Senin, 12 Jan 2026

Beranda Publikasi Artikel

Artikel

Publikasi Resmi Direktorat Jenderal KSDAE, Kementerian Kehutanan

Baca Artikel

Ijen Rijik, Silaturahmi di Kawah Ijen, Bersihkan Hati, Lestarikan Alam

Banyuwangi, 4 April 2025. Mentari pagi menyapu lereng Ijen, menyinari barisan manusia yang bergerak dengan tekad. Di tengah aroma kabut pegunungan, sekitar 80 peserta Ijen Rijik yang terdiri dari anggota Resort Konservasi Wilayah 15 Kawah Ijen bersama para pelaku wisata, memulai ritual bulanan yang lebih dari sekadar pembersihan. Jumat, 4 April 2025, bertepatan dengan cuti bersama Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri 1446 H, mereka tak hanya memungut jejak sampah yang tertinggal di jalur pendakian, tetapi juga menguatkan ikatan sebagai sesama penjaga alam. Dengan tangan-tangan yang saling membantu, mereka menyusuri jalur berdebu, mengumpulkan sisa-sisa peradaban yang tak semestinya ada dirumah api biru. Satu per satu, kantong sampah terisi penuh, bukti kesungguhan menjaga ekosistem dari jejak yang tak bertanggung jawab. Namun, lebih dari itu, Ijen Rijik kali ini bukan sekadar membersihkan kawasan, ini adalah tentang membersihkan hati. Di bawah bayang-bayang pepohonan, di antara bebatuan kawah yang kokoh, ada kesadaran yang tumbuh. Sebagaimana sampah mengotori alam, begitu pula ego, prasangka, dan kesalahan masa lalu bisa mengotori hati. Di momen Idul Fitri yang suci, langkah mereka bukan hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk keikhlasan. Membersihkan sampah, sekaligus menyapu ego, mempererat silaturahmi untuk menguatkan ekosistem di kawah ijen. Di sela-sela keringat yang menetes dan napas yang memburu, terdengar ucapan selamat Idul Fitri. Jabat tangan erat mengalir di antara sesama pejuang lingkungan. Perbedaan latar belakang melebur dalam satu semangat. Merawat Kawah Ijen, menjaga warisan alam yang tak ternilai. Saat hari beranjak siang dan punggung mulai terasa lelah, mereka menatap kawah yang kini lebih bersih. Di bawah langit biru, mereka tahu, warisan ini bukan sekadar untuk hari ini, tapi untuk generasi yang akan datang. Seperti lingkungan kawah ijen yang kembali bersih, hati mereka pun kini lebih lapang untuk mengawali hal-hal baik selanjutnya. Sumber : Fajar Dwi Nur Aji Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Misteri Alam Liar Raung-Ijen, Kamera Trap Ungkap Jejak Satwa Langka

Banyuwangi, 27 Maret 2025. Dalam upaya mendokumentasikan kehidupan liar di kawasan pegunungan Raung-Ijen, tim gabungan dari SINTAS Indonesia, Mapala, masyarakat sekitar, serta Seksi KSDA Wilayah V Banyuwangi - BBKSDA Jawa Timur telah menyelesaikan misi pengambilan kamera trap di Blok I pada 11–21 Februari 2025. Sebanyak 80 unit kamera trap yang telah terpasang sejak Oktober–November 2024 kini berhasil dikumpulkan, merekam jejak keanekaragaman hayati di salah satu lanskap hutan tersisa di Jawa. Selama operasi yang berlangsung sepuluh hari itu, tim yang terbagi dalam empat kelompok menjelajahi medan terjal di zona selatan Raung-Ijen. Hasilnya, berbagai spesies satwa berhasil terekam, termasuk kijang, anjing liar, musang rase, musang luwak, kucing kuwuk, serta burung-burung ikonik seperti ayam hutan merah dan merak hijau. Keberadaan predator seperti ajag dan macan tutul jawa juga terkonfirmasi, menegaskan masih bertahannya rantai makanan alami di kawasan ini. Tak hanya itu, tim juga menemukan enam sampel feses macan tutul jawa yang kini tengah dianalisis lebih lanjut di laboratorium Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Identifikasi genetika dari sampel ini diharapkan dapat mengungkap lebih banyak tentang populasi karnivora puncak ini, termasuk distribusi dan pola pergerakannya. Untuk memastikan prosedur penelitian berjalan sesuai aturan, proses pengiriman sampel diliput dengan dokumen Surat Angkut Tumbuhan dan Satwa Dalam Negeri (SATS-DN) yang diterbitkan oleh BBKSDA Jatim. Ekspedisi ini tak sekadar mencatat kehadiran satwa liar, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga lanskap Raung-Ijen sebagai rumah bagi spesies langka. Dengan kombinasi teknologi dan kerja sama multipihak, harapan untuk melestarikan ekosistem yang kaya ini tetap menyala. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Baca Artikel

Tips Mudik Libur Lebaran Nyaman, Sehat dan Ramah Lingkungan

Nurhabli Ridwan bersama Green Ambassador GYM Sumut berwisata menggunakan kendaraan kereta api listrik di Jakarta Medan, 26 Maret 2025. “Sudah siapkah anda untuk mudik liburan?” Puncak momen yang paling dinanti ketika ramadhan adalah saat mudik libur lebaran, aktivitas pulang ke kampung halaman menjadi tradisi tahunan. Momen di hari lebaran kerap kali diisi dengan agenda kumpul bersama, bersilaturahmi, dengan keluarga atau kerabat. Libur lebaran juga menjadi momen yang ditunggu masyarakat untuk berwisata, termasuk mengunjungi Taman Nasional (TN) dan Taman Wisata Alam (TWA). Namun demikian, mudik libur lebaran berkontribusi besar pada peningkatan polusi udara dan pastinya berdampak pada kesehatan lingkungan, karena penggunaan kendaraan bermotor dan kendaraan lainnya yang menggunakan bahan bakar. Selain itu libur lebaran adalah momen hari yang suci dan bersih, sehingga seharusnya dapat dirayakan sambil tetap menjaga lingkungan, karena menjaga lingkungan juga adalah salah satu perintah dari Allah SWT. Sayangnya di momen seperti ini justru kerap kali menghasilkan banyak tumpukan sampah yang berdampak pada lingkungan, contoh paling sederhana adalah meningkatnya volume sampah saat libur lebaran, mulai sampah plastik hingga sampah makanan. Dengan meningkatnya sampah tentunya akan berdampak kepada masalah pencemaran lingkungan, sumber kuman penyakit, hingga dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup lain. “Lalu bagaimana cara mengantisipasinya?” berikut tips mudik sehat dan ramah lingkungan, yang dapat dilakukan saat melakukan perjalanan mudik libur lebaran. Nurhabli Ridwan Kader Konservasi Alam memberikan edukasi pilah sampah ramah lingkungan di TWA Sibolangit 1. Pastikan tubuh sehat dan fit. Jagalah tubuh agar tetap sehat dan bugar, lamanya perjalanan mudik tergantung pada beberapa faktor antara lain jarak tujuan, transportasi yang digunakan, kondisi akses jalan, cuaca dan lain sebagainya, untuk itu kita harus bisa menjaga kesehatan terutama bagi yang menggunakan kendaraan pribadi. Jaga pola makan, bawalah persediaan obat-obatan, jangan lupa siapkan minuman air putih di dalam tumbler, dan waktu istirahat selama perjalanan. 2. Merencanakan rute mudik. Agar perjalanan mudik menjadi lebih efektif dan efisien, rencanakan rute perjalanan dengan sebaik-baiknya. Dengan merencanakan rute perjalanan, kita dapat menghemat penggunaan bahan bakar yang artinya dapat mencegah produksi emisi karbon berlebih. 3. Gunakan alat transportasi umum ramah lingkungan. Dengan menggunakan transportasi umum kita telah turut membantu mengurangi polusi udara, berdasarkan statistik polusi yang ada, polusi udara terbanyak disebabkan oleh kendaraan. Ada baiknya juga bagi para pemudik untuk membawa masker guna membantu melindungi diri dari polusi selama perjalanan. 4. Periksa kondisi kendaraan. Tips ini berlaku jika kita mudik dengan membawa kendaraan sendiri. Mengecek kondisi kendaraan secara menyeluruh wajib dilakukan sebelum mudik. Selain untuk alasan keselamatan atau mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan selama mudik menyiapkan kondisi mobil juga akan membuat mudik kita lebih ramah lingkungan. Kendaraan dengan kondisi mesin yang prima juga akan mengurangi emisi karbon. 5. Bawa alat makan, minum dan tas belanja sendiri. Mulailah membiasakan diri untuk membawa tempat makan ,minum dan tas belanja sendiri. Dengan membawa peralatan makan sendiri akan meminimalisir sampah. 6. Kurangi penggunaan makanan dalam kemasan sekali pakai. Hindari menyajikan makanan dan minuman di dalam kemasan plastik, seperti air minum kemasan dalam botol kecil atau snack kemasan. 7. Makan secukupnya. Meninggalkan makanan sama halnya dengan menumpuknya sampah di rumah kita. Dengan menghabiskan makanan kita tanpa menyisakan sedikit pun, hal ini dapat meminimalisir penumpukan sampah, oleh karena itu makanlah secukupnya. 8. Buanglah sampah pada tempatnya. Khusus bagi yang menggunakan kendaraan pribadi, siapkan tempat sampah khusus di dalam kendaraan. Saat membuang sampah di tempat sampah, selalu pisahkan sampah organik dan anorganik agar lebih mudah didaur ulang. 9. Matikan peralatan yang menggunakan listrik dan air di rumah. Pastikan sebelum berangkat mudik sudah mencabut peralatan yang menyedot banyak listrik seperti lemari es, AC, pemanas air, televisi, alat elektronik lainnya dan matikan keran air di rumah. Gunakan penerangan lampu secukupnya, bila perlu gunakan lampu pintar agar dapat menyala sesuai dengan waktu yang ditentukan, dengan begitu kita juga menghemat energi. 10. Berdoa. Selalu berdoa dan teruslah melaksanakan ibadah, demi keselamatan dan kelancaran perjalanan mudik saat berangkat maupun pulang. Dengan menerapkan konsep “ramah lingkungan“, di momen mudik libur lebaran tentunya tetap bisa berlangsung sehat, tanpa perlu meninggalkan banyak sampah, limbah rumah tangga berlebihan dan minim karbon. Selamat berlibur dan selamat merayakan hari Raya Idul Fitri dengan lebih ramah terhadap lingkungan, Mari kita jaga dan lestarikan alam, Ayo Berlibur ke Taman Nasional dan Taman Wisata Alam. Mohon Maaf Lahir dan Batin… Sumber : Nurhabli Ridwan ( Kader Konservasi Alam / KPA GRAS ) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Menjaga Harmoni Kerja, Fleksibilitas Kerja di BBKSDA Jatim dalam Bayang-Bayang Hidupan Liar

Gedangan, 24 Maret 2025. Di tengah dinamika konservasi alam yang tak kenal jeda, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim) menerapkan Flexible Working Arrangement (FWA) sebagai strategi adaptif bagi para penjaga ekosistem hutan. Sebuah mekanisme yang tidak hanya menjaga produktivitas, tetapi juga memastikan bahwa tugas perlindungan terhadap flora dan fauna tetap berjalan tanpa gangguan. Arahan Implementasi FWA di Balai Besar KSDA Jawa Timur Sebagai langkah awal penerapan sistem kerja fleksibel ini, BBKSDA Jatim telah menggelar arahan resmi pada tanggal 21 Maret 2025 di kantor Balai Besar KSDA Jawa Timur. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Nur Patria Kurniawan, S.Hut., M.Sc., menegaskan bahwa penerapan FWA harus tetap menjamin efektivitas pelaksanaan tugas konservasi dan pelayanan publik. Arahan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh pegawai memahami mekanisme Work From Office (WFO) dan Work From Home (WFH) atau Work Form Anywhere (WFA), termasuk tanggung jawab masing-masing dalam menjalankan tugas. Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan seluruh pegawai dapat menjalankan skema kerja fleksibel ini tanpa mengurangi efektivitas pengawasan dan perlindungan keanekaragaman hayati. FWA: Fleksibilitas yang Mendukung Konservasi Flexible Working Arrangement (FWA) adalah sistem kerja yang memberikan fleksibilitas bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam menjalankan tugasnya, baik melalui WFO maupun WFH/WFA. Penerapan sistem ini mengacu pada Surat Edaran Menteri PAN-RB dan Sekjen Kementerian Kehutanan, yang menyesuaikan pelaksanaan tugas kedinasan dengan kondisi tertentu, termasuk periode libur nasional dan cuti bersama. Dalam konteks konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, FWA memberikan beberapa dampak positif, antara lain: Pelayanan Publik Tetap Terjaga Masyarakat tidak perlu khawatir akan menurunnya kualitas layanan selama penerapan FWA ini. Balai Besar KSDA Jawa Timur telah memastikan bahwa seluruh layanan tetap berjalan normal dengan beberapa mekanisme berikut: Sistem Digital yang Siap 24/7 Laporan masyarakat mengenai konflik satwa liar, perizinan konservasi, serta pengaduan terkait perdagangan ilegal tetap dapat diproses melalui sistem online dan call center yang tersedia. Menjaga Harmoni Antara Kerja dan Alam Selama periode 24-27 Maret 2025, skema WFH dan WFO diterapkan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Mereka yang bertugas di lapangan tetap melakukan patroli hutan, inspeksi perdagangan satwa liar, serta pengawasan terhadap lembaga konservasi. Sementara itu, tim yang bekerja dari rumah atau dari mana saja tetap terkoneksi melalui sistem digital, memastikan setiap laporan, koordinasi, dan kebijakan berjalan tanpa hambatan. Dengan keseimbangan antara kehadiran fisik dan pemanfaatan teknologi, model kerja ini menjadi cerminan adaptasi ASN dalam menjawab tantangan zaman. Di balik layar, mereka tetap menjaga ritme konservasi, memastikan bahwa suara hutan, gemericik air, dan gerak liar satwa tetap harmonis dalam pelukan alam. Sebuah transformasi kerja yang tak sekadar administratif, tetapi juga menjadi bagian dari strategi perlindungan ekosistem yang lebih berkelanjutan, tanpa mengurangi kualitas pelayanan bagi masyarakat. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Ketika Gletser Memudar, Masa Depan Air Menjadi Taruhan

Gedangan, 24 Maret 2025. Di puncak gunung-gunung tinggi dan di belahan bumi yang membeku, gletser menyimpan miliaran meter kubik air dalam bentuk es, menjadi cadangan yang selama berabad-abad memastikan ketersediaan air bagi kehidupan di berbagai penjuru dunia. Namun, hari ini, gletser tidak lagi diam dalam kesejukannya. Mereka mencair lebih cepat dari sebelumnya, mengalir ke lautan, menghilang dari peradaban, meninggalkan jejak kekeringan dan ketidakpastian. Hari Air Sedunia tahun 2025 mengusung tema Glacier Preservation atau “Pelestarian Gletser” sebagai pengingat bahwa krisis air di masa depan sedang terjadi saat ini. Gletser yang mencair bukan hanya peristiwa yang jauh di Kutub Utara atau Pegunungan Himalaya, tetapi alarm bagi semua manusia di planet ini, termasuk kita di Jawa Timur, tempat air adalah sumber kehidupan bagi jutaan jiwa dan penopang ekosistem yang rapuh. Air dan Peradaban: Hubungan yang Semakin Rapuh Sejarah mencatat bahwa peradaban besar lahir dan runtuh karena air. Sungai Nil membesarkan Mesir Kuno, peradaban Lembah Indus berkembang berkat Sungai Indus, dan peradaban Majapahit di Nusantara berjaya dengan sistem irigasi yang mengalirkan air ke sawah dan permukiman. Namun, air juga yang menghancurkan. Kekeringan membuat peradaban Maya runtuh, sementara banjir bandang dan naiknya permukaan air laut mengancam kota-kota pesisir di berbagai belahan dunia saat ini. Jawa Timur bukan pengecualian. Wilayah ini memiliki keanekaragaman ekosistem air yang luar biasa, dari hutan hujan tropis yang menyimpan sumber air, hingga sungai-sungai besar seperti Bengawan Solo dan Brantas yang telah menopang kehidupan sejak zaman kuno. Namun, perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan eksploitasi air yang berlebihan telah membuat hubungan manusia dengan air semakin rapuh. Di beberapa daerah, banjir menjadi ancaman tahunan, sementara di daerah lain, kekeringan dan krisis air bersih menjadi momok yang menghantui masyarakat. Sungai-sungai yang dulunya jernih kini banyak yang tercemar oleh limbah domestik dan industri. Sumber mata air di pegunungan mulai surut, tak mampu lagi memasok kebutuhan air bagi jutaan penduduk. Ironisnya, di tengah melimpahnya air saat musim hujan, masyarakat masih kekurangan air saat musim kemarau. Ketika Gletser Menghilang, Apa yang Tersisa? Gletser adalah menara air dunia, menyimpan sekitar 70% dari seluruh air tawar di planet ini. Mereka adalah penyedia air bagi sungai-sungai besar yang menghidupi milyaran manusia, termasuk Asia yang bergantung pada aliran sungai dari pegunungan Himalaya. Jika gletser terus mencair dengan kecepatan saat ini, dampaknya bukan hanya kenaikan permukaan air laut, tetapi juga hilangnya sumber air tawar yang menopang pertanian, energi, dan kebutuhan sehari-hari manusia. Di Jawa Timur, dampaknya bisa dirasakan dalam bentuk perubahan pola cuaca yang semakin ekstrim, ketidakstabilan pasokan air bagi pertanian, dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Jika kita tidak bertindak sekarang, masa depan air di wilayah ini akan semakin sulit diprediksi. Tanggung Jawab Rimbawan: Menjaga Hutan, Menjaga Air Sebagai Rimbawan, peran kita dalam menjaga keseimbangan siklus hidrologi sangatlah penting. Meskipun kita tidak memiliki gletser, hutan-hutan di pegunungan Jawa Timur berfungsi seperti gletser dalam menyimpan dan mendistribusikan air. Pohon-pohon di hutan meresap air hujan, menyimpannya di dalam tanah, dan melepaskannya perlahan ke sungai dan mata air. Ketika hutan hilang, siklus ini terganggu, menyebabkan air hujan langsung mengalir ke hilir, mengikis tanah, dan berakhir di laut tanpa sempat dimanfaatkan. Restorasi hutan, rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), dan perlindungan terhadap sumber mata air menjadi tugas utama kita. Bukan hanya untuk menjaga ekosistem, tetapi untuk memastikan bahwa air tetap tersedia bagi masyarakat di masa depan. Selain itu, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi air juga harus ditingkatkan. Konsumsi air yang berlebihan, pencemaran sungai, dan eksploitasi sumber daya air tanpa pertimbangan keberlanjutan harus dihentikan. Kita tidak bisa terus berpikir bahwa air adalah sumber daya yang tak terbatas. Setiap tetes air yang kita gunakan hari ini adalah warisan yang seharusnya kita jaga untuk generasi mendatang. Dari Pegunungan Es ke Pegunungan Tropis: Sebuah Misi Bersama Hari ini, dunia berbicara tentang menyelamatkan gletser, tetapi bagi kita di Jawa Timur, misi itu bermakna lebih luas: memastikan bahwa air yang turun dari langit dapat terserap, tersimpan, dan digunakan dengan bijak. Tanggung jawab ini ada di tangan kita, bukan hanya sebagai rimbawan, tetapi sebagai manusia yang bergantung pada air untuk bertahan hidup. Gletser yang mencair mungkin tak bisa kita hentikan secara instan, tetapi kita masih bisa menyelamatkan sumber daya air kita sendiri. Dengan menjaga hutan, melindungi mata air, dan mengelola ekosistem dengan arif, kita tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa menikmati air yang kita miliki hari ini. Karena air bukan sekadar sumber kehidupan, ia adalah warisan yang harus kita lindungi. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji, Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sinergi BKSDA Kalsel dan Balai KHTI Kalsel menjelang arus mudik di Pelabuhan Trisakti

Banjarmasin, 21 Maret 2025 – Menjelang kesiapan arus mudik libur hari raya Idul Fitri 2025 Kepala BKSDA Kalimantan Selatan drh. Agus Ngurah Krisna K., M.Si bersama Plt. Kepala Seksi Konservasi Wilayah II Banjarbaru Suparni, S.Hut., M.Hut melakukan koordinasi ke Balai Karantina Hewan , Ikan dan Tumbuhan Kalimantan Selatan (Balai KHIT) di Banjarmasin. Koordinasi ini adalah untuk meningkatkan sinergitas peredaran Tumbuhan dan Satwa yang terjadi di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan terutama menjelang arus mudik lebaran Idul Fitri tahun 2025. Balai KHIT Kalimantan Selatan yang diwakili oleh Kepala Sub Bagian Umum Bapak Hendra Purwanto dan rekan menyambut baik adanya koordinasi dan sinergi ini karena Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi dengan peradaran tumbuhan dan satwa cukup tinggi terutama dari pelabuhan atau bandara yang ada di Kalimantan Selatan. Kepala BKSDA Kalsel menyampaikan bahwa Satwa dan tumbuhan yang di lindungi sesuai dengan Peraturan Menteri LHK No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Kepala BKSDA Kalsel juga meninjau pos BKSDA Kalsel yang berada di pelabuhan Laut Trisakti Banjarmasin untuk melihat kesiapan menyambut arus mudik Idul Fitri tahun 2025 beliau berpesan agar tetap semangat, kompak dan meningkatkan hubungan dengan instansi terkait untuk menjaga keamanan. Ayo kita sama-sama menjaga keanekaragaman hayati dengan upaya perlindungan terhadap tumbuhan dan satwa liar. (Ryn) Sumber: Alfian Soehara - Polhut Seksi Konservasi Wilayah II Balai KSDA Kalimantan Selatan
Baca Artikel

Hari Air Sedunia, Upaya Konservasi Maknai Peran Air Bagi Kehidupan

Medan, 24 Maret 2025. “Apa peran air bagi anda?” Air merupakan hak asasi yang menjadi kebutuhan dasar bagi kehidupan. Air memiliki peran penting menjadi sumber kehidupan, menjaga kelangsungan hidup, dan mendukung ekosistem. Ketersediaan dan pengelolaan air yang berkelanjutan merupakan salah satu dari tujuan Pembangunan Berkelanjutan 6 (SDGs 6: Clean water and sanitation), yaitu "air dan sanitasi untuk semua" pada tahun 2030. Sayangnya, aktivitas manusia sering mengabaikan keharusan menjaga kebersihan di manapun berada. Tidak terkecuali kebersihan saluran air dan sungai, karena manusia belum memaknai peran penting air sehingga menyebabkan air di beberapa tempat menjadi tercemar. Penyebab utama tercemarnya air di antaranya adalah pembuangan sampah di saluran air, limbah industri, limbah rumah tangga, kegiatan pertambangan dan penyebab lainnya termasuk perubahan alamiah, penggunaan bahan kimia pada pertanian. Kualitas air yang buruk dapat berdampak langsung pada kesehatan manusia dan lingkungan sekitar, seperti meningkatnya risiko penyakit diare, kolera, dan berbagai infeksi lainnya. Dibutuhkan kesadaran, perhatian dan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sebagai akibat terjadinya berbagai masalah lingkungan hidup khususnya pencemaran air. Ini merupakan salah satu hal yang penting dalam siklus hidup manusia, dimana air yang bersih dan sehat membawa manfaat tidak hanya pada manusia saja tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan di bumi. World Water Day atau Hari Air Sedunia dan sering pula disebut sebagai World Day for Water diperingati setiap tanggal 22 Maret setiap tahunnya. Peringatan ini pertama kali dicetuskan saat Konferensi Bumi atau United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) 22 Desember 1992 di Rio de Janeiro, Brasil. Melalui konferensi ini, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 22 Maret 1993 sebagai perayaan pertama Hari Air Sedunia yang diresmikan melalui Resolusi Nomor 147/1993, dengan maksud untuk mengenalkan konservasi air secara lebih luas melalui kegiatan nyata. Kampanye ini juga melibatkan masyarakat di berbagai negara untuk lebih peduli terhadap masalah air. Memaknai Hari Air Sedunia menjadi pengingat dan penyadaran bagi semua pihak guna melakukan refleksi, “sudahkah kita berlaku adil akan kelestarian air?”. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam memaknai kelestarian air, salah satunya melakukan kegiatan konservasi. Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) yang dibentuk oleh Nurhabli Ridwan, yang juga kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, pada tahun 2019 telah melakukan aksi bersih saluran air di Taman Wisata Alam/Cagar Alam (TWA/CA) Sibolangit. Program ini bertujuan untuk menjaga kelestarian alam dan ekosistem lingkungan salah satunya kawasan hutan yang menjadi penyimpan cadangan air. Nurhabli Ridwan menginisiasi kegiatan aksi bersih dan penanaman sekitar kawasan CA/TWA Sibolangit yang melibatkan kalangan pelajar Program ini melibatkan kalangan muda serta pihak terkait lainnya, seperti pemerintah daerah, organisasi non-pemerintah, kader konservasi alam dan kelompok pecinta alam. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan dapat menjadi contoh dalam menjaga lingkungan khususnya kawasan hutan yang menjadi penyimpan cadangan air. Masih di tahun yang sama, GRAS juga melakukan program penanaman pohon di pinggiran sungai dan edukasi program sampah bersama masyarakat serta generasi muda di Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang sebagai salah satu upaya konservasi air sungai. Pada tahun 2020, GRAS membuat eco enzym untuk dijadikan pupuk organik pada tanaman, dan di tahun 2024 ikut serta dalam program konservasi sungai Deli dengan kegiatan menanam pohon di pinggiran sungai guna menjaga kelestarian bantaran sungai dan membantu mencegah erosi tanah yang sering terjadi akibat aliran air yang kuat/deras. Selain itu, banyak lagi aktivitas lainnya yang berkaitan dengan kegiatan konservasi air yang telah dilakukan. Akhirnya, dengan upaya/langkah kecil kita bisa terlibat langsung menjaga kualitas air yang setiap hari dikonsumsi. Aksi nyata menyelamatkan dan melestarikan air dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti : pilah sampah, menggunakan air secukupnya, menanam pohon, menggunakan produk yang ramah lingkungan, membuat eco enzym yang digunakan pada tanaman atau dituangkan ke sungai. Langkah-langkah kecil ini akan memberi dampak yang luarbiasa jika dilakukan secara masal yang melibatkan banyak pihak dan secara kontinyu. Jadi tunggu apalagi …? Mari bergerak bersama, demi kehidupan dan masa depan air yang lebih bersih dan sehat. Selamat Hari Air Sedunia… Sumber: Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam /KPA GRAS) - Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Ajak Mapalasu Giatkan Konservasi Alam

Mapalasu saat buka puasa bersama yang digelar Mapala Unimed Medan, 24 Maret 2025. Bertempat di Pendopo Universitas Negeri Medan (Unimed) jln. Pancing Medan, Sabtu (22/3) dilaksanakan buka puasa bersama Mahasiswa Pecinta Alam Sumatera Utara (Mapalasu). Adalah Mapala Unimed yang menjadi tuan rumah buka bersama kali ini. Turut hadir mewakili Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Tim Kerja Bina Cinta Alam, Samuel Siahaan, SP. Dikesempatan baik ini Tim Kerja Bina Cinta Alam menyampaikan sambutan sekaligus arahan singkat tentang Konservasi, setelah buka puasa bersama . Acara yang dihadiri lebih kurang 48 orang mahasiswa pecinta alam Sumatera Utara, berasal dari 16 organisasi Mapala yaitu penasehat dan anggota luar biasa Mapala Unimed, anggota dan pengurus Mapala Unimed, perwakilan Kompas USU, Mapala ITSI , Mapala Gempals PTKI, Parintal FP USU, Khatulistiwa USI, Mapala MPG, Gempita, Mapala Lampalin, Mapala Pascal, Gasi UMA, Mapala USU, Mahatala, Gempahr, Mapasta, Martipala. Menurut Ketua Panitia penyelenggara, Muhammad Irfan didampingi Ketua Umum Mapala Unimed Ersan Karseta Karo Sekali, acara bukber ini bertujuan untuk menjalin erat kebersamaan Mapalasu dalam kegiatan kepecintaalaman sekaligus silaturahmi sesama Mapala dan juga bersama senior. Ketua Tim Kerja Bina Cinta Alam menyambut baik adanya pertemuan bukber ini dan diharapkan menjadi ajang menjalin silaturahmi kembali antar sesama mapala dan juga dengan Balai Besar KSDA Sumatera Utara sebagai institusi pembina kelompok pencinta alam, baik itu siswa pecinta alam (Sispala), Mahasiswa Pecinta Alam, Saka Wanabakti, GLI dan GYM. Pertemuan seperti ini menjadi salah satu media pembinaan bagi kelompok pecinta Alam guna menyegarkan dan membangkitkan kembali semangat serta gairah generasi muda dibidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang selama ini dirasakan kurang gaungnya. Momen ini pun dimanfaatkan untuk mengajak anak-anak muda yang tergabung dalam mapala agar berperan aktif melakukan kegiatan konservasi baik di lingkungan kampus, di alam, lingkungan tempat tinggal dan sekitarnya maupun ditengah-tengah masyarakat dengan tanpa mengabaikan perkuliahan yang menjadi prioritas utama. Samuel Siahaan, SP., Tim Kerja Bina Cinta Alam BBKSDA Sumut memberikan sambutan Kementerian Kehutanan sejatinya menyadari bahwa peran dari kelompok-kelompok pencinta alam dalam memasyarakatkan dan membumikan konservasi alam sangat penting. Kementerian Kehutanan tidak tutup mata terhadap segala aktivitas dan kreatifitas generasi muda yang memberi manfaat atau dampak baik langsung maupun tidak langsung terhadap konservasi alam Indonesia. Oleh karena itu setiap tahun Kementerian Kehutanan memberi apresiasi kepada kelompok pencinta alam dan kader konservasi yang dianggap memberi sumbangsih pikiran dan tenaga melalui karya-karya positif bagi upaya konservasi alam melalui penghargaan Wana Lestari. Penghargaan ini dimaksudkan bukan hanya untuk mengapresiasi saja tetapi juga untuk mendorong partisipasi dan peran aktif seluruh masyarakat agar bersama-sama berbuat yang terbaik bagi kelestarian alam dan lingkungan hidup. Balai Besar KSDA Sumatera Utara mengapresiasi kegiatan Bukber di bulan suci Ramadhan yang diinisiasi oleh Mapala Unimed, dan diharapkan menjadi pembuka jalan bagi pertemuan-pertemuan lanjutan guna membangun kolaborasi dengan berbagai pihak untuk bersinergi merancang serta merealisasikan aksi-aksi konservasi alam yang bermanfaat di Sumatera Utara. Salam konservasi. Sumber : Samuel Siahaan, SP. (PEH/Tim Kerja Bina Cinta Alam) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Hutan, Lumbung Kehidupan yang Terancam

Gedangan, 20 Maret 2025. Sejak peradaban manusia pertama kali terbentuk, hutan telah menjadi jantung kehidupan. Dari pepohonan menjulang hingga tanah yang menyimpan nutrisi. Hutan menyediakan pangan, air, dan udara bersih bagi miliaran makhluk hidup. Namun, di tengah krisis lingkungan dan perubahan iklim yang semakin nyata, mampukah kita menjaga hutan tetap menjadi sumber kehidupan? Sejarah Hari Hutan Internasional Hari Hutan Internasional, yang pertama kali ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2012, bertujuan untuk meningkatkan kesadaran global terhadap peran penting hutan dalam keberlanjutan hidup di Bumi. Setiap tahunnya, dunia merayakan hari bersejarah ini dengan tema berbeda. Tahun 2025, tema yang diusung adalah ”Hutan dan Pangan” sebuah pengingat bahwa hutan bukan hanya sekedar paru-paru dunia, tetapi juga meja makan bagi jutaan manusia. Hutan, Sumber Pangan yang Tak Tergantikan Lebih dari 1,6 miliar orang di dunia menggantungkan hidup mereka pada hutan. Hutan menyediakan pangan dalam bentuk buah liar, kacang-kacangan, umbi-umbian, madu, hingga sumber protein seperti ikan air tawar dan satwa liar yang dikelola secara lestari. Namun, perambahan, alih fungsi lahan, dan eksploitasi berlebihan mengancam keberlanjutan sumber daya ini. Di Indonesia, hutan tropis menyimpan kekayaan pangan luar biasa. Masyarakat adat telah lama memanfaatkan keanekaragaman hayati ini sebagai bagian dari tradisi dan ketahanan pangan mereka. Sayangnya, ekspansi industri dan kebijakan yang kurang berpihak pada konservasi membuat hutan-hutan ini semakin terfragmentasi, mengancam keseimbangan ekosistem yang telah terjaga selama ribuan tahun. Peran Rimbawan, Sang Penjaga Benteng Terakhir Di garis depan perjuangan melindungi hutan, rimbawan memiliki tanggung jawab besar. Mereka bukan sekadar pemantau, tetapi juga pelindung, pemulih, dan pengelola sumber daya alam. Beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem hutan dalam mendukung ketahanan pangan, antara lain konservasi keanekaragaman hayati, memastikan spesies tanaman dan satwa liar tetap lestari untuk menjaga rantai pangan alami. Restorasi Hutan yang Terdegradasi, menanam kembali spesies asli yang memiliki nilai ekologis dan pangan tinggi. Pemberdayaan masyarakat sekitar hutan dengan mendorong praktik agroforestri dan pemanfaatan hasil hutan non-kayu yang berkelanjutan. Serta, memastikan kebijakan perlindungan hutan ditegakkan dan mencegah eksploitasi ilegal. Sebagai Pengendali Ekosistem Hutan, menjaga keseimbangan antara konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan bukan sekedar profesi, tetapi sebuah amanah yang harus dijaga demi keberlanjutan generasi mendatang. Masa Depan Hutan dan Ketahanan Pangan Perubahan iklim semakin mempercepat degradasi hutan dan mengancam ketahanan pangan dunia. Jika kita tidak bertindak sekarang, masa depan bisa menjadi lebih suram daripada yang kita bayangkan. Hari Hutan Internasional 2025 adalah panggilan untuk bertindak, bukan sekadar mengenang keindahan hutan yang pernah ada, tetapi berjuang agar hutan tetap menjadi penopang kehidupan bagi manusia dan seluruh ekosistem di Bumi. Di setiap helai daun yang bergetar oleh angin, di setiap akar yang menyerap air dari tanah, tersimpan harapan bagi masa depan yang lebih baik. Hutan adalah warisan yang harus kita jaga, bukan hanya untuk kita, tetapi untuk setiap generasi yang akan datang. Memperingati Hari Hutan Internasional 21 Maret 2025 Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur
Baca Artikel

Sinergi Pembinaan Kader Konservasi, Menjaga Nyala Api Konservasi

Sidoarjo, 20 Maret 2025. Di tengah gempuran perubahan zaman, kader konservasi alam (KKA) dan kelompok pecinta alam (KPA) terus menjadi garda terdepan dalam menjaga warisan hijau Nusantara. Namun, dibalik dedikasi mereka, tersimpan tantangan besar. Dari data yang belum terinventarisasi dengan baik, kader-kader lama yang tidak dapat dihubungi, hingga tumpang tindih kewenangan antar instansi dalam pembinaan. Dalam upaya memperkuat barisan mereka, Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur bersama Balai Besar KSDA Jawa Timur, Taman Nasional, dan instansi terkait menggelar Sinergi Kolaboratif Pembinaan KKA dan KPA pada 20 Maret 2025. Diskusi yang berlangsung secara daring ini menghadirkan pemangku kepentingan dari berbagai wilayah untuk merumuskan langkah strategis pembinaan dan pemberdayaan kader konservasi. Memperjelas Peta Pembinaan Salah satu poin utama yang mengemuka adalah perlunya sinergi lebih jelas dalam pembinaan KKA dan KPA. Saat ini, ada perbedaan mekanisme dalam pembentukan kader, BBKSDA Jatim menangani kader tingkat madya, sementara taman nasional bertanggung jawab atas kader pemula. Namun, pembagian ini belum tersosialisasi dengan baik, sehingga sering terjadi overlay kegiatan di lapangan. Fidhi dari BBKSDA Jatim menekankan pentingnya koordinasi dengan pusat (Kementerian Kehutanan) untuk memastikan tidak ada tumpang tindih dalam pembinaan. Sementara itu, Ning Indar Rukmi dari T.N Bromo Tengger Semeru mengusulkan perlunya inventarisasi ulang data KKA dan KPA, mengingat pergeseran kewenangan yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Tantangan Regenerasi Kader Konservasi Di beberapa taman nasional, seperti Meru Betiri dan Alas Purwo, ditemukan bahwa mayoritas KKA masih berada di tingkat pemula, dengan sedikit yang berhasil naik ke tingkat madya. Tantangan utama adalah kurangnya pembinaan berkelanjutan serta terbatasnya komunikasi antara KKA, KPA, dan instansi pembina. TN. Meru Betiri mencatat bahwa dalam setahun terakhir, 55 kader pemula telah dilatih, sebagian besar berasal dari program Green Youth Movement yang menyasar anak-anak sekolah sekitar kawasan. Namun, kader yang bertahan hingga tingkat madya masih sangat sedikit. TN. Alas Purwo melaporkan bahwa dari 128 kader yang terdaftar, sebagian besar masih dalam kategori pemula, sementara kader lama sulit dihubungi. Dalam forum ini, usulan agar kader yang sudah aktif diberi kesempatan untuk naik tingkat jenjang madya menjadi salah satu rekomendasi yang akan dibahas lebih lanjut dengan Kementerian Kehutanan. Mengintegrasikan Kader dengan Program Nasional Sejumlah CDK (Cabang Dinas Kehutanan) di berbagai daerah juga melaporkan perkembangan KKA dan KPA di wilayah mereka. CDK Jember, misalnya, mencatat ada 57 KKA dan 22 kelompok KPA yang aktif, namun masih mengalami kendala dalam koordinasi lintas sektor. Di Sumenep, program Kemah Konservasi telah sukses digelar sebagai wadah kader dan pecinta alam untuk bertukar pengalaman dan mengasah keterampilan. Dalam forum ini, CDK Bojonegoro mengusulkan agar KPA lebih dilibatkan dalam program FOLU Net Sink, yang didanai melalui mekanisme internasional. Kolaborasi seperti ini dinilai dapat memberikan manfaat ganda, baik bagi upaya pelestarian alam maupun peningkatan kapasitas kader. Standarisasi, Penguatan Data, dan Penghargaan Wana Lestari Salah satu permasalahan yang mengemuka adalah ketidaksamaan format pelaporan dan database kader. FK3I (Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia) melaporkan bahwa saat ini banyak kader yang aktif tetapi tidak terdata secara resmi, karena masing-masing instansi memiliki format pencatatan berbeda. Sebagai langkah awal, peserta rapat menyepakati perlunya standardisasi format pelaporan kegiatan dan database kader konservasi agar lebih mudah dikompilasi di tingkat provinsi. Selain itu, akan dibentuk grup koordinasi khusus untuk mempercepat komunikasi antara KKA, KPA, dan instansi pembina. Salah satu dorongan bagi kader untuk lebih aktif adalah Penghargaan Wana Lestari, yang menjadi motivasi bagi individu dan kelompok untuk berkontribusi nyata dalam pelestarian alam. Namun, seperti yang diungkapkan oleh CDK Pacitan, salah satu tantangan dalam ajang ini adalah kriteria penilaian yang sering kali sulit dipenuhi oleh kelompok yang masih dalam tahap awal pembinaan. Oleh karena itu, forum ini juga membahas kemungkinan revisi kategori lomba agar lebih inklusif bagi kader yang baru berkembang. Menyusun Peta Jalan Konservasi yang Lebih Kuat Sinergi yang dibangun dalam pertemuan ini bukan sekadar rutinitas administratif, tetapi sebuah langkah nyata untuk memperkuat regenerasi kader konservasi. Dari diskusi ini, lahir beberapa rekomendasi utama: Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kader konservasi di Jawa Timur tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang menjadi kekuatan utama dalam perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati. Karena tanpa mereka, siapa lagi yang akan menjaga bumi ini tetap hijau? Sinergi ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah upaya untuk merajut kembali komitmen bersama. Sebab, tanpa para kader yang berdedikasi, hutan-hutan akan kehilangan penjaganya, dan keberlanjutan ekosistem akan semakin rapuh. Harapannya, dengan sinergi yang lebih solid, api konservasi akan tetap menyala, menerangi jalan bagi generasi mendatang dalam menjaga bumi yang kita cintai. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Baca Artikel

Hari Hutan Internasional, Langkah Nyata Cegah Bencana Tanam Pohon Pada Lereng Hutan

Medan, 21 Maret 2025. Salah satu upaya untuk meningkatkan kekhawatiran terhadap iklim adalah dengan menanam pohon. Melalui kegiatan penanaman pohon yang melibatkan usia muda dan masyarakat setempat, diyakini dapat membangun kesadaran akan pentingnya menjaga dan benar-benar memperhatikan alam, khususnya di daerah lereng hutan yang terjal sebagai upaya penting untuk mengurangi risiko bencana banjir dan longsor. Bencana longsor dapat dibatasi dengan memfokuskan penggunaan darat dan kondisi tanah pada lereng curam. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membatasinya adalah dengan menjaga perlindungan tanah. Upaya pengawetan tanah dapat pula dilakukan dengan menggunakan teknik mekanis seperti terasering dan secara vegetatif seperti penanaman ganda (multiple cropping). Ada beberapa jenis tanaman yang dapat mengurangi kemungkinan terjadinya erosi tanah dan tanah longsor, diantaranya : pohon Kemiri (Aleurites moluccana), pohon Mindi (Melia azedarach), pohon Durian (Durio zibethinus), tanaman Kaliandra (Calliandra callothyrsus), rumput vertiver, dan pohon Pisang (Mussa sp.). Setiap orang setuju bahwa keberadaan pohon sangat penting bagi keberadaan semua orang di bumi ini. Sayangnya, kesadaran itu tidak diikuti menggunakan langkah konkret buat menjaga lereng-lereng hutan. Melalui program menanam pohon lereng hutan, semua masyarakat diingatkan kembali kesadaran akan pentingnya pohon. Strategi ini juga perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat setempat bahwa menjaga pohon di masa sekarang ini sudah bukan hal yang sulit untuk dilakukan. Dengan ikut serta dalam menanam pohon, kita juga akan membantu menjaga manfaat pohon pada hutan diantaranya : manfaat klimatologis, ekologis dan hidrolis. International Day of Forests atau Hari Hutan Sedunia diperingati setiap tanggal 21 Maret di setiap tahunnya. Peringatan ini juga ditetapkan oleh PBB dalam resolusi PBB 67/200 pada tanggal 21 Desember 2012. Dengan maksud meningkatkan kesadaran akan pentingnya keberadaan hutan dan pepohonan di muka bumi bagi kehidupan manusia juga sebagai inisiatif global untuk menyoroti pentingnya ekosistem ini dalam upaya melawan perubahan iklim dan memperingatkan bahaya degradasinya. Momen peringatan Hari Hutan Internasional ini kemudian menjadi pengingat dan penyadaran bagi semua pihak guna melakukan refleksi, sekaligus membangun solusi inovasi untuk mengambil langkah nyata. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam merayakan Hari Hutan Internasional, Pada Mei 2018 organisasi Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) dibentuk oleh Nurhabli Ridwan yang juga kader konservasi alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara telah menginisiasi Program Konservasi Lingkungan, salah satu programnya penanaman pohon di lereng terjal daerah rawan bencana yang bertujuan untuk menjaga kelestarian alam dan ekosistem lingkungan salah satunya kawasan hutan. Program ini melibatkan kalangan muda serta pihak terkait lainnya, seperti pemerintah daerah dan organisasi non-pemerintah. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan dapat menjadi contoh dalam menjaga lingkungan khususnya kawasan hutan. Pada Hari Hutan Internasional tahun 2021 GRAS juga pernah memberikan bibit vertiver hasil budidaya swadaya anggota GRAS kepada staf Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk ditanam pada kawasan hutan yang sedang mengalami bencana longsor. Selain itu pada tahun 2024 GRAS juga memberi edukasi serta sosialisasi kepada masyarakat, khususnya generasi muda, pelajar tentang arti penting hutan hingga perlunya upaya pelestarian hutan, dan banyak lagi aktivitas lainnya yang berkaitan dengan hutan. Tujuan dalam program penanaman pohon lereng hutan ini bukanlah materi. Jika ditanya apa yang bisa kita dapatkan dari program tersebut, jelas keuntungannya jauh lebih menonjol dari sekedar materi. karena apa yang dihasilkan dari menanam pohon akan berdampak luas, dalam jangka yang sangat panjang, ke tempat yang menyangkut kesejahteraan makhluk hidup di dunia. Terbukti dari pohon yang pernah ditanam tim GRAS pada daerah longsor di hutan Sibolangit, pohon tersebut tumbuh hijau di hutan memperbaiki lahan yang pernah mengalami bencana longsor. Impian masa depan untuk Indonesia khususnya Sumatera Utara, dengan upaya langkah kecil yang dilakukan secara masal pada program tanam pohon kita bisa melihat keindahan lereng hutan, kestabilan iklim terjaga di tahun-tahun mendatang dan juga terhindar dari bencana. Anak cucu kita juga akan melihat bahwa negara tempat mereka tinggal begitu indah dan kaya keanekaragaman hayati. Siapa saja dapat ikut serta dalam menjaga kemiringan hutan dengan menggunakan strategi sederhana, salah satunya adalah aksi nyata menyelamatkan, melindungi dan melestarikan hutan dengan menanam pohon pada lereng yang terjal daerah rawan bencana demi kehidupan dan masa depan bumi yang lebih asri dan terhindar dari bencana. Selamat Hari Hutan Internasional… Sumber : Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam/KPA GRAS) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Di Garis Depan Konservasi, Menjaga Rumah Baru Bagi Satwa Liar

Lamongan, 18 Maret 2025. Matahari belum tinggi ketika Hartono, seorang Polisi Kehutanan di Seksi KSDA Wilayah III Surabaya, Balai Besar KSDA Jawa Timur (BBKSDA Jatim), menginjakkan kaki di gerbang Maharani Zoo & Goa, Lamongan. Bersama timnya, ia datang bukan untuk sekedar melihat satwa, tetapi untuk menjalankan tugas yang jauh lebih krusial, memastikan bahwa lembaga konservasi ini siap menjadi rumah baru bagi spesimen satwa liar asing yang akan diterima. Tugas ini bukan sekedar rutinitas. Pemeriksaan sarana dan prasarana yang dilakukan hari itu akan menentukan apakah tempat ini memenuhi standar konservasi ex-situ sesuai regulasi. Dalam banyak kasus, kegagalan dalam tahap ini bisa berakibat fatal, bukan hanya bagi satwa yang akan datang, tetapi juga bagi kredibilitas sistem konservasi di Indonesia. Memeriksa, Bukan Sekadar Mengawasi Pemeriksaan ini dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.63/Menhut-II/2013, yang mengatur tata cara perolehan spesimen tumbuhan dan satwa liar bagi lembaga konservasi. Sebelum spesimen satwa liar asing dari Jawa Timur Park (PT. Bunga Wangsa Sedjati) di Batu bisa berpindah ke Maharani Zoo, tempat ini harus dilakukan penilaian. Hartono bersama rekannya Ferdinan Sabastian, Penyuluh Kehutanan Pemula, menyisir setiap sudut kandang dan fasilitas pendukung. Mereka menilai apakah kandang layak dan mendukung kesejahteraan satwa yang akan datang. “Kita tidak hanya bicara soal tempat tinggal, ini tentang menciptakan lingkungan yang layak seusi etika dan kaidah kesejahteraan satwa,” ujar Hartono sambil mengecek pengkayaan kandang, mulai dari tempat berteduh hingga sumber air bersih. Lebih dari Sekadar Formalitas Sebagai Polisi Kehutanan, Hartono paham bahwa tugasnya bukan hanya soal regulasi. Di lapangan, ada kenyataan yang lebih kompleks. Ia dan timnya sering menghadapi tantangan, termasuk pemahaman yang keliru tentang konservasi. “Banyak yang mengira selama ada kandang, maka lembaga konservasi sudah siap menerima satwa. Padahal, ada banyak faktor yang harus dipenuhi dari standar keamanan, ketersediaan pakan, hingga kesiapan tenaga medis,” jelasnya. Maharani Zoo, yang telah mengantongi izin sebagai lembaga konservasi sejak tahun 2008, harus membuktikan bahwa mereka mampu mengelola spesimen yang akan datang. Setiap spesies memiliki kebutuhan khusus. Misal, Jaguar (Panthera onca), ia membutuhkan kandang dengan ruang eksplorasi yang luas, sementara Banded Mongoose (Mungos mungo) memerlukan lingkungan yang kompleks untuk mendukung perilaku sosialnya. Tanggung Jawab di Garis Depan Pemeriksaan berlangsung hingga sore hari. Hartono dan timnya mencatat setiap detail yang perlu diperbaiki dan memastikan bahwa semua persyaratan administrasi lengkap. Jika ditemukan kekurangan, lembaga konservasi harus segera melakukan perbaikan sebelum izin perolehan spesimen diberikan. Ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam sehari. Bagi Hartono, tugasnya sebagai Polisi Kehutanan bukan hanya tentang menegakkan hukum, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia dan satwa liar. “Saya sudah melihat banyak kasus di mana satwa liar ditempatkan di lingkungan yang tidak layak, dan itu berakhir tragis. Itulah mengapa kami ada di sini, untuk memastikan bahwa setiap satwa yang dipindahkan benar-benar mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” imbuhnya. Sebelum meninggalkan lokasi, Hartono menatap sekeliling kandang yang telah diperiksa. Jika semua berjalan sesuai prosedur, tempat ini akan segera menerima penghuni baru. Namun bagi Hartono dan rekan-rekannya, pekerjaan mereka tidak berhenti di sini. Masih banyak lembaga konservasi lain yang harus dievaluasi, masih banyak satwa liar yang harus diperjuangkan. Di garis depan konservasi, tak ada kata selesai. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur.
Baca Artikel

BBKSDA Sumut Tingkatkan Solidaritas dan Kinerja Rimbawan

Pembinaan dari Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara Medan, 19 Maret 2025. Masih dalam rangkaian Peringatan Hari Bakti Rimbawan Tahun 2025, Balai Besar KSDA Sumatera Utara melaksanakan kegiatan Pembinaan bagi pegawai, pada Senin (17/3), di ruang rapat Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Pembinaan ini dimaksudkan untuk membangun solidaritas korsa rimbawan dalam menghadapi tugas dan tantangan di tahun 2025 ini. Kegiatan ini diikuti seluruh pegawai lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara baik melalui tatap muka langsung maupun melalui zoom (online) bagi petugas yang berada di daerah. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., dalam bimbingan dan arahannya menyampaikan berbagai hal yang perlu disikapi oleh rimbawan Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Berkaitan dengan efisiensi anggaran yang diterapkan oleh pemerintah serta berlaku sama di seluruh kementerian dan lembaga negara, menjadi momen pembelajaran bagaimana dalam penerapannya diperlukan kreatifitas dan inovasi agar segala tugas pekerjaan dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan yang direncanakan. Novita menekankan dengan adanya kebijakan efisiensi anggaran ini perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian dengan membuat skala prioritas, seperti perjalanan dinas agar diprioritaskan kepada kegiatan-kegiatan berkaitan pemangkuan kawasan serta penanganan interaksi negatif (konflik) warga dengan satwa liar. Demikian juga kegiatan-kegiatan rapat maupun pertemuan-pertemuan dapat dimodifikasi dengan menggelar zoom meeting. Dalam merealisasikan berbagai kegiatan, Novita mengajak seluruh pegawai untuk berinovasi membangun jejaring kerja bersama mitra ataupun pihak-pihak yang mempunyai tujuan yang sama untuk membangun konservasi alam di Sumatera Utara. Adanya dukungan dari berbagai mitra kerja selama ini, dirasakan sangat membantu kerja-kerja di lapangan. Oleh karena itu kedepannya perlu dipertahankan dan ditingkatkan lagi. Mari bergendengan tangan dengan berbagai pihak agar pekerjaan terlaksana dengan baik dan memperoleh manfaat bersama. Peserta Pembinaan Pegawai yang hadir secara tatap muka Berkaitan dengan kegiatan sosialisasi, dapat juga dilakukan menggunakan media sosial yang dikelola Tim Medsos Balai Besar KSDA Sumatera Utara. Cara ini sangat efektif di tengah keterbatasan anggaran. Novita mencontohkan kegiatan lomba desain poster infografis yang dilaksanakan oleh Balai Besar KSDA Sumatera Utara bersama dengan lembaga mitra Pusat Perlindungan Orangutan belum lama ini, dimana melalui sosialisasi yang dilakukan di media sosial akhirnya terkumpul sebanyak 1.738 karya peserta, dan ini jumlah yang luar biasa. Dampaknya, peserta berusaha menampilkan karya-karya terbaik dengan menggali informasi dari berbagai sumber. Itu artinya peserta wajib membaca dan mencari informasi berkaitan dengan materi yang diperlombakan. Bukan hanya itu saja, karya-karya peserta juga bermanfaat digunakan sebagai bahan atau media sosialisasi, edukasi dan kampanye tentang konservasi alam, khususnya satwa liar Sumatera Utara kepada masyarakat luas. Ustadz Muhammad Rozi, Lc. MA. Usai pembinaan Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, dilanjutkan dengan pembinaan kerohanian yang disampaikan oleh Ustadz Muhammad Rozi, Lc, MA. Dalam tausiyahnya, Ustadz Muhammad Rozi menyampaikan bahwa apa yang dikerjakan dengan seyakin-yakinnya pasti akan mendapat balas dari Allah. Oleh karena itu bekerja dan berbuat baiklah selagi masih bisa ada waktu dan kesempatan. Karena segala apa yang kita perbuat di dunia akan dipertanggungjawabkan nantinya di akhirat. Ustadz juga mengingatkan akan syariat yaitu hukum agama yang mengatur kehidupan manusia bersumber dari Al-Quran dan hadis. Syariat ini mengatur seluruh sendi-sendi kehidupan umat. Oleh karena itu mari mengikuti aturan yang ada. Aturan juga mengajarkan agar hidup tolong menolong dalam melakukan kebaikan dan menghindari perbuatan jahat. Ketaatan akan aturan membentuk akhlak yang bersumber dari hati yang paling dalam. Akhlak akan menghasilkan karakter kepribadian yang baik meskipun menghadapi berbagai permasalahan. Melalui kegiatan pembinaan pegawai ini, diharapkan memberi suntikan motivasi dan inspirasi bagi seluruh rimbawan lingkup Balai Besar KSDA Sumatera Utara untuk meningkatkan solidaritas serta semangat kerja menjadi kuat, tangguh dan lebih baik lagi. Salam rimbawan …. Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Kader Konservasi Alam Binaan BBKSDA Sumut Ikuti World Clean Up Day

Seluruh peserta berkumpul usai memungut sampah Medan, 18 Maret 2025. World Clean Up Day (WCD) di Sumatera Utara diperingati dengan melakukangerakan bersih-bersih lingkungan di sekitaran Lapangan Merdeka, Kota Medan, pada Minggu (16/3). Kegiatan WCD 45th Cleaning Activity yang bertajuk “Urban Green Cleanup” berkolaborasi dengan Universitas Terbuka Medan dan juga berpartner dengan Medan Osoji Club, Bersih Bersih Medan, komunitas Clean the City Medan, Mapala UT Sumut, Forum Genre Sumut dan Nourageous. Kegiatan ini dimulai dari sore hari hingga menjelang buka puasa dengan menyisir seluruh area Lapangan Merdeka, diikuti oleh 45 orang peserta dan berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 94,55 kg. Sampah yang terkumpul berupa puntung rokok dan sampah plastik sisa makanan, selanjutnya diserahkan kepada petugas kebersihan Lapangan Merdeka Medan. Koordinator WCD Sumut Benz Dachi mengatakan kegiatan bersih-bersih ini terinspirasi dari budaya Jepang yaitu Osōji yang merupakan seni bersih-bersih ala masyarakat Jepang di ruang publik. WCD Sumut rutin melakukan kegiatan aksi bersih selama weekend dua minggu sekali di ruang publik dimana kegiatan puncak World Clean Up Day akan dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia setiap tanggal 20 September setiap tahunnya. Benz Dachi mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang berkontribusi dalam kegiatan ini dan berharap acara ini dapat menginspirasi masyarakat khususnya dari kalangan muda untuk dapat berperan dalam aksi bersih lingkungan di ruang publik sehingga kedepannya Kota Medan dapat menjadi bersih dari sampah. Sampah yang berhasil dikumpulkan ditimbang Humas Mapala UT Sumut, Dwi, yang ikut dalam kegiatan ini mengatakan kegiatan aksi bersih ini sangat positif dan bermanfaat untuk mengisi waktu luang sekaligus juga beribadah di bulan ramadhan ini, menanamkan kepedulian menjaga lingkungan dengan tidak buang sampah sembarangan, sesuai dengan surah Ar-Rum ayat 41 yang terkandung arti “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” Momen penting World Clean Up Day ini tidak dilewatkan oleh Kader Konservasi Alam binaan Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Nurhabli Ridwan, sekaligus sebagai Perwakilan Perhimpunan Penjelajah Alam Bencana dan Konservasi Generasi Rimba Alam Semesta (GRAS) yang ikut juga berpartisipasi. Sebagai kader konservasi ia juga mensosialisasikan kepada seluruh peserta bahwa tanggal 16 Maret setiap tahunnya diperingati Hari Bakti Rimbawan dimana rimbawan yang tersebar di seluruh Indonesia menanamkan jiwa korsa dan tekat untuk menjaga serta melestarikan lingkungan demi keberlanjutan masa depan.. Meskipun aksi bersih sudah berakhir, namun semangat World Clean Up Day diharapkan akan terus berlanjut dan menginspirasi anak-anak muda untuk lebih banyak lagi yang terlibat mendedikasikan dirinya menjaga kebersihan lingkungan. Mari ciptakan lingkungan bersih, masyarakat sehat, hidup sejahtera. Sumber : Nurhabli Ridwan (Kader Konservasi Alam/GRAS) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Solidaritas Korsa Rimbawan Untuk Hutan Berkelanjutan

Medan, 18 Maret 2025. Puncak peringatan Hari Bakti Rimbawan di Sumatera Utara Tahun 2025, digelar dengan upacara bendera di halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara pada Senin, (17/3). Dengan mengusung tema "Solidaritas Korsa Rimbawan Untuk Hutan Berkelanjutan", kegiatan ini diikuti oleh seluruh rimbawan lingkup UPT Kementerian Kehutanan dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Bertindak sebagai Pembina Upacara, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, S.Hut., M.AP., M.Env., yang membacakan amanat/sambutan dari Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Raja Juli Antoni, Ph.D. Menteri menyebutkan bahwa Hari Bakti Rimbawan adalah momen kebersamaan para rimbawan untuk memupuk jiwa korsa dalam menjaga anugerah Tuhan yang dititipkan kepada bangsa kita, warisan tak ternilai harganya, yaitu Hutan Indonesia. Selanjutnya Menteri menjelaskan, tema peringatan Hari Bakti Rimbawan tahun ini “Solidaritas Korsa Rimbawan Untuk Hutan Bekelanjutan”, mengandung makna reflektif dan evaluative atas apa yang telah diakukan bersama sebagai Rimbawan. Tema ini juga meneguhkan arah dan cara pandang seluruh Rimbawan, dalam menjaga hutan sebagai elemen dan struktur pembentuk bentang alam Indonesia. Adalah panggilan jiwa dan tugas bersama melestarikan hutan alam kita ; hutan tropik basah Indonesia. Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara membacakan amanat/sambutan Menteri Kehutanan Dalam kesempatan Hari Bakti Rimbawan ini, Menteri mengajak seluruh Rimbawan, para Kesatria Rimba, yang ada di gunung, di lembah dan seluruh penjuru tanah air untuk dapat bersama bahu membahu memberikan kontribusi terbaik untuk Rimba Raya Indonesia agar tetap maha indah, cantik molek dan perkasa. “Tugas saudara-saudara Rimbawan sangatlah mulia. Karena bertugas menjaga Anugerah Tuhan menjaga pusaka bangsa dan menjaga mandat konstitusi. Upaya menjaga kelestarian hutan adalah bagian dari komitmen kita untuk membangun Indonesia yang hijau, lestari dan berkelanjutan. Ini yang kelak akan kita wariskan untuk generasi mendatang. Indonesia sangat berterima kasih pada dedikasi dan integritas saudara Rimbawan sekalian untuk hutan Indonesia yang rupawan.,” ujar Menteri mengakhiri sambutannya. Perlu juga diinformasikan, dalam rangkaian Hari Bakti Rimbawan Tahun 2025, sebelumnya rimbawan lingkup Provinsi Sumatera Utara telah melakukan kegiatan penanaman 100 (seratus) batang bibit pohon jenis MPTS, yaitu Nangka, Cempedak, Mangga dan Rambutan yang disediakan oleh Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDAS-HL) Wampu Sei Ular, pada Jumat (28/2), bertempat di area Kampus 2 USU Bekala, Desa Simalingkar A, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang. Giat penanaman saat itu dihadiri para Kepala UPT lingkup Kementerian Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara diwakili Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penatagunaan Hutan Asep Perry M. Athorized, SP, Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. Rudi Hartono, S.Hut., M.Si. dan seluruh rimbawan UPT Kementerian Kehutanan Provinsi Sumatera Utara. Penanaman bersama Jumat (28/2) di Kampus 2 USU Bekala Peringatan Hari Bakti Rimbawan tahun 2025 yang bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, meskipun dirayakan secara sederhana, namun tidak mengurangi maknanya. Semoga semangat Rimbawan terus menyala, memberikan pengabdian yang terbaik demi kelestarian alam dan lingkungan hidup. Jayalah Rimbawan … Sumber : Evansus Renandi Manalu (Analis Tata Usaha) – Balai Besar KSDA Sumatera Utara
Baca Artikel

Solidaritas Korsa Rimbawan Untuk Hutan Berkelanjutan: Menjaga Warisan Hijau Nusantara

Gedangan, 16 Maret 2025. Di balik setiap tegakan hutan yang menjulang, di setiap aliran sungai yang menghidupi ekosistem, ada sosok-sosok yang tak kenal lelah menjaga kelestarian alam. Mereka adalah para rimbawan, pelindung bentang alam yang memastikan hutan tetap hidup, lestari, dan mampu menopang kehidupan. Setiap tanggal 16 Maret, Indonesia memperingatinya sebagai Hari Bakti Rimbawan, sebuah momentum refleksi atas dedikasi rimbawan dalam mengemban tugas menjaga hutan dan segala isinya. Jejak Sejarah: Dari Masa ke Masa Hari Bakti Rimbawan ditetapkan sebagai penghormatan terhadap pengabdian para penjaga hutan sejak Kementerian Kehutanan pertama kali berdiri. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi pengingat bahwa hutan Indonesia sebagai salah satu paru-paru dunia memerlukan perlindungan yang berkelanjutan. Sejak ditetapkan, setiap tahunnya Hari Bakti Rimbawan membawa tema yang mencerminkan tantangan serta semangat zaman, dan pada 2025 ini, tema yang diusung adalah Solidaritas Korsa Rimbawan untuk Hutan Berkelanjutan. Tema ini menegaskan bahwa menjaga hutan bukanlah tugas individu, melainkan tanggung jawab kolektif. Istilah Korsa sendiri bermakna kesetiaan dan kebersamaan dalam satu jiwa korsa persaudaraan yang melekat erat dalam tubuh rimbawan. Solidaritas ini menjadi fondasi bagi keberlanjutan pengelolaan hutan yang lestari, terlebih di tengah ancaman deforestasi, perburuan ilegal, hingga perubahan iklim yang semakin nyata dampaknya. Nilai-Nilai Rimbawan: Cahaya di Tengah Rimba Bagi para rimbawan di Jawa Timur, Hari Bakti Rimbawan 2025 menjadi pengingat akan tanggung jawab besar yang mereka emban. Tugas mereka tidak hanya mengawasi kawasan konservasi, tetapi juga menjaga ekosistem di luar kawasan lindung, mengawal regulasi peredaran satwa liar, serta memastikan bahwa kebijakan konservasi dijalankan dengan penuh integritas. Ada beberapa nilai fundamental yang harus dipegang teguh oleh setiap rimbawan, terutama dalam semangat solidaritas korsa: Peran Strategis Rimbawan di Jawa Timur Sebagai rumah bagi beragam ekosistem unik, mulai dari kawasan pesisir hingga pegunungan, Jawa Timur memegang peran penting dalam pelestarian keanekaragaman hayati Nusantara. Para Rimbawan berhadapan langsung dengan tantangan selain konservasi keanekaragaman hayati insitu, kegiatan konservasi eksitu juga dilaksanakan, seperti pemantauan pasar burung, penangkaran satwa liar, hingga pengawasan lembaga konservasi. Solidaritas dan koordinasi menjadi kunci utama dalam menjalankan tugas ini, memastikan bahwa keseimbangan ekologi tetap terjaga. Di tengah pesatnya pembangunan dan tekanan terhadap kawasan hutan, para rimbawan di Jawa Timur harus mampu menjadi penjaga keseimbangan antara kebutuhan manusia dan keberlanjutan alam. Dengan semangat solidaritas korsa, rimbawan harus memperkuat jaringan kerja, berbagi ilmu, dan terus bergerak dalam satu misi besar: menjaga hutan tetap hijau bagi generasi mendatang. Menatap Masa Depan: Warisan Hijau untuk Negeri Hari Bakti Rimbawan 2025 bukan hanya peringatan, tetapi sebuah momentum untuk kembali menegaskan komitmen. Di setiap langkah yang diambil oleh para rimbawan, ada harapan besar yang digantungkan oleh bumi ini. Hutan bukan sekadar sumber daya, tetapi juga nafas kehidupan yang mengalir dalam setiap aliran sungai, dalam hembusan angin yang menyegarkan, dalam nyanyian burung di pagi hari. Solidaritas korsa bukan sekadar kata-kata, tetapi janji yang harus ditepati. Sebab tanpa rimbawan, tanpa penjaga hutan yang berdedikasi, kita mungkin hanya akan mewarisi kisah tentang hutan yang pernah ada. Selamat Hari Bakti Rimbawan 2025. Tetaplah menjaga, tetaplah melindungi. Demi hutan yang lestari, demi kehidupan yang abadi. Sumber: Fajar Dwi Nur Aji - Pengendali Ekosistem Hutan Ahli Muda Balai Besar KSDA Jawa Timur

Menampilkan 273–288 dari 1.990 publikasi