Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Konservasi yang Lebih Dekat pada Rakyat: Areal Preservasi dan Harapan Baru untuk Masyarakat Penyangga

Sidoarjo, 20 November 2025. Di tengah dinamika perubahan lanskap Jawa Timur yang kian cepat, lahir sebuah gagasan besar yang perlahan mengubah cara kita memandang konservasi alam. Ia tidak lagi hanya berdiri di kawasan yang berpagar atau dibatasi garis tata ruang. Kini, upaya pelestarian menyentuh ruang hidup masyarakat, pesisir, hutan produksi, lahan pertanian, hingga pulau-pulau kecil. Gagasan itu bernama Areal Preservasi (AP) sebagai mandat baru dari UU 32/2024, sebuah pendekatan konservasi yang inklusif, adaptif, dan menghubungkan kepentingan ekologi dengan kesejahteraan manusia. Dalam Rapat Sosialisasi dan Verifikasi Potensi Areal Preservasi Jawa Timur, yang digelar pada 20 November 2025 di Sidoarjo, para pemangku kepentingan lintas sektor berkumpul untuk merumuskan masa depan AP. Mereka membawa data, pengalaman lapangan, dan kegelisahan yang sama, bagaimana melindungi keanekaragaman hayati yang sebagian besar justru berada di luar kawasan konservasi. Konservasi yang Tidak Lagi Berjarak Areal Preservasi muncul dari kebutuhan nyata. Indonesia, negara mega biodiversitas yang tengah menghadapi triple planetary crisis mulai dari hilangnya kehati, perubahan iklim, dan polusi, yang memerlukan pendekatan yang lebih fleksibel. Banyak wilayah bernilai ekologis tinggi justru berada di hutan produksi, mangrove desa, perkebunan rakyat, hingga kawasan kelola swasta. Dr. Mahfudz, M.P., Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan, menegaskan hal ini dalam arahannya. “Enam puluh hingga tujuh puluh persen keanekaragaman hayati Indonesia berada di luar kawasan konservasi. Itulah sebabnya Areal Preservasi menjadi instrumen mutlak untuk menutup celah perlindungan tersebut,” tegasnya. Beliau juga mengingatkan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati merupakan bagian dari lima kebijakan strategis Kementerian Kehutanan, mulai dari menjaga hutan sebagai paru-paru dunia hingga memastikan pengelolaan hutan yang berkeadilan. AP menjadi ruang partisipasi yang memungkinkan semua pihak terlibat tanpa mengubah status legal kawasan. Pernyataan itu menggambarkan realitas Jawa Timur yang terekam dalam inventarisasi kehati 2021–2023. Dari pesisir Ujung Pangkah yang subur oleh mangrove, hingga dataran rendah Teluk Pangpang yang menjadi jalur burung air migran, banyak ruang-ruang hidup penting yang selama ini belum memiliki perlindungan memadai. Komitmen Kawasan, Komitmen Manusia Sosialisasi AP tidak hanya dimaknai sebagai agenda teknis. Ia menjadi ruang penyamaan visi. Dalam pembukaan, Dr. Ir. Jumadi, M.MT., Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, menegaskan urgensi kolaborasi lintas sektor. “Jawa Timur mengalami dinamika signifikan dalam perubahan fungsi kawasan hutan. AP harus menjadi instrumen yang menyatukan peran pusat, provinsi, kabupaten, hingga desa. Kita harus memastikan bahwa integrasi kebijakan kehutanan dan tata ruang berjalan selaras dengan perlindungan keanekaragaman hayati,” ungkapnya . AP hadir bukan untuk membatasi aktivitas masyarakat, melainkan memperkuat ruang hidup mereka. Banyak desa pesisir dan masyarakat lokal selama ini justru menjadi penjaga ekosistem paling efektif, sekaligus kelompok pertama yang terkena dampak ketika lingkungan rusak. Konsep AP menempatkan mereka sebagai mitra utama, bukan sekadar penonton atau objek kebijakan. Areal Preservasi: Ruang Hidup yang Dilindungi Tanpa Mengikat Dalam paparannya, Ir. Jefry Susyafrianto, M.M., Direktur Pemulihan Ekosistem dan Bina Areal Preservasi, menjelaskan karakter AP secara filosofis dan teknis. Areal Preservasi adalah instrumen konservasi baru yang fleksibel, inklusif, dan berbasis masyarakat. Ia mendukung target FOLU Net Sink 2030, mengatasi fragmentasi habitat, dan menutup celah perlindungan di wilayah marjinal,” jelasnya . Beliau juga menegaskan bahwa AP bukan kawasan terlarang dan tidak mengubah status kawasan. “AP memungkinkan model pembiayaan lebih terbuka, termasuk hybrid funding, dan memberi manfaat konservasi nyata tanpa mencabut hak kelola masyarakat,” tambahnya. Inilah kekuatan utama AP bahwa perlindungan yang tidak memisahkan manusia dari alam, tetapi justru menyatu dengan ruang hidup mereka. Data Tidak Pernah Berdusta: Lima Lokasi Prioritas AP Jawa Timur Berdasarkan hasil inventarisasi kehati dan analisis lanskap, rapat sepakat menetapkan lima lokasi prioritas AP tahun 2025, yaitu Pulau Masakambing, Mangrove Ujung Pangkah, Pantai Kili-kili, Teluk Pangpang dan Galur Pakis. Kelima lokasi ini merupakan eks-Kawasan Ekosistem Esensial yang terbukti memiliki nilai kehati tinggi dan fungsi ekologis penting, mulai dari habitat burung endemik, mangrove sebagai penyangga pesisir, hingga koridor satwa di kawasan dataran rendah . Sebuah Peta, Ribuan Asa Pada sesi inti rapat, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, memaparkan potensi AP di Jawa Timur. “Areal Preservasi adalah mandat baru yang memperkuat perlindungan keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi. Banyak lokasi memiliki lebih dari 50% nilai kehati tinggi, dan banyak di antaranya berada di lanskap yang rentan tekanan,” jelasnya . Beliau juga menegaskan bahwa AP tidak bisa berdiri tanpa kerja bersama. “Pengembangan AP membutuhkan dukungan multi pihak. Tanpa kolaborasi Dishut, DLH, Bappeda, Perhutani, pemerintah daerah, lembaga riset, dan masyarakat lokal, AP tidak akan efektif,” ujarnya. Peta Arahan Areal Preservasi 2025 bukan sekadar dokumen teknis. Ia adalah arah baru pengelolaan ekologi Jawa Timur. Pelibatan Masyarakat Sebagai Pondasi Dalam rumusan rapat, seluruh pihak sepakat bahwa pelibatan masyarakat lokal adalah bagian wajib dalam penyusunan profil AP. Mereka adalah saksi hidup ekosistem, pengelola ruang, dan penerima dampak langsung dari konservasi maupun pembangunan. AP menjadi ruang dialog yang menyatukan nilai ilmiah dengan kearifan lokal. Ia memberi peluang pada masyarakat untuk mendapatkan manfaat ekologis, sosial, dan bahkan ekonomi, selama pengelolaan dilakukan secara berkelanjutan. Menuju Pengelolaan yang Lebih Adil dan Berkelanjutan Rapat ditutup dengan kesepakatan penting di mana Lima lokasi prioritas AP disetujui, Verifikasi lapangan dilaksanakan Desember 2025–Maret 2026, Peta Arahan AP dan Rencana Aksi Pengelolaan 2026–2029 akan diselesaikan serta PP turunan UU 32/2024 disiapkan untuk memastikan tata kelola dan insentif berjalan efektif. Hal tersebut dilakukan agar AP menjadi instrumen strategis untuk menjembatani kepentingan ekologi dan kesejahteraan masyarakat. Areal Preservasi mengingatkan kita bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi kawasan, tetapi juga melindungi relasi manusia dengan alam. Ketika masyarakat dilibatkan sebagai mitra, konservasi berubah menjadi gerakan budaya, gerakan yang tumbuh dari kesadaran, bukan sekadar peraturan. Jawa Timur kini berada di persimpangan penting. Melalui AP, provinsi ini memberi teladan bahwa pelestarian alam dapat dilakukan dengan cara yang lebih adil, lebih dekat, dan lebih memberdayakan. Sebuah masa depan baru sedang dibangun, masa depan di mana alam dan manusia berjalan berdampingan, saling menjaga, dan saling menghidupi. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Saobi Mengirim Isyarat, Penurunan Skor METT Ungkap Tekanan Baru di Selatan Pulau Kangean

Sumenep, 19 November 2025. Cagar Alam (CA) Pulau Saobi, salah satu benteng terakhir ekosistem hutan pantai di selatan Pulau Kangean, kembali mengirim isyarat penting. Hasil Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan (METT v4.4) tahun 2025 menunjukkan angka 62,63%, turun signifikan dari 72% pada tahun 2023. Penurunan ini membuka diskusi serius tentang tantangan, kapasitas, dan masa depan konservasi di pulau kecil yang jauh dari pusat kota ini. Penilaian yang dilaksanakan pada 19 November 2025 di Balai Desa Saobi tersebut menghadirkan 20 peserta yang mewakili unsur pemerintahan, keamanan, lembaga desa, tokoh masyarakat, hingga warga setempat. Kehadiran unsur Camat Kangayan, Kapolsek Kangayan, Koramil Arjasa, perangkat desa, dan perwakilan masyarakat menunjukkan bahwa Saobi bukan sekadar kawasan konservasi, tetapi juga jantung ekologis yang mempengaruhi kehidupan sosial-budaya masyarakat pulau. Dalam sesi penilaian, fasilitator mencatat adanya perubahan signifikan dalam teknik dan indikator METT, terutama penambahan variabel baru seperti Jasa Lingkungan dan Karbon. Kedua indikator ini belum memiliki data kajian yang memadai, sehingga menurunkan nilai total kawasan. Dari sisi internal, keterbatasan sarana prasarana, minimnya SDM, serta kapasitas personil yang belum merata turut menjadi penyebab penurunan skor. Namun, temuan lapangan menunjukkan dinamika menarik. Tingkat pelanggaran kawasan justru menurun, pencurian kayu, perburuan rusa, dan pengambilan telur burung gosong kini semakin jarang terdengar. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya kelestarian Pulau Saobi tampak meningkat. Sebaliknya, konflik satwa dan manusia menunjukkan tren naik, terutama akibat rusa keluar kawasan dan merusak tanaman warga, serta aktivitas penggembalaan yang melampaui batas kawasan. Pemerintah desa dan lembaga pendidikan setempat menyampaikan dukungan penuh terhadap program sosialisasi konservasi, terutama bagi generasi muda. Saobi adalah warisan. Jika tidak diperkenalkan sejak dini, generasi muda mendatang tidak lagi mengenali alamnya. Kegiatan penilaian sendiri tidak berlangsung tanpa hambatan. Ketiadaan listrik memaksa fasilitator melakukan seluruh proses secara manual dengan mencatat hasil satu per satu. Namun keterbatasan itu tidak menghalangi upaya untuk mendapatkan gambaran paling jujur tentang kondisi pengelolaan CA Pulau Saobi. Di balik angka 62,63% yang tampak sederhana, tersimpan pesan penting, Saobi sedang memasuki babak baru tantangannya. Bukan hanya soal kepatuhan terhadap indikator, tetapi bagaimana menjaga harmoni antara ekosistem kecil yang rentan dan komunitas manusia yang hidup berdampingan dengannya. Kini, Saobi kembali bertanya kepada kita semua. Apakah kita siap menjawab panggilan pulau kecil yang menjaga keseimbangan alam di Cagar Alam Pulau Saobi ini? (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menilai Ulang Sebuah Kawasan, METT Ver. 4 Bongkar Tantangan dan Harapan SM. Dataran Tinggi Yang

Baderan, 18 November 2025. Suara angin dari lereng pegunungan Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang berhembus pelan ketika ruang Balai Desa Baderan mulai dipenuhi para pemangku kepentingan. Pada Selasa, 18 November 2025, sebuah penilaian penting dilakukan: METT Ver. 4 untuk Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang. Hasilnya cukup menyentak, 57,72%, yang menempatkan kawasan ini pada kategori pengelolaan kurang efektif. Angka itu bukan sekadar statistik, ia adalah cermin yang memantulkan tantangan nyata sekaligus peluang besar untuk memperbaiki tata kelola salah satu kawasan konservasi kunci di Jawa Timur. METT (Management Effectiveness Tracking Tool) Ver. 4 adalah alat ukur internasional yang menilai efektivitas pengelolaan kawasan konservasi dari berbagai aspek, mulai dari perencanaan, input, proses, output, hingga outcome. Berbeda dari versi sebelumnya, METT terbaru memasukkan pertanyaan terkait perubahan iklim, karbon, dan nilai-nilai budaya yang mencerminkan tantangan global yang kini tak terhindarkan. Dalam sidang penilaian yang dipandu oleh fasilitator, para peserta dari unsur pemerintah daerah, lembaga konservasi, desa-desa penyangga, pelaku wisata, hingga organisasi masyarakat sipil menyepakati jawaban atas setiap parameter. Tidak ada yang ditutup-tutupi, bahwa setiap kelemahan diakui, setiap kekuatan dicatat, setiap peluang dibicarakan. Antara Kekuatan Perencanaan dan Rapuhnya Dukungan Lapangan Meski berada di kategori pengelolaan kurang efektif, bukan berarti seluruh aspek SM Dataran Tinggi Yang rapuh. Justru, METT Ver. 4 menunjukkan bahwa perencanaan kawasan sangat kuat, mencapai 90,48%. Dokumen rencana pengelolaan, desain kawasan, dan perencanaan lahan-air dibuat baik dan lengkap. Status legal kawasan pun jelas dan kokoh. Namun ketimpangan muncul ketika aspek input dinilai. Hasilnya hanya 38,89%, nilai terendah dalam keseluruhan komponen. Keterbatasan peralatan, minimnya dukungan anggaran, jumlah dan kapasitas personel yang belum memadai, serta kebutuhan inventarisasi sumber daya yang lebih intensif menjadi catatan serius. Pada komponen proses, kawasan mencatat nilai 57,89%, yang menggambarkan bahwa sebagian besar kegiatan pengelolaan, mulai dari edukasi, jasa lingkungan, hingga penegakan peraturan sudah berjalan, tetapi belum konsisten dan belum didukung sumber daya yang ideal. Aspek output dan outcome yang menggambarkan dampak nyata pengelolaan, secara berturut-turut berada pada angka 46,67% dan 41,67%, menunjukkan bahwa manfaat konservasi bagi masyarakat, stabilitas habitat, hingga kondisi spesies kunci masih membutuhkan intervensi lebih kuat. Peran Para Pihak, menjadi Sebuah Fondasi Harapan Yang menarik dari kegiatan ini adalah tingginya partisipasi para pemangku kepentingan. Hadir perwakilan dari Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Situbondo, BPBD Situbondo, BPBD Probolinggo, unsur Muspika Krucil dan Sumbermalang, desa-desa penyangga (Bremi, Kalianan, Taman Kursi, Baderan), FK3I Korda Jatim, WIPAB, hingga kelompok pelaku wisata dan KTH Rengganis Timur. Keterlibatan lintas sektor seperti ini menjadi modal besar bagi pengelolaan SM Dataran Tinggi Yang. Kawasan yang berada di jantung bentang alam pegunungan ini memiliki nilai ekologis luar biasa, sebagai habitat berbagai flora-fauna khas Jawa Timur, sumber mata air, dan benteng terakhir keanekaragaman hayati lokal. Dalam sambutannya, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember menegaskan pentingnya sinergi seluruh pihak. “Penilaian METT bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menjadi kompas bagi kita semua. Kita melihat data, lalu bergerak. Kita membaca tantangan, lalu memperbaikinya. Inilah dasar dari pengelolaan kawasan konservasi yang adaptif dan visioner,” ujarnya. Potensi Besar, Tekanan Nyata SM Dataran Tinggi Yang adalah rumah bagi kekayaan ekologis yang belum seluruhnya terungkap. Hutan montana, aliran sungai, dan vegetasi khas pegunungan menciptakan ruang hidup bagi beragam satwa liar. Namun, seperti hutan-hutan lain di Jawa, kawasan ini tidak tanpa ancaman, tekanan pemanfaatan lahan, aktivitas wisata yang belum sepenuhnya terkelola, potensi kebakaran hutan, serta perubahan iklim global yang mempengaruhi pola vegetasi dan hidrologi. Di sinilah METT Ver. 4 menjadi penting. Pertanyaan tentang carbon sequestration, climate resilience, hingga nilai budaya menciptakan gambaran lebih luas tentang bagaimana kawasan ini perlu dikelola dalam konteks konservasi masa depan, bukan hanya konservasi masa lalu. Dari Data Menuju Aksi Nyata Meski skor METT belum ideal, kegiatan ini justru menjadi titik tolak untuk memperkuat pengelolaan kawasan. Rekomendasi perbaikan nantinya akan menjadi pegangan bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur untuk merumuskan strategi lebih tajam, dari peningkatan kapasitas personel, penguatan anggaran, kolaborasi multipihak, hingga program berbasis masyarakat. Data hanyalah awal. Yang terpenting adalah bagaimana data tersebut diterjemahkan menjadi tindakan nyata di lapangan, memperbaiki jalur patroli, memperkuat koordinasi desa penyangga, meningkatkan monitoring biodiversitas, dan memastikan bahwa SM Dataran Tinggi Yang tetap menjadi benteng hidup keanekaragaman hayati Jawa Timur. Membaca Masa Depan dari Penilaian Hari Ini Ketika penilaian usai dan para peserta meninggalkan Balai Desa Baderan, suasana sore kembali dipenuhi kabut pegunungan. Namun kali ini, kabut itu tidak hanya menyelimuti hutan, ia seperti menyelimuti tekad para pengelola dan masyarakat yang hadir. Tekad untuk bekerja lebih baik, lebih terukur, dan lebih kolaboratif. METT Ver. 4 telah membongkar tantangan dan menyingkap asa. Kini tinggal satu pertanyaan. Apakah kita siap bergerak bersama untuk mewujudkan pengelolaan hutan yang tidak hanya dinilai, tetapi benar-benar dilestarikan? (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Penyambung Tangan Polhut TN Gunung Merapi

Sleman, 14 November 2025. Untuk menjaga silaturahmi serta menjaga rasa kebersamaan, Resor Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Wilayah Pakem Turi, Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), mengadakan pertemuan dan koordinasi Masyarakat Mitra Polhut/Masyarakat Peduli Api (MMP/MPA) pada hari Jumat tanggal 14 November 2025 di Turgo. Kegiatan ini dihadiri oleh 18 anggota MMP/MPA, 5 orang staf RPTN Wilayah Pakem Turi, dan Bhayangkara Pembina Kemanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) Purwobinangun, Pakem, Sleman. Dalam suasana yang hangat, kegiatan ini dibuka oleh Siswanto selaku Polisi Kehutanan, beliau menyampaikan rasa terima kasih atas kerjasamanya sebagai mitra Polhut RPTN Pakem Turi. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan-sambutan dari Kepala RPTN Wilayah Pakem Turi dan Bhabinkamtibmas Purwobinangan, Dwi Hartanto. Penyampaian hasil smart patrol oleh Andri Martha yang menyatakan secara umum bahwa tidak adanya pelanggaran tipihut di kawasan wilayah PRTN Pakem Turi di tahun 2025. Diharapkan juga ke depannya MMP/MPA semakin kompak dan semakin maksimal dalam berkontribusi kepada TNGM. Terlaksana juga diskusi antara pihak RPTN Wilayah Pakem Turi dengan anggota MMP/MPA tentang kondisi terkini dan kendala yang dihadapinya. Acara ditutup dengan diskusi serta foto bersama. *** Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi Penanggung jawab: Muhammad Wahyudi, S.P, MSc. (Kepala Balai) - 085244012365 FB: Taman Nasional Merapi Twitter: @btngunungmerapi Instagram: @btn_gn_merapi TikTok: @btng.merapi Call center: 081555777002
Baca Artikel

BTN Aketajawe Lolobata Lakukan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan

Sofifi, 18 November 2025– Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata melaksanakan penilaian efektivitas pengelolaan Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL) menggunakan METT (Management Effectiveness Tracking Tool) Versi 4 pada hari Senin, 17 November 2025 di Aula Penginapan Cenderawasih. Kegiatan ini dihadiri oleh 47 peserta, terdiri dari pegawai lingkup Balai TNAL, pimpinan OPD Provinsi Maluku Utara, pimpinan instansi vertikal, pimpinan BUMN/ BUMD, akademisi, mitra kerja, dan kepala desa, serta tokoh masyarakat sekitar kawasan TNAL. Kegiatan ini dibuka oleh Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Maluku Utara, Ir. H. Basyuni Thahir, S.Hut., M.P., IPU. Dalam sambutannya, beliau mengingatkan bahwa TNAL berperan penting sebagai benteng terakhir pelestarian keanekaragaman hayati di Maluku Utara. Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa kawasan konservasi tidak hanya sekadar ruang hijau, tetapi merupakan identitas ekologis yang perlu dijaga melalui kolaborasi semua pihak. Acara dilanjutkan dengan arahan dari Kepala Balai TNAL, Irwan Effendi, S.Pi., M.Sc., terkait kondisi terkini kawasan, meliputi kebijakan yang sedang dijalankan, berbagai capaian pengelolaan, serta tantangan di lapangan dalam menjaga wilayah TNAL. Pemaparan tersebut menjadi dasar bagi peserta sebelum memasuki sesi penilaian METT. Kegiatan berikutnya yaitu tahap diskusi yang dipandu oleh Fasilitator METT, Agung Setiya Nugraha, S.Kel. Sesi ini dikemas dalam format diskusi terbuka yang memfokuskan pembahasan pada tantangan dan peluang pengelolaan taman nasional. Seluruh proses kegiatan berjalan kondusif dan menghasilkan banyak masukan yang memperkaya arah pengelolaan TNAL ke depan. Upaya ini menjadi langkah penting untuk memastikan bahwa pengelolaan TNAL terus meningkat menuju standar terbaik, sekaligus mendukung upaya menjaga keberlanjutan ekosistem dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan. Sumber: Tim Humas dan Medsos Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

Balai TN Gunung Merapi Ikut Pelatihan Medical First Responder

Klaten, 13 November 2025. Sebagai upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan kemampuan penanganan kedaruratan di wilayah rawan bencana, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten bersama Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM) menggandeng BASARNAS menggelar Pelatihan Medical First Responder (MFR) bagi relawan se-Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Pelatihan dilaksanakan selama 3 hari pada tanggal 11 - 13 November 2025 bertempat di Balai Desa Dompol, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten. Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi penilaian medan, penanganan cidera, evakuasi korban, hingga simulasi pertolongan pertama sesuai standar BASARNAS. Tidak hanya materi yang diterima oleh peserta, namun praktek bahkan sampaai ujian sebagai dasar mendapatkan sertifikat. Pelatihan ditutup oleh Camat Kemalang dan dihadiri Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Klaten dan Kepala Balai TN Gunung Merapi yang diwakili Kepala Sub Bagian Tata Usaha. Dalam kesempatan ini keduanya mengapresiasi semangat para peserta serta menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas relawan dalam mendukung respons cepat saat kondisi darurat. Dengan terselenggaranya pelatihan ini, diharapkan relawan di Kemalang semakin siap, sigap, dan terlatih dalam memberikan pertolongan pertama pada keadaan darurat. *** Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi Penanggung jawab : Muhammad Wahyudi, S.P, MSc. (Kepala Balai) - 085244012365 FB: Taman Nasional Merapi Twitter: @btngunungmerapi Instagram: @btn_gn_merapi TikTok: @btng.merapi Call center: 081555777002
Baca Artikel

Pelantikan PPPK Jabatan Fungsional Lingkup Balai TN Gunung Merapi

Sleman, 14 November 2025. Sebanyak 34 (tiga puluh empat) Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Pejabat Fungsional lingkup Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), dilantik dan diangkat sumpah/janji Jabatan Fungsionalnya, pada 14 November 2025. Dalam kesempatan ini, PPPK yang dilantik adalah Arsiparis, Manggala Agni, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Pranata Humas, Pranata Komputer, Perencana. Rekan-rekan PPPK ini adalah hasil seleksi formasi tahun 2023, optimalisasi 2023, 2024 dan 2025. Pelantikan ini dilaksanakan di Balai Perbenihan Taman Hutan Wilayah III Yogyakarta. Pelantikan dilaksanakan secara bersama-sama seluruh PPPK di masing-masing Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kehutanan lingkup D.I Yogyakarta. Dalam kesempatan ini, Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, melantik dan mengambil sumpah secara langsung di Gedung Manggala Wanabakti, dan dilaksanakan seluruh Indonesia secara hybrid. Diantaranya PPPK lingkup BTNGM maupun lingkup UPT Kementerian Kehutanan lingkup D.I. Yogyakarta. Selamat kepada rekan-rekan sekalian. Semoga semakin semangat dalam mengabdi dan berkah untuk semuanya.*** Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Merapi Penanggung jawab: Muhammad Wahyudi, S.P, MSc. (Kepala Balai) - 085244012365 FB: Taman Nasional Merapi Twitter: @btngunungmerapi Instagram: @btn_gn_merapi TikTok: @btng.merapi Call center: 081555777002
Baca Artikel

Terungkap! Hutan Tua Berusia 80 Tahun di Sumberwringin

Banyuwangi, 13 November 2025. Di hening lereng yang membingkai kawasan Sumberwringin, terhampar sebuah warisan ekologis yang jarang diketahui publik, tegakan hutan tua berusia hampir satu abad, rumah bagi 177 jenis flora yang bertahan dari generasi ke generasi. Jejak keheningan itu tersimpan di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Sumberwringin, sebuah kantong biodiversitas penting yang kini menjadi fokus pengembangan ekoeduwisata berbasis konservasi. Pada Kamis, 13 November 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Resort Wilayah 15 Kawah Ijen menghadiri diskusi strategis yang digelar oleh Pusat Pengembangan Sosial Ekonomi Masyarakat Hutan (P2SEMH) Bogor. Pertemuan tersebut dihadiri jajaran Cabang Dinas Kehutanan Wilayah Jember, Pemerintah Desa Sumberwringin, KTH Saung Jaya 2, dan tim pengelola KHDTK. Mereka berkumpul untuk satu tujuan, untuk melindungi, merawat, dan mengembangkan kekayaan ekologis Sumberwringin tanpa mengorbankan integritas ekosistemnya. Dalam presentasi hasil penelitian, para ahli mengungkapkan keunikan vegetasi KHDTK yaitu pohon pelangi yang memancarkan warna alami di batangnya, tegakan damar yang tua dan kokoh, hamparan pinus yang menjulang rapi, hingga rumpun bambu yang tumbuh subur di bawah cahaya lembut hutan. Pada luasan hanya 23,75 Ha, Sumberwringin tampil sebagai laboratorium alam yang padat nilai konservasi. Namun pengembangan wisata bukan tujuan utama, pendidikan dan keberlanjutan adalah porosnya. Untuk mendukung konsep ekoeduwisata, rencana penyediaan fasilitas ramah lingkungan disusun, toilet, area parkir, papan larangan dan papan interpretasi, hingga tempat sampah yang dirancang untuk mengurangi jejak ekologis pengunjung. Lebih jauh, tim juga menekankan pentingnya pembatasan jumlah pengunjung serta penyusunan SOP ekoeduwisata agar keutuhan ekosistem tetap terjaga. Pembelajaran di hutan ini diharapkan menjadi sarana edukasi yang tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menumbuhkan rasa hormat terhadap konservasi. Di tengah berbagai ancaman terhadap kawasan berhutan di Indonesia, langkah kolaboratif ini menjadi harapan baru, bahwa hutan tidak hanya dijaga, tetapi dipahami, dan dari pemahaman itulah lahir komitmen untuk melestarikannya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

PADIATAPA Membangun Kolaborasi Memulihkan Kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut

Edina Emininta Ginting, S.Hut., M.Si., didampingi Kepala Desa Karang Gading, Kepala Resort SM. Karang Gading Langkat Timur Laut I dan Bhabinkamtibmas, memberikan paparan rencana kegiatan pemulihan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut Karang Gading, 17 November 2025. Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) dalam rangka rencana kegiatan pemulihan ekosistem mangrove di SM. Karang Gading Langkat Timur Laut, dilaksanakan di Aula Desa Karang Gading, Kecamatan Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang, pada Jumat (14/11). Kegiatan ini dihadiri Kepala Desa Karang Gading, Agus Sanjaya, Bhabinkamtibmas Desa Karang Gading. Aiptu Misman, Kepala Resort SM. Karang Gading Langkat Timur Laut, I Esra Barus, S.Hut., serta kelompok tani hutan yang terkait dengan penanaman mangrove. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, diwakili Ketua Tim Kerja Perencanaan, Perlindungan dan Pengawetan Edina Emininta Ginting, S.Hut., M.Si., dalam penjelasannya menyebutkan bahwa dunia memandang penting SM. Karang Gading Langkat Timur Laut, karena satu-satunya kawasan konservasi di pantai timur Sumatera bagian Utara yang memiliki ekosistem mangrove. “Kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut merupakan rumah bagi berbagai jenis burung migran dan juga satwa Tuntong Laut yang merupakan kebanggaan. Oleh karena itu perlu dijaga kelestariannya,” ujar Edina. Edina juga menjelaskan, bahwa kestabilan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut harus dipertahankan. Sejalan dengan itu kesejahteraan masyarakat diharapkan nantinya dapat meningkat. Oleh karena itu dilakukan PADIATAPA, dimaksudkan untuk melibatkan masyarakat dari sejak awal dalam mendukung pemulihan ekosistem mangrove agar berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Kepala Desa Karang Gading menyatakan dukungan terhadap program pemulihan ekosistem Sementara itu Kepala Desa Karang Gading Agus Sanjaya, menyatakan dukungan pemerintahan Desa Karang Gading terhadap program pemerintah dalam pemulihan ekosistem mangrove. Sisi baiknya kegiatan ini, hutan yang gundul menjadi bagus, dan bermanfaat bagi nelayan. Namun kegiatan ini juga akan berdampak kepada aktivitas masyarakat yang terlanjur di dalam kawasan tersebut. Oleh karena itu, Agus Sanjaya, berharap ada solusi dalam pelaksanaan program nantinya. Agus Sanjaya juga mengingatkan bahwa program Pemerintah selalu berpikir untuk kepentingan masyarakat. Pelaksanaan program pemulihan ekosistem mangrove di kawasan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut tentunya didasari oleh peraturan yang resmi, sehingga ia menghimbau agar masyarakat mendukung program dimaksud. Kepala Resort SM. Karang Gading Langkat Timur Laut I, Esra Barus, S.Hut., memaparkan rencana kegiatan, yang dimulai dari penumbangan sawit-sawit yang sudah tidak produktif pada tanggal 17 November 2025. Setelah clear and clean, baru dilakukan penanaman di bulan Desember seluas ± 300 Ha, dengan berbagai jenis bibit bakau. Dalam kegiatan pembersihan lahan serta penanaman, diharapkan keterlibatan kelompok-kelompok masyarakat. Masyarakat maupun kelompok-kelompok tani yang hadir dalam pertemuan tersebut menyatakan dukungan rencana kegiatan pemulihan ekosistem dan berharap ada penyelesaian terhadap lahan yang masih diusahai oleh pemilik lahan. Karena yang hadir adalah penyewa lahan, diminta petugas Resort SM. Karang Gading Langkat Timur Laut I pro aktif melakukan komunikasi langsung. Foto bersama usai pembahasan PADIATAPA Sumber : Inggrid R. Tarihoran, S.Hut., Penyuluh Kehutanan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Jatim dan BKSDA Yogyakarta Memetakan Ulang Masa Depan Perizinan & Pengawasan TSL

Surabaya, 13 November 2025. Di tengah kian rumitnya dinamika pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) di Indonesia, sebuah perjalanan teknis lintas daerah hari ini membuka kembali peta besar konservasi. Balai Besar KSDA Jawa Timur dan Balai KSDA Yogyakarta menyusuri jalur penangkaran, perdagangan, dan lembaga konservasi untuk memahami bagaimana kebijakan yang tertulis di meja kerja benar-benar bekerja di lapangan. Hari kedua kegiatan upskilling ini (13/11/2025) berkembang menjadi sebuah ekspedisi kecil yang mengantar para peserta menyadari bahwa konservasi tidak hanya hidup dalam dokumen resmi, tetapi juga bergerak melalui rutinitas harian para pengelola satwa, pelaku usaha, dan petugas pengawasan. Pagi itu, perjalanan dimulai dari Mojokerto, di sebuah unit penangkaran yang menjadi ruang lahirnya upaya konservasi ex-situ. Suasana tenang menyambut tim ketika mereka memasuki kawasan penangkaran. Suara satwa yang samar, ritme langkah petugas kandang, dan aroma vegetasi menciptakan atmosfer yang memperlihatkan kehidupan yang terjaga namun penuh tantangan. Di balik kandang-kandang yang tertata, para peserta mendengar langsung bagaimana asal-usul indukan dicatat dengan cermat, bagaimana setiap satwa diberi identitas melalui microchip, dan bagaimana standar kesejahteraan harus selalu menjadi prioritas agar populasi tidak sekadar bertahan, tetapi berkembang. Penjelasan demi penjelasan membawa peserta pada pemahaman bahwa keberhasilan penangkaran bukanlah hasil dari satu tindakan besar, melainkan detail kecil yang konsisten: pencatatan yang jujur, perawatan yang layak, dan laporan yang akuntabel. Perjalanan berlanjut ke Sidoarjo, di sebuah tempat yang menghadirkan dunia berbeda, industri pengolahan teripang. Ruangan-ruangan pengeringan dipenuhi aroma laut yang pekat, tumpukan teripang kering tersusun seperti arsip panjang yang mencatat hubungan antara manusia, ekonomi, dan ekosistem pesisir. Di sinilah peserta menyaksikan alur perjalanan komoditas bernilai tinggi itu, dari pengumpulan bahan baku hingga siap dipasarkan ke luar negeri. Penjelasan mengenai dokumen asal-usul, surat angkut, dan laporan berkala membuka kesadaran bahwa perdagangan yang tampak sederhana sesungguhnya memiliki rantai administratif yang panjang. Setiap mata rantai harus terhubung dengan benar agar tidak memberi ruang bagi jenis-jenis dilindungi untuk terselip dalam pasar bebas. Diskusi di lokasi ini mengalir hangat, memperlihatkan bagaimana tantangan pasar global seringkali berhadapan langsung dengan kebutuhan pengawasan yang ketat. Menjelang senja, rombongan memasuki Kebun Binatang Surabaya (KBS), sebuah laboratorium hidup yang menyimpan ratusan cerita konvergensi antara sains, etika, dan edukasi publik. Udara lembap yang mulai turun, pekikan satwa yang saling bersahutan, dan cahaya sore yang tertahan di antara pepohonan besar menciptakan suasana yang membuat diskusi berlangsung lebih dalam. Pengelola KBS membuka gambaran tentang bagaimana setiap spesimen koleksi diperoleh dengan izin yang tepat, bagaimana mereka menangani satwa titipan yang datang dari berbagai kasus, serta bagaimana mereka menjaga kepercayaan publik melalui standar kesejahteraan yang semakin tinggi. Percakapan juga menyinggung upaya KBS dalam mendukung penyelamatan satwa liar bersama BBKSDA Jatim, serta tantangan baru di era digital ketika persepsi publik bisa berubah hanya karena satu unggahan media sosial. Dengan menyimak langsung ketiga lokasi tersebut, peserta menyadari bahwa pengelolaan TSL adalah sebuah sistem yang saling terhubung. Data dari penangkaran tidak bisa berdiri sendiri tanpa verifikasi di lapangan. Perdagangan tidak dapat berjalan tanpa kepastian legalitas yang kuat. Lembaga konservasi tidak bisa berfungsi optimal tanpa koordinasi pengawasan. Semua entitas bergerak dalam satu lingkaran besar, dan keberhasilan masing-masing menentukan kekuatan keseluruhan sistem konservasi nasional. Hari kedua kegiatan upskilling ini bukan hanya rangkaian kunjungan, tetapi proses penyelarasan perspektif antara dua balai konservasi. Setiap penjelasan, setiap percakapan di lapangan, mempertegas bahwa masa depan pengawasan TSL harus lebih adaptif terhadap perubahan pasar, lebih tegas dalam integritas perizinan, dan lebih berpihak pada keberlanjutan populasi satwa liar di alam. Pada akhirnya, perjalanan hari ini mengikat kesadaran bersama bahwa konservasi bukan hanya tentang menjaga satwa dari ancaman, tetapi juga memastikan bahwa manusia yang mengelola, mengawasi, dan memanfaatkannya bergerak dalam satu arah yang jujur dan berkelanjutan. Di sinilah sinergi antara BKSDA Yogyakarta dan BBKSDA Jawa Timur menemukan maknanya untuk membangun fondasi baru bagi pengawasan TSL yang lebih kuat, lebih manusiawi, dan lebih selaras dengan masa depan keanekaragaman hayati Indonesia. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sumpah Janji 25 Rimbawan Muda BBKSDA Jatim, Babak Baru Garda Konservasi Jawa Timur Dimulai!

Surabaya, 14 November 2025. Udara di lingkungan Kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) terasa berbeda. Di balik jendela kaca ruang rapat utama, puluhan tatapan penuh harapan berkumpul dalam suasana hening dan khidmat. Tepat pukul 08.30 WIB, sebanyak 25 Aparatur Sipil Negara Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) mulai dari Pengendali Ekosistem Hutan, Polisi Kehutanan, Penyuluh Kehutanan, Medik Veteriner, Perencana, Arsiparis hingga Pranata Komputer dan Manggala Agni resmi memasuki babak baru perjalanan mereka sebagai penjaga benteng terakhir keanekaragaman hayati Jawa Timur. Sebanyak 15 ASN PPPK mengikuti pengambilan sumpah/janji secara daring, sementara 10 lainnya hadir langsung bersama Kepala Bagian Tata Usaha BBKSDA Jatim yang memimpin jalannya prosesi. Meski berbeda ruang dan jarak, seluruhnya menyatukan suara dalam sumpah yang sama, komitmen untuk menjaga hutan, satwa liar, dan seluruh sistem kehidupan yang menggantungkan masa depannya pada keputusan manusia hari ini. Dalam momen itu, tidak sekadar jabatan yang disahkan. Ada amanah yang diwariskan, merawat hutan yang menjadi paru-paru negeri, memastikan aliran air tetap hidup, menjaga satwa liar dari ancaman perburuan, serta memastikan ekosistem tetap tegak di tengah perubahan zaman. Pelantikan PPPK ini menjadi penanda penting. Di tengah berbagai tantangan. konservasi, mulai dari degradasi habitat, tekanan populasi manusia, hingga dinamika penanganan tumbuhan dan satwa liar, hadirnya sumber daya manusia baru ibarat menambah cahaya di garis pertahanan terdepan. Dengan semangat baru ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur berharap kehadiran 25 PPPK JF mampu menjadi penguat langkah dalam mengawal fungsi kawasan konservasi, melindungi satwa liar, serta memastikan keberlanjutan alam bagi generasi mendatang. Konservasi bukan sekadar tugas, tapi pengabdian pada kehidupan itu sendiri,” demikian pesan moral yang terasa mengalir sepanjang prosesi itu. Hari ini mereka mengucap janji, besok mereka turun ke lapangan menjaga masa depan. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bojonegoro Menuju Panggung Dunia, Geopark Petroleum Pertama Indonesia Diuji UNESCO

Bojonegoro, 14 November 2025. Dari perut bumi yang menyimpan sejarah minyak bumi tua, hingga hutan jati, rusa timor, dan kearifan budaya Samin, Bojonegoro kini menapaki jalan menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark. BBKSDA Jawa Timur menjadi garda terdepan memastikan kekayaan hayati tetap terjaga di tengah geliat geopark bertaraf internasional. Gaung komitmen konservasi menggema dari ruang rapat Bappeda Bojonegoro, 12–13 November 2025, ketika para pakar geologi, peneliti, kementerian, hingga assesor UNESCO berkumpul untuk membahas kelengkapan dossier dan kesiapan lapangan Geopark Bojonegoro menuju predikat Aspiring UNESCO Global Geopark (UGGp). Di tengah ambisi besar ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan peran penting kekayaan hayati, mulai dari penangkaran rusa timor di KPH Parengan, bentang hutan jati, hingga situs-situs biosfer, sebagai fondasi utama keberlanjutan geopark yang bertaraf internasional. Rapat koordinasi yang dipimpin Asisten Bupati Bidang Perekonomian itu menghadirkan jajaran kementerian meliputi Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, organisasi perangkat daerah Bojonegoro, tim Geopark Bojonegoro, hingga assesor UNESCO. Kepala Bappeda Bojonegoro memaparkan perjalanan panjang Geopark Bojonegoro sejak 2017. Dengan cakupan administrasi yang melingkupi seluruh wilayah kabupaten, Bojonegoro menjadi satu-satunya geopark di Indonesia yang mengangkat tema petroleum dan gas. Saat ini, daerah ini memiliki 16 geosite, 3 biosite, dan 8 cultural site, dari Wonocolo hingga Kayangan Api, dari penangkaran rusa Malo hingga kehidupan masyarakat adat Samin. Momentum penting hadir ketika Geopark Nasional Bojonegoro ditetapkan sebagai 2 besar Aspiring UNESCO Global Geopark 2025, sesuai surat Kementerian PPN/Bappenas. Status ini membuka jalan bagi penilaian tingkat internasional dengan standar yang semakin ketat. BBKSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah I dan Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro menekankan pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati sebagai elemen inti geopark. Biosite penangkaran rusa timor di KPH Parengan menjadi salah satu indikator keberlanjutan yang kini mendapat sorotan UNESCO. Assesor UNESCO, Prof. Dr. Ir. Mega FR, M.Sc., menekankan perlunya tata kelola yang berkelanjutan, aksesibilitas yang baik, dukungan finansial, jejaring kolaboratif, serta bukti dukung yang terstruktur. Sementara Bappenas menegaskan bahwa menuju geopark global membutuhkan kesiapan data, presentasi, serta verifikasi lapangan yang cermat. Seluruh pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, menyatakan komitmen penuh untuk membawa Geopark Bojonegoro ke level dunia. Dengan sinergi konservasi, geologi, dan budaya, kawasan ini diharapkan menjadi contoh bagaimana kekayaan alam dan manusia dapat berjalan seirama menuju keberlanjutan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Terima Kunjungan Balai KSDA Yogyakarta dalam Program Upskilling Pelayanan Perizinan TSL

Sidoarjo, 12 November 2025. Di tengah suasana mendung di Kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur, langkah-langkah ringan tim dari Balai KSDA Yogyakarta terdengar bersahutan. Mereka datang bukan sekadar membawa berkas dan agenda kerja, melainkan semangat untuk bertukar pengalaman, dan memperkuat jejaring konservasi antar balai (12/11/2025). Kegiatan hari pertama dalam rangka Upskilling Personil Pelayanan dan Perizinan Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) ini menjadi ruang kolaboratif yang hangat. Tim dari BKSDA Yogyakarta disambut langsung oleh Purwantono, S.Hut., M.P., Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, dan Dr. Ichwan Muslih, S.Si., M.Si., Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik, bersama jajaran pejabat fungsional dan teknis Balai Besar KSDA Jawa Timur. Turut hadir dalam penyambutan, Rakhmat Hidayat (Polhut Madya/Kepala RKW 07 Surabaya), Fajar Dwi Nur Aji (PEH Muda/Kepala RKW 09 Mojokerto), anggota Pokja P3M (Imam Talkah dan Fajar Hasan Fadli), serta Dodit Ari Guntoro - Koordinator PEH BBKSDA Jatim. Dalam sambutannya, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember menekankan bahwa semangat konservasi hari ini bukan lagi sebatas menjaga kelestarian tumbuhan dan satwa liar di habitatnya, melainkan juga menghadirkan tata kelola perizinan yang adaptif terhadap perubahan zaman. “Pelayanan konservasi kini harus mampu menjembatani kebutuhan masyarakat dengan prinsip keberlanjutan. Setiap izin yang dikeluarkan adalah bentuk tanggung jawab terhadap ekosistem,” ujar Purwantono. Usai sesi pembukaan, kegiatan berlanjut dengan penjelasan mengenai sistem Sitroom BBKSDA Jawa Timur, pusat kendali data konservasi yang memadukan informasi spasial, kegiatan lapangan, serta sistem pengawasan berbasis digital. Tak berhenti di sana, para peserta juga mendalami mekanisme SIMPLIK (Sistem Informasi Pelayanan dan Perizinan Satwa Liar dan Kawasan Konservasi), inovasi digital yang menjadi tulang punggung pelayanan perizinan pemanfaatan TSL di Jawa Timur. Diskusi berkembang menjadi forum yang hidup. Tim teknis dari kedua balai saling berbagi pengalaman lapangan, terutama dalam pengawasan lembaga konservasi, penangkaran, dan pengendalian peredaran tumbuhan serta satwa liar. Cerita tentang tantangan di lapangan, dari penegakan hukum hingga edukasi masyarakat, menjadi pelajaran berharga yang membuka ruang sinergi lebih luas. Suasana diskusi hari pertama bukan hanya menggambarkan proses belajar antar lembaga, tetapi juga menunjukkan wajah baru birokrasi konservasi yang terbuka, adaptif, dan kolaboratif. Melalui pendekatan berbasis data dan dialog, kedua balai berupaya memperkuat pelayanan publik di sektor konservasi agar lebih efisien, transparan, dan berdampak ekologis. Kegiatan akan berlanjut pada Kamis, 13 November 2025, dengan kunjungan lapangan ke Unit Penangkaran CV. Pasti Sukses, Lembaga Konservasi PDTS Kebun Binatang Surabaya, serta Unit Pengedar TSL CV. Tirta Surya Sri Rejeki sebagai bagian dari agenda kunjungan lapangan dan studi pembelajaran langsung. Sinergi lintas balai ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi terbentuknya sistem pelayanan konservasi yang terintegrasi di seluruh Indonesia, di mana setiap data, kebijakan, dan tindakan di lapangan berpihak pada satu tujuan yaitu untuk menjaga keberlanjutan kehidupan alam dan seluruh makhluk yang bergantung padanya. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menilik PEH Keliling Dunia: Menembus Panggung IUCN World Conservation Congress 2025 di Abu Dhabi

Labuan Bajo, 8 Oktober 2025. Muhammad Ikbal Putera, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Taman Nasional Komodo yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral pada bidang Parks, Recreation, and Tourism Management di North Carolina State University, Amerika Serikat, kembali menorehkan prestasi membanggakan bagi Indonesia. Ia menjadi salah satu peserta terpilih yang menghadiri IUCN World Conservation Congress (WCC) 2025 yang diselenggarakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada tanggal 9–15 Oktober 2025. Kongres ini merupakan forum konservasi terbesar di dunia yang mempertemukan para ilmuwan, pembuat kebijakan, praktisi lapangan, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga internasional untuk membahas arah kebijakan global terkait pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan. Tahun 2025 ini, WCC mengangkat tema “Nature, People, and Prosperity: Towards a Resilient Planet”. Dalam kegiatan tersebut, Ikbal berperan aktif pada berbagai kesempatan diantaranya: berperan sebagai facilitation lead volunteer pada Nature-Based Education Pavilion yang dikelola oleh IUCN Commission on Education and Communication (CEC). Melalui peran ini, Ikbal diharapkan membantu jalannya berbagai sesi diskusi tematik yang sebagai moderator dan menyoroti pentingnya pendidikan konservasi berbasis alam dan lingkungan dari berbagai studi kasus dunia yang dipresentasikan selama beberapa hari kegiatan. Ikbal juga mendapatkan undangan khusus mewakili jagawana muda dalam sesi closed-door high level official dialogue, sebuah dialog dua arah yang menggunkaan pendekatan majlis untuk bertukar informasi penting dalam satu forum. Forum ini dipimpin langsung oleh Yang Mulia Razan Khalifa Al Mubarak, Presiden IUCN. Ikbal berkesempatan menyampaikan pidato persuasif selama 2 menit mengenai peran jagawana di tingkat tapak dalam mencegah dampak perubahan iklim melalui intervensi pendidikan generasi muda di Labuan Bajo yaitu Program Ranger Goes to School (RGTS) yang digagasnya pada tahun 2022 dan diselenggarakan hingga kini oleh rekan-rekannya di Balai Taman Nasional Komodo. Ikbal juga diundang sebagai narasumber pada Pavilion IUCN Oceania dan Pavilion Jeju Special Self-Governing Province untuk menghadiri Young Professional Network and membahas Youth Voice Action. Ikbal menyoroti pentingnya keterlibatan jagawana terhadap pengembangan generasi muda di dalam dan sekitar kawasan konservasi, serta bagaimana pendekatan berbasis pendidikan dapat menjadi strategi jangka panjang membangun kepedulian lingkungan dan kelestarian alam. Pesan tersebut mendapat sambutan positif dari peserta kongres pada masing-masing sesi. Selain menjadi peserta aktif, kehadiran Ikbal di WCC 2025 menjadi momentum strategis dalam memperkuat jejaring professional dengan berbagai tokoh penting konservasi Indonesia, di antaranya Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko (Direktur Jenderal KSDAE), Dr. Wiratno (Direktur Jenderal KSDAE 2017-2022), Prof. Jatna Supriatna (Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia), Prof. Dr. Mirza Kusrini (Guru Besar Ekologi dan Konservasi Herpetofauna IPB University), Dr. Dolly Priatna (Direktur Yayasan Belantara), Dr. Muhammad Ali Imron (Forest and Wildlife Program Coordinator WWF Indonesia), dan beberapa tokoh konservasi muda seperti: Rahayu Oktaviani “Mama Owa” peraih penghargaan bergengsi Whitley Awards atas upayanya mendukung konservasi owa di Indonesia. Adapun kesempatan berjejaring dengan tokoh penting konservasi dunia antara lain: Dr. Yu Fai Leung (Profesor Bidang Pengelolaan Pengunjung di Kawasan Konservasi dari Amerika Serikat), Dr. Mahmoud Mohieldin (DirekturEksekutif International Monetary Fund), hingga Presiden Negara Palau, Yang Mulia Surangel Whipps Jr. Ikbal juga menjalin komunikasi langsung dengan perwakilan IUCN Kantor Regional Asia, IUCN Kantor Regional Amerika Utara, dan Kantor Pusat UNESCO. Pertemuan ini membuka peluang kolaborasi internasional bagi pengembangan model pendidikan konservasi di kawasan Situs Warisan Dunia, khususnya Komodo National Park. Selama mengikuti kongres, Ikbal banyak mempelajari praktik terbaik (best practices ) dari berbagai negara dalam mempromosikan konservasi berbasis komunitas dan partisipasi generasi muda. Ia menekankan bahwa keterlibatan langsung masyarakat lokal, terutama generasi muda, merupakan kunci utama menjaga keberlanjutan kawasan konservasi. Ikbal berharap kedepannya akan lebih banyak jagawana muda Indonesia yang akan menghadiri IUCN World Conservation Congress 2029 di Panama. Menurutnya, “Konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan alam, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran manusia agar mampu hidup selaras dengan alam. Forum seperti ini membuktikan bahwa pendidikan, komunikasi, dan kolaborasi lintas negara dapat menjadi katalis perubahan.” Ikbal juga menegaskan bahwa pengalaman mengikuti WCC 2025 memperluas wawasan dan jejaring globalnya untuk mengembangkan Ranger Goes to School (RGTS) menjadi model pendidikan konservasi alam berbasis kawasan yang dapat direplikasi di kawasan konservasi lain di Indonesia dan dunia. Sebagai penutup, Ikbal bersama pembimbing doktornya di North Carolina State University, Dr. Yu Fai Leung, memilih Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko sebagai salah satu promotor eksternal disertasinya yang akan berfokus pada tema “Youth Engagement and Stewardship Pathways in Protected Areas”. Ketiga promotor internal lainnya adalah Dr. Lincoln Larson (Profesor Bidang Wildife Tourism and Protected Areas Management), Dr. Kathryne Stevenson (Profesor Bidang Pendidikan Lingkungan dan Generasi Muda), dan Dr. Bryan Clift (Profesor Bidang Metodologi Kualitatif). Kolaborasi dan dukungan akademik ini diharapkan dapat membantu Ikbal menyelesaikan pendidikan doktornya dalam 2–3 tahun ke depan, sekaligus memperkuat jembatan pengetahuan antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam membangun masa depan konservasi yang berkelanjutan. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita dan Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Sosialisasikan SOP Pengelolaan Satwa Hasil Penyelamatan

Sidoarjo, 5 November 2025. Suasana pagi 5 November 2025 di ruang rapat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dipenuhi percakapan antar pemangku kepentingan dari berbagai lembaga penegak hukum dan institusi konservasi. Mereka hadir untuk satu pertemuan strategis, Sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengelolaan Satwa Titipan (PESAT). Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya memperkuat rantai penyelamatan satwa liar ilegal dalam koridor Program Penyelamatan Satwa Liar (MATAWALI), sebuah inisiatif kolaboratif yang sejak beberapa tahun terakhir dipimpin dan digerakkan oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur. Paparan utama disampaikan oleh Kepala Bidang Teknis, Nofi Sugiyanto, S.Hut., M.Ec.Dev., M.A., yang menjelaskan bahwa SOP ini telah dirumuskan untuk memberi kejelasan alur, kepastian tindakan, serta standar kesejahteraan satwa yang harus dipegang seluruh jajaran WRU. Di sampingnya hadir Syam Hendrawan, Koordinator Kandang Transit WRU BBKSDA Jawa Timur, yang memberikan perspektif lapangan tentang dinamika penanganan satwa titipan dari detik pertama tiba hingga proses rehabilitasi. Kolaborasi keduanya menjadikan paparan ini hidup. Nofi Sugiyanto menggambarkan struktur kebijakan dan dasar hukum yang melandasi SOP, sementara Syam menuturkan bagaimana satwa yang tiba di kandang transit dilakukan tindakan cepat namun tetap terukur. Dialog teknis itu memperlihatkan bahwa SOP bukan sekadar dokumen administrasi, tetapi perangkat kerja yang memengaruhi nasib satwa-satwa liar yang diselamatkan dari perdagangan ilegal. Sosialisasi ini juga menjadi momentum penegasan arah kebijakan konservasi di Jawa Timur. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menekankan bahwa SOP Pengelolaan Satwa Titipan merupakan kelanjutan langsung dari penguatan Program MATAWALI. “Penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penindakan. Tugas kita adalah memastikan setiap satwa yang masuk dalam tanggung jawab negara mendapatkan perlakuan yang benar, ilmiah, dan manusiawi. SOP ini hadir sebagai komitmen bahwa penyelamatan satwa harus dilakukan dengan standar tertinggi, agar jaring Matawali bekerja seragam dari hulu hingga hilir”, tambahnya. Program Matawali, yang menghubungkan jaringan aparat penegak hukum, instansi teknis, lembaga konservasi, dan masyarakat, telah menjadi andalan Jawa Timur dalam menekan peredaran satwa ilegal. Sosialisasi SOP PESAT melengkapi jejaring itu dengan pedoman baku yang mengatur penerimaan satwa, pemeriksaan medis, karantina, rehabilitasi, hingga keputusan akhir seperti pelepasliaran. Dalam sesi diskusi, para peserta meninjau kembali berbagai kasus nyata, satwa sitaan di bandara, burung-burung yang diselamatkan dari pasar, hingga reptil yang ditemukan dalam penyelundupan antarprovinsi. Setiap kasus menunjukkan bahwa tanpa SOP yang jelas, risiko salah penanganan meningkat, mulai dari aspek medis hingga aspek dan hukum. Dengan lahirnya SOP ini dan penguatannya melalui sosialisasi lintas lembaga, BBKSDA Jawa Timur mempertegas perannya sebagai simpul utama konservasi regional. Program Matawali dan PESAT akan bekerja lebih rapi, WRU lebih terarah, dan setiap satwa yang diselamatkan mempunyai peluang lebih besar untuk kembali ke alam atau mendapatkan tempat yang layak. Kegiatan ini menggarisbawahi satu pesan, bahwa penyelamatan satwa liar bukan hanya kerja teknis, tetapi komitmen moral dan ilmiah untuk menjaga kehidupan yang menjadi bagian dari warisan hayati Indonesia. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Rencana Strategis Direktorat Jenderal KSDAE Tahun 2025-2029

Perencanaan strategis Direktorat Jenderal KSDAE pada tahun 2025-2029 mengusung tema “Mengelola Keanekaragaman Hayati: Mengurangi Ancaman Kepunahan dan Mengoptimalkan Pemanfaatan untuk Produktivitas Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial”. Tema tersebut merupakan pengejawantahan dari tujuan utama konservasi keanekaragaman hayati, baik yang termuat dalam World Conservation Strategy, Convention on Biological Diversity, maupun amanat dalam Undang-Undang Konservasi Hayati. Dalam rangka mendukung Visi dan Misi Presiden Republik Indonesia periode 2025-2029 yaitu “Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045”, Kementerian Kehutanan menetapkan visi menjadikan kawasan hutan sebagai “Entitas Tapak Hutan yang Mengalirkan Manfaat Ekologi, Ekonomi, dan Sosial dalam Mewujudkan Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045”. Dalam rangka mendukung visi Kementerian Kehutanan, Direktorat Jenderal KSDAE menetapkan visi “Keseimbangan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati sebagai Entitas Tapak yang Mengalirkan Manfaat Ekologi, Ekonomi, dan Sosial”. Visi tersebut menggambarkan komitmen untuk mencapai tujuan utama dari upaya konservasi keanekaragaman hayati, serta sebagai panduan umum yang memberikan arah bagi langkah-langkah yang akan ditempuh oleh Direktorat Jenderal KSDAE beserta jajarannya. Serangkaian tindakan atau langkah konkret yang dirancang oleh Direktorat Jenderal KSDAE untuk mencapai visi di atas diuraikan menjadi empat misi. Misi tersebut memberikan arah dan fokus pada kegiatan jangka menengah seluruh unsur organisasi Direktorat Jenderal KSDAE. Bertalian dengan misi Kementerian Kehutanan, maka Misi Direktorat Jenderal KSDAE pada tahun 2025-2029 dirumuskan sebagai berikut: Dalam upaya pencapaian visi tersebut, Direktorat Jenderal KSDAE akan melaksanakan 6 kegiatan dengan 16 Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) sebagai berikut: Target-target tersebut di atas masih bersifat indikatif. Penyesuaian-penyesuaian dapat dilakukan dalam proses penyusunan rencana kerja pemerintah yang bersifat tahunan.

Menampilkan 33–48 dari 1.989 publikasi