Jumat, 28 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

60 Tukik Penyu Sisik Kembali Ke Laut Karimunjawa

Karimunjawa, 05 April 2026 – Balai Taman Nasional (TN) Karimunjawa kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian satwa dilindungi melalui kegiatan pelepasan 60 ekor tukik (anak penyu) jenis penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Pelepasan yang berlangsung pada hari Minggu, pukul 15.00 WIB ini bertempat di Pantai Pulau Menyawakan. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim dari Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Karimunjawa yang berjumlah 6 orang, bersama dengan salah satu pengelola Kura-Kura Resort Pulau Menyawakan. Lokasi pelepasan sengaja dipilih di kawasan pantai yang sama dengan tempat induk penyu bertelur secara alami. Hal ini didasarkan pada perilaku alami penyu yang dikenal memiliki homing instinct, yaitu kemampuan untuk kembali ke tempat kelahirannya saat dewasa guna melanjutkan siklus reproduksi. Koordinator Penetasan Semi Alami (PSA) Penyu Seksi PTN Wilayah II Karimunjawa, Bapak Zaenul Abidin, menjelaskan pentingnya metode pelepasan di lokasi asal penetasan. "Kami melepasliarkan tukik ini tepat di Pantai Pulau Menyawakan karena lokasi ini merupakan tempat induk penyu sisik bertelur. Dengan cara ini, ketika tukik-tukik ini tumbuh dewasa nanti, mereka secara naluriah akan kembali ke pantai yang sama untuk bertelur. Ini adalah strategi konservasi jangka panjang untuk memulihkan populasi penyu di habitat aslinya," ujar Zaenul Abidin. Sementara itu, Kepala SPTN Wilayah II Karimunjawa, Ibu Dyah Ayu Puspitasari, menambahkan bahwa pelepasan tukik di lokasi induk bertelur memiliki fungsi ekologis yang sangat krusial. "Fungsi utama pelepasan tukik di lokasi induk bertelur adalah untuk mempertahankan nesting site atau situs bertelur alami. Penyu memiliki ingatan magnetik yang kuat terhadap pantai tempat mereka menetas. Dengan melepasliarkan mereka di sini, kita sedang 'merekam' lokasi ini ke dalam memori alami mereka. Harapannya, 20 hingga 30 tahun mendatang, mereka kembali ke Pantai Pulau Menyawakan untuk bertelur, sehingga populasi penyu sisik yang dilindungi ini dapat terus berlanjut secara alami," jelas Ibu Dyah. Kegiatan yang berlangsung sore hari itu juga dihadiri oleh pengelola resort setempat yang mendukung penuh upaya konservasi berbasis masyarakat. Suasana khidmat dan penuh harapan menyertai perjalanan 60 ekor tukik yang dengan gesit merangkak menuju garis ombak, memulai perjalanan panjang mereka di Laut Karimunjawa. Balai TN Karimunjawa mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini, serta mengajak masyarakat luas untuk turut menjaga kebersihan pantai dan tidak mengganggu proses bertelur penyu demi kelestarian hayati bangsa. Sumber: Venza Rhoma Saputra, S.Hut (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) SPTN Wilayah II Karimunjawa, Balai TN Karimunjawa
Baca Artikel

Sunyi Yang Terusik, Patroli Jumpai Luka Baru Di Habitat Rusa Bawean

Bawean, 5 April 2026. Pagi yang tenang di lereng Gunung Besar dalam kawasan Suaka Margasatwa Pulau Bawean, hutan masih bernafas dengan ritmenya sendiri Kamis (02/04). Udara lembap membawa aroma tanah dan dedaunan. Di antara rimbun pepohonan, jejak kehidupan liar terbaca jelas, bekas gesekan tanduk Rusa Bawean, kicauan burung Merbah Belukar, hingga bayangan cepat Babi Kutil yang melintas di sela vegetasi. Anggrek liar menggantung tenang, menjadi saksi bahwa ekosistem ini masih hidup, masih utuh, masih berfungsi. Namun di satu titik, kesunyian itu berubah makna. Sebuah bidang kecil terbuka di tengah hutan. Vegetasi alami telah tergantikan. Tanahnya ditanami rumput gajah, rapi, teratur, namun terasa asing di dalam lanskap liar. Sebuah perubahan yang nyaris tak terdengar, tetapi cukup untuk menjadi penanda, ada ruang yang mulai bergeser fungsi. Luka itu kecil, sekitar 0,07 Ha. Namun di dalam kawasan konservasi, tak ada perubahan yang benar-benar kecil. Bagi masyarakat Pulau Bawean, hutan bukanlah sesuatu yang jauh. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari, penyangga air, penjaga tanah, sumber keseimbangan yang selama ini mungkin terasa “selalu ada”. Di sinilah letak relasi yang sering tak terlihat, bahwa keberadaan satwa liar, vegetasi alami, dan bentang hutan sesungguhnya menopang kehidupan manusia itu sendiri. Rusa Bawean, burung-burung liar, hingga tumbuhan epifit yang menempel di batang pohon. semuanya adalah bagian dari satu sistem yang sama. Ketika satu bagian berubah, maka seluruh sistem perlahan ikut menyesuaikan. Dan perubahan itu, cepat atau lambat, akan kembali kepada manusia. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa aktivitas ini diduga berangkat dari kebutuhan, penyediaan pakan ternak. Sebuah realitas yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat sekitar kawasan. Di sinilah konservasi menemukan wajahnya yang paling manusiawi. Bahwa menjaga kawasan bukan hanya soal batas dan larangan, tetapi juga tentang memahami kebutuhan, membuka ruang dialog, dan mencari jalan tengah yang tidak mengorbankan alam maupun kehidupan masyarakat. Pendekatan yang dibangun bukanlah garis keras, melainkan jembatan, antara hutan dan manusia, antara perlindungan dan kebutuhan. Kawasan konservasi di Bawean bukan sekadar wilayah perlindungan. Ia adalah benteng terakhir bagi satwa endemik yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. Namun lebih dari itu, kawasan ini adalah “nafas” bagi pulau itu sendiri. Ia menyimpan air yang mengalir ke pemukiman. Menjaga tanah tetap stabil. Menjadi penyangga kehidupan yang mungkin selama ini terasa tak terlihat, tetapi sangat nyata keberadaannya. Karena itu, menjaga kawasan ini tidak bisa hanya menjadi tugas petugas. Ia adalah tanggung jawab bersama. Bukan dalam bentuk tuntutan. Melainkan kesadaran bahwa kita semua hidup dari sumber yang sama. Perambahan kecil di Gunung Besar adalah sebuah pesan. Bukan untuk menyalahkan, tetapi untuk mengingatkan. Bahwa di tengah hutan yang masih bertahan, ada tanda-tanda yang perlu dijaga bersama. Bahwa harmoni antara manusia dan alam bukan sesuatu yang terjadi begitu saja, ia perlu dirawat, dijaga, dan disepakati bersama. Masyarakat Bawean telah hidup berdampingan dengan alam selama generasi. Nilai-nilai itu masih ada. Dan justru di situlah kekuatan terbesar konservasi berada, pada kearifan lokal dan rasa memiliki. Hutan Bawean akan tetap sunyi. Namun sunyi itu bukan berarti tanpa makna. Di dalamnya, kehidupan terus berlangsung. Dan di luar sana, manusia bergantung padanya. Maka menjaga hutan berarti menjaga nafas pulau. Menjaga masa depan. Menjaga keseimbangan yang tak tergantikan. Dan mungkin, langkah paling penting hari ini bukanlah menuding siapa yang salah, melainkan berjalan bersama, memastikan bahwa luka kecil ini tidak menjadi cerita yang lebih besar di masa depan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Detik-Detik Sanca Bodo Kembali Ke Hutan Besowo

Kediri, 6 April 2026. Di antara rimbunnya vegetasi hutan Cagar Alam Besowo Gadungan, seekor ular sanca remaja perlahan menghilang di balik semak. Tubuhnya yang berotot bergerak tenang, seolah kembali mengenali denyut alam yang telah lama terputus. Pagi itu, 31 Maret 2026 pukul 10.30 WIB, sebuah perjalanan pulang dimulai. bukan sekadar pelepasliaran, tetapi simbol keterhubungan manusia dan alam yang masih terjaga. Satwa yang dilepasliarkan adalah Sanca Bodo, hasil penyerahan sukarela dari masyarakat. Sebelum dilepas, tim memastikan kondisi satwa dalam keadaan sehat, tanpa luka, tanpa stres berlebih, dan memiliki kemampuan bertahan hidup di habitat alaminya. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang terdiri dari Achmad Soleh Chamdani, Febrian Wahyu, Suprihadi, serta Supardi (MMP). Mereka bergerak tidak hanya sebagai petugas, tetapi sebagai penjaga keseimbangan, mengembalikan satu individu satwa ke dalam jejaring ekosistem yang lebih besar. Pelepasliaran dilakukan diwilayah yang secara ekologis masih mendukung keberlangsungan hidup spesies tersebut. Habitat hutan alami dengan tutupan vegetasi rapat menjadi ruang aman bagi sanca untuk berburu, berlindung, dan berkembang. Namun, cerita ini tidak berhenti pada satu individu ular. Di balik peristiwa ini, tersimpan pesan penting tentang meningkatnya interaksi manusia dan satwa liar. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, hingga perubahan bentang alam menjadi faktor yang mendorong satwa keluar dari habitat alaminya dan mendekati permukiman. Di sinilah peran masyarakat menjadi krusial. Penyerahan satwa liar secara sukarela menunjukkan adanya kesadaran yang tumbuh, bahwa satwa bukan untuk dipelihara, diperdagangkan, atau dieliminasi, melainkan bagian dari sistem kehidupan yang harus dijaga bersama. Melalui Program Matawali, Balai Besar KSDA Jawa Timur terus memperkuat respons cepat dalam penanganan konflik manusia dan satwa liar, sekaligus membangun pendekatan persuasif berbasis edukasi. Sosialisasi, baik secara langsung maupun melalui media digital, menjadi langkah strategis untuk menanamkan nilai konservasi di tengah masyarakat. Karena pada akhirnya, keberhasilan konservasi tidak hanya diukur dari jumlah satwa yang diselamatkan, tetapi dari seberapa kuat kesadaran kolektif manusia untuk hidup berdampingan dengan alam. Di hutan Besowo, sanca itu kini telah kembali. Namun pertanyaan yang tersisa bagi kita adalah, apakah kita juga siap kembali menjaga rumah mereka? Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kerja Program Matawali Berbuah Pengakuan Dunia, USFWS Apresiasi BBKSDA Jawa Timur

Sidoarjo, 6 April 2026. Pagi itu, di kantor Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Perum Permata No. E-30 Sedati Kulon Wedi, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, tampak seperti hari-hari biasa. Tidak ada sirene, tidak ada satwa yang baru saja dievakuasi, tidak pula hiruk pikuk operasi lapangan. Namun di ruang pertemuan yang sederhana, sebuah pengakuan dari dunia internasional sedang disematkan, bukan untuk satu peristiwa besar, melainkan untuk rangkaian kerja panjang yang nyaris tak pernah terlihat. Di tempat itu, United States Fish and Wildlife Service (USFWS) memberikan penghargaan kepada Balai Besar KSDA Jawa Timur, menandai apresiasi atas dedikasi dalam penyelamatan satwa liar serta dukungan terhadap penegakan hukum di bidang tumbuhan dan satwa liar. Penghargaan diserahkan oleh James Markley, dan diterima langsung oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut.,M.Sc. pada 31 Maret 2026. Namun, seperti banyak kisah konservasi lainnya, inti dari penghargaan ini tidak terletak pada seremoni. Ia tersembunyi di lapangan, di hutan yang lembap, di ladang yang berbatasan dengan habitat liar, di kandang-kandang sempit tempat satwa disita, dan di perjalanan panjang menuju pelepasliaran. Garda Depan Yang Tak Terlihat Di Jawa Timur, penyelamatan satwa liar bukanlah peristiwa tunggal. Ia adalah rangkaian respons cepat terhadap laporan yang datang tanpa jadwal, seekor elang tersangkut kabel listrik, lutung yang masuk permukiman, trenggiling yang disita dari jaringan perdagangan, hingga rusa yang terjebak konflik dengan manusia di pulau-pulau kecil. Di balik semua itu, ada satu nama yang jarang muncul di permukaan, namun menjadi kunci dari setiap operasi: Matawali. Program dan gugus tugas Matawali, singkatan dari Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak dibentuk sebagai respons atas meningkatnya kompleksitas penanganan satwa liar di lapangan. Tim ini tersebar di berbagai wilayah kerja BBKSDA Jawa Timur, siap bergerak kapan saja. Mereka adalah kombinasi dari keahlian teknis, insting lapangan, dan ketahanan mental. Tidak ada operasi yang benar-benar sama. Dalam satu kasus, tim harus menenangkan satwa yang stres akibat konflik. Dalam kasus lain, mereka berhadapan dengan jaringan perdagangan ilegal yang terorganisir. Kadang mereka bekerja dalam sunyi, kadang dalam tekanan publik yang tinggi. Namun satu hal yang konsisten yaitu waktu. Dalam penyelamatan satwa liar, keterlambatan sering berarti kematian. Dari Konflik Hingga Penegakan Hukum Dalam tiga tahun terakhir, BBKSDA Jawa Timur bersama mitra terkait mencatat penyelamatan ratusan individu satwa liar. Angka ini bukan sekadar statistik. Ia merepresentasikan titik-titik pertemuan antara manusia dan satwa, sering kali dalam kondisi yang tidak ideal. Konflik ruang hidup menjadi salah satu pemicu utama. Perubahan lanskap, ekspansi permukiman, dan tekanan terhadap habitat alami memaksa satwa keluar dari wilayahnya. Di sisi lain, praktik perdagangan ilegal masih menjadi ancaman serius, menempatkan satwa sebagai komoditas. Di titik inilah peran BBKSDA Jawa Timur meluas, tidak hanya sebagai penyelamat, tetapi juga sebagai bagian dari sistem penegakan hukum. Setiap penyelamatan yang berasal dari kasus perdagangan ilegal membuka pintu pada proses hukum. Barang bukti, keterangan ahli, hingga koordinasi dengan aparat penegak hukum menjadi bagian dari pekerjaan yang sering kali tidak terlihat oleh publik. Dalam sambutannya, Markley menegaskan bahwa penghargaan ini juga mencerminkan pentingnya kolaborasi lintas negara dalam memerangi kejahatan terhadap satwa liar. Jaringan perdagangan tidak mengenal batas administratif. Begitu pula upaya untuk menghentikannya. Kerja Yang Dibangun Dari Kepercayaan Sebagian besar penyelamatan satwa liar di Jawa Timur justru berawal dari masyarakat. Laporan warga, penyerahan sukarela, hingga informasi dari jaringan lokal menjadi pintu masuk bagi tim Matawali. Ini menunjukkan satu hal penting bahwa konservasi tidak bisa berjalan tanpa kepercayaan. Kepercayaan itu dibangun perlahan, melalui edukasi, pendekatan persuasif, dan kehadiran yang konsisten di lapangan. Dalam banyak kasus, masyarakat bukanlah pelaku utama, melainkan bagian dari sistem yang belum sepenuhnya memahami nilai ekologis satwa liar. Di sinilah pendekatan humanis menjadi penting. Setiap interaksi bukan hanya soal menyelamatkan satwa, tetapi juga membangun kesadaran. Di Balik Penghargaan Bagi Nur Patria Kurniawan, penghargaan ini bukanlah tujuan akhir. Ia adalah refleksi dari kerja kolektif, dari petugas lapangan, dokter hewan, penyidik, hingga masyarakat yang terlibat. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa konservasi adalah kerja jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Tidak ada solusi instan untuk persoalan yang kompleks seperti konflik satwa atau perdagangan ilegal. Namun penghargaan ini memberi satu hal yang sering kali lebih penting dari sekadar pengakuan yaitu legitimasi. Legitimasi bahwa apa yang dilakukan di tingkat lokal memiliki dampak global. Bahwa upaya penyelamatan di satu wilayah dapat menjadi bagian dari perlindungan keanekaragaman hayati dunia. Harapan Yang Melintasi Batas Negara Momentum ini juga membuka peluang baru dalam kerja sama internasional. Salah satu yang menjadi perhatian adalah upaya repatriasi satwa liar asal Indonesia yang berada di luar negeri. Repatriasi bukan sekadar memindahkan satwa kembali ke tanah asalnya. Ia adalah proses panjang yang melibatkan aspek hukum, kesehatan satwa, hingga kesiapan habitat. Namun di balik kompleksitas itu, ada satu tujuan sederhana untuk mengembalikan yang seharusnya kembali. Dukungan dari USFWS diharapkan dapat memperkuat upaya ini, sekaligus memperluas kolaborasi dalam perlindungan keanekaragaman hayati. Jika ada satu benang merah dari seluruh cerita ini, maka itu adalah kolaborasi. Konservasi jarang hadir dalam sorotan utama. Ia tidak selalu menghasilkan berita besar. Tidak selalu terlihat dramatis. Namun justru di sanalah kekuatannya. Ia bekerja dalam konsistensi, dalam detail, dalam keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari. Seekor satwa yang berhasil diselamatkan mungkin tidak mengubah dunia secara instan. Namun ia menjaga satu bagian kecil dari keseimbangan yang lebih besar. Dan ketika kerja-kerja kecil itu dilakukan berulang, dalam skala yang luas, dampaknya menjadi nyata. Menjaga Yang Tersisa Di tengah tekanan terhadap lingkungan yang terus meningkat, kerja BBKSDA Jawa Timur melalui tim Matawali menjadi pengingat bahwa masih ada ruang untuk menjaga. Ruang itu mungkin semakin sempit. Tantangannya mungkin semakin kompleks. Namun selama masih ada upaya, masih ada harapan. Penghargaan dari United States Fish and Wildlife Service bukanlah akhir dari perjalanan. Ia adalah penanda bahwa jalan yang ditempuh, meski sunyi adalah jalan yang benar. Dan di Jawa Timur, kerja itu akan terus berlanjut. Senyap. Namun menjaga kehidupan. Sumber : Krismanko Padang, SH., MH. (Kepala Bagian Tata Usaha) & Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Antara Insting dan Ketakutan, Saat Monyet Ekor Panjang Masuk Kampung Warga Gresik

Gresik, 5 April 2026. Di sebuah sudut perkampungan Dusun Pareng Wetan, Desa Melirang, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, ketegangan sempat mengendap di antara warga. Seekor primata liar, Monyet Ekor Panjang tertangkap setelah beberapa waktu terakhir terlihat berkeliaran di sekitar permukiman, memicu kekhawatiran akan potensi gangguan dan konflik. Pada Kamis (2/4), laporan masyarakat tersebut segera direspons oleh Tim Penyelataman Satwa Liar Ilegal (Matawali) Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Respons cepat ini menjadi bagian dari komitmen menjaga keseimbangan antara keselamatan manusia dan kelestarian satwa liar, dua hal yang kerap berada dalam garis tipis ketika ruang hidup saling bersinggungan. Informasi awal diterima dari seorang warga bernama Nurul, yang melaporkan keberadaan satwa tersebut setelah akhirnya berhasil diamankan oleh masyarakat. Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Dalam kondisi terdesak atau stres, satwa liar dapat menunjukkan perilaku defensif yang berisiko melukai manusia. Di sisi lain, keberadaan satwa ini di luar habitat alaminya juga menjadi indikator adanya tekanan ekologis atau intervensi manusia di masa sebelumnya. Tim yang digawangi Andik Sumarsono, Zainal Syaifulloh, dan Budi Al Katif segera bergerak ke lokasi. Proses evakuasi dilakukan secara hati-hati untuk meminimalisir stres pada satwa sekaligus memastikan keamanan warga sekitar. Seekor Monyet Ekor Panjang tersebut berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup. Meski tidak termasuk satwa yang dilindungi secara nasional, keberadaannya tetap memiliki peran ekologis penting, terutama sebagai penyebar biji di ekosistem hutan tropis. Namun, saat satwa diduga berasal dari peliharaan yang lepas, dinamika menjadi lebih kompleks. Satwa yang terbiasa berinteraksi dengan manusia cenderung kehilangan naluri alaminya, sehingga lebih rentan memasuki permukiman dan memicu konflik. Pasca evakuasi, satwa tersebut kemudian dibawa ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur untuk penanganan lebih lanjut. Tahapan ini penting untuk observasi kondisi kesehatan, perilaku, serta menentukan langkah terbaik berikutnya, apakah memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali atau memerlukan penanganan khusus. Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang satu individu satwa yang tersesat di ruang manusia. Ia adalah fragmen kecil dari narasi yang lebih besar, tentang bagaimana batas antara habitat alami dan ruang hidup manusia kian kabur. Alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, hingga praktik pemeliharaan satwa liar menjadi faktor yang saling terkait dalam membentuk pola konflik yang semakin sering terjadi. Di tengah situasi tersebut, kehadiran negara melalui Balai Besar KSDA Jawa Timur menjadi penyeimbang. Tidak hanya sebagai responden cepat terhadap laporan masyarakat, tetapi juga sebagai penjaga nilai bahwa setiap satwa, dilindungi atau tidak, tetap bagian dari jejaring kehidupan yang harus dijaga. Karena pada akhirnya, konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa di hutan, melainkan juga tentang bagaimana manusia belajar berbagi ruang, memahami batas, dan merawat harmoni yang kian rapuh. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Duka di Pamekasan, Refleksi atas Keselamatan dan Pengelolaan Satwa Liar di Pemukiman

Pamekasan, 5 April 2026. Siang itu, suasana di sebuah dusun di Kabupaten Pamekasan berubah drastis, Rabu (1/4). Ruang yang selama ini menjadi tempat bermain anak-anak, yang dipenuhi suara tawa dan langkah kecil yang riang, mendadak sunyi oleh duka. Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun meninggal dunia setelah mengalami serangan dari seekor monyet peliharaan milik warga yang terlepas dari pengawasan. Peristiwa ini terjadi dalam hitungan menit, cepat, tak terduga, dan meninggalkan luka yang mendalam. Siang itu, korban tengah bermain bersama dua temannya di halaman rumah kerabatnya. Dalam ruang yang terasa aman, seekor primata muncul secara tiba-tiba. Monyet tersebut sebelumnya diketahui telah lepas dari ikatan sejak sehari sebelum kejadian. Tanpa peringatan, satwa itu menunjukkan perilaku agresif. Dua anak berhasil menyelamatkan diri, tetapi tidak bagi korban. Luka gigitan yang serius menyebabkan kondisi kritis. Upaya penyelamatan telah dilakukan, namun nyawa kecil itu tidak tertolong. Di tengah duka yang menyelimuti, penting untuk memahami satu hal mendasar, bahwa peristiwa ini bukan konflik antara manusia dan satwa liar di habitat alaminya. Satwa yang terlibat merupakan Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis), spesies primata yang umum ditemukan di berbagai wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dalam kondisi alami, satwa ini hidup berkelompok di hutan, mangrove, maupun kawasan pesisir, dengan struktur sosial yang kompleks dan perilaku yang sangat adaptif. Namun ketika dipelihara di lingkungan domestik, jauh dari habitat alaminya, terjadi perubahan dinamika yang tidak selalu dapat dikendalikan. Naluri liar yang melekat pada satwa ini tidak pernah benar-benar hilang. Dalam kondisi tertentu, terutama ketika mengalami stres, merasa terancam, atau berada di luar kendali. perilaku agresif dapat muncul secara tiba-tiba. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) memandang kejadian ini sebagai peringatan penting. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan duka mendalam sekaligus menegaskan aspek fundamental dalam konservasi. “Kami turut berduka cita atas peristiwa ini. Kejadian di Pamekasan menjadi pengingat bahwa satwa liar, termasuk primata seperti monyet ekor panjang, bukanlah hewan domestik yang sepenuhnya aman dipelihara tanpa standar dan pengawasan ketat. Naluri alaminya tetap ada dan dapat muncul sewaktu-waktu,” ujarnya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan ini bukan semata tentang insiden tunggal, melainkan tentang cara pandang yang masih keliru terhadap satwa liar. Dalam banyak kasus, memelihara satwa liar dianggap sebagai hal yang wajar, bahkan sebagai bentuk kedekatan manusia dengan alam. Padahal, tanpa pemahaman yang memadai, praktik tersebut justru berpotensi menimbulkan risiko, baik bagi manusia maupun satwa itu sendiri. Primata seperti Macaca fascicularis dikenal memiliki kecerdasan tinggi, kemampuan beradaptasi yang luar biasa, serta struktur sosial yang kompleks. Di alam, mereka hidup dalam kelompok dengan hierarki yang jelas, menjelajah ruang yang luas, dan memiliki pola interaksi yang khas. Ketika ditempatkan di lingkungan sempit, terikat, atau terisolasi dari kelompoknya, tekanan perilaku dapat meningkat. Dalam kondisi seperti inilah, respons agresif menjadi lebih mungkin terjadi. Kepala BBKSDA Jawa Timur kembali menegaskan bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang perlindungan satwa di habitat alaminya, tetapi juga tentang bagaimana manusia bersikap ketika berhadapan dengan satwa tersebut di luar habitat. “Konservasi bukan hanya tentang menjaga satwa di habitatnya, tetapi juga memastikan bahwa ketika satwa berada di luar habitat, baik dalam penangkaran maupun pemeliharaan, prinsip keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa harus menjadi prioritas utama,” jelasnya. Tragedi di Pamekasan menyisakan ironi yang mendalam. Seorang anak kehilangan masa depannya. Seekor satwa kehilangan hidupnya setelah akhirnya dibunuh pasca kejadian. Dua kehidupan yang seharusnya tidak pernah saling berhadapan dalam konflik, justru dipertemukan dalam situasi yang tidak semestinya. Di balik peristiwa ini, tersimpan pelajaran penting yang tidak boleh diabaikan. Bahwa setiap satwa memiliki ruang hidup, kebutuhan perilaku, dan batas interaksi yang harus dihormati. Ketika manusia mengambil alih ruang tersebut tanpa pengetahuan dan tanggung jawab yang cukup, maka keseimbangan yang rapuh itu dapat runtuh kapan saja. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa bukanlah dua hal yang saling bertentangan, melainkan dua hal yang harus dijaga secara bersamaan. Edukasi, kesadaran, dan kepatuhan terhadap kaidah konservasi menjadi kunci dalam mencegah tragedi serupa terulang. Dan pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang perlu kita renungkan bukanlah mengapa satwa itu bertindak demikian. Melainkan, apakah manusia telah cukup bijak untuk memahami bahwa tidak semua makhluk dapat hidup berdampingan dalam ruang yang sama, tanpa batas, tanpa risiko, dan tanpa konsekuensi. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pembekalan Magang Mahasiswa UNHAS FAHUTAN Digelar di Balai TN Taka Bonerate

Taka Bonerate, 2 April 2026 – Sebanyak belasan materi akan dibekalkan kepada mahasiswa magang dari Universitas Hasanuddin (UNHAS), Fakultas Kehutanan (FAHUTAN), Program Studi Konservasi. Kegiatan ini berlangsung di ruang pertemuan Balai Taman Nasional Taka Bonerate. Rangkaian pembekalan dimulai Rabu (1/4/2026). Dan akan terus berjalan hingga Senin depan, 13 April 2026. Materi pertama langsung dibuka dengan topik strategis. Yakni Gambaran Umum & Manajemen Pengelolaan Balai TN Taka Bonerate. Pematerinya adalah Kak Saleh Rahman. Acara digelar mulai pukul 10.00 Wita hingga selesai. Kemudian hari ini, Kamis (2/4/2026), peserta akan diajak mengenal lebih dekat keunikan wilayah. Pengenalan Atol Taman Nasional Taka Bonerate menjadi sajian utama. Kak Asri bertindak sebagai pemateri, pukul 09.00 Wita. Setelah jeda akhir pekan, kegiatan kembali bergulir pada Senin (6/4/2026). Topik yang diangkat: Pengawetan dan Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati Secara Lestari. Kak Anam akan menyampaikan materi ini mulai pukul 09.00 Wita. Selasa (7/4/2026), giliran Perlindungan dan Pengamanan Balai TN Taka Bonerate. Kak Agusriadi menjadi pengisi acara. Waktunya sama, pukul 09.00 Wita. Rabu (8/4/2026), fokus bergeser pada restorasi. Pemulihan Ekosistem di TN Taka Bonerate dibawakan oleh Kak Inna. Pukul 09.00 Wita. Kamis (9/4/2026), materi terbilang modern. Sistem Manajemen Spasial Taka Bonerate berbasis Digital kembali diampu oleh Kak Asri. Dimulai pukul 09.00 Wita. Jumat (10/4/2026), mahasiswa akan belajar mengelola data. Sistem Manajemen Data TN Taka Bonerate disampaikan Kak Taufik Hidayat. Jam yang sama, 09.00 Wita. Puncak rangkaian pembekalan berlangsung Senin (13/4/2026). Materi penutup: Pemberdayaan Masyarakat TN Taka Bonerate. Kak Harlina menjadi pemateri terakhir. Dimulai pukul 09.00 Wita hingga selesai. Seluruh kegiatan ini bersifat wajib bagi mahasiswa magang. Tujuannya, mempersiapkan mereka sebelum terjun langsung ke lapangan. Balai TN Taka Bonerate berharap para peserta mampu menyerap ilmu secara maksimal. (*) Sumber: Asri (Humas/PEH Ahli Muda) - Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Apa yang Membawa Merak Hijau Bertahan 9 Tahun di Sekolah?

Tuban, 2 April 2026. Di sebuah halaman sekolah, sepasang burung dengan bulu berkilau hijau kebiruan telah hidup selama hampir satu dekade. Mereka bukan bagian dari kurikulum, bukan pula simbol resmi institusi. Namun kehadirannya diam-diam menjadi saksi interaksi panjang antara manusia dan satwa liar yang seharusnya tetap berada di habitat alaminya. Rabu, 1 April 2026, tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal (Matawali) dari Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), menelusuri jejak itu. Berawal dari laporan seorang warga di Dusun Purboyo Mayang Sekar, Desa Rengel, Kecamatan Rengel, yang berniat menyerahkan satwa peliharaannya berupa Merak Hijau, tim bergerak cepat. Satwa tersebut bukan jenis biasa, Merak Hijau (Pavo muticus), salah satu burung dilindungi di Indonesia yang populasinya terus tertekan di alam. Di rumah sederhana milik seorang warga bernama Beny, tim menjumpai empat ekor. Tidak ada kandang besar, tidak ada fasilitas khusus sebagaimana lembaga konservasi. Hanya ruang terbatas yang selama ini menjadi tempat hidup satwa-satwa tersebut. Namun yang lebih menarik, cerita tentang asal-usul mereka justru mengarah ke tempat lain, sebuah sekolah menengah pertama di Kecamatan Plumpang. Beberapa kilometer dari lokasi pertama, tim melanjutkan pemeriksaan ke SMP Negeri 1 Plumpang. Di sana, dua ekor merak hijau jantan dan betina, telah hidup selama kurang lebih sembilan tahun. Waktu yang tidak singkat bagi satwa liar untuk beradaptasi di luar habitat alaminya. Tidak ada catatan pasti kapan dan bagaimana satwa tersebut pertama kali hadir di sekolah. Namun seperti banyak kasus serupa di berbagai daerah, keberadaan satwa liar di lingkungan manusia sering kali berawal dari niat baik, penyelamatan, pemberian, atau sekadar ketertarikan terhadap keindahan satwa. Seiring berjalannya waktu, niat itu berubah menjadi kebiasaan, lalu menjadi kondisi yang dianggap wajar. Padahal, bagi satwa seperti Merak Hijau, ruang hidup yang terbatas bukanlah pilihan alami. Di alam, mereka menjelajahi hutan terbuka, savana, hingga tepian hutan dengan ruang gerak luas dan interaksi ekosistem yang kompleks. Hari itu menjadi titik balik. Baik pemilik di Desa Rengel maupun pihak sekolah menunjukkan sikap yang sama: kesediaan untuk menyerahkan satwa kepada negara. Proses tersebut tidak sekadar administratif, tetapi juga mencerminkan perubahan cara pandang. Keenam Merak Hijau secara resmi berada dalam penguasaan Balai Besar KSDA Jawa Timur, sembari menunggu proses evakuasi lanjutan. Langkah ini mungkin terlihat sederhana. Namun dalam konteks konservasi, penyerahan sukarela adalah salah satu bentuk partisipasi publik yang paling penting. Merak Hijau dikenal karena keindahan bulunya yang mencolok, terutama pada pejantan dengan ekor panjang yang dapat mengembang menyerupai kipas berwarna hijau metalik. Keindahan ini pula yang sering menjadi alasan utama satwa ini dipelihara. Namun di balik pesonanya, merak hijau menghadapi tekanan serius di alam. Perburuan, perdagangan ilegal, dan hilangnya habitat menjadi ancaman utama bagi kelangsungan populasinya. Status perlindungan yang disematkan bukan tanpa alasan, ia adalah bentuk intervensi negara untuk memastikan spesies ini tidak hilang dari bentang alam Indonesia. Kasus di Tuban menjadi potret kecil dari persoalan yang lebih besar: bagaimana satwa liar bisa berpindah dari habitatnya ke ruang-ruang domestik, lalu bertahan bertahun-tahun tanpa mekanisme konservasi yang memadai. Pertanyaan “apa yang membawa merak hijau bertahan 9 tahun di sekolah ?” mungkin tidak memiliki satu jawaban tunggal. Ia adalah kombinasi dari ketidaktahuan, kebiasaan, keterbatasan informasi, hingga minimnya akses terhadap mekanisme pelaporan. Namun yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelahnya. Kesediaan warga dan pihak sekolah untuk menyerahkan satwa tersebut membuka peluang baru, pemulihan. Dalam tahap berikutnya, satwa akan melalui proses identifikasi lanjutan, pemeriksaan kesehatan, dan penentuan lokasi penempatan yang sesuai, baik di lembaga konservasi maupun habitat yang memungkinkan. Di titik inilah peran negara hadir, bukan hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai pengelola harapan, bahwa setiap satwa liar memiliki kesempatan untuk kembali mendekati kehidupan alaminya. Sebuah Pelajaran dari Tuban Peristiwa ini menyisakan satu pelajaran penting bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari hutan, tetapi bisa dari halaman rumah dan lingkungan sekolah. Dari keputusan individu. Dari kesadaran sederhana bahwa tidak semua yang indah harus dimiliki. Di Tuban, enam Merak Hijau kini berada di ambang perjalanan baru. Bukan lagi sebagai satwa peliharaan, tetapi sebagai bagian dari upaya yang lebih besar untuk menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati. Dan mungkin, dari halaman sekolah itu, kita belajar bahwa perubahan besar dalam konservasi sering kali dimulai dari langkah kecil, keberanian untuk melepaskan. Karena cinta tak selamanya harus memiliki. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menjaga Hutan, Menjaga Kehidupan, Rimbawan Jawa Timur Menyatukan Pengabdian di Bulan Syawal

Sidoarjo, 2 April 2026. Di bawah langit Jawa Timur yang mulai menghangat di awal April, barisan rimbawan berdiri dalam satu ritme yang sama, tegap, hening, namun sarat makna. Mereka datang dari berbagai penjuru, membawa latar tugas yang berbeda, tetapi memikul satu tanggung jawab yang serupa, menjaga hutan, menjaga kehidupan. Namun hari itu bukan sekadar tentang apel, ini adalah tentang perjalanan panjang pengabdian, tentang bagaimana manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual bertemu dalam satu momentum yang langka. Upacara peringatan Hari Bakti Rimbawan ke-43 Tahun 2026 memang telah dilaksanakan pada tanggal 16 Maret 2026 lalu, yang bertepatan dengan bulan Ramadan. Sebuah bulan yang identik dengan pengendalian diri, kesunyian, dan refleksi batin. Maka ketika kalender bergeser ke bulan Syawal, rangkaian kegiatan itu menemukan bentuknya yang lebih utuh, dalam kebersamaan, dalam saling memaafkan, dalam energi baru yang lahir dari perjumpaan. Rimbawan dan Makna Pengabdian yang Tak Terlihat Di mata publik, rimbawan sering kali dipahami sebagai penjaga hutan, mereka yang berpatroli, menindak pelanggaran, atau menyelamatkan satwa liar. Namun di balik itu, terdapat lapisan makna yang lebih dalam. Hutan bukan sekadar kawasan. Ia adalah sistem kehidupan. Hutan mengatur air yang mengalir ke sawah dan kota. Ia menjadi rumah bagi ribuan spesies yang tak semuanya terlihat. Ia menyimpan pengetahuan, sejarah, bahkan identitas manusia yang hidup di sekitarnya. Dalam konteks itu, rimbawan bukan sekadar profesi. Ia adalah bentuk pengabdian. Dalam sambutannya, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan sesuatu yang sederhana, namun mendasar. “Menjaga hutan bukan sekadar tugas, tetapi merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan, bangsa, dan generasi mendatang. Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan itu sendiri,” ungkapnya. Kalimat itu tidak hanya menjadi kutipan. Ia adalah refleksi dari realitas yang dihadapi setiap hari, bahwa setiap keputusan, setiap langkah di lapangan, selalu membawa konsekuensi terhadap kehidupan yang lebih luas. Pertemuan Lintas Lembaga, Menyatukan Lanskap, Menyatukan Tujuan Kegiatan ini mempertemukan berbagai unsur kehutanan di Jawa Timur. Dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur beserta UPT-nya, Perum Perhutani Divisi Regional Jawa Timur, hingga UPT Kementerian Kehutanan di Jawa Timur. Masing-masing membawa mandat yang berbeda. Ada yang fokus pada pengelolaan hutan produksi, ada yang menjaga kawasan konservasi, ada pula yang mengelola DAS, perhutanan sosial, hingga perlindungan hutan. Namun di lapangan, batas-batas itu sering kali menjadi kabur, sebagaimana satwa yang tidak mengenal batas administrasi. Air tidak berhenti pada garis peta. Ancaman terhadap hutan pun tidak datang dalam bentuk yang terpisah-pisah. Di sinilah kolaborasi menjadi kunci. Dalam arahannya, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur menekankan pentingnya memperkuat perlindungan kawasan, penegakan hukum, rehabilitasi ekosistem, hingga pengembangan ekonomi hijau yang berbasis keberlanjutan. Kata kuncinya adalah satu, keterhubungan. Dari Ramadan ke Syawal, Ketika Nilai Menjadi Fondasi Pengelolaan Hutan Ada sesuatu yang berbeda ketika kegiatan kehutanan dipertemukan dengan momentum keagamaan. Ramadan mengajarkan pengendalian diri. Syawal mengajarkan keikhlasan dan saling memaafkan. Dalam konteks konservasi, nilai-nilai ini bukan sekadar simbolik. Ia menjadi fondasi etika. Konflik di lapangan sering kali tidak hanya soal hukum, tetapi juga soal persepsi, kepentingan, dan relasi antar manusia. Di titik inilah pendekatan yang mengedepankan empati, komunikasi, dan integritas menjadi penting. Halal bihalal yang dilaksanakan dalam rangka Idul Fitri 1447 Hijriah bukan sekadar tradisi tahunan. Ia menjadi ruang untuk merajut kembali hubungan, antar individu, antar lembaga, bahkan antara manusia dan alam yang dijaganya. Di tengah dinamika pekerjaan yang keras dan penuh tekanan, ruang seperti ini menjadi penting. Ia mengingatkan bahwa di balik seragam, ada manusia. Lomba dan Tawa, Wajah Lain Rimbawan Rimbawan sering kali digambarkan dalam wajah yang serius, laporan, data, patroli, konflik, dan ancaman. Namun hari itu, wajah lain muncul. Melalui rangkaian lomba antar rimbawan, suasana berubah menjadi lebih cair. Tawa terdengar. Kompetisi hadir, tetapi dalam semangat sportivitas. Sekilas, ini mungkin terlihat sederhana. Tetapi dalam konteks organisasi yang bekerja di bawah tekanan tinggi, kebersamaan seperti ini memiliki makna yang besar. Ia membangun kepercayaan. Ia memperkuat komunikasi. Ia menumbuhkan rasa memiliki. Dan pada akhirnya, semua itu bermuara pada satu hal, yaitu efektivitas kerja di lapangan. Sebagaimana disampaikan dalam sambutan, kegiatan ini diharapkan mampu mempererat kebersamaan, meningkatkan semangat kerja, dan memperkuat jiwa korsa rimbawan dalam menjalankan tugas pengabdian. Hutan, Tantangan, dan Masa Depan yang Dipertaruhkan Jawa Timur bukan wilayah tanpa tantangan. Tekanan terhadap hutan datang dari berbagai arah, perubahan penggunaan lahan, konflik manusia dan satwa liar, perburuan ilegal, hingga degradasi ekosistem yang perlahan namun pasti. Di sisi lain, kebutuhan manusia terus meningkat. Di titik ini, pengelolaan hutan tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus terhubung dengan pembangunan, dengan ekonomi, dengan kesejahteraan masyarakat. Itulah sebabnya pendekatan yang diusung semakin berkembang, dari sekadar perlindungan menjadi pengelolaan yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan. Rimbawan hari ini tidak hanya dituntut menjaga, tetapi juga menjembatani. Menjaga Kehidupan, Menjaga Harapan Ketika kegiatan hari itu berakhir, yang tersisa bukan hanya dokumentasi atau laporan kegiatan. Yang tersisa adalah energi. Energi yang lahir dari kebersamaan. Dari nilai yang diperkuat. Dari kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan bukan sekadar pekerjaan. Di bulan Syawal, ketika manusia kembali pada fitrahnya, para rimbawan Jawa Timur juga kembali pada esensi pengabdian mereka. Bahwa hutan bukan sekadar ruang yang dijaga. Ia adalah kehidupan yang diwariskan. Dan di tangan merekalah, masa depan itu ditentukan. Rimbawan dan Warisan yang Tak Terucap Di suatu tempat di Jawa Timur, mungkin di lereng gunung, di tepian hutan, atau di pulau-pulau kecil yang jauh dari keramaian, kehidupan terus berjalan. Air tetap mengalir. Satwa tetap bergerak. Hutan tetap bernapas. Sebagian besar manusia mungkin tidak menyadarinya. Namun di balik itu semua, ada rimbawan yang bekerja, sering kali tanpa sorotan, tanpa panggung. Hari Bakti Rimbawan bukan hanya tentang merayakan mereka. Ia adalah pengingat, bahwa keberlanjutan hidup kita semua, bergantung pada bagaimana kita menjaga hutan hari ini. Dan di Jawa Timur, pada bulan Syawal itu, komitmen itu kembali diteguhkan. Dengan satu keyakinan sederhana bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Sumber : Adi Risanto dan Fajar Dwi Nur Aji - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Elang Brontok Diselamatkan Tim Matawali dari Jaringan Listrik

Situbondo, 1 April 2026. Seekor Elang Brontok dievakuasi dari jaringan listrik di wilayah PLN Unit Besuki, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, 1 April 2026. Satwa dilindungi itu ditemukan dalam kondisi terikat, dengan tali yang tersangkut pada instalasi listrik. Laporan awal berasal dari petugas PLN sehari sebelumnya. Tim Penyelamatan Satwa Liar Ilegal (Matawali) 3 Bidang KSDA Wilayah III, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak setelah menerima informasi pada Selasa (31/3). Petugas PLN menyampaikan adanya satu individu elang yang diduga bekas peliharaan dan tidak dapat melepaskan diri dari jaringan listrik. Proses penanganan dilakukan secara hati-hati untuk menghindari risiko tambahan, baik terhadap satwa maupun petugas di lapangan. Seekor Elang Brontok kemudian diamankan untuk penanganan lebih lanjut. Kasus ini kembali menunjukkan bahwa satwa liar yang pernah dipelihara menghadapi risiko lebih tinggi ketika kembali berada di luar kendali manusia. Tali yang masih terikat menjadi indikasi kuat adanya riwayat interaksi tersebut. Di sisi lain, keberadaan infrastruktur seperti jaringan listrik di ruang jelajah satwa juga menyimpan potensi konflik. Perjumpaan antara satwa liar dan fasilitas manusia tidak selalu berujung fatal, tetapi cukup sering meninggalkan dampak yang tidak terlihat. Saat ini, satwa tersebut berada di kandang transit kantor Bidang KSDA Wilayah III di Jember. Pemeriksaan kondisi fisik dan observasi perilaku menjadi langkah awal sebelum diputuskan tindakan lanjutan, termasuk kemungkinan rehabilitasi. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

FLASH NEWS: From Policy to Practice – Day 3 Brings IAS Lessons to Life

Mangrove Apple (Sonneratia caseolaris) Jakarta, Indonesia – 1 April 2026 – After two days of intensive discussions and project design, participants of the Advancing the ASEAN Action Plan for IAS Management workshop stepped beyond the conference room to observe the realities on the ground. On Day 3, the delegation visited Muara Angke Wildlife Sanctuary in Jakarta, where the impacts of Invasive Alien Species (IAS) are not only discussed, but directly observed. Guided by site officers, participants walked through the mangrove landscape while receiving explanations of how invasive plant species have altered habitat structure, competed with native vegetation, and affected ecosystem functions. The site illustrated the complex challenges of managing IAS in highly urbanised coastal environments, where pressures from land use changes, pollution, and biological invasions intersect. Key Takeaways from Day 3 1. From Ecosystem to Evidence: IAS Impacts in Real Time Located on the northern coast of Jakarta, Muara Angke Wildlife Sanctuary is a critical mangrove ecosystem supporting diverse birdlife, primates, and aquatic species. At the same time, it represents a frontline site where IAS pressures are clearly visible. “The experience reinforced a key message from the workshop: delayed action allows invasions to escalate, while timely and sustained interventions can restore ecological balance.” During the guided visit, participants observed how invasive plant species have altered habitat structure, outcompeted native mangroves, and contributed to ecosystem degradation. 2. Field-Based Knowledge Exchange The visit was followed by an interactive discussion with local site managers and practitioners. Participants exchanged practical experiences on early detection and rapid response (EDRR), community engagement in monitoring and control, and lessons learned from ongoing restoration efforts at Muara Angke. This field-based dialogue underscored the importance of science-based management and cross-sector collaboration, bridging regional policy discussions with local implementation realities. 3. Connecting Strategy with Action Standing at the edge of the water, the discussion quickly turned into action. Participants rolled up their sleeves and stepped onto the platform, reaching into dense clusters of water hyacinth that blanketed the surface. What had been a topic of conversation over the past two days was now something they could touch, lift, and struggle with. Guided by local site managers, they began removing the invasive plants by hand—pulling tangled roots from the water, feeling their weight, and seeing firsthand how quickly the species spreads and dominates the ecosystem. Each handful revealed not only the scale of the problem, but also the effort required to address it. The experience was simple, yet powerful: managing invasive species is not just about strategies and frameworks—it is about sustained, hands-on effort in real landscapes. And for many, this brief exercise gave them a lasting reminder of both the urgency of the problem and the collective responsibility to act. 4. An Inclusive Journey from Start to Finish Day 3 marked the conclusion of a workshop that was intentionally inclusive from the outset. Bringing together IAS national focal points, multiple national ministries, the ASEAN Secretariat, ASEAN Centre for Biodiversity, research institutions, NGOs, and local site managers – the entire process demonstrated that effective regional action requires shared ownership across sectors and scales. The field visit ensured that the final project concept reflects real-world needs and amplifies the voices from the ground. Moment of the Day A spontaneous exchange between a local sanctuary ranger and workshop participants captured the essence of the day. Standing among the mangroves, they shared experiences in managing invasive species across different national contexts—highlighting that collaboration extends beyond formal discussions. What’s Next? • Finalization of the AIM‑ASEAN Project Concept Note – incorporating feedback from the three days. • Donor submission – targeting the Global Biodiversity Framework Fund (GBFF) and Global Environment Facility (GEF). • Continued collaboration – building on the networks strengthened over the workshop to advance IAS management across ASEAN. Day 3 brought the workshop full circle – from regional strategy to on‑ground reality. Visiting Muara Angke Wildlife Sanctuary reminded all participants that IAS management is ultimately about protecting living ecosystems and the communities that depend on them. With a shared blueprint now in hand, and with the insights gained from the field, ASEAN is ready to turn commitment into lasting conservation action. Sumber: Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik
Baca Artikel

Tiga Malam, Delapan Babi, Dan Tiga Petak Sawah Gagal Panen

Bawean, 31 Maret 2026. Tiga malam berturut-turut, Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) turun dari kawasan hutan menuju sawah warga di Dusun Sumber Lanas, Desa Teluk Jatidawang, Kecamatan Tambak, Kabupaten Gresik. Sekitar delapan individu satwa memasuki lahan pertanian, merusak tanaman padi, dan menyebabkan sedikitnya tiga petak sawah gagal panen. Peristiwa pada 28 Maret 2026 itu bukanlah kejadian tunggal. Pola serangan berulang menunjukkan satu hal: satwa telah beradaptasi. Mereka tidak lagi sekadar melintas, melainkan secara aktif memanfaatkan sawah sebagai sumber pakan baru. Lokasi kejadian hanya berjarak sekitar 500 meter dari Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Secara ekologis, jarak ini terlalu dekat untuk membentuk batas aman antara habitat satwa dan aktivitas manusia. Masalahnya bukan semata pada satwa yang “keluar” kawasan, melainkan pada ruang yang semakin menyempit tanpa penyangga yang memadai. Lahan pertanian berkembang hingga mendekati batas kawasan, sementara sistem mitigasi konflik belum terbentuk secara standar. Pada titik ini, konflik menjadi sesuatu yang hampir tak terhindarkan. Kerusakan sawah berujung pada kerugian ekonomi langsung. Dalam komunikasi yang diterima petugas, warga menyebutkan gagal panen hampir total dan meminta bantuan segera. Namun yang lebih mengkhawatirkan adalah munculnya respons emosional, keinginan untuk masuk ke kawasan hutan dan menghadapi satwa secara langsung, dengan risiko yang disadari. Situasi ini menandai perubahan fase konflik, dari gangguan ekologis menjadi tekanan sosial yang berpotensi memicu tindakan destruktif. Analisis lapangan mengidentifikasi sejumlah faktor utama, kedekatan ekstrem antara habitat dan lahan pertanian, ketiadaan buffer zone efektif, dugaan penurunan pakan alami (musiman), perilaku adaptif satwa (learning behavior). Babi kutil Bawean menunjukkan kemampuan belajar yang cepat. Serangan berulang di lokasi yang sama menandakan pola yang telah terbentuk. Sebaliknya, respons sistem masih cenderung reaktif, terbatas pada patroli dan pemasangan penghalau sederhana oleh masyarakat. Ketimpangan ini menjadi persoalan utama dimana satwa beradaptasi lebih cepat daripada sistem penanganan konflik. Dengan frekuensi kejadian tinggi, jarak ke kawasan yang sangat dekat, dan komoditas padi yang memiliki daya tarik tinggi, konflik ini masuk kategori risiko tinggi. Namun tanpa intervensi yang terstruktur, sejumlah skenario berisiko terbuka, perburuan atau pemasangan jerat sebagai respons spontan, penyebaran konflik ke desa lain di Pulau Bawean, penurunan populasi satwa endemik, serta memburuknya kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan kawasan. Konflik satwa liar kerap berakhir bukan karena satwa agresif, tetapi karena sistem yang terlambat merespons. Sejumlah langkah awal telah dilakukan mulai verifikasi lapangan, patroli, serta mitigasi sederhana. Namun skala persoalan menunjukkan bahwa pendekatan parsial tidak lagi cukup. Penanganan ke depan membutuhkan pemetaan jalur lintasan satwa secara menyeluruh, penguatan zona penyangga berbasis lanskap, sistem mitigasi standar di lahan pertanian, pembentukan tim respon konflik yang terstruktur dan integrasi konservasi dengan skema ekonomi masyarakat. Tanpa itu, konflik serupa akan berulang, dengan intensitas yang mungkin lebih tinggi. Peristiwa di Bawean menunjukkan satu hal yang sering luput bahwa konflik satwa liar bukan sekadar persoalan satwa dan manusia, melainkan konsekuensi dari tata kelola ruang yang belum sepenuhnya adaptif. Ketika satwa mulai rutin memasuki sawah, yang berubah bukan hanya perilaku mereka. Yang berubah adalah keseimbangan ekosistem dan cara manusia meresponsnya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah konflik akan terjadi, melainkan seberapa cepat kita bersedia mengubah cara menanganinya. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

FLASH NEWS: ASEAN Forges a Unified Front – Day 2 Builds the Regional Shield Against Invasive Species

Spathodea campanulata Jakarta, Indonesia – 31 March 2026 – Building on the momentum of Day 1, ASEAN Member States and regional partners shifted from identifying gaps to designing solutions on Day 2 of the Advancing the ASEAN Action Plan for IAS Management workshop. Participants collaboratively developed a fundable regional project framework aimed at transforming fragmented national efforts into a coordinated, proactive, and sustainable response to Invasive Alien Species (IAS). The outcome is a clear regional concept note for AIM-ASEAN (Accelerating IAS Management in ASEAN), grounded in a robust Theory of Change and structured around six interconnected components. Key Takeaways from Day 2 1. From Diagnosis to Design: The Theory of Change Takes Shape The day opened with a recap of Day 1, reinforcing the sobering reality: IAS have driven 60% of global extinctions, and ASEAN’s islands remain highly vulnerable. Participants then moved into a structured collaborative project crafting session, guided by a shared Theory of Change: “ Strengthening governance, harmonizing policies, enhancing capacity, integrating data systems, and securing sustainable financing will enable ASEAN to prevent, detect, and effectively manage IAS—ultimately reducing ecological and economic impacts while strengthening regional resilience.” This logic became the foundation for the AIM-ASEAN project, ensuring that every activity leads to measurable outcomes. 2. Six Components, One Unified Framework The regional framework is structured around six interconnected components designed to strengthen ASEAN’s collective response to Invasive Alien Species (IAS). At its foundation are strengthened governance and coordination, including the establishment of an ASEAN IAS Task Force, the designation of National Focal Points, and the advancement of policy harmonisation across Member States. This is complemented by enhanced data and early warning systems through the development of an ASEAN IAS Clearing House Mechanism, the creation of a regional watch list, and the integration of national databases. The framework also prioritises biosecurity and risk assessment, including efforts to standardise risk assessment tools, strengthen quarantine and inspection systems, and enhance early detection and rapid response (EDRR) protocols. Alongside these initiatives, capacity building will be advanced through regional training programmes and knowledge exchange in key areas such as taxonomy, risk assessment, EDRR, and integrated pest management. To ensure practical application, the initiative will support pilot implementation of integrated biosecurity and EDRR approaches in selected sites—including Komodo National Park—to develop scalable models for protected areas across the region. Finally, the framework is underpinned by sustainable financing mechanisms, focusing on the development of an ASEAN IAS financing strategy and the mobilisation of resources from public, private, and international sources. “This six-component framework provides a unified regional approach to managing IAS threats across Southeast Asia.” 3. A Shift Towards a Preventive Regional System A central theme of Day 2 was the need for a paradigm shift – moving from a siloed, reactive posture to a unified, proactive regional system. Discussions contrasted the current state (isolated national policies, fragmented databases, delayed localised pest control, and short-term grant funding) with the AIM-ASEAN future state: a harmonised ASEAN Task Force, a regional Clearing House Mechanism and Watch List, standardised EDRR protocols, and a sustainable ASEAN IAS financing strategy. As one participant noted: “ASEAN’s connectivity is its greatest economic engine – but also its critical biological vulnerability. We need a regional biosecurity system for early detection, rapid response, and coordinated management of invasive alien species.” 4. The Mathematics of Intervention: Why Early Detection Matters A compelling session on early detection and rapid response underscored the economic and ecological rationale for investment. Participants reviewed the mathematics of intervention: investing in early detection exponentially reduces long-term eradication costs and prevents irreversible ecological damage. This reinforced the urgency of Component 3 (Biosecurity and Risk Assessment) and Component 2 (Data and Early Warning). 5. Anchoring the Regional Framework in Real-World Landscapes Discussions drew inspiration from real-world landscapes to inform the design of the regional project. Komodo National Park, a UNESCO World Heritage site and home to the famous Komodo dragon, was a strong point of reference. Invasive plants like Vachellia nilotica, Chromolaena odorata, and Leucaena leucocephala are altering habitats and threatening native species. By using such sites as anchors, the project aims to develop site-specific control measures that can later be scaled across protected areas throughout ASEAN. 6. Fueling the Shield: A Permanent Financing Mechanism Participants recognised that regional coordination cannot rely on short-term, fragmented funding. Component 6 addresses this head-on, with the development of a dedicated, long-term financing mechanism that will outlast the initial GEF grant, ensuring that the regional database, Task Force, and early warning systems remain permanently operational. Discussions explored innovative financing, private sector engagement, and the integration of IAS into broader national development agendas. 7. Plenary Synthesis: Agreeing on the Core Components In a lively plenary session, each thematic table presented its proposed components. Through facilitated discussion, participants consolidated inputs into a coherent regional project concept. Key cross-cutting elements emerged: strengthening national and regional coordination, establishing a shared early warning system, scaling up rapid response mechanisms, embedding GEDSI principles, and ensuring sustainable financing from the outset. Moment of the Day The defining highlight of Day 2 was not a single presentation or outcome but the spirit of inclusive collaboration that shaped the entire process. ASEAN Member States came together with representatives from key national ministries—including BAPPENAS, the Ministry of Forestry, the Ministry of Environment, the Ministry of Agriculture, the Ministry of Marine Affairs and Fisheries, Barantin, and BRIN—as well as the ASEAN Secretariat, the ASEAN Centre for Biodiversity, research institutions, and civil society organisations. This diverse assembly created a dynamic space where policymakers, scientists, and practitioners worked side by side—exchanging perspectives, aligning priorities, and jointly shaping solutions. Rather than operating in institutional silos, participants engaged in open dialogue and collective problem-solving, recognising that no single country or sector could alone address the challenges of invasive alien species. Discussions were grounded in real-world challenges, yet driven by a strong sense of regional solidarity and shared responsibility. Ideas were not only shared but also rigorously tested, refined, and strengthened through collaboration. Above all, the process demonstrated that effective regional action must be co-designed, inclusive, and collectively owned by all stakeholders. What’s Next? Finalization of the Project Concept Note – incorporating feedback from the two days, with a clear submission timeline to potential donors (GBFF, GEF) Finalization of the Project Concept Note – incorporating feedback from the two days, with a clear submission timeline to potential donors (GBFF, GEF) Sumber: Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik
Baca Artikel

Kamera Jebak Bongkar Kehidupan Satwa di Hutan Kota Trenggalek

Trenggalek, 31 Maret 2026. Hutan Kota Trenggalek kerap dipromosikan sebagai ruang hijau penyangga kehidupan urban. Namun rekaman kamera jebak terbaru justru memunculkan pertanyaan mendasar, apakah kawasan ini benar-benar menjadi habitat yang aman, atau sekadar ruang tersisa bagi satwa liar yang terdesak? Pemasangan dua unit kamera jebak oleh petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), pada Maret 2026 awalnya ditujukan untuk mendokumentasikan keberadaan burung-burung target, seperti Cekakak Jawa, Paok Pancawarna, dan Paok Hujan. Kamera dipasang di titik strategis, dekat lubang sarang dan jalur lintasan satwa yang diinformasikan pengelola kawasan. Namun hasilnya berbicara lain. Alih-alih menemukan burung-burung target dalam jumlah signifikan, kamera justru lebih banyak merekam burung dan satwa lainnya, seperti sepasang Pelanduk-Topi Jawa, Pelanduk Semak, seekor Wiwik Kelabu remaja, hingga Biawak Air. Kehadiran Pelanduk-Topi Jawa, spesies endemik yang dikenal sensitif terhadap gangguan yang memang menjadi temuan penting. Tetapi di sisi lain, dominasi rekaman satwa tertentu dapat dibaca sebagai indikator terbatasnya kualitas habitat. Dua jenis burung yang menjadi target utama, Paok Pancawarna dan Paok Hujan, tidak terekam sama sekali. Padahal, salah satunya merupakan burung migran yang seharusnya melintasi atau singgah di kawasan ini. Ketiadaan data visual tersebut menimbulkan dugaan, apakah ruang yang tersedia sudah tidak lagi memenuhi kebutuhan ekologis spesies tersebut? Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari karakter hutan kota itu sendiri. Berbeda dengan kawasan konservasi yang memiliki perlindungan ketat, hutan kota berada dalam tekanan langsung aktivitas manusia, mulai dari fragmentasi habitat, kebisingan, hingga interaksi yang tidak terkendali. Dalam kondisi seperti ini, hanya jenis-jenis tertentu yang mampu beradaptasi, sementara spesies lain perlahan menghilang tanpa terdeteksi. Rekaman kamera jebak menjadi bukti diam dari proses tersebut. Satwa yang tertangkap kamera bukan hanya menunjukkan keberadaan, tetapi juga menyiratkan pola adaptasi, pergeseran perilaku, hingga potensi tekanan ekologis yang tidak terlihat secara kasat mata. Analisis lanjutan terhadap waktu kemunculan dan aktivitas satwa kini menjadi kunci. Apakah satwa lebih aktif pada malam hari untuk menghindari manusia? Apakah jalur lintasan mereka semakin sempit? Atau justru kawasan ini hanya menjadi koridor sementara, bukan habitat permanen? Hutan Kota Trenggalek, dalam konteks ini, tidak lagi sekadar ruang hijau. Ia menjadi cermin tentang bagaimana kota memperlakukan ruang hidup lain di luar manusia. Kamera jebak hanya membuka sebagian kecil dari kenyataan itu. Pertanyaannya, apakah kita siap membaca dan menindaklanjutinya? (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

FLASH NEWS: ASEAN Unites Against Invasive Species – Day 1 Delivers a Wake-Up Call and a Blueprint

Vachellia nilotica Jakarta, Indonesia – 30 March 2026 – A silent invader is stealing Southeast Asia’s biodiversity – and today, ASEAN fought back. The opening of the Advancing the ASEAN Action Plan for IAS Management Workshop set a sobering tone: Invasive Alien Species (IAS) have been a major factor in 60% of recorded global extinctions, according to the IPBES assessment. For archipelagic nations like Indonesia and many ASEAN neighbours, the threat is magnified. Islands are biodiversity strongholds – but they are also invasion fronts. The mission? Align Southeast Asia’s IAS strategy with the Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework (KMGBF) Target 6 – Reduce the introduction and establishment of priority IAS by at least 50% by 2030. That message resonated deeply. Delegates from Brunei, Cambodia, Indonesia, Myanmar, Thailand, and Timor Leste – alongside ASEAN Secretariat and ASEAN Centre for Biodiversity – shifted from national updates to genuine regional co-ownership. Key Takeaways from Day 1 Moment of the Day The Group Photograph captured a historic coalition: IAS national focal points from ASEAN Member States, representatives from key national ministries and agencies – including Forestry, Environment, Agriculture, Marine Affairs, Quarantine, Research and Innovation, and Development Planning – alongside the ASEC, ACB, research institutions, NGOs, and civil society organizations. All united behind a single goal. No longer working in silos. Ready to co-design a measurable, fundable regional project What’s Next on Day 2? “We must leave this room not just with ideas, but with a blueprint for action.” Sumber: Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik
Baca Artikel

Medusa Mekar di Tanah Bawean, Antara Keindahan Langka dan Ancaman yang Tak Terlihat

Gresik, 27 Maret 2026. Di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur, sebuah temuan botani kembali menegaskan pentingnya pulau kecil ini dalam peta keanekaragaman hayati Indonesia. Anggrek tanah Habenaria medusa, spesies dengan bentuk bunga menyerupai rambut menjuntai, teridentifikasi tumbuh di habitat alami dengan kondisi mikro yang masih relatif terjaga. Temuan ini tidak hanya memperkaya data flora kawasan, tetapi juga menjadi indikator penting terhadap kualitas ekosistem yang menopangnya. Secara morfologi, Habenaria medusa merupakan anggrek terestrial yang tumbuh langsung di tanah dengan umbi sebagai organ penyimpan cadangan energi. Bunganya memiliki ciri khas berupa mahkota yang terbelah menjadi banyak segmen halus menyerupai tentakel. Bentuk ini menjadi dasar penamaannya, yang merujuk pada sosok Medusa dalam mitologi Yunani. Namun, struktur unik tersebut bukan sekadar estetika. Dalam kajian botani, bentuk filamen yang menjuntai diduga berperan dalam menarik dan mengarahkan serangga penyerbuk tertentu. Interaksi ini menunjukkan adanya hubungan ekologis yang spesifik dan tidak dapat dipisahkan dari kondisi habitatnya. Sebagai anggrek tanah, Habenaria medusa memiliki ketergantungan tinggi terhadap keberadaan fungi mikoriza di dalam tanah. Jamur ini membantu proses perkecambahan biji dan penyerapan nutrisi. Tanpa hubungan simbiotik tersebut, siklus hidup anggrek ini tidak akan berlangsung secara optimal. Distribusi Ilmiah dan Signifikansi Temuan di Bawean Berdasarkan data dari Plants of the World Online (Kew Science), Habenaria medusa termasuk dalam flora kawasan biogeografi Malesia meliputi Indonesia dan Sebagian Asia Tenggara, yang hidup di bioma tropis basah. Meski demikian, distribusinya tidak merata dan cenderung terbatas pada lokasi-lokasi dengan kondisi ekologis spesifik. Di Indonesia, catatan keberadaan spesies ini tersebar di beberapa pulau seperti Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi, namun dengan frekuensi temuan yang relatif jarang dan tidak kontinu. Hal ini menunjukkan bahwa spesies ini memiliki preferensi habitat yang sempit dan sensitif terhadap perubahan lingkungan. Dalam konteks tersebut, keberadaan Habenaria medusa di Bawean menjadi penting. Pulau ini, yang selama ini lebih dikenal sebagai habitat satwa endemik, kini menunjukkan perannya sebagai lokasi penting bagi flora langka. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa masih terdapat kantong-kantong habitat alami dengan tingkat gangguan rendah di Bawean. Tekanan yang Tidak Kasat Mata Meski belum menunjukkan kerusakan besar secara visual, habitat Habenaria medusa menghadapi berbagai tekanan yang bersifat gradual dan sering kali tidak disadari. Perubahan tutupan vegetasi, aktivitas manusia di sekitar lokasi tumbuh, hingga perubahan kelembapan tanah akibat faktor iklim dapat memengaruhi keberlangsungan spesies ini. Anggrek tanah tidak memiliki kemampuan adaptasi cepat terhadap perubahan. Ketergantungannya pada kondisi mikrohabitat menjadikannya sangat rentan. Gangguan kecil pada struktur tanah, misalnya akibat injakan atau pembukaan lahan skala kecil, dapat merusak jaringan mikoriza yang menjadi penopang hidupnya. Selain itu, meningkatnya minat terhadap tanaman hias eksotik juga menjadi potensi ancaman. Spesies dengan bentuk unik seperti Habenaria medusa memiliki nilai estetika tinggi, sehingga berisiko menjadi target pengambilan dari alam. Praktik ini tidak hanya mengurangi populasi di habitat alami, tetapi juga sering berujung pada kematian tanaman karena ketidaksesuaian lingkungan baru. Dalam perspektif konservasi, keberadaan Habenaria medusa memiliki nilai lebih sebagai indikator kesehatan ekosistem. Spesies ini hanya dapat tumbuh pada kondisi lingkungan yang relatif stabil, dengan siklus nutrien yang berjalan baik dan interaksi biologis yang masih utuh. Dengan demikian, temuan spesies ini di Bawean dapat diinterpretasikan sebagai tanda bahwa sebagian ekosistem di pulau tersebut masih berada dalam kondisi yang mendukung keanekaragaman hayati. Namun, indikator ini juga bersifat sensitif, hilangnya spesies ini dapat menjadi sinyal awal terjadinya degradasi lingkungan. Konservasi Berbasis Data dan Kesadaran Temuan Habenaria medusa menegaskan pentingnya penguatan upaya Konservasi berbasis data ilmiah. Dokumentasi distribusi, pemetaan habitat, serta monitoring populasi menjadi langkah awal yang krusial dalam memastikan keberlanjutan spesies ini. Di sisi lain, pendekatan konservasi juga perlu melibatkan peningkatan kesadaran masyarakat. Sebagian besar masyarakat lokal di Bawean memiliki hubungan yang erat dengan alam dan berperan sebagai penjaga lanskap. Namun, masih terdapat oknum yang belum sepenuhnya memahami nilai ekologis tumbuhan liar, sehingga praktik pengambilan dari alam masih terjadi. Pendekatan edukatif dan kolaboratif menjadi kunci untuk memastikan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati tidak hanya bersifat regulatif, tetapi juga menjadi bagian dari kesadaran kolektif. Antara Pengetahuan dan Tanggung Jawab Habenaria medusa mungkin tidak tumbuh mencolok. Ia tidak mendominasi lanskap. Namun keberadaannya membawa pesan penting tentang hubungan antara spesies dan habitatnya. Temuan di Bawean bukan hanya menambah daftar spesies, tetapi juga mempertegas tanggung jawab untuk menjaga ruang hidup yang tersisa. Dalam konteks konservasi, setiap data adalah dasar kebijakan, dan setiap spesies adalah bagian dari sistem yang lebih besar. Bawean Telah Memberi Satu Petunjuk. Bahwa keanekaragaman hayati tidak selalu berbentuk besar dan megah. Kadang ia tersembunyi di permukaan tanah, dalam bentuk yang rapuh, menunggu untuk dikenali, atau dilupakan. Pertanyaannya besar bukan lagi sekadar di mana anggrek ini ditemukan, tetapi bagaimana memastikan ia tetap tumbuh, di tempat yang sama, dalam kondisi yang tetap lestari. Apakah kita akan mencatatnya sebagai temuan, atau sebagai kehilangan berikutnya? Sumber : Fajar Dwi Nur Aji & Nurhayyan Jahansyah – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 369–384 dari 2.515 publikasi