Jumat, 2 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Park Rangers Conservation Awareness Leadership Workshop bersama Yayasan United in Diversity

Labuan Bajo, 25 November 2025. Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) difasilitasi oleh Sirkula Indonesia dan Yayasan United in Diversity telah menyelenggarakan Park Rangers Conservation Awareness Leadership Workshop , sebuahlokakarya kepemimpinan konservasi yang berlangsung di Hotel Luwansa Labuan Bajo pada tanggal 15–18 Juli 2025. Yayasan United in Diversity (UID) merupakan institusi terkemuka di Indonesia yang konsisten mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia berkesadaran dan berwawasan lingkungan melalui berbagai program, salah satunya BEKAL PEMIMPIN, yang telah melahirkan sejumlah alumni aktif di Kementerian Kehutanan. Keterlibatan UID dalam ekosistem program RangerGoes to School (RGTS) bertujuan untuk memperkuat niatan kolaboratif antara jagawana, guru, dan para praktisi pendidikan di Labuan Bajo dalam upaya melestarikan Situs Warisan Dunia Taman Nasional Komodo melalui pendekatan pendidikan konservasi dan pengembangan kepemimpinan generasi muda Manggarai Barat. Lokakarya ini menjadi ruang strategis untuk meningkatkan kemampuan para pendidik dan jagawana dalam menghadirkan pembelajaran konservasi yang lebih kolaboratif, reflektif, dan berorientasi pada kesadaran ekologis serta berpikir sistem. Sebagai bagian dari penguatan internal RGTS, lokakarya ini dipandang penting untuk menjawab kebutuhan pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang selama ini menjadi fondasi keberhasilan program. Sejak 2022, RGTS telah menjangkau lebih dari 1.700 siswa dari lima sekolah mitra di Labuan Bajo dan sekitarnya, sehingga kualitas fasilitator—baik jagawana maupun guru—menjadi krusial bagi keberlanjutan dan efektivitas pembelajaran. Dengan karakter RGTS sebagai program pendidikan berbasis kawasan konservasi yang menuntut pendekatan ilmiah, empatik, dan kontekstual, peningkatan kemampuan refleksi, komunikasi, dan kepemimpinan para pengajar menjadi keharusan. Lokakarya ini dirancang untuk memperkuat kapasitas tersebut melalui pendekatan transformasional yang mengedepankan kolaborasi lintas profesi dan pengembangan kepekaan ekologis. Pelaksanaan lokakarya ini merupakan bagian dari rangkaian program yang memperoleh dukungan dari Divisi Pendidikan di UNESCO Jakarta dan diimplementasikan oleh Sirkula Indonesia. UNESCO memberikan atensi khusus terhadap RGTS karena melihatnya sebagai inisiatif pendidikan konservasi berbasis tapak yang berakar pada kepemimpinan para jagawana muda serta nilai-nilai lokal masyarakat Manggarai Barat. Dengan menilai RGTS sebagai model yang berpotensi direplikasi oleh taman nasional lain di Indonesia, UNESCO mendorong penguatan kapasitas para penggiat RGTS melalui pelatihan yang menumbuhkan kemampuan reflektif, empatik, dan kolaboratif. Dukungan ini memastikan setiap jagawana, guru, dan praktisi pendidikan memiliki keterampilan yang memadai untuk menuntun generasi muda memahami, menghargai, dan mencintai Taman Nasional Komodo. Selama empat hari pelaksanaan, sebanyak 33 peserta mengikuti rangkaian sesi pengembangan diri, dialog mendalam lintas profesi, serta latihan deep listening dan refleksi yang menjadi inti dari pendekatan Theory-U. Theory-U merupakan sebuah kerangka kerja untuk memimpin transformasi dan inovasi mendalam (a framework for leading profound change and innovation) yang dikembangkan oleh akademisi Massachusetts Institute of Technology (MIT). Melalui pendekatan ini, para fasilitator UID mendorong peserta untukmengamati, merasakan, dan memaknai kembali praktik pendidikan konservasi dari sudut pandang yang lebih sistemik, kolaboratif, dan berkesadaran. Untuk memperkuat proses pembelajaran, kegiatan ini juga menghadirkan ilustrator visual profesional, Kang Jaka, yang mendokumentasikan berbagai insight, dialog, dan gagasan utama ke dalam karya visual sebagai bahan refleksi kolektif setiap hari. Suasana lokakarya diwarnai oleh ekspresi emosional yang kuat—mulai dari rasa haru, bangga, hingga tumbuhnya semangat baru—yang mencerminkan perubahan cara pandang peserta terhadap peran pendidikan dalam menjaga kelestarian Taman Nasional Komodo. Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, berkesempatan hadir langsung dalam pembukaan kegiatan ini. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi kepada UNESCO Jakarta, Sirkula Indonesia, Yayasan United in Diversity, Tim Ranger Goes to School, serta seluruh peserta lokakarya. Hendrikus menegaskan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia merupakan fondasi penting dalam memastikan kelestarian Taman Nasional Komodo, salah satunya melalui pendidikan konservasi bagi generasi muda. Beliau juga berpesan bahwa RGTS bukan hanya tanggung jawab Balai Taman Nasional Komodo, melainkan menjadi kewajiban seluruh pemangku kepentingan. Tanpa generasi muda yang memiliki kesadaran dan wawasan konservasi yang kuat, keberlanjutan Taman Nasional Komodo dalam jangka panjang dapat terancam. Dengan semangat kolaborasi, keberanian, dan konsistensi yang telah dibangun bersama, BTNK berharap lokakarya ini menjadi pijakan penting untuk menghadirkan Pendidikan konservasi yang lebih inklusif, transformatif, dan berdampak bagi generasi muda Manggarai Barat. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita dan Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo (+6281138290000)
Baca Artikel

Menakar Detak Jantung Kawah Ijen, Baseline Baru Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi

Banyuwangi, 25 November 2025. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah V melaksanakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan untuk Cagar Alam dan Taman Wisata Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-ungup, sebuah upaya yang bukan sekadar administrasi, melainkan proses memahami denyut kehidupan yang bersemayam di balik dinding-dinding alam Ijen. Kegiatan ini berlangsung di Balai Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi (24-25/11/2025), tempat yang menjadi titik pertemuan berbagai pemangku kepentingan dari Jember, Banyuwangi, dan Bondowoso. Di meja yang sama, duduk perwakilan dinas pariwisata, kehutanan, unsur TNI–Polri, pemerintah kecamatan, puskesmas, kepala desa, pengelola wisata, hingga jajaran Resor KSDA Wilayah 15. Pertemuan ini menghadirkan potret kolaborasi yang selama ini menjaga kawasan Kawah Ijen tetap menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati sekaligus ruang hidup bagi masyarakat. Penilaian kali ini menggunakan METT Versi 4.4, versi mutakhir yang dirancang untuk menjawab tantangan pengelolaan kawasan konservasi di era perubahan iklim. Tidak hanya menimbang pengelolaan dasar, METT kini menelusuri dimensi yang lebih kompleks. Termasuk di dalamnya penilaian terhadap habitat dan satwa indikator kunci, kompas ekologis yang menunjukkan apakah kawasan masih berada dalam kondisi sehat. Proses penilaian berlangsung intens, dipandu oleh fasilitator yang memastikan setiap butir pertanyaan dan data ancaman dipahami dan didiskusikan. Seluruh peserta terlibat aktif dalam menilai kondisi kawasan berdasarkan pengalaman, pengetahuan, serta pengamatan lapangan. Pada akhirnya, data yang terkumpul disepakati sebagai baseline atau T0 METT Kawah Ijen untuk tahun 2025, yang menjadi pijakan dua tahun evaluasi berikutnya. Hasil penilaian memberi gambaran optimistis. Cagar Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-ungup memperoleh skor 70 dari total 102, atau setara 68,63 persen. Sementara Taman Wisata Alam Kawah Ijen Merapi Ungup-ungup meraih skor 80 dari 111, atau 72,07 persen. Keduanya masuk kategori pengelolaan efektif. Ini berarti, di tengah tekanan ekologi, pariwisata, dan dinamika pemanfaatan ruang, struktur pengelolaan kawasan masih berdiri kokoh dan adaptif. Namun perjalanan menuju pengelolaan yang ideal tidak pernah selesai. Diskusi para peserta mengerucut pada sejumlah langkah yang dinilai penting untuk dilakukan dalam dua tahun ke depan. Pembaruan data satwa kunci dan nilai alami kawasan dianggap sangat mendesak, mengingat dinamika populasi satwa dan habitat terus berubah. Kawasan ini juga memiliki potensi jasa lingkungan yang jauh lebih luas dari sekadar wisata alam, yang membutuhkan identifikasi lebih mendalam. Upaya penghitungan cadangan karbon, peningkatan fasilitas pengunjung, serta peninjauan kembali dokumen perencanaan kawasan untuk memasukkan isu perubahan iklim dan pemanfaatan jasa lingkungan menjadi bagian dari strategi besar yang akan memperkuat pengelolaan CA dan TWA Kawah Ijen ke depan. Kegiatan METT kemudian ditutup dengan penandatanganan Berita Acara Penilaian METT CA dan TWA Kawah Ijen Merapi Ungup Ungup, menandai komitmen bersama untuk menjaga kawasan yang menjadi denyut kehidupan di ujung timur Pulau Jawa. Dalam lanskap Kawah Ijen yang setiap hari diselimuti laju angin, aktivitas geologi, dan sistem ekologis yang saling terkait, kerja konservasi bukan hanya tentang menjaga alam tetap utuh, tetapi juga memastikan bahwa setiap keputusan hari ini memberi ruang tumbuh bagi generasi yang akan datang. Di tengah gemuruh aktivitas vulkanik dan hiruk pikuk kunjungan wisata, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa Kawah Ijen bukan sekadar destinasi, ia adalah ekosistem yang hidup. Dan METT 2025 adalah langkah kecil namun penting untuk memastikan bahwa kehidupan itu terus terjaga. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Balai TN Komodo dan UNESCO Jakarta Luncurkan Modul Pendidikan Konservasi

Labuan Bajo, 25 November 2025. Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) secara resmi meluncurkan Modul Pendidikan Konservasi “Taman Nasional Komodo dan Pariwisata Berkelanjutan”, sebuah terobosan pembelajaran muatan lokal untuk pelajar menengah atas/kejuruan berbasis kawasan konservasi yang memperoleh dukungan pengembangan dan penyempurnaan dari UNESCO Jakarta. Modul ini menjadi langkah strategis bagi BTNK dalam memperkuat efektivitas pengelolaan Taman Nasional Komodo melalui peningkatan kualitas pendidikan sumber daya manusia, khususnya generasi muda di Labuan Bajo. Inisiasi ini dimulai dengan meningkatkan kapasitas program Ranger Goes to School (RGTS), inisiatif pendidikan konservasi unggulan dari para jagawana muda di Balai Taman Nasional Komodo. Program yang digagas oleh Muhammad Ikbal Putera (PEH Ahli Muda) beserta rekan-rekannya sejak tahun 2022 ini telah membawa banyak manfaat positif bagi generasi muda di Labuan Bajo untuk lebih peduli terhadap Taman Nasional Komodo, bukan sebagai destinasi pariwisata melainkan warisan alam dan budaya lokal yang harus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Meskipun program RGTS sudah memiliki kurikulum dan bahan ajar yang komprehensif, materi tersebut masih disusun berdasarkan tema ajar per minggunya dan belum disusun sebagai satu dokumen induk yang bisa dibaca secara utuh oleh pihak diluar Balai Taman Nasional Komodo maupun pihak sekolah. Hal inilah yang dirasa dapat menjadi hambatan pencapaian yang lebih besar sehingga transformasi bahan-bahan ajar RGTS menjadi sebuah modul ajar sangat penting dan urgent. Divisi Pendidikan UNESCO Jakarta melalui Zakki Gunawan dan timnya memberikan apresiasi dan atensi terhadap program RGTS yang digagas oleh Balai Taman Nasional Komodo. UNESCO Jakarta selanjutnya memberikan dukungan finansial untuk dapat menyempurnakan program RGTS dan mewujudkan keinginan para jagawana tersebut demi meningkatkan kualitas pendidikan lingkungan di wilayah Nusa Tenggara Timur, khusunya Kabupaten Manggarai Barat. UNESCO Jakarta melihat potensi bahwa program RGTS dapat menjadi benchmarking bagi taman nasional lain sehingga modul ajar menjadi sesuatu yang harus diwujudkan. Untuk itu, Tim RGTS melalui dukungan Sirkula Indonesia berhasil mendapatkan dukungan finansial tersebut dan berupaya melaksanakan dua program strategis yaitu: penyusunan modul “Taman Nasional Komodo dan Pariwisata Berkelanjutan” dan pelaksanaan conservation awareness leadership workshop untuk tim jagawana, guru sekolah, dan praktisi di Labuan Bajo mengenai pentingnya kolaborasi dan pendidikan konservasi bagi kelestarian alam di Manggarai Barat. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebagai lembaga yang menaungi satuan pendidikan menengah atas dan kejuruan turut berperan dalam terwujudnya gebrakan baru di bidang pendidikan ini. Tim RGTS bersama Sirkula Indonesia secara konsisten berkolaborasi dan mengadvokasi pentingnya pendidikan konservasi sebagai bagian dari pengembangan muatan lokal di Nusa Tenggara Timur. Dalam prosesnya, tim menekankan bahwa program RGTS akan memberikan dampak yang lebih luas apabila warisan alam dan budaya ditempatkan setara dengan keragaman seni dan budaya daerah sebagai identitas masyarakat. Seluruh taman nasional di NTT merupakan kekayaan alam dan budaya yang perlu diketahui, dipelajari, dan dilestarikan, sehingga sudah selayaknya diperkenalkan secara sistematis melalui pendidikan formal. Menindaklanjuti rangkaian advokasi ini, Gubernur Nusa Tenggara Timur menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 44 Tahun 2025, yang mengubah Pergub NTT Nomor 25 Tahun 2025 tentang Kurikulum Muatan Lokal pada Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus. Peraturan tersebut resmi memasukkan topik “taman nasional dan pariwisata berkelanjutan” sebagai muatan lokal, membuka ruang bagi seluruh pengelola taman nasional di NTT untuk memperkuat pendidikan konservasi dan mereplikasi keberhasilan program RGTS sesuai konteks wilayahnya masing-masing. Keberhasilan advokasi kebijakan ini melengkapi pencapaian penting RGTS di tahun keempat pelaksanaannya, yang pada 2025 dikoordinasikan oleh Rawuh Pradana, Kepala Satuan Polisi Kehutanan BTNK. Sejak 2022, RGTS telah menjangkau lebih dari 1.700 peserta didik dari lima sekolah mitra, menjadikannya salah satu program pendidikan konservasi paling konsisten dan berdampak di Nusa Tenggara Timur. Keberhasilan modul ajar dan advokasi kebijakan ini menjadi puncak dari dukungan UNESCO Jakarta melalui Sirkula Indonesia, sekaligus tonggak baru bagi BTNK dalam memastikan keberlanjutan pendidikan konservasi di Manggarai Barat. Kepala Balai Taman Nasional Komodo, Hendrikus Rani Siga, menyampaikan apresiasi kepada UNESCO Jakarta, Sirkula Indonesia, para kepala sekolah mitra RGTS, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta seluruh mitra masyarakat yang telah berperan aktif dalam pengembangan modul ini. Dukungan tersebut sejalan dengan pengakuan komunitas internasional terhadap program RGTS, yang sebelumnya diadvokasi oleh Muhammad Ikbal Putera pada IUCN World Conservation Congress 2025 di Abu Dhabi. Pengakuan ini semakin memperkuat posisi RGTS sebagai model pendidikan konservasi berbasis tapak dari Indonesia untuk dunia. Dengan modal kesadaran, keberanian, kolaborasi, dan konsistensi yang telah terbangun, BTNK berharap modul ini dapat diterapkan secara lebih luas dan menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi muda yang sadar, peduli, dan bangga terhadap warisan alam Komodo dan Nusa Tenggara Timur. Sumber: Balai Taman Nasional Komodo Penanggungjawab Berita: Kepala Balai Taman Nasional Komodo - Hendrikus Rani Siga, S.Hut., M.Sc. (+62813 5336 3519) Penulis Berita dan Penyunting Berita: Karyasiswa Program Doktor Balai Taman Nasional Komodo - Muhammad Ikbal Putera, S.Hut., M.S. (+62813 10300 678) Informasi Lebih Lanjut: Call Center Balai Taman Nasional Komodo +6281138290000
Baca Artikel

Perencanaan Kuat dan Kolaborasi Masyarakat Menjadi Fondasi Konservasi TWA Gunung Baung

Pasuruan, 25 November 2025. Para pengelola kawasan bersama akademisi, aparat, pemerintah daerah, komunitas masyarakat, dan pelaku usaha berkumpul di Camping Ground Baung Canyon (25/11/2025). Untuk menakar satu pertanyaan penting, mengapa pengelolaan Gunung Baung selama ini mampu berjalan efektif? Penilaian menggunakan Management Effectiveness Tracking Tool (METT Ver. 4) mengonfirmasi efektivitas tersebut dengan skor 67,48%, melewati ambang batas 67% untuk kategori “efektif”. Namun angka ini bukan sekadar capaian administratif, ia adalah cermin dari kekuatan dasar yang menopang kawasan ini: perencanaan yang terstruktur, proses pengelolaan yang berjalan konsisten, dan keterlibatan masyarakat yang semakin menguat. Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) kemudian dilanjutkan dengan penilaian yang dipandu fasilitator. Kolaborasi lintas unsur tampak nyata: Institut Pertanian Malang, KPH Pasuruan, Polsek dan Koramil Purwosari, Pemerintah Kecamatan Purwosari–Purwodadi, tiga desa sekitar, kelompok MPA, KTH, HIPPAM, serta mitra usaha dari sektor wisata dan agroforestri. Semua hadir dengan komitmen yang sama, menjaga Gunung Baung tetap lestari. Skor tertinggi muncul pada aspek Planning, mencapai 80,95%. Ini menunjukkan bahwa Gunung Baung memiliki fondasi pengelolaan yang kuat: rencana pengelolaan tersusun jelas, rencana kerja rutin berjalan, desain kawasan diperbaharui, hingga status legal yang memberi kepastian. Pengelolaan yang dimulai dari perencanaan matang memberi ruang bagi setiap langkah konservasi untuk berjalan lebih terarah. Tidak berhenti di sana, aspek Proses juga mencatat skor tinggi 77,19%. Artinya, perencanaan yang kuat benar-benar terimplementasi. Kegiatan monitoring, edukasi, pengelolaan nilai budaya dan alami, kolaborasi dengan masyarakat, pengawasan lapangan, hingga penegakan aturan berjalan secara konsisten. Di lapangan, kelompok masyarakat peduli api, kelompok tani hutan, pengelola wisata, dan aparat desa berperan menjaga kawasan melalui berbagai kegiatan rutin. Gunung Baung menunjukkan bahwa efektivitas konservasi tidak hanya ditentukan oleh dokumen dan anggaran, tetapi juga oleh keterlibatan aktif para pemangku kepentingan di sekitar kawasan. Kehadiran tiga MPA, HIPPAM, desa penyangga, lembaga usaha, hingga perguruan tinggi menjadi bukti bahwa pengelolaan kawasan ini sudah dibangun di atas prinsip kolaboratif. Dalam konteks konservasi modern, partisipasi masyarakat bukan lagi pelengkap, melainkan inti. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha inilah yang menjadikan Gunung Baung tetap terjaga dari sisi pengamanan, pemanfaatan jasa lingkungan, hingga edukasi dan wisata. Meski efektif, METT juga mencatat ruang perbaikan. Aspek Input mendapat skor 44,44%, menandakan perlunya penguatan pada peralatan, fasilitas, kapasitas SDM, serta kepastian anggaran pengelolaan. Pada aspek Output yang hanya mencapai 46,67%, fasilitas pengunjung, konektivitas, serta manfaat bagi masyarakat perlu terus ditingkatkan agar pengelolaan semakin berdampak. Namun kekurangan ini bukan hambatan, melainkan peta jalan. Dengan akar perencanaan yang sudah kuat dan proses pengelolaan yang konsisten, pembenahan dapat dilakukan dengan arah yang jelas. Hasil METT ini memberi pesan optimistis bahwa Gunung Baung berada di jalur yang benar. Efektivitas pengelolaan bukanlah kebetulan, tetapi buah dari perencanaan jangka panjang, pengelolaan yang berjalan penuh komitmen, serta kehadiran masyarakat yang turut menjaga hutan, sungai, dan tebing-tebingnya. Dari Gunung Baung, terlihat satu hal yang pasti, konservasi hanya bisa berhasil bila dilakukan bersama. Dan Gunung Baung telah membuktikannya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mengungkap Rapor Konservasi Gunung Abang

Pasuruan, 26 November 2025. Di bawah kesejukan rumpun bambu Camping Ground Baung Canyon- Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung, udara pagi terasa berbeda pada Senin, 24 November 2025. Di pendopo sederhana yang dikelilingi suara gesekan rumpun bambu, berbagai unsur pengelola dan stakeholder terkait berkumpul untuk satu misi penting, yaitu menilai kembali kesehatan ekologis Cagar Alam Gunung Abang melalui instrumen global METT Ver. 4. Suasana pertemuan itu bukan sekadar formalitas rutin, melainkan perjumpaan berbagai kepentingan yang disatukan oleh satu visi, untuk memastikan Gunung Abang tetap menjadi benteng keanekaragaman hayati Jawa Timur. Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Malang berdiskusi akrab dengan pengelola Hutan KPH Pasuruan. Para kepala desa dari Sapulante, Ampelsari, dan Kedungpengaron duduk sejajar dengan para Masyarakat Pemerhati Alam, MPA Gunung Abang Ampelsari, Sapulante, dan Kedungpengaron. Hadir pula perwakilan pemerintah dari kecamatan, kepolisian, dan TNI yang selama ini menjadi mitra lapangan dalam perlindungan kawasan. Kegiatan dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang menegaskan bahwa penilaian ini adalah bagian penting dari proses adaptif pengelolaan kawasan konservasi. METT bukan hanya angka, tetapi cermin yang memantulkan seberapa jauh langkah-langkah perlindungan selama ini berjalan, dan sejauh mana kita perlu memperbaikinya. Hasil penilaian kemudian mengerucut pada angka 65,71%, menempatkan Cagar Alam Gunung Abang dalam kategori kurang efektif. Angka ini menggugah banyak pihak, bukan karena kelemahan semata, tetapi karena ia memperlihatkan potret jujur dari dinamika konservasi di lapangan. Di satu sisi, perencanaan kawasan justru berada pada tingkat sangat kuat, sebuah fondasi yang kokoh untuk membangun strategi jangka panjang. Namun pada sisi lain, keterbatasan peralatan, anggaran, dan jumlah personel menjadi tantangan nyata yang menghambat pengelolaan berjalan optimal. Meski begitu, proses-proses konservasi di lapangan masih menunjukkan denyut yang hidup. Kolaborasi dengan masyarakat lokal, kegiatan edukasi, monitoring, riset, hingga penegakan perlindungan kawasan terus berjalan dengan komitmen tinggi. Nilai outcome yang mencapai 77,78% memperlihatkan bahwa inti ekosistem Gunung Abang, yaitu habitat, spesies indikator kunci, serta nilai budaya dan alaminya, masih dalam kondisi yang baik. Hutan ini masih berdiri sebagai ruang hidup satwa liar, sebagai reservoir air, dan sebagai lanskap spiritual bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Namun laporan ini juga mengingatkan bahwa kekuatan ekosistem tidak boleh membuat kita lengah. Fasilitas umum, manfaat bagi masyarakat lokal, hingga respons terhadap ancaman yang terus berkembang masih membutuhkan penguatan. Gunung Abang adalah hutan yang memerlukan lebih banyak tangan penjaga, lebih banyak dukungan, dan lebih banyak ruang kolaborasi. Di akhir pertemuan, para peserta tampak menyadari hal yang sama, bahwa angka 65,71% bukanlah akhir, melainkan arah baru. Hasil METT ini menjadi kompas yang menuntun pengelola untuk menutup celah-celah kelemahan, memperkuat sinergi dengan masyarakat, serta mengarahkan langkah perbaikan yang lebih terukur dan tepat sasaran. Gunung Abang telah memberikan kita udara, air, dan kehidupan. Penilaian hari itu mengingatkan bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban institusi, tetapi perwujudan rasa syukur sekaligus amanah lintas generasi. Kawasan ini tetap menunggu komitmen kita untuk terus merawat, memperbaiki, dan memastikan bahwa kelestariannya tidak berhenti di hari ini saja, tetapi mengalir hingga masa depan. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Para Guru yang Membentuk Penjaga Alam Jawa Timur

Sidoarjo, 25 November 2025. Di pagi yang lembut di Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, cahaya matahari menembus sela dedaunan, membuka lembar baru kehidupan liar yang bergerak dalam kesunyian. Di sanalah, jauh dari keramaian kota, para penjaga alam Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA Jatim) menjalankan tugasnya, melindungi satwa, menjaga habitat, dan merawat warisan ekologi yang menjadi napas kehidupan. Namun di balik keteguhan mereka berjaga, ada satu kisah yang selalu menyertai, mereka semua pernah menjadi murid. Setiap Pengendali Ekosistem Hutan, setiap Polisi Kehutanan, setiap Penyuluh Kehutanan, setiap anggota Manggala Agni, dan setiap karyawan BBKSDA Jatim, lahir dari tangan para guru. Dari guru TK yang pertama kali memperkenalkan mereka pada gambar-gambar hewan, hingga guru SMA yang menumbuhkan logika ilmiah. Dari dosen kampus yang membakar rasa ingin tahu, hingga mentor konservasi yang menanamkan etika lapangan. Mereka berdiri hari ini karena ada para pendidik yang menuntun mereka di masa lalu. Kesadaran inilah yang kembali menguat pada momentum Hari Guru Nasional 25 November 2025. Dalam dunia konservasi, guru bukan sekadar sosok yang berdiri di depan kelas, guru adalah siapa saja yang menanamkan nilai, ilmu, dan kepedulian terhadap alam. Dan kini, para petugas BBKSDA Jawa Timur melanjutkan mata rantai itu dengan menjadi guru bagi masyarakat luas. Di seluruh kawasan konservasi mulai Suaka Margasatwa Pulau Bawean, CA Pulau Nusa, CA Pulau Noko, lanskap dataran tinggi, mangrove, karst, dan pulau-pulau kecil, seluruh tenaga Balai Besar KSDA Jawa Timur terlibat dalam pendidikan konservasi. Bukan hanya yang mengenakan seragam lapangan, tetapi juga staf administrasi, tenaga teknis non-lapangan, hingga petugas mitra di penangkaran dan lembaga konservasi. Setiap mereka, dalam cara dan kesempatannya masing-masing, turut menjadi bagian dari proses belajar masyarakat. Edukasi dilaksanakan untuk semua jenjang. Mulai dari anak-anak TK yang diajak mengenal satwa dilindungi melalui boneka dan gambar; siswa SD yang belajar tentang jejak satwa; remaja SMP dan SMA yang terlibat dalam kelas konservasi, hingga mahasiswa yang turun langsung meneliti ekosistem atau magang bersama para petugas. Ribuan peserta telah disentuh oleh edukasi ini setiap tahun. Tidak hanya dilakukan oleh petugas, namun juga oleh Kader Konservasi FK3I Korda Jawa Timur, yang menjadi jembatan penting antara masyarakat dan ilmu konservasi. Mereka menyebarkan pengetahuan, memfasilitasi kampanye lingkungan, dan memperluas jangkauan edukasi hingga ke desa-desa terpencil. Langkah pendidikan ini diperkokoh dengan rangkaian deklarasi kerja sama dengan dunia akademik. Balai Besar KSDA Jawa Timur menggandeng SMK Kehutanan Walisongo Pacet, Universitas Muhammadiyah Ponorogo, UIN Sunan Ampel Surabaya, serta FIKKIA Universitas Airlangga Banyuwangi. Kolaborasi lintas ilmu ini menghadirkan integrasi antara sains, kesehatan satwa liar, ekologi, sosial-budaya, hingga pendekatan berbasis masyarakat, membangun kekuatan baru dalam konservasi. Dalam momen peringatan ini, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menyampaikan pesan mendalam yang menautkan masa lalu dan masa depan. “Tidak ada penjaga alam yang lahir sendirian. Kita semua dibentuk oleh guru—guru kehidupan, guru sekolah, guru lapangan,” tegas Nur Patria. “Karena itu, setiap langkah yang kita lakukan hari ini untuk mengajar masyarakat adalah cara kita mengembalikan jejak kebaikan itu. Guru menguatkan pendidikan, dan pendidikan menguatkan konservasi. Di situlah Indonesia menjadi kuat,” tambahnya. Pernyataan ini sejalan dengan gema yang menyatukan seluruh perjalanan konservasi Jawa Timur. Dari ruang kelas yang sederhana hingga keheningan hutan, dari para pendidik yang menginspirasi hingga para petugas yang kini mengajar generasi baru, dari pengetahuan ilmiah hingga kearifan ekologis, semuanya terhubung dalam satu mata rantai besar pembelajaran. Hari Guru Nasional tahun ini bukan sekadar peringatan, tetapi refleksi bahwa upaya menjaga alam dimulai dari pendidikan. Dari guru-guru masa lalu, lahir para penjaga alam hari ini. Dan dari penjaga alam hari ini, akan lahir guru-guru yang menularkan kecintaan terhadap bumi kepada generasi mendatang. Indonesia akan kuat ketika pengetahuan dan kepedulian berjalan beriringan. Ketika guru, siswa, masyarakat, dan alam bersatu dalam satu ruang belajar yang sama, ruang belajar kehidupan. Selamat Hari Guru Nasional. Mari terus belajar, mengajar, dan menjaga bumi,bersama-sama. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Integrasi Retribusi Masuk Kawasan TN Kayan Mentarang Dengan Retribusi Desa Wisata Di Bahau Hulu

Malinau, 24 November 2025 – Biaya masuk kawasan konservasi telah diatur pemerintah dalam PP Nomor 36 Tahun 2024 dimana juga termasuk di dalamnya adalah Biaya Masuk Kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) bagi Wisatawan Lokal maupun Mancanegara dan tercatat sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Namun sering kali mengalami tumpang tindih pungutan/retribusi dan menjadi pertanyaan bagi para wisatawan yang berkunjung ke kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Hal ini disebabkan karena sejumlah desa yang secara adminitrasi kawasannya masuk dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang juga memilki aturan dan biaya masuk kawasan wisata yang beragam. Seperti yang disampaikan oleh Sumardi selaku Sekretaris Desa Long Alango Kecamatan bahau Hulu, Kabupaten Malinau. Dirinya menerangkan bahwa Desa Wista Long Alango memiliki aturan dan biaya retribusi untuk masuk kawasan wisata yang akan tercatat sebagai Pendapatan Asli Desa (PADes) yang di Kelola oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), kawasan wisatanya juga termasuk kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang, sementara untuk masuk kawasan TNKM juga ada biaya masuk yang tercatat sebagai Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Kondisi ini perlu di diskusikan lebih lanjut agar retribusi tersebut kedepan dapat di pungut dalam skema 1 pintu sementara mekanisme pembagiannya diatur sesuai ketentuan masing-masing agar tidak menimbulkan pertanyaan bagi wisatawan yang berkunjung. “Sebenarnya ini bukan masalah, tetapi ini menurut saya sepertinya tumpang tindih. Misalnya ada turis datang, ada yang lewat Balai TNKM (Pembayaran masuk kawasan TNKM) kadang lewat perorangan, kadang lewat Badan Pengelola Tana Ulen (BPTU), ini yang perlu kita koordinasikan (skema pungutan retribusinya) agar tidak masing-masing. Karena akan membingungkan turis yang berkunjung. Maka dengan ini harapan kami dari desa agar ini segera kita atur bersama agar sinkron, sehingga turis masuk melalui satu pintu, tapi sudah ada pembagiannya dari satu pintu tersebut. kalau bisa tahun depan sudah terintegrasi dan tidak tumpang tindih lagi (pungutannya).” tutur Sumardi. Di tempat yang sama, saat kunjungan kerja ke resort Sungai Bahau SPTN II Long Alango Kepala Balai TN Kayan Mentarang Seno Pramudito, S.Hut., M.E. menyambut positif saran yang disampaikan oleh sekretarias desa Long Alango agar dapat dilakukan pungutan secara kolektif melalui skema satu pintu. Namun Seno Pramudito menekankan perlunya komunikasi dalam mencari solusi, agar apa yang direncanakan dapat berjalan dengan baik. “Kita bisa memulai dari pertemuan bersama terlebih dahulu untuk mendiskusinya solusinya, kemudian aturan-aturannya seperti apa, berapa biayanya. mungkin bisa melalui tim kecil dulu dari masing-masing pihak, kemudian di kumpul dalam satu forum untuk menentukan bentuk pungutannya. Apakah melalui satu pintu sekali bayar saja kemudian kita bagikan berapa untuk PNBP yang harus dilaksanakan oleh Balai TNKM, berapa untuk BPTU karena manyangkut hak masyarakat adat, dan berapa untuk desa sebagai PADes. Inilah yang akan kita sinergikan kedepan, dan kalau nanti sudah ketemu kesepakatannya seperti apa, nilainya berapa, secepatnya bisa dilaksanakan.” Ujar Seno usai Pertemuan silaturahmi dengan Kepala Adat Besar Bahau Hulu dan Stakeholder terkait di Kecamatan Bahau Hulu. Untuk di ketahui saat ini biaya masuk kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang untuk Wisatawan Nusantara sesuai PP 36 Tahun 2026 Kategori III yakni sebesar Rp 10.000 perhari perorang pada hari kerja, sementara pada hari libur sebesar 15.000 perorang perhari dan untuk Wisatawan Mancanegara sebesar Rp 150.000 Perhari perorang sementara pada hari libur sebesar Rp 225.000 perhari perorang. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

Bangun Generasi Konservatif, Warga Minta Balai TN Kayan Mentarang Buka “Saung” Kembali

Malinau, 25 November 2025 – Dunia Pendidikan saat ini menjadi perhatian serius pemerintah dalam menangani berbagai dinamika dan perkembangan global. Karena melalui Pendidikan yang mumpuni pemerintah meyakini akan dapat meningkatkan traf hidup masyarakat dan mencapai tujuan Indonesia emas 2045. Begitu pula halnya dengan masyarkat adat di perbatasan di Kecamatan Bahau Hulu yang merupakan wilayah penyangga Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). saat ini meraka meminta Balai Taman Nasional Kayan Mentarang kembali membuka kegiatan belajar non-formal yakni Sekolah Alam Ujung Negeri (SAUNG). Saung merupakan program belajar non-formal yang bertujuan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan dan konservasi di daerah perbatasan di Kecamatan bahau Hulu yang di inisiasi oleh Balai TN Kayan Mentarang pada tahun 2021 dan di Kelola secara swadaya oleh Pegawai Balai TN Kayan Mentarang. Tidak hanya soal alam, hutan dan keanekaragaman hayati yang ada di TN Kayan Mentarang, para peserta didik yang tergabung di SAUNG juga di ajari menggunakan peralatan teknologi seperti Komputer hingga GPS. Namun beberapa waktu belakangan program SAUNG terhenti karena adanya mutasi pegawai di Lingkungan Kementerian Kehutanan serta proses pemisahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan. Kepala Adat Besar Bahau Hulu Baya Ajang, mewakili masyarakat adat Bahau Hulu dalam pertemuannya dengan Kepala Balai TN Kayan Mentarang di Desa Long Alango mengatakan bahwa program Saung sangat bermanfaat dan penting untuk kembali dilaksanakan karena menambah pengetahuan lain bagi anak-anak di wilayahnya, terutama pengetahuan yang belum di dapatkan di sekolah formal. Sehingga ia meminta agar Saung di buka kembali. Hanya untuk kedepan apabila kembali dilaksanakan Baya Ajang berharap lebih banyak materi tentang Taman Nasional Kayan Mentarang, mulai dari kawasan hutannya, Potensi Keanekaragaman hayati hingga bagaimana penerapan nilai-nilai konservasi yang di padu-padankan dengan penggunaan teknologi masa kini. “Kami sebagai orang tua tentu senang dan bangga dengan adanya Saung beberapa tahun lalu yang dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, tentu kedepan kami berharap Saung ini kembali dilaksanakan karena menambah ilmu anak-anak kami. Dan apabila kembali dilaksanakan supaya menambahkan materi bagaimana anak-anak mengenal tentang Taman Nasional kayan Mentarang itu sendiri, khususnya di wilayah bahau Hulu ini” ujar Baya Ajang. Hal senada juga di utarakan oleh Sumardi selaku masyarkat Bahau Hulu yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris Desa Long Alango. Dirinya mengakui perubahan positif pada anaknya setelah mengukti program saung adalah prilaku disiplin anak terhadap waktu belajar. Yang sebelumnya turun sekolah formal masih harus di arahkan waktunya, tetapi ketika di saung anak sendiri yang mendesak orang tua untuk tepat waktu. Selain perubahan pada sikap disiplin anak, kelak apabila diaktifkan kembali Sumardi mengajak Balai TN Kayan Mentarang untuk berkolaborasi dalam menyiapkan tempat belajar bagi anak-anak agar dapat menampung lebih banyak peserta didik non-formal dan proses belajarnya di Saung nanti lebih nyaman. Selain itu yang perlu ditambahkan juga adalah peserta dari tingkat SMA, namun pendidikannya langsung pengenalan kehati di kawasan TNKM. “Mungkin yang pertama perlu disiapkan tempatnya dulu, ini nanti bisa saja Kolaborasi Balai dengan Desa Long Alango, supaya anak-anak belajarnya lebih nyaman. Kemudian yang perlu ditambahkan juga adalah anak-anak SMA, mungkin kalau SMA bisa langsung ke lokasi seperti di Lalut Birai dan di berikan materi nama satwa maupun nama tumbuhan yang ad di Taman Nasional Kayan Mentarang.” ungkap sumardi Menanggapi hal tersebut Kepala Balai TN Kayan Mentarang Seno Pramudito, S.Hut.,M.E. merespon positif permintaan pengaktifan kembali Saung oleh masyarakat di Bahau Hulu. dirinya pun mendukung penuh apa yang menjadi harapan masyarakat Bahau Hulu terhadap program Saung. Karena melalui saung Balai TNKM ingin mengenalkan kepada anak-anak apa itu Taman Nasional, apa fungsi Taman Nasional, dan apa yang menjadi peran Taman Nasional. Terutama tentang Taman Nasinal Kayan Mentarang sendiri yang berada di sekitar masyarkat Bahau Hulu. “Tentu kami mendukung juga (pengaktifan Saung), karena program ini sangat bermanfaat bagi masyarakat bagi masyarakat bagi anak-anak, bagi generasi muda tentang berhitung, membaca, ilmu pengetahuan lain (Teknologi) dan tidak kalah penting adalah tentang taman Nasional Kayan Mentarang. Karena Desa Long Alango ini berada di Perbatasan Negara dan Penyangga Taman Nasional Kayan Mentarang. Sehingga penting untuk para orang tua hingga anak-anak mengetahui ap aitu taman nasional, apa fungsi taman nasional dan apa peran taman nasional.” Tutup seno. Sebelumnya, Balai TN Kayan Mentarang menggunakan Visitor Center SPTN II Long Alango sebagai sarana pendukung kegiatan belajar-mengajar dalam program Saung. Dalam kelompok ini peserta didik diberikan ilmu pengetahuan yang berbeda dari sekolah formal dan dapat menyesuaikan dengan prilaku dan pola sikap anak di kawasan penyangga TN Kayan Mentarang. Mengingat berada di kawasan hutan anak-anak tentu banyak mendapatkan pelajaran bagaimana orang tua mereka menjaga hutan hingga memanfaatkan hasil hutan secara lestari oleh leluhurnya. Hal inilah yang perlu di rawat dan di tingkatkan sesuai perkembagan zaman agar hutannya terus terjaga dengan baik. Sumber: Balai Taman Nasional Kayan Mentarang
Baca Artikel

BBKSDA Jatim Tempa Generasi Baru Pecinta Alam di Madura

Madura, 23 November 2025. Seksi KSDA Wilayah IV, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menghadiri undangan sebagai narasumber pada Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) XXV Mahapala Universitas Madura (UNIRA), yang diselenggarakan di Aula Rektorat Lantai 3 Kampus UNIRA, Pamekasan. Kegiatan ini diikuti oleh 18 calon anggota serta 10 anggota aktif Mahapala. Materi inti tentang Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAE) disampaikan oleh Didik Sutrisno, Penyuluh Kehutanan Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan. Pemaparan mencakup dasar-dasar ekologi, pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya alam, serta peran generasi muda dalam menghadapi berbagai tantangan konservasi. Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi tanya jawab dan diskusi yang membuka ruang bagi peserta untuk memahami lebih dalam dinamika pengelolaan kawasan, isu perburuan, hingga tekanan lingkungan di daerah-daerah kritis. Diklatsar XXV Mahapala UNIRA dilaksanakan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kompetensi calon anggota organisasi pecinta alam. Momen ini menjadi ruang pembelajaran penting bagi peserta untuk mengenali keterhubungan antara manusia, hutan, dan ekosistem yang menopang kehidupan. Di tengah laju perubahan iklim dan kerentanan lingkungan, kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun generasi baru yang memahami pentingnya menjaga alam, merawat keragaman hayati, dan menguatkan komitmen konservasi di Pulau Madura. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Dua Gunung, Dua Ritual, Satu Sumber Kehidupan, Sigogor dan Picis Menjadi Penentu Masa Depan Air Bersih Ponorogo

Ponorogo, 25 November 2025. Di balik keteduhan pepohonan yang menyelimuti Cagar Alam Gunung Sigogor dan Cagar Alam Gunung Picis, tersimpan nadi kehidupan yang mengaliri desa-desa di lereng Ponorogo. Dua kawasan konservasi ini bukan sekadar bentang alam yang dilindungi, keduanya adalah penyangga air bersih, penjaga tradisi, dan ruang hidup bagi berbagai spesies hutan yang bertahan di tengah tekanan lahan. Pada 20–21 November 2025, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (METT 4) untuk kedua cagar alam tersebut. Penilaian berlangsung selama dua hari di RM Bu Lis 2, Kecamatan Ngebel, dengan melibatkan lintas unsur mulai dan Bappeda Ponorogo, Forkopimca, Perhutani BKPH Wilis Barat, perwakilan desa penyangga, Kelompok Tani Hutan, pecinta alam, Masyarakat Mitra Polhut, kelompok MPA “Sapu Geni”, hingga komunitas lingkungan Jaga Satwa Indonesia. Kegiatan dibuka dengan sambutan Sekcam Ngebel, Bambang Udiono, disusul Kepala Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro. Namun yang membuat penilaian ini berbeda bukan hanya hadirnya banyak pihak, melainkan tingginya antusiasme masyarakat lokal yang sejak lama menghormati dua kawasan ini melalui ritual adat tahunan. Bagi masyarakat Pupus, Gondowido, Talun, hingga kelompok pecinta alam setempat, hutan di Sigogor dan Picis bukan sekadar wilayah konservasi, melainkan ruang spiritual. Mereka menjaga kawasan dengan penuh hormat, menjalankan tradisi sebagai bentuk syukur dan pengakuan bahwa hutan adalah sumber kehidupan yang tidak boleh dirusak. Dalam konteks ini, secara terpisah Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa pelibatan masyarakat adalah kekuatan esensial dalam konservasi. “Sigogor dan Picis telah lama dijaga oleh kearifan lokal. Tugas kita bukan mengganti tradisi itu, melainkan memperkuatnya agar kelestarian hutan berjalan searah dengan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya. Pernyataan tersebut menjadi landasan kuat bahwa konservasi hanya akan berhasil bila pemerintah bergerak beriringan dengan komunitas penjaga hutan di lapangan. Menggunakan instrumen METT 4, tim memotret kekuatan dan tantangan dalam pengelolaan kawasan. Hasil Penilaian METT di CA Gunung Sigogor: 72,22% ( Planning 85,71%, Input 61,11%, Process 66,67%, Outputs 66,67%, Outcomes 91,67%) dan di CA Gunung Picis: 71,30% ( Planning 80,95%, Input 61,11%, Process 66,67%, Outputs 66,67%, Outcomes 91,67%) Kedua cagar alam menunjukkan perencanaan yang kuat dan hasil konservasi yang tinggi, ditandai oleh skor Outcomes di atas 90%. Artinya, meski tantangan terkait input dan proses masih ada, seperti ketersediaan sarana pengamanan dan kebutuhan peningkatan aktivitas monitoring, fungsi ekologis kawasan tetap terjaga. Gunung Sigogor dan Gunung Picis merupakan daerah tangkapan air penting bagi wilayah Ponorogo. Lereng-lereng hutan ini menjadi reservoir alami yang menjaga kontinuitas air bersih bagi ribuan warga. Dalam diskusi, peserta berkali-kali menekankan bahwa hilangnya hutan berarti hilangnya air, dan hilangnya air berarti ancaman bagi kehidupan sosial, ekonomi, hingga budaya lokal. Ketika cagar alam dijaga, sebenarnya kita sedang menjaga sumber air, ketahanan pangan, dan identitas budaya masyarakat Ponorogo. Inilah konservasi yang sesungguhnya, menjaga seluruh sistem kehidupan secara utuh. METT bukan sekadar penilaian teknis; ini adalah ruang dialog dan titik temu berbagai kepentingan yang menyatu demi satu tujuan: melindungi kawasan konservasi Jawa Timur. Dari kegiatan ini, semakin jelas bahwa, kolaborasi masyarakat–pemerintah merupakan fondasi utama pengelolaan kawasan, pengetahuan lokal dan budaya adalah modal penting menjaga hutan dan cagar alam yang kecil sekalipun dapat berdampak besar bagi ekologi dan kesejahteraan manusia. Ke depan, penguatan input pengelolaan, peningkatan sarana monitoring, dan pelibatan komunitas secara berkelanjutan akan menjadi kunci mempertahankan fungsi ekologis Sigogor dan Picis. Dengan kekuatan kolaborasi yang terbangun, dukungan masyarakat, dan komitmen kuat dari Balai Besar KSDA Jawa Timur, masa depan Sigogor dan Picis tidak hanya dapat dijaga, tetapi dapat diwujudkan sebagai model konservasi berbasis budaya dan ekologi yang menginspirasi Jawa Timur. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Pertarungan Alas Simpenan Menjaga Diri dari Ancaman yang Kita Ciptakan

Kediri, 24 November 2025. Embun pagi mulai kering di ujung semak, dan suara burung bersahutan memantul di Cagar Alam (CA) Manggis Gadungan. Kawasan ini, meski kecil dalam bentang alam Kediri, menyimpan hutan yang begitu rapat, teduh, dan bernilai ekologis tinggi. Namun di balik ketenangan itu, ada ancaman yang tumbuh pelan, diam-diam, tetapi pasti, sampah padat yang mulai merayap dari pemukiman menuju tepi kawasan. Ancaman tersebut menjadi salah satu isu paling dalam kegiatan Management Effectiveness Tracking Tool (METT) yang digelar 18 November 2025, ketika para pemangku kepentingan berkumpul di Balai Desa Manggis Gadungan. Mereka datang dari berbagai arah, mulai aparat desa, tokoh masyarakat, kelompok pengelola hutan, Bappeda, Dinas Lingkungan Hidup, Perhutani, hingga pengelola dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Suasana pertemuan berubah menjadi sebuah forum yang jujur, tempat semua pihak mengakui, menimbang, dan merumuskan kembali masa depan kawasan konservasi ini. Sampah padat sudah mulai terlihat di titik-titik rawan kawasan, menjadi alarm yang memecah keheningan. Bappeda Kabupaten Kediri menguatkan pernyataan tersebut, menyoroti bagaimana sampah rumah tangga, yang terlihat biasa pada skala kecil, kini bergerak menjadi tekanan ekologis pada skala lanskap. Isu yang terdengar sederhana itu sesungguhnya membawa konsekuensi jauh lebih besar, satwa liar dapat berubah perilaku karena terbiasa mendekati permukiman. Vegetasi bawah terganggu oleh residu anorganik yang tidak terurai; dan air permukaan di zona pemulihan kawasan perlahan terkontaminasi. Di ruang pertemuan sederhana itu, ancaman sampah padat bukan lagi sekadar “masalah kebersihan”. Ia menjadi masalah konservasi, masalah tata lingkungan, dan masalah kesadaran manusia. Namun harapan justru datang dari tempat yang paling dekat dengan kawasan, yaitu masyarakat penyangga. Empat kelompok masyarakat dari desa Manggis, Satak, Wonorejo, dan Asmorobangun menyampaikan bagaimana mereka terlibat dalam berbagai tahapan pengelolaan, mulai dari penyusunan blok, RPJP, sosialisasi tata batas, hingga penilaian METT. Mereka juga menceritakan dampak positif program pemberdayaan dari BBKSDA Jawa Timur yang membantu menguatkan kapasitas mereka. Ada yang menceritakan bagaimana pelatihan pemetaan partisipatif membuka mata warga tentang batas-batas ekologis yang harus dijaga. Ada pula yang menuturkan bagaimana kegiatan restorasi, meski sering terkendala rendahnya kesadaran menjaga bibit, tetap menjadi proses belajar kolektif. Dinas Lingkungan Hidup menambahkan perspektif penting, bahwa konservasi bukan hanya menggantungkan diri pada kawasan, tetapi pada manusia yang hidup di sekelilingnya. Mereka mengangkat persoalan klasik, kurangnya kepedulian masyarakat merawat bibit reboisasi. Namun mereka juga memaparkan solusi: edukasi, penyadartahuan lapangan, dan kerja bersama antara lembaga konservasi dan desa. Pada penghujung kegiatan, fasilitator memandu sesi penilaian METT dengan lembar demi lembar pertanyaan yang menguji kesiapan, sistem, proses, hingga dampak pengelolaan kawasan. Dan dari proses panjang itu, satu angka muncul sebagai simpulan, 69,70%, sebuah skor yang menandakan pengelolaan “cukup efektif”, dengan kekuatan pada kondisi ekologis (Outcomes 88,89%) namun masih menyimpan ruang perbaikan pada aspek tata kelola, proses, dan dukungan sumber daya. Namun angka hanyalah representasi. Di baliknya ada hutan yang harus dijaga, suara masyarakat yang harus didengar, dan ancaman sampah yang tidak boleh dibiarkan. Cagar Alam Manggis Gadungan hari itu seperti berbicara kepada semua yang hadir, bahwa yang terberat dari menjaga alam bukanlah melawan perusak bersenjata, tetapi melawan kebiasaan kecil yang dianggap sepele, plastik yang dibuang, organik yang tidak dikelola, dan kesadaran yang belum tumbuh sepenuhnya. Dan dari forum itulah, satu tekad kembali menguat, bahwa masa depan hutan tidak hanya bergantung pada petugas di dalam kawasan, tetapi pada manusia yang hidup di pinggir hutannya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Penguatan Kapasitas CPNS Melalui Pelatihan Kepemimpinan

Proses pembelajaran interaktif di dalam ruangan Pematangsiantar, 24 Nopember 2025. Pengelolaan kawasan konservasi yang efektif, termasuk mangrove, tidak bisa dilakukan sendirian oleh satu pihak. Diperlukan kepemimpinan yang kuat dari petugas lapangan dan kolaborasi yang solid antar berbagai pemangku kepentingan (pemerintah daerah, masyarakat, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat). Pada tahun 2025 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (Balai Besar KSDA) Sumatera Utara menerima 29 Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang akan bekerja untuk memperkuat tugas dan fungsi konservasi, termasuk di dalamnya pengelolaan hutan magrove di dalam kawasan konservasi. Dan tentunya 29 CPNS ini akan menjadi cikal bakal pemimpin baru untuk keberlanjutan pengelolaan kawasan konservasi. Penguatan mental dan solidaritas sangat dibutuhkan untuk calon pemimpin masa depan. Atas dasar itulah, diselenggarakan Kegiatan Pelatihan Dasar Kepemimpinan dan Kolaborasi Petugas Lapangan Dalam Pengelolaan Mangrove Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang berlangsung dari tanggal 18 s. d 21 Nopember 2025 di Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah I, Pematangsiantar serta di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC). Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petugas lapangan Balai Besar KSDA Sumatera Utara dalam memimpin dan berkolaborasi, sehingga upaya pengelolaan mangrove di lapangan dapat berjalan lebih optimal dan adaptif terhadap tantangan yang ada, penguatan mental dan solidaritas CPNS Balai Besar KSDA Sumatera Utara tahun 2025, serta menyamakan persepsi dan strategi di antara petugas lapangan mengenai pentingnya pengelolaan mangrove yang berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan. Melalui pelatihan ini diharapkan teradopsinya pengetahuan tentang kepemimpinan dan kolaborasi dikalangan CPNS Balai Besar KSDA Sumatera Utara tahun 2025, munculnya jiwa Leadership for Change pada setiap calon petugas lapangan Balai Besar KSDA Sumatera Utara tahun 2025, serta terbangunnya jiwa solidaritas untuk membangun inovasi baru pada pengelolaan kawasan konservasi khususnya hutan mangrove. Pelatihan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Bagian Tata Usaha, Andar Abdi Saragih, S.Pd., M.Si. mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, yang dihadiri Kepala Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah I, Soleh Sena Santika, SE, S.Hut, M.Si, Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Elvina Rosinta Dewi, S.Hut., M.I.L, Widyaiswara Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah I, dan perwakilan dari Rindam I Bukit Barisan, pada Rabu (19/11/2025), di aula Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah I. Kegiatan penanaman oleh peserta di ANECC Peserta yang mengikuti kegiatan pelatihan sebanyak 29 orang CPNS lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara dan 7 orang CPNS Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah I. Adapun narasumber pada pelatihan ini berasal dari widyaiswara Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM Wilayah I Pematangsiantar, Penyuluh Kehutanan dan Kepala Bidang KSDA Wilayah II Pematangsiantar, Kepala Resort ANECC dan CA. Batu Gajah beserta staf dan mahout gajah, serta dari Rindam I Bukit Barisan. Momen menyenangkan bagi peserta ketika memandikan gajah di ANECC Disamping materi ruang, yang mendiskusikan tentang masalah keadministrasian perkantoran, seperti aturan kepegawaian, penyelenggaraan Barang Milik Negara (BMN), ketertiban kearsipan dan dokumen, serta Dasar-dasar Konservasi Alam dan Keanekaragaman Hayati, peserta juga melakukan giat pembelajaran edukasi ANECC dengan memperkenalkan gajah. Keseruan yang memberi sensasi khusus kepada peserta adalah saat memandikan gajah. Yang tak kalah seru dan sendu ketika kegiatan Api Semangat Bela Negara, dimana seluruh peserta di tengah bara api unggun, diajak untuk merenung serta membulatkan tekat yang tulus guna mengabdi serta berbakti kepada bangsa dan negara. Bersatu dengan mengesampingkan sekat-sekat suku maupun agama, menegakkan serta mengamalkan Pancasila seutuhnya. Peserta pun berjanji dan berkomitmen bersedia memberikan yang terbaik berupa pemikiran maupun tenaga demi tegaknya kedaulatan negara Republik Indonesia. Sebagai bentuk komitmen tersebut, seluruh peserta mencium bendera merah putih. Kegiatan Pelatihan Dasar Kepemimpinan dan Kolaborasi Petugas Lapangan dalam Pengelolaan Mangrove Balai Besar KSDA Sumatera Utara, berakhir pada Jumat (21/11/2025) dan ditutup secara resmi oleh Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP, M.Env. melalui zoom. Peserta kembali ke tempat tugasnya masing-masing dengan semangat baru serta motivasi untuk bekerja dan berkarya dengan sebaik-baiknya. Kebersamaan itu berakhir… pulang membawa spirit untuk mengabdi memberikan yang terbaik.. salam konservasi… ! Sumber : Evansus Renandi Manalu (Penelaah Teknis Kebijakan) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Fakta Mengejutkan dari Penilaian METT di Pulau Nusa Barung

Jember, 24 November 2025. Di antara deru angin Samudra Hindia dan rapatnya hutan tropis yang menutup tubuh Pulau Nusa Barung, sebuah fakta penting terungkap bahwa pengelolaan kawasan Suaka Margasatwa (SM) Pulau Nusa Barung tahun 2025 dinilai belum efektif, dengan skor 57 dari 102 atau 54,90% berdasarkan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (METT) Versi 4.4. Temuan ini menciptakan gelombang keprihatinan sekaligus menjadi titik tolak perbaikan pengelolaan kawasan konservasi paling mistis dan strategis di pesisir selatan Jawa Timur ini. Penilaian yang dilaksanakan pada 21 November 2025 di Herda Cafe Puger ini menghadirkan para pemangku kepentingan lintas sektor: Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Bidang KSDA Wilayah III Jember, Pemerintah Kabupaten, TNI AL, Polri, Satgas Pamputer, Satpolairud, hingga kelompok masyarakat pengawas. Dalam forum itu, para peserta memaparkan dan menguji ulang kondisi nyata Nusa Barung berdasarkan 62 butir ancaman dan 38 pertanyaan penilaian, sebuah proses yang menuntut ketelitian dan pemahaman mendalam terhadap dinamika ekologis pulau. Tahun ini, METT digunakan dalam versi terbarunya, Versi 4.4, yang tidak hanya menilai tata kelola klasik, tapi juga menelisik isu-isu global seperti Perubahan iklim, Tangkapan karbon, Konektivitas ekosistem, Jasa lingkungan, Status spesies indikator, dan Status habitat yang lebih rinci. Untuk pertama kalinya, aspek keselamatan petugas lapangan dinilai secara khusus, menandai kesadaran baru bahwa kerja konservasi tidak hanya menjaga alam, tetapi juga memastikan keselamatan para penjaganya. Meskipun dikenal sebagai benteng alami dengan garis pantai karang, topografi terjal, dan hutan yang nyaris tak tersentuh, Pulau Nusa Barung bukan tanpa ancaman. Penilaian METT mengungkap beberapa tantangan besar yang memengaruhi efektivitas pengelolaan, terutama minimnya sumberdaya manusia dimana jumlah personel yang terbatas tidak sebanding dengan luas dan kerentanan kawasan. Terutama pada area yang rawan masuknya aktivitas ilegal serta kurangnya alokasi dana operasional serta peralatan pendukung membuat pengawasan, patroli, inventarisasi data, dan penguatan habitat tidak maksimal. Di samping itu keterbatasan basis data menyebabkan pemahaman terhadap dinamika populasi satwa kunci dan perubahan habitat belum dapat diukur secara akurat. Dari gabungan faktor tersebut menjadi akar dari nilai METT yang masih berada pada kategori kurang efektif. Di balik tantangan tersebut, Pulau Nusa Barung tetap menjadi aset ekologis yang tidak tergantikan. Hutan pantai, mangrove, hingga hutan hujan dataran rendahnya menyimpan potensi penyimpan karbon alami, mencegah erosi ekstrem, dan menjadi benteng ekologis bagi wilayah pesisir Puger dan Gumukmas. Kehadiran pulau ini menjadi benteng alami yang memecah gelombang besar, memberikan manfaat ekosistem terhadap masyarakat yang tinggal di pesisir selatan Jember. Acara penilaian dibuka oleh Kepala Bidang KSDA Wilayah III Jember dan dilanjutkan dengan pembahasan intensif. Para peserta, mulai dari desa, aparat keamanan, hingga kelompok masyarakat pengawas, menyumbangkan pengetahuan lokal dan pengalaman di lapangan. Dengan ditandatanganinya kesepakatan, menjadi sebuah komitmen untuk kelestarian Suaka Margasatwa Nusa Barung. Pulau Nusa Barung adalah laboratorium alam, benteng terakhir kehidupan liar, sekaligus garis pertahanan ekologis bagi ribuan warga pesisir. Dengan baseline METT 2025 yang kini dimiliki, Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama jajaran Seksi KSDA Wilayah V dan seluruh pemangku kepentingan dapat memetakan strategi penguatan yang lebih terukur. Perbaikan input pengelolaan, penguatan data biodiversitas, dan sinergi lintas sektoral menjadi jalan menuju pengelolaan yang lebih efektif. Karena di Nusa Barung, setiap hembusan angin, setiap jejak satwa, dan setiap helaian dedaunan adalah pengingat bahwa alam selalu berbicara, kita hanya perlu mendengarkannya, dan menjaganya. (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 3 Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Alam Mengirim Peringatan, Mengapa Dataran Tinggi Yang Harus Ditutup Sementara?

Sidoarjo, 21 November 2025. Pertengahan November 2025 menjadi titik krusial bagi bentang alam pegunungan di Jawa Timur bagian timur. Deras hujan yang mengguyur tanpa jeda, kabut tebal yang menyelimuti lereng, serta laporan cuaca ekstrem dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberi tanda bahwa sesuatu yang serius sedang berlangsung. Menghadapi kondisi ini, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur mengambil langkah tegas, menutup sementara seluruh aktivitas kunjungan ke kawasan Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang atau yang lebih dikenal dengan Gunung Argopuro, mulai 1 Desember 2025 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Keputusan ini diambil bukan semata sebagai respon administratif, tetapi sebagai bentuk perlindungan menyeluruh terhadap keselamatan manusia serta keberlanjutan ekosistem yang hidup di kawasan pegunungan yang membentang di empat kabupaten mulai Probolinggo, Situbondo, Jember, hingga Bondowoso. Dalam siaran pers-nya, BMKG memperingatkan bahwa puncak musim hujan di sebagian besar Jawa Timur diproyeksikan berlangsung intensif hingga Februari 2026. Pola hujan ekstrem yang disertai angin kencang dan potensi longsor menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan, terutama di kawasan yang secara topografi berada di lereng curam. Di tengah situasi ini, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan pentingnya langkah preventif tersebut. “Prioritas kami adalah keselamatan masyarakat dan keberlangsungan fungsi ekosistem. Dengan kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang, risiko di jalur kunjungan meningkat signifikan. Penutupan sementara ini merupakan tindakan mitigasi untuk menghindari potensi kecelakaan dan memastikan pengelolaan kawasan tetap berjalan secara bertanggung jawab,” ujarnya. Beliau juga menambahkan bahwa kebijakan ini sejalan dengan prinsip konservasi modern yang menekankan kehati-hatian. “Konservasi bukan hanya menjaga satwa dan habitatnya, tetapi juga memastikan ruang alami ini dapat dinikmati masyarakat dalam kondisi aman. Mengambil jeda adalah pilihan terbaik ketika alam sedang berada pada fase yang tidak stabil,” lanjutnya. SM. Dataran Tinggi Yang merupakan kawasan yang memiliki fungsi penting: penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan wisata terbatas. Namun, fungsi-fungsi tersebut tidak akan berjalan optimal bila keselamatan pengunjung maupun petugas berada dalam risiko tinggi. Beberapa jalur setapak yang menjadi akses kunjungan kini mengalami penurunan stabilitas. Tanah yang jenuh air membuat permukaan licin dan mudah tergerus. Sementara itu, tutupan kabut yang sering kali turun mendadak membatasi jarak pandang hanya beberapa meter, kombinasi yang berbahaya bagi aktivitas wisata alam. Di dalam kawasan ini hidup berbagai jenis satwa liar yang sensitif terhadap gangguan manusia, terutama pada musim hujan ketika mereka memperluas wilayah jelajah untuk mencari pakan dan tempat berlindung. Penutupan sekali lagi menjadi bentuk perlindungan, bukan hanya untuk manusia, tetapi juga bagi dinamika ekosistem yang sedang berlangsung. SM. Dataran Tinggi Yang membentang melintasi Probolinggo, Situbondo, Jember, dan Bondowoso, yang masing-masing memiliki karakter geografis berbeda. Penutupan ini juga diharapkan mendapatkan dukungan bersama lintas sektor, mulai dari Kodim, Kepolisian Resor, Dinas Pariwisata, Dinas Kehutanan, hingga BPBD di mana semua pihak akan mengambil posisi yang sama yaitu keselamatan publik yang tidak bisa ditawar. Sinergi ini sekaligus menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan konservasi adalah urusan banyak pihak, bukan hanya instansi teknis. Alam dan keselamatan masyarakat berada pada prioritas utama. Selama kawasan ditutup, BBKSDA Jawa Timur akan melakukan sejumlah kegiatan strategis mulai dari evaluasi dan pemetaan ulang jalur kunjungan, perbaikan titik rawan longsor atau erosi, monitoring populasi satwa dan kondisi habitat, serta penilaian berkala terhadap ancaman hidrometeorologi. Musim basah adalah periode kritis dalam ekologi hutan pegunungan. Banyak proses alam berlangsung cepat, mulai dari pembentukan tunas baru, aktivitas satwa yang meningkat, hingga percepatan dekomposisi. Dengan minimnya gangguan manusia, ekosistem dapat menjalani siklus ini dengan lebih optimal. Meski pintu kunjungan untuk sementara ditutup, BBKSDA Jawa Timur optimistis bahwa kawasan ini akan kembali dibuka ketika kondisi stabil. Keselamatan pengunjung dan kualitas pengalaman wisata menjadi pertimbangan utama sebelum akses kembali dibuka. Keputusan ini adalah cara manusia merespons pesan alam. Sebuah pesan yang disampaikan melalui deras hujan, kabut pekat, dan tanah yang mulai bergerak. BBKSDA Jawa Timur mengimbau masyarakat, komunitas pencinta alam, pendaki, hingga para peneliti untuk mematuhi kebijakan ini. Informasi perkembangan akan terus diperbarui melalui kanal resmi BBKSDA Jawa Timur. Ketika alam memberi tanda bahaya, langkah terbaik adalah berhenti sejenak, mendengarkan, dan bertindak dengan bijaksana. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Perisai Sunyi di Lereng Kelud, Menyelamatkan Warga dari Puting Beliung

Kediri, 24 November 2025. Di lereng kelud di bawah tutupan hutan Cagar Alam (CA) Besowo Gadungan, warga baru saja mengingat satu peristiwa yang tak mudah dilupakan, angin puting beliung yang menerjang permukiman beberapa waktu lalu. Di tengah kekacauan itu, rumah-rumah di sisi timur jalan tepat di bawah area cagar alam, nyaris tak tersentuh kerusakan. Sebuah fakta lapangan yang kembali menegaskan apa yang selama ini diyakini para pengelola kawasan, bahwa hutan adalah perisai hidup yang bekerja tanpa suara. Temuan pengalaman warga itu mengemuka dalam kegiatan Penilaian Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (METT) CA Besowo Gadungan, yang dilaksanakan pada 17 November 2025 di Balai Desa Besowo Gadungan. Kegiatan dipimpin Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Bidang KSDA Wilayah I dan Seksi KSDA Wilayah I Kediri, serta dihadiri berbagai pihak, mulai dari Pemerintah Desa Besowo, Camat Kepung, Dinas Lingkungan Hidup, CDK Trenggalek, Perhutani KPH Kediri, Pokmas Tjoelanggi, hingga YMFI. Acara dibuka dengan sambutan Kepala Desa Besowo dan Camat Kepung, disusul pemaparan pengantar METT oleh Kepala Seksi KSDA Wilayah I Kediri dan Kepala RKW 03 CA Manggis Gadungan, yang juga membawahi CA Besowo Gadungan. Paparan tersebut menegaskan kembali nilai strategis kawasan ini sebagai penyimpan air, penahan erosi, dan pusat keanekaragaman hayati yang menjadi penopang ekologi wilayah Kecamatan Kepung. Ketika sesi penilaian inti berlangsung, para pihak tampak antusias mengikuti setiap indikator. Diskusi teknis berkembang menjadi ruang berbagi pengalaman antara masyarakat, pemerintah, dan pengelola kawasan. Poin paling menarik muncul saat pembahasan tentang jasa lingkungan Cagar Alam Besowo Gadungan. Perwakilan Pokmas Tjoelanggi menceritakan bagaimana angin puting beliung yang menghancurkan beberapa rumah di sisi barat jalan ternyata tidak menyentuh rumah-rumah yang terletak tepat di bawah cagar alam. Garis vegetasi yang masih terjaga menjadi benteng alami yang meredam terpaan angin. Pengelola kawasan menguatkan pernyataan itu dengan eviden METT, bahwa hasil penelitian mahasiswa IPB yang memotret nilai jasa lingkungan cagar alam dalam mencegah erosi dan menahan kekuatan angin. Fakta ilmiah dan cerita warga bertemu dalam satu titik: konservasi menyelamatkan manusia lebih sering dari yang disadari. Seperti banyak cagar alam lain, CA Besowo Gadungan bukan tanpa ancaman. Warga mengakui bahwa praktik pengambilan buah kemiri masih terjadi, meski kini terbatas pada buah yang jatuh ke tanah. Pengelola menjelaskan bahwa dalam konsep pengawetan, buah-buah jatuh justru menjadi modal regenerasi pohon kemiri yang sudah menua. Ancaman lain adalah temuan warga yang membawa senapan di sekitar kawasan. Perhutani KPH Kediri mengonfirmasi bahwa pengawasan 24 jam tidak mungkin dilakukan, sehingga peningkatan patroli terpadu menjadi salah satu rekomendasi penting dari kegiatan METT. Meski begitu, sinyal positif tetap terlihat. Perwakilan masyarakat Besowo yang sehari-hari berkebun di sekitar kawasan menyampaikan bahwa kondisi tutupan hutan kini jauh lebih baik dibanding lima tahun lalu. Hal ini sejalan dengan upaya pemulihan ekosistem yang telah dilakukan BBKSDA Jatim di CA Besowo Gadungan, terutama pada titik-titik rawan erosi dan bekas gangguan. Penilaian 2025 menghasilkan nilai METT 69,61%, dengan rincian, Planning: 85,71%, Inputs: 72,22%, Process: 61,90%, Outputs: 50,00% dan Outcomes: 88,89%. Angka ini menunjukkan pengelolaan yang baik, sekaligus menjadi peta jalan untuk memperkuat perlindungan kawasan di masa depan. CA Besowo Gadungan bukan sekadar hamparan hutan. Ia adalah benteng ekologis yang menjaga kestabilan bentang alam, menahan bencana, dan menyediakan keselamatan bagi desa yang tumbuh di bawahnya. METT 2025 mengingatkan bahwa kerja konservasi adalah kerja yang sunyi, namun dampaknya nyata dan menyentuh kehidupan manusia secara langsung. Di tengah perubahan iklim dan tekanan kawasan, menjaga hutan seperti Besowo Gadungan berarti menjaga garis hidup masyarakatnya. “Kalau hutan ini hilang, maka manusia akan kehilangan pelindungnya” (dna) Sumber: Bidang KSDA Wilayah 1 Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Hantu Putih dari Dasar Hutan Bawean, Anggrek Tanah Langka Didymoplexis pallens

Bawean, 21 November 2025. Di tengah belantara Pulau Bawean yang senyap dan lembap, sebuah temuan tak terduga memecah rutinitas patroli konservasi. Pada rangkaian SMART Patrol yang dilaksanakan Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Bawean Lestari pada 3–10 November 2025, petugas mendokumentasikan temuan langka Anggrek Tanah (Didymoplexis pallens) salah satu flora paling misterius dan jarang terlihat di hutan-hutan Asia Tenggara. Dikenal sebagai “ghost orchid”, spesies ini tumbuh tanpa daun, tanpa klorofil, dan hanya muncul sesaat di permukaan tanah ketika kondisi mikrohabitat sangat stabil. Tubuhnya yang berwarna putih pucat, rapuh, dan hampir transparan membuat keberadaannya seolah memudar di antara serasah daun. Tidak banyak spesies yang sedemikian memancarkan ketenangan dan keheningan hutan sebagaimana Didymoplexis pallens, dan kemunculannya di Bawean menandakan kualitas ekologi yang masih terjaga di beberapa blok kawasan konservasi pulau tersebut. Temuan ini dicatat lengkap melalui aplikasi SMART Mobile, koordinat, foto lapangan, deskripsi kondisi, hingga struktur penutup lahan di sekitar titik pengamatan. Pendataan yang sistematis tersebut memberikan dasar ilmiah kuat untuk memetakan keberadaan flora sensitif dan memperbarui basis data keanekaragaman hayati Pulau Bawean. Patroli yang menjangkau area ±73,75 hektare ini melewati dua blok penting di Cagar Alam Pulau Bawean, Blok Payung-payung dan Blok Gunung Besar. Di sepanjang jalur rutin dan jalur baru yang dibuka berdasarkan analisis kerawanan, tim mencatat keragaman flora kaya struktur, pangopa, kayu bulu, gondang, badung, tenggulun, pala hutan, hingga jati yang tumbuh menyebar. Di batang-batang pohon tua, anggrek epifit seperti Rhynchostylis retusa, Dendrobium secundum, Vanda sp., Cymbidium bicolor, dan Phalaenopsis amabilis menghiasi tingkat tajuk dengan aneka bentuk dan warna. Keberadaan jenis-jenis ini merupakan indikator bahwa ekosistem hutan Bawean masih menyimpan mosaik vegetasi dengan tingkat kelembapan dan struktur yang sesuai bagi pertumbuhan anggrek. Di lantai hutan, keberadaan Didymoplexis pallens memberikan makna ekologis yang lebih dalam. Spesies mycoheterotrof seperti ini hanya dapat hidup jika jaringan jamur tanah sehat dan simbiosisnya berjalan stabil. Artinya, meski kawasan menghadapi tekanan dari luar, sebagian blok hutan masih memiliki kualitas tanah yang baik. Selama patroli, tim juga mencatat keberadaan satwa liar yang menjadi bagian penting dari ekosistem, Elang Ular Bawean sebagai raptor yang menjadi ikon pulau. Merbah Belukar, Cinenen Jawa, Madu Kelapa, Raja Udang Punggung Merah, Pergam Hijau, Babi Kutil beserta jejak kubangan dan sarangnya, Monyet Ekor Panjang, Kalong, serta berbagai jenis reptilia seperti Kadal Matahari, Biawak Air, dan Tokek. Keanekaragaman ini menunjukkan bahwa strata hutan, dari lantai hingga kanopi masih menyediakan ruang hidup bagi banyak spesies. Tingginya potensi keanekaragaman hayati tak lepas dari bayangan ancaman. Meskipun skalanya terbatas, aktivitas semacam ini dapat mengganggu stabilitas ekosistem mikro, termasuk habitat flora sensitif seperti Didymoplexis pallens. Selain patroli, tim turut melakukan koordinasi dengan pemerintah desa serta memberikan sosialisasi kepada warga sekitar. Edukasi terus digiatkan karena perlindungan hutan Bawean tidak dapat berdiri hanya pada patrolii, tetapi perlu dukungan penuh dari masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi. Kemunculan Didymoplexis pallens, meski hanya sekecil kelingking, membawa pesan kuat, bahwa di sela tekanan dan perubahan lanskap, hutan Bawean masih menyimpan kehidupan yang halus, rapuh, dan sangat berharga. Spesies ini mengingatkan kita bahwa keutuhan ekosistem ditopang oleh makhluk-makhluk kecil yang jarang terlihat, namun keberadaannya menjadi indikator penting kesehatan hutan. SMART Patrol kali ini tidak hanya menghasilkan data. Ia membawa kabar tentang harapan. Bahwa selama hutan masih berdiri, “hantu putih” dari dasar tanah tetap akan muncul sebagai penanda bahwa alam Bawean belum menyerah. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda di Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 17–32 dari 1.989 publikasi