Menjaga Akar, Merawat Pesisir, Rapat Rencana Aksi Kelompok Kerja Mangrove Jawa Timur 2026
Surabaya, 10 April 2026. Pagi itu Surabaya belum sepenuhnya panas, saat puluhan orang dari berbagai penjuru Jawa Timur dan Jawa Tengah duduk dalam satu ruangan di sebuah hotel di kawasan Jemursari, Kamis (09/04/26). Mereka datang dengan latar belakang berbeda, pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, pegiat lingkungan, hingga perwakilan masyarakat pesisir. Namun, satu hal menyatukan mereka, kegelisahan yang sama terhadap nasib mangrove.
Di atas kertas, mangrove adalah benteng alami. Ia menahan abrasi, meredam gelombang, menyimpan karbon, dan menjadi rumah bagi beragam kehidupan.
Tapi di lapangan, kisahnya tak selalu seindah definisi. Di banyak tempat, mangrove ditebang, dialihfungsikan, atau sekadar dibiarkan hilang perlahan. Rapat koordinasi itu bukan sekadar agenda formal. Ia lebih menyerupai ruang temu bagi kegelisahan yang lama terpendam.
Ketika lagu Indonesia Raya berkumandang, suasana hening sejenak. Namun selepas itu, diskusi mulai mengalir, kadang terstruktur, kadang mengalir liar, seperti arus pasang di pesisir.
Salah satu suara yang mengemuka datang ketika arahan pembukaan dari Dinas Kehutanan Jawa Timur. Sebuah refleksi sederhana, tapi menohok, dahulu mangrove dipandang sebagai kayu bakar, kini ia menjadi ruang kehidupan, bahkan ruang “healing” bagi manusia modern.
Perubahan cara pandang itu tidak datang dengan sendirinya. Masalahnya bukan hanya pada pohonnya, tapi pada manusianya. Kira-kira begitu pesan yang mengemuka.
Di sinilah titik krusialnya, kelembagaan masyarakat. Di banyak wilayah pesisir, kelompok-kelompok masyarakat sebenarnya sudah terbentuk, nelayan, petani tambak, hingga komunitas lokal. Namun, tidak semuanya memiliki kekuatan yang cukup untuk menjaga mangrove tetap hidup.
Ada yang semangat di awal, lalu melemah. Ada yang kuat secara struktur, tapi rapuh dalam komitmen. Padahal, tanpa mereka, mangrove hanya akan menjadi proyek jangka pendek.
Diskusi hari pertama seperti membuka lapisan demi lapisan persoalan. Dari soal data yang tak sinkron, kebijakan yang belum sepenuhnya membumi, hingga tantangan rehabilitasi yang sering berakhir pada kegagalan. Ada satu angka yang berulang kali terasa seperti tamparan, sebagian besar penanaman mangrove di pesisir gagal tumbuh.
Bukan karena bibitnya buruk. Tapi karena gelombang lebih kuat, arus lebih deras, dan perlindungan terlalu lemah.
Di tengah kompleksitas itu, muncul gagasan yang terasa sederhana namun kuat: “sedekah oksigen.” Menanam mangrove bukan lagi sekadar kewajiban ekologis, tapi menjadi tindakan moral, memberi kehidupan, bahkan kepada mereka yang tak pernah kita kenal.
Keesokan harinya (10/04/26), diskusi berpindah dari ruang berpendingin udara ke tanah yang lebih nyata, Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar. Di sana, peserta tidak lagi berbicara dalam istilah kebijakan. Mereka berjalan di antara akar-akar yang mencengkeram lumpur, melihat langsung apa yang selama ini hanya menjadi bahan presentasi.
Sekitar 74 jenis mangrove tumbuh di kawasan itu, sebuah kekayaan yang jarang disadari.
Setiap jenis memiliki cerita. Ada yang tangguh menghadapi salinitas tinggi, ada yang menjadi tempat berlindung ikan-ikan kecil, ada pula yang diam-diam menyerap karbon dalam jumlah besar.
Di antara jalur dan rimbun dedaunan, pemahaman menjadi lebih konkret, mangrove bukan sekadar vegetasi. Ia adalah sistem kehidupan. Namun, lapangan juga mengajarkan sesuatu yang tidak selalu muncul di ruang rapat, bahwa menjaga jauh lebih sulit daripada menanam.
Diskusi kembali dilanjutkan, kali ini di ruang yang lebih santai, area foodcourt. Tapi suasananya justru lebih serius. Satu per satu perwakilan peserta menyampaikan pandangan. Tidak ada lagi sekat formalitas. Semua diberi ruang bicara.
Ada yang berbicara tentang data yang tercecer. Ada yang menyoroti konflik tata ruang. Ada yang mengingatkan pentingnya perlindungan fisik sebelum penanaman. Ada pula yang mengangkat peran dunia usaha dan masyarakat sebagai kunci keberlanjutan.
Dari percakapan itu, satu benang merah mulai terlihat, bahwa tidak ada satu pihak pun yang bisa bekerja sendiri. Mangrove, dengan segala kompleksitasnya, menuntut kolaborasi yang nyata, bukan sekadar jargon.
Dua hari itu mungkin tidak cukup untuk menyelesaikan semua persoalan. Tapi setidaknya, ada sesuatu yang mulai tumbuh, bukan di tanah berlumpur, melainkan di antara para peserta.
Kesadaran.
Bahwa mangrove bukan hanya tentang pohon.
Bukan hanya tentang pesisir.
Bukan hanya tentang hari ini.
Ia tentang masa depan.
Dan seperti mangrove yang tumbuh perlahan namun pasti, harapan itu kini mulai berakar di Jawa Timur.
Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
- Jumat, 10 Apr 2026
- 306x Dilihat