Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Di Balik Lelah Menyusuri Hutan Bawean, Shalmiah Aegesti Justru Menemukan ‘Bonus Manis’ Konservasi

Bawean, 29 September 2025. Matahari baru saja menembus tipis kabut pagi, menyalakan kilau zamrud di permukaan Danau Kastoba. Suara burung bersahutan, diselingi desir angin yang menggerakkan pucuk-pucuk pohon. Di jalur setapak yang menanjak, langkah-langkah berat terdengar. Sepasang sepatu lapangan yang kotor oleh lumpur tetap melangkah, meski napas pemiliknya mulai memburu. Ia adalah Shalmiah Aegesti, mahasiswa Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan, Departemen Teknologi Hayati dan Veteriner, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Bersama tim Balai Besar KSDA Jawa Timur, Shalmiah ikut serta dalam kegiatan bioprospeksi di Suaka Margasatwa Pulau Bawean, 23 hingga 27 September 2025. Bagi banyak orang, bioprospeksi mungkin terdengar seperti istilah teknis yang jauh dari keseharian. Namun bagi Shalmiah, pengalaman itu adalah perjumpaan langsung dengan denyut nadi kehidupan hutan. “Saya merasa setiap langkah membawa ilmu baru. Lelah itu ada, tapi justru terasa seperti bonus manis dari belajar langsung di alam,” katanya dengan senyum yang tak bisa disembunyikan, meski keringat masih menetes di pelipisnya. Di tengah perjalanan, tim berhenti di tepian Danau Kastoba. Di sanalah mereka menemukan Prunus arborea, tegak kokoh di tepi air yang jernih. Jenis ini dikenal sebagai penyimpan air alami, sekaligus penopang ekosistem di sekitarnya. Perjalanan berlanjut ke Blok Panggambean dan Gigir Gunung di hari berikutnya. Jalur menanjak membuat kaki terasa semakin berat, tetapi temuan berikutnya menghapus lelah, Prunus javanica, atau kayu paek. Pohon ini, yang tumbuh alami di lereng-lereng curam, menyimpan potensi besar dalam penelitian medis, sekaligus menjaga ketersediaan air di habitatnya. Bagi masyarakat Bawean, pohon-pohon ini lebih dari sekadar hutan. Mereka adalah penyangga kehidupan, air yang mengalir lirih dari akar-akar mereka memberi kehidupan bagi sawah, ladang, dan rumah tangga di pulau kecil ini. Menjadi Bagian Jejak Baru dalam Sejarah Tumbuhan Namun ekspedisi ini tak berhenti di sana. Dari catatan lapangan, tim menemukan indikasi adanya temuan luar biasa yang belum pernah tercatat sebelumnya. Seolah Pulau Bawean berbisik, bahwa ia masih menyimpan misteri, menunggu untuk ditulis dalam lembaran ilmu pengetahuan. Bagi Shalmiah, momen ini lebih dari sekadar catatan akademik. “Saya belajar bahwa konservasi bukan hanya menjaga hutan tetap hijau. Ini tentang menjaga ilmu, menjaga air, menjaga pangan, menjaga budaya, dan menjaga masa depan generasi,” tuturnya. Belajar dengan Seluruh Indra Setiap hari, Shalmiah dan tim berjalan kaki menyusuri jalur hutan yang menantang. Bau tanah basah, aroma getah pohon, kicau burung endemik, hingga suara serangga malam, menjadi bagian dari buku pelajaran yang tak tertulis. Rasa lelah memang selalu ada. Lutut terkadang bergetar saat menuruni lereng licin, dan pundak terasa berat menanggung peralatan penelitian. Namun justru di titik-titik itulah Shalmiah menemukan esensi konservasi, bahwa menjaga alam bukanlah pekerjaan mudah, melainkan pengorbanan yang memberi kepuasan batin. “Kadang capek terasa seperti ‘bonus manis’ dari belajar langsung di lapangan. Setiap langkah terasa berarti, seolah saya ikut menjaga warisan alam ini,” ucapnya. Konservasi: Menjaga Hidup, Bukan Sekadar Hutan Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, kegiatan ini menegaskan bahwa konservasi tak berhenti pada menjaga pohon dan satwa. Lebih jauh, konservasi berarti menjaga keseimbangan air, menjaga pangan masyarakat, merawat budaya lokal, dan memastikan keberlanjutan hidup generasi mendatang. Bagi Shalmiah, pengalaman magang ini akan menjadi penanda perjalanan hidupnya. Ia tak hanya pulang dengan catatan lapangan dan sampel tanaman, melainkan juga dengan pandangan baru, bahwa hutan bukan sekadar ruang hijau, tetapi ruang hidup yang menghidupi. Harapan dari Jejak Kaki di Bawean Saat senja jatuh di Pulau Bawean, Shalmiah duduk di tepi hutan, menatap matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan. Lelahnya belum hilang, tapi wajahnya dipenuhi rasa syukur. Ia tahu, pengalaman ini akan terus terpatri dalam ingatannya. Kegiatan bioprospeksi ini bukan hanya mencatat nama-nama latin tumbuhan, melainkan juga mencatat harapan. Harapan bahwa di tengah tantangan zaman, masih ada generasi muda yang mau menapaki jalur konservasi dengan sepenuh hati. Pulau Bawean mengajarkan, setiap langkah kecil yang diambil di hutan, bisa jadi langkah besar bagi masa depan bumi. Di balik lelah seorang mahasiswa magang, tersimpan cerita besar tentang manusia dan alam yang saling menopang. Shalmiah Aegesti bukan hanya belajar dari hutan Bawean, ia juga meninggalkan jejak, bahwa konservasi adalah jalan hidup, bukan sekadar pekerjaan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Bersama UMPO Deklarasikan Pelestarian dan Edukasi Konservasi

Ponorogo, 26 Agustus 2025. Pagi itu, ribuan pasang mata memenuhi Expotorium Universitas Muhammadiyah Ponorogo (UMPO). Lebih dari 600 mahasiswa duduk, menyimak dengan khidmat tatkala Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Agr.Sc., Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), membawakan kuliah umum bertajuk “Forest Resources Conservation”. Dalam bahasa yang lugas, beliau mengingatkan bahwa hutan bukan sekadar bentangan hijau, melainkan sumber kehidupan, penyangga ekosistem, sekaligus warisan tak ternilai untuk generasi mendatang. “Konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa dan pepohonan, melainkan menjaga keberlanjutan hidup kita sendiri. Generasi mudalah yang akan menentukan masa depan bumi,” tegasnya di hadapan mahasiswa yang menjadi saksi sejarah hari itu. Momentum kuliah umum ini menjadi pintu pembuka bagi sebuah langkah besar, penandatanganan Deklarasi Dukungan Pelestarian Lingkungan dan Penguatan Edukasi Konservasi antara Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Universitas Muhammadiyah Ponorogo. Deklarasi tersebut ditandatangani langsung oleh Kepala BBKSDA Jatim, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., dan Rektor UMPO, Dr. Rido Kurnianto, M.Ag., dengan disaksikan jajaran rektorat, dosen, mahasiswa, penangkar Merak Hijau, serta pimpinan Muhammadiyah Ponorogo. Deklarasi ini memuat lima butir komitmen, mulai dari sinergi pendidikan dan penelitian, dukungan pendirian Edupark UMPO sebagai taman konservasi pendidikan, hingga menjadikan penangkaran Merak Hijau (Pavo muticus) sebagai program unggulan. Merak Hijau bukan sekadar satwa endemik dilindungi, tetapi juga ikon budaya Reyog Ponorogo, simbol kebanggaan sekaligus pengingat bahwa pelestarian alam dan tradisi lokal berjalan seiring. “Dengan dukungan perguruan tinggi, konservasi tidak boleh berhenti pada perlindungan hutan dan satwa. Ia harus menjadi gerakan edukatif yang mengakar, melibatkan generasi muda, dan menguatkan budaya lokal,” ungkap Nur Patria Kurniawan, menegaskan visi besar yang ingin dicapai. Sebagai bentuk penghargaan, Dirjen KSDA memberikan apresiasi kepada mitra yang berkontribusi nyata dalam kegiatan konservasi di Jawa Timur, Jaga Satwa Indonesia (JSI) Madiun, komunitas relawan penyelamat satwa liar, KTH Gentan Hijau Berseri, pengembang penangkaran Merak Hijau sekaligus pelestari budaya Reyog; serta Surat Wiyoto (Mbah Surat), tokoh pelopor penangkaran Merak Hijau di Madiun. Kerja sama ini akan berlangsung selama tiga tahun, dengan program nyata meliputi kuliah umum, magang mahasiswa di kawasan konservasi, KKN tematik konservasi, hingga Festival Konservasi dan Lingkungan tingkat regional. Edupark UMPO akan dikembangkan menjadi ruang edukasi konservasi yang bukan hanya menanamkan pengetahuan, melainkan juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menjaga alam. Deklarasi ini bukan sekadar hitam di atas putih, tetapi sebuah ikrar moral. Dari jantung Kota Reyog, suara konservasi bergema bahwa pelestarian hutan, satwa, dan budaya lokal adalah warisan berharga yang harus dirawat bersama. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat menjadi fondasi kuat agar generasi mendatang tetap dapat melihat Merak Hijau menari di alam liar, sebagaimana megahnya “Dadak Merak” di panggung Reyog Ponorogo. Sumber: Arief Adhi Pratama & Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada BBKSDA Jatim
Baca Artikel

Mengenal Surili Sumatera

Ada yang tau nama satwa ini? Yuk kenalan lebih dekat dengan primata satu ini. Simpai: mahkota hutan yang terancam punah, suaranya nyaring tapi nasibnya sunyi. Simpai, atau Surili Sumatera (Presbytis melalophos), adalah primata endemik Pulau Sumatera yang hidup di kawasan hutan Nasional, termasuk Taman Nasional Batang Gadis. Primata ini dikenal dengan suara melengking bernada tinggi yang digunakan untuk berkomunikasi dalam kelompok dan merespons ancaman. Mereka aktif di tajuk pohon tinggi dan jarang turun ke tanah, menjadikan hutan sebagai rumah sekaligus tempat perlindungan. Ciri fisik Simpai sangat khas: jambul hitam menyerupai mahkota di kepala, tubuh ramping sepanjang 45–49 cm, berat sekitar 5–6 kg, dan ekor panjang mencapai 71 cm. Warna bulunya bervariasi dari jingga terang hingga kelabu gelap, tergantung subspesiesnya. Mereka hidup berkelompok dan mencari makan berupa pucuk daun, buah-buahan, bunga, dan biji di pepohonan tinggi. Sayangnya, Simpai kini berada dalam status “Endangered” menurut IUCN Red List. Populasinya terus menurun akibat fragmentasi habitat dan gangguan manusia. Oleh karena itu, mereka telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi melalui Peraturan Menteri LHK No. 18 Tahun 2024. Melindungi Simpai berarti menjaga keseimbangan ekosistem hutan Sumatera. Suara Simpai, Nafas Hutan Sumatera. Jangan biarkan suara alam ini padam. Saatnya kita peduli. Sumber: BTN Batang Gadis
Baca Artikel

Sosialisasi Pencegahan Perusakan Hutan Terkait Tumbuhan dan Satwa Liar Dilindungi

Kandangan, 19 September 2025 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan bersama Balai Penegakan Hukum (Gakkum) Wilayah Kalimantan melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan perusakan hutan dan perlindungan tumbuhan serta satwa liar dilindungi, bertempat di Kantor Camat Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan masyarakat sekitar hutan Desa Lumpangi dan Hulu Banyu, Masyarakat Peduli Api Wilayah Kandangan, Pelajar SMA 1 dan 3 Kandangan, Damkar Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah serta LSM Yayasan Meratus Hijau. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman serta kesadaran masyarakat terhadap bahaya perusakan hutan, perambahan, penebangan liar, perburuan, hingga perdagangan tumbuhan dan satwa liar yang dilindungi undang-undang. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini diisi oleh narasumber dari BKSDA Kalimantan Selatan, Bp.Jarot Jaka Mulyono, S.Hut.M.Sc, yang memaparkan tentang Jenis-jenis TSL yang dilindungi di Provinsi Kalsel. Narasumber ke-2 adalah Balai Gakkum Wilayah Kalimantan Bp.Selamet, yang menyampaikan materi tentang peran Gakkum dalam penegakan hukum TSL di Kalimantan. Dan narasumber ke-3 berasal dari Satreskrim Polres Hulu Sungai Selatan, Iptu May Pelly,SH MH, yang menyampaikan materi tentang penegakan hukum TSL di Kab Hulu Sungai Selatan. Acara Sosialisasi secara resmi dibuka Kepala KPH Hulu Sungai, yang diwakili oleh Kepala Tata Usaha, Dwi Raharjo, S.Hut. Dalam sambutannya, ditekankan tentang pentingnya menjaga dan melestarikan TSL yang saat ini menghadapi berbagai tantangan. Peran masyarakat sangat diharapkan dalam melaporkan kegiatan pemanfaatan secara ilegal terutama perdagangan berbasis media sosial. Melalui sosialisasi ini, diharapkan tumbuh kesadaran kolektif masyarakat Kandangan dan sekitarnya untuk menolak segala bentuk aktivitas ilegal yang merusak hutan maupun memperdagangkan TSL dilindungi, serta menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga kelestarian alam untuk generasi mendatang. Dan yang paling penting peserta dapat menjadi agen pemerintah untuk turut menggaungkan pesan konservasi kepada publik. (Ryn) Sumber : Jarot Jaka Mulyono, S.Hut, M.Sc (Call Center BKSDA Kalimantan Selatan) & Doc. by : Riyan Susilo Adji, S.Kom (Prakom BKSDA Kalimantan Selatan)
Baca Artikel

Ficus, Kunci Meredam Konflik Monyet dan Manusia

Kediri, 11 September 2025. Sore itu, Kamis (11/9/2025), langit Cagar Alam Manggis Gadungan diselimuti warna keemasan ketika rombongan dari Balai Taman Nasional Kutai, BKSDA Kalimantan Timur, dan PT Pupuk Kaltim tiba di pos jaga kawasan. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi. Mereka datang untuk belajar, menanam, sekaligus menggali hikmah dari pohon yang sering dianggap sederhana, namun menyimpan kekuatan besar bagi hutan tropis: ficus. Setiba di lokasi, para tamu langsung diarahkan menuju Pusat Ficus Nasional (PFN), zona penyangga yang kini menjadi pusat pembelajaran dan konservasi. Dengan dipandu para relawan dari Yayasan Masyarakat Ficus Indonesia dan Wild Water Indonesia, mereka menanam 12 bibit ficus. Setiap bibit yang ditanam seakan menjadi simbol harapan bahwa pohon-pohon ini kelak akan menyediakan pakan alami bagi satwa, menjadi tempat berlindung bagi burung, dan meredam potensi konflik antara manusia dengan monyet ekor Panjang yang sering terjadi di sekitar kawasan. Pohon Ficus adalah penyedia makanan yang setia. Saat pohon lain berhenti berbuah, ficus tetap menghasilkan. Itulah mengapa ia disebut pohon penjaga ekosistem. Bagi satwa seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), ketersediaan buah ficus menjadi penyelamat. Tanpa pohon ini, mereka terpaksa keluar hutan, mencari makan di kebun warga, dan akhirnya memicu konflik. Dengan menanam ficus, manusia memberi jalan agar satwa bisa tetap tinggal di rumah alaminya. Acara kunjungan juga diisi dengan sambutan dari Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, yang menyampaikan ucapan selamat datang sekaligus memperkenalkan berbagai inisiatif komunitas lokal. Salah satunya adalah program penanganan konflik satwa berbasis habitat dan edukasi masyarakat. “Kami percaya, menjaga harmoni bukan dengan mengusir satwa, tetapi dengan mengembalikan mereka ke rumah sejatinya yaitu hutan,” ujarnya. Sambutan juga datang dari Kepala Balai TN Kutai dan Vice President PT Pupuk Kaltim. Keduanya menegaskan tujuan studi tiru ini yaitu untuk menggali inspirasi dari Jawa Timur, untuk diterapkan di Kalimantan, wilayah dengan tantangan konflik satwa yang serupa. Suasana semakin hidup saat sesi diskusi. Perwakilan PT Pupuk Kaltim bertanya: bagaimana mencegah konflik satwa dengan masyarakat? Jenis ficus apa yang tumbuh cepat dan bisa segera diaplikasikan di Kalimantan? Relawan menjawab tegas, Ficus variegata atau pohon gondang adalah solusi yang tepat. Pertumbuhannya relatif cepat, buahnya berlimpah, dan menjadi favorit satwa pemakan buah. “Kuncinya adalah habitat. Jika satwa punya cukup makanan, mereka tak perlu mencari ke kebun manusia,” jelasnya. Kegiatan diakhiri dengan penyerahan cinderamata berupa buku Ficus CA Manggis Gadungan dan CA Besowo Gadungan dari BBKSDA Jatim kepada masing-masing tamu. Buku itu bukan sekadar dokumentasi, melainkan warisan pengetahuan untuk menyebarkan semangat konservasi ke daerah lain. Rombongan meninggalkan kawasan dengan senyum puas, membawa pulang inspirasi tentang bagaimana satu pohon sederhana mampu mengubah hubungan antara manusia dan satwa. Kunjungan ini menjadi pengingat, bahwa solusi konflik satwa tidak selalu rumit. Kadang, jawabannya ada pada akar yang merambat, daun yang rindang, dan buah yang setia hadir sepanjang musim. Ficus adalah jembatan yang menghubungkan manusia, satwa, dan hutan dalam satu lingkaran kehidupan yang utuh. Di tanah Gadungan, 12 bibit itu bukan sekadar pohon. Mereka adalah janji, bahwa harmoni bisa tumbuh kembali, seteguh akar ficus yang menancap di bumi. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Peluncuran Program Konservasi Gajah Sumatera dan Wisata Edukatif

Simalungun, 16 September 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara melalui Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar secara resmi meluncurkan Program Konservasi Keanekaragaman Hayati Gajah Sumatera dan Pengembangan Wisata pada Jumat, 12 September 2025, bertempat di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC). Acara peluncuran berlangsung dalam suasana penuh semangat di tengah kawasan Aek Nauli yang asri. Program ini merupakan kolaborasi antara Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar dengan PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar. Tujuannya adalah memperkuat upaya pelestarian satwa dan tumbuhan khas Sumatera serta membuka peluang pengembangan wisata berbasis konservasi di kawasan Resor ANECC dan Cagar Alam Batu Gajah. Adapun ruang lingkup program meliputi: pengembangan wisata edukatif berbasis Gajah Sumatera, pemeliharaan koleksi anggrek dan kantong semar serta peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dalam pengelolaan sampah. Peluncuran program ini ditandai dengan penandatanganan dokumen program bersama oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar (Elvina Rosinta Dewi, S. Hut., M.I.L), Kepala Seksi Konservasi Wilayah III Kisaran (Suyono, S.H) dan Manager CSR PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar (Teguh Trihartono). Langkah ini sekaligus menegaskan peran ANECC sebagai benteng konservasi, pusat edukasi dan destinasi wisata yang lestari di Sumatera Utara. Dalam sambutannya, Manager CSR PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar, Teguh Trihartono, menyampaikan bahwa program ini diharapkan dapat memberikan manfaat luas. “Dari aspek keanekaragaman hayati, program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan dan citra perusahaan. Harapan kami dapat bekerjasama seterusnya, bukan hanya tahun ini melainkan tahun-tahun ke depan. Program ini bukan hanya berdampak bagi lingkungan bahkan tidak menutup kemungkinan membuka lapangan pekerjaan bagi masyrakat” ujarnya. Sementara itu Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Elvina Rosinta Dewi, S. Hut., M.I.L menekankan pentingnya pengelolaan yang optimal dan transparan. ”Pemanfaatan anggaran harus dilakukan secara optimal dan diarahkan pada perbaikan berkelanjutan. Kami juga berharap adanya data base kegiatan yang dapat ditampilkan sebagai bahan evaluasi. Selanjutnya, kami mendoakan agar program-program PT. Pertamina dapat terus sukses di seluruh Indonesia, serta memberikan manfaat nyata bagi ANECC dan masyarakat sekitarnya,” ungkapnya. Dengan adanya program ini, ANECC semakin menegaskan perannya sebagai benteng konservasi, pusat edukasi serta destinasi wisata berkelanjutan di Sumatera Utara. Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama peduli terhadap kelestarian hutan dan satwa liar. Sumber: Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar & Eva Suryani Sembiring, S. Hut (Penyuluh Kehutanan)-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Leading Community Empowerment: Ranger Goes To School 2025

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 14 Juni 2025. Balai Taman Nasional Komodo konsisten menyelenggarakan program pendidikan konservasi unggulannya, Ranger Goes to School (RGTS) untuk keempat kalinya sejak pertama diluncurkan tahun 2022. Pada tahun 2025, program RGTS dipastikan keberlangsungannya oleh Koordinator Program baru, Rawuh Pradana (Polisi Kehutanan Ahli Pertama), yang menggantikan peran Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda) yang saat ini sedang melaksanakan tugas belajar doktor di luar negeri. Program RGTS dilaksanakan sesuai dengan linimasanya yaitu mulai Bulan Januari – Juni 2025 dengan dua target sekolah: SMK Negeri 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo. Setidaknya 246 peserta didik dari dua sekolah target telah mendapatkan pembelajaran pada program RGTS selama enam bulan atau 14 minggu pertemuan setiap tahunnya. Peserta didik merupakan siswa kelas 10 (SMK Stella Maris Labuan Bajo) dan 11 (SMKN 1 Labuan Bajo) Prodi Usaha Layanan Pariwisata, salah satu prodi kejuruan paling umum di Kabupaten Manggarai Barat. Program RGTS masih memegang teguh kurikulum ajarnya dengan mengajarkan materi terkait Pengelolaan Taman Nasional Komodo (6 Pertemuan) dan Pariwisata Berkelanjutan (6 Pertemuan), serta melaksanakan dua kali ujian pada periode tengah dan akhir semester pembelajaran. Program ini menarik perhatian publik secara positif menunjukkan dedikasi dan kepedulian para jagawana untuk terjun langsung mendukung peningkatan mutu pendidikan konservasi dan lingkungan generasi muda Indonesia di Nusa Tenggara Timur. Rawuh Pradana bersama tim RGTS lainnya juga menyelenggarakan Wisuda Penutupan Program RGTS Tahun 2025 pada tanggal 13 Juni 2025 yang bertempat di SMK Negeri 1 Labuan Bajo. Perayaan ini merupakan salah satu aspek tradisi penting dalam rangkaian penyelenggaraan program RGTS yang seluruh pembiayaannya dibebankan kepada tim pengajar dan sekolah tanpa mengenakan biaya tertentu kepada para peserta didik di masing-masing sekolah ajar. Acara ini turut dihadiri oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo, jajaran guru dari SMK Negeri 1 Labuan Bajo dan SMK Stella Maris Labuan Bajo, serta tim pengajar RGTS. Peserta didik yang memperoleh juara kelas (peringkat 1 s.d. 3) mendapatkan sertifikasi penghargaan dari Kepala Balai Taman Nasional Komodo, sementara seluruh peserta didik lainnya mendapatkan sertifikasi partisipasi karena telah mengikuti dan mampu menyelesaikan program RGTS sampai dengan tuntas. Salah satu contohnya adalah pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi, Noventus B.A. S. Ndua dari SMK Negeri 1 Labuan Bajo yang berhasil meraih nilai akhir tertinggi sebesar 9,33 dari 10. Hal ini menunjukkan bahwa materi ajar RGTS yang sangat kontekstual dan mengakar dapat diikuti dengan sangat baik oleh peserta didik dengan teknik pengajaran yang tepat. Pada akhir kegiatan, Kepala SPTN Wilayah III, Judy Aries Mulik, mewakili Kepala Balai Taman Nasional Komodo, menutup secara resmi rangkaian kegiatan RGTS Tahun 2025 dan berharap agar seluruh peserta didik dapat menjadi agen perubahan pelestarian sumber daya dalam dan terus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan, khususnya Taman Nasional Komodo. Tim RGTS juga berharap program pendidikan konservasi ini terus dapat diselenggarakan setiap tahunnya dengan merekrut tim pengajar baru baik dari Balai Taman Nasional Komodo maupun praktisi lainnya yang berdomisili di Labuan Bajo. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Ahli Pertama - Rawuh Pradana, S.H. (0813-8702-8089) Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Kiprah Jagawana Komodo di Luar Negeri: Dari Kadal Terbesar Dunia Ke Gunung Berapi Paling Aktif Dunia

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 29 Juli 2025. Pengendali Ekosistem Hutan Balai Taman Nasional Komodo yang sedang menempuh pendidikan doktor di Amerika Serikat, Muhammad Ikbal Putera, berhasil diterima pada program magang International Volunteers-in-Parks (IVIP) yang diselenggarakan oleh, sebuah badan pemerintah federal dibawah Departemen Interior Amerika Serikat yag bertugas mengelola lebih dari 400 taman nasional alam, taman nasional budaya, monumen nasional, situs bersejarah, dan properti National Park Service pemerintah federal lainnya di Amerika Serikat. Ikbal berhasil melewati serangkaian tahapan administrasi dan mendapatkan penempatan di salah satu Situs Warisan Dunia dan Cagar Biosfer Internasional Amerika Serikat, Hawai’i Volcanoes National Park, yang berada di Hilo, Big Island – Negara Bagian Hawai’i. Ikbal yang menempuh pendidikan doktor pada bidang keilmuan Parks, Recreation, and Tourism Management, College of Natural Resources di North Carolina State University memulai program magangnya pada tanggal 03 Mei – 29 Juni 2025. Ikbal ditempatkan belajar dan bekerja pada Divisi Interpretasi dan Edukasi yang memiliki tugas utama sebagai frontliner dalam urusan pengelolaan dan pelayanan pengunjung setiap harinya selama 40 jam dalam 1 minggu. Selama pelaksanaan program, Ikbal mendapatkan seragam khusus dan pelatihan intensif selama satu minggu dari para jagawana sesuai dengan bidang keahlian masing-masing sebelum ditugaskan berinteraksi langsung dengan wisatawan. Adapun materi yang dipelajari, antara lain: Kebudayaan, Adat, dan Legenda Suku Hawai’i (Keturunan Suku Polinesia), Keanekaragaman Hayati di Big Island (khususnya di Gunung Api Kīlauea dan Maona Loa), Geologi dan Gunung Api Kīlauea, dan Kilo (mindfulness). Para petugas juga mengajak Ikbal mengunjungi sebagian besar destinasi wisata alam di Hawai’i Volcanoes National Park, meliputi: Halemaumau Crater, Maona Loa Scenic Drive, Chain of Craters Road, Nāhuku Lava Tube, Kīlauea Iki Trail, Pu‘uloa Petroglyphs, dan Volcano House. Usai pelatihan intensif, Ikbal bertugas memberikan pelayanan publik di front desk kepada wisatawan yang datang dari seluruh dunia dalam Bahasa Inggris secara fasih. Selain itu, Ikbal juga diminta untuk membuat materi interpretasi sesuai minat materi untuk selanjutnya dibawakan dalam tur khusus bagi wisatawan. Ikbal mampu membuat sebuah tur interpretasi 60 menit dengan memuat informasi mengenai pengenalan dasar Hawai’i Volcanoes National Park beserta keanekaragaman hayatinya, sejarah letusan gunung api di Kīlauea, dan sejarah migrasi Suku Polinesia ke wilayah kepulauan Hawai’i. Sebagian besar wisatawan merasa puas dan senang dengan informasi yang diberikan. Salah satu wisatawan dari Amerika Serikat melontarkan komentar sponstan, “Saya pikir kamu orang asli setempat karena sangat menguasai materi dan fasih dalam berbahasa”. Ikbal juga berkesempatan berdialog dengan Kepala Balai Hawai’i Volcanoes National Park, Rhonda Loh, mengenai tantangan dan dinamika pengelolaan taman nasional yang dikelolanya. Ikbal juga berkesempatan berdialog dan belajar bersama divisi lainnya, diantaranya: Divisi Pengelolaan Satwa Liar dan Sumber Daya Alam Alam, Divisi Pengelolaan Sumber Daya Budaya, Divisi Penegakan Hukum dan Penyelamatan, Divisi Kehumasan, dan Divisi Perizinan. Sama halnya dengan Balai Taman Nasional Komodo, Hawai’i Volcanoes National Park juga memiliki program pendidikan konservasi yang disebut dengan Youth Ranger Internship Program yang digagas oleh Kupono McDaniel, seorang jagawana yang bertugas di Divisi Interpretasi dan Pendidikan. Program ini memberikan kesempatan bagi siswa menengah atas dari wilayah setempat untuk mendapatkan pelatihan mengenai taman nasional dan memberikan kesempatan magang berbayar selama minimal dua bulan kerja. Program ini sudah berjalan sejak tahun 2014 yang dikelola bersama sebuah perusahaan mitra taman nasional, Friends of Hawai’i Volcanoes National Park, yang telah bermitra sejak lama dan membantu taman nasional dalam mengelola toko cinderamata resmi taman nasional dan berbagai kegiatan pendukung lainnya sepanjang tahun. Taman nasional merupakan destinasi wisata yang sangat penting bagi masyarakat di Amerika Serikat. Jumlah total wisatawan yang mengunjungi seluruh taman nasional di Amerika Serikat mencapai 331.9 juta pada tahun 2024 (National Park Service, 2025), sementara jumlah kunjungan wisatawan ke Hawai’i Volcanoes National Park sebanyak 1.620.294 (2023) dan 1.433.593 (2024) dengan kemungkinan peningkatan pada tahun 2025. Jika dibandingkan dengan Taman Nasional Komodo, angka ini sangat tinggi dibandingkan dengan jumlah kunjungan Taman Nasional Komodo pada tahun 2024 yaitu 334.206 dengan proporsi wisatawan domestik (32%) dan wisatawan mancanegara (68%). Kedua taman nasional ini memiliki kondisi geografis (kepulauan vulkanik) dan lansekap yang serupa, namun infrastruktur dasar di Hawai’i Volcanoes National Park lebih modern dan jalan utama terhubung langsung dengan kota besar terdekatnya di Hilo, berbeda dengan Taman Nasional Komodo dimana Kabupaten Manggarai Barat – Nusa Tenggara Timur sebagai pintu masuk terdekat terpisah oleh lautan dan berada di pulau berbeda. Perbedaan pengelolaan kedua taman nasional menjadi pelajaran penting bagi Ikbal untuk selanjutnya didiseminiasikan kepada rekan-rekannya di Balai Taman Nasional Komodo sepulang studinya nanti. Ikbal merasa program pertukaran personil berupa magang intensif sangat baik untuk peningkatan kapasitas petugas taman nasional di Indonesia. Selain dapat mengatasi permasalahan kejenuhan bekerja, pengalaman belajar di tempat yang baru yang terstruktur dan terarah memberikan banyak kesempatan belajar dan inovasi sehingga membentuk sumber daya manusia yang lebih berkualitas dan berdaya saing tinggi. Sebagai reward dan bentuk ucapan terima kasih, Hawai’i Volcanoes National Park mengajak Ikbal dan peserta magang lainnya berwisata mengunjungi Puʻuhonua o Hōnaunau National Historical Park yang berada 3 jam dari lokasinya bekerja. Kunjungan ini membuat Ikbal tersadar bahwa banyak kemiripan unsur budaya Hawaii dengan Indonesia seperti pembuatan tikar anyaman pandan, permainan tarik tambang, permainan congklak, dan pembuatan kapal kayu. Hal ini mendukung teori migrasi Suku Polinesia yang berasal dari Taiwan lalu bergerak dan bermukim di Indonesia dan Filipina, lalu setelahnya berpisah ke Hawaii dan Madagaskar. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita dan Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Launching Aplikasi Siora Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 7 Juli 2025. Tingginya kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo dalam 10 tahun terakhir membuat kawasan konservasi ini menjadi salah satu destinasi wisata alam paling dikunjungi di Indonesia. Pada tahun 2024, Taman Nasional Komodo menerima jumlah kunjungan mencapai lebih dari 300.000 wisatawan yang sebagian besar merupakan wisatawan mancanegara. Tingginya kunjungan wisatawan membuat instansi pemerintah harus melakukan transformasi pelayanan publik dengan menggunakan teknologi terbarukan agar pelayanan publik dapat berjalan optimal, mudah, efisien, dan real- time. Kementerian Kehutanan melalui Memorandum Dirjen KSDAE Nomor: M.2/KSA.3/1/2025 menekankan kewajiban seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Ditjen KSDAE untuk menerapkan sistem cashless payment dengan batas waktu paling lambat 31 Januari 2025. Hal ini dimaksudkan sebagai salah satu langkah untuk mendukung reformasi pemerintah dalam mengelola Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dengan lebih akuntabel, efisien, dan minim risiko. Menindaklanjuti hal tersebut, Balai Taman Nasional Komodo menciptakan aplikasi berbasis gawai bernama SiOra atau Sistem Informasi Ora (Komodo dalam Bahasa Manggarai dan Bahasa Komodo). SiOra merupakan sebuah aplikasi pada platform digital yang secara terintegrasi dalam melayani proses reservasi tiket (e- ticketing) dan digital self-interpretation yang dapat diunduh pada App Store maupun Google Play Store (siora.id). Inovasi digital ini dirancang guna menjawab tantangan manajemen pengunjung dan mekanisme perizinan yang mengedepankan kemudahan proses, waktu yang efisien, singkat, dan bisa dilakukan secara real-time, sesuai dengan kebutuhan pelayanan publik masa kini. Utamanya, SiOra memberikan kemudahan reservasi kunjungan dan pembayaran non-tunai yang dapat dilakukan melalui virtual account BRIVA (BRI), transfer bank, dan dompet digital (dana, flip, dan shopee pay). Namun selain fitur tersebut, SiOra juga juga memiliki fitur-fitur lainnya seperti navigasi zonasi, interpretasi obyek daya tarik wisata alam dalam 40+ bahasa, hingga memfasilitasi pemrosesan perizinan Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi (SIMAKSI) untuk kepentingan permohonan izin penelitian, fotografi dan videografi komersial, penerbangan drone, ekspedisi, maupun kepentingan lainnya yang diatur dalam peraturan di Kementerian Kehutanan. SiOra juga memberikan kemudahan bagi Urusan Keuangan Balai Taman Nasional Komodo menyediakan fitur back-office yang memudahkan petugas dalam menyediakan dan melaporkan data PNBP secara real-time dan memverifikasi jumlah kunjungan berdasarkan reservasi tiket terjual. Sementara bagi Urusan Kerja Sama, Kehumasan, dan Pelayanan, SiOra membantu mempercepat persetujuan izin SIMAKSI dan mendistribusikan informasi aturan melalui aplikasi secara real-time. Tentunya inovasi digital ini memiliki kendala tertentu yang perlu dimitigasi seiring diujicobakannya sistem. Salah satu tantangan dalam implementasi ini adalah berupa belum diketahuinya kewajiban penggunaan SiOra oleh sebagian pelaku wisata dan keterbatasan metode pembayaran melalui virtual account bagi wisatawan mancanegara yang tidak memiliki rekening bank dalam negeri. Saat ini, SiOra belum dapat menyediakan pembayaran menggunakan kartu debit atau kartu kredit karena terdapat biaya merchant discount rate (MDR) yang dibebankan kepada pengguna kartu, sementara biaya PNBP tidak boleh dikenakan biaya tambahan selain dengan yang telah diatur dalam peraturan pemerintah terkait PNBP. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Balai Taman Nasional Komodo meningkatkan distribusi informasi melalui media sosial Instagram dan melalui himbauan resmi kepada agen perjalanan wisata di Labuan Bajo. Selain itu, Balai Taman Nasional Komodo juga menyediakan fasilitas self-service reservation yang dapat dilakukan di Kantor Balai Taman Nasional Komodo, Komodo Visitor Center, dan Pelabuhan KP3 Labuan Bajo. Balai Taman Nasional Komodo juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan untuk membahas variasi mekanisme pembayaran yang lebih aplikatif bagi wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara. Balai Taman Nasional Komodo melakukan peluncuran aplikasi SiOra pada tanggal 7 Juli 2025 di Puncak Waringin, Labuan Bajo. Peluncuran aplikasi ini secara resmi dilakukan oleh Dirjen KSDAE Kehutanan, Prof. Satyawan Pudyatmoko mewakili Menteri Kehutanan Republik Indonesia. Peluncuran ini dihadiri lebih dari 70 undangan yang melibatkan instansi vertikal di Labuan Bajo, OPD Manggarai Barat, pelaku usaha wisata, tokoh masyarakat, dan mitra pengelolaan Balai Taman Nasional Komodo. Dalam peluncuran ini pun turut hadir Dirjen PDASRH, Dyah Murtiningsih, dan Inspektur Jenderal Kementerian Kehutanan, Komjen Pol. Djoko Poerwanto. Dalam sambutannya Dirjen KSDAE, berharap upaya integrasi teknologi dan digitalisasi pelayanan publik melalui kehadiran aplikasi SiOra dapat meningkatkan kualitas pengelolaan ekowisata Taman Nasional Komodo berkelas dunia yang juga turut mendukung fungsi perlindungan kawasan dan peningkatan nilai manfaat bagi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan dengan lebih baik di masa depan. Salam Siora! Aman, mudah, menyenangkan. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Pertama - Clarita Wilhemina Sulastri, S.Hut. (085237187531) Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

SiOra: Inovasi Digital Layanan Publik Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 7 Februari 2025. Upaya meningkatkan kualitas pelayanan bagi pengunjung sekaligus mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang lebih efisien, Balai Taman Nasional Komodo resmi menerapkan SiOra, aplikasi layanan reservasi tiket dan interpretasi mandiri. Peluncuran SiOra sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengedepankan pariwisata berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi digital. SiOra dihadirkan sebagai inovasi digital yang memungkinkan wisatawan melakukan reservasi tiket secara daring, meminimalkan antrean fisik, serta memperkaya pengalaman interpretasi mandiri di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. Melalui fitur e-ticketing, pengunjung dapat membeli tiket masuk langsung melalui aplikasi tanpa perlu datang ke loket. Selain itu, fitur self-interpretation memberi akses informasi edukatif tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem yang ada di kawasan taman nasional. Sebagai langkah strategis dalam meningkatkan pengelolaan pariwisata berbasis teknologi, penerapan SiOra memberikan manfaat signifikan, baik bagi wisatawan maupun pengelola kawasan. Aplikasi ini dilengkapi dengan beragam fitur yang mendukung pengelolaan destinasi secara lebih efektif sekaligus meningkatkan kenyamanan dan kemudahan akses layanan wisata. Meski demikian, di balik keberhasilan perencanaan dan implementasi SiOra, masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi, khususnya di Resort Loh Buaya. Beberapa kendala yang ditemukan antara lain: kompatibilitas aplikasi dengan tipe ponsel tertentu, kesulitan adaptasi dari sebagian agen perjalanan dalam mengoperasikan aplikasi, serta keterbatasan wisatawan yang tidak memiliki mobile banking atau hanya menggunakan kartu kredit. Selain itu, masalah teknis seperti notifikasi “full booked” meskipun slot reservasi masih tersedia juga sempat muncul. Pengelola Taman Nasional Komodo bersama pengembang aplikasi, PT. Nuansa Cerah Informasi, telah bergerak cepat untuk menyelesaikan berbagai permasalahan tersebut agar penerapan SiOra semakin optimal dan mampu mendukung pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan. Sejak diluncurkan pada 1 s.d. 5 Februari 2025, SiOra telah memperoleh beragam respons, baik positif maupun masukan konstruktif dari wisatawan. Khusus di Resort Loh Buaya, tercatat 1.301 wisatawan melakukan pembelian tiket secara daring melalui fitur e-ticketing SiOra. Angka ini menunjukkan antusiasme tinggi wisatawan dalam memanfaatkan digitalisasi untuk menciptakan pengalaman berwisata yang lebih nyaman, efisien, sekaligus ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan tiket fisik. Dalam mendukung implementasi SiOra, mahasiswa Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada turut berperan aktif, khususnya di Resort Loh Buaya. Mereka membantu proses pelayanan tiket serta memberikan edukasi kepada wisatawan mengenai penggunaan aplikasi. Peran mahasiswa meliputi pendampingan wisatawan saat melakukan pemesanan tiket, memastikan kelancaran transaksi, sekaligus menyampaikan manfaat digitalisasi dalam pengelolaan ekowisata berbasis konservasi berkelanjutan. Mahasiswa juga terlibat dalam pencatatan dan analisis data jumlah wisatawan pengguna SiOra, yang menjadi bahan evaluasi efektivitas sistem e-ticketing, serta memberikan informasi tentang konservasi dan upaya perlindungan ekosistem Taman Nasional Komodo. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: Polisi Kehutanan Ahli Pertama - Ikhwan Syahri, S.Hut. (081236004009) Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Mahasiswa Poltekpar NHI Bandung Terlibat Ranger Goes To School

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 8 Mei 2025. Sejumlah mahasiswa Program Studi Destinasi Pariwisata (DEP) dan Usaha Perjalanan Wisata (UPW) Politeknik Pariwisata NHI Bandung turut dilibatkan dalam kegiatan pendidikan konservasi Taman Nasional Komodo, Ranger Goes to School (RGTS), yang dilaksanakan pada 8 Mei 2025 di SMK Negeri 1 Labuan Bajo. Pelibatan mahasiswa Politeknik Pariwisata NHI Bandung ini berlangsung bersamaan dengan agenda Kelas Inspirasi, salah satu bagian penting dari Program RGTS. Kelas Inspirasi bertujuan menghadirkan individu teladan yang mampu memberikan motivasi kepada peserta didik RGTS untuk meraih beasiswa serta melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Dalam kegiatan ini, para mahasiswa menyampaikan informasi mengenai profil kampus, jalur penerimaan, serta peluang beasiswa yang tersedia di Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Mereka juga memperkenalkan Program Studi Destinasi Pariwisata (DEP) dan Usaha Perjalanan Wisata (UPW) kepada peserta didik jurusan Usaha Layanan Pariwisata (ULP) di SMK Negeri 1 Labuan Bajo, sekaligus berbagi pengalaman mengenai praktik lapangan dan prospek karier di bidang pariwisata. Keterlibatan ini memperkuat hubungan antarinstansi, khususnya antara Balai Taman Nasional Komodo dengan Politeknik Pariwisata NHI Bandung, yang telah memberikan ruang pengabdian masyarakat bagi mahasiswa untuk berinteraksi langsung dengan generasi muda di Labuan Bajo serta mendukung peningkatan kesadaran konservasi sejak dini. Sebagai penutup, mahasiswa NHI Bandung mengapresiasi Program Ranger Goes to School yang tidak hanya memberikan wawasan tentang konservasi alam dan budaya lokal, tetapi juga membuka kesempatan bagi mereka untuk berbagi inspirasi dengan siswa-siswi setempat. Mereka berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan, sehingga semakin banyak generasi muda yang terinspirasi untuk menjaga kelestarian Taman Nasional Komodo sekaligus mengembangkan potensi pariwisata berkelanjutan di daerahnya. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita: 1. Mahasiswa Prodi Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung Rizaki Mahira (+628122021021) 2. Mahasiswa Prodi Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung Erick Pahotan Malau (+6281395225090) Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Tepekong rangkang Penghuni Taman Nasional Batang Gadis

Panyabungan, 12 September 2025. Tepekong rangkang (Hemiprocne comata) adalah spesies burung dalam Family Hemiprocnidae dan merupakan yang terkecil dari empat spesies dalam Genus Hemiprocne. Burung ini dapat ditemukan di Pulau Sumatera dan Kalimantan, salah satunya di Taman Nasional Batang Gadis. Ciri khasnya unik, memiliki pola seperti kumis dan alis putih memanjang sehingga tampak seperti orang tua bijak. Jantan punya corak coklat kemerahan di area telinga, sedangkan betina bercorak kebiruan. Bagian atas tubuhnya cokelat, perut putih, dengan sayap dan kepala hitam-biru mengkilap. Ekornya bercabang seperti garpu, paruhnya pendek dan runcing untuk berburu di udara. Ukurannya mungil, hanya 14–16 cm dengan bentang sayap sekitar 13 cm. Suara khasnya berupa decitan bersemangat dan ocehan bernada tinggi. Habitatnya ada di hutan dataran rendah, hutan bakau, hingga hutan pegunungan lembap. Biasanya hinggap di tenggeran terbuka di kanopi atau tepi bukaan hutan, dan beristirahat berkelompok di malam hari untuk menjaga keamanan. Status konservasi: Least Concern (LC) menurut IUCN Red list. Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai KSDA Kalsel Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Kelompok “Bunga Tanjung” di Desa Tanjung Seloka Utara

Tanjung Seloka Utara, 29 Agustus 2025 – Balai KSDA Kalimantan Selatan melaksanakan kegiatan Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Kelompok Pemberdayaan Masyarakat bagi Kelompok “Bunga Tanjung” di Desa Tanjung Seloka Utara. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kemampuan dan kapasitas kelompok dalam mengembangkan usaha yang berkelanjutan, meningkatkan perekonomian masyarakat, sekaligus mendukung upaya konservasi sumber daya alam di sekitar desa. Acara diawali dengan sambutan dari Penyuluh Kehutanan, Bapak Eddy Kurniawan Astanto, A.Md, yang menyampaikan pentingnya sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kelestarian hutan sekaligus memperoleh manfaat ekonomi. Dilanjutkan dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi acara oleh Kepala Desa Tanjung Seloka Utara, Bapak Syarifuddin, yang memberikan apresiasi kepada Balai KSDA Kalsel atas pendampingan yang terus dilakukan di desanya. Dalam sesi materi, Penyuluh Kehutanan Mega Aulia Rahmayanti, S.Hut dari KPH Pulau Laut Sebuku menyampaikan tentang Penguatan Kelembagaan, menekankan pentingnya struktur organisasi yang solid agar kelompok mampu berkembang dan mandiri dalam jangka panjang. Selanjutnya, materi keterampilan praktis disampaikan oleh Penyuluh Pertanian Dirham, S.ST. dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kotabaru. Beliau memberikan pelatihan tentang cara membuat gula semut serta permen gula aren dengan kacang. Materi ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif usaha produktif yang memiliki nilai tambah, sekaligus memanfaatkan potensi lokal yang ada di desa. Melalui kegiatan ini, diharapkan Kelompok “Bunga Tanjung” semakin mampu mengembangkan ide-ide usaha berbasis hasil hutan bukan kayu (HHBK), memperkuat kelembagaan kelompok, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan aspek kelestarian lingkungan. (Ryn) Sumber: Sarah Damayanti N., S.Hut. - Penyuluh SKW III Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Derap Gajah Sumatera Menggema di Aek Nauli: Seruan Konservasi untuk Masa Depan

Simalungun, 2 September 2025 – Derap langkah Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) menggema di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC), Sabtu (30/8/2025). Momen itu terekam dalam liputan Tim TVRI Sumatera Utara bertema “Energi Konservasi Aek Nauli”, yang didampingi Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara pada Bidang Wilayah II Pematangsiantar. Liputan tidak hanya menyoroti upaya penyelamatan gajah, salah satu satwa dilindungi yang kian terancam, tetapi juga konservasi flora. Di antaranya anggrek hutan dari famili Orchidaceae serta kantung semar dari famili Nepenthaceae, dua kelompok tanaman yang menjadi ikon kawasan Aek Nauli. Program konservasi ini turut didukung PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar lewat program CSR. Dukungan ini diharapkan memperkuat perlindungan flora dan fauna, sekaligus menjadikan Aek Nauli sebagai pusat edukasi dan wisata konservasi di Sumatera Utara. Dalam kegiatan ini, narasumber utama, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Elvina Rosinta Dewi, S. Hut, M.I.L, memberikan penjelasan mendalam tentang pentingnya konservasi satwa dan tumbuhan hutan. Narasumber pendamping juga turut hadir, yaitu salah satu Mahout (Pelatih Gajah), Yopi Widianto, yang sehari-hari mendampingi gajah, serta Manager PT Pertamina Patra Niaga FT Pematangsiantar, Zakharia Habibuw, yang menegaskan dukungan BUMN dalam pelestarian ini. Melalui tayangan program ini, diharapkan pesan konservasi dapat mengetuk hati masyarakat luas dan menegaskan bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, melainkan tugas bersama demi keberlangsungan hidup Gajah Sumatera dan kekayaan hayati Nusantara. ANECC sendiri menjadi saksi sekaligus benteng konservasi, tempat gajah-gajah Sumatera dirawat dan dilindungi. Bersama anggrek hutan yang memesona dan kantung semar yang unik, kawasan ini menjadi simbol nyata bahwa alam akan tetap lestari bila dijaga dengan kesungguhan. Mari bersama menjaga ANECC, melindungi Gajah Sumatera dan merawat hutan kita demi masa depan generasi yang akan datang. Sumber: Resor ANECC dan CA Batu Gajah-Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kolaborasi Mitigasi Kemunculan Harimau di Desa Rih Tengah, Kecamatan Kuta Buluh, Kabupaten Karo

Upaya penghalauan harimau dengan petasan Desa Rih Tengah, 2 September 2025. Berita Kemunculan 1 (satu) ekor Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) di perladangan masyarakat pada Rabu (27/8) sekitar pukul 17.53 Wib, bermula dari rekaman video handphone oleh salah seorang warga masyarakat Desa Rih Tengah, yang sedang mengolah tanah dari atas traktor bersama dengan operator traktor. Hasil rekaman video tersebut kemudian diinformasikan kepada Kepala Desa Rih Tengah, Sarianna Br Karo dan diteruskan ke Camat Kuta Buluh, Budi Mulia Tarigan, SE, MM. Selanjutnya berbekal pengetahuan bahwa bahwa instansi yang berwenang menangani permasalahan satwa liar adalah Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Camat Kuta Buluh menghubungi petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resor TWA Deleng lancuk, Bergiat Sembiring, guna melaporkan informasi kemunculan harimau tersebut. Rekaman video kemunculan Harimau Sumatera ini kemudian beredar luas di media sosial yang membuat keresahan masyarakat terkait keamanan dalam melakukan aktvitas ke ladang. Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara dari Resor TWA Deleng Lancuk, dikoordinir Kepala Resort, Samuel Siahaan, S.P., beserta stafnya Bergiat Sembiring dan Febernando Surbakti, bergerak cepat merespon laporan serta keresahan warga dengan menyambangi lokasi, pada Kamis (28/8) sekitar pukul 12.30 Wib. Di lokasi Tim berkoordinasi dengan Kepala Desa Rih Tengah, Sekretaris Desa, Sariono Sembiring, dan salah satu warga, Serasi Sembiring. Tim melakukan penyisiran lokasi dan menemukan 1 jejak tapak Harimau Sumatera berukuran lebar 10 cm, yang masih tampak terlihat bekas jejaknya. Kemudian petugas Resor menyalakan petasan sebanyak 2 buah, dengan tiap dentuman sebanyak 14 kali. Tujuannya untuk menghalau/mengusir harimau agar masuk kembali ke hutan. Disamping itu, untuk memberikan rasa aman dan tenang bagi warga masyarakat Desa Rih Tengah. Sekitar pukul 14.30 Wib, Tim kembali ke kantor Desa Rih Tengah guna mengkoordinasikan upaya bersama dalam penanganan atas kemunculan Harimau Sumatera sambil terus memantau perkembangan. Di kantor desa, Tim berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait, seperti Ketua BPD Rih Tengah, Toto Pranata Sembiring, Personil Polsek Kuta Buluh, Aipda Topan Bangun dan Aipda Delta Tarigan, Sersan Satu Usman dari Koramil 05 /Payung, serta Camat Kuta Buluh, Amir Sembiring. Hasil pertemuan disepakati akan kembali ke lokasi munculnya Harimau untuk memantau dan menyalakan petasan, dengan harapan agar satwa liar tersebut kembali ke hutan dan semakin menjauh dari aktivitas dan permukiman masyarakat. Penyerahan bantuan petasan kepada 3 kepala desa dan warga Selain itu, Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara juga memberikan sosialisasi serta himbauan kepada pemerintahan desa untuk disampaikan kepada warga agar tidak melakukan aktivitas di sore hari dan pulang ke rumah sebaiknya lebih cepat, ke ladang tidak sendiri sendiri namun bersama-sama, kemudian warga tidak melakukan perbuatan memasang jerat dekat hutan, memburu, melukai ataupun meracuni satwa khususnya yang dilindungi undang-undang sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Usai berkoordinasi di kantor Desa Rih Tengah, sekitar pukul 16.00 Wib, Tim kembali ke lokasi kemunculan harimau untuk mengecek dan memonitoring. Sebelum tiba di lokasi Tim bersama KPH XV Kabanjahe, Kepala Desa Rih Tengah, Ketua BPD Rih Tengah, personil Polsek Kuta Buluh, personil Koramil 05 /Payung, serta staf Camat Kuta Buluh, meluangkan waktu mengadakan pertemuan dengan PT Wampu Electric Power (WEP) di kantor PT WEP yang diterima Habibullah Hasibuan (Staf Bagian HSE PT WEP) didampingi Hastulo Zebua (Humas PT WEP), Taufik Wahid Nasution (Pengamanan Polda Sumut). Dalam pertemuan singkat tersebut Tim menyampaikan himbauan dan ajakan untuk bersama sama berperan serta dalam penanganan permasalahan munculnya Harimau Sumatera yang lokasinya berada berdekatan dengan kegiatan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) PT WEP. Sehingga kepada pihak manajemen disampaikan pesan untuk menghimbau dan mengingatkan agar seluruh karyawan lebih waspada dan berhati-hati. Usai pertemuan dilanjutkan dengan kembali menyalakan petasan di lokasi munculnya Harimau Sumatera. Pada hari kedua, Jumat (29/8) sekitar pukul 10.00 Wib Tim gabungan Balai besar KSDA Sumatera Utara bersama sama Forkopincam terdiri Camat Kuta Buluh, Kapolsek Kuta Buluh AKP Poltak Hamonangan Hutahaean, SH, Kepala Desa Rih Tengah, Kepala Desa Ujung Deleng, Kepala Desa Tanjung Merahe, Tim UPT KPH XV Dinas LHK Provinsi Sumut, serta staf HSE PT Wampu Electric Power (WEP) untuk ketiga kalinya menyalakan petasan sebanyak 2 buah, masing-masing oleh Camat dan Kapolsek Kuta Buluh. Disamping itu, dilakukan juga penyerahan petasan secara simbolis kepada 3 Kepala Desa yaitu Kepala Desa Rih Tengah, Kepala Desa Ujung Deleng dan Kepala Desa Tanjung Merabe serta 1 warga masyarakat pemilik lahan tempat lokasi munculnya Harimau Sumatera, yang diserahkan oleh Camat Kota Buluh, Kapolsek Kuta Buluh dan Staf Resor TWA Deleng Lancuk, Bergiat Sembiring. Setelah selama 2 hari memantau lokasi dan kondisi di lapangan sudah berangsur kondusif aman dan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kemunculan si raja hutan, ditambah lagi kegiatan aktivitas pengolahan tanah menggunakan traktor sudah bekerja sebagaimana biasanya, akhirnya Tim Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyelesaikan tugas dan misinya, namun tetap melakukan pemantauan dengan membangun komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait. Apresiasi dan terima kasih tentunya disampaikan kepada berbagai pihak yang sudah ikut dalam kegiatan mitigasi tersebut, semoga kolaborasi yang sudah terjalin dengan baik tetap terus terjaga dan terawat untuk menyelamatkan satwa liar dilindungi serta memberi rasa aman bagi warga dalam beraktivitas. Kolaborasi dan sinergitas menjadi kunci dalam mitigasi kemunculan harimau Sumber : Tim Resort TWA Deleng Lancuk – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai KSDA Jambi Tingkatkan Kapasitas Penyuluh Untuk Mitigasi Interaksi Negatif Manusia dan Satwa Liar

Jambi, 26 Agustus 2025 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jambi menyelenggarakan Peningkatan Kapasitas Penyuluhan Kehutanan dalam rangka Mitigasi Interaksi Negatif Manusia dan Satwa Liar. Acara yang berlangsung selama dua hari, dari tanggal 26 hingga 27 Agustus 2025, bertempat di Hotel Aston Jambi. Kegiatan dibuka dengan sambutan oleh Kepala Balai KSDA Jambi, Bapak Agung Nugroho, S.Si., M.A. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa kegiatan ini dihadiri oleh 40 peserta dari 24 instansi/lembaga di Provinsi Jambi. Para peserta terdiri dari unsur fungsional penyuluh kehutanan, PEH, Polhut, personel BPPH, mitra LSM, dan jurnalis. Kepala BKSDA Jambi mengatakan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah untuk meningkatkan dan menyegarkan kemampuan sumber daya manusia penyuluh dan petugas terkait dalam menjalankan tugas outreach kepada masyarakat di sekitar hutan. Beliau juga menekankan pentingnya pengelolaan interaksi negatif, mengingat status populasi satwa kharismatik seperti Gajah Sumatera dan Harimau Sumatera yang terancam punah. Kegiatan penyuluhan diharapkan berperan signifikan dalam mengubah persepsi masyarakat terhadap satwa liar, dari yang awalnya dianggap sebagai ‘hama’ menjadi bagian dari ekosistem yang harus dijaga. Selain itu, masyarakat juga perlu didampingi melalui kegiatan pemberdayaan ekonomi agar kesejahteraan tetap terjaga. Kepala Balai juga menambahkan, secara kultural, satwa-satwa ini memiliki status sosial yang tinggi dan dihormati dengan sebutan ‘Datuk’, yang dapat menjadi modalitas penting dalam upaya mitigasi. Setelah sambutan Kepala Balai, acara dilanjutkan dengan sambutan pembuka dari Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, drh. Indra Exploitasia Semiawan, M.Si. Beliau menekankan pentingnya peran penyuluh kehutanan sebagai ujung tombak dalam mengurangi interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. Melalui Kegiatan Peningkatan Kapasitas Penyuluhan Kehutanan dalam Mitigasi Interaksi Negatif Manusia dan Satwa Liar ini, para penyuluh semakin cakap dalam menyampaikan informasi terkait interaksi egative manusia dan satwa liar. Adapun peserta yang diundang berasal dari berbagai instansi, antara lain: Balai KSDA Jambi, Dinas Kehutanan Provinsi Jambi, Balai Besar TNKS, Balai TN Berbak Sembilang, Balai TN Bukit Tiga Puluh, KPHP, Platform Kolaborasi Bukit Tiga Puluh (PKMH), perusahaan swasta seperti PT. Alam Bukit Tiga Puluh, PT. WKS, PT. Lestari Asri Jaya, PT. Agronusa Alam Sejahtera, serta organisasi nirlaba seperti WWF-Indonesia, FZS, dan PT. REKI. Pada tanggal 27 Agustus, materi yang disampaikan dalam kegiatan ini berasal dari empat narasumber kompeten, berasal dari : Selain itu, diadakan pula sesi berbagi pengalaman dari lapangan yang disampaikan oleh drh. Zulmanudin dari tim medis, Bapak Ikawa dari Seksi KSDA Wilayah I yang telah mengabdi selama 28 tahun, serta Hilal dari Frankfurt Zoological Society (FZS) yang menjelaskan teknik perilaku satwa. Di sesi akhir acara, narasumber dari BP2SDM yang didampingi oleh Kepala Balai KSDA Jambi, Bapak Agung Nugroho, memimpin Coaching Clinic. Peserta diajak berdiskusi interaktif untuk memperdalam pemahaman mereka tentang tantangan dan solusi di lapangan. Diharapkan, setelah mengikuti kegiatan ini, para penyuluh dapat memiliki wawasan dan kemampuan yang lebih baik untuk menjadi agen perubahan di masyarakat, serta mampu menyampaikan informasi yang relevan guna mengurangi interaksi negatif antara satwa liar dan manusia. Sumber: Balai KSDA Jambi

Menampilkan 385–400 dari 2.298 publikasi