Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Bojonegoro Menuju Panggung Dunia, Geopark Petroleum Pertama Indonesia Diuji UNESCO

Bojonegoro, 14 November 2025. Dari perut bumi yang menyimpan sejarah minyak bumi tua, hingga hutan jati, rusa timor, dan kearifan budaya Samin, Bojonegoro kini menapaki jalan menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark. BBKSDA Jawa Timur menjadi garda terdepan memastikan kekayaan hayati tetap terjaga di tengah geliat geopark bertaraf internasional. Gaung komitmen konservasi menggema dari ruang rapat Bappeda Bojonegoro, 12–13 November 2025, ketika para pakar geologi, peneliti, kementerian, hingga assesor UNESCO berkumpul untuk membahas kelengkapan dossier dan kesiapan lapangan Geopark Bojonegoro menuju predikat Aspiring UNESCO Global Geopark (UGGp). Di tengah ambisi besar ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur menegaskan peran penting kekayaan hayati, mulai dari penangkaran rusa timor di KPH Parengan, bentang hutan jati, hingga situs-situs biosfer, sebagai fondasi utama keberlanjutan geopark yang bertaraf internasional. Rapat koordinasi yang dipimpin Asisten Bupati Bidang Perekonomian itu menghadirkan jajaran kementerian meliputi Kementerian PPN/Bappenas, Kementerian ESDM, Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, organisasi perangkat daerah Bojonegoro, tim Geopark Bojonegoro, hingga assesor UNESCO. Kepala Bappeda Bojonegoro memaparkan perjalanan panjang Geopark Bojonegoro sejak 2017. Dengan cakupan administrasi yang melingkupi seluruh wilayah kabupaten, Bojonegoro menjadi satu-satunya geopark di Indonesia yang mengangkat tema petroleum dan gas. Saat ini, daerah ini memiliki 16 geosite, 3 biosite, dan 8 cultural site, dari Wonocolo hingga Kayangan Api, dari penangkaran rusa Malo hingga kehidupan masyarakat adat Samin. Momentum penting hadir ketika Geopark Nasional Bojonegoro ditetapkan sebagai 2 besar Aspiring UNESCO Global Geopark 2025, sesuai surat Kementerian PPN/Bappenas. Status ini membuka jalan bagi penilaian tingkat internasional dengan standar yang semakin ketat. BBKSDA Jawa Timur melalui Bidang KSDA Wilayah I dan Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro menekankan pentingnya perlindungan keanekaragaman hayati sebagai elemen inti geopark. Biosite penangkaran rusa timor di KPH Parengan menjadi salah satu indikator keberlanjutan yang kini mendapat sorotan UNESCO. Assesor UNESCO, Prof. Dr. Ir. Mega FR, M.Sc., menekankan perlunya tata kelola yang berkelanjutan, aksesibilitas yang baik, dukungan finansial, jejaring kolaboratif, serta bukti dukung yang terstruktur. Sementara Bappenas menegaskan bahwa menuju geopark global membutuhkan kesiapan data, presentasi, serta verifikasi lapangan yang cermat. Seluruh pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, menyatakan komitmen penuh untuk membawa Geopark Bojonegoro ke level dunia. Dengan sinergi konservasi, geologi, dan budaya, kawasan ini diharapkan menjadi contoh bagaimana kekayaan alam dan manusia dapat berjalan seirama menuju keberlanjutan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Terima Kunjungan Balai KSDA Yogyakarta dalam Program Upskilling Pelayanan Perizinan TSL

Sidoarjo, 12 November 2025. Di tengah suasana mendung di Kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur, langkah-langkah ringan tim dari Balai KSDA Yogyakarta terdengar bersahutan. Mereka datang bukan sekadar membawa berkas dan agenda kerja, melainkan semangat untuk bertukar pengalaman, dan memperkuat jejaring konservasi antar balai (12/11/2025). Kegiatan hari pertama dalam rangka Upskilling Personil Pelayanan dan Perizinan Pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) ini menjadi ruang kolaboratif yang hangat. Tim dari BKSDA Yogyakarta disambut langsung oleh Purwantono, S.Hut., M.P., Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, dan Dr. Ichwan Muslih, S.Si., M.Si., Kepala Bidang KSDA Wilayah II Gresik, bersama jajaran pejabat fungsional dan teknis Balai Besar KSDA Jawa Timur. Turut hadir dalam penyambutan, Rakhmat Hidayat (Polhut Madya/Kepala RKW 07 Surabaya), Fajar Dwi Nur Aji (PEH Muda/Kepala RKW 09 Mojokerto), anggota Pokja P3M (Imam Talkah dan Fajar Hasan Fadli), serta Dodit Ari Guntoro - Koordinator PEH BBKSDA Jatim. Dalam sambutannya, Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember menekankan bahwa semangat konservasi hari ini bukan lagi sebatas menjaga kelestarian tumbuhan dan satwa liar di habitatnya, melainkan juga menghadirkan tata kelola perizinan yang adaptif terhadap perubahan zaman. “Pelayanan konservasi kini harus mampu menjembatani kebutuhan masyarakat dengan prinsip keberlanjutan. Setiap izin yang dikeluarkan adalah bentuk tanggung jawab terhadap ekosistem,” ujar Purwantono. Usai sesi pembukaan, kegiatan berlanjut dengan penjelasan mengenai sistem Sitroom BBKSDA Jawa Timur, pusat kendali data konservasi yang memadukan informasi spasial, kegiatan lapangan, serta sistem pengawasan berbasis digital. Tak berhenti di sana, para peserta juga mendalami mekanisme SIMPLIK (Sistem Informasi Pelayanan dan Perizinan Satwa Liar dan Kawasan Konservasi), inovasi digital yang menjadi tulang punggung pelayanan perizinan pemanfaatan TSL di Jawa Timur. Diskusi berkembang menjadi forum yang hidup. Tim teknis dari kedua balai saling berbagi pengalaman lapangan, terutama dalam pengawasan lembaga konservasi, penangkaran, dan pengendalian peredaran tumbuhan serta satwa liar. Cerita tentang tantangan di lapangan, dari penegakan hukum hingga edukasi masyarakat, menjadi pelajaran berharga yang membuka ruang sinergi lebih luas. Suasana diskusi hari pertama bukan hanya menggambarkan proses belajar antar lembaga, tetapi juga menunjukkan wajah baru birokrasi konservasi yang terbuka, adaptif, dan kolaboratif. Melalui pendekatan berbasis data dan dialog, kedua balai berupaya memperkuat pelayanan publik di sektor konservasi agar lebih efisien, transparan, dan berdampak ekologis. Kegiatan akan berlanjut pada Kamis, 13 November 2025, dengan kunjungan lapangan ke Unit Penangkaran CV. Pasti Sukses, Lembaga Konservasi PDTS Kebun Binatang Surabaya, serta Unit Pengedar TSL CV. Tirta Surya Sri Rejeki sebagai bagian dari agenda kunjungan lapangan dan studi pembelajaran langsung. Sinergi lintas balai ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi terbentuknya sistem pelayanan konservasi yang terintegrasi di seluruh Indonesia, di mana setiap data, kebijakan, dan tindakan di lapangan berpihak pada satu tujuan yaitu untuk menjaga keberlanjutan kehidupan alam dan seluruh makhluk yang bergantung padanya. (dna) Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menilik PEH Keliling Dunia: Menembus Panggung IUCN World Conservation Congress 2025 di Abu Dhabi

Labuan Bajo, 8 Oktober 2025. Muhammad Ikbal Putera, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Taman Nasional Komodo yang saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral pada bidang Parks, Recreation, and Tourism Management di North Carolina State University, Amerika Serikat, kembali menorehkan prestasi membanggakan bagi Indonesia. Ia menjadi salah satu peserta terpilih yang menghadiri IUCN World Conservation Congress (WCC) 2025 yang diselenggarakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada tanggal 9–15 Oktober 2025. Kongres ini merupakan forum konservasi terbesar di dunia yang mempertemukan para ilmuwan, pembuat kebijakan, praktisi lapangan, lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga internasional untuk membahas arah kebijakan global terkait pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan. Tahun 2025 ini, WCC mengangkat tema “Nature, People, and Prosperity: Towards a Resilient Planet”. Dalam kegiatan tersebut, Ikbal berperan aktif pada berbagai kesempatan diantaranya: berperan sebagai facilitation lead volunteer pada Nature-Based Education Pavilion yang dikelola oleh IUCN Commission on Education and Communication (CEC). Melalui peran ini, Ikbal diharapkan membantu jalannya berbagai sesi diskusi tematik yang sebagai moderator dan menyoroti pentingnya pendidikan konservasi berbasis alam dan lingkungan dari berbagai studi kasus dunia yang dipresentasikan selama beberapa hari kegiatan. Ikbal juga mendapatkan undangan khusus mewakili jagawana muda dalam sesi closed-door high level official dialogue, sebuah dialog dua arah yang menggunkaan pendekatan majlis untuk bertukar informasi penting dalam satu forum. Forum ini dipimpin langsung oleh Yang Mulia Razan Khalifa Al Mubarak, Presiden IUCN. Ikbal berkesempatan menyampaikan pidato persuasif selama 2 menit mengenai peran jagawana di tingkat tapak dalam mencegah dampak perubahan iklim melalui intervensi pendidikan generasi muda di Labuan Bajo yaitu Program Ranger Goes to School (RGTS) yang digagasnya pada tahun 2022 dan diselenggarakan hingga kini oleh rekan-rekannya di Balai Taman Nasional Komodo. Ikbal juga diundang sebagai narasumber pada Pavilion IUCN Oceania dan Pavilion Jeju Special Self-Governing Province untuk menghadiri Young Professional Network and membahas Youth Voice Action. Ikbal menyoroti pentingnya keterlibatan jagawana terhadap pengembangan generasi muda di dalam dan sekitar kawasan konservasi, serta bagaimana pendekatan berbasis pendidikan dapat menjadi strategi jangka panjang membangun kepedulian lingkungan dan kelestarian alam. Pesan tersebut mendapat sambutan positif dari peserta kongres pada masing-masing sesi. Selain menjadi peserta aktif, kehadiran Ikbal di WCC 2025 menjadi momentum strategis dalam memperkuat jejaring professional dengan berbagai tokoh penting konservasi Indonesia, di antaranya Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko (Direktur Jenderal KSDAE), Dr. Wiratno (Direktur Jenderal KSDAE 2017-2022), Prof. Jatna Supriatna (Guru Besar Biologi Konservasi Universitas Indonesia), Prof. Dr. Mirza Kusrini (Guru Besar Ekologi dan Konservasi Herpetofauna IPB University), Dr. Dolly Priatna (Direktur Yayasan Belantara), Dr. Muhammad Ali Imron (Forest and Wildlife Program Coordinator WWF Indonesia), dan beberapa tokoh konservasi muda seperti: Rahayu Oktaviani “Mama Owa” peraih penghargaan bergengsi Whitley Awards atas upayanya mendukung konservasi owa di Indonesia. Adapun kesempatan berjejaring dengan tokoh penting konservasi dunia antara lain: Dr. Yu Fai Leung (Profesor Bidang Pengelolaan Pengunjung di Kawasan Konservasi dari Amerika Serikat), Dr. Mahmoud Mohieldin (DirekturEksekutif International Monetary Fund), hingga Presiden Negara Palau, Yang Mulia Surangel Whipps Jr. Ikbal juga menjalin komunikasi langsung dengan perwakilan IUCN Kantor Regional Asia, IUCN Kantor Regional Amerika Utara, dan Kantor Pusat UNESCO. Pertemuan ini membuka peluang kolaborasi internasional bagi pengembangan model pendidikan konservasi di kawasan Situs Warisan Dunia, khususnya Komodo National Park. Selama mengikuti kongres, Ikbal banyak mempelajari praktik terbaik (best practices ) dari berbagai negara dalam mempromosikan konservasi berbasis komunitas dan partisipasi generasi muda. Ia menekankan bahwa keterlibatan langsung masyarakat lokal, terutama generasi muda, merupakan kunci utama menjaga keberlanjutan kawasan konservasi. Ikbal berharap kedepannya akan lebih banyak jagawana muda Indonesia yang akan menghadiri IUCN World Conservation Congress 2029 di Panama. Menurutnya, “Konservasi bukan hanya tentang menyelamatkan alam, tetapi juga tentang menumbuhkan kesadaran manusia agar mampu hidup selaras dengan alam. Forum seperti ini membuktikan bahwa pendidikan, komunikasi, dan kolaborasi lintas negara dapat menjadi katalis perubahan.” Ikbal juga menegaskan bahwa pengalaman mengikuti WCC 2025 memperluas wawasan dan jejaring globalnya untuk mengembangkan Ranger Goes to School (RGTS) menjadi model pendidikan konservasi alam berbasis kawasan yang dapat direplikasi di kawasan konservasi lain di Indonesia dan dunia. Sebagai penutup, Ikbal bersama pembimbing doktornya di North Carolina State University, Dr. Yu Fai Leung, memilih Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko sebagai salah satu promotor eksternal disertasinya yang akan berfokus pada tema “Youth Engagement and Stewardship Pathways in Protected Areas”. Ketiga promotor internal lainnya adalah Dr. Lincoln Larson (Profesor Bidang Wildife Tourism and Protected Areas Management), Dr. Kathryne Stevenson (Profesor Bidang Pendidikan Lingkungan dan Generasi Muda), dan Dr. Bryan Clift (Profesor Bidang Metodologi Kualitatif). Kolaborasi dan dukungan akademik ini diharapkan dapat membantu Ikbal menyelesaikan pendidikan doktornya dalam 2–3 tahun ke depan, sekaligus memperkuat jembatan pengetahuan antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam membangun masa depan konservasi yang berkelanjutan. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita dan Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

BBKSDA Jawa Timur Sosialisasikan SOP Pengelolaan Satwa Hasil Penyelamatan

Sidoarjo, 5 November 2025. Suasana pagi 5 November 2025 di ruang rapat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dipenuhi percakapan antar pemangku kepentingan dari berbagai lembaga penegak hukum dan institusi konservasi. Mereka hadir untuk satu pertemuan strategis, Sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Pengelolaan Satwa Titipan (PESAT). Kegiatan ini menjadi bagian penting dari upaya memperkuat rantai penyelamatan satwa liar ilegal dalam koridor Program Penyelamatan Satwa Liar (MATAWALI), sebuah inisiatif kolaboratif yang sejak beberapa tahun terakhir dipimpin dan digerakkan oleh Kepala BBKSDA Jawa Timur. Paparan utama disampaikan oleh Kepala Bidang Teknis, Nofi Sugiyanto, S.Hut., M.Ec.Dev., M.A., yang menjelaskan bahwa SOP ini telah dirumuskan untuk memberi kejelasan alur, kepastian tindakan, serta standar kesejahteraan satwa yang harus dipegang seluruh jajaran WRU. Di sampingnya hadir Syam Hendrawan, Koordinator Kandang Transit WRU BBKSDA Jawa Timur, yang memberikan perspektif lapangan tentang dinamika penanganan satwa titipan dari detik pertama tiba hingga proses rehabilitasi. Kolaborasi keduanya menjadikan paparan ini hidup. Nofi Sugiyanto menggambarkan struktur kebijakan dan dasar hukum yang melandasi SOP, sementara Syam menuturkan bagaimana satwa yang tiba di kandang transit dilakukan tindakan cepat namun tetap terukur. Dialog teknis itu memperlihatkan bahwa SOP bukan sekadar dokumen administrasi, tetapi perangkat kerja yang memengaruhi nasib satwa-satwa liar yang diselamatkan dari perdagangan ilegal. Sosialisasi ini juga menjadi momentum penegasan arah kebijakan konservasi di Jawa Timur. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menekankan bahwa SOP Pengelolaan Satwa Titipan merupakan kelanjutan langsung dari penguatan Program MATAWALI. “Penyelamatan satwa liar tidak berhenti pada penindakan. Tugas kita adalah memastikan setiap satwa yang masuk dalam tanggung jawab negara mendapatkan perlakuan yang benar, ilmiah, dan manusiawi. SOP ini hadir sebagai komitmen bahwa penyelamatan satwa harus dilakukan dengan standar tertinggi, agar jaring Matawali bekerja seragam dari hulu hingga hilir”, tambahnya. Program Matawali, yang menghubungkan jaringan aparat penegak hukum, instansi teknis, lembaga konservasi, dan masyarakat, telah menjadi andalan Jawa Timur dalam menekan peredaran satwa ilegal. Sosialisasi SOP PESAT melengkapi jejaring itu dengan pedoman baku yang mengatur penerimaan satwa, pemeriksaan medis, karantina, rehabilitasi, hingga keputusan akhir seperti pelepasliaran. Dalam sesi diskusi, para peserta meninjau kembali berbagai kasus nyata, satwa sitaan di bandara, burung-burung yang diselamatkan dari pasar, hingga reptil yang ditemukan dalam penyelundupan antarprovinsi. Setiap kasus menunjukkan bahwa tanpa SOP yang jelas, risiko salah penanganan meningkat, mulai dari aspek medis hingga aspek dan hukum. Dengan lahirnya SOP ini dan penguatannya melalui sosialisasi lintas lembaga, BBKSDA Jawa Timur mempertegas perannya sebagai simpul utama konservasi regional. Program Matawali dan PESAT akan bekerja lebih rapi, WRU lebih terarah, dan setiap satwa yang diselamatkan mempunyai peluang lebih besar untuk kembali ke alam atau mendapatkan tempat yang layak. Kegiatan ini menggarisbawahi satu pesan, bahwa penyelamatan satwa liar bukan hanya kerja teknis, tetapi komitmen moral dan ilmiah untuk menjaga kehidupan yang menjadi bagian dari warisan hayati Indonesia. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Rencana Strategis Direktorat Jenderal KSDAE Tahun 2025-2029

Perencanaan strategis Direktorat Jenderal KSDAE pada tahun 2025-2029 mengusung tema “Mengelola Keanekaragaman Hayati: Mengurangi Ancaman Kepunahan dan Mengoptimalkan Pemanfaatan untuk Produktivitas Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial”. Tema tersebut merupakan pengejawantahan dari tujuan utama konservasi keanekaragaman hayati, baik yang termuat dalam World Conservation Strategy, Convention on Biological Diversity, maupun amanat dalam Undang-Undang Konservasi Hayati. Dalam rangka mendukung Visi dan Misi Presiden Republik Indonesia periode 2025-2029 yaitu “Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045”, Kementerian Kehutanan menetapkan visi menjadikan kawasan hutan sebagai “Entitas Tapak Hutan yang Mengalirkan Manfaat Ekologi, Ekonomi, dan Sosial dalam Mewujudkan Indonesia Maju menuju Indonesia Emas 2045”. Dalam rangka mendukung visi Kementerian Kehutanan, Direktorat Jenderal KSDAE menetapkan visi “Keseimbangan Pengelolaan Keanekaragaman Hayati sebagai Entitas Tapak yang Mengalirkan Manfaat Ekologi, Ekonomi, dan Sosial”. Visi tersebut menggambarkan komitmen untuk mencapai tujuan utama dari upaya konservasi keanekaragaman hayati, serta sebagai panduan umum yang memberikan arah bagi langkah-langkah yang akan ditempuh oleh Direktorat Jenderal KSDAE beserta jajarannya. Serangkaian tindakan atau langkah konkret yang dirancang oleh Direktorat Jenderal KSDAE untuk mencapai visi di atas diuraikan menjadi empat misi. Misi tersebut memberikan arah dan fokus pada kegiatan jangka menengah seluruh unsur organisasi Direktorat Jenderal KSDAE. Bertalian dengan misi Kementerian Kehutanan, maka Misi Direktorat Jenderal KSDAE pada tahun 2025-2029 dirumuskan sebagai berikut: Dalam upaya pencapaian visi tersebut, Direktorat Jenderal KSDAE akan melaksanakan 6 kegiatan dengan 16 Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) sebagai berikut: Target-target tersebut di atas masih bersifat indikatif. Penyesuaian-penyesuaian dapat dilakukan dalam proses penyusunan rencana kerja pemerintah yang bersifat tahunan.
Baca Artikel

Balai TN Kayan Mentarang Merajut Kolaborasi di Perbatasan Krayan - Nunukan

Malinau, 10 November 2025. Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) memiliki luas Kawasan sebesar 1.272.094,62 Ha membentang di 2 Kabupaten yaitu Malinau dan Nunukan yang berada di Provinsi Kalimantan Utara. Di Kabupaten Nunukan sendiri Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki luas sebesar 272.930,16 Ha yang berada di Kecamatan Krayan, Krayan Barat, Krayan Timur, Krayan Tengah, Krayan Selatan dan Lumbis Hulu sepanjang perbatasan Indonesia - Malaysia. Dalam mengelola dan menjaga kelestarian kawasan TNKM di Kabupaten Nunukan terdapat unit pengelola yang bekerja di bawah Balai TNKM yaitu Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan yang saat ini berkedudukan di Kabupaten Nunukan. Sementara itu wilayah kerja di SPTN Wil. I Long Bawan dibagi menjadi 2 (dua) resort pengelolaan yaitu resort Krayan dan Resort Lumbis Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., didampingi Kepala SPTN Wil. I Long Bawan Hery Gunawan, S.Hut. melakukan kunjungan ke wilayah kerja Resort Krayan yang merupakan bagian dari wilayah administrasi kecamatan krayan, pada kunjungan kali ini rombongan melakukan koordinasi ke kantor kecamatan Krayan dan bertemu langsung dengan Camat Krayan yaitu bapak Ronny Firdaus, S.E., M.Si. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan kolaborasi antara Balai TN Kayan Mentarang dengan Pemerintah Daerah kabupaten Nunukan melalui Camat Krayan yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan konservasi. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, Kepala Balai berdialog dengan Ronny Firdaus, S.E., M.Si. mengenai peran masing masing pihak dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi serta upaya dalam penyejahteraan masyarakat adat sekitar kawasan konservasi dalam hal ini Kawasan TNKM di wilayah perbatasan. Ronny Firdaus, S.E., M.Si. menyampaikan “Saya selaku Camat Krayan mengucapkan Selamat Datang buat Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang di Krayan, harapan kami kedepannya agar kedua belah pihak dapat menjaga komunikasi yang baik serta Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dapat memberikan Program Program yang bermanfaat dan lebih intens kepada masyarakat yang bermukim disekitar kawasan TNKM serta dalam pelaksanaan program program tersebut berbasis terhadap pemberdayaan masyarakat adat yang ada di krayan”. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

Wujud Kolaborasi Konservasi dan Keamanan Perbatasan Negara

Malinau, 9 November 2025. Untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antarinstansi dalam upaya perlindungan kawasan konservasi sekaligus pengamanan wilayah perbatasan negara, Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Krayan dan Pos TNI Pengamanan Perbatasan Long Midang, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kunjungan ini bertujuan untuk menjalin komunikasi dan kerja sama antara Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dengan pemerintah daerah serta unsur TNI dalam menjaga kelestarian kawasan hutan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai bersama jajaran melakukan pertemuan dengan pemerintah daerah yaitu Camat Krayan dan unsur TNI yang bertugas di Pos Pengamanan Perbatasan Long Midang. Pertemuan membahas pentingnya sinergi dalam pelaksanaan patroli bersama, pengawasan aktivitas masyarakat di sekitar kawasan hutan, serta langkah-langkah antisipasi terhadap potensi pelanggaran batas wilayah dan aktivitas ilegal lintas negara. Selain itu, Kepala Balai juga meninjau kondisi lapangan di sekitar kawasan konservasi dan wilayah perbatasan untuk memastikan upaya perlindungan berjalan sesuai dengan prinsip konservasi dan keamanan wilayah negara. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun komitmen bersama antara Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dan TNI untuk memperkuat perlindungan kawasan sekaligus menjaga kedaulatan negara di wilayah perbatasan. Sinergi ini menjadi langkah strategis dalam mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang aman, lestari, dan berkelanjutan di wilayah perbatasan Indonesia. Kepala Balai TNKM, Bapak Seno Pramudito, S.Hut., M.E, menjelaskan “Taman Nasional Kayan Mentarang merupakan salah satu kawasan konservasi terluas di Indonesia, dengan luas mencapai 1,27 juta hektare, yang terletak di Provinsi Kalimantan Utara dan mencakup dua kabupaten, termasuk Kabupaten Nunukan dan Malinau. Kawasan ini memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya sebagai habitat beragam flora dan fauna khas hutan hujan tropis Kalimantan, tetapi juga karena sebagian wilayahnya berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Hal ini menjadikan Taman Nasional Kayan Mentarang memiliki fungsi strategis, baik dari sisi ekologis maupun keamanan negara. Kunjungan kami ke wilayah Kecamatan Krayan ini bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan sinergi antara Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, pemerintah daerah, serta TNI yang bertugas di wilayah perbatasan. Dalam pertemuan ini, kami membahas berbagai langkah kolaboratif dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan taman nasional, termasuk pelaksanaan patroli bersama, pencegahan aktivitas ilegal lintas batas, serta peningkatan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan ekosistem di wilayah perbatasan. Melalui sinergi ini, kami berharap upaya perlindungan kawasan konservasi dapat berjalan sejalan dengan upaya menjaga keamanan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Balai Taman Nasional Kayan Mentarang berkomitmen untuk terus menjaga kelestarian hutan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan memastikan bahwa kawasan konservasi di wilayah perbatasan tetap lestari, aman, dan berkelanjutan — demi alam dan kedaulatan bangsa.” Wadanpos Satgas Pamtas Armedyon IV Pahrrayangan, Bapak Mayor Ahmad Hufaizam, menjelaskan ”Saya Wadanpos Satgas Pamtas Armedyon IV Pahrayangan, hari ini mendapat kunjungan dari pihak Balai Taman Nasional Kayan Mentarang dalam rangka koordinasi dan sinergisitas dalam upaya Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Taman Nasioal Kayan Mentarang yang sekaligus merupakan Batas Negara antara Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Negara tetangga Malaysia, dalam pertemuan ini, kami membahas berbagai langkah kolaboratif dalam upaya perlindungan dan pengamanan kawasan taman nasional kayan mentarang, termasuk pelaksanaan patroli bersama, pencegahan aktivitas ilegal lintas batas, serta peningkatan peran masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan dan ekosistem di wilayah perbatasan. Melalui sinergi ini, kami berharap menjadi langkah positif dalam menjalankan fungsi masing masing organisasi sehingga tugas dan tanggung jawab dapat berjalan dengan baik dan lebih efektif, dan pada akhirnya dapat menciptakan keamanan dan kedaulatan bagi Kawasan Konservasi sekaligus Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tentara Nasional Indonesia Melalui Bataliyon Armedyon IV Pahrayangan berkomitmen untuk terus menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta turut menjaga kelestarian hutan, memperkuat kolaborasi lintas sektor, dan memastikan bahwa kawasan konservasi di wilayah perbatasan tetap lestari, aman, dan berkelanjutan”. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

BBKSDA Jatim perkuat Kemitraan Jelang Revalidasi Unesco Global Geopark 2026

Jember, 6 November 2025. Di ruang pertemuan LP2M Universitas Jember terasa seperti perhentian penting dalam perjalanan panjang menjaga wajah bumi yang rapuh. Di dalam ruang tersebut para pemangku kepentingan duduk melingkar, menyimak satu isu yang mengikat kepentingan banyak pihak, masa depan Geopark Ijen menjelang revalidasi Unesco Global Geopark tahun 2026. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), di wakili oleh Wiwin Sepiastini, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Madya, turut hadir memenuhi undangan Kepala Bakorwil V Jember. Pertemuan yang digelar secara hybrid ini mempertemukan jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Bappeda Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, pengelola Ijen Geopark dari dua kabupaten, LP2M Universitas Jember, serta lembaga-lembaga yang memiliki peran strategis dalam konservasi dan pendidikan. Di tengah beragam perspektif itu, semua sepakat bahwa Ijen bukan sekadar lanskap vulkanik, melainkan ruang hidup yang memuat jutaan tahun cerita bumi, rumah bagi spesies endemik, serta laboratorium alam yang harus dijaga agar tetap otentik. Dalam diskusi yang berjalan hampir tanpa jeda, disepakati bahwa penyusunan roadmap menjadi langkah mendasar. Peta jalan ini akan dirumuskan oleh tim kecil yang dipimpin para peneliti Universitas Jember di bawah koordinasi Prof. Hari. Mereka akan menata ulang arah pengembangan geopark, menyelaraskan penelitian, edukasi, tata kelola kawasan, dan pemberdayaan masyarakat. Semua untuk memastikan bahwa Ijen dapat mempertahankan statusnya di hadapan lembaga global yang ketat dalam menilai integritas sebuah geopark. Pembahasan bergerak, menuju identitas publik Ijen. Maskot Si Geo, burung endemik yang lahir dari karakter lanskap dan sejarah geologi kawasan, dipandang sebagai pintu yang dapat membuka kesadaran lebih luas tentang nilai pendidikan geopark. Namun para peserta menyadari bahwa maskot saja tidak cukup, ia memerlukan ruang tampil, kampanye kreatif, dan program literasi yang menjangkau masyarakat luas. Di tengah dinamika itu, muncul dorongan agar edukasi geopark tidak berhenti pada sekolah-sekolah di sekitar kawasan. Ijen harus menjadi ruang belajar yang inklusif, membuka kesempatan bagi generasi muda dari berbagai daerah melalui kegiatan seperti summer camp, eksplorasi ilmiah, dan program literasi lingkungan yang berkelanjutan. Kesadaran publik dipandang sebagai fondasi yang sama pentingnya dengan konservasi fisik kawasan. Bakorwil V Jember kemudian mengajak para peserta membahas rencana kegiatan sarasehan bagi pelajar SMA di Banyuwangi dan Bondowoso. Acara yang akan digelar pertengahan November 2025 di TWA Kawah Ijen ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya penulis-penulis muda yang mampu mengartikulasikan nilai geopark melalui artikel ilmiah populer. BBKSDA Jawa Timur dan Universitas Jember diminta menjadi narasumber, menjembatani ilmu konservasi dengan pengalaman lapangan. Karya terbaik para pelajar nantinya akan dimuat dalam ensiklopedia, menjadikan suara generasi muda sebagai Pertemuan di LP2M UNEJ itu pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar rapat koordinasi. Ia menyerupai ruang perenungan bersama tentang betapa berharganya lanskap vulkanik Ijen, tentang bagaimana edukasi, konservasi, dan kemitraan dapat saling menguatkan. Bagi BBKSDA Jawa Timur, komitmen tetap sama, yaitu memastikan bahwa seluruh proses pengembangan geopark berjalan dalam koridor perlindungan kawasan, keselamatan pengunjung, etika penelitian, dan penghormatan pada kearifan lokal. Ijen akan kembali dinilai dunia. Namun sebelum itu, kita menilai diri sendiri: apakah telah cukup merawat, memahami, dan menyampaikan nilai-nilainya kepada generasi masa depan. Dalam sunyi selepas pertemuan, terasa seperti ada bisikan dari dinding kawah yang jauh di sana, seakan mengingatkan bahwa tugas menjaga bumi bukan hanya urusan lembaga, melainkan kewajiban bersama. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Konservasi Jawa Timur, Jejak Kepahlawanan yang Tak Pernah Padam

Sidoarjo, 10 November 2025. Di Jawa Timur, di mana gugusan pegunungan menorehkan garis biru di cakrawala dan pulau-pulau kecil di utara memanggil angin yang membawa kisah lama. Ada perjuangan yang nyaris tidak pernah tercatat. Perjuangan itu tidak hadir dalam parade besar atau suara trompet. Tetapi dalam langkah para penjaga alam yang menyelusup ke hutan sebelum fajar, yang menyusuri pantai ketika gelombang sedang pasang, dan yang mengetuk pintu rumah warga demi menyampaikan pesan sederhana. Bahwa kehidupan di bumi ini hanya bisa berlanjut jika kita menjaganya bersama. Hari Pahlawan 10 November 2025 memberi jeda yang tepat untuk menengok kembali perjalanan itu. Dengan tema “Pahlawanku Teladanku: Terus Bergerak Melanjutkan Perjuangan,” Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) hadir bukan sekedar sebagai institusi pemerintah, tetapi sebagai wakil dari ratusan jiwa yang mempraktikkan kepahlawanan sunyi setiap hari. Pada jantung tugas pokok dan fungsi konservasi, tim perlindungan kawasan berdiri sebagai garis depan. Polisi Kehutanan menelusuri jalur-jalur yang tak lagi dilalui manusia, membaca perubahan lanskap seperti membaca kalimat yang terhapus angin. Mereka mengenali tanda bahaya dalam lengkung ranting patah, dalam aroma tanah yang berubah, atau dalam diam yang terlalu panjang di hutan musim. Di beberapa patroli, mereka menemukan jejak jerat yang ditinggalkan pemburu malam. Di hari lainnya, mereka memulangkan para burung pemangsa yang terperangkap dalam jerat keserakahan. Di belakang mereka, para Pengendali Ekosistem Hutan bekerja seperti para penjaga ingatan. Mereka mengukur kesehatan ekosistem, mencatat pergerakan satwa dari Bawean hingga Nusa Barung, memantau migrasi burung air di Ujung Pangkah, hingga menilai kembali struktur kanopi hutan yang dipengaruhi perubahan iklim. Catatan-catatan mereka membentuk dasar sains yang menjadi tulang punggung konservasi jangka panjang. Sementara itu, para Penyuluh Kehutanan menapaki ruang sosial dengan cara yang berbeda. Mereka masuk ke rumah-rumah warga penyangga kawasan, berbincang sambil duduk di bale-bale bambu, menjelaskan bahwa menjaga hutan bukan sekadar menjaga pohon, tetapi menjaga musim tanam, menjaga air, menjaga ruang hidup anak cucu. Banyak dari percakapan itu membuahkan gerakan kolektif lingkup desa, yang kemudian bertumbuh menjadi jejaring Masyarakat Mitra Polhut, warga yang memilih ikut menjaga alam bukan karena diwajibkan, tetapi karena merasa bagian darinya. Dari lingkar luar, kader konservasi dan generasi muda datang membawa semangat baru. Mereka memotret burung dengan kamera ponsel, menulis ulang cerita alam di media sosial, mengorganisir aksi bersih pantai, hingga membuat peta kecil rumah-rumah satwa di kampung mereka. Suara mereka, yang dulu sering dianggap kecil, kini menjadi salah satu seruan paling keras dalam gerakan konservasi modern. Seluruh energi ini, yang kadang saling berjauhan tetapi selalu saling menguatkan, berpusat pada arah kerja Balai Besar KSDA Jawa Timur. Alam telah menjadi arena pengabdian kolektif. Dari penyelamatan satwa korban interaksi negatif manusia dan satwa, rehabilitasi elang yang dilepasliarkan kembali ke langit, pemulihan mangrove yang merawat garis pantai, hingga pengelolaan pulau-pulau kecil dengan sains sebagai kompasnya. Pada setiap proses, ada tekad yang sama, yaitu memastikan keanekaragaman hayati tetap hidup. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menyampaikan refleksi yang merangkum esensi perjuangan itu. “Para pahlawan negeri ini mengajarkan kita untuk menjaga sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Konservasi adalah wujud nyata pelajaran itu. Yang kami lakukan bukan sekadar tugas instansi, tetapi panggilan untuk memastikan bumi tetap memberikan kehidupan bagi generasi mendatang. Semangat itu yang terus kami hidupkan dalam setiap patroli, setiap penelitian, setiap dialog dengan masyarakat, dan setiap satwa yang berhasil kembali ke alam.” Pernyataannya menggambarkan bahwa konservasi di Jawa Timur berdiri pada perjumpaan antara sains, keberanian, dan empati, perpaduan yang membentuk fondasi perlindungan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Di akhir setiap hari, ketika cahaya terakhir merayap di celah kanopi, hutan menyimpan kisah-kisah kecil tentang para penjaganya. Kisah tentang penyu yang berhasil menetas karena pantai diamankan, tentang rusa yang kembali terbaca jejaknya di kamera trap, tentang pohon-pohon muda yang ditegakkan kembali setelah badai, dan tentang satwa-satwa yang pulih setelah lama sakit. Kepahlawanan dalam dunia konservasi tidak memiliki panggung megah, tetapi ia memiliki dampak yang tak terukur. Dan selama para penjaga alam Jawa Timur terus bergerak, teladan itu akan selalu hidup, untuk menghubungkan masa lalu yang berani, masa kini yang bekerja, dan masa depan yang ingin tetap hijau. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sinergi Konservasi dan Budaya: Kepala Balai TN Kayan Mentarang Kunjungi Tokoh Adat Lundayeh di Krayan

Malinau, 9 November 2025.Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) melakukan kunjungan ke rumah adat Dayak Lundayeh yang dikelola oleh Elyas Yesaya, seorang budayawan Suku Adat Dayak Lundayeh di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan dan kolaborasi antara Balai TN Kayan Mentarang dengan masyarakat adat yang selama ini hidup berdampingan dengan kawasan konservasi. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat, Kepala Balai berdialog dengan Elyas Yesaya mengenai pelestarian budaya, kearifan lokal, dan upaya perlindungan hutan di wilayah perbatasan. Elyas Yesaya menyampaikan pentingnya menjaga nilai-nilai adat dan budaya Lundayeh, yang sejak lama mengajarkan masyarakat untuk hidup selaras dengan alam. Melalui kunjungan ini, Balai TN Kayan Mentarang menegaskan komitmennya untuk terus membangun sinergi konservasi berbasis budaya lokal, menjaga hutan sekaligus melestarikan warisan budaya masyarakat adat di kawasan perbatasan. Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, S.Hut., M.E., menjelaskan “Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang bukan hanya memiliki kekayaan alam yang luar biasa, tetapi juga menyimpan warisan budaya masyarakat adat yang telah hidup dan menjaga alam ini selama berabad-abad”. Kunjungan kami ke rumah adat Bapak Elyas Yesaya, tokoh dan budayawan Suku Dayak Lundayeh, merupakan bagian dari upaya memperkuat hubungan antara pengelolaan taman nasional dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. Kami percaya, upaya konservasi tidak dapat berjalan sendiri, melainkan harus tumbuh bersama dengan kearifan masyarakat adat yang memahami alam sebagai bagian dari kehidupan mereka. Melalui sinergi ini, kami berharap Taman Nasional Kayan Mentarang dapat terus menjadi ruang hidup yang lestari — tempat di mana alam, budaya, dan masyarakat tumbuh harmonis di wilayah perbatasan negeri.” Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

BBKSDA Jatim Hadir di Kampus UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo

Ponorogo, 4 November 2025. Di sebuah ruang kuliah yang dipenuhi wajah-wajah muda penuh harapan, kisah tentang hutan, satwa, dan masa depan konservasi di tanah air kembali hidup. Pada Selasa, 4 November 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Bidang KSDA Wilayah I Madiun hadir memberikan Kuliah Praktisi bertema “Biodiversitas dan Konservasi Sumber Daya Alam di Ponorogo” kepada mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo. Kegiatan ini bukan sekadar transfer pengetahuan, kegiatan tersebut adalah percikan inspirasi, undangan terbuka bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam menjaga bumi. Para mahasiswa Jurusan Tadris IPA, ditemani para dosen serta jajaran pimpinan fakultas, menyimak langsung dinamika pengelolaan keanekaragaman hayati dan tantangan konservasi di wilayah Ponorogo dan sekitarnya. Dalam sesi pemaparan, materi disampaikan secara komprehensif mulai dari konsep dasar biodiversitas, fungsi ekologis flora-fauna lokal, hingga pendekatan strategis pelestarian. Diskusi kemudian mengalir menyentuh isu-isu hangat, pembangunan dan alih fungsi lahan, peran lembaga konservasi, penangkaran satwa, serta pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar yang berkelanjutan sesuai peraturan perundangan. Suasana dialog berlangsung antusias. Mahasiswa, sebagian besar calon pendidik sains, tak hanya bertanya, mereka menawarkan gagasan. Di tengah diskusi, muncul semangat baru, tentang keinginan UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo untuk memperkuat kolaborasi konservasi bersama BBKSDA Jawa Timur ke depan, dalam bentuk deklarasi komitmen bersama. Upaya ini bukan hanya membangun jembatan antara kampus dan konservasi, namun juga fondasi bagi masa depan. Di tangan generasi muda seperti mereka, benih kepedulian terhadap alam dapat tumbuh menjadi gerakan besar, gerakan yang mencintai bumi, memelihara ekosistemnya, dan memahami bahwa keberlanjutan bukan pilihan, melainkan kewajiban. Dengan langkah kecil di ruang kuliah, sebuah harapan besar tercatat, bahwa hari esok alam Jawa Timur akan dijaga oleh mereka yang hari ini belajar, bertanya, dan mulai peduli. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bersama Hujan, Para Penjaga Alam Menyusuri Rimba Lereng Wilis

Ponorogo, 4 November 2025. Hujan turun perlahan di lereng Gunung Wilis. Tetes-tetes air menimpa daun pasang yang lebar, jatuh berderai di tanah basah, menimbulkan aroma khas humus hutan yang begitu kuat. Kabut pekat menari di antara batang pohon, menutup pandangan, namun tidak menyurutkan langkah para penjaga alam. Di tengah senyap yang hanya dipecah oleh bunyi hujan dan desir angin, mereka melangkah pelan tapi pasti, menyusuri jalur curam dan licin di jantung Cagar Alam Gunung Sigogor. Selama empat hari, dari 28 hingga 31 Oktober 2025, tim dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 06, di bawah Seksi Konservasi Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA Jatim) melaksanakan SMART Patrol di Blok Patak Banteng. Kegiatan ini bukan sekadar patroli biasa. Ia adalah bagian dari kerja ilmiah yang mendalam, mencatat, memetakan, dan memahami denyut kehidupan liar di kawasan konservasi yang menjadi benteng ekosistem Pegunungan Wilis. Dengan peralatan sederhana, jas hujan, GPS, dan aplikasi Avenza Maps serta SMART Mobile, dua tim bergerak ke arah berbeda. Tim A menelusuri grid 201 hingga 245, meliputi area sekitar 7,25 Ha, sedangkan Tim B menyusuri grid 205 hingga 247 seluas 6,22 Ha. Hujan yang tak kunjung reda membuat tanah becek dan jalur semakin berat dilalui, namun langkah mereka tak surut. Setiap titik koordinat direkam, setiap perjumpaan dengan flora dan fauna dicatat dengan teliti, karena setiap temuan berarti data, dan setiap data adalah bukti kehidupan. Dari balik tetesan hujan, hutan Sigogor berbicara dalam bahasa alamnya sendiri. Tim A menemukan berbagai jenis tumbuhan khas hutan pegunungan seperti Pasang (Lithocarpus sp.), Nyampuh (Pygeum parviflorum), Rotan (Calamus sp.), Wesen (Dodonea viscosa), dan Suren (Toona surenii). Sementara Tim B mencatat keragaman vegetasi lain: Kayu Jurang, Apak (Ficus sp.), Morosowo (Engelhardtia spicata), Cemara Gunung (Casuarina junghuhniana), serta dua spesies anggrek liar yang mencuri perhatian Calanthe triplicata di tanah lembap dan Dendrobium sp. yang menempel di batang pohon tua. Di antara gemericik air, beberapa satwa pun muncul sekilas. Seekor Kijang (Muntiacus muntjak) berlari cepat melintasi jalur sempit, sementara dari atas kanopi terdengar kicauan Burung Kapas Gunung (Fulvetta cinereiceps) dan warna mencolok Paok Pancawarna (Hydrornis guajana) yang menembus gelapnya rimba primer. Hutan yang basah oleh hujan seolah hidup, menampilkan denyut kehidupannya di tengah kesunyian. Meski cuaca kurang bersahabat, seluruh kegiatan berlangsung aman dan lancar. Tidak ditemukan adanya gangguan atau ancaman terhadap kawasan konservasi. Namun, sebagaimana semangat para penjaga alam, ketenangan bukan alasan untuk berhenti. Di sela waktu istirahat, tim juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan, menanamkan pesan penting bahwa menjaga hutan berarti menjaga sumber kehidupan. Cagar Alam Gunung Sigogor adalah rumah bagi ribuan spesies, penyangga keseimbangan ekologis lereng Wilis. Melalui kegiatan SMART Patrol, Balai Besar KSDA Jawa Timur terus memastikan kawasan ini tetap lestari dengan pendekatan berbasis sains, menggabungkan teknologi, observasi lapangan, dan semangat konservasi. Hujan yang mengguyur, kabut yang menutupi pandangan, dan medan yang menantang tak pernah menjadi penghalang. Di tengah sunyi rimba dan derasnya hujan, para petugas itu tetap berjalan, karena bagi mereka, setiap langkah di tanah basah Sigogor adalah wujud pengabdian. Di balik kabut, mereka menulis kisah tanpa suara, kisah tentang keteguhan, kesetiaan, dan cinta yang tulus pada alam. Dan di sanalah, di antara rintik hujan yang abadi, jejak para penjaga hutan itu tetap tertinggal, sebagai tanda kehidupan yang terus dijaga. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan Hadir di Seminar Lingkungan Milad MANPALA NAVIRI 2025

Pamekasan, 31 Oktober 2025.Gema semangat konservasi mengalun di aula utama MAN 2 Pamekasan. Dalam rangka memperingati Milad MANPALA NAVIRI (MAN Pecinta Alam), puluhan generasi muda dari berbagai organisasi pecinta alam se-Madura berkumpul untuk satu tujuan, belajar mengenal dan mencintai alam dengan cara yang benar. Kegiatan Seminar Lingkungan ini menghadirkan jajaran Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah (Seksi KSDA Wilayah) IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) turut ambil bagian sebagai pemateri utama. Mereka membawa pesan penting, bahwa mencintai alam bukan sekadar mendaki gunung atau menjelajah hutan, tetapi juga memahami nilai ekologis dan tanggung jawab moral terhadap bumi yang kita pijak. Kepala Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Asep Hawim Sudrajat, membuka sesi dengan paparan tentang profil dan peran strategis BBKSDA Jawa Timur, khususnya di wilayah kerja di Pulau Madura. Melalui materinya, peserta diajak memahami bagaimana institusi konservasi negara bekerja melindungi kekayaan hayati, dari kawasan hutan lindung hingga pantai dan pulau-pulau kecil. Paparan kemudian dilanjutkan oleh Andi Desta, Calon Polisi Kehutanan Ahli Pertama, yang menjelaskan tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAE), dasar hukum, peran, dan upaya pelestarian yang dijalankan negara. Sesi berikutnya diisi oleh Fadli, Calon Polisi Kehutanan Pemula, yang membahas tentang kawasan konservasi, ruang hidup bagi berbagai spesies tumbuhan dan satwa liar yang menjadi warisan alam Nusantara. Menutup sesi diskusi, Didik Sutrisno, Penyuluh Kehutanan, menyampaikan materi berjudul “Menjadi Pecinta Alam yang Baik dan Benar”, sebuah refleksi bagi komunitas muda pecinta alam agar kegiatan eksplorasi tak hanya berorientasi pada petualangan, tetapi juga pada edukasi, etika, dan konservasi. Sebanyak 50 peserta dari kalangan Siswa Pecinta Alam (Sispala), Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala), serta Organisasi Pecinta Alam (Opala) dari Kabupaten Pamekasan dan Sampang hadir mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Diskusi berlangsung hangat, diselingi tanya jawab yang menggugah kesadaran ekologis di kalangan generasi muda Madura. Melalui kegiatan ini, BBKSDA Jawa Timur berharap nilai-nilai konservasi dapat tumbuh di hati para pelajar dan pecinta alam sebagai langkah awal menjaga keberlanjutan ekosistem. Sebab, di pundak generasi muda inilah masa depan hutan, laut, dan satwa liar Indonesia dititipkan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sambut Usia Baru, Balai TN Aketajawe Lolobata Lakukan Aksi Hijau

Sofifi, 2 November 2025— Semangat hijau kembali berdenyut di jantung kota Sofifi, Maluku Utara. Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-21 Taman Nasional Aketajawe Lolobata (TNAL), para pegawai Balai TNAL melaksanakan aksi pembagian bibit MPTS (Multi Purpose Tree Species) sebagai wujud nyata cinta lingkungan. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 2 November 2025 itu dilakukan secara langsung di tengah masyarakat. Tim Balai TNAL turun ke area bundaran Sofifi menyapa warga dan membagikan bibit tanaman MPTS seperti bibit pohon durian, rambutan, tabebuya, dan ketapang kencana. Meski sederhana, aksi ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap alam yang dimulai dari langkah kecil. Miftakhul Huda, salah satu pegawai Balai TN Aketajawe Lolobata, menyampaikan bahwa aksi ini merupakan bentuk kepedulian dan pendekatan sosial kepada masyarakat Kota Sofifi dalam menjaga alam di Maluku Utara, khususnya di Pulau Halmahera. Bersama momentum ini, Huda juga mengungkapkan harapannya untuk TNAL dalam menjaga kelestarian alam. "Selamat ulang tahun ke-21 Taman Nasional Aketajawe Lolobata. Semoga TNAL terus jaya dan tetap semangat dalam menjaga kelestarian kawasan hutan Halmahera, Maluku Utara ", lanjut Huda penuh semangat. Melalui aksi pembagian bibit tanaman, BTNAL mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk ikut menanam pohon, merawat bumi, dan menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan. Bibit-bibit yang ditanam diharapkan dapat tumbuh dengan baik dan menjadi bagian dari upaya bersama untuk melindungi alam serta mendukung keberlanjutan kehidupan di Maluku Utara. Sumber: Tim Humas & Medsos Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata
Baca Artikel

Menanam Kesadaran, Menjaga Kelestarian di Madiun

Madiun, 27 Oktober 2025. Upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya konservasi sumber daya alam hayati kembali digelorakan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama mitra Jaga Satwa Indonesia (JSI) menggelar kegiatan Sosialisasi Peraturan Perundang-undangan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya di The Sun Hotel, Madiun, pada Minggu siang yang hangat dan penuh semangat (26/10/2025). Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB ini difasilitasi oleh Drs. Pudji Wahju Widodo, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Daerah Pemilihan XI (Kabupaten/Kota Madiun dan Kabupaten Nganjuk). Kehadirannya mencerminkan sinergi nyata antara lembaga legislatif dan instansi konservasi dalam memperkuat pemahaman masyarakat terhadap regulasi dan praktik pelestarian alam. Dalam kegiatan ini, tim dari Bidang KSDA Wilayah Madiun menyampaikan berbagai materi kunci, meliputi, Tugas dan fungsi BBKSDA Jawa Timur dalam melindungi dan mengelola kekayaan hayati di seluruh wilayah provinsi Jawa Timur, Peraturan perundangan bidang KSDAE, yang menjadi payung hukum bagi setiap upaya konservasi. Selain itu juga ada program unggulan “Membudayakan Konservasi, Mengkonservasi Budaya”, yang mengajak masyarakat menjaga alam sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya, serta penanganan konflik dan evakuasi satwa liar, sebagai langkah mitigasi untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam. Para peserta yang hadir berasal dari tujuh desa di Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun. Mereka mengikuti dengan antusias, menyimak penjelasan tentang bagaimana peraturan dapat diterapkan secara nyata di lapangan, terutama dalam menghadapi dinamika interaksi manusia dengan satwa liar yang semakin sering terjadi di wilayah pedesaan. Konservasi tak hanya berbicara tentang menjaga satwa dan hutan, melainkan tentang mewariskan kehidupan. Melalui kegiatan ini, Balai Besar KSDA Jawa Timur berharap masyarakat tidak sekadar mengenal aturan, tetapi memahami nilai moral dan ekologis di baliknya. Bahwa setiap upaya pelestarian adalah bentuk rasa syukur atas anugerah alam, dan setiap tindakan sadar konservasi adalah langkah kecil menuju keberlanjutan bumi yang lebih besar. Dalam sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan mitra konservasi seperti Jaga Satwa Indonesia, tumbuh harapan bahwa Jawa Timur akan menjadi rumah yang lestari bagi manusia dan semua makhluk yang berbagi kehidupan di dalamnya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tingkatkan Pengamanan Kawasan Konservasi, BalaiTN Aketajawe Lolobata Audiensi dengan Kapolda Maluku Utara

Sofifi, 20 Oktober 2025 - Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata melaksanakan audiensi dengan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Provinsi Maluku Utara di kantor Polda Maluku Utara. Audiensi ini merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman antara Kementerian Kehutanan dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia tentang kerja sama dalam penegakan hukum di bidang kehutanan. Audiensi tersebut bertujuan untuk memperkuat koordinasi dan sinergi Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dengan Polda Maluku Utara dalam bidang perlindungan dan pengamanan kawasan konservasi. Kepala Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata,, Irwan Efendy, S.Pi., M.Sc., menyampaikan bahawa kolaborasi dengan aparat penegak hukum, khususnya kepolisian, merupakan langkah strategis guna memperkuat perlindungan kawasan taman nasional dari berbagai bentuk ancaman, termasuk perambahan, perburuan satwa liar, dan aktivitas ilegal lainnya. Kapolda Maluku Utara, Irjen Pol. Drs. Waris Agono, M.Si. juga menyambut baik inisiatif tersebut dan menegaskan komitmen Polda Maluku Utara untuk terus mendukung upaya pelestarian sumber saya alam dan keanekaragaman hayati di wilayah Maluku Utara. Audiensi ini diharapkan dapat meningkatkan kerja sama dan sinergisitas antara Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata dan Polda Maluku Utara di bidang perlindungan dan pengamanan kawasan dalam rangka menjaga keberlanjutan fungsi eksosistem, serta mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi yang berkelanjutan dan berkeadilan di wilayah Maluku Utara. Sumber: Tim Medsos Balai Taman Nasional Aketajawe Lolobata

Menampilkan 353–368 dari 2.298 publikasi