Senin, 12 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Pelatihan Tenaga Pengajar Program Ranger Goes to School BTN Komodo Tahun 2024

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, Rabu, 6 Maret 2024. Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan kegiatan pelatihan tenaga pengajar program Ranger Goes to School (RGTS) dari SMKN 1 Labuan Bajo, SMK Stella Maris Labuan Bajo, SMKN 3 Komodo, dan SMA Lentera Harapan Labuan Bajo. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman mengenai pengelolaan Taman Nasional Komodo bagi para guru-guru SMA/SMK yang bermitra erat dengan Balai Taman Nasional Komodo dan berharap agar para guru dapat menjadi bagian dari tim pengajar RGTS pada tahun ajar selanjutnya. Kegiatan ini dikoordinir oleh Muhammad Ikbal Putera (PEH Ahli Muda) bersama dengan seluruh tim pengajar RGTS terdiri dari Novita Yanti Sidabutar (Polhut Ahli Pertama), Rawuh Pradana (Polhut Ahli Pertama), Ikhwan Syahri (Polhut Ahli Pertama), Arif Ardianto Sofian (Polhut Ahli Pertama), Fahri Ikhlas (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), Yovi Septia (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), Abdul Haris Manggala Putra (Praktisi Pengelolaan Sampah), Katrina Inandia (BEKAL PEMIMPIN 3.0), Isa Ahmad Ansori (BEKAL PEMIMPIN 3.0), Nurain Lapolo (BEKAL PEMIMPIN 3.0), Muliawati Handayani (BEKAL PEMIMPIN), dan Dewi Natalia Marpaung (BEKAL PEMIMPIN 3.0). Saat ini tim RGTS berjumlah 29 orang yang dari 16 orang jagawana Balai Taman Nasional Komodo dan 13 orang praktisi dari berbagai bidang dan industri (LSM, Swasta, Akademisi, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah Pusat lainnya) di luar Balai Taman Nasional Komodo. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 06 – 08 Maret 2024 dengan jumlah peserta mencapai 20 orang tenaga pengajar pada sekolah mitra RGTS. Adapun metode pelaksanaan kegiatan dikemas dengan skema In-Class dan Out-Class Training, Pre-test dan Post-Test, Praktik Mindfulness, dan Field Sensing ke Resort Loh Buaya di Pulau Rinca. Setelah peserta memenuhi akumulasi jam Pelajaran minimum, Balai Taman Nasional Komodo memberikan sertifikat kelulusan kepada seluruh peserta guru yang telah mengikuti kegiatan Pelatihan Tenaga Pengajar Program RGTS. Sertifikat tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas proses pembelajaran yang dilakukan dan sebagai pengingat bahwa peserta guru merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program RGTS kedepannya. Sertifikat diberikan bergantian oleh perwakilan Balai Taman Nasional Komodo yang hadir pada kegiatan penutupan. Dengan adanya program Ranger Goes to School (RGTS) tersebut, Balai Taman Nasional Komodo berharap para guru dapat mendukung pelaksanakan program RGTS pada tahun ajar selanjutnya di di sekolahnya masing-masing secara mandiri dan mampu menjadi agent of change di komunitasnya. Balai Taman Nasional Komodo juga berharap para guru agar terlibat aktif dalam program RGTS pada tahun yang akan datang. Para guru diharapkan dapat menjadi figur konservasi di lingkungan akademisi bagi muridnya dalam melakukan upaya konservasi di Taman Nasional Komodo. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Program Studi Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Abdillah Traju Alam (+6287748119237) Penyunting Berita : Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut : Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Balai Taman Nasional Komodo Raih Juara Booth TerfavoritPameran HKAN 2024

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, Jumat, 13 September 2024. Balai Taman Nasional Komodo ikut serta memeriahkan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional yang berlangsung di Boyolali, Jawa Tengah TANGGAL 27 – 29 Agustus 2024. Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional telah diperingati sejak tahun 2009 yang digelar oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Peringatan HKAN 2024 mengusung tema “Aktualisasi Konservasi Alam pada Generasi Muda Indonesia” dengan slogan “Youth for Sustainable Nature”. Dalam peringatan HKAN kali ini, Balai TN Komodo mengikuti pameran dengan berbagai target kegiatan. Adapun target kegiatan tersebut adalah mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup, Memperkenalkan inovasi dan praktik terbaik dalam konservasi alam yang dapat diterapkan secara luas di berbagai daerah, dan menginspirasi individu dan kelompok untuk terlibat dalam aksi nyata pelestarian alam. Stand Balai TN Komodo menghadirkan berbagai macam produk khas dari Nusa Tenggara Timur, mulai dari Kopi Flores yang terkenal akan cita rasa khasnya, kain tenun NTT, patung komodo, dan berbagai produk lainnya. produk-produk tersebut merupakan produk yang dihasilkan dari UMKM yang berasar dari Desa Penyangga Kawasan Taman Nasional Komodo. Selain pameran produk, stand Balai TN Komodo juga meriah dengan adanya games seru, seperti kuis edukatif dan permainan interaktif, dengan hadiah yang sangat menarik. Kesuksesan pelaksanaan Balai Taman Nasional Komodo dalam pelaksanaan pameran Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2024 ini tidak lepas dari dukungan proyek Investing in The Komodo Dragon and Other Globally Threatened Species in Flores (IN – FLORES) dan para mitra Balai Taman Nasional Komodo seperti PT. NDC dan PLB, PT. Komodo Wildlife Ecotourism, PT. Segara Komodo Lestari, PT. Sinergindo, dan Koperasi Serba Usaha TN Komodo. Keterlibatan mitra dalam mendukung Pameran Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2024 ini memberikan dampak signifikan dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya konservasi sumber daya alam dan lingkungan hidup, memperkenalkan inovasi dan praktik terbaik dalam konservasi alam yang dapat diterapkan secara luas di berbagai daerah, dan menginspirasi individu dan kelompok untuk terlibat dalam aksi nyata pelestarian alam Terdapat hal menarik lain yang dihadirkan oleh Balai TN Komodo dalam peringatan HKAN 2024, yaitu dengan adanya Bapak Suhardin yang menunjukkan keahliannya dalam melukis secara langsung. Pada kesempatan ini, beliau melukis Menteri LHK, Ibu Siti Nurbaya, dengan background hewan Komodo yang menjadi identitas khas Taman Nasional Komodo. Keahliannya ini mampu menarik perhatian dari Ibu Siti Nurbaya yang juga datang pada puncak acara kegiatan HKAN di Boyolali. Dengan adanya berbagai kegiatan yang sangat menarik tersebut, stand Balai TN Komodo menjadi juara favorit, mengalahkan stand pameran dari instansi lainnya. Dalam pidatonya, Ibu Siti Nurbaya menyampaikan harapannya terhadap HKAN 2024 “Peringatan HKAN 2024 ini bukan hanya momentum selebrasi, tetapi juga kontemplasi atas upaya konservasi yang telah kita lakukan. Mari kita terus bersama-sama menjaga kelestarian alam demi generasi yang akan datang”. Keterlibatan generasi muda dalam konservasi diharapkan dapat memperkuat komitmen Indonesia dalam mencapai visi "Living in Harmony with Nature" dan mendukung kebijakan jangka panjang menuju pengurangan emisi karbon. Dengan semangat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan generasi muda, HKAN 2024 di Boyolali diharapkan dapat menjadi langkah signifikan dalam upaya pelestarian alam dan pengembangan budaya yang berkelanjutan di Indonesia. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Brawijaya - Komala Listya Ade Ridwan (6281555628325) Penyunting Berita : Informasi Lebih Lanjut : Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Pertama Kali Mahasiswa Kehutanan Universitas Brawijaya Ikut Junior Park Ranger

Labuan Bajo, 16 Juli 2024 - Upaya mendukung pengembangan generasi muda yang berfokus pada konservasi dan pelestarian alam, Balai Taman Nasional Komodo menerima mahasiswa kehutanan Universitas Brawijaya pertama sebagai peserta magang. Keputusan ini merupakan langkah penting dalam meningkatkan partisipasi pemuda dalam pelestarian lingkungan dan biodiversitas di Indonesia. Hal ini juga menandai sebuah langkah penting dalam kolaborasi antara dunia pendidikan dan upaya konservasi lingkungan. Setelah mengirimkan berkas yang ditentukan oleh pihak Balai Taman Nasional Komodo dimana mahasiswa yang diterima tersebut adalah Alfina Putri Salsabilla, Waviq Savitri, Rahma Juwita Ningtyas, dan Komala Listya Ade Ridwan yang akan menjalani program magang selama dua bulan. Mereka saat ini telah usai menjalani semester 6 dan disela liburan, meraka melaksanakan magang di Balai Taman Nasional Komodo. Program magang ini dirancang untuk memberikan pengalaman langsung dalam pengelolaan dan pelestarian ekosistem taman nasional yang unik dan kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk komodo (Varanus komodoensis) yang menjadi ikon taman nasional ini. Selama masa magangnya, mereka akan terlibat dalam berbagai kegiatan penting, seperti penelitian lapangan, monitoring ekosistem, serta program pendidikan dan penyadaran masyarakat mengenai pentingnya pelestarian lingkungan. Program ini diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman praktis bagi mahasiswa, tetapi juga memperkaya pengetahuan dan wawasan tentang tantangan dan peluang dalam konservasi lingkungan. Selain itu, mereka juga berencana untuk mengambil data sekripsi di kawasan Taman Nasional Komodo. Hal ini tidak hanya bermanfaat untuk mahasiswa saja tetapi juga memberikan manfaat bagi pihak Balai Taman Nasional Komodo karena hasil penelitian dapat menambah pembaharuan data. Pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Ahli Muda, Muhammad Ikbal Putera menyatakan, "Kami dengan senang hati menerima mahasiswa magang angkatan pertama dari Prodi Kehutanan Universitas Brawijaya pada program Junior Park Ranger Balai Nasional Komodo 2024. Kami akan berupaya membina keempat mahasiswa Kehutanan Brawijaya menjadi forester Indonesia yang unggul". Salah satu mahasiswi, yaitu Alfina Putri Salsabilla juga mengungkapkan rasa syukurnya, "Saya sangat berterima kasih kepada semua pihak yang telah mengizinkan kami magang di Balai Taman Nasional Komodo. Kesempatan berharga seperti ini akan kami gunakan dengan baik untuk belajar dan berkontribusi langsung dalam pelestarian ekosistem yang ada di Taman Nasional Komodo. Saya berharap pengalaman magang di Balai Taman Nasional Komodo akan memberi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk lebih peduli dan aktif dalam menjaga lingkungan dimanapun dan kapanpun mereka berada." Balai Taman Nasional Komodo terus berkomitmen untuk melibatkan generasi muda dalam program konservasi dan pelestarian alam. Program magang ini diharapkan menjadi awal yang baik dalam mencetak generasi penerus yang peduli dan aktif dalam menjaga kekayaan alam Indonesia. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Program Studi Kehutanan Universitas Brawijaya - Alfina Putri Salsabilla (+62895333337237) Penyunting Berita : Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut : Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Kader Konservasi Balai TN Komodo Belajar Konservasi Penyu di TN Kepulauan Seribu

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 17 Agustus 2024. Kader Konservasi Tingkat Pemula Gelombang 1 dan 2 Balai Taman Nasional Komodo melakukan peningkatan kapasitas terkait konservasi penyu dan community-based tourism ke Taman Nasional Kepulauan Seribu di Daerah Khusus Jakarta pada tanggal 13 – 16 Agustus 2024. Kegiatan ini dikoordinir oleh Ikhwan Syahri (Polhut Ahli Pertama) bersama dengan Julizar Riduan (Kepala SPTN Wilayah I), Margaretha Priska Nur (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), dan Yudha Pamungkas (WLSA IN-FLORES). Pembiayaan anggaran kegiatan ini didukung oleh proyek IN-FLORES dalam rangka penguatan strategi konservasi penyu melalui pelibatan kader konservasi di tingkat tapak. Balai Taman Nasional Komodo bersama dengan proyek IN-FLORES berupaya mewujudkan Pusat Edukasi Penyu di Resort Kerora, SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo sebagai salah satu capaian dan milestone pengelolaan proyek IN-FLORES di lokus West Flores Landscape-Seascape, Labuan Bajo. Pusat Edukasi Penyu berbasiskan masyarakat tersebut merupakan langkah awal (inisiasi) penting pengelolaan Taman Nasional Komodo dalam rangka mendukung strategi perlindungan kawasan melalui kegiatan edukasi dan pemanfaatan wisata alam di Dusun Kerora – Pulau Rinca. Kader Konservasi yang berkunjung ke Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu disambut baik oleh Kepala Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Para kader mendapatkan materi pengenalan Taman Nasional Kepulauan Seribu dan berkesempatan berdiskusi serta tanya jawab dengan pimpinan dan pejabat fungsional yang hadir secara langsung. Para kader konservasi selanjutnya berkesempatan berkunjung ke Pulau Pramuka untuk mengobservasi pengelolaan konservasi penyu di pesisir pantai tersebut. Materi yang diperoleh meliputi strategi perlindungan penyu, termasuk upaya pemantauan dan rehabilitasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi penyu. Luaran dari kegiatan ini adalah para kader konservasi diharapkan dapat mengadopsi beberapa teknik konservasi penyu yang diterapkan oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu di Dusun Kerora kelak. “Para Kader Konservasi Taman Nasional Komodo Kami harapkan kalian bisa menerapkan apa yang kita sudah pelajari di pulau pramuka Taman Nasional Kepulauan Seribu bisa kita terapkan di Kampung Kerora SPTN Wilayah I Taman Nasional Komodo dan saya harapkan bukan hanya sampai disini apa yang kalian lakukan”, ujar Yudha Pamungkas, selaku West Landscape Seascape Assistant (WLSA) IN-FLORES. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Kader Konservasi Tingkat Pemula BTN Komodo – Perwakilan Desa Pasir Putih - Nabil (+62812-3859-7912) Penyunting Berita : Karyasiswa Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut : Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Aksi Penggagalan Penyelundupan 10 Ekor Rusa Ke Kabupaten Bima

Labuan Bajo, 11 September 2024. Sehubungan dengan pemberitaan mengenai penyelundupan 10 ekor rusa yang diduga berasal dari kawasan Taman Nasional ke Kabupaten Bima, Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) menyampaikan klarifikasi dan penegasan mengenai langkah-langkah yang telah diambil, serta upaya berkelanjutan dalam pelestarian kawasan konservasi ini. BTNK menegaskan bahwa kasus penyelundupan 10 ekor rusa ini tengah dalam proses investigasi bersama aparat penegak hukum. Saat ini BTNK bersama pihak terkait sedang melakukan penyelidikan menyeluruh untuk mendapatkan informasi yang akurat. BTNK menyatakan keprihatinan yang dalam atas penyelundupan 10 ekor Rusa tersebut, Karena Rusa Timor merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang. Sebagai salah satu taman nasional yang memiliki keanekaragaman hayati unik, termasuk satwa ikonik seperti Komodo, BTNK terus berupaya memastikan pelestarian ekosistem secara berkelanjutan, seperti peningkatan pengawasan dan patroli terintegrasi. BTNK mengintensifkan patroli darat dan laut dengan melibatkan petugas lapangan serta kerja sama dengan pihak berwenang, seperti Ditjen PHLHK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Polri dan TNI, dalam mengawasi aktivitas di dalam dan sekitar kawasan TN Komodo. Hal ini termasuk pengawasan terhadap perburuan liar, penyelundupan satwa, dan pelanggaran lainnya. Selain itu juga BTNK melakukan penguatan kerja sama dengan masyarakat dan membangun kemitraan erat melalui program-program berbasis konservasi, seperti edukasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan, serta peningkatan partisipasi masyarakat dalam menjaga ekosistem dan satwa yang ada. Masyarakat berperan penting dalam pelaporan aktivitas ilegal dan turut membantu patroli bersama. Dalam hal monitoring populasi satwa BTNK melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan habitat untuk memastikan keberlangsungan populasi satwa liar, termasuk rusa, yang merupakan salah satu sumber pakan bagi Biawak Komodo. Monitoring populasi satwa ini secara berkala dilakukan untuk memastikan bahwa keanekaragaman hayati yang ada di kawasan TN Komodo tetap terjaga. Saat ini BTNK telah memanfaatkan teknologi untuk pengawasan dan pelestarian. Dengan memanfaatkan teknologi seperti kamera trap online dan offline serta drone untuk memantau aktivitas satwa dan mengidentifikasi potensi ancaman dari perburuan maupun aktivitas manusia yang tidak sesuai dengan prinsip konservasi. Teknologi ini memungkinkan BTNK untuk mendeteksi lebih dini aktivitas ilegal di dalam kawasan. Terkait pemberitaan yang menyebutkan perlunya evaluasi dalam pengelolaan TN Komodo, BTNK menyambut baik masukan tersebut. Sebagai bentuk komitmen bersama dalam memastikan pengelolaan yang berkelanjutan, BTNK akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan pengelolaan satwa liar, khususnya terkait kasus penyelundupan. Langkah-langkah yang akan diambil meliputi peningkatan frekuensi patroli, penguatan koordinasi dengan pihak berwenang, dan peninjauan ulang prosedur pengawasan. BTNK menghimbau masyarakat untuk tetap mendukung upaya konservasi ini dan berperan aktif dalam menjaga kelestarian kawasan TN Komodo. Setiap informasi terkait aktivitas ilegal dapat dilaporkan kepada pihak berwenang, sehingga kami dapat mengambil tindakan cepat dan tepat. Segala bentuk aktivitas yang melibatkan penyelundupan satwa liar adalah tindakan yang melanggar hukum, dan BTNK mendukung sepenuhnya upaya penegakan hukum terhadap pelaku. Langkah-langkah tegas akan diambil sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk Undang-Undang No. 32 Tahun 2024 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita : Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita : Polisi Kehutanan Ahli Pertama Balai TN Komodo - Rawuh Pradana, S.H. (+6281387028089) Penyunting Berita : Karyasiswa Program Doktor Balai TN Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut : Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Pembinaan Rutin Peserta Junior Park Ranger Balai Taman Nasional Komodo

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 15 Juli 2024. Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan pembinaan rutin bagi peserta Junior Park Ranger Balai Taman Nasional Komodo Tahun 2024. Pembinaan ini dilaksanakan di Aula Balai Taman Nasional Komodo dan difasilitasi oleh Muhammad Ikbal Putera (Koordinator Urusan Kerja Sama, Kehumasan, dan Pelayanan Balai TN Komodo) bersama dengan Fahri Ikhlas (Pengolah Data Urusan Kerja Sama, Kehumasan, dan Pelayanan), Yovi Septia (Pengolah Data Urusan Kerja Sama, Kehumasan, dan Pelayanan), Yudha Pamungkas (IN-FLORES), dan Fajra Farhan Ekadj (IN-FLORES). Urusan Kerja Sama, Kehumasan, dan Pelayanan Balai Taman Nasional Komodo sebagai unit yang bertanggungjawab terhadap kegiatan magang (internship) bersertifikat di Balai Taman Nasional Komodo mengemas proses pembelajaran dengan nama Junior Park Ranger. Program magang ini terbuka untuk siswa SMK dan mahasiswa dari seluruh Indonesia dan luar negeri, dan dari berbagai jurusan yang berbeda yang memiliki keterkaitan dengan pengelolaan Taman Nasional Komodo. Jumlah peserta magang Junior Park Ranger sampai dengan Bulan Juli 2024 telah mencapai 90 orang. Kali ini, pembinaan diikuti oleh 35 siswa SMK Jurusan Usaha Perjalanan Wisata (UPW) dari sekolah yang berbeda, 3 mahasiswa Prodi Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung, 1 mahasiswi Prodi Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata Bali. Pembinaan ini bertujuan untuk mengenalkan strategi pengelolaan Taman Nasional Komodo bagi peserta magang baru dan penyegaran materi bagi peserta magang yang telah bergabung lebih awal. Pemaparan materi dibawakan oleh Muhammad Ikbal Putera selama kurang lebih 60 menit yang dilangsungkan diskusi aktif selama 60 menit bersana seluruh peserta magang. Peserta juga diperkenalkan dengan budaya dan etika kerja profesional, groom check (cara berpakaian dan bersolek diri yang benar), serta mendapatkan informasi mengenai peraturan tertulis maupun tidak tertulis (norma) yang harus dipatuhi selama program magang Junior Park Ranger berlangsung. Dalam salah satu sesi diskusi Iqbal Fauzi, mahasiswa Politeknik Pariwisata NHI Bandung, berkomentar “Ini informasi baru bagi Saya, mahasiswa pariwisata dari Jawa Barat. Saya tidak menyangka ternyata peserta magang Junior Park Ranger sangat banyak dan Saya dituntut bukan hanya belajar bagi diri sendiri tapi juga menjadi teladan bagi adik-adik magang SMK disini”. Tidak mau kalah dari rekannya, Abdillah Traju, mahasiswa Politeknik Pariwisata NHI Bandung juga turut berkomentar, “Saya yakin Junior Park Ranger ini sangat positif. Kita sebagai peserta magang yang baru menjadi lebih tercerahkan mengenai pengelolaan Taman Nasional Komodo, terlebih untuk 6 bulan selama kami berada disini” ungkapnya. Program Junior Park Ranger mewajibkan mahasiswa memiliki satu topik Small-Scale Research (SSR) atau penelitian mini yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa magang. SSR ini harus dikerjakan selama durasi magang berlangsung, selain melaksanakan pembelajaran lainnya bersama dengan para jagawana di Balai Taman Nasional Komodo. Topik SSR ini diharapkan dapat ditindaklanjuti menjadi topik penelitian tugas akhir/skripsi pada semester selanjutnya sehingga membantu mahasiswa mempercepat proses kelulusannya dari universitas. Muhammad Ikbal Putera beserta seluruh timnya di Urusan Kerja Sama, Kehumasan, dan Pelayanan Balai Taman Nasional Komodo juga berperan sebagai dosen lapang atau pembimbing akademik lapang bagi seluruh mahasiswa selama program magang berlangsung. Iqbal Fauzi menambahkan, “Berat sih memang harus punya SSR lebih awal dari waktunya tapi kalau kita mampu dan bisa selesai, berarti semester depan bisa lebih santai hehe”, pungkasnya. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Mahasiswa Program Studi Destinasi Pariwisata Politeknik Pariwisata NHI Bandung - Iqbal Fauzi Insani (+6285604802894) Penyunting Berita : Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut : Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Junior Park Ranger: Magang Konservasi dan Small Scale Research di TN Komodo

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 26 Juni 2024. Mahasiswi magang dari Politeknik Pariwisata Bali dan juga Mahasiswa dari Politeknik NH Bandung jurusan Destinasi Pariwisata, melakukan petemuan secara virtual melalui zoom. Pertemuan ini dipandu oleh Muhammad Ikbal Putera (Pengendali Ekosistem Hutan) dan diikuti oleh Yudha Pamungkas (Seascape Assistant).Dalam pertemuan ini Pak Ikbal sebagai Koordinator Kehumasan dan juga sebagai penanggung jawab untuk anak-anak mangang SMK maupun Mahasiswa/I, menjelaskan terkait peraturan yang harus di ikuti selama melakukan magang di Taman Nasional Komodo. Dalam pertemuan ini juga membahas terkait dengan Small Scale Research (SSR) magang yang akan dilakukan selama magang dengan waktu yang sudah di tentukan. Mahasiswi dari Politeknik Pariwisata Bali ini ingin mendalami pembelajaran yang sudah di dapatkan saat kuliah, dan juga ingin menambah wawasan dan pengetahuan baru terkait pengembangan konservasi di Taman Nasional Komodo. Selama melakukan magang di TNK,mahasiswi ini juga belajar mengenai flora dan fauna yang ada di Taman Nasional Komodo. Dari topik SSR yang di ajukan terlebih dahulu di konsultasikan kepada staf kerja sama. Karmen Melati mahasiswi dari Politeknik Pariwisata Bali mulai melakukan magang dari awal bulan Juli 2024 dan akan berakhir pada bulan Desember. Pada tanggal 1 Juli, mahasiswi sudah mulai melakukan kegiatan magang. Selama melakukan magang mahasisiwa/i akan dilibatkan dalam setiap kegiatan penting terkait dengan Konservasi Lingkungan Taman Nasional Komodo. Dari program-program ini akan menambah pengetahuan dan wawasan. Selain itu juga dalam melakukan kegiatan magang ini, mahasiswa/i juga berencana mengumpulkan data untuk SSR yang akan di lakukan. Balai Taman Nasional Komodo aktif membuka kembali kesempatan bagi para pelajar untuk melakukan magang. Terdapat 91 siswa dan mahasisiwa yang melakukan magang di Taman Nasional Komodo tahun 2024. Balai Taman Nasional Komodo terus memberikan kesempatan kepada siswa/i dan mahasiswa/i untuk belajar dan menambah wawasan dan pengetahuan terkait Taman Nasional Komodo. Dari program magang ini dapat diharapkan menjadi awal yang baik untuk kedepannya. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Penyunting Berita : Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut : Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Pelatihan Pemandu Wisata Alam Desa Pasir Panjang – Pulau Rinca

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 27 Mei 2024. Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) dengan bangga mengumumkan keberhasilan pelaksanaan pelatihan pemandu wisata alam di Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca. Kegiatan ini direalisasikan pada tanggal 24-26 Mei sebagai upaya peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) pemandu wisata alam untuk peningkatan usaha kelompok binaan BTNK. Peserta pelatihan terdiri dari 25 tenaga naturalist guide yang berasal dari KSU Taman Nasional Komodo dan BUMDES Pasir Panjang. Pelaksanaan kegiatan pelatihan naturalist guide ini mencapai tingkat yang memuaskan dengan kehadiran peserta 100%. Distribusi asal domisili peserta meliputi Pulau Messah, Pulau Papagarang, Coal, Labuan Bajo, Pulau Komodo, dan Pulau Rinca. Seluruh peserta adalah laki-laki yang mencerminkan dominasi gender pria dalam profesi naturalist guide, karena kebutuhan fisik dari aktivitas pekerjaan yang berat dan keterbatasan daya tampung akomodasi. Pelatihan ini bertujuan untuk mengedukasi petugas naturalist guide mengenai pemanduan jasa wisata alam yang sejalan dengan kebutuhan pengelolaan Taman Nasional Komodo dan materi terkait teknis lainnya guna meningkatkan kapasitas SDM pengelola jasa wisata alam. Dengan menghadirkan narasumber dari tenaga ahli/praktisi yaitu Yudha Pamungkas sebagai pakar pariwisata, Muhammad Ikbal Putera dari Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda BTN Komodo, Novita Sidabutar, Rawuh Pradana, dan Ikhwan Syahri dari Polisi Kehutanan Ahli Pertama BTN Komodo. Adapun pelatihan tersebut mencakup materi mengenai pengelolaan desa wisata dan hospitality, pengenalan Taman Nasional Komodo, teknik pemandu & interpretasi, ekologi biawak komodo, dan fasilitasi pre-test dan post-test. Perolehan nilai rata-rata pada post-test yang telah dilakukan melebihi batas minimum pembelajaran yaitu 50, namun nilai tersebut masih belum memenuhi nilai standart kelulusan BTNK yaitu 70. Melalui pelatihan naturalist guide diharapkan peserta dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola Taman Nasional Komodo serta memberikan pelayanan yang lebih baik kepada wisatawan. Untuk meningkatkan semangat para peserta, maka BTNK memberikan sertifikat sebagai bentuk apresiasi. Dengan demikian, diharapkan usaha kelompok pemandu wisata alam di Desa Pasir Panjang dapat berkembang secara berkelanjutan. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Penyunting Berita : Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut : Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Sukses Menjaring Anak Muda di Youth Camp Balai TN Komodo Gelombang I

Labuan Bajo, Balai Taman Nasional Komodo, 2 Maret 2024. Balai Taman Nasional Komodo menyelenggarakan pembentukan anggota kader konservasi tingkat pemula gelombang 1 pada tanggal 26 Februari – 01 Maret 2024. Giat peningkatan kualitas pengelolaan kawasan konservasi melalui pelibatan masyarakat ini direaktivasi kembali dan mendapatkan positif dari pemerintah desa lingkup Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Peserta pembentukan kader konservasi berasal dari tiga desa dalam kawasan: Desa Komodo (Pulau Komodo), Desa Pasir Panjang (Pulau Rinca), dan Desa Papagarang (Pulau Papagarang), dan 7 desa penyangga kawasan antara lain: Desa Pasir Putih (Pulau Messah), Desa Golomori (Pulau Flores), Kelurahan Labuan Bajo (Pulau Flores), Desa Batu Cermin (Pulau Flores), Desa Gorontalo (Pulau Flores), Desa Warloka (Pulau Flores), dan Desa Warloka Pesisir (Pulau Flores). Kegiatan ini dikoordinir oleh Muhammad Ikbal Putera (PEH Ahli Muda) dengan anggota pelaksana kegiatan yaitu: Agustinus Djami Koreh (Penyuluh Kehutanan Ahli Madya), Novita Sidabutar (Polisi Kehutanan Ahli Pertama), Fahri Ikhlas (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), Yovi Septia (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama), Arif Ardianto Sofian (Polisi Kehutanan Ahli Pertama), Petrus C. P. Laa (PEH Pelaksana Lanjutan), dan Suadi (Tenaga Pembantu Keuangan). Para peserta mendapatkan materi mengenai pengelolaan Taman Nasional Komodo dan praktikum lapang sesuai dengan jumlah jam pelajaran minimal bagi kader konservasi tingkat pemula merujuk kepada Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor: SK.41/IV-Set/H0/2006 tanggal 26 Maret 2006 Tentang Pedoman Pembentukan Kader Konservasi. Materi pengelolaan meliputi: pengenalan kader konservasi dan Taman Nasional Komodo, pengelolaan sampah, ekologi biawak komodo, keanekaragaman hayati bawah laut, community-based tourism, manajemen flora dan fauna, dan traditional ecological knowledge. Selain memperoleh materi hard science, peserta juga mendapatkan materi peningkatan kapasitas internal diri melalui praktik mindfulness yang difasilitasi oleh koordinator kegiatan. Kegiatan ini dilaksanakan di ITDC The Golomori, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Para peserta juga diajak mengunjungi Pulau Muang, habitat penyu hijau dan penyu sisik di Taman Nasional Komodo. Para peserta tampak antusias karena sebagian besar belum pernah berkunjung ke Taman Nasional Komodo, utamanya Pulau Muang. Peserta diajarkan merelokasi telur penyu dan memindahkannya ke sarang buatan yang telah disiapkan di Resort Kerora, SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Komodo. Giat praktikum ini dilaksanakan untuk membentuk rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat terhadap Taman Nasional Komodo dan ekosistemnya. Balai Taman Nasional Komodo menutup rangkaian kegiatan dengan melaksanakan apel pengukuhan anggota kader konservasi tingkat pemula dengan mengucapkan “Janji Kader Konservasi Taman Nasional Komodo” yang dipimpin oleh Agustinus Djami Koreh. Sebanyak 29 anggota kader konservasi mendapatkan kartu tanda anggota (KTA) yang ditandatangani oleh Kepala Balai Taman Nasional Komodo. Balai Taman Nasional Komodo berharap para kader konservasi terpilih ini dapat menjadi agent of change di lingkup desa dan kelurahannya masing-masing, dan menjadi perpanjangan tangan Balai Taman Nasional Komodo dalam mendukung upaya konservasi alam di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Dalam sela-sela penutupan kegiatan Indriani, kader konservasi perwakilan dari Desa Gorontalo, menuturkan “Ini adalah salah satu pencapaian hidup Saya yang paling berkesan dan bermakna. Rumah Saya memang dekat dengan alam, tapi kali ini Saya merasa alam adalah rumah Saya”. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggung Jawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+6281353363519) Penulis Berita: Penyunting Berita: Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+6281310300678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6282145675612)
Baca Artikel

Pemantauan Capaian Kinerja Satker Provinsi Sumatera Utara

Narasumber didampingi Kepala Bagian Tata Usaha Medan, 18 September 2024. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggelar Rapat Koordinasi Pemantauan Capaian Kinerja pada Satuan Kerja Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Provinsi Sumatera Utara, Jumat (13/9), di Grand Mercure Hotel, Jln. Sutomo No. 1 Medan. Kegiatan ini sebagai sistem pemantauan kinerja masing-masing Satuan Kerja (Satker) UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara sampai dengan bulan Agustus 2024, serta sosialisasi terkait dengan IKPA. IKPA adalah indikator yang ditetapkan oleh Kementerian Keuangan selaku BUN (Bendahara Umum Negara) dan/atau pengelola fiskal untuk mengukur kualitas kinerja pelaksanaan anggaran belanja Kementerian Negara/Lembaga dari sisi kualitas perencanaan pelaksanaan anggaran, kualitas implementasi pelaksanaan anggaran, dan kualitas hasil pelaksanaan anggaran. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L., mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dengan narasumber Tulus Halomoan Marbun, Pembina Teknis Perbendaharaan Negara dan Nurul Sakinah, Pelaksana Seksi Manajemen Satker dan Kepatuhan Internal pada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Tipe A1 Medan II. Rakor dihadiri sekitar 100 orang peserta yang berasal dari perwakilan UPT lingkup Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, pejabat eselon III dan IV lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan pegawai Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Melalui kegiatan ini diharapkan adanya pencerahan serta bahan evaluasi untuk peningkatan capaian kinerja kedepannya. Sumber : Ainy Amelya Utami, S.Hut. – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Aksi GYM, Gelar Edukasi Konservasi Alam

Narasumber Intan Novita, S.Hut. mengajak pelajar untuk ikut berperan dalam konservasi Medan, 17 September 2024. Dua puluh orang anak muda berseragam kaos berwarna pink, terlihat berkumpul di salah satu sekolah swasta di Kota Medan, tepatnya di SMA Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) yang beralamat di jalan Sisingamangaraja Medan, pada Sabtu 14 September 2024. Dengan warna kaos yang menggoda itu, menarik perhatian pelajar dan guru-guru sekolah tersebut. Ternyata mereka adalah kumpulan Green Youth Movement (GYM) Batch 2 dari Simpul Belajar Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Pagi itu anak-anak muda GYM ini sedang melaksanakan aksi nyata tindak lanjut dari proses pendidikan yang sedang mereka jalani dengan menggelar kegiatan Visit to School SMA Swasta UISU Medan guna mengedukasi pelajar tentang Konservasi Alam. Panitia mengundang 3 narasumber, masing-masing Intan Novita, S.Hut. dari Green Leadership Indonesia (GLI) Batch 3, Thoyibah Pohan dari Green Leadership Indonesia (GLI) Batch 4 dan Evansus Renandi Manalu, Analis Tata Usaha dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Kegiatan ini diikuti sekitar 100 orang pelajar dari jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Narasumber 1, Intan Novita, dengan topik bahasan Peran Anak Muda Untuk Konservasi, mengajak peserta untuk ikut berperan melalui edukasi dan kesadaran serta penerapan green lifestyle, yaitu gaya hidup yang berfokus pada keberlanjutan melalui penerapan 4 R : Reduce (mengurangi konsumsi produk atau energy yang dapat merusak lingkungan), Reuse (menggunakan kembali barang-barang yang masih bisa digunakan), Recycle (Daur ulang limbah menjadi bahan yang lebih bernilai) dan Replace (mengganti produk atau energi yang merusak lingkungan dengan ramah lingkungan). Narasumber Thoyibah Pohan, memperkenalkan manfaat konservasi Sedangkan narasumber ke 2, Thoyibah Pohan yang saat ini sedang menjalani pendidikan sebagai mahasiswi di Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU), membawakan materi tentang Conservation, mencoba memperkenalkan kepada peserta tentang manfaat dari konservasi, yaitu manfaat ekologi dan manfaat ekonomi. Peserta juga diperkenalkan dengan jenis-jenis dari konservasi yang umum yaitu Konservasi In-Situ (di dalam kawasan) dengan contoh kawasan Cagar Alam (CA) Dolok Saut serta kawasan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL), dan Konservasi Ex-Situ (di luar kawasan) dengan ragam contoh Central Park Zoo. Menarik di penutup paparannya, Thoyibah Pohan menyampaikan pesan “konservasi bukanlah tugas berat, melainkan komitmen bersama untuk melestarikan dan menjaga keseimbangan alam”. Narasumber 3, Evansus Renandi Manalu, membangun kesadaran dan kepedulian peserta melalui gambaran permasalahan yang dihadapi oleh tumbuhan dan satwa liar Dan narasumber terakhir ke 3, Evansus Renandi Manalu, membahas tentang Keanekaragaman Hayati flora dan fauna Indonesia, khususnya yang endemik Sumatera Utara yang kondisinya terancam akibat berbagai permasalahan, seperti masalah jerat yang mengakibatkan beberapa satwa, seperti: Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), Gajah, dan lain-lain menjadi korban bukan hanya cacat tetapi juga kematian satwa kunci tersebut. Selain masalah jerat dan perburuan liar, masalah lain yang juga diungkapkan dan dipaparkan oleh Evansus, yaitu aktivitas atau perbuatan pemilikan/ pemeliharaan satwa liar dilindungi secara illegal, seperti kasus yang sedang viral saat ini yaitu pemeliharaan satwa jenis Landak Jawa (Hystrix javanica) oleh warga di Provinsi Bali, serta permasalahan perdagangan satwa liar dilindungi yang ironisnya pelakunya justru dilakukan oleh seorang anak remaja yang berusia 16 tahun memperdagangkan satwa jenis Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) dan Elang Bondol (Haliastur indus), burung Alap-alap (Accipiter trivirgatus) melalui media sosial di Cirebon. Oleh karena itu narasumber mengajak seluruh peserta untuk peduli terhadap nasib satwa liar sebelum satwa itu punah, seperti yang terjadi pada Harimau Bali (Panthera tigris balica) yang sudah punah sekitar tahun 1940-an dan Harimau Jawa (Panthera tigris sondaica) yang juga sudah punah sekitar tahun 1980-an. Foto bersama seluruh Panitia, Narasumber dan Kepala SMA UISU Penyajian para narasumber yang menarik tersebut, mendorong sebagian peserta untuk bertanya menggali informasi dan pengetahuan tentang konservasi alam dari narasumber. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pun berkualitas sehingga diskusi terlihat sangat dinamis dan memberi pencerahan baru bagi para peserta. Diakhir acara, narasumber Evansus Renandi Manalu memberi kenang-kenangan berupa buku karya tulisnya kepada Kepala Sekolah SMA UISU sebagai bentuk apresiasi atas sambutan yang baik dari pihak sekolah. Aksi nyata ini bukanlah yang terakhir, tetapi awal dari aksi-aksi berikutnya… Salam Lestari …….. Sumber : Nazril (Green Youth Movement Batch 2) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Jangan Takut Serahkan Satwa Dilindungi Ke BBKSDA Jawa Timur

Sidoarjo, 12 September 2024. Beberapa hari belakangan, Balai Besar KSDA Jawa Timur menerima penyerahan satwa liar yang dilindungi undang-undang dari pelbagai jenis. Baik penyerahan langsung dari masyarakat maupun hasil evakuasi Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) setempat, karena adanya satwa liar yang berkeliaran di sekitar pemukiman warga. Seperti yang dilakukan Dinas Damkar Kota Madiun yang menyerahkan seekor Biawak Hitam / Black Dragon (Varanus salvator) ke kantor Bidang KSDA Wilayah I Madiun, 9 September 2024. Satwa tersebut merupakan hasil penyelamatan yang dilakukan Dinas Damkar Kota Madiun sebagai tindak lanjut dari laporan masyarakat. Hari berikutnya, kantor Bidang KSDA Wilayah I Madiun kembali menerima penyerahan satwa berupa seekor Kakatua Jambul Kuning Medium (Cacatua galerita eleonora) dari Bayu Wijonarko, seorang dokter yang berdomisili di Perum Mutiara Kencana, Taman – Madiun. Menurut Bayu, burung tersebut ia serahkan ke pihak BKSDA karena yang bersangkutan baru mengetahui bahwa Kakatua merupakan satwa yang dilindungi undang-undang. Masih di hari yang sama, 10 September 2024, Tim Matawali Seksi KSDA Wilayah I Kediri menerima penyerahan seekor Trenggiling (Manis javanica) dari Unit Pemadam dan Penyelamat Kabupaten Trenggalek. Satwa tersebut dilaporkan berkeliaran dalam pemukiman warga, sehingga pihak Unit Pemadam dan Penyelamat mengevakuasi satwa dimaksud. Selanjutnya tim Resort Konservasi Wilayah 18 Malang juga menerima penyerahan satwa liar yang dilindungi undang-undang dari masyarakat di Kota Batu dan Kepanjen, 11 September 2024. Adapun satwa yang diserahkan oleh warga Kota Batu berupa seekor Kakatua Jambul Kuning, serta dari warga Kepanjen berupa tiga ekor Landak Jawa. Kini keseluruhan satwa telah dievakuasi di kandang transit milik Wildlife Rescue Unit (WRU) – Balai Besar KSDA Jawa Timur di Juanda – Sidoarjo. Jadi, masih memelihara satwa yang dilindungi undang-undang ? Gak bahaya tah ? Jangan ya dek. Silahkan hubungi call centre kami di linktr.ee/bbksdajatim. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Melahirkan Generasi Emas Konservasi Alam Indonesia

Edukasi menyenangkan di kawasan konservasi Medan, 11 September 2024. Berita Harian Kompas edisi Sabtu 31 Agustus 2024, pada halaman 11, menarik sekaligus mengejutkan, karena harian ini mengangkat topik/judul berita “Anak Usia 16 Tahun Terlibat Jual Beli Satwa Langka di Cirebon”. Dalam pemberitaannya, Kompas menguraikan, seorang anak, S, berusia 16 tahun di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, diduga terlibat dalam jual beli burung elang hingga berang-berang. Satwa dilindungi itu diperjualbelikan melalui media sosial. Kepala Polresta Cirebon Komisaris Besar Sumarni, dalam konferensi persnya, Jumat (30/8), mengatakan bahwa pelaku, S sebelumnya membeli satwa dilindungi tersebut melalui (media) online dengan harga berkisar antara Rp. 200.000,- dan Rp. 500.000,-. S telah memeliharanya selama satu minggu dan berencana menjualnya, sampai akhirnya upaya tersebut berhasil digagalkan polisi. Pihak kepolisian menyita empat burung yang dilindungi, yaitu dua jenis burung Alap-alap (Accipiter trivirgatus), satu Elang Brontok (Spizaetus cirrhatus) dan satu Elang Bondol (Haliastur indus). Selain itu juga ada dua Berang-berang Gunung (Lutra sumatrana). Semuanya dalam kondisi hidup dan sehat. Sumarni menuturkan, jika terbukti memelihara dan memperdagangkan satwa dilindungi, S melanggar Pasal 21 Ayat (2) Huruf a dan atau Pasal 40A ayat (1) Huruf D Undang-undang Nomor 32 Tahun 2024 terkait konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. S pun terancam penjara maksimal 15 tahun. Peristiwa ini menjadi menarik untuk dicermati mengingat pelakunya adalah seorang dalam kategori anak, yang terlibat secara langsung dalam perdagangan jual beli satwa langka yang dilindungi. Fenomena ini menjadi perlu untuk didalami lagi, apa sesungguhnya yang menjadi motifnya serta bagaimana mengantisipasinya ke depan agar peristiwa yang sama, yang melibatkan anak-anak dalam pusaran perdagangan illegal satwa liar dilindungi, dapat dicegah. Menurut pendapat penulis, bila mencermati kasus pemilikan dan perdagangan satwa liar, sedikitnya ada 3 faktor utama yang menjadi penyebabnya, yaitu : masalah ekonomi (pemenuhan kebutuhan hidup), penegakkan hukum yang belum maksimal terhadap pelaku sehingga tidak menimbulkan efek jera serta edukasi konservasi alam dan lingkungan hidup yang belum membumi dan belum berdampak. Alasan faktor ekonomi dan penegakkan hukum yang belum maksimal, tentunya itu masalah klasik yang sepertinya akan terus ada. Justru yang menarik untuk diperbincangkan adalah masalah edukasi konservasi alam dan lingkungan hidup. Pendidikan (edukasi) sangat berkaitan erat dengan perilaku, dimana perilaku merupakan gambaran dari peranan manusia yang berinteraksi dengan lingkungan dan sangat berpotensi untuk dapat menentukan arah lingkungan ke posisi yang lebih baik atau bahkan sebaliknya, semakin rusak. Apabila perilaku manusia dan segenap kelompok sosial mau mempelajari dan memelihara perilaku positif terhadap lingkungan maka hal tersebut dapat menjadi sinyal untuk memperingatkan manusia. Pentingnya pendidikan konservasi alam sesungguhnya telah diakomodir di dalam Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, dimana pasal 37 diatur tentang Peranserta Rakyat, yang bunyinya : Kemudian dalam penjelasan pasal 37 ayat (2) dirinci dan dipertegas, bahwa dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat, maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui pendidikan sekolah dan luar sekolah. Memang benar, bahwa pendidikan di lingkungan sekolah selama ini sudah mengajarkannya melalui pengintegrasian subjek konservasi alam dan lingkungan hidup sebagai bagian dari subjek lainnya, dan umumnya beberapa diantaranya menjadi subjek utama kurikulum resmi, seperti misalnya pelajaran biologi dan geografi. Namun sayangnya hasilnya belum optimal dan maksimal, karena pengembangan dan penerapannya masih bersifat teoritis. Pengenalan flora dan fauna masih sebatas penjelasan lisan dari guru dan hanya bersumber dari diktat (buku pelajaran). Demikian halnya dengan pengenalan kawasan konservasi, juga hanya terbatas pada pembahasan yang terdapat di buku-buku pelajaran. Model-model pembelajaran yang seperti itu cenderung monoton dan tidak menarik bagi generasi muda untuk mempelajari maupun mendalaminya. Padahal, belajar konservasi alam dan lingkungan hidup sejatinya harus mampu membangun dan membentuk 3 aspek perilaku, yaitu : Knowledge, dimana pengetahuan konservasi alam dan lingkungan hidup merupakan upaya membekali individu dengan pengetahuan dasar mengenai totalitas konservasi alam dan lingkungan hidup, permasalahannya serta peran dan tanggung jawab manusia. Kemudian aspek Attitude atau sikap, yaitu upaya mendorong individu agar memiliki nilai-nilai sosial, kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan serta motivasi untuk berpartisipasi aktif dalam perlindungan dan peningkatan kualitas lingkungan. Serta aspek Practice atau partisipasi, merupakan upaya mengembangkan rasa tanggung jawab pada individu serta memberi peluang agar dapat terlibat secara aktif memecahkan berbagai permasalahan lingkungan. Keterbatasan yang dimiliki oleh dunia pendidikan melalui sekolah-sekolah, baik dalam hal keterbatasan kurikulum, sumber daya manusia, waktu maupun sarana prasarana pendukung, memang dapat dimaklumi. Oleh karena itu sejatinya peranan para rimbawan untuk melengkapi dan menyempurnakan materi pembelajaran yang sudah ada dan berlangsung, dengan model pembelajaran yang baru serta menarik menjadi urgen untuk dikembangkan. Jajaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, khususnya Direktorat Jenderal KSDAE, mempunyai ujung tombak seperti pejabat Fungsional Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), Penyuluh Kehutanan dan Polisi Hutan (Polhut), yang dapat diandalkan untuk mendesain serta mewujudkan program edukasi konservasi alam dan lingkungan hidup. Kawasan konservasi yang tersebar di berbagai wilayah kerja dan memiliki keragaman potensi baik flora dan fauna, wisata, keunikan alam dan kearifan lokal, sangat layak untuk dijadikan sebagai ruang kelas (pusat pembelajaran) konservasi alam. Generasi muda dapat melihat, mengamati, mengenal langsung potensi serta merasakan aura lingkungan alami, sehingga secara tidak langsung akan menumbuhkan rasa kekaguman yang pada akhirnya akan tumbuh kesadaran dan keinginan untuk ikut berpartisipasi menjaga kawasan konservasi tersebut. Membangun generasi muda peduli konservasi alam Ekspektasi kepada rimbawan-rimbawan kreatif yang tersebar di seluruh Indonesia, agar secara massal mengemas Desain Besar Edukasi Konservasi Alam dan Lingkungan Hidup dengan berbagai materi muatan lokal dan model-model pembelajaran yang inovatif, inspiratif dan menarik. Tidak terbayangkan, bila ekspektasi ini bisa terwujud, tentunya betapa kayanya Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memiliki beragam muatan-muatan lokal pendidikan konservasi alam. Bukan hanya itu, ada banyak juga sekolah-sekolah yang ada di sekitar kawasan konservasi di seluruh Indonesia, dari semua tingkatan yang terjamah oleh rimbawan-rimbawan kreatif. Dan yang tak kalah pentingnya, ada banyak pula jiwa-jiwa muda yang disegarkan wawasan serta dibangun kesadarannya akan konservasi alam, sehingga 20 tahun kedepan, Indonesia memasuki dan memiliki Era Generasi Emas Konservasi Alam. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

HKAN 2024: BKSDA Kalsel Raih Website Terbaik dan Soft Launching Logo

Banjarbaru, 2 September 2024 – Rangkaian Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2024 diselenggarakan selama 3 (tiga) hari pada 27 – 29 Agustus 2024 di Alun-Alun Kidul Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah. Beranekaragam rangkaian kegiatan terselenggara selama 3 hari tersebut seperti pembukaan pameran, bedah buku, jambore konservasi, talk show, sarasehan PEH, sosialisasi peraturan perundangan, hiburan kesenian hingga acara Puncak Peringatan HKAN 2024. Peringatan HKAN 2024 menjadi momen spesial bagi BKSDA Kalimantan Selatan dikarenakan BKSDA Kalimantan Selatan menerima Apresiasi Konservasi Alam “Pemenang III Kategori Website KSDA Terbaik”, yang diserahkan langsung oleh Dirjen KSDAE Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko kepada Kepala Balai KSDA Kalimantan Selatan drh. Agus Ngurah Krisna K. pada Pembukaan Pameran HKAN 2024 tanggal 27 Agustus 2024. Selain itu booth pameran konservasi alam BKSDA Kalimantan Selatan dikunjungi langsung oleh Dirjen KSDAE. Kunjungan Dirjen KSDAE ke booth sekaligus dalam rangka soft launching logo BKSDA Kalimantan Selatan. Puncak Peringatan HKAN 2024 yang dilaksanakan tanggal 29 Agustus 2024 dipimpin langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Prof. Dr. Siti Nurbaya Bakar. Dalam pidatonya antara lain disampaikan bahwa HKAN sebagai agenda peringatan untuk memasyarakatkan konservasi menjadi bagian dari sikap gaya hidup serta budaya. Selain itu juga sebagai media promosi pemanfaatan sumber daya alam dan ekosistem yang lestari. Menteri LHK memberikan penghargaan kepada para pihak atas pencapaian dalam kegiatan konservasi alam. Salah satunya kepada Gubernur Kalimantan Selatan, kategori Dukungan Terhadap Pengelolaan Tahura dengan kontribusi keberhasilan pemulihan ekosistem seluas 22.017,32 hektare bersama 36 mitra dan 7 kelompok masyarakat selama 2016 hingga 2024. Semoga dengan adanya peringatan konservasi alam mampu meningkatkan rasa kecintaan terhadap alam, serta kita semua mampu mengaktualisasikan nilai-nilai konservasi dalam sikap dan perilaku demi mewujudkan hidup selaras dengan alam yang lestari. (Ryn) Sumber: Riyan Susilo Adji, S.Kom. - Prakom BKSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Hari Jadi Desa Sibolangit Ke 244 di TWA Sibolangit

Foto bersama tim pawai dengan Camat serta Muspika Sibolangit Sibolangit, 10 September 2024. Setelah sukses penyelenggaraan perayaan HUT kemerdekaan RI Ke 79 di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, pada tanggal 17 Agustus 2024 yang lalu, oleh 4 desa se Kecamatan Sibolangit, masing-masing : Desa Sibolangit, Desa Rumah Sumbul, Desa Puangaja dan Desa Betinus Mbaru, kawasan TWA Sibolangit kembali menjadi pusat kegiatan pembukaan pawai pesta budaya-buah dan Hari Jadi Desa Sibolangit yang ke 244, pada Sabtu 7 September 2024. Kegiatan yang dihadiri langsung Camat Kecamatan Sibolangit beserta unsur muspika, terlihat meriah dengan ikutnya beberapa utusan dalam barisan pawai, seperti dari SMP Negeri 2 Sibolangit, SD Negeri Sibolangit, SD,SMP dan SMK Swasta Masehi, perguruan pencak silat, Manggala Agni, Puskesmas Sibolangit, Gereja Batak Kristem Protestan (GBKP) Sibolangit, Ersima, Grib, Pemerintah Desa Sibolangit dan Pemerintah Kecamatan Sibolangit. Tidak kurang dari 170 orang yang menghadiri pembukaan pawai. Momentum penting ini juga digunakan petugas Resort Cagar Alam (CA)/TWA. Sibolangit untuk memperkenalkan serta mempromosikan kawasan TWA. Sibolangit. Khusus kepada generasi muda dari kalangan pelajar, petugas pun memberi edukasi tentang konservasi alam dan pentingnya menjaga kelestarian kawasan konservasi bagi kehidupan. Dengan kegiatan ini merupakan bentuk kolaborasi dalam mempromosikan Desa Sibolangit, yang bukan hanya kaya dengan buah dan budayanya, tetapi juga terkenal memiliki potensi kawasan wisata alam yang tidak kalah dengan objek-objek wisata lainnya, dimana keberadaannya sangat penting dalam membumikan serta menggaungkan Desa Sibolangit di tingkat/level daerah, provinsi maupun tingkat nasional. Harapan kedepan, even yang sama dapat diselenggarakan secara rutin di tempat yang sama dengan gebyar yang lebih besar dan meriah lagi. Selamat Hari Jadi Desa Sibolangit Ke 244. Sumber : Suparman, SP. (Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Edukasi Masyarakat Melalui Patroli Pengamanan Peredaran Tumbuhan Dan Satwa Liar

Sosialisasi dan edukasi yang diikuti dengan pembagian poster Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, 4 September 2024. Petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Resort Suaka Margasatwa (SM) Siranggas II bersama dengan Penyuluh Kehutanan Seksi Konservasi Wilayah I Sidikalang serta Masyarakat Mitra Polhut (MMP) melakukan kegiatan Patroli Pengamanan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar, pada tanggal 28 s.d. 30 Agustus 2024, di Kecamatan Sitellu Tali Urang Jehe, Kabupaten Pakpak Bharat. Kegiatan Patroli Pengamanan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar dilaksanakan guna mengamankan sekaligus mensosialisasikan terkait pengelolaan dan peredaran tumbuhan dan satwa liar terutama jenis yang dilindungi undang-undang sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MenLHK/Setjen/Kum.1/12/2018. Pada kegiatan ini juga ditindaklanjuti informasi terkait adanya Orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang memasuki perladangan masyarakat di Desa Tanjung Mulia, Kecamatan Sitelu Tali Urang Jehe. Tim mendapatkan informasi dan menemukan 2 buah sarang Orangutan Sumatera yang berada di atas pohon milik masyarakat. Tim mensosialisasikan untuk tidak memburu ataupun membunuh karena satwa tersebut dilindungi, dan bila terdapat informasi untuk segera menghubungi petugas Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Selain itu, tim juga melakukan kegiatan sosialisasi dengan aparat pemerintahan desa serta masyarakat desa terutama yang memelihara satwa jenis burung, tentang jenis satwa liar dilindungi baik jenis mamalia maupun aves. Kemudian kepada masyarakat Desa Tanjung Mulia, Desa Perolihen dan Desa Tanjung Meriah, juga disosialisasikan serta dihimbau untuk tidak melakukan kegiatan perburuan, memperjualbelikan maupun memelihara satwa liar, khususnya jenis yang dilindungi karena dapat dikenakan sanksi hukuman pidana terhadap pelakunya. Harapannya, dengan edukasi dan sosialisasi akan semakin banyak masyarakat yang mengetahui jenis tumbuhan dan satwa liar dilindungi, sehingga masyarakat juga semakin sadar untuk tidak melakukan kegiatan pemeliharaan, perburuan bahkan perdagangan terhadap tumbuhan dan satwa liar tersebut. Mari jaga tumbuhan dan satwa liar kita demi kehidupan yang lebih baik kedepannya… Sumber : Hafsah Purwasih, S.Hut. (Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara

Menampilkan 369–384 dari 1.992 publikasi