Jumat, 28 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Kartini-Kartini Penjaga Rimba: Mereka Tak Hanya Bertugas, Tapi Saling Menguatkan Menyelamatkan Kehidupan Yang Tak Bersuara

Sidoarjo, 21 April 2026. Pagi belum sepenuhnya terang ketika langkah-langkah itu mulai bergerak. Sebagian menembus jalur hutan yang sunyi, sebagian lain duduk di balik meja kerja dengan layar komputer yang menyala. Mereka berada di ruang yang berbeda, tetapi mengemban satu tujuan yang sama: menjaga kehidupan. Mereka adalah Kartini-Kartini penjaga alam Jawa Timur. Pada peringatan Hari Kartini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) tidak hanya mengenang sejarah emansipasi, tetapi merayakan peran nyata perempuan dalam menjaga keanekaragaman hayati, dari garis depan hutan hingga ruang-ruang administrasi yang kerap luput dari sorotan. Di lapangan, Polisi Kehutanan perempuan berjalan menyusuri kawasan rawan perburuan, membaca tanda-tanda ancaman, memastikan tidak ada jerat yang mengintai satwa liar. Penyuluh Kehutanan hadir di tengah masyarakat, membangun kesadaran dan menjahit harmoni antara manusia dan alam. Pengendali Ekosistem Hutan bekerja dengan pendekatan ilmiah, memastikan keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Namun konservasi tidak pernah berdiri hanya di satu garis. Di balik setiap patroli, setiap kegiatan penyelamatan, dan setiap upaya perlindungan, ada peran penting yang bekerja dalam senyap. Perempuan-perempuan di bagian humas merawat narasi konservasi, mengubah data menjadi cerita, membangun kesadaran publik, dan memastikan pesan tentang pentingnya menjaga alam menjangkau lebih banyak hati. Di bagian kepegawaian, mereka memastikan sistem organisasi berjalan, mengelola sumber daya manusia, menjaga ritme kerja, dan memastikan setiap personel siap menjalankan tugasnya di lapangan. Sementara itu, bagian tata usaha menjadi tulang punggung administratif, mengawal perencanaan, anggaran, hingga dukungan operasional yang memungkinkan kegiatan konservasi berjalan tanpa hambatan. Di luar itu, karyawati dari berbagai lini, serta Dharma Wanita Persatuan, turut memperkuat fondasi konservasi melalui edukasi, pendampingan masyarakat, hingga gerakan sosial yang menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa peran perempuan dalam konservasi hari ini bukan lagi pelengkap, melainkan pilar utama yang menggerakkan sistem. “Perempuan di Balai Besar KSDA Jawa Timur hadir di seluruh lini, dari lapangan hingga manajemen. Mereka bukan hanya menjalankan tugas, tetapi menjadi penggerak yang menyatukan kekuatan konservasi. Semangat Kartini hari ini kita maknai sebagai kekuatan kolaboratif, di mana setiap peran saling membangun untuk memastikan kelestarian keanekaragaman hayati tetap terjaga,” ujarnya. Beliau juga menekankan bahwa tantangan konservasi ke depan semakin kompleks, sehingga membutuhkan pendekatan yang tidak hanya kuat secara teknis, tetapi juga adaptif, komunikatif, dan berorientasi pada kolaborasi lintas peran. “Konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Ketika Polisi Kehutanan, Penyuluh, PEH, humas, kepegawaian, tata usaha, hingga Dharma Wanita bergerak bersama, di situlah kita melihat ekosistem kerja yang utuh. Dan perempuan memiliki peran strategis dalam merawat keseimbangan itu,” tambahnya. Di sinilah makna Kartini menemukan bentuknya yang paling utuh. Bukan sekadar tentang peran individu, tetapi tentang jejaring perempuan yang saling membangun, saling menguatkan, dan saling melengkapi. Mereka mungkin bekerja di ruang yang berbeda, di hutan, di desa, di kantor, atau di balik layar komunikasi, namun setiap peran adalah bagian dari sistem besar yang tidak terpisahkan. Konservasi, pada akhirnya, bukan hanya tentang menjaga hutan atau menyelamatkan satwa liar. Ia adalah tentang kolaborasi. Tentang bagaimana setiap peran, sekecil apa pun, menjadi penentu bagi keberlangsungan kehidupan. Dan di Jawa Timur, Kartini-Kartini itu telah membuktikan, bahwa ketika perempuan bergerak bersama, konservasi tidak hanya menjadi tugas, tetapi menjadi kekuatan. Sebuah kekuatan yang menjaga hutan tetap hidup, menjaga satwa tetap bertahan, dan menjaga masa depan tetap memiliki harapan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Burung Dikemas Seperti Barang, 149 ekor Diselamatkan, Puluhan Tak Tertolong

Surabaya, 21 April 2026. Ratusan burung dari lima spesies diamankan dalam sebuah operasi penyelamatan di Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Jawa Timur Satpel Tanjung Perak, Senin (20/4). Satwa-satwa ini sebelumnya diangkut menggunakan KM. Mila Utama rute Banjarmasin–Surabaya, sebelum akhirnya terhenti di tangan aparat. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak setelah menerima laporan limpahan penanganan dari Direktorat Polisi Air dan Udara (Ditpolairud) Polda Jawa Timur. Di lokasi, petugas menemukan burung-burung tersebut dikemas dalam lima kotak kayu dan delapan kardus, tanpa ventilasi memadai, tanpa standar kesejahteraan satwa. Jumlah total mencapai 149 individu. Rinciannya: Kucica Kampung sebanyak 7 ekor, Sikatan Bakau 6 ekor, Kacamata Biasa 53 ekor, Bentet Kelabu 37 ekor, dan Madu Sriganti 46 ekor. Namun tidak semua berhasil diselamatkan. Sebanyak 40 individu Kacamata Biasa ditemukan mati, disusul satu individu Sikatan Bakau. Sisanya dalam kondisi hidup, meski sebagian menunjukkan tanda stres dan kelelahan akibat perjalanan panjang dalam ruang sempit. “Satwa dikemas seperti barang kiriman biasa. Ini yang paling berbahaya, bukan hanya bagi kelangsungan hidup satwa, tetapi juga bagi ekosistem asalnya,” ujar Hartono - Polisi Kehutanan Seksi KSDA Wilayah III Surabaya. Pelaku berinisial R (39), warga Banjarmasin, kini menjalani pemeriksaan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) BKHIT Jawa Timur. Ia disangkakan melanggar Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan, khususnya terkait lalu lintas media pembawa tanpa prosedur yang sah. Meski jenis burung yang diamankan tidak termasuk satwa dilindungi dan tidak tercantum dalam Appendix CITES, praktik pengangkutan dalam jumlah besar tetap menjadi perhatian serius. Selain menyebabkan kematian, aktivitas ini berpotensi mengganggu keseimbangan populasi di alam liar, terutama jika dilakukan secara berulang. Setelah melalui tindakan karantina, burung-burung yang masih hidup kemudian dievakuasi ke Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) Balai Besar KSDA Jawa Timur. Di sana, satwa akan menjalani pemeriksaan kesehatan, pemulihan kondisi, serta rehabilitasi sebelum dipertimbangkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Kasus ini kembali menegaskan bahwa jalur laut antarpulau masih menjadi titik rawan peredaran satwa liar. Modusnya sederhana: dikemas dalam kardus, disamarkan sebagai barang biasa, lalu dikirim dalam jumlah besar. Di atas kertas, angka penyelamatan mungkin terlihat sebagai keberhasilan. Namun angka kematian yang menyertainya menyimpan cerita lain tentang ruang sempit, perjalanan panjang, dan peluang hidup yang dipangkas sejak awal. Dan di antara kardus-kardus itu, sebagian kicau tak pernah sampai tujuan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pendidikan Dasar Calon Anggota Baru Saka Wanabakti Kwartir Ranting Air

April 2026. Stasiun Riset Way Rilau (Blok Inti Hutan Lindung Batutegi) berkesempatan menjadi tempat Pendidikan Dasar Calon Anggota Baru Saka Wanabakti Kwartir Ranting Air Naningan pada hari Sabtu–Minggu, 18–19 April 2026. Kegiatan diikuti oleh 10 peserta, 3 Pamong Saka dan 14 panitia dengan penyampaian materi meliputi kehutanan, kepramukaan, Saka Wanabakti dan Fonologi. Kegiatan ini merupakan bagian dari pendampingan Saka Wanabakti Kwartir Cabang Tanggamus oleh Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (BBTNBBS). Melalui pembinaan ini, BBTNBBS turut mengimplementasikan program Bina Cinta Alam, sebagai upaya menanamkan nilai kepedulian, tanggung jawab, serta kecintaan generasi muda terhadap kelestarian sumber daya alam dan ekosistem hutan. Diharapkan juga melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga memiliki kesadaran dan komitmen untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan. Sumber: Balai Besar TN Bukit Barisan Selatan
Baca Artikel

Di Balik Angka Rehabilitasi Mangrove: Apa yang Sebenarnya Terjadi di Lapangan?

Surabaya, 20 April 2026. Di atas kertas, rehabilitasi mangrove di Jawa Timur menunjukkan capaian yang menjanjikan. Luasan meningkat, program berjalan, dan berbagai inisiatif terus digulirkan. Namun, apa yang sebenarnya terjadi di lapangan tidak selalu sesederhana angka-angka dalam laporan. Pada tanggal 16–17 April 2026, bertempat di Hotel Platinum Tunjungan, Surabaya, para pemangku kepentingan berkumpul dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) untuk membedah realitas tersebut. Kegiatan ini diinisiasi oleh BPDAS Solo bersama para pihak, melibatkan pemerintah pusat dan daerah, akademisi, sektor swasta, serta komunitas pesisir, mereka yang selama ini berada di garis depan pengelolaan mangrove. Diskusi mengerucut pada satu pertanyaan besar, mengapa peningkatan luasan mangrove belum sepenuhnya mencerminkan keberhasilan ekologis dan sosial di lapangan? Di berbagai wilayah pesisir Jawa Timur, mangrove memang tumbuh, namun tidak sedikit yang gagal berkembang akibat ketidaksesuaian lokasi tanam, dinamika pasang surut yang tidak diperhitungkan, hingga tekanan alih fungsi lahan menjadi tambak dan permukiman. Lebih jauh, sebagian besar mangrove di Jawa Timur berada di luar kawasan hutan, bersinggungan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Kondisi ini menjadikan rehabilitasi tidak hanya soal menanam, tetapi juga tentang bagaimana menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekologis dan penghidupan masyarakat pesisir. Melalui forum ini, para pihak mulai merumuskan pendekatan baru, bagaimana rehabilitasi mangrove harus dilakukan. Tidak lagi sekadar berbasis target luasan, tetapi melalui pendekatan berbasis ekosistem, kolaborasi multipihak, serta keterlibatan aktif masyarakat. Skema seperti community-based management, integrasi kebijakan darat-laut, hingga penguatan peran Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD) menjadi langkah strategis yang didorong bersama. Sebab pada akhirnya, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya diukur dari berapa hektar yang ditanam, tetapi dari seberapa banyak ekosistem yang benar-benar pulih, menjadi pelindung alami pesisir, penyerap karbon, sekaligus ruang hidup yang berkelanjutan bagi manusia dan keanekaragaman hayati. Di balik angka-angka yang tampak meyakinkan, terdapat realitas yang lebih kompleks. Dan dari ruang diskusi hingga bentang pesisir, satu hal menjadi semakin jelas, bahwa masa depan mangrove Jawa Timur tidak ditentukan oleh angka semata, tetapi oleh bagaimana kita memahami, merawat, dan menjaganya bersama. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Piton Afrika di Gresik, Jejak Satwa Eksotis yang Mengungkap Ancaman Tak Terlihat

Gresik, 20 April 2026. Di antara deretan satwa liar yang dievakuasi dari permukiman warga Gresik pada 17 April 2026, satu individu mencuri perhatian, bukan karena ukurannya, melainkan asal-usulnya yang asing bagi lanskap Nusantara. Seekor Ball Python atau Sanca Bola (Python regius), spesies asli Afrika Barat dan Tengah, ditemukan hidup di tengah lingkungan urban Jawa Timur. Kemunculan spesies ini bukan sekadar kejadian insidental. Ia adalah pesan ekologis yang tegas, bahwa batas geografis yang selama ini memisahkan ekosistem dunia mulai runtuh, didorong oleh aktivitas manusia. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), mengevakuasi individu Python regius tersebut bersama satwa lain hasil penyerahan UPT. DAMKARLA Kabupaten Gresik. Namun berbeda dengan sanca kembang atau biawak air yang masih merupakan bagian dari fauna lokal, sanca bola menghadirkan dimensi ancaman yang lebih kompleks. Spesies ini tidak memiliki habitat alami di Indonesia. Keberadaannya di Gresik hampir dapat dipastikan berasal dari praktik pemeliharaan satwa eksotik, yang kemudian berujung pada pelepasan ke alam atau lepasnya individu dari pengawasan. Sebuah tindakan yang kerap dianggap sebagai “pelepasliaran”, namun sejatinya adalah bentuk introduksi spesies asing yang berisiko tinggi. Dalam ekologi, fenomena ini dikenal sebagai biological invasion. Dan sejarah telah berulang kali menunjukkan dampaknya, bahwa spesies asing yang mampu beradaptasi dapat menjadi predator baru, pesaing bagi spesies lokal, atau bahkan mengganggu keseimbangan rantai makanan. Fakta bahwa Python regius ini mampu bertahan hidup di lingkungan Gresik, yang memiliki suhu, kelembapan, dan tekanan antropogenik yang berbeda dari habitat asalnya menjadi indikator awal kemampuan adaptasi yang tidak bisa diabaikan. Dalam skenario terburuk, jika lebih banyak individu dilepas atau lolos ke alam, peluang terbentuknya populasi liar bukan lagi sekadar hipotesis. Risikonya berlapis. Ia dapat bersaing dengan ular lokal seperti sanca kembang (Malayopython reticulatus), Sanca Bodo (Phyton bivittatus), yang memanfaatkan sumber pakan yang sama, dan perlahan menekan populasi spesies asli. Lebih jauh, masyarakat yang tidak familiar dengan spesies ini berpotensi menghadapi konflik baru, berbasis ketidaktahuan, ketakutan, atau bahkan reaksi defensif yang membahayakan. Dalam konteks ini, suara dari lapangan menjadi penting. Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Jawa Timur yang juga dikenal memiliki ketertarikan pada kehidupan reptil di kawasan urban, menegaskan bahwa fenomena ini bukan hal yang bisa dianggap remeh. “Kemunculan Python ini di wilayah urban seperti Gresik adalah indikator kuat adanya rantai pemeliharaan satwa eksotik yang tidak diikuti tanggung jawab. Reptil, khususnya ular, sering dianggap menarik saat masih kecil, tetapi ketika tumbuh dan membutuhkan perawatan lebih, tidak sedikit yang akhirnya dilepas begitu saja ke alam,” ujarnya. Ia menambahkan, lingkungan urban sebenarnya memiliki celah ekologis yang memungkinkan beberapa spesies reptil bertahan, terutama yang memiliki toleransi tinggi terhadap perubahan habitat. “Beberapa jenis ular memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan baru, termasuk kawasan permukiman. Jika kondisi pakan tersedia dan tekanan rendah, bukan tidak mungkin mereka bertahan cukup lama. Ini yang perlu diwaspadai, karena potensi terbentuknya populasi liar dari spesies asing bisa terjadi tanpa kita sadari,” jelasnya. Namun, menurutnya, persoalan ini tidak semata-mata soal satwa, melainkan tentang perilaku manusia. “Kunci utamanya ada pada kesadaran. Memelihara satwa liar, apalagi spesies eksotik, bukan sekadar hobi. Ada tanggung jawab hukum, etika, dan ekologis. Melepas satwa ke alam bukan solusi, justru itu awal dari masalah baru,” tegasnya. Seluruh satwa, termasuk sanca bola tersebut, kini berada di Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani observasi dan penanganan lanjutan. Setiap langkah yang diambil terhadap individu ini akan mempertimbangkan aspek kesejahteraan satwa sekaligus mitigasi risiko ekologis. Ke depan, langkah strategis menjadi tak terelakkan, penguatan pengawasan perdagangan satwa eksotik, edukasi publik yang lebih masif, serta sistem deteksi dini terhadap kemunculan spesies non-native di alam. Karena di balik tubuh melingkar seekor piton kecil itu, tersembunyi pertanyaan besar yang harus dijawab bersama. Saat spesies asing mulai menemukan tempat di alam kita, apakah kita masih cukup siap untuk menjaga batasnya? (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mengapa Batas Kawasan Menentukan Masa Depan Bawean ?

Bawean, 20 April 2026. Di lereng Gunung Dandu, Pulau Bawean, tiga tunggak pohon Jati berdiri sebagai saksi bisu. Terpotong rapi, meninggalkan bekas segar yang kontras dengan hijaunya lanskap sekitar. Sekilas, ini tampak seperti kisah klasik, hutan yang kembali kehilangan bagian tubuhnya. Namun, hasil verifikasi lapangan justru mengungkap cerita yang lebih kompleks, dan jauh lebih penting. Pada Jumat pagi (17/4), tim dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak menuju Blok Kumalasa, Kecamatan Sangkapura. Langkah ini merupakan respons cepat atas laporan masyarakat yang mencurigai adanya aktivitas penebangan di sekitar batas Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Berbekal koordinat lapangan dan titik acuan pal batas, tim yang terdiri dari polisi kehutanan, personel pengendalian kebakaran hutan, dan mitra masyarakat melakukan pengecekan menyeluruh. Hasilnya tegas, tiga tunggak Jati (Tectona grandis) memang ditemukan, namun posisinya berada di luar kawasan konservasi. Temuan ini menjadi pengingat penting, bahwa dalam konservasi, batas bukan sekadar garis di peta, melainkan realitas di lapangan yang sering kali rentan disalahartikan. Meski aktivitas penebangan tidak terjadi di dalam kawasan suaka margasatwa, keberadaannya yang sangat dekat dengan batas kawasan menyimpan potensi risiko yang tidak bisa diabaikan. Kawasan tepi hutan adalah zona kritis, tempat interaksi manusia dan satwa liar terjadi paling intens, sekaligus wilayah yang paling rawan terhadap tekanan aktivitas manusia. “Di lapangan, kami sering menemukan bahwa batas kawasan tidak selalu dipahami secara utuh oleh masyarakat. Padahal, selisih beberapa meter saja bisa menentukan apakah suatu aktivitas masuk kategori pelanggaran atau tidak,” ujar Abdul Rahim, petugas lapangan yang turut dalam kegiatan verifikasi. Ia menambahkan, pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat pengawasan, tetapi juga membangun komunikasi. “Kami tidak hanya memastikan posisi lokasi, tetapi juga berupaya memberi pemahaman kepada masyarakat agar tidak terjadi kesalahan. Pencegahan itu jauh lebih penting daripada penindakan,” lanjutnya. Menariknya, di lokasi yang sama, tim juga menemukan tanda-tanda kehidupan liar yang masih aktif. Sorsoran babi hutan terlihat jelas di tanah lembap, sementara beberapa jenis burung dan primata memperlihatkan dinamika ekosistem yang masih berjalan. Di antara yang teridentifikasi adalah Elang Ular Bawean, Merbah Belukar, Cinenen Kelabu, hingga Monyet Ekor Panjang, spesies yang menjadi indikator bahwa habitat di sekitar batas kawasan masih relatif terjaga. Fakta ini mempertegas satu hal, bahwa meskipun berada di luar kawasan konservasi, area penyangga tetap memegang peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Verifikasi ini bukan sekadar memastikan posisi penebangan. Lebih dari itu, ini adalah langkah mitigasi dini, sebuah upaya untuk mencegah potensi perambahan yang dapat secara perlahan “merembes” masuk ke dalam kawasan inti konservasi. Dalam konteks yang lebih luas, kejadian ini membuka ruang refleksi tentang pentingnya pemahaman batas kawasan di tingkat tapak. Bagi masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan, batas sering kali bukan garis yang terlihat jelas. Tanpa komunikasi dan edukasi yang memadai, kesalahan persepsi dapat dengan mudah terjadi dan berujung pada pelanggaran yang sebenarnya bisa dihindari. Oleh karena itu, tindak lanjut dari kegiatan ini tidak berhenti pada verifikasi semata, melalui tim di lapangan Balai Besar KSDA Jawa Timur akan memperkuat pendekatan persuasif kepada masyarakat sekitar. Edukasi tentang batas kawasan, pentingnya koordinasi sebelum melakukan aktivitas penebangan, serta pemahaman nilai ekologis kawasan konservasi menjadi langkah strategis ke depan. Di Bawean, hutan tidak hanya tentang pepohonan yang berdiri, tetapi juga tentang garis-garis tak kasat mata yang menentukan masa depannya. Dan pada hari itu, di Blok Kumalasa, sebuah garis batas yang mungkin terlihat sederhana berhasil mencegah sebuah kesalahpahaman berkembang menjadi ancaman nyata bagi konservasi. Karena dalam dunia konservasi, menjaga batas sering kali sama pentingnya dengan menjaga hutan itu sendiri. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menggali Suara di Balik Mangrove Bawean: Antara Ketergantungan Warga dan Ancaman yang Mengendap

Gresik, 20 April 2026. Pendampingan riset di dua desa pesisir Bawean mengungkap relasi kompleks masyarakat dengan ekosistem mangrove, dari sumber penghidupan hingga potensi tekanan yang kian nyata. Bawean, Akar-akar mangrove di pesisir Desa Bululanjang dan Lebak tidak hanya menahan abrasi. Ia juga menopang kehidupan. Pada Jumat lalu (17/4), Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), mendampingi mahasiswa dari Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada melakukan pengamatan lapangan. Fokusnya bukan vegetasi, melainkan manusia yang hidup di sekitarnya. Sebanyak 12 narasumber dipilih dari dua desa. Komposisinya seragam: kepala desa dan warga yang bergantung langsung pada mangrove. Wawancara dilakukan untuk menggali empat aspek utama, pola interaksi, bentuk pemanfaatan, persepsi terhadap kondisi mangrove, serta kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Hasil sementara menunjukkan satu hal: ketergantungan itu nyata. Sebagian warga menjadikan kawasan mangrove sebagai sumber penghidupan, mulai dari mencari hasil perikanan hingga memanfaatkan kayu. Aktivitas ini berlangsung turun-temurun, tanpa banyak alternatif ekonomi lain. Namun, di titik inilah persoalan muncul. Tekanan terhadap ekosistem mulai terasa. Pemanfaatan yang tidak terkelola berpotensi menurunkan kualitas lingkungan. Di sisi lain, kesadaran konservasi belum merata. Sebagian masyarakat masih melihat mangrove sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan, bukan sistem yang harus dijaga. Tim RKW 09 mencatat bahwa persepsi masyarakat menjadi faktor kunci. Cara pandang ini akan menentukan arah masa depan ekosistem mangrove di Bawean, bertahan atau perlahan terdegradasi. Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat basis data sosial-ekonomi sebagai pijakan kebijakan. Sebab, pengelolaan kawasan tidak cukup hanya berbasis data biofisik. Tanpa memahami manusia di dalamnya, kebijakan berisiko tidak tepat sasaran. Bawean memberi pelajaran sederhana: konservasi bukan hanya soal melindungi pohon, tetapi juga mengelola hubungan manusia dengan alam. Dan di pesisir ini, hubungan itu sedang diuji. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

79 Ha yang Bercerita: Apa yang Sebenarnya Ditemukan di Hutan Bawean Akan Membuat Kita Berpikir Ulang

Bawean, 20 April 2026. Langkah pertama terasa pelan, menapak tanah lembap yang menyimpan jejak-jejak kehidupan. Udara di Pulau Bawean tidak sekadar sejuk, ia hidup. Dari balik tajuk yang rapat, suara burung memecah sunyi, seolah memberi tahu: hutan ini masih bernapas. Namun semakin jauh melangkah, satu hal mulai terasa berbeda. Hutan ini tidak hanya menyimpan kehidupan, ia sedang menyampaikan sesuatu. Selama tujuh hari, 8 hingga 14 April 2026, tim patroli menyusuri 79 Ha kawasan suaka alam Bawean. Apa yang mereka temukan bukan sekadar data. Ia adalah cerita tentang keseimbangan yang sedang diuji. Perjalanan dimulai dari lereng Gunung Besar hingga hamparan Payung-payung. Setiap grid bukan hanya koordinat, tetapi potongan ekosistem yang saling terhubung. Di atas sana, seekor elang ular Bawean berputar perlahan, memanfaatkan arus udara hangat. Kehadirannya adalah tanda, bahwa rantai kehidupan masih bekerja. Di balik batang pohon tua, burung hantu kayu Bawean berdiam, nyaris tak terlihat, tetapi mengawasi. Di sela cahaya yang menembus daun, kupu-kupu raja melintas. Sebentar. Lalu hilang. Hutan seperti ini tidak pernah benar-benar diam. Ia hanya berbicara dengan cara yang lebih halus. Mamalia, reptil, hingga amfibi yang teridentifikasi sepanjang jalur patroli memperkuat satu hal, bahwa Bawean masih memiliki denyut kehidupan yang utuh. Anggrek liar menggantung di batang-batang tinggi, tidak mencolok, tetapi menjadi penanda bahwa habitat ini masih layak bagi Lalu, di satu titik, cerita itu berubah. Tanah yang terbuka. Vegetasi yang tidak tumbuh sebagaimana mestinya. Bekas perambahan, kecil, hanya sekitar 0,04 hektare. Mudah diabaikan, jika tidak tahu apa yang sedang dilihat. Di titik lain, sebatang pohon aren disadap. Tidak jauh, satu kotak lebah tergantung, menjadi sumber madu bagi masyarakat sekitar. Semua terlihat wajar. Bahkan manusiawi. Namun di dalam logika hutan, ini adalah kalimat-kalimat awal dari sebuah cerita yang lebih panjang, tentang interaksi, tentang tekanan, tentang batas yang perlahan bergeser. Bagi mereka yang berjalan di dalamnya, hutan bukan sekadar lanskap, ia adalah tanda yang harus dibaca. Arif Wichaksono, S.Kel., Polisi Kehutanan, memahami itu. “Hutan Bawean ini masih menyimpan kehidupan yang luar biasa. Tapi dari hasil patroli, kami juga melihat tanda-tanda kecil yang tidak boleh diabaikan. Konservasi hari ini bukan lagi soal menjaga dari kejauhan, tapi bagaimana kita hadir, memahami, dan mengelola interaksi manusia dengan kawasan secara bijak. Karena kalau terlambat membaca tanda, kerusakan itu datangnya pelan, tapi dampaknya bisa permanen,” ujarnya. Di sisi lain, suara dari masyarakat tidak kalah penting, lebih dekat, lebih personal. Muhammad Hekkam, anggota Masyarakat Mitra Polhut Bawean Lestari, melihat hutan dari sudut yang berbeda. “Bagi kami masyarakat Bawean, hutan bukan hanya tempat mencari penghidupan, tapi juga bagian dari kehidupan itu sendiri. Kami ingin tetap bisa menjaga dan tidak merusaknya. Karena kami sadar, kalau hutan ini hilang, yang pertama kali merasakan dampaknya adalah kami sendiri,” tambahnya. Dua perspektif. Satu realitas. Hasil patroli menunjukkan bahwa Bawean belum berada dalam kondisi darurat. Tetapi juga tidak bisa disebut aman. Yang terjadi di sini bukanlah eksploitasi besar-besaran. Ini adalah sesuatu yang lebih halus, interaksi yang tumbuh perlahan, berakar dari kebutuhan, dan jika tidak dikelola, bisa berkembang menjadi tekanan yang lebih besar. Di sinilah konservasi menemukan tantangannya yang paling nyata. Bukan sekadar melindungi kawasan dari manusia. Tetapi memahami bagaimana manusia bisa tetap hidup, tanpa membuat hutan kehilangan kemampuannya untuk bertahan. Jika Anda berdiri di tengah 79 hektare itu, Anda mungkin tidak langsung melihat krisis. Anda akan melihat hutan yang indah. Satwa yang masih bergerak. Udara yang terasa bersih. Tetapi jika Anda diam lebih lama, mendengar lebih dalam, Anda akan mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang sedang berubah. Bawean tidak sedang berteriak. Ia hanya berbisik. Dan pertanyaannya sederhana, apakah kita cukup peduli untuk mendengarnya? Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Penertiban 100 Hektar Sawit Ilegal di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut

DELI SERDANG, 17 April 2026 – Penertiban kebun sawit ilegal di Suaka Margasatwa (SM) Karang Gading dan Langkat Timur Laut terus menunjukkan kemajuan signifikan. Hingga kamis (16/4), tim gabungan Satgas PKH bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) telah menumbangkan 58 hektar sawit ilegal di lokasi Paluh Kurau, Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan ini ditargetkan mencapai 100 hektar penertiban hingga 20 April 2026. Penertiban dilakukan sebagai bagian dari pemulihan kawasan konservasi yang terdegradasi akibat perambahan dan alih fungsi lahan. Kawasan ini berperan penting untuk melindungi kawasan pesisir, menjadi tempat bagi berbagai satwa liar, serta penyangga kehidupan masyarakat sekitar. Tim di lapangan terus bekerja menyelesaikan target secara bertahap dengan melibatkan masyarakat melalui kelompok tani yang turut mendampingi proses penumbangan sawit. Kepala Resor Konservasi SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I, Esra Barus, S. Hut, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam pemulihan kawasan. “Semoga ekosistem mangrove segera pulih agar hutan lestari, masyarakat sejahtera,” ujarnya. Areal yang telah dibersihkan direncanakan memasuki tahap pemulihan melalui penanaman kembali vegetasi mangrove untuk mempercepat kembalinya fungsi ekologis kawasan SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut. Penertiban ini merupakan kelanjutan dari upaya sebelumnya, sebagai bagian dari langkah berkelanjutan memulihkan ekosistem mangrove di kawasan suaka margasatwa tersebut. Sumber: Resor Konservasi SM Karang Gading dan Langkat Timur Laut I, Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Membaca Mangrove Bawean, Data dan Suara Warga di Garis Pesisir

Gresik, 17 April 2026. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean melakukan pendampingan pengamatan aspek biofisik dan sosial-ekonomi ekosistem mangrove di kawasan Pasir Putih, Desa Sukaoneng, Kecamatan Tambak, Kamis (16/4). Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari Universitas Brawijaya dan Universitas Gadjah Mada sebagai bagian dari kolaborasi riset lapangan. Pendampingan difokuskan pada tiga agenda utama, inventarisasi flora dan fauna, wawancara masyarakat, serta pemantauan kawasan menggunakan drone. Inventarisasi dilakukan untuk mengidentifikasi jenis mangrove dan fauna yang berasosiasi, sekaligus menyusun data dasar keanekaragaman hayati kawasan. Di saat yang sama, tim menggali informasi dari masyarakat setempat mengenai pola pemanfaatan mangrove, interaksi sehari-hari, serta persepsi terhadap kondisi ekosistem. Data sosial ini dinilai penting untuk melengkapi pendekatan ekologis dalam pengelolaan kawasan. Pemantauan melalui drone memberikan gambaran spasial terkait kerapatan vegetasi, perubahan tutupan lahan, serta kondisi aktual ekosistem mangrove secara menyeluruh. Hasil citra udara tersebut menjadi bahan analisis awal dalam melihat dinamika kawasan pesisir Bawean. Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim RKW 09 yang terdiri dari Polisi Kehutanan dan tenaga teknis, sebagai bagian dari penguatan basis data pengelolaan ekosistem pesisir. Hasil kegiatan diharapkan menjadi rujukan dalam penyusunan kebijakan konservasi mangrove yang lebih terukur dan berkelanjutan di Pulau Bawean. Di tengah tekanan terhadap kawasan pesisir, data lapangan dan suara masyarakat menjadi kunci. Tanpa keduanya, konservasi berisiko kehilangan arah. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ketika Satwa Kehilangan Rumahnya, Manusia yang Menanggung Dampaknya

Pacitan, 16 April 2026. Pagi di Kecamatan Donorojo, Pacitan, tak lagi sepenuhnya tenang. Di sela-sela ladang jagung, kebun kacang, dan tanaman hortikultura milik warga, pergerakan kelompok monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) kini menjadi bagian dari keseharian yang tak terelakkan. Mereka datang dalam kelompok, bergerak cepat, dan dalam waktu singkat meninggalkan jejak kerusakan pada tanaman yang menjadi sumber penghidupan masyarakat. Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Data lapangan menunjukkan bahwa gangguan satwa liar mengalami peningkatan dan telah menjangkau 7 dari 12 desa di Kecamatan Donorojo. Warga pun beradaptasi dengan cara mereka sendiri, menjaga lahan sejak subuh hingga menjelang malam, memasang jaring penghalang, hingga berjaga secara bergiliran. Sebuah upaya bertahan yang lahir dari situasi yang terus berkembang. Namun di balik dinamika ini, tersimpan sebuah alarm ekologis yang lebih besar. Perubahan yang terjadi di Donorojo mencerminkan pergeseran lanskap yang tidak sederhana. Hutan yang dahulu menyediakan ruang hidup, sumber pakan, dan tempat berlindung bagi satwa liar, kini menghadapi berbagai tekanan. Berkurangnya vegetasi pakan alami, perubahan tutupan lahan, hingga aktivitas pembangunan di wilayah sekitar secara perlahan mengubah keseimbangan ekosistem. Dalam kondisi seperti ini, satwa tidak “menyerang”, mereka beradaptasi. Monyet ekor panjang, sebagai spesies yang memiliki kemampuan adaptasi tinggi, merespons perubahan tersebut dengan mencari sumber pakan alternatif. Lahan pertanian warga, dengan ketersediaan pangan yang melimpah dan mudah diakses, menjadi pilihan yang logis dalam perspektif ekologis. Di sinilah batas antara ruang hidup satwa dan manusia menjadi semakin tipis. Berdasarkan hasil diskusi dengan pemerintah kecamatan Donorejo (14/04/26) ada indikasi bahwa peningkatan gangguan ini berkaitan dengan dinamika regional, termasuk pembangunan infrastruktur dan perubahan penggunaan lahan di wilayah sekitar Donorojo. Lanskap yang berubah tidak mengenal batas administrasi, dampaknya merambat dan dirasakan lintas wilayah. Dalam ekosistem yang sehat, setiap spesies memiliki peran dan ruangnya masing-masing. Namun ketika tekanan habitat meningkat, baik karena berkurangnya sumber pakan, hilangnya predator alami, maupun fragmentasi hutan, maka keseimbangan itu mulai terganggu. Monyet yang sebelumnya tersebar di dalam kawasan hutan, kini terkonsentrasi dan bergerak keluar. Tanpa predator alami yang cukup dan dengan ketersediaan pakan yang menurun di habitat aslinya, interaksi dengan manusia menjadi semakin intens. Melalui surat resmi, Pemerintah Kecamatan Donorojo menginformasikan juga bahwa gangguan ini telah berdampak pada berbagai komoditas pertanian seperti padi, jagung, kacang tanah, hingga tanaman perkebunan, serta berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari . Ini bukan sekadar persoalan satwa yang “masuk kampung”. Ini adalah refleksi dari ekosistem yang sedang mencari keseimbangannya kembali. Menyadari kompleksitas persoalan ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bergerak cepat. Koordinasi dilakukan dengan pemerintah kecamatan, perangkat desa, serta masyarakat terdampak untuk memastikan bahwa langkah penanganan dilakukan secara tepat, terukur, dan sesuai dengan prinsip konservasi. Pendekatan yang diambil tidak semata-mata bersifat reaktif, tetapi juga adaptif dan preventif. Beberapa langkah yang direkomendasikan dan mulai diterapkan antara lain: - Pemasangan pita reflektif sebagai penghalau visual yang ramah satwa, - Penguatan penjagaan lahan secara kolektif, - Dorongan penanaman tanaman sumber pakan alami seperti duwet, talok, jambu mete, dan salam sebagai upaya mengembalikan ketersediaan pakan di habitat satwa. Langkah-langkah ini mencerminkan pendekatan co-existence, hidup berdampingan, yang menjadi prinsip utama dalam pengelolaan konflik manusia dan satwa liar. Lebih dari itu, kehadiran negara melalui BBKSDA Jawa Timur juga membawa pesan penting, bahwa setiap konflik ekologis harus diselesaikan dengan keseimbangan antara perlindungan satwa dan keberlangsungan hidup masyarakat. Donorojo hari ini adalah potret kecil dari tantangan besar pengelolaan keanekaragaman hayati di tengah perubahan zaman. Di satu sisi, manusia membutuhkan ruang untuk hidup dan berkembang. Di sisi lain, satwa liar juga memiliki hak yang sama atas habitatnya. Ketika lanskap berubah, maka cara kita memahami dan merespons alam pun harus ikut berubah. Apa yang terjadi hari ini bukan sekadar gangguan satwa liar yang meningkat, tetapi sebuah pengingat bahwa keseimbangan antara manusia dan alam adalah sesuatu yang harus terus dirawat, dijaga, dan diperjuangkan bersama. Di antara ladang-ladang yang dijaga dan hutan-hutan yang perlahan berubah, harapan itu masih ada, selama manusia memilih untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga memahami. Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dari Ruang Kelas Ke Garis Depan Konservasi, 300 Siswa SMA N 6 Surabaya Belajar Menjadi Penjaga Alam

Surabaya, 17 April 2026. Di tengah arus perubahan zaman yang kian cepat, ketika jarak antara manusia dan alam semakin melebar, sebuah langkah sunyi namun strategis justru dimulai dari ruang kelas. Di Aula SMA Negeri 6 Surabaya, ratusan pelajar duduk bukan sekadar untuk belajar, tetapi untuk memahami satu hal yang jauh lebih mendasar: masa depan bumi berada di tangan mereka. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur bersama mitra dari Forum Komunikasi Kader Konservasi (FK3I) dan Wild Division Part of Fauna Alam Persada, melalui program Visit to School (16/04/2026), menghadirkan edukasi konservasi sebagai bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026. Kegiatan ini menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan realitas ekologis yang tengah dihadapi Indonesia hari ini. Sekitar 300 siswa kelas X mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Namun lebih dari sekadar angka, mereka adalah representasi dari generasi yang akan menentukan apakah keanekaragaman hayati Indonesia tetap lestari atau perlahan menghilang. Ketika Pendidikan Menjadi Akar Kesadaran Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Wakil Kepala Bagian Kurikulum, Irfa Rochimah Alfi. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa sekolah tidak lagi cukup hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi harus menjadi tempat tumbuhnya kesadaran ekologis. “Kami menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan edukasi konservasi ini sebagai bagian dari upaya membangun kesadaran lingkungan di kalangan peserta didik. Sekolah tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, termasuk kepedulian terhadap kelestarian sumber daya alam hayati dan ekosistemnya,” ujarnya. Pernyataan tersebut menjadi pembuka yang menegaskan arah kegiatan, bahwa pendidikan memiliki tanggung jawab moral dalam menjawab krisis lingkungan. Ia juga menambahkan bahwa pendekatan pembelajaran harus mampu menjangkau realitas di luar buku teks. “Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga memiliki sikap dan tanggung jawab sebagai generasi yang akan menjaga masa depan lingkungan,” pungkasnya. Di titik ini, ruang kelas berubah makna. Ia bukan lagi tempat menerima informasi, melainkan ruang refleksi tentang relasi manusia dengan alam. Ancaman Nyata di Balik Keanekaragaman Materi yang disampaikan oleh tim BBKSDA Jawa Timur tidak berhenti pada pengenalan konsep dasar. Para siswa diajak memahami lanskap konservasi secara utuh, mulai dari kawasan hutan konservasi di Jawa Timur, jenis tumbuhan dan satwa liar dilindungi, hingga ancaman nyata yang terus membayangi keberlanjutan ekosistem. Rakhmat Hidayat, yang menjadi salah satu narasumber utama, menyoroti bahwa ancaman terhadap satwa liar saat ini semakin kompleks. “Ancaman terhadap satwa liar bukan hanya datang dari kerusakan habitat, tetapi juga dari perilaku manusia itu sendiri, perburuan, perdagangan ilegal, hingga kurangnya kesadaran,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa konservasi tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau aparat penegak hukum. Dibutuhkan perubahan cara pandang secara kolektif. “Generasi muda memiliki posisi strategis. Mereka bukan hanya penerus, tetapi penentu. Dari kesadaran merekalah perubahan itu akan dimulai,” tambahnya. Pernyataan ini tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga reflektif, untuik mengajak siswa melihat diri mereka sebagai bagian dari solusi, bukan sekadar penonton. Ruang Dialog: Ketika Kesadaran Mulai Tumbuh Berbeda dengan metode pembelajaran satu arah, kegiatan ini dirancang sebagai ruang dialog terbuka. Para siswa tidak hanya mendengarkan, tetapi juga aktif bertanya dan berdiskusi. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul mencerminkan rasa ingin tahu yang kritis, Mengapa satwa bisa punah? Apa yang bisa dilakukan oleh pelajar? Apakah tindakan kecil benar-benar berdampak? Dari diskusi tersebut, muncul kesadaran bahwa konservasi tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Justru, tindakan sederhana yang memiliki peran penting, tidak membeli satwa liar, menjaga lingkungan sekitar, menanam pohon, hingga mengedukasi orang lain. Kesadaran ini menjadi titik penting. Karena dalam konservasi, perubahan perilaku adalah kunci utama. Ketika Kurikulum Bertemu Konservasi Kegiatan ini juga mendapatkan respons positif dari tenaga pendidik. Endang Megawati, Guru Biologi, menilai bahwa materi yang disampaikan memiliki keterkaitan kuat dengan pembelajaran di kelas. “Materi konservasi yang disampaikan sangat selaras dengan kurikulum, khususnya pada pembelajaran kelas X. Ini tidak hanya memperkuat pemahaman siswa, tetapi juga memberikan konteks nyata terhadap apa yang mereka pelajari,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa pembelajaran yang terhubung dengan realitas akan lebih mudah dipahami dan diinternalisasi oleh siswa. Lebih jauh, pihak sekolah berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan, bahkan menjadi bagian dari agenda rutin pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa konservasi tidak lagi berdiri sendiri sebagai isu lingkungan, tetapi telah menjadi bagian integral dari sistem pendidikan. Dari Ruang Kelas ke Masa Depan Bumi Hasil dari kegiatan ini tidak hanya terlihat dari antusiasme peserta, tetapi juga dari perubahan cara pandang. Siswa mulai memahami bahwa mereka memiliki peran, sekecil apa pun, dalam menjaga keberlanjutan alam. Terbangunnya pemahaman dasar tentang konservasi, meningkatnya kesadaran lingkungan, serta tumbuhnya perspektif positif terhadap peran pemerintah dan mitra menjadi capaian penting dari kegiatan ini. Namun di balik itu semua, ada hal yang lebih besar yaitu harapan. Harapan bahwa generasi muda tidak akan mengulangi kesalahan generasi sebelumnya. Harapan bahwa mereka akan tumbuh menjadi individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bijak dalam memperlakukan alam. Di tengah ancaman deforestasi, perdagangan satwa liar, dan krisis keanekaragaman hayati, kegiatan seperti ini mungkin terlihat sederhana. Namun sesungguhnya, ia adalah investasi jangka panjang, menanam nilai, membentuk karakter, dan membangun kesadaran. Karena pada akhirnya, masa depan konservasi tidak hanya ditentukan di kawasan hutan, taman nasional, atau suaka margasatwa. Ia juga ditentukan di ruang-ruang kelas. Di tangan para pelajar. Di keputusan-keputusan kecil yang mereka ambil setiap hari. Dan mungkin, dari aula sederhana di Surabaya itu, akan lahir para penjaga terakhir keanekaragaman hayati Indonesia. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kisah Yang Berulang, Trenggiling Diselamatkan BPBD di Trowulan

Mojokerto, 17 April 2026. Peristiwa penyelamatan satwa liar kembali terulang di wilayah Trowulan. Seekor Trenggiling Jawa (Manis javanica), mamalia bersisik yang kini berada di ambang kepunahan, berhasil diamankan setelah ditemukan warga di Dusun Pandansili, Desa Wonorejo, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Respons cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto menjadi titik awal penyelamatan, sebelum satwa tersebut diserahkan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur untuk penanganan lebih lanjut. Peristiwa ini terjadi pada Rabu dini hari (15/4), sekitar pukul 23.30 WIB. Sekelompok pemuda yang tengah berkumpul di sekitar permukiman dikejutkan oleh bayangan gelap yang bergerak perlahan di kejauhan. Dalam rasa penasaran, mereka mendekati objek tersebut. Apa yang semula disangka hanya hewan biasa, ternyata adalah seekor trenggiling, satwa liar yang jarang terlihat, terlebih di lingkungan permukiman. Menyadari bahwa trenggiling merupakan satwa dilindungi, para pemuda tersebut tidak mengambil risiko. Mereka berinisiatif mengamankan satwa itu dari potensi gangguan maupun bahaya, baik bagi manusia maupun bagi satwa itu sendiri. Langkah cepat tersebut kemudian dilanjutkan dengan pelaporan kepada BPBD Kabupaten Mojokerto dan unit pemadam kebakaran setempat, yang segera merespons dan mengamankan satwa. Keesokan harinya, Kamis pagi (16/4), laporan resmi diteruskan kepada BBKSDA Jawa Timur melalui Seksi KSDA Wilayah III Surabaya. Menindaklanjuti informasi tersebut, Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 08 Mojokerto–Lamongan segera bergerak menuju lokasi untuk melakukan evakuasi dan penanganan lebih lanjut. Setibanya di kantor BPBD Kabupaten Mojokerto, tim melakukan pemeriksaan awal terhadap kondisi satwa untuk memastikan kesehatan dan keselamatannya. Berdasarkan hasil identifikasi, satwa tersebut merupakan trenggiling Jawa (Manis javanica) berjumlah satu ekor dalam kondisi hidup. Secara global, spesies ini telah masuk dalam kategori Critically Endangered (Kritis) berdasarkan Daftar Merah IUCN, serta tercantum dalam Appendix I CITES. Proses serah terima satwa dilakukan secara resmi antara BPBD Kabupaten Mojokerto dengan BBKSDA Jawa Timur, disertai berita acara yang ditandatangani oleh Kepala Pelaksana BPBD. Selanjutnya, trenggiling tersebut dibawa menuju Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur untuk menjalani penanganan lebih lanjut, termasuk observasi kesehatan, rehabilitasi, dan penilaian kelayakan pelepasliaran ke habitat alaminya. Namun, di balik satu keberhasilan penyelamatan ini, tersimpan cerita yang lebih besar, cerita tentang tekanan yang terus menghantui satwa liar di alam. Trenggiling, yang dikenal sebagai salah satu mamalia paling banyak diperdagangkan secara ilegal di dunia, menghadapi ancaman serius akibat perburuan dan hilangnya habitat. Dan di titik inilah, sebuah pertanyaan mendasar mulai mengemuka, mengapa kejadian serupa berulang di wilayah yang sama? Mengapa dalam beberapa tahun terakhir, kemunculan trenggiling justru semakin sering terdeteksi di Kecamatan Trowulan? Apakah ini sekadar kebetulan, atau justru sinyal ekologis yang selama ini luput dari perhatian? Data lapangan menunjukkan bahwa dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, temuan trenggiling di wilayah Kecamatan Trowulan terjadi lebih dari satu kali, dengan pola kemunculan yang cenderung berulang di sekitar kawasan permukiman dan lahan terbuka. Fakta ini tidak bisa lagi dipandang sebagai insiden terpisah, melainkan sebagai indikasi awal adanya keterkaitan dengan kondisi habitat di sekitarnya. Apakah masih terdapat kantong habitat alami yang tersisa di lanskap Trowulan? Ataukah satwa ini tengah bergerak mencari ruang hidup baru akibat tekanan di habitat aslinya? Dan yang lebih penting, apakah kita sudah cukup memahami lanskap ekologis yang menopang keberadaan spesies ini? Menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, Balai Besar KSDA Jawa Timur memandang perlu untuk mengambil langkah yang lebih sistematis ke depan. Tidak hanya berhenti pada penanganan responsif, tetapi juga bergerak menuju pendekatan preventif dan berbasis data. Salah satu langkah strategis yang akan dilakukan adalah identifikasi dan inventarisasi habitat potensial trenggiling di wilayah Kecamatan Trowulan dan sekitarnya. Langkah ini menjadi penting untuk memastikan apakah wilayah tersebut masih memiliki daya dukung ekologis bagi trenggiling, sekaligus untuk memetakan potensi risiko konflik di masa mendatang. Dengan memahami pola distribusi dan preferensi habitat, upaya konservasi dapat diarahkan secara lebih tepat sasaran, baik dalam bentuk perlindungan habitat, edukasi masyarakat, maupun penguatan sistem respon cepat terhadap konflik satwa liar. Apa yang terjadi di Trowulan pada akhirnya bukan sekadar kisah penyelamatan satu individu satwa. Ia adalah alarm sunyi dari alam, bahwa ada dinamika yang sedang berlangsung, bahwa ada ruang yang berubah, dan bahwa ada spesies yang tengah berjuang bertahan di tengah tekanan. Kesadaran para pemuda di Dusun Pandansili menjadi contoh nyata bahwa masyarakat dapat menjadi garda terdepan dalam upaya konservasi. Dengan tidak melakukan tindakan yang merugikan satwa, serta memilih untuk melaporkan kepada pihak berwenang, mereka telah berkontribusi langsung dalam menyelamatkan satu individu spesies yang sangat terancam. Di ujung perjalanannya, trenggiling itu kini berada dalam perlindungan. Namun pertanyaan besar masih menggantung di udara Trowulan, apakah ini akan terus menjadi kisah berulang, atau justru menjadi titik awal perubahan dalam cara kita memahami dan menjaga alam? (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Road to HKAN 2026, Saat Siswa SMPN 1 Surabaya Belajar Menyelamatkan Masa Depan Bumi

Surabaya, 17 April 2026. Di sebuah aula sebuah SMP Negeri di jantung Kota Surabaya, puluhan pasang mata muda menatap layar dengan penuh rasa ingin tahu. Pagi itu, 15 April 2026, sebanyak ±80 siswa SMP Negeri 1 Surabaya tidak hanya menerima pelajaran biasa, mereka sedang diperkenalkan pada sebuah realitas yang jauh lebih besar, realitas tentang masa depan bumi yang bergantung pada kesadaran manusia hari ini. Kegiatan edukasi konservasi yang digelar oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui program Visit to School ini menjadi bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2026, sebuah momentum strategis untuk menumbuhkan kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem sejak dini. Tim gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan, Pengendali Ekosistem Hutan, penyuluh Kehutanan, serta mitra konservasi dari Forum Komunikasi Kader Konservasi dan Wild Division part of Fauna Alam Persada, hadir langsung membawa pesan-pesan penting dari lapangan. Tentang satwa liar yang kian terdesak, hutan yang terus terfragmentasi, dan ekosistem yang menghadapi tekanan serius. Materi disampaikan secara komunikatif dan interaktif, mencakup pemahaman dasar konservasi sumber daya alam, pengenalan tumbuhan dan satwa liar, hingga ancaman nyata seperti perburuan ilegal, deforestasi, perdagangan satwa liar, serta dampak perubahan iklim. Lebih dari sekadar teori, siswa juga diajak menyelami konsekuensi ekologis dan sosial dari kerusakan lingkungan. Suasana semakin hidup saat sesi diskusi interaktif berlangsung. Pertanyaan-pertanyaan kritis bermunculan, tentang perlindungan satwa dilindungi, rantai perdagangan ilegal, hingga peran generasi muda dalam menjaga lingkungan. Di titik ini, edukasi tidak lagi sekadar penyampaian materi, melainkan proses membangun kesadaran. Pendekatan partisipatif menjadi kunci. Siswa diajak memahami bahwa konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau pegiat lingkungan, tetapi juga bagian dari perilaku sehari-hari. Dari tidak membeli satwa liar, menjaga lingkungan sekitar, hingga menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Resia Hindriatni, Polisi Kehutanan Ahli Muda Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, menegaskan bahwa edukasi sejak usia sekolah merupakan fondasi utama dalam membangun budaya konservasi. “Kesadaran tidak lahir secara instan. Ia harus ditanam, dirawat, dan ditumbuhkan sejak dini. Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap para siswa tidak hanya memahami konsep konservasi, tetapi juga memiliki kepedulian dan keberanian untuk bertindak menjaga lingkungan di sekitarnya,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa generasi muda memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan. “Mereka adalah generasi yang akan menghadapi langsung dampak kerusakan lingkungan di masa depan. Karena itu, membekali mereka dengan pengetahuan dan nilai-nilai konservasi adalah investasi jangka panjang bagi keberlanjutan ekosistem,” tambahnya. Hasil kegiatan menunjukkan dampak yang signifikan. Pemahaman siswa meningkat, kesadaran ekologis mulai tumbuh, dan interaksi aktif menjadi indikator kuat bahwa pesan konservasi tersampaikan dengan efektif. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara Balai Besar KSDA Jawa Timur dengan institusi pendidikan sebagai mitra strategis dalam membangun generasi peduli lingkungan. Sebagai bagian dari Road to HKAN 2026, kegiatan ini menegaskan bahwa peringatan konservasi tidak berhenti pada seremoni, tetapi harus hadir dalam aksi nyata, menyentuh ruang-ruang belajar, membentuk cara pandang, dan menggerakkan perubahan sejak dini. Di tengah berbagai ancaman terhadap keanekaragaman hayati, harapan justru lahir dari ruang kelas. Dari sana, generasi baru mulai memahami bahwa menjaga alam bukan sekadar pilihan, melainkan sebuah tanggung jawab yang akan menentukan masa depan kehidupan di bumi. Karena dari ruang kelas hari ini, lahir para penjaga alam esok hari. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jernang, Si Buah Rotan Penghasil Resin Merah dari TN Batang Gadis

Panyabungan, 17 April 2026. Jernang (Calamus sp.) merupakan salah satu kekayaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang tumbuh di kawasan Taman Nasional Batang Gadis. Tumbuhan ini memiliki ciri fisik yang unik, dengan buah bersisik yang sekilas menyerupai salak. Namun, berbeda dengan yang banyak diketahui masyarakat, jernang sebenarnya berasal dari keluarga rotan. Keunikan jernang tidak hanya terletak pada bentuknya, tetapi juga pada manfaat yang dihasilkannya. Buah jernang dikenal menghasilkan resin berwarna merah yang bernilai tinggi, yang kerap dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional serta pewarna alami. Secara geografis, jernang tersebar luas di hutan hujan tropis Asia Tenggara, meliputi wilayah Sumatra, Kalimantan, hingga Thailand. Meskipun sebagian besar spesies jernang masih berstatus Not Evaluated (belum dievaluasi) oleh IUCN, upaya perlindungan habitat tetap menjadi hal yang sangat penting. Langkah ini diperlukan guna memastikan keberlangsungan populasi jernang di alam serta menjaga potensi manfaatnya bagi generasi mendatang. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

30 Siswa SMP IT Assalam Belajar Ekosistem Laut di Taman Nasional Taka Bonerate

Selayar, 17 April 2026 – Suasana Balai Taman Nasional Taka Bonerate terlihat berbeda pada Rabu silam (16/4). Bukan hanya para pegawai yang sibuk, tapi juga deretan seragam sekolah. Kantor itu kedatangan 30 siswa dari Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT) As-Salam Kepulauan Selayar. Mereka datang bukan tanpa tujuan. Kunjungan ini merupakan bagian dari outing program sekolah. Para siswa ingin belajar langsung, bukan hanya dari buku. Didampingi para guru, rombongan pun diajak berkeliling kantor. Seorang petugas dengan sabar memandu mereka. Penjelasan pertama adalah tentang Pengenalan SMK Kehutanan Makassar. Lalu, dilanjutkan dengan potensi sumber daya alam dan budaya Taman Nasional Taka Bonerate. Namun, inti dari kunjungan ini lebih dalam lagi. Para siswa diberikan materi yang sangat penting: Mengenal Ekosistem Laut. Petugas menjelaskan tentang keindahan terumbu karang. Juga bahaya sampah plastik bagi biota laut. Tak lupa, konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) pun disampaikan. Suasana kelas dadakan itu terasa hidup. Ada sesi tanya jawab yang seru. Para siswa tak ragu mengangkat tangan. Sebuah kuis interaktif juga digelar. Mereka berlomba menjawab dengan semangat. Tugas menarik menanti di akhir. Setiap siswa diminta membuat puisi bertema lingkungan. Kreativitas mereka pun terasah. Kegiatan yang penuh makna ini ditutup dengan sesi foto bersama. Senyum lebar terpancar dari wajah para siswa dan guru. Semoga ilmu yang didapat, tak hanya diingat, tapi juga diamalkan. Sumber: Asri (PEH Ahli Muda) dan Andi Farhan (PEH Pemula) - Balai TN Taka Bonerate

Menampilkan 321–336 dari 2.515 publikasi