Senin, 25 Mei 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Jejak Merak Hijau yang Menjaga Napas Budaya Reyog Ponorogo

Ponorogo, 4 Desember 2025. Di auditorium lantai empat Gedung Rektorat Universitas Muhammadiyah Ponorogo, denyut masa lalu dan masa depan budaya Reyog kembali dipertemukan. Diskusi Terpumpun Penguatan Hasil Kajian Analisis Ekosistem Reyog Ponorogo, yang digelar pada 4 Desember 2025, membuka ruang dialog antara alam, budaya, dan sains, sebuah percakapan panjang yang kerap terabaikan dalam bingkai pelestarian budaya. Acara yang dibuka oleh Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI ini menghadirkan lintas institusi mulai Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), para akademisi Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Yayasan Reyog Ponorogo, hingga para pelaku seni dan penggerak sanggar. Tiga puluh peserta duduk dalam satu forum yang sama, mengurai kembali ekosistem budaya yang menghidupi Reyog hingga kini. Dalam dua sesi pemaparan yang komprehensif, Tim Peneliti Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI menyajikan kajian analisis mengenai Ekosistem Reyog Ponorogo dan transformasi budaya dari masa ke masa. Narasi ilmiah itu kemudian diperkaya tanggapan dari Rektor Universitas Muhammadiyah Ponorogo serta Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, yang menekankan pentingnya literasi budaya dan kontinuitas dokumentasi. Diskusi berkembang hangat. Para peserta menyadari, pelestarian Reyog bukan sekadar menjaga pertunjukan, melainkan memahami akar filosofinya. Ada kebutuhan untuk menelusuri kembali memori kolektif masyarakat Ponorogo, mulai dari fase awal hingga fase modern serta menggali ulang nilai-nilai ekologis dan kearifan lokal yang menyertainya. Pada kesempatan itu, Balai Besar KSDA Jawa Timur melalui perwakilan Resort Konservasi Wilayah 06 Ponorogo mengingatkan kembali satu simpul penting dalam jantung budaya Reyog, tentang kehadiran Merak Hijau (Pavo muticus). Satwa ini bukan hanya ikon visual dalam gemerlap dadak merak, tetapi sebuah simbol ekologis yang mengikat hubungan antara manusia, alam, dan budaya. Sebagai satwa liar yang dilindungi, Merak Hijau berada di persimpangan dua dunia, dunia seni yang meminjam keindahan bulunya sebagai representasi estetika, dan dunia konservasi yang berjuang mempertahankan populasinya di alam. Di sinilah KSDA Jatim menegaskan komitmennya untuk melestarikan satwa bukan hanya menyelamatkan spesies, tetapi juga menjaga napas budaya yang telah hidup ratusan tahun. Dalam forum itu pula disampaikan semangat keselarasan antara konservasi dan kebudayaan “Membudayakan Konservasi dan Mengkonservasi budaya”. Sebuah prinsip yang tidak hanya relevan, tetapi mendesak untuk diwujudkan, terutama ketika dunia modern menuntut kecepatan sementara alam dan budaya membutuhkan keberlanjutan. Namun esensi pertemuan tersebut jauh melampaui foto dan notulensi, ia adalah pengingat bahwa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari pelestarian ekosistem yang menopangnya. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bukan Sekadar Pohon, Prunus Memetakan Jalan Menuju Ekonomi Hijau dan Kedaulatan Genetik di Bawean

Sidoarjo, 5 Desember 2025. Kabut tipis turun perlahan di lereng Gunung Besar selepas hujan mengguyur, membalut pucuk-pucuk pohon yang berjaga bagai pilar waktu. Embun menggantung di ujung daun, memantulkan cahaya keperakan yang pelan-pelan menyingkap fajar. Suara burung tekukur menembus keheningan pagi, menandai awal hari bagi tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang sedang menapaki jalur setapak menuju hutan lembab di jantung Pulau Bawean. Langkah mereka berhenti di dekat tegakan tinggi dengan batang krem halus dan percabangan mendatar. Pohon itu tampak biasa, seperti bagian tak terpisahkan dari wajah hutan. Namun pohon ini, Prunus javanica dan saudara dekatnya Prunus arborea diam-diam menyimpan potensi yang kini menggugah dunia ilmiah dan konservasi Indonesia. Hasil Diseminasi Bioprospeksi BBKSDA Jawa Timur pada 3 Desember 2025 mengungkap data terbaru yang memberi harapan baru bagi arah pengembangan biofarmaka nasional berbasis keanekaragaman hayati lokal. Pohon yang selama ini dianggap biasa, ternyata menyimpan senyawa bioaktif berharga yang relevan untuk pengembangan obat herbal, antioksidan, dan antibakteri. Dari hutan Pulau Bawean, Indonesia menemukan jalan menuju ekonomi hijau dan kedaulatan genetik. Bawean, Pulau Kecil Dengan Peran Besar Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan biodiversitas tertinggi di dunia. Namun ironi besar menyertainya, banyak potensi biologis Indonesia yang selama ini belum tergarap optimal atau bahkan hilang sebelum sempat dipelajari. Di tengah kondisi itu, Pulau Bawean menjadi salah satu kawasan yang masih menjaga kekayaan alamnya dengan teguh. Pulau kecil seluas 196 km² ini menaungi empat kawasan konservasi utama, Cagar Alam (CA) Pulau Bawean, Suaka Margasatwa (SM) Pulau Bawean, CA. Pulau Nusa, dan CA. Pulau Noko. Survei potensi bioprospeksi tahun 2024 mencatat 303 jenis tumbuhan dan 24 jenis herpetofauna, menjadikannya salah satu bank genetik paling penting di Jawa Timur. Di antara keanekaragaman itu, dua pohon lokal kini merebut perhatian dunia akademik, Prunus javanica dan Prunus arborea, kerabat liar dari plum, ceri, dan almond. Riset ilmiah ini diawali oleh cerita lokal. Tim traditional knowledge menelusuri pengetahuan etnobotani melalui wawancara dengan enam Hatra (penyehat tradisional). Sebanyak 46 ramuan herbal berhasil diinventarisasi, dan di antaranya terdapat penggunaan Prunus javanica dalam terapi tradisional. Namun ancaman besar hadir, dimana sebagian besar Hatra berusia 50–60 tahun, dan hanya satu yang telah menurunkan ilmunya. Dan yang tidak kalah tragis para hatra itu tidak pernah mendokumentasikan tertulis pengetahuannya. Sehingga Jika tidak didokumentasikan, pengetahuan itu akan menghilang dalam satu dekade. Traditional knowledge adalah pintu pertama menuju bioprospeksi. Tanpa masyarakat, riset kehilangan akar. Dari Hutan ke Laboratorium Sampel daun, batang, akar, dan buah Prunus javanica dan Prunus arborea dikumpulkan dari beberapa Blok Kawasan Suaka Alam Pulau Bawean. Hasil uji sementara ditemukan beberapa senyawa penting untuk antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri. Dalam standar riset awal, angka ini di atas rata-rata spesies lokal lain yang diteliti, menempatkan Prunus sebagai kandidat kuat biofarmaka masa depan. Pemetaan populasi menunjukkan bahwa, Prunus arborea dominan dengan regenerasi alami baik dan Prunus javanica tersebar lebih luas, namun regenerasinya lebih rendah. Dua spesies ini saling melengkapi, P. arborea menjaga stabilitas ekosistem lembab, dan P. javanica menjadi indikator kesehatan habitat terbuka. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, menyampaikan arah strategis yang menjadi kompas masa depan kegiatan bioprospeksi di kawasan konservasi Balai Besar KSDA Jawa Timur. “Bioprospeksi bukan hanya penelitian. Ini adalah langkah strategis bangsa dalam membangun kedaulatan genetik dan ekonomi hijau. Prunus harus menjadi pintu masuk, bukan pintu kelua, bukan laporan yang berhenti di meja rapat, tetapi produk nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat dan negeri,” ujarnya membuka sesi diseminasi. Beliau juga menegaskan bahwa BBKSDA Jatim akan memastikan proses ini berkelanjutan, melibatkan akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat setempat. “Kami ingin memastikan bahwa manfaat dari hasil riset ini kembali kepada masyarakat Bawean yang menjaga hutan ini sejak awal. Itulah makna sejati Access and Benefit Sharing.” tambahnya. “Dalam 3–5 tahun ke depan, kita ingin melihat produk herbal atau farmasi berbasis Prunus lahir dari Bawean. Ini bukan mimpi. Ini target yang harus kita wujudkan bersama.” tegasnya mengakhiri dengan pandangan masa depan yang kuat. Pernyataan tersebut menjadi momen penting transisi dari penelitian ke arah hilirisasi dan komersialisasi yang bertanggung jawab. Inilah jalur menuju apa yang disebut Kepala Balai Besar sebagai “Bioindustri berbasis konservasi yang memuliakan alam, ilmu, dan manusia.” Janji di Balik Sekeping Daun Pada akhirnya, tubuh pohon menyimpan bukan hanya kayu, tetapi cerita, daun menyimpan bukan hanya klorofil, tetapi masa depan, dan hutan menyimpan bukan hanya kehijauan, tetapi harapan. Jika Prunus adalah bab awal, maka masa depan ada pada kesungguhan kita merawatnya. Menjaga Prunus adalah menjaga masa depan. Menjaga Bawean adalah menjaga jantung biodiversitas Jawa Timur. Masa depan ekonomi hijau Indonesia dimulai dari hutan kecil di tengah laut ini. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Nurhabli Ridwan Lolos 100 Besar Forest Youthverse 2025, Usung Inovasi Agroforestry Berbasis Pemberdayaan Masyarakat

Nurhabli Ridwan mempresentasikan gagasan ivonasi kepada Sekretaris BP2SDM Kementerian Kehutanan RI (27/11/2025) Pematangsiantar, 2 Desember 2025 — Nurhabli Ridwan, Kader Konservasi Alam (KKA) binaan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) asal Kabupaten Deli Serdang, kembali mengharumkan daerahnya setelah berhasil terpilih sebagai salah satu dari 100 delegasi nasional dalam Program Forest Youthverse 2025. Ia mewakili Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) pada ajang inovasi kehutanan tingkat nasional tersebut. Forest Youthverse 2025 merupakan program yang digagas oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kehutanan RI melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan. Program ini menjadi wadah bagi generasi muda untuk berkontribusi dalam pelestarian hutan melalui gagasan inovatif, kolaboratif dan aksi nyata. Seleksi peserta yang lolos sebelumnya telah melewati proses yang panjang mulai dari sosialisasi, pendaftaran, seleksi ketat, mentoring class hingga challenge class yang dilaksanakan secara daring. Dalam kompetisi ini, Nurhabli mengajukan gagasan dengan judul “Hutan Lestari, Masyarakat Mandiri”, yakni sebuah model pemberdayaan masyarakat berbasis agroforestry dan inovasi hijau di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) dengan pendekatan kolaborasi pentahelix. Gagasan ini diharapkan dapat memperkuat praktik pengelolaan hutan yang produktif, adaptif serta berkelanjutan. Setelah dinyatakan lolos 100 besar, seluruh peserta dari berbagai daerah dibagi ke dalam tiga lokasi pembelajaran lapangan, yaitu KHDTK Pondok Buluh (Sumatera Utara), KHDTK Sawala Mandapa (Jawa Barat), dan KHDTK Tabotabo (Sulawesi Selatan). Nurhabli berkesempatan mengikuti Forest Youthverse Summit pada 26-29 November 2025, yang diselenggarakan di Kantor BP2SDM Wilayah I Pematangsiantar dan KHDTK Pondok Buluh. Dari tahap ini, akan dipilih 6 peserta terbaik yang akan melaju ke Innovation Stage Forest Youthverse 2025, yaitu sesi presentasi final di hadapan Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni, MA., Ph.D. Pada 27 November 2025, Nurhabli memaparkan langsung proposal inovasinya kepada Sekretaris BP2SDM Kementerian Kehutanan, Dr. U. Mamat Rahmat, S. Hut., M.P. Ia menjelaskan empat rangkaian inovasi yang diusulkan, yaitu: Agroforestry Produktif Terpadu melalui demplot tanaman hutan dan tanaman obat, pengembangan produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), Ekowisata edukatif masyarakat (Eco-Edu Tourism), dan bank pohon dan karbon komunitas. Sebagai Founder sekaligus Ketua Umum GRAS, Nurhabli menyampaikan harapannya agar inovasi tersebut mendapat dukungan luas dari berbagai pihak sehingga dapat diimplementasikan sebagai model pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan. Sekretaris BP2SDM Kementerian Kehutanan RI, Dr. U. Mamat Rahmat, S.Hut., M.P., menyampaikan apresiasi atas ide inovasi yang telah dibuat. Menurutnya, anak muda harus memiliki energi, kreativitas, dan pengaruh besar untuk menggerakkan perubahan di bidang kehutanan sehingga inovasi yang telah dibuat tidak hanya menjadi gagasan, tetapi dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi masyarakat hutan. Pada 28 November 2025 Nurhabli Ridwan juga melakukan penanaman pohon aren di kawasan KHDTK Pondok Buluh salah satu aksi nyata dalam program Forest Youthverse 2025. Sumber: Balai Besar KSDA Sumatera Utara Kontributor/Penulis : Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam/KPA GRAS) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara Email: nurhabliridwan.gras@gmail.com WA : 087868871082
Baca Artikel

Rimba Bawean Menguji 3 Mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan - UGM

Bawean, 28 November 2025. Di sebuah pulau yang dijaga sang endemik rusa bawean, tak pernah benar-benar sunyi, tiga mahasiswa Sarjana Terapan Pengelolaan Hutan Universitas Gadjah Mada menutup perjalanan magang mereka dengan membawa pulang catatan yang tak pernah tercantum di modul perkuliahan. Selama hampir bulan, Arlina Widiastuti, Shalmiah Aegesti dan Tiara Nathania hidup bersama rimba bawean. Memetakan tapak satwa, mengolah data, dan merasakan bagaimana konservasi bekerja bukan sebagai teori, tetapi sebagai denyut yang nyata. Presentasi lapangan yang berlangsung pada Rabu, 26 November 2025, menjadi panggung kecil bagi pengalaman besar yang mereka kumpulkan di Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Sebuah kawasan strategis yang menggabungkan hutan, pesisir, dan budaya setempat dalam satu sistem ekologi pulau kecil yang rapuh sekaligus tangguh. Fokus utama mereka adalah implementasi SMART Patrol, kebijakan penguatan fungsi kawasan konservasi berdasarkan SK Dirjen KSDAE Nomor 74 Tahun 2025. Mereka menguraikan bagaimana patroli dilakukan, bagaimana setiap temuan dicatat, hingga bagaimana data dianalisis untuk membaca ancaman dan peluang menjaga Bawean. Lebih dari sekadar metode, SMART menjadi mata yang memetakan perubahan lanskap dan langkah awal memahami pola-pola yang menentukan masa depan pulau ini. Namun Bawean tak hanya menguji mereka lewat jalur patroli. Mahasiswa terlibat aktif dalam monitoring pemanfaatan sumber air, mencatat pengetahuan tradisional masyarakat, hingga mengikuti bioprospeksi vegetasi. Mereka melihat bagaimana spesies penting seperti Prunus javanica dan Prunus arborea mempertahankan keberadaannya di pulau yang terpencil ini. Mereka juga berkolaborasi dengan peneliti BRIN, menelusuri sungai-sungai kecil yang tersembunyi guna mengambil sampel crustacea air tawar, bagian penting dari upaya mengungkap keragaman hayati akuatik Bawean. Pada malam-malam tertentu, mereka bergabung dalam herping, menyusuri hutan dengan cahaya senter di antara daun basah dan tanah yang menyimpan cerita spesies malam. Bersama Tim Seksi KSDA Wilayah III Surabaya dan MMP Bawean Lestari, mereka juga belajar preservasi spesimen, memahami bahwa dokumentasi biodiversitas adalah langkah penting sebelum sebuah spesies menghilang tanpa jejak. Evaluasi lapangan dari Tim RKW 10 Pulau Bawean disampaikan dengan jernih dan membangun, perlunya perbaikan dalam detail persebaran vegetasi, peningkatan struktur presentasi, serta penyempurnaan dokumentasi visual. Semua itu bukan koreksi, tetapi bagian dari pendidikan di lapangan, karena konservasi bukan hanya tentang menjaga alam, tetapi juga tentang menyampaikan cerita alam secara akurat. Sabtu, 29 November, ketiga mahasiswa dijadwalkan kembali ke Surabaya dan Gresik untuk menyelesaikan tahap akhir magang hingga 22 Desember 2025. Laporan komprehensif akan mereka presentasikan di kantor Bidang KSDA Wilayah II sebagai penutup perjalanan akademik dan pengalaman lapangan yang mereka jalani. Bawean telah menguji mereka, dengan medan, cuaca, data, dan realitas konservasi sesungguhnya. Dan seperti hutan yang diam namun mengajarkan banyak hal, pulau ini meninggalkan jejak mendalam pada mereka: bahwa kerja konservasi adalah pertemuan antara ketekunan, sains, dan penghormatan terhadap alam yang menjadi rumah kita bersama. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Di Balik Kesibukan Kota Surabaya, Dua Elang Muda Menanti Nasib

Surabaya, 26 November 2025. Di tengah denyut kota Surabaya yang tak pernah berhenti, di antara deru kendaraan dan hiruk-pikuk pagi hari, ada dua makhluk muda yang seharusnya tumbuh di bawah cakrawala liar, bukan di balik jeruji sangkar sempit di depan sebuah ruko. Dua Elang Tikus (Elanus caeruleus), satwa yang dikenal sebagai penari angin dengan kepakan sunyi, justru terpajang di depan ruko Jl. Achmad Jais, Genteng, Surabaya. Keduanya berdiri mematung. Mata yang belum sempurna memerah menatap tajam, namun penuh kebingungan, mengamati lalu lalang kota yang tak mengenal hening. Momen itulah yang mengawali sebuah kisah penyelamatan. Selasa pagi, 26 November 2025. Sinar matahari baru menyentuh dinding ruko Ketika seorang petugas Seksi KSDA Wilayah III Surabaya melintasi jalan itu. Langkahnya terhenti. Ada sesuatu yang tidak biasa, dua burung pemangsa remaja yang seharusnya menguasai langit, justru “dipamerkan” kepada siapa pun yang lewat. Bagi yang mengenal dunia konservasi, pemandangan ini bukan sekadar anomali, melainkan tanda bahaya. Dalam hitungan detik, naluri profesional bekerja. Petugas bergerak mendekat, memastikan kebenaran apa yang dilihatnya. Setiap menit berarti bagi satwa liar, terutama bagi raptor muda yang rentan stres dan cedera. Melalui dialog dengan penjaga ruko dan kemudian pemilik satwa, Al Vinza Vizanni, petugas mengetahui bahwa kedua elang itu dipelihara tanpa izin. Di titik ini, pendekatan yang diambil bukanlah konfrontasi, tetapi pendekatan humanis, sesuatu yang menjadi napas konservasi modern. Petugas menjelaskan bahwa sesuai Permen LHK P.106/2018, Elang Tikus adalah satwa yang dilindungi. Penjelasan diberikan dengan sabar, tentang perannya sebagai predator hama, tentang keseimbangan ekosistem, tentang risiko memelihara raptor tanpa keahlian, hingga ancaman hukum yang mengikat. Ada jeda hening. Pemilik menundukkan kepala. Lalu perlahan ia berkata, “Kalau begitu… saya serahkan saja, Pak.” Keputusan sederhana itu menyelamatkan masa depan dua makhluk yang seharusnya tinggal bersama langit. Kedua elang itu masih remaja. Iris mata mereka belum setajam elang dewasa, namun cukup untuk menunjukkan naluri berburu yang mulai tumbuh. Bulu tubuh tampak bersih dan terawat, tak ada luka terbuka, tidak ada sayap yang layu. Satwa muda seperti ini ibarat kertas putih, masih bisa dipulihkan, masih bisa diajari kembali mengenali angin, masih bisa dilepaskan ke alam. Dengan penuh kehati-hatian, tim menyiapkan kandang angkut standar. Tidak boleh ada suara keras, tidak boleh ada gerakan tergesa. Raptor muda rentan panik, satu kepakan salah bisa berujung cedera. Satu per satu, elang itu diangkat. Dari balik jeruji, terdengar suara napas mereka yang cepat. Namun begitu pintu kendang ditutup, keduanya perlahan lebih tenang. Mereka kini berada di tangan yang tepat. Kendaraan bergerak menuju Kandang Transit Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Jawa Timur. Bagi banyak satwa liar, WRU adalah titik balik, tempat di mana mereka menjalani pemeriksaan medis, pemulihan fisik, dan rehabilitasi perilaku sebelum kembali pada takdir sesungguhnya, yaitu hidup liar. Di WRU, kedua elang akan, menjalani pemeriksaan kesehatan oleh tenaga medis, dipantau perilakunya, dilatih berburu mangsa hidup, dan ketika siap, dilepasliarkan kembali ke habitat yang sesuai. Perjalanan ini bukan sekadar pemindahan fisik. Ini adalah pemulihan martabat mereka sebagai satwa liar. Kejadian ini adalah pengingat bahwa konservasi bukan hanya tugas petugas, tetapi kesadaran bersama. Penyerahan sukarela seperti yang dilakukan pemilik adalah contoh bahwa edukasi mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap satwa liar. Dari sebuah ruko sederhana, dua elang muda mendapatkan kembali haknya untuk hidup sebagai penjaga langit. Dan dari kejadian ini, kita diingatkan bahwa di balik hiruk-pikuk kota, selalu ada ruang bagi kepedulian. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Park Rangers Conservation Awareness Leadership Workshop bersama Yayasan United in Diversity

Labuan Bajo, 25 November 2025. Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) difasilitasi oleh Sirkula Indonesia dan Yayasan United in Diversity telah menyelenggarakan Park Rangers Conservation Awareness Leadership Workshop , sebuahlokakarya kepemimpinan konservasi yang berlangsung di Hotel Luwansa Labuan Bajo pada tanggal 15–18 Juli 2025. Yayasan United in Diversity (UID) merupakan institusi terkemuka di Indonesia yang konsisten mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia berkesadaran dan berwawasan lingkungan melalui berbagai program, salah satunya BEKAL PEMIMPIN, yang telah melahirkan sejumlah alumni aktif di Kementerian Kehutanan. Keterlibatan UID dalam ekosistem program RangerGoes to School (RGTS) bertujuan untuk memperkuat niatan kolaboratif antara jagawana, guru, dan para praktisi pendidikan di Labuan Bajo dalam upaya melestarikan Situs Warisan Dunia Taman Nasional Komodo melalui pendekatan pendidikan konservasi dan pengembangan kepemimpinan generasi muda Manggarai Barat. Lokakarya ini menjadi ruang strategis untuk meningkatkan kemampuan para pendidik dan jagawana dalam menghadirkan pembelajaran konservasi yang lebih kolaboratif, reflektif, dan berorientasi pada kesadaran ekologis serta berpikir sistem. Sebagai bagian dari penguatan internal RGTS, lokakarya ini dipandang penting untuk menjawab kebutuhan pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang selama ini menjadi fondasi keberhasilan program. Sejak 2022, RGTS telah menjangkau lebih dari 1.700 siswa dari lima sekolah mitra di Labuan Bajo dan sekitarnya, sehingga kualitas fasilitator—baik jagawana maupun guru—menjadi krusial bagi keberlanjutan dan efektivitas pembelajaran. Dengan karakter RGTS sebagai program pendidikan berbasis kawasan konservasi yang menuntut pendekatan ilmiah, empatik, dan kontekstual, peningkatan kemampuan refleksi, komunikasi, dan kepemimpinan para pengajar menjadi keharusan. Lokakarya ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tersebut melalui pendekatan transformasional yang mengedepankan kolaborasi lintas profesi dan pengembangan kepekaan ekologis. Pelaksanaan lokakarya ini merupakan bagian dari rangkaian program yang memperoleh dukungan dari Divisi Pendidikan di UNESCO Jakarta dan diimplementasikan oleh Sirkula Indonesia. UNESCO memberikan atensi khusus terhadap RGTS karena melihatnya sebagai inisiatif pendidikan konservasi berbasis tapak yang berakar pada kepemimpinan para jagawana muda serta nilai-nilai lokal masyarakat Manggarai Barat. Dengan menilai RGTS sebagai model yang berpotensi direplikasi oleh taman nasional lain di Indonesia, UNESCO mendorong penguatan kapasitas para penggiat RGTS melalui pelatihan yang menumbuhkan kemampuan reflektif, empatik, dan kolaboratif. Dukungan ini memastikan setiap jagawana, guru, dan praktisi pendidikan memiliki keterampilan yang memadai untuk menuntun generasi muda memahami, menghargai, dan mencintai Taman Nasional Komodo. Selama empat hari pelaksanaan, sebanyak 33 peserta mengikuti rangkaian sesi pengembangan diri, dialog mendalam lintas profesi, serta latihan deep listening dan refleksi yang menjadi inti dari pendekatan Theory-U. Theory-U merupakan sebuah kerangka kerja untuk memimpin transformasi dan inovasi mendalam (a framework for leading profound change and innovation) yang dikembangkan oleh akademisi Massachusetts Institute of Technology (MIT). Melalui pendekatan ini, para fasilitator UID mendorong peserta untukmengamati, merasakan, dan memaknai kembali praktik pendidikan konservasi dari sudut pandang yang lebih sistemik, kolaboratif, dan berkesadaran. Untuk memperkuat proses pembelajaran, kegiatan ini juga menghadirkan ilustrator visual profesional, Kang Jaka, yang mendokumentasikan berbagai insight, dialog, dan gagasan utama ke dalam karya visual sebagai bahan refleksi kolektif setiap hari. Suasana lokakarya diwarnai oleh ekspresi emosional yang kuat—mulai dari rasa haru, bangga, hingga tumbuhnya semangat baru—yang mencerminkan perubahan cara pandang peserta terhadap peran pendidikan dalam menjaga kelestarian Taman Nasional Komodo. Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, berkesempatan hadir langsung dalam pembukaan kegiatan ini. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada UNESCO Jakarta, Sirkula Indonesia, Yayasan United in Diversity, Tim Ranger Goes to School, serta seluruh peserta lokakarya. Hendrikus menegaskan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan fondasi penting dalam memastikan kelestarian Taman Nasional Komodo, salah satunya melalui pendidikan konservasi bagi generasi muda. Beliau juga berpesan bahwa RGTS bukan hanya tanggung jawab Balai Taman Nasional Komodo, melainkan menjadi kewajiban seluruh pemangku kepentingan. Tanpa generasi muda yang memiliki kesadaran dan wawasan konservasi yang kuat, keberlanjutan Taman Nasional Komodo dalam jangka panjang dapat terancam. Dengan semangat kolaborasi, keberanian, dan konsistensi yang telah dibangun bersama, BTNK berharap lokakarya ini menjadi pijakan penting untuk menghadirkan Pendidikan konservasi yang lebih inklusif, transformatif, dan berdampak bagi generasi muda Manggarai Barat. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita dan Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Menakar Detak Jantung Kawah Ijen, Baseline Baru Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi

Banyuwangi, 25 November 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah V melaksanakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan untuk Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-ungup, sebuah upaya yang bukan sekadar administrasi, melainkan proses memahami denyut kehidupan yang bersemayam di balik dinding-dinding alam Ijen. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi (24-25/11/2025), tempat yang menjadi titik pertemuan berbagai pemangku kepentingan dari Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso. Di meja yang sama, duduk perwakilan dinas pariwisata, kehutanan, unsur TNI–Polri, pemerintah kecamatan, puskesmas, kepala desa, pengelola wisata, hingga jajaran Resor KSDA Wilayah 15. Pertemuan ini menghadirkan potret kolaborasi yang selama ini menjaga kawasan Kawah Ijen tetap menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati sekaligus ruang hidup bagi masyarakat. Penilaian kali ini menggunakan METT Versi 4.4, versi mutakhir yang dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan kawasan konservasi di era perubahan iklim. Tidak hanya menimbang pengelolaan dasar, METT kini menelusuri dimensi yang lebih kompleks. Termasuk di dalamnya penilaian terhadap habitat dan satwa indikator kunci, kompas ekologis yang menunjukkan apakah kawasan masih berada dalam kondisi sehat. Proses penilaian berlangsung intens, dipandu oleh fasilitator yang memastikan setiap butir pertanyaan dan data ancaman dipahami dan didiskusikan. Seluruh peserta terlibat aktif dalam menilai kondisi kawasan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, serta pengamatan lapangan. Pada akhirnya, data yang terkumpul disepakati sebagai baseline atau T0 METT Kawah Ijen untuk tahun 2025, yang menjadi pijakan dua tahun evaluasi berikutnya. Hasil penilaian memberi gambaran optimistis. Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-ungup memperoleh skor 70 dari total 102, atau setara 68,63 persen. Sementara Taman Wisata Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-ungup meraih skor 80 dari 111, atau 72,07 persen. Keduanya masuk kategori pengelolaan efektif. Ini berarti, di tengah tekanan ekologi, pariwisata, dan dinamika pemanfaatan ruang, struktur pengelolaan kawasan masih berdiri kokoh dan adaptif. Namun perjalanan menuju pengelolaan yang ideal tidak pernah selesai. Diskusi para peserta mengerucut pada sejumlah langkah yang dinilai penting untuk dilakukan dalam dua tahun ke depan. Pembaruan data satwa kunci dan nilai alami kawasan dianggap sangat mendesak, mengingat dinamika populasi satwa dan habitat terus berubah. Kawasan ini juga memiliki potensi jasa lingkungan yang jauh lebih luas dari sekadar wisata alam, yang membutuhkan identifikasi lebih mendalam. Upaya penghitungan cadangan karbon, peningkatan fasilitas pengunjung, serta peninjauan kembali dokumen perencanaan kawasan untuk memasukkan isu perubahan iklim dan pemanfaatan jasa lingkungan menjadi bagian dari strategi besar yang akan memperkuat pengelolaan CA dan TWA Kawah Ijen ke depan. Kegiatan METT kemudian ditutup dengan penandatanganan Berita Acara Penilaian METT CA dan TWA Kawah Ijen Merapi Ungup Ungup, menandai komitmen bersama untuk menjaga kawasan yang menjadi denyut kehidupan di ujung timur Pulau Jawa. Dalam lanskap Kawah Ijen yang setiap hari diselimuti laju angin, aktivitas geologi, dan sistem ekologis yang saling terkait, kerja konservasi bukan hanya tentang menjaga alam tetap utuh, tetapi juga memastikan bahwa setiap keputusan hari ini memberi ruang tumbuh bagi generasi yang akan datang. Di tengah gemuruh aktivitas vulkanik dan hiruk pikuk kunjungan wisata, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Kawah Ijen bukan sekadar destinasi, ia adalah ekosistem yang hidup. Dan METT 2025 adalah langkah kecil namun penting untuk memastikan bahwa kehidupan itu terus terjaga. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai TN Komodo dan UNESCO Jakarta Luncurkan Modul Pendidikan Konservasi

Labuan Bajo, 25 November 2025. Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) secara resmi meluncurkan Modul Pendidikan Konservasi “Taman Nasional Komodo dan Pariwisata Berkelanjutan”, sebuah terobosan pembelajaran muatan lokal untuk pelajar menengah atas/kejuruan berbasis kawasan konservasi yang memperoleh dukungan pengembangan dan penyempurnaan dari UNESCO Jakarta. Modul ini menjadi langkah strategis bagi BTNK dalam memperkuat efektivitas pengelolaan Taman Nasional Komodo melalui peningkatan kualitas pendidikan sumber daya manusia, khususnya generasi muda di Labuan Bajo. Inisiasi ini dimulai dengan meningkatkan kapasitas program Ranger Goes to School (RGTS), inisiatif pendidikan konservasi unggulan dari para jagawana muda di Balai Taman Nasional Komodo. Program yang digagas oleh Muhammad Ikbal Putera (PEH Ahli Muda) beserta rekan-rekannya sejak tahun 2022 ini telah membawa banyak manfaat positif bagi generasi muda di Labuan Bajo untuk lebih peduli terhadap Taman Nasional Komodo, bukan sebagai destinasi pariwisata melainkan warisan alam dan budaya lokal yang harus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Meskipun program RGTS sudah memiliki kurikulum dan bahan ajar yang komprehensif, materi tersebut masih disusun berdasarkan tema ajar per minggunya dan belum disusun sebagai satu dokumen induk yang bisa dibaca secara utuh oleh pihak diluar Balai Taman Nasional Komodo maupun pihak sekolah. Hal inilah yang dirasa dapat menjadi hambatan pencapaian yang lebih besar sehingga transformasi bahan-bahan ajar RGTS menjadi sebuah modul ajar sangat penting dan urgent. Divisi Pendidikan UNESCO Jakarta melalui Zakki Gunawan dan timnya memberikan apresiasi dan atensi terhadap program RGTS yang digagas oleh Balai Taman Nasional Komodo. UNESCO Jakarta selanjutnya memberikan dukungan finansial untuk dapat menyempurnakan program RGTS dan mewujudkan keinginan para jagawana tersebut demi meningkatkan kualitas pendidikan lingkungan di wilayah Nusa Tenggara Timur, khusunya Kabupaten Manggarai Barat. UNESCO Jakarta melihat potensi bahwa program RGTS dapat menjadi benchmarking bagi taman nasional lain sehingga modul ajar menjadi sesuatu yang harus diwujudkan. Untuk itu, Tim RGTS melalui dukungan Sirkula Indonesia berhasil mendapatkan dukungan finansial tersebut dan berupaya melaksanakan dua program strategis yaitu: penyusunan modul “Taman Nasional Komodo dan Pariwisata Berkelanjutan” dan pelaksanaan conservation awareness leadership workshop untuk tim jagawana, guru sekolah, dan praktisi di Labuan Bajo mengenai pentingnya kolaborasi dan pendidikan konservasi bagi kelestarian alam di Manggarai Barat. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai lembaga yang menaungi satuan pendidikan menengah atas dan kejuruan turut berperan dalam terwujudnya gebrakan baru di bidang pendidikan ini. Tim RGTS bersama Sirkula Indonesia secara konsisten berkolaborasi dan mengadvokasi pentingnya pendidikan konservasi sebagai bagian dari pengembangan muatan lokal di Nusa Tenggara Timur. Dalam prosesnya, tim menekankan bahwa program RGTS akan memberikan dampak yang lebih luas apabila warisan alam dan budaya ditempatkan setara dengan keragaman seni dan budaya daerah sebagai identitas masyarakat. Seluruh taman nasional di NTT merupakan kekayaan alam dan budaya yang perlu diketahui, dipelajari, dan dilestarikan, sehingga sudah selayaknya diperkenalkan secara sistematis melalui pendidikan formal. Menindaklanjuti rangkaian advokasi ini, Gubernur Nusa Tenggara Timur menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 44 Tahun 2025, yang mengubah Pergub NTT Nomor 25 Tahun 2025 tentang Kurikulum Muatan Lokal pada Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus. Peraturan tersebut resmi memasukkan topik “taman nasional dan pariwisata berkelanjutan” sebagai muatan lokal, membuka ruang bagi seluruh pengelola taman nasional di NTT untuk memperkuat pendidikan konservasi dan mereplikasi keberhasilan program RGTS sesuai konteks wilayahnya masing-masing. Keberhasilan advokasi kebijakan ini melengkapi pencapaian penting RGTS di tahun keempat pelaksanaannya, yang pada 2025 dikoordinasikan oleh Rawuh Pradana, Kepala Satuan Polisi Kehutanan BTNK. Sejak 2022, RGTS telah menjangkau lebih dari 1.700 peserta didik dari lima sekolah mitra, menjadikannya salah satu program pendidikan konservasi paling konsisten dan berdampak di Nusa Tenggara Timur. Keberhasilan modul ajar dan advokasi kebijakan ini menjadi puncak dari dukungan UNESCO Jakarta melalui Sirkula Indonesia, sekaligus tonggak baru bagi BTNK dalam memastikan keberlanjutan pendidikan konservasi di Manggarai Barat. Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, menyampaikan apresiasi kepada UNESCO Jakarta, Sirkula Indonesia, para kepala sekolah mitra RGTS, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta seluruh mitra masyarakat yang telah berperan aktif dalam pengembangan modul ini. Dukungan tersebut sejalan dengan pengakuan komunitas internasional terhadap program RGTS, yang sebelumnya diadvokasi oleh Muhammad Ikbal Putera pada IUCN World Conservation Congress 2025 di Abu Dhabi. Pengakuan ini semakin memperkuat posisi RGTS sebagai model pendidikan konservasi berbasis tapak dari Indonesia untuk dunia. Dengan modal kesadaran, keberanian, kolaborasi, dan konsistensi yang telah terbangun, BTNK berharap modul ini dapat diterapkan secara lebih luas dan menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi muda yang sadar, peduli, dan bangga terhadap warisan alam Komodo dan Nusa Tenggara Timur. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita dan Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6281138290000
Baca Artikel

Perencanaan Kuat dan Kolaborasi Masyarakat Menjadi Fondasi Konservasi TWA Gunung Baung

Pasuruan, 25 November 2025. Para pengelola kawasan bersama akademisi, aparat, pemerintah daerah, komunitas masyarakat, dan pelaku usaha berkumpul di Camping Ground Baung Canyon (25/11/2025). Untuk menakar satu pertanyaan penting, mengapa pengelolaan Gunung Baung selama ini mampu berjalan efektif? Penilaian menggunakan Management Effectiveness Tracking Tool (METT Ver. 4) mengonfirmasi efektivitas tersebut dengan skor 67,48%, melewati ambang batas 67% untuk kategori “efektif”. Namun angka ini bukan sekadar capaian administratif, ia adalah cermin dari kekuatan dasar yang menopang kawasan ini: perencanaan yang terstruktur, proses pengelolaan yang berjalan konsisten, dan keterlibatan masyarakat yang semakin menguat. Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kemudian dilanjutkan dengan penilaian yang dipandu fasilitator. Kolaborasi lintas unsur tampak nyata: Institut Pertanian Malang, KPH Pasuruan, Polsek dan Koramil Purwosari, Pemerintah Kecamatan Purwosari–Purwodadi, tiga desa sekitar, kelompok MPA, KTH, HIPPAM, serta mitra usaha dari sektor wisata dan agroforestri. Semua hadir dengan komitmen yang sama, menjaga Gunung Baung tetap lestari. Skor tertinggi muncul pada aspek Planning, mencapai 80,95%. Ini menunjukkan bahwa Gunung Baung memiliki fondasi pengelolaan yang kuat: rencana pengelolaan tersusun jelas, rencana kerja rutin berjalan, desain kawasan diperbaharui, hingga status legal yang memberi kepastian. Pengelolaan yang dimulai dari perencanaan matang memberi ruang bagi setiap langkah konservasi untuk berjalan lebih terarah. Tidak berhenti di sana, aspek Proses juga mencatat skor tinggi 77,19%. Artinya, perencanaan yang kuat benar-benar terimplementasi. Kegiatan monitoring, edukasi, pengelolaan nilai budaya dan alami, kolaborasi dengan masyarakat, pengawasan lapangan, hingga penegakan aturan berjalan secara konsisten. Di lapangan, kelompok masyarakat peduli api, kelompok tani hutan, pengelola wisata, dan aparat desa berperan menjaga kawasan melalui berbagai kegiatan rutin. Gunung Baung menunjukkan bahwa efektivitas konservasi tidak hanya ditentukan oleh dokumen dan anggaran, tetapi juga oleh keterlibatan aktif para pemangku kepentingan di sekitar kawasan. Kehadiran tiga MPA, HIPPAM, desa penyangga, lembaga usaha, hingga perguruan tinggi menjadi bukti bahwa pengelolaan kawasan ini sudah dibangun di atas prinsip kolaboratif. Dalam konteks konservasi modern, partisipasi masyarakat bukan lagi pelengkap, melainkan inti. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha inilah yang menjadikan Gunung Baung tetap terjaga dari sisi pengamanan, pemanfaatan jasa lingkungan, hingga edukasi dan wisata. Meski efektif, METT juga mencatat ruang perbaikan. Aspek Input mendapat skor 44,44%, menandakan perlunya penguatan pada peralatan, fasilitas, kapasitas SDM, serta kepastian anggaran pengelolaan. Pada aspek Output yang hanya mencapai 46,67%, fasilitas pengunjung, konektivitas, serta manfaat bagi masyarakat perlu terus ditingkatkan agar pengelolaan semakin berdampak. Namun kekurangan ini bukan hambatan, melainkan peta jalan. Dengan akar perencanaan yang sudah kuat dan proses pengelolaan yang konsisten, pembenahan dapat dilakukan dengan arah yang jelas. Hasil METT ini memberi pesan optimistis bahwa Gunung Baung berada di jalur yang benar. Efektivitas pengelolaan bukanlah kebetulan, tetapi buah dari perencanaan jangka panjang, pengelolaan yang berjalan penuh komitmen, serta kehadiran masyarakat yang turut menjaga hutan, sungai, dan tebing-tebingnya. Dari Gunung Baung, terlihat satu hal yang pasti, konservasi hanya bisa berhasil bila dilakukan bersama. Dan Gunung Baung telah membuktikannya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mengungkap Rapor Konservasi Gunung Abang

Pasuruan, 26 November 2025. Di bawah kesejukan rumpun bambu Camping Ground Baung Canyon- Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung, udara pagi terasa berbeda pada Senin, 24 November 2025. Di pendopo sederhana yang dikelilingi suara gesekan rumpun bambu, berbagai unsur pengelola dan stakeholder terkait berkumpul untuk satu misi penting, yaitu menilai kembali kesehatan ekologis Cagar Alam Gunung Abang melalui instrumen global METT Ver. 4. Suasana pertemuan itu bukan sekadar formalitas rutin, melainkan perjumpaan berbagai kepentingan yang disatukan oleh satu visi, untuk memastikan Gunung Abang tetap menjadi benteng keanekaragaman hayati Jawa Timur. Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang berdiskusi akrab dengan pengelola Hutan KPH Pasuruan. Para kepala desa dari Sapulante, Ampelsari, dan Kedungpengaron duduk sejajar dengan para Masyarakat Pemerhati Alam, MPA Gunung Abang Ampelsari, Sapulante, dan Kedungpengaron. Hadir pula perwakilan pemerintah dari kecamatan, kepolisian, dan TNI yang selama ini menjadi mitra lapangan dalam perlindungan kawasan. Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang menegaskan bahwa penilaian ini adalah bagian penting dari proses adaptif pengelolaan kawasan konservasi. METT bukan hanya angka, tetapi cermin yang memantulkan seberapa jauh langkah-langkah perlindungan selama ini berjalan, dan sejauh mana kita perlu memperbaikinya. Hasil penilaian kemudian mengerucut pada angka 65,71%, menempatkan Cagar Alam Gunung Abang dalam kategori kurang efektif. Angka ini menggugah banyak pihak, bukan karena kelemahan semata, tetapi karena ia memperlihatkan potret jujur dari dinamika konservasi di lapangan. Di satu sisi, perencanaan kawasan justru berada pada tingkat sangat kuat, sebuah fondasi yang kokoh untuk membangun strategi jangka panjang. Namun pada sisi lain, keterbatasan peralatan, anggaran, dan jumlah personel menjadi tantangan nyata yang menghambat pengelolaan berjalan optimal. Meski begitu, proses-proses konservasi di lapangan masih menunjukkan denyut yang hidup. Kolaborasi dengan masyarakat lokal, kegiatan edukasi, monitoring, riset, hingga penegakan perlindungan kawasan terus berjalan dengan komitmen tinggi. Nilai outcome yang mencapai 77,78% memperlihatkan bahwa inti ekosistem Gunung Abang, yaitu habitat, spesies indikator kunci, serta nilai budaya dan alaminya, masih dalam kondisi yang baik. Hutan ini masih berdiri sebagai ruang hidup satwa liar, sebagai reservoir air, dan sebagai lanskap spiritual bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Namun laporan ini juga mengingatkan bahwa kekuatan ekosistem tidak boleh membuat kita lengah. Fasilitas umum, manfaat bagi masyarakat lokal, hingga respons terhadap ancaman yang terus berkembang masih membutuhkan penguatan. Gunung Abang adalah hutan yang memerlukan lebih banyak tangan penjaga, lebih banyak dukungan, dan lebih banyak ruang kolaborasi. Di akhir pertemuan, para peserta tampak menyadari hal yang sama, bahwa angka 65,71% bukanlah akhir, melainkan arah baru. Hasil METT ini menjadi kompas yang menuntun pengelola untuk menutup celah-celah kelemahan, memperkuat sinergi dengan masyarakat, serta mengarahkan langkah perbaikan yang lebih terukur dan tepat sasaran. Gunung Abang telah memberikan kita udara, air, dan kehidupan. Penilaian hari itu mengingatkan bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban institusi, tetapi perwujudan rasa syukur sekaligus amanah lintas generasi. Kawasan ini tetap menunggu komitmen kita untuk terus merawat, memperbaiki, dan memastikan bahwa kelestariannya tidak berhenti di hari ini saja, tetapi mengalir hingga masa depan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Para Guru yang Membentuk Penjaga Alam Jawa Timur

Sidoarjo, 25 November 2025. Di pagi yang lembut di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, cahaya matahari menembus sela dedaunan, membuka lembar baru kehidupan liar yang bergerak dalam kesunyian. Di sanalah, jauh dari keramaian kota, para penjaga alam Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA Jatim) menjalankan tugasnya, melindungi satwa, menjaga habitat, dan merawat warisan ekologi yang menjadi napas kehidupan. Namun di balik keteguhan mereka berjaga, ada satu kisah yang selalu menyertai, mereka semua pernah menjadi murid. Setiap Pengendali Ekosistem Hutan, setiap Polisi Kehutanan, setiap Penyuluh Kehutanan, setiap anggota Manggala Agni, dan setiap karyawan BBKSDA Jatim, lahir dari tangan para guru. Dari guru TK yang pertama kali memperkenalkan mereka pada gambar-gambar hewan, hingga guru SMA yang menumbuhkan logika ilmiah. Dari dosen kampus yang membakar rasa ingin tahu, hingga mentor konservasi yang menanamkan etika lapangan. Mereka berdiri hari ini karena ada para pendidik yang menuntun mereka di masa lalu. Kesadaran inilah yang kembali menguat pada momentum Hari Guru Nasional 25 November 2025. Dalam dunia konservasi, guru bukan sekadar sosok yang berdiri di depan kelas, guru adalah siapa saja yang menanamkan nilai, ilmu, dan kepedulian terhadap alam. Dan kini, para petugas BBKSDA Jawa Timur melanjutkan mata rantai itu dengan menjadi guru bagi masyarakat luas. Di seluruh kawasan konservasi mulai Suaka Margasatwa Pulau Bawean, CA Pulau Nusa, CA Pulau Noko, lanskap dataran tinggi, mangrove, karst, dan pulau-pulau kecil, seluruh tenaga Balai Besar KSDA Jawa Timur terlibat dalam pendidikan konservasi. Bukan hanya yang mengenakan seragam lapangan, tetapi juga staf administrasi, tenaga teknis non-lapangan, hingga petugas mitra di penangkaran dan lembaga konservasi. Setiap mereka, dalam cara dan kesempatannya masing-masing, turut menjadi bagian dari proses belajar masyarakat. Edukasi dilaksanakan untuk semua jenjang. Mulai dari anak-anak TK yang diajak mengenal satwa dilindungi melalui boneka dan gambar; siswa SD yang belajar tentang jejak satwa; remaja SMP dan SMA yang terlibat dalam kelas konservasi, hingga mahasiswa yang turun langsung meneliti ekosistem atau magang bersama para petugas. Ribuan peserta telah disentuh oleh edukasi ini setiap tahun. Tidak hanya dilakukan oleh petugas, namun juga oleh Kader Konservasi FK3I Korda Jawa Timur, yang menjadi jembatan penting antara masyarakat dan ilmu konservasi. Mereka menyebarkan pengetahuan, memfasilitasi kampanye lingkungan, dan memperluas jangkauan edukasi hingga ke desa-desa terpencil. Langkah pendidikan ini diperkokoh dengan rangkaian deklarasi kerja sama dengan dunia akademik. Balai Besar KSDA Jawa Timur menggandeng SMK Kehutanan Walisongo Pacet, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, UIN Sunan Ampel Surabaya, serta FIKKIA Universitas Airlangga Banyuwangi. Kolaborasi lintas ilmu ini menghadirkan integrasi antara sains, kesehatan satwa liar, ekologi, sosial-budaya, hingga pendekatan berbasis masyarakat, membangun kekuatan baru dalam konservasi. Dalam momen peringatan ini, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyampaikan pesan mendalam yang menautkan masa lalu dan masa depan. “Tidak ada penjaga alam yang lahir sendirian. Kita semua dibentuk oleh guru—guru kehidupan, guru sekolah, guru lapangan,” tegas Nur Patria. “Karena itu, setiap langkah yang kita lakukan hari ini untuk mengajar masyarakat adalah cara kita mengembalikan jejak kebaikan itu. Guru menguatkan pendidikan, dan pendidikan menguatkan konservasi. Di situlah Indonesia menjadi kuat,” tambahnya. Pernyataan ini sejalan dengan gema yang menyatukan seluruh perjalanan konservasi Jawa Timur. Dari ruang kelas yang sederhana hingga keheningan hutan, dari para pendidik yang menginspirasi hingga para petugas yang kini mengajar generasi baru, dari pengetahuan ilmiah hingga kearifan ekologis, semuanya terhubung dalam satu mata rantai besar pembelajaran. Hari Guru Nasional tahun ini bukan sekadar peringatan, tetapi refleksi bahwa upaya menjaga alam dimulai dari pendidikan. Dari guru-guru masa lalu, lahir para penjaga alam hari ini. Dan dari penjaga alam hari ini, akan lahir guru-guru yang menularkan kecintaan terhadap bumi kepada generasi mendatang. Indonesia akan kuat ketika pengetahuan dan kepedulian berjalan beriringan. Ketika guru, siswa, masyarakat, dan alam bersatu dalam satu ruang belajar yang sama, ruang belajar kehidupan. Selamat Hari Guru Nasional. Mari terus belajar, mengajar, dan menjaga bumi,bersama-sama. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Integrasi Retribusi Masuk Kawasan TN Kayan Mentarang Dengan Retribusi Desa Wisata Di Bahau Hulu

Malinau, 24 November 2025 – Biaya masuk kawasan konservasi telah diatur pemerintah dalam PP Nomor 36 Tahun 2024 dimana juga termasuk di dalamnya adalah Biaya Masuk Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) bagi Wisatawan Lokal maupun Mancanegara dan tercatat sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Namun sering kali mengalami tumpang tindih pungutan/retribusi dan menjadi pertanyaan bagi para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Hal ini disebabkan karena sejumlah desa yang secara adminitrasi kawasannya masuk dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang juga memilki aturan dan biaya masuk kawasan wisata yang beragam. Seperti yang disampaikan oleh Sumardi selaku Sekretaris Desa Long Alango Kecamatan bahau Hulu, Kabupaten Malinau. Dirinya menerangkan bahwa Desa Wista Long Alango memiliki aturan dan biaya retribusi untuk masuk kawasan wisata yang akan tercatat sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes) yang di Kelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), kawasan wisatanya juga termasuk kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang, sementara untuk masuk kawasan TNKM juga ada biaya masuk yang tercatat sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kondisi ini perlu di diskusikan lebih lanjut agar retribusi tersebut kedepan dapat di pungut dalam skema 1 pintu sementara mekanisme pembagiannya diatur sesuai ketentuan masing-masing agar tidak menimbulkan pertanyaan bagi wisatawan yang berkunjung. “Sebenarnya ini bukan masalah, tetapi ini menurut saya sepertinya tumpang tindih. Misalnya ada turis datang, ada yang lewat Balai TNKM (Pembayaran masuk kawasan TNKM) kadang lewat perorangan, kadang lewat Badan Pengelola Tana Ulen (BPTU), ini yang perlu kita koordinasikan (skema pungutan retribusinya) agar tidak masing-masing. Karena akan membingungkan turis yang berkunjung. Maka dengan ini harapan kami dari desa agar ini segera kita atur bersama agar sinkron, sehingga turis masuk melalui satu pintu, tapi sudah ada pembagiannya dari satu pintu tersebut. kalau bisa tahun depan sudah terintegrasi dan tidak tumpang tindih lagi (pungutannya).” tutur Sumardi. Di tempat yang sama, saat kunjungan kerja ke resort Sungai Bahau SPTN II Long Alango Kepala Balai TN Kayan Mentarang Seno Pramudito, S.Hut., M.E. menyambut positif saran yang disampaikan oleh sekretarias desa Long Alango agar dapat dilakukan pungutan secara kolektif melalui skema satu pintu. Namun Seno Pramudito menekankan perlunya komunikasi dalam mencari solusi, agar apa yang direncanakan dapat berjalan dengan baik. “Kita bisa memulai dari pertemuan bersama terlebih dahulu untuk mendiskusinya solusinya, kemudian aturan-aturannya seperti apa, berapa biayanya. mungkin bisa melalui tim kecil dulu dari masing-masing pihak, kemudian di kumpul dalam satu forum untuk menentukan bentuk pungutannya. Apakah melalui satu pintu sekali bayar saja kemudian kita bagikan berapa untuk PNBP yang harus dilaksanakan oleh Balai TNKM, berapa untuk BPTU karena manyangkut hak masyarakat adat, dan berapa untuk desa sebagai PADes. Inilah yang akan kita sinergikan kedepan, dan kalau nanti sudah ketemu kesepakatannya seperti apa, nilainya berapa, secepatnya bisa dilaksanakan.” Ujar Seno usai Pertemuan silaturahmi dengan Kepala Adat Besar Bahau Hulu dan Stakeholder terkait di Kecamatan Bahau Hulu. Untuk di ketahui saat ini biaya masuk kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang untuk Wisatawan Nusantara sesuai PP 36 Tahun 2026 Kategori III yakni sebesar Rp 10.000 perhari perorang pada hari kerja, sementara pada hari libur sebesar 15.000 perorang perhari dan untuk Wisatawan Mancanegara sebesar Rp 150.000 Perhari perorang sementara pada hari libur sebesar Rp 225.000 perhari perorang. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

Bangun Generasi Konservatif, Warga Minta Balai TN Kayan Mentarang Buka “Saung” Kembali

Malinau, 25 November 2025 – Dunia Pendidikan saat ini menjadi perhatian serius pemerintah dalam menangani berbagai dinamika dan perkembangan global. Karena melalui Pendidikan yang mumpuni pemerintah meyakini akan dapat meningkatkan traf hidup masyarakat dan mencapai tujuan Indonesia emas 2045. Begitu pula halnya dengan masyarkat adat di perbatasan di Kecamatan Bahau Hulu yang merupakan wilayah penyangga Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). saat ini meraka meminta Balai Taman Nasional Kayan Mentarang kembali membuka kegiatan belajar non-formal yakni Sekolah Alam Ujung Negeri (SAUNG). Saung merupakan program belajar non-formal yang bertujuan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan dan konservasi di daerah perbatasan di Kecamatan bahau Hulu yang di inisiasi oleh Balai TN Kayan Mentarang pada tahun 2021 dan di Kelola secara swadaya oleh Pegawai Balai TN Kayan Mentarang. Tidak hanya soal alam, hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di TN Kayan Mentarang, para peserta didik yang tergabung di SAUNG juga di ajari menggunakan peralatan teknologi seperti Komputer hingga GPS. Namun beberapa waktu belakangan program SAUNG terhenti karena adanya mutasi pegawai di Lingkungan Kementerian Kehutanan serta proses pemisahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan. Kepala Adat Besar Bahau Hulu Baya Ajang, mewakili masyarakat adat Bahau Hulu dalam pertemuannya dengan Kepala Balai TN Kayan Mentarang di Desa Long Alango mengatakan bahwa program Saung sangat bermanfaat dan penting untuk kembali dilaksanakan karena menambah pengetahuan lain bagi anak-anak di wilayahnya, terutama pengetahuan yang belum di dapatkan di sekolah formal. Sehingga ia meminta agar Saung di buka kembali. Hanya untuk kedepan apabila kembali dilaksanakan Baya Ajang berharap lebih banyak materi tentang Taman Nasional Kayan Mentarang, mulai dari kawasan hutannya, Potensi Keanekaragaman hayati hingga bagaimana penerapan nilai-nilai konservasi yang di padu-padankan dengan penggunaan teknologi masa kini. “Kami sebagai orang tua tentu senang dan bangga dengan adanya Saung beberapa tahun lalu yang dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, tentu kedepan kami berharap Saung ini kembali dilaksanakan karena menambah ilmu anak-anak kami. Dan apabila kembali dilaksanakan supaya menambahkan materi bagaimana anak-anak mengenal tentang Taman Nasional kayan Mentarang itu sendiri, khususnya di wilayah bahau Hulu ini” ujar Baya Ajang. Hal senada juga di utarakan oleh Sumardi selaku masyarkat Bahau Hulu yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Desa Long Alango. Dirinya mengakui perubahan positif pada anaknya setelah mengukti program saung adalah prilaku disiplin anak terhadap waktu belajar. Yang sebelumnya turun sekolah formal masih harus di arahkan waktunya, tetapi ketika di saung anak sendiri yang mendesak orang tua untuk tepat waktu. Selain perubahan pada sikap disiplin anak, kelak apabila diaktifkan kembali Sumardi mengajak Balai TN Kayan Mentarang untuk berkolaborasi dalam menyiapkan tempat belajar bagi anak-anak agar dapat menampung lebih banyak peserta didik non-formal dan proses belajarnya di Saung nanti lebih nyaman. Selain itu yang perlu ditambahkan juga adalah peserta dari tingkat SMA, namun pendidikannya langsung pengenalan kehati di kawasan TNKM. “Mungkin yang pertama perlu disiapkan tempatnya dulu, ini nanti bisa saja Kolaborasi Balai dengan Desa Long Alango, supaya anak-anak belajarnya lebih nyaman. Kemudian yang perlu ditambahkan juga adalah anak-anak SMA, mungkin kalau SMA bisa langsung ke lokasi seperti di Lalut Birai dan di berikan materi nama satwa maupun nama tumbuhan yang ad di Taman Nasional Kayan Mentarang.” ungkap sumardi Menanggapi hal tersebut Kepala Balai TN Kayan Mentarang Seno Pramudito, S.Hut.,M.E. merespon positif permintaan pengaktifan kembali Saung oleh masyarakat di Bahau Hulu. dirinya pun mendukung penuh apa yang menjadi harapan masyarakat Bahau Hulu terhadap program Saung. Karena melalui saung Balai TNKM ingin mengenalkan kepada anak-anak apa itu Taman Nasional, apa fungsi Taman Nasional, dan apa yang menjadi peran Taman Nasional. Terutama tentang Taman Nasinal Kayan Mentarang sendiri yang berada di sekitar masyarkat Bahau Hulu. “Tentu kami mendukung juga (pengaktifan Saung), karena program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat bagi masyarakat bagi anak-anak, bagi generasi muda tentang berhitung, membaca, ilmu pengetahuan lain (Teknologi) dan tidak kalah penting adalah tentang taman Nasional Kayan Mentarang. Karena Desa Long Alango ini berada di Perbatasan Negara dan Penyangga Taman Nasional Kayan Mentarang. Sehingga penting untuk para orang tua hingga anak-anak mengetahui ap aitu taman nasional, apa fungsi taman nasional dan apa peran taman nasional.” Tutup seno. Sebelumnya, Balai TN Kayan Mentarang menggunakan Visitor Center SPTN II Long Alango sebagai sarana pendukung kegiatan belajar-mengajar dalam program Saung. Dalam kelompok ini peserta didik diberikan ilmu pengetahuan yang berbeda dari sekolah formal dan dapat menyesuaikan dengan prilaku dan pola sikap anak di kawasan penyangga TN Kayan Mentarang. Mengingat berada di kawasan hutan anak-anak tentu banyak mendapatkan pelajaran bagaimana orang tua mereka menjaga hutan hingga memanfaatkan hasil hutan secara lestari oleh leluhurnya. Hal inilah yang perlu di rawat dan di tingkatkan sesuai perkembagan zaman agar hutannya terus terjaga dengan baik. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

BBKSDA Jatim Tempa Generasi Baru Pecinta Alam di Madura

Madura, 23 November 2025. Seksi KSDA Wilayah IV, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menghadiri undangan sebagai narasumber pada Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) XXV Mahapala Universitas Madura (UNIRA), yang diselenggarakan di Aula Rektorat Lantai 3 Kampus UNIRA, Pamekasan. Kegiatan ini diikuti oleh 18 calon anggota serta 10 anggota aktif Mahapala. Materi inti tentang Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAE) disampaikan oleh Didik Sutrisno, Penyuluh Kehutanan Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan. Pemaparan mencakup dasar-dasar ekologi, pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam, serta peran generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan konservasi. Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dan diskusi yang membuka ruang bagi peserta untuk memahami lebih dalam dinamika pengelolaan kawasan, isu perburuan, hingga tekanan lingkungan di daerah-daerah kritis. Diklatsar XXV Mahapala UNIRA dilaksanakan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kompetensi calon anggota organisasi pecinta alam. Momen ini menjadi ruang pembelajaran penting bagi peserta untuk mengenali keterhubungan antara manusia, hutan, dan ekosistem yang menopang kehidupan. Di tengah laju perubahan iklim dan kerentanan lingkungan, kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun generasi baru yang memahami pentingnya menjaga alam, merawat keragaman hayati, dan menguatkan komitmen konservasi di Pulau Madura. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dua Gunung, Dua Ritual, Satu Sumber Kehidupan, Sigogor dan Picis Menjadi Penentu Masa Depan Air Bersih Ponorogo

Ponorogo, 25 November 2025. Di balik keteduhan pepohonan yang menyelimuti Cagar Alam Gunung Sigogor dan Cagar Alam Gunung Picis, tersimpan nadi kehidupan yang mengaliri desa-desa di lereng Ponorogo. Dua kawasan konservasi ini bukan sekadar bentang alam yang dilindungi, keduanya adalah penyangga air bersih, penjaga tradisi, dan ruang hidup bagi berbagai spesies hutan yang bertahan di tengah tekanan lahan. Pada 20–21 November 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (METT 4) untuk kedua cagar alam tersebut. Penilaian berlangsung selama dua hari di RM Bu Lis 2, Kecamatan Ngebel, dengan melibatkan lintas unsur mulai dan Bappeda Ponorogo, Forkopimca, Perhutani BKPH Wilis Barat, perwakilan desa penyangga, Kelompok Tani Hutan, pecinta alam, Masyarakat Mitra Polhut, kelompok MPA “Sapu Geni”, hingga komunitas lingkungan Jaga Satwa Indonesia. Kegiatan dibuka dengan sambutan Sekcam Ngebel, Bambang Udiono, disusul Kepala Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Namun yang membuat penilaian ini berbeda bukan hanya hadirnya banyak pihak, melainkan tingginya antusiasme masyarakat lokal yang sejak lama menghormati dua kawasan ini melalui ritual adat tahunan. Bagi masyarakat Pupus, Gondowido, Talun, hingga kelompok pecinta alam setempat, hutan di Sigogor dan Picis bukan sekadar wilayah konservasi, melainkan ruang spiritual. Mereka menjaga kawasan dengan penuh hormat, menjalankan tradisi sebagai bentuk syukur dan pengakuan bahwa hutan adalah sumber kehidupan yang tidak boleh dirusak. Dalam konteks ini, secara terpisah Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa pelibatan masyarakat adalah kekuatan esensial dalam konservasi. “Sigogor dan Picis telah lama dijaga oleh kearifan lokal. Tugas kita bukan mengganti tradisi itu, melainkan memperkuatnya agar kelestarian hutan berjalan searah dengan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Pernyataan tersebut menjadi landasan kuat bahwa konservasi hanya akan berhasil bila pemerintah bergerak beriringan dengan komunitas penjaga hutan di lapangan. Menggunakan instrumen METT 4, tim memotret kekuatan dan tantangan dalam pengelolaan kawasan. Hasil Penilaian METT di CA Gunung Sigogor: 72,22% ( Planning 85,71%, Input 61,11%, Process 66,67%, Outputs 66,67%, Outcomes 91,67%) dan di CA Gunung Picis: 71,30% ( Planning 80,95%, Input 61,11%, Process 66,67%, Outputs 66,67%, Outcomes 91,67%) Kedua cagar alam menunjukkan perencanaan yang kuat dan hasil konservasi yang tinggi, ditandai oleh skor Outcomes di atas 90%. Artinya, meski tantangan terkait input dan proses masih ada, seperti ketersediaan sarana pengamanan dan kebutuhan peningkatan aktivitas monitoring, fungsi ekologis kawasan tetap terjaga. Gunung Sigogor dan Gunung Picis merupakan daerah tangkapan air penting bagi wilayah Ponorogo. Lereng-lereng hutan ini menjadi reservoir alami yang menjaga kontinuitas air bersih bagi ribuan warga. Dalam diskusi, peserta berkali-kali menekankan bahwa hilangnya hutan berarti hilangnya air, dan hilangnya air berarti ancaman bagi kehidupan sosial, ekonomi, hingga budaya lokal. Ketika cagar alam dijaga, sebenarnya kita sedang menjaga sumber air, ketahanan pangan, dan identitas budaya masyarakat Ponorogo. Inilah konservasi yang sesungguhnya, menjaga seluruh sistem kehidupan secara utuh. METT bukan sekadar penilaian teknis; ini adalah ruang dialog dan titik temu berbagai kepentingan yang menyatu demi satu tujuan: melindungi kawasan konservasi Jawa Timur. Dari kegiatan ini, semakin jelas bahwa, kolaborasi masyarakat–pemerintah merupakan fondasi utama pengelolaan kawasan, pengetahuan lokal dan budaya adalah modal penting menjaga hutan dan cagar alam yang kecil sekalipun dapat berdampak besar bagi ekologi dan kesejahteraan manusia. Ke depan, penguatan input pengelolaan, peningkatan sarana monitoring, dan pelibatan komunitas secara berkelanjutan akan menjadi kunci mempertahankan fungsi ekologis Sigogor dan Picis. Dengan kekuatan kolaborasi yang terbangun, dukungan masyarakat, dan komitmen kuat dari Balai Besar KSDA Jawa Timur, masa depan Sigogor dan Picis tidak hanya dapat dijaga, tetapi dapat diwujudkan sebagai model konservasi berbasis budaya dan ekologi yang menginspirasi Jawa Timur. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pertarungan Alas Simpenan Menjaga Diri dari Ancaman yang Kita Ciptakan

Kediri, 24 November 2025. Embun pagi mulai kering di ujung semak, dan suara burung bersahutan memantul di Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan. Kawasan ini, meski kecil dalam bentang alam Kediri, menyimpan hutan yang begitu rapat, teduh, dan bernilai ekologis tinggi. Namun di balik ketenangan itu, ada ancaman yang tumbuh pelan, diam-diam, tetapi pasti, sampah padat yang mulai merayap dari pemukiman menuju tepi kawasan. Ancaman tersebut menjadi salah satu isu paling dalam kegiatan Management Effectiveness Tracking Tool (METT) yang digelar 18 November 2025, ketika para pemangku kepentingan berkumpul di Balai Desa Manggis Gadungan. Mereka datang dari berbagai arah, mulai aparat desa, tokoh masyarakat, kelompok pengelola hutan, Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, Perhutani, hingga pengelola dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Suasana pertemuan berubah menjadi sebuah forum yang jujur, tempat semua pihak mengakui, menimbang, dan merumuskan kembali masa depan kawasan konservasi ini. Sampah padat sudah mulai terlihat di titik-titik rawan kawasan, menjadi alarm yang memecah keheningan. Bappeda Kabupaten Kediri menguatkan pernyataan tersebut, menyoroti bagaimana sampah rumah tangga, yang terlihat biasa pada skala kecil, kini bergerak menjadi tekanan ekologis pada skala lanskap. Isu yang terdengar sederhana itu sesungguhnya membawa konsekuensi jauh lebih besar, satwa liar dapat berubah perilaku karena terbiasa mendekati permukiman. Vegetasi bawah terganggu oleh residu anorganik yang tidak terurai; dan air permukaan di zona pemulihan kawasan perlahan terkontaminasi. Di ruang pertemuan sederhana itu, ancaman sampah padat bukan lagi sekadar “masalah kebersihan”. Ia menjadi masalah konservasi, masalah tata lingkungan, dan masalah kesadaran manusia. Namun harapan justru datang dari tempat yang paling dekat dengan kawasan, yaitu masyarakat penyangga. Empat kelompok masyarakat dari desa Manggis, Satak, Wonorejo, dan Asmorobangun menyampaikan bagaimana mereka terlibat dalam berbagai tahapan pengelolaan, mulai dari penyusunan blok, RPJP, sosialisasi tata batas, hingga penilaian METT. Mereka juga menceritakan dampak positif program pemberdayaan dari BBKSDA Jawa Timur yang membantu menguatkan kapasitas mereka. Ada yang menceritakan bagaimana pelatihan pemetaan partisipatif membuka mata warga tentang batas-batas ekologis yang harus dijaga. Ada pula yang menuturkan bagaimana kegiatan restorasi, meski sering terkendala rendahnya kesadaran menjaga bibit, tetap menjadi proses belajar kolektif. Dinas Lingkungan Hidup menambahkan perspektif penting, bahwa konservasi bukan hanya menggantungkan diri pada kawasan, tetapi pada manusia yang hidup di sekelilingnya. Mereka mengangkat persoalan klasik, kurangnya kepedulian masyarakat merawat bibit reboisasi. Namun mereka juga memaparkan solusi: edukasi, penyadartahuan lapangan, dan kerja bersama antara lembaga konservasi dan desa. Pada penghujung kegiatan, fasilitator memandu sesi penilaian METT dengan lembar demi lembar pertanyaan yang menguji kesiapan, sistem, proses, hingga dampak pengelolaan kawasan. Dan dari proses panjang itu, satu angka muncul sebagai simpulan, 69,70%, sebuah skor yang menandakan pengelolaan “cukup efektif”, dengan kekuatan pada kondisi ekologis (Outcomes 88,89%) namun masih menyimpan ruang perbaikan pada aspek tata kelola, proses, dan dukungan sumber daya. Namun angka hanyalah representasi. Di baliknya ada hutan yang harus dijaga, suara masyarakat yang harus didengar, dan ancaman sampah yang tidak boleh dibiarkan. Cagar Alam Manggis Gadungan hari itu seperti berbicara kepada semua yang hadir, bahwa yang terberat dari menjaga alam bukanlah melawan perusak bersenjata, tetapi melawan kebiasaan kecil yang dianggap sepele, plastik yang dibuang, organik yang tidak dikelola, dan kesadaran yang belum tumbuh sepenuhnya. Dan dari forum itulah, satu tekad kembali menguat, bahwa masa depan hutan tidak hanya bergantung pada petugas di dalam kawasan, tetapi pada manusia yang hidup di pinggir hutannya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 321–336 dari 2.298 publikasi