Minggu, 24 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Hidup Berdamai dengan Monyet, Jalan Panjang Mengurai Interaksi Negatif Manusia Satwa di Yogyakarta

Yogyakarta, 25 Agustus 2025. Interaksi negatif antara manusia dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kembali menjadi sorotan. Forum Group Discussion (FGD) Penanganan Monyet Ekor Panjang di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, dan lembaga peduli konservasi. Pertemuan yang diinisiasi Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) ini menghasilkan kesepakatan awal, perlu dibentuk Tim Terpadu dan peta jalan penanganan konflik yang nantinya akan ditetapkan melalui Keputusan Gubernur. “Keutuhan habitat menjadi kunci. Saat hutan rusak atau ditanami monokultur yang tidak disukai monyet, mereka keluar mencari makan. Dan seringkali, manusia yang mereka temui,” tegas Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut, M.Sc. - Dirjen KSDAE dalam pembukaan. Potret Konflik yang Mengemuka Data hasil kajian Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan DIY menunjukkan bahwa sedikitnya 1.980 individu monyet ekor panjang tersebar di tiga kabupaten: Bantul (471 ekor), Kulon Progo (557 ekor), dan Gunungkidul (792–952 ekor tergantung musim). Gunungkidul menjadi episentrum konflik dengan luasan habitat potensial lebih dari 21.600 Ha, diikuti Bantul sekitar 5.500 Ha dan Kulon Progo 2.599 Ha. Pemetaan kantong konflik memperlihatkan intensitas yang tinggi di desa-desa seperti Song Banyu, Tepus, Kemadang, Nglanggeran, hingga Wukirsari dan Mangunan. Serangan monyet tidak hanya merusak ladang jagung, pisang, dan ketela, tetapi juga menyusup hingga pekarangan rumah warga. Waktu-waktu rawan serangan pun terpetakan: pagi hari (04.30–06.00), siang (10.30–14.00), dan sore menjelang malam (17.00–18.30), terutama di musim tanam dan panen. Jawa Timur Turut Berbagi Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) turut hadir untuk berbagi pengalaman. Dalam kurun 2018–2025, BBKSDA Jatim telah melepasliarkan 480 ekor monyet ekor panjang hasil sitaan dan serahan ke Suaka Margasatwa Nusa Barung. Namun, pengalaman lapangan di Mojokerto menunjukkan betapa peliknya persoalan ini. Di Desa Cembor, Kecamatan Pacet, panen jagung warga merosot drastis dari rata-rata satu ton menjadi hanya 400 kilogram. Upaya mitigasi lokal seperti pagar kawat, orang-orangan sawah, hingga penggunaan petasan terbukti tidak efektif. Solusi hanya mungkin dicapai dengan pendekatan komprehensif, rehabilitasi habitat, patroli bersama, penyusunan Perdes mitigasi satwa liar, dan pemberdayaan masyarakat. Tekanan Pembangunan dan Perubahan Habitat Kasus DIY memiliki kompleksitas tersendiri. Analisis Balai KSDA Yogyakarta menunjukkan bahwa pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) telah membelah habitat alami di kawasan karst. Vegetasi terpotong, konektivitas ekologis menurun, dan fragmentasi habitat kian nyata. Akibatnya, monyet memperluas jelajahnya hingga ke lahan pertanian dan pemukiman. Data perjumpaan dari 2012 hingga 2024 menunjukkan lonjakan signifikan, dari sebaran terbatas di Purwosari dan Girisubo, kini meluas hingga Paliyan, Ponjong, Semin, dan Ngawen dengan total lebih dari 1.372 individu. Status Konservasi, Antara Ancaman dan Adaptasi Secara global, monyet ekor panjang kini berstatus Endangered dalam Daftar Merah IUCN sejak 2022. Prof. Amir Hamidy menekankan bahwa perubahan status ini harus jadi alarm serius: “Dulu dianggap Least Concern, lalu naik ke Vulnerable, dan kini Endangered. Ancaman utama bukan hanya deforestasi, tetapi juga konflik dengan manusia, perdagangan ilegal, dan risiko zoonosis.” Ironisnya, populasi di wilayah urban justru meningkat. Kemampuan adaptasi ekstrem membuat monyet bertahan hidup di pasar, obyek wisata, bahkan kampus. Mereka menjadi satwa di ambang kepunahan global, tetapi sering dianggap hama di level lokal. Menyusun Jalan Tengah Pertemuan di Yogyakarta merumuskan sejumlah strategi. Perbaikan habitat melalui penanaman pohon pakan alami seperti kersen, duwet, belimbing wuluh, hingga beringin. Manajemen populasi berbasis sains, sterilisasi terkendali, relokasi, dan monitoring dengan teknologi. Penguatan kelembagaan, pembentukan Satgas Penanganan MEP di tingkat desa dan koordinasi lintas sektor serta Koeksistensi manusia–satwa dalam bentuk sosialisasi hukum, pendidikan konservasi, dan pengembangan ekowisata berbasis interaksi aman. Prinsip Mamayu Hayuning Bawono yang secara lebih luas mengajak setiap individu untuk hidup harmonis dengan alam dan sesama manusia, serta menjaga keseimbangan ekosistem demi mencapai keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan hidup, dijadikan landasan filosofis. Hidup berdampingan dengan monyet bukan sekadar kompromi, melainkan kebutuhan demi menjaga kelestarian ekosistem sekaligus keberlanjutan hidup manusia. Jalan Panjang yang Baru Dimulai FGD di Yogyakarta menandai babak baru dalam penanganan konflik monyet ekor panjang di Tanah Jawa. Dari data lapangan, kajian ilmiah, hingga pengalaman nyata di Jawa Timur, semuanya menunjukkan satu kebenaran, tidak ada solusi tunggal. Hidup berdamai dengan monyet adalah perjalanan panjang. Sebuah jalan yang memerlukan keberanian untuk menata ulang pembangunan, kebijaksanaan dalam menjaga hutan, dan kesabaran dalam membangun harmoni antara manusia dan satwa liar dan di Yogyakarta, langkah pertama baru saja diambil. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kolaborasi BBKSDA Jatim dan PLN Menghadapi Ancaman Monyet Ekor Panjang

Pandaan, 25 Agustus 2025. Di tengah deru mesin dan tegangan tinggi jaringan transmisi listrik, ancaman tak terduga datang bukan dari kerusakan teknis, melainkan dari penghuni hutan, monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Primata yang lincah dan cerdas ini sering menjelajah Gardu Induk (GI), GITET, hingga tower SUTT/SUTET, memicu risiko korsleting, pemadaman regional, bahkan korban jiwa satwa liar. Menyadari urgensi itu, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir sebagai narasumber dalam kegiatan Bedah Teknik Pemeliharaan PLN UIT JBM Tahun 2025 di Pandaan, Senin (25/8). Hadir memberikan materi adalah Hari Purnomo, Polhut Madya BBKSDA Jatim, bersama drh. Zakia Sheila Faradilla, S.KH, dokter hewan Wildlife Rescue Unit BBKSDA Jatim. Para peserta yang merupakan semua management PLN UIT JBM. (General Manager, Para Senior Manager, Para Manager Subbidang, Para Asisten Manager, Para Manager ULTG, Para Team Leader, Para Perwakilan Staf Pemeliharaan Gardu Induk se Jatim dan Bali.tampak antusias menyimak pemaparan. Bukan hanya sekadar mendengar, mereka bahkan menyatakan komitmen untuk mengimplementasikan rekomendasi konservasi yang disampaikan narasumber, mulai dari pengelolaan sampah di sekitar GI, pemasangan pagar anti-primata, hingga pentingnya buffer zone vegetasi yang tidak menarik monyet. Gangguan monyet ekor panjang tidak bisa dipandang sebelah mata. Primata yang adaptif ini sering melompat antar kabel, menggigit panel, hingga masuk ke gardu karena tertarik oleh sisa makanan. Aktivitas berkelompok mereka berpotensi menyebabkan korsleting, kerusakan peralatan, dan pemadaman listrik berskala besar. Lebih jauh, satwa yang tersengat listrik bukan hanya kehilangan nyawa, tetapi juga menimbulkan konflik baru dengan masyarakat yang menganggapnya “hama”. BBKSDA Jatim menekankan bahwa tidak ada solusi tunggal dalam mitigasi. Pendekatan harus terintegrasi: teknis, non-teknis, ekologis, dengan indikator efektivitas, efisiensi, dan keterukuran. Kegiatan ini menjadi contoh nyata sinergi antara konservasi satwa liar dan ketahanan energi nasional. PLN sebagai penyedia listrik berkomitmen menjaga andal distribusi, sementara BBKSDA Jatim memastikan setiap upaya pemeliharaan tetap selaras dengan prinsip konservasi. Apa yang terjadi di Pandaan menjadi pengingat bahwa coexistence hidup berdampingan adalah kunci. Menjaga listrik tetap menyala bukan berarti harus memadamkan kehidupan satwa liar. Justru dengan merawat keduanya, manusia sedang memastikan masa depan yang lebih terang, bagi alam maupun peradaban. “Energi adalah nadi kehidupan manusia, satwa liar adalah nadi ekosistem. Mitigasi gangguan primata di instalasi kelistrikan bukan hanya menjaga cahaya tetap menyala, tetapi juga memastikan alam tetap lestari”. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pemberian Cahaya Baru Bagi di Dusun Bandealit TN Meru Betiri

Jember, 16 Agustus 2025. Pemerintah Kabupaten Jember, dan PT PLN Persero serta pihak terkait melaksanakan Penyalaan Listrik secara simbolis guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di Dusun Bandealit, Taman Nasional Meru Betiri. Secercah cahaya ini bukan hanya menyinari Dusun Bandealit yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Meru Betiri, tetapi juga menjadi simbol harapan baru bagi masyarakat yang telah lama menantikan hadirnya akses listrik. Kerja sama ini mencerminkan semangat gotong royong dalam mewujudkan pemerataan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah konservasi yang memiliki tantangan tersendiri. Dusun Bandealit, yang selama ini berada dalam keterbatasan akses energi listrik karena lokasinya yang terpencil dan berada dalam kawasan konservasi, kini mulai merasakan manfaat dari infrastruktur dasar yang selama ini dinanti. Proyek ini tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga membuka peluang lebih luas bagi kemajuan ekonomi lokal, pendidikan, layanan kesehatan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, langkah ini menjadi suatu motivasi untuk bersama menjaga kawasan Taman Nasional Meru Betiri sebagai salah satu Desa Penyangga Kawasan. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata bahwa dengan visi bersama dan koordinasi lintas sektor, pembangunan berkelanjutan di kawasan konservasi bisa berjalan selaras antara pelestarian alam dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Terangnya Dusun Bandealit adalah simbol komitmen semua pihak untuk terus menjalin sinergi demi masa depan yang lebih baik dan merata. Melalui momentum ini, kita diingatkan kembali bahwa kemajuan bangsa bukan hanya soal kota besar yang makin modern, tetapi juga tentang menyinari dusun-dusun terpencil dengan harapan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sumber: Balai Taman Nasional Meru Betiri
Baca Artikel

Pawai Konservasi, Semarak Semarak HUT ke-80 RI di Kecamatan Naman Teran

Kuta Gugung, 25 Agustus 2025. Menyambut detik-detik peringatan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2025, Pemerintah Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, menggelar barisan pawai kebangsaan yang diikuti berbagai unsur masyarakat yang ada di Kecamatan Naman Teran. Rangkaian pawai ini diikuti oleh siswa-siswi SD dan SMP beserta para guru, perangkat desa, pegawai pemerintah kecamatan, mahasiswa KKN, Paskibraka, marching band, barisan veteran, hingga masyarakat umum. Suasana penuh semangat kebersamaan dan cinta tanah air mewarnai jalannya pawai yang menjadi bagian dari semarak perayaan HUT ke-80 RI. Yang menarik perhatian, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara melalui Resor TWA Deleng Lancuk bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) turut ambil bagian dalam kegiatan pawai. Mereka memamerkan kekayaan flora, fauna dan potensi Taman Wisata Alam Deleng Lancuk yang secara administratif berada di Kecamatan Naman Teran. Melalui partisipasi ini, tim Resor TWA Deleng Lancuk mengajak masyarakat untuk semakin mengenal, mencintai dan menjaga kekayaan alam sekitar. Pesan konservasi yang dibawa tidak hanya ditujukan kepada generasi muda, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua agar bersama-sama menjaga kelestarian alam demi generasi mendatang. Kegiatan ini menjadi momen penting dalam penyebarluasan pengetahuan mengenai TWA Deleng Lancuk yang mungkin sebelumnya belum banyak dikenal masyarakat. Dengan hadirnya Tim Resor TWA Deleng Lancuk di tengah semarak perayaan kemerdekaan di Kecamatan Naman Teran, masyarakat memperoleh wawasan baru sekaligus semangat kebangsaan yang berpadu dengan semangat pelestarian lingkungan. “Semangat kemerdekaan bukan hanya merdeka dari penjajahan, tetapi juga merdeka untuk menjaga, melestarikan, dan mewariskan alam yang lestari kepada anak cucu kita.” Merdeka. Salam Konservasi. Mejuah-juah! Sumber: Samuel Siahaan, SP PEH Pertama/Kepala Resor dan Staf Resor TWA Deleng Lancuk-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Save Orangutan,Ojo Kendor

Medan, 25 Agustus 2025. Menarik membaca penggalan tulisan dari Riezcy Cecilia Dewi, Juru Kampanye Satya Bumi (Opini : Orangutan Tapanuli di Ambang Kepunahan, Mongabay.co.id, 19 Agustus 2025) “Kita hidup di zaman ketika punahnya satu spesies bukan lagi karena bencana alam, tetapi oleh ambisi dan kelalaian manusia. Orangutan Tapanuli, kera besar yang hanya hidup di satu titik kecil di dunia, di Sumatera Utara, Indonesia, kini berdiri di tepi jurang kepunahan. Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang harus diselamatkan ?” tetapi “mengapa kita terus menciptakan kehilangan?”. Pesan ini, tentunya menjadi bahan refleksi dalam menyikapi perkembangan penyelamatan dan pelestarian satwa liar dilindungi, khususnya orangutan yang merupakan salah satu spesies kunci, yang memainkan peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Hilangnya satu spesies kunci dapat memicu efek berantai berupa terganggunya struktur komunitas, menurunkan keanekaragaman hayati, bahkan memicu keruntuhan ekosistem secara keseluruhan. Fenomena ini dikenal juga sebagai trophic cascade. Pesan ini pun menjadi krusial ketika seluruh dunia sedang merayakan Hari Orangutan Sedunia (World Orangutan Day) yang diperingati setiap tanggal 19 Agustus. World Orangutan Day (WOD) atau disebut pula International Orangutan Day (IOD), diperingati untuk mendorong masyarakat melestarikan salah satu spesies luar biasa yaitu orangutan. Orangutan adalah salah satu primata atau satwa yang terancam punah keberadaannya. Tahun ini, tema Hari Orangutan Sedunia adalah “Love for Orangutan, Kawal Jangan Dijual” (Mengapa Kita Penting Merayakan Hari Orangutan Sedunia ? www.kompasiana.com, 15 Agustus 2025). Lazimnya, di setiap tahun manakala masyarakat internasional memperingati dan merayakan WOD, selalu disosialisasikan tentang kehidupan, karakteristik dan perilaku Orangutan. Menjadi hal yang sering didengar bahwa Orangutan merupakan hewan soliter, yang tidak mempunyai banyak teman sejenis untuk mencari makanan, membuat rumah, dan kelangsungan hidup yang lain. Di alam liar, orangutan bisa hidup dengan ibunya kurang lebih 8 tahun, bahkan lebih. Induk orangutan mengajarkan anaknya hidup di hutan sebelum dapat hidup sendiri. Induk orangutan umumnya akan melahirkan setiap 8 tahun sekali, sehingga sepanjang hidupnya seekor induk Orangutan biasanya hanya melahirkan 4 hingga 5 bayi. Alasan inilah kenapa populasi orangutan berkembang sangat lambat (Sejarah Hari Orangutan Sedunia dan Fakta Menariknya, m.kumparan.com, 19 Agustus 2023) Kemudian, acap kali juga didengar retorika bahwa ancaman terbesar kehidupan orangutan adalah kehilangan habitat akibat deforestasi massif. Pembukaan hutan untuk perkebunan sawit, pertambangan, dan kegiatan illegal lainnya telah menyusutkan rumah mereka. Konflik antara manusia dan orangutan, hingga perdagangan satwa liar ilegal, yaitu anak orangutan diambil dari induknya yang dibunuh, masih terjadi (Melindungi Sang “Arsitek Hutan” di Hari Orangutan Sedunia, Christopel Paino, Mongabay.co.id, 19 Agustus 2025) Memang, kondisi pelestarian orangutan saat ini belum se-ideal yang diekspektasikan oleh banyak pihak. Namun bukan berarti tidak ada upaya-upaya yang dilakukan. Menyelesaikan permasalahan yang kompleks tentunya tidak semudah membalikkan telapak tangan, banyak tantangan yang harus dihadapi, sehingga butuh waktu, pengorbanan dan perjuangan yang gigih. Meskipun silent (senyap) dan jauh dari publikasi, gerakan konservasi orangutan sejatinya tetap terus bergerak. Kolaborasi beberapa pihak untuk memantau dan menyelamatkan orangutan baik melalui perdagangan maupun pemilikan/pemeliharaan secara illegal sampai saat ini masih terus bekerja. Belum lagi berbagai upaya penyelamatan melalui pusat karantina, yang ditujukan untuk merawat dan merehabilitasi orangutan korban perdagangan maupun interaksi negatif dengan warga, sampai kepada melepasliarkannya kembali ke habitat alami, ini tetap menjadi fokus perhatian pemerintah melalui Kementerian Kehutanan bersama dengan lembaga-lembaga mitra yang konsern untuk merealisasikannya. Giat ini dilakukan guna memastikan bahwa satwa spesies payung (umbrella spesies) ini dapat hidup dan berkembangbiak secara alami di “rumahnya”. Kampanye yang tiada henti untuk mengedukasi masyarakat lintas generasi dan profesi, menjadi rutinitas. Berbagai cara, media dan model pun dikemas agar pesan-pesan penyelamatan semenarik mungkin dan mudah dipahami. Harapannya tentu bukan hanya masyarakat teredukasi, lebih lagi tumbuh kesadaran (awareness) yang massif untuk peduli dan ikut mengambil bagian dalam upaya pelestarian Harus diakui bahwa tiga spesies orangutan ; Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Borneo, Orangutan Sumatera (Pongo abelii) dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) di Sumatera Utara, menjadi fokus perhatian masyarakat dunia. Daftar Merah IUCN (International Union for Conservation of Nature) pun menempatkan ketiganya pada status kritis (Critically Endangered). Semua ini tentunya menjadi tantangan sekaligus “vitamin” yang memberi energi positif untuk terus bergerak melakukan yang terbaik bagi upaya penyelamatan orangutan. Peringatan WOD bukan sekedar perayaan yang tidak bermakna, sebaliknya menjadi momentum pengingat dan penggalangan partisipasi untuk bergerak dinamis dan berjuang bersama secara massal dan konsisten. Bila semua sudah terbangun kesadarannya, bukan mustahil Orangutan akan lestari dan sejahtera, hidup berdamai dengan manusia. Ini bukan ilusi, tapi ambisi yang harus diwujudkan. Ayo, Selamatkan Orangutan, Ojo kendor …. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Membangun Asa Benteng Konservasi di Pulau Bawean

Surabaya, 20 Agustus 2025. Di balik hamparan hutan tropis Pulau Bawean yang dikelilingi samudra biru, dua satwa endemik sedang berpacu dengan waktu, Rusa Bawean (Axis kuhlii) dan Babi Kutil Bawean (Sus blouchi). Keduanya bukan sekadar penghuni pulau kecil di Laut Jawa, melainkan simbol rapuhnya keseimbangan alam Nusantara. Rusa bawean telah lama menyandang status Critically Endangered (Kritis) menurut IUCN. Begitu pula dengan babi kutil bawean, spesies unik yang hanya ditemukan di pulau kecil ini, kini juga berada dalam kategori Critically Endangered. Populasinya yang amat terbatas tertekan oleh fragmentasi habitat, perburuan, konflik dengan anjing peliharaan, hingga aktivitas pertanian. Pertemuan Penentu Arah Konservasi Pada Rabu, 20 Agustus 2025, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menggelar rapat penting dengan Taman Safari Indonesia (TSI) II Prigen Pasuruan. Agenda utamanya, membahas rancangan Kerja Sama pendirian Pusat Konservasi Satwa Endemik Bawean. Kepastian arah konservasi menjadi bara dalam hangatnya diskusi yang berlangsung. Pembangunan fasilitas baru ini tidak dimaksudkan sebagai penangkaran komersial, melainkan pusat penyelamatan, rehabilitasi, dan pendidikan. Dukungan lahan seluas 2 hektar di Desa Mombhul, Kecamatan Sangkapura, sudah diamankan melalui MoU dengan pemilik lahan, dengan sponsor utama Yayasan KASI. Nur Patria Kurniawan, Kepala BBKSDA Jawa Timur, menegaskan arah kerja sama ini harus berpijak pada mandat konservasi negara. “Rencana ini bukan sekadar membangun fasilitas fisik, melainkan membangun kepercayaan publik bahwa satwa endemik Bawean benar-benar kita jaga untuk masa depan. Dalam hal ini, konservasi tidak boleh menyisakan ruang bagi komersialisasi. Semua proses, mulai dari proposal hingga teknis lapangan, harus akuntabel, transparan, dan berpihak pada kelestarian satwa kunci,” ujarnya. Dalam pertemuan tersebut diuraikan rencana komprehensif, berupa rencana pembangunan fasilitas rehabilitasi mamalia, hingga fasilitas untuk menampung sekitar 30 ekor rusa bawean dan sekelompok babi kutil bawean (Sus blouchi). Fasilitas ini akan dilengkapi laboratorium kecil, klinik satwa, serta dapur pakan. Konservasi yang Hidup dari Masyarakat Keberadaan Pusat Konservasi Satwa Bawean, juga diarahkan sebagai pusat edukasi konservasi bagi masyarakat lokal dan siswa sekolah. Melalui program penyelamatan dan pelepasliaran satwa, masyarakat Bawean diharapkan bukan sekadar penonton, melainkan penjaga garis depan konservasi. Seluruh hasil reproduksi satwa dari pusat konservasi tersebut hanya boleh digunakan untuk restocking habitat alami di Pulau Bawean, bukan untuk kepentingan lembaga konservasi lain atau komersialisasi. Pusat Konservasi Satwa Bawean bukan hanya sebuah proyek fisik. Ia adalah benteng terakhir bagi rusa bawean dan babi kutil bawean, sekaligus wadah lahirnya pengetahuan baru tentang ekologi satwa endemik pulau kecil., Pusat Konservasi Satwa Bawean diharapkan menjadi tonggak penting dalam upaya mencegah kepunahan satwa unik Bawean. Komitmen bersama bahwa, “Wildlife belongs to state”, satwa liar adalah milik negara, dan kelestariannya adalah tanggung jawab bersama. “Dari Pulau Bawean, kita ingin menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya menjaga satwa, tetapi menjaga harga diri bangsa. Jika rusa bawean dan babi kutil bisa kita selamatkan, maka kita telah memenangkan satu pertempuran penting melawan kepunahan,” tegas Nur Patria Kurniawan menutup rapat pertemuan siang itu. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

SMA/SMK Plus Kesehatan Saribudolok Edukasi Konservasi Gajah Sumatera di Aek Nauli Elephant Conservation Camp

Sibaganding, 21 Agustus 2025. Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) kembali menerima kunjungan edukasi, Senin (18/8). Kali ini, rombongan berasal dari Keluarga Besar SMA/SMK Plus Kesehatan Saribudolok. Rombongan yang dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Harmedin Saragih, S.Pd., M.Pd., hadir bersama para guru, pendamping dari TNI AD, serta 300 peserta yang terdiri atas siswa-siswi dan tenaga pendidik. Mereka disambut hangat oleh Kepala Resor ANECC dan CA Batu Gajah, Boby Natalius Purba, S. Hut., beserta jajaran staf. Dalam kunjungan ini, peserta mendapat pengalaman berharga berinteraksi langsung dengan empat ekor Gajah Sumatera yang ada di ANECC, yaitu Luis Vigo (jantan), Ester Juwita (betina), Siti (betina) dan Vini (betina). Dengan pendampingan para mahout (pawang gajah) serta Penyuluh Kehutanan Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Lisbeth Y. S. Manurung, S. Hut., para siswa memperoleh penjelasan tentang morfologi gajah (gigi, lidah, belalai, kuku, dan telinga), perilaku gajah dalam keseharian, serta pentingnya konservasi Gajah Sumatera. Suasana kegiatan berlangsung penuh semangat. Siswa-siswi tampak antusias mendengarkan penjelasan sekaligus menyaksikan interaksi gajah bersama mahout. Pada kesempatan ini, Resor ANECC dan CA Batu Gajah juga menyampaikan pesan konservasi kepada generasi muda. Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) merupakan satwa endemik yang kini berstatus terancam punah. Upaya pelestarian sangat bergantung pada kesadaran masyarakat, khususnya kalangan pelajar, untuk menjaga habitat alami gajah, mencegah konflik manusia-gajah, serta mendukung program konservasi berkelanjutan. Melalui kegiatan edukasi ini, diharapkan siswa-siswi semakin memahami bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, melainkan tugas bersama. Generasi muda memiliki peran penting dalam memastikan kelestarian Gajah Sumatera untuk masa depan. Dalam sambutannya, Kepala Sekolah SMA/SMK Plus Kesehatan Saribudolok, Harmedin Saragih, S.Pd., M.Pd., menyampaikan: “Meskipun tidak semua siswa mengungkapkan pendapat secara langsung, saya yakin dari respon mereka tadi, terlihat dukungan yang sangat besar terhadap program pelestarian, khususnya untuk gajah di Aek Nauli. Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak ANECC atas penerimaan yang hangat serta edukasi yang sangat bermanfaat. Apabila ada kekurangan dari kami, terutama dari anak-anak kami, saya sebagai pimpinan sekolah menyampaikan permohonan maaf. Semoga pembelajaran hari ini benar-benar mendukung program Kementerian Kehutanan dalam pelestarian alam, tidak hanya satwa, tetapi juga hutan dan lingkungan sekitarnya.” Sumber: Resor ANECC dan CA Batu Gajah-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai TN Batang Gadis Gelar Upacara HUT RI ke-80 di Puncak Gunung Sorik Marapi

Mandailing Natal, 17 Agustus 2025 Balai Taman Nasional Batang Gadis (BTNBG) melaksanakan upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 di Puncak Gunung Sorik Marapi, Minggu (17/8). Upacara berlangsung khidmat dan penuh makna dengan latar keindahan alam Gunung Sorik Marapi Kepala Balai TN Batang Gadis, Bapak Agusman, S.P., M.Sc., bertindak sebagai pembina upacara. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran BTNBG, di antaranya Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi SPTN Wilayah II Kotanopan, personil Polisi Kehutanan, serta berbagai mitra dan instansi terkait seperti Polres Mandailing Natal, Kodim 0212/TS, Pos SAR Mandailing Natal, Ranger Sorik Marapi, Tim NASOUT Camp, hingga para peserta pendakian Sorik Marapi tahun 2025. Pelaksanaan pendakian menuju puncak Sorik Marapi dilakukan berdasarkan dan sesuai dengan SOP Pendakian Gunung Sorik Marapi yang berlaku di kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Hal ini menjadi komitmen bersama untuk menjaga keamanan, kenyamanan, serta kelestarian lingkungan sepanjang jalur pendakian. Sebagai puncak rangkaian kegiatan, para peserta juga membentangkan bendera Merah Putih sepanjang 100 meter di puncak Sorik Marapi. Momentum ini menjadi simbol persatuan, semangat kebangsaan, serta tekad untuk menjaga keutuhan bangsa sekaligus kelestarian alam. Melalui pelaksanaan upacara di ketinggian, BTNBG ingin menegaskan bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya hidup dalam jiwa bangsa, tetapi juga berpadu erat dengan semangat konservasi dan kecintaan terhadap alam. Puncak Sorik Marapi menjadi saksi persatuan lintas elemen masyarakat yang bersama-sama menjaga alam sekaligus mengenang jasa para pahlawan bangsa. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Anggi Wahyuda, Merajut Spirit Menembus Keterbatasan

Anggi Wahyuda didampingi Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara di stan pameran Balai Besar KSDA Sumatera mengajak generasi muda untuk peduli kepada pelestarian alam Medan, 19 Agustus 2025. Dulu aku hanya bermimpi dengan satu kaki dan seribu keraguan orang. Tapi ibu tak pernah ragu. Ia tidak banyak bicara, hanya menunduk dan berdoa dalam sunyi. Hari ini, aku berdiri di atas 4 dari 7 puncak tertinggi di Indonesia. Bukan karena aku sempurna, tapi karena cinta ibu tak pernah patah, dan doanya tak pernah berhenti. Setiap kali pundakku lelah dan kakiku nyaris menyerah, aku dengar suara ibu dalam ingatan “Nak, kamu tidak kekurangan apa-apa. Tuhan menciptakanmu cukup untuk menang.” Dan aku percaya itu. Ini bukan kisah tentang kekurangan, ini tentang keberanian. Tentang satu kaki yang tetap melangkah, dan satu doa yang tak pernah Lelah. “Disabilitas bukan ketidakmampuan. Ia hanya cara berbeda untuk menaklukkan dunia”.-Nelpon Mandala. Untuk ibu, dan untuk semua yang masih ragu pada dirinya sendiri-kita mampu, dengan cara kita. Ini adalah curahan isi hati Anggi yang dituangkannya dalam postingan Instagram miliknya. Anggi Wahyuda menjadi sosok anak muda yang saat ini menarik perhatian bukan hanya masyarakat Indonesia saja, tetapi juga masyarakat dunia internasional. Anggi Wahyuda, seorang pendaki disabilitas asal Indonesia berhasil mencapai Everest Base Camp di Nepal pada tanggal 26 Mei 2025 yang lalu. Ia mencapai ketinggian 5.364 meter dengan menggunakan satu kaki dan bantuan tongkat, membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk meraih mimpi. Anggi, 24 tahun, asal Binjai, Sumatera Utara kehilangan kaki kanannya akibat kecelakaan pada tahun 2015. Meski kakinya diamputasi, semangat Anggi tidak lantas padam. Ia justru bangkit dan mengisi hari-harinya dengan kegiatan bermanfaat, salah satunya adalah mendaki gunung. Keinginannya untuk memecahkan rekor sebagai penyandang disabilitas pertama yang mendaki gunung, sejatinya ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Penyandang disabilitas pun juga bisa mendaki hingga ke puncak gunung layaknya manusia normal. Ia menekankan bahwa pencapaiannya itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menginspirasi orang lain agar tidak menyerah pada keterbatasannya. Sambil mendaki gunung, Anggi juga membuat konten di media sosial. Semua itu dilakukannya agar penyandang disabilitas lain merasa termotivasi dan tidak menjadikan kekurangan mereka sebagai halangan. Ia mengaku senang karena nilai-nilai yang dia sebarkan melalui dokumentasi perjalanan pendakian di media sosial telah memberikan inspirasi positif bagi banyak orang, dimana semakin banyak masyarakat terinspirasi untuk berjuang menaklukkan keterbatasan dalam hidup. Dalam puncak perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2025, yang dilaksanakan pada Senin (11/8) di Auditorium Gedung Manggala Wanabakti Jakarta, dengan mengusung tema “Membangun Sinergi Antar Generasi Untuk Masa Depan Konservasi dengan tagline “Youth for Conservation Beyond Expectation”, yang dihadiri Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, Anggi Wahyuda menjadi bintang tamu kehormatan sebagai sosok generasi muda inspiratif. Di panggung, Anggi bersama beberapa anak muda menyatakan kebulatan tekad dan komitmen untuk berbuat serta melakukan yang terbaik bagi konservasi alam dan lingkungan, melalui karya-karya nyata yang berdampak dan bermanfaat. Anggi juga berkenan menyambangi stan Pameran Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan berbincang-bincang dengan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP.,M.Env. Dalam kunjungannya tersebut Anggi menyampaikan pesan-pesan konservasi “Ayo teman-teman semua kita harus lebih sadar lagi dengan konservasi alam, lebih mencintai alam, dan ya… dari hal yang paling simple jangan buang sampah sembarangan, karena alam gak butuh kita tapi kita yang butuh alam". Sumatera Utara boleh berbangga memiliki anak muda yang inspiratif, yang tidak menyerah dengan kekurangan dan keterbatasannya, sebaliknya mampu bangkit menjadi sosok yang kuat dan tangguh serta berprestasi. Anggi Wahyuda mampu merajut spirit menembus keterbatasan. Terima kasih Anggi buat inspirasinya, salam lestari….. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Partisipasi di "Semangat Kolaborasi Lintas Generasi" HKAN 2025

Jakarta, 11 Agustus 2025 – Puncak Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025 diselenggarakan di Auditorium Dr.Ir. Soedjarwo, Manggala Wanabakti. Peringatan HKAN tahun ini digelar dengan tema “Bergerak bersama membangun sinergi antar generasi demi masa depan konservasi yang lebih baik melalui peningkatan manfaat sosial hutan dan mewujudkan hidup harmonis bersama alam” dengan tagline “Youth for Conservation, Beyond Expectations”. Dalam sambutannya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa hutan bukan warisan namun titipan yang harus dijaga dengan baik dan lebih produktif sehingga kedepannya saat handover /penyerahan kepada pemilik selanjutnya yakni generasi muda maka hutan yang saat ini kita miliki tidak hanya terjaga tapi jauh lebih baik daripada hari ini. Generasi muda merupakan subjek dalam perubahan, Kementerian Kehutanan membuka pintu selebar-lebarnya kampanye cinta alam dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan digital native. Puncak HKAN 2025 diselenggarakan dengan berbagai rangkaian acara diantaranya Pameran Konservasi Alam, Talkshow, Launching Jenis Flora Fauna Terbaru dan Buku Keragaman Ekosistem Alami Kawasan Konservasi, Monolog and Youth Declaration for Conservation dan penampilan spesial dari guest star Mr. Jono & Joni, Kotak Band dan Manshur Angklung serta Tarian Nusantara Medley yang membuat suasana menjadi semakin meriah. Puncak Peringatan HKAN menjadi momentum launching 19 jenis flora dan fauna terbaru yang ditemukan pada tahun 2025, temuan tersebut merupakan kolaborasi dari berbagai pihak yakni Kemenhut, Peneliti, Perguruan Tinggi, BRIN dan lainnya. Penemuan tersebut mengisyaratkan betapa kayanya keanekaragaman hayati di Indonesia. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penemuan tersebut memperkuat status Indonesia sebagai negara Mega Biodiversity, pusat keanekaragaman hayati dunia. Pameran Konservasi Alam diikuti oleh 22 UPT KSDAE dan Mitra salah satunya yakni BKSDA Kalimantan Selatan yang turut serta berpartisipasi mendirikan booth pameran dengan ciri khas satwa bekantan yang merupakan satwa dilindungi serta maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Pameran yang digelar di Selasar Auditorium Dr.Ir. Soejarwo menarik perhatian pengunjung dengan berbagai suguhan produk UKM masyarakat binaan, informasi ekowisata dari berbagai penjuru Indonesia, serta informasi keanekaragaman hayati dari wilayah masing-masing UPT. Selain itu games dan quiz dengan berbagai macam hadiah menarik juga disediakan bagi pengunjung pameran. Harapannya HKAN 2025 mampu membangun sinergi antar generasi demi masa depan konservasi yang lebih baik. Youth for Conservation, Beyond Expectations. (Ryn) Sumber: Siti Sofiatun Nafiah, S.Hut. - Penyuluh Seksi Konservasi Wilayah II dan Riyan Susilo Adji, S.Kom Prakom - Balai KSDA Kalimantan Selatan FacebookTwitterShare
Baca Artikel

Hari Konservasi Alam Nasional 2025, BBKSDA Jatim Ajak Ratusan Pelajar SMPN 14 Surabaya Merawat Bumi

Surabaya, 14 Agustus 2025. Suara riuh 320 pelajar SMP Negeri 14 Surabaya memenuhi Aula Joglo di siang yang teduh, Selasa (12/8/2025). Di balik raut wajah penuh rasa ingin tahu, tersimpan benih kepedulian yang hendak ditanam, benih untuk mencintai bumi, melindungi satwa, dan menjaga hutan agar tetap lestari. Pada momen peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2025, Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir bukan sekadar memberi ceramah, tetapi membangkitkan kesadaran generasi muda untuk menjadi garda depan penyelamat keanekaragaman hayati. Tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, yang terdiri dari Rakhmat Hidayat (Polisi Kehutanan Ahli Madya), Ach. Onky Pryono (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), dan Ego Lion Sakty (Pengendali Ekosistem Hutan Pemula), menjadi narasumber dalam kegiatan Sosialisasi Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya di SMP Negeri 14 Surabaya. Mengusung tema “Menjaga Keanekaragaman Hayati untuk Generasi Mendatang”, kegiatan ini diikuti oleh guru, staf sekolah, mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dan 320 siswa kelas VII. Para narasumber tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga membangun keterhubungan emosional antara peserta dan alam di sekitar mereka. Materi yang dibawakan meliputi Kebijakan Pengelolaan KSDAE, termasuk tugas pokok BBKSDA Jatim dan strategi konservasi yang mencakup perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, serta pemanfaatan lestari sumber daya alam hayati serta Kesadaran Lingkungan, menanamkan kepedulian sejak dini agar pelajar mampu menjadi agen perubahan di tengah tantangan degradasi alam. Setelah penyampaian materi, suasana aula berubah menjadi lebih hidup. Sesi tanya jawab berlangsung hangat, diwarnai rasa penasaran para pelajar tentang satwa liar, habitatnya, dan upaya pelestariannya. Puncak acara menjadi momen tak terlupakan, mural Bunga Rafflesia setinggi dinding sekolah dibuat dari tutup botol bekas menjadi sebuah simbol bahwa kreativitas bisa berjalan seiring dengan pesan konservasi. Warna merah marun bunga raksasa itu seakan mengingatkan semua orang akan keunikan flora Indonesia yang harus dijaga. Tidak berhenti di situ, tim BBKSDA Jatim juga memutar video perbandingan satwa yang hidup bebas di alam dan yang berada dalam sangkar. Visual itu menjadi pukulan emosional bagi peserta, menyadarkan bahwa kebebasan adalah hak setiap makhluk hidup. Dalam diskusi penutup, pihak SMPN 14 Surabaya mengungkapkan keinginan untuk terlibat langsung dalam kegiatan konservasi BBKSDA Jatim, termasuk pelepasliaran satwa dan kampanye pelestarian lingkungan. Dukungan semacam ini menjadi sinyal positif bahwa kolaborasi antara lembaga pendidikan dan instansi konservasi dapat menjadi kekuatan besar dalam merawat warisan alam. Dari ruang aula di pinggiran Surabaya, pesan itu disampaikan dengan lantang bahwa masa depan bumi ada di tangan generasi muda. Melalui edukasi yang menyentuh hati dan menggerakkan aksi, Balai Besar KSDA Jawa Timur berharap semangat menjaga alam tak berhenti di dinding sekolah, tetapi tumbuh subur di setiap langkah anak bangsa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menyiapkan Dokter Hewan Masa Depan Penjaga Satwa Indonesia

Banyuwangi, 14 Agustus 2025. Di sebuah ruang kuliah di Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam Banyuwangi, sebelas mahasiswa Program Profesi Kedokteran Hewan duduk terpaku. Di hadapan mereka, bukan sekadar teori tentang anatomi atau penyakit hewan. Kali ini, yang mereka pelajari adalah denyut nadi kehidupan liar, kisah penyelamatan, perawatan, dan pelepasliaran satwa dilindungi yang berjuang bertahan di alam. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir bukan hanya untuk memberi kuliah, tetapi untuk membuka jendela realitas tentang pekerjaan berat di garis depan konservasi., 11 Agustus 2025. Materi disampaikan oleh Mohamad Sukron Makmun, Pengendali Ekosistem Hutan; drh. Indy yang bergabung melalui Zoom; serta Penyuluh Kehutanan, Ainy Amelya Utami. Tiga topik utama dibedah secara mendalam, legislasi dan mekanisme penyitaan satwa dilindungi, proses penangkaran hingga pelepasliaran, serta ancaman zoonosis yang mengintai di batas perjumpaan manusia dan satwa liar. Para mahasiswa tak hanya mendengar, tetapi juga terlibat aktif bertanya dan mendiskusikan kasus-kasus nyata di lapangan, mulai dari operasi penyelamatan burung kakatua di pasar gelap hingga prosedur karantina sebelum satwa dilepas kembali ke habitatnya. Di balik setiap satwa yang diselamatkan, terdapat cerita panjang tentang hutan yang hilang, perburuan, dan manusia yang peduli. BBKSDA Jatim berharap, pembekalan ini menjadi fondasi moral dan keahlian bagi calon dokter hewan agar kelak mereka tak hanya menjadi penyembuh, tetapi juga penjaga kehidupan liar yang rapuh. Di luar gedung kuliah, hutan dan satwa menanti dan di tangan generasi ini, masa depan mereka akan ditentukan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mahasiswa Universitas Brawijaya Menyelami Dunia Konservasi Bersama BBKSDA Jatim

Surabaya, 14 Agustus 2025. Di sebuah ruang rapat sederhana di Kantor Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, tiga mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berdiri di hadapan jajaran Balai Besar KSDA Jawa Timur, 7 Agustus 2025. Bukan sekadar menyampaikan laporan akhir magang, mereka bercerita tentang kisah lima minggu penuh peluh, lumpur, ombak, dan suara hutan, perjalanan yang menguji ketangguhan, kecerdasan, dan kepedulian terhadap alam. Mereka adalah Brilliant Akbar Bima Nusantara, Ishthifa Sriwardhani Adipuspitaningrum, dan Muhammad Shultoni Cahya Ramadhan. Tiga nama yang kini terikat pada kisah konservasi di dua dunia berbeda, konflik satwa. Menapaki Pulau Bawean, Laboratorium Alam yang Hidup Pada Resort Konservasi Wilayah 10 Pulau Bawean, langkah pertama mereka dimulai dengan SMART Patrol, menelusuri kawasan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, mencatat potensi kawasan, dan menginisiasi mini riset herpetofauna, burung, serta anggrek liar. Namun, tidak semua cerita berakhir indah. Di Pantai Selayar, mereka menemukan bangkai penyu, di Pantai Tugu 0, seekor lumba-lumba mati terdampar. Bersama masyarakat dan Dinas Kelautan & Perikanan setempat, mereka mengubah tragedi itu menjadi pelajaran ekologi bagi warga. Di sela patroli, mereka menjadi duta edukasi dalam program FOLU Goes To School di MA Al-Manar, membicarakan satwa endemik Bawean dan bahaya kebakaran hutan. Mereka juga terlibat dalam S.I.D.I (Small Island Development Initiative), kolaborasi BBKSDA Jatim, UINSA Surabaya, dan PT. Pertamina, yang mencakup monitoring burung air, pemasangan camera trap, dan analisis vegetasi pakan Rusa Bawean. Dari KTH Mustika Aren, mereka mempelajari cara gula aren menjadi lebih dari sekadar produk, melainkan sumber penghidupan yang menjaga hutan tetap berdiri. Dari Hutan ke Kota, Interasikasi Negatif Satwa dan Manusia Pindah ke Surabaya, tantangan berubah wujud. Mereka membantu evakuasi dua ekor monyet ekor panjang dari Plaza Lamongan, serta menangani konflik satwa di Desa Cembor, Pacet, Mojokerto, wilayah di mana monyet liar merangsek ke lahan pertanian warga. Investigasi lapangan, koordinasi dengan Polsek Pacet, perangkat desa, dan UPT Tahura Raden Soerjo menjadi bagian dari keseharian. Setiap langkah mereka ditutup dengan refleksi mendalam, menautkan setiap kejadian pada dasar hukum, kebijakan konservasi, dan etika lapangan. Merajut Generasi Konservasi Muda Hasil magang ini menegaskan pentingnya program magang kolaboratif yang terstruktur, dengan SOP terpadu, penugasan strategis seperti SMART Patrol, konservasi TSL, FOLU Netsink, dan edukasi masyarakat, serta pendamping lapang yang mumpuni. BBKSDA Jatim menilai, kegiatan ini bukan hanya memberi pengalaman kerja lapangan bagi mahasiswa, tetapi juga membangun potensi kader konservasi masa depan. Data lapangan, publikasi edukatif, dan jejaring kemitraan yang mereka hasilkan menjadi nilai tambah yang tak ternilai. Dari deru ombak Pulau Bawean hingga udara sejuk Pacet, perjalanan ini membuktikan bahwa konservasi bukan sekadar pekerjaan, ia adalah panggilan jiwa. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pengendali Ekosistem Hutan, Garda Terdepan Konservasi yang Menyatukan Ilmu, Alam, dan Bangsa

Jakarta, 12 Agustus 2025. Di sebuah ruang pertemuan di jantung Ibu Kota, 150 insan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) hadir secara langsung, disaksikan 695 pasang mata lainnya dari berbagai penjuru Indonesia melalui layar daring. Bukan sekadar pertemuan tahunan, Sarasehan PEH 2025 menjadi panggung tempat para penjaga garda terdepan konservasi menyatukan visi, menautkan pengalaman, dan merumuskan masa depan profesi yang kini diakui sebagai salah satu tiang penyangga kelestarian ekosistem negeri. Mereka datang membawa cerita, tentang jejak kaki Komodo di tanah Flores, tentang penyu yang kembali ke pantai Sangalaki untuk bertelur di bawah ancaman pencurian, tentang jalur peredaran satwa liar yang terus berevolusi. Hingga tentang pohon Taksus di kaki Gunung Kerinci yang menyimpan senyawa antikanker dan anti-aging. Inilah Sarasehan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Indonesia yang digelah di Jakarta, 12 Agustus 2025. Sebuah pertemuan yang mengusung “Sinergi PEH Lintas Generasi, Aksi Bersama Lestarikan Alam”. Namun, pertemuan ini juga mengangkat cermin, tantangan terbesar PEH justru sering datang dari dalam diri sendiri, rasa jenuh, lelah, dan keraguan yang dapat meruntuhkan semangat. Mengurai Peta Tantangan, Dari Jabatan hingga Jejak di Lapangan Data resmi memotret skala peran PEH: 4.000 personel, menjadikannya jabatan fungsional terbesar di Kementerian Kehutanan. Namun, jenjang karier mereka masih terkunci di tingkat Madya, sementara saudara terdekat Polisi Kehutanan dan Penyuluh Kehutanan telah menembus Jenjang Utama. Penyelarasan struktur jabatan menjadi fokus. Regulasi baru menuntut PEH tak hanya ahli di bidang teknis ekologi, tetapi juga mumpuni dalam manajemen, komunikasi, dan inovasi. Kenaikan jabatan tak lagi sekadar soal angka kredit, tapi komitmen untuk siap ditempatkan di manapun demi konservasi. “PEH dulu disebut semi-scientist, tapi kini mereka harus menjadi scientist, manajer, sekaligus diplomat konservasi.” tegas Amy Nurwanty, Sekretaris Ditjen KSDAE dalam sambutannya mewakili Direktur Jenderal KSDAE. Konservasi yang Menembus Batas Flores dan Komodo, di luar kawasan konservasi, kamera jebak mengungkap individu Komodo yang bertahan di habitat terpisah. PEH tak hanya memantau, tetapi juga mengedukasi warga, memetakan jalur mangsa, dan meredam konflik satwa–manusia. Indonesia Timur dan Perdagangan Satwa Liar, Jalur laut yang dulu ramai kini mulai surut peredarannya, berkat kolaborasi multipihak dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan pola peredaran TSL. Pulau Sangalaki, Penyu, dan Pasir yang Menyimpan Kehidupan. Patroli malam, relokasi telur ke hatchery, dan pemberdayaan pemuda kampung menjadi benteng terakhir dari laju penurunan populasi. Taksus Sumatera dan Harapan dari Kulit Pohon, dari hutan TN Kerinci Seblat, penelitian bersama BRIN mengungkap potensi obat kanker dan kosmetik berbasis anti-aging. Inovasi ini menanti tahap komersialisasi. IPEHINDO, Rumah Besar Profesi Sarasehan juga mengukuhkan pentingnya Ikatan Profesi PEH Indonesia (IPEHINDO) sebagai wadah kolaborasi dan transfer pengetahuan. Dengan delapan DPW provinsi yang sudah terbentuk, targetnya adalah seluruh provinsi memiliki kepengurusan aktif. Bahkan, lahir kesepakatan baru, 2 Juli akan menjadi Hari PEH Nasional, memperingati diresmikannya jabatan ini pada 2003. Menatap Masa Depan, Lokal Menggema Global Kiprah PEH kini menembus batas negara, dari pengelolaan cagar biosfer UNESCO hingga partisipasi dalam forum global Ramsar Site dan World Heritage Site. Filosofinya jelas, PEH lokal, dampak global. Sarasehan PEH 2025 ditutup dengan pesan yang menggetarkan ruang “Konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan satwa atau hutan. Ini tentang menyelamatkan masa depan kita semua. Tantangan terberat bukan di luar sana, tapi di dalam diri kita masing-masing.” Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Peringati Hari Gajah Sedunia & HKAN 2025, BBKSDA Sumut Ajak Masyarakat Jaga Alam Bersama

Simalungun, 13 Agustus 2025. Dengan semangat melestarikan dan menjaga satwa liar, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara melalui Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Pematangsiantar menggelar perayaan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) dan Hari Gajah Sedunia di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Desa Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kabupaten Simalungun, Selasa 12 Agustus 2025. Kegiatan ini menjadi ajang edukasi, kolaborasi dan aksi nyata dalam upaya pelestarian alam dan satwa liar. Kegiatan ini juga menjadi momentum penting untuk mengingatkan bahwa gajah, adalah satwa karismatik sekaligus spesies kunci yang memegang peran vital dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Peringatan Hari Gajah Sedunia yang jatuh setiap 12 Agustus dipadukan dengan semangat HKAN untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat ikut melindungi kekayaan hayati Indonesia. Acara dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumut, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L, hadir pula Kepala Seksi KSDA Wilayah III Kisaran, staf Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, serta staf Resor ANECC dan Cagar Alam Batu Gajah. Dukungan dari berbagai pihak membuat peringatan ini semakin bermakna. Hadir perwakilan dari Balai Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah I Pematangsiantar, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Asahan Barumun, DAOPS Manggala Agni Wilayah Sumatera II Pematangsiantar, UPT KPH Wilayah II Pematangsiantar, Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Simalungun, Kepala Desa Sibaganding, serta lembaga mitra seperti Yayasan Persamuhan Bodhicitta Mandala Medan (YPBMM), PT. TPL Sektor Aek Nauli, PT. Pertamina Niaga Fuel Terminal Pematangsiantar dan dua sekolah dasar: SD Negeri 095186 tanjung Dolok dan SD Negeri 091456 Pondok Bulu. Serangkaian kegiatan edukatif dan interaktif menjadi daya tarik utama acara ini, yaitu: edukasi gajah jinak untuk mengenal lebih dekat perilaku dan peran gajah di alam liar, penanaman bibit pohon Macadamia sebagai simbol komitmen terhadap penghijauan dan perbaikan habitat, lomba mewarnai tingkat sekolah dasar guna menanamkan kecintaan pada alam sejak dini, serta kuis konservasi untuk mengasah pengetahuan seputar satwa liar dan lingkungan. Perwakilan dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Simalungun menyampaikan apresiasi atas kegiatan ini. “ANECC adalah destinasi wisata favorit di kawasan sekitar Danau Toba dan kebanggaan Kabupaten Simalungun. Kami siap mendukung pengembangan wisata di ANECC.” Sementara itu, perwakilan BPDAS Asahan Barumun menegaskan komitmennya dalam mendukung penghijauan. “Kami siap mendukung kebutuhan bibit pohon untuk ANECC maupun kawasan konservasi lainnya apabila diperlukan.” Melalui perayaan ini, Balai Besar KSDA Sumatera utara mendorong agar semangat konservasi dapat semakin tertanam di hati masyarakat, khususnya generasi muda, sehingga kelestarian alam dan satwa liar tetap terjaga untuk masa depan. Lomba mewarnai tingkat Sekolah Dasar Edukasi gajah jinak untuk mengenal lebih dekat perilaku dan peran gajah di alam liar Penanaman bibit pohon Macadamia Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

HKAN 2025, Resor Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut III Gelar Aksi Bersih Sekolah

Selotong, 12 Agustus 2025. Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus, Resor Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut (SM KGLTL) III Selotong menggelar kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah bersama siswa kelas V dan VI SD Negeri (SDN) 050705 Selotong, Jumat (8/8/2025). Kegiatan ini mengusung tema HKAN 2025, “Membangun Sinergi antar Generasi untuk Masa Depan Konservasi”, yang menekankan pentingnya peran lintas generasi dalam menjaga kelestarian alam. Aksi bersih-bersih dilaksanakan di pekarangan sekolah, melibatkan 40 siswa, guru, petugas resor serta fasilitator desa. Para peserta bergotong royong memungut sampah, menyampu halaman, merapikan taman dan menata area hijau agar lebih indah dan nyaman. Kepala Resor SM KGLTL III Selotong, Salmudin, menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya semata-mata bertujuan untuk menciptakan lingkungan bersih dan asri, tetapi juga menanamkan kesadaran sejak dini tentang pentingnya melestarikan alam dan keanekaragaman hayati. “Melalui aksi sederhana seperti ini, kami ingin agar anak-anak memahami bahwa menjaga kebersihan merupakan bagian penting dari upaya konservasi. Mereka adalah generasi penerus yang kelak akan menghadapi tantangan lingkungan yang lebih besar oleh karena itu anak-anak perlu ditingkatkan kesadarannya sejak dini,” ungkap Salmudin. Sepanjang kegiatan, suasana penuh semangat dan keceriaan terlihat jelas. Anak-anak bekerja sambil bercanda, saling membantu dan menunjukkan antusiasme tinggi. Guru-guru menyambut baik inisiatif ini, melihatnya sebagai kesempatan emas untuk menanamkan nilai konservasi di hati para siswa. Sebagai bentuk apresiasi, di akhir kegiatan Kepala Resor menyerahkan sertifikat dan cinderamata kepada SDN 050705 Selotong. Harapannya, aksi ini akan menjadi awal tumbuhnya rasa cinta lingkungan di kalangan pelajar, sehingga semangat menjaga kelestarian alam dapat terus diwariskan dari generasi ke generasi. Keceriaan murid SD Negeri 050705 Selotong Sumber: Resor SM KGLTL III-Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 401–416 dari 2.298 publikasi