Puluhan Bibit Ditanam, Giat Pemulihan Dimulai dari Bermi
Probolinggo, 12 Agustus 2026. Sejumlah tangan bertemu di Bermi. Ada petugas konservasi, aparat kewilayahan, pemerintah kecamatan, pengelola hutan, hingga mereka yang sehari-hari hidup dari denyut wisata alam: pemandu, porter, pengemudi ojek, hingga pelaku open trip.
Mereka datang dengan latar belakang berbeda. Namun pagi itu, di Pos Bermi, Desa Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, semuanya melakukan pekerjaan yang sama: menanam kehidupan, Senin (10/08/2026).
Sebanyak 94 bibit Kelengkeng, Jambu, Durian, Rambutan, dan Alpukat disiapkan dalam Giat Pemulihan Ekosistem yang dilaksanakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Sebagian ditanam secara simbolis, sementara bibit lainnya dibagikan kepada masyarakat sekitar untuk ditanam dan dirawat.
Angka 94 mungkin terlihat kecil di tengah bentang alam Jawa Timur yang begitu luas. Namun HKAN tahun ini memang membawa pesan yang jauh melampaui hitungan jumlah pohon.
“Konservasi Alam: Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia.” Tema ini menemukan bentuk sederhananya di Bermi.
Banyak Tangan untuk Satu Alam
Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional bukan sekadar penanda tanggal dalam kalender lingkungan Indonesia. Setiap 10 Agustus, HKAN menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa menjaga alam tidak pernah dapat diselesaikan oleh satu institusi, satu profesi, apalagi hanya oleh mereka yang mengenakan seragam konservasi.
Di Bermi, pesan tersebut terlihat dari siapa saja yang datang.
Balai Besar KSDA Jawa Timur melibatkan Kepolisian Sektor Krucil, Camat Krucil, Koramil 0820/25 Krucil, Batalyon Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 836/Brahma Yodha, Perhutani, serta para pelaku wisata Bermi—mulai dari penyelenggara open trip, pengemudi ojek, guide, hingga porter.
Ada alasan penting mengapa mereka perlu berada dalam satu ruang. Sebab alam yang terjaga pada akhirnya bukan hanya urusan petugas konservasi.
Hutan menyediakan ruang hidup bagi satwa liar, menjaga tanah, menyimpan air, menyangga kehidupan masyarakat, sekaligus menghadirkan bentang alam yang kemudian menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Ketika tutupan vegetasi berkurang, sumber air terganggu, sampah bertambah, api datang, atau pemanfaatan berlangsung melampaui daya dukung, dampaknya tidak mengenal batas administrasi maupun seragam kelembagaan.
Karena itulah, kerja konservasi sesungguhnya dimulai ketika batas-batas itu dilebur.
Menanam Pohon Adalah Bagian yang Paling Mudah
Ada romantisme yang selalu menyertai kegiatan menanam pohon. Tanah digali. Bibit dimasukkan. Akar ditutup kembali. Kamera mengabadikan momen. Orang-orang kemudian meninggalkan lokasi.
Namun hutan tidak tumbuh dari seremoni. Menanam justru merupakan awal dari perjalanan yang panjang.
Bibit harus bertahan melewati panas, hujan, kompetisi dengan tumbuhan lain, gangguan manusia maupun berbagai tekanan lingkungan. Ada yang akan tumbuh, ada yang mungkin mati.
Karena itu, keberhasilan pemulihan ekosistem tidak semestinya berhenti pada berapa banyak bibit yang berhasil masuk ke tanah, tetapi seberapa banyak yang kemudian hidup, tumbuh, dan memberi fungsi ekologis. Di titik itulah makna kata “merawat” dalam tema HKAN 2026 menjadi penting.
Merawat membutuhkan waktu. Merawat membutuhkan konsistensi. Dan yang lebih penting, merawat membutuhkan orang-orang yang bersedia kembali ketika seremoni telah usai.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa semangat HKAN semestinya tidak selesai pada peringatan satu hari.
“Menanam adalah simbol yang penting, tetapi konservasi tidak berhenti ketika bibit selesai ditanam. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana kita menjaganya agar tumbuh dan bagaimana semangat kerja bersama itu tetap hidup setelah Hari Konservasi Alam Nasional berlalu. Alam tidak membutuhkan kita hanya pada tanggal 10 Agustus. Alam membutuhkan kepedulian kita setiap hari,” ujar Nur Patria.
Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur masyarakat di Bermi menjadi gambaran bahwa konservasi harus bergerak melampaui batas kelembagaan.
“Petugas tidak mungkin menjaga alam sendirian. Pemerintah daerah, TNI, Polri, Perhutani, pelaku wisata, masyarakat, akademisi, komunitas, dan setiap orang yang memperoleh manfaat dari alam mempunyai ruang untuk mengambil bagian. Konservasi akan jauh lebih kuat ketika masyarakat bukan hanya menjadi objek kegiatan, tetapi menjadi bagian dari solusi,” tambahnya.
Dari Pohon Buah menuju Hubungan yang Lebih Dekat
Pemilihan Kelengkeng, Jambu, Durian, Rambutan, dan Alpukat juga membawa dimensi lain dalam kegiatan di Bermi. Bibit-bibit tersebut memiliki nilai yang mudah dikenali masyarakat. Ketika dibagikan dan kemudian ditanam di lingkungan sekitar, pohon tidak hanya dipandang sebagai batang, daun, dan akar, tetapi sesuatu yang dapat tumbuh bersama kehidupan pemiliknya.
Hari ini mungkin hanya setinggi lutut. Beberapa tahun mendatang, ia dapat memberikan keteduhan. Akarnya menahan tanah. Tajuknya menjadi ruang bagi berbagai organisme. Bunganya didatangi serangga. Buahnya mungkin dinikmati sebuah keluarga.
Dari hubungan sederhana semacam itulah kesadaran konservasi sering kali tumbuh. Bukan melalui definisi yang rumit, tetapi melalui pengalaman bahwa manusia memperoleh begitu banyak hal ketika sebuah pohon dibiarkan hidup.
HKAN Bukan Hanya Milik Orang Konservasi
Hari Konservasi Alam Nasional 2026 membawa satu refleksi penting bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur refleksi tentang tantangan konservasi ke depan akan semakin kompleks. Kawasan konservasi tidak berdiri sebagai pulau yang terpisah dari kehidupan manusia. Di sekelilingnya terdapat desa, jalan, aktivitas ekonomi, wisata, pertanian, serta masyarakat dengan kebutuhan dan harapannya masing-masing.
Pada saat yang sama, tekanan terhadap keanekaragaman hayati terus berubah. Kebakaran hutan, perambahan, sampah, tumbuhan invasif, konflik manusia dengan satwa liar, hingga meningkatnya aktivitas manusia di sekitar habitat alami membutuhkan pendekatan yang tidak lagi semata-mata bertumpu pada pengamanan kawasan.
Konservasi membutuhkan percakapan, kepercayaan, dan keberanian untuk bekerja bersama. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, komunikasi menjadi bagian dari konservasi itu sendiri, Communication as Conservation Solution.
Sebab sebuah kawasan tidak mungkin dijaga hanya dengan papan larangan. Satwa liar tidak selalu dapat diselamatkan hanya dengan operasi penyelamatan. Hutan juga tidak dapat dipulihkan hanya dengan menanam bibit. Namun, ada manusia yang perlu diajak memahami, terlibat, dan akhirnya merasa memiliki tanggung jawab yang sama.
Ketika Semua Orang Pulang
Menjelang kegiatan berakhir, tanah di sekitar bibit-bibit muda di Bermi masih terlihat basah. Barangkali beberapa tahun dari sekarang, tidak semua orang akan mengingat siapa yang menggali lubang pertama, siapa yang memegang bibit, atau siapa yang berdiri bersama dalam foto peringatan HKAN 2026.
Dan memang bukan itu yang terpenting. Ukuran keberhasilan sesungguhnya akan terlihat ketika suatu hari orang kembali ke tempat ini dan menemukan pohon-pohon itu masih berdiri, lebih tinggi, lebih rimbun, dan mungkin telah menghasilkan buah.
Lebih jauh lagi, keberhasilan itu akan terasa ketika masyarakat di sekitarnya tidak lagi bertanya siapa yang bertanggung jawab menjaga alam, karena jawabannya telah berubah menjadi kita semua.
Dari Bermi, Hari Konservasi Alam Nasional 2026 meninggalkan sebuah pesan sederhana. Konservasi bukan tentang siapa yang paling banyak menanam. Bukan pula tentang siapa yang paling lantang berbicara tentang kelestarian. Konservasi adalah tentang siapa yang tetap merawat ketika seremoni selesai, kamera dimatikan, dan semua orang telah pulang.
Sumber: Faizah Nur Ainiyah & Fajar Dwi Nur Aji dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
- Kamis, 13 Agu 2026
- 140x Dilihat