Sabtu, 29 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Dua Keputusan Yang Menyelamatkan Dua Satwa

Jember, 30 Januari 2026. Dari halaman rumah warga hingga kandang transit, seekor Landak Jawa dan Julang Emas menempuh perjalanan senyap, dituntun oleh kesadaran manusia yang memilih berpihak pada alam. Pagi itu di Bondowoso, Kamis (29/01/2026), seekor Landak Jawa meringkuk dalam diam. Duri-durinya rapat, tubuhnya kaku, seolah menyadari ia berada jauh dari habitat yang semestinya. Ia tidak ditemukan dalam razia, tidak pula disita dalam operasi penegakan hukum. Satwa itu diserahkan, sebuah keputusan sederhana yang menentukan masa depannya. Sekira pukul 11.00 WIB, warga mendatangi Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bondowoso untuk menyerahkan Landak Jawa (Hystrix javanica) yang sebelumnya berada dalam penguasaan mereka. Tak ada sorak, tak ada keramaian. Hanya kesadaran bahwa satwa liar bukan untuk dipelihara. Informasi itu segera ditindaklanjuti. Petugas Polisi Kehutanan Bidang KSDA Wilayah III, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Pengolah Data Resort Konservasi Wilayah (RKW) 13 Jember, Nusa Barung, bergerak melakukan evakuasi. Dari Bondowoso, perjalanan berlanjut ke kandang transit Bidang KSDA Wilayah III Jember. Di ruang sementara itulah Landak Jawa tersebut akhirnya beristirahat, meninggalkan ruang hidup manusia dan kembali ke jalur konservasi. Ia belum pulang ke alam, tetapi telah selangkah lebih dekat. Siang harinya, kisah serupa terjadi di Jember. Sekitar pukul 12.15 WIB, seorang anggota TNI AD bertandang ke Kantor Bidang KSDA Wilayah III. Ia tidak membawa laporan, melainkan niat untuk menyerahkan seekor Julang Emas (Rhyticeros undulatus) milik pamannya. Burung dari keluarga rangkong itu baru diperoleh sekitar sepekan sebelumnya dari seseorang. Namun setelah mengetahui statusnya sebagai satwa dilindungi, keluarga tersebut memilih untuk mengakhiri kepemilikan itu. Petugas segera menuju Kecamatan Sumbersari, Jember. Di sebuah rumah warga, Julang Emas itu ditemukan dalam kondisi yang memantik keprihatinan. Sayapnya tak lagi mampu mengepak. Burung itu tidak bisa terbang, diduga akibat lama dipelihara atau adanya kerusakan pada sayap. Tak ada perlawanan, tak ada upaya menyembunyikan. Proses serah terima berlangsung tenang dan sukarela. Julang Emas tersebut kemudian dievakuasi ke kandang transit yang sama. Di sana, ia akan menjalani observasi dan penanganan awal. Apakah masih memungkinkan untuk kembali ke alam, atau memerlukan rehabilitasi lebih panjang, menjadi keputusan yang akan ditentukan melalui pemeriksaan lanjutan. Kandang transit kerap dipersepsikan sebagai tempat singgah biasa. Padahal, di sanalah masa depan satwa ditentukan. Ruang ini menjadi titik temu antara pengetahuan ilmiah, empati manusia, dan kehati-hatian konservasi. Setiap satwa yang masuk membawa cerita, tentang bagaimana ia tersesat ke ruang hidup manusia, dan bagaimana manusia memilih untuk memperbaiki keadaan. Dua evakuasi dalam satu hari itu menyampaikan pesan yang sama dari dua lokasi berbeda bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari hutan lebat atau kawasan konservasi. Ia bisa bermula dari ruang tamu, dari percakapan keluarga, dari keberanian untuk berkata bahwa kepemilikan harus diakhiri. Tidak ada penindakan hari itu. Tidak ada sanksi. Yang hadir adalah negara, memastikan bahwa pilihan sadar warga berujung pada keselamatan satwa dan pemulihan ekosistem. Dua satwa diselamatkan bukan karena paksaan, melainkan karena kesadaran. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Potret Keanekaragaman Burung Air dan Pentingnya Mangrove Wonorejo

Catatan Asian Waterbird Census 2026 dalam Menjaga Jalur Migrasi dan Ekosistem Lahan Basah Jawa Timur Surabaya, 30 Januari 2026. Di hamparan lumpur Mangrove Wonorejo, Surabaya, jalur migrasi burung air dunia dijaga dalam sunyi. Pada 30 Januari 2026, tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan Asian Waterbird Census (AWC) 2026, sebuah pemantauan yang merekam denyut kehidupan burung air migran, residen, hingga endemik di salah satu ekosistem lahan basah terpenting Jawa Timur. Kegiatan ini mencatat 14 jenis burung air yang memanfaatkan Mangrove Wonorejo sebagai tempat singgah, mencari makan, dan bertahan hidup. Di hari yang sama, disaat sebagian personel mengevakuasi satwa konflik dari permukiman warga, tim lainnya berdiri di lumpur pesisir—menegaskan bahwa konservasi hadir di lebih dari satu medan tugas. Menyelamatkan satwa dan menjaga jalur migrasi yang senyap namun vital. Membaca Jejak Migrasi di Lahan Basah Pesisir Hasil pengamatan AWC menunjukkan keberadaan burung migran penuh, migran sebagian, residen, hingga endemik Jawa. Dari kelompok migran penuh tercatat Trinil Pantai (Actitis hypoleucos), Trinil Semak (Tringa glareola), Kedidi Leher Merah (Calidris ruficollis), Dara Laut Aleutian (Onychoprion aleuticus), dan Blekok Cina (Ardeola bacchus). Kehadiran mereka menegaskan peran Mangrove Wonorejo sebagai titik persinggahan penting di lintasan migrasi Asia–Australasia. Kelompok migran sebagian seperti Cangak Merah (Ardea purpurea), Kirik-Kirik Laut (Merops philippinus), Kokokan Laut (Butorides striata), serta Dara Laut Tengkuk Hitam (Sterna sumatrana) memperlihatkan fleksibilitas penggunaan habitat pesisir yang dinamis, bergantung musim, pasang surut, dan ketersediaan pakan. Sementara itu, burung residen seperti Pecuk Padi Asia (Phalacrocorax sulcirostris), Kuntul Kecil (Egretta garzetta), Blekok Sawah (Ardeola speciosa), dan Kowak Malam Kelabu (Nycticorax nycticorax) menandai fungsi mangrove sebagai rumah yang menetap. Yang paling istimewa, Cerek Jawa (Anarhynchus javanicus), burung endemik Pulau Jawa, juga tercatat. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa perlindungan lahan basah pesisir bukan sekadar isu migrasi global, tetapi juga tanggung jawab menjaga warisan hayati Nusantara. Empat Jenis Dilindungi, Satu Ekosistem Kunci Mengacu pada Permen LHK Nomor P.106, setidaknya empat jenis burung berstatus dilindungi tercatat selama pengamatan mulai dari dara laut tengkuk hitam, dara laut aleutian, cerek jawa, dan blekok cina. Data ini memperkuat urgensi pengelolaan Mangrove Wonorejo sebagai habitat kunci, bukan hanya benteng ekologis pesisir, tetapi juga simpul keselamatan spesies. Mangrove menyediakan kombinasi unik: substrat berlumpur kaya organisme, perairan dangkal produktif, serta kanopi pelindung dari gangguan. Di sinilah burung-burung air memulihkan energi setelah ribuan kilometer terbang, sebelum melanjutkan perjalanan lintas benua. Konservasi di Dua Medan AWC 2026 Part I juga mencerminkan realitas kerja konservasi, serentak dan tak selalu terlihat. Pada hari yang sama, personel Seksi KSDA Wilayah III Surabaya menjalankan tugas berbeda di lokasi berbeda, menangani konflik satwa di permukiman, sekaligus menjaga jalur migrasi di pesisir. Dua medan, satu tujuan, memastikan manusia dan satwa dapat berbagi ruang hidup secara aman. Lebih dari sekadar angka, hasil AWC menjadi dasar pengambilan kebijakan, menilai kesehatan ekosistem lahan basah, memetakan ancaman, dan merancang langkah pengelolaan adaptif. Di tengah tekanan urbanisasi pesisir, data lapangan yang konsisten adalah kompas agar pembangunan tidak memutus nadi migrasi burung air. Menjaga yang Senyap namun Vital Mangrove Wonorejo mungkin tidak selalu menjadi panggung utama, tetapi ia bekerja tanpa henti, menahan abrasi, menyaring polutan, dan memberi ruang hidup bagi ratusan spesies. AWC 2026 mengingatkan kita bahwa konservasi bukan peristiwa sesaat, melainkan proses panjang yang membutuhkan kehadiran, ketekunan, dan data. Di lumpur yang sunyi itu, negara hadir. Menjaga jalur migrasi dunia, sambil merawat ekosistem lahan basah Jawa Timur agar tetap bernapas, hari ini dan esok. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kerja Sama Strategis Diwujudkan, RPP dan RKT Balai TN Taka Bonerate - Disper Selayar Ditandatangani

Benteng - Kepulauan Selayar, 2 Februari 2026. Bertempat di ruang rapat kantor Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate, kerja sama pengelolaan kawasan memasuki fase implementasi. Pada Sabtu (31/1/2026), pukul 09.00 hingga 12.00 WITA, telah dilaksanakan pembahasan dan penandatanganan dokumen Rencana Pengelolaan (RPP) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Kegiatan ini merupakan langkah konkret tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) Penguatan Fungsi melalui Dukungan Perlindungan Kawasan dan Pemberdayaan Masyarakat di Taman Nasional Taka Bonerate yang telah disepakati kedua instansi beberapa waktu lalu. Penandatanganan ini menandai komitmen bersama dalam pengelolaan sumber daya yang terintegrasi dan berkelanjutan. Acara tersebut dihadiri oleh Kepala Balai TN Taka Bonerate William Tengker didampingi Kepala Sub Bagian Tata Usaha Irfandi Aznur beserta jajarannya, Kepala Dinas Perikanan (Disper) Kabupaten Kepulauan Selayar Andriany Gusram didampingi sekretaris dinas Zul Janwar beserta staf, serta perwakilan dari mitra konservasi, Wildlife Conservation Society - Indonesia Program (WCS-IP). Kehadiran berbagai pihak ini memperkuat pendekatan kolaboratif dalam mengawal masa depan ekosistem Taka Bonerate. Dengan ditandatanganinya RPP dan RKT, langkah operasional kerja sama pun dapat segera dijalankan. Kolaborasi ini diharapkan mampu mengoptimalkan upaya konservasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan taman nasional Taka Bonerate. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Perkuat Pengamanan Aset Negara, Balai TN Meru Betiri dan Brigade Infanteri 9 Kostrad Tandatangani Kesepakatan Bersama

Jember, 2 Februari 2026. Berdasarkan Nota Kesepahaman antara Kementerian Kehutanan dan Tentara Nasional Indonesia NOMOR PKS.4/MENHUT/SETJEN/KUM.3/2/2025 NOMOR NK/3/II/2025/TNI Pada hari Rabu, 12 Februari 2025 tentang Sinergisitas Tugas dan Fungsi Kementerian Kehutanan dan Tentara Nasional Indonesia, Balai Taman Nasional Meru Betiri bersama Brigade Infanteri 9/DY/2/Kostrad secara resmi menandatangani Kesepakatan Bersama (Memorandum of Understanding/MoU) tentang kerja sama pengamanan aset negara berupa kawasan Taman Nasional Meru Betiri pada tanggal 5 Januari 2026. Penandatanganan MoU tersebut dilaksanakan di Kantor Balai Taman Nasional Meru Betiri yang ditandatangani oleh Kepala Balai Taman Nasional Meru Betiri, RM. Wiwied Widodo, S.Hut., M.Sc., dan Komandan Brigade Infanteri 9, Kolonel Inf. Roliyanto, S.I.P., M.I.P. Kesepakatan bersama ini untuk mengoptimalkan pelaksanaan tugas dan fungsi para pihak dalam rangka pengamanan aset negara berupa kawasan Taman Nasional Meru Betiri, sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan pengamanan di lapangan. Ruang lingkup kerja sama meliputi pengamanan kawasan taman nasional serta dukungan terhadap program pemerintah dalam upaya pelestarian hutan dari ancaman kebakaran hutan, pembalakan liar, perambahan hutan, dan gangguan keamanan hutan lainnya. Kesepakatan bersama ini berlaku selama dua belas bulan, terhitung sejak tanggal 5 Januari 2026-5 Januari 2027, dan dapat diperpanjang sesuai kesepakatan para pihak. Melalui kerja sama ini, diharapkan terjalin sinergi yang semakin kuat antara Balai Taman Nasional Meru Betiri dan Brigade Infanteri 9 Kostrad dalam menjaga keamanan kawasan konservasi serta melindungi aset negara secara berkelanjutan. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Artikel

Patroli di Cagar Alam Gunung Picis Blok Hargokiloso, Ini Catatannya

Ponorogo, 1 Februari 2026. Langit pagi di Hargokiloso masih tertahan kabut saat langkah-langkah kecil para petugas patroli menembus rimbunnya hutan Gunung Picis. Rabu, 28 Januari 2026, kawasan sunyi di perbatasan antara cagar alam, hutan lindung, dan hutan produksi ini kembali menjadi saksi hadirnya negara, bukan dengan suara keras, melainkan melalui patroli rutin untuk memastikan hutan tetap bernapas sebagaimana mestinya. Patroli kawasan konservasi yang dilaksanakan oleh Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) ini difokuskan pada zona batas kawasan, sebuah garis imajiner yang kerap menjadi titik paling rentan terhadap tekanan aktivitas manusia. Hutan Gunung Picis berdiri dalam kondisi yang masih utuh, sebuah kabar baik di tengah tantangan pengelolaan kawasan konservasi di Jawa Timur. Di sepanjang jalur patroli, lanskap hutan memperlihatkan kekayaan hayati yang menjadi alasan utama kawasan ini ditetapkan sebagai cagar alam. Paku-pakuan tumbuh rapat menutupi lantai hutan, sementara Puspa (Schima wallichii) menjulang sebagai penyangga kanopi. Kemaduh (Dendrocnide sp.) dengan karakter tajamnya, Nyampuh (Pygeum parviflorum), Pinus (Pinus merkusii), Sirih Hutan (Piper sp.), hingga Suren (Toona sureni) menyusun mosaik vegetasi pegunungan yang kompleks dan saling bergantung. Tak hanya flora, tanda-tanda kehidupan satwa liar juga hadir jelas. Seekor Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) melayang di atas tajuk, seolah mengawasi wilayah jelajahnya. Di bawahnya, Bajing melintas cepat di antara dahan, sementara Landak Jawa (Hystrix javanica) meninggalkan jejak keberadaannya di lantai hutan. Pertemuan singkat namun bermakna ini menjadi indikator penting bahwa ekosistem Gunung Picis masih bekerja sebagaimana mestinya. Dari sisi pengelolaan kawasan, patroli juga mencatat keberadaan sarana batas yang vital. Satu pal batas bernomor 94 ditemukan dalam kondisi baik, utuh, dan terbaca jelas, penanda tegas sekaligus simbol kepastian hukum kawasan. Sebuah papan larangan juga terpasang, berfungsi sebagai pengingat bahwa kawasan ini dilindungi untuk kepentingan yang lebih besar dari sekadar hari ini. Yang tak kalah penting, selama kegiatan patroli berlangsung tidak ditemukan indikasi gangguan terhadap keamanan, keutuhan, maupun kelestarian kawasan. Tidak ada aktivitas masyarakat di dalam kawasan cagar alam, tidak ada jejak perambahan, dan tidak ada tanda tekanan baru terhadap hutan. Dalam dunia konservasi, ketiadaan gangguan justru merupakan capaian yang patut dicatat. Catatan patroli kali ini mungkin tampak sederhana, sekadar laporan lapangan tentang jalur, flora, fauna, dan pal batas. Namun di baliknya, tersimpan pesan kuat: bahwa konservasi adalah kerja konsisten, hadir berulang kali di tempat yang sama, memastikan alam tetap memiliki ruang untuk bertahan. Di Gunung Picis, patroli bukan sekadar rutinitas, melainkan ikrar sunyi bahwa hutan ini masih dijaga, hari ini dan seterusnya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menuju Babak Akhir MSP: Menimbang Masa Depan Konservasi Orangutan di Jantung Kalimantan

Orangutan di TN Tanjung Puting, foto by Iskandar Jakarta, 30 Januari 2026 - Di balik rimbunnya hutan Kalimantan Tengah, sebuah kemitraan besar sedang berada di persimpangan jalan. Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara Kementerian Kehutanan dan Orangutan Foundation International (OFI) periode 2023–2026 kini mendekati garis finish. Tepat pada 6 Juni 2026, kerja sama strategis ini dijadwalkan berakhir secara administratif. Namun, berakhirnya sebuah dokumen bukan berarti berhentinya upaya pelestarian. Sebaliknya, momen ini menjadi titik krusial untuk menengok kembali apa yang telah dicapai dan apa yang harus diperbaiki. Berdasarkan hasil rapat koordinasi yang dilaksanakan pada Jumat (30/1/2026) di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, proses evaluasi akhir menjadi agenda paling mendesak. Berbeda dengan evaluasi tahunan yang rutin dilakukan, evaluasi akhir ini akan melibatkan peninjauan langsung ke lapangan oleh tim teknis. Tim Penelaah Organisasi Asing (TPOA) menjadwalkan kunjungan lapangan yang sebelumnya sempat tertunda karena faktor administrasi kelengkapan laporan dari pihak OFI. Di rapat yang dihadiri oleh pihak OFI ini, semua administrasi OFI dinyatakan telah lengkap dan siap untuk dilakukan evaluasi akhir. "Langkah selanjutnya, Setditjen KSDAE akan berkoordinasi dengan Biro Kerja Sama Luar Negeri (KLN) untuk mematangkan jadwal bersama Tim Penelaah Organisasi Asing (TPOA)," ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Nandang Prihadi, menyampaikan poin utama dalam rapat tersebut. Sinyal positif datang dari rekan-rekan di lapangan yang bersentuhan langsung dengan upaya konservasi orangutan di lapangan. Kepala BKSDA Kalimantan Tengah dan Balai Taman Nasional Tanjung Puting (BTN TP) secara terbuka menyampaikan harapan agar kerja sama ini dapat diperpanjang. Bagaimanapun, menjaga habitat orang utan dan keanekaragaman hayati bukan perkara singkat. Harapan perpanjangan ini bukan tanpa syarat. Catatan-catatan kritis dari hasil evaluasi tahunan akan menjadi "rapor" yang menentukan bagaimana format kerja sama di masa depan agar lebih berdampak bagi kelestarian hutan Indonesia. Rencananya, evaluasi lapangan (evaluasi akhir) direncanakan menunggu hasil keputusan rapat koordinasi dengan TPOA yang akan berlangsung pada momen yang cukup unik, sekitar akhir Februari atau awal Maret 2026, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Meskipun jadwal pastinya tetap dikembalikan kepada keputusan TPOA, semangat untuk menuntaskan evaluasi ini tetap membara. Pertemuan internal dalam waktu dekat antara Setditjen KSDAE, TPOA, Biro HKLN, dan OFI akan menjadi penentu ketukan palu terakhir untuk jadwal kunjungan tersebut. Perjalanan MSP ini mungkin akan segera berakhir di atas kertas, namun komitmen untuk menjaga paru-paru dunia di Kalimantan akan terus berlanjut demi menjaga upaya konservasi orangutan di Indonesia. Sumber: Tim Kerja Kerja Sama Teknik - Setditjen KSDAE
Baca Artikel

Akibat Cuaca Ekstrem, TN Komodo Perpanjang Penutupan Wisata Hingga 1 Februari 2026

Gambar 1. Kondisi jalur trekking Padar Selatan saat penutupan 2 Januari 2026. Kredit foto: Rias (PEH Pemula BTN Komodo) Labuan Bajo, 29 Januari 2026. Balai Taman Nasional (TN) Komodo mengumumkan perpanjangan penutupan sementara seluruh layanan wisata alam di kawasannya hingga 1 Februari 2026 akibat cuaca ekstrem yang masih mengancam wilayah Nusa Tenggara Timur. Keputusan ini diambil berdasarkan peringatan berkelanjutan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta penutupan penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, demi menjaga keselamatan pelaku usaha pariwisata, nahkoda, pemandu wisata, dan pengunjung. Cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi hingga 4-6 meter dan angin kencang mulai melanda sejak akhir Desember 2025, memaksa layanan wisata dihentikan pertama kali pada 29 Desember hingga 8 Januari 2026. Pada tanggal 9-11 Januari, layanan wisata kembali dibuka dan tercatat total 2.111 pengunjung mengakses 4 ODTWA daratan utama yaitu Padar Selatan, Loh Buaya, Loh Liang, dan Gililawa, sebelum penutupan diperpanjang lagi mulai 12 Januari hingga saat ini. Jika dibandingkan dengan total kunjungan pada bulan Januari 2025 yaitu sebanyak 12.609 kunjungan, kondisi cuaca ekstrim berdampak pada penurunan jumlah kunjungan yang signifikan di awal tahun 2026. Penutupan layanan wisata di seluruh kawasan TN Komodo diperpanjang hingga 1 Februari 2026 karena prakiraan BMKG menunjukkan kondisi cuaca belum sepenuhnya stabil di perairan Selat Sape dan sekitar Labuan Bajo, dengan potensi gelombang tinggi yang masih membahayakan pelayaran kapal wisata termasuk speedboat. Penutupan ini mengacu pada informasi dari BMKG serta Notices to Mariners yang diterbitkan oleh KSOP. Untuk memastikan informasi tersebar luas, Balai TN Komodo secara rutin mengupdate pengumuman penutupan melalui akun Instagram resmi (@btn.komodo). Selain itu, pembelian tiket wisata melalui aplikasi Siora sepenuhnya ditiadakan selama masa penutupan ini, guna menghindari kerugian konsumen dan mendukung kebijakan pengamanan terpusat. Wisatawan yang telah membeli tiket sebelumnya diarahkan untuk berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak Balai TN Komodo. Pengunjung diimbau terus memantau update layanan wisata di TN Komodo melalui akun Instagram @btn_komodo, karena situasi dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan informasi dari BMKG dan KSOP. Balai TN Komodo berkomitmen memberikan transparansi penuh agar ekowisata di kawasan TN Komodo tetap berkelanjutan pasca-cuaca membaik. Dengan demikian, kepercayaan publik terhadap pengelolaan taman nasional terus terjaga di tengah tantangan perubahan cuaca. Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Komodo - Yovi Septia, S.Si. (+6281236402848) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Komodo - Maria R. Panggur, S.Hut (+6281236449224) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Pusrenbang SDM Kehutanan Gelar Sosialisasi & Pengumpulan Basis Data SDM Non Aparatur di Sumatera Utara

Medan, 27 Januari 2026 – Pusat Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Pusrenbang SDM) Kehutanan menyelenggarakan Sosialisasi Hasil Identifikasi SDM Non Aparatur dan Pembahasan Basis Data Non Aparatur Kehutanan pada Senin (26/1/2026) di Kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan dihadiri oleh UPT Kementerian Kehutanan yang ada di Sumatera Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan hasil identifikasi SDM Non Aparatur serta mendorong penguatan basis data sebagai fondasi perencanaan dan pengembangan SDM Kehutanan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Kepala Pusrenbang SDM Kehutanan, Dr.U. Mamat Rahmat, S. Hut., M.P., selalu pembicara utama menegaskan bahwa pengelolaan SDM yang tepat memiliki peran strategis dalam mendukung kinerja organisasi dan keberlanjutan pengelolaan kehutanan. SDM Non Aparatur sebagai mitra pemerintah, dinilai memiliki kontribusi penting dalam menjaga, mengelola, serta melestarikan sumber daya alam dan lingkungan. Dalam paparannya, Dr. U. Mamat Rahmat menyampaikan beberapa poin penting, yaitu peningkatan kompetensi, kapasitas, keterampilan, serta pengukuran etika kerja baik bagi ASN maupun non-ASN. Selain itu, masyarakat sebagai mitra kerja seperti Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Green Leader Movement, dan Pramuka juga perlu didukung dengan pemutakhiran data dan peningkatan kapasitasnya. Beliau juga menekankan pentingnya pembaharuan data pegawai pada Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG) Kementerian Kehutanan guna meningkatkan nilai Manajemen Talenta dan mendukung proyeksi kebutuhan untuk pengembangan talenta SDM di Kemenhut. Narasumber dari Pusrenbang SDM, Prima Uswati Rosalina, S.Psi. Psi., menyampaikan bahwa hingga tahun 2025 telah terkumpul data sebanyak 56.549 orang dari 66 jenis SDM Non Aparatur yang bersumber dari data eselon I. Selain itu, terdapat penyederhanaan dari 242 jabatan menjadi 187 jabatan sebagai dasar penyusunan Kamus Jabatan Nasional (KJN). SDM Non Aparatur mengacu pada Permen LHK Nomor 14 Tahun 2027 dan seluruh unit kerja dapat melakukan pembaharuan data melalui tautan yang telah disediakan. Sementara itu, Tri Mayasari, S.Hut., M.Si dari Pusrenbang SDM menjelaskan bahwa pada tahun 2025 Pusrenbang ditugaskan untuk menyusun Kamus Jabatan Nasional (KJN) yang memuat jabatan rekrutan pegawai dan dikelola serta diperbaharui oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Unit kerja juga dapat mengusulkan pembaharuan maupun penambahan jabatan melalui tautan yang tersedia. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan akan memiliki pemahaman yang sama mengenai peran, fungsi, dan kontribusi masing-masing, serta terbangun kolaborasi yang lebih kuat. Basis data SDM Non Aparatur Kehutanan yang terpadu, mudah diakses, dan selalu mutakhir diharapkan akan menjadi instrumen penting dalam pemetaan potensi SDM, perencanaan pengembangan kapasitas, serta penempatan personel sesuai dengan kebutuhan lapangan. Sebagai penutup, disepakati beberapa kesimpulan, yaitu setiap UPT diharapkan segera mengisi data SDM Non Aparatur melalui tautan yang disediakan, mengusulkan penambahan jabatan baru seperti Asisten Mahout, Gadis Polhut, Ranger/Pemandu, dan Perempuan Inspiratif, serta mengusulkan penambahan UPT Balai Pengelolaan DAS dan HL Wampu Sei Ular. Proses pembaharuan data diminta untuk diselesaikan dalam waktu satu minggu. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Sumatera Utara Gelar Pertemuan dengan Pemegang Izin Edar Tumbuhan dan Satwa Liar

Salah satu mitra, PT Yakita Mulia sedang memaparkan RKT tahun 2026, Jumat (23/1/2026) Medan, 27 Januari 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menyelenggarakan pertemuan dengan para pemegang izin usaha peredaran tumbuhan dan satwa liar pada Jumat (23/1/2026) di Kantor BBKSDA Sumatera Utara, Medan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar secara lestari sekaligus menjadi ruang bagi mitra untuk menyampaikan perkembangan usaha dan laporan tahunannya. BBKSDA Sumatera Utara menegaskan bahwa setiap pemegang izin wajib menyampaikan Rencana Kerja Tahunan (RKT) sebagai dasar perencanaan kegiatan pemanfaatan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar baik untuk tujuan dalam negeri maupun luar negeri. Penyusunan RKT menjadi penting karena berfungsi sebagai pedoman operasional bagi mitra usaha dalam kegiatan pemanfaatan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar agar dapat terlaksana secara terarah, terukur, dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Melalui RKT, BBKSDA Sumatera Utara dapat melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap jenis, jumlah dan sumber komoditas yang dimanfaatkan sehingga tetap memperhatikan kelestariannya. Selain itu, RKT juga memberikan kepastian hukum bagi mitra usaha sekaligus menjadi dasar evaluasi kinerja dan kepatuhan terhadap prinsip konservasi. Pada kegiatan tersebut, mitra usaha yang memaparkan RKT yaitu PT Yakita Mulia, PT Kreasi Fauna Indah, CV Kuis Mora, dan CV Reptile Corporation. Berdasarkan hasil pembahasan, sistematika penulisan RKT telah sesuai dengan persyaratan dari Direktorat KSG. Selain pemaparan RKT, rapat juga menghasilkan sejumlah masukan, antara lain agar para mitra usaha dapat memberikan dukungan terhadap kegiatan konservasi serta membuka ruang bagi mahasiswa untuk melakukan kegiatan penelitian pada perusahaannya. Melalui pertemuan ini, BBKSDA Sumatera utara berharap akan terjalin sinergi yang lebih kuat antara pemerintah dan mitra usaha guna mewujudkan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Edukasi Lingkungan Sejak Dini, BBKSDA Sumatera Utara dan COP Kenalkan Orangutan Kepada Siswa SD di Tapanuli Selatan

Tapanuli Selatan, 26 Januari 2026 -- Mengawali tahun 2026, Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai mitra kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menggelar kegiatan edukasi lingkungan bagi siswa sekolah dasar di Kabupaten Tapanuli Selatan. Kegiatan ini merupakan realisasi dari Rencana Kerja Tahunan dari Perjanjian Kerjasama (PKS) antara BBKSDA Sumatera Utara dan COP, yang dilaksanakan pada 15 Januari 2026. Kegiatan diselenggarakan di SDN 101212 Padang Bujur dan SDN 101213 Baringin, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kedua sekolah tersebut berada di sekitar kawasan Cagar Alam (CA) Dolok Sibual-buali, yang merupakan habitat penting bagi berbagai satwa liar, termasuk orangutan. Melalui materi bertajuk “Mari Berkenalan dengan Orangutan”, para siswa diajak untuk mengenal orangutan lebih dekat sebagai salah satu spesies yang dilindungi di Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, tim COP memberikan pemahaman mengenai karakter orangutan, makanan favoritnya serta peran penting orangutan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar mudah dipahami oleh anak-anak. Suasana belajar semakin menyenangkan karena diselingi dengan permainan dan kuis, salah satunya tebak sarang orangutan melalui foto. Anak-anak tampak antusias dan aktif berpartisipasi selama kegiatan berlangsung. Sebagai penutup, para siswa diajak untuk turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian orangutan dan habitatnya. Melalui kegiatan ini, BBKSDA Sumatera dan COP berharap dapat menanamkan nilai kepedulian terhadap konservasi satwa liar sejak usia dini, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan kawasan hutan. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S.Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kolaborasi Strategis untuk Konservasi: Kemhut dan WCS Perkuat Perlindungan Keanekaragaman Hayati di 14 Kawasan

Bogor, 20 Januari 2025 – Langkah nyata diambil untuk memperkuat konservasi alam Indonesia. Pemerintah, melalui Kementerian Kehutanan, bersama Wildlife Conservation Society (WCS) Program Indonesia, secara resmi menyepakati peta jalan kerja sama strategis. Aksi ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum Saling Pengertian yang telah ditandatangani sebelumnya. Pada 19-22 Januari 2026 di Bogor, kedua pihak membahas dan menandatangani Rencana Induk Kerja (RIK) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Kerja sama ini menjangkau 14 lokasi, salah satunya adalah Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Ruang lingkupnya luas dan mendalam. Meliputi dukungan perlindungan keanekaragaman hayati di tingkat genetik, spesies, hingga ekosistem. Tak hanya itu, sinergi ini juga mencakup penguatan tata kelola kebijakan konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Semuanya dilaksanakan dengan menerapkan rambu-rambu pengaman lingkungan dan sosial yang ketat. WCS-Program Indonesia sendiri bukanlah mitra baru. Mereka telah lama mendukung upaya konservasi di Taka Bonerate dan terus berperan sebagai mitra strategis. Fokusnya adalah mendorong pengelolaan kawasan yang efektif, berkelanjutan, dan kolaboratif. Implementasi RIK dan RKT ini menjadi landasan strategis yang krusial. Tujuannya jelas: meningkatkan efektivitas perlindungan sumber daya alam hayati, memperkuat tata kelola kawasan konservasi, serta meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Sinergi multipihak ini diharapkan mampu melipatgandakan dampak nyata. Program konservasi ke depan diharapkan lebih berkelanjutan, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi alam dan manusia. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks/ Video : Andi Rezki Mutmainnah - PEH Ahli Muda, WCS-IP Editor: Asri - Humas/ PEH Ahli Muda
Baca Artikel

Untuk Kemajuan Masyarakat Taka Bonerate, Balai TN dan UUP Jampea - Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Perkuat Komitmen Konservasi

Bogor, 22 Januari 2026 – Dermaga Laut Jinato, yang berada di Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, bukan sekadar titik sandar kapal. Ia adalah urat nadi penghubung kehidupan masyarakat melalui jalur Tol Laut yang membuka akses logistik, distribusi hasil laut, dan mobilitas antar pulau. Hasil perikanan, serta kebutuhan pokok masyarakat Jinato dan pulau-pulau sekitarnya lebih mudah terjangkau dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan. Hari ini, Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate dan Unit Pelaksana Pelabuhan (UPP) Kelas III Jampea - Ditjen Perhubungan Laut, menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS). Kerja sama ini menjadi landasan penting bagi pengembangan transportasi terbatas berbasis fasilitas pelabuhan laut di dalam kawasan taman nasional. Kehadiran Direktur Perencanaan Konservasi Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan dalam penandatanganan menegaskan dimensi strategis kerja sama ini. Inisiatif ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah upaya menemukan titik seimbang. Di satu sisi, akses mobilitas dan konektivitas masyarakat pulau harus terjamin untuk mendorong kemajuan ekonomi. Di sisi lain, keunikan dan keutuhan ekosistem Taka Bonerate sebagai kawasan konservasi harus tetap terjaga. Komitmen bersama ini diharapkan mampu menciptakan sinergi. Pembangunan fasilitas pelabuhan yang bijak diharapkan dapat mendukung kehidupan masyarakat tanpa mengorbankan kekayaan alam yang menjadi warisan berharga. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa konservasi dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate Foto/ Teks : Andi Rezki Mutmainnah - PEH Ahli Pertama, Asri - PEH Ahli Muda
Baca Artikel

Pemulihan Ekosistem Bukan Sekadar Menanam, BBKSDA Jatim Ingin Pastikan Hutan Bawean Bangkit Kembali

Bawean, 22 Januari 2026. Di hutan Pulau Bawean, pemulihan ekosistem bukan sekadar cerita tentang bibit yang ditanam, melainkan tentang masa depan habitat yang sedang dipulihkan. Untuk memastikan proses itu benar-benar berjalan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melaksanakan ground check pemulihan ekosistem di kawasan Batu Lintang dan Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean, Kamis (22/1/2026). Kegiatan yang dilaksanakan menjadi bagian dari upaya memastikan kawasan suaka margasatwa tetap terjaga, sekaligus memperkuat pemantauan pemulihan yang berbasis data dan temuan faktual di tapak. Fokus utama kegiatan adalah mengevaluasi tanaman Pemulihan Ekosistem (PE) Tahun 2023, yang terdiri dari Nyamplung (Calophyllum inophyllum), Pangopa (Eugenia epidocarpa), Sentul (Sandoricum koetjape), Gondang (Ficus variegata), dan lainnya. Dari hasil pengecekan, kondisi tanaman secara umum menunjukkan tingkat kelangsungan hidup sekitar ±60%, sebuah angka yang mencerminkan kemajuan sekaligus kebutuhan penguatan agar pemulihan semakin optimal. Di sela langkah patroli, tim menjumpai bekas sorsoran Babi Kutil, serta mencatat keberadaan beberapa jenis burung seperti Merbah Belukar dan Cinenen Kelabu, juga Monyet Ekor Panjang. Temuan lain yang tak kalah penting adalah Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), flora bernilai konservasi yang menjadi pengingat bahwa Pulau Bawean menyimpan titik-titik genetik penting yang perlu dijaga. Seluruh hasil patroli dicatat dan diinput ke dalam SMART Mobile, untuk memastikan pemulihan ekosistem tidak berjalan berdasarkan perkiraan, melainkan berbasis data yang dapat dievaluasi. Dalam konteks pengelolaan kawasan suaka, pemulihan ekosistem dipahami sebagai proses yang mencakup evaluasi habitat, penanganan faktor penghambat tumbuh (naungan, kompetisi vegetasi, hingga gangguan), serta upaya berkelanjutan agar kawasan dapat kembali berfungsi sebagai rumah bagi biodiversitas. Sebagai tindak lanjut, tim merekomendasikan evaluasi titik tanam dan penyulaman pada lokasi gagal tumbuh untuk meningkatkan survival hingga >80%. Selanjutnya memperkuat monitoring satwa kunci melalui pencatatan indikator lapangan, serta melengkapi data biodiversitas dengan koordinat, habitat, dan dokumentasi foto. BBKSDA Jawa Timur mengajak masyarakat turut mendukung pemulihan ekosistem dengan tidak merusak vegetasi pemulihan, tidak mengambil tumbuhan dan satwa liar, serta melaporkan setiap indikasi perburuan, penebangan liar, maupun gangguan kawasan kepada petugas. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pal Batas dan Biodiversitas Direkam, Monitoring Satwa Kunci Diperkuat

Bawean, 21 Januari 2026. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan patroli kawasan di Blok Kumalasa, Suaka Margasatwa Pulau Bawean yang masuk dalam wilayah Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura (21/01/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan pengelolaan kawasan, sekaligus merekam dinamika keanekaragaman hayati serta memperkuat monitoring satwa kunci, khususnya Rusa Bawean yang endemik dan bernilai konservasi tinggi. Dalam patroli tersebut, tim menemukan dua Pal Batas Beton dalam kondisi rusak. Dan, tim segera mengambil titik koordinat berbasis peta SMART Patrol untuk memastikan posisi temuan di lapangan terekam akurat sebagai bahan penguatan data spasial. Namun, di balik catatan batas kawasan, patroli ini juga menghadirkan “rekaman hidup” tentang Bawean yang masih bergerak, bernapas, dan menyimpan sinyal-sinyal penting kehidupan liar. Selama menyusuri jalur patroli, tim menjumpai sejumlah jenis satwa, baik secara langsung maupun melalui indikasi kehadiran. Beberapa satwa yang terpantau antara lain, Monyet ekor panjang dan Elang Ular Bawean yang terdeteksi melalui indikasi suaranya. Serta, burung-burung kecil penanda sehatnya habitat, seperti Raja udang punggung merah, Cinenen kelabu, serta Merbah belukar yang terlihat terbang melintasi vegetasi. Rangkaian perjumpaan ini menjadi indikator bahwa Blok Kumalasa masih menyimpan struktur habitat yang mendukung berbagai kelompok satwa, mulai dari primata hingga burung pemangsa dan burung bawah tajuk. Tak hanya satwa, tim juga menjumpai tumbuhan Anggrek tanah Peristylus goodyeroides. Temuan ini memperkaya catatan keanekaragaman flora di jalur patroli dan menjadi sinyal penting bahwa mikrohabitat tertentu di kawasan tersebut masih layak bagi spesies-spesies yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Salah satu catatan paling penting dari patroli ini adalah ditemukannya bekas gesekan serta bekas pakan yang diduga kuat merupakan aktivitas Rusa Bawean. Rusa Bawean menjadi satwa kunci yang tidak hanya kebanggaan Pulau Bawean, namun juga indikator penting kesehatan ekosistem. Ketika jejaknya masih ditemukan, itu berarti habitat masih menyediakan ruang jelajah, sumber pakan, dan rasa aman, tiga hal yang menentukan keberlanjutan populasi satwa liar di pulau kecil. Bagi tim patroli, tanda-tanda ini bukan sekadar jejak di tanah, melainkan data awal yang perlu ditindaklanjuti secara ilmiah dan konsisten agar dapat menjadi dasar penguatan perlindungan populasi dan habitat. Hasil patroli ini mendorong kebutuhan monitoring lanjutan di lokasi temuan tanda aktivitas Rusa Bawean, melalui pendekatan monitoring berkala seperti jalur tetap (fixed route monitoring) dan point monitoring di titik-titik strategis. Monitoring ini penting untuk memastikan apakah area tersebut merupakan lintasan aktif, area pakan, area istirahat, atau bahkan ruang penting lain yang digunakan rusa dalam siklus hariannya. Data yang terkumpul akan menjadi pijakan untuk menyusun langkah perlindungan yang lebih presisi, sekaligus memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan seperti perburuan maupun aktivitas ilegal lain. Selain satwa kunci, kedepan juga akan dilakukan inventarisasi mikrohabitat anggrek tanah dan dokumentasi populasinya. Tujuannya adalah memperkaya basis data biodiversitas, termasuk potensi genetik, yang dapat menjadi bagian penting dari penguatan pengelolaan kawasan berbasis sains. Ke depan, intensitas patroli di Blok Kumalasa perlu ditingkatkan, terutama pada titik rawan dan area dengan indikasi aktivitas satwa kunci. Patroli bukan hanya menjadi langkah perlindungan, tetapi juga cara paling nyata untuk memastikan kawasan tetap berada dalam kendali pengelolaan, sambil terus memantau kondisi ekologisnya. Dengan temuan ini, Blok Kumalasa kembali menunjukkan bahwa Bawean tidak hanya menyimpan batas kawasan di peta, tetapi juga menyimpan kehidupan liar yang sedang bertahan. Ketika data biodiversitas terekam dan monitoring satwa kunci diperkuat, maka peluang menjaga harmoni pulau kecil ini, antara kawasan, habitat, dan satwa endemiknya, menjadi semakin nyata. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tingkatkan Pelayanan, ANECC Kini Dilengkapi Pusat Informasi

Peresmian Pusat Informasi ANECC yang dirangkaikan dengan kunjungan edukatif siswa Sekolah Alam Asahan, Sabtu (17/1/2026) Simalungun, 22 Januari 2026 – Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, kini memiliki pusat informasi dengan wajah baru. Ruang pusat informasi tersebut telah selesai direnovasi dan dibuka untuk masyarakat umum sebagai sarana edukasi tentang kehidupan dan pelestarian gajah sumatera. Peresmian pusat informasi dilakukan pada Sabtu (17/1), bertepatan dengan kunjungan dari Sekolah Alam Asahan ke ANECC di Kabupaten Simalungun. Pusat informasi tersebut kini dilengkapi berbagai materi edukasi, mulai dari tata ruang kawasan ANECC hingga foto profil gajah sumatera yang dirawat di ANECC. Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L, menyampaikan apresiasi kepada mitra konservasi yang telah mendukung dalam pengelolaan gajah jinak di Resor ANECC. “Kami mengucapkan terima kasih kepada mitra kami, Centre for Orangutan Protection yang dikenal dengan COP yang telah mensupport kami dalam rangka pengelolaan gajah jinak di Resor Aek Nauli. COP telah membantu merenovasi pusat informasi di Resor Aek Nauli yang merupakan tempat edukasi bagi siswa-siswi yang berkunjung ke Resor Aek Nauli, ujarnya. Elvina berharap agar pusat informasi ANECC dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai media pembelajaran konservasi. Ia juga berharap dukungan berkelanjutan dari COP dalam rangka peningkatan pengelolaan gajah jinak di Resor Aek Nauli. Renovasi ruang pusat informasi serta penambahan materi edukasi tentang gajah sumatera ini merupakan hasil kolaborasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dengan Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai mitra konservasi. Keberadaan fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian gajah sumatera serta habitatnya. Aek Nauli Elephant Conservation Camp merupakan pusat konservasi gajah sumatera di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, yang dikelola oleh BBKSDA Sumatera Utara dan berfungsi sebagai tempat perawatan, pengelolaan gajah jinak, serta edukasi konservasi bagi pelajar dan masyarakat. Sumber: Resor ANECC dan Batu Gajah – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Corymborkis, Penghuni Lantai Hutan Manggis

Kediri, 22 Januari 2026. Dibawah rimbun tajuk alas simpenan yang rapat, tumbuh subur sebuah jenis anggrek tanah yang memenuhi lantai hutan. Daunnya yang lebar memiliki warna hijau muda hingga hijau tua. Guratan-guratan lipatannya sangat jelas sehingga mirip daun bibit kelapa. Bunganya ramping dan tumbuh dalam rangkaian di ujung batang atau ketiak daun. Warnanya putih susu sedikit kehijauan memancarkan kesederhanaan namun tetap terlihat anggun dan cantik. Dia adalah Corymborkis veratrifolia atau Anggrek Kayu Manis Putih, yang tumbuh baik di lantai hutan Cagar Alam Manggis Gadungan yang lembap dan kaya humus. Dan, terpenting ada jamur yang bersimbiosis saling menguntungkan untuk membantu pertumbuhannya Sebagai salah satu indikator baik tidaknya kondisi hutan, Corymborkis merupakan bagian penting dari keanekaragaman hayati dan berperan menjaga keseimbangan ekosistem. Pada hutan yang ekosistemnya masih terjaga dengan baik, dengan mudah dapat menjumpai anggrek tanah ini, begitupun sebaliknya. Dengan batang yang dapat tumbuh tegak hingga 2 meter, anggrek ini sangat terlihat kokoh, namun ia sangat bergantung pada ekosistem aslinya. Corymborkis sulit dipindahkan ke pot biasa untuk ditanam di rumah, karena membutuhkan jamur (mikoriza) yang hanya ada di habitat aslinya. Jadi, cara terbaik menikmati keindahannya adalah dengan menjaga hutan kita tetap lestari. Corymborkis veratrifolia, keindahannya sederhana, namun perannya di alam sangat berharga. Sumber : Siti Nurlaili - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Seksi KSDA Wilayah 1 Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 497–512 dari 2.515 publikasi