Jumat, 28 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Dari Sungai Keruh Hingga Pekarangan Kota, Peran Diam-Diam Biawak Air Penjaga Ekosistem

Sidoarjo, 10 April 2026. Suatu pagi yang lembap di tepian sungai, riak air yang tenang mendadak terbelah. Dari balik bayang-bayang vegetasi yang tumbuh liar, seekor reptil besar muncul perlahan. Tubuhnya yang gelap berkilau tertimpa cahaya matahari, sementara lidah bercabangnya menjulur cepat, seolah “mencicipi” udara di sekitarnya. Ia bergerak tanpa suara, menyusuri batas antara air dan daratan, wilayah yang bagi banyak makhluk lain adalah garis pemisah, namun baginya justru ruang hidup. Itulah Biawak Air, atau Varanus salvator, spesies yang kerap disalahpahami, namun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam. Secara ilmiah, Biawak Air dikenal sebagai salah satu reptil paling adaptif di kawasan tropis Asia. Ia tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia, dari hutan mangrove pesisir hingga kawasan perkotaan yang padat. Kemampuan adaptasinya bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari seperangkat keunggulan biologis yang telah teruji oleh waktu. Tubuhnya dirancang untuk dua dunia sekaligus, darat dan air. Ekor panjangnya pipih secara lateral, berfungsi layaknya dayung yang memungkinkannya berenang dengan efisien. Paru-parunya mampu menyimpan oksigen dalam waktu cukup lama, sehingga ia dapat menyelam hingga puluhan menit. Sementara itu, lidah bercabang yang bekerja bersama organ Jacobson memberinya kemampuan mendeteksi partikel kimia di udara, sebuah sistem “penciuman” canggih yang juga dimiliki oleh ular. Keunggulan ini menjadikan Biawak Air sebagai predator semi-akuatik yang efektif. Pemakan Telur Ular Namun menariknya, dalam struktur rantai makanan, ia tidak berada di puncak tertinggi. Para ilmuwan mengkategorikannya sebagai mesopredator, pemangsa tingkat menengah yang memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas ekosistem. Ia memangsa berbagai jenis hewan, mulai dari ikan, serangga, amfibi, hingga mamalia kecil seperti tikus hingga telur ular. Di sisi lain, ketika masih muda, biawak juga menjadi mangsa bagi predator yang lebih besar. Hubungan timbal balik ini membentuk jaring kehidupan yang kompleks, di mana setiap spesies saling terhubung dan saling memengaruhi. Scavenger Salah satu peran paling penting Biawak Air justru terletak pada kebiasaannya yang sering dianggap menjijikkan, memakan bangkai. Dalam perspektif ekologi, perilaku ini menjadikannya sebagai scavenger atau pemakan sisa, yang berfungsi sebagai “petugas sanitasi alami”. Bangkai hewan yang dibiarkan membusuk di alam dapat menjadi sumber berkembangnya bakteri dan patogen berbahaya. Dengan mengonsumsi sisa-sisa tersebut, biawak membantu mempercepat proses daur ulang nutrisi sekaligus menekan potensi penyebaran penyakit. Peran ini jarang terlihat, namun dampaknya sangat nyata bagi kesehatan ekosistem. Sekutu Manusia Kemampuannya dalam memangsa tikus menjadikan Biawak Air sebagai sekutu tak langsung bagi manusia, terutama di wilayah pertanian dan tambak. Tikus dikenal sebagai salah satu hama utama yang dapat merusak tanaman dan menyebarkan penyakit. Kehadiran biawak membantu menjaga populasi tikus tetap terkendali secara alami, tanpa perlu intervensi bahan kimia yang berpotensi merusak lingkungan. Dalam konteks ini, Biawak Air bukanlah ancaman, melainkan bagian dari solusi yang telah disediakan oleh alam. Meski demikian, persepsi masyarakat terhadap biawak air sering kali berbeda. Tubuhnya yang besar, gerakannya yang tiba-tiba, serta habitatnya yang kerap bersinggungan dengan manusia membuatnya kerap dianggap berbahaya. Saat biawak muncul di selokan kota atau pekarangan rumah, reaksi yang muncul umumnya adalah kepanikan. Padahal, secara ilmiah, Biawak Air termasuk satwa yang cenderung defensif. Perilaku umum, ia lebih mengandalkan respon menghindar dibanding menyerang. Serangan terhadap manusia sangat jarang terjadi, dan umumnya dipicu oleh situasi tertentu seperti ancaman langsung atau upaya penangkapan. Fenomena kemunculan biawak di kawasan permukiman sebenarnya mencerminkan perubahan lanskap yang lebih luas. Ketika habitat alami seperti hutan mangrove, rawa, dan bantaran sungai mengalami penyempitan akibat pembangunan, satwa liar dipaksa untuk beradaptasi dengan ruang yang tersisa. Dalam banyak kasus, bukan biawak yang “masuk” ke wilayah manusia, melainkan manusia yang telah memperluas wilayahnya ke dalam habitat biawak. Interaksi yang terjadi kemudian menjadi tak terhindarkan. Status Biawak Air termasuk spesies dengan status “Least Concern” menurut International Union for Conservation of Nature, yang berarti belum berada pada tingkat tidak mengkhawatirkan. Namun status ini tidak boleh disalahartikan sebagai kondisi yang sepenuhnya aman. Perdagangan kulit, perburuan, serta degradasi habitat tetap menjadi tekanan yang nyata. Oleh karena itu, spesies ini juga masuk dalam Appendix II CITES, yang mengatur agar pemanfaatannya tidak mengancam kelestarian populasi di alam. Lebih dari sekadar angka dan status, keberadaan Biawak Air dapat dibaca sebagai indikator kondisi lingkungan. Di wilayah yang masih memiliki kualitas ekosistem yang baik, dengan ketersediaan air, vegetasi, dan sumber pakan, biawak cenderung tetap bertahan. Sebaliknya, ketika lingkungan mengalami pencemaran atau kerusakan serius, populasi biawak akan menurun. Dengan demikian, ketidakhadirannya dapat menjadi “sinyal biologis” yang memberi gambaran tentang kesehatan ekosistem di sekitar kita. Di tengah dinamika ini, pendekatan konservasi yang paling relevan bukanlah penghilangan, melainkan pengelolaan interaksi. Edukasi kepada masyarakat menjadi kunci penting agar persepsi terhadap biawak air dapat berubah. Memahami bahwa satwa ini memiliki peran ekologis yang signifikan akan membantu mengurangi konflik yang tidak perlu. Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sisa makanan sembarangan, serta tidak melakukan penangkapan liar dapat memberikan dampak besar dalam menjaga keseimbangan. Ketakutan Lahir Dari Ketidaktahuan Pada akhirnya, kisah Biawak Air adalah cerminan dari hubungan manusia dengan alam itu sendiri. Ia hidup di antara dua dunia, liar dan manusia, tanpa pernah benar-benar memiliki batas yang jelas. Dalam diam, ia menjalankan fungsinya sebagai pembersih, pengendali, dan penyeimbang. Tanpa suara, tanpa pengakuan, namun dengan kontribusi yang nyata. Mungkin kita tidak selalu menyadari kehadirannya. Namun setiap kali air sungai tetap mengalir tanpa bau busuk yang menyengat, setiap kali populasi hama tetap terkendali, ada peran-peran kecil yang bekerja di baliknya. Dan di antara peran-peran itu, Varanus salvator berdiri sebagai salah satu penjaga yang paling setia, meski sering kali paling disalahpahami. Biawak Air bukan sekadar reptil besar yang muncul tiba-tiba di selokan atau sungai. Ia adalah bagian dari sistem ekologis yang kompleks, bekerja sebagai pembersih, pengendali, dan penyeimbang. Ilmu pengetahuan membantu kita memahami satu hal sederhana bahwa ketakutan sering lahir dari ketidaktahuan. Dan ketika pengetahuan hadir, yang tersisa bukan lagi rasa takut, melainkan penghargaan. Karena di balik gerak sunyinya, Varanus salvator sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri yaitu keseimbangan kehidupan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Tri Wahyu Widodo (Foto) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Usia Bukan Ukuran Untuk Peduli, Kisah Bocah 11 Tahun Dan Seekor Elang Terlilit

Sidoarjo, 10 April 2026. Siang itu, Minggu (5/4), Maheswara Kamajaya tak sedang mencari apa pun selain layang-layang yang tersangkut. Bocah 11 tahun, siswa kelas IV SD Watugolong 1 itu berlari menyusuri pematang sawah di Desa Watugolong, Kecamatan Krian. Namun langkahnya terhenti ketika melihat sesuatu yang tak biasa di bawah pohon, seekor elang tergeletak, kakinya terlilit tali, tubuhnya tampak lemah. Tanpa banyak pertimbangan, Maheswara memilih mendekat. Rasa takut kalah oleh rasa kasihan. Ia lalu mengangkat burung itu dan membawanya pulang ke rumahnya di Perumahan Pesona Permata Ungu. Di garasi rumahnya yang sederhana, elang tersebut diletakkan. Sang ayah, M. Suyudi, mencoba membantu sebisanya. Air minum disediakan. Berbagai jenis pakan dicoba, ikan air tawar, ikan laut, hingga daging ayam. Namun burung itu tetap diam, tak mau makan. Hari pertama dilalui dengan cemas. Harapan datang dari arah yang tak diduga. Seorang tetangga yang menebang pohon kelapa menemukan sarang burung dengan anakan di dalamnya. Anakan itu kemudian diberikan kepada keluarga Maheswara. Saat itulah, untuk pertama kalinya, elang tersebut mau makan, sebuah momentum yang membuat mereka sedikit lega. Selama beberapa hari, elang itu menjadi perhatian kecil di lingkungan mereka. Ada yang datang melihat, ada pula yang tertarik untuk memelihara. Namun keluarga Maheswara menolak. Mereka tak ingin satwa itu berpindah tangan tanpa kepastian. Kebingungan pun muncul, harus dibawa ke mana? Suyudi kemudian berinisiatif mencari bantuan. Ia menghubungi Call Center Pemerintah Kabupaten Sidoarjo, berharap ada pihak yang bisa menangani. Empat hari setelah penemuan, pada Kamis (9/4), jawaban itu datang. Tim Balai Besar KSDA Jawa Timur tiba di rumah mereka. Elang tersebut kemudian diserahkan secara sukarela untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Petugas mengidentifikasi burung itu sebagai Elang Tikus (Elanus caeruleus), salah satu raptor yang berperan penting di ekosistem persawahan. Bagi Maheswara, peristiwa itu mungkin hanya sepenggal pengalaman masa kecil, tentang layang-layang yang putus dan seekor burung yang ia tolong. Namun di balik itu, ada pelajaran sederhana yang jarang diajarkan di ruang kelas, bahwa kepedulian bisa muncul kapan saja, bahkan dari tangan kecil seorang anak. Di tengah berbagai cerita tentang ancaman terhadap satwa liar, kisah ini hadir dengan nada berbeda. Tidak heroik, tidak pula dramatis. Hanya tentang seorang anak yang memilih peduli dan sebuah keluarga yang memutuskan melakukan hal yang benar. Sumber : Adnan Aribowo dan Fajar Dwi Nur Aji – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BKSDA Kalsel Bersama Balai Karantina Kalsel Berhasil Mengamankan Penyelundupan Kura-Kura

Banjarbaru, 7 April 2026 – BKSDA Kalimantan Selatan bersama Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (Karantina) Kalimantan Selatan berhasil mengamankan 179 ekor Kura-Kura yang akan dikirim ke Surabaya, pada hari Selasa (7/4). Pengamanan dilakukan setelah petugas Balai Karantina Kalimantan Selatan menerima informasi dari pihak ekspedisi terkait adanya paket mencurigakan yang diduga berisi hewan hidup. Oleh pengirimnya, barang-barang tersebut hanya disebut sebagai “paket” tanpa keterangan lebih rinci mengenai isi sebenarnya. Setelah dilakukan pembongkaran terhadap 8 (delapan) koli paket oleh petugas Polhut BKSDA Kalimantan Selatan yang terdiri dari Alfian Soehara, M. Fajerian Noor, Indra Dwinur Rachmad, dan Muhammad Zain Arrasyid, bersama Balai Karantina, ditemukan Kura-Kura hidup yang dikemas dalam kondisi tidak sesuai dengan standar kesejahteraan hewan. Selain itu, pengiriman tersebut juga tidak dilengkapi Sertifikat Kesehatan Karantina sebagaimana dipersyaratkan dalam lalu lintas domestik komoditas hewan dan ikan. Berdasarkan hasil identifikasi, Kura-Kura yang diamankan terdiri dari 148 ekor Kura-Kura Batok (Cuora amboinensis) yang termasuk Appendix III, 29 ekor Kura-Kura Pipi Putih (Siebenrockiella crassicolis) yang juga termasuk Appendix III, serta 2 ekor Kura-Kura Byuku (Orlitia borneensis) yang berstatus dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Dilindungi. Setiap pengiriman atau lalu lintas satwa liar wajib dilengkapi izin serta dokumen pendukung, seperti Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Liar Dalam Negeri (SATS-DN) dari BKSDA setempat, guna mencegah perdagangan ilegal serta menjaga kelestarian sumber daya alam hayati. Selanjutnya, seluruh Kura-Kura tersebut telah diserahterimakan kepada BKSDA Kalimantan Selatan untuk penanganan lebih lanjut. Kepala BKSDA Kalimantan Selatan, Agus Ngurah Kresna Kepakisan, menyampaikan apresiasi kepada Balai Karantina atas sinergi dan koordinasi yang baik dalam pengungkapan kasus ini. Rencananya, satwa-satwa tersebut akan melalui proses observasi dan rehabilitasi sebelum dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya, guna memastikan kondisi kesehatan dan kelayakan hidupnya di alam tetap terjaga. (Ryn) Sumber: Alfian Soehara (Polhut SKW II) - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Rusa Bawean dan Ladang Warga, Di Antara Konflik, Harapan, dan Pilihan yang Tak Sederhana

Gresik, 10 April 2026. Upaya menjaga keberlangsungan Rusa Bawean kembali mengemuka dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Desa Suwari, Kecamatan Sangkapura, Selasa malam, (8/4). Kegiatan ini mempertemukan pemerintah, penggiat konservasi, dan masyarakat dalam satu forum yang membahas isu klasik namun belum selesai, interaksi negatif antara manusia dan satwa liar. Sekitar 50 warga dari enam dusun hadir dalam kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 turut menjadi narasumber, menyampaikan materi terkait kawasan konservasi, jenis satwa dilindungi, serta pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem Pulau Bawean. Dalam pemaparannya, para narasumber menegaskan bahwa Rusa Bawean merupakan satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di pulau tersebut. Statusnya yang rentan membuat keberadaannya sangat bergantung pada kondisi habitat dan tingkat toleransi masyarakat sekitar. Namun, di lapangan persoalan tidak sesederhana itu. Dalam sesi diskusi, warga menyampaikan keluhan yang telah berlangsung lama, keluhan tentang gangguan Babi Hutan terhadap lahan pertanian, serta kerusakan tanaman sengon akibat aktivitas Rusa Bawean. Situasi ini menempatkan masyarakat pada posisi dilematis, di satu sisi diminta menjaga satwa dan di sisi lain harus mempertahankan sumber penghidupan. Menanggapi hal tersebut, tim menyampaikan rencana tindak lanjut berupa pengendalian Babi Hutan melalui pemasangan kandang jebak yang akan dilaksanakan melalui kerja sama dengan lembaga konservasi di Jawa Timur. Sementara itu, penanganan konflik dengan Rusa Bawean masih dalam tahap kajian lebih lanjut. Masyarakat diimbau untuk menerapkan langkah-langkah mitigasi sederhana berbasis pengalaman lokal sambil menunggu kebijakan teknis yang lebih komprehensif. Kegiatan ini sekaligus menegaskan bahwa konservasi tidak bisa berdiri sendiri sebagai agenda ekologis semata. Ia bersinggungan langsung dengan realitas sosial dan ekonomi masyarakat. Tanpa pendekatan yang adil dan partisipatif, upaya pelestarian berpotensi menghadapi resistensi di tingkat tapak. Di Desa Suwari, pertemuan malam itu menjadi cermin dari persoalan yang lebih luas, bagaimana menjaga spesies yang tersisa tanpa mengorbankan kehidupan manusia yang bergantung pada ruang hidup yang sama. Konservasi, pada akhirnya, bukan hanya soal menyelamatkan satwa, melainkan tentang menemukan titik temu antara perlindungan dan keberlangsungan hidup manusia. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kembali Terungkap Di Tanjung Perak, Ratusan Burung Hidup Dalam 22 Kotak Kayu

Surabaya, 9 April 2026. Ratusan burung hidup ditemukan terkurung dalam 22 kotak kayu di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak, Selasa (7/4). Temuan ini berawal dari penertiban yang dilakukan aparat Ditpolairud Polda Jawa Timur terhadap pengangkutan satwa tanpa dokumen karantina di jalur laut Madura–Surabaya. Selanjutnya satwa tersebut diserahkan ke Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur Satpel Tanjung Perak. Pada hari yang sama, Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak melakukan evakuasi untuk penanganan lanjutan. Hasil pemeriksaan menunjukkan sedikitnya 287 individu burung dalam kondisi hidup. Rinciannya, 284 ekor Kucica Kampung (Copsychus saularis) dan 3 ekor Sikatan Bakau (Cyornis rufigastra). Seluruhnya dikemas rapat dalam peti kayu berukuran kecil, yang diduga digunakan untuk memudahkan mobilisasi dalam jumlah besar. Meski seluruh burung ditemukan dalam kondisi hidup, sebagian menunjukkan tanda stres akibat kepadatan dan keterbatasan ruang selama pengangkutan. Penanganan awal difokuskan pada stabilisasi kondisi satwa, termasuk pemeriksaan kesehatan dan pemberian pakan. Berdasarkan informasi awal, burung-burung tersebut berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan diangkut melalui jalur laut menuju Jawa Timur. Pengiriman dilakukan tanpa dilengkapi dokumen karantina sebagaimana dipersyaratkan dalam peraturan perundang-undangan. Seorang pria berhasil diamankan dan dimintai keterangan. Ia diketahui berperan sebagai nahkoda kapal yang mengangkut satwa tersebut. Pemeriksaan awal mengarah pada dugaan pelanggaran Pasal 88 huruf a dan c juncto Pasal 35 ayat (1) huruf a dan c Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, terkait lalu lintas media pembawa tanpa dokumen resmi. Meski jenis burung yang diamankan tidak termasuk satwa dilindungi dan tidak tercantum dalam Appendix CITES, namun setiap pergerakan satwa lintas wilayah tetap wajib memenuhi ketentuan karantina. Ketentuan ini tidak hanya berkaitan dengan aspek legalitas, tetapi juga untuk mencegah penyebaran penyakit serta menjaga stabilitas ekosistem. Seluruh satwa saat ini telah dipindahkan ke Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Surabaya. Di lokasi tersebut, burung-burung menjalani observasi, perawatan, serta proses rehabilitasi sebelum diputuskan langkah penanganan berikutnya. Peristiwa ini menambah daftar panjang pengungkapan pengangkutan satwa liar dalam skala besar melalui jalur laut Jawa Timur. Dalam beberapa tahun terakhir, jalur antarpulau kerap dimanfaatkan sebagai rute distribusi karena relatif sulit terpantau secara menyeluruh. Bagi sebagian orang, burung-burung ini mungkin sekadar komoditas. Namun bagi ekosistem, setiap individu memiliki peran dalam menjaga keseimbangan alam, dari penyebaran biji hingga pengendalian serangga. Di balik 22 kotak kayu itu, tersimpan satu gambaran yang lebih besar, bahwa praktik pemanfaatan satwa liar illegal yang masih bergerak di ruang-ruang sunyi, menunggu untuk kembali terungkap. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kisah Landak Jawa Dari Dusun Tobalan, Edukasi Tidak Ada Kata Terlambat

Pamekasan, 8 April 2026. Seekor Landak Jawa kini terkurung di kandang transit sederhana di Kantor Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Ia tampak tenang, bahkan cenderung jinak, sikap yang justru menjadi masalah bagi satwa liar yang seharusnya menjaga jarak dari manusia. Satwa itu bukan datang sendiri. Sekitar sebulan lalu, di tegalan Dusun Tobalan, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, seorang petani menemukannya bersama dua individu lain. Ketiganya kemudian dibawa pulang dan dirawat secara sederhana. Tanpa pengetahuan memadai, upaya itu berujung pada kematian dua ekor. Satu-satunya yang bertahan kini menjadi saksi dari rangkaian keputusan yang terlambat. Informasi tentang keberadaan satwa tersebut akhirnya sampai ke seorang warga, Wahyu. Ia tidak langsung melapor. Ia memilih mendekat, memberikan penjelasan tentang status perlindungan satwa liar, tentang risiko memelihara satwa yang bukan untuk dipelihara. Saat ia datang, hanya tersisa satu ekor. Penyerahan dilakukan secara sukarela pada Selasa (7/4). Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan menerima satwa tersebut dalam kondisi hidup, namun dengan perubahan perilaku yang cukup mencolok. “Cukup jinak,” demikian penilaian awal di lapangan. Dalam konteks konservasi, jinak bukan kabar baik. Satwa liar yang terbiasa dengan manusia berisiko kehilangan insting alaminya. Ia bisa kembali ke permukiman saat dilepasliarkan, mencari sumber pakan yang mudah, dan berujung konflik. Karena itu, pelepasliaran tidak bisa dilakukan segera. Dibutuhkan proses rehabilitasi untuk mengembalikan perilaku alaminya. Untuk sementara, landak tersebut ditempatkan di kandang transit di Pamekasan. Rencana berikutnya adalah pemindahan ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) di Sidoarjo, yang memiliki fasilitas dan standar penanganan lebih memadai. Kasus ini bukan yang pertama, dan hampir pasti bukan yang terakhir. Di banyak wilayah, penemuan satwa liar masih kerap diikuti dengan keputusan spontan untuk memelihara, tanpa memahami konsekuensinya. Di sisi lain, meningkatnya penyerahan sukarela menunjukkan adanya celah harapan, kesadaran yang mulai tumbuh, meski sering datang setelah kerugian terjadi. Sumber : Asep Hawim Sudrajat dan Fajar Dwi Nur Aji – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Setelah Tujuh Tahun Dipelihara, Kakatua Dilindungi Akhirnya Diserahkan

Malang, 8 April 2026. Penyerahan sukarela warga membuka kembali peluang penyelamatan salah satu burung paling terancam di Indonesia. Seekor Kakatua Jambul Kuning akhirnya keluar dari ruang sempit yang selama tujuh tahun membatasi hidupnya. Burung dilindungi itu diserahkan secara sukarela oleh seorang warga Jatimulyo, Kota Malang, Senin (6/4). Penyerahan berawal dari laporan yang masuk ke call center Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) Jumat (3/4). Pelapor, seorang warga bernama Rizvanda, menginformasikan rencana penyerahan satwa yang selama ini dipelihara keluarganya. Menurut Rizvanda, burung itu diperoleh dari kerabatnya di Kabupaten Kediri sekitar tujuh tahun lalu. Sejak saat itu, satwa dipelihara di lingkungan rumah tangga. Tiga hari kemudian, tim dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 17 Malang mendatangi lokasi. Mereka melakukan evakuasi sekaligus pendataan terhadap satwa tersebut. Petugas memastikan proses penyerahan dilakukan secara sukarela dan dituangkan dalam berita acara resmi. Tidak ditemukan indikasi transaksi jual beli dalam proses penyerahan tersebut. Saat ini, kakatua tersebut diamankan di kantor RKW 17 Malang untuk menjalani observasi awal. Tahap berikutnya akan menentukan kondisi kesehatan dan perilaku satwa sebelum diputuskan langkah penanganan lanjutan, termasuk kemungkinan rehabilitasi. Kejadian ini kembali menegaskan bahwa Kakatua Jambul Kuning merupakan satwa yang dilindungi undang-undang dan tidak boleh dipelihara secara pribadi. Di alam liar, populasinya terus menurun akibat perburuan dan perdagangan ilegal. Penyerahan sukarela ini menjadi salah satu jalur penting dalam upaya penyelamatan satwa liar. Kesadaran masyarakat dinilai berperan besar dalam memutus rantai kepemilikan satwa dilindungi yang masih terjadi di berbagai daerah. Di Malang, setidaknya satu individu kini memiliki peluang untuk kembali menjalani hidup yang lebih dekat dengan habitat alaminya, sebuah peluang yang tak selalu datang bagi satwa liar yang terlanjur lama hidup dalam kurungan. Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ketika Menyusuri Hutan, Mencatat Kehidupan, dan Menyaksikan Luka Alam di Jantung Sigogor

Ponorogo, 7 April 2026. Matahari belum benar-benar tinggi saat tim Smart Patrol Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo, Seksi Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim), memulai langkah di Cagar Alam Gunung Sigogor, Rabu (1/4). Bersama mereka, sejumlah mahasiswa Biologi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ikut menyusuri blok Secenthong, sebuah ruang belajar yang tak lagi berupa teori, melainkan lanskap hidup yang terus bergerak. Selama tiga hari patroli, tim menelusuri sejumlah grid pengamatan, mencatat potensi keanekaragaman hayati sekaligus kondisi kawasan. Hasilnya, beragam spesies teridentifikasi. Dari kelompok serangga, tercatat kupu-kupu Ancistroides gemmifer. Di lantai hutan, dua jenis keong darat Dzakiya rumphii dan Parmarion ditemukan aktif di antara serasah lembap. Pada strata vegetasi, hutan Sigogor menunjukkan komposisi yang relatif utuh. Jenis-jenis pohon seperti Pasang (Lithocarpus elegans), Nyampuh (Pygeum parviflorum), dan Cemara Aru (Podocarpus neriifolius) mendominasi tajuk. Di lapisan bawah, tercatat kehadiran Apak (Ficus sp.), Pinang Piji (Pinanga coronata), serta jenis pionir seperti Macaranga sp. dan Dodonaea viscosa. Pada kayu lapuk, jamur Xylaria telfairii dan Lentinus sajor-caju menunjukkan proses dekomposisi yang masih berjalan. Satwa vertebrata juga teramati. Seekor elang terlihat melayang di atas kanopi. Di strata tengah, burung Cendani dan Tulum Tumpuk terdengar aktif. Sementara itu, satu individu ular Bandotan Pohon ditemukan pada vegetasi rendah, menunjukkan keberadaan predator pada rantai trofik kawasan tersebut. Namun patroli tidak hanya mencatat kehidupan. Pada grid 120, tim menemukan longsoran tanah dengan estimasi panjang sekitar 150 meter dan lebar 30 meter. Area terbuka tersebut memutus vegetasi dan berpotensi memengaruhi stabilitas lereng di sekitarnya. Selain itu, dari 19 pal batas yang teridentifikasi, sebagian dalam kondisi kurang baik, roboh, aus, atau tidak lagi terbaca. Di tengah kegiatan, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pengamat. Mereka terlibat dalam pencatatan, identifikasi lapangan, serta diskusi langsung dengan petugas mengenai kondisi ekosistem. Interaksi ini mempertemukan pendekatan akademik dengan pengalaman praktis di lapangan. Patroli ini menjadi bagian dari upaya rutin pengamanan kawasan sekaligus penguatan fungsi edukasi konservasi. Keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap dinamika ekosistem sekaligus menumbuhkan kesadaran konservasi sejak dini. Cagar Alam Gunung Sigogor, dengan segala kekayaan hayatinya, masih menyimpan banyak hal untuk dipelajari. Namun temuan longsor dan kondisi batas kawasan menjadi pengingat bahwa pengelolaan kawasan konservasi membutuhkan perhatian berkelanjutan. Di Sigogor, hutan tidak hanya menyediakan data. Ia juga menghadirkan pelajaran, tentang keseimbangan, kerentanan, dan tanggung jawab yang menyertainya. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Rimbawan Mengajar Sambangi Madrasah Ibtidaiyah Islamiyah Dermojayan

Blitar, 7 April 2026. Dengan slogan “Sehari Mengajar, Selamanya Cinta Lingkungan”, Rimbawan Mengajar kembali digelar di wilayah kerja Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah (SKW) I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Kali ini dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Islamiyah Dermojayan, Kabupaten Blitar (02/04/2026). Beberapa bulan sebelumnya, petugas Resort Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah (RKW) 02 Blitar telah melaksanakan koordinasi dengan Kepala MI Islamiyah Dermojayan. Koordinasi tersebut bertujuan memperkenalkan program Rimbawan Mengajar dan mengatur jadwal pelaksanaan kegiatan. Jadwal yang disepakati adalah minggu pertama setelah lebaran. Kegiatan diawali dengan memperkenalkan profil singkat dan tugas pokok BBKSDA Jawa Timur. Perkenalan tersebut disampaikan Ruky Umaya, Kepala SKW I Kediri kepada 85 siswa yang hadir. Ruky Umaya memperkenalkan tugas-tugas yang mulia di bidang kehutanan dan mengajak para siswa kelas 4, 5, dan 6 untuk bersama-sama ikut menjaga lingkungan dan keanekaragaman hayati disekitar mereka. Materi pembelajaran disampaikan oleh Tim Rimbawan Mengajar, yaitu Siti Nurlaili (PEH), Kiswanto (PEH), Ardiansyah (Polhut), dan Akhmad David (Polhut). Yakni pengenalan profesi dan tugas pejabat fungsional Polisi Kehutanan (Polhut), Pengendali Ekosistem Hutan (PEH), dan Penyuluh Kehutanan. Ketiga profesi tersebut menjadi cerminan dari tiga pilar pengelolaan kawasan konservasi, yaitu perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan. Selain itu juga disampaikan mengenai kehutanan secara umum, keanekaragaman hayati, rantai makanan, dan perlindungan satwa liar. Tim Rimbawan Mengajar juga mengundang Perum Perhutani dari KPH Blitar untuk memberikan materi edukasi kehutanan dan mengenalkan profesi kehutanan lainnya. Budi, Polisi Kehutanan KPH Blitar, menyampaikan tugas-tugas dari instansinya, diantaranya menjaga kawasan dari kebakaran, perburuan liar, penggembalaan liar, dan kegiatan lainnya yang dapat merusak ekosistem hutan. Para siswa semakin bersemangat saat diberikan sesi praktikum dan diskusi sederhana. Praktikum yang diberikan berupa peragaan proses terjadinya banjir, pembuatan rantai makanan, dan membuat ulasan dari film pendek animasi tentang kehidupan burung sebelum dan sesudah diburu dan diperdagangkan. Saat sesi diskusi, para siswa diberikan kesempatan untuk bertanya dan menjawab kuis dari pemateri. Siswa yang aktif bertanya dan menjawab pertanyaan akan diberikan hadiah yang menarik. Kepala MI Islamiyah Dermojayan dan para guru pendamping memberikan apresiasi atas program Rimbawan Mengajar BBKSDA Jawa Timur. Mereka berharap agar program pendidikan lingkungan sejak dini tersebut dapat dilaksanakan kembali di sekolahan mereka dengan target siswa kelas 1, 2, dan 3. Harapan tersebut disambut baik oleh Kepala SKW I Kediri dan akan membuat jadwal Rimbawan Mengajar selanjutnya. Sumber: Akhmad David Kurnia Putra dan Ardiansyah (Polisi Kehutanan) - SKW I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bagaimana Kabar Komodo?

Biawak Komodo atau dalam dunia ilmiah dikenal dengan nama Varanus komodoensis adalah salah satu satwa kebanggaan bangsa Indonesia. Komodo adalah satwa endemik Indonesia atau secara spesifik hanya ada di wilayah Flores dan pulau satelitnya. Dalam konteks konservasi di tingkat global, berdasarkan IUCN Red List, Komodo berstatus Endangered atau terancam punah karena ancaman degradasi habitat dan perburuan ilegal. Komodo juga terdaftar dalam Appendix I CITES (satwa yang tidak boleh diperdagangkan dalam bentuk apa pun). Di Indonesia sendiri, Komodo merupakan satwa yang berstatus dilindungi berdasarkan Undang-Undang Konservasi Keanekaragaman Hayati. Selain unik karena bentuk dan morfologinya yang mirip satwa Jurassic (walaupun komodo sebenarnya mulai berkembang evolusinya setelah 60 juta tahun pasca kepunahan Dinosaurus), satwa ini juga sangat unik karena merupakan kadal terbesar di dunia, serta dapat berkembang biak tanpa dukungan pembuahan dari individu jantan (partogenesis). Bobot tubuh komodo dapat mencapai 90 Kg dengan panjang tubuh kurang lebih 3 meter. Usia komodo dapat mencapai lebih dari 40 tahun. Saat ini, populasi Komodo hanya tersebar di wilayah Flores Utara, Barat dan sedikit ke selatan, serta di wilayah yang saat ini merupakan kawasan Taman Nasional Komodo. Informasi sebaran ini didasarkan pada temuan pemasangan kamera jebak (trap camera) dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan paparan yang disampaikan oleh Deni Purwandana (Komodo Survival Program) dalam sosialisasi Strategi dan Rencana Aksi Konservasi (SRAK) Komodo, Populasi komodo retalif stabil dalam 20-an tahun terakhir. Walaupun, menurut Deni, terdapat pengurangan wilayah sebarannya secara signifikan jika dibandingkan dengan data sebaran alaminya pada tahun 1981, yang merupakan kesimpulan dari hasil survei Walter Auffenberg. Menurut Ahmad Munawir (Direktur Konservasi Spesies dan Genetik Kementerian Kehutanan), saat ini populasi Komodo berada pada rentang 3.270 +/- 371 individu di dalam wilayah Taman Nasional Komodo. Adapun di wilayah Pulau Flores, masih terdapat populasi sekitar 701 +/- 131 individu, serta 177 individu Komodo yang berada pada areal konservasi eksitu. Munawir juga menambahkan bahwa konservasi Komodo menghadapi berbagai tantangan, diantaranya keberadaan spesies invasif (anjing liar) di habitat alami Komodo, perburuan ilegal, perburuan satwa mangsa Komodo terutama Rusa, Konflik satwa. dan manusia, perencanaan wilayah yang belum sinkron serta degradasi habitat.
Baca Artikel

Cerita Kolaborasi Menjaga Bawean Tetap Lestari

Bawean, 7 April 2026. Pagi baru saja menyentuh Pulau Bawean ketika suara anak-anak mulai memenuhi ruang kelas di Desa Kumalasa. Di balik kesederhanaan bangunan sekolah dasar itu, sebuah gagasan besar tengah ditanamkan, tentang bagaimana masa depan satwa liar, bahkan nasib sebuah spesies endemik, bisa bergantung pada pemahaman generasi paling muda. Pada Selasa (6/4), Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia (ABI) melaksanakan kegiatan penguatan kesadaran konservasi yang menjadi bagian dari strategi mitigasi konflik antara manusia dan satwa liar. Fokusnya tidak semata pada perlindungan, tetapi juga pada membangun hubungan baru antara manusia dan alam, dimulai dari ruang-ruang pendidikan. Di hadapan siswa sekolah dasar, konsep konservasi diterjemahkan menjadi tindakan sederhana: tidak berburu, tidak merusak habitat, dan menjaga kebersihan lingkungan. Namun di balik pesan-pesan itu, tersimpan urgensi yang lebih dalam. Pulau Bawean adalah rumah bagi Rusa Bawean, spesies endemik yang hanya bertahan di pulau ini dan menghadapi tekanan dari perubahan lanskap serta interaksi dengan manusia. Edukasi menjadi pintu masuk. Anak-anak, yang selama ini menjadi saksi perubahan di sekitar mereka, diposisikan sebagai agen perubahan, penjaga masa depan yang belum sepenuhnya mereka pahami, tetapi mulai mereka kenali. Beberapa kilometer dari sana, di Desa Suwari, realitas yang lebih kompleks terbentang. Di wilayah ini, batas antara habitat satwa liar dan ruang hidup manusia semakin tipis. Ladang pertanian bersinggungan langsung dengan jalur jelajah satwa, menciptakan potensi konflik yang tak terhindarkan. Tim kemudian beralih dari pendekatan edukatif ke pendekatan sosial. Bersama pemerintah desa, mereka mengidentifikasi kelompok masyarakat yang paling terdampak, petani yang lahannya bersentuhan dengan habitat, serta kelompok masyarakat yang memiliki relasi historis dengan satwa liar. Diskusi berlangsung dengan pendekatan yang tidak menghakimi. Sebaliknya, strategi komunikasi dirancang untuk memahami realitas sosial-ekonomi masyarakat, sekaligus membangun kesepahaman bahwa konservasi bukanlah pembatas, melainkan jaminan keberlanjutan. Dari pertemuan itu, lahir rencana tindak lanjut, sosialisasi partisipatif yang akan melibatkan sekitar 40 warga, dijadwalkan pada malam hari agar selaras dengan ritme kehidupan masyarakat yang tengah memasuki masa panen. Kegiatan ini menunjukkan satu hal yang kerap luput dari perhatian, bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari kawasan hutan, tetapi dari ruang-ruang interaksi manusia. Dari kelas sekolah, dari balai desa, dari percakapan yang pelan namun berkelanjutan. Di Pulau Bawean, langkah kecil itu sedang dirintis. Sebuah upaya yang mungkin tak terdengar lantang, tetapi menyimpan harapan besar: menjaga harmoni antara manusia dan alam, sebelum konflik menjadi cerita yang terlambat untuk diperbaiki. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bantuan Investasi Ekonomi kepada 14 Kelompok Tani di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut

Deli Serdang, 6 April 2026 – Upaya pemulihan ekosistem di kawasan Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut tidak hanya dilakukan melalui penanaman dan penertiban kawasan, tetapi juga dengan memperkuat ekonomi masyarakat yang berada di sekitarnya. Hal ini terlihat dalam kegiatan Kick Off Pemulihan Ekosistem Tahun di Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut yang digelar oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara, Kamis (2/4). Dalam rangkaian kegiatan tersebut, diserahkan bantuan investasi modal usaha/peningkatan usaha ekonomi senilai Rp 55.000.000 (lima puluh lima juta rupiah) kepada 14 kelompok tani dan kelompok usaha masyarakat di sekitar kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Bantuan ini diarahkan untuk pengembangan usaha produktif yang ramah lingkungan, sehingga masyarakat memiliki alternatif mata pencaharian tanpa harus bergantung pada aktivitas di dalam kawasan hutan konservasi. Pemberdayaan masyarakat menjadi strategi penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan. Salah satu bentuk nyata dari strategi ini adalah pemberian bantuan usaha ekonomi produktif (UEP) yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi tekanan terhadap sumber daya hutan konservasi, sekaligus memperkuat kelembagaan kelompok masyarakat sebagai mitra konservasi. Kepala BBKSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env, menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan ekosistem tidak dapat dilakukan tanpa dukungan masyarakat. “Kami tidak bisa bekerja sendiri. Karena itu melalui program FP 6 yang didukung KfW, kami memberikan bantuan investasi kepada kelompok masyarakat agar mereka dapat ikut menjaga kawasan. Ketika masyarakat mendapat manfaat ekonomi di luar kawasan, maka tekanan terhadap hutan akan jauh berkurang,” ujarnya. Hal senaga disampaikan Direktur Kawasan Konservasi, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si yang menekankan bahwa kawasan konservasi bukan penghalang kesejahteraan masyarakat. “Keberadaan suaka margasatwa justru menjadi sistem penyangga kehidupan masyarakat. Mangrove melindungi dari abrasi, intrusi air laut, hingga menjadi tempat pemijahan ikan yang bernilai ekonomi. Maka pemulihan ekosistem ini harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan warga,” jelasnya. Ragam Usaha Produktif yang Didukung Bantuan modal usaha tersebut dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi lokal, yaitu: 1. Kelompok Tani Secanggang Bertuah-budidaya perikanan ikan kakap putih dan kepiting bakau 2. Kelompok Tani Masyarakat Peduli Mangrove-budidaya perikanan ikan nila dan kepiting bakau 3. Kelompok Tani Sama Jaya Bersahaja-budidaya perikanan udang windu, ikan nila dan kepiting kepiting bakau 4. Kelompok Tani Suka Damai-budidaya penggemukan lembu 5. Kelompok Tani Hutan Gading Hijau- budidaya peternakan domba 6. Kelompok Tani Nelayan Sejati- budidaya peternakan domba 7. Kelompok Tani Gading Berseri- budidaya peternakan domba 8. Kelompok Tani Hutan Harapan Jaya- budidaya penggemukan lembu 9. Kelompok Tani Hutan Maju Jaya-budidaya peternakan kambing 10. Kelompok Usaha Mawar-pengolahan makanan keripik udang kecepe 11. Kelompok Tani Hutan Mangroves Sejahtera- pembangunan homestay wisata mangrove 12. Kelompok Tani Hutan Harapan Indah-alat penggilingan pengolahan padi 13. Kelompok Tani Hutan Indah Bersama-budidaya penggemukan lembu 14. IPANJAR- pengolahan produk makanan mangrove Jenis usaha ini dipilih karena dinilai selaras dengan upaya konservasi mangrove, tidak merusak lingkungan, serta memiliki nilai ekonomi yang dapat langsung dirasakan masyarakat. Masyarakat sebagai mitra konservasi Melalui dukungan modal usaha ini, masyarakat diharapkan bertransformasi dari yang sebelumnya bergantung pada pemanfaatan kawasan, menjadi mitra konservasi yang aktif menjaga kelestarian mangrove. Skema pemberdayaan ini menjadi bagian penting dari strategi jangka panjang pemulihan ekosistem di SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut, yang diketahui mengalami kerusakan sekitar 22 persen akibat alih fungsi lahan menjadi sawit dan tambak. Dengan adanya alternatif sumber penghasilan, pemerintah berharap siklus perambahan kawasan dapat dihentikan, dan pemulihan ekosistem yang telah dilakukan tidak kembali rusak. Program ini menunjukkan bahwa konservasi mangrove dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Sumber: Eva Suryani Sembiring, S.Hut (Penyuluh Kehutanan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Mengetuk Kesadaran dari Rumah ke Rumah, Ikhtiar Kecil Menjaga Satwa Besar di Bawean

Bawean, 5 April 2026. Di sebuah sudut tenang Desa Suwari, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, upaya konservasi tidak selalu hadir dalam bentuk patroli atau operasi penegakan hukum. Kadang, ia datang dengan cara yang lebih sederhana, mengetuk pintu rumah warga, menyapa, dan menitipkan pesan tentang masa depan satwa yang hidup berdampingan dengan manusia. Pada Kamis (2/4), Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mendampingi kegiatan Yayasan Alam Biodiversitas Indonesia (ABI) dalam rangka sosialisasi dan edukasi konservasi kepada masyarakat setempat. Kegiatan ini difokuskan pada penguatan kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga kelestarian satwa liar, khususnya Rusa Bawean, satwa endemik yang hanya dapat ditemukan di pulau ini. Alih-alih pendekatan formal yang berjarak, tim memilih cara yang lebih membumi. Edukasi dilakukan secara langsung dari rumah ke rumah. Brosur dibagikan, percakapan dibangun, dan pemahaman ditumbuhkan secara perlahan. Di sinilah konservasi menemukan wajahnya yang paling manusiawi: dialog. Di titik lain desa, sebuah banner dipasang di saung sederhana milik warga, lokasi yang kerap menjadi ruang temu dan berbagi cerita. Banner itu bukan sekadar media informasi, melainkan pengingat visual bahwa keberadaan Rusa Bawean bukan hanya tanggung jawab petugas, tetapi juga bagian dari identitas dan masa depan masyarakat Bawean itu sendiri. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa batas antara ruang hidup manusia dan satwa semakin tipis. Di belakang permukiman warga, tim bersama masyarakat menemukan tanda aktivitas babi kutil, jejak yang menjadi sinyal bahwa interaksi manusia dan satwa liar tidak lagi dapat dihindari. Situasi ini menjadi pengingat penting bahwa konservasi hari ini tidak hanya berbicara tentang perlindungan, tetapi juga tentang bagaimana membangun harmoni dan mitigasi konflik secara bijak. Respon masyarakat Desa Suwari menunjukkan secercah harapan. Edukasi yang disampaikan secara langsung membuka ruang pemahaman baru, bahwa menjaga satwa liar bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan investasi ekologis bagi generasi mendatang. Di Pulau Bawean, konservasi tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kesadaran bersama. Dari percakapan sederhana di beranda rumah, dari banner yang terbaca setiap hari, hingga dari jejak-jejak satwa yang diam-diam mengingatkan bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni pulau ini. Karena pada akhirnya, masa depan satwa endemik Bawean tidak hanya ditentukan oleh seberapa kuat pengawasan dilakukan, tetapi oleh seberapa dalam kesadaran itu berakar di hati masyarakatnya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Aksi Bersih dan Kampanye Lingkungan Warnai Pagi di Benteng Selayar

Selayar, 6 April 2026. Pagi ini, Senin (6/4), suasana Lapangan Pemuda Benteng tampak berbeda. Minggu (05/04/2026), puluhan relawan mulai berdatangan sejak pukul 07.00. Mereka bukan sekadar berkumpul. Ada misi besar yang diusung: menyelamatkan Taman Nasional Taka Bonerate. Kegiatan bertajuk Street Campaign itu langsung menyedot perhatian warga sekitar. Para mahasiswa dan pegiat lingkungan dengan antusias membagikan leaflet. Isinya detail tentang potensi kawasan konservasi dan sistem zonasi. Stiker bergambar terumbu karang dan biota laut pun turut dibagikan. Namun, tak hanya sekadar kampanye. Aksi bersih-bersih digelar serentak. Sampah plastik, dedaunan kering, hingga sedotan dipungut satu per satu. Lapangan yang sempat kotor perlahan berubah rapi. "Kami ingin memberi contoh nyata," ujar Namirah salah satu Mahasiswa UNHAS Fahutan, Magang. Kegiatan ini lahir dari kolaborasi tiga entitas. Pertama, Mahasiswa UNHAS Fakultas Kehutanan Prodi Konservasi. Kedua, Saka Wanabakti. Ketiga, Green Youth Movement simpul belajar Taka Bonerate. Energi muda mereka menyatu. Tujuannya sederhana: mengajak masyarakat lebih peduli pada ekosistem laut yang kaya, sekaligus menjaga kebersihan ruang publik. Pagi di Benteng Selayar pun terasa lebih bermakna. Sumber: Asri (Humas/ PEH Ahli Muda) - Balai TN Taka Bonerate dan Foto by UNHAS Fahutan, Saka Wanabakti, GYM Taka Bonerate
Baca Artikel

Diduga Lepas dari Peliharaan, Serak Jawa Diselamatkan Tim Matawali di Bangkalan

Bangkalan, 6 April 2026. Seekor Serak Jawa atau Tyto alba ditemukan dalam kondisi terluka di Kelurahan Keraton, Kecamatan Bangkalan, Kabupaten Bangkalan, Jumat malam, 3 April 2026. Satwa tersebut sebelumnya dilaporkan warga setelah terlihat di pinggir jalan dan dikejar sejumlah orang. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) merespons laporan tersebut pada malam yang sama. Burung hantu berhasil dievakuasi dalam kondisi hidup, meski mengalami luka ringan pada bagian sayap. Berdasarkan informasi dari beberapa warga, satwa tersebut diduga berasal dari peliharaan yang terlepas. Burung kemudian ditemukan di area jalan raya saat mencari pakan. Warga yang mengamankan satwa memilih menyerahkannya secara sukarela kepada petugas karena khawatir kondisi burung akan memburuk. Proses evakuasi berlangsung tanpa kendala. Selanjutnya, burung hantu tersebut dibawa ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur untuk menjalani perawatan dan observasi lebih lanjut sebelum diputuskan langkah penanganan berikutnya. Kegiatan ini merupakan bagian dari respons cepat terhadap laporan masyarakat terkait keberadaan satwa liar di luar habitatnya. Kasus ini menambah daftar temuan satwa liar yang diduga berasal dari pemeliharaan masyarakat dan kemudian lepas ke lingkungan. Praktik pemeliharaan satwa liar tanpa pemahaman memadai dinilai berpotensi meningkatkan risiko bagi satwa maupun manusia. Di sisi lain, keterlibatan masyarakat dalam melaporkan dan menyerahkan satwa menjadi faktor penting dalam upaya penyelamatan dan penanganan yang tepat. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Akhmad David Menjaga Satwa dari Ambang Kehilangan Di Hutan Kota Trenggalek

Trenggalek, 6 April 2026. Kabut turun perlahan di antara batang-batang pohon yang menjulang di Hutan Kota Trenggalek. Udara pagi membawa aroma tanah basah, perpaduan antara daun yang membusuk dan kehidupan yang terus berdenyut di bawahnya. Di tempat yang sekilas tampak seperti ruang hijau biasa di tengah kota kecil di selatan Jawa Timur ini, kehidupan liar masih bersembunyi. Tak terlihat, tak terdengar, namun nyata. Di antara akar-akar pohon dan jalur-jalur samar yang hanya dipahami satwa, sebuah perangkat kecil terpasang, diam, nyaris tak kasat mata. Kamera jebak. Ia tidak berburu. Ia tidak mengejar. Ia hanya menunggu. Dan seseorang memasangnya dengan penuh perhitungan. Namanya Akhmad David Kurnia Putra. Bagi sebagian besar orang, hutan adalah kumpulan pohon, namun bagi David, hutan adalah teks panjang yang ditulis dalam bahasa yang tidak diucapkan. Ia membaca jejak kaki di tanah lembab seperti kalimat. Ia memahami arah patahan ranting sebagai tanda pergerakan. Ia mengartikan sunyi sebagai informasi. Sebagai Polisi Kehutanan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur, David bukan sekadar penjaga kawasan. Ia adalah penerjemah, menghubungkan dunia manusia dengan kehidupan liar yang semakin terdesak. Di Trenggalek, tugas itu menemukan bentuknya yang paling subtil. Menempatkan Mata Di Tempat Yang Tepat Memasang kamera jebak bukan pekerjaan acak. Setiap titik adalah hasil analisis, jalur lintasan satwa, sumber air, area pakan, hingga lokasi dengan gangguan manusia minimal. David dan rekannya menyusuri kawasan hutan kota dengan pendekatan ilmiah. Mereka tidak hanya berjalan, mereka mengamati, mencatat, dan memprediksi. Dan satwa selalu memilih jalur efisien,vbegitu prinsip dasar yang mereka gunakan. Di titik-titik tertentu, tanah tampak lebih padat, sering dilalui. Di tempat lain, dedaunan tampak terganggu, tanda aktivitas malam. Di situlah kamera dipasang. Menghadap rendah. Menyesuaikan tinggi tubuh satwa. Memastikan sudut tangkap optimal tanpa mengganggu perilaku alami. Tidak ada ruang untuk kebetulan. Dan Malam Menjadi Panggung! Kehidupan di Hutan Kota Trenggalek tidak berlangsung hanya di siang hari. Ia muncul saat manusia pergi. Saat lampu kota redup. Saat suara kendaraan berganti dengan dengung serangga malam. Di situlah kamera bekerja. Satu per satu, kehidupan yang tersembunyi mulai menampakkan diri. Seekor musang pandan melintas perlahan, berhenti sejenak, mengendus udara. Seekor Monyet Ekor Panjang bergerak cepat di antara lantai hutan dan kanopi. Sepasang Landak Jawa berjalan hati-hati, durinya berkilau terkena pantulan inframerah. Rekaman itu sunyi. Tanpa narasi. Tanpa dramatisasi. Namun justru di situlah kekuatannya! Lebih Dari Sekadar Dokumentasi Bagi Om Dev, panggilan akrabnya, setiap gambar adalah data. Ia tidak hanya melihat apa yang terekam, tetapi juga, waktu satwa muncul, berapa sering ia melintas, bagaimana pola pergerakannya dan apa yang tidak lagi terlihat. Dalam konservasi, absennya suatu spesies sering kali lebih penting daripada kehadirannya. Jika satu jenis tidak lagi muncul di rekaman, itu bisa menjadi tanda awal gangguan ekosistem. “Yang hilang sering kali lebih berbicara daripada yang terlihat,” adalah prinsip yang tak tertulis, namun selalu hadir dalam analisis mereka. Hutan Kota: Fragmen Yang Bertahan Hutan Kota atau dikenal sebagai Huko Trenggalek bukanlah hutan luas seperti taman nasional. Ia adalah fragmen. Sebuah potongan kecil ekosistem yang bertahan di tengah tekanan pembangunan, ekspansi ruang hidup manusia, dan perubahan lanskap. Namun justru karena kecil, ia menjadi penting. Hutan kota seperti ini sering kali menjadi habitat sementara, koridor pergerakan satwa, atau bahkan tempat terakhir bagi spesies tertentu yang melarikan diri dari sangkar buatan manusia untuk bertahan. Apa yang ditemukan Om Dev melalui kamera jebak membuktikan satu hal, bahwa meski di tengah kota, kehidupan liar belum sepenuhnya hilang. Antara Harapan Dan Risiko Namun keberadaan satwa di ruang urban membawa dilema. Semakin dekat satwa dengan manusia, semakin besar potensi konflik. Monyet ekor panjang dapat memasuki permukiman. Musang dapat mendekati area pemukiman untuk mencari pakan. Di sinilah konservasi menjadi kompleks. David tidak hanya bertugas memantau. Ia juga harus memikirkan, mitigasi konflik, edukasi masyarakat, serta menjaga agar keberadaan satwa tidak berubah menjadi ancaman. Konservasi bukan lagi tentang “melindungi dari jauh”, ia menjadi tentang mengelola kedekatan. Kerja Yang Tidak Selalu Terlihat Di balik setiap rekaman, ada kerja panjang yang jarang terlihat publik. Berjalan berjam-jam dalam medan licin. Memasang kamera di tengah hujan. Kembali berminggu-minggu kemudian untuk mengambil data. Sering kali tanpa hasil yang signifikan. Namun konservasi tidak bekerja dalam logika instan. Ia membutuhkan kesabaran, ketekunan dan keyakinan bahwa setiap data kecil memiliki arti besar. Data yang dikumpulkan David bukan hanya untuk hari ini. Ia menjadi dasar untuk perencanaan pengelolaan habitat, pengambilan kebijakan konservasi, hingga strategi perlindungan jangka panjang Dari pola kemunculan satwa, bisa diprediksi, apakah habitat masih layak, apakah terjadi tekanan atau apakah diperlukan intervensi. Dalam dunia konservasi modern, data adalah kompas dan kamera jebak adalah salah satu alat navigasinya. Salah satu hal yang disadari David dalam pekerjaannya adalah manusia tidak bisa dipisahkan dari ekosistem ini. Hutan kota bukan kawasan tertutup. Ia hidup berdampingan dengan masyarakat dan menjadi penyeimbang kehidupan mereka. Maka pendekatan konservasi di Trenggalek tidak bisa hanya bersifat teknis. Ia harus sosial dan edukasi menjadi bagian penting untuk mengenalkan satwa kepada masyarakat, membangun kesadaran, dan mengubah persepsi dari “ancaman” menjadi “warisan bersama”. Hening Yang Menentukan Di dunia yang semakin cepat, pekerjaan seperti ini tampak lambat. Namun justru di dalam kelambatan itulah masa depan ditentukan, bahwa setiap kamera yang dipasang adalah bentuk perlawanan kecil terhadap kehilangan. Setiap data yang dikumpulkan adalah langkah untuk memahami sebelum terlambat. Akhmad David tidak bekerja di panggung besar. Ia bekerja di ruang sunyi. Namun dari ruang sunyi itulah, keputusan besar lahir. Jejak Yang Tidak Terhapus Suatu malam, kamera jebak kembali merekam. Seekor landak berjalan pelan, berhenti, lalu melanjutkan langkahnya, tak ada yang melihat, tak ada yang tahu, kecuali kamera itu. Dan seseorang yang nanti akan membaca rekamannya. Di situlah arti pekerjaan ini. Bukan untuk dilihat banyak orang. Bukan untuk mendapat sorotan, melainkan untuk memastikan bahwa kehidupan itu, sekecil apa pun, setersembunyi apa pun, masih punya ruang untuk bertahan. Dan selama kamera-kamera itu masih terpasang di Hutan Kota Trenggalek, selama masih ada yang membaca jejak-jejak sunyi itu, maka harapan belum benar-benar hilang. Kisah Akhmad David di Trenggalek adalah potret konservasi masa kini, bukan tentang hutan yang jauh, melainkan tentang kehidupan liar yang bertahan di dekat kita. Ia mengingatkan bahwa, konservasi tidak selalu besar, tidak selalu dramatis, namun selalu penting. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 353–368 dari 2.515 publikasi