Senin, 12 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Merawat Satwa, Merajut Kehidupan Rimbawan Menembus Batas

Sibolangit, 17 Maret 2025. Perjalanan hidupnya sebagai rimbawan yang bergabung dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara berawal ketika ia direkrut sebagai anggota Masyarakat Mitra Polhut (MMP) di Resort CA./TWA. Sibolangit pada tahun 2008. Seiring dengan perjalanan waktu, benih kecintaannya sebagai rimbawan mulai tumbuh dengan merasakan langsung serta menyadari arti penting keberadaan kawasan CA./TWA. Sibolangit. Harmonisasi kehidupan berbagai keanekaragaman hayati menumbuhkan pemahaman dalam dirinya bahwa kawasan konservasi yang terjaga, sejatinya merupakan gambaran dari taman kehidupan yang aman dan damai yang dirindukan oleh setiap makhluk hidup. Musim Ketaren, itulah namanya. Sosok rimbawan yang satu ini tidak hanya menjaga dan mengawasi, tetapi juga mengedukasi masyarakat sekitar kawasan untuk ikut peduli melindungi dan melestarikan kawasan CA./TWA. Sibolangit, karena kawasan konservasi ini memberi limpahan manfaat bagi masyarakat. Bukan hanya sebagai catchment area (daerah tangkapan air yang menampung, menyimpan dan mengalirkan air melalui mata air sampai kepada masyarakat), tetapi juga sebagai salah satu pusat tanaman obat yang dapat dimanfaatkan untuk bahan pengobatan tradisional. Pria kelahiran Medan, 8 Februari 1959 ini, semakin terasah jiwa rimbawan dan konservasinya ketika pada tahun 2017 diangkat menjadi tenaga honor atau Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri (PPNPN) dan mendapat tugas baru sebagai pengurus satwa di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Sibolangit. Bapak dari 5 orang anak (1 pria, 4 wanita) serta kakek dari 7 orang cucu ini, menjalani aktifitas sehari-harinya mengurus dan merawat satwa. Dengan penuh kesabaran dan ketekunan, pak Musim, panggilan akrabnya, memulai aktifitas rutin dari pagi sampai sore hari, melakukan kegiatan memberi makan satwa, membersihkan kandang, dilanjutkan dengan pengecekan kandang, memperbaiki kandang apabila ada yang rusak, memberikan tindakan medis terhadap satwa yang terluka dan pembersihan di sekitar lingkungan PPS Sibolangit. Pembersihan kendang satwa menjadi rutinitasnya sehari-hari Pertama kali ditugaskan mengurus satwa, hatinya sempat gundah gulana. Tidak ada pengetahuan khusus yang dimilikinya dalam merawat satwa. Pendidikan formalnya pun terbatas hanya sampai Sekolah Dasar (SD), tamat tahun 1974. Rasa takut tentunya ada. Yang ada di pikirannya bahwa semua satwa liar mempunyai sifat ganas. Tapi ia mencoba memberanikan diri sambil belajar mengenal dan memahami karakter masing-masing satwa dari dokter hewan yang pernah bersama-sama dengannya melakukan tugas perawatan satwa. Satwa pertama yang ditanganinya pada saat itu adalah burung Kakak Tua. Ada 3 ekor burung Kakak Tua yang berasal dari penyerahan warga, dimana 2 ekor dalam kondisi sehat sedangkan yang seekor lagi kondisinya lemas dan terlihat terluka. Satwa yang terluka ini kemudian dibawa ke Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan (PKRO) Sibolangit untuk dilakukan tindakan medis, dikarenakan keterbatasan tenaga medis dan peralatan di PPS Sibolangit pada saat itu. Beragam jenis satwa liar keluar masuk menjadi penghuni PPS Sibolangit, ada berbagai jenis burung, kukang, kucing hutan, kucing kuwuk, beruang madu, baning coklat, monyet dan lain sebagainya. Satwa-satwa ini hasil penindakan oleh aparat penegak hukum dan ada juga penyerahan dari warga. Bila ada yang masuk ke PPS dalam kondisi sakit, pak Musim dengan penuh kasih sayang merawat luka satwa tersebut, sampai benar-benar pulih. Asupan makanan pun menjadi perhatiannya agar kebutuhan pakan satwa terpenuhi. Belajar terus tiada henti membawa suami dari Rodiah ini, kepada suatu pemahaman baru dan kesadaran, bahwa satwa juga tak ubahnya dengan manusia yang punya naluri butuh perhatian dan kasih sayang. Meskipun satwa-satwa liar ini ada kalanya berulah dan bahkan melukai tubuhnya, seperti burung Rangkong Badak yang pernah mematoknya meninggalkan bekas di tubuhnya, tetapi rasa sedih tak terbendung juga ketika satwa-satwa liar tersebut akan dipulangkan (dilepasliarkan) ke habitat alaminya. Rasa sakit yang dialami hilang digantikan dengan rasa sedih karena terkenang saat satwa-satwa tersebut dirawat layaknya merawat anak sendiri yang diperlakukan dengan baik setiap harinya. Tak jarang air matanya menetes melepas kepergian, seolah-olah tak rela ditinggal. Namun dia sadar bahwa rumah (habitat) serta kehidupan dari satwa sejatinya adalah hutan. Begitu satwa tersebut tidak ada lagi di PPS Sibolangit, pak Musim merasa ada yang hilang. Pak Musim telaten dalam menyiapkan pakan satwa agar asupannya terpenuhi Tak terasa, perjalanan waktu yang cukup panjang sebagai rimbawan di Balai Besar KSDA Sumatera Utara sudah dilaluinya. Kontraknya sebagai PPNPN berakhir di penghujung tahun 2024, tepatnya di bulan Desember. Namun semangat rimbawannya tidak pernah pudar. Panggilan jiwa rimbawan untuk merawat satwa akan terus diabdikannya di PPS Sibolangit. Keterbatasan umur dan pendidikan bukan menjadi penghalang berbuat baik. Baginya rimbawan itu adalah jalan hidup untuk beramal dan beribadah menyelamatkan dan merawat sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan. Satwa juga berhak untuk hidup, layaknya manusia. “Pesan saya kepada rimbawan dimanapun berada di Hari Bakti Rimbawan 2025 ini, tetaplah bekerja keras, penuh semangat dan loyalitas. Cintailah pekerjaan sehingga bisa beraktifitas senyaman mungkin. Bersyukurlah kepada Yang Maha Kuasa atas pekerjaan yang kita geluti hari ini, karena pekerjaan itulah ladang kehidupan dan ibadah kita,” ujar Pak Musim. Terimakasih pak Musim buat dedikasi, loyalitas dan pengabdiannya yang luarbiasa. Pak Musim adalah sosok teladan dan inspirasi bagi rimbawan-rimbawan yang masih terus berjuang… Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

FK3I Jatim Dukung Kegiatan Edukasi Konservasi untuk Pengurangan Risiko Bencana

Pasuruan, 9 Maret 2025. Memperingati Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) yang akan jatuh pada Oktober mendatang, Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jawa Timur sukses menggelar Arisan Ilmu Nol Rupiah (AINR) Edisi 60. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang pertukaran pengetahuan, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi antar lembaga dalam upaya konservasi dan mitigasi bencana. Salah satu lembaga yang turut berperan aktif adalah Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) Jawa Timur, yang hadir sebagai mitra strategis dalam menyebarluaskan kesadaran konservasi. Acara yang digelar di Baung Conservation Center (BCC), Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Baung, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, 9 Maret 2025, dihadiri oleh sekitar 70 relawan dari berbagai daerah yang ada di Jawa Timur. Tema yang diangkat, “Pengenalan Ekosistem dan Pentingnya Konservasi dalam Pengurangan Risiko Bencana”. Diskusi dipandu oleh Andi Iskandar Zulkarnain yang biasa di panggil Andi Gondrong, selaku pengelola kawasan TWA Gunung Baung, dan Jessica dari Tim BCC. Aminudin, Humas FK3I Jawa Timur, yang turut hadir dalam kegiatan ini, menegaskan bahwa acara semacam ini harus terus digaungkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang konservasi. “Konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi tanggung jawab kita semua. FK3I Jatim berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan edukasi seperti ini, karena konservasi tidak mengenal batas teritori,” ujarnya. Menurut Aminudin, FK3I Jatim telah lama bergerak dalam upaya pelestarian lingkungan dan konservasi alam. Kehadiran mereka dalam acara AINR Edisi 60 ini menjadi bukti nyata komitmen mereka untuk bersinergi dengan berbagai pihak, termasuk SRPB Jatim, dalam menyebarluaskan pentingnya konservasi sebagai bagian dari upaya pengurangan risiko bencana. Andi Iskandar Zulkarnain, dalam paparannya, mengungkapkan tiga tantangan utama dalam konservasi: konflik penggunaan lahan, kesadaran individu, dan efektivitas kampanye. “Konflik lahan seringkali menjadi penghambat utama dalam upaya konservasi. Selain itu, kesadaran individu, seperti pemilahan sampah, masih perlu ditingkatkan. Kampanye konservasi juga harus lebih kreatif dan menyentuh langsung ke masyarakat,” jelas Andi. Dian Harmuningsih, perwakilan BCC, menambahkan bahwa BCC hadir sebagai pusat pendidikan konservasi nonformal yang terbuka untuk semua kalangan. “BCC tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga sebagai wadah untuk sosialisasi dan diseminasi pengetahuan tentang konservasi,” ujarnya. Rizki Daniarto, Koordinator Bidang Humas SRPB Jatim, menyatakan bahwa kegiatan ini akan dikolaborasikan dengan aksi penanaman bibit pohon dan event lainnya dalam rangka pengurangan risiko bencana. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti di sini. Kolaborasi dengan lembaga lainnya akan terus kami lakukan untuk menciptakan dampak yang lebih besar,” ujar Rizki. Selepas sesi diskusi, acara diakhiri dengan buka puasa bersama dan ramah tamah. Kegiatan ini didukung penuh oleh Baung Conservation Center, Baung Canyon, Sparta Corner, dan Cleo. Kehadiran FK3I Jatim dalam kegiatan ini menjadi penanda bahwa upaya konservasi harus dilakukan secara kolaboratif dan berkelanjutan. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang memahami pentingnya konservasi, diharapkan risiko bencana alam dapat diminimalisir, dan lingkungan yang lebih lestari dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Semoga kegiatan ini menjadi contoh nyata bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi alam, tetapi juga tentang membangun kesadaran kolektif untuk masa depan yang lebih baik. Sumber: Cimien - Kader Konservasi Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Hari Strategi Konservasi Sedunia: Menjaga Harmoni Alam di Tengah Krisis Ekologi

Jawa Timur, 6 Maret 2025. Setiap tanggal 6 Maret, dunia memperingati Hari Strategi Konservasi Sedunia, sebuah momentum penting untuk merefleksikan upaya global dalam melindungi keanekaragaman hayati dan ekosistem yang semakin terancam. Di tengah laju deforestasi, perubahan iklim yang semakin ekstrem, serta hilangnya habitat alami, strategi konservasi bukan lagi sekadar pilihan melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga keseimbangan bumi. Sejak dokumen World Conservation Strategy diluncurkan dan diperkenalkan pertama kali oleh United Nations Environment Programme (UNEP), World Wildlife Fund (WWF), dan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) pada 6 Maret 1980, prinsip-prinsip konservasi telah menjadi landasan dalam pengelolaan sumber daya alam. Namun, empat dekade berlalu, tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Krisis ekologis yang mengancam hutan hujan tropis, laut, dan keanekaragaman hayati membutuhkan pendekatan baru yang lebih adaptif dan berbasis sains. Indonesia, sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, memiliki peran strategis dalam upaya ini. Dari upaya rehabilitasi ekosistem mangrove yang menahan abrasi hingga konservasi satwa liar seperti harimau sumatera dan badak jawa, berbagai langkah telah dilakukan untuk memastikan alam tetap lestari. Namun, tekanan dari ekspansi industri, perubahan penggunaan lahan, serta eksploitasi sumber daya masih menjadi tantangan besar. Momentum Hari Strategi Konservasi Sedunia mengingatkan kita bahwa menjaga alam tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak. Kolaborasi antara pemerintah, ilmuwan, komunitas lokal, dan masyarakat global menjadi kunci utama dalam menghadapi krisis lingkungan. Langkah-langkah strategis seperti peningkatan kawasan konservasi berbasis masyarakat, pendekatan teknologi dalam pemantauan ekosistem, serta penguatan kebijakan berbasis keberlanjutan harus terus diupayakan. Bumi adalah rumah bagi kita semua, dan tanpa strategi konservasi yang kuat, masa depan ekosistem serta kehidupan di dalamnya akan semakin terancam. Tanggal 6 Maret 2025, mari kita kembali meneguhkan komitmen untuk menjaga keseimbangan alam, karena melestarikan lingkungan berarti menjaga kehidupan itu sendiri. Communication As Conservation Sollution. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Patroli Rimba Bawean: Jejak Satwa Langka di Pameghetan

Bawean, 4 Maret 2025. Di jantung Pulau Bawean, jauh dari hiruk-pikuk kehidupan manusia, bentang alam yang masih perawan menyimpan kisah tentang kehidupan liar yang terus berjuang dalam harmoni ekosistemnya. Pada 4 Maret 2025, tim patroli dari Resort Konservasi Wilayah (RKW) 10 Pulau Bawean kembali menapaki jalur-jalur sunyi di Blok Gunung Besar, Cagar Alam (CA) Pulau Bawean, tepatnya di kawasan Pameghetan. Dengan berjalan kaki menyusuri jalur hutan yang rapat, mereka memastikan bahwa wilayah ini tetap terjaga dari ancaman perburuan dan perusakan habitat. Saat matahari mulai menembus celah kanopi hutan, kehidupan liar di Pameghetan mulai menampakkan dirinya. Seekor Elang Ular Bawean (Spilornis cheela baweanus), predator puncak yang menjadi simbol pulau ini, tampak bertengger di dahan tinggi, mengamati pergerakan di bawahnya. Di antara dedaunan yang rimbun, dua ekor Raja Udang Punggung Merah, melesat cepat di atas aliran sungai kecil. Sementara suara khas Pergam Hijau bergema di kejauhan. Kehadiran Cinenen Jawa, Merbah Belukar, dan kawanan Monyet Ekor Panjang menjadi bukti bahwa hutan ini masih menjadi rumah yang nyaman bagi banyak spesies satwa liar. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah jejak keberadaan sang penghuni legendaris Pulau Bawean yaitu Rusa Bawean (Axis kuhlii). Gesekan tanduk di batang pohon dan jejak kotoran yang ditemukan di beberapa titik, membuktikan bahwa spesies endemik yang langka ini masih bertahan di dalam belantara. Selain satwa, patroli ini juga mencatat dominasi beberapa jenis flora khas hutan Bawean. Pohon Kayu Bulu, Pangopa, dan Tanjeng Gunung menjulang kokoh. Sementara pohon dan semak-semak Ghegeren dan Bungur menambah warna dalam lanskap hutan yang asri. Kabar baiknya, sepanjang patroli kali ini, tidak ditemukan indikasi perburuan liar atau pelanggaran lainnya. Kawasan ini tetap dalam kondisi aman, menunjukkan bahwa upaya konservasi yang dilakukan terus memberikan dampak positif bagi kelestarian ekosistemnya. Menjaga Pulau Bawean bukan sekadar menjaga wilayah geografis, tetapi juga mempertahankan warisan alam yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas ekologis Nusantara. Upaya ini tak hanya tentang perlindungan, tetapi juga tentang keberlanjutan kehidupan bagi satwa dan tumbuhan langka yang menjadikannya rumah. (dna) Sumber: Balai Besar KSDA Jawa Timur Bidang KSDA Wilayah 2 Gresik
Baca Artikel

Menelusuri Jejak Macan Tutul Jawa di Rimba Raung-Ijen

Jawa Timur, 4 Maret 2025. Di tengah heningnya belantara Bentang Alam Raung-Ijen, Jawa Timur, matahari pagi menembus celah kanopi hutan yang lebat. Tim survei dari Yayasan SINTAS Indonesia dan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur menapaki jalur-jalur terjal yang jarang tersentuh manusia melalui Java-wide Leopard Survey (JWLS). JWLS adalah upaya kolaboratif pertama untuk survei dan konservasi Macan Tutul Jawa sekala pulau, antara pemerintah selaku pemangku kawasan dan otoritas kebijakan, Yayasan SINTAS Indonesia selaku project leader, swasta dalam hal ini PT iForte- PT Profesional Telekomunikasi Indonesia selaku donor dan organisasi lokalselaku pelaku utama di tingkat tapak. Dalam misi penting ini, mereka mencari lebih dari sekadar jejak kaki di tanah basah, mereka mencari tanda-tanda kehidupan dari penghuni puncak rantai makanan: Panthera pardus melas, Macan Tutul Jawa, kucing besar terakhir di Pulau Jawa. Antara Oktober hingga pertengahan November 2024, sebanyak 80 kamera pengintai dipasang di 40 stasiun yang tersebar di Blok Utara kawasan ini. Hasilnya menggugah—sebanyak 126 tanda kehadiran satwa terdeteksi, termasuk lima sampel feses yang diduga milik macan tutul jawa. Sampel tersebut kini tengah dianalisis secara genetik di laboratorium Fakultas Kehutanan UGM, membuka peluang besar untuk memahami dinamika populasi spesies ini lebih dalam. Namun, harapan itu beriringan dengan kekhawatiran. Di balik rimbunnya hutan, tim juga menemukan gangguan terhadap habitat satwa belum benar-benar hilang, yang tentu saja mengintai keberadaan macan tutul dan satwa lain seperti Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) serta Kijang (Muntiacus muntjak). "Ancaman ini bukan sekadar kerusakan alam; ini soal masa depan ekosistem yang saling terhubung," ujar Ummi Farikhah, Koordinator Lapangan. Survei ini bukan hanya tentang angka atau peta lokasi. Ini tentang kisah perjuangan melindungi warisan alam yang tak ternilai. Kamera-kamera yang kini terpasang akan terus merekam selama 90 hari ke depan, menjadi mata-mata senyap yang merekam aktivitas satwa liar di tengah ancaman yang mengintai. Penarikan kamera dijadwalkan hingga akhir Februari 2025, diharapkan dapat memberikan gambaran utuh tentang pola pergerakan dan preferensi habitat macan tutul jawa. Bentang Alam Raung-Ijen bukan sekadar hamparan hijau di peta Jawa Timur. Ia adalah rumah bagi kehidupan yang harus tetap terjaga. Ketika jejak-jejak kaki Macan Tutul itu perlahan memudar, akankah kita hanya menjadi saksi bisu, atau penjaga yang bertindak? Aksi bersama ini langkah maju, untuk menjaga kelestarian sang predator puncak. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Baca Artikel

Kontemplasi Hari Satwa Liar Sedunia 2025 di Taman Margasatwa Medan Zoo

Medan, 4 Maret 2025. Hari Satwa Liar Sedunia atau World Wildlife Day diperingati setiap tanggal 3 Maret. Peringatan ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dalam berbagai jenis fauna dan flora liar yang indah dan beragam dengan berbagai manfaat yang diberikan satwa dan tumbuhan liar di dunia untuk kehidupan manusia dan Kesehatan planet bumi. Majelis Umum PBB melalui sidang sesi ke-68 pada 20 Desember 2013 menetapkan tanggal 3 Maret sebagai Hari Satwa Liar Sedunia. Hari internasional ini, ditetapkan untuk meningkatkan kesadaran tentang satwa dan tumbuhan liar di dunia sebagai upaya konservasi untuk melindungi mereka untuk generasi mendatang. Pentingnya hari satwa liar ini, lebih dari sekadar peringatan. Melainkan, juga berfungsi sebagai seruan untuk bertindak, baik bagi individu, komunitas atau organisasi dan pemerintah, untuk bersatu dalam membela satwa liar. Sebagaimana kita ketahui, satwa liar merupakan bagian penting dari ekosistem hutan dan kehidupan manusia. Satwa liar membantu menjaga keseimbangan alam, menyediakan makanan dan sumber daya lainnya. Sayangnya, saat ini masih banyak satwa liar yang menghadapi berbagai ancaman, seperti perburuan liar, perdagangan satwa liar, dan perubahan iklim. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk melindungi satwa liar dan melestarikan keanekaragaman hayati. Pada tahun 2025 tema peringatan ini adalah, "Pendanaan Konservasi Satwa Liar: Berinvestasi pada Manusia dan Planet," menggarisbawahi pentingnya mobilisasi sumber daya keuangan untuk mendukung inisiatif konservasi. Karena lebih dari satu juta spesies menghadapi ancaman kepunahan. Mekanisme pendanaan yang inovatif sangat penting untuk menjembatani kesenjangan pendanaan dan mempromosikan praktik berkelanjutan yang menguntungkan manusia dan alam. Melalui tema peringatan ini pada 3 Maret 2025, Founder Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta ( GRAS ) Nurhabli Ridwan yang juga kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara melakukan kunjungan di Taman Margasatwa Medan Zoo yang berada di Jalan Bunga Rampai IV No. 100, Kelurahan Simalingkar B, Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan. Berkunjung di taman margasatwa, berarti kita juga ikut berinvestasi secara mandiri akan keberlangsungan hidup satwa liar. Saat ini memang kita belum memiliki akses atau kesempatan untuk melihat langsung binatang-binatang eksotis di alam liar. Kunjungan ini bukan hanya sekedar rekreasi semata, tetapi juga menjadi media kontemplasi akan koneksi dan saling ketergantungan hubungan manusia dengan satwa termasuk alam lingkungan. Kontemplasi ini mengingatkan dan menyadarkan bahwa sejatinya seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan yang ada di alam ini saling membutuhkan dan saling melengkapi, sehingga seharusnya lah saling menjaga dan melindungi agar hubungan harmonis tersebut dapat terpelihara (terawat) dengan baik dan memberi manfaat. Taman margasatwa merupakan salah satu tempat yang tepat sebagai penitipan satwa-satwa langka. Sehingga hewan-hewan tersebut tetap bisa diawasi dan dirawat dengan baik di lingkungan habitat buatan sesuai dengan aslinya. Langkah tersebut tidak hanya akan menyelamatkan hewan dari kepunahan, tapi juga memastikan generasi kita tetap bisa melihat langsung hewan tersebut di masa yang akan datang. Medan Zoo adalah salah satu taman margasatwa tertua di Medan, didirikan sejak tahun 1952 dan termasuk juga salah satu kebun binatang tertua di Indonesia. Total luas lahan kebun binatang ini adalah 30 hektare. Sepanjang tahun 2023 sampai 2024, Medan Zoo menghadapi krisis serius, ditandai dengan kematian beberapa satwa akibat penyakit dan usia tua. Tidak hanya itu, masalah ekonomi dan penurunan jumlah pengunjung juga sangat mempengaruhi dalam pengelolaan kebun binatang ini. Namun kini Medan Zoo mulai berbenah dengan melakukan revitalisasi kandang dan sekaligus perawatan satwa. Revitalisasi menjadi langkah serius untuk kembali meningkatkan kenyamanan satwa dan pengunjung. Selain peran pemerintah dan organisasi, kontribusi masyarakat juga sangat dibutuhkan dalam penanganan Medan Zoo. Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan mengunjungi taman margasatwa ini, sehingga ikut membantu dalam hal finansial melalui tiket (karcis) masuk. Pemasukan dari tiket inilah yang nantinya akan digunakan untuk pengadaan pakan serta perawatan satwa. Untuk itu, mari berkunjung ke Taman Margasatwa Medan Zoo. Sumber : Nurhabli Ridwan (GRAS / Kader Konservasi Alam) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Balai TN Taka Bonerate Ajak Anak - Anak TK Mengenal Satwa dan Tumbuhan di Peringatan Hari Bakti Rimbawan

Benteng, 01 Maret 2025 – Masih dalam rangka memperingati Hari Bakti Rimbawan tahun 2025, Balai Taman Nasional (TN) Taka Bonerate menyelenggarakan Lomba Mewarnai dan Kampanye Cinta Satwa dan Tumbuhan (28/02). Acara ini dihadiri oleh perwakilan siswa taman kanak-kanak (TK) se-Kecamatan Benteng yang bertempat di ruang tunggu Balai TN Taka Bonerate. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan kecintaan terhadap alam dan keanekaragaman hayati sejak dini. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kreativitas bagi anak-anak, tetapi juga menjadi media edukasi tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Para peserta lomba mewarnai diberikan gambar-gambar yang bertema satwa dan tumbuhan, seperti penyu, burung laut, dan harimau. Selain itu, kampanye cinta satwa dan tumbuhan juga diisi dengan pemaparan singkat tentang keanekaragaman hayati dan upaya konservasi yang dibawakan oleh Khoirul Anam, Pejabat Fungsional PEH Pertama Balai TN Taka Bonerate. Acara ini diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk membangun generasi muda yang peduli terhadap lingkungan dan keberlanjutan alam. "Kami berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari komitmen kami dalam mendidik generasi muda untuk mencintai dan melestarikan alam," pesan Kepala Balai TN Taka Bonerate, Ali Bahri. Kegiatan ini ditutup dengan penyerahan hadiah kepada pemenang lomba mewarnai dan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Semoga semangat cinta satwa dan tumbuhan ini terus tumbuh dan menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk turut serta menjaga kelestarian alam. Sumber: Asri - Humas Balai TN Taka Bonerate Sumber Foto : Panitia HBR 2025
Baca Artikel

Solidaritas Rimbawan: Menanam Harapan, Menjaga Hutan untuk Masa Depan

Sidoarjo, 28 Februari 2025. Semangat Hari Bakti Rimbawan ke-42, para pejuang lingkungan di Jawa Timur kembali meneguhkan komitmen mereka dalam menjaga hutan dan ekosistemnya. Mengusung tema “Solidaritas Korsa Rimbawan untuk Hutan Berkelanjutan”, acara ini menjadi momentum penting untuk menanam pohon sebagai simbol kepedulian terhadap kelestarian alam dan mitigasi bencana hidrometeorologis. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian aksi nasional yang dipimpin langsung oleh Menteri Kehutanan di Taman Wisata Alam Gunung Pancar, Jawa Barat. Sementara itu, di Jawa Timur, penanaman pohon berlangsung di Kompleks Kantor Dinas Kehutanan dan sepanjang ruas jalan menuju Kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur yang baru, 28 Februari 2025. Jenis pohon yang ditanam meliputi Maja, Ficus, Mangga, Rambutan, Sawo, dan Pulai—spesies yang dipilih untuk mendukung ketahanan ekosistem serta mengurangi risiko bencana lingkungan. Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur dalam sambutannya mengapresiasi kerja keras para rimbawan di tengah berbagai tantangan, termasuk efisiensi anggaran yang menjadi kebijakan nasional. Dengan semangat kebersamaan dan kecintaan pada hutan, para rimbawan Jawa Timur membuktikan bahwa pelestarian alam adalah tanggung jawab bersama. “Selamat Hari Bakti Rimbawan. Selamat Menanam Pohon untuk mencegah bencana hidrometeorologis. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi langkah kita bersama,” tutupnya. Peringatan Hari Bakti Rimbawan di Bidang KSDA Wilayah II Bersamaan, di Pamekasan juga dilaksanakan penanaman lingkungan kantor Bakorwil IV Pamekasan yang dipimpin langsung oleh Kepala Bakorwil IV Pamekasan, sebagai bentuk kesiapan dalam mendukung upaya konservasi. Kegiatan utama berupa penanaman pohon Multi-Purpose Tree Species (MPTS), seperti kelengkeng, alpukat, dan rambutan. Pohon-pohon ini tidak hanya berfungsi sebagai penyerap karbon dan penjaga keseimbangan ekosistem, namun juga memiliki manfaat jangka panjang bagi masyarakat sekitar. Sementara itu, di Gresik, aksi serupa juga digelar di Kantor Bidang KSDA Wilayah II Gresik. Penanaman dilakukan secara sederhana sebagai upaya enrichment atau pengayaan vegetasi di sekitar kantor. Jenis pohon yang ditanam mencakup mangga, alpukat, belimbing, ceremai, serta tanaman MPTS lainnya. Meski berlangsung dengan suasana yang sederhana, kegiatan ini sarat makna, mencerminkan dedikasi para rimbawan dalam menjaga kelestarian lingkungan. Bojonegoro Bergerak Pada hari yang sama Seksi KSDA Wilayah (SKW) II Bojonegoro menggelar aksi penanaman pohon di beberapa lokasi strategis, yakni kawasan Cagar Alam (CA) Goa Nglirip di Kabupaten Tuban, Hutan Alam Perum Perhutani RPH Badegan BKPH Sumoroto, serta lahan hijau Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ponorogo. Sebanyak 40 pohon dari genus Ficus ditanam di kawasan CA Goa Nglirip. Sementara itu, di RPH Badegan, SKW II Bojonegoro menanam enam pohon alpukat dan dua pohon kelengkeng, yang tidak hanya mendukung penghijauan tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Dengan aksi nyata ini, harapan terbesar adalah ketika upaya penghijauan dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi lingkungan serta kehidupan satwa liar di kawasan konservasi. Hari Bakti Rimbawan bukan sekadar peringatan, tetapi menjadi momentum bagi semua pihak untuk terus berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam bagi generasi mendatang. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Satwa Liar Yang Tidak Liar Lagi

Sumber : Kukangku Medan, 3 Maret 2025. Ada apa di tanggal 3 Maret? Ternyata di kalendernya penggiat konservasi alam dan lingkungan hidup, tanggal 3 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Satwa Liar Sedunia atau World Wildlife Day. Majelis Umum PBB memutuskan untuk menetapkan tanggal 3 Maret sebagai Hari Margasatwa Sedunia. Ini untuk merayakan dan meningkatkan kesadaran akan fauna dan flora liar dunia. Tanggal tersebut merupakan diadopsinya Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Fauna dan Flora Liar Yang Terancam Punah (CITES) pada tahun 1973, yang berperan penting dalam memastikan bahwa perdagangan internasional tidak mengancam kelangsungan hidup spesies tersebut. (https://news.detik.com) Tanggal 3 Maret ditetapkan sebagai Hari Satwa Liar Sedunia dalam sebuah resolusi yang dibuat pada pertemuan ke 16 Konferensi Para Pihak CITES (CoP 16) yang diselenggarakan di Bangkok pada tanggal 3 hingga 14 Maret 2013. Resolusi CITES tersebut disponsori oleh Kerajaan Thailand, tuan rumah CITES CoP 16, yang menyampaikan hasil CITES CoP 16 kepada Majelis Umum PBB. Sekretariat Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Floran dan Fauna Liar Yang Terancam Punah (CITES) bekerjasama dengan organisasi PBB terkait lainnya, memfasilitasi pelaksanaan Hari Satwa Liar Sedunia. Hari Satwa Liar Sedunia mengingatkan kita untuk memerangi kejahatan terhadap satwa liar dan pengurangan spesiesnya akibat manusia, yang memiliki dampak ekonomi, lingkungan, dan sosial yang luas. Pada dasarnya penyebab utama hilangnya atau musnahnya keanekaragaman hayati adalah perilaku manusia dalam mengelola sumber daya alam dan bumi. Dewasa ini ada fenomena yang berkembang dan menarik untuk dicermati serta disikapi, yaitu adanya sekelompok orang atau oknum yang mempunyai kegemaran untuk memiliki, memelihara dan merawat satwa liar jenis dilindungi. Kasus yang baru-baru ini viral I Nyoman Sukena, warga Bali yang memelihara Landak Jawa (Hystrix javanica), tentunya masih belum lepas dari ingatan kita. Sukena telah merawat satwa liar tersebut kurang lebih selama 5 tahun. Akibat memelihara satwa yang dilindungi, ia sempat menghadapi ancaman hukuman penjara hingga lima tahun, meskipun pada akhirnya Sukena dinyatakan bebas dari tuduhan dalam kasus tersebut. Kasus Sukena ini, kemudian seolah-olah menyingkap tabir bahwa sejatinya bukan hanya Sukena yang memelihara satwa dilindungi, ada orang-orang bahkan oknum-oknum yang juga melakukan hal yang sama, namun belum terjamah oleh hukum. Seakan-akan ada diskriminasi perlakuan. Lalu bagaimana upaya Kementerian Kehutanan menyikapinya ? Sebenarnya, jauh sebelum viralnya kasus Sukena ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) telah menerbitkan Siaran Pers “Tanggapan KLHK Saat Satwa Liar Banyak Dijadikan Konten Medsos”, tanggal 22 April 2020, yang isinya menghimbau masyarakat untuk tidak memelihara satwa liar, berburu, mengkonsumsi dan memperdagangkan satwa liar tanpa izin. Semua lapisan masyarakat terutama public figure/selebritas agar dapat memberikan contoh yang baik , dengan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku, khususnya terkait pemeliharaan satwa liar. Sudah semestinya satwa liar dibiarkan hidup di habitatnya, dan menjalankan fungsinya sebagai bagian keseimbangan eksosistem di alam. (https://ppid.menlhk.go.id/berita/siaran-pers) Masih menurut Siaran Pers, selain melanggar hukum, memelihara satwa liar yang dilindungi tanpa izin dapat membahayakan keselamatan dan kesehatan pemiliknya. Meski sudah dirawat sejak lama, satwa tersebut masih memiliki sifat liar dan buas terhadap manusia dalam situasi tertentu. Selain itu, satwa bisa menjadi media penyebar penyakit bagi manusia. Meski lebih besar potensi satwa menularkan kepada manusia, ada kemungkinan manusia juga dapat menularkan penyakit ke satwa. Berarti, sikapnya Kementerian Kehutanan sudah cukup jelas dan konkrit. Tidak hanya sekedar himbauan, tetapi juga dilengkapi dengan berbagai peraturan hukum. Namun faktanya kemudian masih ada saja orang-orang yang menutup mata dengan himbauan dan peraturan tersebut. Bahkan aktivis pencinta satwa Davina Veronica, Co-Founder dan CEO Garda Satwa, menyatakan ada pesohor yang terang-terangan memamerkan satwa liar ke publik. Sadar atau tidak disadari, perbuatannya itu berpotensi memicu orang lain mengikuti atau meniru hal yang sama. Sehingga permintaan akan satwa liar untuk dipelihara semakin banyak. “Ini masalahnya, Ketika demand (permintaan) akan satwa liar untuk dipelihara semakin banyak, akan terus terjadi perputaran jual beli di pasar yang tidak ada ujungnya,” kata Devina. (https://www.tempo.co) Pernyataan yang hampir sama dikemukakan oleh Tim Rescue dari JAAN, Benvika yang mengatakan para kolektor dan penghobi satwa punya andil besar dalam laju kepunahan satwa liar di alam, karena permintaan mereka membuat rantai kejahatan perdagangan satwa terus terjadi. Sumber : ERA.ID “Pedagang akan terus memperjualbelikan ketika ada pesanan atau permintaan dan pedagang akan memesan kepada pemburu dan para pemburu akan terus menangkap dari alam sehingga bisa dipastikan laju kepunahan satwa liar di alam akan tak terbendung lagi ketika mata rantai kejahatan ini terus terjadi,” kata Benvika. (https://www.mongabay.co.id). Momentum peringatan Hari Satwa Liar Sedunia atau World Wildlife Day 2025, mengetuk naluri kesadaran kita, ternyata Pekerjaan Rumah (PR) untuk menyelamatkan satwa liar masih menumpuk. Apa yang bisa kita lakukan ??? Tidak cukup hanya berdoa, diperlukan juga reaksi dan aksi nyata. Saya kembalikan ke diri kita masing-masing, lakukanlah apa yang bisa kita lakukan meskipun itu hanya pekerjaan kecil… dan meskipun menghadapi berbagai tantangan… Jangan biarkan satwa liar tidak liar lagi… Jangan biarkan satwa liar punah dari habitatnya….. Selamat merayakan Hari Satwa Liar Sedunia 2025….. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Storytelling Buku Cerita Anak di Pantai Batakan TWA Pelaihari

Batakan, 27 Februari 2025 – Semakin maraknya kasus perburuan dan perdagangan satwa liar yang dilindungi tidak hanya mengancam habitat mereka. Namun juga akan mengganggu keberlangsungan lingkungan serta makhluk hidup lainnya. Hal-hal tersebut sering terjadi, salah satunya karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keberadaan satwa-satwa liar tersebut. Oleh karena itu ada program yang dinamakan The Application of One Health Approach to Raise Wildlife Protection Awareness Indonesia (OHAWE). OHAWE merupakan program yang bertujuan meningkatkan kesadaran terhadap resiko perdagangan satwa liar di Indonesia dengan didukung oleh Kementerian Federal Jerman melalui proyek International Alliance against Wildlife Health Risks in Wildlife Trade oleh GIZGIZ kepada Pusat Kajian One Health Universitas Udayana. Acara ini melibatkan beberapa pihak yang mendukung kelancaran kegiatan, diantaranya BKSDA Kalimantan Selatan sebagai Pembuka Acara yang diwakili oleh Kepala SKW I Pelaihari Agus Erwan, S. Hut, M.Sc, Kepala Resort dan Anggota Resort TWA Pelaihari sebagai pendamping kegiatan, Universitas Sari Mulia Banjarmasin sebagai panitia acara, serta ruang Aktor Acting School Banjarmasin sebagai storyteller. Pada Batch kedua ini OHAWE project dilaksanakan di Kalimantan Selatan tepatnya di wilayah konservasi BKSDA Kalimantan Selatan-Pantai Batakan TWA Pelaihari, sebagai provinsi perwakilan regional kalimantan yang pertama. Sasaran dari program ini adalah anak-anak serta wali muridnya. Kegiatan ini melibatkan 2 (dua) sekolah di Pelaihari, yaitu SD GALAM Bajuin dan SDN 2 Batakan. Ni Nyoman Sri Budayanti selaku Ketua Pusat Kajian One Health Universitas Udayana mengatakan perlu peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai resiko ancaman perdagangan satwa liar, hal ini tidak terbatas pada remaja dan orang dewasa tetapi juga pada anak-anak karena mereka mampu melakukan lebih banyak perubahan setelah mereka memiliki rasa hormat dan sikap menghargai terhadap kelestarian satwa liar sejak dini. Diharapkan project ini bisa meningkatkan kesadaran siswa dan siswi serta orang tua siswa akan resiko perdagangan satwa liar, pentingnya melindungi serta menjaga kelestarian alam dan satwa liar. (Ryn) Sumber: Revina Rizqidia E. S., S.Hut (Polhut SKW I) & Doc. by : M. Ricky Fadillah B. (Penyuluh SKW I) - Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Belajar Konservasi di Bawah Rindang Mahoni

Kediri, 27 Februari 2025. Memperingati dies natalis Universitas Kadiri ke 45, Kelompok Pecinta Alam (KPA) Mauna Kea bersama Seksi KSDA Wilayah (SKW) I Kediri, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) mengadakan kegiatan penanaman dan seminar konservasi, Kamis (27/2). Kegiatan tersebut bertempat di gunung Klotok dengan mengambil tema ”Dari Kita Untuk Bumi di Esok Hari”. Peserta kegiatan merupakan perwakilan KPA Siswa Pecinta Alam dan Mahasiswa Pecinta Alam dari Nganjuk dan Kediri. Kegiatan diawali dengan menanam kurang lebih 100 bibit pohon. Beberapa jenis bibit yang ditanam yaitu Cendana (Santalum album), Jati Belanda (Guazuma ulmifolia), Kepuh (Sterculia foetida), Kluwak (Pangium edule), Kayu Lanang (Oroxylum indicum) dan Pala (Myristica fragrans). Setelah penanaman, kegiatan dilanjutkan dengan seminar konservasi dibawah sejuknya tajuk Mahoni. Peserta antusias mengikuti materi yang dibawakan oleh staf SKW I Kediri, karena pemaparan materi diselingi dengan kuis berhadiah. Meski beberapa kali jenset mati, namun tidak mengurangi keseruan acara. Seminar ditutup dengan penayangan film Sabda Alam yang membuat beberapa peserta tersentuh dalam haru menyaksikan film yang mengisahkan kejamnya perdagangan satwa merusak harmoni alam itu. Sumber: Siti Nurlaili - Pengendali Ekosistem Muda Seksi KSDA Wilayah I Kediri Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Clean up Rinjani Menuju Go Rinjani Zero Waste 2025

Mataram, 27 Februari 2024. Memperingati Hari Bakti Rimbawan ke-42 tahun 2025, Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) bersama Arei Outdoor Gear dan Pandwara Group melakukan kegiatan Clean up Rinjani yang dilaksanakan pada tanggal 26 sampai 28 Februari 2025. Kegiatan ini sebagai bentuk kolaborasi Balai TNGR dan komitmen bersama dalam mensukseskan Program Go Rinjani Zero Waste 2025, dengan rencana pelaksanaaan kegiatan dilakukan di sepanjang jalur wisata pendakian Sembalun, Danau Segara Anak dan Jalur Torean. Peserta kegiatan diikuti oleh 24 tim dengan jumlah peserta 102 orang, berasal dari berbagai komunitas diantaranya Arei Outdoor Gear, Pandawara Group, Unit SAR Lotim dan 6 Orang petugas pendamping dari Balai TNGR. Selanjutnya peserta dibagi menjadi 2 (dua) Kelompok, 14 tim akan mulai dari jalur Wisata pendakian Sembalun sedangkan 10 team melakukan kegiatan dimulai dari Jalur Wisata Pendakian Torean hingga kedua kelompok bertemu di Area Danau Segara Anak. Kegiatan dibuka langsung oleh kepala Balai TNGR Yarman, S.Hut., M.P sekaligus melepas peserta kegiatan Clean up Rinjani. Diharapkan dengan dilaksanakan kegiatan ini akan membawa manfaat yang besar akan pentingnya menjaga kebersihan di Gunung Rinjani serta bagi keberlangsungan ekosistemnya. a
Baca Artikel

BBKSDA Sumut dan Pusat Perlindungan Orangutan Visit To Kampus UIN Sumut

Medan, 26 Februari 2025. Setelah kunjungan mahasiswa/mahasiswi serta dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara Jurusan Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi ke kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, pada tanggal 14 Januari 2025, Balai Besar KSDA Sumatera Utara menginisiasi melakukan kegiatan road to Kampus UIN Sumatera Utara, pada Selasa (25/2) di jln. Lapangan Golf Kampung Tengah, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, sebagai kunjungan balasan. Balai Besar KSDA Sumatera Utara menggandeng lembaga mitra kerjasama Pusat Perlindungan Orangutan (Center for Orangutan Protection), melakukan giat Penyuluhan dan Kampanye Penyadartahuan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) yang diikuti sekitar 45 orang mahasiswa/i didampingi Ketua Prodi Biologi Zahratul Idami, M.Sc., dan dosen Dr. Ir. M. Idris, M.P. Bertindak sebagai narasumber dari Balai Besar KSDA Sumatera Utara Eva Suryani Sembiring, S.Hut., Penyuluh Kehutanan, yang memaparkan materi tentang Pengenalan Kawasan Konservasi dan Konservasi Satwa Liar. Eva Suryani membekali peserta dengan pengetahuan tentang strategi konservasi yang dikenal dengan 3P (Perlindungan, Pengawetan dan Pemanfaatan), beberapa kawasan konservasi yang ada di wilayah kerja Balai Besar KSDA Sumatera Utara beserta potensi keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya serta tentang satwa liar khususnya 4 satwa kunci di Sumatera Utara yaitu Gajah Sumatera, Harimau Sumatera, Orangutan Sumatera dan Orangutan Tapanuli. Eva Suryani juga mengajak generasi muda khususnya mahasiswa untuk peduli terhadap satwa liar dengan mempelajari dan menggali informasi tentang keberadaan satwa-satwa tersebut. Disamping itu, ikut juga menyebarluaskan informasi ke masyarakat agar melindungi dan melestarikan satwa liar setidaknya tidak memelihara dan memburu satwa-satwa tersebut. Eva Suryani Sembiring, S.Hut., Penyuluh Kehutanan Balai Besar KSDA Sumatera Utara Narasumber lainnya, Ahmad Bukhari Saragih, M.Sc. dari Pusat Perlindungan Orangutan (Center for Orangutan Protection), memaparkan materi tentang Perlindungan Satwa Orangutan dan Satwa Liar lainnya. Ahmad Bukhari memperkenalkan lembaga Pusat Perlindungan Orangutan serta ruang lingkup kegiatan/aktifitasnya. Selain itu juga memaparkan tentang beragam jenis satwa primata sampai kepada orangutan. Ahmad Bukhari mengupas tuntas tentang orangutan baik morfologi maupun perilakunya. 97 % Gen orangutan sama dengan manusia, sehingga apabila manusia mengidap penyakit, akan dengan mudah menular ke orangutan, demikian juga sebaliknya. Permasalahan yang dihadapi orangutan adalah perusakan dan pengalihan fungsi kawasan hutan sebagai habitatnya, konflik dengan warga, kegiatan perburuan dan perdagangan, serta pemeliharaan orangutan. Satwa ini sering dianggap sebagai hama karena mengganggu aktivitas perladangan warga. Di beberapa negara lain, orangutan kerap juga dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk menampilkan atraksi sebagai hiburan yang dipertontonkan. Oleh karena itu perlu tindakan nyata untuk melindunginya agar tidak punah. Ahmad Bukhari Saragih, M.Sc. narasumber dari Pusat Perlindungan Orangutan Penyampaian materi oleh kedua narasumber menarik perhatian mahasiswa yang mengikutinya, beberapa pertanyaan pun disampaikan kepada nasumber, baik tentang pengenalan keragaman hayati maupun permasalahan teknis menyangkut orangutan yang berkonflik dengan warga. Dan semua dibahas tuntas oleh kedua narasumber. Suasana diskusi yang menarik ini, diakui juga oleh Ketua Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sumut, Zahratul Idami, M.Sc., saat menutup acara, menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan yang dilakukan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dan berharap kedepannya dapat menjalin kerjasama untuk pengembangan pendidikan dan pengetahuan serta riset bagi mahasiswa UIN Sumut. Akhir dari rangkaian kegiatan, Pusat Perlindungan Orangutan juga melakukan giat pameran yang menampilkan bahan-bahan dokumentasi tentang orangutan, di lingkungan kampus UIN Sumut. Pameran disaksikan mahasiswa dan dosen. Dengan kegiatan ini diharapkan selain membekali pengetahuan, juga dimaksudkan untuk mendorong minta generasi muda berperan aktif menyelamatkan satwa liar dengan berbagai cara. Pameran tentang Orangutan dari Pusat Perlindungan Orangutan Sumber : Samuel Siahaan, SP. (PEH Ahli Pertama) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Tersesat dalam Pelukan Kawah Ijen: Sekejap Hilang, Seumur Hidup Jadi Pelajaran

Paltuding, 25 Februari 2025. Angin pagi yang dingin menyelimuti Kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen pada Minggu, 23 Februari 2025. Saat itu sekelompok pendaki berjumlah 44 orang memulai perjalanan mereka. Salah satunya Hoirud Dian, pemuda berusia 23 tahun yang menjadi pusat perhatian setelah dilaporkan hilang di jalur pendakian yang populer di kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara itu. Kejadian bermula ketika Hoirud memutuskan untuk turun lebih dulu dari rombongannya. Sebuah keputusan yang kemudian membawa pada rangkaian pencarian intensif. Rekan-rekannya mengira ia telah pulang ke rumah. Namun, kecurigaan berubah menjadi kekhawatiran saat keluarga Hoirud mendatangi pos Paltuding pada dini hari berikutnya. Laporan kehilangan resmi baru diterima pada pukul 02.30 WIB, memicu aksi cepat dari petugas RKW 15 Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BBKSDA Jatim) yang dibantu pelaku wisata setempat. Pencarian yang dimulai sekitar pukul 03.30 WIB berlangsung menegangkan. Kabut tebal, suhu dingin, dan medan yang menantang menjadi tantangan tersendiri. Hingga akhirnya, sekitar pukul 08.00 WIB, Hoirud ditemukan berjalan keluar dari arah hutan, sekitar satu kilometer dari Paltuding. Lega dan haru bercampur ketika ia dipertemukan kembali dengan keluarganya. Tanpa mengalami luka serius, ia kemudian diantar pulang ke kediaman saudaranya di Pujer, Bondowoso. Namun, insiden ini menyisakan pertanyaan penting: Bagaimana seseorang bisa tersesat di jalur yang ramai dan telah ditandai dengan jelas? Jawabannya seringkali sederhana namun fatal, abai dan lengah! Etika dan Keselamatan di Jalur Pendakian Kawah Ijen bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah ekosistem yang hidup, dengan keindahan yang memikat sekaligus tantangan yang tak boleh diremehkan. Kasus Hoirud menjadi pengingat bahwa pendakian bukan sekadar soal fisik, tapi juga tentang kesadaran dan tanggung jawab. Berikut beberapa etika dan tips keselamatan yang harus diperhatikan setiap pengunjung: Apapun alasannya, tetaplah bersama kelompok. Jika terpaksa berpisah, pastikan semua anggota mengetahui rencana dan jalur yang akan diambil. Kenakan pakaian dan alas kaki yang sesuai, bawa air minum, makanan ringan, dan peralatan darurat seperti senter, peluit, serta peta jalur. Jangan mencoba membuat jalur sendiri atau mengambil jalan pintas. Jalur pendakian telah dirancang untuk keselamatan pengunjung dan perlindungan ekosistem. Jika ada perubahan rencana mendadak, beri tahu pemandu atau petugas setempat. Jangan pernah menganggap remeh informasi kecil seperti ini. Cuaca di kawasan pegunungan dapat berubah drastis. Jika merasa tidak fit atau cuaca memburuk, pertimbangkan untuk menunda pendakian. Pemimpin rombongan harus memastikan semua anggota terdata dengan baik sebelum, selama, dan setelah pendakian. Petualangan di alam bebas adalah pengalaman yang memperkaya jiwa, tetapi di balik keindahannya tersembunyi risiko yang tak boleh diabaikan. Kasus di Kawah Ijen ini bukan sekadar cerita tentang orang hilang yang berakhir bahagia, tetapi juga pengingat bahwa di alam kehati-hatian bukanlah pilihan, melainkan kewajiban. “Jangan remehkan sunyi, jangan abaikan langkah kecil, sebab di alam, pulang adalah anugerah terbesar” Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak untuk lebih waspada dan bertanggung jawab dalam menjelajahi keindahan alam Indonesia. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Muda pada Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

GYM Sumut dan GRAS Beraksi di HPSN 2025

Sampah yang berhasil dikumpulkan Medan, 25 Februari 2025. Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Perhimpunan Cendekiawan Lingkungan Indonesia (Perwaku) Sumatera Utara memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2025 dengan tema “Memulihkan Fungsi Lingkungan Hidup Aksi Bersih Aliran Kanal Marindal”, di Jembatan Kanal Bajak V, Medan Amplas, Kota Medan, pada Sabtu (22/02/2025). Dalam kegiatan ini DPW PERWAKU Sumut bekerjasama dengan Konsorsium HPSN Lingkungan Kanal 2025, Rumah Briket, Cendikia Hijau Indonesia, Pemerhati Sungai Canal (PASCAL), Klinik Reboisasi, Forum DAS, KEIND Sumatera Utara. Kegiatan yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB ini melibatkan ratusan peserta termasuk Babinsa Kodim 0201/Medan, Koramil 15/DT Sertu Muliadi, Kepala Desa Marendal 1 Ir Ardianto, angkatan Juang 45, RDEF, World Cleanup Day (WCD) Sumatera Utara, dosen dan mahasiswa dari Fakultas/Prodi PTN & PTS Se Kota Medan. Momen penting diikuti juga Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Green Ambassador Green Youth Movement (GYM) Sumatera Utara, penggiat lingkungan serta masyarakat sekitar yang memiliki kepedulian terhadap kebersihan lingkungan. Kegiatan ini sekaligus menjadi Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pengabdian Masyarakat) dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2025. Berbekal topi, tumbler, sarung tangan dan kantong sampah, dengan semangat tinggi, para peserta membersihkan area sepanjang rute yang telah ditentukan, mengumpulkan sampah plastik, kertas, serta sampah lainnya. Rute kegiatan aksi bersih dimulai dari jembatan kanal Bajak V, kemudian peserta menyisir jalan pinggiran kanal menuju jembatan kanal Marindal hingga kembali ke titik awal. Kemudian dilanjutkan pencucian kanal dengan menuangkan Eco Enzym dan penebaran bibit ikan di sungai di bawah jembatan kanal Bajak V. Kegiatan diakhiri dengan parade musikalisasi ET Teatrikal dan bazar UMKM tradisional. GYM Sumut dan perwakilan GRAS foto bersama usai kegiatan aksi bersih kanal Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) Nurhabli Ridwan yang juga kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengatakan kegiatan ini tidak hanya bertujuan mengurangi sampah dan limbah lainnya, tetapi juga mengajak masyarakat berkolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ini adalah kontribusi nyata dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih dan lestari. Kesadaran kolektif sangat dibutuhkan untuk mewujudkan lingkungan yang sehat. Green Ambasador GYM Sumut pun memandang aksi ini positif dalam menumbuhkan kepekaan dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan hidup. Hati nurani Green Ambasador terpanggil untuk ikut berperan aktif. Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap tahunnya diperingati pada tanggal 21 Februari. Adapun HPSN 2025 bertepatan dengan 20 tahun tragedi runtuhnya TPA Leuwigajah, Cimahi yang memakan korban pada 21 Februari 2005 yang menjadi sejarah lahirnya Hari Peduli Sampah Nasional sebagai titik balik pengelolaan sampah di Indonesia, agar diingat peristiwanya dan dipetik hikmahnya. Dalam memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2025 ada delapan lokasi aksi, yaitu pantai, gunung, kawasan mangrove, desa, pesantren, pasar, sekolah dan kampus. Setiap orang juga bisa ikut berpartisipasi, bahkan dari rumah. Semoga dengan aksi nyata memberi dampak baik bagi kesadaran masyarakat untuk peduli dan mengelola sampah secara bijak menuju Indonesia bersih dan sehat. Sumber : Nurhabli Ridwan ( GRAS / Kader Konservasi Alam )- Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Seminar Nasional Bela Negara Upaya Konservasi Berbasis Teknologi

Medan, 24 Februari 2025. Bela negara adalah tanggung jawab seluruh rakyat, tanpa memandang usia, gender, atau profesi. Tidak hanya militer, seluruh warga negara memiliki peran dalam mempertahankan kedaulatan bangsa sesuai dengan kemampuan dan profesi masing-masing, termasuk dalam melindungi kekayaan alam Indonesia dengan sistem perlindungan terintegrasi sebagai upaya konservasi dari ancaman kejahatan satwa liar, kehutanan, dan kelautan. Yayasan Naluri Fauna Indonesia (Nafas) bersama Direktorat Jendral Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan dan Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara mengadakan Seminar Nasional Bela Negara 2025 secara luring (offline) dan daring (online) zoom meeting di Aula lantai 3 Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Utara, Jalan Sisingamangaraja Medan, Kamis (20/2/2025). Kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci alquran, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Muhammadiyah, dan pembacaan kode etik pencinta alam. Kemudian sambutan Ketua Rayon 1 Mapala PTMSI Nasrul Maulana, Ketua Yayasan Naluri Fauna Indonesia (NAFAS) Badar Johan, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PWM Sumut Hamdan Sukrawi,ST., MT, dan dibuka secara resmi oleh Direktur Konservasi Kawasan, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. Ketua Yayasan Naluri Fauna Indonesia (NAFAS) Badar Johan mengatakan seminar ini mengangkat tema tentang Peran Teknologi Smart Patrol, Pemetaan, dan Sistem Perlindungan Terintegrasi, Dalam Upaya Konservasi Bagi Mahasiswa dan Komunitas Pencinta Alam di Seluruh Indonesia. Kegiatan ini disponsori TFCA Sumatera, di suport oleh Mapala Perguruan Tinggi Muhammadiyah Se-Indonesia, Yayasan Badak Indonesia (YABI), Yayasan Pesona Tropis Alam Indonesia (PETAI), Forum Harimau Kita, Forum Orangutan Indonesia (FORINA), Recyclo, The Wildlife Whisperer Of Sumatera, Forum Konservasi Gajah Indonesia dan Sumatera Tropical Forest Journalism. Hadir dalam seminar ini Direktur Konservasi Kawasan, Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. sebagai Keynote Speaker. Kemudian Ketua Bidang III Konservasi Indonesia’s FoluNetSink 2030, Dr. Ir. Wiratno, M.Sc. dan Direktur Wildlife Conservation Society Indonesia Program, Dr. Noviar Andayani, M.Sc. sebagai penanggap dalam seminar. Ada lima pemateri, antara lain Kepala Sub Direktorat Pengendalian Pengelolaan Kawasan Konservasi pada Direktorat Konservasi Kawasan Ditjen KSDAE, Dian Risdianto S.P., M.Si., Wakil Ketua Forum Konservasi Gajah Indonesia (FKGI), Wisnu Sukmantoro, Program Manajer Forum Orangutan Indonesia (FORINA) Fajar Saputra, Analis Konservasi Kawasan Muhammad Asad, dan Koordinator Lapangan Rhino Protection Unit (RPU) YABI Wilayah TNBBS Heri Pasiman, yang dimoderatori Okta Puspita dari Forum Harimau Kita (FHK). Seminar ini turut dihadiri lebih kurang 150 orang staf UPT Teknis KSDAE melalui luring maupun daring. Peserta lainnya berasal dari berbagai kalangan, termasuk perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS), Kader Konservasi Alam, Mapala UMSU, Sispala PALH SMAN 2 Medan, NGO/CSO, kader Muhammadiyah, aktivis lingkungan, mahasiswa dan kelompok pencinta alam dari Medan yang mengikuti secara luring. Sapto Aji Prabowo, S.Hut., M.Si. dalam paparan materi pembuka seminar mengatakan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban pemerintah serta masyarakat. Peningkatan peran serta masyarakat melalui berbagai kegiatan yang berdaya dan berhasil guna, serta dikembangkan melalui peningkatan sadar konservasi, pendidikan dan penyuluhan. Narasumber pertama, Wisnu Sukmantoro, dengan materi Pengantar Pencinta Alam Dalam Konservasi, mengatakan bahwa saat ini peran kegiatan konservasi oleh kaum muda cukup masif, kegiatan konservasi kebanyakan ke arah riset, penjagaan kawasan konservasi dengan target alam tetap lestari. Kemudian pemateri berikutnya Dian Risdianto, SP., M.Si yang membahas tentang Pengantar Keanekaragaman Hayati dan Konservasi, mengatakan terdapat tiga prinsip dasar konservasi, Perlindungan Sistem Penyangga Kehidupan, Pengawetan Keanekaragaman Jenis dan Ekosistemnya dan Pemanfaatan Secara Lestari. Ketiga sistem itu saling berkesinambungan, melalui perencanaan inventarisasi, penataan kawasan (zona & wilayah kerja) dan rencana pengelolaan perlindungan dengan patroli rutin, penangan konflik, pengendalian karhut, dan sebagainya yang melibatkan kerjasama kemitraan dan pemberdayaan masyarakat. Narasumber dan moderator Materi selanjutnya, Pengantar Keunggulan Pemetaan Dalam Melaksanakan Kegiatan di Lapangan oleh Fajar Saputra, menjelaskan pemetaan telah berkembang dari gambar di batu hingga sistem digital yang kompleks. Pemetaan Semakin berperan dalam berbagai bidang, termasuk konservasi, mitigasi bencana, perencanaan kota, dan eksplorasi luar angkasa. Saat ini terdapat teknologi pemetaan konservasi satwa liar melalui Global Position System (GPS), Sistem Informasi Geografis (GIS), Penginderaan Jauh (Remote Sensing), Pemodelan Spasial, SMART Patrol dan Citizen Science Mapping. Dengan teknologi ini mendapat manfaat penelitian berupa evaluasi zona taman nasional, identifikasi area prioritas untuk monitoring, identifikasi area ekowisata dan evaluasi program restorasi. Mahasiswa dan kelompok pencinta alam memiliki peran penting dalam konservasi berbasis pemetaan, mulai dari pengumpulan data di lapangan hingga analisis dan advokasi berbasis GIS. Kemudian materi Pengantar Keunggulan Tools Smart Patrol Dalam Melaksanakan Kegiatan di Lapangan, yang disajikan oleh Muhammad Asad, mengatakan Platform Spatial Monitoring and Reporting Tool (SMART) terdiri dari serangkaian perangkat lunak dan alat analisis yang dirancang untuk membantu para konservasionis mengelola dan melindungi satwa liar dan tempat-tempat liar. SMART dapat membantu menstandarisasi dan menyederhanakan pengumpulan, analisis dan pelaporan data, sehingga memudahkan informasi penting untuk sampai dari lapangan ke pembuat keputusan. Materi terakhir tentang Pengantar Peran Program Integrited Protektion Sistem (IPS) oleh narasumber Heri Pasiman, mengatakan Integrated Protection System (IPS) merupakan sebuah sistem perlindungan dan pengamanan yang terintegrasi untuk menghasilkan respon yang efektif dan tepat sasaran. Dalam sesi penanggap Dr. Ir. Wiratno, M.Sc. mengatakan data dan informasi tidak ada gunanya jika tidak digunakan oleh kepala balai untuk menyelesaikan masalah dan mengembangkan potensi dan mengajak masyarakat kerjasama memahami problem sosial dalam menjaga alam. Selain smart patrol ada metode berbeda untuk mengetahui mode solusinya dimana kita bisa berhasil masyarakat juga dapat manfaat melalui program kemitraan konservasi. Dr. Noviar Andayani, M.Sc. mengatakan pengelolaan dan perlindungan kawasan konservasi yang berisi keanekaragaman hayati yang tinggi dan bermanfaat bagi pembangunan berkelanjutan Indonesia terus didukung oleh semua pihak. Teknologi baik pengumpulan dan penyimpanan visualisasi data, maupun memakai smart patrol tidak akan bermanfaat jika tidak ada komponen SDM nya. Mahasiswa dan kelompok pencinta alam menjadi ujung tombak generasi muda yang akan melanjutkan upaya-upaya konservasi yang sudah dilakukan sebelumnya. Nurhabli Ridwan, Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara yang juga hadir dalam seminar ini, mengatakan sebagai generasi muda kader konservasi alam harus dapat melakukan bela negara salah satunya dengan aktif berkegiatan dibidang lingkungan hidup dan kehutanan. Seminar ini sangat bermanfaat karena kita juga bisa ikut berkolaborasi terlibat dalam kegiatan patroli hutan bersama petugas lapangan. Nurhabli juga berterima kasih kepada narasumber, panitia dan peserta yang hadir dalam kegiatan ini, semoga dari seminar ini ada kelanjutan materi praktek lapangan patroli hutan, sehingga ilmu yang didapat bisa langsung di aplikasikan ke lapangan. Kegiatan di tutup dengan foto bersama dan pembagian soevenir tumblr unik kepada penanya terpilih melalui luring dari perwakilan Sispala PALH SMAN 2 Medan dan penanya terpilih melalui daring perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) Nurhabli Ridwan. Sumber : Nurhabli Ridwan ( GRAS / Kader Konservasi Alam )- Balai Besar KSDA Sumatera Utara Foto by : Yayasan Nafas

Menampilkan 289–304 dari 1.990 publikasi