Minggu, 23 Agu 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

120 Penyu Lekang Kembali ke Laut, BKSDA Bengkulu Peringati HKAN 2026 di Pantai Panjang

Bengkulu, 9 Agustus 2026— Sebanyak120 ekor Penyu Lekang (Lepidochelys olivacea) dilepasliarkan ke habitat alaminya di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Pantai Panjang dan Pulau Baai, Kota Bengkulu, Minggu (9/8/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2026 yang diselenggarakan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu sebagai bentuk komitmen bersama dalam menjaga kelestarian satwa liar dan ekosistem pesisir. Sebanyak 120 penyu tersebut merupakanhasil penyelamatan dari alam yang kemudian ditetaskan dan dirawat oleh kelompok masyarakat peduli penyu di Kecamatan Pondok Suguh, Kabupaten Mukomuko. Kegiatan konservasi ini dilaksanakan melalui kerja sama antara Balai KSDA Bengkulu dan Yayasan SIPEF Indonesia. Kepala Balai KSDA BengkuluAgung Nugroho, S.Si., M.A., mengatakan bahwa pelepasliaran penyu menjadi salah satu bentuk nyata kolaborasi konservasi yang melibatkan pemerintah, masyarakat dan mitra. “Konservasi bukan hanya tugas pemerintah. Pelepasliaran ini menunjukkan bahwa ketika pemerintah, masyarakat dan mitra bergerak bersama, kita dapat memberikan kesempatan bagi satwa liar untuk kembali ke habitat alaminya,” ujar Agung. Menurutnya, keberhasilan konservasi penyu tidak berhenti pada proses penetasan dan pelepasliaran. Perlindungan habitat, pengawasan kawasan pesisir serta kesadaran masyarakat menjadi faktor penting agar penyu dapat terus berkembang dan kembali ke laut untuk menjalankan siklus hidupnya. Kegiatan pelepasliaran ini juga menjadi momentum untuk mengajak masyarakat menjadikan kawasan pesisir bukan hanya sebagai ruang aktivitas manusia, tetapi juga sebagai habitat penting bagi berbagai jenis satwa liar. Dengan dilepasliarkannya 120 Penyu Lekang tersebut, Balai KSDA Bengkulu berharap semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya perlindungan keanekaragaman hayati di Bengkulu. Dari Pantai Panjang, 120 penyu kembali ke laut. Dari Bengkulu, semangat konservasi terus bergerak. Hari Konservasi Alam Nasional 2026 Lindungi Alam, Lestarikan Kehidupan. Sumber: Balai KSDA Bengkulu Narahubung: - Mariska Tarantona, S.Hut., M.Si. (Ka. Seksi KSDA Wil. II-BKSDA Bengkulu): +62 813-9029-9354 - Call Center Balai KSDA Bengkulu: +628117388100
Baca Artikel

Dukung Pelestarian Budaya di Pakpak Bharat lewat Pesta Budaya Oang-oang 2026

Salak, 18 Agustus 2026 – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara dalam upaya konservasi dan mendukung giat ekowisata di Pakpak Bharat, turut hadir dalam perayaan Pesta Budaya Oang-oang 2026 di Kota Salak, Kabupaten Pakpak Bharat pada 27-28 Juli 2026. Pesta Budaya Oang-oang merupakan puncak rangkaian perayaan Hari Jadi Kabupaten Pakpak Bharat yang ke-23 yag dilaksanakan di Lapangan Napasengkut dengan meriah. Pesta Budaya ini dibuka secara sakral dengan ritual Mnggustungken Sebban Mi Nangguru Ketaring, yaitu prosesi menyalakan api pada tungku yang telah disiapkan di tengah lapangan. Prosesi ini bermakna untuk menyatukan tekad dan persepsi dalam membangun Kabupaten Pakpak Bharat menuju masyarakat Nduma (sejahtera, makmur dan berkecukupan). Prosesi ini dilakukan oleh Bupati, Wakil Bupati, Para Anggota DPRD, Anggota FORKOPIMDA, Para Tokoh Adat dan Para Tokoh Agama secara khidmat. Pesta Budaya Oang-oang 2026 menjadi salah satu ajang untuk melestarikan budaya asli Pakpak lewat berbagai kesenian yang ditampilkan. Mulai dari lomba menari dan bernyanyi dengan nuansa Pakpak, fashion show busana budaya khas Pakpak, persembahan tari-tarian tradisional Pakpak yang masih menggunakan adat seperti pemberian kapur sirih pada tamu, hingga persembahan lagu-lagu oleh putra-putri daerah. Kegiatan-kegiatan tersebut menjadi sarana yang efektif untuk memperkenalkan budaya asli Pakpak pada generasi muda serta para pendatang yang berkunjung ke Pesta Budaya Oanng-oang 2026. Ada yang unik pada Pesta Budaya Oang-oang 2026 ini, yaitu adanya pameran hasil bumi dan ciri khas Pakpak oleh perwakilan dari 52 Desa yang ada di kabupaten tersebut. Masing-masing desa menampilkan dan menjual hasil bumi unggulan, diantaranya adalah durian, manggis, madu hutan, gambir, dan ikan Jurung asap. Durian yang berasal dari desa-desa di Kabupaten Pakpak Bharat terkenal dengan daging yang tebal dan manis, dan banyak dicari oleh masyarakat bahkan dari luar kota sekalipun. Komoditas gambir terbaik juga ada pada stand Desa Bandar Baru, dimana masyarakat desa dapat menghasilkan 20 ton gambir perbulan. Selain itu, terdapat juga olahan hasil bumi yaitu ikan Jurung asap yang hanya dijual pada acara-acara tertentu saja karena penangkapannya terkenal sulit dan butuh usaha besar. Sumber : Hanidjaya Ester N. Siahaan (PEH Terampil) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara Email : hanidjayaester@gmail.com, Sumber Foto : Pemkab Pakpak Bharat
Baca Artikel

Kampanye Gerakan Bersama Menjaga Alam Pada Pawai HUT RI ke-81 di Kutagugung

Naman Teran, 17 Agustus 2026 - Memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Melalui Resort TWA Deleng Lancuk bersama Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Kader Konservasi Alam (KKA) dan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) Deleng Lancuk mengkampanyekan Gerakan Bersama Menjaga Alam pada kegiatan Pawai HUT RI ke-81 yang berlangsung di Foursety (Lapangan Camp Ground Kutagugung), Kecamatan Naman Teran, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara. Kegiatan pawai dilaksanakan pada Senin, 17 Agustus 2026, pukul 07.30 WIB, dengan melibatkan berbagai unsur pemerintahan, sekolah, Mahasiswa KKN UINSU dan masyarakat. Selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan kemerdekaan, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menyampaikan pesan penting tentang kepedulian terhadap lingkungan, hutan, satwa liar, serta kelestarian alam. Rangkaian Pawai HUT RI ke-81 dimulai dan berakhir di Foursety (Lapangan Camp Ground KutaGugung), dengan rute: Rute pawai Start (1) Foursety (Lapangan Camp Ground KutaGunggung) (2) Jalan Poros Desa Kuta Rakyat - KutaGunggung (3) Jalan Karo-Langkat (4) Simpang Lau Kawar (5) Gapura Desa Kutaragugung (6) Jambur Desa KutaGugung (7) Foursety (Lapangan Camp Ground KutaGugung) Finish. Rute tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan untuk menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI ke-81 sekaligus menyampaikan pesan “Gerakan Bersama Menjaga Alam” kepada masyarakat sepanjang perjalanan pawai. Kehadiran BBKSDA Sumatera Utara bersama KPA GRAS, KKA dan MMP Deleng Lancuk menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat bahwa memaknai kemerdekaan juga berarti menjaga kekayaan alam Indonesia. Hutan, satwa liar, sumber air, dan seluruh ekosistem merupakan kekayaan bangsa yang harus dilindungi dan diwariskan kepada generasi mendatang. Melalui kampanye “Gerakan Bersama Menjaga Alam”, masyarakat diajak mengambil peran nyata dalam menjaga lingkungan, melindungi kawasan hutan, mencegah perusakan alam, serta menjaga keberadaan satwa dan keanekaragaman hayati. Kepala Resort TWA Deleng Lancuk, Samuel Siahaan, menyatakan bahwa kegiatan pawai HUT RI ke-81 menjadi momentum positif untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan dan kawasan konservasi. “Kegiatan pawai dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke-81 ini menjadi momentum yang sangat baik untuk mengajak masyarakat bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan kawasan konservasi. Kami berharap pesan menjaga alam dapat terus digaungkan, bukan hanya pada momentum perayaan kemerdekaan, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat,” ujar Samuel Siahaan. Menurutnya, keberadaan kawasan konservasi memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlangsungan kehidupan masyarakat. “Kawasan konservasi merupakan bagian penting dari kehidupan kita. Dengan menjaga hutan, satwa liar, sumber air, dan ekosistem yang ada, kita turut menjaga kehidupan dan masa depan generasi mendatang. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, komunitas, dan para pegiat konservasi sangat penting untuk mewujudkan alam yang tetap lestari,” lanjutnya. Sementara itu, Founder sekaligus Ketua Umum KPA GRAS, Nurhabli Ridwan, yang juga merupakan Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, menyatakan bahwa momentum HUT RI ke-81 merupakan kesempatan untuk memperkuat semangat masyarakat dalam menjaga alam. “Kemerdekaan Republik Indonesia harus kita maknai bukan hanya sebagai kebebasan, tetapi juga sebagai tanggung jawab bersama untuk menjaga kekayaan alam yang telah diwariskan kepada kita. Hutan, satwa liar, sungai, dan seluruh ekosistem merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat dan generasi mendatang. Karena itu, melalui momentum HUT RI ke-81 ini, kami mengajak seluruh masyarakat untuk bergerak bersama menjaga alam, dimulai dari lingkungan sekitar kita,” ujar Nurhabli Ridwan. Ia menambahkan bahwa konservasi bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun kelompok pecinta alam, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat. “Kami percaya bahwa konservasi bukan hanya tugas pemerintah atau kelompok pecinta alam, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh masyarakat. Semangat gotong royong dalam menjaga alam harus terus kita hidupkan, karena menjaga alam berarti menjaga kehidupan dan masa depan Indonesia,” lanjutnya. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, bahwa semangat nasionalisme dapat diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata dalam menjaga lingkungan. Semangat gotong royong, persatuan, dan kepedulian terhadap alam menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran bahwa kemerdekaan Indonesia harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Setelah rangkaian kegiatan pawai, agenda dilanjutkan dengan Upacara Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan sekaligus momentum untuk memperkuat semangat persatuan, kebangsaan, dan pengabdian kepada bangsa dan negara. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan dua bibit pohon Sampinur Bunga (Dacrycarpus imbricatus) tumbuhan asli TWA Deleng Lancuk dari kepala Resort TWA Deleng Lancuk, Samuel Siahaan kepada Kepala Desa Kutagugung, Terkelin Sembiring dan Perwakilan Mahasiswa KKN UINSU, Ikhsan sebagai bentuk aksi nyata kepedulian terhadap lingkungan sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga kelestarian alam. Penyerahan bibit pohon tersebut menjadi simbol bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui perayaan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang nantinya akan ditanam di lingkungan sekitar foursety sehingga dapat memberikan manfaat bagi lingkungan dan generasi mendatang. BBKSDA Sumatera Utara bersama KPA GRAS, KKA dan MMP Deleng Lancuk berharap kampanye “Gerakan Bersama Menjaga Alam” dapat terus berkembang menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat secara luas. Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni peringatan HUT RI, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian dan aksi nyata dalam menjaga hutan, melindungi satwa, merawat sumber air, serta mempertahankan keanekaragaman hayati Sumatera Utara. Sumber: Nurhabli Ridwan ( Kader Konservasi Alam/KPA GRAS ) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Lebih dari Dua Dekade Bersama Manusia, Bisakah Elang Laut Kembali ke Alam?

Tulungagung, 14 Agustus 2026. Lebih dari dua dekade hidup bersama manusia meninggalkan pertanyaan besar bagi seekor Elang laut perut putih (Icthophaga leucogaster), masih bisakah ia kembali menjadi penghuni langit liar? Pertanyaan itu muncul setelah Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menerima penyerahan satu individu Elang laut perut putih dari sebuah keluarga di Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, pada 4 Agustus 2026. Bersama elang tersebut, keluarga juga menyerahkan dua individu Serak jawa (Tyto alba) dan satu Celepuk reban (Otus lempiji). Dari keterangan keluarga, Elang tersebut dibeli dari pedagang di Kabupaten Trenggalek ketika masih muda, dan kemudian dipelihara oleh almarhum suami pelapor. Usianya kini diperkirakan lebih dari 20 tahun. Setelah sang pemilik meninggal dunia dan keluarga tidak lagi mampu merawatnya, satwa tersebut akhirnya diserahkan secara sukarela kepada negara melalui BBKSDA Jawa Timur. Penyerahan itu bukan berarti pintu kandang dapat langsung dibuka di alam. Selama sembilan hari, Tim Matawali melakukan observasi dan assessment perilaku di kandang transit Seksi KSDA Wilayah I Kediri. Riwayat hidup yang begitu panjang bersama manusia menjadi salah satu pertimbangan penting untuk melihat apakah perilaku alaminya masih cukup kuat untuk bertahan hidup di alam. Hasil pengamatan awal menunjukkan elang tersebut belum memungkinkan untuk dilepasliarkan dalam waktu dekat. Satwa kemudian dipindahkan ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa - BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk mendapatkan penanganan dan evaluasi lebih lanjut. Berbeda dengan Elang laut tersebut, dua Serak jawa dan satu Celepuk reban masih menjalani perawatan di kandang transit Seksi KSDA Wilayah I Kediri. Apabila kondisi kesehatan dan perilakunya memenuhi persyaratan, satwa-satwa tersebut direncanakan untuk dilepasliarkan kembali ke habitat yang sesuai. Kisah ini menjadi pengingat bahwa mengembalikan satwa ke alam bukan sekadar membuka pintu kandang. Ada kesehatan yang harus dipastikan, perilaku yang harus dinilai, dan kemampuan bertahan hidup yang harus kembali ditemukan. Sebab alam bukan sekadar tempat satwa dilepaskan. Alam adalah tempat mereka harus mampu kembali hidup sebagai satwa liar. Dan setelah lebih dari dua dekade mengenal manusia, perjalanan Elang laut perut putih ini menuju alam mungkin tidak lagi sederhana. Bisakah ia kembali? (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Panggilan Jiwa, MATAWALI Buktikan Kolaborasi Bisa Menyelamatkan Satwa

Jakarta, 14 Agustus 2026. Ketika seekor satwa liar membutuhkan pertolongan, ia tidak pernah bertanya siapa yang paling berwenang. Ia hanya membutuhkan siapa yang bersedia datang dan menyelamatkannya. Semangat itulah yang membawa Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (MATAWALI), Transformasi Tata Kelola Penyelamatan Satwa Liar melalui Kolaborasi Multipihak di Jawa Timur meraih Juara III Lomba Inovasi Rimbawan Tahun 2026 Kategori Satuan Kerja. Penghargaan diterima Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dalam rangkaian Penghargaan Wana Lestari Tahun 2026, “Forest Heroes: Menginspirasi, Mengabdi, Melestarikan” di Jakarta (13/8). Namun, MATAWALI bukan cerita yang lahir di atas panggung. Ia tumbuh dari persoalan nyata di lapangan. Jawa Timur menjadi salah satu simpul strategis peredaran satwa liar. Data pengembangan MATAWALI mencatat 168 kasus penyelundupan dan 40.432 satwa berhasil diselamatkan, sementara konflik manusia dan satwa terus menjadi tantangan. Kondisi tersebut menuntut penanganan yang tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. MATAWALI kemudian mengubah pendekatan dari sekadar rescue menuju conservation governance. Penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran dipadukan dengan respons cepat, pelayanan konservasi, pengelolaan informasi, serta kolaborasi multipihak. Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, menyebut kekuatan MATAWALI justru terletak pada kesediaan banyak pihak untuk bergerak bersama. “Menyelamatkan satwa liar bukan hanya soal kewenangan, tetapi panggilan jiwa. MATAWALI mempertemukan orang-orang yang memiliki kepedulian itu dalam satu kerja bersama. Ketika satwa membutuhkan pertolongan, negara harus hadir, cepat, tepat, dan tetap mengedepankan keselamatan manusia serta kesejahteraan satwa” ujarnya. Melalui MATAWALI, setiap laporan tidak berhenti sebagai pengaduan. Setiap laporan menjadi aksi, setiap aksi menjadi data, dan setiap data menjadi pijakan kebijakan konservasi. SOP lintas sektor, database digital, forum multipihak hingga penanganan konflik yang lebih sistematis menjadi bagian dari perubahan tersebut. Penghargaan ini karena itu bukan garis akhir. Sebab ukuran keberhasilan konservasi bukan seberapa tinggi trofi diangkat, melainkan berapa banyak kehidupan yang memperoleh kesempatan untuk kembali ke alam. Panggung akan kembali sepi. Tepuk tangan akan berhenti. Tetapi panggilan penyelamatan bisa datang kapan saja. Dan ketika panggilan itu datang, MATAWALI harus tetap bergerak. Karena menyelamatkan satwa bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah panggilan jiwa. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor)
Baca Artikel

Wildlife Academy, Membaca Alam Lewat Suara

Tulungagung, 14 Agustus 2026. Alam tidak selalu harus dilihat untuk diketahui keberadaannya. Di balik tajuk, semak, dan ruang-ruang yang sulit dijangkau, kehidupan liar meninggalkan satu penanda yang sering luput kita dengarkan yaitu suara. Berangkat dari gagasan itu, Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tulungagung dan Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek Provinsi Jawa Timur menggelar Wildlife Academy perdana bertajuk “Bioakustik untuk Konservasi”, Senin (10/8/2026), di Tulungagung. Kegiatan yang menjadi bagian dari peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 ini diikuti 52 peserta dari siswa pecinta alam, mahasiswa, komunitas, relawan, fotografer hingga instansi daerah. Mereka tidak sekadar diajak mengenal keanekaragaman hayati, tetapi juga belajar bagaimana pengamatan dapat berkembang menjadi data ilmiah dan memperluas gerakan citizen science. Perjalanan dimulai dari dunia avifauna bersama Akhmad David KP, Polisi Kehutanan Resor Konservasi Wilayah 02 Blitar. Dilanjutkan cerita lapangan Tulungagung Bird Walk oleh Lusi dari Mapala Himalaya UIN SATU Tulungagung. Riri Wiyanti R., M.S. dari Birdpacker kemudian membawa peserta lebih jauh mengenal bioakustik, metode yang memanfaatkan rekaman suara untuk membantu mengenali dan memantau kehidupan liar. Di tangan ilmu pengetahuan, suara tidak lagi sekadar bunyi. Ia menjadi data, jejak keberadaan, sekaligus cerita tentang kehidupan yang mungkin tak sempat tertangkap mata. Kepala DLH Kabupaten Tulungagung menyambut baik Wildlife Academy dan menyatakan kesiapan untuk terus berkolaborasi dengan BBKSDA Jawa Timur. Bahkan, kegiatan serupa diharapkan dapat kembali digelar dengan jangkauan yang lebih luas. Kelas itu tidak selesai di ruang pertemuan. Sehari kemudian, 11 Agustus 2026, perangkat bioakustik dipasang di Hutan Kota Kabupaten Tulungagung oleh Riri bersama petugas RKW 02 Blitar dan DLH Kabupaten Tulungagung. Dari sanalah pelajaran sesungguhnya dimulai. Alat dibiarkan merekam, sementara alam berbicara dengan bahasanya sendiri. Wildlife Academy mengajarkan satu hal sederhana bahwa untuk memahami alam, terkadang kita tidak perlu banyak bicara. Kita hanya perlu belajar mendengarkan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Lari dari Kepungan Api, Trenggiling Menyeberang Jalan Mencari Selamat

Blitar, 14 Agustus 2026. Tubuh kecil itu dipenuhi debu dan abu ketika ditemukan warga sedang menyeberang jalan. Seekor Trenggiling (Manis javanica) remaja diduga keluar mencari tempat berlindung saat pembakaran lahan bekas panen tebu berlangsung disekitarnya. Satwa tersebut kemudian diamankan dan diserahkan kepada petugas Pemadam Kebakaran Kabupaten Blitar. Informasi itu diteruskan kepada Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan ditindaklanjuti Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah I Kediri melalui Resor KSDA 02 Blitar. Tim Matawali mendatangi Damkar Kabupaten Blitar, Kamis (6/8). Setelah memastikan kondisi satwa dan menyelesaikan proses administrasi penyerahan, Trenggiling dibawa untuk dikembalikan ke alam. Perjalanan mamalia bersisik itu berakhir pada sore hari. Bersama petugas Dinas Pariwisata Kabupaten Trenggalek, Tim Matawali melepasliarkannya di Hutan Kota Trenggalek. Kepala Satuan Damkar Kabupaten Blitar mengapresiasi respons BBKSDA Jawa Timur dalam penanganan satwa tersebut. Koordinasi antara Damkar dan Matawali diharapkan terus terbangun ketika masyarakat menemukan satwa liar yang membutuhkan penyelamatan. Kisah Trenggiling ini menyisakan pesan yang lebih panjang daripada perjalanan Blitar–Trenggalek. Api mungkin dinyalakan di lahan yang dianggap telah selesai dipanen, tetapi bagi satwa liar di sekitarnya, asap dan panas dapat berarti kehilangan tempat berlindung. Trenggiling itu beruntung bertemu manusia yang memilih menyelamatkan, bukan menangkap atau memilikinya. Kini ia kembali ke alam. Membawa satu pengingat sederhana: ketika ruang hidup satwa terdesak, batas antara habitat mereka dan ruang manusia menjadi semakin tipis. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Konflik Belum Usai, Kolaborasi Membuka Harapan Baru bagi Babi Kutil Bawean

Batu, 14 Agustus 2026. Menyelamatkan Babi Kutil Bawean (Sus blouchi) tidak cukup dengan memindahkan satwa dari ruang konflik. Ketika laporan gangguan masih muncul di beberapa titik Pulau Bawean, satu hal semakin jelas bahwa konservasi membutuhkan kerja bersama. Pesan itu mengemuka dalam monitoring dan evaluasi penanganan darurat konflik Babi Kutil Bawean pada 12–13 Agustus 2026 di Sidoarjo dan Kota Batu. Kegiatan mempertemukan Balai Besar Konsesrvasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim), Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Ditjen KSDAE, Sekretariat Ditjen KSDAE Kementerian Kehutanan, PT Bunga Wangsa Sejati (Jawa Timur Park Group), serta perwakilan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Keuangan. Penanganan darurat tersebut didukung melalui skema IBioFund (Indonesia Biodiversity Fund), mekanisme pembiayaan campuran (blended finance) Kementerian Kehutanan yang dikelola BPDLH untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati beserta habitatnya secara berkelanjutan di Indonesia. Pertemuan tidak sekadar mengevaluasi apa yang telah dilakukan, tetapi mulai melihat persoalan lebih jauh tentang bagaimana mencegah konflik berulang sekaligus membangun masa depan konservasi Babi Kutil Bawean secara in situ dan ex situ. “Konflik Babi Kutil Bawean bukan persoalan satwa semata. Ada habitat, ruang hidup manusia, pertanian, sampah, hingga perilaku yang saling beririsan. Karena itu, penyelesaiannya juga tidak dapat dilakukan sendiri. Kolaborasi harus menjadi kekuatan utama, dengan ilmu pengetahuan sebagai pijakannya,” ujar Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur. Dari tujuh individu yang dievakuasi ke Jatim Park 2 pada Juni lalu, satu betina dewasa mati. Hasil nekropsi antara lain menemukan gangguan pada saluran pencernaan dan material plastik di dalam lambung, sebuah catatan bahwa jejak aktivitas manusia dapat menjangkau kehidupan satwa lebih jauh dari yang terlihat. Enam individu lainnya terpantau sehat, meski masih sensitif terhadap kehadiran manusia. Keberadaan mereka kini diarahkan untuk mendukung riset, breeding loan, hingga genetic insurance Babi Kutil Bawean. Komitmen tersebut mendapat dukungan dari PT Bunga Wangsa Sejati (Jawa Timur Park Group). “Kami siap berkomitmen mendukung dan membantu konservasi, baik secara ex situ maupun in situ, bagi satwa-satwa endemik Jawa Timur khususnya dan Indonesia pada umumnya, termasuk Babi Kutil Bawean. Konservasi membutuhkan kerja bersama agar apa yang kita selamatkan hari ini tetap memiliki masa depan,” ujar Ir. Gunadi, perwakilan PT Bunga Wangsa Sejati (Jawa Timur Park Group). Namun, menjaga enam individu di luar habitat hanyalah satu bagian dari pekerjaan besar. Di Pulau Bawean, survei populasi, distribusi, daya dukung dan daya tampung habitat tetap diperlukan sebagai pijakan ilmiah. Pemerintah daerah, sektor pertanian dan lingkungan hidup, akademisi, peneliti, lembaga konservasi, dunia usaha, serta masyarakat perlu bergerak dalam arah yang sama. In-situ menjaga rumahnya. Ex-situ menjaga harapannya. Kolaborasi memastikan keduanya tetap terhubung. Sebab masa depan Babi Kutil Bawean tidak hanya ditentukan oleh bagaimana kita menyelamatkannya ketika konflik terjadi, tetapi oleh seberapa kuat kita bekerja bersama agar satwa, habitat, dan manusia tetap memiliki ruang untuk hidup berdampingan. Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Saat Danau Kastoba Tak Lagi Terasa Sama

Bawean, 11 Agustus 2026. Ada sesuatu yang perlahan berubah di Danau Kastoba. Perubahannya tidak terjadi dalam semalam. Ia seperti berlangsung diam-diam selama bertahun-tahun, tersimpan di balik permukaan salah satu danau alami yang berada di Pulau Bawean. Air yang sekitar satu dekade lalu dikenang relatif jernih, tanpa aroma amis ikan yang kuat, dalam dua hingga tiga tahun terakhir mulai memperlihatkan karakter berbeda. Warnanya cenderung lebih hijau, sementara aroma khas perairan yang sebelumnya nyaris tidak terasa mulai sesekali tercium. Belum diketahui apa penyebabnya. Namun sebuah pengamatan malam pada 29 Juli 2026, memberikan petunjuk baru, sekaligus membuat misteri Danau Kastoba semakin menarik untuk dipecahkan. Malam itu, Tim Resor KSDA Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama beberapa mahasiswa Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, dan Universitas Airlangga masih berada di sekitar Danau Kastoba hingga sekitar pukul 22.00 WIB. Ketika aktivitas mulai berhenti dan suara hutan mengambil alih, permukaan danau yang tenang tiba-tiba mengeluarkan suara. Percikan air terdengar dari beberapa titik. Sesekali muncul riak dan gelembung yang cukup kuat untuk memecah keheningan malam. Awalnya kami menganggapnya biasa. Tetapi ketika suara itu kembali terdengar, cahaya headlamp secara refleks diarahkan ke permukaan air. Di bawah sorot cahaya itulah sesuatu yang tidak kami duga muncul. Seekor ikan lele berukuran cukup besar, diperkirakan sebesar lengan orang dewasa, terlihat berenang perlahan di perairan tepian Danau Kastoba. Tidak jauh darinya, individu lain berukuran lebih kecil tampak berada dekat permukaan air. Malam yang semula hanya menjadi bagian dari kegiatan lapangan berubah menjadi ruang penuh pertanyaan. Kesaksian dari Orang yang Tumbuh Bersama Bawean Bagi Nurhayyan Jahansyah, petugas RKW 09 Gresik–Bawean yang juga merupakan warga asli Pulau Bawean, pemandangan tersebut cukup mengejutkan. Selama berkegiatan di sekitar Danau Kastoba, kehidupan perairan yang lebih sering ia kenali adalah udang, kepiting air tawar, serta ikan-ikan kecil yang secara sepintas menyerupai mujair. Keberadaan ikan lele, terlebih dengan ukuran cukup besar, belum pernah ia saksikan secara langsung sebelumnya. “Baru malam ini saya melihat langsung ada ikan lele di Kastoba, bahkan ukurannya cukup besar,” ujar Nurhayyan. Namun kesaksian tersebut tentu tidak berarti bahwa ikan lele baru saja hadir di Danau Kastoba. Bisa jadi ikan itu telah lama hidup di sana dan tidak pernah teramati karena perilakunya, waktu aktivitasnya, kedalaman habitatnya, atau terbatasnya pengamatan terhadap komunitas ikan dan biota air tawar di danau tersebut. Di situlah temuan malam itu menjadi penting. Bukan karena seekor lele serta merta menjawab perubahan yang sedang terjadi di Kastoba, melainkan karena keberadaannya menunjukkan bahwa masih ada bagian dari ekosistem danau yang belum sepenuhnya kita kenali. “Ke depan kami berharap ada penelitian yang lebih khusus mengenai keanekaragaman biota air tawar penghuni Danau Kastoba. Bukan hanya jenis ikannya, tetapi juga udang, kepiting, plankton, dan biota lainnya, termasuk bagaimana keterkaitannya dengan kondisi kualitas air. Data tersebut penting sebagai dasar agar pengelolaan kawasan Cagar Alam Pulau Bawean, khususnya Blok Kastoba, dapat dilakukan semakin optimal dan berbasis ilmu pengetahuan,” tambah Nurhayyan. Jangan Terburu-buru Menyalahkan Lele Pertanyaan kemudian menjadi lebih besar. Apakah keberadaan ikan lele memiliki hubungan dengan perubahan warna dan aroma air yang dirasakan dalam beberapa tahun terakhir? Jawabannya belum diketahui! Secara ekologis, terlalu dini, dan tidak tepat, menjadikan keberadaan satu jenis ikan sebagai penyebab perubahan kondisi perairan tanpa penelitian yang memadai. Ekosistem danau bekerja melalui hubungan yang kompleks. Perubahan warna air dapat berkaitan dengan dinamika fitoplankton atau alga, kandungan unsur hara, material organik, sedimentasi, perubahan vegetasi pada daerah tangkapan air, kondisi musim dan cuaca, hingga perubahan struktur komunitas organisme yang hidup di dalamnya. Keberadaan dan kelimpahan ikan tertentu juga dapat berinteraksi dengan rantai makanan, organisme dasar perairan, sedimen maupun siklus nutrien. Namun apakah mekanisme tersebut sedang berlangsung di Danau Kastoba, semuanya membutuhkan pembuktian. Karena itu, ikan lele yang muncul malam itu lebih tepat dipandang sebagai sebuah petunjuk ekologis, bukan tersangka. Petunjuk bahwa ada kehidupan di bawah permukaan Kastoba yang mungkin selama ini luput dari perhatian. Membaca Ulang Kastoba Temuan itu sekaligus membuka peluang untuk melihat Danau Kastoba dengan pendekatan yang lebih luas. Inventarisasi biota air tawar menjadi salah satu kebutuhan penting. Jenis ikan yang hidup di dalamnya perlu diketahui dan diidentifikasi secara ilmiah, termasuk struktur komunitas, ukuran populasi, persebaran, hingga status asal-usulnya. Pertanyaan mengenai apakah suatu jenis merupakan penghuni alami, telah berada di sana sejak lama, atau merupakan hasil introduksi pada masa tertentu juga tidak dapat dijawab hanya melalui pengamatan visual. Penelitian kualitas perairan dapat berjalan beriringan. Parameter seperti suhu, pH, oksigen terlarut, kekeruhan, kandungan nutrien, bahan organik hingga klorofil-a dapat memberikan gambaran mengenai kondisi ekologis perairan. Kajian terhadap plankton, organisme dasar perairan, udang, kepiting air tawar, serta vegetasi di sekitar danau dapat melengkapi potongan-potongan informasi yang selama ini masih terpisah. Data tersebut selanjutnya dapat dibandingkan antar waktu. Sebab dalam konservasi, satu kali pengukuran hanya memberikan sebuah potret. Monitoring jangka panjanglah yang dapat memperlihatkan sebuah cerita tentang perubahan. Ketika Ingatan Bertemu Sains Ada satu hal lain yang tidak kalah menarik dari cerita Kastoba, tentang ingatan orang-orang yang hidup dekat dengan kawasan. Mereka mengingat bagaimana warna air dahulu. Mereka mengenali organisme apa yang biasa terlihat. Mereka mengetahui kapan sesuatu mulai terasa berbeda. Ingatan ekologis semacam itu berharga sebagai informasi awal untuk mengarahkan pertanyaan penelitian. Tetapi ia tidak boleh berdiri sendiri sebagai kesimpulan ilmiah. Di sinilah pengetahuan lapangan dan sains dapat bertemu. Pengalaman petugas dan masyarakat dapat menunjukkan sesuatu yang perlu diperhatikan. Penelitian kemudian mengujinya melalui metode, pengukuran dan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Keduanya dapat menjadi bagian penting dalam pengelolaan kawasan konservasi yang adaptif. Danau Kastoba bukan sekadar genangan air di tengah Pulau Bawean. Perairannya terhubung dengan hutan di sekelilingnya, vegetasi, tanah, mikroorganisme, satwa, siklus air, hingga berbagai proses ekologis yang mungkin tidak terlihat dari permukaan. Karena itu, ketika salah satu bagiannya memperlihatkan perubahan, pertanyaan tidak seharusnya berhenti pada “apa yang berubah?” Pertanyaan berikutnya jauh lebih penting “Mengapa ia berubah?” Misteri yang Belum Selesai Malam semakin larut ketika cahaya headlamp kembali menyapu permukaan Kastoba. Riak perlahan menghilang. Air kembali tenang. Ikan yang beberapa saat sebelumnya terlihat di tepian perlahan lenyap dari jangkauan cahaya, kembali ke bagian danau yang gelap. Tidak ada jawaban yang kami bawa pulang malam itu. Apakah ikan lele telah lama menjadi bagian dari ekosistem Danau Kastoba? Jika iya, mengapa selama ini keberadaannya jarang teramati? Seberapa banyak ikan dan biota air tawar lain yang sebenarnya hidup di bawah permukaannya? Mengapa air yang dahulu dikenang berbeda kini terlihat semakin hijau? Apakah perubahan warna dan aroma itu merupakan dinamika alami sebuah danau, perubahan produktivitas perairan, pengaruh lingkungan di sekelilingnya, perubahan komunitas biota atau kombinasi berbagai proses yang belum kita pahami? Dan apakah kemunculan ikan lele malam itu memiliki hubungan dengan semuanya? Kita belum tahu. Barangkali jawabannya memang tidak akan ditemukan dari satu malam pengamatan. Ia mungkin tersimpan dalam sampel air, plankton yang hanya terlihat di bawah mikroskop, komposisi ikan di berbagai kedalaman, sedimen di dasar danau, vegetasi di sekelilingnya, atau catatan perubahan yang dikumpulkan bertahun-tahun. Malam itu, Kastoba hanya memberikan sebuah petunjuk. Sebuah percikan terdengar dari kegelapan. Cahaya diarahkan ke permukaan. Seekor lele besar melintas perlahan, lalu menghilang kembali ke dalam air. Dan Danau Kastoba kembali tenang, seolah menyimpan jawabannya sedikit lebih lama. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Tamu Tak Diundang, Damkarla dan Matawali Menjawab Konflik di Batas Ruang Hidup

Gresik, 12 Agustus 2026. Tamu itu tak pernah diundang. Sejak sehari sebelumnya, seekor Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) mondar-mandir di atas atap permukiman Kebomas, Kabupaten Gresik. Ia berpindah dari satu bangunan ke bangunan lain. Sulit didekati, apalagi ditangkap. Senin siang (10/8), pergerakannya berakhir di sebuah toko mebel di Jalan Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kelurahan Kebomas. Di tempat itulah urusan menjadi berbeda. Jarak antara satwa liar dan manusia tinggal beberapa hasta saja. Hana, seorang warga, melaporkan kejadian tersebut kepada Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Gresik. Laporan masuk pukul 11.17 WIB. Tiga menit berselang, petugas Damkarla Gresik Pos Kota sudah tiba. Mereka mencoba mengevakuasi satwa. Namun kali ini terasa tak mudah bagi mereka Monyet terus berpindah tempat. Dari satu titik ke titik lain. Sesekali bertahan di tempat yang sulit dijangkau. Upaya menggiringnya agar turun dan keluar sendiri pun belum berhasil. Satwa liar yang terdesak bisa memberikan respons defensif. Di tengah permukiman, dengan warga yang berada tidak jauh dari lokasi, satu keputusan yang keliru bisa berakhir dengan cedera, baik bagi manusia maupun satwa. Damkarla Gresik kemudian menghubungi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) Seksi KSDA Wilayah III Surabaya segera bergerak menuju Kebomas. Setibanya di lokasi, mereka tak langsung menangkap satwa. Tim terlebih dahulu melakukan asesmen. Perilaku monyet diamati. Posisi dan ruang geraknya dipetakan. Kondisi bangunan, keberadaan warga, akses evakuasi, serta risiko penanganan diperhitungkan. Sebab menangani satwa liar bukan perkara siapa yang paling cepat menangkap. Yang dicari adalah cara paling aman. Hasil asesmen mengarah pada satu keputusan, penggunaan perangkat anestesi jarak jauh. Pilihan itu diambil setelah mempertimbangkan karakter satwa, posisi keberadaannya, keselamatan masyarakat, serta risiko cedera jika penangkapan dilakukan secara paksa. Proses evakuasi dilanjutkan Satu individu Monyet Ekor Panjang jantan akhirnya berhasil diamankan dalam kondisi hidup. Pemeriksaan awal menyimpulkan bahwa secara umum satwa tidak menunjukkan kondisi yang membutuhkan tindakan kedaruratan saat itu. Selanjutnya monyet tersebut dievakuasi menuju Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa milik BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di sana, satwa akan menjalani observasi, pemeriksaan kesehatan, perawatan, serta evaluasi sebelum ditentukan langkah penanganan selanjutnya. Pukul 14.03 WIB, kegiatan evakuasi monyet di Kebomas berakhir. Kurang dari tiga jam sejak laporan pertama masuk. Siapa Masuk ke Ruang Siapa? Peristiwa Kebomas boleh jadi terlihat sederhana, seekor monyet masuk permukiman, petugas datang, satwa dievakuasi. Tapi konflik manusia dan satwa liar hampir tak pernah sesederhana itu. Kemunculan satwa liar di permukiman tidak dapat serta-merta dijelaskan dengan satu penyebab. Pergerakan alami satwa, perubahan bentang alam, konektivitas habitat, keberadaan sumber pakan, hingga interaksi manusia dengan satwa dapat menjadi bagian dari persoalan. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya mengapa seekor monyet berada di sebuah toko mebel. Ada pertanyaan lain yang patut diajukan, di mana sebenarnya batas ruang hidup manusia dan satwa hari ini? Pada lanskap yang terus berubah, batas itu bisa menjadi semakin tipis. Ruang yang bagi manusia adalah permukiman, jalan, toko, dan halaman rumah bisa saja bersinggungan dengan jalur pergerakan satwa. Pertemuan semacam itulah yang berpotensi melahirkan konflik. Dan konflik tidak selalu dimulai oleh satwa. Respons manusia ikut menentukan bagaimana sebuah perjumpaan akan berakhir. Mengejar, mengepung, melempari, atau mencoba menangkap sendiri dapat membuat satwa merasa terancam. Kerumunan warga juga bisa mempersempit ruang geraknya dan meningkatkan risiko respons defensif. Pilihan paling aman justru sering kali sederhana: menjaga jarak, tidak memprovokasi, mengurangi kerumunan, lalu menghubungi petugas yang memiliki kompetensi untuk melakukan penanganan. Konservasi di Depan Rumah Selama ini konservasi kerap dibayangkan berlangsung jauh di dalam hutan. Ada petugas yang berpatroli. Kamera jebak yang dipasang di antara pepohonan. Satwa langka yang dicari jejaknya. Atau kawasan konservasi dengan batas-batas yang tegas di atas peta. Kebomas memperlihatkan wajah lain. Konservasi ternyata juga bisa terjadi di atas genting rumah, di antara bangunan, dan di sebuah toko mebel. Di sana, persoalannya bukan lagi sekadar menjaga satwa tetap berada di dalam hutan. Tantangannya adalah bagaimana manusia bertindak ketika kehidupan liar tiba-tiba hadir di ruang yang dianggap miliknya. Kerja bersama masyarakat, Damkarla Gresik, dan Tim Matawali BBKSDA Jawa Timur pada siang itu memang berhasil mengamankan satu individu Monyet Ekor Panjang. Namun ukuran keberhasilan penanganan konflik manusia dan satwa liar seharusnya tidak berhenti pada berapa ekor satwa yang berhasil ditangkap. Yang jauh lebih penting adalah apakah setiap perjumpaan membuat manusia semakin memahami cara hidup berdampingan. Sebab, saat batas ruang hidup semakin tipis, pertanyaan terpenting mungkin bukan lagi siapa yang datang tanpa diundang. Melainkan, seberapa siap kita berbagi ruang dengan kehidupan lain yang sejak lama tumbuh bersama kita. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Bidang KSDA Wilayah II Gresik, Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Berani Bercermin, TWA Tretes Membuka Kekurangan untuk Memperkuat Konservasi

Pasuruan, 10 Agustus 2026. Mengelola kawasan konservasi bukan hanya tentang mencatat apa yang telah berhasil dilakukan. Ada saatnya pengelola harus berhenti sejenak, melihat kembali apa yang telah dikerjakan, lalu berani mengakui bagian-bagian yang masih lemah. Itulah yang dilakukan di Taman Wisata Alam (TWA) Tretes. Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo melakukan Penilaian Efektivitas Pengelolaan kawasan menggunakan Management Effectiveness Tracking Tool (METT) Versi 4.0, Rabu (5/8/2026), di Prigen, Kabupaten Pasuruan. Hasilnya, TWA Tretes memperoleh skor 63, meningkat dibandingkan hasil penilaian tahun 2024 yang berada pada angka 53. Namun, angka itu bukan alasan untuk sekadar merayakan kenaikan. Justru dari angka 63 tersebut, pengelola dapat melihat lebih dekat bagian mana yang telah berjalan, bagian mana yang masih tertinggal. Serta apa yang harus diperbaiki agar keberadaan TWA. Tretes benar-benar mampu menjaga nilai-nilai alam sekaligus memberikan manfaat secara berkelanjutan. Kawasan Konservasi Juga Perlu Bercermin. METT bukan perlombaan mencari nilai tertinggi. Instrumen ini menjadi semacam cermin bagi pengelolaan kawasan konservasi. Melalui proses penilaian yang sistematis, berbagai aspek pengelolaan dibedah bersama: mulai dari perencanaan, ketersediaan sumber daya, proses pengelolaan, hasil yang telah dicapai, hingga dampaknya terhadap kondisi kawasan. Karena itu, hasil penilaian tidak hanya memperlihatkan kekuatan. Ia juga membuka ruang untuk melihat keterbatasan yang selama ini mungkin tidak mudah terbaca dalam rutinitas pengelolaan sehari-hari. Pada penilaian tahun 2026, aspek planning memperoleh skor 13. Penilaian mencakup rencana pengelolaan, rencana kerja rutin, desain kawasan, perencanaan penggunaan lahan dan air di sekitarnya, tujuan pengelolaan, serta status legal kawasan. Aspek input memperoleh skor 10. Di sinilah sejumlah komponen mendasar pengelolaan diperiksa, antara lain peralatan dan fasilitas, kepastian dan kecukupan anggaran, pengetahuan dan keterampilan, jumlah pegawai, hingga inventarisasi sumber daya. Input menjadi bagian penting karena konservasi tidak hanya membutuhkan gagasan yang baik. Pengelolaan kawasan juga memerlukan manusia, pengetahuan, fasilitas, data, anggaran, dan perangkat kerja yang memadai untuk menerjemahkan rencana menjadi tindakan di lapangan. Dengan demikian, keterbatasan yang teridentifikasi bukan untuk ditutupi, melainkan menjadi dasar menentukan prioritas perbaikan. Ketika Pengelolaan Diuji di Lapangan. Nilai terbesar diperoleh pada aspek process, dengan skor 27. Bagian ini menggambarkan luasnya pekerjaan yang berlangsung dalam mengelola sebuah kawasan konservasi. Penilaian mencakup kondisi nilai alami dan budaya, keterlibatan masyarakat lokal, pungutan, operator wisata, hubungan dengan pemerintah dan sektor swasta di sekitar kawasan, edukasi dan penyadartahuan, jasa lingkungan, karbon, dan perubahan iklim. Juga pengelolaan sumber daya, monitoring dan evaluasi, penelitian, keamanan staf, sistem perlindungan, penegakan peraturan, pengelolaan anggaran, hingga demarkasi batas kawasan. Daftar panjang tersebut menunjukkan satu hal bahwa menjaga TWA Tretes tidak pernah hanya menjadi urusan menjaga pepohonan di dalam batas kawasan. Apa yang terjadi di luar batas dapat memengaruhi apa yang ada di dalamnya. Perubahan pemanfaatan ruang, aktivitas wisata, dinamika masyarakat, kebutuhan ekonomi, tekanan terhadap sumber daya alam, hingga perubahan iklim menjadi bagian dari lanskap persoalan yang harus dibaca secara utuh. Karena itulah efektivitas pengelolaan tidak cukup diukur dari seberapa sering petugas berada di lapangan. Ia juga ditentukan oleh kemampuan pengelola membangun komunikasi, membaca perubahan, melibatkan para pihak, serta merespons ancaman sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Angka yang Harus Diterjemahkan Menjadi Aksi. Pada komponen output, TWA Tretes memperoleh skor 7. Penilaian mencakup keterlibatan masyarakat lokal, konektivitas, ancaman kawasan, manfaat bagi pemenuhan mata pencaharian, serta fasilitas dan pelayanan pengunjung. Sementara pada komponen outcome, skor yang diperoleh sebesar 6. Aspek ini menyentuh inti dari tujuan konservasi itu sendiri: status konservasi habitat, kondisi spesies indikator kunci, nilai-nilai alami dan budaya, serta konektivitas ekologis. Di sinilah angka METT memperoleh makna sebenarnya.Sebab sebuah kawasan konservasi pada akhirnya tidak dinilai hanya dari banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan, melainkan dari perubahan yang mampu dihasilkan terhadap kondisi habitat, spesies, ekosistem, serta hubungan kawasan dengan lanskap di sekitarnya. Kenaikan skor dari 53 pada 2024 menjadi 63 pada 2026 menunjukkan adanya perkembangan dalam pengelolaan TWA Tretes. Namun perjalanan menuju pengelolaan yang semakin efektif masih membutuhkan kerja panjang. Masih ada keterbatasan yang harus diperbaiki. Masih ada ancaman yang harus diantisipasi. Dan masih ada kesenjangan antara apa yang direncanakan, sumber daya yang tersedia, proses yang dilakukan, serta dampak konservasi yang ingin diwujudkan. Proses evaluasi tersebut tidak dilakukan dalam ruang tertutup. Penilaian melibatkan berbagai pihak yang bersinggungan dengan keberadaan dan pengelolaan TWA Tretes, antara lain unsur Kecamatan Prigen, Polsek Prigen, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan, KRPH Prigen, Tahura R. Soerjo, Kelurahan Pecalukan, sektor swasta, operator wisata, serta tokoh masyarakat Pecalukan. Sebelum penilaian dimulai, peserta mendapatkan sosialisasi mengenai pengelolaan TWA Tretes dan pengenalan METT Versi 4.0. Selanjutnya, fasilitator memandu proses penilaian sekaligus menghimpun berbagai pandangan dan umpan balik peserta untuk memperoleh gambaran kondisi aktual pengelolaan kawasan. Keterlibatan berbagai pihak menjadi penting karena kawasan konservasi tidak berdiri sebagai pulau yang terpisah dari kehidupan di sekelilingnya. Hutan memiliki batas administrasi. Proses ekologis tidak. Air mengalir melintasi batas. Satwa bergerak melintasi lanskap. Aktivitas manusia di sekitar kawasan dapat membawa pengaruh hingga ke dalamnya. Karena itu, menjaga TWA Tretes membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran pengelola kawasan. Ia membutuhkan kepedulian bersama. Konservasi yang Berani Mengakui Kekurangan. METT 2026 akhirnya bukan sekadar menghasilkan angka 63. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah angka itu diketahui. Setiap kelemahan yang teridentifikasi harus diterjemahkan menjadi rekomendasi. Setiap rekomendasi membutuhkan aksi. Dan setiap aksi perlu kembali dipantau untuk memastikan bahwa perubahan benar-benar terjadi di lapangan. Di situlah evaluasi memperoleh maknanya. Sebab keberhasilan konservasi bukan ketika sebuah kawasan terlihat tanpa kekurangan, melainkan ketika pengelolanya memiliki keberanian untuk menemukannya, membicarakannya secara terbuka, kemudian bekerja bersama memperbaikinya. TWA Tretes sedang melakukan itu. Bercermin bukan untuk mencari wajah yang sempurna. Bercermin adalah cara mengetahui bagian mana yang masih harus dibenahi. Dalam konservasi, keberanian melihat kekurangan hari ini dapat menjadi langkah pertama untuk menjaga kehidupan esok hari. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Semarak Road to HKAN 2026: BKSDA Kaltim Gelar Kampanye Konservasi Serentak di Tiga Wilayah

SAMARINDA, Agustus 2026 – Menyambut peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur menggelar aksi Kampanye Konservasi secara serentak di tiga titik ruang publik pada Minggu (09/08/2026). Kegiatan yang berlangsung di Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kabupaten Berau ini bertujuan untuk mendekatkan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat luas melalui pendekatan edukatif, interaktif, dan persuasif. Di ibu kota provinsi, BKSDA Kalimantan Timur memusatkan kegiatan di Stadion Gelora Kadrie Oening, Samarinda. Mengingat tingginya antusiasme masyarakat yang beraktivitas di area tersebut pada akhir pekan, momentum ini dimanfaatkan untuk menyampaikan edukasi mengenai pentingnya menjaga keanekaragaman hayati dan kelestarian lingkungan secara ringan dan adaptif. Sementara itu, BKSDA Kalimantan Timur melalui Seksi KSDA Wilayah III Balikpapan menyapa masyarakat di pusat kota, tepatnya di Taman Bekapai, Balikpapan. Melalui interaksi langsung, tim BKSDA merangkul pengunjung taman untuk mengenal lebih dekat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pendekatan dialogis ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) masyarakat terhadap upaya perlindungan lingkungan di sekitar mereka. Di Kabupaten Berau, Seksi KSDA Wilayah I Berau mengambil titik kampanye di Banua Rasa Weekend Market, Jalan Murjani 1. Memanfaatkan suasana cara free day di hari Minggu yang ramah keluarga, petugas memberikan pemahaman mengenai potensi sumber daya alam lokal serta pentingnya perlindungan satwa liar yang dilindungi. Melalui kampanye ini, BKSDA menekankan bahwa keberhasilan konservasi sangat bergantung pada keterlibatan serta dukungan aktif dari masyarakat lokal dan komunitas setempat. Rangkaian kegiatan Road to HKAN 2026 ini menegaskan kembali pesan utama bahwa kelestarian alam adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat, bukan semata tugas lembaga pemerintah. Melalui aksi serentak di berbagai daerah ini, BKSDA Kalimantan Timur mengajak seluruh Sobat Konservasi untuk terus menumbuhkan kepedulian, mengenali kekayaan alam Indonesia, dan mengambil peran aktif dalam menjaga keanekaragaman hayati demi mewariskan lingkungan yang lestari bagi generasi mendatang. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Alamat Baru, Semangat yang Sama, BBKSDA Jawa Timur Perkuat Layanan Digital Konservasi

Sidoarjo, 10 Agustus 2026. Konservasi hari ini tidak hanya berlangsung di tengah hutan, lereng gunung, pulau-pulau kecil, atau ketika petugas berhadapan langsung dengan satwa liar. Sebagian kerja itu kini bergerak melalui ruang digital, menghubungkan informasi, pelayanan, pemantauan, dan masyarakat dalam satu jejaring yang semakin dekat. Memasuki momentum Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur memperkuat pelayanan publik berbasis digital melalui penggunaan domain baru bbksdajawatimur.id. Perubahan tersebut menjadi bagian dari penyesuaian dan penguatan akses terhadap website serta berbagai aplikasi pelayanan BBKSDA Jawa Timur. Sejumlah layanan digital yang sebelumnya menggunakan domain bbksdajatim.org kini secara bertahap beralih menggunakan bbksdajawatimur.id. Website BBKSDA Jawa Timur serta sejumlah aplikasi, antara lain ARJUNA, SIPA, dan GLATIK, telah dapat kembali diakses melalui domain baru tersebut. Sementara itu, beberapa masih dalam proses penyesuaian agar segera dapat digunakan secara optimal. Bagi pengguna, perubahan itu tidak mengubah mekanisme akses ke dalam aplikasi. Akun maupun akses pengguna tetap sama seperti sebelumnya. Penyesuaian terutama dilakukan pada alamat domain layanan, dari bbksdajatim.org menjadi bbksdajawatimur.id. Perubahan alamat tersebut juga diikuti dengan pembaruan sejumlah sarana penghubung layanan. QR Code SIPA dan Pantau Kawah Ijen, misalnya, perlu disesuaikan karena sebelumnya masih terhubung dengan alamat domain lama. Konservasi yang Semakin Dekat Transformasi pelayanan digital menjadi semakin relevan ketika konservasi dituntut untuk hadir lebih dekat dengan masyarakat. Informasi tidak cukup hanya tersedia. Ia harus mudah ditemukan. Pelayanan tidak cukup hanya berjalan. Ia harus mudah dijangkau. Teknologi, dalam konteks ini, menjadi jembatan yang mempertemukan kerja-kerja konservasi dengan masyarakat yang membutuhkan informasi dan pelayanan. Semangat tersebut sejalan dengan momentum Hari Konservasi Alam Nasional 2026 yang mengusung tema “Konservasi Alam, Kerja Bersama Merawat Alam Indonesia.” Kerja bersama itu tidak selalu berlangsung dengan menanam pohon, memulihkan ekosistem, berpatroli di dalam kawasan, atau menyelamatkan satwa liar. Ia juga tumbuh melalui keterbukaan informasi, kemudahan pelayanan, serta ruang digital yang memungkinkan masyarakat terhubung dan mengambil bagian dalam upaya konservasi. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., mengatakan penguatan layanan digital merupakan bagian dari upaya menghadirkan pelayanan konservasi yang semakin mudah dijangkau masyarakat. “Konservasi tidak dapat dikerjakan sendiri. Semangat Hari Konservasi Alam Nasional 2026 mengingatkan kita bahwa merawat alam Indonesia membutuhkan kerja bersama. Karena itu, pelayanan publik juga harus terus beradaptasi agar masyarakat semakin mudah memperoleh informasi, mengakses layanan, dan terlibat dalam upaya konservasi. Perubahan domain ini menjadi bagian dari ikhtiar kami untuk menghadirkan layanan digital yang semakin mudah diakses, sekaligus memperkuat jembatan antara konservasi dan masyarakat.” ujarnya. Alamat Boleh Berubah, Komitmen Tetap Sama Di lapangan, konservasi membutuhkan petugas yang berjalan menembus hutan, masyarakat yang menjaga ruang hidup di sekitarnya, peneliti yang menghadirkan ilmu pengetahuan, serta banyak tangan yang bekerja bersama. Di ruang digital, semangat yang sama diterjemahkan melalui pelayanan yang terus diperbaiki. Karena itu, peralihan menuju bbksdajawatimur.id bukan semata cerita tentang perubahan alamat sebuah website. Ia adalah bagian kecil dari perjalanan yang lebih besar, bagaimana konservasi terus beradaptasi tanpa kehilangan tujuan utamanya. Alamat boleh berubah, tetapi semangatnya tetap sama, melayani masyarakat, menjaga keanekaragaman hayati, dan bekerja bersama merawat alam Indonesia. Bagi pengguna yang mengalami kendala dalam mengakses aplikasi selama masa penyesuaian, dapat menghubungi pengelola layanan BBKSDA Jawa Timur untuk mendapatkan informasi dan bantuan lebih lanjut. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bukan Sekadar Praktik, Hutan Bawean Ubah Cara Pandang dan Tumbuhkan Keberanian

Gresik, 10 Agustus 2026. Rencana awalnya sederhana. Datang ke Pulau Bawean, menjalani kerja praktik, belajar bersama petugas konservasi, lalu pulang sesuai jadwal. Namun alam rupanya punya cara sendiri untuk memperpanjang pelajaran. Empat mahasiswa Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) memulai kerja praktik bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur di Pulau Bawean pada 18 Juli 2026. Masing – masing Disa Naufalia Difani, Dina Aulia Rachma, Amira, dan Viradila Erika Firnanda. Mereka seharusnya meninggalkan pulau pada 27 Juli. Cuaca yang kurang bersahabat membuat jadwal kapal tertunda. Hari kepulangan bergeser. Kerja praktik yang semula direncanakan tak lebih dari sepuluh hari akhirnya berlanjut hingga 6 Agustus 2026. Bagi orang yang sedang menunggu kapal, tambahan hari mungkin terasa panjang. Bagi empat mahasiswa biologi itu, waktu tambahan tersebut justru membuka pintu lebih lebar untuk mengenal Bawean. Mereka tidak hanya melihat konservasi dari meja kerja. Bersama petugas Balai Besar KSDA Jawa Timur, mereka diajak menyusuri kawasan, mengikuti SMART Patrol, mengamati keanekaragaman hayati, membaca tanda-tanda keberadaan satwa, hingga mengikuti kegiatan lapangan selepas matahari tenggelam. Di sanalah teori yang mereka bawa dari kampus mulai bertemu dengan kenyataan. Jejak yang Bercerita Bagi Disa Naufalia Difani, salah satu pengalaman yang sulit dilupakan terjadi ketika mengikuti SMART Patrol. Di lantai hutan, ia menemukan sesuatu yang bagi orang awam mungkin hanya bekas pijakan atau guratan biasa. Ada jejak Babi Kutil Bawean (Sus blouchi). Ada pula bekas goresan tanduk Rusa Bawean (Axis kuhlii) pada batang pohon. Dua satwa yang menjadi bagian penting dari kekayaan hayati Bawean itu tidak selalu mudah dijumpai secara langsung. Namun mereka meninggalkan tanda. Dari jejak itulah petugas mengajarkan bagaimana keberadaan dan aktivitas satwa dapat dikenali tanpa harus berjumpa dengan individunya. Perjumpaan lain datang dari langit. Disa berkesempatan melihat Elang Ular Bido Bawean (Spilornis cheela baweanus), Sikep Madu Asia (Pernis ptilorhynchus) secara langsung. Burung pemangsa yang sebelumnya lebih akrab baginya melalui literatur dan gambar itu kini hadir di depan mata, terbang di bentang alam Bawean. Pengalaman sederhana itu membekas “Selama ini saya lebih banyak belajar di laboratorium. Ketika ikut SMART Patrol, saya bisa melihat langsung jejak babi kutil, goresan tanduk rusa Bawean, sampai Sikep Madu Asia yang sebelumnya belum pernah saya lihat langsung. Dari sini saya merasa ilmu yang dipelajari ternyata jauh lebih luas ketika kita turun sendiri ke lapangan di banding saat di kampus,” tutur Disa. Bawean kemudian menggeser sedikit cara Disa melihat masa depannya sebagai mahasiswa biologi. Laboratorium tetap penting, tetapi ia mulai melihat bahwa hutan juga merupakan laboratorium, hanya saja tanpa dinding dan dengan variabel kehidupan yang jauh lebih kompleks. “Ke depan saya ingin tidak hanya fokus di laboratorium. Saya ingin lebih peduli dan ikut langsung dalam upaya menjaga apa pun yang ada di dalam hutan, baik flora maupun fauna,” lanjutnya. Keberanian yang Tumbuh di Hutan Cerita berbeda datang dari Dina Aulia Rachma. Sebelum menginjakkan kaki di Bawean, pengalaman lapangannya masih terbatas. Praktikum lebih banyak berlangsung di laboratorium dan beberapa kali di kawasan mangrove. Masuk jauh ke dalam hutan, menyusuri jalur yang tidak selalu mudah, apalagi berkegiatan hingga malam, adalah pengalaman baru. Ia bahkan tidak menyangka kerja praktik akan membawanya sejauh itu. Bagi Dina, hutan Bawean bukan hanya menguji pengetahuan. Ia menguji keberanian. Salah satu batas yang akhirnya berhasil ia lewati adalah rasa takut terhadap ular. Ketika petugas menjumpai dan memperkenalkan ular dalam kegiatan lapangan, Dina awalnya memilih menjaga jarak. Petugas kemudian menjelaskan karakter satwa, prinsip keselamatan, serta cara penanganan yang benar. Tidak ada paksaan. Pengetahuan datang lebih dulu, keberanian menyusul kemudian. Dengan pendampingan petugas, Dina akhirnya memberanikan diri memegang ular. “Saya sebelumnya belum pernah masuk ke hutan yang benar-benar seperti ini. Saya juga tidak menyangka akan mengikuti kegiatan sampai malam. Awalnya takut, terutama ketika berhadapan dengan ular. Tetapi setelah dijelaskan dan didampingi petugas, akhirnya saya berani mencoba memegangnya,” kata Dina. Bagi Dina, keberanian kecil itu memiliki arti besar. Ia menyadari bahwa kerja lapangan bukan semata persoalan fisik. Ada kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, bekerja dalam tim, mengendalikan rasa takut, dan mengambil keputusan dengan tenang. “Yang paling terasa justru soft skill-nya. Saya jadi lebih berani berkegiatan di lapangan dan lebih percaya diri mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya lakukan,” ujarnya. Ketika Malam Menjadi Ruang Belajar Ketika sebagian aktivitas manusia mulai berhenti selepas senja, hutan justru memasuki babak kehidupan yang berbeda. Malam itulah yang memberikan pengalaman tersendiri bagi Amira dan Viradila Erika Firnanda. Keduanya berkesempatan mengikuti kegiatan identifikasi kelelawar bersama Lita Febri Riyani mahasiswa Jurusan Kehutanan Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya di kawasan Suaka Alam Pulau Bawean. Di bawah pendampingan petugas, mereka mengenal proses penanganan kelelawar secara langsung, termasuk bagaimana melakukan handling dengan tepat dan berhati-hati. Pengalaman tersebut memberikan gambaran yang berbeda dibandingkan ketika satwa hanya dipelajari melalui foto, spesimen, atau buku identifikasi. Ada satwa hidup di tangan mereka. Ada keselamatan manusia yang harus diperhatikan. Pada saat yang sama, ada kesejahteraan satwa yang tidak boleh diabaikan. “Yang paling berkesan bagi saya adalah ketika ikut identifikasi kelelawar. Saya jadi tahu bagaimana cara handling yang benar. Ternyata memegang satwa untuk kepentingan identifikasi tidak bisa sembarangan. Harus tahu caranya dan tetap memperhatikan kondisi satwanya,” tutur Amira. Viradila Erika Firnanda merasakan pengalaman serupa. Kesempatan mengikuti identifikasi kelelawar membuatnya melihat sisi lain pekerjaan biologi lapangan: ketelitian dan tanggung jawab. “Saya mendapat pengalaman yang hampir sama. Dari kegiatan identifikasi kelelawar saya belajar bagaimana menangani satwa secara langsung dan memahami bahwa setiap proses harus dilakukan dengan hati-hati. Ini menjadi pengalaman baru yang sangat berkesan selama kerja praktik di Bawean,” ungkap Viradila. Bagi Amira dan Viradila, kelelawar malam itu bukan semata objek identifikasi. Satwa-satwa tersebut menjadi pengingat bahwa mempelajari kehidupan berarti pula belajar menghargai kehidupan itu sendiri. Ketika Kawasan Konservasi Menjadi Ruang Belajar Disa belajar membaca jejak. Dina belajar menaklukkan rasa takut. Amira dan Viradila belajar bahwa menyentuh satwa liar membawa tanggung jawab. Empat pengalaman itu berbeda, tetapi tumbuh dari tempat yang sama: kawasan Suaka Alam Pulau Bawean. Kerja praktik akhirnya tidak berhenti pada urusan memenuhi kewajiban akademik. Pertemuan dengan petugas, perjalanan masuk hutan, kegiatan hingga malam, perjumpaan dengan satwa, bahkan jadwal kapal yang tertunda menjadi bagian dari proses belajar yang mungkin sulit ditemukan dalam satu mata kuliah. Di sinilah kawasan konservasi memperlihatkan fungsi lain yang sering luput dibicarakan. Selain menjadi ruang perlindungan bagi proses-proses alami dan keanekaragaman hayati, kawasan juga dapat menjadi ruang belajar bagi generasi yang suatu hari nanti akan meneruskan pekerjaan konservasi. Petugas tidak sekadar menunjukkan nama spesies. Mereka berbagi cara membaca tanda di hutan, bekerja dalam kondisi lapangan, memperlakukan satwa dengan benar, serta memahami bahwa keselamatan manusia dan kesejahteraan satwa harus berjalan beriringan. Bagi Balai Besar KSDA Jawa Timur, membuka ruang belajar seperti ini menjadi bagian penting dalam menumbuhkan generasi muda yang memahami konservasi bukan hanya dari definisinya, tetapi dari pengalaman nyata. Sebab investasi terbesar dalam konservasi bukan hanya menjaga kawasan hari ini, melainkan juga menyiapkan generasi yang kelak melanjutkan estafet perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia. Pada akhirnya, cuaca memang membuat empat mahasiswa itu tinggal lebih lama di Bawean dari rencana semula. Kapal terlambat membawa mereka pulang. Namun barangkali justru karena itulah mereka mendapat waktu lebih panjang untuk belajar. Mereka datang membawa teori dari kampus. Mereka pulang membawa jejak lumpur di sepatu, cerita dari dalam hutan, pengalaman memegang satwa dengan tangan sendiri, keberanian yang sebelumnya belum mereka miliki, dan cara pandang yang tak lagi sama. Bukan sekadar praktik. Sebab terkadang, hutan adalah ruang kelas terbaik untuk memahami arti menjaga kehidupan. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Peringati HKAN 2026, Balai KSDA Kaltim Gelar Gerakan Pemulihan Ekosistem Serentak di CA Teluk Apar dan CA Teluk Adang

PASER, Agustus 2026 – Memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) Tahun 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur melaksanakan Gerakan Pemulihan Ekosistem secara serentak pada Senin (10/08/2026) dengan mengikuti live streaming dari Ditjen KSDAE yang dipusatkan di TWA Muara Angke bersama menteri kehutanan Raja Juli Antoni. Aksi nyata ini dipusatkan di dua kawasan konservasi penting di Kabupaten Paser, yaitu Cagar Alam (CA) Teluk Apar dan Cagar Alam (CA) Teluk Adang. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai langkah strategis untuk memperkuat fungsi ekosistem serta mengembalikan kelestarian lingkungan kawasan pesisir dan mangrove di Kalimantan Timur. Gerakan pemulihan ekosistem ini menitikberatkan pada penanganan area yang membutuhkan rehabilitasi agar struktur serta fungsi ekologisnya kembali optimal. Langkah ini krusial untuk memastikan kawasan cagar alam tetap tangguh menghadapi perubahan iklim dan gangguan lingkungan. Melalui kegiatan penanaman kembali dan pengayaan vegetasi di CA Teluk Apar dan CA Teluk Adang, Balai KSDA Kaltim berkomitmen untuk menjaga daya dukung lingkungan serta melindungi habitat berbagai keanekaragaman hayati yang bergantung pada ekosistem tersebut. Momentum Peringatan HKAN 2026 menjadi pengingat bersama bahwa upaya konservasi tidak sebatas menjaga dan melindungi keanekaragaman hayati yang tersisa, tetapi juga merawat serta memulihkan ekosistem yang rusak. "Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional bukan sekadar seremoni, melainkan pengingat bahwa menjaga alam adalah tentang keberlanjutan. Kita tidak hanya melindungi apa yang masih ada, tetapi juga harus aktif memulihkan ekosistem agar tetap mampu menjadi ruang hidup yang aman dan sehat bagi seluruh keanekaragaman hayati di dalamnya," ungkap perwakilan BKSDA Kalimantan Timur. Melalui Gerakan Pemulihan Ekosistem ini, Balai KSDA Kalimantan Timur terus mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk memperkuat kepedulian terhadap alam. Menjaga kelestarian kawasan konservasi merupakan investasi jangka panjang demi terwujudnya lingkungan hidup yang seimbang dan lestari bagi generasi mendatang. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Tak Semua yang Hijau Baik bagi Hutan, 27 Tumbuhan Berpotensi Invasif Kepung Cagar Alam Manggis Gadungan

Kediri, 12 Agustus 2026. Hutan yang hijau belum tentu sedang baik-baik saja. Di Cagar Alam Manggis Gadungan, Kabupaten Kediri, pelajaran itu sedang dibaca dari sesuatu yang sekilas justru tampak sebagai tanda kesuburan, tumbuhan yang tumbuh, merambat, dan memenuhi ruang di antara tegakan. Hasil analisis risiko mencatat 27 jenis tumbuhan berpotensi invasif di kawasan tersebut. Dari jumlah itu, tiga jenis menempati prioritas pengendalian dengan nilai keinvasifan tertinggi, yakni Poikilospermum suaveolens, Senegalia pennata, dan Marsdenia sinensis. Ketiganya memiliki kesamaan: berhabitus liana atau tumbuhan merambat. Temuan tersebut menjadi salah satu pembahasan penting dalam Focus Group Discussion (FGD) Dokumen Analisis Risiko Invasive Alien Species (IAS) Cagar Alam Manggis Gadungan, yang diselenggarakan Balai Besar Konservasi Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada Rabu (5/8), di Ruang Rapat Kelud, Fave Hotel Kediri, secara hybrid. Forum itu tidak sekadar membicarakan tumbuhan mana yang harus dikendalikan. Ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar tentang Bagaimana mengetahui bahwa sesuatu yang tumbuh hijau di dalam hutan justru mulai memberikan tekanan terhadap ekosistemnya. Jawabannya tidak dapat diberikan hanya dengan melihat. Ia membutuhkan data. Ketika Hijau Tak Lagi Cukup Menjadi Ukuran Bagi kebanyakan orang, hutan yang rimbun adalah hutan yang sehat. Semakin rapat vegetasinya, semakin hijau tajuknya, semakin mudah pula kita beranggapan bahwa alam sedang baik-baik saja. Namun ekosistem bekerja dengan cara yang jauh lebih rumit. Di dalam hutan berlangsung kompetisi mendapatkan cahaya, ruang, air, dan unsur hara. Setiap tumbuhan memiliki strategi bertahan hidup. Ada yang tumbuh perlahan di bawah naungan, ada yang menjulang membangun tajuk, dan ada pula yang merambat dengan memanfaatkan tumbuhan lain sebagai penopang. Liana adalah bagian dari dinamika alami banyak ekosistem hutan. Kehadirannya tidak serta-merta berarti ancaman. Persoalan muncul ketika jenis tertentu berkembang sedemikian dominan sehingga berpotensi memberikan tekanan terhadap vegetasi lain dan memengaruhi struktur maupun proses ekologis di dalam kawasan. Karena itulah, konservasi tidak dapat bekerja hanya berdasarkan apa yang tampak oleh mata. Keputusan harus dibangun dari pengetahuan. Membaca Risiko, Bukan Sekadar Mencabut Tumbuhan Penyusunan Dokumen Analisis Risiko IAS Cagar Alam Manggis Gadungan dilakukan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengelolaan tumbuhan invasif sekaligus bagian dari upaya pemulihan ekosistem. Analisis risiko digunakan untuk menentukan prioritas pengelolaan dengan mempertimbangkan risiko invasi dan fisibilitas atau kelayakan pengendaliannya. Melalui serangkaian pertanyaan dan sistem pemberian skor, setiap jenis dibandingkan berdasarkan nilai relatif risiko dan kemungkinan pengendaliannya. Hasilnya kemudian dikelompokkan ke dalam kategori mulai sangat tinggi, tinggi, medium, rendah hingga kategori yang dapat diabaikan. Dengan demikian, pengendalian tidak dilakukan hanya karena suatu tumbuhan terlihat banyak atau dianggap mengganggu. Ada dua pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu, Seberapa besar risikonya bagi ekosistem? Dan, seberapa memungkinkan jenis tersebut dikendalikan tanpa menimbulkan persoalan ekologis baru? Dua pertanyaan itu penting. Sebab di kawasan konservasi, mencabut tumbuhan pun tidak boleh dilakukan sembarangan. Tiga Liana Menjadi Prioritas Dari 27 jenis tumbuhan berpotensi invasif yang dianalisis, tiga jenis memperoleh nilai keinvasifan tertinggi dan menjadi prioritas pengendalian: Poikilospermum suaveolens, Senegalia pennata, dan Marsdenia sinensis. Ketiganya merupakan liana. Liana memiliki strategi hidup yang khas. Alih-alih menghabiskan banyak energi membangun batang kokoh untuk mencapai cahaya, tumbuhan ini memilih merambat memanfaatkan vegetasi lain sebagai penopang menuju bagian atas tajuk. Strategi tersebut merupakan bagian dari perjalanan evolusi tumbuhan dan memiliki tempat dalam ekosistem hutan. Karena itu, persoalannya bukan tentang liana baik atau liana buruk. Yang harus dipahami adalah jenisnya, tingkat dominansinya, pola penyebarannya, risiko ekologis yang ditimbulkan, serta bagaimana kemungkinan pengendaliannya. Di Cagar Alam Manggis Gadungan, hasil analisis risiko memberikan dasar awal untuk menentukan jenis mana yang membutuhkan perhatian lebih dahulu. Namun menetapkan prioritas bukan berarti pekerjaan telah selesai. Justru dari situlah pekerjaan sebenarnya dimulai. Kegelisahan yang Menyeberangi Batas Cagar Alam Diskusi kemudian membawa persoalan tumbuhan invasif keluar dari batas Cagar Alam Manggis Gadungan. Perwakilan Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek bersama pegiat konservasi di Kediri menyampaikan kegelisahan terhadap kondisi sejumlah kawasan pelindung sumber mata air yang antara lain ditopang oleh keberadaan jenis-jenis Ficus. Di kawasan tersebut juga dijumpai persoalan tumbuhan invasif, sementara beberapa pohon besar dilaporkan tumbang. Kondisi itu memunculkan harapan adanya kolaborasi untuk menangani tumbuhan invasif pada kawasan-kawasan penting bagi perlindungan sumber mata air di Kediri. Kegelisahan tersebut membawa diskusi pada perspektif yang lebih luas. Alam tidak mengenal batas administratif seperti manusia mengenal garis di atas peta. Air mengalir melewati batas desa. Satwa berpindah melintasi bentang alam. Benih dapat terbawa angin, air, satwa maupun aktivitas manusia. Karena itu, persoalan ekologis di sebuah kawasan konservasi dapat menjadi pembelajaran bagi wilayah di sekitarnya begitu pula sebaliknya. Saat Banyak Mata Membaca Hutan yang Sama FGD mempertemukan mereka yang melihat hutan dari sudut pandang berbeda. Hadir secara langsung antara lain Dinas Lingkungan Hidup Kediri, Cabang Dinas Kehutanan Trenggalek, Seksi Konservasi Wilayah I Kediri, Muspika Kecamatan Puncu, serta pemerintah desa penyangga cagar alam: Desa Manggis, Desa Wonorejo, dan Desa Asmorobangun. Forum juga melibatkan Yayasan Masyarakat Ficus Indonesia, Wild Water Indonesia, Pramuka Saka Wanabakti Kediri, Pokmas Alas Simpenan Sejahtera, Mapala Pelita, staf lingkup Balai Besar KSDA Jawa Timur, serta Kader Konservasi Rudiyanto. Sementara melalui ruang virtual bergabung unsur lingkup BBKSDA Jawa Timur, dosen dan mahasiswa Universitas Brawijaya, serta peneliti Kebun Raya Purwodadi. Mereka membawa pengalaman dan pengetahuan masing-masing. Ada yang mengenal kebijakan. Ada yang memahami tumbuhan. Ada yang bekerja langsung di lapangan. Dan, ada pula masyarakat yang hidup berdampingan dengan bentang alam tersebut. Seluruh peserta diberikan ruang menyampaikan pendapat, pertanyaan, pengalaman hingga dukungan terhadap analisis risiko dan upaya pengendalian jenis berpotensi invasif di Cagar Alam Manggis Gadungan. Memulihkan Hutan Tidak Selalu dengan Menanam Ada gambaran yang telanjur melekat kuat ketika kita berbicara tentang pemulihan hutan: bibit, lubang tanam, tangan yang menggenggam tanah, lalu pohon kecil berdiri di tempat yang sebelumnya terbuka. Penanaman memang menjadi salah satu instrumen penting dalam pemulihan ekosistem ketika kondisi ekologis membutuhkannya. Tetapi pemulihan ekosistem tidak identik dengan penanaman pohon. Di beberapa tempat, pekerjaan yang lebih penting justru memastikan regenerasi alami memiliki kesempatan tumbuh. Di tempat lain, gangguan harus terlebih dahulu dikurangi. Dan pada ekosistem yang menghadapi tekanan tumbuhan invasif, pengendalian dapat menjadi bagian penting dari perjalanan menuju pemulihan. Itulah mengapa pekerjaan konservasi terkadang tidak menghasilkan pemandangan dramatis. Tidak selalu ada ribuan bibit yang ditanam dalam sehari. Tidak selalu ada angka besar yang mudah dipamerkan. Kadang pekerjaan itu hanya berupa seseorang yang berjalan perlahan di bawah tajuk, mencatat jenis, mengukur dominansi, membandingkan data, dan kembali datang beberapa bulan kemudian untuk melihat apakah sesuatu telah berubah. Konservasi memang sering bekerja seperti itu. Perlahan. Berulang. Dan membutuhkan kesabaran. Tak Semua yang Hijau Baik bagi Hutan Dari kejauhan, Cagar Alam Manggis Gadungan tetap terlihat hijau. Namun kini ada 27 jenis tumbuhan berpotensi invasif yang telah masuk dalam analisis risiko. Tiga liana berada pada prioritas pengendalian berdasarkan nilai keinvasifannya. Angka itu bukan alasan untuk memandang hutan dengan ketakutan. Sebaliknya, ia adalah alasan untuk mengenalnya lebih dalam. Sebab ancaman terhadap hutan tidak selalu datang sebagai api yang membakar tajuk, suara gergaji yang merobohkan pohon, atau lahan terbuka yang mudah terlihat dari kejauhan. Karena itulah, menjaga Cagar Alam Manggis Gadungan bukan hanya tentang mempertahankan warna hijaunya. Yang jauh lebih penting adalah memastikan kehidupan di balik warna hijau itu tetap memiliki ruang, keragaman, dan keseimbangan untuk bertahan. Sebab pada akhirnya, hutan tidak membutuhkan manusia sekadar untuk membuatnya terlihat hijau. Hutan membutuhkan kita untuk memahami kapan warna hijau itu merupakan kehidupan dan kapan ia sedang memberi tanda bahwa sesuatu mulai berubah. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Bidang KSDA Wilayah I Madiun, Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 17–32 dari 2.501 publikasi