Sabtu, 29 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

BBTN Lore Lindu Kampanye Lahan Basah

Palu – 08 Februari 2026. Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) bersama UPT Lingkup Kementerian Kehutanan Provinsi Sulawesi Tengah menyelenggarakan Kampanye Publik dalam rangka memperingati Hari Lahan Basah Sedunia (World Wetlands Day) dengan tema “Rawat Tradisi, Lahan Basah Lestari”, pada Minggu 08 Februari 2026 di area Car Free Day (CFD) Kota Palu. Pada kesempatan tersebut, Kepala BBTNLL Agus Arianto menyampaikan bahwa “Lahan basah memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem, ketersediaan air, serta keberlanjutan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pelestarian lahan basah tidak dapat dilepaskan dari peran aktif masyarakat, termasuk melalui pelestarian kearifan lokal dan tradisi yang selaras dengan alam”. Kegiatan diawali dengan jalan santai bersama dengan rute Kantor BBTNLL menuju Lapangan Vatulemo kemudian kembali ke Kantor BBTNLL yang merupakan area CFD. Jalan santai ini dirangkaikan dengan aksi bersih lingkungan dan street campaign di sepanjang jalur yang dilalui. Dari kegiatan tersebut, berhasil dikumpulkan 150 kilogram sampah sebagai bentuk kepedulian nyata terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan perkotaan. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) untuk penanganan sampah nasional dan menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. Di depan halaman Kantor BBTNLL, juga dilaksanakan pemberian bibit tanaman secara gratis kepada masyarakat yang mengikuti CFD. Sebanyak 200 bibit dibagikan yang terdiri dari 100 bibit alpukat, 50 bibit jengkol, 25 bibit mahoni dan 25 bibit nantu sebagai upaya mendorong pemulihan ekosistem dan peningkatan kesadaran menanam pohon kepada masyarakat. Selain itu, kegiatan ini turut dimeriahkan dengan stand pameran produk kelompok binaan BBTNLL dan photobooth yang menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk berfoto bersama. Antusiasme pengunjung semakin meningkat dengan adanya kuis edukatif terkait pengenalan Kawasan TNLL dan pelestarian ekosistem khususnya lahan basah. Peserta yang berhasil menjawab pertanyaan dengan benar mendapatkan hadiah menarik, termasuk grand prize dan kupon gratis masuk Objek Wisata Tambing. Melalui kegiatan kampanye ini, diharapkan masyarakat semakin memahami pentingnya peran lahan basah, tumbuh rasa memiliki terhadap kawasan konservasi serta terdorong untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga dan melestarikan lingkungan secara berkelanjutan demi keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan generasi mendatang. Sumber : Humas Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu
Baca Artikel

Di Balik Logo Badak Jawa, Peran Pers Dalam Cerita Konservasi Jawa Timur

Sidoarjo, 9 Februari 2026. Menandai Hari Pers Nasional dengan sebuah simbol yang sunyi namun sarat makna yaitu Badak Jawa. Satwa endemik yang langka ini tidak hadir sebagai ornamen, melainkan sebagai pesan, tentang isu-isu konservasi yang nyata, mendesak, dan sering kali luput dari perhatian publik. Bagi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), simbol tersebut berkelindan dengan realitas kerja di lapangan. Sebagai Unit Pelaksana Teknis di bawah Kementerian Kehutanan, BBKSDA Jawa Timur mengemban mandat perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di wilayah yang kaya keanekaragaman, sekaligus rentan terhadap tekanan. Konservasi, pada akhirnya, tidak hanya soal patroli, penanganan konflik satwa, atau pengelolaan kawasan. Ia juga tentang cerita, bagaimana data lapangan, kebijakan, dan tantangan ekologis dipahami oleh publik. Di titik inilah pers mengambil peran strategis. Melalui pemberitaan yang akurat, berimbang, dan beretika, jurnalisme lingkungan menjadi jembatan antara hutan dan ruang publik. Pers membantu menerjemahkan kompleksitas konservasi, dari konflik manusia dan satwa liar, peredaran tumbuhan dan satwa dilindungi, hingga dampak perubahan iklim, menjadi informasi yang dapat dipahami, dipertimbangkan, dan didukung bersama. Di Jawa Timur, tantangan tersebut hadir dalam banyak rupa. Habitat yang terfragmentasi, tekanan pembangunan, dan perubahan lanskap menuntut pendekatan kolaboratif. Kehadiran insan pers yang memahami isu lingkungan memastikan bahwa kerja-kerja konservasi tidak berjalan dalam kesunyian, melainkan berada dalam percakapan publik yang sehat dan berkelanjutan. “Kami memandang insan pers sebagai mitra strategis dalam konservasi. Melalui pemberitaan yang akurat, berimbang, dan bertanggung jawab, pers membantu menyebarluaskan informasi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, sekaligus menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga keanekaragaman hayati di Jawa Timur,” ujar Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur. Hari Pers Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa menjaga alam adalah kerja bersama. Ketika satwa tidak mampu bersuara dan ekosistem tak dapat membela dirinya, pers hadir untuk memastikan fakta tetap hidup dan kepedulian terus tumbuh. Di balik logo badak jawa, tersimpan sebuah pesan sederhana namun penting bahwa konservasi membutuhkan cerita, dan pers membantu menjaganya tetap terdengar. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Lakukan Pembinaan Penangkaran Rusa Timor di Ponorogo

Ponorogo, 6 Februari 2026. Sebagai upaya memastikan pengelolaan satwa liar yang bertanggung jawab dan berkelanjutan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah (SKW) II Bojonegoro, melaksanakan kegiatan pembinaan terhadap unit penangkaran Rusa Timor (Rusa timorensis) di Kabupaten Ponorogo, Rabu (4/2/2026). Kegiatan pembinaan ini dilaksanakan di unit penangkaran milik Drs. Hisbul Wathoni yang berlokasi di Desa Ngunut, Kecamatan Babadan, Kabupaten Ponorogo. Pembinaan dilakukan sebagai bagian dari fungsi pengawasan, pendampingan teknis, serta evaluasi pemenuhan standar pengelolaan penangkaran satwa liar dilindungi. Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, petugas mencatat bahwa saat ini terdapat 19 ekor Rusa Timor di dalam unit penangkaran tersebut, yang terdiri atas 11 ekor jantan, 5 ekor betina, dan 3 ekor anakan. Dari keseluruhan populasi tersebut, diketahui masih terdapat anakan generasi pertama (F1) yang belum dilakukan penandaan, sehingga menjadi salah satu fokus tindak lanjut dalam pembinaan yang direncanakan. Selain pendataan populasi, petugas juga melakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen kelahiran satwa, pengecekan kondisi kesehatan Rusa Timor, serta penilaian terhadap kebersihan kandang dan ketersediaan pakan. Seluruh aspek tersebut merupakan komponen penting dalam menjamin kesejahteraan satwa (animal welfare) serta kepatuhan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pembinaan penangkaran tidak hanya bertujuan memastikan aspek administratif terpenuhi, tetapi juga mendorong penangkar untuk menerapkan praktik pengelolaan yang berorientasi pada kelestarian jenis dan keberlanjutan populasi. Penandaan anakan, misalnya, menjadi instrumen penting dalam sistem pengelolaan populasi, pelacakan asal-usul satwa, serta pencegahan peredaran ilegal satwa liar. Melalui kegiatan ini, BBKSDA Jawa Timur berharap penangkaran Rusa Timor dapat menjadi bagian dari upaya konservasi eks-situ yang efektif, terukur, dan bertanggung jawab. Sinergi antara pemerintah dan penangkar diharapkan mampu menjaga keberlangsungan satwa liar, sekaligus mendukung tujuan konservasi jangka panjang di Jawa Timur. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Desis dari Balik Ranjang, Ungkap Wajah Konflik Satwa di Wilayah Urban

Surabaya, 6 Februari 2026. Suara desis pelan dari balik ranjang sebuah rumah warga di Desa Sarirejo, Kabupaten Gresik, menjadi penanda sunyi tentang ruang hidup yang kian menyempit. Di bawah kasur itu, seekor sanca kembang berusaha mencari tempat aman, sebuah adaptasi naluriah di tengah laju urbanisasi yang terus menggerus habitat alaminya. Peristiwa yang terjadi pada 5 Februari 2026 itu saat Mujianto mencurigai adanya suara desis tak wajar dari arah ranjang springbed di rumahnya. Rasa penasaran sekaligus cemas mendorongnya membongkar ranjang tersebut. Benar saja, seekor ular sanca kembang (Malayophyton reticulatus) ditemukan bersembunyi di bawah kasur. Alih-alih panik, Mujianto mengambil langkah yang jarang terjadi dalam konflik manusia dan satwa liar. Berbekal pemahaman bahwa kemunculan satwa tersebut berkaitan erat dengan perubahan lingkungan, ia mengamankan ular itu ke dalam karung dan segera menghubungi petugas konservasi. Respons cepat datang dari Tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang pada hari yang sama langsung menuju lokasi. Setibanya di tempat kejadian, tim melakukan identifikasi awal serta wawancara singkat untuk memastikan kronologi temuan sebelum mengevakuasi satwa tersebut. Keberadaan ular di kawasan permukiman ini bukan peristiwa tunggal. Dari keterangan warga, perjumpaan dengan satwa liar, khususnya ular, kerap terjadi di wilayah tersebut. Kondisi ini diduga kuat berkaitan dengan karakter lanskap Sarirejo yang merupakan bekas rawa, habitat alami berbagai jenis reptil, yang kini telah berubah menjadi kawasan permukiman akibat tekanan pembangunan. Penanganan Lanjutan dan Translokasi Satwa Pada hari yang sama, Tim MATAWALI juga melakukan evakuasi terhadap enam satwa liar hasil penyerahan masyarakat selama lima hari terakhir, hasil kolaborasi penanganan bersama BPBD Surabaya. Satwa-satwa tersebut terdiri empat ekor Sanca Kembang (Malayophyton rereticulatus), seekor Monyet Ekor Panjang betina (Macaca fascicularis), dan seekor ular koros (Ptyas korros). Keseluruhan satwa ditranslokasikan ke Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur. Seluruh satwa berada dalam kondisi hidup dan mendapatkan penanganan lanjutan sesuai kaidah kesejahteraan satwa. Refleksi Konflik Satwa dan Kota Kasus diatas menjadi cermin nyata bahwa konflik satwa liar di wilayah urban bukan semata soal kemunculan hewan di ruang manusia, melainkan konsekuensi dari perubahan bentang alam yang masif. Satwa liar tidak pernah “tersesat”, namun merekalah yang beradaptasi ketika ruang hidupnya terfragmentasi. Melalui kegiatan ini, penguatan koordinasi lintas instansi serta peningkatan sosialisasi kepada masyarakat, baik secara langsung maupun digital, penanganan konflik satwa liar di kawasan perkotaan dapat dilakukan secara aman, tepat, dan berperspektif konservasi dapat berjalan optimal. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Generasi Muda Karimunjawa Belajar Langsung Konservasi Penyu

Karimunjawa, 03 Februari 2026 – Riang dan penuh semangat, puluhan siswa Taman Kanak-kanak (TK) Kemujan mendatangi kantor Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) II Karimunjawa pada Selasa pagi. Kunjungan edukatif ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta dan tanggung jawab terhadap lingkungan, khususnya upaya konservasi penyu dan ekosistem pesisir, sejak usia dini. Kegiatan dibuka dengan pengenalan satwa dilindungi, yakni penyu, melalui alat peraga (offset) yang disediakan oleh SPTN II. Antusiasme tinggi terpancar dari wajah peserta didik saat melihat dan menyentuh replika penyu tersebut. “Penyu itu hidupnya di laut, tapi untuk bertelur dia membutuhkan pantai yang bersih, tenang, dan aman. Kalau pantainya kotor atau ramai, penyu bisa takut dan tidak mau bertelur,” jelas Bapak Agus Roma Purnomo Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) SPTN II kepada anak-anak yang menyimak dengan penuh rasa ingin tahu. Pesan utama yang ingin disampaian adalah korelasi langsung antara perilaku manusia dengan kelestarian satwa. Penjelasan sederhana bahwa membuang sampah sembarangan di pantai dapat mengancam habitat bertelur penyu berhasil dipahami dengan baik oleh para peserta didik. Tidak terbatas pada penyu, rangkaian pembelajaran juga mencakup ekosistem secara utuh. Anak-anak diajak mengenal pentingnya menjaga satwa lain seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan kelestarian hutan, termasuk peran vital mangrove dan terumbu karang sebagai bagian dari kekayaan alam Karimunjawa yang wajib dilindungi. “Ini adalah bentuk edukasi konservasi yang sangat efektif. Melibatkan anak-anak secara langsung akan menciptakan memori dan pemahaman yang lebih mendalam daripada sekadar teori di kelas. Mereka adalah calon-calon penjaga alam di masa depan,” ujar Bapak Kristiawan PEH SPTN II Karimunjawa. Dukungan penuh juga datang dari pihak pendamping. Para guru dan orang tua murid menyambut baik inisiatif ini. Mereka mengapresiasi materi yang disampaikan dengan cara yang mudah dicerna namun sarat makna. “Kami sangat terbantu. Penjelasan dari pihak SPTN sangat jelas dan menyenangkan untuk anak-anak. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut,” ungkap salah seorang guru pendamping. Sebagai tindak lanjut, telah terjalin komitmen untuk melanjutkan kerjasama dalam bentuk kegiatan yang lebih aplikatif, seperti pelepasliaran tukik (anak penyu) dan penanaman bibit mangrove. Kegiatan-kegiatan nyata ini diharapkan dapat memperkuat rasa tanggung jawab dan kepedulian anak-anak terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan pendekatan “belajar sambil bermain”, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi kunjungan sekali waktu, melainkan menjadi pemicu awal bagi terbentuknya generasi muda yang sadar dan aktif dalam pelestarian alam, selaras dengan prinsip konservasi jangka panjang. Sumber: Seksi PTN II Karimunjawa – Balai Taman Nasional Karimunjawa
Baca Artikel

Perkuat Sinergi dengan Pemerintah Desa untuk Pengembangan Wisata Alam Resor CA/TWA Sibolangit

Petugas Resor CA/TWA Sibolangit berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Sibolangit, Kamis (5/2/2026) Sibolangit, 6 Februari 2026 – Tim Resor CA/TWA Sibolangit, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melaksanakan kegiatan koordinasi dengan Pemerintah Desa Sibolangit dalam rangka pengembangan wisata alam di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 5 Februari 2026 ini bertujuan untuk memperkenalkan Kepala Resor CA/TWA Sibolangit yang baru, Jazmi Anditya Wicaksono, menjalin silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi pengelolaan kawasan dengan pemerintah desa. Dalam koordinasi tersebut, tim juga mengkonfirmasi kembali rencana pengembangan wisata alam yang akan dibuat di kawasan TWA Sibolangit sebagai bagian dari upaya mendorong optimalisasi potensi wisata alam secara terarah, berkelanjutan dan berbasis konservasi. Selain itu, pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk menyamakan persepsi terkait arah dan konsep pengembangan wisata alam di TWA Sibolangit ke depan. Selanjutnya, Tim Resor CA/TWA Sibolangit melaksanakan pertemuan dan diskusi dengan Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sibolangit Berseri, Aidil Salomo, bertempat di Kantor Resor CA/TWA Sibolangit. Pertemuan membahas keberadaan serta peran Pokdarwis Sibolangit Berseri ke depan dalam medukung pengelolaan dan pengembangan kegiatan wisata alam di kawasan TWA Sibolangit. Melalui rangkaian kegiatan koordinasi dan pertemuan tersebut, diharapkan akan terbangun komunikasi dan kerja sama yang lebih baik antara pengelola kawasan, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat sehingga pengembangan wisata alam di TWA Sibolangit dapat berjalan secara tertata, berkelanjutan, serta memberikan manfaat bagi kawasan serta masyarakat sekitar. Sumber: Resor CA/TWA Sibolangit – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Dari Dermaga untuk Laut: Aksi Gotong Royong Bersihkan Pantai Karimunjawa

Karimunjawa, 06 Februari 2026 – Di bawah sinar matahari pagi yang cerah, Balai Taman Nasional Karimunjawa melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Karimunjawa bersama instansi terkait melaksanakan Gerakan Bersih Pantai di Dermaga Timur Karimunjawa pada Jumat, 6 Februari 2026. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 07.00 WIB ini diikuti dengan penuh semangat gotong royong oleh seluruh peserta. Aksi bersih pantai ini merupakan bagian dari gerakan kebersihan yang dicanangkan oleh Bupati Jepara dan dilaksanakan secara serentak di seluruh kecamatan di Kabupaten Jepara. Kawasan Dermaga Timur dan area pantai di sekitarnya dipilih sebagai lokasi prioritas mengingat fungsinya sebagai salah satu pintu utama kedatangan wisatawan ke Kepulauan Karimunjawa. “Kawasan dermaga merupakan wajah pertama yang dilihat oleh pengunjung saat tiba di Karimunjawa. Menjaga kebersihannya bukan hanya tanggung jawab instansi, tetapi juga bentuk komitmen kita bersama terhadap kelestarian lingkungan dan kenyamanan wisatawan,” ujar Bapak Agus Roma Purnomo Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) SPTN II Karimunjawa. Dalam kegiatan yang berlangsung sekitar dua jam tersebut, terkumpul tujuh kantong besar sampah yang didominasi oleh sampah plastik, seperti kemasan makanan, botol minuman, dan potongan styrofoam. Sampah-sampah ini sebagian besar berasal dari aktivitas manusia di sekitar dermaga, serta sampah kiriman yang terbawa arus laut. “Temuan ini mengingatkan kita bahwa masalah sampah plastik masih menjadi pekerjaan rumah yang serius. Selain upaya pembersihan, edukasi dan perubahan perilaku masyarakat serta pengunjung juga sangat penting,” tambahnya. Aksi bersih pantai ini tidak hanya bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan asri, tetapi juga memperkuat kesadaran kolektif akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Pantai yang bebas dari sampah tidak hanya memberikan kenyamanan visual, tetapi juga mendukung kelestarian habitat laut, termasuk terumbu karang dan biota pesisir lainnya. Ke depannya, SPTN II Karimunjawa berencana mengintegrasikan kegiatan serupa dengan program edukasi lingkungan, baik bagi masyarakat lokal maupun wisatawan, agar upaya konservasi dapat berjalan berkelanjutan. “Pantai yang bersih adalah cerminan dari kepedulian kita terhadap alam. Mari kita jaga bersama keindahan Karimunjawa untuk generasi mendatang,” pungkas Bapak Kristiawan PEH SPTN II Karimunjawa. Kegiatan ini diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk turut serta dalam aksi nyata menjaga kebersihan lingkungan, sekaligus mendukung pariwisata berkelanjutan di Karimunjawa. Sumber: Seksi PTN II Karimunjawa – Balai Taman Nasional Karimunjawa
Baca Artikel

Tim Matawali Evakuasi 18 Ular Sanca, Hasil Penanganan Damkar Tuban

Tuban, 4 Februari 2026. Tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal (Matawali) Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengevakuasi 18 ekor ular sanca hasil penanganan konflik satwa liar yang sebelumnya diamankan oleh Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban. Evakuasi dilakukan pada 4 Februari 2026, sebagai bagian dari upaya mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar di wilayah permukiman. Satwa yang dievakuasi terdiri atas tiga ekor ular Sanca Bodo (Python bivittatus) dan 15 ekor ular Sanca Kembang (Malayopython reticulatus). Seluruhnya merupakan satwa liar yang ditemukan di sekitar lingkungan masyarakat dan telah ditangani lebih awal oleh Damkar Tuban guna mencegah risiko keselamatan bagi warga. Proses evakuasi melibatkan Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 bersama Tim Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar KSDA Jawa Timur. Setelah dilakukan serah terima, satwa-satwa tersebut dibawa ke kandang transit UPS di Sidoarjo untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, pemulihan kondisi, serta penanganan lanjutan sesuai standar kesejahteraan satwa liar. Kemunculan ular di kawasan permukiman kerap dipicu oleh perubahan lanskap, keterbatasan ruang jelajah, serta menurunnya kualitas habitat alami. Dalam konteks ini, evakuasi tidak semata bertujuan mengamankan manusia, tetapi juga memastikan satwa terlindungi dari perlakuan yang berpotensi membahayakan kelangsungan hidupnya. Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan bahwa penanganan konflik satwa liar membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah daerah, aparat teknis, dan masyarakat. Pelibatan Damkar Tuban dalam tahap awal penanganan menjadi contoh penting respons cepat di lapangan sebelum satwa ditangani oleh otoritas konservasi. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak melakukan tindakan berisiko ketika berhadapan dengan satwa liar. Setiap kejadian konflik satwa dapat dilaporkan kepada instansi terkait agar penanganannya dilakukan secara aman, profesional, dan berorientasi pada keselamatan bersama, baik manusia maupun satwa liar sebagai bagian tak terpisahkan dari ekosistem. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Berusaha Memasuki Rumah Warga, Seekor Biawak Diamankan Tim Matawali

Banyuwangi, 5 Februari 2026. Seekor Biawak Air (Varanus salvator) jantan kini menjalani masa rehabilitasi di kandang transit Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi, setelah diserahkan secara sukarela oleh seorang warga kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Penyerahan ini menjadi bagian dari upaya pengelolaan satwa liar berbasis kesadaran masyarakat dan prinsip konservasi. Penyerahan satwa tersebut dilakukan pada 3 Februari 2026, oleh Sdri. Dwi Kusuma, warga Kecamatan Banyuwangi. Langkah ini mencerminkan meningkatnya pemahaman publik bahwa satwa liar, apa pun status perlindungannya. Sebelumnya, Tim Matawali RKW 12 Banyuwangi–Situbondo–Bondowoso menerima laporan adanya seekor Biawak yang berusaha memasuki rumah warga. Dengan cekatan dan mengedepankan keselamatan petugas dan satwa, Biawak tersebut dapat ditangkap. Meskipun Biawak Air bukan satwa yang dilindungi namun tetap memiliki peran ekologis penting bagi alam. Saat ini, satwa dalam kondisi hidup dan sehat berada di kandang transit milik Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi untuk menjalani observasi dan rehabilitasi sebelum ditentukan langkah pengelolaan berikutnya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pasang Kamera Trap di Hutan Kota Trenggalek, Tak Disangka Dapatkan Jenis Ini

Trenggalek, 3 Februari 2026. Kamera trap menjadi salah satu sarana yang biasa digunakan untuk mendapatkan data potensi keanekaragaman hayati khususnya satwa liar. Data tersebut berupa dokumentasi foto maupun video. Pemasangan kamera trap perlu memperhatikan beberapa hal, diantaranya adalah lokasi penempatan alat tersebut. Lokasi-lokasi atau jalur yang diperkirakan sering dilalui oleh satwa liar dapat menjadi pertimbangan menjadi titik pemasangan kamera trap, seperti yang dilakukan di Hutan Kota (Huko) Trenggalek. Tujuan pemasangan kamera trap di kawasan wisata dengan suasana alami di tengah kota Trenggalek ini adalah untuk mendapatkan data visual jenis burung yang dilindungi oleh pemerintah, yaitu Paok Pancawarna Hyodrornis guajanus. Burung endemik Jawa dan Bali ini tercatat dalam kegiatan inventarisasi keanekaragaman hayati pada akhir tahun 2025 lalu. Perjumpaan burung tersebut dapat menambah salah satu atraksi wisata di Hutan Kota Trenggalek, yaitu wisata pengamatan burung atau dikenal dengan birdwatching. Hasil rekaman dari kamera trap yang terpasang selama satu minggu pada akhir bulan Januari di Huko tersebut tidak mendapatkan video tentang target utama, Paok Pancawarna. Satwa liar yang terekam adalah Landak Jawa Hystrix javanica, Musang Pandan Paradoxurus hermaphroditus, dan Monyet Ekor Panjang Macaca fascicularis. Landak jawa terekam beberakali melintasi kamera trap saat malam hari. Mamalia berduri yang dilindungi tersebut juga terdokumentasi berpasangan saat melewati kamera trap. Monyet ekor panjang menjadi satu-satunya primata yang terekam pada siang atau sore hari, sedangkan lainnya terekam beraktivitas pada malam hari. Temuan dalam kamera trap tersebut menjadikan potensi keanekaragaman jenis satwa liar di Hutan Kota Trenggalek semakin beragam. “Meskipun belum mendapatkan video target (paok pancawarna), kami tetap senang dengan hasil dari kamera trap ini, karena berhasil merekam jenis-jenis mamalia, salah satunya adalah landak jawa yang dilindungi”, ungkap David, Polisi Kehutanan yang memasang kamera trap. “Huko ini (Trenggalek) ternyata menjadi habitat yang sesuai dengan tiga mamalia besar yang terekam”, tambah Ardiansyah, Polisi Kehutanan yang memasang kamera trap. Pemasangan kamera trap tersebut dilaksanakan bersama pengelola Huko dan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek. Begitu pula dengan proses pengambilan kamera trapnya (03/02/2026). “Kami senang dengan hasil ini, karena ini membuktikan kawasan Huko merupakan rumah yang baik bagi satwa liar,” kata Tony, Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek yang turut menyaksikan pemasangan dan pengambilan kamera trap. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra dan Ardiansyah (Polisi Kehutanan) - SKW I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Demi Keselamatan Penerbangan, BBKSDA Jatim dan Otoritas Bandara Satukan Langkah

Sidoarjo, 4 Februari 2026. Keselamatan penerbangan tidak hanya ditentukan oleh teknologi pesawat dan kecakapan pilot, tetapi juga oleh cara manusia memahami dan mengelola ruang hidup yang berbagi dengan alam. Kesadaran inilah yang mengemuka dalam pertemuan antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Otoritas Bandara Wilayah III, yang membahas langkah konkret pencegahan dan penanganan risiko bird strike di Jawa Timur (03/02/2026). Pertemuan ini menjadi titik awal penyatuan langkah lintas sektor dalam menjaga keselamatan penerbangan tanpa mengabaikan prinsip konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Bird strike dipahami bukan semata sebagai gangguan operasional penerbangan, melainkan sebagai cerminan dari irisan ruang antara aktivitas manusia dan dinamika ekosistem satwa liar. Dari Insiden Menuju Pencegahan Berbasis Kolaborasi Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut.,M.Sc., menegaskan bahwa pendekatan terhadap isu bird strike harus diletakkan dalam kerangka pengelolaan risiko yang adil bagi manusia dan alam. “Keselamatan penerbangan adalah prioritas bersama. Namun, upaya pencegahan bird strike tidak boleh dimaknai sebagai tindakan yang merugikan satwa liar. Yang kita dorong adalah pengelolaan ruang dan ekosistem secara bijak, agar keselamatan manusia terjaga dan fungsi ekologis tetap lestari,” ujarnya. Menurutnya, langkah preventif hanya akan efektif jika dirancang secara sistemik dan dilaksanakan melalui kolaborasi lintas sektor. KSDA, dalam hal ini, berperan memastikan bahwa setiap kebijakan dan tindakan teknis tetap sejalan dengan prinsip perlindungan keanekaragaman hayati. Peran Strategis Pemerintah Daerah Salah satu kesepahaman penting yang mengemuka adalah perlunya keterlibatan aktif pemerintah daerah. Keselamatan penerbangan tidak dapat dilepaskan dari kebijakan tata ruang, pengelolaan lingkungan, kawasan basah, hingga aktivitas ekonomi di sekitar bandara. Beliau menekankan bahwa pemerintah daerah memegang peran kunci dalam menjembatani kebijakan sektoral di lapangan. “Pemerintah daerah adalah aktor strategis karena memiliki kewenangan langsung terhadap pengelolaan ruang. Oleh sebab itu, deklarasi dan program kerja penanganan bird strike ke depan harus melibatkan pemda sejak awal, agar kebijakan yang diambil benar-benar implementatif dan berkelanjutan,” tambahnya. Keterlibatan pemda diharapkan dapat memperkuat target jangka pendek yang disepakati bersama, sekaligus memastikan langkah-langkah mendesak yang perlu dilakukan operator bandara mendapat dukungan kebijakan yang memadai. Regulasi, Kerja Sama, dan Tindak Lanjut Nyata Dalam pertemuan tersebut, juga dibahas pemanfaatan kerangka regulasi yang memungkinkan kerja sama lintas sektor, termasuk penguatan fungsi dan pembangunan strategis yang tidak selalu berkaitan langsung dengan kawasan konservasi. Pendekatan ini membuka ruang bagi solusi yang adaptif terhadap kondisi lokal, tanpa mengabaikan koridor hukum dan prinsip konservasi. Sebagai tindak lanjut konkret, disepakati pembentukan mekanisme koordinasi cepat melalui grup komunikasi lintas instansi serta pengelolaan dokumen kerja bersama secara digital. Langkah ini ditargetkan dapat segera berjalan agar seluruh kesepakatan tidak berhenti pada tataran diskusi. Menjaga Langit, Merawat Kehidupan Kolaborasi antara KSDA dan otoritas bandara ini menegaskan satu pesan penting, keselamatan manusia dan kelestarian alam bukan dua kepentingan yang saling meniadakan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan ketika direncanakan dengan pendekatan ilmiah, kebijakan yang inklusif, dan komitmen lintas sektor. Di tengah meningkatnya mobilitas udara dan tekanan terhadap ekosistem, langkah bersama ini menjadi contoh bagaimana risiko dapat dikelola secara bijak, menjaga langit tetap aman, sembari merawat kehidupan yang tumbuh, bergerak, dan terbang di sekitarnya. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Belajar di Habitat Harapan! Magang Mahasiswa FKH UGM Menghidupkan Ilmu Kedokteran Hewan di Dunia Konservasi

Sidoarjo, 4 Februari 2026. Liburan semester kerap dimaknai sebagai jeda dari rutinitas akademik. Namun bagi empat mahasiswa semester tujuh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, jeda itu justru menjadi pintu masuk menuju ruang belajar yang lebih luas, ruang di mana ilmu pengetahuan diuji langsung oleh realitas lapangan, dan empati tumbuh berdampingan dengan keterampilan profesional. Pada 19–31 Januari 2026, keempat mahasiswa tersebut menjalani magang mandiri di Unit Penyelamatan Satwa Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), sebuah simpul penting dalam upaya penyelamatan dan perawatan satwa liar. Di tempat inilah teori-teori kedokteran hewan yang selama ini mereka pelajari di bangku kuliah menemukan bentuk nyatanya. Setiap kandang, setiap ruang perawatan, dan setiap satwa yang ditangani menjadi bagian dari habitat harapan, ruang belajar yang tidak hanya mengasah kompetensi teknis, tetapi juga membentuk kepekaan nurani. Selama magang, para mahasiswa terlibat langsung dalam berbagai aktivitas konservasi yang bersifat teknis sekaligus ilmiah. Mereka mempelajari pengelolaan pakan dan kandang sesuai kebutuhan biologis satwa, melakukan pemeriksaan feses dan parasit, serta menjalankan pemeriksaan fisik untuk menilai kondisi kesehatan satwa secara menyeluruh. Proses pemasangan microchip identifikasi memperkenalkan mereka pada pentingnya sistem penandaan sebagai dasar pengelolaan dan pelacakan satwa. Sementara praktik pembiusan dengan prosedur yang aman menuntut ketelitian tinggi, kedisiplinan, dan tanggung jawab etis. Pengalaman lapangan semakin lengkap ketika mereka turut mendampingi proses evakuasi satwa dari masyarakat. Di titik ini, mahasiswa menyaksikan langsung kompleksitas hubungan antara manusia dan satwa liar, bahwa konservasi tidak pernah berdiri sendiri sebagai urusan medis semata. Kedokteran hewan dalam konteks konservasi adalah perpaduan antara sains, komunikasi, edukasi publik, dan pemahaman ekologi yang utuh. Kegiatan magang ini menjadi wujud nyata kolaborasi antara perguruan tinggi dan institusi konservasi. Bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur, Unit Penyelamatan Satwa selain sebagai tempat singgah sementara bagi satwa hasil penyelamatan, ia juga berfungsi sebagai laboratorium hidup, tempat ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya diterapkan, tetapi juga diuji melalui dinamika lapangan yang sesungguhnya. Sinergi ini menegaskan peran strategis lembaga konservasi sebagai ruang pembelajaran bagi calon profesional konservasi masa depan. Lebih dari sekadar kewajiban akademik, magang ini adalah proses pendewasaan. Para mahasiswa belajar bekerja dalam sistem, memahami standar operasional konservasi, serta menumbuhkan mental tangguh untuk menghadapi realitas lapangan yang kerap tak ideal. Langkah-langkah kecil yang mereka tempuh, membersihkan kandang, memeriksa kesehatan satwa, hingga mempresentasikan hasil pembelajaran, menjadi bekal besar bagi masa depan mereka. Dan pada saat yang sama, menjadi harapan bagi satwa liar yang keberlangsungannya bergantung pada ilmu, empati, dan dedikasi generasi penerus konservasi. Sebagai penutup rangkaian magang, keempat mahasiswa menyusun refleksi dan evaluasi atas seluruh pengalaman lapangan yang telah mereka jalani. Hasil pembelajaran tersebut kemudian dipresentasikan secara langsung di hadapan pejabat struktural dan fungsional lingkup Balai Besar KSDA Jawa Timur. Forum ini menjadi ruang dialog ilmiah dan profesional, tempat mahasiswa tidak hanya melaporkan apa yang telah dikerjakan, tetapi juga menyampaikan pemahaman, tantangan, serta pelajaran yang mereka peroleh selama terlibat di dunia konservasi satwa liar. Sumber : Norlaili Isnaini - PEH Ahli Pertama & Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Membaca Denyut Ekosistem Pesisir Lewat Asian Waterbird Census di Bangkalan

Bangkalan, 4 Februari 2026. Di hamparan mangrove pesisir Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, denyut ekosistem pesisir kembali “terbaca” melalui kehadiran burung-burung air. Pada 2–3 Februari 2026, tim gabungan Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama mitra melaksanakan Asian Waterbird Census (AWC), sebuah pendataan tahunan yang menjadi barometer kesehatan lahan basah di jalur migrasi Asia. Kegiatan ini melibatkan 15 personel lintas latar belakang mulai dari petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, tim Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), serta mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga angkatan 2023–2024 yang tergabung dalam Kelompok Minat Profesi Veteriner Pet and Wild Animal. Kolaborasi ini menegaskan bahwa konservasi pesisir tak berdiri sendiri, ia tumbuh dari kerja bersama ilmu pengetahuan, pengelolaan, dan kepedulian. Dua Taman Mangrove, Satu Cerita Ekologis Pendataan dilakukan di dua titik kunci, Taman Labuhan Mangrove Barat dan Taman Labuhan Mangrove Timur. Di kedua lokasi ini, pengamat menyisir perairan dangkal, tepi lumpur, dan kanopi mangrove, mikrohabitat yang menyediakan pakan, tempat beristirahat, sekaligus perlindungan bagi burung air. Hasil identifikasi mencatat kehadiran kelompok burung migran yang menjadi penanda penting jalur lintas benua. Di antaranya Gajahan Pengala, Trinil Pantai, Trinil Kaki Merah, Trinil Ekor Kelabu, Dara Laut Kecil, Dara Laut Kumis, Dara Laut Jambul, serta Cici Merah. Kehadiran mereka mengafirmasi fungsi Mangrove Labuhan sebagai “stasiun persinggahan”, ruang vital untuk mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan panjang ribuan kilometer. Tak hanya migran, beragam burung penetap juga teridentifikasi, mencerminkan kestabilan habitat setempat. Di antaranya Kekep Jawa, Bondol Haji, Tekukur, Kapasan Kemiri, Cekakak Sungai, Blekok Sawah, Kuntul Kecil, Kuntul Karang, Raja Udang Biru, Kipasan Belang, Punai Gading, Kerak Kerbau, Bubut Besar, Cerak Jawa, hingga Kokoan Laut. Komposisi ini menunjukkan mosaik ekologi yang masih bekerja, perairan produktif, mangrove yang berfungsi, dan rantai makanan yang saling terkait. Lebih dari Sekadar Menghitung Burung AWC bukan sekadar daftar spesies. Ia adalah alat baca, membaca kualitas habitat, tekanan lingkungan, dan arah perubahan ekosistem. Burung air sensitif terhadap gangguan, fluktuasi kehadiran mereka sering kali menjadi sinyal awal degradasi atau, sebaliknya, pemulihan. Dalam konteks Bangkalan, temuan ini menguatkan peran mangrove sebagai benteng alami pesisir, menahan abrasi, menyaring nutrien, dan menopang keanekaragaman hayati. Data AWC juga menjadi pijakan pengelolaan, dari perencanaan konservasi, edukasi publik, hingga sinkronisasi dengan aktivitas ekonomi di sekitar pesisir. Pendidikan Lapangan dan Harapan Keberlanjutan Keterlibatan mahasiswa kedokteran hewan memberi nilai tambah strategis. Lapangan menjadi ruang belajar hidup, mengasah keterampilan identifikasi, etika pengamatan satwa liar, serta pemahaman kesehatan ekosistem. Di akhir kegiatan, dokumentasi satwa masih dalam proses rekapitulasi sebagai bagian dari penjaminan kualitas data. Di tengah dinamika pesisir Madura, AWC di Mangrove Labuhan mengirim pesan yang jernih: ketika burung-burung air masih singgah, ekosistem masih bernapas. Menjaga napas itu berarti merawat mangrove, mengelola ruang pesisir secara bijak, dan melanjutkan kolaborasi lintas sektor. Dari Bangkalan, denyut pesisir itu terdengar, tenang, namun mendesak untuk terus dijaga. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Belajar dari Konflik MEP di Jember, Mengapa Satwa Liar Tak Pernah Tepat Jadi Peliharaan

Jember, 2 Februari 2026. Konflik antara manusia dan satwa liar sering kali tidak lahir dari niat buruk. Justru sebaliknya, ia berawal dari rasa sayang, kedekatan, dan kebiasaan hidup berdampingan yang berlangsung lama. Namun sebuah peristiwa terbaru di Kabupaten Jember kembali mengingatkan kita bahwa alam memiliki hukum yang tidak bisa dinegosiasikan. Pada 2 Februari 2026, seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) atau lebih sering disebut MEP yang telah dipelihara selama kurang lebih lima tahun oleh sebuah keluarga di Kecamatan Mayang, tiba-tiba melukai seorang balita berusia dua tahun. Korban mengalami luka serius dan harus menjalani perawatan medis intensif di RSUD Kalisat. Peristiwa ini menjadi titik balik yang menyadarkan semua pihak bahwa kedekatan emosional tidak serta-merta menghilangkan sifat dasar satwa liar. Naluri Liar yang Tak Pernah Benar-Benar Padam Dalam ekosistem alaminya, monyet ekor panjang adalah satwa sosial dengan hierarki ketat, insting mempertahankan diri, dan kepekaan tinggi terhadap ancaman. Ketika dipelihara di lingkungan domestik, banyak pemicu stres yang kerap luput dari perhatian, mulai dari ruang gerak terbatas, interaksi manusia yang tak terduga, suara keras, perubahan rutinitas, hingga kontak langsung dengan anak-anak. Situasi tertentu, sentuhan mendadak, ekspresi wajah, atau perebutan benda, dapat diterjemahkan satwa sebagai ancaman. Reaksi agresif pun muncul secara spontan. Bukan karena satwa “berubah”, melainkan karena nalurinya tetap bekerja sebagaimana mestinya. Risiko Memelihara Satwa Liar Tanpa Pemahaman Purwantono, S.Hut., MP., Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menegaskan bahwa kasus ini harus menjadi bahan pembelajaran bersama. “Satwa liar memiliki karakter dan perilaku alami yang tidak bisa diprediksi sepenuhnya, terlebih jika dipelihara tanpa pengetahuan yang memadai. Konflik seperti ini bukan hanya membahayakan manusia, tetapi juga merugikan satwanya sendiri. Karena itu, kami mengimbau masyarakat untuk tidak memelihara satwa liar dalam bentuk apa pun,” ujarnya. Menurutnya, risiko yang muncul tidak hanya berkaitan dengan keselamatan fisik manusia, terutama anak-anak, tetapi juga menyangkut kesejahteraan satwa. Satwa liar yang hidup di luar habitat alaminya rentan mengalami stres berkepanjangan, gangguan perilaku, hingga masalah kesehatan, termasuk potensi penularan penyakit zoonosis. ”Kita berharap kejadian serupa tidak terulang, karenanya stop memelihara satwa liar...meskipun saat kecil nampak lucu, jinak dan menggemaskan, namun siapa sangka setelah dewasa sifat liarnya menjadi buas dan agresif,” imbuhnya. Penyelamatan sebagai Langkah Perlindungan Bersama Setelah dilakukan pendekatan persuasif oleh dokter hewan Puskeswan dan aparat setempat, pemilik akhirnya menyerahkan satwa tersebut secara sukarela. MEP kemudian diamankan dan ditempatkan di kandang transit kantor Bidang KSDA Wilayah III Jember. Langkah ini diambil sebagai upaya perlindungan menyeluruh, melindungi masyarakat dari potensi risiko lanjutan sekaligus memastikan satwa mendapatkan penanganan yang lebih sesuai. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menekankan bahwa peristiwa ini bukanlah kasus yang berdiri sendiri, melainkan cerminan persoalan yang masih sering terjadi di masyarakat. “Satwa liar, sejinak apa pun kelihatannya, tetap memiliki sifat alami yang suatu saat dapat muncul kembali. Karena itu, jika masyarakat berurusan dengan pemeliharaan satwa liar, risiko konflik akan selalu ada. Kasus ini kami harapkan menjadi pembelajaran bersama agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya. Menjaga Jarak sebagai Bentuk Kepedulian Konservasi tidak selalu berbentuk patroli di hutan atau penyelamatan dramatis di lapangan. Dalam banyak kasus, konservasi justru dimulai dari keputusan sederhana, tidak memelihara satwa liar. Menjaga jarak adalah bentuk kepedulian paling bertanggung jawab, bagi manusia, bagi lingkungan, dan bagi satwa itu sendiri. Belajar dari konflik MEP yang terjadi beberapa kali pada sejumlah tempat di Jember, satu pesan penting menjadi semakin jelas bahwa satwa liar bukan untuk dijinakkan, melainkan untuk dihormati keberadaannya di alam. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Lahan Basah Jawa Timur, Ruang Hidup Satwa, Sumber Air, dan Warisan Budaya yang Harus Dijaga Bersama

Sidoarjo, 3 Februari 2026. Lahan basah di Jawa Timur bukan sekadar bentang alam berair yang membentang di pesisir, rawa, muara sungai, dan dataran banjir. Ia adalah ruang hidup bagi ribuan spesies tumbuhan dan satwa liar, penyangga utama ketersediaan air, sekaligus lanskap budaya tempat pengetahuan manusia tumbuh dan diwariskan lintas generasi. Di tengah laju pembangunan dan perubahan iklim yang kian terasa, lahan basah menjadi simpul penting yang menentukan keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan kehidupan. “Konservasi lahan basah bukan hanya tentang melindungi ekosistem, tetapi tentang menjaga keseimbangan antara manusia, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya yang tumbuh bersamanya,” ujar Nur Patria Kurniawan, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Ekosistem Air sebagai Penyangga Kehidupan Secara ekologis, lahan basah dikenal sebagai salah satu ekosistem paling produktif di dunia. Kawasan ini menyediakan habitat penting bagi burung air, ikan, amfibi, reptil, hingga mamalia, sekaligus menjadi tempat tumbuh beragam vegetasi khas perairan dan pesisir. Banyak spesies satwa liar menggantungkan seluruh siklus hidupnya, mulai dari berkembang biak hingga mencari makan, pada kesehatan lahan basah. Di Jawa Timur, peran lahan basah juga sangat krusial sebagai benteng alami terhadap bencana. Rawa, mangrove, dan dataran banjir bekerja menyerap limpasan air hujan, meredam banjir, menahan intrusi air laut, serta menjaga kualitas air tawar. Ketika lahan basah terdegradasi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satwa liar, tetapi juga oleh manusia yang hidup di sekitarnya. Ruang Budaya dan Ingatan Ekologis Namun nilai lahan basah tidak berhenti pada fungsi ekologis. Bagi banyak komunitas di Jawa Timur, lahan basah telah lama menjadi bagian dari identitas budaya. Pola tanam yang menyesuaikan musim, cara menangkap ikan secara tradisional, hingga larangan adat terhadap eksploitasi berlebihan merupakan bentuk pengetahuan ekologis yang lahir dari interaksi panjang manusia dengan alam. Pengetahuan ini diwariskan secara lisan, melalui praktik sehari-hari, cerita, dan kebiasaan yang menjaga keseimbangan pemanfaatan sumber daya. Di sinilah lahan basah berfungsi sebagai ruang ingatan ekologis, tempat manusia belajar membaca tanda-tanda alam dan hidup selaras dengannya. Ketika lahan basah rusak, yang hilang bukan hanya habitat dan sumber air, tetapi juga sistem pengetahuan yang telah menjaga alam selama berabad-abad. Tema 2026: Rawat Tradisi, Lahan Basah Lestari Makna inilah yang sejalan dengan tema Hari Lahan Basah Sedunia 2026, “Wetlands and Traditional Knowledge: Celebrating Cultural Heritage”, yang di Indonesia diadaptasi menjadi “Rawat Tradisi, Lahan Basah Lestari”. Tema ini menegaskan bahwa konservasi lahan basah tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan tradisional dan praktik budaya masyarakat yang hidup berdampingan dengan ekosistem tersebut. Bagi Jawa Timur, tema ini bukan sekadar slogan global, melainkan cermin dari realitas di lapangan. Banyak kawasan lahan basah di provinsi ini bertahan karena adanya praktik lokal yang menghormati siklus alam, mulai dari pengaturan waktu pemanfaatan, pembagian ruang, hingga nilai-nilai kearifan yang mencegah eksploitasi berlebihan. Pengetahuan tradisional ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan ekosistem di tengah perubahan zaman. “Tema Hari Lahan Basah Sedunia 2026 mengingatkan kita bahwa konservasi yang kuat adalah konservasi yang berakar. Pengetahuan tradisional masyarakat Jawa Timur telah lama menjadi bagian dari mekanisme alam dalam menjaga keseimbangan lahan basah,” jelas Nur Patria. Tantangan di Tengah Perubahan Meski memiliki nilai ekologis dan budaya yang tinggi, lahan basah Jawa Timur menghadapi tekanan yang semakin besar. Alih fungsi lahan, pencemaran, fragmentasi habitat, dan eksploitasi berlebihan perlahan menggerus daya dukung ekosistem. Tantangan ini sering kali terjadi secara bertahap dan kurang disadari, namun dampaknya nyata dalam jangka panjang. Balai Besar KSDA Jawa Timur menilai bahwa perlindungan lahan basah tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan terpadu yang menggabungkan kebijakan konservasi, ilmu pengetahuan, serta keterlibatan aktif masyarakat. Integrasi pengetahuan tradisional ke dalam pengelolaan modern menjadi kunci untuk memastikan konservasi yang inklusif dan berkelanjutan. Menjaga Bersama, untuk Masa Depan Konservasi lahan basah pada akhirnya adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah memiliki peran strategis dalam penguatan regulasi dan pengelolaan kawasan, sementara masyarakat menjadi penjaga nilai dan praktik yang memastikan keberlanjutan di tingkat tapak. “Lahan basah adalah warisan bersama. Menjaganya berarti memastikan ruang hidup satwa liar tetap lestari, sumber air tetap terjaga, dan nilai-nilai budaya tetap hidup di tengah perubahan,” tegas Kepala BBKSDA Jawa Timur. Di tengah krisis iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati secara global, lahan basah Jawa Timur berdiri sebagai pengingat bahwa masa depan tidak bisa dipisahkan dari masa lalu. Merawat tradisi berarti merawat ekosistem. Menjaga lahan basah hari ini adalah investasi bagi keselamatan manusia, keberlanjutan alam, dan generasi yang akan datang. (dna) Sumber : Nur Patria Kurniawan – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menanam Cinta Alam Bersama Sispala di Pamekasan

Pamekasan, 31 Januari 2026. Di bawah naungan pepohonan hutan masyarakat di Blumbungan, Pamekasan, hutan tak lagi sekadar lanskap hijau. Ia berubah menjadi ruang belajar, tempat generasi muda mengenal ekosistem, memahami peran pohon, dan menanam benih kepedulian terhadap alam sejak dini. Upaya menumbuhkan kecintaan terhadap hutan dan konservasi dilakukan melalui kegiatan Bina Cinta Alam yang dilaksanakan pada Sabtu, 31 Januari 2026, di hutan masyarakat milik Dalawi, Desa Blumbungan, Kabupaten Pamekasan. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan konservasi di wilayah Seksi KSDA Wilayah IV, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Sebanyak 13 anggota MANPALA Naviri mengikuti kegiatan lapangan bertema “Mengenal dan Mencintai Hutan”. Materi disampaikan secara interaktif, menggabungkan pemahaman dasar kehutanan dengan praktik langsung di lapangan, sehingga peserta tidak hanya menerima teori, tetapi juga mengalami proses belajar yang kontekstual. Materi yang diberikan meliputi pengenalan klasifikasi hutan, manfaat hutan dan pohon bagi kehidupan, penyusun ekosistem hutan, hingga tingkatan hidup dan stratifikasi hutan. Peserta juga diajak melakukan praktik pengukuran diameter pohon, sebuah pengenalan awal terhadap metode sederhana dalam pemantauan sumber daya hutan. Untuk menjaga antusiasme, kegiatan diselingi dengan berbagai permainan edukatif serta sesi tanya jawab yang mendorong komunikasi dua arah. Pendekatan ini membuat suasana belajar terasa lebih cair dan menyenangkan, sekaligus memperkuat pemahaman peserta terhadap nilai-nilai konservasi. Kegiatan ini turut dihadiri oleh perwakilan Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Sumenep serta pembina Sispala, sebagai bentuk kolaborasi lintas pihak dalam mendukung edukasi konservasi bagi generasi muda. Melalui kegiatan lapangan seperti ini, konservasi tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi dirasakan sebagai pengalaman. Harapannya, kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin, mengingat materi kehutanan masih relatif minim diperoleh pelajar, terlebih jika disampaikan langsung oleh instansi kehutanan dan dilakukan di lapangan. Dari hutan masyarakat di Pamekasan, benih-benih kesadaran itu mulai ditanam, bahwa mengenal hutan adalah langkah awal untuk menjaganya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 481–496 dari 2.515 publikasi