Sabtu, 29 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Mahasiswa Biologi Unesa Ikuti Smart Patrol di Cagar Alam Gunung Picis

Ponorogo, 3 Maret 2026. Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan kegiatan Smart Patrol pada 26–28 Februari 2026 di Blok Sangubanyu, Cagar Alam Gunung Picis. Patroli ini turut melibatkan mahasiswa magang dari Program Studi Biologi, Universitas Negeri Surabaya (UNESA), sebagai bagian dari pembelajaran lapangan di kawasan konservasi. Patroli dilakukan pada grid 39, 40, 41, 42, 43, 48, 49, 50, 54, dan 55. Tim berjalan menyusuri jalur yang telah ditetapkan sambil merekam koordinat dan temuan menggunakan aplikasi Avenza Map dan SMART Mobile. Pendekatan ini memastikan seluruh data lapangan terdokumentasi secara sistematis dan terintegrasi. Selama kegiatan, tim menemukan lima pal batas, nomor 160, 161, 167, 171, dan 173, dalam kondisi baik dan tidak bergeser, meskipun sebagian angka mulai memudar. Tidak ditemukan indikasi gangguan kawasan seperti perambahan maupun aktivitas ilegal lainnya. Mahasiswa Biologi Unesa terlibat langsung dalam identifikasi flora dan fauna di sepanjang jalur patroli. Sejumlah satwa tercatat, antara lain Keong Darat (Dyakia rumpii & Parmarion sp.), Takur Tohtor (Megalaima armillaris), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), serta Landak Jawa (Hystrix javanica). Keberadaan spesies tersebut menjadi indikator bahwa habitat di kawasan masih mendukung kehidupan satwa liar. Dari sisi vegetasi, tim mencatat dominasi Puspa (Schima wallichii), Morosowo (Engelhardtia spicata), dan Pasang (Lithocarpus elegans). Jenis lain seperti Riwono (Smilax zeylanica), Kemaduh (Dendrocnide stimulans), Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana), Pinus (Pinus merkusii), Bambu (Bambusa sp.), serta Pandan Gunung (Pandanus sp.) menunjukkan karakteristik hutan pegunungan bawah yang relatif terjaga. Hasil patroli menyimpulkan bahwa kondisi Cagar Alam Gunung Picis dalam keadaan aman. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang praktik bagi mahasiswa untuk memahami langsung mekanisme pengawasan kawasan konservasi, mulai dari pemetaan, pencatatan temuan, hingga analisis kondisi ekosistem secara faktual di lapangan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sawah Dibajak, Puluhan Kuntul Turun Berpesta, Harmoni antara Petani dan Burung Air

Gresik, 5 Maret 2026. Hamparan sawah yang baru saja dibajak di Dusun Gadel, Desa Pacuh, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Rabu (4/3/2026), mendadak dipenuhi aktivitas burung air. Lebih dari tiga puluh ekor Kuntul Kecil (Egretta garzetta) terlihat turun ke genangan sawah, memanfaatkan tanah yang baru dibalik untuk mencari makan. Burung-burung putih itu bergerak perlahan di antara pematang dan lumpur yang masih basah. Paruh mereka sesekali menusuk permukaan tanah, menangkap serangga, cacing, hingga organisme kecil yang muncul setelah sawah dibajak. Di antara kelompok kuntul tersebut, beberapa individu burung lain juga tampak memanfaatkan sumber pakan yang sama. Blekok Sawah (Ardeola speciosa), burung air berwarna cokelat dengan garis tubuh yang menyatu dengan warna tanah, terlihat berdiri diam sebelum tiba-tiba menyambar mangsa di genangan air dangkal. Pemandangan itu berlangsung tidak jauh dari Waduk Pacuh, sumber air yang secara ekologis menjadi habitat penting bagi berbagai jenis burung air di kawasan tersebut. Kombinasi antara perairan waduk, sawah tergenang, dan lahan terbuka menciptakan mosaik habitat yang mendukung aktivitas mencari makan bagi banyak spesies burung. Di sisi lain petak sawah, seorang petani tampak duduk di tepi lahan sambil memilah bibit padi yang akan segera ditanam. Aktivitas manusia dan satwa liar berlangsung dalam satu ruang yang sama, tanpa saling mengganggu. Fenomena ini menunjukkan bahwa lanskap pertanian tradisional masih memainkan peran penting dalam mendukung keanekaragaman hayati. Ketika tanah dibalik oleh bajak, berbagai organisme tanah muncul ke permukaan dan menjadi sumber pakan bagi burung air. Dalam konteks ekologi, keberadaan burung-burung tersebut juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem sawah dengan memangsa berbagai organisme yang berpotensi menjadi hama pertanian. Pemandangan sederhana di Dusun Gadel ini menjadi pengingat bahwa sawah bukan hanya ruang produksi pangan, tetapi juga bagian dari sistem ekologi yang lebih luas. Di tempat seperti inilah hubungan lama antara manusia dan alam masih berlangsung, sebuah harmoni yang terbentuk dari aktivitas sehari-hari di lanskap pedesaan. Di bawah langit Balongpanggang yang cerah, kuntul kecil dan blekok sawah terus bergerak di antara lumpur sawah yang baru dibajak, seolah merayakan musim makan yang singkat, hasil dari kerja tangan seorang petani. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pulau Kecil, Peran Besar: Cagar Alam Pulau Noko dalam Jalur Migrasi Burung Dunia

Bawean, 5 Maret 2026. Tidak banyak orang mengetahui bahwa di perairan sekitar Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, terdapat beberapa kawasan konservasi yang memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati. Selain Cagar Alam Pulau Bawean dan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, terdapat pula dua pulau kecil yang juga berstatus kawasan suaka alam, yaitu Cagar Alam Pulau Noko dan Cagar Alam Pulau Nusa. Meski ukurannya relatif kecil dan jarang dikenal luas, kawasan-kawasan ini memiliki fungsi ekologis yang penting, terutama bagi burung air migran yang setiap tahun melintasi jalur migrasi internasional. Peran ekologis tersebut terlihat dari kegiatan Asian Waterbird Census (AWC) 2026 yang dilaksanakan oleh Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada 2 Maret 2026, di Cagar Alam Pulau Noko. Asian Waterbird Census merupakan program pemantauan burung air yang dilakukan secara serentak di berbagai kawasan lahan basah di Asia. Kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan data mengenai jenis burung air, jumlah populasi, serta kondisi habitat yang mereka gunakan. Data tersebut menjadi dasar penting dalam upaya perlindungan burung air dan pengelolaan habitatnya. Dalam kegiatan pengamatan di Pulau Noko, tim mencatat enam spesies burung air yang memanfaatkan kawasan tersebut sebagai tempat singgah. Beberapa di antaranya merupakan burung migran yang melakukan perjalanan sangat jauh dari wilayah utara Asia menuju kawasan selatan. Jenis yang teridentifikasi antara lain Cerek Pasir Besar (Anarhynchus leschenaultii) sebanyak 19 individu, Cerek Besar (Pluvialis squatarola) sebanyak 18 individu, serta Cerek Kernyut (Pluvialis fulva) sebanyak 5 individu. Selain itu, tim juga mengamati Gajahan Penggala (Numenius phaeopus) sebanyak 18 individu, yang termasuk satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 Tahun 2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Pengamatan juga mencatat keberadaan Dara Laut Tengkuk Hitam (Sterna sumatrana) sebanyak 3 individu, yang juga berstatus dilindungi. Serta Cerek Jawa (Anarhynchus javanicus), burung pantai yang merupakan jenis endemik Pulau Jawa dan juga berstatus dilindungi. Keberadaan berbagai jenis burung tersebut menunjukkan bahwa Cagar Alam Pulau Noko masih berfungsi sebagai habitat penting bagi burung air, terutama sebagai tempat singgah bagi burung migran. Dalam perjalanan migrasi yang dapat mencapai ribuan kilometer, burung-burung ini membutuhkan lokasi untuk beristirahat dan mencari makan sebelum melanjutkan perjalanan menuju wilayah tujuan berikutnya. Pulau Noko sendiri berada dalam jalur migrasi burung yang dikenal sebagai East Asian–Australasian Flyway, yaitu jalur migrasi yang menghubungkan wilayah Asia Timur hingga Australia dan menjadi salah satu koridor migrasi burung air terbesar di dunia. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., mengatakan bahwa keberadaan kawasan konservasi di wilayah perairan Bawean memiliki nilai strategis dalam menjaga jalur migrasi burung air. Menurutnya, pulau-pulau kecil seperti Pulau Noko memiliki fungsi penting sebagai tempat singgah bagi burung migran yang menempuh perjalanan sangat jauh. “Pulau-pulau kecil di kawasan perairan Bawean memiliki peran ekologis yang sangat penting, khususnya sebagai habitat dan tempat singgah bagi burung air migran yang melintasi jalur migrasi internasional. Karena itu, upaya pemantauan dan perlindungan kawasan konservasi perlu terus diperkuat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kegiatan Asian Waterbird Census menjadi salah satu instrumen penting dalam memantau kondisi populasi burung air serta memastikan habitatnya tetap terjaga. Melalui kegiatan pemantauan rutin seperti ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur terus berupaya memastikan bahwa kawasan suaka alam tetap berfungsi sebagai habitat penting bagi satwa liar sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir. Di tengah luasnya perairan Laut Jawa, Pulau Noko mungkin terlihat kecil di peta. Namun bagi burung-burung yang menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi benua dan samudra, pulau kecil ini adalah tempat singgah yang sangat berarti dalam perjalanan panjang mereka. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) & Ach. Onky Pryono (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ramadhan di SDN Guwoterus 2, Kesadaran Konservasi Ditumbuhkan

Tuban, 4 Maret 2026. Suasana Ramadhan menyelimuti SDN Guwoterus 2, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, pada 3 Maret 2026. Di tengah ritme belajar yang lebih tenang karena puasa, ruang kelas sekolah dasar yang berada di desa penyangga Cagar Alam Gua Nglirip itu justru dipenuhi antusiasme berbeda. Hari itu, Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menggelar kegiatan Visit to School. Sekolah tersebut dipilih karena lokasinya berbatasan dengan kawasan konservasi. Kedekatan geografis itu membuat interaksi antara warga dan kawasan hutan menjadi bagian dari keseharian. Edukasi dipandang sebagai langkah awal untuk memperkuat pemahaman tentang batas, fungsi, dan tanggung jawab dalam menjaga kawasan yang dilindungi. Materi yang disampaikan mencakup arti penting hutan sebagai penyangga kehidupan, pengenalan status Cagar Alam Gua Nglirip, hingga identifikasi tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi. Penjelasan juga diberikan mengenai konsekuensi hukum terhadap pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang konservasi. Di dalam kelas, siswa-siswi mengikuti kegiatan dengan perhatian penuh. Meski menjalankan ibadah puasa, mereka aktif bertanya dan menyimak paparan tentang fungsi ekologis hutan sebagai pengatur tata air, pencegah erosi, serta habitat keanekaragaman hayati. Kawasan yang selama ini mereka kenal sebagai bagian dari lanskap desa kini dipahami sebagai wilayah dengan nilai konservasi yang tinggi dan perlindungan ketat. Kegiatan tidak berhenti pada penyampaian materi. Sejumlah bibit tanaman diserahkan kepada pihak sekolah untuk ditanam di lingkungan sekitar. Bibit tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran berkelanjutan sekaligus simbol bahwa upaya menjaga alam dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Pelaksanaan kegiatan di bulan Ramadhan memberi makna tambahan. Momentum pengendalian diri dan refleksi menjadi selaras dengan pesan konservasi: menjaga keseimbangan, menghindari kerusakan, serta merawat keberlanjutan. Dari ruang kelas sederhana di desa penyangga itu, penanaman kesadaran dilakukan, sebagai bagian dari strategi jangka panjang menjaga kawasan konservasi tetap lestari. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Air Berbelok, Sampah Tertahan, Patroli SMART Pastikan CA Manggis Tetap Aman

Kediri, 4 Maret 2026. Tim SMART Patrol Resort Konservasi Wilayah (RKW) 01 Kediri melaksanakan patroli rutin di kawasan Cagar Alam Manggis. Patroli dilakukan untuk memantau potensi dampak limpasan sampah plastik akibat hujan deras yang mengarah ke kawasan konservasi (03/03/2026). Di sekitar Pal 14, tim menemukan saluran air yang membawa material sampah plastik dan sedimen. Sumbatan terjadi di rajeg penyaring sampah yang dibangun pada akhir Desember 2024. Material sedimen dan sampah yang tertahan menyebabkan aliran air tidak lagi menembus tanah, melainkan membentuk jalur baru di atas tanggul sedimen dan berbelok ke arah selatan. Akibatnya, tumpukan sampah baru teridentifikasi di areal produksi Perhutani, sekitar 200 meter di sisi selatan kawasan konservasi. Namun, hingga patroli dilakukan, tidak ditemukan indikasi masuknya sampah plastik ke dalam kawasan Cagar Alam. Kawasan inti dinyatakan dalam kondisi aman dari potensi cemaran pada musim hujan tahun ini. Selain memantau saluran air, tim juga menemukan Pal Batas 10 dalam kondisi rusak. Sebagian struktur beton pecah dan tulang besi terlihat. Kerusakan ini dinilai perlu segera ditindaklanjuti untuk menjaga kejelasan batas kawasan. Pada titik yang sama, petugas memeriksa kamera trap yang terpasang untuk pemantauan satwa. Peralatan dilaporkan dalam kondisi aman dan masih terpasang sesuai posisi awal. Di sekitar lokasi, tim mendapati banyak semai kedawung tumbuh alami di bawah tegakan induknya, menunjukkan proses regenerasi yang berlangsung baik. Satu individu anakan ular Sanca kembang (Malayopython reticulatus) dengan panjang kurang dari satu meter juga terpantau di area buffer zone sekitar Pal 10. Satwa tersebut tidak menunjukkan perilaku agresif dan dibiarkan kembali ke habitat alaminya. Patroli rutin yang dilaksanakan menjadi instrumen penting untuk deteksi dini gangguan kawasan, terutama pada musim hujan ketika risiko limpasan sampah dan perubahan aliran air meningkat. Patroli ini menegaskan dua hal, bahwa tekanan dari luar kawasan tetap ada, tetapi sistem pengamanan dan pemantauan di lapangan masih bekerja. Upaya perawatan infrastruktur batas dan pengelolaan saluran air akan menjadi tindak lanjut berikutnya untuk memastikan integritas kawasan tetap terjaga. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tersesat di Rumah Warga, Mamalia Bersisik Dievakuasi dan Dilepasliarkan ke Kaki Gunung Kelud

Blitar, 4 Maret 2026. Seekor Trenggiling Jawa ditemukan masuk ke rumah warga di Kota Blitar pada Rabu, 25 Februari 2026. Satwa dilindungi itu dilaporkan masyarakat kepada Tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Setelah melalui proses evakuasi dan koordinasi lintas lembaga, Trenggiling tersebut dilepasliarkan ke kawasan hutan lindung di kaki Gunung Kelud. Laporan awal diterima pada 25 Februari 2026. Tim MATAWALI segera melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan jenis satwa dan kondisi kesehatannya. Berdasarkan hasil identifikasi, satwa tersebut adalah Trenggiling Jawa (Manis javanica), spesies yang dilindungi undang-undang dan berstatus terancam punah akibat perburuan serta perdagangan ilegal. Pada Kamis, 26 Februari 2026, Seksi KSDA Wilayah I Kediri berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kota Blitar untuk penanganan teknis evakuasi. Selain itu, dilakukan sosialisasi mengenai tugas dan fungsi Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam penyelamatan satwa liar yang masuk ke permukiman. Penanganan lanjutan dilaksanakan pada 2 Maret 2026 hingga satwa dinyatakan aman untuk dilepasliarkan. Proses pelepasliaran dilakukan setelah Tim MATAWALI berkoordinasi dengan Perum Perhutani KPH Blitar dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Karang Rejo. Lokasi yang dipilih berada di Hutan Lindung RPH Penataran, BKPH Wlingi, KPH Blitar. Lokasi ini berada di Desa Karang Rejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, tepat di kawasan kaki Gunung Kelud. Titik pelepasliaran dipilih dengan mempertimbangkan tutupan vegetasi, ketersediaan pakan alami, dan tingkat gangguan manusia yang relatif rendah. Pada kegiatan ini, terlihat jelas bahwa koordinasi lintas pihak menjadi kunci dalam penanganan kasus satwa liar yang masuk ke permukiman. Sinergi antara instansi pemerintah, pengelola hutan, dan masyarakat dinilai penting untuk memastikan keselamatan satwa sekaligus mencegah potensi konflik dengan manusia. Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa masuknya satwa liar ke kawasan permukiman dapat menjadi indikator adanya tekanan habitat. Upaya penyelamatan dan pelepasliaran diharapkan tidak hanya menyelesaikan kasus individual, tetapi juga meningkatkan kesadaran masyarakat untuk segera melapor apabila menemukan satwa liar dilindungi di sekitar tempat tinggal mereka. Dengan pelepasliaran tersebut, satu individu trenggiling kembali ke habitat alaminya. Bagi pengelola kawasan, langkah ini merupakan bagian dari mandat perlindungan keanekaragaman hayati sekaligus implementasi penguatan pengawasan terhadap tumbuhan dan satwa liar di Jawa Timur. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Viral Monyet di Kencong, Tiga Ekor Dievakuasi Tim MATAWALI BBKSDA Jatim

Jember, 2 Maret 2026. Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui Tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal (MATAWALI) Bidang KSDA Wilayah III, Balai Besar KSDA Jawa Timur, mengevakuasi tiga ekor monyet di Dusun Gumuk Banji, Desa Kencong, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember (02/03/2026). Penanganan dilakukan menyusul laporan masyarakat terkait satwa yang berkeliaran di permukiman dan sempat viral di media sosial. Satu ekor monyet jantan pertama kali diamankan setelah tim menerima laporan pada 25 Februari 2026. Satwa tersebut kerap memasuki rumah warga dan menimbulkan keresahan. Setelah asesmen lapangan dan koordinasi dengan masyarakat setempat, tim memasang kandang jebak di lokasi yang sering didatangi satwa. Pada Senin (02/03/2026), bersama Kanit Reskrim Polsek Kencong, tim menuju titik penangkapan. Monyet ditemukan telah masuk kandang jebak yang ditempatkan di lantai dua ruko milik warga. Proses evakuasi berlangsung aman dan terkendali. Hasil identifikasi menunjukkan satwa tersebut merupakan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), berjenis kelamin jantan, dalam kondisi hidup. Secara nasional, jenis ini tidak termasuk satwa dilindungi, namun tercantum dalam Appendix II CITES sehingga perdagangannya diawasi secara ketat di tingkat internasional. Satwa kemudian dibawa ke kandang transit Bidang KSDA Wilayah III untuk menjalani observasi kesehatan, perawatan, dan tahapan rehabilitasi lebih lanjut. Proses pengamanan dan penyerahan didokumentasikan dalam berita acara resmi. Pada hari yang sama, tim juga mengevakuasi dua ekor Monyet Ekor Panjang yang dimanfaatkan dalam aktivitas “topeng monyet” di depan Kantor Polsek Kencong. Penanganan dilakukan dengan dukungan aparat kepolisian setempat. Kedua satwa kini berada di kandang transit untuk proses penanganan lanjutan. Kehadiran Monyet Ekor Panjang di kawasan permukiman bukan fenomena tunggal. Jenis primata ini dikenal adaptif dan mampu bertahan di berbagai tipe habitat, termasuk lanskap yang berdekatan dengan aktivitas manusia. Perubahan tutupan lahan, ketersediaan pakan, serta interaksi yang tidak terkontrol dapat mendorong satwa mendekati ruang hidup warga. Melalui kegiatan ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan komitmennya dalam merespons laporan masyarakat secara cepat dan profesional, dengan tetap mengedepankan prinsip keselamatan publik dan kesejahteraan satwa liar. Upaya penyelamatan di Kencong menjadi bagian dari langkah mitigasi konflik manusia dan satwa liar, sekaligus penguatan peran kolaboratif antara masyarakat, aparat penegak hukum, dan otoritas konservasi di tingkat tapak. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pemulihan Ekosistem 2026 Dimulai, Plang Pemulihan Ekosistem Telah Terpasang di SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut

Stabat, 3 Maret 2026 – Komitmen pemulihan ekosistem terus berlanjut di kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut). Sebanyak20 plang pemulihan ekosistem telah terpasang pada 24-27 Februari 2026 sebagai bagian dari kegiatan pemulihan ekosistem (PE) Tahun 2026 di kawasan tersebut. Kegiatan ini merupakan dari program rehabilitasi yang didukung oleh Pemerintah Jerman (KfW) melalui Forest Programme VI. Sebagai bagian dari program tersebut, kegiatan PE Tahun 2026 mencakup pemulihan ekosistem seluas 398 hektar, yang terdiri dari target penanaman tahun 2026 seluas 300 hektar dan carry over target tahun 2025 seluas 98 hektar serta penanaman tanaman batas hidup sepanjang 27 kilometer. Keberlanjutan program dari tahun ke tahun menunjukkan konsistensi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara dalam mengembalikan fungsi ekologis kawasan sekaligus memperkuat perlindungan di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Dalam pelaksanaannya, pemasangan plang dilakukan secara serentak di tiga resor, yakni Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I, II dan III. Kegiatan ini melibatkan petugas resor, fasilitator desa, Masyarakat Mitra Polhut (MMP) serta anggota Kelompok Tani Hutan (KTH). Kolaborasi tersebut menjadi bukti nyata bahwa pemulihan ekosistem bukan hanya tanggung jawab penglola kawasan, tetapi juga membutuhkan dukungan serta peran aktif masyarakat sekitar kawasan konservasi. Pemasangan plang ini memiliki peran penting sebagai penanda lokasi kegiatan pemulihan ekosistem sekaligus memperjelas area yang akan dipulihkan. Keberadaan plang diharapkan dapat mendukung efektivitas pelaksanaan kegiatan, meningkatkan pengawasan, serta memperkuat transparansi program di lapangan. Secara rinci, di Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I telah terpasang 10 plang pemulihan ekosistem, di Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut II terpasang 3 plang pemulihan ekosistem, sedangkan di Resor SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut III terpasang 7 plang pemulihan ekosistem. Pemasangan plang pemulihan ekosistem ini menjadi langkah awal sebelum tahapan penanaman dilaksanakan secara bertahap di seluruh area yang telah direncanakan. Melalui kesinambungan program pemulihan ekosistem ini, diharapkan kondisi tutupan lahan dan kualitas habitat di SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut semakin membaik, sehingga mampu mendukung kelestarian satwa liar dan keseimbangan ekosistem dalam jangka panjang. Sumber: Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Rimba Bawean, Menghidupkan Makna Hari Satwa Liar Sedunia 2026

Gresik, 3 Maret 2026. Setiap tanggal 3 Maret, dunia memperingati World Wildlife Day atau Hari Satwa Liar Sedunia, sebuah momentum global yang ditetapkan untuk mengenang adopsi Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES) pada 1973. Sejak ditetapkan oleh Majelis Umum PBB pada 2013, hari ini menjadi panggilan bersama untuk memastikan bahwa satwa dan tumbuhan liar tetap menjadi bagian dari masa depan umat manusia. Tahun 2026, tema yang diangkat adalah “Medicinal and Aromatic Plants: Conserving Health, Heritage and Livelihoods” sebuah pengingat bahwa konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan spesies dari kepunahan, tetapi juga menjaga kesehatan manusia, warisan budaya, serta mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada alam. Ketika Tanaman Menjadi Penjaga Kehidupan Tanaman obat dan aromatik (Medicinal and Aromatic Plants/MAPs) telah menjadi fondasi sistem kesehatan tradisional di berbagai belahan dunia. Mereka menyediakan senyawa bioaktif bagi pengobatan modern, menopang industri herbal dan farmasi, serta menjadi sumber ekonomi masyarakat lokal. Namun eksploitasi berlebihan dan hilangnya habitat telah menempatkan banyak spesies dalam tekanan serius. Konservasi tumbuhan liar kini menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi ketahanan kesehatan global. Bawean, Laboratorium Alam di Tengah Laut Jawa Di Jawa Timur, komitmen tersebut diterjemahkan tidak hanya dalam perlindungan satwa karismatik, tetapi juga melalui pendekatan ilmiah terhadap potensi tumbuhan liar. Salah satu contoh strategis adalah kegiatan bioprospeksi di kawasan suaka alam Pulau Bawean, wilayah yang dikelola oleh Balai Besar KSDA Jawa Timur. Pulau Bawean tidak hanya dikenal sebagai habitat endemik Rusa Bawean, tetapi juga menyimpan kekayaan flora tropis yang belum sepenuhnya terungkap. Di antara vegetasi hutan dataran rendah hingga perbukitan, tumbuh jenis-jenis dari marga Prunus seperti Prunus javanica dan Prunus arborea. Kedua jenis ini menarik perhatian ilmiah karena kandungan metabolit sekundernya yang berpotensi memiliki nilai farmakologis, mulai dari aktivitas antioksidan hingga potensi senyawa bioaktif lainnya yang relevan bagi kesehatan manusia. Dalam konteks global yang mengangkat pentingnya tanaman obat dan aromatik, keberadaan Prunus sp. di Bawean menjadi representasi nyata bagaimana kawasan konservasi menyimpan peluang riset berkelanjutan. Bioprospeksi, Ilmu Pengetahuan Tanpa Merusak Alam Bioprospeksi yang dilakukan di Kawasan Suaka Alam Pulau Bawean tidak dimaknai sebagai eksploitasi, melainkan sebagai pendekatan ilmiah berbasis konservasi. Penelitian dilakukan dengan prinsip kehati-hatian, memastikan bahwa pengambilan sampel tidak mengganggu populasi alami dan tetap berada dalam koridor regulasi konservasi. Pendekatan ini menegaskan bahwa kawasan konservasi bukan hanya ruang perlindungan, tetapi juga pusat pengetahuan, tempat biodiversitas dipelajari untuk kepentingan umat manusia tanpa mengorbankan kelestariannya. Lebih jauh, potensi tanaman obat seperti Prunus javanica dan Prunus arborea memiliki dimensi sosial. Jika dikembangkan melalui skema penelitian dan kemitraan yang adil, nilai tambahnya dapat membuka peluang ekonomi berbasis konservasi bagi masyarakat lokal, sekaligus menjaga warisan pengetahuan tradisional tentang pemanfaatan tumbuhan hutan. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa tema Hari Satwa Liar Sedunia 2026 selaras dengan arah kebijakan konservasi di Jawa Timur. Menurutnya, konservasi modern harus memadukan perlindungan spesies, penguatan ilmu pengetahuan, dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, kawasan suaka alam tidak hanya menjadi benteng terakhir biodiversitas, tetapi juga fondasi ketahanan kesehatan dan ekonomi lokal. “Tanaman obat dan aromatik mengajarkan kita bahwa hutan bukan sekadar bentang hijau, melainkan sumber kehidupan. Melalui pendekatan perlindungan habitat, pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa liar, serta dukungan terhadap penelitian berbasis konservasi seperti bioprospeksi di Bawean, kita berupaya memastikan bahwa keanekaragaman hayati tetap lestari dan memberi manfaat berkelanjutan bagi masyarakat,” tambahnya. Lebih dari Sekadar Peringatan Hari Satwa Liar Sedunia 2026 mengajak kita memahami bahwa masa depan kesehatan manusia bisa jadi tersembunyi di balik kanopi hutan tropis. Di Pulau Bawean, di antara desir angin dan tanah lembap yang menyimpan jejak satwa endemik, tumbuh pohon-pohon yang mungkin memegang kunci pengobatan masa depan. Konservasi bukanlah pilihan romantis. Ia adalah strategi keberlanjutan. Karena ketika kita menjaga tumbuhan liar hari ini, kita sedang menjaga warisan pengetahuan, peluang ekonomi, dan harapan kesehatan generasi esok. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Duri yang Tertinggal di Tanah Lembap Berbatu, Membuka Tabir Misteri Mamalia Rimba Bawean 2026

Bawean, 2 Maret 2026. Di lereng berbatu dengan kemiringan sekitar 35 derajat di Blok Gunung Besar, langkah tim SMART Patrol pembuka 2026 terhenti pada sebuah detail kecil, sebatang duri hitam-putih tergeletak di tanah lembap, di antara batu vulkanik dan akar yang mencengkeram lereng (17/02/26). Temuan itu sederhana, namun bermakna. Ia diduga kuat berasal dari Hystrix javanica atau landak Jawa, mamalia nokturnal yang selama ini lebih sering terekam daripada terlihat langsung di Rimba Bawean. Temuan fisik ini menjadi penguat terbaru atas indikasi keberadaan landak di Suaka Alam Pulau Bawean, sekaligus membuka bab awal konservasi 2026 dengan pendekatan berbasis data. Rangkaian Bukti: 2023–2025 hingga Konfirmasi Lapangan 2026 Indikasi kehadiran Landak di Blok Gunung Besar bukanlah peristiwa tunggal. Sejak 2023, kamera trap yang dipasang di kawasan tersebut merekam sosok mamalia berduri yang aktif pada malam hari. Rekaman serupa kembali muncul pada 2024 dan terakhir pada 2025, di titik yang masih berada dalam lanskap Blok Gunung Besar. Secara kronologis, tiga tahun berturut-turut rekaman kamera trap itu menunjukkan pola konsisten dengan aktivitas dominan pada malam hari, pergerakan lambat menyusuri jalur bawah kanopi serta profil tubuh membulat dengan tonjolan duri yang khas. Dalam metodologi pemantauan satwa liar, rekaman berulang dalam rentang waktu berbeda pada lokasi yang relatif sama memperkuat dugaan keberadaan populasi yang menetap, bukan sekadar individu jelajah sesaat. Namun, rekaman visual tetap memerlukan penguatan bukti biologis. Duri yang ditemukan pada awal 2026 di lereng terjal Gunung Besar menjadi bukti fisik pertama yang teridentifikasi langsung di lapangan. Secara morfologi, duri Hystrix javanica memiliki pola cincin hitam-putih dan struktur keratin keras yang berfungsi sebagai pertahanan diri. Duri dapat terlepas akibat gesekan vegetasi atau respons terhadap ancaman predator. Lanskap Gunung Besar: Habitat yang Mendukung Secara geografis, Pulau Bawean merupakan pulau vulkanik seluas ±196 km² di Laut Jawa, dengan topografi perbukitan dan lereng curam. Blok Gunung Besar dikenal memiliki substrat berbatu dan tutupan vegetasi yang relatif rapat. Kemiringan sekitar 35 derajat di lokasi temuan bukan sekadar angka. Lereng seperti ini relatif minim gangguan manusia dan menyediakan celah batu alami yang potensial menjadi tempat berlindung atau sarang. Landak dikenal memanfaatkan liang tanah maupun celah batu untuk bersembunyi pada siang hari. Sebagai herbivora nokturnal, landak memakan umbi, akar, dan buah hutan. Keberadaannya mencerminkan ketersediaan sumber pakan dan struktur vegetasi yang masih berfungsi secara ekologis. Dalam konteks pulau kecil seperti Bawean—yang secara teori biogeografi memiliki jumlah spesies terbatas akibat isolasi—setiap tambahan bukti keberadaan mamalia berukuran sedang memiliki arti signifikan bagi pemahaman struktur komunitas satwa. Antara Misteri dan Kehati-hatian Ilmiah Rangkaian rekaman kamera trap 2023, 2024, dan 2025 yang terpusat di Blok Gunung Besar, ditambah temuan duri pada awal 2026, membentuk satu alur data yang semakin kuat. Meski demikian, Balai Besar KSDA Jawa Timur tetap menempatkan proses verifikasi sebagai prioritas. Langkah tindak lanjut meliputi analisis morfologi duri secara detail dan pembandingan referensi taksonomi, intensifikasi kamera trap di radius sekitar titik temuan, survei jejak tambahan dan identifikasi kemungkinan lokasi sarang serta pemetaan spasial untuk memahami pola jelajah. Pendekatan ini memastikan bahwa setiap simpulan berdiri di atas validasi ilmiah yang terukur. Di tanah lembap berbatu lereng Gunung Besar, duri kecil itu menjadi simbol kesinambungan data dari jejak digital kamera jebak tiga tahun berturut-turut hingga bukti biologis langsung di awal 2026. Ia bukan sensasi. Ia adalah akumulasi ketekunan pemantauan. Jika konfirmasi lanjutan menguatkan keberadaan populasi menetap, maka Blok Gunung Besar akan tercatat sebagai salah satu habitat penting mamalia nokturnal di Bawean. Dan dari duri yang tertinggal itu, tabir misteri mamalia Rimba Bawean perlahan berubah menjadi pengetahuan, tentang pulau kecil yang tetap menyimpan denyut kehidupan di balik lereng-lereng terjalnya. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Enam Bangau di Tambak Garam Madura, Isyarat Sunyi dari Spesies Terancam

Sumenep, 2 Maret 2026. Enam individu Bangau Bluwok (Mycteria cinerea) terpantau di tambak garam Desa Gresik Putih, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep (27/02/26). Temuan itu dicatat dalam kegiatan pemantauan burung air oleh tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 11 Sumenep, Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang diawali dari Kecamatan Kalianget di ujung timur Pulau Madura. Keenam burung tersebut terlihat berkelompok dan berasosiasi dengan bangau putih di perairan dangkal tambak. Berdasarkan informasi lapangan dan rujukan konservasi, kawasan pesisir ini termasuk bentang yang memiliki nilai penting bagi burung air, terutama spesies terancam. Menurut penilaian International Union for Conservation of Nature melalui IUCN Red List, Bangau Bluwok berstatus Endangered (Terancam Punah) dengan tren populasi menurun. IUCN memperkirakan populasi global spesies ini berada pada kisaran 1.800–2.200 individu dewasa. Indonesia disebut sebagai salah satu benteng utama populasi dunia, bersama Malaysia dan sebagian kecil Kamboja. Spesies ini juga tercantum dalam Appendiks I CITES, yang membatasi perdagangan internasionalnya, serta termasuk satwa yang dilindungi dalam regulasi nasional Indonesia. Sejumlah laporan konservasi regional dan penghitungan burung air Asia (Asian Waterbird Census) menyebutkan bahwa populasi di Pulau Jawa diperkirakan tinggal beberapa ratus individu, dengan sebaran terfragmentasi di pesisir utara. Meski angka pastinya bervariasi antar-laporan, para peneliti sepakat bahwa populasi regional berada pada tingkat yang sangat rentan. Secara ekologis, Bangau Bluwok bergantung pada ekosistem mangrove, estuaria, dan lahan basah dangkal sebagai lokasi mencari makan dan berkembang biak. Paruhnya yang panjang digunakan untuk mendeteksi ikan kecil dan krustasea di air keruh. Berbagai kajian ilmiah menunjukkan bahwa konversi mangrove menjadi tambak intensif, pembangunan pesisir, serta gangguan di lokasi bersarang menjadi faktor utama penyusutan populasi di Asia Tenggara. Fragmentasi habitat membuat koloni berbiak semakin jarang ditemukan. Dalam konteks populasi global yang kecil dan terfragmentasi, temuan satu kelompok berjumlah enam individu memiliki nilai konservasi yang signifikan. Setiap lokasi yang masih mendukung keberadaan Bangau Bluwok berpotensi menjadi kantong habitat penting atau area persinggahan (foraging site) dalam dinamika pergerakan regional. Pemantauan berkala, perlindungan mangrove penyangga, serta kolaborasi dengan masyarakat tambak menjadi langkah krusial untuk menjaga fungsi ekologis pesisir Madura. Di tengah lanskap garam yang tampak tenang itu, enam bangau berdiri tanpa suara. Namun data ilmiah di balik keberadaan mereka berbicara jelas, bahwa spesies ini berada dalam tekanan serius. Dan setiap catatan lapangan hari ini, bisa menjadi pijakan penyelamatan esok hari. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji dan Didik Sutrisno – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Elang Paria dari Ladang Jagung Lamongan, Migran Tersesat atau Jejak Interaksi Manusia?

Lamongan, 2 Maret 2026. Seekor burung pemangsa jenis Elang Paria dievakuasi Tim Penyelamatan Satwa Liar (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA Jatim) pada Sabtu, 28 Februari 2026. Satwa tersebut diserahkan secara sukarela oleh warga Desa Moronyamplung, Kecamatan Kembangbahu - Lamongan, setelah berada di sekitar permukiman selama kurang lebih satu bulan. Laporan diterima petugas pada Jumat malam, 27 Februari 2026. Keesokan harinya, dua personel Polisi Kehutanan, Yudianang Indra Irwan dan Deswara Hergo Pamadya melakukan penjemputan di lokasi. Proses serah terima berlangsung tanpa kendala, dan burung langsung ditranslokasikan ke Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur untuk pemeriksaan lanjutan. Menurut keterangan Jaenal Abidin, warga setempat, elang itu pertama kali ditemukan saat ia menggarap lahan jagung miliknya. Burung terlihat mengais tumpukan klobot. Ketika didekati, satwa tidak terbang menjauh. Ia justru mendekat. Jaenal sempat mencoba melepasliarkannya di area persawahan belakang rumah. Namun burung tersebut kembali pada malam hari dan pada siang hari dilaporkan mengganggu ternak warga. Mengetahui bahwa elang termasuk satwa dilindungi, ia kemudian menghubungi BBKSDA Jawa Timur. Hasil identifikasi menyatakan satwa tersebut satu individu elang paria dalam kondisi hidup. Jenis ini dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 Tahun 2018 dan tercantum dalam Appendix II CITES. Secara global, statusnya dalam Daftar Merah IUCN adalah Least Concern. Sebaran Global dan Catatan di Jawa Timur Secara biogeografis, Milvus migrans merupakan raptor dengan sebaran sangat luas. Populasinya terdapat di Eropa, Afrika, Asia Barat, Asia Tengah, Asia Selatan dan sebagian Asia Tenggara. Beberapa subspesies bermigrasi lintas-benua mengikuti musim berkembang biak dan ketersediaan pakan. Habitat alaminya berupa lanskap terbuka, padang rumput, lahan pertanian, tepian sungai, kawasan pesisir, hingga wilayah urban tertentu. Spesies ini dikenal oportunistik dan toleran terhadap perubahan lingkungan. Namun di Pulau Jawa, khususnya Jawa Timur, Elang Paria bukan jenis yang umum tercatat sebagai populasi menetap. Dokumentasi lapangan lebih sering mencatat jenis raptor lokal lainnya. Karena itu, kemunculan individu ini di Lamongan memunculkan dua kemungkinan ilmiah, burung migran yang menyimpang jalur atau individu yang pernah dipelihara lalu lepas. Perilaku mendekati manusia dan kembali ke permukiman mengindikasikan adanya anomali perilaku. Pada raptor liar, respons alami adalah menghindar dari manusia. Penyimpangan ini bisa dipengaruhi faktor kesehatan, kelelahan migrasi, atau habituasi akibat interaksi sebelumnya. Di Unit Penyelamatan Satwa, elang akan menjalani, Pemeriksaan fisik dan diagnostik untuk mendeteksi cedera atau gangguan metabolik. Observasi respons terhadap pakan alami guna menilai kemampuan berburu serta Evaluasi perilaku untuk menentukan tingkat ketergantungan terhadap manusia. Apabila dinyatakan sehat dan menunjukkan perilaku liar yang memadai, pelepasliaran akan mempertimbangkan kesesuaian habitat terbuka serta jarak aman dari permukiman. Jika ditemukan indikasi pernah dipelihara, pendekatan rehabilitasi akan dilakukan lebih intensif sebelum keputusan rilis diambil. Kasus ini tidak berdiri sendiri. Lanskap agraris Jawa Timur yang semakin intensif membuka kemungkinan perjumpaan lebih sering antara satwa liar dan manusia. Pada spesies oportunistik seperti elang paria, ruang-ruang terbuka pertanian dapat menjadi area persinggahan sementara. Namun konservasi tidak berhenti pada penyelamatan individu. Edukasi publik mengenai larangan pemeliharaan satwa dilindungi serta prosedur pelaporan resmi menjadi bagian penting tindak lanjut. Di Lamongan, satu keputusan warga mencegah potensi pelanggaran hukum dan memberi ruang bagi penanganan ilmiah. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, kasus ini menjadi pengingat bahwa setiap temuan satwa liar di luar pola sebaran umumnya perlu diperlakukan bukan hanya sebagai insiden, tetapi juga sebagai data ekologis yang mencerminkan dinamika lingkungan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Saka Wanabakti dan Balai TN Taka Bonerate Satukan Kebersamaan Lewat Takjil dan Buka Puasa

Benteng - Kepulauan Selayar, 28 Februari 2026. Mengisi bulan suci Ramadan dengan kegiatan positif, Saka Wanabakti Kwarcab Kepulauan Selayar mengadakan acara Buka Puasa Bersama dan Berbagi Takjil. Kegiatan ini berlangsung Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 16.00 WITA hingga selesai, bertempat di Balai Taman Nasional Taka Bonerate yang juga sabagai pangkalan Saka Wanabakti Kwarcab Kepulauan Selayar. Acara ini tidak hanya bertujuan mempererat tali silaturahmi antaranggota, tetapi juga menumbuhkan jiwa sosial melalui berbagi takjil kepada masyarakat sekitar. “Kami ingin momen Ramadan ini menjadi sarana untuk meningkatkan kepedulian dan kebersamaan, baik internal anggota maupun dengan masyarakat,” ujar ketua panitia, Nur Fazila Aynun Nisa. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi ajang memperkuat hubungan kelembagaan antara Saka Wanabakti dan Balai Taman Nasional Taka Bonerate sebagai pembina. Diharapkan, kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut di masa mendatang. Dengan semangat berbagi dan kebersamaan, panitia mengajak seluruh anggota untuk berpartisipasi aktif. Semoga kegiatan ini membawa berkah dan manfaat bagi semua pihak yang terlibat. Sumber: Asri (Balai TN Taka Bonerate) dan Tim Dokumentasi Saka Wanabakti Kwarcab Kepulauan Selayar
Baca Artikel

Refleksi Tahun Ketiga Pemulihan Ekosistem di Cagar Alam Pulau Bawean

Bawean, 27 Februari 2026. Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kembali menapaki lereng-lereng Cagar Alam Pulau Bawean, Kabupaten Gresik (25/02/2026). Di atas areal ±10 hektar yang pernah mengalami degradasi, kegiatan pemeliharaan sekaligus evaluasi pemulihan ekosistem dilaksanakan, melanjutkan upaya yang dimulai sejak 2023 melalui penanaman ±4.400 batang tanaman lokal penyusun hutan. Tiga tahun mungkin terdengar singkat dalam hitungan waktu manusia. Namun bagi hutan yang sedang belajar pulih, tiga tahun adalah fase yang menentukan. Sebagian kawasan yang kini dirawat pernah menjadi ruang terbuka akibat gangguan kebakaran skala kecil dan tekanan aktivitas manusia. Tegakan yang semestinya rapat menjadi jarang. Tanah kehilangan pelindungnya. Struktur tajuk terputus. Hutan tropis bekerja seperti jaringan yang saling menopang. Ketika satu bagian melemah, yang lain ikut terdampak, dari kualitas tanah hingga ketersediaan pakan satwa. Pemulihan dimulai pada 2023 melalui pengkayaan jenis menggunakan Nyamplung, Gondang, Binong, Pangopa, dan Sentul. Jenis-jenis ini dipilih bukan semata karena mudah tumbuh, tetapi karena perannya dalam membangun kembali struktur ekologis. Namun seperti semua proses alami, hutan tidak bisa dipaksa kembali utuh. Ia membutuhkan waktu, konsistensi, dan kesabaran. Tahun Ketiga, Antara Harapan dan Ketahanan Dalam ilmu restorasi, tiga tahun pertama adalah masa uji ketahanan. Tanaman muda berhadapan dengan gulma yang agresif, variasi kondisi tanah, dan dinamika cuaca yang tak selalu bersahabat. Pemeliharaan dilakukan melalui penyiangan selektif, pemupukan sesuai kebutuhan tapak, serta penyulaman terbatas pada tanaman mati. Setiap batang diperiksa. Setiap plot diamati. Sepuluh plot permanen berukuran 20 x 20 meter dibangun sebagai dasar evaluasi ilmiah. Tinggi tanaman diukur. Diameter batang dicatat. Tingkat kelangsungan hidup dihitung melalui metode Survival Rate. Data menjadi cermin. Ia menunjukkan bukan hanya apa yang berhasil, tetapi juga apa yang perlu diperbaiki. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa pemulihan ekosistem bukan sekadar kegiatan teknis tahunan.“Pemulihan ekosistem adalah komitmen jangka panjang. Kita tidak hanya menanam pohon, tetapi memastikan hutan kembali menjalankan fungsinya sebagai habitat satwa dan sistem penyangga kehidupan,” ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa keberhasilan tidak diukur dari seberapa cepat perubahan terlihat, tetapi dari konsistensi menjaga arah. Di lapangan, pengendali ekosistem hutan, polisi kehutanan, penyuluh, hingga tenaga teknis dan masyarakat bekerja bersama. Tidak ada peran yang lebih besar dari yang lain. Semua menyatu dalam satu tujuan, untuk memastikan kawasan suaka alam tetap berfungsi sebagaimana mestinya. Cagar Alam Pulau Bawean adalah habitat bagi berbagai jenis tumbuhan dan satwa liar, termasuk Rusa Bawean (Axis kuhlii), satwa endemik yang hanya ditemukan secara alami di pulau ini. Satwa liar tidak menyampaikan keluhan ketika habitatnya menyempit. Mereka hanya menyesuaikan diri atau menghilang. Ketika vegetasi mulai menutup kembali lahan terbuka, ketika regenerasi alami muncul tanpa ditanam, ketika gangguan kawasan menurun, itulah tanda bahwa ruang hidup mereka perlahan membaik. Pemulihan vegetasi berarti memulihkan keseimbangan yang lebih luas. Hutan dan Kesabaran Tidak ada perubahan yang dramatis di lokasi pemulihan. Tidak ada transformasi yang seketika memukau. Yang ada hanyalah pucuk-pucuk yang tumbuh beberapa sentimeter lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Batang yang sedikit lebih besar diameternya. Anakan liar yang mulai muncul di bawah tegakan muda. Perubahan kecil, namun konsisten. Konservasi jarang menghadirkan sorotan cepat. Ia lebih sering berupa kerja sunyi yang terus berulang. Tahun ketiga bukan akhir perjalanan pemulihan. Ia adalah titik evaluasi untuk memastikan bahwa arah tetap benar. Jika indikator keberhasilan terpenuhi, maka kawasan ini bergerak menuju stabilitas lanskap. Jika belum, pendekatan akan disesuaikan. Karena dalam konservasi, yang terpenting bukanlah membuktikan bahwa kita berhasil, melainkan memastikan bahwa kita tidak berhenti berusaha. Di lereng Pulau Bawean, hutan yang pernah terbuka kini diberi kesempatan kedua. Kesempatan itu tidak datang dengan gemuruh, tetapi dengan langkah-langkah terukur. Hutan tidak pernah meminta banyak. Ia hanya butuh dijaga. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Personil Resor Tinabo Evakuasi 10 Tukik, Selamatkan Biota Laut Dilindungi

Tinabo, 26 Februari 2026. Tim patroli menemukan sesuatu yang menggembirakan sekaligus menyayat hati. Sebelas tukik telah menetas. Ya, bayi penyu itu muncul dari sarangnya di pasir putih. Dari jumlah itu, sepuluh dalam kondisi sehat. Satu sayangnya, sudah tidak bernyawa. Di sekitar sarang, berserakan cangkang-cangkang telur. Itu tandanya, proses penetasan berlangsung alami. Bayi-bayi penyu ini berjuang sendiri keluar dari lapisan pasir. Petugas langsung bergerak. Mereka membawa kesepuluh tukik yang selamat ke demplot. Tempat ini semacam rumah sementara yang aman, sebelum nantinya dilepas ke laut lepas. Setibanya di demplot, setiap tukik ditimbang satu per satu. Kenapa? Ini penting untuk memantau kesehatan dan pertumbuhan mereka. Data ini juga jadi catatan berharga bagi upaya konservasi penyu di kawasan Taman Nasional. Satu tukik yang mati, mengingatkan kita pada kerasnya alam. Dari seratus telur yang dihasilkan induk penyu, hanya sedikit yang berhasil tumbuh hingga dewasa. Itu sebabnya setiap individu yang berhasil menetas, meski kini terlihat mungil, adalah pejuang masa depan lautan kita. Kita doakan semoga sepuluh tukik ini tumbuh kuat, ya. Suatu hari nanti, mereka akan kembali ke pantai yang sama untuk bertelur. Melanjutkan siklus kehidupan yang sudah berlangsung jutaan tahun. Sumber: Asri dan Nur Sulfiati - Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Ngabuburit Konservasi: Balai TN Karimunjawa Rilis 20 Tukik Sisik Warnai Senja Ramadhan

Karimunjawa, 25 Februari 2026 – Suasana sore nan teduh di Pantai Bobby, Karimunjawa, berubah menjadi riuh rendah penuh makna pada Rabu, 25 Februari 2026. Bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, Balai Taman Nasional (TN) Karimunjawa bersama dengan Pemerintah Kecamatan Karimunjawa menggelar kegiatan pelepasan 20 ekor tukik (anak penyu) dari jenis Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata). Kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB ini tidak hanya menjadi ajang konservasi, tetapi juga dikemas sebagai agenda "Ngabuburit Konservasi" yang melibatkan masyarakat dan wisatawan yang kebetulan berada di lokasi. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antara Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Karimunjawa, Balai TN Karimunjawa, dan Kantor Kecamatan Karimunjawa. Acara dibuka oleh Camat Karimunjawa, Bapak Nuril Abdillah. Dalam arahannya di tepi pantai, ia menjelaskan esensi dari kegiatan yang dilaksanakan di lokasi yang ramai dikunjungi wisatawan tersebut. "Hari ini kita tidak hanya melepasliarkan tukik, tetapi kita juga ingin berbagi pengalaman berharga dengan para wisatawan yang sedang menunggu waktu berbuka. Pantai Bobby ini adalah ruang terbuka, dan kami sengaja menggelar acara di sini agar para wisatawan dapat melihat langsung dan ikut serta dalam upaya pelestarian penyu," ujar Bapak Nuril Abdillah. Antusiasme wisatawan terlihat jelas saat 20 ekor tukik yang masih mungil tersebut mulai merangkak menuju garis pantai dan terbawa ombak. Suasana teduh sore hari semakin syahdu dengan sorak-sorai semangat dari para pengunjung yang mendukung perjalanan pertama para tukik menuju habitat aslinya di laut lepas. Mewakili Balai TN Karimunjawa, Rekan-rekan Seksi PTN Wilayah II Karimunjawa, menegaskan bahwa kegiatan rutin seperti ini memiliki peran ganda. Selain sebagai upaya konservasi untuk menjaga populasi penyu yang hampir punah, pelepasan tukik di hadapan umum juga berfungsi sebagai sarana edukasi langsung. Penyu Sisik adalah salah satu spesies prioritas di Taman Nasional Karimunjawa yang keberadaannya perlu kita lindungi. Melalui pelepasan tukik seperti ini, kami ingin para wisatawan tidak sekadar liburan, tetapi juga mendapat pemahaman bahwa kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga kelestarian alam. Apalagi dilakukan saat ngabuburit, momen menunggu buka puasa ini menjadi lebih bermanfaat dengan kegiatan positif yang berkesan. Kegiatan "Ngabuburit Konservasi" ini berlangsung khidmat dan ditutup menjelang waktu berbuka puasa, memberikan pengalaman spiritual dan ekologis yang mendalam bagi seluruh peserta yang hadir. Diharapkan, sinergi antara pengelola taman nasional, pemerintah kecamatan, dan masyarakat ini dapat terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hayati, khususnya penyu, di perairan Karimunjawa. Sumber: Venza Rhoma Saputra, S.Hut (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) SPTN Wilayah II Karimunjawa, Balai TN Karimunjawa

Menampilkan 417–432 dari 2.515 publikasi