Senin, 12 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Balai TN Taka Bonerate Mengawali Tahun 2025 Dengan Penataan dan Pembinaan Pegawai

Benteng - Kepulauan Selayar, 14 Januari 2025 – Balai Taman Nasional Taka Bonerate melaksanakan penataan dan pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk tahun 2025 atau biasa dengan istilah SK.01. Langkah strategis ini dipimpin langsung oleh Kepala Balai, Ali Bahri, yang dipandu oleh Kepala Sub Bagian Tata Usaha Usman, sebagai upaya meningkatkan kinerja organisasi dalam pelestarian kawasan dan pelayanan masyarakat. Giat ini dilaksanakan secara hybrid, online dan offline yang dihadiri oleh seluruh pejabat struktural, fungsional dan staf Balai Taman Nasional Taka Bonerate (13/01). Sebelum masuk ke arahan, pertama-tama kepala balai menyampaikan ucapan selamat kepada teman-teman Pegawai Pemerintah Non-Pegawai Negeri (PPNPN) yang telah berhasil lulus seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kinerja dalam mendukung pelaksanaan tugas dan program kerja instansi. Setelah itu kepala balai melanjutkan arahannya, menegaskan bahwa proses penataan dan penempatan personil dilakukan secara profesional, transparan, dan berorientasi pada kebutuhan organisasi. "Tidak ada unsur suka atau tidak suka dalam penempatan ini. Semua dilakukan berdasarkan kompetensi, pengalaman, dan kebutuhan di lapangan," tegasnya. Fokus Penataan dan Pembinaan Personil Penataan dan Pembinaan ini bertujuan untuk: 1. Penguatan Kapasitas Tim – Menempatkan ASN sesuai dengan keahlian dan potensi mereka. 2. Peningkatan Efisiensi – Memastikan tugas-tugas strategis dapat dijalankan dengan optimal. 3. Pemecahan Masalah Prioritas – Menyelesaikan isu-isu penting dalam kawasan, seperti konservasi sumber daya alam, pengelolaan ekosistem, pemberdayaan masyarakat, perlindungan dan pengamanan serta peningkatan pariwisata alam. Persiapan untuk Tantangan 2025 Ali Bahri juga menyoroti pentingnya kesiapan menghadapi berbagai tantangan di kawasan Taka Bonerate, termasuk isu lingkungan, perlindungan dan pengamanan, penurunan tingkat gangguan kawasan, pemberdayaan masyarakat dan dukungan kolaborasi eksternal. Penempatan personil yang tepat diharapkan dapat meningkatkan respons organisasi terhadap dinamika yang ada. Dukungan Tim yang Kompak Ali Bahri mengapresiasi kekompakan dan dedikasi seluruh tim dalam menjalankan tugas di tahun-tahun sebelumnya. "Saya yakin, dengan tim yang solid dan komitmen yang tinggi, kita dapat mencapai target-target yang telah direncanakan untuk 2025," ujarnya. Harapan ke Depan Melalui penataan dan pembinaan ASN ini, Balai Taman Nasional Taka Bonerate berharap dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dalam pelestarian kawasan serta mendukung pengelolaan Taka Bonerate sebagai Kawasan Inti Cagar Biosfer Dunia. Langkah ini menjadi awal yang baik untuk memulai tahun 2025 dengan semangat baru, menuju keberhasilan bersama dalam pelestarian dan pengelolaan kawasan yang tak lepas dari dukungan para stakeholder yang ada. Sumber: Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto : Andi Ali Safaat - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Evaluasi Efektivitas Pengelolaan TN Taka Bonerate

Penilaian METT Balai Taman Nasional Taka Bonerate: Kolaborasi Daring dan Tatap Muka dengan Dukungan Direktorat PKK Kemenhut Benteng - Kepualauan Selayar, 20 Desember 2024 – Balai Taman Nasional Taka Bonerate sukses menggelar penilaian Management Effectiveness Tracking Tool (METT) yang dihadiri oleh berbagai instansi terkait, baik secara daring maupun tatap muka. Acara ini bertujuan mengevaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi sekaligus memperkuat sinergi lintas sektor dalam menjaga kelestarian Taman Nasional Taka Bonerate. Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan tim Direktorat Pengelolaan Kawasan Konservasi (PKK) Kementerian Kehutanan secara daring sebagai Fasilitator. Selain Direktorat PKK, acara ini juga diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Perikanan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Bapelibangda, para pejabat struktural, komandan Resort, Staf dan Pejabat fungsional pihak Balai TN Taka Bonerate, WCS-IP, anggota Masyarakat Mitra Polhut, serta Mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan UNHAS yang sementara magang. Penilaian ini menyoroti indikator-indikator penting seperti unsur penilaian Konteks (Penilaian Ancaman Penting dan Kebijakan yang ada), Perencanaan (Penilaian Desain dan Perencanaan Kawasan), Input (Penilaian Sumberdaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan pengelolaan), Proses (Penilaian cara pelaksanaan pengelolaan), Out Put (Penilaian pelaksanaan program pengelolaan dan aksi, penyediaan produk dan jasa) serta Out Come (Penilaian sejauh mana tujuan telah tercapai. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Ali Bahri, dalam sambutannya menyampaikan bahwa penilaian METT merupakan upaya bersama untuk memperbaiki pengelolaan kawasan. "Dengan melibatkan berbagai pihak, kita dapat mengidentifikasi tantangan yang ada dan menyusun langkah strategis untuk mengatasinya," ujar beliau. Diskusi tatap muka yang dilaksanakan di kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate membahas isu-isu mendesak, seperti perlindungan habitat, pengelolaan wisata berkelanjutan, dan penguatan ekonomi masyarakat sekitar. Sementara peserta daring, termasuk Direktorat PKK, memberikan masukan dan pendampingan melalui platform virtual, memastikan proses penilaian tetap inklusif. Hasil dari penilaian ini akan menjadi dasar penyusunan strategi pengelolaan dan pelestarian Taka Bonerate ke depan. Sebagai salah satu kawasan Biosphere Reserve UNESCO, Taka Bonerate diharapkan terus menjadi contoh pengelolaan konservasi yang efektif, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat lokal. Dengan dukungan kuat dari pusat dan daerah, Taman Nasional Taka Bonerate optimistis dapat menjawab tantangan pengelolaan kawasan di masa depan. Hasil lengkap penilaian METT akan diumumkan dalam waktu dekat dan menjadi pijakan dalam langkah-langkah peningkatan pengelolaan. Sumber: Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto : Andi Firman Ali Safaat - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Ngobrolin Iklim di 6 Sekolah Simpul Belajar Balai TN Batang Gadis

Panyabungan, 20 Desember 2024. Green Youth Movement (GYM) Sumatera Utara sukses selenggarakan Road Show Ngobrolin Iklim di 6 Sekolah, Kamis (19/12/2024). Kegiatan ini berlangsung dari 22 November 2024 hingga 19 Desember 2024, yang diikuti total 600 peserta perwakilan ekstrakulikuler yang ada di 6 Sekolah, dengan agenda kegiatan nonton video dokumenter tentang perubahan iklim, FGD dan membuat poster kampanye lingkungan. Adapun Road Show Ngobrolin Iklim bareng Green Youth Movement bertemakan "Mengenal dan Menghadapi Perubahan Iklim dari Sekolah” dimulai pada 22 November 2024 di SMAS YAPIM Biru-biru, 29 November 2024 di SMAN 2 Medan, 30 November 2024 di SMAN 12 Medan, 17 Desember 2024 di SMAN 3 Panyabungan, 18 Desember 2024 di MAN 1 Mandailing Natal, diakhiri di SMAN 2 Plus Panyabungan pada 19 Desember 2024. Koordinator Daerah Green Youth Movement (GYM) Sumatera Utara Nurhabli Ridwan yang juga alumni Green Leadership Indonesia Bacth 1 mengatakan Green Youth Movement (GYM) merupakan program pendidikan dasar gerakan lingkungan hidup yang menyediakan wadah bagi para generasi muda untuk bertukar pengetahuan dalam melindungi dan mengelola lingkungan hidup. Pada tahun 2023 program ini diinisiasi oleh Institut Hijau Indonesia dan didukung oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Angkatan pertama program ini telah selesai, ditandai dengan kegiatan wisuda pelantikan 1.992 Green Ambassador oleh Ibu Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada November 2023. GYM Angkatan ke-2 baru saja selesai, ditandai dengan kegiatan wisuda pelantikan 4.461 Green Ambassador oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada Oktober 2024. Program Pendidikan Green Youth Movement (GYM) Angkatan 2 melaksanakan kegiatan kunjungan ke beberapa Sekolah di 36 Provinsi dengan nama kegiatan “Ngobrolin Iklim Bareng Green Youth Movement”, setiap Provinsi mengunjungi 10 Sekolah. Kegiatan kunjungan GYM ke beberapa Sekolah ini merupakan wadah pembelajaran yang melibatkan generasi muda dalam bidang lingkungan hidup dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan sejak awal, meningkatkan wawasan terkait pemanfaatan hutan dan penggunaan lahan (FOLU/Forest and Other Land Use) serta memperkenalkan program pendidikan GYM secara lebih luas. Sekolah merupakan tempat yang strategis untuk menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini, sehingga generasi muda tidak hanya memahami isu-isu iklim tetapi juga tergerak untuk mengambil peran nyata dalam menghadapinya Dengan demikian, kegiatan "Ngobrolin Iklim Bareng Green Youth Movement" dirasa perlu dilaksanakan. Selain memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada para pelajar tentang perubahan iklim dan dampaknya, kegiatan ini juga memungkinkan para Green Ambassador untuk berbagi pengalaman dan inspirasi kepada sesama generasi muda. Dalam kegiatan ini para peserta belajar berdiskusi menjadi peran masyarakat, pemerintah, organisasi lingkungan, pengusaha, dan akademisi. Di akhir peserta mempresentasikan rencana program lingkungan yang bisa di jalankan oleh para peserta, salah satunya aksi bersih, pilah sampah, pembuatan ecobrick, kompos, daur ulang sampah, pembuatan lubang biopori, penanaman pohon, dan masih banyak lagi yang sudah direncanakan oleh para peserta. Untuk wilayah Sumatera Utara dalam kegiatan ini juga melakukan kampanye membagikan 100 tumbler / botol minum di 6 sekolah dengan total 600 tumbler yang telah dibagikan kepada peserta kegiatan sebagai edukasi pengurangan sampah plastik. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi wadah yang efektif untuk membentuk komunitas yang peduli lingkungan di kalangan pelajar serta memperluas dampak dari Green Youth Movement di daerah. Dalam penutupan kegiatan road show ngobrolin iklim bareng Green Youth Movement yang bertempat di SMAN 2 Plus Panyabungan dihadiri Kepala SMAN 2 Plus Panyabungan, Fasilitator GYM 2 dari Simpul Belajar Taman Nasional Batang Gadis, Guru Pendamping dan Green Ambassador GYM dari Simpul Belajar Taman Nasional Batang Gadis. Kepala SMAN 2 Plus Panyabungan, Hendri, M. Pd mengatakan berterima kasih sekolah ini dikunjungi oleh tim GYM dan Fasilitator Simpul Belajar Balai Taman Nasional Batang Gadis, kegiatan ini sangat positif mengingat perubahan iklim saat ini sangat terasa, perlunya edukasi kepada kalangan pelajar untuk dapat melakukan gerakan pencegahan perubahan iklim. Selain itu, penting juga para pelajar untuk menyebarkan informasi dan kesadaran kepada teman dan keluarga untuk ikut terlibat meminimalkan perubahan iklim. Saya juga berharap, melalui kegiatan ini, akan lahir banyak inovasi dan solusi kreatif untuk mengatasi perubahan iklim dalam upaya kalangan pelajar untuk menjaga Bumi kita. Fasilitator Simpul Belajar Taman Nasional Batang Gadis, Liah Maliana Nasution, SP mengatakan perubahan iklim dapat mengakibatkan pergeseran dan gangguan pada ekosistem alami, termasuk hutan, Kondisi ini dapat mempengaruhi keanekaragaman hayati dan menyebabkan kepunahan spesies. Untuk mengatasi krisis iklim dan melindungi biodiversitas, diperlukan tindakan yang komprehensif dan kolaboratif. Dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan masa depan bumi, kita perlu bertindak segera untuk mengurangi perubahan iklim, melindungi habitat, dan melestarikan keanekaragaman hayati. Setiap individu memiliki peran penting dalam upaya konservasi ini, mulai dari perubahan gaya hidup sehari-hari hingga mendukung kebijakan yang berpihak pada lingkungan. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis Narahubung: Nurhabli Ridwan, Kader Konservasi Alam / GRAS ( 087868871082 )
Baca Artikel

Mendorong Regenerasi Generasi Muda Peduli Keberlanjutan Laut di TN Taka Bonerate

TN Taka Bonerate - Kepulauan Selayar, 19 Desember 2024 – Sebanyak 13 mahasiswa dan mahasiswi dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin, Program Studi Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan, memulai program magang selama enam bulan di Taman Nasional Taka Bonerate. Program ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kompetensi mahasiswa dalam pengelolaan sumber daya perikanan berkelanjutan. "Program magang kami mulai bulan Desember ini sampai dengan Mei 2025 dengan SKS yang ingin dicapai dari program ini sebesar 20 SKS dengan tema besarnya Optimalisasi Pengelolaan Sumberdaya Perikanan dan Pariwisata Bahari TN Taka Bonerate," jelas Ilham Farid Muliawan salah satu peserta magang sekaligus ketua magang. Kegiatan ini bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam berbagai aspek pengelolaan kawasan konservasi laut, termasuk penelitian ekosistem, pemantauan keanekaragaman hayati, hingga edukasi masyarakat lokal terkait pemanfaatan sumber daya secara bijak serta merupakan program Kampus Merdeka. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Ali Bahri, menyambut baik kehadiran mahasiswa tersebut. "Program ini tidak hanya memperkuat sinergi antara dunia akademik dan pengelola kawasan konservasi, tetapi juga mendorong regenerasi generasi muda yang peduli terhadap keberlanjutan laut kita," ungkapnya. Para mahasiswa memaparkan rencana programnya, seperti Orientasi Lokasi dan Pengenalan Kawasan, Pengumpulan Data Awal tentang Perikanan dan Pariwisata Bahari, Pengumpulan Data tentang Perikanan Tangkap, Pengumpulan Data Pariwisata Bahari, Analisis Data Perikanan Tangkap, Pemantauan Ekosistem Laut, Penerapan Praktik Perikanan Ramah Lingkungan, Pengelolaan Pariwisata Bahari Berkelanjutan, Evaluasi Pengelolaan Perikanan dan Evaluasi Pengelolaan Pariwisata. Selain itu program magang ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis di lapangam yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam mengelola sumber daya perikanan secara profesional. Para mahasiswa juga mengungkapkan antusiasme mereka. "Kami sangat bersemangat untuk belajar dan berkontribusi langsung di salah satu taman nasional laut yang terkenal atol terbesar ke tiga di dunia," ujar salah satu peserta, Ratnasari R, mahasiswi semester lima. Program ini diharapkan mampu memberikan manfaat ganda, baik bagi mahasiswa dalam peningkatan kapasitasnya maupun bagi Taman Nasional Taka Bonerate dalam mendukung kegiatan konservasi dan pemberdayaan masyarakat lokal. Sumber: Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto : Gilman - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Website ksdae Merajut Tulisan Membingkai Makna

Medan, 19 Desember 2024. Seberapa pentingkah menulis ? Ada banyak ahli, pakar, akademisi dan bahkan aktivis yang berkecimpung dalam dunia tulis menulis yang memberikan pendapatnya. Salah seorang diantaranya menarik perhatian penulis adalah Zainal Arifin Toha, yang berprofesi sebagai sastrawan. Arifin Toha menyebutkan, bahwa menulis adalah proses dimana kita bisa menghargai hidup. Dengan menulis sesuatu yang bermanfaat, setidaknya ada satu atau dua orang yang akan membaca dan kemudian bermanfaat buat mereka, maka itulah yang disebut menghargai hidup. Pendapat sastrawan ini tentunya sangat menginspirasi. Permasalahannya adalah ketika kemampuan menulis itu masih belum optimal, ditambah lagi media untuk menerbitkan tulisan juga amat sangat terbatas. Dibanyak media cetak atau surat kabar (baik terbitan lokal maupun nasional) selalu menerapkan seleksi yang ketat untuk memuat karya tulis, mengingat banyaknya tulisan-tulisan yang masuk sehingga media harus selektif dalam memilih tulisan yang layak di publikasikan serta yang sesuai dengan misi dari masing-masing media. Kendala ini membuat banyak orang urung dan enggan menuangkan ide serta pemikirannya, meskipun ide itu sangat brilian dan bermanfaat. Kendala ini pula banyak dihadapi oleh rimbawan ketika ada bahan informasi dan pengetahuan yang berkaitan dengan konservasi alam tidak tersalurkan, mengingat keterbatasan media yang siap untuk mempublikasikannya. Beruntung disaat buntu seperti ini, muncullah media Website ksdae yang menjadi asupan penawar kebuntuan. Media yang dikelola oleh Direktorat Jenderal KSDAE benar-benar menjadi penawar dahaga baik bagi penulis pemula maupun penulis mahir untuk menyalurkan bukan hanya sekedar bahan informasi tetapi juga menyalurkan bakat-bakat menulis. Terbukti Website ksdae siap menampung dan mengekspose beragam tulisan baik berita, liputan, artikel opini maupun feature dari berbagai penulis. Sajiannya juga cukup beragam baik berita/liputan tentang kawasan konservasi beserta potensinya, interaksi negatif masyarakat dengan satwa liar, penyerahan satwa liar oleh masyarakat kepada petugas, pelepasliaran atau pengembalian satwa ke habitat alaminya, penegakkan hukum dibidang konservasi alam, kegiatan pemberdayaan masyarakat, pembinaan generasi muda dan bina cinta alam, serta berbagai kegiatan seremonial lainnya. Semua bahan dikemas (editorial) oleh Tim redaksi Website ksdae sehingga menjadi bacaan yang menarik, bermutu dan bermanfaat. Sajian beritanya juga nasional, karena sumber berita berasal dari seluruh satker lingkup Direktorat Jenderal KSDAE di seluruh Indonesia. Puluhan Balai Besar/Balai KSDA dan Balai Besar/Balai Taman Nasional berkontribusi untuk mensuplai bahan berita, sehingga melalui pemberitaan tersebut seluruh rimbawan yang berada di masing-masing satker di seluruh Indonesia dapat berbagi informasi dan pengetahuan tentang kondisi di wilayah satkernya. Ada hal-hal (inovasi) yang baru di salah satu satker atau wilayah, bisa juga menjadi referensi atau rujukan bagi satker lainnya. Sungguh bermanfaat keberadaan Website ksdae. Penulis juga merasakan manfaat itu. Puluhan tulisan baik berita/liputan maupun artikel opini dan feature sudah tayang di Website ksdae. Yang membahagiakan penulis adalah ketika beberapa orang pembaca dan bahkan media cetak lokal mengutip serta menjadikan tulisan-tulisan tersebut sebagai referensi atau rujukan. Sejatinya penulis termasuk salah seorang yang beruntung merasakan makna kehidupan dari tulisan di Website ksdae, sebagaimana yang didefenisikan oleh Zainal Arifin Toha. Oleh karena itu, penulis menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Website ksdae yang telah menjadi teman setia memberi ruang dan kesempatan yang seluas-luasnya dalam menyalurkan aspirasi konservasi alam. Ekspektasinya kedepan, tetaplah menjadi media yang berkontribusi dalam menyalurkan serta menebarkan informasi, pengetahuan dan inspirasi, sehingga memberi warna dan makna bagi konservasi alam Indonesia. Salam lestari…… Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Langkah Strategis Memadukan Aspek Konservasi dan Pemanfaatan

Polewali Mandar, 16 Desember 2024 –Sosialisasi Perubahan Fungsi Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam (KSA/KPA) Kunyi menuju Taman Wisata Alam (TWA) Kunyi telah diselenggarakan, Senin (16/12) di Hotel Ratih, Polewali Mandar, Provinsi Sulawesi Barat. Melibatkan berbagai pihak terkait dari tingkat provinsi hingga desa, untuk mendiskusikan potensi dan langkah pengembangan TWA Kunyi sebagai destinasi wisata berbasis konservasi yang berkelanjutan. Sosialisasi dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan, Ir. Jusman, secara daring melalui zoom meeting. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan agar perubahan status kawasan ini mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Kunyi dan Polewali Mandar. Perubahan fungsi Kawasan Suaka Alam/Kawasan Pelestarian Alam Kunyi menjadi Taman Wisata Alam adalah langkah strategis dalam memadukan aspek konservasi dan pemanfaatan. Dengan sinergi yang kuat antara semua pihak, kawasan ini diharapkan akan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat, ujar Ir. Jusman dalam sambutannya. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. Ritabulan, S.Hut, M.Si dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) dan Jamaluddin, S.Sos dari Badan Penelitian Pengembangan dan Perencanaan (Balitbangren) Kabupaten Polewali Mandar. Sesi diskusi dipandu oleh Daud Irindu, S.Hut, M.Si selaku moderator dari Unsulbar. Diskusi juga diikuti oleh perwakilan dari berbagai instansi, seperti Kepala Dinas Pariwisata Sulawesi Barat, Plt. Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Polewali Mandar, Camat Anreapi, Kepala Desa Kunyi, Ketua BPD, Tokoh Masyarakat Desa Kunyi, Ketua Asosiasi Pariwisata Polewali Mandar. Diskusi yang berlangsung produktif menghasilkan beberapa poin penting yang disepakati bersama: Dengan adanya kegiatan sosialisasi ini, seluruh pihak diharapkan dapat berkolaborasi dalam pengelolaan dan pengembangan TWA Kunyi. Potensi wisata alam, keanekaragaman hayati, serta budaya lokal yang dimiliki kawasan ini dapat menjadi aset berharga bagi Polewali Mandar dan Sulawesi Barat secara keseluruhan. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP.58/K.8/TU/Humas/12/2024) Call Center BBKSDA Sulsel:08114600883
Baca Artikel

Pendekatan Kolaboratif Multipihak,Wujudkan Konservasi Sumber Daya Alam Berkelanjutan

Makassar, 10 Desember 2024 – Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sulawesi Selatan (BBKSDA Sulsel) menjadi salah satu narasumber pada kegiatan Talkshow dan Pertemuan Forum dengan tema “Pendekatan Kolaboratif Multipihak dalam Pengelolaan Bentang Alam Secara Berkelanjutan”, bertempat di Aula Tudang Sipulung Rumah Jabatan Gubernur Sulsel pada tanggal 10 Desember 2024. Narasumber lainnya adalah Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, S.IP., M.Si., dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Sulsel, Ir. Andi Hasbi, MT. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fauna & Flora International Indonesia (FFI Indonesia) yang berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah Sulsel dan Pemerintah Daerah Luwu Utara, dalam rangka membangun kolaborasi multipihak dalam pengelolaan Kawasan Bernilai Ekosistem Penting (KBEP) di Bentang Alam Seko Rongkong, Kabupaten Luwu Utara. Pertemuan dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah Sulsel, Pemerintah Daerah Luwu Utara, Akademisi/Perguruan Tinggi, Organisasi Kemasyarakatan, Private Sector, serta Dinas LHK Provinsi Sulsel dan BBKSDA Sulsel. Kegiatan talkshow dan pertemuan forum dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulawesi Selatan,Ir. Andi Hasbi, MT, dengan membacakan pidato Pj. Gubernur Sulawesi Selatan. Dalam sambutan pembukaan, disampaikan: “Berdasarkan data dan informasi yang terkumpul, pelestarian ekosistem hutan pegunungan di area pengusulan Kawasan Bernilai Ekosistem Penting tentunya menjadi keinginan bersama seluruh pihak yang terkait untuk mewujudkan dan mempertahankan nilai-nilai penting tersebut. Skema pengelolaan kawasan melalui rencana pengusulan Kawasan Bernilai Ekosistem Penting (KBEP) ini merupakan opsi yang juga akan memfasilitasi kita semua untuk senantiasa berkolaborasi dan bersinergi guna mencapai tujuan mulia tersebut”. Kepala BBKSDA Sulsel , Ir. Jusman pada pertemuan tersebut mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil kajian Inventarisasi dan Verifikasi yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2020 diketahui sebagian besar area berhutan di Luwu Utara memiliki nilai keanekaragaman hayati tinggi. Hal ini didukung oleh kajian High Conservation Value (HCV) atau Nilai Konservasi Tinggi (NKT) yang dilakukan secara kolaboratif antara Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan, Pemerintah Daerah Luwu Utara, BBKSDA Sulsel, Universitas Hasanuddin, Universitas Andi Djemma, dan perwakilan masyarakat sipil serta Fauna & Flora pada 2022-2023. Hasilnya, kawasan Pegunungan Quarles di Seko Rongkong memenuhi syarat akan nilai biologis, ekologis termasuk jasa ekosistem, sosial dan budaya yang penting di tingkat lokal, regional, dan atau global. "Hutan di luar kawasan konservasi juga menjadi habitat bagi lebih banyak flora dan fauna yang dilindungi serta penting secara ekologis sehingga memerlukan perhatian lebih. Contohnya adalah hutan di Kecamatan Rongkong dan Seko yang masih menjadi rumah bagi berbagai jenis satwa liar. Keberadaan spesies penting seperti anoa pegunungan (Bubalus quarlesi) di kedua wilayah ini perlu mendapatkan perhatian khusus dengan pelaksanaan pemantauan berkelanjutan untuk mengurangi ancaman terhadap spesies ini maupun satwa lainnya," ujar Ir. Jusman dalam sambutannya pada acara hari ini. Bupati Luwu Utara Indah Putri Indriani, S.I.P., M.Si menyatakan bahwa inisiasi yang dilakukan oleh semua pihak dalam mendukung dan melestarikan alam yang ada di Luwu Utara membuatnya merasa bersyukur sekaligus bangga. “Oleh karena itu, saya menyambut baik kegiatan yang dilakukan oleh rekan-rekan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sulsel bersama dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara beserta pihak yang ikut mendukung forum ini,” ungkapnya. “Kegiatan ini menandai kuatnya komitmen bersama antara pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan pengelolaan kawasan yang inklusif dan berkelanjutan. Pertemuan dan diskusi hari ini diharapkan menjadi ajang tersosialisasikannya kawasan bernilai ekosistem penting bagi konservasi keanekaragaman hayati bentang alam Seko Rongkong dan tindak lanjut Rencana Kerja Forum Kolaborasi melalui pembahasan yang partisipatif,” lanjutnya. Bupati Luwu Utara juga kemudian menyebutkan bahwa dengan pendekatan multipihak diharapkan kawasan ini tidak hanya terjaga kelestariannya, tetapi juga menjadi contoh pengelolaan lanskap yang mampu mengintegrasikan kepentingan konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan bagi generasi mendatang. Kegiatan talkshow dirangkaikan dengan penyerahan simbol kunci yang bermakna penyerahan pondok kerja pengelolaan KBEP Seko Rongkong, kerja sama Balai Besar KSDA Sulsel dan FFI Indonesia, kepada Dinas LHK Provinsi Sulsel c.q. Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rongkong dan KPH Kambuno. Selain itu juga penyerahan Surat Keputusan (SK) Gubernur Sulawesi Selatan tentang Kawasan Bernilai Ekosistem Penting (KBEP) di Bentang Alam Seko Rongkong, Kabupaten Luwu Utara. Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan resmi menetapkan Kawasan Bernilai Ekosistem Penting (KBEP) di Bentang Alam Seko Rongkong, Kabupaten Luwu Utara, melalui SK Gubernur Nomor 1160/X/2024 yang terbit pada 1 Oktober 2024. KBEP ini memiliki luas 74.811,98 hektar dengan kawasan yang meliputi 13 desa di Kecamatan Seko dan Rongkong. Kegiatan ini merupakan wujud dukungan dalam implementasi pengelolaan KBEP. Kegiatan sosialisasi dan diskusi multipihak digelar di Makassar pada 10–11 Desember 2024. Sosialisasi berlokasi di Aula Tudang Sipulung (Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan Jl. S. Tangka No. 31 Sawerigading Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar). Adapun diskusi multipihak diadakan di Hotel Harper Perintis, Jl. Kemerdekaan KM 15 No.14 A, Pai, Kec. Biringkanaya, Kota Makassar. Agenda utama meliputi penyerahan SK Gubernur kepada Bupati Luwu Utara, talkshow bertema 'Pendekatan Kolaboratif Multipihak dalam Pengelolaan Bentang Alam Secara Berkelanjutan’, serta finalisasi rencana kerja Forum Kolaborasi. Sumber: Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan (Siaran Pers Nomor : SP.57/K.8/TU/Humas/12/2024) Call Center BBKSDA Sulsel: 08114600883
Baca Artikel

Menuju Pemandu Gunung Rinjani Berdedikasi

Mataram, 10 Desember 2024. Balai Taman Nasional Gunung Rinjani menggelar Peningkatan Kapasitas Teknis Masyarakat Pemandu Gunung/Guide Lingkup Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) Tahun 2024, Selasa (3/12) di Aula Villa Bambu Desa Senaru. Kegiatan dibuka secara langsung oleh Kepala Balai TNGR, yang pada kesempatan yang sama Beliau memberikan Buku Panduan Interpretasi Pemandu Gunung Rinjani secara simbolis dalam bentuk hardcopy dan softcopy kepada peserta pemandu gunung/guide. Acara turut dihadiri oleh Kepala Desa Senaru, Kepala SPTN Wil I, Pokja WCM, Unit SAR Lotim, APGI, dan peserta para Pemandu Gunung/Guide lingkup SPTN Wilayah I Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. Adapun materi yang disampaikan meliputi Kebijakan Taman Nasional dan Program Zero Waste oleh BTNGR, Materi dan Praktek Pencarian dan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Pengunjung Pendakian oleh Unit SAR Lotim serta Materi dan Praktek Etika Pemandu Gunung dan Penerapan Zero Waste oleh APGI. Kegiatan dilakukan guna meningkatkan wawasan dan kapabilitas para Pemandu Gunung Rinjani/Guide, sehingga kemampuan Pemandu Gunung Rinjani tidak hanya terletak pada kemampuannya mendaki melainkan juga dalam memahami peraturan yang berlaku di Taman Nasional, kemampuan memberikan pertolongan pertama Pada Kecelakaan Pengunjung Pendakian serta komunikasinya dengan wisatawan dan pelaku jasa wisata gunung lainnya dalam mencegah terjadinya potensi sampah. Pada kegiatan ini juga para peserta Pemandu Gunung/Guide menyatakan dukungannya terhadap penerapan program Zero Waste di Taman Nasional Gunung Rinjani. Semoga dengan adanya kegiatan ini akan memberikan perubahan untuk Rinjani yang lebih baik. Sumber: Balai Taman Nasional Gunung Rinjani
Baca Artikel

TN Taka Bonerate Menuju Model Pengelolaan Perikanan Berkelanjutan yang Harmonis

Makassar, 3 Desember 2024 – Upaya meningkatkan pengelolaan sumber daya perikanan yang berkelanjutan, Balai Taman Nasional Taka Bonerate bekerjasama dengan Mitra WCS-IP menyelenggarakan Workshop Penguatan Penataan Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan di Hotel Melia, Makassar selama 2 hari (3 sd. 4/12). Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Dandim 1415 Kepulauan Selayar, Kapolres Kepulauan Selayar, Kajari Kepulauan Selayar, Anggota Komisi II DPRD Kepulauan Selayar, DKP Propinsi SulSel, DPMPTSP Propinsi SulSel, Dinas Perikanan Kepulauan Selayar, Cab. DKP Propinsi Kab. Kepulauan Selayar, PSDKP Bitung, UPT Pelabuhan Wil.2 Propinsi SulSel, PSDKP Satwas Takalar, PSDKP Wilker Kepulauan Selayar, Sinjai serta Bulukumba, UNHAS, Forum Komunikasi TNTBR, Kepala Desa Tarupa, Rajuni, Tambuna dan Jinato, Pelaku Usaha Perikanan (Panges) dan Mitra WCS-IP. Kepala Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Ali Bahri, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya sinergi antar pihak dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut di kawasan tersebut. “Taman Nasional Taka Bonerate merupakan aset nasional dan dunia. Melalui workshop ini, kita bersama-sama merancang strategi pemanfaatan sumber daya perikanan yang tetap menjaga keseimbangan ekologi,” ujar Ali Bahri. Workshop ini menyoroti beberapa topik utama, antara lain: 1. Terpetakannya pembagian peran dan tanggung jawab setiap pemangku kepentingan dapat memahami dan menyepakati sistem pengelolaan perikanan berkelanjutan melalui check point dalam Taman Nasional Taka Bonerate. 2. Adanya Rencana Aksi atau pedoman pengelolaan sumber daya perikanan melalui check point di zona tradisional yang disepakati bersama, dengan fokus pada praktik penangkapan ikan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. 3. Teridentifikasinya indikator pengelolaan sumberdaya perikanan dalam sistem check point untuk memudahkan mekanisme pemantauan dan evaluasi yang melibatkan pengelola taman nasional Taka Bonerate, pemangku kepentingan dan masyarakat lokal untuk memastikan pelaksanaan pengelolaan perikanan melalui check point sesuai dengan rencana aksi yang telah disepakati. Workshop ini diharapkan menghasilkan beberapa rekomendasi strategis, seperti penguatan kolaborasi antar pihak, antara pemerintah daerah, balai taman nasional, organisasi non-pemerintah, dan komunitas lokal untuk bersama-sama menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan melalui tata kelola yang terpadu dan efektif di Taman Nasional Taka Bonerate, serta aksi bersama yang konkret untuk mengatur pemanfaatan sumber daya perikanan di zona tradisional, agar dapat dilakukan secara bijak, terukur dan terarah. Selain itu, rencana tindak lanjut diharapkan tercipta kesepahaman dan kesepakatan antara pihak terkait mengenai langkah-langkah pengelolaan yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan dan konservasi ekosistem laut di Taman Nasional Taka Bonerate. Melalui langkah ini, diharapkan Taman Nasional Taka Bonerate dapat menjadi model pengelolaan perikanan berkelanjutan yang harmonis dengan kebutuhan konservasi. Sumber: Balai Taman Nasional Taka Bonerate
Baca Artikel

Menjaring PPPK Melalui Seleksi Kompetensi

Pendaftaran peserta seleksi dilayani dengan baik oleh panitia Medan, 3 Desember 2024. Upaya pemenuhan kebutuhan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) tahun 2024, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memberi kesempatan bagi Warga Negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk menjadi PPPK di lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengikuti seleksi baik Adminitrasi maupun Kompetensi. Setelah menjalani Seleksi Administrasi pada tanggal 1 s.d 29 Oktober 2024 yang lalu, 128 orang peserta yang telah ditetapkan dan dinyatakan lulus kemudian menjalani tahapan Seleksi Kompetensi dengan menggunakan Metode CAT pada Senin (2/12), di Kantor Regional VI Badan Kepegawaian Negara (BKN) Medan. Kebutuhan PPPK Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan merujuk kepada Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 347 Tahun 2024 yang mengatur tentang Mekanisme Seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja Tahun Anggaran 2024, yaitu diperuntukan bagi pelamar dengan kriteria diantaranya Eks Tenaga Honorer Kategori II (Eks THK-II) yang terdaftar pada pangkalan data (database) BKN dan aktif bekerja pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat mendaftar, serta Tenaga Non Aparatur Sipil Negara (Tenaga Non ASN) yang terdaftar pada pangkalan data (database) dan aktif bekerja pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat mendaftar. Khusus untuk Tenaga Non ASN berlaku ketentuan memiliki masa kerja paling sedikit 2 (dua) tahun terakhir secara terus menerus. Sedangkan untuk batasan usia (umur) ditentukan paling rendah 20 (dua puluh) tahun dan paling tinggi 57 (lima puluh tujuh) tahun pada saat melamar. Peserta serius mengikuti seleksi kompetensi Pelaksanaan Seleksi Kompetensi yang berlangsung selama 1 hari berjalan dengan baik. Terlihat seluruh peserta menunjukkan semangat dan antusiasme tinggi dalam mengikuti proses seleksi ini. Dari raut wajah terpancar keinginan serta kerinduan untuk meraih keberhasilan dan bergabung dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan. Dari sudut penyelenggara, diharapkan melalui seleksi ini nantinya akan terpilih tenaga profesional yang berkompeten dalam mendukung upaya pelestarian dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan khususnya di Provinsi Sumatera Utara. Sumber : HM. Parlindungan Sinaga, S.Kom. (Pranata Komputer Ahli Pertama) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Longsor di Sibolangit Menyisakan Duka Yang Mendalam

Mobil ambulance korban longsor di Sibolangit Sibolangit, 2 Desember 2024. Tidak ada yang menduga durasi hujan panjang yang tumpah ruah hampir di seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara berujung pada duka. Intensitas curah hujan yang cukup tinggi sejak Selasa (26/11) sore hingga Rabu (27/11) memicu longsor di Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang. Sudah bisa dibayangkan apa yang kemudian terjadi. Tak dapat dielak, longsor pun menimbulkan duka. Kendaraan roda dua dan roda empat yang melintas di sepanjang jalan Sibolangit tertimbun longsor, beberapa rumah penduduk yang ada di sekitar juga ikutan tertimpa longsor. Jalur lintas Medan-Berastagi dan sebaliknya, yang melintasi Sibolangit terputus. Jerit tangis pun meledak, korban berjatuhan, tercatat ada 9 (sembilan) orang yang meninggal dunia, dan ada puluhan lainnya yang terluka. Peristiwa longsor ini terjadi di 24 titik, diantaranya 19 titik di kawasan konservasi Cagar Alam (CA) Sibolangit dilihat dari peta kerja avanza dan 5 titik di areal/lokasi PDAM Tirtanadi. Menyikapi peristiwa ini, Kepala Resort CA./Taman Wisata Alam(TWA) Sibolangit beserta staf melakukan giat mitigasi dengan mendata dan mendokumentasikan titik-titik longsor, kemudian bersama dengan petugas maupun pihak-pihak terkait lainnya melakukan pencarian dan evakuasi korban longsor serta memantau pembersihan lokasi dari material longsor. Evakuasi korban longsor dan pembersihan material longsor Selain itu juga menghentikan untuk sementara waktu semua kegiatan kunjungan ke kawasan TWA. Sibolangit, ikut memberikan sosialisasi dan himbauan kepada masyarakat untuk waspada serta menghentikan seluruh kegiatan/aktivitas di sekitaran lokasi longsor agar terhindar dari kemungkinan terjadinya longsor susulan. Sampai berita ini terbit petugas masih berada di lokasi melakukan pemantauan. Mengingat peristiwa ini menyisakan duka yang mendalam buat keluarga korban, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menyatakan turut berdukacita dan berdoa semoga korban mendapatkan tempat yang layak disisiNYA, serta keluarga yang ditinggal diberi kekuatan dalam menghadapi musibah ini, Amin… Tim Resort CA./TWA. Sibolangit ikut melakukan mitigasi Sumber : Suparman, SP. (Kepala Resort CA./TWA. Sibolangit) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai TN Taka Bonerate Perkuat Koordinasi Internal Pengelolaan Taman Nasional

Kepulauan Selayar, 20 November 2024 – Balai Taman Nasional Taka Bonerate menggelar Rapat Konsolidasi Internal Tata Kelola Taman Nasional selama dua hari dari tanggal 19 s/d 20 November 2024 yang dipimpin langsung oleh Kepala Balai, Ali Bahri. Rapat ini diadakan di Kantor Balai Taman Nasional Taka Bonerate, Kepulauan Selayar, dan dihadiri oleh seluruh pejabat struktural baik Kepala Sub Bagian Tata Usaha, dan Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I dan II, kepala resor, serta staf terkait. Giat ini diawali dengan arahan Kepala Balai. Dalam arahannya, Ali Bahri menekankan pentingnya tata kelola yang baik dan terstruktur dalam pengelolaan kawasan Taman Nasional Taka Bonerate. “Rapat konsolidasi ini menjadi momentum penting bagi kita semua untuk menyelaraskan visi, misi, dan strategi dalam menjaga kelestarian ekosistem, sekaligus meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dan wisatawan,” ujar Ali Bahri. Rapat ini untuk memperkuat koordinasi internal dan meningkatkan efektivitas pengelolaan taman nasional, khususnya dalam menghadapi tantangan konservasi kini dan akan datang. Dalam kesempatan ini, Ali Bahri juga menekankan pentingnya sinergi antar unit kerja dan optimalisasi sumber daya yang ada untuk mencapai target kinerja. Selain pembahasan mengenai tata kelola dan strategi konservasi, rapat ini juga menjadi ajang evaluasi capaian program kerja selama tahun 2024, serta persiapan menyambut tahun anggaran baru. Salah satu agenda penting yang dibahas adalah penguatan upaya pelestarian terumbu karang dan tata kelola perikanan di kawasan Taka Bonerate. Ali Bahri juga memberikan apresiasi kepada seluruh tim yang telah bersama-sama bekerja keras dalam menjaga dan peningkatan mutu pengelolaan TN Taka Bonerate. Setelah arahan dilanjutkan dengan materi pengantar dari Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Usman dengan judul "Langkah Percepatan Penguatan Tata Kelola Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan pada Zona Tradisional TN Taka Bonerate". Kemudian pemaparan masing-masing Kepala Resor tentang kondisi dan tantangan yang dihadapi masing-masing resor. Hari pertama (19/11) pemaparan dilakukan oleh Resor - resor di SPTN Wilyah I Tarupa, yaitu Resor Tarupa Kecil, Tinabo, Rajuni dan Latondu kemudian dilanjutkan hari kedua (20/11) dari masing-masing Resor di SPTN Wilayah II Jinato yaitu Resor Rajuni Bakka, Lantigiang, Pasitallu Timur dan Pasitallu Tengah. Rapat konsolidasi ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif serta penyusunan rumusan hasil, di mana seluruh peserta rapat berkesempatan menyampaikan masukan dan saran terkait perbaikan tata kelola dan strategi pengelolaan taman nasional ke depan. Dengan adanya rapat ini, diharapkan Balai Taman Nasional Taka Bonerate dapat semakin solid dalam melaksanakan tugas dan fungsi konservasi, sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Kepulauan Selayar. Sumber : AsriTo' - Humas Balai TN Taka Bonerate
Baca Artikel

Menyambut Kunjungan Terik Asia

Tulungagung, 14 November 2024. Gegara perjumpaan yang tak sengaja pada 12 November yang lalu, akhirnya om dave bersama tim Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar KSDA jawa Timur, benar-benar “nyanggong” burung ini pada sebuah area persawahan luas di Tulungagung. Acara pengamatan burung ini mereka gelar 14 November 2024 mulai pukul 6 hingga 9 pagi waktu setempat. Adalah Terik asia alias Glareola maldivarum yang terlihat berseliweran dalam jumlah besar di langit Tulungagung. Menurut Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106 tahun 2018, burung migran ini merupakan satwa yang dilindungi undang-undang. Tampaknya Terik asia sedang berjemur dan soaring atau melayang-melayang di udara pada sekitar persawahan tempat tim pengamatan. Tak kurang 1000 ekor burung yang memadati area persawahan. Dan terlihat burung dari suku Glareolidae itu tidak terganggu dengan keberadaan para petani yang sedang menggarap sawah. Sempat tim BKSDA melakukan wawancara singkat dengan beberapa petani mengenai burung yang memiliki nama Inggris Oriental Pratincole tersebut. Menurut mereka, burung tersebut telah datang di area persawahan sejak lima hari yang lalu. “Mereka datang setiap tahun, kami juga sudah terbiasa dengan kehadirannya. Jadi ya gak merasa terganggu,” ujar salah satu petani. Para petani tidak pernah menangkap burung-burung migran tersebut, bahkan menganggap bahwa burung perancah dari Asia Timur tersebut menjadi pertanda musim hujan dan waktu untuk menanam padi telah tiba. Di sela-sela obrolan itu, tim juga menjelaskan mengenai nama burung tersebut, asal burung dan manfaat burung itu bagi petani. Tak lupa himbauan agar turut menjaga dan membiarkannya kembali lagi ke negara asalnya. Sumber : Agus Irwanto - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai TN Manusela Membangun Keseimbangan Dalam Hidup dan Bekerja

Masohi, 15 November 2024. Tak seperti hari Jumat pada umumnya, Jumat (15/11) ini “Agak Laen” dari biasa. Dimulai dengan senam sehat ala Koordinator Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) personil Balai Taman Nasional (TN) Manusela dan Seksi Konservai Wilayah (SKW) II BKSDA Maluku untuk mengawali sebelum melakukan aktivitas outbond yang berlokasi di lapangan Nusantara Masohi. Menuju lapangan, para peserta berjalan santai sambil memungut sampah plastik yang terlihat di kiri kanan jalan. Kali ini sampahnya tidak ditimbang. Sesampainya dilapangan koordinator Outbond mengambil alih. Instruksi pertama membuat lingkaran dengan judul permainan “BOS BERKATA”. Permainan ini membutuhkan konsentrasi dimana peserta diminta melakukan perintah yang disampaikan dengan kode BOS BERKATA. Bagi peserta yang salah dikenakan sanksi berupa colek tepung pada bagian wajah. Tak pandang bulu, Bapak Abdul Azis Bakry Kepala Balai TN. Manusela pun harus menerima hukuman ini. “Permainan apa ini, paling susah. Kalah-kalah ujian kompetensi” kata seorang PEH Muda. Permainan selanjutnya tak kalah serunya. Moving Bomb, permainan dengan menggunakan bola dan tali dimana bola dianggap sebagai bomb yang akan meledak dan harus dipindahkan tanpa sentuhan langsung. Permainan yang membutuhkan konsentrasi, kerjasama tim dan kesabaran ini berhasil membuat beberapa peserta “sedikit ngegas”. Para peserta tak ragu saling berteriak memberi instruksi, “Awas, ratakan talinya” kata pace Demi. “Jangan direnggangkan, cukup tahan. Tangannya diam saja” Kepala Resor Masihulan ngegas setelah anggota tim nya sedikit lengah. Akhirnya 4 permainan yang dirancang untuk melatih kekompakan dan koordinas tim sukses diselesaikan dengan ceria. Kegiatan yang mengadopsi program Retreat Kabinet dan bertujuan sebagai Work Life Balance bagi personil Balai TN. Manusela. Sumber: Balai Taman Nasional Manusela
Baca Artikel

Belajar Pengukuran Stok Karbon dan Valuasi Jasa Lingkungan bagi Punggawa Kawasan Konservasi

Makassar, 12 November 2024. Hari itu, Rabu, 6 November 2024, langit Makassar cerah membahana menyambut peserta pelatihan dari berbagai daerah. Direktorat PJLKK didukung oleh Direktorat IGRK MPV - Ditjen PPI dan BPDLH menyelenggarakan In-house Training Pengukuran Stok Karbon dan Integrasi Jasa Lingkungan ke dalam Stok Karbon Berbasis Tipe Ekosistem di KSA, KPA, dan Taman Buru Angkatan 3. Pelatihan singkat ini berlangsung di Kota Makassar pada tanggal 6 – 8 November 2024. Sedikitnya 59 peserta hadir dalam peningkatan kapasitas yang terlaksana di Hotel Harper, Makassar. Mereka berasal dari 24 balai taman nasional dan bksda di regional Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Papua. Narasumber berasal dari BRIN, IPB University, BPLHK Kadipaten, BPKHTL Wilayah VII Makassar. Tak hanya itu juga menghadirkan beberapa fasilitator dari BBKSDA Jawa Barat, Balai TN Halimun Salak, dan Balai TN Manusela untuk membantu panitia dalam kegiatan praktik lapangan. Pemberian materi berlangsung secara luring, dengan kombinasi antara teori dan praktik lapangan. Pada pembukaan peningkatan kapasitas, hadir segenap kepala balai satuan kerja Kementerian Kehutanan lingkup Sulawesi Selatan. Direktur PJLKK membuka pelatihan secara resmi. Dalam sambutannya, menyampaikan kontribusi kawasan hutan konservasi sebagai nilai tambah aksi mitigasi dan pencapaian target penurunan emisi. "Pengukuran stok karbon dan penilaian jasa lingkungan merupakan indikator utama dalam kajian ini," ungkap Nandang Prihadi, Direktur PJLKK, Ditjen KSDAE. Melalui in-house training ini, mereka dilatih agar mampu membuat plot ukur permanen, menghitung stok karbon, dan melakukan valuasi jasa lingkungan. "In-house training batch 3 ini sedikit berbeda dengan gelombang sebelumnya. Kali ini kami mengenalkan metode baru dalam perhitungan stok karbon dengan menggunakan Inventarisasi Hutan Nasional (IHN) 2.0. Salah satu teknik yang lebih efisien untuk memudahkan petugas lapangan dalam mengukur karbon," tambah Nandang. Hari pertama, peserta menerima materi sosialisasi konsep dan implementasi nilai karbon pada kawasan konservasi. Termasuk juga pengantar IHN 2.0 oleh Tatang Tiryana, Dosen IPB. Untuk praktek metode ini, Yusdhi Arwan, Widyaiswara BPLHK Kadipaten, menjadi narasumbernya dibantu personil BPKHTL Wilayah VII Makassar. Sementara Virni Budi Arifanti dan Deden Djaenudin dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memberi materi terkait penilaian jasa lingkungan dan integrasinya ke dalam stok karbon berbasis tipe ekosistem. Karena padatnya materi pada hari pertama itu, tak heran jika kelas pembelajaran berlangsung hingga pukul 21:00 WITA. Kasubdit PJL Air, Panas Bumi, dan Karbon juga berkesempatan menyampaikan materi tentang Pemanfaatan Jasa Lingkungan Karbon di Kawasan Konservasi. “Tahun 2025 akan ada 4 UPT yang akan melakukan pengukuran stok karbon dan integrasi jasa lingkungan ke dalam stok karbon berbasis tipe ekosistem. Empat instansi tersebut adalah BKSDA Kalimantan Barat, Balai TN Tambora, Balai TN Bali Barat, dan Balai TN Aketajawe Lolobata,” terang Sri Mina Ginting, Kasubdit PJL Air, Panas Bumi, dan Karbon, Direktorat PJLKK. Hari kedua, peserta langsung menuju Hutan Karaenta, Resor Pattunuang, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Melakukan praktik membuat plot ukur permanen dan melakukan inventarisasi dengan menerapkan metode IHN. Mencari 2 kluster yang telah ditentukan koordinatnya pada tipe ekosistem dengan menggunakan Global Positioning System (GPS). Selanjutnya membuat 3 plot pada setiap kluster. Peserta terbagi dalam dua kelompok besar dan setiap kelompok besar terbagi menjadi 3 kelompok kecil. Karena itu setiap kelompok bertanggung jawab mengukur masing-masing satu plot. Plot berbentuk lingkaran dengan dengan jari-jari pengukuran 5 m, 15 m, dan 25 m. Pada setiap lingkaran terdapat kriteria tumbuhan yang akan diukur. Mengukur tumbuhan regerasi, liana, bambu, pohon rebah, dan beberapa tingkatan diameter pohon. Selain itu juga belajar mengambil sampel tanah dan serasah. Mengoleksi sampel tanah dengan ring soil dan mengumpulkan serasah di bawah 300 gram pada ukuran 50x50 cm. "Kita menggunakan alat bantu berupa vertex dan tablet. Vertex berfungsi mengukur jarak pohon dari titik pusat plot dan mengukur tinggi pohon. Sedangkan tablet untuk mengisi tally sheet yang telah tersedia," terang Yusdhi Arwan, Widyaiswara BPLHK Kadipaten. Mengingat ketersediaan alat yang terbatas, peserta bergantian mempraktikkan cara penggunaan vertex, transponder, dan kompas. Untuk pengisian tally sheet, peserta telah mengunduh aplikasi yang serupa dengan tally sheet IHN 2.0 di telepon pintar masing-masing. Peserta merasakan langsung suasana hutan Karaenta yang merupakan perwakilan ekosistem karst. Ekosistem khas Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang meliputi setengah wilayahnya. Sesekali terdengar kicauan burung dan panggilan unik alfa omega monyet hitam sulawesi, Macaca maura, kepada kawanannya. Tampak juga dua-tiga kupu-kupu hilir mudik di bawah rindang pepohonan menambah khidmat bekerja di rimba raya. Hari ketiga, peserta in-house training melakukan praktik valuasi jasa lingkungan wisata alam Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Kawasan wisata Bantimurung menjadi objek penelitiannya. Pukul 09:00 WITA, peserta telah tiba di Bantimurung. Mereka menyapa wisatawan untuk memperoleh data. Melakukan wawancara untuk menentukan nilai jasa lingkungan wisata alam dengan teknik travel cost method. Setelah salat Jumat, peserta kemudian meninggalkan kawasan wisata ini. Saat tiba di Hotel Harper Makassar, mereka tidak langsung istirahat. Melanjutkan olah data hingga Maghrib. Menghitung total nilai karbon Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung pada tipe ekosistem karst hingga tuntas. Dengan penuh kesabaran Deden membimbing 6 kelompok ini melakukan analisis data kuisioner. Menggunakan formula yang telah dijelaskan sehari sebelumnya. Selanjutnya mengintegrasikan hasil valuasi jasa lingkungan wisata alam taman nasional ke dalam stok karbon ekosistem karst Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung. Hingga pada akhirnya setiap kelompok memperoleh total nilai stok karbon yang telah diintegrasikan dengan nilai jasa lingkungan wisata alam. Pada akhir sesi, keenam kelompok mempresentasikan hasil perolehan nilai total karbon dan non karbonnya. Saling menyangga dan berdiskusi antar kelompok, Sri Mulyati, moderator, dengan setia memandu jalannya pembelajaran. Pada akhir presentasi kelompok, Deden memberikan pencerahannya. "Saya melihat peserta telah menguasai penghitungan integrasi jasa lingkungan ke dalam stok karbon. Meski begitu saya berharap teman-teman peserta in-house training ini harus memverifikasi kelayakan referensi yang digunakan dan terus meng-update ilmu," imbuh Deden. Yusdhi juga mengevaluasi pelaksanaan pelatihan dengan melontarkan pertanyaan kepada peserta. "Apa yang perlu dilakukan agar IHN 2.0 ini dapat diterapkan di kawasan konservasi?" Beberapa peserta kemudian mengangkat tangan. Yusdhi menunjuk salah satunya untuk menyampaikan jawabannya. "Jika IHN 2.0 ini akan diadopsi di kawasan konservasi, ada beberapa hal yang perlu disesuaikan, di antaranya: pengambilan data berbasis tipe ekosistem, mempertimbangkan nilai biodiversitas, hasil olah data tidak harus terpusat di IPSDH tetapi pemangku kawasan harus memilikinya, dan terakhir klusternya perlu diperkecil," jawab Nurhikmah, peserta dari Balai Taman Nasional Lorentz, Papua. Hingga akhirnya, Kasubdit PJL Air, Panas Bumi, dan Karbon menutup rangkaian pelatihan. Menyampaikan terima kasih kepada segenap pihak yang telah membantu menyukseskan in-house training angkatan 3 di Makassar. Terkhusus kepada Balai Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung sebagai lokasi praktik selama 2 hari. "Kita punya target perhitungan karbon di kawasan konservasi 5 tahun ke depan. Karena itu, dua orang utusan dari UPT masing-masing yang menjadi peserta in-house training ini menjadi penanggungjawab pengukuran stok karbon di instansinya," ungkap Sri Mina Ginting saat menutup pelatihan. Sumber: Taufiq Ismail Al Pharepary – PEH pada Balai TN. Bantimurung Bulusaraung
Baca Artikel

Cerita HCPSN Tahun 2024 dari BKSDA Kalsel

Banjarbaru, 7 Oktober 2024. Di Indonesia ada peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) yang dirayakan pada tanggal 5 November. Peringatan ini menyoroti tentang peningkatan perlindungan dan upaya pelestarian flora dan fauna khas Indonesia. Peringatan HCPSN bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, perlindungan, pelestarian puspa dan satwa nasional serta menumbuhkan dan mengingatkan akan pentingnya puspa dan satwa dalam kehidupan kita. Kalimantan Selatan memiliki beberapa flora dan fauna yang endemik seperti Si Putih dari Puncak Maratus dan maskot Kalimantan Selatan Si Hidung Panjang yaitu Bekantan. Flora yang diangkat yaitu Si Putih dari Puncak Maratus Rhododendron berasal dari bahasa Yunani kuno (rhodon = rose dan dendron = tree), yang berarti pohon mawar atau mawar hutan. Ada yang mengartikan Rhododendron berarti tumbuhan yang mempunyai bunga seperti terompet. Rhododendron berbentuk semak dengan tinggi rata-rata di bawah satu meter, meskipun terdapat spesies yang mampu tumbuh hingga 30 meter. Daunnya kecil berwarna hijau. Bunganya yang mempunyai aneka warna sesuai dengan spesiesnya adalah yang paling menawan dari Rhododendron. Kesemua spesies Rhododendron hidup di daerah bercuaca sejuk utamanya di puncak gunung dengan ketinggian di atas 1000-an meter dpl. Bunga ini menjadi perhiasan puncak-pucak gunung yang selalu memukau para pendaki gunung. Di seluruh dunia terdapat sekitar 900 jenis Rhododendron. Dari jumlah ini, terdapat 1 jenis yang hanya dapat dijumpai di Pegunungan Meratus, yaitu Rhododendron alborugosum. Pada Tahun 1997, BKSDA Kalimantan Selatan pernah melakukan kegiatan Penilaian Potensi Calon Kawasan Konservasi Meratus Hulu, di mana dalam laporannya disebutkan bahwa terdapat 12 jenis tumbuhan endemik Kalimantan, yang salah satunya adalah Rhododendron alborugosum. Menurut Royal Botanical Garden Edinburgh (Inggris), jenis tanaman herba ini bahkan hanya ada di Gunung Halau-halau (Gunung Besar). Pada Tahun 2014, Tim BKSDA Kalsel berhasil melakukan inventarisasi jenis ini dan menemukannya sedang berbunga di Puncak Meratus. Sedangkan Fauna yang menjadi maskot Kalimantan Selatan yaitu Bekantan (Nasalis larvatus) merupakan spesies primata yang tergolong langka dan endemik Borneo yang merupakan maskot Provinsi Kalimantan Selatan. Jenis satwa ini termasuk satwa dilindungi, dikategorikan spesies “terancam punah”(endangered) oleh IUCN Red List dan masuk dalam Appendiks I CITES. Ciri utama yang membedakan bekantan dari monyet lainnya adalah hidung panjang dan besar yang hanya ditemukan di spesies jantan. Bekantan juga dapat berenang dengan baik, kadang-kadang terlihat berenang dari satu pulau ke pulau lain. Umumnya bekantan menyukai habitat hutan lahan basah yang mencakup hutan mangrove, hutan campuran di pantai, rawa gambut, dan hutan rawa yang didominasi oleh galam (Melaleuca cajuputi). Selain itu bekantan ditemukan di hutan bukit kapur dan hutan karet. Hampir semua kawasan konservasi di Kalimantan Selatan merupakan habitat bekantan. Spesies ini menghabiskan sebagian waktunya di atas pohon dan hidup dalam kelompok-kelompok yang berjumlah antara 10 sampai 32 individu, bergerak di antara pohon untuk mencari makan berupa daun, buah maupun bunga. Pakan favoritnya di habitat mangrove adalah pucuk daun rambai (Sonneratia caseolaris). Mereka bergerak dari pohon satu ke pohon lainnya, sehingga kondisi vegetasi di habitatnya sangat menentukan kelangsungan pergerakan harian jenis proboscis ini. Kerusakan habitat menjadi ancaman yang serius bagi spesies ini. Melalui HCPSN Tahun 2024, marilah kita menumbuhkan dan meningkatkan kepedulian kita terhadap lingkungan demi keseimbangan ekosistem yang lebih baik. Melalui HCPSN Tahun 2024, marilah kita jaga kelestarian flora dan fauna di sekitar kita dengan tidak merusak keindahan yang ditampilakan olehnya. (Ryn) Sumber: Titik Sundari, S.Hut - PEH Balai KSDA Kalimantan Selatan

Menampilkan 321–336 dari 1.990 publikasi