Senin, 12 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Pelatihan MMP Untuk Meningkatkan Kapasitas

Narasumber dari Direktorat Binmas Polda Sumatera Utara Medan, 19 Agustus 2024. Upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam perlindungan dan pengamanan hutan secara partisipatif di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan kegiatan Pelatihan Patroli bagi Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Kegiatan ini dilaksanakan di d'primahotel Kualanamu pada tanggal 12 s.d. 14 Agustus 2024 selama 3 (tiga) hari, dengan peserta berjumlah 18 orang yang berasal dari MMP Kuda Laut, MMP Camar Laut dan MMP Mangrove, didampingi oleh petugas Resort Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading Langkat Timur Laut I, SM. Karang Gading Langkat Timur Laut II dan SM. Karang Gading Langkat Timur Laut III. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Ir. Bresman Marpaung selaku Plh. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Bertindak sebagai narasumber dalam kegiatan pelatihan ini berasal dari Direktorat Binmas Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara, Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dengan berbagai materi pembekalan terkait tentang Arah Kebijakan dan Pengelolaan Kawasan Konservasi SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, Peraturan Perundang-undangan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Peran Masyarakat Mitra Polhut Dalam Menjaga Kawasan Konservasi, Patroli Pengamanan Kawasan Berbasis Smart Patrol, Pengumpulan Data dan Informasi Ancaman dan Gangguan Kawasan, Penggunaan GPS, Praktek Penggunaan GPS, Kesamaptaan MMP, dan Studi Kasus serta Diskusi Kelompok untuk pemecahan masalah saat patrol. Foto bersama narasumber dengan peserta Dengan kegiatan Pelatihan MMP ini, maka peserta dapat teredukasi dan lebih memahami apa yang menjadi tugas-tugas di lapangan yang dapat dilakukan saat mendampingi petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi di wilayah kerjanya masing-masing. Diharapkan kegiatan pelatihan dapat dijadwalkan/diagendakan secara rutinitas untuk lebih memantapkan pengetahuan yang sudah diperoleh. Sumber : Ani, SP. (Polhut Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Nusantara Baru, Indonesia Maju: Menteri LHK Pimpin Upacara HUT ke-79 RI di TN Gunung Rinjani

Mataram, 19 Agustus 2024. Peringatan hari Kemerdekaan ke-79 Republik Indonesia tahun 2024 mengusung tema "Nusantara Baru, Indonesia Maju". Tema ini mencerminkan semangat untuk pembaharuan dan kemajuan yang berkelanjutan. Di hari yang spesial ini, Sabtu 17 Agustus 2024, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menjadi tuan rumah pelaksanaan Upacara Peringatan HUT ke-79 NKRI yang langsung dipimpin oleh Ibu Siti Nurbaya (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) di Lapangan Umum Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, setelah melaksakan Upacara Peringatan HUT Ke-79 NKRI, pada tanggal 17 Agustus 2024 Ibu Siti Nurbaya (Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan) berkunjung di Resort Sembalun pintu Jalur Wisata Pendakian Sembalun SPTN Wilayah II Taman Nasional Gunung Rinjani. Dalam kunjungan ini, Ibu Menteri LHK menerima penjelasan tentang Pengelolaan Destinasi Wisata yang ada di Taman Nasional Gunung Rinjani dan beliau juga menyapa para pendaki secara telekonferensi melalui CCTV yang ada di Danau Segara Anak. Disamping itu, Ibu Menteri LHK juga memberikan penyerahan bantuan usaha kepada para perwakilan kelompok binaan Taman Nasional Gunung Rinjani sekaligus melihat produk-produk yang dihasilkan. Setelah itu Ibu Menteri LHK memantau langsung proses Check-in para pendaki melalui pintu Sembalun SPTN Wilayah II TNGR, dan kegiatan ditutup dengan melakukan sesi foto bersama para pegawai, staf, serta stakeholder Taman Nasional Gunung Rinjani. Giat upacara ini diikuti oleh seluruh UPT Lingkup KLHK Dirjen KSDAE, Dirjen GAKKUM, Ka. BSI LHK, SAM Bidang Pangan, SAM Bidang Energi, KADIS LHK PROV. NTB, Kadis Pariwisata Lotim, Kadis Lingkungan Hidup Lotim dan para tokoh masyarakat serta para cendekiawan yang ada di NTB. Dalam sambutannya, Ibu Menteri LHK menyampaikan bahwa keberhasilan dalam mewujudkan capaian kinerja pembangunan Lingkungan Hidup dan Kehutanan dapat dilakukan atas dukungan kerjasama yang baik, serta peran aktif dari semua stakeholder, pemerintah pusat, pemerintah daerah, komunitas peduli lingkungan, tokoh masyarakat, akademisi, dunia usaha, insan pers, dan yang sangat penting adalah generasi muda. Dalam kesempatan ini beliau juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, untuk dapat bersama bahu membahu memberikan kontribusi pemikiran dan kegiatan nyata di lapangan, untuk pembangunan lingkungan hidup dan kehutanan menuju Indonesia Maju. Pada Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini, agar dapat kita maknai sebagai "Jiwa Patriotisme" untuk selalu siap sedia menjaga lingkungan dan kelestarian alam secara sungguh-sungguh untuk kemajuan bangsa indonesia. Semoga apa yang kita lakukan menjadi amal kebaikan dan dapat memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat untuk Indonesia tercinta. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

Saatnya Hukum Mencintai Orangutan

(Sumber foto : Harian Mistar, Selasa, 5 September 2023) Medan, 19 Agustus 2024. Masih ingat tentang kasus kepemilikan satwa ilegal oleh Bupati Non Aktif Langkat Terbit Rencana Perangin-angin (TRP) ? Dimana salah satu satwa illegal yang dilindungi tersebut adalah jenis Orangutan Sumatera (Pongo abelii). Vonis Hakim Pengadilan Negeri Stabat kala itu, Senin (28/8/2023) menghukum TRP dengan pidana 2 bulan penjara dan denda Rp. 50 juta subsider 1 bulan kurungan. Vonis ringan ini secara spontan memicu reaksi Forum Konservasi Orangutan Sumatera (Fokus) bersam Forum Konservasi Orangutan Indonesia (Forina) dengan menggelar aksi damai di depan kantor Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, pada Senin (4/9/2023), membawa replika (boneka) orangutan dan mendesak Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Langkat untuk mengajukan banding atas vonis hukuman yang dirasakan terlalu ringan tersebut (Harian Mistar, Selasa 5 September 2023, hal. 12). Jaksa Penuntut Umum pun kemudian mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Medan, dan Majelis Hakim Hakim Pengadilan Tinggi mengkoreksi putusan PN. Stabat dengan menjatuhkan hukuman 4 bulan kurungan serta denda Rp. 50 juta subsider 1 bulan kurungan kepada TRP, sesuai dengan Putusan Banding Nomor: 1374/PID.B/LH/2023/PT MDN. Kemudian kasus pun bergulir ke tingkat Kasasi di Mahkamah Agung, dan berdasarkan putusan Majelis Hakim Kasasi Mahkamah Agung Nomor : 2205K/Pid.Sus-LH/2024 menguatkan putusan Pengadilan Tinggi Medan, dimana TRP tetap divonis 4 bulan kurungan serta denda Rp. 50 juta subsider 1 bulan kurungan (Harian Mistar, Selasa, 25 Juni 2024, halaman 12). Vonis hukuman kepada pelaku baik kepemilikan maupun perdagangan illegal khususnya Orangutan Sumatera bukanlah yang pertama, ada beberapa kasus juga yang termonitor oleh berbagai media baik cetak, elektronik maupun media on-line, yang akan penulis uraikan di momentum peringatan Hari Orangutan Sedunia (Orangutan Day) 2024 tepatnya tanggal 19 Agustus 2024, sebagai bahan refleksi bagi kita semua. Pada Kamis (28/4/2022), Tim Subdit IV/Tipidter dan Subdit V/Siber Crime Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara bersama dengan petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara berhasil menggagalkan perdagangan 1 (satu) individu Orangutan Sumatera di Perumahan Cemara Asri, Kota Medan dengan menangkap pelaku Thomas Raider Chaniago. Lalu dalam sidang yang dilakukan di Pengadilan Negeri (PN) Lubuk Pakam di Labuhan Deli, pada Senin (17/10/2022), Majelis Hakim menjatuhkan vonis 1 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 10 juta subsider 6 bulan kurungan kepada terdakwa Thomas Raider Chaniago. Kasus berikutnya terjadi di wilayah hukum Kota Langsa, Aceh, ketika Nanta Agustia, warga Alue Pineung, Kecamatan Langsa Timur, Kota Langsa, berhasil ditangkap jajaran kepolisian saat hendak menjual 1 (satu) individu anak Orangutan Sumatera, pada Senin (3/7/2023). Kemudian oleh Majelis Hakim PN Kota Langsa menjatuhkan vonis hukuman 1 tahun 6 bulan penjara dan denda sebesar Rp. 40 juta subsider 1 bulan kurungan kepada pelaku. Berlanjut, kasus perdagangan Orangutan Sumatera juga berhasil dibongkar oleh petugas Kepolisian Resort (Polres) Aceh Tamiang, Aceh, pada Rabu (13/9/2023), dengan menangkap 4 (empat) orang pelaku. Oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, menghukum terdakwa Ali Ahmad, warga Desa Upah, Kecamatan Bendahara, Kabupaten Aceh Tamiang, dengan hukuman 3 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 100 juta subsider 3 bulan kurungan, kemudian Arigozali dengan pidana penjara 1 tahun 9 bulan dan denda sebesar Rp. 100 juta subsider 3 bulan kurungan, M. Amin dengan pidana penjara 1 tahun 3 bulan dan denda sebesar Rp. 100 juta subsider 3 bulan kurungan, serta Irwansyah dengan pidana penjara 1 tahun dan denda Rp. 100 juta subsider 3 bulan kurungan. Kemudian, kasus perdagangan 2 (dua) individu Orangutan Sumatera yang berhasil digagalkan jajaran Polda Sumatera Utara pada akhir September 2023. Kasus ini bermula ketika Reza Heryadi alias Ica membawa 2 individu orangutan dari Langsa ke Kota Medan. Reza berhasil ditangkap petugas di kawasan jl. Sisingamangaraja, Kota Medan, pada Rabu (27/9/2023). Reza mengaku hanya sebagai kurir, lalu petugas pun kemudian berhasil menangkap Ramadhani alias Bolang di Kota Langsa, Aceh sebagai otak pelaku. Setelah melalui proses persidangan, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan menjatuhkan vonis hukuman 3 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 50 juta subsider 3 bulan kurungan kepada Ramadhani alias Bolang. Sementara Reza Heryadi alias Ica divonis hukuman 2 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 50 juta subsider 3 bulan kurungan. Dari gambaran kasus di atas, penulis memiliki beberapa catatan khusus : pertama, patut kita mengapresiasi upaya-upaya yang dilakukan oleh aparat penegak hukum yang telah bekerja keras mengawasi, melakukan penindakan, memproses sampai pada menjatuhkan putusan. Itu artinya penegakan hukum sejatinya memang menjadi salah satu instrumen atau alat untuk melindungi dan menyelamatkan satwa liar dilindungi yang bernama Orangutan. Kedua, adanya perbedaan dalam menjatuhkan vonis hukuman kepada pelaku/tersangka/terdakwa menjadi bagian penting untuk dievaluasi bersama (didiskusikan kembali) dan dicarikan solusinya, terutama ketimpangan dalam menentukan vonis hukuman kepada para pelaku/tersangka/terdakwa. Kita semuanya tentu sepakat bahwa hakekat dari penjatuhan sanksi hukuman bukan semata-mata untuk menghakimi (baca juga : menghukum) atau pembalasan terhadap perbuatan pelaku/tersangka/ terdakwa, melainkan yang utama adalah mengedukasi serta menyadarkan (awareness) bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu adalah salah, sehingga memberi dampak efek jera bagi para pelaku maupun calon pelaku potensial lainnya. Dengan hukuman yang terlalu ringan, ini akan memberi edukasi yang tidak baik serta mendorong orang untuk melakukan perbuatan yang sama. Ketiga, melalui tema Hari Orangutan Sedunia Tahun 2024 “Love For Orangutan” menjadi momen penting juga untuk merefleksi perjalanan penegakan hukum terhadap perlindungan dan penyelamatan Orangutan. Perlu dibangun sinkronisasi serta sinergitas antar aparat penegak hukum, sehingga upaya penegakan hukum nantinya akan memberi manfaat dan dampak yang positif. Sinergitas ini dimulai dari tingkat pertama (penyelidikan dan penyidikan), berlanjut ke tahap penuntutan, sampai pada muaranya putusan pengadilan. Kolaborasi ini ibarat sebuah “simponi orchestra” yang harmonis menghasilkan nada-nada yang indah (baca juga : keputusan optimal dan kebermanfaatan) bukan hanya bagi tegaknya hukum tetapi juga terselamatkannya orangutan, yang 97 % DNA-nya persis sama dengan DNA kita manusia. Penulis menyadari membangun sebuah sinergitas dalam sebuah “simphoni orchestra” bukanlah hal yang mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Ada nada-nada sumbang (baca juga : kepentingan) di orchestra tersebut. Tapi cepat atau lambat sinergitas ini harus terus dibangun, kalau kita tidak ingin rasa kebanggaan terhadap Orangutan sebagai endemik Indonesia, dikenang hanya dalam cerita dongeng pengantar tidur saja ….. Ayo terus suarakan “Love For OrangutanSumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menteri LHK Pimpin Upacara Peringatan HUT ke-79 RI di Desa Penyangga TN Gunung Rinjani

Lombok Timur, 17 Agustus 2024 - Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc memimpin langsung upacara Hari Ulang Tahun ke-79 Republik Indonesia di Lapangan Umum Sembalun, Desa Sembalun sebagai Desa Penyangga Taman Nasional Gunung Rinjani. Upacara diikuti langsung oleh UPT KLHK lingkup JABALNUSRA, OPD Prov. NTB dan Kab. Lombok Timur, TNI/POLRI, GAKKUM KLHK, siswa/siswi sekolah, masyarakat, dan tokoh masyarakat sekitar. Mengambil tema "Nusantara Baru Indonesia Maju", Menteri LHK menyampaikan bahwa tema ini menunjukan semangat untuk kemajuan yang berkelanjutan, rasa terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada masyarakat Prov. NTB khususnya warga Desa Sembalun atas dukungan terhadap program-program pelestarian lingkungan oleh KLHK. Beliau juga menambahkan, "Kita harus memastikan bahwa kemerdekaan yang kita raih tidak hanya sekedar kemerdekaan politik, tetapi juga kemerdekaan dalam arti yang lebih luas, yaitu kemerdekaan untuk hidup di lingkungan yang sehat dan lestari, dan untuk hidup sejahtera. Tak lupa saya menyampaikan salam hangat untuk masyarakat di Sembalun, TN Gunung Rinjani dari Bapak Presiden Jokowi dan Wapres Bapak KH Ma’ruf Amin; juga dari Presiden terpilih Bapak Jend.TNI Purn Prabowo Subianto dan Wapres terpilih Bapak Gibran Rakabuming Raka." Kegiatan berlanjut ke pertunjukan seni budaya oleh siswa/siswi SD dan SMP Desa Sembalun, paduan suara, penyerahan apresiasi Menteri LHK dan foto bersama. Sumber: Balai KSDA Nusa Tenggara Barat
Baca Artikel

Kaum Muda Menanam di Peringatan HKAN 2024 Sumatera Utara

Perbaungan, 14 Agustus 2024. Bertempat di Desa Sei Nagalawan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, Provinsi Sumatera Utara, pada Sabtu, 10 Agustus 2024, telah dilangsungkan Kegiatan Kaum Muda Menanam 2 dan Launching Laboratorium Keadilan Sosial dan Ekologis, disaat bersamaan Peringatan Hari Konservasi Alam Tahun 2024, Kegiatan diawali dengan peluncuran secara resmi Laboratorium Keadilan Sosial dan Ekologis (Ekososlab) oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. didampingi Ketua Insitut Hijau Indonesia Chalid Muhammad, dari Convention Hall Jakarta, yang diikuti secara daring oleh peserta kegiatan di seluruh Indonesia. Dalam sambutannya Ibu Menteri sangat mengapresiasi kegiatan ini serta mengarahkan agar kegiatan positif yang diinisiasi oleh generasi muda di dorong dan didukung oleh seluruh elemen dan stakeholder. Program Ekososlab diharapkan dapat menjadi wadah belajar dan berkumpul kaum muda dalam upaya pemulihan ekologi yang harapannya dapat selaras dengan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan. Program Ekososlab tersebar di 4 titik, yakni di KHSTK Bukit Suligi, KHDTK Kintap, KHDTK m-Tabo dan KHDTK Rarung. Sejalan dengan rencana launching Ekososlab, Institut Hijau Indonesia turut mendorong gerakan Kaum Muda Menanam 2 sebagai aksi nyata anak muda dalam upaya pemulihan lingkungan hidup, sebagaimana tema Nasional hari Konservasi Alam Nasional tahun 2024 “Youth For Sustainable Nature: : “Pemuda Untuk Alam Berkelanjutan” Kaum Muda Menanam yang juga merupakan sebuah gerakan yang diinisiasi oleh Institut Hijau Indonesia sebagai salah satu langkah implementasi serta aksi nyata alumni dan peserta didik Institut Hijau Indonesia dalam rangka upaya pemulihan lingkungan. Kaum Muda Menanam #1 diselenggarakan pada tahun 2021 yang masuk dalam rangkaian Gerakan Kaum Muda Bergerak Pulihkan Lingkungan Hidup. Momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79 Tahun 2024 dapat menjadi pengingat untuk masyarakat Indonesia bahwa selama 79 tahun ini masih banyak masyarakat Indonesia yang belum sadar dan peduli terhadap kelestarian sumber daya alam. Berbagai upaya penyadaran lingkungan telah dilakukan, namun ternyata hal itu tidaklah cukup. Butuh aksi nyata yang dapat memantik semangat serta menjadi contoh nyata pada masyarakat terkait melestarikan sumber daya alam. Untuk Kegiatan Kaum Muda Menanam 2 di Provinsi Sumatera Utara, yang didampingi oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan UPT lingkup Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara, melakukan penanaman Bibit Bakau (Rhizopora sp) sebanyak 500 batang pada lahan 0,5 Ha. Yang ikuti 70 Orang Peserta yang terdiri Perwakilan 9 simpul belajar Green Youth Movement (GYM) UPT Kementerian LHK Provinsi Sumatera Utara dan Dinas LH Deli Serdang sebanyak 30 Orang, masing-masing simpul belajar (SB) BPDAS Wampu Sei Ular, SB BBKSDA Sumatera Utara, SB BPDAS Asahan Barumun, SB BPKHTL Wilayah 1 Medan, SB GAKKUM Wilayah Sumatera Utara, SB BPHL Wilayah 2 Medan, SB BPSKL Sumatera, SB Dinas LH Deli Serdang dan SB BPLHK Pematang Siantar. Selain itu juga dari Green Leadership Indonesia (GLI) sebanyak 10 Orang, serta Undangan dan Fasilitator sebanyak 30 Orang. Sumber : Samuel Siahaan, SP. (Ketua Tim kerja Pemberdayaan Masyarakat, Bina Cinta Alam dan Pemanfaatan Jasa Lingkungan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Memantau Kontribusi Masyarakat Mitra Polhut

Stabat, 14 Agustus 2024. Masyarakat Mitra Polhut (MMP) merupakan kelompok masyarakat sekitar hutan yang membantu polhut dalam pelaksanaan perlindungan hutan dibawah koordinasi pembinaan dan pengawasan instansi Pembina. Mengingat pentingnya MMP ini sehingga keberadaannya diatur dalam Peraturam Menteri Kehutanan Nomor : P.56/Menhut-II/2014 tentang Masyarakat Mitra Polhut (MMP). Beberapa partisipasi MMP yang dapat dilakukan diantaranya : pengumpulan data dan informasi, penyampaian informasi tentang terjadinya suatu peristiwa di tengah masyarakat ataupun berkaitan dengan kawasan hutan, sosialisasi dan penyadaran kepada masyarakat, dan giat patroli bersama dengan petugas. Untuk mengukur peran dan efektivitas (kontribusi) MMP dalam pengelolaan kawasan khususnya di Suaka Margasatwa (SM). Karang Gading dan Langkat Timur Laut terutama dalam perlindungan dan pengamanan kawasan, Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah melaksanakan Penilaian Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Resort SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I, II, III, masing-masing pada tanggal 29-30 Juli 2024 dilaksanakan penilaian terhadap MMP Kuda Laut, Resort SM. Karang Gading Langkat Timur Laut I, tanggal 7-8 Agustus 2024 dilaksanakan penilaian terhadap MMP Camar Laut, Resort SM. Karang Gading Langkat Timur Laut II, dan tanggal 9-10 Augustus 2024 penilaian terhadap MMP Mangrove, Resort SM. Karang Gading Langkat Timur Laut III. Kegiatan penilaian dilaksanakan di kantor Seksi Konservasi Wilayah II Stabat. Tim penilai dipimpin langsung Kepala Bidang Teknis Balai Besar KSDA Sumatera Utara Ir. Bresman Marpaung, didampingi staf dan disaksikan Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Herbert BP. Aritonang, S.Sos., MH. Dengan penilaian (evaluasi) ini nantinya dan disiapkan rekomendasi untuk keterlibatan lanjutan dari MMP. Sumber : Ani, SP. (Polhut Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Yang Muda Yang Berkarya Untuk Konservasi Alam

Mandiangin, 11 Agustus 2024 – Sebagai salah satu rangkaian kegiatan Road to HKAN 2024, Balai KSDA Kalimantan Selatan telah sukses melaksanakan kegiatan Pembinaan /Penyegaran Kader Konservasi. Kegiatan dilaksanakan di Tahura Sultan Adam dan diikuti oleh peserta yang merupakan Green Ambassador Angkatan 1 Simpul Belajar BKSDA Kalimantan Selatan. Pembinaan Kader Konservasi kali ini mengusung tema “Yang Muda Yang Berkarya Untuk Konservasi Alam” dimana tema yang diusung sangat sesuai dengan tema peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2024 yaitu “Aktualisasi Konservasi Alam Pada Generasi Muda”. Adapun rangkaian kegiatan yang dilaksanakan yaitu Pengenalan Geopark Meratus oleh Bapak Yanuar F., Pengenalan Flora dan Fauna serta Pengenalan Budidaya Madu Kelulut oleh Bapak Isrodin dan Bapak Maryoto, penyampaian success story Pengelolaan Tahura Sultan Adam oleh Bapak Khairullah, S.Hut kemudian dilanjutkan dengan Workshop Eco Candle yang dipandu oleh Ibu Istiqomah Nuzula dari Komunitas Putik Bersih. Pengenalan Geopark Meratus bertujuan untuk memberikan wawasan kepada para peserta bahwa Pegunungan Meratus yang berada di Kalimantan Selatan telah ditetapkan secara Nasional menjadi Geopark Meratus yang memiliki keanekaragaman geologi, biodiversity, warisan budaya, ekonomi sosial dan lainnya. Pengenalan flora dan fauna diawali dengan pembelajaran terkait spesies-spesies anggrek langka dan beberapa diantaranya termasuk endemik Kalimantan. Selanjutnya peserta belajar mengenal beberapa fauna dilindungi seperti beruang madu (Helarctos malayanus) dan rusa sambar (Rusa unicolor). Selain belajar mengenai konservasi anggrek dan mengenal flora serta fauna, peserta juga belajar terkait dengan budidaya madu kelulut (Trigona sp). Madu kelulut (Trigona sp) merupakan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang memiliki peluang pasar yang cukup menjanjikan dikarenakan kandungan kompleks madu kelulut memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Dengan adanya pengenalan terkait budidaya madu kelulut, diharapkan peserta mampu memahami bahwa terdapat potensi hutan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar hutan namun kelestarian hutan tetap terjaga karena tidak adanya aktivitas penebangan pohon. Selanjutnya peserta menyimak materi terkait Success story pemulihan ekosistem, rehabilitasi DAS dan pengembangan kegiatan wisata alam di Tahura Sultan Adam. Sesi berikutnya diisi oleh narasumber dari Komunitas Putik Bersih yaitu Workshop Eco Candle. Pembuatan Eco Candle atau biasa disebut lilin aromaterapi menggunakan bahan utama berupa limbah minyak (jelantah) dan pewarna dari limbah kosmetik. Penggunan bahan-bahan dari limbah tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap pencemaran lingkungan serta menambah kreativitas. Selain menguntungkan dari sisi ekologi, produk yang dihasilkan juga bernilai jual secara komersil sehingga mampu menambah nilai ekonomi. Generasi muda merupakan aset keberhasilan bangsa sehingga diharapkan mampu menjadi kader konservasi untuk keberlanjutan konservasi alam di Indonesia. (Ryn) Generasi Muda Hebat, Generasi Muda Peduli Konservasi Sumber : Siti Sofiatun Nafiah, S.Hut. - Penyuluh SKW II Banjarbaru Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

“Bedah” Gajah di Hari Gajah Sedunia 2024

(Sumber foto : detikcom) Medan, 12 Agustus 2024. Selama ini bila membahas tentang Gajah (Elephas maximus) selalu cerita-cerita yang menyeramkan dan menakutkan. Tak jarang berita tentang gajah dikonotasikan dengan yang negatif, sebagai hewan yang sangat berbahaya dan selalu mengancam, karena sering mengganggu bahkan menyerang warga sehingga interaksi negatif dengan warga tak dapat lagi dihindarkan. Konotasi negatif ini sesungguhnya tidak semua benar, ada sisi positif yang terdapat dalam diri gajah baik sifat dan perilakunya yang selama ini belum terpublikasikan dengan benar, sehingga masyarakat tidak mendapat informasi yang berimbang dan hanya membayangkan gajah sebagai “sosok” musuh dan bahkan hama yang harus dimusnahkan. Penulis, masih dalam rangkaian Road To Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2024, melalui tulisan singkat ini mencoba untuk mem”bedah” sisi lain dari gajah, yang kebetulan hari ini diperingati sebagai Hari Gajah Sedunia Tahun 2024, agar masyarakat mendapat pengetahuan dan informasi yang lengkap dan berimbang tentang gajah. Gajah itu sejatinya unik, mengapa ? Gajah terkenal memiliki memori dan daya ingat yang luar biasa. Mereka dapat mengingat lokasi sumber air dari jarak yang jauh, dan mengenal gajah lain bahkan setelah bertahun-tahun terpisah. Daya ingat mereka yang panjang membantu mereka bertahan hidup di alam liar (https://www.twinkl.co) Selain itu, Kehidupan sosial gajah ternyata sangat kompleks. Mereka hidup dalam kelompok keluarga yang biasanya dipimpin oleh gajah matriarki yang bijaksana. Kelompok-kelompok ini menunjukkan berbagai macam emosi, termasuk kegembiraan, kemarahan, dan bahkan kesedihan. Mereka pun dikenal saling menghibur di saat-saat sulit. Keunikan lainnya, gajah memiliki sistem komunikasi yang canggih yaitu komunikasi yang rumit yang mencakup vokalisasi seperti terompet dan gemuruh frekwensinya rendah yang dapat menempuh jarak beberapa kilometer. Mereka juga menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi satu sama lain. Banyak orang yang belum mengetahui, bahwa gajah memiliki otak terbesar dari semua mamalia yang hidup bumi. Menariknya, gadingnya ternyata adalah gigi seri yang membesar dan pertama kali muncul saat gajah berusia sekitar 2 tahun (https://nationaltoday.com) Gajah termasuk spesies kunci, yang berarti mereka ikut menciptakan serta memelihara ekosistem tempat mereka tinggal dan memungkinkan berbagai spesies tumbuhan maupun hewan untuk hidup di lingkungan tersebut. Di saat musim kemarau, mereka menggunakan taringnya untuk menjangkau sumber air bawah tanah. Lubang itulah yang kemudian menjadi sumber air bagi binatang/hewan lainnya. Kotoran gajah juga bermanfaat sebagai sumber pakan bagi kumbang atau rayap serta bahan pupuk penyubur tumbuhan/tanaman. Gajah dikenal pula sebagai salah satu dari 5 hewan (semut merah, anjing, kucing dan burung) yang bisa mendeteksi bencana alam, karena insting dan indranya memiliki kemampuan mendeteksi perubahan elektromagnetik alam semesta yang lebih baik daripada manusia. Saat akan terjadi bencana alam, biasanya gajah akan tiba-tiba gelisah bahkan menangis. Sehingga hilangnya gajah tentu akan sangat mempengaruhi banyak spesies yang bergantung pada ekosistem yang dipelihara satwa liar tersebut dan menyebabkan kekacauan habitat yang parah serta melemahnya struktur dan keanekaragaman alam itu sendiri. Namun kenyataannya, kehidupan gajah memang terus mengalami tekanan dan ancaman akibat pengalihfungsian kawasan hutan untuk berbagai kepentingan, seperti untuk kebun sawit, permukiman, pertambangan dan untuk kepentingan pembangunan lainnya, sehingga habitatnya terdegradasi. Belum lagi maraknya perburuan liar guna mendapatkan gading gajah yang akan diperdagangkan di pasar illegal. Kondisi ini mengakibatkan populasi gajah berkurang secara signifikan di alam, bukan hanya di Indonesia tapi juga di negara-negara lain yang memiliki satwa gajah. Melihat keterancaman populasi gajah, Patricia Sims, dari Kanada, dan Yayasan Reintroduksi Gajah Thailand, yang diinisiasi oleh Yang Mulia Ratu Sirikit dari Thailand, menggagas lahirnya Hari Gajah Sedunia, yang pertama kali digaungkan pada tanggal 12 Agustus 2012 (https://worldelephantday.org) Gajah telah berabad-abad menjadi ikon bagi negara Thailand. Bahkan Thailand juga mendapat julukan Negara Gajah Putih Chang, dimana gajah telah ditetapkan/diresmikan sebagai Hewan Nasional (https://m.kumparan.com) Perayaan Hari Gajah Sedunia dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran tentang berbagai masalah kritis yang mengancam gajah untuk menggalakkan upaya perlindungannya. Dengan merayakan hari gajah, kita dapat menyebarluaskan infromasi tentang masalah ini dan mendukung upaya-upaya konservasi yang bertujuan untuk menyelamatkan gajah. Mari bergerak bersama : Selamatkan Gajah Dari Kepunahan …!!! Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Pengamanan Kawasan Konservasi Bersama MMP

Tim pengamanan hutan sedang melakukan patroli memantau kondisi kawasan SM. Karang Gading Karang Gading, 12 Agustus 2024. Untuk mendukung kelancaran tugas pokok dan fungsi Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam upaya pengamanan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di wilayah Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut, telah dilakukan kegiatan Pengamanan Hutan oleh Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dari tanggal 3 s.d 6 Agustus 2024. Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut merupakan kawasan konservasi berupa hutan mangrove yang ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 811/Kpts/Um/11/1980 tanggal 5 November 1980 seluas 14.827 Ha. Kemudian Menteri Kehutanan mengeluarkan Surat Keputusan Nomor: 5348/Menhut-VII/KUH/2014 tanggal 11 Agustus 2014 yang mengatur tentang Penetapan Kawasan Hutan Suaka Margasatwa Karang Gading Kabupaten Deli Serdang seluas 4.685,10 Ha. SM. Karang Gading dan Langkat Timur Laut berada pada wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Asam Kumbang dan DAS Belawan, dan menjadi habitat berbagai jenis aves, mamalia, reptil dan pisces. Bagi satwa jenis aves, kawasan ini berfungsi sebagai tempat bertelur, tempat mencari makan (feeding ground) di areal berlumpur (mudflat). Keanekaragaman jenis satwa yang dijumpai di kawasan ini, diantaranya : Lutung Kelabu (Presbytis cristatus), Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Babi Hutan (Sus vittatus), Kelelawar (Pterous sp), Tuntong Laut (Batagor borneoensis), Byuku (Orlitia borneoensis), Ular jenis Trimeresurus sp., Biawak (Varanus salvator), Ular Belang (Boiga dendriophila), Ular Sanca (Phyton reticulatus) dan berbagai jenis ular air. Dalam perjalanan waktu, kawasan ini mengalami berbagai permasalahan, seperti terjadinya pengalihan fungsi kawasan menjadi persawahan, kebun sawit, permukiman penduduk, pembangunan sarana rumah ibadah, bangunan sekolah, akses jalan dan berbagai aktifitas lainnya. Oleh karena itu giat pengamanan hutan yang dilakukan oleh Tim berupa : patroli dalam kawasan di Desa Karang Gading, Desa Paluh Kurau dan Desa Kwala Besar, pendataan berbagai aktifitas illegal serta sarana prasarana yang ada di dalam kawasan, melakukan pemantauan kegiatan penanaman mangrove, inventarisasi tumbuhan dan satwa yang ada di dalam kawasan, sosialisasi dengan masyarakat serta bimbingan kepada kelompok tani khususnya yang ada di Desa Paluh Kurau. Tim didampingi petugas TNI melakukan pendataan temuan di lapangan Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan pengamanan hutan selama 4 hari, dari tanggal 3 s.d 6 Agustus 2024, yang dilakukan pada 12 GRID Patroli dengan total area cakupan 1.300 Ha., berupa temuan akses jalan, alat kerja dan tranportasi, aktifitas penangkapan ikan, penggunaan kawasan untuk berbagai kegiatan, fitur alami, infrastruktur/sarana dan prasarana, perjumpaan satwa, tanda satwa dan perjumpaan tumbuhan. Kegiatan pengamanan hutan telah berakhir, sejumlah hasil temuan di lapangan tentunya menjadi data dan informasi yang penting/berharga untuk menentukan langkah-langkah kebijakan kedepannya dalam upaya penanganan permasalahan yang ada. Yang patut juga menjadi catatan, bahwa kegiatan pengamanan hutan penting artinya dalam upaya memantau perkembangan kondisi di lapangan serta melakukan upaya-upaya penanganan preventif sedini mungkin guna mencegah perbuatan-perbuatan illegal di dalam kawasan. Sumber : Tim Pamhut SKW II Stabat – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Peningkatan Kapasitas Melalui Pelatihan P3 Kerja

Sikundur, 9 Agustus 2024. Upaya meningkatkan kapasitas pengetahuan tentang penyelamatan, petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, mengikuti kegiatan Pelatihan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan Kerja yang dilaksanakan di Stasiun Riset Sikundur, Aras Napal, pada tanggal 6 s/d 8 Agustus 2024. Kegiatan ini dilaksanakan oleh lembaga mitra Yayasan Ekosistem Lestari (YEL). Kegiatan ini untuk menambah pengetahuan penyelamatan, mencegah keadaan menjadi lebih buruk dan mempercepat kesembuhan, peningkatan kemampuan dasar untuk menolong korban sebelum bantuan datang yang dapat di lakukan seperti pemberhentian pendarahan, memasang bidai pada korban yang patah tulang dan melakukan pertolongan pada korban yang pingsan dan cara pompa jantung pada korban, serta pengetahuan cara evakuasi korban kecelakaan kerja yang jauh dari pos kerja dengan peralatan tandu darurat dan dengan tali webing. Bertindak sebagai narasumber petugas dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara. Pelatihan ini diikuti oleh 15 orang peserta yang berasal dari Yayasan Ekosistem Lestari, Balai Besar Taman nasional Gunung Leuser dan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kegiatan yang bermanfaat ini diharapkan dapat terlaksana secara berkesinambungan. Sumber : Sontana Sembiring (Kepala Resort Aras Napal) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Youth For Suistanable Nature

Medan, 9 Agustus 2024. Hari Konservasi Alam Nasional atau yang sering disingkat dengan HKAN kembali diperingati dan digelar tahun ini. Momentum peringatan HKAN sejatinya dirayakan setiap tanggal 10 Agustus setiap tahun, sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden RI Nomor 22 Tahun 2009, dengan tujuan untuk menjaga kesinambungan kegiatan konservasi alam, memasyarakatkannya, dan menjadikan konservasi alam sebagai bagian dari sikap hidup dan budaya bangsa. HKAN juga menjadi ajang kampanye agar masyarakat peduli dan ikut terlibat dalam upaya pelestarian ekosistem alam Indonesia. Tahun ini menjadi spesial karena mengusung tema yang sangat menantang “Youth for Suistanable Nature” atau Aktualisasi Konservasi Alam Pada Generasi Muda. Mengapa menantang? Karena generasi muda saat ini punya persentase populasi terbesar dengan 154 juta jiwa atau 55 persen dari total penduduk Indonesia (https://www.tribunnews.com). Itu berarti generasi muda merupakan asset dan investasi untuk keberhasilan dan keberlangsungan konservasi alam di Indonesia, dengan catatan tentunya bila diberi ruang dan kesempatan yang sebesar-besarnya untuk mengaktualisasikan serta memberdayakan kemampuannya. Selain itu juga, karakter generasi muda dapat menjadi pengantar peran isu nasional dan isu global dalam komunikasi sosial masyarakat Indonesia dan menjadi penggerak di media sosial untuk bersama melindungi sumber daya alam yang ada di Indonesia, dengan menjadi influencer yang efektif dalam menghadirkan upaya-upaya konservasi di lingkungan masyarakat, sebagaimana sambutan Menteri LHK Prof. Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc. yang dibacakan oleh Dirjen KSDAE Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Agr.Sc., pada acara Launching HKAN 2024 (https://tnujungkulon.menlhk.go.id). Fokus perhatian terhadap generasi muda sebenarnya sudah terasa selama 5 tahun belakangan ini, dengan diluncurkannya program Green Leadership Indonesia (GLI) dan Green Youth Movement (GYM) yang sudah dilakukan dalam beberapa angkatan. Menurut hemat penulis, program yang digagas oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama dengan Institut Hijau Indonesia ini merupakan program nyata yang melibatkan ribuan anak-anak muda dari kalangan pelajar tingkat SMA dan SMK sederajat se-Indonesia, yang hasilnya juga sudah terlihat dan mulai dirasakan dengan lahirnya anak-anak muda yang kreatif, produktif dan inovatif dalam menggaungkan dan membumikan konservasi alam serta lingkungan hidup, melalui berbagai cara dan berbagai media. Potensi yang besar dari generasi muda ini tentunya menjadi modal yang penting, sehingga sangat sayang bila tidak dikelola dan diberdayakan secara maksimal dan optimal. Selain GLI dan GYM, sejatinya di tingkat UPT Balai Besar/Balai KSDA juga memiliki kelompok-kelompok binaan yang juga berasal kalangan generasi muda, seperti : kader konservasi alam (KKA), siswa pencinta alam (Sispala), mahasiswa pencinta alam (Mapala), kelompok pencinta alam (KPA) di luar Sispala dan Mapala, serta Saka Wanabakti/Saka Kalpataru. Semuanya ini tentu menjadi bagian penting memobilisasi generasi muda untuk dapat mendukung upaya-upaya konservasi alam dan lingkungan hidup. Sehingga momentum Peringatan HKAN 2024, yang fokus mengusung tema Youth for Suistanable Nature, menjadi asupan gizi untuk menyegarkan kembali, memotivasi dan menginspirasi seluruh UPT lingkup Ditjen KSDAE di seluruh Indonesia melakukan evaluasi guna merevitalisasi dan memodifakasi ulang pola-pola serta metode pemberdayaan generasi muda yang selama ini dilakukan. Kedepannya dengan berbagai upaya pembinaan maupun pemberdayaan, diharapkan anak-anak muda ini akan menjadi aktor-aktor penting dalam pembangunan konservasi alam di Indonesia dengan berbagai latar belakang profesi dan aktivitasnya. Akankah ekspektasi ini terealiasasi…? Semoga saja… Salam Konservasi… Salam Lestari…. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Peningkatan Kapasitas Tim WRU BBKSDA Sulawesi Selatan di TSI Prigen

Makassar, 6 Agustus 2024 - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) didukung oleh Taman Safari Indonesia (TSI) memprakarsai penyelenggaraan Peningkatan Kapasitas Tim Wildlife Rescue Unit/WRU di Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen, Jawa Timur pada tanggal 5 – 10 Agustus 2024. Kegiatan dibuka oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian LHK, Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc., dan dihadiri oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati dan Spesies Genetik (KKHSG), Kepala Balai Besar KSDA Sulsel, Komisaris TSI beserta jajarannya, pejabat struktural BBKSDA Sulsel, serta 30 peserta dari BBKSDA Sulsel, BKSDA Sulawesi Tenggara, BKSDA Sulawesi Utara, BKSDA Sulawesi Tengah, dan Balai TN Bantimurung Bulusaraung. Kegiatan ini untuk memperkuat dan mendukung kapasitas petugas dalam melakukan penanganan satwa dengan metode yang benar dan tepat. Sedangkan tujuannya untuk mendapatkan panduan dalam melaksanakan tugas penyelamatan dan evakuasi satwa di lapangan.Hal ini dilatarbelakangi oleh salah satu tugas dan fungsi BBKSDA Sulsel adalah melaksanakan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL). Untuk memperkuat pelaksanaan tugas tersebut, maka dibentuklah Wildlife Rescue Unit/WRU dengan petugas yang terdiri dari dokter hewan, Polisi Kehutanan, Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Penyuluh Kehutanan, dan petugas bidang teknis. Dalam melaksanakan tugas, Tim WRU banyak berinteraksi dengan satwa liar baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga perlu dibekali dengan ilmu pengetahuan tentang satwa. Ilmu pengetahuan tentang satwa yang diajarkan dalam peningkatan kapasitas tim WRU antara lain meliputi identifikasi satwa, penanganan satwa, pengangkutan satwa, dan risiko penanganan satwa. Diharapkan setelah mengikuti kegiatan ini, tim WRU BBKSDA Sulsel memiliki pengetahuan dan ketrampilan cara menangani/memgang satwa (handling) dengan baik, aman, dan benar. Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan Ir. Jusman dalam sambutan pembuka acara menyampaikan “Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan petugas dapat melaksanakan tugas penanganan satwa dengan cara yang benar dan tepat sehingga tercapai keseragaman dalam penanganan satwa hasil operasi penertiban, kepemilikan secara ilegal, serta evakuasi hasil serahan atau konflik satwa liar.” Wildlife Rescue Unit/WRU Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan merupakan tim gugus penyelamatan satwa liar yang bertugas dan bertanggung jawab dalam penyelamatan satwa serta penanganan interaksi satwa dengan manusia di Provinsi Sulawesi Selatan dan Provinsi Sulawesi Barat. Data bulan Januari – Juni 2024 menunjukkan bahwa Tim WRU BBKSDA Sulsel telah menangani : Dalam prosesnya, Tim WRU menangani/memegang satwa (handling) satwa liar secara manual maupun restraint sebelum dipegang dan/atau diperiksa dan/atau diberikan perlakuan lain sesuai dengan karakteristik satwa. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.30/K.8/TU/Humas/08/2024) Call Center BBKSDA Sulsel:08114600883
Baca Artikel

Giat Bakti Sosial GYM Angkatan 2 Sumut Visit to Panti Asuhan Al Marhamah Medan

Medan, 5 Agustus 2024. Road To Hari Konservasi Alam Nasional ( HKAN ) Tahun 2024, Green Heroes Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 Tahun 2024 Provinsi Sumatera Utara mengadakan kegiatan bakti sosial dengan visit to Pantai Asuhan Al Marhamah Medan, pada Minggu, 4 Agustus 2024. Kegiatan ini berkolaborasi dengan Guru SMA Negeri 1 Medan. Kegiatan visit to panti asuhan bertajuk “Hijaukan Panti, Cerahkan Hati”, bertujuan untuk memberi edukasi serta meningkatkan kesadaran/kepedulian anak-anak panti asuhan tentang kondisi dan perubahan iklim yang terjadi saat ini serta perlunya menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan. Acara yang dihadiri Pengurus Panti Asuhan Al Marhamah, Bapak Abai, dan anak-anak Panti Asuhan Al Marhamah, dimulai dengan pembukaan yang dilakukan oleh Rr. Carissa Fiorenza Aqila Faustine (15) dan Daffa Raynard Shadiq (16), Green Heroes dari SMAN 1 Medan, memimpin kegiatan ini dengan mengumpulkan sampah dari area sekitar panti. Mereka juga memberikan edukasi kepada anak-anak panti tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan cara-cara praktis untuk mengurangi sampah sehari-hari. Anak-anak panti asuhan sangat antusias mengikuti sesi tanya jawab yang memberikan kesempatan untuk lebih memahami isu-isu lingkungan. Acara ini diakhiri dengan quiz interaktif tentang topik yang dibahas, dimana peserta mendapatkan hadiah sebagai apresiasi atas partisipasi mereka. Penyerahan totebag dan tumbler Rr. Carissa Fiorenza Aqila Fausti nemenjelaskan kegiatan ini sebagai langkah nyata untuk menerapkan gaya hidup hijau, setiap anak menerima totebag dan tumbler. Totebag ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik, sedangkan tumbler untuk mengurangi penggunaan botol minum plastik sekali pakai. Pembagian ini diharapkan dapat memotivasi anak-anak untuk memulai kebiasaan ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Setelah sesi edukatif, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian makanan sebagai bentuk kepedulian dan kebersamaan. Selanjutnya, dilakukan kegiatan penanaman di area sekitar panti asuhan sebagai simbol komitmen terhadap pelestarian lingkungan. Anak-anak terlibat langsung dalam penanaman, memberikan mereka pengalaman langsung tentang pentingnya merawat lingkungan. Daffa Raynard Shadiq menjelaskan Pohon adalah sebuah anugerah dari Allah SWT, yang diturunkan untuk seluruh ciptaanNya. Mungkin dunia ini akan terasa panas, gersang dan gerah jika tidak ada pepohonan. Pohon mempunyai banyak manfaat untuk makhluk hidup khususnya bagi manusia. Maka dari itu, kita harus menjaga tumbuh-tumbuhan serta pepohonan yang ada di sekitar kita, dan juga tidak menebang pohon-pohon yang berada di hutan dengan sembarangan, mari kita jaga hutan kita untuk generasi yang akan datang. Penanaman pohon disekitar area Panti Asuhan Al Marhamah Nurhabli Ridwan sebagai Koordinator Green Youth Movement Angkatan 2 Provinsi Sumatera Utara mengapreasiasi kegiatan ini. Melalui kegiatan ini menurutnya berhasil menunjukkan bagaimana tindakan kecil, namun dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Green Youth Movement (GYM) merupakan program pendidikan dasar gerakan lingkungan hidup yang menyediakan wadah bagi para generasi muda untuk bertukar pengetahuan dalam melindungi dan mengelola lingkungan hidup. Program ini diinisiasi oleh Institut Hijau Indonesia dan didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. GYM bertujuan untuk memfasilitasi tumbuhnya generasi muda sebagai pelopor dan duta lingkungan hidup dan kehutanan. Nurhabli Ridwan juga menambahkan, kegiatan ini diselenggarakan oleh peserta GYM 2 Sumut dalam rangka road to HKAN Tahun 2024, dimana peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun ini mengusung tema Aktualisasi Konservasi Alam pada Generasi Muda Indonesia dengan tagline “Youth for Sustainable Nature”, dan Festival LIKE 2024 yang digelar KLHK mengusung tema 'Masyarakat Sejahtera Alam Lestari'. Harapannya dengan tema HKAN 2024 ini nantinya generasi muda dari peserta dan alumni GYM dapat terus menerapkan nilai-nilai konservasi alam dan mengajak masyarakat untuk melakukan konservasi di lingkungan sekitar mereka. Pada tanggal 10 Agustus 2024, di Sumatera Utara juga akan ada kegiatan kaum muda menanam 2 yang di selenggarakan oleh Green Leadership Indonesia berkolaborasi dengan Green Youth Movement. Kegiatan ini diinisiasi oleh Institut Hijau Indonesia dan didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang rencananya akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia. Sumber : Nurhabli Ridwan (Alumni Green Leadership Indonesia Bacth 1) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Cegah Konflik Satwa Liar, KSDA Sulawesi Selatan Edukasi Masyarakat di Palopo

Palopo, 30 Juli 2024 – Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan mengadakan sosialisasi penanganan konflik satwa liar di Kantor Kecamatan Telluwanua. Kegiatan Sosialisasi dibuka oleh Camat Telluwanua dan dihadiri oleh berbagai pihak terkait, antara lain perwakilan Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Palopo, BPBD Kota Palopo, Wakapolsek Telluwanua, perwakilan Koramil 1403-06/Wara, seluruh Lurah di Kecamatan Telluwanua, Dekan Fahutan Unanda, LSM Yayasan Bumi Sawerigading, dan media massa Koran Seruya. Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai langkah-langkah pencegahan dan penanganan konflik satwa liar yang efektif. Kegiatan dilakukan untuk merespon adanya konflik satwa liar yang terjadi akhir-akhir ini di Kota Palopo. Narasumber dari Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Muhammad Rasul, S.H.,M.H.,, Polisi Kehutanan Ahli Madya, menyampaikan materi tentang jenis-jenis satwa yang sering menimbulkan konflik, faktor-faktor penyebab konflik, serta langkah-langkah yang dapat diambil untuk meminimalisir dampak konflik. “Sosialisasi ini menjadi langkah penting dalam membangun sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam upaya mengatasi permasalahan konflik satwa liar”, ujar Kepala Bidang Wilayah I Palopo, Iskandar, S.Hut., M.I.L. “Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat terbangun kesadaran kolektif untuk hidup berdampingan secara harmonis dengan alam.” Konflik satwa liar merupakan hal kompleks yang memerlukan solusi jangka panjang. Untuk menangani konflik satwa liar diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait. Dengan pengelolaan habitat satwa liar yang baik, peningkatan kesadaran masyarakat, dan penerapan kebijakan yang tepat, konflik satwa liar dapat diminimalisir dan keharmonisan antara manusia dan alam dapat terwujud. Dengan adanya sosialisasi ini, diharapkan masyarakat dapat lebih proaktif dalam menjaga keselamatan diri dan lingkungan sekitar, serta turut serta dalam upaya pelestarian satwa liar. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.28/K.8/TU/Humas/07/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Road to Peringatan HKAN 2024: Program Visit to School, Tanamkan Cinta Alam pada Generasi Muda

Makassar, 31 Juli 2024 – Menyambut dan memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) tahun 2024 Tim Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan melaksanakan program “Visit to School” di SD Muhammadiyah II dan SMP Muhammadiyah 9 Berua pada 30 dan 31 Juli 2024. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya konservasi alam, serta menanamkan nilai-nilai konservasi sejak dini kepada generasi muda, khususnya siswa-siswi sekolah. Program visit to school dilaksanakan oleh Penyuluh Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, dan Polisi Kehutanan Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan serta mahasiswa magang dari Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin dan Fakultas Teknik Universitas Negeri Makassar. Sebagai bentuk sosialisasi konservasi sumber daya alam, dalam kegiatan visit to school disampaikan materi tentang pentingnya hutan, keanekaragaman hayati, dan dampak dari kerusakan lingkungan. Materi tersebut disesuaikan dengan tingkat usia dan pemahaman siswa serta disampaikan dengan suasana yang menggembirakan. Para siswa SD Muhammadiyah II dan SMP Muhammadiyah 9 diharapkan dapat memahami materi yang disampaikan, tertanam nilai-nilai konservasi alam, dan nantinya menjadi agen perubahan dalam mewujudkan lingkungan berkelanjutan. Agen perubahan yang peduli terhadap lingkungan dan aktif dalam upaya pelestarian alam. Para siswa menunjukan antusiasme sangat tinggi dalam pelaksanaan kegiatan, terlihat dari banyaknya pertanyaan kritis yang diajukan. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kepedulian yang besar terhadap masa depan bumi. "Kami sangat senang melihat antusiasme siswa dalam mengikuti program ini," ujar Murniaty, Penyuluh Kehutanan yang terlibat dalam program ini. "Melalui program Visit to School, kami berharap dapat menginspirasi siswa untuk menjadi generasi yang peduli lingkungan dan turut serta dalam menjaga kelestarian alam." Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, namun juga menghadapi ancaman kerusakan lingkungan yang serius. Peringatan HKAN menjadi momentum untuk mengingatkan kita semua tentang pentingnya menjaga kekayaan alam yang kita miliki. Untuk itu program Visit to School menjadi salah satu kegiatan dalam rangkaian Road to Peringatan HKAN sebagai upaya menanamkan nilai-nilai konservasi sejak dini. Dengan melibatkan lembaga pendidikan, diharapkan akan terbentuk generasi muda yang peduli terhadap lingkungan dan berperan aktif dalam upaya pelestarian alam. Pemerintah melalui Keputusan Presiden RI Nomor 22 Tahun 2009 menetapkan tanggal 10 Agustus sebagai Hari Konservasi Alam Nasional. Pemerintah menilai bahwa konservasi alam merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan yang harus terus dilaksanakan dan dipertahankan pada setiap kegiatan dalam upaya perlindungan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai sistem penyangga kehidupan. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (SIARAN PERS Nomor : SP.27/K.8/TU/Humas/07/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Road To HKAN 2024, BBKSDA Sumatera Utara Sambangi SMP Negeri 1 Nassau

Kepala Resort SM. Dolok Surungan II, Timbul H. Pardosi, mengedukasi pelajar Nassau, 1 Agustus 2024. Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah IV Tarutung giat melakukan kegiatan menuju Road To HKAN 2024 dengan melakukan kunjungan sekolah guna mengedukasi generasi muda, khususnya kalangan pelajar. Kali ini sekolah yang disambangi adalah SMP Negeri 1 Nassau di Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba, pada Selasa 30 Juli 2024. Sekolah yang berada di sekitar kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) Dolok Surungan. Kunjungan ke SMP Negeri 1 Nassau ini dimaksudkan dimaksudkan untuk mensosialisasikan kawasan SM. Dolok Surungan terkait potensi serta peran pentingnya bagi kehidupan masyarakat sekitar, serta mengenalkan jenis satwa dan tumbuhan yang dilindungi di Indonesia dan khususnya di Sumatera Utara, agar generasi muda peduli dan mencintai alam dan lingkungan sekitarnya sedini mungkin. Rangkaian kegiatan kunjungan sekolah ini berupa pemaparan materi oleh narasumber Kepala Resort SM. Dolok Surungan II, Timbul H. Pardosi, tentang Fungsi Vital Kawasan Konservasi SM Dolok Surungan Bagi Warga Desa Sekitar Kawasan, Pengenalan Jenis-jenis Hutan, serta Mengenal Beberapa Jenis Satwa Liar Yang Dilindungi. Usai pemaparan dilanjutkan dengan diskusi untuk membahas serta memperdalam materi yang telah dipaparkan. Peserta begitu antusias bertanya karena merasa informasi yang didapatkan merupakan pengetahuan baru yang bermanfaat. Di akhir kegiatan, narasumber Kepala Resort SM. Dolok Surungan II menyampaikan apresiasi dan terima kasihkepada Kepala Sekolah dan guru-guru SMP Negeri 1 Nassau yang sudah memberi ruang dan waktu untuk terselenggaranya kegiatan edukasi ini. Dan kepada pelajar, diingatkan untuk rajin belajar serta menggali informasi dan pengetahuan lebih banyak lagi tentang konservasi alam dari berbagai sumber sehingga wawasan pengetahuannya akan lebih luas dan lengkap. Sumber : Timbul H. Pardosi (Kepala Resort SM. Dolok Surungan II) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 401–416 dari 1.992 publikasi