Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Balai TN Batang Gadis Penguatan Sinergi Bersama Pemkab Mandailing Natal

Panyabungan, 7 Agustus 2025. Kepala Balai Taman Nasional Batang Gadis, Bapak Agusman, S.P., M.Sc., didampingi Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Siabu dan Kapokja Pemanfaatan dan Pemberdayaan Masyarakat, melakukan kunjungan konsolidasi ke Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal. Kunjungan ini disambut langsung oleh Bupati Mandailing Natal, Sekda, dan Kepala Dinas Perizinan Kabupaten Mandailing Natal, (05/08/2025). Pertemuan ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus membahas penguatan sinergi antara Balai TN Batang Gadis dan Pemkab Mandailing Natal dalam menjaga kelestarian hutan dan ekosistemnya, termasuk perlindungan satwa kunci seperti Harimau Sumatera dan Tapir, yang memiliki populasi tertinggi di kawasan ini. Kepala Balai juga menyampaikan potensi manfaat hutan sebagai penyimpan karbon (carbon sink) yang penting bagi pengendalian perubahan iklim, mencegah erosi, serta menjadi hulu Sungai Batang Gadis yang menjaga ketersediaan dan kualitas air bagi masyarakat Mandailing Natal. Pemkab Mandailing Natal menyatakan komitmennya untuk terus mendukung pelestarian hutan, pengamanan kawasan, serta pemanfaatannya demi kesejahteraan masyarakat sekitar. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Konsultasi Publik Pemantapan SOP Pendakian Gunung Sorik Marapi

Panyabungan, 5 Agustus 2025 – Guna mempersiapkan pendakian bersama menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-80 di Gunung Sorik Marapi, Balai Taman Nasional Batang Gadis mengadakan konsultasi publik untuk pemantapan Standard Operating Procedure (SOP) pendakian Gunung Sorik Marapi. Kegiatan ini berlangsung di Aula Rapat Balai Taman Nasional Batang Gadis dan dihadiri oleh para pemangku kepentingan terkait. Rapat konsultasi dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala Dinas Pariwisata, Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) VIII dan IX, perwakilan Basarnas Madina, Camat Puncak Sorik Marapi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Sorik Marapi, para ranger, serta tokoh masyarakat dari Naposo Nauli Bulung Desa Sibanggor Julu. Kegiatan ini bertujuan untuk menyempurnakan dan mensosialisasikan SOP pendakian yang mengatur aspek keselamatan, pengelolaan lingkungan, serta protokol kesehatan selama kegiatan pendakian. Selain itu, konsultasi juga membahas mekanisme koordinasi antar instansi untuk memastikan kelancaran dan keamanan pendakian bersama. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Road to HKAN 2025 di Padangsidimpuan: Suarakan Cinta Alam Lewat Puisi

Padangsidimpuan, 6 Agustus 2025. Menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah III Padangsidimpuan menggelar rangkaian kegiatan inspiratif bertajuk "Membangun Sinergi antar Generasi untuk Masa Depan." Kegiatan yang berlangsung meriah pada Minggu (3 Agustus 2025) di Alaman Bolak Nadimpu Kota Padangsidimpuan, dihadiri oleh Walikota beserta Wakil Walikota Padangsidimpuan, Sekretaris Daerah, para Pimpinan OPD di jajaran Pemerintahan Kota Padangsidimpuan, Kapolresta Padangsidimpuan, Dandim 0212 TS, Ketua DPRD Kota Padangsidimpuan, tokoh masyarakat hingga para penggiat lingkungan. Dalam sambutannya, Kepala Bidang KSDA Wilayah III, Susilo Ari Wibowo, S.Hut., M.Sc., menyampaikan bahwa Kegiatan "Road to HKAN" di Padangsidimpuan menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi lintas generasi dalam menanamkan nilai-nilai konservasi sejak dini, dan Peringatan HKAN sendiri merupakan amanat Keputusan Presiden RI Nomor 22 Tahun 2009 yang akan diperingati pada 10 Agustus setiap tahunnya, dan untuk tahun 2025 peringatan HKAN akan dipusatkan di Ibu Kota Jakarta. “Tahun ini, HKAN mengusung tema ‘Membangun Sinergi antar Generasi untuk Masa Depan Konservasi’ dengan tagline ‘Youth for Conservation, Beyond Expectations’, artinya pemuda yang melampaui batas ekspektasi kita. Peringatan HKAN ini menjadi ajang kita untuk berkolaborasi dalam membina generasi muda khususnya di Kota Padangsidimpuan untuk mempunyai inner beauty terhadap konservasi. Kita mengajak generasi muda untuk sadar dan paham konservasi”, ujarnya. Hal senada disampaikan oleh Walikota Padangsidimpuan, Dr. H. Letnan Dalimunthe, M. Kes. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya menanamkan pesan-pesan cinta alam dan lingkungan kepada generasi muda sejak dini. Acara Road To HKAN di Alaman Bolak Nadimpu Kota Padangsidimpuan dimulai pukul 07.30 WIB, diawali dengan senam sehat bersama yang diselang-selingi pembagian doorprize menarik bagi masyarakat yang hadir di acara peringatan HKAN. Suasana kian semarak saat para finalis dari tingkat SD, SMP, dan SMA menampilkan bakat mereka dalam lomba baca puisi bertemakan Konservasi Alam dan Lingkungan, dengan kreasi dan aksi lantangnya menyuarakan pesan-pesan pelestarian alam dan lingkungan dengan penuh semangat. Para finalis lomba puisi yang tampil pada peringatan HKAN ini merupakan pelajar sekolah SD, SMP dan SMA sederajat yang berada di wilayah Kota Padangsidimpuan dan Kabupaten Tapanuli Selatan yang berhasil lolos seleksi dari para Dewan Juri. Dengan penampilan luar biasa para peserta, akhirnya keluar sebagai juara secara berurutan untuk jenjang SD adalah Vidya Maharani Nasution (SDS 0.100219 Eka Pendawa Sakti), Aqilah Fadilah Pulungan (SDN 200117 Padangsidimpuan) dan Tengku Alif Fathan (SDS Muhammadiyah 2 Padangsidimpuan). Untuk pelajar jenjang SMP sederajat juaranya adalah Nadira Amanda Siregar (SMP S Nurul Ilmi) sebagai juara 1, disusul oleh Khadizah Romaito Nauli Harahap (SMP IT Darul Hasan Padangsidimpuan) dan Shakira Septriani Putri Panggabean (SMP S Sari Putra), sedangkan untuk siswa jenjang SMA sederajat pemenangnya secara berturut-turut adalah Feivincia Aureiwi (SMAN 1 Padangsidimpuan), Silvia Noviani Hasibuan (SMAN 1 Angkola Barat) dan Ade Ayu Darmarito (MAN 2 Padangsidimpuan). Keberhasilan Kegiatan Peringatan HKAN 2025 yang diprakarsai Bidang KSDA Wilayah III Kota Padangsidimpuan ini tidak terlepas dari kolaborasi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kota Padangsidimpuan serta lemba-lembaga mitra NGO, antara lain Centre for Orangutan Protection (COP), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Yayasan Orangutan Sumatera Lestari-Orangutan Information Centre (YOSL-OIC). Melalui kegiatan Road to HKAN 2025 ini, BBKSDA Sumatera Utara mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus menggelorakan semangat konservasi alam melalui seni, edukasi, dan aksi nyata. Mencintai alam bukan sekadar tanggung jawab, tapi bagian dari jati diri kita sebagai bangsa yang peduli masa depan. Pembacaan puisi oleh salah seorang peserta lomba Sumber: Bidang KSDA Wilayah III - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Perwira TNI AL dan Pejuang Satwa Liar Bersatu Jaga Alam Nusantara

Surabaya, 1 Agustus 2025. Di tengah hiruk pikuk Surabaya malam itu, bukan hanya kenangan 10 tahun pengabdian yang dibicarakan. Di Ruang Pertemuan Hotel Vasa, para perwira TNI AL yang tergabung dalam Dasawarsa Moro Panuluh AAL 60/2015 menyatukan semangat bersama para penjaga rimba, melindungi satwa liar, menjaga warisan bangsa yang hidup, bernapas, dan terus terancam. Seakan menjadi simpul temu antara pengawal laut dan penjaga hutan, peringatan satu dekade pengabdian perwira TNI AL lulusan AAL angkatan 60 tahun 2015 diwarnai dengan napas konservasi. Di balik formalitas reuni militer, ada semangat yang lebih mendalam yaitu menyelami pentingnya pelestarian alam dan menyusun barisan untuk melindungi satwa liar Nusantara. Sekitar 100 perwira yang kini tersebar dari Sabang hingga Merauke menghadiri kegiatan bertajuk Sosialisasi Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) yang dilaksanakan dengan menggandeng Balai Besar KSDA Jawa Timur dan Direktorat Konservasi Satwa dan Genetika (KSG) Ditjen KSDAE. Materi utama disampaikan oleh Krismanko Padang, mewakili Direktorat KSG, dengan topik bertajuk “Upaya Penyelamatan Satwa Liar sebagai Aset Bangsa Indonesia.” Ia menggugah kesadaran bahwa satwa liar tak hanya soal ekologi, melainkan identitas dan harga diri bangsa. Mewakili Balai Besar KSDA Jawa Timur, Tim Seksi KSDA Wilayah (SKW) III Surabaya hadir untuk menyampaikan peran strategis BBKSDA Jatim dalam konservasi di wilayah urban-industrial. Disampaikan pula informasi krusial seputar UU No. 32 Tahun 2024, serta kebijakan perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar (TSL) sesuai regulasi terbaru. Tak hanya itu, kolaborasi juga melibatkan LSM Flight yang fokus pada pelestarian burung liar, memperkaya diskusi dengan perspektif masyarakat sipil yang bergerak di garis depan penyelamatan satwa. Di laut mereka bersumpah menjaga kedaulatan. Di darat, mereka kini meneguhkan komitmen menjaga biodiversitas. Pertemuan lintas profesi ini menjadi bukti bahwa konservasi bukan hanya urusan kementerian kehutanan, pegiat lingkungan, atau pengelola kawasan. Tapi panggilan bagi siapa saja yang masih percaya, bahwa hutan, laut, dan seluruh makhluk hidup di dalamnya adalah titipan untuk generasi masa depan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menangkarkan Bisnis Sayap-Sayap Eksotik

Gresik, 2 Agustus 2025. Di pinggir barat Kabupaten Gresik, kandang-kandang besi berjajar rapi di antara pohon buah dan tembok semen. Sebuah ruang incubator mungil berdampingan dengan ruang pembesaran, sementara tandon air dan tenggeran kayu tampak menyatu dalam sistem penampungan yang sederhana namun fungsional. Di sinilah CV. Berdikari Bird Farm, sebuah badan usaha yang berdiri sejak awal 2022, memulai langkah legal dalam peredaran satwa liar jenis burung. Pemeriksaan teknis dilakukan oleh tim Balai Besar KSDA Jawa Timur pada 29 Juli 2025 yang lalu. Hasilnya, seluruh dokumen terpenuhi, mulai dari akta pendirian hingga surat kesanggupan membayar PNBP. Sarana penunjang seperti kendaraan pengangkut, ruang kantor, dan sistem pengelolaan limbah juga disiapkan sesuai standar. Burung-burung yang akan ditangkarkan dan diedarkan berasal dari hasil penangkaran generasi kedua dan pembelian dari penangkar sah, dilengkapi dokumen SATS-DN. Ada sebanyak 51 jenis burung yang akan ditangkarkan, baik dari jenis dilindungi maupun tidak dilindungi, termasuk dalam daftar Appendiks CITES maupun tidak termasuk Appendiks CITES. Kegiatan ini bukan semata urusan izin usaha. Ini adalah bagian dari strategi konservasi berbasis masyarakat yang dijalankan oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur. Penangkaran menjadi pintu masuk partisipasi publik dalam perlindungan keanekaragaman hayati—dengan tetap mengedepankan prinsip kesejahteraan satwa dan ketertelusuran asal usul. “Penangkaran tumbuhan dan satwa liar bukan hanya soal izin usaha, tetapi wujud nyata dari partisipasi masyarakat dalam menjaga kekayaan hayati Indonesia. Kami mendorong setiap warga negara yang memiliki komitmen dan kapasitas untuk memanfaatkan jenis secara legal, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” ujar Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur. “Saat ini proses perizinan sudah lebih terbuka, transparan, dan mudah diakses. Kami siap menjadi mitra pendamping dalam setiap tahapannya, dari konsultasi hingga evaluasi teknis”, tambahnya. CV. Berdikari adalah satu dari sekian unit usaha yang memanfaatkan kemudahan proses legalisasi penangkaran melalui pendekatan berbasis risiko. Dengan investasi dan dukungan penuh terhadap program konservasi, model semacam ini memberi harapan baru bagi wilayah-wilayah konservasi non-kawasan. Tidak ada yang terlalu rumit, cukup komitmen, kesiapan teknis, dan niat baik. Balai Besar KSDA Jawa Timur membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat yang ingin berkonsultasi atau mengajukan izin penangkaran dan peredaran tumbuhan serta satwa liar. Mekanisme ini dapat diakses langsung melalui Seksi KSDA Wilayah atau Resort KSDA di seluruh Jawa Timur. Tak lagi berbelit, prosesnya kini digital dan akuntabel. Apa yang berlangsung di Dusun Karangploso adalah gambaran kecil dari perubahan besar, konservasi tidak lagi eksklusif. Ia menjelma menjadi peluang, menjadi ekonomi, menjadi kewajiban moral bersama. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Edukasi Siswa SMPN 2 Kelumpang Hulu tentang Konservasi Hutan dan Satwa

Kelumpang Hulu, 24 Juli 2025 – Tim Seksi Konservasi Wilayah III Batulicin yang diketuai oleh Suyatno, S.Hut, beranggotakan penyuluh Kehutanan Eddy Kurniawan Astanto, A.Md, serta Aprilia Rahmawati, S.Pd, lingkup Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan mengadakan kunjungan ke SMP Negeri 2 Kelumpang Hulu. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya BKSDA yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, tentang pentingnya menjaga kelestarian hutan dan kawasan konservasi dan sebagai wadah lahirnya bibit bibit kader konservasi yang dimulai sejak usia dini dan sebagai wadah edukasi bagi siswa untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, khususnya hutan dan satwa liar. Dalam kunjungan tersebut, dilakukan interaksi langsung dengan para siswa, menyampaikan berbagai informasi penting terkait kawasan hutan yang dilindungi, serta flora dan fauna endemik yang ada di Kalimantan Selatan. Salah satu fokus utama adalah bagaimana cara kita menjaga keseimbangan ekosistem agar kerusakan habitat dapat diminimalisir sebagai tempat tinggal satwa satwa, kemudian ada pengenalan tentang bekantan, burung enggang, dan satwa-satwa lainnya yang perlu dilindungi. Melalui presentasi yang menarik dan interaktif dan diselingi dengan games yang disampaikan Kakak April dan Eddy, siswa diajak untuk lebih memahami peran penting hutan dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kehidupan manusia. Mereka juga diingatkan tentang dampak negatif perburuan liar dan perusakan hutan terhadap kelestarian satwa dan lingkungan. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta dan kepedulian siswa terhadap lingkungan, serta mendorong mereka untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian hutan dan satwa liar di Kalimantan Selatan. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang peduli terhadap lingkungan. (Ryn) Sumber: Suyatno, S.Hut. (Polhut SKW III) - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Gelar Sosialisasi Promosi dan Edukasi Jasa Lingkungan di TWA Dolok Tinggi Raja

Dolok Marawa, 31 Juli 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara terus berkomitmen dalam mendukung pelestarian dan pengembangan kawasan konservasi berbasis masyarakat. Salah satu langkah nyata tersebut diwujudkan melalui Kegiatan Sosialisasi Promosi dan Edukasi Jasa Lingkungan di Taman Wisata Alam (TWA) Dolok Tinggi Raja, Kabupaten Simalungun, pada 18 Juli 2025. Kegiatan sosialisasi ini bertujuan untuk mendorong pengelolaan objek wisata yang berkelanjutan serta meningkatkan pemahaman dan peran aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan TWA Dolok Tinggi Raja yang dikenal dengan pesona kawah putih, kawah biru, mata air panas alami, serta keindahan panorama yang menjadi daya tarik wisatawan. Tim dari BBKSDA Sumatera Utara yang hadir dalam kegiatan ini, yaitu: Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran, Suyono, S.H., M.Si, Penyuluh Kehutanan Bidang KSDA Wilayah II, Lisbeth Manurung, S.Hut, Polhut Ahli Muda Bidang KSDA Wil II, Marta Ulina Barus, S.Hut, Kepala Resor CA/TWA Dolok Tinggi Raja, Gibran M. T. Rahmawan, S.Si, PEH Ahli Pertama Bidang KSDA Wilayah II, Laura Debora Siallagan, S.Hut. Mereka juga didampingi oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara yang tengah menjalani Praktek Kerja Lapangan (PKL). Dalam pertemuan yang berlangsung hangat bersama Kelompok Wisata Dolok Tinggi Raja, dibahas berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas layanan wisata alam. Beberapa masukan penting yang muncul dari diskusi yaitu: · Pembuatan nametag bagi anggota kelompok wisata sebagai bentuk identitas dan profesionalisme Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat sinergi antara BBKSDA Sumatera Utara dan kelompok masyarakat pengelola wisata. Diharapkan, melalui kolaborasi yang berkelanjutan, TWA Dolok Tinggi Raja dapat terus berkembang sebagai kawasan wisata alam unggulan yang lestari dan bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Sumber: Gibran M T Rahmawan, S.Si (PEH/Kepala Resort CA dan TWA Dolok Tinggi Raja)-Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara
Baca Artikel

Menjaga Dua Alam Bawean, Antara Karang, Burung dan Rusa Bawean

Bawean, 30 Juli 2025. Saat sinar mentari memecah permukaan laut Pulau Noko, satu tim penyelam turun perlahan, membawa kerangka logam berbentuk jaring laba-laba berisi bibit karang. Di waktu yang hampir bersamaan, tim lainnya menyusuri aliran sungai di Langpelem, di jantung Pulau Bawean, mencari jejak rusa endemik yang semakin sulit dijumpai dengan mata telanjang. Inilah rangkaian kegiatan penguatan fungsi konservasi keanekaragaman hayati Pulau Bawean, yang dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur pada 20–26 Juli 2025. Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi perjanjian kerja sama dengan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya dan PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Surabaya, yang secara simultan menyatukan riset, edukasi, dan perlindungan satwa liar serta ekosistem laut. Ekosistem Laut, Antara Harapan dan Kerentanan Di Cagar Alam Pulau Noko dan Pulau Nusa, tim melakukan monitoring kondisi terumbu karang menggunakan metode transek sepanjang 50 meter. Hasilnya menggambarkan lanskap bawah laut yang masih menjanjikan. Pulau Noko dijumpai Tutupan karang hidup mencapai 74,64% dengan indeks keanekaragaman kategori sedang. Sedangkan Pulau Nusa dijumpai Tutupan karang hidup sebesar 60,20% dengan indeks keanekaragaman masuk kategori rendah. Kehidupan laut masih memperlihatkan kompleksitas, Sabellastarte sp., Nerita, Trochus, Phyllidiella, Tridacna, dan Linckia, masih dapat dijumpai meskipun tekanan lingkungan dan perubahan iklim terus membayangi. Sebagai bagian dari pemulihan aktif, dilakukan transplantasi karang di Pulau Noko. Lima unit struktur “Web Spider” ditanam, membawa total 75 bibit karang dari genus Acropora, Anacropora, dan Montipora. Upaya ini bukan sekadar tindakan teknis, namun pernyataan bahwa laut Bawean masih layak diperjuangkan. Langit Migrasi dan Sarang yang Menetas Pada bentang pantai kedua pulau, kegiatan pengamatan burung air mengungkap peran penting Bawean sebagai titik migrasi dan lokasi berkembang biak. Di Pulau Noko, ditemukan 5 jenis burung air, dengan total 287 individu. Ada Dara laut tengkuk hitam (Sterna sumatrana) 127 individu, Dara laut jambul (Thalasseus bergii) 156 individu, dan ditemukan pula 10 butir telur burung air di pesisir pasir putihnya. Sedangkan di Pulau Nusa, teramati pula 5 jenis aves, Sterna sumatrana 113 individu dan 2 anak, Onychoprion fuscatus 77 individu dan 1 anak, Fregata ariel, Haliaeetus leucogaster, hingga Pernis ptilorhynchus juga teramati. Jumlah telur yang ditemukan mencapai 87 butir. Enam jenis burung migran terekam dalam pengamatan. Mereka datang dari lintas benua, membawa pesan bahwa garis pantai Bawean masih menjadi rest area alami bagi burung-burung langka dunia. Ekspedisi Malam Langpelem Saat cahaya terakhir memudar di Langpelem, tim bergerak dalam hening menyusuri sisi-sisi sungai dalam pengamatan satwa malam. Selama 5 jam, sebanyak 15 spesies satwa dari 5 taksa berhasil diamati. Ular weling (Bungarus candidus), Ular pucuk, Kadal kebun, Cyrtodactylus sp. serta Amfibi berupa Katak sawah dan kongkang kolam. Pada serangga dijumpai Lipan, kaki seribu, dan kupu-kupu malam. Sedangkan pada burung malam teramati Tyto alba, Orthotomus ruficeps, serta mamalia berupa Tikus hutan yang sulit diamati di siang hari. Kehadiran spesies ini mencerminkan kualitas ekosistem yang masih hidup, meski tekanan dari fragmentasi habitat terus mengintai. Mencari Jejak Rusa yang Tersembunyi Salah satu puncak kegiatan adalah pemasangan 9 unit camera trap di Kawasan pembinaan habitat Rusa Bawean (Axis kuhlii). Penentuan titik pemasangan didasarkan pada temuan bekas gesekan tanduk, jejak kaki, dan feses di area Langpelem. Kamera akan merekam secara otomatis selama 3 bulan, dan akan dimonitor setiap 3 minggu untuk melihat keberadaan, pola ruang, dan perilaku Rusa Bawean yang endemik dan kritis itu. Teknologi ini menjadi mata ketiga bagi tim konservasi dalam merekam tanpa mengganggu, mencatat tanpa suara, dan menyimpan harapan dari perjumpaan langka yang mungkin tak terlihat oleh mata manusia. Konservasi Sebagai Kolaborasi dan Peradaban Program ini adalah buah dari sinergi, antara pemerintah (BBKSDA Jatim), dunia akademik (UIN Sunan Ampel Surabaya), dan korporasi (PT Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal Surabaya). Konservasi tidak lagi menjadi tugas satu pihak, melainkan gerakan bersama, melibatkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepedulian sosial untuk menjaga warisan hayati Pulau Bawean. Dalam diamnya hutan dan dalamnya laut, Bawean menyimpan banyak hal yang belum terungkap. Tapi selama masih ada tangan yang menanam karang, mata yang mengamati burung migran, dan kamera yang menunggu kedatangan rusa, kita tahu, harapan itu masih ada. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Tegaskan Pentingnya Kolaborasi dalam Konservasi Mangrove

Medan, 30 Juli 2025. Memperingati Hari Mangrove Sedunia 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara menggelar serangkaian kegiatan edukatif dan partisipatif bertema “Melindungi Mangrove, Melindungi Kehidupan, Melindungi Masa Depan”. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa konservasi mangrove merupakan bagian integral dari penyelamatan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. Untuk mendorong partisipasi aktif generasi muda, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyelenggarakan dua lomba yaitu: Lomba Puisi Video untuk tingkat SMP/sederajat, mengangkat tema: “Mangrove: Penjaga Laut, Penjaga Harapan” dan “Aku, Mangrove, dan Masa Depan”, serta Lomba Desain Infografis untuk tingkat SMA/sederajat dan mahasiswa, dengan tema: “Fakta, Fungsi dan Aksi untuk Mangrove”. Lomba ini diikuti oleh peserta dari berbagai daerah di Indonesia yang mencerminkan semangat kolaboratif lintas generasi dalam menjaga kelestarian mangrove. Puncak peringatan digelar pada Sabtu, 26 Juli 2025, di Grand Centra Hotel Medan. Acara diisi dengan penyerahan hadiah bagi para pemenang lomba, sambutan dari Direktur Rehabilitasi Mangrove, Dr. Ristianto Pribadi, dan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, serta penanaman simbolis tanaman Bakau di Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut yang disiarkan secara langsung melalui platform Zoom. Dalam sambutannya, Dr. Ristianto Pribadi, S.Hut., M.Tourism, menyampaikan bahwa SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut menjadi salah satu lokasi prioritas rehabilitasi mangrove di Indonesia. Pada tahun 2024 telah dilakukan penanaman seluas 150 hektar, tahun ini ditargetkan penanaman mangrove seluas 300 hektar dan pada tahun 2026 seluas 650 hektar. Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove dapat dicapai dengan dukungan berbagai pihak, baik pemerintah pusat, unit pelaksana teknis di daerah, pemerintah daerah, swasta, masyarakat dan generasi muda. “Kementerian Kehutanan akan terus berkomitmen untuk memulihkan, meningkatkan dan mempertahankan ekosistem mangrove, dan ke depan yang diperlukan bukan hanya teknis rehabilitasi mangrove tetapi juga public campaign untuk membangun kekuatan publik dalam membantu percepatan rehabilitasi mangrove dan media diharapkan menjadi penghubung antara Kementerian Kehutanan dengan masyarakat untuk mendukung program tersebut”, ujar Beliau sebagai penutup. Sementara itu, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut.,M.AP.,M.Env menekankan pentingnya kolaborasi hexahelix, yakni kolaborasi multipihak yang melibatkan enam elemen utama: komunitas, industri, akademisi, hukum & regulasi, media dan pemerintah. “Konservasi membutuhkan kolaborasi yang dilandasi tiga prinsip utama: Mutual Trust (saling percaya), Mutual Respect (saling menghargai) dan Mutual Benefit (saling menguntungkan),” ujarnya. Beliau juga menegaskan komitmen Balai Besar KSDA Sumut terhadap keterbukaan informasi dan tata kelola yang akuntabel. “Konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Peran media penting dalam konservasi, yaitu meningkatkan kesadaran publik terhadap isu konservasi, menyebarluaskan informasi yang faktual dan membangun serta menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Kita semua memiliki peran untuk menyelamatkan bumi dari triple planetary crisis: perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati dan polusi,” pungkas Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S.Hut - Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Road to Hari Mangrove Sedunia, BBKSDA Sumut Kampanyekan Peran Mangrove dalam Ekosistem

Kepala Bidang KSDA Wilayah I menjadi narasumber di RRI Medan Medan, 28 Juli 2025. Menyambut Hari Mangrove Sedunia yang diperingati setiap tanggal 26 Juli, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara mengadakan kegiatan sosialisasi dan kampanye bertajuk “Peran Mangrove dalam Ekosistem” melalui media siaran Radio Republik Indonesia (RRI) Medan (25/7). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian road to peringatan Hari Mangrove Sedunia 2025, yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya ekosistem mangrove. Dalam dialog tersebut, Kepala Bidang KSDA Wilayah I BBKSDA Sumatera Utara, Amenson Girsang, S.P., M.H., menjadi narasumber bersama dengan Kepala Balai BPDAS Wampu Sei Ular, Sigit Budi Nugroho dan Wibi Nugraha selaku Aktivis Lingkungan Rumah Mangrove Indonesia Sumut. Dalam dialog disampaikan fungsi ekosistem mangrove yang memiliki peran vital dalam menjaga keseimbangan lingkungan pesisir, seperti mencegah erosi garis pantai, meredam dampak pasang surut dan tsunami, serta menyerap karbon di atmosfer. Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung alami pantai, namun juga sebagai habitat penting bagi keanekaragaman hayati. Salah satu kawasan konservasi yang dikelola oleh BBKSDA Sumatera Utara adalah Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 811/Kpts/Um/11/1980 yang berada di 2 Kabupaten yaitu Kabupaten langkat dan Kabupaten Deliserdang, yang merupakan satu satunya kawasan konservasi mangrove yang berfungsi sebagai green belt (jalur hijau penahan abrasi) di Pantai Timur Sumatera Utara, serta menjadi tempat hidup berbagai jenis flora dan fauna mangrove yang bernilai ekologis tinggi. Sebagai penutup, beliau menekankan pentingnya keterlibatan seluruh pihak, kolaborasi stakeholder dan pelibatan masyarakat, terutama generasi muda dalam menjaga dan melestarikan kawasan konservasi, khususnya ekosistem mangrove. Melalui program-program seperti visit to school, school visit dan sekolah lapang, BBKSDA Sumatera Utara terus mendorong edukasi lingkungan yang berkelanjutan. Semoga seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda, semakin peduli dan mendukung upaya pelestarian ekosistem mangrove sebagai warisan alam yang tak ternilai. Selamat memperingati Hari Mangrove Sedunia 2025. Mari jaga mangrove, jaga bumi kita. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S.Hut (Penyuluh Kehutanan)-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Saat Dua Institusi Bersatu Dalam Penyelamatan Rusa

Blitar, 24 Juli 2025. Di balik pagar sederhana sebuah rumah di Kecamatan Wlingi, seekor Rusa Timor (Rusa timorensis) hidup dalam kesendirian. Tak banyak yang tahu bahwa satwa itu adalah bagian dari kekayaan hayati Indonesia yang dilindungi hukum. Tapi kisah ini bukan hanya tentang penyelamatan seekor satwa, ini adalah tentang bagaimana hukum dan hati bisa berjalan beriringan, dan tentang sinergi dua institusi penjaga negeri, kepolisian dan konservasi. Berawal dari informasi Unit Pidana Khusus Satreskrim Polres Blitar pada 11 Juli 2025, dugaan pemeliharaan satwa liar dilindungi segera ditindaklanjuti oleh Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Tanpa menunggu waktu lama, tim lapangan bersama personel kepolisian turun ke lokasi. Pemeriksaan dilakukan, edukasi disampaikan, dan dialog dibuka, bukan dengan nada tudingan, tetapi dengan semangat penyadaran. Sinergi seperti ini adalah bentuk nyata pendekatan kolaboratif. Polisi dan petugas KSDA tidak datang untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengajak masyarakat kembali memahami hukum alam dan hukum negara. Dalam kunjungan ke rumah pemilik, ditemukan bahwa satwa tersebut dibeli secara daring, dengan niat awal memelihara rusa tutul. Namun kenyataannya, yang tiba adalah Rusa Timor, satwa yang jelas berstatus dilindungi. Alih-alih langsung memproses secara hukum, sinergi aparat dan BBKSDA Jatim mengambil jalur persuasif, menjelaskan tentang perlindungan hukum terhadap satwa liar, potensi risiko penyakit zoonosis, hingga dampaknya terhadap ekosistem. Hasilnya? Masyarakat tergerak. Rusa diserahkan secara sukarela, tanpa tekanan, tanpa paksaan. Hukum ditegakkan, tapi kesadaran lebih diutamakan. Evakuasi dilakukan pada 24 Juli 2025 dan Rusa Timor kini dititipkan di fasilitas penangkaran UPT Pengelolaan Pendapatan Daerah Kediri. Bagi petugas gabungan, ini bukan sekadar evakuasi satwa, tapi penyelamatan nilai dan kesadaran. Pendekatan persuasif tersebut menunjukkan bahwa hukum tidak harus selalu keras untuk bisa efektif. Ketika edukasi disampaikan dengan tulus dan disertai kehadiran aparat, masyarakat tidak hanya patuh, mereka tumbuh sadar. Peristiwa ini mencerminkan masa depan konservasi, bukan sekadar menindak, tetapi mengajak. Bukan hanya soal menyelamatkan hewan, tapi membangunkan nurani manusia. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kolaborasi BBKSDA Sumatera Utara dan Kejaksaan Negeri Untuk Perlindungan Kawasan Konservasi

Kegiatan Koordinasi dengan Kejaksanaan Negeri Labuhan Batu Pematangsiantar, 28 Juli 2025. Sebagai garda terdepan dalam perlindungan kawasan konservasi, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara terus memperkuat sinergi dengan berbagai pihak. Salah satunya adalah Kejaksaan Negeri, yang menjadi mitra strategis dalam penegakan hukum dan pengamanan kawasan konservasi. Oleh karena itu pada 15–16 Juli 2025, BBKSDA Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar melakukan koordinasi intensif dengan tiga Kejaksaan Negeri, yaitu Kejaksaan Negeri Labuhan Batu (15 Juli), serta Kejaksaan Negeri Tapanuli Utara dan Kejaksaan Negeri Toba (16 Juli). Dalam kunjungan tersebut, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar (Elvina Rosinta Dewi Simanjuntak, S.Hut., M.I.L.) didampingi oleh Kepala Seksi Wilayah III Kisaran (Suyono, S.H.), Kepala Seksi Wilayah IV Tarutung (Alex D. Chandra Rumahorbo, S.E.) dan staf disambut hangat oleh pimpinan Kejaksaan Negeri, yakni: · Dr. Marlambson, S.H., M.H. (Kepala Kejaksaan Negeri Labuhan Batu) · Donny K. Ritonga, S.H., M.H. (Kepala Kejaksaan Negeri Tapanuli Utara) · Ris Piere Handoko, S.H. (Kepala Seksi Pidana Khusus Kejaksaan Negeri Toba, mewakili Kepala Kejaksaan Negeri Toba) Dalam pertemuan tersebut, ketiga pimpinan lembaga menyatakan dukungan terhadap kegiatan Penertiban Kawasan Hutan (PKH) yang akan dilaksanakan oleh BBKSDA Sumatera Utara. Pertemuan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat koordinasi antar-lembaga. Diharapkan, kolaborasi ini terus berlanjut dan berkembang dalam berbagai bentuk aksi nyata demi menjaga kelestarian hutan dan kekayaan hayati Sumatera Utara. Sebab hutan lestari, kehidupan pun tetap berarti. Kegiatan Koordinasi dengan Kejaksaan Negeri Tapanuli Utara Kegiatan Koordinasi dengan Kejaksaan Negeri Toba Sumber: Bidang KSDA Wilayah II - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pembentukan Forum Orangutan di Kabupaten Tabalong

Tanjung, 24 Juli 2025 – Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, Bapak drh. Agus Ngurah Khrisna Kepakisan, M.Si., menghadiri undangan kegiatan pembentukan Forum Orangutan Kabupaten Tabalong yang diselenggarakan di Aula Tanjung Puri, Sekretariat Daerah Kabupaten Tabalong, Kamis (24/7). Dalam sambutan Bupati Tabalong yang dibacakan oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, disampaikan harapan agar forum ini menjadi wadah kolaborasi yang kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, LSM (NGO), masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Forum ini diharapkan dapat menjadi gerakan bersama dalam mendukung upaya konservasi orangutan, khususnya yang berada di luar kawasan konservasi di wilayah Kabupaten Tabalong. Kepala BKSDA Kalimantan Selatan memberikan apresiasi tinggi atas kerjasama Pemerintah Kabupaten Tabalong dalam pembentukan forum ini. Disampaikan bahwa sebagian besar populasi orangutan saat ini hidup di luar kawasan konservasi, sehingga diperlukan pendekatan kolaboratif lintas sektor untuk menjamin kelestarian habitat dan kelangsungan hidup satwa dilindungi tersebut. Sebagai tindak lanjut dari rapat ini, akan diterbitkan Surat Keputusan Bupati Tabalong tentang Pembentukan Forum Orangutan Kabupaten Tabalong. Forum ini akan beranggotakan perwakilan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan, Pemerintah Kabupaten Tabalong, BKSDA Kalsel, akademisi, korporasi, serta perwakilan dari desa-desa yang menjadi habitat orangutan di wilayah tersebut. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tabalong akan bertindak sebagai Ketua Forum. Selanjutnya, forum akan menyusun Rencana Aksi Konservasi Orangutan Kabupaten Tabalong, termasuk penentuan pembagian peran masing-masing pihak sesuai prinsip “siapa berbuat apa”. (Ryn) Sumber: Agus Erwan, S.Hut., M.Sc. - Kepala Seksi Konservasi Wilayah I, Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Mencari Auman yang Tak Muncul, Misteri Hutan Dataran Tinggi Yang

Probolinggo, 25 April 2025. Sebanyak 160 kamera dipasang, 30 ribu hari rekam dikumpulkan, lebih dari 20 spesies satwa terpantau. Tapi sang predator puncak tak kunjung muncul. Macan tutul itu tak terlihat di kamera trap. Padahal, 160 kamera trap telah tersebar di 80 petak survei kawasan hutan Dataran Tinggi Yang, kawasan yang membentang di ketinggian sekitar lereng Argopuro, wilayah timur Jawa. Sejak Desember 2024, tim Java-Wide Leopard Survey (JWLS) bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) - Kementerian Kehutanan bekerja dalam senyap. Hutan ditelusuri, suara burung, tapak satwa, dan rimbun kabut pagi menjadi saksi kerja konservasi selama lebih dari enam bulan. Namun hingga Juli 2025, tak satu pun dari 158 kamera yang berhasil diambil kembali berhasil menangkap citra sang Panthera. Justru yang muncul adalah wajah-wajah lain seperti Trenggiling, Kucing Hutan, Lutung Emas, Rusa Timor, bahkan Linsang, si predator kecil nan langka. Satwa-satwa ini mungkin menjadi pertanda bahwa hutan masih hidup, namun predator teratasnya tak menampakan dirinya. Di sebuah sesi evaluasi pada awal Juli lalu, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Yayasan SINTAS Indonesia menyampaikan hasil sementara survei. Data lapangan cukup rinci, dimana dua kamera kembali hilang di Grid M12, Desa Kalianan, Probolinggo. Saat dicek, hanya kawat sling dan webbing yang tersisa. Apakah dirusak manusia? Atau binatang besar? Tak ada saksi. Tak ada suara. Kegiatan survei ini merupakan bagian dari program besar, untuk pembaruan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Macan Tutul Jawa. Dataran Tinggi Yang menjadi satu dari sekian banyak bentang alam di Jawa yang masuk skema JWLS. Dari data satelit, hutan ini masih terkoneksi. Tapi dari lapangan, ceritanya berbeda. Gangguan ditemukan di banyak titik, pemburu burung bersenapan angin, aktivitas logging kecil-kecilan, dan kendaraan bermotor yang menembus jantung kawasan. Tim juga mencatat tanda-tanda pemasangan jerat dan jejak manusia dalam frekuensi yang tak biasa. Secara terpisah, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan apresiasi pada seluruh tim. “JWLS di Dataran Tinggi Yang menunjukkan kolaborasi efektif lintas sektor. Tapi hasil ini juga alarm bagi kita. Jika predator puncak tidak terlihat, kita harus bertanya, apa yang salah dengan habitatnya?” ungkapnya. JWLS di kawasan ini memang belum selesai, masih ada proses analisis data lebih lanjut. Tapi absennya sang predator, dengan teknologi sebanyak itu, mengundang tanya besar. Apakah populasinya telah menurun? Ataukah mereka enggan menampakkan dirinya di depan kamera? Sementara itu, ancaman di hutan terus berjalan. Suara ranting patah dan deru knalpot bisa jadi lebih sering terdengar ketimbang auman. Jika kondisi ini tak segera ditangani, bukan mustahil, macan tutul di Dataran Tinggi Yang akan benar-benar hanya tinggal nama. Mari kita jaga dan lestarikan bersama habitat macan tutul jawa. Salam lestari. Terima kasih tak terhingga kepada deretan kolaborator: BBKSDA Jatim, SINTAS Indonesia, Pengko Jatim, FK3I Jatim, Yayasan Koorders, Yayasan Kanopi Indonesia, Peka Muria, MPALH-UNP, Mapala Balwana, dan Mahasmapala. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kebaya, Warisan Budaya Sarat Makna, Pembakar

Sidoarjo, 24 Juli 2025. Dari benang-benang leluhur hingga hutan-hutan yang dijaga dengan sepenuh jiwa, kebaya bukan sekadar kain. Ia adalah jati diri, semangat, dan simbol kehormatan perempuan penjaga alam. Di antara desir angin rimba dan senyapnya pepohonan yang menjulang, berdiri para perempuan penjaga hutan. Mereka bukan hanya mengenakan seragam, tetapi juga mewarisi semangat leluhur yang terpatri dalam sehelai kebaya. Pada 4 Desember 2024, kebaya resmi diakui sebagai Warisan Budaya Tak benda oleh UNESCO, melalui pengajuan bersama lima negara lainnya, Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Penetapan ini diumumkan dalam sesi ke-19 Komite Antar Pemerintah untuk Perlindungan Warisan Budaya Tak benda (WBTb) di Asunción, Paraguay. Ini menjadi tonggak sejarah, mengukuhkan kebaya sebagai simbol persatuan, keanggunan, dan kekuatan perempuan Asia Tenggara. Di Indonesia, pengakuan ini tak hanya bermakna budaya, tetapi juga menjadi dorongan moral bagi mereka yang mengabdi pada bumi, terutama para perempuan di garda depan konservasi. Di jajaran Balai Besar KSDA Jawa Timur, kebaya bukan sekadar pakaian seremonial. Ia telah menjadi simbol identitas rimbawan perempuan, penanda bahwa nilai-nilai luhur tradisi dapat berjalan berdampingan dengan misi pelestarian alam. “Kami ingin tunjukkan bahwa perempuan bisa hadir elegan dalam balutan budaya, sambil tetap tegas menjaga rimba. Kebaya adalah kekuatan lembut, seperti alam yang kita rawat,” ungkap Luvi Andari, Pengendali Ekosistem Hutan sekaligus Ketua Dharma Wanita Persatuan BBKSDA Jatim. Lebih dari itu, batik dan kebaya juga menghidupkan kembali keterhubungan antara budaya dan keanekaragaman hayati. Banyak motif batik tradisional yang menghiasi kebaya terinspirasi dari satwa dan tumbuhan endemik Nusantara, seperti motif merak hijau, kupu-kupu, daun aren, dan bambu menjadi simbol alam yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Pengakuan UNESCO atas kebaya bukan hanya kemenangan budaya, tetapi juga inspirasi bagi dunia konservasi. Di Balai Besar KSDA Jawa Timur, kami meyakini bahwa menjaga hutan dan merawat warisan budaya adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kebaya menjadi pengingat bahwa kelembutan dan keteguhan dapat bersatu untuk melindungi kehidupan.” terang Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur. Dalam setiap langkah yang diayun di tengah belantara, kebaya mengiringi dengan diam. Bukan untuk pamer gaya, tetapi sebagai lambang penghormatan pada leluhur dan bumi tempat kita berpijak. Di pundak perempuan rimbawan yang mengenakan kebaya, tersimpan kekuatan sunyi yang menjaga jejak-jejak kehidupan dari padang mangrove hingga puncak Argopuro. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tak Hanya dari Balik Meja, Ini Aksi Nyata Polisi Kehutanan Menembus Kabut Gunung Picis

Ponorogo, 19 Juli 2025. Kabut basah masih menempel di pucuk-pucuk daun saat langkah-langkah tegas para penjaga hutan membelah semak dan lereng terjal. Kali ini, bukan hanya tim dari Seksi dan Bidang wilayah terdekat. Namun juga Polisi Kehutanan dari Kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur di Sidoarjo, yang biasanya bertugas di balik meja dan dokumen administrasi, turut memilih memanggil nurani dan menyatu dengan rimba. Empat hari penuh, 15 hingga 18 Juli 2025, dua tim Smart Patrol gabungan menyusuri Cagar Alam Gunung Picis. Mereka menelusuri jalur-jalur sunyi yang tertutup lumut, menjelajahi 13 petak grid pengelolaan yang tersebar di titik-titik curam, pada rentang koordinat yang hanya bisa dicapai dengan tekad dan keyakinan. Mereka tak hanya mencatat, namun mereka menyatu dengan denyut alam. Hutan menyambut dengan bisu, tapi tidak kosong. Dari balik pepohonan besar seperti Pasang (Lithocarpus elegans) dan Nyampuh (Pygeum parviflorum), mereka menemukan jejak kehidupan berupa jejak Landak Jawa (Hystrix javanica) di batang-batang pohon tua. Juga tanda kaki Kijang (Muntiacus muntjak) di tanah yang masih basah, dan di langit, Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) melayang bagai penjaga wilayah. Dan di antara langkah-langkah itu, ada sepatu seorang Polhut dari kantor balai, yang biasanya berjibaku dengan laporan, kini berkeringat di terjalnya medan Picis. Ia tidak datang untuk berfoto atau simbolik. Ia datang karena panggilan, panggilan dari rimba yang kian bisu, dari satwa yang kian sedikit bersuara. Patroli ini tidak hanya mendata keanekaragaman hayati luar biasa, dari Anggrek Tanah (Spathoglottis plicata) dan Jamur Ganoderma, hingga Cakar Ayam (Selaginella) dan Kemadih (Piper aduncum). Tetapi juga memeriksa pal batas kawasan dan menyampaikan edukasi singkat kepada warga di tepian hutan. Tidak ada gangguan yang ditemukan. Tapi bukan berarti aman selamanya. Gunung Picis menyimpan keindahan yang rapuh. Dan selama masih ada yang bersedia menapaki jejak sunyinya, harapan belum padam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 433–448 dari 2.305 publikasi