Sabtu, 10 Okt 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

BKSDA Kaltim Bersama Mitra Bergerak Cepat Amankan Kawasan Hutan dan Habitat Satwa di Teluk Bayur Berau

Berau, Oktober 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi salah satu ancaman utama yang berpotensi merusak ekosistem hutan serta mengancam keberlangsungan hidup satwa liar yang dilindungi di wilayah Kalimantan Timur. Merespon situasi dan dinamika perubahan iklim di lapangan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) melakukan tindakan korektif dan responsif dengan menggelar kegiatan pengendalian karhutla intensif di Kecamatan Teluk Bayur, Kabupaten Berau, pada kurun waktu 13 hingga 18 September 2026. Fokus kegiatan pengendalian dan mitigasi bencana kebakaran ini pada dua titik krusial di wilayah Teluk Bayur, yakni kawasan Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan serta area pemulihan satwa milik Centre for Orangutan Protection (COP). Kedua kawasan ini memiliki nilai penting sebagai benteng konservasi dan habitat tempat perlindungan berbagai jenis satwa liar, termasuk orangutan. Rangkaian aksi lapangan yang dilakukan oleh tim gabungan melingkupi kegiatan pemantauan (monitoring) kondisi tutupan lahan secara berkala, deteksi dini melalui ground check, hingga aksi pemadaman langsung (direct suppression) terhadap titik-titik api (hotspot) yang ditemukan di lokasi. Langkah cepat ini diambil guna melokalisir pergerakan api agar tidak menjalar lebih luas ke dalam kawasan hutan inti serta meminimalisir dampak asap terhadap keanekaragaman hayati sekitar. Dalam merealisasikan penanganan karhutla yang efektif, BKSDA Kaltim mengedepankan asas kolaborasi dan sinergi lintas institusi. Pelaksanaan operasi lapangan ini melibatkan koordinasi erat bersama Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Wilayah V, Manggala Agni Kementerian Kehutanan, serta mitra konservasi dari Centre for Orangutan Protection (COP). Kehadiran tim gabungan ini membuktikan bahwa penanganan bencana karhutla memerlukan kesiapan fisik, ketepatan data, serta respons yang cepat dari berbagai elemen. Kerja sama antarlembaga dan partisipasi aktif para mitra di lapangan menjadi kunci utama dalam memastikan setiap ancaman kebakaran dapat ditanggulangi sedini mungkin. Melalui upaya dan sinergi yang berkelanjutan ini, BKSDA Kaltim menegaskan komitmennya untuk terus menjaga integritas kawasan hutan dan melindungi keanekaragaman hayati Kalimantan Timur dari ancaman karhutla. BKSDA Kaltim juga mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya warga yang bermukim di sekitar kawasan hutan, untuk turut berperan aktif menjaga lingkungan, menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, serta segera melaporkan potensi titik api kepada petugas terdekat. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Warga Manggis Belajar Menjaga Hutan dan Membaca Pasar dari Kandang Kambing

Pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi tidak selalu dimulai dari dalam hutan. Di Kediri, jalannya bisa berawal dari kandang kambing, belajar pakan, kesehatan ternak, hingga mencari cara agar peternak tidak selalu kalah ketika harga jatuh. Kediri, 5 Oktober 2026. Menjaga hutan tidak selalu berarti berdiri di antara pepohonan. Anggota Kelompok Masyarakat Alas Simpenan Sejahtera, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, justru berkumpul di antara kandang kambing Barokah Farm Kediri, Desa Ngadiloyo, Selasa (22/9). Mereka datang membawa persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan peternak: bagaimana ternak tetap sehat, pakan dikelola dengan baik, usaha berkembang, dan hasilnya memiliki nilai ketika tiba waktunya dijual. Melalui pelatihan peningkatan usaha ekonomi produktif, Tim Seksi KSDA Wilayah (SKW) I – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengajak kelompok melihat peternakan bukan sekadar urusan memelihara kambing sampai besar, tetapi sebagai usaha yang harus dibaca dari hulu hingga hilir. Pendiri Barokah Farm Kediri, dr. Taufan Hidayat, M.MRS., membawa peserta langsung pada persoalan sehari-hari peternak: persiapan usaha, perawatan, manajemen pakan, penyakit hingga pemasaran. Diskusi menjadi semakin relevan ketika peserta membicarakan kondisi harga daging kambing yang sedang rendah serta dinamika perdagangan ternak. Sebab bagi peternak, keberhasilan tidak berhenti ketika kambing tumbuh sehat. Ternak yang baik tetap harus bertemu pasar yang baik. Karena itu, peserta diperkenalkan pada kemungkinan kemitraan dengan Barokah Farm, baik melalui pola penggemukan maupun breeding. Mereka juga diajak membaca peluang lain dalam rantai usaha peternakan agar pendapatan tidak hanya bergantung pada menjual ternak. Taufan, yang juga berkecimpung dalam asosiasi peternak di Kabupaten Kediri, membuka kesempatan bagi perwakilan kelompok untuk bergabung sehingga akses terhadap informasi, jejaring dan konsultasi usaha dapat terus berlanjut. Pelatihan Bukan Pertemuan Terakhir Kepala Seksi KSDA Wilayah I Kediri, Dr. Ruky Umaya, berharap peningkatan kemampuan beternak tersebut pada akhirnya dapat memperkuat ekonomi anggota kelompok. Pesannya sederhana, bahwa pelatihan tidak boleh selesai ketika peserta meninggalkan lokasi. Pertemuan di Barokah Farm justru menjadi awal hubungan. Anggota kelompok dipersilakan kembali berkonsultasi ketika menghadapi persoalan ternak maupun pengembangan usaha. Di situlah pemberdayaan masyarakat menemukan maknanya. Konservasi tidak hanya berbicara tentang apa yang tidak boleh dilakukan terhadap hutan. Ia juga perlu membantu masyarakat di sekitarnya menemukan pilihan usaha yang dapat tumbuh dan bertahan. Hari itu tidak ada pohon yang ditanam dan tidak ada patroli memasuki hutan. Yang dibangun adalah keterampilan, jejaring dan peluang ekonomi. Sebab bagi masyarakat yang hidup dekat dengan kawasan, hutan yang tetap terjaga dan dapur yang tetap menyala semestinya tidak harus menjadi dua pilihan yang saling berhadapan. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

BKSDA Kaltim Gelar Pembahasan Hasil Kajian Kelayakan Habitat Orangutan di Hutan Lindung Wehea

Samarinda, Oktober 2026 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim) menggelar pembahasan hasil kajian cepat kelayakan habitat Orangutan di Hutan Lindung Wehea (Huliwa) pada Jumat, 25 September 2026. Pertemuan tersebut berlangsung mulai pukul 09.00 WITA bertempat di Ruang Rapat Sangalaki, Kantor BKSDA Kaltim, Jalan Teuku Umar, Samarinda. Rapat kerja dan pembahasan ini dilaksanakan berdasarkan hasil tindak lanjut atas penyampaian laporan Tim kajian kelayakan habitat di kawasan Hutan Lindung Wehea. Kajian cepat ini bertujuan untuk menilai serta memastikan daya dukung lingkungan dan kelayakan ekologis kawasan Hutan Lindung Wehea sebagai habitat pelestarian orangutan. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala BKSDA Kaltim, M. Ari Wibawanto, S.Hut., M.Sc., serta dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) terkait. Di antara instansi dan lembaga yang diundang hadir meliputi: Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur, KPHP Kelinjau, Kepala Subbag Tata Usaha Balai KSDA Kaltim, Kepala Seksi KSDA Wilayah II Tenggarong, Yayasan Jejak Pulang, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dan Tim Pelaksana Kajian Cepat Kelayakan Habitat Orangutan Huliwa. Melalui pembahasan hasil kajian ini, diharapkan terbentuk sinergi serta komitmen bersama antarinstansi pemerintah, pengelola kawasan, dan mitra konservasi dalam merumuskan langkah-langkah strategis perlindungan keanekaragaman hayati, khususnya pelestarian satwa dilindungi orangutan di wilayah Kalimantan Timur. Sumber: Balai KSDA Kalimantan Timur
Baca Artikel

Nyaris Terlindas Truk, Trenggiling Bojonegoro Kembali ke Hutan

Ditemukan warga di tepi jalan, seekor trenggiling selamat beberapa saat sebelum truk melintas. Sehari kemudian, perjalanan satwa itu berakhir di tempat yang semestinya: alam liar. Bojonegoro, 5 Oktober 2026. Malam itu, mungkin hanya beberapa detik yang memisahkan seekor Trenggiling dari roda kendaraan. Satwa jenis Trenggiling (Manis javanica) ditemukan warga Desa Paling, Kecamatan Gondang, Kabupaten Bojonegoro, di tepi jalan raya pada Kamis, 1 Oktober 2026. Posisinya nyaris tertabrak truk yang melintas. Warga memilih berhenti dan mengamankannya. Informasi kemudian diteruskan kepada Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) dan Damkar Kabupaten Bojonegoro. Melalui Damkar, Trenggiling tersebut diserahkan kepada Tim Matawali untuk mendapatkan penanganan. Tidak lama berada dalam penanganan manusia, satwa itu mendapat kesempatan kembali ke alam. Sehari Kemudian, Kembali Liar. Tim Resort Konservasi Wilayah (RKW) 03 dan Seksi KSDA Wilayah II Bojonegoro membawa trenggiling menuju kawasan Hutan Lindung Kerawak, Kecamatan Montong, Kabupaten Tuban, Jumat (2/10). Pelepasliaran melibatkan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), KRPH Mulyoagung beserta jajaran lapangan RPH Mulyoagung, BKPH Mulyoagung, KPH Parengan, serta tokoh masyarakat Desa Mulyoagung dan Desa Guwoterus. Lokasi tersebut dipilih sebagai habitat alami trenggiling sebagaimana hasil koordinasi tim. Perjalanan satwa itu pun berbalik arah. Sehari sebelumnya ia berada di tepi jalan, berhadapan dengan kendaraan dan ruang hidup manusia. Sehari kemudian, tanah hutan kembali berada di bawah sisiknya. Ada peran banyak tangan di antara dua peristiwa tersebut. Warga yang memilih menyelamatkan. Damkar yang membantu penanganan. Petugas konservasi, Perhutani, MMP, dan masyarakat yang kemudian mengantarkannya kembali ke alam. Tak ada operasi besar dalam cerita ini.Hanya seseorang yang melihat satwa liar di tepi jalan dan memilih tidak membiarkannya terlindas. Pilihan sederhana itu akhirnya memberi satu ekor trenggiling kesempatan kedua. Dari tepi jalan di Bojonegoro menuju Hutan Kerawak di Tuban, kali ini, perjalanan Trenggiling itu berakhir jauh dari roda kendaraan dan kembali menuju alam liar. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah I Madiun - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Malam-malam Trenggiling Muncul di Wonoayu, Warga Memilih Menyerahkannya

Ditemukan di sekitar permukiman yang berdekatan dengan aliran sungai, seekor trenggiling seberat sekitar 2,5 kilogram akhirnya dievakuasi Tim MATAWALI BBKSDA Jawa Timur. Sidoarjo, 5 Oktober 2026. Malam di Desa Tanggul Kidul, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, membawa perjumpaan yang tidak biasa. Seekor trenggiling (Manis javanica) ditemukan warga di sekitar permukiman yang berdekatan dengan aliran sungai. Satwa itu masih hidup dan bergerak liar. Warga tidak memilih memeliharanya. Informasi penemuan diteruskan melalui M. Tohir dari Family Satwa Sidoarjo kepada Seksi KSDA Wilayah (SKW) III Surabaya, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur, Jumat (2/10), dengan satu tujuan, Trenggiling tersebut akan diserahkan kepada negara untuk mendapatkan penanganan. Laporan itu kemudian ditindaklanjuti Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) SKW III Surabaya. Adnan Aribowo, Cicik Sulfa Dewi, dan Ego Lion Sakty bergerak menuju lokasi dengan membawa perlengkapan evakuasi satwa. Setelah berkoordinasi dan menggali informasi mengenai kronologi penemuan, petugas melakukan pemeriksaan awal. Trenggiling tersebut memiliki berat sekitar 2,5 kilogram. Berdasarkan pengamatan visual, sisiknya masih tampak gelap dan perilakunya masih liar. Petugas juga tidak menemukan tanda-tanda pemeliharaan pada pemeriksaan awal. Proses evakuasi dilakukan menggunakan kandang angkut untuk meminimalkan stres dan risiko cedera. Setelah penyerahan sukarela dituangkan dalam berita acara, trenggiling dibawa menuju Kandang Transit Unit Penyelamatan Satwa BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo. Di sana, kondisinya akan diperiksa lebih lanjut dan mendapatkan penanganan medis, perawatan serta rehabilitasi sesuai prosedur sebelum keputusan penanganan berikutnya ditentukan. Belum diketahui mengapa Trenggiling tersebut sampai berada di sekitar permukiman. Karena itu, kemunculannya tidak perlu buru-buru diterjemahkan sebagai perubahan habitat ataupun gangguan tertentu tanpa pemeriksaan lebih lanjut. Namun ada satu hal yang sudah jelas dari kejadian malam itu. Ketika satwa liar muncul di ruang hidup manusia, warga memilih melapor daripada menjadikannya peliharaan. Pilihan sederhana itulah yang memberi Trenggiling kesempatan mendapatkan penanganan yang semestinya. Sebab penyelamatan satwa liar tidak selalu dimulai dari operasi besar di tengah hutan. Kadang ia bermula pada malam yang biasa, di dekat aliran sungai, ketika seseorang menemukan seekor trenggiling, lalu memilih membiarkannya tetap menjadi satwa liar. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Langit Argopuro Mulai Mendung, Hotspot Tak Lagi Terpantau

Situbondo, 1 Oktober 2026. Setelah berhari-hari api bertahan di bentang Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang, perkembangan pada Rabu (30/9) membawa sedikit kabar baik. Pemantauan melalui tiga sumber, Hotspot Hutan Konservasi (KSDAE), NASA FIRMS, dan SIPONGI, tidak menunjukkan adanya hotspot di dalam kawasan sepanjang hari. Kabar itu belum membuat petugas lengah. Pengalaman sehari sebelumnya menunjukkan bahwa apa yang tidak terbaca satelit belum tentu sepenuhnya menggambarkan keadaan di lapangan. Pada Selasa (29/9), hotspot yang terpantau sangat sedikit, tetapi tim yang turun dari kawasan masih melihat sejumlah titik api secara langsung. Kabut asap yang pekat saat itu turut membatasi jarak pandang. Karena itu, pemantauan lapangan tetap menjadi bagian penting. Dalam pengendalian kebakaran hutan, informasi hotspot memang perlu ditindaklanjuti dengan pengecekan kondisi sebenarnya di lapangan. Dari Pos Baderan, petugas terus berkoordinasi dengan Masyarakat Mitra Polhut (MMP), warga, dan pelaku wisata. Vegetasi berupa rumput, semak, hingga cemara gunung yang terdampak kebakaran tetap menjadi perhatian, terutama kemungkinan masih tersimpannya bara pada tunggak dan material vegetasi kering. Ada satu perubahan yang cukup terasa hari itu adalah langit mulai mendung. Sejak siang hingga sore, mendung menggantung di sekitar Baderan. Gerimis tipis bahkan sempat turun di sekitar ladang dan perkebunan kopi. Setelah hari-hari panjang menghadapi api dan sulitnya memperoleh air di ketinggian, perubahan cuaca sekecil itu memberi harapan. Bagi petugas, pekerjaan tetap berjalan seperti biasa, tetap memantau, berkoordinasi, membaca perkembangan cuaca, dan memastikan kondisi kawasan berdasarkan informasi lapangan. Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) belum menjadikan nihilnya hotspot hari ini sebagai tanda bahwa pekerjaan telah selesai. Terlebih, pemantauan satelit merupakan alat deteksi yang tetap perlu dibaca bersama hasil pengecekan lapangan. Namun setelah berhari-hari menghadapi api di medan Argopuro, mendung dan beberapa tetes hujan tetap pantas disambut sebagai kabar baik. Hari ini hotspot tak terpantau. Langit mulai mendung. Petugas tetap berjaga. Sebab di Argopuro, padamnya api bukan akhir pekerjaan. Memastikan bara benar-benar mati adalah bagian dari menjaganya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Mencari Air, Temukan Kakatua: Cerita Penyelamatan dari Masakambing

Perjalanan seorang warga menuju Dusun Tanjung untuk mengambil air bersih berubah menjadi penyelamatan seekor Kakatua Kecil Jambul Kuning. Kini burung itu dirawat, menunggu cukup kuat untuk kembali terbang. Masakambing, Sumenep, 2 Oktober 2026. Romlah awalnya hanya hendak mengambil air bersih, Kamis, 1 Oktober 2026. Warga Pulau Masakambing, Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, itu sedang menuju Dusun Tanjung ketika sebuah suara menghentikan langkahnya. Suara seekor kakatua. Romlah kemudian menemukan Kakatua Kecil Jambul Kuning (Cacatua sulphurea abbotti) dalam kondisi yang membutuhkan pertolongan. Burung tersebut diamankan sebelum akhirnya diserahkan secara sukarela untuk mendapatkan penanganan. Proses penyelamatan tidak sepenuhnya mudah. Saat mengevakuasi burung, jari tangan Romlah sempat terluka akibat goresan paruh. Namun kakatua itu berhasil diselamatkan. Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) kemudian melakukan penanganan awal untuk memastikan kondisinya tetap aman. Untuk sementara, burung tersebut berada dalam perawatan dan pemantauan di kediaman Usman Daeng di Pulau Masakambing. Fokus saat ini bukan buru-buru melepasliarkannya. Kondisi satwa perlu dipantau terlebih dahulu. Jika hasil pemeriksaan dan penanganan selanjutnya menunjukkan kondisi yang memungkinkan, burung tersebut diharapkan dapat kembali terbang dan dilepasliarkan ke habitat alaminya. Cerita Romlah menunjukkan bahwa penyelamatan satwa liar kadang tidak dimulai dari operasi besar. Ia bisa bermula dari perjalanan sederhana mengambil air, sebuah suara dari kejauhan, lalu keputusan untuk tidak membiarkan satwa yang ditemukannya begitu saja. Romlah bahkan harus menerima luka kecil di jarinya. Tetapi jika pemulihan berjalan baik, luka itu kelak menyisakan cerita yang jauh lebih besar tentang seekor kakatua kembali mengepakkan sayapnya di langit Masakambing, bukan hidup dalam sangkar. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Satu Mangrove, Berbeda Peta: Jawa Timur Sinkronkan Data Pesisir

Bukan sekadar menanam. Jawa Timur mulai menyelaraskan peta, status ruang, dan program agar perlindungan mangrove bergerak dengan pijakan yang sama. Surabaya, 1 Oktober 2026. Jawa Timur tidak kekurangan program mangrove. Tantangannya adalah memastikan semua pihak bekerja dengan peta dan arah pengelolaan yang sama. Data yang dibahas dalam Kelompok Kerja Pengelolaan Ekosistem Mangrove Daerah (KKMD) Provinsi Jawa Timur (29/9/2026) menunjukkan masih terdapat perbedaan cakupan antara Kesatuan Lanskap Mangrove (KLM), Peta Mangrove Nasional (PMN), dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). KLM Jawa Timur tercatat seluas 105.875,46 ha. Dari luasan tersebut, 78.470,84 ha diarahkan untuk fungsi lindung dan 27.272,79 ha untuk fungsi budidaya. Ketika peta disandingkan, muncul sejumlah catatan. Sekitar 7.809 ha Kawasan Ekosistem Mangrove dalam RTRW Jawa Timur disebut belum terakomodasi dalam KLM. Data PMN 2025 juga mencatat sekitar 1.897 ha yang belum terakomodasi dalam KLM, sementara kajian lainnya mencatat sekitar 399 ha kawasan mangrove yang tidak termasuk dalam KLM maupun PMN. Angka tersebut tidak dapat serta-merta dijumlahkan atau dimaknai sebagai mangrove yang hilang. Namun satu hal menjadi jelas, bahwa data spasial mangrove perlu disinkronkan sebelum menjadi pijakan kebijakan dan kegiatan di lapangan. Dari Banyak Peta Menuju Satu Arah Penyelarasan tersebut menjadi salah satu pekerjaan KKMD Jawa Timur, forum multipihak yang dibentuk melalui Keputusan Gubernur Jawa Timur untuk periode 2026–2029. Di dalamnya bertemu unsur pemerintah pusat dan daerah, akademisi, kelompok masyarakat, serta pegiat mangrove untuk menyelaraskan data dan program pengelolaan ekosistem mangrove. Outputnya diarahkan menjadi bahan penyusunan Rencana Aksi Pengelolaan Ekosistem Mangrove Jawa Timur 2026–2029. Dan pekerjaan itu bukan sekadar menentukan dimana bibit akan ditanam. Rehabilitasi harus didahului inventarisasi dan validasi lokasi, mempertimbangkan kesesuaian jenis dan substrat, kemudian diikuti pemeliharaan serta monitoring. Tidak semua pesisir harus ditanami mangrove. Tidak setiap penanaman otomatis menjadi rehabilitasi. Forum juga menegaskan bahwa kesesuaian lokasi, jenis, dan substrat menjadi faktor penting dalam keberhasilan penanaman mangrove. Kawasan Konservasi Harus Tetap Terbaca BBKSDA Jawa Timur mendorong agar penyelarasan tersebut tetap memperhatikan status dan fungsi kawasan konservasi. Data mangrove yang berada di dalam maupun bersinggungan dengan kawasan konservasi perlu diinventarisasi sebagai bagian dari penyusunan rencana aksi. Kejelasan status lahan juga menjadi perhatian agar program yang direncanakan tidak menimbulkan persoalan ketika diterapkan di lapangan. Seluruh anggota KKMD selanjutnya didorong menyelaraskan program agar pelaksanaan, pemeliharaan, dan monitoring dapat berjalan terpadu. Pada akhirnya, Jawa Timur tidak membutuhkan sekadar peta baru atau lebih banyak kegiatan penanaman. Yang dibutuhkan adalah data yang bertemu, status ruang yang jelas, dan program yang bergerak ke arah yang sama. Sebab sebelum menanam mangrove, ada pekerjaan yang lebih mendasar, yaitu memastikan semua pihak sedang membaca pesisir yang sama. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) – Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Bukan di Hutan, Dua Merak Hijau Ditemukan Makan Bersama Ayam dan Bebek

Dua Merak Hijau jantan muncul di pekarangan warga Kota Mojokerto. Satu berhasil dievakuasi Tim MATAWALI, satu lainnya terbang dan masih dalam pemantauan. Mojokerto, 2 Oktober 2026. Pemandangan tak biasa muncul di pekarangan belakang rumah Adna, warga Jalan Raya Meri, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto. Di antara ayam dan bebek peliharaan yang sedang makan, berdiri dua ekor Merak Hijau (Pavo muticus) jantan. Informasi tersebut diterima Seksi KSDA Wilayah III Surabaya dan ditindaklanjuti Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (Matawali) – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) pada Sabtu, 26 September 2026. Setibanya di lokasi, petugas memastikan kedua burung yang dilaporkan memang berada di pekarangan. Tim kemudian melakukan upaya evakuasi dengan hati-hati. Satu merak berhasil diamankan. Namun ketika proses berlangsung, satu individu lainnya terbang meninggalkan lokasi. Petugas melanjutkan pencarian dan pemantauan hingga malam hari, tetapi merak kedua belum berhasil ditemukan. Sebelum meninggalkan lokasi, Tim Matawali meminta Adna segera menghubungi petugas apabila burung tersebut kembali terlihat. Koordinasi terus dilakukan, namun hingga Kamis, 1 Oktober 2026, keberadaan merak kedua belum diketahui. Sementara itu, satu individu yang berhasil dievakuasi telah dibawa ke kandang transit Unit Penyelamatan Satwa (UPS) BBKSDA Jawa Timur di Sidoarjo untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Kemunculan dua merak hijau di tengah permukiman menyisakan pertanyaan yang belum perlu dijawab tergesa-gesa: dari mana keduanya berasal dan bagaimana bisa sampai ke pekarangan warga? Untuk saat ini, keselamatan satwa menjadi prioritas, sementara keberadaan individu kedua masih terus dipantau. Ada satu hal yang patut diapresiasi dari kejadian ini. Ketika satwa liar muncul di ruang hidup manusia, warga memilih melapor dan memberi kesempatan petugas melakukan penyelamatan. Sebab terkadang konservasi tidak dimulai jauh di tengah hutan. Ia bisa bermula dari pekarangan rumah, ketika dua merak hijau tiba-tiba datang, lalu makan bersama ayam dan bebek milik warga. (dna) Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Cikasur Aman, Tapi Argopuro Belum Boleh Ditinggalkan

Hotspot bergeser ke lereng barat Gunung Kerincing. Di tengah langit yang mulai mendung, petugas tetap bertahan di lapangan, memastikan bara tidak kembali menjadi api. Situbondo, 2 Oktober 2026. Dari Cikasur, kabar baik akhirnya datang. Hamparan sabana di jantung Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang itu terpantau aman hingga Kamis, 1 Oktober 2026. Dua personel yang masih berada di lapangan sempat mengirimkan dokumentasi: tidak terlihat api mengancam Cikasur. Namun luasnya bentang alam SM. Dataran Tinggi Yang, berakhirnya api di satu tempat belum berarti seluruh pekerjaan selesai. Pemantauan satelit pada hari yang sama masih menangkap hotspot di sisi timur kawasan, pada lereng barat Gunung Kerincing. Posisi titik panas tersebut telah menjauh dari Cikasur dibandingkan pantauan beberapa hari sebelumnya. Belum dapat dipastikan apakah titik tersebut merupakan api aktif. Evaluasi sementara menduga hotspot berkaitan dengan sisa bara kebakaran sebelumnya. Karena itu, informasi satelit tetap harus dibaca bersama pemantauan lapangan. Api mungkin tak lagi terlihat dari kejauhan, tetapi bara adalah alasan mengapa kewaspadaan belum boleh dipadamkan. Dua Turun, Dua Naik Penjagaan pun berlanjut. Dari Pos Baderan, petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) berkoordinasi dengan Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan masyarakat pelaku wisata untuk melakukan pergantian personel. Dua orang yang telah berada di lapangan dijadwalkan turun. Dua personel lain disiapkan naik menggantikan mereka untuk melanjutkan pemantauan. Cuaca ikut menjadi bagian penting dari pengamatan. Sejak menjelang siang hingga sore, langit di sekitar Baderan terlihat mendung. Pengamatan dari areal perkebunan juga menunjukkan awan menggantung di atas kawasan. Mendung tentu membawa harapan. Tetapi setelah rangkaian kebakaran yang terjadi di bentang Argopuro, petugas belum menjadikannya alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menekankan bahwa fase setelah api terkendali tetap menjadi bagian penting dalam pengendalian kebakaran hutan. “Cikasur yang terpantau aman adalah perkembangan yang baik, tetapi pekerjaan belum selesai selama masih ada indikasi hotspot dan kemungkinan bara di kawasan. Pemantauan lapangan harus tetap berjalan. Yang kita jaga bukan hanya agar api padam hari ini, tetapi memastikan tidak ada bara yang kembali berkembang menjadi kebakaran,” ujarnya. Menghitung Jejak yang Ditinggalkan Api Ketika sebagian personel menjaga kawasan, pekerjaan lain mulai memasuki tahap berikutnya, menghitung dampak kebakaran. BBKSDA Jawa Timur mulai melakukan penghitungan luas areal Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Yang yang terdampak hingga akhir September 2026 dengan dukungan analisis citra satelit. Data tersebut penting untuk membaca jejak yang ditinggalkan api secara lebih terukur dan menjadi pijakan bagi evaluasi serta tindak lanjut pengelolaan kawasan. Sebab setelah api padam, pertanyaan konservasi tidak berhenti pada berapa hektar yang terbakar. Ada pertanyaan berikutnya yang jauh lebih panjang, apa yang terjadi pada vegetasi, habitat dan proses pemulihan kawasan? Setelah Api, Sampah Di tengah pekerjaan besar itu, ada cerita kecil dari Pos Baderan. Di hari yang sama, petugas melakukan kegiatan yang mereka sebut “Baderan Rijik” yaitu ritual membersihkan sampah di sekitar pos setelah berbagai aktivitas beberapa hari sebelumnya. Pekerjaannya sederhana, memungut apa yang tertinggal. Namun justru di situlah pesan konservasi Argopuro terasa lengkap. Berhari-hari petugas, masyarakat dan berbagai unsur berjibaku menghadapi api. Setelah asap berangsur menipis, perhatian kembali kepada sesuatu yang sering terlihat sepele, yaitu memastikan manusia tidak meninggalkan persoalan baru di tempat yang baru saja berjuang melewati kebakaran. Nur Patria kembali mengingatkan bahwa fase pemulihan tidak dapat hanya dibebankan kepada petugas. “Argopuro membutuhkan waktu untuk pulih. Karena itu, setelah api terkendali, tugas kita berikutnya adalah memberi kesempatan alam memulihkan dirinya dan memastikan aktivitas manusia tidak menambah tekanan baru. Menjaga kawasan adalah tanggung jawab bersama,” tambahnya. Cikasur hari ini memang aman. Langit mulai mendung. Titik panas telah bergeser menjauh. Personel bergantian naik dan turun. Citra satelit mulai digunakan untuk menghitung jejak yang ditinggalkan api. Namun Argopuro mengajarkan satu hal, bahwa kebakaran hutan tidak selesai ketika nyala terakhir menghilang. Pekerjaan baru benar-benar bergerak menuju selesai ketika bara tak lagi menyala, manusia berhenti menambah tekanan, dan alam mendapatkan ruang untuk memulihkan dirinya. Api boleh padam lebih dahulu. Kewaspadaan jangan. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Perkuat Sinergi Cegah Karhutla, Polsek Pancur Batu dan BBKSDA Sumut Gelar Sosialisasi di TWA Sibolangit

Bandar Baru, 1 Oktober 2026 — Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara berkolaborasi dengan Personel Polsek Pancur Batu Polrestabes Medan melaksanakan kegiatan sosialisasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sekaligus pembuatan video edukasi bagi masyarakat. Kegiatan tersebut berlangsung di kawasan Hutan Desa Bandar Baru, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Senin (28/9/2026). Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 10.00 WIB tersebut menjadi bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan serta mencegah terjadinya kebakaran yang dapat mengancam ekosistem dan lingkungan sekitar. Dari jajaran Polsek Pancur Batu, kegiatan dihadiri Kanit Binmas Polsek Pancur Batu, Ipda Sarana Surbakti bersama Bapospol Bandar Baru dan Bhabinkamtibmas Aipda Hendra Kurniawan Manullang. Sementara itu, BBKSDA Sumut, turut hadir melalui Kepala Resor CA/TWA Sibolangit, drh. Jazmi Anditya Wicaksono, serta Kepala Resor TWA Lau Debuk-Debuk, Suparman, S.P. Dalam kegiatan tersebut, tim memberikan sosialisasi dan imbauan langsung kepada warga agar turut berperan aktif dalam menjaga dan melestarikan kawasan hutan, termasuk kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai dampak yang dapat ditimbulkan oleh kebakaran hutan dan lahan terhadap lingkungan, keanekaragaman hayati, kesehatan masyarakat, serta kelestarian ekosistem hutan. Petugas secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembukaan maupun pembersihan lahan dengan menggunakan metode pembakaran. Cara tersebut dinilai berpotensi menyebabkan api sulit dikendalikan dan dapat merambat hingga ke kawasan hutan, terutama ketika kondisi cuaca dan lingkungan yang mendukung terjadinya kebakaran di sekitar kawasan hutan. Kecepatan dalam memberikan informasi diharapkan dapat membantu petugas melakukan penanganan sedini mungkin sehingga potensi kebakaran tidak berkembang menjadi lebih luas. Tidak hanya dilakukan melalui sosialisasi tatap muka, tim gabungan juga melaksanakan pembuatan video edukasi mengenai pencegahan Karhutla. Video tersebut diharapkan dapat menjadi sarana penyampaian informasi kepada masyarakat secara lebih luas, sekaligus mengajak pihak untuk bersama-sama meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian hutan. Kolaborasi antara BBKSDA Sumatera Utara dan Polsek Pancur Batu ini menunjukkan pentingnya sinergi antara aparat penegak hukum, pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat dalam mencegah Karhutla. Peran aktif masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kawasan hutan agar tetap aman, lestari, dan terhindar dari ancaman kebakaran hutan. Dengan adanya kegiatan sosialisasi dan edukasi tersebut, diharapkan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran semakin meningkat. Masyarakat juga diharapkan menjadi mitra dalam melakukan pencegahan dan memberikan informasi secara cepat apabila ditemukan potensi maupun kejadian Karhutla di wilayah sekitar. Sumber: drh. Jazmi Anditya Wicaksono (Medik Veteriner/Kepala Resor CA/TWA Sibolangit) dan Eva Suryani Sembiring (Penyuluh Kehutanan) — Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Bawean Tak Cuma Soal Rusa, Wisata Tak Harus Masuk Hutan

Kamera jebak yang hendak bergerak hingga lahan masyarakat membuka cerita lain dari Bawean. Desa penyangga menyimpan peluang wisata alam dan budaya tanpa harus menjadikan kawasan konservasi sebagai pusat keramaian. Gresik, 1 Oktober 2026. Menyebut Pulau Bawean dalam percakapan konservasi hampir selalu membawa satu nama, Rusa Bawean (Axis kuhlii). Wajar, satwa endemik ini menjadi salah satu wajah paling dikenal dari pulau kecil di Laut Jawa itu. Namun semakin jauh Bawean dibaca, semakin terlihat bahwa ceritanya tidak berhenti pada rusa. Ada babi kutil Bawean. Ada Kaloykoy, sebutan lokal untuk elang ular Bawean. Ada burung-burung hutan, mata air, kebun, perbukitan, hasil bumi, serta desa-desa yang kehidupan masyarakatnya bersinggungan dengan habitat satwa liar. Kekayaan itu memunculkan pertanyaan sederhana, bahwa untuk menikmati alam Bawean, haruskah wisatawan selalu masuk ke kawasan konservasi? Tidak harus. Justru desa-desa penyangga dapat menjadi pintu untuk mengenal Bawean lebih dekat, sementara hutan tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai rumah bagi satwa liar. Ketika Kamera Keluar dari Hutan Cerita itu terlihat pada Selasa, 29 September 2026. Tim Resort KSDA Wilayah 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mendampingi peneliti Frank Drygala menemui Pemerintah Desa Kelompang Ghubuk, Kecamatan Tambak. Mereka datang bukan membawa wisatawan, melainkan kamera jebak. Kamera tersebut direncanakan dipasang pada sejumlah lahan masyarakat untuk mempelajari lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan Rusa Bawean antara Blok Gunung Besar dan Blok Payung-payung, Suaka Margasatwa Pulau Bawean. Bentang penelitian juga bersinggungan dengan Desa Teluk Jatidawang, Peromaan, dan Patar Selamat. Pemerintah desa dan masyarakat dilibatkan agar memahami tujuan pemasangan kamera sekaligus ikut menjaganya selama penelitian berlangsung. Sebab rusa tidak membaca peta. Satwa tidak mengenal garis administrasi maupun patok kawasan. Ketika bergerak, rusa dapat melewati ruang yang digunakan manusia. Karena itu, memahami Rusa Bawean tidak cukup hanya mengetahui tempat satwa ditemukan. Ruang yang digunakan untuk bergerak juga perlu dipelajari. Warga Membaca Jejak, Kamera Merekamnya Di sinilah desa penyangga menjadi penting. Masyarakat yang setiap hari pergi ke kebun dan melintasi tepian hutan sering mengetahui sesuatu yang tidak seluruhnya tersaji dalam peta. Mereka mengenali tempat rusa pernah melintas, suara burung, musim buah, sumber air, hingga perubahan kecil pada bentang alam. Pengetahuan itu bukan pengganti penelitian ilmiah. Namun dapat menjadi petunjuk awal yang kemudian diuji dengan data. Masyarakat mengenali bentangnya. Kamera merekam satwanya. Ilmu pengetahuan membantu membaca keduanya. Dari sini pula muncul kemungkinan yang lebih luas. Jika desa-desa penyangga menyimpan burung, bentang alam, kebun, hasil bumi dan pengetahuan lokal, mengapa seluruh pengalaman menikmati alam Bawean harus bertumpu pada kawasan konservasi? Wisata Tak Harus Masuk Hutan engamatan burung atau birdwatching menjadi salah satu peluang, namun bukan satu-satunya. Fotografi alam, pengenalan jejak dan suara satwa, wisata edukasi, lanskap pedesaan, kebun masyarakat, produk hasil bumi, kuliner lokal hingga cerita tentang kehidupan masyarakat Bawean dapat dikembangkan pada ruang yang memang memungkinkan. Tidak perlu semuanya menjadi objek wisata besar. Justru pengalaman sederhana dapat menjadi kekuatan, berjalan bersama pemandu lokal, mengenali burung tanpa menangkapnya, mendengar cerita tentang rusa yang pernah melintas, menikmati hasil kebun, mencicipi makanan setempat, kemudian bermalam dan menggunakan jasa masyarakat desa. Uang yang dibawa pengunjung dapat bergerak melalui pemandu, warung, penginapan, transportasi dan produk lokal. Kawasan konservasinya tidak perlu menjadi ramai agar ekonomi konservasi dapat bergerak. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., mengatakan pengembangan potensi desa penyangga dapat menjadi salah satu jalan agar manfaat konservasi semakin dekat dengan masyarakat tanpa menambah tekanan terhadap kawasan. “Orang datang ke Bawean tidak harus semuanya masuk ke kawasan konservasi. Justru desa penyangga punya banyak potensi yang bisa dikembangkan. Masyarakat mendapat manfaat, wisatawan mendapat pengalaman, sementara kawasan tetap menjadi ruang aman bagi satwa,” ujarnya. Yang Hidup Tak Harus Diambil Gagasan tersebut juga menawarkan cara lain dalam melihat nilai satwa dan alam. Burung tidak harus masuk sangkar untuk memiliki nilai. Ketika tetap terbang, ia dapat diamati dan dipotret berkali-kali. Pohon tidak selalu harus ditebang agar memberikan manfaat. Ketika tetap berdiri, ia menjaga tanah, air, habitat sekaligus lanskap. Rusa pun tidak harus didekati sedekat mungkin agar pengunjung memperoleh pengalaman. Untuk satwa atau lokasi tertentu yang sensitif, merahasiakan titik perjumpaan justru dapat menjadi bagian dari perlindungan. Tidak semua lokasi harus dibuka. Tidak semua satwa harus ditunjukkan. Tidak semua potensi harus dijual. Karena itu, pengembangan wisata di desa penyangga tetap membutuhkan inventarisasi potensi, kepastian status ruang dan lahan, kajian daya dukung, kesiapan masyarakat, standar pemanduan serta etika pengamatan satwa. Tujuannya bukan memindahkan wisata massal dari dalam kawasan ke depan pintu kawasan. Yang dicari adalah pengalaman dengan skala dan cara yang sesuai dengan karakter Bawean. Desa Bukan Sekadar Pintu Masuk Dalam pendekatan seperti ini, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penonton ketika orang luar datang menikmati Bawean. Pengetahuan mereka tentang medan, musim, satwa, tumbuhan, sumber air, hasil kebun, makanan hingga cerita lokal justru menjadi modal. Desa pun tidak lagi sekadar tempat yang dilewati sebelum wisatawan menuju suatu objek. Desa dapat menjadi tujuan itu sendiri. Rusa Bawean akan tetap menjadi ikon pulau ini. Namun rusa dapat menjadi pintu untuk mengenalkan cerita yang lebih besar. Kaloykoy yang masih terbang, burung-burung di tepian hutan, kebun masyarakat, mata air yang tetap mengalir, hasil bumi, makanan lokal, serta orang-orang yang hidup berdampingan dengan semuanya. Mungkin suatu hari orang datang ke Bawean tidak hanya bertanya, “Di mana saya bisa melihat rusa?” Mereka juga bertanya, “Desa mana yang bisa saya kunjungi untuk mengenal Bawean?” Ketika pertanyaan itu muncul, kawasan konservasi tidak harus menjadi semakin ramai. Pengunjung cukup datang, menikmati Bawean, meninggalkan manfaat bagi masyarakat dan pulang tanpa membuat hutan kehilangan ketenangannya. Sebab kawasan konservasi tidak harus ramai agar konservasi memberi manfaat. Hutan tetap menjadi rumah satwa, sementara desa penyangga tumbuh bersama kehidupan yang dijaganya. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Jejak Rusa Tak Berhenti di Batas Kawasan, Warga Bawean Tunjukkan Jalannya

Kamera Jebak akan dipasang untuk membaca pergerakan rusa Bawean antara Blok Kumalasa dan Gunung Besar. Namun sebelum kamera bekerja, pengetahuan masyarakat lebih dulu menunjukkan jalan. Gresik, 29 September 2026. Rusa Bawean tentu tidak mengenal garis batas di peta. Ia bergerak mengikuti tutupan vegetasi, sumber pakan, tempat berlindung, dan ruang yang memungkinkan untuk dilalui. Pada beberapa tempat, perjalanan itu dapat membawanya melintasi batas kawasan konservasi dan memasuki lahan masyarakat. Di situlah sebuah pertanyaan penting muncul, jalur mana yang sebenarnya mereka gunakan? Senin pagi, 28 September 2026, Tim Resort KSDA Wilayah 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) bersama peneliti Dr. Frank Drygala mencoba mencari jawabannya bersama masyarakat. Sekitar pukul 09.00 WIB, warga dari Desa Kumalasa, Suwari, dan Dekatagung berkumpul di Desa Kumalasa, Kecamatan Sangkapura. Mereka membicarakan rencana pemasangan kamera jebak pada sejumlah lahan masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi Pulau Bawean. Pemasangan kamera tersebut merupakan bagian dari kegiatan penelitian Dr. Frank Drygala bertajuk “Research on Assess and Secure Bawean Terrestrial Endemics, With Focus on Bawean Deer (Axis kuhlii) and Bawean Warty Pig (Sus blouchi) Conservation as Umbrella Species.” Penelitian yang direncanakan berlangsung pada periode 17 September hingga 16 Desember 2026 tersebut menempatkan Rusa Bawean dan Babi Kutil Bawean sebagai fokus dalam upaya memahami sekaligus mendukung pengamanan satwa endemik terestrial Pulau Bawean. Salah satu bagian yang ingin dipelajari adalah ruang yang digunakan Rusa Bawean, termasuk kemungkinan jalur pergerakannya antara Blok Kumalasa dan Blok Gunung Besar. Untuk itulah kamera akan bekerja. Sebelum Kamera Jebak, Ada Cerita Warga Kepala Desa Kumalasa membuka pertemuan dengan harapan sederhana, bahwa kegiatan tersebut tidak hanya menghasilkan data penelitian belaka. Namun juga menambah pengetahuan masyarakat mengenai Rusa Bawean dan menumbuhkan kepedulian untuk menjaganya. Frank Drygala menyampaikan terima kasih kepada masyarakat yang bersedia hadir. Karena keterbatasan bahasa, penyampaian materi kemudian dibantu Tim RKW 09 Gresik–Bawean. Pembicaraan tidak hanya mengenai penelitian. Tim mengajak masyarakat mengenal lebih dekat Rusa Bawean, satwa endemik yang keberadaan alaminya hanya ditemukan di Pulau Bawean. Ancaman terhadap satwa juga dibicarakan, termasuk perburuan ilegal dan keberadaan anjing yang dilepas secara liar. Pesannya sederhana, bahwa menjaga Rusa Bawean tidak mungkin hanya dilakukan petugas. Masyarakat diajak tidak melakukan perburuan ilegal, tidak melepasliarkan anjing yang berpotensi mengganggu satwa, serta bersama-sama menjaga kawasan konservasi. Barulah pembicaraan sampai pada benda kecil yang akan menjadi “mata” penelitian, kamera jebak. Tim menjelaskan rencana titik pemasangan dan meminta dukungan masyarakat agar perangkat tersebut tidak dipindahkan atau diganggu, meskipun sebagian berada di lahan milik masyarakat. Kamera itu bukan untuk mengawasi manusia. Namun, ia menunggu satwa yang akan lewat. Ketika Warga Menunjukkan Jalan Respons masyarakat justru membawa penelitian itu selangkah lebih maju. Mereka tidak hanya menerima rencana pemasangan kamera. Mereka menunjukkan jalan. Sejumlah warga memberikan informasi mengenai lokasi-lokasi di lahan masyarakat yang selama ini mereka kenali sebagai lintasan Rusa Bawean. Informasi seperti ini penting. Pengetahuan masyarakat yang setiap hari hidup berdampingan dengan bentang alam Bawean dapat menjadi petunjuk awal untuk menentukan lokasi pengamatan. Selanjutnya, camera trap membantu merekam dan menguji keberadaan satwa pada titik-titik tersebut secara lebih sistematis. Kamera dapat mencatat tanpa kehadiran manusia: siapa yang melintas, kapan satwa muncul, dan bagaimana sebuah ruang digunakan. Dengan begitu, cerita warga dan data lapangan tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru dapat saling melengkapi. Spesies Payung dan Rumah yang Lebih Besar Ada gagasan menarik di balik penelitian Drygala, umbrella species atau spesies payung. Sederhananya, ketika kebutuhan ruang hidup suatu spesies yang memerlukan habitat tertentu dapat dipahami dan habitat pentingnya dijaga, perlindungan tersebut berpotensi memberikan manfaat bagi berbagai jenis lain yang menggunakan bentang alam yang sama. Dalam penelitian ini, perhatian diarahkan antara lain kepada dua satwa khas Bawean, Rusa Bawean dan Babi Kutil Bawean. Namun pekerjaan konservasi tidak berhenti pada dua nama itu. Yang sedang dibaca sesungguhnya adalah bentang alam tempat keduanya hidup, hutan, koridor, sumber pakan, ruang perlindungan, hingga bagian-bagian lahan masyarakat yang mungkin menjadi penghubung antar habitat. Sebab satwa tidak membaca papan batas kawasan. Menjaga Satwa, Menguatkan Masyarakat Menjelang sore, pekerjaan Tim RKW 09 Gresik–Bawean bergeser. Sekitar pukul 14.00 WIB, tim melakukan pendampingan kepada Kelompok Tani Hutan (KTH) Putra Daun sekaligus berkoordinasi dengan Kepala Desa Daun. Yang dibicarakan kali ini bukan kamera jebak, melainkan rencana bantuan pengembangan ekonomi produktif pada 2027. Kepala Desa Daun berharap bantuan yang direncanakan nantinya benar-benar dimanfaatkan untuk mendukung perkembangan usaha KTH Putra Daun. Dua kegiatan dalam sehari itu tampak berbeda. Pagi hari berbicara tentang rusa dan kamera. Sore hari berbicara tentang kelompok masyarakat dan pengembangan ekonomi. Namun konservasi memang tidak selalu bekerja dalam kotak-kotak yang terpisah. Pengetahuan ilmiah dibutuhkan untuk memahami satwa. Kawasan dibutuhkan untuk menjaga habitat. Dan masyarakat yang hidup berdampingan dengan keduanya adalah bagian yang tidak dapat ditinggalkan. Di Kumalasa, bahkan sebelum camera trap pertama bekerja, warga telah memberikan sesuatu yang tidak bisa diberikan kamera, sebuah ingatan tentang ke mana rusa-rusa itu biasa berjalan. Selanjutnya, biarkan kamera yang menunggu dan membuktikannya. Sebab jejak rusa Bawean tidak selalu berhenti di batas kawasan. Untuk menjaganya, kita harus lebih dulu memahami ke mana ia berjalan. Sumber: Nur Hayyan dan Fajar Dwi Nur Aji dan Agus Irwanto (Editor)
Baca Artikel

Satelit Nyaris Tak Membaca Panas, Argopuro Masih Menyala

Probolinggo, 30 September 2026. Dari layar pemantauan satelit, kebakaran di Suaka Margasatwa (SM) Dataran Tinggi Yang tampak mulai mereda. Titik panas yang terpantau tinggal sangat sedikit, bahkan nyaris tidak ada. Namun, laporan petugas yang baru turun dari kawasan pada Senin malam menunjukkan cerita berbeda, sejumlah titik api masih terlihat langsung, sementara sebagian kawasan diselimuti kabut asap pekat. Perbedaan itulah yang menjadi perhatian Posko Pengendalian Kebakaran Hutan SM. Dataran Tinggi Yang, Selasa (29/9). Di Pos Baderan, petugas melakukan pemantauan hotspot sekaligus mengevaluasi informasi Masyarakat Mitra Polhut (MMP) dan masyarakat pelaku wisata yang baru kembali dari lapangan. Hasil pengamatan mereka kemudian digunakan untuk membahas strategi pengendalian berikutnya. Pantauan langsung menjadi penting karena kondisi di lapangan tidak sepenuhnya tergambarkan pada layar. Kabut asap cukup tebal hingga membatasi jarak pandang petugas. Kondisi atmosfer seperti awan maupun asap dapat memengaruhi kemampuan sensor satelit tertentu dalam mendeteksi panas di permukaan, tetapi penyebab pasti perbedaan data kali ini masih perlu ditelaah lebih lanjut. Karena itu, minimnya hotspot belum dapat dibaca sebagai tanda bahwa api benar-benar telah padam. Di Pos Bermi, pemantauan satelit juga terus dilakukan. Kedua pos menjadi bagian dari pengawasan kawasan setelah rangkaian kebakaran yang dalam beberapa pekan terakhir muncul di sejumlah bagian SM Dataran Tinggi Yang, termasuk sekitar Aing Kenik, Puncak Hyang, hingga sekitar Gunung Pandu. Di tengah kesibukan tersebut, Pos Baderan menerima tiga orang yang datang dengan membawa tiket lintas untuk perjalanan empat hari tiga malam. Setelah memperoleh penjelasan bahwa kawasan masih ditutup, ketiganya mengurungkan rencana pendakian. Berdasarkan keterangan awal, tiket tersebut diduga diperoleh melalui pihak yang tidak berwenang. Informasi mengenai dugaan penipuan masih memerlukan klarifikasi lebih lanjut. Kejadian itu sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat tidak memaksakan perjalanan dan memastikan setiap informasi pendakian berasal dari kanal resmi milik Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Penutupan kawasan bukan sekadar urusan administrasi. Ketika api masih ditemukan, asap membatasi pandangan dan kondisi lapangan berubah cepat, keselamatan menjadi alasan utama. Argopuro hari itu memberikan satu pelajaran sederhana, teknologi membantu petugas melihat kawasan dari langit, tetapi tidak selalu menggantikan mata dan langkah manusia di lapangan. Di layar, titik panas mungkin tinggal sedikit. Di lapangan, pekerjaan belum selesai. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Posko Dalkarhut Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Kaloykoy Turun ke Kandang Ayam, Cerita Lain dari Elang Bawean

Beberapa hari lalu Kaloykoy muda terlihat terbang di atas Gunung Besar. Sabtu pagi, cerita berbeda datang dari Gunung Durin. Seekor Elang Bawean ditemukan di dalam kandang ayam dan kali ini ia tak mampu terbang. Bawean, 28 September 2026. Pagi bahkan belum benar-benar dimulai ketika sebuah kabar datang dari Dusun Gunung Durin, Desa Patar Selamat, Kecamatan Sangkapura. Ada tamu tak biasa di kandang ayam warga. Seekor Elang Bawean (Spilornis cheela baweanus), satwa yang oleh masyarakat setempat akrab disebut Kaloykoy, ditemukan berada di dalam kandang. Bukan sedang bertengger. Bukan pula terbang menjauh ketika manusia mendekat. Ia tidak mampu terbang. Warga yang menemukannya memilih tidak mengambil risiko. Satwa diamankan dan keberadaannya segera dilaporkan kepada petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim). Tim Penyelamatan Satwa Liar Kolaborasi Multipihak (MATAWALI) kemudian bergerak melakukan penyelamatan, Sabtu (26/9/2026). Dugaan awal, Kaloykoy tersebut masuk ke kandang ketika hendak memangsa anak ayam. Dalam prosesnya, satwa diduga mengalami benturan atau terkena jaring. Namun dugaan tetaplah dugaan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya. Hasil pemeriksaan awal setidaknya memberikan sedikit kabar baik. Tidak ditemukan luka terbuka maupun tanda-tanda cedera berat akibat benturan pada tubuhnya. Namun satu persoalan belum terjawab, Kaloykoy masih belum dapat terbang. Karena itu, petugas tidak buru-buru melepaskannya. Satwa dibawa ke kandang transit Pos RKW 09 Gresik–Bawean untuk menjalani observasi lebih lanjut. Kondisi fisik dan kemampuan terbangnya perlu dipastikan sebelum menentukan langkah penanganan berikutnya. Dari Langit Gunung Besar ke Kandang Ayam Perjumpaan kali ini terasa berbeda. Beberapa hari sebelumnya, dari Blok Gunung Besar, tim RKW 09 Gresik–Bawean bersama MMP Bawean Lestari mendapatkan bonus tak terduga ketika melakukan patroli pencegahan kebakaran hutan. Kaloykoy muda terlihat bertengger, mengepak, kemudian melayang di atas hutan. Saat itu, cerita datang dari atas tajuk. Kali ini cerita datang dari kandang ayam. Dua perjumpaan yang berbeda, tetapi sama-sama memperlihatkan bahwa kehidupan satwa liar di Bawean berlangsung sangat dekat dengan ruang hidup manusia. Sebagai burung pemangsa, elang menempati posisi penting dalam rantai makanan. Ia berburu untuk bertahan hidup. Karena itu, kemunculan raptor di sekitar ternak masyarakat bukan sesuatu yang perlu segera diterjemahkan sebagai “gangguan” atau alasan untuk menyakiti satwa. Di titik seperti inilah toleransi menjadi bagian penting dari konservasi. Warga Gunung Durin memberi contoh sederhana. Ketika menemukan satwa liar dalam kondisi tidak mampu terbang, mereka tidak membunuh atau menjadikannya peliharaan. Mereka menyelamatkan, lalu menghubungi petugas. Satu tindakan sederhana yang memberi Kaloykoy kesempatan. Belum Saatnya Kembali ke Langit Dalam penyelamatan satwa liar, keinginan untuk segera melihat satwa kembali terbang memang selalu ada. Tetapi pelepasliaran bukan perlombaan. Tidak ditemukannya luka terbuka belum berarti seekor burung pemangsa siap kembali ke alam. Kemampuan berdiri, mencengkeram, merespons lingkungan, mengepak, menjaga keseimbangan hingga benar-benar mampu terbang menjadi bagian yang perlu diamati. Terlebih bagi seekor raptor, terbang bukan sekadar cara berpindah tempat. Terbang adalah cara bertahan hidup. Karena itulah Kaloykoy dari Gunung Durin untuk sementara harus berhenti mengepak di langit Bawean. Petugas masih memberinya waktu untuk memastikan kondisinya. Jika beberapa hari lalu Gunung Besar memperlihatkan seekor Kaloykoy muda yang sedang mengenali dunianya, Gunung Durin memberi cerita berbeda tentang rapuhnya kehidupan satwa liar ketika bersinggungan dengan ruang manusia. Keduanya menyampaikan pesan yang sama. Menjaga Kaloykoy bukan hanya menjaga seekor elang. Kita sedang menjaga ruang agar satwa liar dan manusia tetap dapat hidup berdampingan di pulau kecil bernama Bawean. Untuk sementara, pintu kandang transit masih tertutup. Semoga berikutnya yang terbuka adalah sayapnya. Sumber: Abdul Rahem & Fajar Dwi Nur Aji dan Agus Irwanto- Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Cegah Kebakaran di Saobi, BBKSDA Jatim Buat Sekat Bakar dan Edukasi Masyarakat

Sumenep, 28 September 2026. Musim kemarau tahun ini yang belum juga usai membuat jajaran Balai Besar KSDA Jawa Timur mengintensifkan pemantauan dan pengawasan terhadap kawasan hutan, tak terkecuali di Cagar Alam (CA) Pulau Saobi. Untuk itu, tim Seksi KSDA Wilayah (SKW) IV Pamekasan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melaksanakan patroli pencegahan kebakaran hutan di CA. Pulau Saobi pada tanggal 17 hingga 25 September 2026. Patroli yang dilaksanakan bersama Masyarakat Mitra Polhut (MMP) menyisiri areal yang dianggap rawan terjadinya kebakaran hutan. Seperti kawasan savana yang kering, kawasan jalan alternatif masyarakat yang melintasi cagar alam, dan kebun-kebun milik masyarakat yang berbatasan langsung dengan kawasan konservasi. Dalam pelaksanaannya, tim patroli juga melakukan pembuatan sekat bakar pada beberapa titik yang berbatasan dengan lahan milik masyarakat. Hal ini untuk mengatisipasi jika terjadi kebakaran di kebun dan lahan tersebut tidak merembet masuk ke dalam hutan. Saat melakukan patroli, tim menemukan bekas penebangan illegal berupa jenis kayu Pereng di grid 78 dan Taklok di grid 384. Temuan ini mengindikasikan adanya tekanan terhadap cagar alam, utamanya pada lokasi yang selama ini teridentifikasi rentan terhadap aktivitas penebangan liar oleh masyarakat Selain itu tim patroli juga melaksanakan sosialisasi kepada masyarakat sekitar kawasan mengenai bahayanya kebakaran hutan. Masyarakat diminta untuk sangat berhati-hati saat menggunakan api di sekitar kebun dan lahan yang berbatasan dengan kawasan hutan. Pada akhirnya, tim juga memasang spanduk peringatan bahaya kebakaran hutan di lokasi yang rawan terjadinya kebakaran hutan. Kegiatan tersebut tentunya ditemani oleh perangkat desa setempat dan untuk ikut dalam kegiatan penyadartahuan pada masyarakat. (kila) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 17–32 dari 2.667 publikasi