Minggu, 23 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Alam Tak Bisa Dijaga Sendirian, HKAN 2026 Mengingatkan Kita untuk Kembali Bekerja Bersama

Hari Konservasi Alam Nasional bukan sekadar perayaan tentang alam yang telah berhasil dijaga. Ia adalah pengingat bahwa masih banyak kehidupan yang membutuhkan ruang, kepedulian, dan keberanian kita untuk menjaganya Sidoarjo, 10 Agustus 2026. Menjaga alam hampir tidak pernah menjadi pekerjaan yang selesai dalam satu hari. Ada petugas yang pagi-pagi sudah masuk hutan untuk memeriksa batas kawasan. Ada yang bergerak ketika telepon berdering malam hari karena seekor satwa liar ditemukan terluka. Di tempat lain, masyarakat datang membawa satwa yang selama ini dipelihara dan menyerahkannya dengan sukarela. Sementara mahasiswa dan peneliti menghabiskan waktu berjam-jam mengukur, mencatat, memotret, atau sekadar menunggu sesuatu bergerak di balik tajuk. Banyak dari pekerjaan itu tidak terlihat. Tidak semuanya menghasilkan gambar yang menarik. Tidak semuanya menjadi berita. Bahkan tidak sedikit yang berakhir tanpa temuan apa pun. Tetapi konservasi memang sering bekerja seperti itu: pelan, panjang, dan terkadang hening. Hari ini, 10 Agustus 2026, pekerjaan-pekerjaan tersebut menemukan ruang untuk direnungkan kembali melalui peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN). Tahun ini, semangat “Konservasi Alam, Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia” membawa satu pesan yang terasa semakin relevan, tentang alam yang luas dan persoalannya cukup kompleks untuk diserahkan kepada satu institusi saja. Bagi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), kalimat kerja bersama itu bukan perkara membagi pekerjaan. Lebih dari itu, ia adalah cara memandang konservasi. Sebab hutan tidak pernah berdiri sendiri. Ia terhubung dengan sungai, desa, sawah, kebun, pesisir, laut, satwa liar, dan manusia yang hidup di sekelilingnya. Begitu pula konservasi. Konservasi yang Keluar dari Pagar Kawasan Selama bertahun-tahun, konservasi kerap dibayangkan sebagai urusan menjaga kawasan, mulai memasang pal batas, melakukan patroli, mencegah perburuan, atau memastikan hutan tetap berdiri. Semua itu tetap penting. Namun, persoalan konservasi hari ini bergerak jauh melampaui pagar kawasan. Satwa liar dapat keluar dari habitat dan bersinggungan dengan manusia. Perdagangan tumbuhan dan satwa liar bergerak melalui jaringan yang panjang. Kebakaran dapat bermula dari luar kawasan. Tumbuhan asing invasif perlahan dapat mengubah komposisi ekosistem. Perubahan tutupan lahan di daerah penyangga dapat memutus hubungan antarkantong habitat. Air bahkan tidak pernah bertanya apakah ia sedang mengalir di dalam atau di luar kawasan konservasi. Begitu pula burung yang terbang melintasi hutan, kebun, desa, kemudian kembali ke tajuk. Alam tidak mengenal batas administrasi sebagaimana manusia menggambarnya di atas peta. Karena itu, menjaga kawasan konservasi tidak mungkin dilakukan dengan memunggungi bentang alam di sekitarnya. Di Jawa Timur, tantangan tersebut hadir dalam bentuk yang sangat beragam. Ada hutan pegunungan, karst, lahan basah, pesisir, pulau-pulau kecil hingga ekosistem yang berada sangat dekat dengan ruang hidup manusia. Masing-masing membawa persoalan dan membutuhkan cara penanganan yang berbeda. Tidak ada satu resep konservasi yang dapat digunakan untuk semuanya. Kerja Bersama Bukan Sekadar Duduk Bersama Tema HKAN 2026 menjadi penting justru karena kata “bersama” mudah sekali diucapkan. Yang lebih sulit adalah menjadikannya cara bekerja. Bagi Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., konservasi tidak mungkin lagi diletakkan hanya di pundak petugas. “Konservasi tidak akan pernah cukup jika hanya dikerjakan oleh petugas. Pemerintah memiliki mandat, tetapi alam kita sangat luas untuk dijaga sendiri. Ada masyarakat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, peneliti, dunia usaha, komunitas, media, dan generasi muda yang semuanya memiliki ruang untuk mengambil bagian,” ujarnya. Kerja bersama itu bisa dimulai dari hal yang sangat sederhana Seorang warga yang melaporkan keberadaan satwa liar sudah menjadi bagian dari konservasi. Mahasiswa yang belajar mengenali keanekaragaman hayati juga sedang mengambil bagian. Masyarakat yang memilih tidak menangkap burung, tidak membeli satwa liar, atau menjaga sumber air di desanya melakukan pekerjaan yang mungkin terlihat kecil, tetapi menentukan. Begitu pula peneliti yang menghadirkan data agar keputusan pengelolaan tidak dibuat berdasarkan dugaan. Konservasi pada akhirnya memang bukan monopoli orang yang memakai seragam. Ia bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja. Communication as Conservation Solution Ada satu hal lain yang selama beberapa tahun terakhir terus didorong Balai Besar KSDA Jawa Timur bagaimana komunikasi menjadi bagian dari solusi konservasi. Semangat itu dirangkum dalam satu gagasan “Communication as Conservation Solution.” Konservasi selama ini memiliki banyak cerita baik, tetapi tidak semuanya berhasil sampai kepada masyarakat. Petugas memahami apa yang terjadi di lapangan. Peneliti memiliki data. Pemerintah memiliki kebijakan. Masyarakat mempunyai pengetahuan dan pengalaman hidup berdampingan dengan alam. Persoalannya, semua pengetahuan itu terkadang berjalan di ruangnya masing-masing. Di sinilah komunikasi menjadi penting. Bukan sekadar membuat publikasi atau mengunggah kegiatan ke media sosial. Komunikasi konservasi adalah bagaimana bahasa ilmiah dapat dipahami masyarakat, bagaimana kebijakan tidak berhenti sebagai dokumen, bagaimana persoalan lapangan dapat sampai kepada pengambil keputusan, dan bagaimana suara masyarakat dapat didengar dalam pengelolaan kawasan. Nur Patria melihat komunikasi sebagai jembatan yang sering menentukan berhasil atau tidaknya sebuah upaya konservasi. “Kita bisa memiliki data yang baik, regulasi yang kuat, dan petugas yang bekerja di lapangan. Tetapi ketika pesan konservasi tidak sampai kepada masyarakat, akan selalu ada jarak. Karena itu kami terus mendorong semangat Communication as Conservation Solution. Komunikasi bukan sekadar menceritakan apa yang kita kerjakan. Komunikasi harus mampu membangun pemahaman, kepercayaan, lalu menggerakkan kepedulian menjadi tindakan,” tambahnya. Sebab tidak semua persoalan konservasi harus berakhir dengan penindakan. Sebagian dapat dicegah melalui percakapan. Sebagian selesai karena masyarakat memahami. Sebagian lainnya berubah ketika seseorang yang sebelumnya tidak peduli akhirnya merasa memiliki. Di situlah komunikasi menemukan tempatnya dalam konservasi. Dari Menyelamatkan Satwa hingga Menjaga Sebuah Bentang Alam. Di lapangan, konservasi jarang berjalan sebagaimana rencana di atas kertas. Kadang sebuah perjalanan dimulai hanya karena laporan singkat dari masyarakat. Seekor burung ditemukan jatuh. Ular masuk ke permukiman. Satwa terluka membutuhkan pertolongan. Atau masyarakat menemukan sesuatu yang tidak biasa di sekitar hutan. Dari laporan kecil semacam itulah pekerjaan bisa berkembang menjadi penyelamatan satwa, identifikasi, pemeriksaan kesehatan, pelepasliaran, penelitian, bahkan evaluasi pengelolaan habitat. Di tempat lain, petugas berjalan mengikuti jalur patroli. Mereka membaca jejak kaki, bekas pakan, suara burung, pohon tumbang, mata air, atau perubahan vegetasi. Hutan menyimpan informasi dengan caranya sendiri. Tugas manusia adalalah cukup sabar untuk membacanya. Karena itu, pekerjaan konservasi sesungguhnya tidak selalu tentang menyelamatkan seekor satwa. Kadang yang harus diselamatkan adalah habitatnya. Kadang koridornya. Kadang sumber airnya. Dan pada situasi tertentu, yang perlu diperbaiki justru hubungan manusia dengan alam di sekitarnya. HKAN dan Pertanyaan yang Seharusnya Kita Renungkan Hari Konservasi Alam Nasional memiliki sejarah panjang dalam perjalanan konservasi Indonesia. Namun sebuah peringatan akan kehilangan makna apabila hanya selesai pada seremoni, spanduk, penanaman pohon, atau unggahan media sosial. Pertanyaan terpenting justru muncul setelah semuanya selesai. Apa yang berubah setelah 10 Agustus? Apakah semakin banyak orang memahami mengapa satwa liar sebaiknya tetap berada di alam? Apakah semakin banyak masyarakat berani melapor ketika menemukan perdagangan ilegal satwa? Apakah sumber air semakin dijaga? Apakah habitat semakin baik? Apakah konflik antara manusia dan satwa dapat dikurangi? Dan yang paling sederhana, apakah konservasi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat? Nur Patria menyebut ukuran keberhasilan HKAN justru berada pada hari-hari setelah peringatannya berlalu. "HKAN tidak boleh selesai pada tanggal 10 Agustus. Justru setelah itu pekerjaan sesungguhnya dimulai kembali. Kalau peringatan ini mampu membuat satu orang lebih peduli, satu komunitas mulai bergerak, satu desa menjaga sumber airnya, atau seorang anak mulai mengenal satwa liar di sekitarnya, di situlah konservasi mulai tumbuh menjadi budaya,” tegasnya. Yang Kita Jaga Sesungguhnya Adalah Masa Depan Barangkali kita tidak pernah benar-benar mengetahui seperti apa Jawa Timur tiga puluh atau lima puluh tahun mendatang. Tetapi keputusan yang dibuat hari ini akan ikut menentukan wajahnya. Pohon yang ditanam hari ini mungkin baru menjadi tajuk besar ketika penanamnya telah menua. Satwa yang habitatnya kita pertahankan mungkin akan berkembang biak jauh setelah sebuah kegiatan konservasi selesai. Mata air yang dijaga hari ini mungkin kelak mengalir untuk anak-anak yang bahkan belum lahir. Konservasi memang memiliki cara yang aneh dalam mengajarkan manusia tentang waktu. Kita bekerja hari ini untuk sesuatu yang hasilnya mungkin dinikmati orang lain. Dan mungkin justru di situlah letak nilai terbesarnya. HKAN 2026 mengingatkan bahwa merawat alam Indonesia tidak membutuhkan semua orang menjadi ahli konservasi. Kita hanya perlu semakin banyak orang yang bersedia mengambil bagian. Ada yang menjaga hutan. Ada yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Ada yang mendidik. Ada yang melapor. Ada yang menyelamatkan satwa. Ada yang menanam. Ada pula yang mengambil peran dengan cara sederhana tetapi tidak kalah penting adalah menceritakan mengapa semua pekerjaan itu harus dilakukan. Sebab sesuatu yang tidak dikenal akan sulit dicintai. Sesuatu yang tidak dipahami akan sulit dibela. Dan sesuatu yang tidak pernah diceritakan perlahan dapat dilupakan. Itulah mengapa “Communication as Conservation Solution” bukan sekadar slogan bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur. Ia adalah pengingat bahwa konservasi membutuhkan percakapan yang terus hidup, antara ilmu pengetahuan dan masyarakat, antara kebijakan dan kenyataan lapangan, antara manusia dan alam yang selama ini menopang kehidupannya. Hari ini, 10 Agustus 2026, kita mungkin memperingati Hari Konservasi Alam Nasional. Besok, spanduk akan diturunkan. Acara selesai. Orang-orang kembali kepada pekerjaannya masing-masing. Tetapi alam tidak pernah memiliki hari libur. Maka pekerjaan itu harus terus berjalan. Bukan hanya oleh mereka yang bekerja di dalam kawasan konservasi. Oleh kita semua. Selamat Hari Konservasi Alam Nasional 2026. Konservasi Alam, Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia. Communication as Conservation Solution. Karena alam tak bisa dijaga sendirian. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Saat Ijen Kembali Diuji, Konservasi Menjadi Bagian dari Cerita Besarnya

Banyuwangi, 10 Agustus 2026. Dua orang asesor internasional berjalan menelusuri sejumlah titik di Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Rabu, 5 Agustus 2026. Mereka datang dari Jerman dan Cina. Kedatangan keduanya menjadi bagian dari proses Revalidasi II Ijen UNESCO Global Geopark. Yang mereka lihat bukan hanya kawah. Ada pos pengendalian kebakaran hutan dan lahan, sistem pelayanan pengunjung, loket masuk, pusat informasi, hingga papan informasi geopark. Satu demi satu titik itu dikunjungi untuk melihat bagaimana sebuah bentang alam yang telah mendapat pengakuan dunia dikelola di lapangan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi mendampingi perjalanan tim asesor selama berada di TWA Kawah Ijen. Sebelum kunjungan berlangsung, tim Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi telah menjalin komunikasi dan koordinasi dengan para pihak terkait. Pengecekan lapangan juga dilakukan untuk memastikan kesiapan lokasi dan kelancaran rangkaian kunjungan. Perjalanan dimulai dari Pos Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan/HPKWI. Di tempat itu, perwakilan HPKWI menjelaskan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Ini menjadi bagian yang penting. Sebab di balik panorama Ijen yang dikenal luas, ada pekerjaan lain yang nyaris tak terlihat pengunjung: menjaga kawasan dari berbagai ancaman yang dapat mengganggu kelestarian ekosistem dan keselamatan. Dari pos tersebut, rombongan bergerak menuju loket masuk TWA Kawah Ijen. Tim asesor melihat langsung pelayanan pengunjung sekaligus memperoleh penjelasan mengenai mekanisme pembelian tiket melalui aplikasi AKTN. Perjalanan kemudian berlanjut ke pusat informasi. Di tempat ini, asesor memperoleh berbagai penjelasan mengenai TWA Kawah Ijen. Informasi tentang kawasan menjadi bagian penting untuk memperlihatkan bahwa Ijen bukan hanya bentang alam untuk dilihat, difoto, lalu ditinggalkan. Ada cerita yang lebih besar di baliknya. Rangkaian kunjungan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan papan informasi mengenai Ijen Geopark. Ketika Konservasi Masuk dalam Cerita Ijen Revalidasi menjadi momentum untuk melihat kembali Ijen secara lebih utuh. Sebab sebuah geopark tidak berdiri hanya karena keunikan batuan, kawah, atau proses geologi yang membentuknya. Di dalam bentang alam yang sama terdapat ekosistem, tumbuhan dan satwa liar, masyarakat, aktivitas wisata, pendidikan, pengetahuan lokal, hingga berbagai kepentingan yang saling bertemu. Di sinilah konservasi menjadi bagian dari cerita besar Ijen. TWA Kawah Ijen memiliki mandat yang melampaui urusan kunjungan wisata. Sebagai kawasan konservasi, pengelolaannya juga membawa tanggung jawab menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem, sekaligus memastikan pemanfaatannya berlangsung secara lestari. Maka ketika Ijen kembali diuji, pertanyaannya bukan semata apakah kawahnya masih memesona. Yang tak kalah penting adalah bagaimana nilai alam disekelilingnya terjaga. Bagaimana risiko kebakaran dikendalikan. Bagaimana pengunjung dikelola. Bagaimana informasi disampaikan. Dan bagaimana sebuah kawasan yang semakin dikenal dunia tetap memiliki ruang bagi proses-proses alam untuk berlangsung. Pengakuan internasional tentu penting. Tetapi predikat tidak pernah menjadi akhir dari pekerjaan konservasi. Justru semakin besar perhatian dunia terhadap sebuah kawasan, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan nilai yang membuatnya istimewa tidak perlahan hilang karena popularitasnya sendiri. Kunjungan dua asesor itu pada akhirnya hanya berlangsung dalam hitungan waktu. Mereka datang, melihat sejumlah titik, mencatat, lalu melanjutkan proses penilaian. Sementara Ijen akan tetap di sana. Dengan kawahnya. Hutannya. Keanekaragaman hayatinya. Para petugas yang menjaganya. Masyarakat yang hidup di sekitarnya. Dan ribuan orang yang datang untuk menyaksikan salah satu bentang alam paling dikenal dari Jawa Timur. Karena Ijen tidak cukup hanya dikenal dunia. Cerita besarnya justru terletak pada bagaimana kita menjaganya agar tetap layak diwariskan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Konservasi Fun Trail Run 2026, Padukan Olahraga dan Aksi Nyata Pelestarian Alam

Bengkulu, 9 Agustus 2026– Menyambut Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2026 Balai KSDA Bengkulu menyelenggarakan Konservasi Fun Trail Run 2026 (KOFTRUN 2026) series Pantai Panjang dan Pulau Baai bekerja sama dengan Z4 Event Organizer sebagai upaya untuk mengajak masyarakat berpartisipasi dalam pelestarian kawasan konservasi melalui kegiatan olahraga dan edukasi lingkungan. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar200 peserta dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas lari, instansi pemerintah, pelajar, hingga masyarakat umum. Kegiatan secara resmi dibuka melalui flag off oleh Asisten III Pemerintah Kota Bengkulu. Kehadiran Beliau menjadi bentuk dukungan Pemerintah Kota Bengkulu terhadap upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistem melalui pendekatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Mengusung kategori 5 Kilometer (5K), peserta menempuh rute yang melintasi kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai. Jalur ini dipilih untuk memperkenalkan kekayaan alam Bengkulu sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kawasan konservasi sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna. Selain kegiatan KOFTRUN 2026, rangkaian HKAN 2026 juga melaksanakan kegiatan konservasi berupapelepasan tukik penyu lekang (Lepidochelys olivacea) dan elang bondol (Haliastur indus)ke habitat alaminya. Pelepasliaran satwa tersebut menjadi simbol komitmen bersama dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan satwa liar dan ekosistemnya. Kepala Balai KSDA Bengkulu Agung Nugroho, S.Si., M.A., menyampaikan bahwa KOFTRUN 2026 merupakan salah satu inovasi dalam mengampanyekan konservasi melalui pendekatan yang sehat, edukatif, dan menyenangkan. "Konservasi merupakan tanggung jawab bersama. Melalui Konservasi Fun Trail Run 2026, kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami pentingnya menjaga kawasan konservasi beserta seluruh keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan organisasi mitra menjadi kunci keberhasilan upaya pelestarian alam yang berkelanjutan," ujarnya. Keberhasilan penyelenggaraan KOFTRUN 2026 tidak terlepas dari dukungan berbagai mitra yang memiliki komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Balai KSDA Bengkulu menyampaikan apresiasi dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada seluruh mitra, sponsor, serta media partner atas dukungan dan kontribusi yang telah diberikan, sehingga kegiatan ini dapat terselenggara dengan baik dan lancar. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, organisasi konservasi, dan masyarakat merupakan implementasi nyata semangat gotong royong dalam menjaga kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Sinergi ini diharapkan dapat terus diperkuat untuk mendukung berbagai program konservasi di Provinsi Bengkulu. Melalui KOFTRUN 2026, Balai KSDA Bengkulu berharap kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan dengan series berbeda dan mampu untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi, memperkuat kolaborasi antar pemangku kepentingan, serta mempromosikan kawasan Taman Wisata Alam Pantai Panjang dan Pulau Baai sebagai destinasi wisata alam yang memberikan manfaat ekologis, edukatif, dan rekreatif bagi masyarakat. Kesuksesan pelaksanaan kegiatan KOFTRUN 2026 diharapkan juga dapat berlanjut untuk kegiatan Konservasi Fun Trail Run series berikutnya. Sumber: Balai KSDA Bengkulu Narahubung: - Mariska Tarantona, S.Hut., M.Si. (Ka. Seksi KSDA Wil. II-BKSDA Bengkulu): +62 813-9029-9354 - Call Center Balai KSDA Bengkulu: +628117388100
Baca Artikel

Puluhan Bibit Ditanam, Giat Pemulihan Dimulai dari Bermi

Probolinggo, 12 Agustus 2026. Sejumlah tangan bertemu di Bermi. Ada petugas konservasi, aparat kewilayahan, pemerintah kecamatan, pengelola hutan, hingga mereka yang sehari-hari hidup dari denyut wisata alam: pemandu, porter, pengemudi ojek, hingga pelaku open trip. Mereka datang dengan latar belakang berbeda. Namun pagi itu, di Pos Bermi, Desa Bermi, Kecamatan Krucil, Kabupaten Probolinggo, semuanya melakukan pekerjaan yang sama: menanam kehidupan, Senin (10/08/2026). Sebanyak 94 bibit Kelengkeng, Jambu, Durian, Rambutan, dan Alpukat disiapkan dalam Giat Pemulihan Ekosistem yang dilaksanakan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Sebagian ditanam secara simbolis, sementara bibit lainnya dibagikan kepada masyarakat sekitar untuk ditanam dan dirawat. Angka 94 mungkin terlihat kecil di tengah bentang alam Jawa Timur yang begitu luas. Namun HKAN tahun ini memang membawa pesan yang jauh melampaui hitungan jumlah pohon. “Konservasi Alam: Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia.” Tema ini menemukan bentuk sederhananya di Bermi. Banyak Tangan untuk Satu Alam Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional bukan sekadar penanda tanggal dalam kalender lingkungan Indonesia. Setiap 10 Agustus, HKAN menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa menjaga alam tidak pernah dapat diselesaikan oleh satu institusi, satu profesi, apalagi hanya oleh mereka yang mengenakan seragam konservasi. Di Bermi, pesan tersebut terlihat dari siapa saja yang datang. Balai Besar KSDA Jawa Timur melibatkan Kepolisian Sektor Krucil, Camat Krucil, Koramil 0820/25 Krucil, Batalyon Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 836/Brahma Yodha, Perhutani, serta para pelaku wisata Bermi—mulai dari penyelenggara open trip, pengemudi ojek, guide, hingga porter. Ada alasan penting mengapa mereka perlu berada dalam satu ruang. Sebab alam yang terjaga pada akhirnya bukan hanya urusan petugas konservasi. Hutan menyediakan ruang hidup bagi satwa liar, menjaga tanah, menyimpan air, menyangga kehidupan masyarakat, sekaligus menghadirkan bentang alam yang kemudian menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Ketika tutupan vegetasi berkurang, sumber air terganggu, sampah bertambah, api datang, atau pemanfaatan berlangsung melampaui daya dukung, dampaknya tidak mengenal batas administrasi maupun seragam kelembagaan. Karena itulah, kerja konservasi sesungguhnya dimulai ketika batas-batas itu dilebur. Menanam Pohon Adalah Bagian yang Paling Mudah Ada romantisme yang selalu menyertai kegiatan menanam pohon. Tanah digali. Bibit dimasukkan. Akar ditutup kembali. Kamera mengabadikan momen. Orang-orang kemudian meninggalkan lokasi. Namun hutan tidak tumbuh dari seremoni. Menanam justru merupakan awal dari perjalanan yang panjang. Bibit harus bertahan melewati panas, hujan, kompetisi dengan tumbuhan lain, gangguan manusia maupun berbagai tekanan lingkungan. Ada yang akan tumbuh, ada yang mungkin mati. Karena itu, keberhasilan pemulihan ekosistem tidak semestinya berhenti pada berapa banyak bibit yang berhasil masuk ke tanah, tetapi seberapa banyak yang kemudian hidup, tumbuh, dan memberi fungsi ekologis. Di titik itulah makna kata “merawat” dalam tema HKAN 2026 menjadi penting. Merawat membutuhkan waktu. Merawat membutuhkan konsistensi. Dan yang lebih penting, merawat membutuhkan orang-orang yang bersedia kembali ketika seremoni telah usai. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa semangat HKAN semestinya tidak selesai pada peringatan satu hari. “Menanam adalah simbol yang penting, tetapi konservasi tidak berhenti ketika bibit selesai ditanam. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana kita menjaganya agar tumbuh dan bagaimana semangat kerja bersama itu tetap hidup setelah Hari Konservasi Alam Nasional berlalu. Alam tidak membutuhkan kita hanya pada tanggal 10 Agustus. Alam membutuhkan kepedulian kita setiap hari,” ujar Nur Patria. Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur masyarakat di Bermi menjadi gambaran bahwa konservasi harus bergerak melampaui batas kelembagaan. “Petugas tidak mungkin menjaga alam sendirian. Pemerintah daerah, TNI, Polri, Perhutani, pelaku wisata, masyarakat, akademisi, komunitas, dan setiap orang yang memperoleh manfaat dari alam mempunyai ruang untuk mengambil bagian. Konservasi akan jauh lebih kuat ketika masyarakat bukan hanya menjadi objek kegiatan, tetapi menjadi bagian dari solusi,” tambahnya. Dari Pohon Buah menuju Hubungan yang Lebih Dekat Pemilihan Kelengkeng, Jambu, Durian, Rambutan, dan Alpukat juga membawa dimensi lain dalam kegiatan di Bermi. Bibit-bibit tersebut memiliki nilai yang mudah dikenali masyarakat. Ketika dibagikan dan kemudian ditanam di lingkungan sekitar, pohon tidak hanya dipandang sebagai batang, daun, dan akar, tetapi sesuatu yang dapat tumbuh bersama kehidupan pemiliknya. Hari ini mungkin hanya setinggi lutut. Beberapa tahun mendatang, ia dapat memberikan keteduhan. Akarnya menahan tanah. Tajuknya menjadi ruang bagi berbagai organisme. Bunganya didatangi serangga. Buahnya mungkin dinikmati sebuah keluarga. Dari hubungan sederhana semacam itulah kesadaran konservasi sering kali tumbuh. Bukan melalui definisi yang rumit, tetapi melalui pengalaman bahwa manusia memperoleh begitu banyak hal ketika sebuah pohon dibiarkan hidup. HKAN Bukan Hanya Milik Orang Konservasi Hari Konservasi Alam Nasional 2026 membawa satu refleksi penting bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur refleksi tentang tantangan konservasi ke depan akan semakin kompleks. Kawasan konservasi tidak berdiri sebagai pulau yang terpisah dari kehidupan manusia. Di sekelilingnya terdapat desa, jalan, aktivitas ekonomi, wisata, pertanian, serta masyarakat dengan kebutuhan dan harapannya masing-masing. Pada saat yang sama, tekanan terhadap keanekaragaman hayati terus berubah. Kebakaran hutan, perambahan, sampah, tumbuhan invasif, konflik manusia dengan satwa liar, hingga meningkatnya aktivitas manusia di sekitar habitat alami membutuhkan pendekatan yang tidak lagi semata-mata bertumpu pada pengamanan kawasan. Konservasi membutuhkan percakapan, kepercayaan, dan keberanian untuk bekerja bersama. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, komunikasi menjadi bagian dari konservasi itu sendiri, Communication as Conservation Solution. Sebab sebuah kawasan tidak mungkin dijaga hanya dengan papan larangan. Satwa liar tidak selalu dapat diselamatkan hanya dengan operasi penyelamatan. Hutan juga tidak dapat dipulihkan hanya dengan menanam bibit. Namun, ada manusia yang perlu diajak memahami, terlibat, dan akhirnya merasa memiliki tanggung jawab yang sama. Ketika Semua Orang Pulang Menjelang kegiatan berakhir, tanah di sekitar bibit-bibit muda di Bermi masih terlihat basah. Barangkali beberapa tahun dari sekarang, tidak semua orang akan mengingat siapa yang menggali lubang pertama, siapa yang memegang bibit, atau siapa yang berdiri bersama dalam foto peringatan HKAN 2026. Dan memang bukan itu yang terpenting. Ukuran keberhasilan sesungguhnya akan terlihat ketika suatu hari orang kembali ke tempat ini dan menemukan pohon-pohon itu masih berdiri, lebih tinggi, lebih rimbun, dan mungkin telah menghasilkan buah. Lebih jauh lagi, keberhasilan itu akan terasa ketika masyarakat di sekitarnya tidak lagi bertanya siapa yang bertanggung jawab menjaga alam, karena jawabannya telah berubah menjadi kita semua. Dari Bermi, Hari Konservasi Alam Nasional 2026 meninggalkan sebuah pesan sederhana. Konservasi bukan tentang siapa yang paling banyak menanam. Bukan pula tentang siapa yang paling lantang berbicara tentang kelestarian. Konservasi adalah tentang siapa yang tetap merawat ketika seremoni selesai, kamera dimatikan, dan semua orang telah pulang. Sumber: Faizah Nur Ainiyah & Fajar Dwi Nur Aji dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Surabaya Tak Hanya Milik Manusia, Dua Alap-Alap Sapi Muncul di Tengah Kepadatan Kota

Surabaya, 13 Agustus 2026. Siapa sangka, di tengah padatnya Kota Surabaya masih ada cerita kehidupan liar yang berlangsung di atas kepala kita. Rabu (12/8), dua ekor Alap-Alap Sapi (Falco moluccensis) berhasil didokumentasikan di halaman Kantor Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Jalan Kutisari Utara XIII/39. Menariknya, kedua burung pemangsa tersebut tidak sendiri. Beberapa Walet linchi (Collocalia linchi) terlihat terbang mendekat dan beberapa kali mengusik keduanya. Perjumpaan dua jenis burung ini menjadi pemandangan menarik di tengah lanskap perkotaan yang semakin padat. Momen tersebut didokumentasikan Tifan Nur Rizal, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari. Terbiasa berkegiatan di bentang alam Pulau Bawean, Tifan mengaku tidak menyangka justru menjumpai Alap-Alap Sapi ketika berada di Surabaya. “Saya tidak menyangka. Selama ini sebagai Masyarakat Mitra Polhut saya banyak berkegiatan di Bawean. Ternyata di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya saya masih bisa menjumpai Alap-Alap Sapi. Apalagi saat itu keduanya terlihat berinteraksi dengan Walet linchi. Ini menarik, karena ternyata ruang udara kota juga digunakan berbagai jenis burung,” ungkap Tifan. Alap-alap sapi merupakan burung pemangsa dari famili Falconidae. Jenis ini dapat dijumpai pada bentang alam terbuka dan mampu memanfaatkan lanskap yang telah mengalami perubahan. Pohon tinggi maupun struktur buatan dapat digunakan sebagai tempat bertengger untuk mengamati lingkungan dan mencari mangsa, seperti serangga berukuran besar dan satwa kecil lainnya. Sementara Walet linchi merupakan burung pemakan serangga yang banyak menghabiskan aktivitasnya di udara dan cukup akrab dengan lingkungan perkotaan. Interaksi yang terlihat di atas langit Kutisari diduga mengarah pada perilaku mobbing, ketika burung berukuran lebih kecil mendekati atau mengusik burung pemangsa yang dianggap sebagai ancaman. Meski demikian, pengamatan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan karakter interaksi tersebut. Tersesat atau Memang Menjelajah Kota? Kemunculan dua Alap-Alap Sapi ini tidak serta merta berarti keduanya tersesat ataupun sedang bermigrasi. Bisa jadi mereka sedang melakukan pergerakan lokal, mencari pakan, atau memanfaatkan ruang-ruang tertentu di Surabaya sebagai bagian dari wilayah jelajahnya. Kota bagi burung tentu berbeda dengan kota dalam pandangan manusia. Pepohonan, taman, sempadan sungai, lahan terbuka hingga bangunan tinggi dapat menjadi bagian dari ruang yang mereka gunakan untuk bergerak, mencari makan ataupun sekadar bertengger. Temuan ini sekaligus membuka ruang bagi masyarakat dan pemerhati burung untuk ikut mencatat keberadaan Alap-Alap Sapi di Surabaya. Jika kembali menjumpainya, masyarakat dapat mendokumentasikan dari jarak aman serta mencatat lokasi, waktu, jumlah individu dan perilakunya tanpa mengejar atau mengganggu satwa. Catatan sederhana semacam ini penting. Jika dilakukan secara berulang, kita mungkin dapat mengetahui apakah Alap-Alap Sapi hanya sesekali melintas atau memang ada bagian-bagian Kota Surabaya yang rutin mereka gunakan. Di bawahnya, Surabaya tetap sibuk dengan kendaraan dan aktivitas manusianya. Namun di atas Kutisari pagi itu, dua Alap-Alap Sapi dan Walet Linchi menyajitkan cerita lain. Surabaya ternyata tak hanya milik manusia. Pertanyaannya, seberapa banyak ruang yang masih kita sisakan agar kehidupan liar tetap memiliki tempat di kota ini? Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Tifan Nur Rizal (Foto) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Cari Jejak Macan Tutul di Gunung Wilis, Kamera Ungkap Cerita Lain

Ponorogo, 11 Agustus 2026. Macan Tutul Jawa yang dicari tak kunjung muncul di layar. Sebanyak 80 kamera pengintai yang ditempatkan pada 40 petak survei di Bentang Alam Gunung Wilis belum merekam satu pun satwa tersebut. Tapi kamera-kamera itu tak pulang dengan tangan kosong. Rekamannya justru membuka cerita lain. Ada Kijang, Lutung Jawa, Trenggiling, Kucing Kuwuk, burung-burung penghuni lantai hutan, hingga Anjing domestik. Di antara lalu-lalang satwa itu, kamera menangkap sesuatu yang tak kalah penting: aktivitas pemburu dan pemikat burung. Hasil pendataan Java-Wide Leopard Survey berupa temuan jejak menunjukkan tidak adanya tanda-tanda keberadaan Macan Tutul Jawa, baik itu tapak, cakaran, kaisan, maupun feses. Namun hasil temuan jejak ini menunjukkan adanya 28 temuan satwa lainnya, beberapa diantaranya tandukan Kijang, sosoran Babi Hutan, suara Lutung Jawa. Meski tidak mendeteksi kehadiran Macan Tutul Jawa pada semua petak survei, bukan berarti Macan Tutul Jawa telah hilang dari Gunung Wilis. Dalam survei satwa liar, tidak terekam kamera bukan berarti tidak ada. Hasil itu baru menunjukkan bahwa selama periode survei dan pada petak survei yang diperiksa, macan tutul jawa belum berhasil dideteksi. Justru dari ketidakhadiran itu, sejumlah pertanyaan baru muncul. Delapan Puluh Mata di Dalam Hutan Kamera-kamera tersebut dipasang sebagai bagian dari Java-Wide Leopard Survey (JWLS), survei berskala luas untuk memperoleh informasi mengenai macan tutul jawa dan ruang hidupnya. Di Bentang Alam Gunung Wilis, sebanyak 80 kamera ditempatkan pada 40 petak survei. Setiap petak dipasang dua kamera dengan posisi saling berhadapan. Bentang surveinya melintasi lima kabupaten: Madiun, Ponorogo, Tulungagung, Kediri, dan Nganjuk. Pengambilan kamera dilaksanakan pada 15-27 Juli 2026 yang lalu. Empat tim diterjunkan untuk menyisir kembali titik-titik pemasangan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), KPH Lawu DS dan KPH Kediri turut mendampingi kegiatan bersama Yayasan SINTAS Indonesia selaku project leader. Ada pihak swasta dalam hal ini PT Djarum selaku donor, dan organisasi lokal selaku pelaku utama di tingkat tapak. Sebelum bergerak ke lapangan, seluruh tim mendapat pengarahan di basecamp utama, Desa Wotan, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Survei ini bukan sekadar perburuan foto seekor macan tutul. JWLS diharapkan dapat memperoleh informasi mengenai struktur populasi Macan Tutul Jawa serta preferensi terhadap satwa mangsanya. Data tersebut diperlukan sebagai bahan untuk menilai Population and Viability Analysis (PVA) sekaligus mendukung pembaruan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Macan Tutul Jawa. Selain kamera pengintai, kegiatan JWLS juga melakukann pendataan jejak atau tanda-tanda keberadaan macan tutul jawa dan satwa lainnya, serta pengambilan sampel feses untuk analisis genetik. Ada banyak cara membaca keberadaan satwa liar. Kamera hanyalah salah satunya. Macan Belum Muncul, Penghuni Lain Bermunculan Data sementara mencatat tak satu pun dari 40 stasiun mendeteksi Macan Tutul Jawa. Tapi hutan ternyata jauh dari kosong. Berdasarkan pemindaian rekaman kamera pengintai secara cepat, Musang Luwak terdeteksi pada 33 dari 40 petak. Kijang muncul pada 30 petak. Monyet Ekor Panjang dan Landak Jawa masing-masing ditemukan pada 29 petak. Ada pula Biul Slentek, Musang Rase, Babi, Linsang, Bajing Tiga Garis, Musang Leher Kuning, Tupai, Lutung Jawa, Bajing Kelapa, Garangan Jawa, Kucing Kuwuk, hingga Pelanduk Kancil. Saat ini tim database SINTAS masih melakukan proses identifikasi spesies sehingga hasil akhirnya masih dapat berubah. Angka menunjukkan jumlah petak tempat suatu jenis terdeteksi. Karena itu, data kamera pengintai tidak dapat serta-merta diterjemahkan sebagai jumlah populasi satwa. Ia lebih menyerupai kepingan informasi, siapa yang masih menggunakan ruang itu dan di bagian mana mereka muncul. Trenggiling Peusing dalam Gelap Satu rekaman mendapat perhatian khusus, Trenggiling Peusing, dalam paparan hasil sementara JWLS Gunung Wilis. Satwa bersisik tersebut ditempatkan sebagai salah satu temuan satwa terancam. Kamera merekamnya ketika melintas di tengah gelap. Keberadaan Trenggiling memperlihatkan bahwa kamera yang dipasang untuk mencari predator ternyata memberikan informasi lebih luas mengenai keanekaragaman hayati Gunung Wilis. Lutung jawa ikut tertangkap kamera. Begitu pula kucing kuwuk, landak jawa, musang rase, linsang, serta musang leher kuning. Tetapi ada pula penghuni yang berbeda. Anjing domestik terdeteksi pada sejumlah petak. Kucing domestik juga muncul dalam rekaman. Dokumentasi hasil sementara JWLS bahkan memperlihatkan anjing domestik berada dalam lanskap yang juga digunakan berbagai satwa liar. Satu bentang alam. Banyak pengguna ruang. Burung-Burung Ikut Masuk Bingkai Cerita tidak berhenti pada mamalia. Puyuh Gonggong Jawa terdeteksi pada 15 petak. Ayam Hutan Merah dan Paok Pancawarna masing-masing pada 12 petak. Kamera juga merekam Anis Sisik, Elang Ular Bido, Delimukan Zamrud, Ciung Batu Jawa, Ciung Batu Kecil, Anis Hutan, Cendet Jawa, Cucak Kopi, Merpati, hingga Uncal. Sebagian terekam kamera dengan cukup jelas. Paok pancawarna berjalan di lantai hutan. Delimukan zamrud muncul di antara serasah. Ayam hutan merah berdiri di antara vegetasi. Mereka bukan sasaran utama JWLS. Namun justru itulah salah satu nilai kamera pengintai. Sebuah perangkat yang ditempatkan untuk mencari satu spesies dapat membuka jendela menuju komunitas satwa yang lebih luas. Lalu Manusia Masuk Bingkai Ada bagian lain dari kartu memori yang membutuhkan perhatian lebih serius. Manusia. Hasil sementara menunjukkan 10 dari 40 petak survei mendeteksi gangguan di bentang alam Gunung Wilis, berupa aktivitas pemburu, pemburu burung, dan pemikat burung. Foto-fotonya tersimpan bersama rekaman satwa. Temuan tersebut tidak dapat digunakan untuk menggambarkan seluruh kondisi bentang alam Gunung Wilis. Namun, keberadaannya merupakan informasi penting yang perlu menjadi bagian dari pembacaan kondisi habitat dan tekanan terhadap satwa liar. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. menilai hasil sementara JWLS perlu dibaca secara utuh, tidak hanya dari berhasil atau tidaknya kamera merekam Macan Tutul Jawa. “Tidak terekamnya Macan Tutul Jawa pada kamera pengintai bukan alasan untuk buru-buru menyimpulkan bahwa satwa itu tidak ada di Gunung Wilis. Justru seluruh informasi yang diperoleh, keberadaan satwa lain, kondisi habitat, hingga indikasi gangguan, harus dibaca sebagai satu kesatuan. Konservasi Macan Tutul pada akhirnya adalah konservasi bentang alam dan seluruh kehidupan yang menopangnya,” kata Nur Patria. Menurutnya, rekaman aktivitas perburuan dan pemikatan burung juga menjadi catatan yang perlu ditindaklanjuti secara proporsional melalui penguatan pengelolaan, pemantauan, serta pendekatan kepada para pihak di tingkat tapak. “Kita tidak hanya mencari di mana macan tutul berada. Kita juga harus memahami apakah ruang hidupnya masih cukup aman, apakah satwa mangsanya masih tersedia, dan tekanan apa yang terjadi di dalam bentang alam. Data seperti inilah yang membantu pengelolaan bergerak berdasarkan fakta lapangan,” tambahnya. Ketiadaan Juga Sebuah Data Pertanyaan kemudian kembali kepada sasaran utama survei. Ke mana Macan Tutul Jawa? Data sementara belum dapat menjawabnya. Yang dapat dinyatakan untuk saat ini hanyalah: Macan Tutul Jawa belum terekam pada 40 stasiun kamera pengintai yang diperiksa dalam kegiatan tersebut. Tidak lebih. Menyimpulkan Macan Tutul Jawa tidak ada di Gunung Wilis hanya dari hasil itu akan terlalu dini, karena satwa liar bergerak dalam ruang yang luas. Peluang sebuah kamera bertemu dengan satwa dipengaruhi beberapa faktor seperti lokasi pemasangan, luas wilayah jelajah, karakter habitat, waktu survei, hingga perilaku satwa itu sendiri. Karena itu, hasil tanpa deteksipun tetap memiliki nilai. Data tersebut perlu dibaca bersama distribusi satwa lainnya, kondisi tutupan dan konektivitas habitat, tekanan manusia, temuan lapangan, serta informasi ilmiah lain yang tersedia. Di titik itulah JWLS menjadi lebih dari sekadar memasang kamera. Ia adalah usaha membaca sebuah bentang alam. Cerita Lain dari Gunung Wilis Delapan puluh kamera kini telah kembali dari hutan, dan sang Macan belum muncul di dalam bingkai. Namun kartu memori membawa cerita lain tentang satwa-satwa yang melintas didepannya. Ada kehidupan. Ada pula tekanan. Dua wajah itulah yang sementara terbaca dari Gunung Wilis. JWLS pada akhirnya mengingatkan bahwa konservasi Macan Tutul Jawa tidak cukup dilakukan dengan menghitung berapa kali sang predator tertangkap kamera. Tetapi juga dengan menjaga hutan, mangsa, konektivitas habitat, dan ruang yang membuat seluruh kehidupan di dalamnya masih mungkin bertahan. Dan akhirnya ada satu pertanyaan besar yang tertinggal: masih seberapa baik Gunung Wilis mampu menjadi rumah bagi kehidupan liar? Dan mungkin pertanyaan itulah yang perlu dijawab sebelum pencarian berikutnya dimulai. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Keadilan Sebuah Cagar Alam Tumbuh di Bawah Teduh Wijayakusuma Kraton

Di pangkal batang Wijayakusuma Kraton, kehidupan sedang mempertaruhkan nasibnya Bawean, 11 Agustus 2026. Puluhan telur burung terhampar di antara rerumputan yang mengering. Sebagian berada dekat pangkal pohon, sebagian lainnya berserakan di kering rumput tepian karang. Ada telur yang masih utuh, ada yang telah pecah setelah kehidupan berhasil keluar dari cangkangnya, dan ada pula yang tak pernah sampai pada kesempatan itu. Sebanyak 67 butir telur ditemukan ketika petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melakukan patroli sekaligus pemantauan burung di Cagar Alam Pulau Nusa, sebuah pulau kecil di sekitar Pulau Bawean, Rabu, 5 Agustus 2026. Di ujung karang, tim juga menemukan lima individu anakan burung yang telah mati. Temuan itu menghadirkan gambaran yang apa adanya tentang kehidupan di sebuah cagar alam. Tidak seluruh telur akan menetas. Tidak setiap anak yang lahir akan tumbuh menjadi dewasa. Namun di tempat inilah alam memperoleh ruang untuk menentukan jalannya sendiri. Dan di tengah seluruh siklus itu berdiri Wijayakusuma Kraton (Pisonia grandis var. silvestris). Pohon yang Tumbuh dari Kerasnya Karang Tidak banyak tanah di Pulau Nusa. Yang mendominasi adalah batuan karang, rumput, semak, angin asin, dan hempasan Laut Jawa. Namun Wijayakusuma Kraton mampu menancapkan akarnya pada lingkungan yang bagi banyak tumbuhan terasa terlalu keras untuk menjadi rumah. Pohon-pohon itu kini sedang memperlihatkan perubahan musim. Sebagian daunnya mulai luruh. Ujung-ujung tangkainya tampak memutih. Di antaranya muncul bakal-bakal bunga, pertanda bahwa di tengah musim yang membuat rerumputan mengering, Wijayakusuma justru sedang mempersiapkan generasi berikutnya. Di bawah naungannya, cerita lain berlangsung. Pada pangkal batang dan hamparan rumput kering di sekitarnya, burung-burung telah menjadikan ruang kecil itu sebagai tempat berkembang biak. Telur-telur diletakkan begitu dekat dengan tanah dan karang. Tidak ada pagar. Tidak ada inkubator. Tidak pula tangan manusia yang mengatur telur mana yang harus menetas terlebih dahulu. Hanya ada teduh pohon, rumput kering, angin laut, dan hukum alam. Ada yang Menetas, Ada yang Tak Pernah Melihat Langit Dari 67 telur yang tercatat, masing-masing seperti membawa kemungkinan yang berbeda. Ada cangkang yang telah terbuka, meninggalkan jejak bahwa kehidupan pernah keluar dari sana. Ada telur yang masih utuh di antara rumput. Ada pula yang pecah tanpa pernah berhasil mengantarkan kehidupan baru. Beberapa meter darinya, di ujung karang yang berhadapan langsung dengan laut, lima anakan ditemukan telah mati. Mereka mungkin tak pernah sempat tumbuh cukup besar untuk mengenal seluruh pulau. Tak pernah terbang mengikuti garis pantai. Tak pernah pula kembali pada musim berikutnya. Namun kematian mereka bukan berarti alam telah gagal. Di alam liar, kelahiran dan kematian berjalan dalam lintasan yang sama. Keduanya membentuk dinamika populasi, aliran energi, dan jejaring kehidupan. Organisme yang mati akan kembali ke ekosistem, dimanfaatkan oleh organisme lain, terurai, dan pada akhirnya mengembalikan unsur hara kepada tanah yang menopang kehidupan berikutnya. Cagar alam tidak menjanjikan bahwa setiap kehidupan akan diselamatkan. Cagar alam memberikan sesuatu yang jauh lebih mendasar tentang kesempatan bagi proses alam untuk berlangsung sealami mungkin. Keadilan yang Tidak Selalu Berarti Keselamatan Barangkali di sinilah makna “keadilan” sebuah cagar alam dapat dipahami. Keadilan alam bukan berarti setiap telur harus menetas. Bukan berarti setiap anak harus menjadi dewasa. Dan bukan pula berarti manusia harus turun tangan setiap kali menemukan kematian. Keadilan itu hadir ketika pohon diberi kesempatan untuk tumbuh dan berbunga. Burung memperoleh ruang untuk bersarang. Telur dibiarkan berkembang. Predator tetap menjalankan perannya. Organisme yang mati kembali menjadi bagian dari rantai kehidupan. Manusia berdiri pada batas yang berbeda, manusia menjaga agar proses itu tidak dirusak oleh campur tangan yang semestinya tidak terjadi. Itulah salah satu alasan mengapa sebuah cagar alam membutuhkan perlindungan ketat. Bukan karena manusia harus mengendalikan segala sesuatu di dalamnya, melainkan karena ada bagian dari alam yang memang harus diberikan kesempatan untuk mengatur dirinya sendiri. Penanda di Ujung Karang Di sisi barat Pulau Nusa, papan nama kawasan yang dipasang petugas setahun sebelumnya masih berdiri kokoh. Ia menghadap hamparan karang dan Laut Jawa, dinaungi Wijayakusuma Kraton yang terus bertahan menghadapi angin dan percikan air asin. Papan itu mungkin hanya benda mati. Tetapi keberadaannya membawa pesan yang jelas tentang adanya batas yang harus dihormati manusia agar kehidupan dibaliknya tetap memiliki ruang. Di sekelilingnya, Wijayakusuma sedang menggugurkan daun sekaligus menyiapkan bunga. Rumput mengering. Burung datang dan berkembang biak. Telur menetas. Sebagian kehidupan bertahan, sebagian lainnya berhenti sebelum sempat mengenal langit. Tidak ada yang benar-benar terbuang. Serasah akan menjadi bagian dari tanah. Tubuh yang mati akan kembali ke rantai kehidupan. Bunga akan menghasilkan generasi berikutnya. Burung yang bertahan kelak meninggalkan pulau, lalu mungkin kembali ketika musim kembali memanggil. Begitulah sebuah pulau kecil mempertahankan kehidupannya. Cagar Alam Pulau Nusa mengajarkan bahwa konservasi tidak selalu tentang menyelamatkan setiap individu. Konservasi juga tentang menjaga ruang agar kehidupan dapat berlangsung menurut hukumnya sendiri. Dan di tengah kerasnya karang serta hempasan Laut Jawa, pelajaran itu tumbuh tanpa banyak suara, di bawah teduh Wijayakusuma Kraton. Sebab keadilan sebuah cagar alam bukan ketika tidak ada yang mati, melainkan ketika setiap kehidupan diberi kesempatan menjalani siklus alaminya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ditemukan di Halaman Rumah, Elang Tikus Muda Diserahkan ke Negara

Magetan, 12 Agustus 2026. Irvan Ali Murtadho mulanya hanya hendak menyiram tanaman di halaman rumahnya di Kabupaten Magetan. Tak ada yang istimewa dari kegiatan itu sampai pandangannya tertuju pada seekor burung pemangsa muda. Seekor elang tikus (Elanus caeruleus) berada di halaman rumah. Usianya belum dewasa, juvenil, fase ketika seekor burung muda belum sepenuhnya memiliki kemampuan sebagaimana individu dewasa. Irvan punya pilihan. Membiarkannya, memeliharanya, atau menyerahkannya kepada pihak yang memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menangani satwa liar. Atas kesadarannya sendiri, anggota TNI itu memilih yang terakhir. Selasa, 11 Agustus 2026, satu individu elang tikus tersebut diserahkan secara sukarela kepada negara melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Bagi BBKSDA Jawa Timur, penyerahan itu bukan sekadar perpindahan seekor satwa dari tangan masyarakat ke tangan negara. Ada sesuatu yang lebih penting, yaitu sebuah kesadaran untuk tidak menjadikan satwa liar yang ditemukan sebagai milik pribadi. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Bidang KSDA Wilayah I Madiun menerima satwa tersebut dan melakukan penanganan awal. Karena masih juvenil, elang membutuhkan perawatan dan evaluasi lebih lanjut sebelum langkah penanganan berikutnya dapat ditentukan. Pada kesempatan yang sama, petugas memberikan penjelasan mengenai tugas dan fungsi Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, termasuk penanganan tumbuhan dan satwa liar. Apresiasi juga diberikan kepada Irvan atas kepedulian dan kesadarannya menyerahkan satwa yang ditemukan. Cerita tentang elang tikus dari Magetan mungkin terdengar sederhana. Tak ada pengejaran. Tak ada operasi panjang. Tak ada pula konflik antara manusia dan satwa yang menyita perhatian. Hanya seseorang yang sedang menyiram tanaman, menemukan seekor burung pemangsa muda, lalu mengambil keputusan tentang apa yang harus dilakukan terhadapnya. Justru pada keputusan sederhana itulah pesan konservasi bekerja. Niat baik, bagaimanapun, belum tentu menjadi pilihan terbaik bagi satwa. Mereka memiliki kebutuhan pakan, perilaku, ruang hidup, dan penanganan yang berbeda dengan hewan domestik. Terlebih pada individu muda, penanganan yang tidak tepat berpotensi mempengaruhi perkembangan perilaku alaminya. Karena itu, ketika menemukan satwa liar dalam kondisi yang membutuhkan pertolongan, keputusan untuk berkoordinasi dengan petugas berwenang menjadi bagian penting dari penyelamatan. Ada kecenderungan melihat konservasi sebagai pekerjaan besar. Padahal konservasi juga tumbuh dari keputusan-keputusan kecil. Tidak menangkap. Tidak membeli. Tidak memelihara. Dan, tidak mengambil satwa dari alam. Apa yang dilakukan Irvan menunjukkan satu bentuk sederhana dari kesadaran tersebut. Latar belakangnya sebagai anggota TNI sekaligus memberi pesan bahwa menjaga kehidupan liar tidak hanya menjadi urusan petugas konservasi. Siapa pun dapat mengambil bagian. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, partisipasi masyarakat dan aparat merupakan mata rantai penting dalam perlindungan satwa liar. Petugas tidak mungkin berada di setiap halaman rumah, setiap kebun, atau setiap tempat ketika manusia tiba-tiba berjumpa dengan satwa. Konservasi tidaklah dimulai dari tindakan besar. Ia dimulai ketika seseorang memiliki kesempatan untuk menguasai kehidupan liar, namun memilih untuk tidak memilikinya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Respon Dugaan Anak Harimau di Pematang Jaya, Petugas BBKSDA Sumatera Utara Bergerak Cepat

Langkat, 12 Agustus 2026 – Menindaklanjuti laporan masyarakat terkait dugaan kemunculan anak harimau di Desa Salahaji, Kecamatan Pematang Jaya, petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Resor Aras Napal bergerak cepat melakukan koordinasi dan penelusuran langsung ke lokasi pada Sabtu (8/8). Setibanya di lokasi, petugas Resor Aras Napal, Sontana Sembiring berkoordinasi dengan Kepala Desa Salahaji dan Kepala Dusun Sei Putih untuk menggali informasi terkait laporan masyarakat. Berdasarkan keterangan warga, seorang warga bernama Samsudin sebelumnya melihat satwa yang menyerupai anak harimau dengan ukuran sebesar kucing di sekitar areal perladangannya. Warga juga menyampaikan bahwa satwa tersebut sempat mengeluarkan suara menyerupai kucing. Sejumlah warga lainnya juga mengaku pernah mendengar suara serupa di sekitar lokasi. Sebagai tindak lanjut atas laporan tersebut, petugas bersama Kepala Dusun Sei Putih kemudian melakukan penelurusan di sekitar areal perladangan untuk mencari jejak ataupun tanda-tanda keberadaan satwa tersebut. Penelusuran kembali dilakukan pada keesokan harinya, Minggu (9/8), untuk memastikan kondisi di lapangan. Berdasarkan hasil pemantauan sementara, Petugas BBKSDA Sumatera Utara belum dapat memastikan jenis satwa yang dilihat dan didengar oleh masyarakat. Oleh karena itu, informasi tersebut tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai kemunculan harimau. Selain melakukan pengecekan lapangan, petugas juga memberikan edukasi kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak mengambil tindakan sendiri apabila kembali menemukan satwa yang tidak dikenal. Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan setiap kemunculan satwa liar kepada petugas atau pihak terkait agar dapat dilakukan identifikasi dan penanganan secara tepat dan cepat. Respon cepat ini merupakan bagian dari upaya BBKSDA Sumatera Utara dalam menindaklanjuti setiap laporan masyarakat sekaligus memastikan keselamatan warga dan satwa liar. Masyarakat juga diharapkan tetap waspada, tidak mendekati atau menangkap satwa yang ditemukan, serta segera menyampaikan informasi kepada petugas BBKSDA Sumatera Utara apabila terdapat tanda-tanda keberadaan satwa liar di sekitar permukiman maupun areal perladangan. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S.Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Akhir Pelarian Si Lutung Patrang

Jember, 6 Agustus 2026. Selama beberapa hari terakhir, seekor primata berwarna hitam keperakan itu menjadi pengembara yang tak sengaja menarik perhatian warga. Ia terlihat berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, memanjat pepohonan, melintasi atap rumah, hingga akhirnya memilih bersembunyi di tempat yang sama sekali tidak lazim bagi satwa penghuni tajuk hutan. Sebuah plafon rumah milik warga di Desa Gebang, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember. Di sanalah perjalanan panjang Lutung Jawa, Trachypithecus auratus, itu akhirnya berakhir. Bukan dengan kepanikan, melainkan melalui kolaborasi yang mengutamakan keselamatan satwa dan manusia. Pada Selasa, 4 Agustus 2026, Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), bersama Tim Pemadam Kebakaran Kabupaten Jember bergerak menuju lokasi setelah menerima laporan masyarakat. Awalnya, informasi yang diterima menyebutkan bahwa seekor monyet memasuki rumah warga. Namun setelah dilakukan identifikasi secara langsung di lokasi, petugas memastikan bahwa satwa tersebut bukan monyet, melainkan Lutung Jawa, salah satu primata endemik Pulau Jawa yang dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Keberadaan Lutung di dalam rumah warga bukanlah sesuatu yang biasa. Satwa yang sehari-hari hidup di tajuk pepohonan itu ditemukan bersembunyi di ruang sempit di atas plafon rumah yang juga difungsikan sebagai bengkel pemasangan stiker kendaraan. Kondisi yang gelap dan akses yang terbatas membuat proses evakuasi memerlukan strategi khusus agar satwa tidak mengalami stres maupun cedera. Tim menduga individu tersebut merupakan lutung yang sama dengan satwa yang beberapa hari sebelumnya telah berpindah tempat di wilayah Patrang dan sempat ditangani oleh petugas Resor KSDA Wilayah 13 Jember pada Jumat, 31 Juli 2026. Pergerakan itu menunjukkan bahwa satwa masih berusaha mencari tempat yang dianggap aman setelah berada di luar habitat alaminya. Melihat tingkat kesulitan lokasi evakuasi, Tim Matawali kemudian berkoordinasi dengan Jember Mini Zoo (JMZ). Berdasarkan pertimbangan teknis dan medis, proses penyelamatan dilakukan menggunakan bius melalui sumpit (blow dart). Metode ini dipilih untuk meminimalkan risiko satwa melompat, jatuh, atau mengalami cedera ketika keluar dari ruang sempit di atas plafon. Proses evakuasi berlangsung dengan hati-hati. Setelah efek anestesi bekerja, lutung berhasil diamankan tanpa menimbulkan gangguan berarti bagi penghuni rumah maupun lingkungan sekitar. Selanjutnya, satwa dibawa ke Jember Mini Zoo untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh, observasi perilaku, serta perawatan sementara sebelum dilakukan penilaian lebih lanjut terkait kesiapan pelepasliaran. Bagi masyarakat, peristiwa ini mungkin hanya kisah seekor lutung yang masuk ke dalam rumah. Namun dari sudut pandang konservasi, kejadian tersebut menyimpan pesan yang jauh lebih besar. Satwa liar yang muncul di tengah permukiman tidak selalu berarti sedang menyerang atau mengganggu manusia. Dalam banyak kasus, mereka justru sedang berada dalam kondisi tertekan, kehilangan orientasi, atau mencari tempat berlindung setelah keluar dari habitat alaminya. Respons warga yang memilih melapor kepada petugas, tanpa melakukan penangkapan ataupun tindakan yang dapat membahayakan satwa, menjadi bagian penting dari keberhasilan penyelamatan ini. Kepedulian masyarakat menjadi mata rantai pertama dalam upaya perlindungan satwa liar. Operasi ini juga menunjukkan bahwa konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Keberhasilan penyelamatan Lutung Jawa merupakan hasil sinergi antara masyarakat, Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur, Tim Damkar Kabupaten Jember, dan Jember Mini Zoo. Masing-masing menjalankan perannya untuk satu tujuan yang sama: memastikan keselamatan satwa dilindungi tanpa mengabaikan keselamatan masyarakat. Bagi si Lutung Patrang, plafon rumah itu menjadi titik akhir dari pengembaraannya di tengah permukiman. Namun bagi para pegiat konservasi, kisah ini menjadi pengingat bahwa setiap satwa liar yang berhasil diselamatkan bukan sekadar individu yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang harus tetap memiliki kesempatan untuk kembali menjalani perannya di alam. Sebab pada akhirnya, keberhasilan konservasi bukan diukur dari seberapa banyak satwa yang berhasil ditangkap, melainkan dari seberapa besar harapan yang masih dapat dikembalikan kepada alam. Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Di Bawean, Luka Lama Terkuak, Konservasi Harus Mampu Melihat Lebih Jauh

Bawean, 6 Agustus 2026. Hutan jarang berubah dalam semalam. Ia perlahan membuka kisahnya, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya memperlihatkan jejak yang selama ini tersembunyi di balik rapatnya vegetasi. Di Pulau Bawean, sebuah temuan hasil patroli rutin menjadi pengingat bahwa menjaga kawasan konservasi bukan hanya tentang mengamati satwa liar, tetapi juga membaca setiap perubahan yang terjadi pada bentang alam yang menjadi rumah bagi mereka. Menindaklanjuti hasil SMART Patrol, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melaksanakan verifikasi lapangan di Blok Gunung Besar, Suaka Margasatwa Pulau Bawean, Selasa (4/8). Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi area yang sebelumnya teridentifikasi sebagai bukaan lahan, sekaligus mengumpulkan informasi lapangan sebagai dasar penyusunan langkah pengendalian dan pemulihan kawasan. Verifikasi dilakukan bersama Kepala Dusun Pasar Telaga, Desa Balikterus, dengan melibatkan personel BBKSDA Jawa Timur, Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari, serta mahasiswa kerja praktik dari Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Hasil pemeriksaan menemukan enam titik area terbuka yang tersebar pada Grid 769, 770, 785, dan 786 dengan luas keseluruhan sekitar 0,83 Ha. Di beberapa lokasi dijumpai tanaman budidaya berupa pisang, jeruk, dan durian, yang mengindikasikan bahwa aktivitas pemanfaatan lahan tersebut kemungkinan telah berlangsung cukup lama. Temuan ini tidak serta-merta dipandang sebagai persoalan hukum semata. Sebaliknya, ia menjadi pintu masuk untuk memahami dinamika kawasan secara lebih utuh. Hingga saat ini, identitas pihak yang membuka maupun memanfaatkan lokasi tersebut masih dalam proses penelusuran melalui koordinasi dengan pemerintah desa dan tokoh setempat. Pendekatan yang ditempuh lebih mengedepankan verifikasi fakta, komunikasi, dan penyelesaian berbasis kolaborasi. Kepala Dusun Pasar Telaga menyampaikan bahwa dirinya belum mengetahui adanya aktivitas tersebut karena sudah cukup lama tidak melakukan pemantauan langsung ke lokasi. Ia juga menyatakan komitmennya untuk mengimbau masyarakat agar tidak memperluas area terbuka ataupun melakukan aktivitas baru di dalam kawasan konservasi selama proses pendalaman berlangsung. Bagi tim pengelola kawasan, enam titik tersebut bukan sekadar angka di atas peta. Meskipun masing-masing memiliki luasan yang relatif kecil, keberadaannya dalam satu bentang alam menunjukkan adanya perubahan tutupan vegetasi yang patut dicermati. Perubahan seperti ini berpotensi memengaruhi konektivitas habitat, mempermudah akses menuju bagian kawasan yang lebih dalam, meningkatkan risiko erosi, memperbesar potensi kebakaran pada musim kemarau, hingga membuka peluang berkembangnya jenis-jenis tumbuhan nonalami. Lebih jauh lagi, temuan ini menghadirkan sebuah refleksi penting dalam pengelolaan kawasan konservasi. Selama bertahun-tahun, perhatian sering kali lebih banyak diarahkan pada penyelamatan spesies-spesies kunci, seperti satwa endemik, satwa dilindungi, atau tumbuhan langka. Padahal, keberhasilan konservasi sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah satwa yang berhasil dipertahankan, melainkan juga oleh kemampuan menjaga keutuhan bentang alam yang menopang seluruh proses kehidupan. Habitat yang utuh adalah fondasi utama bagi kelangsungan hidup setiap spesies. Ketika tutupan hutan mulai berubah, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu jenis tumbuhan atau satwa, tetapi juga oleh keseluruhan jalinan ekologi yang saling terhubung di dalamnya. Atas dasar itu, BBKSDA Jawa Timur akan memperkuat pendekatan pengelolaan berbasis bentang alam. Langkah yang disiapkan meliputi verifikasi batas kawasan pada seluruh titik temuan, penguatan patroli SMART berbasis risiko, monitoring berkala pada lokasi yang sama, penyusunan rencana pemulihan melalui regenerasi alami terbantu maupun penanaman jenis lokal, serta koordinasi dengan pemerintah desa dan para pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi alternatif pemanfaatan lahan dan sumber pakan ternak di luar kawasan konservasi. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara perlindungan kawasan dan kehidupan masyarakat di wilayah penyangga. Sebab konservasi tidak dibangun di atas sekat, melainkan melalui dialog, saling memahami, dan ikhtiar bersama menjaga ruang hidup yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Luka lama yang ditemukan di Gunung Besar bukanlah akhir dari cerita. Ia justru menjadi pengingat bahwa konservasi harus terus belajar membaca perubahan, sekecil apa pun bentuknya. Karena hutan yang tetap utuh bukan hanya menjamin kelangsungan hidup satwa liar, tetapi juga menjaga sumber air, tanah, iklim lokal, dan berbagai manfaat ekologis yang pada akhirnya kembali kepada manusia. Di Pulau Bawean, enam titik kecil itu mengajarkan satu hal yang besar: menjaga masa depan keanekaragaman hayati tidak cukup dilakukan dengan melindungi spesies, tetapi juga dengan memastikan rumahnya tetap lestari. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bersua Sang Peniru Yang Sempurna Di Hutan Bawean

Di hutan Bawean, tak semua yang tampak sebagai daun, adalah benar-benar daun Gresik, 4 Agustus 2026. Di tengah rimbunnya vegetasi kawasan Suaka Alam Pulau Bawean, tim Balai Besar KSDA Jawa Timur menjumpai sesosok serangga berwarna hijau yang nyaris mustahil dikenali pada pandangan pertama. Bentuk tubuhnya menyerupai helaian daun lengkap dengan tulang daun, tepian yang tampak seperti bekas gigitan serangga, hingga warna yang menyatu sempurna dengan dedaunan di sekitarnya. Bila tidak bergerak, hampir tidak ada yang menyangka bahwa "daun" tersebut sesungguhnya adalah seekor serangga. Inilah serangga daun atau walking leaf dari famili Phylliidae, salah satu contoh mimikri terbaik yang dimiliki alam. Evolusi membentuk tubuhnya sedemikian rupa sehingga mampu menyamarkan diri dari predator. Kemampuan tersebut menjadi strategi bertahan hidup yang telah berkembang selama jutaan tahun, menjadikan kelompok serangga ini sebagai salah satu organisme dengan tingkat kamuflase paling menakjubkan di dunia. Bagi sebagian orang, temuan ini mungkin hanya terlihat sebagai seekor serangga yang unik. Namun, bagi pengelola kawasan konservasi, setiap perjumpaan dengan spesies seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar. Kehadirannya menjadi indikator bahwa kualitas habitat masih mampu mendukung kehidupan berbagai organisme yang sangat bergantung pada keutuhan vegetasi hutan. Pulau Bawean sendiri merupakan pulau kecil yang berkembang secara terisolasi di Laut Jawa. Kondisi tersebut menjadikan kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean menyimpan kekayaan hayati yang unik, bahkan berpotensi memiliki spesies yang belum sepenuhnya terdokumentasikan. Dalam beberapa tahun terakhir, penelitian terhadap serangga daun di Indonesia terus mengungkap keberadaan spesies-spesies baru, menunjukkan bahwa keanekaragaman kelompok ini masih jauh dari lengkap untuk dipahami. Oleh karena itu, spesimen yang ditemukan di Pulau Bawean ini masih memerlukan kajian taksonomi lebih lanjut. Identifikasi hingga tingkat spesies memerlukan pembandingan karakter morfologi secara detail, bahkan pada beberapa kelompok harus didukung analisis genetik. Pendokumentasian seperti ini menjadi langkah awal yang sangat penting untuk memperkaya inventarisasi keanekaragaman hayati kawasan sekaligus membuka peluang penelitian lanjutan. Lebih dari sekadar menambah daftar jenis, dokumentasi semacam ini merupakan bagian dari upaya memahami bagaimana sebuah ekosistem bekerja. Setiap spesies memiliki fungsi ekologisnya masing-masing. Kehadiran serangga daun mencerminkan masih tersedianya habitat yang sesuai, keseimbangan vegetasi yang terjaga, serta rantai interaksi ekologis yang masih berlangsung secara alami. Konservasi pada akhirnya tidak melulu tentang melindungi satwa-satwa yang berukuran besar atau memiliki nilai karismatik. Di balik sehelai daun yang tampak biasa, terkadang tersembunyi makhluk hidup yang menyimpan cerita panjang tentang evolusi, adaptasi, dan keseimbangan alam. Pulau Bawean kembali mengingatkan bahwa hutan selalu memiliki cara untuk menyimpan rahasianya. Semakin sering kita menjelajahinya dengan ilmu pengetahuan dan rasa ingin tahu, semakin banyak pula kisah kehidupan yang menunggu untuk ditemukan. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Babak Kedua Penyelamatan Satwa Liar Dimulai

Bojonegoro, 5 Agustus 2026. Penyelamatan satwa liar tidak berhenti ketika masyarakat menyerahkan satwa kepada petugas. Justru setelah itu, rangkaian penanganan yang lebih panjang dimulai untuk memastikan setiap individu memiliki peluang kembali hidup di habitat alaminya. Pada Senin, 3 Agustus 2026, Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengevakuasi tiga satwa liar menuju kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Ketiga satwa tersebut terdiri atas seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) betina dewasa, seekor Elang Alap Jambul (Lophospiza trivirgata) dewasa, dan seekor Lutung Budeng (Trachypithecus auratus) betina dewasa. Seluruh satwa merupakan hasil penyerahan sukarela masyarakat dari Kabupaten Bojonegoro dan Kabupaten Tuban. Proses evakuasi dilakukan bersama Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Bojonegoro dan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Tuban. Bagi publik, pemindahan satwa ke kandang transit mungkin tampak sebagai akhir dari sebuah penyelamatan. Padahal, tahapan tersebut justru menjadi pintu masuk menuju proses rehabilitasi. Di fasilitas UPS, setiap satwa menjalani pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, pemulihan kondisi fisik, hingga penilaian kelayakan sebelum diputuskan langkah konservasi berikutnya. Dalam praktik konservasi, penyerahan sukarela memiliki arti penting. Selain mengurangi risiko pemeliharaan ilegal terhadap satwa liar, langkah tersebut memungkinkan petugas memberikan penanganan sesuai standar kesejahteraan satwa dan kebutuhan biologis masing-masing spesies. Rangkaian penyelamatan ini juga memperlihatkan bahwa konservasi merupakan kerja bersama. Kepedulian masyarakat untuk melapor dan menyerahkan satwa liar kepada pemerintah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati. Di sisi lain, pemerintah memastikan setiap satwa memperoleh penanganan profesional hingga memiliki kesempatan untuk kembali menjalankan fungsi ekologisnya di alam. Bagi Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur, kandang transit bukanlah tujuan akhir. Tempat itu merupakan ruang pemulihan, menjadi babak kedua dalam perjalanan panjang penyelamatan satwa liar, sebelum alam kembali menjadi rumah yang semestinya. (dna) Sumber : Agus Irwanto (Editor) - Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) Bidang KSDA Wilayah I Madiun
Baca Artikel

Sebelum Api Membesar, Kesadaran Harus Lebih Dulu Menyala

Bawean, 5 Agustus 2026. Musim kemarau selalu membawa dua wajah bagi kawasan konservasi. Di satu sisi, langit yang cerah memperlihatkan bentang hutan dengan lebih jelas. Namun di sisi lain, dedaunan yang mengering, hamparan savana yang mulai menguning, dan angin yang bertiup kencang menjadikan hutan berada pada kondisi paling rentan terhadap kebakaran. Di Pulau Bawean, ancaman itu bukan sekadar kemungkinan. Ia adalah risiko yang harus diantisipasi sebelum berubah menjadi bencana. Berangkat dari semangat tersebut, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur melalui Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melaksanakan Patroli Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan di kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean pada 28–31 Juli 2026. Kegiatan ini melibatkan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari serta mahasiswa kerja praktik Departemen Biologi Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai wujud kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia akademik dalam menjaga kawasan konservasi. Untuk menjangkau wilayah yang lebih luas, personel dibagi menjadi dua tim. Mereka menyusuri sejumlah blok yang selama ini dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran, mulai dari Kumalasa, Payung-payung, Alas Timur, Teneden hingga Gunung Besar. Prioritas diberikan pada kawasan hutan jati dan savana karena vegetasi yang mengering selama musim kemarau dapat dengan mudah terbakar apabila terkena sumber api sekecil apa pun. Namun patroli kali ini tidak hanya berbicara tentang mencari titik api. Di setiap desa penyangga yang dilalui, tim memilih berhenti, menyapa, dan berdialog dengan masyarakat. Percakapan berlangsung sederhana, membahas bahaya pembakaran lahan, pentingnya memastikan api benar-benar padam setelah membersihkan lingkungan, hingga pengelolaan sampah yang tidak menimbulkan risiko bagi kawasan konservasi. Sosialisasi dilaksanakan di Desa Tanjung Ori, Lebak, Kumalasa, Balikterus, Bululanjang, Klumpang Gubug, dan Diponggo. Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dari strategi mitigasi, sebab masyarakat desa penyangga merupakan garda terdepan yang setiap hari hidup berdampingan dengan kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Bagi petugas, menjaga kawasan tidak cukup hanya dengan patroli. Keberhasilan sesungguhnya diukur dari tumbuhnya kesadaran bersama bahwa setiap orang memiliki peran dalam mencegah kebakaran hutan. Selama patroli berlangsung, tim menemukan sejumlah bekas kebakaran berskala kecil di beberapa lokasi. Salah satunya berada di Grid 912, tepat di tepi pal batas Nomor 1864 Blok Alas Timur, dengan panjang area terdampak sekitar 70 meter dan lebar sekitar dua meter. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, bekas kebakaran tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pembersihan jalur pipa air di sekitar kawasan. Temuan serupa juga dijumpai di kawasan Sekang, Desa Lebak, di tepi Blok Kumalasa, serta empat titik bekas kebakaran lainnya di Blok Teneden. Meskipun seluruh temuan berada dalam skala kecil dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kewaspadaan harus terus ditingkatkan selama musim kemarau berlangsung. Temuan lain justru menghadirkan pesan yang lebih luas. Di sepanjang sisi jalan kawasan Blok Kumalasa, tim menemukan lebih dari sepuluh titik bekas pembakaran sampah hasil kerja bakti yang masih ditinggalkan dalam kondisi menyisakan bara api. Seluruh titik tersebut segera dipadamkan guna mencegah api merambat ke vegetasi kering di sekitar kawasan konservasi. Sementara itu, di sisi selatan Blok Alas Timur, tim juga menemukan tumpukan sampah yang sebagian besar didominasi oleh popok sekali pakai. Keberadaan sampah tersebut menjadi perhatian tersendiri karena selain sulit terurai, popok bekas berpotensi mencemari tanah dan air apabila tidak dikelola dengan benar. Temuan ini menunjukkan bahwa ancaman terhadap kawasan konservasi tidak selalu datang dalam bentuk api. Sampah yang dibuang sembarangan juga dapat perlahan menurunkan kualitas ekosistem yang menjadi rumah bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar. Sebagai tindak lanjut, tim memasang spanduk peringatan bahaya kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik rawan serta persimpangan desa penyangga. Petugas juga melakukan penanganan terbatas terhadap sampah yang ditemukan sembari mendorong koordinasi lebih lanjut dengan pemerintah desa dan instansi terkait agar pengelolaan sampah di sekitar kawasan konservasi dapat dilakukan secara lebih terpadu. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang semakin erat dengan masyarakat. Sebab dalam pengelolaan kawasan konservasi modern, masyarakat bukan lagi dipandang sebagai pihak di luar kawasan, melainkan sebagai mitra yang memiliki peran strategis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Musim kemarau memang tidak dapat dihentikan. Angin akan tetap bertiup, dedaunan akan tetap mengering, dan risiko kebakaran akan selalu ada. Namun satu hal yang dapat terus dibangun adalah kesadaran. Karena pada akhirnya, hutan tidak selalu hilang akibat kobaran api yang besar. Kadang, ia bermula dari bara kecil yang diabaikan, atau dari sampah yang dianggap sepele. Itulah sebabnya, sebelum api membesar, kesadaran harus lebih dulu menyala. (dna) Sumber: Agus Irwanto (Editor) dan Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) Bidang KSDA Wilayah II Gresik
Baca Artikel

Empat Ular Diserahkan, Kepercayaan Masyarakat kepada Konservasi Terus Tumbuh

Sidoarjo, 7 Agustus 2026. Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan satwa liar, sebuah langkah sederhana namun bermakna kembali terjadi di Kabupaten Sidoarjo. Empat ekor ular diserahkan secara sukarela kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur agar memperoleh penanganan sesuai kaidah konservasi dan kesejahteraan satwa. Penyerahan tersebut ditindaklanjuti oleh Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya pada Selasa (4/8/2026) di Desa Tanggul Kidul, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Kegiatan bermula dari informasi yang diterima Seksi KSDA Wilayah III Surabaya sehari sebelumnya mengenai adanya satwa liar yang akan diserahkan kepada pemerintah. Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Matawali segera menuju lokasi dengan membawa perlengkapan evakuasi sesuai prosedur penanganan satwa liar. Setibanya di lokasi, petugas melakukan koordinasi dengan M. Tohir, warga yang menyerahkan satwa. Dari hasil wawancara diketahui bahwa ular-ular tersebut berasal dari kegiatan penyelamatan berdasarkan laporan masyarakat dan sebelumnya telah diamankan oleh komunitas Family Satwa Sidoarjo. Menyadari bahwa satwa liar memerlukan penanganan yang tepat, pihak yang menyelamatkan kemudian memilih menyerahkannya kepada BBKSDA Jawa Timur agar dapat dikelola sesuai ketentuan yang berlaku. Pemeriksaan awal menunjukkan seluruh satwa berada dalam kondisi hidup dan sehat. Tim mengidentifikasi tiga ekor Sanca Kembang (Malayopython reticulatus), yang tidak termasuk satwa dilindungi, serta satu ekor Sanca Bodo (Python bivittatus), spesies yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Meskipun memiliki status perlindungan yang berbeda, seluruh satwa mendapatkan perlakuan yang sama. Petugas melakukan pemeriksaan kondisi fisik, memastikan tidak terdapat indikasi cedera maupun gangguan kesehatan, kemudian menempatkan satwa ke dalam kandang angkut standar guna meminimalkan stres selama proses evakuasi. Selanjutnya, keempat ular tersebut ditranslokasikan ke Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di lokasi tersebut satwa akan menjalani observasi, perawatan bila diperlukan, serta penilaian lebih lanjut untuk menentukan langkah penanganan berikutnya sesuai karakteristik biologis dan kondisinya. Seluruh proses penyerahan dilaksanakan secara administratif melalui berita acara sebagai bentuk legalitas sekaligus memastikan asal-usul satwa terdokumentasi dengan baik. Proses evakuasi berlangsung aman, tertib, dan tanpa kendala. Di balik empat ekor ular yang berpindah ke kandang transit, tersimpan pesan yang jauh lebih besar. Konservasi tidak hanya bergantung pada petugas di lapangan, tetapi juga pada tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk tidak memelihara, memperjualbelikan, ataupun melepaskan satwa liar tanpa pertimbangan ilmiah. Memilih menyerahkan satwa kepada otoritas yang berwenang merupakan bentuk tanggung jawab yang patut diapresiasi. Kolaborasi antara masyarakat, komunitas penyelamat satwa, dan pemerintah menjadi mata rantai penting dalam menjaga keberlangsungan keanekaragaman hayati. Ketika masyarakat memilih melapor dan menyerahkan satwa secara sukarela, sesungguhnya mereka sedang mengambil bagian dalam upaya konservasi. Empat ular itu mungkin hanyalah sebagian kecil dari kekayaan hayati Indonesia. Namun setiap individu yang berhasil ditangani dengan benar adalah pengingat bahwa konservasi selalu dimulai dari sebuah keputusan sederhana: memilih melindungi, bukan memiliki. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Para Penjaga Hutan yang Akhirnya Pulang

Pacitan, 6 Agustus 2026. Di balik rimbunnya hutan, terdapat satwa-satwa yang bekerja tanpa pernah meminta perhatian manusia. Mereka tidak membangun sarang yang megah, tidak mengeluarkan suara yang nyaring, dan nyaris tak pernah terlihat. Namun keberadaan mereka menjaga keseimbangan alam setiap hari. Trenggiling mengendalikan populasi semut dan rayap, sementara ular koros menjaga agar populasi hewan pengerat tidak berkembang tanpa kendali. Mereka adalah para penjaga hutan yang sesungguhnya. Pada Selasa, 4 Agustus 2026, empat penjaga hutan itu akhirnya kembali ke rumahnya. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Resor Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), menerima penyerahan dua ekor Trenggiling (Manis javanica) dan dua ekor Ular Koros (Ptyas korros) dari Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Pacitan. Satwa-satwa tersebut merupakan hasil evakuasi dan penyerahan sukarela masyarakat dari Desa Gembong, Desa Widoro, dan Desa Baleharjo selama dua minggu terakhir. Rangkaian peristiwa ini menunjukkan semakin tumbuhnya kesadaran masyarakat bahwa satwa liar yang memasuki permukiman bukan untuk dipelihara ataupun diperdagangkan, melainkan perlu ditangani secara tepat agar dapat kembali menjalankan perannya di alam. Langkah masyarakat melaporkan temuan satwa kepada petugas menjadi bagian penting dalam upaya konservasi spesies yang dilindungi maupun yang memiliki peran ekologis penting. Setelah menerima satwa, Tim Matawali segera melakukan rapid assessment untuk memastikan kondisi kesehatannya. Pemeriksaan menunjukkan bahwa seluruh satwa berada dalam kondisi fisik yang baik, memiliki respons alami terhadap lingkungan, serta masih memperlihatkan perilaku liar. Hasil tersebut menjadi dasar bahwa keempat satwa layak untuk segera dikembalikan ke habitat alaminya tanpa memerlukan rehabilitasi lebih lanjut. Namun, melepas satwa liar tidak cukup hanya dengan membuka kandang di sembarang tempat. Habitat tujuan harus mampu menjamin peluang hidup satwa sekaligus meminimalkan potensi konflik baru dengan manusia. Atas dasar itu, petugas BBKSDA Jawa Timur berkoordinasi dengan Perhutani RPH Pacitan–BKPH Pacitan untuk menentukan lokasi pelepasliaran yang memiliki tutupan hutan baik, jauh dari aktivitas masyarakat, serta sesuai dengan karakter habitat alami trenggiling maupun ular koros. Lokasi yang dipilih berada di kawasan Hutan Lindung Perhutani RPH Pacitan–BKPH Pacitan. Pelepasliaran dilakukan bersama Kepala Satpol PP Kabupaten Pacitan, Komandan Regu Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Pacitan, Kepala RPH Pacitan, serta petugas BBKSDA Jawa Timur sebagai wujud sinergi lintas sektor dalam menjaga kelestarian satwa liar. Sesaat setelah pintu kandang dibuka, kedua Trenggiling perlahan melangkah menuju lantai hutan, menghilang di antara serasah daun dan semak belukar. Tidak jauh berbeda, dua ular koros bergerak lincah menyusuri vegetasi, kembali menyatu dengan habitat yang telah lama membentuk perilaku alaminya. Tak ada tepuk tangan. Tak ada seremoni. Yang terdengar hanyalah suara dedaunan yang kembali menerima penghuninya. Momen sederhana tersebut sesungguhnya menyimpan makna besar bagi konservasi. Trenggiling merupakan salah satu mamalia paling terancam di dunia akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Sebagai pemakan semut dan rayap, spesies ini membantu menjaga keseimbangan populasi serangga yang berpotensi merusak vegetasi hutan. Sementara itu, ular koros berperan sebagai predator alami berbagai jenis hewan pengerat. Kehadirannya membantu menjaga stabilitas rantai makanan sekaligus mengurangi potensi ledakan populasi tikus yang dapat memengaruhi keseimbangan ekosistem. Keberhasilan pelepasliaran ini juga menjadi bukti bahwa konservasi tidak pernah berdiri sendiri. Ia lahir dari kepedulian masyarakat yang memilih melapor, kesiapsiagaan petugas Damkar dalam mengevakuasi satwa secara aman, koordinasi cepat Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur, serta dukungan Perhutani dalam menyediakan habitat yang sesuai. Setiap pihak menjalankan perannya sehingga satwa dapat kembali ke tempat yang semestinya. Pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan individu satwa. Lebih dari itu, konservasi adalah mengembalikan setiap spesies agar kembali menjalankan fungsi ekologisnya di alam. Sebab ketika seekor trenggiling kembali mencari makan di antara guguran daun, atau seekor ular koros kembali memburu mangsanya di lantai hutan. Sesungguhnya yang sedang dipulihkan bukan hanya kehidupan satwa itu sendiri, melainkan keseimbangan hutan yang menjadi penopang kehidupan banyak makhluk. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) - Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 33–48 dari 2.501 publikasi