Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Warga Karo Serahkan Trenggiling ke BBKSDA Sumut, Wujud Nyata Kepedulian terhadap Satwa Liar

Kabanjahe, 7 Mei 2026 — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah I Kabanjahe, Rabu (6/5), menerima penyerahan seekor satwa dilindungi jenis trenggiling (Manis javanica) dari warga Desa Lingga Julu, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo, Muhar Andi Syahputra Perangin-angin. Trenggiling tersebut ditemukan Muhar di sekitar tanaman bunga di depan rumahnya pada Senin malam (4/5), sekitar pukul 22.00 WIB. Menyadari bahwa satwa tersebut merupakan satwa dilindungi undang-undang, Muhar bersama adiknya, Putra Perangin-angin, memutuskan untuk segera menyerahkan satwa tersebut kepada pihak kehutanan agar dapat diselamatkan dan ditangani dengan baik. Keesokan harinya, Selasa (5/5), trenggiling diserahkan kepada Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe dan diterima langsung oleh petugas Polisi Kehutanan Johannes Octo P. Manik, S.Sos., M.H., disaksikan oleh Ucok Damanik dan Sisyardi Milala. Trenggiling (Manis javanica) merupakan satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Perlindungan terhadap satwa ini penting untuk mencegah ancaman perburuan dan perdagangan ilegal yang dapat menyebabkan penurunan populasi di alam. Tindakan Muhar dan Putra menjadi contoh nyata bahwa kesadaran masyarakat memiliki peran penting dalam upaya penyelamatan satwa liar dilindungi. Dengan melaporkan dan menyerahkan satwa dilindungi kepada pihak berwenang, masyarakat telah turut berkontribusi menjaga keseimbangan ekosistem dan mendukung upaya pelestarian keanekaragaman hayati. Setelah diterima oleh petugas, selanjutnya trenggiling akan menjalani pemeriksaan kesehatan, perawatan, pengamatan sifat liar serta pemantauan perkembangannya sebelum nantinya akan dilepasliarkan ke habitat alaminya. BBKSDA Sumatera Utara mengapresiasi kepedulian dan kesadaran masyarakat dalam upaya penyelamatan satwa dilindungi. Diharapkan tindakan positif yang telah dilakukan oleh Muhar dan Putra Perangin-angin dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk turut menjaga kelestarian satwa liar dan segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan satwa dilindungi di lingkungan sekitar. Bersama masyarakat, konservasi satwa liar dapat diwujudkan demi menjaga warisan keanekaragaman hayati untuk generasi mendatang. Sumber: Johannes Octo P. Manik, S.Sos., M.H (Polhut Madya) - Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe, Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Monyet Di Taman Kanak-Kanak, Akhirnya Dievakuasi Tim Matawali

Madiun, 7 Mei 2026. Adanya laporan via DM Instagram mengenai keberadaan monyet di area bermain sebuah taman kanak-kanak, membuat admin segera melanjutkan laporan tersebut ke petugas di lapangan secara berjenjang. Sebagai quick response dari berita tersebut, tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 4 Madiun, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) segera menelusuri lokasi yang dimaksud, 6 Mei 2026. Sesampainya di lokasi, Tim mendapati seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang dipelihara dalam kandang teralis besi yang posisinya bersebelahan dengan area bermain. Lokasi kandang tersebut berada di sebuah taman kanak-kanak Dusun Krajan - Jiwan, Madiun. Dalam kesempatan yang baik itu, Tim Matawali memberikan sosialisasi mengenai bahayanya memelihara satwa liar bagi diri sendiri maupun orang disekitarnya. Karena satwa liar tetap memiliki naluri alami yang sewaktu-waktu dapat muncul kembali, terutama saat memasuki fase biologis. Meski tidak termasuk satwa dilindungi di Indonesia, keberadaan Monyet Ekor Panjang di lingkungan permukiman apalagi sekolah, sangat berpotensi menimbulkan konflik antara manusia dan satwa. Selanjutnya, pemilik dengan sukarela menyerahkan monyet tersebut kepada BBKSDA Jatim sebelum terjadi hal-hal yang merugikan. Menurut informasi pemiliknya, ia mendapatkan monyet itu dari pemberian seseorang dan telah dipeliharanya sejak kecil. Saat ini satwa telah ditempatkan di kandang transit Kantor Bidang KSDA Wilayah I Madiun guna observasi lebih lanjut sebelum diputuskan langkah rehabilitasi dan pelepasliarannya ke habitat yang sesuai. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jelang HKAN 2026, Tujuh Ekor Lutung Jawa Pulang Ke Nusa Barung

Jember, 7 Mei 2026. Dalam rangkaian menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa (JLC), The Aspinall Foundation - Indonesia Program, melaksanakan pelepasliaran tujuh ekor Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Dua jantan bernama Kaget dan Hadi, serta 5 betina bernama Mari, Ita, Dina, Eri, dan Lika. Kegiatan diawali sejak 2 Mei 2026, di mana tim gabungan yang terdiri dari petugas RKW 13 Jember dan JLC melakukan persiapan pelepasliaran di Pos Jaga Puger. Keesokan harinya, 3 Mei 2026, dengan mengendarai 2 perahu, tim bergerak membelah ombak menuju Pantai Nyamplung Kobong, Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung. Di hari yang sama, tim menuju Blok Kudu untuk melepasliarkan koloni 1 yang terdiri atas seekor jantan dan 2 betina dengan metode hard release, sebuah metode pelepasliaran dengan langsung melepas menuju alam liar tanpa tahapan penyesuaian Salah satu Lutung Jawa yang dilepasliarkan di bok ini bernama Eri. Pelepasliaran Eri menjadi momen yang haru dan mendebarkan bagi seluruh anggota tim. Eri yang dievakuasi dari Kantor Bidang KSDA Wilayah 3 Jember tahun 2025, mengalami luka traumatika digigit pejantan pada pangkal ekor, dan harus di amputasi. Namun, Eri tetap mampu beraktivitas normal saat pelepasliaran. Koloni 2 dilepasliarkan di Blok Cambah pada 4 Mei 2026. Koloni ini yang terdiri atas seekor jantan dan 3 ekor betina Lutung Jawa. Pelepasliaran Lutung Jawa kali ini terasa sederhana namun sakral, tanpa seremoni mewah, hanya ditemani semilir angin laut dan nyanyian alam. Momentum Road to HKAN ini dijadikan sebagai pengingat, bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga, namun juga memulihkan. Ia adalah wujud nyata dari mandat konservasi, memulihkan hubungan satwa dan rimba, menegaskan hak setiap makhluk untuk pulang ke habitatnya. Sebelum tim kembali, dilakukan pemantauan awal untuk memastikan satwa-satwa tersebut mulai beradaptasi dengan baik, serta melakukan pemasangan papan peringatan pada beberapa titik di Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung. Sumber: Agus Irwanto – Balai Besar KSDA Jawa Timur Foto: Pusat Rehabilitasi Lutung Jawa (JLC), The Aspinall Foundation - Indonesia Program
Baca Artikel

Elang-alap Jambul Di Tengah Kampus, Tersesat Atau Lepas Dari Belenggu Rantai

Ponorogo, 7 Mei 2026. Dari sebuah perguruan tinggi swasta yang berlokasi di Jalan Budi Utomo, Ponorogo, Darmanto Saputro akhirnya mengambil sebuah keputusan penting bagi hidup seekor satwa. Ia secara bulat dan sadar untuk menyerahkan seekor Elang-alap Jambul (Lophospiza trivirgata) kepada negara melalui Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Pada hari Kamis, 7 Mei 2026, Darmanto Saputro yang seorang dosen di Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO) mendatangi Kantor BBKSDA yang berlokasi di Jl. Raya Dungus - Mojopurno, Kec. Wungu, Kabupaten Madiun. Tujuannya jelas, menyerahkan satwa tersebut dengan harapan ia akan dapat kembali ke habitat asal. Menurutnya, Elang-alap Jambul itu ditemukan di kampus UMPO setelah menabrak terlebih dahulu jendela salah satu gedung. Penyerahan satwa tersebut juga sebagai salah satu wujud pelaksanaan Deklarasi Konservasi Universitas Muhammadiyah Ponorogo dalam rangka pelestarian satwa liar. Catatan Sebarannya Lophospiza trivirgata merupakan burung pemangsa dengan sebaran yang sangat luas. Populasinya terdapat di Asia Selatan, Asia tenggara, Sunda Besar, hingga Filipina. Di Indonesia, penyebarannya terdapat di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Dahulu ia tersebar luas di hutan dataran rendah dan perbukitan, di Pulau Jawa dan Bali. Namun sekarang sangat jarang perjumpaan dengan jenis satwa ini. Sedangkan di Jawa Timur, sebarang burung ini terbatas pada beberapa lokasi hutan seperti Alas Purwo, Merubetiri, Kawah Ijen, Bromo Tengger Semeru, Pegunungan Kawi, dan hutan lindung di Bojonegoro Selatan. Namun dengan jumlah perjumpaan yang sedikit. Saat ini satwa telah ditempatkan pada kandang transit Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Penyelamatan satwa ini menjadi pengingat bahwa konservasi bukan melulu mengenai kawasan hutan, namun juga hadir di ruang pendidikan, di jendela kaca, dan dalam setiap keputusan manusia untuk peduli atau tidak terhadapnya. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

METT Cagar Alam Gua Nglirip, Perlu Sinergitas Pengelolaannya

Tuban, 7 Mei 2026. Pagi itu udara belum benar-benar hangat di Desa Guwoterus, namun suasana di balai desanya justru mulai menghangat. Beberapa perwakilan pemangku kepentingan satu persatu mulai berdatangan di Desa Guwoterus yang berjarak sekitar 27 kilometer dari pusat kota Tuban. Kegiatan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan (METT) Cagar Alam (CA) Gua Nglirip kali ini dilaksanakan di Kantor Desa Guwoterus, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, Selasa (5/5). Beberapa pemangku kepentingan yang hadir antara lain dari KPH. Parengan, CDK. Kab. Bojonegoro, Muspika Kec. Montong, Desa Guwoterus, Desa Tingkis, Masyarakat Mitra Polhut, KTH. Guwo Mulyo dan KTH. Lembu Suro. Dalam forum itu, para peserta memaparkan dan menguji ulang kondisi nyata CA. Gua Nglirip berdasarkan 62 butir ancaman dan 38 pertanyaan penilaian. Sebuah proses yang menuntut ketelitian dan pemahaman mendalam terhadap dinamika yang ada. Seperti ancaman perambahan kawasan, karena cagar alam ini dikepung oleh hutan produksi perhutani yang digarap petani. Pun demikian dengan perburuan satwa jenis Landak Jawa dengan menggunakan jerat. Serta pengambilan pakan ternak kambing di dalam kawasan cagar alam, mengingat tanaman ficus didalamnya disukai hewan ternak milik masyarakat. Beberapa masukan dari peserta METT sempat mengemuka, seperti perlunya sosialisasi yang intensif di desa penyangga terkait aturan, potensi, dan rencana pengelolaan kawasan cagar alam, serta batas kawasan antara cagar alam dan hutan produksi. Juga, perlunya sinergitas antara Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dengan para pihak terkait sehingga pengelolaan cagar alam dapat lebih optimal. Dari hasil penilaian, disimpulkan bahwa pengelolaan Cagar Alam Gua Nglirip dimasukkan dalam kategori efektif. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sambut HKAN 2026, BBKSDA Jatim Gelar Visit To School

Pamekasan, 6 Mei 2026. Sebanyak 30 siswa SMA Negeri 1 Pamekasan mengikuti kegiatan Visit to School, Selasa, 5 Mei 2026. Mereka merupakan anggota di kelompok ekstrakulikuler Sispala Resacita dan Pramuka, dari kelas 10 dan 11. Kegiatan yang digelar oleh Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) ini dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan untuk menanamkan rasa cinta lingkungan dan satwa liar kepada para pelajar sekolah menengah atas. Selama pelaksanaan, para siswa mendapatkan materi seputar kehutanan secara umum, pengelolaan hutan, pengenalan satwa liar, dan aturannya. Visit to School kali ini terasa berbeda, karena juga melibatkan komunitas animal lover, Pamekasan Reptil Kingdom atau Parking. Mereka menyampaikan mengenai berbagai jenis ular, ciri-ciri ular berbisa, serta penanganannya jika berinteraksi dengan satwa reptil ini. Di sela-sela materi, diberikan beranekaragam kuis yang menarik bagi para siswa, dan diskusi yang interaktif. Tak lupa juga dibagikan cinderamata berupa gantungan kuci, tumbler, dan boneka satwa, bagi siswa yang dapat menjawab kuis dengan benar. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bersama JSI, BBKSDA Jatim Edukasi Siswa Melalui Rimbawan Mengajar

Madiun, 6 Mei 2026. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kembali menggelar Rimbawan Mengajar pada Selasa, 5 Mei 2026. Kali ini tim dari Bidang KSDA Wilayah I Madiun bersama Jaga Satwa Indonesia (JSI) melaksanakannya di MTS Negeri 9 Madiun yang berlokasi di Desa Kare, Kec. Kare, Kab. Madiun. Kegiatan Rimbawan Mengajar kali ini memiliki tujuan untuk menyebarluaskan informasi konservasi serta penguatan peran pelajar sebagai agen perubahan lingkungan. Beberapa materi diberikan kepada para siswa seperti tugas pokok dan fungsi BBKSDA Jawa Timur, pengenalan dan pengelolaan kawasan konservasi, serta pengenalan tumbuhan dan satwa liar dilindungi. Selain penyampaian materi, kegiatan edukasi konservasi ini juga dilakukan diskusi interaktif dan praktek. JSI memberikan pengenalan mengenai jenis-jenis satwa dan cara penanganan beberapa satwa yang sering dijumpai di alam, seperti Ular, Biawak, dan Musang. Kepalas MTS Negeri 9, Moh. Masykur, sangat menyambut baik kegiatan ini, karena dapat mendukung program kegiatan sekolah. “Kami berharap akan tumbuh kepedulian para siswa untuk ikut berperan aktif dalam menjaga kelestarian hutan, tumbuhan, satwa dan lingkungan yang ada di sekitarnya,” ujarnya. Selama kegiatan terlihat para siswa antusias dalam mengikuti materi-materi yang diberikan hingga selesai. Mereka benar-benar tidak menyia-nyiakan waktu diskusi untuk bertanya dan menjawab kuis dari pengajar. Apalagi disediakan doorprize bagi yang bertanya dan mampu menjawab pertanyaan seputar konservasi. Sumber: Agus Irwanto – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pendidikan Konservasi Bersama Mitra Cop Di Sekolah Sekitar Kawasan SM Siranggas

Panggegean, 4 Mei 2026 — Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang bersama dengan mitra Centre for Orangutan Protection (COP) telah melaksanakan kegiatan Pendidikan Konservasi/visit to school pada 2 sekolah yang berada di sekitar kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Siranggas yaitu SD N 030419 Panggegean dan SMP N Panggegean Desa Bandar Baru, Kec. Sitellu Tali Urang Jehe, Kab. Pakpak Bharat pada Kamis (30/4). Kegiatan pendidikan konservasi ini dilakukan sebagai upaya memperkenalkan kawasan konservasi, tumbuhan dan satwa liar dilindungi serta mengenai konservasi Orangutan sumatera (Pongo abelii). Selain pemberian materi, kegiatan ini juga diisi dengan games dan quiz yang menghidupkan suasana serta memahami dengan lebih baik materi yang disampaikan. Peserta pendidikan konservasi pada SD N 030419 Panggegean sejumlah 99 orang yang terdiri dari kelas III, IV, V dan VI sedangkan pada SMP N Panggegean sejumlah 103 Orang yang terdiri dari kelas VII, VIII dan IX. Di akhir kegiatan dilakukan foto bersama sekaligus pemberian cinderamata berupa poster tentang satwa Orangutan Sumatera. Harapannya generasi muda dapat lebih dini mengenal kawasan konservasi serta keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya terutama satwa dilindungi seperti Orangutan sumatera yang merupakan salah satu satwa kunci di SM Siranggas, Kab. Pakpak Bharat serta memiliki rasa konservasi dalam menjaga hutan dan keanekaragaman hayatinya untuk masa depan yang lebih baik. Salam Lestari !!! Sumber: Hafsah Purwasih (Penyuluh Kehutanan SKW I Sidikalang) — Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Project Board Meeting Proyek CONSERVE dan IN-FLORES: Siapkan Strategi Membangun Konservasi Keberlanjutan Bersama

April 2026. Kementerian Kehutanan menyelenggarakan Project Board Meeting (PBM) Proyek Catalyzing Optimum Management of Natural Heritage for Sustainability of Ecosystem, Resources and Viability of Endangered Wildlife Species (CONSERVE) dan Investing in the Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN-FLORES) di Jakarta, Kamis (23/04). Pertemuan ini bertujuan mengevaluasi capaian kinerja kuartal I serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi kedua proyek di bawah Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik sebagai Implementing partner. Direktur Jenderal KSDAE selaku Chair Project Board, Satyawan Pudyatmoko, dalam sambutannya menekankan pentingnya optimalisasi penyaluran hibah dan penyusunan exit strategy pada Proyek CONSERVE yang dijadwalkan berakhir pada Februari 2028. Sementara itu, Proyek IN-FLORES akan menghadapi Mid-Term Review, sehingga pencapaian indikator kinerja perlu terus ditingkatkan. Pada kesempatan yang sama, GEF OFP Indonesia, Erik Teguh Primiantoro, menyoroti pentingnya menyampaikan dampak intervensi proyek secara spasial sehingga bisa memberikan gambaran keberhasilan yang telah dilakukan dengan membandingkan misalnya melalui peta tutupan lahan. Ia juga menekankan efektivitas penggunaan anggaran untuk mendukung operasional pada fase krusial guna menghindari no cost extension. Diskusi yang dihadiri oleh Project Board Member dari Kementerian Kehutanan, Kementerian PPN/Bappenas, dan Kementerian Keuangan ini dipimpin oleh National Project Director (NPD) Proyek CONSERVE dan IN-FLORES, Ahmad Munawir. Pertemuan menghasilkan kesepakatan penambahan alokasi anggaran pada 2026 dengan tetap mempertimbangkan mitigasi risiko serta akuntabilitas pelaporan. Sumber: Direktorat Jenderal KSDAE
Baca Artikel

Diduga Jejak Harimau Sumatera, Balai TN Batang Gadis Lakukan Langkah Mitigasi

Mandailing Natal, Mei 2026 – Tim Balai Taman Nasional Batang Gadis bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara melaksanakan penanganan konflik satwa liar yang diduga Harimau Sumatera di Desa Hutanamale (Kecamatan Puncak Sorik Marapi) dan Desa Aek Marian (Kecamatan Lembah Sorik Marapi), Kabupaten Mandailing Natal. Kemunculan satwa tersebut dilaporkan masyarakat sejak awal April 2026 dan telah menimbulkan keresahan di kedua wilayah. Berdasarkan laporan warga serta surat dari pemerintah kecamatan, aktivitas satwa terdeteksi di sekitar area perkebunan dan mendekati permukiman. Menindaklanjuti laporan tersebut, tim gabungan bersama masyarakat melakukan observasi lapangan pada 25–26 April 2026. Dari hasil penelusuran, ditemukan sejumlah jejak kaki yang diduga kuat milik Harimau Sumatera dengan ukuran bervariasi. Di Desa Hutanamale ditemukan dua jejak dengan ukuran berbeda, masing-masing panjang tapak 13 cm dan 6 cm, sedangkan di Desa Aek Marian ditemukan jejak dengan panjang tapak 14 cm. Perbedaan ukuran ini mengindikasikan keberadaan lebih dari satu individu. Lokasi temuan jejak berada cukup dekat dengan permukiman warga, yakni sekitar 800 meter dari Dusun Hutanamale Lama dan sekitar 900 meter dari Desa Aek Marian serta lingkungan SMKN 1 Lembah Sorik Marapi. Selain itu, terdapat laporan perjumpaan langsung warga dengan satwa pada 15 April 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Berdasarkan hasil analisis sementara, diduga terdapat dua individu Harimau Sumatera, yaitu satu individu dewasa dan satu anakan yang kemungkinan sedang dalam fase penyapihan dan mencari wilayah jelajah baru. Sebagai langkah penanganan, tim telah memasang kamera pemantau (camera trap) di empat titik untuk memastikan identifikasi satwa. Selain itu, masyarakat diimbau untuk membatasi aktivitas di kebun hingga sebelum pukul 16.00 WIB serta beraktivitas secara berkelompok. Upaya mitigasi juga dilakukan melalui penentuan titik penghalauan dan penjagaan bersama masyarakat, serta penggunaan bunyi-bunyian seperti dentuman meriam pada pagi dan sore hari selama dua minggu sejak 25 April 2026. Adapun lokasi temuan berada di kawasan Hutan Lindung di Desa Hutanamale dan Area Penggunaan Lain (APL) di Desa Aek Marian, dengan kondisi lahan berupa kebun kopi, serai wangi, durian, karet, dan tanaman campuran. Di sekitar lokasi juga terdapat permukiman warga, termasuk satu dusun dengan sekitar 10 kepala keluarga yang berjarak kurang dari satu kilometer dari titik temuan. Melihat kondisi tersebut, tim menilai perlu dilakukan upaya penghalauan lanjutan guna mencegah potensi konflik yang lebih luas serta meminimalisir risiko bagi masyarakat maupun satwa. Pihak terkait mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun waspada, serta segera melaporkan apabila kembali menemukan tanda-tanda keberadaan satwa liar di sekitar permukiman. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Pendampingan Kelompok Tani Makmur Saroha melalui Program Multiusaha Aren di Desa Huraba

Foto Bersama Tim Penyuluh Kehutanan BBKSDA Sumatera Utara dengan Ketua Kelompok Tani Makmur Saroha dan Perangkat Desa Huraba Huraba, 28 April 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melaksanakan kegiatan penyuluhan kehutanan di Desa Huraba. Kegiatan ini dipimpin oleh Muhammad Hatta, S.Hut. bersama tim penyuluh lainnya dalam pendampingan Kelompok Tani Makmur Saroha. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi metode Latihan dan Kunjungan (LaKu) dalam rangka mendukung program multiusaha kehutanan berbasis komoditi aren yang dicanangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Penyuluh kehutanan menyampaikan sosialisasi mengenai program pemerintah mengenai pengelolaan dan pemanfaatan komoditi aren secara berkelanjutan dan bernilai ekonomi. Program ini diharapkan mampu membuka wawasan masyarakat terhadap potensi besar tanaman aren yang selama ini belum dikelola secara optimal, serta mendorong peningkatan kesejahteraan kelompok melalui pengelolaan yang lebih modern dan terarah. Selain itu, penyuluh juga menjelaskan teknis tentang pembibitan tanaman aren, mulai dari pemilihan buah induk yang berkualitas, proses penyemaian biji, hingga tahap penyapihan dan pemeliharaan bibit dalam polybag. Penjelasan ini bertujuan untuk memastikan kelompok tani mampu menghasilkan bibit unggul yang siap tanam sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman di masa mendatang. Selanjutnya dalam aspek pemanfaatan, kelompok juga mendapat pemahaman tentang berbagai produk olahan aren yang bernilai ekonomi tinggi, seperti gula aren cetak, gula semut, kolang-kaling, hingga produk turunan lainnya seperti ijuk dan bahan kerajinan. Informasi ini menjadi penting sebagai upaya diversifikasi usaha yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan. Penyuluh juga menyampaikan teknik penanaman aren yang baik dan benar serta pemeliharaan tanaman sejak awal pertumbuhan. Pendampingan ini juga menekankan pentingnya pengendalian gulma, perlindungan terhadap hama, serta pemupukan rutin guna mendukung pertumbuhan optimal tanaman aren. Tidak kalah penting, kelompok juga turut mendapatkan informasi terkait teknik penyadapan nira aren sebagai salah satu tahapan utama dalam pemanfaatan hasil tanaman. Penyadapan secara tepat dapat membuka hasil produk berkualitas sekaligus menjaga keberlanjutan produksi tanaman dalam jangka panjang. Melalui kegiatan pendampingan ini, terlihat antusiasme tinggi dari Kelompok Tani Makmur Saroha dalam mengembangkan komoditi aren secara lebih profesional. “Kami berharap pendampingan ini dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesadaran masyarakat terhadap potensi ekonomi tanaman aren secara maksimal” ujar Muhammad Hatta, S.Hut. Sumber: Gerin Christian Sukartoyo, A.Md. - Seksi Konservasi Wilayah V Sipirok, Bidang KSDA Wilayah III Padagsidimpuan – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kolaborasi Menjaga Alam Menjadi Jalan Peradaban di Pulau Bawean

Bawean, 5 Mei 2026. Upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam kembali terlihat di Pulau Bawean. Pada Sabtu, 2 Mei 2026, sekitar 200 bibit Nyamplung (Calophyllum inophyllum) ditanam di Blok Kumalasa, wilayah yang secara spasial beririsan dengan Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Kegiatan ini diinisiasi oleh LAZISNU Bawean dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh organisasi, perangkat desa, hingga pelajar. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) turut hadir, memastikan kegiatan berjalan dalam koridor konservasi. Arif Wichaksono, Polisi Kehutanan BBKSDA Jawa Timur, menyampaikan bahwa pemilihan jenis tanaman menjadi aspek penting dalam kegiatan ini. Nyamplung dipilih karena merupakan jenis vegetasi lokal yang secara alami mendominasi kawasan tersebut. “Pendekatan ekologis menjadi dasar, agar penanaman tidak sekadar menambah pohon, tetapi benar-benar mendukung pemulihan habitat,” ujarnya. Lokasi penanaman berada pada dua titik di kawasan Blok Kumalasa, yang memiliki fungsi penting sebagai bagian dari bentang habitat satwa liar di Pulau Bawean. Secara administratif, area ini beririsan dengan kawasan suaka margasatwa, sehingga setiap aktivitas di dalamnya memerlukan kehati-hatian serta koordinasi dengan pengelola kawasan. Dari sisi jumlah, sekitar 200 bibit ditanam dalam kegiatan tersebut. Namun, keberhasilan reboisasi tidak berhenti pada penanaman. Tingkat hidup tanaman, pemeliharaan, serta pengawasan pasca kegiatan menjadi faktor penentu keberlanjutan. Kegiatan ini memiliki nilai strategis, terutama dalam membangun kesadaran konservasi berbasis masyarakat. Keterlibatan generasi muda dinilai penting sebagai bagian dari proses pembelajaran langsung tentang hubungan antara manusia dan ekosistem. Meski demikian, terdapat sejumlah catatan penting. Lokasi yang berada di dalam atau beririsan dengan kawasan konservasi menuntut pengendalian aktivitas agar tetap sesuai dengan fungsi kawasan. Koordinasi sejak tahap perencanaan menjadi krusial untuk mencegah potensi kesalahpahaman di lapangan. Pendekatan komunikatif dan persuasif yang diterapkan selama kegiatan dinilai efektif menjaga kondusivitas. Model ini membuka peluang bagi penguatan kemitraan konservasi antara pemerintah dan masyarakat, yang selama ini menjadi tantangan dalam pengelolaan kawasan. Ke depan, diperlukan langkah lanjutan berupa inventarisasi teknis, validasi jumlah dan sebaran bibit, serta penetapan lokasi sebagai titik monitoring berkala. Data tersebut penting sebagai dasar evaluasi keberhasilan pemulihan ekosistem di Blok Kumalasa. Bagi masyarakat Bawean, kawasan konservasi bukan sekadar ruang lindung. Ia menjadi penyangga kehidupan, menyediakan air, menjaga keseimbangan lingkungan, serta menjadi habitat bagi satwa liar yang tidak tergantikan. Dalam konteks ini, menjaga kawasan berarti menjaga keberlangsungan hidup itu sendiri. Kolaborasi ini menunjukkan satu hal bahwa menjaga alam bukan hanya soal ekologi, tetapi juga tentang bagaimana manusia membangun masa depannya. Di Pulau Bawean, langkah itu sedang dimulai, dari lubang tanam sederhana, menuju gagasan besar tentang peradaban yang berakar pada kelestarian. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pastikan Batas Kawasan Utuh, Tim Patroli Susuri Gunung Sigogor

Ponorogo, 5 Mei 2026. Sejenak tim patroli berhenti melangkah, pekikan Elang hitam jelas terdengar jauh diatas kepala mereka. Beberapa dari tim berusaha mencari ruang kosong agar bisa mengabadikan momen ini, sebagian yang lain melaporkannya melalui smart mobile. Sejak 28 hingga 30 April 2026, tim Smart Patrol Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan patroli di Kawasan Konservasi Cagar Alam Gunung Sigogor. Bukan sekedar memastikan keamanan kawasan, tim juga mendampingi beberapa mahasiswa Univ. Negeri Surabaya yang sedang melaksanakan magang. Pelaksanaan patroli kali ini mencakup luasan 2,6382 Ha yang terdiri atas 15 grid pengamanan. Mulai memastikan batas kawasan utuh, hingga potensi kehati yang dijumpai. Semua temuan dicatat sedetail mungkin. Seperti beberapa fauna yang ditemui selama patroli berlangsung. Elang Hitam, Tulung Tumpuk, Cinenen, Sikatan Gunung, Opior Jawa nan Sepah Gunung. Bahkan tim juga berjumpa dengan Ular-tikus raja (Ptyas carinata) saat melintas di sebuah jalur patroli. Sedikitnya 17 jenis flora yang tim catat saat patroli berlangsung. Diantaranya, Wesen, Dali, Morosowo, Tutup, Suren, Kecapi, Talesan, Madu, Jurang, Kemaduh, Cemara Gunung, Apak, Cempoko, Salam Watu, Nyampuh, Aren, dan Jetanan/Kecacil. Ada sebuah catatan patroli yang terungkap, meski pal batas ditemukan utuh, namun kondisi petunjuk arah dan nomor pal buram serta sulit terbaca. Hal ini tentu membutuhkan perhatian kedepan, untuk segera dilakukan pemeliharaan batas kawasan konservasi ini. Patroli kali ini mencatat satu hal bahwa Sigogor menyimpan kehidupan, sejarah, dan harapan. Dan pada setiap langkah patroli, ada upaya-upaya untuk memastikan bahwa kekayaan hayati itu tidak sirna ditelan zaman. (kila) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jelajah Hutan Hingga Titik Triangulasi 2615 — Tren Baru Wisata Alam di Taman Wisata Alam Deleng Lancuk

Mei 2026. Kegiatan jelajah hutan (jungle trekking) menuju titik triangulasi (TT) 2615 di Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk mulai menarik minat generasi muda pencinta alam. Sejak 9 Februari 2026, dilanjutkan pada 28-30 Maret 2026 dan 3 Mei 2026, tercatat 31 peserta dari kalangan mahasiswa dan pekerja asal Tebing Tinggi, Medan, Binjai, Berastagi, Naman Teran (Karo), Pangkalan Berandan hingga Aceh ikut ambil bagian dalam pengalaman jelajah hutan ini. Perjalanan menuju TT 2615 yang berada pada ketinggian 1.611 meter di atas permukaan laut (mdpl) sangat menantang bagi kawula muda. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, waktu tempuhnya bervariasi antara 3-6 jam dengan jarak 4-10 km tergantung rute awal yang dipilih. Umumnya, rute favorit pengunjung adalah dengan waktu tempuh sekitar 3 jam dengan jarak 4-5 km pulang-pergi, melewati kontur menanjak, menurun, dan bergelombang khas perbukitan hutan hujan tropis. Mengenal Titik Triangulasi (TT) 2615 Titik triangulasi (TT) yang menjadi target pengunjung di TWA Deleng Lancuk disebut juga triangulatie, pilar trigonometri, atau trig point — merupakan pilar beton atau tugu yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 (sekitar tahun 1860-an). Pilar ini menjadi bagian dari jaringan survei geodesi untuk pemetaan wilayah. TT 2615 di TWA Deleng Lancuk berbentuk persegi, ukuran 50 x 50 cm dengan tinggi 20 cm di atas permukaan tanah. Pilar ini berdiri di puncak tertinggi kawasan TWA Deleng Lancuk dan menjadi saksi sejarah kegiatan pemetaan wilayah Sumatera, yang kemudian berlanjut hingga awal kemerdekaan. Oleh masyarakat, titik ini sering disebut tugu atau pilar puncak. Kini, TT 2615 bertransformasi menjadi landmark wisata di TWA Deleng Lancuk yang memadukan petualangan, sejarah serta edukasi konservasi. Wisata Alam Sekaligus Edukasi Konservasi Jungle Trekking ke TT 2615 bukan sekeder perjalanan ke hutan. Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk pengenalan fungsi dan manfaat hutan bagi kehidupan, pendidikan konservasi, pengamatan satwa liar, identifikasi keanekaragaman hayati dari strata bawah hingga kanopi pohon. Dalam perjalanan jelajah hutan, pengunjung akan didampingi petugas resor dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) sebagai pemandu lokal, sehingga perjalanan akan terasa aman, nyaman, dan informatif. Panorama Alam yang Memukau Dari jalur pendakian dan puncak TWA Deleng Lancuk, pengunjung dapat menikmati panorama alam Danau Lau Kawar, hamparan hutan Deleng Lancuk dan siluet megah Gunung Sinabung. Perpaduan lanskap dan udara pegunungan yang segar akan menjadikan perjalanan ke TWA Deleng Lancuk menjadi pengalaman yang menyehatkan sekaligus menyegarkan pikiran. Ayo ke TWA Deleng Lancuk — jelajahi hutannya, kenali sejarahnya dan cintai alamnya Sumber: Samuel Siahaan, S.P (PEH) & Eva Suryani Sembiring, S.Hut (Penyuluh) — Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Misteri Kehadiran Elang Paria dari Gunung Lorokan ke Lamongan

Lamongan, 5 Mei 2026. Kisah ini bermula di lereng sunyi Gunung Lorokan, Pacet, Mojokerto, ketika seekor Elang Paria memperlihatkan perilaku yang tak biasa. Ia tidak melingkar tinggi di langit sebagaimana lazimnya burung pemangsa, melainkan turun, mendekat, dan memakan sisa makanan yang ditinggalkan manusia. Rekaman singkat yang beredar pada 1 Mei 2026 itu dengan cepat menarik perhatian. Bagi sebagian orang, itu sekadar peristiwa langka. Namun bagi mereka yang memahami perilaku satwa liar, ada sesuatu yang terasa janggal, sebuah perubahan kecil yang bisa menjadi pertanda lebih besar. Di antara yang memperhatikan dengan serius adalah seorang pelajar asal Lamongan, Ahmad Ilham Fathurrahman. Ketertarikannya pada burung membuatnya peka terhadap detail yang mungkin terlewat oleh orang lain. Ia kembali ke lokasi keesokan harinya, menapaki jalur yang sama, mencari kepastian. Yang ia temukan justru memperkuat kegelisahannya. Elang itu masih berada di sana. Ia tidak menjauh. Ia tetap mendekati manusia, seolah telah mengenali kehadiran mereka sebagai bagian dari sumber hidupnya. Dalam dunia satwa liar, itu bukan sekadar keanehan, itu adalah perubahan perilaku. Dengan naluri kepedulian yang tumbuh dari pengetahuan dan empati, ia kemudian membawa elang tersebut keluar dari situasi berisiko. Perjalanan satwa itu pun berlanjut, berpindah dari lereng pegunungan menuju kawasan permukiman di Lamongan, menunggu penanganan lebih lanjut dari otoritas konservasi. Respons Cepat di Lapangan Pada Minggu, 3 Mei 2026, Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Resort Konservasi Wilayah (RKW) 08 Mojokerto–Lamongan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak menindaklanjuti laporan tersebut. Koordinasi dilakukan dengan cepat. Proses evakuasi berlangsung lancar dengan pendekatan yang mengedepankan kesejahteraan satwa (animal welfare), memastikan bahwa setiap langkah tidak menambah tekanan bagi satwa yang telah mengalami perubahan perilaku. Hasil identifikasi memastikan bahwa individu tersebut adalah satu ekor Elang Paria dalam kondisi hidup. Spesies ini termasuk satwa dilindungi secara nasional dan tercantum dalam Appendix II CITES, dengan status global Least Concern. Namun di balik label status tersebut, tersimpan cerita yang lebih kompleks. Elang Paria adalah spesies yang menjelajah lintas benua. Ia hadir di Eropa, Asia, hingga Afrika, dikenal sebagai raptor yang mampu beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Di beberapa wilayah, ia bahkan hidup berdampingan dengan manusia, memanfaatkan sumber pakan dari aktivitas urban. Namun di Indonesia, khususnya Pulau Jawa, kehadirannya tidak menjadi bagian dominan dari komunitas raptor setempat. Mungkian ia datang dan pergi, lebih sebagai pengembara daripada penghuni tetap. Dan di sinilah kisah ini menjadi menarik. Apa yang terjadi di Gunung Lorokan memberikan petunjuk awal, tentang adanya interaksi antara satwa dan manusia telah melampaui batas alaminya. Makanan yang ditinggalkan pendaki menjadi titik awal. Dari sana, terbentuk pola, bahwa manusia dapat menjadi sumber pakan yang mudah. Dalam waktu singkat, naluri waspada dapat tergantikan oleh kebiasaan. Namun ada lapisan lain yang lebih dalam. Perilaku elang yang tidak menunjukkan agresivitas, tidak menjauh, dan relatif toleran terhadap kehadiran manusia membuka kemungkinan bahwa interaksi tersebut bukan terjadi sekali. Bisa jadi, ada riwayat yang tidak terlihat, sebuah fase di mana satwa ini pernah lebih dekat dengan manusia daripada seharusnya. Dalam konteks konservasi, pola seperti ini kerap muncul pada satwa yang pernah berada di luar habitat alaminya, baik karena dipelihara, ditangkap, atau dilepas kembali tanpa prosedur yang sesuai. Tidak ada bukti yang secara langsung mengarah ke sana dalam kasus ini. Namun ruang kemungkinan itu tetap ada, yang menjadi sebuah wilayah abu-abu yang sulit diabaikan. Perubahan perilaku satwa liar sering kali tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan, dipengaruhi oleh interaksi kecil yang berulang. Sisa makanan di jalur pendakian. Kebiasaan memberi makan. Atau bahkan keputusan manusia yang tidak bertanggung jawab terhadap satwa yang pernah berada dalam kendalinya. Semua itu dapat mengubah arah hidup seekor satwa. Dan ketika predator seperti Elang Paria mulai bergantung pada manusia, maka yang berubah bukan hanya perilaku, melainkan juga peluangnya untuk bertahan di alam liar. Evakuasi telah dilakukan. Satwa telah diamankan. Prosedur telah dijalankan dengan baik. Namun kisah ini tidak berakhir di sana. Semuanya bermula dari satu pertemuan di lereng Gunung Lorokan, Pacet, Mojokerto, sebuah pertemuan yang seharusnya tidak terjadi dalam kondisi normal. Mengapa seekor Elang Paria berada di sana? Apakah ia sekadar pengembara yang tersesat, mengikuti arah angin dan naluri alaminya? Ataukah ia pernah mengenal manusia lebih dekat dari yang seharusnya, lalu kembali ke alam dengan cara yang tidak sepenuhnya alami? Apakah ini murni bagian dari dinamika ekologis… atau ada jejak tangan manusia yang tak terlihat? Dan jika benar ada peran manusia di baliknya, maka pertanyaannya menjadi lebih dalam, ”apakah kita sedang menyaksikan satwa liar yang kehilangan arah…atau konsekuensi dari manusia yang diam-diam telah mengubah arah hidup mereka?” Sumber : Deswara Hergo Pamadya & Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Patroli MMP dan Pemasangan Plang Batas Kawasan di Wilayah Kerja Resort Barumun III

Tim SKW VI Kota Pinang Beserta Masyarakat Desa Pintu Padang Melakukan Pemasangan Plang batas kawasan di Lokasi Pasca Karhutla Padang Lawas, 29 April 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) VI Kota Pinang melaksanakan Kegiatan patroli bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan Pemasangan Plang batas Kawasan dilokasi pasca Karhutla tahun 2025 di Desa Pintu Padang. Tim petugas SKW VI Kota Pinang mengambil langkah tegas terhadap aktivitas perambahan di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Barumun. petugas menemukan indikasi kuat penanaman kelapa sawit ilegal di area bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kegiatan yang berlangsung pada 27–29 April 2026 di Desa Pintu Padang, Kecamatan Ulu Barumun ini mengungkap adanya tanaman sawit berusia sekitar 4–5 bulan yang ditanam di dalam kawasan konservasi. Selain itu, tim juga menemukan indikasi penebangan pohon pada area yang sebelumnya terdampak kebakaran. Sebagai langkah awal penertiban, BBKSDA Sumut telah memasang plang penegasan batas kawasan serta memberikan peringatan kepada pihak-pihak yang diduga melakukan penguasaan lahan secara ilegal. Masyarakat yang memiliki tanaman sawit di dalam kawasan diberikan waktu 7 (tujuh) hari untuk mengklarifikasi atau memindahkan tanamannya secara mandiri. “Ini adalah bentuk komitmen kami dalam menjaga kawasan konservasi. Tidak boleh ada aktivitas ilegal di dalam SM Barumun, terlebih di area yang sedang dalam proses pemulihan pasca karhutla,” tegas tim di lapangan. Apabila dalam batas waktu yang sudah ditentukan tidak ada respon dari para pemilik kebun yang berada didalam kawasan, maka dari pihak BBKSDA Sumatera Utara akan melakukan tindakan penertiban berupa pencabutan tanaman secara langsung, serta membuka peluang penegakan hukum sesuai ketentuan yang berlaku. Langkah ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kecamatan Ulu Barumun dan Koramil 08 Barumun yang siap berkolaborasi dalam upaya pengamanan dan pemulihan kawasan. Pemerintah setempat juga mendorong dilaksanakannya sosialisasi kepada masyarakat guna memperkuat pemahaman terkait status dan fungsi kawasan konservasi. BBKSDA Sumatera Utara menegaskan bahwa kawasan SM Barumun merupakan habitat penting bagi keanekaragaman hayati, termasuk satwa dilindungi, sehingga harus dijaga dari segala bentuk ancaman perusakan. Ke depan, upaya penertiban ini akan diikuti dengan kegiatan pemulihan ekosistem melalui penanaman kembali pada area terdampak, serta peningkatan patroli dan pengawasan terpadu. Sumber : Seksi Konservasi Wilayah VI Kota Pinang, Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan-Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 33–48 dari 2.298 publikasi