Sabtu, 10 Okt 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Bukan Dahan, di Pamekasan Kukang Jawa Ini Ditemukan Bergantung di Kabel

Pamekasan, 28 September 2026. Bukan dahan pohon yang dicengkeramnya, seekor Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) justru ditemukan bergantung pada kabel di tengah permukiman warga di Kabupaten Pamekasan, Madura. Perjumpaan tak biasa itu kemudian berujung pada penyerahan satwa kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur. Rabu, 23 September 2026, pukul 10.30 WIB, Tim Matawali - Seksi KSDA Wilayah (SKW) IV Pamekasan menindaklanjuti laporan sekaligus penyerahan seekor kukang jawa dari Hamid Faqih, warga Desa Blumbungan -Kabupaten Pamekasan. Menurut Hamid, Kukang tersebut sebelumnya terlihat bergantung pada kabel. Khawatir dengan keselamatan satwa, warga berusaha menurunkannya menggunakan bantuan bambu. Kukang kemudian diamankan sementara di dalam kandang sebelum diserahkan kepada petugas. Tim Matawali yang dipimpin langsung oleh Kepala SKW IV Pamekasan, Asep Hawim Sudrajat, bersama dua anggotanya Fathorrakhman, dan Alvin Sayhir Isman selanjutnya melakukan evakuasi dan membawa satwa tersebut ke kandang transit SKW IV Pamekasan. Dua hari berselang, Jumat, 25 September 2026, kukang kembali menempuh perjalanan. Kali ini dari Pamekasan menuju kandang transit Unit Penyelamatan Satwa - BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di tempat tersebut, kondisi kesehatannya akan diperiksa sebagai dasar menentukan penanganan berikutnya sesuai ketentuan. Ketika Kabel Menjadi Jalan Kukang jawa merupakan primata nokturnal yang sebagian besar kehidupannya berlangsung di atas vegetasi. Pepohonan bukan sekadar tempat beristirahat, tetapi juga menyediakan jalur pergerakan, perlindungan, dan sumber pakan. Karena itu, kukang yang bergantung pada kabel menghadirkan pemandangan yang tidak biasa. Namun satu perjumpaan belum cukup untuk menyimpulkan penyebab satwa berada di sana. Kehadirannya dapat menjadi pintu masuk untuk melihat lebih jauh mengapa satwa tersebut berada di Madura. Yang paling penting pada saat itu adalah memastikan satwa selamat. Respon warga Desa Blumbungan menjadi bagian penting dari cerita ini. Kukang tidak dipelihara setelah ditemukan. Satwa diserahkan kepada petugas agar memperoleh penanganan yang semestinya. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa perjumpaan dengan satwa liar dapat terjadi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tidak selalu di tengah hutan. Kadang di kebun, pekarangan, tepi jalan, bahkan di atas kabel yang melintas di antara rumah-rumah. Dalam situasi seperti itu, masyarakat tidak perlu menangkap atau menangani satwa secara berlebihan. Mengamankan keadaan, menjaga jarak, menghindari tindakan yang dapat melukai satwa maupun manusia, serta segera menghubungi petugas menjadi pilihan yang lebih aman. Bagi Tim Matawali, evakuasi juga bukan akhir pekerjaan. Pemeriksaan kesehatan dan penilaian kondisi satwa menjadi tahapan penting sebelum menentukan langkah selanjutnya. Dari seutas kabel di Pamekasan, seekor kukang jawa akhirnya sampai ke tangan petugas konservasi. Sebab satwa liar tidak selalu membutuhkan kita untuk membawanya pulang. Kadang, mereka hanya membutuhkan manusia yang tahu kapan harus menolong dan kapan harus menyerahkannya kembali kepada alam. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pagi Menjaga Kamera, Siang Menjaga Hutan: Sehari Bersama Tim Konservasi Bawean

Dari ruang desa hingga Sumber Elong, konservasi di Bawean hari itu berjalan dalam dua wajah, berbicara dengan masyarakat dan memastikan hutan tetap aman Gresik, 28 September 2026. Pagi belum terlalu jauh ketika Nurhayyan Jahansyah dan Abdul Rahim memulai pekerjaan di Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura. Hari itu tidak ada satwa yang harus dievakuasi, tak ada pula api yang harus dipadamkan. Namun, ada kamera yang harus dijaga. Ada masyarakat yang perlu diajak bicara. Dan beberapa jam kemudian, ada hutan yang harus diperiksa. Jumat pagi, 25 September 2026, Tim Resort KSDA Wilayah 09 Gresik–Bawean Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), mendampingi Frank Drygala berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Kumalasa terkait rencana sosialisasi pemasangan kamera jebak atau camera trap di lahan masyarakat untuk mengetahui koridor Babi Kutil dan Rusa Bawean. Kamera-kamera tersebut direncanakan terpasang pada bentang lahan yang meliputi tiga desa, Kumalasa, Dekatagung, dan Suwari. Karena berada di ruang yang juga digunakan masyarakat, pekerjaan lapangan tidak cukup hanya dengan memasang kamera lalu meninggalkannya. Masyarakat perlu mengetahui untuk apa kamera dipasang, mengapa keberadaannya perlu dijaga, dan mengapa perangkat tersebut tidak boleh dipindahkan atau diganggu. Sosialisasi direncanakan melibatkan kepala desa dari ketiga desa serta perwakilan masyarakat. Masing-masing desa akan mengikutsertakan sekitar sepuluh orang, termasuk petani. Selepas berdiskusi di Kumalasa, tim bergerak menuju Desa Dekatagung dan Suwari untuk menyampaikan rencana kegiatan yang sama Dari Kamera Trap ke Bekas Penebangan Menjelang siang, pekerjaan berubah. Sekitar pukul 13.00 WIB, tim meninggalkan agenda koordinasi dan bergerak menuju kawasan Blok Payung-payung, Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Tujuannya kali ini bukan kamera. Tim kembali mengecek lokasi temuan penebangan sebelumnya dan memastikan barang bukti yang masih berada di lapangan tetap aman. Pemeriksaan tidak berhenti pada satu titik. Nurhayyan dan Rahim melanjutkan penyisiran dari kawasan Sumber Elong di Desa Diponggo hingga kawasan Geligir, Desa Kepuhteluk, Kecamatan Tambak. Bentang tersebut diperiksa untuk memastikan tidak muncul aktivitas penebangan baru ataupun gangguan lain terhadap kawasan. Hasil patroli hari itu cukup melegakan. Tim tidak menjumpai pelanggaran maupun aktivitas mencurigakan selama penyisiran. Namun tidak menemukan pelanggaran bukan berarti patroli menjadi pekerjaan yang sia-sia. Justru dalam perlindungan kawasan, hutan yang tetap tenang adalah hasil yang diharapkan. Konservasi Tidak Selalu Berisik Hari itu menggambarkan pekerjaan konservasi yang sering luput dari perhatian. Pagi hari, petugas duduk bersama pemerintah desa membicarakan kamera kecil yang kelak bekerja tanpa suara, merekam kehidupan satwa ketika manusia tidak berada di sana. Siang harinya, petugas berjalan menyusuri hutan, kembali ke lokasi bekas penebangan, memeriksa barang bukti dan memastikan tidak ada pohon lain yang menyusul tumbang. Dua pekerjaan yang terlihat berbeda, tetapi bertemu pada tujuan yang sama. Penelitian membutuhkan dukungan masyarakat. Perlindungan kawasan membutuhkan kehadiran petugas. Keduanya membutuhkan komunikasi dan kepercayaan. Sebab menjaga Suaka Margasatwa Pulau Bawean tidak selalu berarti berhadapan dengan api, mengejar pelaku, atau mengevakuasi satwa. Kadang pekerjaan itu sesederhana mengetuk pintu desa pada pagi hari, lalu menyusuri hutan pada siangnya. Pagi menjaga kamera agar pengetahuan tidak hilang. Siang menjaga hutan agar kehidupan di depannya tetap ada. Begitulah konservasi bekerja di Bawean hari itu, tidak banyak suara, tetapi terus bergerak. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Nyaris Batal Dibuka, Kawah Ijen Terbakar Lagi di Malam Hari

Banyuwangi, 28 September 2026. Bak petir di siang hari saat petugas piket Resort Konservasi Wilayah (RKW) 14 Kawah Ijen, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), menerima kabar adanya kebakaran hutan pada sekitar pukul 19.00 WIB, Sabtu (26/9). Berita kebakaran yang disampaikan seorang pengemudi mobil yang melintas hendak ke Banyuwangi tersebut terjadi di Blok Kalipait, dekat jembatan dan gapura batas Kabupaten Bondowoso. Tak menunggu lama, bersama-sama pemilik warung, pelaku wisata, dan masyarakat sekitar, tim Dalkarhut segera menuju lokasi kebakaran. Saat itu juga dikerahkan sebuah mobil Galaag dan Mobil tangki air untuk melakukan pemadaman kebakaran. Dua jam berselang, api berhasil dipadamkan. Dari hasil pemantauan adanya indikasi kesengajaan pada kebakaran malam itu, karena tidak dijumpai adanya rembetan kebakaran hutan. Titik awal api ditemukan di pinggir jalan raya dekat jembatan dan gapura kabupaten Bondowoso. Total luas kawasan yang terbakar kurang lebih 0,5 hektar. Keesokan pagi, Minggu (27/9), tim kembali melakukan mop-up atau pendinginan pada bekas lokasi yang terbakar. Hal ini dilakukan agar bara yang mungkin masih tersisa dipadamkan serta untuk mengantisipasi agar tidak terjadi kebakaran serupa. Sumber: Agus Irwanto - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

UPS Kebanjiran Ribuan Burung, BBKSDA Jatim Semprotkan Disinfektan

Sidoarjo, 28 September 2026. Unit Penyelamatan Satwa (UPS) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menerima penitipan barang bukti berupa satwa liar dari Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Gakkum Jabalnusra), Selasa (22/9). Sebanyak 3.458 ekor burung yang dititipkan, terdiri dari 21 jenis burung yang sebagian besar merupakan satwa endemik Sulawesi dan Kalimantan, serta dilindungi undang-undang. Beberapa diantaranya seperti Cica Daun Besar, Perkici Kuning, Kringkring Dada-Kuning, Jalak Tunggir Merah, Punai Walik Kembang, Kucica Kampung, Kapas Tembak, Junai Emas, Tiong Emas, Betet Kelapa Paruh Besar, Bilbong Pendeta, Jingjing Petulak, Pergam Hijau, Delimukan Sulawesi, serta beberapa jenis burung hidup lainnya. Menurut Dokter Hewan UPS, drh. Zakia Sheila, pada saat penyerahan kepada pihak BBKSDA Jatim, banyak burung sudah dalam kondisi yang memprihatinkan. “Untuk itu kami melakukan penyemprotan disinfektan wajib 2 kali dalam seminggu untuk pencegahan penyebaran penyakit oleh virus dan bakteri,” ujarnya. Hingga saat ini, UPS masih merawat ribuan burung tersebut dengan mengikuti prosedur yang berlaku. Mulai dari pemberian pakan berupa buah-buahan dan serangga yang disesuaikan dengan jenis satwanya. Serta, air minum dan pembersihan kandang setidaknya dua kali dalam sehari. Seperti diketahui sebelumnya, Balai Gakkum Jabalnusra telah menggagalkan pengangkutan ribuan burung di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur (22/9). Ribuan burung ditemukan dalam dua kendaraan yang dihentikan petugas saat menuju Jembatan Suramadu. Saat ini, proses hukum masih berlanjut dengan 4 orang tersangka. Sumber: Faiza Nur Ainiyah & Agus Irwanto - Unit Penyelamatan Satwa Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bukan Habitatnya, Kasturi Kepala Hitam Ditemukan Berkeliaran di Kawasan Pabrik Gresik

Seekor kasturi kepala hitam muncul di antara aktivitas kawasan industri Gresik. Lapar, mendekati pisang yang disodorkan pekerja, lalu berakhir dalam penanganan Tim Matawali - BBKSDA Jawa Timur Gresik, 28 September 2026. Bukan tajuk hutan yang menjadi tempat perjumpaannya, seekor Kasturi Kepala Hitam (Lorius lory) justru ditemukan berkeliaran di sekitar sebuah pabrik di Jalan Veteran, Kebomas, Kabupaten Gresik, Jumat sore, 25 September 2026. Burung berwarna mencolok itu terlihat oleh Amin Sahir, warga Bojonegoro yang sedang bekerja pada sebuah proyek pabrik di Jalan Veteran tersebut. Dari keterangannya, burung tersebut tampak berkeliaran di sekitar area pabrik dan diperkirakan dalam kondisi lapar. Ketika diberi pisang, burung itu mendekat. Perjumpaan tersebut kemudian dilaporkan masyarakat melalui Call Center Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) sekitar pukul 17.38 WIB. Laporan selanjutnya diteruskan kepada Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) - Bidang KSDA Wilayah II untuk ditindaklanjuti. Tak sampai dua jam setelah laporan diterima, petugas telah berada di lokasi. Sekitar pukul 19.29 WIB, kasturi kepala hitam tersebut berhasil dievakuasi. Jauh dari Sebaran Alaminya Temuan ini menarik bukan hanya karena lokasi burung berada di tengah kawasan industri. Namun juga karena Kasturi kepala hitam bukan jenis burung dengan sebaran alami di Gresik. Karena itu, kemunculan satu individu di kawasan pabrik tidak serta-merta dapat diperlakukan sebagai perjumpaan satwa liar yang secara alami hidup di lokasi tersebut. Dari mana burung itu berasal dan bagaimana akhirnya berada di Jalan Veteran masih memerlukan penelusuran lebih lanjut. Petugas tidak ingin mendahului fakta dengan menyimpulkan apakah satwa tersebut terlepas, lepas dari pemeliharaan, atau memiliki riwayat lain. Yang dapat dipastikan, individu yang dievakuasi dalam kondisi hidup dan secara umum terpantau sehat. Namun terdapat cacat pada kaki kanannya. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan dan penanganan berikutnya. Kasturi Kepala Hitam termasuk satwa dilindungi di Indonesia dan tercantum dalam Appendix II CITES. Status tersebut menjadi pengingat bahwa burung dengan warna bulu yang indah bukan sekadar menarik untuk dipandang. Di balik keindahannya terdapat persoalan yang jauh lebih besar: perlindungan populasi di alam dan pengendalian pemanfaatan serta perdagangannya. Pisang yang Mengakhiri Perjalanan di Jalan Veteran Ada bagian sederhana dari cerita ini yang justru menentukan. Amin tidak membawa burung itu pulang. Setelah satwa mendekat karena makanan yang diberikan, keberadaannya dilaporkan kepada petugas. Dari satu laporan masyarakat, mekanisme respon cepat kemudian bergerak. Bagi BBKSDA Jawa Timur, penyerahan sukarela seperti ini penting. Masyarakat yang menemukan satwa liar, terlebih jenis dilindungi, dapat segera melaporkannya kepada petugas dan tidak menjadikannya sebagai satwa peliharaan. Malam itu, hiruk-pikuk kawasan industri Gresik menyisakan cerita lain. Seekor kasturi kepala hitam ditemukan jauh dari bentang alam asalnya. Ia datang entah dari mana, mendekat karena sepotong pisang, lalu berpindah ke tangan petugas konservasi. Perjalanannya di Jalan Veteran telah berakhir. Tetapi satu pertanyaan masih perlu ditelusuri, dari mana kasturi kepala hitam itu sebenarnya berasal? (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kawah Ijen Bersiap Dibuka, Keselamatan Tetap Jadi Batas

Banyuwangi, 26 September 2026. Setelah lebih dari tiga pekan ditutup akibat kebakaran hutan, Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen kini bersiap kembali menerima pengunjung. Namun sebelum pintu wisata dibuka, satu hal ditempatkan di atas kepentingan lainnya, keselamatan. Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Purwantono, bersama staf dan pejabat fungsional Pengendali Ekosistem Hutan melakukan pengecekan akhir di kawasan TWA. Kawah Ijen pada tanggal 22 – 23 September 2026.. Tim menyusuri jalur yang akan kembali dilewati pengunjung. Kondisi akses dan jalur pendakian diperiksa, demikian pula sarana-prasarana pendukung wisata. Kebersihan kawasan dan keberadaan sampah menjadi perhatian, termasuk kondisi fasilitas yang berhubungan langsung dengan keamanan serta kenyamanan pengunjung. Pengecekan tersebut bukan sekadar persiapan membuka kembali destinasi. Kawah Ijen baru saja melewati rangkaian kebakaran hutan yang membuat kegiatan di TWA ditutup sejak 4 September 2026. Pengumuman resmi BBKSDA Jawa Timur menyebut pembukaan dilakukan setelah penanganan darurat berakhir dan evaluasi keamanan jalur pendakian pascakebakaran dilaksanakan. Kewaspadaan pun belum dilepas. Hingga Jumat (25/9), kepulan asap masih terpantau di Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup. Kondisi tersebut terus menjadi perhatian petugas. Perlu dibedakan, lokasi pantauan itu berada di kawasan cagar alam, sedangkan kawasan yang dipersiapkan untuk dibuka bagi kunjungan adalah TWA Kawah Ijen. Batas itu penting Pembukaan wisata tidak berarti seluruh bentang alam Ijen telah bebas dari risiko kebakaran. Kondisi cuaca, vegetasi kering, angin, kemungkinan bara tersisa, serta perkembangan lapangan tetap membutuhkan pemantauan. Karena itulah hasil pengecekan jalur dan kesiapan fasilitas menjadi bagian penting sebelum aktivitas wisata kembali berjalan. Pengunjung nantinya juga memegang bagian dari tanggung jawab tersebut. BBKSDA Jawa Timur mewajibkan pemesanan tiket secara daring, kepatuhan terhadap SOP, serta perlengkapan dasar berupa senter, masker dan pakaian pelindung dari udara dingin. Pengunjung diwajibkan menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak melakukan tindakan yang dapat memicu kebakaran hutan. Dengan pertimbangan tersebut, Kepala BBKSDA Jawa Timur Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. melalui Pengumuman Nomor PG.2398/K.2/BIDTEK/KSA.04.01/B/9/2026 menetapkan TWA Kawah Ijen resmi dibuka kembali mulai Senin, 28 September 2026, untuk kegiatan wisata alam, pendakian, penelitian dan pendidikan. Kawah Ijen memang kembali membuka pintunya. Tetapi pengalaman September meninggalkan satu pesan yang tidak boleh ikut dilupakan. Menikmati Ijen adalah hak pengunjung. Pulang dengan selamat dan meninggalkan Ijen tetap lestari adalah tanggung jawab bersama. Sumber: Warsono & Fajar Dwi Nur Aji (PEH Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Api Mereda, Bara di Puncak Argopuro Masih Dicari

Probolinggo, 25 September 2026. Perjalanan pengendalian kebakaran di Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang belum berhenti ketika nyala api tak lagi terlihat. Tim lapangan kini bergerak mencari sesuatu yang lebih kecil, tetapi tetap berbahaya: bara yang bersembunyi di tunggak-tunggak kayu. Tim dari Baderan telah mencapai kawasan Puncak Argopuro. Sejak Kamis sore hingga Jumat (25/9), petugas melakukan mop-up di bawah Puncak Rengganis. Tunggak yang masih menyimpan bara dipadamkan, sementara bagian sekelilingnya dibersihkan dan dibuat sekat untuk mengurangi peluang api menjalar kembali. Pada saat yang sama, pemantauan dilanjutkan di sekitar jalur dan areal bekas kebakaran Aing Kenik. Pekerjaan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pengendalian kebakaran yang berlangsung di kawasan Argopuro sepanjang September. Tim Pos Bermi masih menemukan titik api baru di bawah Puncak Hyang dan sekitar jalur Aing Kenik, Rabu (23/9). Api ketika itu dapat dikendalikan, tetapi sejumlah tunggak masih tampak mengeluarkan asap. Di pegunungan, padamnya api di permukaan memang belum selalu berarti pekerjaan selesai. Material kayu berukuran besar dapat menyimpan panas dan bara lebih lama. Dalam kondisi kering dan berangin, bara semacam ini perlu diperiksa dan ditangani agar tidak kembali menjadi sumber penyalaan. Karena itu, pekerjaan tim kini bergeser, dari menghadapi lidah api menjadi menyisir jejak yang ditinggalkannya. Dari puncak Argopuro, tim juga melaporkan melihat indikasi titik api besar ke arah Jember yang disebut turut terpantau melalui pemantauan satelit. Informasi tersebut masih memerlukan verifikasi lapangan sebelum lokasi, luas, dan keterkaitannya dengan kebakaran di SM. Dataran Tinggi Yang dapat dipastikan. Argopuro belum sepenuhnya selesai dengan api. Tetapi pagi ini, yang dikejar bukan lagi kobaran besar. Namun bara terakhir, sebelum angin memberinya kesempatan menjadi api kembali. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai TNKM dan Kodim 0910/Malinau Perkuat Kapasitas Pengamanan Kawasan

Malinau, September 2026 — Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (BTNKM) melaksanakan kegiatan Peningkatan Kapasitas Pengamanan Kawasan bekerja sama dengan Kodim 0910/Malinau. Kegiatan yang berlangsung pada 23–24 September 2026 di Malinau, Kalimantan Utara, ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan profesionalisme petugas dalam melaksanakan tugas pengamanan kawasan konservasi. Kegiatan tersebut diikuti personel Polisi Kehutanan (Polhut), pimpinan dan jajaran Balai TNKM, serta kepala resort. Pelaksanaan kegiatan mendapat pendampingan dari personel Kodim 0910/Malinau sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan sinergi antarlembaga dalam mendukung pengamanan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Kepala Balai TNKM Seno Pramudito mengatakan, peningkatan kapasitas menjadi bagian penting untuk memastikan petugas memiliki kesiapan dan kemampuan yang memadai dalam menjalankan tugas di lapangan. Salah satu materi dalam kegiatan tersebut berkaitan dengan penggunaan senjata api sebagai sarana pendukung tugas pengamanan kawasan. “Senjata api ini memang kita perlukan untuk kegiatan pengamanan. Karena itu, personel harus menguasai penggunaannya, termasuk pemeliharaan dan pemahaman terhadap prosedur yang berlaku. Kegiatan ini kita laksanakan untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan petugas dalam mendukung tugas pengamanan kawasan,” ujar Seno, Jumat (25/9/2026). Menurutnya, kegiatan tidak hanya diarahkan pada kemampuan teknis, tetapi juga menekankan pentingnya kedisiplinan, kehati-hatian, serta kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) dalam pelaksanaan tugas. “Harapannya, petugas Balai Taman Nasional Kayan Mentarang mengetahui dan memahami penggunaan senjata api, baik dari sisi pemeliharaan maupun penggunaannya. Dalam pelaksanaannya harus sesuai dengan SOP yang telah disusun dan tentunya mengutamakan kehati-hatian,” jelasnya. Seno menambahkan, kolaborasi dengan Kodim 0910/Malinau menjadi bagian dari upaya membangun sinergi dalam peningkatan kapasitas personel. Kemampuan petugas, kata dia, perlu terus diasah agar dapat mendukung pelaksanaan tugas pengamanan di kawasan TNKM yang memiliki wilayah luas dengan karakteristik medan yang beragam. Komandan Koramil Malinau Selatan sekaligus Plt. Perwira Seksi Intelijen Kodim 0910/Malinau, Kapten Inf. Heri Agus Sijantoro, mengatakan pihaknya mendapat amanah untuk memberikan pendampingan kepada personel BTNKM dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. “Kami dari Kodim 0910/Malinau mendapat perintah dari Komandan Kodim untuk membantu rekan-rekan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dalam pelaksanaan latihan. Pelatihan merupakan bagian penting untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan personel dalam mendukung tugas yang diberikan oleh negara,” kata Heri, Jumat (25/9/2026). Ia menjelaskan, pendampingan diberikan melalui pembekalan materi dan latihan yang dilaksanakan secara bertahap, setelah mendapatkan materi dasar di lingkungan kantor BTNKM, peserta kemudian mengikuti praktik di lapangan tembak Kodim 0910/Malinau. “Kami memberikan pendampingan mulai dari materi di ruangan, termasuk pengenalan dan dasar-dasar latihan, kemudian dilanjutkan dengan praktik di lapangan tembak. Rekan-rekan dari Polisi Kehutanan sangat antusias mengikuti kegiatan ini,” ujarnya. Heri berharap kolaborasi antara Kodim 0910/Malinau dan Balai TNKM dapat terus terjalin dengan baik, khususnya dalam mendukung peningkatan kemampuan personel yang memiliki tugas pengamanan kawasan. “Kami berharap kolaborasi latihan ini dapat berjalan dengan baik, lancar dan aman. Jangan patah semangat dengan hasil yang diperoleh hari ini. Karena ini merupakan bagian dari proses, yang terpenting adalah terus berlatih sehingga kemampuan dapat semakin meningkat dan tugas pokok serta fungsi dapat dilaksanakan dengan baik dan profesional,” pesannya. Sementara itu, Polhut Wanita Balai TNKM, Marlinda Octavia, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru bagi dirinya dan para peserta, khususnya dalam mengikuti latihan yang berkaitan dengan peningkatan kesiapan pengamanan. “Saya bersyukur bisa mengikuti kegiatan latihan ini. Ini merupakan pengalaman pertama yang saya ikuti. Semoga kegiatan seperti ini ke depannya dapat terus berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi kami sebagai petugas,” ungkap Marlinda. Ia juga berharap kegiatan bersama tersebut dapat semakin memperkuat kekompakan internal personel Balai TNKM. “Harapan saya, ke depannya Polhut Balai Taman Nasional Kayan Mentarang bisa semakin kompak dan semakin siap dalam melaksanakan tugas,” tambahnya. Sebagai bagian dari evaluasi kegiatan, panitia dan instruktur juga memberikan apresiasi kepada peserta dengan hasil penilaian terbaik selama latihan. Juara pertama diraih Rolly Janter dari Balai TNKM, disusul Jatanai dari SPTN Wilayah II sebagai juara kedua, dan Septian Adi Nugroho dari Balai TNKM sebagai juara ketiga. Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan atas partisipasi dan capaian peserta selama mengikuti rangkaian kegiatan, sekaligus menjadi motivasi bagi seluruh personel untuk terus meningkatkan kemampuan melalui latihan secara berkelanjutan. Kegiatan peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari komitmen Balai TNKM dalam memperkuat sumber daya manusia sebagai salah satu unsur penting dalam pengelolaan kawasan konservasi. Dengan dukungan dan sinergi bersama berbagai pihak, peningkatan kemampuan personel diharapkan dapat menunjang pelaksanaan tugas pengamanan secara profesional, disiplin dan sesuai ketentuan. Melalui penguatan kapasitas dan kolaborasi antarlembaga, Balai TNKM terus mendorong kesiapan petugas dalam menjaga Taman Nasional Kayan Mentarang, sekaligus mendukung upaya perlindungan ekosistem hutan dan keanekaragaman hayati yang menjadi bagian penting dari kawasan konservasi tersebut. (*) Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Artikel

Aksi Bersih Pantai di Jinato, Sampah Terbanyak Berhadiah

Jinato, 25 September 2026 — Personel SPTN 2 Jinato bersama Resort Lantigiang menggelar aksi bersih pantai pada Jumat pagi. Kegiatan ini berlangsung atas kerja sama Balai TN Taka Bonerate dengan Unit Pelaksana Pelabuhan (UPP) Kelas III Jampea. Aksi tersebut melibatkan banyak pihak. Turut hadir anggota MMP Kerapu Macan, staf Desa Jinato, MDK Jinato, serta siswa SDN Jinato No. 68 Kepulauan Selayar dan SMP Negeri 39 Jinato. Mahasiswa KKN ITSBM Selayar pun ikut ambil bagian. Peserta memulai kegiatan dari sekitar kantor pelabuhan Jinato. Mereka bergerak menyusuri kawasan hingga berakhir di Pantai Penyu. Untuk menambah semangat peserta, terutama anak-anak, tim penyelenggara menyiapkan hadiah. Hadiah diberikan kepada setiap kelompok yang berhasil mengumpulkan sampah terbanyak. Sumber: Sandi (Teks/Foto/Polhut SPTN Wil.2 Jinato) dan Asri (Editor/PEH Ahli Muda) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Belum Selesai, Asap Kembali Muncul di Cagar Alam Kawah Ijen

Banyuwangi, 25 September 2026. September belum selesai, begitu pula kewaspadaan terhadap api di Kawah Ijen. Kepulan asap kembali terpantau di Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup, Kamis sore (24/9/2026), setelah kawasan ini beberapa kali menghadapi kebakaran sepanjang bulan yang sama. Informasi awal menunjukkan kemunculan asap berada di kawasan cagar alam. Perkembangan kondisi masih terus dipantau sehingga luas terdampak, sumber api, serta kondisi terakhir belum dapat disimpulkan sebelum pemeriksaan lapangan dilakukan. Kemunculan asap ini menambah panjang cerita kebakaran di Kawah Ijen sepanjang September tahun ini. Api pertama kali terpantau di Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup pada awal September. Medan berupa tebing dan lereng curam menyulitkan akses petugas. Kebakaran kemudian bergerak hingga memasuki sebagian Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, mendorong operasi besar yang melibatkan tim darat, water bombing, Operasi Modifikasi Cuaca serta dukungan lintas instansi. Perlahan kondisi sempat membaik. Pada 14 September, pemantauan SIPONGI tidak lagi menunjukkan titik panas di CA maupun TWA. Luas terdampak yang tercatat saat itu mencapai sekitar 1.505 hektare, terdiri atas sekitar 1.449 hektare cagar alam dan 56 hektare taman wisata alam. Meski demikian, patroli tetap dilakukan karena kekeringan dan angin masih menjadi faktor yang harus diwaspadai. Dua hari kemudian, asap kembali terlihat di sisi utara Ijen. Saat itu titik panas terpantau masih berada di luar cagar alam dan petugas menggunakan drone untuk membaca arah pergerakan api. Kini asap kembali terlihat. Bedanya, pantauan awal kali ini mengarah pada Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-Ungup. Kejadian berulang sepanjang September memberi satu pelajaran penting: hilangnya nyala api bukan selalu penanda berakhirnya ancaman. Di bentang pegunungan yang kering, sisa bahan bakar, tunggak dan material organik perlu terus diperiksa. Angin juga dapat mengubah situasi dalam waktu singkat. Karena itu, bagi petugas, melihat asap bukan alasan untuk berspekulasi. Asap adalah alasan untuk kembali memeriksa lapangan. Kawah Ijen sudah berkali-kali memberi jeda sepanjang September. Berkali-kali pula petugas kembali bersiaga. Api mungkin mereda. Kewaspadaan belum. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dari Kebun Warga hingga Kamera Trap, Kucing Merah Tunjukkan Masih Bertahan di TNKM

Malinau, September 2026 – Keberadaan kucing merah (Catopuma badia) kembali teridentifikasi di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Temuan melalui kamera trap serta pengamatan petugas di lapangan menjadi bagian penting dalam pemantauan keanekaragaman hayati dan upaya konservasi satwa liar di kawasan perbatasan Kalimantan Utara. Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., mengatakan kucing merah merupakan salah satu satwa yang keberadaannya terus dipantau di kawasan TNKM. Catatan keberadaan satwa tersebut telah ada sejak 2003, kemudian kembali ditemukan pada 2023 dan 2025. “Yang pertama ditemukan tahun 2003 dan kembali ditemukan tahun 2023 dan terakhir 2025,” ujar Seno, Kamis (24/09/2026). Menurutnya, informasi keberadaan kucing merah sebelumnya juga diperoleh dari sejumlah wilayah di Kabupaten Malinau, di antaranya Bahau dan Mentarang. Sementara di Kabupaten Nunukan, petugas TNKM pada 2023 berhasil menemukan dan mendokumentasikan kucing merah di wilayah Krayan. “Staf kami, petugas kami juga menemukan dan mendapatkan videonya kucing merah ini di Krayan di Kabupaten Nunukan,” jelasnya. Temuan tersebut memperkuat informasi mengenai keberadaan kucing merah pada bentang kawasan TNKM yang mencakup wilayah Kabupaten Nunukan dan Kabupaten Malinau. Bagi pengelola kawasan, setiap dokumentasi dan informasi mengenai keberadaan satwa menjadi data penting untuk mendukung kegiatan pemantauan dan pengelolaan konservasi. Salah satu pemantauan dilakukan Resort Mentarang Tubu melalui pemasangan kamera trap. Kepala Resort Mentarang Tubu, Mahfu'at, mengatakan kamera trap dipasang sejak awal September 2025 dan diambil kembali pada Agustus 2026. Pemasangan kamera trap tersebut menargetkan keberadaan macan dahan dan kucing merah sebagai bagian dari pemantauan satwa liar di wilayah kerja Resort Mentarang Tubu. “Dalam pemasangan ini kami menargetkan yaitu macan dahan dan kucing merah. alhamdulillah berhasil, ada tangkapan untuk kucing merah di wilayah Halian Tubu dan kami juga dapat tangkapan di daerah Long Pala,” ungkap Mahfu’ad, Kamis (24/09/2026). Menurutnya, hasil dokumentasi tersebut menjadi capaian positif dalam kegiatan pemantauan spesies kunci di kawasan TNKM. Kamera trap memungkinkan petugas memperoleh informasi mengenai keberadaan satwa tanpa harus melakukan kontak langsung dengan satwa di habitat alaminya. “Sebagai ucapan syukur, kami setelah mendapat tangkapan foto ini sebagai target Balai Taman Nasional Kayan Mentarang sebagai spesies kunci, dalam kegiatan ini kami memasangnya, alhamdulillah tangkapan kami berhasil,” katanya. Selain melalui kamera trap, informasi mengenai keberadaan kucing merah juga dapat diperoleh dari masyarakat maupun petugas yang beraktivitas di sekitar Kawasan, salah satunya disampaikan Ferli, staf Resort Krayan, yang pernah menjumpai satwa tersebut di sekitar kebunnya. Lokasi kebun tersebut berada sekitar dua kilometer dari kawasasan TNKM, saat itu, Ferli sedang beristirahat ketika melihat seekor satwa muncul di sekitar lokasi. Pada awalnya, ia belum mengetahui jenis satwa yang dijumpainya. “Pas ketemunya itu mulainya dari daerah kebun saya yang nggak jauh dari kawasan Taman Nasional, kurang lebih ada sekitar dua kilo, saat penemuannya saya lagi duduk istirahat, tidak lama muncul binatang itu, kita tidak tahu jenisnya binatang apa,” tutur Ferli. Setelah mencari informasi, satwa tersebut diketahui sebagai kucing merah, pengalaman tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan masyarakat dan petugas di lapangan dalam memberikan informasi mengenai keberadaan satwa liar di sekitar kawasan konservasi. Ferli berharap keberadaan kucing merah dapat terus dijaga bersama, terutama dengan menjaga habitat dan menghindari tindakan yang dapat mengganggu satwa liar. “Harapannya ke depan, untuk masyarakat, kita bisa menjaganya dan melestarikannya supaya lebih aman dan terjaga,” katanya. Seno menegaskan bahwa upaya menjaga kucing merah membutuhkan dukungan berbagai pihak. masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan memiliki peran penting dalam menjaga habitat dan melaporkan informasi mengenai kemunculan satwa liar kepada petugas. “Untuk itu kami mengimbau kepada seluruh masyarakat, seluruh pihak yang ada untuk dapat membantu kami di dalam melestarikan kucing merah ini yang sudah sangat langka dan menjadi satwa endemik di Kalimantan Utara pada umumnya,” tegas Seno. Balai TNKM terus mendorong kegiatan pemantauan keanekaragaman hayati sebagai bagian dari pengelolaan kawasan konservasi. Data dari kamera trap, pengamatan petugas, serta informasi masyarakat menjadi bagian yang saling melengkapi dalam mengetahui keberadaan dan sebaran satwa liar di kawasan TNKM. Keberadaan kucing merah yang kembali terdokumentasi menjadi kabar penting bagi upaya konservasi. Bagi TNKM, setiap temuan bukan hanya menjadi catatan keanekaragaman hayati, tetapi juga menjadi pengingat bersama bahwa kelestarian satwa sangat bergantung pada terjaganya habitat dan dukungan masyarakat di sekitar kawasan. (*) Sumber: Balai TN Kayan Mentarang
Baca Artikel

Jancukan, Musuh yang Tak Boleh Dimusuhi

Cerita dari sekat bakar Argopuro, ketika menghindari api ternyata belum cukup Situbondo, 23 September 2026. Membuat sekat bakar di Argopuro ternyata bukan hanya urusan api. Vegetasi rapat harus dibelah. Parang membuka jalan, ranting disingkirkan, bahan bakar diputus agar api kehilangan kesempatan merambat. Di tengah pekerjaan itulah kami berkenalan atau lebih tepatnya berulang kali bersenggolan dengan satu tumbuhan yang namanya sudah cukup untuk membuat orang Jawa Timur tersenyum. Jancukan! Di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, tumbuhan penyengat ini menjadi salah satu “ujian kecil” bagi petugas dan masyarakat yang membuka sekat bakar. Lolos dari satu rumpun belum tentu selamat. Tangan berhasil menghindar, betis yang kena. Betis aman, lengan menyentuh daun. Kadang merasa sudah cukup jauh, ternyata ada satu batang lain tersembunyi di antara rimbun. Beberapa saat kemudian datang sensasi yang sulit dipilih salah satunya. Gatal. Perih. Panas. Kalau harus diringkas dalam bahasa lapangan: rasanya memang "njancuki". Di tengah tubuh yang sudah lelah menghadapi asap, dingin dan medan pegunungan, jancukan kadang berhasil membuat kami berhenti beberapa detik, untuk menggaruk, menggerutu, lalu tertawa bersama. Setelah itu parang kembali bekerja, karena api masih menunggu di depan. Sebenarnya siapa jancukan? Nama “jancukan” rupanya telah lama dikenal dalam cerita perjalanan Argopuro. Catatan perjalanan pendaki juga menyebut tumbuhan dengan nama tersebut di jalur pegunungan ini dan menggambarkan sensasi gatal serta perih yang sangat, ketika kulit bersentuhan dengannya. Namun nama lokal tidak selalu sama dengan nama ilmiah. Dalam penelusuran awal, karakter jancukan mengarah pada kelompok jelatang dari famili Urticaceae. Salah satu spesies yang layak dibandingkan adalah Girardinia diversifolia, tumbuhan yang oleh Kew Science dicatat memang berasal secara alami dari Jawa, selain tersebar luas di kawasan tropis dan subtropis Dunia Lama. Spesies ini memiliki senjata yang membuatnya terkenal, yaitu rambut sengat. Batangnya dipenuhi rambut penyengat yang dapat mencapai sekitar 7–9 milimeter. Rambut serupa terdapat pada tangkai dan permukaan daun, bahkan pada bagian perbungaan. Jadi rasa panas dan perih yang kami rasakan bukan karena tumbuhan itu sedang marah. Itulah perangkat pertahanannya dan nama lokalnya jauh lebih mudah diingat. Jancukan. Musuh petugas? Tidak juga Saat membuka sekat bakar, kami sempat bercanda bahwa jancukan adalah musuh alami petugas. Pernyataan itu terasa benar ketika kulit sedang panas. Secara ekologis, tentu tidak. Tumbuhan tersebut tidak pernah mengejar kami. Ia tidak tumbuh untuk mengganggu pendaki atau petugas. Rambut sengat merupakan bagian dari strategi pertahanan yang dimilikinya. Kami yang hari itu memasuki tempat tumbuhnya. Ada ironi kecil di sana. Kami sedang membuat sekat bakar untuk melindungi hutan, dan untuk melakukannya kami harus membelah vegetasi yang juga merupakan bagian dari hutan itu sendiri. Maka parang digunakan seperlunya. Jalur dibuka untuk menghentikan api, bukan untuk membersihkan semua tumbuhan yang dianggap mengganggu. Jancukan boleh membuat kulit panas. Tetapi itu bukan alasan untuk memusuhinya. Tidak semua penjaga hutan terlihat gagah Cerita tentang konservasi sering dipenuhi satwa karismatik, pohon besar dan pemandangan pegunungan. Jancukan hampir tidak pernah mendapat tempat. Ia tumbuh di antara rimbun, tidak memiliki bunga yang membuat orang berhenti memotret, dan pengalaman pertama manusia dengannya biasanya berakhir dengan umpatan. Namun hutan tidak dibangun hanya oleh kehidupan yang kita sukai. Ada tumbuhan berduri. Ada yang beracun. Ada yang berbau tidak sedap. Dan, ada pula yang cukup disentuh sekali untuk membuat kulit mengingatnya berjam-jam. Masing-masing menjalani strategi hidupnya sendiri. Dan mungkin di situlah salah satu pelajaran sederhana bekerja di lapangan, tentang nilai sebuah spesies tidak ditentukan oleh nyaman atau tidaknya ia bagi manusia. Hari itu kami terus membuka sekat. Satu rumpun berhasil dilewati. Beberapa meter kemudian seseorang kembali berseru. Kena lagi. Kami tertawa. Tidak lama. Parang kembali diayunkan karena api jauh lebih mendesak daripada rasa gatal. Sampai sekarang, jika mengingat pembuatan sekat bakar di Argopuro, saya tidak hanya mengingat asap, bara dan dinginnya pegunungan. Kami semua juga mengingat tumbuhan yang berkali-kali berhasil membuat petugas konservasi kehilangan sedikit kewibawaannya, menggaruk tangan dan kaki sambil menahan perih. Namanya jancukan. Musuh alami petugas saat membuat sekat bakar? Mungkin saja, kalau sedang bercanda. Sebab setelah rasa panasnya hilang, kami harus mengakui satu hal bahwa jancukan tidak pernah mengganggu kami. Kamilah yang hari itu sedang bekerja di rumahnya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Lima Tahun Menyelamatkan Satwa, Kolaborasi BBKSDA Jatim–YJSI Dievaluasi

Bogor, 23 September 2026. Hampir lima tahun berjalan, kerja sama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dengan Yayasan Jaringan Satwa Indonesia (YJSI) mencatat 70 dari 74 kegiatan telah terlaksana. Capaian 94,59 persen itu dibahas dalam evaluasi akhir Perjanjian Kerja Sama (PKS) di Direktorat Perencanaan Konservasi, Bogor, Rabu (23/9). Kerja sama yang dimulai sejak 6 Desember 2021 tersebut berfokus pada penguatan konservasi keanekaragaman hayati melalui dukungan penyelamatan satwa di wilayah kerja BBKSDA Jawa Timur. Ruang kerjanya meliputi penanganan konflik, translokasi dan pelepasliaran, monitoring pascapelepasliaran, sarana penyelamatan satwa hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Salah satu catatan penting datang dari penanganan Monyet Ekor Panjang. Sepanjang 2022–2025, sebanyak 215 individu ditangani dengan dukungan YJSI. Sebanyak 171 individu telah dilepasliarkan, lima tercatat mati, dan 39 masih dalam penanganan. Hingga Agustus 2026, dukungan kerja sama juga mencatat pelepasliaran 3 ekor Elang laut perut putih, 59 ular piton, 3 landak, seekor Musang Rase, 10 Gagak Hutan, serta translokasi seekor Orangutan ke Kalimantan Tengah. Penanganan konflik satwa dilakukan sebanyak 24 kali. Kepala BBKSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., mengatakan angka-angka tersebut bukan satu-satunya ukuran keberhasilan penyelamatan satwa. “Yang terpenting bukan hanya berapa satwa yang berhasil ditangani, tetapi bagaimana satwa mendapatkan penanganan yang tepat dan mempunyai kesempatan untuk kembali hidup liar. Itu yang harus terus kita jaga,” ujarnya. Evaluasi melibatkan BBKSDA Jawa Timur, YJSI, Direktorat Perencanaan Konservasi, Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik, serta Sekretariat Ditjen KSDAE. Selain capaian kegiatan, tim menelaah tata kelola, pelaksanaan program dan sejumlah pekerjaan yang masih harus diselesaikan sebelum kerja sama berakhir pada Desember 2026. Hasil evaluasi menyebutkan bahwa kerja sama secara umum memberikan manfaat dalam mendukung pengawasan dan pengendalian peredaran tumbuhan dan satwa liar melalui penyelamatan satwa. Nilai tata kelola kerja sama juga meningkat dari 84,21 pada Oktober 2025 menjadi 100 pada September 2026 dengan kategori baik. Nur Patria menilai kolaborasi tetap menjadi kunci dalam menghadapi persoalan penyelamatan dan konflik satwa yang semakin beragam. "Konservasi satwa liar tidak bisa dikerjakan sendiri. Pemerintah membutuhkan mitra dan masyarakat. Evaluasi ini menjadi kesempatan untuk melihat apa yang sudah baik, memperbaiki yang masih kurang, lalu memperkuat kerja bersama ke depan,” tambahnya. Sejumlah pekerjaan dalam RKT 2026 akan diselesaikan sebelum PKS berakhir. Hasil evaluasi selanjutnya disampaikan kepada Direktur Jenderal KSDAE sebagai salah satu persyaratan permohonan perpanjangan Nota Kesepahaman dengan YJSI. Jika perpanjangan disetujui, beberapa usulan telah disiapkan, antara lain kajian habitat pelepasliaran lain, dukungan penanganan jenis satwa yang lebih luas, serta kemungkinan pembangunan pusat rehabilitasi satwa di Jawa Timur. Lima tahun perjalanan itu menunjukkan satu hal, bahwa penyelamatan tidak berhenti ketika satwa keluar dari kandang rehabilitasi. Membuka pintu kandang mungkin hanya membutuhkan beberapa detik. Namun, menyiapkan satwa agar mampu kembali menjadi liar adalah pekerjaan yang jauh lebih panjang. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor)
Baca Artikel

Api Kembali Muncul di Bawah Puncak Hyang, Tim Jumpai Bekas Kehadiran Pemburu

Probolinggo, 24 September 2026. Titik api kembali ditemukan di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang. Rabu (23/9), Tim Patroli Kebakaran Pos Bermi menjumpai api di bawah Puncak Hyang dan sekitar jalur Aing Kenik. Api berhasil dikendalikan, namun sejumlah tunggak masih mengeluarkan asap. Lima personel yang terdiri atas Masyarakat Mitra Polhut (MMP), pelaku wisata, dan unsur tim lapangan bergerak melakukan pemadaman, membersihkan bahan bakar di sekitar titik api, serta menyisir tepian areal untuk memastikan api tidak menjalar. Lokasi kebakaran berada pada ketinggian sekitar 2.175–2.654 mdpl. Medan curam, jarak tempuh panjang, keterbatasan air dan angin kencang menjadi kendala. Vegetasi yang terdampak antara lain rumput, alang-alang, dan cemara gunung. Di sekitar salah satu titik, tim menemukan bekas camp pemburu dan sisa karet ban yang terbakar. Temuan tersebut menjadi informasi awal yang perlu ditelusuri lebih lanjut penyebab kebakaran. Kejadian ini menjadi kelanjutan dari rangkaian panjang pengendalian kebakaran di Argopuro. Sejak awal September, petugas bersama masyarakat, MMP, relawan, pelaku wisata, ojek dan porter bergantian menghadapi api di sejumlah lokasi. Pada 16 September, api di Gunung Gilap dan Aing Kenik sempat dinyatakan padam. Namun pemantauan tidak dihentikan karena bara masih berpotensi bertahan di tunggak dan material organik. Kewaspadaan itu terbukti diperlukan. Pada 19 September titik panas kembali terpantau di sekitar Aing Kenik. Dua hari kemudian, patroli Pos Bermi masih menemukan asap dari tunggak-tunggak kayu. Lima kepulan asap bahkan ditemukan dalam penyisiran berikutnya. Rangkaian kejadian tersebut menunjukkan karakter penanganan kebakaran hutan pegunungan yang tidak selesai bersamaan dengan hilangnya kobaran. Angin dapat menghidupkan kembali bara yang tersimpan, sementara medan terjal dan keterbatasan air membuat proses mop-up membutuhkan waktu dan pengawasan berulang. Sebelumnya, hasil pemetaan sementara mencatat sekitar 488 hektar kawasan SM Dataran Tinggi Yang terdampak kebakaran. Angka tersebut masih bersifat sementara dan luasan final menunggu proses delineasi lapangan. Pagi ini (24/9), sekitar 20 personil dari Baderan berangkat menuju Rawa Embik, mendekati puncak Argopuro dari arah timur. Mereka akan bergabung dengan tim dari Bermi untuk melakukan pemadaman dan pembuatan ilaran api / sekat bakar agar kebakaran tidak meluas. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pantau Reptil dan Amfibi, Tim Herpetofauna TN Babul Temukan Bunglon Surai Sulawesi

Bunglon surai sulawesi, reptil endemik nan langka dari Pulau Sulawesi. Foto: Kamajaya Shagr & Ismail Mustafa Selasa pagi itu, 8 September 2026, cuaca di kawasan Bantimurung cerah. Matahari masih malu-malu menampakkan diri dari balik batu karst yang menjulang laksana gedung pencakar langit itu. Malam sebelumnya, kami, tim herpetofauna yang bertugas, menginap di kantor Resor Bantumurung. Tim herpetofauna kali ini melakukan identifikasi sebaran amfibi dan reptil di Resor Pattunuang dan Resor Bantimurung. Hari itu adalah hari kedua. Hari pertama berlangsung di Pattunuang. Pagi itu, salah satu dari tim berinisiatif menyapu balkon belakang kantor resor. Saat menyapu, Bada, anggota Kelompok Pengelola Ekowisata Bantimurung, menemukan seekor reptil di antara tumpukan serasah. Ia lalu menangkapnya. Anggota tim lain yang sedang berkumpul di ruang tamu resor dikejutkan oleh temuan Bada. "Wah… keren ini, semalam kita tak bertemu saat menjelajah. Ini adalah bunglon surai sulawesi," pungkas Jefta Natanael, anggota tim yang kesehariannya menjadi staf biodiversitas Fauna & Flora International Program Sulawesi. Tim kemudian menjadikannya sebagai sampel untuk diteliti lebih lanjut. Kami jadi teringat akan penemuan spesies serupa di lokasi yang sama. Belum lama ini, Mei 2026. Kala itu, Kamaruddin Delon menemukannya, kemudian mengabari Kamajaya dan Nur Rahmah, Pengendali Ekosistem Hutan taman nasional. Penemuan perdana di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (TN Babul) pada tahun 2017. Adalah Syamsuddin Jack menemukannya di hutan karst Karaenta, Resor Pattunuang. Temuan yang cukup spektakuler karena perjumpaan terakhir pada tahun 1915 oleh Nelly de Rooij yang terangkum dalam bukunya berjudul "The Reptiles of the Indo-Australian Archipelago". Pada buku tersebut, Rooij menuliskan bahwa ia menjumpainya di Bantimurung. Rentang waktu 102 tahun tersebut mengindikasikan bahwa spesies bunglon surai ini tidaklah melimpah. Awal Riyanto, peneliti BRIN, menyebutkan dalam artikel jurnalnya bahwa spesies ini termasuk langka. Menurutnya, saat ini hanya terdapat kurang dari 20 spesimen pemilik nama Latin Bronchocela celebensis di museum. "Itu pun koleksi spesimennya hanya berasal dari Sulawesi Utara," tambah Awal dalam artikelnya. Ketiga perjumpaan terakhir, ditemukan di habitat hutan karst. Hutan karst yang otentik di taman nasional ini menjadi habitat bagi beragam satwa liar. Meski sebenarnya tak banyak spesies tumbuhan yang mampu bertahan pada lingkungan miskin hara itu. Menurut beberapa referensi, secara umum di alam liar, bunglon surai menjadi predator bagi serangga seperti kupu-kupu, ngengat, jangkrik, dan belalang. Mereka mengontrol jumlah populasi serangga tersebut di hutan. Bunglon surai juga menjadi incaran satwa lainnya seperti monyet hiyam sulawesi, Macaca maura. Begitulah alam bekerja. Ada transfer energi. Ada proses makan dan dimakan. Menjadi mekanisme alami untuk menjaga keseimbangan alam. Mengapa disebut bunglon surai? Satwa endemik Sulawesi ini termasuk dalam genus Bronchocela. Genus ini memiliki ciri khas berupa surai atau gerigi pada leher hingga tengkuk yang menyerupai jambul. Keunikan lain dari sang bunglon adalah ekornya yang panjang. Ekor bisa tiga kali lebih panjang dari tubuhnya. Nama umumnya cukup mengerikan: Sulawesi Bloodsucker alias pengisap darah sulawesi. Menyerupai vampir. Padahal pada kenyataannya ia aktif di siang hari. Tak seperti vampir seperti cerita di film horor, beraktivitas di malam hari. Makanannya pun hanya serangga. Nama Bloodsucker bisa jadi disematkan padanya karena kemampuannya berubah warna dari hijau muda menjadi cokelat kemerahan. Dari sanalah peneliti terdahulu melihat perubahan warna itu seolah sang bunglon telah mengisap darah. Warna merah segar nampak pada kepala hingga leher. Warna cokelat kemerahan itu terjadi apabila sang bunglon merasa terancam dan sedang musim kawin. Boleh jadi warna merah pada bagian tertentu itu menjadi daya tarik jantan pada betina. Semoga sang satwa terus bergeliat di hutan karst taman nasional. Menyeimbangkan populasi serangga di alam. Peran tersebut juga begitu berfaedah bagi petani di sekitar kawasan pelestarian alam ini. Sumber: Taufiq Ismail & Kamajaya Shagir (PEH) Balai TN Bantimurung Bulusaraung
Baca Artikel

Kaloykoy Muda dari Gunung Besar, Bonus Tak Terduga di Tengah Patroli Api

Gresik, 23 September 2026. Patroli hari itu tidak sedang mencari elang. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama MMP Bawean Lestari bergerak menyusuri Blok Gunung Besar untuk pencegahan kebakaran hutan (14/09/2026). Namun di tengah jalur yang terjal, perhatian Tifan Nur Rizal justru tertahan pada tajuk. Seekor Elang-ular Bawean (Spilornis cheela baweanus) bertengger di antara dedaunan. Bulu mudanya masih kentara. Beberapa saat kemudian, raptor yang oleh masyarakat Bawean dikenal sebagai Kaloykoy itu terlihat mengepak dan melayang di atas Gunung Besar. Sebuah bonus yang tidak direncanakan. “Di area ini kami cukup sering menjumpai elang, baik saat soaring, bertengger maupun dari suaranya. Tantangannya justru medan. Jalurnya ekstrem, terjal, dan perbukitannya curam,” kata Tifan, anggota MMP Bawean Lestari. Menurut Tifan, medan sulit tidak mengurangi daya tarik Gunung Besar. Dalam patroli karhut maupun Smart Patrol, tim berulang kali menjumpai beragam satwa yang memanfaatkan koridor tersebut. Selain Kaloykoy, catatan lapangan antara lain merekam Pergam Hijau, Punai Gading, Tiong Emas, Raja-Udang Punggung-Merah, Merbah Belukar, Pelanduk Asia, Burung-Madu Sriganti, sejumlah jenis Katak, Ular Siput, Biawak Air, Monyet Ekor Panjang hingga Kalong buah besar. Hutan suksesi di Gunung Besar, bagi tim, bukan sekadar tutupan vegetasi. Di sanalah burung pemangsa terbang, burung pemakan buah berpindah, reptil bersembunyi, dan mamalia memanfaatkan ruang hidupnya. Perjumpaan dengan Kaloykoy muda menjadi lebih menarik karena tim dapat mengamati keberadaannya dari waktu ke waktu. “Kami bahagia bisa melihat langsung keberlangsungan dan tahapan tumbuh kembang individu tersebut. Walaupun sampai sekarang belum menemukan sarang raptor, itu tidak menyurutkan semangat kami untuk terus melakukan pemantauan keberadaan dan observasi secara bertahap di setiap wilayah jelajah patroli,” tambah Tifan. Temuan juvenil tentu belum cukup untuk menyimpulkan kondisi populasi, keberhasilan reproduksi, lokasi sarang ataupun luas wilayah jelajah Kaloykoy. Namun setiap perjumpaan adalah potongan informasi yang berharga, terutama bila terus dicatat secara konsisten. Di situlah patroli kebakaran menemukan makna lain. Di bawah tajuk, petugas membaca tanda-tanda api. Di atas mereka, seekor elang muda sedang belajar mengenali dunianya. Keduanya dipertemukan oleh satu hal, habitat. Menjaga hutan dari kebakaran berarti menjaga lebih dari pohon. Ia menjaga tempat bertengger, sumber pakan, jalur pergerakan, dan ruang tempat satwa tumbuh. Hari itu, Gunung Besar memberikan hadiah kecil kepada para penjaganya. Kaloykoy muda masih terbang di langit Bawean. Sarangnya memang belum ditemukan, tetapi ceritanya belum selesai. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda), Agus Irwanto (Editor) dan Tifan Nur Rizal (Foto) – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 33–48 dari 2.667 publikasi