serudung, dan Desa Tanjung Seloka Utara telah sukses dilaksanakan pada akhir Mei bertempat di Kantor Kecamatan Pulau Laut Selatan. Acara ini dihadiri oleh Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Darwin, S.Hut.T, Kepala Resort Cagar Alam Sungai Lulan dan Sungai Bulan, staf kecamatan. Semoga kegiatan ini semakin memperkuat peran aktif MMP dalam menjaga kelestarian kawasan konservasi kita bersama. Sumber: M. Fattah Al Qifari - PEH Seksi Konservasi Wilayah Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Rayakan HUT ke 7, GRAS Gelar Aksi Pelestarian Lingkungan Dengan PALH SMAN 2 Medan

Medan – 2 Juni 2025. Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), sebuah organisasi kelompok pencinta alam (KPA) di bawah binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-7 terbentuknya organisasi tersebut dengan melakukan sosialisasi aksi pelestarian lingkungan kepada anggota sispala PALH SMAN 2 Medan, pada Selasa (27/5). Founder/Ketua Umum GRAS Nurhabli Ridwan, mengatakan rangkaian kegiatan HUT GRAS tahun ini dilaksanakan secara sederhana, pagi hari ketua GRAS melakukan donor darah di mobil unit transfusi darah PMI Kota Medan, siang harinya mendatangi SMAN 2 Medan untuk sosialisasi aksi pelestarian lingkungan, salah satunya sosialisasi konservasi lebah madu, tanam pohon, aksi bersih dan berakhir dengan pemberian 1 kotak/stup mini toping benih lebah madu klanceng (Trigona laeviceps) untuk dibudidayakan oleh pengurus dan anggota sispala PALH SMAN 2 Medan. Ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan peduli lingkungan yang sering GRAS laksanakan, dan melalui kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi lingkungan serta generasi mendatang. Terlebih lebah madu klanceng spesies T. laeviceps (biasa disebut ‘levi’) yang diberikan, bisa menjadi langkah konservasi karena merupakan lebah yang sangat bermanfaat untuk tanaman dan hutan, berperan sebagai penyerbuk, menghasilkan madu dan propolis, serta membantu mengendalikan hama. Oleh karena itu, pemanfaatan T. laeviceps dapat menjadi solusi dalam meningkatkan produktivitas tanaman dan konservasi hutan. Dengan adanya lebah klanceng juga meningkatkan kesadaran pelajar akan pentingnya lebah bagi ekosistem, memberikan manfaat bagi kesehatan dan ekonomi lingkungan. GRAS merupakan organisasi non-profit dengan dasar sukarelaan (volunteerism) para anggotanya, merupakan organisasi kepemudaan yang bergerak dalam bidang sosial, bencana dan jelajah alam konservasi. Pada 27 Mei 2018 secara resmi GRAS didirikan di Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara oleh 4 orang pemuda yang memiliki kesamaan kegemaran akan berkegiatan sosial, bencana dan jelajah alam konservasi yaitu Nurhabli Ridwan, Salman Naiborhu, Amd. Kom , Tommy Afandi, SP dan Mukhlis Azhar Pane. GRAS berasaskan musyawarah, kekeluargaan, kemandirian dan solidaritas yang kuat, secara tidak langsung juga diperuntukkan sebagai wadah ataupun tempat berkumpul bagi para rimbawan maupun masyarakat pemuda - pemudi agar dapat mengembangkan bakat serta kemampuan yang bersifat positif dibidangnya. GRAS juga sebagai sarana untuk meningkatkan kreativitas generasi masyarakat pemuda - pemudi yang aktif dan kreatif serta berkualitas guna terciptanya kader sosial, bencana dan jelajah alam konservasi serta lingkungan hidup yang benar-benar tangguh dalam menangani masalah-masalah yang terjadi disekitar alam serta lingkungan hidup dan kehutanan. Dalam 7 tahun usianya tentu tidaklah mudah, berbagai tantangan serta rintangan menjadi bagian dari dinamika yang dihadapi para anggota. Namun, dengan semangat pantang menyerah dan dukungan yang solid di antara anggota, GRAS telah banyak melakukan kegiatan positif diantaranya : Mengadakan aksi penanaman pohon di lereng terjal daerah rawan longsor di CA/TWA Sibolangit, melakukan sosialisasi mitigasi bencana dan konservasi di sekolah-sekolah wilayah kota Medan, membuat sarana budidaya tanaman vetiver, membuat sarana budidaya maggot BSF, konservasi budidaya lebah madu klanceng (Trigona laeviceps) dan kegiatan lainnya. Selain itu, GRAS juga mengikuti berbagai kegiatan baik di tingkat nasional maupun kabupaten dan provinsi diantaranya : mengikuti kegiatan Gladian Nasional Pencinta Alam se Indonesia ke XIV Tahun 2018 di Sumatera Barat, mengikuti latihan gabungan navigasi darat se Sumatera ke 1 tahun 2019 di hutan Rimbang Baling Riau, mengikuti kegiatan kemah konservasi BBKSDA Sumut tahun 2019, menjadi narasumber pelatihan pemandu wisata alam susur goa (Caving) Dinas Pariwisata Kabupaten Karo tahun 2019, menjadi instruktur Pendidikan Dasar Mapala Swarna Bhumi Universitas Labuhan Batu (ULB) tahun 2021, mengikuti peningkatan kapasitas Kader Konservasi binaan BBKSDA Sumut tahun 2021, mengikuti pelatihan Jurnalistik Fotografi BBKSDA Sumut tahun 2024, dan kegiatan lainnya. Dari beberapa kegiatan yang telah dilakukan dan diikuti oleh GRAS, terdapat prestasi yang telah diraih para anggota delegasi GRAS dalam mengikuti berbagai kegiatan, diantaranya : Juara 3 Duta Konservasi Alam Balai Besar KSDA Sumatera Utara (2019), Juara Harapan II Lomba Foto Lingkungan Gerakan Pilah Sampah Nasional Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019, Duta Pemuda Peduli Lingkungan Asri dan Bersih (Pepelingasih) Kemenpora Tahun 2020, Wisudawan Terbaik Pendidikan Green Leadership Indonesia Batch 1 (2021) yang menerima penghargaan langsung dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. di Jakarta dan prestasi lainnya. Tahun 2025 GRAS terpilih sebagai penerima manfaat layanan dana masyarakat untuk lingkungan Bacth 2 yang diseleksi oleh tim FOLU RBC 2 & 3 Kementerian Kehutanan. Nurhabli mengucapkan terima kasih kepada seluruh anggota GRAS dan semua pihak yang selama ini telah mendukung kegiatan GRAS. Semua prestasi yang diperoleh, tidak terlepas dari dukungan, pembinaan dan pendampingan yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara selaku pembina KPA GRAS di bidang konservasi alam dan lingkungan hidup. Nurhabli Ridwan yang juga Kader Konservasi Alam (KKA) binaan BBKSDA Sumut menambahkan, pada 25-26 Juni 2025 nanti GRAS juga akan melaksanakan kegiatan Camp Edukasi Biodiversity and Cleanup Movement di CA/TWA Sibolangit. Kegiatan ini merupakan sebuah program pelatihan gerakan lingkungan hidup dan kehutanan bagi kaum muda pelajar sumatera utara yang diselenggarakan oleh GRAS dengan anggaran layanan dana masyarakat untuk lingkungan (Small Grant) Periode ke 2 yang ada di BPDLH Kementerian Kehutanan. Kegiatan ini akan berkolaborasi dengan BBKSDA Sumut, Genetika FP UISU, Alumni pendidikan Green Leadership Indonesia dan Green Ambassador Green Youth Movement (GYM) Sumatera Utara. Direncanakan akan diikuti 100 peserta pelajar SMP dan SMA Sederajat Provinsi Sumatera Utara, yang akan menjadi kader muda konservasi alam serta duta konservasi. Rangkaian kegiatan dimulai dengan edukasi lingkungan hidup dan kehutanan, orientasi kawasan hutan di lanjut penanaman pohon, aksi bersih dan berakhir dengan pengukuhan Duta Konservasi. Program ini merupakan wadah bagi generasi muda untuk bertukar pengetahuan dalam melakukan perlindungan, pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan. Ketua Sispala PALH SMAN 2 Medan, Malkia Valentino Saragih mengucapkan selamat ulang tahun GRAS ke 7 tahun, terima kasih sudah sharing ilmu konservasi. Semoga GRAS semakin aktif dalam kegiatan konservasi dan edukasi lingkungan, serta terus menjadi contoh bagi generasi muda dalam menjaga alam Indonesia khususnya Sumatera Utara, memberikan kontribusi nyata dalam upaya pelestarian lingkungan dan mengukir prestasi yang membanggakan. Sumber: Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam / KPA GRAS) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Cegah Forestry Crime, BBKSDA Sumut Koordinasi Ke Polresta Padangsidimpuan

Padangsidimpuan, 28 Mei 2025. Tindak kejahatan kehutanan (Forestry Crime) merupakan tindak pidana yang terjadi di sektor kehutanan, salah satunya melalui perdagangan ilegal tumbuhan dan satwa liar. Salah satu upaya pencegahan dan untuk menekan laju tindak kejahatan kehutanan terutama peredaran ilegal tumbuhan dan satwa liar adalah melalui kolaborasi dengan Kepolisian Republik Indonesia (POLRI). Salah satu hambatan dalam pencegahan/penanganan tindak pidana adalah keterbatasan sumber daya manusia. Untuk itu Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, Ph.D telah menandatangani MoU dengan Kapolri Listyo Sigit Prabowo, M.Si. Melalui kolaborasi ini, POLRI yang memiliki jaringan sampai ke pelosok desa dan tingkat tapak akan membantu Kementerian Kehutanan dalam menjaga hutan dari Kebakaran hutan dan lahan serta kejahatan terhadap satwa dilindungi. Sebagai respon dari MoU tersebut, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III telah melaksanakan silaturahmi dan koordinasi dengan Kepolisian Resor Kota Padangsidimpuan, Kamis 22 Mei 2025. Kepala Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan, Susilo Ari Wibowo, S. Hut., M.Sc beserta jajarannya menyampaikan perlunya dukungan dari Kepolisian Resor Padangsidimpuan untuk mencegah dan menekan laju peredaran illegal tumbuhan dan satwa liar terutama jenis-jenis yang dilindungi melalui upaya penegakan hukum maupun kolaborasi melalui platform media sosial untuk mengedukasi masyarakat. Kapolresta Padangsidimpuan, AKBP Dr.Wira Prayatna, SH, S. IK, MH menyambut baik kunjungan Kepala Bidang KSDA Wilayah III beserta jajarannya dan siap mendukung upaya pencegahan peredaran ilegal tumbuhan dan satwa liar, penegakan hukum serta mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam kepemilikan tumbuhan dan satwa liar. Sumber : Irwan Hanafi, S.Hut., MM. - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pendapatan Meningkat, Masyarakat Lindungi Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Sibolangit

Sibolangit 2 Juni 2025. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui petugas Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe dan Petugas Resort Cagar Alam/Taman Wisata Alam (CA/TWA) Sibolangit melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan pemberian bantuan usaha ekonomi produktif tahun 2024 kepada 2 desa yang ada di sekitar CA dan TWA Sibolangit, yaitu Desa Sembahe dan Desa Batu Mbelin, Selasa silam (27/5). Kelompok Tani di Desa Sembahe pada tahun 2024 telah menerima bantuan usaha berupa 21 ekor domba, mesin pengolahan kotoran domba dan angkong. Hingga saat ini ternak domba tersebut sudah berkembang biak menjadi 24 ekor. Anggota kelompok tani sudah merasakan manfaat dari bantuan yang diberikan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara, kotoran domba sudah diolah menjadi pupuk organik dan dimanfaatkan oleh anggota kelompok tani untuk pemupukan lahan pertanian mereka. Berdasarkan hasil monitoring petugas, domba yang dikelola kelompok dalam kondisi sehat dan sudah dilakukan pemberian obat cacing. Petugas mengunjungi peternakan domba di Desa Sembahe Pupuk Organik Yang Berasal dari Kotoran Domba Selanjutnya tim melaksanakan monitoring kelompok tani di Desa Batu Mbelin. Pada 2024, kelompok tani ini telah menerima bantuan ekonomi produktif berupa peralatan pertanian. Bantuan yang diberikan berupa mesin babat 15 buah, pompa elektrik 10 buah dan cangkul 15 buah. Berdasarkan hasil monitoring, alat pertanian tersebut dipergunakan oleh anggota kelompok secara bergantian. Hingga saat ini jumlah peralatan pertanian kelompok tani masih lengkap dan bagus. Petugas memeriksa kondisi mesin babat, pompa elektrik dan cangkul Menurut testimoni pengurus dan anggota kelompok tani hutan, bantuan yang diberikan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara sangat bermanfaat dan memberikan nilai ekonomi bagi anggota kelompok tani. Harapan bersama dengan adanya bantuan ini dapat menjadi pengingat bagi kelompok untuk terus menjaga kawasan konservasi yang ada di sekitar desanya yaitu kawasan CA danTWA Sibolangit. Sumber: Suparman, SP (Kepala Resort CA/TWA Sibolangit) dan Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 513–528 dari 2.305 publikasi