Jumat, 28 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Kerusakan Alam Selama Ini Tak Pernah Dihitung?

Banyuwangi, 23 April 2026. Setiap tahun, laporan tentang kerusakan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang terus bertambah. Luas kerusakan dicatat. Penyebab diidentifikasi. Dampak ekologis dijelaskan. Namun satu pertanyaan mendasar kerap tertinggal: berapa nilai kerugian yang sebenarnya ditanggung negara? Pertanyaan itu mencuat dalam pelatihan pengantar valuasi ekonomi kerusakan sumber daya hutan non-terestrial yang digelar pada 13–17 April 2026 di Banyuwangi. Sebanyak 28 aparatur dari Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan dan Direktorat Jenderal KSDAE mengikuti kegiatan ini—sebuah upaya awal untuk memperkenalkan pendekatan valuasi ekonomi dalam pengelolaan kerusakan ekosistem, khususnya pada kawasan pesisir dan laut. Pelatihan ini masih berada pada tahap pengenalan. Peserta dibekali pemahaman dasar mengenai konsep, metode, dan alur kerja valuasi ekonomi, sehingga dapat memahami bagaimana kerugian ekosistem dihitung, meskipun belum sampai pada tahap melakukan perhitungan secara mandiri. Kegiatan ini juga secara khusus difokuskan pada sumber daya hutan non-terestrial, yakni ekosistem perairan dan pesisir laut. Tidak mengherankan jika sebagian besar peserta berasal dari taman nasional yang memiliki kawasan konservasi perairan. Selama ini, kerusakan ekosistem lebih sering berhenti pada indikator ekologis. Data luas kawasan rusak, tingkat degradasi, hingga penurunan keanekaragaman hayati menjadi rujukan utama. Namun dalam banyak kasus, indikator tersebut belum cukup untuk memperkuat pembuktian kerugian negara dalam proses hukum. Tanpa valuasi ekonomi, kerusakan lingkungan sulit diterjemahkan menjadi angka kerugian yang konkret. Dalam sistem hukum lingkungan, pembuktian kerugian negara merupakan elemen penting, terutama dalam penegakan sanksi administratif maupun gugatan perdata. Namun, di sinilah persoalan kerap muncul. Kerusakan ekosistem bersifat kompleks dan multidimensi. Tidak semua dampak dapat diukur secara langsung. Banyak manfaat ekosistem, seperti penyimpanan karbon, perlindungan pesisir, hingga fungsi ekologis lainnya, bersifat tidak kasat mata dan belum terinternalisasi dalam perhitungan ekonomi konvensional. Akibatnya, kerugian yang muncul sering kali lebih kecil dari dampak yang sebenarnya terjadi. Selama ini, valuasi ekonomi sumber daya alam yang mencakup manfaat langsung dan tidak langsung, termasuk jasa ekosistem, belum sepenuhnya diperhitungkan secara komprehensif. Nilai-nilai tersebut meliputi fungsi ekologis, sosial, hingga budaya, yang semuanya berkontribusi terhadap kesejahteraan manusia. Namun dalam praktiknya, pendekatan ini belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses penegakan hukum. Pelatihan di Banyuwangi mencoba menjembatani kesenjangan tersebut. Selama lima hari, peserta dibekali konsep dasar valuasi ekonomi, metode analisis, serta pengenalan penggunaan sistem informasi geografis (GIS) untuk mendukung penghitungan. Pendekatan ini tidak berhenti di ruang kelas. Di Pantai Bama, Taman Nasional Baluran, peserta melakukan praktik lapangan. Mereka mengamati ekosistem mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, tiga komponen penting dalam ekosistem pesisir, seraya mengikuti simulasi penilaian kerugian lingkungan. Di lokasi tersebut, konsep menjadi nyata. Mangrove tidak lagi sekadar vegetasi pesisir, tetapi dipahami sebagai pelindung abrasi dan penyerap karbon. Terumbu karang tidak hanya menjadi habitat biota laut, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dalam mendukung perikanan dan pariwisata. Padang lamun berperan sebagai penyimpan karbon dan penyangga ekosistem laut dangkal. Semua fungsi itu, dalam pendekatan valuasi ekonomi, pada akhirnya dapat diterjemahkan menjadi angka. Namun, dalam praktik penegakan hukum, proses perhitungan valuasi ekonomi kerusakan sumber daya hutan non-terestrial tidak dilakukan secara sembarangan. Perhitungan tersebut umumnya melibatkan tenaga ahli yang ditunjuk, yang berasal dari kalangan akademisi dan peneliti dengan kompetensi khusus di bidang valuasi ekonomi sumber daya alam. Meski menjanjikan, pendekatan ini bukan tanpa tantangan. Ketersediaan data menjadi salah satu kendala utama. Penghitungan valuasi ekonomi membutuhkan data yang detail dan akurat, mulai dari kondisi ekosistem, tingkat kerusakan, hingga parameter ekonomi yang relevan. Dalam banyak kasus, data tersebut belum tersedia secara lengkap. Selain itu, pemilihan metode valuasi juga mempengaruhi hasil perhitungan. Perbedaan pendekatan dapat menghasilkan nilai yang berbeda, sehingga memerlukan standar yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Di sisi lain, kapasitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penentu. Valuasi ekonomi membutuhkan pemahaman lintas disiplin, menggabungkan aspek ekologi, ekonomi, dan spasial. Pelatihan ini menjadi salah satu langkah awal untuk memperkuat pemahaman tersebut di tingkat tapak. Direktur Pengawasan, Pengenaan Sanksi Administratif dan Keperdataan Kehutanan, Ardi Risman, dalam arahannya menegaskan bahwa valuasi ekonomi memiliki peran strategis dalam penegakan hukum. Pendekatan ini memungkinkan kerugian lingkungan dihitung secara lebih komprehensif dan digunakan sebagai dasar dalam proses hukum. Hal senada disampaikan oleh Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Kehutanan, Tuti Herawati. Ia menekankan bahwa penguatan kapasitas aparatur menjadi kunci dalam menghadapi kompleksitas sengketa kehutanan yang semakin meningkat. Namun, lebih dari sekadar instrumen hukum, valuasi ekonomi juga berpotensi menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan. Dengan mengetahui nilai ekonomi dari jasa ekosistem, pemerintah dapat merancang kebijakan yang lebih tepat, baik dalam perlindungan, pemanfaatan, maupun pemulihan sumber daya alam. Pelatihan di Banyuwangi menunjukkan satu hal, bahwa ada bagian dari kerusakan lingkungan yang selama ini belum sepenuhnya terhitung. Bukan karena tidak penting, tetapi karena pendekatan untuk menerjemahkannya secara utuh masih terus dikembangkan. Valuasi ekonomi menawarkan cara untuk melihat ulang hubungan antara manusia dan alam, bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai sistem yang memiliki nilai nyata dalam kehidupan. Namun pertanyaan yang tersisa tetap sama. Jika kerusakan sudah terjadi bertahun-tahun, berapa besar kerugian yang sebenarnya belum pernah kita hitung? Kerusakan alam bukan hal baru. Yang baru adalah upaya untuk menghitungnya. Dan mungkin, dari situlah segalanya akan mulai berubah. Sumber : M. Sukron M. & Fajar Dwi Nur Aji – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Petrokimia Gresik Dukung Teknologi Untuk Pelepasliaran Elang Jawa Di Kawah Ijen

Sidoarjo, 23 April 2026. Harapan bagi kembalinya Elang Jawa ke langit liar mulai disiapkan. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menerima dukungan teknologi wildlife tracking dari PT. Petrokimia Gresik sebagai bagian dari rangkaian persiapan pelepasliaran spesies endemik tersebut di kawasan Kawah Ijen, Banyuwangi (22/04/2026). Di sebuah ruang pertemuan yang tenang, proses serah terima itu berlangsung tanpa gemuruh. Namun maknanya jauh melampaui seremoni. Sebuah perangkat kecil, teknologi pelacak satwa berbasis satelit, menjadi simbol kesiapan menuju tahap penting dalam konservasi, untuk memastikan kehidupan setelah pelepasliaran. Perangkat yang diserahkan merupakan GPS tracking, yang dirancang khusus untuk pemantauan satwa liar. Dengan kemampuan menggabungkan sistem navigasi global dan pengiriman data secara real-time, alat ini memungkinkan tim BBKSDA Jawa Timur membaca jejak perjalanan elang jawa setelah kembali ke alam, ke mana ia terbang, seberapa luas wilayah jelajahnya, hingga bagaimana ia beradaptasi di habitat baru. Teknologi ini akan dipasang pada dua individu Elang Jawa yang saat ini masih menjalani tahap akhir rehabilitasi di kandang transit Unit Penyelamatan Satwa Balai Besar KSDA Jawa Timur. Setelah melalui proses medis dan pembentukan perilaku alami, keduanya diproyeksikan akan dilepasliarkan di bentang alam Kawah Ijen dalam waktu mendatang. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa konservasi modern menuntut pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pelepasliaran, tetapi juga pada keberlanjutan pasca pelepasan. “Setiap pelepasliaran harus diikuti dengan pemantauan yang baik. Melalui dukungan teknologi ini, kita dapat memastikan bahwa proses adaptasi satwa di alam berjalan optimal dan dapat dipelajari secara ilmiah. Ini menjadi bagian penting dalam penguatan konservasi berbasis data,” ujarnya. Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan konservasi saat ini sangat ditentukan oleh kolaborasi. “Kami menyambut baik dukungan dari berbagai pihak. Konservasi tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan keterlibatan multipihak untuk memastikan upaya pelestarian ini benar-benar berkelanjutan.” Dari sisi mitra, PT Petrokimia Gresik melihat keterlibatan ini sebagai bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan. “Kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk dapat berkontribusi dalam kegiatan konservasi ini. Dukungan ini menjadi bagian dari komitmen kami untuk ikut menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, khususnya spesies endemik yang memiliki nilai penting bagi ekosistem dan bangsa,” ungkap M. Agus Priyanto, Staff Muda Sistem dan Teknologi Lingkungan, Departemen Lingkungan Hidup, PT. Petrokimia Gresik Elang Jawa: Lebih dari Sekadar Simbol Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi) bukan sekadar burung pemangsa. Ia adalah bagian dari identitas ekologis Pulau Jawa dan Bali. Dengan jambul khas yang menjulang dan postur yang gagah, elang ini kerap diasosiasikan dengan sosok Garuda, lambang negara Indonesia, yang mencerminkan kekuatan dan kebebasan. Namun di alam, perannya jauh lebih mendasar. Sebagai predator puncak, Elang Jawa menjaga keseimbangan rantai makanan di hutan pegunungan tropis. Keberadaannya menjadi indikator penting bahwa suatu ekosistem masih sehat dan berfungsi dengan baik. Sayangnya, tekanan terhadap habitat terus meningkat. Fragmentasi hutan, alih fungsi lahan, serta ancaman perburuan dan perdagangan ilegal membuat populasi Elang Jawa terus menghadapi risiko. Saat ini, spesies ini berstatus Terancam Punah (Endangered) dan menjadi prioritas dalam upaya konservasi nasional . Menyiapkan Kawah Ijen sebagai Rumah Kawah Ijen dipilih sebagai lokasi pelepasliaran bukan tanpa pertimbangan. Lanskap pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.600 meter, ketersediaan mangsa alami, serta konektivitas dengan kawasan hutan lain menjadikan wilayah ini sebagai habitat potensial bagi Elang Jawa. Namun sebelum hari pelepasliaran tiba, masih ada tahapan penting yang harus dilalui. Mulai dari proses habituasi di kandang adaptasi, pemasangan perangkat GPS, hingga evaluasi akhir kesiapan satwa. Semua dilakukan untuk memastikan bahwa saat pintu kandang dibuka, Elang Jawa benar-benar siap kembali menjadi bagian dari alam liar. Hari ini, yang disiapkan bukanlah pelepasliaran, melainkan fondasi bagi keberhasilannya. Sebuah perangkat kecil telah diserahkan. Namun dari sanalah, perjalanan besar akan dimulai. Perjalanan dua Elang Jawa menuju langit yang lebih luas, dan perjalanan bersama menuju masa depan konservasi yang lebih kolaboratif. Karena menjaga sang Garuda tetap terbang bukan hanya tentang hari ini, tetapi tentang bagaimana kita menyiapkan setiap langkah menuju hari itu. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Trenggiling Muncul Berulang, Apa yang Terjadi pada Lanskapnya?

Mojokerto, 23 April 2026. Dari Trowulan ke Soko, kemunculan satwa kritis ini bukan lagi peristiwa tunggal. Ada pola yang mulai terbaca dan peringatan yang tak boleh diabaikan. Malam di Mojokerto kembali menghadirkan kejutan. Seekor satwa bersisik, berjalan lambat di pinggir jalan, disangka tikus berukuran besar. Bukan pertama kali. Dalam beberapa waktu terakhir, pola serupa muncul di titik berbeda Trowulan lalu Soko. Lokasinya berpindah, tetapi ceritanya sama, ditemukan warga, aktif malam hari, berada di ruang yang seharusnya bukan miliknya. Kembali tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengevakuasi seekor Trenggiling Jawa (Manis Javanica) dari Desa Mojoranu, Kecamatan Sooko, Selasa (21/4). Satwa ditemukan warga sehari sebelumnya dan dilaporkan melalui layanan pengaduan. Tim Matawali Resort Konservasi Wilayah (RKW) 08 Mojokerto, Lamongan melakukan verifikasi lapangan, pemeriksaan awal, dan evakuasi ke Unit Penyelamatan Satwa (UPS). Temuan ini menambah daftar kemunculan trenggiling di Mojokerto. Sebelumnya, laporan serupa juga muncul di wilayah Trowulan. Polanya konsisten: satwa berada di dekat permukiman, terdeteksi tanpa sengaja, dan berpotensi masuk dalam rantai perdagangan ilegal jika tidak segera ditangani. Trenggiling Jawa merupakan satwa dilindungi dengan status Critically Endangered (Kritis) menurut IUCN dan masuk Appendix I CITES, kategori tertinggi dalam perlindungan perdagangan internasional. Dalam kasus di Soko, dinamika sosial sempat muncul. Informasi penemuan menyebar di media sosial, diikuti tawaran pembelian. Namun warga memilih tidak menjual dan melaporkan ke otoritas. Respons cepat petugas mencegah potensi kehilangan satu individu spesies yang populasinya terus menurun di alam. Wilayah Soko hingga Trowulan bukan kawasan konservasi inti. Namun secara ekologis, kawasan ini berada dalam bentang lanskap yang terhubung dengan fragmen habitat alami, mulai dari hutan produksi, semak belukar, hingga koridor yang tersisa di sekitar kawasan seperti Taman Hutan Raya Raden Soerjo. Trenggiling adalah satwa nokturnal yang sensitif terhadap gangguan. Ia bergantung pada ketersediaan pakan (semut dan rayap) serta tutupan vegetasi untuk berlindung. Ketika satwa ini mulai muncul berulang di ruang terbuka dan permukiman, ada dua kemungkinan yang menguat, apakah habitat alaminya tertekan atau menyempit, atau jalur jelajahnya terfragmentasi dan terputus. Keduanya mengarah pada satu kesimpulan awal: bentang alam tidak lagi utuh. Satu trenggiling diselamatkan. Laporan selesai. Dokumentasi dibuat. Namun jika kemunculan ini terus berulang di lokasi berbeda dalam satu lanskap yang sama, maka ini bukan lagi sekadar “kejadian penyelamatan satwa liar”. Ini adalah alarm ekologi. Alarm bahwa batas antara habitat liar dan ruang manusia semakin kabur. Alarm bahwa spesies yang seharusnya tersembunyi di hutan kini muncul di pinggir jalan. Dan alarm bahwa tekanan terhadap keanekaragaman hayati tidak selalu terlihat, hingga satwa itu sendiri yang muncul sebagai tanda. Keputusan warga di Mojokerto, tidak menjual, tetapi melapor, menjadi titik terang di tengah situasi ini. Namun kesadaran saja tidak cukup jika lanskap terus berubah tanpa kendali. Pertanyaannya kini bergeser, bukan lagi mengapa trenggiling ditemukan, tetapi apa yang sedang kita lakukan terhadap rumahnya? Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dari Branta Tinggi, Sebuah Pesan Keras Untuk Bumi: Sampah Yang Kita Abaikan Kembali Menyapa

Pamekasan, 23 April 2024. Satu truk sampah diangkut dari pesisir Desa Branta Tinggi, Selasa (21/4). Angka itu mungkin tampak sederhana. Namun di baliknya, tersembunyi cerita panjang tentang hubungan manusia dengan laut, dan bagaimana kelalaian kecil dapat menjelma menjadi ancaman besar bagi ekosistem. Dalam rangka memperingati Hari Bumi, Mahasiswa Pecinta Alam (MASTAPALA) IAIN Madura, dengan pendampingan dari Seksi KSDA Wilayah IV Madura, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menggelar rangkaian kegiatan yang memadukan refleksi ilmiah dan aksi nyata di lapangan. Kegiatan diawali dengan forum diskusi kelompok terarah (FGD) yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Lingkungan Hidup, Dinas PUPR, Dinas Perikanan, BPBD, hingga pemerintah desa dan komunitas pecinta alam di wilayah Madura. Dalam forum tersebut, persoalan sampah tidak lagi dilihat sebagai isu tunggal, melainkan sebagai simpul kompleks yang menghubungkan perilaku manusia, tata kelola wilayah, hingga keberlanjutan sumber daya pesisir. Setiap narasumber membuka lapisan persoalan dari sudut pandangnya masing-masing. Ada yang menyoroti lemahnya sistem pengelolaan sampah, ada pula yang menggarisbawahi rendahnya kesadaran publik. Namun satu benang merah mengemuka: tanpa perubahan perilaku yang konsisten, persoalan ini akan terus berulang, bahkan membesar. Dari ruang diskusi, langkah berpindah ke garis pantai. Di bawah terik matahari dan angin laut yang membawa aroma asin, para peserta, mahasiswa, aparat pemerintah, hingga masyarakat, turun langsung memungut sampah yang berserakan di sepanjang pesisir Branta. Plastik, limbah rumah tangga, hingga material tak terurai menjadi saksi bisu bagaimana daratan dan laut saling berbagi beban pencemaran. Hasilnya terkumpul dalam satu dump truk penuh sampah. Namun lebih dari sekadar jumlah, aksi ini menyisakan pertanyaan yang lebih dalam: berapa banyak lagi yang belum terangkut? Dan berapa lama ekosistem pesisir mampu menanggungnya? Bagi Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan keterlibatan dalam kegiatan ini bukan sekadar pendampingan teknis. Ini adalah bagian dari upaya membangun kedekatan dengan generasi muda dan komunitas pecinta alam, mereka yang berada di garis depan perubahan perilaku lingkungan. Pendampingan yang dimulai dari tahap persiapan hingga pelaksanaan menjadi ruang dialog yang lebih luas. Di sanalah nilai konservasi ditanamkan, bukan sebagai konsep besar yang abstrak, tetapi sebagai tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten. “Konservasi bukan hal besar, tetapi hal kecil yang dilakukan secara konsisten,” menjadi semangat yang mengalir dalam setiap tahapan kegiatan ini. Di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem pesisir, dari sampah, eksploitasi sumber daya, hingga perubahan iklim, aksi seperti di Branta Tinggi mungkin terlihat sederhana. Namun justru dari titik-titik kecil inilah perubahan besar berpotensi tumbuh. Hari Bumi di Madura tahun ini tidak hanya menjadi peringatan seremonial. Ia menjelma menjadi cermin, memantulkan kembali wajah kita sebagai bagian dari alam, sekaligus pengingat bahwa apa yang kita tinggalkan hari ini, akan kembali kita temui di masa depan. Dan mungkin, satu truk sampah itu hanyalah permulaan dari cerita yang lebih panjang, tentang bagaimana manusia memilih untuk memperbaiki, atau justru terus mengabaikan. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Evakuasi Merak Hijau di Tuban Menegaskan Pentingnya Respon Cepat Konservasi

Tuban, 22 April 2026. Kehadiran satwa liar di luar habitat alaminya sering kali menjadi penanda penting, bahwa interaksi antara manusia dan alam masih menyisakan tantangan yang perlu dijawab bersama. Pada Selasa, 21 April 2026, tim gabungan Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro dan Tim Unit Penyelamatan Satwa (UPS), Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melakukan evakuasi enam ekor merak hijau (Pavo muticus) dari dua lokasi di Kabupaten Tuban, permukiman warga di Kecamatan Rengel dan lingkungan SMP Negeri 1 Plumpang. Satwa-satwa ini sebelumnya telah diserahkan secara sukarela oleh masyarakat dan pihak sekolah, sebagai bentuk kepedulian terhadap perlindungan jenis yang dilindungi undang-undang. Selama masa penanganan awal, satwa dititipkan sementara di lokasi asal sambil menunggu kesiapan proses evakuasi lanjutan. Langkah evakuasi ini menjadi bagian dari komitmen berkelanjutan BBKSDA Jawa Timur dalam memastikan setiap satwa yang berada di luar habitatnya dapat segera ditangani sesuai prosedur keselamatan dan kesejahteraan satwa. Dalam praktik konservasi di lapangan, setiap penanganan satwa liar memiliki dinamika tersendiri, mulai dari proses pelaporan, identifikasi, hingga kesiapan sarana dan prasarana evakuasi. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa kolaborasi dan respon cepat menjadi kunci dalam penanganan satwa liar di luar habitatnya. “Setiap laporan yang masuk menjadi prioritas kami untuk segera ditindaklanjuti. Penanganan satwa liar tidak hanya soal evakuasi, tetapi juga memastikan proses pemulihan berjalan optimal hingga satwa siap kembali ke habitat alaminya,” ujarnya. Pendekatan ini menempatkan proses penyelamatan tidak hanya sebagai tindakan teknis, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem secara lebih luas. Selain merak hijau, tim juga mengevakuasi tiga ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) hasil penanganan Damkar Bojonegoro dan Tuban. Kehadiran satwa ini di ruang publik menjadi pengingat bahwa interaksi manusia dan satwa liar membutuhkan penanganan terpadu lintas sektor. Seluruh satwa kemudian dibawa ke fasilitas UPS BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani tahapan rehabilitasi. Proses ini meliputi pemeriksaan kesehatan, observasi perilaku, serta penyesuaian kembali terhadap naluri liar, sebagai langkah penting sebelum mempertimbangkan pelepasliaran. Kegiatan ini juga menegaskan pentingnya peran aktif masyarakat dalam konservasi. Penyerahan sukarela yang dilakukan menjadi contoh nyata meningkatnya kesadaran publik terhadap perlindungan satwa liar. Di sisi lain, BBKSDA Jawa Timur terus memperkuat sistem respon di tapak, termasuk peningkatan koordinasi, kesiapan tim rescue, serta pengembangan mekanisme penanganan yang lebih efektif dan adaptif. Dengan demikian, setiap kejadian serupa tidak hanya menjadi respons sesaat, tetapi juga bahan evaluasi untuk memperkuat sistem konservasi ke depan. Merak hijau merupakan salah satu spesies kunci di Pulau Jawa yang populasinya terus menghadapi tekanan. Keberadaannya di luar habitat alami menjadi pengingat bahwa upaya konservasi tidak bisa berhenti pada perlindungan hukum semata, tetapi harus hadir hingga tingkat tapak. Evakuasi di Tuban ini bukan hanya tentang memindahkan satwa dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah bagian dari upaya lebih besar, yaitu memulihkan, menjaga, dan memastikan bahwa satwa liar tetap memiliki ruang hidup yang semestinya. Di tengah berbagai tantangan konservasi, setiap langkah penyelamatan adalah investasi bagi masa depan keanekaragaman hayati. Dan dari Tuban, pesan itu kembali ditegaskan, bahwa ketika satwa liar ditemukan di tempat yang tidak semestinya, respon yang cepat, kolaboratif, dan berkelanjutan adalah kunci untuk memastikan mereka dapat kembali ke rumahnya, yaitu alam. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tim BBKSDA Sumatera Utara, BBTNGL, dan YEL Monitoring Habitat di Aras Napal dan TN Gunung Leuser

Langkat 21 April 2026 – Tim gabungan dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara melalui Resor Aras Napal, Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) melaksanakan kegiatan monitoring habitat dan keanekaragaman hayati pada 6-13 April 2026 di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser dan Resor Aras Napal. Kegiatan rutin ini bertujuan memastikan kondisi habitat tetap terjaga sekaligus memantau keberadaan satwa kunci di bentang alam Aras Napal dan TNGL. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada batas administratif kawasan, tetapi mengikuti lanskap yang menjadi area jelajah satwa liar. Selama monitoring, tim mencatat sejumlah perjumpaan langsung dengan satwa liar dilindungi, yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii), owa serudung (Hylobates lar), serta berbagai jenis burung, salah satunya julang emas (Rhyticeros undulatus). Keberadaan satwa-satwa ini mengindikasikan bahwa tutupan hutan dan ketersediaan pakan di lokasi pengamatan masih mendukung hidup satwa liar dan avifauna khas Sumatera. Selain perjumpaan langsung, tim juga menemukan tanda-tanda aktivitas satwa liar berupa sarang orang utan (Pongo abelii), jejak gajah sumatra (Elephas maximus Sumatranus), rusa (Cervus unicolor), babi hutan (Sus scrofa) dan macan akar (Felis bengalensis). Data yang diperoleh dari kegiatan ini tidak hanya menjadi catatan keanekaragaman hayati yang ada pada kedua lokasi tersebut tetapi juga menjadi dasar penting dalam pengamanan kawasan serta upaya mitigasi potensi gangguan terhadap satwa liar dan habitatnya. Melalui kegiatan ini BBKSDA Sumatera Utara, BBTNGL dan YEL menegaskan komitmen kolaboratif untuk menjaga ekosistem Taman Nasional Gunung Leuser dan Aras Napal yang menjadi rumah bagi berbagai spesies kunci dan satwa dilindungi. Sumber: Resor Aras Napal, Seksi Konservasi Wilayah II Stabat, Bidang KSDA Wilayah I Kabanjahe – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Misteri Burung yang Menghuni Alun-Alun Kota Blitar

Blitar, 22 April 2026. Dari kejauhan, pohon-pohon beringin di Alun-Alun Kota Blitar tampak seperti biasa, rindang, tua, dan diam. Namun ketika senja turun dan langit mulai meredup, bayangan-bayangan putih dan abu-abu mulai bermunculan di antara cabang-cabangnya. Mereka datang, bertengger, lalu menghilang dalam keremangan. Pertanyaannya sederhana, namun belum terjawab hingga kini: dari mana mereka berasal? Keberadaan koloni burung air di jantung Kota Blitar menjadi perhatian setelah ramai diperbincangkan di media sosial. Menindaklanjuti hal tersebut, pada Selasa (21/4), tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 02 Blitar, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melakukan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Blitar, sekaligus pengecekan langsung di lapangan. Dari hasil penelusuran awal, sedikitnya 12 pohon beringin (Ficus benjamina) teridentifikasi menjadi lokasi bersarang dua jenis burung air, yakni Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) dan Kowak-Malam Abu (Nycticorax nycticorax). Namun yang ditemukan bukan sekadar keberadaan burung, melainkan sebuah koloni yang hidup dan berkembang. Di antara rimbun dedaunan, burung-burung itu tampak aktif membangun sarang, mengeram telur, hingga menyuapi anak-anaknya. Aktivitas ini menunjukkan bahwa mereka tidak hanya singgah, tetapi telah menjadikan kawasan tersebut sebagai habitat berkembang biak, fase paling krusial dalam siklus hidup satwa liar. Sementara itu, upaya penanganan dari pemerintah kota telah dilakukan secara bertahap. Pemangkasan dahan pohon yang lapuk dan pembersihan rutin kawasan menjadi langkah awal untuk menjaga kenyamanan pengunjung, sejalan dengan arahan Wali Kota Blitar. Namun di sisi lain, satu aspek penting masih belum tersedia, tidak adanya data ilmiah yang komprehensif mengenai jumlah populasi, sebaran, dan dinamika koloni burung tersebut. Kekosongan data ini menjadi celah penting dalam memahami fenomena yang sedang berlangsung. Cerita lain muncul dari warga sekitar. Seorang pedagang di alun-alun menuturkan kisah lama, tentang pelepasliaran beberapa pasang burung kuntul oleh orang asing pada dekade 1990-an. Sebuah cerita yang belum terverifikasi, namun terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Apakah koloni ini merupakan kelanjutan dari peristiwa itu? Ataukah mereka datang sendiri, mengikuti naluri alami mencari ruang baru di tengah perubahan lanskap? Hingga kini, belum ada jawaban pasti. Di tengah ketidakpastian tersebut, muncul dua kepentingan yang harus dijembatani. Di satu sisi, keberadaan burung dalam jumlah besar di ruang publik memunculkan persoalan kebersihan dan kenyamanan. Di sisi lain, mereka adalah bagian dari keanekaragaman hayati yang memiliki peran ekologis dan dilindungi dalam prinsip konservasi. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Balai Besar KSDA Jawa Timur menilai bahwa pendekatan berbasis sains dan kolaborasi menjadi kunci. Rencana tindak lanjut pun disusun, dimulai dari kegiatan edukasi dan literasi melalui identifikasi jenis serta penghitungan populasi burung secara sistematis bersama DLH Kota Blitar. Selain itu, koordinasi dengan akademisi, pemerhati burung, dan para pihak terkait juga akan dilakukan guna merumuskan langkah penanganan yang tepat, berimbang antara kepentingan manusia dan keberlangsungan satwa liar. Karena pada akhirnya, misteri ini bukan hanya tentang asal-usul burung. Ini adalah tentang bagaimana kota dan alam saling beririsan, tentang ruang yang tak lagi sepenuhnya milik manusia, dan tentang kehidupan liar yang perlahan menemukan jalannya kembali. Dan mungkin, sebelum bertanya dari mana mereka berasal, ada pertanyaan lain yang lebih penting untuk dijawab, apakah kita masih menyediakan ruang bagi mereka untuk tetap hidup? Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto - Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Road to HKAN 2026: Balai TN Batang Gadis Bersama Mahasiswa UIN Syahada Padangsidimpuan Gelar Aksi Konservasi

Panyabungan, 22 April 2026 - Mahasiswa Program Studi Tadris Biologi UIN Syahada Padangsidimpuan melaksanakan kunjungan edukatif sekaligus aksi konservasi di kawasan Taman Nasional Batang Gadis bersama Balai Taman Nasional Batang Gadis. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Hari Konservasi Alam Nasional 2026 yang berlangsung di Rest Area Sopotinjak, Resort 7 Sopotinjak. Kegiatan ini tidak hanya bersifat kunjungan akademik, tetapi juga diisi dengan berbagai aksi nyata sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Mahasiswa terlibat langsung dalam penanaman pohon sebagai upaya rehabilitasi hutan, aksi bersih kawasan guna menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, serta pelepasan burung ke habitat alaminya sebagai bentuk dukungan terhadap konservasi satwa liar. Pelaksanaan kegiatan ini menjadi wadah pembelajaran lapangan bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara dunia akademik dan pengelola kawasan konservasi dalam mendukung pelestarian sumber daya alam. Melalui kegiatan ini, diharapkan tumbuh kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap pentingnya menjaga hutan dan keanekaragaman hayati. Upaya kecil yang dilakukan secara bersama diharapkan mampu memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan di masa depan. Komitmen konservasi yang tertanam kuat dalam diri mahasiswa menjadi kunci strategis dalam menjaga keutuhan ekosistem serta kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia bagi generasi mendatang. Sumber: Balai Taman Nasional Batang Gadis
Baca Artikel

Pendampingan KTH Cike-Cike Indah Sejahtera Menuju Implementasi Demplot Aren Melalui Metode LaKu

Parbuluan 22 April 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara (BBKSDA Sumut) melalui Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Sidikalang, Kamis (16/4) bersama Penyuluh Kehutanan melaksanakan kegiatan pendampingan dengan metode Latihan dan Kunjungan (LaKu) pada Kelompok Tani Hutan (KTH) Cike-cike Indah Sejahtera di Desa Lae Hole II, Kec. Parbuluan, Kab. Dairi. Pendampingan dengan metode LaKu ini dilaksanakan ketiga kalinya pada KTH Cike-cike Indah Sejahtera. Pada kegiatan kunjungan kali ini dilakukan pendampingan terkait dengan implementasi demplot aren sekaligus pengecekan lokasi lahan demplot aren milik KTH Cike-cike Indah Sejahtera. Pada kegiatan ini juga dilakukan penyusunan RAB implementasi demplot aren secara bersama. Untuk lokasi lahan demplot aren berada di lahan milik anggota KTH dengan ukuran lebih kurang 1 Ha yang akan ditanami bibit aren sebanyak 160 batang. KTH Cike-cike Indah Sejahtera merupakan KTH binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang berada di desa penyangga Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Danau Sicike-cike dan telah mendapatkan bantuan dana FoLu Net Sink untuk pembuatan demplot aren. Bantuan ini meliputi pembelian bibit aren, pembuatan plang dan pembelian barang atau jasa sesuai dengan anggaran yang disediakan. Tanaman aren sendiri merupakan tanaman multiguna yang memiliki banyak sekali produk turunan yang bermanfaat bagi kehidupan, dan juga memiliki nilai komersial yang tinggi. Menanam tanaman aren tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Adanya kegiatan ini dapat meningkatkan minat kelompok tani hutan bahkan masyarakat sekitar untuk melakukan budidaya tanaman aren dan hal ini patut didukung bersama sebagai aksi menjaga ketahanan pangan sekaligus menjaga kawasan konservasi, khususnya di TWA Danau Sicike-cike. Salam Lestari Sumber: Hafsah Purwasih (Penyuluh Kehutanan SKW I Sidikalang) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menyisir Picis, Mencari Jejak yang Tersembunyi, Smart Patrol dan JWLS Mengunci Data Kunci di Hutan Ponorogo

Ponorogo, 22 April 2026. Tim patroli memasuki hutan Gunung Picis saat kabut belum sepenuhnya terangkat. Jalur setapak masih basah, daun-daun gugur menutup jejak lama. Di kawasan konservasi yang relatif sunyi ini, aktivitas justru sedang berlangsung intens, bukan oleh satwa, melainkan oleh manusia yang berupaya memahami keberadaan mereka. Selama tiga hari, pada tanggal 14–16 April 2026, tim Smart Patrol dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 05 Ponorogo, Seksi KSDA Wilayah II, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menyisir sejumlah grid pengamatan di Cagar Alam Gunung Picis. Luas area yang dijangkau mencapai hampir dua hektar. Kegiatan ini bukan sekadar patroli rutin. Ia terhubung langsung dengan agenda yang lebih besar, integrasi dengan Java Wide Leopard Survey (JWLS). Fokusnya jelas, mengumpulkan data lapangan sebagai dasar membaca kondisi habitat, sekaligus membuka peluang deteksi keberadaan Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), predator kunci yang populasinya terus menjadi perhatian. Di lapangan, temuan dicatat secara sistematis. Sejumlah fauna teridentifikasi selama patroli berlangsung. Elang hitam (Ictinaetus malayensis) terlihat melintas di atas kanopi. Musang (Paradoxurus hermaphroditus) meninggalkan jejak aktivitasnya. Kupu-kupu (Ancistroides gemmifer) dan keong darat (Dzakiya rumphii) menjadi indikator mikrohabitat yang masih terjaga. Sementara burung Tulung Tumpuk (Psilopogon javensis) menandai bahwa struktur vegetasi hutan masih cukup baik untuk mendukung kehidupan avifauna. Dari sisi vegetasi, tim mencatat sedikitnya 17 jenis flora. Di antaranya Pasang (Lithocarpus sp.), Morosowo (Engelhardia spicata), hingga Kemaduh (Dendrocnide stimulans). Komposisi ini menunjukkan bahwa kawasan masih memiliki karakter hutan alam yang relatif utuh, faktor penting bagi keberlangsungan satwa liar, terutama spesies dengan kebutuhan habitat luas seperti macan tutul. Namun tidak semua temuan memberi sinyal positif. Dua pal batas kawasan ditemukan dalam kondisi fisik utuh, tetapi informasi identitasnya tidak lagi terbaca. Kondisi ini berpotensi menimbulkan ambiguitas batas di lapangan, persoalan klasik yang kerap luput, namun berdampak pada efektivitas pengelolaan kawasan. Pada saat yang sama, tim Smart Patrol juga melakukan pendampingan terhadap tim JWLS yang tengah memasang kamera trap di beberapa titik strategis. Perangkat ini menjadi instrumen kunci dalam survei satwa liar modern, bekerja tanpa kehadiran manusia, merekam pergerakan satwa yang jarang terdeteksi secara langsung. Integrasi antara patroli lapangan dan teknologi pemantauan ini menandai pendekatan yang semakin terukur dalam konservasi. Data tidak lagi bergantung pada pengamatan kasat mata semata, melainkan diperkuat dengan bukti visual yang dapat diverifikasi. Keterlibatan mahasiswa magang dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menambah dimensi lain dalam kegiatan ini. Mereka terlibat langsung dalam proses pencatatan hingga pendampingan teknis di lapangan, sebuah pengalaman yang jarang diperoleh di ruang kelas. Gunung Picis mungkin tidak banyak disebut dalam peta prioritas nasional. Namun dari data yang dikumpulkan perlahan, kawasan ini menunjukkan satu hal penting bahwa ia masih menyimpan fungsi ekologis yang bekerja. Dan di tengah upaya itu, satu pertanyaan tetap menggantung, apakah data yang terkumpul cukup cepat untuk menjawab ancaman yang datang lebih dahulu? Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jika Kita Berhenti Menjaga, Apa yang Tersisa? Membaca Ulang Kekuatan Manusia di Hari Bumi!

Sidoarjo, 22 April 2026. Pagi masih basah oleh embun ketika jejak itu ditemukan, bekas pijakan satwa liar yang melintas di sebagian sudut hutan Jawa Timur. Tak ada suara, tak ada penampakan. Hanya tanda bahwa kehidupan masih bertahan, diam-diam, di tengah ruang yang kian menyempit. Di momen Hari Bumi 22 April 2026, pertanyaan itu menjadi semakin relevan: jika manusia berhenti menjaga, apa yang benar-benar akan tersisa? Tema “Our Power, Our Planet” tahun ini bukan sekadar seruan simbolik. Ia adalah pengingat bahwa kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada eksploitasi, melainkan pada pilihan untuk menjaga keseimbangan alam. Di Jawa Timur, upaya konservasi terus berlangsung dalam senyap namun konsisten. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menjalankan berbagai langkah strategis, mulai dari patroli kawasan konservasi, penyelamatan dan rehabilitasi satwa liar, hingga pengawasan peredaran tumbuhan dan satwa dilindungi. Di Pulau Bawean, rusa endemik masih bertahan dalam ruang hidup yang terbatas. Sementara di bentang hutan lainnya, merak hijau tetap menjadi simbol keindahan yang sekaligus rentan terhadap tekanan habitat dan aktivitas manusia. Upaya-upaya ini menjadi bukti bahwa menjaga bukanlah konsep abstrak, melainkan kerja nyata yang menuntut komitmen jangka panjang. Kekuatan manusia, sebagaimana tema Hari Bumi tahun ini, tidak selalu hadir dalam bentuk besar. Ia justru sering tersembunyi dalam tindakan sederhana, keputusan untuk tidak merusak, keberanian untuk melindungi, dan kesadaran untuk hidup berdampingan dengan alam. Di balik setiap patroli hutan, setiap pelepasliaran satwa, hingga setiap edukasi kepada masyarakat, terdapat satu benang merah, bahwa masa depan bumi ditentukan oleh tindakan hari ini. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, menegaskan bahwa peringatan Hari Bumi seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif, bukan sekadar seremoni tahunan. “Tema Our Power, Our Planet” mengingatkan kita bahwa setiap individu memiliki peran dalam menjaga keberlanjutan lingkungan. Kekuatan itu ada pada pilihan, apakah kita akan terus menekan alam, atau mulai merawatnya dengan bijak. Konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” ujarnya. Beliau juga menekankan bahwa keberhasilan konservasi sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan para pemangku kepentingan lainnya dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistemnya. Bumi tidak pernah benar-benar meminta untuk diselamatkan. Ia telah melewati berbagai fase perubahan jauh sebelum manusia hadir. Namun kini, manusia justru menjadi pihak yang paling bergantung pada stabilitas yang mulai terganggu. Hutan yang hilang bukan sekadar kehilangan pohon. Ia adalah hilangnya rumah, hilangnya penyangga kehidupan, dan hilangnya masa depan yang tak tergantikan. Jika suatu hari hutan berhenti berbisik, dan satwa tak lagi meninggalkan jejak, maka yang tersisa bukanlah keheningan, melainkan konsekuensi. Karena pada akhirnya, kekuatan terbesar manusia tidak terletak pada kemampuannya menguasai alam, melainkan pada kesediaannya untuk menjaga. Our Power. Our Planet. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Menabrak Jendela! Sebuah Drama Penyelamatan Elang Alap Jambul di Sudut Surabaya

Surabaya, 22 April 2026. Seekor elang alap jambul (Lophospiza trivirgata), raptor anggun penjaga keseimbangan hutan, ditemukan tak berdaya di sebuah rumah padat di kawasan Sidotopo Wetan, Surabaya. Ia tidak sedang berburu. Tidak pula sedang bermigrasi. Ia jatuh, setelah menabrak batas tak kasatmata yang diciptakan manusia yaitu sebuah kaca jendela. Peristiwa itu menjadi awal dari sebuah penyelamatan yang tidak hanya menyelamatkan satu individu satwa, tetapi juga membuka kembali kesadaran tentang rapuhnya hubungan antara ruang hidup manusia dan satwa liar. Informasi awal datang dari seorang warga, Keyla Ariyanti, yang memilih untuk tidak tinggal diam. Ia melaporkan keberadaan satwa dilindungi tersebut kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Respons cepat pun dilakukan. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (MATAWALI) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya segera bergerak ke lokasi dengan membawa peralatan evakuasi, Senin (20/04/2026). Setibanya di lokasi, tim mendapati bahwa elang tersebut telah berada dalam kandang besi selama kurang lebih satu minggu. Pemilik rumah, Bagio, menjelaskan bahwa satwa itu tiba-tiba menabrak jendela rumahnya dan jatuh dalam kondisi lemas, tidak mampu terbang. Tanpa pengetahuan memadai, satwa tersebut kemudian diamankan dan dirawat seadanya. Namun, penyelamatan satwa liar tidak selalu berjalan mulus. Pada awalnya, terjadi penolakan saat tim berupaya membawa elang tersebut. Pemilik sempat meminta kompensasi. Situasi ini mencerminkan persoalan klasik dalam konservasi: masih adanya kesenjangan pemahaman masyarakat tentang status perlindungan satwa liar dan konsekuensi hukumnya. Melalui pendekatan persuasif dan edukatif, Tim MATAWALI menjelaskan bahwa elang alap jambul merupakan satwa dilindungi berdasarkan regulasi nasional, serta memiliki peran ekologis penting sebagai pengendali populasi satwa kecil di alam. Setelah proses dialog yang cukup intens, akhirnya satwa tersebut diserahkan secara sukarela. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan bahwa elang tersebut mengalami luka di bagian pangkal paruh. Meski masih hidup, kondisinya lemah, menjadi sebuah indikasi stres dan trauma akibat benturan serta penanganan yang belum sesuai standar kesejahteraan satwa. Dengan prosedur yang hati-hati, tim kemudian melakukan evakuasi. Elang tersebut selanjutnya ditranslokasikan ke Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk menjalani perawatan medis dan rehabilitasi lebih lanjut. Di balik peristiwa ini, ada pesan yang lebih besar dari sekadar penyelamatan satu individu. Urbanisasi yang kian masif telah menciptakan “jebakan-jebakan tak terlihat” bagi satwa liar, mulai dari kaca bangunan, kabel listrik, hingga fragmentasi habitat. Bagi burung pemangsa seperti elang, ruang udara yang dulu bebas kini penuh risiko. Penyelamatan ini menjadi pengingat bahwa konservasi bukan hanya tentang kawasan hutan yang jauh di sana. Ia hadir di halaman rumah, di jendela kaca, dan dalam setiap keputusan manusia untuk peduli atau tidak. Pada akhirnya, elang itu mungkin akan kembali terbang suatu hari nanti, jika proses rehabilitasinya berhasil. Namun pertanyaan yang tersisa adalah, apakah langit yang ia kembali nanti masih cukup aman? (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Workshop TGC Kalimantan Selatan Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Flu Burung

Banjarbaru, 17 April 2026 – BKSDA Kalimantan Selatan turut menghadiri kegiatan Workshop Penguatan Tim Gerak Cepat (TGC) Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam Joint Outbreak Investigation (JOI) serta respons Kejadian Luar Biasa (KLB) Avian Influenza yang dilaksanakan selama 4 hari, pada 14–17 April 2026, bertempat di Hotel Grand Qin, Banjarbaru. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Pertanian, dan U.S. CDC Indonesia. Workshop ini menjadi langkah strategis dalam meningkatkan kesiapsiagaan daerah terhadap ancaman penyakit menular, khususnya zoonosis yang berpotensi berdampak luas terhadap kesehatan masyarakat serta stabilitas sosial dan ekonomi. Fokus utama kegiatan ini adalah penguatan kapasitas Tim Gerak Cepat dalam pelaksanaan Joint Outbreak Investigation (JOI) serta respons cepat terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit zoonosis. Kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan One Health—yang mengintegrasikan kesehatan manusia, kesehatan hewan (termasuk satwa liar), dan lingkungan—menjadi kunci dalam upaya pencegahan dan pengendalian penyakit. Sebagai bagian dari peran aktif dalam pengendalian penyakit zoonosis, BKSDA Kalimantan Selatan juga menekankan pentingnya penguatan surveilans pada satwa liar serta peningkatan koordinasi lintas sektor di tingkat lapangan. Melalui keterlibatan dalam Tim Gerak Cepat (TGC), BKSDA Kalsel siap mendukung upaya deteksi dini, pelaporan cepat, dan penanganan kasus Avian Influenza secara terpadu, guna meminimalkan risiko penyebaran penyakit dari satwa ke manusia serta menjaga keseimbangan ekosistem. (Ryn) Sumber: Beny Rahmanto, S.Hut., M.Hut. (PEH) - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

94 Jenis Tumbuhan, Jejak Rusa, Dan Sarang Gosong Yang Menunggu Diselamatkan Di Cagar Alam Pulau Saobi

Sumenep, 21 April 2026. Di sebuah pulau kecil di Timur Madura, kehidupan tumbuh dalam diam, rapuh, namun bertahan. Cagar Alam Pulau Saobi bukan sekadar bentang alam yang terisolasi, melainkan lanskap hidup yang menyimpan jejak keanekaragaman hayati yang luar biasa. Dari 94 jenis tumbuhan yang tercatat, hingga jejak rusa timor dan sarang burung gosong kaki merah, semuanya menjadi penanda bahwa pulau ini masih menyimpan denyut kehidupan liar yang autentik. Inventarisasi lapangan yang dilakukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada tanggal 14 - 19 April 2026 menjadi pintu masuk untuk membaca ulang arti penting Pulau Saobi. Kegiatan ini merupakan bagian dari penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang (RPJP), yang bertujuan memastikan keberlanjutan ekosistem di tengah berbagai tekanan yang terus mengintai. Tim yang dipimpin oleh Asep Hawim Sudrajat, Kepala Seksi KSDA Wilayah IV, bersama Usgiantoro, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda, menemukan bahwa Pulau Saobi adalah ekosistem yang utuh dalam skala kecil. Hutan tropis dataran rendah mendominasi daratan, menyimpan puluhan jenis flora yang menjadi fondasi kehidupan. Di sisi pesisir, mangrove seluas 27,76 hektare berdiri sebagai benteng alami, menahan abrasi sekaligus menjadi habitat berbagai biota. Namun salah satu lanskap paling menarik justru terletak pada hamparan savana seluas 5,73 hektare. Di ruang terbuka ini, kehidupan satwa liar bergerak lebih leluasa. Jejak rusa timor ditemukan dalam 84 tanda perjumpaan tidak langsung, sebuah indikasi populasi yang masih aktif. Sementara itu, burung gosong kaki merah, spesies unik yang menggantungkan reproduksinya pada panas alami tanah, tercatat memiliki 104 sarang yang tersebar di kawasan tersebut. Data ini bukan sekadar angka. Ia adalah narasi tentang kelangsungan hidup. Namun, seperti banyak kawasan konservasi lainnya, Pulau Saobi tidak steril dari tekanan. Di musim kemarau, ketika vegetasi pakan menipis, ternak milik masyarakat dilepas bebas ke dalam kawasan. Penggembalaan liar ini secara perlahan mengubah struktur vegetasi dan berpotensi mengganggu habitat satwa. Tekanan lain datang dari aktivitas ilegal yang masih tersisa. Sepanjang tahun 2025, tercatat 52 gangguan kawasan dengan sembilan jenis pelanggaran, termasuk pencurian kayu. Meski intensitasnya menurun seiring berkurangnya ketergantungan masyarakat terhadap hutan, ancaman ini tetap menjadi catatan penting dalam pengelolaan kawasan. Akses jalan yang membelah kawasan juga menjadi dilema tersendiri. Jalur ini digunakan masyarakat untuk mobilitas hasil panen sekaligus penghubung dua dusun, Pajennasem dan Lao’anna. Di satu sisi, ia menjadi kebutuhan sosial-ekonomi, namun di sisi lain membuka fragmentasi ruang alami. Sementara itu, savana yang menjadi ruang vital bagi satwa liar perlahan menyusut. Proses suksesi alami menyebabkan munculnya semak dan anakan pohon, mengubah karakter lanskap terbuka menjadi lebih tertutup. Di wilayah pesisir, aktivitas pengambilan pasir untuk kebutuhan pembangunan rumah turut memberikan tekanan tambahan, terutama di sekitar ekosistem mangrove. Di tengah berbagai tantangan tersebut, masyarakat justru merasakan manfaat nyata dari keberadaan kawasan ini. Sumber air tanah tetap tersedia sepanjang tahun, tidak pernah kering bahkan di puncak musim kemarau. Air yang dihasilkan pun cenderung tawar, sebuah fenomena penting bagi pulau kecil yang dikelilingi laut. Selain itu, kawasan ini juga berperan dalam menjaga stabilitas air bagi lahan pertanian, terutama saat musim hujan. Fakta ini menegaskan satu hal, bahwa Pulau Saobi bukan hanya penting bagi satwa liar, tetapi juga bagi keberlangsungan hidup manusia. Kesadaran ini mulai menemukan bentuknya dalam diskusi bersama Pemerintah Desa Saobi. Sejumlah langkah strategis mulai dirumuskan, mulai dari peningkatan sosialisasi nilai konservasi kepada masyarakat, hingga rencana penyediaan jalur alternatif di luar kawasan untuk mengurangi tekanan langsung terhadap cagar alam. Lebih jauh, semangat kolaborasi antara pengelola kawasan dan masyarakat menjadi kunci yang mulai dibangun. Pulau Saobi adalah potret kecil dari wajah konservasi Indonesia, di mana kekayaan hayati bertemu dengan realitas sosial. Ia mengajarkan bahwa konservasi tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus tumbuh bersama masyarakat, beradaptasi dengan kebutuhan, dan tetap menjaga batas agar alam tidak kehilangan jati dirinya. Kini, di tengah sunyi pulau yang jarang disebut, 94 jenis tumbuhan tetap tumbuh, rusa masih meninggalkan jejak, dan burung gosong terus menanam harapan melalui sarangnya. Pertanyaannya bukan lagi apakah Pulau Saobi layak diselamatkan. Tetapi, seberapa cepat kita bergerak sebelum semuanya tinggal cerita. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Batas yang Mulai Hilang: Ketika Tiga Penanda Runtuh di Cagar Alam Pulau Saobi

Sumenep, 21 April 2026. Di dalam kawasan yang seharusnya steril dari gangguan, batas adalah segalanya. Ia bukan sekadar tanda fisik, melainkan garis tak kasat mata yang memisahkan perlindungan dan ancaman. Namun di Cagar Alam Pulau Saobi, batas itu mulai melemah. Dalam kegiatan Smart Patrol yang dilaksanakan pada tanggal 14–19 April 2026 oleh tim Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) menemukan tiga pal batas dalam kondisi rusak berat. Sebuah temuan yang mengubah cara kita membaca kondisi kawasan. Kerusakan ini bukan sekadar persoalan infrastruktur. Ia adalah sinyal awal. Ketika pal batas hilang atau rusak, batas kawasan menjadi kabur, baik secara fisik maupun persepsi. Dan ketika batas mulai kabur, pelanggaran menjadi lebih mudah terjadi. Temuan lain memperkuat kekhawatiran tersebut. Tim mendapati adanya jalur setapak sepanjang sekitar 50 meter yang masuk ke dalam kawasan. Jejak ini menunjukkan bahwa aktivitas manusia telah mulai merambah, perlahan, tetapi pasti. Padahal, di dalam kawasan yang sama, kehidupan liar masih bertahan. Jejak Rusa Timor dan aktivitas satwa lainnya menunjukkan bahwa Pulau Saobi masih menyimpan ekosistem yang hidup. Namun tanpa batas yang jelas, ruang aman bagi satwa bisa menyusut tanpa disadari. Smart Patrol yang menjangkau 44 grid ini sejatinya bukan hanya kegiatan monitoring. Ia adalah proses membaca tanda-tanda perubahan di lapangan. Dan dalam konteks ini, tiga pal batas yang rusak adalah pesan paling kuat: bahwa kawasan ini membutuhkan perhatian segera. Rekomendasi pun disusun. Pemeliharaan dan perbaikan pal batas menjadi prioritas, disertai pemasangan papan larangan di titik-titik rawan. Upaya ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis, mengembalikan kejelasan ruang, sekaligus mempertegas komitmen perlindungan. Di banyak tempat, kerusakan kawasan dimulai bukan dari perusakan besar, tetapi dari hal-hal kecil yang dibiarkan. Satu batas yang hilang. Satu jalur yang terbuka. Satu langkah yang tidak dicegah. Pulau Saobi hari ini masih memiliki kesempatan. Namun seperti batas-batasnya yang mulai runtuh, waktu untuk bertindak tidak akan selalu ada. Karena ketika garis perlindungan benar-benar hilang, yang tersisa hanyalah penyesalan, dan ekosistem yang tak lagi utuh. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto - Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

32 Ekor Tersisa di Ujung Kepunahan, Populasi Kakatua Jambul Kuning dari Masakambing

Masalembu, 21 April 2026. Di sebuah pulau kecil yang nyaris luput dari perhatian peta besar konservasi, suara parau yang khas terdengar memecah pagi. Itu bukan sekadar suara burung, melainkan gema terakhir dari spesies yang berada di ambang hilang. Di Pulau Masakambing, tim patroli Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mencatat keberadaan sekitar 32 individu Kakatua Kecil Jambul Kuning, subspesies endemik Cacatua sulphurea abbotti yang kini menjadi salah satu burung paling langka di Indonesia. Pemantauan dilakukan pada awal April 2026 menggunakan metode point count, sebuah teknik yang mengandalkan ketelitian pendengaran dan pengamatan visual dari satu titik. Namun di lapangan, metode ini menghadapi tantangan. Vegetasi rapat dan pergerakan burung yang dinamis membuat deteksi tidak selalu optimal, menyisakan kemungkinan bahwa angka yang tercatat bisa jadi lebih kecil dari kenyataan, atau justru sebaliknya. Kakatua ini bukan sekadar burung. Ia adalah penanda kesehatan ekosistem pulau kecil. Ketika populasinya menurun, itu berarti ada sesuatu yang berubah, entah tekanan habitat, gangguan manusia, atau rantai ekologi yang mulai terganggu. Selama beberapa dekade terakhir, subspesies ini terus menghadapi tekanan dari hilangnya habitat hingga perburuan ilegal di masa lalu. Kini, ketika jumlahnya hanya puluhan, setiap individu menjadi sangat berarti, bukan hanya untuk keberlangsungan spesies, tetapi juga sebagai simbol keberhasilan atau kegagalan konservasi. Tim di lapangan merekomendasikan perubahan pendekatan. Metode pengamatan di pohon tidur (roosting site) dinilai lebih efektif, terutama jika dilakukan oleh satu pengamat. Di lokasi-lokasi tertentu, kakatua cenderung berkumpul saat senja dan fajar, memberikan peluang lebih akurat untuk menghitung populasi nyata. Namun waktu tidak berpihak. Dengan hanya puluhan individu tersisa, kehilangan satu saja bukan lagi statistik, melainkan kemunduran besar. Pulau Masakambing hari ini adalah garis depan terakhir. Dan di antara dahan-dahan tempat mereka bertengger, masa depan spesies ini sedang dipertaruhkan, dalam diam. Jika suara itu berhenti suatu hari nanti, bukan karena alam yang memilih. Tapi karena kita terlambat mendengar. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji - PEH Ahli Muda – Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 305–320 dari 2.515 publikasi