Sabtu, 29 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Menuju Net Sink 2030: Peran Taka Bonerate dan Masyarakat Pesisir

Taka Bonerate, 23 Februari 2026. Indonesia berkomitmen penuh dalam pengendalian perubahan iklim global. Komitmen ini diperkuat melalui PP Nomor 98 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Nilai Ekonomi Karbon untuk mencapai target kontribusi nasional (NDC). Sektor kehutanan menjadi garda terdepan dalam upaya ini. Kementerian Kehutanan mengambil peran strategis dengan pendekatan net sink 2030. Fokusnya jelas: mencegah deforestasi, mengendalikan karhutla, merehabilitasi lahan, serta merestorasi gambut dan mangrove. Praktik pengelolaan hutan lestari juga terus didorong. Di tengah strategi besar itu, Taman Nasional Taka Bonerate hadir sebagai salah satu benteng alam. Sebagai kawasan pelestarian, taman nasional ini mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam skala besar. Namun, pengelolaan hutan tak bisa berjalan sendiri. Pelibatan masyarakat menjadi kunci. Ketika masyarakat diberi akses lebih luas dan keahlian diperkuat, mereka tak hanya sejahtera, tetapi juga secara alami menjadi pengendali ekosistem. Di Taka Bonerate, mengajak masyarakat setempat untuk menghijaukan pulau-pulau kecil. Pada 2026, sebanyak 772 bibit ditanam di area seluas 8 Ha. Ini bagian dari upaya pemulihan ekosistem melalui penanaman intensif dan pengayaan vegetasi kayu lokal. Namun, tantangan tak terhindarkan. Dari 3.332 bibit yang ditanam pada 2025, sebanyak 604 bibit mati—atau 18,13 %. Angka ini mendekati ambang batas 20 %. Penyebabnya beragam. Curah hujan rendah pasca-penanaman menjadi faktor utama, meski waktu tanam sudah disesuaikan dengan bulan basah. Jarak angkut juga menjadi kendala: bibit harus menempuh perjalanan darat 40–50 kilometer, dilanjutkan perjalanan laut 60–70 kilometer menuju pulau-pulau tujuan. Kondisi tanah tak kalah menantang. Jenis tanah regosol—berpasir, miskin hara, dan bercampur pecahan karang—membuat air tanah dangkal dan berkadar garam tinggi. Sementara itu, masyarakat lokal yang sebagian besar nelayan belum terbiasa dengan perawatan tanaman pasca-penanaman. Meski begitu, upaya tak berhenti. Penyiangan, pendangiran, dan penyulaman langsung dilakukan. Sebanyak 604 bibit baru segera menggantikan yang mati. Langkah kecil, tapi berarti bagi masa depan ekosistem pulau-pulau kecil di Taka Bonerate. Sumber: Saleh Rahman (PEH Ahli Madya) dan Asri (Humas/ PEH Ahli Muda) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Di Bawah Langit Parengan, Harapan Itu Ditanam

Tuban, 20 Februari 2026. Di Petak 7B RPH Guwoterus, BKPH Mulyagung, KPH Parengan, ratusan bibit ditanam sebagai bagian dari “Gerakan Tanam Pohon” yang digagas oleh Perum Perhutani KPH Parengan (18/02/2026). Kegiatan ini mempertemukan unsur pemerintah, aparat keamanan, dunia usaha, serta masyarakat dalam satu tujuan: memperkuat tutupan hijau sekaligus menopang ekonomi warga sekitar hutan. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, bersama perwakilan Forkopimda Kabupaten Tuban, Koramil, Polres, Kejaksaan Negeri Tuban, Camat dan unsur Muspika Montong, Pramuka Saka Wana Bhakti, Pemerintah Desa Guwoterus, serta mitra swasta PT Tawun Gegunung Energi (PT TGE). Dalam sambutannya, Administratur/KKPH Parengan menegaskan bahwa gerakan ini bukan hanya agenda seremoni belaka. Namun, juga bagian dari komitmen jangka panjang menjaga fungsi ekologis kawasan hutan produksi sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat melalui tanaman produktif. Jenis bibit yang ditanam didominasi tanaman buah, termasuk alpukat, pilihan yang mencerminkan pendekatan restorasi berbasis manfaat ganda. Selain memperbaiki tutupan lahan dan kualitas tanah, tanaman buah diharapkan menjadi sumber ekonomi alternatif bagi masyarakat sekitar hutan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pengelolaan hutan berkelanjutan: menjaga keseimbangan antara fungsi lindung, fungsi produksi, dan fungsi sosial. Di lanskap Parengan yang sebagian menghadapi tekanan degradasi lahan dan perubahan iklim mikro, kehadiran vegetasi produktif menjadi investasi ekologis jangka panjang. Kehadiran Perum Perhutani, Balai Besar KSDA Jawa Timur, unsur Forkopimda, serta masyarakat menunjukkan bahwa konservasi hari ini tidak lagi berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam kolaborasi. Bagi BBKSDA Jawa Timur, partisipasi dalam gerakan ini menjadi bagian dari komitmen memperkuat jejaring pengelolaan lanskap di luar kawasan konservasi. Konservasi tidak hanya berbicara tentang perlindungan spesies, tetapi juga tentang membangun ketahanan ekosistem secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Di bawah langit Parengan yang terik siang itu, tanah yang digali dan bibit yang ditegakkan menjadi simbol harapan. Harapan bahwa akar-akar muda ini kelak menahan air hujan lebih lama, menjaga kesuburan tanah, menyediakan buah bagi warga, serta menjadi penyangga kehidupan bagi satwa liar di sekitarnya. Gerakan Tanam Pohon di KPH Parengan bukan akhir dari sebuah kegiatan, melainkan awal dari proses panjang merawat tumbuhnya pohon-pohon itu. Sebab dalam setiap lubang tanam, yang disemai bukan hanya bibit, melainkan masa depan lanskap Jawa Timur yang lebih hijau dan tangguh. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mata Air Bubulan dan Tantangan Degradasi Hulu

Tuban, 20 Februari 2026. Upaya menjaga keberlanjutan sumber air kembali dilakukan di hulu. Pada 16 Februari 2026, Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menghadiri kegiatan penanaman bibit jenis Ficus di sekitar Mata Air Bubulan, Desa Kesamben, Kecamatan Plumpang, Kabupaten Tuban. Kegiatan ini digagas oleh Masyarakat Ficus Tuban sebagai bagian dari ikhtiar bersama merawat kawasan tangkapan air. Penanaman dilakukan secara kolaboratif bersama sejumlah instansi dan unsur masyarakat, antara lain CDK. Bojonegoro, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tuban, BPBD Kabupaten Tuban, Perum Perhutani KPH Tuban, PT Trans-Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) Tuban, unsur Kecamatan Plumpang, Koramil, Polsek, serta Pemerintah Desa Kesamben. Keterlibatan lintas sektor ini menegaskan bahwa perlindungan sumber air merupakan kepentingan bersama. Secara ekologis, kawasan hulu memiliki peran penting sebagai daerah resapan. Tutupan vegetasi yang memadai membantu meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan, serta menekan risiko erosi dan sedimentasi. Dalam konteks inilah, degradasi tutupan lahan di sekitar sumber air berpotensi menurunkan daya dukung hidrologis kawasan. Pemilihan jenis Ficus bukan tanpa alasan. Kelompok tumbuhan ini dikenal memiliki sistem perakaran yang kuat dan menyebar, sehingga efektif membantu stabilisasi tanah dan meningkatkan kapasitas serapan air. Selain itu, Ficus juga berfungsi sebagai penyedia pakan bagi berbagai jenis satwa liar, sehingga berkontribusi pada keseimbangan ekosistem di sekitar mata air. Penanaman vegetasi di sekitar mata air merupakan langkah preventif dalam pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Upaya ini sejalan dengan prinsip konservasi yang menekankan perlindungan sistem penyangga kehidupan, termasuk ketersediaan air sebagai kebutuhan dasar masyarakat. Dalam berbagai wilayah, penurunan kualitas dan kuantitas sumber air kerap dikaitkan dengan perubahan tutupan lahan di hulu. Oleh karena itu, penguatan vegetasi melalui penanaman spesies yang sesuai tapak menjadi salah satu strategi adaptif menghadapi tekanan lingkungan, termasuk variabilitas iklim. Kegiatan di Mata Air Bubulan menunjukkan bahwa konservasi tidak dapat berjalan sendiri. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan aparat kewilayahan menjadi faktor penting dalam memastikan keberlanjutan program. Partisipasi aktif masyarakat lokal juga menjadi fondasi dalam menjaga kawasan secara berkelanjutan. Ke depan, keberhasilan penanaman tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang tertanam, tetapi dari tingkat hidup tanaman, perawatan pascatanam, serta konsistensi perlindungan kawasan hulu. Tantangan degradasi tidak selesai dalam satu kegiatan, melainkan membutuhkan komitmen jangka panjang. Mata Air Bubulan hari ini masih mengalir. Namun keberlanjutannya akan sangat ditentukan oleh bagaimana kawasan hulunya dijaga, akar demi akar, pohon demi pohon. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Terluka, Serak Jawa Dievakuasi Tim Matawali di Ngawi

Ngawi, 20 Februari 2026. Seekor burung Serak Jawa (Tyto alba) ditemukan dalam kondisi terluka di sekitar asrama mahasiswi Universitas Darussalam Gontor Ngawi, Selasa malam, 17 Februari 2026. Satwa tersebut kemudian dievakuasi oleh Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 04 Madiun - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur pada Rabu pagi (18/2). Laporan awal diterima dari Mahdia Rapita, seorang mahasiswi yang menemukan burung itu dalam keadaan hidup namun mengalami luka pada salah satu sayap. Informasi tersebut diteruskan kepada petugas Bidang KSDA Wilayah I Madiun, yang kemudian menurunkan tim ke lokasi. Hasil identifikasi memastikan burung tersebut merupakan Serak Jawa, spesies burung pemangsa nokturnal yang umum dijumpai di kawasan pertanian dan permukiman. Satwa ini dikenal berperan penting dalam mengendalikan populasi tikus serta menjaga keseimbangan ekosistem. Proses evakuasi dilakukan dengan prosedur penanganan satwa liar untuk menghindari stres tambahan. Setelah diamankan, burung dibawa ke kandang transit Kantor Bidang KSDA Wilayah I Madiun untuk observasi dan penanganan lebih lanjut. Dalam kesempatan yang sama, tim menyampaikan sosialisasi singkat kepada warga sekitar mengenai pentingnya menjaga satwa liar dan tidak melakukan tindakan yang dapat membahayakan keberadaan mereka. Petugas menegaskan bahwa pelaporan cepat dari masyarakat sangat membantu upaya penyelamatan dan rehabilitasi satwa. Hingga saat ini, Serak Jawa tersebut masih dalam tahap perawatan dan pemantauan kondisi fisik. Balai Besar KSDA Jawa Timur mengimbau masyarakat untuk segera melapor apabila menemukan satwa liar yang terluka atau berada di luar habitat alaminya. (dna) Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I Monitoring Usaha Peternakan Domba KTH Gading Hijau

Ternak domba yang dikelola oleh KTH Gading Hijau Karang Gading, 20 Februari 2026 – Resor Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut I, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) secara rutin melaksanakan monitoring terhadap bantuan usaha ekonomi produktif yang diberikan kepada kelompok tani hutan (KTH) di sekitar kawasan. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bantuan dimanfaatkan secara optimal, berkelanjutan, serta mendukung penguatan ekonomi masyarakat penyangga kawasan konservasi. Salah satu kegiatan monitoring dilaksanakan pada Selasa,17 Februari 2026, terhadap bantuan usaha peternakan domba yang dikelola oleh KTH Gading Hijau. Monitoring dilakukan untuk memantau pertambahan bobot badan serta kondisi kesehatan ternak yang menjadi bagian dari pengembangan usaha ekonomi produktif masyarakat sekitar kawasan. Berdasarkan hasil monitoring, ternak domba yang dikelola oleh KTH Gading Hijau berjumlah 26 ekor, seluruhnya berjenis kelamin betina. Hasil penimbangan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata berat badan ternak. Pada penimbangan pertama di bulan Januari 2026, rata-rata berat badan domba tercatat 14,74 kilogram, sedangkan pada penimbangan kedua di bulan Februari 2026 meningkat menjadi 15,01 kilogram. Capaian ini mencerminkan pengelolaan pakan dan pemeliharaan ternak yang semakin baik. Dari sisi kesehatan, meskipun pada awal pemeliharaan ditemukan dua ekor domba yang sempat mengalami ganguan kesehatan, kondisi tersebut dapat ditangani dengan cepat. Saat ini, satu ekor domba telah pulih sepenuhnya, sementara satu ekor lainnya masih dalam tahap pemulihan dan terus mendapatkan perawatan intensif. Hal ini menunjukkan adanya kepedulian dan respon cepat dari KTH Gading Hijau. Kepala Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I, Esra Barus, S. Hut menjelaskan bahwa kegiatan monitoring merupakan bagian penting dari pengawasan sekaligus pendampingan terhadap investasi usaha ekonomi yang dijalankan oleh kelompok tani. “Monitoring investasi bisnis dilakukan oleh staf resor untuk mengetahui perkembangan usaha yang dijalankan oleh kelompok tani serta memberikan masukan terhadap kekurangan dalam pelaksanaannya”, ujar Esra. Melalui pendampingan dan pengawasan yang dilakukan secara berkelanjutan, diharapkan pengelolaan usaha ekonomi masyarakat sekitar kawasan dapat berjalan lebih baik dan berkesinambungan. Dengan demikian, bantuan yang diberikan mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat serta berkontribusi dalam mengurangi tekanan terhadap kawasan konservasi. Sumber: Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I, Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Upaya Konservasi Tuntong Laut di Kolam Pembesaran Tuntong Laut Selotong

Selotong, 20 Februari 2026 – Upaya konservasi tuntong laut (Batagur borneoensis) kembali menunjukkan perkembangan positif. Petugas Resor Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut III, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) menemukan 12 butir telur tuntong laut, dengan 11 butir di antaranya dalam kondisi utuh, di kolam pembesaran tuntong laut Desa Selotong, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Selasa (18/2/2026). Sebagai tindak lanjut, petugas Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut III bersama lembaga mitra Yayasan Satu Cita Lestari Indonesia segera melakukan pemeriksaan sinar-X (X-ray) terhadap indukan tuntong laut untuk memastikan ada atau tidaknya sisa telur dalam tubuh betina dewasa. Berdasarkan hasil pemeriksaan sinar-X tidak ditemukan lagi sisa telur pada keempat indukan betina tersebut. Saat ini, di kolam pembesaran tuntong laut tersebut dirawat 66 ekor tuntong laut, yang terdiri atas empat indukan betina dewasa, tiga ekor indukan jantan dewasa, dan 59 ekor anakan. Kondisi ini menunjukkan bahwa setiap keberhasilan reproduksi akan berpengaruh penting bagi keberlanjutan populasi tuntong laut di alam. Penemuan telur ini memiliki arti penting mengingat tuntong laut merupakan satwa dilindungi dengan status kritis (Critically Endangered) menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN). Spesies ini juga tercatat sebagai salah satu dari 25 kura-kura terlangka di dunia versi Wildlife Conservation Society dan Turtle Conservation Coalition, serta dilindungi peraturan perundang-undangan di Indonesia. Di tingkat regional, khususnya di Sumatera Utara, keberadaan tuntong laut saat ini hanya diketahui berada di kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut dengan luas sekitar 14.827 hektar yang berada di Kabupaten Langkat dan Deli Serdang. Habitat potensial spesies ini antara lain terdapat di Beting Selotong, Beting Tuntong, dan Pantai Sarang Elang. Upaya konservasi tuntong laut di kawasan ini sendiri telah diperkuat sejak tahun 2018 melalui program penetasan ex situ dari telur-telur yang ditemukan di alam. Langkah ini dilakukan karena tingkat keberhasilan penetasan alami sangat rendah akibat gangguan predator dan aktivitas manusia. Program tersebut berawal dari informasi keberadaan kembali tuntong laut di Kabupaten Langkat yang terdeteksi oleh Conservation Indonesia setelah sebelumnya spesies ini dinyatakan punah di Kalimantan. Upaya ini menjadi krusial tidak hanya untuk menyelamatkan spesies, tetapi juga untuk menjaga stabilitas ekosistem pesisir. Selain memiliki nilai konservasi tinggi, tuntong laut juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem mangrove. Satwa ini membantu regenerasi mangrove melalui penyebaran biji brembang (Sonneratia caseolaris), serta menyumbang nutrisi perairan yang mendukung kehidupan ikan, kepiting, dan udang. Peran ekologis inilah yang menjadikan tuntong laut sebagai spesies penting di ekosistem pesisir. Dalam konteks kebijakan nasional, temuan telur terbaru ini sejalan dengan misi Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, dalam menjaga keanekaragaman hayati dan menekan laju kepunahan spesies. Keberhasilan penangkaran dan rehabilitasi tuntong laut dapat meningkatkan populasi spesies ini di alam sekaligus menjaga kelestarian ekosistem mangrove di pesisir Sumatera Utara. Sebagai langkah lanjutan, petugas Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut III bersama YSLI akan terus melakukan pengawalan dan monitoring intensif terhadap tuntong laut yang ditemukan. Sebanyak 11 butir telur yang masih utuh telah dilakukan pengeraman alami, dengan cara dieramkan dalam pasir sedalam 20-30 sentimeter di kolam pembesaran tuntong laut di Desa Selotong. Sumber: Resor Konservasi SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut III, Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Resor Konservasi CA/TWA Sibolangit Lakukan Koordinasi dan Monitoring Kelompok Tani Binaan

Tim Resor CA/TWA Sibolangit memonitoring kondisi dan kesiapan kandang ayam Sibolangit, 20 Februari 2025 – Untuk memperkuat sinergi dan mengevaluasi program pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam/Taman Wisata Alam (CA/TWA) Sibolangit, tim Resor CA/TWA Sibolangit, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melaksanakan kegiatan koordinasi, silaturahmi, dan monitoring kelompok tani binaan pada Selasa, 18 Februari 2026. Kegiatan diawali dengan koordinasi ke Daops Manggala Agni Sumatera 01 Sibolangit dan PDAM Tirtanadi dalam rangka memperkenalkan Kepala Resor CA/TWA Sibolangit yang baru, Jazmi Anditya Wicaksono. Kunjungan tersebut dilakukan sebagai bentuk silaturahmi dan komunikasi awal antar instansi. Selanjutnya, tim melakukan monitoring Kelompok Tani Harapan I di Desa Batu Mbelin. Hasil monitoring menunjukkan kelompok masih aktif, bantuan sarana pertanian dimanfaatkan dengan baik, serta koperasi kelompok masih berjalan. Untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan, disepakati penyesuaian jadwal pertemuan menjadi empat bulan sekali. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan monitoring Kelompok Tani Arih Ersada di Desa Sembahe. Dari hasil pemantauan diperoleh informasi adanya kendala pada usaha ternak domba yang sebelumnya dikembangkan. Kendala tersebut akan menjadi bahan evaluasi bersama antara petugas dan kelompok. Sebagai tindak lanjut, Kelompok Tani Arih Ersada berencana mengalihkan usaha ternak dari domba ke ayam yang dinilai lebih sesuai dengan kondisi dan kapasitas kelompok. Kandang ternak telah disesuaikan menjadi kandang ayam dengan tiga sekat masing-masing direncanakan akan diisi 200 ekor ayam. Hasil monitoring ini akan menjadi dasar bagi Resor CA/TWA Sibolangit untuk terus memperkuat pendampingan dan pembinaan kelompok tani ke depan, sehingga program pemberdayaan masyarakat dapat terus berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar kawasan. Sumber: Resor CA/TWA Sibolangit, Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Puluhan Ekor Satwa Liar Hasil Sitaan Dititip Rawat Di BBKSDA Sumatera Utara

Satwa yang dititip rawat di Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 18 Februari 2026. Pada Selasa (17/02/2026) dilakukan penitipan satwa liar hasil penyelamatan tindak pidana, dari Balai KSDA Aceh ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara di kantor Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Sebelumnya satwa-satwa liar tersebut dititip rawat Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera di Balai KSDA Aceh, namun karena terbatasnya fasilitas dan kapasitas kandang rawat sehingga Balai KSDA Aceh menitipkan sebagian satwa-satwa tersebut ke Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Ada sebanyak 15 jenis satwa liar baik dilindungi maupun tidak dilindungi yang dititip rawat, yaitu : Nuri Bayan (Eclectus roratus), Toowa Cemerlang (Lophorina magnifica), Kangkareng Sulawesi (Rhabdotorrhinus exarhatus), Tiong Emas (Gracula religiosa),Cendrawasih Kecil (Paradisaea minor), Enggang Papan (Buceros bicornis), Kangkareng Hitam (Anthracoceros malayanus). Kemudian, Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublica), Julang Irian (Rhyticeros plicatus), Kelelawar Hantu (Macroderma gigas), Kakatua Maluku (Cacatua moluccensis), Ular Sanca Hijau (Morelia viridis), Bandotan Candi (Gonyosoma margaritatum), Paruh Sabit Paruh Putih (Drepanomis bruijnil) dan Gosong Pilipina (Megapodius cumingii). Penyerahan satwa titipan tersebut dilakukan langsung oleh Kepala Balai KSDA Aceh Ujang Wisnu Barata, S.Hut., M.Sc., M.Si. dan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara diwakili Kepala Bidang Teknis Ir. Bresman Marpaung, disaksikan Kepala Seksi D pada Asisten Tindak Pidana Umum Kejaksaan Tinggi Aceh Endy Ronaldi, SH., MH. serta Penyidik Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera Herwin Hermawan, SP., MH. Penyelamatan satwa liar ini bermula dari operasi gabungan berskala besar yang dikoordinasikan Bea Cukai Langsa bersama Polres Aceh Timur, Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Sumatera dan BKSDA Aceh, yang berhasil membongkar praktik ekspor illegal ratusan satwa liar dilindungi yang rencananya akan diselundupkan ke Thailand, di kawasan Pante Bayam, Kecamatan Madat, Kabupaten Aceh Timur, pada Jumat (30/1/2026) malam (Bea Cukai Gagalkan Ekspor Ratusan Satwa Dilindungi, https://langsa.beacukai.go.id,09/02/2026). Tim berhasil mencegat satu unit truk yang mengangkut puluhan koli berisi fauna langka seperti Orangutan, Simpai Surili (Lutung Sumatera), beberapa jenis burung termasuk Cendrawasih, Kakatua Jambul Kuning, Rangkong dan Nuri bayan, Kelelawar Albino kerangka tengkorak hewan bertaring, ular hingga belangkas dalam kondisi beku dan mengamankan/menyitanya. Sebagian besar satwa yang disita termasuk dalam daftar satwa yang dilindungi oleh Undang-undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, praktik ini juga melanggar ketentuan internasional dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES). Untuk selanjutnya menunggu proses hukum sampai adanya keputusan yang berkekuatan hukum tetap dari pengadilan atau inkracht untuk menentukan langkah-langkah penanganan berikutnya. Diharapkan keputusan majelis hakim berkeadilan dan berpihak kepada penyelamatan satwa liar. Sumber : Bidang Teknis Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pemantauan Perairan Taka Gantarang: Satu Kapal Diduga Bom Ikan Melarikan Diri

Tinabo, 19 Februari 2026. Personil gabungan menggelar kegiatan pemantauan di sejumlah titik strategis perairan wilayah utara Taman Nasional Taka Bonerate, Minggu (15/2). Mereka menyisir area akses di Perairan Taka Gantarang, Taka Lamungan, dan sekitar Pulau Tarupa Besar. Tim yang bertugas merupakan gabungan dari personil seksi, Resort Tarupa, Resort Tinabo, serta Mitra WCS-IP (Mattirotasi Mitra Lestari). Mereka juga menggandeng masyarakat anggota kelompok nelayan Pulau Mas Tarupa. Pemantauan kali ini menemukan sejumlah aktivitas nelayan. Di lokasi, petugas mengidentifikasi lima kapal yang sedang memancing gurita dengan alat pancing ulur. Semua kapal tersebut diketahui berasal dari Tarupa. Namun, situasi sempat menegang saat petugas mendekati sebuah kapal mencurigakan. Kapal itu diduga hendak melakukan praktik destructive fishing, atau penangkapan ikan dengan cara merusak, seperti bom ikan. Begitu didekati, kapal tersebut cepat melarikan diri. Di tengah kegiatan, petugas juga menyempatkan diri untuk bersosialisasi. Sebuah kapal nelayan yang ditemui diberikan pemahaman mengenai zonasi. Sosialisasi ini penting agar nelayan memahami area tangkap yang diperbolehkan, demi kelestarian ekosistem laut ke depannya. Sumber: Tim Patroli Resor Tarupa dan Asri - Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Keselamatan di Atas Segalanya, Penutupan Sementara Kawah Ijen untuk Operasi SAR!

Banyuwangi, 19 Februarai 2026. Langit pagi di puncak Ijen biasanya dipenuhi langkah-langkah pendaki yang mengejar pijar biru api belerang. Namun kali ini, suasana berubah. Demi keselamatan dan fokus operasi kemanusiaan, kunjungan ke Taman Wisata Alam Kawah Ijen resmi ditutup sementara untuk mendukung kegiatan Search and Rescue (SAR) terhadap pengunjung yang dilaporkan hilang Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menetapkan penutupan sementara seluruh aktivitas wisata alam, penelitian, dan pendidikan di kawasan tersebut pada 19 Februari 2026, dan akan dibuka kembali pada 26 Februari 2026. Kebijakan ini diambil sebagai langkah strategis untuk memastikan proses pencarian berlangsung optimal, aman, dan tidak terganggu oleh aktivitas kunjungan. Kawah Ijen, dengan danau kawah asam berwarna hijau pirus dan lanskap vulkanik yang dramatis, memang memesona. Namun, ia juga menyimpan risiko alamiah, gas belerang pekat, kontur terjal, dan perubahan cuaca yang cepat, yang menuntut kewaspadaan dan tata kelola yang disiplin. Penutupan sementara ini bukan sekadar pembatasan akses. Ia adalah bentuk tanggung jawab negara dalam memastikan bahwa setiap upaya penyelamatan dilakukan dengan ruang gerak yang memadai bagi tim SAR, aparat, dan seluruh unsur pendukung di lapangan. Dalam konteks konservasi, kebijakan ini juga mencerminkan keseimbangan antara pemanfaatan wisata alam dan prinsip kehati-hatian (precautionary principle) dalam pengelolaan kawasan. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menyampaikan bahwa masyarakat dan pihak terkait diharapkan memahami serta mendukung keputusan tersebut demi kelancaran operasi kemanusiaan Koordinasi lintas instansi terus dilakukan untuk memastikan proses pencarian berjalan efektif. Di balik kabut asam dan lanskap yang memikat, Ijen mengingatkan kita bahwa alam bukan hanya ruang rekreasi, tetapi juga ruang tanggung jawab. Ketika situasi darurat terjadi, langkah paling bijak adalah memberi ruang bagi kemanusiaan untuk bekerja. Dan ketika jalur itu kembali dibuka nanti, setiap langkah menuju kawah akan membawa makna yang lebih dalam: bahwa menjaga keselamatan adalah bagian tak terpisahkan dari merawat alam. (dna) Sumber : Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

40 Rusa Timor Kembali Mengisi Rantai Ekologi Savana Jawa Timur

Banyuwangi, 13 Februari 2026. Savana di timur Pulau Jawa bersiap menerima kembali denyut kehidupan yang lama terjaga dalam kandang. Sebanyak 40 ekor Rusa timorensis atau Rusa Timor yang dilindungi ditranslokasikan dari penangkaran di Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi menuju habitat alaminya di Taman Nasional Baluran – Situbondo. Ini sebagai bagian dari penguatan populasi dan pemulihan fungsi ekologis savana Jawa Timur. Kegiatan ini dilaksanakan dengan tahapan pemeriksaan kesehatan, serah terima, hingga pelepasliaran yang mempertimbangkan aspek ilmiah dan kesejahteraan satwa. Sebelum translokasi, seluruh satwa menjalani pemeriksaan menyeluruh. Dari total 40 ekor, terdiri atas 15 jantan, 21 betina, dan 4 anakan, mayoritas memiliki Body Condition Score (BCS) 3 atau kategori ideal. Secara umum, satwa responsif, nafsu makan normal, serta mampu berdiri dan berjalan dengan baik. Hasil pemeriksaan menyatakan seluruh individu layak untuk dilepasliarkan. Mempertimbangkan karakter crepuscular Rusa Timor, aktif pada senja hingga malam hari serta sensitivitas terhadap suhu tinggi dan stres, pelepasliaran dilaksanakan pada dini hari, 12 Februari 2026, di kawasan savana Baluran. Pembukaan kandang dilakukan dengan metode hard release, disaksikan langsung oleh petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama perwakilan Balai Taman Nasional Baluran. Dalam suasana sunyi menjelang fajar, satu per satu rusa melangkah keluar, berhenti sejenak, mengangkat kepala, lalu bergerak menyatu dengan bentang padang rumput. Monitoring awal dilakukan selama beberapa jam untuk memastikan respons adaptasi berjalan baik dan tidak terjadi disorientasi kelompok. Koloni Baru di Savana Baluran Pagi harinya, hasil pemantauan menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Rusa terpantau masih berada di sekitar lokasi pelepasliaran, membentuk satu koloni yang kompak. Perilaku tersebut menunjukkan mekanisme sosial alami, rusa memilih tetap berkelompok sebagai strategi adaptasi awal terhadap lingkungan baru. Mereka mulai melakukan eksplorasi terbatas, merumput, serta menunjukkan respons kewaspadaan normal terhadap suara dan pergerakan sekitar. Secara ekologis, fase ini krusial. Adaptasi awal yang stabil menjadi indikator penting keberhasilan translokasi, sebelum satwa perlahan memperluas ruang jelajahnya di savana. Menguatkan Rantai Ekologi Sebagai herbivora kunci, Rusa timorensis memiliki peran strategis dalam menjaga dinamika vegetasi savana, mendistribusikan biji, serta menjadi bagian dari jejaring trofik alami. Kehadiran 40 individu baru ini di Taman Nasional Baluran bukan sekadar penambahan populasi, melainkan penguatan fungsi ekosistem. Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Purwantono, menyampaikan harapannya agar Rusa Timor yang telah dilepasliarkan mampu beradaptasi dengan baik di habitat barunya. “Harapannya, Rusa Timor yang sudah dilepasliarkan kembali ke habitatnya di kawasan Taman Nasional Baluran mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang baru sehingga dapat berkembang biak untuk menambah populasinya di alam, mengisi rantai ekologis, dan nantinya dapat menjadi atraksi wisata bagi pengunjung,” ujarnya. Translokasi ini menegaskan bahwa konservasi tidak berhenti pada penyelamatan, tetapi berlanjut pada pemulihan proses ekologis yang utuh, berbasis sains, prosedur, dan kesejahteraan satwa. Di bawah cahaya pagi Baluran, koloni rusa itu berdiri sebagai simbol kembalinya harmoni, langkah-langkah pertama menuju kehidupan liar yang sesungguhnya, dan mata rantai ekologi yang kembali terhubung di savana Jawa Timur. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda pada BBKSDA Jatim
Baca Artikel

Imlek Dan Harapan Bagi Konservasi Alam Di Jawa Timur

Sidoarjo, 18 Februari 2026. Tahun Baru Imlek menjadi penanda penting dalam perjalanan waktu menurut penanggalan lunar. Dalam perhitungan Kongzili, tahun ini memasuki tahun 2577, yang dimulai pada 17 Februari 2026, sekaligus menandai dimulainya Tahun Kuda Api, simbol energi, ketangguhan, dan keberanian untuk bergerak maju. Bagi seorang rimbawan, pergantian tahun tidak sekadar dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga sebagai momen refleksi. Alam bekerja dalam siklus yang panjang, musim berganti, hutan tumbuh dan pulih, satwa menyesuaikan ruang hidupnya, sementara manusia terus belajar menjaga keseimbangan. Dalam konteks itu, tahun baru menjadi pengingat untuk meninjau kembali hubungan manusia dengan alam, apakah kita berjalan searah dengan alam, atau justru menjauh darinya. Di bentang alam Jawa Timur, dinamika tersebut terlihat nyata. Kawasan hutan, pesisir, hingga ruang penyangga konservasi menghadapi perubahan yang cepat. Aktivitas manusia terus berkembang, sementara satwa liar berupaya bertahan dengan ruang hidup yang semakin terbatas. Tidak jarang, interaksi keduanya menjadi lebih intens: monyet yang mendekat ke permukiman, ular yang muncul di lingkungan warga ketika musim hujan, atau babi liar yang memasuki lahan pertanian. Bagi seorang konservasionis, peristiwa-peristiwa itu bukan sekadar konflik, melainkan sinyal ekologis bahwa keseimbangan ekosistem sedang menyesuaikan diri. Makna Tahun Kuda Api dalam filosofi penanggalan ini sering dihubungkan dengan semangat bergerak, daya tahan, dan keberanian menghadapi perubahan. Nilai tersebut terasa selaras dengan kerja-kerja konservasi. Menjaga alam bukanlah pekerjaan yang selesai dalam waktu singkat. Ia memerlukan konsistensi, kesabaran, serta keberanian untuk terus melangkah, seperti langkah kuda yang kuat namun terarah. Seorang rimbawan memahami bahwa setiap satwa adalah indikator kesehatan alam. Perubahan pola kemunculan satwa sering kali mencerminkan perubahan pada habitatnya. Ketika satwa semakin sering terlihat di ruang manusia, alam sebenarnya sedang menyampaikan pesan. Di sinilah pentingnya konservasi, bukan hanya melindungi satwa, tetapi membangun kesadaran masyarakat agar mampu membaca tanda-tanda alam dengan lebih bijak. Refleksi tahun baru ini mengingatkan bahwa harapan konservasi tidak selalu lahir dari langkah besar. Ia tumbuh dari tindakan sederhana, menjaga tutupan vegetasi, tidak merusak habitat kecil di sekitar lingkungan, memahami fungsi ekologis satwa, serta mengedepankan edukasi ketika terjadi interaksi manusia dengan satwa liar. Kesadaran kolektif inilah yang menjadi fondasi utama keberhasilan pelestarian. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc. menegaskan bahwa refleksi Tahun Baru Imlek 2577 dapat menjadi momentum memperkuat harmoni antara manusia dan alam. “Pergantian tahun selalu membawa harapan baru. Dalam konteks konservasi, harapan itu adalah tumbuhnya kesadaran bersama bahwa manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Semangat Tahun Kuda Api mengingatkan kita untuk terus bergerak, bekerja sama, dan menjaga keseimbangan ekosistem agar alam Jawa Timur tetap lestari bagi generasi mendatang,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab institusi, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat. Alam yang sehat tidak lahir dari kebijakan semata, tetapi dari kesadaran kolektif yang tumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Dalam refleksi Tahun Baru Imlek tahun 2577 Kongzili, pesan yang muncul terasa universal, perubahan tidak dapat dihindari, tetapi arah perubahan dapat dipilih. Jika simbol Kuda Api membawa energi untuk bergerak maju, maka dalam perspektif konservasi, keberanian itu berarti melangkah dengan bijak, menjaga ruang hidup satwa, menghormati proses alam, dan memastikan keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Pada akhirnya, harapan terbesar bagi konservasi di Jawa Timur bukan hanya bertambahnya kawasan yang terlindungi, tetapi tumbuhnya kesadaran bahwa manusia dan alam berada dalam satu perjalanan yang sama. Seperti siklus waktu yang terus berputar, upaya menjaga bumi pun harus terus berjalan, tenang, konsisten, dan penuh rasa hormat terhadap kehidupan. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji – PEH Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pelepasliaran Tuntong Laut di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut

Jaring Halus, 18 Februari 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Resor Konservasi Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut III kembali melaksanakan pelepasliaran satwa tuntong laut (Batagur borneoensis) di kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, Kabupaten Langkat, pada Senin (16/2). Kegiatan ini didukung oleh lembaga mitra konservasi Yayasan Satu Cita Lestari Indonesia (YSLI). Pelepasliaran tersebut merupakan tindak lanjut atas respon cepat atas laporan masyarakat Desa Jaring Halus terkait ditemukannya seekor tuntong laut yang terjerat jaring nelayan. Atas kepedulian masyarakat, satwa dilindungi tersebut dapat segera dievakuasi, diperiksa kesehatannya, dan dikembalikan ke habitat alaminya di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Peristiwa bermula pada Sabtu, 14 Februari 2026 sekitar pukul 11.30 WIB, ketika seorang nelayan dari Desa Jaring Halus bernama Anggi Pratama mendapati seekor tuntong laut berada di dalam jaring yang dipasangnya. Menyadari bahwa satwa tersebut merupakan satwa dilindungi, yang bersangkutan kemudian menyerahkan tuntong laut tersebut kepada Rustam, yang diketahui pernah menjadi Kader Konservasi BBKSDA Sumatera Utara serta mantan Ketua Ikatan Pemuda Jaring Halus (IPANJAR). Selanjutnya, Rustam melaporkan kejadian tersebut kepada Petugas Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut III. Menindaklanjuti laporan tersebut, pada Senin 16 Februari 2026, tim Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut III bersama mitra YSLI melakukan pemeriksaan dan penanganan terhadap satwa. Hasil pemeriksaan menunjukkan tuntong laut berjenis kelamin betina dalam kondisi sehat dengan berat badan 15,4 kilogram, panjang karapas 49 sentimeter dan lebar karapas 33,2 sentimeter. Sebagai bagian dari upaya pemantauan dan pengelolaan konservasi, tim melakukan pemasangan chip identification. Selanjutnya, tuntong laut tersebut segera dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya di kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Pelepasliaran ini menegaskan pentingnya sinergi antara masyarakat pesisir, pemerintah dan lembaga mitra dalam upaya perlindungan satwa liar dilindungi. BBKSDA Sumatera Utara terus mendorong peran aktif masyarakat dalam pelestarian satwa dilindungi, sebagai bagian dari komitmen bersama dalam menjaga kelestarian ekosistem di kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Sumber: Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut III, Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Burung Migran Datang, Alarm Lahan Basah Surabaya Kembali Berbunyi

Surabaya, 18 Februari 2026. Asian Waterbird Census (AWC) 2026 Part II mencatat 28 spesies burung di kawasan mangrove Wonorejo. Data ini bukan sekadar angka, melainkan penanda penting kondisi ekosistem lahan basah pesisir timur Pulau Jawa yang terus menghadapi tekanan ruang hidup. Di tengah bentang mangrove pesisir timur Kota Surabaya, aktivitas pengamatan burung berlangsung tenang namun penuh makna. Tim Asian Waterbird Census (AWC) dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), melalui Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, mencatat keberadaan 28 spesies burung pada pelaksanaan AWC Part II, 13 Februari 2026, di kawasan Mangrove Wonorejo. Data lapangan menunjukkan, dari total spesies yang teramati, 16 di antaranya merupakan burung air dan tujuh spesies berstatus dilindungi sesuai regulasi nasional. Temuan tersebut menegaskan satu hal bahwa pesisir Surabaya masih menjadi bagian dari jalur migrasi internasional yang vital namun rapuh. Data yang Menjadi Peringatan Ekologis Secara ekologis, burung air kerap disebut sebagai indikator kesehatan lahan basah. Kehadiran spesies migran penuh seperti Trinil Pantai, Kedidi Leher Merah, dan Dara Laut menunjukkan bahwa kawasan ini masih menyediakan pakan, ruang istirahat, dan kondisi habitat yang layak setelah perjalanan ribuan kilometer. Namun, di balik angka-angka itu terselip pesan yang lebih dalam. Beberapa spesies yang tercatat berstatus dilindungi, termasuk Dara Laut, Cangak Besar, serta Cerek Jawa yang endemik Pulau Jawa. Kehadiran mereka menjadi sinyal bahwa kawasan pesisir bukan sekadar ruang marginal, melainkan simpul penting dalam jaringan ekologi lintas negara. Bagi para pengamat, jumlah spesies bukan hanya catatan statistik tahunan. Fluktuasi kecil sekalipun bisa merekam perubahan kualitas habitat, tekanan manusia, hingga dinamika iklim yang memengaruhi jalur migrasi global. Mangrove Wonorejo, Ruang Bertahan di Tengah Tekanan Kawasan mangrove Wonorejo selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu kantong keanekaragaman hayati di wilayah urban. Namun, seperti banyak kawasan lahan basah pesisir lain, ruang ini juga berhadapan dengan tekanan pembangunan, perubahan bentang pesisir, dan aktivitas manusia yang terus meningkat. Dalam konteks itu, pelaksanaan AWC bukan sekadar kegiatan monitoring rutin. Ia menjadi instrumen ilmiah untuk membaca perubahan yang terjadi secara perlahan, perubahan yang sering kali tak kasat mata. Tim AWC Seksi KSDA Wilayah III Surabaya menempatkan kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menjaga jalur migrasi yang senyap namun vital. Jalur tersebut menghubungkan kawasan pesisir Jawa Timur dengan ekosistem di belahan Asia lainnya, menjadikan setiap titik singgah memiliki nilai strategis bagi kelangsungan populasi burung air. Membaca Ekosistem dari Langit Pengamatan tahun ini juga mencatat keberadaan burung residen seperti kuntul kecil, blekok sawah, cekakak sungai, hingga raja udang biru. Keberadaan burung penetap sering kali menjadi indikator stabilitas lokal: ketika mereka tetap bertahan, berarti ekosistem masih mampu menyediakan pakan sepanjang musim. Sementara itu, tercatat pula spesies endemik Jawa seperti cerek jawa, kipasan belang, dan kacamata jawa. Kehadiran jenis endemik memperkuat nilai konservasi kawasan, karena kehilangan habitat lokal akan berarti hilangnya populasi yang tidak tergantikan di wilayah lain. Data lapangan ini menunjukkan bahwa bentang mangrove tidak hanya penting bagi burung migran, tetapi juga menjadi rumah bagi spesies lokal yang bergantung pada stabilitas ekosistem pesisir. Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan Istilah “alarm lahan basah” bukan metafora berlebihan. Dalam kajian ekologi, perubahan keanekaragaman burung sering muncul lebih awal sebelum kerusakan habitat terlihat jelas. Karena itu, sensus burung air secara berkala menjadi bagian penting dari sistem peringatan dini konservasi. Bagi institusi konservasi, hasil AWC menjadi dasar penguatan kebijakan pengelolaan habitat, edukasi publik, hingga kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kualitas ekosistem pesisir. Pendekatan ini menempatkan konservasi bukan semata sebagai upaya perlindungan satwa, melainkan juga sebagai cara menjaga keseimbangan lingkungan yang menopang kehidupan manusia di wilayah pesisir. Menjaga Jalur yang Tak Terlihat Ketika burung migran kembali datang, sesungguhnya yang sedang diuji adalah kemampuan manusia menjaga ruang hidup bersama. Jalur migrasi tidak terlihat di peta jalan, namun terukir dalam ritme musim dan arah angin yang telah berlangsung selama ribuan tahun. Asian Waterbird Census 2026 Part II di Mangrove Wonorejo memberi pesan jelas, bahwa lahan basah Surabaya masih bernapas, tetapi membutuhkan perhatian berkelanjutan. Di atas lumpur mangrove dan riak air pesisir, burung-burung itu mengingatkan bahwa konservasi bukan pekerjaan sesaat. Ia adalah komitmen jangka panjang, diam, konsisten, dan sering kali bekerja jauh dari sorotan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bukan Aksesori, Inilah Alasan Setiap Rusa Harus Memiliki Tanda!

Tulungagung, 18 Februari 2026. Hujan turun sejak pagi. Bukan gerimis yang lewat sebentar, melainkan hujan panjang yang membuat tanah berubah gelap dan udara terasa lebih dingin dari biasanya. Tetes air memukul atap kandang, menciptakan irama konstan yang mengisi ruang, seolah alam ikut menjadi latar bagi pekerjaan yang sedang berlangsung. Di balik pagar penangkaran Jamboo Kingdom, Tulungagung, beberapa Rusa Timor (Rusa timorensis)berdiri rapat, bulunya tampak lebih gelap karena lembap. Mereka mengangkat kepala setiap kali suara langkah mendekat. Mata liar itu tetap waspada, meski hujan membuat suasana melambat. Hari itu (13/02/2026), tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) tetap bekerja. Cuaca bukan alasan untuk berhenti, sebab konservasi sering kali harus berjalan mengikuti ritme alam, bukan menunggunya menjadi ideal. Di Bawah Hujan, Kerja Konservasi Tetap Berjalan Air mengalir di sela kandang, membasahi sepatu petugas yang bergerak hati-hati membawa peralatan. Sebelum kegiatan dimulai, briefing singkat dilakukan di bawah naungan atap sederhana. Suara hujan membuat percakapan harus sedikit lebih keras, namun arah kerja tetap jelas, menjaga keselamatan satwa, menjaga efisiensi, dan memastikan proses berlangsung cepat. Kegiatan penandaan ini bukan pekerjaan spontan. Koordinasi sudah dilakukan sejak November 2025, menyiapkan kandang jepit, peralatan, hingga alur kerja yang aman. Bahkan di tengah hujan, setiap tahap tetap mengikuti prosedur yang sama, karena dalam konservasi, ketelitian tidak boleh luntur oleh cuaca. Saat Identitas Dipasang di Tengah Derasnya Air Seekor Rusa diarahkan perlahan ke kandang jepit. Nafasnya terlihat lebih berat, uap tipis keluar di udara dingin pagi itu. Petugas bekerja cepat, nyaris tanpa suara selain gemuruh hujan di atas kepala. Kemudian, tag kecil itu terpasang di telinga.Bukan hiasan. Bukan aksesori. Warna pada tanda itu menyimpan informasi penting, jingga untuk generasi F0, hijau untuk F1, dan kuning untuk F2. Dengan sistem sederhana ini, setiap individu bisa langsung dikenali, garis keturunannya terbaca, data populasinya tercatat, dan masa depannya bisa dikelola dengan lebih tepat. Di tengah hujan, sains tetap bekerja melalui detail kecil. Kondisi lapangan membuat segalanya lebih menantang. Lantai kandang licin, pakaian petugas perlahan berat oleh air, dan waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar satwa tidak mengalami stres berkepanjangan. Namun ritme kerja tetap terjaga. Satu demi satu rusa ditandai. Tidak ada kepanikan, hanya gerakan terukur yang lahir dari pengalaman lapangan. Dalam durasi kurang dari tiga jam, sebanyak 55 individu berhasil ditandai, 8 ekor F0, 33 ekor F1, dan 14 ekor F2. Di sela kegiatan, penjaga rusa dari pihak mitra turut berlatih langsung. Di bawah hujan yang sama, mereka belajar bahwa konservasi bukan sekadar teori, tetapi keterampilan yang harus diwariskan dari tangan ke tangan. Hujan yang Menjadi Saksi Saat kegiatan selesai, hujan belum sepenuhnya reda. Rusa-rusa itu kembali bergerak di kandang, sebagian merumput, sebagian berdiri diam sambil menggoyangkan telinga yang kini memiliki tanda kecil berwarna. Dari kejauhan, perubahan itu hampir tak terlihat. Namun di balik tag kecil tersebut, kini tersimpan identitas, sebuah data yang akan menjadi dasar keputusan konservasi ke depan. Di dunia pengelolaan satwa liar, data adalah perlindungan yang tidak bersuara: menjaga genetika tetap sehat, memantau pertumbuhan populasi, dan memastikan setiap individu tidak hilang dari catatan. Lebih dari Sekadar Tanda Hujan pagi itu mungkin hanya dianggap gangguan bagi banyak orang. Tetapi bagi para pekerja konservasi, ia adalah bagian dari cerita, pengingat bahwa alam tidak pernah menunggu kondisi sempurna. Tanda kecil di telinga Rusa itu menjadi simbol kerja sunyi, upaya memahami sebelum mengendalikan, mencatat sebelum mengambil keputusan, dan menjaga sebelum kehilangan. Di bawah langit yang basah, konservasi berjalan tanpa banyak sorotan. Namun justru dari pekerjaan sederhana seperti itulah, masa depan satwa liar sering kali ditentukan. (kis&dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Memastikan Bunga Tetap Tumbuh, Hutan tetap hijau, dan Kehidupan Tetap Berjalan

Kabanjahe, 18 Februari 2026. Valentine telah berlalu. Bunga yang kemarin segar dan wangi mungkin kini mulai layu. Cokelat sudah habis. Unggahan penuh cinta yang sempat memenuhi linimasa perlahan tenggelam oleh arus waktu. Namun ada satu pertanyaan yang seharusnya tidak ikut berlalu: sejauh mana kita benar-benar memahami arti mencintai? Selama ini, Valentine kerap dimaknai sebagai hari kasih sayang untuk pasangan tentang cokelat, bunga, dan kata-kata manis. Namun jarang kita berhenti sejenak untuk bertanya: bagaimana jika cinta tidak berhenti pada relasi personal? Bagaimana jika cinta juga hadir dalam cara kita memperlakukan alam, hutan yang memberi kita napas, dan satwa yang hidupnya bergantung pada kepedulian manusia? Kita, anak muda hari ini, mungkin adalah generasi yang paling lantang berbicara tentang cinta. Media sosial dipenuhi ungkapan perasaan, status hubungan, dan janji kesetiaan. Namun cinta yang paling bermakna sesungguhnya bukan hanya tentang memiliki seseorang, melainkan tentang tanggung jawab menjaga kehidupan di sekitar kita bahkan ketika kehidupan itu tidak dapat membalas cinta kita dengan kata-kata. Di hutan-hutan Indonesia, ada kehidupan yang semakin sunyi. Harimau Sumatera kehilangan rumahnya akibat pembukaan lahan yang terus meluas. Orangutan Sumatera semakin terdesak ketika hutan berubah menjadi kebun dan permukiman. Gajah Sumatera kerap dianggap pengganggu saat memasuki wilayah manusia, padahal mereka hanya mengikuti jalur hidup yang telah ada jauh sebelum manusia hadir. Mereka tidak mampu menyampaikan protes, tidak dapat menuliskan keresahan. Namun mereka merasakan kehilangan rumah, ruang hidup, dan masa depan. Setelah Valentine berlalu, mungkin inilah saatnya kita memahami bahwa cinta sejati bukan sekadar dirayakan, melainkan dijaga. Bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan. Menjaga alam berarti menjaga kehidupan lain serta menjaga keseimbangan agar semua makhluk memiliki ruang untuk hidup. Sebab cinta, pada akhirnya adalah tanggung jawab terhadap kehidupan, bukan semata urusan perasaan. Jika kasih sayang benar-benar kita pahami, maka menjaga bumi menjadi bagian dari cara kita mencintai. Kita tak akan merusak, tak akan acuh saat alam terluka, dan tak akan mengambil sesuatu yang membuat makhluk lain kehilangan tempatnya. Peduli lingkungan bukan sikap kuno, melainkan pilihan berani untuk memastikan masa depan tetap ada. Karena masa depan bukan milik mereka yang paling lantang mengucapkan cinta, tetapi milik mereka yang paling sungguh menjaga. Anak muda memiliki kekuatan untuk memilih hidup yang lebih bijak, melindungi alam, dan menyadari bahwa bumi bukan sekadar tempat tinggal, melainkan rumah bersama yang harus dirawat. Valentine bukan hanya tentang memberi bunga, tetapi memastikan bunga tetap tumbuh, hutan tetap hijau, dan kehidupan tetap berjalan. Sebab cinta sejati bukan sekadar menggenggam seseorang, melainkan menjaga kehidupan yang diam-diam menjaga kita setiap hari. Valentine telah berlalu, namun kesempatan untuk mencintai dengan lebih sadar dan bertanggung jawab tidak pernah benar-benar berakhir. Sumber: Aurelia Karolina Min, A.Md.Par (Calon Penyuluh Kehutanan) pada Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 449–464 dari 2.515 publikasi