Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Membumikan Aren Martelu Purba, Mensejahterakan Umat

Pasangan pengantin Dearni Ria Tondang dan Rizal Pernando Sinaga bahagia menerima bibit pohon aren Tigarunggu, 23 Juni 2025. Sabtu, 21 Juni 2025 menjadi hari yang spesial bagi pasangan pengantin Dearni Ria Tondang, S.Gz dan Rizal Pernando Sinaga, S.Si. yang menerima pemberkatan pernikahan di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Tigarunggu, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Pasalnya kedua pengantin bukan hanya berbahagia karena resmi menjadi pasangan suami istri, tetapi juga di acara sakral dan kudus ini kedua pengantin menerima hadiah spesial dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara berupa bibit pohon Aren. Bibit pohon Aren tentunya menjadi saksi cinta sejati dua anak manusia yang berikrar untuk membentuk mahligai rumah tangga. Senyum bahagia terpancar dari wajah Dearni Ria Tondang, S.Gz. warga Dusun Tanjung Beringin, Desa Bertungen Julu, Kecamatan Tiga Lingga, Kabupaten Dairi, dan Rizal Pernando Sinaga, S.Si, warga RT 2 Kelurahan Tigarunggu, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, saat menerima kado spesial ini yang diserahkan langsung Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara diwakili Kepala Bagian Tata Usaha, Andar Abdi Saragih, S.Pd., M.Si., dan Kepala Resor Cagar Alam (CA) Martelu Purba Alharis Ruhidi, S.P., M.Si., disaksikan Pengurus serta Jemaat GKPS Tigarunggu, serta keluarga kedua belah pihak. Terlihat juga hadir Bupati Simalungun periode 2021-2025, Bapak Radiapoh Hasiholan Sinaga. Pesan-pesan konservasi pun disampaikan Kepala Bagian Tata Usaha dan Kepala Resort CA. Martelu Purba yang menekankan pada pentingnya masyarakat berpartisipasi aktif dalam menjaga kelestarian Kawasan Hutan CA. Martelu Purba beserta seluruh keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya, mengingat kawasan hutan ini sangat vital fungsinya bagi kita saat sekarang ini maupun anak cucu kita di masa yang akan datang. Kita saat ini tinggal menjaga kelestarian hasil kerja nyata penanaman meranti oleh senior-senior rimbawan, Bapak K.S Depari dan kawan-kawan sekitar tahun 1948 hingga 1950. Sejak semula kawasan hutan ini sudah dikukuhkan oleh Pemerintahan Gubernur Pesisir Timur Pulau Pretja dengan Proses Verbal tanggal 20 September 1938 (Nomor Registerasi 9-10/SM). Pasangan pengantin Eko Rahmadi dan Triani menerima bibit pohon Aren, 9 Mei 2025 Sebelumnya Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga sudah menyampaikan edukasi tentang penanaman aren dalam acara bimbingan nikah dan menyerahkan bibit pohon Aren kepada pasangan pengantin Eko Rahmadi dan Triani yang menjalani akad nikah, Jumat (9/5/2025), serta pasangan Muhammad Fadli dan Hanima Wulandari yang menjalani akad nikah pada Jumat (16/5/2025) di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. Aren (Arenga pinnata) yang dikenal juga dengan nama lain Enau (nama lokalnya bagot),merupakan pohon kehidupan yang memiliki aneka ragam manfaat, seperti: nectar bunganya, air niranya, buah kolang kalingnya, serat ijuknya, akarnya, dan tulang daunnya, sehingga dikenal sebagai MPTS (Multi Purpose Tree Species). Buahnya (kolang kaling) selain dikonsumsi manusia, setelah mulai menguning/masak juga sebagai pakan bagi satwa seperti monyet dan luwak. Salah satu potensi keanekaragaman hayati (biodiversity) di CA. Martelu Purba selain Meranti Batu (Shorea platyclados) dan Meranti Bunga (Shorea Leprosula) yang dominan tumbuh, adalah tumbuhan Aren yang bisa dijumpai pada seluruh bagian kawasan dan bahkan sudah memenuhi syarat sebagai sumber benih/bibit. Diperkirakan Aren ini mulai tumbuh sekitar 10 s.d 15 tahun setelah penanaman meranti. Pasangan Muhammad Fadli dan Hanima Wulandari menerima bibit pohon aren, 16 Mei 2025 Presiden RI Prabowo Subianto, dalam rangka swasembada pangan dan energi telah menargetkan 2 juta lahan hutan Aren untuk bahan baku energi alternatif non fosil berupa bioethanol, dengan demikian bisa menutupi ketergantungan impor energi berbahan baku fosil. Tahun 2025, Presiden melalui Kementerian Kehutanan mencanangkan gerakan penanaman Aren seluas 300.000 hektar lahan. Saat ini Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort CA. Martelu Purba menginisiasi pengembangan demplot mini pembibitan Aren endemik CA. Martelu Purba. Untuk mendukung program ini, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggandeng seorang peneliti dari akademisi Universitas Medan Area (UMA), Profesor Suswati, mencoba menerapkan perlakuan untuk percepatan perkecambahan benih Aren sebanyak 400 biji (untuk tahap uji coba) untuk keperluan bibit aren tahun berjalan 2025 ini dengan berkolaborasi bersama UPT Balai Pengelolaan DAS Asahan Barumun. Kedepan program pemberian bibit pohon Aren kepada pengantin akan terus digalakkan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat melalui rumah-rumah ibadah, seperti gereja, masjid dan lain-lain. Pemberian pohon sebagai bagian dari rangkaian pernikahan memiliki makna simbolis dan bermanfaat. Pohon mencerminkan berbagai karakter diantaranya: mengakar kuat (bila cinta menjadi akarnya, maka fondasi pernikahan akan kuat dan diberkati), mandiri, tangguh dan umur panjang. Selain itu juga menjadi simbol komitmen kepada lingkungan. Ekspektasinya melalui program pemberian bibit pohon Aren oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dapat meningkatkan kesadaran maupun kepedulian masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan melestarikan alam, serta dapat pula meningkatkan kesejahteraan khususnya bagi pengantin yang merawat pohon aren tersebut dengan baik. Penanaman aren secara meluas oleh masyarakat (arenisasi) juga akan mendukung program FOLU Net Sink 2030. Inilah inti dari pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Sumber: Alharis Ruhidi, SP., M.Si. (Analis Konservasi Kawasan/Kepala Resort CA. Martelu Purba) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Ketika Cinta Alam Menyatukan Generasi Muda dan Penjaga Garis Pantai

Tulungagung, 21 Juni 2025. Di dua sudut Jawa Timur, dari ruang kuliah mahasiswa pecinta alam di Tulungagung hingga garis pantai penuh jejak penyu di Trenggalek, semangat konservasi menyala dalam langkah anak-anak muda. Verifikasi lapangan oleh tim pusat Direktorat Konservasi Kawasan, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) menjadi saksi bagaimana cinta pada alam bukan sekadar slogan, tapi gerakan nyata yang berakar dari hati. Tulungagung (17/06/25), Di bawah langit kampus UIN Satu Tulungagung yang hangat dan cerah, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam Mapala Himalaya menunjukkan kepada Indonesia bahwa cinta pada alam dapat ditanam, disemai, dan dirawat, secara harfiah maupun filosofis. Pohon-pohon yang ditanam bersama Rektor, Tim Penilai dari Direktorat Konservasi Kawasan, Dinas Kehutanan Jawa Timur, dan Balai Besar KSDA Jatim menjadi simbol perlawanan terhadap degradasi lingkungan sekaligus penanda pengakuan terhadap dedikasi. Rangkaian kegiatan verifikasi lapangan dibuka dengan pemutaran video kegiatan Mapala Himalaya. Bukan sekadar dokumentasi, tetapi cermin dedikasi dan kerja keras yang terstruktur. Dalam presentasi penuh semangat, para anggota Mapala menunjukkan bahwa gerakan konservasi bisa berpijak kuat di dunia akademik. Di sekretariat Mapala Himalaya, bukti-bukti kerja nyata diverifikasi dari dokumentasi kegiatan hingga diskusi langsung dengan para relawan muda. Semua mengarah pada satu kesimpulan bahwa konservasi bukan hanya teori, tetapi tindakan yang hidup dalam keseharian. Setelah sesi tanya jawab yang intens, tim diajak ke Pendopo Bupati Tulungagung. Sambutan hangat Bupati dan Ketua DPRD menunjukkan bahwa semangat ini tak berdiri sendiri, ia tumbuh dalam ekosistem dukungan yang lebih besar. Keesokan harinya (18/06/25), jejak langkah konservasi berpindah ke tepian Samudera Indonesia, di pantai Kili-kili, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek. Ari Gunawan, seorang kader konservasi alam sekaligus Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Taman Kili-kili, menerima tim verifikasi lapangan dengan sambutan yang tak kalah menggugah.. Di Kili-kili, langkah-langkah konservasi berjalan dalam diam yang penuh makna. Penanaman pohon cemara untuk melindungi pantai dari abrasi, serta diskusi lintas pihak dengan Muspika dan Kepala Desa, hingga simulasi kegiatan penyelamatan penyu. Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat 122 butir telur penyu dipindahkan dari zona rawan ke lokasi penetasan, yang kemudian diakhiri dengan pelepasliaran 50 tukik ke laut lepas saat senja mulai merunduk. Di titik ini, konservasi tak lagi hanya kerja teknis, ia menjadi ritual harapan, simbol keberlanjutan, dan pesan lintas generasi. Kegiatan verifikasi yang berlangsung dua hari ini bukan hanya prosedur administratif. Ia menjadi panggung kecil tempat dua sosok, sebuah kelompok mahasiswa dan seorang kader desa, menunjukkan bahwa keberlanjutan bumi bisa dan harus diperjuangkan dari mana saja. Dari ruang kelas hingga pasir pantai, dari teori ke aksi, dari kota ke desa, api konservasi menyala. Dan BBKSDA Jatim hadir di tengahnya, mengawal, mendampingi, dan memastikan bahwa warisan alam Indonesia tetap lestari di tangan generasi penerusnya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kolaborasi Strategis, Para Penjaga Gerbang Timur Jawa Cegah Penyelundupan Satwa di Pelabuhan Ketapang

Banyuwangi, 18 Juni 2025. Pelabuhan Penyeberangan Ketapang di Banyuwangi, titik perlintasan vital antara Pulau Jawa dan Bali, menjadi saksi dari satu langkah penting dalam upaya penyelamatan kekayaan hayati Indonesia. Pada Rabu, 18 Juni 2025, sinergi antar-instansi kembali ditegaskan dalam kegiatan Sosialisasi Perkarantinaan yang digelar oleh Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Jawa Timur (BKHIT) bersama jajaran pemangku kepentingan strategis. Dalam forum yang dihadiri oleh 13 instansi, mulai dari unsur TNI-AL, Kepolisian, KSOP, ASDP, hingga lembaga konservasi seperti Balai Besar KSDA Jawa Timur dan FLIGHT Protecting Indonesia's Birds. Mengemuka satu isu mendesak yang kian menjadi ancaman bagi keanekaragaman hayati Nusantara, penyelundupan satwa liar. Tim Resort KSDA Wilayah 13 yang mencakup wilayah Banyuwangi, Situbondo, dan Bondowoso, di bawah koordinasi Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi, menegaskan komitmen penuh untuk mendukung penguatan sistem pengawasan di wilayah kerja karantina Ketapang. Dalam sesi diskusi, tim KSDA menyampaikan beberapa catatan penting dimana salah satu satunya adalah perlunya tindakan tegas yang memberikan efek jera terhadap pelaku penyelundupan satwa liar. Respons hangat datang dari pihak Balai Karantina Satpel Ketapang yang menyampaikan apresiasi mendalam atas sinergi yang selama ini telah terjalin dengan BBKSDA Jatim. Kerja sama dalam identifikasi dan penghitungan satwa liar yang diamankan dinilai sangat krusial dalam mencegah perdagangan ilegal yang mengancam keberlanjutan ekosistem. Sosialisasi ini bukan sekadar rutinitas koordinasi administratif. Ia adalah bagian dari ikhtiar nyata menjaga kehidupan liar dari ancaman perburuan dan perdagangan ilegal. Dalam suasana penuh sinergi itu, hadir harapan bahwa pelabuhan ini tak hanya menjadi jalur perlintasan manusia dan barang, tetapi juga benteng terakhir pertahanan bagi satwa-satwa yang tak bisa bersuara.(dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pembahasan Rencana Perjanjian Kerja Sama BBKSDA Sumatera Utara Dengan Yayasan Scorpion Indonesia

Medan 23 Juni 2025. Sebagai bagian dari proses pelayanan atas permohonan Perjanjian Kerja Sama yang disampaikan oleh Yayasan Scorpion Indonesia (YSI), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara telah melakukan fasilitasi untuk pemaparan rencana kegiatan yang akan dikerjasamakan dengan BBKSDA Sumatera Utara. Kegiatan dilaksanakan secara hybrid pada Senin, 16 Juni 2025 di Kantor BBKSDA Sumatera Utara. Pertemuan dipimpin langsung Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP.,M.Env., dan dihadiri oleh Direktur YSI (Ahmad Rizki Gea) dan pembina sekaligus pendiri YSI (Gunung Gea), jajaran Pejabat Esselon III dan VI lingkup BBKSDA Sumatera Utara beserta staf baik secara luring maupun daring. Melalui pertemuan tersebut disepakati bahwa judul perjanjian kerja sama “Penguatan Fungsi Kawasan Konservasi di Ekosistem Batang Toru dan pengawetan Jenis dan habitatnya di Provinsi Sumatera Utara”. Adapun ruang lingkup kerja sama meliputi: 1. penguatan kelembagaan; 2. dukungan pengawetan flora dan fauna; 3. perlindungan dan pengamanan keanekaragaman hayati dan kawasan konservasi. Pada pertemuan tersebut juga dibahas terkait dengan satwa liar jenis Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang sering kali meresahkan masyarakat di Sumatera Utara. Penanganan Monyet Ekor Panjang (MEP) menjadi fokus kegiatan YSI di Sumatera Utara, termasuk di dalamnya rehabilitasi MEP di Tapanuli Selatan. Pada prinsipnya YSI siap bekerjasama dengan BBKSDA Sumatera Utara untuk mengatasi permasalahan interaksi negatif antara manusia dengan MEP. Sumber: Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan)-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Peningkatan Kapasitas Pemandu Wisata Pokdarwis Binaan Balai TN Bukit Tiga Puluh

Rengat, 23 Juni 2025. Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh melaksanakan kegiatan Pelatihan dan Sertifikasi Pemandu Wisata. Kegiatan dilaksanakan selama 3 (tiga) hari pada tanggal 17 s.d 19 Juni 2025 di Hotel Luminor Jambi dan Taman Hutan Kota Muhammad Sabki Kota Jambi, dengan rincian 2 (dua) hari pelatihan dan 1 (satu) hari sertifikasi atau penilaian kompetensi sebagai pemandu wisata. Kegiatan pelatihan dan sertifikasi ini ditujukan untuk Kelompok Sadar Wisata(Pokdarwis) binaan Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Tebo Tengah. Sebanyak 12 (dua belas) orang mengikuti kegiatan tersebut terdiri dari 4 (empat) orang perwakilan Pokdarwis Payung Emas Desa Pemayungan Kec. Sumay Kab. Tebo, 5 (lima) orang perwakilan Pokdarwis Serasi Desa Lubuk Mandarsah Ulu Kec. Tengah Ilir Kab. Tebo dan 3 (tiga) orang perwakilan Pokdarwis Eka Wisata Desa Lubuk Mandarsah Ulu Kec. Tengah Ilir Kab. Tebo. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala SPTN Wilayah I Tebo Tengah Bapak Hendra Koswandi, S. Hut., M. Si mewakili Kepala Balai. Beliau berpesan kepada semua peserta untuk mengikuti pelatihan dengan serius dan selanjutnya dinyatakan kompeten setelah mengikuti penilaian atau assessment serta mampu menjadi pemandu wisata yang profesional khususnya di lokasi wisata alam kawasan TNBT. Selama 2 hari peserta mengikuti pelatihan dengan pengajar dari PT. Bangun Kompeten Indonesia Ibu Donna Ekawaty, ST., M. MPar., CMT sebagai Master Trainer. Pengajar memberikan ilmu pemandu wisata kepada peserta dengan melakukan banyak simulasi berupa praktek menjadi pemandu dengan pengajar cosplay sebagai wisatawan, mendeskripsikan diri sendiri dengan menggambar di sebuah kertas, praktik komunikasi efektif, praktik mengumpulan data dan informasi melalui komputer serta membuat standar operasional prosedur yang dibutuhkan sebagai pemandu wisata. Hari ketiga merupakan hari terakhir pelatihan, dimana seluruh materi yang diberikan pengajar mengarah kepada unit kompetensi yang akan diujikan saat peserta melakukan penilaian sertifikasi pemandu wisata. Peserta melakukan penilaian atau assessment pemandu wisata dengan asesor dari Lembaga Sertifikasi Profesi Cakra Wisata Indonesia. Pasca penilaian, asesor mengumumkan bahwa kedua belas peserta dinyatakan kompeten dan berhak mendapatkan sertifikat dari Badan Nasional Sertifikat Profesi (BNSP). Kami berharap melalui pelatihan ini, pengembangan wisata alam yang dikelola oleh pokdarwis semakin optimal. Dengan SDM pemandu wisata yang mumpuni, kami juga berharap wisata alam yang dikelola pokdarwis seperti Sungai Bulan, air terjun Pademan Hilir dan Rahayu Ketalo semakin dikenal masyarakat Jambi pada khususnya dan masyarakat Sumatera pada umumnya. Sumber: Balai Taman Nasional Bukit Tiga Puluh
Baca Artikel

Langkah Awal Pengabdian, Rimbawan Muda Menjawab Krisis Iklim

Surabaya, 17 Juni 2025. Di bawah langit awal musim kemarau yang menyimpan isyarat kekeringan panjang, 21 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) BBKSDA Jatim melangkah menanam harapan. Bukan sekadar menanam pohon, mereka sedang menyemaikan tekad sebagai generasi baru penjaga rimba dalam sebuah kegiatan bertajuk “Aksi Hijau untuk Bumi”, yang digelar tepat pada peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia, 17 Juni 2025. Dalam tanah yang mulai mengering, mereka menancapkan akar semangat. Di lingkungan kantor Balai Besar, Bidang Wilayah I, II, dan III, sebanyak 50 bibit ditanam, mulai dari alpukat, nangka, sirsak, puspo, ficus, murbai, gaharu, hingga mangga gadung. Setiap jenis pohon bukan dipilih sembarangan, melainkan memiliki nilai ekologis dan sosial yang penting. Puspo dan ficus yang menghijaukan ruang-ruang kosong di sudut rimba dan kota, gaharu yang bernilai tinggi, hingga murbai yang menjadi simbol ketahanan pangan. “Langkah kecil ini bukan akhir, melainkan awal perjalanan panjang sebagai rimbawan sejati,” ujar Nur Patria Kurniawan, Kepala BBKSDA Jatim memberi semangat kepada para CPNS yang kelak akan menjadi garda terdepan dalam menjaga hutan, satwa, dan tanah air. Kegiatan ini sekaligus menjadi bentuk nyata dukungan terhadap kebijakan pembangunan nasional yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan dan mitigasi dampak perubahan iklim. Di tengah tantangan global seperti degradasi lahan, deforestasi, dan kekeringan, penanaman pohon membawa pesan yang kuat, bahwa pemulihan ekosistem dimulai dari aksi nyata. Aksi penanaman ini, juga sebagai jembatan dalam membangun semangat konservasi yang menular dan menyentuh lintas generasi. Tak hanya menanam batang dan daun, mereka menanam harapan. Harapan akan bumi yang lebih hijau, udara yang lebih bersih, dan masa depan yang lebih lestari. Di tangan mereka, para rimbawan muda, kita titipkan kelangsungan kehidupan, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi satwa liar, bagi hutan yang bisu namun penuh makna, dan bagi bumi yang satu-satunya kita miliki. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Lokakarya Pengelolaan TN Moyo Satonda Terintegritas Berbasis Spesies

Mataram, 19 Juni 2025 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) kembali bersama Project CONSERVE melaksanakan Lokakarya Pengelolaan Taman Nasional Moyo Satonda Terintegritas Berbasis Spesies. Kegiatan dihadiri oleh BAPPENAS RI, Direktorat PKK KSDAE Kemenhut, Direktorat KKHSG KSDAE Kemenhut, TNI/POLRI, Balai PPI Wilayah Jabalnusra, Balai GAKKUM Jabalnusra, Balai Taman Nasional Rinjani, BPDAS Dodokan Moyosari, OPD lingkup Provinsi NTB, Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Dompu, WCS-IP, Perwakilan Universitas Mataram, Kelompok Masyarakat dan Media. Dalam lokakarya ini kembali ditekankan bahwa keberadaan serta kunci keberhasilan dari pengelolaan dan pelestarian Taman Nasional adalah keterlibatan seluruh pihak yang salah satunya melalui Rencana Pengelolaan terpadu antara pemerintah pusat dan daerah serta para stakeholder. Perwujudan "Satu Bahasa" dalam pengelolaan ini penting untuk mendapatkan win-win solution kepada semua pihak, terlebih masyarakat sekitar Taman Nasional. Jalan tengah dimana Taman Nasional bisa mensejahterakan masyarakat Kab. Sumbawa, Pulau Moyo khususnya tanpa harus merusak/eksplotasi alam secara berlebihan. Lokakarya juga menghasilkan dokumen Berita Acara Pembentukan "Forum Pengelolaan Taman Nasional Moyo Satonda" yang salah satu tujuannya adalah mendorong terbentuknya kelembagaan Taman Nasional untuk pengelolaan yang lebih efektif dan lebih baik lagi. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

Peta Jalan Konservasi Kakatua-Kecil Jambul-Kuning TN Moyo Satonda

Mataram, 18 Juni 2025 - Balai Konservasi Sumber Daya Alam Nusa Tenggara Barat (BKSDA NTB) melalui Project CONSERVE menggelar Konsultasi Publik Akhir Dokumen Peta Jalan Konservasi Kakatua-Kecil Jambul-Kuning (Cacatua sulphurea occidentalis) Taman Nasional Moyo Satonda. Konsultasi publik ini dihadiri oleh para stakeholder yang berasal dari Pemerintah Pusat dan Daerah, TNI/POLRI, Akademisi dari Universitas Mataram, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga Konservasi, Yayasan Paruh Bengkok Indonesia, Sumbawa Biodiversity, WCS-ID, Tokoh masyarakat, sektor swasta dan media. Tahapan akhir ini akan melahirkan dokumen Peta Jalan (Roadmap) yang partisipatif dan berbasis data serta masukan multipihak yang akan menjadi dasar/acuan dalam upaya konservasi Kakatua-Kecil Jambul-Kuning di Taman Nasional Moyo Satonda dalam 10 tahun kedepan. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Pembekalan CPNS Kementerian Kehutanan TA 2024 Dengan Penanaman

Banjarbaru, 17 Juni 2025 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan penanaman dalam rangkaian Pembekalan CPNS Kementerian Kehutanan Tahun Anggaran 2024. Bertepatan dengan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan Sedunia yang diperingati setiap tanggal 17 Juni, dijadikan momen penting untuk memperkuat semangat penghijauan melalui kegiatan bertema Aksi Hijau untuk Bumi. Bersama 12 orang CPNS BKSDA Kalsel, kegiatan ini berlangsung di beberapa area, sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan sejak dini di kalangan aparatur baru Kementerian Kehutanan. Sejalan dengan arahan Kementerian Kehutanan dalam meningkatkan pemahaman CPNS terhadap kebijakan pembangunan nasional serta mewujudkan visi Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2025, kegiatan ini menjadi salah satu implementasi nyata di lapangan. Tercatat, sebanyak 1.694 orang CPNS Kementerian Kehutanan hasil pengadaan tahun 2024 telah mulai melaksanakan tugas di unit masing-masing per 2 Juni 2025. Di lingkup Balai KSDA Kalimantan Selatan, dilakukan penanaman MPTS dan bibit pohon tanaman hutan antara lain belangiran dan jabon. Melalui kegiatan ini, diharapkan CPNS Kementerian Kehutanan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kepedulian lingkungan sejak awal pengabdian mereka. Aksi penghijauan ini menjadi langkah nyata dalam mendukung komitmen Kementerian Kehutanan untuk menjaga keseimbangan fungsi hutan sebagai cadangan pangan, energi, dan air serta memperkuat ketahanan ekologi wilayah. Komitmen Kementerian Kehutanan dalam menciptakan Pembangunan Berkelanjutan dengan menyeimbangkan fungsi hutan sebagai cadangan pangan, energi, dan air. Diharapkan CPNS Kementerian Kehutanan tidak hanya memahami nilai-nilai konservasi dan keberlanjutan secara konseptual, tetapi juga secara langsung berkontribusi pada pelestarian lingkungan. Dengan adanya penanaman pohon diharapkan mampu menciptakan ruang hijau yang bermanfaat bagi ekosistem lokal, serta menjadi bagian dari kontribusi nyata Kementerian Kehutanan dalam upaya penanggulangan degradasi lahan dan kekeringan. (Ryn) Sumber: Indri Yani - Prakom BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Menapak Jejak Aren Nusantara, Menyemai Harapan dari Nira

Lebak, 11–13 Juni 2025. Di tengah kabut pegunungan dan harum tanah basah Desa Hariang, Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten, sekelompok jiwa yang mencintai hutan berkumpul dalam sebuah misi mulia: menyelamatkan warisan lokal, memperkuat petani, dan menenun masa depan lestari dari pohon aren. Tiga hari yang intens dan sarat makna itu melahirkan kisah yang tidak hanya tentang gula, tapi tentang martabat, nilai, dan daya tahan pengetahuan tradisional dalam arus modernisasi. Temu Teknis Penyuluh Kehutanan Komoditas Aren Tahun 2025 yang digelar di Wanawiyata Widyakarya Mitra Mandala menjadi titik temu antara ilmu, tradisi, dan strategi global. Namun, ada satu kehadiran yang mencuri perhatian, Uswandi Putra, Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) dari Pulau Bawean, Jawa Timur. Ia datang mewakili semangat kelompok Mustika Aren dari Desa Balikterus, sebuah Kelompok Tani Hutan binaan BBKSDA Jatim yang menapak dengan langkah kecil namun penuh keyakinan. Dari Akar Ilmu Menuju Puncak Pemahaman Suasana sunyi pegunungan pecah oleh semangat para penyuluh dan petani dari berbagai daerah. Acara dibuka dengan sambutan dari Direktur PT. Gunung Hijau Masarang sekaligus Ketua Wanawiyata Widyakarya Mitra Mandala, yang menekankan pentingnya regenerasi pengetahuan dan penguatan kelompok petani aren sebagai garda depan konservasi. Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan turut memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan dengan doa bersama. Suasana berubah khidmat. Di ruang pelatihan yang sederhana, para peserta mulai disuguhi rangkaian materi awal: proses produksi gula aren dari hulu ke hilir, strategi penguatan kelembagaan kelompok, hingga evaluasi awal untuk mengukur kesiapan tiap individu. Sebagai Putra Bawean asli, Uswandi Putra datang bukan hanya sekedar menyadap, namun juga memanen pengetahuan yang mengakar dan tumbuh seperti pohon aren itu sendiri. Nira, Waktu, dan Kebersihan sebagai Kunci Keberlanjutan Mentari terbit di balik pegunungan Hariang, memantulkan kilau emas di atas tetesan nira yang baru keluar dari luka kecil di batang pohon aren. Hari kedua dipenuhi praktik lapangan yang menguji presisi, kesabaran, dan dedikasi. Para peserta belajar menyadap dengan memperhatikan waktu ideal, pagi buta, saat embun belum habis dan semut belum menjarah manisnya nira. Ditekankan bahwa kebersihan adalah harga mati. Dari mulai pemotongan bunga jantan, penampungan dalam wadah bambu yang steril, hingga penggunaan bahan alami seperti sari batang pohon kawao dan kulit buah manggis sebagai pengawet, semuanya diajarkan dengan detail. Teknik oven pengering modern diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi dan daya simpan produk gula aren. Diskusi kelompok dilakukan untuk memperdalam pemahaman tentang diversifikasi produk, mulai dari gula semut, cairan nira fermentasi, hingga sirup sehat berstandar ekspor. Gula aren bukan sekadar manis di lidah. Ia adalah lambang kesabaran, kebersamaan, dan kearifan lokal yang harus dilestarikan. Dari Lereng ke Pasar Global Hari terakhir menjadi momen pencerahan. Jika dua hari sebelumnya berbicara tentang hulu dan tengah proses produksi, maka hari ketiga adalah tentang hilir, pemasaran, sertifikasi, dan nilai tambah. Materi disampaikan dengan fokus pada strategi pengemasan produk untuk pasar ritel dan ekspor, pengetahuan tentang sertifikat organik dan standar keamanan pangan, serta cara memperkenalkan produk kepada konsumen melalui pendekatan online dan offline. Diskusi kelompok menelurkan wawasan mendalam tentang branding lokal, pemasaran berbasis komunitas, hingga kalkulasi harga jual dengan margin wajar dan kompetitif. Tidak hanya tentang angka, tapi tentang menjual cerita, budaya, dan komitmen terhadap kelestarian. Sukses ekspor bukan soal modal besar. Tapi soal memahami pasar, menjaga mutu, dan membangun kepercayaan. Petani aren dari pelosok bisa jadi eksportir jika tahu caranya. Demikian kesimpulan yang dipegang teguh para peserta di penghujung kegiatan. Pulau Kecil, Mimpi Besar Bagi Uswandi Putra, pulang ke Bawean bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari sebuah revolusi kecil. Ia membawa pulang bukan hanya ilmu, tetapi api perubahan. Bersama kelompok Mustika Aren, ia bertekad untuk menerapkan setiap praktik baik yang dipelajarinya, dari cara memilih benih, merawat tanaman, menyadap dengan etika, hingga mengemas dan menjual dengan martabat. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui partisipasi PKSM dalam kegiatan ini menegaskan bahwa konservasi bukan hanya urusan kawasan dan satwa, tetapi juga tentang manusia, penghidupan mereka, dan warisan budaya lokal yang lestari. Partisipasi aktif Uswandi Putra dalam kegiatan ini merupakan bagian dari upaya konkret pemberdayaan masyarakat penyangga kawasan konservasi Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, sebagai bentuk sinergi antara konservasi dan peningkatan kesejahteraan yang selaras dengan prinsip ekologi, ekonomi, dan sosial. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ketika Anak-Anak SD Menjawab Krisis Alam dengan Menanam Ficus di Penyangga Cagar Alam

Kediri, 12 Juni 2025. Di tengah semilir angin dari bibir Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan, puluhan siswa kelas VI dari SD Negeri Manggis 2, Kecamatan Puncu, berdiri berjajar dalam barisan rapi. Bukan untuk menerima ijazah. Bukan pula untuk sesi foto perpisahan. Mereka berkumpul untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih dalam maknanya, menanam pohon sebagai bentuk cinta pada bumi, dan sebagai simbol kelulusan yang mengakar kuat dalam nilai-nilai konservasi, 12 Juni 2025. Dalam kegiatan bertajuk “Tanam Harapan, Peluk Bumi”, sebanyak 50 bibit pohon dari 7 jenis Ficus lokal ditanam di zona penyangga kawasan konservasi yang dikenal kaya akan keanekaragaman hayatinya. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara pihak sekolah, BBKSDA Jatim melalui Seksi KSDA Wilayah I Kediri, serta Pusat Ficus Nasional. Jenis-jenis pohon yang ditanam antara lain Ficus racemosa dikenal sebagai pohon ara yang menjadi favorit banyak jenis burung pemakan buah. Ficus virens berperan penting dalam menstabilkan tanah lereng dan mencegah erosi, Ficus altissima pohon kanopi tinggi yang memberi naungan dan rumah bagi banyak jenis serangga serta burung. Juga Ficus albipilla, Ficus superba, Ficus religiosa, dan Ficus microcarpa semuanya memiliki nilai ekologis yang tinggi sebagai penopang mikrohabitat dan pelindung hutan tropis. Acara ini tak hanya dihadiri oleh guru dan siswa. Tampak Komite Sekolah, para wali murid, perwakilan dari Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek, Direktur Pusat Ficus Nasional, relawan dari Masyarakat Ficus, serta petugas dari Seks KSDA Wilayah I Kediri hadir dan berbaur dalam kegiatan ini. Semua terlibat dalam suasana yang sakral dan menyentuh, memperlihatkan bagaimana pendidikan, masyarakat, dan konservasi bisa berpadu dalam harmoni. Perlu diketahui bahwa bahwa Indonesia adalah rumah bagi lebih dari 150 jenis pohon Ficus, sebagian besar belum dikenal publik luas. Padahal, Ficus memainkan peran kunci dalam menjaga ekosistem, menjadi makanan bagi berbagai jenis satwa liar. Ficus juga berfungsi sebagai pengikat tanah yang sangat dibutuhkan untuk mencegah bencana ekologi seperti longsor dan kekeringan. Sehingga pada kesempatan ini menjadi bagian dari edukasi pentingnya kita menjaga semangat hijau untuk masa depan yang lebih lestari. Yang menjadikan kegiatan ini begitu menyentuh bukan hanya soal menanam pohon, tapi cara anak-anak ini menghayati maknanya. Di tengah suasana haru, terlihat jelas bahwa pendidikan lingkungan hidup bukan lagi teori kosong di dalam kelas, tetapi telah menjelma menjadi praktik hidup yang akan mereka bawa ke mana pun mereka pergi. Kegiatan ini menjadi preseden penting dalam upaya mengintegrasikan nilai-nilai konservasi ke dalam sistem pendidikan dasar. Ini membuktikan bahwa konservasi tidak harus dimulai dari hutan belantara, ia bisa dimulai dari ruang kelas, dari taman sekolah, bahkan dari momen perpisahan. Inisiatif seperti ini sejalan dengan visi Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam memperkuat sinergi multipihak, mendorong konservasi partisipatif, serta membangun generasi yang tidak hanya peduli, tetapi juga bertindak untuk melindungi alam. Ketika langkah kaki anak-anak SD Manggis 2 menjauh dari lokasi penanaman, mereka mungkin tak menyadari bahwa mereka baru saja menuliskan bab baru dalam sejarah konservasi lokal. Di akar yang mulai tumbuh itu, tertanam juga kesadaran dan cinta yang tak akan mudah layu. Dan kelak, ketika pohon-pohon itu menjulang, barangkali mereka akan kembali sebagai orang dewasa dan melihat bahwa di bawah pohon yang mereka tanam sendiri, dunia menjadi sedikit lebih hijau. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menembus Alas Ireng, Harapan itu Bernama Sigogor

Ponorogo, 15 Juni 2025. Di balik ketenangan Cagar Alam Gunung Sigogor, sekelompok rimbawan berjalan di tumpukan serasah. Bukan untuk berburu, bukan pula untuk rekreasi. Mereka datang dengan misi mulia, menjaga nadi kehidupan benteng terakhir yang tersisa di jantung alam Jawa Timur. Dalam rentang waktu empat hari, dari 10 hingga 13 Juni 2025, tim Smart Patrol BBKSDA Jatim menembus lanskap berkabut di dua blok utama, Sigombal dan Ngesep, yang terbagi menjadi enam grid pengamatan. Ini bukan patroli biasa. Ini adalah bentuk nyata komitmen negara terhadap perlindungan keragaman hayati yang kian terdesak oleh ruang dan waktu. Di Blok Sigombal dan Blok Ngesep, para petugas menemukan mosaik flora endemic dan langka yang masih bertahan di cekungan-cekungan lembab lereng Sigogor. Dari Dodonaea viscosa yang menyimpan kisah adaptasi abadi, hingga anggrek tanah Calanthe sp. yang mekar dalam sunyi, hanya disaksikan mata mereka yang bersedia menyusuri jalan terjal dan berlumut. Sementara dari balik semak dan kanopi, suara alam masih terdengar lantang. Tulum tumpuk Megalaima javanica berkicau di antara batang suren, dan elang hitam Ictinaetus malayensis membelah langit dengan sayap lebar, seakan menjadi penjaga langit Sigogor. Mereka tidak sendiri. Kijang Muntiacus muntjak tampak melintas, dan Lutung jawa Trachypithecus auratus mengintip dari dahan tinggi, simbol bahwa alam masih memiliki denyut, walau sayup. Lebih dari sekadar catatan observasi, patroli ini juga menjadi konfirmasi penting, tidak ditemukan adanya gangguan kawasan maupun aktivitas pelanggaran hukum. Lima pal batas yang ditemukan nomor 47, 26, 28, 315, dan 316 masih utuh dan berdiri kokoh, seperti menandai wilayah kedaulatan ekosistem yang masih terlindungi. Ini adalah kisah tentang harapan. Tentang mereka yang memilih berjalan menembus rimba bukan karena kemewahan, tapi karena panggilan nurani. Karena di setiap langkah rimbawan, tersembunyi janji untuk masa depan yang lebih lestari. Kegiatan ini juga menjadi istimewa karena kehadiran langsung Kepala Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Gatot Kuncoro Edi, yang turut serta mendampingi patrol dari awal hingga akhir. Di tengah semak dan langkah panjang, beliau memberikan semangat yang menginspirasi seluruh tim bahwa “Rimbawan baik di hutan maupun di kota tetap semangat dan hati gembira” tegasnya. Kegiatan Smart Patrol ini merupakan bagian dari strategi konservasi aktif BBKSDA Jatim dalam mendeteksi dini ancaman dan memantau populasi flora-fauna di kawasan konservasi. Data dan temuan dari kegiatan ini akan menjadi landasan pengambilan keputusan berbasis sains dalam pengelolaan Cagar Alam Sigogor ke depan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Nadi Ekonomi Hutan, Ketika Angka Transaksi Menjadi Cermin Konservasi

Surabaya, 12 Juni 2025. Di balik derap langkah penyuluh kehutanan yang setiap hari menembus batas-batas tapak dan pedukuhan, tersimpan data-data yang kini menjadi denyut nadi baru bagi ekonomi kelompok tani hutan (KTH), Nilai Transaksi Ekonomi (NTE). Dalam sebuah forum intensif bertajuk Bimbingan Teknis Penginputan NTE bagi Penyuluh Kehutanan di Jawa Timur, harapan akan kemajuan berbasis data kembali digemakan, dibalut dengan tantangan klasik di ranah teknis dan struktural. Forum strategis ini digelar atas undangan resmi Pusat Penyuluhan Kehutanan (PUSLUH), dalam hal ini Balai Besar KSDA Jawa Timur dihadiri oleh Imam Talkah dan Eka Heryadi, yang membawa mandat untuk membuka jalan bagi keberadaan KTH binaan BBKSDA Jatim agar dapat ikut serta dalam skema digitalisasi NTE melalui aplikasi SIMLUH. Ekonomi Hutan di Era Asta Cita Dalam sambutannya, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur menegaskan bahwa kehadiran Biaya Operasional Penyuluh (BOP) bukan hanya bentuk dukungan, namun juga energi pendorong bagi penyuluh kehutanan untuk membina KTH secara lebih intensif dan berdampak. Sejalan dengan itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Kehutanan menyampaikan bahwa arah pembangunan kehutanan kini tidak lagi semata pada fungsi ekologis, melainkan juga sebagai penyangga kedaulatan pangan dan energi, sesuai dengan program nasional Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Komoditas seperti aren, misalnya, kini dilihat tidak hanya sebagai sumber nira, tapi juga sebagai energi masa depan yang ramah lingkungan. Melalui program seperti WEMISYU (Webinar Kamis Penyuluhan Kehutanan), para penyuluh didorong untuk terus mengembangkan kapasitasnya sebagai ujung tombak konservasi berbasis masyarakat. Digitalisasi dan Tantangan Lapangan Salah satu misi utama kegiatan ini adalah mendorong penginputan NTE secara real-time dan akurat oleh penyuluh kehutanan ASN. Namun, kendala yang dihadapi masih cukup kompleks. Di antaranya adalah belum teregistrasinya 16 KTH binaan BBKSDA Jatim pada sistem Dinas Kehutanan Provinsi, serta keterbatasan akses akun SIMLUH bagi penyuluh PPPK. Data yang dimasukkan ke dalam sistem tidak hanya berfungsi sebagai pelaporan administratif, tetapi juga sebagai indikator langsung produktivitas kawasan hutan dan keberhasilan pendampingan KTH. NTE bukan sekadar angka, tapi wajah ekonomi kerakyatan dari tapak hutan. NTE Tinggi, PR Besar Data menunjukkan bahwa capaian NTE Jawa Timur sudah menyentuh angka Rp 530 miliar, tertinggi nasional, namun baru 29,62% dari target ambisius Rp1,8 triliun pada tahun 2025. Beberapa faktor penyebabnya antara lain belum teregistrasinya KTH, belum meratanya kepemilikan akun SIMLUH, dan adanya KTH yang belum memiliki omzet. Kepala Pusat Penyuluhan Kementerian Kehutanan pun mengingatkan bahwa capaian data harus dilihat dalam konteks progres, bukan euforia. Konsistensi pelaporan, validitas data, dan kualitas pendampingan menjadi satu paket yang harus digenjot untuk memastikan peran penyuluh bukan sekadar formalitas birokrasi. Mendorong Registrasi, Menyalakan Asa Menanggapi belum terealisasinya registrasi 16 KTH binaan BBKSDA Jatim, langkah koordinatif telah dilakukan dengan Admin Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Muhammad Nur Syamsi. Harapannya, dalam lima hari kerja ke depan, KTH tersebut dapat segera memperoleh nomor registrasi sehingga NTE-nya bisa diinput secara resmi dan legal. Namun, PR lainnya tetap terbentang, memastikan semua penyuluh, baik PNS maupun PPPK, mendapatkan akun SIMLUH agar dapat menjalankan perannya secara optimal dan profesional. NTE Bukan Sekadar Angka Data bukan sekadar urusan administrasi, ia adalah cermin perjuangan di lapangan. Di balik NTE, ada tetes keringat penyuluh yang mengantar bibit, menyulut semangat petani hutan, dan membangun rantai ekonomi dari akar. Ketika NTE menjadi ukuran, maka kerja keras dari lapangan mesti dipastikan terukur dan dihargai. BBKSDA Jatim terus berkomitmen menjadi bagian dari arus besar ini, menjaga agar ekosistem tetap lestari, dan masyarakat hutan turut sejahtera. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kisah Rimbawan Muda dan Desa yang Bangkit di Pesisir Selatan Jember

Jember, 12 Juni 2025. Siapa sangka bahwa kambing bisa menjadi pintu masuk konservasi? Di Desa Kepanjen, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, sebuah kelompok masyarakat membuktikan bahwa menjaga hutan tak selalu bermula dari hutan itu sendiri, kadang, ia tumbuh dari kandang sederhana, rumput liar, dan semangat warga yang tak ingin kehilangan alam di sekitarnya. Balai Besar KSDA Jawa Timur, Kamis silam (12/6), melalui Bidang KSDA Wilayah III, bersama petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 14 Jember dan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Nusa Barung, melaksanakan monitoring kelompok desa binaan sekaligus pendampingan intensif kepada Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) 2024, Rimbawan Muda BBKSDA Jatim. Kegiatan ini menyasar Kelompok Masyarakat Putra Lestari, penerima bantuan konservasi pada tahun 2024 yang kini menunjukkan kemajuan mencolok. Berawal dari 16 ekor kambing Caligesing Kepala Hitam hasil bantuan konservasi, kelompok ini telah berhasil mengembangkan populasi menjadi 22 ekor, dengan 5 indukan sedang bunting. Namun yang paling penting, bukan soal jumlah ternak, melainkan tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa menjaga alam bisa dilakukan lewat peningkatan ekonomi, bukan pengrusakan. Kelompok ini bahkan telah menyatakan komitmennya untuk ikut menjaga Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, sebuah kawasan konservasi penting yang menjadi habitat berbagai jenis satwa endemik di pesisir selatan Jawa Timur. Namun, kemajuan itu belum sepenuhnya mulus. Monitoring juga mencatat adanya tantangan serius, seperti terbatasnya ruang kandang dan minimnya fasilitas penyimpanan pakan. Solusi berbasis komunitas pun disusun, seperti pengadaan mesin pencacah rumput, serta sistem perguliran ternak untuk anggota secara bergiliran, memperkuat aspek tanggung jawab dan pemerataan manfaat. Rimbawan Muda, Penjaga Masa Depan Kegiatan ini menjadi panggung awal bagi rimbawan muda untuk belajar memahami denyut konservasi yang sesungguhnya. Bukan di balik meja, bukan dalam rapat teknis, tetapi langsung di tengah masyarakat, mendengarkan, membimbing, dan menyusun solusi berbasis kebutuhan nyata di lapangan. Rimbawan muda hari ini harus menjadi lebih dari sekadar petugas kehutanan. Mereka harus mampu menjadi jembatan antara ekosistem dan ekonomi, antara perlindungan alam dan kehidupan warga. Mereka harus peka membaca jejak satwa, sekaligus bijak mendengar suara warga. Di balik deru angin selatan dan kabut yang menggantung di hutan Nusa Barung di seberang lautan, generasi baru penjaga alam sedang ditempa, belajar bahwa konservasi bukan hanya soal kawasan, tetapi tentang hubungan. Hubungan antara manusia, satwa, tanah, air, dan harapan. Apa yang terjadi di Desa Kepanjen adalah miniatur ideal dari masa depan konservasi di Indonesia, konservasi berbasis masyarakat, ditopang oleh rimbawan yang progresif dan berdaya pikir ekologis. Dari 16 kambing dan sepetak kandang, lahirlah semangat kolaborasi. Dan dari semangat itulah, hutan di Pulau Nusa Barung dan mungkin di kawasan konservasi lain akan tetap hidup. Bukan hanya karena dijaga petugas, tapi karena ada warga dan rimbawan yang memilih untuk peduli. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kolaborasi Hijau untuk Probolinggo Lebih Lestari

Probolinggo, 10 Juni 2025. Di tengah padatnya denyut kota dan geliat kehidupan urban, sebuah oase harapan tumbuh di Kampung Gaharu, Kota Probolinggo. Sekolah Konang Indonesia bersama Komunitas Warga Perum Kerinci Asri dan berbagai elemen masyarakat melaksanakan aksi penanaman pohon gaharu (Aquilaria spp) sebagai bagian dari program penghijauan kota yang tak hanya menyejukkan lanskap, tapi juga menyimpan potensi besar sebagai penyerap karbon dan pelindung keanekaragaman hayati. Kegiatan penanaman ini turut dihadiri oleh Walikota Probolinggo, perwakilan CDK Lumajang Wilker Probolinggo, BPDLH FOLU, Perhutani KPH Probolinggo, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota dan Kabupaten Probolinggo, tokoh masyarakat, serta siswa dari MAN 1, 2, dan 3 Probolinggo. Kolaborasi lintas sektor ini menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan dalam membangun masa depan ekologis yang lebih baik. Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo, Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir dalam kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap upaya konservasi jenis tumbuhan bernilai tinggi, sekaligus sebagai bagian dari strategi adaptasi perubahan iklim berbasis alam. Pohon gaharu yang selama ini dikenal karena nilai ekonominya, kini digalakkan untuk ditanam dalam skala perkotaan, memberi makna baru sebagai pohon penyeimbang ekosistem dan penyimpan karbon. Penanaman pohon bukan hanya menambah ruang hijau kota, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kualitas hidup masyarakat. Selain berfungsi sebagai peneduh dan penyegar udara kota, gaharu juga menyimpan potensi ekologis sebagai bagian dari jasa lingkungan, terutama dalam kerangka pengembangan karbon forest (carbon stock) dan nilai konservasi di wilayah perkotaan. Penanaman ini diharapkan menjadi titik awal menuju Kota Probolinggo yang lebih resilien, lestari, dan ramah terhadap iklim. Langkah hijau yang dilakukan hari ini bukanlah sebuah kegiatan seremonial semata. Ia adalah bagian dari narasi besar tentang bagaimana manusia, alam, dan ruang hidup bisa berjalan berdampingan secara harmoni. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Rimbawan Muda BBKSDA Sumut, Energi Baru Untuk Konservasi

29 CPNS baru siap mengabdi di Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 12 Juni 2025. Fachri Afif Maulana, A.Md.Ak. itulah namanya, menjadi salah satu CPNS baru di Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Pria kelahiran Medan, 17 November 2000 ini mendapat kesempatan bergabung sebagai rimbawan Balai Besar KSDA Sumatera Utara setelah lulus menjalani berbagai tes masuk CPNS Kementerian Kehutanan pada tahun 2024 yang lalu. Alumni Politeknik Negeri Medan ini tertarik dengan dunia kehutanan, khususnya konservasi alam bermula dari keaktifannya mengikuti kegiatan pencinta alam, dan bergabung dengan organisasi mapala di kampusnya MAPAGRATWA. Semakin sempurna kecintaannya ketika menjalani PKL sebagai bagian tugas kuliahnya, di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Medan. Fachri yang dinyatakan lulus SKB pada bulan Januari 2025, dengan jabatan Pranata Keuangan APBN Terampil, bertekat ingin mengabdi dan melayani di Balai Besar KSDA Sumatera Utara sesuai dengan kemampuan dan ilmu yang dimilikinya. Berbeda dengan Fachri, Lasria Romauli Marselina Sianturi, wanita kelahiran Dairi, 20 Maret 1991, mengungkapkan rasa syukur dan sukacitanya bisa bergabung di Balai Besar KSDA Sumatera Utara, karena dari 4 kali tes CPNS yang pernah diikutinya Lasria selalu gagal dan tes yang kelima kali ini merupakan kesempatan terakhir baginya, namun disitu pula keberuntungan diraihnya. Beberapa kali tes CPNS di beberapa kementerian dicobanya tidak pernah berhasil, ternyata Kementerian Kehutanan menjadi jodoh baginya untuk berkarier. Alumni D3 Teknik Informatika Universitas Sumatera Utara ini, dengan jabatan Pranata Komputer terampil, juga menyatakan keinginannya untuk bekerja dan memberi pelayanan yang terbaik sebagai pengabdian kepada negara serta keinginannya membahagiakan keluarga (suami dan sepasang buah hatinya). Fachri dan Lasria, merupakan dua dari 29 orang CPNS baru yang ditempatkan di Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Ke 29 CPNS ini disebarkan di Seksi Konservasi Wilayah pada Bidang KSDA Wilayah, dengan rincian Bidang KSDA Wilayah I sebanyak 9 orang, Bidang KSDA Wilayah II sebanyak 6 orang, Bidang KSDA Wilayah III sebanyak 12 orang dan Bagian Tata Usaha sebanyak 2 orang. Pembinaan dan pembekalan oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara didampingi Kepala Bagian tata Usaha Berdasarkan sebaran jabatan, ada sebanyak 2 orang sebagai Medik Veteriner Ahli Pertama, 6 orang Pelatih dan Perawat Satwa Liar, 6 orang PEH Pemula, 3 orang PEH Terampil, Penyuluh Kehutanan Terampil sebanyak 3 orang, Polhut Pertama 6 orang, Polhut Pemula 1 orang, Pranata Keuangan APBN Terampil 1 orang dan Pranata Komputer Terampil sebanyak 1 orang. Ke 29 orang CPNS sebelum menjalankan tugas, mendapat pembinaan dan pembekalan dari Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP.,M.Env. pada Senin (2/6) di ruang rapat Balai besar KSDA Sumatera Utara. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara didampingi Kepala Bagian Tata Usaha, Kepala Bidang KSDA Wilayah I, Kepala Bidang KSDA Wilayah II dan Kepala Bidang Teknis, dalam bimbingannya menyampaikan selamat datang dan selamat bergabung di Kementerian Kehutanan, khususnya di UPT Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Novita Kusuma Wardani berharap kepada CPNS baru dapat segera beradaptasi di wilayah kerjanya masing-masing. “Nikmati tugas di lapangan, jangan cengeng dan mengeluh, hadapi tantangan sebagai peluang untuk berkreasi dan berinovasi, asah terus kemampuan dan ketrampilan serta jangan pernah berhenti untuk belajar,” ujar Novita dalam arahannya. Usai menerima pembekalan, ke 29 rimbawan muda ini akan melaksanakan tugas di tempatnya masing-masing sesuai dengan arahan dari Kepala Bidang KSDA Wilayah. Selamat bertugas… selamat berkarya dan berkreasi untuk konservasi alam yang lebih baik lagi kedepannya…. Salam konservasi. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 497–512 dari 2.305 publikasi