Senin, 16 Feb 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Menuju Babak Akhir MSP: Menimbang Masa Depan Konservasi Orangutan di Jantung Kalimantan

Orangutan di TN Tanjung Puting, foto by Iskandar Jakarta, 30 Januari 2026 - Di balik rimbunnya hutan Kalimantan Tengah, sebuah kemitraan besar sedang berada di persimpangan jalan. Memorandum Saling Pengertian (MSP) antara Kementerian Kehutanan dan Orangutan Foundation International (OFI) periode 2023–2026 kini mendekati garis finish. Tepat pada 6 Juni 2026, kerja sama strategis ini dijadwalkan berakhir secara administratif. Namun, berakhirnya sebuah dokumen bukan berarti berhentinya upaya pelestarian. Sebaliknya, momen ini menjadi titik krusial untuk menengok kembali apa yang telah dicapai dan apa yang harus diperbaiki. Berdasarkan hasil rapat koordinasi yang dilaksanakan pada Jumat (30/1/2026) di Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, proses evaluasi akhir menjadi agenda paling mendesak. Berbeda dengan evaluasi tahunan yang rutin dilakukan, evaluasi akhir ini akan melibatkan peninjauan langsung ke lapangan oleh tim teknis. Tim Penelaah Organisasi Asing (TPOA) menjadwalkan kunjungan lapangan yang sebelumnya sempat tertunda karena faktor administrasi kelengkapan laporan dari pihak OFI. Di rapat yang dihadiri oleh pihak OFI ini, semua administrasi OFI dinyatakan telah lengkap dan siap untuk dilakukan evaluasi akhir. "Langkah selanjutnya, Setditjen KSDAE akan berkoordinasi dengan Biro Kerja Sama Luar Negeri (KLN) untuk mematangkan jadwal bersama Tim Penelaah Organisasi Asing (TPOA)," ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal KSDAE, Nandang Prihadi, menyampaikan poin utama dalam rapat tersebut. Sinyal positif datang dari rekan-rekan di lapangan yang bersentuhan langsung dengan upaya konservasi orangutan di lapangan. Kepala BKSDA Kalimantan Tengah dan Balai Taman Nasional Tanjung Puting (BTN TP) secara terbuka menyampaikan harapan agar kerja sama ini dapat diperpanjang. Bagaimanapun, menjaga habitat orang utan dan keanekaragaman hayati bukan perkara singkat. Harapan perpanjangan ini bukan tanpa syarat. Catatan-catatan kritis dari hasil evaluasi tahunan akan menjadi "rapor" yang menentukan bagaimana format kerja sama di masa depan agar lebih berdampak bagi kelestarian hutan Indonesia. Rencananya, evaluasi lapangan (evaluasi akhir) direncanakan menunggu hasil keputusan rapat koordinasi dengan TPOA yang akan berlangsung pada momen yang cukup unik, sekitar akhir Februari atau awal Maret 2026, bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Meskipun jadwal pastinya tetap dikembalikan kepada keputusan TPOA, semangat untuk menuntaskan evaluasi ini tetap membara. Pertemuan internal dalam waktu dekat antara Setditjen KSDAE, TPOA, Biro HKLN, dan OFI akan menjadi penentu ketukan palu terakhir untuk jadwal kunjungan tersebut. Perjalanan MSP ini mungkin akan segera berakhir di atas kertas, namun komitmen untuk menjaga paru-paru dunia di Kalimantan akan terus berlanjut demi menjaga upaya konservasi orangutan di Indonesia. Sumber: Tim Kerja Kerja Sama Teknik - Setditjen KSDAE
Baca Artikel

Akibat Cuaca Ekstrem, TN Komodo Perpanjang Penutupan Wisata Hingga 1 Februari 2026

Gambar 1. Kondisi jalur trekking Padar Selatan saat penutupan 2 Januari 2026. Kredit foto: Rias (PEH Pemula BTN Komodo) Labuan Bajo, 29 Januari 2026. Balai Taman Nasional (TN) Komodo mengumumkan perpanjangan penutupan sementara seluruh layanan wisata alam di kawasannya hingga 1 Februari 2026 akibat cuaca ekstrem yang masih mengancam wilayah Nusa Tenggara Timur. Keputusan ini diambil berdasarkan peringatan berkelanjutan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta penutupan penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, demi menjaga keselamatan pelaku usaha pariwisata, nahkoda, pemandu wisata, dan pengunjung. Cuaca ekstrem berupa gelombang tinggi hingga 4-6 meter dan angin kencang mulai melanda sejak akhir Desember 2025, memaksa layanan wisata dihentikan pertama kali pada 29 Desember hingga 8 Januari 2026. Pada tanggal 9-11 Januari, layanan wisata kembali dibuka dan tercatat total 2.111 pengunjung mengakses 4 ODTWA daratan utama yaitu Padar Selatan, Loh Buaya, Loh Liang, dan Gililawa, sebelum penutupan diperpanjang lagi mulai 12 Januari hingga saat ini. Jika dibandingkan dengan total kunjungan pada bulan Januari 2025 yaitu sebanyak 12.609 kunjungan, kondisi cuaca ekstrim berdampak pada penurunan jumlah kunjungan yang signifikan di awal tahun 2026. Penutupan layanan wisata di seluruh kawasan TN Komodo diperpanjang hingga 1 Februari 2026 karena prakiraan BMKG menunjukkan kondisi cuaca belum sepenuhnya stabil di perairan Selat Sape dan sekitar Labuan Bajo, dengan potensi gelombang tinggi yang masih membahayakan pelayaran kapal wisata termasuk speedboat. Penutupan ini mengacu pada informasi dari BMKG serta Notices to Mariners yang diterbitkan oleh KSOP. Untuk memastikan informasi tersebar luas, Balai TN Komodo secara rutin mengupdate pengumuman penutupan melalui akun Instagram resmi (@btn.komodo). Selain itu, pembelian tiket wisata melalui aplikasi Siora sepenuhnya ditiadakan selama masa penutupan ini, guna menghindari kerugian konsumen dan mendukung kebijakan pengamanan terpusat. Wisatawan yang telah membeli tiket sebelumnya diarahkan untuk berkoordinasi lebih lanjut dengan pihak Balai TN Komodo. Pengunjung diimbau terus memantau update layanan wisata di TN Komodo melalui akun Instagram @btn_komodo, karena situasi dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan informasi dari BMKG dan KSOP. Balai TN Komodo berkomitmen memberikan transparansi penuh agar ekowisata di kawasan TN Komodo tetap berkelanjutan pasca-cuaca membaik. Dengan demikian, kepercayaan publik terhadap pengelolaan taman nasional terus terjaga di tengah tantangan perubahan cuaca. Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Komodo - Yovi Septia, S.Si. (+6281236402848) Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama Balai Taman Nasional Komodo - Maria R. Panggur, S.Hut (+6281236449224) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Pusrenbang SDM Kehutanan Gelar Sosialisasi & Pengumpulan Basis Data SDM Non Aparatur di Sumatera Utara

Medan, 27 Januari 2026 – Pusat Perencanaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Pusrenbang SDM) Kehutanan menyelenggarakan Sosialisasi Hasil Identifikasi SDM Non Aparatur dan Pembahasan Basis Data Non Aparatur Kehutanan pada Senin (26/1/2026) di Kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan dihadiri oleh UPT Kementerian Kehutanan yang ada di Sumatera Utara. Kegiatan ini bertujuan untuk menyampaikan hasil identifikasi SDM Non Aparatur serta mendorong penguatan basis data sebagai fondasi perencanaan dan pengembangan SDM Kehutanan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Kepala Pusrenbang SDM Kehutanan, Dr.U. Mamat Rahmat, S. Hut., M.P., selalu pembicara utama menegaskan bahwa pengelolaan SDM yang tepat memiliki peran strategis dalam mendukung kinerja organisasi dan keberlanjutan pengelolaan kehutanan. SDM Non Aparatur sebagai mitra pemerintah, dinilai memiliki kontribusi penting dalam menjaga, mengelola, serta melestarikan sumber daya alam dan lingkungan. Dalam paparannya, Dr. U. Mamat Rahmat menyampaikan beberapa poin penting, yaitu peningkatan kompetensi, kapasitas, keterampilan, serta pengukuran etika kerja baik bagi ASN maupun non-ASN. Selain itu, masyarakat sebagai mitra kerja seperti Masyarakat Mitra Polhut (MMP), Green Leader Movement, dan Pramuka juga perlu didukung dengan pemutakhiran data dan peningkatan kapasitasnya. Beliau juga menekankan pentingnya pembaharuan data pegawai pada Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG) Kementerian Kehutanan guna meningkatkan nilai Manajemen Talenta dan mendukung proyeksi kebutuhan untuk pengembangan talenta SDM di Kemenhut. Narasumber dari Pusrenbang SDM, Prima Uswati Rosalina, S.Psi. Psi., menyampaikan bahwa hingga tahun 2025 telah terkumpul data sebanyak 56.549 orang dari 66 jenis SDM Non Aparatur yang bersumber dari data eselon I. Selain itu, terdapat penyederhanaan dari 242 jabatan menjadi 187 jabatan sebagai dasar penyusunan Kamus Jabatan Nasional (KJN). SDM Non Aparatur mengacu pada Permen LHK Nomor 14 Tahun 2027 dan seluruh unit kerja dapat melakukan pembaharuan data melalui tautan yang telah disediakan. Sementara itu, Tri Mayasari, S.Hut., M.Si dari Pusrenbang SDM menjelaskan bahwa pada tahun 2025 Pusrenbang ditugaskan untuk menyusun Kamus Jabatan Nasional (KJN) yang memuat jabatan rekrutan pegawai dan dikelola serta diperbaharui oleh Kementerian Ketenagakerjaan. Unit kerja juga dapat mengusulkan pembaharuan maupun penambahan jabatan melalui tautan yang tersedia. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pemangku kepentingan akan memiliki pemahaman yang sama mengenai peran, fungsi, dan kontribusi masing-masing, serta terbangun kolaborasi yang lebih kuat. Basis data SDM Non Aparatur Kehutanan yang terpadu, mudah diakses, dan selalu mutakhir diharapkan akan menjadi instrumen penting dalam pemetaan potensi SDM, perencanaan pengembangan kapasitas, serta penempatan personel sesuai dengan kebutuhan lapangan. Sebagai penutup, disepakati beberapa kesimpulan, yaitu setiap UPT diharapkan segera mengisi data SDM Non Aparatur melalui tautan yang disediakan, mengusulkan penambahan jabatan baru seperti Asisten Mahout, Gadis Polhut, Ranger/Pemandu, dan Perempuan Inspiratif, serta mengusulkan penambahan UPT Balai Pengelolaan DAS dan HL Wampu Sei Ular. Proses pembaharuan data diminta untuk diselesaikan dalam waktu satu minggu. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Sumatera Utara Gelar Pertemuan dengan Pemegang Izin Edar Tumbuhan dan Satwa Liar

Salah satu mitra, PT Yakita Mulia sedang memaparkan RKT tahun 2026, Jumat (23/1/2026) Medan, 27 Januari 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menyelenggarakan pertemuan dengan para pemegang izin usaha peredaran tumbuhan dan satwa liar pada Jumat (23/1/2026) di Kantor BBKSDA Sumatera Utara, Medan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengoptimalkan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar secara lestari sekaligus menjadi ruang bagi mitra untuk menyampaikan perkembangan usaha dan laporan tahunannya. BBKSDA Sumatera Utara menegaskan bahwa setiap pemegang izin wajib menyampaikan Rencana Kerja Tahunan (RKT) sebagai dasar perencanaan kegiatan pemanfaatan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar baik untuk tujuan dalam negeri maupun luar negeri. Penyusunan RKT menjadi penting karena berfungsi sebagai pedoman operasional bagi mitra usaha dalam kegiatan pemanfaatan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar agar dapat terlaksana secara terarah, terukur, dan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Melalui RKT, BBKSDA Sumatera Utara dapat melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap jenis, jumlah dan sumber komoditas yang dimanfaatkan sehingga tetap memperhatikan kelestariannya. Selain itu, RKT juga memberikan kepastian hukum bagi mitra usaha sekaligus menjadi dasar evaluasi kinerja dan kepatuhan terhadap prinsip konservasi. Pada kegiatan tersebut, mitra usaha yang memaparkan RKT yaitu PT Yakita Mulia, PT Kreasi Fauna Indah, CV Kuis Mora, dan CV Reptile Corporation. Berdasarkan hasil pembahasan, sistematika penulisan RKT telah sesuai dengan persyaratan dari Direktorat KSG. Selain pemaparan RKT, rapat juga menghasilkan sejumlah masukan, antara lain agar para mitra usaha dapat memberikan dukungan terhadap kegiatan konservasi serta membuka ruang bagi mahasiswa untuk melakukan kegiatan penelitian pada perusahaannya. Melalui pertemuan ini, BBKSDA Sumatera utara berharap akan terjalin sinergi yang lebih kuat antara pemerintah dan mitra usaha guna mewujudkan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Edukasi Lingkungan Sejak Dini, BBKSDA Sumatera Utara dan COP Kenalkan Orangutan Kepada Siswa SD di Tapanuli Selatan

Tapanuli Selatan, 26 Januari 2026 -- Mengawali tahun 2026, Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai mitra kerja Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara menggelar kegiatan edukasi lingkungan bagi siswa sekolah dasar di Kabupaten Tapanuli Selatan. Kegiatan ini merupakan realisasi dari Rencana Kerja Tahunan dari Perjanjian Kerjasama (PKS) antara BBKSDA Sumatera Utara dan COP, yang dilaksanakan pada 15 Januari 2026. Kegiatan diselenggarakan di SDN 101212 Padang Bujur dan SDN 101213 Baringin, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan. Kedua sekolah tersebut berada di sekitar kawasan Cagar Alam (CA) Dolok Sibual-buali, yang merupakan habitat penting bagi berbagai satwa liar, termasuk orangutan. Melalui materi bertajuk “Mari Berkenalan dengan Orangutan”, para siswa diajak untuk mengenal orangutan lebih dekat sebagai salah satu spesies yang dilindungi di Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, tim COP memberikan pemahaman mengenai karakter orangutan, makanan favoritnya serta peran penting orangutan dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar mudah dipahami oleh anak-anak. Suasana belajar semakin menyenangkan karena diselingi dengan permainan dan kuis, salah satunya tebak sarang orangutan melalui foto. Anak-anak tampak antusias dan aktif berpartisipasi selama kegiatan berlangsung. Sebagai penutup, para siswa diajak untuk turut berperan aktif dalam menjaga kelestarian orangutan dan habitatnya. Melalui kegiatan ini, BBKSDA Sumatera dan COP berharap dapat menanamkan nilai kepedulian terhadap konservasi satwa liar sejak usia dini, khususnya di wilayah yang berdekatan dengan kawasan hutan. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S.Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kolaborasi Strategis untuk Konservasi: Kemhut dan WCS Perkuat Perlindungan Keanekaragaman Hayati di 14 Kawasan

Bogor, 20 Januari 2025 – Langkah nyata diambil untuk memperkuat konservasi alam Indonesia. Pemerintah, melalui Kementerian Kehutanan, bersama Wildlife Conservation Society (WCS) Program Indonesia, secara resmi menyepakati peta jalan kerja sama strategis. Aksi ini merupakan tindak lanjut dari Memorandum Saling Pengertian yang telah ditandatangani sebelumnya. Pada 19-22 Januari 2026 di Bogor, kedua pihak membahas dan menandatangani Rencana Induk Kerja (RIK) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT). Kerja sama ini menjangkau 14 lokasi, salah satunya adalah Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Ruang lingkupnya luas dan mendalam. Meliputi dukungan perlindungan keanekaragaman hayati di tingkat genetik, spesies, hingga ekosistem. Tak hanya itu, sinergi ini juga mencakup penguatan tata kelola kebijakan konservasi dan pemberdayaan masyarakat. Semuanya dilaksanakan dengan menerapkan rambu-rambu pengaman lingkungan dan sosial yang ketat. WCS-Program Indonesia sendiri bukanlah mitra baru. Mereka telah lama mendukung upaya konservasi di Taka Bonerate dan terus berperan sebagai mitra strategis. Fokusnya adalah mendorong pengelolaan kawasan yang efektif, berkelanjutan, dan kolaboratif. Implementasi RIK dan RKT ini menjadi landasan strategis yang krusial. Tujuannya jelas: meningkatkan efektivitas perlindungan sumber daya alam hayati, memperkuat tata kelola kawasan konservasi, serta meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan masyarakat sekitar. Sinergi multipihak ini diharapkan mampu melipatgandakan dampak nyata. Program konservasi ke depan diharapkan lebih berkelanjutan, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi alam dan manusia. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate Teks/ Video : Andi Rezki Mutmainnah - PEH Ahli Muda, WCS-IP Editor: Asri - Humas/ PEH Ahli Muda
Baca Artikel

Untuk Kemajuan Masyarakat Taka Bonerate, Balai TN dan UUP Jampea - Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Perkuat Komitmen Konservasi

Bogor, 22 Januari 2026 – Dermaga Laut Jinato, yang berada di Kawasan Taman Nasional Taka Bonerate, bukan sekadar titik sandar kapal. Ia adalah urat nadi penghubung kehidupan masyarakat melalui jalur Tol Laut yang membuka akses logistik, distribusi hasil laut, dan mobilitas antar pulau. Hasil perikanan, serta kebutuhan pokok masyarakat Jinato dan pulau-pulau sekitarnya lebih mudah terjangkau dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang inklusif dan berkelanjutan. Hari ini, Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate dan Unit Pelaksana Pelabuhan (UPP) Kelas III Jampea - Ditjen Perhubungan Laut, menandatangani Perjanjian Kerja Sama (PKS). Kerja sama ini menjadi landasan penting bagi pengembangan transportasi terbatas berbasis fasilitas pelabuhan laut di dalam kawasan taman nasional. Kehadiran Direktur Perencanaan Konservasi Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan dalam penandatanganan menegaskan dimensi strategis kerja sama ini. Inisiatif ini bukan sekadar proyek infrastruktur. Ini adalah upaya menemukan titik seimbang. Di satu sisi, akses mobilitas dan konektivitas masyarakat pulau harus terjamin untuk mendorong kemajuan ekonomi. Di sisi lain, keunikan dan keutuhan ekosistem Taka Bonerate sebagai kawasan konservasi harus tetap terjaga. Komitmen bersama ini diharapkan mampu menciptakan sinergi. Pembangunan fasilitas pelabuhan yang bijak diharapkan dapat mendukung kehidupan masyarakat tanpa mengorbankan kekayaan alam yang menjadi warisan berharga. Langkah ini menjadi bukti nyata bahwa konservasi dan pemberdayaan masyarakat dapat berjalan beriringan. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate Foto/ Teks : Andi Rezki Mutmainnah - PEH Ahli Pertama, Asri - PEH Ahli Muda
Baca Artikel

Pemulihan Ekosistem Bukan Sekadar Menanam, BBKSDA Jatim Ingin Pastikan Hutan Bawean Bangkit Kembali

Bawean, 22 Januari 2026. Di hutan Pulau Bawean, pemulihan ekosistem bukan sekadar cerita tentang bibit yang ditanam, melainkan tentang masa depan habitat yang sedang dipulihkan. Untuk memastikan proses itu benar-benar berjalan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melaksanakan ground check pemulihan ekosistem di kawasan Batu Lintang dan Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean, Kamis (22/1/2026). Kegiatan yang dilaksanakan menjadi bagian dari upaya memastikan kawasan suaka margasatwa tetap terjaga, sekaligus memperkuat pemantauan pemulihan yang berbasis data dan temuan faktual di tapak. Fokus utama kegiatan adalah mengevaluasi tanaman Pemulihan Ekosistem (PE) Tahun 2023, yang terdiri dari Nyamplung (Calophyllum inophyllum), Pangopa (Eugenia epidocarpa), Sentul (Sandoricum koetjape), Gondang (Ficus variegata), dan lainnya. Dari hasil pengecekan, kondisi tanaman secara umum menunjukkan tingkat kelangsungan hidup sekitar ±60%, sebuah angka yang mencerminkan kemajuan sekaligus kebutuhan penguatan agar pemulihan semakin optimal. Di sela langkah patroli, tim menjumpai bekas sorsoran Babi Kutil, serta mencatat keberadaan beberapa jenis burung seperti Merbah Belukar dan Cinenen Kelabu, juga Monyet Ekor Panjang. Temuan lain yang tak kalah penting adalah Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), flora bernilai konservasi yang menjadi pengingat bahwa Pulau Bawean menyimpan titik-titik genetik penting yang perlu dijaga. Seluruh hasil patroli dicatat dan diinput ke dalam SMART Mobile, untuk memastikan pemulihan ekosistem tidak berjalan berdasarkan perkiraan, melainkan berbasis data yang dapat dievaluasi. Dalam konteks pengelolaan kawasan suaka, pemulihan ekosistem dipahami sebagai proses yang mencakup evaluasi habitat, penanganan faktor penghambat tumbuh (naungan, kompetisi vegetasi, hingga gangguan), serta upaya berkelanjutan agar kawasan dapat kembali berfungsi sebagai rumah bagi biodiversitas. Sebagai tindak lanjut, tim merekomendasikan evaluasi titik tanam dan penyulaman pada lokasi gagal tumbuh untuk meningkatkan survival hingga >80%. Selanjutnya memperkuat monitoring satwa kunci melalui pencatatan indikator lapangan, serta melengkapi data biodiversitas dengan koordinat, habitat, dan dokumentasi foto. BBKSDA Jawa Timur mengajak masyarakat turut mendukung pemulihan ekosistem dengan tidak merusak vegetasi pemulihan, tidak mengambil tumbuhan dan satwa liar, serta melaporkan setiap indikasi perburuan, penebangan liar, maupun gangguan kawasan kepada petugas. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pal Batas dan Biodiversitas Direkam, Monitoring Satwa Kunci Diperkuat

Bawean, 21 Januari 2026. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan patroli kawasan di Blok Kumalasa, Suaka Margasatwa Pulau Bawean yang masuk dalam wilayah Desa Lebak, Kecamatan Sangkapura (21/01/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan pengelolaan kawasan, sekaligus merekam dinamika keanekaragaman hayati serta memperkuat monitoring satwa kunci, khususnya Rusa Bawean yang endemik dan bernilai konservasi tinggi. Dalam patroli tersebut, tim menemukan dua Pal Batas Beton dalam kondisi rusak. Dan, tim segera mengambil titik koordinat berbasis peta SMART Patrol untuk memastikan posisi temuan di lapangan terekam akurat sebagai bahan penguatan data spasial. Namun, di balik catatan batas kawasan, patroli ini juga menghadirkan “rekaman hidup” tentang Bawean yang masih bergerak, bernapas, dan menyimpan sinyal-sinyal penting kehidupan liar. Selama menyusuri jalur patroli, tim menjumpai sejumlah jenis satwa, baik secara langsung maupun melalui indikasi kehadiran. Beberapa satwa yang terpantau antara lain, Monyet ekor panjang dan Elang Ular Bawean yang terdeteksi melalui indikasi suaranya. Serta, burung-burung kecil penanda sehatnya habitat, seperti Raja udang punggung merah, Cinenen kelabu, serta Merbah belukar yang terlihat terbang melintasi vegetasi. Rangkaian perjumpaan ini menjadi indikator bahwa Blok Kumalasa masih menyimpan struktur habitat yang mendukung berbagai kelompok satwa, mulai dari primata hingga burung pemangsa dan burung bawah tajuk. Tak hanya satwa, tim juga menjumpai tumbuhan Anggrek tanah Peristylus goodyeroides. Temuan ini memperkaya catatan keanekaragaman flora di jalur patroli dan menjadi sinyal penting bahwa mikrohabitat tertentu di kawasan tersebut masih layak bagi spesies-spesies yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Salah satu catatan paling penting dari patroli ini adalah ditemukannya bekas gesekan serta bekas pakan yang diduga kuat merupakan aktivitas Rusa Bawean. Rusa Bawean menjadi satwa kunci yang tidak hanya kebanggaan Pulau Bawean, namun juga indikator penting kesehatan ekosistem. Ketika jejaknya masih ditemukan, itu berarti habitat masih menyediakan ruang jelajah, sumber pakan, dan rasa aman, tiga hal yang menentukan keberlanjutan populasi satwa liar di pulau kecil. Bagi tim patroli, tanda-tanda ini bukan sekadar jejak di tanah, melainkan data awal yang perlu ditindaklanjuti secara ilmiah dan konsisten agar dapat menjadi dasar penguatan perlindungan populasi dan habitat. Hasil patroli ini mendorong kebutuhan monitoring lanjutan di lokasi temuan tanda aktivitas Rusa Bawean, melalui pendekatan monitoring berkala seperti jalur tetap (fixed route monitoring) dan point monitoring di titik-titik strategis. Monitoring ini penting untuk memastikan apakah area tersebut merupakan lintasan aktif, area pakan, area istirahat, atau bahkan ruang penting lain yang digunakan rusa dalam siklus hariannya. Data yang terkumpul akan menjadi pijakan untuk menyusun langkah perlindungan yang lebih presisi, sekaligus memperkuat sistem deteksi dini terhadap potensi gangguan seperti perburuan maupun aktivitas ilegal lain. Selain satwa kunci, kedepan juga akan dilakukan inventarisasi mikrohabitat anggrek tanah dan dokumentasi populasinya. Tujuannya adalah memperkaya basis data biodiversitas, termasuk potensi genetik, yang dapat menjadi bagian penting dari penguatan pengelolaan kawasan berbasis sains. Ke depan, intensitas patroli di Blok Kumalasa perlu ditingkatkan, terutama pada titik rawan dan area dengan indikasi aktivitas satwa kunci. Patroli bukan hanya menjadi langkah perlindungan, tetapi juga cara paling nyata untuk memastikan kawasan tetap berada dalam kendali pengelolaan, sambil terus memantau kondisi ekologisnya. Dengan temuan ini, Blok Kumalasa kembali menunjukkan bahwa Bawean tidak hanya menyimpan batas kawasan di peta, tetapi juga menyimpan kehidupan liar yang sedang bertahan. Ketika data biodiversitas terekam dan monitoring satwa kunci diperkuat, maka peluang menjaga harmoni pulau kecil ini, antara kawasan, habitat, dan satwa endemiknya, menjadi semakin nyata. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tingkatkan Pelayanan, ANECC Kini Dilengkapi Pusat Informasi

Peresmian Pusat Informasi ANECC yang dirangkaikan dengan kunjungan edukatif siswa Sekolah Alam Asahan, Sabtu (17/1/2026) Simalungun, 22 Januari 2026 – Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, kini memiliki pusat informasi dengan wajah baru. Ruang pusat informasi tersebut telah selesai direnovasi dan dibuka untuk masyarakat umum sebagai sarana edukasi tentang kehidupan dan pelestarian gajah sumatera. Peresmian pusat informasi dilakukan pada Sabtu (17/1), bertepatan dengan kunjungan dari Sekolah Alam Asahan ke ANECC di Kabupaten Simalungun. Pusat informasi tersebut kini dilengkapi berbagai materi edukasi, mulai dari tata ruang kawasan ANECC hingga foto profil gajah sumatera yang dirawat di ANECC. Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L, menyampaikan apresiasi kepada mitra konservasi yang telah mendukung dalam pengelolaan gajah jinak di Resor ANECC. “Kami mengucapkan terima kasih kepada mitra kami, Centre for Orangutan Protection yang dikenal dengan COP yang telah mensupport kami dalam rangka pengelolaan gajah jinak di Resor Aek Nauli. COP telah membantu merenovasi pusat informasi di Resor Aek Nauli yang merupakan tempat edukasi bagi siswa-siswi yang berkunjung ke Resor Aek Nauli, ujarnya. Elvina berharap agar pusat informasi ANECC dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai media pembelajaran konservasi. Ia juga berharap dukungan berkelanjutan dari COP dalam rangka peningkatan pengelolaan gajah jinak di Resor Aek Nauli. Renovasi ruang pusat informasi serta penambahan materi edukasi tentang gajah sumatera ini merupakan hasil kolaborasi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dengan Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai mitra konservasi. Keberadaan fasilitas ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian gajah sumatera serta habitatnya. Aek Nauli Elephant Conservation Camp merupakan pusat konservasi gajah sumatera di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, yang dikelola oleh BBKSDA Sumatera Utara dan berfungsi sebagai tempat perawatan, pengelolaan gajah jinak, serta edukasi konservasi bagi pelajar dan masyarakat. Sumber: Resor ANECC dan Batu Gajah – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Corymborkis, Penghuni Lantai Hutan Manggis

Kediri, 22 Januari 2026. Dibawah rimbun tajuk alas simpenan yang rapat, tumbuh subur sebuah jenis anggrek tanah yang memenuhi lantai hutan. Daunnya yang lebar memiliki warna hijau muda hingga hijau tua. Guratan-guratan lipatannya sangat jelas sehingga mirip daun bibit kelapa. Bunganya ramping dan tumbuh dalam rangkaian di ujung batang atau ketiak daun. Warnanya putih susu sedikit kehijauan memancarkan kesederhanaan namun tetap terlihat anggun dan cantik. Dia adalah Corymborkis veratrifolia atau Anggrek Kayu Manis Putih, yang tumbuh baik di lantai hutan Cagar Alam Manggis Gadungan yang lembap dan kaya humus. Dan, terpenting ada jamur yang bersimbiosis saling menguntungkan untuk membantu pertumbuhannya Sebagai salah satu indikator baik tidaknya kondisi hutan, Corymborkis merupakan bagian penting dari keanekaragaman hayati dan berperan menjaga keseimbangan ekosistem. Pada hutan yang ekosistemnya masih terjaga dengan baik, dengan mudah dapat menjumpai anggrek tanah ini, begitupun sebaliknya. Dengan batang yang dapat tumbuh tegak hingga 2 meter, anggrek ini sangat terlihat kokoh, namun ia sangat bergantung pada ekosistem aslinya. Corymborkis sulit dipindahkan ke pot biasa untuk ditanam di rumah, karena membutuhkan jamur (mikoriza) yang hanya ada di habitat aslinya. Jadi, cara terbaik menikmati keindahannya adalah dengan menjaga hutan kita tetap lestari. Corymborkis veratrifolia, keindahannya sederhana, namun perannya di alam sangat berharga. Sumber : Siti Nurlaili - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Seksi KSDA Wilayah 1 Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pemulihan Ekosistem Bawean Dipantau, Tanaman Bertahan, Satwa Mulai Aktif

Gresik, 20 Januari 2026. Upaya pemulihan ekosistem di Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean menunjukkan sinyal menggembirakan. Dalam kegiatan patroli kawasan yang dilaksanakan Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pemantauan di Blok Gunung Besar, khususnya kawasan Cengkolan dan Pameggetan, mencatat tingkat keberlangsungan hidup tanaman pemulihan ekosistem yang masih tinggi. Sekaligus mengindikasikan aktivitas satwa liar mulai kembali terlihat di area pemulihan. Patroli yang dilakukan pada Selasa (20/1/2026) ini menjadi bagian dari penguatan pengelolaan kawasan sekaligus memastikan bahwa program Pemulihan Ekosistem (PE) Tahun 2022 beserta penyulaman Tahun 2025 berjalan sesuai tujuan. Salah satu fokus kegiatan berada di kawasan Cengkolan, lokasi batas kawasan yang berbatasan langsung dengan jalur jalan lingkar Bawean, titik yang dinilai strategis sekaligus rentan terhadap potensi gangguan. Di sini, tim melakukan pembersihan papan informasi yang sebelumnya tertutup oleh robohan kayu kecil seukuran tiang. Pembersihan dilakukan agar papan informasi kembali terlihat jelas, sekaligus memperkuat fungsi edukasi dan penandaan kawasan bagi masyarakat maupun pengguna jalan yang melintas. Dari hasil pemantauan vegetasi, tanaman Pemulihan Ekosistem (PE) Tahun 2022 menunjukkan kondisi yang cukup baik. Sekitar 70 persen tanaman tercatat masih hidup, sementara tanaman hasil penyulaman Tahun 2025 juga banyak yang bertahan. Temuan ini menguatkan bahwa blok pemulihan masih menyimpan peluang besar untuk terus berkembang menjadi ruang hidup yang stabil bagi satwa liar, sekaligus memperkuat fungsi ekologis kawasan. Yang menarik, di beberapa titik tim menemukan bekas gesekan tanduk rusa pada sejumlah tanaman. Jejak itu menjadi penanda aktivitas satwa yang masih intens berlangsung di sekitar area pemulihan. Dalam konteks konservasi, tanda-tanda semacam ini bukan sekadar “bekas luka” pada batang muda, melainkan sebuah pesan ekologis bahwa alam sedang bergerak, satwa sedang hadir, dan habitat masih menjadi rumah yang dipakai. Selama patroli berlangsung, tim juga menjumpai sejumlah satwa liar. Di langit kawasan Blok Gunung Besar, Elang Ular Bawean teramati sedang melayang (soaring), memperlihatkan bentang alam yang masih mendukung aktivitas predator puncak. Beberapa jenis burung lain seperti Madu Sriganti dan Merbah Belukar turut terpantau, sementara suara Monyet Ekor Panjang terdengar dari kejauhan, menguatkan bahwa kawasan ini masih menyimpan denyut biodiversitas yang aktif. Sebagai tindak lanjut dan optimalisasi pengelolaan kawasan, Tim RKW 09 kedepan terdapat beberapa langkah strategis yang akan dilakukan. Diantaranya penguatan penandaan kawasan dan informasi publik melalui pengecekan berkala papan informasi, pembersihan vegetasi penghalang, serta penguatan tiang/patok pada titik rawan dekat jalan lingkar. Selain itu, diperlukan pemeliharaan intensif tanaman PE dengan pengawasan survival rate secara triwulanan. Serta penyulaman lanjutan di lokasi dengan tingkat kematian tinggi, disertai pemeliharaan ringan seperti pembersihan semak kompetitor. Tim juga menekankan pentingnya mitigasi gangguan satwa pada tanaman muda, terutama pada titik-titik yang menunjukkan bekas gesekan tanduk rusa. Upaya ini dapat dilakukan melalui pemasangan pelindung sederhana pada tanaman rentan serta penataan jalur satwa agar aktivitas alami tidak berkembang menjadi kerusakan pada blok pemulihan. Lebih jauh, patroli rutin juga diarahkan berbasis titik rawan, khususnya pada batas kawasan dekat akses jalan, sebagai bentuk pencegahan dini terhadap potensi gangguan. Di atas semuanya, patroli kawasan tidak hanya dimaknai sebagai kegiatan menjaga batas dan memastikan keamanan. Ia juga menjadi ruang kerja ilmiah lapangan yang penting, karena setiap perjumpaan dengan satwa liar, sekecil apa pun adalah data yang bernilai. Pencatatan biodiversitas saat patroli menjadi basis monitoring populasi dan aktivitas satwa, terutama satwa endemik Bawean, sekaligus indikator kesehatan habitat yang terus dipulihkan. Kawasan PE di Blok Gunung Besar sedang menjalani proses panjang yang tidak instan, menumbuhkan kembali vegetasi, memulihkan struktur habitat, dan memberi ruang bagi satwa untuk kembali percaya bahwa hutan ini adalah rumah. Dan pada patroli hari ini, hutan seolah menjawab pelan, tentang tanaman bertahan, satwa mulai aktif, dan pemulihan ekosistem terus bergerak maju.(dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pasang Jebakan, 8 Mahasiswa UIN Malang Ungkap Kekayaan Manggis Gadungan

Kediri, 19 Januari 2026. Pagi itu mendung tampak menggantung di atas Cagar Alam Manggis Gadungan, dan tak berapa lama hujanpun mulai turun membasahi setiap jengkal tanah. Meski demikian, hal ini tak membuat 8 mahasiswa program studi Biologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk menjelajahi hutan seluas 13,35 hektar itu. Selama 2 hari, 14-15 Januari 2026, mereka mengambil berbagai data untuk mendukung kegiatan penelitian di cagar alam yang terletak di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Dibawah rimbun tajuk hutan, mereka memasang pit fall trap dan yellow pan trap untuk mengungkap kekayaan jenis serangga yang ada di alas simpenan. Selama proses pengambilan data mereka merasakan hujan di dalam hutan, yang menjadi sebuah pengalaman tersendiri. Air hujan yang jatuh di lebatnya tajuk hutan menghilangkan potensi terjadinya erosi tanah. Bagaimana intersepsi, aliran batang, dan tetesan tajuk dengan ajaib melembutkan tibanya air di lantai hutan. Rencananya, selain di Cagar Alam Manggis Gadungan, mereka juga akan melakukan penelitian di saudara kembarnya manggis, Cagar Alam Besowo Gadungan yang memiliki luas 5,9 hektar. Kedua cagar alam ini memang memiliki ekosistem yang relatif terjaga, dan masih menyimpan banyak rahasia ilmu pengetahuan yang dapat terus digali. Berbagai judul penelitian yang mereka ajukan saat pengajuan proposal ke Balai Besar KSDA (BBKSDA) Jawa Timur, seperti keanekaragaman jenis cacing tanah, Collembola, serangga, laba-laba, hingga vegetasi tumbuhan bawah. Kegiatan penelitian seperti diatas tentu sangat terbuka bagi para akademisi untuk menyingkap rahasia yang ada di kawasan konservasi seperti cagar alam. Bagaimana caranya? Pihak akademisi hanya perlu mengajukan permohonan Simaksi atau Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi yang dilengkapi dengan proposal kepada pihak pengelola, dalam hal ini BBKSDA Jawa Timur. (ak) Sumber: Siti Nurlaili - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Seksi KSDA Wilayah 1 Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Partisipasi Masyarakat Dukung Upaya Pelestarian Satwa Dilindungi di Sumatera Utara

Penyerahan anakan Kambing Hutan (Capricornis sumatraensis) kepada Petugas BBKSDA Sumatera Utara pada Desember 2025 Medan, 19 Januari 2026 – Kepedulian masyarakat Sumatera Utara terhadap pelestarian satwa liar terutama jenis yang dilindungi, menunjukkan tren yang menggembirakan sepanjang tahun 2025. Semakin banyak masyarakat yang secara sadar dan sukarela menyerahkan satwa liar kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dan instansi terkait. Sepanjang tahun 2025, belasan satwa liar dari berbagai jenis diserahkan oleh masyarakat kepada BBKSDA Sumatera Utara. Satwa-satwa tersebut berasal dari perjumpaan tidak sengaja di alam, terperangkap alat tangkap nelayan, hingga satwa yang sebelumnya terlanjur dipelihara oleh masyarakat tanpa dokumen yang resmi. Salah satu contoh kepedulian ditunjukkan oleh Prabowo, warga Desa Sekoci Kecamatan Besitang, Kabupaten Langkat, yang menemukan seekor Baning Cokelat (Manouria emys) di badan jalan pada April 2025. Khawatir satwa dilindungi itu jatuh ke tangan yang salah, ia segera menyerahkannya kepada petugas BBKSDA Sumatera Utara. Kasus serupa juga terjadi di wilayah pesisir. Seorang nelayan di Bagan Deli Belawan menemukan Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) tersangkut di jaringnya, sementara masyarakat lainnya menemukan Penyu Hijau (Chelonia mydas) masuk ke permukiman ketika terjadi pasang besar. Kedua penyu dilindungi tersebut kemudian diserahkan kepada Seksi Konservasi Wilayah II Stabat. Tidak hanya itu, masyarakat Desa Paluh Manan, Kabupaten Deli Serdang, menyerahkan seekor Buaya Muara (Crocodilus porosus) jantan berukuran 141 cm yang terperangkap di alat tangkap nelayan. Penyerahan dilakukan untuk menghindari risiko yang membahayakan masyarakat. Di wilayah Toba, seekor Siamang (Symphalangus syndactylus) yang terjatuh dari pepohonan berhasil diselamatkan masyarakat dan segera mendapatkan penanganan medis sebelum diserahkan kepada Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung. Sementara di Kabupaten Langkat, masyarakat secara sukarela menyerahkan seekor Beruang Madu (Helarctos malayanus) betina yang sebelumnya sempat dipelihara kepada Seksi Konservasi Wilayah II Stabat. Kesadaran masyarakat juga terlihat dari pemanfaatan media sosial. Melalui unggahan Facebook, warga Kabanjahe melaporkan temuan Burung Kasturi Kepala Hitam (Lorius lory), satwa endemik Papua dan Maluku yang dilindungi. Petugas BBKSDA Sumatera Utara kemudian menindaklanjuti laporan tersebut hingga satwa berhasil dievakuasi. Selain itu, dua ekor Trenggiling (Manis javanica) juga diserahkan oleh warga Kota Tebing Tinggi dan Kabupaten Langkat kepada BBKSDA Sumatera Utara. Selain penyerahan satwa hasil temuan, menjelang akhir tahun, aksi heroik dilakukan Santa Simanjuntak, warga Kabupaten Asahan, yang menyelamatkan anakan Kambing Hutan Sumatera (Capricornis sumatraensis) dari pemburu sebelum menyerahkannya kepada petugas BBKSDA Sumatera Utara. BBKSDA Sumatera Utara menilai penyerahan satwa liar oleh masyarakat merupakan bentuk kepatuhan terhadap Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Undang-undang tersebut mengatur sanksi pidana tegas terhadap perburuan, perdagangan, dan pemeliharaan ilegal. Selain melindungi satwa dari ancaman kepunahan, penyerahan kepada pihak berwenang juga guna memastikan satwa mendapatkan perawatan dan rehabilitasi yang tepat sebelum dinyatakan layak untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Langkah ini sekaligus mencegah terjadinya risiko interaksi negatif antara manusia dan satwa liar, serta menjaga keselamatan masyarakat dan mencegah penularan zoonosis di area permukiman. Kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa menjaga satwa liar bukan hanya tugas pemerintah, tetapi membutuhkan peran berbagai pihak termasuk dukungan masyarakat. Ketika masyarakat memilih menyerahkan satwa dilindungi kepada pihak berwenang, mereka tidak hanya mematuhi hukum, tetapi ikut juga menjaga alam. Satwa liar seharusnya hidup bebas di alam, bukan di kandang atau di permukiman. Melalui kepedulian sederhana seperti melaporkan, menyerahkan dan tidak menyakiti, maka setiap orang dapat menjadi bagian dari upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Ke depan, peningkatan kesadaran masyarakat dan keterlibatan aktif masyarakat dalam pelestarian satwa liar diharapkan menjadi agenda penting konservasi pada tahun 2026. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tulungagung Bird Walk Jilid 2

Tulungagung, 13 Januari 2026. Sekitar bulan November sampai dengan Maret, burung migran akan berada di kawasan non-breeding untuk mencari makan, termasuk di Indonesia. Saat itu, tidak kurang dari 200 jenis burung migran akan singgah di seluruh kawasan yang ada di Indonesia. Mereka terbang dari belahan bumi tara menuju ke Selatan dengan kecepatan sekitar 30-60 km/jam di ketinggian antara 3.000 – 8.000 mdpl. Jarak yang mereka tempuh bisa mencapai 4.000 km. Di Kabupaten Tulungagung, beberapa jenis burung migran singgah di area persawahan. Dalam kurun waktu dua tahun, petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur telah melakukan pengamatan di area tersebut. Jumlah jenis burung migran yang dijumpai sebanyak tujuh jenis. Agar keberadaan jenis-jenis burung migran tersebut tetap tercatat, petugas RKW 02 menggandeng kelompok pecinta alam di Tulungagung. Seperti, Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Himalaya dari Universitas Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UINSATU) Tulungagung dengan tajuk kegiatan “Tulungagung Bird Walk” atau TBW. Sebelum pengamatan, peserta TBW diberikan materi pendahuluan tentang burung migran dan metode identifikasi jenis dengan cara menggambar sketsa sederhana. Ini kali kedua pengamatan burung bersama ini dilaksanakan. Yang pertama dilaksankan pada akhir tahun 2025, dan kali ini digelar 13 Januari 2025. Kegiatan TBW pertama terpantau sebanyak lima jenis burung migran, yaitu Trinil pantai Actitis hypoleucos, Trinil Semak Tringa glareola, Kicuit kerbau Motacilla tschutschensis, Cerek kernyut Pluvialis fulva, dan Cerek kalung-kecil Charadrius dubius. Pada TBW kedua, dilaksanakan pada lokasi yang tak jauh dari lokasi TBW pertama, namun jumlah jenis burung migran yang tercatat kali ini hanya tiga jenis, yaitu Trinil pantai, Trinil semak, dan Kicuit kerbau. Kegiatan Tulungagung Bird Walk kali kedua ini diliput oleh beberapa media, yakni Antara dan Detik.com. Selain melakukan peliputan, para jurnalis juga turut melakukan pengamatan menggunakan binokuler dan kamera petugas RKW 02. “Saya juga baru tahu ternyata ada burung yang migrasi juga”, kesan salah satu reporter. Setelah satu jam pengamatan, para peserta dikumpulkan untuk menuliskan nama jenis di sketsa yang telah dibuat. Seluruh peserta telah membuat sketsa jenis burung yang diamati dengan baik. Mereka memberikan keterangan dalam sketsa tersebut untuk membantu melakukan verifikasi jenis di buku panduan yang telah disediakan. Para peserta belum bisa menebak nama jenis burung migran yang telah mereka gambar, namun beberapa peserta sudah bisa memberikan deskripsi ciri-ciri jenis dengan baik. “Ini kegiatan yang sangat bagus dan baru untuk saya”, kata salah satu peserta. Sumber : Akhmad David Kurnia Putra, Polisi Kehutanan Seksi KSDA Wilayah 1 Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Nilam, Lahan Tidur, dan Batas Ekologi Pulau Bawean

Gresik, 13 Januari 2026. Di pulau kecil, sejarah tanaman sering kali berjalan senyap, dibawa oleh niat baik, tumbuh bersama harapan, lalu diuji oleh batas-batas alam. Di Pulau Bawean, kisah nilam adalah potret perjumpaan antara upaya keluar dari keresahan, keterbatasan dan tanggung jawab menjaga ekosistem pulau yang rapuh. Nilam yang dibudidayakan masyarakat dikenal secara ilmiah sebagai Pogostemon cablin Benth., tumbuhan penghasil minyak atsiri bernilai tinggi. Secara alami, Pogostemon cablin diperkirakan berasal dari wilayah tropis Asia Selatan hingga Asia Tenggara daratan, termasuk kawasan India, Sri Lanka, dan Semenanjung Malaya. Dalam perjalanan sejarah perdagangan rempah dan tanaman aromatik, nilam kemudian menyebar luas ke berbagai wilayah tropis, dibudidayakan secara intensif di Indonesia, khususnya Sumatera dan Jawa. Hingga menjadi salah satu penghasil minyak nilam terbesar di dunia. Di Bawean, budidaya nilam bukanlah tradisi lama. Ia bermula pada akhir tahun 2023, digerakkan oleh Bapak Banjar, pendamping masyarakat asal Trenggalek, yang prihatin melihat masih luasnya lahan tidur masyarakat yang belum dimanfaatkan secara optimal. Gagasan menghadirkan nilam sebagai komoditas bernilai ekonomi kemudian diwujudkan melalui kerja sama dengan mitra lokal, Bapak Yusuf, warga Dusun Duku, Desa Sungairujing. Bibit nilam yang digunakan merupakan Nilam Aceh, salah satu varietas Pogostemon cablin yang dikenal memiliki rendemen dan kualitas minyak yang baik. Saat itu, bibit didatangkan dari Blitar dan Trenggalek, wilayah yang telah lebih dulu mengembangkan komoditas ini. Bibit mulai masuk ke Pulau Bawean pada akhir tahun 2024, menandai fase awal introduksi nilam ke dalam lanskap pertanian pulau kecil tersebut. Pada pertengahan tahun 2025, tanaman nilam mulai memasuki fase produksi. Daun-daun nilam dipanen dan disuling menjadi minyak atsiri yang kemudian dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan industri, mulai dari farmasi, kosmetik, parfum, hingga aromaterapi. Dalam waktu relatif singkat, budidaya nilam berkembang dan melibatkan beberapa desa, antara lain Sungairujing, Suwari, Pudakit Timur, Bululanjang, dan Gunung Teguh. Seluruh proses budidaya dan pengolahan dilakukan oleh masyarakat lokal Bawean. Tak ada tenaga kerja dari luar pulau. Pendampingan dilakukan secara langsung dan tanpa biaya, dengan tujuan membangun kemandirian warga agar mampu mengelola komoditas bernilai tinggi di wilayahnya sendiri. Bagi masyarakat, nilam menjadi simbol kebangkitan ekonomi dari lahan-lahan yang sebelumnya terabaikan. Namun Pulau Bawean memiliki karakter ekologis yang khas. Sebagai pulau kecil dengan ekosistem relatif tertutup dan tingkat endemisitas yang tinggi, kehadiran Pogostemon cablin yang bukan merupakan flora asli Bawean, menuntut kewaspadaan. Introduksi jenis dari luar pulau berpotensi menimbulkan kompetisi dengan tumbuhan lokal, mengubah struktur vegetasi, dan dalam kondisi tertentu berisiko berkembang secara invasif apabila tidak dikelola dengan ketat. Karena itu, koordinasi lapangan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada 13 Januari 2026 tidak hanya memotret keberhasilan ekonomi, tetapi juga menjadi ruang refleksi ekologis. Prinsip kehati-hatian (precautionary principle) ditegaskan sebagai landasan utama pengembangan nilam di Bawean. Bahwa pemanfaatan sumber daya alam harus selalu berjalan seiring dengan perlindungan keanekaragaman hayati. Ke depan, pengembangan nilam diarahkan untuk lebih berpijak pada sumber daya lokal. Inventarisasi dan identifikasi Nilam lokal Bawean, apabila secara historis atau ekologis pernah ada, maka menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada varietas introduksi. Uji adaptasi, produktivitas, dan kualitas minyak nilam lokal diperlukan sebagai dasar ilmiah sebelum komoditas ini dikembangkan lebih luas sebagai unggulan daerah. Nilam di Bawean kini mulai menjadi bagian dari denyut ekonomi masyarakat pulau. Namun sejarah singkatnya juga menjadi pengingat bahwa di pulau kecil, setiap tanaman membawa tanggung jawab besar. Konservasi bukanlah penghalang bagi kesejahteraan, melainkan penuntun agar kesejahteraan itu tumbuh tanpa melampaui batas ekologi yang menopang kehidupan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa timur

Menampilkan 33–48 dari 2.046 publikasi