Rabu, 27 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

BKSDA Kalsel Partisipasi di "Semangat Kolaborasi Lintas Generasi" HKAN 2025

Jakarta, 11 Agustus 2025 – Puncak Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025 diselenggarakan di Auditorium Dr.Ir. Soedjarwo, Manggala Wanabakti. Peringatan HKAN tahun ini digelar dengan tema “Bergerak bersama membangun sinergi antar generasi demi masa depan konservasi yang lebih baik melalui peningkatan manfaat sosial hutan dan mewujudkan hidup harmonis bersama alam” dengan tagline “Youth for Conservation, Beyond Expectations”. Dalam sambutannya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa hutan bukan warisan namun titipan yang harus dijaga dengan baik dan lebih produktif sehingga kedepannya saat handover /penyerahan kepada pemilik selanjutnya yakni generasi muda maka hutan yang saat ini kita miliki tidak hanya terjaga tapi jauh lebih baik daripada hari ini. Generasi muda merupakan subjek dalam perubahan, Kementerian Kehutanan membuka pintu selebar-lebarnya kampanye cinta alam dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan digital native. Puncak HKAN 2025 diselenggarakan dengan berbagai rangkaian acara diantaranya Pameran Konservasi Alam, Talkshow, Launching Jenis Flora Fauna Terbaru dan Buku Keragaman Ekosistem Alami Kawasan Konservasi, Monolog and Youth Declaration for Conservation dan penampilan spesial dari guest star Mr. Jono & Joni, Kotak Band dan Manshur Angklung serta Tarian Nusantara Medley yang membuat suasana menjadi semakin meriah. Puncak Peringatan HKAN menjadi momentum launching 19 jenis flora dan fauna terbaru yang ditemukan pada tahun 2025, temuan tersebut merupakan kolaborasi dari berbagai pihak yakni Kemenhut, Peneliti, Perguruan Tinggi, BRIN dan lainnya. Penemuan tersebut mengisyaratkan betapa kayanya keanekaragaman hayati di Indonesia. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penemuan tersebut memperkuat status Indonesia sebagai negara Mega Biodiversity, pusat keanekaragaman hayati dunia. Pameran Konservasi Alam diikuti oleh 22 UPT KSDAE dan Mitra salah satunya yakni BKSDA Kalimantan Selatan yang turut serta berpartisipasi mendirikan booth pameran dengan ciri khas satwa bekantan yang merupakan satwa dilindungi serta maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Pameran yang digelar di Selasar Auditorium Dr.Ir. Soejarwo menarik perhatian pengunjung dengan berbagai suguhan produk UKM masyarakat binaan, informasi ekowisata dari berbagai penjuru Indonesia, serta informasi keanekaragaman hayati dari wilayah masing-masing UPT. Selain itu games dan quiz dengan berbagai macam hadiah menarik juga disediakan bagi pengunjung pameran. Harapannya HKAN 2025 mampu membangun sinergi antar generasi demi masa depan konservasi yang lebih baik. Youth for Conservation, Beyond Expectations. (Ryn) Sumber: Siti Sofiatun Nafiah, S.Hut. - Penyuluh Seksi Konservasi Wilayah II dan Riyan Susilo Adji, S.Kom Prakom - Balai KSDA Kalimantan Selatan FacebookTwitterShare
Baca Artikel

Hari Konservasi Alam Nasional 2025, BBKSDA Jatim Ajak Ratusan Pelajar SMPN 14 Surabaya Merawat Bumi

Surabaya, 14 Agustus 2025. Suara riuh 320 pelajar SMP Negeri 14 Surabaya memenuhi Aula Joglo di siang yang teduh, Selasa (12/8/2025). Di balik raut wajah penuh rasa ingin tahu, tersimpan benih kepedulian yang hendak ditanam, benih untuk mencintai bumi, melindungi satwa, dan menjaga hutan agar tetap lestari. Pada momen peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir bukan sekadar memberi ceramah, tetapi membangkitkan kesadaran generasi muda untuk menjadi garda depan penyelamat keanekaragaman hayati. Tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, yang terdiri dari Rakhmat Hidayat (Polisi Kehutanan Ahli Madya), Ach. Onky Pryono (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), dan Ego Lion Sakty (Pengendali Ekosistem Hutan Pemula), menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya di SMP Negeri 14 Surabaya. Mengusung tema “Menjaga Keanekaragaman Hayati untuk Generasi Mendatang”, kegiatan ini diikuti oleh guru, staf sekolah, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan 320 siswa kelas VII. Para narasumber tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga membangun keterhubungan emosional antara peserta dan alam di sekitar mereka. Materi yang dibawakan meliputi Kebijakan Pengelolaan KSDAE, termasuk tugas pokok BBKSDA Jatim dan strategi konservasi yang mencakup perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati serta Kesadaran Lingkungan, menanamkan kepedulian sejak dini agar pelajar mampu menjadi agen perubahan di tengah tantangan degradasi alam. Setelah penyampaian materi, suasana aula berubah menjadi lebih hidup. Sesi tanya jawab berlangsung hangat, diwarnai rasa penasaran para pelajar tentang satwa liar, habitatnya, dan upaya pelestariannya. Puncak acara menjadi momen tak terlupakan, mural Bunga Rafflesia setinggi dinding sekolah dibuat dari tutup botol bekas menjadi sebuah simbol bahwa kreativitas bisa berjalan seiring dengan pesan konservasi. Warna merah marun bunga raksasa itu seakan mengingatkan semua orang akan keunikan flora Indonesia yang harus dijaga. Tidak berhenti di situ, tim BBKSDA Jatim juga memutar video perbandingan satwa yang hidup bebas di alam dan yang berada dalam sangkar. Visual itu menjadi pukulan emosional bagi peserta, menyadarkan bahwa kebebasan adalah hak setiap makhluk hidup. Dalam diskusi penutup, pihak SMPN 14 Surabaya mengungkapkan keinginan untuk terlibat langsung dalam kegiatan konservasi BBKSDA Jatim, termasuk pelepasliaran satwa dan kampanye pelestarian lingkungan. Dukungan semacam ini menjadi sinyal positif bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan instansi konservasi dapat menjadi kekuatan besar dalam merawat warisan alam. Dari ruang aula di pinggiran Surabaya, pesan itu disampaikan dengan lantang bahwa masa depan bumi ada di tangan generasi muda. Melalui edukasi yang menyentuh hati dan menggerakkan aksi, Balai Besar KSDA Jawa Timur berharap semangat menjaga alam tak berhenti di dinding sekolah, tetapi tumbuh subur di setiap langkah anak bangsa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menyiapkan Dokter Hewan Masa Depan Penjaga Satwa Indonesia

Banyuwangi, 14 Agustus 2025. Di sebuah ruang kuliah di Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam Banyuwangi, sebelas mahasiswa Program Profesi Kedokteran Hewan duduk terpaku. Di hadapan mereka, bukan sekadar teori tentang anatomi atau penyakit hewan. Kali ini, yang mereka pelajari adalah denyut nadi kehidupan liar, kisah penyelamatan, perawatan, dan pelepasliaran satwa dilindungi yang berjuang bertahan di alam. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir bukan hanya untuk memberi kuliah, tetapi untuk membuka jendela realitas tentang pekerjaan berat di garis depan konservasi., 11 Agustus 2025. Materi disampaikan oleh Mohamad Sukron Makmun, Pengendali Ekosistem Hutan; drh. Indy yang bergabung melalui Zoom; serta Penyuluh Kehutanan, Ainy Amelya Utami. Tiga topik utama dibedah secara mendalam, legislasi dan mekanisme penyitaan satwa dilindungi, proses penangkaran hingga pelepasliaran, serta ancaman zoonosis yang mengintai di batas perjumpaan manusia dan satwa liar. Para mahasiswa tak hanya mendengar, tetapi juga terlibat aktif bertanya dan mendiskusikan kasus-kasus nyata di lapangan, mulai dari operasi penyelamatan burung kakatua di pasar gelap hingga prosedur karantina sebelum satwa dilepas kembali ke habitatnya. Di balik setiap satwa yang diselamatkan, terdapat cerita panjang tentang hutan yang hilang, perburuan, dan manusia yang peduli. BBKSDA Jatim berharap, pembekalan ini menjadi fondasi moral dan keahlian bagi calon dokter hewan agar kelak mereka tak hanya menjadi penyembuh, tetapi juga penjaga kehidupan liar yang rapuh. Di luar gedung kuliah, hutan dan satwa menanti dan di tangan generasi ini, masa depan mereka akan ditentukan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mahasiswa Universitas Brawijaya Menyelami Dunia Konservasi Bersama BBKSDA Jatim

Surabaya, 14 Agustus 2025. Di sebuah ruang rapat sederhana di Kantor Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berdiri di hadapan jajaran Balai Besar KSDA Jawa Timur, 7 Agustus 2025. Bukan sekadar menyampaikan laporan akhir magang, mereka bercerita tentang kisah lima minggu penuh peluh, lumpur, ombak, dan suara hutan, perjalanan yang menguji ketangguhan, kecerdasan, dan kepedulian terhadap alam. Mereka adalah Brilliant Akbar Bima Nusantara, Ishthifa Sriwardhani Adipuspitaningrum, dan Muhammad Shultoni Cahya Ramadhan. Tiga nama yang kini terikat pada kisah konservasi di dua dunia berbeda, konflik satwa. Menapaki Pulau Bawean, Laboratorium Alam yang Hidup Pada Resort Konservasi Wilayah 10 Pulau Bawean, langkah pertama mereka dimulai dengan SMART Patrol, menelusuri kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, mencatat potensi kawasan, dan menginisiasi mini riset herpetofauna, burung, serta anggrek liar. Namun, tidak semua cerita berakhir indah. Di Pantai Selayar, mereka menemukan bangkai penyu, di Pantai Tugu 0, seekor lumba-lumba mati terdampar. Bersama masyarakat dan Dinas Kelautan & Perikanan setempat, mereka mengubah tragedi itu menjadi pelajaran ekologi bagi warga. Di sela patroli, mereka menjadi duta edukasi dalam program FOLU Goes To School di MA Al-Manar, membicarakan satwa endemik Bawean dan bahaya kebakaran hutan. Mereka juga terlibat dalam S.I.D.I (Small Island Development Initiative), kolaborasi BBKSDA Jatim, UINSA Surabaya, dan PT. Pertamina, yang mencakup monitoring burung air, pemasangan camera trap, dan analisis vegetasi pakan Rusa Bawean. Dari KTH Mustika Aren, mereka mempelajari cara gula aren menjadi lebih dari sekadar produk, melainkan sumber penghidupan yang menjaga hutan tetap berdiri. Dari Hutan ke Kota, Interasikasi Negatif Satwa dan Manusia Pindah ke Surabaya, tantangan berubah wujud. Mereka membantu evakuasi dua ekor monyet ekor panjang dari Plaza Lamongan, serta menangani konflik satwa di Desa Cembor, Pacet, Mojokerto, wilayah di mana monyet liar merangsek ke lahan pertanian warga. Investigasi lapangan, koordinasi dengan Polsek Pacet, perangkat desa, dan UPT Tahura Raden Soerjo menjadi bagian dari keseharian. Setiap langkah mereka ditutup dengan refleksi mendalam, menautkan setiap kejadian pada dasar hukum, kebijakan konservasi, dan etika lapangan. Merajut Generasi Konservasi Muda Hasil magang ini menegaskan pentingnya program magang kolaboratif yang terstruktur, dengan SOP terpadu, penugasan strategis seperti SMART Patrol, konservasi TSL, FOLU Netsink, dan edukasi masyarakat, serta pendamping lapang yang mumpuni. BBKSDA Jatim menilai, kegiatan ini bukan hanya memberi pengalaman kerja lapangan bagi mahasiswa, tetapi juga membangun potensi kader konservasi masa depan. Data lapangan, publikasi edukatif, dan jejaring kemitraan yang mereka hasilkan menjadi nilai tambah yang tak ternilai. Dari deru ombak Pulau Bawean hingga udara sejuk Pacet, perjalanan ini membuktikan bahwa konservasi bukan sekadar pekerjaan, ia adalah panggilan jiwa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pengendali Ekosistem Hutan, Garda Terdepan Konservasi yang Menyatukan Ilmu, Alam, dan Bangsa

Jakarta, 12 Agustus 2025. Di sebuah ruang pertemuan di jantung Ibu Kota, 150 insan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) hadir secara langsung, disaksikan 695 pasang mata lainnya dari berbagai penjuru Indonesia melalui layar daring. Bukan sekadar pertemuan tahunan, Sarasehan PEH 2025 menjadi panggung tempat para penjaga garda terdepan konservasi menyatukan visi, menautkan pengalaman, dan merumuskan masa depan profesi yang kini diakui sebagai salah satu tiang penyangga kelestarian ekosistem negeri. Mereka datang membawa cerita, tentang jejak kaki Komodo di tanah Flores, tentang penyu yang kembali ke pantai Sangalaki untuk bertelur di bawah ancaman pencurian, tentang jalur peredaran satwa liar yang terus berevolusi. Hingga tentang pohon Taksus di kaki Gunung Kerinci yang menyimpan senyawa antikanker dan anti-aging. Inilah Sarasehan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Indonesia yang digelah di Jakarta, 12 Agustus 2025. Sebuah pertemuan yang mengusung “Sinergi PEH Lintas Generasi, Aksi Bersama Lestarikan Alam”. Namun, pertemuan ini juga mengangkat cermin, tantangan terbesar PEH justru sering datang dari dalam diri sendiri, rasa jenuh, lelah, dan keraguan yang dapat meruntuhkan semangat. Mengurai Peta Tantangan, Dari Jabatan hingga Jejak di Lapangan Data resmi memotret skala peran PEH: 4.000 personel, menjadikannya jabatan fungsional terbesar di Kementerian Kehutanan. Namun, jenjang karier mereka masih terkunci di tingkat Madya, sementara saudara terdekat Polisi Kehutanan dan Penyuluh Kehutanan telah menembus Jenjang Utama. Penyelarasan struktur jabatan menjadi fokus. Regulasi baru menuntut PEH tak hanya ahli di bidang teknis ekologi, tetapi juga mumpuni dalam manajemen, komunikasi, dan inovasi. Kenaikan jabatan tak lagi sekadar soal angka kredit, tapi komitmen untuk siap ditempatkan di manapun demi konservasi. “PEH dulu disebut semi-scientist, tapi kini mereka harus menjadi scientist, manajer, sekaligus diplomat konservasi.” tegas Amy Nurwanty, Sekretaris Ditjen KSDAE dalam sambutannya mewakili Direktur Jenderal KSDAE. Konservasi yang Menembus Batas Flores dan Komodo, di luar kawasan konservasi, kamera jebak mengungkap individu Komodo yang bertahan di habitat terpisah. PEH tak hanya memantau, tetapi juga mengedukasi warga, memetakan jalur mangsa, dan meredam konflik satwa–manusia. Indonesia Timur dan Perdagangan Satwa Liar, Jalur laut yang dulu ramai kini mulai surut peredarannya, berkat kolaborasi multipihak dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan pola peredaran TSL. Pulau Sangalaki, Penyu, dan Pasir yang Menyimpan Kehidupan. Patroli malam, relokasi telur ke hatchery, dan pemberdayaan pemuda kampung menjadi benteng terakhir dari laju penurunan populasi. Taksus Sumatera dan Harapan dari Kulit Pohon, dari hutan TN Kerinci Seblat, penelitian bersama BRIN mengungkap potensi obat kanker dan kosmetik berbasis anti-aging. Inovasi ini menanti tahap komersialisasi. IPEHINDO, Rumah Besar Profesi Sarasehan juga mengukuhkan pentingnya Ikatan Profesi PEH Indonesia (IPEHINDO) sebagai wadah kolaborasi dan transfer pengetahuan. Dengan delapan DPW provinsi yang sudah terbentuk, targetnya adalah seluruh provinsi memiliki kepengurusan aktif. Bahkan, lahir kesepakatan baru, 2 Juli akan menjadi Hari PEH Nasional, memperingati diresmikannya jabatan ini pada 2003. Menatap Masa Depan, Lokal Menggema Global Kiprah PEH kini menembus batas negara, dari pengelolaan cagar biosfer UNESCO hingga partisipasi dalam forum global Ramsar Site dan World Heritage Site. Filosofinya jelas, PEH lokal, dampak global. Sarasehan PEH 2025 ditutup dengan pesan yang menggetarkan ruang “Konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satwa atau hutan. Ini tentang menyelamatkan masa depan kita semua. Tantangan terberat bukan di luar sana, tapi di dalam diri kita masing-masing.” Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Peringati Hari Gajah Sedunia & HKAN 2025, BBKSDA Sumut Ajak Masyarakat Jaga Alam Bersama

Simalungun, 13 Agustus 2025. Dengan semangat melestarikan dan menjaga satwa liar, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Pematangsiantar menggelar perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan Hari Gajah Sedunia di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Selasa 12 Agustus 2025. Kegiatan ini menjadi ajang edukasi, kolaborasi dan aksi nyata dalam upaya pelestarian alam dan satwa liar. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk mengingatkan bahwa gajah, adalah satwa karismatik sekaligus spesies kunci yang memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Peringatan Hari Gajah Sedunia yang jatuh setiap 12 Agustus dipadukan dengan semangat HKAN untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat ikut melindungi kekayaan hayati Indonesia. Acara dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumut, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L, hadir pula Kepala Seksi KSDA Wilayah III Kisaran, staf Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, serta staf Resor ANECC dan Cagar Alam Batu Gajah. Dukungan dari berbagai pihak membuat peringatan ini semakin bermakna. Hadir perwakilan dari Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah I Pematangsiantar, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Asahan Barumun, DAOPS Manggala Agni Wilayah Sumatera II Pematangsiantar, UPT KPH Wilayah II Pematangsiantar, Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Simalungun, Kepala Desa Sibaganding, serta lembaga mitra seperti Yayasan Persamuhan Bodhicitta Mandala Medan (YPBMM), PT. TPL Sektor Aek Nauli, PT. Pertamina Niaga Fuel Terminal Pematangsiantar dan dua sekolah dasar: SD Negeri 095186 tanjung Dolok dan SD Negeri 091456 Pondok Bulu. Serangkaian kegiatan edukatif dan interaktif menjadi daya tarik utama acara ini, yaitu: edukasi gajah jinak untuk mengenal lebih dekat perilaku dan peran gajah di alam liar, penanaman bibit pohon Macadamia sebagai simbol komitmen terhadap penghijauan dan perbaikan habitat, lomba mewarnai tingkat sekolah dasar guna menanamkan kecintaan pada alam sejak dini, serta kuis konservasi untuk mengasah pengetahuan seputar satwa liar dan lingkungan. Perwakilan dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Simalungun menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini. “ANECC adalah destinasi wisata favorit di kawasan sekitar Danau Toba dan kebanggaan Kabupaten Simalungun. Kami siap mendukung pengembangan wisata di ANECC.” Sementara itu, perwakilan BPDAS Asahan Barumun menegaskan komitmennya dalam mendukung penghijauan. “Kami siap mendukung kebutuhan bibit pohon untuk ANECC maupun kawasan konservasi lainnya apabila diperlukan.” Melalui perayaan ini, Balai Besar KSDA Sumatera utara mendorong agar semangat konservasi dapat semakin tertanam di hati masyarakat, khususnya generasi muda, sehingga kelestarian alam dan satwa liar tetap terjaga untuk masa depan. Lomba mewarnai tingkat Sekolah Dasar Edukasi gajah jinak untuk mengenal lebih dekat perilaku dan peran gajah di alam liar Penanaman bibit pohon Macadamia Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

HKAN 2025, Resor Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut III Gelar Aksi Bersih Sekolah

Selotong, 12 Agustus 2025. Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus, Resor Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (SM KGLTL) III Selotong menggelar kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah bersama siswa kelas V dan VI SD Negeri (SDN) 050705 Selotong, Jumat (8/8/2025). Kegiatan ini mengusung tema HKAN 2025, “Membangun Sinergi antar Generasi untuk Masa Depan Konservasi”, yang menekankan pentingnya peran lintas generasi dalam menjaga kelestarian alam. Aksi bersih-bersih dilaksanakan di pekarangan sekolah, melibatkan 40 siswa, guru, petugas resor serta fasilitator desa. Para peserta bergotong royong memungut sampah, menyampu halaman, merapikan taman dan menata area hijau agar lebih indah dan nyaman. Kepala Resor SM KGLTL III Selotong, Salmudin, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya semata-mata bertujuan untuk menciptakan lingkungan bersih dan asri, tetapi juga menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya melestarikan alam dan keanekaragaman hayati. “Melalui aksi sederhana seperti ini, kami ingin agar anak-anak memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian penting dari upaya konservasi. Mereka adalah generasi penerus yang kelak akan menghadapi tantangan lingkungan yang lebih besar oleh karena itu anak-anak perlu ditingkatkan kesadarannya sejak dini,” ungkap Salmudin. Sepanjang kegiatan, suasana penuh semangat dan keceriaan terlihat jelas. Anak-anak bekerja sambil bercanda, saling membantu dan menunjukkan antusiasme tinggi. Guru-guru menyambut baik inisiatif ini, melihatnya sebagai kesempatan emas untuk menanamkan nilai konservasi di hati para siswa. Sebagai bentuk apresiasi, di akhir kegiatan Kepala Resor menyerahkan sertifikat dan cinderamata kepada SDN 050705 Selotong. Harapannya, aksi ini akan menjadi awal tumbuhnya rasa cinta lingkungan di kalangan pelajar, sehingga semangat menjaga kelestarian alam dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi. Keceriaan murid SD Negeri 050705 Selotong Sumber: Resor SM KGLTL III-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

TWA Deleng Lancuk Ajak SMP Negeri 1 Naman Teran Wujudkan Generasi Cinta Alam

Naman Teran, 12 Agustus 2025. Tim Resor Taman Wisata Alam (TWA) Deleng Lancuk, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggelar sosialisasi dan aksi bersih sampah di Danau Lau Kawar bersama siswa SMP Negeri 1 Naman Teran selama 2 hari pada tanggal 6-7 Agustus 2025. Kegiatan ini menjadi bagian Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2025, menanamkan semangat peduli lingkungan sejak dini. Hari pertama, 6 Agustus 2025, Tim Resor TWA Deleng Lancuk yang terdiri dari Samuel Siahaan, SP bersama staf Bergiat Sembiring dan Febernando Surbakti, disambut hangat oleh Kepala SMP Negeri 1 Nama Teran, Jendakita Br Sinulingga, S.Pd., M.Pd. Dalam pertemuan tersebut, disampaikan berbagai peluang kegiatan konservasi yang bisa dilalukan sekolah untuk menumbuhkan karakter cinta alam dan peduli lingkungan di kalangan siswa. Perlu diketahui bahwa awalnya SMP Negeri 1 Naman Teran berlokasi di Desa Sigarang-garang tetapi kemudian karena erupsi Gunung Sinabung, sekolah ini dipindahkan ke Desa Kuta Rakyat yang dekat dengan kawasan TWA Deleng Lancuk yang terkenal dengan keindahan Danau Lau Kawar serta kekayaan flora dan fauna. Kedekatan ini menjadi peluang besar untuk pembelajaran langsung mengenai keanekaragaman hayati. Sebagai bentuk dukungan, Petugas Resor menyerahkan Buku Liputan Konservasi, Buletin Beo Nias dan leaflet satwa dan burung dilindungi di Sumatera Utara. Kepala Sekolah menyatakan kesiapan sekolah untuk mewujudkan program ini, mengingat prestasi siswa yang terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Hari kedua, 7 Agustus 2025, 5 siswa SMP Negeri 1 Naman Teran didampingi salah seorang guru, Dian Setiawan, S.Pd ikut dalam Aksi Bersih Sampah Plastik di Danau Lau Kawar. Kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan singkat kawasan TWA Deleng Lancuk, dipandu langsung oleh Bergiat Sembiring dan Samuel Siahaan. Momen ini direkam dalam bentuk video untuk diikutsertakan dalam lomba video reels yang diadakan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam rangka Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025. Kepala Sekolah berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut sehingga siswa tidak hanya mengenal alam dari buku, tetapi juga terlibat langsung dalam upaya pelestariannya. Sumber: Samuel Siahaan, SP/PEH Pertama, Bergiat Sembiring dan Febernando Surbakti/ Staf Resor TWA Deleng Lancuk-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Jangan Lepasliarkan Satwa Sembarangan, Kalau Tidak mau seperti ini!

Lamongan, 11 Agustus 2025. Seekor Monyet-ekor panjang (Macaca fascicularis) jantan berusia sekitar lima tahun kembali menembus batas antara hutan dan perkampungan. Awalnya, satwa ini dilepaskan oleh pemiliknya dengan harapan bergabung bersama koloni liar di hutan lindung milik Perum Perhutani. Namun, seperti pulang ke rumah lama, ia keluar dari rimbun pepohonan dan kembali ke desa, memicu kegelisahan warga. Langkah kakinya di atap rumah, gerak gesitnya di jalanan, hingga insiden menggigit seorang penduduk, semua menjadi catatan nyata bahwa melepasliarkan satwa tidak bisa dilakukan sembarangan. Beruntung, pemeriksaan medis memastikan korban bebas dari rabies. Penyerahan satwa ini dilakukan secara sukarela oleh pemilik, Sdr. Adi, seorang petani Desa Garung, Kecamatan Sambeng, Kab. Lamongan, 11 Agustus 2025. Tim Penyelamatn Satwa Liar (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan segera merespons. Evakuasi dilakukan hati-hati, memastikan keselamatan satwa dan warga. Satwa kemudian dibawa ke Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo, untuk penanganan sesuai standar keselamatan serta etika dan kaidah kesejahteraan satwa. Di balik kisah ini, ada pelajaran penting. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa melepasliarkan satwa bukan sekadar membuka kandang dan membiarkannya pergi. “Tanpa prosedur yang tepat, satwa berisiko kembali ke pemukiman, berkonflik dengan manusia, bahkan mengancam keselamatan kedua pihak. Kami menghimbau agar proses pelepasliaran dapat dilakukan di habitat yang benar-benar sesuai dan aman dengan melibatkan pihak berwenang", tambahnya. Monyet-ekor panjang, meski belum dilindungi secara hukum, namun tercatat dalam Appendiks II CITES, yang berarti perdagangannya diatur ketat demi mencegah eksploitasi berlebihan. Spesies ini dikenal cerdas, lincah, dan adaptif, sifat yang membuatnya mampu bertahan hidup di alam maupun dekat manusia. Namun, adaptasi ini seringkali menjadi sumber masalah ketika habitat alaminya terganggu atau ketika satwa dibiasakan hidup bersama manusia. BBKSDA Jawa Timur bersama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Lamongan berkomitmen memperluas sosialisasi kepada masyarakat. Fokusnya adalah mengurangi praktik penangkapan, pemeliharaan, dan pelepasliaran satwa liar tanpa prosedur, sekaligus mengedukasi tentang risiko zoonosis dan pentingnya menjaga satwa di habitat aslinya. Di hutan, monyet ini seharusnya menjadi bagian dari simfoni kehidupan liar, membantu menyebarkan biji, menjaga keseimbangan ekosistem, dan hidup bebas bersama kelompoknya. Di luar hutan, ia hanya menjadi tamu tak diundang yang sering disalahpahami. Biarkan satwa liar tetap liar. Mereka bukan milik kita untuk dipelihara, tetapi warisan alam yang harus dijaga untuk generasi mendatang. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Semarak Juanda 15 Cup III: Sportivitas dan Kebersamaan Warnai HUT RI ke-80 dan Road to HKAN

Bogor, 11 Agustus 2025. Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) menggelar Juanda 15 Cup untuk yang ke-3 kalinya. Event ini dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 80 dan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025. Kegiatan berlangsung di Aula Komodo, Gedung KSDAE di Juanda Bogor selama 4 hari, pada 31 Juli – 1 Agustus 2025, dan dilanjutkan babak semifinal dan final pada 7 – 8 Agustus 2025. Dengan mengusung tema “Menjalin silaturahmi dan kebersamaan serta jiwa korsa dengan semangat nasionalisme dengan mengedepankan kreativitas dan sportivitas,” kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan, sportivitas, prestasi, dan kreativitas pegawai. Juga, menjadi wadah untuk mempererat tali persaudaraan dan hubungan antar pegawai di lingkungan Ditjen KSDAE. Sebanyak 13 satuan kerja berpartisipasi, yaitu Setditjen KSDAE, Dit. Perencanaan Konservasi, Dit. Konservasi Spesies dan Daya Genetk, Dit. Konservasi Kawasan, Dit. PemulihanEkosistem dan Bina Areal Preservasi, Dit. Pemanfaatan Jasa Lingkungan, BKSDA Jakarta, BTN Halimun Salak, BBTN Gunung Gede Pangrango, BTN Kepulauan Seribu, BTN Ujung Kulon, Dit. Pengukuhan, dan BBKSDA Jawa Barat. Cabang lomba yang dipertandingkan meliputi bulutangkis, tenis meja, mini futsal, gaple, serta karaoke dalam dua genre pop dan dangdut. Sepanjang kegiatan, antusiasme peserta sangat tinggi dan mendapat dukungan meriah para penonton. Pertandingan berlangsung dengan semangat kompetitif yang kuat dalam suasana kebersamaan. Para pegawai terlihat menikmati setiap pertandingan dan menampilkan potensi terbaik mereka dalam bidang olahraga maupun seni. Momen pembagian doorprize turut menambah semarak suasana di sela-sela pertandingan. Acara ditutup dengan pengumuman para pemenang dari setiap cabang lomba. Setiap peserta menunjukkan semangat kompetitif yang tinggi dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan kebersamaan. Secara keseluruhan, Juanda 15 Cup yang ketiga ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga merupakan sarana yang efektif dalam membangun semangat kerja sama, mempererat hubungan antar pegawai, serta mendorong gaya hidup sehat, aktif dan kreatif di lingkungan Direktorat Jenderal KSDAE. Sumber: Direktorat Perencanaan Konservasi
Baca Artikel

Balai TN Batang Gadis Gelar Lomba Mewarnai untuk Rayakan HKAN 2025

Panyabungan, 11 Agustus 2025 – Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) menggelar Lomba Mewarnai yang diikuti oleh anak-anak Sekolah Dasar di wilayah Panyabungan, khususnya di sekitar Kantor Balai TNBG. Dengan mengangkat tema “Keanekaragaman Hayati di Taman Nasional Batang Gadis”, kegiatan ini bertujuan memberikan edukasi konservasi sejak dini kepada generasi muda. Melalui kegiatan mewarnai, anak-anak diajak untuk mengenal lebih dekat flora dan fauna khas TNBG, menumbuhkan rasa cinta terhadap alam, serta membentuk kesadaran akan pentingnya menjaga kelestariannya. Berbagai karya penuh warna yang dihasilkan para peserta mencerminkan imajinasi, kepedulian, dan harapan akan alam yang tetap asri dan lestari di masa depan. Balai TNBG berharap kegiatan ini menjadi langkah awal yang menginspirasi anak-anak untuk menjadi generasi penjaga alam. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Balai TN Batang Gadis Gelar Goes to School di Pondok Pesantren Al Musthafawiyah Purba Baru

Mandailing Natal , 7 Agustus 2025 — Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, Balai Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) melaksanakan kegiatan "TNBG Goes to School" di Pondok Pesantren Al Musthafawiyah, Kabupaten Mandailing Natal, Kamis (7/8). Kegiatan ini bertujuan memperkenalkan wawasan konservasi kepada para santri sekaligus menyosialisasikan Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian Gunung Sorik Marapi. Langkah ini diambil sebagai upaya menekan jumlah pendaki ilegal yang tidak terdata, yang berisiko terhadap keselamatan jiwa, pelanggaran hukum, serta kerusakan lingkungan. Pendaki ilegal berpotensi menghadapi berbagai bahaya, seperti tersesat di jalur yang tidak resmi dan kesulitan mendapatkan pertolongan saat terjadi keadaan darurat. Selain itu, pendakian tanpa izin dapat dikenai sanksi pidana maupun administratif. Tanpa pengawasan petugas, aktivitas ini juga rawan merusak ekosistem Gunung Sorik Marapi yang menjadi habitat penting bagi berbagai jenis flora dan fauna endemik. Kepala Balai TNBG dalam sambutannya mengajak para santri untuk menjadi agen penyebar pesan konservasi di tengah masyarakat. “Kami berharap para santri dapat menggabungkan nilai-nilai agama dengan kecintaan terhadap alam, sehingga mampu mengajak masyarakat mematuhi prosedur pendakian resmi dan menjaga kelestarian alam,” ujarnya. Melalui kegiatan ini, Balai TNBG berharap tercipta generasi muda yang tidak hanya taat hukum, tetapi juga memiliki kepedulian tinggi terhadap keberlanjutan ekosistem di Taman Nasional Batang Gadis, khususnya di kawasan Gunung Sorik Marapi. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

BBKSDA Jatim Genjot Pembinaan Penangkar di Bidang KSDA Wilayah I Madiun

Madiun, 6 Agustus 2025. Di antara lengangnya kota reog yang kental budaya, satu perjalanan penuh makna menyusuri wilayah Madiun hari itu menyimpan misi besar, menyelamatkan masa depan spesies liar lewat tangan-tangan para penangkar. Tim Balai Besar KSDA Jawa Timur bergerak dalam sunyi, membawa kabar baru dari hulu konservasi, aturan, sistem, dan arah kebijakan yang tak lagi bisa ditawar. Bugiono, Pengendali Ekosistem Hutan Madya yang juga menjabat sebagai Ketua Kelompok Kerja Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar BBKSDA Jatim, hadir secara dalam agenda penting ini. Ia meluangkan waktu di sela evaluasi izin pengedar tumbuhan dan satwa liar di Kabupaten Ponorogo, untuk menyapa 16 unit penangkar yang tersebar di bawah naungan Bidang KSDA Wilayah I Madiun. Pembinaan yang dilaksanakan pada 6 Agustus 2025 ini bukan sekadar temu teknis, tetapi menjadi panggung strategis memperkuat sinergi antara negara dan masyarakat pemanfaat. Hadir lengkap jajaran staf teknis dari Bidang KSDA Wilayah I Madiun, seluruh Kepala Resort lingkup Seksi KSDA Wilayah I Kediri dan Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. "Penangkaran bukan hanya tentang memelihara spesies. Ia adalah bagian dari sistem pemulihan, pengamanan genetik, dan pengelolaan yang berpihak pada keberlanjutan. Maka, seluruh pengelola perlu adaptif terhadap perubahan regulasi," tegas Bugiono dalam arahannya. Pembinaan ini juga sekaligus menjadi media sosialisasi dokumen peraturan tumbuhan dan satwa liar terbaru yang mengatur tentang mekanisme perizinan, pemanfaatan, serta tata kelola peredaran tumbuhan dan satwa liar, sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor 18 Tahun 2024. Salah satu poin krusial adalah penekanan pada validitas data, karena tanpa data, pengelolaan akan kehilangan arah. "Balai Besar KSDA Jawa Timur tengah mengembangkan database satwa dan tumbuhan liar dari seluruh unit penangkaran. Ini bukan sekadar alat kontrol administratif, melainkan dasar untuk membaca dinamika populasi, tren spesies, hingga potensi pelepasliaran ke habitat alaminya," jelas Bugiono. Upaya ini, lanjutnya, menjadi bagian dari penguatan peran penangkar sebagai pilar dalam sistem konservasi ex-situ, namun tetap terhubung dengan misi pelestarian in-situ. Penangkar bukan sekadar entitas bisnis, tetapi mitra konservasi yang produktif dan terukur. Melalui forum tatap muka yang intens, peserta pembinaan juga diberi ruang untuk menyampaikan berbagai tantangan di lapangan, mulai dari keterbatasan sumber daya, kendala teknis pengembangbiakan, hingga kebutuhan dukungan kebijakan yang lebih progresif. Penangkaran yang kita bangun hari ini adalah benteng terakhir bagi spesies yang terancam. Jika kita abai terhadap tata kelolanya, maka kita sedang menggiring mereka ke ambang kepunahan yang kita buat sendiri. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balasi Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Di Garis Depan Penyelamatan, Sinergi Damkar dan Konservasi Satwa Liar di Tuban

Tuban, 6 Agustus 2025. Kabupaten Tuban menjadi saksi langkah yang luar biasa dalam upaya perlindungan satwa liar. Dinas Pemadam Kebakaran dan Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tuban menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pencegahan, Penanggulangan dan Penyelamatan Non Kebakaran yang Terkait Satwa Liar (Animal Rescue) sebuah pelatihan strategis yang ditujukan untuk meningkatkan kapasitas personel Damkar dalam menghadapi interaksi negatif antara manusia dan satwa. Dalam kegiatan yang bertempat di pusat pelatihan Damkar Tuban ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro tampil sebagai salah satu narasumber utama. Materi yang disampaikan tak hanya membekali peserta dengan pemahaman regulatif dari Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 hingga aturan turunannya, namun juga membawa mereka menyelami dunia satwa liar yang kerap muncul di wilayah Tuban, seperti ular dan monyet ekor panjang. Pelatihan ini bukan sekadar teori. Di akhir sesi, peserta diajak terjun langsung dalam praktik penanganan konflik satwa, khususnya teknik rescue monyet, sebuah tantangan yang kian sering muncul akibat menyempitnya habitat alami dan bertambahnya interaksi satwa dengan manusia. Salah satu sorotan penting dalam kegiatan ini adalah pentingnya penyelarasan SOP (Standard Operating Procedure) Damkar dengan panduan konservasi, agar keselamatan satwa dan personel tetap seimbang. Usulan ini lahir dari sesi diskusi antara pihak BBKSDA Jatim dan Damkar Tuban, yang sepakat bahwa penyelamatan satwa membutuhkan sensitivitas, pengetahuan spesifik, dan kerja sama lintas sektor. Tak ketinggalan, kehadiran JSI (Jaga Satwa Indonesia) dari Madiun menambah bobot teknis pelatihan. Dengan spesialisasi pada teknik penanganan ular, JSI membawakan materi lapangan yang sangat aplikatif, dari identifikasi jenis ular hingga teknik pengamanan yang aman bagi manusia dan satwa. Pelatihan ini menjadi babak baru dalam upaya konservasi kolaboratif di Jawa Timur. Ketika Damkar dan konservator satwa duduk dalam satu forum, berbagi pengetahuan, dan menyusun langkah bersama, maka yang diselamatkan bukan hanya satu ekor monyet atau ular yang tersesat, melainkan juga harapan, bahwa manusia dan alam bisa hidup berdampingan tanpa saling menyakiti. Menyelamatkan satu satwa bukan hanya aksi heroik, tapi bentuk keberanian untuk menjaga keseimbangan alam. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

FOLU Goes To School, Menyemai Harapan di MA Nahdlatul Ulama Padang Jambu

Bawean, 4 Agustus 2025. Di tengah bentang hijau tropis yang membingkai Pulau Bawean, sekelompok anak muda duduk berbaris di sebuah ruangan sederhana. Mereka bukan sekadar siswa. Mereka adalah calon penjaga masa depan hutan, pewaris ekosistem pulau kecil yang menjadi rumah bagi rusa endemik Axis kuhlii dan kehidupan liar lainnya yang rentan oleh perubahan zaman. Dalam kegiatan bertajuk "FOLU Goes To School, Edukasi Konservasi Lingkungan dan Pencegahan Kebakaran Hutan untuk Generasi Muda di Pulau Bawean". Harapan disemai melalui dialog, permainan, dan kuis edukatif yang dibawakan langsung oleh para narasumber dari Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Sebanyak 50 siswa MA NU Padang Jambu, duduk penuh antusias, menyimak penjelasan tentang fungsi kawasan konservasi, bahaya kebakaran hutan, serta peran mereka sebagai generasi yang akan hidup paling lama di bumi yang kini terluka. Program yang digelar 4 Agustus 2025 ini merupakan bagian dari Pemanfaatan Dana Layanan Masyarakat melalui dukungan kerja sama Indonesia – Norwegia Tahap 2, di bawah naungan misi besar nasional, Indonesia’s FOLU Net Sink 2030, upaya mencapai keseimbangan emisi karbon di sektor kehutanan dan lahan. “Jangan hanya memikirkan hari ini,” ungkap Nur Syamsi - Polhut Penyelia dalam sesi diskusi. “Bayangkan Bawean tanpa pohon, tanpa udara bersih, tanpa rusa. Siapa yang akan menyelamatkan jika bukan kalian?”, lanjutnya. Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Di Bawean, hutan bukan hanya hamparan hijau, ia adalah sumber air, penjaga cuaca, dan ruang hidup terakhir bagi satwa endemik. Namun, hutan juga rapuh, dilukai oleh api, ditekan oleh sampah, dan dikepung oleh ketidaktahuan. Melalui pendekatan yang membumi dan dialogis, para siswa tidak hanya menjadi pendengar, tapi juga penanya aktif, menanggapi kuis, dan menyuarakan kegelisahan serta rasa ingin tahu mereka terhadap isu lingkungan. Kegiatan ini merupakan Chapter ke-3 dari rangkaian FOLU Goes to School yang dilaksanakan oleh Kelompok Pelestari Hutan (KPH) Bawean Lestari, sebagai bentuk nyata komitmen lokal dalam mendukung target nasional. Kehadiran BBKSDA Jatim memperkuat sinergi antar lembaga, memadukan pengetahuan ilmiah dengan pendekatan sosial-kultural. Lebih dari sekadar pembelajaran, kegiatan ini adalah percikan api yang menyalakan kesadaran. Bahwa menjaga hutan bukan tugas orang tua mereka, bukan sekadar proyek pemerintah atau LSM, tapi jalan hidup yang harus mereka pilih sejak muda. Pulau kecil ini mungkin terpisah dari hiruk pikuk daratan Jawa, tapi dari sinilah gelombang perubahan bisa dimulai. Sebab, masa depan FOLU Net Sink bukan sekadar deretan angka dalam dokumen kebijakan, tapi wajah-wajah muda yang pagi ini duduk bersila, menatap lekat pada peta hutan dan bertanya: "Bagaimana caranya kami bisa ikut menjaga?" (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Gandeng SMPN 2 Sibolangit Gelar Aksi Bersih Sambut HKAN 2025

Sibolangit, 8 Agustus 2025. Dalam semangat memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025 yang jatuh pada tanggal 10 Agustus 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Resor Cagar Alam/Taman Wisata Alam (CA/TWA) Sibolangit menyelenggarakan Aksi Bersih Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit pada Rabu (7/8). Kegiatan ini menggandeng siswa SMP Negeri 2 Sibolangit, sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran dan tanggung jawab lingkungan lintas generasi. Sesuai dengan Tema HKAN 2025 yaitu: “Membangun Sinergi antar Generasi untuk Masa Depan” dan tagline “Youth for Conservation, Beyond Expectations”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menanamkan nilai-nilai konservasi sejak usia dini serta mendorong keterlibatan aktif generasi muda dalam menjaga kelestarian alam. Sebanyak 30 siswa SMP Negeri 2 Sibolangit turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Mereka didampingi oleh guru pendamping serta petugas Resor CA/TWA Sibolangit. Dimulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB, para peserta berhasil mengumpulkan 5 (lima) karung goni besar sampah berupa kantongan plastik bekas, botol bekas kemasan air mineral dan sampah kain dari kawasan TWA Sibolangit, sebuah kontribusi nyata dalam menjaga kebersihan dan ekosistem kawasan konservasi. Di akhir kegiatan, salah satu guru pendamping dari SMP N 2 Sibolangit, M. Jupri, S.PDI memberikan apresiasi dan harapan atas pelaksanaan kegiatan ini. “Kami menyambut positif terkait peringatan Hari Konservasi Alam Nasional ini, kita melaksanakan bersih-bersih wilayah TWA Sibolangit secara khusus dan Sibolangit secara umum. Kita lihat sendiri bagaimana situasi di sini, berbagai macam keanekaragaman hayati, hewan-hewan juga masih ada di sini. Kita berpikir membuat perlombaan yang temanya tentang Hari Konservasi Nasional,” ungkapnya. Melalui kegiatan ini, BBKSDA Sumut menegaskan komitmennya untuk mendorong keterlibatan generasi muda sebagai garda terdepan pelestarian alam. Upaya konservasi tak lagi menjadi tugas satu generasi saja, melainkan gerakan kolektif yang menyatukan pengalaman generasi terdahulu dan semangat generasi penerus. Terimakasih atas partisipasi SMP Negeri 2 Sibolangit dalam peringatan Road to HKAN 2025. Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari gerakan besar yang berkelanjutan demi bumi yang lebih lestari. Sumber: Resor CA/TWA Sibolangit - Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 417–432 dari 2.305 publikasi