Membaca Denyut Ekosistem Pesisir Lewat Asian Waterbird Census di Bangkalan
Bangkalan, 4 Februari 2026. Di hamparan mangrove pesisir Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan, denyut ekosistem pesisir kembali “terbaca” melalui kehadiran burung-burung air. Pada 2–3 Februari 2026, tim gabungan Balai Besar KSDA Jawa Timur bersama mitra melaksanakan Asian Waterbird Census (AWC), sebuah pendataan tahunan yang menjadi barometer kesehatan lahan basah di jalur migrasi Asia.
Kegiatan ini melibatkan 15 personel lintas latar belakang mulai dari petugas Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) melalui Seksi KSDA Wilayah IV Pamekasan, tim Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO), serta mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga angkatan 2023–2024 yang tergabung dalam Kelompok Minat Profesi Veteriner Pet and Wild Animal. Kolaborasi ini menegaskan bahwa konservasi pesisir tak berdiri sendiri, ia tumbuh dari kerja bersama ilmu pengetahuan, pengelolaan, dan kepedulian.
Dua Taman Mangrove, Satu Cerita Ekologis
Pendataan dilakukan di dua titik kunci, Taman Labuhan Mangrove Barat dan Taman Labuhan Mangrove Timur. Di kedua lokasi ini, pengamat menyisir perairan dangkal, tepi lumpur, dan kanopi mangrove, mikrohabitat yang menyediakan pakan, tempat beristirahat, sekaligus perlindungan bagi burung air.
Hasil identifikasi mencatat kehadiran kelompok burung migran yang menjadi penanda penting jalur lintas benua. Di antaranya Gajahan Pengala, Trinil Pantai, Trinil Kaki Merah, Trinil Ekor Kelabu, Dara Laut Kecil, Dara Laut Kumis, Dara Laut Jambul, serta Cici Merah. Kehadiran mereka mengafirmasi fungsi Mangrove Labuhan sebagai “stasiun persinggahan”, ruang vital untuk mengisi energi sebelum melanjutkan perjalanan panjang ribuan kilometer.
Tak hanya migran, beragam burung penetap juga teridentifikasi, mencerminkan kestabilan habitat setempat. Di antaranya Kekep Jawa, Bondol Haji, Tekukur, Kapasan Kemiri, Cekakak Sungai, Blekok Sawah, Kuntul Kecil, Kuntul Karang, Raja Udang Biru, Kipasan Belang, Punai Gading, Kerak Kerbau, Bubut Besar, Cerak Jawa, hingga Kokoan Laut. Komposisi ini menunjukkan mosaik ekologi yang masih bekerja, perairan produktif, mangrove yang berfungsi, dan rantai makanan yang saling terkait.
Lebih dari Sekadar Menghitung Burung
AWC bukan sekadar daftar spesies. Ia adalah alat baca, membaca kualitas habitat, tekanan lingkungan, dan arah perubahan ekosistem. Burung air sensitif terhadap gangguan, fluktuasi kehadiran mereka sering kali menjadi sinyal awal degradasi atau, sebaliknya, pemulihan.
Dalam konteks Bangkalan, temuan ini menguatkan peran mangrove sebagai benteng alami pesisir, menahan abrasi, menyaring nutrien, dan menopang keanekaragaman hayati. Data AWC juga menjadi pijakan pengelolaan, dari perencanaan konservasi, edukasi publik, hingga sinkronisasi dengan aktivitas ekonomi di sekitar pesisir.
Pendidikan Lapangan dan Harapan Keberlanjutan
Keterlibatan mahasiswa kedokteran hewan memberi nilai tambah strategis. Lapangan menjadi ruang belajar hidup, mengasah keterampilan identifikasi, etika pengamatan satwa liar, serta pemahaman kesehatan ekosistem. Di akhir kegiatan, dokumentasi satwa masih dalam proses rekapitulasi sebagai bagian dari penjaminan kualitas data.
Di tengah dinamika pesisir Madura, AWC di Mangrove Labuhan mengirim pesan yang jernih: ketika burung-burung air masih singgah, ekosistem masih bernapas. Menjaga napas itu berarti merawat mangrove, mengelola ruang pesisir secara bijak, dan melanjutkan kolaborasi lintas sektor. Dari Bangkalan, denyut pesisir itu terdengar, tenang, namun mendesak untuk terus dijaga. (dna)
Sumber : Bidang KSDA Wilayah II Gresik – Balai Besar KSDA Jawa Timur
- Rabu, 4 Feb 2026
- 74x Dilihat