Berani Bercermin, TWA Tretes Membuka Kekurangan untuk Memperkuat Konservasi
Pasuruan, 10 Agustus 2026. Mengelola kawasan konservasi bukan hanya tentang mencatat apa yang telah berhasil dilakukan. Ada saatnya pengelola harus berhenti sejenak, melihat kembali apa yang telah dikerjakan, lalu berani mengakui bagian-bagian yang masih lemah. Itulah yang dilakukan di Taman Wisata Alam (TWA) Tretes.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah VI Probolinggo melakukan Penilaian Efektivitas Pengelolaan kawasan menggunakan Management Effectiveness Tracking Tool (METT) Versi 4.0, Rabu (5/8/2026), di Prigen, Kabupaten Pasuruan. Hasilnya, TWA Tretes memperoleh skor 63, meningkat dibandingkan hasil penilaian tahun 2024 yang berada pada angka 53.
Namun, angka itu bukan alasan untuk sekadar merayakan kenaikan. Justru dari angka 63 tersebut, pengelola dapat melihat lebih dekat bagian mana yang telah berjalan, bagian mana yang masih tertinggal. Serta apa yang harus diperbaiki agar keberadaan TWA. Tretes benar-benar mampu menjaga nilai-nilai alam sekaligus memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Kawasan Konservasi Juga Perlu Bercermin. METT bukan perlombaan mencari nilai tertinggi. Instrumen ini menjadi semacam cermin bagi pengelolaan kawasan konservasi.
Melalui proses penilaian yang sistematis, berbagai aspek pengelolaan dibedah bersama: mulai dari perencanaan, ketersediaan sumber daya, proses pengelolaan, hasil yang telah dicapai, hingga dampaknya terhadap kondisi kawasan.
Karena itu, hasil penilaian tidak hanya memperlihatkan kekuatan. Ia juga membuka ruang untuk melihat keterbatasan yang selama ini mungkin tidak mudah terbaca dalam rutinitas pengelolaan sehari-hari.
Pada penilaian tahun 2026, aspek planning memperoleh skor 13. Penilaian mencakup rencana pengelolaan, rencana kerja rutin, desain kawasan, perencanaan penggunaan lahan dan air di sekitarnya, tujuan pengelolaan, serta status legal kawasan.
Aspek input memperoleh skor 10. Di sinilah sejumlah komponen mendasar pengelolaan diperiksa, antara lain peralatan dan fasilitas, kepastian dan kecukupan anggaran, pengetahuan dan keterampilan, jumlah pegawai, hingga inventarisasi sumber daya.
Input menjadi bagian penting karena konservasi tidak hanya membutuhkan gagasan yang baik. Pengelolaan kawasan juga memerlukan manusia, pengetahuan, fasilitas, data, anggaran, dan perangkat kerja yang memadai untuk menerjemahkan rencana menjadi tindakan di lapangan. Dengan demikian, keterbatasan yang teridentifikasi bukan untuk ditutupi, melainkan menjadi dasar menentukan prioritas perbaikan.
Ketika Pengelolaan Diuji di Lapangan. Nilai terbesar diperoleh pada aspek process, dengan skor 27. Bagian ini menggambarkan luasnya pekerjaan yang berlangsung dalam mengelola sebuah kawasan konservasi.
Penilaian mencakup kondisi nilai alami dan budaya, keterlibatan masyarakat lokal, pungutan, operator wisata, hubungan dengan pemerintah dan sektor swasta di sekitar kawasan, edukasi dan penyadartahuan, jasa lingkungan, karbon, dan perubahan iklim. Juga pengelolaan sumber daya, monitoring dan evaluasi, penelitian, keamanan staf, sistem perlindungan, penegakan peraturan, pengelolaan anggaran, hingga demarkasi batas kawasan.
Daftar panjang tersebut menunjukkan satu hal bahwa menjaga TWA Tretes tidak pernah hanya menjadi urusan menjaga pepohonan di dalam batas kawasan. Apa yang terjadi di luar batas dapat memengaruhi apa yang ada di dalamnya.
Perubahan pemanfaatan ruang, aktivitas wisata, dinamika masyarakat, kebutuhan ekonomi, tekanan terhadap sumber daya alam, hingga perubahan iklim menjadi bagian dari lanskap persoalan yang harus dibaca secara utuh.
Karena itulah efektivitas pengelolaan tidak cukup diukur dari seberapa sering petugas berada di lapangan. Ia juga ditentukan oleh kemampuan pengelola membangun komunikasi, membaca perubahan, melibatkan para pihak, serta merespons ancaman sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.
Angka yang Harus Diterjemahkan Menjadi Aksi. Pada komponen output, TWA Tretes memperoleh skor 7. Penilaian mencakup keterlibatan masyarakat lokal, konektivitas, ancaman kawasan, manfaat bagi pemenuhan mata pencaharian, serta fasilitas dan pelayanan pengunjung.
Sementara pada komponen outcome, skor yang diperoleh sebesar 6. Aspek ini menyentuh inti dari tujuan konservasi itu sendiri: status konservasi habitat, kondisi spesies indikator kunci, nilai-nilai alami dan budaya, serta konektivitas ekologis.
Di sinilah angka METT memperoleh makna sebenarnya.Sebab sebuah kawasan konservasi pada akhirnya tidak dinilai hanya dari banyaknya kegiatan yang telah dilaksanakan, melainkan dari perubahan yang mampu dihasilkan terhadap kondisi habitat, spesies, ekosistem, serta hubungan kawasan dengan lanskap di sekitarnya.
Kenaikan skor dari 53 pada 2024 menjadi 63 pada 2026 menunjukkan adanya perkembangan dalam pengelolaan TWA Tretes. Namun perjalanan menuju pengelolaan yang semakin efektif masih membutuhkan kerja panjang.
Masih ada keterbatasan yang harus diperbaiki. Masih ada ancaman yang harus diantisipasi. Dan masih ada kesenjangan antara apa yang direncanakan, sumber daya yang tersedia, proses yang dilakukan, serta dampak konservasi yang ingin diwujudkan.
Proses evaluasi tersebut tidak dilakukan dalam ruang tertutup. Penilaian melibatkan berbagai pihak yang bersinggungan dengan keberadaan dan pengelolaan TWA Tretes, antara lain unsur Kecamatan Prigen, Polsek Prigen, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pasuruan, KRPH Prigen, Tahura R. Soerjo, Kelurahan Pecalukan, sektor swasta, operator wisata, serta tokoh masyarakat Pecalukan.
Sebelum penilaian dimulai, peserta mendapatkan sosialisasi mengenai pengelolaan TWA Tretes dan pengenalan METT Versi 4.0. Selanjutnya, fasilitator memandu proses penilaian sekaligus menghimpun berbagai pandangan dan umpan balik peserta untuk memperoleh gambaran kondisi aktual pengelolaan kawasan.
Keterlibatan berbagai pihak menjadi penting karena kawasan konservasi tidak berdiri sebagai pulau yang terpisah dari kehidupan di sekelilingnya.
Hutan memiliki batas administrasi. Proses ekologis tidak. Air mengalir melintasi batas. Satwa bergerak melintasi lanskap. Aktivitas manusia di sekitar kawasan dapat membawa pengaruh hingga ke dalamnya. Karena itu, menjaga TWA Tretes membutuhkan lebih dari sekadar kehadiran pengelola kawasan. Ia membutuhkan kepedulian bersama.
Konservasi yang Berani Mengakui Kekurangan. METT 2026 akhirnya bukan sekadar menghasilkan angka 63. Yang lebih penting adalah apa yang dilakukan setelah angka itu diketahui.
Setiap kelemahan yang teridentifikasi harus diterjemahkan menjadi rekomendasi. Setiap rekomendasi membutuhkan aksi. Dan setiap aksi perlu kembali dipantau untuk memastikan bahwa perubahan benar-benar terjadi di lapangan.
Di situlah evaluasi memperoleh maknanya. Sebab keberhasilan konservasi bukan ketika sebuah kawasan terlihat tanpa kekurangan, melainkan ketika pengelolanya memiliki keberanian untuk menemukannya, membicarakannya secara terbuka, kemudian bekerja bersama memperbaikinya.
TWA Tretes sedang melakukan itu. Bercermin bukan untuk mencari wajah yang sempurna. Bercermin adalah cara mengetahui bagian mana yang masih harus dibenahi. Dalam konservasi, keberanian melihat kekurangan hari ini dapat menjadi langkah pertama untuk menjaga kehidupan esok hari. (dna)
Sumber : Bidang KSDA Wilayah III Jember – Balai Besar KSDA Jawa Timur
- Kamis, 13 Agu 2026
- 84x Dilihat