Bawean Tak Cuma Soal Rusa, Wisata Tak Harus Masuk Hutan
Kamera jebak yang hendak bergerak hingga lahan masyarakat membuka cerita lain dari Bawean. Desa penyangga menyimpan peluang wisata alam dan budaya tanpa harus menjadikan kawasan konservasi sebagai pusat keramaian.
Gresik, 1 Oktober 2026. Menyebut Pulau Bawean dalam percakapan konservasi hampir selalu membawa satu nama, Rusa Bawean (Axis kuhlii). Wajar, satwa endemik ini menjadi salah satu wajah paling dikenal dari pulau kecil di Laut Jawa itu. Namun semakin jauh Bawean dibaca, semakin terlihat bahwa ceritanya tidak berhenti pada rusa.
Ada babi kutil Bawean. Ada Kaloykoy, sebutan lokal untuk elang ular Bawean. Ada burung-burung hutan, mata air, kebun, perbukitan, hasil bumi, serta desa-desa yang kehidupan masyarakatnya bersinggungan dengan habitat satwa liar.
Kekayaan itu memunculkan pertanyaan sederhana, bahwa untuk menikmati alam Bawean, haruskah wisatawan selalu masuk ke kawasan konservasi? Tidak harus.
Justru desa-desa penyangga dapat menjadi pintu untuk mengenal Bawean lebih dekat, sementara hutan tetap menjalankan fungsi utamanya sebagai rumah bagi satwa liar.
Ketika Kamera Keluar dari Hutan
Cerita itu terlihat pada Selasa, 29 September 2026. Tim Resort KSDA Wilayah 09 Gresik–Bawean, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mendampingi peneliti Frank Drygala menemui Pemerintah Desa Kelompang Ghubuk, Kecamatan Tambak.
Mereka datang bukan membawa wisatawan, melainkan kamera jebak. Kamera tersebut direncanakan dipasang pada sejumlah lahan masyarakat untuk mempelajari lokasi yang diduga menjadi jalur pergerakan Rusa Bawean antara Blok Gunung Besar dan Blok Payung-payung, Suaka Margasatwa Pulau Bawean.
Bentang penelitian juga bersinggungan dengan Desa Teluk Jatidawang, Peromaan, dan Patar Selamat. Pemerintah desa dan masyarakat dilibatkan agar memahami tujuan pemasangan kamera sekaligus ikut menjaganya selama penelitian berlangsung.
Sebab rusa tidak membaca peta. Satwa tidak mengenal garis administrasi maupun patok kawasan.
Ketika bergerak, rusa dapat melewati ruang yang digunakan manusia. Karena itu, memahami Rusa Bawean tidak cukup hanya mengetahui tempat satwa ditemukan. Ruang yang digunakan untuk bergerak juga perlu dipelajari.
Warga Membaca Jejak, Kamera Merekamnya
Di sinilah desa penyangga menjadi penting. Masyarakat yang setiap hari pergi ke kebun dan melintasi tepian hutan sering mengetahui sesuatu yang tidak seluruhnya tersaji dalam peta.
Mereka mengenali tempat rusa pernah melintas, suara burung, musim buah, sumber air, hingga perubahan kecil pada bentang alam. Pengetahuan itu bukan pengganti penelitian ilmiah. Namun dapat menjadi petunjuk awal yang kemudian diuji dengan data.
Masyarakat mengenali bentangnya. Kamera merekam satwanya. Ilmu pengetahuan membantu membaca keduanya. Dari sini pula muncul kemungkinan yang lebih luas.
Jika desa-desa penyangga menyimpan burung, bentang alam, kebun, hasil bumi dan pengetahuan lokal, mengapa seluruh pengalaman menikmati alam Bawean harus bertumpu pada kawasan konservasi?
Wisata Tak Harus Masuk Hutan
engamatan burung atau birdwatching menjadi salah satu peluang, namun bukan satu-satunya. Fotografi alam, pengenalan jejak dan suara satwa, wisata edukasi, lanskap pedesaan, kebun masyarakat, produk hasil bumi, kuliner lokal hingga cerita tentang kehidupan masyarakat Bawean dapat dikembangkan pada ruang yang memang memungkinkan.
Tidak perlu semuanya menjadi objek wisata besar.
Justru pengalaman sederhana dapat menjadi kekuatan, berjalan bersama pemandu lokal, mengenali burung tanpa menangkapnya, mendengar cerita tentang rusa yang pernah melintas, menikmati hasil kebun, mencicipi makanan setempat, kemudian bermalam dan menggunakan jasa masyarakat desa.
Uang yang dibawa pengunjung dapat bergerak melalui pemandu, warung, penginapan, transportasi dan produk lokal. Kawasan konservasinya tidak perlu menjadi ramai agar ekonomi konservasi dapat bergerak.
Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur, Ir. Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., mengatakan pengembangan potensi desa penyangga dapat menjadi salah satu jalan agar manfaat konservasi semakin dekat dengan masyarakat tanpa menambah tekanan terhadap kawasan.
“Orang datang ke Bawean tidak harus semuanya masuk ke kawasan konservasi. Justru desa penyangga punya banyak potensi yang bisa dikembangkan. Masyarakat mendapat manfaat, wisatawan mendapat pengalaman, sementara kawasan tetap menjadi ruang aman bagi satwa,” ujarnya.
Yang Hidup Tak Harus Diambil
Gagasan tersebut juga menawarkan cara lain dalam melihat nilai satwa dan alam. Burung tidak harus masuk sangkar untuk memiliki nilai. Ketika tetap terbang, ia dapat diamati dan dipotret berkali-kali.
Pohon tidak selalu harus ditebang agar memberikan manfaat. Ketika tetap berdiri, ia menjaga tanah, air, habitat sekaligus lanskap.
Rusa pun tidak harus didekati sedekat mungkin agar pengunjung memperoleh pengalaman. Untuk satwa atau lokasi tertentu yang sensitif, merahasiakan titik perjumpaan justru dapat menjadi bagian dari perlindungan.
Tidak semua lokasi harus dibuka. Tidak semua satwa harus ditunjukkan. Tidak semua potensi harus dijual.
Karena itu, pengembangan wisata di desa penyangga tetap membutuhkan inventarisasi potensi, kepastian status ruang dan lahan, kajian daya dukung, kesiapan masyarakat, standar pemanduan serta etika pengamatan satwa.
Tujuannya bukan memindahkan wisata massal dari dalam kawasan ke depan pintu kawasan. Yang dicari adalah pengalaman dengan skala dan cara yang sesuai dengan karakter Bawean.
Desa Bukan Sekadar Pintu Masuk
Dalam pendekatan seperti ini, masyarakat tidak ditempatkan sebagai penonton ketika orang luar datang menikmati Bawean. Pengetahuan mereka tentang medan, musim, satwa, tumbuhan, sumber air, hasil kebun, makanan hingga cerita lokal justru menjadi modal.
Desa pun tidak lagi sekadar tempat yang dilewati sebelum wisatawan menuju suatu objek. Desa dapat menjadi tujuan itu sendiri.
Rusa Bawean akan tetap menjadi ikon pulau ini. Namun rusa dapat menjadi pintu untuk mengenalkan cerita yang lebih besar. Kaloykoy yang masih terbang, burung-burung di tepian hutan, kebun masyarakat, mata air yang tetap mengalir, hasil bumi, makanan lokal, serta orang-orang yang hidup berdampingan dengan semuanya.
Mungkin suatu hari orang datang ke Bawean tidak hanya bertanya, “Di mana saya bisa melihat rusa?”
Mereka juga bertanya, “Desa mana yang bisa saya kunjungi untuk mengenal Bawean?”
Ketika pertanyaan itu muncul, kawasan konservasi tidak harus menjadi semakin ramai. Pengunjung cukup datang, menikmati Bawean, meninggalkan manfaat bagi masyarakat dan pulang tanpa membuat hutan kehilangan ketenangannya.
Sebab kawasan konservasi tidak harus ramai agar konservasi memberi manfaat. Hutan tetap menjadi rumah satwa, sementara desa penyangga tumbuh bersama kehidupan yang dijaganya.
Sumber: Fajar Dwi Nur Aji (PEH Ahli Muda) dan Agus Irwanto (Editor) - Balai Besar KSDA Jawa Timur
- Jumat, 2 Okt 2026
- 59x Dilihat